-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 04

Jilid 04

10. Bhok-kongcu Yang Tercinta

YAN BU kaget dan meloncat bangun pula. Ia merasa nona ini amat aneh dan lucu gerak-geriknya. Dalam gugupnya, ia menjawab sambil menuding ke arah hidungnya sendiri. “Ya, ini aku, ada apa?”

“Kau kau pemuda yang mendorong kereta nenek sakit itu!”

Yan Bu tersenyum melebar, lalu membungkuk. “Betul, nona. Terima kasih bahwa sekali bertemu, ternyata nona masih ingat kepadaku.”

“Cih, siapa yang mengingat-ingat kau? Siapa kau dan kenapa kau berada di sini?” “Aku Phang Yan Bu, nona dan ”

“Aku sudah tahu! Sekali aku mendengar namamu Phang Yan Bu, kau kira aku sudah lupa dan harus diulang-ulang?”

Yan Bu membungkuk lagi. “Terima kasih banyak, nona. Sekali mendengar namaku, ternyata kau tidak bisa lupa lagi ”

“Gila! Jangan main-main kau. Aku tidak bermaksud berkenalan denganmu, biar seratus kali kau memperkenalkan nama, aku tidak akan memperkenalkan diri padamu. Aku hanya akan bertanya

......”

“Tidak perlu memperkenalkan diri, karena aku sudah tahu siapa nona. Namamu Cia Bi Eng, bukan? Nama yang amat indah ”

Bi Eng tertegun. Untuk sejenak ia menjadi bingung oleh serangan ini, akan tetapi ia bisa menenangkan hatinya. “Kenapa kau mengikuti aku ke sini? Apa maumu? Kau mendorong kereta nenek sakit, kenapa kau pergi meninggalkan nenek mau mampus itu?”

“Dia ibuku, nona ” kata Yan Bu dengan suara berduka. Bi Eng terharu. Seorang pemuda mendorong-dorong ibunya dalam kereta, benar berbakti. Akan tetapi mengapa ditinggalkan? Dalam keharuannya ia kecewa.

“Lebih-lebih dia ibumu! Tak boleh ditinggalkan.”

“Justru ibu yang menyuruh aku datang ke sini, nona Cia.”

“Ibumu sakit dan lemah , malah minta ditinggalkan? Benar aneh ”

“Ibuku biar sakit, tapi dia bukan orang biasa, nona. Di dunia kang-ouw, ibuku dijuluki orang Ang- jiu Toanio dan “

“Setan !!” Bi Eng melompat dan mencabut pedangnya. “Kiranya kau anak dia?”

Yan Bu bingung dan menengok ke kanan kiri. “Mana setan ? Siapa yang kau maki tadi?”

“Maki siapa lagi kalau bukan kau! Jadi, kau anak Ang-jiu Toanio ? Bagus, bagus. Sudah dapat dipastikan kau tidak bermaksud baik datang ke sini!”

“Bagaimana nona bisa tahu?” Yan Bu khawatir sekali melihat sikap gadis yang membetot semangatnya ini sekarang memusuhinya.

“Ibumu adalah pembunuh ayah bundaku!”

Yan Bu melengak, memandang bodoh dan sampai lama tidak bisa menjawab. Bi Eng menjadi tidak sabar dan menggerak-gerakan pedangnya di depan dadanya.

“Hei, jangan melongo seperti kerbau! Ang-jiu Toanio itu adalah seorang di antara para pembunuh ayah bundaku di Min-san, kau tahu? Aku harus membalas dendam, dan karena kau anaknya, kedatanganmu tentu bukan bermaksud baik, maka aku akan membunuhmu lebih dulu!”

“Sabarlah, nona. Kurasa keadaannya terbalik. Bukan ibu yang membunuh ayah bundamu, sebaliknya ayahmu yang bernama Cia Sun adalah pembunuh ayahku, Phang Kim Tek di I-kiang. Kenapa nona bolak-balikkan perkara?”

“Heh, siapa tidak tahu bahwa ayahmu, Phang Kim Tek tuan tanah di I-kiang yang kejam dan busuk itu terbunuh oleh mendiang ayahku? Andaikata ayahmu bernyawa dua, sekarang akupun tentu akan membunuh nyawanya yang satu lagi itu karena kekejamannya.”

Yan Bu menarik napas panjang. Ia bukan tidak tahu akan keadaan ayah bundanya di waktu dahulu, karena dia cerdik dan sering kali menyelidiki keadaan orang tuanya sendiri. Diam-diam ia menyesal akan kesesatan ayahnya dahulu. “Nona Cia, sesungguhnya, ibu menyuruh aku menuntut balas atas kematian ayahku. Akan tetapi, bagiku sendiri, kematian ayahmu sudah menutup dan menghabiskan semua permusuhan. Aku tidak bermaksud memusuhi anak-anaknya. Cuma saja menuruti

perintah ibu ....., kau harap suka ikut aku menemui ibu dan membawa surat wasiat Lie Cu Seng ”

“Jangan banyak cakap! Siapa percaya omonganmu? Lihat pedang!”

Bi Eng menyerang dengan sebuah tusukan kilat. Melihat datangnya serangan yang hebat ini, Yan Bu cepat melompat ke belakang. “Nona, percayalah, aku tidak tidak suka bertempur denganmu

.....” “Pengecut, keluarkan senjatamu!” Lagi-lagi Bi Eng menyerang, pedangnya menyambar secepat kilat. Kembali Yan Bu mengelak sampai tiga kali sambil berkata sedih.

“Nona Bi Eng, sungguh-sungguh aku tidak suka bermusuhan dengan engkau ”

“Orang she Phang! Di mana kejantananmu? Aku tidak sudi membunuh seorang pengecut yang tidak melawan. Apa benar-benar kau takut melihat pedang ini?”

Betapapun berat rasa hati Yan Bu harus bertanding senjata dengan nona yang diam-diam telah meruntuhkan hatinya itu, mendengar sindiran ini ia tidak kuat menahan. Dia berjiwa gagah dan tidak takut mati, maka ia segera meloloskan goloknya dan berkata sambil menjura.

“Biarlah, aku yang bodoh minta petunjuk nona Cia yang perkasa.”

“Cih, banyak dongeng!” seru Bi Eng sambil memutar pedangnya dan di lain saat, dua orang itu sudah bertempur seru sekali. Bi Eng adalah murid Ciu-ong Mo-kai yang sudah mewarisi ilmu silat Liap-hong Sin-hoat yang amat lihai, tentu saja ilmu silatnya ini adalah ilmu silat tinggi yang sukar dilawan. Namun di lain pihak, Yan Bu adalah murid tunggal dari Yok-ong Phoa Kok Tee. Ilmu silatnya lihai sekali dan tenaga lweekangnya juga sudah sempurna. Bi Eng yang terlambat belajar silat, kurang latihan dan kurang pengalaman, selain ini tentu saja kalah tenaga.

Tadinya Yan Bu terkesiap dan kaget serta kagum melihat gerakan pedang nona itu yang mainkan jurus-jurus Liap-hong Sin-hoat yang tidak dikenal oleh Yan Bu. Belum pernah pemuda ini melihat ilmu pedang sedemikian indah dan hebatnya. Akan tetapi setelah dilawannya selama lima puluh jurus lebih, ia mendapat kenyataan bahwa betapapun lihai ilmu pedang gadis itu, ternyata Bi Eng kurang latihan dan kurang tenaga. Maka kalau dia mau, dengan mudah saja ia dapat merobohkan gadis itu.

Justru Yan Bu tidak mau merobohkan Bi Eng, tidak sampai hati ia mengalahkan gadis itu. Tidak tega ia melihat gadis itu kalah olehnya dan menjadi malu karenanya, apalagi sampai melukainya. Lebih baik dia sendiri yang terluka dan kalah! Memang, cinta bisa memutar balik jalannya keadaan.

Setelah pertempuran itu berlangsung hampir seratus jurus, biarpun Bi Eng masih kurang pengalaman dan kurang latihan, gadis itu dapat maklum bahwa pemuda ini tidak berkelahi secara sungguh-sungguh. Hal ini menambah kemarahan dan penasaran hatinya tanpa mengenal lelah ia mempercepat serangan-serangannya. Keringat sudah membasahi leher dan jidatnya dan napasnya mulai terengah-engah. Yan Bu tidak tega melihat ini dan pada suatu saat, ia sengaja membiarkan pedang gadis itu “memakan” ujung pundaknya. Ia memekik kesakitan, goloknya menangkis dan pedang gadis itu patah!

Sambil mendekap pundak kirinya yang terluka berdarah, Yan Bu melompat mundur dan berkata, “Nona Cia, hebat ilmu pedangmu, aku Phang Yan Bu mengaku kalah!”

Akan tetapi, gadis itu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis! “Kau bunuhlah aku! Tak usah banyak cerita, angkat golokmu dan bunuhlah aku, siapa takut mampus?”

Yan Bu melongo. Ia anggap sikap gadis ini lucu dan aneh. Ia melangkah maju dan berkata halus. “Cia-siocia, kau telah melukai pundakku, kau lebih menang dariku, mengapa kau bersikap begini? Aku sudah kalah olehmu dan aku mengakui kekalahanku ini ” “Siapa sudi kau permainkan? Kau sengaja mengalah, apa kau kira mataku buta? Hemmm, manusia sombong, kalau kakakku berada di sini dan memberi petunjuk padaku, jangan kira dengan ilmu golok cakar ayammu itu kau akan mampu mengalahkan aku!”

Yan Bu menarik napas panjang, berduka sekali. “Memang, memang aku mengalah, akan tetapi terus terang saja, kau kurang latihan dan kurang tenaga. Agaknya kau belum lama mempelajari ilmu silat. Kalau kau cukup terlatih dan cukup tenaga terus terang saja ilmu pedangmu tadi tak sanggup aku melawannya. Nona, memang aku hendak mencari kakakmu, hendak kurundingkan dengan dia supaya kita, biarpun orang tua kita saling bermusuhan, kita sebagai anak-anaknya jangan melanjutkan permusuhan yang berlarut-larut ini. Aku aku tak sanggup bermusuh dengan kau

.....”

“Kau ..... ayahmu dibunuh ayahku apa kau tidak akan membunuhku?” tanya Bi Eng terheran-

heran.

Yan Bu menggeleng kepala, lalu menyimpan goloknya. “Tidak.” “Kenapa?”

Merah wajah Yan Bu. “Karena ..... karena tak mungkin aku mengganggumu, jangankan

membunuh. Lebih baik aku mati dari pada membunuhmu!”

Inilah pernyataan isi hati yang sejujurnya, pernyataan cinta kasih yang diucapkan dengan lain kata- kata. Tiba-tiba hati Bi Eng berdebar dan mukanya juga menjadi merah. Gadis ini belum tahu menahu tentang cinta namun sikap dan kata-kata pemuda ini membuat ia merasa jengah. Tiba-tiba ia mendapat pikiran baik. Pemuda ini lihai sekali, tinggi kepandaiannya. Kalau pemuda ini mau membantu, tentu kakaknya dapat ditolong keluar dari Cin-ling-pai.

“Betul-betul kau tidak memusuhi aku dan kakak Han Sin?”

“Tuhan menjadi saksi. Aku tidak memusuhi kau dan kakakmu,” jawab Yan Bu dengan suara tetap. “Biar ibu akan marah karenanya, aku bertanggung jawab karena sadar bahwa sikapku ini benar.”

“Kalau begitu kau kau hendak bertemu dengan kakakku?”

“Tentu saja. Di mana dia? Bukankah kakakmu bernama Cia Han Sin dan turun dari Min-san bersamamu dan membawa seekor kera? Di Mana kakakmu itu?”

Bi Eng mengerutkan kening, gelisah sekali nampaknya. “Itulah celakanya. Sin-ko telah ditawan oleh tosu-tosu bau dari Cin-ling-pai di Cin-ling-san.”

“Kenapa bisa terjadi hal itu?”

Dengan singkat Bi Eng lalu menceritakan pengalamannya ketika dihadang oleh para tosu Cin-ling- pai sehingga kakaknya ditawan. Mendengar ini, Yan Bu menjadi marah.

“Terlalu sekali tosu-tosu itu! Selama ini aku mendengar nama besar Cin-ling-pai, mengapa sekarang menghina orang-orang muda? Nona Cia, harap jangan kau kuatir. Kau tunggulah di sini, biar aku sekarang juga menyusul ke Cin-ling-pai dan agaknya para tosu itu akan suka memandang muka ibuku untuk membebaskan kakakmu. Kalau sudah dibebaskan, kakakmu akan kuajak menyusul kau ke sini.” Bi Eng memandang dengan matanya yang lebar dan bagus. “Kau ayahmu sudah dibunuh

ayahku, pundakmu sudah kulukai karena kau mengalah dan kau sekarang mau menolong Sin-ko

.....?”

Yan Bu tersenyum dan mengangguk. “Dengan persahabatan anak-anaknya, sakit hati orang-orang tua bisa ditebus, bukan?” Setelah berkata demikian, ia menjura lalu membalikkan tubuh, hendak pergi ke Cin-ling-san.

Untuk sejenak Bi Eng tertegun memandang bayangan pemuda itu. Ia melihat betapa pakaian di pundak robek dan penuh darah yang masih mengucur keluar. Tiba-tiba ia melangkah maju dan memanggil,

“Saudara Phang Yan Bu    !”

Pemuda itu berhenti, memutar tubuh lalu melangkah maju. “Kau memanggil aku, nona Cia?” “Kau tidak bisa pergi dengan luka dibiarkan begitu saja.”

Yan Bu tertawa senang, “Terima kasih atas perhatianmu. Luka ini ringan saja. Tidak apa-apa.” “Kesinilah. Biar kubalut. Aku yang melukaimu, tidak enak hatiku kalau membiarkan saja.”

Yan Bu hampir tak percaya akan pendengarannya dan hampir ia bersorak girang. Cepat ia maju dan merobek baju di pundaknya. Sementara itu, Bi Eng sudah mengambil saputangannya lalu dengan cekatan jari-jari tangan yang halus itu membalut luka di pundak. Yan Bu sebagai murid Yok-ong, diam-diam geli dan tahu bahwa luka itu kalau tidak diobati, dibalut begitu saja amat tidak baik, namun ia diam saja. Ketika ia begitu dekat dengan Bi Eng dan mencium bau yang amat harum dari rambut dan saputangan gadis itu, ia meramkan matanya dan malah tidak tahu bahwa pembalutan itu sudah selesai.

“Eh, kenapa kau meram? Sakitkah?” Bi Eng bertanya heran dan dengan nada kasihan. Yan Bu menggeleng kepala, masih meram. “Aku tidak berani membuka mata ”

“Kenapa    ?”

“Kau begini dekat ......, begini cantik ...... aku takut menjadi gila     ”

Karena sudah selesai, Bi Eng melangkah mundur dan tiba-tiba gadis ini tertawa geli. “Kau manusia lucu sekali!”

Yan Bu membuka matanya. “Terima kasih, nona Cia. Perbuatanmu membalut lukaku ini selama hidupku takkan pernah kulupakan, akan menjadi kembang mimpi setiap malam.”

“Kau kau aneh sekali!” kata Bi Eng, benar-benar terheran dan merasa lucu, namun di dalam hati

harus mengakui bahwa pemuda ini menyenangkan hatinya dengan sikapnya yang aneh itu.

Yan Bu menjura lalu berangkat ke Cin-ling-pai. Bi Eng duduk lagi bersandar pohon dan baru sekarang terasa olehnya betapa lapar perutnya. Ia pegi ke pinggir kali, mencari air yang jernih untuk diminumnya. Kemudian ia pergi ke dalam hutan di lembah sungai Wei-ho untuk mencari buah yang dapat dimakannya. Untung baginya baru setengah li ia berjalan, ia mendapatkan sebatang pohon buah-buahan yang penuh mengandung buah sejenis apel yang sudah matang-matang. Segera ia memetik beberapa buah dan memakannya sampai kenyang.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang ketawa dan dari balik pohon besar muncul seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tegak dan berkepala gundul. Dia itu jelas seorang pendeta hwesio, akan tetapi sikapnya kasar dan kedua lengannya penuh bulu, matanya memandang kurang ajar kepada Bi Eng. Gadis ini kurang pengalaman tentang kekurangajaran pria, maka ia tersenyum dan menegur,

“Twa-hwesio, di tempat sunyi ini bertemu dengan seorang pendeta, sungguh aneh dan menyenangkan.”

Hwesio itu tertawa bergelak. “Ha ha ha ha, nona manis. Kau tadi bilang menyenangkan? Ha ha ha!”

Kening Bi Eng mulai berkerut. Ia adalah seorang wanita, perasaannya halus maka ia dapat merasai sesuatu yang tidak beres dalam sikap hwesio ini. “Betul, aku bilang menyenangkan. Apa salahnya itu? Kakakku sering berkata bahwa bertemu dengan orang lain di tempat sunyi adalah amat menyenangkan. Salahkah itu?”

Hwesio itu membuka matanya lebar-lebar dan tertawa makin keras. Ha ha ha ha, kau betul. Memang menyenangkan sekali. Betapa tidak? Kau begini molek, begini manis, begini muda, begini

... begini harum. Aduh, kau tadi bilang tempat sunyi? Ha ha ha, setelah ada aku dan engkau, mana bisa sunyi lagi? Mari, mari, manis sayang, mari kita jalan-jalan menikmati pemandangan indah di lembah Wei-ho. Jangan takut, aku Goan Si Hwesio dari Siauw-lim-pai biasanya berlaku halus pada seorang gadis manis seperti kau ha ha ha!” Biarpun kata-katanya lambat, namun gerakan tangan

hwesio itu cepat sekali dan tahu-tahu pergelangan tangan kiri Bi Eng sudah ditangkapnya.

Bi Eng menggigil ngeri dan jijik ketika merasa betapa tangannya dipegang oleh telapak tangan yang kasar dan dingin. Cepat ia mengibaskan tangannya sambil berseru, “Jahanam, lepaskan tanganku!” Lalu disusul dengan gerakan Po-in-gan-jit (Sapu Awan Melihat Matahari), sebuah jurus yang lihai dari ilmu silat Liap-hong Sin-hoat.

“Dukk!” tak dapat dicegah lagi hwesio bernama Goan Si itu sudah kena dipukul perutnya sampai ia mengeluarkan suara “ngekk!” dan terlempar ke belakang lalu jatuh terduduk. Baiknya Bi Eng belum memiliki tenaga lweekang yang besar, kalau demikian halnya tentu isi perut gendut itu sudah acak-acakan (cerai berai). Ia hanya merasa mulas saja sebentar. Dengan kedua matanya yang lebar hwesio itu memandang Bi Eng. Heran dan kaget karena tidak mengira gadis manis itu ternyata demikian lihai. Kemudian ia menjadi marah dan melompat berdiri.

“Bagus, kiranya kau ini seekor serigala betina? Kalau begini harus dihajar dulu sebelum jinak!” Ia lalu menubruk maju dan Bi Eng cepat mengelak dan membalas dengan jurus-jurus Liap-hong Sin- hoat. Hwesio itu ternyata kosen dan pandai, juga bertubuh kuat. Dengan ilmu silatnya lihai beberapa kali Bi Eng dapat menghantam tubuh lawan, namun agaknya lawannya memiliki tubuh yang kebal, sehingga pukulan-pukulannya hanya membuat hwesio itu jatuh terduduk saja. Makin lama gadis ini makin menjadi lelah. Akan tetapi si hwesio makin buas dan menyeringai, tertawa- tawa dan napasnya berbau sekali membuat Bi Eng menjadi muak.

“Ha ha ha, nona manis lebih baik kau menyerah dan bilang twa-suhu yang tercinta tiga kali baru aku ampunkan kekurangajaranmu tadi!”

“Hwesio bau! Hwesio bau! Hwesio bau!” Bi Eng memaki tiga kali. Goan Si Hwesio menjadi marah, ia mendesak makin hebat dan Bi Eng sudah lelah sekali karena tadi sebelum menghadapi hwesio ini sudah bertempur melawan Yan Bu, tak dapat mengelak lagi ketika kedua tangan hwesio yang kasar itu tahu-tahu telah menggunakan tipu Eng-jiauw-kang menangkap kedua pergelangan tangannya! Gadis itu meronta-ronta, namun ia tak dapat melepaskan cekalan hwesio itu, malah pergelangan tangannya terasa sakit sekali. Hwesio itu tertawa terkekeh- kekeh, dari mulutnya keluar bau busuk seperti bangkai.

“Hah hah hah, nona manis. Sekarang kau harus cium aku satu kali, baru kulepaskan kedua tanganmu! Hah hah hah!”

Bi Eng menjadi muak dan marah sekali, namun ia tidak berdaya. Ia tak dapat berbuat lain kecuali meludahi muka hwesio itu sambil memaki-maki, “Hwesio bau! Hwesio tengik! Kau boleh bunuh aku!”

Pada saat itu terdengar suara suling yang merdu, terdengar amat jauh akan tetapi secara mengherankan sekali, dengan cepat suling itu terdengar makin dekat, makin dekat seakan-akan dibawa terbang ke tempat itu. Tiba-tiba suara suling itu terhenti, disusul suara seorang laki-laki yang terdengar halus dan merdu, suara orang yang jenaka. “Ha ha ha, memang dia itu hwesio kopet (belum mencuci tubuhnya), maka berbau tengik dan busuk!”

