-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 05

Jilid 05

Melihat ini, Kwan Bu tersenyum dan maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai ini sengaja mengujinya dengan pengerahan hawa lwekang yang amat tinggi, iapun cepat menahan napas mengumpulkan semua ginkang di tubuhnya, disalurkan ke lengan kanannya dan ketika menerima cawan arak, hawa dingin yang luar biasa tersalur melalui jari-jari tangan, menyelimuti cawan arak. Setelah menerima arak dan mengerahkan ginkang, ia lalu mengangkat cawan ke arah atas kepalanya, menuangkan cawan itu dan    arak di dalam cawan tidak dapat tumpah karena arak itu telah membeku! Kwan Bu,

tertawa, lalu menyodorkan cawan kembali kepada Kim I Lohan sambil berkata,

“Maaf, losuhu. Arak suguhanmu terlalu dingin sampai membeku dan tak dapat diminum. Lagi pula, kedatanganku bukan untuk bertamu dan makan minum, melainkan untuk mohon keadilan dan kebijaksanaan Taijin.”

“Omitohud kau hebat, sicu!” Kim I Lohan menerima cawan itu dan mengundurkan diri.

“Wirrrr !” Angin yang dingin tajam menyambar dari samping, Kwan Bu terkejut dan menengok. Gin-

san-kwi Lu Mo Kok kini sudah berdiri di situ menggantikan Kim I Lohan. Kipasnya mengebut dari samping dan angin kebutan itu amatlah kuatnya. Tahulah Kwan Bu bahwa kakek bongkok ini memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari pada dua orang busu yang lain tadi, maka ia bersikap hati-hati.

“Bhe Kwan Bu, aku merobohkan Bu Keng Liong dengan kipasku ini, untuk merampasnya kembali, kau kalahkan kipasku ini!” Ucapannya belum habis akan tetapi kipas perak itu telah menyambar ke depan dan dalam segebrakan sudah mengirim serangan totokan ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian depan tubuh! Berturut-turut, dengan gerakan otmatis yang indah dan cepat sekali, Kwan Bu mengelak. Ketika ia berusaha membalas dengan pukulan kilat ke arah lambung kakek bongkok itu, Gin-san-kwi Lu Mo Kok sama sekali tidak menangkis, melainkan menggerakkan kipasnya menyambut pukulannya dengan totokan ke pergelangan tangannya yang memukul. Ia kaget dan kagum, terpaksa menarik kembali lengannya dan kembali ia harus mengelak ke sana ke mari. Tiba- tiba saat itu terjadi keributan di sebelah dalam gedung tikoan. Suara hiruk pikuk orang-orang berteriak-teriak dan suara senjata tajam beradu.

“Penjahat menyerbu !”

“Jaga tempat tahanan. !”

“Kaum pemberontak.    !” Teriakan-teriakan ini cukup menyadarkan tiga orang busu itu bahwa yang

menyerbu adalah kaum anti kaisar dan maksud mereka adalah untuk menolong dua orang tawanan Bu Keng Liong dan puterinya. Adapun Ciam Taijin dan Lai-tikoan mendengar bahwa ada “kaum pemberontak” menyerbu, menjadi terkejut sekali dan buru-buru kedua orang pembesar ini menyelinap dan menghilang ke tempat persembunyian. Lu Mo Kok marah sekali,

“Bocah keparat! Kiranya engkau anggota pemberontak yang sengaja memancing, sedangkan kawan- kawan menyerbu tempat tahanan. Mampuslah!” Kakek bongkok itu menerjang dengan ganasnya, bahkan kini Kim I Lohan juga sudah menggerakkan tongkatnya yang berat. Angin pukulan tongkatnya menyambar ganas, membuat Kwan Bu terpaksa harus melompat tinggi karena kedua kakinya terancam.

“Harap jiwi tenang dan bikin mampus bocah ini, biarlah siawte yang mempertahankan orang-orang tawanan!” teriak Sam-tho-eng Ma Chiang yang sudah sembuh tulang kering kakinya. Tanpa menanti jawaban dari dua orang temannya itu,

Ma Chiang melompat dan berlari cepat ke arah gedung tikoan di mana masih terdengar kegaduhan orang-orang bertempur. Peristiwa ini mengejutkan hati Kwan Bu. Sungguh di luar dugaannya akan terjadi perubahan seperti itu. Kaum anti kaisar menyerbu? Ia sama sekali tidak tahu, apalagi bersekutu dengan mereka. Akan tetapi ia tahu bahwa membantah pun tidak akan ada gunanya karena dua orang busu yang mengeroyoknya dan tentu tidak percaya. Dari sudut matanya ia melihat betapa Liu Kong juga pergi dari tempat itu menyusul Sm-tho-eng Ma Chiang. Hatinya menjadi tidak enak. Apalagi, serangan tongkat kepala ular emas di tangan Kim I Lohan dan kipas perak di tangan Lu Mo Kok benar-benar tidak boleh dibuat permainan sama sekali. Dua orang ini lihai sekali dan serangan-serangan mereka merupakan cengkeraman-cengkeraman maut yang berbahaya.

“Singggg..........” Sinar merah darah berkelebat menyilaukan mata ketika Kwan Bu melolos Toat- beng-kiam dari pinggangnya. Karena hatinya ingin sekali menolong bekas majikannya dan keadaannya kini telah berubah, tidak mungkin lagi menolong dengan cara halus, terpaksa ia hendak menggunakan kekerasan.

Setelah kini terdapat kaum anti kaisar menyerbu, agaknya terbuka kesempatan baginya untuk menyelamatkan Bu Keng Liong, kalau perlu dengan kekerasan. Cepat ia menggerakan Toat-beng- kiam sambil mengerahkan tenaga. Sinar pedang merah darah itu bagaikan seekor naga merah bermain di angkasa, bergulung-gulung melibat tubuh kedua orang lawannya. Hebat bukan main ilmu pedang yang dimainkan Kwan Bu. Memang di antara murid-murid Pat-jiu Lo-koai, pemuda inilah yang paling baik bakatnya, dan karena inilah pula ditambah wataknya yang baik maka Pat-jiu Lo-koai menyerahkan Toat-beng-kiam, pedang pusaka keramat itu, kepada muridnya ini. Silau mata kedua busu itu. Mereka berusaha menggunakan kipas dan tongkat untuk melindungi tubuh dan balas menyerang, namun berkelebatnya pedang merah darah luar biasa cepatnya, sukar diikuti pandang mata.

“Cringgg...... Tranggg     !” Gin-san-kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan mencelat mundur dengan muka

pucat. Si kipas perak memandang kipasnya yang robek di dua tempat, sedangkan hwesio itu memandang tongkatnya yang telah buntung. Sementara itu, tubuh Kwan Bu berkelebat lenyap, hanya tampak bayangan sinar pedang merah yang berada di tangannya. Dua orang busu itu menghela napas panjang. Belum pernah selama hidup mereka yang berkelana di dunia kang-ouw dan membuat nama besar, mereka bertemu dengan seorang pemuda remaja yang memiliki kepandaian sehebat itu.

Mereka sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki, tadi pedang merah darah yang luar biasa itu tentu sudah merobohkan dan menewaskan mereka berdua. Mereka segera lari dari tempat itu untuk membantu para pengawal menghadapi serbuan para kaum pemberontak. Ketika melompat ke atas genteng gedung tikoan, di dalam kegelapan malam yang tersinar cahaya bulan remang-remang, Kwan Bu melihat bayangan-bayangan berkelebatan cepat keluar dari gedung. Ia mengenal bayangan Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu, Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, Ban-eng-kiam Yo Ciat dan belasan orang lain yang rata-rata memiliki gerakkan cepat dan ringan. Dan hatinya lega ketika melihat Bu Keng Liong bersama mereka. Bu Keng Liong melihat pula berkelebatnya Kwan Bu, maka ia cepat berkata.

“Kwan Bu...... kau...... pergi tolong Siang Hwi     !” Ternyata pihak pegawal yang jumlahnya banyak

sekali, lebih lima puluh orang, merupakan lawan yang terlalu berat bagi para penyerbu ini, maka setelah berhasil membebaskan Bu Keng Liong, mereka membujuk Bu Taihiap untuk pergi tanpa berhasil membebaskan Siang Hwi yang dikurung dalam tempat tahanan terpisah.

Kwan Bu menyelinap dan melompat turun ke ruangan belakang. Ia melihat betapa para pengawal melakukan pengejaran dan di sana-sini terdapat tubuh orang-orang terluka tewas yang malang melintang. Tadi ia melihat rombongan penyerbu hanya membawa tiga orang terluka, maka kini melihat belasan orang pengawal luka atau tewas, diam-diam ia kagum akan keberanian dan kelihaian para kaum anti kaisar itu. Ketika ia melayang turun, ia melihat seorang terhuyung-huyung. Ia cepat menghampiri dan ternyata orang itu adalah Liu Kong! Pemuda ini berdarah bajunya, teluka pundak dan pangkal lengan, mukanya pucat. Kwan Bu gemas melihat pemuda ini, dan ia tidak tahu pemuda ini terluka oleh pihak penyerbu ataukah pihak pengawal. Namun ia tidak perduli, hanya cepat bertanya.

“Liu Kong, lekas katakan dimana adanya nona Siang Hwi! Ayahnya minta supaya aku menyelamatkannya!” Ketika melihat Kwan Bu muncul tiba-tiba, Liu Kong terkejut. Ia masih tidak suka terhadap Kwan Bu, akan tetapi ia maklum bahwa kiranya hanya pemuda anak haram yang dibencinya inilah yang akan dapat menolong Siang Hwi. Ia menuding ke arah selatan dan berkata suaranya lemah,

“Sumoi, dilarikan Ma Chiang ke sana, aku berusaha  menghalangi akan tetapi... tak berhasil......

malahan terluka ” Kwan Bu tidak menanti lebih lama lagi, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari

depan Liu Kong. Pemuda ini menarik napas panjang dan merasa kecewa serta menyesal mengapa ia tidak bisa mendapat guru pandai sehingga tidak memiliki kepandaian selihai Kwan Bu.

“Lepaskan aku......! Lepaskaaannn.    !” Jerit ini melengking keluar dari mulut Siang Hwi. Tubuhnya

lemas tak mampu meronta karena ia telah ditotok, dan hanya matanya saja yang terbelalak lebar dan mulutnya menjerit-jerit ketika ia diikat pada tiang rumah itu dan sambil tertawa menyeringai Sam-tho-eng Ma Chiang merenggut robek bajunya sehingga tampak baju dalamnya yang tipis. Laki- laki cebol muka hitam pemilik rumah itu berdiri di dekat Ma Chiang sambil memandang dengan mata penuh gairah pula.

“Heh-heh, nona manis. Masih jugakah engkau berkeras kepala tidak mau menuruti kehendakku? Ingatlah, engkau akan kujadikan isteriku, isteri seorang busu dan hidup seperti puteri di istana kaisar! Ayahmupun akan diampuni dan diberi kedudukan! Akan tetapi, kalau engkau tidak suka dan tetap menolak, engkau akan menderita siksaan dari sekarang, mati sekerat demi sekerat dalam keadaan mengerikan!”

