-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 09

Jilid 09

“Omitohud......... syukur engkau datang, Kwan Bu. Ibumu setiap hari merindukanmu dan berduka sehingga kami khawatir kalau-kalau dia akan jatuh sakit. Sebaiknya kau ajak ibumu masuk agar leluasa bercakap-cakap dan... kongcu ini..?” Cheng In Nikauw memandang kepada Giok Lan. Kwan Bu yang sudah melepaskan keharuannya tertawa. “Dia ini bukan seorang kongcu, melainkan seorang siocia,” katanya kepada para nikauw yang menjadi bengong, kemudian mereka tersenyum dan maklum mengapa “pemuda” itu begitu mudah mengucurkan air mata, kiranya seorang wanita! “Ibu, dia adalah nona Phoa Giok Lan, adik kandung suhengku!” Giok Lan cepat maju memberi hormat kepada ibu Kwan Bu dan orang tua ini memandang penuh selidik, kemudian memegang tangan gadis itu dan menariknya.

“Tentu engkau seorang nona yang amat baik budi dan menjadi sahabat baik anakku. Marilah masuk, kita bicara di dalam”. Nyonya yang sebelah matanya buta itu membawa puteranya dan Giok Lan ke ruangan belakang di mana mereka bertiga dapat bercakap-cakap tanpa gangguan. Tadinya ibunya memandang dengan sikap agak ragu-ragu kepada Giok Lan akan tetapi ia menjadi lega ketika puteranya berkata.

“Ibu, Lan-moi itu adalah seorang sahabat baik yang sudah mengetahui akan riwayat kita, bahkan dia membantuku dalam usahaku mencari musuh besar kita.”

“Ah, terima kasih, nona. Engkau sungguh baik sekali.” Kata nyonya itu dengan girang, kemudian ia memegang tangan anaknya sambil bertanya penuh keterangan. “Bagaimana dengan usahamu itu, anakku? Sudah berhasilkah engkau menemukan dia?” Wajah Kwan Bu menjadi muram seketika, ia menggeleng kepala.

“Sudah banyak aku merantau dan mendengar, banyak pula orang-orang yang memiliki ciri-ciri sepeti musuh besar kita kudatangi, akan tetapi mereka itu bukan musuh besar kita, ibu. Sungguh anakmu ini tidak ada gunanya. akan tetapi aku bersumpah akan terus mencarinya sampai dapat, ibu.” Nyonya itu melepaskan tangan Kwan Bu dan kembali duduk bersandar di kursinya sambil menghela napas penuh kekecewaan. Kemudian ia berkata.

“Memang tidak mudah bagimu, anakku. Engkau selamanya belum pernah melihat mukanya dan hanya akulah seorang yang akan dapat mengenal dia, bila mana dan di manapun. Dan aku harus dapat membalas dendam ini. Engkau harus dapat menyeret dia ke depan kakiku untuk kubunuh dia! Sebelum si laknat itu mati di kakiku, aku takkan mau mati! aku tidak akan mau mati sebelum dapat membalas dendam kepada si jahanam!”

Nyonya itu bicara penuh semangat dan sudah bangkit berdiri dari kursinya mengepul tinju. Melihat keadaan nyonya ini, Giok Lan bergidik. Ia dapat melihat bahwa ibu Kwan Bu ini dahulunya seorang wanita yang cantik jelita, dan mendengar cara bicaranya, tentulah bukan seorang dusun biasa. Kini ia melihat sinar maut memancar dari mata yang tinggal sebuah itu. napas yang panas seperti api melalui hidung yang berkembang-kempis dan teranglah oleh Giok Lan betapa hebat dendam yang diderita oleh ibu Kwan Bu, akan tetapi dia dapat membayangkan betapa sakit hati nyonya itu kalau suaminya, orang tuanya dan seluruh keluarganya terbunuh oleh musuh besar itu. Karena maklum akan hal ini, Giok Lan menekan rasa ngerinya dan iapun menundukkan mukanya.

“Harap ibu suka tenangkan hati dan pikiran. Aku bersumpah untuk mencari musuh kita sampai dapat dan menyeretnya ke depan kaki ibu! Sekarang aku hanya datang untuk menjemputmu, ibu. Aku hendak menitipkan ibu di rumah suheng, di rumah adik Phoa Giok Lan ini yang tinggal di kota Kam- sin-hu.”

“Eh, mengapa begitu, Kwan Bu? Sudah baik-baik aku tinggal di Kwan-im-bio ini. bahkan aku sudah berjanji kepada ketua kuil ini bahwa kalau musuh besar kita sudah dapat kita balas. aku ingin menjadi nikouw di sini, mengabdi kepada Kwan Im Pauwsat. Selama dendam masih terkandung di hati, tidak mungkin aku dapat menjadi nikouw. Pula. Dengan menumpang di rumah nona ini, bukankah berarti kita akan mengganggu dan memberatkan beban keluarga?” “Tidak sama sekali, bibi. Kami akan senang sekali apabila bibi sudi tinggal bersama kami di Kam-sin- hu. Semenjak kecil kami, yaitu saya dan Siak Lun koko telah ditinggal mati ibu kami, sedangkan ketika masih kecil, kami berdua telah ditinggal pergi oleh ayah yang berdagang di luar kota. Kalau bibi sudi tinggal bersama kami, hitung-hitung kami mendapatkan seorang ibu…..” Gadis itu berhenti dan mukanya berubah merah karena tanpa disengaja ia telah berbicara terlanjur.

“lbu. Aku sengaja datang menjemput ibu karena hal ini didesak oleh suheng dan juga nona Giok Lan ini. kalau ibu tinggal bersama keluarga mereka, aku akan merasa tenang dan lapang, dapat mengerahkan seluruh tenaga dan mencurahkan seluruh perhatian untuk mencari musuh kita karena aku yakin bahwa keadaan ibu terjamin di sana. Harap ibu tidak menolak.”

Bhe Ciok kim menghela napas panjang. Melihat sikap dan mendengar suara anaknya, ia mengerti bahwa kalau ia berkeras menolak, tentu anaknya akan kecewa sekali dan sebagai seorang tua ia dapat maklum bahwa tentu “Ada apa-apa” antara puteranya dan nona yang cantik jelita ini.

“Baiklah, baiklah…   Aku hanya menurut semua kehendakmu, Bu-ji.” Kwan Bu kelihatan girang dan

demikian pula Giok Lan yang segera berkata.

“Perjalanan ini amat jauh dan tidak mungkin ibumu harus menunggang kuda, twako. Biar kucari sebuah kereta untuk bibi!” Tanpa menanti jawaban, gadis ini sudah bergegas keluar. Kwan Bu menghela napas dan membiarkannya saja karena memang ibunya perlu sekali dengan kendaraan itu untuk melakukan perjalanan jauh.

“Ke mana dia hendak mencari kereta?”

“Jangan khawatir, ibu. Nona Phoa Giok Lan adalah seorang yang kaya raya, tentu dia akan membeli sebuah kereta untuk ibu. Dan kita tidak perlu merasa malu terhadap dia, ibu. Percayalah, hubungan antara kami sudah seperti saudara sendiri, karena kami pernah berjuang sehidup semati menghadapi penjahat-penjahat. Maka akupun tidak merasa ragu-ragu lagi menitipkan ibu di rumahnya, tidak pula merasa sungkan melihat dia hendak membeli sebuah kereta untuk ibu.” Nyonya itu mengangguk-angguk.

“Kwan Bu, tahukah engkau bahwa nona itu amat mencintaimu?” kwan Bu tercenggang dan kagum akan ketajaman pandang mata ibunya. Ia mengangguk.

“Aku tahu, ibu. Bahkan dia telah menyatakan secara terus terang kepadaku? “Dan engkau juga mencintainya?”

“Aku belum dapat memutuskannya dan aku tidak akan bicara tentang cinta dan perjodohan sebelum musuh besar kita dapat terbatas.”

“Bagus, anakku. Engkau memang seorang anak yang baik. Aku girang mendengar keputusanmu ini dan kalau Thian mengijinkan kita membalasnya, agaknya gadis itu akan menjadi seorang isteri yang amat baik bagimu, Baru bertemu saja aku sudah suka kepadanya. Dia cantik jelita, cerdik, dan berwatak polos. Aku akan suka sekali mempunyai mantu seperti dia. Dia kelihatan lincah akan tetapi halus budi..!! tidak seperti nona Siang Hwi yang galak. ” Kwan Bu cepat menundukkan mukanya agar

sinar muram yang menyelimuti wajahnya tidak tampak oleh ibunya ketika ia mendengar disebutnya nama Siang Hwi. Cepat-cepat ia berkata untuk mengalihkan percakapan. “Bolehkah aku sekarang mengetahui nama ayahku, ibu.”

“Tidak boleh...... tidak bisa kuberitahu kepadamu. Kwan Bu, dengarlah baik-baik. Semenjak malapetaka itu menimpa diriku, menimpa keluargaku yang semua terbunuh penjahat dan mataku yang sebelah dibikin buta, aku bersumpah takkan menyebut-nyebut nama seluruh keluargaku sebelum aku berhasil membalas sakit hati kepada musuh besar kita itu. Nah, sekarang kau mengerti dan jangan kau bertanya-tanya lagi sebelum kau mampu menyeret penjahat itu ke depan kakiku. Setelah dia tertangkap, baru akan kuberitahu kepadamu akan segala hal.” Tentu saja Kwan Bu menjadi terharu dan tidak berani lagi bertanya. Terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda di depan kuil dan tak lama Giok Lan melangkah masuk dengan wajah berseri.

“Kereta sudah siap!”

Cheng In Nikouw mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya ketika Kwan Bu dan ibunya menjelaskan kehendak pemuda itu memboyong ibunya ke Kam-sin-hu dan berangkatlah kereta ditarik dua ekor kuda, dikusiri oleh Kwan Bu sendiri dan dikawal oleh Giok Lan yang menunggang kuda. Mengingat akan keadaan ibunya yang lemah perjalanan dilakukan perlahan-lahan sambil menikmati tempat-tempat yang dilalui, bahkan untuk menyenangkan hati ibu Kwan Bu, Giok Lan yang membawa bekal banyak uang itu sengaja mengajak orang tua ini pelesir, bermalam di penginapan-penginapan mewah dan makan di restoran-restoran besar sehingga ibu pemuda itu makin suka kepada gadis ini. agak terhiburlah hati Nyonya itu yang selama ini bersembunyi di dalam kuil yang sunyi, Dengan perlindungan dua orang muda yang gagah perkasa ini perjalanan dilakukan dengan aman dan selamat karena tidak ada penjahat berani mengganggu.