Tiba-tiba, entah dari mana munculnya, di situ sudah kelihatan seorang pemuda yang berpakaian indah dan mewah sekali, pakaian seorang sasterawan kaya, tangan kanan memegang sebatang suling berukir, tangan kiri memegang kipas indah yang dipakai mengebuti mukanya. Pemuda ini berusia kira-kira dua puluh lima tahun, tubuhnya sedang wajahnya tampan sekali. Aneh dan sayangnya wajahnya yang tampan itu amat putih seperti dibedaki hingga nampak pucat.

Pemuda itu tersenyum-senyum dengan gerakan seenaknya kipasnya dikebutkan ke arah muka hwesio itu. Jarak antara dia dan Goan Si Hwesio ada tiga empat meter. Akan tetapi angin kebutan itu membuat Goan Si Hwesio merasa mukanya dingin dan napasnya sesak. Saking kagetnya ia terpaksa melepaskan cekalannya pada tangan Bi Eng dan melompat mundur.

“Setan cilik, siapakah kau berani kurang ajar padaku? Ayoh, kau menggelinding pergi dari sini!” Setelah berkata demikian, hwesio itu menggerakkan tangan kanannya dan tiga batang senjata rahasia piauw menyambar ke arah tubuh pemuda tampan pesolek itu. Goan Si yang tadinya sudah girang mendapatkan seorang gadis calon korban, menjadi marah sekali diganggu orang maka begitu bergerak ia menurunkan tangan maut. Tiga batang piauw itu disambitkan secara hebat sekali sehingga lebih dari cukup untuk mengantar nyawa orang menghadap Giam-kun di neraka.

“Hemmm, segala macam hwesio kopet!” dengan kipasnya pemuda itu masih mengebut-ngebut badannya dan ... tiga batang piauw itu ketika menyambar tubuhnya tahu-tahu runtuh terkena angin kebutan kipas, malah ketika pemuda itu mendadak menutup kipasnya dua batang piauw kena di”bungkus” oleh kipas itu. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu lalu membuka kipasnya secara mendadak dan dua batang piauw yang tadi ditangkap oleh kipas itu menyambar dan tanpa dapat

dielakkan lagi telah mengenai jalan darah di lutut Goan Si Hwesio. Hwesio itu mengeluarkan seruan kaget, namun sudah terlambat ketika ia hendak meloncat karena tiba-tiba kedua kakinya itu dari lutut ke bawah tak dapat digerakkan lagi, membuat ia berdiri seperti patung dengan kedua kaki mati!

Hwesio itu membelalakkan kedua matanya, takut setengah mati melihat pemuda aneh yang luar biasa ini. “Kau ..... kau siapakah ?”

Pemuda itu kembali mengeluarkan dengus mengejek, lalu membuka kipasnya dan mengebut-ngebut badannya perlahan. Bau yang amat wangi keluar dari pakaiannya dan kini hwesio itu dapat melihat lukisan sebuah gunung putih tertutup salju di atas kipas. Seketika wajahnya pucat seperti mayat dan tubuhnya bagian atas menggigil.

“Kau .... kau .... Bhok .... Bhok-kongcu ... dari Pak ”

“Hemm, kiranya matamu yang berminyak itu belum buta.” Pemuda itu menegur, suaranya tetap halus merdu akan tetapi mengandung ancaman yang membuat Goan Si Hwesio makin takut. Ia ingin menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi kedua kakinya sudah mati tak dapat digerakkan. Maka ia lalu menjura dan memberi hormat dengan merendah sekali, mulutnya berkata.

“Mohon maaf sebesarnya mohon kongcu yang mulia mengampunkan hamba yang rendah.

Siauwceng telah berani kurang ajar, biarlah Siauw-lim-si memberi hukuman kepada siauwceng dan kelak minta maaf kepada kongcu ”

“Ha, kau hendak bertopeng Siauw-lim-si untuk menakut-nakuti aku? Eh, hwesio kopet, kau tahu aku orang macam apa?”

“Siauwceng tidak berani .... tidak berani ”

Pemuda itu tidak memperdulikan lagi, lalu meniup sulingnya dan matanya yang jenaka itu mengerling ke arah Bi Eng. Gadis ini semenjak tadi memandang kepada pemuda itu dan merasa lucu sekali melihat seorang pemuda begitu pesolek seperti wanita, juga diam-diam heran melihat kelihaian pemuda yang ternyata amat ditakuti hwesio itu.

Kini ia melihat pemuda itu meniup sulingnya, tidak merdu dan indah seperti tadi, melainkan bersuara aneh dan menyeramkan, melengking tinggi rendah kadang-kadang menusuk anak telinga. Anehnya, hwesio itu menjadi makin ketakutan dan menggigil keras sedangkan kepala dan mukanya penuh keringat.

Tak lama kemudian terdengar suara “kresek-kresek” dari jauh, makin lama makin keras dan suling itupun ditiup makin hebat. Sebentar lagi suara berkresek makin dekat dan ....” Ular ....! Ular !”

Bi Eng berteriak sambil melompat ke atas. Siapa takkan takut melihat banyak sekali ular besar kecil, dari berbagai macam dan warna, merayap-rayap datang ke tempat itu dari segenap penjuru?

“Jangan takut!” kata pemuda itu dengan suara merdu dan halus kepada Bi Eng. Akan tetapi mana bisa gadis itu tidak takut? Sebenarnya bukan takut, melainkan jijik dan geli. Otomatis gadis ini melompat ke dekat pemuda itu untuk mencari perlindungan karena ia tahu bahwa agaknya pemuda ini yang memanggil ular-ular itu.

Makin lama makin banyaklah ular berkumpul di situ, ada ular sendok, ular belang, ular hijau, ular hitam, ular sungai dan pendeknya, agaknya segala macam ular yang berada di daerah ini telah berkumpul di situ, tertarik oleh suara suling! Sekejap mata saja tempat mereka bertiga sudah dikurung oleh ratusan ekor ular beracun.

“Bhok-kongcu, ampun ...... ampunkan siauwceng ” hwesio itu masih mengeluh, ngeri

menyaksikan ular begitu banyak.

“Nona, hwesio kopet ini tadi kurang ajar padamu, bukan?” tanya si pemuda muka putih kepada Bi Eng, mulutnya tersenyum dan matanya jenaka.

Bi Eng merasa geli mendengar pemuda itu memaki Goan Si sebagai hwesio kopet. Benar-benar makian yang aneh, lucu dan menjijikkan. Kini melihat muka yang tampan sekali ini tersenyum dan matanya bergerak-gerak lucu, mau tak mau Bi Eng yang memangnya berwatak jenaka, timbul kegembiraannya dan iapun tersenyum.

“Dia kurang ajar, akan tetapi kau sudah menghajarnya,” jawabnya. Jawaban ini sama saja dengan pujian kepada pemuda itu, dan si pemuda agaknya merasa juga bahwa nona jelita itu memujinya, maka senyumnya melebar, matanya yang bagus itu makin bersinar-sinar.

“Nona, namaku Bhok Kian Teng.”

Melihat sikap orang yang sewajarnya tanpa ada sifat-sifat kurang ajar, Bi Eng merasa senang dan iapun memperkenalkan diri, “Dan aku Cia Bi Eng.”

“Aku dari Al-tai-san di Pak-thian (daerah utara).” Kata pula Bhok Kian Teng.

“Dan aku dari dari Min-san,” kata Bi Eng sejujurnya. Orang bersikap jujur kepadanya, mengapa

dia tidak? Mendengar kata-kata ini, pemuda she Bhok itu tiba-tiba tertawa, lalu menoleh kepada Goan Si Hwesio dan berkata,

“Bukankah kau hwesio kopet dan bau tidak takut mampus? Berani kurang ajar kepada nona Cia Bi Eng, puteri pahlawan she Cia di Min-san? Hmm, benar-benar sudah bosan hidup!”

Hwesio itu makin pucat dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Sedangkan Bi Eng juga terheran mendengar ini. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.

Bhok Kian Teng tersenyum. “Kau she Cia dari Min-san, di dunia ini mana ada orang she Cia dari Min-san lain lagi kecuali keturunan orang-orang gagah Cia Hui Gan dan Cia Sun?”

Girang hati Bi Eng mendengar orang tuanya dipuji-puji sebagai orang gagah. “Cia Hui Gan kakekku, Cia Sun ayahku!” katanya girang. Bhok Kian Teng mengangguk-angguk.

“Pantas saja kau begini gagah, nona. Kiranya puteri Cia Sun lo-enghiong. Terimalah hormatku.” Pemuda itu menjura dan ketika ia bergerak, dari tubuhnya kembali tersiar bau yang harum wangi.

“Bhok-kongcu sudah menolongku terlepas dari tangan hwesio ko    eh, hwesio bau tengik ini.

Akulah yang harus menghormatmu.” Bi Eng tidak sampai hati mengucapkan kata-kata “kopet”, karena kata-kata ini biasanya ditujukan kepada orang yang tidak mencuci tubuh sehabis buang air!

“Nona, kadal ini tadi berlaku kurang ajar. Menurut pendapatmu, dia harus dihukum secara bagaimanakah?”

Bi Eng melirik-lirik memandang hwesio itu. Dia memang marah sekali kepada kepala gundul itu, dan amat benci. Apalagi kalau ingat betapa tadi dia disuruh menciumnya segala. Hemm, mau rasanya ia memenggal leher orang itu agar kepalanya yang gundul menggelundung di antara ratusan ular. Alangkah senangnya kalau melihat hwesio ini dikeroyok ular! Hampir saja ia mengucapkan keinginan hatinya ini kalau saja ia tidak ingat akan kakaknya. Terbayang wajah kakaknya yang halus budi, yang penuh kasih kepada sesamanya, yang mudah mengampunkan orang. Bergidik ia kalau teringat betapa kakaknya itu akan marah kepadanya kalau saja tahu bahwa ia menghukum hwesio supaya dikeroyok ular! Maka ia lalu berkata,

“Kalau ia sudah bertobat, biar dia menampari muka sendiri sampai bengap!” Bhok Kian Teng tertawa. “Enak amat baginya! Eh, hwesio kadal kopet, ayoh kau maki dirimu sendiri hwesio kopet seratus kali sambil menampari mukamu sampai bengkak-bengkak!”

Inilah hinaan hebat. Akan tetapi Goan Si Hwesio agaknya takut dan ngeri menghadapi pemuda aneh itu. Begitu mendengar perintah ini, ia lalu menggunakan kedua tangannya menampari muka sendiri dari kanan kiri sambil mulutnya memaki, “Hwesio kopet .... hwesio kopet .....hwesio kopet !”

berulang-ulang sampai mukanya menjadi bengkak-bengkak, bibirnya juga bengkak tebal sehingga makiannya makin lama makin tak terdengar jelas lagi.

Bhok Kian Teng merogoh saku jubahnya yang lebar dan mengeluarkan sebuah pisau kecil berbentuk golok. Hwesio itu nampak kaget sekali melihat ini. Ia mengenal “huito” atau golok terbang ini, yang belum pernah dilihatnya akan tetapi sudah sering kali didengarnya.

“Kongcu .... am ... ampun ” katanya.

Bhok Kian Teng tertawa. “Kedua tanganmu kotor sekali, berani kau tadi mencekal kedua tangan nona Cia yang putih bersih dan suci murni. Ayoh, kau buntungi kedua tanganmu!”

Ia melemparkan golok kecil itu ke arah Goan Si Hwesio yang menyambut dengan tangan kanan. Kemudian, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membacok putus tangan kirinya, kemudian ia menggigit gagang golok kecil itu dan membacok putus pula tangan kanannya! Golok itu jatuh ke bawah mengeluarkan bunyi berdencing dan hwesio itu roboh pingsan. Darah mengalir keluar dari kedua lengannya yang sudah buntung. Bi Eng mengeluarkan teriakan perlahan karena ngeri sungguhpun diam-diam di lubuk hatinya terdapat perasaan puas melihat penderitaan hwesio yang dibencinya itu.

Bhok Kian Teng tertawa. “Muak dan menjemukan sekali melihat hwesio ini, bukan? Mari kita tinggalkan dia, nona!”

Bi Eng mengangguk. Memang tidak menyenangkan tinggal di tempat itu, selain ngeri juga takut melihat banyaknya ular-ular beracun. Kian Teng lalu meniup sulingnya, pendek dan cepat, kemudian ia membungkuk kepada Bi Eng mempersilahkan Bi Eng berjalan dengan sikap yang amat hormat. Bi Eng senang, tersenyum dan di lain saat dan dua orang muda ini sudah berjalan, berendeng dan beromong-omong. Belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba terdengar pekik mengerikan. Bhok Kian Teng nampak tenang-tenang saja, akan tetapi Bi Eng dengan kaget memutar tubuh memandang.

Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan bulu tengkuknya berdiri. Apa yang ia lihat? Ternyata bahwa sepergi mereka, tubuh Goan Si Hwesio dikeroyok ular-ular itu yang menggigitnya, beratus banyaknya. Celakanya hwesio itu sudah siuman dari pingsannya sehingga dapat dibayangkan betapa takutnya sampai ia mengeluarkan pekik tadi. Tapi hanya sebentar karena dalam sekejap saja kulit dan daging hwesio itu sudah habis dimakan ular, tinggal tulang-tulangnya saja yang masih dijilat-jilat oleh ratusan ekor ular, yang masih merasa belum kenyang.

Bi Eng memutar lagi tubuhnya dan menutupi muka dengan ke dua tangannya. “Ah, alangkah ngerinya. Kenapa dia dibunuh?” katanya perlahan, agak gemetar karena merasa ngeri.

Terdengar suara Bhok Kian Teng bersungguh-sungguh. “Nona Cia, hatimu memang terlalu baik, karena itu banyak orang jahat suka mengganggumu. Manusia macam itu mampus dimakan ular, memang sudah sepatutnya. Apa kau dapat membayangkan betapa nasibmu akan lebih mengerikan dari pada nasibnya kalau tadi kau sampai terjatuh ke dalam tangannya? Nona, terus terang saja kukatakan, dia lebih jahat dari pada ular-ular tadi!” Bi Eng menurunkan tangannya, memandang kepada pemuda itu dengan pucat. Ia hanya dapat setengah menduga apa yang akan terjadi padanya kalau tadi pemuda ini tidak muncul menolongnya. Hebat! Kenapa di dunia ini banyak sekali orang jahat? Ia memandang wajah pemuda ini dengan tajam penuh selidik. Wajah yang tampan dan gagah, pikirnya. Selalu tersenyum mulutnya, selalu berseri wajahnya, selalu bersinar matanya, halus kata-kata dan gerakan-gerakannya.

Akan tetapi dibalik itu semua, Bi Eng merasa sesuatu yang aneh, seakan-akan ada sesuatu yang mengancamnya dengan hebat, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari pada hwesio tadi, dari pada ular-ular tadi. Dia tidak tahu apakah itu. Hanya di dasar hatinya ia merasa tidak senang dan takut kepada pemuda yang berwajah terlalu putih ini, yang bersikap terlalu baik, sungguhpun di luarnya ia merasa kagum dan suka mendengar omongan-omongannya yang halus merdu dan penuh pujian.

Dua orang muda-mudi ini berjalan perlahan, kembali ke pinggir sungai Wei-ho. Ketika tiba di tempat di mana tadi ia bertemu dengan Yan Bu, Bi Eng melihat sebuah perahu besar yang amat indah dengan cat merah berada di pinggir sungai dan ia melihat belasan orang wanita cantik di atas perahu itu.

Wanita-wanita itu masih muda-muda, rata-rata berusia dua puluh tahun, dan tak seorangpun di antara mereka yang berwajah buruk. Pakaian mereka dari sutera warna warni, amat indah dengan potongan yang ketat sehingga dari jauh nampak bentuk tubuh mereka yang penuh dan menggairahkan.

Akan tetapi pada wajah-wajah cantik itu bersinar sesuatu yang memuakkan hati Bi Eng, sinar dari wajah-wajah yang genit dan cabul yang hanya dapat ia rasai dalam hati akan tetapi yang tidak dimengertinya. Sebelum ia bertanya kepada Bhok Kian Teng siapa adanya wanita-wanita di atas perahu indah itu, ketika melihat pemuda ini serentak wanita-wanita itu mengeluarkan suara yang merdu dan girang.

“Kongcu-ya telah pulang !” Suara itu merupakan sorakan dari hati yang amat girang.

Dari atas perahu melayang seorang wanita dengan gerakan yang amat ringan dan wanita ini meloncat ke depan Bhok Kian Teng. Ternyata dia seorang wanita yang cantik sekali, usianya lebih tua dari pada yang lain, kira-kira dua puluh delapan atau dua puluh sembilan tahun, akan tetapi mempunyai kecantikan yang menonjol dengan bentuk tubuh yang amat bagus. Di punggungnya nampak gagang sepasang pedang dan dari gerakannya melompat tadi dapat diketahui bahwa kepandaiannya juga luar biasa.

“Kepergian kongcu meninggalkan perahu menggelisahkan kami,” kata wanita ini dengan suara berlagu dan merayu. “Akan tetapi suara seruling kongcu tadi memberitahukan bahwa kongcu sedang menghajar seorang jahat.” Ia mengerling ke arah Bi Eng dan pada mata yang tadinya berseri itu, tiba-tiba menyambar hawa dingin. “Tidak tahu siapakah yang membikin kongcu tidak senang? Siauw-moi sekalian akan menghajar manusia itu!”

Bhok Kian Teng tersenyum, lalu menggerakkan kipasnya. “Tidak apa-apa, Leng-moi. Hanya seorang hwesio kopet yang mengganggu nona ini. Baiknya aku keburu datang merintangi maksudnya yang buruk.”

Wanita itu tertawa genit. “Dan bagaimana dengan hwesio kopet itu?”

“Ha ha, dia sudah dimakan habis oleh ratusan ular.” “Bagus. Bagus!” Wanita itu bertepuk tangan. “Memang kongcu luar biasa dan berhati mulia. Dimana-mana melepas budi dan tak pernah ular-ular setempat tidak diberi makan. Makin lama kongcu akan makin terkenal dan dikagumi di antara para ular di dunia ini.”

Para wanita di atas perahu tiba-tiba menyanyi dengan irama bersemangat dan merdu merayu:

“Lebih tampan dari pada Tan Po An Lebih gagah dari pada Ciu Goan Ciang! Dengan suling dan kipas menjagoi dunia Melintasi gurun dan mengarungi lautan. Siapa dia?

Bhok-kongcu kami yang tercinta!”

Nyanyian ini diulang sampai tiga kali. Diam-diam Bi Eng terheran. Bagaimanakah ada orang sampai dipuji setinggi langit seperti itu? Memang, dia sendiri tidak menyangkal bahwa Bhok Kian Teng memang tampan akan tetapi kalau lebih tampan dari Tan Po An, ini dia tidak dapat menerima. Pernah kakaknya, Han Sin yang suka membaca dongeng kuno, menceritakan bahwa ketampanan Tan Po An di jaman dahulu mengguncangkan dunia bahkan menggegerkan langit sehingga para bidadari menjadi keedanan dan turun ke dunia, bikin ribut untuk memperebutkan Tan Po An!

Dan biarpun ia sudah melihat bahwa Bhok-kongcu lihai, akan tetapi lebih gagah dari Ciu Goan Ciang pemimpin barisan rakyat yang berhasil mengusir penjajah Mongol? Ah, inipun obrolan besar! Diam-diam Bi Eng memandang wanita-wanita itu dengan hati tak senang. Ia menganggap mereka itu penjilat-penjilat besar.

“Kau lihat, nona Cia. Aku amat dimanja-manjakan mereka. Ah, lama-lama membosankan juga.” Kata Bhok Kian Teng ketika melihat kening gadis itu mengerut. Ia lalu memberi tanda dengan tangannya dan para wanita itu berhenti menyanyi.

“Nona, ini adalah pembantuku nomor satu, namanya Yo Leng Nio. Leng-moi, nona ini adalah nona Cia Bi Eng, tamu kita yang terhormat. Mari, nona Cia, mari naik ke perahuku, kita bicara di sana.”

11. Lepas dari Srigala Masuk ke Sarang Buaya

BI ENG ragu-ragu, sebetulnya enggan kalau harus naik ke perahu orang. “Aku .... aku menanti datangnya kakakku di sini ” katanya perlahan.

Kian Teng tertawa. “Perahuku memang berlabuh di sini. Apa bedanya menanti di darat ataupun di atas perahu? Kalau kakakmu datang, kan bisa kelihatan dari perahu? Nona, kami mengundangmu sebagai tamu, apakah kau tidak suka?”

Tentu saja Bi Eng tidak dapat menolak lagi. Orang sudah menolongnya dari malapetaka yang besar. Bagaimana dia bersikap kurang terima. Ia tersenyum. “Kau terlalu menghormat, Bhok-kongcu. Kau penolongku, tentu saja aku mau menerima undanganmu. Hanya aku khawatir membuat kalian repot saja.”

“Tidak repot ….. tidak repot ” Kata Bhok Kian Teng sambil mengajak Bi Eng naik ke perahu.

Para wanita cantik itu sejak tadi sudah sibuk memasang papan tangga sehingga pemuda itu bersama Bi Eng dengan mudah dapat naik ke perahu, tak usah meloncat. Di belakang mereka berjalan Yo Leng Nio yang masih agak muram mukanya kalau melihat Bi Eng. Di sudut kerling matanya nampak jelas perasaan cemburunya. Melihat ini, Bi Eng hanya tersenyum mengejek. Kau tak usah takut, pikirnya, siapa sudi merampas kongcumu yang kalian dewa-dewakan?

