-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 02

Jilid 02

“Suheng! Cukuplah, suheng!” teriak Siang Hwi.

“Ayah, hentikan dia!” Pada saat itu tangan kanan Liu Kong menyusul pukulan tangan kiri yang mengenai leher Kwan Bu dan membuat anak itu terhuyung ke belakang, dan kini tangan kanan Liu kong memukul ke arah kepala. Pukulan yang berbahaya! Kwan Bu yang sudah merasa sakit-sakit di seluruh tubuhnya, kepalanya menjadi pening, kemerahan menyesak dada, malu dan marah dan merasa terhina! Ia melihat datangnya pukulan tangan kanan. Cepat ia menggerakan tangan kiri diangkat tinggi-tinggi lalu menangkap pergelangan tangan Liu kong, menahan tangan itu turun. Mereka bersitegang dan pada saat itulah Kwan Bu melihat ketiak kanan Liu kong. Jari-jari tangan kanannya menegang, yang dua diluruskan dan secepat kilat, sepenuh tenaga ia menotok tepat di jalan darah yan-goat-hiat yang tadi disentuh oleh ujung jari Siang Hwi.

“Dukkk. !!l”

“Ayaaaa     !!” Teriakan ini keluar dari mulut Bu Keng Liong dan Kwan Bu yang sudah meloncat ke

belakang juga berdiri terbelalak melihat betapa Liu kong berdiri kaku seperti arca! Tubuh itu masih berdiri seperti ketika menyerangnya tadi, tangan kanan diangkat tinggi-tinggi untuk memukul, tangan kiri di kepal di pinggang! Siang Hwi dan Kwee Cin juga berdiri terbelalak, melihat dengan wajah pucat. Biarpun tidak mengerti sama sekali bagaimana Kwan Bu dapat melakukan itu. Mereka berdua maklum bahwa Liu kong telah kena ditotok secara tepat sekali oleh Kwan Bu!

“Ahhh.... ini... ini... ampunkan hamba!” Kwan Bu menajadi bingung dan gagap, tergopoh-gopoh ia lalu menghampiri tubuh Liu kong, memutarinya kemudian ia menotok ke punggung kanan Liu kong, tepat pada sebelah kanan punggung di atas pinggang, tempat dimana ia tadi juga ditotok majikannya.

“Dukkkl” Dapat dibayangkan betapa herannya hati mereka melihat bahwa totokan pembebasan inipun tepat sekali, Liu kong mengeluh dan terhuyung, dapat bergerak lagi! Marahnya bukan main, marah dan malu. Ia menyambar sapu di dekatnya, sapu yang tadi dilepaskan Kwan Bu, lalu menerjang maju, menusuk ke arah perut Kwan Bu dengan gagang sapu. “Krakkkkk!!” Gagang sapu hancur berkeping-keping bertemu dengan tangan Bu Keng Liong yang menangkisnya. Pendekar ini memandang tiga orang muridnya dengan marah-marah, kemudian membentak,

“Kalian pergilah!” Mereka bertiga dengan muka tunduk lalu pergi meninggalkan pekarangan, meninggalkan Kwan Bu yang berlutut dengan tubuh gemetar di depan majikannya.

“Thai-ya... hamba... hamba salah.., hamba mohon Thai-ya memberi ampun.”

“Hemm, Kwan Bu. Darimana kau mempelajari ilmu menotok itu tadi?” suara pendekar itu dingin dan marah.

“Dari... dari mendengar penjelasan teori Thai-ya tadi, kemudian ditambah dengan latihan siocia (nona) dan kedua kongcu...” Bu Keng Liong kagum bukan main dan hampir tak dapat percaya. anak ini selain berbakat dan bertulang baik, juga memiliki ingatan yang tajam dan kuat. jarang dicari keduanya!

“Bagaimana jari-jarimu dapat melakukannya? Coba kulihat jari-jari tanganmu!” Dengan gemetar Kwan Bu mengulurkan tangan dan dipegang serta diperiksa oleh pendekar Bu. Tenyata ujung-ujung jari anak ini kasar dan keras, tanda terlatih pasir panas.

“Hemm, kau latihan menusuk pasir panas?”

“Benar, Thai-ya... hamba hanya meniru-niru... di kamar ibu kalau malam.” “Dan totokan pembebasan tadi?”

“Meniru ketika Thai-ya membebaskan hamba.”

Bu Taihiap menghela napas dalam-dalam. Kalau dibandingkan tiga orang muridnya, sungguh jauh bedanya. Mereka itu berlatih sebulan, dibandingkan anak ini berlatih sehari, mungkin berimbang! akan tetapi kalau ia ingat akan cita-cita Ciok Kim, lenyaplah keinginan hatinya mengambil murid anak ini. anak seperti inilah yang mungkin cepat mewarisi seluruh kepandaiannya, bahkan melebihi melihat kecerdikan dan bakatnya yang luar biasa. akan tetapi kalau dipergunakan untuk membunuh ayah sendiri, apa akan kata Orang kang-ouw? Muridnya membunuh ayah sendiri? Tak mungkin!

“Kwan Bu, mulai saat ini, engkau sama sekali tidak boleh belajar ilmu silat! Sekali-kali tidak boleh menonton latihan murid-muridku, tidak boleh mencuri dengar atau lihat! Mengerti?”“

“Anak itu menganggukkan kepalanya, akan tetapi kedua matanya menjadi panas dan berbutir air mata menitik turun melalui kedua pipinya. Ia menangis, akan tetapi pantang sesenggukan, ditahannya sampai dada serasa hampir meledak! Terharu hati Bu Keng Liong. alangkah ingin ia mengelus-elus kepala anak itu, menghiburnya dan membimbingnya sehingga menjadi seorang pendekar yang lebih besar daripadanya, akan tetapi kesadarannya mengingatkannya bahwa sekali- kali ia tidak boleh melakukan hal itu demi kebaikan bocah ini sendiri. Ia harus mencegah anak ini yang diam-diam ia kagumi dan ia suka, menjadi pembunuh ayahnya sendiri!

“Dan sekali lagi kau mendapatkan kau belajar ilmu silat, engkau akan kuusir pergi dari sini. Mengerti?” Kembali Kwan Bu mengangguk, akan tetapi air matanya makin deras membanjir turun. “Nah, pergilah mengurus pekerjaanmu!” Kwan Bu bangkit berdiri, masih agak pening, mengambil bajunya dan sapunya yang gagangnya sudah hancur, kemudian pergi sambil menundukkan mukanya. Hati pendekar itu makin terharu.

“Kwan Bu, kesinilah dulu kau!” Kwan Bu kembali, hendak berlutut akan tetapi dicegah majikannya yang memegang kedua pundaknya, Pundak yang kuat, pikirnya. Ia lalu memeriksa muka dan tubuh anak itu kalau-kalau ada terdapat luka parah. akan tetapi ia terheran. Tidak ada luka yang berarti. Tubuh yang amat kuat sekali. Ia merogoh saku, mengeluarkan sepotong uang perak.

“Kau pergilah ke rumah obat, beli param dan obat gosok untuk mengobati bagian tubuhmu yang sakit.” Kwan Bu menerima, dengan suara serak, berkata,

“Terima kasih, Thai-ya     ”

“Kwan Bu, kau dengar baik-baik kata-kataku ini. Demi Tuhan, aku suka kepadamu, dan kalau aku melarang kau belajar ilmu silat, hal ini bukan sekali-kali karena aku tidak suka kepadamu. Aku melarang kau belajar ilmu silat demi kebaikanmu sendiri, anak baik. Mulai besok, aku akan menyuruh guru sastra Cong-sian-seng untuk mengajarmu membaca menulis dua kali sepekan, ilmu bu (silat) tidak baik bagimu, ilmu bun (sastra) lebih penting.”

Kembali Kwan Bu mengangguk dan menghaturkan terima kasih, lalu pergi meninggalkan majikannya yang masih lama berdiri termenung di dalam pekarangan berulang-ulang menarik napas panjang. Pendekar ini melupakan urusan Kwan Bu karena ia sedang bingung dan risau memikirkan persoalan adik iparnya yang terbunuh mati oleh musuh-musuhnya, yaitu Orang tua Liu kong. Ayah Liu kong bernama Liu Ti adik isterinya yang menjadi tokoh kang-ouw juga. akan tetapi Liu Ti terlibat dalam pergolakan politik. Pada masa itu, dunia kang-ouw juga terpecah menjadi dua. sebagian pro kepada kaisar dan menjadi pembela-pembela nama kaisar, sebagian lagi anti kaisar dan pro kepada pihak pemberontak-pemberontak yang muncul di sana sini.

Liu Ti termasuk seorang yang pro kaisar, maka tentu saja terjadi permusuhan antara dia dan mereka yang pro para pemberontak. Kini Liu Ti dan isterinya terbunuh oleh tokoh kang-ouw yang pro pemberontak dan dia sebagai kakak ipar, tentu takkan dapat membebaskan diri begitu saja dari ikatan permusuhan itu. Bu Keng Liong adalah seorang pendekar, akan tetapi dalam urusan politik, ia bebas. Menurut pendapatnya, politik adalah kotor, hanya permainan belaka daripada mereka yang ingin mendapat kekuasaan. Yang satu berusaha merobohkan yang lain, semata-mata hanya untuk merampas kedudukan. Dan ia tidak suka terlibat dengan urusan ini. Karena itu, selama ini ia berbaik dengan tokoh-tokoh kang-ouw kedua pihak, baik yang pro maupun yang anti kaisar.

Akan tetapi, setelah timbulnya peristiwa kematian Liu Ti dan setelah kini Liu kong putera Liu Ti tinggal bersamanya, ia tidak tahu lagi apakah dalam pandangan orang-Orang kang-ouw yang anti kaisar itu ia masih bebas! Ia khawatir bahwa sewaktu-waktu akan datang keributan mengganggu kesejahteraan rumah tangganya. Bu Keng Liong bukan seorang penakut. Ia akan menghadapi tantangan setiap Orang penjahat. akan tetapi, menghadapi ancaman terlibat dalam pertikaian politik antara orang-orang gagah sedunia, ia benar-benar merasa gelisah. Menghadapi penjahat adalah tugasnya. akan tetapi bertentangan dengan sesama orang gagah hanya karena perbedaan paham, ini dia tidak suka. Namun kalau keadaan memaksa, bagaimana? Ia makin risau, dan untuk menghilangkan kerisauan hatinya ini, ia kembali masuk ke rumah dan minum arak sampai urusan itu terlupa sama sekali olehnya.

Dengan hati rajin dan sabar luar biasa, Kwan Bu mempelajari ilmu membaca dan menulis. lngatannya yang kuat membuat Cong-sian-seng guru sastera amat suka kepadanya dan mengajarnya dengan rajin pula sehingga dalam waktu setahun saja, Kwan Bu sudah pandai membaca kitab-kitab kuno dan tulisannya juga indah. akan tetapi dalam waktu setahun itu, tak pernah ia melupakan latihannya ilmu silat, dan terutama sekali ilmu menotok. Tentu saja ia melakukan latihan ini secara sembunyi-sembunyi, yakni di waktu malam di dalam kamar ibunya. Seringkali ia termenung kapankah kiranya ia akan dapat pergi mencari musuh besar itu dan membalas dendam? apakah ilmu totok yang dimilikinya itu sudah cukup untuk menjadi senjata melawan musuhnya? Ah, melawan Liu kong saja ia masih kalah, apalagi melawan kepala perampok itu yang menurut ibunya amat kuat.

