-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 07

Jilid 07

“Tentu saja saya dapat membaca dan mengerti bahwa barisan ini adalah barisan pengawal kerajaan. Justeru karena itulah saya sengaja menghadang karena ingin bicara dengan pemimpinnya, kalau rombongan lain tanpa bertanya tentu sudah dari tadi aku turun tangan memberi hajaran!” Bi Hwa sampai kaget mendengar ucapan suhengnya ini, akan tetapi ia bersikap tenang sungguhpun hatinya tegang. Bagaimana sih suhengnya atau juga kekasihnya ini? Berani main-main seperti itu terhadap rombongan barisan pengawal kerajaan?

“Orang muda, apa maksudmu!?” kini Gin-sang-kwi Lu Mo Kok yang menegur dan diam-diam Siok Lun dapat mengukur bahwa kakek bongkok ini lebih berbahaya dari pada si hwesio, di dalam suaranya terkandung khi-kang yang kuat sekali. Kembali ia menjura, kali ini kepada Lu Mo Kok sambil berkata,

“Agaknya Lociangkun (panglima tua adalah pemimpin barisan ini?” “Benar, katakanlah apa maksudmu.”

“Tadi saya bersama sumoi saya ini sedang enak-enak mengaso di sini, dan kedua ekor kuda kami sedang makan rumput. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda barisan Lociangkun sehingga dua ekor kuda kami kaget dan melarikan diri entah ke mana. Kalau rombongan lain melakukan hal ini tentu kami tidak mau terima, akan tetapi setelah kami tahu bahwa yang datang adalah barisan pengawal, maka kami hanya ingin bertanya, apa maksudnya Lociangkun memimpin barisan pengawal? Bukankah barisan pengawal itu tugasnya mengawal dan menjaga keselamatan raja di istana? Ataukah hendak maju perang? Kalau maju perang, melawan siapa?” Kini Liu Kong yang membentak dengan hati tidak sabar. Melihat sepasang orang muda ini yang tampan dan cantik, juga sikap mereka yang gagah, diam-diam ia merasa kagum dan suka. Akan tetapi siapa kira sikap pemuda itu amat sombong dan lancang, dan Liu Kong tidak menghendaki kedua orang itu celaka di tangan rombongan pengawal. Maka ia mendahului dua orang tokoh pengawal itu dan membentak,

“Wah, engkau ini apakah sudah bosan hidup? Mengapa begini lancang dan mencampuri sebuah urusan barisan pengawal? Lekas pergilah dan jangan mengganggu, kalau sampai kami hilang sabar, kalian akan kehilangan kepala!” Siok Lun mengerling ke arah Bi Hwa sambil tersenyum. Gadis itu tersenyum dan tampaklah kecantikan Bi Hwa makin gemilang. “Wah, sumoi, yang ini galak benar! Agaknya karena masih muda dan baru saja menduduki pangkat.” Merah kedua telinga Liu Kong mendengar ini. Ia merasa tersindir, karena memang baru saja ia memakai pakaian perwira di tubuhnya ini. Betapapun juga, dia bukanlah seorang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa sebab, setelah bertahun-tahun digembleng wataknya oleh pamannya, Bu Keng Liong yang juga menjadi gurunya. Ia menahan kemarahan dan berkata lagi.

“Katakanlah, kami bertugas membasmi perampok-perampok dan pemberontak-pemberontak! Kalau kalian bukan perampok atau pemberontak, lebih baik lekas pergi.” Tiba-tiba Siok Lun tertawa terbahak sambil memegangi perutnya, diturut oleh Bi Hwa yang sesugguhnya belum mengerti apa yang ditertawakan suhengnya itu.

“Ha-ha-ha-ha!”

“Wuuuutttt......!” Ujung tongkat Kim I Lohan menyambar ke arah kepala Siok Lun yang bergerak- gerak tertawa. Akan tetapi dengan gerakan gesit dan mudah saja Siok Lun sudah mengelak sehingga sinar tongkat itu menyambar lewat. Hal ini mengejutkan hati Kim I Lohan dan Gin-sang-kwi, karena serangan tadi tiba-tiba datangnya dan amat hebat, sukar di elakkan oleh sembarang orang. Namun pemuda tampan itu sambil tertawa bergelak mampu mengelakkan amat mudahnya, masih sambil tertawa!

“Eh, orang muda, sebetulnya apa maksudmu tertawa-tawa? Apakah engkau sengaja hendak menghina kami!” Gin-sang-kwi bertanya, siap dengan senjatanya yang hebat, yaitu sebuah kipas perak yang sudah ia keluarkan dan dipergunakan untuk mengebut-ngebut dadanya, mengusir panas.

“Tidak sekali-kali saya bermaksud menghina. Hanya merasa geli sekali mengapa Lociangkun rnembawa-bawa sekian banyak pengawal hanya untuk membasmi para perampok saja! Apakah para pengawal kerajaan demikian tiada gunanya sehingga untuk membasmi perampok saja harus datang berbondong-bondong?”

“Bocah Sombong” Terdengar bentakan marah dan seorang pengawal sudah meloncat turun dari kudanya dan langsung lari ke depan.

“Tai ciangkun, perkenankan hamba membunuh bocah sombong ini!” Pengawal ini masih muda dan tinggi besar serta memiliki kepandaian tinggi karena mereka semua adalah barisan pilihan.

Lu Mo Kok yang berjuluk Gin-sang-kwi (Setan Berkipas Perak) adalah pengawal nomor satu di istana. Tentu saja ia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali dan melihat gerakan Siok Lun ketika menghindarkan diri dari sambaran tongkat Kim I Lohan tadi saja sudah menilai tingkat kepandaian pemuda itu dan tahulah dia bahwa pengawal muda yang menjadi anak buahnya ini tidak akan mampu melawan pemuda itu. Akan tetapi sebagai pengawal kelas satu dari istana, ia cukup cerdik. Ia ingin melihat sampai di mana kepandaian Siok Lun, dan dari sebuah pertempuran ia akan dapat meneliti dan mencari kelemahan lawan. Untuk itu, tidak mengapa mengorbankan seorang anak buah untuk dikalahkan lawan. Maka ia mengangguk.

Pengawal itu masih muda. Usianya belum tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan bertenaga kuat. Tadi ketika melihat Bi Hwa, jantungnya sudah berdebar karena sekaligus ia jatuh hati kepada gadis yang cantik jelita dan kelihatan gagah perkasa itu. Sebagai seorang bawahan, tentu saja ia kalah muka oleh para pemimpin, maka untuk menonjolkan diri agar dikagumi gadis jelita itu, ia telah mengajukan diri untuk menandingi pemuda yang berani bersikap kurang ajar dan sombong terhadap komandan-komandannya. Kini, setelah mendapat perkenan, ia melangkah maju, membusungkan dada dan matanya mengerling tajam ke arah Bi Hwa, kerling seorang pria yang berlagak terhadap seorang wanita. kemudian ia menghadapi Siok Lun yang masih tersenyum-senyum dan berkata.

“Sobat, ucapanmu itu sungguh sombong, biarpun kau hendak mengatakan bahwa kau tidak menghina. Seolah-olah hanya engkau sendiri seorang laki-laki yang gagah perkasa. Coba kau hadapi kedua kepalanku kalau memang kepandaianmu sehebat mulutmul” Siok Lun memandang pengawal muda ini lalu tersenyum. Hatinya merasa geli. Sebagai seorang pemuda yang sudah banyak mengenal wanita dan tahu akan keadaan seseorang yang tergila-gila, ia tahu bahwa pengawal muda ini tertarik kepada sumoinya. Ia tidak menjadi cemburu, karena ia yakin bahwa bagi sumoinya, seorang pengawal seperti ini sama sekali tidak ada artinya. Maka ia sengaja berkata kepada sumoinya.

“Sumoi, kau wakililah aku melayani pengawal cilik ini.” kemudian ia berkata ditujukan kepada Gin- sang-kwi dengan suara mengandung ejekan.

“Lociangkun saya hendak membuktikan kepada lociangkun sekalian betapa tidak ada gunanya membawa-bawa barisan pengawal yang tidak ada kemampuan. Aku dan sumoiku ini bisanmembasmi para perampok hanya berdua saja. Nah, sumoi, mulailah.”

Bi Hwa juga bukan seorang wanita bodoh. Tadinya ia terkejut dan merasa heran menyaksikan suhengnya seolah-olah hendak mencari perkara dan permusuhan dengan para pengawal istana. padahal bukankah cita-cita mereka berdua itu selain hendak membasmi perampok-perampok sebagai pelaksanaan membalas dendamnya, juga hendak membantu pemerintah agar mereka memperoleh kedudukan tinggi? Kini, setelah mengikuti kata-kata dan sikap suhengnya, dia dapat menduga bahwa suhengnya hanya ingin mendemonstrasikan kepandaiannya agar mendatangkan kesan di hati para pengawal. Maka ia tersenyum manis dan melangkah maju menghadapi pengawal muda itu yang hatinya seperti ditarik-tarik oleh senyum dan kerling mata yang demikian manisnya.

“Apakah engkau seorang pengawal istana? Kabarnya pengawal-pengawal istana memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Biarlah aku hendak mencoba-mencoba. Silakan maju, hendak kulihat sampai di mana kehebatan kaki tangan seorang pengawal istana!” Pengawal muda itu makin pening, karena jantungnya makin berdebar-debar keras mendengar suara merdu itu. Ia menjadi ragu-ragu. Haruskah ia menghajar wanita cantik yang telah menjatuhkan hatinya ini? Tadinya ia ingin mengalahkan Siok Lun agar dikagumi wanita ini, siapa tahu kini wanita itu malah yang hendak maju melawannya!

“Ah, aku seorang pengawal istana yang gagah perkasa. Mana mungkin aku disuruh melawan seorang gadis muda yang lemah?” Gin-sang-kwi bermata tajam. Iapun melihat betapa ketika melangkah maju tadi, gerakan kaki Bhi Hwa amat mantap dan tubuhnya ringan, tanda bahwa gadis muda itupun memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, apalagi mengingat bahwa gadis itu adalah sumoi dari pemuda tampan yang lihai ini. Maka ia menjadi tidak sabar menyaksikan sikap anak buahnya yang jelas hendak mengambil hati wanita itu. Ia membentak.

“Orang telah menentangmu, mau tunggu apalagi? Hayo coba kalahkan nona ini!” Pengawal muda itu terkejut dan ia cepat memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, kedua kakinya dipentang di kanan kiri, kedua lutut ditekuk, merupakan kuda-kuda yang disebut Pasangan Menunggang Kuda, lengan kiri ditekuk dengan tangan terbuka di depan dada, tangan kanan dikepal merapat pinggang.

“Aku sudah siap. Majulah, nona!” katanya dengan sikap gagah. Namun Bi Hwa tersenyum, sama sekali tidak memasang kuda-kuda dan menjawab. “Engkau yang hendak mencbba kepandaian kami, bukan? Nah, kau kalahkan aku kalau memang mampu!” Merah wajah pengawal muda itu, namun karena khawatir ditegur lagi oleh komandannya ia berkata lagi.