Setelah naik ke atas perahu dan menghitung, Bi Eng mendapat kenyataan bahwa wanita-wanita itu bersama Yo Leng Nio berjumlah lima belas orang. Dan di pinggir-pinggir perahu, mungkin bekerja sebagai pengemudi dan anak buah perahu, kelihatan sepuluh orang laki-laki tinggi besar yang berpakaian tidak seperti orang Han, juga sikap mereka ini aneh, diam saja seperti patung. Malah pandangan mata mereka tidak langsung seakan-akan kosong. Orang-orang lelaki yang berada perahu itu sama sekali tidak memperdulikan segala keributan wanita-wanita yang menyambut Bhok-kongcu. Hanya mereka ini berdiri tegak seperti barisan untuk menghormat pemuda itu.

Bi Eng diajak ke sebuah ruangan dalam perahu dan di situ ia dipersilahkan duduk. Sementara itu, Bhok-kongcu sudah “dikeroyok” empat belas orang gadis cantik kecuali Yo Leng Nio yang berdiri dan bersikap sebagai penjaga. Bhok-kongcu duduk di atas kursi dan mulailah empat belas pasang lengan melayaninya. Wanita-wanita ini tersenyum dan melirik, menarik muka semanis-manisnya, tertawa kecil amat genit. Ada yang melepas sepatu dan kaus kaki Bhok-kongcu lalu mencuci kaki itu, ada yang menggantikan jubah luar, ada yang membuka topi lalu menyisir rambutnya.

Pendeknya keadaan Bhok-kongcu seperti seorang calon mempelai yang didandani! Hebatnya. Wanita-wanita itu dengan sikap menarik hati melakukan perbuatan yang membuat Bi Eng melongo lalu tak berani memandang lagi. Bayangkan saja, yang mencuci kaki ….. mencium kaki itu, yang menyisir rambut mencium rambut dan sebagainya. Benar-benar penglihatan yang amat aneh dan membikin Bi Eng tidak kuat memandang lebih lama, lalu gadis itu berdiri dan pura-pura melihat- lihat air di pinggir perahu.

Setelah selesai “mendadani” pemuda itu, seorang demi seorang para wanita itu menjual lagak. Ada yang berkata dengan suara halus merdu, “Kongcu, hidangan sudah siap siauw-moi bikin selezat- lezatnya.” Ada yang merayu, “Apakah kongcu ingin melihat siauw-moi menari lebih dulu?” Ada pula yang berkata manja, “Tentu kongcu ingin mendengar siauw-moi bernyanyi?”

Akan tetapi Bhok Kian Teng menggerakkan tangan dan berkata, “Pergilah kalian mengaso. Keluarkan hidangan, aku hendak mengundang nona Cia makan minum. Jangan kalian mengganggu. Boleh keluarkan hiburan tarian dan nyanyian untuk nona Cia, akan tetapi agak jauh, jangan dekat- dekat.”

“Ah, kongcu …..?” masih ada suara-suara halus merdu membantah.

Tiba-tiba Yo Leng Nio membentak, “Kongcu sudah keluarkan titah, kalian masih berani cerewet?” Sepasang mata wanita ini melotot dan undurlah wanita itu. Yo Leng Nio sendiri juga pergi untuk memenuhi perintah tuannya.

“Nona Cia, harap kau maafkan melihat mereka itu,” kata Kian Teng setelah mengundang Bi Eng duduk kembali. “Sebetulnya akupun jemu dilayani oleh begitu banyak tangan. Ahh …..” Ia menarik napas panjang sambil menatap ke arah kedua tangan Bi Eng yang runcing halus. “Alangkah akan bahagianya kalau aku hanya dilayani oleh sepasang tangan yang penuh kasih sayang …..”

Entah mengapa, mungkin karena mata pemuda itu memandang ke arah tangannya, wajah Bi Eng menjadi merah dan ia otomatis menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja! Untuk menghilangkan dan menyembunyikan rasa bingung dan jengahnya, Bi Eng berkata sambil tertawa dan memandang wajah tuan rumah, “Bhok-kongcu, kau benar-benar seorang aneh. Belum pernah aku melihat orang dengan keadaan seaneh kau!” Bhok Kian Teng tertawa terbahak dan ketika tertawa ini, lenyaplah keanehan yang menyeramkan yang menyelubungi dirinya, dia berubah menjadi seorang pemuda tampan yang gembira sehingga Bi Eng juga ikut gembira. “Apanya yang aneh? Nona, itu adalah karena kau belum mengenal aku. Bhok Kian Teng bukan orang aneh, orang biasa saja ….” Kemudian suaranya berubah bersungguh- sungguh. “Tentu saja aku pun bukan gentong nasi yang tak mempunyai cita-cita! Aku seorang laki- laki dari darah dan daging, aku bercita-cita tinggi sekali. Nona Cia, mari minum!” Ia menuangkan arak ke dalam cawan ketika dua orang gadis datang mengeluarkan arak wangi.

Bi Eng tidak biasa minum arak, akan tetapi karena tidak sudi disangka “perawan dusun”, terutama sekali oleh para gadis itu, ia menerima cawannya, menghaturkan terima kasih dan meneguknya habis. Arak itu wangi dan manis, enak sekali, akan tetapi hampir ia tersedak karena tidak biasa akan minuman keras. Diam-diam ia teringat akan suhunya. Kalau suhu mendapat suguhan arak seenak ini, tentunya akan dihabiskan segentong! Demikian pikirnya gembira.

Sementara itu, hidangan dikeluarkan di atas meja, hidangan-hidangan yang masih panas mengebul dan mewah. Gadis-gadis tadi keluar lagi membawa alat musik dan dalam jarak yang agak jauhmereka mulai menari dan bernyanyi sementara Bhok Kian Teng mengajak Bi Eng makan minum. Hidangan amat enak, arakpun wangi, ditambah tari-tarian yang lemah gemulai indah dan nyanyian dengan suara merdu merayu, bagaimana Bi Eng takkan senang? Apalagi ia memang sudah lapar, maka sebagai seorang gadis lincah dan terbuka, ia tidak malu-malu lagi dan menyikat makanan sampai kenyang

Melihat sikap gadis yang terbuka ini, timbul kegembiraan Bhok Kian Teng dan sambil menggerak- gerakan kipasnya ia lalu membaca sajak dengan lagak seorang sasterawan dan dengan suara yang lantang, sementara para gadis menabuh khim perlahan-lahan.

“Air We-ho mengalir gelisah di bawah perahu kacau tak menentu, kemanakah kau hendak pergi? Lebih senang duduk diperahu minum arak menjamu tamu agung jelita gagah!

Menyaksikan tarian mendengar nyanyian senyum madu mata bintang

Aku berhasil menyenangkan tamu agung! Bawa arak! Biarkan aku minum sepuasnya!”

Tanpa banyak berpikir dapat membuat sajak bukanlah hal yang mudah. Bi Eng sudah pernah mempelajari ilmu surat bersama kakaknya, akan tetapi dalam hal kepandaian ini dia kalah jauh oleh kakaknya. Maka ia merasa kagum sekali melihat Bhok-kongcu dapat membuat syair yang merupakan sindiran dan pujian bagi dirinya. Tak terasa lagi mukanya menjadi merah jengah dan juga diam-diam girang karena ia disebut-sebut sebagai tamu agung jelita gagah bersenyum madu bermata bintang.

Setelah mengucapkan syairnya, sambil tertawa Kian Teng kembali mengisi cawan arak Bi Eng lalu berkata, “Sekarang kuharap Cia-siocia sudi membuatkan sebait-dua bait sajak untukku.”

“Ah, aku tidak bisa, Bhok-kongcu,” kata Bi Eng sambil tertawa.

“Siapa percaya? Nona seorang Bun-bu-coan-jai (ahli silat dan surat), tentu lebih pandai dari pada aku. Kalau nona tidak sudi memperlihatkan sedikit kepandaian untuk membuka mataku, terpaksa aku mendenda nona dengan tiga cawan arak!” Berkata demikian, pemuda itu tertawa-tawa gembira dan sewajarnya. Bi Eng juga tertawa, lalu menarik napas panjang. “Ah, kalau saja Sin-ko berada di sini, tentu dia gembira sekali dan kau tak akan kecewa, karena dalam membuat sajak, kiranya di dunia ini tidak ada yang dapat mengalahkan Sin-ko.”

Perhatian Bhok-kongcu segera tertarik. “Sin-ko? Siapakah dia?”

Bi Eng tidak tahu bahwa dalam pertanyaan ini terkandung cemburu yang amat besar. Dia sudah agak dipengaruhi arak, maka sedikit keadaan ini tidak terlihat olehnya.

“Sin-ko adalah kakakku ……. Dan tiba-tiba Bi Eng menjadi berduka. Kakaknya masih tertahan di Cin-ling-san, usaha pertolongan dari Yan Bu juga belum ada ketentuan hasil tidaknya, dan dia enak- enak dan senang-senang di atas perahu ini bersama Bhok-kongcu. Wajahnya menjadi muram, senyumnya menghilang, bahkan di matanya terdapat dua titik air mata!

“Eh, nona Cia, kau kenapakah?” tanya Bhok Kian Teng, suaranya terdengar demikian menaruh perhatian dan berkhawatir sehingga dilain saat Bi Eng menjadi begitu sedih dan menangis benar- benar.

Di luar tahu Bi Eng, Kian Teng memberi isyarat dengan matanya dan semua wanita di situ mengundurkan diri, meninggalkan pemuda itu berdua saja dengan Bi Eng. Bahkan anak buah perahu juga tidak menampakkan diri. Senja telah terganti malam dan bulan muda sudah muncul di angkasa raya, memuntahkan cahaya gemilang di permukaan air sungai, menimbulkan pemandangan indah dan suasana yang romantis.

Bi Eng yang sedang menangis dan menutupi mukanya di atas meja tidak melihat bahwa dia sekarang hanya berdua saja dengan pemuda itu. Ketika merasa betapa sebuah tangan dengan mesra dan halus menepuk-nepuk pundaknya, ia kaget dan mengangkat kepala. Dilihatnya kongcu itu sudah berdiri dari kursinya, berdiri dekat dengan dia dan menepuk-nepuk pundak dengan sikap menghibur. Ia menjadi jengah dan melihat ke kanan kiri, akan tetapi tidak ada seorang pun di situ, bahkan Yo Leng Nio juga tidak ada lagi di situ.

“Nona Cia, tenanglah dan sabarlah. Kau agaknya berduka sekali, bolehkah aku mengetahui persoalannya? Percayalah, selama masih ada Bhok Kian Teng hidup di dunia ini, tidak seorang pun boleh menyusahkan hatimu. Aku menyediakan selembar nyawaku untuk membela dan melindungimu, nona.” Suara ini demikian mesra, demikian halus mengharukan sehingga biarpun tak senang disentuh pundaknya, namun Bi Eng tidak tega bersikap kasar.

“Bhok-kongcu, duduklah baik-baik. Aku sangat berterima kasih padamu dan akan kuceritakan kesukaranku, biarpun agaknya kaupun takkan dapat menolongku.”

Bhok Kian Teng melangkah mundur, membungkuk lalu duduk di kursinya, senyumnya masih membayang di mulut, wajahnya tampak tenang dan sabar, kelihatan amat halus budi dan baik hati. “Kau berceritalah, nona, aku siap mendengarkan.”

Bukan maksud hati Bi Eng untuk menceritakan semua riwayatnya, ia hanya merasa tidak enak kalau menyimpan rahasia hatinya, dan pula, melihat kelihaian kongcu ini, iapun mengharapkan petunjuk-petunjuknya. Maka dengan singkat ia bercerita, “Bhok-kongcu, maafkan kalau tadi aku tidak dapat menahan perasaan dan menangis, membikin kau jemu saja. Aku bersama kakakku, Cia Han Sin, dan seekor monyet peliharaan kami, turun dari Min-san untuk … untuk lihat dunia ramai.” Ia mulai menutur. Kian Teng yang cerdik tentu saja tahu akan keraguan nona ini ketika hendak bicara tentang maksudnya turun gunung, namun ia tidak bertanya, tidak mencela dan mendengarkan dengan sabar. “Kami sudah yatim piatu, dan hidup kami hanya bertiga dengan monyet kami itu. Kami kira dunia ini indah dan manusia-manusianya baik-baik. Tidak tahunya, baru tiba di Cin-ling-san kami menemui malapetaka. Tosu-tosu bau dari Cin-ling-pai, entah mengapa, marah-marah kepada kami dan tidak mau membiarkan kami lewat dengan aman. Mereka malah hendak menyerang dan menangkap kami. Tentu saja aku melawan mereka dan kakak …. Sin-ko yang tidak bisa ilmu silat sudah bersikap gagah melindungi aku. Lalu datanglah seorang kakek bernama Ban Kim Cinjin, katanya utusan pemerintah dan antara kakek ini dan orang-orang Cin-ling-pai timbul perkelahian hebat sehingga banyak tosu Cin-ling-pai tewas di tangan Ban Kim Cinjin.”

Bhok Kian Teng mengangguk-angguk.” Sudah kudengar nama Ban Kim Cinjin. Dia memang lihai.”

“Melihat orang itu melakukan banyak pembunuhan, Sin-ko tidak tega dan mencegah. Akan tetapi dia malah beberapa kali dipukul oleh Ban Kim Cinjin. Kemudian …..

“Kemudian bagaimana, nona?” Kian Teng bertanya penuh perhatian, agaknya ia tertarik sekali. “Ban Kim Cinjin memukul Sin-ko dan … tahu-tahu kakek itu roboh binasa …..”

“Aahhh ….!” Bhok Kian Teng melongo saking herannya. “Siapa yang membunuhnya?”

“Akupun tidak tahu. Dia mati mendadak. Para tosu Cin-ling-pai lalu menyalahkan kami. Kakakku bertanggung jawab untuk semua itu, menyuruh aku pergi lebih dulu menanti di sini dan dia hendak memikul semua pertanggungan jawab. Padahal, kakakku yang tidak bisa silat mana bisa membunuh seorang seperti Ban Kim Cinjin?”

“Memang tak bisa ….. tak bisa ….” Kongcu itu menggeleng-geleng kepala lalu merenung, nampaknya berpikir keras.

“Begitulah, Sin-ko ditawan. Aku tadinya hendak membelanya, akan tetapi Sin-ko tidak mau dan memaksa aku harus pergi dulu. Aku tidak berani membantah, lalu pergi dan hanya suruh Siauw-ong monyetku itu mengawaninya. Sin-ko masih ditawan orang, entah bagaimana nasibnya dan aku …. Aku bersenang-senang di sini, siapa yang tak sedih …..?”

Tiba-tiba Bhok Kian Teng memukulkan tangannya kepada ujung meja, perlahan saja, akan tetapi alangkah kagetnya hati Bi Eng melihat betapa ujung meja yang tebal dan keras itu menjadi hancur!

“Nona Cia, kenapa tidak tadi-tadi kau ceritakan hal ini kepadaku? Jangan kau kuatir, orang-orang Cin-ling-pai mana berani mengganggu kakakmu kalau ada aku? Hee! Leng-moi …..! Kesinilah!”

Yo Leng Nio cepat muncul, wajahnya tetap muram dan ia melirik satu kali ke arah Bi Eng. “Kongcu memanggil siauw-moi?” tanyanya sambil menghadap Bhok Kian Teng.

“Leng-moi, sekarang juga kau berangkatlah ke Cin-ling-san, kau temui tosu-tosu pengurus Cin- ling-pai, atau kalau perlu boleh kau minta bertemu sendiri dengan Giok Thian Cin Cu ketuanya, tunjukkan kartu namaku dan kau minta atas namaku agar Cin-ling-pai suka membebaskan seorang bernama Cia Han Sin. Setelah bebas, kau ajak pemuda itu ke sini, katakan bahwa adiknya, nona Cia Bi Eng, menantinya di sini dalam keadaan selamat.” Yo Leng Nio mendengar penuh perhatian. Kemudian berkata, “Siauw-moi telah menerima perintah. Hanya sebuah pertanyaan, kongcu, bagaimana kalau …..”

“Kalau mereka menolak, jangan bikin malu aku! Kalau kau tidak sanggup mengalahkan mereka, katakan aku akan datang sendiri!” Bhok-kongcu memotong tak sabar lagi sambil menggerakkan tangannya menyuruh gadis itu pergi. Yo Leng Nio mengangguk, lalu sekali meloncat gadis ini sudah berada di darat!

Diam-diam Bi Eng kagum sekali.

“Jangan kau gelisah, nona Cia. Kakakmu pasti akan selamat dan segera datang ke sini.” “Bhok-kongcu, kau baik sekali. Banyak terima kasih atas segala jerih payahmu.”

“Ah, setelah kita menjadi sahabat, mana perlu segala ucapan sungkan? Nona, sekarang mengasolah, dan jangan berduka.” Kongcu itu menepuk tangan tiga kali dan lima orang gadis cantik muncul. “Antarkan nona Cia ke dalam kamar biar dia beristirahat.”

Melihat kebaikan orang, Bi Eng terharu dan tidak sampai hati menolak. Memang lebih baik bermalam di dalam perahu dari pada di pinggir sungai. Ia lalu diantar oleh gadis-gadis itu dan ternyata di dalam perahu besar itu disediakan kamar-kamar yang indah dan bersih. Ia mendapat sebuah kamar dan setelah sampai di kamarnya, dia dilayani oleh seorang gadis cantik berbaju merah.

“Nona, kongcu telah berlaku baik sekali padamu, kau beruntung,” kata nona baju merah itu sambil menarik napas panjang, di dalam suaranya terkandung iri hati besar. Namun Bi Eng tidak merasa ini dan dia tersenyum.

“Kalian semua orang-orang baik,” katanya. “Enci, siapakah namamu?”

“Aku hanya pelayan, kau tamu agung. Panggil saja aku Ang-hwa (Bunga Merah),” katanya.

Bi Eng dapat menduga bahwa nama ini hanya nama samaran, sesuai dengan bajunya yang merah. Namun ia tidak perdulikan lagi karena matanya sudah mengantuk, kepalanya agak pening karena banyak minum arak. Begitu ia merebahkan diri di atas kasur yang empuk, segera ia tidur pulas.

Menjelang tengah malam, ia terbangun dan mendengar suara orang menarik napas panjang. Suara itu seperti di dalam kamarnya, maka Bi Eng segera memandang ke sana ke mari tanpa bergerak. Ia melihat lampu masih menerangi kamarnya dan ketika melirik ke arah jendela, lapat-lapat ia melihat sepasang mata yang tajam mengintai ke dalam kamarnya.

Ia mengenal mata ini, seperti mata Bhok-kongcu. Dan kembali terdengar tarikan napas panjang, juga dari balik jendela itu. Kemudian menyusul bisikan-bisikan perlahan, “Bhok Kian Teng … kau sudah gila. Mengapa tiba-tiba hatimu lemah? Gila …. Gila ….” Dan suara itu makin menjauh sedangkan sepasang mata itupun lenyap.

Bi Eng terkejut dan heran, juga takut. Belum pernah ia merasa takut, akan tetapi berada dalam tempat asing di antara orang-orang asing yang aneh, ia merasa ngeri juga. Kau bodoh, pikirnya. Mereka itu orang-orang baik, mengapa takut? Tiba-tiba ia mendengar suara bisik-bisik dari balik dinding kamarnya. Ia mengulet dan mendekatkan telinga mepet di dinding kamarnya karena kebetulan tempat tidurnya mepet di dinding itu. Kini ia dapat mendengar suara dua orang wanita berbicara berbisik-bisik. Yang satu ia kenal sebagai suara Ang Hwa. “Aneh,” kata suara kedua. “Kongcu sama sekali tidak mengganggu bocah dusun itu. Memasuki kamarnyapun tidak! Malah mengintai. Apa artinya ini? Belum pernah terjadi hal seperti ini. Apa dia takut?”

“Goblok!” terdengar suara Ang-hwa mencela. “Kongcu takuti siapa? Tentu dia …. Dia telah jatuh cinta ….” Suaranya menjadi sedih.

Orang kedua menghela napas. “Hemmm, untung orang tak dapat diduga. Tadinya kami kira kau yang akan menjadi kekasihnya, Ang-hwa. Tidak tahunya kau juga sama dengan kami, hanya barang-barang permainan belaka. Tadinya kami kira dia tidak mempunyai hati untuk menyintai orang, menyinta dengan sungguh-sungguh seperti seorang pria menyinta wanita, kami kira dia memang hanya menganggap wanita sebagai barang mainannya. Tidak tahunya, dia menyinta gadis dusun …! Ah, Ang Hwa, belum pernah dia memandang kau seperti ketika memandang perempuan itu …… Haiii ….. nasib!”

Terdengar Ang Hwa mendengus, lalu suara itu sirep, Bi Eng terheran dan tidak mengerti sama sekali bahwa yang dimaksudkan dengan “gadis dusun” adalah dia sendiri! Karena itu dia tidak menaruh perhatian lagi dan mulai layap-layap hendak pulas.

Tiba-tiba ia mendengar pintu dibuka orang. Ketika ia membuka mata, ia melihat sinar kuning melayang ke arahnya dan di lain saat ia merasa lengan kirinya sakit sekali. Ia melihat dan ….. Bi Eng menjerit kaget. “Ular …. menggigit ….. celaka ….!”

Ia melihat seekor ular belang kuning sudah menggigit lengannya dan melingkar di situ.

