-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 06

Jilid 06

18. Para Pembantu Pangeran Mongol

KEBENCIAN yang timbul dari cemburu. Memang paling berbahayalah kalau wanita sudah dibakar oleh cemburu, ia bisa menjadi nekad dan melakukan segala macam perbuatan mengerikan. Akan tetapi, rasa takutnya terhadap Bhok-kongcu lebih besar lagi sehingga Leng Nio masih ingat bahwa kalau ia mengganggu Bi Eng, tentu Bhok-kongcu takkan mengampuninya. Maka ia hanya mempermainkan Bi Eng dan hanya mengancamnya. Melihat Bi Eng makin ketakutan, ia lalu mendesak.

“Aku takkan merusak mukamu asal kau suka memberitahukan di mana adanya surat wasiat Lie Cu Seng.”

Tak dapat disangkal pula, memang Bi Eng merasa ngeri kalau memikirkan mukanya akan dirusak. Akan tetapi dia bukan seorang pengecut. Kalau untuk melindungi mukanya ia harus membuka rahasia tentang surat wasiat yang dibawa kakaknya, nanti dulu!

“Aku tidak tahu,” jawabnya.

“Kalau begitu, betul-betul hidungmu akan kupotong!”

Pedang di tangan Leng Nio berkelebat, akan tetapi tiba-tiba pedang itu terlepas dari pegangan, juga pedang di tangan kiri dan di lain saat Leng Nio sudah roboh tergelimpang. Bi Eng kaget sekali, juga heran. Akan tetapi tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan gadis ini telah disambar orang, dibawa melompat tinggi ke atas genteng, terus dibawa berlari cepat sekali.

Leng Nio yang sudah dapat bangun lagi, tidak mengenal siapa penyerang gelap tadi karena bayangan itu sudah lenyap bersama Bi Eng. Bukan main kagetnya. Ia tahu bahwa mengejar takkan ada artinya karena sudah terang penyerang gelap tadi memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Ia hanya melihat tubuh yang ramping dari belakang ketika bayangan itu berkelebat pergi memondong tubuh Bi Eng.

“Apa dia Thio-siocia ?” pikir Leng Nio. Thio Li Hoa juga amat tinggi ilmu silatnya, akan tetapi kenapa Thio-siocia menculik Bi Eng? Pula, ia mengenal gerakan-gerakan Li Hoa yang menjadi murid utama dari Coa-tung Sin-kai. Sedangkan bayangan tadi yang jelas adalah bayangan seorang wanita, memiliki gerakan yang cepat dan aneh. Apalagi serangan pukulan jarak jauh yang membuat pedangnya terlepas dan tubuhnya terguling tanpa menderita luka, benar-benar merupakan serangan yang luar biasa dan aneh. Agaknya Thio- siocia belum tentu mampu melakukan serangan macam itu. Siapa dia?

Harus kulaporkan kepada Bhok-kongcu, pikir Leng Nio dan gadis ini menjadi takut. Ia memutar otak mencari akal bagaimana harus melaporkannya tanpa menimpakan kesalahan kepada diri sendiri. Perlahan-lahan ia lalu memasuki gedung itu dari pintu belakang.

Bi Eng merasa dirinya tak berdaya dalam pondongan orang itu. Atau lebih tepat ia “dikempit” karena orang itu membawanya seperti orang membawa sepotong balok saja. Tentu ia akan meronta sekuatnya kalau saja yang merampasnya itu seorang pria.

Akan tetapi setelah ia tahu bahwa yang membawanya pergi adalah seorang wanita, ia menjadi tertarik sekali dan ingin tahu apa yang hendak dilakukan wanita itu terhadap dirinya. Tentu tidak bermaksud jahat, pikirnya. Buktinya, wanita ini sudah menolongku dari ancaman Leng Nio yang galak.

Ia kagum sekali melihat betapa wanita itu dengan ringan meloncat-loncat lalu turun dari atas genteng dan membawanya lari memasuki sebuah hutan besar di lereng bukit. Tidak mudah berlari- lari secepat itu sambil memondongnya. Ketika ia melirik ke atas, hatinya berdebar. Wanita itu memakai kedok yang menutupi seluruh muka dan kepalanya. Hanya sepasang mata yang bersinar- sinar aneh tampak dari dua lubang kecil di kedok itu.

Dia langsing sekali dan tubuhnya menunjukkan bahwa dia masih muda, tapi kepandaiannya sudah hebat dan sikapnya aneh. Mengapa pakai kedok menutupi muka? pikir Bi Eng.

Setelah tiba di tengah hutan yang besar, si kedok itu melepaskan kempitannya, kemudian sekali ia melayang, tubuhnya telah naik dan tahu-tahu ia telah duduk di atas cabang pohon. Bi Eng berdiri dan memandang kagum.

“Siapa kau?” tanyanya. “Dan kenapa kau membawaku ke sini?”

“Kalau tidak membawamu ke sini, sekarang tentu hidungmu sudah putus dan pipimu sudah corat- coret oleh luka,” jawab si kedok itu dan ternyata suaranya merdu sekali.

Bi Eng tertawa. “Oh, betul juga. Aku belum mengucapkan terima kasih. Eh, enci berkedok yang aneh. Agaknya mukamu sendiri bercacad hebat maka kau tidak tega melihat orang mau melukai mukaku.”

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Kalau mukamu tidak bercacad, mengapa kau tutupi mukamu itu? Melihat bentuk tubuh dan mendengar suaramu, pantasnya kau seorang yang memiliki muka cantik sekali. Sayang bercacad, maka kau tutupi.”

Sampai lama gadis berkedok yang duduk di cabang pohon itu tidak menjawab. Akhirnya ia menghela napas dan berkata, suaranya sedih.

“Aku berkedok atau tidak, apa hubungannya dengan kau? Apakah kau adik dari Cia Han Sin?” Bi Eng seorang gadis periang, maka segera ia merasa senang melihat si kedok ini. “Betul, namaku Cia Bi Eng, enci berkedok, apakah kau juga sudah mengenal kakakku? Agaknya orang-orang paling aneh di dunia ini semua mengenal kakakku,” katanya bangga. “Apa kau tahu di mana adanya kakakku?”

Akan tetapi gadis berkedok itu tidak perdulikan omongannya. “Perempuan tadi bilang kau bersahabat dengan Bhok-kongcu. Betulkah kau melakukan perjalanan dengan pemuda itu? Apakah kau sahabatnya?”

Bi Eng teringat akan ucapan-ucapan kotor yang dikeluarkan Leng Nio tadi. Wajahnya merah dan ia menjawab, “Kalau betul, mengapa? Aku bukan orang macam Leng Nio. Aku memang sahabatnya dan aku betul melakukan perjalanan dengan dia. Akan tetapi apa salahnya? Bhok-kongcu orangnya baik sekali, sopan dan terpelajar. Dia malah membantuku mencari Sin-ko.”

“Hemmmm kau anak kecil tahu apa? Tidak tahu bahwa kau sudah terjerumus di tengah-tengah

bahaya maut, begitu pula kakakmu yang tolol dan terlalu baik itu. Hemmm ”

“Bahaya maut ? Apa maksudmu? Di mana kakakku?” Bi Eng tidak berani main-main lagi

karena ia mulai mengkhawatirkan keselamatan Han Sin.

Pada saat itu terdengar suara ketawa aneh, menyeramkan sekali seperti bukan suara manusia. Datangnya dari jauh, makin lama makin dekat, lalu disusul suara seperti kuda meringkik, namun bukan kuda. Suara kedua inipun amat tajam melengking menusuk telinga sehingga Bi Eng yang berhati tabah tetap saja merasa bulu tengkuknya berdiri.

“Apa itu ?” tanyanya.

Gadis berkedok itu tertawa kecil. Tangan kirinya menuding dan ia berkata. “Nah, kau dengar itu? Mereka juga sudah datang, Tung-hai Siang-mo (Sepasang Iblis dari Laut Timur). Pasti makin ramai dan semua itu datang untuk kakakmu dan kau. Marilah kau ikut aku dan lihat sendiri, akan tetapi awas, jangan sekali-kali kau mengeluarkan suara kalau melihat apa-apa. Ini demi keselamatanmu sendiri, mungkin demi keselamatan kakakmu, Cia Han Sin. Mau kau berjanji?”

Bi Eng menelan ludah, merasa seram. Ia mengangguk. “Aku berjanji.”

Nona berkedok itu melompat turun, begitu ringan seperti sehelai daun kering tertiup angin, membuat Bi Eng menjadi makin kagum. “Kau ikuti aku, kerahkan ginkangmu supaya jangan menimbulkan suara berisik,” kata nona berkedok itu yang lalu ke puncak, diikuti oleh Bi Eng.

“Eh, enci berkedok. Sebetulnya siapa namamu?” Di tengah perjalanan Bi Eng tak dapat menahan hatinya lagi, bertanya.

Tanpa menoleh gadis berkedok itu berkata. “Namaku Hoa-ji.”

“Bagus, kalau begitu mulai sekarang aku menyebutmu enci Hoa-ji, eh, tidak mungkin. Hoa-ji berarti anak Hoa, mana bisa aku menyebut anak padamu. Enci Hoa, nah, baiknya Enci Hoa saja. Enci Hoa yang baik, setelah kau suka menolongku, mengapa kau tidak mau memperlihatkan mukamu yang cantik kepadaku?”

Kini gadis berkedok itu menoleh. “Kau berwatak gembira sekali, tidak seperti kakakmu. Bi Eng apakah selama hidupmu kau belum pernah merasai duka?” Biarpun sambil bicara, nona berkedok itu tidak menghentikan langkahnya. “Duka? Kenapa, enci Hoa? Kata kakak Sin, hidup di dunia ini tidak abadi, tidak lama, mengapa mesti membuang waktu untuk berduka? Nah, karena menuruti ucapan Sin-ko, aku selalu gembira. Dan lagi, apa sebabnya kita mesti susah-susah?”

“Hemm, misalnya mengenang orang tua. Bukankah orang tuamu sudah tidak ada lagi?”

Bi Eng menarik napas panjang. “Ayah ibuku sudah meninggal dunia, kenapa mesti susah-susah lagi? Hanya penasaran yang ada karena mati mereka itu terbunuh orang. Akan datang saatnya aku membalas dendam ini. Akan tetapi susah? Tidak, aku tidak susah. Disusahkan juga apa artinya?

Yang mati takkan kembali, paling-paling aku menjadi kurus kering.” Gadis lincah jenaka ini tertawa lagi, senyumnya manis menghias bibirnya.

“Bi Eng, kau baik Sekarang harap kau jangan bersenda gurau lagi, kita sudah mendekati puncak.

Kau diam saja, buka mata buka telinga tapi tutup mulut.”

Dua orang gadis ini berindap-indap menuju ke puncak di mana terdapat bangunan mungil milik Bhok-kongcu itu. Bi Eng masih mendengar suara orang banyak bercakap-cakap di ruangan depan. Ke sinilah gadis berkedok membawanya. Berkali-kali gadis berkedok, Hoa-ji, memberi tanda dengan telunjuk ke depan mulut supaya Bi Eng tidak mengeluarkan suara.

Setelah tiba di depan rumah, Bi Eng melihat bahwa Bhok-kongcu sedang menghadapi beberapa orang tamu dan keadaan di situ ramai dan gembira. Cepat ia bersembunyi di belakang sebatang pohon di tempat gelap seperti yang ditunjuk oleh Hoa-ji. Gadis berkedok itu sendiri setelah melihat Bi Eng mendapatkan tempat sembunyi yang baik, lalu berkelebat menghilang di dalam gelap. Dari tempat sembunyinya Bi Eng dapat melihat jelas dan dapat mendengar tegas.

Bhok Kian Teng duduk dengan wajah berseri menghadapi banyak orang yang aneh-aneh bentuk wajahnya, ada belasan orang banyaknya duduk di kursi terdepan dan mereka ini rata-rata sudah berusia lanjut. Masih ada dua puluh orang lebih yang dari tingkat muda duduk di bangku belakang. Mereka semua menghadapi meja yang penuh hidangan dan arak.

Ketika Bi Eng menggerakkan pandang matanya menyapu orang-orang yang duduk di ruang itu, dengan amat heran ia melihat dua orang tosu yang dikenalnya baik, yaitu It Cin Cu dan Ji Cin Cu dari Cin-ling-pai! Pada saat itu Bhok-kongcu berkata sambil tersenyum ramah seperti biasanya dan suaranya halus seperti biasa pula.

“Kutegaskan sekali lagi bahwa orang-orang gagah yang membantu pemerintah kita yang mulia adalah jago-jago pilihan di dunia. Cuwi enghiong (tuan-tuan sekalian yang gagah) tidak usah ragu- ragu lagi bahwa ji-wi tosu It Cin Cu dan Ji Cin Cu dapat digolongkan sebagai orang-orang segolongan dan orang-orang gagah pula.” Sambil berkata demikian, Bhok-kongcu menganggukkan kepalanya ke arah tempat duduk dua orang tosu Cin-ling-pai yang duduk dengan muka muram di pojok.

Semua orang yang duduk di situ memandang ke arah dua orang tosu itu, akan tetapi hanya seorang saja yang membuka suara setelah mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan. Orang ini adalah seorang kakek kurus kecil yang pakaiannya membuat Bi Eng hampir tertawa karena geli hatinya. Orangnya sudah tua, lagi buruk mukanya, akan tetapi pakaiannya dari sutera berkembang emas.

Benar-benar seperti seorang anak wayang yang ke sasar ke tempat itu!

Gadis ini tidak tahu bahwa kakek yang dianggapnya seperti badut wayang itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal, seorang di antara tiga “raja” sungai Huang-ho, yaitu yang terkenal dengan julukannya Kim-i Tok-ong (Raja Racun Berbaju Emas)! Di lembah sungai Huang-ho banyak didiami orang-orang jahat, dijadikan sarang perampok dan bajak sungai, akan tetapi yang terkenal sebagai Huang-ho Sam-ong (Tiga Raja sungai Huang-ho) adalah Kim-i Tok-ong, Ban-jiu Touw-ong (Raja Copet Tangan Selaksa), dan ketiga Hui-thian Mo-ong (Raja Iblis Terbang ke Langit).

Biarpun kecil kurus tubuhnya, paling kecil di antara tiga orang raja sungai itu, namun kepandaian Kim-i Tok-ong bukanlah yang paling kecil. Ketika mendengar ucapan Bhok-kongcu yang memuji dua orang tosu Cin-ling-pai sebagai orang-orang segolongan atau sejajar dengan kawan-kawannya yang duduk di situ, Kim-i Tok-ong menjadi tak senang dan mengeluarkan dengus mengejek tadi. Ia lalu berdiri dan berkata, matanya memandang ke arah It Cin Cu yang muram dan muka Ji Cin Cu yang biarpun keningnya berkerut namun mulutnya tetap tersenyum lebar itu

“Hemm, sungguh aneh sekali, Bhok-kongcu. Sudah lama sekali saya mengenal Cin-ling-pai sebagai sebuah partai yang angkuh dan menganggap diri sendiri tinggi dan bersih! Aha, masih teringat tiang yang bersangkutan untuk memberi penerangan.” Sambil berkata demikian, ia menoleh kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu.

Ji Cin Cu mengeluarkan suara ketawa dan wajahnya yang bundar gemuk itu menjadi makin lucu dan ramah. Memang tosu gemuk pendek ini lucu dan ramah. Memang tosu gemuk pendek ini berjuluk Siauw-bin-hud (Buddha Tertawa), dan dalam keadaan bagaimana, wajahnya selalu ramah dan bibirnya selalu tersenyum.

“Siancai .... siancai memang pinto dan twa-suheng selalu menyembunyikan diri selama ini

sehingga seperti kodok-kodok di dalam sumur, tidak tahu bahwa di luar sumur masih terdapat dunia luas. Mana pinto tahu bahwa di dunia ini terdapat raja-raja berpakaian emas dan selalu melumur diri dengan racun? Ha ha ha, memang benar ucapan Kim-i Tok-ong tadi, kami hanya dua orang tosu dari Cin-ling-pai, akan tetapi biarpun tua, para sute kami kiranya masih akan mentaati perintah kami. Terima kasih atas kepercayaan Bhok-kongcu, karena kepercayaan itu menebalkan kesetiaan kami.”

Bhok-kongcu juga tertawa. Tentu saja siauwte percaya penuh akan kesetiaan dan kepandaian Siauw-bin-hud Ji Cin Cu totiang.”

Panas perut Kim-i Tok-ong mendengar ucapan tosu gendut itu dan mendengar dia tadi disindir sebagai raja berpakaian emas yang selalu melumur diri dengan racun. Apalagi mendengar jawaban Bhok-kongcu yang amat ramah terhadap tosu gendut itu. Ia bangkit berdiri dengan muka merah dan kedua tangannya yang digerak-gerakkan itu berubah menjadi hitam!

Hui-thian Mo-ong yang melihat saudaranya sudah naik darah. Kuatir kalau terjadi apa-apa yang akan membikin hati Bhok-kongcu tidak senang maka melihat kedua tangan saudaranya sudah hitam tanda bahwa Raja Racun itu hendak menggunakan tangan maut, ia cepat berbangkit dan berkata. “Kim-i Tok-ong loheng harap bersabar. Kasihanilah tosu-tosu tua ini yang sudah mendapat kepercayaan Bhok-kongcu. Kongcu yang waspada takkan salah pilih orang. Malah kita harus menghormati kedatangan dua orang pilihan baru dengan arak seperti biasa.”

Sambil tersenyum Hui-thian Mo-ong yang bertubuh kurus tinggi dan berpakaian serba hitam itu menghampiri meja di mana ditaruh sebuah guci arak yang amat besar. Guci ini tadi dipikul oleh empat orang pelayan dan sekarang masih penuh arak. Beratnya tidak kurang dari dua ratus kati.

Sambil berjalan menghampiri guci arak, Hui-thian Mo-ong mengerling ke arah Bhok-kongcu. Pemuda ini maklum bahwa Raja Iblis ini hendak mencoba kepandaian dua orang tosu Cin-ling-pai tanpa bertempur, maka ia menjadi gembira dan menganggukkan kepalanya sambil mengipasi diri dengan kipasnya. Bi Eng yang bersembunyi di balik pohon, melihat semua ini dengan bengong dan alangkah kagetnya ketika melihat Hui-thian Mo-ong menggunakan tangan kiri untuk mengangkat guci arak besar itu, begitu ringan seperti orang-orang mengangkat tempat air teh yang kecil saja! Kemudian Hui-thian Mo-ong berseru keras, “Harap ji-wi totiang dari Cin-ling-pai sudi menerima suguhan arak dari Hui-thian Mo-ong!”

Dan tiba-tiba guci arak yang berat dan besar itu ia lontarkan ke atas. Guci arak itu melayang ke atas kepala para tamu dan meluncur ke arah Ji Cin Cu si gendut yang masih enak-enak duduk sambil tersenyum-senyum. Hampir saja Bi Eng mengeluarkan seruan kaget melihat hal ini.

Kalau guci itu turun menimpa kepala orang, bukankah kepala yang besar dan bulat itu akan remuk- remuk? Guci itu, tanpa tumpah sedikitpun arak di dalamnya, kini dari atas meluncur ke bawah, tepat ke arah kepala Ji Cin Cu dan terdengar suara angin meniup.

“Ho ho, biarpun golongan iblis, kalau sudah menjadi raja masih punya aturan. Kamsia .... kamsia ....

(terima kasih) !” Sambil berkata begini, Ji Cin Cu menggerakkan kedua lengannya ke atas sambil

menggerakkan tenaga dalamnya dan sebelum guci arak itu tersentuh ujung tangannya, guci itu

terpental oleh hawa pukulannya, kembali ke atas dan di atas menjadi goyang sedikit sehingga ada arak yang tertumpah ke bawah. Sambil membuka mulutnya untuk menerima arak yang sengaja ia tuangkan itu, kembali kedua tangan Ji Cin Cu bergerak mendorong dan kini guci arak itu terbang ke arah It Cin Cu.

”Twa-suheng, penghormatan orang harus diterima,” kata Ji Cin Cu setelah menelan arak tadi. Ia sengaja berkata begini untuk meredakan hati suhengnya yang ia tahu mudah tersinggung.

It Cin Cu mengangguk berkata singkat, “Kau yang disuguh, bukan aku!” Tangan kirinya diangkat untuk menerima guci itu lalu didorongnya sekali gus ke arah Kim-i Tok-ong! Hebat tenaga dorongan ini, lebih hebat dari pada dorongan Hui-thian Mo-ong tadi sehingga dengan mengeluarkan suara mengaung guci itu terbang ke arah Kim-i Tok-ong dalam keadaan terputar seperti gasingan.

Kim-i Tok-ong maklum akan hebatnya serangan ini. Guci yang dilontarkan begitu saja masih mudah disambut dan ditangkis. Akan tetapi dengan tenaga lweekang yang luar biasa It Cin Cu tidak saja melontarkan, malah membikin guci terputar-putar dan inilah yang sukar bagi si penerima.

