--> -->

Dendam Membara Jilid 4

Jilid 4

Rumah itu cukup besar apabila dibandingkan dengan rumah-rumah lain didusun itu

Dan terawat rapi dan bersih, juga taman bunga di depan rumah itu penuh dengan bunga-bunga indah, di samping kirinya terdapat sebuah kebun yang ditumbuhi pohon-pohon buah

Nampak sunyi saja ketika Cin Han pada pagi hari yang tenang itu memasuki pekarangan rumah

Cahaya matahari mulai hangat dan cerah menembus celah-celah daun pohon, Cin Han merasa aneh sekali mengapa dalam suasana yang demikian penuh kedamaian dia datang untuk membunuh! Akan tetapi, dendam dalam hatinya haruslah dihanyutkan dalam perbuatan, dalam pembalasan yang sudah diinginkannya sejak bertahun-tahun

Begitu dia tiba di beranda yang nampak sunyi dan kosong, dia mendengar langkah kaki dari dalam

Dia berdiri dan memperhatikan, lalu melihat munculnya seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti pelayan, muncul dari dalam dan memandang kepadanya dengan ramah

"Aih, kiranya ada tamu!" kata orang itu sambil menghampiri Cin Han, memandang penuh perhatian lalu melanjutkan, "Saya belum pernah melihat kongcu

Siapakah kongcu ini dan ada keperluan apa datang berkunjung?" Pertanyaannya tetap ramah dan mengandung, keheranan karena bagaimanapun juga, dari sikap dan pakaiannya dia dapat menduga bahwa pemuda yang datang ini bukanlah seorang pemuda dusun itu, bahkan sama sekali bukan seorang pemuda petani

"Memang baru sekarang saya datang untuk mencari bekas Jaksa Lui dari kota Wan-sian

Benarkah di sini rumahnya?" Laki-laki itu memandang wajah Cin Han dengan alis berkerut dan kini sinar matanya memandang penuh selidik

Pertanyaan pemuda itu menunjukkan bahwa pemuda itu benar-benar seorang asing dan diapun menjadi curiga

"Ada keperluan apakah kongcu mencari Lo-ya (tuan tua Lui)? Dan siapakah kongcu ini, datang dari mana ?" Cin Han mulai merasa tidak sabar

Orang ini, melihat pakaiannya, hanya seorang pelayan dan dia yakin bahwa benar musuh besarnya berada di sini, maka diapun menjawab cepat

"Engkau tidak perlu tahu siapa aku, dan harap segera beritahukan kepada Lui-loya bahwa aku ingin bertemu dan bicara dengan dia mengenai urusan pribadi yang teramat penting!"

"Maaf, kongcu

Saya adalah pengurus di rumah ini, bukan hanya mengurusi rumah, akan tetapi juga semua urusan oleh lo-ya telah diserahkan kepada saya

Urusan jual beli hasil pertanian, urusan tanah atau

" "Sudahlah

aku tidak mempunyai urusan denganmu," kata Cin Han, kini agak marah

"Masuklah dan beri tahu kepadanya bahwa aku datang mencarinya!" "Tapi

tapi

dia sedang sakit

Mau apakah kongcu mencarinya?" Orang itu berkeras membantah, bahkan kini berdiri menghadang di depan pintu yang menuju ke dalam, seolah-olah hendak menghalangi pemuda itu masuk ke dalam, Melihat sikap ini, Cin Han menjadi semakin tak sabar lagi

"Aku mau membunuhnya!" Tiba-tiba saja sepasang mata itu terbelalak, mulutnya ternganga dan mukanya berubah pucat bukan main

Orang itu memalangkan kedua lengan ke kanan kiri dan menghadapi Cin Han dengan nekat

"Tidak! Engkau atau siapapun tidak boleh membunuhnya! Tolooonggg ada pembunuh

!" Tentu saja Cin Han menjadi semakin mendongkol

"Minggirlah!!" bentaknya dan diapun mendorong pundak orang itu

Sekali dorong saja, orang itu terpelanting, akan tetapi dengan nekat dia bangkit kembali dan menghadang di depan pintu

"Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya! Tidak boleh

biar engkau bunuh aku lebih dahulu!" Melihat kenekatan ini, hati Cin Han tertarik

Jelas orang ini bukan tukang pukul, bukan pula orang jahat yang suka mempergunakan kekerasan, melainkan seorang pelayan biasa

Akan tetapi kenapa dia membela majikannya demikian mati-matian dan setia? "Eh, bukankah engkau ini hanya seorang pelayan saja? Kenapa mati-matian hendak membela majikanmu?" "Anjingpun akan setia dan membela majikannya yang baik hati, apa lagi manusia!" jawab orang itu dan kembali Cin Han tertegun heran

Ada yang menganggap Lui Taijin seorang yang baik hati sehingga orang ini begini mati-matian hendak membelanya? Sukar untuk dapat menerima kenyataan baru ini

Baginya, orang she Lui itu adalah sejahat-jahatnya orang, telah meracuni ayah kandungnya dan mempermainkan ibu kandungnya

Dibunuh seratus kalipun belum cukup untuk menebus dosanya! "Minggirlah, paman

Sungguh aku tidak mempunyai urusan denganmu dan tidak ingin mengganggumu

Minggir dan jangan mencampuri urusan pribadiku dengan orang she Lui itu

" "Tidak, biar aku dibunuh, aku tidak mau membiarkan engkau masuk!!" Orang itu berkeras "Pergilah engkau, pembunuh dan jangan ganggu kami orang baik-baik!" "Orang baik-baik??" Cin Han mengulang dan kini orang itu malah memukulnya

Tentu saja pukulan itu sama sekali tidak ada artinya bagi Cin Han dan ketika dia menangkis kembali orang itu terpelanting

Tiba-tiba terdengar suara bentakan halus dan nyaring, "Manusia jahat, berani engkau mendatangkan keributan di rumah kami?" Cin Han membalikkan tubuhnya dan dia terpesona! Gadis itu! tak salah lagi, gadis yang pernah membuatnya tak dapat tidur itu, kini tiba-tiba muncul lagi

Demikian cantik jelita, demikian lincah dan gagah! "Siocia, penjahat ini datang untuk membunuh loya! Dia berkeras hendak menerjang masuk dan membunuhnya!" Pelayan itu sudah cepat berlari dan agaknya dia merasa lega dan gembira melihat nona majikannya pulang karena dia maklum akan kelihaian nonanya

Mendengar laporan ini, sepasang mata yang bening dan tajam seperti mata burung Hong itu terbelalak, mukanya menjadi merah, dan mengerutlah sepasang alis yang hitam kecil panjang itu