Tiba-tiba daun jendela terpentang dan sesosok bayangan melayang masuk. Bhok Kian Teng telah berada di situ. “Celaka …..!” Pemuda itu berseru. Sekali tangannya diulur, kepala ular itu dipencet remuk. Tubuhnya lalu berkelebat ke arah pintu, terdengar suara gedebukan dan di lain saat ia telah kembali ke dalam kamar, menyeret …. Ang Hwa yang dilemparkannya ke atas lantai. Kemudian tanpa banyak cakap ia lalu menarik lengan Bi Eng yang tergigit ular dan memeriksa.

“Tenang, nona Cia. Aku akan menolongmu.” Tanpa sangsi-sangsi lagi Bhok Kian Teng lalu merobek baju bagian lengan ini sehingga nampak kulit lengan kiri Bi Eng yang putih, di mana kini terdapat bintik-bintik merah bekas gigitan ular. “Duduklah baik-baik, aku akan mengeluarkan racun dari lenganmu.” Setelah berkata demikian, Bhok-kongcu lalu menempelkan bibirnya pada lengan itu dan menghisapnya!

Bi Eng yang masih belum hilang kagetnya, kini terkesima dan tak dapat bergerak. Ia merasa ngeri, kaget, dan juga malu bukan main. Ketika merasa mulut pemuda itu yang hangat basah menempel di kulit lengannya dan menghisap, ia meramkan mata, mukanya merah dan hampir ia merenggutkan lengannya saking malu. Akan tetapi ia ingat bahwa pemuda ini sedang berusaha mengeluarkan racun, maka ia pertahankan dirinya.

Sehabis menghisap, pemuda itu lalu meludahkan darah yang berwarna hitam, lalu menghisapkan lagi, meludah lagi sampai lima kali, baru darah yang diludahkan berwarna merah. Lalu Bhok- kongcu mengeluarkan sebutir pil warna merah. “Telanlah ini,” katanya kepada Bi Eng sambil menyodorkan secawan air bersih.

Bi Eng tidak membantah. Ditelannya pil itu dengan air dan ia merasa dadanya hangat-hangat nyaman. Rasa sakit pada lengannya masih ada, akan tetapi tidak ada lagi rasa gatal-gatal. Bhok- kongcu lalu menempelkan sehelai koyo (obat tempel) pada bekas luka, lalu menarik napas panjang karena lega sambil menyusuti peluhnya di jidat. “Sudah selamat …….syukurlah …..” Kemudian pemuda itu menoleh ke arah Ang-hwa yang masih berlutut di atas lantai dengan muka pucat. “Keluar kau, ikut aku!” Tanpa menoleh lagi pemuda itu keluar dari kamar Bi Eng. Ang-hwa berdiri dan dengan kepala tunduk dan isak tertahan iapun ikut keluar.

Berdebar hati Bi Eng menyaksikan ini, hatinya merasa tidak enak sekali. Biarpun tubuhnya masih terasa lemah gemetar dan kepalanya pening, ia lalu membetulkan pakaiannya, mengeluarkan saputangan dan mengikat lengan bajunya yang robek tadi. Kemudian ia turun dari pembaringan dan keluar dari dalam kamarnya.

Ia melihat mereka semua sudah berkumpul di atas dek, diterangi bulan, nampaknya menyeramkan. Bhok Kian Teng duduk di tengah-tengah, di atas sebuah kursi. Ang-hwa yang menundukkan kepalanya berdiri tak jauh di depannya dan disekeliling mereka berdiri belasan orang wanita. Para anak buah perahu masih di tempat masing-masing, tak bergerak seperti patung, menambah keseraman pemandangan itu.

“Ang Hwa, sudah tahukah kau akan dosa-dosamu dan hukumannya?” terdengar suara Bhok Kian Teng, terdengar tidak bernada, akan tetapi masih halus sekali.

Ang Hwa mengangguk. “Siauw-moi berusaha mencelakakan wanita pilihan baru kongcu dan hukumannya seperti biasa, siauw-moi akan menjadi pelayan wanita itu untuk setahun dan selama itu

….. selama itu …. kongcu tidak akan mendekati siauw-moi …..” Ucapan terakhir ini dikeluarkan dengan isak tertahan dan sedih sekali kedengarannya.

“Kau telah berani mati mencoba untuk membunuh nona Cia!” terdengar lagi suara Bhok Kian Teng, masih halus akan tetapi sekarang mengandung kemarahan besar sehingga di sekelilingnya tidak ada orang berani mengeluarkan suara, bahkan bernapaspun ditahan-tahan. “Karena itu, kau harus mati! Nih, hui-to (golok terbang), tublas dadamu dan keluarkan hatimu yang hitam hendak kulihat!”

Ucapan ini seperti petir menyambar bagi semua wanita di situ. Biarpun mereka tahu bahwa Bhok Kian Teng dapat membunuh orang tanpa berkedip, namun belum pernah ia memberi hukuman mati kepada para selirnya yang ia sayang. Lebih-lebih lagi terhadap Ang Hwa yang selama ini dianggap seorang di antara selir-selirnya yang paling disayang, dan sebabnya hanya karena hendak membunuh seorang gadis dusun!

“Kongcu !” Seorang wanita baju kuning, Oey Hoa, berkata dengan suara memohon. Dia juga

seorang di antara mereka yang disayang.

“Siapakah yang hendak membelanya, boleh mengantarnya ke neraka!” kata Bhok Kian Teng dan Oey Hoa menjadi pucat, lain-lain wanita tidak ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Dengan isak tertahan Ang-hwa lalu melangkah maju dan menerima golok kecil dari tangan Bhok Kian Teng.

“Bhok-kongcu-ya …… demi cinta kasihku yang suci kepadamu ……, aku rela mati ……, hanya aku kuatir … dia … dia … takkan dapat membahagiakanmu ……”

Sampai di situ, Bi Eng tak dapat menahan lagi gelora hatinya. Ia melompat maju dan berseru, “Tahan hukuman ini!”

Semua orang terkejut. Bhok Kian Teng cepat menengok dan melihat gadis itu berdiri dengan muka pucat akan tetapi dengan sikap gagah dan dalam pandang matanya makin cantik jelita, ia berkata lirih, penuh kasih sayang. “Nona Cia ….. kau jangan keluar dari kamar. Lukamu belum sembuh benar, jangan kau terkena angin malam …..”

Alangkah mesra penuh kasih sayang kata-kata ini, membuat semua wanita di situ saling pandang dan melongo. Belum pernah mereka mendengar kongcu mereka memperlihatkan kasih sayang demikian besarnya, kasih sayang sewajarnya, bukan hanya karena dorongan nafsu.

“Bhok-kongcu, kuanggap kau seorang yang baik budi, siapa kira kau bisa berlaku sekejam ini, menghukum mati begitu saja seorang wanita!” Bi Eng menegurnya dengan suara keras dan marah. Semua wanita sekali lagi terheran-heran, masa ada gadis yang begitu berani mencela kongcu mereka, padahal begitu disayang. Mereka yang mencari muka, mengambil-ambil hati minta dicinta, masih belum mendapat cintanya. Gadis ini begitu kasar dan berani mencela, malah dicinta.

Anehnya cinta

“Dia ….. dia hendak membunuhmu!” kata Bhok Kian Teng sambil memandang ke arah Ang-hwa dengan marah.

“Aku yang hendak dibunuh, bukan kau. Mengapa kau yang hendak menghukumnya? Sepatutnya akulah yang bersakit hati.” Setelah berkata demikian Bi Eng melompat maju ke depan Ang-hwa dan sekali ia menggerakkan tangan, hui-to itu telah dirampasnya dan dikembalikannya kepada Bhok- kongcu. Kemudian Bi Eng menghadapi Ang-hwa dan bertanya.

“Enci Ang-hwa, tadi sikapmu baik sekali kepadaku. Kenapa kau melepas ular beracun hendak membunuhku? Apa salahku kepadamu?”

Ang-hwa dengan muka pucat memandang Bi Eng penuh selidik, seakan-akan hendak mencari tahu rahasia apakah yang membuat gadis ini demikian mudah merebut hati kongcunya. Kemudian ia menarik napas panjang dan dengan suara terisak-isak ia berkata,

“Aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan engkau. Akan tetapi kenapa kau datang-datang merampas hati kongcu? Aku yang sudah dua tahun melayaninya, mengurbankan nama, kehormatan, orang tua dan merendahkan diri sendiri dari puteri seorang hartawan menjadi pelayannya, mencuci kakinya, melakukan segala perintahnya dengan segala senang hati, aku tidak dapat mengambil hatinya. Akan tetapi, kau ….. ah, bagaimana aku takkan iri hati dan cemburu? Aku sudah gagal membunuhmu, sekarang kau hendak berbuat apa, sesukamulah. Boleh bunuh, boleh siksa …….!”

Wajah Bi Eng sebentar merah sebentar pucat. Tak disangkanya sama sekali bahwa keadaan menjadi begitu macam. Tak disangkanya sama sekali bahwa kehadirannya di situ menimbulkan kekacauan yang amat hebat, menimbulkan kebencian yang hampir merenggut jiwanya. Padahal ia tidak merasa berdosa.

“Goblok! Siapa yang berebut denganmu? Aku hanya seorang tamu, seorang sahabat baru yang baik dari Bhok-kongcu. Kau bicara ngaco-belo, apakah otakmu sudah gila?” Ia lalu menghadapi Bhok- kongcu dan berkata tegas, “Bhok-kongcu, aku minta dengan sangat supaya wanita ini diampuni.

Jangan kau bunuh padanya!”

Bhok Kian Teng bangun berdiri dan menjura di depannya. “Nona Cia adalah seorang tamuku yang terhormat. Namanya sudah dihina perempuan rendah ini, malah hendak dibunuhnya. Akan tetapi sekarang nona mengampuni dia, itu menandakan budi nona yang mulia dan hati nona yang bersih. Baiklah, aku memenuhi permintaan nona. Ang-hwa, kau telah diampuni oleh nona Cia, akan tetapi aku tetap tidak bisa melihat mukamu. Kau kira kau ini terlalu cantik maka hendak menjual lagak di sini? Hendak kulihat kalau kau tidak mempunyai hidung, bagaimana macamnya!” Baru saja Bi Eng hendak mencegah, tangan Bhok-kongcu bergerak, sinar terang meluncur bagaikan api terbang, terdengar jerit mengerikan dan sinar terang dari hui-to itu setelah membabat hidung Ang-hwa, ternyata dapat terbang kembali ke tangan Bhok-kongcu!

Ang-hwa memegangi mukanya di bagian hidung yang berdarah, hidungnya yang kecil mancung sudah lenyap dibabat golok terbang, dia menangis tersedu-sedu.

“Pergilah, aku tidak sudi lagi melihat mukamu!” kata Bhok-kongcu.

Sambil mengeluarkan jerit menyayat hati, Ang-hwa melompat dan tubuhnya merupakan bayangan merah melesat ke arah daratan. Sebentar saja ia lenyap di antara pohon-pohon, hanya jeritnya yang melengking saja berkali-kali masih terdengar dari jauh.

”Bhok-kongcu, kau terlalu sekali menyakiti dia. Kenapa tidak diampuni dan diusir saja?” Bi Eng menegur.

Bhok Kian Teng tertawa. “Mana ada kesalahan yang tidak dihukum? Kalau semua menuruti engkau, dunia ini makin penuh kejahatan, nona.”

Semenjak terjadi peristiwa itu, hati Bi Eng makin tidak enak tinggal di perahu Bhok-kongcu. Akan tetapi karena ia harus menanti kakaknya dan Yo Leng Nio belum juga datang, terpaksa ia menahan hatinya dan selalu bersikap hati-hati sekali. Terhadap wanita-wanita lain ia bersikap manis dan terhadap Bhok-kongcu ia bersikap dingin dan sombong.

Diam-diam ia sering memikirkan, siapakah gerangan Bhok-kongcu ini. Begitu kaya raya nampaknya, begitu agung dan aneh, beberapa kali ia berusaha memancing, bertanya kepada wanita- wanita itu, akan tetapi tak seorangpun berani membuka mulut. Ketika Bi Eng mencoba bertanya kepada para anak buah perahu, alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa mereka ini tidak berlidah dan telinga mereka rusak! Tidak dapat bicara dan tidak mendengar!

Memang Bhok Kian Teng bukanlah orang biasa. Dia itu sebetulnya memiliki kedudukan tinggi sekali baik di kalangan pemerintah Ceng maupun di dunia kang-ouw. Di kalangan pemerintah, siapakah yang tidak mengenal pangeran Bhok, atau pangeran muda, putera dari pangeran tua Bhok Hong? Di dunia kang-ouw, siapakah yang tak pernah mendengar nama besar Bhok-kongcu, seorang bun-bu-coan-jai yang lihai ilmu silatnya dan tinggi pengertiannya tentang kesusasteraan? Siapa pula tidak pernah mendengar nama yang menggemparkan dunia kang-ouw dari tokoh besar dari utara yang berjuluk Pak-thian-tok (Si Racun dari Utara), yaitu julukan dari pangeran Bhok Hong?

Pada saat itu, seluruh daratan Tiongkok sampai ke Korea telah diduduki oleh orang-orang Mancu yang mendirikan kerajaan Ceng dengan kaisar Kang Shi. Dalam penyerbuannya ke Tiongkok ini bala tentara Mancu dapat bantuan besar dari bangsa Mongol, terutama para pangeran yang masih penasaran karena bangsa mereka terusir dari Tiongkok yang pernah mereka jajah.

Kaisar Kang Shi naik tahta pada tahun 1663 dan semenjak kekuasaan Mancu makin besar dan kedudukan para patriot yang masih berusaha mempertahankan wilayah masing-masing makin terdesak dan ambruk, mulailah pemerintah penjajah yang baru ini mengadakan peraturan-peraturan yang amat menghina bangsa Tiongkok.

Penduduk dibagi dalam empat lapisan atau empat tingkat. Tingkat paling tinggi tentu saja diduduki oleh bangsa Mancu sendiri sebagai penjajah. Tingkat kedua terdiri dari bangsa Mongol yang sudah banyak membantu bangsa Mancu dalam penyerbuan ke Tiongkok, dan hal ini menunjukkan betapa cerdiknya bangsa Mancu yang hendak mengambil hati orang-orang Mongol agar tetap setia kepada mereka.

Selain bangsa Mongol juga suku bangsa lain yang telah membantu pemerintah Mancu, seperti suku bangsa Hui dan lain-lain. Tingkat ketiga diberikan kepada penduduk Tiongkok utara. Hal ini bukan saja karena penduduk Tiongkok utara lebih dulu ditaklukkan, juga karena di daerah ini telah terdapat percampuran darah karena antara penduduk Tiongkok asli dengan orang-orang Mongol dan Mancu sendiri. Setelah ini, barulah pada lapisan keempat atau tingkat paling rendah duduk orang- orang Tiongkok selatan yang masih saja ada yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Mancu di sana sini.

Banyak sekali orang-orang gagah, pahlawan-pahlawan rakyat di daerah selatan merasa sedih sekali dan memberontak terhadap pemerintah penjajah. Para patriot ini makin berduka dan mendongkol kalau ingat akan kerajaan Beng yang telah jatuh dan memeberikan tampuk kekuasaan kepada penjajah.

Semua ini dapat terjadi karena kaisar dan pembesar-pembesar Beng tidak becus mengurus negara. Korupsi dan penyuapan merajalela, tidak ada seorangpun pembesar yang jujur, semuanya ahli korupsi dan pemakan sogokan. Kalau ada pembesar yang jujur dan setia, tentu pembesar ini akan dimakan oleh rekan-rekan sendiri yang mengkhianati dan mencelakakannya dengan pelbagai jalan rendah.

Itulah yang menyebabkan lemahnya pemerintah Beng, pemerintah yang dipegang oleh bangsa sendiri. Karena kaisarnya lalim dan para petugasnya menyeleweng dari kebajikan. Negara yang dipimpin oleh kaisar yang kurang tegas, yang membiarkan petugas-petugas menyeleweng tanpa bertindak keras karena dia sendiri mabok kesenangan dunia, sudah tentu menjadi lemah dan mudah diserbu oleh bangsa lain. Demikianlah keadaan kerajaan Beng di Tiongkok dan setelah negara dijajah oleh bangsa Mancu, barulah rakyat yang merasakan pahit-getirnya dan para pendekar mati- matian melakukan perlawanan.

Namun semua perlawanan sia-sia belaka karena keadaan pemerintah Mancu sudah amat kuat. Tidak saja mempunyai bala tentara yang kuat dan mendapat bantuan suku-suku bangsa di utara, juga sebentar saja muncul pengkhianat-pengkhianat bangsa. Mereka ini tidak lain adalah bangsawan- bangsawan Beng dan tuan-tuan tanah yang pada waktu kerajaan Beng sudah hidup enak-enak, sekarang mempergunakan siasat bunglon. Mengandalkan harta mereka, dengan muka menjilat-jilat dan ekor dilipat seperti anjing-anjing rendah, mereka datangi “tuan-tuan baru” mereka ini sambil membawa hadiah-hadiah. Akhirnya mereka diterima oleh pemerintah baru, bahkan dijadikan kaki tangan dan pembantu pemerintah Mancu.

Memang orang-orang Mancu itu cerdik sekali. Mereka tahu bahwa rakyat kecil tidak suka melihat tanah air dijajah dan tentu mereka akan menjumpai tentangan dan perlawanan rakyat. Akan tetapi mereka cukup maklum pula akan kehidupan rakyat yang melarat, akibatnya dari pada ketidak becusan pemerintah Beng yang lalu. Jika rakyat ini tidak mendapat sokongan orang-orang kaya, tuan-tuan tanah dan bangsawan-bangsawan Beng, sudah dapat dipastikan perlawanan rakyat itu takkan ada artinya. Apa sih tenaga perlawanan rakyat yang sudah hampir kelaparan? Karena ini maka pemerintah penjajah ini dengan sengaja membaiki orang-orang bangsawan, hartawan dan tuan tanah, mengumumkan takkan mengganggu harta milik mereka asal saja mereka ini mau tunduk kepada kerajaan Ceng.

Yang paling hebat di antara praturan yang menghina bangsa Tiongkok adalah kewajiban bagi orang-orang Tiongkok untuk memelihara rambut dan mengelabangnya ke belakang seperti ekor! Biarpun lambat laun hal ini bahkan merupakan semacam ”mode baru”, namun pertama kalinya benar-benar dirasakan sebagai penghinaan hebat dan entah berapa puluh ribu orang yang tewas karena memberontak dan sengaja tidak mau memenuhi perintah menghina ini!

Demikianlah sedikit tentang keadaan orang-orang Tiongkok setelah pemerintah penjajah Mancu berkuasa di sana. Tentu saja banyak sekali hal-hal terjadi, banyak cerita-cerita tentang keadaan ini yang kalau ditulis semua mungkin akan menghabiskan beberapa jilid buku. Pendeknya, kaum penjajah selalu berusaha melemahkan penduduk tanah jajahannya dengan berbagai jalan, menindas lahir batin.

Akan tetapi ada hal aneh terjadi di Tiongkok, yang menjadi kebalikan dari pada keadaan tanah- tanah terjajah lain di dunia ini, dan sekali gus menunjukkan betapa tebal kepribadian bangsa Tiongkok serta betapa hebat pengaruh kebudayaan mereka. Sejarah menunjukkan betapa kaum penjajah itu selain menghisap kekayaan tanah jajahan, juga memasukkan kebudayaan, agama dan lain-lain ke tanah jajahan untuk dijejalkan kepada penduduk tanah jajahan. Akan tetapi keadaan di Tiongkok malah sebaliknya.

Kepribadian asli penduduk Tiongkok demikian tebal sehingga tidak dapat ditembus oleh cara-cara penjajah. Kebudayaan Tiongkok demikian kuatnya sehingga tidak goyah oleh kebudayaan baru yang dibawa penjajah. Malah sedemikian kuatnya lambat laun para penjajah itu sendiri yang terbawa hanyut oleh kebudayaan Tiongkok.

12. Peminum Darah Pek-hiat-sin-coa

HAL ini agaknya sukar dipercaya akan tetapi kembali sejarah yang mencatatkan betapa bangsa Mancu itu setelah menjajah Tiongkok, melihat kebudayaan dan kepribadian Tiongkok lalu terpicuk. Mereka mulai berbahasa Tiongkok, tidak hanya dengan penduduk asli, malah membawa bahasa tanah jajahan ini ke dalam rumah tangga.

Hidup mereka juga seperti orang Tiongkok, berpakaian seperti orang Han, bahkan mereka mengundang guru-guru bangsa Han untuk mengajar mereka dalam hal membaca dan menulis, mempelajari kesusasteraan dan filsafat Tiongkok. Dengan cara ini, dalam satu dan dua generasi saja orang-orang Mancu ini boleh dibilang sudah melebur diri dengan menjadi orang Han, hidup, berpakaian dan bicara seperti orang Han dan sebagian besar di antara mereka sudah tidak dapat bicara dalam bahasa Mancu lagi! Ini aneh tapi kenyataan!

Baiklah kita kembali kepada cerita kita. Dalam penyerbuan ke Tiongkok seperti sudah dituturkan tadi, bangsa Mancu banyak mendapat bantuan orang-orang Mongol. Orang yang banyak sekali jasanya dalam bantuan ini kiranya adalah pangeran Bhok Hong. Menurut kata orang-orang Mongol. Pangeran Bhok Hong ini masih keturunan kaisar Jenghis Khan yang amat termasyhur di Mongol, kaisar yang menaklukkan hampir separuh dunia itu.

