-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 09

Jilid 09

30. Raja Swipoa Ketemu Batunya

MEMANG benar. Orang ini adalah Lie Ko Sianseng yang berjuluk Swi-poa-ong (si Raja Swipoa), seorang tokoh kang-ouw kenamaan yang berilmu tinggi, cerdik banyak akal. Sesuai dengan julukannya, dia adalah seorang saudagar yang berdagang segala macam barang, segala macam benda hidup atau mati!

"Ha ha ha, nona Thio benar bermata awas. Seorang patriot wanita yang muda dan gagah. Tentu kawan-kawannya inipun orang-orang gagah belaka. Ha ha ha! Alangkah senangnya bertemu dengan orang-orang muda yang pandai. Sayang kulihat monyet cerdik itu sudah mau mampus."

Bi Eng tak senang mendengar ucapan ini, akan tetapi Li Hoa yang tahu akan kecerdikan "saudagar" ini, segera berkata dengan suara manis,

”Lie Ko Sianseng, kau yang banyak pengalaman, banyak kenalan dan banyak akal, tentu dapat menolongnya. Katakanlah, siapa kiranya dapat menolong mengobati monyet ini?"

Kembali Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng tertawa terbahak. "Kumendengar tadi bahwa monyet itu terluka oleh jarum berbisa. Siapa lagi kalau bukan perbuatan si tukang tangkap binatang berotak miring? Kalau dia yang melukai, siapa lagi kalau bukan dia pula yang menyembuhkannya?"

Berseri wajah Han Sin mendengar ini. Cepat ia berdiri dan menjura penuh hormat. "Orang tua yang baik budi, harap kau sudi menolong, tunjukkanlah di mana rumahnya orang pandai itu."

”Ha ha ha ha, ayahnya gagah perkasa dan halus tutur sapanya, anaknyapun begitu. Pantas menjadi putera Cia Sun tai¬hiap!"

Kagetlah Han Sin, akan tetapi segera ia dapat menindas perasaannya. Malah ia bangga sekali. Agaknya semua orang kang-ouw kenal belaka siapa ayahnya! "Jadi lo-enghiong mengenal mendiang ayahku?"

"Aku seorang saudagar. Pergi datang, ke mana saja membawa untung bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Bagaimana tidak mengenal orang? Lai Sian si tukang tangkap binatang berotak miringpun aku kenal, apa lagi ayahmu."

Sekali lagi Han Sin menjura. "Kalau begitu, Lie lo-enghiong yang budiman, sudikah kau menunjukkan tempat tinggalnya Lai Sian itu?"

Swi-poa-ong mengangguk-angguk. "Boleh, ..... boleh     , siapa tahu lain kali kau akan dapat

membantuku sebagai balasan."

Li Hoa yang sudah mengenal baik kakek penuh akal busuk itu hendak mencegah, namun Han Sin sudah mendahuluinya, "Tentu sekali, lo-enghiong yang baik. Tidak ada budi baik yang tak terbalas." "Hanya satu syaratnya. Kau boleh membawa monyet itu, ikut dengan aku ke tempat tinggal Lai Sian, akan tetapi dua orang nona ini tak boleh turut."

Bi Eng mengerutkan kening. "Orang gendut! Kau anti benar kepada wanita! Apa sih salahnya kalau aku ikut kakakku?"

"Ha ha ha ha! Itulah sebabnya! Apa lagi kalau ada gadis jelita galak seperti kau ini, waaahh, Lai Sian bisa lari terbirit-birit ketakutan. Dia amat takut kepada wanita, maka kalau dua orang nona ini ikut, biar dipaksa sampai mampus sekalipun dia takkan mau keluar, bahkan mungkin lari minggat sebelum kita menemui dia!"

Han Sin dan Bi Eng juga maklum akan adanya orang-orang kang-ouw yang bertabiat aneh luar biasa. Mereka lalu berunding. Han Sin memutar otak lalu bertanya kepada Li Hoa,

"Nona, di mana adanya suhu Ciu-ong Mo-kai Tang Pok?"

Sebelum Li Hoa menjawab, kakek itu sudah mendahuluinya, "Ha ha! Di mana lagi kalau tidak di kota Ta-tung? Semua orang berada di sana, membantu orang Mancu memukul orang Mongol. Di sana banyak arak wangi, di mana lagi si setan arak itu kalau tidak di sana?"

"Betulkah nona?" tanya Han Sin. Li Hoa mengangguk. "Kalau begitu, bukankah kau juga hendak ke sana?" Kembali Li Hoa mengangguk.

"Sekiranya kau tidak keberatan, biarlah adikku ini pergi bersamamu ke Ta-tung. Kalau sudah selesai urusanku dengan Siauw-ong, tentu aku menyusul ke sana."

Dua orang gadis itu menyetujui. Memang, maksud kepergian Han Sin dan Bi Eng adalah untuk mencari Hoa-ji, dan tentu saja di tempat pertempuran itulah kemungkinan mendapatkan Hoa-ji. Setelah memesan baik-baik kepada Bi Eng agar supaya jangan pergi meninggalkan Ta-tung sebelum ia menyusul ke sana, Han Sin lalu memondong Siauw-ong dan pergi bersama Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng. Li Hoa sempat berbisik kepadanya,

"Hati-hatilah menghadapi dia itu   "

Adapun Li Hoa lalu mengajak Bi Eng pergi meninggalkan Lu-liang-san, menuju ke Ta-tung, kota di mana berkumpul orang-orang gagah yang membantu pertahanan pemerintah terhadap pemberontakan orang-orang Mongol.

Lie Ko Sianseng mengajak Han Sin keluar masuk hutan-hutan di pegunungan Lu liang-san. Di dalam sebuah hutan besar, Han Sin melihat sebuah pondok yang aneh. Pondok ini dibangun di atas pohon besar, seperti sarang burung. Dan seperti seekor burung setan yang besar, kepala seorang kakek menongol keluar dari jendela rumah itu. Hanya kepalanya saja yang tampak, dengan lehernya yang panjang, mata yang sipit yang memandang penuh curiga ke bawah!

"Haiii, Lai Sian si otak miring! Turunlah kau, di sini ada seorang pemuda ingin bertemu."

Lai Sian, orang yang berada di pondok di atas pohon itu, melirik ke arah Siauw-ong di pondongan Han Sin. Adapun Siauw-ong yang sejak tadi merintih-rintih saja, begitu melihat kakek di atas itu, lalu meringis dan menggereng. "Hi hi hi, monyet cerdik yang tolol! Ditangkap baik-baik tidak mau, dihadiahi jarum baru tahu rasa. Mau apa dibawa bawa ke sini?"

"Lai Sian, kau turunlah, biar kita bicara baik-baik. Kalau perlu, aku sanggup membeli obat penyembuh kaki monyet ini, biar dengan harga berlipat dari pada harga umum!"

"Makelar busuk! Tukang catut, tukang tipu! Siapa doyan uangmu yang bau keringat dan darah manusia? Rumahku selalu terbuka, mau ada keperluan naiklah. Hi hi hi, tentu saja tidak ada tangga, kalau mau boleh panjat pohon seperti monyet!"

Lie Ko Sianseng berbisik kepada Han Sin, "Kau lihat saja, aku akan paksa dia turun. Akan tetapi kalau sudah diobati monyetmu, jangan kau lupa akan janjimu untuk membalas budi padaku." Setelah berkata demikian, kakek ini tertawa bergelak, mengenjot kedua kakinya dan tubuhnya sudah meloncat ke atas.

"Tukang catut, apa kau sudah ingin mampus?" seru Lai Sian. Tiba-tiba kedua tangan kakek cebol itu nampak diayun dan beberapa buah jarum kecil-kecil menyambar ke arah tubuh Lie Ko Sianseng yang sedang "melayang" naik. Han Sin terkejut sekali dan mengeluarkan seruan kaget. Akan tetapi Lie Ko Sianseng hanya tertawa, menggunakan jubah luarnya yang lebar itu dikebutkan. Sekaligus semua jarum tertahan oleh "tameng" ini dan sebelum si kakek cebol sempat menyerang lagi, Lie Ko Sianseng sudah hinggap di atas sebuah cabang dekat pondok.

"Kau masih tidak mau turun?" Lie Ko Sianseng menggunakan tangannya mendorong pondok dan

......... dengan suara keras pondok yang seperti sarang burung itu miring lalu terguling roboh ke bawah membawa penghuninya yang tak sempat ke luar!

Pondok itu menerbitkan suara hiruk pikuk ketika terjatuh ke atas tanah dan berbareng dengan jatuhnya terjadi hal hal yang aneh dan menggelikan. Lie Ko Sianseng berkaok-kaok dan mengaduh kesakitan, melompat turun terhuyung-huyung sampai terjengkang saking gugup dan bingung.

Ternyata ketika ia mendorong roboh pondok itu, sarang tawon yang rupanya dipelihara oleh Lai Sian ikut pecah dan ratusan ekor tawon kini beterbangan mengeroyok Lie Ko Sianseng, malah ada beberapa ekor yang sudah berhasil menyengat mukanya! Tidak heran apabila saudagar gendut ini tunggang-langgang dan mengaduh-aduh!

Sementara itu, di bawah terjadi hal yang aneh pula. Begitu rumah itu terjatuh dan pecah berantakan tidak hanya kepala kakek cebol itu yang nampak keluar merangkak, melainkan banyak pula binatang binatang buas yang menerjang keluar. Harimau, srigala, biruang, rusa dan lain lain. Malah seekor harimau besar segera maju dan menerkam Han Sin, sedangkan yang lain-lain saking kaget dan takutnya lari cerai-berai sambil mengeluarkan suara gaduh! Kiranya pondok kecil kakek itu penuh binatang-binatang hutan!

Han Sin terkejut sekali dan cepat mengelak. Lai Sian, kakek aneh itu kini merangkak keluar dan terdengar ia tertawa terkekeh-kekeh ketika melihat Han Sin sibuk menanggulangi macan sedangkan Lie Ko Sianseng kebingungan dikeroyok tawon-tawon yang marah.

"Hi hi hi, he he he, bagus bagus. Baru kalian tahu rasa sekarang, berani main-main dengan aku!"

Akan tetapi kegirangannya cepat berakhir karena dengan sebuah tendangan kilat, Han Sin berhasil membuat macan itu terlempar jauh, jatuh berdebuk lalu lari tunggang-langgang. Sedangkan Lie Ko Sianseng yang sudah bengkak-bengkak pipinya, berhasil pula mengusir tawon-tawon itu dengan melepaskan jubah dan mempergunakan jubahnya sebagai senjata. Kini Lie Ko Sianseng dengan marah menerjang Lai Sian. "Orang gila, kau benar-benar keterlaluan!"

Segera terjadi pertempuran hebat antara si saudagar dan si cebol. Mereka sama-sama cepat gerakannya, sama-sama ahli silat yang pandai. Han Sin yang melihat mereka bertempur mati-matian merasa khawatir. Betapapun juga, sebetulnya tindakan Lie Ko Sianseng merobohkan rumah orang tadilah yang keterlaluan. Cepat ia melompat maju dan berkata,

”Harap ji-wi berhenti bertempur. Kedatangan kami sebetulnya bukan untuk memusuhi tuan rumah."

Teringatlah Lie Ko Sianseng akan urusan yang lebih besar. la datang membawa Han Sin ke tempat itu bukan semata-mata untuk mengobatkan monyet, apa lagi untuk menentang Lai Sian, ada hal yang lebih penting lagi. Maka ia melompat mundur dan berkata, "Orang gila she Lai benar gagah!"

Lai Sian berdiri melototkan matanya. "Kalian ini datang-datang mengacau. Mau apa sekarang?"

Han Sin segera maju menjura dan berkata hormat, "Harap Lai-enghiong suka memaafkan kami. Sebetulnya kami datang untuk mohon pertolonganmu agar suka menyembuhkan luka di kaki monyetku ini."

Lai Sian membuang ludah. "Huh, monyet sialan! Aku suka mengumpulkan dan memelihara binatang-binatang hutan, karena binatang-binatang itu jauh lebih baik dari pada manusia-manusia. Monyet ini berbeda dengan monyet biasa, gerakan-gerakannya seperti mengandung ilmu silat. Aku berusaha menangkapnya, namun gagal. Terpaksa kulukai dia. Eh, muncul siluman wanita cantik membelanya. Kiranya monyet ini siluman!"

"Harap lo-enghiong suka bermurah hati dan memaafkan monyetku ini. Berilah obat, Lai-enghiong." Kakek itu tertawa mengejek. "Di du¬nia ini mana ada obat dapat menyembuhkan, kau mau apa?"

Tiba-tiba Lie Ko Sianseng tertawa bergelak, membuat Han Sin menjadi mendongkol. Orang tidak mau mengobati monyetnya, kenapa tukang catut ini malah tertawa bergelak?

"Ha ha ha, saudara Cia Han Sin, percuma saja kau minta dia mengobati. 0rang pendek cebol macam si gila ini, mana bisa mengobati? Ha ha, Lai Sian. Bilang saja kau tidak becus, kenapa mesti aksi- aksian bilang tidak mau?"

Han Sin menjadi geli hatinya. Tahulah ia sekarang akan kelihaian si Saudagar ini, yang jelas mempergunakan siasat memanaskan hati orang cebol yang aneh itu. Benar saja, Lai Sian melototkan matanya sampai hampir meloncat keluar dari pelupuk matanya, lalu ia membentak,

"Tukang catut busuk! Siapa percaya omonganmu yang bau? Monyet ini aku yang melukainya, masa aku tidak dapat menyembuhkannya?"

"Ha ha ha, omong sih gampang! Tapi buktinya, dong! Kalau kau sudah benar-benar bisa mengobati sampai sembuh, aku berani bertaruh kepala!"

Kaget sekali hati Han Sin mendengar ini. Apa Lie Ko Sianseng sudah menjadi gila? Masa mempertaruhkan kepalanya! Akan tetapi Lai Sian kelihatan girang sekali.

"Baik, baik ! Kau lihat saja, aku akan menyembuhkannya dalam sekejap mata. Dan bocah ini

menjadi saksi akan janji taruhanmu." Seperti seekor tikus, kakek cebol itu lalu menyelinap memasuki rumahnya yang sudah berantakan, mencari ke sana ke mari, akhirnya membawa sebuah peti kecil. Dibukanya peti itu, dikeluarkannya beberapa bungkus obat. Kemudian ia membuka balutan kaki Siauw-ong, menggunakan sebatang jarum perak menusuk sana-sini, lalu tampaklah darah hitam keluar dari luka-luka di kedua kaki itu.

Han Sin memegangi Siauw-ong agar monyet yang marah-marah itu tidak banyak bergerak. Kemudian Lai Sian menaruh obat bubuk pada luka-luka itu dan Siauw-ong tidak memberontak

lagi, kelihatannya enak tidak sakit lagi. Warna hitam di kedua kakinya lenyap seketika! Ketika Han Sin melepaskan pegangannya, monyet itu meloncat loncat, cecowetan akhirnya melompat ke atas pundak Han Sin. Dia telah sembuh sama sekali!

Han Sin menjadi tegang hatinya ketika Lai Sian mengeluarkan sebatang golok dan menghadapi Lie Ko Sianseng. "Heh heh heh, tukang catut, hayo kau berikan kepalamu kepadaku!"

Tiba-tiba Lie Ko Sianseng tertawa bergelak, tubuhnya berkelebat ke kiri dan tahu-tahu ia telah menangkap seekor kelinci, dipegangnya pada kedua telinganya. Entah darimana ia menyulapnya, tahu-tahu ia telah memegang sebatang pedang pendek yang agaknya ia cabut dari balik jubahnya yang panjang itu, diayunkannya pedang dan sekali tabas saja putuslah leher kelinci yang

masih menetes-netes darahnya itu, lalu diacungkannya ke depan muka Lai Sian.

"Nih taruhanku, ambillah!" la melemparkan kepala kelinci kepada Lai Sian dengan pengerahan tenaga. Baiknya Lai Sian cepat-cepat miringkan kepala sehingga muka kepala kelinci itu tidak "mencium" mukanya. Ketika ia mengangkat kepala, ia melihat Lie Ko Sianseng sudah menarik tangan Han Sin dan berlari-lari pergi dari situ.

"Curang!Tak tahu malu! Kau tadi mempertaruhkan kepala!" Lai Sian lari mengejar.

"Eh, otak miring. Aku tadi mempertaruhkan kepala, tapi siapa bilang bahwa yang kupertaruhkan adalah kepalaku? Aku hanya bilang kepala, dan yang kumaksudkan adalah kepala kelinci itu. Sudah lunas!"

Lai Sian berhenti mengejar, berdiri bengong. Betul juga kata-kata saudagar yang licik itu. "Setan, kenapa kau tadi tidak bilang kepala kelinci?" Ia membentak dengan suara hampir menangis.

"Siapa salah? Kenapa kau tadi tidak tanya kepala apa yang kumaksudkan?" jawab Lie Ko Sianseng sambil tertawa.