“Tidak sudi! Kau muka tikus menjemukan, lebih baik kau bunuh aku!” Teriak Siang Hwi dengan pandang mata penuh kebencian.

“Sam-tho-eng, kenapa banyak membantah? Paksa saja dengan kekerasan, apa sukarnya? Setelah engkau baru aku!” kata si cebol muka hitam sambil mejilat-jilat bibirnya. Ia sudah mengilar melihat dara yang cantik jelita itu, apalagi setelah kini baju luarnya robek dan tampak baju dalamnya yang membayangkan bentuk tubuh menggairahkan.

“Aaahh, Gak boan, aku tidak ingin menggunakan kekerasan, aku ingin dia menyerahkan diri kepadaku dengan sukarela!” bantah Sam-tho-eng Ma Chiang yang sudah tergila-gila kepada Siang Hwi. Biasanya, busu yang mata keranjang ini kala tergila-gila seorang wanita cantik, tidak perduli wanita itu isteri lain orang atau gadis, lalu mempergunakan kekerasan memaksa dan memperkosanya. akan tetapi terhadap Siang Hwi, ia mempunyai keinginan lain. Ia benar-benar jatuh hati kepada gadis ini dan menghendaki agar gadis ini menyerahkan diri bulat-bulat secara suka rela untuk dijadikan isterinya!

“Tidak sudi! Sampai mampus aku tidak sudi! Lebih baik kau bunuh, aku tidak takut mati!” Siang Hwi berteriak-teriak lalu memaki dua orang itu. Sam-tho-eng Ma Chiang marah sekali, akan tetapi ia tetap tidak memperlihatkan kemarahannya, bahkan tersenyum menyeringai dan berkata.

“Bu Siang Hwi, kau benar-benar tidak tahu dicinta orang! Ketahuilah bahwa ayahmu dan kau sudah dicap pemberontak dan tak dapat tiada tentu akan dihukum mati. akan tetapi kalau engkau suka membalas cinta kasihku, suka menjadi isteriku, aku Sam-tho-eng Ma Chiang, busu yang terkenal di kota raja, akan mampu membebaskan kau dan ayahmu, tidak dihukum mati bahkan akan mendapat kedudukan mulia dan terhormat di kota raja. apa kau tidak ingat kepada ayahmu? apa kau tidak ingin menjadi anak berbakti yang menyelamatkan ayahmu dan mungkin ibumu juga? Karena keluarga pemberontak tentu akan dibasmi semua sampai habis.”

“Monyet kau! Kadal tua Bangka tak tahu malu! Kau sudah mau mampus, sudah keriputan, buruk rupa, mukamu seperti kadal buduk, tubuhmu kurus seperti cecak kering, tidak menengok tengkuk! apa kau tidak pernah bercermin? Tua Bangka macam engkau hendak menjadi suamiku? Phuuuhhh, lebih baik aku mati. ayahpun lebih senang mati dari pada mempunyai mantu macammu. Cih, tak bermalu!” Siang Hwi memang pada dasarnya seorang gadis lincah yang pandai bicara dan galak, maka kini dalam keadaan marah ia menerocos dan memaki-maki. Muka Ma Chiang yang ciut seperti muka tikus itu menjadi merah sekali saking marahnya.

“Gak Boan, siapkan mejanya!” bentaknya. Gak Boan, laki-laki cebol muka hitam itu membelalakan matanya dengan ngeri .

“Ah, sayang sekali, perlukah itu...?” Ia meragu. Mata Ma Chiang melotot.

“Lekas lakukan perintahku!” bentaknya dan Gak Boan menggerakkan pundaknya lalu pergi. Gak Boan ini adalah seorang tokoh bajak, bekas tangan kanan Ma Chiang yang dahulunya sebelum menjadi busu adalah seorang kepala bajak sungai Huang-ho yang terkenal. Tak lama kemudian, si cebol ini datang lagi memasuki ruangan itu, lengan kanannya mengempit sebuah meja. Meja yang besar dari kayu tebal, beratnya tidak kurang dari seratus kati. Dapat mengempit meja ini dengan tidak banyak susah seperti orang membawa benda ringan saja, dapat diketahui bahwa orang cebol ini memiliki tenaga yang kuat sekali. Meja itu diletakkan di tengah ruangan.

“Bocah yang tidak tahu disayang, engkau sendiri yang memilih jalan menuju neraka!” demikian Sam- tho-eng Ma Chiang mengomel lalu menghampiri Siang Hwi.

Sekali tangannya bergerak, ia sudah merenggut putus tali yang mengikat Siang Hwi pada tihang itu, lalu mengempit tubuh gadis itu, membawanya ke arah meja yang berdiri di tengah ruangan. Siang Hwi memandang dengan mata melotot penuh kemarahan untuk menyebunyikan rasa ngerinya. Ia tidak tahu dan tidak dapat menduga apa yang hendak dilakukan si muka tikus ini dan karena itulah ia tegang dan ngeri. Dengan gerakan kasar Ma Chiang melempar tubuh Siang Hwi ke atas meja dan mengikat kaki tangan gadis yang lemah itu dengan tali panjang dengan keempat kaki meja. Karena ini keadaan Siang Hwi menyedihkan sekali, tak dapat bergerak, kaki tangannya agak terpentang dan tak dapat digerakkan lagi. apa lagi memang totokan pada tubuhnya masih belum bebas.

“Ambil kurungan itu!” kata pula Ma Chiang kepada Gak Boan. Wajah yang hitam itu menjadi makin hitam sepasang matanya melotot penuh ketegangan. Akan tetapi Gak Boan tidak berani membantah bekas pemimpinnya dan pergi dari situ. Tak lama kemudian ia sudah kembali dan membawa sebuah kurungan yang di dalamnya terdapat dua ekor tikus besar sebesar kucing! Tikus itu liar dan meronta- ronta di dalam kurungan minta keluar, mencicit dengan mata merah dan beringas. Sudah lima hari tikus-tikus ini tidak diberi makan, karenanya selain juga kelaparan juga amat liar dan ganas. Melihat tikus-tikus dalam kurungan ini, tersedak napas Siang Hwi. Gadis ini memandang dengan mata terbelalak, dadanya berombak, mukanya pucat dan ia merasa ngeri sekali.

“Aku......... mau diapakan......?” Tak dapat Siang Hwi menguasai kengeriannya dan ia mengajukan pertanyaan ini seperti pada diri sendiri. Ma Chiang tertawa menyeringai.

“Heh-heh, apakah kau masih menolak? Katakanlah bahwa kau suka menjadi isteriku, suka membalas kasihku, dan aku membuang tikus-tikus ini dan membebaskanmu!” Siang Hwi menoleh dan memandang. Muka Ma Chiang merupakan muka tikus yang besar dan jauh lebih mengerikan dari pada muka dua ekor tikus dalam kurungan itu, maka ia membuang muka dan mengeraskan hati.

“Tidak sudi! Lebih baik aku mati. Kau bunuh saja aku!” Senyum di wajah Ma Chiang menghilang, terganti tarikan muka beringas dan marah,

“Bagus, kalau begitu biarlah kau dicumbu oleh tikus-tikus ini!?” sambil berkata demikian, tangannya meraih dan...

“Breeeeettt!” baju dalam merah muda yang tipis itu robek sehingga terbukalah kini tubuh bagian atas dari Siang Hwi. Tampak sepasang buah dadanya dan perutnya yang berkulit putih halus, Siang Hwi meramkan mata, menggigit bibir.

“Kau boleh meronta-ronta sekarang!” Ma Chiang berkata lagi. Tangannya menotok dan terbebaslah Siang Hwi dari pada totokan. Tubuhnya dapat bergerak lagi dan ia mulai menggerak-gerakkan kaki tangannya dan meronta ingin bebas. akan tetapi gerakan tubunya ini membuat tubuh atasnya menggeliat-geliat dan menimbulkan pemandangan yang menggairahkan sehingga dua pasang mata Ma Chiang dan Gak Boan memandang ke arah dada Siang Hwi dengan pandang mata penuh nafsu. agaknya dua pasang pandang mata ini mengirim getaran panas sehingga terasa oleh Siang Hwi. Gadis itu membuka mata, menengok dan sekaligus menghentikan gerakan-gerakannya. Selain ia maklum bahwa meronta akan sia-sia belaka, juga ia tidak ingin menjadi tontonan.

Maka ia diam saja, diam dan dingin seperti es, tidak lagi berontak, tidak lagi mengeluarkan suara, hanya memandang ke atas memandang ke arah atap rumah, mematikan perasaan. Ma Chiang tersadar dari keadaan terpesona keindahan tadi. Ia tertawa lagi, mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, sebuah bungkusan yang memang sudah ia siapkan untuk pelaksanaan rencananya yang keji ini. Ketika bungkusan dibuka, ternyata berisi sepotong kuih kering dan madu. Dengan tangannya ia mencengkeram kuih kering ini sampai hancur, dan mencampurkannya dengan madu kemudian ia maju dan.... mengeluskan kuih campur madu ini pada kedua buah dada Siang Hwi. Gadis itu menggigit bibir dan meramkan matanya, makin berusaha mematikan perasaan sehingga ia tidak merasa lagi betapa dadanya dioles-oles oleh jari tangan yang kurang ajar itu.

“Bawa kurungan itu ke sini!” kata pula Ma Chiang.

“Ahhh...... ohhh.... begitu indah.... dan cantik... apakah tidak sayang.....?” Gak Boan berkata menganggap, namun ia mengambil kurungan itu, memberikannya kepada Ma Chiang. Bekas kepala bajak ini mengejapkan matanya dan berkata

“Kenapa banyak cerewet? Gadis ini tidak sudi kubelai, tidak sudi kucinta, biarlah dia dibelai dan dicinta dua ekor tikus ini. Biar dia rasakan!” Sam-tho-eng Ma Chiang dalam kedudukannya sebagai perwira pengawal istana, seringkali merangkap tugas sebagai seorang algojo dan penyiksa para tawanan sehingga ia memiliki watak yang kejam dan ia bahkan dapat merasai kesenangan dalam menyiksa orang secara kejam.

Kini dengan pandang mata bengis, muka berseri dan mulut menyeringai ia mengenakan dua buah sarung tangan, senjatanya yang mengerikan itu, kemudian membuka pintu kurungan berisi dua ekor tikus besar di atas meja, dekat tubuh Siang Hwi. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batin gadis itu yang biarpun seorang gadis perkasa, namun terhadap binatang-binatang seperti tikus. Kalau saja ia tidak ingin menahan agar Ma Chiang jangan sampai dapat menikmati rasa takutnya, tentu ia telah menjerit-jerit, meronta-ronta dan terbelalak memandang dua ekor tikus yang mulai merayap keluar dari kurungan. Tidak, ia tidak sudi memperlihatkan ketakutannya. Biarlah ia mati dalam keadaan tidak bergerak! Ia mematikan perasaanya dan bahkan meramkan mata,

Mukanya pucat seperti mayat ketika ia merasa betapa dua ekor tikus itu mulai merayap ke atas lengan tangannya, menuju ke atas ke arah dadanya yang terbuka. agaknya dua ekor binatang menjijikan itu tertarik oleh bau kuih bercampur madu. Siang Hwi memejamkan mata makin rapat, menggigit bibir, sekuat tenaga ia menahan perasaan ngerinya. Namun tetap saja kulit mukanya yang cantik itu sampai berkerut-kerut. Jijik, geli, dan ngeri memenuhi hatinya ketika kedua ekor binatang tikus itu merayap sampai ke atas dadanya dan mulai makan dan menjilati kuih dengan madu yang dioles-oleskan diatas buah dadanya tadi. Kalau ia teringat betapa sebentar lagi, kalau kuih dan madu sudah habis, tikus-tikus yang kelaparan itu tentu akan menggerogoti buah dadanya hampir Siang Hwi tidak kuat bertahan, hampir ia menjerit-jerit dan ia sudah setengah pingsan!