Dan di dunia kang-ouw, pangeran Bhok Hong ini dijuluki Pak-thian-tok, nama julukan yang membuat setiap orang gagah menggigil karena nama ini terkenal sakti, aneh dan kejam. Tentu saja pemerintah Mancu amat menghargai pangeran ini dan segera pangeran ini diberi kedudukan sebagai Raja Muda, diberi gedung indah besar di Peking dan mendapat penghormatan besar. Karena itu kekuasaan pangeran Bhok Hong juga besar sekali, dan otomatis putera tunggalnya, Bhok-kongcu, juga amat terkenal dan berpengaruh.

Bhok-kongcu atau Bhok Kian Teng adalah seorang pemuda yang memiliki otak luar biasa tajamnya, mempelajari ilmu kesusasteraan. Ia pandai sekali dan bakatnya untuk ilmu silat juga jarang bandingannya. Sudah banyak ia mewarisi ilmu silat ayahnya, dan semua guru-guru sastera yang pandai di ibu kota rata-rata memuji ketajaman otaknya. Maka tidak berlebihan kalau Bhok- kongcu segera mendapat sebutan bun-bu-coan-jai di kota raja.

Dia tampan dan halus tutur sapanya, siapa melihatnya tentu menjadi suka, apalagi gadis-gadis yang melihat pemuda tampan dan halus serta amat pandai ini, siapa yang takkan jatuh hati? Sayang seribu sayang, di balik semua kebaikan ini pada dasar hatinya Bhok Kian Teng adalah seorang pemuda yang sudah dikuasai oleh nafsu-nafsunya.

Ia mengumbar nafsu, mengambil setiap gadis yang menarik hatinya sebagai selir dan pelayan, dan dalam cara mendapatkan gadis-gadis ini ia menggunakan jalan apa saja. Dengan cara membeli, membujuk, atau kalau perlu dengan kekerasan! Dan disamping amat pesolek dan cabul, juga pemuda ini agaknya mewarisi watak ayahnya yang amat aneh dan kejam sekali. Inilah Bhok- kongcu yang dalam pesiarnya telah bertemu dengan Bi Eng!

Tentu saja gadis ini tidak pernah mimpi orang macam apa adanya pemuda yang ia anggap baik budi itu! Kalau ia tahu siapa adanya Bhok-kongcu, tentu ia akan menjadi ngeri. Akan tetapi, sejahat-jahat dan sepandai-pandai manusia, ia tentu lemah tak berarti kalau menghadapi kekuasaan alam.

Demikianpun dengan Bhok-kongcu. Keanehan terjadi pada dirinya. Biasanya, kalau melihat gadis cantik yang menarik hatinya, tanpa banyak cincong lagi tentu akan mendapatkan gadis ini sebagai kekasih dan selirnya dan di antara seratus orang gadis, kiranya belum tentu satu yang dapat lolos dari jari-jari tangannya. Akan tetapi aneh bin ajaib, begitu berhadapan dengan Bi Eng, hati Bhok Kian Teng tiba-tiba menjadi lunak! Ia tidak sampai hati mengganggu Bi Eng, tidak tega menggunakan cara-caranya yang sudah biasa, yaitu dengan kekerasan mengandalkan kepandaiannya, dengan bujukan disertai minuman-minuman beracun yang memabukkan, dan cara- cara keji lainnya.

Tidak, ia tidak mau menggunakan cara ini menghadapi Bi Eng. Malah anehnya, ia mengharapkan cinta kasih yang suci dan sewajarnya dari gadis ini! Memang, aneh sekali cinta kalau sudah menempati hati manusia. Yang lemah menjadi kuat, yang halus menjadi kasar, yang kuat menjadi lemah, yang kasar menjadi halus, yang baik menjadi jahat, yang jahat menjadi baik dan sebagainya!

Bi Eng sama sekali tidak tahu bahwa Bhok Kian Teng sebetulnya merupakan orang yang jauh lebih berbahaya dari pada orang-orang jahat yang pernah ia jumpai, lebih jahat dari pada hwesio Goan Si malah. Juga ia tidak tahu bahwa dibalik semua penghormatan, selain pemuda ini betul-betul telah jatuh cinta kepadanya, juga di dalam otak yang cerdik dari Bhok-kongcu telah diatur rencana yang hebat.

Tentu saja sebagai seorang muda yang luas pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, Bhok Kian Teng sudah mendengar pula tentang adanya surat wasiat Lie Cu Seng dan ia dapat mengetahui pula bahwa surat wasiat itu tentu berada di tangan Cia Han Sin. Inilah sebabnya ia tidak ragu-ragu lagi menitah Yo Leng Nio untuk pergi menolong Han Sin! Jika ia bisa mendapatkan surat wasiat itu, ah, itulah sesuai dengan cita-citanya yang maha besar, cita-cita yang dahulu pernah dimiliki dan dilakukan dengan berhasil oleh nenek moyangnya, Jengis Khan! Cita-cita untuk menguasai Tiongkok kembali, menguasai Asia, menguasai dunia!

****

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Cia Han Sin, marilah kita menengoknya. Seperti telah kita ketahui, pemuda ini ketika hendak melarikan diri pundaknya terkena paku Coa-kut-teng (Paku Tulang Ular) yang dilepas oleh Tok-gan Sin-kai si pengemis mata satu dari Coa-tung Kai-pang sehingga Han Sin terguling dan bersama Siauw-ong terjerumus ke dalam sebuah jurang! Sungguh masih untung baginya, atau lebih tepat lagi, nyawanya masih dilindungi Tuhan.

Jurang itu biarpun amat dalam, namun di lerengnya tumbuh pohon-pohon kecil sehingga ketika tubuh pemuda itu menggelundung ke bawah, ia tertahan-tahan oleh tetumbuhan itu. Memang pakaiannya koyak-koyak berikut kulit tubuh dan sedikit dagingnya, namun ia tidak sampai mengalami patah tulang atau luka parah.

Pula, ia sudah pingsan ketika jatuh sehingga tubuhnya menjadi lemas dan hal ini amat menguntungkan baginya. Orang yang terjatuh dalam keadaan tidur atau pingsan sehingga tubuhnya lemas, tidak akan mengalami luka lebih hebat dan parah dari pada kalau orang jatuh dalam keadaan sadar. Dalam sadar tentu orang yang jatuh melakukan perlawanan, tubuhnya menegang dan karenanya malah terbanting hebat.

Dengan mandi darah dari kulit-kulit yang lecet, Han Sin menggeletak di dasar jurang. Siauw-ong yang sebagai seekor monyet tentu saja lebih gesit, tadi sudah berhasil menjambret tetumbuhan dan berlompatan turun. Kini dengan cecowetan sedih binatang ini menangisi tubuh tuannya. Luka-luka kecil yang diderita oleh Han Sin sebetulnya tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah luka di pundaknya di mana masih menancap sebatang paku yang mengandung racun.

Hanya sebentar Han Sin pingsan. Biarpun pemuda ini tidak pernah melatih diri dengan ilmu silat, namun latihan-latihan samadhi dan bernapas yang ajaib membuat tanpa ia sadari, tubuhnya menjadi amat kuat dan jalan darahnya benar-benar sempurna. Juga sinkang di dalam tubuhnya sudah luar biasa sekali sehingga hawa beracun dari ujung paku itu dapat tertahan, tidak menjalar turun.

Ketika membuka mata dan melihat Siauw-ong menangis di dekatnya, Han Sin ingat akan semua kejadian. Ia bangun duduk dan menarik napas panjang, sama sekali tidak mengeluh biarpun seluruh tubuhnya terutama pundaknya, sakit-sakit. Ia melirik kepada Siauw-ong lalu merangkul monyet itu dan mengelus-elus kepalanya. Hatinya terharu.

Tidak dinyana sama sekali bahwa berkali-kali ia bertemu dengan manusia-manusia yang begitu jahat. Tadinya ia berpikir bahwa manusia-manusia di dunia ini tentulah baik dan cinta sesama. Akan tetapi kenyataannya, begitu turun gunung ia sudah menemui orang-orang seperti para tosu Cin-ling- pai yang tanpa sebab menyerang dan menawannya.

Ban Kim Cinjin yang suka membunuh orang, Thio Li Hoa yang demikian cantik akan tetapi ternyata kejam dan palsu, kemudian para pengemis tua yang juga jahat dan telah melukainya. Semua ini membuat hati Han Sin terheran-heran dan tercengang. Siauw-ong, biarpun seekor monyet, bukan manusia ternyata lebih baik dari pada manusia-manusia itu, pikirnya. Benar-benar Han Sin tidak mengerti dan penasaran sekali.

Lalu ia teringat akan kata-kata suhunya, Ciu-ong Mo-kai yang dahulu menyatakan bahwa di dunia kang-ouw banyak orang jahat. Dahulu ia mentertawakan gurunya ini, akan tetapi sekarang, baru beberapa lama turun gunung ia sudah menjadi korban kejahatan manusia. Entah kejahatan- kejahatan lebih hebat bagaimana lagi yang akan ia lihat kelak. Ia bergidik dan merasa khawatir sekali akan keselamatan adiknya Bi Eng.

”Aku harus dapat pergi dari sini menyusul Bi Eng,” pikirnya dengan hati tetap. Ketika ia bangkit berdiri, ia merasa pundaknya sakit sekali. Dilihatanya pundaknya itu dan kelihatan sebuah kepala paku menancap. ”Ah, pengemis tuia itu menyambit dengan paku,” pikirnya. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengulur tangan dan mencabut paku itu dari pundaknya. Tenaga lweekang pemuda ini luar biasa besarnya tanpa ia ketahui sendiri. Ke mana jalan pikirannya menuju, ke situlah tersalur tenaga sinkang di dalam tubuhnya. Inilah tingkat yang sudah amat tinggi. Begitu ia berpikir hendak mencabut paku itu, tenaga yang amat besar sudah tersalur ke dalam jari-jari tangannya dengan amat mudah ia mencabut paku Coa-ku-teng. Darah hitam muncrat keluar.

Han Sin kaget. ”Celaka,” pikirnya. ”Paku ini mengandung racun, harus kukeluarkan semua racun dari pundak.” Begitu pikirannya memikir demikian, hawa sinkang mendorong ke pundak, memaksa jalan darahnya mengalir cepat ke arah pundak dan segera darah hitam keluar banyak sekali seperti pancuran. Akhirnya darah hitam habis, terganti darah merah. Han Sin menutupi luka dengan jari tangannya, namun tidak berhasil menghentikan keluarnya darah. Makin banyak darah keluar membuat ia bingung sekali.

“Celaka, mengapa darah keluar terus? Kalau habis darahku, bukankah aku mati?” Dengan sekuat tenaga pikirannya ia menghendaki darah berhenti dan ….. tiba-tiba darah itu berhenti keluar.

Hatinya lega dan perasaannya menjadi nyaman. Tak terasa sakit lagi luka dipundaknya, akan tetapi ia merasa tubuhnya lemas. Terlampau banyak darah ia keluarkan.

”Siauw-ong, kita harus bisa keluar dari jurang ini,” kata pemuda itu kepada monyetnya. Siauw-ong agaknya mengerti akan maksud majikannya. Maka binatang ini mulai mencari ke sana ke mari, jalan keluar. Akan tetapi agaknya jalan keluar hanya satu, yaitu merayap kembali melalui tetumbuhan ke atas. Maka sambil cecowetan monyet itu lalu mulai melompat-lompat dan merayap ke atas.

”Tidak, Siauw-ong. Tidak boleh lewat sana. Selain sukar dan aku tidak sanggup, juga di atas banyak orang-orang ” Ia hendak menyebut ”jahat” akan tetapi dasar hati pemuda ini mudah

memaafkan orang, ia melanjutkan. ” sedang marah! Marah kepada kita. Mari kita mencari jalan

lain!”

Iapun mulai menengok ke sana ke mari. Jurang ini dikurung batu karang yang tinggi, di sebelah kiri terdapat jurang yang lebih dalam lagi. Akan tetapi jalan menuruni jurang ini melalui batu-batu karang yang menonjol dan agaknya bisa dilalui. Maka dengan nekad Han Sin lalu merayap turun melalui jalan berbahaya itu. Siauw-ong sendiri mengeluarkan bunyi ketakutan dan ngeri melihat ke bawah yang dalamnya sampai ratusan meter. Sekali terpeleset habislah riwayat! Akan tetapi

karena melihat Han Sin nekat, iapun lalu merambat turun, malah mendahului pemuda itu.

Setelah turun sejauh puluhan meter, tiba-tiba Siauw-ong berseru cecowetan, kelihatan girang. Ternyata dia tiba di sebuah guha yang besar. Han Sin juga menuju ke situ dan keduanya lalu memasuki guha, untuk beristirahat karena jalan yang dilalui tadi amat sukar dan melelahkan, apalagi bagi Han Sin yang sudah lemas tubuhnya.

Siauw-ong tentu saja tidak begitu merasa lelah dan monyet ini tidak mau diam, terus menggeretak ke sana ke mari di dalam gua. Tiba-tiba monyet itu memekik dan mencongkel batu bentuknya lonjong. Batu itu bergoyang lalu tergeser dan terbukalah sebuah lubang selebar dua kaki lebih dan pada saat itu terdengar suara mendesis dan tahu-tahu tubuh Siauw-ong telah dibelit oleh seekor ular putih yang panjangnya ada satu setengah meter dan besarnya selengan orang! Siauw-ong menjerit dan menggigit sekenanya. Ia kena menggigit ekor ular itu dan dia sendiri digigit pundaknya oleh ular tadi. Siauw-ong bergulingan, akan tetapi belitan ular makin mengeras.

Melihat Siauw-ong dibelit dan digigit ular, bukan main bingung dan kagetnya hati Han Sin. Dia merasa ngeri, akan tetapi untuk menolong monyet itu, cepat ia meloncat mendekat. Ia berusaha melepaskan belitan, dan menggunakan tangannya untuk merenggangkan tubuh ular dari Siauw-ong. Akan tetapi tiba-tiba lengannya dibelit juga dan ular itu saking marahnya, sudah membalikkan kepalanya, melepaskan gigitan dari pundak Siauw-ong dan kini secepat kilat ia menyerang Han Sin, menggigit lambung pemuda itu sebelah kanan!

Tadinya Han Sin tidak bermaksud membunuh ular itu. Hatinya terlampau baik untuk gampang- gampang membunuh, biarpun seekor ular. Akan tetapi melihat ular itu masih mengancam keselamatan Siauw-ong, malah sekarang menggigitnya, ia menjadi marah. Begitu menggigit ia merasa separuh tubuhnya yang sebelah kanan mati dan kaku, gatal-gatal dan sakit luar biasa. Ia mencoba menggerakkan kedua tangan, akan tetapi tangan kirinya sudah dibelit dan tangan kanannya juga ikut mati kaku.

Dalam gugupnya, tanpa pikir panjang lagi Han Sin menggunakan senjatanya yang paling sederhana, yaitu …. giginya! Ia menunduk dan di lain saat ia sudah berbuat seperti Siauw-ong tadi, menggigit sekenanya. Kebetulan sekali ia menunduk ke kanan, maka ketika ia membuka mulut menggigit, ia dapat menggigit leher ular itu.

Ia menggigit sekerasnya, darah muncrat keluar dari tubuh ular memenuhi mulutnya. Ia tidak perduli, malah menelan darah itu terus menggigit dan menghisap. Aneh sekali, darah ular itu biarpun berbau amis dan memuakkan, namun terasa ada manis-manisnya. Mati-matian Han Sin terus menghisap dan menelan darah ular seperti orang minum! Sampai tenggorokannya terdengar berceglukan!

Ular putih itu kesakitan, belitan dan gigitannya makin keras dan akhirnya Han Sin roboh terguling sambil terus menggigit. Ular itu bergulingan di dalam guha, membawa Han Sin dan Siauw-ong sehingga tiga macam makhluk itu bergulingan menjadi satu dalam keadaan kacau balau. Seperti Han Sin, Siauw-ong juga masih menggigit ekor dan kera inipun menghisap dan menelan darah ular yang memasuki mulutnya. Benar-benar perkelahian ini merupakan perkelahian liar dan keadaan Han Sin pada saat itu sudah bukan seperti manusia lagi, melainkan seperti seekor binatang yang marah dan sedang berkelahi.

Gigitan ular mengeluarkan bisa, membuat separuh tubuh Han Sin dan tubuh Siauw-ong juga kaku- kaku rasanya. Akan tetapi sebaliknya, gigitan Siauw-ong dan Han Sin malah mengisap darah. Tentu saja darah ular itu makin lama makin berkurang, apalagi bagi Han Sin yang menghisap dengan kekuatan luar biasa, sehingga setengah jam kemudian ular itu kehabisan darah, lemas dan tidak berkutik lagi. Sembilan puluh persen lebih darah ular itu berikut semua racun dan benda cair di dalam tubuhnya telah pindah ke dalam perut Han Sin, yang sepuluh persen kurang pindah ke dalam perut Siauw-ong! Ular mati dan Han Sin bersama Siauw-ong masih terus menggigit, juga tidak bergerak seperti mati karena sesungguhnya mereka berdua sudah pingsan!

Sejam kemudian Han Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa tubuhnya panas membara dan ringan seakan-akan hendak melayang. Ketika ia melirik ke arah Siauw-ong, ia melihat monyet itu sudah duduk bersandar di dinding guha sambil cengar-cengir dan makan ekor ular mentah!

“Eh, Siauw-ong, kenapa kau makan daging ular yang mentah?” teriak Han Sin dan telinganya menjadi sakit sendiri mendengar suaranya yang tinggi nyaring seperti orang berteriak-teriak. Siauw- ong tidak menjawab, melainkan meloncat dan menginjak-injak tubuh ular sambil menepuk-nepuk pundaknya yang mana tampak bekas gigitan ular yang sudah kering. Ia merasa heran dan cepat melihat ke arah lambungnya sendiri yang tadipun digigit ular. Juga di situ terdapat bekas gigitan, akan tetapi sudah kering sama sekali!

Han Sin mencoba untuk memikirkan perbuatan Siauw-ong. Akhirnya ia mengerti maksudnya. Kera itu lapar, dan karena ular itu sudah menggigitnya, maka untuk melampiaskan marahnya, kera itu lalu makan dagingnya! Han Sin juga merasa perutnya lapar sekali. Karena di situ tidak ada makanan lain dan Siauw-ong kelihatan enak sekali makan daging ular, iapun lalu meraih bangkai ular dan menggigit dagingnya.

Luar biasa! Daging itu biar mentah, akan tetapi tak dapat dibantah lagi rasanya enak! Gurih dan manis, biarpun agak amis-amis sedikit. Ia makan dengan bernafsu, malah anehnya, makin mendekati kepalanya makin enak. Akhirnya Han Sin makan kepala ular itu!

Tanpa mereka sadari, Han Sin dan Siauw-ong telah makan obat pemusnah racun ular itu. Ular itu bukanlah sembarang ular, melainkan sejenis binatang beracun yang hanya keluar seribu tahun sekali. Binatang ular ini oleh ahli-ahli pengobatan disebut Pek-hiat-sin-coa (Ular ajaib darah putih). Biasanya tidak seberapa besar, maka ular yang telah mencapai panjang satu setengah meter ini entah sudah berapa ratus tahun usianya. Ular ini beracun sekali, gigitannya tidak ada obatnya, juga darahnya amat berbisa. Akan tetapi penolak racun itu terletak dalam daging-dagingnya sendiri!

Maka setelah Han Sin dan Siauw-ong digigit, mereka tanpa disadari telah minum darah ular yang berbisa luar biasa itu, kemudian makan dagingnya. Otomatis racun yang berbahaya lenyap pengaruhnya dan sebaliknya, mereka telah mendapatkan obat kuat yang tiada bandingnya di dunia ini. Apalagi bagi Han Sin yang sudah minum darah ular sebanyak sembilan puluh persen lebih, ditambah lagi baru saja ia kehilangan banyak darah sehingga sebagian dari pada darah dalam tubuhnya terganti oleh zat darah ular itu, akibatnya bukan main.

Memang di dalam tubuh pemuda ini sudah terdapat sinkang (hawa sakti) yang mujizat, sekarang ditambah kemujizatan darah dan daging ular. Benar-benar hal yang amat jarang terjadi. Oleh karena pengaruh darah inilah ia merasa tubuhnya menjadi ringan seperti mau melayang. Adapun rasa panas yang membakar tubuhnya, setelah ia makan daging ular perlahan-lahan lenyap dan di dalam pusarnya malah terasa amat nyaman dan adem.

Keadaan Siauw-ong juga mendapat banyak sekali keuntungan. Tanpa diketahui, tubuh monyet ini sekarangpun menjadi sepuluh kali lebih kuat dari pada tadinya. Dia bertubuh kecil, darahnya juga tidak sebanyak darah manusia, maka sepuluh persen darah ular itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ia menjadi seekor monyet yang jarang keduanya di dunia ini. Kegesitannya bertambah lipat ganda, kekuatannya juga menjadi hebat dan kecerdikannya meningkat.

“Siauw-ong, sekarang kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini! kata Han Sin setelah menghabiskan daging ular dan merasa tubuhnya sehat dan segar kembali.

Siauw-ong memang sedang menyelidiki lubang yang tadi tertutup dan dari mana ular tadi keluar. Ia merayap masuk dan terdengar suaranya memanggil-manggil. Han Sin menghampiri dan ikut merayap ke dalam lubang itu. Ternyata lubang itu makin lama makin besar, merupakan terowongan di dalam batu karang atau gunung karang.

Mereka terus mengikuti terowongan ini dan seperempat jam kemudian mereka tiba di ruangan dalam tanah yang amat besar. Dinding-dinding di ruangan ini terang sekali buatan manusia, bekas pahatan. Han Sin melangkah maju dengan heran, sedangkan Siauw-ong sudah melompat ke atas pundaknya. Agaknya binatang ini mencium bau manusia, maka mengingat pengalaman yang sudah- sudah, ia menjadi jerih dan pergi ke tempatnya yang paling aman, yakni pundak Han Sin.

