-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 11 (Tamat)

Jilid 11 (Tamat)

“Ha-ha-ha. sungguh kebetulan sekali, para pemberontak Bu-tong-pai dan seorang pentolannya, Sekali ini kita mendapat kakap!” kakek berambut panjang itu tertawa lagi, Ucapan ini disusul suara ketawa Gin-san-kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan. Loan Khi Tosu melangkah maju, berdiri tegak dan menudingkan telunjuknya ke arah kakek rambut putih itu,

“Ho-sim Pek-mo, jangan berkecil hati kalau pinto menghapus penghormatan kepada orang yang lebih tua seperti engkau, Dahulu engkau adalah sahabat baik kami pimpinan Bu-tong-pai, yang kuhormati, akan tetapi sekarang ternyata bahwa engkau hanyalah seorang penjilat kaisar yang hina!” Mendengar disebutnya nama Ho-sim Pek-mo, semua orang terkejut, Semua murid Bu-tong- pai pasti mengenal nama besar ini yang selalu dipuji-puji dan dikagumi tokoh-tokoh Bu-tong-pai,

Kwee Cin, Giok Lan, Siang Hwi dan Kwan Bu sebagai tokoh-tokoh muda yang belum pernah mendengar nama besar tokoh tua ini, hanya memandang dan menduga bahwa kakek kurus kecil ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, Julukannya saja sudah menyeramkan dan aneh, Ho-sim Pek- mo (Iblis Putih Baik Hati), sudah disebut iblis akan tetap baik hati! Hal ini sebetulnya adalah karena sepak terjang kakek ini yang puluhan tahun lamanya menggemparkan dunia kang-ouw, Sepak terjangnya aneh. Dia ganas sekali menghadapi penjahat-penjahat, ganas seperti iblis sendiri, akan tetapi dia bersikap seperti seorang pendekar budiman terhadap mereka yang lemah tertindas, karena semenjak muda rambutnya sudah putih, maka dia dijuluki Pek-mo (Iblis Putih] oleh para penjahat akan tetapi mendapat sebutan Ho-sim (Hati Baik) oleh dunia kang-ouw,

“Eh, Loan Khi Tosu, tak perlu kau putuskan persahabatan, memang sudah putus dengan sendirinya dalam jaman yang kacau ini! Bukan salahmu.     bukan salahku, Dahulu, di waktu jaman aman, setiap

kali aku datang berkunjung ke Bu-tong-pai, engkau dan Thian Khi Tosu menyambutku sebagai sahabat, kita bermain thioki (catur) sampai tiga hari tiga malam penuh kegembiraan! Kemudian muncul pemberontakan-pemberontakan yang mengakibatkan perpecahan, Bu-tong-pai memilih pihak pemberontak, itu adalah haknya, akan tetapi aku memilih pihak pemerintah, ini pun hakku. Tidak perlu disebut siapa benar siapa salah karena memang manusia memiliki pendapat masing- masing, Dan kini kita bertemu bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh, ini pun kehendak nasib! Betapapun juga, kedatanganku ke sini sama sekali bukan untuk menangkap pemberontak- pemberontak Bu-tong-pai namun semula hanya untuk mengejar dan menangkap dia itu!” kakek itu menuding kearah Kwan Bu,

“Siapa kira, kami di sini bertemu dengan para pemberontak-pemberontak Bu-tong-pai, hal ini sekaligus kami dapat menangkap sekawanan pemberontak Ha-ha-ha!” Kwan Bu mengerutkan keningnya, dan bertanya, suaranya tenang,

“Locianpwe, biarpun keadaan memaksaku beberapa kali bentrok dengan pihak pengawal, akan tetapi saya pribadi tidak mempunyai permusuhan dengan pihak pengawal, Mengapa pula sekarang locianpwe mengejar dan hendak menangkap aku?”

“Wah, bocah engkau murid Pat-jiu Lo-koai, bukan? Dan bukankah engkau telah membunuh Phoa Siok Lun dan Liem Bi Hwa dua orang pembantu kami yang setia? Mereka itu adalah suheng dan sumoimu, dan mereka itu adalah orang-orang muda yang telah membela pemerintah bangsanya, orang-orang gagah yang patut dipuji, akan tetapi engkau telah membunuhnya!”

“Tidak benar sama sekali, locianpwe, Mereka memang sumoi dan suhengku, akan tetapi hanya sumoi yang benar seorang murid suhu yang baik, akan tetapi sayang sekali, saya tidak dapat mengatakan bahwa suheng adalah seorang murid yang baik. Dan pula, tidak benar kalau dikatakan saya yang membunuh mereka karena mereka berdua itu saling bunuh sendiri,”

“Engkau yang menjadi gara-garanya, aku sudah mendengar akan apa yang terjadi! Sama saja, engkau yang membunuh mereka, karena itu, engkau harus menyerahkan diri menjadi tawanan kami.” Kwan Bu tersenyum pahit.

“Urusanku dengan dia adalah urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan, tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukan pengawal, Saya tidak merasa bersalah terhadap kerajaan, tentu saja saya keberatan kalau dijadikan tawanan,”

“Berani engkau melawan aku, orang muda?”

“Keberanian hanya dipakai berlandaskan kebenaran, karena saya merasa benar dalam hal ini, tentu saja saya berani membela diri terhadap siapapun juga”.

“bocah sombong!” Gin-san-kwi Lu Mo Kok membentak marah dan sudah menerjang maju, menyerang Kwan Bu dengan senjatanya yang luar biasa, yaitu kipas perak yang lihai sekali dan yang sudah mengangkat namanya tinggi-tinggi sehingga julukannya pun Gin-san-kwi (Si Kipas Setan Perak),

“Wirrrr...... siuuuuuttt......!” angin besar datang dari kipas itu disusul luncuran gagang kipas yang runcing menotok kearah leher, pusar, mata, dan dada!

Hebat bukan main gerakan ini dan amat cepat susul menyusul sehingga tak dapat diikuti oleh pandangan mata, Mula-mula ujung gagang kipas meluncur ke arah leher, sedetik kemudian disusul dengan serangan kepusar, kemudian mata dan selanjutnya menyerang dada, Kwan Bu yang sudah siap dan waspada menggunakan kelincahan tubuhnya mengelak, akan tetapi keringat dingin mengucur di lehernya ketika ia melihat betapa ujung gagang kipas itu melakukan serangan-serangan berikutnya secara cepat sekali, Hampir saja ia tidak dapat mengelak dari tusukan terakhir ke ulu hatinya kalau ia tidak cepat menekan ke tanah dengan ujung kaki sehingga tubuhnya mencelat ke belakang dan berjungkir balik, Ketika pemuda ini sudah turun lagi ke atas tanah tangannya sudah memegang pedang Toat-beng-kiam yang merah darah! “Omitohud.....! Pedang Toat-beng-kiam yang jahat!” Bentak Kim I Lohan dan angin pukulan yang amat kuat menyambar dari samping ketika Kim-coa-pang (Tongkat Ular Emas) menyambar dari kanan kearah kepala Kwan Bu. Pemuda ini cepat mengelak dengan merendahkan diri dan meliuk ke kiri, kemudian sinar merah darah berkelebat ketika ia menggerakkan pedang Toat-beng-kiam dari bawah membabat pergelangan tangan kanan hwesio itu.

“Singggg.... tranggg,!” karena babatan pedang itu amat cepat dan tidak terduga oleh hwesio pengawal itu, yang dilakukan sebagai balasan sambaran tongkatnya tadi, terpaksa Kim I Lohan memutar tongkat dan menangkis dari samping, hwesio ini sudah mengenal keampuhan Toat-beng- kiam, maka ia tidak menggunakan seluruh tenaga dan membiarkan tongkatnya terpental sehingga tidak terancam bahaya terpotong oleh pedang pusaka yang tajamnya luar biasa itu,

“Hiaaattttt......!” Kembali kipas perak di tangan Lu Mo Kok menyambar, kini mengancam pelipis, Ketika Kwan Bu mengelebatkan pedang untuk menangkis sambil merendahkan tubuhnya, tiba-tiba tongkat yang berubah menjadi sinar kuning emas bergulung itu telah membabat kedua kakinya. Keadaan ini benar-benar amat berbahaya karena ia terancam dari atas dan bawah,

“Haiiiiiiittttt” Tubuh Kwan Bu mencelat ke atas seperti seekor burung terbang sehingga mereka yang menonton menjadi kagum dan otomatis mundur ke belakang untuk dapat menyaksikan pertandingan hebat itu, Dua orang lawannya juga kaget dan cepat menengok Kwan Bu yang mencelat ke atas itu kini sudah menukik ke bawah didahului sinar pedangnya yang merah sekali itu bergerak membuat lingkaran-lingkaran lebar yang menyilaukan mata, lingkaran-lingkaran yang mengeluarkan kilat-kilat menyambar kearah Kim I Lohan dan Gin-san-kwi.

“Hayaaa   !” Gin-san-kwi tidak berani menangkis kilatan sinar pedang yang seperti pijaran api itu,

khawatir kalau-kalau kipasnya rusak, maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang, terjengkang dan bergulingan jauh, Tidak demikian dengan Kim I Lohan yang biarpun tahu akan kemampuan pada lawan, namun ia pun percaya akan kehebatan tongkat ular emasnya, maka sekali ini mengerahkan tenaga menangkis, dengan harapan akan menang tenaga karena mengira bahwa pemuda itu tentu membagi tenaga ketika menyerang mereka berdua,

“Cringggg… !” Ujung pedang bertemu dengan ujung tongkat dan hwesio itu meloncat ke belakang

sambil berseru kaget karena selain tangannya menjadi panas tergetar, juga ternyata ujung tongkatnya terbabat potong sedikit!

“Serbu   Tangkap para pemberontak itu!” Tiba-tiba Gin-san-kwi Lu Mo Kok yang merasa penasaran

dan khawatir kalau-kalau para pemberontak itu akan meloloskan diri, memberi aba-aba, Lima puluh orang pengawal bergerak maju. Adapun Ho-sim Pek-mo yang melihat betapa pemuda murid Pat-jiu Lo-koai itu benar-benar hebat sekali ilmu pedangnya dan agaknya dua orang panglima pengawal itu belum tentu akan dapat mengalahkannya, segera berseru keras dan tubuhnya sudah bergerak maju, Ketika kakek ini maju, tampak sinar hitam dan putih menyambar dari kedua tangannya dan ternyata sinar itu adalah gerakan sepasang senjata yang aneh, berbentuk gelang bergaris tengah kurang lebih setengah meter, yang di tangan kiri berwarna putih yang kanan hitam,

“Pek-mo, pintolah lawanmu!” Loan Khi Tosu berteriak dan tongkat bambunya bergerak ke depan, mengirim tusukan kearah lambung kiri Ho-sim Pek-mo. Gerakannya perlahan akan tetapi tahu-tahu ujung tongkatnya sudah mengancam lambung. Gerakan kakek Bu-tong-pai ini adalah jurus ilmu pedang Bu-tong Kiam-sut yang amat hebat sehingga Ho-sim Pek-mo, tokoh besar itu tidak berani memandang ringan, cepat menarik kembali sepasang gelangnya yang tadinya hendak menyerang Kwan Bu, Lalu gelang putih membalik cepat menangkis bambu sedangkan gelang kitam meluncur ke atas menghantam ke arah kepala Loan Khi Tosu, akan tetapi, wakil ketua Bu-tong-pai ini bukan orang sembarangan, ilmu silatnya sudah amat tinggi tingkatnya dan sedikit saja tubuhnya miring, serangan gelang itu telah luput. Sepuluh orang anak murid Bu-tong-pai, dipimpin oleh Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong yang memegang pedang dengan tangan kirinya karena lengan kanannya dibalut dan tak dapat digerakkan, segera menghampiri serbuan lima puluh orang pengawal itu sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru dan hebat di tempat itu, Melihat bahwa keadaan telah menjadi kacau. Giok Lan cepat melompat mendekati Kwee Cin dengan pedang di tangan, Tanpa mengeluarkan kata- kata sesuatu, gadis ini lalu memutuskan belenggu leher dan tangan Kwee Cin dengan pedangnya,

“Terima kasih, nona........ akan tetapi sesungguhnya aku........ tidak berani melepaskan diri dari tawanan Bu-tong-pai ”

“Ah. setelah persoalan menjadi begini, mengapa masih banyak rewel tentang aturan lagi?” Giok Lan mencela, “Kalau kita tidak turun tangan membantu menghadapi para pengawal, apakah kita tidak akan mati semua? kita usir dulu para pengawal, urusan kemudian bagaimana nanti sajalah!”

“Betul, Kwee-suheng. Mari kita basmi pengawal menjemukan ini!” kata Siang Hwi yang menyerahkan sebuah diantara pedangnya kepada Kwee Cin.