“Nona Giok Lan, engkau seorang anak yang amat baik budi. Kami ibu dan anak sungguh telah berhutang budi besar kepadamu,” kata Nyonya itu ketika mereka bermalam di sebuah penginapan besar. Mereka menyewa dua kamar, sekamar untuk Giok Lan dan ibu Kwan Bu, sedangkan sekamar lagi untuk Kwan Bu.

“Ah, berkali-kali bibi berkata demikian. Sesungguhnya, saya tidak melepas budi karena selain Kwan Bu koko adalah sute dari kakakku sendiri sehingga boleh dibilang diantara kami adalah saudara seperguruan, juga Bu-koko telah menjadi sahabatku yang paling baik. Kalau saja bibi tahu betapa beberapa kali saya terancam bahaya dalam pertempuran dan seandainya tidak ada Bu-koko yang menolong, tentu hari ini tidak ada Phoa Giok Lan lagi.” Gadis itu tersenyum manis dan Nyonya itu menjadi tertarik sekali, memegang tangan gadis itu dan berkata lirih,

“Engkau amat mencinta puteraku, bukan?” Wajah Giok Lan menjadi merah sekali sampai ke leher dan telinganya, akan tetapi sambil menundukkan muka, ia tersenyum dan mengangguk.

“Percayalah, anakku. Setelah selesai urusan balas dendam, aku akan menekan Kwan Bu agar suka mengambil pilihanku menjadi isterinya, dan pilihanku bukan lain adalah engkau.” Giok Lan menjadi makin malu, akan tetapi hatinya menjadi besar sekali. Dengan suara lirih ia berbisik.

“Terima kasih, bibi…..” Sementara itu, di dalam kamarnya. Kwan Bu gelisah karena lagi-lagi pikirannya diganggu oleh bayangan Siang Hwi. Tak pernah ia dapat melupakan gadis itu dan ia menjadi berduka sekali mengingat akan nasib gadis itu.

Betapa sengsara hati Siang Hwi. Melihat ayahnya terbunuh, keluarganya terpaksa mengungsi dan mungkin sekarang gadis itupun sedang merana seorang diri. Apakah Siang Hwi kembali kepada ibunya yang sudah mengungsi ke dusun entah di mana? Tak mungkin. Gadis itu amat keras hati, dan tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum membalas dendam kematian ayahnya. Kalau membalas kepada suhengnya dan sucinya, tentu gadis itu akan membuang tenaga sia-sia belaka, bahkan ada kemungkinan akan celaka di ujung pedang suhengnya dan sucinya yang lihai. Ataukah gadis itu melampiaskan dendam nya kepada para tokoh yang pro kaisar dan menggabungkan diri dengan para pemberontak lainnya yang amat banyak jumlahnya. Teringat akan ini, Kwan Bu berduka sekali.

Betapapun sering gadis itu menghinanya, namun tetap saja ia merasa tidak mungkin baginya untuk melupakan atau membenci Siang Hwi. Karena terganggu perasaan duka ini, akhirnya Kwan Bu dapat juga tertidur dengan tubuh lemas. Akan tetapi, lewat tengah malam ia terbangun karena telinganya yang terlatih mendengar sesuatu yang tidak wajar dan mencurigakan. Cepat ia meloncat bangun, meniup padam lilin yang tadi lupa ia padamkan karena tertidur, kemudian sekali berkelebat ia telah melompat keluar melalui jendela kamarnya dan terus melayang naik ke atas genteng. Dari atas jelas terdengar olehnya suara Giok Lan yang bicara marah. Cepat ia menuju ke tempat itu dan ternyata dari atas tampak olehnya bayangan Giok Lan di dalam taman rumah penginapan itu, berhadapan dengan seorang laki-laki dan mereka sedang bicara dengan nada suara marah.

“Engkau maling ya?” terdengar Giok Lan memaki, dan agaknya bukan makian yang pertama kali. “Kau berpura-pura menyatakan hendak betemu dan berbicara dengan Kwan Bu, itu hanya alasan belaka. Kalau mau bicara, hayo bicara kepadaku, sama juga. Engkau mau apa malam-malam berkeliaran seperti maling, hendak memasuki kamar Kwan Bu…!”

“Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Sudah kukatakan, nona…”

“Kau bilang nona? Apakah matamu buta, tidak melihat bahwa aku seorang kongcu?” bentak Giok Lan yang sengaja suaranya kini makin dibesarkan sehingga mau tidak mau Kwan Bu yang mengintai dari atas menjadi geli hatinya, dia tidak mau turun tangan lebih dulu mendengar suara laki-laki yang seperti dikenalnya itu, pula agaknya laki-laki itu tidak hendak memusuhi Giok Lan.

“Aku akan buta kalau tidak dapat mengenalmu nona. Kau bukan seorang kongcu, bukan pula seorang laki-laki tampan, melainkan seorang gadis cantik jelita, akan tetapi galaknya melebihi kucing! Heran aku mengapa suka bersahabat dengan orang galak..?”

“Tutup mulutmu, laki-laki ceriwis!” Giok Lan sudah mencabut pedangnya dan menusuk dada laki-laki itu. Akan tetapi dengan sigap laki-laki itu meloncat mundur sehingga tuBukan itu mengenai angin belaka. Laki-laki mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata.

“Tahan, nona! Aku Kwee Cin bukan seorang laki-laki yang suka bermusuhan tanpa sebab, apalagi terhadap seorang wanita! Aku hendak bertemu dengan Bhe Kwan Bu, dan tidak ada sangkut pautnya denganmu!”

“Berurusan dengan dia sama denga berurusan dengan aku! Hayo majulah, aku tidak takut kepadamu!”

“Akupun tidak takut kepadamu, akan tetapi aku tidak mempunyai urusan denganmu.” Jawab laki-laki itu. Kwan Bu menjadi girang sekali ketika mendengar nama pemuda itu, ketika ia melihat bahwa Giok Lan dengan galak hendak menyerang lagi, ia sudah melayang turun sambil berkata.

“Lan-moi, tahan......!” Giok Lan mengurungkan niatnya menyerang, akan tetapi ia memandang ke arah Kwee Cin dengan mata menyala merah. Kwan Bu lalu memegang lengannya dan berkata. “Dia ini sahabatku, dia Kwee-kongcu, murid mendiang Bu Taihiap.” “Bagus, kalau begitu dia ini perampok yang harus dibunuh!” Giok Lan meronta dan hendak menerjang lagi, akan tetapi dicegah Kwan Bu yang memegang lengannya sedangkan Kwee Cin balas membentak,

“Siapa bilang aku perampok. Ngawur saja!”

“Engkau murid pemberontak Bu Keng Liong dan semua pemberontak adalah kawanan perampok!” bentak pula Giok Lan. Melihat keadaannya makin panas, Kwan Bu lalu berbisik kepada gadis itu.

“Lan-moi. Serahkan dia ini kepadaku. Kuminta kau cepat menjaga ibuku, siapa tahu ada orang jahat yang akan memasuki kamarnya dan mengganggunya.” Giok Lan kaget. Memang tadi ia meninggalkan Nyonya itu sendirian di kamar, maka ia mengangguk dan meloncat pergi. Akan tetapi, ia membalikkan mukanya dan berkata kepada Kwan Bu.

“Koko, kau wakili aku memenggal lehernya dan jangan lupa untuk mengerat sepasang bibirnya untukku sebagai hukuman kekurang ajarannya telah memaki aku seperti kucing!”

“Wah, agaknya kau suka sekali kepada bibirku, ya?” Kwee Cin yang panas perutnya balas mengejek. Gadis itu marah dan membuat gerakan hendak membalik. Akan tetapi teringat akan ibu Kwan Bu dan setelah membanting kakinya ia lalu meloncat ke dalam bangunan rumah penginapan itu.

“Saudara Kwee Cin! Betapa gembira hatiku setelah mengenal suaramu. Kukira siapa yang sedang ribut-ribut dengan nona Phoa Giok Lan. Ada keperluan apakah engkau malam-malam mencariku?” Kwan Bu segera melangkah maju menghampiri murid bekas majikannya itu.

“Bhe Kwan Bu, aku tahu bahwa engkau bukanlah lawanku. Akan tetapi aku siap untuk mati di tanganmu demi dharma baktiku kepada mendiang suhu! Aku datang mencarimu di Kwan-im-bio di Hwi-cun, mendengar akan keberangkatanmu dan mengejar sampai di sini, sengaja mencarimu untuk kutentang mengadu nyawa! Engkau telah menyebabkan kematian suhu, menyebabkan sumoi menderita dan karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk membalas budi suhu, biarlah kubalas dengan pembelaan disertai taruhan nyawaku!” Ucapan Kwee Cin terdengar tegas dan diam-diam amat kagumlah hati Kwan Bu. Pemuda tampan di depannya ini benar-benar seorang yang jantan, alangkah jauh bedanya dengan Liu Kong! Akan tetapi kini pemuda ini menuduhnya dan menantangnya, ia menghela napas duka dan menjawab.

“Ah, saudara Kwee Cin, mengapa kau juga menjatuhkan fitnah atas diriku? Mengapa engkau juga menjadi seorang diantara mereka yang membenciku tanpa sebab? Engkau yang tadinya kuanggap satu-satunya orang disamping Bu Taihiap yang berpemandangan luas dan jujur? Mengapa kau mengatakan bahwa aku yang menjadi sebab kematian Bu Taihiap?”

“Kalau lain mulut yang mengatakan, mungkin aku akan berpikir sepuluh kali lebih dahulu sebelum mempercayainya, akan tetapi aku mendengar sendiri dari sumoi yang hancur hatinya. Engkau yang menyerbu ke Hek-kwi-san di mana mendiang suhu dan kawan-kawannya berada dan engkau yang membawa datang para pengawal kerajaan sehingga mereka semua terbasmi habis, termasuk suhu.”

“Tahukah engkau mengapa nona Siang Hwi sendiri tidak sampai tewas?”

