-->

Dendam Si Anak Haram Jilid 01

Jilid 01

Kaisar Hian Tiong dari kerajaan Tang, sesungguhnya bukanlah seorang kaisar yang lalim. Dia adalah seorang yang berbudi pekerti baik, juga memiliki rasa cinta kasih kepada rakyatnya. akan tetapi kaisar ini mempunyai cacat-cacat yang tidak seharusnya dipunyai seorang Kaisar yang baik. Yaitu bahwa Kaisar ini terlalu menenggelamkan diri ke dalam kesenangan pribadi, mabok dalam pelukan selir cantik jelita Yang Kui Hui dan menyerahkan pelaksanaan pemerintahan kepada menteri-menteri yang tidak becus dan korup. Semua rencana demi kesejahteraan rakyat, demi pembangunan Negara yang keluar dari istana, tidak pernah ditinjau atau diperhatikan pelaksanaanya dan Kaisar ini hanya percaya kepada laporan-laporan para menteri dan pejabat yang tentu saja melaporkan bahwa semua itu berjalan dengan baik. Padahal pelaksanaanya jauh bedanya, bagaikan bumi dengan langit jika dibandingkan dengan rencananya semula.

Pengeluaran Negara yang seharusnya dapat diperkecil dan diperhemat, malah ditambah berlebihan yang sebagian besar keluar masuk ke dalam gudang perbendaharaan si pembesar-pembesar korup. Penghasilan-penghasilan yang masuk digerogoti di tengah jalan sehingga andaikata penghasilan Negara yang masuk itu merupakan seekor ikan, maka negara hanya menerima tulang dan kulitnya belaka. Daging-dagingnya sudah dikeroyok dan digeregoti mereka yang befoya-foya atas uang rakyat dan Negara. Bukan hanya kelalaian ini yang menjadi cacad kaisar Hian Tiong. Yang paling menyedihkan adalah karena pengaruh para menteri durna. sebagian besar adalah kaum Thaikam (Pembesar Kebiri), sudah sedemikian mendalam mencengkeram istana tanpa disadari Kaisar, maka segala pelaporan yang masuk oleh Kaisar diserahkan lebih dulu penelitiannya oleh para menteri ini.

Kaisar yang dimabok asmara oleh selirnya yang cantik itu terlalu malas untuk melepaskan diri dari pelukan kekasihnya dan membuang waktu untuk menghadapi perkara-perkara memusingkan! apalagi kalau pelaporan itu mengenai tuntutan rakyat tentang beberapa orang pembesar tinggi! Kaisar ini kurang tegas, kurang erat memegang pedang keadilan dan tidak berani bertindak terhadap para menterinya yang korup khawatir kalau-kalau tindakan tegas memberantas kecurangan mereka itu menimbulkan pemberontakan. Kaisar Hian Tiong lupa agaknya akan catatan sejarah lama bahwa justru karena keadaan macam ini kehidupan rakyat amat tertindas, justru karena rakyat terlalu tertindas, muncullah banyak bahaya pemberontakan dari rakyat yang merasa tidak puas. Betapa rakyat akan kuat bertahan kalau hidup ditindas dan dihisap seperti itu? Tidak ada air yang mengalir ke atas.

Untunglah kaum bawahan kalau air yang mengalir ke bawah itu air yang jernih pelepas haus atau air madu yang dapat dinikmati mereka yang berkedudukan di bawah. akan tetapi kalau air kotor yang mengalir turun! air kotor beracun! Maka rusaklah rakyat. Kalau atasannya kotor, bawahannya akan lebih kotor lagi, yakni kalau pembesar-pembesar tinggi korup. Pembesar-pembesar rendahan merajalela, berpikiran mencontoh atasan mereka. Rakyat yang tidak berdaya itulah yang setengah mati. Pajak-pajak yang ditentukan dari istana, sesampainya kepada rakyat telah menjadi berlipat ganda! Mereka memprotes akan berhadapan dengan barisan petugas yang merasa terganggu dan ditentang kekuasaan dan kepentingannya, dan akibatnya si pemerotes itu ditangkap, dihukum, bahkan dibunuh.

Para petugas tidak lagi memperhatikan kewajiban mereka. Karena yang terpenting bagi mereka adalah keuntungan diri pribadi. Kewajiban diabaikan, hukum-hukum dilanggar, penjaga menjadi pengganggu, penegak menjadi pelanggar. semua ini mungkin terjadi karena nafsu korupsi telah merajalela. Tentu saja para penjahat berpesta pora, memancing di air keruh, mereka dilindungi oleh petugas-petugas yang semestinya memberantas mereka. Mestinya menjadi lawan kini dapat saja menjadi kawan, karena memang tujuan mereka sama yakni mencari untung. Untung haram bukan soal lagi, hanya bedanya kalau para pencuri dan perampok melakukan “usaha mencari untung” secara kasar, para petugas mendapatkannya secara halus berkedok kekuasaan.

Sudah bukan merupakan hal aneh lagi kalau ada dusun-dusun terpencil yang merupakan sebuah kerajaan kecil dan si penguasa setempat menjadi raja kecilnya. Dan bukan hal aneh pula kalau perampok-perampok datang di siang hari memasuki dusun-dusun dan melakukan perampokan seenak perutnya sendiri, tanpa ada perlawanan berarti dari para petugas keamanan. Dapat dibayangkan betapa gelisah dan sengsara hati rakyat hidup tak aman seperti itu! Malam hari yang menyeramkan di dusun Kwi-cun. Hujan sejak sore turun rintik-rintik penduduk dusun Kwi-cun malas keluar rumah dan lebih senang berdiam di dalam rumah, melamun memikirkan nasib yang buruk. Kepala kampung dusun Kwi-cun membuat penghidupan rakyat di situ menjadi tertekan. Kepala kampung itu bernama Bhe Ti Kun. Seorang hartawan yang tak pernah merasa cukup dengan kekayaanya.

Penduduk dusun Kwi-cun, terutama para petani miskin, amat membencinya akan tetapi apa daya mereka menghadapi kepala kampung yang dilindungi sepasukan penjaga keamanan atau pengawal yang kuat-kuat dan pandai silat itu. Siapapun akan mati bagi mereka yang berani melawan. Terpaksa menuruti segala perintah dan “bekerja bakti” untuk si kepala kampung, hanya sekedar menyambung hidup. Mereka menantikan datangnya perobahan seperti seorang menanti datangnya peristiwa mukjizat. Dan peritiwa mukjizat itu tiba di malam itu! Mula-mula terdengar anjing-anjing menggonggong ramai di jurusan barat. Kemudian terdengar jerit mengerikan dan selanjutnya dunia seakan-akan kiamat. Jerit tangis terdengar, teriakan-teriakan minta tolong dan dusun itu menjadi geger kalang kabut.

“Perampok......!! Perampok.     !!”

Kurang lebih seratus orang perampok menyerbu dusun Kwi-cun. Mereka menyerbu rumah-rumah orang kaya, membacok roboh setiap penduduk yang berani keluar, membakar beberapa buah rumah. Para perampok ini agaknya pendatang dari jauh, buktinya mereka tidak memandang bulu, dan rumah kepala kampung Bhe Ti Kun juga diserbu, bahkan oleh pemimpin perampok sendiri yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata sebatang golok. Tiga puluh orang pengawal segera menerjang maju menghadapi para perampok, dan pertandingan hebatpun terjadilah di bawah siraman hujan gerimis. Namun jumlah pengawal kalah banyak, pula kepala perampok itu lihai sekali. Goloknya berkelabatan seperti seekor naga siluman mengamuk dan tidak sedikit pengawal roboh oleh goloknya.

Terutama sekali adalah senjata rahasianya yang berupa jarum. Setiap kali tangan kirinya terayun melepas jarum tentu seorang pengawal roboh berkelojotan karena jarum-jarumnya ini selalu mengenai bagian tubuh yang mematikan. Andaikata kepala kampung itu seorang yang baik dan dicinta rakyatnya, andaikata penghidupan rakyat dusun itu tidak terlalu tertindas seperti itu, andaikata mereka serentak bangkit melakukan perlawanan, jumlah mereka akan lebih besar daripada jumlah perampok dan agaknya perampok-perampok itu akan dapat dipukul mundur. akan tetapi tidak demikian keadaannya. Penghuni dusun Kwi-cun, terutama yang miskin tidak mempunyai semangat melawan, bahkan mereka yang tidak kuat batinnya diam-diam mulai mencari kesempatan untuk ikut mencuri!

Tidak sampai dua jam, para pengawal sudah roboh sebagian besar, dan sisanya lari cerai berai meninggalkan dusun. Dan mulailah terjadi perampokan dan perkosaan yang amat mengerikan. Jerit tangis wanita-wanita yang menjadi korban memenuhi angkasa, ratap langit dan rintih di antara suara tertawa terbahak-bahak para perampok. Kepala perampok yang tinggi besar itu sambil tertawa-tawa memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk melampiaskan semua nafsu mereka, dan dia sendiri memasuki gedung kepala kampung Bhe Ti Kun dengan golok di tangan, golok yang berlepotan darah. Isi gedung ini haknya untuk saat itu dan ia tidak membolehkan anak buahnya memasuki gedung itu. Sunyi di dalam gedung.

Di sana sini menggeletak mayat para pelayan dan di ruangan tengah tampak kepala kampung sendiri bersama isterinya menggeletak mandi darah. Kepala perampok tidak memperdulikannya, hanya memandangi benda-benda berharga yang memenuhi gedung, memilih-milih mana yang akan dibawanya nanti. Ia mencari kamar penyimpanan harta. Di depan sebuah kamar yang daun pintunya tertutup ia berhenti. Didorongnya daun pintunya, namun terkancing dari dalam. Ia menyeringai penuh harapan. Ini agaknya kamar harta. Ketika ia menyeringai, tampak deretan giginya yang kuat dan putih, dan andaikata muka itu tidak demikian bengis, rambut itu tidak awut-awutan, wajah kepala rampok ini termasuk wajah seorang pria yang tampan dan gagah. alisnya hitam tebal, matanya bersinar-sinar tajam namun wajah itu diselimuti kekejaman luar biasa. Ia mundur selangkah, kemudian menendang daun pintu.

“Brakkk.     !” Daun pintu pecah berantakan dan sambil terkekeh ia memasuki kamar. Tercenganglah

kepala rampok ini karena ternyata bukan kamar harta yang dimasukinya, melainkan sebuah kamar tidur yang indah dan berbau harum! Kepala perampok yang sebelum masuk gedung ini tadi menemukan seguci arak tua dan menenggaknya habis itu agak terhuyung memasuki kamar ini.