Namun Kim-i Tok-ong tidak percuma menjadi seorang di antara ketiga Huang-ho Sam-ong. Ia bangkit berdiri dan begitu tangannya menyambut guci, kedua tangan itu ia putar-putar menurutkan gerakan guci. Makin lama putaran tangannya makin perlahan, kemudian setelah habis tenaga putaran guci, ia melontarkan guci itu tinggi sekali sampai hampir menyentuh langit-langit sambil berkata.

“It Cin Cu totiang, biar sekarang aku yang menyulangi arak kepadamu!”

Tiba-tiba guci yang melayang ke atas itu kini terbalik. Tentu saja arak di dalamnya tumpah keluar dan menimpa turun dikejar gucinya. Arak dan guci melayang ke bawah menimpa ke arah kepala It Cin Cu. Semua orang terkejut. Inilah serangan hebat dan sukar dihadapi. Biarpun guci itu sendiri tentu saja dapat disambut atau dielakkan, namun bagaimana bisa menyambut datangnya arak yang tumpah itu? Sungguhpun tersiram arak tidak berbahaya namun hal ini tentu saja akan memalukan sekali.

Namun It Cin Cu tenang-tenang saja. Dalam ketenangannya, ia dapat bergerak cepat sekali. Tiba- tiba tubuhnya mencelat ke atas dan kedua tangannya menyambar guci lalu dibaliknya guci itu dan digunakan untuk menadahi arak yang tumpah ke bawah. Gerakannya demikian cepat, melebihi cepatnya arak yang turun sehingga semua arak dapat diterima ke dalam mulut guci, kecuali sedikit yang diterimanya dengan mulut!

Terdengar tepuk tangan memuji dan Bhok-kongcu berseru saking girang dan kagumnya. Akan tetapi suara pujiannya terhenti karena kagetnya melihat It Cin Cu melontarkan guci itu ke arah Ban- jiu Touw-ong. Orang kedua dari Huang-ho Sam-ong. Agaknya It Cin Cu juga ingin sekali mengukur kepandaian tiga orang ini dan setelah Kim-i Tok-ong dan Hui-thian Mo-ong tadi memperlihatkan kepandaiannya, ia ingin melihat kepandaian si Raja Copet.

Hebatnya, kalau tadi guci arak berkali-kali dilontarkan ke atas dan hanya menyerang kepala orang dari atas ketika jatuh ke bawah, sekarang It Cin Cu melontarkan dari samping dan guci itu langsung melayang ke arah kepala Ban-jiu Touw-ong. Sambitan ini kuat sekali dan amat berbahaya kalau orang berani menyambutnya, karena sambitan itu sudah menjadi berlipat ganda dengan beratnya guci itu sendiri.

Semua orang terkejut, tak terkecuali Bhok-kongcu yang maklum akan kehebatan serangan ini. Hanya dua orang di antara Huang-ho Sam-ong yang nampak tenang-tenang saja, agaknya mereka ini percaya penuh akan kemampuan Ban-jiu Touw-ong.

Orangnya sendiri yang menghadapi serangan ini mengeluarkan suara seperti orang ketakutan. Memang Ban-jiu Touw-ong orangnya suka berjenaka, tubuhnya juga serba panjang, pantas saja menjadi raja tangan panjang, pakaiannya belang-belang dan terlalu besar untuknya seperti pakaian badut tukang sulap. Menghadapi serangan ini ia menjatuhkan diri dari atas bangkunya sehingga guci arak itu lewat di atas kepalanya, terus melayang keluar dari jendela yang kebetulan berada di belakangnya!

“Wah, Touw-ong tak berani menerima !” kata Bhok-kongcu, menyesal dan kecewa karena hal

ini berarti merendahkan nama Huang-ho Sam-ong yang sudah menjadi pembantu-pembantunya. Akan tetapi tiba-tiba Ban-jiu Touw-ong tertawa dan tubuhnya berkelebat melayang keluar.

Semua orang menahan napas dan tak lama kemudian, nampak si tangan panjang itu sudah meloncat kembali ke dalam ruangan sambil memanggul guci arak itu yang sama sekali tidak pecah, bahkan araknya tidak ada yang tumpah. Dengan senyum ia menaruh guci itu ke tempat yang tadi, kemudian ia memandang ke arah It Cin Cu lalu menjura, “Lihai sekali tangan tosu dari Cin-ling-pai benar-

benar berbahaya dan sekali turun tangan tidak kepalang tanggung!”

Ji Cin Cu hanya tertawa ha ha hi hi, lalu berkata, “Memang untuk menjadi tukang copet harus memiliki gerakan cepat. Kagum ...... kagum ”

Akan tetapi It Cin Cu masih merengut dan berkata singkat. “Tidak percaya sama dengan menghina, menghina sama dengan menantang. Orang gagah tidak pantang mundur menghadapi tantangannya.”

Di antara tiga orang raja ini, Kim-i Tok-ong terkenal berwatak berangasan. Mendengar ucapan It Cin Cu, ia segera berdiri dan memandang tosu itu sambil berkata, “Ilmu silat Cin-ling-kun dan Im- yang-kun yang dibuat andalan Cin-ling-pai semua aku sudah melihatnya dan ternyata tidak sebesar nama Cin-ling Sam-eng. Akan tetapi aku mendengar bahwa mendiang Giok Thian Cin Cu mempunyai ilmu pedang simpanan yang disebut Lo-hai Hui-kiam. Entah berita angin ini ada benarnya atau hanya omong kosong untuk menakut-nakuti orang saja. Kulihat ji-wi totiang dari Cin-ling-pai ini mempunyai kedudukan tertinggi di samping Giok Thian Cin Cu, juga selalu membawa pedang tentu ilmu pedang Lo-hai Hui-kiam itu dapat dipertontonkan di sini. Ingin kami bertiga mencoba-coba sebentar kalau ji-wi totiang memang memiliki kepandaian dan tentu saja kalau Bhok-kongcu memberikan izin.” It Cin Cu dan Ji Cin Cu saling pandang dengan heran. Memang pendengaran orang-orang kang-ouw sangat tajam. Bagaimana Raja Racun ini bisa tahu bahwa mendiang ketua Cin-ling-pai memiliki ilmu pedang yang amat rahasia itu? It Cin Cu memberi tanda dengan matanya kepada sutenya lalu

........”Sratt!” Ia sudah mencabut pedangnya, diturut oleh Ji Cin Cu.

“Dengan seizin Bhok-kongcu, pinto berdua siap melayani siapa saja yang memandang rendah Cin- ling-pai,” kata It Cin Cu tenang.

Bhok-kongcu memang ingin sekali menyaksikan kepandaian dua orang tosu Cin-ling-pai ini, maka sambil tersenyum ia berkata, “Kalau sahabat-sahabat yang gagah suka mengingat bahwa kita adalah orang-orang sendiri dan hendak menambah pengetahuan siauwte dengan mainan ilmu-ilmu silat tinggi, tentu saja siauwte tidak keberatan.”

Huang-ho Sam-ong mendengar ini, maklum bahwa tuan muda mereka itu ingin menggunakan tenaga mereka untuk menguji dua orang tosu ini. Maka bertiga mereka lalu meloncat ke tengah di mana tersedia ruangan cukup luas untuk bermain silat. Gerakan mereka bertiga cepat dan ringan sekali dan begitu meloncat mereka sudah berdiri dalam keadaan teratur dengan bentuk segi tiga, siap menghadapi lawan.

Kim-i Tok-ong tidak bersenjata hanya mengandalkan kedua tangannya yang sudah berubah menghitam ketika ia menyalurkan tenaga beracun ke dalam tangannya itu. Ban-jiu Touw-ong, orang kedua dari Huang-ho Sam-ong, mengeluarkan sepasang senjata yang aneh. Di tangan kirinya terdapat sebatang pisau belati kecil yang amat runcing dan tajam, sedangkan di tangan kanannya ia memegang senjata kaitan seperti sebuah pancing bentuknya, melengkung bentuknya dan di ujung lengkungan ada kaitannya, persis pancing besar bergagang.

Adapun Hui-thian Mo-ong memegang sebatang golok tipis yang berkilauan. Tiga orang tua ini sudah siap memasang kuda-kuda dan mata mereka memandang ke arah It Cin Cu dan Ji Cin Cu dengan menantang.

Dua orang tosu ini bangkit berdiri dan menghampiri ruangan itu dengan tenang dan dengan pedang di tangan. Mereka maju dan berdiri berendeng di depan tiga orang lawan itu, sikapnya tenang sekali.

“Ji-wi totiang lekas kalian bergerak, hendak kulihat bagaimana hebatnya Lo-hai Hui-kiam!” kata Kim-i Tok-ong.

Senyum Ji Cin Cu melebar. Dia tahu bahwa suhengnya tidak mau menyerang lebih dulu. “Suheng berjuluk Thio-te-kong dan pinto dijuluki Siauw-bin-hud. Malaikat dan nabi tak pernah menyerang orang, kecuali kalau mempertahankan diri. Sebaliknya kalian ini raja-raja racun, copet dan iblis sudah biasa turun tangan, mengapa ragu-ragu?”

Kim-i Tok-ong marah mendengar sindiran ini. Sambil mengeluarkan bentakan keras ia mulai menyerang dengan pukulan tangannya yang hitam ke arah perut Ji Cin Cu yang gendut. Hayaaa, tanganmu hitam kotor, bisa bikin mulas perut,” kata pendeta gendut ini dan dengan mudah saja ia mengelak. Ban-jiu Touw-ong dan Hui-thian Mo-ong juga menggerakkan senjata masing-masing, maju menyerang dua orang tosu Cin-ling-pai itu. Pertempuran hebat segera terjadi dan semua orang yang hadir, yang terdiri dari ahli-ahli silat kenamaan, menjadi gembira dan kagum.

Memang amat menarik menonton pertempuran itu. Huang-ho Sam-ong memiliki kepandaian tinggi dan karena mereka memang sering kali menghadapi lawan-lawan tangguh secara bersama, maka mereka dapat bekerja sama dengan baik dalam setiap pertempuran. Dilain pihak, It Cin Cu dan Ji Cin Cu adalah murid-murid paling tua dari Giok Thian Cin Cu. Selain mereka ini ahli-ahli ilmu silat Cin-ling-kun, juga mereka sudah mempelajari dengan matang ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat.

Dalam menghadapi tiga orang lawannya yang tangguh, mereka lalu menggunakan ilmu pedang ini untuk mempertahankan diri dan balas menyerang.

Siauw-bin-hud Ji Cin Cu yang amat tinggi tenaga lweekangnya, mengambil kedudukan Im dan menjadi penahan atau pelindung menghadapi setiap serangan lawan, sebaliknya It Cin Cu yang gerak-geriknya cepat dan ganas, menduduki tempat Yang dan menjadi penyerang yang berbahaya. Kadang-kadang dua orang kakak beradik seperguruan ini saling bantu dan saling menukar kedudukan dalam saat-saat yang tak terduga oleh lawan sehingga makin repot. Akan tetapi tiga orang tokoh sungai Huang-ho ini tentu saja pantang menyerah dan mereka mengerahkan tenaga sehingga pertempuran makin lama makin ramai dan bukan merupakan menguji kepandaian lagi, melainkan pertempuran mati-matian.

Bhok-kongcu adalah seorang pemuda yang amat luas pengetahuannya, juga amat tinggi ilmu silatnya. Ia memang suka sekali menguji kepandaian orang-orang pandai dan diam-diam ia mencatat semua gerakan-gerakan Im-yang Kiam-hoat sehingga setelah pertempuran berjalan seratus jurus, sudah banyak jurus-jurus ilmu pedang Cin-ling-pai ini ia catat dan hafalkan! Akan tetapi, melihat betapa pertempuran ini makin hebat, ia kuatir kalau ada kawan terluka, maka ia berkata,

“Cukuplah, di antara kawan sendiri tidak boleh mati-matian. Siauwte harap cuwi suka berhenti.” Akan tetapi, lima orang yang sudah mulai panas perutnya itu mana mau berhenti begitu saja?

Mereka bersikap seolah-olah tidak mendengar ucapan pemuda itu dan melanjutkan pertempuran makin hebat lagi.

Tiba-tiba dari dalam gelap di luar gedung terdengar dua macam suara yang membikin semua orang terkejut. Suara-suara itu adalah suara tertawa yang menyeramkan dan suara ringkik kuda yang lebih seram lagi. Mendengar suara ini, Bhok-kongcu berseri mukanya dan bangkit berdiri.

“Ji-wi locianpwe dari Tung-hai telah tiba, bagus sekali   !” katanya.

Suara-suara itu berhenti dan sebagai gantinya dua bayangan orang tua berkelebat masuk, langsung tiba di tengah-tengah gelanggang pertempuran.

“Hai, apakah perebutan nama Thian-he-tee-it Kauwsu sudah dimulai? Jangan borong sendiri, beri kesempatan kepada kami!” kata seorang di antara dua bayangan itu sambil tertawa.

Pada saat itu, di satu pihak pedang di tangan It Cin Cu dan Ji Cin Cu menusuk ke depan dan di lain pihak Huang-ho Sam-ong juga sedang menyerang. Serangan dua tosu Cin-ling-pai mengancam bayangan yang bertubuh tinggi besar sedangkan serangan ketiga Huang-ho Sam-ong menghantam bayangan yang bertubuh pendek. Dua orang itu tertawa dan yang tinggi besar mengangkat kedua tangannya. Juga yang pendek menggerakkan kedua tangannya. Sekaligus senjata-senjata kedua pihak terkena gempuran tangan dua orang aneh ini terpental keras dan lima orang itu kaget sekali, cepat mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangan mereka terasa sakit seakan-akan mereka telah menyerang dinding baja yang kuat!

“Cuwi yang bertempur silahkan mundur. Sudah cukup memperlihatkan kepandaian masing-masing. Jiwi locianpwe dari Tung-hai, harap jangan salah sangka. Perebutan gelar Thian-he-tee-it Kauwsu (Jago Silat Nomor Wahid di Dunia) belum dimulai. Silahkan ji-wi mengambil tempat duduk.” Dengan ramah Bhok-kongcu turun tangan sendiri menyediakan dua kursi kehormatan di sebelah kanannya dan dua orang itu sambil tertawa-tawa lalu duduk, tanpa mengacuhkan semua orang yang berada di situ kecuali Bhok-kongcu, kepada siapa mereka menjura dan menghaturkan terima kasih. Lalu Bhok-kongcu memperkenalkan dua orang tua yang baru datang ini kepada semua tamu.

Kiranya mereka ini adalah Tung-hai Siang-mo (Sepasang Iblis dari Laut Timur). Yang tinggi besar bermuka hitam adalah Ji Kong Sek yang suka tertawa seram, sedangkan yang pendek tubuhnya tapi panjang sekali lehernya adalah adik kandungnya bernama Ji Kak Touw, suka mengeluarkan suara seperti ringkik kuda. Memang lehernya panjang dan bentuknya seperti leher kuda.

It Cin Cu dan Ji Cin Cu, juga ketiga Huang-ho Sam-ong, telah merasai kelihaian dua orang ini, maka mereka lalu kembali ke tempat duduk masing-masing tidak berani lagi memperlihatkan kepandaian. Akan tetapi, di antara para tamu, Tok-gan Sin-kai merasa marah dan kecewa sekali.

Seperti telah diketahui, Tok-gan Sin-kai si pengemis mata satu ini pernah menyerbu ke Cin-ling-pai dan masih merasa penasaran dan benci kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu. Ketika tadi dua orang tosu ini bertempur melawan Huang-ho Sam-ong, diam-diam ia mengharapkan dua orang tosu ini mendapat hajaran. Maka kedatangan dua orang yang disebut Tung-hai Siang-mo membuat harapannya itu gagal dan karenanya ia menjadi kecewa. Apalagi melihat betapa Bhok-kongcu amat menghormati dua orang tamu baru ini, ia makin mendongkol.

Memang nama Tung-hai Siang-mo tidak begitu terkenal, maka Tok-gan Sin-kai memandang rendah kepada mereka. Apalagi melihat mereka itu seperti orang biasa saja. Ia pikir bahwa belum tentu ia kalah oleh dua orang itu, kenapa datang-datang diberi penghormatan demikian besar? Aku harus unjuk gigi dan bikin malu mereka, pikirnya. Cepat ia lalu menuangkan dua cawan kosong dengan arak sampai penuh sekali, kemudian sambil tertawa lebar ia bangkit dan menghampiri Tung-hai Siang-mo.

Tok-gan Sin-kai adalah sute (adik seperguruan) dari Coa-tung Sin-kai, tokoh besar di utara, maka kepandaiannya tentu saja sudah amat tinggi. Ia sengaja membawa cawan-cawan arak dengan terbalik, akan tetapi diam-diam mengerahkan lweekang yang “menyedot” sehingga tenaga sedotan ini membuat arak di dalam cawan yang dibalikkan itu tak tumpah keluar!

“Sudah lama mendengar nama besar Tung-hai Siang-mo, aku Tok-gan Sin-kai menghormat dengan secawan arak,” katanya sambil tertawa dan memberikan cawan-cawan arak itu kepada Ji Kong Sek dan Ji Kak Touw.

Dua orang iblis Laut Timur itu saling pandang, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Dengan gerakan sembarangan mereka menerima cawan-cawan arak yang terbalik itu. Arak di dalam cawan yang dibalikkan itu tiba-tiba jatuh ke bawah ketika Tok-gan Sin-kai melepaskan cawan dan sekaligus menarik kembali tenaga lweekang yang menyedot. Ia sudah girang sekali karena menganggap usahanya berhasil, yaitu membikin malu dua orang tamu yang diagungkan itu. Akan tetapi, tiba-tiba dua orang kakek itu berseru dengan suara perlahan, “Naik!” dan aneh sekali.

Arak yang sudah mulai tumpah itu, tiba-tiba tertahan seperti kena sedot dari atas sehingga ketika cawan diturunkan, arak itu kembali ke dalam cawan yang sekarang sudah mereka pegang berdiri sebagaimana mestinya. Pada saat itu juga, Tok-gan Sin-kai merasa kedua lututnya lemas.

“Celaka ” serunya akan tetapi terlambat. Tidak terlihat olehnya bagaimana kedua lututnya tahu-

tahu sudah terkena totokan, juga ia tidak tahu siapa di antara dua orang kakek itu yang melakukannya. Ia mencoba untuk menahan diri, akan tetapi tetap saja lututnya tidak bertenaga dan di luar kehendaknya ia berlutut! “Eh, eh Tok-gan Sin-kai sudah memberi arak, tak perlu melakukan penghormatan berlebih-

lebihan,” kata Ji Kong Sek sambil tertawa seram dengan nada mengejek. Tahulah kini Tok-gan Sin- kai bahwa si tinggi besar itu yang menotok kedua lututnya.

Sementara itu, Ji Kak Touw si leher kuda itupun tertawa lalu menggunakan tangan kirinya menarik pundak Tok-gan Sin-kai seperti orang mencegah si mata satu ini memberi hormat sambil berlutut dan berkata. “Tak usah berlutut tak usah berlutut, lebih baik kembali ke tempat dudukmu.”

Hebat sekali, entah bagaimana, biarpun tangannya hanya kelihatan memegang pundak, tahu-tahu tubuh Tok-gan Sin-kai mencelat, terlempar dan jatuh di atas tempat duduknya yang tadi seperti barang ringan saja dilontarkan. Jatuhnya persis di tempat duduknya dan otomatis kedua lututnya yang tertotok sudah bebas lagi. Karuan saja si mata satu menjadi tertegun, seluruh mukanya merah dan dia tidak berani berkutik lagi! Kini tahulah dia dan orang-orang lain bahwa dua orang kakek yang disebut Sepasang Iblis Laut Timur ini benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Adapun Tung-hai Siang-mo lalu minum arak suguhan tadi sambil tertawa-tawa.

“Ha ha, Bhok-kongcu memang berbintang terang. Sampai ada pengemis luar biasa yang bermata satu dan begitu tahu hormat mau membantunya,” kata Ji Kong Sek.

“Bhok-kongcu telah memanggil datang kami yang tinggal jauh dari sini, entah di sini akan diadakan perayaan apakah?” tanya Ji Kak Touw.

“Ji-wi loenghiong sudi datang dari tempat yang jauhnya ribuan li, benar-benar membuat siauwte girang dan bangga,” jawab Bhok Kian Teng, “Ada beberapa urusan maka cuwi sekalian siauwte undang ke puncak Lu-liang-san ini. Pertama-tama untuk bersama menikmati keindahan pemandangan puncak ini, sambil saling berkenalan di antara kawan segolongan sendiri. Tanpa saling mengenal, bukankah mudah timbul salah paham yang akan memecah persatuan? Pada dewasa ini, amat penting untuk mengenal siapa kawan untuk membedakan mana lawan. Kedua kalinya, siauwte dalam pertemuan ini juga mengundang orang-orang gagah dari seluruh wilayah untuk dapat insyaf dan sadar bahwa pemerintah kita akan mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat sehingga sudah selayaknya dibantu. Ketiga kalinya, untuk memenuhi perintah kaisar, dalam pertemuan ini siauwte hendak mengadakan pemilihan jago silat nomor satu untuk menerima kedudukan sebagai calon koksu di istana. Keempat kalinya, siauwte hendak mengajak cuwi sekalian berunding dalam menghadapi gangguan-gangguan para pemberontak.”