"Apa? Engkau datang untuk membunuh ayahku? Keparat! Sebelum aku menghajarmu, katakan dulu siapa engkau dan mengapa pula engkau hendak membunuh ayahku!!" Kini wajah Cin Han berubah agak pucat dan dia merasa jantungnya seperti ditusuk, Gadis ini puteri musuh besarnya, puteri Lui Tai jin ! Kalau begitu ia

ia

Nona Kim Eng

tak terasa lagi nama ini keluar dari mulutnya

Gadis itu memang Lui Kim Eng, puteri dan anak tunggal bekas Jaksa Lui yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa berusia tujuh-belas tahun

Mendengar orang itu menyebut namanya, Kim Eng juga menjadi kaget dan memandang penuh perhatian

"Hemm, agaknya engkau mengenalku dan mengenal keluargaku

Akan tetapi aku tidak tahu siapa engkau dan apa pula maksudmu hendak membunuh ayahku

"

Ia mengamati wajah itu, dan kini ia merasa seperti mengenal wajah pemuda yang hendak membunuh ayahnya ini

"Kau

kau

siapakah engkau?" "Nona Kim Eng

aku adalah Cin Han

" Kim Eng mengerutkan alisnya, mengingat-ingat karena ia sudah lupa lagi akan nama itu

Kemudian ia teringat akan anak laki-laki yang pernah bekerja pada keluarganya ketika mereka masih tinggal di Wan-sian, anak laki-laki yang menjadi kacung, putera dari seorang pelayan wanita

"Aihh

Engkau

engkau anak laki-laki she Bu itu yang ibunya mati membunuh diri

" Ketika Cin Han mengangguk, wajah Kim Eng menjadi merah dan ia semakin marah

"Bagus! Manusia tidak mengenal budi! Keluarga orang tuamu bekerja pada ayah, bahkan kalau tidak salah mendiang ayahmu pernah pula bekerja pada keluarga kami, ibumu menjadi pelayan dan engkau sendiri tinggal di sana

Seluruh keluargamu mendapat segalanya dari ayahku, dan sekarang setelah menjadi dewasa, engkau datang untuk membalas semua kebaikan itu dengan membunuh ayahku? Keparat, engkau sungguh jahat!" Dan tiba-tiba saja Kim Eng sudah menyerangnya dengan dahsyat sekali

Tamparan tangan kiri gadis itu mengarah kepalanya, sedangkan jari tangan kanan menyusulkan totokan ke arah jalan darah di dada kiri

Sungguh merupakan serangan yang cepat dan kuat, berbahaya sekali

Menghadapi serangan ini, Cin Han cepat menghindarkan diri dengan gegeran kaki ke belakang dan miringkan tubuhnya

Akan tetapi, begitu serangan kedua tangannya luput, Kim Eng sudah menyusulkan tendangan beruntun sampai empat kali! Kembali Cin Han mengelak cepat sehingga kedua kaki gadis itu yang melayang bergantian hanya mengenai tempat kosong

"Hemm, kiranya engkau pernah belajar ilmu silat, pantas menjadi kepala besar dan berani mati

Akan tetapi jangan harap akan dapat membunuh ayah selama aku masih berada di sini!" kata Kim Eng yang menjadi semakin penasaran, kini menyerang semakin hebat dan gencar

Diam-diam Cin Han terkejut

Ilmu silat gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan! Diapun bergerak dengan cepat, menangkis atau mengelak untuk menyelamatkan diri dari hujan serangan yang dilakukan gadis itu

Diapun balas menyerang, akan tetapi bukan untuk melukai, apa lagi merobohkan lawan, melainkan untuk membendung datangnya serangan yang demikian dahsyat dan gencarnya

Hatinya terpikat oleh gadis ini sejak pertemuan pertama, dan siapa kira bahwa gadis yang membuatnya tergila-gila itu bukan lain adalah Lui Kim Eng gadis yang di waktu kecilnya sudah bersikap ramah kepadanya dan yang bukan lain adalah puteri tunggal musuh besarnya sendiri! Kenyataan ini membuat hatinya nyeri, akan tetapi permusuhan dan kebenciannya terhadap ayah gadis ini sama sekali tidak melenyapkan rasa kagum dan cintanya terhadap Kim Eng

Sebaliknya, rasa kagum dan cintanya terhadap gadis itupun tidak mampu mengusir kebencian yang terkandung di dalam hatinya di mana dendam membara sejak dia kecil

Dia banyak mengalah dalam perkelahian ini, dan hanya mempergunakan kecepatan dan kekuatan tubuhnya untuk membela diri tanpa niat sedikitpun untuk mengalahkan Kim Eng

Sementara itu, Lui Kim Eng juga merasa terkejut dan terheran-heran

Ia tidak mengenal Cin Han sebagai pemuda yang pernah ditolongnya dari serangan perampok beberapa pekan yang ialu

Dalam pertemuan itu, beberapa kali ia mengalami guncangan batin yang hebat

Mula-mula melihat bahwa Cin Han, kacung itu, kini bukan saja telah menjadi seorang pemuda yang tampan, akan tetapi juga seorang pemuda yang hendak membunuh ayahnya! Dan kini, semua serangannya gagal! Hal ini membuat ia terkejut, terheran dan penasaran sekali

Semenjak kurang lebih tujuh delapan tahun yang lalu, setelah ayahnya memboyong keluarganya meninggalkan kota diam-diam dan pindah ke dusun ini, ia berguru kepada seorang sakti yang menyatakan bahwa ia berbakat sekali, dan bahkan gurunya sendiri mengatakan bahwa ia telah menguasai banyak ilmu silat yang tinggi dan bahwa ia sudah memiliki ketangguhan yang sukar menemui tandingan

Hal ini sudah dibuktikannya sendiri karena entah sudah berapa puluh kali ia menghajar dan membasmi gerombolan penjahat yang suka mengganggu di daerah Bin-juan dan sekitarnya

Dusunnya sendiri, Liang-ok-bun, kini menjadi sebuah dusun yang amat tenteram setelah ia dan suhengnya, yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya, melakukan pembersihan dan membasmi semua gerombolan penjahat

Akan tetapi mengapa sekarang, menghadapi Cin Han, bekas kacung itu, ia telah menyerang lebih dari tiga puluh jurus dan belum pernah ia berhasil menyentuhnya? Bahkan kadang-kadang kalau pemuda itu menangkis, ia sempat terhuyung

Dan ia bukan seorang anak kecil, melainkan seorang gadis dewasa yang berilmu tinggi sehingga tentu saja ia maklum bahwa dalam perkelahian itu, Cin Han tidak pernah membalas dengan serangan berat

Pemuda itu seolah-olah mengalah! Hal inilah yang membuatnya merasa penasaran sekali, karena dianggapnya Cih Han memandang rendah kepadanya

