-->

Iblis dan Bidadari (Hwee Thian Mo Li) Jilid 2

Jilid 2

Setelah memegang dua macam senjata yang lihai ini, barulah ia dapat mengimbangi permainan Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi, Lian Hong makin lama makin kagum saja karena ia maklum bahwa biarpun kepandaian mereka seimbang, namun ia kalah tenaga dan kalah ulet. Juga gerakan-gerakan Hwe-thian Mo-li amat ganas dan benar-benar merupakan penyebar maut sehingga sekali saja terkena serangannya, sukarlah untuk menyelamatkan diri.

Perlahan akan tetapi pasti, Lian Hong mulai terdesak mundur setelah dapat mengadakan perlawanan sengit selama tujuh puluh jurus lebih. Tiba-tiba Lian Hong menangkis pedang Hwe-thian Mo-li sambil mengenjot kedua kakinya, melompat ke belakang empat tombak jauhnya dan ketika ia turun ke atas tanah, ia berkata,

“Sudah, sudah, enci Siang Lan! Aku terima kalah! Biarlah kuceritakan kepadamu siapa sebenarnya aku ini!”

Hwe-thian Mo-li menyimpan pedangnya, menghampiri gadis itu sambil menghela napas berulang-ulang dan memandang kagum. “Hebat sekali ilmu pedangmu adik yang baik. Baru menyaksikan kepandaianmu saja aku tak dapat marah lagi kepadamu. Sekarang, jadilah seorang adik yang baik budi dan jangan kau mengganggu aku lebih jauh dan ceritakanlah sebenarnya siapakah kau ini?”

Wajah yang cantik jelita dari gadis penari itu menjadi bersungguh-sungguh dan ia memandang dengan mata sayu mengharukan ketika ia berkata,

“Enci Siang Lan, aku mendengar namamu dari ayahku sendiri.”

“Siapakah ayahmu?”

“Tentu ayah tak pernah menceritakan halnya kepadamu. Aku bernama Ong Lian Hong dan orang yang selama ini menjadi gurumu, yakni Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, adalah ayahku!”

Terbelalaklah mata Hwe-thian Mo-li memandang Lian Hong, penuh ketidak percayaan.

“Betapa mungkin? Mendiang suhu tak pernah mempunyai anak!” serunya sambil memandang tajam dengan mata menyelidik.

Wajah yang manis itu kembali berseri dan bagaikan disulap, senyum yang menggiurkan itu timbul kembali pada bibirnya. Lian Hong memang berwatak gembira dan jenaka sekali, sukar baginya untuk bertahan lama-lama dalam keharuan atau kesedihan.

“Tentu saja, cici!” jawabnya menahan ketawa. “Bagaimana ayah bisa beranak? Yang melahirkan aku adalah ibuku, bukan ayah!”

Hwe-thian Mo-li tertegun mendengar ini. Ia merasa betapa aneh gadis muda ini, bahkan ia menganggap otak gadis ini sudah miring. Memang, watak Lian Hong adalah kebalikan dari pada wataknya yang selalu bersungguh-sungguh dan keras bagaikan batu karang. “Adik Lian Hong, jangan kau main-main! Aku telah ikut suhu selama sembilan tahun dan belum pernah aku mendengar suhu menyebut tentang isteri atau puterinya. Belum pernah pula aku melihat suhu menjumpai isteri dan anaknya. Benar-benarkah ceritamu tadi?”

“Terserah kepadamu, enci Siang Lan, terserah kau percaya atau tidak, bagiku tiada bedanya.” Gadis ini lalu bangkit berdiri.

“Eh........adikku yang baik, Andaikata benar kau puteri mendiang suhu, siapakah gerangan ibumu dan di mana kau dan ibumu tinggal?”

Lian Hong menghela napas panjang. “Enci, harap kau maafkan. Untuk pertanyaan ini aku belum dapat menjawab, belum tiba waktunya. Mendiang ayah sendiri merahasiakan kepadamu, dan aku mempunyai alasan yang amat kuat untuk merahasiakannya pula. Yang terpenting sekarang adalah usaha pembalasan dendam dari sakit hati ayah. Tahukah kau bahwa masih ada dua orang lagi yang harus kita balas ?”

“Tiga, bukan dua. Seorang she Yap yang menjadi kauwsu (guru silat), seorang hwesio, dan seorang hartawan she Cin!”

“Salah.” Jawab Lian Hong sambil tersenyum, “Hanya ada dua, yakni hwes io itu dan hartawan she Cin. Adapun orang she Yap itu hanya dapat kau cari di dasar neraka!”

Hwe-thian Mo-li memandang tajam. “Hm, tentu kau telah berhasil membunuh orang she Yap itu, bukan?”

“Dan kau sudah berhasil membunuh seorang lagi di Santung!”

Hwe-thian Mo-li memandang tak puas. “Masih kalah olehmu, karena Liok Kong pun tewas dalam tanganmu. Kau telah membalas dua orang musuh dan aku hanya baru seorang saja.” Lian Hong tersenyum gembira. “Mari kita berlumba, cici. Musuh kita tinggal dua orang dan marilah kita berlumba. Kau sudah kalah satu olehku, maka kalau yang dua ini kau tak dapat tewaskan semua, kau takkan dapat menang dari ku! Nah, sampai bertemu kembali, cici yang baik!”

Setelah berkata demikian, Lian Hong melompat jauh dan berlari cepat.

“Nanti dulu, adik Liang Hong ....! Mengapa kita tidak melakukan perjalanan bersama dan bersama pula mencari musuh-musuh kita ?”

Tanpa menoleh Lian Hong menjawab, “Tidak bisa cici! Tak Mungkin ! Selamat berpisah!”

Hwe-thian Mo-li hendak mengejar, akan tetapi ia menghela napas dan mengurungkan niatnya. Ia maklum bahwa usahanya mengejar gadis itu akan sia-sia belaka, karena kepandaian mereka dalam ilmu berlari cepat seimbang. Dan lagi, kalau orang tidak mau didekati, untuk apa ia harus mendesak dan memaksanya?

Ia lalu duduk di bawah pohon, menyandarkan punggungnya pada batang pohon itu dan mengenangkan suhunya. Sungguh amat mengherankan, kalau betul-betul suhunya itu mempunyai isteri dan puteri seperti Lian Hong, mengapa suhunya tak pernah menceritakan hal itu kepadanya?

(Oo-dwkz-oO)

Agar jelas bagi pembaca tentang timbulnya permusuhan dan dendam yang terkandung di dalam hati Hwe-thian Mo-li dan Lian Hong, baiklah kita biarkan dulu Hwe-thian Mo-li duduk termenung di bawah pohon itu dan marilah kita menengok kembali kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, yakni sebelum pendekar besar Pat-jiu K iam-ong Ong Han Cu tewas secara amat menyedihkan. Ong Han Cu yang berjuluk Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) adalah seorang tokoh persilatan yang tinggal di Gunung Liong-cu-san. Dari julukannya saja, yakni raja pedang, dapat diduga bahwa ia adalah seorang ahli silat pedang yang luar biasa.

Memang, di antara semua ilmu pedang pada waktu itu, boleh disebut ilmu pedang dari Ong Han Cu menduduki tempat yang amat tinggi. Ilmu pedang ini, ia peroleh dari seorang pertapa yang mengasingkan diri di sebuah gua di Gunung Liong-cu-san dan secara tak sengaja tempat ini didapatkan olehnya. Ketika ia mendapatkan gua itu, yang ia lihat hanyalah rangka manusia yang masih utuh sedang duduk bersila di dalam gua, tanda bahwa manusia ini dulu telah meninggal dunia dalam keadaan bersila.