Pada saat itu terdengar suara lengking yang aneh dan menggetarkan kalbu para tamu. Semua orang terkejut sekali, malah sebagian dari pada tamu muda yang duduk di barisan belakang, ada yang roboh terguling, tidak kuat menahan lagi mendengar suara yang hebat ini. Bhok-kongcu cepat bangun berdiri dan dengan muka berseri girang ia berseru.

“Hoa Hoa Cinjin locianpwe sudah datang! Silahkan .... silahkan masuk ”

Ji Kak Tow berkata kepada suhengnya setelah saling pandang dengan suhengnya ini. “Diapun pembantu Bhok-kongcu? Hebat. Dengan adanya dia di sini tak perlu lagi bicara tentang jago silat nomor satu!” Ji Kong Sek mengangguk-angguk sambil memandang keluar.

Dari luar bertiup angin dan tahu-tahu seorang tosu bertubuh tegap dan gagah menyeramkan masuk ke ruangan itu. Di punggungnya nampak gagang pedang dan yang amat menarik adalah sepasang matanya yang tajam dan liar, bukan seperti mata manusia lagi. Atas sambutan Bhok-kongcu yang amat menghormat, ia hanya membalas dengan menjura, sikapnya dingin dan tenang. “Bhok-kongcu sudah berhasil mengumpulkan banyak pembantu, itu bagus,” kata Hoa Hoa Cinjin dengan suaranya yang serak seperti suara burung gagak. “Akan tetapi harus dipilih betul-betul jangan hanya mengumpulkan segala kantong nasi yang tiada gunanya.”

Dengan matanya yang luar biasa tosu ini menyapu semua tamu di situ. Tak seorangpun berani menentang pandang mata yang hebat ini. Pandang mata Hoa Hoa Cinjin terhenti pada dua orang tosu Cin-ling-pai. It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang berani menentang pandang matanya dengan tabah.

“Kalian ini tosu-tosu tertua dari Cin-ling-pai, apa buktinya bahwa kalian benar-benar hendak membantu pemerintah baru? Kalau kalian tidak bisa menyeret sute-sute kalian Cin-ling Sam-eng dan dihadapkan kepada Bhok-kongcu, siapa percaya bahwa kalian benar-benar hendak mengabdi dengan hati bersih?”

Dua orang tosu itu berubah air mukanya, dan Bhok-kongcu segera berkata. “Ji-wi tosu, siauwte percaya penuh bahwa ji-wi tentu akan dapat memenuhi permintaan Hoa Hoa Cinjin yang memang sepantasnya ini. Siauwte menanti di sini selama satu bulan.”

Ucapan ini merupakan perintah, juga merupakan ujian bagi kesetiaan dua orang tosu Cin-ling-pai itu. It Cin Cu dan Ji Cin Cu bangkit berdiri, menjura dan berkatalah It Cin Cu. “Dalam waktu sebulan pasti pinto berdua akan membawa para sute datang menghadap Bhok-kongcu.” Setelah berkata demikian, keduanya berkelebat pergi dan turun dari puncak Lu-liang-san.

“Kongcu, bocah she Cia itu sedang menuju ke sini. Dia agaknya dilindungi oleh Thio-siocia. Hemmm, sikap Thio-siocia amat aneh, harap kongcu berhati-hati terhadapnya. Dua orang puteri Thio-ciangkun itu makin lama makin mencurigakan.”

Bhok-kongcu mengangguk-angguk, senyumnya berubah pahit. “Memang banyak terjadi hal aneh, locianpwe. Seperti baru-baru tadi, seorang kawan baruku, nona Cia telah diculik oleh nona berkedok. Siauwte pernah mendengar bahwa locianpwe mempunyai seorang murid perempuan yang selalu berkedok. Entah dia ”

19. Terperangkap Siasat Bhok-kongcu

HOA HOA CINJIN mengeluarkan suara aneh, lalu mengomel, “Kau tahu satu tidak tahu dua, kongcu. Apa hatimu akan senang kalau melihat nona Cia itu dibuntungi hidungnya oleh pembantumu? Ha ha ha!”

Bhok Kian Teng menjadi pucat dan ia cepat menengok ke belakang di mana Leng Nio berdiri dengan wajah pucat pula. “Aku aku hanya mengancamnya, kongcu, karena dia hendak melarikan

diri,” kata Yo Leng Nio kepada Bhok Kian Teng. Pemuda ini mengangguk, percaya akan keterangan Leng Nio.

Sementara itu, Hoa Hoa Cinjin tiba-tiba meloncat keluar dan di lain saat ia sudah melempar tubuh Bi Eng ke dalam ruangan itu. Tadinya Bi Eng kaget setengah mati ketika tahu-tahu ada orang melayang ke dekatnya, akan tetapi sebelumnya ia sempat bergerak, orang itu sudah mencengkeram pundaknya dan melemparkannya ke dalam ruangan. Terpaksa Bi Eng menggunakan ginkangnya untuk mengatur keseimbangan tubuhnya dan turun dengan tenang sambil menghadapi Bhok- kongcu.

“Hoa-ji, turunlah kau,” terdengar Hoa Hoa Cinjin berseru sambil memandang keluar.

Terdengar jawaban suara merdu dari luar yang gelap, “Tak usah, gi-hu. Biar aku di sini saja, terlalu banyak orang menjemukan di sana.” Hoa Hoa Cinjin tertawa bergelak. “Sesukamulah, akan tetapi coba kau amat-amati di luar, jangan sampai Thio-siocia membawa bocah she Cia itu ke lain tempat.”

Pada saat itu terdengar suara nona Thio Li Hoa yang nyaring di luar pintu. “Hoa Hoa Cinjin, jangan menjual omongan busuk. Aku datang bersama Cia Han Sin. Ayoh kaukeluarkan obat pemunah pukulanmu yang busuk beracun!” Dan muncullah Li Hoa bersama Han Sin yang menggandeng tangan Siauw-ong.

Diam-diam Hoa Hoa Cinjin memandang penuh perhatian dan kagetlah dia. Kenapa pemuda itu tidak kelihatan seperti menderita sakit? Ia tahu betul bahwa beberapa hari yang lalu ia melukai pemuda ini dengan pukulannya Tong-sim-ciang (Pukulan Menggetarkan Jantung) dan dalam waktu sepuluh hari kalau tidak dia obati, tentu akan mati. Kenapa sekarang nampak segar bugar seperti tidak menderita sama sekali?

Tentu saja kakek ini tidak tahu bahwa dengan lweekangnya yang luar biasa, ditambah daya tahan dari racun Pek-hiat-sin-coa ditubuhnya, jangankan baru pukulan Tong-sim-ciang, biarpun pukulan sepuluh kali lebih jahat, belum tentu akan dapat merampas nyawa pemuda ini.

“Sin-ko !” Bi Eng melompat dan menubruk kakaknya.

“Eh, Bi Eng !” Han Sin merangkul adiknya penuh kasih sayang. “Alangkah senangku bertemu

dengan kau dalam keadaan selamat di sini.”

Siauw-ong yang nampak girang sekali dan monyet ini lalu menari-nari.

“Sin-ko, banyak sekali orang jahat di dunia ini ” kata Bi Eng dengan suara mengandung

kekecewaan dan penasaran.

“Tidak jahat, Eng-moi, tidak jahat. Mereka itu hanya tersesat dari jalan kebenaran, terpengaruh oleh nafsu. Kalau mereka sudah insyaf dan sadar dari pada kesesatan, mereka akan menyesal dan menjadi baik kembali. Juga tidak semua orang tersesat, Eng-moi. Contohnya, seorang pemuda yang bernama Phang Yan Bu adalah seorang baik, juga nona Thio Li Hoa ini amat baik kepadaku.

Mereka berdua tidak bisa digolongkan orang-orang yang sesat.”

Bi Eng memandang ke arah Li Hoa dengan sinar mata penuh selidik, dan wajahnya berseri ketika mendengar nama Phang Yan Bu. “Kau sudah bertemu dengan saudara Phang Yan Bu? Memang dia orang baik. Koko, akupun tidak mau bilang bahwa semua orang jahat, Bhok-kongcu inipun amat baik kepadaku.” Ia menoleh kepada Bhok-kongcu dan memperkenalkan kakaknya. “Bhok-kongcu, inilah kakakku Cia Han Sin.”

Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya hati Bi Eng ketika melihat Bhok-kongcu tiba-tiba bangkit berdiri dan dengan suara keren memberi perintah. “Tangkap pemuda ini.” Ia memberi perintah kepada Huang-ho Sam-ong, maka tiga orang ini lalu melompat maju dan di lain saat kedua tangan Han Sin sudah mereka pegang dengan kuat. Terlalu heran hati Han Sin melihat ini sehingga ia tidak sempat bergerak, malah tidak ada niat untuk melawan.

Li Hoa melompat maju. “Bhok-kongcu, dia telah terluka hebat oleh pukulan Hoa Hoa Cinjin. Aku minta kau suka menyuruh Hoa Hoa Cinjin mengobatinya lebih dulu. Soal lain dapat diurus belakangan.!”

Bhok-kongcu tersenyum masam. Aha, tidak nyana nona Thio Li Hoa yang biasanya angkuh dan memandang rendah pria, agaknya sekarang hatinya terjerat oleh keturunan Cia! Aneh .... aneh !” Merah muka Li Hoa. “Sratttt!” Pedangnya telah tercabut dan ia menudingkan ujung pedang di depan hidung Bhok-kongcu sambil membentak.

‘Bhok Kian Teng! Orang lain boleh takut kepadamu dan gentar kepada ayahmu, akan tetapi jangan kira aku Thio Li Hoa boleh kau hina begitu saja!” Gadis ini menggerakkan pedangnya dan “Siuuttt!” pedang itu telah melakukan serangan hebat, menusuk leher Bhok Kian Teng. Inilah hebat.

Bhok Kian Teng atau lebih terkenal Bhok-kongcu adalah seorang yang pada waktu itu memiliki kekuasaan dan kedudukan tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kedudukan Thio-ciangkun ayah Li Hoa, jangankan menyerangnya, bersikap kurang ajar saja orang tidak berani. Malah Hoa Hoa Cinjin tokoh besar yang ditakuti orang itupun bersikap hormat dan takut terhadap kongcu ini.

Sekarang Li Hoa mendamprat dan menyerangnya, ini menunjukkan betapa tabah hati nona ini. Memang di antara gadis dan pemuda ini sudah ada permusuhan atau kebencian. Pihak Bhok-kongcu benci karena ketika dahulu ia tergila-gila dan mencoba untuk mengganggu Li Hoa, ia menghadapi dampratan. Pihak Li Hoa memang sudah lama benci melihat tingkah laku pemuda hidung belang ini.

Namun ilmu kepandaian Bhok-kongcu jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaian Li Hoa. Diserang secara hebat itu, ia tersenyum saja. Cepat kipasnya ia gerakkan dan tahu-tahu ujung pedang di tangan Li Hoa sudah “ditangkap” oleh kipas itu yang tertutup secara mendadak. Selagi Li Hoa berusaha menarik pulang pedangnya, Hoa Hoa Cinjin melangkah maju dan sekali totok pergelangan nona itu, pedangnya terlepas dan nona itu sendiri terhuyung-huyung dengan lemas.

Bi Eng marah bukan main. Setelah dapat menindas keheranannya, ia melangkah maju dan membentak. “Lepaskan kakakku! Bhok-kongcu, kenapa kau bersikap begini terhadap kakakku? Ayoh, lepaskan dia!”

Bhok-kongcu menggerakkan tangannya dan dilain saat kedua lengan Bi Eng sudah dipegangnya sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi. “Nona Cia, menyesal sekali, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu ini. Jangan kau kuatir, kakakmu tidak apa-apa asal dia mau menunjukkan di mana tempat penyimpanan warisan Lie Cu Seng. Maaf, nona. Aku benar-benar menyesal harus mengecewakan hatimu, akan tetapi kita menghadapi urusan besar sehingga terpaksa aku mengesampingkan perasaan pribadiku.” Suaranya benar-benar mengandung penyesalan besar dan sinar matanya dengan lembut memandang Bi Eng, membuat gadis ini bingung dan tidak mengerti.

Pada saat itu terdengar suara tertawa bergelak dan dari luar berkelebat bayangan orang. Bayangan ini menyerbu ke arah Huang-ho Sam-ong sambil berkata, “Han Sin, kau ikut aku!”

Kim-i Tok-ong melihat bahwa yang menyerbu ini adalah seorang kakek pengemis yang rambutnya awut-awutan, suaranya tinggi kecil, dan tangan kirinya memegang sebuah guci arak. Melihat pengemis tua ini datang-datang hendak menarik lengan Han Sin yang menjadi orang tangkapannya, Kim-i Tok-ong serentak mengirim pukulan dengan tangan kirinya ke arah telinga pengemis tua itu. Juga Ban-jiu Touw-ong dan Hui-thian Mo-ong yang serentak mengenal pengemis tua itu, cepat mengirim serangan.

“Hemmm, tiga manusia beracun, pergilah!” Pengemis tua itu yang bukan lain adalah Ciu-ong Mo- kai Tang Pok, menggerakkan guci araknya, sekali gus menangkis serangan Ban-jiu Touw-ong dan Hui-thian Mo-ong, kemudian lengannya yang memegang guci itu ditangkiskan ke arah kepalan tangan Kim-i Tok-ong. Serangan tiga orang itu terpental kembali dan kuda-kuda mereka gugur! Ciu-ong Mo-kai tertawa bergelak dan tiba-tiba dari mulutnya tersembur keluar sinar kuning emas yang bukan lain adalah arak. Semburan arak ini seperti puluhan batang jarum yang menyerang muka ketiga Huang-ho Sam-ong. Kaget bukan main tiga orang itu dan cepat mereka meloncat mundur karena mereka sudah mendengar akan hebatnya senjata aneh dari Raja Arak ini.

Secepat kilat Ciu-ong Mo-kai sudah menarik lengan Han Sin. Akan tetapi sebelum ia dapat membawa pemuda itu keluar, Hoa Hoa Cinjin bergerak mendekati sambil membentak, “Pengemis busuk, di mana-mana kau mengacau saja!” Sambil berkata demikian ia menggerakkan tangan kiri dan sinar hijau menyambar tiga belas jalan darah terpenting dari tubuh Ciu-ong Mo-kai. Itulah Cheng-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) yang amat ganas dari Hoa Hoa Cinjin. Hebat kepandaian Hoa Hoa Cinjin, akan tetapi hebat pula pengemis tua itu.

Sekali ia meniup, semburan arak yang bersisa di mulutnya dengan tepat telah menahan jarum-jarum itu sehingga terdengar suara halus ketika jarum-jarum itu runtuh di atas lantai. Sementara itu, Tung- hai Siang-mo yang tidak mau kalah dalam mencari jasa di depan Bhok Kian Teng, sudah melompat maju. Tamu-tamu lain biarpun rata-rata berkepandaian tinggi, mereka jerih menghadapi Ciu-ong Mo-kai dan tidak berani sembarangan turun tangan. Tung-hai Siang-mo menyerang Ciu-ong Mo-kai dari kanan kiri dengan pukulan-pukulan tunggal yang keras dan kuat.

“Ha ha, iblis-iblis timur juga menjadi anjing-anjing Mancu? Bagus!” seru Ciu-ong Mo-kai sambil menggerakkan kedua lengan menangkis. Kedua lengannya bertemu dengan lengan lawan dan pengemis sakti ini terhuyung mundur dua langkah. Akan tetapi dua orang lawannya juga terhuyung mundur sampai tiga tindak. Dari sini saja sudah dapat diukur kepandaian tiga orang tokoh besar ini dan ternyata dalam hal tenaga lweekang, pengemis sakti itu masih menang setingkat.

Namun diam-diam Ciu-ong Mo-kai Tang Pok mengeluh. Baru dua orang iblis ini saja sudah amat sukar dikalahkan. Dalam pertandingan sungguh-sungguh, tak mungkin dia bisa menang dalam waktu dua tiga ratus jurus. Apalagi di situ masih ada Hoa Hoa Cinjin.

Hoa Hoa Cinjin menyesuaikan dirinya dengan kedudukannya yang tinggi. Karena sekarang Ciu-ong Mo-kai tidak lagi memegangi lengan Han Sin, maka iapun diam saja, hanya siap untuk menghalangi apabila pengemis itu hendak membawa pergi pemuda yang diperebutkan itu. Ciu-ong Mo-kai menarik napas panjang, lalu memanggil muridnya.

“Bi Eng, budak tak tahu malu, kesinilah!”

Kaget sekali Bi Eng mendengar makian gurunya ini. “Suhu ” serunya penasaran dan heran.

“Ke sini kau, pergi bersamaku!” bentak lagi gurunya. “Kau sudah begini tak tahu malu bergaul dengan manusia-manusia rendah, memalukan aku saja. Ayoh pergi!” Ia menyambar lengan Bi Eng yang sudah bertindak dekat, lalu membawa muridnya melompat pergi. Pengemis ini maklum bahwa kalau ia mengajak pergi Bi Eng muridnya, takkan ada yang berani menentangnya dan pikirannya ini ternyata tepat. Tak seorangpun melihat kepentingan dalam diri Bi Eng maka tidak ada yang berani mengambil resiko menahan kepergian pengemis itu dengan muridnya.

“Han Sin, kalau kau membuka rahasia warisan, adikmu akan kubunuh!” terdengar Ciu-ong Mo-kai berkata dan suaranya menandakan bahwa dia sudah tiba di tempat jauh.

“Kejar, tangkap pemberontak itu!” Bhok Kian Teng berseru marah. Tentu saja pemuda mata keranjang yang sudah tergila-gila kepada Bi Eng itu tidak rela melihat gadis yang disayanginya itu dibawa pergi. Banyak kaki tangannya mengejar keluar, akan tetapi di tempat gelap itu tidak kelihatan lagi bayangan Ciu-ong Mo-kai dan Bi Eng. Dengan marah ditahan-tahan Bhok Kian Teng yang tadi ikut mengejar, memasuki lagi ruangan itu dan ia memberi perintah kepada tiga orang hwesio yang sejak tadi berada di situ, “Sam-wi losuhu harap bawa bocah she Cia ini ke dalam kamar tahanan dan paksa sampai dia mengaku dan membuka rahasia warisan Lie Cu Seng!”

Tiga orang hwesio itu bukan lain adalah Thian-san Sam-sian, itu tiga orang hwesio yang dahulu pernah memusuhi Cia Sun ayah Cia Han Sin di Min-san. Mereka memang sudah lama menjadi pembantu-pembantu Bhok-kongcu. Adanya Bhok Kian Teng menyuruh mereka, karena pemuda yang pintar ini tahu akan adanya dendam permusuhan yang terkandung di hati tiga orang tokoh Thian-san itu terhadap keluarga Cia, maka ia maklum bahwa mereka tentu cukup tega dan kejam untuk melakukan penyiksaan terhadap Han Sin.

“Baik, kongcu. Percayalah, pinceng bertiga pasti akan berhasil memaksa dia membuka mulut, biarpun untuk itu pinceng harus menguliti atau membakar dia hidup-hidup!” jawab Gi Ho orang termuda dari tiga hwesio itu.

Dengan kasar mereka menyeret Han Sin. “Tunggu dulu!” kata Hoa Hoa Cinjin. Kakek ini cepat menggerakkan tangan menotok beberapa jalan darah di tubuh Han Sin dan pemuda ini yang masih terlalu heran menyaksikan munculnya Ciu-ong Mo-kai dan dibawanya pergi adiknya oleh pengemis itu, tidak mampu melindungi dirinya. Setelah menotok, Hoa Hoa Cinjin lalu mengeluarkan rantai baja dan membelenggu kaki tangan pemuda itu. “Nah, sekarang seret dia pergi,” katanya puas.

Bhok Kian Teng mengerutkan alisnya yang bagus. “Locianpwe, perlu apa mesti begini berhati-hati? Apakah dia berlengan enam berkepala tiga?”

Hoa Hoa Cinjin menarik napas panjang. “Pemuda ini bermata iblis dan aneh sekali, lebih baik jangan sampai gagal.”

Sementara itu, Thian-san Sam-sian menyeret tubuh Han Sin yang sudah dibelenggu itu ke dalam. Tiba-tiba Li Hoa melompat dan mendorong mereka dengan marah. “Mundur kalian! Jangan ganggu dia!”

