--> -->

Catatan Pembunuhan sang Novelis Jilid 8

Jilid 8 : (Masa Lalu Bagian Ketiga)
INGATAN KAGA KYOICHIRO

Sejauh ini aku telah berhasil menemui orang-orang yang sedikitbanyak mengetahui masa lalu Nonoguchi dan Hidaka, terutama saat mereka berdua masih duduk di bangku SMP. Tentu saja kemungkinan besar masih ada yang lain, tapi setidaknya aku berhasil memperoleh banyak informasi penting. Memang informasi-informasi itu masih berceceran bagaikan kepingan puzzle, tapi samar-samar aku mulai bisa melihat bentuk keseluruhannya. Dan aku yakin betul itulah wujud asli dari kasus ini.

Kasus perundungan di SMP—ternyata insiden itulah yang menjadi simbol hubungan mereka. Selain itu, ada beberapa hal yang baru kupahami untuk pertama kalinya. Salah satunya adalah: kita takkan bisa membahas kasus pembunuhan ini dengan mengabaikan masa lalu mereka yang tidak mengenakkan.

Kasus perundungan di sekolah bukan hal asing bagiku karena aku pernah mengalaminya sendiri, namun sebaliknya aku tidak pernah melakukan hal serupa pada orang lain (setidaknya sepanjang ingatanku). Peristiwa itu terjadi sepuluh tahun lalu saat aku masih menjadi guru dan ditugaskan sebagai wali kelas tiga.

Pertama kali aku mengetahui terjadinya kasus perundungan adalah pada paruh akhir semester pertama. Penyebabnya adalah ujian akhir semester, Seorang guru memberitahu bahwa kemungkinan telah terjadi kasus penyontekan di kelas Kagasensei. Dia adalah guru bahasa Inggris dan menurutnya, ada lima orang siswa kelasku yang menulis jawaban sama persis— baik jawaban yang benar maupun salah—di salah satu ujian.

”Aku yakin telah terjadi penyontekan, apalagi mereka berlima duduk di bangku belakang. Tentu saja aku akan lebih waspada untuk ke depannya, tapi pertama-tama kau harus diberitahu lebih dulu.” Guru bahasa Inggris ini adalah tipe orang yang selalu menanggapi sesuatu dengan tenang. Bahkan saat sedang membahas kasus ini pun dia tidak menunjukkan tanda-tanda marah walau jelas perbuatan menyontek itu salah.

Setelah berpikir sejenak, aku berkata bahwa aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini. Jika benar terjadi penyontekan, rasanya sulit dibayangkan perbuatan itu hanya terjadi pada mata pelajaran bahasa Inggris.

”Tidak masalah. Yang penting akan lebih baik jika masalah ini bisa diselesaikan secepatnya. Aku khawatir mereka akan besar kepala jika dibiarkan.”

Nasihat yang masuk akal.

Aku segera meminta izin pada guru mata pelajaran lain supaya diperbolehkan memeriksa apakah ada nilai mencurigakan dari kelima siswa itu. Tentu saja aku juga memeriksa sendiri mata pelajaran ilmu sosial (tepatnya geografi) yang kupegang. Hasilnya, tidak ditemukan nilai-nilai mencurigakan pada mata  pelajaran bahasa Jepang, Ilmu Pengetahuan Alam, hingga ilmu sosial. Memang ada kemiripan nilai, tapi itu belum cukup untuk memastikan bahwa telah terjadi penyontekan. Begini komentar guru Ilmu Pengetahuan Alam mengenai nilai itu:

”Anak-anak itu sebenarnya tidak bodoh, kok. Hanya saja mereka tidak akan terang-terangan memperlihatkannya. Itu hanya trik khas anak-anak.”

Sayangnya trik itu diabaikan pada pelajaran matematika. Guru yang bersangkutan menegaskan bahwa kasus penyontekan itu memang ada.

”Tidak mungkin siswa yang mendapat nilai rendah saat duduk di kelas satu dan dua mendadak bisa mengerjakan soal matematika pada saat kelas tiga. Biasanya sebelum ujian aku sudah bisa menduga mana siswa yang benar-benar paham dan mana yang tidak. Contohnya siswa bernama Yamaoka ini, caranya mengerjakan soal pembuktian benar-benar parah. Di kolom jawaban dia menulis JADEFJ, padahal yang benar adalah (ADEF). Karena tidak punya pengetahuan tentang soal diagram, dia mengira jawaban 'A' dari orang lain sebagai simbol huruf pan

Penjelasan yang sangat meyakinkan dan khas orang bidang Matematika.