Memang luar biasa sekali mengapa rangka itu masih dapat berduduk dan telah membatu. Agaknya hal ini terjadi karena dari langit-langit gua itu menetes-netes turun air kapur yang membuat tulang-tulang itu menjadi kuat dan tidak terlepas sambungannya. Selain rangka ini, Ong Han cu juga menemukan sebuah kitab pelajaran ilmu pedang yang diciptakan oleh orang sakti yang telah menjadi rangka itu.

Demikianlah, dengan amat tekunnya Ong Han Cu mempelajari ilmu pedang ini yang kemudian ia beri nama Liong-cu Kiam-hwat, sesuai dengan nama gunung di mana ia mendapatkan ilmu pedang ini. Semenjak saat itu, ia menjadi jago pedang yang luar biasa dan pernah ia sengaja naik ke Kun-lun-san dan Go-bi-san untuk menguji ilmu pedang dengan tokoh-tokoh ilmu pedang di kedua cabang persilatan besar itu. Ternyata ia telah berhasil baik dan jarang sekali ada ahli pedang yang dapat mengalahkan Liong-cu Kiam-hwat.

Kemudian, ia bertemu dengan Nyo Siang Lan, seorang anak perempuan yatim piatu yang berusia sepuluh tahun dan hampir mati kelaparan di sebuah kampung yang dilanda banjir. Tergeraklah hati Ong Han Cu melihat anak perempuan yang ia lihat berbakat baik sekali itu, maka ia lalu mengambil Siang Lan menjadi muridnya. Mungkin karena terlalu menderita di waktu kecilnya, Nyo Siang Lan menjadi seorang gadis yang amat keras hati dan selalu bersungguh-sungguh jarang sekali bergembira. Hal itu sesuai pula dengan watak Ong Han Cu yang juga pendiam.

Sebagai seorang pendekar gagah yang budiman, Ong Han Cu telah banyak mengulurkan tangan mempergunakan pedangnya yang tajam untuk menolong orang-orang yang lemah tertindas dan membasmi kejahatan. Hal ini membuat nama Pat-jiu Kiam-ong terkenal sekali dan nama ini dipuja- puja oleh banyak orang yang telah ditolongnya. Akan tetapi sebaliknya juga menimbulkan sakit hati kepada banyak orang- orang kang-ouw yang mengambil jalan hitam.

Dengan amat tekunnya, Nyo Siang Lan mempelajari ilm u silat dari suhunya. Ong Han Cu amat sayang kepada murid tunggalnya ini karena selain amat rajin, juga muridnya ini benar-benar berbakat baik dan amat berbakti kepadanya. Hal ini tidak mengherankan oleh karena Nyo Siang Lan tidak hanya menganggap dia sebagai gurunya, bahkan menganggapnya sebagai pengganti orang tuanya.

Sering kali Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu turun gunung meninggalkan Siang Lan seorang diri dan memesan agar supaya murid itu berlatih dengan rajin. Tiap kali guru ini kembali ke puncak Liong-cu-san dengan hati bangga dan girang ia melihat kemajuan-kemajuan luar biasa pada muridnya. Diam-diam ia merasa girang sekali karena tidak keliru memilih murid.

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, ketika Siang Lan telah berusia sembilan belas tahun, gurunya berkata,

“Siang Lan, muridku yang baik. Mungkin tidak kau sadari bahwa kau telah mewarisi seluruh kepandaianku. Kau benar- benar memuaskan hatiku, Siang Lan, dan aku tidak dapat mengajarkan apa-apa lagi kepadamu, Liong-cu Kiam-Hwat telah kau pelajari sampai habis.”

“Bagaimana teecu dapat percaya ucapan ini, suhu,” bantah Siang Lan. “Tiap kali berlatih dengan suhu, teecu masih merasa amat berat dan takkan dapat menahan diri lebih dari empat puluh jurus.”

Gurunya tersenyum tenang. “Tentu saja, anak bodoh. Hal ini bukan karena aku masih memiliki gerak tipu yang belum kau pelajari, akan tetapi hanya karena selain kalah tenaga dan kegesitan, kaupun kalah pengalaman. Ketahuilah bahwa ilmu silat hanya akan bertambah maju dengan pesat apabila kau pergunakan dalam pertempuran yang sungguh-sungguh dan apabila kau seringkali menghadapi lawan-lawan tangguh, dengan sendirinya ilmu pedangmu akan menjadi makin sempurna. Aku telah menghadapi banyak sekali ahli silat, maka dengan sendirinya gerakanku lebih matang dari padamu. Oleh karena itu muridku, sudah menjadi hak mu untuk turun gunung dan meluaskan pengalamanmu. Kau turunlah dari gunung ini, pergunakanlah kepandaianmu yang kau pelajari selama sembilan tahun dariku itu untuk menolong sesama hidup. Dengan demikian, takkan sia-sialah kau membuang sekian banyak tenaga, pikiran, dan waktu untuk mempelajari ilmu silat dan tidak sia-sia pula aku mengambil kau sebagai murid.”

Maka turunlah Siang Lan dari puncak Liong-cu-san dan mulailah ia merantau di dunia kang-ouw. Sebentar saja pedangnya telah berbuat banyak dan karena ia selalu berlaku keras terhadap golongan penjahat, tanpa mengenal ampun, maka ia lalu mendapat julukan Hwe-thian Mo-li.

Akan tetapi, setelah merantau selama satu setengah tahun dan kembali ke Gunung Liong-cu-san, ia mendapatkan suhunya dalam keadaan yang amat menyedihkan. Sebulan yang lalu, suhunya itu telah didatangi oleh lima orang dan kini suhunya telah dibuntungi kedua kaki tangannya dan berada dalam perawatan seorang penduduk kampung di lereng gunung itu.

Tentu saja Siang Lan merasa terkejut dan sedih sekali. Ia menubruk suhunya dan menangis tersedu-sedu.

“Suhu, kau kenapakah, suhu? Siapakah yang melakukan perbuatan keji ini? Katakanlah, suhu, siapa yang berani mencelakakan suhu seperti ini? Biar teecu pergi mencarinya, membunuh dan menghancur-leburkan kepalanya!”

Biarpun keadaannya amat lemah dan payah, Ong Han Cu masih dapat tersenyum melihat muridnya yang terkasih. “Syukurlah Siang Lan, syukurlah bahwa kita masih sempat bertemu muka.”

Kemudian Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu lalu menceritakan pengalamannya kurang lebih sebulan yang lalu. Di atas puncak bukit Liong-cu-san, ia kedatangan lima orang kang- ouw yang telah dikenalnya baik. Mereka ini adalah Toat-beng Sin-to Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa, kedua adalah Si Lutung Sakti Yap Cin, ketiga Santung Taihiap Siong Tat Pendekar gagah dari Santung, keempat adalah seorang hwes io bernama Leng Kok Hosiang, dan kelima seorang gagah lain, yakni Kim-gan-liong Cin Lu Ek Si Naga Mata Emas.