Han Sin menjadi geli hatinya. Kalau saja tadi Lie Ko Sianseng berjanji mempertaruhkan kepalanya, tentu dia tidak akan membiarkan Lie Ko Sianseng melanggar janjinya. Akan tetapi sekarang ternyata bahwa saudagar itu tidak menipu, hanya menggunakan siasat, tidak melanggar janji, maka ia yang ditarik diajak lari hanya tertawa-tawa dan ikut berlari pergi. Dari jauh terdengar Lai Sian memaki maki dan malahan menangis!

****

Siapa yang pernah naik kereta ditarik kuda yang berjalan di atas jalan berbatu-batu di tempat yang amat sunyi, tentu akan mengalami kesenangan yang nikmat. Suara kaki kuda, beradunya besi tapal kaki kuda dengan batu, menimbulkan irama yang amat sedap didengar, apa lagi di tempat sunyi.

Hal ini adalah karena jalannya empat buah kaki kuda itu amat tetap, menimbulkan irama tenang. "Plik .... plak ..... plak keteplik-keteplak .... plik plak" Enak sekali irama itu sehingga tidak jarang tukang-tukang gerobak kuda tertidur sambil memegangi kendali, lenggat lenggut dibuai irama suara kaki kuda.

Di atas jalan pegunungan berbatu, tempat yang amat sunyi di kaki Gunung Lu-liang-san, terdengar pula irama ini, memecahkan kesunyian di sekelilingnya. Udara cerah.

Segera terlihat kuda yang menarik sebuah gerobak kecil dan orang akan tertawa kalau melihatnya. Memang pemandangan yang lucu. Kusir gerobak ini bukanlah manusia, melainkan seekor monyet kecil yang duduk di atap gerobak! Monyet itu dengan gaya yang lucu memegangi kendali, nyengar- nyengir sambil mengeluarkan bunyi, "Ckk .... ckk .... ckk ” dari mulut yang diruncingkan. Dia ini

bukan lain adalah Siauw-ong, monyet peliharaan Han Sin yang sudah sembuh sama sekali dari pada luka di kakinya.

Han Sin duduk di dalam gerobak, di depan, dan di belakangnya duduklah si gendut Lie Ko Sianseng. Hati Han Sin agak gembira, pertama karena monyetnya sudah ditemukan dan sudah sembuh, kedua kalinya karena setelah jauh dari Bi Eng, ia tidak lagi menderita rasa tak enak berhubung dengan pengalamannya baru-baru ini dengan Tilana. Akan tetapi, harus diakuinya bahwa ia merasa amat rindu kepada Bi Eng.

Lie Ko Sianseng amat ramah dan baik padanya, dan kakek ini yang duduk di belakangnya tiada hentinya bicara dan mentertawakan Lai Sian.

"Aku amat berterima kasih kepadamu, lo-enghiong. Kalau tidak ada kau yang membawaku kepada kakek cebol itu, entah apa jadinya dengan Siauw-ong."

"Lai Sian itu memang lihai sekali. Semenjak kecil ia suka menangkapi binatang-binatang, bahkan ular-ular berbisa menjadi permainannya. la tahu betul akan racun-racun segala macam ular."

Tahulah kini Han Sin mengapa kakek cebol ini dapat menggunakan racun yang dapat meracuni Siauw-ong, agaknya racun itu hebat sekali, lebih hebat dari pada racun Pek-hiat-sin-coa. Diam-diam ia bergidik. Kepandaian si cebol itu tidak seberapa hebat, akan tetapi pengertiannya tentang penggunaan racun benar-benar berbahaya.

"Kau lebih lihai dari padanya, lo-enghiong. Budimu besar sekali, bahkan boleh dibilang Siauw-ong berhutang nyawa kepadamu."

"Ha ha ha, manusia hidup harus saling tolong-menolong, orang muda. Aku dapat menolongmu, tentu kaupun dapat menolongku, bukan?"

Han Sin tergerak hatinya. Teringat ia akan pesanan Li Hoa, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi kakek ini. Ia sudah tahu akan kecerdikan saudagar ini, yang demikian lihai sehingga dapat mempermainkan Lai Sian dengan tipu muslihatnya.

"Apakah yang dapat kulakukan untukmu, lo-enghiong? Kalau saja aku dapat melakukannya tentu akan kuusahakan membantumu."

Lie Ko Sianseng terbatuk-batuk kecil di belakang Han Sin. "Orang muda pernahkah kau mendengar tentang ...... surat wasiat Lie Cu Seng ?"

Berdebar jantung Han Sin. Eh, kiranya orang ini menuju ke situ! Beberapa tahun yang lalu, banyak orang kang-ouw mendesaknya untuk memperebutkan surat wasiat itu yang berisi pelajaran Ilmu Silat Thian-po-cin-keng! Dan kiranya kakek ini menolong Siauw-ong dengan maksud ini pula. Herannya bagaimana kakek ini tahu akan segala hal yang terjadi di dunia kang-ouw.

Akan tetapi Han Sin pura-pura bersikap tenang saja. "Aku tahu, lo-enghiong, bahkan surat wasiat itu adalah peninggalan ayahku Cia Sun kepadaku. Kenapa kau menanyakannya?"

"Heh heh heh, tidak apa-apa. Aku adalah seorang saudagar, banyak sudah aku menjualbelikan barang-barang aneh dan indah. Orang muda, maukah kau menjual kitab itu kepadaku? Lima ratus tael perak kubeli eh, seorang pemuda banyak membutuhkan uang, biar kubayar seribu tael

perak! Bagaimana?"

Han Sin menoleh sebentar sambil tersenyum. "Sayang sekali, lo-enghiong. Kitab itu sudah kubakar di dalam guha, karena banyak orang jahat hendak merampasnya dari tanganku."

"Apa ?" Suara yang tadi sabar itu sekarang menjadi kasar, dan tiba-tiba Han Sin merasa betapa

jalan darah Tiong cu-hiat di belakang lehernya dan jalan darah Thai-yang-hiat di punggungnya telah disentuh oleh ujung-ujung jari tangan! Dua jalan darah itu adalah jalan-jalan darah terpenting dan penyerangan totokan yang tepat akan dapat mendatangkan maut. 0rang telah "menodongnya" dengan ancaman mati! Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan bersikap tenang sekali.

"Orang muda, kau tentu tidak begitu bodoh untuk membakar kitab tanpa membaca isinya. Kau tentu sudah membacanya, bukan?"

Han Sin mengangguk. "Tentu saja!" Pemuda ini merasa betapa jari-jari tangan yang mengancam jalan darahnya gemetar.

"Dan isinya tentu pelajaran ilmu silat dan ilmu perang, bukan?" kini suara kakek itu bergemetar pula malah.

Kembali Han Sin mengangguk. "Bagaimana kau bisa tahu?" Diam-diam Han Sin tersenyum lagi. Jari-jari tangan itu makin menggigil dan makin menekan tubuhnya.

"Orang muda ..... kau tadi bilang hendak membalas budi padaku, nah, sekarang kutagih. Aku

minta kepadamu supaya kau mengajarkan isi kitab itu seluruhnya kepadaku sebagai pembalasan jasaku terhadap kau dan monyetmu” Kini Han Sin merasa betul betapa jari-jari tangan itu sudah menekan keras maka maklumlah ia bahwa kakek ini sebenarnya bukan meminta, melainkan memaksa dengan ancaman maut! Akan tetapi ia tetap tenang.

"Maaf, lo-enghiong. Permintaan ini tak dapat kupenuhi. Tadi kusanggupi permintaan yang kiranya dapat kulakukan, akan tetapi hal ini tak mungkin dapat kulakukan. Isi kitab merupakan rahasia bagiku, tak boleh diberitahukan kepada siapapun juga."

"Orang muda tak ingat budi! Kau harus menuruti kemauanku, karena nyawamu berada di ujung jariku."

Han Sin tertawa geli. "Ha ha, kau aneh sekali, lo-enghiong. Mana bisa nyawa orang berada di ujung jarimu? Nyawaku berada di tangan Tuhan, dan kalau Tuhan belum menghendakinya, siapapun juga takkan mungkin dapat membunuhku!"

"Bodoh kau! Sekali saja jari-jari tanganku menotok, nyawamu akan melayang!" "Kau cobalah! Apa kau merasa lebih berkuasa dari pada Tuhan?" Han Sin mengejek. Lie Ko Sianseng menjadi gemas. Ia tidak bermaksud membunuh pemuda ini, akan tetapi karena melihat Han Sin berkeras kepala tidak mau memberikan isi kitab kepadanya, cepat ia lalu menotok jalan darah di punggung pemuda itu, bukan untuk membunuh, hanya untuk membikin pemuda itu lemas agar ia dapat memaksanya. Ia mengerahkan tenaga ke arah ujung jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kirinya, lalu menusuk, "Takk!" Lie Ko Sian¬seng meringis! Tubuh itu tidak bergeming, malah jari-jari tangannya terasa sakit-sakit seperti menusuk baja saja!

Tanpa menoleh Han Sin tersenyum. Kalau saja tadi Lie Ko Sianseng menusuk jalan darah kematian, tentu pemuda ini takkan tinggal diam dan memberi hajaran. Akan tetapi, mendapat kenyataan bahwa yang ditotok hanya jalan darah yang tidak berbahaya, pemuda ini yang berhati welas asih, memaafkan perbuatan itu, apa lagi karena dia memang berterima kasih kepada kakek ini.

Di lain pihak, kakek saudagar itu merasa penasaran dan heran sekali. Sekali lagi tangannya menotok, kini di jalan darah belakang pundak untuk membuat pemuda itu kaku tanpa mengancam nyawanya.

"Cusssss !" Berteriaklah kakek itu saking kagetnya. Jari tangannya menusuk daging yang

lunak dan empuk, akan tetapi yang mengandung hawa dingin membuat tulang-tulang jarinya serasa tertusuk ratusan jarum kecil-kecil. la cepat menarik tangannya, meringis kesakitan, akan tetapi memaksa diri tertawa bergelak!

"Ha ha, he he he ……! Tak salah sedikitpun juga dugaanku! Ternyata kau telah menjadi ahli waris ilmu hebat dari Tat Mo Couwsu ! Kionghi, kionghi (selamat, selamat)!" Kakek ini memang

seorang yang memiliki kecerdikan luar biasa, dan perhitungan masak seperti lazimnya seorang saudagar yang pandai. Karena itulah maka ia dijuluki Swi-poa-ong (si Raja Swipoa).

Seperti diketahui, swipoa adalah alat menghitung yang amat praktis dan cepat serta tepat, maka julukan Raja Swipoa ini dapat membayangkan betapa cerdik dan masak perhitungannya dalam melakukan segala macam hal. Ia memang sejak dulu merindukan kitab peninggalan Lie Cu Seng, maka bertemu dengan Han Sin tentu saja timbul keinginan hatinya untuk memiliki kitab itu atau setidaknya isinya.

Inilah sebabnya maka ia sengaja menolong pengobatan Siauw-ong dengan resiko besar, kemudian menuntut pembalasan budi dari Han Sin. Dasar ia cerdik, ia tidak mau mengancam Han Sin dengan totokan maut. Sekarang melihat bahwa ia tidak berdaya menghadapi pemuda yang ternyata telah memiliki kepandaian luar biasa ini, ia mengganti siasat.

"Kepandaian manusia tidak ada artinya kalau keliru mempergunakannya, lo enghiong. Pula, sampai di mana batas ilmu? Tiada habisnya dan setiap orang manusia memiliki, keistimewaan masing- masing, maka aku tak perlu mengiri terhadap orang lain " Dengan ucapan ini Han Sin

menyindir kakek itu.

"Ha ha ha, kau betul ..... kau betul ! Benar-benar hebat dan pantas sekali menjadi putera Cia-

taihiap. Tampan halus, lihai dan berbudi baik, suka menolong dan ingat budi ”

Diam-diam Han Sin mendongkol sekali. Ia sekarang dapat merasakan kelihaian kakek ini. Tipu muslihat adalah lebih berbahaya dari pada pukulan yang ampuh, karena ilmu silat dapat dilihat dan dihadapi, dapat dilawan. Sebaliknya tipu muslihat sukar sekali diduga apa macamnya dan dari mana datang penyerangannya.

Benar Li Hoa, pikirnya, aku harus berhati hati menghadapi si gendut ini. Kalau sudah menanam budi, orang macam ini tentu bukan menanam tanpa pamrih, tentu menghendaki balasan, bahkan dengan bunga-bunganya! Lebih baik cepat-cepat membereskan perhitungannya dengan kakek ini, pikirnya.

"Lie Ko Sianseng, aku takkan lupa akan pertolonganmu sampai Siauw-ong menjadi sembuh. Lekaslah kausebutkan, pekerjaan apa yang dapat kulakukan untuk membayar hutang budimu itu. Akan tetapi tentu saja sekali lagi kutekankan bahwa aku hanya akan melakukan pekerjaan yang tidak melanggar kebajikan, dan yang dapat kulakukan."

Merah wajah Lie Ko Sianseng. Akan tetapi dasar dia bermuka tebal, maka sambil menyengir kuda ia berkata, "Tadi aku hanya main-main saja, Cia-taihiap." Kini ia menyebut "taihiap" untuk mengam¬bil hati. "Aku sudah tua, untuk apa mempelajari lain ilmu silat? Selain tiada gunanya, juga belum tentu aku sanggup, tulang-tulangku yang tua sudah terserang penyakit encok, napasku sudah pendek! Aku hanya ingin mencoba kepandaianmu, taihiap, agar aku tidak ragu-ragu untuk menyerahkan tugas ini kepadamu, dan aku percaya kau akan suka menolongku."

"Tugas apa? Pertolongan bagaimana?" Han Sin bertanya, hati-hati.

"Begini Cia-taihiap. Aku telah membeli barang-barang berharga, perhiasan, sutera halus, kayu wangi, dan lain-lain berjumlah dua peti. Nah, barang-barang ini akan kuangkut ke kota Ta-tung "

"Kota di mana berkumpul orang-orang gagah, ke mana adikku telah pergi?" tanya Han Sin. "Betul, hendak kujual di sana. Kau sendiri mengerti, dalam keadaan perang seperti sekarang ini,

perjalanan amat tidak aman, dan aku ..... aku merasa takut untuk membawanya sendiri ke sana "

"Hemm, Lie lo-enghiong memiliki kepandaian tinggi, takut apa?"

Merah muka Lie Ko Sianseng. "Ahhh, kalau aku berkepandaian tinggi, kiranya aku takkan berani menyusahkanmu. Aku mohon pertolonganmu, karena kau sendiripun hendak pergi menyusul adikmu ke Ta-tung, tolonglah kaukawal dua buah peti itu menggunakan gerobak ini. Maukah kau menolongku?"

Han Sin berpikir sebentar. Ia memang harus pergi ke Ta-tung menyusul Bi Eng. Apa salahnya dititipi dua peti? Laginya, ia dapat melakukan perjalanan dengan gerobak, lebih enak dari pada berjalan kaki. "Baiklah, lo-enghiong. Untuk membalas budimu, aku akan mengawalnya. Padahal dengan adanya kau, kata-kata mengawal itu tidak tepat lagi ”

"Jangan salah duga, taihiap. Aku sendiri sih tidak ikut ke Ta-tung. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan ..... eh, urusan perdagangan tentunya "

Han Sin diam saja, namun di dalam hatinya ia tidak percaya. Orang seperti ini bukanlah pedagang biasa, amat cerdik dan lihai. Entah barang apa yang berada di dalam dua buah peti. Akan tetapi hal itu bukan urusannya, lebih cepat ia mengirimkan barang-barang itu ke Ta-tung lebih baik lagi.

"Dan di mana adanya barang-barang itu? Setelah sampai di Ta-tung, kepada siapa harus kuserahkan?"

"Barang-barang itu berada di luar hutan ini, kusimpan dalam sebuah guha. Setelah kau tiba di Ta- tung, akan ada orangku menerimanya. Dia akan membawa surat kuasa dariku, semua sudah kupersiapkan." Lie Ko Sianseng membawa pemuda itu ke sebuah guha di tempat yang sunyi. Benar saja. si gendut ini setelah memasuki guha, lalu keluar membawa dua buah peti yang tidak berapa besar, akan tetapi cukup berat. Segera dua buah peti dimasukkan ke dalam gerobak.

"Dari sini kauikuti jalan besar menuju ke timur. Hati-hatilah, Cia-taihiap. Perjalanan ini biarpun tidak berapa jauh, akan tetapi cukup berbahaya. Setelah kau ke timur sampai di kota Tai-goan, kau membelok ke utara. Jalan antara Tai-goan dan Ta-tung inilah yang berbahaya, kadang-kadang muncul perampok-perampok lihai."

"Akan kulindungi barang-barangmu dengan sekuat tenaga. Jangan khawatir, lo-enghiong," jawab Han Sin singkat. Mereka lalu berpisahan, Han Sin bersama Siauw-ong naik gerobak itu menuju ke timur, sedangkan Lie Ko Sianseng memandang sambil tersenyum-senyum puas.

****

31. Barang Titipan Mata-mata Mongol

SENANG juga rasanya melakukan perjalanan dengan gerobak bersama Siauw ong. Sayang, pikir Han Sin. Kalau Bi Eng ikut melakukan perjalanan ini, tentu ia akan girang sekali! Teringat akan Bi Eng, berkerut kening Han Sin, karena sekaligus ia teringat akan sikap Bi Eng mengenai urusannya dengan Tilana.

