-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 06

Jilid 06

“Ah, setelah apa yang kau lakukan terhadap kami hari ini, betapa inginku dapat menolongmu, hiante. Ada seorang lagi yang juga pandai main golok dan jarum, bahkan dibandingkan dengan aku, dia jauh lebih tinggi tingkatnya. Dia adalah seorang hwesio, akan tetapi hanya lahirnya saja ia berkepala gundul dan berpakaian hwesio, padahal ia adalah seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul) kadang-kadang juga suka melakukan perampokan. Akan tetapi sayangnya pula, aku tidak pernah mendengar ia mempunyai anak buah, biasanya ia hanya bekerja sendirian saja, seorang penjahat tunggal yang menyamar sebagai pendeta gundul.”

“Betapapun juga, saya akan mencarinya, Kwa-piauwsu. Di manakah tinggalnya penjahat cabul ini?”

“Aku mendengar bahwa dia kini dapat menguasai sebuah kuil, bahkan memelihara anak buah yang juga berpakaian pendeta, kalau tidak salah, di kuil Ban-lok-tang di kota Sian-hu.”

“Terima kasih banyak, Kwa-piauwsu. Nah, kini saya mohon diri, sekali lagi terima kasih dan harap dimaafkan semua kelancanganku tadi.” Ia bangkit di pihak tuan rumah, lalu mengangkat tangan menjura.

“Mengapa terburu-buru amat, hiante? Kita baru saja berkenalan dengan kami merasa amat cocok dan berterima kasih. Kenapa tidak melewatkan sehari di sini untuk bercakap-cakap?”

“Terima kasih, biarlah lain kali kalau ada kesempatan dan lewat di Lui-si-bun, saya akan singgah di rumah cuwi (anda sekalian). Selamat tinggal” Setelah menjura sekali lagi, Kwan Bu membalikkan tubuh dan pergi dari tempat itu, diikuti pandang mata kagum oleh tiga pasang mata keluarga Kwa itu. Belum ada setengah li Kwan Bu pergi, tiba-tiba ia mendengar ada suara yang panggilan. Ia menoleh dan kiranya kakek she Kwa itu mengejarnya. Setelah berhadapan Kwa Sek Hong menjura dan berkata sambil tertawa.

“Ah, sungguh merepotkan hiante, dan sungguh berani mulut ini mengeluarkan isi hati, akan tetapi apa boleh buat, demi kepentingan anak. !” Kwan Bu memandang heran.

“Apakah yang Kwa-piauwsu maksudkan dan mengapa pula engkau mengejar saya?” Kwa Sek Hong menghela napas panjang, kemudian ia memandang wajah yang tenang itu dan bertanya. “Sebelumnya harap hiante suka terus terang, apakah engkau belum beristeri?” Kwan Bu tercengang dan menggeleng kepala.

“Belum!”

“Sukurlah kalau begitu. Begini, Bhe-hiante.... ketika engkau pergi tadi, anakku     Kwa Bee Lin tiba-

tiba menangis. Aku.. sebagai ayahnya mengerti, mengingat pertandingannya melawanmu tadi, betapa kau merampas sepatunya       eh, tahun ini Bee Lin malah berusia delapan belas tahun. Aku

tentukan pilihan hatinya terhadap dirimu, hiante. Bagaimanakah, sukakah engkau membahagiakan hati seorang tua seperti aku, menerima usul perjodohan antara engkau dan Bee Lin?” Merah seluruh muka Kwan Bu. Eh, kiranya kakek ini hendak memungut mantu padanya! Cepat-cepat ia menjura dan berkata,

“Ah, harap maafkan saya, Kwa-piauwsu. Sesungguhnya... tak mungkin saya dapat menerima kehormatan ini. Saya masih mempunyai tugas berat yang harus saya laksanakan, mencari musuh

keluarga saya, dan. ”

“Kami tahu, hiante. Dan hal itu tidak menjadi halangan. Hiante boleh melanjutkan usaha mencari balas, akan tetapi perjodohan akan diikat lebih dulu dan kelak kalau sudah terlaksana tugas hiante, baru pernikahan di resmikan..?”

“Terima kasih, akan tetapi saya tidak berani menerimanya. Biarlah kelak saja kalau ada kesempatan kita bicara lagi. Akan tetapi sementara ini, saya tidak berniat bicara tentang jodoh. Maaf Kwa- piauwsu. Saya tidak ingin mengikat janji..?”

“Apakah hiante menolak usul kami? apakah Bee Lin kurang berharga untukmu?” Kwan Bu teringat akan semua pengalamannya dan terbayanglah wajah Siang Hwi.

“Tidak, tidak demikian!” teriaknya cepat.

“Hanya... saya tak berharga... saya seorang bujang... dan saya anak haram!” setelah berkata demikian, sekali berkelebat tubuh pemuda sakti ini lenyap dari depan Kwa Sek Hong yang berdiri melongo.

“Anak haram. ? Anak haram?” Bibirnya membisikan kata-kata ini berulang kali ketika ia melangkah

dengan wajah penuh keheranan dan kekecewaan, kembali ke tempat rombongannya yang sudah siap melanjutkan perjalanan.

Karena letak kuil Ban-lok teng di kota Sian-hu lebih dekat daripada gunung Hek-kwi-san, maka Kwan Bu lebih dulu mengunjungi kota Sian-hu ini dalam usahanya mencari musuh besarnya. Di dalam perjalanan menuju ke kota Sian-hu, ia masih teringat akan usul Kwa Sek Hong si piauwsu tua itu yang hendak menjodohkannya dengan Kwa Bee Lin. Terbayanglah wajah Bee Lin yang amat manis dan kadang-kadang ia tersenyum sambil menarik napas panjang.

Hidupnya banyak lika-likunya, mencari musuh besar belum bertemu, dicap anak haram, masih lagi seringkali terlibat dengan gadis-gadis cantik jelita! Di sana ada sucinya (kakak seperguruan) yang cantik dan gagah Liem Bi Hwa, yang biarpun ia sebut kakak seperguruan namun setahun lebih muda dari padanya. Dari mata sucinya ini seringkali ia menangkap kemesraan yang aneh, membuat jantungnya berdebar. Kemudian di sana ada Bu Siang Hwi, gadis yang lincah jenaka dan galak, yang sudah dua kali ia cium karena terdorong oleh hasrat yang tak terkekang olehnya. Adakah ia mencinta seseorang di antara mereka bertiga? Sukar dipastikan. Agaknya ia memang mencintai Siang Hwi dan hidup ini agaknya akan menjadi terang dan penuh kebahagiaan kalau saja ia selalu dapat berdekatan dengan Siang Hwi,

Akan tetapi gadis itu telah menamparnya! Dan dua orang gadis cantik yang lain itu? Terus terang saja hatinya tertarik dan merasa suka sekali. Cinta pulakah itu? Dia tidak tahu. Kwan Bu berlenggang seenaknya memasuki gerbang kota Sian-hu. Kalau ada orang memperhatikannya, tentu orang itu tidak akan menaruh curiga terhadap pemuda tampan berpakaian sederhana dan tidak membawa senjata ini. Kwan Bu menyerupai seorang pelajar setengah malang yang miskin, demikian akan dinilai orang kalau melihat keadaan dan pakaiannya. Namun wajahnya yang tampan membayangkan kerut dan goresan pengalaman pahit sungguhpun gerak-geriknya amatlah tenangnya, setenang gerak- gerik seorang kakek yang sudah kenyang makan asam garam dunia.

Mudah saja bagi Kwan Bu untuk menemukan kuil Ban-lok-tang yang dicarinya karena kuil itu ternyata merupakan kuil yang terkenal, mentereng dan besar, dengan ukiran-ukiran indah dan cat baru beraneka warna. Melihat keadaan kuil ini, Kwan Bu menjadi ragu-ragu dan arena kuil itu dikunjungi banyak tamu yang bersembahyang, ia memasuki sebuah rumah makan di seberang kuil, hendak makan lebih dulu, sambil melakukan pengamatan dari situ. Restoran itu cukup besar dengan ruangan yang terisi belasanmeja yang pada saat itu penuh tamu. Seorang pelayan menyambut Kwan Bu dengan sikap dingin karena memang seorang tamu berpakaian sederhana seperti Kwan Bu tidak menarik perhatian, tidak dapat diharapkan kemurahan hati dan tangannya memberi hadiah kepada pelayan.

“Untung masih ada sebuah meja yang kosong,” kata pelayan itu sambil menuding ke arah meja yang letaknya paling dalam, akan tetapi sebelum ia mengantar Kwan Bu ke meja itu, tiba-tiba wajah pelayan ini berubah menjadi ramah sekali, dan tanpa memperdulikan Kwan Bu lagi, ia melangkah keluar menyambut seorang tamu sambil berkata manis.

“Selamat datang, selamat pagi kongcu (tuan muda). Silakan masuk, silakan masuk.. kami menyediakan meja paling baik untuk kongcu...” dan pelayan ini sambil terbungkuk-bun.gkuk mengantar tamu baru ini menuju ke sebuah meja, yaitu meja satu-satunya yang masih kosong yang dan yang tadi ditawarkan kepada Kwan Bu. Kwan Bu mngerutkan keninnya dan melihat bahwa tamu baru ini adalah seorang pemuda remaja yang amat tampan. Gerak-gerik remaja yang tampan itu sangat halus dan jelas bahwa pemuda itu adalah seorang yang terpelajar,

Akan tetapi ia amat tertarik ketika melihat tonjolan ujung gagang pedang tersembul dari dalam bungkusan pakaian yang digendong pemuda yang berpakaian mewah dan indah itu. Agaknya si pelayan bersikap manis karena pakaian pemuda itulah. Memang hebat pakaiannya, dari sutera halus dan indah, lagi serba baru sampai ke sepatunya. Pakaian seorang pemuda pelajar yang kaya raya atau mungkin putera bangsawan yang manja! Dengan senyum manis pemuda remaja itu mengangguk-angguk kepada si pelayan dan duduk di atas bangku depan meja itu, ia memesan masakan-masakan dengan suara lantang dan Kwan Bu makin gemas dan mendongkol mendengar betapa pemuda itu memesan masakan-masakan yang paling mahal dan paling lezat dalam jumlah yang amat banyak lagi, seolah-olah hendak menyombongkan kekayaannya! Masa ada seorang memesan masakan sampai belasan macam?

“Heiii, bung pelayan.    !” Ia membentak tak sabar. “Bagaimana ini? Meja mana yang kau tawarkan

padaku tadi?” Karena gemas melihat sikap pelayan yang menjilat-jilat, Kwan Bu mengeluarkan suara dengan keras dan membentak, membuat beberapa orang tamu yang duduk dekat situ menengok. Demikian juga si pelayan cepat memutar tubuhnya dan agaknya ia baru teringat kepada Kwan Bu. Cepat ia melangkah maju membungkuk-bungkuk, berkata, “Ah, maafkan tuan. Menyesal sekali meja-meja kami telah penuh semua. Kalau saja tuan suka menanti sampai ada meja kosong.... tuan boleh duduk menanti di bangku luar...!”