Sebagai seorang kang-ouw yang menghormat kawan- kawannya dari satu golongan, Ong Han Cu lalu menyambut mereka dengan gembira sekali. Akan tetapi ternyata bahwa kedatangan mereka itu tidak mengandung maksud baik. Dengan secara licin sekali, diam-diam Leng Kok Hosiang, hwes io berkepandaian tinggi dari Sin-tok-san, telah memasukkan racun pada arak yang dihadapi oleh Ong Han Cu.

“Demikianlah,” Pat-jiu K iam-ong melanjutkan penuturannya kepada muridnya yang mendengarkan semua itu sambil bercucuran air mata, setelah minum racun dalam arak yang luar biasa kerasnya, aku rebah pingsan tidak merasa apa-apa lagi. Ketika aku tersadar, ternyata bahwa mereka telah pergi, meninggalkan aku dalam keadaan begini. Baiknya ada sahabat ini yang kebetulan melihatku dan menolong merawatku, kalau tidak, tentu aku telah tewas karena kecurangan mereka yang biadab itu!”

“Akan tetapi mengapakah, suhu? Mengapa mereka melakukan perbuatan sekeji ini ?”

Ong Han Cu tersenyum. “Ada dua hal yang mendorong mereka melakukan hal ini muridku. Bagi Leng Kok Hosiang dan Yap Cin, mereka itu memang mengandung dendam sakit hati terhadap aku karena aku pernah merobohkan mereka itu dan menghalangi perbuatan mereka yang jahat. Adapun Liok Kong, Siong Tat, dan Cin Lu Ek ikut datang melakukan perbuatan pengecut dan hina dina ini karena mereka silau harta terpendam yang berada di dalam guaku. Mereka pergi membawa harta terpendam yang dulu kudapatkan di dalam gua bersama kitab ilmu pedang. Sungguh aku tidak mengerti mengapa manusia dapat menjadi mata gelap dan kejam karena pengaruh harta dunia. Sepanjang pengetahuanku, Cin Lu Ek si Naga Bermata Emas itu bukanlah seorang yang memiliki watak jahat!” Ong Han Cu menghela napas bukan menyesali nasibnya, akan tetapi menyesali kejahatan orang- orang itu.

Memang sesungguhnya, ketika mendapatkan rangka manusia dan kitab pelajaran ilmu pedang di gua itu, Ong Han Cu juga menemukan sebuah peti besar terisi penuh harta berupa emas dan permata yang tak ternilai harganya. Akan tetapi, hal ini dirahasiakan oleh Ong Han Cu dan barang itu masih disimpannya di dalam guanya. Hanya kadang-kadang saja ia mengeluarkan sepotong emas atau permata untuk dijualnya dan dipergunakan sebagai biaya hidupnya.

Dan betapapun rapatnya ia menutup rahasia ini, ternyata mata para penjahat amat tajam dan telinga mereka amat kuat pendengarannya. Entah bagaimana, rahasia ini terdengar oleh ke lima orang berkepandaian tinggi itu yang lalu berkumpul, berunding dan mempergunakan siasat yang curang untuk merobohkan pendekar tua ini, membuntungi tangan kaki nya serta merampas harta bendanya itu.

(Oo-dwkz-oO)

Tentu saja Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan menjadi marah sekali dan dengan bercucuran a ir mata ia bersumpah di depan suhunya untuk membalas dendam besar ini. Kemudian ia membawa pedang suhunya dan turun gunung, mencari musuh-musuh gurunya itu.

Pertama-tama ia pergi ke Santung untuk mencari Santung Thaihiap Siong Tat dan dalam pertempuran yang amat hebat sehingga ia berhasil membunuh Siong Tat dan membawa kepala musuh besarnya ini naik ke atas gunung Liong-cu-san. Akan tetapi ketika ia tiba di situ, ternyata bahwa suhunya yang telah menjadi orang tak berguna lagi dan buntung kaki tangannya, sudah meninggal dunia.

Siang Lan bersembahyang di depan kuburan suhunya sambil menaruh kepala Santung Thaihiap Siong Tat di depan makam itu, kemudian ia lalu mulai merantau dan mencari empat orang musuh besar yang telah mencelakai gurunya itu. Mereka ini adalah Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa, Yap Cin Si Luntung Sakti, Lengkok Hosiang yang meracuni suhunya dan Cin Su Lek Si Naga Bermata Emas.

Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, secara kebetulan sekali Siang Lan yang telah mendapat keterangan tentang musuh besarnya yang bernama Liok Kong, bertemu dengan Ong Lian Hong, gadis manis yang mengaku menjadi puteri suhunya.

Tentu saja ia tidak dapat mempercaya keterangan ini karena bagaimanakah suhunya tahu-tahu telah mempunyai seorang puteri demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula? Menurut pengakuan gadis itu, Yap Cin Si Luntung Sakti telah terbunuh dan karena Liok Kong telah mampus pula, maka kini musuh besar mereka tinggal Leng Kok Hosiang dan Cin Lu Ek.

Sampai lama Hwe-thian Mo-li duduk termenung di bawah pohon itu, tiada hentinya memikirkan keadaan Lian Hong nona yang aneh dan yang mengaku sebagai puteri suhunya. Akhirnya ia merasa khawatir juga kalau-kalau ia sampai kalah oleh gadis cantik itu, kalau-kalau dua orang musuh yang lain itupun akan tewas dalam tangan gadis itu pula.

“Tidak, bagaimanapun juga, aku harus mendahuluinya!” pikirnya dan ia lalu bangun berdiri dan melanjutkan perjalanannya dengan cepat. Dia telah mendengar bahwa Leng Kok Hosiang sekarang berada di Sin-tok-san, yakni pegunungan yang berada di selatan, adapun Cin Lu Ek si Naga Bermata Emas amat sukar dicari. Agaknya orang ini telah melarikan diri karena takut akan pembalasannya, dan mungkin juga si Naga Bermata Emas ini te lah mengganti namanya.

“Tidak perlu mencari dia yang bersembunyi.” Pikir Hwe- thian Mo-li sambil berlari cepat. “Lebih baik menuju ke pegunungan Sin-tok-san untuk mencari Leng Kok Hosiang.

Demikianlah, ia lalu membelok ke selatan dan langsung menuju ke pegunungan itu tanpa mengenal lelah. Ia melakukan perjalanan secepatnya agar jangan sampai didahului oleh nona yang mengaku puteri dari Mendiang suhunya itu!

(Oo-dwkz-oO)

03. Penderitaan Anak Mantu Ciok-taijin

SEBELUM kita mengikuti perjalanan Hwe-thian Mo-li yang menuju ke selatan untuk mencari musuh besarnya di pegunungan Sin-tok-san, marilah kita melihat dulu keadaan Ong Lian Hong, gadis penari yang cantik jelita dan penuh rahasia itu agar kita dapat mengenalnya lebih baik.

Memang benar gadis yang menyamar sebagai penari dan yang berhasil menewaskan Liok Kong ini adalah seorang puteri dari Ong Han Cu. Dahulu, sebelum Ong Han Cu menemukan ilmu pedang di Liong-cu-san dan sewaktu ia masih muda, pada suatu hari melihat serombongan keluarga bangsawan yang sedang melakukan perjalanan, dicegat dan dikeroyok oleh belasan orang perampok yang ganas.

Para pengawal keluarga bangsawan itu kewalahan menghadapi perampok-perampok yang dipimpin oleh seorang perampok yang berkepandaian tinggi. Tidak saja banyak pengawal yang tewas dan harta benda keluarga itu mulai diangkut oleh para anak buah perampok, bahkan seorang gadis cantik puteri bangsawan itupun telah dipondong oleh kepala rampok dan hendak dibawa pergi ke dalam hutan. Gadis itu meronta-ronta dan menjerit-jerit dan jeritan inilah yang menarik perhatian Ong Han Cu dan membuatnya berlari menolong.