Ia maklum benar bahwa Bi Eng bermaksud baik. Gadis itu ingin sekali melihat kakaknya berbahagia, mendapatkan seorang isteri cantik jelita dan pandai. Memang, siapa dapat menyangkal bahwa Tilana adalah seorang gadis yang amat cantik dan jarang dapat dicari bandingnya? Dia sendiri, terus terang saja, akan menerima Tilana dengan kedua tangan terbuka, akan merasa berbahagia sekali mengambilnya sebagai isteri yang tercinta ..... andaikata di dunia ini tidak ada

Bi Eng!

Bi Eng bersusah payah dan bertekad hendak menjodohkan kakaknya dengan Tilana, karena sebagai adik kandung gadis itu hendak memenuhi tugasnya, membahagiakan kakaknya. Akan tetapi, sebaliknya, Han Sin yang sudah tahu bahwa Bi Eng bukan adik kandungnya, bahkan bukan sanak- kadang, dia yang sudah jatuh cinta sepenuh jiwa raganya kepada Bi Eng, bagaimana dapat memperisteri gadis lain?

Han Sin merenung. Kasihan Tilana ! Kau ampunkan aku, Tilana. Aku sudah berbuat dosa di

luar kesadaranku. Kau sendiri yang memancing malapetaka. Aku sudah melakukan hal terkutuk .....

dan sebagai seorang jantan, seperti kata-kata Bi Eng, sudah seharusnya aku bertanggung jawab terhadap perbuatanku. Menurut patut, aku harus bertanggung jawab dan suka menjadi suamimu, harus melindungimu selama hidupku. Akan tetapi ..... ah, ...... Bi Eng, aku cinta padamu ......

Pada saat itu, Han Sin dengan gerobaknya dikawani Siauw-ong sudah melewati kota Tai-goan dan sudah membelok ke utara. Daerah ini mulai berubah penuh dengan daerah yang kering dan sunyi. Mulai jaranglah orang berjalan, malah akhirnya, beberapa puluh li lagi, Han Sin sudah tak dapat melihat orang di atas jalanan yang amat sunyi. Hanya kadang-kadang saja ada orang-orang menunggang kuda, sikap mereka gagah seperti orang-orang pejuang, atau orang-orang kang-ouw. Malah ada pula yang bersikap seperti perampok-perampok, akan tetapi kesemuanya tergesa-gesa dan tidak memperdulikan pemuda bersama monyet di dalam gerobak kecil itu.

Diam-diam Han Sin geli sendiri. Lie Ko Sian¬seng terlalu penakut. Kenapa untuk mengantar dua buah peti itu harus merasa takut sampai minta bantuannya? Buktinya dia sudah melakukan perjalanan jauh dan tak seorangpun mengganggu perjalanannya! Tiba-tiba ia mendengar suara berisik dari depan. Suara itu makin lama makin jelas dan dapatlah ia menduga bahwa dari depan datang iring-iringan kereta. Roda-roda kereta itu mendatangkan suara gemuruh. Setelah melalui tikungan, benar saja dugaannya.

Dari jauh ia melihat empat buah kereta atau gerobak yang besar dan aneh bentuknya. Gerobak ini tertutup dengan kain tebal, tiap gerobak ditarik dua ekor kuda yang tinggi besar. Yang mengusiri gerobak adalah laki-laki semua, rata-rata bertubuh tinggi besar, berwajah tampan gagah dengan kepala diikat kain kepala yang lebar. Di depan gerobak-gerobak itu terdapat seorang penunggang kuda.

Ketika Han Sin memandang ke arah penunggang kuda di depan iring-iringan kereta ini, berdenyutlah jantungnya, pucat mukanya. Tak salahkah penglihatannya? Penunggang kuda itu adalah seorang wanita, berpakaian sebagai wanita Bangsa Hui dan biarpun sebagian muka di bagian bawah tertutup kain sutera, akan tetapi mata itu ....! Jidat itu ! Dia Tilana, tak bisa salah lagi!

Mereka sudah berhadapan. Mata yang indah bening itu memancarkan cahaya aneh ketika melihat Han Sin, kemudian menjadi berapi-api. Han Sin pura-pura tidak mengenal Tilana, lalu turun dari gerobaknya, menuntun kuda supaya minggir dan memberi jalan kepada iring-iringan gerobak itu.

Akan tetapi gadis berkerudung mukanya itu memberi aba-aba dalam bahasa Hui yang dimengerti Han Sin. Gadis itu menyuruh orang-orangnya berhenti. Kemudian gadis itu sendiri melompat turun dari kuda, sekali melompat ia telah berdiri di depan Han Sin dan merenggut kerudung dari mukanya.

"Laki-laki berhati kejam! Kau masih berpura-pura tidak mengenal aku lagi?" bentak perempuan itu yang bukan lain adalah Tilana! Gadis ini wajahnya agak pucat, mungkin karena pakaiannya yang terbuat dari pada kain berwarna putih seperti orang berkabung itu. Han Sin merasa tertusuk hatinya. "Tilana ..... aku ”

"Tilana sudah mati! Kau tidak lihat pakaianku, aku berkabung untuk kematian Tilana, gadis malang yang menyerahkan jiwa raganya kepala laki-laki yang kejam, yang tidak mengenal kasihan dan tidak mengenal cinta kasihnya. Tilana sudah mati dan sudah sepatutnya ia mati karena membiarkan kerudungnya dibuka orang, membiarkan dirinya dihina orang ” Suaranya menjadi terganggu

sedu-sedan yang naik dadanya, akan tetapi ditahannya sehingga tidak sampai menangis.

Orang-orang lelaki bangsa Hui yang gagal? nampaknya itupun sudah pada turun dari gerobak. Mereka ternyata ada dua belas orang banyaknya, sikap mereka keren sekali. Seorang di antara mereka, yang kumisnya yang paling lebat dan tubuhnya paling besar, bertanya dalam bahasa Hui,

"Nyonya Cia, siapakah orang ini, yang berani menyebut nama kecil nyonya?"

Merah muka Tilana mendengar sebutan "nyonya Cia" ini, dan Han Sin seperti ditikam belati hatinya. Ia terharu sekali. Pemuda yang memiliki kecerdikan luar biasa ini segera mengerti atau dapat menduga bahwa Tilana malah sudah mempergunakan sebutan nyonya Cia atau mengaku menjadi isterinya, isteri Cia Han Sin!

"Kau ..... kau menggunakan nama ...... nyonya Cia ??" tanyanya gagap dan wajahnya menjadi

pucat.

Tilana mengangkat dadanya, sikapnya angkuh. "Seorang wanita sejati harus memiliki kesetiaan. Memang aku isteri Cia Han Sin, kenapa tidak menyebut diri nyonya Cia? Tapi, Cia Han Sin, seperti juga Tilana, telah mati! Kau ini laki-laki berhati keji, yang dengan kejam telah menghancurkan hidup seorang gadis, malah sudah berpura-pura tidak mengenalku!"

"Nyonya, kalau dia jahat, biarlah hamba memberi hajaran kepadanya!" seru laki-laki tinggi besar berkumis itu sambil menggerak-gerakkan cambuk di tangannya.

Han Sin makin perih hatinya. Makin jelas terbayang di depan matanya betapa ia telah berlaku tidak adil kepada Tilana yang betul-betul mencintanya. Ia merasa amat terharu dan kedua kakinya menjadi lemas. Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di depan Tilana!

"Tilana ....., Tilana aku mengaku telah berbuat dosa besar. Kau boleh siksa aku, boleh bunuh

aku ...., memang aku laki-laki kejam !"

Orang Hui tinggi besar itu mencabut pedangnya dan hendak membacokkan senjatanya ke leher Han Sin. Akan tetapi Tilana membentak, "Jangan bunuh dia! Boleh cambuki dia laki-laki kejam ini!"

Orang Hui itu menyeringai, menyimpan pedangnya lalu mengayun cambuknya. "Tar! Tar! Tar!" cambuk menari-nari di atas tubuh Han Sin. Pemuda ini hendak menebus dosa. Ia rela disiksa. Kalau dia mau, tentu saja dengan pengerahan tenaga lweekangnya ia dapat menerima cambukan itu tanpa merasa sakit, malah kalau ia mau, sekali renggut saja ia mampu merampas cambuk atau mengelak.

Akan tetapi hatinya terlalu sedih dan pada saat itu ia hendak menebus dosanya, maka tanpa mengerahkan tenaga ia menerima datangnya cambukan. Pakaiannya cabik-cabik, malah kulit tubuhnya pecah berdarah. Cambuk menghantam terus ke punggung, ke muka, sampai mukanya berdarah, bibirnya pecah pada ujungnya. Ia terguling dan dipukul terus.

Pada saat itu, terdengar pekik dan Siauw-ong melompat turun, terus meloncat ke atas pundak si pemukul, menggigit pundak dan merampas cambuk. Orang Hui itu berseru kesakitan, cambuknya terampas dan ia terhuyung ke belakang. Siauw-ong melompat turun dengan cambuk di tangan, berdiri di depan majikannya, sikapnya mengancam, memperlihatkan gigi dan mengayun-ayun cambuk dengan pekik menantang!

"Siauw-ong, jangan! Lepaskan cambuk, pergilah ke gerobak!" Han Sin masih sempat mencegah. Monyet itu menoleh kepada majikannya, ragu-ragu, akan tetapi bertemu pandang dengan Han Sin, monyet itu mengeluarkan keluhan panjang melemparkan cambuk ke atas tanah lalu berlari-lari ke gerobaknya.

Orang Hui itu mengambil cambuknya lagi, lalu mencambuki Han Sin lebih hebat pula, agaknya untuk melampiaskan kemendongkolannya karena penyerangan monyet tadi. Sampai bergulingan Han Sin dicambuki, tubuhnya sakit-sakit namun ia tidak melawan, juga tidak mengeluh. Akhirnya ia jatuh pingsan di atas tanah yang berdebu, tubuhnya kotor terkena darah dan debu.

Ketika ia siuman kembali, ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah gerobak besar. Gerobak- gerobak lain berada agak jauh dari tempat itu, dan ia berbaring dengan kepala di atas pangkuan

......... Tilana! Gadis itu menangis, membersihkan mukanya, mendekap kepalanya pada dada yang berdebar-debar itu.

"Kau suamiku ...... bagaimana aku dapat membunuhmu ?" Air mata bercucuran dan menjatuhi

muka Han Sin, air mata yang hangat dan bening.

Makin terharu hati Han Sin. Tak dapat disangkal lagi, Tilana adalah seorang wanita yang amat cantik jelita, yang berwatak aneh, keras sekali, akan tetapi amat mencintainya. Wanita lain mungkin akan membunuhnya. Ia telah menolak cinta kasih wanita ini, malah sudah menghinanya, sudah mengusirnya. Akan tetapi Tilana malah mengaku sebagai isterinya, kini malah agaknya tidak tega melihat dia disiksa.

"Tilana ......, kau terlampau baik bagiku ...... menerima cintamu aku sudah berbuat dosa

kepadamu, kalau kau mau bunuh aku, bunuhlah Tilana "

Tilana terisak, mempererat pelukannya. "Tidak ....., tidak ! Kau laki-laki perkasa, kau terlalu

baik hati. Aku tahu, kau lihai dan kalau kau kehendaki, sepuluh orang aku dibantu seratus orangku masih takkan mampu melukaimu seujung rambut. Akan tetapi kau sengaja mengalah, kau sengaja membiarkan dirimu disiksa ......ah, Han Sin Han Sin, aku tidak mengerti, bukankah ini berarti

bahwa kau kau cinta kepadaku? Kenapa kau menolak cinta kasihku? Kenapa kau menolak

kehendak Tuhan bahwa kita ini berjodoh ......? Kenapa? Kenapa ?"

Han Sin menggelengkan kepalanya. lalu bangun duduk sambil tersenyum sedih. "Tak mungkin, Tilana , tak mungkin aku mencintai wanita lain. Memang kau baik sekali, kau cantik jelita,

halus budi, dan gagah perkasa, akan tetapi ...... sayang sekali aku tak dapat mencintaimu "

Tilana menyusuti air matanya, lalu dengan mata merah ia memandang Han Sin dan bertanya, "Kau tidak bisa mencinta wanita lain berarti kau telah mencinta seorang wanita?"

Han Sin mengangguk.

"Siapa dia?" pertanyaan ini memperdengarkan kepanasan hati, membayangkan cemburu yang besar. Han Sin menggeleng kepala. Bagaimana ia bisa menyatakan kepada Tilana bahwa ia mencinta Bi Eng?

"Kau bohong. Kalau betul ucapanmu tadi, kau harus mengaku siapa dia yang kaucinta. Barulah aku akan puas, baru aku mau mengalah "

Han Sin berpikir sebentar. Kalau ia diam saja tidak mengaku, tentu ia akan membuat Tilana makin penasaran dan sengsara hatinya lagi.

"Aku mencinta ...... Bi Eng ”

"Plak! Plak!" Dua kali tangan Tilana menampar pipi Han Sin, sampai panas terasa oleh pemuda itu yang hanya tersenyum sedih.

"Kau ini laki-laki macam apa? Bagaimana bisa seorang kakak mencinta adiknya sendiri seperti cinta kasih seorang pria terhadap wanita?"

Sudah kepalang tanggung bagi Han Sin. Ia harus membuat pengakuan, agar Tilana tidak penasaran lagi. "Bi Eng bukanlah adikku yang sesungguhnya ....., dia ......, dia itu ..... dia itu dia puteri

Balita ”

Tilana tersentak kaget, wajahnya pucat. “Apa artinya kata-katamu ini? Anak ibu hanya aku

seorang!"

Han Sin tersenyum. "Banyak rahasia terpendam, banyak hal aneh terjadi di waktu kau masih kecil, Tilana. Sebaiknya kau tanyakan hal ini kepada Balita, orang yang selama ini kau anggap ibumu itu. Aku sendiri masih belum tahu banyak " Tilana dengan muka pucat memandang Han Sin bibirnya bergerak-gerak perlahan, "Bagaimana mungkin .....? Masa dia itu saudaraku sendiri? Kakak atau adikku ?" Kemudian, memandangi

muka Han Sin yang masih lecet-lecet kulitnya dan berdarah, cinta kasihnya timbul dan sambil menangis ia menubruk pemuda itu.

"Han Sin ...... suamiku, jangan kau mempermainkan aku bilang bahwa semua kata-katamu itu

bohong belaka. Aku akan mengampuni kau , kaulah orangnya yang akan dapat membahagiakan

hidupku. Biarkan aku ikut denganmu, biar aku hidup menderita dan kekurangan di sampingmu. Biarkan aku yang menghiburmu, yang melayanimu, mencuci pakaianmu, memasakkan makananmu

....... Han Sin, kau kasihanilah aku "

Han Sin sedih sekali. Andaikata tidak ada Bi Eng, alangkah akan mudah dan senangnya baginya untuk mencinta wanita ini. Ia mengelus-elus rambut yang hitam dan halus itu, membiarkan Tilana menangis terisak-isak di dadanya, membiarkan Tilana melampiaskan kedukaannya. Setelah reda tangis Tilana, Han Sin berkata lemah lembut,

"Tilana, kau seorang gadis yang berhati setia. Akupun demikian, Tilana. Selama hidupku aku hanya dapat mencinta seorang wanita saja. Aku tak dapat mengkhianati cinta kasih di hatiku sendiri, biarpun Bi Eng belum tahu akan perasaanku ini, akan tetapi di dalam hati aku sudah bersumpah takkan mencinta wanita lain. Biarlah kita berpisah sebagai sahabat, Tilana, tentu saja kalau kau

sudi mengampuniku. Kalau tidak, kau boleh membunuhku kalau hal itu kau kehendaki "

"Han Sin ......." Tilana menahan isaknya. "Aku aku takkan kuat hidup berpisah darimu, setelah

apa yang terjadi ....... setelah aku menjadi isterimu bila kita dapat bertemu kembali setelah

perpisahan ini ?"

"Kelak kita tentu akan bertemu kembali, Tilana. Bertemu sebagai sahabat, atau sebagai saudara. Sekarang biarkan aku pergi, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Andaikata kita takkan saling bersua di dalam dunia ini, akhirnya kitapun akan berkumpul di alam baka. Semua orang akhirnya akan bersatu juga "

"Han Sin ......., Han Sin sekali bertemu aku jatuh cinta padamu, akan tetapi sekali bertemu kau

menghancurkan hatiku "

Han Sin hanya menarik napas panjang. Semalam suntuk Tilana menangis dan membujuk, bermohon, merendahkan diri agar supaya Han Sin suka membawanya, suka diikutinya. Malah gadis ini sampai menyatakan bahwa ia sudah akan merasa puas kalau diperbolehkan menjadi seorang pelayannya, biar dia melayani Han Sin dan isterinya kelak, siapapun juga isterinya itu, asal saja ia diperbolehkan ikut dan selalu berada di sisinya. Beginilah cinta kasih yang sudah berakar mendalam di hati wanita.