“Sumoi terlalu hancur hatinya sehingga tidak menceritakan tentang dirinya. Yang penting sekarang, katakanlah, Bhe Kwan Bu, sebagai seorang laki-laki sejati tidak benarkah apa yang diceritakan sumoi kepadaku!” “Memang benar, akan tetapi engkau mendengar dan mengetahui ekornya tidak mengetahui kepalanya. Aku memang datang menyerbu Hek-kwi-san, akan tetapi sama sekali tidak mempunyai urusan dengan para pembe eh, para pejuang yang berkumpul di sana. Bahkan tidak menyangka

akan bertemu dengan mendiang Bu Taihiap yang entah bagaimana telah bekerjasama dengan mereka itu di sana. Aku datang ke Hek-kwi-san untuk mencari Sin-to Hek-kwi, karena aku kira dia adalah musuh besar keluargaku yang kucari-cari. Ternyata bukan, akan tetapi karena dia seorang kepala rampok yang jahat dan telah mencurangi aku, maka dia telah tewas di tanganku. Sungguh tak kusangka bahwa para pejuang itu, termasuk Bu Taihiap akan membela kepala rampok itu. Dan lebih- lebih tak kusangka adalah pada malam itu muncul para pengawal yang menyerbu ke Hek-kwi-san sehingga terjadinya perang yang mengakibatkan tewasnya para pejuang, termasuk Bu Taihiap.”

“Dan suheng serta sucimu menyertai para pengawal!”

“Benar, dan hal ini adalah urusan mereka. Aku sendiri tidak berhubungan dengan para pengawal. Mereka terbunuh, Bu-Siocia tertawan akan tetapi berhasil kumintakan kebebasan sehingga dia tidak terganggu.”

“Perbuatan pura-pura! Sungguhpun sumoi tidak pernah menceritakan bahwa dia dibebaskan karena permintaanmu, namun sumoi menceritakan betapa dia telah ditawan kembali, dan hampir diperkosa suhengmu yang rendah budi itu kalau saja tidak ditolong dan dibebaskan oleh Liu-suheng sehingga Liu-suheng mengorbankan nyawanya terbunuh oleh suhengmu!”

“Aahhhh     !” Kwan Bu benar-benar kaget sekali mendengar berita ini. “Aku sama sekali tidak tahu

akan hal itu!”

“Engkau tahu atau tidak bukanlah hal yang penting sekarang. Yang terpenting adalah penyelesaian di antara kita. Tidak ada pilihan lain bagiku, membunuhmu untuk membalas sakit hati sumoi dan kematian suhu, atau terbunuh oleh mu. Bersiaplah engkau, Be Kwan Bu!” Kwan Bu menjadi berduka sekali.

“Kwee Cin engkau mencinta Bu Siang Hwi, bukan?” Merah muka Kwee Cin.

“Tidak! Kini dia adalah seperti saudara bagiku, seperti adikku. Semenjak kenyataannya bahwa dia mencinta engkau seorang. Aku sudah mengubur rasa cinta kasih masa kanak-kanak itu.”

“Apa!! Dia mencintaiku? Hemm, berkali-kali dia menghinaku, menamparku.    l”

“Hanya laki-laki yang buta saja yang tidak tahu akan cinta kasih seorang wanita. Kwan Bu. Dan engkau buta! Karena itu menyiksa dia, adikku, sumoiku yang malang. Sudah lekas cabut pedangmu!”

“Tidak, aku tidak akan bermusuh denganmu Kwee Cin.”

“Mau atau tidak. aku akan menyerangmu, tidak ada pilihan lain, membunuhmu atau terbunuh olehmu. Aku seorang laki-laki sejati, Kwan Bu!”

“Aku tahu dan aku mengenalmu, Kwee Cin. Akan tetapi aku tidak akan berusaha mengalahkanmu, engkau bukan musuhku.” Jawab Kwan Bu dengan sikap tenang.

“Kwan Bu, aku bukan seorang pengecut yang menyerang orang yang tidak melawan, akan tetapi demi bakti terhadap suhu, aku terpaksa menyerangmu, dan kalau kau tetap tidak melawan, membunuhmu. Lihat pedang!” dengan gerakan cepat dan kuat Kwee Cin sudah menuBukan pedangnya ke arah dada Kwan Bu. Melihat penyerangan yang bukan main-main ini, Kwan Bu cepat mengelak ke kiri.

“Wuuutttm singggg.    !!”“ Kwee Cin maklum bahwa kepandaian Kwan Bu amat lihai dan dia tidak

mungkin dapat menangkan murid Pat-jiu Lo-kai itu, akan tetapi ia tidak putus asa, bahkan menerjang dengan nekat sehingga begitu tuBukan pertama dielakkan, telah ia susul dengan menyambarkan pedangnya dari samping, membacok ke arah leher Kwan Bu. Kwan Bu mengelak lagi dan ia membiarkan Kwee Cin terus menghujankan serangannya yang selalu ia hindarkan dengan elakkan tanpa membalas sedikitpun juga. Kwee Cin menjadi amat kagum setelah lewat tiga puluh jurus ia menyerang sama sekali tidak ada hasilnya. Ia amat kagum akan gerakan Kwan Bu yang sigap dan gesit melebihi gerakan seekor burung walet sehingga amat sukar pedangnya mengikuti gerakan lawan ini. Selain kagum, ia juga penasaran dan karena sudah bulat tekadnya untuk membunuh atau dibunuh demi kebaktiannya kepada mendiang suhunya, Kwee Cin menerjang terus, makin lama makin cepat.

“Kwee Cin, cukuplah main-main ini. Tak tahukah engkau bahwa caramu membalas dendam ini selain tidak tepat, juga tidak ada gunanya? Bu Taihiap tewas dalam sebuah peperangan, dan sesungguhnya adalah salahnya sendiri mengapa ia tidak dapat mempertahankan pendiriannya yang bebas seperti dahulu. Dia telah berfihak kepada pemberontak dan tewas dalam perang melawan pihak pengawal. Perlu apa disesalkan?”

“Tak usah banyak wawasan, Kwan Bu. Demi suhu dan sumoi, engkau yang tewas atau aku!” Kwee Cin menerjang lagi. Kwan Bu mengenal watak Kwee Cin dan tahu bahwa Kwee Cin melakukan penyerangan dan desakan ini karena kebaktiannya, maka ia menjadi mendongkol berbareng terharu.

“Berhentilah” teriaknya lagi dan pada saat itu, Kwee Cin sudah menyerangnya dengan jurus In-ko bu-tong (Awan Naik Gunung Bu-tong-san). Jurus ini merupakan jurus simpanan yang amat lihai dari ilmu pedang Bu-tong-pai. Sebagaimana diketahui, Bu Taihiap atau Bu Keng Liong adalah anak murid Bu-tong-pai maka tentu saja ilmu pedang yang ia turunkan kepada murid-muridnya adalah ilmu dari Bu-tong-pai. Jurus ini dilakukan dengan lambat, akan tetapi hanya tampaknya saja pedang itu menyerang amat lambat ke arah pusar lawan, akan tetapi dibalik kelambatan ini bersembunyi kecepatan yang terletak dalam perubahan ujung pedang karena ujung pedang yang menyerang pusar itu dapat dilanjutkan dengan serangan yang bertubi-tubi dari bawah terus ke atas!

Kwan Bu seorang yang sudah tinggi ilmunya dan dia bukan seorang sombong. Sejak tadi dia berlaku hati-hati dan tidak berani memandang rendah ilmu pedang lawan, maka sekali inipun ia akan berlaku hati-hati. Ia maklum bahwa Bu Taihiap adalah seorang ahli pedang yang amat lihai dan Kwee Cin seorang murid yang tekun, maka tidak mungkin serangan Kwee Cin yang lambat ini memang menjadi dasar atau sifat jurus serangannya. Ia mengelak dan tetap waspada menanti perkembangannya dan benar saja seperti yang diduganya, ujung pedang di tangan Kwee Cin menggetar dan dari gerakan lambat itu tiba-tiba muncul serangan bertubi-tubi yang amat cepatnya, membabat pinggang dilanjutkan dengan tuBukan ke ulu hati, lalu membabat leher dilanjutkan dengan tuBukan ke arah mata!

Serangan menusuk dan membabat secara bertubi-tubi dan bertingkat makin lama makin ke atas ini sukar sekali dihindarkan dan datangnya memang tak tersangka-sangka. Namun Kwan Bu yang sudah waspada itu membiarkan sampai gerakan terakhir jurus itu lewat dan dia hanya mengelak ke kanan kiri dengan menggunakan ginkang yang lebih tinggi sehingga gerakannya lebih cepat daripada gerakan lawan, kemudian tangannya bergerak mendorong dan dibarengi tendangan. Dorongan yang mengandung tenaga ginkang yang amat kuat itu membuat tubuh Kwee Cin terhuyung dan tendangan dari samping itu tepat mengenai pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedangnya terlempar ke atas dan tahu-tahu sudah berada di tangan Kwan Bu!

“Bagus, kepandaianmu memang hebat, Kwan Bu. Nah, kau bunuhlah aku!” Kwee Cin terhuyung menghampiri dan mengangkat dada, siap menerima tuBukan Kwan Bu dengan pedangnya sendiri.

“Bu-koko.... toloonnggg......!” Jerit suara Giok Lan ini mengagetkan Kwan Bu. Sekali tangannya bergerak, pedang rampasan itu menancap di atas tanah di depan Kwee Cin, kemudian Kwan Bu berkelebat lenyap karena tubuhnya sudah melesat amat cepatnya memasuki rumah penginapan. Jantungnya berdebar tegang karena kalau Giok Lan menjerit minta tolong seperti itu, pasti terjadi hal yang amat hebat. Ia berloncatan ke atas genteng kemudian turun ke sebelah belakang rumah penginapan. Dilihatnya banyak tamu yang ketakutan dan bersembunyi di kamar masing-masing, ada pula yang keluar akan tetapi berdiri dengan muka pucat di depan kamar. Kwan Bu melihat serombongan orang di ruangan belakang yang luas, yang dijadikan ruangan makan dan ruangan para tamu beristirahat.

Cepat ia melayang ke tempat itu dan tiba-tiba ia berdiri tegak dengan muka pucat dan mata terbelalak marah karena ia melihat betapa ibunya dan Giok Lan telah menjadi tawanan belasan orang laki-laki yang kelihatan gagah, dikepalai seorang kakek berusia enam puluh tahun yang memakai pakaian Kitam dan yang memegang sebatang pedang telanjang di tangan kanan. Dengan pedang itu kakek hu menodong ke lambung ibu Kwan Bu, sedangkan dua orang laki-laki lain yang usianya antara empat puluh tahun, menodongkan ujung pedang mereka di kanan kini punggung Giok Lan. Gadis ini yang agaknya tadi melakukan perlawanan, terluka sedikit lengannya dan kedua tangannya kini dibelenggu ke belakang! Namun gadis berpakaian pria ini sedikitpun tidak memperlihatkan muka takut, bahkan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan ditujukan kepada orang-orang yang menawan dirinya dan ibunya Kwan Bu.