Gadis ini biasanya bersenjata siangkiam (pedang pasangan) akan tetapi ia pun ahli dalam mempergunakan pedang tunggal. Setelah Kwee Cin menerima pedang itu mereka bertiga lalu menyerbu ke depan dan sebentar saja mereka itu dikeroyok oleh banyak sekali pengawal yang bertempur sambil berteriak-teriak. Diantara murid Bu-tong-pai, hanyalah Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong yang paling lihai namun pendekar pedang ini sudah patah lengan kanannya sehingga hal ini tentu saja mengurangi kelihaiannya. Adapun anak murid lainnya adalah murid-murid tingkat rendah, maka biarpun kini mereka itu dibantu oleh Kwee Cin, Siang Hwi dan Giok Lan serentak juga menahan serbuan para pengawal, tetap saja mereka terdesak hebat oleh pihak pengawal yang jumlahnya lima kali lebih banyak daripada jumlah mereka itu.

Pertandingan itu tidak seimbang dan makin lama pihak Bu-tong-pai terdesak makin hebat dan setiap saat tentu akan dapat terbasmi habis dalam pengeroyokan para pengawal, yang amat hebat adalah pertandingan antara Loan Khi Tosu dan Ho-sim Pek-mo. Ternyata kedua orang kakek ini setingkat dan memiliki kehebatan masing-masing, Loan Khi Tosu yang bersenjata tongkat bambu itu agaknya lebih kuat ginkangnya sehingga biarpun senjatanya hanya tongkat bambu, namun gerakannya mantap dan dari tongkat bambu itu tergelar tenaga ginkang yang amat kuat sehingga wakil ketua Bu-tong-pai ini dapat menahan serbuan sepasang gelang hitam putih dari Ho-sim Pek-mo yang hebat sekali. adapun keunggulan Ho-sim Pek-mo adalah senjatanya itulah. Benar-benar sepasang senjata aneh dan ampuh sekali.

Sepasang gelang atau roda itu berputar-putar membentuk lingkaran-lingkaran yang sukar sekali dijaga, seolah-olah sepasang roda itu hidup dan seolah-olah terbang tanpa dipegang di udara. Dua senjata yang berlawanan warna itu berputaran, mengeluarkan suara mengaung dan berubah menjadi dua gulungan sinar hitam putih yang saling melibat, dan mempunyai daya serang bertubi- tubi sehingga Loan Khi Tosu benar-benar terdesak dan hanya mampu memutar tongkat melindungi tubuhnya, Hanya kadang-kadang saja dia menyerang hebat, namun perbandingan penyerangannya adalah satu lawan tiga, Kwan Bu pemuda perkasa kembali memperlihatkan kelihaianya, Biarpun dikeroyok oleh dua orang panglima yang berilmu tinggi, namun pemuda dengan pedang pusakanya ini selalu berada di pihak unggul, selalu menekan dan membagi-bagi serangan. Tubuhnya lenyap, yang tampak hanyalah gulungan sinar merah darah yang seperti naga bermain di angkasa menyambar-nyambar kearah Gin-san-kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan, Pemuda ini biarpun tidak mudah mengalahkan dua orang lawannya, namun dia masih mendesak terus, tinggal mencari kesempatan baik merobohkan dua orang kakek pengawal itu, Sayang bahwa Kwan Bu tak dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pertandingan itu, kadang matanya mengerling ke arah Siang Hwi yang bersama Giok Lan dan Kwee Cin sedang terdesak hebat oleh pengeroyokan pengawal. Hal ini mengurangi daya serang Kwan Bu, dan pemuda itu tidak tahu pula betapa Ho-sim Pek-mo juga seringkali mengerling ke arah dia dan agaknya kakek itu merasa tidak puas menyaksikan betapa dua orang sahabatnya terdesak oleh murid Pat-jiu Lo-koai itu.

Tiba-tiba sinar merah darah yang bergulung-gulung itu melesat ke kiri dibarengi bentakan-bentakan Kwan Bu yang marah sekali ketika dengan lirikan sudut matanya ia melihat betapa Siang Hwi yang untuk kesekian kalinya merobohkan seorang pengeroyok dengan tusukan pedangnya, menjadi gugup ketika pedangnya itu terjepit diantara tulang iga lawan yang ditusuknya dan pada saat itu, empat orang pengawal telah menerjangnya dengan senjata mereka. Siang Hwi yang belum berhasil mencabut pedangnya dari dada lawan yang dirobohkan, mengelak, akan tetapi pundaknya masih terserempet golok sehingga pangkal lengannya terluka dan mengucurkan darah, padahal empat orang pengawal yang mengeroyoknya sudah menerjang lagi. Saat itulah Kwan Bu melupakan keadaanya sendiri dan tubuhnya melesat meninggalkan dua orang panglima pengawal yang sudah didesaknya,

Sinar merah darah menyambar seperti sebuah bintang terbang dan terdengar jerit mengerikan ketika ujung Tot-beng-kiam sekaligus membabat robek perut empat pengawal yang mengancam Siang Hwi itu! akan tetapi pada saat itu, Lu Mo Kok dan Kim I Lohan meloncat mengejar dan mereka ini pun marah sekali melihat banyaknya para pengawal anak buah mereka roboh binasa, Sungguh tidak mereka duga sama sekali bahwa Kwan Bu yang baru saja menolong Siang Hwi merobohkan empat orang pengawal, diam-diam memperhatikan gerakan mereka dan sebelum dua orang pengawal tingkat tinggi itu sempat menyerang, tiba-tiba pemuda itu langsung membalik dan meloncat ke depan, tubuhnya meluncur seperti terbang dan pedangnya bergerak secara luar biasa sekali membabat ke depan membabat leher Lu Mo kok dan Kim I Lohan!

“Hayaa     !” Gin-san-kwi Lu Mo Kok tak sempat menangkis dan cepat menjatuhkan diri, akan tetapi

pedang itu sudah meluncur ke bawah dan ujungnya amblas ke dalam ulu hatinya, dan cepat menyambar sudah tercabut pula dan menyambar ke arah leher Kim I Lohan,

“Celaka   !” Kim I Lohan yang melihat betapa darah muncrat dari dada temannya, cepat menangkis,

“Trangggg... auggghhh...!” tongkat itu terbabat buntung dan pedang Toat-beng-kiam dan terus meluncur dan menyabet pinggir leher Kim I Lohan, tepat mengenai urat besar sehingga tubuh hwesio panglima pengawal itu terpelanting, darah seperti muncrat-muncrat dari lehernya!

“Keji...!” Terdengar bentakan keras dan angin yang amat kuat menyambar dari sebelah kiri ke belakang Kwan Bu, Pemuda ini maklum bahwa ada serangan yang amat berbahaya, Cepat ia menggerakkan pedang menangkis,

“Traakkkkl” Pedangnya itu melekat pada gelang putih di tangan Ho-sim Pek-mo yang ternyata telah datang membantu dua orang kawannya, karena Kwan Bu baru saja mengeluarkan tenaga besar untuk merobohkan dua orang lawan tangguh, sedangkan serangan Ho-sim Pek-mo amat tiba-tiba dan dari belakang datangnya, maka ketika pedangnya melekat pada roda putih Kwan Bu menjadi gugup dan berusaha menarik kembali pedangnya, Pemuda ini lupa bahwa kakek tua itu memiliki dua buah roda, maka pada detik berikutnya gelang atau roda hitam telah menyambar dadanya tanpa dapat dielakkan lagi oleh Kwan Bu.

“Bukkkk...!” Kwan Bu sudah mengerahkan ginkang untuk bertahan, namun tetap saja tubuhnya terbanting keras sampai bergulingan di atas tanah dalam keadaan pingsan!

“Kwan Bu.....!” Siang Hwi menjerit dan menubruk ke depan dengan nekad ketika melihat kakek berambut putih itu sudah kembali meloncat dan agaknya hendak memukul Kwan Bu yang sudah pingsan itu dengan rodanya, Loan Khi Tosu yang tadi ditinggalkan lawannya, hanya menonton saja karena dia menganggap tidak perlu menolong Kwan Bu karena dia tahu bahwa pemuda ini melawan para pengawal sekali-kali bukan karena membantu pihaknya! Kenekadan Siang Hwi tentu akan ditebus dengan nyawanya ketika ia menubruk maju, tidak peduli akan keampuhan roda di tangan kakek itu untuk menolong Kwan Bu, kalau saja pada saat itu tidak bertiup angin yang kuat sekali, didahului oleh suara menbela,

“Tua Bangka tak tahu malu!” dan tiba-tiba tubuh Ho-sim Pek-mo terhuyung ke belakang! Ketika Siang Hwi menengok ternyata yang muncul itu adalah seorang hwesio tua yang tidak memakai baju, celananya yang lebar dan besar itupun terbuat dari kain yang tebal dan murah, badannya gemuk dan perutnya gendut sekali, persis seperti arca Jilaihud akan tetapi hanya sebentar saja Siang Hwi memandang hwesio itu karena ia segera teringat akan Kwan Bu dan cepat la berlutut di dekat tubuh pemuda ini.

“Kwan Bu....... ah, Kwan Bu.....!” ia mengguncang-guncang tubuh pemuda yang pingsan itu, dan menangis! la melihat wajah pemuda itu pucat seperti mayat, napasnya sesak dan matanya meram.

“Pat-jiu Lo-koai...!” Seruan ini hampir berbareng keluar dari mulut Loan Khi Tosu dan Ho-sim Pek- mo, dan mendengar disebutnya nama ini, otomatis pertandingan yang masih berjalan itu terhenti, Sepuluh orang anak murid Bu-tong-pai tinggal lima orang lagi yang lima orang telah roboh dan tewas, Adapun pihak pengawal, selain kehilangan dua orang panglima mereka yang tewas di ujung pedang Kwan Bu, juga lebih dari dua puluh orang anak buah pengawal roboh, Pat-jiu Lo-koai memandang ke arah tumpukan mayat-mayat dan orang-orang terluka itu, dengan lirih menyebut,

“Omitohud.....” dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Darah mengalir keluar.... nyawa melayang....

apa sih yang diperebutkan manusia-manusia tolol ini     ? sungguh mengenaskan dan menyedihkan!”

Ketika mendengar disebutnya nama itu, Siang Hwi terkejut dan menoleh. Ah, kiranya kakek gundul yang aneh itu adalah guru Kwan Bu! Timbullah harapan di hatinya yang penuh kekhawatiran melihat keadaan Kwan Bu, Cepat ia melompat dan berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

“Lcianpwe..... tolonglah..... Kwan Bu.....” Pada saat itu Giok Lan juga telah menggandeng tangan Kwee Cin, setengah dipaksanya pemuda itu berlari menghampiri si kakek gundul dan diajak berlutut di depan kakek itu sambiil berkata,

“Locianpwe, saya adalah adik tiri kakak Kwan Bu. Saya mohon perlindungan Locianpwe harap bebaskan Kwan Bu, Siang Hwi, saya dan saudara Kwee Cin ini yang pernah menolong Kwan Bu-koko dan saya. Kami hendak dibunuh oleh orang-orang Bu-tong-pai dan pengawal-pengawal kerajaan”

“Omitohud........ orang-orang tua      seharusnya menyenangkan hati dan membimbing orang-orang

muda, malah mengganggu mereka, Bangunlah dan jangan khawatir, pinceng memang pelindung orang-orang muda!” Tiba-tiba Siang Hwi mengeluh dan terguling, roboh pingsan. Kiranya gadis ini sejak tadi telah amat menderita karena luka di pangkal lengannya mengeluarkan terlalu banyak darah, Hanya karena kekhawatiran hatinya melihat keadaan Kwan Bu saja yang masih membuat ia masih kuat bertahan, Sekarang, setelah hatinya lega mendengar betapa guru Kwan Bu yang ia yakin amat sakti menyatakan hendak melindungi mereka, rasa lemas menyelimutinya dan membuat dia jatuh pingsan, Giok Lan cepat memeluk dan memondongnya, Adapun Kwee Cin tanpa disuruh juga sudah memondong tubuh Kwan Bu yang pingsan, kemudian mereka itu digiring dan dikawal oleh Pat-jiu Lo- koai yang tersenyum-senyum tenang seolah-olah di situ tidak ada siapa-siapa, Tidak ada seorang pun berani bergerak menghadang, karena baik di pihak Loan Khi Tosu maupun dipihak para pengawal masing-masing saling berhadapan sebagai musuh dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk menambah lawan dengan seorang seperti Pat-jiu Lo-koai!