“Baik, nona bersiaplah!” maksudnya tentu saja ingin memberi kesempatan kepada nona itu untuk memasang kuda-kuda agar dapat menghadapi serangannya dengan baik. Akan tetapi nona itu hanya tersenyum dan berkata,

“Sudah sejak tadi aku siap, engkau bicara terus-terusan dan tidak lekas menyerang, mau tunggu apalagi sih?” Pengawal muda itu menjadi makin gugup karena wanita muda yang cantik jelita itu seolah-olah hendak “memberi angin” kepada komandannya untuk menegurnya. Maka tanpa menanti teguran itu ia cepat merobah kedudukan kuda-kudanya dengan melangkahkan kaki kiri ke depan dengan lutut ditekuk sedangkan kaki kanan lurus mendoyong ke belakang, tangannya yang amat kuat mencengkeram pundak Bi Hwa, mulutnya berseru.

“Sambutlah serangan ini!” Cengkeraman itu amat cepat dan kuat sehingga tidak boleh dipandang ringan. Namun hati Gin-sang-kwi mendongkol sekali karena serangan seperti itu jelas membuktikan betapa anak buahnya ini masih segan-segan dan tidak menyerang dengan sungguh-sungguh. Hal ini membuktikan bahwa kalau anak buahnya itu tidak memandang rendah si gadis cantik, tentu mempunyai hati tidak tega yang timbul dari rasa sayang! Bi Hwa adalah murid Pat-jiu Lo-koai, tingkat kepandaiannya amat tinggi. Melihat serangan seperti ini ia tersenyum saja. Selain ia tahu akan akal suhengnya untuk mendemonstrasikan kepandaian mencari kesan baik sehingga tentu saja ia tidak boleh mencelakai pengawal itu,

Juga hatinya menjadi lunak karena lawan ini agaknya tidak tega untuk menyerang sungguh-sungguh kepadanya. Maka ia berlaku tenang. tidak terburu-buru mengelak, hanya setelah tangan yang mencengkeram itu sudah dekat, ia miringkan pundaknya sehingga cengkeraman itu luput. Pengawal itu memang jatuh hati, akan tetapi pada dasarnya dia seorang mata keranjang, bukan cinta yang murni, melainkan cinta nafsu seorang pria yang tergila-gila kepada seorang wanita cantik. Pula, sebagai seorang pengawal, entah sudah berapa banyak ia mempermainkan wanita, baik secara halus maupun kasar. Kini melihat cengkeramannya luput dan tangannya lewat di depan dada nona itu, timbullah niatnya untuk mempergunakan kesempatan ini meremas dada Bi Hwa! Dengan gerakan pergelangan tangannya, jari-jari tangan yang luput mencengkeram pundak itu kini membalik dan hendak meremas dada.

Bi Hwa mengeluarkan suara mendengus lirih dari hidungnya. Tangan kirinya bergerak ke atas seperti orang menangkis, padahal ia diam-diam menggunakan sebuah jari telunjuknya menotok pergelangan tangan lawan, membarengi selagi tangan itu meremas dadanya yang agaknya seperti ia biarkan saja. Pengawal itu sudah kegirangan karena kalau serangan kedua ini berhasil, selain ia dapat menikmati rabaan tangannya pada dada. juga berarti ia sudah membikin malu lawan dan dapat dianggap menang dalam gebrakan pertama. Akan tetapi segera terdengar keluhan kaget dan nyeri ketika tiba-tiba jari tangannya yang kiri itu seketika menjadi kaku tanpa ia ketahui apa sebabnya, hanya merasa betapa setelah mendekati dada jari-jari tangannya tak dapat ia gerakkan lagi! Biarpun hanya sebentar tangannya kaku dan lumpuh, namun ia kaget sekali dan meloncat mundur melangkah lebar.

“Hemm, hanya begitu saja kemampuanmu?” Gin-sang-kwi membentak marah. Pengawal itu terkejut dan tahulah ia, atau dapat menduga bahwa tangannya yang kaku itu tentu saja disebabkan oleh si gadis manis. Dan dia kini kembali ditegur komandannya. Karena malu dan takut, ia lalu mengeluarkan seruan keras dan kini tubuhnya menubruk ke depan, tangan kiri memukul ke arah muka Bi Hwa. Namun pukulan yang amat keras dan cepat ini hanya pancingan belaka karena lengan belakangnya yang sungguh-sungguh menyerang, yaitu dengan gerak cepat meraih pinggang untuk dipeluknya! Bi Hwa tentu saja dapat mengikuti semua gerakan ini dan tahu pula akan siasat lawan.

la mendahului dengan memutar tubuhnya ke kanan menghindarkan pukulan ke arah muka dengan mengibaskan tangan kanan dari samping menyampok tangan kiri lawan, sedangkan tangan kirinya menyambar tangan kanan yang memeluk pinggangnya dengan sebuah totokan pula pada telapak tangan lawan. Selain ini iapun membarengi dengan tendangan dengan ujung kaki mengarah lutut. Gerakannya cepat bukan main, sukar diikuti pandangan mata. dan tahu-tahu pengawal muda itu menjerit keras karena telapak tangan yang tertotok itu terasa nyeri sekali, rasa nyeri yang terus menusuk sampai ke jantung, seolah-olah ada jarum beracun yang menjalar dari telapak tangannya terus sampai ke dalam dada. Dan pada saat yang sama, hanya seperempat detik selisihnya, tiba-tiba kakinya menjadi lumpuh karena sambungan lututnya tepat sekali kena dicium ujung sepatu Bi Hwa. Tanpa dapat dicegahnya lagi, pengawal muda itu jatuh berlutut di depan kaki Bi Hwa!

“Eh, eh, aku bukan puteri istana, mengapa engkau memberi penghormatan secara berlebihan? Aku tidak bisa menerimanya!” kata Bi Hwa mengejek. Siok Lun tertawa dan berkata kepada Gin-sang-kwi yang menjadi merah mukanya,

“Lociangkun, tidak tepatkah kata-kataku bahwa lociangkun membuang tenaga sia-sia saja membawa anak buah ini?”

“Menjemukan... menjemukan...!” kata Gin-sang-kwi dan sekali kakinya bergerak, terdengar suara “dukk!” dan tubuh pengawal muda itu terpental dalam keadaan pingsan. “Urus dia!” katanya dan pengawal-pengawal lainnya cepat menolong teman yang sialan itu. Baik Siok Lun maupun Bi Hwa terkejut dan kagum. Tendangan kakek bongkok itu membikin si pengawal pingsan, akan tetapi sekaligus juga menyembuhkan lutut yang tadi tercium ujung sepatu Bi Hwa. Hal ini saja membuktikan bahwa kakek inipun seorang ahli totok yang ampuh sekali kepandaian nya.

“Kalian berdua tentu mempunyai maksud tersembunyi maka berani berlagak di depan kami. orang- orang gagah tidak akan melakukan hal-hal yang tersembunyi. Lebih baik kalian mengaku agar kami dapat mengambil keputusan turun tangan. Siapakah kalian ini, dari golongan mana dan apa hendak kalian mengacau barisan pengawal yang kami pimpin?” Ucapan si bongkok ini berwibawa, sesuai dengan kedudukannya sebagai pengawal nomor satu dari istana.

Siok Lun menjawab, suaranya gagah dan sikapnya tenang, bahkan senyumnya masih belum meninggalkan wajahnya yang tampan. “Saya bernama Phoa Siok Lun, dan ini adalah sumoi saya bernama Liem Bi Hwa. Kami adalah perantau-perantau dan seperti saya katakan tadi, kami sedang duduk bercakap-cakap ketika rombongan lociangkun lewat sehingga kuda kami lari entah ke mana. Harena tertarik, kami lalu menemui lociangkun untuk sekedar bercakap-cakap. Kiranya lociangkun sedang memipin barisan untuk membasmi perampok-perampok. Hal ini sungguh kebetulan sekali karena kamipun merupakan tukang membasmi perampok-perampok. Hanya sekali lagi saya nyatakan bahwa membasmi perampok tidak perlu membawa barisan besar seperti ini yang hanya akan memperlambat perjalanan danbmemusingkan belaka.

“Hemm, kalian berdua ini orang-orang muda yang memiliki sedikit kepandaian namun bersikap sombong. Apa yang kami lakukan tidak ada hubunganya dengan kalian. Kalau memang kalian memandang rendah kami, mari kita cbba-coba!” setelah berkata demikian, Gin-sang-kwi menggerakkan kipasnya, dibuka dengan suara “greeekkk!” yang nyaring sekali dan ketika daun kipas terbuka, ada angin menyambar keras. “Omitbhud, orang-orang muda memang seperti burung yang baru belajar terbang, tidak tahu luasnya lautan tingginya awan!” kata Kim I Lohan dan kakek gundul inipun menggerakkan Kim-coa- pang di tangannya sehingga terdengar suara “wuuuttt” dan angin pukulan tongkat yang berat itu menyambar-nyambar.

“Hemm, jiwi lociangkun (bapak panglima berdua! memiliki senjata, kamipun mempunyai senjata! Sumoi, mari kita layani dua orang terhormat ini bermain-main sebentar untuk membuktikan bahwa kita tidaklah berlagak dan bersombong diri!” sambil berkata demikian, Siok Lun memberi kedipan mata kepada Bi Hwa yang mengerti bahwa suhengnya ingin memperlihatkan kelihaian agar dapat menarik hati panglima-panglima pengawal istana ini, karena sesungguhnya, mereka itu dapat dijadikan jembatan yang baik agar cita-cita mereka tercapai.

“Singgg.........!” Dua sinar terang berkelebat dan tahu-tahu kakak beradik seperguruan itu telah berdiri tegak dengan pedang yang berkilauan di tangan kanan, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan dada dengan jari terbuka miring. Sikap mereka sungguh indah dan sedap dipandang.

“Silakan, jiwi lociangkun. Kami berdua kakak beradik siap melayani jiwi bermain-main.” kata Siok Lun sikap dan kata-katanya halus namun mengandung tantangan. Melihat sikap dua orang muda itu, biarpun tidak terang-terangan hendak memasuki barisan pengawal, bahkan tadipun gadis lihai itu tidak menewaskan anggauta pengawal, Gin-sang-kwi yang sudah banyak pengalaman tetap menjadi curiga. Boleh jadi kedua orang muda ini bukan musuh, bukan golongan yang anti kaisar, namun juga dapat dikatakan bahwa mereka itu merupakan golongan kawan. Sebagai seorang tokoh yang tinggi ilmunya, tentu saja dia dan Kim I Lohan menjadi penasaran ditantang oleh dua orang muda itu.

“Bagus sekali, kalian dua orang muda sombong, boleh maju!” kata Gin-san-kwi yang sudah membuka daun kipasnya dan mengembangkannya di depan dada. Juga Kim I Lohan sudah memasang kuda- kuda, melintangkan tongkatnya yang berkepala ular emas itu siap menanti serangan.