“Harum............! Harum.........!” katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh tiba-tiba terdengar isak tertahan dan kepala perampok itu sekali meloncat sudah mendekati pembaringan, golok di tangan, siap menerjang musuh. Selimut tebal halus itu bergerak-gerak. Ia mengulurkan goloknya mengait selimut sambil menghentaknya. Selimut terbuka dan. seorang gadis cantik jelita tampak mendekam

di atas ranjang, tubuhnya menggigil ketakutan, mukanya yang cantik ini pucat dan mata yang seperti kelinci itu terbelalak. Gadis itu sikapnya seperti orang menjerit-jerit namun tidak ada suara keluar dari mulutnya, saking takut dan ngerinya. Gadis cantik jelita berusia delapan belas tahun ini adalah Bhe Ciok Kim, puteri tunggal kepala kampung Bhe.

Semenjak ada kerusuhan menggegerkan dusun, para pelayan sudah tidak memperdulikan lagi kepada majikan-majikan mereka dan sudah lari cerai-berai mencari selamat sendiri-sendiri sehingga puteri kepala kampung ini pun tertinggal di dalam kamarnya. Bhe Ciok Kim ketakutan, apalagi ketika mendengar jerit ayah bundanya, saking takutnya ia sampai tidak berani keluar kamar, mengunci pintu kamarnya lalu bersembuyi di bawah selimut. Kini, melihat masuknya seorang laki-laki tinggi besar yang mempunyai pandang mata seolah-olah api yang hendak membakar tubuhnya, ia kaget dan amat takut, tubuhnya menggigil dan ia tidak dapat mengeluarkan suara! Kepala perampok itu maju mendekat, tertawa terbahak-bahak ketika si gadis bergerak mundur di atas ranjang, mepet dinding.

“Ha-ha-ha-ha! Engkau cantik sekali, cantik manis….! Ha-ha-ha, belum pernah aku melihat seorang gadis secantik engkau!” Tangannya meraih, dan ditangkapnya lengan yang berkulit putih halus itu.

“Lepaskan..........! aiiihhh, lepaskan aku.    !” akhirnya Bhe Ciok Kim dapat juga berteriak, meronta-

ronta. Jerit tangis Bhe Ciok Kim bercampur dengan suara ketawa kepala perampok, namun siapa yang hendak menolongnya? Tidak hanya di rumah kepala kampung itu terjadi perkosaan, tidak hanya dari mulut Bhe Ciok Kim keluar jerit tangis memilukan, melainkan dari semua rumah yang dihuni gadis-gadis muda dan wanita-wanita muda. Menjelang fajar, kepala perampok itu melompat turun dari atas pembaringan, menyambut goloknya dan menengok, tersenyum lebar,

“Engkau manis sekali, ha-ha, aku takkan melupakkanmu selamanya, manis!” Bhe Ciok Kim tiba-tiba bangkit berdiri di atas ranjang, pakaiannya tidak karuan, rambutnya yang panjang hitam awut- awutan, mukanya pucat seperti mayat namun kini diliputi kemarahan dan kebencian luar biasa, kebencian yang membayang di seluruh wajah terutama sepasang matanya yang lebar sehingga membuat mukanya tampak beringas. Tangan kiri mencengkeram pakaian untuk merapatkannya, tangan kanan menuding ke arah muka si kepala rampok, kemudian terdengar suaranya gemetar parah penuh perasaan.

“Engkau...... binatang terkutuk.... akan kubalas ini...... biar aku mati      rohku akan membayangimu

akan membalasmu berlipat ganda......!!” Kepala perampok itu adalah seorang laki-laki yang sudah membajak hatinya, tidak mengenal takut dan hidupnya selalu penuh dengan kekerasan. Namun kini menyaksikan pandang mata Bhe Ciok Kim dan mendengar kutukan dan ancamannya, ia bergidik juga.

“Jangan memandang aku seperti itu!” Bentaknya, “Perempuan keparat jangan memandang aku seperti itu!” akan tetapi seperti telah berubah menjadi setan Bhe Ciok Kim terkekeh tertawa, jarinya tetap menuding, matanya memandang makin beringas, bahkan kakinya kini bergerak, melangkah turun dari pembaringan untuk menghampiri kepala perampok itu yang mundur-mundur sampai di pintu.

“Hi-hi-hi, engkau takut! Heh-heh, akan kubalas kau, binatang terkutuk.      akan kubalas penghinaan

ini..... sekarang juga      !” Tampaknya ia benar-benar hendak menyerang. Kepala perampok makin

serem. Celaka, pikirnya, wanita ini telah menjadi gila! Ia mundur-mundur dan tiba-tiba tangan kirinya terayun. Sebatang jarum menyambar ke arah Bhe Ciok Kim. Gadis itu menjerit, kedua tangannya menutupi mata kirinya yang berlumuran darah. Kepala perampok tertawa,

“Ha-ha-ha, siapa suruh matamu memandang padaku seperti itu?” Ia meloncat keluar sambil tertawa-tawa, kemudian mengarahkan kawan-kawannya untuk membawa barang-barang berharga yang ada pada gedung kepala kampung dan gedung lain di dalam dusun, lalu meninggalkan dusun Kwi-cun.

Bhe Ciok Kim terhuyung-huyung keluar dari rumah orang tuanya, tangan kiri menutupi mata kiri, tangan kanan memegangi pakaian yang hanya menutupi sebagian kecil tubuhnya. Tubuhnya berlumuran darah, apa lagi setelah dari mata kirinya terus menetes-netes darah melalui celah-celah jari tangan yang menutupinya. Ia berlari dalam gelap, berlari terus sambil terisak-isak. terengah- engah, berlari terus dalam keadaan setangah sadar, akhirnya, setelah ia berlari-lari sehari lamanya, sampai napasnya hampir putus, sampai kakinya pecah-pecah. sampai hanya ia lebih banyak merangkak daripada berlari atau berjalan, pada senja hari berikutnya, Ciok Kim roboh terguling di bawah anak tangga sebuah kuil.

Kuil itu adalah kuil pendeta-pendeta wanita yang memuji Dewi Kwan lm. Ketuanya adalah Cheng In Nikouw yang sudah berusia enam puluh tahun lebih. anak buah atau anak muridnya, terdiri dari wanita-wanita usia empat puluh tahun ke atas, ada sebanyak lima belas orang karena Cheng ln Nikouw dan anak buahnya pandai merawat, kuil itu pun bersih menyenangkan dan karena letaknya dekat kota Kian-cu, maka kuil ini tidak begitu sepi dan tidak kekurangan sumbangan dari penduduk kota Kian-cu. Tubuh Ciok Kim yang rebah miring di bawah anak tangga baru ditemukan ketika seorang dari para Nikouw itu hendak menutup pintu depan karena malam sudah hampir tiba dan biasanya sudah tidak akan ada tamu lagi.

“Omitohud.   !” Nikouw memuji nama dewa dan cepat menuruni anak tangga, berlutut memeriksa

tubuh Siok Kim. Ketika melihat keadaan gadis ini berlumur darah dan pingsan, Nikouw itu berteriak ke dalam dan keluarlah beberapa orang Nikouw lain kemudian disusul keluarnya Cheng ln Nikouw sendiri yang mendengar suara ribut-ribut. “Demi Kwan Im Pouwsat yang welas asih.    !” Cheng In Nikouw berkata ketika ia melihat keadaan

Ciok Kim.

“Bawa dia masuk ke kamarku!”

“Tapi...... tapi    !” Pandang mata Cheng In Nikouw menjadi tajam.

“Sifat utama Kwan lm Pouwsat adalah welas asih, siapa saja yang berada dalam kesengsaraan tentu ditolong-Nya. Bagaimana kita yang menjadi murid-muridNya meragu untuk menolong wanita sengsara ini?”

“Bawa masuk!” Para anak murid itu sebetulnya bukan tidak suka menolong Ciok Kim, hanya biasanya, tidak diperbolehkan siapapun memasuki ruangan dalam, apalagi kamar guru mereka. Pula, keadaan gadis ini telah diperkosa orang, tidak akan mengotori kuilkah kalau dibawa masuk?

Namun mereka tidak berani membantah dan digotonglah Ciok Kim ke dalam kamar Cheng ln Nikouw. Biarpun bukan seorang ahli, Cheng In Nikouw sudah mempelajari cara pengobatan. Ia mencabut jarum yang menancap di mata kiri Ciok Kim dan hatinya lega melihat jarum itu tidak beracun. Disimpannya jarum itu, kemudian ia mengobati mata kiri Ciok Kim dan memberi minum gadis ini dengan obat kuat penambah darah karena gadis ini kehilangan banyak darah. Berkat perawatan Cheng In Nikouw, keadaan Ciok Kim tidak berbahaya lagi, akan tetapi begitu siuman dari pingsannya. Ciok Kim hanya menangis tersedu sedu tanpa menjawab pertanyaan para nikouw. akhirnya Cheng In Nikouw memberi isyarat kepada anak buahnya untuk keluar dan dengan perlahan dan lemah lembut ia berkata,

“Nona kau tenanglah. Mata kirimu yang dibalut itu sedang dalam pengobatan, tidak baik kalau kau terlalu banyak mengeluarkan air mata. Kau tenang dan istirahatlah, engkau aman disini dan tidak akan ada yang mengganggumu.”

Demikianlah, setelah beberapa pekan Ciok Kim mendapat perawatan Cheng ln Nikouw, sembuhlah dia, akan tetapi mata kirinya telah menjadi buta tak dapat ditolong lagi! Cheng ln Nikouw dan para anak buahya menjadi kasihan sekali, akan tetapi alangkah heran hati mereka bahwa kini Ciok Kim tidak pernah menangis lagi, bahkan dari matanya yang kanan itu memancar sinar yang tajam dan keras dan mulutnya amat pendiam. Ketika ditanya, ia hanya mengatakan bahwa ia adalah seorang penduduk dusun yang sudah terbakar habis oleh perampok-perampok di malam hari, dan bahwa ia diperkosa dan dilukai matanya dengan jarum. Kemudian ia berlutut di depan Cheng In Nikouw dan berkata,

“Saya mohon kepada subo sudilah menerima saya sebagai pelayan disini...... saya...... saya sudah tidak mempunyai sanak keluarga, tidak punya rumah. Dalam keadaan cacad ini bagaimana saya dapat kembali ke kampung dimana tidak ada lagi orang tua dan keluarga? Orang-orang hanya akan menghina saja. Harap subo menaruh kasihan, saya tidak akan malas, saya akan bekerja melayani subo sekalian.” Cheng ln Nikouw menganguk-anggukan kepalanya yang gundul.