“Ha-ha-ha, nona Bu Siang Hwi! apakah engkau masih belum mau menurut kepadaku? Sebentar lagi tikus-tikus ini akan mecari kuih lebih dalam lagi, merobek-robek dadamu! Dan aku akan mencegah mereka karena aku akan memindahkan mereka makan kuih di atas tubuhmu bagian bawah! Bagaimana rasanya Ha-ha-ha!” Siang Hwi masih menahan diri tidak mau meronta takut kalau-kalau tikus mengerikan itu akan menggigitnya.

“Tidak! Jangan...!” ia terengah hampir tidak kuat menahan lagi.

“Ha-ha-ha, mudah saja, manis. aku akan menyingkirkan dua ekor binatang ini asal engkau suka berjanji, mau menjadi isteriku...!” Ma Chiang mendekatkan mukanya hendak mencium karena ia merasa menang dan pasti sekali ini gadis benar-benar sudah takluk kepadanya. Akan tetapi, melihat betapa muka yang amat dibencinya itu mendekati mukanya, napas yang panas itu menyentuh pipi dan bibirnya, mata yang merah dan kumis yang jarang makin mendekat, Siang Hwi tak kuat menahan kemarahan, mengatasi rasa ngerinya terhadap tikus-tikus ini.

“Keparat jahanam! iblis berwajah manusia! Tidak sudi aku! Pergi...!!!” Siang Hwi meludah dan karena muka itu amat dekat, tentu saja ludahnya tepat mengenai Ma Chiang. Wajah perwira itu menjadi merah seperti udang direbus, dan seketika nafsuvberahinya padam, terganti kemarahan karena marah amat dihina. Dia Sam-tho-eng Ma Chiang, perwira tinggi pengawal istana, yang biasanya dihormati dan disembah-sembah, dapat memiliki setiap pertempuran yang dikehendakinya, kini dihina habis-habisan oleh gadis tawanan yang sudah tidak berdaya ini!

“Baiklah akan kubiarkan tikus-tikus ini menggerogoti daging di dadamu, kemudian tubuhmu yang bawah. !” sambil berkata demikian,

Ma Chiang mengulur tangannya yang memakai sarung tangan, mencengkeram ke arah sisa pakaian yang menutupi tubuh Siang Hwi bagian bawah, siap hendak merobek dan merenggutnya lepas. Siang Hwi hanya meramkan mata dan berharap kepada Thian agar pada saat itu juga nyawanya dicabut saja. Siang Hwi menggigit bibir bawahnya sampai berdarah ketika gigitan pertama terasa di dada kanan, gigitan tikus yang kehabisan kuih madu. akan tetapi pada saat itupun Siang Hwi menjadi lemas dan tidak dapat merasa apa-apa lagi karena saking ngerinya ia telah roboh pingsan. Pada saat itu, tampak dua sinar menyambar ke arah dada Siang Hwi dan tepat sekali dua batang jarum amblas memasuki kepala dua ekor tikus yang mencicit-cicit, roboh terguling dari atas dada Siang Hwi, terus menggelundung turun dari atas meja, jatuh ke lantai, berkelojotan lalu menegang dan mati.

“Bedebah, siapa berani....?” bentakkan Ma Chiang ini terhenti di tengah-tengah ketika melihat bayangan yang berkelebat masuk dan kini berdiri tegak memandangnya dengan mata berapi dan alis terangkat penuh kemarahan. Hati Ma Chiang menjadi gentar karena ia sudah mengenal kelihaian Kwan Bu, pemuda yang tahu-tahu telah berada di situ.

“Gak Boan, tidak usah banyak cakap! Dia pemberontak, bunuh saja!” kata Ma Chiang dengan hati gentar. Mendengar perintah ini, Gak Boan cepat menyambar toya besinya yang disandarkan di dinding, kemudian bagaikan seekor badak si cebol muka hitam yang bertenaga besar ini sudah menerjang maju. Gerakannya cepat dan amat kuat ujung toyannya menghantam ke arah kepala Kwan Bu, Gak Boan sudah dapat memastikan bahwa hantaman toyanya ini tentu sekali saja cukup untuk menghancurkan kepala pemuda ini! akan tetapi ia kecelik, pemuda yang kelihatannya bergerak itu ternyata miringkan tubuh tepat pada saat toyanya menyambar, sehingga Gak Boan tak menguasai toyanya yang menghantam sebuah kursi.

“Brakkkkk...!!” Kursi inilah yang hancur berantakan.

“Mampuslah...!!” Ma Chiang sudah menerjang maju, menggunakan kedua tangannya yang bersarung tangan itu mencengkeram. Hatinya penuh kemarahan di samping kegentarannya, karena ia pernah dipermainkan oleh pemuda ini. Teringat betapa tulang kering kakinya pernah digajul sampai rasanya menusuk tulang sumsum, ia sakit hati sekali. Akan tetapi, Ma Chiang bukan seorang bodoh maka dia tidak membuang waktu dan datang mengeroyok. Ia tahu bahwa Gak Boan bukanlah lawan pemuda ini dan tentu akan roboh dalam wwaktu singkat. Sebelum kawannya roboh, lebih baik dia mengeroyok agar pihaknya lebih kuat.

“Sam-tho-eng, perlu apa turun tangan? Serahkan dia kepadaku!” kata Gak Boan yang merasa yakin bahwa menghadapi pemuda seperti ini,

Dia sendiri bersama toya besinya sudah cukup. Perlu apa mesti mengeroyok? Sambl berkata demikian, ia meloncat maju, toya besinya digerakkan keras sekali sampai mengeluarkan suara bersiutan, diputar di atas kepala kemudian terus menimpa kepala Kwan Bu. Kwan Bu marah sekali. Baru sekali ini ia merasa betapa kepala dan dadanya sampai terasa panas oleh kemarahan melihat keadaan Siang Hwi tersiksa dan terhina seperti itu tadi. Kini melihat sambaran toya dari atas, ia menggeser kaki ke kiri, membiarkan toya lewat dan cepat sekali ia menyambar ujung toya menyentakkan sambil mengarahkan tenaga hantaman toya tadi dan. Gak Boan memekik kaget

ketika tiba-tiba tubuhnya tanpa dapat ia tahan lagi melayang terlempar ke atas seperti dilontarkan sedangkan toyanya telah terampas pemuda itu.

Akan tetapi Gak Boan tidak mendapat kesempatan untuk memperpanjang keheranannya karena pada saat tubuhnya melayang ke atas itu. Kwan Bu sudah marah luar biasa melontarkan toya besi meyusul tuannya. Terdengar pekik mengerikan ketika toya itu menembus tubuh Gak Boan, dari perut ke punggung terus menancap di langit-langit sehingga tubuh Gak Boan terpatung dipantek di langit-langit, berkelojotan dan darahnya muncrat-muncrat seperti hujan! Pucat wajah Sam-tho-eng Ma Chiang melihat ini. Ia mengenal kepandaian Gak Boan, sungguhpun tidak setinggi tingkatnya, namun tidaklah mudah mengalahkan Gak Boan, apalagi membunuhnya secara demikian dalam dua gebrakan saja! Ia juga merasa ngeri dan matanya sudah jelalatan hendak mencari jalan keluar hendak melarikan diri.

“Ma Chiang, tidak usah berlari, percuma! Engkau harus mati sekarang juga di tanganku, manusia biadab dan terkutuk!” suara ini berdesis keluar dari mulut Kwan Bu, lirih namun bagi Ma Chiang amat mengerikan, meremangkan bulu roma. Namun sebagai seorang perwira yang sudah banyak pengalamannya bertanding. Ma Chiang masih tidak putus harapan dan dengan gerengan menggetar keluar dari lehernya, dia menerjang maju dengan cengkeraman-cengkeraman maut kedua tangan yang bersarung tangan itu. Kwan Bu dalam kemarahannya tidak bersikap gegabah. Dia cukup tahu sikap kelihaian lawan, cukup mengerti bahwa sarung tangan yang mempunyai kuku- kuku baja itu mengandung racun yang amat berbahaya. Maka ia mengerahkan ginkangnya yang tinggi sehingga tubuhnya berkeiabatan ke sana ke mari, tak pernah dapat tersentuh sedikitpun oleh kedua tangan seperti cakar garuda itu. Siang Hwi membuka matanya sambil mengeluh lirih. Ketika teringat akan pengalamann yang mengerikan tadi, ia menahan isak dan memandang ke arah dadanya. Ada darah di dada kanannya dan terasa agak perih seperti terluka di dada itu, juga dibibirnya yang berdarah karena tadi digigitnya sendiri. Kaki tangannya masih terikat pada meja. Siang Hwi terkejut dan heran mendengar suara pertempuran. Ia memaksa lehernya menoleh dan dapat dibayangkan betapa girang hatinya ketika ia melihat Kwan Bu sedang bertanding melawan Ma Chiang,

Dan melihat dengan mata terbuka lebar kepada tubuh Gak Ban yang terpantek di atas langit-langit. Kini orang pendek itu sudah tak bergerak lagi, mati dalam keadaan mengerikan, matanya melotot lebar lidahnya keluar. Ketika Siang Hwi kembali melihat pertandingan, hatinya lega. Ma Chiang kelihatan lelah sekali, mukanya yang seperti tikus itu pucat, penuh keringat dan biarpun ia masih terus menerus menyerang dengan kedua cakarnya yang mengerikan, namun gerakannya sudah tidak begitu gesit lagi. Selain gentar dan lelah, juga Ma Chiang sudah dua kali kena tamparan telapak tangan Kwan Bu yang panas, sekali mengenai pundaknya, kedua kali mengenai lambung. Ma Chiang sudah terluka, dan hanya kenekatannya untuk mempertahankan nyawanya saja membuat perwira ini terus menyerang secara membabi buta.

“Dosamu sudah betumpuk-tumpuk, akan tetapi dosa yang sekali ini terlalu jahat, tak boleh kau dibiarkan hidup.” Kata Kwan Bu dan mulailah pemuda ini membalas dengan serangan dahsyat. Dengan lengan kiri ia menangkis cengkeraman tangan kanan lawan, kemudian lengan itu membalik dan sikunya menotok lengan kiri Ma Chiang. Pada detik yang hampir bersamaan, jari tangan kanannya meluncur ke depan, mengarah sepasang mata perwira itu.

“Aiiihhh...!” Ma Chiang terkejut sehingga ketika melihat jari tangan lawan tahu-tahu sudah meluncur ke depan mata. Ia berusaha miringkan mukanya. Namun kurang cepat dan...