Thian-san Sam-sian sudah mengenal Li Hoa. Mereka takut menghadapi kekuasaan Thio-ciangkun, maka dengan bingung mereka memandang Bhok-kongcu, tak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, setelah Bi Eng hilang, muncul kekejaman Bhok-kongcu dan lenyaplah sifat lemah lembut yang memang palsu dan dia keluarkan hanya di depan Bi Eng. Dengan kecepatan luar biasa pemuda ini sudah meloncat ke depan Li Hoa, kipasnya bekerja dua kali dan Li Hoa roboh tertotok, tak mampu bergerak lagi.

“Bawa dia sekalian ke dalam kamar siksaan, biar dia menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana jantung hatinya disiksa!” katanya sambil menyeringai, kemudian disambungnya kepada Li Hoa. “Thio Li Hoa, kau adalah seorang puteri Thio-ciangkun, akan tetapi sikapmu benar-benar memalukan. Apakah kau mau berpihak kepada pemberontak? Biarlah aku melancangi, kuwakili ayahmu untuk membikin kau merasai sedikit hukuman. Kelak ayahmu akan memaafkan dan berterima kasih kepadaku.”

Demikianlah, Han Sin diseret ke dalam kamar siksaan dan Li Hoa terpaksa harus mengikuti karena orang menarik tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya oleh totokan Bhok-kongcu yang lihai. Gadis itu didudukkan di pojok kamar siksa, duduk di lantai tak berdaya. Dengan sedih ia memandang kepada Han Sin yang masih tersenyum tenang. Pemuda itu tidak begitu kuatir lagi setelah melihat adiknya selamat dan kini adiknya dibawa pergi Ciu-ong Mo-kai. Biarpun sikap pengemis tua itu marah-marah, namun seribu kali lebih baik Bi Eng pergi dengan gurunya dari pada berada di sini, di antara orang-orang yang memusuhinya. Melihat Li Hoa memandangnya begitu sedih, Han Sin berkata perlahan, “Li Hoa, jangan kuatir. Biar dipukul mampus tak nanti aku membuka rahasia itu.”

Pemuda itu tahu betul bahwa Li Hoa juga menghendaki warisan itu, maka ia salah kira. Dianggapnya bahwa Li Hoa membelanya mati-matian karena tidak ingin warisan itu terjatuh ke dalam tangan orang lain, maka ia mengeluarkan kata-kata hiburan ini.

Sementara itu, dengan muka menyeringai tiga orang hwesio itu sudah menggosok-gosok tangan, nampaknya puas sekali mendapat kesempatan untuk membalas dendam kepada cucu Cia Hui Gan, yang mereka anggap musuh besar karena Cia Hui Gan dahulu pernah membunuh seorang murid mereka yang terkasih. Mereka tidak berhasil membalas kepada Cia Hui Gan karena sudah keburu tewas, tidak dapat membalas Cia Sun pula karena ketika mereka dulu bermaksud membunuh Cia Sun, muncul Balita yang menolong Cia Sun. Sekarang, mereka dengan mudah saja mendapat kesempatan untuk menyiksa putera Cia Sun, tentu saja mereka yang sudah menjadi gila karena benci dan dendam ini menjadi girang sekali.

“Eh, Orang muda she Cia. Tahukah kau siapa pinceng bertiga?” tanya Gi Ho Hosiang, yang termuda.

“Aku belum mendapat keberuntungan berkenalan dengan losuhu bertiga yang terhormat,” jawab Han Sin yang biasa amat menghormat orang-orang beribadat, apalagi terhadap tiga orang hwesio yang berkepala gundul dan berpakaian sederhana, tanda manusia-manusia yang sudah menindas hawa nafsu keduniawian.

Gi Thai Hosiang, yang tertua, tertawa mengejek. “Orang muda, kami adalah Thian-san Sam-sian yang mempunyai dendam dan permusuhan besar dengan kakek dan ayahmu! Sekarang lekas kau mengaku di mana adanya rahasia warisan Lie Cu Seng, kalau kau tidak mengaku, jangan harap kami akan menaruh kasihan lagi kepada kau keturunan musuh besar kami.”

“Ah, lebih baik jangan lekas-lekas kau mengaku, agar pinceng puas menyiksamu setengah mampus. Ha ha ha!” kata Gi Hun Hosiang sambil mengepal tinjunya.

Han Sin melengak. Inilah sama sekali tak pernah ia sangka. Mungkinkah ada pendeta-pendeta gundul begini jahat? Benar-benar jauh bedanya dengan apa yang ia baca dalam kitab-kitab. Ia menarik napas panjang dan sambil mendongak pemuda itu berkata, “Sam-wi losuhu. Mengapa kalian begini jauh tersesat? Apakah kalian tidak ingat lagi ujar-ujar Sang Buddha yang kalian puja? Dengar, lupakah kau akan kata-kata ini:

“Usirlah benci, marah, dan nafsu dari pikiranmu, Jangan hadapi kejahatan dengan kejahatan pula, Melainkan kalahkan kejahatan dengan kebajikan, Hadapi kemarahan dengan cinta kasih,

hadapi kejahatan dengan kebajikan, hadapi ketamakan dengan kedermawanan, hadapi kebohongan dengan kebenaran.

Karena orang yang dikuasai kebencian dan kemarahan lalu menyiksa orang lain,

sebetulnya hanyalah akan menyiksa diri sendiri.” “Sa-wi losuhu, sedikit ujar-ujar yang kupetik dari kitab-kitab suci agamamu ini, apakah kalian sudah lupa lagi? Aku tidak takut kalian siksa, juga tidak sudi membuka rahasia yang bukan menjadi hak orang lain. Akan tetapi aku betul-betul kasihan kepada kalian yang sudah menyeleweng terlalu jauh dari pada kebenaran dan dari pada ajaranmu sendiri.

Untuk sejenak tiga orang hwesio itu melengak dan saling pandang. Mereka, pendeta-pendeta Buddha, sekarang mendapat kuliah dari seorang pemuda yang menjadi tawanan! Tentu saja mereka kenal ujar-ujar itu yang terdapat di dalam kitab suci Dham-ma-pa-da. Akan tetapi, sebagaimana patut disayangkan, sebagian besar di antara orang yang mempelajari kebatinan atau agama, hanyalah menghafal dan mempelajari kata-katanya saja tanpa memperdulikan persesuaian antara kelakuan dan kata-kata dalam pelajaran itu.

Alangkah menyedihkan kalau melihat seseorang yang baru saja keluar dari kelenteng setelah mendengarkan atau membaca kitab-kitab pelajaran tentang cinta kasih antara sesama, begitu keluar dari kelenteng serta merta membuka mulut memaki orang atau memukul karena sesuatu hal yang merugikan. Alangkah menyedihkan mendengar seseorang bicara panjang lebar tentang cinta kasih sesama manusia, akan tetapi di dalam rumahnya sendiri selalu ribut dengan anak isteri atau saudara- saudaranya!

Ah, kalau saja manusia bisa menyesuaikan kelakuan dengan isi pelajaran kitab-kitab suci, tidak usah seratus persen, baru sepuluh persen saja, kiranya dunia ini akan aman, tidak muncul oknum- oknum yang angkara murka, ingin menjajah dan menguasai orang lain, ingin enaknya sendiri saja tanpa memperdulikan orang lain, tidak segan-segan mengorbankan kepentingan bangsa atau negara lain demi kesenangan bangsa dan negara sendiri.

Inilah kiranya yang membuat Nabi Locu selalu mencela adanya pelajaran-pelajaran kebatinan, karena agaknya sudah dapat melihat bahwa yang penting adalah si manusia. Sebelum manusia kembali kepada asalnya, yaitu seperti watak anak-anak, putih bersih dan suci, biarpun dilolohi (diberi makan) seribu satu macam pelajaran kebatinan, tetap akan menyeleweng dan makin tersesat.

Demikian pula tiga orang hwesio itu. Karena hati dan pikiran mereka sudah dikotori oleh benci dan dendam, mana sedikit kata-kata Han Sin itu bisa memasuki sanubari mereka? Bahkan ujar-ujar beberapa kitab-kitab tebal sudah mereka lupakan isinya. Dengan marah Gi Hun Hosiang malah mengayunkan kepalan tangan memukul mulut Han Sin. “Plakk!” Anehnya, bukan Han Sin yang roboh, melainkan Gi Hun Hosiang sendiri yang memekik kesakitan sambil memegangi tangannya yang mendadak menjadi matang biru dan bengkak-bengkak!

Kenapa bisa begini? Tiga orang hwesio itu terkejut bukan main. Pemuda tadi sudah ditotok oleh Hoa Hoa Cinjin, kenapa sekarang setelah dipukul malah pemukulnya yang bengkak-bengkak tangannya? Tentu saja mereka tidak tahu bahwa totokan Hoa Hoa Cinjin tadi sama sekali tidak mempengaruhi Han Sin.

Pemuda ini sekarang sudah memiliki kepandaian cara menyalurkan jalan darahnya, sehingga ketika ditotok tadi, otomatis ia menghentikan jalan darahnya dan totokan itu tidak ada artinya. Ia hanya mandah di belenggu karena tadi ia terlalu heran dan kaget. Sekarang begitu menghadapi pukulan, otomatis pikirannya lalu memerintahkan hawa sakti di dalam tubuhnya ke arah bagian yang terpukul sehingga tenaga pukulan Gi Hun Hosiang membalik dan melukai si pemukul sendiri.

Gi Thai Hosiang dan Gi Ho Hosiang tentu saja masih belum percaya bahwa Gi Hun Hosiang tadi memukul dengan tenaga besar dan menjadi korban hawa pukulannya sendiri. Merekapun melayangkan pukulan dan terdengar suara “buk” dua kali ketika pukulan mereka itu mengenai tubuh Han Sin. Akan tetapi, dua orang hwesio inipun memekik kesakitan dan merekapun menjadi terheran-heran dan berbareng marah dan penasaran.

“Bocah setan, kau menggunakan ilmu siluman!” pekik Gi Hun Hosiang.

“Kalian bertiga ini hwesio-hwesio murtad, sudah memukul orang masih memaki-maki lagi,” kata Han Sin mendongkol juga. Sementara itu, Li Hoa yang menyaksikan peristiwa itupun menjadi heran bukan main.

Thian-san Sam-sian yang menjadi marah dan penasaran, kini sibuk memikirkan cara untuk menyiksa pemuda aneh itu. Gi Hun dan Gi Ho sudah mencabut pedang dan tasbeh masing-masing, senjata yang mereka andalkan. Akan tetapi sebelum mereka bergerak, Gi Thai berkata.

“Tak usah menggunakan senjata. Bhok-kongcu tidak ingin melihat dia mampus sebelum dia membuka rahasianya.”

Setelah berkata demikian, Gi Thai Hosiang lalu mengeluarkan tiga buah obor dan menyuruh dua orang suhengnya menyalakan obor-obor itu. Kemudian ia mengangkat obor itu dan mengancam,

“Cia Han Sin, apakah sekarangpun kau tidak mau mengaku?”

Han Sin menggigit bibirnya. “Hwesio sesat, kau mau bunuh aku boleh bunuh, jangan harap kau dapat memaksaku membocorkan rahasia itu.”

Gi Thai Hosiang tertawa mengejek, “Bagus, memang pinceng tidak ingin kau cepat-cepat mengaku. Biar kau rasakan panasnya api, hendak kulihat apakah kau masih bisa menggunakan ilmu siluman lagi.” Ia lalu mendekatkan api pada muka Han Sin.

“Sam-wi losuhu, jangan!” Li Hoa menjerit. “Tidak boleh kalian menyiksa dia sampai begitu!”

Akan tetapi, tidak seperti tadi, tiga orang hwesio itu kini tidak menghiraukan larangan Li Hoa. “Thio-siocia harap tenang saja, pinceng bertiga hanya menjalankan perintah Bhok-kongcu.” Kata Gi Thai Hosiang sambil mendekatkan api itu pada muka Han Sin. Pemuda itu terhuyung ke belakang dan meramkan mata karena karena merasa amat panas pada mukanya. Akan tetapi dari belakang ia dipapak obor oleh Gi Hun Hosiang sehingga sebentar saja tiga batang obor menyala sudah didekatkan di sekeliling mukanya, seakan-akan kepalanya sedang dipanggang.

Muka pemuda ini menjadi merah sekali dan peluh bercucuran, namun ia hanya menggigit bibir dan mengerutkan kening, sama sekali tidak mengeluarkan suara mengeluh. Melihat pemuda yang dicintainya disiksa begitu rupa, Li Hoa yang tidak berdaya menolong, tidak kuasa memandang lebih lama lagi dan gadis itu membuang muka, Air matanya tak dapat dicegah lagi, turun berlinang dan membasahi kedua pipinya.

“Han Sin kasihan kau ….” bisiknya dengan perasaan hancur.

Ia mendengar suara berdebuk dan ketika ia memberanikan hati menengok, ia melihat pemuda itu sudah roboh bergulingan di atas lantai, akan tetapi tiga batang obor itu masih saja didekatkan pada mukanya yang sudah menjadi merah sekali seperti udang direbus! Li Hoa tidak kuat lagi.

“Han Sin, demi keselamatanmu, kau mengakulah. Biarlah warisan terkutuk itu membawa mereka ke neraka jahanam!” Han Sin membuka matanya yang menjadi merah dan bengkak, ia memandang Li Hoa dan menggeleng kepala. “Tidak bisa, Li Hoa. Aku tidak bisa mengorbankan nyawa adikku …..” suara Han Sin terengah-engah.

“Ha ha ha, kau masih tidak mau mengaku?” ejek Gi Thai Hosiang.

“Bunuhlah ….. bunuhlah aku tidak takut ….” Jawab Han Sin. Gi Thai Hosiang marah dan

menekan obornya pada leher pemuda itu maka terciumlah bau sangit ketika kulit leher itu termakan api dan melepuh!

“Hwesio keji, tahan!” Li Hoa berseru keras dengan suara penuh ancaman. Gadis ini adalah puteri Thio-ciangkun yang berkuasa besar di kota raja. Biarpun tiga orang hwesio itu sudah mendapat perkenan dari Bhok-kongcu dan kebencian mereka kepada keturunan Cia Hui Gan amat besar, namun terhadap Thio-siocia mereka masih mempunyai rasa jerih. Gi Thai Hosiang memberi tanda kepada dua orang sutenya untuk menunda siksaan itu. Biarpun lehernya melepuh dan sakitnya bukan main, namun tanpa mengeluh Han Sin berdiri tegak.

“Thio-siocia hendak bicara apakah?” tanya Gi Thai Hosiang. “Biarkan aku bicara dengan dia, tunda siksaan yang keji ini.”

Li Hoa lalu menghadap Han Sin, karena biarpun ia tak dapat menggerakkan kaki tangannya, ia dapat menggerakkan leher dan dapat bicara seperti biasa. “Han Sin, jangan bodoh kau. Mereka ini mana berani membunuhmu? Bhok-kongcu takkan membiarkan kau terbunuh. Mereka akan menyiksamu setengah mati. Untuk apa kau memberatkan warisan Lie Cu Seng atau warisan siapapun juga lebih dari pada nyawamu? Warisan, betapapun juga, hanyalah warisan duniawi, biarpun di sana ada kitab pelajaran ilmu silat yang bagaimana hebatpun, untuk apa disembunyikan terus dengan taruhan nyawa? Tentang adikmu, percayalah. Tidak ada guru yang mengganggu muridnya. Ciu-ong Mo-kai tak mungkin akan mengganggu adikmu. Diapun bukan orang goblok yang lebih suka melihat kau disiksa sampai mati dari pada memberikan rahasia tempat warisan Lie Cu Seng.”

“Tapi ….. tapi …. Kalau warisan terjatuh kedalam tangan orang jahat …. Kalau Eng-moi betul- betul dibunuh suhunya …… apa artinya hidup bagiku?”

“Bodoh benar! Warisan berupa apapun juga terjatuh ke dalam tangan orang jahat, baik harta ataupun kepandaian, itu hanya akan mempercepat mereka masuk neraka! Tentang adikmu, andaikata dia tidak dibunuh, kalau kau mati di sini, bukankah itu sama saja? Apakah dia tidak akan susah setengah mati melihat kau tewas? Han Sin, bukalah matamu, pergunakanlah pikiranmu.

Kalau kau menolak permintaan mereka, kemungkinan mati bagimu sudah seratus persen. Kalau menuruti permintaan mereka, kemungkinan mati bagi adikmu hanya sepuluh persen. Kau pilih yang mana?

Han Sin kalah debat. Ia anggap pikiran gadis ini memang tepat sekali. Iapun tidak percaya kalau Ciu-ong Mo-kai akan membunuh adiknya kalau dia memberikan rahasia tempat penyimpanan warisan Lie Cu Seng itu kepada Bhok-kongcu. Ia lalu mengangguk dan berkata kepada Thian-san Sam-sian.

“Katakan kepada Bhok-kongcu bahwa aku akan membawanya ke tempat disimpannya warisan menurut peta yang sudah kuhafal. Akan tetapi bukan sekali-kali karena aku takut akan siksaan kalian, melainkan karena aku setuju akan kata-kata Thio-siocia tadi. Pergilah!” Tiga orang hwesio itu kecewa. Memang mereka boleh dianggap berjasa telah berhasil menyiksa pemuda ini sampai mengaku, akan tetapi mereka merasa belum puas. Gi Hun Hosiang menyeringai sambil menghampiri pemuda itu. Hatinya masih sakit karena tangan kanannya bengkak-bengkak dan belum sembuh karena tadi ia gunakan memukul Han Sin.

“Enak saja. Dengan kedua kakimu putus kau juga masih dapat membawa Bhok-kongcu ke tempat itu!” Ia mencabut pedangnya dan mengayun pedang ke arah kedua kaki Han Sin.

“Hwesio busuk!” Li Hoa menjerit lalu menutup matanya, tak tahan menyaksikan pemuda yang ia cinta itu dibuntungi kakinya. Akan tetapi ia mendengar suara keras dari beradunya senjata dan terdengar suara keras hwesio itu menjerit kesakitan. Ketika gadis itu membuka matanya, ia melihat Bhok-kongcu sudah berada di dalam kamar itu dan Gi Hun Hosiang menggeletak dengan lengan berlumur darahnya sendiri.

Ternyata pada saat hwesio galak itu hendak membuntungi kaki Han Sin, Bhok-kongcu yang sejak tadi memang mengintai, segera turun tangan mencegah, malah melukai tangan Gi Hun Hosiang. Dan ini ia kerjakan dalam sekejap mata saja, menggunakan biji-biji catur sebagai senjata rahasia. Dapat dibayangkan betapa lihainya pemuda ini.

“Tugasmu hanya menyiksa sampai dia mengaku, tidak boleh menurutkan nafsu dan kepentingan pribadi.” Bhok-kongcu mengomel dan Gi Hun Hosiang bersama dua saudaranya membungkuk- bungkuk minta maaf lalu mundur.

Bhok Kian Teng kini menghadapi Han Sin sambil tersenyum, lalu melirik ke arah Li Hoa dengan muka mengejek. Ia makin yakin bahwa Li Hoa ternyata jatuh cinta pada pemuda gunung itu, dan diam-diam ia merasa sakit hati dan cemburu sekali. Pernah ia tergila-gila pada Li Hoa dan ditolak dengan keras oleh gadis itu.

Sekarang ia melihat Li Hoa begitu menyinta Han Sin, bagaimana hati pemuda mata keranjang ini takkan merasa sakit dan iri hati? Tapi, dasar Bhok Kian Teng orangnya luar biasa, perasaan hatinya ini tak terbayang pada wajahnya yang tampan putih itu. Diam-diam ia memutar otak untuk membalas sakit hati ini, maka ia tersenyum kepada Han Sin dan berkata, ”Cia Han Sin, apakah kau seorang laki-laki yang boleh dipercaya mulutnya?”

Tentu saja Han Sin menjadi marah. ”Saudara she Bhok, aku tidak kenal kau dan tidak tahu kau manusia bagaimana, akan tetapi percayalah bahwa aku Cia Han Sin sekali mengeluarkan omongan takkan kutarik kembali!”

”Ha ha ha, bagus sekali. Kau benar-benar seorang laki-laki sejati. Kau tadi sudah berjanji hendak membawaku ke tempat disimpannya warisan Lie Cu Seng. Apakah kau takkan menjilat kembali ludahmu dan menarik kembali omongan dan janjimu itu?”

Pandai sekali Bhok Kian Teng memanaskan hati orang. Han Sin yang masih hijau itu makin marah, dengan mata melotot ia membentak. ”Orang she Bhok, ternyata kau tidak tahu akan aturan. Apa kau kira aku ini orang yang tidak mengikuti syarat kebajikan jin-gi-lee-ti-sin (welas asih, pribudi, peraturan, pengertian dan kepercayaan)? Ucapan yang keluar dari mulut seorang kuncu (budiman) lebih berharga dari pada nyawanya. Tahukah kau?”