“Baiklah, kau boleh tinggal disini Ciok Kim. Semoga Kwan Im Pouwsat akan menghibur hatimu.” Demikianlah, sejak hari itu. Ciok Kim bekerja di kuil menjadi pelayan belakang. Ia tidak pernah keluar, tidak pernah memperlihatkan diri kepada orang luar kecuali enam belas nikouw itu. Ia bekerja rajin sehingga menyenangkan hati Cheng ln Nikouw dan anak muridnya. Kadang-kadang ada juga datang pikiran di hati Ciok Kim untuk membunuh diri, namun ia melawan keruntuhan hati ini dengan tekad bahwa ia harus hidup agar kelak ia dapat mencari dan membalas dendam kepada kepala perampok yang telah membunuh ayahnya dan telah membunuh kebahagiaan hidupnya itu. Ia merasa menyesal bahwa ia tidak mengetahui nama kepala perampok itu,

Akan tetapi ia ingat jelas dengan wajahnya, ingat bahwa kepala rampok itu bersenjatan golok dan pandai melempar jarum! Pukulan batin kedua menimpa gadis yang bernasib malang ini ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia sedang mengandung! Mula-mula ia merasa dirinya tidak karuan, sering pening dan lemas. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya terasa sakit-sakit dan pening, dan barulah halilintar itu menyambar telinga dan hatinya ketika Cheng In Nikouw yang berpemandangan tajam itu mengatakan bahwa ia sedang mengandung! Hampir pingsan Ciok Kim mendengar berita yang dianggapnya malapetaka ini. Dia mengandung! Mengandung keturunan kepala rampok itu, yang dianggap musuh besar di dalam hidupnya! Ia menangis siang malam. Hiburan dan wejangan Cheng ln Nikouw tidak memasuki hatinya.

Malam ketiga setelah ia mengetahui akan keadaan dirinya, Ciok Kim sambil menangis sesenggukan mengikat ujung ikat pinggangnya pada batang pohon di belakang kuil. Ia berdiri di atas bangku untuk mengikatkan ujung ikat pinggang itu pada cabang yang agak tinggi, kemudian mengalungkan ujung yang lain pada lehernya, lalu mengikat pula. Ia tak dapat menanggung semua penderitaan batin hebat ini. Ia lebih baik mati. apa gunanya hidup menderita aib dan malu? Pada saat terakhir itu terbayang wajah ayah bundanya yang membuatnya menangis semakin mengguguk, kemudian terbayang wajah si kepala rampok. Terbayang akan wajah yang menyeringai tertawa-tawa dan mata yang terbelalak memandangi dan menikmati seluruh tubuhnya. Tubuhnya memberontak, seluruh bulu tubuhnya bangun serentak.

Seakan-akan ia merasai saat itu jari-jari tangan kasar yang membelainya. Ia merasa hendak muntah, timbul muak dan benci. Benci setengah mati. Tiba-tiba pandang matanya beringas! Kalau ia mati, perampok itu akan terbebas! ah, enak benar! Tidak! Ia tidak harus mati, ia harus hidup malah. Dan anak ini..... anak haram, anak si kepala rampok...... harus ia besarkan, kemudian. kemudian. Tiba-

tiba Ciok Kim tertawa. Suara ketawanya seperti suara ketawa setan, seperti suara ketawanya orang gila. Kemudian ia akan mendidik anak itu agar tujuan hidup anak itu mencari dan membalas dendam kepada si kepala rampok. Kepada ayahnya sendiri! Ha-ha, benar sekali. Mengapa ia begini bodoh hendak membunuh diri? Dilepaskannya ikat pinggangnya yang mengalungi lehernya.

“Ciok Kim........ demi Kwan lm Pouwsat...... apa yang hendak kau lakukan ini     ??” Cheng In Nikouw

sudah berdiri di situ. teguran itu sesaat memasuki benaknya seolah-olah rencana pembalasannya itulah yang ditegur nikouw ini. Ia hendak membantah, akan tetapi ia lalu tersadar dan ia turun dari bangku, menubruk kaki nikouw itu sambil menangis tersedu sedan.

“Ciok Kim…! kau tersesat jauh, mengapa mesti membunuh diri? Perbuatan ini amat tidak baik. Semua yang terjadi atas dirimu bukanlah kesalahanmu. Kandunganmu itu terjadi karena karma. Bukan atas kehendamu pula. Menyerahlah kepada kehendak Thian, karena manusia ini tidak berkuasa akan nasib dirinya, kecuali berusaha memperingan hukuman dengan perbuatan-perbuatan baik. Jangan menambah dosa dengan perbuatan-perbuatan yang lebih berdosa lagi karena hukumanmu akan lebih berat, Ciok Kim, apakah kau kira kalau engkau mengakhiri hidup engkau akan terhindar dari pada hukuman?” Cheng ln Nikouw lalu menuntun Ciok Kim masuk ke dalam sambil memberi wejangan.

Semenjak malam itu, Ciok Kim makin berhati-hati menjaga dirinya. Ia bekerja seperti biasa dan minum semua obat yang diberikan Cheng ln Nikouw untuk memperkuat kandungannya. anaknya harus menjadi seorang anak yang kuat, karena anak itu akan membawa tugas yang amat berat tugas mencari dan membunuh si kepala rampok, ayahnya sendiri, ayah yang tidak dikehendaki, baik oleh si ibu maupun oleh si anak! “Subo, tolonglah saya, demi untuk anak saya Kwan Bu.” Cheng In Nikouw meraba-raba telinga kirinya, kebiasaanya kalau ia sedang berpikir. Sudah lama Ciok Kim, semenjak anaknya yang diberi nama Bhe Kwan Bu berusia dua tahun merengek meminta bantuannya agar mencarikan guru silat untuk anak ini!

“Saya akan bekerja sebagai pelayan guru silat itu, subo. akan bekerja mati-matian, dan saya tidak minta diberi gaji, asal mendapat makan untuk saya dan Kwan Bu dan asal Kwan Bu mendapat

kesempatan untuk belajar ilmu silat. Subo telah mengetahui riwayat saya. telah tahu akan nasib saya yang hanya terjadi karena mendiang ayah bunda dan saya adalah orang-orang lemah kalau pandai silat ”

“Hemmm, Ciok Kim. Hanya itukah tujuanmu? ataukah tersembunyi tujuan lain? Mengapa kau dulu minta jarum yang telah membutakan mata kirimu?” Ciok Kim menunduk, kemudian menarik napas panjang, kemudian memandang nikouw tua itu dan berkata, suaranya kini tenang karena ia mengutarakan isi hati, suara hatinya yang selama ini bergema siang malam dalam tekadnya.

“Subo, terus terang saja, karena subo sudah begitu baik kepada saya. Saya hanya hidup sampai hari ini karena cita-cita itu. Ingatkah subo ketika saya hendak menggantung diri malam itu? Dan mengapa saya tidak jadi membunuh diri? Karena cita-cita inilah! Saya harus mendidik agar Kwan Bu menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, kemudian. kemudian ia harus mengembalikan jarum itu kepada

pemiliknya, tidak di matanya, melainkan di ulu hatinya. Kwan Bu kelak harus membalaskan semua dendam saya, harus dapat membunuh binatang terkutuk itu ”

“Omitohud.    ! Ciok Kim, sampai begitu dalamnyakah dendam sakit hatimu? Tak tahukah bahwa hal

itu amat besar dosanya? Kau hendak menyeret puteramu ke dalam lembah dosa?”

“Saya menanggung segala resikonya! Memang saya menghendaki anak saya terlahir dan hidup hanya untuk itu. Itulah sebabnya mengapa ia sampai terlahir dan hidup. Kalau bukan untuk itu dia takkan terlahir dan akan terbawa mati bersama saya sebelum terlahir dahulu. Subo, sekali lagi saya mohon bantuan subo. Kalau tidak, terpaksa saya akan pergi dari sini bersama Kwan Bu, akan merantau dan mencari sendiri seorang guru untuk Kwan Bu.” Di dalam suara wanita muda ini terkandung ketekadan yang bulat kekerasan hati yang membaja. Cheng In Nikouw mengangguk- anggukan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Segala di dunia ini telah ditentukan oleh Thian, manusia boleh berusaha, namun tuhanlah yang menentukan segala kejadian! Baiklah, Ciok Kim. Pinni (aku) mengenal baik seorang pendekar gagah perkasa, yang selain amat tinggi ilmu silatnya, juga amat baik budi. Dialah agaknya yang akan menjadi majikan bagimu dan guru bagi anakmu. Tidak ada kukenal orang yang lebih tepat daripada Bu Taihiap (Pendekar Besar She Bu)!.” Dengan girang Ciok Kim berlutut dan mengangguk-anggukan kepala di depan kaki nikouw tua itu.

“Terima kasih, subo. Tak dapat saya bayangkan betapa besar budi yang telah subo limpahkan kepada saya dan anak saya. Hanya saya minta dengan sangat, hendaknya cita-cita saya ini subo rahasiakan, dan kepada majikan baru itu hendaknya diberi tahu bahwa saya adalah seorang janda yang kematian suami karena terbunuh perampok.”

“Pinni mengerti, akan tetapi karena pinni tidak bisa berbohong, sebaiknya engkau sendiri yang menceritakan hal itu kepada keluarga Bu. Tentu saja kalau mereka mau menerimamu sebagai bujang.” Alangkah girang hati Ciok Kim ketika beberapa hari kemudian dia mendengar dari Cheng ln Nikouw bahwa ia diterima menjadi bujang di rumah keluarga Bu! Berangkatlah wanita ini dengan puteranya yang baru berusia dua tahun itu pada hari yang ditentukan. Dengan berlinang air mata, Ciok Kim berpamit kepada Cheng ln Nikouw dan semua nikouw di kuil itu selama hampir tiga tahun telah berlaku amat baik kepadanya.

Keluarga Bu tinggal di kota Kian-bu, di sebuah gedung tua yang besar dan megah, memiliki sebuah halaman depan belakang yang luas dan sebuah taman bunga di sebelah kiri rumah. Tidak hanya semua penduduk Kian-bu yang mengenal keluarga Bu, bahkan sampai jauh di luar kota banyak orang mengenal Bu Taihiap. Orang She Bu ini sampai mendapat sebutan Bu Taihiap atau Pendekar Besar Bu karena memang dia adalah seorang pendekar yang terkenal di dunia kang-ouw. Namanya adalah Bu Keng Liong, seorang ahli lweekeh (Ilmu Tenaga Dalam) dan ahli pedang Bu-tong-pai yang kenamaan. Yang membuat ia terkenal bukan hanya kelihaian ilmu silatnya, akan tetapi terutama sekali karena sepak terjangnya sebagai seorang pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan.