"Singgg

!" Nampak sinar berkelebat ketika Kini Eng mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya

Sebatang pedang yang pendek saja, hanya dua kaki, namun bermata dua dan tajam, juga runcing sehingga baja itu mengeluarkan sinar kebiruan dan ronce-ronce merah menghias gagang pedang

Akan tetapi Kim Eng tidak segera menggerakkan pedang menyerang, melainkan berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan, dipegang di depan dahi dan menuding lurus ke atas, sedangkan tangan kirinya diletakkan di depan dada dengan miring, jari telunjuk dan tengah juga menunjuk ke atas, tiga lainnya ditekuk

"Keluarkan senjatamu!" bentaknya dengan, sepasang mata tajam berkilauan seperti mata pedangnya memandang kepada wajah Cin Han

Melihat Kim Eng mengeluarkan sebatang pedang, diam-diam Cin Han merasa semakin khawatir dan bingung

Sejak perkelahian tadi dimulai, dia sudah bingung sekali

Terjadi pula perkelahian di dalam batinnya, antara cinta terhadap gadis itu dan bencinya terhadap ayah gadis itu

Kita biasa saling menghadapkan dendam dan cinta, seolah-olah cinta adalah lawan dari benci

Inilah sebabnya mengapa seringkah terjadi orang yang tadinya mengaku paling mencinta setengah mati, di lain waktu berubah menjadi saling membenci setengah mati!!

Jelaslah bahwa

, "cinta" dan benci seperti itu pada hakekatnya sama saja, bersumber sama, yaitu dari nafsu! Nafsu mengejar kesenangan pribadi, menimbulkan cinta dan benci seperti itu

Kalau disenangkan, maka cintalah, kalau disusahkan maka bencilah yang timbul sebagai gantinya

Namun, cinta yang sesungguhnya jauh lebih besar dari pada itu

Cinta adalah suci, murni, menjadi sifat dari Tuhan

Tuhan adalah Cinta, Tuhan adalah Hidup

Tuhan adalah Kebenaran dan Kenyataan! Kalau dalam batin kita terdapat cinta, maka segala apapun yang kita lakukan adalah benar dan baik

Kalau batin kita diterangi sinar cinta kasih, tidak mungkin ada dendam, tidak mungkin ada kebencian

Cinta tidak dapat dipelajari, tidak dapat dilatih, tidak dapat dicari

Cinta datang dengan sendirinya menerangi batin yang bersih, batin yang kosong dan bebas, batin yang tidak dipenuhi dengan pengaruh dan kekuasaan si-aku dengan seribu satu keinginannya

Bagaikan sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar yang jendela dan pintunya terbuka, melalui kaca-kaca yang bersih dari kotoran dan debu, demikian pula cinta kasih menerangi batin yang kosong dan bersih

Dan batin baru dapat kosong dan bersih kalau kita mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kekotoran sendiri, waspada dan sadar sehingga mulai detik ini pula, membuang semua kotoran dan tidak membiarkan debu dan kotoran baru memasuki, rongga batin kita

Cin Han masih bingung menghadapi Kim Eng yang sudah siap dengan pedangnya

Dia amat kagum kepada gadis itu, cantik jelita dan gagah perkasa, dan kenangan manis tentang Kim Eng di waktu kecil, begitu mungil dan manis, menambah kemesraan yang tumbuh di dalam hatinya

Dia memang tidak memiliki senjata

Gurunya pernah berkata, "Muridku yang baik, ilmu silat bukan alat untuk membunuh atau mencelakai orang

Ilmu silat hanya untuk menyehatkan diri lahir batin, untuk menyalurkan keindahan dalam gerak, dan untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya

Tidak demikian dengan senjata

Senjata sifatnya ganas dan keras, lebih condong untuk merobohkan lawan

Senjata yang paling ampuh dan baik adalah anggauta tubuh kita sendiri, asal dipergunakan dengan tepat dan dilatih dengan tekun

Kaki tanganmu tidak kalah oleh senjata apapun juga

" Karena, demikian pendapat gurunya, maka diapun tidak pernah memegang senjata dan semua ilmu silat yang dipelajarinya dari Hek-bin Lohan adalah ilmu silat tangan kosong

"Nona, aku

aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan denganmu atau dengan siapa juga

" Akhirnya dia berkata sambil memandang wajah yang manis ini

Gadis itu mengeluarkan suara mengejek, "Huh, engkau tidak ingin berkelahi atau bermusuhan, akan tetapi ingin membunuh ayahku!

Apakah engkau sudah gila? Hayo cepat keluarkan senjatamu, kalau tidak, aku

aku akan menyerangmu dengan pedang ini!" "Aku tidak mempunyai senjata

aku, aku harus membunuh ayahmu, dan aku tidak ingin berkelahi denganmu

" bagaikan seorang yang ling-lung Cin Han berkata, suaranya seperti orang memohon pengertian

Kim Eng menjadi semakin marah

"Bagus!! Engkau harus membunuh ayahku, ya? Kalau begitu aku akan membunuhmu lebih dulu!" Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menyerang dengan tusukan pedangnya

Ujung pedang menyambar ke arah tenggorokan Cin Han yang cepat mengelak dengan menggeser kaki ke belakang dan menjauhkan tubuh sehingga ujung pedang itu tidak sampai mengenai sasaran

Akan tetapi, Kim Eng sudah melangkah maju dan kini pedangnya diputar cepat, mengirim serangan bertubi-tubi, tusukan dan bacokan silih berganti menyambar-nyambar ke arah tubuh Cin Han! Kembali pemuda ini kaget

Kalau ilmu silat tangan kosong gadis itu sudah hebat tadi, kini ilmu pedangnya ternyata lebih dahsyat lagi

Gerakannya demikian ringan dan cepat, juga mengandung tenaga yang kuat sehingga dia tidak akan berani secara gegabah menyambut pedang itu dengan lengan dan tangan, walau telah mengerahkan sin-kang sekalipun

Maka Cin Han lalu mempergunakan langkah-langkah aneh untuk menghindarkan diri, tubuhnya juga menyelinap di antara sambaran pedang, kadang-kadang saja dari samping dia berani menyampok pedang dengan tangan dan berusaha untuk menotok atau mencengkeram ke arah lengan kanan Kim Eng yang memegang pedang

Gadis itupun diam-diam merasa kaget dan kagum bukan main

Biarpun tadi tidak pernah mengakui dengan kata-kata, namun di dalam hatinya ia mengakui keunggulan pemuda itu ketika mereka berkelahi dengan tangan kosong

Ia sudah kagum sekali, akan tetapi kini, melihat betapa semua serangan pedangnya dapat dihindarkan dengan baik bahkan beberapa kali lengannya terancam oleh cengkeraman dan totokan Cin Han ia sungguh merasa kagum dan heran

