-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 08

Jilid 08

Dalam pertandingan mati-matian ini, akhirnya Siek Lun dan Bi Hwa, dibantu oleh pengawal- pengawal yang cukup tinggi ilmunya, berhasil merobohkan para pejuang secara berturut-turut! Bu Keng Lieng yang mainkan pedangnya secara nekad tidak dapat menahan kecepatan gerakan Liem Bi Hwa sehingga dialah yang mula-mula roboh oleh tusukan pedang Bi Hwa. Namun Bu Keng Lieng tidak tewas hanya oleh sebuah tusukan yang hampir menembus dadanya, Ia bangkit lagi menubruk, namun sambil tertawa Siok Lun mengelebatkan pedangnya di antara pengeroyokan para pejuang dan sekali ini pedangnya berhasil membababat leher Bu Keng Liong sehingga hampir putus! Bi Hwa tentu saja melindungi suhengnya dengan putaran pedangnya yang merupakan gulungan sinar berkilauan, mencegah para pengeroyok lain menolong Bu Keng Liong.

“Ayahhhh l`” Siang Hwi yang tadi meninggalkan Kwan Bu setelah melihat betapa para panglima

datang mengereyek pemuda itu dan sudah menggabung dengan ayahnya, menjerit dan menubruk ayahnya. Akan tetapi tiba-tiba ia ditotok dari belakang dan rebeh lemas dalam pelukan Liu Kong!

“Kau ...... ? Kau..,...... jahanam.,   !” Ia mengeluh dan pingsan dalam pelukan pemuda itu. Liu Kong

memondongnya dan membawanya pergi dari tempat pertandingan. Cinta kasihnya terhadap Siang Hwi membuat pemuda ini berkhawatir kalau-kalau Siang Hwi menjadi korban dalam pertempuran, maka ia lebih dulu menyingkirkan Siang Hwi dan menyerahkannya kepada para pengawal untuk membelenggu gadis itu dengan pesan bahwa siapapun juga tidak boleh mengganggunya dan harus memperlakukannya dengan baik dan dengan hati-hati agar jangan sampai lecet. Melihat robohnya Bu Keng Liong dan tertawannya Siang Hwi, melihat pula betapa barisan perampok sudah banyak yang mati dan lebih banyak yang melarikan diri,

Mulailah Ya Keng Cu dan kawan-kawannya ingat untuk melarikan diri. Namun, mereka kini sudah terkurung hebat dan tidak ada kesempatan lagi. Maka mereka menjadi nekad dan melakukan perlawanan mati-matian. Perlawanan yang sia-sia karena selalu berhadapan dengan sepasang orang muda yang amat lihai, juga para pengawal yang mengurung ikut pula membantu dan mengereyek. Akhirnya, Ya Keng Cu rebah mandi darah, disusul Ya Thian Cu yang terkena tendangan kaki Siok Lun dan disusul dengan bacokan pedang Bi Hwa. Tinggal Yo Ciat yang masih terus melakukan perlawanan pedang peraknya melengking-lengking dan entah berapa banyaknya pengawal yang sudah roboh ditangannya. kiranya orang tua tinggi kurus ini sudah tidak mempunyai harapan untuk lolos lagi, maka ia mengamuk sekuat tenaga.

Siok Lun dan Bi Hwa mengeroyoknya dan memang ilmu pedang kedua orang muda ini hanya sedikit selisihnya dengan ilmu pedang Kwan Bu, maka belasan jurus kemudian Yo Ciat terpaksa mengaku kalah dan rebah dengan dua buah lubang di dada dan lambungnya. Kakek ini memekik keras, mengayun pedang peraknya ke arah leher sendiri dan berbareng dengan muncratnya darah dari lehernya, kakek ini roboh dan tewas di saat itu juga! Siok Lun dan Bi Hwa meloncat pergi untuk mencari-cari lawan baru. Pertandingan masih berlangsung, akan tetapi perlawanan pihak musuh sudah amat lemah. Melihat adanya pertandingan hebat antara Gin-san-kwi dan Kim I Lohan yang dibantu beberapa pengawal mengeroyok dua orang, Siok Lun dan Bi Hwa terkejut dan cepat meloncat mendekati. Begitu melihat Kwan Bu dan -Giok Lam, Bi Hwa dan Siok Lun berseru keras, meloncat masuk dalam pertandingan menggerakkan pedang menangkis kedua pihak dan berseru nyaring,

“Berhentil Tahan senjata!” Kwan Bu yang tadinya sudah repot sekali menghadapi pengeriyokan para pengawal karena ia harus melindungi Giok Lam sehingga ia harus melawan terus dan tidak mungkin meloloskan diri, menjadi kaget, heran dan juga girang,

“Suheng, Suci! Bagaimana kalian bisa berada disini?”

“Koko...!” Siek Lam yang sesungguhnya bernama Phoa Giok Lam, menubruk dan merangkul kakaknya. Hal ini tentu saja membuat Kwan Bu melongo. Dia sudah tahu bahwa pemuda yang menjadi sahabatnya itu seorang gadis, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu adalah adik suhengnya. Siok Lun tertawa dan menepuk-nepuk punggug adiknya.

“Hemm, bocah nakal. Kau gentayangan di sini bersama sute mau apakah? Kenapa berkeliaran di tempat sorang perampok ini?” Sementara itu, dengan susah payah Bi Hwa menyebarkan hati para pengawal dan berkata,

“Mereka itu bukan orang lain. Pemuda itu adalah suteku dan gadis berpakaian pria itu adalah adik kandung suheng!” Gin-san-kwi Lu Mo Kok mengeluarkan suara mendengus penasaran, lalu melangkah maju dan menggerak-gerakkan kipasnya, berkata kepada Siok Lun dengan suara nyaring,

“Phoa Sicu! Orang yang bernama Bhe Kwan Bu ini adalah seorang pemberontak dan kawan perampok! Biarpun dia sutemu tetapi ”

“Bohong besar! Fitnah kosongll” Phoa Giok Lam yang penutup rambutnya tadi terlepas sehingga rambutnya yang panjang hitam itu kini terurai lepas, melangkah maju membantah ucapan Gin-san- kwi Lu Mo Kok, sepasang matanya bersinar marah.

“Koko, jangan percaya omongan kakek ini! Aku sendiri yang datang bersama Bu-twako ke sini, dan Bu-twako datang untuk membunuh kepala rampok Sin-to Hek-kwi. Lihat di sana itu, mayatnya masih belum dingin, Dan tadi sebelum kakek ini datangvmengeroyok, Bu-twako dan aku sedang dikeroyok kaum pemberontak dan perampok. Dan sekarang Bu-twako difitnah sebagai pemberontak dan kawan perampok. Alangkah menggelikan fitnah ini!” Siok Lun cepat maju menyela,

“Agaknya ada kesalah fahaman dalam urusan ini. Sute, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Kwan Bu yang sudah menyimpan pedangnya sehingga Siok Lun dan Bi Hwa dalam keributan itu tidak begitu memperhatikan pedang Toat-beng-kiam yang tadi ia gunakan, menyusut peluhnya dan berkata, matanya memandang dengan sinar suram ke arah tumpukan mayat divsebelah kiri di mana ia melihat Bu Keng Liong, Ya Keng Cu, Ya Thian Cu, Yo Ciat dan banyak anggauta pejuang yang telah tewas, lalu berkata.

“Aku bersama Lam-te..,..,eh.    ”

“Ha-ha, namanya adalah Phoa Giok Lan, sute,”

“Bersama Lan-moi datang ke tempat ini karena mencari Sin-to Hek-kwi, Suheng tentu masih ingat betapa aku mencari musuh besarku yang telah membasmi keluarga ibuku. Nah, setelah tiba di sini, ternyata para pejuang      eh, yang kalian katakan pemberontak itu, berada pula di sini dan mereka

melindungi Sin-to Hek-kwi. Terpaksa aku melawan dan tejadi pertandingan antara aku dan mereka. Kemudian muncul para ciangkun ini, datang datang mengeroyokku, Sesungguhnya, tidak pernah aku mempunyai hubungan apa-apa dengan para pemberontak itu.”

“Hemm .... sungguh mencurigakan dan aneh,” Gin-san-kwi mengelus jenggotnya, tubuhnya makin membongkok karena ia memutar otaknya dan mengangguk-angguk.

“Dahulu, Bhe Kwan Bu ini datang memusuhi kami dan berusaha membebaskan pemberontak Bu Keng Liong bersama puterinya dan kedatangannya bersama para pemberontak lain. Apa keteraganmu untuk peristiwa itu, erang she Bhe?”

“Tidak kusangkal hal itu. Akan tetapi, ketika itu aku datang seorang diri dan memang tujuanku hanya untuk membebaskan Bu Keng Liong dan puterinya, karena selain aku sudah berhutang budi kepada majikanku itu, juga aku tahu betul bahwa dia bukanlah seorang pemberentak. Hanya kebetulan saja munculnya para tosu dan pejuang lainnya pada malam hari itu, bukan sekali-kali aku yang membawa mereka datang.” Ia menghela napas panjang dan memandang ke arah mayat bekas majikannya,

“Sayang, agaknya sekarang dia telah bersekutu dengan para pemberontak, sehingga tewas dan aku tidak dapat melindunginya lagi. Dia seorang baik..”. kembali Kwan Bu menarik napas panjang penuh penyesalan.

“Omitohud!” Kim I Lohan, tokoh pelarian Siauw-lim-pai itu memukulkan tongkatnya ke atas tanah, “Sungguh persoalan yang berbelit-belit, akan tetapi mengingat bahwa Bhe Kwan Bu adalah sute dari Phoa-sicu, kami mau menerima keterangan-keterangan itu. Hanya satu hal yang membuat pinceng penasaran. Kalau memang kau tidak bersekutu dengan pemberontak, kenapa kau membunuh Sam- tho-eng Ma Ghiang, rekan kami dan seorang panglima pengawal kerajaan? Bhe Kwan Bu apa jawabanmu untuk ini?” Dengan sikap tenang dan suara mengandung nada dingin, Kwan Bu menjawab.

“Memang aku telah membunuh manusia iblis Ma Chiang, akan tetapi bukan karena aku seorang pemberontak dan karena dia seorang pengawal, melainkan karena dia seorang manusia iblis. Dia telah berusaha memperkosa nona Siang Hwi,.,...

