-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 01

Jilid 01

01. Misteri Kematian Pahlawan Rakyat

“KANDA Cia Sun ......! Kanda ...... tunggulah !!”

Suara wanita ini terdengar amat memilukan hati penuh permohonan dan kehancuran hati.

“Balita, perempuan rendah. Pergilah kau, jangan ganggu aku!” terdengar suara laki-laki menjawab penuh kegemasan dan kebencian.

“Kanda Cia Sun ....... ohhh ..... kanda Cia Sun ......

Ingatlah anakmu ini ” Suara wanita ini sekarang

bercampur tangis.

Kalau ada orang lain berada di dalam hutan itu, tentu dia akan menjadi seram dan takut, mengira bahwa itu adalah suara iblis-iblis hutan. Memang aneh. Suaranya terdengar dekat, bergema di seluruh hutan, baik suara

wanita maupun suara pria itu. Akan tetapi orang-orangnya tidak kelihatan.

Setelah sunyi beberapa lamanya, akhirnya terdengar derap kaki kuda memasuki hutan. Penunggangnya seorang laki-laki tampan tegap, gagah perkasa dan dipundaknya duduk seekor monyet kecil yang sudah tua. Monyet betina ini agaknya sudah biasa ikut tuannya menunggang kuda. Tubuhnya tegak tidak bergoyang biarpun tuannya membalapkan kuda itu. Sebentar-sebentar monyet itu menengok ke belakang dan akhirnya mengeluarkan bunyi cecowetan seperti ketakutan.

Yang ditakuti oleh monyet itu adalah seorang wanita muda berlari cepat sekali, mengejar dari belakang. Wanita ini masih muda dan cantik jelita. Rambutnya panjang halus dan amat hitam, riap- riapan karena tidak terpelihara dan ikatan rambutnya agaknya terlepas sehingga rambut itu tertiup angin, berkibar di belakang kepalanya. Dia memondong seorang bayi perempuan yang usianya baru beberapa bulan.

Baru mendengar suara mereka tadi saja yang amat nyaring dan bergema di dalam hutan sedangkan orang-orangnya masih jauh, sudah dapat diduga bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga khikang mereka membuat suara mereka terdengar sampai jauh. Apalagi sekarang, melihat wanita muda itu berlari cepat sekali sehingga bisa menyusul larinya kuda yang dibalapkan, benar-benar luar biasa sekali.

Orang muda itu masih mencoba untuk menangkan perlombaan lari itu, namun wanita yang menggendong anak itu lebih cepat lagi bagaikan terbang saja larinya dan di sebuah tikungan dia telah dapat menyusul, mendahului kuda dan sekali mengangkat tangan menahan kepala kuda.

Binatang itu berhenti berlari. Monyet yang duduk di pundak orang muda itu mengeluarkan pekik ketakutan dan dari atas pundak ia meloncat ke sebuah cabang pohon yang terdekat. Adapun orang muda itu dengan muka merah dan mata melotot lalu melompat turun.

“Perempuan hina, kau mengejar-ngejarku mau apakah?” bentaknya

Sambil menangis wanita itu menjatuhkan diri berlutut di depan orang muda itu, memegangi sepatunya.

“Sun-ko ...... pujaan hatiku di dunia ini hanya kau seorang yang kucinta. Sun-ko, kasihanilah

aku, kasihanilah anakmu ini bawa aku serta, biar aku akan menjadi bujangmu, menjadi pelayan

di rumahmu. Biar aku akan merawat isteri dan anak-anakmu asal aku selalu bisa berdekatan

dengan kau ,” ratap tangis itu tentu akan melumpuhkan kekerasan hati pria. Namun laki-laki

yang bernama Cia Sun itu malah memperlihatkan muka penuh kebencian.

Wanita ini memang cantik sekali. Usianya juga tidak lebih dari dua puluh lima tahun. Rambutnya yang kini tidak digelung riap-riapan karena terlepas ikatannya, menutupi sebagian lehernya yang berkulit putih kekuningan. Rambut yang panjang, gemuk dan hitam sekali. Mukanya manis dan tidak akan membosankan siapa saja yang memandangnya, dengan sepasang mata lincah dan bening, tajam ujungnya membuat lirikan mata seperti itu setajam tusukan pedang, hidungnya mancung dan bibirnya merah segar tanpa gincu. Karena tadi berlari cepat, sepasang pipinya yang putih halus itu agak kemerahan dan rambut di dekat telinganya yang agak basah terkena peluh itu menambah manisnya. Keindahan tubuhnya muda dibayangkan karena pakaiannya robek di sana sini. Namun orang muda berusia tiga puluh tahun itu tidak menghiraukan semua keindahan ini, agaknya malah tidak melihat kecantikan wanita ini yang dalam pandangan matanya malah merupakan seorang wanita jahat yang menyeramkan.

“Siluman betina!” makinya marah. “Jangan coba menipuku. Anak ini bukan anakku! Kau kira aku tidak tahu? Untuk menuruti nafsu jahatmu, kau mempergunakan ilmu siluman membuat aku lupa diri, kemudian kau malah tidak segan-segan untuk membunuh suamimu. Cih, perempuan macam apa kau ini? Anak ini bukan anakku dan aku Cia Sun telah bersumpah selama hidupku takkan sudi berdekatan denganmu. Pergilah!”

“Kanda Cia Sun , begitu kejamkah hatimu? Biarlah, kalau kau tidak mau mengaku menjadi

ayah anak ini ... tidak apa, asal aku kau bolehkan selalu dekat denganmu. Aku aku cinta

padamu, Sun-ko ....., aku cinta padamu dengan seluruh jiwaku ” Kembali wanita itu memeluk

kedua kaki Cia Sun dan kini malah menciumi kaki itu.

Cia Sun menjadi makin marah. Digerakkan kaki kanannya dan ditendangnya wanita itu. Tendangan yang keras sekali, dilakukan oleh seorang ahli silat kelas tinggi. Kalau orang lain yang terkena tendangan ini, tentu akan mati di saat itu juga. Akan tetapi wanita itu hanya terlempar dan berjungkir balik dengan anak bayinya masih dalam pondongan. Jangankan terluka, menangispun tidak anak bayi itu! Kembali wanita itu maju berlutut.

“Kanda Cia Sun, aku benar-benar cinta padamu. Lebih baik mati dari pada harus berpisah darimu

.....”

“Kalau begitu mampuslah!” Cia Sun melangkah maju dan mengerahkan tenaganya memukul dengan tangan kiri ke arah kepala wanita itu. Pukulan ini bukan sembarangan pukulan, melainkan pukulan dengan gerak tipu yang disebut Bu-siong-phak-houw (Bu-siong menghantam macan).

Dilakukan dengan tenaga ratusan kati dan kiranya kepala seekor macan akan pecah kalau terkena pukulan ini. Namun wanita itu hanya mengangkat lengan melindungi kepalanya dan ketika kepalan laki-laki itu bertemu dengan lengannya, Cia Sun mengeluh kesakitan dan terhuyung mundur ke belakang. Ia menghela napas dan memaki,

“Memang kau siluman! Ilmu kepandaianmu amat tinggi, luar biasa sekali, akan tetapi kau pergunakan untuk hal-hal yang tidak patut. Balita, jangan kau ganggu aku. Kau kembalilah kepada bangsamu, di sana kau adalah puteri yang dimuliakan orang. Kenapa kau begitu gila hendak mengejar-ngejar aku dan rela menjadi bujang?”

“Sun-ko, sudah kukatakan tadi. Aku cinta kepadamu dan cintaku inilah yang membuat aku akan merasa jauh lebih berbahagia menjadi bujangmu dari pada menjadi seorang puteri akan tetapi jauh darimu. Sun-ko , kau bawalah aku. Selain menjadi bujang, akupun sanggup membelamu,

sanggup melindungimu dari semua musuh-musuhmu.”

Cia Sun kelihatan bimbang. Akan tetapi ia teringat akan isterinya. Terbayang wajah isterinya yang lembut, isterinya yang dikasihinya sepenuh jiwa. Tidak tega ia menyakiti hati isterinya dengan mengambil seorang selir seperti iblis wanita ini. Hatinya mengeras kembali.

“Tidak, sekali lagi tidak! Biarpun kau hendak membunuhku sekarang juga aku tidak sudi berdekatan denganmu. Pergilah! Di mana ada perempuan yang lebih tak tahu malu seperti engkau? Aku tidak sudi padamu, Balita!” Setelah berkata demikian, Cia Sun mencengklak kudanya lagi dan membalapkan kudanya. Monyet kecil tua yang sejak tadi menongkrong di atas dahan, sekarang meloncat amat ringannya di atas pundak Cia Sun.

Wanita cantik jelita yang disebut Balita itu bangun berdiri, wajahnya pucat, matanya sayu. Ia berdiri seperti patung, ia hendak mengejar lagi, akan tetapi tiba-tiba anak yang digendongnya menangis keras. Berubahlah raut wajah wanita ini. Mata yang tadi sayu sekarang menjadi beringas, mulut yang tadinya seperti hendak menangis dan bermohon minta dikasihani itu, sekarang tersenyum pahit, menyeringai menyeramkan. Sepasang matanya berkilat memandang bayangan Cia Sun yang membalapkan kudanya.

Tangan kanan wanita ini bergerak memukul ke depan. Terdengar ringkik kuda mengerikan dan kuda itu terguling roboh. Cia Sun terlempar jauh dan baiknya dia memiliki kepandaian tinggi sehingga dengan cara membuat poksai (salto) sampai tiga kali ia dapat berdiri di atas tanah dengan selamat. Monyet di pundaknya sudah meloncat lebih dulu dengan sigapnya.

Cia Sun membalikkan tubuh dan memandang ke arah Balita yang tersenyum lebar, malah kini wanita ini tertawa merdu namun baginya menyeramkan sekali seperti mendengar siluman tertawa. Tanpa banyak cakap lagi Cia Sun lalu menggerakkan kaki melarikan diri dari situ, diikuti oleh monyetnya. Ia masih mendengar suara ketawa Balita yang disusul kata-kata mengejek,” Laki-laki tidak berjantung! Kalau aku menghendaki nyawamu, apa sukarnya? Akan tetapi, membunuhmu pun masih belum cukup untuk membalas hinaan dan sakit hati yang kau jatuhkan kepadaku. Hi hi, Cia Sun, kau tunggulah saja pembalasanku!” Setelah tertawa lagi cekikikan, tiba-tiba wanita itu lalu menangis sedih sambil menyusui anaknya. Benar-benar lakunya seperti seorang yang sudah miring otaknya.

“Hi hi hik, Cia Sun. Aku memang cinta padamu, sangat cinta padamu karena kau tampan dan gagah. Kau tidak mau mengakui anak ini ha ha, memang bukan anakmu. Tapi kau berani

menolakku .... setelah kau berhasil menjatuhkan hatiku. Awas kau awas binimu dan anak-

anakmu ” Demikianlah, wanita itu sambil menyusui anaknya bicara seorang diri dan tertawa-

tawa. Adapun Cia Sun bersama monyet kecil sudah lari jauh menuju ke puncak-puncak bukit di luar hutan. Sambil berlari cepat, ia juga bicara seorang diri, atau sebetulnya ia bicara kepada monyet yang kini sudah nongkrong lagi di pundaknya.

“Lim-ong (raja hutan), kepandaian siluman betina itu benar-benar luar biasa sekali. Sayang dia jahat

..... ah, mulai saat ini kita harus waspada, dialah orang yang paling berbahaya di antara semua orang yang memusuhiku.”

Monyet itu menggerakkan bibir dan mengeluarkan suara cecowetan, seakan-akan ia mengerti akan maksud kata-kata tuannya ini dan ikut pula berprihatin. Setelah melakukan perjalanan cepat, menjelang senja Cia Sun dan monyetnya telah tiba di sebuah puncak yang penuh batu-batu putih. Pemandangan di daerah ini indah sekali dan ditengah-tengah puncak, di antara batu-batu putih itu berdiri dengan megahnya sebuah bangunan rumah.

Lim-ong meloncat turun dari pundak tuannya dan keduanya lalu mendaki puncak, meloncat-loncat di atas batu-batu putih dengan gesitnya. Dari gerak Cia Sun yang tidak kalah gesitnya dari pada monyetnya ketika berlompatan di antara batu-batu putih itu, dapat diketahui bahwa kepandaian orang gagah ini sebenarnya sudah tinggi sekali.

Ketika Cia Sun sudah mendekati gedung itu, dua orang laki-laki berpakaian pelayan berseru girang dan tak lama kemudian bergema di dalam gedung seruan-seruan, “Cia-enghiong datang!”

Seorang wanita muda yang cantik berlari keluar sambil memondong seorang anak perempuan yang masih bayi, di belakangnya tampak seorang pengasuh memondong seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Inilah isteri Cia Sun bersama dua orang anaknya. Dengan wajah berseri dan mata basah saking terharu dan bahagia, isteri muda itu menyambut kedatangan suaminya.

Monyet itu mendahului tuannya berlari ke depan, lalu berlutut di depan nyonya Cia seperti orang memberi hormat. Kemudian ia berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat Cia Sun memegang tangan isterinya dan menciumi kepala anak perempuannya yang berusia tiga bulan itu. Dalam kebahagiaan pertemuan ini, awan gelap menyelimuti wajah Cia Sun karena ketika mencium kepala anak perempuannya ia teringat akan anak perempuan dalam gendongan Balita tadi.

“Ayah !” Anak laki-laki yang digendong oleh pengasuh tadi berseru dan seruan ini mengusir

pergi awan gelap dari wajah Cia Sun. Ia mengulurkan kedua tangannya dan menggendong anak sulungnya.

“Han Sin, kau rindu kepada ayahmu?” tanyanya sambil mencium pipi anak laki-laki itu yang tertawa-tawa gembira. Keluarga bahagia ini lalu berjalan memasuki gedung dengan lambat, diikuti oleh para pelayan yang juga menjadi gembira sekali melihat tuan mereka kembali dengan selamat. Si monyet kecil mendahului mereka masuk sambil berjingkrak kegirangan.

Siapakah sebetulnya Cia Sun ini dan siapa pula puteri yang bernama Balita itu?

Cia Sun bukanlah orang sembarangan. Ketika masih kecil, baru setengah dewasa, ia telah ikut berjuang di samping ayahnya yang menjadi seorang kepercayaan pemimpin barisan petani Lie Cu Seng. Ayah Cia Sun bernama Cia Hui Gan, seorang ahli silat kelas satu yang dengan gagah beraninya bersama putera tunggalnya berjuang membantu Lie Cu Seng berperang melawan orang- orang Mancuria yang dibantu oleh pengkhianat Bu Sam Kwi.

Biarpun akhirnya bala tentara rakyat di bawah pimpinan Lie Cu Seng dapat dihancurkan oleh tentara Mancu yang dibantu pengkhianat Bu Sam Kwi, namun para patriot Han masih terus melakukan perlawanan dan merupakan pengganggu-pengganggu yang memusingkan kerajaan baru yang didirikan oleh bangsa Mancu itu ialah Kerajaan Cheng. Orang-orang gagah yang tadinya menjadi pembantu-pembantu perjuangan melawan penjajah dari utara itu, diam-diam tersebar dan masih menaruh kebencian terhadap pemerintah baru.

Cia Hui Gan ayah Cia Sun, adalah seorang di antara orang-orang gagah ini. Biarpun telah mengalami kegagalan dalam perang, namun dia tidak menghentikan perjuangannya. Di samping memusuhi pembesar-pembesar dan penjilat-penjilat kerajaan baru, Cia Hui Gan tiada hentinya mengulurkan tangan membela kepentingan rakyat yang tertindas. Ia tidak segan-segan membunuh orang-orang jahat yang menindas rakyat, merampok bangsawan-bangsawan pengkhianat yang telah menjadi anjing penjilat kerajaan Cheng dan membagi-bagikan hasil perampokan itu kepada orang- orang miskin. Pendeknya, Cia Hui Gan terkenal sebagai seorang pendekar rakyat yang amat terkenal. Semua ini ia kerjakan dengan bantuan putera tunggalnya, Cia Sun yang dalam usia belasan tahun sudah mengalami banyak pertempuran.