“Crottt!” mata kirinya tertusuk jari tangan yang disongkelkan sehingga biji mata kirinya itu terlompat keluar. Darah mengalir dan Ma Chiang menjerit-jerit seperti seekor babi disembelih. Dalam penderitaan rasa nyeri ini, Ma Chiang lupa akan sarung tangannya dan ia menggaruk-garuk dengan cakarnya ke arah mata kiri. Barulah ia sadar ketka merasa betapa seluruh mukanya terasa gatal-gatal dan membengkak.

“Celaka...!” teriaknya dan kini ia berjingkrak-jingkrak saking nyeri yang hampir tak tertahankan menyerang seluruh mukanya, tidak hanya rasa nyeri karena mata kirinya yang tak berbiji lagi, juga terutama sekali rasa nyeri yang diakibatkan racun dalam cakar bajanya. Karena maklum bahwa racun cakarnya jauh lebih berbahaya dari pada mata kirinya yang sudah terlanjur buta, Ma Chiang cepat merogoh saku hendak mengeluarkan obat penawar racunnya, akan tetapi baru saja tangannya keluar menggenggam obat dalam bungkusan, tiba-tiba pergelangan tangannya terpukul keras oleh tamparan Kwan Bu, membuat ia terhuyung dan bungkusan obat itu terlempar terbuka dan obatnya mawut tidak karuan, habis tertiup angin.

“Aduh... Celaka... Obatku... Ahhh Kau!” Ma Chiang terbelalak mata kanannya melihat ini dan tahulah ia bahwa nyawanya sukar ditolong lagi. Dalam kemarahan meluap-luap disebabkan rasa takut ia lalu menubruk maju ke arah Kwan Bu. Pemuda ini dengan mudah mengelak ke kiri, kemudian secepat kilat ia balas menubruk dan berhasil menangkap kedua lengan lawan. Cepat sekali Kwan Bu mengerahkan tenaga dan menggerakkan lengan lawan itu sehingga kedua cakar baja Ma Chiang itu membalik, yang kiri mencakar muka sendiri sedangkan yang kanan mencengkeram ke arah dadanya sendiri pula!

“Aughhh...! Aduh... Aduuhhh...!!” Ma Chiang bergulingan di atas lantai, mukanya sudah biru membengkak, dadanya yang habis mencengkeramnya sendiri mengucurkan darah hitam. agaknya rasa nyeri sedemikian hebatnya membuat Ma Chiang kehilangan ingatan karena ia kini bergulingan sambil kadang-kadang tertawa kadang-kadang menangis menggaruki seluruh tubuhnya, menggaruk dan mencengkeram sampai robek semua pakaiannya, bengkak-bengkak semua tubuhnya. Siang Hwi membuang muka. Betapapun bencinya kepada perwira bermuka tikus itu, pemandangan ini terlalu mengerikan. akan tetapi tidak lama Ma Chiang berkelojotan seperti itu. Racun cakarnya terlalu ampuh. Racun cakar yang entah sudah menewaskan berapa puluh orang tak berdosa itu kini menggerogoti tubuhnya sendiri dan akhirnya ia tidak bergerak lagi,

Nyawanya melayang meninggalkan tubuh yang sudah tidak karuan wujudnya. Dibandingkan dengan Gak Boan, keadaan Ma Chiang lebih mengerikan dan lebih tersiksa matinya. Kwan Bu yang melihat keadaan Siang Hwi, cepat melepaskan jubah luarnya dan menyelimutkan jubah luar itu ke atas tubuh Siang Hwi bagian atas. Kemudian ia menggerakan tangan membikin putus belenggu yang mengikat kaki tangan gadis Siang Hwi menggerakkan kaki tangannya lalu meloncat turun dari atas meja. Akan tetapi karena jalan darahnya belum pulih benar akibat terbelenggu tadi, juga karena pengalaman dahsyat mengerikan masih mengguncang perasaanya, begitu kakinya tiba di atas lantai ia terguling dan terhuyung-huyung, tentu akan roboh kalau saja tidak cepat disambar lengan Kwan Bu.

Entah bagaimana keduanya tidak ingat lagi, tahu-tahu Siang Hwi telah menangis dalam pelukan Kwan Bu! Seperti dalam mimpi Kwan Bu memeluk Siang Hwi dan gadis itu menyusupkan muka di dada yang bidang bahkan kedua lengan Siang Hwi balas merangkul leher, tanpa memperdulikan atau tidak tahu betapa baju luar Kwan Bu yang hanya menyelimuti tubuhnya itu terbuka! Kwan Bu dengan tenang membenarkan letak baju luar itu, menutupi dada Siang Hwi. Mereka berangkulan dan berpandangan, Siang Hwi masih terisak-isak. Dan untuk kedua kalinya selama hidup, Kwan Bu masih terpesona. Melihat mulut yang terisak menangis, bagaikan bukan atas kehendak sendiri, atau diluar kesadarannya, ia mendekap makin erat lalu mencium mulut Siang Hwi dengan sepenuh perasaan kasih sayang.

“Kwan ah, Kwan Bu    ?” kemudian Siang Hwi berbisik, sesenggukan dan menyembunyikan muka di

dada pemuda itu. Kwan Bu memeluk dan memejamkan kedua matanya, hampir tidak kuat menahan debaran jantung penuh bahagia. Dalam keadaan seperti itu, pemuda sakti ini kehilangan kewaspadaanya sehingga tidak tahu bahwa ada bayangan banyak orang berkelebat di depan rumah itu.

“Siang Hwi      !” Munculnya Bu Keng Liong didahului panggilan suaranya ini mengejutkan Siang Hwi

dan Kwan Bu. Terutama sekali Siang Hwi. Bagaikan ada halilintar menyambar kepalanya ketika ia mendapat kenyataan betapa ia berada dalam pelukan Kwan Bu. Halilintar ini membuka matanya dan mengingatkan ia betapa ia dipeluk seorang bekas pelayan! Seperti seekor kucing, ia meronta terlepas dari pelukan Kwan Bu, kemudian seperti orang linglung dan mabok ia berkata lirih penuh kemarahan.

“...... kau......! Kenapa kau peluk aku...... kenapa kau cium...... aku...?” Sebelum Kwan Bu yang terbelalak memandang itu sampai menjawab, Siang Hwi melangkah maju dan,

“Plakkkl” pipi Kwan Bu sudah ditamparnya dengan tangan kanan keras sekali. Baru dua kalinya selama hidup Kwan Bu memeluk dan mencium seorang wanita, dan untuk kedua kalinya ia telah dihadiahi tamparan dari wanita yang sama! Entah mana yang membuat mukanya menjadi merah seluruhnya sampai ke telinga, tamparan itu sendiri ataukah perasaan yang seperti ditusuk.

“Siang Hwi     !” suara Bu Keng Liong membentak puterinya penuh teguran.

“Dia... dia berani memeluk-cium aku, yah. !” Pening rasa kepala Kwan Bu. Sejenak ia memandang

gadis itu penuh pertanyaan, kemudian ia sadar akan keadaan dirinya! Seorang bekas bujang! Seorang bekas pelayan! Seorang anak haram! Berpikir demikian ia mengeluh panjang lalu tubuhnya berkelebat keluar dari rumah itu, cepat sekali. Di pekarangan depan ia melihat Ya Thian Cu, dan Yo Ciat bersama beberapa orang anti kaisar yang lain, namun tidak perduli dan lari terus. Kedua kakinya seperti lemas, kadang-kadang menggigil sehingga larinya tidak secepat biasanya. Bahkan ketika berada di luar hutan, ia berhenti, memegangi kepalanya yang merasa pening sekali, pandang matanya berkunang. Terngiang di telinganya kata-kata Siang Hwi.

“Kenapa kau peluk aku? Kenapa kau cium aku?”

“Ya kenapa?” Dia sendiri tidak mengerti. Mengapa ia suka benar memeluk dan mencium gadis itu? Gadis itu adalah nona majikannya! Apakah dia sudah menjadi gila?

“Bhe-taihiap (pendekar besar Bhe)...!” Ia menoleh, keningnya berkerut, pandang matanya masih berkunang, akan tetapi samar-samar ia dapat melihat Koai-kiam Tojin Ya Keng Cu yang datang, berlari cepat seperti terbang mengejarnya. Melihat tosu ini bangkit kemarahan Kwan Bu, terdorong hati yang dilanda kedukaan dan kekecewaan akibat sikap Siang Hwi yang mengecewakan hatinya. Ia membalik dan menghadapi tosu itu dengan muka masih marah dan pandang mata dingin itu.

“Koai-kiam Tojin! Egkau mau apa? Awas, kali ini aku tidak akan sudi mengampuni siapapun juga yang menantangku!” Ya Keng Cu merangkap kedua tangan ke depan dada, menarik napas panjang dan berkata,

“Sincai, sincai.... seorang pendekar besar takkan mudah roboh oleh perasaan hati sendiri, Bhe- taihiap, harap jangan salah mengerti. Pinto (aku) mengejarmu bukan dengan niat buruk, sebaliknya, pinto atas nama semua orang gagah penentang kelaliman, merasa bersukur dengan dan terima kasih bantuan taihiap.” Melihat sikap tosu ini dan mendengar kata-katanya, lenyaplah kemarahan di hati Kwan Bu. Ia menunduk dan menjawab,

“Saya sama sekali tidak membantu totiang ?”

“Akan tetapi taihiap telah membunuh Sam-tho-eng Ma Chiang dan Gak Boan yang terkenal sebagai mata-mata kerajaan menjerumuskan banyak orang gagah. Jasa taihiap amat besar terhadap perjuangan. Karena itu, pinto atas nama semua orang gagah mengundang kepada taihiap, sukalah taihiap menggabung dengan kami untuk menentang kelaliman yang muncul dari istana.”

Kwan Bu termenung. Di dalam hatinya ia harus mengakui bahwa memang kaki tangan kaisar pada waktu itu amat jahat, menindas rakyat dan suka melakukan tindakan sewenang-wenang seperti yang dilakukan Sam-tho-eng Ma Chiang. Akan tetapi, bukan itulah yang dicita-citakan selama ini, bukan itu yang menyebabkan dia mati-matian berguru terhadap orang sakti Pat-jiu Lo-koai. Sudah semestinya kalau orang-orang macam itu dibasmi, hal ini merupakan kewajiban seorang pendekar sehingga tidaklah sia-sia ia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun. Dan jika ia bergabung, berarti ia akan dekat dengan Siang Hwi. Ah, tidak! Ia bahkan harus menjauhi gadis itu. Kalau dekat, ia akan sengsara, akan selalu terhina dan menderita tekanan batin. “Terima kasih atas kebaikan totiang. Akan tetapi       pada waktu ini saya masih mempunyai tugas

yang amat penting bagi kehidupan saya, yaitu mencari musuh besar yang telah membasmi keluaraga saya. Setelah saya selesai dengan tugas itu, barulah saya memikirkan atas usul totiang.” Wajah tosu itu berseri. Di dalam perjuangannya menjatuhkan kaisar, ia membutuhkan bantuan orang pandai seperti pemuda sakti ini.