Bu Taihiap terkenal seorang yang selalu terbuka kedua tangannya untuk menolong sesama manusia yang menderita, membela mereka yang tertindas dan terkenal bertangan besi menghadapi kejahatan. Banyak sudah Orang-orang jahat yang roboh di tangannya. karena ketenaran namanya ini pula maka kita Kian-bu selalu aman tenteram, terbebas dari ganguan perampok yang melanda kota- kota dan dusun lainnya. Bu Keng Liong tinggal di dalam gedung itu bersama isteri dan anaknya, anak tunggal perempuan yang bernama Bu Siang Hwi. Ketika Ciok Kim datang bekerja di situ, Siang Hwi baru berusia setahun setengah. Seperti juga suaminya, Bu Hujin (Nyonya Bu) seorang peramah dan juga seorang ahli silat karena Bu Hujin adalah puteri seorang guru silat di daerah selatan.

Sungguhpun ilmu silatnya tidak selihai suaminya, namun Bu Hujin termasuk seorang ahli pedang yang sukar dicari tandingannya. Karena sifat budiman dari keluarga inilah yang membuat Cheng In Nikouw memilih mereka sebagai majikan Ciok Kim. Nikiuw ini pada hakekatnya tidak menyetujui cita-cita Ciok Kim yang mengerikan, maka memilih Bu Taihiap yang ia harapkan akan dapat mendidik putera Ciok Kim menjadi seorang pendekar yang berbudi dan tentu saja cita-cita ibunya itu takkan dapat terlaksana kalau mendapat tantangan dari Bu Taihiap. Bu Keng Liong dan isterinya menerima Ciok Kim dengan ramah. Mereka amat percaya pada Cheng ln Nikouw yang terkenal sebagai pendeta yang hidup bersih dan mendapat penghormatan semua orang, maka tanpa ragu mereka menerima Ciok Kim. Akan tetapi untuk mengetahui keadaan wanita ini lebih jelas,

Ciok Kim bersama puteranya yang baru berusia dua tahun itu pertama-tama disuruh menghadap suami isteri Bu ini. Ciok Kim berlutut di atas lantai, menarik puteranya berlutut pula, tak berani ia mengangkat muka memandang calon majikannya. Bu Keng Liong dan Bu Hujin duduk di atas kursi, sedangkan Siang Hwi yang masih kecil duduk di pangkuan ibunya. Bu Hujin yang mengajak Ciok Kim bercakap-cakap, sedangkan Bu Keng Liong sejenak memandang mata kiri yang buta itu kemudian memandang Kwan Bu penuh perhatian. Ia kagum melihat bocah ini biarpun baru berusia dua tahun, namun taat kepada ibu dan tahu diri, berlutut dan menundukkan muka, sedikitpun tidak berani bergerak. Kening anak itu hitam tebal dahinya lebar. Kepalanya besar dan tulangnya besar dan kuat. Hemmm, seorang anak yang bertulang baik, pikirnya.

“Aku mendengar dari Cheng In Nikouw bahwa namamu Ciok Kim? Siapakah she-mu? Ciok Kim yang telah mengalami pahit getir selama tiga tahun ini telah menjadi seorang wanita yang matang dan cerdik. Ia memberi she Bhe kepada puteranya, maka tidak boleh ia memakai shenya sendiri. Yang penting adalah puteranya, dia…” dia dapat dikatakan sisa orang mati!

“Hamba    she Chi, thai-thai (nyonya besar)” “Katanya keluargamu terbasmi perampok, betulkah itu?” Hal ini bagi hati Ciok Kim yang sudah mengeras bukan merupakan lagi hal baru yang menyedihkan, akan tetapi ia memaksa diri bermuka sedih bahkan berhasil mengeluarkan beberapa butir air mata yang diusapnya dengan tangan kiri.

“Betul sekali, nyonya besar. Semua keluarga... termasuk suami hamba... terbunuh ketika perampok menggagas di dusun kami. Hamba... hamba berhasil menyelamatkan diri dalam keadaan mengandung dan ditolong Cheng In Nikouw. Hamba menjadi pelayan disana dan... dan melahirkan anak hamba ini, sampai hari ini hamba berterima kasih sekali kepada tuan dan nyonya yang sudah sudi menerima hamba yang rendah...” Bu Hujin terharu. Memang ia mudah sekali mengasihani orang. Ia menggigit bibir dan berkata,

“Sungguh menyebalkan perampok-perampok jahanam itu! Kalau mereka berani mengganggu kota ini, hemm...!” Nyonya ini mengepul tinjunya. Setelah hening sejenak, Bu Keng Liong bertanya, suaranya tenang dan halus, akan tetapi penuh wibawa,

“Dalam keadaan seperti ini, dimana keluargamu terbunuh semua bagaimana bisa kau melarikan diri?” Ciok Kim terkejut. Pertanyaan yang amat berbahaya! Namun ia cepat berkata,

“Hamba telah roboh pingsan karena terkena serangan pada mata hamba yang kiri yang kemudian ternyata sebatang jarum. Hamba pingsan ketika terjadi keributan dan setelah hamba sadar, hamba merangkak dan berhasil lari..” Bu Taihiap mengangguk-angguk, akan tetapi hanya meragu dan ia menduga tentu terjadi hal lain yang disembunyikan wanita ini. Ia dapat dapat melihat bahwa wanita ini cantik, apalagi tiga tahun yang lalu masih muda remaja, cantk dan belum buta sebelah. Dan ia tahu akan watak dan sepak terjang para perampok kejam itu terhadap wanita-wanita muda itu tentu saja takkan dapat diberitakan oleh wanita itu.

“Hemmm, menurut penuturan Cheng ln Nikouw engkau ingin sekali bekerja disini. Mengapa?” kembali ke Bu Taihiap bertanya, suaranya tetap tenang dan halus akan tetapi membikin Ciok Kim berdebar bingung dan khawatir. Majikan pria ini benar seorang yang tak boleh diabaikan, amat cerdik dan meneliti pandangan mata tajam seperti dapat menjenguk hatinya. Ia harus cerdik!

“Sesungguhnya, Thai-ya (tuan besar)..... hamba ingin agar anak hamba ini kelak menjadi seorang anak yang berguna, tidak lemah seperti ayahnya sehingga mudah menjadi korban keganasan perampok.” Bu Keng Liong dan isterinya saling pandang, lalu bersenyum. Bu Taihiap kembali memandang Kwan Bu lalu berkata,

“Anak baik, coba kau angkat mukamu.” Kwan Bu yang sejak tadi duduk diam menunduk seperti arca tampak tergetar dan perlahan-lahan ia mengangkat mukanya. Suami isteri itu kembali menjadi kagum, anak itu selain bertulang baik, juga mempunyai wajah tampan, sinar matanya tajam dan bibirnya merah. Bu Keng Liong terseyum kepada anak itu dan mengangguk-angguk, sedangkan Kwan Bu kembali menunduk kemalu-maluan.

“Siapa nama anakmu ini?” Tanya Bu Hujin, “Namanya Kwan Bu, thai-ya..?

“Shenya?”

“She Bhe.” “Bhe Kwan Bu.” hemm, baiklah. Bawa anakmu bekerja disini, dan pergi ke belakang dimana sudah tersedia kamar untuk kau dan anakmu. Tanya kepada para pelayan lain.” Pada saat itu, Siang Hwi sudah turun di pangkuan ibunya dan mendekati Kwan Bu. Kemudian secara tiba-tiba Siang Hwi merenggut topi Kwan Bu, topi buatan ibunya berwarna merah, topi sulaman. Setelah merampas topi, Siang Hwi tertawa-tawa dan lari menjauhi. Dalam usia hampir dua tahun ini Siang Hwi sudah pandai lari.

“Heh-eh, anak nakal. Kenapa kau mengambil topinya?” Bu Hujin tertawa, menganggap perbuatan anaknya itu lucu. Memang ia amat memanjakan Siang Hwi. Hal ini tidaklah mengherankan kalau dipikir bahwa setelah menikah dengan suaminya selama lima belas tahun, baru sekali ini mempunyai anak. Usianya ini sudah tiga puluh lima tahun dan suaminya sudah empat puluh tahun! Maka. Seperti kebanyakan kaum ibu yang memanjakkan anak, semua kenakalan anaknya dianggap lucu!

“Siang Hwi anak baik, kau kembalikanlah topinya..?” Ia membujuk dengan suara halus dan tersenyum-senyum. akan tetapi Siang Hwi tidak mau menuruti ibunya, malah memegang topi merah itu di belakang tubuhnya. Adapun Ciok Kim hanya tersenyum saja dan Kwan Bu memandang Siang Hwi dengan muka merah dan pandang mata bingung.

“Siang Hwi, kembalikan topi itu!” Tiba-tiba Bu Taihiap membentak, suaranya nyaring berpengaruh. Siang Hwi memandang ayahnya, kelihatan takut dan... ia melemparkan topi itu ke atas tanah, lalu kelihatan mengambul, mau menangis sambil membenamkan muka di pangkuan ibunya yang terus memeluknya penuh kasih sayang.

“Bu ji (anak Bu), ambillah topimu.” Kata Ciok Kim halus. Kwan Bu bangkit dan mengambil topinya kemudian ibu dan anak ini dengan sikap hormat mengundurkan diri untuk pergi ke belakang setelah Bu Hujin memanggil seorang pelayan untuk mengantar mereka. Semenjak saat itu, Ciok Kim bekerja di rumah keluarga Bu. Semenjak kecilnya dahulu dia hidup bergelimang kemewahan dan tidak biasa bekerja berat,

Akan tetapi sejak ia bercita-cita untuk membalas dendam, bercita-cita untuk membesarkan anaknya agar dapat memenuhi cita-citanya ini, ia siap melakukan pekerjaan betapa beratpun. Tekadnya membuat hatinya keras membaja dan di tempat tinggal yang baru ini ia bekerja mati-matian tanpa banyak cakap sehingga sebentar saja ia disuka oleh Bu Hujin, disuka pula oleh pelayan-pelayan lain karena Ciok Kim selalu amat rajin, juga tidak banyak cakap. Di waktu malam. semenjak Kwan Bu mulai mengerti diajak bercakap-cakap mulailah ia menasehati puteranya agar suka mencari kesempatan ilmu belajar silat dari majikan mereka. Kwan Bu juga tidak dibiarkan malas, melainkan dilatih untuk membantunya, membantu pekerjaan kecil-kecil yang ringan. Setelah berusia empat tahun, Kwan Bu pada suatu malam bertanya kepada ibunya.

“Ibu, nona Hwi mempunyai ibu dan ayah akan tetapi mengapa aku hanya mempunyai ibu saja? ayahku mana?”

“Ayahmu telah dibunuh orang sejak kau belum lahir, Kwan Bu. Ayahmu telah mati. anak itu termenung, lalu memandang ibunya.

“Mata ibu kenapa?”

“Kau lihat baik-baik, Kwan Bu. Mata ibumu yang kiri ini buta, karena perbuatan orang yang membunuh ayahmu pula, karena ia tusuk dengan jarum!” Anak itu bergidik ngeri.