“Apa kau bilang? He, bung pelayan! Kau tadi menawarkan meja itu kepadaku, sekarang kau berikan kepada orang lain dan mengusir aku! Agaknya matamu sudah buta karena silau akan indahnya pakaian dan telingamu sudah tuli karena bising mendengar kerincingnya emas!” Setelah memaki dan puas melihat pelayan untuk mengangkat dada hendak balas memakinya, jari tangan Kwan Bu bergerak dan pelayan itu sudah tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Jangankan bicara, bergerak pun tidak mampu karena tubuhnya sudah kaku seperti arca batu! Saking geetarnya, Kwan Bu menotoknya diluar tahu siapa juga karena kecepatan jari tangannya, menotok untuk membuat pelayan kaku selama beberapa jam, kemudian ia membalikkan tubuh hendak keluar dari restoran itu.

“Eeeh... nanti dulu, tunggu sebentar sahabat!” Terdengar teriakan nyaring dan sesosok bayangan berkelebat di depan Kwan Bu. Kiranya pemuda remaja yang tampan itu telah lari menyusulnya dan kini berdiri di depan. Sejenak mereka saling tatap dan Kwan Bu melihat betapa wajah yang tampan itu berseri-seri dan tersenyum ramah sekali kepadanya. Betapapun jengkel hati Kwan Bu tadi melihat muka berseri dan ramah itu seketika lenyap kemarahannya. Pula, memang bocah tampan ini tidak bersalah sama sekali. Yang bersalah adalah si pelayan yang menjilat si kaya menghina si miskin. Akan tetapi, karena bocah inilah yang menjadi biang keladi sehingga si pelayan menghinanya, ia bertanya dengan suara dingin.

“Kongcu (tuan muda) yang kaya raya dan berpakaian indah mau apakah menahan aku?” Pemuda remaja itu memperlebar senyumnya melihat sikap dingin dan mendengar ucapan yang mengandung ejekan dan kemarahan itu. Ia menjura dan berkata,

“Wah, kurasa engkau tidaklah sebodoh si pelayan tolol si tukang jilat sehingga menyebut-nyebut ku kongcu kaya raya. Sahabat baik kita sama-sama orang yang melakukan perjalanan dan kebetulan bertemu di sini. Akau menjadi penyebab keributan ini, maka untuk menebus dosa, aku mengundang engkau untuk duduk makan bersamaku. Meja itu cukup besar dan bangkunya ada banyak!” Kwan Bu yang masih panas hatinya hendak menolak, akan tetapi pemuda itu demikian ramah, senyumnya demikian manis, dan kini dengan sikap bersahabat sekali pemuda itu sudah menggandeng lengannya dan ditarik kembali ke ruangan itu, ke arah mejanya. Pada dasarnya Kwan Bu memang bukan seorang pemarah, betapa mungkin kini ia marah-marah terhadap seorang yang begini manis budi?

“Hemm, akupun tidak menyalahkan engkau... hanya pelayan itu..?” katanya gagap sambil melangkah di samping pemuda itu. Pemuda itu tersenyum.

“Memang pelayan idiot, tukang menjilat, mata duitan, patut diberi hajaran!” ketika mereka lewat di dekat pelayan yangmasih berdiri kaku dan mata melotot, pemuda tampan itu menampar pundak si pelayan dengan sikap menegur dan memberi hukuman. Akan tetapi diam-diam Kwan Bu terkejut karena diam-diam gerakan itu adalah sebuah totokan yang sekaligus memusnahkan totokannya tadi dan kini si pelayan mengeluarkan suara keluhan perlahan dan dapat bergerak kembali! Kini si pelayan itu tidak berani banyak cakap lagi. Setelah tubuhnya pulih ia terbongkok-bongkok di depan meja di mana Kwan Bu duduk berhadapan dengan pemuda remaja yang tampan tadi.

“Maaf... maafkan..? kata si pelayan. “Sudah, lekas sediakan arak dan bakmi serta daging panggang untukku.” Kata Kwan Bu dengan hati sebal. Pelayan cepat membalikkan tubuh untuk menyediakan pesanan Kwan Bu dan pesanan pemuda tampan tadi.

“Ah, twako, mengapa sungkan-sungkan amat? Aku sudah memesan banyak masakan untuk kita berduapun lebih dari cukup. Untuk apa memesan lagi?”

“Hemm, sudah mengganggu mejamu, masih harus mengganggu hidanganmu, mana mungkin aku ada muka untuk melakukan hal keterlaluan itu laote (adik)?”

“Wah, kalau begitu engkau tidak suka menerima uluran tangan persahabatanku, twako? Apakah karena twako merasa terlalu tinggi dan lihai maka menganggap aku seperti angin lalu?” Kwan Bu memandang dengan mata lebar. Bocah ini benar-benar aneh sekali. Sikapnya kekanak-kanakan, akan tetapi isi kata-katanya tajam berisi, juga melihat cara membebaskan totokan di tubuh pelayan tadi, membuktikan bahwa ia memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.

“Bukan sekali-kali, mana mungkin aku memandang rendah kepadamu yang lihai, laote? Hanya aku sungkan mengganggu..?”

“Karena kita belum berkenalan? Nah, perkenalkanlah, twako, aku bernama Giok Lam, she Phoa. Engkau siapakah?”

“Namaku Bhe Kwan Bu, seorang perantau miskin..? Alis yang hitam itu terangkat ke atas, mata yang hitam itu memandang penuh perhatian dan kembali senyumnya melebar.

“Wah-wah, engkau sungguh pandai merendahkan diri, Bu-twako (kakak Bu)! Sungguh seorang taihiap (pendekar besar) yang rendah hati! Setelah kita berkenalan dan menjadi sahabat, perlu apa memakai sungkan-sungkan lagi? Bukankah seperti kata dunia kang-ouw, para pengembara adalah burung-buung yang bebas terlepas di udara, bukan seperti binatang-binatang di kandang yang dibatasi sopan santun kosong?” Kembali Kwan Bu tertegun. Bocah ini masih muda, tentu beberapa tahun lebih muda dari padanya, akna tetapi sikapnya seperti seorang petualang di dunia kang-ouw yang sudah kawakan raja. Mau tak mau ia tersenyum dan mulailah ia merasa suka kepada pemuda ini.

“Baiklah, Lam-te (adik Lam), aku takkan bersikap sungkan lagi terhadapmu. Akan tetapi, engkau tentu tahu bahwa seorang laki-laki harus pandai bersikap rendah hati namun menjunjung harga diri! Kalau kita tadi belum saling berkenalan, betapa mungkin aku berani mengganggumu? Sekarang keadaannya lain lagi. Kalau engkau sudi bersahabat dengan seorang seperti aku..?

“Nah, nah... mulai lagi   ” Giok Lam memotong dan keduanya tertawa. Pada saat itu, si pelayan telah

datang dengan membawa seguci arak dengan dua mangkok arak. Dua orang pemuda yang baru berkenalan itu lalu mulai minum arak sambil bercakap-cakap menanti datangnya masakan yang dipesan. Makin lama mereka bercakap-cakap, makin sukalah Kwan Bu kepada kawan baru ini yang ternyata amat pandai bicara, pandai mencari bahan percakapan, amat ramah tamah gembira dan jenaka. Sungguh seorang pemuda yang memandang dunia ini dengan mata terbuka lebar, dan senyum siap di bibir, seolah-olah bagi dia hanya kegembiraan yang ada, tak kenal duka dan kecewa. Bercakap-cakap dengan orang seperti ini, tentu saja mudah terseret sehingga Kwan Bu belum pernah merasai saat-saat yang menggembirakan seperti bercakap-cakap dengan Giok Lam!

Ketika hidangan mereka tiba dan sudah diatur di atas meja, Kwan Bu hanya makan bakmi dan panggang daging yang dipesannya. Berkali-kali Giok Lam menawarkan masakan-masakan pesanannya yang mewah dan lezat, lengkap pula dari daging burung dara sampai jantung rusa dan masak cakar bebek yang amat terkenal lezatnya itu! Namun Kwan Bu hanya mengangguk tersenyum, berterima kasih, selanjutnya masih tetap makan bakmi dan daging panggang pesanannya sendiri. Makan ini pun sudah amat menyenangkan dan sedap rasanya karena memang hatinya sedang gembira.

“Wah, Bu-twako benar-benar terlalu seji (sungkan)!” tegur Giok Lam yang segera menggunakan sumpitnya, mengambil bakmi dan daging panggang di depan Kwan Bu.

“Kalau begitu, biarlah aku memberi contoh, Nah, sekarang aku makan masakan pesanan twako, biarlah kita berdua makan bakmi dan daging panggang ini saja, yang lain-lain pesananku biar saja untuk lalat nahh?”

Kwan Bu terbelalak, lalu tertawa geli sambil hampir tersedak. Pemuda itu benar-benar kini hanya makan bakmi pesanannya dan daging panggang sederhana, tidak mau menyentuh pesanan masakannya sendiri yang belasan macam banyaknya itu. Berhadapan dengan pemuda seperti ini. Kwan Bu merasa kalah dan apa boleh buat, ia lalu mulai menyumpit dan mengambil masakan- masakan pesanan Giok Lam. Pemuda tampan ini girang sekali dan mereka lalu makan minum sambil bercakap-cakap dengan gembira, makin akrab saja hubungan mereka yang baru beberapa puluh menit itu. Makin kagum dan suka lagi hati Kwan Bu ketika pengaruh arak membuat Giok Lam bersajak dan ternyata dalam hal ilmu kesusasteraan, pemuda tampan itu memiliki pengertian yang tidak rendah!

“Wah, Lam-te benar-benar seorang bu-cwan-jai (orang pandai sastera dan silat) yang patut dikagumi membuat aku taluk benar!” kata Kwan Bu setulusnya hati. Alangkah besar bedanya pemuda ini dengan Liu Kong, bahkan jauh lebih tampan dan menyenangkan daripada Kwee Cin. Dan yang membuat ia terheran-heran adalah betapa pemuda tampan ini sekaligus telah merampas rasa sukanya dan ia seakan-akan telah mengenalnya lama sekali. Wajah tampan ini serasa bukan wajah asing baginya, seperti telah sering dijumpainya, akan tetapi hal itu sungguh tidak mungkin!

“Aaahh, Bu-twako terlalu memuji. Jangan sampai aku akan terapung tinggi oleh pujian twako. Siapa tidak tahu bahwa twakolah yang merupakan seorang hiapkek (pendekar) tersembunyi yang hebat? Oh, ya, setelah kita menjadi sahabat baik, bolehkah aku mengetahui twako ini datang dari mana dan ada keperluan apakah di kota ini? Di mana pula menginapnya?”

“Aku baru saja datang dan kebetulan saja dalam perantauan melewati kota ini. Belum mencari tempat menginp karena biasanya aku pun menginap di mana saja, di kuil-kuil, di rumah kosong, kalau terpaksa di kolong jembatan pun jadilah!”