“Bhe-taihiap, siapakah dia itu musuhmu?” Kwan Bu menggelengkan kepala dan mukanya menjadi muram.

“ltulah sukarnya, totiang. Saya sendiri tidak tahu siapa dia, tidak tahu siapa namanya, hanya mengetahui ciri-cirinya.”

“Taihiap beritahukanlah apa ciri-cirinya. Pinto akan membantu sedapatnya.” Kwan Bu mengerutkan alisnya yang hitam. Ia tidak ingin menarik orang lain dalam urusannya membalas dendam. Akan tetapi, ia merasa betapa sukarnya mencari musuh yang tidak diketahui namanya, tidak diketahui di mana tepat tinggalnya bahkan tidak diketahui apakah musuh itu masih hidup ataukah sudah mati. Memang agaknya seorang tokoh seperti tosu ini yang akan dapat membantunya, karena tosu ini mempunyai hubungan luas sekali di dunia kang-ouw.

“Terima kasih, tidak berani saya membikin capai orang lain dalam urusan saya ini. Hanya kalau sekiranya totiang suka dan tahu, saya ingin totiang memberitahu di mana kiranya di dunia kang-ouw ini terdapat tokoh besar yang jahat, seorang laki-laki tinggi besar, bercambang bauk yang usianya sekarang sekitar enam puluh tahun, dahulu menjadi kepala perampok, seorang ahli dalam bermain golok dan ahli pula senjata rahasia jarum.”

“Aahhh.    ??” Tosu itu mengerutkan alisnya dan meraba-raba jenggot.

“Alangkah banyaknya tokoh seperti itu, yakni ahli golok yang tinggi besar, berusia enam puluh tahun. si Golok Emas baru berusia enam puluh tahun usiannya, si Golok Maut sudah enam puluh

lebih tinggi besar pula akan tetapi setahu pinto tidak pandai senjata rahasia jarum,”

“Hemmm        Ada yang cocok. Tapi dia itu bukan perampok, malah sebaliknya, ia seorang piawsu

(pengawal barang kiriman).”

“Siapakah dia totiang? Dan di mana tempat tinggalnya, mungkin sekali dua puluh tahun yang lalu dia seorang perampok dan sekarang sudah menjadi piauwsu.” Tosu itu mengangguk-angguk.

“Mungkin juga ! Dia kepala perusahaan pengawal Macan Terbang, namanya Kwa Sek Hong tinggal

di kota Liu-si-bun. Dia sudah terkenal sebagai seorang ahli golok yang pandai, juga jarum-jarumnya membikin jerih hati para perampok. Orangnya tinggi besar dan usianya enam puluhan, julukannya Hui-hauw (Macan Terbang) dan karena julukannya itulah maka ia memakai nama perusahaannya Hui-hauw-piauw-kiok.” Kwan Bu girang sekali. Setidaknya ia sudah mendapat pegangan untuk memulai penyelidikan dan usahanya untuk membalas dendam ibunya. Ia mengangkat kedua tangan depan dada dan menjura.

“Banyak terima kasih atas keterangan totiang.”

“Tunggu dulu, taihiap!” Ya Keng Cu mengangkat tangan menahan ketika melihat pemuda itu hendak meninggalkannya. Kwan Bu menahan langkahnya dan tosu itu cepat berkata. “Bilamana tugas balas dendam taihiap telah terlaksana, maukah taihiap membantu perjuangan kami?” Kwan Bu mengerutkan keningnya, ia menghela napas ketika teringat akan cerita gurunya tentang perang yang tak kunjung henti antara “orang-orang atasan” yang saling memperebutkan kedudukan dan kemuliaan.

“Totiang, kalau saya harus berjuang menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan, saya tidak akan menawar-nawar lagi dan memang untuk itulah saya bersusah payah mempelajari ilmu. Akan tetapi kalau untuk melibatkan diri ke dalam perang, maaf saya bukan termasuk golongan orang-orang yang berpamrih mencari dan mempertahankan kedudukan dan kemuliaan!”

“Siancai     ! Taihiap salah menduga bahwa para pejuang memiliki pamrih untuk merebut kemuliaan

dan kedudukan. Sama sekali tidak demikian, taihiap. Para pejuang berjuang mati-matian demi rakyat jelata, demi mengakkan kebenaran dan keadilan, sama sekali bukan untuk memperebutkan kemuliaan!” Kwan Bu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas lagi.

“Totiang, sejarah masih jelas mencatat segala peristiwa perang dan akibatnya. Perang hanyalah permainan orang-orang besar di atas belaka! Tiap kali mengobarkan perang, orang atasan selalu berdalih muluk-muluk seperti merobohkan raja Ialim, memperjuangkan nasib rakyat jelata, dan lain sebagainya sehingga termakan oleh rakyat yang tentu saja lalu mendukung dan membantunya, ikut berperang di garis paling depan. Mereka yang mengobarkan perang? Sama sekali tidak terancam nyawanya karena hanya membuka mulut meneriakkan perintah-perintah dan komando-komando kosong. Kalau sudah menang perang? Mereka orang-orang besar itulah yang mendapat pahala yang paling besar dan tercapai cita-cita mereka, menjadi orang berkedudukan mabok dalam kemuliaan duniawi. Pernahkah totiang mendengar adanya pejuang orang besar yang setelah perang berhasil menang lalu mengundurkan diri menjadi rakyat kembali? Tidak! Mereka itu saling berebutan antara teman sendiri, berebutan kemulian sebagai akibat kemenangan perang. Siapa yang menang dalam perang? Orang-orang besar! Siapa yang banyak tewas dan menderita selama perang? Rakyat kecil! Padahal tanpa adanya rakyat yang menjadi prajurit-prajurit kecil, mereka kaum atasan itu sama sekali tiada gunanya dalam perang! Tidak, totiang, saya tidak mau diperalat oleh mereka yang berambisi kedudukan dan kemuliaan, mereka yang selalu menempatkan diri di tempat aman, kalau menang menjadi mulia, kalau kalah perang sekalipun dan menjadi tawanan, orang-orang besar ini masih jauh lebih enak dibandingkan si kecil yang dibunuh seperti orang membunuh ayam saja!”

Kwan Bu berbicara dengan penuh semangat dan Koai-kiam Tojin Ya Keng Cu mendengarkan dengan mata terbelalak. Di dalam hatinya ia terpaksa harus membenarkan pendapat ini karena dengan kenyataan yang sudah memang demikianlah. Para pemimpin yang tadinya gembar-gembor menggerakkan rakyat dengan dalih demi kepentingan rakyat, setelah berhasil dan mabok kemenangan lalu melupakan rakyat yang tadinya menjadi alat sehingga cita-cita tercapai. Tentu saja ada satu dua orang pemimpin yang benar-benar berjuang untuk rakyat, namun dibandingkan dengan mereka yang memperalat rakyat demi kemuliaan pribadi, maka yang pejuang benar-benar ini tidak tampak lagi saking jarangnya! Ia mengelus jenggot dan menarik napas panjang.

“Ahhh, betapa banyaknya orang gagah yang sependapat dengan taihiap, termasuk Bu Keng Liong taihiap yang untung sekarang telah sadar. Ketahuilah, taihiap. Pejuang yang sesungguhnya tidak perduli akan kepentingan pribadi, tidak pula menanam pamrih untuk mencari kemuliaan kelak. Menang atau kalah baginya sama saja, kalah sampai mati tidak menyesal, menang pun tidak mabok dan silau oleh kedudukan. Mereka yang memperebutkan kedudukan adalah orang lemah dan kelak mereka akan tenggelam dan hanyut oleh perbuatan sendiri, karena setiap kelaliman pasti menimbulkan tentangan. Dan tiada kemuliaan duniawi yang kekal, taihiap. Namun kebajikan menimbulkan nama baik yang masih akan hidup sepanjang masa.”

“Betapapun juga, saya belum ada niat untuk menjadi alat permainan mereka calon-calon pembesar Ialim, totiang. Nah, sampai jumpa!” Setelah berkata demikian Kwan Bu berkelebat pergi dari situ, beberapa kali loncatan saja sudah lenyap dari depan Ya Keng Cu yang menggoyang kepala dan menghela napas kecewa.

“Sayang..., dia amat lihai dan akan menjadi pejuang yang hebat...!”

lring-iringan itu cukup panjang sehingga menimbulkan debu mengepul tebal di sepanjang jalan yang kering. Terdiri dari lima buah kereta penuh peti-peti berat, setiap kereta di tarik oleh empat ekor kuda dan di atas setiap kereta terpasang bendera yang berkibar-kibar indah dan megah. Bendera yang ujungnya meruncing, terbuat daripada kain sutera berdasar kuning dan di tengah-tengahnya terdapat sulaman gambar sebuah harimau bersayap. Selain bendera bergambar harimau bersayap ini juga terdapat kain-kain memanjang dengan tulisan HUI HAUW PIAUWKIOK (Perusahaan Pengawal Macan Terbang). Paling depan dari iring-iringan itu tampak tiga orang penunggang kuda yang dari pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah para pemimpin pengawal barang ini. Yang berkuda di tengah adalah seorang laki-laki tinggi besar, bercambang bauk, usianya sudah enam puluh tahunan namun masih tampak gagah dan kuat.

Sebatang golok yang terselip di pinggang mempunyai gagang terbuat dari pada emas dan ujungnya berukiran kepala harimau. Dia inilah Kwa Sek Hong yang dijuluki orang si Harimau Terbang, Dan memang patutlah kalau kakek tinggi besar ini dijuluki seperti itu karena memang dia tampak gagah perkasa dan menyeramkan. Di sebelah kiri hui-hauw Kwa Sek Hong ini adalah seorang gadis remaja yang berpakaian indah dan gagah pula, menunggang kuda dengan gaya jelas membuktikan bahwa gadis inipun bukan orang lemah dan memang demikianlah sesungguhnya. Gadis ini cantik manis, kulitnya agak hitam namun bahkan menambah kemanisannya, berusia kurang lebih delapan belas tahun dan sebatang pedang panjang tergantung di punggungnya. Biarpun pakaiannya indah, akan tetapi cara berpakaian dan berhias amat sederhana, menunjukkan bahwa dia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa menghadapi kesukaran dan kekerasan.

Gadis ini adalah Kwa Bee Lin, puteri piauwsu (pengawal barang) itu yang semenjak kecil telah digembleng dengan ilmu silat sehingga kini menjadi seorang gadis remaja yang lihai ilmu pedangnya. Bahkan semuda itu tidak jarang Bee Lin mewakili ayahnya mengawal barang sehingga hal ini membuat ia dikenal dan ditakuti para penjahat. Orang ketiga yang berdiri paling kanan adalah Kwa Min Tek, putera sulung piauwsu itu, berusia dua puluh dua tahun, seorang pemuda yang tinggi besar seperti ayahnya, gagah perkasa dan ahli bermain golok seperti ayahnya pula. Min Tek mewarisi ilmu golok ayahnya yang amat hebat yaitu ilmu golok Lian-hwa-sinto (Ilmu Golok Sakti Bunga Teratai) yang jarang menemui tanding. Sebaliknya, untuk menyesuaikan diri,

Bee Lin diajar ilmu pedang yang gerakan-gerakannya juga berdasar ilmu silat teratai ini. Di belakang tiga orang ini masih ada tujuh orang piawsu yang menjadi pembantu-pembantu utama dalam perusahaan Hek-hauw Piauwkiok ini, juga mereka bertujuh ini semua menunggang kuda. Di atas setiap kereta terdapat seorang kurir dan di belakang berjalanlah sepasukan pengawal terdiri dari dua puluh orang, semuanya bersenjata. Para anggauta pasukan inipun adalah orang-orang yang mengerti ilmu silat dan terlatih. Maka tidaklah mengherankan apabila Hui-hauw piauwkiok ini ditakuti para perampok dan tidak pernah diganggu karena selain pemimpinnya amat lihai, juga pasukannya amat kuat. Ketika rombongan ini memasuki sebuah hutan besar yang lebar dan liar, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dilarikan sangat kencang dari arah belakang.