Han Sin merasa amat terharu dan kasihan. Dia belum pernah mengenal cinta kasih wanita seperti ini. Benar pernah ia merasai cinta kasih Li Hoa, akan tetapi tidak seperti sikap Tilana ini. Ia merasa amat kasihan dan berusaha menghibur hati Tilana.

Pada keesokan harinya, dengan hati berat, mata merah bengkak karena banyak menangis, muka sebagian ditutup kerudung agar tidak kelihatan oleh orang-orangnya bahwa ia masih saja menangis, Tilana akhirnya melepaskan Han Sin. Malam tadi dia sendiri yang mengobati luka-luka di tubuh Han Sin, malah ia menjahitkan pakaian Han Sin yang cabik-cabik bekas cambukan. Setelah tidak ada harapan lagi untuk menahan Han Sin, Tilana mengajukan permintaan agar supaya monyet itu, Siauw-ong dititipkan kepadanya. "Aku akan memeliharanya baik-baik," katanya, "biarlah untuk sementara ini dia menjadi kawanku biar dengan adanya dia di sampingku aku akan merasa berdekatan denganmu. Pula dengan

adanya dia padaku, aku merasa yakin bahwa kau tidak bohong, bahwa tentu kau akan datang mengunjungi aku di lembah Sungai Kuning di perbatasan Propinsi Shan-si."

Memang tadinya Han Sin berjanji hendak mengunjungi tempat tinggal Tilana yaitu di lembah Sungai Kuning. Sekarang Tilana mengajukan permintaan ini, berat baginya untuk meninggalkan Siauw-ong. Akan tetapi, kalau ia menolaknya, tentu akan membuat Tilana tidak percaya kepadanya dan pula, memang di dalam tugasnya yang berat mencari Hoa-ji, lebih baik kalau ia meninggalkan Siauw-ong di tempat yang aman.

Demikianlah, setelah banyak memberi tanda dengan kata-kata dan tangan kepada monyetnya akhirnya Siauw-ong mengerti dan mau ditinggalkan, apalagi ketika dengan halus Tilana memondongnya dan membiarkan monyet itu duduk di pundaknya. Monyet adalah seekor binatang yang mudah mengenal baik buruknya maksud orang dan mudah mengenal isi hati dari gerakan orang itu. Ia merasa bahwa wanita ini tidak bermaksud buruk kepadanya, maka karena takut kepada Han Sin, iapun tidak membantah perintah ini.

Tilana berdiri dengan Siauw-ong di pundaknya, memandang ke arah gerobak kecil yang ditunggangi Han Sin bergerak ke utara, sampai gerobak itu lenyap di sebuah tikungan. Dengan isak tertahan ia lalu melompat ke atas kudanya dan memberi tanda kepada orang-orangnya untuk melanjutkan perjalanan.

****

Makin ke utara, makin terasa suasana perang. Mulai ramailah jalan, berbondong-bondong orang menuju ke selatan. Setiap kali bertanya, Han Sin mendapat jawaban bahwa pertempuran- pertempuran mulai pecah di perbatasan. Bala tentara Mongol sudah mulai menyerang dari beberapa tempat dan selalu mendapat perlawanan yang gigih dari barisan Mancu yang dibantu oleh orang- orang Han. Penduduk yang tidak mau ikut terseret dalam pertempuran, melarikan diri ke selatan, mengungsi.

Memang tak dapat disangkal pula, semenjak jaman dahulu sampai sekarang, tiap kali terjadi pertempuran dalam perebutan kekuasaan, tiap kali terjadi perang, yang paling hebat menderita adalah rakyat. Bagi rakyat di daerah perbatasan ini, selalu menjadi korban. Kalau orang-orang Mongol yang mendesak tentara Mancu keluar dari sebuah kampung, maka seisi kampung itu habis dirampoki oleh orang orang Mongol, diambil barang-barangnya, diculiki wanita-wanitanya dan dibunuhi orang-orang lelakinya.

Kalau orang-orang Mancu yang menang, nasib malang tidak banyak bedanya. Diperas, diambili bahan makan untuk ransum tentara, diganggu wanitanya dan kalau membantah dicap membantu musuh! Inilah sebabnya maka para penduduk itu merasa lebih aman mengungsi, meninggalkan rumah dan kampung halaman, lebih aman mengungsi seanak isterinya, entah ke mana dan entah bagaimana jadinya dan apa yang akan dimakannya. Pokoknya lebih dahulu meninggalkan tempat pertempuran itu, meninggalkannya jauh-jauh neraka dunia itu.

Pasukan-pasukan Mancu mulai tampak, kadang-kadang berkelompok menunggang kuda, kadang- kadang berbaris tak teratur. Han Sin mulai menarik perhatian dan dicurigai. Ketika ia tiba di luar kota Ta-tung, sepasukan tentara Mancu menyetopnya dan ia dengan gerobaknya segera dikurung. "Siapa kau? Dari mana dan mau ke mana? membawa apa dalam gerobak ini?" Pertanyaan bertubi- tubi menghujani Han Sin yang mendongkol juga melihat sikap mereka. Mereka ini adalah tentara Mancu, berarti tentara penjajah tanah airnya, berarti musuh-musuhnya!

"Mungkin dia mata-mata Mongol!" terdengar seorang tentara berkata.

Akan tetapi, pada masa itu, para tentara Mancu tidak berani sembarangan mengganggu orang Han. Hal ini adalah atas perintah yang keras dari para pembesar Mancu di bawah pimpinan Pangeran Yong Tee. Mereka, orang-orang Mancu ini, dalam menghadapi pemberontakan Mongol amat membutuhkan bantuan orang-orang Han, terutama sekali orang-orang gagah di dunia kang-ouw, maka pada para anak buah dipesan supaya berhati-hati dan jangan sembarangan bersikap kasar terhadap orang-orang Han dari selatan.

"Aku orang she Cia, datang dari Lu-liang-san hendak ke kota Ta-tung. Aku membawa barang antaran, kalian ini menghadang mau apakah? Apa mau merampok?" jawab Han Sin dengan suara bernada marah. Tidak biasanya Han Sin bersikap sekasar ini, akan tetapi bertemu dengan tentara Mancu yang dianggap musuhnya, timbul kebenciannya.

Seorang tentara yang menjadi pemimpin pasukan itu, maju dan berkata dengan suara halus, "Sama sekali tidak, saudara Cia. Orang-orang selatan adalah sahabat sahabat kami. Akan tetapi, kami bertugas di sini dan dalam keadaan perang menghadapi pemberontakan penjahat-penjahat Mongol, kami harus berlaku hati-hati dan memeriksa setiap orang yang memasuki Ta-tung yang menjadi tempat pertahanan."

Kemarahan hati Han Sin tidak men¬jadi reda dengan sikap halus ini.

"Kalian berperang dengan orang Mongol bukan urusanku. Aku sudah menjawab pertanyaan, sudah mengaku she-ku, sudah memberi tahu bahwa aku mengantar barang ke Ta-tung. Kalian percaya atau tidak, juga bukan urusanku. Harap kalian minggir dan membiarkan aku masuk kota."

Jawaban ini membikin marah semua tentara di situ. "Kasar sekali dia! Tangkap saja!" teriak seorang yang berangasan. Akan tetapi kepala pasukan itu masih berkata halus,

"Saudara Cia, kami bersikap lunak kepadamu, kenapa kau bersikap begitu kasar? Kewajiban kamilah untuk memeriksa isi gerobak ini. Harap kau suka membuka dua peti itu."

"Tak mungkin!" Han Sin makin marah. "Setelah menjajah tanah airku, apakah kalian masih hendak menindas dan menghalangi pergerakan bebas seseorang? Peti-peti itu hanya titipan, bukan milikku. Aku sendiri yang bertugas mengantar tidak berani membuka, apalagi orang lain, tentu tak kuperbolehkan."

"Kau melawan?" Si berangasan tadi melangkah maju dan memukul kepala Han Sin. Pemuda ini mengangkat tangan, dua lengan bertemu "dukk!" dan si berangasan menjerit kesakitan, roboh terguling dengan tulang lengan patah-patah! Ia mengaduh-aduh dengan muka pucat.

"Seekor semut sekalipun akan melawan kalau diinjak, apalagi manusia yang tak bersalah tentu akan melawan kalau diserang," kata Han Sin, sikapnya tenang namun sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam menusuk dan seakan-akan berkilat-kilat, membuat semua orang yang mengepungnya menjadi gentar juga. Kepala pasukan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pandai, maka cepat ia menjura sambil bertanya, "Maafkan kelancangan anak buahku. Sicu (tuan yang gagah) apakah mempunyai kenalan orang gagah yang membantu pasukan kami di Ta-tung?"

Han Sin berpikir. Menurutkan perasaannya ia tidak sudi berbaik dengan mereka ini, malah ingin ia menumpas mereka. Akan tetapi pikirannya yang sehat memaksanya bersikap lain. Ia sedang bertugas tidak hanya harus melindungi dua buah peti titipan Lie Ko Sianseng. Ia sudah berjanji melindunginya, kalau sampai terjadi keributan dan peti-peti itu hilang, bukankah berarti ia melanggar janji? Pula, ia sedang mencari Hoa-ji, malah belum berkumpul kembali dengan Bi Eng. Alangkah tidak baiknya kalau ia mencari musuh di sini.

"Aku kenal baik dengan nona Thio Li Hoa. Kalian percaya atau tidak, terserah!"

Kepala pasukan itu menjadi terkejut dan saling pandang juga anak buahnya. Nama Thio Li Hoa siapakah yang tidak mengenalnya? Puteri Thio-taijin yang amat lihai, seorang pendekar wanita yang gagah perkasa! Pada saat itu datang lagi serombongan orang. Mereka ini berpakaian seperti pengemis-pengemis dan sebagian pula berpakaian sebagai tosu (pemeluk Agama To).

"Haii ....... bukankah itu Cia-taihiap dari Min-san ??" Tiba-tiba seorang tosu tua berseru girang.

Tosu ini tua dan gagah sikapnya, rambutnya digelung satu dan sekali ia menggerakkan kaki tahu- tahu tubuhnya sudah melayang dan turun di depan Han Sin. Gerakkannya ringan dan cepat seperti burung terbang saja. Han Sin segera mengenalnya. Cepat-cepat ia menju¬ra. "Eh, kiranya Hee Tojin berada di sini pula. !”

Ternyata bahwa para tosu itu adalah anggauta-anggauta Cin-ling-pai dan pemimpin mereka adalah Hee Tojin, seorang di antara Cin-ling Sam-eng yang semenjak tewasnya para pimpinan Cin-ling-pai yaitu Giok Thian Cin Cu, It Cin Cu, dan Ji Cin Cu, telah dianggap sebagai ketua Cin-ling-pai. Tentu saja ia mengenal Han Sin yang menjadi tuan penolongnya.

Di lain pihak, Han Sin menjadi heran sekali. Bagaimana orang-orang Cin-ling-pai yang tadinya berjiwa patriotik sekarang tahu-tahu berada di situ dan agaknya bersatu dengan barisan Mancu? Bukankah dahulu orang-orang gagah ini memusuhi Mancu? Lebih besar keheranan hatinya ketika ia mengenal bahwa di antara para pengemis itu terdapat pula Sin-yang Kai-pangcu Kui Kong, murid luar Ciu-ong Mo-kai yang dahulu juga seorang patriot! Kenapa dia dan kawan-kawannya itupun berada di Ta-tung, padahal dulu amat membenci penjajah Mancu? Benar-benar amat mengherankan semua perubahan ini dan andaikata ia belum mendengar keterangan Li Hoa, tentu ia akan merasa tidak senang sekali kepada mereka.

Ketika para pengemis dan tosu kang-ouw ini mendengar dari pemimpin regu tentara Mancu tentang dua buah peti yang dibawa Han Sin, mereka mendekati gerobak Han Sin. Hee Tojin mengerutkan keningnya dan bertanya,

"Cia-taihiap, kita adalah orang-orang sendiri. Harap kau maafkan kalau prajurit prajurit kasar ini tadi mengganggumu. Akan tetapi, pinto rasa kaupun takkan berkeberatan memberi tahu secara berterus terang, siapakah yang mempunyai peti peti ini dan hendak dikirimkan kepada siapa?"

Han Sin maklum bahwa dia mendekati daerah berbahaya, daerah pertempuran dan sudah semestinya kalau para pejuang yang menjaga di situ harus berlaku waspada. Dia sendiri andaikata menjadi seorang pejuang yang berjaga, tentu akan berlaku waspada dan tidak mudah mempercayai orang. Sambil tersenyum ia menjawab, "Di jalan aku bertemu dengan Lie Ko Sianseng si Raja Swipoa. Nah, dialah yang mempunyai peti- peti ini dan dia minta aku menyerahkan dua peti ini kepada seorang penerima yang akan menyambutku membawa surat kuasanya di Ta-tung.

Terdengar seruan-seruan curiga di antara para pengemis, bahkan Hee Tojin juga memandang tajam. "Milik Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng? Cia-taihiap, kenapa kau suka membawakan barangnya?

Itulah berbahaya sekali! Tak tahukah kau bahwa Lie Ko Sianseng itu adalah seorang kaki tangan Mongol, orang yang dipercaya oleh Pangeran Galdan?"

Tak senang hati Han Sin mendengar ini. Andaikata mereka ini, para tosu dan pengemis kang-ouw ini berjuang membela tanah air melawan penjajah asing, dia tentu akan turun tangan membantu tanpa ragu-ragu lagi. Akan tetapi mereka ini biarpun memerangi orang Mongol, nyatanya menghambakan diri kepada pemerintah penjajah Mancu!

"Dia itu kaki tangan orang Mongol atau kaki tangan orang Mancu, aku tidak perduli. Bukan urusanku." Jawaban ini membuat para tosu dan pengemis kang-ouw itu merah mukanya. Sudah tentu saja mereka merasa disindir.

"Ah, agaknya kau tidak tahu, taihiap. Apakah kau belum bertemu dengan Ciu-ong Mo-kai?" kata Hee Tojin.

"Siapapun juga takkan dapat merobah pendirianku tadi," jawab Han Sin. "Pendeknya, aku akan membawa barang-barang ini ke Ta-tung, lalu mencari adikku dan pergi meninggalkan Ta-tung. Perang antara Mancu dan Mongol bukan urusanku dan aku tidak mau ikut-ikut. Harap kalian suka minggir dan jangan mengganggu aku."

Hee Tojin sudah mengenal kelihaian pemuda ini, malah pemuda ini adalah pewaris dari pada ilmu- ilmu Giok Thian Cin Cu, jadi menurut tingkat masih terhitung paman gurunya sendiri! Juga orang- orang seperti Sin-yang Kai-pangcu Kui Kong dan beberapa orang lagi di antara tosu dan pengemis kang-ouw itu sudah mengenal Han Sin.

Akan tetapi, ada beberapa orang kang-ouw yang belum mengenalnya dan mereka inilah yang menjadi penasaran sekali. Menghadapi seorang pemuda begini sombong, mengapa saudara-saudara mereka itu begitu bersabar hati dan mengalah?

"Cia-taihiap, harap kau maklumi keadaan kami. Karena barang-barang ini milik Lie Ko Sianseng, terpaksa kami harus memeriksanya, bahkan sebetulnya harus kami sita!" kata pula Hee Tojin secara terpaksa.

Bangkit kemarahan Han Sin. "Tidak boleh! Siapapun juga tidak boleh mengganggu barang ini selama aku masih hidup!"

Hee Tojin mengerutkan keningnya. "Cia-taihiap, kau agaknya sudah terkena bujukan Swi-poa-ong! Kenapa kau sampai melindungi barang-barangnya seperti ini?"

Han Sin melompat dan tahu-tahu ia telah berada di atas atap gerobaknya. Dengan tenang dan gagah pemuda ini bertolak pinggang, memandang ke sekelilingnya, kepada mereka yang mengurungnya, lalu berkata tenang,

"Seorang laki-laki harus memenuhi janjinya. Aku sudah berjanji akan mengantar barang-barang ini sampai ke Ta-tung, dan akan melindunginya mempertaruhkan nyawa! Kalian boleh menggunakan alasan apapun juga, akan tetapi akupun tetap pada janjiku. Sebelum aku mati, jangan harap dapat mengganggu barang-barang ini. Siapa hendak mencoba-coba, boleh maju!"

32. Perbedaan Pendapat Guru Dan Murid

UCAPAN ini terdengar sombong, memang Han Sin sudah marah sekali dan ia merasa menjadi kewajibannya untuk melindungi barang-barang itu sebagai pelaksanaan dari pada janjinya. Memang ia sudah nekat, hal ini bukan hanya karena pendiriannya sebagai seorang laki-laki yang satu kali berjanji harus dipegang sampai mati.

Akan tetapi juga ada dua faktor penting yang mempertebal kenekatannya, yaitu pertama karena ia merasa marah melihat orang-orang yang dulu dianggapnya patriot-patriot sejati itu sekarang mau mengekor dan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah, dan kedua kalinya karena semenjak terjadi peristiwa dengan Tilana, ia memang merasa amat bingung dan berduka sehingga tidak perduli lagi apakah ia akan mati ataukah hidup!