“Sumoi, kedua lociangkun ini mau mengalah, mari kita mulai!” kata Siok Lun dan bagaikan dua ekor burung garuda menyambar, mereka itu sudah berkelebat, maju, didahului sinar putih bagaikan kilat menyambar ke arah dua orang komandan atau panglima pengawal itu. Siok Lun yang dapat menduga bahwa si kakek bongkok bersenjata kipas itu adalah lawan yang paling kuat, sudah menerjang. Gin-san-kwi dengan pedangnya, membuat gerakan menusuk ke arah mata dengan cadangan mengurat ke bawah dari leher ke pusar lawan! Juga Bi Hwa tidak mau kalah cepat dari suhengnya. Dalam hal ini, ilmu gerak cepat memang Bi Hwa istimewa sekali.

Tubuhnya ringan dan gerakannya cepat bukan main, sigap dan gesit seperti burung walet, kini ia sudah menyerang Kim I Lohan dengan bacokan ke arah ubun-ubun kepala gundul itu dari atas ke bawah dibarengi dengan tendangan ke arah pusar dari bawah ke atas! Menyaksikan gerakan pertama yang amat hebat dan yang merupakan serbuan dahsyat ini, baik Gin-san-kwi maupun Kim ILohan tidak berani memandang rendah. Sebagai orang-orang yang sudah tinggi ilmu silatnya dan yang sudah puluhan tahun pengalaman mereka dalam pertempuran-pertempuran, maka kini tahulah mereka bahwa dua orang muda ini benar-benar lihai dan tentu murid~murid orang sakti. Gin-san-kwi sudah cepat mengelak dengan kepala dimiringkan. Ketika pedang Siok Lun menggurat dari atas ke bawah, ia menangkis pedang itu dengan tulang kipasnya.

“Cringg...!” pedang Siok Lun terpental, akan tetapi terpental hanya untuk membuat gerakan melingkar dan tahu-tahu ujung pedang sudah menusuk ke arah lambung si kakek bongkok. Gerakan ini indah, cepat dan tidak terduga-duga sama sekali. “Bagus!” Gin-san-kwi berseru kaget dan cepat ia menggeser kaki merobah kedudukan sambil menyampok dengan kipasnya. Namun Siok Lun yang hendak mendemanstrasikan ilmunya yang hebat, yang ia pelajari dari si manusia sakti Pat-jiu Lo-koai, telah menghujamkan serangan-serangan berbahaya, sehingga kakek bongkok itu tidak mendapatkan kesepatan untuk membalas sama sekali. Sampai sepuluh jurus Siok Lun terus menerjang dan mengurung si kakek bongkok dengan gulungan sinar pedangnya yang amat cepat dan kuat.

Bi Hwa juga mengimbangi suhengnya. Gadis lihai ini dapat menduga bahwa awannya, seorang hwesio yang bersenjata tongkat seberat itu, tentu merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dikalahkan, baik dengan kekuatan maupun dengan desakan ilmu pedangnya. Karena itu, gadis cerdik ini mengandalkan kecepatan gerakannya, mengandalkan ginkangnya. Ia menerjang dengan cara menyambar-nyambar seperti seekor burung, hanya menggunakan ujung pedangnya untuk menyerang bagian-bagian tubuh lawan yang lemah, namun begitu dielakkan atau ditangkis, ia tidak melanjutkan serangannya melainkan berkelebat cepat untuk melakukan serangan dari lain jurusan. apalagi kalau tongkat itu menangkis, gadis cerdik ini sama sekali tidak membiarkan pedangnya kena di hantam tongkat.

Dia dapat menduga bahwa tongkat itu tentu merupakan senjata berat yang ampuh, dan untuk mengadu tenaga, ia tahu bahwa ia bukanlah tandingan hwesio yang ilmu tongkatnya jelas menunjukan ilmu silat Siauw-lim-pai itu. Dan memang jitu sekali perhitungan Bi Hwa. Kim I Lohan menjadi kewalahan menghadapi gerakan yang luar biasa cepatnya itu sehingga tidak mendapat kesempatan untuk membalas pula. Maka dengan menggereng marah hwesio ini lalu memutar tongkat Kim-coa-pang di sekeliling tubuhnya sehingga tubuhnya bagai terlindung ileh benteng baja yang kuat! Sementara itu, Liu Kong yang tingkat kepandaiannya tidak setinggi tingkat mereka yang sedang bertanding namun sejak kecil telah dibimbing oleh Bu Keng Liong yang gagah perkasa, berdiri dengan mata terbelalak kagum.

Pemuda ini biarpun baru saja mendapatkan kedudukan diantara para pengawal istana, namun karena ia adalah putera mendiang Liu Ti yang sudah terkenal dan disegani di kalangan para pengawal, maka Liu Kong juga mempunyai pengaruh yang besar. Apalagi ketika para tokoh panglima pengawal melihat bahwa pemuda ini amat cerdik, seperti ayahnya, pandai mengatur siasat, dalam menghadapi para pemberontak, maka ia lebih disegani lagi oleh Gin-san-kwi lalu diajak bersama- sama membasmi para pemberontak sebagai seorang penasehat dan pengatur siasar. Kini, melihat dua orang muda yang memiliki ilmu pedang sedemikian tangguhnya, ilmu silat sedemikian lihainya, Liu Kong yang dapat mengikuti pertandingan itu dengan matanya yang terlatih, menjadi kagum dan cepat-cepat ia mengambil keputusan. Ia melompat maju dan berseru keras.

“Harap cuwi menahan senjata!” Seruannya cukup nyaring dan karena dua orang murid Pat-jiu Lo- koai tidak berniat memusuhi para pengawal, maka sambil tersenyum Siok Lun meloncat mundur diikuti oleh sumoinya. Mereka ini sudah menyimpan pedang dengan gerakan yang mengagumkan, seolah-olah pedang mereka bermata dan bisa kembali sendiri ke sarungnya.

“Lociangkun berdua harap suka memastikan dua orang saudara ini karena mereka ini bukanlah musuh, bukan pemberontak-pemberontak yang harus kita ganyang.” Demikian Liu Kang berkata kepada Gin-san-kwi dan Kim I Lohan. Kemudian ia melanjutkan cepat sebelum ada orang lain yang bicara sehingga mengeruhkan suasana, dan kini ia tujukan kata-katanya kepada Siok Lun dan Bi Hwa sambil menjura.

“Saya harap saudara berdua suka menghentikan pertandingan main-main ini. Hendaknya jiwi [kalian berdua) ketahui bahwa main-main dengan pengawal istana merupakan permainan berbahaya, karena melawan pengawal istana dapat membuat jiwi dianggap pemberantak. Dan saya yakin bahwa jiwi bukanlah golongan pemberontak yang hina dan rendah!” Siok Lun memandang kepada Liu Kong dengan mata penuh selidik.

Kini dia tidak memandang rendah pemuda tampan ini, dan tahulah dia betapa cerdik dan pandainya pemuda ini yang melihat pakaiannya, tentu tidak setinggi dua orang kakek pengawal itu pangkatnya, Namun, melihat betapa pemuda ini berani menghentikan pertandingan yang dilakukan dia orang kakek pengawal, jelas membuktikan bahwa pemuda ini mempunyai pengaruh dan kekuasaan pula, Selain itu, dia kagum, akan para pemuda ini bicara terhadap kedua pihak, Terhadap dua orang kakek pengawal. pemuda ini memintakan maaf untuk mereka berdua, dengan demikian, penghentian pertandingan itu tidak merendahkan kedudukan dua orang kakek pengawal. Sebaliknya, terhadap mereka berdua, pemuda itu meminta pengertian dan memuji-muji mereka yang dianggapnya bukan pemberontak yang hina. Siok Lun tersenyum kemudian menjura kepada Gin-san-kwi,

“Sungguh hebat ilmu kepandaian jiwi lociangkun. Benarlah sekarang bahwa ilmu kepandaian para pengawal istana hebat seperti yang dikabarkan orang, Saya dan sumoi mengakui keunggulan jiwi lociangkun!” Gin-san-kwi menghela napas panjang dan menutup daun kipasnya.

“Ah, sicu dan lihiap biarpun masih muda, telah memiliki ilmu kepandaian yang mengagumkan. Jarang aku menjumpai orang muda selihai sicu berdua!”

“Omitohud, kepandaian kalian mengingatkan pinceng kepada seorang pemuda lalu...!”“ kata Kim I Lohan, akan tetapi ia lalu menghentikan kata-katanya hanya dia, Gin-san-kwi, dan Liu Kong saja yang tahu siapa yang dimaksudkan oleh hwesio yang menjadi pengawal itu,

Pemuda yang dimaksudkan itu bukan lain adalah Bhe Kwan Bu yang biarpun baru bergebrak sebentar telah mereka ketahui keihaiannya. Sebetulnya, dalam ilmu silat, tingkat dua orang pengawal ini sudah tinggi sekali. Biarpun Kwan Bu sendiri sebagai murid kesayangan Pat-jiu Lo-koai, tidak akan mudah mengalahkan Gin-san-kwi dan Kim Lohan berdua. Kalau dahulu dia pernah dapat mengatasi mereka adalah karena pemuda perkasa itu memiliki Toat-beng kiam yang luar biasa, Pedang perkasa yang berwarna merah darah itu memang ampuh sekali dan jarang ada senjata yang mampu menandinginya dan dapat bertahan kalau beradu dengan pedang pusaka ini. Liu Kong yang diam-diam menjadi puas melihat hasil turun tangannya menghentikan pertandingan, cepat maju dan menjura kepada Siok Lun dan Bi Hwa sambil berkata,

“Karena jiwi bukan musuh, hal itu hanya dapat diartikan bahwa jiwi adalah sahabat-sahabat yang baik dan sealiran. Perkenalkanlah, lociangkun yang bersenjata kipas ini adalah Lu Mo Kok, pengawal kepala di istana, berjuluk Gin-san-kwi adapun losuhu inipun merupakan panglima pengawal yang berjuluk Kim I Lohan. Siau wie (saya) sendiri adalah pengawal rendahan bernama Liu Kong...”

“Omitohud...! Liu-sicu jangan terlalu merendahkan diri. Siapa yang tidak mengenal ayah sipu, mendiang Liu Ti yang jasanya besar sekali terhadap kaisar?” kata Kim I Lohan mencela, Siok Lun segera menjura dan berkata,

“Ah, kiranya saya berdua berhadapan dengan takoh-takoh besar dari istana! Harap maafkan sikap kami tadi.”

“Phoa-enghiong” kata Liu Kong, “Memang peribahasa antara kang-auw mengatakan bahwa sebelum bertanding tidak mengenal masing-masing… Engkau tadi mengatakan bahwa tiada gunanya membawa barisan pengawal untuk membasmi perampok, apakah Phoa-enghiong memiliki cara yang lebih baik?” “Memang bagi orang-orang yang tiada berkepandaian, agaknya perlu mengandalkan sebuah barisan membasmi perampok. akan tetapi, dengan kepandaian yang dimiliki Sam-wi [tuan bertiga), apalagi ditambah dengan kami berdua, apa sih sukarnya membasmi perampok? Perampok yang manapun juga, kalau kami berdua menghendaki, apa sukarnya untuk dibasmi?” Girang sekali hati Liu Kang.