Akhirnya Cia Hui Gan tewas dalam sebuah pertempuran ketika dikeroyok oleh jagoan-jagoan pemerintah Cheng. Cia Sun yang sejak kecil memang sudah tidak beribu lagi, berhasil melarikan diri. Pemuda inipun melanjutkan sepak terjang ayahnya, malah lebih hebat lagi karena sesungguhnya Cia Sun telah mewarisi semua kepandaian ayahnya. Sebagai seorang pemuda berdarah panas, sepak terjangnya melebihi ayahnya dan sebentar saja ia amat terkenal, dipuji-puji rakyat yang menerima bantuannya, akan tetapi juga dimusuhi oleh orang-orang jahat, terutama sekali pemerintah Cheng. Pemerintah sampai mengumumkan hadiah besar bagi siapa yang berhasil membawa kepala Cia Sun.

Cia Sun membangun sebuah rumah gedung yang kuat dan indah di sebuah puncak pegunungan Min-san yang terletak di daerah utara Se-cuan. Dalam usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan seorang gadis dari keluarga Lie. Isterinya cukup maklum siapa adanya suaminya ini, maka dia tidak mengeluh kalau suaminya itu meninggalkannya sampai beberapa bulan. Bahkan diam-diam dia

membantu suaminya dengan bersikap manis budi dan memuji perjuangan suaminya sebagai seorang pendekar.

Setelah Cia Sun menikah tiga tahun lamanya, ia dikurnia seorang putera yang ia beri nama Cia Han Sin dan kini sudah berusia dua tahun. Setahun setelah puteranya lahir terjadilah urusan dengan Balita yang amat memusingkan otaknya.

Ketika itu seperti biasanya, kembali ia merantau untuk melakukan tugasnya sebagai seorang pendekar. Kali ini ia pergi ke daerah pegunungan Tapa-san karena mendengar bahwa sering kali di daerah itu terjadi kejahatan, perampokan dan penggangguan terhadap penduduk oleh serombongan orang-orang bersuku bangsa Hui. Dikawani oleh Lim-ong, monyet kecil yang dipeliharanya semenjak monyet itu masih muda sekali, ia berangkat menunggang kuda ke daerah itu melakukan penyelidikan.

Betul saja. Segerombolan orang Hui terdiri dari seratus orang lebih melakukan penindasan dan perampokan kepada orang-orang Han yang hidup sebagai petani di daerah itu. Seperti biasa, Cia Sun segera menggulung lengan baju turun tangan. Akan tetapi kali ini ia kecelik. Rombongan orang Hui itu dipimpin oleh seorang perempuan muda cantik jelita bernama Balita yang ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.

Dalam pertempuran hebat Cia Sun tertawan oleh Balita yang jatuh hati melihat pemuda gagah perkasa dan tampan ini. Balita menawan Cia Sun dan membujuk rayu orang muda ini. Akan tetapi Cia Sun bukan sembarang laki-laki yang suka bermain gila dengan wanita, maka dengan berkeras ia menolak dan tidak sudi melayani niat busuk dari puteri bangsa Hui itu. Akan tetapi ia belum mengenal siapa Balita. Wanita muda ini biarpun cantik jelita sekali dan amat menarik hati, mempunyai watak kasar, dan di samping ilmu silatnya yang tinggi sekali, dia juga seorang ahli dalam pembuatan racun-racun jahat. Dengan senyum manis dan kerling mata memikat, Balita mempergunakan ramuan obat yang ia masukan dalam arak sehingga ketika Cia Sun meminumnya, orang muda ini menjadi lupa diri, lupa daratan dan dalam keadaan tidak sadar dikuasai oleh pengaruh minuman mujijat, akhirnya ia tunduk kepada Balita dan melakukan apa saja yang dikehendaki puteri Hui itu.

Tiga hari kemudian tiba-tiba seorang laki-laki bangsa Hui yang bertubuh tinggi besar bermuka buruk, berusia empat puluh tahun lebih melompat masuk ke dalam kamar sambil membawa sebatang golok. Datang-datang ia menyerang Cia Sun sambil memaki-maki. Dengan cepat Cia Sun mengelak dan terdengar bentakan keras ketika Balita melayang ke depan sambil menendang laki- laki tinggi besar itu. Laki-laki itu terlempar dan goloknya terlepas dari tangannya.

Namun ia masih melotot dan kini ia memaki Balita. “Perempuan rendah! Selama menjadi isteriku, entah sudah berapa kali kau berlaku serong. Akan tetapi selama kau bermain gila dengan bangsa sendiri, aku tidak perduli amat karena memang aku tahu bahwa dibalik kecantikan dan kelihaianmu, kau hanyalah perempuan yang berwatak kotor. Biarpun begitu sekarang kau bermain gila dengan seorang Han. Bagaimana aku bisa mendiamkannya begitu saja? Jahanam Han ini harus mampus!”

“Anjing tak tahu diri! Orang macam kau berani bertingkah di depanku? Ayoh pergi, jangan ganggu kami!” Balita membentak dan pada saat itu baru terbuka mata Cia Sun. Tadinya ia memang sudah menyesal sekali setelah sadar dan insyaf akan perbuatannya sendiri melanggar kesusilaan, akan tetapi kemenyesalannya tidak sehebat sekarang ini setelah ia mendengar bahwa perempuan puteri Hui ini ternyata sudah bersuami! Ia merasa malu, merasa rendah dan tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, laki-laki bangsa Hui yang tinggi besar itu menudingkan telunjuknya kepada Balita, “Balita, andaikata kau tak boleh dicegah, tergila-gila kepada orang Han ini, setidaknya jangan kau lakukan dalam keadaan seperti sekarang. Ingat akan kandunganmu jangan kau cemarkan

anakku yang kau kandung     !” Kata-kata ini belum habis karena tiba-tiba ia terguling roboh dan

tewas di saat itu juga, terkena pukulan jarak jauh yang dilakukan Balita dengan gemasnya.

“Jangan hiraukan orang gila ini,” katanya halus sambil memeluk Cia Sun yang kelihatannya pucat sekali.

Akan tetapi Cia Sun memberontak dan memukul ke arah dada perempuan itu dengan maksud membunuh. Ia merasa ngeri mendengar ucapan orang Hui tadi, merasa ngeri akan perbuatannya sendiri yang ia anggap amat memalukan dan terkutuk.

“Persetan kau perempuan busuk!” katanya.

Balita mengelak akan tetapi tidak balas menyerang. Makian Cia Sun dan sikapnya yang berbalik membenci itulah yang membuat Balita merasa terpukul dan hanya berdiri dengan muka pucat.

Bahkan kedua kakinya lemas tak dapat menyusul Cia Sun yang telah melompat keluar dan melarikan diri.

Demikianlah Cia Sun yang gagal dalam membasmi orang-orang Hui malah sebaliknya dia terlibat urusan memalukan dengan Balita, telah berhasil melarikan diri dan kembali ke Min-san. Semenjak itu ia merasa berduka dan menyesal kalau teringat akan perbuatannya dengan Balita yang ia lakukan di luar kesadarannya itu. Berjina dengan isteri orang, isteri orang yang telah mengandung pula!

Alangkah rendahnya! Alangkah kejinya. Apa lagi kalau ia teringat betapa suami Balita sampai tewas karena gara-gara dia menuruti kemauan Balita yang amat busuk, Cia Sun merasa makin terpukul dan malu hatinya.

Setelah ia berhasil menghindarkan diri dari Balita yang tidak berhasil mencari-cari Cia Sun. Sampai pada suatu hari itu, seperti yang telah dituturkan di permulaan cerita ini, tiba-tiba saja Balita muncul sambil menggendong seorang anak bayi yang dikatakannya adalah puterinya! Tentu saja ia marah sekali karena ia tahu bahwa anak itu adalah anak suami Balita. Ia tahu bahwa Balita membohong, menggunakan anak itu untuk menjatuhkan hatinya, untuk mengikatnya. Namun sebagai seorang gagah, ia tidak sudi menerima permintaan Balita.

Demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan. Balita hanya membunuh kuda tunggangan Cia Sun namun tidak mengganggu laki-laki yang berhasil melarikan diri bersama keranya, pulang ke rumahnya di puncak Min-san.

****

Tiga hari kemudian.

Semalaman tadi anak Cia Sun yang kecil, yang diberi nama Cia Bi Eng, menangis terus, rewel tidak karuan sebabnya. Cia Sun dan isterinya sampai menjadi bingung karenanya, karena anak itu tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sesuatu. Akan tetapi rewel terus tidak seperti biasanya.

Menjelang pagi barulah anak itu dapat tidur dan Cia Sun yang semalaman tidak dapat tidur, sekarang duduk bersamadhi mengumpulkan ketenangan. Sesungguhnya hatinya tidak tenang karena ia seperti mendapat firasat tidak baik dengan adanya kerewelan anaknya itu. Akan terjadi hal apakah? Ia teringat akan Balita dan mulai merasa khawatir kalau-kalau puteri Hui itu menjadi nekat dan menyerbu ke situ.

“Betapapun jadinya, aku akan melawannya mati-matian,” pikirnya.

Memang ternyata terbukti apa yang ia khawatirkan, pada keesokan harinya terjadi sesuatu. Akan tetapi bukan Balita yang datang, melainkan orang-orang lain yang menjadi musuh ayahnya, juga menjadi musuhnya. Seorang pelayan datang melapor bahwa di luar datang empat orang aneh yang hendak berjumpa dengan Cia-enghiong.

Dengan tenang dan waspada Cia Sun keluar menjumpai tamu-tamunya. Sesampai di luar, ia melihat tiga orang hwesio gundul yang berwajah bengis dan bertubuh kekar. Ia segera mengenal hwesio- hwesio ini sebagai Thian-san Sam-sian (Tiga Dewa dari Gunung Thian-san). Tiga orang hwesio ini adalah musuh-musuh ayahnya yang pernah dikalahkan ayahnya ketika terjadi bentrokan antara Cia Hui Gan dan Thian-san Sam-sian. Urusannya tidak begitu besar. Seorang murid dari tiga orang hwesio ini terluka oleh Cia Hui Gan ketika melakukan kejahatan di kaki gunung Thian-san dan Thian-san Sam-sian membela muridnya itu. Setelah dikalahkan, mereka mengancam kelak akan mencari Cia Hui Gan untuk membuat perhitungan.

Cia Sun mengenal mereka karena dahulu ketika pertempuran itu terjadi, ia memang menyaksikannya, hanya ketika itu ia baru berusia empat belas tahun dan tidak ikut dalam pertempuran. Sekarang melihat kedatangan mereka setelah belasan tahun lewat, ia dapat menduga bahwa mereka tentu akan membalas dendam. Akan tetapi ia tidak takut dan memandang mereka dengan tenang.

Ketika ia memandang orang keempat, ia mengerutkan kening dan merasa heran siapa adanya orang ini. Tadi sekilas pandang ia berdebar juga karena menyangka dia itu Balita. Orang ini adalah seorang wanita yang cantik juga dan seperti juga Balita, dia mengendong seorang bayi perempuan! Akan tetapi bedanya, biarpun wanita ini juga cantik dan sebaya dengan Balita, jelas bahwa dia ini adalah seorang wanita bangsa Han dan mukanya yang cantik itu agak pucat seperti seorang yang menderita penyakit berat.

Cia Sun menjura kepada tiga orang hwesio sambil berkata, “Kiranya Thian-san Sam-sian yang datang mengunjungi tempat tinggalku yang buruk. Selamat Datang!”

Tiga orang hwesio itu saling pandang, agaknya lupa siapa adanya orang muda yang tampan dan gagah ini. Seorang di antara mereka yang tertua, lalu mengangkat tangan balas menghormat sambil berkata, “Pinceng bertiga datang untuk menjumpai Cia Hui Gan. Harap kau minta ia keluar.”

Cia Sun menggeleng kepala, “Sayang permintaan sam-wi losuhu tak mungkin dapat dilaksanakan karena orang yang sam-wi cari telah lama meninggal dunia.”

Kembali tiga orang hwesio ini saling pandang, nampaknya kecewa sekali, “Kalau sicu (tuan gagah) ini siapakah dan bagaimana dapat mengenal pinceng bertiga?”

“Aku adalah puteranya, namaku Cia Sun. Ada keperluan apakah gerangan maka sam-wi jauh-jauh datang dari Thian-san untuk mencari mendiang ayahku,” tanya Cia Sun, pura-pura tidak tahu akan urusannya.

Tiba-tiba wanita yang mengendong anak itu melangkah maju dan suaranya terdengar lemah namun penuh kemarahan. “Aya kiranya inikah yang bernama Cia Sun, manusia sombong yang

mengandalkan kepandaian sendiri untuk membunuh orang?”

Cia Sun terkejut. Dia tidak mengenal wanita ini dan tidak tahu apakah yang menyebabkan nyonya muda ini datang-datang marah kepadanya. Ia cepat menjura dan bertanya.

“Toanio ini siapakah dan apa sebabnya toanio mengatakan aku sombong dan membunuh orang?”

Wanita itu tersenyum mengejek dan jari telunjuk tangan kanannya ditudingkan ke arah muka Cia Sun. “Orang she Cia, apakah kau sudah lupa kepada Phang Kim Tek yang kaubunuh di I-kiang?”

Tentu saja Cia Sun masih ingat akan Phang Kim Tek di I-kiang. Seorang tuan tanah yang amat kejam yang menggunakan kekayaan dan kekuasaannya menjadi tuan tanah dan raja kecil di dusun sebelah selatan I-kiang. Dengan kejam tuan tanah ini memeras tenaga rakyat petani, bahkan menggunakan kekuasaannya untuk merampas sedikit tanah yang dimiliki beberapa orang petani miskin.

Sebagai seorang pendekar, melihat kejadian tidak adil ini Cia Sun turun tangan sehingga ia bentrok dengan tuan tanah Phang Kim Tek yang dibantu kaki tangannya. Dalam pertempuran ini Phang Kim Tek tewas olehnya. Ia telah mendengar bahwa isteri Phang Kim Tek adalah seorang wanita yang amat lihai, yang dijuluki Ang-jiu Toanio (Nyonya Tangan Merah), yang dalam kekejaman dan kelihaiannya malah lebih hebat dari pada tuan tanah itu. Akan tetapi pada waktu pertempuran terjadi, nyonya itu sedang mengandung tua, maka tidak dapat keluar membantu suaminya.

Sekarang, setengah tahun setelah peristiwa itu terjadi, tiba-tiba nyonya ini muncul membawa puterinya yang baru berusia tiga bulan untuk membalas dendam!

Cia Sun melirik ke arah tangan kanan yang menudingkan telunjuk kepadanya. Ia melihat bahwa tangan itu memang mengeluarkan cahaya kemerahan sampai di pergelangan tangan dan diam-diam ia terkejut. Benar-benar inilah Ang-jiu Toanio dan ia dapat menduga apa artinya warna merah pada tangan itu. Dia adalah ahli Ang-see-chiu (Tangan Pasir Merah) yang amat keji dan lihai!

Cepat ia menjura lagi dan berkata sambil tersenyum tenang, “Ah, tidak tahunya siauwte berhadapan dengan Ang-jiu Toanio! Toanio yang baik, urusan dengan mendiang suamimu itu adalah kesalahan suamimu sendiri yang tidak ingat akan tenaga buruh tani yang membantunya mengumpulkan harta kekayaan. Biarpun suamimu memiliki sawah lebar, kalau tidak ada bantuan tenaga buruh tani, mana bisa dia mengerjakan sendiri sawahnya yang demikian luas? Akan tetapi sebaliknya dari membalas jasa para petani miskin, suamimu malah menindas mereka. Karena itu, kematian suamimu adalah karena kesalahan sendiri. Maka harap toanio suka menimbang dengan adil dan suka menghabiskan perkara itu.”