Tentu saja orang-orang yang mengelilinginya marah mendengar ini. Hee Tojin, Sin-yang Kai- pangcu, dan lain-lain tokoh yang sudah mengenal pemuda ini dan menghormatinya bukan saja sebagai pendekar, akan tetapi juga sebagai putera Cia Sun taihiap, masih merasa ragu-ragu dan tidak berani turun tangan. Akan tetapi, tokoh-tokoh kang-ouw yang belum mengenal Han Sin tak dapat menahan marahnya lagi.

"Pemuda sombong, kau mengandalkan apa sih?" bentak seorang pengemis bertubuh tinggi besar. Pengemis ini adalah seorang tokoh dari selatan, ketua dari perkumpulan pengemis Po-yang Kai- pang, namanya Can Kwan. Dia adalah seorang ahli gwakang dengan tenaga raksasa yang amat hebat, senjatanya sebuah toya baja yang berat. Setelah membentak ia lalu melangkah maju dan toyanya ia gerakkan menyambar ke arah kedua kaki Han Sin yang berdiri di atas gerobaknya.

Pemuda ini tersenyum mengejek, sama sekali tidak mengelak, bahkan ia lalu menggerakkan kaki kirinya menendang ke arah ujung toya yang sudah menyambar dahsyat itu. Hee Tojin yang sudah mengenal tenaga raksasa dari Can Kwan dan tahu akan kehebatan hantaman toya, merasa khawatir juga. Mana bisa kaki pemuda itu menahan datangnya toya dengan tendangan? Tentu akan hancur kakinya dan diam-diam Hee Tojin merasa tidak enak hatinya. Juga para tokoh lain memandang dengan hati tegang, membayangkan betapa kaki itu akan hancur dan tubuh pemuda itu akan terlempar jatuh ke bawah.

"Dukkk!" Ujung toya bertemu dengan ujung kaki Han Sin dan kesudahannya membuat semua orang berseru kaget. Bukan kaki itu yang hancur, melainkan Can Kwan yang berteriak ngeri. Toya itu terpental menghantam pundaknya sendiri, membuat tulang pundaknya remuk dan tak dapat dicegah lagi ia roboh terguling-gu¬ling sambil mengaduh-aduh lalu pingsan!

Gegerlah suasana di situ semua orang menjadi kaget dan marah. Beberapa orang pengemis kawan- kawan Can Kwan mengayun tubuh melompat ke atas atap gerobak, dengan senjata masing-masing menyerang Han Sin dengan maksud merobohkannya dari atas atap.

Akan tetapi, belum juga kaki mereka menyentuh atap gerobak, empat orang yang melompat berbareng itu memekik dan roboh kembali seperti dibanting oleh tenaga raksasa. Mereka hanya merasa ada tenaga yang menolak mereka. Tenaga ini demikian hebat dan tak dapat dilawan sampai- sampai mereka tak dapat menguasai diri ketika jatuh dan terbanting di tanah mengeluarkan suara berdebuk. Empat orang itu meringis-ringis kesakitan, ada yang tulang kakinya patah, ada yang perutnya mulas karena bantingan itu dan ada yang matanya berkunang-kunang dan kepala pusing! Makin gemparlah orang-orang yang mengurung Han Sin. Tadi mereka tidak melihat pemuda itu menyerang lawan, hanya menggerakkan kedua tangan saja, akan tetapi tanpa menyentuh keempat orang lawannya, ia sudah berhasil merobohkan mereka. Benar-benar hal yang hampir tak dapat dipercaya oleh mereka, kecuali Hee Tojin dan Sin-yang Kai-pang¬cu yang keduanya sudah maklum bahwa pemuda itu mewarisi ilmu silat Lo-hai-hui-kiam dari Giok Thian Cin Cu dan ilmu silat Liap- hong Sin-hoat dari Ciu-ong Mo-kai!

Para pengurung menjadi ragu-ragu dan jerih. Mereka saling menanti, akan tetapi tak seorangpun berani mencoba-coba menyerang Han Sin yang masih berdiri di atap gerobaknya dengan sikap tenang dan angker.

"Sin-ko !" Tiba-tiba terdengar seruan girang.

"Eng-moi !" Han Sin juga berseru girang ketika melihat Bi Eng datang berlari-lari bersama Li

Hoa. Di belakang dua orang gadis ini kelihatan tiga orang lagi, yaitu seorang pengemis berpakaian tambal-tambalan berambut kusut awut awutan membawa sebuah guci arak, seorang gadis yang cantik dan wajahnya mirip Li Hoa bersama seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Han Sin tidak mengenal gadis itu, akan tetapi ia segera mengenal pemudanya yang bukan lain adalah Phang Yan Bu, putera dari Ang-jiu Toanio. Adapun pengemis aneh itu bukan lain adalah Ciu-ong Mo-kai! Gadis yang berada di sisi Phang Yan Bu itu bukan lain adalah Thio Li Goat, adik Li Hoa.

Kita sudah mengenal Li Goat ini sebagai puteri Thio-ciangkun, seorang gadis yang bersama cicinya, Li Hoa, berjiwa patriotik seperti ibunya. Ketika orang-orang gagah yang tadinya berselisih faham dan berlawanan, mereka yang pro dan yang anti pemerintah Ceng, kini bersatu dalam menghadapi pemberontakan Bhok-kongcu alias Pangeran Galdan, dua orang enci adik yang gagah perkasa ini tidak mau ketinggalan. Merekapun berangkat ke utara dan membantu pembasmian pemberontak Mongol yang ingin menjajah kembali Tiongkok. Dalam perjuangan inilah Li Goat bertemu dan berkenalan dengan Phang Yan Bu, dan keduanya saling tertarik, akhirnya mereka menjadi sahabat baik.

Ketika Li Hoa muncul bersama Bi Eng di Ta-tung, Yan Bu dan Li Goat girang. sekali bertemu dengan gadis dari Gunung Min-san ini. Phang Yan Bu masih bersikap ramah-tamah dan baik sekali terhadap Bi Eng, sungguhpun sekarang pemuda ini menjadi ragu-ragu dalam menentukan pilihan hatinya.

Terhadap Bi Eng diam-diam ia masih menaruh hati kagum dan tertarik. Bi Eng adalah seorang gadis yang lincah gembira, bersemangat dan panas seperti cahaya matahari, cantik manis dan jujur. Di lain pihak, Li Goat adalah seorang gadis cantik jelita yang pendiam, bersungguh-sungguh, sopan dan pengetahuannya luas. Bagaikan bunga, Bi Eng adalah setangkai bunga mawar hutan yang semerbak harum, bergoyang-goyang gembira kalau terbawa angin. Sebaliknya Li Goat bagaikan bunga seruni yang tenang, tak mudah tergoyangkan angin, akan tetapi memiliki daya penarik tersendiri.

Diam-diam Phang Yan Bu suka menbanding-bandingkan dua orang gadis kawan baiknya ini di dalam hatinya, dan kadang-kadang ia mengeluh dan memaki diri. sendiri. "Kau pemuda gila, mata keranjang, yang itu suka yang ini cinta. Bodoh, memalukan!"

Akan tetapi, pandang mata Li Goat yang kadang-kadang mengandung sinar kasih sayang kepadanya, membuat Phang Yan Bu lebih condong kepada Li Goat. Ia dapat menduga bahwa Li Goat "ada hati" kepadanya, sebaliknya, Bi Eng bersikap terbuka dan riang kepadanya, seperti juga kepada orang lain.

Bi Eng juga girang sekali ketika di Ta-tung ia bertemu dengan teman-teman lama ini. Apalagi ketika ia bertemu pula dengan Ciu-ong Mo-kai, gurunya.

"Bi Eng, kau datang ke sini mau apa?" tanya Ciu-ong Mo-kai setelah hilang keheranannya melihat murid yang tak tersangka-sangka ini.

Setelah memberi hormat, Bi Eng berkata manja, "Teecu (murid) bertemu dengan enci Li Hoa dan yang menolong Siauw-ong yang terluka. Karena Sin-ko hendak pergi mencarikan obat, teecu diajak enci Li Hoa ke sini, bertemu dengan suhu dan teman-teman sambil menanti datangnya Sin-ko."

Ciu-ong Mo-kai cemberut. "Tempat ini menjadi tempat perang. Apa-apaan kau anak kecil datang ke sini? Tempat berbahaya, tahu?"

Bi Eng mengerling manja. "Suhu sendiri datang ke sini, kenapa teecu tidak? Apa yang diperbuat oleh gurunya, tentu selalu diturut dan dicontoh muridnya!"

Ciu-ong Mo-kai semenjak dulu tak pernah dapat marah kepada muridnya ini. Malah sering kali Bi Eng yang "ngambul" dan marah kepada suhunya. Sekarang mendengar jawaban muridnya ini, Ciu- ong Mo-kai tertawa bergelak lalu menenggak arak wangi dari gucinya. "Aku tidak bisa berbantah dengan kau. Tunggu saja sampai Han Sin datang, aku akan perintahkan dia membawamu pergi dari sini, ke tempat aman!"

Demikianlah Bi Eng merasa senang berada di Ta-tung bersama orang-orang yang dikenalnya. Ia bertemu dengan tokoh-tokoh persilatan dan merasa amat heran mengapa orang-orang yang dulu bermusuhan sekarang bisa bekerja sama membantu pemerintah Ceng. Gadis ini biarpun masih hijau namun berkat bimbingan Han Sin, memiliki kecerdikan pula. Maka setelah ia mendengar penuturan Li Hoa dan yang lain-lain, ia mengerti bahwa semua ini tentulah hasil dari pada kebijaksanaan Pangeran Yong Tee!

Pangeran itu amat bijaksana dan dengan kebijaksanaannya itulah ia dapat menarik para enghiong sehingga orang-orang yang tadinya berjiwa patriot, orang-orang yang tadinya tidak rela melihat tanah air dijajah bangsa lain, kini malah membantu pemerintah penjajah itu untuk menghadapi ancaman Bangsa Mongol di bawah pimpinan Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu!

Memang tepat dugaan Bi Eng ini. Pangeran Yong Tee-lah yang mengatur semua ini sehingga tokoh-tokoh kang-ouw seperti Ciu-ong Mo-kai, tosu-tosu Cin-ling-pai dan banyak kai-pang (perkumpulan pengemis kang-ouw) yang tadinya memusuhi pemerintah Mancu, sekarang

berbondong menuju ke utara untuk menghalau ancaman Bangsa Mongol yang bermaksud menyerbu ke selatan dan menjajah kembali daratan Tiongkok.

Tentu saja dalih-dalih yang ditonjolkan oleh Pangeran Yong Tee untuk menggugah sikap perlawanan para enghiong ini adalah untuk membela tanah air dan bangsa dari pada penindasan orang-orang Mongol yang terkenal kejam. Malah dikeluarkannya dalih bahwa Bangsa Mancu adalah Bangsa Tiongkok juga, dan karena itulah maka orang-orang Mancu bersiap sedia mengorbankan nyawa untuk melindungi tanah air Tiongkok dari pada penindasan siapapun juga. Orang-orang gagah itu digali ingatannya akan penderitaan rakyat selama dijajah oleh orang Mongol. Dengan propaganda-propaganda yang dilakukan amat pandai inilah Pangeran Yong Tee berhasil menarik bantuan banyak orang kang-ouw. Tentu saja di pihak Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan di Mongol, juga tiada hentinya menyebar propaganda untuk merobohkan penjajah Ceng, untuk mengusir orang-orang Mancu dari Tiongkok dan dengan jalan ini Bhok-kongcu juga berhasil pula menarik bantuan orang-orang gagah Bangsa Han sendiri.

Dengan demikian, maka dua orang tokoh pandai ini, Pangeran Yong Tee dari Mancu, Pangeran Galdan dari Mongol, selain menggunakan bala tentara sendiri masing-masing, juga telah memecah belah orang-orang Han untuk saling bertempur dan berperang sendiri, sepihak membantu Mancu, lain pihak membantu Mongol!

Bangsa yang melupakan persatuan, tentu akan lemah sekali, demikian pula keadaan Bangsa Han di Tiongkok di jaman dahulu. Selalu cakar-cakaran, selalu bunuh-membunuh dan bertempur di antara mereka sendiri. Perang saudara susul-menyusul, rakyatnya sampai bingung dan sengsara dipermainkan nafsu-nafsu berkuasa para pemimpin.

Dalam keadaan rakyat saling cakar di bawah pimpinan pembesar-pembesar yang memperebutkan kekuasaan ini, keadaan negara menjadi lemah dalam arti menghadapi ancaman dari luar. Kalau tidak demikian halnya, kalau rakyat bersatu padu, kekuasaan apakah di dunia ini yang dapat mengalahkan Tiongkok yang begitu banyak rakyatnya?

Akan tetapi, karena tidak adanya persatuan sepanjang masa inilah, maka pernah Bangsa Mongol menjajah Tiongkok sejak penyerangan pertama sampai berakhirnya Kerajaan Mongol selama dua ratus tahun! Dan itu pulalah yang menjadikan sebab mengapa Bangsa Mancu sampai dapat menjajah Tiongkok selama tiga ratus tahun!

Sepanjang keterangan yang diperoleh Bi Eng, pertempuran sudah terjadi di sekitar daerah Ta-tung di bagian utara. Berkali-kali pihak Mongol hendak menerobos ke selatan melalui beberapa tempat dan selalu mereka itu dapat dipukul mundur oleh pihak Mancu. Ta-tung dijadikan pusat pertahanan Mancu dan di sinilah berkumpul "sukarelawan-sukarelawan" bangsa Han seperti Ciu-ong Mo-kai dan yang lain-lain. Malah kabarnya Pangeran Yong Tee sendiri seringkali dari kota raja datang ke Ta-tung untuk memeriksa keadaan dan memimpin sendiri siasat peperangan.

Bi Eng bertempat tinggal bersama Li Goat dan Li Hoa dan dalam pergaulannya dengan mereka selama beberapa hari ini, tahulah Bi Eng bahwa ada "apa-apanya" di antara Li Goat dan Phang Yan Bu. Diam-diam ia merasa girang dan bersyukur karena iapun mengerti bahwa dulu Phang Yan Bu menaruh perhatian kepada dirinya.

Akan tetapi dia sendiri sampai sekarang tak dapat membalas cinta kasih setiap orang pria. Hanya kepada Pangeran Yong Tee ia mempunyai perasaan yang mesra, akan tetapi inipun mungkin hanya karena tertarik oleh sikap pangeran itu yang amat baik dan sopan kepadanya dan dia sendiri tidak berani menentukan apakah ia mencinta pangeran itu ataukah tidak.

Bi Eng sedang bercakap-cakap dengan Ciu-ong Mo-kai, Phang Yan Bu, Li Hoa dan Li Goat ketika datang seorang tentara Mancu dengan terengah-engah orang ini berkata kepada Li Hoa,

"Thio-lihiap, ada seorang muda mengamuk di luar kota dan menurut pengakuannya dia sudah mengenal Thio-lihiap."

Bi Eng dan Li Hoa bertukar pandang Li Hoa segera bertanya, "Bagaimana orangnya?"

"Dia masih muda, tampan dan naik gerobak, menjadi pengawal barangnya Lie Ko Sianseng " "Sin-ko " kata Bi Eng yang segera meloncat dan berlari keluar untuk menjemput kakaknya.

Yang lain-lain sambil tertawa juga berlari mengejarnya.

Demikianlah, mereka menyaksikan betapa Han Sin berdiri tegak di atas gerobak, dikurung oleh banyak tentara dan orang-orang gagah. Malah melihat keadaannya, tentu sudah ada yang berkenalan dengan kelihaian dengan pemuda itu.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, Bi Eng memanggil kakaknya dan Han Sin girang bukan main melihat kedatangan Bi Eng, Ciu-ong Mo-kai, Phang Yan Bu, Li Hoa dan seorang gadis yang tak dikenalnya. Tentu mereka akan dapat melepaskan, dia dari pengurungan yang tak enak ini.

"Sin-ko, mana Siauw-ong?" Bi Eng yang tak sabar lagi sudah meloncat naik ke atas atap gerobak dan memegang lengan kakaknya.

Berdebar jantung Han Sin mendengar pertanyaan ini dan kembali terbayang di depan matanya pengalaman yang baru saja ia alami bersama Tilana! Bagaimana ia bisa menceritakan semua itu kepada Bi Eng? Mukanya menjadi merah sekali. Ia merasa malu dan jengah.

Alangkah lemahnya, biarpun di dalam hati yakin bahwa wanita satu-satunya yang ia cinta hanya Bi Eng, namun begitu bertemu dengan Tilana yang cantik jelita, yang begitu mencintainya, kembali pertahanan batinnya runtuh! Ia merasa telah mengkhianati, telah mencurangi, telah berlaku tidak setia kepada Bi Eng.

"Sin-ko, mana dia? Mana Siauw-ong? Apa yang telah terjadi dengan dia? Apakah dia tak dapat sembuh?" Dalam hujan pertanyaan ini terkandung isak tertahan dan kegelisahan.

"Jangan khawatir Eng-moi. Siauw ong sudah sembuh." "Tapi mana dia?"

Han Sin yang merasa hangat hatinya karena dapat merasai pegangan tangan Bi Eng yang malah memeluk dan mengguncang-guncangnya dalam kegelisahannya akan Siauw-ong, menghiburnya dan berkata lirih, "Ssttt, nanti kuceritakan, semua. Lihat, kita menjadi tontonan orang disini. Lebih baik lekas menghadap suhu."