“Ah, masa begitu? Aku bermalam di hotel Lok-sun marilah twako ke sana saja, biar kucarikan kamar sehingga kita dapat bercakap-cakap di sana.” Di dalam hatinya, Kwan Bu merasa amat suka dan cocok dengan kawan baru ini dan akan merasa senang sekali kalau tinggal di satu hotel sehingga dapat bercakap-cakap sepanjang malam. Akan tetapi ia mempunyai tugas penting, yaitu mencari musuh besarnya. Ia harus menyelidiki kuil di depan itu malam nanti, menyelidiki apakah hwesio ketua kuil itu musuh yang dicarinya apakah bukan. Maka ia lalu menjawab.

“Terima kasih, Lam-te. Akan tetapi aku mempunyai urusan yang amat penting dan hari ini juga aku sudah akan meninggalkan kota ini.” “Kalau begitu, sebaiknya kita melakukan perjalanan bersama, twako! Kemanakah twako hendak pergi? Akan kubeli seekor kuda lagi untukmu dan kita dapat melakukan perantauan bersama! Bukankah menyenangkan sekali itu?”

“Maaf, maaf, dan terima kasih atas budi baikmu. Sungguh, urusanku ini adalah urusan pribadi yang amat penting sehingga tidak mungkin aku berani mengganggumu. Biarlah aku berjanji, kelak kalau sudah selesai urusanku, aku akan mencarimu dan berkunjung ke rumahmu, Lam-te.” Akan tetapi pemuda tampan itu kelihatan kecewa sekali, bahkan kelihatan marah! Muka yang tampan itu menjadi merah dan mata yang tajam itu membayangkan sinar kemarahan hatinya.

“Ah, twako tidak percaya kepadaku, apakah ini tanda persahabatan yang erat? Beritahu saja apa urusan itu, kalau memerlukan bantuan tenaga, sedikitnya aku bukan seorang lemah!” Kwan Bu menggeleng kepala.

“Maaf, urusan pribadi tak mungkin diberitahukan orang lain. Harap Lam-te sudi memaklumi dan memaafkan.” Giok Lam dengan nada marah sudah memanggil pelayan. Setelah pengurus datang dan membuat perhitungan, dia mengeluarkan beberapa keeping uang perak dari buntalannya, melempar uang itu ke atas meja sambil berkata,

“Hitung semua dengan tuan ini, lebihnya boleh berikan pelayan yang tadi melayani kami!” Si pengurus terbongkok-bongkok menerima uang itu dan si pelayan terbongkok-bongkok berterima kasih. Akan tetapi Giok Lam tidak perdulikan akan itu semua dan ia sudah bangkit berdiri sambil menggendong buntalannya.

“Bu-twako, selamat tinggal, mudah-mudahan urusanmu akan berhasil!” Tidak enak rasa hati Kwan Bu. Ia tahu bahwa dipandang sepintas lalu, ia telah bersikap keterlaluan, menolak penawaran dari seorang sahabat yang begitu tulus ikhlas menawarkan bantuan dan yang telah sedemikian ramah dan baik terhadapnya. Iapun berdiri dan menjura.

“Lam-te, selamat berpisah sampai bertemu kembali. Dan sekali lagi terima kasih dan maaf.”

Akan tetapi Giok Lam sudah membalikkan tubuh, dengan langkah gesit telah keluar dari restoran, diikuti pandang mata Kwan Bu yang menghela napas panjang. Kwan Bu duduk kembali dan termenung, selama hidupnya, belum pernah ada orang bersikap baik terhadap dirinya. Kecuali gurunya dan ibunya. Akan tetapi gurunya kadang-kadang acuh tak acuh, sikapnya memang aneh dan tak suka beramah tamah . ibunya seringkali urung dan berduka karena mengandung dendam dan sakit hati yang belum terbalas. Belum pernah ada seorang sahabat yang baik terhadap dirinya. Orang-orang muda yang dahulu berada di rumah Bu Keng Liong, memandang rendah kepadanya, bahkan Liu Kong dan Bu Siang Hwi pernah menghinanya Kwee Cin yang pada dasarnya ramah dan halus, juga terbawa-bawa dan tidak dapat menjadi sahabat baiknya, mengingat bahwa dia hanyalah seorang bujang di rumah keluarga Bu itu.

Kini mulai muncul seorang pemuda yang begitu tampan pandai sastera dan silat, baru bertemu satu kali saja sudah memperlihatkan keramahan yang luar biasa. Tentu saja hatinya tertarik sekali dan ia merasa menyesal tidak menerima uluran tangan Giok Lam karena tugasnya yang amat penting malam ini. Karena niatnya mengintai kuil di depan tadi terganggu oleh kehadiran Giok Lam, maka kini Kwan Bu keluar dari restoran dan sengaja memasuki kuil itu yang di ruangan depannya bertuliskan tiga buah huruf indah dan besar Ban Lok Tang. Tidak begitu banyak lagi tamu sekarang, sebagian besar sudah pulang. Ketika Kwan Bu memasuki ruangan depan dan melihat-lihat ia mendapat kenyataan bahwa kuil ini benar mewah. Sutera-sutera halus beraneka warna tergantung di ruangan dalam. Agaknya banyak sekali orang yang menerima sumbangan, berarti dianggap cukup “manjur”, baik dalam memberi obat, meramal, atau memberi petunjuk terutama sekali dalam hal mencari keuntungan. Ia melihat dua orang hwesio yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, melayani para tamu yang minta sesuatu sambil bersembahyang dan melihat dengan pandang matanya yang terlatih betapa kedua hweio tua itu memiliki tenaga tersembunyi, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat. Selaindua orang hwesio tua ini, ada pula seorang hwesio cilik, paling tua empat belas tahun usianya, bertugas sebagai pelayan di sebelah depan dan juga sebagai tukang yang mendaftar para tamu baru agaknya. Buktinya, begitu melihat Kwan Bu, hwesio cilik ini cepat-cepat maju menyambut dan berkata.

“Tuan tentu seorang tamu yang baru pertama kali datang ke kuil kami, bukan? Sebagai tamu baru, harap tuan suka mengambil “ciam” sebagai perkenalan dan agar tuan dapat membuktikan sendiri betapa mahsyurnya kuil kami dan betapa tepatnya ramalannya!” Kwan Bu tersenyum. Semenjak kecil ia sudah terdidik untuk menghormati kuil. Bahkan ia terlahir dalam sebuah kuil Kwan-im-bio di luar kota Kwi-cun dan ia sudah yakin bahwa sebuah kuil adalah sebuah tempat yang suci di mana para pendeta berdoa untuk keselamatan umat manusia. Maka terhadap kuil Ban-lok-tang inipun ia menaruh hormat dan yang akan dia selidiki bukanlah kuilnya, melainkan ketuanya yang menurut keterangan Kwa piauwsu adalah seorang yang mempunyai ciri-ciri seperti musuh besarnya, bahkan katanya seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul).

Kini mendengar permintaan hwesio cilik, ia mengangguk dan mengikuti hwesio ini memasuki ruangan samping dan si mana terdapat meja sembahyang. Kwan Bu diharuskan membeli perabot- perabot sembahyang, kemudian dilayani hwesio itu ia bersembahyang memberi hormat dan minta perkenan “dewa penjaga” untuk memasuki kuil. Selain bersembahyang, atas desakan hwesio cilik, Kwan Bu mengocok bambu tempat “ciam” dan begitu keluar nomornya dan ia menerima sehelai kertas bertuliskan tangan dan membacanya, ia memandang dengan mata terbelalak. Apakah isi tulisan itu? Tulisan tangan yang cukup indah dan bunyinya demikian. Nama anda Bhe Kwan Bu. Kalau anda bisa bersahabat dengan seorang yang bernama Lam, barulah anda akan berbahagia. Kwan Bu yang terheran-heran itu mendengar si hwesio cilik tertawa.

“Tentu tuan terheran, bukan? Semua tamu juga pada pertama kali terheran-heran karena mereka semua dikenal oleh toa pekkong kami. karena itu, tuan tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memohon sesuatu, karena tidak ada kuil yang lebih jitu dan manjur daripada kuil Ban-lok-tang.” Kwan Bu bukanlah seorang yang begitu saja mudah percaya akan segala macam tahyul.

la percaya kan kesucian kuil sebagai tempat sembahyang, akan tetapi keanehan seperti ini benar- benar membuat ia berpikir. Bagaimana namanya dapat dikenal? Satu-satunya orang yang mengenal namanya adalah Giok Lam! Apakah ini permainan pemuda tampan itu? Apakah Giok Lam yang bersembunyi dalam kuil dan diam-diam menulis surat itu atau memberi tahu kepada hwesio yang bertugas menulis ciam? Atau ada rahasia apakah dibalik semua ini? Hatinya menjadi tidak enak dan ia tidak mau lama-lama berada di situ. Malam nanti ia akan mencari jawaban semua ini. Dari kuil itu Kwan Bu, lalu pergi keluar kota dan bersembunyi di luar kota sambil mengenangkan Giok Lam. Sukar baginya untuk melupakan sahabat barunya itu. Betapa akan senangnya kalau sekarang ia dapat bercakap-cakap dengan sahabat itu.

“Ahh, betapa mungkin kita bersahabat, pikirnya sambil menarik napas panjang. Jelas bahwa dia seorang kaya, bahkan mungkin seorang putera bangsawan. Sedangkan aku apa? Bekas bujang dan....

dan...... seorang anak haram!” Berpikir sampai di sini, dadanya terasa perih dan dia mengusir bayangan Giok Lam sebagai sahabat, lalu bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga yang mungkin malam ini harus ia kerahkan untuk menghadapi lawan berat. Setelah hari larut malam, Kwan Bu meninggalkan tempat itu memasuki kota dengan jalan melompati tembok kota yang tidak begitu tinggi. Ia terus melakukan perjalanan melewati wuwungan rumah- rumah itu, tidak ada yang mendengar jejak kakinya yang seperti kaki seekor kucing saja. Berbeda dengan keadaan waktu siangnya yang amat ramai, kini kuil itu sunyi sekali. Sunyi seperti kuburan, juga penerangannya di bagian suram muram, hanya diterangi sebuah lampu teng bergantung di sudut kelenteng. Ruangan depan kelihatan hitam gelap meyeramkan, hanya diterangi kelap-kelip dupa sisa siang tadi di atas tempat abu. Juga restoran di depan kuil telah tutup dan keadaan di jalan itu sunyi senyap. Mengapa demikian? Hal ini berhubungan dengan kuil itu dan dengan kepercayaan akan tahyul yang sudah mendalam di hati penduduk kota Sian-hu.

Karena “manjurnya” kuil Ban-lok-tang, lalu dikabarkan bahwa jika hari terganti malam, kuil itu menjadi tempat pertemuan para dewa yang menerima pelaporan para jin dan setan, juga di situ setan-setan dan roh-roh berkeliaran yang melakukan kesalahan-kesalahan menerima hukuman! Cerita inilah yang membuat penduduk kota tidak ada yang berani lewat jalan di waktu malam, lebih baik mereka mengambil jalan memutar yang lebih jauh dari pada harus lewat di depan kuil, karena menurut desas-desus, ada bahayanya bertemu setan dan roh yang gentayangan di depan kuil yaitu setan dan roh yang akan dijatuhi hukuman di situ, kemudian menyeret manusia untuk menemani mereka menerima hukuman! Bahkan ada desas-desus mereka yang bersumpah telah mendengar jerit tangis wanita di dalam kuil, tanda bahwa setan-setan perempuan menerima hukuman!