Pertempuran hebat terjadi antara Ong Han Cu dan kepala perampok, akan tetapi akhirnya kepala rampok itu bersama beberapa orang anak buahnya tewas dalam tangan pemuda gagah perkasa ini. Melihat betapa pemuda gagah perkasa dan tampan itu telah menyelamatkan jiwa sekeluarganya, dan bahkan mendapatkan kembali harta benda yang tadi telah dirampok, maka bangsawan she Ciok ini menjadi amat kagum, terharu dan berterima kasih.

Tanpa disadarinya pula, di depan para pengawal dan pelayan, ia lalu menyatakan ingin mengambil mantu kepada Ong Han Cu, dijodohkan dengan puteri tunggalnya, yakni gadis cantik yang tadi hampir terculik oleh kepala rampok, yang bernama Ciok Bwe Kim. Ong Han Cu merasa bahagia sekali oleh karena memang semenjak bertemu muka dengan Ciok Bwe Kim, ia te lah jatuh hati kepada gadis cantik ini. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan calon mertuanya dan menghaturkan terima kasihnya.

Baru setelah kembali ke tempat tinggalnya yang aman, yakni di dalam sebuah gedung besar di kota raja, Ciok-taijin (pembesar she Ciok) yang berpangkat teetok, merasa menyesal akan janjinya terhadap Ong Han Cu tadi. Ia adalah seorang pembesar berpangkat tinggi dan berdarah bangsawan, adapun pemuda itu sungguh pun tampan dan gagah perkasa, akan tetapi bukan keturunan bangsawan, tidak kaya raya, dan juga bukan ahli kesusasteraan sehingga takkan dapat memegang pangkat tinggi.

Namun janji telah diucapkan dan banyak saksi mendengarkan janji ini. Lagi pula, puterinya agaknya sudah suka kepada pendekar muda itu dan iapun merasa jerih untuk mengingkari janjinya terhadap Ong Han Cu.

Maka pernikahan lalu dilangsungkan dengan amat sederhana. Masih besar harapan hati pembesar itu untuk memberi bimbingan kepada mantunya agar mantu ini suka mempelajari ilmu tulis menulis dan kelak bisa diberi kedudukan yang akan mengangkat derajatnya. Akan tetapi bagaimanakah hasilnya?

Ong Han Cu adalah seorang pemuda yang semenjak kecilnya dididik dalam kegagahan dan kedua orang tuanyapun adalah pendekar-pendekar ilmu silat yang ternama di kalangan kang-ouw, maka tentu saja ia tidak tahan untuk duduk di belakang meja dan mengerahkan otak untuk menghafal huruf- huruf yang amat sukar baginya itu. Ia lebih suka keluar rumah dan berpesiar dari pada harus mengeram diri di dalam kamarnya. Karena inilah maka usaha mertuanya sia-sia belaka dan seringkali ia mendapat teguran dan marah dari mertuanya.

Isterinya, yakni Ciok Bwe Kim, yang melihat betapa ayah ibunya seringkali marah-marah, bersedih dan amat kecewa melihat suaminya, terpaksa memberi nasehat kepada suaminya agar suka merobah cara hidupnya dan dapat menyesuaikan diri sebagai mantu bangsawan. Akan tetapi inipun sia-sia belaka. Sifat yang gagah dalam batin Ong Han Cu tidak membolehkan dia berlaku pura-pura dan melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan jiwanya.

Demikianlah, disamping isterinya yang cantik jelita, di dalam gedung yang besar dan mewah, dan berjalan di atas tumpukan harta, Ong Han Cu tidak menemui kebahagiaan rumah tangga. Ia amat mencinta isterinya, akan tetapi pertentangan-pertentangan watak atau kebiasaan hidup membuat ia merasa seakan-akan hidup di dalam neraka.

Apalagi sete lah setahun kemudian isterinya melahirkan seorang anak perempuan. Mertuanya makin kecewa dan seringkali secara berterang menyatakan kekecewaannya ini di depan mantunya. Ong Han Cu menahan sabar seberapa bisa, akan tetapi kian lama kian beratlah perasaan itu menekan hatinya. Setelah puterinya berusia setengah tahun, ia menyatakan kepada isterinya untuk pergi merantau menghibur diri dan melakukan tugas sebagai seorang pendekar dan berdarma bakti kepada rakyat yang sengsara.

Mertuanya yang mendengar niatnya ini menjadi marah sekali dan melarang dia pergi. Akan tetapi Ong Han Cu memaksa sehingga terjadilah percekcokan mulut yang pertama kalinya.

“Hiansai (mantu laki-laki)!” Bangsawan she Ciok itu menegur marah. “Ingatlah baik-baik. Kau bukanlah seorang pemuda liar lagi yang bebas merdeka dan boleh berbuat apa saja di luar rumah, boleh hidup secara liar dan kasar mengandalkan ketajaman pedang dan kekerasan tangan. Kau adalah mantu dari seorang teetok, dan ingatlah bahwa nama mertuamu berada di atas pundakmu pula. Kalau kau main berandalan-berandalan di luar, dan ada orang yang mengenalmu sebagai mantuku, bukankah itu berarti bahwa kau akan mengotori dan mencemarkan namaku?” “Gakhu!” jawab Ong Han Cu yang sudah marah, “Ingatlah bahwa dulu gakhu (ayah mertua) memungut mantu kepadaku karena aku pandai bermain pedang. Kalau dulu tidak ada aku yang gakhu anggap liar dan berandalan, apakah keluarga Ciok masih dapat diharapkan hidup lagi?”

“Hiansai, kau se lalu menggali hal-hal yang sudah lalu. Pertolonganmu dulu adalah hal kebetulan saja dan sudah menjadi kehendak Thian pula kau berjodoh dengan puteri tunggalku. Akan tetapi, kau harus menurut kehendakku. Apakah kau buta dan tidak dapat melihat bahwa segala usahaku ini untuk kebaikanmu? Untuk kebaikan isterimu dan anakmu? Kalau kau sampai menjadi pandai, dan menduduki pangkat tinggi, siapakah yang akan bahagia? Kau dan anak isterimu, kami orang-orang tua hanya ikut merasa senang saja!”

“Aku tidak suka memegang jabatan! Aku tidak suka duduk dibelakang meja sampai punggungku bongkok! Aku tidak suka hidup mewah berlebih-lebihan di rumah gedung sedangkan rakyat jelata banyak yang kelaparan kedinginan!”

“Bagus, jadi apa kehendakmu?” membentak Ciok-taijin yang sudah menjadi marah sekali.

“Aku hendak merantau untuk beberapa bulan lamanya, atau bahkan sampai satu dua tahun!”

“Baik, kalau begitu, pergilah dan jangan kau kembali ke sini lagi! Aku tidak mau mengaku kau sebagai anak mantu lagi!” bentak bangsawan itu.

Terkejutlah Ong Han Cu mendengar ini dan terdengar isak tangis isterinya. Dengan tenang Ong Han Cu lalu menghampiri isterinya dan sambil memegang pundak isterinya dengan mesra, ia berkata,

“Bwee Kim, isteriku. Marilah kau dan anak kita ikut kepadaku. Kita keluar dari rumah gedung ini dan akan kuperlihatkan kepadamu bahwa kehidupan di luar gedung besar ini lebih menyenangkan!”