“Kalau begitu, jiwi sudi untuk membantu usaha istana untuk membasmi perampok dan pemberontak?”

“Mengapa tidak? Kalau istana dapat menghargai tenaga kami sepatutnya, tentu kami suka membantu.”

“Bagus sekali!” Gin-san-kwi berseru girang dan diam-diam merasa kagum akan kecerdikan Liu Kang yang telah dapat menarik bekas lawan menjadi kawan pembantu, “Tentang penghargaan, harap sicu jangan khawatir, aku sendiri yang akan menjamin dan sudah pasti kaisar akan memberi anugerah kedudukan yang patut kepada jiwi!” akan tetapi Liu Kang cepat berkata,

“Phoa-enghiong, peribahasa mengatakan bahwa buah yang lezat baru dapat dipetik kalau kita sudah bersusah payah menanam pohon dan merawatnya dengan baik! Demikian pula dengan anugerah, tentu akan diterima dengan setelah jasa diberikan. Kami harap jiwi suka menemani kami untuk bersama-sama membasmi kaum pemberontak yang telah bersekutu dengan kaum perampok, setelah jiwi memberikan jasa, kami tentu akan melaporkan kepada kaisar dan jiwi pasti akan diberi anugerah yang memuaskan.”

Kembali Gin-san-kwi dan Kim l Lahan menjadi kagum, Pemuda ini benar-benar cerdik sekali dan amat setia kepada kerajaan, persis seperti mendiang ayahnya, Mereka berdua yang merasa kalah cerdik, hanya mengangguk-angguk dan menyerahkan kepada Liu Kang untuk menghadapi dua orang muda lihai itu, Gin-san-kwi tadi sudah menciba kelihatan Siok Lun, juga Kim I Lohan yang membuktikan sendiri kehebatan ilmu pedang Bi Hwa sehingga mereka berdua harus mengakui dalam hati bahwa kakak beradik seperguruan ini merupakan tenaga bantuan yang hebat. Siok Lun tertawa.

“Ucapan Liu-ciangkun tepat sekali. Kami siap untuk membantu jiwi sekalian. Di manakah adanya pemberontak-pemberontak dan perampok-perampok itu?”

“Kami sedang menuju ke Hek-kwi-san karena menurut penyelidik kami, para pemberontak berkumpul di sorang perampok yang bermarkas di Hek-kwi-san,” kata pula Liu Kong.

“Aha, Perampok-perampok di Hek-kwi-san? Bukankah yang dipimpin oleh Sin-to Hek-kwi (Iblis Hitam Bergalak Sakti)?

“Hemm…. apakah sicu sudah mengenalinya?” Tanya Gin-san-kwi kembali timbul kecurigaanya,

“Mengenal orangnya sih belum, akan tetapi sudah kudengar namanya. Kabarnya dia lihai sekali,” Kata Siok Lun, Liu Kang menjura.

“Betapapun lihainya, dengan bantuan jiwi kami percaya akan dapat mem membasminya,” Phoa Siok Lun mengangguk-angguk. Dia memuji cara Liu Kong bicara.

“Baiklah, memang kami berdua mempunyai kesenangan untuk membasmi semua perampok yang merajalela di dunia ini. Marilah kami pergi ke Hek-kwi-san.” Cepat dua ekor kuda disediakan untuk dua orang muda perkasa itu dan dengan penuh semangat dan kegembiran, barisan dilanjutkan perjalanannya menuju ke Hek-kwi-san, Siok Lun dan Bi Hwa dilayani dengan sikap hormat ssehingga dua orang ini, terutama Bi Hwa, menjadi girang sekali, Dia percaya penuh akan kepandaian suhengnya, dan kemuliaan sudah membayang di depan mata, juga dengan bergabung bersama pasukan istana. tentu saja akan lebih mudah membasmi perampok-perampok yang dianggapnya sebagai musuh besar karena keluarganya terbasmi oleh para perampok.

Hek-kwi-san merupakan daerah pegunungan yang panjang, penuh dengan hutan-hutan yang lebat. Daerah seperti ini amat disuka oleh para perampok karena daerah ini dapat mereka pergunakan sebagai tempat sembunyi dan dengan mudah mereka dapat menyusup-nyusup melalui hutan-hutan, turun dari banyak pegunungan untuk menghadang para rombongan yang lewat atau mendatangi dusun-dusun untuk dirampok. Baru akhir-akhir ini setelah gerombaoan perampok yang dipimpin oleh Sin-ta Hek-kwi, menjadikan tempat ini sebagai markas besar, pegunungan ini disebut Hek-kwi- san, Perampok yang dipimpin oleh Sin-to Hek-kwi amat terkenal dan ditakuti karena gerombolan perampok yang kesemuanya bersanjata tajam ini amat kejam dan juga rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh,

Sin-to Hek-kwi sendiri, yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, jarang turun tangan sendiri hanya mengandalkan anak buahnya dan pembantu-pembantunya yang juga menjadi murid- muridnya. Sebagai golongan perampok yang dikejar-kejar dan dimusuhi pemerintah, tentu saja setelah timbul pemberontakan-peberontakan anti kaisar, otomatis gerambolan perampok yang dipimpin Sin-to Hek-kwi ini berpihak kepada mereka yang anti kaisar, Jumlah perampok yang kurang lebih lima puluh orang itu kini mulai dihubungi dan dijadikan sekutu para pejuang anti kaisar, Bahkan pada hari itu, Hek-kwi-san kedatangan rambongan pejuang anti kaisar yang dipimpin Koai Kiam Tojin Ya Keng Cu, Seperti telah dituturkan di bagian depan,

Orang-orang gagah yang memperjuangkan perlawanan anti kaisar ini telah berhasil menyelamatkan Bu Taihiap atau Bu Keng Liong yang tadinya tertawan. Mereka maklum bahwa tentu pihak istana telah melakukan pengejaran, maka berduyung-duyung mereka lalu pergi ke Hek-kwi-san untuk bersembunyi dan mengatur rencana selajutnya. Tokoh-tokoh yang berilmu tinggi semua berada di Hek-kwi-san, Selain Koai Kiam Tojin (Tosu Berpedang Aneh) Ya Keng Cu sendiri, hadir pula Bu Keng Liong dan puterinya, Siang Hwi dan hadir pula Ban-eng-kiam Yo Ciat (Selaksa Bayangan Pedang). Selain itu masih ada belasan orang anak buah pejuang, Mereka ini disambut oleh Sin-to Hek-kwi dengan ramah dan penuh penghormatan, dan di situ pula mereka mengadakan perundingan untuk mengatur siasat dan mencari kesempatan untuk memukul kekuatan-kekuatan pro kaisar.

Pada siang hari itu menjelang senja, dua bayangan yang gesit gerak-geriknya berkelebatan di sekitar kaki pegunungan Hek-kwi-san sebelah selatan, akhirnya mereka itu menyelinap masuk dan bersembunyi ke dalam sebuah hutan kecil beberapa lamanya mereka melakukan penyelidikan dan melihat penjagaan-penjagaan yang ketat di sekelilling sebuah puncak yang dijadikan markas besar gerombolan perampok, Dua bayangan ini bukan lain adalah Bhe Kwan Bu dan Giok Lam.

“Kita menanti datangnya malam, baru menyerbu ke atas,” kata Kwan Bu yang mengajak temannya itu bersembunyi di dalam hutan itu, duduk di balik gerumbulan pohon-pohon kecil, di atas rumput yang hijau tebal.

“Bu-ko, sakit hati apakah yang kau dendam terhadap ahli golok dan jarum yang menjadi musuh besarmu itu sehingga dengan susah payah kau mencari orang yang belum pernah kau kenal? Padahal usahamu ini amat berbahaya, resikonya terlampau besar, Selain resiko engkau dikeroyok dan terbunuh, juga resikonya kalau sampai salah orang,”

“Sudah kukatakan musuh besar itu menghancurkan keluarga orang tuaku, Lam-te.” “Bu-twako, telah beberapa lama kita berkenalan dan menjadi sahabat baik. Apakah engkau masih belum percaya kepadaku? ,apakah engkau masih belum menganggapku sahabatmu yang baik?” Kwan Bu menarik napas panjang. Ia telah tahu bahwa “pemuda” ini sebenarnya adalah seorang gadis, dan sungguhpun ia tidak mengerti mengapa gadis ini amat baik terhadap dirinya, namun tentu saja ia sudah amat percaya kepada Giok Lam dan menganggapnya sebagai seorang sahabat yang baik sekali,

“Lam-te, mengapa kau bertanya demikian? Terus terang saja selama hidupku belum pernah aku mempunyai seorang sahabat sebaik engkau..?”

“Kalau begitu, mengapa engkau belum mau menceritakan kepadaku tentangvriwayatmu? Apakah yang telah dilakukan musuh besar yang tak kau kenal ini kepada keluargamu? Siapakah keluargamu, twako?” Kwan Bu termenung. Memang belum pernah ia menceritakan riwayat ibunya kepada siapapun juga, Gadis ini amat baik kepadanya, jauh lebih baik daripada.., Siang Hwi, malah kini tanpa mengenal riwayatnya, telah memaksa diri ikut bersama dia untuk membantu mencari musuh besarnya, Bukankah akan keterlaluan sekali kalau dia tidak menceritakan riwayatnya?

“Baiklah, Lam-te. Engkau merupakan orang pertama yang akan mendengar riwayatku. Bukan sekali- kali aku tidak mau menceritakan kepadamu kaena aku tidak percaya kepadamu, melainkan karena ceritaku ini hanya akan membuat engkau memandang rendah kepadaku dan. aku sungguh tidak

ingin kehilangan persahabatan ini.”

“Wah, engkau ini aneh, twako. Persahabatan dijalin karena orangnya, rasa suka tumbuh karena sifat pribadi orangnya. Aku suka bersahabat denganmu karena pribadimu, dan tentang asal usulmu tidak ada sangkut pautnya dengan persahabatan kita, Aku hanya ingin tahu sehingga aku mengerti siapa yang akan kuhadapi dalam membantumu, dan apa pula yang menjadi kesalahan musuhmu itu.”

“Lam-te, riwayatku tidak menarik dan dengan mengetahui riwayatku, petama-tama engkau hanya akan mengetahui bahwa aku yang kau anggap sahabat ini sebetulnya adalah seorang yang hina dan rendah!”

“Twako…!”

“Seorang kacung, anak seorang bujang..?

“Bu-twako! Kenapa kau berkata demikian?” Kwan Bu termenung dan mengerutkan alisnya yang tebal. Teringat ia akan makian-makian yang diterimanya dari Liu Kong, dan dari Siang Hwi. Dia dimaki sebagai anak haram! Dia tersenyum pahit.