“Baringkan dia di sini, pinceng hendak memeriksa lukanya,” kata Pat-jiu Lo-koai ketika mereka tiba di dalam sebuah hutan dan telah jauh meninggalkan tempat pertempuran antara anak murid Bu-tong- pai dan para pengawal tadi,

Kwee Cin menurunkan tubuh Kwan Bu di atas tanah bertilam rumput di bawah sebatang pohon besar. kemudian dia sendiri duduk tak jauh dari situ memandang penuh perhatian pada bersama Giok Lan dan juga Siang Hwi yang sudah siuman. Biarpun wajahnya masih pucat, Siang Hwi tidak pening lagi karena diberi minuman obat penambah darah dan lukanya telah diobati pula oleh Pat-jiu Lo-koai dalam perjalanan tadi, Kwan Bu yang kini rebah terlentang masih pingsan, Napasnya masih terengah, bahkan sebagian mukanya kelihatan menghitam sehingga Siang Hwi yang melihatnya menjadi khawatir sekali, Demikian pula Kwee Cin dan Giok Lan memandang dengan hati gelisah sehingga mereka bertiga tidak berani membuka mulut, hanya memandang kakek gundul yang kini mulai memeriksa tubuh Kwan Bu. Setelah membuka baju pemuda itu dan meraba dadanya, Pat-jiu Lo-koai menggeleng kepala dan berkata perlahan.

“Pukulan keji....!” Mendengar ucapan itu, tiga orang muda yang memandang dan mendengar, menjadi makin gelisah, bahkan Siang Hwi mengeluarkan isak tertahan sehingga kakek itu menoleh kepadanya. Baru sekali ini kakek itu memandang kepada Siang Hwi, dan sepasang mata kakek aneh itu memandang penuh perhatian.

“Nona siapakah dan ada hubungan apa dengan Kwan Bu?” Siang Hwi cepat berlutut dan menundukkan mukanya, agaknya ia merasa malu harus menceritakan keadaan dirinya, karena ia teringat betapa dahulu ia seringkali melakukan hal-hal yang menyakitkan hati Kwan Bu,

“Teecu..... Bu Siang Hwi..... dan dahulu,... Kwan Bu bekerja di rumah mendiang ayah.   ”

“Hemm. puteri Bu Keng Liong kah? Dan tadi engkau membela Kwan Bu mati-matian, mengapa?” Ditanya begitu, Siang Hwi tak dapat menjawab hanya sesenggukan,

“Jangan khawatir, biarpun berat lukanya. Kwan Bu takkan mati,” Setelah berkata demikian, hwesio tua itu menotok beberapa jalan darah di leher dan punggung Kwan Bu, mengurut dadanya dan terdengar Kwan Bu mengeluh, membuka mata dan hendak bangkit duduk, Akan tetapi tangan Pat-jiu Lo-koai mendorongnya rebah kembali dan hwesio berilmu tinggi ini berkata.

“Jangan banyak bergerak. Engkau terluka karena kebodohanmu sendiri, kurang waspada menghadapi sepasang roda Pek-mo! Pinceng akan menyembuhkan Iukamu, akan tetapi sedikitnya engkau akan harus beristirahat selama sebulan, baru akan sembuh betul, kau diam saja, kumpulkan tenaga di pusar dan jangan menggerakkan tenagamu agar racun di tubuh tidak menjalar makin luas, Pinceng akan berusaha mengusir hawa beracun akan pukulan roda hitam Pek-mo, Untung roda kitam yang memukul dadamu, roda hitam yang mengandung hawa beracun panas, Kalau roda putih yang mengandng hawa beracun dingin, agaknya sekarang engkau sudah tidak bernyawa lagi, Nah, rebah saja dan jangan bergerak!”

Kwan Bu merasa terharu sekali, nyawanya tertolong oleh suhunya sendiri, dan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memberi hormat dan menghaturkan terima kasih, Namun ia tidak berani membantah, maka ia lalu rebah terlentang dan tidak bergerak, juga menarik tenaga dalamnya di pusar agar tidak melakukan perlawanan terhadap usaha gurunya. Pat-jiu Lo-koai duduk bersila di dekat muridnya yang terluka. tangan kanan di atas dada Kwan Bu. kemudian meramkan kedua matanya dan mulailah mengerahkan sinkangnya untuk mengobati muridnya, diam-diam Kwan Bu terkejut sekali ketika merasa betapa suhunya menggunakan sinkang untuk menyedot hawa beracun dengan kekuatan sinkang melalui telapak tangannya! Hal itu amatlah berbahaya karena dengan demikian, hawa beracun itu akan berpindah ke dalam tubuh suhunya!

Akan tetapi ia maklum akan watak suhunya yang tak boleh dibantah, maka ia diam saja. Teringat ia di waktu dahulu masih kanak-kanak, ia hanya berhasil menjadi murid suhunya karena kekerasan hatinya, Kini, melihat suhunya yang keras hati itu mengobatinya dengan resiko yang berbahaya. ia menjadi terharu dan tak terasa lagi dua titik air mata turun ke bawah matanya. Kwee Cin, Giok Lan, dan Siang Hwi memandang dengan mata terbelalak dan penuh kekaguman. Cara mengobati seperti ini hanya pernah mereka dengar saja dalam cerita di dunia kang-ouw, dan baru sekali ini mereka menyaksikannya sendiri, Makin lama, tenaga menyedot yang keluar dari telapak tangan hwesio tua itu makin kuat sehingga Kwan Bu merasa seolah-olah seluruh hawa di tubuhnya terhisap! sinkangnya sendiri otomatis hendak bergerak melawan.

Akan tetapi cepat-cepat ia mengerahkan perhatiannya dan tetap menahan semua tenaga dalamnya di pusar dengan penuh kepasrahan dan kepercayaan kepada suhunya, kini tubuh hwesio gendut itu gemetar dan uap menghitam mengepul keluar dari kepalanya yang gundul, Perlahan-lahan, warna hitam di wajah Kwan Bu bergerak turun, berkumpul di dagu, terus turun ke leher dan ke dada sehingga wajahnya kembali kelihatan pucat, Akan tetapi sebaliknya, warna hitam menjalar ke lengan Pat-jiu Lo-koai, makin lama makin hitam dan wajah serta kepala kakek itu kini penuh dengan peluh napasnya agak berat tanda bahwa kakek ini mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya. Selama tiga jam hwesio sakti itu mengobati muridnya dan akhirnya semua hawa beracun di dada Kwan Bu telah tersedot habis dan bersih, Ketika hwesio itu melepaskan tangannya dari dada Kwan Bu, pemuda ini mengeluh dan bangkit duduk dengan lemah.

“Suhu, suhu terkena racun…” bisiknya perlahan penuh keharuan memandang suhunya yang masih duduk bersila dan kini mulai mengerahkan sinkang lagi utuk mendesak keluar hawa beracun dari lengan kanannya. Pat-jiu Lo-koai membuka matanya dan tersenyum.

“Pinceng dapat membersihkannya..!” Kwan Bu maklum bahwa untuk mendesak keluar hawa beracun dari lengan gurunya itu membutuhkan pengerahan sinkang yang kuat. sedangkan gurunya tadi telah menghabiskan tenaganya untuk menolongnya,

“Suhu, biarlah teecu membantu suhu.    ”

“Ah, susah payah pinceng menolongmu, apakah sekarang hendak kau rusak dengan bunuh diri? Engkau terluka sebelah dalam, lemah sekali dan tidak boleh mengerahkan sinkang, harus beristirahat selama satu bulan. Sudahlah, pinceng masih kuat membersihkan lengan dari hawa beracun ini,” Pat- jiu Lo-koai kembali duduk diam, meramkan mata dan mengerahkan sinkangnya untuk mengusir hawa beracun dari lengannya, Jelas tampak bahwa kakek tua itu hampir kehabisan tenaga. peluh makin banyak membasahi muka dan kepala, wajahnya makin pucat dan napasnya makin berat. Kwan Bu memandang dengan hati terharu dan tidak tega akan tetapi dia tidak berani membantah perintah suhunya, ia merasa betapa ada orang memandangnya, ketika ia menoleh ke kiri, ternyata sepasang mata Siang Hwi yang memandangnya dengan penuh keharuan dan kebahagiaan, sepasang mata yang berembun air mata,

“Sukurlah..... engkau telah sembuh    ” bisik gadis itu,

“Berkat pertolongan suhu.... jawab Kwan Bu, juga berbisik. Mereka berdua tidak kuasa mengeluarkan banyak kata-kata setelah apa yang mereka alami bersama semenjak peristiwa di dalam rumah gedung keluarga Phoa sampai peristiwa dengan murid-murid Bu-tong-pai tadi.

“Bagaimana dengan pundakmu, nona Bu     ?” kembali Kwan Bu berbisik, Siang Hwi mengerutkan

alisnya dan menundukkan mukanya yang masih agak pucat, Hatinya seperti ditusuk mendengar sebutan “nona Bu” itu, sebutan yang amat dibencinya semenjak dahulu karena sebutan ini mengingatkan dia akan perbedaan kedudukan mereka, mengingatkan dia bahwa Kwan Bu adalah bekas kacungnya! Ingin ia menjerit bahwa ia tidak mau disebut nona lagi, tidak mau melihat Kwan Bu bersikap merendahkan diri terhadapnya, ingin dia diperlakukan seperti orang sederajat, Akan tetapi hatinya yang menjerit, sedangkan mulutnya tidak mungkin dapat menyampaika suara hatinya, la hanya menundukkan muka dan menjawab lirih,

“Tidak apa-apa, sudah sembuh..!” Sementara itu semenjak tadi Kwee Cin dan Giok Lan juga memandang ketika Kwan Bu diobati, memandang penuh kecemasan dan mereka menjadi gembira ketika mendapat kenyataan bahwa Kwan Bu dapat disembuhkan, sungguh pun ia masih membutuhkan istarahat yang lama, Melihat betapa Kwan Bu berbisik-bisik dengan Siang Hwi, Giok Lan tersenyum, menbalikan tubuh membelakangi kakaknya itu dan menghadapi Kwee Cin, langsung bertanya,

“Saudara Kwee Cin, apakah engkau ini seorang pria yang tidak suka berbohong?” Kwee Cin memandang kaget dan heran, Sejak tadi ia memandang gadis itu makin menarik hatinya, Kini secara tba-tiba gadis itu mengajukan pertanyaan seperti itu! Siapa orangnya yang tidak akan menjadi bingung? Pertanyaan yang datangnya lebih membingungkan daripada jurus penyerangan yang lihai itu membuat Kwee Cin gagap gugup menjawab,

“Aku... tidak suka..... eh, tidak mau membohongimu     eh, apakah maksudmu dengan pertanyaan

ini, nona?” Giok Lan tersenyum dan terpaksa Kwee Cin meramkan kedua matanya karena tidak tahan menyaksikan wajah yang sedemikian manisnya! Ketika ia membuka matanya lagi dan melihat deretan gigi seperti mutiara, sepasang mata seperti bintang pagi, pandang matanya seperti melekat pada wajah itu sehingga sukar baginya untuk berkedip,

“Kwee-koko.... kenapa engkau memandangku seperti itu.     ??” Lembut sekali pertanyaan ini, akan

tetapi bagi Kwee Cin sekaligus merupakan kalimat-kalimat yang membawa bahagia dan juga mengandung ancaman! la berbahagia sekali mendengar gadis itu tidak lagi menyebut “saudara” melainkan berubah menjadi koko (kanda), akan tetapi pertanyaan itu sendiri merupakan ancaman yang sukar dijawab.

“Aku..... eh, aku..... maafkanlah, Lan-moi (dinda Lan)..!” Giok Lan menggeleng kepalanya,

“Tidak perlu minta maaf, aku suka kepadamu, Kwee-koko. Akan tetapi... ketahuilah bahwa aku.....

mencinta Bu-koko. !”

“Tentu saja! Kwan Bu adalah kakakmu, tentu saja engkau mencintainya sebagai seorang kakak, moi- moi, Akupun mencinta Kwan Bu, mencintainya sebagai seorang sahabat baik. Akan tetapi engkau dan aku….. eh, aku dan engkau…” Melihat pemuda itu demikian gugup dan bingung, Giok Lan tak dapat menahan lagi kegelisahan hatinya dan ia tersenyum lebar, menahan suara ketawanya karena tidak ingin mengganggu Pat-jiu Lo-koai yang sedang bersamadhi menyembuhkan dirinya sendiri, Ketika ia mengerti bahwa gadis itu tertawa karena geli menyaksikan kegugupannya, Kwee Cin hanya tersenyum-senyum malu.