“Ibu, siapa sih namanya perampok keparat musuh besar itu?” pernah ia bertanya ibunya.

“Aku tidak tahu namanya Kwan Bu. akan tetapi kau ingat baik-baik, ia seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Usianya sekarang ini kira-kira empat puluh tahun, matanya lebar bundar, keningnya tebal, dahinya lebar, suka tertawa-tawa terbahak-bahak, dan.., kalau tak salah, ada tahi lalat di bawah dagunya. Ia selalu memegang sebatang golok besar dan ia suka menyerang orang dengan jarum-jarum. Nah, hanya itu yang kuketahui, anakku, akan tetapi aku percaya, kelak kau tentu akan dapat mencari dan menemuinya untuk membalaskan dendam ibumu, Inilah jarum yang dahulu menancap di mata kiriku.” Kwan Bu menerima jarum itu dari tangan ibunya, sebatang jarum yang panjangnya hanya sejari telunjuk, kecil dan runcing. Ia mengamat-amati jarum itu, kemudian membungkusnya kembali dan menyimpannya dalam saku, semenjak itu tak pernah jarum ini terpisah daripadanya,

Pada suatu malam, setelah semua orang tidur nyenyak karena sudah hampir tengah malam, Kwan Bu masih rajin berlatih silat dalam kamarnya. Kamarnya menjadi satu dengan kamar ibunya. Ibunya juga sudah tidur, dan Kwan Bu melatih gerakan-gerakan menotok sambil mengingat-ingat gerakan Liu kong dahulu. Kalau ia teringat betapa selama setahun ini sama sekali tidak pernah melihat mereka berlatih lagi, dan membayangkan betapa tiga orang itu kini telah mendapat kemajuan pesat, hatinya menjadi sedih. Hanya ada kebaikannya sedikit, yaitu biarpun sikap Liu kong, Siang Hwi, dan Kwee Cin masih dingin terhadapnya, namun Liu kong tidak berani mengganggu dan menghinanya. Agaknya mereka itu mendapat peringatan keras dari majikannya, dan tidak berani lagi mengulangi perbuatannya yang dahulu.

Tiba-tiba Kwan Bu berhenti berlatih. Telinganya mendengar sesuatu. Kamar ibunya adalah sebuah daripada kamar-kamar pelayan yang letaknya di belakang, Pekarangan belakang berada tepat di belakang kamar itu. Tak salah lagi ia, mendengar suara orang! apakah majikannya melatih muridnya menjelang tengah malam yang gelap ini? ah, tak mungkin, akan tetapi, siapa tahu dan kalau memang betul demikian, ini merupakan kesempatan amat baik baginya. Di dalam gelap ini, siapa yang akan melihatnya! Hati-hati Kwan Bu membuka jendela kamarnya, lalu merangkak keluar, menutupkan lagi jendela itu. Ia sudah meniup padam lampu kamar sehingga perbuatannya itu takkan tampak dari luar. Ia hafal betul dengan keadaan di situ. Pekarangan itu setiap hari ia sapu dan bersihkan, tentu saja ia hafal akan letak setiap pohon, hafal mana tempat yang banyak daun keringnya dan mana yang tidak.

Dengan amat hati-hati ia menyelinap dan melangkah maju, menjaga selalu agar ia tidak melalui tempat yang tertutup daun kering sehingga langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara karena yang diinjaknya adalah tanah yang agak lunak terkena hawa dingin malam. Akhirnya tibalah ia di tengah pekarangan dan di bawah sinar bintang-bintang yang rnemenuhi angkasa tak berbulan, ia melihat pemandangan yang membuat matanya terbelalak kaget. Ia cepat menyelinap dekat dan menyusup di balik serumpun kembang, mengintai kedua majikannya, suami-isteri Bu berdiri tengah beradu punggung, masing-masing memegang pedang ditangan! Ditangan kedua majikannya tampak sebatang pedang yang panjang dan berkilauan. Dan tujuh orang laki-laki tampak mengurung suami istri itu, berdiri memasang kuda-kuda dengan golok-golok tajam di tangan mereka! “Bu Keng Liong, sekali lagi kami serukan agar kau berikan anak itu kepada kami. Bukankah Bu Taihiap selamanya tidak pernah bermusuhan dengan golongan kami?” bentak seseorang di antara mereka yang suaranya besar parau, Terdengar Bu Keng Liong menjawab, suaranya tenang namun mengandung tenaga yang berpengaruh,

“Sin-to Chit-hiap (Tujuh Pendekar Golok Sakti), sekali lagi kutekankan bahwa kami tidak akan menyerahkan anak itu untuk kalian bunuh! Tak mungkin kami membiarkan kalian melakukam kekejaman terhadap seorang anak kecil!”

“Ha-ha-ha, Bu Taihiap. Tak tahukah akan peribahasa yang mengatakan bahwa membasmi rumput harus sampai ke akar-akarnya? Hanya membunuh orang tuanya melepaskan anaknya, di kemudian hari tentu akan menimbulkan perkara yang lebih besar”

“Terserah pendapat kalian. akan tetapi kami tetap tidak mau menyerahkan anak itu..!!”

“Ha-ha-ha! Engkau melindungi anak Liu Ti si pendukung kaisar, si penjilat yang menari di atas kesengsaraan rakyat?”

“Sin-to Chit-hiap! Sudah lama aku mendengar nama besar kalian dan aku tidak akan mencampuri urusan kalian mengenai diri kaisar. akupun tidak mencampuri pendirian kalian tentang membasmi musuh-musuh kalian. Akan tetapi ingat, Bu Keng Liong bukan seseorang tanpa pendirian pula! Dan dengar baik-baik, selama Bu Keng Liong masih hidup, tidak akan membiarkan tujuh orang yang mengaku gagah seperti kalian ini membunuh anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Tidak peduli anak itu keponakan kami, ataupun anak jembel, bahkan anak penjahat sekalipun! Orang tuanya boleh jadi bermusuhan, akan tetapi anaknya tahu apa? Membunuh kanak-kanak adalah perbuatan pengecut, kalau memang gagah, tunggulah sampai dia besar dan mampu membela diri!”

“Aaaahh, dan kau mengajarinya ilmu silat agar kelak melawan kami? Bu Keng Liong, engkau sudah menentang kami, berarti engkau termasuk golongan pendukung kaisar!”

“Terserah penilaianmu, akan tetapi aku tidak mendukung siapa-siapa, aku hanya mendukung kebenaran dan keadilan!”

“Kalian patut dibasmi pula!” Dan mulailah tujuh orang itu menerjang maju dengan golok mereka.

Gerakan mereka cepat sekali sehingga mata Kwan Bu menjadi pening dan kabur ketika memandangnya. Ia melihat tubuh tujuh orang itu berkelebatan mengelilingi kedua suami isteri, sinar golok menyambar-nyambar dan Kwan Bu merasa betapa tubuhnya menggigil dan tengkuknya dingin sekali saking ngeri dan cemasnya! ah, bagaimana kedua majikannya akan dapat melawan tujuh orang yang begini lihainya? Kemudian ia mendengar suara nyaring bertemunya senjata tajam, berdencing, berkerontang dan matanya terbelalak memandang sesosok sinar putih yang besar itu berguIung-gulung seperti seekor naga putih, dan di antara sinar putih yang besar itu tampak dua buah sinar hijau yang juga bergulung-gulung dan sungguhpun tidak secepat sinar putih. namun juga cepat sekali gerakannya.

la sama sekali tidak tahu bahwa sinar putih itu adalah sinar pedang Bu Taihiap, adapun sepasang sinar hijau adalah sinar pedang dari siang-kiam (sepasang pedang) ditangan Bu Hujin! Juga ia tidak tahu bagaimana jalannya pertempuran itu karena pandangan matanya tak dapat mengikutinya. Hanya terdengar olehnya belasan menit kemudian, jerit kesakitan Bu Hujin disusul teriakan arah Bu Taihiap dan pertandingan itu berhenti. Tahu-tahu diantara tujuh orang bergolok itu, yang empat sudah menggeletak berlumur darah sedangkan yang tiga orang kehilangan goloknya. Bu Taihiap berdiri tegak disitu, pedang di tangan, dan di sisinya berdiri pula Bu Hujin, sepasang pedang masih di tangan, akan tetapi pangkal lengan kirinya terluka, berdarah. Seorang diantara yang tiga itu menjura kepada Bu Taihiap, lalu berkata.

“Kami menerima kalah kali ini. Akan tetapi urusan ini takkan sampai di sini saja. Tunggu pembalasan kami!” Dengan suara angkuh dan marah Bu Taihiap menjawab,

“Aku selamanya tak pernah memusuhi kau yang anti kaisar, akan tetapi kalau mereka hendak membunuh anak-anak yang tidak tahu apa-apa, terpaksa aku Bu Keng Liong akan berusaha mencegahnya!” Tiga orang itu mendengus marah, lalu memanggul pergi empat orang kawan mereka yang terluka dan lari menghilang ke tempat gelap. Bu Taihiap lalu menghampiri isterinya dan memeriksa tangannya.

“Ah, untung hanya luka kecil. Mari kita obati di dalam,” kata Bu Taihiap dan pergilah suami isteri perkasa ini ke dalam rumah. Sampai lama, lebih lama dari jalannya pertempuran itu sendiri. Kwan Bu mendekam dibelakang rumpun kembang. Ia melongo dan tiada habis kagumnya terhadap kedua majikannya. Bayangkan saja. Dikeroyok tujuh, dan pengeroyok-pengeroyoknya demikian hebat ilmu goloknya!

Namun dalam waktu singkat kedua majikannya dapat merebahkan empat lawan dan melucuti tiga yang lain! Kwan Bu membayangkan musuh besarnya, agaknya tentu tinggi besar dan pandai bermain golok seperti seorang diantara Sin-to Chit-hiap ini! kalau saja ia berkepandaian seperti majikannya! Alangkah akan mudahnya membalas dendam hanya terhadap seorang perampok! Peristiwa yang dilihatnya di dalam pekarangan pada malam hari itu, yang tidak diketahui orang lain, membuat Kwan Bu makin mengilar lagi untuk belajar ilmu silat. Jelas bahwa majikannya tidak mau mengajarinya. Lalu, kepada siapa ia harus berguru? Sepekan kemudian, Kwan Bu yang sedang membersihkan ruangan dalam, mendengar namanya dipanggil majikannya. Ia melepaskan kemocing (pengebut bulu ayam) dari tangannya, lalu bergegas keluar.