“Heiiiiii ke mana dia? Mana Bu-siocia? Apakah dia...... dia kalian bunuh juga ?” Teringat akan Siang

Hwi, wajah Kwan Bu menjadi pucat sekali dan matanya jalang mencari-cari ke kanan kiri di antara tumpukan mayat-mayat yang berserakan di tempat itu, disinari cahaya obor yang dniyalakan para pengawal setelah semua perampok telah melarikan diri meninggalkan banyak sekali kawan mereka yang tewas. Tiba-tiba Liu Keng maju dan dengan muka berseri pemuda yang cerdik ini berkata.

“Saudara Kwan Bu, harap jangan khawatir. Adik Siang Hwi selamat dan sementara ini terpaksa ditahan karena dia berada diantara para pemberontak.” Melihat Liu Kong, Kwan Bu marah sekali. Ia menudingkan telunjuknya kepada Liu Kong dan membentak.

“Manusia berwatak rendah! Apapun alasannya, engkau telah membuktikan betapa rendah watakmu, melawan dan membunuh paman dan guru sendiri, sekarang malah menawan nona Siang Hwi yang masih adik misanmu sendiri. Sungguh tak tahu malu. Hayo bebaskan nena Siang Hwi atau...

kuhancurkan kepalamu sekarang juga!” Melihat kemarahan Kwan Bu, para panglima sudah memegang erat-erat senjata mereka, dan Siok Lun cepat maju memegang lengan sutenya sambil berkata halus. “Sute, simpan kemarahanmu. Engkau tidak boleh menyalahkan Liu-ciangkun. Dia hanya melanjutkan perjuangan ayahnya. yaitu membela kaisar sebagai hamba yang setia. Yang salah adalah keadaan, sehingga bekas majikanmu itu terseret dan bersekutu dengan para pemberontak dan perampok. Engkau harus dapat melihat kenyataan. Betapapun muluknya cita-cita para pemberontak yang menyebut diri sendiri pejuang, mereka itu telah bersekutu dengan segala macam para perampok dan penjahat. Bagaimana dapat dikatakan bahwa cita-cita mereka bersih dan murni? adalah lebih tepat apabila engkau mengikuti jejak aku dan Sucimu yaitu menggunakan tenaga dan kepandaian untuk pemerintah membasmi perampok sehingga penghidupan rakyat jelata menjadi aman tenteram.“ Kwan Bu menjadi bingung. Kenyataan Bu Keng Liong bergabung dengan pejuang- pejuang, kenyataan betapa pejuang itu bersekutu bahkan melindungi orang-orang macam Sin-to Hek-kwi, merupakan kenyataan pahit dan hatinya menyesal sekali.

“Aku tidak tahu... suheng, akan tetapi... aku menghendaki agar nona Siang Hwi dibebaskan...! kasihan dia, sudah kehilangan ayahnya... dan... dan kalau dia menjadi tawanan dan dihukum, hatiku tidak akan rela membiarkan.” Wajah Giok Lan yang tadinya pucat, kini menjadi merah. Ia mengikuti semua percakapan itu dan jantungnya seperti ditusuk mendengar betapa Kwan Bu membela Siang Hwi mati-matian. akan tetapi tentu saja dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya tangannya dikepal-kepal dan hatinya terasa perih.

“Baiklah, sute. aku yang menjamin bahwa nona itu akan dibebaskan, dan hanya ditahan semalam ini untuk diminta keterangannya tentang para pemberontak yang lain. Hanya kuminta, setelah kami memenuhi tuntutanmu agar nona itu dibebaskan, engkau juga mengimbangi dan berjanji akan membantu kami ingat, Kwan Bu. Bukankah suhu juga selalu berpesan agar kita membasmi orang- orang jahat dan menolong rakyat yang tertindas?”

“Tapi suhu tidak menyebut-nyebut tentang pertikaian antara mereka yang pro dan anti kaisar!” bantah Kwan Bu.

“Sute, kata Bi Hwa yang sejak tadi diam saja. kita bertindak membasmi perampok bukan karena pro kaisar, melainkan pro kebenaran! Tentang jasa kita dihargai hal itu hanya terserah kebijaksanaan istana. Andaikata engkau tidak menghendaki anugerah, juga tidak apa-apa.” Didesak begitu, Kwan Bu yang hatinya risau dan kecewa kepada para pejuang, menjadi makin bingung. Akhirnya ia berkata.

“Aku masih meninggalkan ibuku. Aku harus pergi kembali kepada ibuku, dan menemaninya. Dia seorang diri di dunia ini ”

“Bu-twako, mengapa bingung? Marilah kita menjemput ibumu, kemudian mengajak beliau tinggal di rumah kami di Kam-sin-hiu. Aku tanggung beliau akan hidup tenteram dan tenang di sana, akan kami anggap sebagai orang tua sendiri... dan......... dan..” Giok Lam tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah sekali. Ia telah kelepasan bicara, dan kata-kata bahwa dia akan menganggap ibu Kwan Bu seperti ibunya sendiri sungguh mempunyai arti yang amat dalam!

“Ha-ha-ha! Ingatlah kau dahulu akan kata-kataku bahwa kalau kau bertemu dengan adikku yang nakal ini kau akan repot sekali, sute? Akan tetapi omongan anak nakal ini memang tepat. Kau boleh bersama adikku menjemput ibumu dan mengantarkannya ke rumah kami di Kam-sin-hiu. Percayalah, sute, aku tidak sombong, akan tetapi keluarga kami adalah keluarga kaya di sana dan kiranya ibumu tidak akan kekurangan sesuatu, selain itu, yang terpenting tidak akan kesepian dan terjamin keselamatannya. Aku bersama sumoi harus hendak ke kota raja terlebih dulu, membuat laporan dan kelak kamipun akan pulang ke Kam-sin-hiu. Kau tunggu saja di sana, agar kemudian kau dapat bersama kami kembali ke kota raja untuk membantu pekerjaan mulia ini membasmi para perampok.”

“Bu-twako, engkau masih ragu-ragu bahwa Sin-to Hek-kwi adalah benar musuh besarmu bukan?” Giok Lam bertanya. Kwan Bu menggeleng kepala.

“Bukan, jarumnya tidak sama..? Ia meraba pangkal lengannya yang tadi tertusuk jarum lawan itu.

“Kalau begitu, dalam tugas membasmi perampok-perampok ini, sekalian kita mencari musuh besarmu itu. Bukankah musuhmu itupun seorang kepala rampok?” Ucapan ini berpengaruh sekali dalam hati kwan Bu karena ia dapat mengakui kebenarannya. Ia lalu mengangguk.

“Baiklah, aku akan menjemput ibuku.” “Bersamaku, twako!”

“Kau......... kau......... bagaimana dapat melakukan perjalanan jauh bersamaku setelah. setelah kau

bukan. Lam-te lagi?”

“Aku dapat saja berpakaian pria dan kau boleh terus menyebut aku Lam-te!” Semua orang tersenyum mendengar jawaban yang lincah ini dan semua orang tahu belaka bahwa gadis yang lincah itu mencinta Kwan Bu.

“Baiklah, hanya aku mempunyai satu pertanyaan, harap suheng suka meminta kepada para Lociangkun untuk mengabulkan.”

“Permintaan apakah? Kalau patut, mengapa kami tidak akan memenuhi permintaan seseorang calon rekan kami yang baik?” kata Liu Kong dengan suara ramah, agaknya pemuda ini sama sekali tidak merasa sakit hati telah dimaki oleh. Kwan Bu tadi. Diam-diam Kwan Bu merasa heran dan juga kagum. Liu Kong benar-benar telah berubah banyak sekarang pikirnya. Pemuda yang dahulunya keras hati itu kini pandai sekali menyembunyikan perasaan dan tampaknya sudah matang dan cerdik, terhadap orang seperti ini ia harus berhati-hati pikirnya.

“Apapun yang dikatakan orang terhadap Bu Keng Liong, dia tetap bekas majikanku dan aku berhutang budi banyak terhadapnya. Oleh karena itu sebelum aku pergi, aku ingin mengubur jenasahnya membantu nona Siang Hwi, kemudian harus kulihat sendiri dia dibebaskan dari sini.”

“Wah, apakah engkau tidak percaya kepada aku sute?” Tanya Siok Lun, mengerutkan keningnya.

“Dalam hal ini bukan soal percaya atau tidak, suheng. Keadaan menghendaki demikian dan aku hanya ingin membalas budi kebaikan keluarga Bu yang telah dilimpahkan kepada ibuku.”

“Kwan Bu tidak tahu betapa diam-diam Siok Lun memberi isarat kedipan mata kepada Liu Kong dan para panglima pengawal, kemudian ia mengangguk,

“Baiklah, sute. Permitaanmu akan dikabulkan, bukankah begitu, jiwi Lociangkun?” Gin-san-kwi dan Kim I Lohanmengangguk-angguk, juga Liu Kong berkata,

“Baiklah memang sudah sepatutnya begitu.” Siang Hwi menangis tersedu-sedu didepan makam ayahnya. Bibirnya berkemak-kemik dan Kwan Bu yang berlutut disampingnya, ikut juga menangis, mendengar gadis itu berbisik. “Ayah, aku bersumpah untuk membalas dendam kepada pembunuh-pembunuhmu......” Kwan Bu mendengar ini dengan alis berkerut. Perih dan risau hatinya. Ia sudah mendengar bahwa pembunuh Bu Keng Liong adalah suheng dan sucinya sendiri dan kini gadis ini bersumpah hendak membalas dendam! Maka diapun berbisik.

“Bu-thai-ya......Thai-ya gugur sebagai orang gagah, gugur dalam sebuah peperangan mempertahankan cita-cita. Tidak tewas dalam tangan seorang musuh seperti keluarga ibuku......

Thai-ya gugur sebagai korban perang......” Siang Hwi menoleh kepadanya dengan muka pucat dan pipi basah air mata. Kemudian gadis itu bangkit berdiri menggigit bibir, mengepul tangannya. Kwan Bu juga bangkit berdiri.

“Nona, sebaliknya nona pergi sekarang dan berkumpul kembali dengan keluarga nona, tidak lagi mencampuri urusan peperangan. Sayang aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengubur Thai-ya

dan minta nona dibebaskan. ” Pandang mata Siang Hwi penuh kemarahan.

“Kau......! Kau merendahkan diri menjadi anjing penjilat ! Ah, betapa kecewa hatiku! Betapa muak

aku melihatmu!” Kwan Bu hendak membantah, akan tetapi terpaksa menutup mulut karena pada saat itu bersama Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan muncul bersama Bi Hwa, dan Giok Lan. Mereka ini tadi sengaja menjauhkan diri dan memberi kesempatan kepada Kwan Bu dan Siang Hwi untuk bersembahyang di depan makam Bu Keng Liong.

“Bhe-sicu,” kata Gin-san-kwi “sekarang nona Bu boleh pergi, kami membebaskan dia seperti permintaanmu.”