Sepasang mata Ang-jiu Toanio bernyala. “Jahanam keparat! Kau telah membunuh suamiku, membuat anakku ini menjadi anak yatim dan kau menyuruh aku menghabiskan urusan itu? Cia Sun, kalau dahulu aku tidak sedang mengandung, kiranya bukan suamiku yang tewas, melainkan kau.

Sekarang bersiaplah kau menerima pembalasanku!” Sambil berkata demikian, Ang-jiu Toanio lalu menurunkan anaknya di pinggir, kemudian ia melompat maju menghadapi Cia Sun.

Pendekar ini menarik napas panjang, maklum bahwa urusan ini harus diselesaikan dengan adu kepandaian. Diam-diam ia merasa kasihan kepada wanita ini yang baru saja melahirkan anak harus bertanding dengannya. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Dengan tenang iapun memasang kuda-kuda dan bersikap waspada.

“Kalau demikian kehendakmu, silahkan toanio!”

Ang-jiu Toanio mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menerjang maju dengan ganasnya. Kedua tangannya terkepal erat dan menjadi makin merah warnanya. Kemudian ia menyerang dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin saking kerasnya. Cia Sun bersikap tenang akan tetapi hati-hati sekali karena maklum bahwa kepandaian wanita ini lebih lihai dari pada kepandaian Phang Kim Tek. Beberapa pukulan yang menyerangnya bertubi-tubi ia elakkan dengan lincah tanpa balas memukul. Pukulan keenam yang datangnya cepat mengarah ke dadanya dan tak mungkin dielakkan, terpaksa ia tangkis. Ia mengerahkan tenaga lweekang kepada lengannya, maklum tangan merah adalah tangan yang sudah dilatih hebat dan tenaga pukulannya mengandung hawa beracun yang dapat merusak jalan darah.

“Plak !” Ketika kedua tangan itu bertemu, Cia Sun merasa lengannya panas sekali, akan tetapi ia

berhasil menangkis keras membuat lawannya terpental mundur. Wajah Ang-jiu Toanio makin pucat karena dari tangkisan ini maklumlah ia bahwa tenaga lweekang Cia Sun amat tinggi sehingga mampu menolak kembali pukulan Ang-see-jiu.

“Kalau bukan kau, tentu aku yang menggeletak di sini!” nyonya muda itu berteriak dan dengan nekat lalu menyerang lagi, lebih ganas dan lebih cepat dari yang sudah-sudah.

Menghadapi serangan bertubi-tubi ini, terpaksa Cia Sun mengeluarkan kepandaiannya dan mainkan ilmu silat Thian-te-kun, sambil mengerahkan tenaga Pek-kong-jiu. Inilah kepandaian warisan ayahnya, kepandaian dari keluarga Cia yang membuat ayahnya dahulu terkenal sebagai seorang pendekar yang sukar menemui tandingan.

Ang-jiu Toanio sebenarnya bukan seorang lemah dan dalam hal ilmu silat, kiranya takkan mudah bagi Cia Sun untuk mengalahkannya. Boleh dibilang mereka berimbang, baik dalam kegesitan maupun kehebatan tenaga. Akan tetapi nyonya muda ini baru tiga bulan melahirkan anak dan selain tenaganya belum pulih juga agaknya di dalam tubuhnya terkandung penyakit yang dapat dilihat dari wajahnya yang selalu pucat. Maka kini menghadapi Cia Sun ia merasa berat sekali sehingga dalam jurus ke lima puluh, ia telah menjadi lelah sekali. Gerakannya menjadi lambat dan ia terdesak hebat. Baiknya Cia Sun bukan seorang yang berhati kejam. Kalau pendekar ini menghendaki, tentu ia bisa membuat lawannya tidak berdaya dengan pukulan-pukulan maut, akan tetapi sebaliknya Cia Sun hanya mendesaknya agar kehabisan tenaga dan suka menyerah.

“Toanio, kenapa kau mendesak terus? Sudahlah, habiskan urusan ini,” ia mencoba untuk membujuk.

Akan tetapi lawannya menjadi makin bernafsu.

“Aku belum mampus, jangan kira aku takut!” bentak Ang-jiu Toanio dan nyonya muda ini mengumpulkan tenaga terakhir untuk menyerang terus.

Cia Sun mencari akal. “Toanio, apakah kau tidak kasihan kepada anakmu?” Demikian akhirnya ia berkata. “Kalau kau tewas, siapa yang akan memeliharanya?”

Ucapan ini benar-benar tepat sekali, merupakan ujung pisau berkarat yang menikam jantung. Nyonya muda itu mengeluarkan keluhan perlahan dan pukulan-pukulannya menjadi ragu-ragu. Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya lagi dan menyerang terus.

Pada saat itu, kebetulan sekali ada seekor semut menggigit kaki bayi itu yang menjadi kesakitan dan menangis keras. Mendengar tangis bayinya, makin tidak karuan hati Ang-jiu Toanio.

“Toanio, anakmu menangis minta tetek, masa kau masih terus berkelahi mati-matian?” kembali Cia Sun mendesak dengan omongannya.

Dari mulut Ang-jiu Toanio keluar rintihan dan tiba-tiba nyonya muda ini melompat mundur, menyambar anaknya dan lari dari situ sambil berseru, “Cia Sun, kau tunggu saja sampai anakku besar dan tidak membutuhkan aku lagi. Aku akan kembali dan mencarimu!” Setelah berkata demikian, sambil menangis penuh dendam sakit hati, nyonya muda itu memondong anaknya pergi.

Cia Sun menarik napas panjang, hatinya lega. Sebuah urusan rumit telah dapat dipecahkan, tinggal urusan kedua, yaitu menghadapi tiga orang hwesio dari Thian-san itu.

Ketika tadi pertempuran berjalan, tiga orang hwesio itu menonton dengan penuh perhatian. Sekarang mereka maju menghadapi Cia Sun lagi dan hwesio tertua yang bernama Gi Thai Hwesio berkata memuji,

“Omitohud, Cia-sicu benar-benar gagah perkasa, tidak kalah oleh ayahnya. Benar-benar mengagumkan.”

“Losuhu terlalu memuji. Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Thian-san Sam-sian yang nama besarnya telah bergema di seluruh pojok jagat. Losuhu telah melihat sendiri bahwa aku tidak suka akan adanya permusuhan-permusuhan, maka apabila losuhu datang dengan maksud baik, silahkan masuk sebagai tamu-tamuku yang terhormat.”

“Hemm, orang she Cia, agaknya kau sombong dengan kemenanganmu tadi,” potong Gi Hun Hwesio, orang kedua di antara tiga hwesio itu. “Ayahmu telah menghina pinceng bertiga. Biarpun sekarang dia telah mati, masih ada kau anaknya yang harus membayar hutangnya kepada kami.” Sambil berkata demikian Gi Hun Hwesio sudah mencabut pedang dengan tangan kanan dan tasbeh di tangan kiri, sepasang senjata Thian-san Sam-sian yang membuat nama mereka terkenal. Gerakan ini diturut oleh dua orang saudaranya dan mereka membuat gerakan segi tiga mengurung Cia Sun.

Cia Sun masih berlaku tenang. Ia tidak gugup sama sekali menghadapi musuh-musuh ayahnya ini.

“Sam-wi losuhu, harap sam-wi ingat bahwa permusuhan antara sam-wi dengan mendiang ayah adalah karena kesalahan murid sam-wi sendiri. Muridmu telah melakukan pelanggaran sebagai murid orang-orang beribadat, telah menjadi seorang jai-hoa-cat (bangsat pemetik bunga) yang merusak anak bini orang. Sudah sepatutnya kalau ayah turun tangan membasminya. Sam-wi tidak menghukum murid murtad, sebaliknya memusuhi ayah, bukankah itu salah dan tidak sesuai dengan kedudukan sam-wi sebagai hwesio-hwesio beribadat?”

Mendengar ucapan ini, Gi Hun Hwesio dan Gi Ho Hwesio tidak dapat menahan kemarahannya. Serentak keduanya hendak menyerang, akan tetapi Gi Thai Hwesio yang lebih sabar memberi isyarat mencegah kedua orang sutenya (adik seperguruannya). Kemudian ia berkata kepada Cia Sun. “Omitohud, ucapan Cia-sicu gagah benar. Salah atau tidaknya murid kami adalah urusan kami untuk memutuskan, akan tetapi ayahmu telah berlaku lancang membunuhnya. Bukankah itu sama saja dengan tidak memandang kepada kami dan menghina kami? Akan tetapi, ayahmu telah meninggal dunia dan karena itu kalau saja sicu suka berdamai, pinceng bertiga pun tidak akan terlalu mendesakmu untuk membayar hutang ayahmu.”

Cia Sun dapat menangkap maksud tertentu dalam ucapan ini. Dia seorang yang gagah dan jujur, maka tidak menyukai segala sikap plintat-plintut. Katanya tegas.

“Terserah kepada sam-wi losuhu. Apakah yang sam-wi maksudkan dengan perdamaian? Bagaimana caranya?

Gi Thai Hwesio tertawa, menutupi rasa malu dan sungkan-sungkan. Kemudian setelah menarik napas panjang, ia berkata lagi.

“Omitohud, sicu terlalu tergesa, baiklah pinceng terangkan. Kami bertiga tidak akan mendesakmu dan menghabiskan urusan dengan ayahmu yang sudah mati kalau kau mau menyerahkan surat wasiat dari pemberontak Lie Cu Seng kepada kami.”

Cia Sun mengangkat alisnya dan membelalakkan matanya. “Surat wasiat Lie Cu Seng?” Lie Cu Seng adalah seorang pahlawan rakyat, seorang pejuang pemimpin barisan tani dan kawan seperjuangan Cia Hui Gan, ayahnya. Mendengar tiga orang hwesio ini menyebut nama Lie Cu Seng sebagai pemberontak, tahulah Cia Sun dengan orang-orang macam apa ia berhadapan. Akan tetapi ia masih menahan sabar dan bertanya dengan heran tadi karena memang ia tidak pernah mendengar tentang surat wasiat itu.

“Harap sicu jangan berpura-pura. Lie Cu Seng telah merampok harta kekayaan Kaisar Beng-tiauw dan membawa harta kekayaan itu ketika melarikan diri dari kota raja. Sebelum mati dia meninggalkan surat wasiat tentang harta benda itu. Mendiang ayahmu adalah tangan kanan Lie Cu Seng, maka sudah tentu surat wasiat itu terjatuh ke dalam tangannya. Setelah ayahmu meninggal kepada siapa lagi surat wasiat itu terjatuh kecuali kepadamu?”

Herannya Cia Sun bukan kepalang. Memang cerita ini ada kemungkinannya benar, akan tetapi ia betul-betul tidak pernah mendengar tentang itu. Ayahnya tidak pernah bercerita tentang surat wasiat itu. Ia mulai mengingat-ingat. Peninggalan ayahnya tidak banyak, hanya pakaian dan barang-barang seperti cawan arak, cangkir minum, guci arak, dan pipa panjang kesayangan ayahnya menghisap tembakau. Tidak ada surat wasiat! Barang-barang itu memang masih ia simpan bersama pakaian- pakaian sebagai peringatan, ia taruh di meja sembahyang ayahnya. Di mana ada surat wasiat?

“Aku tidak tahu menahu tentang surat wasiat ” ia berkata perlahan.

“Sicu tidak perlu membohong, dan kamipun tidak memerlukan pengakuan sicu. Yang terpenting, sicu suka memberikan atau tidak?”

02. Bayi Perempuan Siapa ??

CIA SUN tiba-tiba tertawa mengejek. “Baik, sam-wi losuhu. Lepas dari pada tahu atau tidaknya aku tentang surat wasiat itu, aku ingin sekali mengetahui. Sam-wi adalah tiga orang hwesio tua yang sepatutnya melakukan hidup suci dan beribadat, melepaskan diri dari ikatan duniawi, kenapa sam-wi mencari surat wasiat tentang harta karun? Apakah kalau sudah mendapatkan harta karun, sam-wi lalu hendak memelihara rambut dan berubah menjadi hartawan-hartawan?”

Merah muka tiga orang hwesio itu. Inilah penghinaan yang amat besar, mereka anggap penghinaan karena memang cocok sekali dengan idam-idaman hati mereka. Siapa orangnya tidak kepingin kaya raya, pikir mereka membela diri.

“Cia-sicu, tak usah banyak komentar. Pendeknya kau berikan atau tidak surat wasiat Lie Cu Seng itu?”

Sebagai jawaban, Cia Sun meloloskan pedangnya dan melintangkan senjata ini di depan dadanya. “Sekali lagi kutekankan, Thian-san Sam-sian. Aku Cia Sun bukan seorang yang suka membohong. Aku tidak pernah mendengar atau melihat surat wasiat yang kalian maksudkan itu. Terserah mau percaya atau tidak.”

“Kalau begitu kau harus membayar hutang ayahmu!” Sambil berkata demikian Gi Thai Hwesio mulai menyerang, diikuti oleh dua orang sutenya. Penyerangan mereka teratur dan amat kuat, merupakan barisan Sha-kak-tin (Barisan segi tiga) yang berbahaya.

Akan tetapi Cia Sun adalah seorang pendekar yang sudah banyak mengalami pertempuran, ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan ia sudah memiliki ketenangan. Selama ia menghadapi musuh- musuh yang amat banyak, baru sekali karena kepandaian puteri Hui itu memang luar biasa dan aneh. Kini menghadapi keroyokan Thian-san Sam-sian, ia bisa berlaku tenang dan pedang ia gerakan cepat memutari tubuhnya merupakan benteng kuat melindungi tubuh sambil kadang- kadang sinar pedangnya menyelonong ke kanan kiri untuk mengirim serangan-serangan yang tak kalah hebatnya.

Pertempuran kali ini malah lebih hebat dari pada tadi ketika Cia Sun melawan Ang-jiu Toanio. Empat batang pedang berkilauan saling sambar di antara sambaran tiga buah tasbeh yang bergulung-gulung sinarnya. Selama menanti sampai belasan tahun semenjak dikalahkan oleh Cia Hui Gan, Thian-san Sam-sian telah melatih diri dengan tekun, maka kepandaian mereka kalau

dibandingkan dengan dahulu ketika menghadapi ayah Cia Sun, sekarang mereka telah menjadi lebih kuat dan lihai.

Namun, Cia Sun juga telah mendapatkan kemajuan sehingga pada saat itu tingkat ilmu silatnya sudah melampaui tingkat ayahnya. Maka pertempuran ini adalah pertempuran mati-matian yang membuat tubuh mereka lenyap ditelan gulungan sinar senjata mereka. Hanya debu mengebul ke atas dan para pelayan menjauhkan diri dengan muka pucat. Kera kecil yang sudah sejak tadi muncul, mengeluarkan bunyi cecowetan dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti orang bersilat. Kera inipun bukan kera sembarangan karena sudah dapat menggerak-gerakan ilmu silat yang sering ia lihat kalau tuannya, Cia Sun, berlatih. Akan tetapi menghadapi tiga orang hwesio yang demikian lihai, tentu saja ia tidak berani mendekat, hanya ribut sendirian bersilat melawan angin sambil mengeluarkan bunyi seakan-akan menjagoi tuannya dan memaki-maki tiga orang hwesio itu.

Sebetulnya kalau melawan seorang di antara tiga hwesio itu, tentu Cia Sun akan menang. Tingkat kepandaiannya masih lebih menang setingkat dari pada seorang di antara mereka. Akan tetapi dikeroyok tiga, ia sibuk juga dan terdesak hebat. Monyet peliharaannya, Lim-ong, makin ribut.