Suhengnya sendiri, jangan harap akan mampu menandinginya lebih dari dua puluh jurus kalau ia berpedang dan suhengnya bertangan kosong

Akan tetapi, sudah hampir tiga puluh jurus ia menyerang, belum juga pedangnya mampu merobohkan Cin Han

Jangankan merobohkan atau melukai, bahkan mengenai ujung bajunya-pun belum! Dan iapun tahu bahwa pemuda ihi tetap saja masih mengalah biarpun menghadapi pedangnya dengan tangan kosong

Kalau pemuda ini bersungguh-sungguh dan membalas serangannya dengan serangan yang berisi, mungkin sudah sejak tadi ia roboh

Akan tetapi, ia selalu teringat bahwa pemuda ini merupakan bahaya bagi keselamatan ayahnya, maka dengan nekat iapun menyerang terus

Pada saat itu, terdengar seruan, "Aihhh

Kim Eng, jangan berkelahi

hentikan seranganmu itu

!" Kim Eng mengenal suara ibunya, maka iapun meloncat mundur ke dekat ibunya

Legalah hati Cin Han dan diapun berdiri menghadapi dua orang wanita itu dengan sikap tenang

"Ibu, dia ini orang jahat, dia datang hendak membunuh ayah!! Karena itu aku harus membunuhnya lebih dahulu !" kata Kim Eng, membela diri karena teguran ibunya dalam suara tadi dan dalam pandang matanya

Wanita itu adalah Lui Toa-nio (Nyonya Besar Lui), isteri bekas jaksa Liu yang segera dikenal oleh Cin Han

Nyonya itu kini nampak tua, dan pakaiannya tidaklah seindah dahulu

Juga Kim Eng mengenakan pakaian sederhana dan ringkas, bukan pakaian bangsawan seperti dahulu

Mendengar keterangan puterinya, Lui Toa-nio yang baru datang itu terkejut dan memandang kepada Cin Han, Mereka saling pandang, dan sinar mata nyonya itu mengandung keheranan karena ia mengenal pemuda itu! "Kau

bukankah Bu Cin Han yang dulu pernah berada di rumah tangga keluarga kami

?" Cin Han segera memberi hormat kepada nyonya tua itu

Dia teringat betapa nyonya ini merupakan orang yang bijaksana dan baik sekali, sungguh seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan suaminya

Bahkan ketika dia diusir dari rumah keluarga itu, nyonya inilah yang bersikap baik kepadanya, memberinya bekal uang

"Benar sekali, toa-nio

Saya adalah Bu Cin Han

Maafkan kedatangan saya seperti ini, toa-nio, akan tetapi saya kira toa-nio juga mengerti mengapa saya bermaksud membunuh suami toa-nio

" "Ahhhh

!!" Wanita tua itu menutupi muka dengan kedua tangannya dan ia menangis

Melihat ini, Kim Eng menjadi marah lagi

"Ibu, biar kubunuh keparat ini!" Ia sudah hendak menerjang lagi ketika ibunya memegang lengannya

"Jangan, Kim Eog

, dia„

dia memang beralasan untuk membunuh ayahmu

" Dan kini air mata bercucuran dari kedua mata wanita tua itu

Betapa banyak penderitaan dialami semenjak menjadi isteri dari ayah Kim Eng

Dahulu, di waktu ia masih muda, suaminya itu yang masih menjadi seorang pejabat yang berkuasa dan kaya raya, selalu menyakiti hatinya dengan mengumpulkan banyak selir dan selalu berganti kekasih baru tanpa memperdulikan perasaan hatinya

Kemudian, malapetaka itu tiba, Suaminya kena fitnah dan dipecat dari kedudukannya dengan tidak hormat, bahkan harta bendanya disita pemerintah sehingga mereka jatuh miskin dan terpaksa pindah ke dusun itu tanpa membawa apa-apa

Semua selir juga meninggalkan suaminya, demikian pula semua kawan lama

Hanya ia dan puterinya, dan pelayan yang seorang itu saja yang dengan setia terus mengikutinya

Ia tahu pula akan peristiwa kematian ayah Bu Cin Han ini, juga tentang kematian ibunya

Mendengar ucapan ibunya, seketika wajah Kim Eng menjadi pucat sekali

"Apa kata ibu ? Dia beralasan hendak membunuh ayah? Apa yang telah dilakukan ayah kepadanya? Bukankah dahulu kita bersikap baik kepadanya, juga kepada ibunya yang membunuh diri itu?" "Aiihh

engkau memang tidak pernah tahu tentang ayahmu, Kim Eng

dan aku selalu menyembunyikannya darimu agar engkau tidak memandang rendah kepada ayahmu! Akan tetapi, sekarang

agaknya terpaksa aku harus menceritakan kepadamu

" "Tidak! Aku tidak perduli apapun yang pernah dilakukan ayah kepadanya, akan tetapi aku akan membela ayah dengan jiwaku kalau dia hendak membunuhnya!!" Kembali Kim Eng siap untuk menyerang Cin Han, "Cin Han, engkau datang untuk membunuh suamiku

Nah, jelaskanlah, apa yaog telah dilakukan suamiku terhadap dirimu maka engkau mendendam kepadanya?" tanya nyonya itu, "Akan tetapi

saya yakin bahwa toa-nio sudah tahu

" kata Cin Han

"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri," jawab nyonya itu karena ia belum yakin apakah Cin Han telah mengetahui semuanya

Sebetulnya Cin Han tidak ingin menceritakan semua sebab dendamnya di depan Kim Eng karena dia tidak ingin membuat gadis itu berduka, akan tetapi kini dia terpaksa bicara, bahkan diapun menganggap bahwa sebaiknya kalau gadis itu mengetahui agar tidak merasa penasaran lagi!! "Ayah saya yang menjadi pegawai Lui Tai-jin telah tewas karena diracun oleh Lui Tai-jin agar ibu saya dapat dijadikan selirnya

Setelah dia bosan kepada ibu saya, lalu ibu saya diberikan dengan paksa kepada tukang kebun Pbang Lok

Ibu saya diperkosa oleh Phang Lok di depan mata saya, kemudian ibu saya membunuh diri dengan membenturkan kepala di dinding

" Selama bercerita dengan singkat ini, pandang mata Cin Han tidak pernah meninggalkan wajah Kim Eng dan gadis itupun mendengarkan sambil memandang kepadanya

Dia melihat betapa sepasang mata gadis itu terbelalak dan mukanya menjadi semakin pucat

"Bohong!! Dia membohong, ibu!! Tidak mungkin ayah melakukan perbuatan sejahat itu!" Kim Eng berseru marah