Kwan Bu dapat melihat keadaan adik tirinya dan Kwee Cin, Diam-diam ia merasa bahgia dan mudah- mudahan dua orang muda itu dapat berjodoh, Dia mengerling kepada Siang Hwi yang masih menunduk dan diam-diam ia menghela napas, Kwee Cin dan Giok Lan merupakan pasangan yang setimpal dan cocok. Akan tetapi dia dan Siang Hwi? Mungkinkah gadis bekas majikannya ini dapat menghargai dia sebagai seorang pria yang patut dijadikan suami? Mungkinkah bagi seorang gadis seperti Siang Hwi untuk membalas cinta kasihnya? Dia mencinta Siang Hwi, hal ini tak dapat ia pungkiri lagi, Semenjak dahulu ia mencinta Siang Hwi, dan betapapun gadis ini telah menyakiti hatinya berkali-kali. ia tetap mencintainya dan tidak merasa sakit hati, Inilah cinta! Cinta mengguncang segala sendi batin, cinta antara pria dan wanita mempengaruhi ketenangan, mempengaruhi pertimbangan sehingga pertimbangan batin menjadi miring,

Kwan Bu termenung dan teringat akan pelajaran Nabi Khongou yang terdapat dalam kitab Tiong- yong, Cinta kasih antara pria dan wanita itu termasuk sebuah diantara empat perasaan manusia yang pokok, yaitu Kesenangan, Tiga yang lain adalah Kemarahan, Kedukaan, Dan Kegembiraan. Kesemuanya disebut perasaan Hinouw-ai-lok, Sebelum sebuah diantara perasaan ini timbul, keadaan manusia disebut dalam keadaan Jejek (tidak condong ke kanan kiri atau Tiong (tengah-tengah) yang tercipta dalam tidur atau bersamadhi, Apabila sebuah diantara perasaan-perasaan timbul, hal ini adalah manusiawi dan tak dapat dielakkan, kita harus dapat mengendalikannya dan mengenal batas- batasnya sehingga terciptalah keadaan Hoo (Hormon) MENGUASAI dan MENGENDALIKAN perasaan atau ada yang menyebutnya nafsu inilah yang merupakan pokok daripada pelajaran itu,

Kwan Bu termenung dan memikirkan keadaan dirinya sendiri, Dia mencinta Siang Hwi sehingga rasa cinta yang mendalam itupun membuat segala pertimbangannya patah, Nafsu perasaan menimbulkan hal-hal yang lucu dan aneh di dunia ini, diantara penghidupan manusia, orang yang mencinta akan menganggap segala sesuatu akan diri orang yang dicinta itu baik dan benar belaka, Bahkan kotorannya pun berbau sedap bagi orang yang sedang tergila-gila, Sebaliknya, orang yang membenci akan menganggap segala sesuatu akan diri orang yang dibencinya itu buruk dan salah belaka, Bahkan kebaikan yang dilakukan orang yang dibencinya itu akan memuakkan dan dianggapnya sesuatu yang palsu dan pura-pura! Kwan Bu menghela napas panjang dan berbisik,

“Bu-siocia….. terima kasih saya ucapkan atas segala pembelaanmu…?” Siang Hwi mengangkat muka memandang wajah pemuda itu, lalu menunduk lagi,

“Aku hanya bicara sebenarnya…... bahkan….. akulah yang menimbulkan semua penghinaan dan penderitaan bagimu. Aku…... aku harus memohon maaf darimu…..” Tiba-tiba wajah Kwan Bu menjadi pucat, matanya terbelalak, sehingga Siang Hwi menjadi terkejut sekali, menyangka bahwa omongannya tadilah yang membuat Kwan Bu seperti itu. Akan tetapi ketika melihat bahwa pandang mata Kwan Bu ditujukan ke arah belakangnya, Siang Hwi cepat membalikkan tubuhnya menengok dan ia pun terkejut sekali, Bersama Kwan Bu ia lalu bangkit berdiri dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, Melihat keadaan dua orang ini, Kwee Cin dan Giok Lan menengok dan merekapun sudah meloncat bangun, menggabungkan diri mendekati Kwan Bu dan Siang Hwi,

Mereka berempat tanpa mengeluarkan kata-kata sudah sepakat untuk maju bersama, saling melindungi, menghadapi ancaman yang datang ini, yang merupakan dua orang kakek, yaitu Loan Khi Tosu wakil ketua Bu-tong-pai dan Ho-sim Pek-mo, tokoh panglima pengawal istana kaisar! Sementara itu Pat-jiu Lo-koai masih duduk bersamadhi mengusir hawa beracun dari lengannya. Sungguhpun racun itu sudah turun dan hanya sampai pergelangan tangannya, namun belum habis semua dan keadaan kakek itu nampak lelah sekali, Akan tetapi wajah hwesio gendut ini tetap tenang-tenang saja, bahkan ia membuka matanya dan tersenyum lebar ketika ia mendengar bentakan suara Loan Khi Tosu,

“Pat-jiu Lo-koai! Engkau sungguh menghina Bu-tong-pai!” Pat-jiu Lo-koai yang sudah membuka mata itu dan masih duduk bersila, memandang bergantian ke arah Loan Khi Tosu dan Ho-sim Pek-mo, kemudian menjawab sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali! karena ambisi, kalian datang bertentangan. yang seorang pro, yang seorang anti kaisar! Sekarang karena pribadi, untuk menghadapi pinceng kalian bersatu! Wah, palsu….. palsu…..!” Loan Khi Tosu menudingkan tongkatnya ke arah muka Pat-jiu Lo-koai dan berkata dengan suara tegas dan berwibawa,

“Pat-jiu Lo-koai engkau adalah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, apakah tidak mengenal aturan dunia kang-ouw? Kami pihak Bu-tong-pai hendak menangkap murid-murid kami sendiri, apakah engkau begitu tak tahu malu untuk mencampuri urusan dalam dari Bu-tong-pai?”

“Hah-hah, sungguh menjemukan!” kata pula Ho-sim Pek-mo, “Seorang tokoh besar tingkat tinggi semestinya dapat menjaga nama besar dan dapat menjaga sepak terjang sendiri. Pat-jiu Lo-koai sebagai seorang tua yang sudah berpengalaman tentu engkau maklum apa artinya kemurnian tugas, Aku adalah seorang yang bertugas untuk kaisar, dan aku mendapat tugas untuk menangkap orang- orang yang telah merugikan barisan pengawal, Mengapa engkau sebagai seorang pertapa tua, tidak malu-malu untuk muncul dan mencampuri urusan kami, membela orang-orang bersalah tanpa alasan sama sekali?” Pat-jiu Lo-koai masih duduk bersila dan pandang matanya berubah, seolah-olah ia berduka mendengar ucapan dua orang tokoh besar itu. Kwan Bu yang melihat ini dapat mengerti keadaan suhunya yang terdesak oleh omongan-omongan yang menekan, dan maklum betapa sukarnya bagi suhunya untuk menjawab,

Suhunya selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, yang membela siapa saja yang benar, menentang siapa saja yang salah, kini berada dalam keadaan tersudut oleh omongan kedua orang itu yang mengemukakan aturan-aturan. Tiba-tiba terbayang dalam ingatan Kwan Bu ketika ia berhadapan dengan Koai-kiam Tojin Ya Keng Cu, yang ketika ia masih kecil dan sengaja menghadapi Tosu ini yang mengancam keluarga Bu Keng Liong, Untuk mengusir Tosu itu, secara mengawur ia mengaku murid seorang hwesio berlengan delapan dan ketika Pat-jiu Lo-koai muncul dia benar- benar diaku murid karena memang bagi seorang hwesio, semua orang adalah muridnya! Teringat akan ini, cepat Kwan Bu menggunakannya sebagai aksi dan ia berkata lantang.

“Hendaknya jiwi locianpwe (kedua orang tua perkasa) tidak salah menduga dan mengira bahwa suhu membela kami tanpa alasan, Hendaknya diketahui bahwa kami adalah murid-murid suhu, sebagai seorang guru yang mencinta murid-muridnya, tentu saja suhu tidak akan membiarkan murid- muridnya yang tak bersalah dihina dan dicelakai orang,”

“Sejak kapan Kwee Cin dan Bu Siang Hwi dua orang kecil murid Bu-tong-pai, menjadi murid Pat-jiu Lo-koai?” bentak Loan Khi Tosu dengan marah dan tidak percaya akan ucapan Kwan Bu.

“Sejak sekarang!” kata Kwan Bu dan Kwee Cin yang mengerti akan maksud Kwan Bu segera menyambar tangan Siang Hwi dan ditariknya berlutut di depan Pat-jiu Lo-koai sambil berkata, “Mohon suhu tidak membiarkan teecu berdua terhina orang…..” Kwan Bu juga sudah menyambar tangan Giok Lan dan ditariknya berlutut di depan hwesio itu sambil berkata, “Adik teecu Giok Lan juga mohon perlindungan suhu sebagai gurunya yang baru,” la lalu menambahkan perlahan, Harap suhu ingat bahwa semua manusia adalah murid-murid suhu, maka suhu tidak dapat mengingkari bahwa mereka ini adalah murid-murid suhu pula,” Pat-jiu Lo-koai tertawa lalu bangkit berdiri.

“Ha-ha-ha, Loan Khi Tosu dan engkau Ho-sim Pek-mo, Kalian sudah melihat sendiri dan pinceng harus mengakui bahwa mereka ini semua adalah murid-murid pinceng yang harus pinceng lindungi. Kalian berdua boleh juga menjadi murid-murid pinceng yang memang bertugas mengajarkan pelajaran Budha kepada setiap insan! karena itu sebagai nasihatku yang pertama, lebih baik kalian dua orang tua pergi saja dan biarlah perkara ini habis sampai di sini agar dunia tidak ditambah lagi dengan pertentangan-pertentangan baru yang hanya akan menimbulkan kerusakan dan kebinasaan,” Muka wakil ketua Bu-tong-pai menjadi merah sekali,

“Pat-jiu Lo-koai. tak perlu lagi pinto sembunyikan, Memang kami berdua, pinto dan sahabat Ho-sim Pek-mo telah bersepakat untuk menghadapimu yang menghina kami, kami berdua untuk sementara menunda pertentangan kami karena politik, dan bersama menghadapimu, Namun, jika engkau masih suka memandang persahabatan di dunia kang-ouw, kamipun tidak akan terlalu mendesakmu dan hanya menuntut agar engkau suka menyerahkan orang-orang muda ini kepada kami, dua orang murid Bu-tong-pai harus diberikan kepada pinto, adapun dua orang muda yang sudah membunuh pembantu-pembantu kaisar, yaitu dua orang muridmu sendiri yang terbunuh oleh pemuda itu, harus diserahkan keapda Ho-sim Pek-mo.”

“Setan gundul! Apapun yang kau katakan, kami menghendaki orang-orang muda itu!” bentak Ho-sim Pek-mo.

“Dan pinceng tetap akan melindungi mereka, tidak takut akan pengeroyokan kalian.” kata Pat-jiu Lo- koai. Melihat sikap hwesio tua yang sakti ini, Kwee Cin, Giok Lan, dan Siang Hwi diam-diam menjadi girang dan kagum. Akan tetapi Kwan Bu memandang penuh kekhawatiran. la maklum bahwa selain amat lelah, suhunya masih dicengkeram oleh hawa beracun yang berkumpul di tangan kanannya dan jika suhunya dipaksa mengerahkan sinkangnya yang sudah banyak berkurang, tentu akan berbahaya sekali,

“Pat-jiu Lo-koai, kematianmu sudah di depan mata, Lihat senjatakul” Ho-sim Pek-mo berseru keras sekali dan berkelebatlah dua sinar hitam dan putih ketika kakek ini menerjang maju dengan sepasang rodanya yang amat lihai, juga Loan Khi Tosu sudah menerjang maju dengan gerakan tongkat bambunya yang biarpun hanya sepasang tongkat butut akan tetapi keampuhan dan bahayanya tidak kalah oleh sepasang roda di tangan Ho-sim Pek-mo itu. Terjangan mereka berdua itu hebat bukan main sehingga gerakan kaki tangannya sambil mencelat mundur,

Dengan dorongan kedua lengannya, angin pukulan sinkang yang hebat membuat Loan Khi Tosu dan Ho-sim Pek-mo terkejut dan terdorong mundur, Bukan main hebatnya pukulan jarak jauh dari Pat-jiu Lo-koai ini sehingga dalam jarak dua meter ia mampu mendorong mundur dua orang lawan seperti wakil ketua Bu-tong-pai itu dan panglima paling lihai dari para pengawal kaisar! Namun, dua orang kakek itu bukanlah orang sembarangan, Ilmu silat mereka tinggi sekali dan mereka sudah menerjang maju lagi dengan hebat. Sepasang roda di tangan Ho-sim Pek-mo seolah-olah telah berubah menjadi sepasang burung garuda yang menyambar-nyambar ganas mengancam tubuh bagian atas dari hwesio itu, sedangkan tongkat bambu di tangan Loan Khi Tosu seperti sebatang pedang yang mengancam tubuh bagian bawah, Pat-jiu Lo-koai menjadi repot juga dan terpaksa hwesio yang gendut ini menggunakan kedua kakinya mengelak sambil mencelat ke sana ke mari, dan kadang-kadang menggunakan kedua lengannya yang mengeluarkan angin pukualan sakti itu menangkis senjata lawan. Namun, kedua orang pengeroyoknya terus melancarkan serangan bertubi-tubi, membuat hwesio ini sama sekali tidak mampu untuk balas menyerang. Apalagi karena hwesio tua itu sudah kehilangan banyak sekali tenaga sinkang ketika ia mengobati Kwan Bu, kemudian mengobati dirinya sendiri, kini, melawan dua orang pengeroyok yang sakti dan memaksa dia harus mengerahkan sinkang, benar-benar amat melelahkan tubuhnya yang sudah tua dan mulailah ia terdesak dan mundur-mundur terus,

“Sungguh kalian merupakan dua orang tua yang tak patut dihormati! Suhu sedang terluka dan kalian mengeroyoknya secara tidak tahu malu!” Kwan Bu berteriak dengan marah dan tubuhnya sudah meloncat ke depan, didahului sinar merah pedangnya ketika ia menyerbu untuk membantu suhunya.