Setibanya di ruangan tamu di luar, ia melihat majikannya sedang duduk menghadapi seorang tamu yang usianya sudah tua, tubuhnya kurus kering dan pakaiannya seperti seorang tosu (pendeta To) dari kain kuning, rambutnya tak bertopi, terurai ke belakang hanya diikat sehelai kain kuning pula di atas telinganya. Majikannya kelihatan amat menghormati tamu ini dan ia melihat pula ketiga orang anak murid majikannya berada di situ. Agaknya pagi ini mereka diberi penjelasan teori ilmu silat di ruangan ini oleh guru mereka ketika tosu itu datang berkunjung. Ketika ia disuruh mengambilkan air teh untuk disuguhkan, Kwan Bu bergegas ke dapur dan segera menyediakan yang diminta majikannya. akan tetapi ketika ia kembali membawa air teh, ia mendengar tamu itu bersitegang dengan majikannya. Ia sengaja (berhenti di belakang pintu, mendengarkan).

“Bu-sicu, memang tak dapat pinto (aku) membenarkan kekasaran murid-murid keponakan pinto Sin- to Chit-hiap itu. Terhadap seorang sahabat seperti sicu, tidak perlu menggunakan kekerasan. Tak dapat dibantah lagi, mendiang Liu Ti adalah seorang penjilat kaisar dan telah banyak sekali patriot dan pejuang pembela rakyat yang tewas gara-gara Liu Ti. Sudah sepantasnyalah kalau para orang gagah yang menentang kelaliman kaisar menjatuhkan hukuman pada keluarganya.”

“Totiang, saya dapat mengerti pendapat totiang dan saya tidak akan membantah, karena seperti totiang ketahui. saya tidak suka mencampuri permusuhan antara Orang gagah yang melibatkan diri dengan politik. Memang benar bahwa Liu Ti adalah adik isteriku, akan tetapi dia sudah bermain politik. kemudian menjadi korban akibat permainan itu. aku tidak dapat berkata apa-apa, tidak dapat membenarkan juga tidak menyalahkan dia, seperti juga saya tidak membiarkan maupun menyalahkan golongan totiang.” Tosu itu mengangguk-angguk

“Pinto tahu pendirian sicu dan setiap orang memang berhak mempunyai pandangan hidup sendiri, akan tetapi, kalau sicu yang berdiri di tengah-tengah tidak berpihak sana sini kemudian menerima putera Liu Ti bukankah ini sama artinya dengan berpihak kepadanya? Kalau memang sicu tidak berpihak, pandanglah muka pinto dan harap sicu serahkan putera Liu Ti ini kepada pinto.” Tosu itu memandang kepada Liu Kong yang memandangnya kembali dengan mata melotot marah.

“Sayang dalam hal ini kita berselisih paham, totiang. Sudah saya katakan kepada Sin-to Chit-hiap bahwa biarpun saya tidak perduli akan permusuhan politik itu. namun saya selalu akan menentang siapa saja yang akan mengganggu anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Baik dari pihak yang pro kaisar, maupun yang anti kaisar, kalau saya ketahui mengganggu dan hendak membunuh anak-anak, sudah pasti sekali saya tidak mau mendiamkannya begitu saja. Tidak perduli anak siapa yang akan dibunuhnya.”

“Ha-ha-ha-ha! Dengan lain perkataan, sicu tidak suka memandang muka pinto dan tidak mau mengalah? Ha-ha, sicu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga tidak memandang sebelah mata kepada pihak lain. Benarkah sicu belum mengetahui siapa kini yang mengajukan permintaan kepada sicu?”

“Saya sudah cukup mengetahui. Totiang adalah Ya Keng Cu Totiang, yang berjuluk Koai-kiam Tojin (pendeta Pedang Setan), yang namanya sudah tersohor selama puluhan tahun, semenjak saya masih belajar, akan tetapi, saya hanya mengabdi kepada kebenaran, oleh karena itu kalau totiang berpihak kepada yang tidak benar, terpaksa saya tidak dapat mengalah.”

“Pendeta bau, siapa takut kepadamu!!” Tiba-tiba Liu Kong yang sudah amat marah semenjak tadi, menerjang maju dengan nekat. Di belakangnya bergerak pula Siang Hwi dan Kwee Cin yang hendak membantu suheng mereka.

“Ha-ha-ha-ha, kalau gurunya harimau, murid-muridnya tentu anak harimau yang galak pula!” Kakek itu tertawa tidak bergerak dari tempatnya, akan tetapi ketika Liu Kong datang menubruknya, ia membiarkan anak itu memukul yang tidak dirasakannya sama sekali, akan tetapi di lain pihak. Liu Kong sudah dirangkul dan dikempitnya, tak mampu bergerak lagi. Ketika Siang Hwi dan Kwee Cin datang menerjang kakek itu menggerakkan kakinya perlahan ke depan. Tampaknya kedua anak itu tersentuh kaki, akan tetapi buktinya mereka terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya!

Pada saat itu, Kwan Bu sudah sejak tadi keluar dan berdiri di depan pintu membawa sebuah tekoan berisi air teh panas dan beberapa buah cangkir. Ia bengong melihat tiga orang anak itu menerjang, kemudian khawatir sekali melihat Liu Kong dikempit, Tanpa berpikir panjang lagi, Kwan Bu berlari maju sambil membawa tekoan dengan Cepat dan kuat ia melemparkan tekoan berisi air teh panas itu ke arah muka tosu! Tosu itu terkekeh dan menghadapi anak-anak kecil tentu saja ia tidak mau menurunkan tangan jahat, juga bukan seorang kejam, melainkan seorang pejuang yang gigih. Kini melihat diserang tekoan, ia mengangkat lengan kanan menangkis ke atas sedangkan tangan kiri tetap menjepit Liu Kong. Dan pada saat itu, melihat lengan kanan kakek itu terangkat untuk menangkis tekoan, Kwan Bu sudah maju mengirim totokan ke arah jalan darah di bawah ketiak dengan terjangan kuat.

“Hhhh...!” Kakek itu agak kaget. Pertama karena ketika tekoan dapat ia tangkis dan terlempar, ada air teh panas memercik ke mukanya. Dan kedua, melihat pelayan cilik itu menotok jalan darah di ketiaknya, sungguh merupakan hal yang sama sekali tak diduga-duganya! Saking kaget, ia melepaskan Liu Kong dan menangkis totokan Kwan Bu dengan tangan kiri lalu sekali kakinya bergerak, kembali tubuh Kwan Bu sudah terlempar, jatuh bergulingan. Liu Kong hendak lari mundur, tapi tangan kakek itu menjangkau hendak menangkapnya. Pada saat itu, Bu Keng Liong yang masih duduk di kursinya, mendorong dengan tangan kanan dari tempat duduknya sambil mengerahkan tenaga sakti melalui lengannya. Dia adalah seorang ahli lweekeh tenaga (dalam) yang terkenal maka dorongannya ini mengundang hawa pukulan untuk menangkis tangan si kakek yang hendak menangkap Liu Kong.

“Totiang, tidak baik main-main dengan anak kecil!” katanya. Kakek itu terkekeh, merasa betapa tangannya tertangkis dari jauh oleh serangkum tenaga yang tak tampak. Ia mengurungkan niatnya menangkap Liu Kong, kemudian membalikan tangannya dan juga mendorong ke depan, menyambut tenaga dorongan tuan rumah. Keduanya kini duduk tegak, jarak mereka antara tiga meter dan keduanya meluruskan lengan kanan ke depan, dengan telapak terbuka menghadap lawan. Terjadilah adu tenaga dalam yang dahsyat! Beberapa lamanya pertandingan berlangsung secara diam-diam dan tampaklah peluh membasahi dahi Bu Keng Liong. Ya Keng Cu, tosu itu, tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata,

“Ha-ha, hebat memang kepandaian sicu, sayang kalau sampai rusak karna seorang penjilat. Terhadap sicu, tidak berani pinto menggunakan kekerasan secara kasar, sampai ketemu malam nanti. Kalau sampai besok pagi pinto tidak mampu mengambil anak ini, anggap saja pinto kalah dan takkan mengganggu sicu lagi.” Setelah berkata demikian tiba-tiba Ya Keng Cu menarik tangannya dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ melalui pintu depan. Gerakannya amat berat sehingga hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kursinya sudah kosong. Bu Keng Liong agak terengah-engah dan kelihatan lelah, kemudian berkata kepada semua anak-anak.

“Mulai detik ini sampai besok, kalian tidak boleh keluar dari dalam rumah!” kemudian masuklah pendekar itu ke dalam kamarnya.

“Kwan Bu, aku kagum akan keberanianmu. Kau tidak bisa silat akan tetapi kau berani menerjang tosu itu,” kata Kwee Cin dengan pandang mata jujur.

“Kau hanya mau mencari muka di depan ayah saja!” kata Siang Hwi yang masih marah karena ketika terjadi peristiwa setahun yang lalu, Liu Kong mengatakan bahwa guru mereka diam-diam memberi latihan kepada Kwan Bu. “Kalau kau tahu diri, maka kau secara gila-gilaan menyerang kakek itu? Membikin malu saja kau!”

“Bukan hanya membikin malu, tapi juga merintangi aku. Ketika tadi aku dikempit, aku sudah hampir berhasil membebaskan tangan dan kalau saja budak tolol ini tidak menyerang tiba-tiba, tentu akan berhasil menotoknya dari jarak dekat tanpa ia duga. Dasar tolol, selalu hendak merintangi kita dengan menjual muka kepada siokhu.” Kwan Bu menjadi marah sekali di dalam hatinya kepada mereka berdua, akan tetapi ia tidak berani melawan, lalu ia menundukkan mukanya, mengambil lap untuk membersihkan lantai dari air teh yang tumpah, kemudian mengambil tekonya yang tadi terlempar.

Ketika ia selesai mengangkat muka, ternyata ketiga orang anak itu sudah tidak berada disitu. Ia merasa khawatir sekali terhadap majikannya. Kakek itu luar biasa lihainya, sungguhpun ia tidak mengerti bagaimana lihainya, namun dapat ia menduganya. Kalau tidak begitu, tentu majikannya tidak tampak begitu berduka. Ketika melewati kamar majikannya, ia mendengar suara majikannya bicara dengan isterinya. Ia tahu bahwa tentu majikannya membicarakan urusan tosu tadi, maka ia lalu menggunakan lap untuk mengelap pintu kamar majikannya, karena memang inipun merupakan pekerjaannya sehari-hari di gedung itu disamping mengepel dan lain-lain. Akan tetapi kali ini ia membersihkan pintu dengan maksud mendengarkan percakapan, maka perhatiannya ia curahkan ke dalam.

“Kita lawan saja, seperti tempo hari melawan Chit-hiap,” terdengar Bu Hujin berkata. Bu Taihiap menarik napas panjang.

“Tidak bisa isteriku. Kali ini engkau jangan turut campur. Dia datang seorang diri, biarlah aku menghadapinya seorang diri pula. aku yang bertanggungjawab..?

“Mana mungkin? Liu Kong adalah keponakanku, aku harus mempertanggungjawabkannya pula!” bantah sang isteri.