Agaknya binatang ini mengerti bahwa tuannya terdesak dan berada dalam keadaan berbahaya. Monyet ini sudah terlampau sering ikut tuannya merantau dan menyaksikan Cia Sun bertempur, maka matanya menjadi awas dan ia dapat melihat keadaan pertempuran.

Pada suatu saat, pedang di tangan Gi Thai Hwesio dan tasbeh di tangan Gi Hun Hwesio menyambar dengan cepat dan berbareng ke arah tubuh Cia Sun. Pendekar ini cepat menggunakan pedangnya, sekali tangkis ia dapat membikin terpental dua senjata ini. Akan tetapi pada saat itu, Gi Ho Hwesio menyerangnya dengan sambaran tasbeh ke arah kepala dan tusukan pedang ke arah perut. Monyet kecil menjerit ngeri.

Cia Sun merendahkan tubuhnya dan melintangkan pedang. Tasbeh melayang melewati atas kepalanya dan pedangnya bentrok dengan pedang lawan. Pada saat berikutnya Gi Thai Hwesio dan Gi Hun Hwesio sudah menyerangnya lagi, membuat ia kewalahan dan meloncat ke sana sini sambil menangkis dengan pedangnya untuk menyelamatkan diri. Namun tetap saja pundak kirinya terkena sambaran tasbeh di tangan Gi Thai Hwesio. Biarpun ia tidak sampai terluka karena keburu mengerahkan tenaga lweekang ke arah pundaknya, namun ia merasa pundaknya sakit sekali dan gerak-gerakannya menjadi kurang lincah karenanya. Dengan terpukulnya pundak kirinya Cia Sun menjadi semakin terdesak dan keadaannya benar-benar berubah berbahaya.

“Orang she Cia, apakah kau masih membandel?” tanya Gi Thai Hwesio, membujuk karena melihat pihaknya terdesak.

“Aku tidak tahu tentang surat wasiat!” kata Cia Sun sambil memutar pedang menghalau hujan senjata.

“Kau memang sudah bosan hidup!” kata Gi Hun Hwesio membentak dan kini tiga orang hwesio itu mengerahkan tenaga memperkuat serangan. Cia Sun terhuyung mundur, kedudukannya berbahaya sekali dan gerakan pedangnya sudah lemah.

Tiba-tiba terdengar angin bersiutan dan tiga orang hwesio itu mengeluarkan suara kaget sambil melompat mundur terhuyung-huyung. Tiga buah pisau kecil runcing telah menancap di pundak mereka, pundak sebelah kanan dan tepat sekali mengenai urat besar membuat tangan kanan mereka lumpuh. Mereka menjadi pucat dan tahu bahwa Cia Sun dibantu orang pandai.

“Kami akan kembali lagi !” Gi Thai Hwesio menggerutu sambil pergi dari situ diikuti oleh dua

orang sutenya. Mereka maklum bahwa untuk melawan terus percuma saja setelah mereka menderita luka yang cukup hebat itu, maka sebelum pembantu Cia Sun muncul dan mendatangkan kerugian yang lebih besar lagi kepada mereka, lebih dulu paling baik mereka angkat kaki.

Cia Sun maklum bahwa ia dapat bantuan orang. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan muka girang seperti monyetnya yang sekarang bertepuk-tepuk tangan melihat tiga orang lawan tuannya itu melarikan diri. Ia mengenal pisau-pisau kecil itu. Mengenal pisau yang merupakan hui-to (pisau terbang) ini yang lihainya bukan kepalang. Ia tahu siapa penyambitnya dan karenanya, biarpun ia telah dibebaskan dari bahaya maut, mukanya malah menjadi suram.

Dugaannya tidak meleset. Terdengar anak kecil menangis dan muncullah Balita mengendong anaknya!

“Hik hik,” Balita tertawa mengejek. “Kanda Cia Sun, kalau tidak ada aku, bukankah kau sudah menjadi mayat di tangan tiga orang anjing gundul tadi? Kanda Cia Sun, biarlah aku tinggal di rumahmu ini sebagai penjaga keselamatanmu.”

“Balita, kenapa kau masih saja menggangguku? Pergilah, aku lebih baik mati dari pada kau dekati!” Cia Sun menjawab marah.

Balita hendak memaki, sepasang matanya sudah mendelik, mukanya sudah menjadi merah sekali, akan tetapi tiba-tiba dari pintu depan muncul seorang wanita muda cantik menggendong anak kecil pula. Melihat wanita itu, tiba-tiba sikap Balita berubah. Ia pura-pura tidak melihat, akan tetapi lalu berkata dengan suara mohon dikasihani, “Kanda Cia Sun, kenapa kau begitu kejam kepadaku?

Tidak ingatkah kau betapa selama tiga hari tiga malam kita saling mencinta sebagai suami isteri? Tidak ingatkah kau bahwa yang kugendong ini adalah anakmu? Ah, kanda Cia Sun apakah kau

tidak kasihan kepadaku dan anakmu ini ?”

Cia Sun juga melihat betapa isterinya keluar dan menjadi pucat sekali mendengar dan melihat sikap Balita, malah isterinya lalu menangis dan sambil merintih lari lagi masuk ke dalam gedung.

“Siluman, jangan kau ngaco tidak karuan!” bentaknya.

Balita tertawa. Sikapnya berubah lagi setelah isteri Cia Sun masuk ke dalam.

“Hik hik hik! Cia Sun, kau tidak tahu bahayanya menyakiti hati seorang wanita. Baik, kau tunggulah saja pembalasanku. Hik hik hik!” Balita lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ, cepat sekali seperti melayang dan sebentar saja lenyap di balik batu-batu putih yang mengelilingi puncak itu.

Cia Sun berdiri seperti patung. Hatinya gelisah sekali. Baginya sendiri, ia tidak takut menghadapi bahaya. Akan tetapi dalam ancaman Balita tadi terkandung sesuatu yang mengerikan. Bagaimana kalau iblis wanita itu mengganggu isteri dan anak-anaknya? Balita memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa dan ia tahu andaikata Balita menghendaki nyawanya, nyawa isteri dan anak-anaknya, dia sendiri tidak berdaya menolaknya. Tidak ada yang akan dapat menolongnya, demikian pikirnya dengan gelisah.

Tiba-tiba ia teringat akan seorang sakti yang masih terhitung susiok (paman guru) ayahnya. Orang sakti itu bukan lain adalah Ciu-ong Mo-kai (Raja Arak Pengemis Setan) bernama Tang Pok, seorang pengemis aneh yang telah diangkat menjadi kai-ong (raja pengemis) dari seluruh perkumpulan pengemis di daerah selatan. Untuk daerah selatan, boleh dibilang Ciu-ong Mo-kai Tang Pok adalah orang sakti nomor satu yang jarang ada lawannya.

“Kalau saja susiok-couw sudi membantuku, tentu dia dapat mengusir Balita ” Cia Sun berkata

seorang diri sambil menarik napas panjang. Akan tetapi di mana dia bisa mencari susiok-couw itu? Tempat tinggal Ciu-ong Mo-kai tidak tentu, dia seorang perantau yang tidak pernah bertempat tinggal di suatu tempat. Muncul di sana sini dan wataknya amat aneh. Andaikata dapat ditemukannya juga, belum tentu sudi membantunya. Kembali Cia Sun menarik napas panjang, kemudian ia teringat kepada isterinya. Tentu dia cemburu, pikirnya. Tentu dikiranya aku bermain gila dengan Balita sampai mempunyai anak yang tidak sah. Cia Sun tersenyum pahit. Balita telah melakukan pembalasan, biarpun hanya dengan menimbulkan kebakaran dalam rumah tangganya. Memang patut ia dihukum karena perbuatannya yang ia sendiri anggap tidak patut itu. Dengan perlahan ia lalu berjalan menuju ke pintu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan keras. Cepat ia membalikkan tubuh dan masih sempat melihat betapa sebuah batu putih yang besar telah hancur berkeping-keping. Kemudian di bekas tempat batu itu berdiri seorang tosu yang bertubuh tegap dan bersikap keren. Di punggung tosu itu terselip sebatang pedang. Entah dari mana datangnya tosu itu, dan sepasang matanya membuat Cia Sun terpaku di mana ia berdiri. Mata tosu itu bukan seperti mata manusia, bersinar-sinar menakutkan. Rambutnya digelung ke atas, jenggot dan kumisnya lebat. Sukar menaksir usianya, karena rambut dan brewoknya masih hitam, akan tetapi pada mukanya terbayang usia tua.

Karena terpesona oleh sinar mata yang luar biasa itu, Cia Sun sampai tak dapat mengeluarkan suara untuk menegur atau menyambut, hanya berdiri memandang. Ia seorang yang pemberani dan tabah, namun sinar mata itu benar-benar membuat hatinya berdebar. Di dalam sinar mata itu terkandung ancaman yang bahkan lebih mengerikan dari pada ancaman Balita.

Tosu itu membuka mulut dan terdengarlah suaranya yang parau dan serak seperti suara burung gagak. “Bocah she Cia! Kau berikan surat wasiat Lie Cu Seng kepada pinto (aku)!”

Cia Sun tercengang. Sudah dua kali orang menyebut-nyebut tentang surat wasiat Lie Cu Seng yang sama sekali tidak mengerti di mana tempatnya.

“Totiang,” jawabnya sebal. “Aku benar-benar tidak tahu apa itu surat wasiat Lie Cu Seng.”

Tosu itu tidak berubah air mukanya, akan tetapi suaranya menunjukkan bahwa dia marah. “Bocah tidak tahu diri, kau kira sedang berhadapan dengan siapa berani membantah?” Setelah demikian, tosu itu menggerakkan tangan kiri ke depan perlahan saja. Akan tetapi alangkah kagetnya Cia Sun ketika ia merasakan adanya dorongan yang tidak kelihatan, hawa pukulan yang bukan main kuatnya sehingga biarpun ia sudah mengerahkan lweekangnya, tetap saja ia terjatuh terjengkang! Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi manusia sehebat ini pukulan jarak jauhnya. Bahkan Balita sendiri kiranya tidak sekuat ini!

“Apa sekarang kau masih berani banyak membantah?” terdengar lagi tosu menyeramkan itu mendesak.

Cia Sun sudah merayap bangun, wajahnya pucat. Jarak antara dia dan tosu itu ada lima tombak jauhnya, namun dengan pukulan jarak jauh seenaknya saja tosu itu mampu merobohkannya. Benar- benar bukan lawannya. Akan tetapi kalau betul-betul dia tidak tahu menahu tentang surat wasiat itu, bagaimana?

“Totiang, aku benar-benar tidak tahu tentang surat wasiat yang totiang maksudkan itu ”

Sepasang mata tosu itu mengeluarkan sinar yang membuat Cia Sun seakan-akan merasa dibelek dadanya dan dilongok isi hatinya. Kemudian tosu itu berkata lagi, “Tidak diberikan ya tidak apa. Rebahlah kau!” Kini tangan kirinya kembali didorongkan ke depan, tidak perlahan seperti tadi melainkan disentakkan.

Cia Sun hendak mengelak karena dapat menduga bahwa ia diserang secara hebat sekali, akan tetapi tiba-tiba saja tosu itu menarik kembali tangannya dan wajahnya memperlihatkan penasaran. Dari belakang rumah gedung itu berkelebat bayangan seorang pengemis jangkung kurus yang pakaiannya penuh tambalan, rambut dan jenggotnya awut-awutan dan memegang sebuah tempat arak. Hanya sekelebatan saja Cia Sun melihat bayangan ini yang tertawa terkekeh-kekeh, lalu lenyap kembali. Tosu itu juga berkelebat lenyap dan Cia Sun hanya mendengar suara tinggi kecil berkata mencela.

“Hoa Hoa Cinjin masih suka menggoda segala orang muda, lucu sekali!” Dalam ucapan ini terkandung ejekan berat.

Lalu terdengar suara parau si tosu tadi, “Pengemis iblis, kau mencari apa keliaran di sini?”

Suara-suara itu terdengar dari tempat jauh sekali, tanda bahwa dua orang aneh itu sudah pergi jauh, meninggalkan Cia Sun yang berdiri termangu-mangu. Itulah Ciu-ong Mo-kai Tang Pok, pikirnya. Tak salah lagi. Ayahnya dulu pernah menggambarkan keadaan susiok-couwnya, seorang pengemis yang membawa tempat arak. Akan tetapi ia merasa kecewa sekali mengapa kakek itu tidak mau singgah di rumahnya. Betapapun juga ia dapat merasa bahwa munculnya kakek pengemis itu telah menolong nyawanya dari ancaman tosu yang bernama Hoa Hoa Cinjin.

Hoa Hoa Cinjin! Teringat akan nama ini tiba-tiba jalan darah di tubuh Cia Sun serasa membeku. Mengapa tadi ia lupa? Hoa Hoa Cinjin! Ah, siapa orangnya yang tidak pernah mendengar nama ini? Seorang saikong yang amat jahat, ditakuti seluruh orang kang-ouw, memiliki kepandaian yang jarang keduanya di kolong langit. Bagaimana orang seperti ini yang jarang dijumpai orang, tiba-tiba muncul di situ? Dan kemunculan Ciu-ong Mo-kai, apa pula artinya ini?

Cia Sun menarik napas panjang. Di dunia ini banyak sekali orang-orang sakti, pikirnya. Ia merasa dirinya kecil, lupa bahwa dia sendiri juga dianggap sebagai seorang pendekar yang sakti oleh puluhan ribu orang, karena tingkat kepandaian Cia Sun sebetulnya sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak sembarang orang dapat menandinginya.

****

Tepat seperti yang diduga oleh Cia Sun, isterinya menangis saja di dalam kamar tanpa mau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ia tahu betapa besar cinta isterinya kepadanya, dan tahu pula watak isterinya yang amat cemburu di samping cintanya. Tentu munculnya Balita tadi menusuk perasaannya dan membakar hatinya.

“Isteriku, jangan kau percaya obrolan wanita tadi. Dia itu seorang iblis betina,” Cia Sun menghibur isterinya.

“Kau manusia kejam .... ahh .... lebih baik aku mati saja ” ratap nyonya Cia sambil menangis

kemudian menutupi kepalanya dengan bantal, tidak mau lagi mendengarkan suaminya.

Percuma saja Cia Sun menghibur isterinya karena tidak didengarkan lagi. Sambil menghela napas duka Cia Sun mengangkat anak perempuannya yang menangis dan didiamkan ibunya, menimang- nimangnya sampai anak itu tertidur, hatinya berduka sekali.

Semua pelayan dalam rumah yang berjumlah tiga orang, yaitu dua orang pelayan laki-laki dan seorang pelayan wanita tua yang semenjak Cia Sun masih kecil telah menjadi pelayan Cia Hui Gan, merasa ketakutan dengan adanya peristiwa-peristiwa siang tadi. Dua orang pelayan laki-laki sudah bersembunyi di kamar belakang tidak berani keluar. Pelayan wanita she Lui yang amat setia, dengan tubuh gemetar dan muka pucat menjaga di depan pintu kamar majikannya, mendengar tangis nyonyanya dan iapun ikut menangis. Siang tadi sambil bersembunyi ia melihat segala kejadian, melihat pula kedatangan wanita cantik dengan rambut riap- riapan yang menggendong anak. Sebagai seorang wanita yang sudah tua dan banyak pengalaman, ia dapat menduga apa yang telah terjadi. Tentu tuannya telah mempunyai anak di luar dan kini terjadi percekcokan antara tuan dan nyonyanya.

Malam itu amat menyeramkan bagi uwak Lui dan dua orang pelayan laki-laki. Malam gelap dan sunyi sekali, seakan-akan meramalkan datangnya malapetaka yang mengerikan. Uwak Lui yang berada di luar kamar akhirnya tertidur di atas lantai. Ia tidak merasa betapa angin malam bertiup perlahan mendatangkan hawa dingin sekali.