Pendeknya, kuil yang waktu siangnya amat ramai dikunjungi orang untuk dimintai berkahnya, di waktu malam berubah menjadi tempat angker menakutkan! Kwan Bu mendekam di atas wuwungan tertinggi dari kuil itu. Dari tempat tinggi ini, ia dapat melihat bagian bawah agak luas, sampai jalan depan kuil itu pun tampak remang-remang di kegelapan malam. Dua ekor kelelawar berterbangan dan hampir menyerempet kepalanya. Diam-diam Kwan Bu menyumpahi dua ekor binatang itu yang kini terbang jauh. Binatang malam mengerikan itupun agaknya membantu si penghuni kuil, pikirnya. Dengan pandang matanya ia melihat betapa seekor dari kelelawar itu menyambar ke kiri dan tiba- tiba saja... ”plak!” binatang itu terbanting di atas genteng dan tak bergerak lagi.

Kwan Bu tersenyum geli juga kagum dan heran menduga-duga siapa gerangan orang yang mendekam di sebelah kiri itu yang terganggu kelelawar dan membunuh binatang itu. Kiranya bukan dia seorang saja yang mengintai dan menyelidiki keadaan kuil Ban-Iok-tang. Pencurikah Orang di sebelah kiri itu? Dia dan orang itu sebetulnya tidak saling melihat dan hanya karena orang itu membunuh kelelawar maka ia dapat mengetahui tempat persembunyiannya. Ia merasa yakin bahwa orang itu belum tahu akan kehadirannya di situ. Perhatiannya tertarik oleh gerakan dua orang jalan di depan kuil. Mereka itu adalah dua orang yang keluar dari pintu restoran yang segera ditutup kembali. Mereka membawa sebuah peti dan memasuki pintu kuil, terus ke ruangan depan, disambut oleh seorang hwesib yang bukan lain adalah hwesib cilik yang siang tadi menyambut Kwan Bu.

“lni uang pendapatan hari tadi, dan ini daftar tamu baru yang mungkin besok pagi akan mengunjungi kuil,” terdengar seorang diantara mereka berkata.

“Tolong sampaikan kepada losuhu bahwa sore tadi ada seorang wanita muda yang bertanya-tanya menyelidiki kuil. Dia berpakaian serba hijau dan membawa-bawa pedang di punggungnya. kami tidak berhasil memancing apa maksudnya dan siapa namanya. Harap kalian berhati-hati dan agar losuhu tahu sebelumnya.” Suara hwesio cilik itu mengejek dan memandang rendah.

“Cantikkah perempuan muda itu?” “Cantik dan kelihatan gagah perkasa, jelas seorang yang biasa melakukan perjalanan di dunia kang- ouw”

“Ha-ha-ha, kalau cantik kebetulan sekali. Losuhu sedang sibuk dengan yang baru dan sukar ditundukkan itu, kedua susiok (paman guru) sedang sibuk pula dengan yang lama bekas losuhu, dan aku masih menganggur..?”

“Hemm, bersenang sih boleh saja, akan tetapi harap jangan mengurangi kewaspadaan. Sekali terbongkar, kita semua akan celaka!”

“Sudah. pergilah. Kalian ini benar-benar penakut” Dua orang itu kembali keluar dari pintu kuil dan menyeorang jalan, memasuki pintu restoran. Keadaan kembali sunyi senyap dan malam makin larut. Tiba-tiba mata Kwan Bu yang tajam melihat berkelebatnya sesosok bayangan di atas wuwungan sebelah depan. Bayangan seseorang yang bertubuh langsing dengan tangan kanan memegang sebatang pedang, dan pakaiannya serba hijau!

Kiranya itu adalah nona pendekar baju hijau yang dikhawatirkan oleh dua orang pengurus restoran tadi. Kwan Bu melirik kesebelah kiri. Orang yang membunuh kelelawar masih di situ. Ia makin geli. Ah, dasar nasib hwesio-hwesio ini amat busuk, pikirnya. Sekali datang tiga orang lawan! Kini ia mulai mengerti bagaimana caranya hwesio-hwesio itu menipu para pengunjung kuil dengan segala macam ciamsi “manjur dan jitu” kiranya mereka itu mempunyai kaki tangan di restoran depan kuil, dan mungkin di sekitar tempat itu yang dengan licik mencatat perbakapan para tamu, atau mungkin ada pula yang memancing-mancing keterangan mereka. Kini ia teringat betapa ia telah bercakap-cakap dengan Giok Lam dan telah menyebutkan namanya, tentu saja pengurus restoran mendengarnya dan langsung mengirim keterangan ke kuil sebelum ia sendiri memasuki kuil.

Sungguh cara kerja yang cerdik dan cepat. Bayangan wanita baju hijau itu kini sudah berendap- endap melayang turun dengan cepat sekali, tanda bahwa ginkang dari nona itu sudah cukup tinggi pula, akan tetapi tidak lama kemudian terdengar suara jerit wanita di sebelah bawah, jerit kaget, kemudian suara wanita memaki-maki dan tak lama kemudian diam, kembali sunyi. Kwan Bu melihat bayangan di kiri meloncat dengan gerakan kilat, agaknya hendak menyusul si baju hijau. Begitu melihat bayangan itu, Kwan Bu terkejut dan girang. Kiranya orang itu bukan lain adalah Giok Lam! Biarpun malam hanya diterangi bintang-bintang di langit, namun ia segera mengenali bentuk tubuh, wajah, dan gerakan orang ini. Cepat ia menyambar ke depan menyentuh pundak Giok Lam sambil berbisik,

“Sstt....!” Dengan gerakan otomatis seorang ahli silat, Giok Lam sudah menangkis tangan yang menyentuh pundaknya, membalikkan tubuh siap mengirim serangan, akan tetapi ketika melihat Kwan Bu ia berbisik,

“Ah.... engkaukah, twako...?” Kwan Bu tidak menjawab, hanya menarik tangan pemuda itu dan membawanya bersembunyi di balik wuwungan.

“Jangan sembrono, Lam-te...”

“Tidak kau lihatlah si baju hijau tadi! Dia melompat turun dan terdengar jeritnya, kita harus segera menolongnya!” bantah Giok Lam.

“Justeru karena itu kita harus berhati-hati. Tentu di bawah dipasang jebakan berbahaya. Kita harus mencari akal, sebaiknya kita tunggu munculnya seorang hwesio kita bekuk dan paksa dia menjadi penunjuk jalan. Kenapa kau berada di sini Lam-te?” “Kulihat tadi siang engkau memasuki kuil. Tak mungkin seorang seperti engkau hendak minta-minta berkah ke kuil, twako. Maka aku menyangka tentu ada sesuatu yang tidak beres di kuil ini, dan malam ini aku datang menyelidik. Siapa kira, benar-benar bertemu denganmu di sini. Apakah si baju hijau itu kawanmu?”

“Bukan, aku datang sendiri. Agaknya hwesio-hwesio di sini amat jahat sehingga memancing datangnya si baju hijau itu. Baiklah nanti kita selidiki.”

“Kau sendiri datang ke sini mau apakah Bu-twako?” Tanya lagi Giok Lam sambil berbisik lirih di dekat telinga Kwan Bu.

“Urusan pribadi... hemm, aku mencari musuh, mungkin ketua kuil ini, mungkin juga bukan. Betapapun juga, kalau benar kabar yang kudengar bahwa ia adalah seorang jai-hwa-cat, musuh atau bukan harus kubasmi.” Giok Lam memegang Iengannya dan Kwan Bu merasa betapa halusnya jari tangan yang menyentuh Iengannya, halus namun mengandung tenaga dalam yang kuat.

“Dia jai-hwa-cat......? kalau begitu. si baju hijau tadi......da|am bahaya    !”

“Sssttt !” Kwan Bu menarik tangan Giok Lam dan menarik memandang ke bawah. Si hwesio muda

dengan tangan memegang teng berwarna merah agaknya sedang meronda, tangan kanan memegang sebatang golok.

“Biar kubekuk dia !” Giok Lam meronta, akan tetapi Kwan Bu merangkulnya erat dan berbisik di

telinganya, dengan bibir menyentuh pipi dekat telinga.

“Jangan, Lam-te. aku yang punya musuh di sini, ingat? kau bantu saja, lihat kalau-kalau aku terjebak, kau menolong aku?” Giok Lam yang tadinya bersemangat hendak meloncat dan menerjang si hwesio muda, kini tampak lemas dan hanya mengangguk-anguk. Kwan Bu melepaskan rangkulannya, lalu bangkit berdiri. Setelah hwesio muda itu berjalan dekat dan tepat di bawah wuwungan itu, tubuh Kwan Bu menyambar ke bawah gerakannya bagaikan seekor burung garuda menyambar seekor domba. Giok Lam yang melihatnya memandang penuh kekaguman dan cepat pemuda itu menjenguk dari pinggir genteng untuk menonton dan siap membantu kawannya jika perlu.

Akan tetapi tentu saja Kwan Bu sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Hwesio muda itu tidak sempat berteriak sama sekali, bahkan tidak sempat bergerak. Tahu-tahu bayangan berkelebat dan dua kali totokan membuat dia kaku tubuhnya dan tidak mampu dan tidak dapat mengeluarkan suara, hanya bengong memandang dengan tangan kiri masih mencengkeram teng dan tangan kanan memegang golok. Dia seperti berubah menjadi sebuah di antara arca-arca yang banyak terdapat di situ. Melihat ini, bagaikan gerakan seekor walet menyambar, tubuh Giok Lam melayang turun dan ia sudah berada di dekat Kwan Bu, lalu tanpa diperintah ia merampas golok dan teng. Kwan Bu kagum. Pemuda ini biarpun masih muda namun tangkas dan agaknya sudah banyak pengalamannya sehingga dapat mengatasi keadaan tanpa diperintah.

“Hayo, bawa kami ke tempat si baju hijau tadi terjebak!” bisik Kwan Bu dekat telinga hwesio muda itu. Si hwesio membelalakan mata seperti orang ketakutan, dan berusaha menggeleng kepala. Kwan Bu lalu menekankan rasa nyeri yang tak mungkin dapat ditahan oleh seorang manusia. Seluruh tubuh hwesio itu seperti dimasuki jarum, isi perut seperti dibetot-betot dan mukanya menjadi pucat, peluh sebesar kacang kedele memenuhi mukanya, mulutnya menyeringai, lidahnya menjulur keluar dan berdarah karena tergigit sendiri. Saking tidak tahannya. ia mengangguk-angguk. Kwan Bu segera membebaskan tekanannya, bahkan membebaskan totokan tubuh hwesio itu sehingga kini hwesio itu dapat bergerak sungguh pun belum dapat mengeluarkan suara.