Situasi ini sama sekali tidak membangkitkan rasa optimis. Aku lantas berpikir apa yang sebaiknya kulakukan. Mengenai kasus penyontekan, pihak sekolah memiliki kebijakan bahwa selama siswa yang melakukannya tidak tertangkap basah, maka dia tidak akan dihukum kecuali dalam situasi tertentu. Tetap saja aku merasa penting bagi para guru untuk memberitahu siswa-siswanya bahwa mereka bukannya tidak tahu telah terjadi penyontekan. Setidaknya dengan memperingatkan mereka. Kemudian pada suatu hari aku berinisiatif mengumpulkan kelima siswa itu sepulang sekolah.

Pertama-tama, aku menjelaskan bahwa aku curiga mereka telah menyontek. Aku juga menyinggung bahwa alasanku mencurigai mereka adalah kesalahan sama yang dibuat mereka saat ujian bahasa Inggris.

”Bagaimana? Benarkah kalian melakukannya?”

Tidak ada seorang pun yang berniat menjawab. Aku menyebut nama Yamaoka dan mengulangi pertanyaan itu.

Dia menggeleng dan menjawab, "Tidak”.

Aku menanyai keempat siswa lainnya satu per satu dan mereka semua menyangkal. Meski tidak bisa mendesak lebih jauh karena tidak memiliki bukti, aku yakin betul mereka semua berbohong.

Sementara empat dari lima siswa itu terus menunjukkan raut wajah cemberut dari awal sampai akhir, hanya seorang yang matanya terlihat merah. Namanya Maeno. Dilihat dari nilai pelajarannya selama ini, aku yakin jawabannyalah yang menjadi awal terjadinya penyontekan. Tentu saja baik yang memberi contekan maupun yang menyontek harus dihukum. Itu sudah menjadi peraturan sekolah.

Malam itu aku menerima telepon dari ibu Maeno. Dia ingin tahu apakah telah terjadi sesuatu di sekolah karena tingkah laku putranya tidak seperti biasanya. Begitu aku menjelaskan tentang kasus penyontekan, aku bisa mendengarnya berseru lirih dari ujung telepon. Dia pasti menganggap ini adalah mimpi buruk.

”Saya menduga Maeno-kun adalah pihak yang memberikan contekan. Walaupun demikian, kecurangan tetaplah kecurangan.  Ya, tapi sejauh ini saya hanya memberi peringatan karena tidak adanya bukti. Apakah dia sangat terguncang?”

Mendengar pertanyaanku, tak disangka-sangka ibu Maeno menangis. "Hari ini dia pulang dengan seragam penuh lumpur. Setelah itu dia langsung mengurung diri di kamar dan sampai sekarang tidak mau keluar juga, tapi saya sempat melihat wajahnya bengkak dan mengeluarkan darah...”

”Wajahnya...”

Keesokan harinya, Maeno tidak masuk sekolah dengan alasan sakit flu. Lalu di hari berikutnya dia muncul dengan mengenakan penutup mata. Melihat kondisi pipinya yang bengkak, aku langsung tahu bahwa dia telah dipukuli. Aku segera memahami apa yang telah terjadi. Yang memukuli Maeno bukan temannya, melainkan keempat orang yang memaksanya memberi jawaban ujian. Pemukulan ini adalah cara mereka membalas dendam karena telah ketahuan menyontek. Hanya saja aku belum bisa menilai apakah perundungan seperti itu selalu terjadi.

Liburan musim panas tiba. Bukan waktu yang tepat karena aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa meskipun telah mendeteksi tanda-tanda perundungan pada Maeno. Aku memakai alasan terlalu sibuk sebagai pembelaan diri. Setiap kali memikirkan tugas sebagai guru bimbingan karier, aku sadar bahwa aku sama sekali tidak punya waktu luang pada masa liburan itu. Seperti biasa, informasi yang harus kukumpulkan dan diproses tingginya bagaikan gunung. Pada akhirnya, semua itu hanya alasan. Selama liburan musim panas ini, Yamaoka dan teman-temannya telah memalak uang sejumlah lebih dari seratus ribu yen dari Maeno. Lebih dari itu, hubungan menyedihkan antara mereka telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan rumit. Seperti biasa, aku baru mengetahuinya belakangan.