“Ditusuk jarum? Sakitkah ibu?” “Sakit sekali, nak. ayahmu dibunuh. kakek dan nenekmu dibunuh, ibumu ditusuk jarum matanya! Kau ingat baik-baik, manusia itu seperti binatang jahatnya dan engkaulah yang kelak harus mencarinya, kau balas dia, kau tusuk-tusuk matanya, kau bunuh dia.” Kwan Bu mengangguk-angguk.

“Dia nakal sekali ibu. Kelak kalau sudah besar, kucari dia.”

“Karena itu, engkau harus rajin bekerja agar Thai-ya suka kepadamu dan memberi pelajaran ilmu silat padamu.” Demikianlah, mulai kecil, Kwan Bu sudah dijejali perasaan dendam ini oleh ibunya. Ciok Kim yang memang hidup untuk ini, mulai menanam bibit dendam ini dan memupuknya setiap malam sehingga akhirnya anak itu terpengaruh dan mulailah memperhatikan majikannya untuk memperoleh ilmu silat seperti yang diharapkan ibunya, agar kemudian ia dapat membalas sakit hati itu terhadap si penjahat yang menurut ibunya memiliki ilmu silat tinggi!

Kwan Bu menyapu pekarangan belakang. Biarpun kedua tangannya bekerja, namun sepasang matanya memandang dengan penuh perhatian, dengan hati penuh ingin, ke tengah pekarangan dimana Bu Keng Liong tengah menerangkan teori ilmu silat kepada tiga Orang anak. Yang seorang adalah Bu Siang Hwi sendiri. Sekarang telah menjadi seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun, kedua adalah seorang pemuda tinggi besar bernama Liu Kong, berusia dua belas tahun dan anak ketiga adalah Kwee Cin berusia sebelas tahun, bertubuh kurus dan berwajah tampan. Liu Kong datang ke rumah keluarga Bu setahun yang lalu. Menurut dongeng yang di dengar para pelayan, Kwan Bu hanya tahu bahwa Liu Kong ini masih keponakan nyonya Bu dan bahwa ayah bunda pemuda itu tewas dalam pertandingan melawan musuh, dan bahwa kini pemuda ini ikut dengan pamannya untuk belajar silat.

Kwan Bu sendiri tidak dapat berbicara dengan Liu Kong yang kelihatannya segan untuk berkenalan dengan anak seorang pelayan. dan selalu memandang angkuh kalau bertemu muka sehingga Kwan Bu sendiripun tidak berani menegur. adapun Kwee Cin adalah seorang murid Bu Taihiap, kabarnya putera seorang sahabat baik dari kota Bi-ciu, yang kini tinggal bersama seorang pamannya di Kwi- cun dan setiap hari datang ke rumah keluarga Su untuk berlatih silat. Sudah hampir setahun pula Kwee Cin belajar ilmu silat pada Bu Taihiap. Tidak seperti Liu Kong, Kwee Cin lebih ramah kepada Kwan Bu, suka bertanya ini itu, akan tetapi karena ditegur Liu Kong ia kinipun jarang mengajak Kwan Bu bicara, hanya kadang-kadang tersenyum kepadanya. Teguran Liu Kong itu masih teringat oleh Kwan Bu, yang pada waktu itu menyakitkan hatinya.

“Kwee sute (adik seperguruan Kwee), perlu apa bicara dengan dia? Dia seorang pelayan, kalau kita layani dia akan menjadi besar kepala akhirnya berani menyamakan diri dengan kita. Kita akan menjadi rendah!” Namun Kwan Bu cepat menghapus sakit hati karena ucapan ini dari lubuk hatinya. Ia seorang pelayan. memang mengapa? Dia harus tahu diri. Liu Kong adalah keponakan majikannya. dan iapun menyebut Liu Kongcu (tuan muda Liu), adapun Kwee Cin adalah murid majikannya, putera seorang kaya lagi. Tentu berbeda dengan dia. Akan tetapi yang kadang-kadang terasa perih di dalam hati adalah sikap Bu Siang Hwi. Sebelum Liu Kong dan Kwee Cin menjadi murid Bu Taihiap, gadis cilik itu lebih ramah kepadanya.

Karena di rumah itu tadinya tidak ada anak-anak lain, maka Siang Hwi kadang-kadang mengajaknya bermain-main biarpun hanya untuk melayani segala kebutuhannya, misalkan menangkapkan kupu- kupu, mencarikan bunga-bunga, atau memanjat pohon mengambil sarang burung. Bahkan kalau sedang gembira, Siang Hwi suka bersilat memperlihatkan kepadanya, diam-diam Kwan Bu mencatat semua gerakan-gerakan itu untuk kemudian ditiru pada waktu malam dalam kamar ibunya. Akan tetapi setelah datang dua orang muda itu, Siang Hwi secara mendadak berubah sikapnya terhadapnya. Tak pernah lagi mengajak bicara apalagi bermain-main, dan kalau toh bicara sepatah dua patah, kata itu hanya menyuruh dia untuk membersihkan atau mengembalikan sesuatu.

“Kwan Bu, sapu pekarangan belakang yang bersih untuk latihan!” atau “Kwan Bu sirami tanaman yang di utara!” kadang-kadang ia disuruh mengambilkan minum atau keperluan-keperluan kecil lainnya. Sudah berulang kali Ciok Kim menghadap majikannya untuk mengajukan permohonan agar anaknya mulai dididik ilmu silat. akan tetapi harapannya lenyap bahkan ia terkejut sekali ketika ke dua majikannya itu memanggilnya ke dalam kamar dan Bu Taihiap berkata dengan suara yang tegas.

“Bhe Ciok Kim, kami tidak bisa mengajar silat anakmu!” Baru mendengar namanya disebut oleh majikannya itu saja, Ciok Kim sudah kaget setengah mati. Ia memandang dengan mata terbelalak, kemudian serasa mimpi ketika majikannya itu melanjutkan, suaranya halus mengandung iba.

“Aku telah pergi menyelidiki asal usulmu, Ciok Kim. Dan tahu bahwa engkau adalah puteri kepala kampung Bhe Ti Kun di dusun Kwi-cun. Penduduk dusun mengatakan bahwa puteri kepala kampung yang masih hidup bernama Bhe Ciok Kim telah lenyap pada malam penyerbuan para perampok, maka aku dapat mengerti bagaimana nasibmu selanjutnya.” Pendekar itu menghela napas panjang dan Ciok Kim yang diingatkan akan semua ini terisak-isak.

“Engkau ingin agar puteramu menjadi seorang ahli silat agar bisa membalas dendam kepada kepala perampok itu, bukan?” Ciok Kim mengangguk.

“Hanya itulah cita-cita hidup hamba     ”

“Hemm, kau hendak menyuruh anak itu membunuh ayahnya sendiri?” Ciok Kim tidak menjawab dan seperti dalam mimpi ia mendengar suara majikannya,

“Kami tidak mau mempunyai seorang murid yang kelak menjadi seorang durhaka, membunuh ayahnya sendiri. Karena itu, kami tidak akan mengajari ilmu silat kepada anakmu, sungguhpun kami tidak merasa keberatan kalau engkau dan anakmu bekerja di sini. Lebih baik hapuskan dendam itu dari dalam hatimu. Percayalah, orang yang jahat tentu akan menerima hukumannya dan kepala rampok itu tidak terkecuali. Kami sendiri adalah Orang-orang yang suka membasmi penjahat- penjahat dan pada suatu saat orang yang berbuat keji terhadap keluarga-mu itu pasti akan menerima hukuman.” Semenjak itu Ciok Kim lebih pendiam lagi. Namun tidak sedikitpun ia pernah melepaskan cita-citanya. Di waktu malam, ia membujuk Kwan Bu. untuk memperhatikan jika tuan- tuan muda dan nona belajar ilmu silat.

“Kau harus jadi orang pandai, anakku. Kalau tidak siapa yang kelak akan membalaskan ibumu. Kau rajinlah berlatih, meniru mereka, bahkan kalau perlu... boleh kau mencuri belajar saat majikan memberi petunjuk kepada mereka.”

Demikianlah, pada pagi hari itu. Kwan Bu yang sedang menyapu pekarangan, diam-diam memasang mata dan telinganya untuk mendengarkan dan melihat majikannya mengajarkan teori-teori ilmu silat. Setelah mendengarkan sebentar, mengertilah ia bahwa majikannya sedang mengajarkan ilmu Tiam-hiat-hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah! ia sudah mencuri dengar dan melihat tentang cara melatih jari, bahkan dia sendiri melatihnya di dalam kamar sampai berbuIan-bulan tanpa kenal lelah sehingga ujung jari tangannya menjadi keras dan kuat. akan tetapi baru kali ini ia mendengar tentang teori ilmu menotok yang amat membingungkan. Biasanya, otaknya amat cerdik, ingatannya amat kuat sehingga apa yang didengarnya satu kali, tidak akan terlupa lagi. Akan tetapi kali ini majikannya berbicara tentang bagian-bagian jalan darah yang amat banyak. Hal ini masih mudah ia ikuti, yang sukar ialah ketika gurunya memberi petunjuk tentang tempat- tempat jalan darah itu di tubuh. Tanpa melihat dari dekat mana ia mampu meniru? Ia meragu, menyesal sekali dan melanjutkan pekerjaanya ketika mendapat kenyataan betapa majikannya kini mulai memandang kearahnya. Bu Taihiap maklum bahwa anak itu amat ingin belajar dan tadi sudah mencuri dengar, akan tetapi, apakah artinya mengerti tentang jalan darah kalau tidak melatih jari dan tidak tahu di mana tempat harus di totok? Ia tidak mimpi bahwa anak pelayan itu setiap malam telah melatih diri dengan pasir panas untuk memperkuat jari-jari tangannya yang dapat ia sediakan atas bantuan ibunya, juga tidak menyangka bahwa Kwan Bu tidak hanya melatih jari, bahkan melatih beberapa macam ilmu pukulan yang ia dapatkan dari mencuri pandang!

“Di seluruh tubuh mengalir darah dengan jalan-jalan tertentu dan ilmu menotok harus tepat pada jalan-jalan darah tertentu pada saat yang tepat pula. Kalau sudah dilatih secara sempurna, setiap kali menotok akan mengenal jalan darah yang tepat. Lihat ini letaknya Ha-yang-hiat-to, di belakang leher ini Tong-cu-hiat-to dan ini adalah Kian-keng-hiat-to di pundak kanan, dan disambung dengan Hog- hu-hiat-to di belakang pundak.” Bu Keng Liong rnenerangakan satu-satu dengan jelas tanpa mengurangi kekerasan suaranya karena pendekar ini tidak khawatir akan Kwan Bu. Andaikata anak itu mendengar juga, apa gunanya? Tanpa melihat titik-titik yang ia tunjukan tanpa mempunyai jari terlatih dan tanpa mengetahui cara dan kedudukan jari tangan di waktu menotok, pengertian itu tidak akan ada gunanya. Ia merasa kasihan kepada anak ini yang mempunyai ibu bernasib malang, akan tetapi ia tidak mau mengajar Kwan Bu demi kebaikan anak itu sendiri agar tidak menjadi hamba nafsu dendam.