“Tidak Engkau jangan ikut-ikut. Lebih baik malam ini kau menjaga mereka bertiga dan akulah yang akan menghadapinya. Kau tahu, dia amat lihai sekali, engkau bisa berbahaya menghadapinya. Sedangkan aku sendiri masih ragu-ragu apakah akan dapat mengalahkannya. Dalam pertemuan tadi...”

“Mengapa, suamiku? Sebelum bertanding bagaimana kau bisa mengira begitu? Ilmu pedangmu jarang ada yang dapat menandinginya!”

“Hahhh.    !” kembali Bu Taihiap menghela napas panjang. “Dalam adu lweekang, selagi aku payah

dia masih enak-enak dapat bicara, ini saja sudah membuktikan kelihaiannya. Dia berjuluk Pedang Setan, tentu ilmu pedangnya lihai. Andaikata aku dapat mengimbangi ilmu pedangnya, namun mengingat kekuatan lweekangnya ”

“Ahh, bagaimana nanti sajalah! Demi kebenaran, kekalahan bukan apa-apa.” Kwan Bu tidak berani mendengarkan lebih lama lagi, lalu ia pergi ke belakang. Majikannya dalam bahaya, pikirnya. Kalau Liu Kong ia tidak perduli. Memang lebih baik anak itu dibawa pergi saja oleh si tosu. jadi tidak ada lagi urusan yang menyusahkan majikannya. Tosu itu lihai sekali.

Kalau saja ia bisa menjadi muridnya. Inilah guru yang amat baik, seperti yang ia idamkan. Sayang tosu ini memusuhi majikannya dan kalau ia menjadi muridnya. berarti ia harus menjadi musuh majikannya. Dan hal ini tidak benar sama sekali. Semenjak kecil ia berada di situ. Dia dan ibunya menerima perlindungan keluarga Bu. Budi ini amat besar dan sampai matipun takkan terlupa. Bagaimana mungkin ia menjadi murid musuh majikannya? Tidak, ia mengusir keinginan ini dan memutar otaknya mencari jalan bagaimana ia akan dapat menolong majikannya. Kalau saja ia dapat menunda maksud kakek itu menyerbu rumah ini sampai besok pagi. Bukankah kakek ini berkata bahwa kalau sampai besok tidak mampu mengambil Liu Kong, berarti dia mengaku kalah dan tidak akan mengganggu lagi?

“Pedang Setan, perlahan dulu.    !!” Seruan ini membuat tosu Ya Keng Cu kaget setengah mati. Ia

sudah mempergunakan ilmu Couw-sang-hui (Terbang di Atas rumput), nampak kosong tidak ada suara orang, hanya terdengar desir angin yang bermain dengan daun-daun pohon, Bagaimana secara tiba-tiba ada orang yang menegurnya adalah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang ia kenal sebagai anak pelayan yang pagi hari tadi di rumah Bu Keng Liong telah menyiramnya dengan teh panas kemudian menotoknya!

Memang bocah itu adalah Kwan Bu, semenjak tadi ia telah bersembunyi di dalam pekarangan sebelah belakang rumah, karena ia dapat menduga bahwa tosu yang akan menculik Liu Kong tentu datang melalui pekarangan belakang. Orang yang hendak melakukan sesuatu secara menggelap, tentu lebih suka mengambil jalan-jalan yang gelap pula! Dengan hati berdebar tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, namun dengan sabar ia menanti sampai tengah malam dan tepat seperti yang diduganya, bayangan hitam tosu itu berkelebat maka ia lalu membuka mulut dan menegur, sengaja menyebutnya “Pedang Setan” agar menarik perhatian. Betul saja, tosu itu berhenti dan kini berhadapan dengan dia dalam keadaan terheran-heran.

“Hah, engkau... bocah pelayan Bu Taihiap? Mau apa engkau?”

“Sengaja hendak menghadangmu di sini” Jawab Kwan Bu dengan sikap tenang. Tosu itu memandang dengan mata terbelalak.

“Kau. ? Menghadang pinto? Mau apa?” Dengan suara setenang tadi, bahkan dengan mengangkat

muka membusungkan dada, anak ini rnenjawab.

“Mau mengatakan kepadamu bahwa engkau. biarpun berjuluk Pedang Setan, sesungguhnya tak lain tak bukan hanyalah seorang.... penakut!!!” Tosu itu hampir tak dapat mempercaya telinganya sendiri. Nama besar Koai-Kiam Tojin Ya Keng Cu telah menggetarkan dunia kang-ouw dengan ilmu pedangnya yang jarang tandingan, para penjahat takut bertemu dengannya, disegani kawan ditakuti lawan, dan kini dia dimaki penakut oleh seorang bocah pelayan berumur sebelas tahun! Bocah ini

kalau tidak gila, tentu ada sesuatu yang aneh dibalik keberaniannya yang luar biasa. Ya Keng Cu seorang gemblengan yang sudah berpengalaman, tentu saja tidak mudah menjadi marah. Mendengar ucapan bocah itu, ia malah terseyum dan bertanya.

“Eh budak kecil, mengapa kau bisa bilang bahwa pinto Koai-kiam Tojin Ya Keng Cu seorang penakut?”

“Karena kau hanya berani dan sombong terhadap lawan yang sudah dapat dipastikan bukan menjadi tandinganmu. Sudah jelas bahwa Bu Taihiap bukan lawanmu dan tidak akan menang sungguhpun sampai mati sekalipun Bu Taihiap tidak akan mundur selangkah melawanmu, namun engkau masih mendesaknya dan datang untuk memaksakkan kehendakmu. Tosu tua, memaksa orang yang bukan tandingannya, bukankah itu merupakan sebuah perbuatan pengecut dan penakut?”

“Ha-ha-ha-ha, bocah, apakah Bu Keng Liong menggunakan engkau untuk menyelamatkan diri? Ha- ha-ha, kalau dia memang takut, lebih baik serahkan anak Liu Tiu itu kepada pinto dan habis perkara. Pinto pun bukan orang yang suka mencari permusuhan dengan Bu Taihiap!”

“Engkau keliru besar, totiang. Sudah kukatakkan tadi bahwa Bu Taihiap bukan lawanmu, maka jangan kau paksa jika tidak ingin kusebut pengecut dari penakut paling besar di dunia ini. aku datang karena kehendakku sendiri, mengapa nama Bu Taihiap dibawa-bawa? Dia menantimu dengan pedang di tangan, dia tidak pernah takut, akan tetapi engkaulah yang beraninya hanya melawan orang yang kepandaiannya lebih rendah daripadamu, Cih, tak bermalu!!!” Sesabar-sabarnya manusia ada batasannya. Ya Keng Cu bukan seorang dewa, melainkan seorang manusia biasa. Mulailah ia “terbakar” oleh ucapan-ucapan Kwan Bu, matanya mengeluarkan sinar berapi,

“Budak cilik! Jagalah baik-baik mulutmu yang kurang ajar! Kalau pinto tidak ingat bahwa engkau masih seorang kanak-kanak, lehermu sudah kupenggal sejak tadi!”

“Nah-nah, apa kataku tadi? Beranimu hanyalah mengancam kanak-kanak!”

“Keparat! Kalau Bu Taihiap bukan lawanku, siapa yang akan melawan pinto? Engkaukah? Ha-ha-ha- ha!” “Beberapa tahun lagi baru aku akan melawanmu! Akan tetapi sekarang, kalau engkau bisa menandingi guruku. barulah engkau berhak memakai julukan Koai-kiam dan tidak akan kusebut pengecut lagi. Lawanlah dulu guruku, kalau engkau menang, baru kau boleh ganggu keluarga Bu, aku tidak banyak omong lagi!” Hati pendeta itu sudah kena dibakar. Ia marah dan penasaran, mendengar ini lalu tertawa.

“Ha-ha-ha, baru bisa sedikit ilmu menotok kau sudah sombong menganggap gurumu dewa? Ha-ha, bocah, kau bermulut lancang, mungkin belum pernah menyaksikan ilmu yang sebenarnya. Nah, kau lihat baik-baik, apakah gurumu sanggup melakukan seperti ini?” Baru saja habis tosu itu berkata, tubuhnya sudah berkelebat melayang ke arah sebatang pohon besar,

Lalu tampak sinar terang kemerahan menyambar-nyambar di sekeliling pohon seakan-akan pohon itu terbakar sinar merah. Tak lama kemudian sinar merah lenyap, tubuh pendeta itu sudah berada di depannya, Kwan Bu berhenti bernapas saking kaget dan herannya melihat betapa pohon itu telah berubah bentuknya! Pohon itu kini telah menjadi bulat bentuknya. Semua daun dan ranting telah terbabat rapi dan kini di bawah pohon tampak bertebaran daun dan ranting. Bahkan ketika tosu itu sudah kembali di tempatnya, masih ada beberapa helai daun yang melayang-layang belum sampai ke tanah! Pucat wajah Kwan Bu, akan tetapi kesuraman malam menyembunyikan perubahan warna mukanya. Ia menduga tepat. Ilmu pedang kakek ini hebat luar biasa dan kalau bertanding melawan kakek ini, majikannya bisa celaka. Maka ia lalu tertawa,

“Hahaha, permainan kanak-kanak macam itu boleh saja kau pakai untuk menakut-nakuti orang lain, akan tetapi tentu hanya ditertawai guruku.”

“Bocah! Siapa gurumu? Panggil dia ke sini biar kupenggal lehernya dalam sepuluh jurus!” bentak si tosu yang tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.

“Kuberitahu juga, tentu engkau tidak mengenalnya. Namanya terlalu besar untuk dikenal sembarangan tokoh seperti totiang.” Hampir saja tangan tosu itu bergerak menampar kepala Kwan Bu saking marahnya. Dia dikatakan tokoh sembarangan!” Padahal ia amat terkenal di dunia kang- ouw dan tidak ada tokoh besar yang tidak dikenalnya, sedikitnya mengenai nama. Melihat kemarahan tosu itu memuncak, Kwan Bu yang cerdik tidak mau menggoda lagi dan melanjutkan.

“Guruku seorang hwesio.” Anak ini tahu bahwa hwesio dan tosu tidak pernah akur, maka ia sengaja menyebut nama hwesio agar membuat si tosu menjadi makin penasaran. Yang penting, pikirnya tosu ini tidak akan menyerbu rumah majikannya!

“Hemm, seorang keledai gundul, ya? Bagus, siapa julukannya?” Karena memang tidak punya guru. Kwan Bu tentu saja tidak dapat menyebutkan julukannya, akan tetapi ia tidak kekurangan akal dan berkata lagi.

“Tak perlu menyebut nama, guruku dalam beberapa hari ini akan datang ke sini. Kau tunggulah saja kalau beliau sudah datang, boleh memusuhi Bu Taihiap.” Anak ini mengarang cerita begitu dengan maksud agar majikannya mendapat waktu dan kesempatan untuk mencari akal menghadapi lawan berat ini.