Tengah malam lewat, keadaan makin sunyi. Tiba-tiba uwak Lui terkejut karena kakinya ditarik- tarik Ketika ia membuka mata, ia melihat Lim-ong, monyet kecil itulah yang menarik-narik kakinya. Kemudian monyet itu meloncat dan melesat pergi, lenyap ditelan gelap. Akan tetapi uwak Lui tidak memperdulikannya lagi karena ia amat tertarik oleh suara-suara yang terdengar di saat itu.

Mula-mula terdengar suara wanita tertawa menyeramkan, suaranya terdengar dari dalam kamar majikannya. Hatinya tidak enak. Biarpun suara ketawa ini menimbulkan bulu badannya berdiri semua, dengan nekat ia membuka pintu kamar dan terhuyung-huyung masuk. Pelita di atas meja masih bernyala, mendatangkan bayang-bayang yang menyeramkan di dalam kamar yang setengah gelap itu.

Hampir saja uwak Lui terguling roboh pingsan ketika matanya yang tua melihat apa yang berada di kamar itu. Majikan perempuan, nyonya Cia telentang di atas ranjang mandi darah, lehernya hampir putus! Dan majikannya Cia Sun, menggeletak di lantai dekat ranjang, juga mandi darah dengan dada penuh luka-luka! Matanya yang kurang awas masih melihat berkelebatnya bayangan keluar jendela.

“Ya, Tuhan !” Suara ini hanya mengganjal tenggorokannya saja. Dengan mata terbelalak ia

melangkah maju ke tempat tidur dua orang anak kecil yang berada di pojok kamar. Ia melihat Han Sin, anak laki-laki berusia dua tahun itu duduk di atas kasur menggosok-gosok matanya dan Bi Eng, bayi berusia tiga bulan itu mulai menangis. Cepat uwak Lui merahi bayi itu, digendongnya dengan tangan kiri dan memondong Han Sin dengan tangan kanan, lalu lari keluar tersaruk-saruk. Dari tenggorokannya keluarlah kini teriakan-teriakan menyayat hati.

“Tolong .....! Tolong .....! Ya, Tuhan ...... tolonglah !” Ia membawa dua orang anak itu lari ke

kamar belakang, menuju ke kamar belakang, menuju ke kamar dua orang pelayan laki-laki. Sampai disitu ia menggedor-gedor pintu, akan tetapi dua orang pelayan laki-laki itu saling peluk di kamar, tidak berani keluar!

Sambil menangis tidak karuan uwak Lui lalu tinggalkan kamar itu, lari ke kamarnya sendiri. Ia menurunkan Han Sin dan Bi Eng di atas tempat tidurnya. Dua orang anak itu mulai menangis dan uwak yang setia ini, sekarang sibuk menghibur dan menidur-nidurkan mereka.”

Ketika memandang kepada Bi Eng, hampir ia menjerit. Ini bukan Bi Eng! Bukan! Bukan bayi yang setiap hari ia gendong, bukan anak majikannya! Ia menoleh kepada Han Sin. Anak laki-laki itu memang betul Han Sin, putera sulung majikannya. Akan tetapi bayi perempuan ini, biarpun sebaya dengan Bi Eng, terang sekali bukan bayi perempuan majikannya! Uwak Lui bingung bukan main. Dari mana datangnya bayi perempuan yang juga amat montok dan mungil ini? Bayi ini mempunyai tanda kecil merah di bawah telinga sedangkan Bi Eng tidak. Di mana Bi Eng ? Uwak Lui teringat kembali kepada majikan-majikannya ketika dua orang anak itu sudah tertidur. Ia harus kembali ke kamar itu. Ia bergidik dan kembali dadanya sesak. Air matanya mengucur keluar. Tidak kuasa ia memandang isi kamar yang amat mengerikan itu. Akan tetapi, masa harus didiamkan saja? Dan siapa tahu, barangkali Bi Eng masih berada di kamar itu.

“Aduuuhh ........ Cia-siauwya ....... Cia-hujin ” dengan air mata mengucur dan langkah

terhuyung-huyung, nyonya tua yang amat setia dan sudah menganggap majikan-majikannya seperti anak-anaknya sendiri, menuju ke kamar maut tadi.

Hampir ia tidak kuat berdiri lagi ketika sudah memasuki kamar. Hampir ia tidak kuat menahan jerit tangisnya. Akan tetapi ia menguatkan hatinya dan matanya mulai mencari-cari, siapa tahu Bi Eng masih ketinggalan di situ. Akan tetapi tidak ada anak lain lagi. Sekarang baru ia menuju ke tempat tidur dan menubruk majikannya.

“Cia-hujin !” Tiba-tiba matanya terbellak. Penuh kengerian ia memandang muka nyonya Cia.

Muka yang biasanya tersenyum ramah dan cantik itu kini telah rusak, pecah-pecah pipi dan keningnya. Ia terbelalak heran. Tadi ia tahu benar bahwa nyonyanya ini hanya terluka di lehernya saja, hampir putus. Akan tetapi mukanya tidak apa-apa. Kenapa sekarang menjadi rusak muka itu seperti ada orang yang datang lagi merusaknya?

Ia menengok ke arah tubuh Cia Sun yang menggeletak di lantai. Kembali ia terbelalak dan hampir menjerit. Matanya penuh ketakutan memandang ke sana ke mari, mencari-cari apakah di situ tidak ada orang lain. Benar-benar aneh dan mengerikan. Tadi Cia Sun menggeletak dengan baju penuh darah karena luka-luka di dada. Akan tetapi sekarang darah itu tidak kelihatan lagi karena tubuhnya telah tertutup oleh sehelai selimut yang aneh. Selimut indah dari sutera kuning, selimut yang belum pernah ia lihat sebelumnya! Saking herannya uwak Lui menghampiri mayat Cia Sun.

Benar saja selimut itu asing, jangankan di dalam rumah, malah selamanya ia belum pernah melihat selimut seperti itu. Corak dan warnanya aneh sekali, akan tetapi amat indahnya. Tak terasa lagi nyonya tua ini memegangi selimut itu, meraba-raba kainnya yang halus dan hangat.

Dengan selimut masih d tangan dan mulutnya sesambatan sambil menangis, tiba-tiba ia mendengar suara tangis dari atas genteng! Suara tangis terisak-isak.

“Ah .... kanda Cia Sun ...... kanda Cia Sun ....... kau tega tinggalkan aku !” Tangis itu makin

tersedu-sedu dan uwak Lui dapat mengenal suara itu. Suara Balita. Siang tadi ia telah mendengar pula suara wanita cantik yang aneh itu.

Kemudian tangis terhenti dan berubah suara ketawa yang merdu sekali akan tetapi yang membuat uwak Lui menggigil seluruh tubuhnya. Ia teringat akan dua orang anak kecil yang ditinggalkan, maka saking khawatir kalau-kalau terjadi hal-hal yang kurang baik, ia cepat berlari meninggalkan kamar majikannya, menuju ke kamarnya sendiri. Saking bingung, duka, takut, dan kaget, uwak Lui yang tua ini sampai lupa bahwa selimut kuning itu masih ia pegang dan terbawa olehnya ketika ia lari ke kamarnya.

Setelah tiba di kamar, ia cepat-cepat menjenguk Han Sin yang masih tidur di samping adiknya. Akan tetapi ketika ia memandang kepada bayi perempuan yang mempunyai tanda merah di dekat telinga, uwak ini menjerit dan selimut yang dipegangnya tadi jatuh ke atas lantai. Ia mundur dua tindak, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga memandangi wajah anak perempuan yang tidur nyenyak. Kemudian ia melangkah maju lagi untuk memandang lebih teliti. Naik sedu sedan dari dada uwak itu. Wajahnya lebih pucat dari wajah mayat-mayat yang berada di kamar majikannya. Anak perempuan yang berada di situ ternyata telah berubah pula! Ini bukan anak yang ada tanda merah di dekat telinganya tadi. Anak ini juga perempuan juga sebaya, juga montok dan mungil, akan tetapi bukan Bi Eng juga bukan anak perempuan yang bertanda merah tadi! Heran, ajaib! Apakah yang terjadi? Tidak kuat uwak ini menghadapi semua ini.

“Siluman .....! Iblis .....! Tolong .... tolong !” Ia berlari sampai terjatuh-jatuh menuju ke kamar

dua orang pelayan, dan kini ia menggedor terus pintu kamar pelayan-pelayan itu yang dengan tubuh menggigil membuka pintu dan mereka mendapatkan uwak Lui sudah terguling roboh di depan kaki mereka, pingsan!

****

Ketika pelayan-pelayan yang tiga orang itu mengurus jenazah Cia Sun dan isterinya pada tengah malam itu, mereka merasa ketakutan. Mereka mendengar suara hiruk-pikuk, seperti orang-orang berjalan di dalam rumah dan meja kursi terbalik. Akan tetapi tidak kelihatan orangnya, hanya ada angin bersiutan yang beberapa kali membuat pelita padam. Dengan tangan menggigil pelayan- pelayan itu menyalakan kembali pelita tanpa berani melihat apakah yang menyebabkan datangnya suara-suara itu. Uwak Lui lalu memasang hio dan bersembahyang, mohon kepada Thian supaya melindungi mereka dan mengusir siluman-siluman itu!

Pada keesokan harinya suara-suara itu lenyap dan setelah terang barulah ketahuan bahwa rumah gedung itu telah digeledah dengan teliti sekali. Sampai-sampai kamar mandi diperiksa semua. Peti- peti dibuka, lemari-lemari dibongkar. Akan tetapi anehnya tidak ada barang yang hilang.

Seorang di antara pelayan laki-laki lalu lari ke bawah puncak, ke dusun terdekat untuk minta bantuan penduduk dusun. Karena nama Cia Sun sudah dikenal baik sebagai seorang dermawan dan sudah banyak pendekar ini menolong mereka, maka berduyun-duyun penduduk dusun itu datang untuk melayat dan membantu penguburan jenazah Cia Sun dan isterinya.

Uwak Lui diam-diam mengasuh Han Sin dan adiknya. Sama sekali ia tidak mau bicara tentang ditukarnya Bi Eng sampai dua kali, karena ia tahu bahwa kalau ia bicara tentang itu, tentu menimbulkan geger dan juga bagi dia sama saja apakah asuhannya itu benar-benar Bi Eng atau bukan. Anak kecil yang terakhir ditukarkan ini amat manis dan montok, sehat dan mungil tidak kalah oleh Bi Eng yang asli. Maka ia berjanji di dalam hati tidak akan membuka rahasia ini dan tetap menyebut anak kecil itu dengan nama Bi Eng.

Malam tadi tidak hanya terjadi keanehan di dalam gedung yang menimbulkan rasa takut hebat pada tiga orang pelayan itu. Juga di dalam hutan tak jauh dari puncak itu terjadi hal yang aneh. Kelihatan di dalam hutan itu Balita menggendong anak sambil sebentar-sebentar menangis dan sebentar- sebentar tertawa.

Tiba-tiba dari atas dahan pohon melompat seekor kera terus menyerangnya dan mencoba untuk merampas bayi yang dipondongnya, Monyet ini bukan lain adalah Lim-ong, monyet peliharaan Cia Sun yang memang biasanya suka bermalam di pohon-pohon. Serangan monyet ini bagi orang lain tentu ganas dan berbahaya. Akan tetapi tidak demikian terhadap Balita. Sekali saja wanita ini menggerakkan tangannya, tubuh monyet itu terlempar jauh dan jatuh tak bergerak lagi! Setelah Balita pergi, baru monyet itu bergerak perlahan, mengerang dan merayap perlahan memasuki segerombolan pohon.

Di lain bagian dari hutan itu, Ang-jiu Toanio juga menggendong anaknya, berlari-lari. Tiba-tiba terdengar suara geraman hebat sehingga hutan bagian itu seakan-akan tergetar. Kemudian munculah seekor harimau yang besar sekali, sikapnya galak, kulitnya loreng dan taringnya besar runcing. Di belakang harimau ini muncul pula seorang laki-laki tinggi gundul, telinganya pakai anting-anting, mukanya lucu, kepalanya yang gundul meruncing ke atas. Dilihat dari wajahnya, jelas bahwa dia bukan orang Han.

Baik harimau maupun orang aneh itu tidak memandang kepada Ang-jiu Toanio, melainkan kepada bayi yang digendongnya, nampaknya keduanya merasa mengilar sekali!

Ang-jiu Toanio adalah seorang berkepandaian tinggi yang tentu saja tidak takut melihat harimau itu, malah ia menjadi marah dan membentak keras, “Setan! Suruh pergi kucingmu itu sebelum kubikin mampus dia. Bikin kaget anakku saja.”

Akan tetapi orang gundul itu tertawa ha ha, he he, lalu bicara dengan suara bindeng (suara hidung), “Belikang anakmu padanya, dia lapang!”

Selain bindeng, juga bicaranya tidak jelas, tanda bahwa dia itu seorang asing.

Ang-jiu Toanio yang sudah banyak melakukan perantauan, mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang Mongol. Sebetulnya ia merasa geli mendengar suara yang bindeng itu, akan tetapi karena mendengar kata-kata yang minta anaknya untuk dijadikan mangsa macan itu, ia menjadi marah sekali dan lenyap geli hatinya.

“Binatang, jangan main gila di depan Ang-jiu Toanio!” bentaknya.

“He he he, aku Kalisang tidak takuti segala tangang melah atau tangang hitam!”

Ang-jiu Toanio makin marah, akan tetapi tiba-tiba macan itu menubruk dengan kekuatan yang dahsyat dan cepat sekali. Ang-jiu Toanio mengelak dan hendak mengirim pukulan, akan tetapi orang Mongol yang bernama Kalisang itu sudah melompat ke depan dan mengulur tangannya yang panjang untuk menjambret pundaknya. Ia cepat menggunakan tenaga Ang-see-chiu untuk menangkis.

“Plak!” Dua tangan bertemu dan orang Mongol itu miring tubuhnya, kesakitan dan panas sekali tangannya bertemu dengan si Tangan Merah. Akan tetapi alangkah kagetnya Ang-jiu Toanio ketika tangan kiri lawannya tiba-tiba mulur panjang sekali dan tahu-tahu tangan itu sudah dapat merampas anaknya dari gendongan.

“Jahanam, kembalikan anakku!” Ang-jiu Toanio menubruk maju menyerang si tangan panjang yang lihai itu. Akan tetapi Kalisang sudah melompat ke belakang dan terus saja lari cepat bukan main.

Kedua kakinya yang kecil panjang-panjang itu berlari seperti terbang saja.

Ang-jiu Toanio terus mengejar, akan tetapi harimau besar itu menghadangnya dan menubruk dari pinggir. Dalam kegemasannya, Ang-jiu Toanio memukul dada harimau dengan tenaga Ang-see- chiu.

“Bukk!” Tubuh harimau yang besar terlempar ke belakang. Akan tetapi tubuh harimau itu kuat sekali dan karena dia bukan manusia sehingga jalan darah dan otot-ototnya tidak sama dengan manusia pula, maka pukulan tadi hanya membuat ia sakit dan terlempar, sama sekali tidak mendatangkan luka di dalam tubuh. Ia menggereng keras dan menyerang lagi.

Ang-jiu Toanio gemas bukan main. Dengan halangan ini, terpaksa ia tidak dapat mengejar si tangan panjang. Ia lalu menghujani pukulan dan tendangan, tidak memberi kesempatan kepada harimau ini. Akhirnya ia dapat menyambar ekor harimau dan dengan tenaga luar biasa wanita muda itu membanting tubuh harimau sekuatnya.