“Bhe Kwan Bu manusia rendah budi! Menyerahlah, kalau melawan, ibumu dan nona ini kami bunuh lebih dulu” Bentak kakek pakaian hitam yang menodong lambung ibunya. Lemas kembali seluruh urat syarat yang tadi sudah menegang penuh kesiapan di tubuh Kwan Bu. Betapapun akan cepatnya ia bergerak menyerang orang-orang yang menodong ibunya dan Giok Lan. Tentu lebih cepat lagi pedang-pedang itu memasuki tubuh kedua orang tawanan itu. Ia menekan gelora hatinya dan bertanya, suaranya tetap tenang.

“Kalian siapakah dan apa kehendak kalian?” Kakek itu rnemandangnya dengan rona muka penuh kebencian.

“Kami adalah pejuang dari Bu-tong-pai, dan karena Bu Keng Liong adalah tokoh dari Bu-tong-pai, maka dia masih terhitung suteku. Engkau yang sudah menerima banyak budi dari Bu-sute, telah mengkhianati dia dan menyebabkan banyak tokoh pejuang gugur. Untuk mempertanggungjawabkan dosamu, kau harus menjadi tawanan kami dan menghadapi hukuman dari suhu dan para pimpinan pejuang. Menyerahlah dan ibumu serta nona ini tidak akan mati di ujung pedang kami!” Dada Kwan Bu terasa panas. Mengertilah ia kini bahwa ia telah kena dipancing keluar oleh Kwee Cin yang ternyata datang bersama banyak pejuang dan ia mengerti pula mengapa Giok Lan mudah tertawan. Kiranya kakek ini adalah suheng dari ayah Siang Hwi yang tentu memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi daripada Giok Lan. Ia menjadi marah sekali dan teringat ini, ia merasa menyesal mengapa tadi ia tidak bunuh saja Kwee Cin yang curang!

“Apakah seperti inilah kegagahan orang-orang Bu-tong-pai menghadapi lawan? Kalian datang begini banyak menghadapi aku seorang diri mengapa harus menggunakan siasat rendah dan curang mengganggu wanita yang tidak berdaya? Lepaskan mereka dan mari hadapi aku secara laki-laki!” Kakek itu menjadi merah mukanya, akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab.

“Kami para pejuang Bu-tong-pai bukanlah seorang yang haus darah seperti engkau, Bhe Kwan Bu. Gara-gara perbuatanmu mengakibatkan penyembelihan para pejuang di Hek-kwi-san. Kami tahu bahwa sebagai murid Pat-jiu Lo-kai yang gagah perkasa, engkau merupakan lawan berat dan kalau kami menggunakan kekerasan, tentu terjadi pertandingan yang akan membawa akibat kematian banyak. Pula, kami tidak ingin menimbulkan kekacauan disini. Tidak ingin merugikan para tamu penginapan dan pemiliknya. Sudahlah, cepat kau menyerah atau terpaksa kami bunuh dua wanita ini sebelum menggunakan kekerasan terhadap dirimu.”

“Bu-koko, sikat saja mereka ini! Jangan perdulikan aku, aku tidak takut mati! Perlihatkan kepada tikus-tikus ini bahwa kita orang-orang gagah yang tidak takut mati. Kita bukan pemberontak, bukan pula penjilat kaisar, akan tetapi kalau mereka ini tetap menuduh yang bukan-bukan, lawan saja, aku yakin engkau pasti akan mampu membunuh tikus-tikus ini!” bentak Giok Lan sambil meronta-ronta, akan tetapi belenggu tangannya amat kuat sehingga ia tidak mampu membebaskan diri. Mendengar ucapan Giok Lan ini, timbul lagi semangat Kwan Bu dan sinar matanya sudah menjadi beringas. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ibunya.

“Kwan Bu. engkau menyerah sajalah. Aku sendiri tidak takut mati, aku sudah tua dan hidup lebih banyak menderita bagiku. Akan tetapi tidak boleh kau mengorbankan nyawa nona Phoa. Biarlah, kalau memang engkau tidak berdosa, mengapa takut menghadapi pengadilan?” Mendengar ini, lemas lagi tubuh Kwan Bu. Kalau ia ingat betapa pedang-pedang itu akan membunuh ibunya dan Giok Lan, memang tidak boleh ia mempergunakan kekerasan. Ia mendengar bahwa Bu-tong-pai adalah sebuah partai besar yang dipimpin oleh orang-orang berilmu yang tentu saja menjunjung tinggi keadilan. Ia tidak merasa bersalah, karena selama ini ia tidak mencampuri urusan perang antara mereka yang pro dan mereka yang anti kaisar. Biarlah pengadilan yang memutuskan bahwa dia memang tidak bersalah dalam peristiwa di Hek-kwi-san.

“Baiklah, aku menyerah, akan tetapi lebih dahulu aku hendak mengenal siapa engkau yang memimpin rombongan ini dan janjimu sebagai seorang gagah Bu-tong-pai bahwa setelah aku menyerah kalian tidak akan membunuh ibuku dan nona Phoa Giok Lan!” Kakek itu kelihatan lega. Dia sudah mendengar akan kelihaian pemuda ini, maka kalau pemuda itu suka menyerah, akan lebih mudah pelaksanaan tugasnya.

“Aku adalah Lauw Tik Hiong yang berjuluk Hek I Him Hiap (Pendekar Pedang Baju Hitam) murid Bu- tong-pai. Sebagai seorang kang-ouw yang menjunjung nama besar perguruan kami, aku bersumpah bahwa kalau engkau menyerah, ibumu dan nona ini tidak akan kami bunuh!” Kwan Bu menarik napas lega. Nama dan julukan tokoh Bu-tong-pai itu kiranya merupakan jaminan yang cukup kuat, maka ia lalu mengulurkan kedua tangannya sambil berkata tenang.

“Nah, belenggulah aku dan bebaskan mereka!” Empat orang diantara mereka segera maju membawa sebuah belenggu besi yang amat kuat. Mereka menelikung lengan Kwan Bu ke belakang dan membalenggunya di bawah punggung.

“Ahh... Bu-koko... mengapa kau begitu bodoh? Tikus-tikus macam ini mana bisa dipercaya? Mereka itu pemberontak-pemberontak yang berkawan dengan perampok-perampok jahat! Tikus-tikus bau ini tentu akan membunuhmu... ah, koko...!!” Giok Lan berteriak-teriak marah, akan tetapi Kwan Bu sudah dibelenggu dan akhirnya gadis itu hanya dapat terisak.

“Lauw-enghiong, harap lekas bebaskan ibuku dan nona Phoa.” “Lauw Tik Hiong mengejek. Nanti dulu. Bhe Kwan Bu. Memang aku sudah berjanji takkan membunuh mereka, dan janji-janji ini pasti kupenuhi. Akan tetapi, kami tidak akan puas kalau belum membalas kekejian nona kuntianak ini!”

“Apa     ?” Kwan Bu membentak. “Dia tidak berdosa!”

“Ha-ha-ha! tidak berdosa?” Suara serak ini keluar dari mulut seorang diantara mereka yang menodong Giok Lan. “Dia ini adalah adik suhengmu yang bernama Phoa Siok Lun dan tentu engkau tahu bahwa suhengmu menjadi anjing penjilat kaisar. Bukan begitu saja, akan tetapi suhengmu telah banyak memperkosa gadis-gadis dusun dan pendekar-pendekar wanita pejuang! Kalau kakaknya seperti setan, tentu adiknya inipun seperti kuntianak! Kakaknya tukang menghina wanita, tukang memperkosa dan mendatangkan aib dan malu. Adiknyapun harus merasakan yang sama!” Pedang di tangan laki-laki itupun bergerak dan.

“Bretttt...!!” Jubah luar yang dipakai Giok Lan robek dari leher sampai ke perut, memperlihatkan pakaian dalam dari sutera berwarna merah muda yang tipis sekali sehingga tampak membayangkan lekuk-lengkung tubuh yang indah bentuknya. Giok Lan meronta-ronta dah Kwan Bu membentak marah.

“Kalian manusia-manusia rendah.    !!” Akan tetapi dua orang telah mendorongnya dengan pedang,

sedangkan Lauw Tik Hiong tertawa, lalu berkata.

“Jangan khawatir, Bhe Kwan Bu. Aku akan memegang janji. Janjiku hanya tidak membunuh mereka, bukan? Memang aku tidak akan membunuh ibumu dan nona ini. Akan tetapi nona ini harus menebus kejahatan kakaknya, hendak kulihat ke mana akan ditaruh mukanya dan muka kakaknya kalau dia bertelanjang di depan umum. Ha-ha-ha!” Ucapan yang keluar dari mulut Lauw Tik Hiong ini adalah ucapan yang timbul dari kebencian dan sakit hati karena sikap orang-orang Bu-tong-pai itu sama sekali tidak membayangkan silat-silat yang terdorong nafsu-nafsu sengaja atau yang sengaja berbuat kurang ajar yang memang sudah menjadi watak mereka.

Sesungguhnyapun mereka adalah orang-orang gagah Bu-tong-pai, pejuang-pejuang yang gigih. Kalau sekarang mereka melakukan hal yang kelihatan keji ini adalah karena mereka merasa amat sakit hati terhadap perbuatan-perbuatan biadab yang dilakukan Phoa Siok Lun terhadap wanita-wanita pejuang yang ditangkapnya. Kini pedang di tangan Lauw Tik Hiong sendiri yang bergerak ke depan dan kembali terdengar suara kain robek disusul jerit Giok Lan ketika ujung pedang itu dengan gerakan ahli sehingga sama sekali tidak melukai kulitnya telah merobek baju dalam, tepat di tengah- tengah dari leher sampai ke perut. Baju itu terbelah dan terbuka sehingga tampak bagian tengah dada, tampak lereng bukit dada dan perut yang berkulit putih halus! Pedang itu masih menuding dan agaknya hendak merobek pakaian bagian bawah.

Giok Lan sudah memejamkan matanya dan menundukkan mukanya, gadis ini hampir pingsan saking malunya, Kwan Bu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia mulai mencari kesempatan untuk membebaskan diri. akan tetapi tidak hanya membebaskan diri sendiri karena dia baru mau melakukan hal ini kalau dia sudah yakin akan dapat menyelamatkan ibunya dan nona itu juga. Lauw Tik Hiong yang hendak membalas penghinaan kepada adik Phoa Siok Lun ini, sengaja melakukan gerakan lambat-lambat, ujung pedangnya menyentuh bagian ikat pinggang celana yang menutupi bagian bawah tubuh gadis itu. Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Kwee Cin sudah tiba di situ. Langsung pemuda ini menghadap Lauw Tik Hiong dan menjura penuh hormat. “Teecu murid kedua mendiang suhu Bu Keng Liong menghadap supek, dan mohon supek mengabulkan permintaan teecu yang melaksanakan tugas pesanan sumoi Bu Siang Hwi!” Lauw Tik Hiong menarik kembali pedangnya dari pinggang Giok Lan, memandang kepada Kwee Cin penuh selidik. Sementara itu, Kwan Bu yang melihat Kwee Cin, sudah tak dapat menahan kemarahannya.