Giok Lam tersenyum kagum bertiga ia membawa golok dan teng, mengikuti hwesio itu yang digandeng oleh Kwan Bu, menuju ke ruangan dalam kuil yang amat gelap dan menyeramkan karena sinar suram api ujung dupa-dupa yang tinggal pendek. Api itu seolah-olah hidup karena apa bila ada angin bertiup dari luar, api itu membesar dan bersinar, menimbulkan bayang-bayang pada dinding. Arca-arca yang berdiri di situ menciptakan bayang-bayang yang seperti setan raksasa. Teng ditangan Giok Lam bergoyang dan ketika Kwan Bu melirik, kiranya kawannya itu menggigil saking merasa ngeri. Ia tersenyum. Betapapun gagahnya. kawannya ini agaknya merasa seram berada di dalam kuil itu agaknya percaya akan tahyul dan setan! Merekapun kini memasuki ruang dalam dan tubuh si hwesib muda mulai gemetaran, jelas tampak ia amat ketakutan.

Kwan Bu yang tahu akan keadaan segera menekan lagi punggung hwesio itu yang cepat-cepat mengangkat tangan dan menghampiri dinding dekat pintu yang tertutup. Tangannya meraba dan menekan tombol hijau yang tersembunyi di dekat pintu cat hijau. Terdengar bunyi berderit dan pintu terbuka, akan tetapi lantai di balik pintu itu secara otomatis terbuka pula, memperlihatkan sebuah anak tangga ke bawah. Hwesio itu menudingkan telunjuknya ke anak tangga dan membuat gerakan dengan tangan menyuruh Kwan Bu dan Giok Lam menuruni anak tangga karena dia sendiri takut untuk turun. Kwan Bu tidak perduli dan mendorongnya sambil menekan punggung. Dari kerongkongan hwesio itu terdengar isak seperti menangis, namun kakinya terpaksa menuruni anak tangga, diikuti dengan Kwan Bu dan Giok Lam yang membawa teng merah.

Anak tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan di bawah tanah yang amat mewah keadaannya, jauh lebih mewah dari pada keadaan di dalam kuil yang berada di sebelah atas ruangan rahasia ini. Di sini terdapat penerangan yang cukup sehingga tampak hiasan-hiasan dinding dan perabot-perabot yang lengkap dan serba indah. Di tengah ruangan itu terdapat permadani merah berbentuk bundar dan di kanan kiri terdapat pintu-pintu yang tertutup. Kwan Bu yang memperhatikan seluruh ruangan itu. itdak pernah melepaskan sebagian perhatiannya kepada hwesio yang dipaksanya menjadi penunjuk jala, maka ia dapat melihat ketika hwesio itu tiba-tiba menginjak bagian lantai tertentu dengan gerakan yang jelas disengaja. Maka ketika terdengar bunyi angin aneh, dia sudah merobohkan hwesio itu dengan totokan sambil berbisik kepada temannya.

“Awas !” Tiba-tiba terdengar desis dari kanan kiri dan atas. dan tampaklah sinar berkelebatan

menyerang mereka.

“Jarum-jarum beracun ?” bisik Giok Lam yang sudah memutar goloknya sehingga jarum-jarum yang

menyambar ke arahnya runtuh semua. Adapun Kwan Bu rdengan cepat menggerakkan kedua tangan,

Mendorong dan menangkap sehingga semua jarum yang menyambar ke arahnya, sebagian besar dapat ia runtuhkan dengan hawa pukulan, dan ada beberapa batang ia tangkap dengan tangan. Setelah memeriksa sejenak, ia membuang jarum-jarum itu. Berbeda dengan jarum yang berada di saku bajunya, dan jarum-jarum ini berwarna serta beracun pula! Hetika ia menoleh ke arah hwesio muda, kiranya hwesio itu sudah tewas dengan mata mendelik, terkena beberapa jarum beracun pada leher dan dadanya. Ketika tadi menangkis jarum-jarum rahasia, Giok Lam sudah melepaskan teng dan kini ia berdiri dengan tegak, siap menghadapi lawan, golok rampasan di tangan kanan, matanya melirik ke kanan kiri, Kwan Bu kagum melihatnya. Tadi sebelum jarum-jarum tiba, pemuda ini sudah tahu bahwa akan datang jarum-jarum beracun, Hal ini saja sudah membuktikan bahwa pemuda ini adalah seorang ahli dalam senjata rahasia jarum sehingga dapat membedakan suara menyambarnya jarum-jarum dan dari baunya dapat mengetahui bahwa yang menyambar adalah jarum beracun. Dan cara pemuda ini menggerakkan golok menangkis juga merupakan permainan golok yang hebat! Tiba-tiba dari pintu kiri terdengar tangisan wanita. Tanpa dikomando lagi Kwan Bu dan Giok Lam bergerak hampir berbareng, menendang dan mendorong pintu itu yang terbuka dan roboh. Kiranya di balik pintu itu ada sebuah kamar besar sekali yang amat mewah dengan empat buah ranjang yang besar di situ terdapat dua orang hwesib tua yang siang tadi melayani tamu. Akan tetapi keadaan mereka benar-benar tak dapat disebut sebagai pendeta yang suci, bahkan sebaliknya!

Pakaian mereka setengah telanjang, di meja penuh dengan hidangan dan arak, dan di atas dua pembaringan rebah dua orang wanita muda yang keadaannya melebihi dua orang hwesio itu, karena tidak berpakaian sama sekali! seorang diantara dua orang wanita inilah yang menangis dan wanita kedua menghiburnya dengan kata-kata halus. Adapun dua orang hwesib itu ketika mendengar pintu roboh, cepat membalikkan tubuh dan begitu melihat Kwan Bu dan Giok Lam mereka mengeluarkan seruan marah dan mereka sudah menerjang maju dengan pedang yang tadi telah mereka sambar dari atas meja dalam kamar. Pada saat itu dari arah kanan terdengar jerit wanita seperti yang tadi terdengar ketika si baju hijau melompat turun. Giok Lam yang melihat betapa gerakan dua orang hwesio yang menyerang mereka itu tidaklah seberapa hebat, lalu berkata.

“Kau hajar dua ekor kerbau ini, Bu-Twako!” Kwan Bu maklum bahwa Giok Lam tentu akan menolong si baju hijau. maka ia mengangguk dan membiarkan kawannya itu menerjang keluar kamar. Ia sendiri menyambut serangan dua orang hwesio itu dengan tenang saja. Dengan sedikit menggerakkan tubuh, dua batang pedang itu menyambar lewat dan dua kali tangannya memukul dengan jari terbuka maka robohlah dua orang hwesio itu dengan tubuh lemas. pedang mereka terlempar ke atas lantai.

Kwan Bu meneliti kamar dengan pandang matanya, lalu cepat-cepat ia keluar karena tidak tahan ia berdiam lebih lama lagi dalam kamar itu, apalagi melihat dua orang wanita yang telanjang bulat itu saling peluk dengan wajah pucat dan tubuh menggigil ketakutan. Ia harus menyusul Giok Lam yang mungkin menghadapi bahaya. Memang benar sekali kekhawatirannya ini. Begitu tubuhnya berkelebat keluar kamar, ia mendengar suara senjata beradu di kamar sebelah kanan. Pintu kamar itu sudah roboh agaknya dirobohkan Giok Lam dan pada saat itu hwesio berusia enam puluhan tahun bertubuh tinggi besar dan beralis tebal yang memainkan sebatang golok dengan kuat dan cepat sekali. Jelas bahwa Giok Lam kalah tenaga dan terdesak hebat, bahkan hwesio tinggi besar itu kini tertawa-tawa mengejek.

Kwan Bu cepat berkelebat maju memasuki kamar, akan tetapi tiba-tiba tangan kiri hwesio tinggi besar itu bergerak dan menyambarlah jarum-jarum ke arah Kwan Bu. Pemuda sakti ini yang telah bertahun-tahun melatih diri dengan ilmu menyambit jarum, dengan mudah mengelak dan menyambar beberapa batang jarum dengan tangannya. Sekali pendang saja maklumlah ia bahwa jarum-jarum ini berbeda dengan jarum yang membutakan mata ibunya. Dengan hati kecewa ia lalu menggerakkan tangannya, mengirim kembali jarum-jarum itu ke arah si hwesio tinggi besar. Seorang yang belum mahir menggunakan senjata rahasia jarum, tentu akan merasa ragu-ragu untuk menyerang lawan yang sedang bertanding dengan seorang kawan, karena ada bahayanya jarum itu mengenai kawan sendiri. Namun jarum-jarum yang dikirim pulang oleh Kwan Bu itu dengan cepat sekali menyambar, tiga batang jumlahnya, ke arah mata, leher, dan dada si hwesio tinggi besar.

“Hayaaaaa......!” hwesio yang tadinya tertawa-tawa mengejek Giok Lam, kini berteriak keras sakin kagetnya dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri bergulingan di atas lantai kamar untuk menghindarkan tubuhnya di “makan” sendiri oleh jarum-jarumnya! “Monyet gundul ini lihai, Twako. Mari bantu...!” Giok Lam berseru dan Kwan Bu sudah meloncat maju. Dilihatnya betapa di dalam kamar yang lebih besar dan lebih mewah daripada kamar kedua orang hwesio tadi, di sini terdapat pula seorang wanitanya. Namun bedanya, wanita ini adalah seorang wanita muda cantik berpakaian serba hijau yang kini telah dibelenggu kaki tangannya yang terpentang dan masing-masing diikat pada tiang pembaringan. Pakaian wanita baju hijau inipun sudah robek-robek agaknya kalau Giok Lam kurang cepat sebentar menyerbu, akan terlambatlah. Bukan main marahnya hati Kwan Bu. Dia tidak ragu-ragu lagi sekarang. Hwesio tua itu sesungguhnya adalah seorang penjahat yang cabul dan suka memperkosa wanita mempergunakan kehliannya. Yang semacam ini harus dibasmi, baik dia ini musuh besar ataupun bukan!

“Penjahat berkedok pendeta, bersiaplah memasuki neraka!” bentak Kwan Bu yang sudah menerjang maju dengan tangan kosong. Hwesio tinggi besar itu yang kini sudah meloncat berdiri, tadinya merasa gentar menyaksikan cara Kwan Bu melemparkan kembali jarum-jarumnya, akan tetapi karena pemuda itu kini maju dengan tangan kosong, timbul kembali keberaniannya sambil membentak marah lalu menyambut Kwan Bu dengan goloknya yang tebal dan berat. Hebat memang cara hwesio ini menggunakan goloknya.

“Singggg......!!” Golok itu berubah menjadi sinar terang menyambar ke arah leher Kwan Bu yang tepat mengelak. Pantas Giok Lam terdesak, pikir Kwan Bu. kiranya hwesio ini memang memiliki tenaga yang amat besar dan goloknya lihai sekali.