Bhok Kian Teng bertepuk-tepuk tangan. ”Hebat .... hebat pujian nona Bi Eng terhadap kakaknya

ternyata tidak berlebihan. Cia Han Sin, kau benar-benar seorang kuncu tulen.” Kemudian Bhok- kongcu menoleh pada Li Hoa dan dengan gagang kipasnya ia menotok jalan darah nona ini, membebaskan totokan Hoa Hoa Cinjin tadi. Setelah bebas dari totokan Hoa Hoa Cinjin tadi. Setelah bebas dari totokan, Li Hoa meloncat bangun, memandang kepada Han Sin dengan mata berduka.

”Nona, Thio Li Hoa, benar-benar kaupun harus dipuji. Pandai sekali kau menjalankan siasatmu sehingga bocah she Cia ini masuk perangkap dan mau mengaku di mana adanya warisan yang diperebutkan itu. Ha ha ha, tidak percuma kau menjadi puteri Thio-ciangkun yang sudah menjerat leher ratusan orang pemberontak. Ha ha, jangan kuatir, nona Li Hoa aku sendiri yang akan mencatat jasa-jasamu dan menyampaikan kepada kaisar.”

Han Sin kaget sekali, mukanya menjadi pucat dan ia menoleh kepada Li Hoa. “Li Hoa, kau kau

....” Ia lalu menarik napas panjang untuk menindas perasaannya yang tertusuk dan amat kecewa. Di antara sekian banyaknya manusia sesat yang mengganggunya dan melakukan perbuatan jahat, ia masih terhibur melihat Li Hoa yang ia anggap seorang baik-baik. Dalam diri Li Hoa ia melihat seorang sahabat baik yang melindunginya. Eh, tidak tahunya itu semua hanya siasat. Hal ini membuktikan bahwa gadis itu malah lebih jahat dan palsu dari pada yang lain!

Sementara itu, Li Hoa mendengar kata-kata Bhok-kongcu dan melihat pandang mata Han Sin kepadanya, penuh penyesalan dan kekecewaan, segera melangkah maju. “Han Sin .... aku aku

tidak begitu .... jangan kau menyangka yang bukan-bukan ”

“Ha ha ha, nona Thio Li Hoa. Kurasa tak perlu lagi kau bersandiwara di depan bocah she Cia ini!” Bhok-kongcu memotong cepat. “Bagus sekali siasatmu tadi, berpura-pura membelanya, berpura- pura menangis tidak tega melihat dia disiksa. Bagus pula bujukanmu sehingga dia mau mengaku. Sekarang tak perlu lagi, dia akan membawa kita ke tempat penyimpanan warisan. Ha ha ha!”

“Orang she Bhok, kubunuh kau!” Li Hoa melompat dan menyerang Bhok-kongcu dengan pukulan keras. Namun Bhok Kian Teng dengan mudah mengelak sambil miringkan tubuh, lalu menyampok ke samping. Tubuh gadis itu terlempar ke atas lantai. “Eh, eh, kau berani menyerangku? Kau tentu menghendaki warisan itu, bukan? Celaka, apakah kau hendak memberontak karena warisan itu?”

Benar-benar pandai Bhok-kongcu. Ia bisa mengatur sedemikian rupa sehingga Han Sin terpedaya dan makin marah pemuda ini karena menganggap Li Hoa benar-benar seorang yang berhati palsu. Memang ia percaya bahwa Li Hoa menghendaki warisan, karena bukankah dahulu gadis itu sudah secara terang-terangan menghendaki harta warisan Lie Cu Seng? Kiranya sikap manis dahulu itu adalah karena warisan itu!

“Gadis berhati palsu!” katanya penuh kekecewaan. Li Hoa menjadi demikian berduka dan mendongkol dan akhirnya gadis itu hanya bisa menangis.

Pada saat itu muncullah Hoa Hoa Cinjin sambil tertawa. “Selamat, Bhok-kongcu. Dia sudah mau berjanji hendak membawa ke tempat penyimpanan harta. Lebih baik sekarang saja suruh dia menjadi penunjuk jalan.”

Bhok-kongcu sambil tersenyum menjawab, “Cinjin berkata benar, akan tetapi saudara Cia Han Sin masih lelah, perlu beristirahat dulu. Sekarang kuminta kepada Cinjin sukalah memberitahu kepada semua kawan di luar supaya pulang semua. Tentang pertempuran dan pemilihan jago diundurkan, nanti pada cap-gwe-je-it (tanggal satu bulan sepuluh) di istana ayah di kota raja. Diminta saja supaya masing-masing kawan membawa teman-teman baru sebanyak mungkin. Suruh Leng Nio memberi bekal masing-masing seratus tail perak disertai ucapanku selamat jalan.” 20. Guha Rahasia Warisan Lie Cu Seng

HOA HOA CINJIN mengangguk dan hendak keluar, akan tetapi Bhok-kongcu berkata lagi. “Harap Cinjin menahan Tung-hai Siang-mo ji-wi loenghiong itu untuk menemani kita mengambil warisan. “ Hoa Hoa Cinjin mengangguk lagi, diam-diam memuji Bhok-kongcu yang selalu berhati-hati.

Memang, semua orang di dunia kang-ouw mengingini warisan itu, maka bukanlah hal yang tidak ada bahayanya kalau nanti mereka mengambilnya. Perlu penjagaan yang kuat. Memang tidak usah menguatirkan sesuatu dengan adanya dia di situ, akan tetapi kalau dibantu pula oleh dua orang iblis dari laut timur itu, kedudukan mereka menjadi lebih kuat lagi.

Setelah Hoa Hoa Cinjin keluar, dengan wajah berseri Bhok-kongcu lalu menghampiri Han Sin, “Saudara Cia, harap kau maafkan bahwa kau tadi telah menderita kaget. Kami tidak bermaksud mengganggumu, hanya warisan Lie Cu Seng itulah yang menimbulkan semua urusan ini. Sekarang kuharap kau suka mengaso dulu dan menerima hidanganku.”

Dengan kedua tangannya sendiri Bhok-kongcu melepaskan belenggu pada kaki tangan Han Sin, kemudian menuntun pemuda yang sudah lemas dan sakit-sakit tubuhnya ini menuju ke ruang tengah. Ia menoleh kepada Thian-san Sam-sian supaya keluar dari situ, kemudian kepada Li Hoa ia berkata, “Nona Thio, apakah kau juga hendak melihat aku mengambil warisan itu?” Ucapan ini mengandung ejekan. Li Hoa yang tadi menundukkan muka sambil menangis, sekarang mengangkat mukanya dan sepasang matanya yang indah itu memandang penuh kebencian kepada Bhok-kongcu kemudian memandang kepada Han Sin dengan penuh keharuan.

“Han Sin, berhati-hatilah kau menjaga dirimu,” katanya perlahan. Kemudian tanpa pamit kepada Bhok-kongcu, gadis ini melompat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri turun puncak.

Bhok-kongcu tertawa bergelak,

“Saudara Cia, kau masih belum berpengalaman. Lain kali jangan kau terlalu mudah tertipu oleh wajah cantik dan omongan manis. Dia itu bersama adiknya, sudah terkenal amat licik dan seringkali menggunakan kecantikan mereka untuk menggoda orang.”

Han Sin makin tak senang kepada Bhok-kongcu, juga makin kecewa kalau mengingat gadis itu. Akan tetapi dia diam saja dan karena memang perutnya lapar dan tubuhnya lemas, ia tidak menolak ketika orang menyuguhkan makanan dan arak. Setelah makan minum sampai kenyang, Han Sin lalu tidur di dalam kamar yang indah.

Bhok-kongcu biarpun masih mudah namun pandangannya luas dan kecerdikkannya luar biasa. Sekali bertemu dan melihat sikap Han Sin, ia sudah tahu bahwa pemuda Min-san itu adalah seorang kutu buku yang terlalu banyak dipengaruhi kitab-kitab kuno dan karenanya tentulah seorang yang selalu berusaha untuk bersikap sebagai seorang kuncu sebagaimana sering kali dimunculkan sebagai teladan di dalam kitab-kitab. Maka ia segera memegang kelemahan Han Sin, yaitu menyuruh pemuda itu berjanji. Ia yakin bahwa pemuda seperti itu takkan mungkin mau mengingkari janjinya.

Ia tahu pula bahwa pemuda itu sudah menderita hebat, maka perlu diberi makan dan mengaso agar pulih kembali tenaganya. Kalau dipaksa mencari warisan dan terlalu lelah menderita, mungkin akan menjadi nekat karena tidak kuat menahan lagi. Itulah mengapa dia bersikap ramah dan menjamu Han Sin, malah memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menghilangkan lelahnya dan tidur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Sin sudah bangun dan merasa tubuhnya sehat dan segar. Lehernya yang melepuh ternyata telah diberi obat oleh gadis pelayan atas perintah Bhok- kongcu dan bukan main manjurnya obat itu. Rasa sakit sudah lenyap, malah kulit yang melepuh sudah pulih kembali. Ia tidak tahu bahwa obat ini adalah pemberian Hoa Hoa Cinjin, juga ia tidak tahu betapa Hoa Hoa Cinjin diam-diam merasa terheran-heran ketika melihat bahwa pemuda ini sama sekali sudah terbebas dari pengaruh pukulannya.

Tentu saja sebagai seorang tokoh besar, ia tidak mau membicarakan urusan ini dengan orang lain, karena hal ini akan merugikan namanya sendiri. Diam-diam ia menduga barangkali Li Hoa telah berusaha minta pertolongan orang pandai untuk mengobati luka Han Sin. Mungkin Ciu-ong Mo-kai yang telah menyembuhkannya, pikirnya. Mana ia tahu bahwa pemuda itu dengan lweekangnya yang ajaib telah dengan sendirinya melindungi tubuhnya dari pukulannya yang beracun?

Begitu Han Sin bangun, empat orang gadis-gadis pelayan yang mudah dan cantik, dengan sikap genit memikat memasuki kamarnya dan segera pemuda ini mendapatkan pelayanan sebagai seorang kongcu. Han Sin menjadi likat malu-malu, namun ia sama sekali tidak mau melayani sikap mereka yang genit-genit itu. Malah diam-diam ia menjadi jemu dan menyuruh mereka keluar setelah ia menerima bawaan mereka, yaitu air untuk mencuci muka, makanan pagi dan minuman hangat.

Tadinya mereka berkeras hendak melayaninya. Dengan kata-kata halus, senyum manis dan kerling mata memikat mereka membujuk, namun Han Sin tetap menyuruh mereka keluar. Dengan bibir dicibirkan dan dengus mengejek empat orang gadis pelayan yang mendapat tugas menyenangkan hati Han Sin itu terpaksa keluar. Han Sin segera membersihkan diri lalu makan pagi.

Ketika Bhok-kongcu memasuki kamarnya, Han Sin sudah siap. “Selamat pagi, saudara Cia. Apakah kau sudah segar kembali? Sudah siapkah mengantar siauwte pergi?”

“Aku sudah siap,” jawab Han Sin sederhana.

Ketika mereka keluar, ternyata Hoa Hoa Cinjin dan kedua Tung-hai Siang-mo juga sudah menanti.

“Di mana tempat penyimpanan itu?” Bhok-kongcu bertanya ketika mereka sudah berada di luar gedung.

“Menurut petunjuk peta yang sudah lenyap, tempat itu berada di lereng sebelah sana. Marilah ikut denganku,” jawab Han Sin yang segera melangkah dengan kening berkerut, menuruni puncak.

Pemuda ini mencurahkan pikirannya, mengingat-ingat letak tempat penyimpanan itu. Di dalam peta sudah dilukis dengan jelas, yaitu di lereng di mana terdapat sebuah batu besar berbentuk segi tiga. Ia sudah hafal benar dan tahu ke mana harus mencarinya. Karena bukit di mana gedung Bhok- kongcu berada inipun tergambar di dalam peta, maka ia tahu bahwa ia harus menuruni puncak itu menuju ke selatan.

Bhok-kongcu mengiringkan Han Sin, diikuti oleh Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo yang menjadi penjaga atau pengawal. Beberapa jam setelah mereka turun dari puncak dan tiba di sebuah hutan yang penuh pohon besar, terdengar suara berkresek di antara daun-daun pohon. Bhok-kongcu mengira bahwa itu adalah suara binatang semcam tupai atau burung besar yang hinggap di dahan pohon. Akan tetapi tiba-tiba Ji Kong Sek tertawa menyeramkan lalu membentak.

“Pengecut, keluarlah!” tangan kirinya bergerak dan sebatang paku atau bor yang disebut Toat-beng- cui (Bor Penyabut Nyawa) melayang ke arah pohon.

“Tahan !” Hoa Hoa Cinjin berseru dan lengan bajunya dikipatkan. Angin pukulan dahsyat

menyambar dan Toat-beng-hui menyeleweng arahnya, tidak mengenai tempat yang dijadikan sasaran. Ji Kong Sek terheran dan tak senang, akan tetapi segera Hoa Hoa Cinjin berseru ke arah pohon itu, “Hoa-ji, jangan main sembunyi, bisa-bisa disangka musuh. Ayoh, turunlah, ada apa kau di situ?”

Terdengar suara ketawa merdu sekali disusul suara yang bening dan manja, “Gi-hu pergi, masa anak tidak boleh ikut?”

Hoa Hoa Cinjin tertawa bergelak. “Bocah manja! Turunlah di sini.” “Banyak orang di situ, aku malu, gi-hu (ayah angkat)!”

Bhok-kongcu yang segera tertarik dan kagum sekali mendengar suara yang demikian merdunya, tersenyum bertanya, “Cinjin, apakah dia itu puteri angkatmu?”

“Betul, kongcu. Dia nakal dan bandel, bukan aku yang membawanya ke sini.” Ucapan ini seakan- akan mengandung permintaan supaya puterinya itu diperbolehkan ikut.

“Tidak apa, tidak apa. Bukankah dia itu puterimu dan boleh dibilang orang sendiri? Suruhlah dia turun, aku sudah lama mendengar namanya dan aku ingin sekali berkenalan.”

“Hoa-ji, kalau kau tidak mau turun, kau tidak boleh mengikuti kami. Ayoh, turun!”

“Gihu, kau bilang semua laki-laki jahat belaka, biar dia itu pangeran atau sastrawan. Aku tidak mau berkenalan dengan orang lelaki!” jawab suara itu. Kali ini tidak hanya Bhok-kongcu, malah Tung- hai Siang-mo juga tertawa bergelak.

“Betul sekali! Ha ha ha!” kata Ji Kak Touw yang panjang lehernya.

“Betul apa?” tiba-tiba terdengar suara Han Sin dengan suara mendongkol. Sifatnya sebagai “kuncu” memberontak tiap kali mendengar pendapat yang dianggapnya salah. “Siapa berani bilang semua laki-laki jahat belaka? Laki-laki maupun wanita sama saja, dan sudah jamak kalau ada yang tersesat jalan hidupnya. Akan tetapi tidak kurang yang bijaksana, terutama manusia laki-laki malah.

Pernahkah orang mendengar tentang orang bijaksana atau Nabi wanita, kecuali Kwan im Pouwsat seorang? Yang bilang laki-laki semua jahat adalah seorang sombong dan bodoh!”

Bhok Kian Teng bertepuk-tepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. “Hebat, hebat! Saudara Cia Han Sin benar-benar hebat.”

Sementara itu wanita yang bicara tadi, yang bukan lain adalah Hoa-ji si gadis berkedok puteri angkat Hoa Hoa Cinjin, bukan main mendongkolnya mendengar ucapan Han Sin. Tampak berkelebat bayangan dan tubuhnya yang ringan seperti sehelai daun kering itu melompat turun dari pohon.

Bhok-kongcu menghentikan tawanya dan mulutnya melongo. Baru sekarang ia melihat gadis berkedok yang pernah ia dengar namanya ini. Bukan main kagumnya melihat bentuk tubuh yang ramping dan molek itu, dengan pakaian sederhana yang ketat. Tubuh seorang gadis muda yang luar biasa indahnya, dan kulit lengan yang keluar dari lengan baju pendek sebatas siku itu amat halus dan putih, dihias gelang perak. Biarpun seluruh kepala ditutup kedok, Bhok-kongcu berani bertaruh batok kepala bahwa di balik kedok itu tentu tersembunyi wajah yang cantik jelita. Hatinya

berdebar-debar dan cepat ia menjura dengan senyum manis dan suara ramah.

“Siauwte Bhok Kian Teng merasa bahagia sekali dapat bertemu dengan Hoa-kouwnio (nona Hoa) yang sakti seperti bidadari kahyangan. Benar-benar hati siauwte dipenuhi kekaguman!” Hoa-ji balas menjura karena maklum bahwa pemuda ini adalah seorang yang amat dihormat oleh ayah angkatnya, namun ia tidak menjawab dan Bhok-kongcu tidak tahu bahwa dibalik kedok itu, mulut si gadis tersenyum mengejek padanya. Akan tetapi muka dibalik kedok itu menghadap kepada Han Sin dan berkata.

“Hemm, berbeda sekali dengan adiknya. Adiknya jenaka dan cerdik, kakaknya kok begini tolol dan sombong. Gi-hu, kau mengantar si tolol ini hendak ke manakah?”

“Kami mengikutinya, dia hendak menunjukkan di mana tempat penyimpanan ”

“Sst. Harap Cinjin hati-hati sedikit. Siapa tahu pohon-pohon ini bertelinga,” kata Bhok-kongcu perlahan, memotong kata-kata Hoa Hoa Cinjin. Hoa Hoa Cinjin sadar dan tidak melanjutkan kata- katanya. “Hoa-ji, mari kau ikut dengan kami.”

Nona berkedok itu mengeluarkan suara ketawanya yang merdu. “Main teka-teki, apa dikira aku tidak tahu? Hi hi hi!”

Rombongan itu berjalan terus karena Han Sin sudah mulai berjalan terus, tidak mau memperdulikan gadis yang memakinya tolol dan sombong itu. Semua wanita, demikian pikirnya, kecuali Bi Eng, adalah mahluk-mahluk yang berbahaya! Ia teringat akan Li Hoa, akan Leng Nio, lalu gadis-gadis pelayan di gedung Bhok-kongcu yang amat genit-genit menjemukan. Gadis berkedok ini, sebagai puteri angkat Hoa Hoa Cinjin, tentu juga bukan manusia baik-baik, pikirnya.

Bhok-kongcu berjalan mendekati Hoa-ji dan mengajak gadis itu bercakap-cakap dengan sikap memikat sekali. Sebaliknya, dari balik kedoknya, Hoa-ji memandang Bhok-kongcu dengan jemu dan benci. Hanya apabila ia memandang kepada Han Sin saja wajahnya menjadi berseri dan pandangan matanya bersinar kekaguman.

Ia memang kagum melihat melihat pemuda yang kelihatan lemah itu demikian gagah beraninya, sama sekali tidak kelihatan gentar padahal berada dalam tangan orang-orang seperti Bhok-kongcu dan Hoa Hoa Cinjin yang ia tahu amat ganas dan paling gampang membunuh orang. Tokoh yang bagaimana gagahnya di dunia kang-ouw, kalau berada dalam keadaan seperti pemuda Min-san itu, pasti akan pucat dan ketakutan.

Han Sin membawa rombongan orang-orang itu ke sebuah lereng di mana terdapat sebuah batu karang besar segi tiga dan di atas batu itu, bertumpuk di lereng yang terjal, terdapat batu besar. Yang di depan sendiri, di belakang dan agak di atas batu segi tiga, adalah sebuah batu yang amat besar. Di depan batu segi tiga ini Han Sin berhenti.

“Di sinilah tempatnya,” katanya singkat.

Bhok-kongcu melompat maju dan melihat keadaan sekitarnya. Bukit ini tidak begitu besar, akan tetapi tempatnya berada di bagian paling belakang dari Lu-liang-san, jadi agak terpencil dan tersembunyi. Akan tetapi, tidak ada apa-apanya yang aneh, melainkan lereng yang terjal penuh batu-batu yang besar. Ia menjadi curiga dan bertanya, agak ketus. “Cia Han Sin, jangan main-main. Di tempat begini gundul, mana bisa untuk simpan harta pusaka?”

Han Sin menggeleng kepala. “Ucapan seorang laki-laki takkan ditarik kembali. Aku tidak main- main dan memang menurut peta di tempat inilah letaknya. Batu segi tiga ini menjadi tanda yang amat jelas. Menurut peta di belakang batu segi tiga inilah tempatnya.” Han Sin menudingkan telunjuknya ke arah batu itu. Bhok-kongcu menjadi pucat. “Di belakang ini?” Ia memandang lebih teliti. Batu segi tiga itu tidak berapa tinggi, hanya setinggi orang. Akan tetapi tebal dan karena batu itu adalah batu hitam yang sudah tua sekali, maka beratnya tentu paling sedikit ada dua ribu kati! Kalau tempat itu berada di belakang batu segi tiga, berarti bahwa batu itu harus disingkirkan. Ia lalu berpaling pada Hoa Hoa Cinjin dan bertanya,

“Cinjin, tanpa pembantu-pembantu yang banyak, bagaimana mungkin menggeser batu yang besar ini?”