“Bagus, Kwee Cin! Engkau benar-benar manusia hina dina dan rendah budi! Kiranya engkau memancing aku keluar sehingga mereka ini dapat menangkap ibuku dan nona Phoa. Kalau tahu begitu, tentu aku tidak akan mengingat perhubungan kita dahulu dan tadi sudah kuhancurkan kepalamu!” Kwee Cin menoleh kepadanya dan tersenyum mengejek.

“Bhe Kwan Bu, engkau kacung yang sombong! Tidak ingatkah kau betapa dahulu kau melayani aku, engkau kacung hina dan engkau anak….. haram…..!!” Ucapan ini disusul jerit ibu Kwan Bu yang menjadi lemas dan jatuh terguling dalam keadaan pingsan. Kwan Bu makin marah dan hendak meronta, namun lambungnya terancam ujung pedang yang runcing,

“Eh, laki-laki pengecut. maling laknat. manusia hina dina melebihi kecoa! Jangan menghina Bu- koko!” bentak Giok Lan dengan suara menjerit saking marahnya,

“Kwee Cin, kalau mendiang Bu Taihiap melihat kelakuanmu saat ini, tentu beliau akan menangis sedih, Siapa mengira bahwa muridnya akan menjadi seorang macam engkau!” Kwan Bu berseru, terheran-heran mengapa kini Kwee Cin menjadi sejahat itu, baik perbuatannya maupun kata- katanya.

“Jangan dengarkan ocehan mereka.” Kata Lauw Tik Hiong yang kini tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda tampan ini memang benar murid keponakannya, murid dari Bu Keng Liong.

“Jadi engkau murid Bu-sute? Engkau bertemu dengan puteri Bu-sute? Syukur kalau dia selamat, terlepas dari kekejian murid Pat-jiu Lo-kai, Apakah yang dipesankan oleh sumoimu itu?”

“Maaf, supek Teecu tidak berani membantah janji supek yang sudah supek keluarkan untuk tidak membunuh….. perempuan galak seperti kucing ini sehingga teecupun tidak akan membunuhnya, dan tidak membunuh si jahanam Kwan Bu yang akan dijadikan tawanan. Akan tetapi, mengingat akan dendam sumoi dan suhu, teecu harus memberi hukuman kepada mereka, harap supek mengingat akan dendam sumoi dan kematian suhu, sudi mengabulkan permintaan teecu ini,”

“Hemm, apa yang hendak kau lakukan?”

“Sumoi Su Siang Hwi hampir saja diperkosa oleh Phoa Siok Lun, kakak perempuan galak ini, dan suhu tewas gara-gara Kwan Bu, Maka teecu mohon perkenankan supek untuk sekadar menghukum perempuan ini dan Kwan Bu,” Lauw Tik Hiong tersenyum dan mengangguk-angguk,

“Asal tidak kau bunuh mereka, berarti aku tidak melanggar janji, Hukuman apa yang hendak engkau lakukan?” Kwee Cin berkata dengan suara dingin,

“Kwan Bu seorang muda yang tidak mengenal budi, akan kubuntungkan sebelah telinganya dan akan kuberikan kepada sumoi agar puas hatinya, adapun perempuan ini... hemmm... tunggu dulu..? Kwee Cin menghampiri Giok Lan dengan pedang di tangan, Giok Lan memandang penuh kemarahan dan kebencian, lalu meludah ke arah muka pemuda itu, Karena jarak mereka dekat dan perbuatan itu sama sekali tidak disangka-sangka, Kwee Cin terkena ludah pada pipi dan bibirnya. Semua terkejut dan marah, akan tetapi Kwee Cin tersenyum mengejek, bahkan tidak mengusap ludah itu, ia seperti orang menimbang-nimbang, hukuman apa yang hendak ia jatuhkan, Sikapnya ini menambah kengerian di hati Kwan Bu dan Giok Lan,

“Mukanya cantik, kalau digores dengan pedang melintang tentu akan buruk..?” Kwee Cin berkata perlahan dan berkata dengan suara dingin, mendatangkan kengerian bahkan di hati para murid Bu- tong-pai sekalipun, Agaknya pemuda ini sudah seperti gila oleh dendam,

“Pedangku pemberian suhu, pedang ini terlalu bersih untuk dikotori darahnya. Siapakah yang sudi memberi pinjam pedang kepada teecu?” Lauw Tik Hiong tertawa memberikan pedangnya,

“Nih, pergunakan pedangku dan cepatlah. Pagi sudah hampir tiba dan kita harus cepat-cepat pergi dari sini.”

“Terima kasih!” Kwee Cin menerima pedang itu dan diterimanya dengan tangan kiri, Kini ia memegang dua batang pedang. menghampiri Giok Lan lagi dan dengan ujung pedang kiri ia membelai pipi itu. Terasa dingin oleh gadis itu yang menjadi pucat sekali.

“Bu-koko... biarlah kita mati bersama..!” gadis itu terisak dan melangkah mendekati Kwan Bu. diikuti oleh Kwee Cin yang masih menyeringai penuh kekejaman. Pedangnya bergerak dan tali pengikat rabut itu terlepas. kain penutup rambbut yang dijadikan penyamarannya dalam pakaian pria itu terbang sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai.

“Aku murid Bu Keng Liong. Bukan seorang pria suka menghina wanita. Biarlah kuambil saja rambutmu, hendak kulihat apakah tanpa rambut engkau masih mau main gagah-gagahan dan gaIak- galakan!” kata Kwee Cin dan Giok Lan menjadi makin pucat.

“Kwee Cin, kau manusia iblis! Bunuh saja kami. kami tidak takut!” bentak Kwan Bu. Kwee Cin menggerakan sepasang pedangnya dengan gerakan yang indah, lalu berkata kepada Lauw Tik Hiong.

“Tentu supek mengenal jurus ini!” Ia menggerakkan dua pedang itu sehingga tampak dua gulungan sinar yang saling melingkar.

“Ha-ha, tidak percuma kau menjadi murid Bu-sute... jurusmu Siang-Heng-jip-hai (Sepasang Naga Masuk Lautan) itu Cukup indah. akan tetapi apa maksudmu?”

“Teeeu akan menggunakan jurus ini untuk sekaligus menggunduli rambut perempuan kucing ini dan membuntungi telinga Kwan Bu. Biar mereka mengenal kelihaian ilmu pedang Bu-tong-pai!” Semua orang memandang dengan hati tegang dan ngeri melihat sikap Kwee Cin. yang benar-benar seperti orang gila itu. Kwan Bu merasa lega bahwa ibunya masih rebah pingsan karena dia tidak ingin ibunya menyaksikan dia dan Giok Lan disiksa.

Akan tetapi ia mencatat nama Kwee Cin sebagai seorang pertama yang kelak akan dia pecahkan kepalanya dengan kedua tangannya sendiri! Sambil terkekeh mengejek. Kwee Cin sudah bersilat dan dengan tangkas meloncat ke belakang Kwan Bu dan Giok Lan yang sedang berdiri berdempetan karena gadis itu merapatkan tubuhnya yang setengah telanjang itu kepada Kwan Bu sambil meramkan matanya, ingin mati bersama pemuda ini. Kwee Cin mengangkat kedua pedangnya. pedang kiri milik Lauw Tik Hiong itu di atas kepala Giok Lan dan yang rambutnya terurai, pedangnya sendiri di atas kepala Kwan Bu, kemudian ia mengeluarkan suara pekik nyaring dan kedua pedang itu menyambar turun. Kwan Bu menggigit bibirnya untuk menahan rasa nyeri apabila pedang itu membuntungkan daun telinganya. “Cring-cring...!!” Pedang itu adalah pedang pusaka dan sekali babat saja putuslah belenggu tangan Kwan Bu, dan pedang kirinya bukan membabat rambut Giok Lan, melainkan membabat putus belenggu tangan gadis itu! Semua orang terbelalak kaget dan heran. Kesempatan ini digunakan Kwee Cin untuk berbisik,

“Kwan Bu. ibumu... cepat! Nona, ini pedang untukmu…!” Ia menyerahkan pedang milik Lauw Tik Hiong kepada Giok Lan yang mula-mula terbelalak akan tetapi segera nona ini dengan isak tertahan menyambut pedang itu.

“Kwee Cin, murid durhaka, manusia terkutuk!” Lauw Tik Hiong dan saudara-saudaranya menerjang maju, akan tetapi Kwee Cin dan Giok Lan sudah memutar pedang mereka melindungi diri. Kwan Bu berkelebat ke depan, empat orang yang menghalanginya roboh terpelanting dan bagaikan seekor burung garuda menyambar tubuh ibunya, dipondong dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya setiap ia dorongkan tentu merobohkan seorang pengeroyok.

“Cepat, ikut aku! Kereta telah kusiapkan!” kembali Kwee Cin berseru keras. Pemuda ini maklum bahwa kalau Kwan Bu rnengamuk terus murid-murid Bu-tong-pai tentu akan tewas semua dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki. Giok Lan dan Kwan Bu khu sudah menumpahkan seluruh kepercayaannya kepada pemuda yang luar biasa itu. mereka meloncat mengikuti Kwee Cin sambil merobohkan orang-orang yang menghalang di jalan, keduanya sudah berada dijalan samping rumah penginapan itu, bahkan kuda tunggangan Kwan Bu pun sudah siap. Kiranya Kwee Cin tadi mempersiapkan semua itu sebelum ia muncul dan menolong Kwan Bu dan Giok Lan.

“Kwee Cin, kau jalankan kereta. Giok Lan, kau menjaga kereta, aku akan mengawal!” kini Kwan Bu yang sudah menemukan kembali ketenangannya memberi perintah yang segera diturut oleh dua temannya. Nyonya Bhe direbahkan di dalam kereta, dijaga oleh Giok Lan. Kwee Cin melompat ke tempat kusir dan membalapkan kuda-kuda penarik kereta, sedangkan Kwan Bu naik kudanya mengawal di belakang. Mula-mula memang ada murid-murid Bu-tong-pai dikepalai Lauw Tik Hiong melakukan pengejaran, akan tetapi setelah dengan amat mudahnya, dengan tendangan kaki dan Dorongan tangan Kwan Bu merobohkan orang-orang terdepan tanpa membunuh mereka, murid- murid Bu-tong-pai tidak berani melanjutkan pengejaran mereka.