“Bocah! Kalau kau tidak menyebutkan nama gurumu, pinto tidak akan melayanimu lagi!” Tosu itu kini menengok ke arah rumah tinggal Bu Taihiap dan hati Kwan Bu menjadi gelisah. Saking cemasnya kalau-kalau tosu ini benar-benar tidak melayaninya dan meninggalkannya menerjang ke dalam rumah, ia berkata cepat-cepat dan gagap. “Guruku bukan manusia sembarangan. Beliau setengah dewa......... berlengan delapan...!” Tentu saja ini hanyalah bual dan gertakan seorang kanak-kanak. akan tetapi sungguh di luar dugaan Kwan Bu, tosu tua itu menjadi pucat dan agaknya menjadi kusut sekali. Sejenak tosu itu termanggu kaget, kemudian membentak,

“Dia...? Tak mungkin! Bocah kecil, kau berani membohong, ya? Kau pantas dipukul…!” tosu itu melangkah maju dan membuat gerakan hendak menampar.

“Ha-ha, sejak kapan seorang tosu tua Bangka hendak memukul seorang anak kecil?” Suara ini parau dan besar sekali namun tanah di sekitar pekarangan itu serasa tergetar-getar seperti ada gempa bumi, Kwan Bu cepat menengok sambil memutar tubuh ke belakang dan...... kiranya disitu telah berdiri seorang hwesio tua yang berkepala gundul dan amat gendut perutnya, persis seperti arca yang sering ia lihat dalam kelenteng! Hwesio tua ini bertangan kosong, kepalanya gundul pelontos. bahkan tubuh atas tidak memakai baju.

“Pat-jiu Lo-koai     !!” Si tosu berseru dengan suara kaget sekali. Dan Kwan Bu yang mendengar ini

menjadi kaget juga girang. Agaknya di dunia ini memang ada Orang yang berjuluk Pat-jiu Lo-koai (Kakek Aneh Berlengan Delapan), jadi cocok dengan kata-katanya tadi bahwa gurunya berlengan delapan. Pantas saja tosu ini kaget, dan mengapakah tosu itu kaget mendengar nama seorang hwesio yang kelihatan lucu ini? Ia cepat mundur dan minggir sambil menonton dengan mata terbelalak dan penuh perhatian.

“Pat-jiu Lo-Koai, jadi benarkah engkau guru bocah ini?”

“Ha-ha-ha, semua orang di dunia adalah murid pinceng (aku), termasuk engkau sendiri, Ya Keng Cu!” Kwan Bu mendengar ini menjadi geli hatinya. Eh, kiranya hwesio ini tidak bohong, karena biasanya seorang hwesio disebut suhu (guru) oleh semua orang, jadi tidaklah terlalu salah kalau hwesio itu dianggap guru olehnya!

“Pat-jiu Lo-koai, jalan kita bersimpang harap kau orang tua jangan mencampuri urusanku dengan keluarga Bu.”

“Eh, tosu yang sama tuanya dengan pinceng, kau dengarlah. Pinceng juga minta agar engkau jangan mencampuri urusan Bu Keng Liong dengan anak keponakannya itu. Nah kau tidak mencampuri urusan mereka, pinceng tidak mencampuri urusanmu. Bukankah adil itu?”

“Wah, adil. Adil sekali itu!!” Kwan Bu bersorak girang, merasa mendapat kawan.

“Pat-jiu Lo-koai, kalau begitu kau sengaja menantangku!” Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakan tangan kanannya dan tampaklah sinar kemerahan ketika pedangnya tercabut. Kwan Bu menjadi khawatir lagi. Ah, kalau sampai terjadi pertempuran, mana bisa hwesio gendut ini menang? Dia memandang dengan hati berdebar-debar. Akan tetapi hwesib itu hanya tertawa, lalu menggunakan tangan mengelus-elus kepalanya yang gundul licin.

“Hah-hah, kepalaku baru saja dicukur licin, mana bisa kau hendak tolong aku mencukurnya kelimis seperti pohon itu? aha, tosu kau terlalu baik hati!” Diejek demikian, Koai-kiam Tojin yang sudah mengenal siapa adanya hwesio di depannya, berseru keras dan menerjang maju. Pedangnya berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung. Untuk kedua kalinya selama hidupnya Kwan Bu menyaksikan pertandingan. Pertandingan pertama antara kedua majikannya melawan tujuh orang Sin-to Chit-hiap dianggapnya merupakan pertandingan yang hebat dan amat cepat, akan tetapi pertandingan sekali ini membuat ia benar-benar melongo, karena ia seperti melihat kilat menyambar-nyambar dan angin menderu- deru di sekeliling tempat itu. Ia tidak bisa melihat bagaimana jalannya pertandingan karena sama sekali tidak melihat dua orang itu. Hanya tampak gulungan sinar pedang merah menyelimuti mereka berdua sehingga anak ini hanya berdiri terpaku di tempatnya dengan mata terbelalak menahan napas. Lewat sepuluh menit, tiba-tiba gulungan itu pecah menjadi dua dan tahu-tahu tubuh si tosu sudah mencelat dan berdiri jauh. Pedangnya kini telah berada di tangan si hwesio gendut yang tertawa-tawa lalu melontarkan pedang ke arah tosu itu sambil berkata,

“Permainan bagus sekali. apakah masih ada lagi, totiang?” Tosu itu marah bukan main, menerima pedangnya, lalu menjura dan berkata.

“Sepuluh tahun lagi pinto datang untuk membunuh anak Liu Ti di rumah ini, boleh losuhu datang menghalangi!”

“Ha-ha-ha, cukup kelak kuwakilkan pada muridku, tosu bandel!” Ya Keng Cu memandang kepada Kwan Bu dengan melotot, kemudian tubuhnya berkelebat dan ia lenyap dari situ. Hwesio itu tertawa lagi, mengelus-elus perutnya yang gendut, kemudian membalikkan tubuhnya dan dengan langkah lebar meninggalkan pekarangan itu.

“Losuhu.... tunggu....!” Kwan Bu memanggil dan mengejar, akan tetapi hwesio itu berjalan terus tanpa memperdulikannya. Betapapun cepatnya Kwan Bu mengejar, tetap saja ia tidak mampu menyusul dan setibanya di bawah dinding pekarangan, tubuh hwesio itu tiba-tiba mencelat ke atas dan lenyap di luar dinding, Kwan Bu berlari-lari melalu pintu dinding dan terus ia berlari keluar. Tidak dilihatnya ke mana perginya hwesio itu, maka ia berlari terus mencari-cari. Tiba-tiba dari jauh ia melihat bayangan hwesio itu berjalan seenaknya menuju ke selatan kota. Ia terus mengejar sambil memanggil-manggil.

“Losuhu... tunggu…, teecu (murid) mohon menjadi murid losuhu...!” Namun hwesio itu terus berjalan sampai di luar kota sebelah selatan kemudian tiba-tiba lenyap. Kwan Bu terus mengejar. Terengah-engah, dan jatuh bangun karena jalanan gelap. Namun ia tidak perduli, terus ia berlari-lari ke depan. Bayangan hwesio itu kadang-kadang Nampak, kadang-kadang lenyap. Benar-benar seperti setan, akan tetapi setiap kali tampak oleh Kwan Bu, anak ini terus berteriak-teriak memanggil dan menyatakan ingin menjadi muridnya. Hwesio gendut itu tetap tidak pernah menengok dan berjalan terus, bahkan kadang-kadang menghilang.

Sampai malam terganti pagi, Kwan Bu masih terus mengejar-ngejar bayangan hwesio itu. Tubuhnya sudah lelah sekali, akan tetapi ia tidak perduli! Ia harus menjadi murid hwesio sakti itu. Harus! Biar sampai mati mengejar, lebih baik mati kalau tidak bisa menjadi muridnya, karena ia tahu bahwa selama hidupnya belum tentu dapat bertemu dengan seorang guru yang sakti seperti hwesio itu. Sampai tengah hari, hwesio itu masih tampak berjalan di depan, menuju sebuah gunung, mulai mendaki gunung. Melihat ini sungguh mengecilkan hati. Tubuh sudah lelah seperti itu, bagaimana harus mendaki gunung lagi? Namun Kwan Bu adalah seorang anak yang sejak kecil sudah banyak mengalami tekanan batin, sudah pandai menyimpan perasaan dan karenanya tekadnya kuat sekali. Ia mengejar terus dan tiba-tiba bayangan hwesio di lereng gunung itu lenyap!

Kwan Bu mendaki terus dengan susah payah, tidak mungkin hwesio itu menghilang, pikirnya. Tentu di atas sana terdapat kuilnya. Sepatunya sudah mulai hancur batu-batu runcing rnenggerogoti telapak kakinya. Lututnya terasa tak bertulang lagi, akan tetapi ia tidak mau berhenti sama sekali. Sampai matahari turun ke barat, hwesio itu tidak tampak lagi dan mulailah hati anak itu khawatir. Ingin ia menangis, ingin ia menjerit-jerit karena kecewa dan menyesal, akan tetapi ia menekan perasaan ini dan mendaki terus. Ia harus menemukan hwesio itu atau kalau perlu mati dalam usahanya! Setelah melalui dan naik turun beberapa anak bukit di lereng-lereng gunung itu, mencari ke mana, akhirnya cuaca menjadi demikian gelapnya sehingga tidak memungkinkan dia maju lagi. Banyak terdapat jurang-jurang di situ dan di dalam gelap, mana mungkin maju? Pula, kedua kakinya sudah tidak dapat ia gerakkan lagi.

Semalam dan sehari ia berjalan dan berlari tanpa henti. Ia masih berusaha mengangkat kaki, akan tetapi tak dapat dan setelah mengeluarkan keluhan panjang, tubuh anak ini terguling ke atas tanah dalam keadaan pingsan! atau boleh jadi juga tertidur karena saking lelahya. Pada keesikan harinya, sinar matahari yang hangat membangunkannya. Ia merasa tubuhnya sakit-sakit perutnya lapar, akan tetapi ia tidak menghiraukan semua itu. Pertama-tama yang dilakukan adalah bangkit duduk dan memandang ke sekeliling dengan pandang mata mencari-cari. Mencari bayangan hwesio itu! Namun lereng gunung itu sunyi sekali, tidak ada seorang pun manusia. Ia bangkit berdiri, kakinya sakit-sakit akan tetapi dapat digerakkan dan mulailah mendaki lagi sambil berpegangan pada batu-batu besar.

Sampai lewat tengah hari ia masih mendaki, keringatnya sudah membasahi seluruh tubuh dan perutnya amat lapar, serasa kulit perut menempel kulit punggung saking kosongnya, kedua kakinya seperti tak bertulang lagi. Ia tidak putus harapan, hanya hampir putus tenaga. Sore hampir tiba dan tidak tampak bayangan hwesio itu. Ketika Kwan Bu dengan pengerahan tenaga seadanya mendaki lagi sebuah puncak kecil dengan hati lebih berat daripada kakinya karena sedari itu tak juga ia melihat bayangan hwesio yang dikejarnya, tiba-tiba ia hampir berseru kegirangan karena dari puncak kecil itu ia melihat bayangan hwesio gendut yang dicari-carinya! akan tetapi hwesio itu berada di tempat jauh di bawah dan jalan menuju hwesio itu hanya melalui sebuah jurang yang terjal sekali. Namun Kwan Bu tidak perduli.