“Memang demikianlah kenyataanya, Lam-te.” Kwan Bu lalu bercerita dengan suara lirih penuh kepedihan hati, tentang ibunya yang dibikin buta sebelah matanya oleh kepala rampok, tentang keluarga ibunya yang dibasmi oleh perampok itu, dan betapa ibunya terlunta-lunta dan menjadi bujang, dia sendiri menjadi kacung,

“Aku seorang miskin, Lam-te. Hidupku sengsara, bahkan musuh besarku tidak pernah kulihat orangnya, tidak kuketahui namanya. aku hanya akan membawamu kedalam permusuhan- permusuhan dan ke dalam kesengsaraan serta bahaya,” akan tetapi Giak Lam sudah menjadi marah sekali. Ditepuknya paha sendiri dan dia berseru. “Jahanam betul kepala rampok itu! Sudah membasmi keluargamu, masih begitu kejam untuk membikin buta sebelah mata ibumu, Bu-twako, aku bersumpah untuk membantumu mencari musuh besar itu, membantumu membalas dendam yang sedalam lautan itu!”

Kwan Bu terharu sekali. Gadis ini yang menyamar sebagai pemuda, sama sekali tidak mendengar bahwa dia adalah seorang kacung, anak seorang bujang. alangkah jauh bedanya dengan Liu Kong, dengan Siang Hwi! Tak terasa lagi, saking terharunya, ia memegang tangan Giok Lam dan dan menggengamnya erat-erat. Sejenak tangan mereka saling genggam erat. akan tetapi Kwan Bu segera teringat bahwa “pemuda” itu adalah seorang gadis, dan betapa lunak dan hangat tangannya, halus sekali telapak tangan itu. Teringat akan ini, mendadak Kwan Bu merenggut tangannya, terlepas dari pegangan.

“Kenapa, twako...?” Giok Lam bertanya, kaget dan heran, juga khawatir karena wajah Kwan Bu menjadi merah sekali.

“Tidak apa-apa..? Kwan Bu menjadi gugup. akan tetapi segera dapat menekan perasaanya, “hanya... aku menyesal kalau sampai terjadi sesuatu pada dirimu, Lam-te. aku membuat engkau repot saja, dan mencari musuhku ini sama halnya dengan meraba-raba dalam gelap. ”

“Jangan berpikir demikian. Kita sahabat bukan?”

“Baiklah kita mengaso dulu, Lam-te. Nanti setelah gelap baru kita menyelinap ke atas.”

Giok Lam kelihatan lega dan “pemuda” ini duduk bersandar pada sebatang pahan, memejamkan matanya. Kwan Bu duduk merenung, memandang sahabatnya itu. Timbul rasa geli di hatinya bercampur haru. Betapa panjang dan lentik bulu mata itu, ah, Giok Lam. aku sudah tahu bahwa kau seorang gadis. akan tetapi betapa mugkin ia membuka rahasia itu? Tentu hanya akan menimbulkan kikuk pada Giok Lam. Biarlah, dia akan menyimpan rahasia itu, pura-pura tidak tahu. Kwan Bu lalu bersandar pula pada batang pohon di depan Giok Lam memejamkan matanya. ia mencoba untuk membayangkan Giok Lam sebagai seorang gadis cantik. akan tetapi selalu gagal karena setiap kali ia membayangkan Giok Lam dengan rambut digelung seperti wanita, dengan pakaian wanita selalu yang terbayang adalah wajah…., Siang Hwi!

Dan bayangan wajah Siang Hwi ini menimbulkan rasa perih di hatinya, juga rasa rindu yang hebat. Ia menarik napas berulang-ulang, hatinya mengeluh dan menyebut nama Siang Hwi. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti pegunungan Hek-kwi san. Di atas bukit, dimana terdapat bangunan yang dikurung tembok tingi, tempat yang dijadikan markas besar gerombolan perampok kelihatan lampu- lampu dinyalakan. Namun di luar tembok kegelapan merajai tempat itu. Dua sosok bayangan Kwan Bu dan Giok Lam berkelebat menyelinap diantara pohon-pohon, mendekati pondok penjagaan dengan hati-hati. Gerakan mereka sangat ringan dan sebentar saja mereka telah menyelinap di samping pondok, mendengar percakapan antara dua orang penjaga yang mengatasi kesunyian dengan bercakap-cakap.

“Heran, mengapa tai-ong melibatkan diri dengan para pejuang itu. apa sih untungnya? wah,kita tentu rugi saja, tidak bisa menikmati hasil perampaokan, tidak dapat lagi melarikan gadis-gadis agar ”

“Ah, kau tahu apa? Para pejuang itu kalau berhasil tentu akan memberi kesempatan kepada kita untuk mengambil harta benda pembesar-pembesar pemerintah. Tentang wanita......, jauh lebih menyenangkan puteri pembesar dari pada gadis-gadis dusun.” “Tai-ong sendiri sekarang tidak pernah menculik wanita, Mngapa dia tidak kawin saja, memilih seorang wanita yang cantik. Dengan demikian maka dia benar-benar dapat beristirahat dengan tenteram di rumah dan membiarkan kami yang bekerja.”

“Mana tai-ong suka menikah? Hanya akan mengganggu saja, Tahukah engkau, setiap kali mendapatkan wanita, tai-ong tentu akan membunuhnya, karena menurut tai-ong, dendam seorang wanita paling berbahaya, Maka setiap kali menculik wanita, kalau sudah bosan lalu dibunuhnya wanita itu.”

“Tentu saja aku tahu! Sayang sekali adalah gadis dari kampung Boan-hak-cun dahulu itu. Cantik manis sekali orangnya, akan tetapi galak sehingga tai-ong bosan, dengan dua batang jarum gadis itu dibutakan matanya kemudian dibunuh! Sayang! Kalau diberikan padaku..?”

“Hushh…! Jangan main-main. Hati-hati dengan mulutmu. Kalau sampai tai-ong dengar, mungkin mulutmu yang dijadikan sasaran jarum-jarumnya yang lihai itu!” Gemetar kaki Kwan Bu mendengar percakapan itu, jantungnya berdebar agaknya sekali ini ia tidak akan keliru lagi. Tentu Sin-to Hek-kwi lah orangnya! agaknya sudah biasa membikin buta mata orang dengan jarumnya yang lihai! Termasuk mata ibunya! Ia memberi isarat dengan tangan kepada Giok Lam, kemudian menggandeng tangan sahabatnya itu untuk mengambil jalan memutar sehingga mereka berada di luar tembok yang letaknya di bagian belakang.

“Kita melompat dari sini, Lam-te.” Bisik Kwan Bu, Siok Lam menggeleng kepala. “Terlalu tinggi twako.”

“Berpeganglah kepada tanganku!” Giak Lam memegang tangan Kwan Bu, kemudian keduanya mengerahkan tenaga dan menggunakan ginkang melompat ke atas. Giok Lam merasa betapa tangannya ditarik ke atas sehingga ia dapat mencapai tembok itu, kemudian dari atas mereka melayang turun ke sebelah dalam dan ternyata mereka tiba di sebuah taman yang gelap dan sunyi. Melihat betapa bangunan-bangunan di situ berderet-deret rapat, Kwan Bu berbisik.

“Kita menyelidik dari atas genteng!” Kwan Bu mendahului sahabatnya meloncat naik ke atas genteng. Karena sukar untuk mengikuti gerakan Kwan Bu yang langsung meloncat ke wuwungan tertingi, Giak Lam meloncat ke atas genteng terendah dan dengan tiga lompatan Ia baru dapat berdiri di samping Kwan Bu. Dari atas, Kwan Bu mengajak Giak Lam untuk menuju ke bangunan terbesar, karena ia menduga bahwa kepala rampok itu tentu mendiami bangunan terbesar. akan tetapi, baru saja mereka tiba di bangunan samping, tiba-tiba terdengar suara keras, genteng yang mereka injak pecah dan beberapa sinar hitam berkelebat dari bawah disusul bentakan nyaring.

“Siapa berani mengganggu disini?” Kwan Bu sudah siap, maka begitu kakinya terpeleset. ia sudah melompat dan kedua tangannya bergerak menyampak runtuh beberapa piauw yang menyerang dia dan Giok Lam. Giok Lam juga kaget dan cepat melancat ke kiri, akan tetapi karena di sinipun ia disambut dengan beberapa batang piauw yang amat cepat datangnya, ia mengelak dengan jalan berjungkir balik.

Sayang kakinya menginjak pingiran genteng yang menjadi pecah sehingga tubuhnya melayang, terjengkang ke bawah! Kwan Bu yang menyaksikan bahaya mengancam temannya, sudah cepat mendahului Giok Lam melayang ke bawah kemudian ia menyambar tubuh Giok Lam yang biarpun tidak akan terbanting hebat, namun karena belum dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tentu akan mengalami kaki patah kalau sampai terbanting. Dengan terengah-engah Giok Lam yang dipeluk Kwan Bu ketika menyambut tubuh temannya itu, membalas memeluk dan tanpa sengaja dada mereka berdekapan dan berdempetan. Terasa oleh Kwan Bu betapa dada gadis itu berdebar-debar. Ia merasa canggung dan jengah sekali, akan tetapi masih teringat untuk tidak membuka rahasia Giok Lam.

“Awas dan siap...!” Bisiknya melepaskan pelukan. Beberapa bayangan orang berkelebatan datang, gerakan mereka gesit dan ringan, sehingga Kwan Bu bersikap hati-hati sekali.

Banyak anak buah perampok datang pula membawa obor di tangan sehingga sebentar tempat itu mejadi terang sekali. Ketika Kwan Bu memandang ke arah beberapa orang yang datang itu, ia tercengang. Kiranya mereka ini adalah Koai Kiam Tojin Ya Keng Cu, Sin-jiu Kim-wan, Ban-eng-kiam Yo Ciat, dan di sebelah kiri berdiri Bu Taihiap, Bu Keng Liang dan Bu Siang Hwi! Sejenak Kwan Bu terpesona memandang Siang Hwi yang seperti biasa berpakaian merah jambon, sepasang siang-kiam siap di tangan, cantik jelita sepert bidadari. apalagi saat itu gadis ini memandang dengan mata terbelalak dan alis berdiri. Juga tokoh-tokoh perjuangan yang berada di situ terbelalak memandang Kwan Bu dan pemuda tampan yang berada di samping pemuda ini, sejenak tak dapat berkata-kata karena sungguh tak mereka duga bahwa “penjahat” yang datang mengintai adalah Bhe Kwan Bu.

“Kau…... Kwan Bu.....? Mengapa kau di sini    ?” Bu Keng Liong bertanya terkejut dan heran.

“Benar, hamba Bhe Kwan Bu, Thai-ya. Tentu Thai-ya maklum sendiri apa yang menyebabkan hamba datang, yaitu mencari Sin-to Hek-kwi untuk membalas dendam.”