Baru Bi Eng teringat bahwa mereka bukan hanya berdua saja di situ. Banyak sekali mata orang memandang ke arah mereka, sebagian besar tidak sabar melihat adegan kakak dan adik ini. Sambil menggandeng tangan Bi Eng, Han Sin meloncat turun dari atap gerobak, langsung menghadap Ciu- ong Mo-kai dan memberi hormat.

Untuk beberapa detik sinar mata Ciu-ong Mo-kai bersinar kagum dan penuh keriangan melihat pemuda itu yang sudah banyak ia dengar semenjak mereka berpisah. Diam-diam kakek ini seringkali merasa geli hatinya betapa dulu ia sering kali putus harapan melihat Han Sin sebagai kutu buku yang membenci ilmu silat!

Baru setelah ia mendapatkan kesempatan melihat pemuda itu melatih lweekang secara aneh luar biasa di dalam kamarnya, kakek ini mendapat kenyataan bahwa tanpa disadari, pemuda itu telah melatih diri menjadi seorang ahli silat yang luar biasa. Dugaannya ternyata benar karena iapun sudah mendengar akan sepak terjang Han Sin yang amat ajaib, merobohkan orang-orang terkemuka dan semua itu dilakukan tanpa disadari. Kemudian ia mendengar pula betapa pemuda ini sudah memasuki gua dan menjadi ahli waris dari kitab peninggalan Lie Cu Seng, maka sudah sewajarnya kalau kakek ini merasa kagum dan juga bangga. Bukankah dia sendiri orangnya yang pertama-tama melatih pemuda ini?

Betapapun juga, karena semua kehebatan itu hanya didengarnya saja dari orang lain dan tak pernah ia sendiri menyaksikannya, maka ia masih merasa ragu ragu. Han Sin masih kelihatan sederhana seperti dulu, halus dan merendah, hanya sepasang mata yang dulu sinarnya berkilat seperti mata harimau di dalam gelap, sekarang menjadi makin kuat dan berpengaruh, akan tetapi penuh ketenangan.

"Han Sin, betulkah bahwa kau mengawal barang-barang Lie Ko Sianseng dan apa sebabnya kau ribut-ribut dengan mereka ini?" tanya Ciu-ong Mo-kai, terheran juga mengapa pemuda ini mau membantu Lie Ko Sianseng si Raja Swipoa.

"Betul suhu. Lie Ko Sianseng telah berhasil membantu teecu mencarikan obat untuk Siauw-ong sampai sembuh dan teecu sudah berjanji untuk membalas budinya dengan mengantar dua peti ini ke Ta tung. Biarpun tadi teecu mendengar bahwa dia adalah mata-mata Mongol, akan tetapi janji teecu tak mungkin dapat teecu langgar sendiri. Barang-barang ini harus teecu lindungi sampai ada orang yang berhak menerimanya," jawab Han Sin, suaranya tegas karena pemuda ini sedikit banyak merasa tidak senang bahwa orang tua yang ia hormati itupun di sini membantu pemerintahan Ceng.

"Siapakah dia yang berhak menerima?" tanya Ciu-ong Mo-kai.

"Teecu belum tahu. Menurut Lie Ko Sianseng, di Ta-tung akan ada orang yang menerimanya."

Orang-orang di situ makin ribut. Terdengar suara-suara memprotes, "Dia tentu mata-mata Mongol! Dia kaki tangan Lie Ko Sianseng! Tangkap !"

Ciu-ong Mo-kai tertawa bergelak, lalu menghadapi para tentara Ceng dan para pengemis kang-ouw, "Kalian lihat siapa dia? Dia ini adalah muridku, orang sendiri!"

Akan tetapi orang-orang di situ masih ribut, akhirnya Bi Eng tak sabar lagi dan membentak, "Siapa berani mengganggu kakakku? Dengar, dia adalah gite (adik angkat) dari Pangeran Yong Tee. Hayo, siapa berani mengganggunya?"

Suara ribut-ribut itu serentak berhenti dan semua orang memandang dengan heran dan terkejut. "Eng-moi " Han Sin menegur adiknya. Tak senang ia diperkenalkan sebagai adik angkat Yong

Tee, Pangeran Mancu penjajah itu.

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan lima orang perwira Mancu datang dengan cepat di atas kuda mereka. Melihat pakaian mereka,lima orang tersebut adalah perwira-perwira dari pasukan pengawal pribadi kaisar. Mereka langsung menghampiri Han Sin setelah turun dari kuda, dengan sikap hormat seorang di antara mereka berkata,

"Pangeran muda mengirim salam Cia-taihiap dan minta maaf bahwa penyambutan atas pengiriman dua peti dari Lie Ko Sianseng agak terlambat."

Semua orang terkejut dan heran mendengar ini. Bagaimana pula ini? Lie Ko Sianseng terkenal sebagai mata-mata atau kaki tangan Bhok-kongcu, kenapa sekarang mengirimkan dua peti yang agaknya akan diterima oleh utusan pangeran muda atau Pangeran Yong Tee sendiri? Tidak hanya mereka yang mengerti akan keadaan peperangan menjadi heran, bahkan Han Sin menjadi ragu-ragu. "Bagaimana aku bisa yakin bahwa dua buah peti ini harus kuserahkan kepada kalian?" tanya Han Sin dan ia sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa apapun yang akan terjadi, kalau tidak ada tanda surat kuasa dari Lie Ko Sianseng sendiri, dia takkan mau memberikan dua peti yang sudah diserahkan ke dalam perlindungannya itu.

Perwira tadi tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah lipatan kain. "Lie Ko Sianseng tidak keliru mengutus taihiap, karena memang taihiap amat hati-hati. Inilah surat kuasa dari Lie Ko Sianseng."

Han Sin menerima kain bertulis itu yang berbunyi bahwa Lie Ko Sianseng memberi kuasa kepada pembawa surat untuk mengambil dua peti batu. Han Sin mengerutkan kening. Batu? Benarkah dua peti itu berisi batu? Kenapa dianggap benda berharga dan kenapa sampai dijadikan rebutan?

"Kuharap kalian tidak keberatan kalau aku cocokkan dulu isi surat dengan isi peti," katanya kemudian mengambil keputusan.

Perwira itu tersenyum lagi dan mengangguk-angguk. "Silakan silakan memang pangeran muda

juga memerintahkan kami untuk memeriksa lebih dulu apakah isi peti-peti itu tidak palsu."

Han Sin lalu memasuki gerobaknya, dengan sekali renggut saja papan penutup peti terbuka dan alangkah mendongkol dan herannya ketika ia melihat bahwa betul saja, dua peti itu terisi batu-batu besar yang tidak berharga. Diam-diam ia mema¬ki Lie Ko Sianseng yang dianggap telah mempermainkannya. Sebaliknya, lima orang perwira itu nampak puas, mereka membantu Han Sin menutup kembali peti¬-peti itu dan setelah menghaturkan terima kasih kepada Han Sin, mereka lalu memerintahkan sepasukan tentara mengawal ge¬robak berisi dua peti itu ke kota raja!

Malam itu Han Sin dijamu oleh Phang Yan Bu dan melihat pemuda ini marah-marah kepada Lie Ko Sianseng, Ciu-ong Mo-kai tertawa, "Kau tidak tahu! Lie Ko Sianseng benar-benar lihai sekali.

Pedagang tetap pedagang, dalam perang mau¬pun damai. Di sana ia mencatut, di sini ia mencatut. Ha, ha, ha!"

Han Sin tidak mengerti. "Apakah artinya ini semua, suhu? Dan setelah sekarang tidak ada orang luar, teecu mohon penjelasan mengapa suhu dan orang-orang gagah yang lain datang ke tempat ini membantu pemerintah penjajah?"

Yang berkumpul di situ hanyalah Ciu-ong Mo-kai, Hee Tojin, dua orang tosu Cin-ling-pai, dua orang tokoh pengemis kang-ouw, Thio Li Hoa, Thio Li Goat, Phang Yan Bu, dan Bi Eng bersama Han Sin sendiri. Setelah meneguk araknya, Ciu-ong Mo-kai menjawab perlahan,

"Aku maklum apa yang kau pikirkan, Han Sin. Tentu kau merasa heran dan penasaran kenapa kita membantu Pemerintah Mancu. Akan tetapi, jangan kaukira bahwa kita membantu untuk berkhianat kepada bangsa, menghambakan diri kepada penjajah. Sama sekali tidak, Han Sin. Ketahuilah bahwa jauh lebih celaka dan berbahaya apabila orang-orang Mongol itu sampai mengalahkan Pemerintah Mancu dan menjajah kembali di tanah air kita. Kita tidak punya pilihan lagi. Kalau dalam waktu Mongol dan Mancu berperang kita melanjutkan usaha menggulingkan Pemerintah Mancu, itu sama saja artinya dengan kita membantu Mongol dan amatlah berbahaya kalau sampai bala tentara Mongol dapat menyerbu ke pedalaman. Jauh lebih baik kalau kita membantu Pemerintah Mancu lebih dulu mengusir orang-orang Mongol yang amat kejam. Kelak mudah untuk mencari jalan merampas kembali negara dari penjajah Mancu yang harus diakui tidak sehebat orang Mongol menindas rakyat, bahkan ada usaha-usaha yang baik dari pemerintah baru ini." Panjang lebar Ciu-ong Mo-kai memberi penjelasan kepada Han Sin, akan tetapi orang muda ini mendengarkan dengan penasaran. Ia masih muda dan belum mengerti betul akan siasat-siasat dan politik.

Sebagai seorang gagah ia tidak bisa berpura-pura, maka kinipun ia tidak setuju dengan tindakan orang-orang gagah itu.

"Bagaimanapun juga, penjajah tetap musuh, bagaimana aku dapat membantunya, mengeluarkan keringat dan darah untuk membantunya?" bantahnya penasaran.

Semenjak dulu, Ciu-ong Mo-kai sering kali dibikin jengkel oleh sikap Han Sin yang dianggapnya kutu buku yang merasa pintar sendiri. Sekarang mendengar bantahan Han Sin, kakek ini menenggak araknya sampai terdengar bunyi menggelogok pada kerongkongannya kemudian ia menurunkan gucinya dan berkata,

"Murid yang tidak mendengar kata kata gurunya itu melanggar peraturan namanya!" Dalam ucapan ini Ciu-ong Mo kai menyinggung Han Sin menggunakan ujar-ujar kuno.

Han Sin adalah seorang ahli sastera, seorang yang amat memperhatikan segala macam filsafat kuno, maka segera ia menjawab dengan ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu, "Dalam membela kebenaran, tak perlu mengalah kepada guru!"

Tentu saja Ciu-ong Mo-kai yang tidak begitu hafal akan ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu, marah mendengar ini, merasa dihina dan tidak dihormati sebagai guru. Tangan kirinya menepuk meja dan

.... amblaslah keempat kaki meja itu sampai satu dim lebih ke dalam lantai! Bukan main hebatnya tenaga lweekang kakek ini.

"Bagus ! Kalau sudah tidak mau mengaku guru kepadaku, sudahlah! Perlu apa harus ditonjol-

tonjolkan menyolok mataku? Siapa tidak tahu bahwa Cia Han Sin, yang dulu pernah belajar dari Ciu ong Mo-kai, sekarang sudah memiliki kepandaian tinggi sekali, jauh lebih lihai dari pada si pengemis tua bangka? Ha, ha, ha!"

"Suhu .....!" Bi Eng berseru. "Harap suhu maafkan Sin-ko ”

"Ha, ha, ha ...... Bi Eng, kau baru patut menjadi muridku ” kata kakek itu tertawa-tawa dan

minum lagi araknya. Semua orang, yaitu Phang Yan Bu, Li Hoa, Li Goat, para tosu dan semua yang hadir, tidak ada yang berani mencampuri urusan ini, tidak ada yang bergerak.

"Sin-ko, kenapa kau bersikap begini terhadap suhu? Sin-ko, harap kau suka minta maaf dari suhu."

Han Sin bangkit berdiri dari kursinya, tersenyum pahit. "Eng-moi, aku memang seorang murid yang murtad, seorang yang tak mengenal aturan. Akan tetapi, tetap saja aku belum sampai hati untuk mengekor kepada penjahat laknat. Suhu Ciu-ong Mo-kai, pendirian teecu bukan sebagai seorang murid kali ini, melainkan sebagai seorang yang mencinta tanah air yang terjajah. Maafkan sikap teecu kalau suhu anggap tidak betul. Nona Thio Li Hoa, harap kau suka mengawani Eng-moi, kau tahu bahwa aku mempunyai tugas yang sudah kujanjikan. Kau di sinilah dulu bersama nona Thio Li Hoa, setelah dia dapat kutemukan, aku akan menjemputmu dan bersama pergi dari tempat ini!"

Dalam suara pemuda ini terkandung penyesalan besar. Memang ia amat kecewa dan menyesal. Dianggapnya bahwa orang-orang gagah yang sudah membantu Pemerintahan Mancu itu tidak mempunyai pendirian. Kalau saja mereka itu bangkit untuk melawan penjajah, baik penjajah Mongol maupun Mancu, tentu ia akan siap sedia membantu, rela mengorbankan jiwa raganya. Bi Eng juga berduka sekali melihat keadaan kakaknya ini. Ia tidak berani mencegah karena maklum bahwa kakaknya, berbeda dari pada biasanya, sedang marah sekali. Ia tahu pula bahwa kakaknya itu tentu akan pergi mencari Hoa ji seperti yang dipesankan oleh Pangeran Yong Tee. Mencari seorang di daerah musuh, di utara, bukanlah merupakan tugas ringan, bahkan amat berbahaya. Kalau ia ikut, belum tentu ia dapat membantu, jangan-jangan malah merintangi gerakan Han Sin.

"Baiklah, Sin-ko. Kau hati-hatilah, akan tetapi, mana Siauw-ong?"

"Dia ..... dia aku bertemu dengan Tilana di jalan dan Siauw-ong dibawanya. Kelak kita pergi

mengambilnya. Setelah berkata demikian, Han Sin yang tidak menghendaki adiknya itu mendesak terus dan memaksanya menceritakan pertemuannya dengan Tilana, sudah berkelebat dan hanya nampak bayangan putih menyambar, tahu-tahu ia sudah lenyap dari tempat itu! Hening sejenak, kemudian Ciu-ong Mo-kai tertawa bergelak.

"Hebat ....., hebat , sama benar dengan ayahnya! Keras hati, bersemangat, tidak mudah tunduk.

Ayahnyapun dahulu menjauhkan diri dari orang lain, suka bekerja sendiri, betapapun juga .....

seratus persen patriot sejati " Kakek ini lalu menenggak araknya.

Bi Eng ikut dengan Li Hoa dan gadis ini tidak pernah meninggalkan Ta-tung, sungguhpun ia juga tidak mau membantu pertempuran-pertempuran yang terjadi di daerah itu. Malah ada kalanya kalau Li Hoa dan Li Goat serta yang lain-lain pergi dan ikut bertempur, Bi Eng tinggal seorang diri di Ta- tung, melihat-lihat dan menanti kembalinya Han Sin. Tanpa Han Sin di sampingnya, tidak mau ia ikut bertempur.

****

Di dalam perjalanannya meninggalkan Ta-tung, menyeberangi perbatasan dan memasuki wilayah Mongol, beberapa kali Han Sin menyaksikan pertempuran antara pasukan Mongol dan pasukan Mancu. Akan tetapi, ia selalu menjauhkan diri dan tidak mau mencampuri, malah menghindarkan diri agar jangan bertemu dengan orang orang yang membantu Mongol seperti Coa-tung Sin-kai, Tung-hai Siang-mo, apalagi dengan Bhok-kongcu atau Pak-thian-tok Bhok Hong.

Tugasnya hanya mencari dan menemukan Hoa-ji si gadis berkedok, kalau ia melayani segala bentrokan dengan musuh-musuh lama, tentu akan menyulitkan pekerjaannya dan memakan banyak waktu. Tak enak meninggalkan Bi Eng terlalu lama di Ta-tung.

Biarpun demikian, beberapa kali ia sengaja menawan seorang Mongol dan memaksanya memberi keterangan di mana adanya Hoa-ji atau Hoa Hoa Cinjin, karena ia menduga bahwa Hoa-ji tentu tidak akan jauh dari ayahnya. Akhirnya ia mendapat keterangan bahwa Hoa-ji, seperti yang lain- lain, berkumpul di kaki Gunung Yin-san sebelah utara. Tempat ini sukar didatangi apalagi oleh orang yang belum mengenal daerah gurun pasir ini. Akan tetapi, Han Sin tidak menjadi gentar dan dengan cepat ia melanjutkan perjalanannya ke utara.

Pada suatu hari, dalam sebuah hutan, ia mendengar lagi pertempuran di dalam hutan. Tadinya ia hendak menyimpang, tidak mau mencampuri pertempuran itu, akan tetapi tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar seruan-seruan yang sudah dikenalnya. Tak salah lagi, itulah suara Li Hoa!