“Losuhu...!!” Ia berteriak girang lalu turun dan mulailah ia merangkak menuruni jurang yang amat terjal dan sukar itu. Hanya berpegang kepada ujung-ujung batu gunung atau pohon-pohon yang tumbuh di situ, atau menginjak benda-benda yang sama pula, Amat sukar, licin dan kaki tangannya sudah mulai baret-baret terkena batu yang tajam, akan tetapi ia turun terus tidak perdulikan itu semua, kadang-kadang menengok ke bawah dan bayangan hwesio yang berdiri termenung jauh di bawah itu menambah semangatnya.

Akan tetapi, kekuatan yang timbul dari kegembiraan hati itu tidaklah dapat bertahan lama karena memang tubuhnya sudah terlalu lelah, perutnya terlalu lapar dan urat-urat di tubuhnya terlalu banyak dipergunakan, melewati ukuran. Setelah merayap turun kira-kira lima puluh meter, tiba-tiba kakinya terpeleset. Ia bergantung dengan tangannya saja pada sebuah akar pohon. Celaka baginya akar itu sudah lapuk dan tak dapat ditahan lagi, tubuhnya melayang jatuh ke bawah, ke tempat yang dalamnya tidak kurang dari tiga ratus meter! Orang lain mungkin akan mengeluarkan pekik mengerikan kalau terjatuh seperti ini, atau pingsan, akan tetapi Kwan bu benar-benar seorang anak yang luar biasa. Ia tidak menjerit, bahkan ia menekan rasa ngerinya, menggunakan akalnya, kaki tangannya bergerak terutama tangannya menjangkau sedapat mungkin ke arah lereng jurang.

Tiba-tiba ia merasa kedua tangannya seakan-akan hendak terlepas dari tubuh, pundaknya serasa patah, akan tetapi tubuhnya tidak melayang turun lagi. Kiranya ia telah jatuh tersangkut pada sebatang pohon kecil dan kedua tangannya berhasil mencengkeram ranting-rantig pohon itu. Tubuhnya sakit-sakit, terutama pundak dan lengannya, akan tetapi ia selamat       untuk sementara.

Berapa lama ia dapat bertahan? Selagi ia meramkan mata untuk mengusir kepeningan kepalanya, tiba-tiba ia mendengar tertawa, ia membuka mata dan.   Tahu-tahu hwesio gendut itu sudah berada

di situ, berdiri di pangkal pohon yang berada di sebelah bawahnya, ada dua puluh meter jaraknya antara dia dan hwesib gendut di bawah. “Ha-ha-ha, bocah bandel. Mengapa kau mengejar-ngejar pinceng sampai begini macam?”

“Losuhu. !” kata Kwan Bu dan ia sendiri merasa heran mendengar semuanya, begitu ringan, begitu

kosong, seperti bukan suaranya sendiri, suara orang yang berada di ambang pintu kematian, hampir kelaparan, hampir kehabisan tenaga.

“Losuhu... teecu mohon... sudilah kiranya suhu menerima teecu menjadi murid..?” “Mau apa menjadi murid pinceng? Pinceng tidak bisa apa-apa!”

“Teecu... teecu ingin belajar ilmu silat..?

“Ha-ha-ha, anak goblok kalau belajar ilmu silat saja sampai ditempuh seperti ini! apa sih untungnya pandai silat? Mau apa kau belajar silat?”

“Agar teecu dapat membasmi orang-Orang jahat!” jawab Kwan Bu tidak ragu-ragu lagi. Kembali hwesio itu tertawa, kemudian berkata.

“Pinceng sih tidak perduli engkau mau menggunakan ilmu silat untuk membasmi kejahatan atau tidak. Bukan urusan pinceng itu, ha-ha-ha! Sudah bulatkah hatimu menjadi murid pinceng?”

“Sudah, losuhu. Mohon diterima ”

“Haa, diterima sih mudah, akan tetapi kalau memang sudah bulat tekadmu, kau boleh meloncat dari tempatmu itu ke sini. Aku tidak mau menolongmu kalau kau salah loncat dan mati terbanting di bawah sana. Beranikah?” Kwan Bu sudah tidak memikirkan hal-hal lain lagi. Apalagi hanya meloncat, biar mati sekalipun ia tidak takut.

“Baik, losuhu!” katanya dengan keberanian penuh, ia lalu meloncat dari atas pohon kecil itu ke arah tempat hwesio gendut. Tubuhnya melayang bagaikan sebuah batu cepat sekali dan tentu tubuh itu akan terbanting hancur kalau saja hwesio itu tidak mengangkat kaki dan... menerima tubuhnya dengan gerakan kaki menendang. akan tetapi anehnya tubuh itu berhenti meluncur dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan hwesio itu. Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-angguk delapan kali sambil menyebut,

“Suhu..!” Hwesio itu kembali tertawa.

“Semangatmu dan keberanianmu lebih besar dari pada dua orang muridku. Sebetulnya pinceng sudah merasa terlalu banyak dengan dua muridku, akan tetapi melihat semangatmu, biarlah pinceng menambah seorang lagi. Mudah-mudahan kau tidak mengecewakan hati pinceng. Hayo, pegang tanganku dan ikutlah!” Kwan Bu girang bukan main. Ia berusaha berdiri dan memegang tangan hwesio gendut yang menjadi gurunya itu dan... ia hanya memeramkan mata saking ngerinya menyaksikan betapa pohon-pohon beterbangan lewat di kanan kirinya. Kedua kakinya terangkat dan ia seperti terbang saja dengan kecepatan yang amat luar biasa. Gurunya telah membawanya berlari cepat seperti terbang!

Pada keesokan harinya setelah malam kedatangan Ya Keng Cu yang gagal itu, Bu Taihiap terheran- heran karena tosu itu semalam tidak muncul. Selagi ia terheran-heran dan menduga-duga, ia mendapat laporan dari Ciok Kim yang menangis dan mengatakan bahwa puteranya Kwan Bu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, tidak meninggalkan pesan, bahkan pakaiannya pun tidak dibawa. Penuh kekhawatiran, akan tetapi ia dihibur oleh Bu Keng Liong yang tahu akan watak Kwan Bu yang penuh keberanian dan aneh.

“Jangan khawatir, aku melihat puteramu itu bukan anak sembarangan. Anak seperti dia tidak akan mengalami malapetaka. Percayalah. mungkin sekali dia mencari guru yang sakti.” Ciok Kim terhibur dan membenarkan dugaan ini. akan tetapi yang masih menduga-duga adalah Bu Taihiap. Adakah hubungan antara tidak munculnya tosu itu dan Ienyapnya Kwan Bu? Di sudut hatinya, ia mendapat dugaan bahwa agaknya ketidakmunculan tosu itu adalah karena perbuatan Kwan Bu yang entah telah melakukan apa dan entah sekarang pergi ke mana. Isterinya pun terheran-heran, akan tetapi Liu Kong segera berkata.

“Agaknya tosu jahat itu suka kepadanya dan mengambilnya murid. Kelak bocah itu tentu akan datang dan memusuhi kita.”

“Kwan Bu? Hemm... aku tidak takut, biarpun dia menjadi murid tosu jahat itu,” kata Siang Hwi. adapun Kwee Cin diam saja, hanya diam-diam ia mengharap agar kelak Kwan Bu tidak menjadi orang jahat seperti tosu itu.

“Sumoi, begitu kejamkah hatimu? Tidak sedikitkah kau menaruh kasihan terhadap seorang pria yang tergila-gila kepadamu ini? Sumoi, bertahun-tahun aku menahan diri, sehingga tamat pelajaran kita. Waktu berpisah sudah dekat, tidak maukah engkau membalas cinta padaku?” Gadis itu mengerutkan keningnya, lalu membalikkan tubuh membelakangi pemuda itu untuk menyembunyikan dua titik air mata yang meloncat keluar dan mengalir di pipinya.

“Suheng sudah berulang pula kukatakan kepadamu, kita ini kakak beradik seperguruan, dan kini bukan waktunya bicara tentang perjodohan. Mengapa kau begini mendesak?”

“Hemm, sumoi apakah engkau lebih condong memilih sute daripada aku? Bocah tolol itu? Kau mencintai dia?” Gadis itu membalikkan tubuhnya memandang marah, mukanya yang manis kemerahan menambah kejelitaannya.

“Twa-suheng! Kau terlalu menuduh yang bukan-bukan! Pula, kau tidak semestinya menyebut sute tolol. Kepandaiannya tidak di sebelah bawah kita!”

“Ha-ha-ha! Mungkin karena ia hanya hampir sepuluh tahun setiap hari melatih jarum-jarum terkutuk itu, ia menjadi ahli menyambit jarum yang yang jarang ada keduanya. Akan tetapi dalam hal ilmu pedang, belum tentu ia dapat menangkan aku! Di samping itu, dia tidak terpelajar seperti aku, dia miskin tidak seperti aku, dan tentang wajah, hemm... apakah aku kalah olehnya, sumoi? Jawablah, adik manis, sungguh aku cinta..?”

“Sudahlah, Jemu aku mendengarnya!” kata gadis itu sambil membalikan tubuhnya lari membelakangi pemuda itu. Gadis itu usianya kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya manis dan tubuhnya langsing padat berisi. Karena pakaiannya serba ringkas seperti biasa pakaian seirang ahli silat, maka pakaiannya itu tidak banyak menyembunyikan lengkung-lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Di balik kecantikannya jelas tampak sifat gagah seorang pendekar wanita. Sebatang pedang tergantung di punggung dengan gagang terhias ronce-ronce merah. Inilah Liem Bi Hwa murid kedua dari Pat-jiu Lo-Koai, seorang gadis yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi karena keluarganya tewas semua ketika perampok mengganas di dusunnya.

Dia puteri seorang sasterawan miskin dan biarpun ia berusia Sembilan tahun ketika Pat-jiu Lo-Koai membawanya ke puncak gunung dan dijadikan muridnya, namun Bi Hwa sudah pandai tentang sastera. Hwesio gendut ini melihat bakat baik pada diri Bi Hwa maka diambilnya sebagai murid kedua. Murid pertamanya adalah si pemuda itu, pemuda berusia dua puluh tiga tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan gagah. Pakaiannya mewah dan pedang yang tergantung di pinggangnya amat indah. Pemuda ini adalah Phoa Siok Lun, putera Phoa wangwe (hartawan Phoa) yang tinggal di Kam-sin-hu. Dia belajar setahun lebih dulu dari Bhi Hwa dan semenjak Bhi Hwa menjadi adik seperguruannya, ia selalu bersikap manis kepada gadis ini. Ia dibekali banyak uang emas oleh ayahnya, maka ia dapat hidup mewah dan royal,

Dan selalu membelikan pakaian untuk sumoinya dari pedagang keliling yang lewat di dusun-dusun yang terletak di kaki gunung itu. akan tetapi rasa sayang sebagai saudara seperguruan ini makin lama tumbuh menjadi cinta kasih seorang pria terhadap wanita. Seperti kita ketahui, Pat-jiu Lo-kiai mengambil Kwan Bu sebagai murid pula, murid ketiga, sungguhpun dalam usia ia lebih tua setahun dari pada Bi Hwa, namun karena ia murid ketiga, ia menyebut suci (kakak seperguruan) kepada gadis itu yang menyebutnya sute (adik seperguruan). Demikianlah, pagi hari itu terulang kembali adegan- adegan yang sering terjadi antara Siok Lun dan Bhi Hwa, yaitu pernyataan cinta kasih pemuda ini kepada sumoinya. Sesungguhnya secara diam-diam di dalam hatinya Bi Hwa juga tertarik dan suka kepada twa suhengnya yang tampan gagah dan kaya raya.