Hoa Hoa Cinjin menggulung lengan bajunya dan menjawab, “Kongcu, dalam urusan ini, tidak baik mendatangkan banyak pembantu. Biarlah pinto mencobanya.”

Tosu tua yang bertubuh kekar ini lalu mendekati batu segi tiga dari samping. Ia melihat batu itu hanya bersandar pada tebing karang, tidak menjadi satu dengan karang maka ia merasa masih sanggup menggesernya. Dengan memasang kuda-kuda yang amat kuat, ia lalu menggunakan tenaga Jeng-king-kang (Tenaga Seribu Kati) dan mendorong batu itu. Akan tetapi batu itu tidak bergeming. Terdengar suara tertawa dan ternyata Tung-hai Siang-mo sepasang iblis itu yang tertawa.

Hoa Hoa Cinjin menjadi penasaran. Dikerahkan seluruh tenaga dan dari ubun-ubun kepalanya sampai keluar uap, tulang-tulang tubuhnya berbunyi berkerotokan dan urat-urat di kedua lengannya tersmbul seperti ular melilit-lilit. Batu besar itu bergerak sedikit, namun tetap tidak dapat bergeser. Akhirnya terdengar suara dan batu yang sudah goyang itu membalik sedangkan kedua kaki Hoa Hoa Cinjin amblas sampai selutut ke dalam tanah! Terpaksa tosu itu melepaskan dorongannya dan menyusut peluh. Ia mencabut keluar kedua kakinya dan mencari injakan lain untuk mencoba pula.

“Gi-hu, batu itu terlampau berat. Tak mungkin tenaga seorang manusia menggesernya,” kata Hoa-ji mencegah ayahnya.

“Ha ha ha, kau benar, nona berkedok. Tenaga Hoa Hoa Cinjin seorang mana mampu?” kata Ji Kong Sek mengejek. Adapun Ji Kak Touw tertawa-tawa mendengus.

Hoa Hoa Cinjin sudah melotot. Matanya yang mempunyai sinar menakutkan, luar biasa tajamnya itu seperti mengeluarkan api. Ia marah sekali kepada Tung-hai Siang-mo yang mengejeknya.

Melihat ini, Bhok-kongcu mendahuluinya berkata kepada sepasang iblis itu.

“Ji-wi lo-enghiong berdua yang terkenal memiliki tenaga Pai-san-ciang (Tangan Mendorong Gunung), tentu akan dapat mendorongnya.”

Sepasang iblis itu saling pandang. Tidak enak kalau mereka diam saja tanpa turun tangan. Maka keduanya lalu menghampiri batu itu. Tadi Hoa Hoa Cinjin mendorong dari kiri, sekarang karena di bagian kiri itu tanahnya sudah amblong terinjak kuda-kuda kaki Hoa Hoa Cinjin, mereka mendorong dari kanan. Berdua mengerahkan tenaga dan menyatukan kekuatan, mendorong batu segi tiga itu.

Kembali batu bergoyang-goyang, akan tetapi tetap tidak dapat bergeser. Sampai merah muka kedua orang itu, juga dari kepala mereka mengebul uap karena mereka mengerahkan seluruh tenaga dalam, namun tetap tidak berhasil. Akhirnya mereka menyerah dan melepaskan dorongan.

“Ha ha ha! Tenaga Pai-san-ciang kiranya hanya bisa untuk mendorong gunung-gunungan, jangankan mendorong gunung sungguh-sungguh, mendorong batu saja tidak becus. Ha ha ha!” Hoa Hoa Cinjin membalas kedua orang itu dengan ketawa mengejek. Hoa-ji tentu saja membela ayah angkatnya dan nona inipun tertawa merdu dan nyaring. Tung-hai Siang-mo malu dan marah. “Hoa Hoa Cinjin, kau sendiri tidak becus, kenapa kau mentertawai orang? Setidaknya tenaga kami berdua tidak kalah oeh tenagamu!” kata Ji Kak Touw sambil melotot.

Hoa Hoa Cinjin mengangkat dada. “Begitukah? Boleh kita coba!”

“Majulah!” dua orang iblis itu memasang kuda-kuda dan siap untuk mengadu tenaga.

Hoa Hoa Cinjin melompat maju, meluruskan kedua lengan dan di lain saat sepasang lengannya sudah bertemu dengan dua pasang lengan Tung-hai Siang-mo dan tiga orang ini saling mendorong, mengerahkan tenaga masing-masing! Ramai sekali adu tenaga ini sampai Hoa-ji bertepuk tangan saking gembiranya. Bhok-kongcu berusaha mencegah, namun tiga orang kakek yang sudah panas perutnya itu mana mau saja?

Han Sin benar-benar merasa mendongkol dan jemu melihat lagak orang-orang kang-ouw yang sedikit-sedikit menonjolkan kepandaiannya ini. Agaknya bagi para tokoh kang-ouw itu, yang terpenting dalam hidup hanyalah memamerkan kepandaian dan bertempur untuk mencari kemenangan! Ia melangkah maju dan berkata tak senang.

“Sam-wi ini orang-orang tua seperti bocah-bocah saja! Kalian mengaku pembantu dari Bhok- kongcu, pembantu-pembantu macam apa ini? Ikut-ikutan ke sini bermaksud membantu Bhok- kongcu mencari pusaka itu atau hanya untuk saling cakar? Masing-masing tidak mampu menggeser batu, malah saling gempur. Kalau tenaga itu semua disatukan mendorong batu, itulah lebih baik dari pada saling dorong seperti bocah tak tahu aturan!”

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara yang demikian nyaringnya sehingga pengerahan lweekang tiga orang itu menjadi terganggu, bahkan Hoa-ji dan Bhok-kongcu sampai merasa sakit anak telinganya. Mereka kaget bukan main dan memandang kepada Han Sin dengan bengong.

Adapun Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo, ketika mendengar omongan ini lalu sadar. Tadi mereka hampir lupa bahwa mereka berada di situ atas perintah Bhok-kongcu, bahkan mereka telah saling adu kekuatan di depan Bhok-kongcu, lupa akan tugas mereka diajak ke situ. Segera mereka menarik tenaga masing-masing dan memandang kepada Bhok-kongcu dengan muka merah.

Pangeran muda ini agak cemberut.

“Maaf kongcu. Pinto telah menuruti nafsu,” kata Hoa Hoa Cinjin dan dua orang iblis itupun mengangguk-angguk di depan Bhok-kongcu.

“Hoa Hoa Cinjin, apa yang diucapkan bocah ini memang ada betulnya. Mari kita bertiga mendorong batu keparat ini, masa tidak kuat?” kata Ji Kong Sek. Hoa Hoa Cinjin mengangguk dan mereka lalu menghampiri batu segi tiga itu. Tenaga tiga orang yang tadinya diadu itu kini bersatu mendorong batu. Hebat bukan main tenaga tiga orang ini. Batu itu perlahan-lahan tergeser.

Melihat bahwa di balik batu itu terdapat gua, Bhok-kongcu menjadi girang dan turun tangan ikut mendorong, demikian pula Hoa-ji. Hanya Han Sin yang berdiri saja memandang, diam-diam ia pun merasa girang bahwa peta itu ternyata tidak bohong. Tentu di dalam guha ini adanya pusaka rahasia itu. Sedih hatinya kalau mengingat bahwa pusaka peninggalan ayah dan kong-kongnya, yang diwariskan kepadanya, kini akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak berhak. Bukan sekali-kali karena dia ingin sekali mendapatkan harta benda, melainkan menyayangkan kalau harta pusaka jatuh ke dalam tangan orang-orang yang ia anggap tersesat ke jalan kejahatan ini. Harta maupun segala benda keduniaan, apabila terjatuh ke dalam tangan orang bijaksana, akan merupakan anugerah, bagi si orang itu sendiri maupun orang-orang lain karena benda dunia malah dapat menjadi alat untuk orang melakukan kebajikan dalam hidup. Sebaliknya, apabila terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang sesat, benda itu akan mendatangkan malapetaka, baik bagi si pemilik maupun bagi orang lain, karena benda itu akan dijadikan alat untuk pengumbar nafsu!

Setelah mendapat bantuan Bhok-kongcu dan Hoa-ji yang keduanya juga memiliki tenaga lweekang luar biasa, batu segi tiga itu terguling mengeluarkan suara keras. Han Sin yang tertarik juga akan isi guha yang kini kelihatan jelas, merupakan sebuah guha yang bentuknya seperti mulkut naga, cepat melangkah masuk.

Tiba-tiba terdengar suara keras sekali dan ….. batu besar yang tadinya rebah miring di atas batu segi tiga, kini bergerak turun! Agaknya pegangan batu itu pada gunung karang telah patah karena batu segi tiga yang merupakan ganjalnya dipindahkan.

“Celaka ……!” Bhok-kongcu berseru pucat.

“Satukan tenaga, tahan batu ini!” teriak Hoa Hoa Cinjin. Batu besar itu memang sudah turun hendak menggencet mereka, maka dengan kedua lengan diangkat ke atas, Hoa Hoa Cinjin, kedua Tung-hai Siang-mo, Bhok-kongcu, dan Hoa-ji menahan turunnya batu. Baiknya batu itu di bagian atas masih menyandar kepada gunung karang sehingga bobotnya masih dapat diganjal oleh enam pasang lengan itu. Kalau tidak ada gunung karang yang menahan, mana mereka kuat? Tentu tubuh mereka akan tergencet gepeng.

Akan tetapi keadaan merekapun bukan tidak berbahaya. Mereka sudah menahan batu dan mereka tidak mungkin dapat melepaskan lengan mereka dari bawah batu. Sekali mereka melepaskan diri, batu itu akan menggencet ke bawah dan mereka akan menjadi hancur! Kalau terus melanjutkan usaha menahan turunnya batu besar itu, merekapun takkan kuat menahan terlalu lama. Maju celaka, mundur hancur! Bhok-kongcu agaknya maklum hal ini, maka pemuda ini sudah menjadi pucat dan memutar otak mencari siasat.

Sementara itu, ketika Han Sin menyelinap masuk, ia melihat guha yang amat lebar dan gelap sekali. Guha itu merupakan terowongan dan saking gelapnya ia tidak melihat apa adanya di sebelah dalam. Selagi ia hendak memeriksa, ia mendengar suara-suara mereka yang sedang mati-matian menahan batu. Ia menengok dan pemuda ini berdebar hatinya. Tanpa ragu-ragu lagi ia melompat sambil berseru, “Celaka !” Kemudian serta merta iapun mengangkat kedua lengan dan ikut menyangga

batu. Kebetulan, tanpa disengaja tempat ia berdiri adalah di depan Hoa-ji sehingga ia hampir beradu muka dengan gadis itu.

Mata dibalik kedok itu memandang penuh keheranan dan kekaguman. “Kau .....” bisik Hoa-ji. “Kenapa membantu kami ?”

“Kenapa tidak? Kalian terancam bahaya, mana bisa aku tidak membantu?” Han Sin balas bertanya dengan heran. Setelah pemuda ini ikut menyangga batu, enam orang itu dapat bernapas seakan-akan batu itu menjadi ringan. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka dapat menduga bahwa ini adalah karena tenaga kedua lengan tangan Han Sin yang amat luar biasa! Dan pemuda itu masih bisa kongkow (mengobrol)!

“Bodoh, kalau sekarang kau lari pergi, siapa yang bisa menghalangimu?” kata pula Hoa-ji. Mendengar ini, Bhok-kongcu mendongkol sekali. Kenapa semua perempuan mengambil sikap membela Han Sin bocah gunung itu? Ia benar-benar iri hati sekali. “Kau yang bodoh!” jawab Han Sin membuat heran semua orang. “Kau kira aku manusia macam apa melihat kau dan yang lain-lain terancam bahaya maut malah pergi dan tidak menolong? Huh, aku bukan orang macam itu.”

“Huh, kuncu tulen !” Semua orang terheran, juga Han Sin. Di antara mereka tidak ada yang

mengeluarkan kata-kata ini, dan anehnya, kata-kata ini keluarnya dari sebelah dalam guha yang

gelap itu. Akan tetapi begitu perlahan seperti bisikan dan begitu aneh suara itu seperti bukan suara manusia. Biarpun amat perlahan namun terdengar jelas, benar-benar hebat.

Selagi semua orang terheran, dari luar terdengar suara kerincingan yang amat nyaring. Makin lama suara kerincingan ini makin nyaring dan dekat.

“Ayah datang !!” seru Bhok-kongcu girang luar biasa. Mendengar ini, muka Hoa Hoa Cinjin

dan Tung-hai Siang-mo berubah pucat. Diam-diam mereka mengeluh. Biarpun mereka bertiga memang suka membantu pemerintah baru untuk merebut kedudukan dan kemuliaan, namun diam- diam kalau di atas pusaka rahasia peninggalan Lie Cu Seng benar-benar terdapat kitab pelajaran ilmu silat tinggi seperti yang dikabarkan di dunia kang-ouw, mereka tentu akan berusaha mendapatkannya.

Sekarang munculnya tokoh besar itu, Pak-thian-tok Bhok Hong yang namanya sudah membuat semua orang ketakutan, mereka tentu saja menjadi kecewa. Biarpun mereka bertiga belum pernah bertanding melawan Bhok Hong, akan tetapi pada masa itu di dunia persilatan hanya ada beberapa orang saja yang dapat disejajarkan nama besarnya dengan Pak-thian-tok Bhok Hong. Ketika tentara Mancu menyerbu ke selatan, entah sudah berapa banyak orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang roboh di tangan Bhok Hong ini. Malah kabarnya para gembong dari partai persilatan Kun-lun- pai, Khong-tong-pai, Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain sudah jatuh di bawah tangan besi atau tangan racunnya.

Dari bawah lereng muncul seorang kakek tinggi besar yang amat angker sikapnya. Kakek itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, wajahnya seperti wajah pahlawan Kwan In Tiang, merah dan gagah perkasa serta tampan. Pakaiannya seperti pakaian perang, di pinggangnya tergantung sebatang golok. Kerincingan yang berbunyi amat nyaring itu adalah kerincingan-kerincingan perak kecil-kecil berjumlah seratus delapan buah yang digantungkan pada pakaian serta topinya.

Anehnya, begitu kakek itu sudah datang dekat dengan tindakan yang luar biasa cepatnya, kerincingan itu mendadak berhenti semua! Inilah keistimewaan Pak-thian-tok Bhok Hong. Sebagai seorang cabang atas ia selalu memberi warta tentang kedatangannya dengan bunyi kerincingan itu dan setelah dekat, dengan menggunakan kepandaian lweekang yang sudah amat tinggi ia bisa membuat kerincingan-kerincingan itu tidak bergoyang biarpun tubuhnya bergerak-gerak dalam pertempuran.

Melihat keadaan puteranya dan orang-orang lain yang sedang menahan batu besar itu, tanpa berkata sesuatu Bhok Hong lalu menyelinap masuk. Tangan kanannya menyangga batu itu dan tangan kirinya mendorong tubuh puteranya keluar. “Keluar kau dan minggir!”

Bhok-kongcu percaya akan kesaktian ayahnya, maka ia menurut saja, menggunakan tenaga dorongan ayahnya untuk melompat keluar dan berlindung di samping pada dinding gunung karang. Pak-thian-tok Bhok Hong memandang kepada orang-orang lain yang masih menahan batu dengan sikap tidak acuh.

“Kalian tidak lekas menggelinding pergi, tunggu apa lagi?” Hoa-ji maklum bahwa batu itu akan dilontarkan oleh kakek sakti ini, memang paling selamat pergi berlindung seperti Bhok-kongcu, maka ia lalu melepaskan kedua tangannya dan melompat keluar. Akan tetapi, Hoa Hoa Cinjin dan dua orang iblis dari laut timur berpikir lain. Kedatangan Racun dari Dunia Utara ini tentu menghendaki kitab rahasia di dalam guha. Maka mereka lalu melepaskan tangan pula, akan tetapi tidak melompat keluar, sebaliknya malah melompat ke dalam guha!

Karena ditinggal oleh lima orang itu, batu yang menggencet terasa berat sekali sehingga Bhok Hong harus mengerahkan tenaga sepenuhnya. Dia tidak tahu bahwa bantuan Han Sin memungkinkan dia menahan batu itu. Andaikata Han Sin juga melepaskan batu, tidak mudah bagi orang sakti itu untuk menahannya seorang diri. Sekarang, ia hanya mengira bahwa batu itu hanya kelihatan besar saja akan tetapi tidak berapa berat, maka ia hanya menahan dengan lengan kanan sedangkan lengan kirinya dilambaikan ke arah Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo.

“Kalian mau apa? Keluar kataku!”

Hoa Hoa Cinjin menjurah. “Bhok-taijin, pinto bertiga bertugas membantu Bhok-kongcu mencari pusaka rahasia ”

“Tikus-tikus macam kalian mana becus? Keluar!” Tangan kiri itu berkelebat dan ujung lengan baju Bhok Hong bergerak tiga kali melakukan serangan totokan ke arah jalan darah maut di tenggorokan tiga orang itu. Hebat sekali serangan ini, angin pukulannya saja sudah menderu tanda bahwa tenaganya besar. Hoa Hoa Cinjin dan kedua Tung-hai Siang-mo tidak berani menangkis, melainkan mengelak. Akan tetapi di lain saat, tiga kali tangan kiri Bhok Hong bergerak, menangkap belakang leher tiga orang kakek kosen itu dan berganti-ganti mereka dilempar keluar.

Benar-benar hal ini amat ajaib, Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo pada masa itu adalah tokoh- tokoh besar yang di dunia yang di dunia kang-ouw menduduki tempat tinggi. Jarang ada ahli silat dapat melawan mereka. Apalagi Hoa Hoa Cinjin. Akan tetapi sekali gebrak saja Pak-thian-tok Bhok Hong sudah berhasil melempar mereka. Benar-benar hal ini menunjukkan betapa tingginya tingkat kepandaian raja muda ini. Memang ilmu silatnya aneh dan selain ilmu silat di daerah pedalaman Tiongkok, raja muda bangsa Mongol keturunan Jenghis Khan inipun adalah seorang ahli ilmu gulat Mongol yang sudah terkenal ketangkasan dan kekuatannya.

Kemudian Bhok Hong memandang Han Sin yang masih menyangga batu dengan kedua tangan. Ia menjadi geli hati, tidak menyangka sama sekali bahwa tadi ia dapat menggunakan sebelah tangan menjaga batu dan sebelah lagi melemparkan tiga orang tokoh kang-ouw, sebetulnya sepenuhnya adalah atas bantuan Han Sin. Kalau saja pemuda ini tidak menggunakan kedua lengan untuk menahan batu, dengan sebelah tangan saja mana Bhok Hong kuat menahan batu yang beratnya ribuan kati itu?

“Eh, orang muda tolol. Kaupun belum pergi?” bentaknya.

“Locianpwe kuat dan kosen, akan tetapi tanpa dibantu, bisa berbahaya sekali kalau tertimpa batu yang berat ini,” jawab Han Sin dengan tenang.

“Cia Han Sin, ayoh kau melompat keluar. Lekas kalau menyayang jiwamu!” terdengar Hoa-ji berseru dan kembali Bhok-kongcu merasa cemburu dan iri.

Akan tetapi jawaban Han Sin membuat semua orang melengak. Pemuda itu nampak marah. “Kalian ini pengecut-pengecut besar yang tidak tahu malu! Locianpwe yang gagah ini datang hendak membantu, masa kalian malah meninggalkannya? Benar-benar tak kenal budi. Aku mau membantunya, biar mati tergencet batu aku tidak takut!” Bhok Hong adalah seorang aneh dan di dunia kang-ouw ini, sudah seringkali ia melihat hal-hal aneh, orang-orang berwatak lain dari pada yang lain dan yang baginya sudah tidak mengherankan lagi. Akan tetapi baru sekarang ia bertemu dengan seorang muda yang demikian tolol dan berlagak seperti seorang kuncu. Akan tetapi ketika mendengar suara Hoa-ji yang menyebutkan nama pemuda itu, ia tertegun.

“Kau she Cia? Masih apanya Cia Hui Gan?”

“Beliau adalah kakekku,” jawab Han Sin, girang bahwa orang tua sakti ini mengenal kakeknya.

“Bagus, nanti kau bawa aku ke dalam!” Setelah berkata demikian, dengan kedua tangannya Bhok Hong mendorong batu itu sambil berteriak keras, “Keluar!”