“Trakkkkk...!” Tubuh Kwan Bu terlempar dan bergulingan. Ketika ia bangkit duduk kembali, wajahnya pucat sekali dan dari ujung bibirnya mengalir darah! Ternyata ketika pedangnya tertangkis tongkat Loan Khi Tosu dan tenaga dalam mereka bertemu melalui dua senjata itu. Kwan Bu merasa betapa tenaganya amat lemah dan ia terpukul tenaga dalam yang hebat sehingga napasnya menjadi sesak dan wajahnya pucat, Tahulah dia bahwa dia terluka di bagian daiam dadanya, akan tetapi untuk membela suhunya, pemuda ini sudah bangkit kembali dan menerjang maju.

“Kwan Bu, jangan maju! Pinceng paling tidak suka mengeroyok lawan! Ha-ha, kau lihat, mereka berdua ini belum tentu dapat merobohkan Pat-jiu Lo-koai. Tangan mereka hanya empat buah, sedangkan tangan pinceng ada delapan buah, mana mungkin mereka bisa menang?” hwesio yang terdesak masih mampu mempermainkan dua orang lawannya, Memang julukannya adalah Pat-jiu Lo-koai (Setan Tua Elertangan Delapan) dan kini mulaiiah ia bersilat secara aneh sehingga kedua tangannya itu seolah-olah telah berubah menjadi delapan saking cepatnya kedua gerakan tangannya. Akan tetapi, hwesio itu sudah amat lelah dan senjata kedua orang lawannya itu benar- benar tak boleh dipandang ringan sehingga sebentar saja ia sudah mulai mundur-mundur pula.

“Suhu, teecu mengembalikan pedang suhu!” tiba-tiba Kwan Bu berseru sambil melontarkan Toat- beng-kiam ke arah suhunya yang baru saja membebaskan diri dengan bergulingan sampai jauh. Pat- jiu Lo-koai menerima pedang itu, mengangkatnya tinggi-tinggi lalu tertawa bergelak dan berkata,

“Ha-ha-ha-ha, bukan pinceng yang minta melainkan Kwan Bu sendiri yang mengembalikan ini namanya nasib, nasib pinceng belum semestinya mati, dan nasib buruk bagi Loan Khi Tosu dan Ho- sim Pek-mo. Kwan Bu, perhatikanlah baik-baik ilmu pedang Tiat-beng-kiamsut yang telah pinceng sempurnakan!”

Kwee Cin, Siang Hwi dan Giok Lan ketiganya adalah orang-orang muda yang telah belajar ilmu silat dan kepandaian mereka pun tidak rendah, Akan tetapi kini pandang mata mereka menjadi silau karena melihat sinar pedang merah seperti darah bergulung-gulung dengan indahnya, seperti penari selendang merah, seperti seekor naga yang mengeluarkan semburan-semburan kilat! Kwan Bu sendiri berdiri melongo. Dia sudah mempelajari ilmu pedang dari suhunya dan mengenal ilmu pedang itu yang disesuaikan dengan keadaan pedang Toat-beng-kiam, akan tetapi ia melihat bagian- bagian yang aneh dan yang belum pernah ia pelajari. Bagian-bagian ini mengandung daya serang yang amat hebat sehingga mengerikan dan sesuai dengan nama pedang Toat-beng-kiam (Pedang Pecabut Nyawa) karena setiap gerakan pedang itu adalah gerakan maut bagi lawan!

Pat-jiu Lo-koai bukanlah seorang yang masih mudah dikuasai nafsunya. Sama sekali bukan, Maka dalam pertempuran ini, biarpun kedua lawannya adalah orang-orang sakti yang tingkat kepandaiannya tidak kalah banyak olehnya, namun ia tetap tidak bernafsu untuk membunuh dua orang lawan itu, Permainan pedangnya dapat mengatasi senjata-senjata kedua orang lawannya dan otomatis pedangnya itu hanya membalas sesuai dengan serangan lawan, Makin hebat lawan menggunakan senjata menyerangnya, pedangnya akan menangkis dilanjutkan dengan serangan yang makin hebat pula. Sebaliknya, serangan lawan yang kendur dibalasnya dengan serangan yang kendur pula. Setelah kurang lebih satu jam sinar merah yang bergulung-gulung itu menggulung dan menghimpit Lian Khi Tosu dan Ho-sim Pek-mo berikut senjata mereka, tiba-tiba Pat-jiu Lo-koai tertawa dan berkata,

“Kalian pergilah….. kalian pergilah.    ”

Ucapan ini disusul berkelebatnya pedang, terdengar bunyi nyaring sekali, lalu tampak tongkat bambi dan kedua buah roda mencelat dan patah-patah disusul robohnya Ho-sim Pek-mo dan Loan Khi Tosu. Loan Khi Tosu cepat meloncat bangun dengan wajah pucat dan baju robek berdarah yang keluar dari luka di dada kanannya. wakil ketua Bu-tong-pai ini menoleh ke arah tubuh Ho-sim Pek- mo yang rebah miring tak bergerak lagi karena kakek pengawal ini telah tewas seketika dengan pelipis berlubang! Loan Khi Tosu menarik napas panjang, membungkuk dan mengempit jenazah Ho- sim Pek-mo, kemudian memandang kepada Pat-jiu Lo-koai, membungkuk dan berkata,

“Engkau hebat sekali, Pat-jiu Lo-koai, Akan tetapi mulai detik ini engkau telah menanam bibit permusuhan dengan Bu-tong-pai yang hanya akan dapat diputuskan oleh ketua Bu-tong-pai. Engkau tunggu sajalah, tentu ketua kami akan mencarimu,”

“Ha-ha-ha, kalau Thian Khi Tosu sebagai ketua Bu-tong-pai berpemandangan sepicik engkau, Loan Khi Tosu, biarlah pinceng menantinya di tempat kediamanku di puncak Pek-hong-san,” Loan Khi Tosu mengangguk, kemudian berkelebat pergi membawa mayat Ho-sim Pek-mo, Kwee Cin, Giok Lan dan Siang Hwi menjadi girang sekali dan amat kagum terhadap hwesio itu, Akan tetapi tidak demikian dengan Kwan Bu yang memandang khawatir sekali dan karena tubuhnya sendiri masih lemah, ia berkata kepada Kwee Cin,

“Saudara Kwee, kau tolong suhu..?” Kwee Cin terkejut dan merasa heran, akan tetapi ia segera meloncat maju ketika menengok kearah hwesio tua itu dan melihat hwesio itu terhuyug lalu roboh, Cepat memeluk tubuh yang gendut itu dan ternyata Pat-jiu Lo-koai telah pingsan dalam rangkulannya! Kwee Cin lalu merebahkan tubuh itu perlahan-lahan di atas tanah, dan mereka semua memandang dengan gelisah ketika Kwan Bu memeriksa tubuh gurunya. Pemuda itu menghela napas dan berkata, suaranya terharu.

“Suhu terluka oleh hawa beracun yang disedotnya dari tubuhku, karena tadi hawa beracun itu belum keluar semua dari lengannya ketika ia bertanding menghadapi lawan tangguh dan terpaksa menggunakan sinkang racun itu menjalar dan melukai dadanya, Akan tetapi aku percaya akan kekuatan tubuh suhu, Saudara Kwee Cin, tolong kau pondong suhu dan nanti kita mencari kereta, kita harus cepat membawa suhu ke Pek-hong-san,”

Demikianlah, dengan sikap tenang namun cepat Kwan Bu lalu memimpin rombongan kecil itu menuju ke puncak Pek-hong-san, Tepat seperti dugaan dan harapannya, kakek itu hanya pingsan selama sehari kemudian siuman kembali, Selama dalam perjalanan Pat-jiu Lo-koai duduk bersila dalam kereta dengan tekun mengobati dirinya sendiri yang kini terluka lebih parah daripada yang dialami Kwan Bu sebelum pemuda itu dia sembuhkan. karena kesehatan Kwan Bu belum pulih benar dan tubuhnya masih amat lemah, pula dia harus beristirahat selama sebulan seperti yang dikatakan suhunya, maka dalam perjalanan ini diapun duduk sekereta dengan gurunya, Adapun Giok Lan dan Siang Hwi menunggang kuda dan Kwee Cin mengendarai kuda yang ditarik oleh dua ekor kuda itu. Giok Lan dan Kwan Bu yang membawa bekal cukup banyak, dapat membeli kereta dan kuda dengan mudah, Perjalanan itu dilakukan dengan sunyi karena mereka semua merasa prihatin melihat keadaan Pat-jiu Lo-koai yang mereka kini anggap sebagai guru mereka, Akan tetapi, Pat-jiu Lo-koai sendiri yang terluka di dalam kereta, selalu tersenyum, dan bahkan dia bercakap-cakap dengan muridnya tentang ilmu pedangnya yang dia mainkan ketika menghadapi dua orang lawan sakti itu. kakek ini menurunkan ilmu pedang itu kepada Kwan Bu yang mendengarkan dengan penuh perhatian sehingga ketika mereka semua tiba di Pek-hong-san, Kwan Bu telah hafal dengan sempurna akan ilmu pedang Toat-beng-kiam-sut yang hebat luar biasa itu.

“Kwee-koko, sesungguhnyalah aku merasa bangga dan bahagia sekali mendengar pernyataan cinta kasihmu, terutama ketika pertama kali kau mengaku akan hal itu di depan orang banyak, di depan para murid Bu-tong-pai, Wanita mana yang takkan bangga dan bahagia mendengar pernyataan cinta dari seorang pria seperti engkau, koko? Engkau seorang yang gagah perkasa dan berbudi, yang sudah berkali-kali kau buktikan dalam membela aku dan kakakku”

“Kalau begitu.    engkau sudi menerima kasihku dan sudi pula membalasnya, moi-moi?” Giok Lan

menghela napas panjang,

“Ahhh, koko, betapa akan mudahnya membalas perasaan cinta kasih seorang pemuda seperti engkau yang dapat dipercaya dan tentu amat murni cinta kasihnya, Akan tetapi, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, kurasa amatlah penting untuk kuketahui, koko, bahwa sesungguhnya, seperti telah kukatakkan kepadamu tempo hari, bahwa aku mencinta.... maksudku pernah jatuh cinta kepada kakakku Kwan Bu.” Kwee Cin tersenyum.

“Dan akupun sudah menjawab bahwa akupun mencinta Kwan Bu! Hanya bedanya. kalau engkau mencintainya sebagai adik, aku mencintainya sebagai sahabat,” Giok Lan menggeleng kepalanya,

“Bukan demikian maksudku, koko. Memang sekarang aku mencintainya sebagai kakak seayah, akan tetapi sebelum hal itu kami ketahui, aku mencintainya sebagai seorang wanita mencinta seorang pria, Aku tadinya mengharapkan menjadi isterinya, bukan adiknya,” Kwee Cin mengangkat alisnya, kemudian menghela napas dan bertanya,

“Lan-moi, mengapa engkau menceritakan rahasia hati seperti itu kepadaku?”