Ketika golok menyambar lewat, Kwan Bu yang mengelak dan tubuhnya menjadi rendah dengan kedua lutut ditekuk, tiba-tiba mengirim tendangan ke arah Iutut kiri dan pergelangan tangan kanan. Dua tendangan susul menyusul yang amat cepat dan kalau mengenai sasaran tentu akan melumpuhkan dan melucuti lawan. Namun, hwesio itu ternyata tidak selemah kedua Orang pembantunya tadi. Tendangan ke arah lutut dapat ia elakkan dan tendangan ke arah pergelangan tangannya ia sambut dengan bacokan golok yang ia balikkan ke bawah! Tentu saja Kwan Bu tidak membiarkan kakinya terbacok dan ia menarik kembali kakinya lalu melangkah ke kiri dua tindak. Melihat betapa Kwan Bu menghadapi hwesio itu dengan tangan kosong saja, Giok Lam menjadi khawatir dan ia cepat menerjang maju dengan goloknya. hwesib itu marah, membentak keras dan menangkis sambil mengarahkan goloknya.

“Trangggg......!!” “Aihhhhh......!!” Golok rampasan di tangan Giok Lam mencelat dan sudah patah menjadi dua dan pemuda itu memekik sambil melompat mundur. Kwan Bu marah, cepat menubruk maju dan dengan pukulan jarak jauh itu menghantam ke arah dada hwesio itu. Merasa betapa angin pukulan yang dahsyat menyambar, hwesio itu terkejut dan berusaha menangkis. Inilah salahnya. Kalau ia mengelak, mungkin ia terhindar. Akan tetapi ia menangkis dengan lengan kirinya.

“Krekkk...!l” Lengan kiri hwesio itu yang dua kali lebih besar dari tangan Kwan Bu, seketika patah tulangnya.

“Aduhhh...!” Hwesib itu kaget dan marah, mencelat mundur sambil menyambitkan goloknya ke arah Kwan Bu.

“Twako, awas...!” teriak Giok Lam. Akan tetapi tanpa diperingatkan sekalipun Kwan Bu sudah tahu akan datangnya bahaya. Ia tidak mengelak, melainkan miringkan tubuhnya dan tangan kanannya menyambar goloknya itu yang kini sudah berhasil pindah ke tangannya. Hwesio itu memandang dengan mata terbelalak, dan sekarang ia benar-benar menjadi gentar. Terdengar ia memekik keras dan tubuhnya sudah melayang ke naik atas, maksudnya hendak melarikan diri melalui langit-langit kamar itu karena di situpun terdapat jalan rahasia. Kwan Bu dapat menduga akan hal ini, maka ia cepat menggerakkan tangannya itu dan golok besarnya itu sudah meluncur cepat sekali ke atas, mengejar tubuh sihwesio.

“Crattt   !” golok itu menusuk punggung si Hwesio cabul, menembus ke dada dan terus menancap

tiang penglari sehingga tubuh tinggi besar itu kini terpaku oleh goloknya sendiri di atas langit-langit! Darah menyemprot dan hujan dari atas. tubuh itu berkelojotan kaki tangannya, lehernya mengeluarkan suara seperti babi disembelih.

Kwan Bu membuang muka, tidak mau memandang lagi dan ia berpaling ke arah Giok Lam. Sepasang mata Kwan Bu terbelalak dan mukanya menjadi merah. Giok Lam telah membebaskan gadis baju hijau itu yang kini telah berdiri berpelukkan dengan Giok Lam! Gadis baju hijau itu, yang pakaiannya robek-robek sehingga tampak sebagian dadanya, kini menangis dan menyandarkan muka di dada Giok Lam, sedangkan pemuda itu mengelus-eluskan rambut si gadis baju hijau dan berusaha membereskan letak pakaian si gadis baju hijau yang terbuka! Celaka, pikir Kwan Bu. Apakah Giok Lam juga seorang pemuda yang mata keranjang? akan tetapi, Giok Lam tidak memaksa gadis itu, tidak seperti si hwesio jahanam, maka iapun membuang muka dan hendak keluar dari kamar agar tidak “mengganggu” Giok Lam, akan tetapi ia mendengar si baju hijau itu berbisik,

“Untung engkau keburu datang, cici ”

“Ssstttt! Sudahlah, jangan banyak cakap. Mari kita keluar dari sini dan kita tolong wanita-wanita lain yang disekap di neraka ini!” Giok Lam melepaskan si baju hijau dan berkata kepada Kwan Bu yang sudah sampai di pintu, “Eh, Bu-Twako, bagaimana dengan dua ekor kerbau tadi?” Kwan Bu masih bengong di pintu dan masih membuang muka. Ia hampir tak percaya akan pendengarannya sendiri tadi. Giok Lam disebut “cici” oleh si baju hijau? Kini mendengar pertanyaan Giok Lam ia menjadi gugup.

“Suu.... sudah...... roboh...... mungkin pingsan.   !”

“Eh, kau kenapa? Hayo cepat kita periksa dan tolong wanita-wanita lain,” Wanita baju hijau itu agaknya sudah dapat menekan kelegaan hatinya. Pakaiannya sudah rapi lagi dan ia sudah memegang sebatang pedang, yaitu pedangnya yang tadinya terampas oleh si hwesio tinggi besar ketika ia meloncat turun dan terjebak.

Wajahnya yang cantik menjadi beringas dan sekiranya di situ masih ada anak buah si hwesio cabul, tentu akan jadi korban senjatanya semua. akan tetapi ketika mereka bertiga akan memasuki kamar kedua di mana tadi kedua orang hwesio itu dirobohkan kwan Bu, ternyata bahwa tubuh mereka sudah hancur lebur, dicacah seperti daging bakso oleh kedua orang wanita yang menjadi korban. adapun dua orang wanita itu, yang telah melampiaskan kebencian mereka terhadap dua tubuh hwesio yang sudah tak berdaya, kini telah membunuh diri dengan dua batang pedang milik dua orang hwesio yang sebelumnya telah mereka pakai untuk mencacah tubuh mereka. Dua orang wanita itu telah membunuh diri di atas pembaringan. kamar itu banjir darah dan amat mengerikan!

“Kita bebaskan wanita-wanita di kamar tahanan! Mari ikut aku.” Wanita baju hijau itu berkata. Mereka bertiga lalu menuruni anak tangga kedua dan di dalam ruangan di bawah tanah mereka menemukan tujuh orang wanita muda yang dikeram di dalam kamar. Wajah mereka pucat-pucat dan sebagian dari mereka menangis sedih.

Tujuh orang wanita muda itu lalu diajak keluar dan setelah tiga orang gagah itu melakukan pemeriksaan, ternyata bahwa penghuni kuil itu memang hanya ada empat orang hwesio yang kesemuanya telah tewas. Si baju hijau lalu mengumpulkan perhiasan-perhiasan dan benda berharga, membagi-bagikannya di antara tujuh orang wanita itu. kemudian mereka keluar dari dalam kuil yang lalu dibakar oleh si wanita baju hijau, Kwan Bu yang masih terheran-heran kadang-kadang memandang Giok Lam dengan pandang mata bodoh dan bingung, mendiamkan saja semua perbuatan si baju hijau agaknya memang seorang wanita kang-ouw yang biasa melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu. Juga Giok Lam hanya membantu dan beberapa kali menyatakan kagumnya.

Ketika kuil itu terbakar menggegerkan seluruh penduduk kota Sian-hu, tiga orang gagah yang mengawal tujuh orang wanita bekas tahanan itu telah berada jauh di luar kota. Mereka berhenti di jalan simpangan yang sunyi di luar kota, berhenti mengaso dan untuk bercakap-cakap. Wanita baju hijau itu menceritakan pengalamannya. Dia ini adalah seorang pendekar wanita terkenal yang dengan julukan Cheng I Lihiap (pendekar Wanita Baju Hijau) seorang murid Kun-lun-pai yang pandai. Sudah banyak perbuatan hebat ia lakukan di dunia kang-ouw sehingga namanya terkenal juga. Akan tetapi sekali ini, dalam penyerbuannya terhadap kuil di Ban-lok-tang, bukan hanya bermaksud membasmi penjahat cabul berkedok hwesio, melainkan juga untuk membalas sakit hatinya.

“Tong Hak Hosiang, ketua kuil itu adalah musuh besarku,” demikian antara lain ia bercerita. “Ketika aku masih kecil, hwesio palsu itu pernah mengganggu keluargaku. Ayah ibu melawan, akan tetapi ibu tewas dan ayah terluka. Semenjak itu, dia adalah musuh besarku dan malam ini dengan bantuan jiwi (tuan berdua) yang amat berharga akhirnya aku berhasil juga!” Dua titik air mata menuruni sepasang pipi yang kemerahan itu.

“Jadi semenjak dahulu dia sudah menjadi hwesio dan bernama Tong Hak Hosiang? Apakah dahulu dia bukan seorang perampok?” Mendengar betapa pemuda yang ia saksikan kelihaiannya itu bertanya dengan nada kecewa, wanita baju hijau menjawab cepat.

“Tidak pernah Tong Hak Hosiang dikabarkan menjadi perampok. Dia penjahat cabul dan mengumpulkan kekayaan dengan jalan menipu orang-orang yang percaya akan tahyul di kuil itu.”

“Kalau begitu bukan dia..?” Kwan Bu mengeluarkan ucapan ini lirih, seperti bicara kepada diri sendiri.

“Bu-Twako, siapa sih orang yang kau cari-cari itu?” Tanya Giok Lam. Kwan Bu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Wanita baju hijau itu kini sudah berdiri dan menjura kepada Kwan Bu dan Giok Lam.

“Sekarang saya mohon diri untuk pergi mengantar perempuan-perempuan ini pulang ke kampung masing-masing. Saya tidak akan melupakan nama Bhe Kwan Bu yang gagah dan nama Phoa Giok Lam yang manis budi. semoga jiwi dapat hidup bahagia.” Tujuh orang wanita itupun berlutut menghaturkan terima kasih kepada Kwan Bu dan Giok Lam sehingga dua orang ini sibuk menolak penghormatan itu. Kemudian mereka berdua berdiri memandang rombongan wanita yang dikawal Cheng I Lihiap sampai bayangan mereka lenyap. Tanpa sengaja mereka itu berpaling dan saling memandang. Sampai lama mereka saling pandang, tidak mampu membuka suara. Malam telah berganti pagi, cuaca remang-remang namun mereka masih dapat melihat sinar mata masing-masing yang seperti hendak menjenguk hati. Jantung Kwan Bu berdebar.

“Kau ... kau...”?” Suaranya gemetar. Giok Lam tersenyum.

“Aku....mengapa!” Lalu pemuda tampan ini membuang muka dan mengomel “Eh, twako, kenapa engkau menjadi begini aneh sikapmu? Pandang matamu seperti itu! Ahhh, jangan-jangan setelah menyaksikan wanita-wanita telanjang, engkau ketularan watak Tong Hak Hosiang.....!” Kwan Bu tertawa. Teringat ia bahwa Giok Lam tadi belum tahu akan terbukanya rahasia. Biarlah ia pura-pura tidak tahu!

“Dan engkau sendiri, Lam-te? Bagaimana perasaanmu?” Di dalam hatinya Kwan Bu menduga-duga siapa gerangan nama sebenarnya dari “pemuda” ini. Hemm, pandai benar memilih nama samaran memakai “Lam” yang berarti anak laki-laki.