Kwa Sek Hong menoleh dan melihat betapa jauh di belakang tampak debu mengepul tinggi tanda bahwa ada beberapa ekor kuda lari datang, ia lalu mengangkat tangan agar rombongannya minggir memberi jalan kepada penuggang kuda yang sedang mendatang itu. Tak lama kemudian tampaklah lima orang penungang kuda. Mereka ini adalah lima orang laki-laki yang membalapkan kuda amat cepatnya. Tubuh mereka setengah rebah tertelungkup di punggung kuda, dan tampaklah ronce- ronce kuning pedang mereka yang terselip di punggung, berkibar seperti bendera. Lima orang itu “ngebut” ketika melewati rombongan piauwkok, hanya tampak orang terdepan menoleh ke arah Kwa Sek Hong dan dua orang anaknya sambil tersenyum-senyum mengejek. Debu masih mengepul tinggi ketika mereka lewat.

“Jangan.    !” Kwa Sek Hong memegang tangan Bee Lin. Ayah ini waspada dan tahu ketika lengan kiri

anak perempuannya bergerak merogoh kantong senjata rahasianya yang berisi penuh jarum-jarum halus.

“Apa kau gila?” Kwa Bee Lin bersungut-sungut dan menarik kembali tangannya keluar kantong senjata,

“Mereka itu bukan orang baik-baik, sama sekali tidak mengenal tata susila, lewat begitu saja tanpa memperlambat kuda, tidak memandang kepada ayah. Mereka patut diberi akan jarum!”

“Hemmm, jangan sembrono. Bee Lin,” kata piauwsu tua yang sudah banyak pengalaman itu. Ia lalu menoleh dan memberi isarat rombongannya untuk mengaso di bawah pohon-pohon yang rindang.

“Kita beristirahat di sini!” teriaknya kepada pembantunya yang menyampaikan perintah itu dengan suara lantang ke arah belakang. Lima buah kereta itu berhenti, dikumpulkan menjadi satu. Kuda- kuda dilepas dan diberi kesempatan makan rumput hijau dan mengaso. Kuda dan orang melepas lelah dan keringat mereka membasahi tubuh.

Para anggauta pasukan setelah selesai mengurus kuda lalu melepaskan lelah duduk di bawah pohon- pohon, membuka kancing baju depan, ada yang meminum air perbekalan masing-masing, ada yang mengebut-ngebut leher dan dada dengan topi mereka yang lebar. Kwa Sek Hong sendiri bersama dua orang anaknya lalu duduk di bawah sebatang pohon, mengusap peluh dengan sapu tangan mereka sambil bercakap-cakap setelah minum air dari perbekalan masing-masing. Ayah anak ini sudah biasa dengan pekerjaan berat kaum piauwsu, maka mereka itu selalu waspada namun hati mereka besar karena selama bertahun-tahun tidak pernah ada penjahat yang berani mengganggu barang kiriman yang dihias bendera bergambar macan terbang. Bee Lin memandang ayahnya yang sudah tua keriputan itu. Melihat ayahnya bekerja keras lalu berkata.

“Sudah kukatakan bahwa seperti biasa, perjalanan kita akan aman tidak mengalami gangguan sehingga cukup dikawal olehku sendiri atau bersama twako, tidak perlu ayah sendiri harus turun tangan mencapikkan diri. Buktinya, sampai di sini tidak terjadi gangguan apa-apa.”

“Huah, Lin-moi (adik Lin), kau bilang tidak ada gangguan, kuda tadi bukan orang baik-baik, agaknya mereka adalah mata-mata gerombolan perampok. Kita harus berhati-hati sekali mulai dari saat ini.” Kata Kwa Min Tek menegur adiknya.

“Aahhhh, lima macam cecunguk seperti itu saja perlu apa diributkan? Twako, apa kau mau bilang bahwa menghadapi lima orang cecunguk itu saja harus ayah yang turun tangan sendiri?” Kwa Sek Hong mengelus jenggotnya.

“Sudahlah, kalian tidak perlu ribut-ribut. Bee Lin, kau jangan sekali-kali meremehkan urusan dan memandang rendah kaum sesat di dunia kang-ouw. Memang untuk mengirim barang ini ke kota Kian-si, biasanya cukup kalau kau atau kakakmu yang mengawal, tidak perlu aku yang sudah tua turun tangan. Akan tetapi, keadaan sekarang amat berbeda. Kaum enghiong (orang gagah) yang menentang pemerintah, terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi. Sebaliknya, pemerintah juga mempunyai orang-orang berilmu untuk membantunya sehingga kini banyak bermunculan orang- orang pandai yang saling bertentangan, di satu pihak pro kaisar, di lain pihak anti kaisar. Mereka ini kadang-kadang amat membutuhkan biaya besar untuk perjuangan masing-masing, dan ada kalanya minta bantuan secara paksa !”

Tiba-tiba kakek ini menghentikan kata-katanya dan melompat bangun. Dua orang anaknya juga melompat berdiri karena dua orang muda itu sudah biasa menghadapi bahaya dan sudah maklum dengan kejutan dan siap. Entah dari mana munculnya, tahu-tahu di tengah-tengah rombongan piawsu ini muncul seorang pemuda tampan berpakaian serba putih yang amat sederhana, terbuat dari kain kasar dan murah. Pemuda itu bertangan kosong, berdiri tegak di situ dan menoleh ke kanan kiri. Rombongan piauwsu sudah bangkit berdiri semua sambil memandang penuh kecurigaan. Sebaliknya pemuda itu yang bukan lain adalah Kwan Bu, tampak tenang, tersenyum-senyum dan kemudian ia berkata.

“Siapa di antara kalian yang bernama Kwa Sek Hong, kepala dari rombongan piauwkok ini?”

“Bocah sombong, apa perlunya kau menyebut-nyebut nama kepala rombongan piauwkok?” Tiba- tiba tampak berkelebat bayangan yang gesit sekali dan Bee Lin sudah meloncat jauh dan tiba di depan Kwan Bu dengan sikap gagah menantang. Kwan Bu memandang kagum, tersenyum dan melihat gadis itu dari atas kepala sampai ke kaki, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

“Ah, tidak bisa jadi kalau nona ini yang berjuluk Macan Terbang, sungguhpun nona tadi telah bergerak terbang ke arah sini. Nona, aku mau bicara dengan Hui-hauw Kwa Sek Hong yang tinggal di kota Lui-si-bun. Aku telah mencari-carinya di kota itu akan tetapi mendengar bahwa dia memimpin rombongan menuju kota Kian-si, maka aku menyusul. Di manakah dia sekarang?”

“Apakah engkau mata-mata perampok?” bentak Bee Lin. Kwan Bu tersenyum lagi.

“Mungkin bukan dan mungkin juga benar! Biar orang tua she Kwa sendiri yang keluar, baru aku mau bicara. Bukankah dia seorang kakek berusia enam puluhan, bertubuh tinggi besar dan terkenal ahli golok dan ahli jarum! Kalau benar dia, harap keluar, jangan bersembunyi di balik punggung nona muda!”

“Bocah kurang ajar, sombong benar kau, harus dihajar!” bentak Bee Lin yang cepat melangkah maju dan menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah mulut Kwan Bu. Pemuda ini dapat melihat betapa kerasnya tamparan, yang tentu akan memecahkan bibirnya kalau sampai terkena. Teringatlah ia akan Siang Hwi yang sudah menamparnya sampai dua kali dan teringat akan ini, hatinya menjadi kesal dan marah. Ia menggerakkan kepala ke belakang sehingga tamparan itu luput kemudian secepat kilat kedua tangannya bergerak, yang satu menangkap tangan gadis itu yang kedua mengikuti,

Mendorong punggung Bee Lin sehingga di lain saat, tubuh gadis itu sudah mencelat ke atas seperti dilontarkan! Gadis itu terkejut sekali, berjungkir balik di udara dan ia juga amat marah. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia sudah mencabut pedangnya dan dengan napas terengah saking marahnya ia menyerang kalang kabut kepada Kwan Bu. Kwan Bu dengan mulut tersenyum-senyum mengelak ke sana ke mari dengan amat mudahnya. Tubuhnya tak pernah bergeser dari tempatnya semula, hanya tubuh bagian atas bergerak-gerak ke kanan kiri depan belakang, namun kelebatan pedang di tangan Bee Lin sama sekali tidak pernah dapat menyentuhnya! Bukan hanya gadis itu yang menjadi terheran-heran, penasaran dan marah sekali, juga Kwa Sek Hong sendiri dan puteranya memandang dengan bengong. “Hiaaaaaattt...l” Bee Lin menyerang lagi dengan tusukan yang amat cepat ke arah dada Kwan Bu. Pemuda ini merendahkan tubuh dengan miring, kedua tangannya meluncur maju, yang kiri menotok siku yang kanan merampas pedang. Gadis itu mengeluh kaget, tangannya yang menyerang pedang lumpuh seketika dan tentu saja pedangnya dapat dirampas lawan dengan amat mudahnya.

“Kembalikan pedangku!” Bee Lin yang marah luar biasa itu karena lengan kanannya masih kesemutan, kini melangkah maju dan menendangkan kaki kirinya ke arah pusar Kwan Bu. Pemuda ini tersenyum dan berkata.

“Wah, kau benar-benar galak!” Sambil berkata demikian tangan kanannya memutar pedang mengetuk lutut lawan yang menendang sedemikan cepatnya sehingga Bee Lin tak mampu menarik kembali kakinya. Tahu-tahu kakinya menjadi lumpuh dan di lain detik, tangan kiri Kwan Bu sudah mencabut sepatunya yang berkembang! Bee Lin terkejut bukan main. Mukanya menjadi merah sekali, lalu pucat. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya. Tangan kirinya bergerak merogoh jarum-jarum di kantung, lengannya digerakkan dan,

“Syiit-Syiit-Syiit !” Sinar-sinar terang membawa jarum-jarum itu menyerang tubuh Kwan Bu. Akan

tetapi kembali dia dan semua orang melongo, karena Kwan Bu menggunakan sepatu rampasannya itu, digerakkan berkali-kali ke depan tubuh dan. semua jarum halus yang menyerangnya menancap

pada sepatu tidak sebatang pun mengenai tubuh Kwan Bu.