“Karena, hubungan kasih sayang antara seorang pria dan seorang wanita baru dapat dipertahankan keutuhannya, baru dapat dijauhkan dari pada syak-wasangka yang bukan-bukan apabila di sana tidak ada tersembunyi rahasia apa-apa dibalik cinta kasih mereka, cinta kasih akan hancur lebur apabila dikotori oleh ketidakpercayaan karena adanya hal yang dirahasiakan, sehingga timbullah kecurigaan, cemburu, dan kekecewaan, Menjatuhkan hati cinta kepada seseorang berarti menerima orang itu menjadi pilihan hatinya, dan dalam menerima itu kita tidak boleh membuta, harus menerima dengan mata terbuka, dan disamping kebaikan-kebaikan yang ada pada diri orang itu sehingga membangkitkan cinta kasih kita harus pula kita membuka mata terhadap cacat-cacatnya, Hanya cacat yang telah kita ketahui dan kita terima sajalah yang takkan menimbulkan kekecewaan dan bahkan dapat menjadi pupuk cintakasih.” Kwee Cin membelalakan matanya dan memandang kagum,

“Wahai, moi-moi   alangkah luas pandanganmu tentang cinta kasih!” Giok Lan tersenyum manis,

“Bukan karena pengalaman, koko, melainkan karena bacaan yang kupetik dari kitab-kitab. Aku belum ada pengalaman sama sekali dalam cinta, karena ketika... ketika aku mencinta Bu-koko sebagai seorang wanita terhadap pria, dia tidak atau belum membalas cinta kasihku, Sekarang tentu saja lain lagi, diantara kami telah ada ikatan cinta kasih, yaitu cinta kasih antara kakak dan adik,” Kwee Cin mengangguk-angguk.

“Wawasanmu tadi tepat sekalli, moi-moi, Memang cinta itu membuat mata seperti buta, sehingga mata tidak dapat melihat atau menemukan keburukan orang yang dicintainya, Maka adalah baik sekali untuk mengetahui atau mendapatkan cacat-cacat itu dengan mata terbuka, kemudian menganggap bahwa cacat-cacat itu malah menambah daya tarik orang yang dicintainya, ltulah cinta!” Giok Lan mengangguk,

“Memang ada baiknya kita mengerti akan hal itu sehingga tidak akan beratlah punggungnya apabila cinta kasih mengalami kegagalan, Lebih baik memasuki dunia cinta dengan mata terbukavdan hati penuh kesadaran bahwa cinta dapat mendatangkan madu maupun empedu, dari pada masuk secara membuta sehingga menjadi mabok kemanisan atau mati kesakitan!”

“Aduh, Lan-moi, kata-katamu mengusir semua keraguan hatiku dan kini aku pun hendak membuat pengakuan Lan-moi. Selama hidupku, sebelum bertemu denganmu, aku hanya pernah mencintai seorang wanita, cinta yang gagal karena hanya sepihak, dari pihakku. Aku pernah menaruh hati cinta kepada… kepada ”

“kepada Siang Hwi, bukan?”

“Eh, bagaimana kau bisa tahu?” Giok Lan tersenyum.

“Tentu saja aku sudah tahu, Siang Hwi dan aku telah membuka semua rahasia hati kami, engkau mencinta Siang Hwi akan tetapi semenjak dahulu, sejak Kwan Bu masih menjadi kacung di keluarga Bu, sebenarnya Siang Hwi telah mencinta kakakku itu, cinta yang diselubungi banyak hal yang menjadi penghalang sehingga cinta itu dapat mencipta diri menjadi kebencian, benci karena cinta tidak mendapat kesempatan untuk menjadi raja yang berkuasa. Sejak dahulu Siang Hwi yang kau cinta itu mencinta Kwan Bu sehingga tidak dapat membalas cinta kasihmu, Sama pula dengan aku, Dahulu aku mencinta Kwan Bu dengan sia-sia karena semenjak menjadi kacung keluarga Bu, Kwan Bu telah mencinta Siang Hwi! Nasib kita sama, Kwee-koko, Cinta kasih tidak mungkin hanya datang dari sepihak, Tak mungkin bertepuk sebelah tangan!”

“Jadi     engkau tidak marah dan tidak kecewa bahwa aku pernah mencinta orang lain?” Tanya Kwee

Cin, memandang penuh harapan, Giok Lan menggeleng kepala.

“Aku tidak sepicik itu, koko. Jangankan baru jatuh cinta kepada Siang Hwi yang merupakan hal sewajarnya karena pemuda mana yang tidak akan jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Siang Hwi? Andai kata engkau pernah jatuh cinta kepada seribu orang gadis, akupun tidak perduli karena hal itu merupakan hak setiap orang manusia! Mencinta bukanlah berdosa. Mencinta timbul karena rasa simpati yang terhadap lawan jenis. Pelanggaran susila barulah merupakan dosa karena pelanggaran susila timbul karena dorongan nafsu semata. Tidak, aku tidak kecewa mendengar bahwa engkau pernah mencinta gadis lain, koko.”

“Jadi..... kalau begitu..... kau..... kau sudi menerima cintaku, sudi membalas kasih sayangku, moi- moi?” Gadis itu mengangguk dengan pandang mata penuh kepasrahan, dengan pandang mata mesra sehingga Kwee Cin tak dapat menahan kebahagiaan hatinya, menyambar kedua tangan gadis itu, digenggamnya erat-erat dan wajahnya menyinarkan kebahagiaan berseri-seri yang mengharukan hati Giok Lan. “Terimakasih, moi-moi... terimakasih...”

“Kwan Bu mengapa engkau selalu menjauhkan diri dariku? Seolah-olah hendak menghindari pertemuan berdua? Apakah...?”

“Aku masih giat berlatih, nona. Suhu masih belum sembuh benar dan setiap hari masih harus memulihkan kesehatannya dan bersemadhi dalam pondoknya. Aku harus berlatih dan bersiap-siap menghadapi serbuan musuh yang kurasa akan datang mencari suhu!”

“Bu-tong-pai?” Kwan Bu mengangguk.

“Dan tokoh Bu-tong-pai adalah lawan yang berat?”

“Ah, Kwan Bu, lupakanlah sebentar urusan itu! Aku ingin sekali bicara denganmu tentang urusan kita berdua..?”

“Apakah yang akan dibicarakan, nona? Orang seperti aku tidak berharga untuk..?”

“Kwan Bu, hentikanlah suara mengejek itu. Ataukah engkau sengaja hendak menusuk perasaanku?”

“Tidak sama sekali, nona..!” Siang Hwi mengerutkan keningnya. Hatinya tidak senang mendengar sebutan “nona” akan tetapi sebagai seorang wanita ia merasa malu untuk mengungkapkan isi hatinya begitu saja, apa lagi Kwan Bu kelihatannya, seolah-olah mundur dan menghindarkan diri.

“Kwan Bu, engkau selalu berusaha menghindariku. Ada apakah? Apakah engkau masih merasa sakit hati terhadap sikapku dahulu? Engkau masih merasa sakit hati karena dahulu dianggap sebagai kacungku? Kuanggap sebagai seorang rendah? Kuanggap sebagai seorang anak haram dan kuhinakan? Tidak percayakah kau bahwa aku merasa menyesal sekali kalau teringat akan itu semua, Kwan Bu? Tidak maukah engkau memaafkan semua kesalahanku itu...?” Suara Siang Hwi perlahan perlahan putus dan akhirnya dengan susah payah gadis yang keras hati ini menahan isaknya. Hampir saja Kwan Bu tidak dapat menahan hatinya yang penuh keharuan. Kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin ia menjatuhkan diri berlutut dan memeluk gadis itu, mohon ampun bahwa sikapnya telah menyakitkan hati Siang Hwi. Akan tetapi dia menekan perasaannya dan kalau Siang Hwi tidak mau menyatakan cinta kasih kepadanya, yang masih amat diragukan karena dianggapnya tidak mungkin, dia akan selalu menahan diri dan menahan perasaannya.

“Tidak ada yang harus dimaafkan, nona. Semua sikapmu yang dahulu sudah sewajarnya, aku berterimakasih sekali atas pembelaanmu padaku di depan para tokoh Bu-tong-pai, dan aku amat menyesal kalau teringat akan kekurang-ajaranku dahulu terhadapmu, nona. Aku amat tidak sopan dan kurang ajar sehingga Semua sikapmu terhadapku dahulu adalah sudah pantas!”

“Kwan Bu   !” Siang Hwi merasa jantungnya seperti ditusuk.

“Engkau selamanya amat baik kepadaku. selalu merendahkan diri, engkau tidak pernah kurang ajar..!”

“Dosaku padamu tak perlu ditutup, nona. Sampai mati aku tidak akan pernah melupakannya. Dua kali aku telah... telah memeluk dan menciummu. sungguh perbuatan yang amat kurang ajar dan. ”

“Kwan Bu, aku tidak menganggapnya sebagai perbuatan kurang ajar, bahkan... bahkan.    sebaliknya,

aku.... aku merasa bahagia akan perbuatanmu itu... aku malah suka sekali..! Wajah gadis itu jadi merah seperti udang direbus dan ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Jantung Kwan Bu berdebar keras! Biarpun hal ini bukan merupakan pengakuan cinta gadis itu, akan tetapi sudah mendekati! Gadis ini menyatakan bahwa dia merasa suka dan bahagia ketika ia peluk dan cium! Akan tetapi pernyataan ini menimbulkan rasa penasaran di hati Kwan Bu! Benarkah merasa suka dan bahagia? kenyataanya dahulu tidak sama dengan ucapan Siang Hwi!

“Tak perlu nona berpura-pura. Dahulu nona menuduhku yang bukan-bukan sehingga hampir saja aku dibunuh oleh kedua suhengmu dan oleh ayahmu. Mengapa nona dahulu menyatakan bahwa aku berkurang ajar dan memaksamu? Kenapa?” Sekarang mangertilah Siang Hwi. Diam-diam pemuda ini merasa sakit sekali oleh peristiwa itu. pertama kali, ketika Kwan Bu menurunkan ilmu memperlancar jalan darah sehingga ia tertidur dan pemuda itu memeluknya kemudian muncul Liu Kong dan Siang Hwi lalu menuduh Kwan Bu memaksanya dan berkurang ajar! kedua kalinya, ketika Kwan Bu menolongnya terbebas dari ancaman mengerikan di tangan Ma Chiang yang hendak memperkosanya. Setelah terbebas, Kwan Bu manciumnya dan ia merasa bahagia sekali, akan tetapi muncul ayahnya dan dalam bingung, jengah dan malu Siang Hwi telah menampar muka Kwan Bu.

“Kwan Bu, apakah engkau tidak mengerti? Apakah engkau tidak dapat menduga mengenai sikapku seperti itu...?”

“Hemm.    , arti satu-satunya bahwa engkau merasa marah dan menganggap aku kurang ajar, sama

sekali tidak membayangkan bahwa engkau... suka dan bahagia nona..”

“Kwan Bu !!” Kwan Bu dan Siang Hwi meloncat berdiri dengan kaget mendengar panggilan ini dan

muncullah Kwee Cin dan Giok Lan. Wajah dua orang muda ini tegang sekali. Sebelum Kwan Bu atau Siang Hwi sempat bertanya, Kwee Cin sudah berkata cepat dan gugup.

“Suhu... tahu-tahu sedang bertanding dengan seorang tosu lihai.... suhu terdesak hebat..?”

“Ah. suhu masih belum sembuh ” Kwan Bu berkata dan cepat meloncat, pergi ke pondok suhunya

yang berada agak jauh dari tempat ia berlatih pedang itu. Siang Hwi dan dua orang muda yang membawa kabar itu cepat meloncat pula menyusul, ketika mereka tiba di depan pondok Pat-jiu Lo- koai, mereka berdiri tertegun memandang ke arah dua orang kakek yang bertanding dengan hebatnya itu. Tosu yang menjadi lawan Pat-jiu Lo-koai di bawah sinar bulan tampak amat cepat dan gesit gerakannya itu adalah seorang Tosu tua yang usianya tentu tujuh puluh tahun lebih. Sikapnya gagah, keren dan agung. Pakaiannya serba putih rapi dan bersih.

Di punggungnya terdapat gagang pedang yang dihias ronce kuning. Empat orang muda itu tidak mengenal siapa adanya Tosu yang amat lihai itu, dan mereka memandang dengan gelisah karena jelas tampak betapa Pat-jiu Lo-koai yang masih tertawa-tawa itu sesungguhnya terdesak hebat. Dua orang kakek ini bertanding dengan tangan kosong, kadang-kadang gerakan mereka cepat tak dapat diikuti pandangan mata, kadang-kadang lambat sekali namun dari gerakan tangan yang lambat ini menyambar angin pukulan yang dapat dirasakan oleh empat orang muda yang menonton di pinggiran. Ketika Pat-jiu Lo-koai mengirim pukulan dengan tangan kanan dari samping mengarah ke lambung, Kakek lawannya itu menangkis dan tangkisan ini membuat Pat-jiu Lo-koai terhuyung tiga langkah ke belakang, Hwesio gendut ini tertawa.

“Ha-ha-ha. Thian Khi Tosu, engkau Tosu tua bau apek makin tua makin hebat!”