“Huh, Bagiku tidak ada perubahan apa-apa. Eh, twako hebat sekali kepandaianmu. Baru sekarang aku percaya. Kau mengalahkan hwesio cabul itu dengan tangan kosong belaka sedangkan aku dengan golokku amat sukar mengatasinya! Twako, kau ajarilah aku beberapa pukulan lihai!” Kwan Bu yang kini mengerti bahwa Giok Lam adalah seorang wanita, menarik napas panjang dan ia tahu bahwa ia harus meninggalkan Giok Lam. Tak mungkin ia melakukan perjalanan bersama seorang gadis, biarpun gadis itu menyamar sebagai pria. Pendapat ini membuat hatinya berduka sekali. Sukar sekali ia menyatakan pendapat hatinya ini melalui mulut. Kembali ia menghela napas panjang lalu berkata.

“Lam-te, harap jangan terlalu memujiku. Kepandaianmu sendiri sudah amat lihai. Biarlah lain kali, kalau ada nasib baik, akan bertemu kembali denganmu dan kita bicara tentang ilmu silat. Sekarang, engkau maklum sendiri bahwa aku sedang mencari seorang musuh besarku, Lam-te. Sebelum aku menemukan musuh besarku itu, aku merupakan seorang yang hidupnya terikat kewajiban. Maafkan aku, Lam-te, agaknya... kita harus saling berpisah di Sini..?”

“Eh eh Bu-twako! Agaknya engkau tidak suka ya berdekatan dengan aku? Begitu ketemu terus berpamit ingin berpisahan. Apakah aku sudah menjemukan hatimu twako?” Kwan Bu makin gugup.

“Ah,..ahh...tidak begitu, Lam-te! Hanya sayang jalan hidup kita bersimpang. Aku mempunyai urusan pribadi yang amat penting dan harus kuselesaikan lebih dulu”

“Hemmm, kau ini benar-benar seorang sahabat yang tidak dapat membedakan mana sahabat baik mana bukan! Tidak dapat mengenal budi! Tanpa menengok kebodohan sendiri, malam tadi aku sengaja mencarimu dengan maksud membantumu, agaknya karena kau melihat betapa tenagaku tidak ada gunanya, maka kau ingin memisahkan diri, menganggap aku hanya seorang penghalang belaka. Bukankah begitu, Bu-twako yang lihai?” Kwan Bu makin bingung dan diam-diam hatinya berdebar keras. Mengapa pemuda... ah, gadis ini amat memperhatikannya? Mengapa pula bahkan telah membela dan membantunya dalam penyerbuannya di kuil Ban-lok-tang? Tanpa disadarinya, karena pertanyaan-pertanyaan ini mendesak hatinya, mulutnya bertanya,

“Lam-te, mengapa... mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Mengapa engkau suka membantuku dan begini memperhatikan diriku?” Giok Lam memandang tajam dan dengan hati berdebar, juga geli. Kwan Bu melihat betapa sepasang pipi yang halus itu menjadi merah. Ah, mengapa matanya seperti buta? Jelas bahwa “pemuda” ini adalah seorang gadis yang cantik. Kalau seorang pria mana mungkin begini tampan? Kalau saja ia tidak mendengar si baju hijau yang lebih tajam matanya itu menyebut “cici” kepada Giok Lam, tentu ia masih belum mengerti!

“Karena aku suka kepadamu, twako. karena kau sudah kuanggap seorang sahabatku, yang baik, dan karena kau amat lihai sehingga aku ingin sekali memetik beberapa ilmu darimu. Maka harap kau jangan sungkan lagi twako. Katakanlah, siapa musuh besar yang kau cari itu? Apakah dia seorang hwesio maka engkau menyelidiki keadaan Tong Hak Hosiang?” Kwan Bu tidak melihat adanya jalan untuk menghindari pertanyaan ini. Pula, pemuda atau gadis ini benar-benar ingin menolong setulus hatinya, megapa ia tidak berterus terang saja? “Sungguh, Lam-te. Aku berterima kasih sekali atas kebaikanmu. Aku hanya tidak ingin merepotkan engkau saja. Musuh besarku itu adalah seseorang yang tidak kukenal, juga tidak kuketahui nama ataupun wajahnya. Aku hanya tahu bahwa dia berusia enam puluh tahun yang pandai main golok, dan jarum. Keadaan Tong Hak Hosiang hampir sama dengannya, hanya bedanya, menurut penuturan Cheng I Lihiap tadi, sejak dahulu Tong Hak Hosiang adalah seorang hwesio. Adapun musuh besarku ini sejak dahulu adalah seorang perampok besar. Maka kini jelas bahwa bukan Tong Hak Hosiang musuh besarku. Aku masih mempunyai pandangan lain, yaitu kepala rampok di Hek-kwi-san yang katanya pandai main golok dan jarum.”

“Sin-to Hek-kwi     ?” Kwan Bu memandang penuh selidik.

“Begitulah julukannya! Bagaiamana kau bisa tahu, Lam-te?” Giok Lam menggeleng-geleng kepala.

“Aku sudah banyak merantau dan nama besar Sin-to Hek-kwi sudah sampai di mana-mana. Siapakah yang tidak mengenal kepala rampok Hek-kwi-san itu? Akan tetapi, twako, sungguh-sulit urusanmu itu. Apakah kau yakin benar bahwa Sin-to Hek-kwi itu musuh besarmu?”

“Tidak bisa yakin, Lam-te. Akan tetapi aku harus mencari terus sampai dapat. Tidak banyak kukira kakek yang mempunyai banyak keahlian golok dan jarum dan yang dua puluh tahun yang lalu menjadi kepala rampok. Aku akan menyelidiki ke Hek-kwi san.”

“Sungguh sukar. Siapa bilang tidak banyak yang pandai main golok dan jarum? Aku sendiri sejak kecil belajar golok dan jarum. Jangan-jangan ayahku itu musuh besarmu, twako!”

“Ah, jangan bergurau, Lam-te. Musuh besarku adalah seorang perampok sedangkan ayahmu tentulah seorang kaya raya dan terhormat.” Giok Lam tersenyum.

“Memang aku hanya main-main, twako. Ayah adalah seorang yang baik sekali, seorang hartawan yang suka melakukan derma dan tidak pernah mengganggu orang. Dan tentang penyelidikan ke Hek- kwi-san, aku akan ikut, twako. Kebetulan sekali aku banyak tahu akan daerah pegunungan itu sehingga kalau kiranya kau tidak memandang terlalu rendah tenagaku, aku dapat membantumu.” Menghadapi seorang gadis yang begini keras kepala, bagaimana Kwan Bu mampu menolaknya? kalau ia berkeras menolak, tentu ia akan menjadi marah dan membencinya, dan kalau ia berterus terang menyatakan bahwa ia sudah tahu akan rahasia penyamarannya, tentu ia akan tersinggung dan akan marah-marah pula. Dan dia sendiri tidak menghendaki gadis yang menarik hatinya ini marah-marah, apalagi benci kepadanya.

“Baiklah kalau begitu, sebenarnya terima kasih atas kebaikanmu, Lam-te. Semoga kelak aku dapat membalas budimu.” Giok Lam memperlebar senyumnya, kelihatan girang dan gembira sekali seperti seorang kanak-kanak dipenuhi permintaannya.

“Kalau hendak membalas budi mengapa tunggu sampai kelak? Sekarangpun bisa dimulai, twako, yaitu pertama jangan pamit minta berpisahan lagi dan kedua ajarkan aku satu dua macam ilmu yang lihai!”

Kwan Bu tertawa dan tahulah ia bahwa hidup di samping gadis ini dunia akan selalu tampak cemerlang, hatinya akan selalu gembira. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Hek-kwi-san dan di sepanjang perjalanan Kwan Bu memberi bimbingan ilmu silat kepada gadis itu. Ia mendapat kenyataan bahwa sungguhpun gerakan gadis itu cukup gesit dan ringan namun dasar ilmu silatnya tidaklah amat tinggi. llmu golok yang dimilikinya juga tidak bersumber pada ilmu golok partai persilatan besar, melainkan campuran dan penuh tipu daya yang biasanya hanya dipergunakan golongan sesat di dunia kang-ouw. Namun tentu saja ia tidak mencela, bimbingan di mana perlu untuk memperkuat sesuatu jurus yang dimainkan gadis itu. Ia selalu berpura-pura tidak tahu bahwa Giok Lam adalah seorang gadis.

“Lam-te, kau ini aneh sekali! Mengapa setiap bermalam di penginapan selalu harus menyewa dua kamar? Apa sih halangannya kita tidur sekamar?” Kwan Bu sengaja bertanya untuk menggoda temannya ini ketika untuk ketiga kalinya mereka bermalam di losmen dan seperti biasa Giok Lam menyewa dua buah kamar untuk mereka. Dengan hati geli Kwan Bu melihat betapa sepasang mata yang tajam itu menjadi bingung dan sepasang pipi itu menjadi kemerahan. Giok Lam dengan lagak bergurau lalu menjawab.

“Sejak kecil aku tidak dapat tidur dengan orang lain. sekamar, apalagi sepembaringan! Aku tidak dapat mendengar orang mendengkur.”

“Akan tetapi aku bukan tukang ngorok!” bantah Kwan Bu. Giok Lam menahan ketawanya dan tanpa ia sadari sikap seperti inipun hanya dimiliki wanita-wanita muda sehingga Kwan Bu menjadi makin geli hatinya.

“Aku tahu, twako. Orang selihai engkau mana bisa mengorok kalau tidur? Jasmani kita yang sudah terlatih takkan dapat tidur senyenyak itu, betapapun lelahnya. Aku hanya main-main, maksudku, aku tidak dapat tidur kalau berdekatan dengan orang lain.”

“Hemm, barangkali keringatku berbau terlalu busuk sehingga kau tidak boleh tidur denganku!” Kwan Bu melanjutkan godaannya. Cuping hidung mancung yang tipis itu bergerak sedikit.

“Sama sekali tidak, twako. Keringatmu tidak berbau busuk. akan tetapi.._     ah, sudahlah, kuminta

pengertianmu bahwa sejak kecil aku tidak biasa tidur berteman sehingga kalau tidur berteman pasti semalam suntuk aku tidak akan bisa pulas. Apakah engkau menghendaki aku tersiksa dan tidak bisa tidur semalaman?” Kwan Bu menjadi kasihan dan tidak ingin menggoda terus. Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan ke Hek-kwi-san dan di sepanjang jalan, hati Kwan Bu makin terpikat dan tertarik, merasa betapa gadis yang menyamar pria ini amat baik terhadap dirinya, merasa betapa gembira hatinya.