Akan tetapi isterinya memandangnya dengan air mata bercucuran. Bwee Kim adalah seorang puteri bangsawan yang semenjak kecilnya hidup di gedung besar itu. Bagaimana ia dapat mengikuti suaminya keluar dari situ tanpa tujuan? Bagaimana ia t idak merasa ngeri dan takut diajak merantau di dunia yang penuh kejahatan ini? Kalau teringat akan pengalamannya ketika dirampok dulu, ia masih menggigil ketakutan. Apalagi kini ia sudah mempunyai seorang anak. Bagaimanakah nasib anaknya kelak?

“Bwe Kim!” kata Ciok-taijin dengan suara keras. “Kau boleh memilih. Kalau kau mau pergi dengan suamimu, jangan kau kembali lagi ke rumah ini. Sebaliknya kalau kau memilih tinggal di sini, berarti kau bercerai dengan suamimu!”

“Ayah .....!” Bwe K im hanya dapat mengeluh dengan wajah pucat dan pikiran bimbang sekali.

“Isteriku, apakah susahnya memilih hal yang demikian mudah? Kau adalah isteriku, isteriku yang tercinta, dan ibu dari pada Lian Hong anak kita yang mungil. Tentu saja kau akan ikut padaku! Apakah artinya gedung besar kedudukan tinggi kalau bercerai dari suami? Dan akupun akan menderita kalau harus berpisah darimu!”

Sampai lama Bwe Kim dalam keadaan bimbang ragu dan hanya dapat menangis sehingga Ong Han Cu yang beradat keras menjadi hilang kesabarannya.

“Bwe Kim, berlakulah sedikit gagah dan ambilah keputusan!” tegurnya. “Pilihlah mana yang lebih berat, menjadi anak berbakti atau menjadi isteri setia!”

Akhirnya Bwe Kim dapat juga menjawab. “Suamiku ......

mengapa kau tidak mau menurut omongan ayahku? Mengapa kau membiarkan aku berada dalam keadaan bingung? Bagaimana aku harus memilih, suamiku? Tentu saja aku ingin sekali menjadi seorang anak yang berbakti, sama besarnya dengan keinginanku untuk menjadi seorang isteri yang setia dan menyinta. Akan tetapi, kedua hal ini bagiku sekarang masih belum menyamai besarnya keinginanku untuk melihat anak kita hidup dengan pantas dan berbahagia. Aku tidak perdulikan lagi keadaanku, akan tetapi bagaimanakah dengan Lian Hong anak kita? Aku tidak bisa melihat dia hidup terlantar, tidak berumah, tidak berpendidikan, jauh kesenangan dan jauh dari kedudukan serta nama baik. Ah, bagaimanakah aku harus memilih ?”

“Nah, Han Cu, kau dengarlah baik-baik ucapan isterimu ini!” kata Ciok-taijin yang kini tidak menyebut “anak mantu” lagi. “Kalau kau memiliki pribudi, tidak mengingat kepentingan diri sendiri saja, kau tentu suka pula berkorban untuk anakmu. Bapak macam apakah kau ini yang hendak menyeret anak isterimu ke dalam jurang kemiskinan dan kesengsaraan?”

Ong Han Cu menggigit bibirnya. Ia maklum bahwa percuma saja ia membantah. Orang-orang kaya ini, bangsawan- bangsawan ini takkan dapat mengerti bagaimana orang-orang yang miskin dapat hidup berbahagia. Bagi orang-orang seperti ini ukuran bahagia hanya diukur dengan ukuran harta dan dipertimbangkan dengan timbangan pangkat. Ia maklum bahwa kalau ia memaksa tinggal terus di s itu akhirnya mereka akan bentrok juga sehingga rumah tangganya akan makin hancur. Maka ia lalu mengambil keputusan tetap dan berkata.

“Baiklah, Bwe Kim. Kalau begitu, biarlah aku pergi dan kau bersama Lian Hong tinggallah bersama orang tuamu yang kaya raya. Harap kau suka merawat dan mendidik Lian Hong baik-baik!”

“Hm, kau keras kepala sekali, Han Cu!” kata Ciok-taijin. “Kalau kau memaksa, akupun berkeras pula dan kau tidak boleh kembali menjadi mantuku! Ingatlah ini baik-baik!”

“Tidak apa, kalau memang demikian yang dikendaki. Menjadi mantu berbeda dengan menjadi budak belian. Aku tidak sudi menjadi mantu dengan ikatan yang sedemikian rupa sehingga aku tidak boleh bergerak sedikitpun juga!”

Isterinya hanya dapat menangis dan memeluk Lian Hong yang masih kecil. Setelah Ong Han Cu pergi, Ciok-taijin lalu mengumumkan perceraian anaknya dengan mantu itu untuk menjaga agar sepak terjang Ong Han Cu di luaran tidak akan mencemarkan dan mempengaruhi nama dan kedudukannya. Ciok Bwe Kim hanya dapat menangis di dalam kamarnya. Apakah daya seorang wanita muda seperti dia?

Lima tahun lewat dengan cepat sekali akan tetapi banyaklah terjadi perobahan dalam waktu lima tahun itu. Kalau dulu para bangsawan menganggap ilmu silat hanya sebagai permainan orang-orang kasar dan liar belaka, kini ilmu silat merupakan mode yang mulai meresap di kalangan bangsawan.

Hal ini terjadi oleh karena banyaknya perampokan yang terjadi di waktu itu dan setelah beberapa kali terjadi perampokan pada orang-orang bangsawan, maka mereka barulah merasa sadar akan pentingnya ilmu kepandaian silat. Mulailah mereka memanggil guru-guru silat untuk memberi latihan kepada putera-putera mereka, bahkan diam-diam ada pula yang memberi didikan kepada puteri-puteri mereka setelah dikalangan kang-ouw muncul beberapa orang pendekar wanita yang gagah perkasa.

Ternyata bahwa Liang Hong mewarisi sifat seperti ayahnya yakni suka akan ilmu s ilat. Mendengar bahwa beberapa orang kawan-kawannya juga belajar ilmu silat, ia merengek-rengek kepada ibunya minta agar supaya ia diberi pelajaran ilmu s ilat pula.

Pada waktu itu, Ciok-taijin telah menerima lamaran seorang hartawan untuk Bwe K im, nyonya janda yang masih muda dan yang kecantikannya tidak kalah oleh gadis-gadis cantik lainnya. Bwe Kim menolak keras, akan tetapi terpaksa ia tunduk terhadap ayahnya pula. Nyonya ini merasa berduka sekali, terutama sekali ia merasa kasihan kepada Lian Hong. Akan tetapi calon suaminya menyatakan suka menerima Lian Hong sebagai anak sendiri, sehingga hati nyonya janda ini menjadi lega juga.

Akan tetapi, setelah perkawinan dilangsungkan dan Bwe Kim menjadi nyonya hartawan itu, ternyata bahwa suaminya ini adalah seorang bandot tua yang mata keranjang sekali. Baru menikah beberapa bulan saja, sikap suaminya ini menjadi dingin, bahkan suam inya berani menunjukkan sikap kurang ajar dan kurang sopan kepada Lian Hong yang baru berusia hampir tujuh tahun itu.