Namun ia tidak tega untuk memperihatkan ketidak sukanya mengajar dan secara terang-terangan melarang anak itu mendengarkan. Biarpun tangannya bergerak menyapu, namun telinga Kwan Bu benar saja mendengarkan itu semua. ingatannya yang tajam luar biasa mencatat semua yang di dengarnya sehingga setelah majikannya selesai mengajar ilmu menotok, ia sudah hafal semua akan nama-nama jalan darah dan tempat-tempatnya, sungguhpun ia tidak tahu persis di mana titik tempatnya. Ia tahu bahwa totokan pada Thian-hu-hiat membikin lawan menjadi lumpuh, totokan pada Tai-twi-hiat dan Teng-sin-hiat membuat lawan menjadi kaku, dan lain-lain. Juga mencatat untuk membikin sadar lawan kembali harus menotok pada ln-tai-hiat yang letaknya di dekat punggung!

Hatinya girang sekali, akan tetapi ia juga bingung. Ia tidak tahu betul di mana tempat-tempatnya yang tepat, dan tidak tahu pula bagaimana cara menotok dengan jari. Sering kali ia mendengar tiga orang anak yang menjadi murid majikannya itu bercakap-cakap menyombongkan ilmu silat guru mereka, menyebut-nyebut pula bahwa ilmu menotok guru mereka yang disebut Siang-ei-tiam-heat (Ilmu Menotok Sepasang Jari) dari Bu Taihiap adalah ilmu menotok keturunan keluarga Bu yang amat lihai dan terkenal di seluruh dunia kang-Ouw! Setelah majikannya selesai mengajar dan meninggalkan pekarangan di belakang rumah itu yang dipergunakan sebagai tempat latihan silat pula. Kwan Bu juga selesai menyapu pekarangan dan hendak meninggalkan tempat itu untuk bersendirian agar ia mengingat-ingat lagi semua pelajaran sukar yang baru saja didengarnya.

“Kwan Bu” Suara panggilan Bu Siang Hwi menahan gerakan kakinya. Entah mengapa. Setiap kali nama itu memanggil namanya, hatinya berdebar girang, hal yang sama sekali tidak ia ketahui mengapa. Ia membalikkan tubuh, menyeret gagang sapunya dan menghampiri mereka bertiga yang memandang kepadanya. aneh baginya, kali ini dua orang pemuda cilik itu memandangnya dengan mata ramah. sehingga hatinya menjadi semakin senang! Ia tersenyum lebar dan dengan wajah berseri ia berkata sambil menjura kepada Siang Hwi.

“Nona memanggil saya?” Siang Hwi yang baru berusia sepuluh tahun itu sudah Nampak cantik sekali. Pakaiannya adalah pakaian berlatih silat berwarna merah muda dan ringkas, sepasang pipinya merah sehat dan matanya jernih bersinar-sinar. Siang Hwi menganngguk kemudian berkata suaranya ketus memerintah.

“Buka bajumu!” Kwan Bu mengelak kaget, memandang nona itu dengan mata terbelalak, bibirnya bergerak dan berkata perlahan,

“Bu... buka... baju...?”

“Nona majikanmu memberikan perintah, engkau malah banyak cakap? Hayo buka bajumu, basah telek!” Bentak Liu kong marah.

“Apakah kau minta digaplok dulu?” Hati Kwan Bu mendongkol. Engkau bukan majikanku, pikirnya, kalau tidak mengingat kalau engkau keponakan majikan, mana sudi aku bicara denganmu, akan tetapi ia menekan kemendongkolan hatinya dan berkata halus.

“Saya tidak membantah, Liu kongcu hanya saya masih banyak pekerjaan, tidak berani bermain- main.”

“Tolol kau! Siapa bermain-main? Hayo buka bajumu cepat!” Liu kong mengamangkan tinju di depan hidung Kwan Bu. Di dalam hatinya, Kwan Bu sama sekali tidak merasa takut akan ancaman tinju itu, dan juga ia tidak sudi melakukan perintah Liu kong, akan tetapi karena tadi Siang Hwi sudah menyuruhnya, kini ia memutar tubuh menghadapi nona cilik itu sambil memandang. Siang Hwi mengangguk, tidak menghendaki Liu kong memukul Kwan Bu dan berkata,

“Betul, bukalah bajumu Kwan Bu. Kami hendak meminjam tubuhmu untuk memperdalam pelajaran yang baru kami terima dari ayah.” Lenyaplah perasaan terhina di hati Kwan Bu, terganti rasa girang.

Inilah kesempatan yang amat baik baginya! Tadi ia bingung karena tidak dapat melihat pelajaran teori itu, tidak tahu di mana letak titik yang tepat dari jalan-jalan darah yang sudah ia hafal namanya dan ia ketahui letaknya, akan tetapi tidak ia ketahui letak titik yang tepat. Ia menahan kegirangan hatinya agar tidak tampak pada mukanya, kemudian melepaskan gagang sapunya dan membuka bajunya yang biarpun bersih namun berpotongan sederhana, agak terlalu besar dan sudah robek di dua bagian. Ia membuka dengan hati-hati karena bajunya tidak banyak dan inipun adalah baju bekas majikannya yang diberikan kepadanya, baju bekas! Dengan tubuh atas telanjang bulat, ia kini berdiri menghadapi tiga orang anak itu.

“Wah, dadamu bidang sekali, Kwan Bu. Tubuhmu kekar kuat dan kulit dadamu putih bersih dan sehat.” Siang Hwi yang belum pernah melihat pelayan ini membuka baju, berseru dengan kagum dan sejujurnya. Ia masih terlalu kecil untuk mempunyai rasa sungkan dan malu menyaksikan tubuh atas yang bertelanjang bulat. Mendengar pujian ini, wajah Kwan Bu menjadi merah dan matanya berseri- seri. Liu Kong yang kulitnya agak hitam, biarpun tinggi besar namun dadanya tidak sebidang Kwan Bu, bentuk pundaknya tidak lurus dan tidak sekokoh tubuh pelayan ini. Ia melihat betapa mata pelayan ini berseri-seri maka timbul iri hati dan semburu dihatinya ketika mendengar pujian dari Siang Hwi.

“Hemm, tubuh yang dipakai bekerja setiap hari tentu kekar, akan tetapi kekar tak berisi, perutnya hanya penuh dengan tai!” Siang Hwi dan Kwee Cin tertawa geli mendengar usapan ini karena merasa Iucu. Dari pengemis sampai raja sekalipun kemana-mana membawa tai dalam perutnya! karena inilah mereka tertawa, akan tetapi bagi Kwan Bu, ucapan itu merupakan penghinaan hebat. Matanya yang tadi berseri kini menjadi keras, wajahnya menjadi muram, akan tetapi ia menekan perasaanya dan menggigit bibirnya. “Nah, inilah Yan-goat-hiat-to.......” Siang Hwi berseru girang sambil menuding dengan telunjuknya yang kecil menyentuh kulit di dada kiri Kwan Bu, di bawah ketiak. Kwan Bu memandang dan girang sekali. Kini tahu dimana letaknya Yang-goat-hiat yang menurut majikannya tadi kalau ditotok membikin orang menjadi kaku.

“Sssttt..! Sumoi, jangan sentuh! Pelajaran ini merupakan rahasia, bagaimana sumoi (adik seperguruan) memperlihatkan begitu saja kepada si tolol ini?”

“Aaah, kalau Kwan Bu tahu mengapa sih? Dia toh tidak akan mengerti ujung pangkalnya!” kata Siang Hwi, akan tetapi gadis cilik yang manja ini amat takut kepada ayahnya maka ia khawatir kalau-kalau suhengnya (kakak seperguruannya) ini akan mengadu kepada ayahya, maka ia menurut. Dapat dibayangkan betapa kecewa dan menyesal hati Kwan Bu karena kini mereka tidak lagi menyentuh kulit tubuhnya, hanya menunjuk dan malah sering membicarakan jalan darah yang berada di punggung. Namun ia ingat-ingat betul letak Yan-goat-hiat tadi dan biarpun hanya tahu satu tempat, baginya sudah cukup baik. Satu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

“Biar kucoba menotok dia!” tiba-tiba Liu kong berkata.

“Aihh, suheng! Kalau suhu tahu tentu kita mendapat marah. Ilmu menotok tidak boleh dibuat main- main kata suhu.” Kwee Cin mencegah suhengnya.

“Sute, apakah engkau akan menjadi setolol budak ini? Dia hanya seorang pelayan, dan kita toh tidak akan membunuhnya, hanya untuk memperdalam latihan. Andaikata suhu tahu pun agaknya beliau malah girang karena kita benar-benar berlatih secara sungguh-sungguh. Selain itu kalau teori ilmu menotok tidak dipraktekan. mana kita bisa mendapat kemajuan?”

“Kita harus Tanya dia dulu, mau atau tidak!” kata Siang Hwi.

“Perlu apa mesti tanya budak tolol    ” bantah Liu kong akan tetapi Siang Hwi segera memotongnya.

“Kalau ia tidak mau, kita tidak boleh paksa. Kalau ia kelak mengadu kepada ayah, kan kita celaka? ayah amat sayang kepada Kwan Bu, kau tahu?”

“Kalau dia mengadu, kepalanya akan kupukuli sampai babak belur!” akan tetapi Siang Hwi tidak memperdulikan omelan kakak seperguruan ini dan menghadapi Kwan Bu yang memandangnya dengan mata berseri kembali. Biarpun nona ini masih ketus dan galak terhadapnya, akan tetapi sedikit banyak membelanya, hatinya menjadi girang sekali karenanya. Selain itu, usul Liu Kong tadi diam-diam mendatangkan harapan baru di hatinya. Ia tidak takut kalau-kalau ia akan celaka dalam latihan mereka ini, yang penting ia harus dapat menguasai ilmu menotok yang dipuji-puji itu!

“Kwan Bu, kau kan mendengar tadi. Kami amat membutuhkan bantuanmu untuk melatih ilmu menotok. Maukah kau membantu dan meminjamkan tubuhmu untuk kita pakai berlatih?” Ia mengangguk dengan hati berdebar karena tegang.