Pada saat itu telinga Han Sin mendengar suara bersiutan yang amat aneh dari sebelah kiri, diseling suara orang mengeluh panjang pendek. Ia segera berindap-indap menuju ke kiri di mana terdapat sebuah pintu yang tidak berdaun. Karena tidak ingin mengganggu orang, atau sebetulnya karena sudah agak kapok bertemu dengan orang jahat, Han Sin sengaja bertindak perlahan sekali agar jangan menimbulkan suara.

Padahal ia tidak usah bersusah payah begini. Kalau saja ia memusatkan pikiran untuk berjalan perlahan, tentu tubuhnya yang sudah ringan itu takkan menerbitkan suara apa-apa. Setibanya di situ, ia lalu berlutut dan mengintai dari balik pintu, melihat ke dalam. Tempat ini agak terang karena dari atas terdapat lubang-lubang di mana sinar matahari dapat menerangi kamar itu.

Kamar yang diintainya itu cukup lebar, berbentuk segi empat dengan ukuran lima meter persegi. Di sudut kamar terdapat sebuah patung sebesar manusia. Patung yang telanjang bulat dan pada tiap anggauta tertentu ada titik-titiknya, ada yang hitam, ada yang merah, ada pula yang putih. Di tengah ruangan kamar ini terdapat sehelai tikar bundar dan di atas tikar duduk seorang kakek yang sudah amat tua.

Kakek ini kurus sekali, tinggal kulit membungkus tulang. Kepalanya hampir botak karena rambutnya yang putih tipis itu tinggal beberapa helai lagi saja. Pakaiannya putih, seperti pakaian tosu. Ternyata kakek inilah yang mengeluarkan suara keluhan panjang pendek dan kini dengan jelas Han Sin mendengar kakek itu mengeluh penuh kesedihan. “Maut ….. maut …. Tunggulah dulu, bersabarlah ……”

Han Sin merasa mengkirik (meremang) gitoknya (bulu tengkuknya) Masa ada orang bicara dengan maut? Gilakah kakek ini atau benar-benarkah di tempat itu ada setan atau malaikat pencabut nyawa?

Tiba-tiba terdengar suara bersiutan seperti tadi dan dengan penuh perhatian Han Sin memandang ke dalam. Ternyata kakek itu dengan duduk bersila, sedang menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti orang bersilat. Ia menggerakkan kedua tangannya perlahan saja, akan tetapi hebatnya, tiap kali tangannya bergerak terdengar angin bersiut dan patung di pojok kamar bergoyang-goyang.

Ternyata kakek itu sedang menyerang patung itu dari jarak jauh dan tiap kali tangannya memukul, angin tajam bersiut ke arah titik tertentu dari tubuh patung itu. Han Sin melihat betapa pada titik yang terpukul itu, tubuh patung itu melesak ke dalam, akan tetapi lalu membal kembali. Ternyata patung itu terbuat dari pada karet yang keras.

Sambil bersilat dengan kedua tangan, kakek itu menyebut-nyebut jurus yang dimainkan itu satu demi satu. Pertama-tama ia menyebut “Hui-kiam-thian-sia” (Pedang Terbang Turun Dari Langit) dan tangannya bergerak menyerang patung dari atas. Angin bersiut keras dan batok kepala patung karet itu melesak sebentar. Disusul seruan, “Hui-kiam-ci-tiam (Pedang Terbang Keluarkan Kilat)!” lalu kedua tangannya berturut bergerak. Makin nyaring angin bersiutan dan dua titik di kedua pundak patung itu melesak!

Terus saja kakek itu bersilat dan menyebut jurus-jurus yang serba pakai “Hui-kiam” atau Pedang Terbang! Semua ada tiga puluh enam jurus dan setelah habis dimainkan, kakek itu terengah-engah, terbatuk-batuk dan nampaknya kehabisan tenaga. Lalu ia mengeluh panjang pendek lagi.

“Tiga puluh enam jurus Lo-hai-hui-kiam (Pedang Terbang Pengacau Laut) sudah lengkap! Sudah sempurna … uh ….uhhh … apa artinya? Apa gunanya? Kitab yang ditutup takkan ada gunanya! Ilmu dipelajari tanpa digunakan juga apa artinya? Lo-hai-hui-kiam akan lenyap bersama penciptanya, tak dikenal dunia ……uh …….uhhh …..!” Makin terengah napas si kakek itu dan tubuhnya bergoyang-goyang. Akan tetapi, tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya lagi dan mulai bersilat seperti tadi! Sementara itu, Han Sin yang mengintai merasa berdebar hatinya. Kata-kata kakek tadi seakan-akan menyindirnya. Ilmu dipelajari tanpa digunakan, bukankah itu menyindir dia? Dia sudah mempelajari banyak ilmu silat dari Ciu-ong Mo-kai, akan tetapi tak pernah mempergunakannya, malah melatih diripun tak pernah, padahal ia hafal di luar kepala segala gerakan dan rahasia ilmu silat Liap-hong Sin-hoat yang hebat dari gurunya.

Sekarang ia tanpa sengaja menyaksikan ilmu silat yang lebih hebat lagi. Ilmu silat Lo-hai-hui-kiam! Dasar otaknya memang cerdas luar biasa, satu kali melihat saja ketika kakek tadi berlatih, ia sudah dapat hafal semuanya, tiga puluh enam jurus sudah ia hafal di luar kepala, malah nama-nama jurusnya pun ia sudah ingat betul. Sekarang melihat kakek itu mengulang latihannya, diam-diam ia menggeleng kepala.

“Gila benar kakek ini, napas sudah empas-empis masih terus berlatih, apa dia sudah bosan hidup? Akan tetapi kenapa ia selalu minta maut bersabar?”

Diam-diam ia memandang lagi dengan penuh perhatian, malah ia lalu mencocokkan ingatannya dengan latihan kedua ini. Ia melihat tenaga pukulan kakek itu sudah banyak kurang kuat, gerakannya lambat, akan tetapi amat sempurna sehingga tiap serangan selalu mengenai sasaran titik-titik pada tubuh patung itu dengan tepat. Akan tetapi segera kakek itu nampak kehabisan tenaga sekali, napasnya terengah-engah, dari ubun-ubun kepalanya mengebul uap putih, tubuhnya menggigil dan mukanya pucat sekali. Padahal ia baru menjalankan jurus ke duapuluh, masih enam belas jurus lagi! Tapi toh kakek itu dengan keras kepala melanjutkan latihannya dan napasnya kini benar-benar seperti seekor kerbau disembeli.

Han Sin merasa kasihan sekali. Tak dapat ia tinggal diam saja melihat orang tua itu mau mati kehabisan napas. Sebetulnya, mengingat prikesopanan, ia segan untuk memasuki kamar orang tanpa izin. Akan tetapi, hatinya yang penuh welas asih lebih kuat dan melangkahlah ia memasuki pintu sambil berkata,

“Kakek yang baik, kenapa memeras tenaga secara begitu? Harap kau mengaso dan tidak menyiksa diri ….”

Kakek itu mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya membalik dan tahu-tahu tangan kanannya menusuk ke depan dengan dua jari sedangkan tangan kirinya diputar setengah lingkaran ke depan dada. Han Sin sudah hafal di luar kepala akan semua jurus yang dilihatnya tadi, maka dengan kaget ia mengenal itu sebagai jurus ke tujuh belas yang bernama Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan) dan maklum bahwa dadanya ditengah-tengah akan mendapat serangan.

Otomatis ia mengangkat tangannya ke depan dada untuk menyambut serangan itu. Benar saja, angin yang dingin dan kuat sekali bersiut ke arah dadanya dan ia merasa telapak tangannya yang ditutupkan di depan dada itu disambar hawa pukulan yang tajam. Akan tetapi, pukulan atau tusukan yang tidak kelihatan ini segera buyar dan kakek itu hampir terjengkang!

“Uuhh …… uhhh ……. Celaka. Ilmuku dicuri orang !” Kakek itu berseru, napasnya

memburu. Baiknya karena kehabisan tenaga, serangannya tadi hanya tinggal sepersepuluh kuatnya, maka Han Sin yang memiliki sinkang luar biasa itu tentu saja tidak merasa apa-apa, malah si kakek yang hampir terpukul terjengkang oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Han Sin cepat menjura dengan hormat sekali. ”Tidak, kakek yang baik. Aku bukan pencuri.” “Kau ……. Kau setan ” “Bukan, kakek. Aku bukan setan, hanya manusia biasa, namaku Cia Han Sin. Aku mohon maaf sebesarnya kalau sudah lancang memasuki tempat kakek karena aku sesat jalan, tidak kusengaja

…..”

Melihat sikap sungguh-sungguh dan lemah lembut ini, kakek itu nampak lebih tenang dan sabar. “Kau ….. kau yang bisa menahan jurus Hui-kiam-ci-tiam ….. kau mau apa datang ke sini ?”

“Bukan Hui-kiam-ci-tiam, lo-enghiong. Melainkan jurus Hui-kiam-kan-goat yang kau gunakan untuk menyerangku tadi. Kau agaknya sudah terlampau tua sampai lupa lagi ”

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan jeritan mengerikan dan muntahkan darah segar! Mendengar ucapan pemuda tadi ia menerima pukulan batin yang amat hebat karena kagetnya. ”Kau kau

......” dan ia roboh pingsan.

Han Sin kaget bukan main. Cepat ia melompat dan menolong kakek itu. Ia mengangkat kepala orang dan memangkunya, lalu mengurut-urut dada yang panas dan turun naik itu. ”Siauw-ong, kau cari air ” katanya.

Monyet yang tadi bersembunyi ketakutan, kini muncul lalu bingung mencari air. Tak lama ia datang lagi, kedua tangannya membawa sedikit air yang tentu saja tumpah ke sana sini. Akan tetapi sedikit air itu dipergunakan oleh Han Sin untuk membasahi muka si kakek yang segera membuka matanya yang memandang sayu, nampaknya lemah sekali sampai menggerakkan tubuh juga tidak sanggup lagi. Setelah memangku kakek itu, tahulah Han Sin bahwa kakek ini memang sudah tua sekali.

“Kau bilang tidak mencuri ilmu, tapi dapat mengenal jurus-jurusku ” kata kakek itu dengan

suara perlahan sekali. “Jangan kau bohong ……”

“Sesungguhnya, lo-enghiong, aku berani bersumpah bahwa aku tidak mencuri apa-apa. Aku terjatuh ke dalam jurang lalu mendapatkan jalan terowongan menuju ke sini. Kebetulan kau berlatih ilmu

Lo-hai-hui-kiam tadi. Tanpa kusengaja aku telah melihat dan mendengar semua dan telah hafal di luar kepala. Akan tetapi aku bukanlah ahli silat, harap kau tidak khawatir, kalau kau menghendaki, aku bisa lupakan lagi.”

Tiba-tiba mata kakek itu bersinar dan dengan payah ia bangun duduk. “Hebat ….. hebat orang

dengan bakat Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tak bisa lupa lagi) seperti kau ini sukar dicari keduanya di dunia eh, bocah, siapa namamu dan siapa gurumu?”

“Sudah kukatakan tadi, namaku Cia Han Sin ”

”She Cia .....?” kakek itu memotong cepat. “She Cia Kenalkah kau dengan Cia Hui Gan dan

Cia Sun?”

“Yang pertama adalah kongkongku, yang kedua ayahku,” jawab Han Sin sederhana.

Kakek itu bersorak. ”Kau anak Cia Sun ? Thian Yang Maha Mulia, agaknya Engkau sendiri yang

menuntun bocah ini ke sini! Eh, siapa nama gurumu?”

Han Sin tidak berani menyebut nama Ciu-ong Mo-kai sebagai gurunya. Pertama karena memang ia tidak pernah mempelajari ilmu silat dari pengemis sakti itu secara praktek, kedua kalinya karena melihat betapa orang-orang kang-ouw saling bermusuhan seperti yang terjadi di puncak Cin-ling- san, ia tidak mau menyebut-nyebut nama orang kang-ouw, takut menimbulkan hal yang bukan- bukan lagi. ”Guruku Thio-sianseng, siucai miskin akan tetapi kaya akan pengetahuan tentang sastera kuno dan dialah yang semenjak aku kecil mengajar segala macam ilmu sejarah, filsafat dan lain-lain.”

Kakek itu menggeleng-geleng kepala. ”Segala ilmu tiada guna! Apa kau tidak pernah belajar silat?”

”Tidak, lo-enghiong, tidak pernah. Malah sebetulnya saja, aku tidak suka akan ilmu silat yang kuanggap sebagai ilmu menyiksa, melukai atau membunuh orang.”

“Tutup mulutmu! Kau bicara begitu tentang ilmu silat? Kau yang sudah kekenyangan filsafat dan dongeng, tidak tahukah kau betapa para dewa, para nabi, juga Tat Mo Couwsu sendiri, disamping kebijaksanaan dan kesucian mereka, juga mereka itu memiliki ilmu-ilmu yang tinggi? Tentang menyiksa atau membunuh yang kaukatakan tadi, apa kau kira orang yang tidak bisa silat tak mampu menyiksa dan membunuh? Huk huk, anak hijau! Dengan pena dan tulisan orang malah dapat membunuh secara besar-besaran dan lebih kejam lagi dari pada dengan pedang! Manusia macam Cheng Kui itu, tanpa pedang ia dapat membunuh pahlawan besar Gak Hui dan ribuan orang gagah! Lihat tuan-tuan tanah, tanpa ilmu silat, hanya dengan goyang kaki di kursi dengan emas penuh di kantong, berapa banyak manusia baik-baik ia dapat membunuhnya?”

Setelah bicara dengan bernafsu sampai terengah-engah napasnya, tiba-tiba kakek itu teringat akan sesuatu dan memandang kepada Han Sin. Pemuda itu balas memandang dan kakek itu melihat sinar mata yang luar biasa dari pemuda ini.

“Eh, betul-betul kau tidak bisa ilmu silat?” tanyanya dan tahu-tahu tangan kanannya dengan cepat luar biasa sudah menepuk pundak Han Sin. Pemuda itu sama sekali tidak mengira akan ditepuk pundaknya, akan tetapi hawa sinkang di tubuhnya secara otomatis tersalur ke tempat yang ditepuk tadi.

“Ayaaa …..!” Kakek itu ketika menepuk bagian tubuh yang segera melesak ke dalam dan menjadi lunak sekali akan tetapi di dasarnya mengeluarkan hawa yang kuat dan amat panas sehingga tangannya terasa sakit lalu berteriak dan memeriksa tangannya. Ternyata tangannya itu telah menjadi bengkak dan biru, terkena racun!

“Jangan main gila! Kau ahli lweekeh, malah telah mempelajari ilmu menggunakan hawa beracun. Sungguh ganas!”

Han Sin menjadi bingung dan cepat berlutut.

“Ah, lo-enghiong yang mulia, kau tolonglah diriku. Sesungguhnya aku tidak pernah belajar silat, akan tetapi entah bagaimana, tiap kali ada orang memukulku, tentu dia terluka, malah ada yang mati ketika memukulku. Harap kau orang tua yang berkepandaian tinggi suka menolongku.”

Kakek itu duduk melenggong dengan heran. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Cia Han Sin, bersumpahlah bahwa kau benar-benar putera Cia Sun!” Suaranya biarpun lemah amat berpengaruh.

“Boanseng bersumpah bahwa memang Cia Sun adalah ayahku.”

“Di mana ayahmu sekarang?” tanya pula kakek itu, suaranya bengis. Han Sin terkejut akan tetapi ia menjawab juga. “Semenjak aku masih kecil sekali ayah telah dibunuh orang, juga ibuku. Akan tetapi siapa pembunuhnya sampai sekarang akupun belum tahu.” Kakek itu menarik napas lega, agaknya puas mendengar jawaban ini. “Kalau begitu kau betul puteranya, memang mukamu hampir sama dengan muka ayahmu. Cia Han Sin, sekarang kau ceritakanlah sebenarnya. Apakah kau benar-benar tidak pernah belajar ilmu silat?”

“Hanya mempelajari teori-teorinya dan menghafal semua gerakan dari ilmu silat yang diturunkan oleh suhu Ciu-ong Mo-kai kepada adikku, akan tetapi aku sendiri tidak pernah melatihnya.” Mendengar ini, Siauw-ong yang sejak tadi diam saja kini tiba-tiba cecowetan lalu mencak-mencak, memperlihatkan ilmu silatnya kepada kakek itu. Kakek itu mengangguk-angguk memuji. ”Ciu-ong Mo-kai makin tua makin lihai, adikmu beruntung sekali menjadi muridnya.” Kemudian ia menatap wajah Han Sin dengan tajam lalu bertanya lagi. ”Dan kau tidak pernah melatih diri dengan ilmu lweekang?”

”Apa itu ilmu lweekang, aku sendiripun tidak tahu,” jawab Han Sin sejujurnya. ”Pernah kau berlatih samadhi dan mengatur pernapasan?”

Wajah Han Sin berseri. ”Tentu saja, semenjak berusia lima enam tahun aku sudah melatih diri bersamadhi dan mengatur napas menurut petunjuk kitab-kitab kuno. Malah sampai sekarangpun setiap saat aku berada dalam keadaan samadhi kalau diam dan setengah samadhi kalau bicara dengan orang.”

Wajah kakek itu nampak tegang. “Hebat, coba kau perlihatkan bagaimana kedudukan tubuhmu kalau kau bersamadhi.”

”Harap lo-enghiong jangan mentertawai aku yang bodoh,” kata Han Sin lalu ia berjungkir balik, dengan kepala di bawah kaki di atas ia ”berdiri” di depan kakek itu, kedua lengannya bersedekap. Namun biarpun tubuhnya berada dalam keadaan seperti itu, ia dapat ”berdiri” tegak seperti sebatang tonggak, sedikitpun tidak goyang dan kelihatan ”enak” sekali. Melihat kongcunya melakukan perbuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya itu, Siauw-ong lalu meniru-niru dan berjungkir balik. Akan tetapi setiap kali tubuhnya menggelundung lagi dan mengusap-usap kepalanya yang menjadi sakit.

”Coba kau bernapas seperti kalau melakukan latihan samadhi,” kata kakek itu makin tegang sambil menghampiri. Han Sin tak usah diperintah lagi karena memang selalu pernapasannya wajar seperti kalau bersamadhi. Kakek itu lalu meraba-raba tubuhnya, dada, pundak, punggung, lambung dan tiap kali ia mengeluarkan suara ”ck .... ck ..... ck ” seperti orang bingung, heran dan kagum

bukan main.

“Cukup, duduklah anakku yang baik!”

Suaranya ramah dan gembira sekali sehingga Han Sin ikut menjadi girang ketika ia membalikkan tubuhnya dan duduk di depan kakek itu. “Apa kau pernah makan buah aneh atau barang luar biasa selama ini?”

Muka Han Sin menjadi merah. “Ketika hendak memasuki terowongan ini, Siauw-ong diserang ular kulit putih, aku membantunya dan dalam pertarungan itu, aku telah minum darah ular banyak sekali, lalu karena penasaran padanya dan lapar perutku, kumakan dagingnya.

Kakek itu kini bengong, matanya terbelalak mulutnya terbuka seperti guha. “Kau bilang ular …. Ular kulit putih …. Matanya seperti bola api….?”

”Memang mata ular itu mencorong seperti bernyala-nyala ” ”Pek-hiat-sin-coa ....... Pek-hiat-sin-coa ..... (ular ajaib darah putih) !” kakek itu berseru berkali-

kali sambil menggoyang-goyang kepala, kemudian ia mendongak dan berkata, ”Cia Sun tai-hiap, kau benar-benar mempunyai putera yang selalu diberkati Thian, agaknya Thian hendak membalas jasa-jasamu dengan memberimu seorang putera yang besar untungnya .... ha ha ha !”

Kakek ini girang sekali dan diam-diam ia kagum bukan main. Bocah ini benar-benar tak pernah belajar ilmu silat, pikirnya, karena terlampau dalam mempelajari filsafat kebatinan sehingga tidak suka akan ilmu silat yang dianggapnya kejam dan kasar. Akan tetapi latihan-latihan samadhinya itu membawa dia tersesat ke dalam puncak kesempurnaan ilmu lweekang yang menjadi inti ilmu silat malah!

Dan darah ular Pek-hiat-sin-coa itu, menambah lagi kekuatannya. Bukan main! Agaknya bocah ini dituntun oleh arwah ayahnya datang ke sini untuk mewarisi ilmu yang baru kulatih selesai. Bukan main girangnya kakek itu sampai napasnya menjadi makin memburu dan tiba-tiba ia merasa seluruh tubuhnya lemas seperti ditinggalkan oleh tenaganya. Ia kaget dan tahu apa artinya ini. Maut benar- benar sudah tidak sabar dan agaknya tidak mau mernunggu lebih lama lagi.

13. Prahara di Cin-ling-pai

“HAN SIN, ketahuilah. Aku sudah tua dan setiap saat aku akan mati. Maukah kau memenuhi permintaan seorang tua yang hampir mati?”

Han Sin kaget sekali. Dia terharu dan karena memang hatinya amat welas asih, mana dia bisa menolak permintaan orang?

“Orang tua yang baik, mati hidup di tangan Thian, bagaimana kau bicara tentang mati? Kalau saja permintaanmu itu dapat kulakukan, tentu aku akan memenuhinya.”