Matahari telah naik tinggi ketika kereta yang membalap dan melarikan diri itu telah jauh meninggalkan kota itu. Mereka tiba di jalanan yang sunyi di antara pegunungan, dan pada sebuah perempatan jalan, tiba-tiba Kwee Cin menghentikan kereta itu. Lalu meloncat turun dari atas kereta. Kwan Bu juga meloncat turun dari kudanya. sedangkan Giok Lan yang sudah lega hatinya karena ibu Kwan Bu sudah siuman dan kini duduk tertidur, juga meloncat keluar. Mereka bertiga berdiri berhadapan dan sesaat lamanya mereka hanya beradu pandang, Giok Lan memegangi jubah luar milik Kwee Cin yang tadi oleh pemuda itu dilemparkan kepada Giok Lan di atas kereta tanpa mengucapkan sepatah kata. Giok Lan juga tidak bicara apa-apa hanya cepat menyelimutkan jubah itu untuk menutupi pakaiannya yang robek. Kini karena meloncat turun, jubah terbuka maka cepat- cepat ia menutupkannya dan memeganginya dengan tangan kiri, matanya memandang kepada Kwee Cin. Malam tadi karena keadaan agak gelap, tidak dapat ia melihat jelas wajah pemuda itu, juga di dalam kereta ia tidak dapat melihat Kwee Cin yang duduk di depan. Setelah kini ia memandang wajah itu, ia harus mengakui bahwa Kwee Cin adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah bermuka putih dan sikapnya amat halus.

“Kwan Bu, maafkan aku yang tadinya gelap mata oleh kematian suhu dan kesengsaraan sumoi. aku sadar, apalagi setelah mendengar percakapanmu dengan para tokoh Bu-tong-pai, bahwa sesungguhnya engkau tidak bersalah dalam peristiwa di Hek-kwi-san itu.” Kwan Bu menjadi terharu, melangkah maju dan memegang pundak Kwee Cin. “Bukan engkau yang harus minta maaf, bahkan akulah, Kwee Cin! Akupun tadi salah sangka terhadapmu, mengira engkau memancingku dan sengaja membawa orang-orang Bu-tong-pai untuk mencelakakan kami. Sungguh sama benar peristiwa tadi dengan yang terjadi di Hek-kwi-san. Engkau muncul tadi bersamaan dengan orang-orang Bu-tong-pai sehingga seolah-olah engkaulah yang membawa mereka datang. Demikian pula di Hek-kwi-san dahulu. Aku datang dengan urusan pribadi, siapa tahu secara kebetulan dan dalam waktu yang sama pula muncul pasukan pengawal sehingga seolah-olah aku yang membawa pasukan pengawal itu! aku tidak menyalahkan engkau yang tentu menduga sama pula. Tidak, aku sudah mengenalmu, karena itu aku tidak suka bermusuh denganmu. tidak mau melawanmu. aku bahkan bersyukur dan berterima kasih sekali kepadamu, Kwee Cin. Kalau tidak ada engkau, ihhh. ngeri aku membayangkan! Budimu sungguh besar sekali!” Kwan Bu

bergidik dan memandang kepada Giok Lan.

“Ah, kau hanya bertindak sesuai dengan kewajibanku seperti yang diajarkan suhu. Kalian tidak bersalah dan menghadapi penghinaan, bagaimana aku bisa mendiamkan saja? Tak perlu berterima kasih dan agaknya lebih baik di sini kita berpisah.”

“Engkau telah berlaku baik sekali terhadap kami Kwee engHiong. Mengapa? Mengapa kau mengorbankan dirimu menolong kami?” tiba-tiba Giok Lan bertanya sambil memandang dengan sinar mata penuh selidik. Kwee Cin tersenyum.

“Ah, mengorbankan apa? Hanya biasa saja     ”

“Engkau tidak bisa berpura-pura kepadaku, Kwee engHiong. aku tahu bahwa perbuatanmu menolong kami tadi merupakan sebuah perbuatan murtad dan khianat dari seorang murid Bu-tong- pai terhadap supeknya, terhadap perguruannyal”

“Benar sekali ucapan Lan-moi, Kwee Cin. Engkau telah melakukan hal yang berbahaya sekali karena kau tentu akan dimusuhi oleh perguruanmu sendiri, dimusuhi oleh Bu-tong-pai, dianggap murtad dan berkhianat. Ah, betapa besar pengorbanan yang kau lakukan untuk kami, Kwee Cin. ”

“Biarlah, akan kupertanggungjawabkan semua perbuatanku sendiri. Melihat engkau ditawan. masih tidak mengkhawatirkan, akan tetapi melihat betapa mereka menghina nona Phoa...... hemm, biar guruku sendiri akan kulawan! Sudahlah, selamat tinggal..!” Setelah berkata demikian, dengan muka merah Kwee Cin membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.

“Kwee engHiong...., tunggu dulu!” Suara Giok Lan ini membuat Kwee Cin tiba-tiba berhenti dan menengok.

“Jubahmu ini...!” Giok Lan membuat gerakan hendak membuka jubah sehingga cepat-cepat Kwee Cin berkata,

“Biarlah! Engkau memerlukannya, Nona”

“Tapi          bagaimana aku akan mengembalikannya?”

“Tak usah dikembalikan.”

“Mana mungkin? lni jubahmu, biar kupinjam.   !” “Baiklah. Kau pinjam dan kelak kalau kita ada jodoh bertemu kembali, boleh kau kembalikan kepadaku.” Kwee Cin membalikkan tubuh lagi hendak pergi.

“Kwee engHiong     !” Kembali suara ini membuat ia menengok.

“Maafkan aku  telah memaki-makimu  tadi, menyebutmu pengecut, laknat dan... dan.      seperti

kecoa......!” Wajah gadis itu menjadi merah sekali. Kwee Cin tersenyum dan pandang matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri.

“Sudah sepantasnya, nona. karena akupun memakimu seperti...... seperti kucing galak! Jadi......

sama-sama maaf!”

“Akan tetapi aku... aku telah meludahi mukamu...... ah, betapa besar kesalahanku kepadamu..?” Senyum di wajah pemuda itu melebar. Ia meraba pipi dan bibirnya yang tadi diludahi dan yang sekarang tentu saja sudah tidak ada bekasnya lagi.

“Tidak mengapa nona dan... dan ludahmu. tidak kotor. Selamat tinggal!” Pemuda itu lalu lari cepat

meninggalkan dua orang muda yang memandang sampai bayangannya lenyap di sebuah tikungan.

“Semenjak dia kecil, dia seorang jantan yang sangat baik...! Patut dia menjadi murid Bu Taihiap seorang pemuda pilihan!” kata Kwan Bu perlahan.

“Dia hebat !” Giok Lan menghela napas panjang.

“Dan dia jatuh cinta kepadamu, Lan-moi     !” Kembali Giok Lan menghela napas lalu berkata lirih.

“Dia hebat, akan tetapi engkau lebih hebat, koko dan tentang cinta..?”

“Sudahlah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan agar cepat sampai di rumahmu. Sebelum sampai di sana aku akan selalu merasa tidak tenteram. Siapa tahu mereka itu masih tidak terima dan melakukan pengejaran.” Kwan Bu cepat memotong ucapan gadis itu karena tidak ingin ia bicara tentang cinta di saat itu.

Giok Lan kini mengusiri kereta dan Kwan Bu mengawal di atas kudanya. Hatinya penuh rasa syukur, tidak saja bahwa mereka telah terbebas daripada bencana hebat, akan tetapi terutama sekali bahwa kepercayaannya terhadap Kwee Cin ternyata tidak meleset, membuat ia makin suka dan kagum kepada murid bekas majikannya itu. Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di kota Kam-sin-hu. Dengan wajah gembira Giok Lan langsung mengemudikan kereta sampai ke depan sebuah gedung besar yang berpekarangan lebar sekali Kwan Bu memandang dengan kagum dan juga menjadi sungkan. Tak disangkanya bahwa rumah Giok Lan demikian besar dan mewah, keluarga gadis ini demikian kaya raya! Begitu kereta memasuki halaman, lima orang pelayan menyambut dengan penuh kegembiraan.

“Siocia pulang...... Siocia pulang !” kata mereka sambil memberi hormat dan cepat membantu nona

itu, ada yang memegang kendali kuda, ada yang membantu Nyonya Bhe turun dari kereta. Pada saat itu, dari dalam muncul seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang tertawa-tawa gembira.

“Koko, engkau sudah pulang?” Giok Lan berseru girang. “Suheng dan suci...!” Kwan Bu juga berseru dan memberi hormat, namun ada tidak enak dalam hatinya ketika ia melihat suhengnya. Teringat ia akan ucapan Kwee Cin tentang suhengnya itu yang mengatakan bahwa Siok Lun telah menangkap lagi Siang Hwi dan hampir memperkosanya sehingga Liu Kong menolong gadis itu dan Liu Kong akhirnya tewas di tangan suhengnya ini. Tewasnya Liu Kong di tangan suhengnya tidak dia perdulikan karena ia tahu bahwa Liu Kong bukan seorang manusia baik-baik, akan tetapi mendengar bahwa suhengnya akan memperkosa Siang Hwi, benar- benar menyakitkan hatinya. Ia akan mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu kepada suheng nya.

“Bagus, engkau sudah datang bersama ibumu, sute?” kata Siok Lun dan pemuda inipun bersama Liem Bi Hwa lalu memberi hormat kepada Nyonya Bhe yang dibalas oleh ibu Kwan Bu dengan ramah.

“Ayah sedang keluar kota, sibuk mengirim undangan…..” kata Siok Lun kepada Giok Lan.

“Undangan? Undangan untuk apa?” Tanya Giok Lan. Siok Lun tersenyum memandang dengan lirikan ke arah sumoinya.

“Untuk pesta pernikahan kami   ”

“Ahh, koko….. aku girang sekali!” Giok Lan merangkul Bi Hwa yang menjadi merah mukanya. Mendengar ini, Kwan Bu melangkah maju dan menjura,

“Suheng dan suci, terimalah ucapan selamat dariku!”