“Blekk!” Harimau itu mengaum dan lari terbirit-birit, takut menandingi wanita kosen itu. Ang-jiu Toanio tidak memperdulikan binatang hutan tadi dan cepat lari ke depan mencari bayangan Kalisang. Akan tetapi betapa kaget dan cemasnya karena ia tidak dapat mencari Kalisang yang lenyap di waktu gelap. Ang-jiu Toanio menjadi cemas sekali. Ia mengejar terus, lari secepat mungkin sambil memaki-maki dan kadang-kadang menangis.

Sementara itu, sambil tertawa-tawa serem Kalisang membawa anak kecil itu bersembunyi di dalam semak-semak, mendekap mulut anak itu supaya jangan menangis. Setelah Ang-jiu Toanio berlari jauh sekali, ia keluar dan memanggil harimaunya. Harimau besar itu datang dan melihat anak kecil dalam pondongan, ia mengaum dan memperlihatkan taringnya.

“Heh heh, anakku, kau udah lapang (lapar) sekali! Heh heh heh!”

Setelah berkata demikian, ia melemparkan anak bayi itu ke atas tanah di depan binatang buas itu! Si harimau mendekam, matanya bersinar-sinar, mulutnya meringis dan kaki belakangnya sudah menegang, siap menubruk dan menikmati daging bocah yang tentu lunak, segar dan lezat itu.

Akan tetapi tiba-tiba pada saat harimau maju hendak menubruk, binatang ini sebaliknya terlempar ke samping, menggeram kesakitan dan bergulingan.

Adapun bayi itu tahu-tahu telah disambar orang dan di lain saat telah berada dalam pelukan tangan kiri seorang saikong yang memegang pedang.

Inilah Hoa Hoa Cinjin, saikong sakti yang kemaren sudah muncul di depan Cia Sun.

Melihat hal itu, Kalisang marah sekali. Ia menubruk maju dan kedua tangannya mulur sampai panjangnya hampir dua meter! Akan tetapi, pedang di tangan Hoa Hoa Cinjin berkelebat dan Kalisang menjerit kaget sambil menarik kembali tangannya. Betapapun juga, ujung jari tangan kirinya terbabat sehingga terluka dan sapat di bagian kukunya.

“Setan Mongol, kau tidak mengenal Hoa Hoa Cinjin?” bentak saikong itu keren.

Nama besar Hoa Hoa Cinjin memang sudah terkenal. Bahkan orang Mongol ini pernah mendengar nama itu. Tadipun ia telah membuktikan sendiri kelihaian saikong yang matanya begitu mengerikan, lebih mencorong dari pada mata harimaunya. Hatinya jerih dan sambil memekik aneh orang Mongol itu lari pergi dari situ, diikuti oleh harimaunya yang juga takut menghadapi saikong yang bermata setan itu.

Hoa Hoa Cinjin tertawa dan memandang bocah dalam pelukannya.

“Anak baik ....... anak baik ..... kau patut menjadi muridku. Hemm hendak kulihat kelak siapa

yang bisa mengalahkan kau.” Iapun pergilah dari hutan itu sambil membawa bocah yang tidak menangis karena kini merasa hangat dalam pelukan, dibungkus dalam jubah lebar tebal, menempel pada dada yang panas.

Semua kejadian ini tidak ada orang lain melihatnya, hanya monyet kecil. Lim-ong yang melihatnya. Monyet yang sudah terluka parah oleh pukulan Balita ini, diam-diam mengintai dan menyaksikan semua itu. Ia lalu menyelinap di antara daun-daun pohon dan di lain saat iapun menggendong seekor monyet kecil, monyet jantan yang masih kecil sekali. Ia mengeluarkan bunyi cecowetan dan aneh, dari kedua matanya keluar dua butir air mata. Monyet betina itu, Lim-ong menangis.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali jenazah Cia Sun dan isterinya telah dibersihkan, diberi pakaian baik-baik dan dimasukkan dalam dua buah peti sederhana yang diusahakan oleh penduduk dusun. Kemudian hio dipasang dan semua orang bersembahyang memberi penghormatan terakhir kepada pendekar budiman dan isterinya itu. Uwak atau Bibi Lui meratap-ratap dan menangis ketika membawa Han Sin dan Bi Eng yang diajak sembahyang pula. Dua orang anak kecil yang tidak tahu dan mengerti apa-apa ini, tidak menangis. Akan tetapi ketika mendengar uwak Lui dan semua penduduk menangis pilu, mereka pun mulai menangis. Suara tangis mereka memenuhi ruangan depan gedung itu di mana dua peti mati itu ditaruh berjajar.

“Kanda Cia Sun ...... ohh, kanda Cia Sun !”

Mendengar seruan ini, wajah uwak Lui menjadi pucat dan otomatis tangisnya berhenti. Juga para penduduk memandang orang yang datang ini dengan heran dan tertarik. Balita dengan mengendong anak, rambutnya tetap riap-riapan dan pakaiannya sobek sana sini, datang terhuyung-huyung sambil menangis.

Setelah ia tiba di ruangan depan itu, tiba-tiba uwak Lui mempunyai pikiran yang cerdik. Uwak yang setia ini segera berdiri dan menyambut kedatangannya, sedikitpun tidak takut biarpun ia tahu bahwa wanita ini adalah seorang iblis betina yang menyeramkan dan mungkin sekali menjadi pembunuh majikan dan nyonyanya. Ia melirik ke arah bocah di dalam gendongan Balita, akan tetapi Balita agaknya sengaja menutupi bocah itu sehingga tubuh dan muka anak kecil itu tidak kelihatan sama sekali.

“Toanio apakah sahabat mendiang majikanku dan hendak bersembahyang? Silahkan silahkan,

biarlah kugendongkan dulu anak toanio itu,” kata uwak Lui dengan ramah tamah sambil cepat menghampiri Balita dan memegang kaki anak kecil itu untuk digendong. Bayi anak majikannya sendiri sudah tadi-tadi ia baringkan ketika ia mendapatkan akal untuk melihat dan mengenal anak digendongan Balita.

03. Ciu-ong Mo-kai Pengemis Sakti

AKAN tetapi Balita merenggut anaknya, matanya mendelik kepada uwak Lui yang baru saja memegang kaki anak itu. “Pergi kau! Aku bisa bersembahyang sambil menggendong anakku!”

Uwak Lui kaget dan mundur, akan tetapi di dalam hatinya ia terheran-heran dan makin bingung, karena anak di gendongan Balita itu bukanlah puteri majikannya, bukan Bi Eng! Tadi ia sengaja memegang kaki anak itu, karena biarpun tidak melihat muka anak itu, dari kakinya saja ia dapat mengenal kalau anak itu Bi Eng adanya. Di kaki sebelah kiri Bi Eng, di dekat mata kaki, terdapat sebuah tahi lalat hitam yang merupakan tanda anak itu yang tak akan lenyap.

Akan tetapi ketika ia tadi memegang kaki kiri bayi di gendongan Balita itu dan melihat dengan teliti, kaki kiri anak itu bersih saja dan tidak ada tahi lalatnya. Anak itu bukan Bi Eng, dan anak kecil yang ia tidurkan itupun bukan Bi Eng. Di manakah lenyapnya Bi Eng yang asli? Diam-diam uwak Lui bingung dan berduka, akan tetapi ia hendak menyimpan rahasia ini di dalam hatinya sendiri. Biarlah, anak bayi perempuan yang sekarang berada dalam asuhannya, dia itulah Cia Bi Eng.

Balita tidak mempergunakan hio, langsung ia berlutut di depan peti mati Cia Sun sambil menangis sesambatan dan memeluki peti itu. “Kanda Cia Sun ...... tega benar kau kepadaku kanda Cia Sun, hidup ini tiada artinya bagi Balita ” Ia menangis tersedu-sedu, lalu dengan beringas ia pindah

ke depan peti mati nyonya Cia Sun, menggedor-gedorkan kepalanya yang berambut riap-riapan itu pada peti mati nyonya Cia!

Uwak Lui menjadi khawatir sekali dan baiknya Balita hanya menggedorkan kepalanya perlahan saja. Akan tetapi jangan kira bahwa gedoran kepala ini hanya tanda kedukaannya, karena diam- diam ia mengerahkan tenaga lweekang untuk menghancurkan isi peti mati itu.

Tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking dan tahu-tahu seorang pengemis yang rambutnya awut- awutan sudah berdiri di belakang peti nyonya Cia Sun. Ia menepuk-nepuk peti itu sambil berkata, “Cia-hujin, tenanglah. Orang-orang ini benar gila, menangisi kau yang sudah senang. Ha ha ha!”

Balita kaget bukan main ketika kepalanya terasa sakit begitu digedorkan kepada peti mati. Ia maklum bahwa serangannya untuk menghancurkan mayat nyonya Cia telah digagalkan oleh tepukan-tepukan tangan pengemis itu pada belakang peti mati. Ia mengangkat kepala memandang dan melihat pengemis yang rambutnya awut-awutan itu memegang sebuah guci arak, ia terkejut. Ia pernah mendengar nama Ciu-ong Mo-kai si Raja Pengemis dari seluruh perkumpulan pengemis di daerah selatan.

“Ha ha ha,” kembali pengemis itu tertawa dengan suara tinggi. “Memang dunia ini palsu. Orang yang terbebas dari derita hidup ditangisi, di balik air mata muncul kepalsuan-kepalsuan jahat. Aduh, lebih enak yang mati dari pada yang hidup harus menyaksikan segala macam kepalsuan!”

Balita mundur sambil mendekap anaknya. Menghadapi seorang pengemis sakti seperti ini ia harus hati-hati, apa lagi ia sedang menggendong anak.

“Ciu-ong Mo-kai Tang Pok, omonganmu benar. Kalau kau lebih suka mati, biar aku coba mengantarmu ke neraka.” Tangan kanan Balita menampar ke depan dan angin pukulannya dari jarak jauh menyambar ke arah dada pengemis itu.

Ciu-ong Mo-kai Tang pok, pengemis sakti itu sambil tertawa menegak arak dari guci araknya, kemudian menyemburkan araknya ke depan. Arak itu merupakan senjata penangkis pukulan dan begitu bertemu dengan hawa pukulan Balita arak itupun tertahan dan terpental kembali!

“Ha ha, hebat! Kau perempuan Hui benar hebat!” pengemis itu memuji dan pujian ini memang setulusnya hati karena siapa orangnya tidak kagum melihat seorang perempuan semuda itu memiliki pukulan jarak jauh yang demikian kuatnya? Sebaliknya, Balita maklum bahwa pengemis itu merupakan tandingan sangat berat. Ia tidak bisa melepas anaknya untuk berkelahi, maka sambil melompat pergi ia berkata.

“Pengemis tua bangka, lain waktu aku Balita tentu mencarimu!”

Pengemis itu hanya tertawa-tawa kemudian menjawab kepada bayangan Balita yang sudah pergi jauh. “Jembel tua bangka buruk rupa macam aku ini mana ada harga kau cari-cari? Tentu kau lebih suka mencari yang muda rupawan, bagus dan tampan. Ha ha ha!”

Uwak Lui dan dua orang pelayan keluarga Cia serta semua penduduk dusun yang berada di situ memandang kepada pengemis itu tak senang. Mereka ini tentu saja sama sekali tidak tahu betapa pengemis ini telah menolong mayat nyonya Cia dari kehancuran. Bagi mereka, pengemis itu terlalu kurang ajar dan sebaliknya nyonya muda tadi patut dikasihani. Bukankah nyonya muda tadi datang untuk berbelangsungkawa sedangkan pengemis itu datang-datang mengacau? Apalagi sekarang pengemis itu sambil tertawa-tawa dan minum arak berkata kepada mereka, “Kalian jangan menangis, tidak boleh menangisi orang mati!”

Semua orang yang berada di situ saling pandang. Mereka merasa takut melihat pengemis ini, karena sikapnya dan rambutnya yang awut-awutan itu lebih pantas disebut orang yang sudah miring otaknya. Akan tetapi uwak Lui yang amat setia menjadi tak senang karena upacara perkabungan majikannya dikacau. Ia maju menghampiri pengemis itu sambil menggendong Bi Eng. Dirogohnya saku bajunya dan dikeluarkan sekeping uang perak, lalu diberikan kepada pengemis itu.

“Nih, sedekahnya, harap sekarang kau suka pergi dan jangan mengganggu kami. Tidak tahukah kau bahwa kami sedang berduka, mengabungi kematian majikan-majikanku yang tercinta?”

Pengemis itu memandang kepada uwak Lui dengan mata meram-melek sambil menyeringai, lalu berkata seperti orang bersajak.

“Siapa bilang hidup lebih senang dari pada mati? Siapa bilang mati harus diantar susah hati?

Samua berasal dari tiada. Dan kembali kepada tiada Bila musimnya tiba?

Bukankah mati hanya pulang ke asalnya?”

Kemudian sambil menghelus-elus peti mati Cia Sun, pengemis itu berkata seperti kepada diri sendiri, “Cia Sun semasa hidup memenuhi kewajiban sebagai satria sejati, melanjutkan sepak terjang ayahnya sebagai pendekar pembela rakyat. Matipun tidak penasaran!”

Mendengar ucapan ini, uwak Lui menangis dan memeluki Bi Eng. “Pengemis aneh, jangan kau menyusahkan hati kami yang sudah berduka. Boleh kau bilang apa saja, akan tetapi tidak kasihankah kau kepada dua orang anak ini yang ditinggal mati ayah bundanya? Mereka menjadi yatim piatu, ah ...... yatim piatu ” Uwak Lui menangis terisak-isak dan semua penduduk dusun

yang berkumpul di situ juga ikut menangis.

“Diam! Diam semua!” Pengemis itu membentak, lalu sekali ulur tangan ia telah merampas Bi Eng dari gendongan uwak Lui yang menjadi kaget sekali.

“Anak baik ah, anak bertulang baik.” Pengemis yang seperti orang gila itu lalu mengayun-ayun

bayi itu malah kemudian ia melemparkan bayi itu ke atas diterima lagi dan dilemparkan lagi seperti seorang anak nakal bermain dengan sebuah bola!

Uwak Lui menjerit dan melompat maju merampas anak itu. Pengemis tadi memberikan Bi Eng kepada uwak Lui sambil berkata, “Jaga baik-baik muridku ini!”

“Muridmu? Apa artinya ini?” tanya uwak Lui sambil mendekap anak itu.

“Bibi yang baik, jangan salah menyangka orang. Aku adalah paman guru Cia Hui Gan! Aku datang untuk menyelidiki siapa orangnya yang membunuh Cia Sun dan isterinya.”

Suara pengemis itu berubah keren dan sikapnya agung, membuat uwak Lui surut mundur. Uwak Lui lalu menjura dengan hormat sambil berkata. “Terserah kebijaksanaan, taisu!”

Pengemis itu tertawa-tawa lagi lalu maju melangkah ke arah peti mati. Tutup peti mati telah dipaku, akan tetapi sekali angkat saja tutup peti mati Cia Sun telah dibukanya! Ia membungkuk dan melihat tanda-tanda luka di dada mayat itu. Muka mayat pendekar itu tenang, malah mulutnya agak tersenyum. Setelah memeriksa beberapa lama, pengemis itu berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.

“Aneh .... aneh sekali ..... pedang biasa, tusukan biasa masa dia mati karena serangan macam itu

....?”

Kemudian ia menutup lagi peti mati dan sekali tekan paku-paku itu telah amblas mengunci tutup peti. Kemudian ia membuka peti mati nyonya Cia Sun. Mayat nyonya muda ini lebih menyedihkan karena selain lehernya putus, juga mukanya luka-luka. Ciu-ong Mo-kai memeriksa leher yang terluka dan kembali ia menggelengkan kepala.

“Bukan karena tenaga, melainkan karena tajamnya pedang. Heran .... heran lebih patut kalau

dikatakan pembunuhnya seorang kanak-kanak lemah!” Akan tetapi ketika ia melihat muka nyonya muda yang sudah menjadi mayat itu, ia mengerutkan kening.