“Aku akan mencobanya dulu!” kata Siang Hwi yang memasang kuda-kuda, kemudian ia meloncat ke depan, menusuk dengan dua buah jarinya, ke arah jalan darah Kin-seng-hiat di pundak kiri Kwan Bu. Kwan Bu yang merasa pundaknya sakit karena kedua jari itu biarpun kecil dan halus telah terlatih dan mengandung tenaga kuat. Biarpun merasa nyeri, namun ia memperhatikan betul-betul titik yang ditotok Siang Hwi. Tanpa ia sadari, karena melihat pundaknya hendak ditotok sebelum jari tangan anak perempuan itu menotoknya, Kwan Bu telah mengerahkan tenaga ke tempat itu, membuat pundaknya mengeras. lni menjadi sebab mengapa totokan itu gagal, di samping tidak tepatnya totokan itu sendiri karena belum terlatih. Kwan Bu menahan sakit dan hanya meringis, bersikap tolol seakan-akan tidak mengerti apa yang mereka perbuat atas dirinya.

“Wah, gagal    !” kata Siang Hwi kecewa.

“Kau coba lagi, di lambungnya!” kata Liu kong. Siang Hwi meragu, lalu bertanya kepada Kwan Bu.

“Sakitkah pundakmu?” Kwan Bu membohong. Ia pun tidak puas kegagalan itu karena gagal berarti tidak tepat totokannya dan berarti pula ia tidak mendapat pelajaran. Ia menggeleng kepala dan untuk membikin percaya anak perempuan yang memandangnya penuh perhatian itu ia menambahkan,

“Tidak sakit, hanya      geli!” Siang Hwi tertawa, agaknya lega hatinya.

“Aku mau coba sekali lagi. Kau diam saja, Kwan Bu.” Siang Hwi kembali melangkah mundur, memasang kuda-kuda yang amat diperhatikan oleh Kwan Bu. Ia mengenal kuda-kuda ini, dengan kaki kanan di belakang, kaki kiri di angkat dan ditekuk ke belakang, berdiri tegak, tangan kanan di atas kepala, mengacung, dan jari tengah bersama telunjuk menuding, tangan kiri menyentuh siku kanan. Tiba-tiba gadis itu menurunkan kaki kiri, meloncat dan merendahkan tubuh dengan gerakan indah sekali, menotok lambung kanannya.

“Cuss!! Kwan Bu merasa lambungnya nyeri sekali. Ia tidak mengerahkan tenaga lagi maka lambungnya menjadi lunak dan dua jari kecil itu seakan-akan menusuknya bolong. Rasa nyeri membuat ia menggigit bibir, akan tetapi akibatnya... tidak apa-apa. Padahal dalam pelajaran tadi disebutkan bahwa totokan pada jalan darah di lambung ini akan membuat ia lemas, Siang Hwi sudah melompat mundur lagi, memandang sasarannya dengan mata terbelalak penasaran.

““Kau... kau... tidak lemas?” Ingin rasanya Kwan Bu melemaskan diri pada saat itu karena kasihan melihat Siang Hwi yang tampak kecewa sekali. akan tetapi ia takut ketahuan kalau bersandiwara, maka menggeleng kepala sambil menunjukkan muka penuh penyesalan mengapa tubuhnya tidak menjadi lemas, seolah-olah kegagalan Siang Hwi adalah karena dia! Di samping menyesal demi kekecewaan Siang Hwi, iapun menyesal karena kegagalan itu, berarti kegagalan baginya.

“Gagal lagi..., ah, memang aku belum bisa, harus bertanya lagi kepada ayah,” kata Siang Hwi membanting kaki. Kwan Bu memandang. ah, diapun amat mengenal gerakan itu, membanting kaki kanan! Hal ini selalu dilakukan Siang Hwi semenjak masih kecil yaitu sebagai tanda bahwa ia kecewa, kesal hati, atau marah!

“Kau cobalah lagi, sumoi. Tak mungkin gagal terus!” Liu kong mendesak, ikut kecewa melihat sumoinya gagal dua kali.

“Tidak! Sudah cukuplah, kalian boleh mencoba.” Kwee Cin maju menghadapi Kwan Bu.

“Kwan Bu, aku mencoba, ya?” Kwee Cin memang tadinya juga ramah terhadap Kwan Bu, dan pelayan ini mempuyai kesan baik terhadap dirinya. Kwan Bu mengangguk, diam-diam mengharapkan kali ini Kwee Cin berhasil karena hal itu akan berarti ia berhasil pula. Kalau mereka ini yang sudah mempelajari secara langsung sampai gagal apa lagi dia! Kwee Cin memasang kuda-kuda seperti yang dilakukan oleh Siang Hwi tadi, kemudian ia menerjang maju dengan gerakan cepat dan dua jari tangan kanannya menotok pada jalan darah Kian-keng-hiat, di pundak kanan Kwan Bu. “Dukk!!!” Totokan itu keras sekali dan terasa oleh Kwan Bu betapa tenaga jari Kwee Cin jauh lebih kuat daripada jari tangan Siang Hwi. Tubuhnya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah dan ia merasa pundaknya kanannya sakit bukan main. Ia tadinya sudah girang. Inilah totokan yang berhasil baik, akan tetapi ia segera menjadi kecewa setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada akibat sesuatu pada tubuhnya kecuali sakit yang hebat. Rasa sakit itu sampai meresap ke ulu hatinya, membuat wajahnya pucat sekali.

“Ah... sakitkah, Kwan Bu ”

“Aku pun gagal!!” Kwee Cin maju memegang pundak Kwan Bu, mukanya memperlihatkan penyesalan yang tidak dibuat-buat. Suara penyesalan ini merupakan obat yang amat menyenangkan hati Kwan Bu, seperti pupuk dingin pada tubuh yang bengkak. Ia menggeleng kepala, tidak berani mengeluarkan suara karena takut rasa nyeri akan terbayang pada suaranya.

“Coba lagi, sute.”

“Ah, tidak suheng. Akupun belum sempurna seperti sumoi, akan mohon penjelasan dari suhu.” Jawab Kwee Cin mundur.

“Kalau begitu, biarlah aku yang mencoba. Kalian perhatikan!” kata Liu kong. Biarpun di dalam hatinya Kwan Bu ingin sekali melihat Liu kong gagal pula untuk inginnya mempelajari ilmu itu lebih besar, maka ia menekan perasaanya ingin melawan totokan-totokan Liu kong dengan tenaga. Ia dia saja berdiri, tidak mengerahkan tenaga dan totokan pertama datang dari belakang, mengenai pinggangnya.

“Dukkk!!!” Keras sekali totokan ini dan amat nyeri rasa pinggang Kwan Bu, menembus ke perut rasanya, membuat Kwan Bu membungkuk dan memegangi perutnya sambil menangis, akan tetapi ia tidak mengeluarkan suara keluhan sedikitpun juga. Dan datanglah totokan-totokan berikutnya dari Liu kong yang merasa penasaran. Bukan hanya rasa penasaran yang membuat Liu kong menyerang terus dengan totokan-totokannya, juga karena ia ingin melampiaskan amarah kepada Kwan Bu karena iri hati tadi mendengar Siang Hwi memuji-muji keindahan tubuh pelayan ini.

“Desss!!” Totokan yang keras sekali mengenai Hong-hu-hiat di belakang pundak. Kwan Bu terhuyung ke depan, kepalanya pusing pundaknya seperti lumpuh. Sejenak rasa girang mengusir rasa nyeri, akan tetapi kembali ia kecewa karena totokan inipun tidak mendatangkan akibat apa-apa kecuali nyeri pada bagian tertotok. Bukan nyeri karena tepatnya totokan, bahkan nyeri karena tidak tepat. Kemudian datang totokan bertubi-tubi dari Liu kong, pada punggung, pada leher, lambung, dan pundak. Tubuh Kwan Bu menggeliat-geliat ke sana-sini, roboh terguling, berdiri lagi.

“Cukup suheng......!” teriak Siang Hwi, namun sekali lagi Liu kong menotok Thian-hu-hiat dan...

seketika tubuh Kwan Bu menjadi lemas, mendeprok di atas tanah, kaki tangannya tak dapat digerakkan lagi. Lumpuh! Ia hanya memandang kepada tiga Orang di depannya itu dengan mata terbelalak. Ujung bibir kirinya mengeIuarkan sedikit darah, sikunya juga berdarah ketika ia roboh tadi dan pipinya biru karena menimpa batu.

“kau berhasil, suheng!!” kata Siang Hwi berseru girang. Gadis cilik ini lupa akan penderitaan Kwan Bu yang mebuat ia tadi mencegah suhengnya dan kini ia ikut berlutut bersama Liu kong dan Kwee Cin memeriksa keadaan tubuh Kwan Bu. Mereka menggerak-gerakan kaki tangan Kwan Bu yang lemas seperti tak bertulang lagi. “Bagaimana rasanya?” Tanya Liu kong menyeringai akan tetapi Kwan Bu tidak menjawab sama sekali bahkan melihat wajah anak itupun tidak.

“Apakah sama sekali kaki tanganmu tak dapat digerakkan, Kwan Bu?” Tanya Kwee Cin penuh perhatian gembira karena melihat hasilnya pelajaran itu. Kembali Kwan Bu tidak menjawab, hanya memandang Kwee Cin dengan mata muram. Siang Hwi memegang pundaknya.

“Kwan Bu, sakitkah?” Wajah anak perempuan ini penuh kekhawatiran dan entah bagaimana, terasa girang sekali hati Kwan Bu melihat nona majikannya berkhawatir untuknya! Ia lalu menggelengkan kepalanya. Karena akibat totokan ini hanya melumpuhkan kaki dan tangannya saja.

“Tidak, nona. Tidak sakit.” Jawabnya lemah. Ia membohong besar karena selama hidupnya, belum pernah ia merasakan nyeri yang sehebat sekarang ini. Bukan hanya nyeri akibat totokan yang berhasil ini, juga nyeri karena totokan-totokan Liu Kong yang gagal dan dilakukan bertubi penuh tenaga tadi.

“Suheng, lekas bebaskan kembali dia!” Siang Hwi berkata. Liu kong menyanggupi dan mereka lalu membalikan tubuh Kwan Bu sehingga menelungkup. Kemudian Kwan Bu merasa betapa punggungnya ditotok. Inilah jalan darah lntai-thiat-to seperti dalam pelajaran tadi dan ia memperhatikan baik-baik agar dapat mengetahui titiknya yang tepat. Akan tetapi ia kecewa. Totokan Liu kong itu tidak ada hasilnya sama sekali! Tubuhnya masih belum dapat bergerak karena kaki tangannya masih lumpuh! Mereka bergantian berusaha membebaskannya, akan tetapi sampai njarem [sakit-sakit) punggungnya, ia belum juga dapat dibebaskan!

“Ah, sudahlah, biarkan saja,” terdengar Liu Kong berkata,

“Bukankah menurut suhu, dibiarkan juga ia akan bebas sendiri setelah tiga jam ?” “Jangan suheng! Dia harus dibebaskan!” kata Siang Hwi,

“Sumoi benar, Kwan Bu harus dibebaskan dari totokan,” kata pula Kwee Cin.