Han Sin merasa bahwa kakek itu mendorong batu dan ia maklum apa yang dikendaki kakek itu. Maka iapun mengerahkan tenaganya mendorong batu itu keluar. Terdengar suara hiruk-pikuk dan batu besar itu terdorong keluar, bergulingan ke bawah lereng. Bhok-kongcu dan yang lain, yang berlindung di samping, merasa betapa dinding gunung karang itu bergetar seperti ada gempa bumi! Ledakan batu besar yang menimpa batu-batu di bawah itu disusul oleh suara hiruk-pikuk dari atas.

“Ayah, awas ! Bhok-kongcu berteriak sambil melangkah mundur. Ternyata dari atas, batu-batu

besar kecil sekarang bergulingan ke bawah, karena batu besar yang tadi menjadi penahan telah tidak ada. Semua batu itu gugur dan melongsor ke bawah menimpa ke arah guha di mana Han Sin dan Bhok Hong berdiri.

“Han Sin, awas !” di antara gemuruh suara batu-batu bergulingan itu terdengar jerit Hoa-ji.

Sementara itu, Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo sibuk menangkisi batu-batu kecil yang mencelat ke arah mereka berdiri.

Adapun Pak-thian-tok Bhok Hong, ketika melihat batu-batu besar kecil seperti air hujan menimpa turun, cepat ia melangkah mundur dan kedua tangannya ia gerakan berkali-kali mendorong ke depan. Gerakan ini mendatangkan angin dan demikian kuatnya sehingga batu-batu yang hendak menggelinding ke dalam gua, dapat terdorong keluar. Makin lama batu-batu itu menumpuk makin banyak dan di lain saat, guha itu sudah tertutup oleh timbunan batu-batu yang laksaan kati beratnya. Mereka berdua seperti terpendam hidup-hidup di dalam guha itu!

Han Sin berdiri mepet dinding guha sambil memandang kagum. Ia amat kagum melihat kehebatan kakek sakti itu. Akan tetapi makin lama keadaan di situ makin gelap dan setelah seluruh guha tertutup timbunan batu, di situ menjadi gelap pekat.

Bhok Hong tertawa bergelak. “Ha ha ha ha, si pemberontak Lie Cu Seng sampai mampuspun masih memusuhi aku. Akan tetapi, aku Bhok Hong masih hidup dan selama masih hidup, tak seorang pun dapat menguasaiku. Ha ha ha!” Kemudian ia menoleh ke arah Han Sin ketika mendengar suara kaki pemuda itu bergerak.

“Bocah she Cia! Kau datang mengantar Kian Teng mencari pusaka Lie Cu Seng. Katakan, di mana itu? Di mana letaknya dalam guha ini.”

“Locianpwe, kau adalah seorang kakek yang gagah perkasa. Kenapa agaknya kaupun tergila-gila oleh harta pusaka warisan orang lain? Harap kau sadar, locianpwe, bahwa barang yang bukan haknya amat tidak baik kalau diharapkan. Dalam dunia ini, hidup hanya sekejap mata, sementara menanti datangnya kematian kenapa tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik? Kenapa orang- orang gagah seperti locianpwe dan yang lain-lain itu memperebutkan barang yang bukan haknya? Apalagi sekarang locianpwe dan aku sudah seperti dikubur hidup-hidup, masa masih memikirkan harta warisan?”

Kembali Bhok Hong tertawa bergelak dan sifat suka ketawa ini mengingatkan Han Sin akan Bhok Kian Teng. Agaknya hanya sifat ini yang sama antara ayah dan anak itu. Akan tetapi kalau suara ketawa Kian Teng terdengar merdu, ramah dan menyenangkan, adalah suara ketawa kakek ini sewajarnya, keras, kasar dan juga menakutkan.

“Barangkali kau sudah gila, bicaramu sudah tidak karuan lagi. Tapi aku suka kau begini berani. Bosan aku melihat orang-orang menyembah-nyembahku, ketakutan setengah mati. Eh, cucu Cia Hui Gan. Harta benda sedunia ini mana kukehendaki? Aku hanya ingin menambah satu dua pukulan warisan Tat Mo Couwsu, karena sebelum mampus aku harus dapat mengalahkan si monyet Hui-kiam Koai-sian!”

Begitu mendengar orang menyebut monyet, sekali gus Han Sin teringat akan Siauw-ong. “Aduh, celaka! Di mana Siauw-ong ?” katanya bingung dan mengingat-ingat. Ia teringat bahwa monyet

itu tidak nampak lagi ketika ia disiksa oleh Thian-san Sam-sian dulu, tidak tahu ke mana perginya.

Bhok Hong tentu saja makin bingung. “Siapa itu Siauw-ong? Tidak ada Siauw-ong (Raja Kecil) kecuali aku, Raja Muda Bhok Hong! Bocah she Cia, apa kau sudah gila?”

Han Sin sadar dan berkata, “Locianpwe, yang kusebut tadi adalah monyetku yang hilang. Akupun tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Siapa itu Hui-kiam Koai-sian? Kenapa kau harus mengalahkannya?”

“Duduklah Tidak ada orang orang lain di dunia ini boleh mendengarkan. Kau takkan lama lagi hidup, maka tiada halangan kau menjadi satu-satunya orang yang mendengarnya. Aku, Pak-thian- tok Bhok Hong, selama menjagoi di daratan Tiongkok ini, entah sudah berapa ratus kali bertanding melawan jago-jago dari seluruh pelosok dan selalu aku menang. Hanya dua kali aku menemui tanding. Pertama-tama adalah seorang nenek pendeta sakti bernama Pek Sim Niang-niang. Kedua adalah Hui-kiam Koai-sian yang baru-baru ini bertanding selama tiga hari dengan aku tanpa ada yang kalah ataupun menang. Karena itu, aku harus memiliki kitab Tat Mo Couwsu yang berada bersama benda warisan Lie Cu Seng, melihat kalau-kalau di situ terdapat jurus-jurus yang akan dapat kupakai mengalahkan Hui-kiam Koai-sian, kemudian kalau mungkin, Pek Sim Niang-niang. Nah, kau sudah tahu sekarang, lekas katakan di mana adanya tempat simpanan itu.”

Pada saat itu terdengar suara keras dan tahu-tahu dinding sebelah dalam guha itu berlubang. Sesosok bayangan merayap keluar di dalam gelap, tentu saja tidak kelihatan, hanya terdengar suaranya saja. “Heh heh heh heh! Pak-thian-tok sudah tua bangka masih gila nama besar, heh heh!”

Pak-thian-tok Bhok Hong kaget sekali. Ia tidak dapat mengenal siapa adanya orang yang muncul ini, entah manusia entah iblis. Akan tetapi ia maklum bahwa orang ini tentu berbahaya. Tanpa banyak cakap ia lalu menyerang ke arah suara itu. Hebat sekali serangan Bhok Hong ini. Terdengar suara keras dan batu karang yang terkena pukulannya hancur, akan tetapi orang yang diserangnya telah dapat mengelak.

“Heh heh heh, orang Mongol! Mengadu kepandaian dalam gelap tidak ada artinya. Kalau kau betul ingin menguji kepandaian, mari kejar aku! Heh heh heh!”

“Siluman maupun manusia, kau takkan terlepas dari tanganku!” teriak Bhok Hong sambil mengejar ke depan dan dengan berani iapun ikut merayap melalui lubang pada dinding yang tadi jebol. Han Sin dapat mendengar semua ini dengan jelas. Pendengarannya sudah amat tajam berkat sinkangnya yang tinggi, maka biarpun matanya tidak dapat melihat di dalam gelap, namun dengan pendengarannya ia seakan-akan dapat menyaksikan semua itu. Melihat Bhok Hong mengejar masuk ke dalam terowongan kecil, iapun mengejar pula.

21. Apakah Cia Han Sin seorang Patriot?

KURANG lebih dua puluh tombak mereka merayap, tibalah mereka pada sebuah ruangan yang besar dan di situ terdapat sinar terang. Sinar ini sebetulnya takkan cukup untuk menerangi ruangan itu, karena cahaya matahari yang menembus celah-celah batu karang hanya sedikit.

Akan tetapi, pada dinding itu terdapat puluhan batu yang mengeluarkan cahaya, atau sebetulnya yang memantulkan sinar matahari, membuat cahaya itu menjadi berlipat kali terangnya. Ketika Han Sin memandang, ternyata bahwa batu-batu itu adalah batu-batu permata yang amat besar, yang dipasang begitu saja pada dinding karang.

Akan tetapi perhatiannya tidak tertuju kepada kemewahan yang ganjil ini. Ia memandang ke depan dan melihat bahwa orang yang tadi mengeluarkan suara, ternyata adalah mahluk yang hampir tidak menyerupai orang lagi. Tubuhnya sudah melengkung ke depan sampai dagunya hampir menyentuh tanah, mukanya kerut merut tanda usia yang sangat tua dan kulitnya hitam seperti tanah. Rambutnya sudah habis dan kepala itu sekarang tertutup kotoran-kotoran menghitam. Ia tidak berpakaian lagi, hanya di bagian bawah tertutup akar-akar pohon yang dibelit-belitkan. Kedua tangannya panjang seperti tangan kera.

Orang mengerikan ini sedang berdiri membungkuk sambil tertawa-tawa, sedangkan Bhok Hong menghadapinya sambil memandang tajam. Bhok Hong mengingat-ingat, kemudian ia berseru heran.

“Bukankah kau Thai-lek-kwi (Setan Bertenaga Besar) Kui Lok?”

“Heh heh heh, matamu masih awas. Heh heh heh, orang she Bhok, kau mengagulkan diri sebagai keturunan Jenghis Khan. Akan tetapi sekarang kau mengekor kepada orang Mancu, menjilat-jilat pantat seperti anjing. Aha, lebih rendah dari pada anjing, heh heh heh!”

“Bangsat! Kau berani memaki aku mengandalkan apa?” bentak Bhok Hong sambil menerjang maju. Kedua tangannya bergerak dan terdengar angin pukulan bersiutan menyambar ke arah kakek bongkok yang bernama Kui Lok itu.

Kakek bongkok itu biarpun tubuhnya sudah bercacad, namun gerakannya gesit sekali. Tadi di dalam gelap ia mampu mengelak dari serangan Bhok Hong, akan tetapi di tempat terang tak mungkin ada orang dapat mengelak dari serangan tokoh besar ini, dan jalan satu-satunya hanya menangkis. Kui Lok agaknya maklum akan hal ini, maka iapun lalu menggerakkan kedua tangannya yang panjang untuk menangkis.

“Bledukk!”

Dalam pertempuran antara tokoh-tokoh persilatan yang besar, tidak mungkin lagi mengandalkan kegesitan untuk mengelak. Serangan-serangan yang dilakukan terlampau lihai dan berat, sehingga jalan satu-satunya hanyalah menindih pukulan itu dengan tangkisan. Siapa yang lebih lihai silatnya, lebih menguntungkan kedudukannya.

Maka dalam pertempuran pertama ini, biarpun kedudukan Kui Lok lebih menguntungkan karena gerakan atau jurusnya memang aneh sekali, namun ia kalah tenaga lweekang. Ketika dua pasang tangan bertemu, tubuh Kui Lok terlempar ke belakang sampai membentur dinding karang, sedangkan tubuh Bhok Hong juga hampir terpelanting ke belakang.

“Hebat tenagamu!” seru Kui Lok.

“Setan, jurus apa yang kaugunakan tadi?” seru pula Bhok Hong kagum sekali.

Tiba-tiba tubuh Kui Lok yang terbentur karang itu membalik seperti sebuah bola karet dan tahu- tahu dengan gerakan lebih aneh lagi sambil terkekeh-kekeh ia menyerang ke arah kempungan Bhok Hong.

Racun Utara ini kaget sekali biarpun ia menggunakan hawa pukulan menangkis, namun pukulan itu masih terus menyelonong dan hampir saja perutnya kena disodok. Sekuat tenaga ia menangkis.

Betul sodokan tangan kanan Kui Lok dapat ia pukul sampai Kui Lok meringis kesakitan, namun tangan kiri Kui Lok yang melakukan serangan mendadak dan tidak terduga-duga itu tahu-tahu telah mampir di lehernya.

“Plakk …..!”

“Aduhhh …..!” Teriakan aduh ini keluar dari dua mulut. Bhok Hong merasa lehernya sakit dan pandang matanya berkunang ketika leher itu kena dipukul. Baiknya sinkang di tubuhnya sudah kuat sekali sehingga ia dapat menyalurkan tenaga ke arah yang dipukul dan tidak menderita luka berat. Adapun Kui Lok mengaduh karena selain tangan kirinya serasa memukul baja, juga tangan kanan yang ditangkis keras tadi menjadi bengkak.

“Kau menggunakan ilmu silat siluman!” Bhok Hong berseru lagi, marah.

“Heh heh heh, Pak-thian-tok kena kupukul. Heh heh heh!” Kui Lok berseru kegirangan. Akan tetapi ia tidak dapat bergirang terus karena bagaikan seekor singa menubruk, tahu-tahu Bhok Hong sudah menerjangnya dengan kedua tangannya. Kui Lok juga mementang kedua tangan dan di lain saat dua pasang tangan itu sudah saling cengkeram dan saling dorong!”

Melihat cara dua orang kakek ini bertempur, Han Sin menjadi geli hatinya. Kenapa mereka berkelahi seperti dua orang bocah sedang bergelut saja? Sama sekali tidak indah dilihat, lebih indah kalau Bi Eng bersilat dan bertempur menghadapi lawan. Sekarang mereka saling cengkeram tangan, apa-apaan ini? Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat keadaan Kui Lok tergencet dan terdesak hebat sekali. Tidak saja dari ubun-ubun kepalanya keluar uap putih, juga mukanya makin lama menjadi makin hitam dan dari mulutnya sebelah kiri keluar darah!

Perasaan kasihan timbul di hati Han Sin. Terlalu sekali Bhok Hong, pikirnya. Sudah terang bahwa kakek bongkok ini adalah penghuni guha, berarti tuan rumah. Masa ada tamu begitu kurang ajar mendesak dan menyerang tuan rumah, bahkan hendak membunuhnya?

Ia segera meloncat ke belakang Kui Lok, dan mendorong kedua pundak Kui Lok. Ia sekarang sudah tahu cara menyalurkan sinkang, maka begitu ia mengerahkan perhatian dan mengempos semangat, kedua lengannya menjadi hangat dan di dalamnya mengalir hawa sinkang yang bukan main hebatnya. Kui Lok merasai ini. Dari pundaknya datang hawa sinkang seperti air membanjir, melalui kedua lengannya terus ke depan. Ia girang sekali dan juga heran, maka cepat ia menyalurkan hawa ini untuk menggempur lawannya.

“Apa ini …..?” Bhok Hong berseru kaget, akan tetapi justru inilah yang mencelakakannya. Ia tidak mengira bahwa akan datang serangan pembalasan dengan hawa sinkang begini kuatnya, maka tadi ia telah membuka mulut saking herannya. Begitu ia bicara, pertahanannya mengurang dan ini hebat akibatnya. Andaikata ia mengempos seluruh tenaga dan semangatnya, belum tentu ia akan kuat menahan. Sekarang ia merasa tenaga itu mendorong terus, membuat tenaganya sendiri membalik dan menghantam ke arah pundak dan dadanya.

“Celaka ……!” Tubuhnya terpental bagaikan dilontarkan ke belakang dan ia roboh pingsan. Dari mulut, hidung, dan telinganya keluar darah!

“Heh heh heh, Pak-thian-tok yang lihai mampus di tanganku. Heh heh heh!” Kui Lok menyambar ke depan, tangannya diangkat hendak memukul kepala Bhok Hong. Tiba-tiba tangannya itu tak dapat digerakkan dan ternyata telah dipegang dari belakang oleh Han Sin.

“Locianpwe, harap jangan membunuh orang,” kata Han Sin.

Kakek bongkok itu membalikkan tubuh dan memandang Han Sin dengan mata terbelalak. “Siapa bilang dia orang? Dia ini iblis, dia siluman jahat! Ah, kau tidak tahu betapa jahatnya dia. Entah sudah berapa banyak patriot-patriot perkasa tewas di tangan Pak-thian-tok Bhok Hong! Dia keturunan Jenghis Khan dan bangsa Mongol menjajah negara kita seratus tahun lebih! Sekarang dia membantu bangsa Mancu yang datang menjajah dan memperbudak bangsa kita. Ah, bocah she Cia. Kalau benar kau ini cucu pahlawan Cia Hui Gan seperti pengtakuanmu terhadap Pak-thian-tok tadi, kalau benar kau putera taihiap Cia Sun pejuang rakyat yang mulia, kenapa kau melarang aku membunuhnya? Sebetulnya, kaulah sebagai keturunan Cia Hui Gan yang malah harus turun tangan membunuh jahanam ini!”

Han Sin menggeleng kepala. “Keliru, locianpwe. Membunuh tidak sama dengan membunuh!” “Eh, ngacau! Apa bedanya membunuh dan membunuh? Jangan kau coba membadut.”

“Yang kumaksudkan, membunuh musuh dalam perjuangan jauh sekali bedanya dengan membunuh orang karena kebencian, apalagi kalau orang itu sedang pingsan tak dapat melawan. Kalau kau membunuhnya dalam keadaan seperti sekarang, berarti locianpwe seorang pengecut!”

“Setan …..! Kakek bongkok itu menerjang hendak menyerang Han Sin yang sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi pemuda ini memandang dengan sepasang matanya yang bersinar-sinar. Kakek itu tiba-tiba mengeluh dan mengurungkan niatnya menerjang. “Matamu …. matamu sama benar dengan mata Cia Hui Gan ….. akan tetapi luar biasa tajamnya. Kau … kau aneh. Bocah, nanti kita bicara tentang peninggalan pahlawan Lie Cu Seng. Akan tetapi iblis ini harus dikeluarkan dulu.”

Kakek itu lalu menyeret kedua kaki Bhok Hong keluar terowongan, kemudian ia datang kembali ke ruangan itu dan tiba-tiba kedua tangannya memukul ke kiri, ke arah batu karang yang menonjol. Ia menggunakan seluruh tenaganya dan …. Han Sin terkejut sekali ketika mendengar suara berdebukan keras dan lantai yang ia injak sampai tergetar hebat.

“Apa itu …….?” tanyanya kaget.

Kakek bongkok tertawa bergelak. “Batu-batu gunung di atas tak terganjal lagi, merosot turun menutupi terowongan. Nah, kita sekarang aman dari gangguan orang luar.”

“Habis, bagaimana kita bisa keluar ……?” “Bodoh siapa bicara tentang keluar? Kau dituntun oleh arwah kong-kong dan ayahmu mendatangi tempat ini. Memang kitab itu adalah menjadi hakmu. Aku menjaga di sini sampai puluhan tahun dan sekarang, pada saat kau hendak menerimanya, kau bicara tentang keluar! Benar-benar tak tahu terima kasih!”

“Locianpwe, apakah artinya ini semua? Aku tidak mengerti.”

Thai-lek-kwi Kui Lok menyambar tangan Han Sin dan mengajak pemuda itu menuju ke ruangan lain di dalam kamar-kamar di bawah tanah ini. Ternyata ruangan ini cukup lega dan terang, malah di situ terdapat beberapa buah bangku batu yang kasar.

“Kau duduklah dan dengarkan ceritaku,” kata si kakek. Tapi baru saja ia menjatuhkan diri duduk di atas bangku, tiba-tiba ia muntahkan darah segar dari mulutnya. Han Sin melompat dan mencoba menolong, akan tetapi dengan isyarat tangannya Kui Lok melarang dia dekat.

“Uuhh ….. uuhh …. jahat benar Pak-thian-tok ……” keluhnya dan setelah beberapa kali muntahkan darah, pernapasannya baru dapat berjalan normal kembali. “Iblis benar dia, dalam adu tenaga tadi ia telah memasukkan pukulan maut yang berbisa. Ah, dia begitu lihai, siapa lagi kelak kalau bukan kau lawannya? Uhhhh, Cia …. Cia-kongcu, berjanjilah kelak kau akan membalaskan ini …..”

Han Sin bingung. Kenapa tiba-tiba orang ini menyebutnya Cia-kongcu?

“Dia …… dia pada saat terakhir telah berhasil melukaiku, aku takkan lama lagi hidup. Berjanjilah, kelak kau akan membalaskan ini ……”

Karena kasihan kepada Kui Lok, juga karena ia menjadi penasaran sekarang melihat kekejaman Pak-thian-tok, Han Sin tak dapat menolak permintaan orang yang sudah menghadapi kematian. “Dia amat kuat dan lihai, bagaimana aku dapat membalaskan?”

Dalam keadaan yang menyedihkan, sambil terengah-engah, Kui Lok masih tertawa. “Heh heh heh

….. kau …., kau merendahkan diri ….., memang keturunan keluarga Cia manusia aneh ….., tidak apa kau merendahkan diri, asal mau berjanji.”

“Aku berjanji, locianpwe. Kalau mungkin, kelak akan kubalaskan kau untuk melukainya,” akhirnya Han Sin berkata tenang.