“Dan kita berangkat sekarang juga, twako!” kata Giok Lan yang kini sudah berpakaian pria lagi, rambutnya disembunyikan ke dalam penutup kepala berwarna biru.

“Kamipun sudah bersiap-siap untuk kembali ke kota raja,” kata pula Gin-san-kwi , “Liu-sicu dan Phoa- sicu sedang sibuk mengatur pasukan, hanya minta disampaikan salam nya kepada Bhe-sicu.” Siang Hwi menyapu mereka semua dengan pedang matanya, berhenti sejenak pada wajah Giok Lan dengan pandang mata penuh kebencian, kemudian memandang wajah Kwan Bu dengan penuh duka. Naik sedu-sedan dari dadanya, kemudian ia memutar tubuh dan tanpa mengeluarkan kata- kata apapun ia lalu lari pergi dari tempat itu, menuju ke selatan. Kwan Bu menghela napas setelah mengikuti bayangan gadis itu sampai lenyap dari pandang matanya. Ia merasa ada tangan menyentuh lengannya dan menoleh ke arah Giok Lan. Wajah gadis ini tidak kelihatan tampan seperti biasa, melainkan tampak cantik jelita, tersenyum manis kepadanya.

“Mari kita pergi..?” katanya, hatinya diliputi kedukaan setelah menjura kepada para panglima, ia berkata kepada Bi Hwa.

“Suci, sampaikan salamku kepada suheng. Sampai jumpa pula.”

“Baik, sute. Kami akan segera menyusulmu ke Kam-sin-hiu setelah selesai urusan kami di kota raja.” Berangkatlah Kwan Bu bersama Giok Lan, menuggang dua ekor kuda yang disediakan oleh para panglima, menuju ke barat untuk menjemput ibunya yang masih ia titipkan di kuil Kwan-im-bio di luar kota Kwi-cun.

Siang Hwi masih menangis sesenggukan ketika ia lari meninggalkan Hek-kwi-san. Malam telah berganti pagi dan sebetulnya pemandangan di sepanjang jalan amatlah indahnya. Sinar matahari pagi mengusir kegelapan malam dan kicau burung-burung di pepohonan menimbulkan suasana yang cerah. Namun hati Siang Hwi amat gelap, perasaan yang mengaduk-ngaduk batinnya hanyalah perasaan yang amat tidak enak. Ia berduka kehilangan ayahnya, penasaran karena tidak dapat membalas kematian ayahnya. Ia marah kepada Liu Kong saudara misannya juga saudara seperguruan yang telah mengkhianati ayahnya. Ia benci kepada gadis berpakaian pria yang menjadi sahabat Kwan Bu, dan ia lebih benci lagi kepada Kwan Bu! Hatinya duka, penasaran, marah, dan iri! Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang disusul suara teguran halus penuh ejekan,

“Nona manis hendak lari ke mana?” Siang Hwi mengangkat muka dan melihat bahwa yang menghadang di depannya yaitu Liu Kong dan Siok Lun, pemuda tampan yang lihai sekali yang ia tahu telah membunuh ayahnya!

“keparat jahanam! Mau apa kau?” bentaknya penuh kebencian. Ia maklum bahwa terhadap musuhnya ini ia tidak akan dapat menang, akan tetapi ia sudah bertekad untuk membalas dendam.

“Hwi-moi, kau ikutlah bersama kami. Karena kau berada di antara pemberontak, terpaksa sekali kami harus mengajakmu ke kota raja. Jangan kau khawatir, moi-moi aku akan melindungimu dan akan membelamu sehingga kau hanya akan dijadikan saksi, aku yang akan mengusahakan agar kau diampuni dan kelak kau dibebaskan, atau setidaknya hanya diberi hukuman ringan.”

“Manusia tak kenal budi, manusia berhati busuk, pengkhianat! Siapa sudi mendengarkan omongan busukmu? Kau sudah berjanji membebaskan aku. sekarang kembali hendak melanggar janji! Setelah mempunyai semua kebusukan itu, kini ditambah lagi dengan manusia yang tak kenal janji? Alangkah busuk dan rendahnya kamu ini, Liu Kong!” Wajah Liu Kong menjadi merah sekali dan jantungnya seperti ditusuk rasanya. Ia mencinta sumoinya ini, akan tetapi keadaan memaksanya menjadi musuh.

“Aku bermaksud baik terhadapmu, moi-moi. Percayalah, kalau tidak ada aku yang melindungimu, tentu engkaupun sudah tewas semalam. !”

“Cerewet! Siapa butuh perlindunganmu? Lebih baik mati bersama ayah daripada tertolong oleh seorang hina macam kamu!”

“Ha-ha-ha, nona manis yang galak! Makin galak makin manis menarik hati. Lociangkun, perlu apa banyak berbantahan? Lociangkun tidak akan menang berbantahan dengan seorang gadis manis yang galak! Biarlah kutangkap dia!”

“Sratttt! Siang Hwi sudah mencabut pedangnya dan menghadapi Siok Lun dengan pandang mata berapi. “Binatang! Engkau dan sumoimu telah membunuh ayahku. Memang aku hendak mengadu nyawa denganmu!” setelah berkata demikian, Siang Hwi menerjang dengan dahsyat.

Kemarahannya memuncak, membuat gerakan pedangnya menjadi ganas sekali dan nekat. Dia seolah-olah tidak memperdulikan gerak bertahan lagi, melainkan mencurahkan seluruh kepedihan, tenaga dan kecepatannya untuk menyerang dan membunuh musuh besarnya ini. Andaikata yang melawannya adalah orang yang setingkat kepandaiannya, misalnya Liu Kong, tentu akan kewalahan menghadapi kenekatan gadis ini. Akan tetapi yang ia hadapi adalah Siok Lun. murid Pat-jiu Lo-koai. Jangankan dia, biar ayahnya yang menjadi gurunya sendiri, mendiang Bu Keng Liong, masih kalah jauh terhadap pemuda ini. Dengan senyum mengejek dan pandang mata ceriwis Siok Lun melayani Siang Hwi dengan tangan kosong. “Singgg!” pedang itu ditusukan oleh Siang Hwi penuh kekejaman ke arah dada Siok Lun setelah lebih dari dua puluh jurus ia menyerang tanpa hasil, selalu dapat dielakkan oleh Siok Lun sambil tertawa- tawa.

Kini menghadapi tusukan ini, Siok Lun hanya miringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat di dekat dadanya, kemudian tiba-tiba lengannya yang dikembangkan mengempit pedangnya, namun tidak berhasil dan tiba-tiba ia menjerit marah ketika tangan Siok Lun sudah mencengkeram dadanya! Siang Hwi mengangkat tangan kirinya menghantam muka Siok Lun, namun sebelah tangan Siok Lun sudah menangkap pergelangan tangan itu sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi! Tangan kiri Siok Lun masih mencengkeram dada sambil ketiaknya mengempit pedang, tangan kanan menangkap pergelangan tangan kiri Siang Hwi, kemudian pemuda ceriwis ini mendekatkan muka dengan mulut diruncingkan hendak mencium! Siang Hwi marah dan bingung, membuang muka dan pada saat itu Liu Kong membentak.

“Phoa-taihiap, ingat dia itu piauw-moiku, harap lepaskan dia!” Bentakan ini membebaskan Siang Hwi. Tidak jadi tercium, akan tetapi sambil tertawa Siok Lun menggerakkan tangannya dan sebuah totokan mengenai jalan darah thian-hu-hiat membuat Siang Hwi roboh dengan tubuh lemas. Liu Kong segera menangkap tubuh piauw-moinya itu lalu dipanggulnya.

“Ha-ha, maafkan aku Liu-ciangkun. Aku hampir lupa melihat gadis manis yang galak ini,” Siok Lun tertawa-tawa dan secara kurang ajar sekali ia membawa tangan yang mencengkeram dada tadi ke depan hidungnya dan memuji.

“Hemm harum     l”

“Sudahlah, harap taihiap jangan main-main. Mari kita membawanya kembali ke pasukan.” Kata Liu Kong yang tak berdaya karena dia tak berani marah kepada laki-laki yang kurang ajar namun amat lihai itu.

Mereka berdua segera lari kembali ke pasukan yang menanti mereka. Memang semua ini telah diatur oleh Siok Lun, yaitu di depan Kwan Bu sengaja memberi janji agar sutenya itu tidak menimbulkan banyak keributan. Bukannya dia jerih terhadap Kwan Bu, hanya tidak ingin memusuhi sutenya itu. apalagi karena para panglima termasuk Liu Kong juga setuju kalau dapat menarik Kwan Bu menjadi sekutu mereka, yang berarti bertambahnya tenaga yang lihai. Para panglima memuji- muji Liu Kong dan Siok Lun dan para pasukan itu segera diberangkatkan meninggalkan Hek-kwi-san untuk kembali ke kota raja. Di sepanjang perjalanan mereka masih melakukan “pembersihan- pembersihan” di dusun pegunungan yang mereka lalui dan tentu saja,

Seperti lazimnya dalam “operasi pembersihan” seperti itu, para anggauta pasukan mempergunakan kesempatan untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri, misalnya menyambar benda-benda berharga yang kecil dan yang mudah mereka pindahkan ke kantung baju sendiri, mengganggu wanita-wanita cantik yang mereka dapatkan di rumah-rumah yang dijadikan sasaran “penggeledahan.” Pada suatu malam, pasukan ini berhenti di sebuah dusun setelah sehari penuh mengadakan pembersihan sampai ke dusun itu. Dalam operasi pembersihan ini, Siok Lun terpaksa memenuhi permintaan sumoinya. juga kekasihnya, untuk membasmi habis para perampok yang memang dijadikan musuh besar Bi Hwa, yang mendendam kepada semua perampok karena keluarganya habis dibasmi perampok.

Siang Hwi menjadi tawanan, selalu dijaga keras, bahkan tak pernah terlepas dari pengawasan para panglima secara bergiliran. Namun karena di situ ada Liu Kong, gadis ini diperlakukan dengan cukup baik dan terjamin. Malam hari itu, seperti biasa, Siang Hwi dikeram ke dalam kamar sebuah rumah untuk sementara diduduki oleh para pasukan. Malam yang sunyi. Para penduduk yang ketakutan karena di manapun pasukan itu tiba selalu terjadi hal-hal mengerikan, siang-siang dalam rumah setelah mereka memenuhi sebuah perintah lurah setempat untuk menyediakan segala keperluan pasukan. Hanya rumah lurah saja yang nampak sibuk karena tentu saja pembesar tempat ini seperti biasa menyambut para panglima dengan segala kehormatan.