Tentu saja Bwe Kim menjadi marah sekali dan baiknya ia adalah puteri dari seorang pembesar tinggi sehingga ia dapat mengancam suaminya. Kalau saja suaminya tidak takut kepada Ciok-taijin, tentu hidup Bwe Kim akan menjadi makin sengsara saja.

Akan tetapi Bwe Kim dapat menekan penderitaan hatinya, bahkan ia merasa terhibur melihat sikap dingin dari suaminya yang dibencinya itu. Ia malahan menganjurkan agar supaya suaminya ini memelihara isteri muda sebanyak mungkin sehingga ia terhindar dari pada gangguan suami hartawan ini. Memang, pada waktu itu, lebih baik menjadi isteri seseorang yang kurang bijaksana dari pada menjadi janda muda karena hal ini akan merendahkan namanya. Menjadi isteri orang berarti mendapat tempat perlindungan yang aman sentausa, sungguhpun suaminya itu merupakan seorang suami yang tidak baik.

Kini Bwe Kim mengundang seorang guru silat yang pandai untuk mendidik Lian Hong dalam ilmu silat. Ternyata gadis kecil ini berbakat sekali sehingga gurunya merasa kagum dan juga bangga. Sayangnya, guru silat ini hanya memiliki ilmu silat biasa saja.

Ketika Lian Hong berusia sembilan tahun, pada suatu hari di dalam kebun bunga di mana ia berlatih silat di bawah bimbingan guru silat itu, ia sedang berlatih ilmu silat pedang dengan sebatang pedang kayu. Ilmu pedang yang dimainkan adalah ilmu pedang asal dari cabang Bu-tong-pai yang indah gerakannya, akan tetapi bagi mata seorang ahli, yang dima inkan oleh guru silat yang mengajar gadis cilik itu hanyalah ilmu pedang kembangannya saja yang indah dilihat akan tetapi kurang berguna dalam pertempuran.

“Nah, sekarang cobalah kau meniru gerakan-gerakanku tadi!” kata guru silat itu kepada Lian Hong yang semenjak tadi memandang dengan kagum.

Pada saat gadis cilik ini hendak berlatih, tiba-tiba dari atas pagar tembok kebun bunga itu melayang turun seorang laki- laki yang pakaiannya tidak karuan akan tetapi wajahnya tampan dan gagah sekali. Dengan ringan kedua kakinya turun menginjak tanah di depan guru s ilat she Liong itu.

“Eh, siapakah kau dan apa maksudmu datang ke sini?” bentak guru silat she Liong itu kepada orang ini.

Orang ini tersenyum mengejek dan berkata, “Orang macam kau ini hendak mengajar silat kepadanya? Gila! Dengarlah, mulai sekarang, setiap kali waktu latihan, kau berdiri saja di sini dan akulah yang akan mengajarnya! Mengerti?”

“Eh .... kurang ajar ... siapakah kau    ?”

“Kau boleh menyebutku seperti orang lain, yakni Pat-jiu Kiam-ong!”

Guru silat she Liong ini memandang dengan mata terbelalak dan mulut celangap dan mukanya pucat sekali seakan-akan ia melihat setan di siang hari.

“Pat ... pat jiu ... kiam-ong ..? Be.. benarkah?” tanyanya gagap dan masih tidak percaya.

“Sudah diamlah dan jangan banyak bergerak!” kata Pat-jiu Kiam-ong sambil menepuk pundak guru silat she Liong itu. Seketika itu juga orang she Liong ini berdiri kaku bagaikan patung batu karena ia telah terkena tiam-hwat (ilmu totok) yang lihai dari Pat-jiu Kiam-ong ini.

Orang ini, yakni Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Bertangan Delapan) sebenarnya bukan lain adalah Ong Han Cu sendiri. Di dalam perantauannya, ia telah berhasil menemukan kitab ilmu pedang di puncak Gunung Liong-cu-san dan telah mempelajari ilmu pedang itu sampai sempurna betul. Bahkan ia telah mendapatkan seorang murid wanita, yakni Nyo Siang Lan yang dibawa ke atas Gunung Liong-cu-san dan dididik ilmu s ilat t inggi.

Pada hari itu, ia meninggalkan muridnya berlatih seorang diri di gunung itu dan turunlah ia ke kota raja mencari rumah mertuanya. Ia tidak mempunyai niatan untuk mengganggu, hanya karena ia merasa rindu sekali kepada isterinya, terutama sekali kepada puterinya, maka ia ingin melihat mereka.

Ia tidak menjadi marah ketika mendengar bahwa isterinya itu telah menikah lagi dengan seorang hartawan, karena ia maklum bahwa hal ini tentulah kehendak mertuanya. Ia maklum pula bahwa memang kedudukan seorang janda muda amat tidak baik, maka pernikahan itu hanya membuat ia menarik napas panjang beberapa kali saja.

Namun, rindunya terhadap puterinya makin membesar dan akhirnya ia lalu mencari rumah hartawan yang menjadi suami Bwe Kim itu. Dari hasil penyelidikannya ia memperoleh keterangan bahwa puteri keluarga kaya ini yang bernama Lian Hong setiap senja berlatih silat di kebun bunga yang berada di belakang rumah. Oleh karena memang niatnya hanya hendak bertemu dengan puterinya, maka pada hari itu ia sengaja melompati pagar tembok di belakang rumah dan kebetulan sekali pada waktu itu ia melihat seorang gadis cilik yang amat cantik jelita tengah dilatih silat oleh seorang guru silat yang kepandaiannya biasa saja. Lian Hong yang menyaksikan perbuatan pendekar ini, menjadi terheran-heran, akan tetapi sedikitpun ia tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan memandang dengan sepasang matanya yang bening seperti burung hong itu. Ingin sekali Ong Han Cu memeluk puterinya, akan tetapi ia menahan hasratnya ini dan tersenyum manis dan ramah kepada gadis cilik itu.

“Kau bernama Lian Hong, bukan?” akhirnya setelah dapat menekan keharuan hatinya ia bertanya lembut.

Lian Hong mengangguk heran dan bertanya, “Orang tua, kau apakan Liong-suhu ini? Mengapa ia menjadi kaku seperti patung?”

Pat-jiu Kiam-ong tertawa geli, “Tidak apa, jangan kau khawatir, anak baik. Orang she Liong ini hanya kutotok jalan darahnya agar tidak membikin ribut.”

“Sebetulnya, apakah maksudmu datang kesini dan membikin Liong-suhu tidak berdaya?” tanya pula Lian Hong.

“Anak yang manis, tiada gunanya kau belajar kepada orang macam ini. Apakah kau ingin mempelajari ilmu silat yang tinggi?”

Lian Hong adalah seorang anak yang cerdik sekali. Melihat perbuatan orang itu terhadap suhunya, ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia mengangguk.

“Bagus,” kata Ong Han Cu. “Kalau begitu, mulai sekarang biarlah aku menggantikan orang ini mengajar ilmu silat kepadamu!” Ia berhenti sebentar, memandang tajam kepada gadis cilik itu lalu bertanya, “Sukakah kau menjadi muridku?”

Lian Hong ragu-ragu, “Aku       aku ingin sekali mempelajari

ilmu silat tinggi, akan tetapi ... aku tidak tahu siapa lopek ini, dan baiknya aku bertanya dulu kepada ibuku!” Sambil berkata demikian, gadis itu hendak lari masuk, akan tetapi sekali melompat saja Pat-jiu Kiam-ong telah berada di depannya menghadang di tengah jalan. Gadis cilik itu terkejut sekali karena tidak tahu bagaimana orang tua ini tahu-tahu telah berada didepannya.