Pada pasukan Mancu atau Mongol ia tak usah ambil perduli, akan tetapi terhadap Li Hoa, tak mungkin ia meninggalkannya begitu saja. Gadis itu pernah menolongnya, bahkan berlaku amat baik kepadanya, pernah malah melindunginya dan berani mempertaruhkan nyawa untuk keselamatannya. Gadis itu baik dengan perbuatan, pandang mata, maupun ucapan, terang mempunyai cinta kasih kepadanya. Sekarang ia mendengar gadis ini bertempur di dalam hutan, mungkin sekali bertemu lawan yang tangguh, mungkin sekali terancam bahaya. Bagaimana ia bisa berpeluk tangan saja?

Han Sin cepat berlari memasuki hutan. Betul saja dugaannya, di antara tentara Mancu yang bertempur melawan tentara Mongol, tampak Li Hoa dengan pedangnya mengamuk hebat. Gadis yang gagah perkasa ini dikeroyok oleh lima enam orang Mongol, namun gadis itu sama sekali tidak terdesak. Sudah beberapa orang musuh dirobohkannya, akan tetapi selalu datang penggantinya dan tetap saja ia dikeroyok sedikitnya lima orang lawan. Pihak Mancu mulai mendesak, apalagi di situ selain Li Hoa, terdapat pula beberapa orang tosu yang membantu.

33. Duel menghadapi Racun Utara

DARI tempat sembunyinya, Han Sin menonton dan ketika melihat betapa Li Hoa sama sekali tidak terancam bahaya bahkan mendesak, tidak mau muncul membantu. Ia tidak mau membantu pihak Mancu, hanya kalau ia melihat Li Hoa terancam bahaya, ia akan keluar menolongnya, baru sekarang ia menyaksikan pertempuran antara dua bangsa itu dan diam-diam ia merasa kagum menyaksikan sepak terjang orang-orang Mongol.

Mereka itu rata-rata memiliki kepandaian bertempur yang lumayan, dan yang paling mengagumkan adalah kenekatan mereka. Sudah banyak orang Mongol menggeletak tak bernyawa lagi, akan tetapi sisa pasukan itu mengamuk terus tanpa mengenal rasa takut. Agaknya mereka memang pantang mundur dan pantang lari!

Pada saat pasukan Mongol sudah terancam sekali kedudukannya, terutama sekali karena amukan para tosu dan Li Hoa, tiba-tiba mendengar suara gemuruh dari jauh. Makin lama suara itu makin keras dan kagetlah Han Sin ketika mendengarkan bahwa suara itu adalah suara nyaring dari banyak kerincingan yang berbunyi terus-menerus. Teringat ia akan seorang tokoh besar yang pakaiannya dipasangi benda-benda kecil ini. Pak-thian-tok Bhok Hong, si Racun Utara atau Raja Muda Bhok Hong-ong, ayah dari Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan pemimpin para pemberontak Mongol!

Agaknya bukan hanya Han Sin yang merasa kaget. Juga Li Hoa, para tosu dan para anggauta pasukan Mancu terkejut dan nampak gelisah. Di lain pihak, orang-orang Mongol bersorak girang mendengar suara ini. Semangat mereka terbangun dan dalam keadaan nekat mereka menyerang orang-orang Mancu yang sedang ketakutan. Pasukan Mancu cerai-berai, banyak korban yang jatuh.

Suara nyaring dari seratus delapan puluh buah kerincingan itu berhenti secara tiba-tiba dan sebagai gantinya terdengar suara tertawa bergelak. Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar, bermuka tampan gagah dan usianya sudah lima puluh tahun lebih. Akan tetapi, dia masih kelihatan muda dan gagah, pakaian perangnya indah dihias kerincingan pada pakaian dan topinya. Di pinggangnya tergantung sebatang golok besar.

Suara ketawa ini pengaruhnya hebat sekali, sampai-sampai banyak tentara Mancu menggigil dan senjata mereka terlepas dari tangan. Bahkan para tosu menjadi pucat, kemudian bersama sisa pasukan Mancu, mereka mundur-mundur dan tidak berani menyerang. Sedangkan pasukan Mongol juga berhenti berperang, lalu menjatuhkan diri berlutut, menghormat Pak-thian-tok Bhok Hong.

Dengan sikap tak sabar Pak-thian-tok menggunakan tangannya memberi isyarat supaya orang-orang Mongol itu bangun berdiri, lalu terdengar suaranya yang nyaring, "Hayo pukul terus, hancurkan anjing-anjing Mancu ini. Kenapa berhenti?"

Orang-orang Mongol itu tertawa, lalu mengeluarkan sorak sorai gembira dan bagaikan orang-orang kemasukan setan mereka menyerbu pasukan Mancu yang sudah kehabisan semangat dan nyali itu. Melihat ini Li Hoa menggigit bibir. Ia cukup maklum akan kelihaian Pak-thian-tok Bhok Hong. Akan tetapi, dalam peperangan, seorang gagah pantang untuk merasa gentar. Melihat keadaan para tentara Mancu yang ketakutan sehingga kini terdesak hebat oleh orang-orang Mongol, Li Hoa menjadi gemas sekali.

"Hayo, lawan sampai titik darah penghabisan!" teriaknya. Suaranya melengking nyaring mengatasi sorakan musuh sehingga terdengar oleh para tosu dan para tentara Mancu. Suara nona ini merupakan minyak yang membuat api semangat mereka berkobar lagi. Benar-benar kini orang- orang Mancu itu menjadi nekat dan begitu mereka melakukan perlawanan mati-matian, kembali orang-orang Mongol terdesak hebat.

Apalagi Li Hoa, gadis ini dengan pedangnya merupakan seekor naga yang mengamuk. Ke mana saja pedangnya berkelebat, tentu ada seorang musuh yang terguling. Han Sin makin kagum saja melihat sepak terjang Li Hoa ini.

Diam-diam ia teringat akan Bi Eng. Kalau Bi Eng berada di situ, tak dapat diragukan lagi tentu Bi Eng juga akan mengamuk seperti Li Hoa, mungkin lebih hebat lagi. Teringat akan Bi Eng, Han Sin mengerutkan keningnya. Kenapa Li Hoa meninggalkan Bi Eng dan tahu-tahu berada di tempat ini?

Selagi Han Sin termenung, ia mendengar jerit kemarahan Li Hoa. Cepat ia mengangkat muka memandang. Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat bahwa Pak-thian-tok Bhok Hong sudah menerjang Li Hoa!

"Perempuan ganas, kau tentu anak pembesar penjilat she Thio itu? Berani bertingkah di depanku?"

Li Hoa melihat majunya Bhok Hong, cepat menusuk dengan pedangnya. Akan tetapi, tahu-tahu ujung pedangnya itu tergetar dan ternyata telah disentil ujung jari Pak-thian-tok. Li Hoa mempertahankan diri, namun tak sanggup. Getaran pedangnya hebat, membuat tangannya menggigil dan di lain saat pedang itu sudah terlepas ke bawah menancap di atas tanah! Inilah yang membuat Li Hoa menjerit marah. Dengan nekat gadis ini lalu menyerang lagi menggunakan pukulan tangan kanan!

"Ha ha ha, perempuan liar!" Bhok Hong mengangkat tangannya menangkap pergelangan lengan Li Hoa semudah orang mempermainkan anak-anak saja. Akan tetapi, selagi ia hendak memaksa Li Hoa bertekuk lutut, tiba-tiba ia merasa pundaknya lemas dan tahu-tahu cekalannya terlepas. Li Hoa sendiri merasa ditarik orang ke belakang, maka cepat-cepat ia menggunakan kesempatan itu untuk melompat tiga tindak sambil memandang. Ternyata Han Sin sudah berada di situ, menghadapi

Bhok Hong!

"Seorang dari tingkatan atas menghina gadis muda, benar-benar tak tahu malu sekali!" kata Han Sin, suaranya tenang dan sabar, namun tajam seperti ujung pedang menusuk jantung. Merah muka Bhok Hong mendengar sindiran ini.

la segera mengenal Han Sin. Biarpun selama hidupnya baru satu kali ia betemu dengan Han Sin, yaitu ketika mereka berada di dalam gua rahasia di Lu-liang-san, namun karena dalam pertempuran itu terjadilah hal-hal aneh sampai dia terluka hampir mati oleh pukulan dari Thai-lek-kwi Kui Lok yang dibantu oleh Han Sin, maka bagaimana ia dapat melupakan wajah pemuda ini? Kenangan ini membuat wajah Pak-thian-tok Bhok Hong makin lama makin merah, malu dan marah bercampur- aduk menjadi satu.

"Hemmm, bagus sekali. Kiranya kau yang muncul ini? Cia Han Sin, selama hidupku aku mengandung penasaran dan dendam yang besar sekali terhadapmu. Sekarang, sengaja kucaripun belum tentu mudah terdapat, tahu-tahu kau telah muncul. Bagus sekali! Apakah kau sudah mewarisi semua ilmu dari dalam gua? Peninggalan si celaka Lie Cu Seng? Ha ha, hendak kulihat sampai di mana sih lihainya ilmu itu." Sambil bicara Bhok Hong menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Makin lama tangan itu menjadi makin merah, kemudian berubah semu hijau, lalu agak kebiruan dan akhirnya kedua tangan itu menjadi hitam sekali, sehitam arang!

Inilah penerapan tenaga beracun yang disebut Hek-tok-sin-kang, hebatnya bukan kepalang dan karena inilah maka ia dijuluki Racun Utara. Namun jarang sekali Bhok Hong mengeluarkan ilmu ini karena dengan kepandaiannya yang amat tinggi, tanpa mengeluarkan ilmu mukjijat dan dahsyat inipun sudah jarang ia menemui tandingan. Sekarang belum juga bergebrak ia sudah mengerahkan tenaga ini, hal itu hanya berarti bahwa ia dapat menduga bahwa pemuda di depannya ini tak boleh dipandang ringan. Lebih hebat lagi, sambil tertawa mengejek Bhok Hong masih menggunakan tangan kanan mencabut goloknya yang amat besar dan berat.

Melihat itu, Han Sin tenang-tenang saja. Akan tetapi, Li Hoa dengan wajah pucat lalu melompat ke depan, memegang lengan Han Sin sambil berbisik,

"Jangan melawan ..... kau pergilah .... larilah !”

Namun Han Sin menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Jangan khawatir, Li Hoa. Aku dapat melayaninya."

Li Hoa sudah maklum akan kelihaian Han Sin, akan tetapi melihat keadaan Pak-thian-tok, ia merasa gentar bukan main. Mana bisa pemuda ini melawan tokoh besar yang khabarnya tak pernah terkalahkan orang itu? Ia lalu melangkah maju menghadapi Pak-thian-tok Bhok Hong yang keadaannya amat menyeramkan itu.

"Pak-thian-tok Bhok Hong! Apakah kau tidak malu? Kau disebut seorang tokoh besar di kalangan persilatan, seorang yang berkedudukan tinggi, lebih tinggi dari Ciu-ong Mo-kai. Masa sekarang kauhendak menghadapi seorang murid Ciu-ong Mo-kai dengan menggunakan semua ilmumu yang jahat, ditambah senjata tajam pula? Ke mana kau menaruh mukamu kalau hal yang tidak patut ini diketahui semua orang kang-ouw? Ketahuilah, Cia Han Sin sama sekali tidak mau mencampuri urusan perang antara Mongol dan Mancu. Dia bukan musuhmu dan memang betul dengan mudah kau dapat membunuhnya, akan tetapi kali ini akan rusak binasa nama besarmu, kau akan dipandang sebagai seorang rendah tak tahu malu!"

Mendelik mata Bhok Hong mendengar ini. Sudah menggigil tangannya, ingin sekali dengan pukulannya ia menghancurkan tubuh wanita yang berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadanya. Namun, ucapan itu menyadarkannya, membuka matanya bahwa memang tidak patutlah kalau ia melawan pemuda ini seperti seorang melawan musuh yang setingkat. Untuk menyembunyikan rasa malu dan penasarannya, ia tertawa bergelak sambil menyimpan kembali golok besarnya.

"Ha ha ha ha , puteri orang she Thio yang sudah mampus ternyata sekarang tergila-gila kepada

bocah ini. Ha ha ha, kaukira aku tidak mengerti mengapa kau membelanya mati-matian! Kau cinta kepadanya! Tapi benar pula ucapanmu tak perlu aku melawan bocah ini, mengotorkan tangan mencemarkan nama saja. Heh, bocah she Cia. Melihat muka gadis yang membelamu mati-matian ini, biar aku pukul kau sampai tiga kali, kalau kau bisa menahan tiga kali seranganku, biarlah kuampunkan nyawamu!"

Baru saja ia berhenti bicara, secepat kilat dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanannya. Pukulan ini dahsyat sekali. Angin pukulannya saja yang menyambar hebat membuat Li Hoa yang berdiri di samping sampai terpelanting dan hanya dengan menggulingkan diri beberapa kali di atas tanah gadis itu bisa menyelamatkan diri!

Tentu saja lebih hebat daya serangnya kepada Han Sin sendiri yang memang dijadikan sasaran. Hawa pukulannya mendatangkan angin dahsyat, juga didahului bau amis yang memuakkan.

Tahulah Han Sin bahwa pukulan ini mengandung hawa beracun yang amat berbahaya. Namun ia seorang laki-laki. Ucapan Bhok Hong tadi sudah mengandung tantangan dan sikap memandang rendah.

Biarpun dia belum memberi jawaban karena tak sempat lagi, namun di dalam hatinya ia menerima tantangan ini dan kalau ia mengelak, ia akan merasa malu sendiri. Sambil menahan napas agar jangan terpengaruh bau amis itu, ia mengerahkan tenaga pada lengan kirinya dan mengangkat lengan kirinya menangkis pukulan ini. Tenaga sinkang yang amat dahsyat, yang mengandung hawa racun Pek-hiat Sin-coa, mengalir di lengan kirinya.

"Dukk!!" Dua lengan yang jauh bedanya, yang satu kehitaman, besar dan kuat kekar, bertemu dengan lengan yang berkulit putih halus. Akibatnya hebat. Pak-thian-tok Bhok Hong mengeluarkan suara menggereng seperti harimau ketika tubuhnya terhuyung-huyung mundur. Juga Han Sin tergempur kuda-kudanya, merasa betapa hawa yang panas sekali menyerangnya. Namun berkat sinkang di tubuhnya yang kuat, biarpun ia juga terhuyung mundur namun hawa beracun itu tidak dapat menembus pertahanannya.

Bhok Hong kaget dan heran bukan main. Pukulannya tadi biarpun baru dikeluarkan setengahnya, kiranya sudah cukup kuat untuk merobohkan seorang tokoh persilatan setingkat dengan Hoa Hoa Cinjin atau setidak-tidaknya setingkat dengan Ciu-ong Mo-kai. Kenapa bocah ini hanya terhuyung saja, bahkan ia sendiri merasa adanya tenaga tolakan dahsyat yang membuat iapun terhuyung mundur?

la penasaran sekali, digerak-gerakkan kedua lengannya, digosoknya pula kedua telapak tangannya dan dengan seruan keras ia sudah menyerang lagi. Serangannya amat aneh gerakannya, dua kali tangan kirinya memukul dan mencengkeram namun ditarik kembali secara tiba-tiba dan tangan kanannya yang betul-betul memukul secara tak terduga, yang dituju adalah pundak kiri Han Sin.

Pemuda ini bingung juga menghadapi serangan lawannya. Tadi di waktu Bhok Hong menyerang dengan pukulan-pukulan ancaman, kalau dia mau dengan mudah saja ia akan mendahului dengan serangan dengan jurus-jurus ilmu silat Lo-hai Hui-kiam atau Thian-po-cin-keng. Akan tetapi tadi dalam hati ia berjanji untuk menghadapi tiga kali serangan kakek itu, kalau sekarang sebelum tiga kali diserang ia membalas, bukankah itu berarti melanggar janji sendiri di dalam hati?

Keraguan ini membuat ia menderita rugi. Kalau tadi ia balas menyerang, setidaknya daya serangan lawan akan berkurang. Akan tetapi karena melihat pemuda itu hanya menjaga diri dan nampak bingung menghadapi gerakannya yang aneh,

Bhok Hong dapat mengacau pertahanannya dan pukulan ke arah pundak kiri itu datang tiba-tiba tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi.

Terpaksa Han Sin mengerahkan seluruh sinkangnya, disalurkan ke pundak kiri untuk menerima pukulan. la maklum akan bahayanya hal ini, akan tetapi apa boleh buat. Dengan pencurahan segenap panca indera dan hawa semangat di dalam tubuh sampai pundaknya terasa panas sekali, ia siap menerima pukulan itu. "Plakkk!" Telapak tangan yang hitam itu menampar pundak dengan tenaga yang bukan main besarnya, tenaga dalam yang tidak kelihatan namun sebetulnya menyerang di bagian dalam tubuh. Kalau bukan Han Sin yang menerima pukulan ini, tentu akan roboh binasa dengan jantung hangus dan isi dada berantakan.