Phoa Siok Lun menjadi kesal hatinya. Sumoinya memang benar membalas cinta kasihnya, akan tetapi pemuda yang selalu dikejar nafsunya sendiri ini menjadi gelisah karena sumoinya bukanlah seorang wanita yang selalu suka melayaninya bermain cinta. Sebagai seorang pemuda hidung belang, penyakit lamanya kambuh kembali dan ia menjadi kesal. Sebetulnya ia amat tertarik kepada Siang Hwi, dan kalau saja di sana tidak ada Liu Kong, tentu gadis itu sudah menjadi korban nafsunya. Dia tidak ingin bermusuhan dengan Liu Kong karena hal itu akan menghambat cita-citanya mendapatkan kedudukan di istana, maka ia menahan dirinya seringkali mengutuk pemuda itu. Setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, Siok Lun yang tidak betah tinggal di dalam kamarnya, lalu keluar dan bermaksud untuk mencari korban nafsunya di dalam dusun itu.

Dengan kepandaiannya yang amat tinggi, ia dapat keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan suara dan sebagai seekor kucing, ia menyelinap di dalam gelap, lalu meloncat ke atas genting-genting rumah penduduk dusun. Akan tetapi tiba-tiba Siok Lun mendekam di wuwungan dan matanya memandang tajam ke depan. Ia melihat sesosok bayangan yang ringan dan lincah gerakannya berkelebat di atas wuwungan depan, hatinya berdebar. Ah, untung dia keluar dari kamarnya karena kalau tidak, tentu bayangan itu berhasil datang di tempat itu tanpa diketahui para pengawal yang menjaga. Orang yang memiliki gerakan selincah itu ternyata terlalu pandai bagi para pengawal yang menjaga, sedangkan yang berilmu sedang tidur dan beristirahat melepas lelah. Bayangan itu kini datang dekat. Malam itu bulan sepotong menyinari bumi dan kebetulan sekali bayangan itu berdiri dengan muka menghadap bulan. .Jantung Siok Lun berdebar makin tegang.

Dari tubuh orang itu ia tadi sudah menduga bahwa bayangan ini tentu seorang wanita, karena terlalu ramping untuk seorang pria, Ketika ia dapat melihat wajahnya, ia girang bukan main, Wajah seorang wanita yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis sekali, dengan pakaian serba hijau yang ketat, mencetak bentuk tubuhnya yang menggairahkan, tubuh seorang wanita muda yang sedang dirindukannya! Seorang gadis cantik yang memiliki ilmu kepandaian lumayan! Bagus sekali, pikirnya, dan Siok Lun hampir saja bergelak tertawa. Selagi ia merindukan Siang Hwi, kini Thian mengirimkan pengganti Siang Hwi kepadanya! Siok Lun amat cerdik. Dia dapat menduga ketika melihat wanita itu mulai mengintai ke bawah bahwa wanita ini tentulah seorang anggauta pemberontak atau setidaknya mata-mata pemberontak yang mungkin datang untuk menolong Siang Hwi.

Kalau ia membiarkan wanita itu turun tentu akan diketahui para panglima dan sekali wanita terjatuh ke tangan para panglima dan dijadikan tawanan kalau tidak mati, sukurlah baginya untuk mendapatkan gadis ini. Kalau dia serang kemudian wanita itu melawannya, tentu menimbulkan keributan dan semua orang akan terbangun, dengan demikian ia akan terganggu dan gagal pula gadis idam-idaman hatinya. Berpikir demikian, Siok Lun lalu merenggut lepas sebuah kancing bajunya dan menyambitnya ke arah bayangan wanita yang sedang mengintai. Wanita itu mendengar bersiutnya angin, cepat mengulur tangan menyambar benda yang menyerangnya. Ia mengeluarkan suara kaget, agaknya ia menjadi kaget karena tangannya yang menerima benda itu terasa panas dan nyeri, tanda bahwa sipenyambit bertenaga besar, apalagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa benda itu hanya sebuah kancing.

Tahulah gadis baju hijau itu bahwa yang menyambitnya adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan bahwa kehadirannya sudah diketahui orang! Gadis itu adalah seorang yang sudah berpengalaman di dunia kang-ouw karena dia itu bukan lain adalah Cheng I Lihiap (Pendekar Wanita Berbaju Hijau, anak murid Kun-lun-pai yang pernah tertolong oleh Kwan Bu dan Giok Lan ketika tertawan di kuil Ban-lok-tang di Sian-hu, ketika mereka itu kebetulan bersama-sama menyerbu kuil untuk membasmi pendeta-pendeta cabul yang dipimpin oleh Tong Kak Hosiang, si penjahat cabul yang berkedok pendeta. Cheng I Lihiap maklum bahwa para panglima pengawal bukanlah orang- orang yang boleh dianggap ringan, maka kini setelah ia diketahui orang dan yang melihatnya itu benar-benar amat lihai,

Ia segera melompat turun dari genting dan melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Ia bermaksud menolong Siang Hwi setelah ia mendengar bahwa puteri Bu Taihiap yang terkenal itu menjadi tawanan, apalagi mendengar bahwa dusun-dusun tertimpa malapetaka di mana saja pasukan pengawal tiba. Akan tetapi ia tidak mau berlaku sembrono dan malam ini agaknya belum tiba saatnya yang baik baginya untuk menolong gadis puteri Bu Taihiap itu. Akan tetapi, ketika ia tiba-tiba di luar dusun itu, di jalan yang sepi tiba-tiba ada bayangan berkelebat di sampingnya, mendahuluinya dan tahu-tahu seorang laki-laki yang tampan dan gagah sudah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang dan tersenyum-senyum. Sinar bulan yang menimpa muka pria itu memperlihatkan wajah yang tampan dan gagah, namun sepasang mata yang nakal dan kurang ajar.

“Heh-heh, nona manis berbaju hijau! setelah datang tanpa diundang, mengapa pergi tanpa pamit.” Cheng l Lihiap memandang penuh perhatian, lalu berkata dengan suara ketus.

“Siapa engkau dan mau apa menghalangiku?”

“Ha-ha! ditanya belum menjawab balas bertanya. Baiklah, nona manis namaku Phoa Siok Lun, seorang calon panglima pengawal istana! Tadi aku melihatmu, dan karena aku merasa sayang sekali kalau engkau sampai ketahuan para panglima dan tentu akan dibunuh, maka kuperingatkan engkau agar pergi saja dari sana” Cheng I Lihiap mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang ini menyambitnya dengan kancing tadi, seorang yang berkepandaian tinggi. Orang ini memang telah memperingatkan dan mungkin menghindarkannya daripada bahaya maut, akan tetapi sikapnya sungguh ceriwis. Betapapun juga sebagai seorang tokoh kang-ouw telah menghindarkannya yang tahu aturan, apalagi menghadapi seorang lihai ia lalu menjura dan berkata.

“Kalau begitu, aku Cheng I Lihiap menghaturkan terima kasih atas peringatanmu tadi Phoa-enghiong. Sekarang aku tahu betapa bodohnya mengganggu rombongan pengawal yang terjaga oleh orang- orang lihai sepertimu dan panglima-panglima lain. Selamat Tinggal” Cheng l Lihiap sengaja mengerahkan ginkangnya melesat jauh dengan sebuah loncatan yang dilanjutkan dengan lari cepat. Akan tetapi matanya terbelalak ketika memandang ke depan dan melihat bahwa pemuda tampan itu telah berada di depannya, tersenyum-senyum kepadanya.

“Nona yang cantik jelita dan gagah perkasa, mengapa tergesa-gesa amat?”

“Hemm, kau mau apa?” Cheng l Lihiap membentak, timbul kemarahannya karena pandang matanya yang sudah berpengalaman itu dapat melihat sifat cabul yang membayang pada pandang mata dan senyum pemuda itu. Siok Lun tersenyum,

“Heh-heh, nona sendiri telah mengaku bahwa aku telah menolongmu. Kalau bukan engkau, mana sudi aku menolong? Setelah menolong, masa habis sampai di sini saja? Nona, kalau memang nona ingin sekali menyaksikan keadaan di pondok-pondok yang didiami para pengawal dan tawanannya, mari ikut bersamaku. Engkau, akan aman dan kita dapat bercakap-cakap dan bersenang-senang dalam pondokku ” “Keparat......! Kiranya engkau orang macam inikah? Sudah kuduga! Seorang yang bekerja sama dengan para pengawal yang kejam, yang mendatangkan bencana kepada rakyat, pasti bukanlah seorang manusia baik-baik.” Berkata demikian, Cheng l Lihiap telah mencabut pedangnya, dipandang dengan senyum mengejek oleh Siok Lun. Darah Siok Lun bergolak, bukan marah, melainkan oleh nafsunya yang sejak sore tadi sudah menguasainya, dan kini menyaksikan Cheng l Lihiap dari dekat. Ia mendapat kenyataan bahwa pendekar wanita ini benar-benar cantik sekali dan memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan.

“Nona, daripada bertanding, bukankah lebih menyenangkan kalau kita bercinta?”

“Tutup mulutmu yang kotor! Lihat pedang!” Cheng I Lihiap sudah menyerang Siok Lun dengan tusukan pedangnya ke arah leher. Siok Lun hanya menundukkan kepalanya dan tangannya bergerak ke atas menyentil pedang itu.

“Tringgg...! Aihhh..!” Cheng l Lihiap terkejut sekali karena sentilan pada pedangnya itu membuat pedangnya tergetar hebat dan telapak tangan yang memegang pedang terasa kesemutan. Namun ia menjadi makin marah dan kembali pedangnya menyambar, kini membacok kepala lawannya yang ceriwis.