“Akan tetapi setelah kita bertiga gagal, bagaimana membebaskannya? Mari kita gotong dia ke kamarnya agar dapat tidur dan nanti bebas sendiri!”

“Ah, repot-repot amat mengurus budak tolol ini. Biarkan saja di sini, nanti kan bebas sendiri. apa artinya tiga jam untuknya? Malah ia enak di sini bebas dari pekerjaan berat!” kata Liu kong. Mereka berbantahan dan akhirnya Liu kong menurut juga. Bersama Kwee Cin ia menggotong tubuh Kwan Bu yang lumpuh, sedangkan Siang Hwi membawa baju Kwan Bu. Pada saat itu. terdengar suara yang amat mengejutkan mereka bertiga, suara Bu Keng Liong.

“Apa yang kalian lakukan ini?” Tahu-tahu Bu Leng Liong telah muncul di depan mereka memandang dengan kening berkerut.

“Siang Hwi, tentu engkau yang membuat gara-gara ini!” Tiba-tiba Liu Kong berlutut di depan guru dan pamannya.

“Siokhu (paman), semua ini adalah kesalahan saya. Teecu (murid) yang minta bantuan Kwan Bu untuk menjadi percobaan ilmu tiam-hiat-hoat yang baru kami pelajari, teecu berhasil menotok Thian-hu-hiat di dalam tubuhnya, membuatnya lumpuh, akan tetapi Teecu dan sute serta sumoi tidak berhasil membebaskannya.” Tadinya Bu Keng Liong sudah marah sekali, marah melihat perlakuan yang keras dan kejam dari Liu Kong terhadap Kwan Bu. akan tetapi kini melihat betapa anak ini secara gagah mengakui semua kesalahan dan menutupi kedua adik seperguruannya, wajahnya menjadi terang kembali. Liu kong Sebetulnya anak baik, pikirnya, hanya terlalu keras hati, hal ini mungkin disebabkan oleh kematian ayah bundanya dalam pertandingan.

“Kalian bertiga lancang sekali sudah ku katakan bahwa ilmu tiam-hiat-hoat tidak boleh dibuat main- main. Kalau belum sempurna latihan kalian, tidak boleh sekali-kali dipergunakan. Hemmm, main- main seperti ini bisa menimbulkan kematian, tahu?”

“Nah, lihat baik-baik aku membebaskan Kwan Bu. Untuk membebaskan jalan darah ln-thai-hiat yang melingkar di seluruh pinggang sampai ke pusar dan yang berhubungan dengan semua jalan darah, kedudukan jari tangan harus begini, tidak membujur melainkan melintang, dan menotoknya tidak lurus ke depan melainkan agak dicondongkan ke bawah,

“Lihatlah!!!” Tiga orang murid itu melihat dengan penuh perhatian, akan tetapi agaknya lebih besar lagi perhatian Kwan Bu. Ia tidak dapat melihat seperti tiga orang anak itu, akan tetapi ia lebih untung daripada mereka karena ia dapat merasakan, dan perasaan ini membuat ia tahu dengan tepat di mana titik di bagian punggung untuk membebaskan totokan. Ia merasa punggungnya, agak di atas pinggang, sebelah kanan, ditumbuk dengan jari-jari yang keras, akan tetapi tidak mendatangkan rasa nyeri dan seketika rasa lumpuh pada kedua kaki tangannya lenyap, kaki tangannya dapat digerakkan kembali.

“Tenang, Kwan Bu, jalan darahmu kacau balau oleh totokan-totokan tadi, biar kuobati kau dan......

heee      ??” Pendekar itu membelalakan mata ketika melihat Kwan Bu bangkit, duduk, lalu bersila

meramkan mata dan mengatur pernapasan! semua ini dilakukan Kwan Bu secara otomatis dan tepat. sehingga sebentar saja kesehatan anak ini pulih kembali! Tiga orang anak yang memandangnya hanya mengira bahwa Kwan Bu beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, tidak tahu bahwa anak ini melakukan siulian untuk memulihkan luka-luka di bawah kulitnya yang tertotok berkali-kali. Setelah merasa tubuhnya sehat kembali. Kwan Bu bangkit lalu berdiri di depan Bu Keng Liong yang berdiri memandangnya sambil meraba-raba jenggot.

“Kwan Bu!” katanya, suaranya keren.

“Dari mana kau dapat melakukan siulian sambil mengumpulkan hawa di tubuh itu?” Sambil berlutut Kwan Bu yang tak dapat berbohong lagi berkata, suaranya takut-takut,

“Thai-ya... ampunkan hamba... hamba hanya meniru-niru... pelajaran nona Siang Hwi dan kedua kongcu..?” Bu Keng Liong mengangguk-angguk.

“Hem, kau suka mendengar, melihat, dan kemudian mempelajari, ya?” “Betul Thai-ya, ampunkan hamba..?”

“Kau juga melatih ilmu pukulan?”

“Celaka” pikir Kwan Bu, akan tetapi kini ia sudah melangkah maju, tak mungkin mundur lagi. Ia mengangguk, “Sedikit-sedikit, Thai-ya... hanya ngawur karena tidak ada yang sudi menuntun hamba...” Pendekar itu merasa disindir, dan memang ini yang dimaksudkan Kwan Bu yang mendengar dari ibunya bahwa ia tidak diterima menjadi murid!

“Bangunlah!” Suara Bu Keng Liong merupakan perintah dan dengan takut Kwan Bu bangkit dan berdiri.

“Cin ji (anak Cin) kau boleh mencoba dia, coba bertanding melawannya, hendak kulihat apa yang telah ia dapatkan!” perintah lagi sang guru. Kwee Cin meragu.

“Tapi.... tapi suhu... Kwan Bu tidak bisa silat!” Bantahan Kwee Cin ini diam-diam menyenangkan hati Bu Keng Liong karena menandakan sifat gagah muridnya yang tidak mau menyerang seorang yang dianggapnya bukan lawannya. Akan tetapi menjengkelkan karena hal ini menandakan kelemahan hati si murid yang tidak tunduk akan perintah guru.

“Biarlah teecu mencobanya, susiok!” kata Liu kong yang marah kepada Kwan Bu. Ia mengira Kwan Bu “mencuri” ilmu silat gurunya, maka kini siap memberi “hajaran”. Ia meloncat ke depan Kwan Bu lalu membentak.

“Kwan Bu, bersiaplah engkau menerima seranganku!” Kwan Bu yang masih bertelanjang dadanya itu tidak berani melawan, ia memandang majikannya, menggagap berkata.

“Tapi... tapi, Thai-ya...!”

“Kwan Bu engkau bukan seorang laki-laki?” pertanyaan ini keluar dari mulut Siang Hwi dan ucapan ini menggugah semangat Kwan Bu, membangkitkan keberaniannya. Karena majikannya tidak mau berkata apa-apa lagi, ia pun perlahan-lahan menghadapi Liu kong. Ia melihat Liu kong memasang kuda-kuda Chi-ma-he, tangan kanan Liu kong dipentang ke kanan lurus pundak dengan tangan mengepul, tangan kiri ditarik ke belakang dengan jari terbuka. Gagah kuda-kudanya ini, Kwan Bu memang seringkali berlatih di dalam kamar ibunya, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menggunakan semua gerakan silat yang dilatihnya itu untuk menghadapi lawan. Maka ia hanya berdiri dengan kedua kaki di agak tekuk dan kedua tangannya bergantung biasa. Melihat ini, Bu Keng Liong mengerutkan kening dan menjadi ragu-ragu. Akan tetapi ia belum merasa yakin lalu berkata.

“Kong ji, seranglah!” Liu Kong menyerang. Dahsyat serangannya ini, kakinya maju dengan teratur dan cepat sekali. Tangannya bergerak membingungkan Kwan Bu yang tahu-tahu sudah terpukul dadanya.

“Bukk!!!” Tubuh Kwan Bu terhuyung ke belakang, akan tetapi ketika tubuh lawannya mendesak maju mengirim tendangan, ia ingat akan gerakan mengelak yang dipelajarinya, secara otomatis tubuhnya miring dan merendah lalu secepat kilat tangan kirinya bergerak dari bawah menangkap pergelangan kaki lawan!

“Hemm...!” Bu Keng Liong kembali mengusap-usap jenggotnya. ltulah gerakan jurus Hio-tee-hoan- hwa (Di Bawah Daun Mencari Bunga) yang dilakukan cepat dan indah, dan memang tepat dipergunakan untuk menghadapi serangan tendangan lawan. Kalau Kwan Bu berlatih matang, pada detik berikutnya dengan sentakan tangan itu ke atas, tubuh Liu kong tentu akan terlempar ke belakang, atau lebih hebat lagi, dengan pukulan tangan ke arah bawah putar, bisa membahayakan Liu kong. Namun Kwan Bu yang hanya ngawur. Tentu saja tidak megetahui perkembangan selanjutnya, dan hanya memegang kaki kanan Liu kong itu erat-erat! Kesempatan ini dipergunakan Liu kong untuk mengirim tendangan berantai dengan kaki kirinya dengan meminjam tenaga Kwan Bu yang memegangi kaki kanannya.

“Blukk!” kembali perut Kwan Bu kena ditendang sampai ia terjengkang dan terguling tiga kali baru bangkit berdiri. Melihat anak ini meloncat bangun dari atas tanah terus berdiri, Bu Taihiap mengangguk-angguk. ltulah gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Meloncat) yang biarpun belum sempurna, namun masih lebih baik dari pada gerakan ketiga orang muridnya. Akan tetapi kini Kwan Bu dihajar benar-benar oleh Liu kong yang menerjang dan menyerangnya kalang kabut. Liu kong sebelum menjadi murid Bu Keng Liong, sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, gerakannya cepat, pukulannya mantap.

Dalam pembelaan dirinya, Bu Keng Liong sedikitnya ada sepuluh jurus, ilmu silatnya yang dimainkan Kwan Bu dengan cara baik sekali, akan tetapi kesemuanya ngawur dan tidak pada tempatnya. Hatinya merasa lega. Belum berbahaya, pikirnya. Mulai sekarang ia harus menjaga agar anak itu jangan sampai mencuri lihat muridnya berlatih lagi. Kwan Bu sudah babak belur, hidungnya kena tonjok, mengeluarkan darah. Mata kirinya biru, bibirnya pecah. Akan tetapi Liu Kong masih menyerang terus. Kalau budak ini belum roboh, aku masih belum mau sudah, pikirnya. Ada juga rasa penasaran karena sudah lima puluh jurus ia menyerang, belum juga Kwan Bu dapat dirobohkan. Beberapa kali roboh, selalu bangun kembali dan satu kalipun dia tidak pernah mendengar suara keluhan keluar dari mulut Kwan Bu.