“Perempuan Hui itu masih melampiaskan marahnya melihat saingannya sudah mati. Terlalu sekali

....!” Juga lalu menutup kembali peti mati dan menoleh kepada semua orang yang melihat perbuatannya ini dengan penuh rasa ngeri dan heran.

“Cia Sun tidak berkeluarga kecuali dua orang anaknya. Orang yang boleh diandalkan adalah bibi pengasuh ini, maka mulai sekarang semua kekuasaan mengurus rumah dan memelihara dua orang anak ini kuserahkan kepada bibi pengasuh. Siapa yang berani mengganggunya berurusan dengan aku! Sekarang, saudara-saudara dari dusun di bawah puncak boleh pulang. Biar aku dan bibi pengasuh mengurusnya sendiri.”

Karena semua orang merasa takut, mendengar perintah ini tanpa banyak cakap mereka lalu pergi dari situ. Uwak Lui tidak berani membantah! Dia bersama dua orang pelayan laki-laki yang berada di situ hanya bisa saling pandang.

“Kenapa kalian dua orang masih tidak mau pergi?” Pengemis itu bertanya ketika masih ada dua orang laki-laki berjongkok di ruang itu.

“Taisu, dua orang ini adalah pelayan-pelayan di sini, semenjak kecil mereka membantu majikan kami,” kata uwak Lui.

Ciu-ong Mo-kai mengangguk-angguk. “Kalau kalian masih suka, mulai sekarang kalian menjadi pelayan dia ini.” Dia menunjuk uwak Lui dan dua orang pelayan itu mengangguk. “Ayoh, kalian ambilkan arak untukku!”

Ketika dua orang pelayan itu ragu-ragu, uwak Lui memberi isyarat supaya mereka memenuhi permintaan Ciu-ong Mo-kai. Uwak Lui sudah terlalu lama mengikut Cia Sun dan sudah banyak melihat kawan-kawan Cia Sun dan sudah banyak melihat kawan-kawan Cia Sun yang terdiri dari orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh dan sakti. Sekarang ia percaya bahwa pengemis itu tentulah orang sakti yang benar-benar datang untuk menyelidik pembunuhan majikannya. Ia merasa lega karena biarpun pengemis itu wataknya aneh menakutkan, namun keselamatannya, terutama keselamatan dua orang anak kecil yang sejak itu diasuhnya sebagai anak-anak sendiri, akan terjaga dan terjamin.

Ciu-ong Mo-kai tidak mau menggunakan cawan perak yang dibawakan oleh para pelayan. Ia menuang arak dari guci besar ke dalam tempat araknya sendiri lalu minum arak dari mulut gucinya yang kecil. Sambil minum arak ia bernyanyi-nyanyi dengan kata-kata yang tidak karuan. Tiba-tiba uwak Lui dan dua orang pelayan itu mendengar suara roda kereta datang di depan gedung. Mereka kembali melongo dan saling pandang. Bagaimana ada kereta bisa sampai di tempat itu?

Dengan jalan kakipun amat sukar sampai di situ, apalagi berkereta. Kudapun tidak bisa naik di antara batu-batu putih yang mengitari gedung. Apakah kuda dan kereta itu bisa terbang?

Benar saja. Sebuah gerobak kecil roda dua ditarik oleh seekor keledai berhenti di depan gedung itu dan dari dalamnya melompat keluar seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh gemuk, bertopi dan berkumis lucu seperti kumis kucing. Laki-laki itu mengambil sebuah swipoa (alat menghitung) dengan tangan kiri dan membawa sebuah cambuk di tangan kanan, lalu melangkah lebar ke ruang depan dengan mulut tersenyum lebar. Mukanya yang gemuk itu kemerahan dan berkali-kali ia mengusap muka dengan ujung lengan bajunya untuk menghapus peluhnya.

Memang bagi orang-orang biasa, aneh sekali ada orang bisa naik gerobak ke tempat seperti puncak gunung Min-san ini. Orang-orang dusun situ yang sudah biasa mendaki puncak masih merasa sukar untuk mendatangi puncak yang menjadi tempat tinggal Cia Sun. Apalagi menunggang gerobak, hal ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Lebih-lebih lagi bagi seorang berpakaian seperti saudagar yang bertubuh gemuk itu!

Akan tetapi bagi Ciu-ong Mo-kai yang melihat kedatangan orang ini, bukanlah merupakan hal yang aneh atau mengherankan. Yang baru datang ini, yang ke mana saja membawa-bawa alat swipoa dan pecut bukan lain adalah Lie Ko Sianseng yang berjuluk Swi-poa-ong (Si Raja Swipoa)! Bukan saudagar sembarang saudagar biarpun ke mana saja membawa-bawa swipoa, akan tetapi seorang tokoh besar di dunia kang-ouw yang bukannya tidak terkenal!

Lie Ko Sianseng memang seorang saudagar dan dalam hal pekerjaan ini usahanya luas sekali, bukan hanya berdagang barang-barang yang meliputi macam barang dari hasil bumi, hewan ternak sampai sayur mayur dan emas intan. Akan tetapi adakalanya ia juga berdagang jiwa dan kepala orang.

Dengan langkah lebar Lie Ko Sianseng menuju kedua buah peti mati yang berjajar di ruangan depan itu, tanpa melirik kepada Ciu-ong Mo-kai yang duduk bersila sambil minum arak di belakang peti-peti itu. Dari saku dalam jubahnya yang lebar, jubah saudagar, Lie Ko Sianseng mengeluarkan sebungkus dupa dan menyalakan dupa-dupa itu pada lilin yang bernyala di meja sembayang depan peti. Lalu ia acung-acungkan hio itu di atas menghadapi peti mati dan mulutnya yang tadi menyeringai sekarang bergerak-gerak, bibirnya kemak-kemik, matanya meram-melek. Sikapnya lucu sekali akan tetapi uwak Lui dan dua orang pelayan memandang dengan hormat melihat saudagar ini bersembahyang di depan peti mati majikan mereka.

“Ha ha ha!” Ciu-ong Mo-kai tertawa geli, kemudian ia bernyanyi sambil memukul-mukulkan guci araknya pada peti mati untuk mengiringi nyanyiannya.

“Acung-acungkan hio, mulut berkemak-kemik Pikir diputar-putar, mata melirik-lirik

Isi hati saudagar selalu mencari untung Orang lain siapa bisa hitung?”

Kembali Ciu-ong Mo-kai tertawa-tawa sambil minum araknya. Wajah Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng menjadi makin merah dan untuk menutupi kejengkelannya karena disindir oleh raja pengemis itu, saudagar ini lalu perdengarkan doanya, tidak lagi berkemak-kemik dan tidak berbunyi seperti tadi. “Cia-enghiong, sungguh menyesal sekali sebelum sempat berkunjung memberi hormat, kau telah meninggal dunia bersama nyonyamu. Semoga arwahmu dan arwah nyonyamu mendapat tempat yang aman dan tenteram.”

Ia lalu menancapkan hio di tempat, bersoja dan duduk bersila di atas lantai, wajahnya memperlihatkan kedukaan besar. Keadaannya demikian sungguh-sungguh membuat uwak Lui terharu sekali.

Akan tetapi Ciu-ong Mo-kai menjenguk dari balik peti mati dan berkata, “Ah, makelar ulung! Kau menyesal dan kecewa melihat Cia Sun mati, bukankah karena kau tidak bisa lagi mencatut barangnya, sebuah surat wasihat ?”

Tiba-tiba wajah saudagar itu berubah dan kini kelihatan bersemangat sekali. Ia memandang kepada Ciu-ong Mo-kai dan suaranya lemah lembut, suara seorang saudagar yang sedang menjalankan siasat menjual dagangan atau membeli dagangan atau untuk mencari untung.

“Ciu-ong yang baik, sudah lima tahun lebih tidak bertemu denganmu. Apakah baik-baik saja? Maaf tadi aku tidak melihatmu karena terlalu sedih dan terharu melihat peti mati-peti mati Cia-enghiong dan isterinya. Eh, Ciu-ong, terimalah sedekahku ini, dikumpulkan selama lima tahun walau sehari setengah chi juga menjadi banyak. Terimalah!” Saudagar itu mengeluarkan sebuah uang emas dan secara sembarangan melontarkannya ke arah Mo-kai.

Bagi orang lain yang berada di situ, tentu saja perbuatan ini dianggap royal sekali. Masa memberi sedekah kepada seorang pengemis sampai sepotong uang emas yang harganya amat mahal? Akan tetapi sebetulnya lemparan uang emas itu adalah sebuah tipu serangan dari ilmu menyambit Lim- chi-piauw yang amat lihai. Selain dilontarkan dengan penggunaan tenaga lweekang yang tinggi, juga mengarah jalan darah dan kiranya orang yang diserang takkan dapat menghindar lagi kalau tidak memiliki kepandaian tinggi. Bagi Lie Ko Sianseng, penyerang ini bukanlah merupakan penyerangan, lebih menyerupai kelakar untuk menguji kepandaian raja pengemis itu yang sudah bertahun-tahun tidak ia jumpai.

Sinar kuning dari uang emas itu berkilat menyambar ke arah Ciu-ong Mo-kai. Pengemis maklum bahwa saudagar gemuk itu hendak mengujinya, maka ia ulurkan tangan kanan dan menerima uang emas itu. Terdengar suara “plekk!” dan ketika ia membuka tangan, uang emas itu telah berada di telapak tangannya dalam keadaan gepeng seperti dijepit tang baja! Ini bisa terjadi karena sambitan itu luar biasa kuatnya dan telapak tangan yang menyambut luar biasa kerasnya.

“Ha ha ha, dalam urusan dagang kau boleh pelit dan licik, akan tetapi menghadapi pengemis kau menjadi dermawan. Ha ha ha, baik sekali kau, tukang catut!”

“Tidak apa, Ciu-ong. Di antara kita, mana perlu bersungkan-sungkan? Eh, raja pengemis, kau tadi menyebut-nyebut tentang surat wasiat. Apakah maksudmu dengan itu?”

Pengemis itu tertawa bergelak. “Ha ha ha ha, Swi-poa-ong. Apakah kau kira aku ini anak kecil? Jangan kau berpura-pura lagi. Muslihatmu sebagai seorang pedagang sudah kuketahui baik. Kau kira tidak tahukah aku bahwa di antara semua orang yang mengobrak-abrik dan menggeledah rumah keluarga Cia malam tadi, juga termasuk kau? Apa yang kau cari?”

Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng menggerakkan jari-jari tangannya kepada alat hitungnya. “Trek trek trek!” bunyi swipoa itu. “Angka satu hanyalah satu, angka nol tidak ada nilainya. Akan tetapi angka satu ditambah tiga nol merupakan jumlah besar, apalagi kalau berupa potong uang emas. Jembel tua, apakah seribu potong uang emas tidak cukup untuk membeli surat wasihat itu?” Saudagar aneh itu menepuk saku bajunya yang gendut dan terdengarlah bunyi gemercing yang nyaring dan bening.

Ciu-ong Mo-kai Tang Pok membelalakkan matanya yang sipit. “Eh, makelar edan, apa kau sudah gila?”

“Kau sudah menyebut edan, mana bisa gila lagi?” Lie Ko Sianseng berkelakar, sama sekali tidak marah dimaki-maki oleh pengemis itu. Akan tetapi sepasang matanya masih bersinar kesungguhan. “Apa kau mau melepas surat itu untuk seribu potong emas?”

Tang Pok menggelengkan kepalanya. “Kau tentu gila. Sepotong surat wasiat lapuk, biarpun mengenai rahasia harta karun belum kau ketahui berapa banyak harta itu, juga apakah masih ada. Lebih-lebih kalau dipikirkan bahwa segala macam surat wasiat belum tentu asli, mungkin bohong.”

“Seorang saudagar harus berani berspekulasi, untung atau buntung. Bolehkah?” “Kau aneh ”

“Jembel tua, seribu lima ratus!”

Tang Pok hanya menggeleng kepala. “Sinting kau !”

Lie Ko Sianseng kembali mencetrek-cetrekan swipoanya, mulutnya berkemak-kemik menghitung angka, keningnya berkerut, peluhnya mengucur. Ia lalu berdiri dan mengebut-ngebutkan ujung bajunya. “Dua ribu! Nah, dua ribu kutawar, jembel. Tidak ada orang kedua di dunia ini berani menawar dua ribu. Emas tulen!” Kembali ia menepuk-nepuk kantung uangnya di saku jubahnya yang lebar.

Ciu-ong Mo-kai Tang Pok menggeleng kepala dan juga berdiri. “Kamu mimpi. Melihatpun aku belum surat wasiat itu. Aku hanya mendengar orang-orang lain dan kau yang gila harta itu menyebut-nyebut perihal surat wasihat harta karun. Aku sendiri mana butuh?”

“Jadi tidak ada padamu?”

“Kalau ada padaku, jangankan dua ribu potong uang emas kautawarkan, untuk sepotong uang emas saja akan kulemparkan kepadamu. Bodoh!”

“Setan!” Pedagang itu memaki, lalu cambuknya menyambar udara mengeluarkan bunyi “ tar tar tar!” nyaring sekali. “Ciu-ong Mo-kai, tidak baik mempermainkan orang seperti aku. Kalau tidak di depan jenazah Cia-enghiong dan isterinya, cambukku pasti akan menikmati pantat anjing.”

Tang Pok hanya mentertawakan saudagar itu yang sudah menjura di depan peti mati, lalu berjalan terhuyung-huyung ke gerobaknya kembali, naik ke gerobak dan membentak keledainya. Gerobak bergerak perlahan, diputar dan menuruni puncak.

Pada saat itu terdengar bunyi cecowetan dari dalam rumah dan ketika semua orang menengok, ternyata Lim-ong monyet tua itu berlari keluar sambil memegang sebatang huncwe (pipa tembakau panjang). Pipa itu mengebulkan asap dan dari mulut dan hidung monyet itu masih keluar asapnya, sedangkan jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabok! “Lim-ong, jangan kurang ajar. Kembalikan huncwe itu di tempatnya!” Uwak Lui memerintahkan dengan bentakannya. Akan tetapi Lim-ong tidak menurut, malah melompat dari jendela dan membawa huncwe itu.

Tang Pok tertawa sampai perutnya kaku melihat pemandangan lucu ini.

“Biarkan dia pergi. Monyet itu pintar sekali, pintar isap tembakau, dia lebih pintar dari pada Swi- poa-ong si makelar curang! Ha ha ha!”

Karena huncwe itu memang tidak dipakai, yaitu sebuah di antara barang peninggalan tuan tua Cia Hui Gan yang ditaruh di meja sembahyang, maka uwak Lui dan dua orang pelayan itupun tidak mau ambil pusing lagi. Dalam keadaan berkabung seperti itu, siapa sih mau perduli tentang hal ini dan mau ribut-ribut karena sebatang huncwe yang dibawa lari monyet nakal! Juga Ciu-ong Mo-kai yang biasanya bermata tajam sekali, karena kunjungan Lie Ko Sianseng tadi dan kini sibuk dengan minum arak, tidak melihat bahwa tubuh monyet itu menderita luka dalam yang amat hebat dan bahwa cara monyet itu mengisap huncwe adalah cara yang amat ganjil seakan-akan monyet itu hendak mengobati lukanya dengan merokok!

Dengan bantuan dua orang pelayan, Ciu-ong Mo-kai lalu menguburkan dua peti mati itu di belakang rumah, kira-kira satu li jauhnya dari gedung itu. Setelah selesai, ia lalu berkata kepada uwak Lui dan dua orang pelayan.