“Eihhh, benarkah engkau tega membunuh penolongmu, nona.” Siok Lun menggoda sambil mengelak cepat. Cheng l Lihiap makin marah. Juga ia maklum bahwa keadaan dirinya berada dalam bahaya,

Dari sikap, dan kata-kata pemuda tampan ini ia dapat menduga bahwa pemuda ini termasuk seorang pria yang tidak segan-segan menggunakan kepandaian dan kekerasan untuk memakan seorang wanita. Karena itu, dia harus dapat membunuh pemuda ini, bukan hanya demi menolong diri sendiri, juga untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang pendekar, membasmi orang-orang jahat di muka bumi. Kini pedang Cheng l Lihiap bergerak cepat sekali mengirim serangan maut dengan kelebatan pedang yang menyambar secara bergelombang, susul menyusul dari kanan ke kiri dan membalik lagi sehingga dalam satu jurus saja ia telah menyerang ke arah pinggang, dan paha! Akan tetapi Siok Lun jauh lebih cepat gerakannya lagi. Dengan loncatan-loncatan seperti burung terbang, ia dapat menghindarkan diri dan sebelum Cheng l Lihiap sempat menyerang lagi,

Tahu-tahu lengan gadis itu sudah kena dicengkeram. Sebuah totokan di pundak membuat pendekar wanita itu mengeluh dan ia menjadi lemas, pedangnya terlepas dari pegangan. Siok Lun tertawa gembira, lalu memeluk dia menciumi muka Cheng l Lihiap sepuasnya tanpa gadis itu dapat berdaya sedikitpun kecuali merintih dan memejamkan matanya. Pemuda yang lihai namun bermoral betjat itu lalu menggendong tubuh yang sudah lemas itu, kemudian membawanya lari kembali ke dusun. Dengan kepandaiannya yang tinggi, Siok Lun berhasil membawa Cheng I Lihiap kembali ke pondoknya tanpa diketahui seorang penjaga pun. Ia melemparkan tubuh yang lemas itu ke atas pembaringan, kemudian tertawa dan berkata kepada gadis yang memandangnya dengan mata terbelalak penuh kebencian dan juga kengerian.

“Ha-ha, nona manis! Aku ingin melihat engkau meronta dan melawan,melihat engkau hidup dalam pelukanku, bukan seperti orang mati. Nah, kau melawanlah!” Ia lalu membebaskan totokan pada tubuh gadis itu sehingga kembali Cheng I Lihiap dapat bergerak. Begitu merasa bahwa totokan tubuhnya sudah bebas, Cheng I Lihiap meloncat dan menerjang musuhnya, menggunakan kepalan tangannya memukul dada Siok Lun.

“Dukk” Siok Lun sengaja menerima pukulan itu sambil mengerahkan ginkangya sehingga tangan gadis itu sendiri yang terasa nyeri, sedangkan tangan Siok Lun tidak tinggal diam, mencengkeram ke depan dan merenggut. “Bretttt !” Robeklah baju luar gadis itu sehingga kini tampak baju dalamnya yang berwarna merah

muda!

“Ha-ha-ha! hayo lawan terus, nona manis. Dan kaupun boleh berteriak kalau berani. Berteriaklah agar banyak pengawal datang dan melihat engkau menjadi permainanku!” Cheng I Lihiap menggigit bibirnya. Ia merendah dan malu sekali, juga penasaraan. Ia tahu bahwa kalau ia menjerit ia hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan, maka ia menjadi nekat dan menerjang lagi. Namun mudah saja pukulannya ditangkis oleh Siok Lun yang kembali mencengkeram sehingga terdengar kain robek dan baju luarnya menjadi compang-camping tidak karuan. Ia makin nekat, terus menubruk lagi, sekali ini ia melakukan tendangan kilat ke arah bawah pusar lawan.

“Wah-wah, galaknya!” Siok Lun mengejek, menangkap kaki yang menendang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjambret ke depan.

“Brettt......!!”“ Sekali ini sebelah sepatu dan celananya terobek sehingga Cheng l Lihiap menjadi setengah telanjang. Melihat betis kiri yang padat dan berbentuk indah berkulit putih bersih, Siok Lun menjadi makin beringas. Ia terkekeh-kekeh dan menangkap gadis itu, dilemparkannya ke atas pembaringan di mana Cheng l Lihiap terbanting terlentang, Sebelum gadis ini cepat meloncat turun, Siok Lun sudah menerkamnya. Ia memapaki dengan pukulan keras ke arah kepala pemuda itu namun lagi-lagi tangannya dapat ditangkap. Tedengar suara kain robek berkali-kali dan kini baju dalam berwarna merah muda itupun sudah compang-camping.

“Aihhhh......!” Cheng I Lihiap mengeluh dan berusaha menutupi dadanya yang telanjang dengan kedua tangan, Siok Lun makin beringas dan buas, ketika tangannya menyengkeram, kini bagian atas celana Cheng I Lihiap hancur dan robek-robek! Cheng I Lihiap merintih dan matanya terbelalak penuh kengerian. Ia terisak saking marah dan takutnya, kemudian karena ia maklum bahwa tak mungkin ia melawan laki-laki yang sudah seperti binatang buas ini, ia berlaku nekat da melakukan gerakan meloncat, membenturkan kepalanya sendiri ke dinding kamar untuk membunuh diri!

“Eh-eh...... jangan begitu, manis!” Siok Lun cepat menyambar tubuh itu, mencegah si gadis membunuh diri, merangkul dan menciuminya. Cheng I Lihiap kembali meronta dan menyerang, akan tetapi kini Siok Lun sudah menangkap kedua tangannya dengan satu tangan saja. Betapapun gadis itu meronta dia tidak mampu melepaskan kedua tangan yang pergelangannya sudah dicengkeram tangan kiri Siok Lun. Sambil tertawa-tawa dan menciumi seluruh tubuh gadis itu, Siok Lun menggunakan tangan kanannya untuk membelai-belai secara kurang ajar, kemudian mulai menggerayangi pakaiannya sendiri untuk ditanggalkan. Cheng I Lihiap meronta-ronta, menggeliat- geliat sambil mengeluarkan suara merintih-rintih dan terisak-isak, namun hal ini agaknya menambah gembira hati Siok Lun yang tiada hentinya menciumi penuh nafsu yang buas.

“Aahhhh, jangan...... jangan...... bunuh saja aku......” Gadis itu merintih-rintih dan meminta-minta dengan suara mengandung isak tertahan.

“Membunuhmu? Aha, sayang sekali..... kau begini manis, begini montok, begini menggairahkan. !”

Pada saat itu, daun pintu pondok itu di dorong orang dari luar dan terdengar seruan.

“Suheng         !!” Siok Lun terkejut sekali, seperti disambar petir rasanya. Ia cepat melepaskan Cheng

l Lihiap dan membalikkan tubuh. Dengan kancing bajunya sudah terlepas semua ia berdiri memandang Bi Hwa yang telah berada di ambang pintu dengan muka marah dan mata menyinarkan api. “Prokkkt!” Siok Lun tekejul bukan main dan cepat membalikkan tubuh. Ia tertegun memandang tubuh setengah telanjang yang menggairahkan itu di atas pembaringan, mukanya mandi darah yang muncrat keluar dari kepalanya yang retak-retak. Ternyata Cheng l Lihiap mempergunakan kesempatan itu untuk membenturkan kepala sendiri pada dinding sampai pecah. Gadis pendekar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw itu tewas dalam keadaan mengenaskan, akan tetapi ia terbebas daripada perkosaan yang pasti akan terjadi menimpa dirinya kalau saja tidak muncul Bi Hwa. Ketika seorang gadis perkasa muncul dan menyebut suheng kepada Siok Lun, Cheng l Lihiap habis harapannya dan membunuh diri. Siok Lun menghela napas panjang, hatinya kecewa sekali.

“Dia sudah membunuh diri, tak perlu aku membunuhnya,” katanya.

“Suheng! Apa yang kau lakukan? Siapa dia?” Bi Hwa bertanya dengan suara marah. Siok Lun membalikkan tubuh dan tersenyum.

“Sumoi. jangan salah faham. Dia ini mata-mata musuh, tadi mengintai dan memasuki kamar bermaksud membunuhku. Akan tetapi untung aku belum tidur dan berhasil mengalahkannya. Dia cukup lihai dan galak..?

“Hemm, kalau bertanding biasa, masa pakaiannya sampai robek-robek semua seperti itu? Suheng. kau...... kau masih juga belum berubah! Kau mengecewakan hatiku..?” Bi Hwa lalu menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Siok Lun cepat maju mendekati, lalu memegang kedua pundak sumoinya. juga kekasihnya itu.

“Sumoi, jangan salah mengerti. Dia...... dia itu selain lihai juga galak dan sombong. aku... aku hanya ingin merobek-robek pakaiannya sebelum membunuhnya untuk membalas kesombongannya !”

“Siapa tidak tahu watakmu? Cih, muak aku melihatmu! Suheng, kau benar-benar menyakiti hatiku..?” Siok Lun lalu berlutut di depan kaki sumoinya. memeluk kedua kaki itu.

“Sumoi, kalau begitu maafkanlah aku. sumoi... aku takkan melakukan hal itu Iagi...... maafkan aku..?” Bi Hwa memang sudah menyerahkan hati dan tubuhnya kepada suhengnya ini. Melihat suhengnya berlutut dan minta maaf, kemarahannya mereda dan ia lalu berkata perlahan.

“Sudahlah, lebih baik kita cepat membereskan pakaian mayat itu agar tidak menjadikan bahan percakapan dan tertawaan para pengawal.” Lega hati Siok Lun dan ia membiarkan Bi Hwa membereskan, bahkan mengganti pakaian Cheng I Lihiap sehingga gadis itu tewas dalam keadaan pakaian masih utuh. Kemudian para panglima diberitahu bahwa wanita yang tewas itu adalah mata- mata musuh yang berhasil menyelinap masuk akan tetapi tewas oleh pukulan Siok Lun!

Semenjak peristiwa itu, Siok Lun selalu membujuk-bujuk sumoinya untuk sudi melayaninya. Namun Bi Hwa selalu menolak dengan halus dan biarpun di luarnya Bi Hwa tidak kelihatan marah lagi, namun di dalam hatinya, gadis ini merasa tersiksa dan menyesal mengapa dia telah menyerahkan cinta kasihnya, menyerahkan tubuhnya kepada pemuda yang biarpun tampan dan gagah, namun amatlah mata keranjang dan cabul itu. Bibit kebencian bersemi di dalam hatinya, namun ditahan- tahannya dengan hiburan kalau kelak sudah menjadi suaminya, tentu akan berubah watak yang kurang baik dari Siok Lun. Namun, benarkah dugaanya ini? Sukar untuk membenarkan karena watak Siok Lun ini sudah menjadi hamba nafsunya sendiri.