“Apa...?” Bu Keng Liong berseru kaget. Dia sendiri tidak tahu siapa gerangan perampok yang membasmi keluarga Bhe Ciok Kim, ibu Kwan Bu ini dan kini mendengar bahwa musuh besar Kwan Bu adalah Sin-to Hek-kwi dia terkejut sekali. Reaksi Siang Hwi lain lagi ketika ia melihat munculnya Kwan Bu. Gadis ini sejak tadi memandang Siok Lam penuh perhatian, kemudian tak dapat dicegahnya lagi dan di luar kesadarannya ia membentak.

“Kwan Bu...! Siapa......siapa gadis ini...?? apakah engkau telah terperosok rendah menjadi kaki tangan anjing kaisar? Tentu gadis inipun seekor anjing betina..?” Kwan Bu mengangkat muka, memandang dengan marah. Betapapun cantik jelitanya Siang Hwi, yang membuat jantungnya berdebar dan rindunya mendalam, namun ternyata gadis itu tidak berubah. Masih galak dan angkuh!

“Bu-siicia, dia ini adalah sahabatku dan kami ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kaki tangan kaisar.” Terasa oleh Kwan Bu tangan yang lunak dan hangat menyentuh tangannya. Ia tahu bahwa itu adalah tanan Giok Lam, akan tetapi ia menarik tangannya karena tidak ingin tampak oleh mereka dia berpegang tangan dengan Giok Lam, apalagi setelah Siang Hwi yang bermata tajam itu menyebut-nyebutnya sebagai seorang gadis.

“Bhe-taihiap, sungguh kami heran sekali melihat taihiap muncul seperti ini,” kata Ya Keng Gu dengan sikap hormat.

“Benarkah ucapan taihiap bahwa taihiap dan sahabat ini datang bukan sebagai mata-mata pengawal kaisar?”

“Koai Kiam Tatiang, tidak perlu saya membohong. Kedatanganku ini tidak ada hubungannya dengan pengawal kaisar, juga tidak ada hubungannya dengan totiang sekalian. Saya datang mencari Sin-to Hek-kwi karena urusan pribadi. Di mana adanya Sin-to Hek-kwi? Harap suka keluar!” teriaknya tak sabar lagi. “Orang muda sombong, aku disini! Mau apa mencari Sin-to Hek-kwi?” Kwan Bu mengangkat memandang muka laki-laki itu sudah berusia enam puluh tahun, pakaiannya mewah, sikapnya garang dan tubuhnya tinggi besar. Kulit muka yang galak itu berwarna kehitaman dan sebatang golok besar berada d tangan kanannya. Di pinggang tampak sebuah kantung senjata rahasia dan Kwan Bu sudah menduga bahwa itulah kantong senjata rahasia jarum yang membutakan mata ibunya, amarahnya meluap dan ia hanya dapat mengendalikan diri dengan menekan perasaanya,

“Engkau yang bernama Sin-to Hek-kwi? Ketahuilah namaku Bhe Kwan Bu dan seperti sudah kukatakan tadi, kedatanganku adalah urusan pribadi. Kalau engkau seorang jantan, mari hadapi aku sebagai laki-laki dan jangan menciba untuk menyangkal atau bersembunyi di balik bantuan orang- orang gagah entah mengapa hadir di tempat terkutuk ini.”

“Ha ha, anak muda yang bermulut besar! aku Sin-to Hek-kwi bukan pengecut. apakah katamu? Katakan!”

“Sin-to Hek-kwi, engkau seorang kepala rampak, dan akupun mencari seorang kepala rampok yang pernah merampok dusun Kwi-cun, yang telah membunuh keluargaku dan membutakan sebelah mata ibuku dengan jarumnya. Mengakulah bahwa engkau kepala rampik itu agar kita dapat membuat perhitungan di sini sekarang juga.”

““Hemm........ bagaimana aku bisa mengaku? Terlampau banyak dusun yang telah kurampok, aku tidak ingat lagi namanya satu demi satu. Memang itu sudah pekerjaanku. Membunuh keluarga? Sudah banyak amat orang kubunuh. Mereka yang melawan tentu kubunuh karena kalau tidak, aku sendiri yang mereka bunuh. apa anehnya ini? Entah keluargamu atau bukan, aku mana tahu?”

“Engkau membutakan mata ibuku dengan jarum ini!” Kwan Bu telah mengeluarkan jarum yang selama ini ia simpan, jarum yang dahulu ia terima dari ibunya, Sin-to Hek-kwi tidak perduli dan membuat gerakan tangan tidak sabar.

“Orang muda, jarum itu mungkin punyaku mungkin juga bukan, Sudah banyak perempuan rewel kubutakan matanya dengan jarum. andaikata benar ibumu termasuk seorang di antara mereka, habis engkau mau apa?” Sin-to Hek-kwi marah sekali karena ia merasa dibikin malu di depan semua tamunya sehingga ia menjadi nekad untuk menunjukan keberanian dan kegagahannya karena ia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawan yang masih muda ini.

“Hemm, tidak salah dugaanku. Tak perduli apakah benar-benar engkau si jahanam yang membasmi keluargaku atau bukan, manusia jahat macam engkau ini sudah sepatutnya dilenyapkan dari muka bumi!” kata Kwan Bu yang merasa muak dan marah sekali endengar pengakuan dengan suara dingin dari mulut kepala perampok itu Tentu saja Sin-to Hek-kwi menjadi marah sekali,

“Bacah sombong, kematianmu sudah berada di depan mata dan engkau masih berani membuka mulut besar? Mampuslah!” bentakan ini disusul dengan terjangan goloknya yang menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi berdesing. Ternyata kepala perampok ini memiliki tenaga yang amat besar. akan tetapi bagi Kwan Bu, gerakan lawannya ini lambat sekali maka ia memandang rendah. Kalau ia mengehendaki, sekali mencabut Toat-beng-kiam dan menggunakan pedang pusaka itu, pasti dalam beberapa gebrakan saja ia akan berhasil membunuh orang yang diduganya musuh besarnya ini. akan tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk tidak membunuh Iawannya, menangkapnya hidup-hidup untuk diseret ke depan kaki ibunya agar ibunya menyaksikan sendiri dengan matanya yang tinggal sebelah itu betapa balas dendam telah terpenuhi. Karena ini, dia hanya mengelak dan membalas dengan cengkeraman ke arah lengan kanan yang memegang golok. Akan tetapi biarpun bagi Kwan Bu yang lihai luar biasa itu gerakan Sin-to Hek-kwi masih terlalu lambat, namun sesungguhnya kepala rampok ini termasuk orang yang sudah tinggi ilmu silatnya dan tidaklah mudah untuk mengalahkannya begitu saja. Pergelangan tangannya melakukan gerakan mencongkel dan goloknya sudah membalik, kini menyambar ke arah tangan kwan Bu yang mencengkeram. Kwan Bu tidak mengelak. seolah-olah membiarkan tangannya terbacok golok, namun pada detik terakhir setelah angin yang mendahului mata golok sudah menyentuh tangannya, lengannya bergerak miring dan dari sebelah jari tengahnya menyentil ke arah tubuh golok.

“Criinggg     !” Hebat bukan main sentilan ini. yang dilakukan dengan tenaga ginkang. Lengan tangan

Sin-ti Hek-kwi tergetar hebat, namun tidak percuma ia berjuluk Sin-to (Golok Sakti) karena ia sudah berhasil membalikkan goloknya ke bawah lengan dan mematahkan getaran karena sentilan itu.

Kemudian dari bawah lengan, goloknya meluncur maju dengan tiba-tiba mengarah perut Kwan Bu. Lihai juga ilmu gelek dari Sin-toHek-kwi ini. namun sekarang ia berhadapan dengan seorang yang tingkat ilmu silatnya jauh melampauinya. Tikaman goloknya ke arah perut bukan saja dapat dielakkan oleh Kwan Bu, bahkan pemuda ini mengelak sambil melangkah maju mendekatinya dan sekali tangan kiri Kwan Bu menampar. terdengar bunyi “krakk!” dan terhuyunglah Sin-toHek-kwi ke belakang dengan tulang pundak retak! Namun, kepala rampok ini masih tidak melepaskan goloknya. Kwan Bu sudah mengejar tubuh lawan yang terhuyung itu sampai beberapa langkah, hendak menawannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara halus,

“Bhe-taihiap tunggu dulu.     ” Ucapan ini disusul dengan berkelebatnya tiga bayangan yang ringan

sekali dan ternyata di depan kwan Bu telah berdiri Koai Kiam Tojin Ya Keng Cu, Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, dan Ban-eng-kiam Yo Ciat! Melihat betapa Ya Keng Cu dan kawan-kawannya mengahadangnya dan mencegahnya menawan Sin-to Hek-kwi, Kwan Bu mengerutkan alisnya dan menjura kepada mereka bertiga akan tetapi ucapannya ia tujukan kepada Ya Keng Cu yang selalu menjadi wakil pembicara para enghiong yang berjuang melawan pihak kaisar.

“Totiang, saya minta dengan hormat dan sangat agar totiang sekalian tidak mencampuri urusan pribadiku ini. Biarlah saya menyelesaikan sendiri urusan ini dengan Sin-to Hek-kwi.”

“Hemm, orang muda. Biarpun taihiap seorang pendekar yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun usiamu masih amat muda sehingga perbuatan-perbuatanmu juga masih sembrono dan terburu nafsu. Apakah Sin-to Hek-kwi adalah musuh besarmu? Bagaimana kalau sampai taihiap keliru dan kesalahan membunuh orang lain?”

“Andaikata saya salah menduga pun tidak mengapa, seorang kepala rampok kejam seperti dia itu sudah sepatutnya dibunuh!” jawab Kwan Bu penasaran.

“Siancai    ! Hal itu tidak beleh kau lakukan Bhe-taihiap. Sin-to Hek-kwi adalah sahabat kami, bahkan

sekutu kami, seorang pejuang yang gigih, yang tentu saja akan kami lindungi. Kami terpaksa melarangmu kalau kau hendak membunuhnya, taihiap. Harap kau suka berpemandangan jauh dan luas, dan mengerti akan kedudukan kami sebagai pejuang-pejuang yang tidak menghiraukan urusan pribadi karena urusan negara lebih penting!” Kwan Bu mendengus dengan sikap mengejek. Ia sudah bcsan mendengar tentang urusan negara ataupun urusan rakyat yang sesungguhnya adalah permainan orang-orang yang berambisi, orang-orang yang memperebutkan kedudukan melalui kemenangan-kemenangan dengan mengorbankan bangsa sendiri yang pahamnya berbeda atau berlawanan. Akan tetapi sebelum ia menjawab, Bu Keng Liong sudah melangkah maju. “Kwan Bu, dengarlah kata-kata totiang Ya Keng Cu yang mengandung kebenaran. Engkau sendiri, juga aku, tidak tahu siapa sebenarnya musuh besar ibumu. Dan memang benar bahwa Sin-to Hek- kwi adalah seorang kepala perampok, akan tetapi dia adalah sekutu kami untuk berjuang melawan kelaliman. Tentu saja tidak mungkin kami mendiamkan saja kalau kau hendak membunuhnya, aku tahu bahwa engkau seorang yang berpemandangan luas, maka tentu kau dapat mengerti keadaan kami.”