Pat-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya dan menggerak-gerakkan tangan itu ke kanan kiri. “Jangan .....

jangan kau memanggil ibumu. Aku tidak apa-apa, hanya akan menurunkan ilmu pedang yang bagus dan tinggi kepadamu. Jangan kau menceritakan kepada siapa juga bahwa aku mengajar ilmu silat kepadamu. Nah, kau lihat pohon itu, bukankah cabang-cabang dan daun-daunnya tidak rata. Perhatikan pedangku dan kemudian katakanlah apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian seperti ini!” Orang tua ini lalu melepaskan ikat pinggangnya yang ternyata adalah sebuah pedang tipis sekali, lalu ia berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah melayang cepat ke atas ke arah pohon itu. Lian Hong tidak melihat bagaimana orang itu bergerak, hanya melihat sinar pedang bergulung–gulung disektar pohon itu dan tahu-tahu cabang dan daun-daun pohon jatuh berhamburan di bawah pohon.

Ketika sinar pedang itu lenyap, orang itu telah turun dan berdiri pula di depannya sambil tersenyum. Apabila ia menengok ke arah pohon itu, ternyata kini cabang-cabang dan daun-daun itu telah dibabat menjadi rata sehingga pohon itu berubah menjadi berbentuk payung yang bagus sekali. Hampir saja Lian Hong bersorak girang melihat kehebatan ini.

“Nah, sukakah kau mempelajari ilmu pedang ini?”

“Hebat, hebat ......!” gadis cilik itu memuji. “Bagaimanakah aku dapat mempelajari ilmu semacam itu? Seperti sulap saja!”

Pat-jiu Kiam-ong tertawa geli, “Bukan sulap, juga bukan sihir, anak baik. Perbuatan itu dapat kau lakukan apabila kau telah memiliki ilmu ginkang yang tinggi dan pergerakan pedang yang cepat dan tepat. Nah, apakah kau suka menjadi muridku?” Dengan hati yang amat girang, serta merta Lian Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu dan Ong Han Cu lalu memegang pundak gadis itu, diangkatnya bangun. Ingin sekali ia memeluk anaknya ini, akan tetapi karena ia tidak mau membikin kaget anak itu, dan tidak mau membuka rahasianya, maka ia hanya memegang kedua pundak gadis itu dan memandang mukanya dengan mesra sekali. Keharuan besar membuat kedua matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata tanpa dapat dicegah lagi.

“Eh ..... suhu, mengapa kau mengalirkan air mata?” tanya Lian Hong dan entah mengapa, di dalam hatinya gadis cilik ini merasa kasihan sekali kepada orang yang kini menjadi gurunya ini.

Mendengar pertanyaan ini, sadarlah Ong Han Cu dari lamunannya dan ia segera melepaskan tangannya dan memaksa bibirnya tersenyum. “Ah, tidak apa-apa, nak, ...tidak apa-apa. Kau mulai sekarang perhatikanlah segala petunjukku dan belajarlah baik-baik.” Ia lalu mulai memberi pelajaran kauwkoat (teori ilmu silat) kepada anaknya itu, disertai contoh-contoh menjalankan ilmu pukulan. Sampai beberapa lama mereka tekun sekali, yang seorang memberi petunjuk, yang lain meniru gerakan dan mengingat semua petunjuk yang diberikan.

Setelah senja berganti ma lam, Ong Han Cu lalu menghampiri guru silat she Liong yang masih berdiri di situ bagaikan patung, menepuk pundaknya sekali sehingga guru silat ini mengeluh dan jatuh duduk di atas tanah.

“Sahabat, kau kini tahu bahwa kau berhadapan dengan Pat-jiu Kiam-ong, maka janganlah kau main-main!” kata Ong Han Cu. “Mulai sekarang, anak ini menjadi muridku dan tiap sore aku datang kemari untuk me latihnya. Kau datanglah seperti biasa dan jangan kau ceritakan tentang kedatanganku ini kepada siapapun juga. Mengerti!!?” “Baiklah, taihiap!” kata guru silat itu dengan takut. Telah lama ia mendengar nama Raja Pedang Bertangan Delapan dan baru sekarang ia menyaksikan sendiri kehebatan pendekar ini karena biarpun ia berada dalam keadaan tertotok, tadi ia masih dapat menyaksikan ilmu pedang pendekar itu ketika berdemonstrasi membabat pohon.

Demikianlah hampir dua tahun lamanya Pat-jiu Kiam-ong melatih ilmu silat dan ilmu pedang kepada puterinya sendiri tanpa diketahui oleh seorangpun kecuali guru silat she Liong yang takut membocorkan rahasianya. Bahkan Lian Hong sendiri sama sekali tak pernah m impi bahwa orang yang menjadi suhunya ini adalah ayahnya sendiri.

Pada senja hari itu, tidak seperti biasanya, Liong-kauwsu tidak datang di kebun bunga itu. “Mana Liong-kauwsu?” tanya Ong Han Cu kepada Lian Hong ketika ia melompat masuk ke dalam kebun itu.

“Entahlah, suhu. Liong-suhu sejak tadi tidak ada, mungkin ada halangan.”

Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu mengerutkan alis dan merasa tidak enak hati.

“Lian Hong, aku suka sekali memberi pelajaran silat kepadamu karena kau adalah seorang anak yang cerdik dan pandai. Aku merasa seakan-akan kau anakku sendiri dan karenannya, aku hendak menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu. Akan tetapi, hal ini baru bisa terlaksana kalau kau ikut dengan aku pergi ke Liong-cu-san dan berlatih bersama- sama dengan sucimu yakni Siang Lan.”

Memang sudah seringkali Ong Han Cu menceritakan Lian Hong tentang muridnya itu, dan se lama dua tahun ini, ia selalu mondar-mandir dari Liong-cu-san ke kota raja. Sebentar melatih Siang Lan, sebentar melatih Lian Hong.”

“Apakah teecu (murid) harus     tinggalkan ibu, suhu?” Ong Han Cu menghela napas. “Kalau terpaksa, apa boleh buat. Belajar silat dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini, kemajuannya akan lambat sekali. Disini aku membawa kitab pelajaran ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat untuk kau pelajari sendiri dengan baik, karena aku tidak mungkin harus datang setiap sore di tempat ini. Setelah lewat satu dua bulan, barulah aku akan datang dan melihat kemajuanmu.”

“Lebih baik demikianlah diaturnya, suhu. Karena sesungguhnya, untuk meninggalkan ibu seorang diri di sini, teecu merasa tidak tega.”

“Seorang diri ?? Bukankah .... bukankah ... ada ayahmu?”

Lian Hong menarik napas panjang. Ia tidak suka membicarakan hal ayahnya karena entah mengapa ia tidak suka kepada ayahnya yang mempunyai banyak bini muda dan yang sama sekali tidak memperdulikan ibunya itu. Akan tetapi, tentu saja hal ini tak dapat ia katakan kepada orang lain.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita yang muncul dari pintu belakang.

“Lian Hong! Kau bercakap-cakap dengan siapakah?” Dan dari balik pintu muncullah Ciok Bwe Kim, Ibu Lian Hong.