Ucapan ini menyenangkan hati Kui Lok dan ia lalu bercerita. Thai-lek-kwi Kui Lok ini puluhan tahun yang lalu bukanlah orang yang tidak terkenal. Ilmu silatnya tinggi dan terutama sekali ilmu pukulannya yang disebut Thai-lek-jiu pernah menggegerkan dunia persilatan. Namanya tidak saja terkenal sebagai tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi, juga ia terkenal sebagai seorang pejuang rakyat yang gagah perkasa. Dia seorang patriot tulen yang selalu mengabdikan tenaga demi kepentingan rakyat dan negaranya.

Seperti juga para orang gagah lain yang mencinta rakyat, Kui Lok juga amat tidak senang melihat kelaliman kaisar dan para pembesar kerajaan Beng, biarpun kerajaan ini dipegang oleh bangsa sendiri. Kaisar Beng yang terakhir mrpkan boneka belaka yang hidupnya hanya untuk menurutkan hawa nafsu, bersenang-senang dengan para selir tanpa menghiraukan penderitaan rakyatnya.

Yang berkuasa adalah para thaikam yang boleh dibilang menguasai kendali pemerintahan. Korupsi merajalela, Sogok dan suap menjadi kebiasaan yang mendarah daging, yang berpangkat mengandal kedudukannya, yang kaya mengandalkan harta bendanya. Celakalah rakyat kecil yang miskin karena mereka tidak mempunyai andalan. Petani-petani miskin digencet oleh tuan-tuan tanah yang di lain pihak juga diperas oleh para pembesar setempat dan memindahkan tekanan itu, tentu saja, kepada para buruh-buruh taninya.

Akhirnya pemberontakan tak dapat dicegah lagi. Pemberontakan kaum tani dan rakyat kecil yang sudah tidak kuat menahan lagi. Pemberontakan yang disebabkan oleh desakan perut yang kelaparan. Pemberontakan-pemberontakan inilah yang akhirnya menamatkan riwayat pemerintah kerajaan Beng, yang diakhiri dengan pembunuhan diri oleh kaisar terakhir, yaitu kaisar Cung Cen di bukit Ceng San di belakang istananya.

Lie Cu Seng adalah seorang di antara pemimpin-pemimpin pejuang rakyat yang paling terkenal. Dengan gagah berani Lie Cu Seng memimpin barisan petani, barisan rakyat kecil. Dalam barisan inilah termasuk Thai-lek-kwi Kui Lok yang menjadi tangan kanan Lie Cu Seng pula. Kui Lok mengalami suka duka memimpin rakyat itu, malah ikut pula menderita ketika Lie Cu Seng dikejar- kejar oleh Bu Sam Kwi yang menjadi pengkhianat dan bersekongkol dengan bangsa Mancu.

Kui Lok ikut pula melarikan diri dan akhirnya, pada saat Lie Cu Seng menemui kematiannya, Kui Lok mendapat tugas menyelamatkan sebuah peti berisi harta pusaka yang tadinya dipergunakan oleh Lie Cu Seng untuk membiayai perjuangannya. Di antara harta pusaka ini terdapat sebuah kitab pelajaran ilmu silat yang amat hebat, peninggalan Tat Mo Couwsu yang paling rahasia dan yang selama ini belum pernah ada yang mampu mempelajarinya.

Kitab ini terjatuh ke dalam tangan Kui Lok yang menyembunyikan kitab di dalam gua rahasia di Lu-liang-san. Kemudian Kui Lok membuat peta dan memberikan peta itu kepada Cia Hui Gan, kawan seperjuangannya. Hanya kepada Cia Hui Gan seorang rahasia ini diketahui, karena bagi dunia luar, Kui Lok sudah lenyap dan orang menyangka bahwa pendekar ini sudah tewas dalam pertempuran melawan orang-orang Mancu.

“Demikianlah riwayatku yang singkat, Cia-kongcu ….” Kui Lok mengakhiri ceritanya dengan napas memburu. “Tadinya aku mengharapkan kedatangan ayahmu, Cia Sun. Kiranya aku harus menanti sampai puluhan tahun dan sekarang kau, cucu Hui Gan, yang datang ….. agaknya roh kakekmu yang menuntun kau ke sini, Cia-kongcu. Kaulah yang akan mewarisi ilmu silat tertinggi di dunia ini …. Kau lihat, dahulu aku bukanlah lawan Bhok Hong si Racun Utara, akan tetapi sekarang, biarpun kalah kuat, aku dapat menghadapinya. Dan ini karena aku baru mempelajari seperseratus bagian dari kitab itu. Kau ternyata sudah memiliki lweekang yang hebat, melebihi kakekmu. Ha ha, kau akan menjadi seorang taihiap yang tidak ada bandingnya! Alangkah girang hatiku.”

“Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi taihiap, tidak ingin mempelajari kitab ilmu silat dari Tat Mo Couwsu. Ilmu silat tidak mendatangkan kebaikan bagi manusia, hanya alat untuk memukul.

Menyiksa, membunuh dan mencari permusuhan. Selama aku mempelajari kitab-kitab di Min-san, aku hidup aman dan tenteram. Akan tetapi begitu mengenal ilmu silat dan turun gunung, hanya permusuhan, perkelahian dan kejahatan saja kudapati. Tidak, Kui-locianpwe, aku masuk ke sini hanya karena aku sudah berjanji kepada Bhok-kongcu untuk membawa dia ke tempat pusaka disimpan. Setelah berhasil keluar dari sini, aku akan mencari adik perempuanku dan kuajak kembali ke Min-san, hidup damai di sana.”

Kui Lok melongo. Benar-benar ucapan ini tidak patut keluar dari keturunan Cia Hui Gan dan Cia Sun, dua orang ayah anak yang terkenal sebagai pendekar-pendekar, sebagai pahlawan patriot rakyat. “Dan kau membiarkan kitab terjatuh ke dalam tangan orang-orang kang-ouw yang jahat?”

”Masa bodoh. Makin sesat seseorang, makin besar malapetaka akan menimpanya. Hukum keadilan Tuhan akan mengatur semua itu,” jawab Han Sin sungguh-sungguh. Kui Lok adalah seorang patriot, juga seorang sahabat setia dari Cia Hui Gan. Melihat sikap Han Sin, ia menjadi kecewa, sedih dan marah sekali. Tak disangkanya bahwa keturunan Cia Hui Gan akan begini lemah. Ia mengeluh dengan suara sedih,

”Aduhai .... Cia Hui Gan dan Cia Sun, alangkah menyedihkan sia-sia saja kalian dahulu

berjuang mati-matian, mengorbankan nyawa untuk negara dan rakyat. Kiranya sekarang keturunanmu begini lemah, nama besarmu akan putus sampai di sini saja. Penghormatan terhadap keluarga Cia sekarang akan berubah menjadi penghinaan ”

”Kui-locianpwe, siapa akan berani menghinaku? Penghormatan atau penghinaan orang tergantung dari pada sikap kita sendiri. Kalau kita berpegang kepada kebenaran, siapa orangnya mau menghina?”

“Eh eh, sudah dihina dan dipaksa mengantar sampai di sini, masih juga kau belum merasa betapa orang telah menghinamu? Apakah orang-orang seperti Bhok-kongcu, Bhok Hong dan kaki tangannya tadi itu tidak menghinamu?”

Han Sin menghela napas. Harus ia akui bahwa semenjak turun gunung, yang ia hadapi hanyalah penghinaan-penghinaan dari orang-orang kang-ouw. “Salahku sendiri,” katanya. “Itulah jadinya kalau aku berhadapan dengan orang-orang ahli silat. Kalau aku berdiam saja di Min-san, tidak nanti aku akan mendapat penghinaan. Oleh karena itu, aku akan mengajak adikku pulang saja ke Min- san.”

“Bodoh kau!” Kui Lok tak dapat menahan sabar lagi. “Kalau kau dan adikmu pulang ke Min-san, apa kau kira mereka itu tidak dapat mendatangimu dan menghinamu? Ketika ayah bundamu tewas, bukankah mereka itupun berada di Min-san? Toh ada orang-orang jahat datang mengganggunya!”

“Itulah kalau ayah suka mempelajari ilmu silat,” Han Sin coba membantah.

“Kau ini pemuda apakah? Jiwamu melempem! Kau tidak ada bedanya dengan seekor kacoa! Kau ingat diri sendiri saja, mana ada harganya untuk hidup? Apa kau kira dengan menjaga diri jangan sampai melakukan perbuatan jahat saja sudah cukup untuk membuat kau menjadi seorang kuncu? Huh, kutu buku yang mabok filsafat! Kau benar-benar lebih goblok dari pada segala yang bodoh. Kakekmu seorang patriot gagah perkasa, ayahmu seorang pendekar dan pahlawan yang mulia. Kau ini orang apa? Lemah dan melempem, berjiwa tahu! Hah, muak aku mendengarmu, kau tidak patut hidup di dunia sebagai putera seorang patriot!”

Melihat kakek ini menjadi marah-marah bukan main, Han Sin menjadi merah mukanya. Memang bukan ia tidak tahu tentang jiwa patriot, akan tetapi ia memang terlalu “baik hati”, terlalu lemah karena kekenyangan isi kitab-kitab filsafat kebatinan yang menyingkirkan batinnya jauh-jauh dari pada segala kekerasan. Pemuda ini memang kurang gemblengan maka sekarang menghadapi Kui Lok, seorang patriot sejati yang jujur, ia merasa tertusuk dan menjadi malu sendiri.

“Aku memang muda dan bodoh, mengharapkan petunjuk Kui-locianpwe yang terhormat,” katanya perlahan.

“Nah, itu baru ucapan seorang pemuda yang mengharapkan kemajuan. Kekenyangan buku-buku filsafat membuat kau menjadi sombong, membuat kau menjadi penerawang awang-awang, tukang melamun dan membangun istana-istana awan di angkasa. Perbuatan kebajikan bukan cukup dilakukan dalam lamunan, mengerti? Usir semua lamunan-lamunan kosong itu dan bertindaklah! Sebuah kebajikan kecil yang dilakukan jauh lebih berharga dari pada seribu kebajikan besar yang hanya dilamunkan di dalam hati. Apa kau tahu apa kewajiban seorang manusia yang dilahirkan di dalam dunia?”

“Menjadi seorang manusia yang menjauhkan kejahatan memupuk kebenaran. Pokoknya menjadi seorang manusia yang baik.”

“Huh, apa artinya baik saja kalau tidak berguna? Kau boleh menjadi seorang yang suci, tidak pernah melakukan kejahatan, akan tetapi apa artinya kalau kau tinggal di dalam hutan, jauh dari manusia. Hidup demikian itu tidak ada gunanya, lebih baik mati! Paling-paling hatimu sendiri yang memuji-muji bahwa kau seorang manusia baik, lalu kau menjadi sombong karenanya, merasa lebih bersih dari pada orang lain. Uh, itu bukan sifat seorang kuncu sejati. Sebagai seorang ahli filsafat, kau tentu tahu akan sifat Thian bukan?”

”Thian Maha Kuasa, Maha Benar, Maha Suci, Maha Adil, pendeknya, kekuasaan tertinggi di alam semesta.”

”Cukup! Kalau kau sebut Thian itu Maha Benar dan Maha Adil, tentu Thian menyukai kebenaran dan keadilan. Nah, kau sebagai manusia harus membantu terlaksananya kebenaran dan keadilan di dunia ini. Di mana terjadi hal-hal tidak benar dan tidak adil, kau harus berani memberantasnya.

Baik saja tanpa ada gunanya bagi orang lain, itu kosong namanya, bukan baik lagi. Kebajikan hanya dapat ditampung dengan jalan perbuatan yang berguna bagi sesama manusia.

Pada masa ini, hukum manusia tidak berlaku, yang berlaku adalah hukum alam yaitu siapa yang kuat dia menang. Celakalah kalau si kuat itu termasuk golongan jahat, tentu perbuatannya menjadi sewenang-wenang. Sebaliknya, kalau si kuat itu termasuk golongan baik, barulah terdapat keadilan. Maka, kewajibanmulah sebagai seorang pemuda untuk menggembleng diri, memperkuat diri kemudian mengabdi kepada keadilan dan kebajikan.

Sekarang ini kejahatan merajalela, karena kekuasaan berada di tangan orang-orang sesat. Dunia kang-ouw dikuasai manusia-manusia penjilat, manusia-manusia pengejar kemuliaan dunia seperti Bhok Hong dan lain-lain. Kalau kau tidak memperdalam kepandaian ilmu silatmu, mana bisa kau menghadapi orang-orang seperti mereka?”

Kui Lok berhenti sebentar untuk bernapas, karena tadi dalam keadaan bernafsu ia bicara tergesa- gesa dan napasnya menjadi makin terengah-engah. Han Sin mendengarkan dengan tertarik sekali. Baru sekarang ia mendengarkan filsafat yang baru baginya. Semua kitab agama dan filsafat yang pernah dibacanya, hampir semua menganjurkan kebajikan dalam bentuk kehalusan budi, yang menganjurkan dia selalu mengalah dan bersabar dalam segala hal.

Sebaliknya Kui Lok ini menganjurkan kekerasan demi keadilan. Ini lain sekali! Kui Lok menganjurkan kekerasan untuk merebut kekuasaan, bukan kekuasaan untuk keuntungan diri sendiri, melainkan kekuasaan untuk mengatasi dan mengalahkan si jahat demi keamanan orang-orang yang tertindas.

”Kau seorang keturunan patriot sejati. Kong-kong dan ayahmu adalah patriot-patriot tulen dan sekarang dengarlah baik-baik apa yang menjadi kewajiban seorang patriot. Seorang patriot adalah seorang pengabdi rakyat, seorang pembela negara dan bangsa. Kalau tanah air sedang diserang musuh, kalau tanah air sedang diancam oleh bangsa lain, seorang patriot harus membelanya mati- matian. Kalau rakyat sedang tertindas, seorang patriot harus membela dan melindungi rakyat kecil yang tertindas itu. Dalam melakukan tugas ini kepentingan pribadi harus dikesampingkan, bukan saja demikian, malah kalau perlu seorang patriot rela berkorban apa saja, berkorban harta, kesenangan pribadi, bahkan berkorban nyawa.” Ucapan ini menggores dalam-dalam di hati Han Sin. Memang ia sudah banyak membaca tentang patriot-patriot jaman dahulu, hanya dalam bacaan yang berupa sejarah itu tidak disertai nasehat- nasehat seperti ini. Ia mengangguk-angguk dan berkata, ”Kurasa, locianpwe, setiap orang memang harus bersikap demikian. Itulah kebajikan.”

”Huh, bicara gampang! Kalau hanya bersikap dan berpikir saja, apa artinya? Apa kau kira mudah melakukan semua tugas itu tanpa menggembleng diri, tanpa memodali diri dengan kepandaian tinggi? Bagaimana kau hendak membela negara, bagaimana kau dapat mengusir musuh negara, bagaimana kau dapat melawan melawan penjajah angkara murka? Kalau kau melihat rakyat yang tertindas, diperlakukan sewenang-wenang oleh orang-orang jahat yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimana kau bisa membela rakyat? Apakah hanya dengan omongan-omongan dan teori-teori muluk dari kitab-kitabmu kau akan bisa membikin orang-orang jahat itu tunduk? Huh, anak Cia Sun taihiap, kau benar-benar perlu dibakar semangatmu, perlu dicuci otakmu!”

Mendengar ucapan yang penuh semangat dan dianggapnya penuh kebenaran itu, Han Sin benar- benar tunduk hatinya. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

”Aku yang muda dan bodoh benar-benar bahagia sekali mendengar wejangan locianpwe. Akan tetapi, kalau aku mempelajari ilmu silat tinggi, untuk menjadi patriot apakah aku harus melakukan pembunuhan-pembunuhan? Locianpwe, terus terang saja, sifat mudah membunuh sesama manusia dari orang kang-ouw benar-benar mengerikan hatiku dan sampai matipun kiranya aku takkan dapat melakukan hal itu.”

Melihat sikap Han Sin, Kui Lok tertawa terbahak-bahak dan di luar tahunya Han Sin yang sedang berlutut dan menundukkan muka, kakek itu mengusap darah yang mengalir dari mulutnya.

Sebetulnya kakek ini terluka hebat sekali di dalam tubuhnya, luka oleh hawa pukulan Pak-thian-tok Bhok Hong.

”Ha ha ha, anakku! Anakku yang baik, Cia-kongcu kau benar-benar seorang kuncu tulen. Begini mudah kau sadar dan insyaf akan kesalahan jalan pikiranmu. Kau telah menanam welas asih yang besar sekali terhadap sesama manusia, itu baik sekali. Cia-kongcu, justru karena menurutkan dasar welas asih di antara sesama manusia inilah yang kadang-kadang mengharuskan kau membunuh orang.”

Han Sin terkejut dan mengangkat keheranan. ”Membunuh orang berdasar welas asih? Apa artinya ini?”

Thai-lek-kwi Kui Lok mengerti akan keheranan Han Sin dan dia tertawa lagi. ”Coba kau jawab. Andaikata kau melihat seorang yang dengan hati keji mengamuk dan membunuhi orang-orang tidak berdosa sehingga jatuh banyak korban, apa yang hendak kau lakukan?”

Tanpa banyak ragu Han Sin menjawab dan teringat akan perbuatan Hoa Hoa Cinjin yang membunuhi orang-orang kampung. ”Tentu aku akan mencegah dia dan menasehatinya, melarang dia melakukan pembunuhan lebih lanjut.”

”Huh, nasehat lagi! Kalau dia tak mau dinasehati dan terus saja melakukan pembunuhan, kau mau apa?”

”Dengan sekuat tenaga aku akan menghalang-halanginya.”

”Bagus, itu pendirian seorang gagah. Akan tetapi kalau dia tidak menurut dan malah hendak membunuh?” ”Akan kulawan terus, biar aku berkorban nyawa demi menolong orang-orang itu.”

”Baik sekali, tentu kau membela orang-orang yang terbunuh itu berdasarkan welas asih, bukan? Nah, kalau si penjahat itu lebih baik mati dari pada menurut kehendakmu, apakah kau masih merasa ragu-ragu untuk membunuhnya, yaitu andaikata kau memiliki kepandaian? Ataukah kau akan tidak tega membunuhnya dan membiarkan dia membunuh orang-orang itu?”

Han Sin tak dapat menjawab. Di dalam hati kecilnya, harus ia akui bahwa tentu saja ia lebih memberatkan orang-orang itu dari pada si pembunuh yang jahat. Akan tetapi untuk membunuh orang itu dia masih ragu-ragu apakah ia akan tega?

”Sekarang lain contoh lagi,” kata pula Kui Lok yang mengerti bahwa pemuda itu mulai terbuka pikirannya. ”Andaikata kau melihat barisan-barisan asing menyerang tanah air, membakari rumah- rumah dan merampoki serta membunuh rakyat hendak menjajah tanah air kita, apakah kau juga mau duduk memeluk lutut saja? Ataukah kau hendak menggunakan filsafat-filsafatmu untuk menasehati barisan yang terdiri dari puluhan ribu orang itu? Ataukah kau ingin menggabungkan diri dengan barisan para patriot bangsa dan melakukan perlawanan untuk membela ibu pertiwi dan bangsa?”

Kembali Han Sin tak dapat menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

”Seorang pemuda harus bersemangat gagah perkasa, harus berjiwa patriot pencinta tanah air dan bangsa. Harus rajin belajar mengejar cita-cita dan membuang jauh-jauh kebiasaan yang buruk, memupuk dan melatih diri dengan jalan kebenaran. Tentu kau sudah membaca sampai kenyang semua ini dalam kitab-kitabmu, bukan begitu, Cia-kongcu?”

Han Sin mengangguk-angguk.

”Itu bagus sekali. Sayangnya, kau terlampau dalam terpendam dalam kata-kata emas dari kitab- kitab filsafatmu sehingga kau hanya penuh dengan teori tanpa mengenal prakteknya. Pemuda yang tidak dapat menjadi pembela bangsa dan tanah air, pemuda macam itu tak patut menyebut diri menjadi pemuda harapan bangsa. Segenap cita-cita harus diatasi dengan tugas suci yang utama, yaitu kelak menempatkan diri sebagai seorang manusia yang berguna bagi masyarakat, kalau mungkin menjadi pelindung, menjadi pemimpin, menjadi seorang yang menuntun bangsanya ke tempat yang terang menuju kemakmuran dan ketentraman. Inilah seorang patriot sejati. Bukan hanya mereka yang melakukan perjuangan dengan senjata saja, pendeknya semua orang, asalkan dia itu benar-benar dengan hati ikhlas dan sebulatnya mempersiapkan diri untuk bekerja demi kepentingan nusa bangsa tanpa menghiraukan kepentingan diri pribadi, dia adalah seorang patriot.”

”Wejangan locianpwe benar-benar amat berharga, teecu yang bodoh akan selalu memperhatikannya,” kata Han Sin yang tidak ragu-ragu lagi menyebut diri sendiri teecu atau murid.