“Terima kasih, sute,” jawab Siok Lun dan ketika Kwan Bu memandang kepada sucinya yang berangkulan dengan Giok Lan, ia melihat sesuatu yang aneh, seolah-olah ia melihat sinar mata yang suram muram dari sepasang mata sucinya itu. akan tetapi tentu saja Kwan Bu tidak berkata apa-apa dan mengira bahwa dia salah lihat.

“Bibi, silakan mengaso di dalam. Ayah sedang keluar kota, mari kutunjukkan kamar bibi!” kata Giok Lan sambil membimbing tangan ibu Kwan Bu, diajak masuk ke dalam, duduk di ruangan depan bersama Siok Lun dan Bi Hwa.

“Sute, aku dan sucimu telah diterima oleh kaisar sendiri dan diberi kedudukan lumayan. Setelah selesai pernikahan kami di sini, kami akan kembali ke kota raja melakukan tugas kami. kuharap sute dapat ikut dan mencari kedudukan di sana. Dan... kulihat...... eh, tidak betulkah kataku dahulu bahwa engkau akan tertarik kalau melihat adikku? Siapa kira, malah telah berkenalan dan mejadi sahabat baik, ha-ha-ha! mudah-mudahan saja kelak cepat menyebutmu adik ipar!” Siok Lun tertawa bergelak dan Kwan Bu yang merasa hatinya tidak senang itu terpaksa ikut tersenyum. Bi Hwa sendiri kelihatannya pendiam dan tidak banyak bicara, bahkan beberapa kali Kwan Bu mempergoki sucinya itu sedang memandang jauh ke depan seperti orang melamun. Diam-diam ia merasa heran sekali. Mengapa sucinya yang menghadapi pernikahan dengan suhengnya itu kelihatan tidak gembira?

Iapun ingin bertanya kepada suheng dan sucinya apakah untuk pernikahan itu mereka tidak minta perkenan atau doa restu lebih dahulu dari guru mereka? akan tetapi karena urusan pribadi, ia merasa tidak enak kalau mengajukan pertanyaan di saat itu. Tak lama kemudian Giok Lan muncul keluar dan kini gadis ini telah bertukar pakaian sehingga makin jelas tampak kecantikannya yang mempesonakan. Akan tetapi hati Kwan Bu tetap tidak enak dan tidak senang, sungguhpun harus ia akui bahwa Giok Lan adalah gadis yang cantik sekali, cantik manis dan sepanjang pengetahuannya, memliki watak yang amat baik. Kalau dipertimbangkan, dialah yang akan untung besar kalau sampai menjadi suami Giok Lan, akan tetapi entah bagaimana, kalau teringat kepada Siang Hwi, kegembiraannya lenyap. Setelah melempar senyum manis kepada Kwan Bu gadis itu duduk, ia menghela napas panjang dan berkata.

“Bibi merasa senang di sini, terutama sekali ia merasa amat senang di dalam taman begitu melihat taman bibi lalu beristirahat di sana, senang sekali bibi melihat bunga bwee yang sedang mekar sambil minum teh.” Gadis itu tersenyum dan kelihatannya puas sekali bahwa ibu Kwan Bu kelihatan senang dan betah berada di rumah itu. Pada saat itu tiba-tiba terdengar seruan orang dari luar,

“Bagus sekali, semua anjing jantan betina berkumpul d sini!” Dan berkelebat bayangan orang. Ketika mereka memandang, ternyata di luar ruangan dalam itu, di atas pekarangan depan telah berdiri seorang gadis cantik yang pakaiannya kusut, rambutnya tak tersisir rapi, wajahnya membayangkan kemurkaan dan kedukaan, tangannya memegang pedang telanjang dan sinar matanya dengan penuh kebencian dan marah yang meluap-luap ditujukan kepada empat orang muda yang sedang duduk di ruangan itu. Betapa kaget hati Kwan Bu ketika mengenali gadis itu yang bukan lain adalah Siang Hwi! Wajah gadis itu agak pucat dan sinar matanya yang berapi-api itu selain memancarkan cahaya kemerahan dan kebencian, juga terselimut bayangan duka yang amat dalam.

“Siang Hwi     !” Tak terasa pula Kwan Bu berkata lirih, hanya seperti orang berbisik. akan tetapi Giok

Lan yang memperhatikannya seolah-olah mendengar jeritan keluar bersamaan dengan bisikan itu. akan tetapi Bu Siang Hwi, gadis itu, sama sekali tidak memperdulikannya. bahkan seolah-olah tidak melihatnya karena sinar mata gadis itu memandang ke arah Siok Lun dan Bi Hwa, kemudian ia menudingkan pedangnya ke arah dua orang itu dan membentak.

“Sepasang anjing hina! aku Bu Siang Hwi datang untuk membalas kematian ayahku! Turunlah dan bereskan perhitungan diantara kita!”

“Nona Bu.... jangan….!!” Kwan Bu berseru dengan hati penuh kegelisahan karena dia maklum bahwa gadis ini bukanlah tandingan suheng dan sucinya, apalagi kalau harus menghadapi keduanya. “Jangan begitu, nona. ayahmu meninggal dalam perang tidak ada permusuhan pribadi dengan suheng dan suci..?”

“Siapa butuh keteranganmu? Kalau engkau membela suci dan suhengmu, kau pun boleh maju. Aku bu Siang Hwi bukanlah seorang pengecut, bukan penakut yang mudah saja tunduk kepada orang- orang lain karena takut! aku tidak takut mati! Hayo, kalian bertiga murid-murid Pat-jiu Lo-kai boleh maju semua mengeroyokku dan membuktikan nama besar Pat-jiu Lo-kai hanya nama yang kosong belaka, memiliki murid-murid yang jahat dan keji!”

“Eh-eh, engkau ini nona galak amat, datang-datang memaki orang. apa sih yang kau andalkan?” Bentak Giok Lan dengan marah sambil menudingkan telunjuknya.

“Hemm, engkau perempuan tak tahu malu! Engkaupun boleh membela kekasihmu dan mengeroyokku, siapa takut menghadapi manusia-manusia rendah seperti anjing macam kalian ini?” Siang Hwi membentak makin marah lagi, pedangya dikelebatkan di depan muka. Hati Kwan Bu seperti ditusuk rasanya.

Melihat nona ini, bekas nona majikannya itu yang dahulu selalu bersih dan rapi kini rambutnya kusut pakaiannya tidak rapi dan wajahnya suram muram membayangkan kedukaan hebat, ia menjadi kasihan dan juga khawatir karena gadis ini datang menantang orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya. Kwan Bu melihat sinar mata suhengnya berseri dan mengeluarkan kilatan aneh ketika sinar mata itu menjelajahi seluruh tubuh Siang Hwi, sinar mata yang seolah-olah menggerayangi tubuh itu, Siok Lun sama sekali tidak keliahatan marah, malah tersenyum-senyum. Juga Bi Hwa tidak kelihatan marah, hanya memandang tak acuh dengan sinar mata dingin. Hanya Giok Lan yang merah mukanya saking marah.

“Bedebah kalian! Majulah atau akan kuserbu rumah ini!” Bentak lagi Siang Hwi yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya. Melihat Kwan Bu di situ, hatinya menjadi makin marah dan makin nekat, kalau tidak dapat membalas kematian ayahnya ia ingin mati saja di tangan musuh-musuh besarnya di saat itu juga! Seorang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, berusia lima puluh tahun, melangkah lebar dari luar dan segera bertanya. suaranya nyaring dan besar.

“Ah, ada apakah ribut-ribut ini?” Semua mata memandang dan Kwan Bu melihat betapa kakek itu berwajah gagah dan tampan, memandang kepadanya dan kepada Siang Hwi yang tak dikenalnya.

“Ayah, bocah setan ini datang untuk membikin ribut. Dia ini anak seorang pemberontak!” kata Giok Lan.

“Harap ayah masuk saja karena urusan ini tidak menyangkut ayah. Biarlah aku bereskan gadis galak ini. ibu sute telah datang dan dia ini suteku. Harap ayah menemani ibu sute dan sebentar lagi kami akan dapat membereskan urusan dengan bocah galak ini!” kata Siok Lun. Kakek itu memandang kepada Kwan Bu, mengangguk-angguk kemudian dengan melangkah masuk ke dalam sambil mengomel,

“Kalau dia datang mengacau, lempar saja keluar!” Kwan Bu tidak mendapat kesempatan untuk memberi hormat. Melihat kakek itu, ia merasa kagum dan suka karena pribadinya membayangkan kegagahan, akan tetapi mendengar ucapannya ketika hendak memasuki rumah, timbul rasa tidak sukanya. Namun, ia tidak memperdulikannya lagi karena saat ini seluruh perhatiannya tertarik kepada Siang Hwi.

“Nona Bu, harap nona suka berpikir secara mendalam. Sesungguhnya diantara mendiang ayahmu dan suheng serta suciku tidak terdapat permusuhan apa-apa. ayahmu tewas dalam perang, tidak ada yang harus disesalkan. Memang benar terbunuh oleh suheng dan suci, akan tetapi dalam perundingan yang menyebabkan perang. bukan urusan pribadi…”

“Tak usah banya mulut! Urusanku sendiri engkau tidak berhak mencampuri! Pendeknya, saat ini aku harus membunuh atau terbunuh dan sepasang anjing ini adalah musuh-musuh besarku. Hayol aku tantang kalian dan kalau ada yang hendak membantu kalian, majulah tak perlu banyak cerewet lagi!”

“Ah, kau galak dan jahat seperti setan!” Giok Lan sudah membentak dan menerjang maju pedangnya. Siang Hwi menangkis dengan kuat.

“Trangggg. !!” Dua buah pedang bertemu dengan kekuatan seimbang dan keduanya terhuyung ke

belakang.

“Wah, engkau kuda betina yang liar dan menggairahkan hati!” Tiba-tiba Siok Lun meloncat maju dan ucapannya ini memancing sebuah jerit tertahan dari mulut Bi Hwa yang tidak lepas dari perhatian Kwan Bu. Pemuda ini sudah siap-siap untuk melindungi Siang Hwi, akan tetapi dia merasa sungkan sehingga sejenak ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Adapun Siang Hwi ketika melihat berkelebatnya tubuh pemuda yang selain telah membunuh ayahnya juga yang hampir saja memperkosanya, dan yang membunuh Liu Kong, cepat menggerakkan pedangnya menusuk. Namun sambil terkekeh Siok Lun mengelak ke samping dan tangannya mencengkeram dari samping dengan cepat sekali. Siang Hwi mengelak dan mengelebatkan pedangnya, akan tetapi tangan yang cepat itu telah ditarik kembali dan tahu-tahu telah mengelus dagunya yang halus.