Dalam pukulan ini Bhok Hong menggunakan tiga perempat bagian dari tenaganya, karena kakek ini yakin bahwa pukulannya pasti akan berhasil merobohkan Han Sin. Pula, ilmu pukulan Hek-tok-sin- kang ini memang tidak boleh sembarangan dipergunakan. Setiap kali menggunakan, kalau pukulan ini membalik, dia sendiri akan terluka. Tadi dalam pukulan pertama ia sudah merasa betapa pukulannya membalik. Baiknya hanya setengah bagian saja sehingga ia masih cukup tenaga untuk menolak atau "menyimpan" hawa pukulannya yang membalik.

Bukan main hebatnya pukulan ini. Li Hoa menjerit ketika melihat betapa tubuh Han Sin tergoyang- goyang dan wajah pemuda itu menjadi pucat sekali, kedua kakinya lemas seakan-akan hendak roboh setiap saat. Gadis itu yang sepenuhnya memperhatikan Han Sin, tidak melihat betapa Bhok Hong juga menjadi pucat mukanya dan bahkan kedua pundak kakek itu menggigil seperti orang terserang penyakit demam malaria!

Han Sin meramkan matanya, mengatur napas. Ia merasa jantungnya terguncang dan hawa panas memenuhi dadanya. Ini baik sekali karena itu berarti bahwa pukulan Bhok Hong yang tadi membawa hawa dingin sekali, ternyata tidak sampai menguasai jantung dan isi dadanya, dapat ditolak dengan hawa sinkangnya. Dia telah berhasil menerima pukulan kedua dengan pundaknya!

Diam-diam pemuda ini girang dan juga ada rasa bangga di dalam hatinya. Pukulan kedua tadi bukan main dahsyat dan lihainya, namun berkat latihan-latihannya, ia berhasil menerimanya tanpa terluka hebat di dalam dada. Memang kalau dilihat dari luar, hebat sekali bekas pukulan itu. Bajunya di bagian pundak terlihat ada tanda lima jari tangan hitam, seakan-akan baju itu tadi dicap oleh lima jari tangan dengan tinta bak.

"Han Sin ...... awas !" tiba-tiba Li Hoa menjerit ketakutan ketika melihat betapa Bhok Hong

mempergunakan kesempatan selagi Han Sin berdiri diam sambil meramkan mata, untuk menyerang ketiga kalinya. Penyerangan yang dibarengi gerengan dahsyat karena kakek itu sudah berada di puncak kemarahannya dan penasarannya!

Han Sin belum sempat membuka matanya, namun sebagai seorang ahli silat tinggi pemuda ini sudah dapat mendengar angin pukulan yang mengarah kepalanya. Cepat ia miringkan kepala dan mengangkat tangan kiri ke atas untuk menangkis. Pukulan itu melewati kepalanya, akan tetapi tiba- tiba lengan tangan kirinya sudah dicengkeram oleh tangan kanan Bhok Hong!

Han Sin memandang dengan mata berkilat. Kakek itu tertawa liar dan kembali terdengar Li Hoa menjerit karena Bhok Hong sudah mengangkat tangan kirinya untuk mencengkeram kepala Han Sin. Dengan tangan kiri sudah dicekal, kiranya takkan mungkin lagi pemuda itu menyelamatkan dirinya.

Andaikata ia dapat menangkis pukulan atau cengkeraman dengan tangan kanannya, akan tetapi lengan kiri yang dicengkeram oleh tangan yang mengandung Hek-tok-sin-kang itu, mana bisa diselamatkan? Racun hitam dari segala macam binatang beracun akan menjalar dari tangan hitam itu dan akan memenuhi tubuhnya, membuat ia mati dalam waktu singkat!

Han Sin bukan tidak maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Namun ia masih tenang dan tidak terseret oleh kegemasan yang mempengaruhi hatinya. Melihat tangan kiri itu mencengkeram ke arah kepalanya, secepat kilat tangan kanannya bergerak dan di lain saat sebelum Bhok Hong sadar, pergelangan tangan kiri Bhok Hong sudah dicekal oleh tangan kanan Han Sin! Keadaan mereka sekarang sama, saling dicekal pergelangan tangan kiri oleh lawan.

Li Hoa juga seorang ahli silat yang tahu akan seluk beluk tenaga lweekang (tenaga dalam). la maklum bahwa kini dua orang itu tentu mengadu tenaga lweekang dan hal ini bahayanya seratus kali lebih besar daripada mengadu pedang atau golok. Kalah menang hanya ditentukan oleh kematian! Tak terasa lagi air mata bercucuran dari kedua mata gadis itu ketika melihat wajah Han Sin yang tampan itu berkeringat, pucat dan kelihatannya menderita nyeri yang hebat.

"Han Sin ....., Han Sin ….." bisiknya lemah, tak berdaya untuk menolong.

Memang Han Sin merasa betapa lengannya sakit bukan main. Racun yang luar biasa didorong oleh tenaga dalam yang dahsyat untuk memasuki tubuhnya dari lengan itu. Namun ia merasa lega bahwa tenaga sinkangnya sendiri dapat menolak serangan itu, maka iapun lalu mengerahkan tenaga ke tangan kanannya yang mencekal lengan kiri lawannya.

Kakek itu meringis kesakitan, mulutnya menyeringai, lalu menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, matanya melotot memandang Han Sin dengan penuh penasaran, kemarahan, dan keheranan. Selama hidupnya, baru kali ini dia bertemu dengan lawan begini muda namun berkepandaian luar biasa tingginya!

Akan tetapi, keheranannya bertambah-tambah dengan hebat ketika ia melihat pemuda itu menggerakkan bibir dan bicara kepadanya dengan suara tenang dan jelas, "Pak-thian-tok, kau berjanji akan melepaskan aku setelah aku dapat menahan tiga kali seranganmu. Aku sudah menahan tiga kali, kau tetap tidak mau melepaskan. Apakah kau menghendaki aku membikin serangan balasan?"

Bukan main kaget, heran dan takutnya hati Bhok Hong. Menghadapi atau menerima penyerangannya berturut-turut secara aneh selama tiga jurus ini saja sudah hebat. Sekarang dalam mengadu lweekang, ternyata pemuda ini tidak berada di bawah tingkatnya. Hebatnya, malah kini dapat bicara! Padahal dalam mengadu tenaga lweekang, bicara merupakan pantangan terbesar.

Dengan bicara, orang memecahkan perhatian dan mengeluarkan hawa, bagaimana bocah ini dapat bicara seenaknya tanpa mengurangi tenaga perlawanannya?

Sebelum habis Han Sin bicara, kakek itu mengangguk dan meloncat mundur melepaskan cekalannya, akan tetapi lebih dulu sebelum Han Sin menutup mulut, ia mengerahkan seluruh tenaga mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu dengan maksud meremukkan tulangnya!

Akan tetapi, akibatnya, ia sendiri mengeluh perlahan dan ketika melihat, ternyata tangan kirinya sudah lumpuh karena tulang lengan kirinya itu patah oleh cekalan Han Sin. Pemuda ini maklum tadi akan kecurangan lawan, maka dengan gemas ia sambil mempertahankan tangan kirinya, menggunakan kesempatan untuk menggencet tangan kiri lawan sampai patah tulang lengan kiri itu!

Bhok Hong, menjadi pucat, memandang ke kanan kiri lalu berkata keras,

"Hayo, mundur! Tak perlu berperang lagi di sini!" Sekali berkelebat, kakek ini pergi tanpa pamit lagi diikuti oleh orang-orang Mongol yang lari tunggang langgang!

Setelah Bhok Hong pergi, barulah Han Sin menjatuhkan diri terduduk di atas rumput, bersila dan mengatur napas. Li Hoa cepat menghampirinya. Gadis ini tidak berani mengganggu, karena maklum bahwa jika orang memulihkan tenaga menghisap hawa murni untuk mengusir hawa beracun dari tubuh, sama sekali tak boleh diganggu. Hatinya merasa terharu dan kasihan sekali melihat betapa pergelangan lengan kiri pemuda itu nampak hitam dan kulitnya seperti bekas dibakar api. Juga pundaknya sekarang kelihatan setelah tanda hitam pada baju itu hancur menjadi abu ketika dipakai bergerak. Kulit di pundak inipun seperti dibakar! Bukan main ngerinya kalau dibayangkan kepandaian kakek Racun Utara itu.

Li Hoa segera memberi tahu kepada semua orang Mancu supaya mengubur semua jenasah dan membawa pulang kawan-kawan yang terluka. Ia sendiri menjaga Han Sin yang masih duduk bersila.

Dua jam kemudian, baru Han Sin membuka matanya. la merintih perlahan lalu berkata, "Lihai .....

hebat sekali Pak-thian-tok " Pemuda ini memang merasa kagum sekali. Mana ia tahu bahwa

pada saat itu, jauh dari situ, Pak-thian-tok Bhok Hong pun sedang merasa menderita lebih hebat daripadanya, muntah-muntah darah dan cepat-cepat mengobati luka di dalam dadanya?

"Han Sin ..... kau telah menolong nyawaku dan kau terluka hebat. Biar kubalut luka di lengan

dan pundakmu “ kata Li Hoa terharu.

Meski gadis cantik ini berlutut di dekatnya. Han Sin menarik napas panjang. Teringat ia akan pertemuannya yang pertama dengan gadis ini dahulu di jurang Can-tee-gak di Cin-ling-san, ketika ia ditawan oleh para tosu Cin-ling-pai kemudian ia ditolong oleh gadis ini. Ia merasa terharu sekali. Gadis ini mencintanya sepenuh hati, hal ini ia tahu benar.

Kinipun ia melihat tanda-tanda air mata yang belum kering di kedua pipi Li Hoa, juga teringat ia betapa tadi Li Hoa beberapa kali menjerit ketika melihat ia terancam bahaya, teringat betapa Li Hoa dengan berani mati mencoba untuk melindungi dan memaki Pak-thian-tok secara berani. Boleh dibilang gadis ini yang menyelamatkannya. Pak-thian-tok terlalu lihai, bertangan kosong saja sudah demikian lihai, bagaimana kalau tadi tidak disindir Li Hoa dan menyerangnya dengan golok, bukan hanya tiga kali melainkan seterusnya sampai ia binasa?

"Li Hoa, bukan aku yang menolongmu, kaulah yang berkali-kali menolongku, kau baik sekali kepadaku. Li Hoa, kenapa kau begini baik? Kenapa banyak orang baik kepadaku?"

Li Hoa menunduk, menyembunyikan sinar mata dan kemerahan pipinya. "Orang hidup memang harus saling berbaik terhadap sesamanya, Han Sin. Mari kubalut lukamu."

"Jangan dulu, biar kukeluarkan racunnya." Han Sin memeriksa pergelangan lengannya. Ternyata racun hitam hanya berkumpul di bawah kulit yang terluka, tak dapat menjalar terus, tertahan oleh darahnya yang sudah mengandung racun Pek-hiat-sin-coa. "Li Hoa, apakah kau mempunyai tusuk konde perak?"

Li Hoa mengangguk, lalu melolos tusuk konde perak dan diberikannya benda runcing itu kepada Han Sin. Han Sin menusuk kulit yang hitam di lengannya itu sambil mengerahkan tenaga sinkangnya. Keluar darah hitam dari luka itu dan sebentar saja lenyap warna hitam. Han Sin menanti sampai darah hitam habis dan terganti darah merah, baru ia menghentikan dorongan tenaganya. Luka di pundaknya tidak sehebat luka di lengannya, maka tak perlu mengeluarkan racun.

Setelah selesai mengeluarkan darah hitam dan mengembalikan tusuk konde perak, barulah Li Hoa membalut lengan itu. Lukanya cukup berat, membuat lengan itu terasa sakit sekali dan tiap kali digerakkan, urat-uratnya tertarik dan keluarlah darah dari luka di dekat urat besar di pergelangan. Oleh karena itu, terpaksa lengan itu digantung dan saputangan besar itu oleh Li Hoa diikatkan pada leher Han Sin. Menyaksikan sikap gadis yang begitu baik, gerak-geriknya yang penuh kasih sayang dan merasa betapa jari-jari tangan itu dengan amat mesranya memasangkan balut. Begitu halusnya menyentuhnya, melihat kulit pipi yang kemerahan dan sinar mata yang jelas mencurahkan isi hati yang penuh kasih terhadapnya, Han Sin menarik napas panjang.

Teringatlah ia akan sikap Tilana kepadanya, juga ia merasa betapa semua itu sama benar dengan yang ia rasakan terhadap Bi Eng. Cinta! Alangkah ganjilnya kalau cinta kasih hanya menyerang sebelah pihak saja. Orang bisa menjadi seperti gila karena cinta. Sikapnya sendiri terhadap Bi Eng tentu dianggap gila oleh Bi Eng. Kemudian tentang sikap Tilana, dan Li Hoa ini.

Bagai¬mana ia dapat membalas cinta mereka kalau hatinya sudah melekat pada Bi Eng? Teringat pula ia akan Pangeran Yong Tee, yang sampai menangis karena cinta kasih pula, karena Hoa-ji si gadis berkedok. Lebih aneh pula. Bagaimana cinta bisa menembus kedok yang menutupi muka selalu?

"Li Hoa, kau baik sekali kepadaku. Kenapa ?"

Li Hoa sudah selesai mengikatkan ujung pembalut ke belakang leher Han Sin, dan pada saat Han Sin bertanya, gadis ini yang agaknya lupa diri karena gelora perasaannya, dengan mesra menyentuh rambut yang terurai di kening pemuda itu. Kaget ia mendengar pertanyaan ini dan untuk menutupi rasa malunya, ia menyelinap ke belakang Han Sin yang duduk di atas tanah.

"Ikatan rambutmu terlepas, biar kubereskan, bolehkah?" tanyanya lirih.

Han Sin mengangguk dan merasa betapa dari belakang, kedua tangan gadis itu dengan cekatan dan mesra melepas tali pengikat rambutnya, mengumpulkan rambut itu dan merapikannya ke atas lalu membungkus dan mengikatnya pula dengan beres. Terharu hati Han Sin. Alangkah baiknya Li Hoa. Alangkah mesranya andaikata yang melakukan hal itu adalah tangan Bi Eng!

"Li Hoa, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

Li Hoa sudah selesai mengikat rambut dan kini gadis itu berhadapan dengan Han Sin. Matanya tajam menentang pandang mata Han Sin dan kedua pipinya kemerahan, cantik bukan main pipi dan mata itu!

"Kau sudah tahu akan isi hatiku sejak pertemuan kita dahulu, kenapa masih bertanya lagi?" akhirnya gadis itu menjawab setelah menundukkan mukanya.

Tergetar hati Han Sin. Gadis seperti ini cantik jelita, gagah perkasa, apalagi mencintanya, sudah sepatutnya dibela dengan nyawa. Gadis seperti ini jarang dapat ditemui keduanya di dunia.

Terkenang ia kepada Tilana dan rasa jengah dan malu menyelubungi hatinya.

Orang macam apakah dia ini? Menurutkan nafsu hatinya, seakan-akan ia mencinta Tilana yang harus diakui paling cantik di antara semua gadis yang pernah ia kenal. Menurutkan bisikan sanubarinya seakan-akan ia harus membalas cinta kasih Li Hoa yang begini murni. Akan tetapi entah bagaimana, semua bisikan dan nafsu hati dan sanubarinya itu terkalahkan oleh perasaan yang sudah melekat di seluruh hati dan pikirannya bahwa hanya Bi Eng-lah sebetulnya yang ia inginkan agar selalu berada di sisinya selama hidup!

Tapi hati ini mau saja bertindak sendiri. Di luar kesadarannya, tangan kanannya bergerak dan menangkap tangan Li Hoa. Gadis itu kaget, menatap wajah Han Sin, lalu menunduk kembali dengan muka makin merah, akan tetapi kedua tangannya menyambut uluran tangan Han Sin. Tes ....

tes dua butir air mata yang hangat menetes turun di atas tangan Han Sin.

Sampai lama mereka tidak bergerak, juga tidak bicara, hanya tangan mereka yang saling berpegangan itu menjadi pengganti suara hati. Han Sin merasa amat tidak tega untuk mengaku terus terang bahwa dia tak dapat menyambut cinta kasih gadis ini, selain tidak tega, juga tidak berani, takut melihat akibat seperti yang telah terjadi pada diri Tilana. Akan tetapi, kalau ia diamkan saja iapun merasa berdosa, seakan-akan ia menipu kasih sayang murni dari gadis itu.

"Li Hoa, kenapa kau berada di sini? Bukankah tadinya kau berada di Ta-tung? Dan bagaimana kau meninggalkan Bi Eng ?" Pertanyaan ini menjadi penolongnya, memecahkan suasana mesra

yang membahayakan pertahanan hatinya itu.

Li Hoa dengan malu-malu melepaskan kedua tangannya. Sinar matanya berseri dan cemerlang ketika ia menatap wajah Han Sin. "Aku mendengar dari Bi Eng bahwa kau hendak mencari Hoa-ji untuk memenuhi permintaan Pangeran Yong Tee ”

Han Sin mengerutkan kening. Alangkah mudahnya wanita menyebar berita. Memang ia tidak memesan kepada Bi Eng supaya jangan bercerita tentang hal itu kepada orang lain, akan tetapi tidaklah Bi Eng dapat mengerti bahwa hal itu adalah rahasia hati Pangeran Yong Tee?

"Jadi dia sudah menceritakannya kepadamu?" katanya perlahan.