"Ada benarnya, ada pula bagian yang tidak benar," kata Nyonya Lui kepada Kim Eng, juga kepada Cin Han karena kini ia memancang kepada pemuda itu

"Agaknya engkau memperoleh keterangan yang tidak benar seluruhnya, orang muda

Dari siapakah engkau memperoleh keterangan sumua itu ?" "Dari mendiang ibu, sebelum ia meninggal dunia karena bunuh diri

" Nyonya itu mengangguk-angguk

"Terserah engkau mau percaya atau tidak kepadaku, Cin Han, akan tetapi aku harus menceritakan hal yang sebenarnya kepadamu, sama sekali bukan untuk membela suamiku, melainkan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi

Suamiku memang seorang yang lemah sekali terhadap wanita

semoga Tuhan mengampuninya, akan tetapi dia bukan seorang jahat yang berhati kejam

Ketahuilah, mendiang ayahmu, merupakan seorang pegawai yang setia dan sudah bertahun-tahun bekerja pada suamiku

Karena itu, ketika dia mengajukan permohonan agar, isteri dan anaknya boleh diboyong ke dalam perumahan kami, suamiku menyetujuii

Isteri ayahmu, yaitu ibu kandungmu, masih muda dan ia cantik manis, juga

genit

" "Ini bukan kukatakan karena aku cemburu, Cin Han

Sudah terlampau biasa aku melihat suamiku menyukai wanita lain sehingga tiada cemburu lagi di hatiku

Baru beberapa pekan saja tinggal di rumah kami, suamiku tergila-gila dan ibumu

menyambut uluran cintanya

Aku pura-pura tidak tahu saja

Akan tetapi pada suatu malam, ayahmu sakit keras, muntah-muntah dan meninggal dunia! Dan keterangan tabib, kami tahu bahwa ayahmu, meninggal karena keracunan

" Cin Han mengepal tinjunya

"Diracun oleh Lui Tai-jin, tentu dengan menyuruh orang, lain

" "Bukan, Cin Han

Ayahmu keracunan karena, racun yang ditaruh ke dalam makanannya ketika dia makan malam dan yang menaruh racun itu adalah

ibumu sendiri

" "Tidak

Tidak mungkin

!!"

Cin Han berteriak, wajahnya menjadi pucat sekali

Nyonya itu tersenyum sedih

"Sudah sepatutnya engkau tidak percaya, akan tetapi demikianlah kenyataannya

Dua orang pelayan melihat ketika ibumu membuang sisa makanan dan sisa racun dalam botol, ke dalam tempat sampah

Kami melakukan penyelidikan dan tahu akan hal itu

Ibumu meracuni suaminya sendiri karena dianggap penghalang hubungannya dengan suamiku

aih, sungguh memalukan sekali perbuatan mereka berdua itu

Ibumu mempunyai cita-cita yang besar, ingin mengambil hati suamiku agar kelak menjadi selir nomor satu dan berkuasa

" "Tapi

bagaimana mungkin saya mempercayai cerita seperti itu tentang ibu kandung saya, toa nio? Semua itu fitnah belaka!" "Terserah kepada penilaianmu, Cin Han

Namun demikianlah kenyataannya

Ketika mengetahui akan hal itu, suamiku marah dan hendak membawa ibumu ke pengadilan atau mengusirnya

Akan tetapi aku yang melarangnya karena kasihan kepada ibumu, kepadamu

Akhirnya, kami bersepakat memberikan ibumu kepada Phang Lok, tukang kebun yang setia agar ibumu kembali berumah tangga dan terbebas dari aib

Akan tetapi ia

ia malah nekat membunuh diri

" "Ah, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai fitnah itu?" Cin Han kembali berseru dengan nada penuh penasaran

"Cin Han!" Kini Kim Eng membentak danr menudingkan telunjuknya ke arab muka pemuda itu

"Engkau ingin menang sendiri! Yang bersalah dalam hal ini adalah ayahku dan juga ibumu

Merekalah yang mempunyai ulah sehingga menimbulkan korban ayahmu yang diracuni oleh ibumu sendiri

Dan engkau berani mengatakan bahwa ibuku melemparkan fitnah? Bukankah dengan ulah mereka berdua itu ibu sudah menderita batin yang hebat? Kalau engkau membela ibumu mati-matian, akupun berhak membela ayahku mati-matian

Nah, sekarang engkau mau apa lagi ?" Sejenak Cin Han menjadi bingung sekali, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan

Dia sungguh bimbang dan sukar untuk percaya bahwa ibunya mempunyai watak yang sedemikian buruknya, akan tetapi diapun-teringat betapa Nyonya Lui ini seorang yang baik hati, bahkan sampai sekarang sikapnya, demikian lemah lembut dan pandang matanya, demikian jernih

Akan tetapi, bagaimanapun juga, yang menjadi korban adalah ayahnya dan ibunya

Mereka telah tewas, sedangkan jaksa Lui sekeluarga dalam keadaan selamat! "Aku harus membunuh Jaksa Lui!" katanya tegas

"Bagus, kalau begitu aku akan mengadu nyawa denganmu!"; ia berkata demikian, Kim Eng sudah menggerakkan pedangnya lagi menyerang, tidak perduli akan teriakan ibunya yang melarangnya

"Eng-ji

jangan

,

! Jangan berkelahi

!" Akan tetapi, Kim Eng marah sekali karena pemuda itu nekat hendak membunuh ayahnya, maka kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengirim serangan dengan jurus-jurus paling dahsyat

Cin Han juga cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak

Tiba-tiba terdengar suara yang berat, "Kim Eng, tahan pedangmu dan mundurlah!" Mendengar suara ini, Kim Eng menahan senjatanya dan meloncat ke belakang, ke dekat orang yang melarangnya itu

"Akan tetapi, ayah

Orang ini hendak membunuhmu!" bantahnya

Cin Han menengok dan dia mengenal Jaksa Lui, akan tetapi pembesar yang dulunya memang sudah bertubuh tinggi kurus itu kini tinggal kulit membungkus tulang saja

Demikian kurusnya, juga wajahnya pucat sekali, matanya cekung dan sinarnya redup, bahkan berdiripun dia harus dipapah oleh pelayan tadi

Seorang mayat hidup, orang yang agaknya menderita sakit parah dan dalam keadaan setengah mati! "Biarlah, Kim Eng

biarlah

Engkau Bu Cin Han, bukan? Engkau mencari aku untuk membunuhku? Untuk membalas kematian ayah dan ibu kandungmu ? Nah, lakukanlah, orang muda

Bunuhlah aku, biar hitung-hitung aku menebus semua dosaku dalam kehidupanku selama menjadi jaksa