Akan tetapi karena suheng ini terlalu mendesak dan selalu memperlihatkan sikap hendak mencumbu rayu. Gadis itu menjadi kesal hatinya dan merasa tersinggung, merasa tidak dihargai. Berbeda dengan sikap sutenya, Kwan Bu yang selalu ramah tamah dan sopan terhadap dirinya. suhengnya ini tidak ragu-ragu kadang-kadang menyentuh tangannya, memandang ke arahnya seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat! Siok Lun memandang tubuh sumoinya yang membelakanginya. Tubuh yang terbungkus pakaian dengan ketat, yang memperlihatkan bagian-bagian belakang tubuh yang indah dan padat. Alangkah bedanya dengan wanita-wanita yang kadang-kadang diperolehnya di dusun- dusun di kaki gunung. Tidak pernah ia mendapatkan wanita yang kulit lehernya begini putih kuning dan halus, rambut yang begitu halus dan hitam, yang mengikat mayang di dekat telinga.

Siok Lun memang seorang pemuda yang tak dapat mengekang nafsu. Karena gurunya lebih sering bertapa daripada memperhatikan murid-muridnya, karena gurunya seorang aneh yang tak pernah memberi pendidikan ahlak, maka pemuda ini seenaknya saja mencari hiburan, bermain-main dengan wanita-wanita di dusun-dusun, mempergunakan pengaruh uangnya, ketampanannya, juga kadang- kadang kepandaiannya. Kini, setelah menjadi hamba dari pada nafsu birahinya sendiri, melihat tubuh sumoinya dari belakang. membuat nafsunya berkobar dan tak dapat lagi ia menahannya, membuat pikiran yang jernih menjadi keruh. Ia memandang ke kanan kiri. Sunyi di situ. Gurunya sedang Samadhi, adapun Kwan Bu kalau tidak berlatih pedang tentu berlatih main jarum yang menjemukan itu. Setelah mendapat kenyataan bahwa sekelilingnya sunyi, ia memangil.

“Sumoi     !” ketika sumoinya membuat gerakan menengok, saat itulah ia menggerakan tangannya

menotok. Kalau ia tidak memanggil dulu. belum tentu ia akan dapat menotok sumoinya yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi itu. Akan tetapi karena dipanggil dan menengok, maka perhatian gadis itu terpecah sehingga ia dapat ditotok roboh dalam keadaan lemas! Siok Lun menerima tubuh yang hendak roboh itu, lalu dipondong dan diciumilah mulut yang setengah terbuka dan tak berdaya itu penuh nafsu sambil membawa lari menuju ke hutan di lereng gunung!

“Suheng! Suci mengapa?” Bagaikan disambar halilintar, Siok Lun melompat bangun. Ia baru saja merebahkan Bi Hwa di atas tanah yang penuh rumput hijau. Ia membalik dan ternyata Kwan Bu telah berdiri di hadapannya. Siok Lun menjadi pucat mukanya.

“Entah........, entah mengapa dia......... pingsan agaknya, aku sedang berusaha menyadarkannya..?” Siek Lun cepat berlutut di dekat tubuh Bi Hwa, membelakangi Kwan Bu dan cepat sekali ia meraba jalan darah sumoinya sehingga terbebas dari totokannya. Bi Hwa meloncat bangun sambil terisak. Tangannya yang kiri mengusap-usap Bibirnya seakan-akan hendak rnenghapus sesuatu dari bibirnya. Kalau ia teringat tadi betapa mulutnya diciumi begitu rupa oleh mulut Suhengnya, ingin rasanya ia menjerit dan mencabut pedang untuk menyerang Siok Lun. akan tetapi, dia seorang gadis yang dapat berpikir panjang. Kalau ia membuka rahasia perbuatan Siok Lun, tentu akan hebat akibatnya. Maka ia hanya menangis. menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Suci, kenapakah engkau menangis? apakah yang menyusahkan hatimu, suci?” Kwan Bu bertanya, suaranya halus dan tenang. Pemuda ini sekarang telah menjadi seorang dewasa berusia dua puluh satu tahun, bertubuh tegap dadanya bidang, wajahnya tampan dan wataknya pendiam. Dia tidak pernah bicara dengan siapa juga tentang dendam keluarganya, akan tetapi kelirulah dugaan orang kalau dia melupakannya. Setiap malam terbayang wajah ibunya yang bermata satu. Dan dikeluarkannyalah sebatang jarum dari saku bajunya. Karena jarum inilah maka Kwan Bu yang digembleng ilmu silat oleh Pat-jiu Lo-koai, berlatih siang malam mempergunakan senjata rahasia jarum. Mendengar pertanyaan Kwan Bu, Bi Hwa dapat menekan perasaan marahnya dan berkata,

“Sute, kalau kuingat betapa sudah sepuluh tahun kita tinggal disini... dan tiba-tiba harus berpisah seperti yang suhu katakan tidak akan lama lagi... ah, hati siapa yang tidak menjadi terharu dan duka?” sambil berkata begini, tanpa melihat kepada Siok Lun, ia pergi meninggalkan dua orang pemuda itu. Siok Lun menarik napas lega, terang-terangan ia menarik napas di depan sutenya lalu berkata,

“Ah, betapapun sudah memiliki ilmu yang tinggi, wanita tetap lemah hatinya... aih, ini mengingatkan aku akan adikku. Ha-ha-ha, di antara segala wanita di dunia ini, kiranya tidak ada yang seperti adik perempuanku. Sama sekali tidak lemah, sebaliknya, keras seperti baja. Ha-ha-ha!” Siok Lun tertawa gembira. Kwan Bu tidak suka melihat suhengnya menertawakan Bi Hwa. Akan tetapi tidak memperlihatkannya di wajahnya ia hanya berkata.

“Suheng, kau tentu tidak dapat merasakan kedukaan sumoi seperti aku.” “Eh, bagaimana maksudmu, sute?”

“Suheng adalah seorang putera hartawan yang memiliki keluarga kaya, sehingga kalau suheng turun gunung, ada tempat yang suheng datangi dan ada tujuan tertentu dalam perjalanan suheng turun gunung. Akan tetapi tidak demikian dengan sumoi. Dia tidak punya apa-apa, keluarga pun tidak, sehingga baginya suhu seolah-olah pengganti orang tua dan kita seperti saudara-saudaranya. Kini dia harus meninggalkan semua ini, bagaimana tidak berduka?” Di dalam hatinya, Siok Lun mentertawakan sutenya ini. Engkau tahu apa, pikirnya dan kembali hatinya lega bahwa sumoinya tadi tidak membuka rahasia. Dia tidak takut menghadapi sutenya, akan tetapi kalau dikeroyok dengan sumoinya, hemm berat juga! Apalagi kalau suhunya marah dan turun tangan pula.

“Sute, engkau sendiri kalau sudah turun gunung hendak ke mana? Kalau tidak punya tujuan tertentu, mari kau ikut saja bersamaku, sute. Rumahku besar sekali, ayah seorang pedagang besar yang kaya raya. Tentu ayah dapat memberi pekerjaan untukmu!”

“Terima kasih suheng. Aku   aku mempunyai urusan penting yang harus kuselesaikan.”

“Dendam?” Kwan Bu kaget dan memandang wajah suhengnya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Siok Lun tersenyum, “Seringkali aku dan sumoi membicarakan engkau. Dan suhu pernah kelepasan bicara kepada sumoi, katanya engkau adalah seorang anak yang keras hati dan sekali mendendam, sampai mati pun akan kau usahakan pembalasannya. Betulkah, sute?” Agar suhengnya ini tidak membujuknya lagi agar ikut bersamanya, Kwan Bu mengangguk dan menjawab singkat.

“Betul, suheng. aku harus mencari musuh besar yang membasmi keluargaku.”

“Wah, katakan kepadaku siapa orangnya, sute. Jangan khawatir, aku akan membantumu memenggal batang lehernya!” Siok Lun berkata penuh semangat. Kwan Bu tersenyum. Suhengnya ini orangnya memang peramah sekali, dan pandai bersikap menyenangkan hati.

“Terima kasih, suheng. Soalnya, aku sendiri belum tahu siapa orangnya.” “Hahhh..?” Siok Lun terbelalak memandang. “Habis bagaimana kau bisa ?”

“Aku hanya tahu bahwa ia pandai silat, pandai mainkan golok dan pandai pula menggunakan jarum sebagai senjata rahasia.”

“Namanya?” “Aku tidak tahu.”

“Wah-wah, sute, bagaiana kau akan bisa mencarinya? Di dunia ini banyak sekali yang pandai main golok dan jarum. Heee, nanti dulu! Kau tahu? Ayahku sendiri pun seorang ahli golok yang pandai melempar jarum!”

“Ah, suheng jangan main-main. Musuh besarku ini seorang kepala perampok yang ganas dan liar. Ayahmu adalah seorang hartawan yang terhormat, mana bisa dibanding-bandingkan?”

“Aku hanya main-main sute. Akan tetapi, kalau kau tidak dapat ikut bersamaku, sewaktu-waktu mampirlah ke rumah kami di Kam-sin-hu. Asal kau Tanya saja disana rumah gedung keluarga Phoa wangwe, tak ada yang tidak tahu.” Kwan Bu mengangguk-angguk.

“Sekali waktu aku akan singgah dirumahmu, suheng?” Tiba-tiba kedua orang muda itu membalikkan tubuh dan segera berlutut di depan hwesio gendut yang sudah tua sekali, Pat-jiu Lo-koai guru mereka. Biar pun gerakkan hwesio gendut itu sama sekali tidak bersuara,

Namun kedua orang muridnya dapat mengetahui kedatangannya, hal ini saja sudah cukup membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian dua orang muda ini. Memang Pat-jiu Lo-koai kakek aneh ini mempunyai cara mengajar yang luar biasa. Ia menggembleng siang-malam dan khusus ilmu silat dan segala kepandaian yang mengenai hal itu. Dia tidak mengajar yang lain-lain bahkan lwekang dan siulian pun ia ajarkan dengan tujuan khusus untuk kemajuan ilmu silat. sedikitpun ia tidak mengajarkan filsalat ilmu kebatinan, pendeknya, ia hanya mencurahkan penggemblengan jasmaniah belaka, sama sekali tidak memperdulikan pendidikan batin. Memang dia seorang ahli silat yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka dalam waktu sepuluh tahun saja, tiga orang muridnya telah mewarisi ilmu kepandaiannya yang hebat-hebat.