“Baiklah, Thai-ya, dan totiang serta sekalian orang gagah yang hadir di sini. Saya tidak akan membunuh Sin-to Hek-kwi, melainkan menahannya dan membawanya kepada ibu. Kalau ibu menyatakan bahwa bukan dia orangnya, saya berjanji membebaskannya, akan tetapi kalau benar dia musuh besarku, tentu saja saya tidak akan mengampuninya, biarpun siapa juga yang akan menentangnya!”

“He-he-he, orang muda! Ucapanmu takabur sekali dan kalau kami menurut saja, berarti engkau telah melempar kotoran di muka kami! Bagaimana kami dapat membiarkan engkau menangkap seorang kawan kami tanpa kami berusaha melindunginya? Tidak, Bhe-taihiap. Engkau sebaiknya membantu perjuangan kami, dan aku bersumpah atas nama semua orang gagah bahwa jika telah selesai urusan perjuangan yang lebih penting, kami akan membantumu sampai musuh besarmu itu dapat ditemukan!” Ucapan ini keluar dari mulut Ban-eng-kiam Yo Ciat, kakek tinggi kurus yang amat lihai. Berkerut alis Kwan Bu. Dia tidak boleh mundur berarti ia harus merana dalam kebimbangan, tersiksa eoeh dendam yang tak terlampiaskan.

“Kalau begitu, terpaksa aku akan melawan semua rintangan! Siapa yang membela musuh besarku, berarti ingin memusuhiku pula!”

“Benar, twako! Sikat saja, biar kubantu! oang-orang ini menjemukan sekali dan mereka berkawan dengan para perampok tentu bukan manusia baik-baik!” Teriak Giok Lam sambil mencabut goloknya untuk membantu sahabatnya yang agaknya akan menghadapi pengeroyokan itu.

“Perempuan hina, lebar sekali mulutmu!” Bu Siang Hwi sudah enerjang maju dengan sepasang pedang di tangan, menyerang Giek Lam dengan ganas. Giok Lam mendengus marah dan menggerakan goloknya.

“Tring-tring-tring…!” Pedang dan golok bertemu dahsyat dan selain suara nyaring, juga menimbulkan pijar bunga api.

“Siang Hwi, mundur!” bentak Bu Keng Liong.

“Lam-temm.. tahanl” seru pula Kwan Bu yang menjadi kikuk sekali karena ia terpaksa masih harus menyebut Lam-te (adik laki-laki Lam) kepada gadis itu.

“Biarkan aku mengurus dan menyelesaikan persoalan pribadi ini, jangan kau mencampurinya.” Kwan Bu menjadi khawatir sekali ketika Siang Hwi tadi bertanding menyerang Giok Lam, ia mengkhawatirkan kedua-duanya. tidak menghendaki seorang diantara mereka terluka. Dua orang gadis itu mencelat mundur, mentaati seruan-seruan itu. Sejenak mereka berdiri bertentangan. melanjutkan pertandingan mereka bukan dengan sinar senjata tajam, melainkan dengan sinar mata yang agaknya tidak kalah tajam eleh sinar golok atau pedang, saling menusuk dan saling membenci!

“Hemm, Bhe Kwan Bu! Engkau benar-benar seerang yang aneh sekali. Dalam pertemuan antara kita yang pertama kali, engkau menjadi lawan kami dan dalam pertemuan kedua engkau menjadi kawan kami. Kini pertemuan ketiga, kembali menjadi lawan! Dan selama itu, belum ada kesempatan bagi pinto untuk mencoba kepandaianmu. Mari kita main-main sebentar, hendak pinto lihat apakah engkau cukup pantas untuk memandang rendah kami kaum pejuang!” Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu. suheng dari Ya Keng Cu berkata dengan suaranya yang kecil nyaring. Kakek bongkok yang kedua lengannya panjang sekali hampir sampai ke kakinya ini telah meleles senjatanya yang telah mengangkat namanya tinggi di dunia kang-ouw, yaitu ikat pinggangnya yang terbuat dari kain istimewa, lebih lemas dari sutera dan lebih kuat daripada baja.

“Baiklah, agaknya aku harus dapat mengalahkan para locianpwe yang berada di sini terlebih dahulu sebelum aku diperbelehkan membawa Sin-to Hek-kwi sebagai tawanan!” Kwan Bu juga maklum bahwa calon-calon lawannya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, tidak berani memandang rendah dan sekali tangannya bergerak, tanpa berkelebat segulung sinar merah darah yang menyilaukan mata dan Toat-beng-kiam telah berada di tangannya.

“Tahan dulu!” Bu Keng Liong mengangkat tangan dan mencegah dua orang itu saling gempur. Pendekar ini merasa cemas sekali menyaksikan betapa antara kawan-kawannya dan Kwan Bu akan terjadi bentrokan yang ia tahu pasti berkesudahan hebat. Bu Keng Liong sebetulnya merasa amat berterima kasih dan berhutang budi kepada Kwan Bu, juga diam-diam ia merasa suka dan kagum kepada pemuda bekas kacungnya ini. bahkan ia pernah mengharapkan menjodohkan Siang Hwi dengan pemuda ini.

“Kwan Bu, perlukah pertandingan antara kita sendiri dilanjutkan?” Kwan Bu menjura kepada bekas majikannya.

“Thai-ya, andai kata para locianpwe di sini bertemu dengan saya pada lain waktu dan lain tempat, kemudian saya ditantang, saya tentu tidak akan begini kurang ajar untuk memperlihatkan kebodohan dan akan mengaku kalah sebelum bertanding. Akan tetapi keadaannya sekarang lain lagi. Saya mempertahankan niat saya untuk menawan Sin-to Hek-kwi karena dendam pribadi, adapun para locianpwe, termasuk Thai-ya sendiri, mempertahankan kedudukan masing-masing sebagai seorang kawan Sin-to Hek-kwi yang harus memperlihatkan kesetiakawanan. Tidak ada cara lain lagi, yang merintangi saya menawan Sin-to Hek-kwi, terpaksa akan saya lawan.”

“Bagus, orang muda. Kau hadapilah pinto!” Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu sudah menerjang maju. Terdengar suara bersiut keras ketika sabuknya berubah menjadi segulung sinar kuning, sinar kuning yang melengkung panjang seperti seeker naga hidup menyerang ke arah Kwan Bu. Kwan Bu cepat menggerakkan tubuhnya, meloncat ke atas dan memutar pedang Toat-beng-kiam.

Bunyi desing pedang ini diikuti oleh berkelebatnya segulung sinar merah darah, dan ketika sinar kuning bertemu sinar merah, terdengar suara mendencing nyaring seolah-olah ada dua senjata keras bertemu. Sinar kuning membuyar dan terpental, akan tetapi terus melengkung dan menyambar kembali lebih dahsyat daripada tadi. Dalam gebrakan pertama kali ini Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu harus mengakui bahwa lawannya yang muda dan pernah mengalahkan sutenya, Ya Keng Cu, benar- benar memiliki ginkang yang hebat dan pedangnya yang bersinar merah darah itu ampuh sekali. Sebaliknya, Kwan Bu juga maklum bahwa kakek bongkok ini setingkat lebih lihai daripada Koai Kiam Teojin Ya Keng Cu maka ia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi dan cepat ia mainkan ilmu pedangnya dengan pengerahan ginkangnya mengeluarkan jurus-jurus pilihan.

Pemuda ini masih belum mengenal betul kemampuan Toat-beng-kiam dan kehebatan ilmu pedang yang ia terima dari Pat-jiu Lo-koai, tidak sadar bahwa ilmu pedangnya adalah yang amat luar biasa sehingga membuat Pat-jiu Lo-koai selama puluhan tahun merupakan tokoh yang tak pernah terkalahkan. Kini ia mengerahkan ginkang dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan, tentu saja Sin-jiu Kim-wan menjadi terkejut sekali dan tak dapat bertahan lama-lama. Kakek bongkok yang biasanya jarang menderita kekalahan dalam setiap pertandingan silat ini tiba-tiba menjadi silau pandang matanya karena gulungan sinar pedang yang merah itu makin lama menjadi lingkaran-lingkaran yang lebar dan tebal, menggulung sama sekali lingkaran sinar senjata sabuknya, dan ia melihat pedang merah itu seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya, dan bayangan pemuda lawannya tampak di empat penjuru.

Sin-jiu Kim-wan masih berusaha untuk mempertahankan diri dengan memutar-mutar sabuknya cepat melindungi seluruh tubuhnya, dan tangan kirinya mulai memukul-mukul ke arah bayangan yang tampak, yaitu menggunakan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti sehingga biarpun tangan yang memukul tidak menyentuh lawan, namun hawa pukulannya saja sudah cukup kuat untuk meremukan isi dada! Inilah kehebatan Sin-jiu Kim-wan sehingga ia dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti). Namun semua pukulan itu dapat ditahan oleh Kwan Bu dengan kibasan-kibasan tangan kirinya atau dengan sinar pedangnya yang makin cepat bergulung-gulung, kini seolah-olah telah menggulung dan menyelimuti seluruh tubuh lawan yang terkurung di tengah-tengah. Tiga puluh jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Kwan Bu berkata.

“Totiang maafkan aku!” Pemuda itu ternyata talah melompat mundur dan kini berdiri dengan tenang, pedangnya sudah tidak di tangannya lagi karena sambil melempat tadi ia telah menyimpan kembali pedangnya. Adapun Sin-jiu Kim-wan berdiri dengan muka pucat, sabuk di tangannya putus menjadi dua dan lengan kirinya di atas siku terluka dan berdarah. Kakek ini menarik napas panjang, lalu menggeleng kepala dan tahulah ia bahwa kalau pemuda itu menghendaki, saat ini ia tentu telah berada diakhirat!

“Sungguh hebat murid Pat-jiu Lo-koai, pinto mengaku kalah.” Ban-eng-kiam Yo Ciat meloncat maju.

“Bhe Kwan Bu, engkau patut dikagumi. Biarlah aku merasakan bagaimana lihainya ilmu pedang dari Pat-jiu Lo-koai!” sambil berkata demikian tangannya bergerak dan tampak sinar putih berkelebat ketika pedang perak berada di tangannya. Ketika kakek yang tinggi kurus ini memutar pedang, terdengar suara melengkin seperti suling ditiup. Kwan Bu maklum bahwa dia harus mengalahkan mereka ini, seorang demi seorang sebelum ia dapat menawan Sin-to Hek-kwi, maka ia mencabut Toat-beng-kiam, melintangkan pedang merah di depan dada dan berkata,

“Locianpwe, silakan kalau hendak memberi pelajaran kepadaku.” Suara melengking itu makin meninggi dan Yo Ciat sudah menerjang dengan gerakan pedang yang amat dahsyat.