Jangan bicara plintat-plintut, pendeknya maukah kau memenuhi permintaan seorang yang mau mati, seperti aku ini atau tidak?”

“Asal saja ”

“Sebutkan syarat-syaratnya.”

“Asal jangan disuruh membunuh orang, asal jangan disuruh melakukan segala macam kejahatan, aku Cia Han Sin berjanji akan memenuhi permintaan kau orang tua.”

Kakek itu nampak girang sekali.

“Bagus, bicaranya seorang laki-laki ”

“Sekali keluar takkan dijilat kembali.” Han Sin menyambung, agak penasaran karena orang tidak percaya kepada janjinya.

“Benar! Kau kira aku orang apa hendak menyuruh kau melakukan kejahatan dan membunuh orang? Han Sin, ketahuilah, aku adalah ketua Cin-ling-pai dan namaku Giok Thian Cin Cu. Ahhh, segala nama kosong, memalukan saja. Permintaanku kepadamu hanya satu yakni kau kuminta menjadi muridku, murid yang hendak kuwarisi ilmuku Lo-hai-hui-kiam.” Karena sudah berjanji, biarpun di dalam hatinya ia tidak begitu suka kalau hanya mewarisi ilmu silat yang memang tidak disenanginya, maka Han Sin lalu berlutut dan berkata. “Teecu Han Sin memberi hormat kepada suhu Giok Thian Cin Cu.”

Bukan main girangnya kakek itu. “Bagus, kau benar-benar laki-laki sejati yang patut menjadi muridku. Sekarang, sebagai muridku kau harus segera menurut petunjukku mempelajari ilmu yang hendak kuturunkan kepadamu.”

“Ilmu Lo-hai-hui-kiam itu, suhu?” “Benar.”

“Maaf, suhu. Sebetulnya teecu teecu sudah hafal, kiranya tidak perlu melelahkan suhu untuk

mempelajarinya pula.”

“Benar-benar sudah hafal? Coba kau sebutkan satu-satunya jurus dan katakan bagaimana pergerakkannya.”

Han Sin duduk bersila dan mengerahkan tenaga ingatannya. Sambil menyipitkan mata melakukan pemusatan pikiran, ia lalu mulai menyebut jurus-jurus itu disertai penjelasannya. “Jurus pertama Hui-kiam Thian-sia, dengan kedua tangan miring yang kanan menjaga leher yang kiri dibacokkan ke bawah mengarah titik merah di ubun-ubun. Jurus kedua Hui-kiam-ci-tiam, dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah kedua titik biru di pundak.” Demikianlah, satu persatu ia menyebutkan dan melukiskan tiga puluh enam jurus dari Lo-hai-hui-kiam, demikian cocok dan tepat sehingga kakek itu mendengar sambil melongo!

Setelah pemuda itu selesai membaca semua jurus Lo-hai-hui-kiam, kakek itu lalu berkata. “Sekarang kau duduklah bersilah di sebelahku, kumpulkan semua pikiran seperti kalau bersamadhi dan turut segala perintahku sambil melihat titik-titik pada patung itu. Lekas aku hampir tidak kuat lagi. Lekas, kau harus mempelajari semua jalan darah dan titik-titik hawa dalam tubuh.”

Karena tadi sudah berjanji menjadi murid kakek ini, tentu saja Han Sin tidak berani membantah lagi. Mana ada aturannya seorang murid membantah petunjuk gurunya? Ia lalu duduk bersila dan memenuhi perintah kakek itu. Matanya memandang ke arah patung dan telinganya dibuka untuk mendengarkan petunjuk suhunya.

Setelah melihat muridnya siap, dengan suara perlahan, lambat dan jelas kakek itu lalu mulai memberi pelajaran tentang jalan darah di tubuh manusia. “Kau lihat, pada tubuh patung itu, terdapat dua belas jalan darah yang disebut Ki-keng-meh, Keng-siang-meh ditandai garis merah dengan pusat di bagian masing-masing dengan tanda titik merah dan Ki-keng-meh bertanda hitam. Semua jalan darah itu mengalir dari atas ke bawah yang di lambung itu, dengan titik di kanan kiri dan jalannya memutari pinggang, disebut Tai-meh ”

Demikianlah, kakek itu memberi petunjuk kepada Han Sin yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh pemuda ini. Han Sin merasa girang sekali karena pelajaran itu baginya tidak ada hubungannya dengan “ilmu membunuh”, maka sebentar saja ia telah dapat menghafalnya baik-baik.

“Kau sudah mengerti dan hafal semuanya?” tanya gurunya.

Han Sin mengangguk dan Giok Thian Cin Cu berkata lagi, “Sekarang kau rasakan, bukankah di pusarmu terdapat hawa yang terasa hangat dan bergerak-gerak?” Han Sin merasa heran bukan main. Bagaimana kakek ini bisa tahu apa yang terasa olehnya di dalam pusar? Memang semenjak kecil ia mempunyai perasaan seperti ini dan makin dewasa perasaan itu makin hebat seakan-akan hawa di pusar yang bergerak-gerak itu makin menjadi kuat dan tidak terkendalikan lagi. Kembali ia mengangguk.

“Nah, kau ingatlah pada jalan Tai-meh di lambung yang mengitari pinggang dan kau pergunakan kemauanmu untuk memaksa hawa hangat itu untuk melalui jalan darah itu.”

Secara membuta Han Sin menurut. Mula-mula hawa yang hangat di pusarnya itu karena tidak biasa dikendalikan, amat sukar untuk dipaksa bergerak. Akan tetapi setelah ia mengerahkan semangat, ia mulai dapat mendesak hawa itu dan benar saja, setelah pikirannya dan kemauannya bulat, hawa yang panas itu perlahan-lahan mulai bergerak mengitari pinggangnya menurut jalan darah Tai-meh!

“Berhasilkah? Kalau sudah berhasil, kau mengangguk!” kata kakek itu, suaranya perlahan tapi jelas. Han Sin mengangguk dan pemuda ini tidak melihat betapa gurunya memandang kepadanya dengan penuh kekaguman dan keheranan. “Sekarang, kau desak lagi hawa panas itu dari jalan darah Tai- meh melalui Keng-siang-meh menuju ke titik di dada kanan. Awas, jangan main paksa dengan kekerasan, pergunakanlah kekuatan pikiran dan sewajarnya saja.”

Demikianlah, Han Sin yang memang sudah memiliki sinkang tanpa ia ketahui sendiri sehingga ia tidak dapat mengendalikan dan mempergunakan hawa murni yang masih “liar” ini, perlahan-lahan dituntun oleh guru besar Cin-ling-pai yang sakti ini untuk dapat menguasainya. Inilah tingkat pelajaran yang tertinggi bagi seorang ahli lweekeh. Karena Han Sin memang memiliki darah dan tulang yang bersih, sebentar saja ia sudah dapat menguasai sinkangnya dan sudah dapat menjalankan hawa murni di tubuhnya berputar-putar di seluruh anggauta tubuhnya.

Bahkan tiga jam kemudian, ke mana saja ia menghendaki, hawa panas itu secepat kilat telah berada di tempat yang ia kehendakinya! Memang tadinya iapun sudah bisa mencapai tingkat ini dan ke mana pikirannya menuju, hawa itu otomatis “terbang” ke tempat yang ditujunya. Akan tetapi hal ini terjadi secara liar dan tidak teratur, bahkan sukar baginya untuk menyimpan kembali tenaga mujizat itu. Sekarang, berkat petunjuk Giok Thian Cin Cu, ia malah dapat menyimpan hawa ini di dalam pusarnya dan tidak sembarangan hawa murni itu bergerak tanpa tujuan.

“Bagus .... bagus ” kakek itu terengah-engah, payah dan lelah sekali akan tetapi puas. “Sekarang

kau sudah menjadi ahli Lo-hai-hui-kiam yang sukar dicari tandingannya di dunia ini! Dengar baik- baik, nama ilmu pedang yang diturunkan oleh susiok Hui-kiam Koai-sian kepadaku ini disebut Lo- hai-hui-kiam (Ilmu pedang pengacau lautan). Jalan darah di tubuh manusia diumpamakan lautan luas, maka serangan-serangan ilmu ini adalah untuk mengacau lautan atau jalan darah di tubuh lawan.

Misalnya jurus pertama Hui-kiam-thian-sia dipergunakan untuk menotok jalan darah di ubun-ubun kepala membuat lawan menjadi tewas atau sedikitnya menjadi rusak otaknya dan gila. Jurus kedua Hui-kiam-ci-tiam itu dipergunakan untuk menotok jalan darah kedua pundak lawan, membuat musuh jadi lumpuh kedua tangannya atau terlepas sambungan tulang-tulang pundaknya dan jurus ketiga ”

“Celaka !” tiba-tiba Han Sin mengeluh dengan suara kaget sekali.

Giok Thian Cin Cu memandang dan melihat muridnya menatap wajahnya dengan muka pucat dan mata terbelalak. Ia tahu apa yang membuat pemuda itu terkejut. Biarpun keadaan kakek ini sudah payah, melihat muridnya ia tertawa geli. “Bocah bodoh, jangan mengira bahwa Lo-hai-hui-kiam adalah ilmu kejam. Kejam tidaknya bukan menjadi sifat kepandaian, melainkan sifat kepribadian seseorang. Yang kuceritakan itu hanyalah untuk menunjukkan kelihaian Lo-hai-hui-kiam dalam menghadapi musuh yang jahat dan lihai.”

Namun diam-diam Han Sin tetap menyesal sekali telah mempelajari ilmu yang demikian ganas. “Sekarang kau telah menguasai sinkangmu dan dapat menjalankan tenaga murni di tubuhmu menurut suara hati atau jalan pikiran. Maka dalam menghadapi lawan tangguh, kau tak usah khawatir lagi. Sekarang masih ada sebuah permintaan dariku yang kuharap kau tidak akan menolaknya.”

“Permintaan apalagi, suhu? Teecu tentu akan mentaati perintah suhu?”

“Aku mempunyai banyak murid, akan tetapi tidak ada yang berhasil menuruni Lo-hai-hui-kiam dan tidak ada yang cukup kuat untuk melindungi Cin-ling-pai yang sudah kubangun dengan susah payah. Maka setelah kau menjadi muridku, kau kuberi tugas menjaga nama baik Cin-ling-pai dan mengawas-awasi tingkah laku para anak murid Cin-ling-pai. Sekarang ini dunia luar banyak terjadi pengkhianatan dan aku kuatir sekali kalau pada suatu hari Cin-ling-pai akan terjerumus ke dalam jaring kaum penjajah setelah aku mati ”

“Suhu ”

“Berjanjilah kau akan menuruti permintaanku terakhir ini,” suara kakek itu makin lemah. “Teecu berjanji.”

“Aaahhh, puas hatiku. Cia Sun, kau sungguh baik , kau mengirim puteramu ke sini. Terima

kasih ..... terima kasih, tunggulah, kita akan saling berkumpul Han Sin muridku, kau ambil

pedangku ini ”

Han Sin menerima pedang yang diberikan, pedang yang amat tipis dan lemas sekali sehingga dapat dibelitkan di pinggang seperti sabuk. Itulah pedang Im-yang-kiam yang sudah puluhan tahun berada di tangan Giok Thian Cin Cu dan telah membuat nama besar bagi tosu itu.

Pada saat itu, terdengar suara orang ramai-ramai dari luar dan mendadak dua orang tosu menerobos masuk. Mereka adalah It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang mukanya pucat dan keringatnya membasahi jidat. Begitu masuk mereka berlutut di depan Giok Thian Cin Cu. “Hemmm, ada perlu apa kalian masuk tanpa kupanggil?” bentak Giok Thian Cin Cu. Dua orang tosu itu melihat adanya Han Sin dan monyetnya dan mereka memandang kepada pemuda ini dengan mata mendelik.

“Suhu, Cin-ling-san diserbu oleh kaki tangan pemerintah Ceng. Teecu sekalian sudah melakukan perlawanan, banyak sute yang gugur, akan tetapi musuh terlampau kuat, dibantu orang-orang pandai. Suhu, kita menghadapi kehancuran dan semua ini adalah gara-gara bocah ini! Mohon

keputusan.”

Tiba-tiba kakek yang sudah amat payah itu serentak berdiri. Suaranya keras. “It Cin Cu, Ji Cin Cu, ketahuilah. Bocah ini adalah putera Cia Sun Taihiap, dia sudah menjadi muridku. Dia inilah sutemu yang kelak akan mewakili aku menjaga nama baik Cin-ling-pai. Eh, Cia Han Sin, pemerintah penjajah Ceng mengirim kaki tangannya menyerang kita, menurut pikiranmu, bagaimana baiknya?”

Semenjak kecil Han Sin tidak pernah belajar silat, juga tidak suka akan kekerasan. Akan tetapi ia lebih tidak suka lagi kepada penjajah yang amat dibencinya. Maka ia menjawab tenang. “Setiap usaha penjajah harus dilawan, suhu. Penjajah harus dihancurkan. Akan tetapi dalam hal ini kita mengingat kekuatan sendiri. Kalau tidak kuat melawan, lebih baik menyelamatkan diri untuk menghimpun kekuatan baru dan kelak baru membalas.”

“Bagus, bagus dasar turunan pahlawan, masih menempel juga siasat perang leluhurmu

kepadamu.” Tiba-tiba kakek ini teringat bahwa biarpun Han Sin memiliki tenaga sinkang dan pengertian yang mendalam tentang ilmu silat Lo-hai-hui-kiam, namun belum pernah dilatihnya dan akan celakalah kalau menghadapi musuh berat. Cepat-cepat ia berkata, “Muridku, kau tidak boleh mencampuri urusan pertempuran ini. Lekas kau pergi melalui terowongan ini setibanya di persimpangan, kau belok ke kiri. Kau akan tiba di balik gunung dan selanjutnya kau harus melarikan diri. Cepat!”

Han Sin berlutut, menghaturkan terima kasih lalu dengan Siauw-ong di pundaknya, ia memasuki terowongan yang tadi dan terus melarikan diri. Adapun Giok Thian Cin Cu lalu bersama dua orang muridnya keluar dari guha dalam tanah itu dan kakek yang sudah berada di ambang pintu kuburan karena sudah amat tua ini bersama murid-muridnya lalu mengamuk, melawan para penyerbu yang terdiri dari serdadu-serdadu Ceng yang dipimpin oleh perwira-perwira yang kosen dibantu oleh orang-orang gagah yang sudah menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Terutama sekali banyak pimpinan dari partai Coa-tung Kai-pang.

Akan tetapi perlawanan ini sia-sia saja, selain Giok Thian Cin Cu sudah amat tua dan lemah, juga pihak musuh lebih banyak dan kuat sehingga akhirnya kakek yang gagah ini tewas dalam medan pertempuran, tewas bukan oleh senjata musuh melainkan karena kehabisan tenaga. Mentaati perintah gurunya sebelum tewas, It Cin Cu dan Ji Cin Cu bersama Cin-ling Sam-eng membawa sute-sute mereka melarikan diri meninggalkan gunung Cin-ling-san dan banyak di antara mereka yang tewas dalam pertempuran itu.

Bagaimanakah tentara Ceng bisa menyerbu ke Cin-ling-san? Bukan lain adalah karena Tok-gan Sin-kai dan dua orang sutenya bersama Thio Li Hoa setelah dikalahkan dan dipukul mundur oleh Cin-ling Sam-eng dibantu It Cin Cu dan Ji Cin Cu dalam memperebutkan Han Sin, lalu mereka lari turun gunung. Akan tetapi pada keesokan harinya mereka kembali membawa tentara dan pembantu sehingga terjadi pertempuran itu.

Han Sin mendengar teriakan-teriakan ramai dari orang-orang yang bertempur. Akan tetapi ia mentaati perintah gurunya dan terus melarikan diri melalui terowongan. Sampai di simpang empat ia membelok ke kiri dan tak lama kemudian betul saja, terowongan itu membawanya keluar ke sebuah guha yang berada di belakang gunung. Suara orang bertempur tidak kedengaran lagi dan pemuda ini berjalan perlahan-lahan sambil mengenangkan semua pengalamannya.

“Ilmu silat lagi-lagi ilmu silat diajarkan orang kepadaku. Ciu-ong Mo-kai menjadi guruku yang

pertama, mengajarkan Liap-hong Sin-hoat, kemudian Giok Thian Cin Cu menjadi guruku kedua. Mengajarkan Lo-hai-hui-kiam. Hemmm, ilmu silat ! Bagiku untuk apakah? Han Sin, Han Sin,

kau tidak suka ilmu silat tapi orang memaksa-maksamu mempelajarinya. Ilmu silat itu mana bisa kau mainkan?”

Berpikir demikian, pemuda ini lalu menggerakkan kaki tangannya mencoba untuk memainkan beberapa jurus ilmu silat Liap-hong Sin-hoat. Akan tetapi begitu memukulkan tangan ke depan, ia teringat bahwa dengan kepalan tangan itu ia harus memukul dada orang, maka cepat-cepat ia menarik kembali tangannya, berhenti bersilat dan menghela napas panjang. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya dan berkata seorang diri. “Tidak bisa aku pukul orang ”

Siauw-ong yang berjalan di sampingnya, melihat pemuda itu bersilat menjadi girang sekali. Ia cecowetan karena selama hidupnya belum pernah ia melihat Han Sin bersilat. Dianggapnya lucu sekali maka ia ikut mencak-mencak. Melihat pemuda itu tiba-tiba berhenti, ia menjadi kecewa dan monyet ini melanjutkan gerakan-gerakan Han Sin tadi, bersilat ilmu silat Liap-hong Sin-hoat dan menyerang sebatang pohon. Hebat monyet ini. Tiap kali tangannya memukul pohon, daun-daun pohon itu rontok dan cabang-cabang pohon bergoyang-goyang! Inilah akibat dari racun darah ular yang membuat tenaga monyet itu menjadi sepuluh kali lebih kuat!

Melihat ini, Han Sin berpikir. “Bersilat memukul pohon saja sih tidak ada jahatnya, asal jangan memukul orang. Kenapa aku tidak akan coba-coba? Barangkali akupun bisa membikin rontok beberapa helai daun seperti perbuatan Siauw-ong itu.”

Setelah berpikir demikian, ia meloncat ke dekat sebatang pohon besar dan menjalankan jurus Hui- kiam-kan-goat, dua jari tangannya menusuk ke depan. “Cuss!” Dua jari tangannya itu amblas ke dalam batang pohon yang dirasakannya empuk seperti bubur saja! Ia kaget dan menarik kembali jari-jari tangannya, lalu menyusul dengan pukulan Hui-kiam-ci-tiam, kedua tangannya memukul ke arah pohon dari kiri kanan.

“Blukk!” Ia tadi menggunakan daya pikirannya mengerahkan hawa sinkang ke arah kedua lengannya untuk melakukan pukulan itu, akan tetapi begitu mengenai pohon, ia hanya merasa kedua telapak tangannya enak dan hawa dari kedua tangan itu seakan-akan menembusi pohon. Akan tetapi akibatnya tidak ada apa-apa! Jangankan daunnya berguguran, malah bergoyang sedikitpun tidak.

Terdengar suara ketawa dari Siauw-ong yang mentertawakan tuannya. Han Sin menjadi panas hatinya. Dua jari tangannya tadi dapat melubangi pohon, kenapa pukulan kedua tangannya malah tidak mengakibatkan sesuatu? Ia mendongkol juga karena ditertawai monyetnya, maka karena gemas ia menyalahkan pohonnya yang dianggap terlalu kuat.

Sambil lalu ia mendorong pohon itu dan batang pohon itu mengeluarkan suara keras lalu patah

dan tumbang, tepat di bagian yang tadi terpukul oleh kedua tangannya. Kagetnya Han Sin bukan alang kepalang. Ia tahu bahwa pukulannya Hui-kiam-ci-tiam tadi adalah pukulan disertai tenaga lweekang yang ampuh sehingga biarpun pohon itu sendiri tidak bergoyang, akan tetapi sebelah dalam batangnya sudah hancur oleh tenaga pukulan Han Sin, maka ketika didorong lalu tumbang!

Han Sin menjadi pucat malah, sebaliknya dari pada girang. “Celaka,” pikirnya. “Menjadi manusia apa aku? Seperti iblis. Pohon saja kupukul tumbang. Kalau aku memukul orang bukankah berarti aku membunuhnya? Celaka, iblis sudah menguasai diriku ”

Pada saat itu berkesiur angin dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang wanita yang amat menyeramkan. Wanita itu pakaiannya aneh dan asing. Rambutnya riap-riapan, matanya liar dan tajam sedangkan pada tangan kanannya kelihatan sebuah senjata yang aneh, yaitu tulang seekor ular!

“Benar-benar aku melihat iblis ” Han Sin berdiri melengak dan tak dapat bergerak saking

kagetnya. Siauw-ong cecowetan takut lalu melompat dari pundak Han Sin dan memanjat pohon. Agaknya tulang ular di tangan wanita itulah yang membuat ia menjadi ngeri, mengingatkan dia akan pengalamannya ketika dibelit dan diserang ular.

“Kau putera Cia Sun ?” tiba-tiba wanita itu berkata, suaranya nyaring dan sinar matanya

mengeluarkan cahaya.

Melihat keadaan orang aneh ini, tahulah Han Sin bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berkepandaian tinggi. Maka ia tidak berani membohong, dan sambil menjura ia menjawab, “Betul dugaan cianpwe, aku adalah putera ayah Cia Sun dan namaku Cia Han Sin. Tidak tahu siapakah cianpwe dan apakah kenal dengan mendiang ayah?”