Bagaimanapun juga, akukah yang mendatangkan orang tuamu ke rumah tangga kami, dan aku pula yang menggoda ibumu

Aku sudah menderita karena semua dosaku, Thian telah menghukumku, aku difitnah sehingga kehilangan kedudukan dan harta, hidup melarat dan berpenyakitan di sini, tinggal menanti sisa hidup yang sengsara

Kalau engkau hendak membebaskan aku dari penderitaan ini, aku bersukur

Nah, kau bunuhlah aku, Bu Cin Han !" Berkata demikian, laki-laki yang lemah itu membusungkan dadanya yang kerempeng dan memandang kepada Cin Han dengan sinar mata sedikitpun tidak memperlihatkan tanda takut

Melihat keadaan orang itu, yang dianggap musuh besarnya selama ini, dalam keadaan seperti itu, seketika lemaslah rasa tubuh Cin Han

Betapa mungkin dia membunuh atau menyerang orang yang sedang menderita seperti ini? Jangankan masih ada keraguan karena keterangan Nyonya Lui tadi, andaikata tidak ada keraguan akan kesalahan bekas jaksa inipun, agaknya akan sukar baginya untuk membunuh atau menyerang seorang laki-laki lemah seperti ini

"Sesungguhnya, siapakah yang telah membunuh ayahku?" tanyanya, suaranya terdengar tidak bersemangat lagi dan matanya terus mengamati wajah yang kurus kering itu

Wajah yang kering itu tersenyum, senyum yang nampak menyeringai seperti orang kesakitan

"Apa bedanya? Bagaimanapun juga, ayahmu telah tewas akibat kesesatan kami berdua, ibumu dan aku

Sebagai seorang pembesar aku terseret oleh 'arus' yang dibuat iblis, seperti para pembesar lain, gila hormat, berfoya-foya dalam kesenangan dan gila perempuan

Dan ibumu, sebagai seorang wanita lemah, gila kehormatan dan gila kedudukan dan kemuliaan

Ialah yang meracuni ayahmu, demi untuk dapat bebas sehingga dapat mencapai kemuliaan melalui kedudukanku

ah, sudahlah

Untuk apa semua itu diceritakan lagi? Yang jelas, ayahmu tewas karena hubungan gelap antara aku dan ibumu

Sekarang ibumu telah tiada, tinggal aku, nah, kalau engkau hendakmelampiaskan dendam, bunuhlah aku orang muda!"Akan tetapi, Cin Han menjadi semakin lemas! Untuk apa dia harus membunuh orang ini ? Ayah dari gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya? Dan kini dia percaya

Mungkinibunya seorang wanita lemah dan dalam kelemahannya itu menjadi silau oleh kemuliaan danmata gelap! Dalam keadaan mata gelap, siapapun dapat melakukan pembunuhan

Dia sendiri, andaikata kini menjadi gelap mata, bukankah dia akan mudah saja membunuh bekas jaksa ini bahkan dengan seluruh keluarganya? "Tidak

!" Jawaban ini keluar melalui mulutnya dan diapun membalikkan tubuh, berlari keluar dari rumah itu tanpa pamit lagi

"Bu Cin Han

kau bunuhlah aku

bunuhlah untuk mengakhiri penderitaanku lahir batin

" Dia masih mendengar suara bekas jaksa itu berteriak-teriak dan menangis

Suara ini bagaikan mengejarnya dan diapun berlari semakin cepat keluar dari dusun itu

Rumah itu kecil saja, menyerupai gubuk dari kayu dan bambu, terletak di ujung kota Wan-sian, di tempat terpencil dekat muara

Cin Han sejak tadi mengamati rumah ini dari jarak agak jauh

Menurut hasil penyelidikannya, di sinilah kini tinggal Phang Lok, bekas tukang kebun Jaksa Lui yang dahulu memperkosa ibunya di depan matanya, bahkan telah memukul dan menendangnya

Penglihatan ketika ibunya diperkosa bekas tukang kebun itu di depan matanya yang agak kabur karena dia dalam keadaan setengah pingsan, tak pernah dapat dilupakannya

Peristiwa yang membuat ibunya membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada dinding

Kini timbul keraguan dan kebimbangan di hatinya mengenai bunuh diri ibunya

Karena aib setelah diperkosa Phang Lok, ataukah karena kecewa oleh Lui Taijin diberikan kepada tukang kebun itu? Dia telah melakukan penyelidikan di Wan-sian, dan dari bekas tetangga keluarga jaksa itu, dia mendengar bahwa Phang Lok masih tinggal di Wan-sian dan kini menjadi tukang membuat tahu, berumah di sudut kota itu

Dan pada siang hari itu, dia berhasil menemukan rumah kecil ini dan kini dia termenung mengamati rumah itu dari jauh

Beberapa kali dia melihat seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun keluar dari rumah itu, menjemur pakaian dan agaknya melakukan pekerjaan lain, dan pernah pula dia melihat seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih enam tahun

Karena dia tidak pernah melihat Phang Lok, dia lalu menghampiri rumah itu

Sebuah rumah yang kecil, mirip gubuk, amat miskin

Lantainya dari tanah, dindingnya sebagian dari bambu

Si wanita yang sudah dilihatnya tadi, keluar menyambutnya dengam senyum

Seorang wanita yang berparas lumayan, namun pakaiannya kumal dan miskin

"Selamat siang, kongcu (tuan muda)

Apakah kongcu ingin memesan tahu?" tanyanya, mengira bahwa orang muda ini datang untuk, membeli atau memesan tahu

Cin Han menggeleng kepalanya

"Apakah di sini rumah Phang Lok?" Wanita itu memandang dengan heran, lalu mengangguk

"Benar, dan dia adalah suamiku

" Cin Han memandang wanita itu dan anaknya yang kini mendekat dan ikut mendengarkan

"Dan ini anaknya?" Kembali wanita itu mengangguk

"Ada keperluan apakah kongcu mencari suamiku?" "Apakah dia berada di rumah ? Aku ingin bertemu dengannya," katanya sambil menengok ke dalam rumah dari mana dia mendengar suara gilingan tahu

Anak itupun lari ke dalam rumah sambil berteriak-teriak

"Ayah ada orang mencari ayah!" Suara gilingan tahu yang diputar tadi berhenti dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih

Tubuhnya tinggi besar, mukanya bopeng, dan tubuh yang tidak memakai baju, hanya bercelana hitam panjang itu nampak kuat penuh otot besar melingkar-lingkar, kulitnya penuh keringat

Jelaslah, orang itu Phang Lok! Dia keluar sambil menyeka keringat dengan sebuah kain yang kumal