“Pat-jiu Lo-koai, tak parlu banyak kelakuan lagi. Malam ini harus diputuskan siapa yang berhak disebut pemenang. Jaga serangan pinto!” Tosu itu sudah menerjang ka depan, gerakannya cepat dan mangandung kekuatan dahsyat. Pat-jiu Lo-koai yang masih tersenyum lebar itu menyambut dengan kedua lengan dilanjutkan Kembali dua pasang lengan bertumbukan dan akibatnya tubuh Pat-jiu Lo-koai terlempar dan bergulingan di atas tanah seperti sebuah bola ditendang. Hwesio gendut ini sudah bangun berdiri lagi sambil tertawa- tawa, seolah-olah tidak merasakan hebatnya benturan tenaga sinkang tadi, akan tetapi darah mangalir kaluar dari ujung bibirnya! melihat keadaan lawannya. Tosu itu menerjang maju lagi dengan maksud mengirim pukulan tarakhir mengalahkan Hwesio gendut yang keras kepala itu, akan tetapi tiba-tiba bayangan Kwan Bu berkelebat dan pemuda ini sudah berdiri di depan suhunya. mawakili suhunya mendorong kedua lengan menangkis.

“Dessss.....!!” Dorongan Kakek yang ternyata ketua Bu-tong-pai itu luar biasa kuatnya sehingga tubuh Kwan Bu terdorong mundur sampai dua meter! Akan tetapi pemuda ini tetap dalam keadaan berdiri tegak memasang kuda-kuda. sedangkan kuda-kuda ketua Bu-tong-pai itu tanpa dapat ditahannya lagi menjadi tergempur dan ia melangkah mundur dua langkah. Tosu itu memandang dengan mata terbelalak dan kening berkerut. Kwan Bu sudah berlutut di depan suhunya dan berkata.

“Mohon suhu sudi memaafkan teecu atas kelancangan teecu. Akan tetapi suhu sedang sakit, belum kuat betul, mana bisa teecu melihat saja suhu menghadapi lawan berat. Harap ijinkan teecu mewakili suhu.” Pat-jiu Lo-koai tertawa.

“Ha-ha-ha.... dasar bintang Bu-tong-pai yang agak suram, maka sebelum dapat mengalahkan pinceng, muncul muridku. Aku setuju, Kwan Bu. akan tetapi engkau berhati-hatilah, Tosu bau ini benar-benar memiliki sinkang yang amat kuat!” satelah berkata demikian, Pat-jiu Lo-koai sudah pergi menjauh dan duduk bersila di bawah sebatang pohon. meramkan mata tidak memperdulikan apa- apa lagi. Ketika Kwan Bu hendak menghadapi Thian Khi Tosu, tiba-tiba tangannya disentuh orang. la menoleh dan melihat Siang Hwi yang memegang tangannya dengan muka pucat dan mata basah air mata.

“Kwan Bu. hati-hatilah... !” Kwan Bu tersenyum, mengangguk dan malepaskan tangannya, Siang Hwi mundur kembali dan berdiri dengan kaki lemas. Giok Lan merangkulnya dan berbisik.

“Tenanglah cici, dia takkan kalah....” Akan tetapi ucapan ini bukan hanya untuk menghibur Siang Hwi, melainkan juga untuk menghibur hati Giok Lan sendiri yang berdebar gelisah. Ketika bersama telah menyaksikan Pat-jiu Lo-koai sendiri yang sakti terdesak dan kalah oleh Tosu tua yang lihai itu.

“Orang muda. engkau siapakah dan apa maksudmu menghadapi pinto?” Tosu tua itu menegur Kwan Bu, masih terlongong menyaksikan bahwa orang yang mampu menangkis pukulannya sehingga kuda-kuda tergempur tadi ternyata hanya seorang pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tiga tahun! Kwan Bu memberi hormat, merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk agak dalam.

“Locianpwe, teecu adalah murid termuda dari suhu Pat-jiu Lo-koai dan terpaksa sekali teecu memberanikan diri menggantikan suhu karena suhu dalam keadaan sakit sehingga tidak semestinya melakukan pertandingan berat, teecu mendengar bahwa locianpwa Thian Khi Tosu adalah ketua Bu- tong-pai, maka besar harapan teecu bahwa locianpwe tentu memiliki cukup rasa keadilan, tidak mendesak seorang lawan yang sedang sakit dan mangalahkan muridnya yang menggantikan untuk mati di tangan locianpwe sebagai pembalasan budi terhadap guru. Syukur kalau locianpwe memiliki kebijaksanaan untuk tidak melanjutkan pertandingan yang berbahaya ini. Thian Khi Tosu tertegun, bukan hanya ucapan yang keluar dari mulut pemuda ini melainkan terutama sekali karena ia dapat menduga bahwa inilah pemuda yang bernama Kwan Bu, yang telah menggegerkan anak murid Bu- tong-pai.

“Apakah namamu Kwan Bu?”

“Tidak salah dugaan locianpwe” Kakek itu mengelus jenggotnya yang panjang, lalu matanya memandang ke arah Giok Lan dan Siang Hwi. Tiba-tiba ia bertanya.

“Mana gadis yang bernama Bu Siang Hwi yang terhitung masih cucu murid pinto?” Siang Hwi terkejut, betapapun juga, ayahnya adalah anak murid Bu-tong-pai, dan Kakek ini adalah ketua Bu- tong-pai. Andaikata ayahnya masih hidup dan bertemu dengan Kakek ini, tentu ayahnya akan menjatuhkan diri berlutut penuh penghormatan. Serta merta iapun menjatuhkan diri berlutut di tempat ia berdiri menghadap Kakek itu dari berkata.

“Teecu Bu Siang Hwi manghaturkan hormat kepada locianpwe.” Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian memandang ke arah Kwee Cin dan berkata,

“Yang mana murid Bu Keng Liong bernama Kwee Cin?” Kwee Cin tarkejut dan cepat menjatuhkan diri berlutut,

“Teecu Kwee Cin.......... murid yang berdosa....!” Kembali Kakek ini memandang penuh perhatian, kemudian ia mengalihkan pandangan kepada Siang Hwi dan bertanya, suaranya tenang,

“Bu Siang Hwi, benarkah engkau mencintai Kwan Bu?” pertanyaan ini membuat Siang Hwi dan Kwan Bu terkejut. Siang Hwi memandang Kakek itu dengan mata terbelalak, kemudian menundukkan muka, tidak kuasa manjawab. Dia adalah seorang wanita. seorang gadis terhormat, bagaimana mungkin ia dapat mengaku tentang cinta kasihnya secara terbuka dan didengarkan orang lain seperti itu?.

“Bu Siang Hwi! Benarkah engkau mencinta Kwan Bu? Jawablah!” kembali terdengar pertanyaan aneh dari ketua Bu-tong-pai itu. Dengan jantung berdebar sampai mencekik leher sehingga sukar sekali mengeluarkan suara. Siang Hwi menjawab,

“Be.. benar     locianpwe!”

“Hemmmmm.     dan engkau Kwee Cin. Benarkah engkau mencinta gadis adik Kwan Bu?”

“Benar sekali, locianpwe!” Giok Lan mengerling tajam kearah Kwee Cin dan merenggut dengan sikap menegur mendengar jawaban penuh gairah itu.

“Hemm.... hemmm.... Pat-jiu Lo-koai tidak berbohong kalau begitu. Dengarlah engkau, Kwan Bu. Tadi, gurumu dan pinto telah membuat perjanjian. Gurumu itu mengajukan permintaan agar dua orang murid Bu-tong-pai, yaitu Siang Hwi dan Kwee Cin dibebaskan bahkan minta doa restuku untuk dijodohkan dengan engkau dan adikmu. Sebaliknya, pinto menghendaki agar kalian berempat menjadi tawanan pinto untuk menebus Semua kekacauan yang telah kalian lakukan selama ini. kami berdebat dan akhirnya sepakat untuk memutuskannya dalam pertandingan. Siapa menang, dia berhak menentukan dan yang kalah harus menurut, pinto sudah berjanji dan takkan dapat menarik kembali janji pinto, maka menyingkirlah engkau dan biarlah suhumu maju melanjutkan pertandingan melawan pinto”. “Maafkan teecu. Suhu sedang sakit karena terkena racun ketika mengobati teecu. Pula, sebagai ketua Bu-tong-pai, teecu merasa yakin bahwa locianpwe tidak akan berpandangan picik dan dangkal. Mengenai urusan teecu berempat, teecu rasa hanyalah akibat dari kesalah-pahaman belaka. teecu sendiri sama sekali bukan seorang yang memusuhi kaum pejuang yang menantang kekuasaan kaisar lalim. sungguhpun teecu juga bukan tergolong seorang pejuang. teecu lebih condong dengan sikap yang diambil mendiang Bu Taihiap mengenai perang saudara itu.. Juga saudara Kwee Cin sama sekali bukanlah seorang murid Bu-tong-pai yang murtad atau menyeleweng. Perbuatan yang dilakukannya seolah-olah dia menyeleweng, sesungguhnya hanya demi menolong teecu dan adik perempuan teecu.” Dengan singkat Kwan Bu lalu menceritakan Semua kasalah-pahaman sehingga dia dicap sebagai kaum penentang kaum pejuang seperti suhengnya Phoa Siok Lun yang menjadi kaki tangan kaisar. kemudian ia menceritakan pula tentang sepak-terjang Kwee Cin.

“Demikianlah locianpwe. Harap locianpwe sudi menggunakan kebijaksanaan dan manghentikan pertentangan yang tidak manguntungkan ini.” Selama mendengarkan penuturan Kwan Bu, ketua Bu- tong-pai itu mengelus janggot sambil memandang wajah empat orang muda itu bergantian penuh selidik. Kini ia manghela napas panjang dan berkata,

“Ucapan yang keluar dari mulut seorang ketua merupakan ikatan yang tak mungkin dapat dilepas lagi. pinto sudah barjanji dengan Pat-jiu Lo-koai untuk bertanding. Kalau dia menang, barulah pinto akan manghabiskan semua pertentangan, bahkan akan memberi doa restu kepada kedua orang murid Bu-tong-pai yang memperoleh jodoh. Sebaliknya, kalau dia kalah, kalian berempat harus ikut bersama pinto ke Bu-tong-pai untuk mendapat pengadilan di sana.”

“Kalau begitu, terpaksa teecu memberanikan diri mewakili suhu dan menghadapi locianpwe.”

“Bagus! Memang ingin pinto menyaksikan sampai di mana kelihaianmu yang telah menggegerkan dunia kang-ouw. Engkau hendak menggunakan senjata atau bertangan kosong seperti suhumu?” Kwan Bu berlaku cerdik. Tadi ia telah menyaksikan kehebatan tenaga sinkang Kakek ini, bahkan gurunya sendiri pun telah memesannya agar berhati-hati terhadap tenaga sinkang lawan, maka ia lalu melepaskan pedangnya dan berkelebatlah sinar merah ketika Toat-bang-kiam yang telanjang berada di tangannya.

“Teecu menggunakan pedang pusaka suhu!”

“Siancai.... Toat-beng-kiam! pedang yang baik akan tetapi terlalu banyak minum darah manusia! Baiklah, orang muda, kita main-main sebentar dengan pedang! Tosu tua itu menggerakkan tangan dan telah mencabut pedang yang gagangnya beronce kuning itu. Tampak sinar putih berkelebat dan pedang putih di tangannya telah melintang di depan dada mengkilap tertimpa sinar bulan.

“Maafkan kelancangan teecu.....!” Kwan Bu berkata kemudian tubuhnya mencelat ke depan didahului sinar marah yang menyilaukan mata.

“Kiamsut yang hebat!” ketua Bu-tong-pai itu berseru dan cepat menggerakkan pedangnya,

Sama sekali tidak berani memandang ringan biarpun pemuda yang menjadi lawannya itu masih amat muda. Siang Hwi, Giok Lan dan Kwee Cin menonton dengan jantung seolah-olah berhenti berdetak. Mereka merasa gelisah dan juga terharu karena Kwan Bu sekali ini berjuang untuk mereka semua! Berjuang dengan pedang merahnya untuk mempertahankan cinta kasih mereka! Adapun lawan yang dihadapinya sedemikian lihainya. Mata mereka menjadi silau melihat gulungan sinar merah dan putih itu saling belit, saling desak, dan saling himpit. Hanya kadang-kadang saja mereka dapat melihat tubuh Kakek itu atau tubuh Kwan Bu yang seringkali lenyap diselimuti gulungan kedua sinar yang kadang-kadang berkelebat panjang-panjang seperti pelangi kadang-kadang membentuk lingkaran-lingkaran lebar.