Memasuki semester dua, nilai-nilai Maeno mengalami penurunan drastis. Berdasarkan informasi dari sebagian siswa yang berkelakuan baik, akhirnya aku mengetahui bahwa penyebabnya adalah perundungan yang hampir setiap hari dialami Maeno. Tidak bisa dibayangkan apa yang dialaminya saat aku menemukan enam bekas luka bakar akibat sundutan rokok di kepalanya.

Aku memikirkan langkah apa yang harus diambil. Memang selama ini ada guru-guru yang seperti menutup mata pada perundungan yang dilakukan siswa kelas tiga dengan alasan tinggal menanti kelulusan mereka, tapi jelas aku tidak bisa melakukannya. Ini adalah pengalaman pertamaku mengajar di kelas tiga, dan aku tidak ingin kehadiranku di kelas justru membawa nasib sial pada para siswa.

Pertama, aku ingin mendengarkan penjelasan Maeno. Apa yang menyebabkan dia dianiaya dan apa saja yang telah dialaminya sejauh ini. Tapi dia sama sekali tidak mau membuka mulut, takut kalau perundungan itu justru akan semakin parah. Keringat yang mengalir di pelipis. Jari telunjuknya yang gemetaran. Itu sudah cukup untuk menjelaskan ketakutannya yang luar biasa.

Aku ingin mulai membantu menumbuhkan rasa percaya diri Maeno, dan ide yang muncul di benakku adalah melalui kendo. Aku pernah bekerja sebagai instruktur klub kendo dan sering melihat bagaimana anak-anak muda yang awalnya terlihat lemah menjadi lebih tangguh setelah mulai belajar kendo. Karena tidak bisa memasukkan Maeno ke klub untuk periode sekarang, akhirnya kuputuskan untuk mengajarinya secara pribadi setiap pagi. Awalnya Maeno tidak terlalu antusias, tapi dia tetap  muncul di ddjo secara rutin. Sebagai anak muda yang cerdas, dia pasti bisa menebak mengapa guru muda ini mendadak ingin mengajarinya kendo dan merasa dirinya tidak sopan jika menampik tawaran itu.

Akhirnya ada sesuatu yang menarik minatnya, yaitu teknik melempar pisau.

Aku sesekali melatih teknik ini untuk mengasah daya konsentrasi, yaitu dengan membidik tikar tatami yang sudah didirikan tegak dengan pisau. Aku juga melakukannya dengan kondisi mata tertutup, atau kadang-kadang dengan posisi membelakangi target. Demi alasan keamanan, biasanya aku berlatih saat tidak ada orang lain, tapi secara kebetulan Maeno sempat menyaksikannya dan merasa tertarik. Dia memohon supaya aku bersedia mengajarkan teknik itu, yang tentu saja tidak bisa kupenuhi. Kendati demikian, aku mengizinkannya untuk menyaksikan latihanku dari posisi agak jauh. Wajahnya selalu serius setiap kali menontonku melakukan lemparan pisau.

"Aku percaya diriku bisa melakukannya,” begitu jawabku saat ditanya apa resep untuk melakukan teknik itu.

Tidak lama kemudian, Yamaoka yang menjadi dalang perundungan itu harus dirawat di rumah sakit karena usus buntu. Ini adalah kesempatan besar karena selama ini aku berpikir kami dari pihak sekolah tidak bisa hanya menunggu dengan pasif sampai perundungan itu mereda dengan sendirinya. Rencanaku adalah menghilangkan perasaan rendah diri yang selalu dirasakan Maeno pada Yamaoka. Aku memerintahkan Maeno supaya dia membuat fotokopi catatan pelajaran sekolahnya yang setiap hari harus dibawanya ke rumah sakit tempat Yamaoka dirawat. Maeno menolak dengan keras sampai nyaris  menangis, tapi aku tidak menanggapinya. Aku tidak ingin dia lulus dari sekolah ini dengan mental pecundang.