Kwan Bu terkejut, maklum bahwa lawannya benar-benar seorang ahli pedang yang pandai, maka iapun cepat mengimbangi kecepatan lawan, menangkis dan membalas menyerang. Pertandingan sekali ini benar-benar hebat. Dua gulung sinar pedang yang berkilauan, satu putih dan yang kedua merah. saling gulung dan libat, kadang-kadang merupakan lingkaran-lingkaran yang saling mendesak. diiringi suara melengking tinggi dari pedang Ban-eng-kiam Yo Ciat. Mungkin dalam hal tingkatan ilmu silat, Yo Ciatt tidaklah banyak selisihnya dengan Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, akan tetapi dalam ilmu pedang yang dimainkan Kwan Bu bertemu tanding dan pertandingan itu menjadi makin seru. Gerakan mereka cepat sekali, tubuh mereka lenyap terbungkus sinar pedang dan hanya dapat diikuti pandang mata para ahli silat tinggi yang hadir di situ.

Bagi para anggauta perampok dan mereka yang kurang tinggi ilmunya, yang tampak hanyalah dua gulungan sinar pedang saja, kelihatan amat indahnya. Sin-te Hek-kwi makin lama menjadi makin gelisah. Pemuda yang memusuhinya itu benar-benar lihai sekali. Kini, melihat bahwa Ban-eng-kiam Yo Ciat dapat mengimbanginya, ia menjadi girang dan diam-diam ia telah mempersiapkan jarum- jarumnya. Dalam hal ilmu golok, biarpun kepala rampok ini tidak dapat menandingi Kwan Bu, namun ia masih memiliki kepandaian yang amat diandalkan, yaitu mempergunakan senjata rahasia jarum- jarumnya. Ketika terbuka kesempatan baginya, cepat kedua tangannya bergerak dan tujuh batang jarum meluncur cepat ke arah Kwan Bu yang sedang didesak oleh Yo Ciat. Dua batang menyambar mata, sebatang tenggerekan, dua batang kedua lengan dan dua batang lagi menyerang perut!

“Twako, awas    !” Giok Lam menjerit dan gadis ini telah menggerakkan tangannya pula. Tiga batang

jarumnya menyambar ke arah Sin-te Hek-kwi. Namun kepala rampok muka hitam itu dapat mengelak. Kwan Bu terkejut ketika melihat berkelebatnya senjata rahasia yang menyerangnya. Pada saat itu, pedang perak di tangan Yo Ciat sedang menerjang dahsyat, sehingga ia harus membagi perhatiannya. Tangan kirinya ia kibaskan ke arah jarum-jarum itu, ada sebagian yang ia elakkan sedangkan pedangnya masih bergerak menahan pedang Yo Ciat. Kemudian ia teringat bahwa jarum- jarum itu merupakan bukti dan sekali melihat jarum milik Sin-to Hek-kwi, ia akan dapat menentukan apakah kepala rampok ini musuh besarnya ataukah bukan.

Pikiran ini yang membuat ia memperlambat elakkannya dan setengah disengaja ia membiarkan pangkal bahu kirinya menerima jarum yang menancap di dagingnya! Sambil menahan pedang lawan ia mencabut jarum itu dan melihat sekilas saja tahulah ia bahwa jarum ini berbeda dengan jarum yang telah membutakan sebelah mata ibunya. Hatinya kecewa, akan tetapi juga marah karena betapapun juga, Sin-toHek-kwi selain orang jahat juga seorang yang curang, menyerangnya secara menggelap. Kemarahan ini membuat gerakan pedangnya menjadi hebat sekali. Tangan kirinya ia dorongkan dengan tangan terbuka setelah ia melontarkan jarum yang tadi menancap di bahunya ke arah Sin-to Hek-kwi, mendorong dengan pukulan sakti membuat Yo Ciat berseru kaget dan terhuyung ke belakang.

Gepat Kwan Bu menggerakan pedangnya, terdengar Yo Ciat memekik dan pedang perak itu terlepas dari tangannya yang berdarah karena terluka oleh geresan pedang. akan tetapi teriakannya itu didahului oleh pekik yang keluar dari mulut Sin-to Hek-kwi karena jarum yang dilontar kembali oleh Kwan Bu secara tidak tersangka-sangka itu telah “makan” tuannya sendiri, menancap di dada Sin-to Hek-kwi! Pada saat Sin-te Hek-kwi sedang terhuyung dan berusaha mencabut keluar jarumnya sendiri dari dada, segulung sinar merah menyambar dan kepala rampek itu menjerit dan roboh, darah menyembur keluar dari lehernya yang hampir putus! Kesemuanya itu terjadi amat cepatnya sehingga semua orang menjadi tertegun. Baru setelah jelas ternyata bahwa Sin-to Hek-kwi rebah berkelojoran mandi darah, anak buah menjadi marah dan maju hendak mengeroyok.

“Kwan Bu, engkau melanggar janji! Mengapa membunuhnya?” Bu Keng Liong menegur marah.

“Dia jahat. dan curang! Patut dibikin mati!” Giok Lam mewakili sahabatnya membentak. Pada saat itu, terdengar suara kentongan dipukul riuh dan terdengar pula teriakan-teriakan memecah kesunyian alam di luar tembok,

“Siaaaappp! Anjing-anjing kaisar mengurung kita......!!” Kacaulah keadaan di situ. Anak buah perampok sudah berserabutan lari keluar disertai keluar disertai teriakan-teriakan, dan bunyi senjata berdencingan ketika mereka menyambar tombak dan lain-lain senjata tajam.

“Bhe Kwan Bu! Ternyata kau seorang penghianat palsu, anjing kaisar!” bentak Ya Keng Cu marah sekali, lalu menerjang maju dengan pedangnya. Serangannya ini disusul oleh Sin-jiu Kim wan Ya Thian Gu dan Ban-eng-kiam Yo Ciiat yang menjadi marah sekali karena menganggap bahwa tentu pemuda ini yang membawa datang barisan pengawal yang kini mengurung tempat itu.

“Heiii...! Apa-apaan ini? Curang, main keroyokan...!” Giok Lam memaki-maki, akan tetapi tiba-tiba Siang Hwi sudah menerjangnya dengan sepasang pedangnya. “Perempuan hina!” Siang Hwi memaki.

“Wah, kau galak benar!” Giok Lam balas memaki dan bertandinglah kedua orang gadis ini dengan seru. Namun ternyata bahwa Giok Lam terdesak oleh sepasang pedang Siang Hwi yang lihai dan cepat.

“Twako….. bantu aku.....! Twako..... perempuan ini galak benar     !” Giok Lam berteriak-teriak. Kwan

Bu bingung. Ia tidak dapat menolong sahabatnya itu dari desakan Siang Hwi yang seperti harimau haus darah itu karena dia sendiripun repot menghadapi keroyokan tiga orang ahli silat yang lihai. Sementara itu, Bu Keng Liong dan tokoh-tokoh lain sudah menerjang keluar untuk menghadapi para penyerbu, yaitu para pengawal ini dipimpin oleh tokoh-tokoh besar panglima pengawal sendiri, yaitu Gin-san-kwi, dan Kim I Lohan. Yang menggemaskan hatinya adalah ketika ia melihat keponakannya, juga muridnya, Liu Kong berada di antara para pimpinan pengawal yang amat lihai.

“Saudara-saudara, harap bantu di luar musuh yang dihadapi amat kuat!” teriak Bu Keng Liong sambil melompat lagi ke tempat pertempuran yang tadi. Mendengar ini, mereka yang mengeroyok Kwan Bu menjadi kacau sehingga pemuda ini berhasil loncat ke arah Giok Lam dan menangkis pedang Siang Hwi yang sudah mendesak gadis berpakaian pria itu.

“Kau…..kau melindungi dia ? Baik, kita mengadu nyawa!” bentak Siang Hwi. Akan tetapi, Kwan Bu

mengelak sambil meloncat jauh dan menarik tangan Giok Lam. Dan pada saat itu, para penyerbu telah datang dan ternyata bahwa pihak perampok sama sekali tidak berdaya menghadapi serbuan mereka. Yang amat hebat adalah sepak terjang Gin-san-kwi, Kim I Lohan, Liu Kong, dan dua orang muda laki-laki dan wanita. Terutama mereka berdua inilah yang amat hebat sehingga siapa yang maju tentu roboh! Mereka ini bukan lain adalah Siok Lun dan Bi Hwa. Keadaan menjadi kacau balau, bersimpang siur. Kwan Bu masih bergandeng tangan dengan Giok Lam.

“Lam-te   eh, nona. Lebih baik kita lari sekarang, tidak perlu mencampuri urusan mereka.” Giok Lam

mengerutkan alisnya, membantah.

“Perlu apa lari? Kita harus menggempur perampok-perampok itu, terutama perampok perempuan yang begitu galak tadi!”

“Ah, Lam-lem... eh.     nona Phoa, kau tentu sudah dapat menduga. Pernah kuceritakan padamu. Bu

Keng Liong itu adalah bekas majikanku dan...... dia itu nona majikanku    ”

“Huh, macam begitu nona majikan!”

“Nona Phoa, harap jangan membantah. Keadaan amat berbahaya, dengan kedua pihak aku tidak berhubungan, bahkan dimusuhi, lebih baik lagi selagi kacau kita lari demi keselamatanmu !” Akan

tetapi terlambat. Tiba-tiba terdengar seruan keras.

“Omitohud. ! Kebetulan sekali, bocah sombong itupun berada di sini!”

Tanpa membuang waktu lagi Kim I Lohan sudah menerjang Kwan Bu dengan tengkatnya. Kwan Bu cepat menangkis, akan tetapi sebentar saja ia sudah dikurung dan dikeroyok lagi, sekarang bukanlah pihak pejuang yang mengeroyoknya, melainkan pihak pengawal! Karena tahu bahwa akan sia-sia saja kalau dia membela diri dengan mulut. Kwan Bu lalu memutar pedang merahnya untuk melindungi diri dan juga Giok Lam yang membantu sedapatnya dengan pedang di tangan dan dengan jarum-jarumnya yang ia sambit-sambitkan dengan marah. Namun, seperti juga tadi, kali ini para pengeroyok Kwan Bu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, terutama sekali Gin-san-kwi dan Kim I Lohan yang ingin membalas dendam atas kematian rekan meraka, Sam-tho-eng Ma Chiang yang telah tewas di tangan Kwan Bu.

Di samping itu masih ada beberapa orang pengawal yang kepandaiannya tinggi juga melakukan pengeroyokan. Sementara itu, Siok Lun dan Bi Hwa mengamuk hebat karena kedua orang muda ini ingin membuktikan jasa mereka. Tidak ada anggauta perampok yang tidak roboh dan tewas jika mencoba untuk menghadapi mereka ini dan melihat amukan dua orang muda ini, Bu Keng Liong sendiri, bersama Ya Keng Gu, Ya Thian Cu dan Yo Ciat, maju mengeroyok. Akan tetapi dua orang muda murid Pat-jiu Lo-koai itu benar-benar amat tangguh, apalagi karena keadaan markas besar di Hek-kwi-san sudah menjadi kacau balau dan banyak anggauta perampok yang binasa sehingga hati para tokoh pejuang menjadi gelisah.