“Mulai sekarang, semua barang dan rumah ini berada dalam kekuasaan bibi Lui dan kalian berdua harus mentaati semua perintah bibi Lui. Boleh kalian pergunakan semua barang di sini sambil memelihara dua orang anak keluarga Cia. Aku akan sering kali menengok ke sini dan kalau sudah tiba masanya, anak Bi Eng akan menjadi muridku. Sementara itu, tentang perawatan dan pendidikan dua orang anak ini kuserahkan kepada bibi Lui. Hah, selamat tinggal!” Ia lalu meninggalkan sekantong uang yang membuat bibi Lui dan dua orang pelayan itu terbelalak heran. Dari mana seorang pengemis mempunyai uang sebegitu banyak? Mereka tidak tahu bahwa Tang Pok bukanlah sembarang pengemis.

****

Lima belas tahun telah lewat dengan amat cepatnya tanpa terasa oleh manusia. Anak-anak menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua, dan yang tua kembali ke asalnya, lenyap dari permukaan bumi diganti oleh manusia-manusia baru yang terlahir.

“Siauw-ong (raja kecil) ......! Siauw-ong, kembalikan pitaku. Kurang ajar kau     ! terdengar suara

nyaring dan merdu.

Seekor monyet jantan kecil berlari-lari membawa sehelai pita sutera merah. Monyet itu berlari sambil jingkrak-jingkrak, lagaknya mempermainkan sekali. Di belakangnya mengejar seorang gadis cantik manis berusia lima belas tahun. Gadis ini jelita sekali, kulit mukanya putih halus, pipinya kemerahan dan matanya jeli seperti mata burung hong. Mulut yang kecil itu berbibir merah segar, tubuhnya ramping dan pakaiannya biarpun sederhana, tapi bersih dan terbuat dari sutera.

Gadis ini sambil tertawa berlari lincah mengejar monyet itu yang dipermainkannya. Di kejar ke sana lari ke sini, dikejar ke sini lari ke sana, memutari pohon sambil mencibir-cibirkan bibirnya yang tebal. Mata kecil itu mencorong nakal, kadang-kadang ia ulurkan pita ke depan, akan tetapi tiap kali hendak diambil gadis cilik ini, ia lari lagi. “Siauw-ong, kembalikan pitaku. Jangan nakal kau, nanti kupukul dengan ini!” Gadis itu lalu mengambil sebatang ranting. Melihat ini, sambil mengeluarkan bunyi cecowetan, monyet itu melompat dan memanjat pohon dengan amat cepatnya.

Gadis itu membanting-banting kakinya, kepalanya tergeleng membuat rambut yang terlepas pitanya itu terurai, panjang sekali sampai ke bawah punggungnya, rambut yang hitam dan gemuk. Saking gemasnya ia mulai menangis! Mudah saja gadis ini mengucurkan air mata yang membasahi kedua pipinya.

Tiba-tiba ia mendengar suara monyet itu cecowetan tidak karuan dan ketika ia mengangkat muka memandang monyet yang duduk di atas cabang pohon itu, seketika itu juga gadis yang tadi masih menangis ini lalu tertawa terkekeh-kekeh! Ia melihat monyet itu mencoba untuk memakai pita merah di kepalanya! Pemandangan ini memang amat lucu dan orang yang melihat tingkahnya yang nakal tentu akan tertawa akan tetapi orang itu akan lebih heran melihat sikap gadis cantik manis ini yang dapat menangis lalu tertawa pada saat itu juga, tertawa terkekeh dengan geli hati selagi air matanya masih membasahi pipinya!

Namun, pemandangan lucu itu agaknya telah mengusir kemarahan dan kejengkelannya, ia mengamang-amangkan tinjunya yang kecil ke atas sambil berkata.

“Siauw-ong, kalau kau tidak mau kembalikan pitaku, akan kulaporkan pada Sin-ko!”

Aneh, mendengar disebutnya “Sin-ko” (kakak Sin) ini, tiba-tiba monyet itu nampak ketakutan, cepat-cepat ia merayap turun dan kedua tangan diulurkan dan tubuh membungkuk seperti orang menghormat, ia sodorkan pita itu kepada pemiliknya! Gadis itu menerima pitanya dan mengelus- elus kepala monyet nakal itu. Dia amat cinta kepada monyet ini, kawan bermainnya semenjak kecil di samping kakaknya.

Tentu pembaca sudah dapat menduga siapa adanya gadis cantik lincah, mudah menangis mudah tertawa ini. Dia adalah Cia Bi Eng, puteri Cia Sun yang baru berusia tiga bulan ketika ayah bundanya meninggal dalam keadaan yang amat mengerikan. Semenjak itu dia dan kakaknya, Cia Han Sin, dirawat dengan amat teliti dan penuh kasih sayang oleh uwak Lui.

Ketika Bi Eng baru berusia setengah tahun, beberapa bulan semenjak peristiwa mengerikan itu terjadi di puncak Min-san, pada suatu hari Lim-ong monyet betina tua datang terhuyung-huyung menggendong seekor monyet kecil. Ia menurunkan monyet kecil itu di dekat Han Sin, kemudian monyet tua itu roboh, berkelonjotan dan mati! Uwak Lui menangis melihat ini karena monyet

itu adalah peliharaan Cia Sun yang amat disayang.

Semenjak monyet itu mencuri huncwe, ia tidak kelihatan lagi dan pada hari itu ia datang-datang membawa seekor monyet jantan kecil dan mati di situ. Bangkai monyet itu dikubur tidak jauh dari makam Cia Sun dan isterinya, sedangkan monyet kecil itu lalu menjadi kawan bermain Han Sin dan Bi Eng. Uwak Lui memberinya nama Siauw-ong (raja kecil) untuk disesuaikan dengan nama monyet tua Lim-ong (raja hutan).

Uwak Lui menganggap dua orang anak itu seperti anaknya sendiri. Ia merawat mereka penuh kasih sayang, malah dengan bayaran mahal ia mendatangkan seorang guru untuk mengajar mereka.

Semenjak kecil, Han Sin, ternyata amat suka membaca buku, terutama cerita-cerita kuno dan kitab- kitab filsafat amat menarik hatinya. Sampai jengkel uwak Lui harus memenuhi permintaannya, mencari dan membeli kitab-kitab itu. Baik ada Thio sianseng, guru anak-anak itu yang sebetulnya adalah seorang terpelajar, seorang siucai yang tinggal di kampung dan tidak mau menerima jabatan pemerintah yang diam-diam dibencinya. Memang hanya orang-orang yang berjiwa rendah saja yang tidak membenci pemerintah penjajahan seperti pemerintah Boan-cu pada waktu itu. Lima tahun kemudian setelah dua orang anak itu cukup pandai membaca menulis sehingga tidak ada yang harus diajarkan lagi, Thio sianseng meninggalkan puncak itu.

Han Sin benar-benar luar biasa. Ia amat tekun membaca kitab-kitab. Bahkan kitab-kitab filsafat yang berat-berat, yang akan memusingkan otak orang-orang tua kalau membacanya, telah ia baca dan renungkan di waktu ia baru berusia belasan tahun! Ia tekun sekali dan inilah keistimewaannya, berbeda dengan Bi Eng yang tidak sabaran belajar, gadis lincah gembira yang suka bermain di udara bebas, tidak seperti Han Sin yang mengeram diri di dalam kamarnya, berkawan puluhan kitab-kitabnya!

Selain suka membaca kitab, juga Han Sin wataknya pendiam, sabar, namun di dalam diamnya ini ada semacam pengaruh dan wibawa yang amat kuat dalam sinar mata maupun suaranya yang halus. Bi Eng amat bengal, tidak takut siapa-siapa, bahkan uwak Lui seringkali dibantahnya, apalagi pelayan-pelayan lain. Akan tetapi menghadapi kakaknya yang amat dicintainya itu, ia amat penurut. Uwak Lui sendiri amat menghormat tuan muda Han Sin yang selamanya tidak pernah bohong, tidak pernah menjengkelkan hatinya karena sikapnya yang halus dan sopan, dan tidak banyak rewel.

Jangankan manusia, bahkan seekor binatang kera seperti Siauw-ong, yang seperti juga Bi Eng tidak takuti siapa-siapa, menghadapi Han Sin menjadi mati kutunya, amat takut dan amat taat. Mungkin pengaruh dan wibawa yang keluar dari diri Han Sin itu tidak hanya karena pembawaan pribadinya, akan tetapi adalah karena ia suka sekali bersiulian (bersamadhi) yang ia pelajari menurut petunjuk kitab-kitab kuno itu. Dengan latihan siulian yang tanpa kenal lelah, secara tidak disadarinya Han Sin telah melatih tenaga dalam dan tenaga batinnya, mempunyai hawa tian-tan yang kuat dan darahnya mengalir bersih sedangkan tulang-tulangnya menjadi kuat dan bersih pula.

Sebetulnya Han Sin orangnya juga amat peramah, mudah tersenyum jarang bermuram, apalagi marah. Akan tetapi perasaan hatinya tidak pernah tergores pada mukanya yang amat tampan itu, selalu tenang, sabar dan tak banyak cakap.

Itulah sebabnya mengapa Bi Eng lebih sering bermain-main dengan Siauw-ong, monyet itu. Dan di dalam pergaulan sehari-hari ini terdapat suatu keanehan. Seringkali Bi Eng melihat Siauw-ong mencak-mencak seperti orang main silat, memukul sana sini dan kakinya bergeser ke sana sini secara teratur. Ia menamakan ini “tari monyet” dan sebagai seorang anak yang tidak mempunyai kawan lain, iapun meniru-niru tarian monyet ini, meniru-niru gerak gerik Siauw-ong, memukul ke sana ke mari, menggeser kaki ke sana ke sini, malah kadang-kadang meniru-niru tarikan muka monyet itu, memoncong-moncongkan mulutnya yang mungil, malah meniru suara monyet yang cecowetan tidak karuan itu. Dasar Bi Eng bocah centil dan lincah.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa itulah gerakan ilmu silat keluarga Cia yaitu ilmu silat Thian-te-kun! Monyet kecil itu dahulu meniru-niru gerakan yang suka “dimainkan” oleh Lim-ong dan sekarang

Bi-eng malah belajar ilmu silat keturunan keluarganya dari monyet kecil itu! Benar-benar hal yang amat aneh. Sudah tentu saja gerakan-gerakan ilmu silat itu sudah kacau tidak karuan dan sudah menyeleweng jauh dari pada gerakan aslinya, namun tetap saja masih memperlihatkan kelincahan dan kecepatan yang membuat monyet kecil itu memiliki kecepatan melebihi monyet lainnya.

Ternyata bahwa pengemis aneh dahulu itu, Ciu-ong Mo-kai, agaknya melupakan janjinya karena selama belasan tahun itu baru dua kali ia mengunjungi puncak Min-san. Yang terakhir ketika Han Sin berusia sepuluh tahun dan Bi Eng berusia delapan tahun. Dua orang anak itu menyebutnya “Taisu”, ikut-ikut sebutan yang dipergunakan oleh uwak Lui kepada pengemis tua itu. Mereka hanya mengenal pengemis itu sebagai “guru besar” yang amat ditakuti oleh Uwak Lui

Setelah dua orang anak itu berusia belasan tahun, baru uwak Lui bercerita kepada mereka tentang kematian ayah bunda mereka. Dua orang anak itu menangis sedih mendengar cerita itu. Akan tetapi ada perbedaan besar antara Han Sin dan Bi Eng ketika mendengar bahwa orang tua mereka mati terbunuh orang yang tidak ketahuan siapa. Han Sin hanya menarik napas panjang dan berkata,

“Bagaimana di dunia ini ada orang begitu jahatnya membunuh ayah dan ibu? Apa kesalahan ayah dan ibu?”

Sebaliknya Bi Eng berdiri dengan kedua tangan terkepal, mukanya merah dan matanya mendelik. “Aku harus mencari penjahat-penjahat pembunuh ayah ibu! Mereka itu harus dihancurkan kepalanya!”

Han Sin memandang adiknya dengan mata penuh teguran, “Bi Eng, apa yang kau katakan itu?”

Bi Eng sadar kembali dan menundukkan mukanya. Air mata mengalir di sepanjang pipinya. “Sin- ko, ayah ibu dibunuh orang, apakah kita akan diam saja?”

Han Sin memeluk adiknya dan menghapus air mata dari pipi adiknya itu, “Percayalah, adikku. Orang yang jahat akhirnya tentu akan menerima hukumannya!”

Demikianlah, sampai berusia lima belas tahun, Bi Eng selalu masih tetap panas hatinya kalau teringat akan kematian ayah bundanya. Tidak ada cita-cita lain di dalam hatinya melainkan mencari musuh-musuh itu dan membalas dendam. Sebaliknya, Han Sin lebih banyak bersembunyi di dalam kamarnya dan tak seorangpun tahu apa yang dilakukan orang muda pendiam itu.

Kita kembali ke dalam taman di belakang gedung, di mana Bi Eng bermain-main dengan Siauw- ong. Sampai hampir satu jam monyet dan gadis itu mencak-mencak di bawah pohon. Akhirnya Bi Eng menjadi lelah dan jemu. Ia berhenti, duduk di atas sebuah batu putih dan mengikatkan pita pada rambutnya.

“Siauw-ong, ah, aku lelah sekali !” katanya sambil tersenyum, manis sekali. Monyet kecil itu

masih saja mencak-mencak sambil cecowetan, agaknya gembira bukan main.

Tiba-tiba ada sinar putih melayang, menyambar ke arah gadis yang masih duduk dan menyusuti peluh dari lehernya dengan sehelai saputangan itu.

“Awas ular!” terdengar seruan orang dan pandang mata Bi Eng yang awas memang tadi melihat sinar putih itu belang-belang hitam seperti seekor ular yang menyambar ke arah kepalanya. Karena ia seringkali melakukan “tari monyet”, otomatis kepalanya mengelak dan ular yang menyambarnya itu tidak mengenainya. Ular belang itu terus merayap dan merambat ke pohon yang tumbuh di situ.

“Aneh .... heran sekali ! dari mana kau belajar semua ini?” terdengar suara yang tadi berseru dan

dari balik batu muncullah Ciu-ong Mo-kai sambil tertawa-tawa.

Untuk sesaat Bi Eng berdiri bingung. Memang ia masih terkejut karena diserang ular tadi dan sekarang tahu-tahu di depannya berdiri seorang pengemis tua yang memegang tempat arak sambil tertawa-tawa. Ia bertemu dengan pengemis tua ini ketika ia berusia sepuluh tahun, akan tetapi karena keadaan pengemis yang amat aneh ini, ia masih teringat. “Taisu ,” katanya perlahan.

“Ah, kau Bi Eng,” Ciu-ong Mo-kai mengangguk-angguk. “Bagus,! Bagus! Tidak keliru pandanganku dahulu. Kau berbakat baik sekali dan kiranya sekarang sudah terlampau lambat aku membuang-buang waktu. Mulai saat ini kau harus rajin-rajin belajar ilmu silat yang hendak kuturunkan semua padamu.”

Bi Eng sudah dapat menenangkan pikirannya dan ia kini memandang kepada pengemis itu dengan mata terbelalak. “Apa .... apa katamu? Menjadi muridmu ?”

Ciu-ong Mo-kai mengangguk lalu tertawa bergelak sambil menenggak araknya. Heran sekali, belasan tahun telah lewat namun tidak kelihatan ada perubahan sedikitpun juga pada diri pengemis tua ini. Padahal dalam waktu belasan tahun itu telah terjadi banyak sekali hal kepadanya dan di dunia kang-ouw telah mengalami perubahan hebat. Selain itu, juga kakek jembel ini telah mempertinggi ilmu kepandaiannya sehingga kalau dibandingkan dengan lima belas tahun yang lalu, tingkat kepandaiannya sudah naik dua tiga tingkat lagi.

Bi Eng menatap pengemis itu dengan matanya yang bagus, dipandangi kakek itu dari kanan kiri, dari atas bawah dan tiba-tiba ia tertawa terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan.

“Hik hik hik !”

Ciu-ong Mo-kai menurunkan guci araknya dan berusaha membuka matanya yang sipit itu selebar mungkin. “Kau kaukah yang tertawa tadi?”