“Bee Lin, mundur. !” bentak Kwa Sek Hong yang tadi menjadi makin terkejut. Gadis yang keras hati

ini baru sekarang mengakui bahwa pemuda di depannya itu hebat bukan main, maka dengan muka merah saking marah dan malu, ia terpincang-pincang dengan sebelah kakinya yang tak bersepatu lagi itu menghampiri ayahnya.

“Bocah sombong, berani kau menghina adikku! sambutlah jarum-jarumku ini!” Tangan Kwa Min Tek bergerak dan.

“Swing-Swing-Swinggg!” jarum-jarum yang lebih kasar dari pada jarum rahasia yang disambit Bee Lin tadi menyambar dengan kecepatan hebat sekali, menyambar ke semua jalan darah di tubuh Kwan Bu! Akan tetapi Kwan Bu sudah siap, sepatu rampasan di tangannya ia gerakkan dan jarum-jarum halus yang tadi menancap di situ kini terbang membalik, menyambut jarum-jarum yang dilepas Min Tek. terdengar suara gemerincing nyaring dan tampak bunga-bunga api berhamburan seperti bintang pecah.

Sebagian dari pada jarum-jarum rahasia Min Tek bertumbukkan dengan jarum-jarum Bee Lin yang dilepas oleh Kwan Bu, dan sebagian lagi yang terus menyambar ke arah Kwan Bu, telah ditangkap oleh pemuda sakti ini menggunakan sepatu rampasannya. Rombongan piauwsu yang menyaksikan kelihaian Kwan Bu, mengeluarkan suara heran dan kagum. Mulailah mereka merasa khawatir karena kalau para perampok yang akan mengganggu mereka berkepandaian seperti pemuda sederhana itu, mereka menghadapi bahaya yang amat besar. Min Tek yang melihat betapa jarum-jarumnya gagal, sudah mencabut goloknya. akan tetapi ayahnya cepat maju dan memegang lengannya. Kwa Sek Hong dapat melihat bahwa puteranya, yang tingkat ilmu kepandaiannya tidak jauh melebihi Bee Lin, juga bukan lawan pemuda baju putih yang lihai luar biasa itu. Maka ia mencegahnya dan berkata,

“Min Tek, kau juga mundurlah, biarkan aku sendiri menghadapinya.” Alis Min Tek berkerut, akan tetapi ia tidak berani membantah ayahnya dan mengangguk sambil melangkah mundur dekat adiknya. Kini Kwa Sek Hong menghadapi Kwan Bu. Setelah orang tua itu meneliti Kwan Bu dari atas sampai ke bawah dan mengingat-ingat, ia tetap tidak mengenal siapa pemuda ini. Maka ia lalu mengangguk dan berkata. “Sobat muda, engkau mencari Hui-hauw Kwa Sek Hong yang mengepalai Piauwkiok? Nah, akulah Hui-hauw Kwa Sek Hong. Ada keperluan apakah engkau mencariku?” Kwan Bu memandang penuh perhatian. Ia menindas perasaanya yang menjadi panas dan marah. Ia harus hati-hati dan tidak menurutkan hati panas. Melihat kepandaian anak-anak piauwsu ini, tentu Macan Terbang ini pandai melempar jarum dan juga pandai main golok melihat golok tergantung di pinggang. Akan tetapi hal itu masih belum merupakan bukti bahwa orang ini benar-benar musuh besar yang dimaksudkan ibunya.

“Hui-hauw Kwa Sek Hong. Apakah engkau seorang laki-laki sejati seperti tenarnya namamu sebagai piauwsu yang gagah perkasa?” Sepasang sinar mata orang tua itu mengeluarkan sinar marah.

“Hemmm... apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Hui-hauw Kwa Sek Hong selama hidupnya seorang laki-laki sejati, bukan pengecut!”

“Bagus! Seorang laki-laki sejati kalau sudah berani berbuat tentu akan bertanggung jawab. Eh, orang she Kwa, engkau terkenal sebagai seorang ahli jarum rahasia. Kenalkah engkau dengan jarum ini?” Sambil berkata demikian, Kwan Bu merogoh sakunya, mengeluarkan sebatang jarum yang sudah berkarat, menggunakan telunjuknya menyentil jarum itu yang terbang ke arah mata Kwa Sek Hong! Kakek ini menyambut dengan tangan kanan, menjepit jarum terbang itu diantara dua buah jari tangan, lalu meneliti senjata rahasia ini. Ia menggeleng kepala, lalu mengambil jarumnya sendiri. Seperti yang dilakukan Kwan Bu tadi, ia menyentil jarum Kwan Bu dan jarumnya sendiri dengan kuku telunjuk dan meluncurlah dua batang jarum itu ke arah Kwan Bu. Pemuda inipun menyambut dua batang jarum dengan cara yang dilakukan lawannya, yaitu menjepitnya dengan dua jari tangan.

“Bukan jarumku. Engkau periksa perbedaanya orang muda!” Kwan Bu meneliti dua batang jarum yang diterimanya. Jarum orang tua she Kwa itu masih baru dan mengkilap, dan ujungnya meruncing jauh lebih kecil daripada ekornya dan diekornya terdapat kepala yang berbentuk kepala macan. Sebaliknya, jarum yang dulu membikin buta mata ibunya, bentuknya seperti pensil dan batangnya bergaris memanjang di kanan kiri. Memang tidak sama. Akan tetapi apa sukarnya mengganti model jarum rahasia? Maka ia masih belum yakin bahwa pisauwsu ini bukanlah musuh yang sedang dicarinya.

“Kwa Sek Hong, lupakah engkau akan dusun Kwi-cun?” tiba-tiba ia menyerang dengan perkataan sambil memandang tajam.

“Kwi-cun..?? Di mana itu...?” piauwsu tua itu mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.

“Dua puluh tahun yang lalu, di Kwi-cun, di mana engkau dan anak buahmu merampok kampung, membunuhi banyak penduduk, dan sebelah mata seseorang wanita..?”

“Tutup mulutmu!!” Kwa Sek Hong memaki dan membentak marah, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Kwan Bu.

“Orang muda, aku tidak tahu apa maksudmu mengeluarkan kata-kata mengaco tidak karuan ini. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku orang she Kwa bukanlah pengecut, apalagi perampok! Tak perlu bermain kata-kata, lebih baik terus terang saja, engkau mau apa?” Makin berkurang keyakinan Kwan Bu. Sikap orang ini gagah, memang agaknya bukan ini orangnya. Akan tetapi bagaimana dia tahu? Dia belum puas, maka sambil tersenyum mengejek ia menjawab,

“Mau apa? Tentu saja mau merampas lima buah kereta ini...!” “Ha-ha-ha! Bagus begitu! Lebih baik berterus terang mau merampok! Nah, pecahkan lebih dulu dada Hui-hauw Kwa Sek Hong, baru kau dapat merampas barang-barang kawalanku!” Kwa Sek Hong membentak marah dan sudah menerjang dengan goloknya dengan gerakan cepat dan kuat sekali. Kwan Bu yang masih ragu-ragu apakah orang ini musuh besarnya, hanya mengelak ke sana ke mari, gerakkannya gesit dan ujung golok lawan tak pernah dapat menyentuh bajunya. Diam-diam Kwa Sek Hong terkejut bukan main. Ternyata pemuda ini memiliki kepandaian yang amat tinggi jauh melampaui dugaanya karena kini ia yakin bahwa pemuda ini adalah seorang perampok yang hendak merampas lima buah kereta kawalannya, tentu saja Kwa Sek Hong menyerangnya mati-matian.

Pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh. Kwa Sek Hong yang sejak tadi mendesak Kwan Bu dengan goloknya, mencelat mundur dan memandang. Wajahnya pucat ketika ia melihat puluhan perampok menyerbu, disambut oleh kedua orang anaknya dan para piauwsu serta pasukannya. Di antara para perampok yang mempunyai warna muka yang berlainan semua. Yang seorang bermuka hitam, yang kedua putih, yang ketiga merah, yang keempat kuning, dan yang kelima bermuka hijau. Dalam pertandingan dahsyat ia berhasil merobohkan empat orang diatara mereka. Si muka hijau ini yang dahulunya masih muda, dapat melarikan diri. Siapa sangka, kini tiga puluh tahun kemudian si muka hijau itu datang bersama orang-orang lihai untuk membalas dendam. Ia tahu bahwa pemuda lihai inipun tentu sekutu si muka hijau, namun Kwa Sek Hong adalah seorang gagah yang tidak mengenal takut, maka ia menjawab lantang.

“Ha,ha,ha, kiranya raja-raja perampok di kaki Thai-san yang menghadang perjalananku! Tiga puluh tahun yang lalu aku menjadi piauwsu, sekarangpun masih. Tiga puluh tahun yang lalu aku tidak pernah mundur melawan perampok, sekarangpun masih begitu! Eh, muka hijau, siapa takut kepadamu?” ucapan yang gagah ini disambut sorak-sorai anak buahnya dan pertandingan yang tadi terhenti karena masing-masing mendengarkan suara pimpinan mereka, kini dilanjutkan, lebih sengit daripada tadi. Kwa Sek Hong memandang Kwan Bu lalu membentak dan menudingkan goloknya.

“Kiranya engkau sekutu perampok-perampok Thai-san. Baiklah, mari kita pastikan siapa yang harus mati dan siapa yang berhak memiliki barang yang kukawal ini!” sambil membentak keras, Kwa Sek Hong menerjang Kwan Bu. Akan tetapi baru tiga kali bacokan yang dielakkan pemuda itu, tiba-tiba pemuda itu lenyap dan tampak hanya bayangan putih berkelebat pergi dari situ, membuat Kwa Sek Hong berdiri melongo. Apalagi ketika ia melihat betapa pemuda baju putih itu tahu-tahu telah melayang naik ke atas kereta. Pihak perampok yang lebih banyak itu, ada yang menguasai kereta dan hendak melarikan kuda,

Akan tetapi mereka yang berada di atas kereta terjungkal oleh pukulan dan tendangan Kwan Bu. Melihat ini Kwa Sek Hong mengira agaknya pemuda itu bukanlah sekutu Cheng-bin Tai-ong melakukan perampok tunggal dan kini terjadi perebutan kereta antara anak buah perampok Thai san dan pemuda itu. Mulailah ia menyangka bahwa pemuda ini, melihat kelihaiannya yang luar biasa, agaknya tentu seorang tokoh pejuang yang menentang kaisar. Kini dia menghadapi dua pihak lawan yang amat kuat. Dilihatnya betapa kedua orang anaknyapun didesak oleh pengeroyokan banyak perampok tangguh. Maka kini melihat si muka hijau sambil tertawa mainkan tombaknya merobohkan empat piauwsu sekaligus, ia marah sekali dan cepat menerjang sambil memutar goloknya.

“Ha-ha-ha, Kwa Sek Hong, saat kematianmu sudah di depan mata!” si muka hijau mengejek sambil memutar tombak.