Sekarang yang sudah menghambakan diri kepada nafsu, dalam keadaan apapun juga, dan di manapun ia berada, nafsunya selalu mengajarnya, selalu mengusik dan mengganggunya, menuntut pemuasan. Setelah gagal mendaptakan diri Cheng I Lihiap dan sumoinya bahkan selalu menolak ajakannya bermain cinta, Siok Lun menjadi gelisah selalu. Apalagi di waktu malam. Ia segan untuk mencari perempuan dusun, karena mana mungkin perempuan-perempuan dusun disamakan dengan Cheng l Lihiap dan sumoinya? karena dorongan nafsunya tak dapat tertahankan lagi, mulailah ia mengincar Siang Hwi! Kalau saja ia dapat membujuk Siang Hwi. Dengan janji membebaskan gadis tawanan yang cantik itu! Harus ia akui bahwa biarpun dalam ilmu silat, Siang Hwi tidak selihai Cheng l Lihiap apalagi sumoinya,

Namun Siang Hwi memiliki kecantikan yang khas, memiliki semangat yang menyala-nyala. Di dalam tubuh gadis tawanan terdapat api panas yang membuat nafsu berahinya makin berkobar jika ia memikirkannya. Biarlah kutebus tubuhnya dengan pembebasan, pikirnya. atau kalau menolak lalu kupaksa siapa yang tahu? Kalau ia sudah berhasil memiliki gadis itu, tentu Siang Hwi pun tidak ada muka untuk menceritakan kepada orang lain. Beberapa hari kemudian, pada suatu malam mereka tiba di kata Kam-suk-bun yang berada di sebelah kota raja. Malam itu merupakan malam terakhir yang merupakan kesempatan terakhir pula bagi Siok Lun untuk memusnahkan nafsunya yang sudah berkobar-kobar, rasa rindunya untuk memiliki tubuh gadis tawanan yang makin dikenang makin merindukan hatinya itu.

Selama dalam perjalanan, sungguhpun berkat pengawasan Liu Kong yang penuh perhatian keadaan Siang Hwi cukup baik dan terjamin, namun gadis itu selalu dibujuk-bujuk dan diancam untuk menceritakan keadaan teman-teman pemberontak yang lain. Namun semua pertanyaan tidak diperdulikan oleh Siang Hwi dan tidak dijawabnya kaena bagaimana dia harus menjawabnya? Dia dan ayahnya terseret ke dalam pasukan pemberontak setelah mereka berdua dibebaskan dari tawanan oleh kaum pejuang. orang dia kenal hanyalah mereka yang berkumpul di Hek-kwi-san dan kini tokoh-tokoh pejuang itu telah terbasmi habis. Dia tidak tahu lagi dimana adanya pejuang- pejuang yang lain, yang tentu saja masih banyak sekali. Siang Hwi hanya mempunyai satu harapan, yaitu kalau dia berhasil meloloskan diri, ia akan menghubungi kaum pejuang itu,

Dan terutama sekali dia akan melakukan balas dendam atas kematian ayahnya. Dia tahu bahwa pembunuh ayahnya adalah Siok Lun dan Bi Hwa, dua orang musuh yang tak mudah dikalahkan akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Dia akan berusaha. mencari bantuan diantara para pejuang yang ia tahu banyak terdapat orang-orang pandai. Kalau toh tidak ada yang akan membantunya, dia akan mencari dua orang musuh besar itu dan mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh. Kalau saja Kwan Bu... ah, dia tidak mau mengenang lagi pemuda itu. Dia akan menghubungi suhengnya, Kwee Cin, yang tentu akan dapat membantunya. apalagi Kwan Bu adalah sute dari musuh-musuhnya, jadi termasuk musuhnya juga. Entah mengapa, kalau mengingat tentang hal itu, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran.

Malam itu gelap sekali. Tidak ada bulan di langit hanya bintang-bintang yang suram karena terhalang mendung. Kebetulan sekali, penjagaan ketat siang dan malam dilakukan atas diri gadis tawanan itu, jatuh pada giliran Siok Lun dan beberapa orang pengawal. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Siok Lun. Nafsunya telah menggerogoti hatinya, membuat ia gelap mata. Bukan keadaan luar yang melahirkan perbuatan maksiat melainkan tergantung daripada keadaan batin seseorang. Kalau batin orang itu kuat, biarpun ia menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia tetap akan teguh dan tidak tergoda. Sebaliknya. biarpun berada di tempat sunyi tidak ada kesempatan melakukan maksiat, kalau memang batinnya sudah kotor dia akan selalu membayangkan hal-hal yang menimbulkan nafsu-nafsunya.

Inilah sebabnya mengapa sebelum orang berbuat benar dan berbicara benar, harus lebih dahulu berpikir benar. Dengan pikiran kotor, maka ucapan dan perbuatan-perbuatan yang bersih sekalipun hanya merupakan kedok belaka. Dengan pikiran yang benar dan bersih, tidak akan mungkin terlahir ucapan dan perbuatan yang jahat dan kotor. Di sinilah letak kebenaran pengajaran yang mengharuskan setiap orang manusia setiap hari membaharui dan membersihkan pikirannya dari pada hal-hal yang kotor dan jahat. Harus dapat memerangi dan menundukkan nafsu-nafsu yang mengotori pikiran sendiri. Karena kalau tidak, pikiran akan dikotori nafsu kemauan akan diperbudak oleh nafsu sehingga setiap ucapan dan perbuatan selalu didorong oleh pemuasan nafsu-nafsunya sendiri belaka.

“Perkuat penjagaan diluar.” Kata Siok Lun kepada sepuluh orang pengawal yang malam itu bertugas menjaga tawanan. Kita sudah berada dekat kota raja, tentu para peberontak akan bergerak malam ini kalau mereka hendak menolong tawanan. Juga di bawah dan di atas. Keamanan di dalam tak usah khawatir aku sendiri yang akan menjaganya dan kalian tak perlu masuk karena dalam kesempatan ini aku akan membujuk si tawanan untuk mengaku.” Tentu saja para pengawal mentaati perintah ini karena mereka sudah perpaya penuh akan kelihaian pemuda itu. Mereka tahu pula bahwa jasa pemuda ini bersama sumoinya amat besar ketika dilakukan penyerbuan yang sukses di Hek-kwi-san. Maka sepuluh orang pengawal itu lalu menjaga di luar pondok yang seperti biasa diambilkan pondok penduduk kota itu dan dijadikan tempat tahanan Siang Hwi.

Delapan orang menjaga di empat penjuru, masing-masing dua-dua orang, dan di genteng menjaga pula dua orang. Adapun Siok Lun sendiri menjaga di dalam. Dapat dibayangkan betapa girang hati pemuda ini karena kesempatan yang dinanti-nantikan telah tiba. Dia berada berdua saja di dalam pondok itu bersama Siang Hwi yang ia rindukan. Lewat tengah malam, ketika Siang Hwi tidur pulas di atas pembaringan di dalam kamar tahanan di pondok itu, gadis ini terkejut dan tiba-tiba terjaga dari tidurnya, sambil menjerit dan melompat. akan tetapi.btidak ada suara yang keluar dari mulutya karena tangan Siok Lun sudah mendekap mulutnya dan menjajakan sehelai saputangan sehingga Siang Hwi merasa seperti tercekik.

Pinggangnya dipeluk sehingga ia tidak mampu melompat. Melihat bahwa yang melakukan hal ini adalah Siok Lun. Siang Hwi marah bukan main. Kedua tangannya lalu ia gunakan untuk memukul, akan tetapi cepat Siok Lun menotoknya, membuat Siang Hwi rebah kembali di atas pembaringan dengan lemas. Ia hanya dapat membelalakan mata ketika pemuda itu mengikat keempat kaki tangannya dengan robekan kain dalam pembaringan, kemudian baru membebaskan totokan sambil menyeringai. Siang Hwi rebah terlentang di atas pembaringan. Kaki tangannya meronta-ronta, tubuhnya menggeliat-geliat namun ia tidak dapat melepaskan ikatan kedua tangan dan kedua kakinya. Betapapun ia mengguncang-guncang kepalanya, ia tidak dapat membuka sapu tangan yang menyumpal mulutnya sehingga ia tidak dapat berteriak.

Gadis ini makin lama makin terbelalak matanya, memandang penuh kengerian ketika melihat betapa Siok Lun melepaskan pakaian luarnya. Siang Hwi meronta-ronta lagi sekuatnya ketika jari-jari tangan Siok Lun meraba-raba dengan kasar menanggalkan pakaiannya sambil terkekeh-kekeh penuh kegembiraan. hidungnya mendengus-dengus karena nafsu menyesak di dada. air mata bercucuran dari kedua mata gadis itu. Malapetaka hebat membayang di depan matanya dan ia takkan mungkin dapat tertolong lagi. Ia akan mengalami perkosaan, penghinaan yang paling berat, lebih hebat daripada kematian. Wajahnya pucat sekali dan saking ngerinya ia hampir pingsan. Dendam kematian ayahnya belum dapat ia balas dan kini dia mengalami penghinaan yang tiada taranya. akan tetapi tak mungkin ia mohon untuk dibunuh, tidak mungkin pula membunuh diri, apa lagi melawan.

“Phoa Siok Lun, apa yang hendak kau lakukan itu?” Tiba-tiba terdengar bentakan keras. Siok Lun terkejut dan meloncat turun dari pembaringan. Liu Kong, yang datang membentak itu, membawa pedang di tangan kanan, dan melihat keadaan Siang Hwi telanjang bulat dan teriak-teriak di atas pembaringan, dia cepat melompat dekat. Pedangnya berkelebat dan gadis itu terbebas daripada ikatan kaki tangannya. Siang Hwi cepat membuang saputangan yang menyumbat mulutnya, kemudian menyambar pakaiannya yang tadi ditanggalkan oleh tangan Siok Lun, dipakainya cepat- cepat.

“Sumoi, kau larilah!” bisik Liu Kong dengan suara menggetar. Siang Hwi yang baru saja terbebas dari malapetaka mengerikan, tidak menjawab, hanya melompat ke jendela. Siok Lun bergerak dan berkata,

“Jangan lari......!” Namun terlambat, karena tadi terlalu kaget dan malu, Siok Lun tertegun dan setelah kini sadar kembali hendak menghalangi larinya Siang Hwi gadis itu telah menerobos keluar jendela. Ia hendak mengejar, akan tetapi pedang Liu Kang menghadangnya dan pemuda ini berkata marah.

“Phoa Siok Lun, engkau benar-benar seorang yang berwatak cabul dan kotor..!” Siok Lun kini sepenuhnya memperhatikan Liu Kong. Dia pun marah sekali. Marah dan kecewa, juga penasaran. Dua kali ia gagal memuaskan nafsunya pada gadis-gadis pilihannya. Yang pertama, si gadis baju hijau luput dari jangkauannya dan mati membunuh diri. Kalau pada waktu itu yang mencegahnya orang lain tentu turun tangan, akan tetapi pada waktu itu yang mengganggunya adalah Bi Hwa, maka ia hanya menyimpan rasa kecewa di hati, akan tetapi sekarang setelah hasil di depan mata kemudian muncul gangguan Liu Kong, kemarahannya meluap-luap dan ia memandang Liu Kang penuh kebencian.