“Kau.   !!” Bi Hwa merintih perlahan dan memejamkan mata, hatinya seperti ditusuk.

“Bangsat terkutuk!” Siang Hwi menjadi marah sekali dan pedangnya mengamuk laksana seekor naga bermain di angkasa. Namun tingkat ilmu kepandaian Siok Lun jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sehingga dengan mudah pemuda ini menghindarkan diri dari setiap bacokan maupun tusukan, dan agaknya memang Siok Lun hendak mempermainkan gadis ini karena tangannya selalu mencolek dan meraba. Beberapa kali hampir saja dada gadis itu dapat dicengkeramnya sehingga disamping kemarahannya. Siang Hwi menjadi malu dan merasa terhina. Ingin ia menangis dan menggorok lehernya sendiri, akan tetapi kalau teringat akan sakit hatinya, ia membulatkan tekad untuk menyerang sampai mati.

“Nona manis, kau cantik dan galak, jangan main-main dengan pedang!” kata Siok Lun yang karena tergila-gila kepada Siang Hwi, sampai lupa diri dan lupa bahwa semua tingkah lakunya dan ucapannya dilihat dan didengar oleh Bi Hwa, Siang Hwi menusuk dadanya, Siok Lun sengaja memperlambat elakkannya sehingga pedang itu seolah-olah menancap di tubuhnya, akan tetapi sesungguhnya ia mengempit pedang itu di bawah ketiaknya dan sebelum Siang Hwi sadar, pergelangan tangannya yang memegang pedang telah tertangkap.

“Ha-ha, nona manis, kau hendak berbuat apa sekarang!” Cengkeraman pada pergelangan tangan itu amat kuat sehingga pedang itu terlepas dan tangan Siok Lun diulur ke arah dada.

“Suheng jangan.     !!” Kwan Bu membentak marah. Siok Lun menarik tangannya dan menengok.

“Sute.” katanya tersenyum. “Apakah engkau hendak membela nona pemberontak ini?” Pada saat itu terdengar jerit melengking dari sebelah dalam rumah. Kwan Bu terkejut dan merasa bulu tengkuknya berdiri karena ia mengenal jeritan itu seperti suara ibunya.

“lbu     !!” Teriaknya dan tubuhnya mencelat ke dalam. Juga yang lain-lain terkejut. Siok Lun sendiri

melepaskan Siang Hwi dan hampir berbareng dengan Bi Hwa iapun lari ke dalam, diikuti Giok Lan. Siang Hwi yang ditinggal sendiri, sejenak termenung, wajahnya masih pucat sekali dan diapun lalu menyambar pedangnya dan mengejar masuk. Dia harus membunuh musuh-musuhnya atau terbunuh di situ juga. Kwan Bu mempergunakan ginkangnya secepat mungkin, bagaikan terbang telah tiba di taman bunga. Sejenak ia ternganga karena keheranan ketika melihat ibunya menangis terisak-isak berhadapan dengan kakek gagah yang tadi masuk, yaitu ayah dari Siok Lun dan Giok Lan. Kakek itu terbelalak memandang ibunya, dan kini terdengar ibunya berkata dengan suara gemetar dan terputus-putus, telunjuknya menuding ke arah muka kakek itu.

“Kau...! Kau... kepala rampok itu... kau... manusia terkutuk... kiranya engkau pemilik rumah ini !!”

Mendengar ini, Kwan Bu merasa seolah-olah kepalanya disambar halilintar. Musuh besar yang selama ini dicari-carinya dengan susah payah dan belum juga berhasil ditemukannya, kiranya adalah ayah dari suhengnya! Ayah dari Giok Lan. Seketika amarah dan kebenciannya bangkit, tangan kirinya merogoh saku dan ia meloncat maju sambil membentak,

“Keparat jahanam! Terimalah pembalasanku!” Tangannya terayun dan terdengar suara bersiut nyaring. Kakek yang bernama Phoa Heng Gu, bekas kepala rampok yang dahulu bersama anak buahnya merampok Kwi-cun dan memperkosa Bhe Ciok Kim secara keji, terkejut dan menoleh. Ia hanya melihat sinar hitam menyambar. Dicobanya untuk mengelak namun terlambat karena sambitan jarum dari tangan Kwan Bu itu hebat bukan main. Pemuda ini yang diracuni dendam, bertahun-tahun melatih diri dengan jarum itu, jarum yang membutakan mata ibunya, jarum milik kepala rampok yang kini ia kirim kembali kepada pemiliknya. Tanpa dapat dicegah lagi jarum itu menyambar dan menancap memasuki mata kiri Phoa Heng Su. Kakek ini menjerit mengerikan. Tangannya mendekap mata, tangan kanannya mencabut goloknya yang besar, lalu ia menubruk ke arah Kwan Bu. Namun pemuda ini telah siap, mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang tepat mengenai lutut Phoa Heng Gu sehingga kakek ini terpelanting roboh dan goloknya terlepas dari tangannya. Dengan kemarahan meluap Kwan Bu menghampiri kakek itu, menyambar goloknya dan mengangkat golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala si kakek yang ternyata adalah musuh besarnya.

“Kwan Bu......... jangan.........!!” Ciok Kim menjerit sehingga Kwan Bu terkejut, lalu menghampiri ibunya dan berlutut karena melihat ibunya tiba-tiba roboh lemas. Pada saat itu, Siok Lun dan Bi Hwa serta Giok Lan telah tiba di tempat itu. Melihat ayah mereka roboh dan berkelojotan dengan muka berlumuran darah, Siok Lun dan Giok Lan menubruk dengan hati terkejut sekali.

“Ayah…!!” Teriak mereka. Siok Lun lalu mengangkat kepala ayahnya dan melihat mata kiri ayahnya berlumur darah, ia makin kaget. apalagi ketika melihat gagang sebatang jarum sedikit menyembul keluar dari rongga mata, jarum milik ayahnya sendiri

“Ayah, apa yang terjadi...? Siapa yang melakukan ini?” bentaknya dengan suara saking marahnya. adapun Giok Lan hanya menangis dan merintih.

“Ayah… Ayah...!” akan tetapi kakek yang berkelojotan menahan menahan nyeri itu mengangkat tangan ke atas seolah-olah melarang puteranya melakukan sesuatu. dan pada saat itu terdengar suara Kwan Bu.

“Ibu, mengapa ibu menahanku...?”

“Kwan Bu, engkau tidak boleh...... dia...... dia...... kepala perampok jahanam itu...... dia itu adalah......

ayah kandungmu sendiri !” Nyonya itu tak dapat melanjutkan ucapannya karena sudah menangis

tersedu-sedu, menangis kemudian disusul suara ketawanya terkekeh-kekeh sambil menudingkan telunjuknya ke arah kakek yang sekarat itu.

“Heh-heh-heh...... anakmu sendiri yang membalas......! Ingatkah kau akan sumpahku dahulu. ? aku

akan membalasmu, dalam keadaan hidup ataupun mati ”

Kwan Bu seperti dipagut ular berbisa. Ia meloncat ke belakang menjauhi ibunya, memandang dengan mata terbelalak. kemudian perlahan-lahan ia menoleh ke arah kakek itu seperti orang kehilangan ingatannya. Kakek itu, ayah Giok Lan, musuh besarnya, perampok yang membunuh keluarga ibunya... dia itu ayahnya sendiri? Betapa mungkin ini...? adapun Siok Lun yang terkejut, bingung dan marah itu melihat betapa luka di mata ayahnya amat parah dan berbahaya. Jarum itu panjang dan telah menancap sampai hampir tak tampak. Hal ini amat berbahaya karena jarum itu tentu menembus ke otak!

“Ayah! apa artinya ini? Siapa yang melakukan ini? Kwan Bu kah? Biar kubunuh dia.........!!” akan tetapi kakek itu memegangi pundak Siok Lun, kemudian memaksa diri bangkit duduk, kemudian merangkul Siok Lun dan Giok Lan. mukanya penuh darah, keadaannya amat mengerikan, mata kanannya kini terbelalak dan menjendul keluar. Dia menggoyang-goyang kepalanya. “Jangan! Memang ini perbuatanku yang penuh dosa. Dengar baik-baik Siok Lun dan Giok Lan. kalian lihat wanita itu? Dia dahulu seorang gadis cantik jelita, puteri seorang kepala kampung dusun Kwi- cun, Dan aku, ayahmu ini yang sekarang menjadi Phoa wangwe..... ha-ha-ha! Phoa-wangwe... aku dahulu adalah seorang kepala rampok. Semenjak ibumu meninggal dunia karena sakit. Aku seperti gila, aku meninggalkan engkau. Siok Lun, puteraku satu-satunya kepada bibimu dan aku.     aku

merantau, aku merampok dusun Kwi-Cun, membakar habis, membasmi keluarga lurah, memperkosa wanita itu.   dan dengan jarum yang menancap di mataku ini aku membikin buta sebelah matanya!

Kemudian aku kawin lagi, mendapat seorang puteri, engkau Giok Lan.... akan tetapi ibumu mati. Dasar nasibku yang buruk. karena perbuatan-perbutanku yang penuh dosa, sekarang wanita yang kubunuh semua keluarganya, yang kuperkosa dan kubutakan matanya. datang ke sini membawa puteranya.... puteraku pula sebagai akibat dari perbuatanku memperkosanya     dan puteraku sendiri

ini yang membalas dendam kepadaku, mengembalikan jarumku pada mataku! Ha-ha-ha    memang

adil dan patut sekali.... eh, kau.    wanita yang keras hati, aku kagum sekali padamu. siapa namamu?”

Kwan Bu terbelalak memandang kakek yang tadi diserangnya. Kini ia baru tahu akan riwayatnya. Pantas dia dimaki anak haram! Dan pada kenyataanya memang dia adalah seorang anak haram! Ibunya melahirkannya tanpa ayah. Dia adalah hasil dari sebuah perbuatan maksiat yang paling keji. Pria yang menjadi ayahnya itu, ayah tak resmi, ayah yang telah memperkosa ibunya. Dan dia dididik oleh ibunya untuk membalas dendam, untuk membunuh musuh besar yang sesungguhnya adalah ayah sendiri! Ah, baru terbuka matanya kini. Baru ia mengerti mengapa dahulu Bu Taihiap tidak suka mengajar silat kepadanya. Kiranya pendekar besar yang bijaksana itu sudah tahu, dan tidak suka melihat dia membalas dendam kepada ayahnya sendiri, betapapun jahatnya ayah itu! Karena bengong terlongong, Kwan Bu kurang waspada bahkan membelakangi ibunya.