Kemiskinan membayang pada keluarga ini

Phang Lok memandang kepada Cin Han dan sedikitpun dia tidak mengenal pemuda ini

Sambil tersenyum kasar dia menghampiri pemuda itu

"Kongcu membutuhkan tahu yang baik?" tanyanya

Agaknya hanya menjual tahu saja, urusan mereka sehari-hari karena kalau tahu mereka itu laku berarti penyambung hidup mereka

Kalau tadinya hati Cin Han sudah menjadi dingin bertemu dengan isteri dan anak Phang Lok, kini begitu melihat Phang Lok, teringatlah dia kembali akan peristiwa yang terjadi di dalam gubuk taman di mana ibunya diperkosa orang ini dan hatinya menjadi panas sekali

"Phang Lok, lupakah engkau kepadaku?" bentaknya

Phang Lok terbelalak, memandang penuh perhatian, akan tetapi dia menggeleng kepala dan mengerutkan alis, tanda bahwa dia memang tidak ingat lagi siapa gerangan pemuda yang berdiri di depannya ini

"Phang Lok, ingatkah engkau akan peristiwa sebelas tahun yang lalu, di dalam gubuk taman keluarga Lui ketika engkau masih menjadi tukang kebun? Apa yang kau lakukan kepada Nyonya Bu dan anaknya laki-laki ?" Sepasang-mata itu semakin terbelalak, kemudian wajah itu berubah pucat sebentar kemudian merah

Agaknya Phang Lok kini telah teringat dan dapat menduga siapa adanya pemuda ini

Perasaan kaget dan khawatir itu ditutupinya dengan keberanian dan kekasarannya

"Ah, kiranya engkau bocah setan itu? Hemm, engkau sudah dewasa sekarang!! Nah, mau apa engkau datang mencari aku?" Sepasang mata Cin Han mencorong penuh kemarahan

"Phang Lok, manusia keji, perbuatan yang kau lakukan di dalam gubuk itu pantas dihukum dengan hukum mati!!" "Hemm, siapa yang akan menghukum aku? Hah, bocah sombong! Majikanku memberikan wanita itu menjadi isteriku, apa salahnya kalau aku menidurinya? Engkau mau apa sekarang?" "Mau mencabut nyawamu!" bentak Cin Han

Phang Lok adalah seorang kasar yang mengandalkan tenaga besar, maka dengan marah diapun mendahului Cin Han, menerjang maju dengan kedua lengan dibuka, seperti seekor biruang marah melakukan serangan terhadap lawannya

Namun, tentu saja gerakan serangan ngawur itu dengan mudah dapat dihindarkan oleh Cin Han yang menggeser tubuh ke samping dan sekali kakinya bergerak, kedua tulang lutut Phang Lok sudah tercium ujung sepatu dan tak dapat dicegah lagi tubuh Phang Lok terpelanting! Akan tetapi, orang ini memiliki tubuh yang kuat dan begitu terpelanting, dia meloncat bangun lagi dan menyerang semakin sengit

Cin Han menyambutnya dengan tamparan dua kali dari kanan kiri dan kembali tubuh tinggi besar itu terjatuh

Ketika dia bangkit lagi, kedua pipinya bengkak dan dari ujung mulutnya keluar darah

Akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan terus menubruk lagi, disambut tendangan kaki Cin Han yang membuatnya terpelanting untuk ketiga kalinya

Dengan nekat Phang Lok menyerang terus, akan tetapi dia dihajar oleh Cin Han sampai jatuh bangun dan babak belur

Tentu saja semakin lama, kepalanya menjadi semakin pusing, tenaganya berkurang dan ketika dia terbangun, dia sempoyongan

Mukanya sudah bengkak-bengkak dan melihat keadaan Phang Lok, isterinya dan anaknya menangisinya dan memeluknya

Isteri Phang Lok lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Cin Han

"Kongcu, ampunilah suamiku

ampunilah dia

!" Cin Han berdiri seperti patung, Tadinya dia mengira bahwa Phaog Lok adalah orang yang amat jahat, yang dibenci oleh semua orang

Akan tetapi kini, dia melihat betapa isteri

Phang Lok minta-minta ampun untuk suaminya, dan betapa anaknya merangkul dan menangisinya! Dan keadaan mereka demikian miskinnya! Kalau dia membunuh Phang Lok, lalu bagaimana dengan kehidupan anak isterinya ? Pula, orang ini tidak dapat terlalu disalahkan ketika memperkosa ibunya

Bukankah, cocok dengan keterangan Nyonya Lui, ibunya itu diberikan kepada Phang Lok untuk menjadi isterinya? Phang Lok memaksa menggauli ibunya, sebagai seorang suami menggauli isterinya, dan dia tahu bahwa pada waktu itu Phang Lok dalam keadaan mabok

"Phang Lok, katakan siapa yang telah membunuh ayah kandungku ? Katakan sejujurnya, atau aku tidak hanya akan membunuhmu, akan tetapi juga akan membunuh anak isterimu !" Seketika pucat wajah Phang Lok mendengar ancaman ini

Dia tahu bahwa pemuda ini lihai bukan main dan dia tidak berdaya melawannya

Dan mendengar ancaman bahwa anak isterinya akan dibunuh, tiba-tiba saja lenyaplah semua keberanian dan kenekatannya

Dia lalu berlutut dan suaranya seperti orang menangis ketika dia berkata

"Kongcu

jangan

jangan bunuh anak isteriku, mereka tidak berdosa

ampunkan mereka

" Dia meratap

"Katakan sebenarnya, siapa membunuh ayah kandungku!" Cin Han membentak dengan suara mengandung ancaman

Dengan suara agak gemetar karena masih ketakutan kalau-kalau anak isterinya akan dibunuh pemuda itu, Phang Lok menjawab, "Yang membunuh ayahmu adalah isterinya sendiri

Isterinya ingin menguasai Lui Tai-jin, maka suaminya diracuni

Aku sendiri yang melihat dia membuang sisa racun dalam botol, dan ada beberapa orang pelayan lain

Karena itu, untuk mencegah hal itu teisiar di luaran, Lui Tai-jin memaksa wanita itu

eh, ibumu

untuk menjadi isteriku

" "Desss

" Cin Han menendang dengan keras dan Pnang Lok terlempar, lalu terbanting keras dan pingsan

Cin Han menekan perasaannya

Kiranya memang benar, ibunya yang telah membunuh ayahnya sendiri

Dan agaknya, karena 'tidak' berhasil menguasai Lui Tai-jin dan karena penyesalan mungkin setelah membunuh suami sendiri, kemudian karena diperkosa Phang Lok, semua perasaan itu sang membuat ibunya membunuh diri, karena penyesalan, karena kecewa, karena malu

Phang Lok tidak dapat terlalu disalahkan, dan di situ terdapat anak isterinya yang kini meraung-raung menangisi tubuh yang pingsan itu

Diam-diam Cin Han lalu meloncat pergi meninggalkan tempat itu

Sungguh aneh

Setelah kini dia pergi meninggalkan Wan-sian, hatinya terasa ringan bukan main

Tidak lagi ada dendam membebani batinnya

Ayahnya sudah mati dan yang membunuh adalah ibunya sendiri

Sudahlah

Ibunya juga sudah menerima hukuman atas dosanya dan ibunya sudah meninggal pula

Itupun sudah selesai

Lui Taijin juga sudah menderita sengsara lahir batin, mungkin karena hukuman Thian, demikian pula Phang Lok hidup dalam keadaan miskin, dan diapun sudah menghajarnya

Semua itu cukup sudah

Tidak ada lagi dendam, tidak ada hutang piutang dan Cin Han merasa betapa Iringan hatinya

Hanya ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan hatinya, membuatnya gelisah dan bingung

Yaitu kalau terbayang wajah Kim Eng!