Aku tidak tahu seperti apa percakapan mereka di rumah sakit. Mungkin Maeno hanya meletakkan fotokopi catatan itu begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata, atau mungkin justru Yamaoka yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Aku menganggap itu bukan sesuatu yang buruk.

Setelah Yamaoka meninggalkan rumah sakit, aku yakin bahwa percobaanku sukses. Secara tidak langsung aku menanyai siswa-siswa lain dan tidak pernah mendengar bahwa Maeno masih mengalami perundungan. Memang ada kemungkinan siswa-siswa itu tidak sepenuhnya jujur, tapi saat melihat Maeno yang lebih ceria dibandingkan sebelumnya, aku yakin situasi telah berkembang ke arah yang lebih baik.

Namun, justru di saat-saat terakhir, tepatnya setelah upacara kelulusan, barulah aku sadar bahwa semua itu hanya ilusi.

Saat itu aku merasa lega. Semua siswa sudah memutuskan jalur pendidikan apa yang akan ditempuh selanjutnya dan aku percaya tidak ada lagi masalah yang tersisa. Aku jadi besar kepala dan menganggap diriku pantas menjadi guru.

Di tengah-tengah perasaan demikian, aku menerima telepon. Dari polisi. Rasanya kepalaku seperti disiram air dingin saat mendengar penjelasan Divisi Kenakalan Remaja.

Maeno ditangkap karena melukai orang lain. Kejadiannya di game centre. Korbannya adalah Yamaoka. Saat mendengarnya, aku sempat berpikir apakah ini bukan kebalikannya: Maeno sebagai korban dan pelakunya Yamaoka. Tapi semakin jauh menyimak, aku mulai memahami kejadian yang sebenarnya. Saat ditangkap, seragam Maeno dalam keadaan robek-robek, sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Wajahnya pun babak belur.  Tidak perlu dijelaskan lagi siapa pelakunya, yaitu Yamaoka dan kawan-kawan. Menemukan Maeno sedang sendirian, mereka langsung memukulinya beramai-ramai. Mereka bilang selama ini menahan diri supaya tidak menindasnya karena kecerewetan guru bernama Kaga. Sebelum pergi, mereka sempat mengencingi kepala Maeno.

Entah berapa lama Maeno pingsan. Tapi sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, akhirnya dia bisa bangkit dan pergi ke ruang kendo sekolah. Di sana dia mencuri pisau dari lokerku. Karena dia punya pengalaman beberapa kali dipalak oleh Yamaoka dan kawan-kawannya, Maeno tahu di mana dia bisa menemukan mereka. Saat melihat Yamaoka sedang asyik bermain gim, nyaris tanpa ragu-ragu dia menyerangnya dari belakang. Dia berhasil menikam perut sebelah kiri Yamaoka dengan pisau yang dibawa.

Staf game center melaporkan kejadian itu pada polisi. Menurut staf itu, Maeno tetap berdiri tegak sampai polisi datang.

Aku bergegas pergi ke kantor polisi, tapi tidak bisa menemui Maeno karena dia sendiri yang menolak. Sementara itu Yamaoka sudah dilarikan ke rumah sakit, namun belum ada laporan separah apa kondisinya.

Pada hari berikutnya, polisi yang menangani kasus itu memberi penjelasan.

”Rupanya setelah menikam anak itu, Maeno-kun yakin dirinya akan mati. Saat kami menanyakannya pada anak muda bernama Yamaoka itu, dia bilang alasannya menyiksa Maeno adalah karena dia tidak menyukainya. Tapi saat ditanya alasan dia tidak menyukainya, sepertinya dia tidak punya alasan spesifik. Dia bilang kalau tidak suka ya tidak suka.”

Perasaan suram melandaku saat mendengar kata-kata itu. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Maeno ataupun Yamaoka. Apalagi menurut ibu Maeno, putranya menganggapku sebagai "manusia yang paling tidak ingin kutemui di dunia”.

Pada April tahun itu, aku tidak lagi mengajar. Dengan kata lain, aku melarikan diri.

Bahkan sampai sekarang aku masih menganggap kehidupanku saat itu sebagai kekalahan terbesar.