Ong Han Cu hendak melarikan diri, namun sudah terlambat dan tidak dapat berbuat lain berdiri memandang bekas isterinya itu dengan hati berdebar. Bwe Kim ketika mengenal bekas suaminya ini, tiba-tiba menjadi pucat dan memandang dengan mata terbelalak.

“Kau ....kau...?” katanya gagap. “Setelah meninggalkan kami ... kau ... kau kini datang untuk melumuri muka kami dengan kecemaran ... ? Pergi! Pergilah kau orang yang hanya ingat akan kesenangan diri sendiri saja. Pergi!”

“Bwe Kim ... aku ... aku hanya datang untuk melatih ilm u silat kepada ... Lian Hong ...” Ong Han Cu mencoba untuk membela diri. “Aku tahu! Bagus benar, kau melatih ilmu silat dengan diam-diam seperti seorang maling. Apakah kau sedikit juga tidak mempunyai pikiran betapa akan ributnya kalau sampai kehadiranmu di sini diketahui orang lain? Apakah namaku tidak akan rusak dan tercemar apabila orang lain mengetahui siapa adanya kau dan bahwa kau hampir setiap hari datang ke tempat ini? Ah, Han Cu .... kau sungguh tidak memperdulikan keadaan orang lain ...” Nyonya muda ini lalu menangis.

Lian Hong yang semenjak tadi berdiri melengong, terheran- heran karena tidak mengerti apakah artinya percakapan antara ibunya dan suhunya ini, lalu memeluk ibunya dan bertanya.

“Ibu, apakah artinya semua ini?” Ibunya tidak menjawab dan ketika Lian Hong memandang ke arah suhunya dengan mata bertanya, Ong Han Cu berkata.

“Lian Hong, bawalah ibumu masuk ke dalam. Aku hendak pergi dari sini. Ibumu memang benar, aku seorang yang hanya mengingat akan diri sendiri saja. Jagalah baik-baik kitab itu, kemudian belajarlah dengan giat. Selamat tinggal!” Dengan sekali menggerakkan tubuhnya, Ong Han Cu melompat keluar dari pagar tembok itu.

“Ibu, kau sudah kenal kepada suhu?” tanya Lian Hong yang masih memeluk ibunya.

Makin keraslah tangis ibunya ketika mendengar pertanyaan ini, dan sambil merangkul leher anaknya ia berkata. “Anakku

... dia ...dia adalah     ayahmu sendiri!”

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di waktu itu, belum tentu Lian Hong sekaget ketika mendengar ucapan ini. Ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak ibunya, menatap wajah ibunya yang basah dengan air mata itu dan berkata gagap.

“Apa ....? Apakah artinya ucapan ini, ibu?” Di antara isak tangisnya, Bwe Kim berkata, “Dia adalah ayahmu .... yang telah meninggalkan kita ketika kau baru berusia enam bulan!” Kemudian ia menceritakan segala peristiwa yang terjadi pada waktu dulu, semenjak Ong Han Cu menolong keluarga Ciok-taijin sampai ia dikawinkan dengan pendekar itu dan bagaimana pendekar yang menjadi suaminya itu akhirnya meninggalkan mereka.

Pucatlah wajah Lian Hong mendengar cerita ini dan berulang kali ia menghela napas, menyesali nasib ibunya.

“Ah, ibu ... kau ... kau dulu telah berlaku keliru ...”

Ibunya mengangguk sedih. “Aku melakukan pengorbanan perasaan demi kebahagiaanmu, anakku. Aku tidak ingin melihat kau terbawa dalam pengembaraan yang penuh kesengsaraan ”

“Salah ibu,” gadis yang baru berusia dua belas tahun itu berkata sambil mengerutkan kening, “kalau dulu ibu ikut dengan ayah, keadaan ibu takkan menjadi begini. Pantas saja aku selalu tidak suka kepada ayah yang sekarang, tidak tahunya ia bukan ayahku sendiri.”

“Sudahlah, Lian Hong nasi telah menjadi bubur, hal ini tak dapat disesalkan lagi. Jangan kau menceritakan hal kita ini kepada siapapun juga. Kau harus menjaga nama baik kong- kongmu. Kau tahu bagaimana baiknya ayah ibuku terhadap kau.”

“Akan tetapi mereka berlaku kejam karena memaksa ibu menikah lagi!” kata Lian Hong cemberut.

“Hush, jangan berkata demikian, nak. Kau masih terlampau kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa. Kau tidak mengerti nasib seorang janda muda.”

Semenjak terbukanya rahasia itu sikap Lian Hong terhadap ayah tirinya makin dingin. Diam-diam ia merasa girang sekali dengan kenyataan, bahwa dia bukanlah puteri hartawan bandot tua yang mata keranjang dan tiada guna itu, melainkan puteri dari Pat-jiu K iam-ong Ong Han Cu, pendekar besar yang juga menjadi suhunya yang dikagumi itu. Sebagai puteri seorang pendekar besar, iapun bercita-cita untuk menjadi seorang pendekar, maka makin giatlah ia melatih diri, mempelajari ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat dari kitab pelajaran yang ditinggalkan oleh guru atau ayahnya itu.

Sementara itu, Ciok-taijin suami isteri juga amat sayang terhadap Lian Hong. Pembesar ini hanya mempunyai seorang anak saja, yakni Ciok Bwe Kim dan kini ternyata bahwa Bwe Kim juga hanya mempunyai seorang puteri. Maka tentu saja bangsawan ini amat sayang kepada cucu tunggal mereka. Karena mereka tinggal se kota, yakni di kota raja, maka seringkali bangsawan Ciok menitah pelayan-pelayan untuk menjemput Lian Hong dan gadis cilik itu dengan gembira bermain-main di rumah kakeknya.

Setelah Lian Hong berusia empat belas tahun, ia telah menjadi seorang gadis remaja puteri yang cantik jelita dan makin mengilerlah bandot tua yang menjadi ayah tirinya itu. Setiap hari mata yang sipit dan keriputan itu menatap wajah dan tubuh gadis ini dengan penuh gairah.

Pada suatu hari, ketika Lian Hong sedang berlatih ilm u silat di kebun belakang, tiba-tiba ayah tirinya datang sambil tersenyum-senyum. Seperti biasa, apabila ia sedang berlatih silat, Lian Hong mengenakan pakaian yang ringkas sehingga tubuhnya yang mulai berkembang itu tercetak oleh pakaiannya yang ringkas. Pemandangan ini cukup merangsang hati bandot tua itu, maka sambil tersenyum ia menghampiri Lian Hong dan hendak menaruh kedua tangannya pada pinggang itu sambil berkata.

“Lian Hong, anakku. Kau cantik sekali dalam pakaian seperti ini. Bagaimana dengan latihanmu, anakku yang manis?” Akan tetapi sekali menggerakkan kakinya, Lian Hong telah dapat mengelak dari pelukan “ayahnya” dan menjauhkan diri sambil memandang dengan mulut merengut.

“Jangan ayah pegang-pegang aku! Aku bukan gundik ayah!” katanya.

“Eh, eh ... ibumu sendiri tidak cemburu melihat aku mempunyai banyak bini muda, akan tetapi kau agaknya cemburu ha, ha, ha!”

“Siapa yang cemburu? Biarpun ayah akan memelihara seribu orang gundik, aku tidak perduli! Akan tetapi jangan ayah hendak menyamakan aku dengan gundik-gundik itu!” Lian Hong membentak.

(Oo-dwkz-oO)