Thian Khi Tosu kagum bukan main. Dia sendiri adalah ketua sebuah partai persilatan besar yang sudah amat terkenal karena kelihaian kiam-hoatnya, akan tetapi kini menghadapi ilmu pedang yang dimainkan Kwan Bu, ia menjadi kagum dan juga terkejut. Kiam-sut yang diamainkan pemuda ini luar biasa anehnya. akan tetapi amat kuat dan amat sukar dilawan, banyak memiliki jurus-jurus yang luar biasa, mengandung gerakan pedang yang dahsyat sehingga sinarnya seolah-olah merupakan senjata tersendiri yang runcing dan tajam! Terpaksa Kakek ini harus menjaga namanya sendiri juga nama Bu- tong-pai, mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan ilmu pedangnya yang paling lihai untuk mengimbangi kelihaian pedang lawan. Kakek ini maklum bahwa satu-satunya keuntungan darinya adalah tenaga sinkang, akan tetapi kemenangan ini tidak amat menentukan karena tentu saja dia kalah cepat dan kalah napas malawan seorang muda yang pantas menjadi cucunya!

Dengan seluruh pengarahan tenaganya, Kakek itu mulai mendesak Kwan Bu yang benar-benar harus mengakui bahwa selamanya baru satu kali ini ia menemui lawan tanding yang amat hebat. Kwan Bu melawan mati-matian, namun tetap saja terdesak dan sungguhpun hal ini sukar dilihat oleh tiga orang muda yang menonton, namun mereka dapat menduganya melihat betapa sinar merah menjadi makin sempit dan kecil sedangkan sinar putih menjadi makin lebar dan besar menekan. Otomatis tanpa dikomando karena isi hati mereka sama, Siang Hwi, Kwee Cin dan Giok Lan meraba gagang pedang mereka. Tantu saja mereka itu sama sekali tidak akan dapat membantu dalam pertandingan tingkat tinggi itu, akan tetapi isi hati yang khawatir membuat mereka meraba gagang senjata.

Gerakan mereka ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Khi Tosu dan tiba-tiba Kakek ini menghela napas. Mengertilah ia bahwa kalau dia menang, berarti dia akan merusak kebahagiaan empat orang muda. Thian Khi Tosu adalah seorang Kakek yang bijaksana dan berbudi. Kalau tidak demikian, ini tak mungkin ia bisa menjadi ketua sebuah perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai. Timbul rasa kasihan di hatinya dan ia menjadi serba salah. Kalau dia membiarkan dirinya kalah. Akan jatuhlah nama Bu-tong-pai kalau ketuanya sampai kalah malawan seorang pemuda! Kalau saja Pat- jiu Lo-koai bukan apa-apa karena memang hwesio gendut itu lihai bukan main, Tadipun kalau Kakek gundul itu tidak sedang terluka dan sakit, belum tentu dia dapat mendesaknya.

Kalau dia memaksa diri dan mendapat kemenangan, berarti dia akan menghancurkan kebahagiaan empat orang muda ini! Kwan Bu juga makin gelisah. Dia harus menang. Apapun yang terjadi, dia harus menang! Bukan hanya demi Siang Hwi, akan tetapi juga demi kabahagiaan adiknya dan Kwee Cin. la merasa girang bahwa ia telah mempelajari Toat-beng-kiamsut dari suhunya karena kalau dia tidak mempergunakan ilmu pedang itu, agaknya sudah sejak tadi ia roboh oleh ketua Bu-tong-pai yang lihai luar biasa itu. Tiba-tiba sinar pedang putih itu menyambar dan membelit ke arah kedua kakinya. Kwan Bu cepat menggunakan pedangnya menangkis dan membuyarkan gulungan sinar putih yang mengancam kakinya, kemudian ia meloncat ke belakang, terus sengaja menjatuhkan diri di atas tanah.

Bergulingan dan tangan kirinya bergerak. Tiga belas batang jarum telah dilepasnya barturut-turut sambil bergulingan itu kearah tiga belas jalan darah di tubuh Kakek lawannya. Dia tidak mengharapkan serangan jarumnya terhadap kakek lihai itu berhasil, akan tetapi bukan itulah maksudnya. Dia ingin agar Kakek itu menjadi sibuk dan lengah karena menghindarkan jarum-jarum itu agar ada bagian yang “terbuka” karena pertahanan Kakek itu kuat bukan main. Dan akalnya ini berhasil. Ketua Bu-tong-pai itu terkejut melihat jarum-jarum itu, akan tetapi tentu saja ia tidak khawatir dan cepat pedangnya diputar menangkis runtuh tiga belas batang jarum dengan beruntun. Akan tetapi saat itu. Kwan Bu telah menerjang dan pedangnya berubah menjadi sinar merah yang meluncur cepat sekali.

“Siancai    !” Thian Hhi Tosu berseru keras saking kagum dan kagetnya.

“Trangg....... cring !” Bunga api berhamburan dan tiba-tiba gulungan sinar marah dan sinar putih

itu lenyap. Kwan Bu dan Kakek itu sudah berdiri berhadapan dalam jarak empat lima meter. Pundak pemuda itu terluka, bajunya robek dan berlepotan darah.

“Kwan Bu !!” Siang Hwi menjerit dan hendak lari menghampiri, akan tetapi tangannya dipegang

Kwee Cin yang berbisik.

“Jangan dulu... lukanya tidak parah..?” Siang Hwi hanya memandang dengan muka pucat, demikian pula Kwee Cin dan Giok Lan memandang dengan muka pucat. Pertandingan itu terlalu menegangkan dan mereka tidak mengerti mengapa dua orang itu berhenti bertanding, tidak mengerti pula bagaiman kesudahannya. Hanya melihat luka di pundak Kwan Bu, agaknya pemuda itu kalah! Kwan Bu menjura dan berkata.

“locianpwe yang lihai luar biasa, teecu tidak mampu melawan locianpwe...!” Kakek itu menghela napas yang agak terengah-engah, lalu tersenyum pahit,

“Engkau tidak mengecewakan menjadi murid Pat-jiu Lo-koai dan telah mewarisi ilmu pedang yang kelak akan menjagoi di dunia kang-auw. Orang muda, engkau tidak kalah.”

“locianpwe, teecu telah terluka di pundak oleh ujung pedang locianpwe yang seperti kilat itu,”

“Orang muda, pedang Toat-beng-kiam di tanganmu juga telah membabat putus ronce-ronce kuning yang manghias gagang telah lenyap. pedang merupakan nyawa kedua bagi seorang ahli pedang. Karena itu, lenyapnya ronce-ronce pedangku lebih berat dari pada terlukamu. Pat-jiu Lo-koai, pinto mengaku kalah dan biarlah pinto habiskan semua pertentangan dan pinto mengharapkan kelak dapat membatalkan pantangan minum arak untuk minum arak pangantin, nah, sampai jumpa!”

Tubuh Kakek itu berkelebat lenyap dari tempat itu meninggalkan empat orang muda yang melongo saking heran, kagum dan juga gembira, kemudian mereka itu perlahan-lahan menoleh. Kwan Bu berpandangan dengan Siang Hwi, Kwee Cin berpandangan dengan Giok Lan. Dan kedua orang gadis itu menangis tanpa suara, hanya air mata mereka yang bertetesan keluar mambasahi pipi.

“Kwan Bu, engkau terluka ” Siang Hwi manghampiri dan berbisik, rapat meneliti pundak pemuda

itu,

“Tidak seberapa, nona. Hanya luka kecil ” ucapan yang dingin, ini membuat Siang Hwi tersentak

mundur dan memandang Kwan Bu dengan mata terbelalak. Pada saat itu terdengar suara tertawa.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali ketua Bu-tong-pai! Dan sungguh beruntung nasib kalian, Thian Khi Tosu tadi telah bertanya kepada dua orang cucu muridnya, akan tetapi pihak lain belum ditanya. Eh, Kwan Bu, engkau muridku. Katakanlah, apakah engkau mencinta Siang Hwi?” Kwan Bu menunduk dan berkata, suaranya seperti orang terharu dan berduka.

“Sudah sejak dahulu teecu mencintainya, suhu,” “Ha-ha, bagus dan engkau Giok Lan, engkau adik muridku dan sudah menjadi muridku pula. Apakah engkau mencinta Kwee Cin?” Giok Lan mangerling kapada Kwan Bu, lalu menjawab dan kini memandang wajah Kwee Cin dengan berseri,

“Dahulu sih tidak, suhu, Akan tetapi sekarang... ah, karena dia berkali-kali mengaku cinta, karena dia baik sekali, teecu... yah... begitulah..,”

“Eh-ah, bocah tidak genah!” Pat-jiu Lo-koai yang sekarang sudah berdiri manghampiri dan mencela. “Begitu, begitu... bagaimana?” Giok Lan tersenyum dengan muka merah,

“Ia, begitu, sama seperti dia terhadap teecu!” Ia menuding kearah muka Kwee Cin yang menjadi merah sekali.”

“Wah-wah, engkau mengajak pinceng berteka-teki? Sama seperti dia? maksudmu engkau juga mencinta Kwee Cin?” Giok Lan mengangguk-angguk seperti seekor ayam makan padi sambil menggigit bibirnya, membuat Kwee Cin menjadi gemas hatinya dan mengancam dalam hati bahwa kelak kalau ada kesempatan, dialah yang akan manggigit bibir itu! Tanpa bicara, Kwee Cin memegang tangan Giok Lan, mereka bergandeng tangan dan melangkah pasti kekiri, dipandang oleh Pat-jiu Lo-koai yang tertawa lebar. Ketika Kakek ini melihat Kwan Bu dan Siang Hwi juga berjalan perlahan melangkah pergi, Siang Hwi kelihatan masih khawatir menyentuh pundak Kwan Bu yang terluka.

“Ha-ha-ha-ha.......!” Pat-jiu Lo-koai tertawa dan duduk lagi bersila, masih tertawa-tawa sehingga perutnya yang gendut itu bargoyang-goyang. Kwan Bu mangajak Siang Hwi duduk di bawah pohon. Sunyi sekali di situ, hawanya sejuk dan sinar bulan redup menghijau. Kwan Bu membiarkan Siang Hwi merawat lukanya. Kemudian berkata lirih.

“Nona......!” terdengar isak tertahan dari Siang Hwi dan tangan yang merawat pundaknya itu menggigit.

“Kwan Bu, kasihanilah aku... jangan engkau menyebut nona lagi kepadaku.” Kwan Bu menelan ludah, memandang wajah ayu yang menengadah, dekat sekali dengan mukanya,

“Hwi-moi !”

“Kwan Bu........., yakinkah engkau akan perasaan hatiku. ?”

“Engkau belum menjawab. pertanyaanku, Dahulu, ketika aku memeluk dan menciummu. mengapa

engkau menuduhku yang bukan-bukan, menuduhku berlaku kurang ajar dan memaksamu...

kemudian kau katakan bahwa engkau... suka dan berbahagia sekali akan perbuatanku itu. ah,

apakah maksudmu, nona... ah, moi-moi ?” Pundak itu sudah dibalut dan dengan sikap manja, Siang

Hwi merangkul leher pemuda itu.

“Engkau masih tidak mengerti? Karena   , karena sejak dahulu, sejak kita masih kanak-kanak, sejak

engkau kami jadikan bahan untuk berlatih tiam-hoat, sejak engkau membuka baju dan membiarkan tubuhmu menjadi korban latihan kami, sejak itu aku..... sudah..... mencintaimu, akan tetapi      ah,

engkau selalu merendahkan diri, sehingga aku makin tinggi hati, Aku mencintaimu, merindukanmu, karena itu, aku... aku merasa bahagia ketika kau memelukku, akan tetapi..... ketika terlihat orang lain, karena kau selalu merendahkan diri, menekan keyakinan dan kesan mendalam bahwa engkau adalah seorang bujang dan aku majikanmu... karena aku menjadi tinggi hati aku menjadi malu dan. dan mengingkari isi hatiku sendiri, Akan tetapi, engkau sudi memaafkan aku, bukan? Kwan

Bu, aku selalu akan menyesal kalau teringat akan perlakuanku terhadapmu..... maafkan aku. !”

“Cukup, Siang Hwi kekasihku, kita tanam yang sudah-sudah dan kita berjanji takkan lagi menyinggung hal yang lalu. Kau berjanji?”

“Aku berjanji.”

“Perjanjian harus disahkan..?” bisik Kwan Bu dan karena mereka sudah berangkulan sejak tadi, sedikit saja menundukkan mukanya, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra dan lama, seolah-olah telah melekat dan takkan berpisah lagi.

Dibagian lain dari puncak itu, dengan malu-malu dan canggung, Kwee Cin mencium pula Giok Lan. Kecanggungan mereka yang sama sekali belum berpengalaman itu mendatangkan kegelisahan hati dan memancing suara ketawa mereka, ketawa yang ditahan dan saling cubitan dan senda gurau. Adapun di tengah-tengah puncak, diantara dua pasang orang muda yang sedang memadu asmara itu, Pat-jiu Lo-koai duduk tertawa, tertawa bebas lepas yang gemanya mengalun di seluruh permukaan puncak bukit Pek hong san.

TAMAT