“Kau sudah bosan hidup!” serunya dan cepat Siok Lun menyambar jubah luarnya yang tadi ia tanggalkan. Dengan hanya memakai pakaian dalam, Siok Lun menerjang Liu Kong dengan senjata istimewa ini. Liu King sudah menjadi nekat. Biarpun ia merupakan seorang pemuda yang memiliki cita-cita mengejar kedudukan tinggi, namun karena sejak kecil ia digembleng Bu Taihiap, dia sedkit banyak memiliki sikap gagah. Semenjak ia ikut para pengawal ia mendapatkan banyak kekecewaan. Guru atau pamannya terbunuh, para pengawal melakukan hal yang amat memuakkan perutnya, seperti merampok dan memperkosa wanita.

Kini, gadis yang amat dicintainya menjadi tawanan, dan hampir diperkosa oleh Siok Lun. Timbullah kegagahan dan kepekaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia membebaskan Siang Hwi dan kini dengan pedang di tangan ia melawan mati-matian kepada Siok Lun. Namun, biar Siok Lun hanya bersenjatakan jubah, pemuda murid Pat-jiu Lo-koai ini benar-benar bukan tandingan Liu Kong yang jauh lebih lemah. Dalam beberapa gebrakan saja, pedang itu telah terbelit jubah dan sekali renggut, pedang telah dapat dirampas oleh Siok Lun. Kemudian, Siok Lun mengebutkan jubah dan pedang rampasannya menyambar dahsyat ke arah tuannya. Liu Kong terkejut, cepat ia mengelak sehingga pedangnya lewat di atas pundak dan menancap di dinding, akan tetapi dia tidak mengelak dari sambaran jubah yang di tangan Siok Lun berubah menjadi senjata yang ampuh.

“Pakkkl” Liu Kang tak dapat bergerak lagi karena ia sudah rebah terguling dengan kepala pecah! Siok Lun tidak memperdulikan Liu Kong yang sudah menjadi mayat, cepat tubuhnya mencelat melalui jendela hendak mengejar Siang Hwi.

Keadaan di situ menjadi geger karena orang-orang sudah mendengar suara ribut-ribut itu. Para pengawal memasuki pondok juga muncul para panglima, mereka terkejut melihat tawanan lolos dan Liu Kong tewas, beramai-ramai mereka inipun melakukan pengejaran secara ngawur. Di samping pondok, ketika sudah berhasil keluar melalui jendela, Siok Lun melihat dua orang pengawal yang menjaga di situ menggeletak, agaknya dirobohkan Siang Hwi yang tentu saja terlalu lihai bagi dua orang pengawal itu. Seorang pengawal sambil merintih-rintih menuding ke arah depan dan Siok Lun terus melakukan pengejaran dan ilmu larinya yang luar biasa. akan tetapi tiba-tiba munpul Bi Hwa di depannya, dengan pedang di tangan dan dengan sikap angker. “Suheng, mau apa kau lari-lari dengan pakaian setengah telanjang seperti ini?” pucat wajah Siok Lun, kemudian merah.

“Aku... aku mengejar... tawanan lolos... si keparat Liu Kang yang...”

“Cukup aku telah mengetahui segalanya, suheng. Tak perlu kau membohong kepadaku. Dasar engkau laki-laki yang mata keranjang!” Siok Lun tertegun. Memang tidak perlu menyangkal lagi kalau Bi Hwa sudah tahu semua.

“Sumoi... biarlah nanti kuminta ampun darimu. Sekarang lebih baik kita lekas mengejar tawanan.” “Untuk kau tangkap dan kau perkosa?” Bi Hwa mengejek.

“Tidak. Demi Tuhan... tidak! Hanya, dia tawanan penting tidak boleh lolos..?” Bi Hwa menggeleng kepala dan sementara itu, dari belakang sudah terdengar jejak kaki para panglima yang melakukan pengejaran.

“Biarkan dia lolos, suheng. Kalau dia tertawan, tentu dia akan membuka semua peristiwa yang terjadi. Kalau sudah begitu, bagaimana dengan cita-cita kita. Engkau telah membunuh Liu Kong, seorang perwira yang dipercaya..?” Siak Lun sadar dan menjadi bingung.

“Habis, bagaimana baiknya? Mereka sudah datang..?”

“Bodoh! Bilang saja kalau Liu Kong yang membebaskan Siang Hwi, dan kau terpaksa membunuhnya, kemudian kami melakukan pengejaran tanpa hasil.” Ingin Siok Lun memeluk dan mencium kekasihnya yang cerdik ini. akan tetapi Bi Hwa menggerakkan tangan dan “plakk!” pipi kanan Siak Lun telah ditamparnya. Pada saat itu, muncul Gin-san-kwi dan Kim I Lahan, sedangkan dari belakang mereka tampak bukan pengawal dengan obor di tangan.

“Apa yang terjadi? Liu-sicu tewas di kamar tahanan..?” Gin-san-kwi berkata, memandang penuh kecurigaan kepada Siok Lun yang telah memakai jubahnya kembali.

“Dia pengkhianat benar lociangkun!” kata Siok Lun, suaranya bernada marah, karena ia marah dan benci sekali kepada Liu Kong yang sudah menggagalkannya.

“Dia telah membebaskan tawanan, agaknya karena gadis itu memang piauw-moinya. Tentu dia sudah bersama-sama lari pula kalau kau tidak muncul setelah agak terlambat, aku terpaksa menghadapinya dan tawanan lolos, akan tetapi pengkhianat itu telah berhasil kubunuh.” Dengan suara yang sedikitpun tidak ragu-ragu Siok Lun menceritakan peristiwa yang dikarangnya sesuai dengan petunjuk Bi Hwa. Para panglima dan pengawal memaki-maki Liu Kong sebagai seorang pengkhianat.

“Tidak heran,” kata Kim I Lohan. “Sejak kecil ia menjadi murid Bu Keng Liong, tentu saja ia merasa berat melihat Bu Keng Liong tewas dan puterinya ditawan. Untung Phoa-sicu berhasil membunuhnya, memang dia sudah selayaknya mati, sungguhpun lebih baik lagi kalau ditangkap hidup-hidup untuk membuat pengakuannya.”

Demikianlah, dalam peristiwa kematian Liu Kong itu, Siok Lun malah dipuji-puji oleh para panglima dan rombongan itu dilanjutkan pada keesokan harinya menuju kata raja tanpa tawanannya yang sudah melarikan diri dan biarpun sampai pagi para pengawal melakukan pengejaran, namun hasilnya sia-sia. Siang Hwi telah lenyap seperti ditelan bumi dan hal ini memang tidak aneh karena daerah itu merupakan daerah yang luas penuh dengan hutan dan pegunungan, sedangkan gadis itu melarikan diri di waktu malam yang amat gelap. Bi Hwa sekali ini benar-benar marah kepada Siok Lun. Di dalam perjalanan ke kota raja, gadis ini menjadi pendiam sekali dan ketika Siok Lun berusaha membujuk dan mengambil hatinya. Bi Hwa hanya menjawab singkat.

“Kita ke kota raja membereskan tentang kedudukan kita. Kemudian kita harus pergi ke orang tuamu dan kita langsungkan pernikahan, aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu. Kau memnuhi permintaanku ini atau kita pisah sekarang dan selamanya engkau akan kuanggap sebagai musuhku!” Siok Lun mati kutunya. Dia sebetulnya mencinta sumoinya ini. Bukan hanya cinta nafsu, melainkan betul-betul ingin menjadi suami sumoinya ini. Maka ia hanya mengangguk-angguk dan tidak berani membantah.

Mereka duduk beristirahat di bawah pohon di pinggir sebuah hutan. Matahari bersinar terik sekali sehingga mereka berteduh di bawah pohon dan menghapus peluh yang mengucur deras.

“Twako, kenapa engkau murung dan termenung saja sejak kita pergi dari Hek-kwi-san beberapa hari yang lalu?” Mendengar pertanyaan ini, Kwan Bu hanya menghela napas dan menggeleng kepala.

“Twako, apakah kau marah kepadaku?” Kwan Bu menoleh memandang wajah gadis itu, lalu menggeleng kepala dan menjawab lesu,

“Tidak, mengapa harus marah kepadamu?”

“Aku telah mempermainkanmu! Namaku sebenarnya adalah Phoa Giok Lan, dan aku mengaku pria kepadamu, akan tetapi aku tidak tahu bahwa engkau adalah sute dari kakakku, aku seperti mempermainkanmu selama ini, twako. Maukah kau memaafkan aku?” suara Giok Lan terdengar manja. Kwan Bu tersenyum, senyum yang duka.

“Aku tidak marah kepadamu, Lan-moi dan tidak perlu memaafkan, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang wanita..?

“Heee…? Bagaimana bisa tahu dan sejak kapan?” Giok Lan bertanya heran dan tak disadarinya ia memegang lengan Kwan Bu. Hal seperti ini memang sering dia lakukan ketika dia masih menjadi “pemuda” akan tetapi kini bagi Kwan Bu terasa janggal dan membuatnya kikuk dan malu.

“Sejak di kuil Ban-Iok-tang ketika kita menyerbu tempat Tong Kak Hosiang, Cheng l Lihiap menyebutmu cici.”

“Ah, kau nakal, twako, Kenapa tidak bilang terus terang bahwa kau telah mengetahui penyamaranku?” Kwan Bu tersenyum lagi. Kedukaannya berkurang kalau ia bercakap-cakap dengan gadis lincah ini, yang sekarang telah mencubit lengannya.

“Aku tidak ingin menyinggungmu, Lan-moi.”

“Ah, engkau memang seorang gagah yang amat baik hati. twako.” “Engkaulah yang baik budi, sudi membantuku mencari musuhku “Kalau kau tidak marah kepadaku, kenapa murung?” “Banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati, Lan-moi.” “Yang terjadi di Hek-kwi-san?” Kwan Bu mengangguk.

“Kematian majikanmu Bu Keng Liong itu?” Kwan Bu menarik napas panjang.

“Sungguh sayang sekali seorang pendekar yang berjiwa besar, aku mengenal betul wataknya, seorang taihiap yang patut dikagumi. Sayang, dia tewas sebagai seorang pemberontak, dan bersekutu dengan perampok...” Ia kembali menghela napas. “Kematiannya merupakan salah satu diantara hal-hal yang tidak menyenangkan hatiku.”

“Hemm...... kalau begitu tentu karena gadis galak itu? Puteri Bu Keng Liong yang bernama... ah, siapa lagi namanya?”

“Siang Hwi, Bu Siang Hwi.”