Kwa Sek Hong menangkis dengan goloknya. Terdengar bunyi berdenting nyaring dan kagetlah piauwsu itu. Kiranya si muka hijau ini selama tiga puluh tahun tidak tinggal diam dan telah memperoeh kemajuan hebat. Dari benturan senjata itu tadi saja ia tahu bahwa tenaga sinkang si muka hijau ini amat tangguh juga gerakan tombaknya cepat sekali, maka tombak membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang sukar diduga perkembangannya. Karena ia tahu bahwa tombak lawan amat berbahaya, Kwa Sek Hong memutar golok melindungi dirinya, kemudian tangan kirinya digerakkan. Sinar terang berkilauan menyambar si muka hijau sudah mengeluarkan sehelai Sapu tangan yang diputarnya cepat dan semua jarum yang dilepas Kwa Sek Hong menancap pada sapu tangan.

“Makanlah jarum-jarummu sendiri!” si muka hijau memutar tombaknya menyerang dan ketika Kwa Sek Hong mengelak sambil menangkis, si muka hijau ini mengebutkan sapu tangannya dan jarum jarum yang melekat di saputangannya menyambar ke arah tubuh Kwa Sek Hong! Piauwsu ini terkejut dan cepat membuang diri ke samping untuk menghindarkan sambaran jarum-jarumnya sendiri. Kini ia maklum bahwa Cheng-bin Tai-ong si muka hijau ini telah membuat persiapan baik- baik, bahkan telah mempelajari ilmu dengan sapu tangan itu khusus untuk menghadapi senjata- senjata rahasianya. Sementara Kwan Bu kini sudah yakin bahwa Kwa Sek Hong bukanlah musuh besar yang sedang dicarinya. Percakapan antara piauwsu dan si muka hijau tadi sudah membuka segalanya,

Membuat ia maklum bahwa piauwsu ini pada waktu terjadi pembasmian keluarga ibunya oleh para perampok, telah menjadi piauwsu. Jadi terang bukan Kwa Sek Hong kepala rampok itu, sungguhpun sama tinggi besarnya, sama pula pandai menggunakan golok dan jarum! Keyakinan hatinya ini membuat ia tidak ragu-ragu lagi meninggalkan Kwa Sek Hong untuk turun tangan membantu para piauwsu, membasmi perampok yang dipimpin oleh si muka hijau. Akan tetapi karena antara Kwa Sek Hong dan si muka hijau terdapat dendam pribadi, ia tidak mau ikut-ikut dan ia hanya meloncat ke atas kereta karena melihat betapa kereta-kereta itu akan dilarikan perampok. Sekali ia meloncat ke atas kereta, ia menggerakkan kaki tangan dan empat orang perampok yang berada di atas kereta itu roboh terlempar ke bawah, tak dapat bangkit lagi!

Kwan Bu terus mengamuk di sekitar lima buah kereta sampai tidak ada lagi perampok yang berani mendekati kereta. Belasan orang perampok roboh binasa. Kwan Bu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia menoleh ke kanan kiri, melihat betapa kedua orang anak Kwa Sek Hong terdesak oleh pengeroyokkan delapan orang perampok yang agaknya merupakan pimpinan dan memiliki ilmu silat yang lihai, ia segera mengenjot tubuhnya, menyerbu pertempuran itu sambil mencabut pedangnya, Toat-beng-kiam. Tampak segulung sinar merah berkelebatan menyilaukan mata menyambar ke dalam pertandingan keroyokan itu, disusul suara berkerontangan dan terbangnya pedang dan golok, kemudian disusul juga dengan pekik kesakitan dan robohnya delapan orang tadi!

Kwa Min Tek dan Kwa Bee Lin berdiri terlongong dengan senjata di tangan ketika melihat betapa delapan orang pengeroyok yang tangguh tadi tersambar sinar merah dan tahu-tahu telah bergulingan roboh. Ketika mereka melihat Kwan Bu sudah menyarungkan kembali pedangnya, dan pemuda baju putih itu bergerak-gerak merobohkan setiap orang perampok yang berdekatan hanya dengan tamparan dan tendangan, mereka menjadi kagum, heran dan juga berterima kasih. Dengan semangat tinggi mereka berdua lalu meloncat mendekati ke ayahnya yang masih bertanding hebat melawan si muka hijau. Betapapun pandainya Cheng-bin Tai-ong, namun baginya masih sangat sukar mengalahkan Kwa Sek Hong. Golok piauwsu ini amat lihai, dan entah sudah berapa ratus kali golok itu bertemu dengan tombak di tangan Cheng-bin Tai-ong, namun belum ada pihak yang terdesak. Melihat ini, Kwa Min Tek dan Kwa Bee Lin berseru keras dan menyerbu. Membantu ayah mereka.

Cheng-bin Tai-ong tadi sudah melihat kocar-kacir setelah delapan orang pembantunya roboh binasa. Hatinya gentar sekali dan mukanya yang hijau menjadi agak pucat. Kini melihat dua orang muda itu menyerbunya, ia menggigit bibir dan memutar tombak lebih cepat. Namun, menghadapi Kwa Sek Hong seorang saja ia sudah kehabisan akal dan tidak mampu menang, apalagi kini piauwsu itu dibantu dua orang anaknya yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, hampir setinggi ayah mereka. Ia masih berusaha melawan, akan tetapi sia-sia. Setelah lewat belasan jurus golok, golok Kwa Sek Hong membacok pangkal lengannya sehingga lengan itu hampir putus! Cheng-bin Tai-ong menjerit keras, tombaknya terlepas pada saat itu, pedang Bee Lin menusuk dada dan golok Min Tek membacok kepalanya.

Kepala rampok ini roboh seketika, berlumuran darah dan tewas tanpa dapat berteriak lagi. Para anak buah perampok sedang dihajar habis-habisan oleh para piauwsu yang telah “mendapat hati”. Kini melihat kepala mereka roboh, sisa para perampok itu tanpa dikomando lagi pegi melarikan diri, cerai berai tunggang langgang keluar dari hutan, dikejar ejek dan sorak para piauwsu. Kwa Sek Hong dan dua orang anaknya kini menghadapi Kwan Bu. Tiga orang itu memandang penuh keheranan dan kekaguman. Apalagi ketika Kwa Sek Hong mendapat kenyataan bahwa tidak ada setetes pun darah mengotori pakaian putih pemuda itu, dia menjadi makin kagum. Hal ini saja membuktikan betapa lihainya pemuda ini. Jauh lebih tinggi ilmunya dari pada dia dan anak-anaknya yang berlepotan darah pada pakaiannya. Ia merangkap kedua tangan ke depan dada dan berkata.

“Orang muda yang lihai dan aneh! Harap jangan mempermainkan aku seorang tua dan sukalah berterus terang apa gerangan kehendakmu maka engkau bersikap seaneh ini? Lawankah engkau? Ataukah kawan? Benarkah engkau hendak merampok lima kereta yang hendak kami kawal? Kalau benar demikian, mengapa engkau membantu kami tadi padahal kalau hendak melarikan kereta, tadi lebih mudah? Sebaliknya kalau kawan, mengapa berpura-pura dengan sikap seperti perampok tangguh?” Kwan Bu tersenyum dan balas menjura, sikapnya jauh berbeda daripada tadi setelah ia tahu pasti bahwa kakek ini bukan musuhnya. Ia berkata dengan suara halus dan bersikap sopan.

“Kwa-lo-piauwsu mohon sudi memaafkan saya yang muda dan lancang. Sesungguhnya bukan sekali- kali saya hendak merampok. Kalau tadi saya berpura-pura hendak merampok, adalah karena saya menyangka bahwa Kwa-piauwsu adalah musuh besar saya. Akan tetapi setelah mendengar percakapan antara Kwa-piauwsu dan si muka hijau tadi, lenyaplah persangkaan saya, dan tentu saya tidak akan membiarkan perampok-perampok jahat mengganggu rombongan piauwsu. Sekali lagi mohon maaf!” Kwan Bu menjura, hanya kepada Kwa Sek Hong dan juga kepada Kwa Min Tek dan Kwa Bee Lin sehingga nona ini tersipu-sipu malu dan balas menjura lalu memalingkan muka. Sebelah kakinya masih tidak bersepatu sehingga ia tadi merasa kaku dalam pertandingan dan semua ini gara- gara si pemuda “nakal” dan ternyata bukan perampok melainkan seorang pendekar sakti. Kwa Sek Hong mengerutkan keningnya, lalu berkata.

“Orang muda yang gagah. Karena engkau telah menyangka aku sebagai musuh, dan setelah kini engkau mendapat kenyataan bahwa aku bukan musuhmu, sudah selayaknya kalau engkau menceritakan siapakah engkau dan siapa pula musuh besar yang kau cari itu.” Kwan Bu menghela napas. Ia tidak ingin dikenal orang, akan tetapi tiba-tiba wajahnya berseri. Piauwsu ini sudah lama berkelana di dunia kang-ouw siapa tahu kalau-kalau dapat memberi petunjuk kepadanya.

“Kwa-piauwsu, nama saya Bhe Kwan Bu. Adapun tentang musuh saya itu, agak sukar untuk diketahui. Saya sendiri tidak tahu siapa namanya. Yang saya ketahui bahwa dia seorang tinggi besar berusia kurang lebih enam puluh tahun, pandai bermain golok dan jarum, dan dua puluh tahun lebih yang lalu, dia telah membunuh seluruh keluargaku di dusun Kwi-cun dan dia hanya meninggalkan sebatang jarum ini.” Pemuda itu mengeluarkan jarum yang tadi sudah ia perlihatkan kepada Kwa Sek Hong sambil menarik napas panjang. Kwa Sek Hong mengerutkan kening dan mengangguk-angguk, meraba jenggotnya lalu berkata. “Marilah kita mengaso di sana dan bicara yang enak. Biar kami menjadi tuan rumah di hutan ini dan akan kucoba untuk mengingat-ingat siapa gerangan yang patut dicurigai sebagai musuhmu, Bhe- hiante.” Mereka duduk di tempat yang bersih, menjauhi tempat yang terdapat ayat dan darah, dan kini para anggauta pasukan sibuk mengurus mayat dan teman-teman yang terluka. Bee Lin mengeluarkan cawan dan arak di atas tanah. Setelah berpikir agak lama, Kwa Sek Hong lalu berkata.

“Ahhh! Memang sukar mencari seorang tokoh kang-ouw dengan ciri-ciri sedikit itu. Akan tetapi aku mengenal dua orang yang mirip dengan ciri-ciri yang kau sebutkan. Yang seorang adalah seorang kepala perampok di Gunung Hek-kwi-san terkenal dengan julukan Sin-to Hek-kwi (Setan Hitam Golok Sakti). Sudah puluhan tahun ia merajai pegunungan itu sehingga pegunungan itu disebut Hek-kwi- san (Gunung Setan Hitam) seperti nama julukannya. Dia seorang laki-laki berusia sepantar dengan aku, kulit mukanya hitam dan tinggi besar, ahli golok dan jarum pula. Hanya sayangnya, menurut sepanjang pengetahuan dan pendengaranku, Hek-kwi-san ini selalu bersarang di gunungnya sedangkan gunung itu amat jauh letaknya dari dusun Kwi-cun yang kau maksudkan. Betapapun juga, dia patut dicurigai karena sejak puluhan tahun yang lalu ia menjadi kepala perampok.” Berseri wajah Kwan Bu,

“Ah, terima kasih banyak atas petunjuk lo-piauwsu!”