Dia selalu menarik napas panjang karena hatinya seperti ditusuk kalau dia teringat kepada Kim Eng

Dia mencinta gadis itu, tidak salah lagi! Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa dia harus berdiri sebagai musuh dari gadis itu

Setidaknya, dia pernah datang untuk membunuh ayah gadis itu! Betapa Kim Eng tentu amat membencinya! Dan inilah yang menyedihkan hatinya, Dibenci oleh gadis yang dicintanya, satu-satunya gadis yang pernah di-cintanya! Teringatlah dia kepada Kim Cong Bu dan Ciu Lian Hwa

Merekalah dua orang yang terdekat dengannya di saat itu

Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah kawan-kawannya ketika mereka masih berada di kuil, walaupun hubungannya dengan mereka tak dapat dibilang akrab

Akan tetapi, bukankah kedua orang teman itu pernah berpamit ketika meninggalkan kuil dan mengatakan agar dia suka mengunjungi mereka di Tongan? Teringat kepada mereka, dengan hati gembira Cin Han lalu pergi mengunjungi kota Tong-an di Propinsi Secuan selatan

Kota ini cukup besar dan bersih

Setelah tiba di kota itu, Cin Han memilih sebuah kamar di hotel yang sederhana namun bersih, dengan sewa kamar yang tidak mahal

Dia merasa berterima kasih sekali kepada Hek-bin Lo-han, gurunya yang telah memberinya sekantung uang emas, untuk bekal perjalanan

Tanpa bekal itu, dia tidak tahu, bagaimana dia akan dapat melakukan, perjalanan tanpa mencuri atau merampok yang amat dilarang oleh gurunya

Pada keesokan harinya barulah dia pergi berkunjung ke rumah Kim Cong Bu

Dia telah melakukan penyelidikan di mana adanya rumah ayah pemuda itu, yaitu Komandan Kim yang amat terkenal di kota Tong-an

Kim ciangkun (Perwira Kim) adalah kepala atau komandan keamanan kota Tong-an, maka ketika dia melakukan penyelidikan, semua orang tahu belaka di mana rumah Kim-ciangkun

Sampai lama Cin Han berdiri, di luar pintu gerbang pagar tembok rumah gedung yang megah itu

Dia merasa rendah diri dan bimbang melihat betapa gedung itu besar dan megah, dan di depannya terjaga oleh beberapa orang perajurit

Akan tetapi mengingat bahwa Cong Bu dahulu minta kepadanya agar suka berkunjung, diapun membesarkan hatinya dan melangkah menghampiri gardu penjagaan di dekat pintu gerbang

Dua orang perajurit segera keluar menyambutnya dan dengan pandang mata penuh selidik bertanya siapa dia dan apa keperluannya

"Saya bernama Bu Cin Han, seorang teman dari kongcu (tuan muda) Kim Cong Bu ketika dia masih belajar di dalam kuil di puncak Bukit Mawar

Harap suka sampaikan kepadanya bahwa saya datang berkunjung seperti yang dipesankan ketika dia meninggalkan kuil

" Cin-Han dipersilakan menanti dan seorang di antara para penjaga itu lalu pergi melapor ke dalam

Tak lama kemudian diapun datang dan Cin Han dipersilakan masuk dan diantar oleh seorang perajurit ke ruangan tamu di mana dia ditinggalkan seorang diri dan dipersilakan duduk menunggu

Cin Han merasa makin rendah diri ketika memasuki ruangan itu

Sebuah ruangan yang luas dan dilengkapi prabot ruangan yang serba mewah, dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah

Alangkah mewah dan kayanya orang tua Kim Cong Bu, pikirnya

Bahkan tempat itu lebih mewah dari pada gedung milik Jaksa Lui di Wan-sian dahulu

Tentu orang tuanya berkedudukan, tinggi dan amat kaya, pikir Cin Han

Tanpa disadarinya, dia membandingkan keadaan pemuda itu dengan keadaan dirinya sendiri dan dia merasa semakin rendah diri

Dia seorang pemuda yatim piatu, tidak mempunyai tempat, tinggal dan tidak mempunyai apa-apa!! Kalau, tidak gurunya yang memberi bekal uang, tentu dia sekarang telah menjadi seorang jembel, gelandangan tanpa tempat tinggal

Mengapa kita selalu, membandingkan diri sendiri dengan mereka yang lebih tinggi dari pada kita? Lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, dan segala yang serba lebih lagi

Membandingkan diri dengan mereka yang berada diatas mendatangkan kecewa, rendah diri, dan juga iri hati

Kalau kita selalu memandang ke atas, kitapun kehilangan kewaspadaan dan kaki kita mudah tersandung! Mengapa kita tidak mau memandang ke bawah, melihat kenyataan dan melihat betapa di bawah kita masih jauh lebih banyak lagi terdapat mereka yang segalanya serba kurang dibandingkan dengan kita?

Kalau kita selalu memandang ke bawah, maka sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Yang Memberi Hidup, karena keadaan kita masih merupakan berkah

Lebih tepat lagi, dapatkah kita memandang segala sesuatu, menghadapi segala sesuatu tanpa membandingkan dengan apapun juga, melainkan menghadapinya seperti apa adanya? Suara langkah yang datang dari dalam menyeret kembali Cin Han dari dunia lamunan

Dia mengangkat muka menyambut munculnya, orang dari pintu dalam dengan hati berdebar tegang

Seperti apa sekarang Kim Cong Bu, anak yang dulu agak congkak, tampan, gagah dengan alis yang tebal itu? Ketika akhirnya si pemilik kaki muncul, Cin Han segera bangkit berdiri dan dia berhadapan dengan seorang pemuda yang dikenalnya karena memang Kim Cong Bu masih seperti dulu