“Ya, betul. Tentu karena dia bukan? Dia amat mencintaimu twako.” Kwan Bu memandang wajah gadis itu dengan mata terbelalak.

“Apa? ah, jangan main-main, Lan-moi. Dia... dia membenciku, seringkali memaki-makiku, memandang rendah kepadaku!” Biarpun mulutnya berkata demikian namun di dalam hatinya Kwan Bu membayangkan kembali betapa mesra ketika ia mencium gadis yang pernah menjadi nona majikannya itu, dan jantungnya berdebar keras Siang Hwi mencintainya? Tak mungkin! Ketika dicium gadis itu seolah-olah tidak hanya menyerah, bahkan terasa di hatinya gadis itu membalasnya, akan tetapi gadis itu menyangkal bahkan menjatuhkan fitnah atas dirinya. Mengingat itu semua, kemarahannya timbul dan wajahnya muram kembali.

“Memang begitu pada lahirnya, akan tetapi pandang matanya kepadamu, dan...... dan.      dia

cemburu dan iri kepadaku sehingga melihat aku bersamamu, dia mendadak saja tanpa alasan membenciku setengah mati! Mungkin dia tidak mencintaimu, akan tetapi kau... kau amat mencintainya, twako. Dan kini kau merisaukan keadaannya karena dia menjadi yatim-piatu..?” Kembali Kwan Bu terkejut, akan tetapi ketika mereka bertemu pandang ia melihat betapa pandang mata itu penuh pengertian, tidak mungkin dapat ia bohongi. Maka ia mengangguk dan menghela napas panjang.

“Memang, aku pernah mencinta, Lan-moi, akan tetapi... hemm,.. seorang yang tak berharga seperti aku, mana patut menjadi jodohnya? Bagaikan seekor kambing merindukan ujung cemara yang tinggi! aku seorang yang miskin, bodoh, dan hanya hidup bersama ibuku yang tua dan miskin, seorang anak yang tidak berbakti karena sampai kini belum juga mampu menemukan musuh besar keluargaku. Seorang macam aku ini… siapa yang sudi memperhatikan?” Teringat akan keadaannya, dan merasa betapa jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika membicarakan Siang Hwi, dua titik air mata membasahi pipinya.

“Twako...... kenapa bicara seperti itu?” Giak Lan mendekat, mengeluarkan saputangan dan menghapus dua titik air mata itu.

“Twakao.. tidak tahukah engkau ataukah pura-pura tidak tahu? Bahwa ada seseorang yang amat memperhatikan dirimu, yang amat... cinta kepadamu   ? Twako, lupakanlah Siang Hwi karena di sini

ada Giok Lan yang sanggup mencintaimu sampai mati, yang setia dan yang akan membelamu dengan seluruh jiwa raganya..” Gadis itu telah memaksa hatinya untuk membuka rahasia perasaanya, kini ia terengah-engah dan menangis. Sejenak Kwan Bu termenung. Tentu saja dia tidak buta. Tentu saja dia dapat menduga sedikit-sedikit bahwa kebaikan Giok Lan kepadanya tentu ada dasarnya, akan tetapi, mendengar pengakuan cinta yang terus terang, seperti itu, mendengar pengakuan kasih yang demikian mendalam, ia terkejut dan terharu sekali.

“Giok Lan...... moi-moi     , ah, betapa mulia hatimu..” Ia meraba kepala itu dan mengelus rambut

yang hitam dan halus. Sentuhan ini memecahkan air mata Giok Lan sehingga tangisnya makin sesenggukan, bahkan gadis itu lalu menubruk dan menyembunyikan mukanya di dada Kwan Bu sambil menangis terisak-isak.

“Twako... twako..!” ia berbisik, penuh keharuan, juga kebahagiaan. Kwan Bu adalah seorang muda yang teguh hatinya, dan seorang muda yang selalu menjaga tindakannya. Peristiwa yang dihadapinya kali ini sungguhpun amat mengguncang hatinya, namun tidak membuat ia kehilangan akal dan kesadaran. Ia membiarkan gadis itu melampiaskan perasaanya menangis di atas dadanya. Kemudian setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak Giok Lan dan dengan halus mendorong gadis itu sambil berkata.

“Lan-moi, tenangkan hatimu dan marilah kita bicara dengan hati terbuka dan pikiran sadar.” Giok Lan sudah dapat menguasai hatinya. Ia mundur sedikit dan duduk menyusuti air matanya, kemudian memandang wajah pemuda itu dengan mata sayu dan muka kemerahan karena merasa malu dan jengah.

“Twako, kau tentu akan memandang rendah kepadaku setelah pengakuan tadi   tidak semestinya

seorang gadis mengaku cinta !!”

“Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Bahkan aku menjadi kagum akan kejujuranmu, aku menjadi terharu dan berterima kasih kepadamu bahwa seorang gadis seperti engkau ini, cantik-jelita, kaya-raya, lihai pula sudah sudi melimpahkan cinta kasih kepada seorang seperti aku..!”

“Ah, kalau begitu engkau juga... mencintaiku, twako… ?” Gadis itu memandang dengan sinar mata

sayu, penuh harapan. Kwan Bu merasa tidak tega untuk menolak begitu saja. Gadis ini amat cantik, dan amat baik terhadap dirinya. Tidaklah sukar untuk menjatuhkan cinta kasih kepada seorang gadis seperti Giok Lan ini akan tetapi ia tidak akan mampu melupakan Siang Hwi, takkan mampu melupakan penderitaan-penderitaan gadis bekas nona majikannya itu, dan terlebih lagi, tidak akan mampu ia melupakan dua kali ciumannya yang dihadiahi tamparan-tamparan oleh Siang Hwi.

“Lan-moi, aku akan menjadi seorang pemikat dan pembohong kalau aku mengaku cinta begitu saja kepadamu. aku suka kepadamu, hal ini sudah jelas. akan tetapi tentang cinta, kiranya aku belum

berhak menyatakannya kepada gadis manapun juga. Harap kau ketahui, moi-moi. aku seorang pemuda yang miskin dan bodoh, dan yang jelas sekali, aku tidak akan bicara tentang cinta dan jodoh sebelum aku berhenti menyari dan membalas dendam musuh besarku.”

“Aku tahu engkau masih mencinta gadis she Bu..?” Giok Lan berkata dengan wajah berduka. Kwan Bu memegang tangannya.

“Kurasa tidak moi-moi. Memang dahulu aku mencintainya, akan tetapi aku bukanlah seorang yang begitu bodoh sekali sehingga akan nekat saja mencinta seorang yang jelas membenciku, dan berkali- kali menghinakau. Tidak, kalau nona Bu membenciku. akupun akan berusaha sekuat tenaga menjauhinya, untuk melupakannya!” Wajah Giok Lan berseri dan ia pun melompat bangun. Di sudut hatinya, ini menemukan harapan baru dan ia percaya bahwa dia akan dapat membuat Kwan Bu melupakan Siang Hwi, dan dia percaya bahwa akhirnya dia akan berhasil memiliki hati dan cinta kasih pemuda yang amat dikaguminya ini. Sambil tersenyum manis ia menarik bangun pemuda itu dan berkata,

“Ah, apa-apaan kita ini bicara tentang hal yang bukan-bukan? Kita lupa sedang melakukan perjalanan penting sekali. Mari, twako. aku ingin cepat-cepat menjumpai ibumu dan memboyongnya ke rumahku.” Kwan Bu melompat bangun dan seketika kekeruhan di wajahnyapun lenyap ketika ia teringat kepada ibunya. Sudah lama ia meninggalkan ibunya dan hatinya sudah amat merindukan orang tua itu. Ia ingin cepat-cepat pula bertemu dengan ibunya, selain karena sudah rindu ingin menjemput ibunya mengajak ke rumah suhengnya,

Juga ada satu hal yang membuat ingin sekali ia bertemu ibunya. Ia ingin sekali bertanya kepada ibunya tentang ayahnya. Ia telah dimaki orang sebgai anak haram dan dahulu ia tidak dapat bertanya kepada ibunya karena orang tua itu keadaannya masih seperti orang bingung saking beratnya penderitaan batin yang ditanggungnya karena dahulu kehilangan puteranya. Kini, Kwan Bu mengharapkan akan mendapat penjelasan ibunya tentang makian anak haram yang dilontarkan oleh keluarga Bu dan murid-muridnya kepadanya dahulu. Karena dua ekor kuda yang mereka dapatkan dari para pengawal adalah binatang-binatang pilihan yang kuat dan baik, maka perjalanan itu dapat dilanjutkan dengan cepat. Ketika mereka berdua memasuki dusun Kwi-cun, Kwan Bu menghentikan kudanya dan memandang dusun kecil itu dengan terharu.

“Inilah tempat tinggal keluarga ibuku..? Katanya perlahan seperti kepada diri sendiri, Giok Lan memandang pemuda itu dan ia maklum bahwa dusun ini tentu saja menimbulkan kenang-kenangan tidak menyenangkan bagi pemuda itu, maka ia berkata,

“Akan tetapi kau bilang ibumu berada di kuil Kwan-im-bio, lebih baik kita cepat-cepat ke sana twako.” Diingatkan kepada ibunya, Kwan Bu menjadi gembira lagi.

“Kuil itu berada di luar dusun. Mari     ” mereka membalapkan kuda menuju kuil tua yang berada di

tempat sunyi jauh di luar dusun Kwi-cun.

“Kwan Bu datang !!” dua orang nikauw yang berada di luar kuil itu berseru girang ketika melihat

masuknya pemuda ini menuntun kudanya bersama seorang “pemuda” tampan yang juga menuntun kudanya, memasuki pekarangan kuil itu. Seorang diantara kedua nikauw itu lalu tergesa-gesa masuk ke dalam kuil dan tak lama kemudian muncullah ibunya bersama Cheng ln Nikauw yang sudah tua. Ibunya juga kelihatan tua. padahal Bhe Ciok Kim pada waktu itu ia belum ada lima puluh tahun usianya, paling banyak empat puluh satu atau dua tahun.

“lbu...!” Kwan Bu lari dan berlutut didepan ibunya, memeluk kaki ibunya yang berdiri tertegun, kemudian ibu inipun mengangkat bangun puteranya, memeluk dan menangis saking girangnya.

“Kwan Bu......! Kwan Bu     ! Betapa rinduku kepadamu anakku! Ibu dan anak itu bertangis-tangisan

dan Giok Lan yang menyaksikan ini, tak dapat menahan air matanya sehingga para nikauw memandangnya dengan heran karena baru sekarang mereka melihat pemuda yang begitu ganteng akan tetapi juga begitu mudah menangis!