“Suhu. !” Siok Lun dan Kwan Bu berlutut didepan kaki guru mereka. Pat-jiu Lo-koai si kakek aneh

berlengan delapan itu tertawa dan menggaruk-garuk perutnya yang gendut dan tak tertutup pakaian. “Ha-ha-ha, kalian tidak lekas pergi, masih menanti apa lagi? Bhi Hwa sudah pergi sejak tadi, ha-ha- ha! Lekas pergi, Pinceng tidak bisa mengajarkan apa-apa lagi sekarang, sudah habis terkuras oleh kalian!” Yang paling menarik perhatian Siok Lun hanya ketika mendengar Bi Hwa sudah pergi. Maka cepat ia berlutut, mengangguk-angguk delapan kali dan berkata.

“Suhu, teecu mohon pamit, hendak menyusul sumoi.” Belum juga kakek itu menjawab, Siok Lun sudah berkelebat cepat sekali dan lenyap dari depan gurunya. Hwesio itu tertawa bergelak dan kembali mengelus-elus perutnya.

“Ha-ha-ha, dasar orang muda. Akan tetapi kuharap mereka dapat berjodoh, akan baik sekali bagi Bi Hwa...! Omitohud, kau masih di sini Kwan Bu?” Kwan Bu berlutut mengangguk-angguk kepala sebelum menjawab,

“Suhu, setelah sepuluh tahun menerima budi suhu yang amat besar, bagaimana sekarang teecu bisa meninggalkan suhu? Suhu sudah tua, kalau semua murid pergi, siapa yang akan melayani suhu? Biarlah teecu tinggal di sini melayani suhu untuk membalas budi suhu yang amat besar.” Hwesio itu tidak tertawa lagi, menghela napas panjang.

“Hehh... kau keras hati, berkemauan besar, kenal budi, dan pandai menyimpan perasaan. Kalau dahulu pinceng mempunyai watak sepertimu, kiranya pinceng tidak akan seperti sekarang ini, menjadi orang gelandangan yang tidak karuan, hanya pandai membanggakan nama kosong melompong! Nama besar itu banyak ruginya dari pada untungnya. Nama besar yang disanjung- sanjung orang dapat membuat si pemilik nama menjadi besar kepala, sombong dan bangga, merasa pandai sendiri, hebat sendiri, dan karenanya menimbulkan sifat-sifat kepandiran dan sifat angin- anginan. Belum lagi bahayanya dari pihak yang merasa iri, yang setiap saat berusaha untuk merobohkannya atau mengalahkannya. Hah, nama kosong!”

“Semua wejangan suhu teecu catat dalam hati,” kata Kwan Bu.

“Hahh...? Aku tidak memberi wejangan, hanya menceritakan keadaanku. Ahh, engkau murid yang baik, Kwan Bu, murid yang paling baik! Karena itu, dan karena pinceng hendak mengangkat engkau sebagai wakil, maka kau terimalah ini!”

“Toat-beng-kiam...!” Kwan Bu berseru kaget dan girang. Tanpa dapat diikuti pandang mata tahu- tahu tangan suhunya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan, merah darah! Inilah pedang Toat-beng-kiam (Pedang Pencabut Nyawa) milik suhunya. yang amat dipuja-puja suhunya, dan pernah suhunya bercerita kepada semua muridnya bahwa pedang ini turun temurun dari nenek moyang gurunya dan merupakan pedang tanda kekuasaan.

“Kalian boleh saja membantah dan mendurhakai aku yang menjadi guru kalian, akan tetapi sekali- kali kalian tidak boleh membantah terhadap pedang ini. Siapa pemegang pedang, dialah pengganti guru besar yang menciptakan ilmu-ilmu kita dan siapa menentangnya, dia akan mati di ujung Toat- beng-kiam!” Dan kini gurunya hendak menyerahkan pedang itu kepadanya!

“Suhu apakah teecu... cukup berharga untuk.. memiliki Toat-beng-kiam?” Ia bertanya meragu, masih belum berani menerima pedang pusaka itu.

“Mengapa tidak berharga? Kau kira pinceng tidak tahu akan keadaanmu? Ha-ha-ha, muridku, engkau, di samping semua sifat-sifat baik, masih rendah hati pula! Nah, kau terimalah dan wakili aku untuk menghadapi tosu bau, Koai-Kiam-Tojin Ya-Keng-Cu itu. Kami berjanji bertemu di rumah Bu Keng Liong. Terimalah!” Sebelum menerima pedang keramat itu, Kwan Bu mengangguk-anggukan kepala dan berkata,

“Teecu Bhe Kwan Bu mendapat kehormatan menerima dan memiliki Toat-beng-kiam yang keramat, semoga teecu dapat menjunjung tinggi sifat-sifat kegagahan yang diutamakan pedang ini dan kalau teecu melanggar, semoga roh-roh para Couwsu mengutuk dan menghukum teecu...!” Hwesio gendut itu tertawa bergelak dengan gembira sekali. Kwan Bu yang menerima pedang melihat bahwa pedang itu terbuat daripada logam merah yang aneh. Tipis sekali pedang itu dan lemas, dapat digulung seperti sehelai sabuk kulit!

“Nah, pergilah sekarang juga, jangan sampai terlambat agar tosu bau itu tidak mengira bahwa pinceng takut. Pinceng karena malas dan memang dahulu sudah pinceng janjikan akan mengirim wakil seorang murid.” Kwan Bu lalu bermohon diri dan berangkat meninggalkan puncak gunung dimana ia belajar ilmu sampai sepuluh tahun lamanya. Pakaiannya dari kain tebal sederhana dan buntalannya pun hanya terdapat sesetel pakaian yang butut pula penuh tambalan. Memang Kwan Bu seorang miskin, suhunya tidak punya apa-apa pula, bahkan baju sehelai pun tidak punya.

Maka selama berada di puncak gunung Kwan Bu menjual kelebihan sayur-mayur dan buah-buahan yang ditanam untuk membeli atau ditukar dengan pakaian sekedar untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak iri sama sekali melihat pakaian Siok Lun yang serba indah, karena sebagai pelayan rumah keluarga Bu, sudah biasa ia melihat anak-anak lain berpakaian indah tanpa merasa iri. Bahkan ia girang melihat pakaian Bi Hwa terjamin dengan adanya Siok Lun yang suka membelikan pakaian untuk gadis ini. Kalau tidak ada Siok Lun, tentu Bi Hwa terpaksa harus berpakaian kasar dan sederhana seperti dia! Kwan Bu melakukan perjalanan seorang diri, kemudian menduga-duga ke mana perginya Bi Hwa dan apakah dapat disusul oleh Siok Lun. Ia tahu bahwa dua orang muda itu saling mencinta, dan seperti gurunya,

Iapun hanya dapat mengharap semoga mereka itu dapat terangkap menjadi jodoh yang cocok dan bahagia. Kalau orang melihat pemuda ini, tentu sedikitpun tidak menduga bahwa pemuda ini adalah murid Pat-jiu Lo-koai, bahkan yang telah mewarisi Toat-beng-kiam yang berarti bahwa ia menjadi murid kepala sekarang, wakil gurunya! Takkan ada yang mengira bahwa dia seorang yang bukan hanya pandai ilmu silat, bahkan memiliki kesaktian yang tinggi. Berbeda dengan Siok Lun yang menggantungkan pedang pemberian ayahnya di pinggang dan berpakaian seperti seorang pendekar, bahkan Bi Hwa juga menggantungkan pedang di pungung, Kwan Bu ini menyembunyikan pedang pusakanya yang dapat digulung, dipakai sebagai sebuah sabuk di pinggangnya, terbungkus sebuah sarung kulit sehingga kelihatan persis sebuah kulit.

Rumah gedung keluarga Bu di kota Kian-cu dihias indah. Di pekarangan depan yang luas itu ditaruh banyak meja kursi dan suasananya amat meriah karena ada beberapa rombongan musik yang meramaikan suasana perayaan pesta. Apakah yang dirayakan keluarga Bu? Pesta itu diadakan untuk merayakan hari she-jit (ulang tahun) Bu Keng Liong, karena pendekar sekarang telah genap berusia enam puluh tahun. Juga sebagai perayaan gembira bahwa selama ini tidak ada lagi datang gangguan musuh, kehidupan mereka amat tenteram dan tiga orang muda yang belajar silat kini sudah tamat pula. Liu Kong sudah menjadi pemuda betubuh tinggi besar dan kokoh kuat,

Berwajah gagah perkasa dan pakaiannya juga indah serba biru dengan pedang tergantung di pinggang kiri. Sekali pandang saja, tidak akan orang meragu bahwa pemuda tinggi besar murid Bu Taihiap tentulah seorang pemuda yang amat lihai ilmu silatnya. Dan memang begitulah, Liu Kong berwajah tampan gagah dan angkuh ini amat hebat kepandaiannya, jarang ada orang muda yang dapat menandinginya, terutama dalam hal tenaga dan ilmu silat tangan kosong. Kwee Cin juga telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, ia lebih tampan dari pada Liu Kong, lebih pendiam, akan tetapi tubuhnya tetap kecil kurus tidak segagah suhengnya. Namun jangan memandang rendah tubuhnya yang kecil kurus itu karena sesungguhnya Kwee Cin inilah yang telah berhasil mewarisi ilmu silat yang berdasarkan tenaga dalam dari gurunya.

Dialah seorang pemuda ahli lweekeh (tenaga dalam) yang amat tangguh dan dibanggakan oleh gurunya. Pakaiannya juga indah, sungguh pun tidak semewah Liu Kong, dan sebatang pedang tergantung pula di pinggang. Bagaimana dengan Bu Siang Hwi? Dia seorang dara yang cantik jelita! Cantik jelita dan menjadi makin manja karena ia tahu bahwa kedua suhengnya telah tergila-gila dan jatuh cinta kepadanya! Secara diam-diam kedua orang suhengnya berlomba untuk merebut hatinya dengan cara-cara mereka sendiri! Liu Kong dengan cara yang terang-terangan dan kadang-kadang kasar, sebaliknya Kwee Cin dengan halus dan tidak berterang, melainkan tersembunyi di antara kata- kata dan sikap serta pandang matanya.

Namun sudah amat jelas bagi Siang Hwi bahwa kedua orang suheng ini amat mengharapkan balasan cintanya dan masih menahan-nahan karena di dalam perlombaan mereka itu, Siang Hwi mendapatkan perasaan yang amat nikmat dan membanggakan! Kalau Liu Kong merupakan seorang ahli gwakang tenaga luar yang dahsyat sedangkan Kwee Cin mempunyai keahlian sebagai seorang ahli lweekeh, adalah Siang Hwi menuruni ilmu pedang ibunya yang diperkuat oleh gemblengan ayahnya, yaitu siang-kiam-hoat (ilmu pedang berpasangan) dalam hal memainkan sepasang pedang yang kini terpasang di punggungnya, Siang Hwi telah jauh melampaui permainan ibunya sendiri! Demikianlah besar sekali hati Bu Keng Liong melihat tiga orang muridnya. Biarpun mereka belum dapat mencapai tingkatnya namun mereka boleh dibanggakan.