“Sumoi haruskah aku bersumpah untuk meyakinkan hatimu bahwa aku mencintaimu?” Dengan suara bernada sedih dan pandang mata penuh kasih sayang Siok Lun berkata kepada Bi Hwa. Mereka duduk di luar hutan, di bawah pohon besar. Tempat itu amat sunyi dan setelah ucapan Siok Lun itu terlewat dibawa angin, keadaan makin sunyi. Akhirnya terdengar jawaban gadis itu, suaranya halus akan tetapi mengandung penuh tegur dan sesal,

“Suheng, mengapa engkau mengejar-ngejarku? Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku tidak ingin bicara tentang itu, bahwa sedikitpun tidak ada dalam pikiranku untuk mengenang soal cinta. Akan tetapi karena kau mendesak terus, biarlah kau ketahui pendapatku tentang cintamu. Suheng, akupun bukan seorang buta dan akupun telah tahu sejak lama bahwa engkau mencintaiku. Akan tetapi, sejak perbuatanmu di Pek-Hong-san terhadap aku.   seperti itukah kelakuan seseorang yang

mencinta? Begitu tega dan keji untuk memperkosa? Untung ada sute yang muncul, kalau tidak.   ah

aku akan menjadi benci sekali kepadamu.”

“Aah, sumoi, aku sudah menyatakan penjelasanku, aku sudah berkali-kali minta maaf. Perbuatanku itu hanya terdorong oleh nafsu, sumoi_ Akan tetapi percayalah. nafsu itu terhadap dirimu sama sekali tidak mengotorkan cinta kasihku. Aku tidak berniat menghinamu, tidak berniat mencemaskanmu, melainkan berniat mencintamu, menyenangkan hatimu. Sumoi, aku bersumpah takkan mengulang lagi perbuatan itu, dan aku telah merasa menyesal.”

Bi Hwa menundukkan mukanya, termenung. Harus ia akui di dalam hati bahwa karena semenjak kecil ia belajar bersama suhengnya ini, hatinya juga tertarik apalagi Siok Lun adalah seorang pemuda yang tampan, pandai mengambil hati, juga memiliki kepandaian tinggi. Ia tahu bahwa suhengnya ini mencintainya, iapun agaknya merasa bahagia kalau menjadi isteri suhengnya ini. Akan tetapi ada hal-hal yang masih menggelisahkan dan meragukan hatinya. Ia tahu pula kan kenakalan suhengnya yang suka bermain-main dengan wanita penduduk daerah Pek-hong-san. Ia tahu bahwa banyak wanita muda tergila-gila kepada suhengnya yang dalam hal ini tidaklah sealim sutenya, yaitu Bhe Kwan Bu. Kalau terkenang kepada Kwan Bu dan terbayang wajah sutenya itu,

Terbayang sifatnya yang sopan pendiam sebagai seorang pendekar tulen, timbul perasaan kagum dan mesra di hatinya. Apalagi karena ia tahu benar dalam hal ilmu silat, Kwan Bu biarpun merupakan murid termuda, namun agaknya mendapat kemajuan yang paling pesat. Dibandingkan dengan Siok Lun. Kwan Bu menang dalam banyak hal, hanya kalah dalam kepandaian merayu hati! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Liem Bi Hwa adalah puteri seorang sasterawan yang tewas oleh perampok yang menyerbu kampungnya, demikian pula ibunya tewas dalam malapetaka itu. Sejak kecil Bi Hwa ikut Pat-jiu Lo-koai menjadi muridnya. Anak ini pendiam, namun peristiwa pahit itu membentuk sebuah tekad di dalam hatinya. Sekarang, menghadapi rayuan Siok Lun, diam-diam ia mempertimbangkan rugi untungnya. kemudian dengan suara tetap ia berkata.

“Suheng, aku maafkan engkau dan akupun percaya penuh akan cinta kasihmu. Aku seorang sebatang kara, kini menerima perasaan cinta kasihmu, betapa hatiku tidak akan gembira? Akan tetapi, suheng. sebaiknya kita jangan membicarakan tentang ikatan jodoh terlebih dulu sebelum sakit hati dan penasaran hatiku terangkat. kuharap engkau akan dapat membuktikan cintamu dengan bantuan nyata terhadap kandungan haitku ini.” Girang bukan main hati Siok Lun. Sudah lama ia tergila-gila kepada sumoinya sendiri dan kini ia “mendapat hati”. Ia memegang tangan gadis itu, meremas- remas jari-jari halus itu dan berkata, suaranya sungguh-sungguh,

“Sumoi, percayalah, aku akan melakukan apa saja untukmu! Penasaran hati yang kau kandung itu adalah karena kematian orang tuamu bukan?”

“Hanya sebagian saja,” jawab Bi Hwa dan membiarkan saja tangannya dibelai.

“Ayah bundaku mati oleh perampok-perampok yang tidak kukenal, akan tetapi tekadku setelah aku tamat berguru, aku akan membasmi semua perampok yang ada! Di samping itu, sejak kecil aku hidup dalam keadaan miskin dan hina, maka aku bercita-cita untuk hidup mulia, terhormat, dan kaya raya!” Siok Lun tertawa gembira.

“Cocok... Siapa orangnya tidak bercita-cita seperti engkau, sumoi? Tentang pembasmian para perampok, jangan khawatir, aku akan membantumu. Tentang cita-cita yang lain, amatlah cocok dengan isi hatiku, sumoi. Ayahku sendiri seorang hartawan yang cukup kaya raya, akan tetapi akupun belum puas kalau belum bisa memperoleh kedudukan tinggi. Sekarang ini kerajaan sedang diganggu banyak orang jahat di dunia kang-ouw, maka sudah menjadi kewajiban kita dan merupakan kesempatan amat baik pula untuk membantu kerajaan sehingga sekali tepuk kita memperoleh dua ekor lalat. Pertama kita dapat membasmi perampok dan membalas sakit hatimu, kedua kita akan berjasa dan memperoleh kedudukan di kerajaan.” Wajah yang cantik itu berseri.

“ltulah yang kucita-citakan, suheng.” Siok Lun menarik tubuh sumoinya, memeluk dan meciumnya mesra, dan sekali ini Bi Hwa tidak menolak, bahkan membalas pernyataan kasih sayang itu. “Tenangkan dan senangkan hatimu, sumoi karena semua cita-cita itu akan terkabul. Akan kulaksanakan kesemuanya, demi cintaku kepadamu.” Tak lama kemudian, dua orang kakak beradik seperguruan yang kini menjadi dua orang yang saling mencinta itu meloncat bangun sambil melepaskan pelukan masing-masing. Pendengaran telinga mereka yang tajam terlatih itu mendengar derap kaki banyak kuda mendatangi dari depan.

“Hemmm. siapakah mereka yang berani mengganggu kita!” Siok Lun mengomel dengan hati kecewa dan marah. Ia merasa terganggu sekali dan kemarahannya sudah ia siapkan untuk ditumpahkan kepada para penunggang kuda!

“Suheng, sabarlah. Mereka tidak mengganggu, bahkan tidak tahu kita berada di sini. Lagipula, apanya sih terganggu?”

“Orang sedang nikmat-nikmat...”

“lhh. suheng! Apakah memang dunia akan kiamat ini hari? Besok-besok masih banyak hari bagi kita berdua.”

“Ha-ha, dewiku, kau benar! Biarlah mereka itu didenda dengan dua ekor kuda, kebetulan ada yang datang mengantar kuda, kita membutuhkan dua ekor kuda yang baik untuk melanjutkan perjalanan.”

“Wah, celaka! Apa kau ingin menjadi perampok?” Bi Hwa memandang terbelalak. Akan tetapi Siok Lun tersenyum.

“Untuk membeli seratus ekor kuda aku masih mampu, perlu apa merampok? Ini hanya untuk menghajar mereka yang sudah berani lewat di sini mengganggu kita.” Bi Hwa tidak sempat membantah lagi karena rombongan berkuda itu sudah datang dekat dari depan.

“Wah, rupanya sebuah barisan!” Siok Lun berseru kecelik, dan memang dugaanya itu benar belaka.

Di sebelah depan rombongan itu tampak dua orang kakek berpakaian gemerlapan dan indah, di samping seorang pemuda yang gagah dan tampan pula. Di belakang mereka ada barisan berkuda terdiri dari tiga puluh orang lebih. Sebuah bendera besar bersulam benang emas bertuliskan huruf- huruf besar BARISAN PENGAWAL KERAAJAAN. Mereka ini bukan lain adalah barisan pengawal yang dikepalai oleh Gin-sang-kwi Lu Mo Kok, kakek berpakaian benang emas yang tubuhnya bongkok, yang kelihatannya tidak mengesankan namun sesungguhnya adalah tokoh pengawal kerajaan nomor satu! Adapun kakek kedua adalah seorang hwesio berjubah kuning emas yang memegang tongkat kepala ular emas, dia ini bukan lain adalah Kim I Lohan, pengawal tingkat dua. Pemuda adalah Liu Kong yang kini sudah berpakaian seperti seorang pengawal dan menjadi pembantu Lu Mo Kok.

Seperti kita ketahui, pengawal-pengawal tingkat tinggi ini pernah bentrok dengan Kwan Bu, kemudian malah bertempur melawan serbuan para pemberbntak anti kaisar yang datang hendak menolong Bu Keng Liong pendekar Tian-cu bersama puterinya yang tertawan. Karena dalam keributan ini Sam-tho-eng Ma Chiang, pengawal tingkat dua telah tewas di tangan Kwan Bu, hal ini membuat para pengawal menjadi marah sekali.Kematian seorang panglima pengawal kerajaan berarti meruntuhkan pamor mereka. Maka kini barisan pengawal itu mulai mengadakan “pembersihan” dan terutama sekali yang menjadi sasaran adalah rombongan pemberontak atau anti kaisar yang dipimpin oleh Bu Keng Liong, Ya Keng Cu, Ya Thian Cu, Yo Ciat dan yang lain-lain yang pernah bentrok dengan mereka itu. Melihat seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik menghadang di tengah jalan dekat hutan, Gin-sang-kwi menjadi curiga dan ia menahan kendali kudanya sambil memberi isarat kepada anak buahnya untuk berhenti. Kemudian, dengan tenang ia menjalankan kudanya perlahan ke depan mengenali dua orang muda itu, diikuti oleh Kom l Lohan dan Liu Kong yang juga menjalankan kuda mereka perlahan-lahan. Ketika Siok Lun segera mengenali barisan ini dan diam-diam pikirannya yang cerdik mendapat akal. Inilah kesempatan yang amat baik baginya untuk mencari jasa dan pahala. Bukankah barisan pengawal kerajaan merupakan barisan yang paling berpengaruh? Apalagi ketika ia membaca huruf huruf di bendera itu, hatinya berdebar. Ia lalu memandang ke arah Gin-sang-kwi penuh perhatian dan penuh pertanyaan di dalam hati. Seperti itukah yang disebut panglima pengawal kerajaan?

“Hai, orang muda. Siapakah engkau dan apa maksudmu menghadang barisan kami? Tidak dapatkah engkau membaca bendera ini?” Kim I Lohan sudah menegur Siok Lun dengan suara parau nyaring.

“Wah, kalau yang memegang tongkat kepala ular ini cukup gagah, akan tetapi mengapa seorang panglima berpakaian seorang hwesio dan kepalanya gundul?” Demikian pikir Siok Lun. Ia lalu menjura dan tersenyum.