“Kenal? Kenal kanda Cia Sun?” Wanita aneh itu tertawa. Suara tawanya merdu dan nyaring menyeramkan, akan tetapi diam-diam Han Sin harus mengakui bahwa dibalik keliaran dan keanehan wanita ini, masih dapat dilihat dengan jelas bahwa dahulunya wanita ini tentu cantik bukan main. Bahkan sekarang pun kulit tangan dan mukanya, masih putih dan halus sekali tidak kalah oleh gadis-gadis muda. “He, orang muda, ayoh kau lekas ikut pergi dengan aku jangan membantah lagi!”

“Aku tidak kenal siapa cianpwe ini dan aku mempunyai keperluan lain yang amat penting. Tak dapat aku ikut pergi sekarang. Kalau cianpwe sudi memberi tahu nama dan alamat, tentu lain kali aku akan mengunjungi cianpwe.”

Kembali wanita itu tertawa. “Muka sama, bicara sama, benar-benar kanda Cia Sun hidup kembali. Sayang ketolol-tololan, tidak segagah ayahnya! Eh, bocah, apa kau ingin aku mengambil jalan kekerasan?”

“Aku ..... aku tidak mengerti maksud cianpwe ” Baru bicara sampai di sini tiba-tiba tulang ular di

tangan wanita itu menyambar dan jalan darah di pundak Han Sin telah ditotok. Tadinya Han Sin hendak menyalurkan hawa sinkang ke pundaknya. Akan tetapi ia segera teringat bahwa ia menghadapi seorang wanita, lagi sudah agak tua, benar tidak pantas kalau ia melawan. Apalagi ia masih ngeri kalau mengingat betapa tadi tenaganya telah menumbangkan sebatang pohon.

Bagaimana kalau ia salah tangan lagi membunuh wanita ini seperti ketika merobohkan Ban Kim Cinjin?

Karena pikiran inilah maka ia tidak jadi menyalurkan tenaganya. Kalau dahulu sebelum ia menerima petunjuk Giok Thian Cin Cu, di serang begini tentu otomatis sinkangnya yang masih liar akan bergerak sendiri ke pundak melindungi jalan darahnya. Akan tetapi sekarang, ia telah dapat menguasai sinkangnya sehingga kalau tidak ia salurkan, hawa itu tetap berkumpul di pusarnya.

Tentu saja Han Sin yang belum punya pengalaman itu tidak tahu hebatnya wanita itu. Begitu ujung tulang ular itu menyentuh pundaknya, ia merasa tubuh bagian atas lemah sekali. Bukan main kagetnya, namun sudah terlambat. Kembali tulang ular menyambar, kini ke arah kedua kakinya dan robohlah Han Sin, terguling ke atas tanpa dapat bergerak lagi, seluruh tubuhnya lemas dan tidak dapat digerakkan! Siauw-ong yang tadinya takut-takut melihat wanita yang memegang tulang ular itu, kini melihat Han Sin diserang, timbul keberanian dan kemarahannya. Ia mengeluarkan pekik marah dan dari atas pohon ia meloncat dan menyambar ke arah kepala wanita itu.

Wanita itu mengeluarkan suara ketawa dingin, tubuhnya mengelak dan tulang ular menyambar ke arah kepala Siauw-ong. Hebat sekali sambaran ini dan kalau mengenai sasaran, tentu kepala monyet itu akan remuk. Akan tetapi Siauw-ong bukanlah sembarang monyet. Merasai datangnya hawa sambaran senjata lawan, biarpun tubuhnya masih di udara, ia dapat membuat salto dua kali ke belakang dan terlepas dari ancaman.

Wanita itu diam-diam merasa kaget sekali. Seorang ahli silat yang tangguh jarang bisa menghindarkan diri dari satu kali serangannya seperti tadi, kenapa monyet kecil ini sanggup? Malah sekarang Siauw-ong sudah menyerang lagi dengan gerakan-gerakan aneh seperti pandai bersilat!

Wanita itu timbul kegembiraannya.

“Monyet yang dibawa Cia Sun dulu tidak seperti ini. Aneh ..... aneh !” Ia lalu memutar

senjatanya dan sinar kelabu bergulung-gulung mengurung diri Siauw-ong yg tentu saja segera terdesak hebat. Monyet ini mengeluarkan suara cecowetan dan menjadi jerih namun ia terus melawan dan kegesitannya yang luar biasa membuat senjata lawan belum juga berhasil menggores kulitnya.

Pada saat itu berkelebat bayangan putih dan seorang pemuda yang memegang golok sudah tiba di situ. “Menggunakan kepandaian tinggi menghina yang lemah, benar-benar memalukan!” seru pemuda itu yang segera menggerakkan goloknya menerjang maju. Sekali goloknya berkelebat, terdengar suara “cring! cring!” keras sekali dan gulungan kelabu dari senjata tulang ular itu dapat dibuyarkan. Siauw-ong yang melihat jalan keluar segera meloncat dan menubruk tubuh Han Sin, mengguncang-guncangnya sambil mengeluarkan bunyi seperti menangis.

Sementara itu, wanita setengah tua yang rambutnya riap-riapan menjadi marah sekali melihat datangnya pemuda tampan yang memegang golok. “Bocah sombong, kau berhadapan dengan Jin Cam Khoa (Algojo Manusia), berani menjual lagak? Ayoh, menggelinding pergi!”

Pemuda itu bukan lain adalah Phang Yan Bu, pemuda yang memenuhi permintaan Bi Eng untuk membebaskan Han Sin, menjadi kaget bukan main mendengar disebutnya nama Jin Cam Khoa. Sudah sering kali ia mendengar nama hebat ini, malah ibunya sendiri pernah memberi tahu bahwa di antara orang-orang berbahaya yang lebih baik dihindarinya, termasuk Jin Cam Khoa inilah. Siapa kira sekarang ia malah berhadapan dengan iblis wanita ini sendiri dengan senjata di tangan.

Kalau saja ia tidak melihat Han Sin roboh dan monyetnya tadi terancam, ia tentu akan mengalah dan pergi meninggalkan wanita itu. Akan tetapi ia telah melihat Han Sin, melihat monyet. Ia yakin bahwa inilah tentu kakak dari Bi Eng. Ia ingin berjasa terhadap Bi Eng, juga ingin mengikat persahabatan dengan kakak beradik ini, menghapuskan permusuhan dan dendam lama. Sekarang melihat Han Sin agaknya terluka dan keselamatannya terancam oleh Jin Cam Khoa, bagaimana dia bisa tinggal diam saja? Apa yang akan ia katakan terhadap Bi Eng?

Segera ia menjura dan berkata. “Ah, kiranya aku berhadapan dengan Jin Cam Khoa cianpwe yang terkenal. Harap maafkan Phang Yan Bu kalau mengganggu cianpwe. Ibuku, Ang-jiu Toanio sering kali menyebut-nyebut nama cianpwe dan memesan agar supaya aku memberi hormat kalau bertemu dengan cianpwe.”

Jin Cam Khoa mengeluarkan suara mengejek. Dia tadi sudah menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan pemuda sembarangan, melihat dari ilmu goloknya yang hebat. Kiranya putera Ang-jiu Toanio! Mana dia takut menghadapi orang seperti Ang-jiu Toanio? Dia, puteri Hui yang biasanya dihormat setiap orang! Memang, Jin Cam Khoa ini bukan lain adalah Balita puteri Hui cantik jelita yang dulu pernah menggoda Cia Sun.

Kini dia telah menjadi tua, namun ilmu kepandaiannya sudah beberapa kali lebih hebat dari pada dahulu. Kalau dahulu di waktu mudanya saja Balita sudah lihai sekali, apalagi sekarang!

Kepandaiannya tinggi juga keganasannya memuncak sehingga ia mendapat julukan Jin Cam Khoa atau Algojo Manusia karena entah sudah berapa ratus orang ia bunuh dengan kejam!

“Aku pernah melihat Ang-jiu Toanio. Mengingat mukanya, baik kau pergi dan aku ampunkan kelancanganmu,” katanya sambil lalu dan matanya kembali memandang ke arah Han Sin. Pemuda ini hanya roboh tertotok, tidak pingsan maka ia dapat mendengar semua percakapan itu. Ia merasa heran melihat seorang pemuda gagah datang menolongnya, akan tetapi ia lebih heran dan kaget sekali ketika mendengar bahwa wanita itu adalah Jin Cam Khoa Balita, seorang di antara mereka yang mungkin membunuh ayah bundanya. Seorang yang dianggap berbahaya oleh Ciu-ong Mo-kai dan terhadap siapa ia harus berhati-hati. Sementara itu, Yan Bu dengan masih hormat dan tenang berkata, “Harap cianpwe suka memaafkan aku. Aku datang untuk menjemput saudara Cia ini bersama monyetnya karena ditunggu oleh seorang di tepi sungai. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya.”

“Gila! Aku yang akan membawa dia pergi!” “Maaf, terpaksa aku melindunginya.”

Merah wajah Jin Cam Khoa, matanya seperti bernyala. “Bocah, ibumu boleh menakuti anak kecil dengan tangan merahnya. Akan tetapi jangan kira aku takut! Kau tidak tahu aku sudah mengalah, kalau begitu kau sudah bosan hidup. Mampuslah!”

Tiba-tiba sekali tulang ular itu menyambar ke arah muka Yan Bu. Baiknya pemuda ini memang sudah bersiap sedia, dan memiliki ketenangan luar biasa, maka melihat sinar kelabu menyambar ia segera berkelit sambil melompat mundur dan menggoyang goloknya. Tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan yang amat kuat, ia tidak mau mengalah dan cepat menggerak-gerakan goloknya membalas dengan serangan-serangan yang hebat pula. Jin Cam Khoa Balita mengeluarkan teriakan mengerikan, setengah tertawa setengah menangis dan tubuhnya berkelebatan seperti burung.

“Celaka,” pikir pemuda ini. “Namanya Jin Cam Khoa, ia tak pernah meninggalkan lawan tanpa lebih dulu membunuhnya. Kalau aku sampai tewas, siapa yang akan memberitahukan kepada nona Cia tentang keadaan kakaknya? Dan melihat gelagatnya, ia hanya hendak menawan Cia Han Sin, bukan hendak membunuhnya.”

Pemuda ini tidak takut menghadapi ancaman maut, hanya kuatir tidak akan dapat memenuhi janjinya terhadap Bi Eng! Benar-benar cinta itu lebih kuat dari pada maut, orang berani menentang maut akan tetapi takut menghadapi kegagalan cinta. “Ah, lebih baik kupancing dia dari sini,” pikir lagi Yan Bu yang amat cerdik. “Melawan sampai menang aku tak sanggup, akan tetapi mempertahankan diri kiranya masih kuat beberapa jurus lagi.” Setelah berpikir demikian, pemuda ini lalu menyerang hebat sekali. Selagi lawan melompat mundur, ia lalu melarikan diri sambil berkata.

“Biarpun namamu Jin Cam Khoa, tak mungkin kau bisa membunuhku karena selain ilmu lari cepatku lebih tinggi, kaupun takut kepada ibu!” Yan Bu sengaja memanaskan hati iblis wanita itu. Jin Cam Khoa memekik marah.

“Kubunuh kau .....! Kubunuh kau sampai di manapun juga !” Dan betul saja, pancingan Yan Bu

berhasil baik dan iblis wanita itu dengan rambut berkibar-kibar mengerikan terus saja mengejar. Celakanya bagi Yan Bu, ilmu lari cepat iblis wanita itu ternyata hebat sekali dan sebentar saja sudah hampir dapat disusul!

Akan tetapi Yan Bu memiliki ketabahan luar biasa dan semangat besar, juga ilmu goloknya yang ia warisi dari Yok-ong bukanlah sembarangan ilmu golok. Dengan hebat ia menyerang lagi sehingga biar Balita jauh lebih unggul dari padanya, terpaksa wanita ini mengelak lagi dari sambaran golok yang mengaung dan berubah menjadi segulung sinar putih yang berbahaya. Saat wanita itu mengelak dipergunakan lagi oleh Yan Bu untuk meloncat jauh dan lari terus. Demikianlah, makin lama kejar mengejar itu makin jauh meninggalkan tempat di mana Han Sin masih menggeletak tak berdaya, ditangisi oleh monyetnya.

Akan tetapi hanya sebentar Han Sin tidak berdaya. Ketika ia tadi mendengar bahwa wanita itu adalah Jin Cam Khoa Balita, timbul semangatnya. Itulah orang yang mungkin menjadi pembunuh ayah bundanya. Timbullah semangat ini menggerakkan hawa sinkang di pusarnya, makin lama makin panas dan akhirnya ia berhasil juga menyalurkan hawa ini ke arah jalan darah yang tertotok sehingga dalam sekejap mata saja ia sudah berhasil membuyarkan totokan! Pada saat ia hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar suara kaki berlari-larian dan muncullah It Cin Cu dan Ji Cin Cu, berlari tak jauh dari tempat itu, dikejar oleh beberapa orang panglima Ceng.

Baiknya mereka itu semua tidak melihat Han Sin dan sekarang pemuda ini dapat mendengar percakapan yang membuat ia terheran-heran.

“Tak perlu kalian mengejar terus,” terdengar suara It Cin Cu. “Lekas kalian pergi mengejar tiga orang sute kami Cin-ling Sam-eng. Kepada Thio-ciangkun katakan bahwa tiga hari lagi kami diam- diam akan mengunjunginya dan kami menerima semua syaratnya.”

“Terima kasih,” terdengar suara seorang di antara para panglima pemerintah Ceng itu. “Ji-wi totiang ternyata dapat melihat jauh dan suka bersekutu dengan pemerintah kami. Selamat berpisah.” Dua rombongan itu berpencar dan sebentar pula mereka sudah pergi dari situ.

Jantung Han Sin berdebar, kemarahannya timbul. Ia teringat akan pesan Giok Thian Cin Cu supaya ia mengawasi gerak-gerik para tosu Cin-ling-pai dan menjaga nama baik Cin-ling-pai. Apakah maksud dua orang tosu tertua dari Cin-ling-pai itu? Betul-betulkah mereka mau bersekutu dengan pemerintah penjajah? Kemudian ia teringat lagi akan Balita, teringat akan adiknya.

“Paling perlu aku harus menemui Bi Eng, jangan-jangan diapun terancam bahaya,” pikirnya. Ia lalu bangun berdiri dan mengajak Siauw-ong pergi secepatnya dari tempat berbahaya itu. Diam-diam ia makin kecewa karena lagi-lagi ia bertemu dengan orang-orang jahat. Balita yang datang-datang menyerangnya, ditambah lagi dengan penghianatan It Cin Cu dan Ji Cin Cu terhadap partainya sedemikian rupa. Ia menarik napas panjang. Baru satu orang saja yang melakukan perbuatan baik terhadapnya, yaitu pemuda bergolok yang gagah perkasa. Akan tetapi ia tidak kenal pemuda itu.

Lapat-lapat ia tadi mendengar pemuda itu menyebut-nyebut Ang-jiu Toanio.

Tiba-tiba ia berhenti berlari dan terbelalak. Teringatlah ia sekarang setelah nama Ang-jiu Toanio memasuki benaknya. Bukankah pemuda itu pemuda yang dulu mendorong kereta di mana duduk seorang wanita sakit? Ah, tak salah lagi! Dan Ang-jiu Toanio, nama yang disebut oleh Ciu-ong Mo- kai sebagai seorang yang ikut menyerbu orang tuanya, apakah wanita yang sakit itu?

“Banyak orang jahat di dunia ini, benar-benar tidak kusangka sebelumnya! Ah, kalau begitu apakah suhu Ciu-ong Mo-kai lebih benar tentang mempelajari ilmu silat?” Demikian pemuda ini mulai ragu-ragu dan di dalam perjalanannya menyusul adiknya, ia makin bersemangat menghafal dan mempelajari gerakan-gerakan dalam ilmu silat yang ia peroleh dari Ciu-ong Mo-kai dan Giok Thian Cin Cu.

Bahkan ia mencoba kecepatan larinya dan dengan heran dan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa kalau ia mau sebetulnya ia dapat berlari cepat sekali, malah ketika ia mencoba untuk mengejar Siauw-ong dalam berlompat-lompatan, ia dapat melompat lebih cepat lebih ringan dan gesit dari pada binatang peliharaannya itu. Makin terbuka mata pemuda ini akan kepandaian- kepandaian yang tersembunyi di dalam tubuhnya. Ia girang bukan karena mendapat kenyataan bahwa ia pandai, hanya girang karena ia dapat melakukan perjalanan lebih cepat.

Karena melihat kemajuan-kemajuan yang diperolehnya, ia mencoba-coba untuk melakukan ilmu silat Lo-hai-hui-kiam yang dipelajari dari Giok Thian Cin Cu dengan pedang Im-yang-kiam yang selama ini ia belitkan di pinggang tertutup bajunya. Ia merasakan pedang itu ringan sekali, namun ketika ia gerakkan, terdengar suara angin bersiutan dan pedang lenyap berubah gulungan sinar yang menyilaukan mata! Siauw-ong sampai lari ketakutan menyaksikan kehebatan pedang ini. “Ah, aku takkan menggunakan pedang. Tubuh manusia mana kuat menahan bacokan pedang? Tentu akan putus dan darahnya menyembur keluar.” Pemuda itu bergidik dan menyimpan kembali pedangnya. Betapapun juga, ia telah melakukan tiga puluh enam jurus Lo-hai-hui-kiam dengan pedangnya dan mendapat kenyataan bahwa amat enak terasa olehnya mainkan ilmu silat itu dengan menggunakan pedang.

Tiap kali teringat kepada adiknya, Han Sin mempercepat perjalanannya. Ia sudah merasa rindu sekali kepada Bi Eng, juga merasa kuatir tentang keselamatan gadis itu. Maka dapat dibayangkan betapa girang rasa hatinya ketika ia tiba di tepi sungai Wei-ho. Dari jauh ia melihat seorang gadis baju merah duduk di pinggir sungai membelakanginya. Adiknyalah itu, tak salah lagi. Bi Eng juga mempunyai baju warna merah seperti itu, pikirnya. Untuk menggoda adiknya, Han Sin meringankan langkah kakinya dan memberi tanda kepada Siauw-ong supaya jangan mengeluarkan suara. Siauw-ong hanya memandang aneh kepada majikannya dan tidak mengeluarkan suara.

Berindap-indap Han Sin menghampiri gadis itu dari belakang, lalu cepat ia menggunakan kedua tangannya mendekap dari belakang menutupi kedua mata gadis itu dengan telapak tangannya.

“Coba terka aku siapa ??” katanya sambil merobah suaranya agar jangan dikenal.

GADIS itu mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba dengan gerakan cepat kedua sikunya dikerjakan ke belakang menghantam dada Han Sin. Pemuda ini terjengkang karena tidak menjaga diri, akan tetapi dia tidak merasa sakit dan hanya tertawa bergelak sedangkan Siauw-ong sudah melompat ke atas tanah.

“Ha ha ha, Eng-moi, kau lihai sekali. Apa kau tidak mengenalku?” tegurnya.

Gadis itu memutar tubuh dan tangan kirinya menutupi sebagian mukanya. Sepasang mata jeli yang kemerahan seperti habis menangis memandang Han Sin dan pemuda ini melongo. Ternyata gadis ini sama sekali bukan Bi Eng! Celaka, pikirnya. Pantas saja Siauw-ong memandangnya dengan aneh. Kurang ajar, kenapa binatang itu diam saja tidak memberi tahu kepadanya? Pikiran ini dibantahnya sendiri. Mana ada monyet bisa memberi tahu? Adalah dia sendiri yang lebih bodoh dari monyet!

“Kau ... kau bukan Bi Eng? Maafkan, nona, aku ..... aku tadi salah lihat ”

Mendengar disebutnya nama ini, muka nona yang masih ditutupi tangan bagian hidungnya itu menjadi merah sekali. “Kau .... Cia Han Sin ? Suaranya perlahan dan karena tangannya menutupi

hidung, maka suaranya menjadi agak bindeng dan sumbang.

Han Sin merasa heran mengapa banyak sekali orang mengenalnya. Hal ini sudah amat mengherankan hatinya ketika ia melakukan perjalanan dan ia sudah memikirkan keadaan yang menyolok ini. Dasar ia cerdik, ketika ia melihat betapa Balita juga mencarinya, ia dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang kang-ouw itu mencari karena ada hubungannya dengan surat wasiat peninggalan Lie Cu Seng. Sekarang melihat gadis yang selalu menutupi hidungnya ini juga mengenalnya, ia tersenyum.

“Betul, nona. Dan siapakah nona? Apakah nona melihat adikku yang bernama Cia Bi Eng? Dia menanti kedatanganku di sini.”

Tiba-tiba suara gadis itu berubah geram. “Karena aku mengenal dia dan kau kakaknya, maka kau harus mati!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri masih menutupi mukanya, tangan kanannya mencabut sebatang pedang. Han Sin memandang dengan mata terbelalak dan kembali hatinya tertusuk oleh perasaan kecewa. Benar-benar manusia mahluk paling jahat di dunia, pikirnya. Sudah banyak aku bertemu orang yang tanpa sebab mau saling bunuh dengan kejam, sekarang gadis ini yang sama sekali tidak kukenal, begitu berjumpa juga mau membunuhku! Memikir sampai di sini, ia menjadi geli dan tertawa.

“Nona, tidak kusangka sama sekali bahwa Giam-lo-ong (Raja Akhirat) ternyata adalah seorang gadis cantik dan muda seperti kau!”