--> -->

Catatan Pembunuhan sang Novelis Jilid 5

Jilid 5 : Pengakuan Catatan Nonoguchi Osamu

Selama beberapa hari terakhir ini, aku terus berpikir bahwa pada kunjungan berikutnya, Detektif Kaga pasti sudah menemukan semua jawabannya. Berdasarkan riwayat kerjanya pada masa lalu, mudah saja membayangkan bagaimana dia berhasil mengungkap kebenaran dengan cepat dan sigap. Setiap kali dia datang, suara langkah kakinya selalu terdengar dari ruanganku dan mengingatkanku untuk selalu waspada, terutama setelah dia mengetahui hubunganku dengan Hidaka Hatsumi. Yang membuatku takut adalah matanya yang awas, mata yang membuatku nyaris menyerah karena merasa tidak ada gunanya lagi mengelabuinya. Mungkin ucapanku ini terdengar aneh, tapi keputusannya untuk berhenti mengajar dan memilih bergelut dengan profesinya yang sekarang adalah hal yang tepat.

Detektif Kaga akhirnya muncul dengan membawa dua buah bukti: sebilah pisau dan kaset video. Yang membuatku terkejut adalah kaset itu disimpan dalam kotak yang kemudian disembu nyikan di bagian dalam novel Noctiluca yang telah dilubangi. Ini memang keisengan khas Hidaka, begitu pikirku yang sekaligus juga merasa kagum. Andai yang digunakan adalah buku lain, Detektif Kaga tidak akan bisa menemukannya semudah itu.

”Tolong jelaskan apa maksud rekaman dalam kaset ini. Kami bisa meminjam perangkat pemutar video dan televisi dari rumah sakit jika diperlukan.”

Hanya itu yang diucapkan Detektif Kaga, tapi sudah cukup untuk menyatakan apa yang sebenarnya terjadi. Selama aku tidak mengatakan yang sebenarnya, tidak mungkin aku bisa menjelaskan isi rekaman itu. Apalagi rekaman dalam kaset itu memang terlihat ganjil. Aku pun mencoba melakukan sedikit usaha penyangkalan, yaitu memilih tidak menjawab, namun segera sadar bahwa tindakan itu nyaris tidak berarti lagi. Sementara aku masih terdiam, Detektif Kaga mulai menguraikan analisisnya, tepat seperti bayanganku. Yang membuatku terkejut adalah ketepatan analisis tersebut, kecuali pada beberapa detail tertentu.

Dia menambahkan, "Untuk saat ini penjelasan saya barusan memang baru berdasarkan dugaan semata. Tapi kami berniat menjadikannya sebagai kesimpulan untuk menjelaskan motif kasus. Dulu Anda pernah bilang Anda tidak peduli motif apa yang akan ditetapkan polisi untuk kasus ini, bukan? Sekarang waktunya bagi saya untuk menjawabnya.”

Dia benar. Aku memang pernah berkata aku tidak peduli motif apa yang akan dikenakan oleh polisi alih-alih menjelaskan alasan sebenarnya mengapa aku membunuh Hidaka Kunihiko. Tapi siapa yang bisa menduga bahwa ternyata saat itu Detektif Kaga telah berhasil mengungkapnya? Wajar bila saat itu aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. ”Rupanya aku sudah kalah, ya,” aku berbicara dengan nada pelan supaya tidak terlihat gugup. Detektif Kaga sendiri pasti sudah tahu bahwa aku hanya berpura-pura tegar.

”?Anda mau menceritakannya?” Detektif Kaga bertanya.

”?Sepertinya aku tak punya pilihan lain. Lagi pula kau tetap akan mengajukan analisis tadi sebagai kebenaran walaupun aku memilih diam, bukan?”

”Memang itu yang akan saya lakukan.”

”Kalau begitu kau harus menyusunnya setepat mungkin. Dengan begitu aku pun akan merasa lega.”

”Apakah ada kesalahan dalam analisis itu?”

”Nyaris tidak ada. Analisismu memang hebat. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu kutambahkan karena ini menyangkut nama baik.”

”Apakah itu nama baik Sensei?”

”Bukan.” Aku menggeleng. "Tapi nama baik Hidaka Hatsumisan.”

Setelah mengangguk tanda mengerti, Detektif Kaga memberi kode pada detektif yang mendampinginya untuk mulai mencatat.

”Tunggu sebentar,” aku berkata pada mereka. ”Apakah caranya harus seperti ini?”

"Jadi cara seperti apa yang Anda inginkan?”

”Berhubung cerita ini cukup panjang dan ada beberapa bagian dalam benakku yang ingin kutata kembali, aku khawatir ada maksud yang tidak tersampaikan jika dilakukan secara lisan.”

”Tentu saja Anda akan diminta memeriksa kembali laporan kami.”

?Aku tahu soal itu, tapi ada sesuatu yang disebut 'kebiasaan'.  Ketika mengakui perasaan pada seseorang, aku ingin menggunakan kata-kataku sendiri.”

Detektif Kaga diam sejenak, lalu berkata, "Baiklah. Jadi Anda akan membuat pengakuan tertulis?”

”Ya, jika diizinkan.”

”Tidak masalah. Justru kami yang harus berterima kasih. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan?”

”Aku rasa bisa selesai dalam sehari.”

Detektif Kaga mengecek arlojinya dan berkata, "Tolong selesaikan besok sore.” Lalu dia bangkit dari kursi.

Demikian alasan yang mendorongku menulis surat pengakuan ini. Kurasa inilah kali terakhir aku menulis kalimat sedemikian banyak supaya bisa dibaca orang lain. Singkatnya, ini akan menjadi karya terakhirku. Terpikir pula olehku bahwa mungkin ada kata-kata atau kalimat yang sulit mengekspresikan apa yang ada dalam benakku, tapi sayangnya aku tidak punya waktu untuk memperbaikinya.

Seperti sudah kujelaskan berkali-kali pada Detektif Kaga, reuniku dengan Hidaka Kunihiko terjadi tujuh tahun lalu, saat dia sudah memulai debutnya sebagai penulis. Setelah meraih penghargaan untuk kategori Penulis Pendatang Baru, dalam dua tahun berikutnya dia menerbitkan satu novela yang diproyeksikan untuk mendapat penghargaan serta tiga buah novel. Aku masih ingat waktu itu dia dianggap sebagai penulis muda potensial, karena pada dasarnya setiap penerbit pasti berharap seorang penulis akan mengeluarkan karya berikutnya tidak lama setelah debut.

Sebagai teman masa kecil, aku selalu mengamati karier Hidaka sejak masa debutnya. Aku tidak menyangkal bahwa sementara setengah bagian dari diriku ikut senang akan keberhasilannya, setengah bagian lainnya diliputi rasa iri. Perasaan seperti itu muncul karena sejak dulu aku juga selalu bermimpi menjadi penulis.

Sejak masih kanak-kanak, aku dan Hidaka sering membahas tentang cita-cita kami masing-masing. Kami berdua sama-sama penggemar buku dan selalu saling memberitahu jika menemukan buku menarik, juga saling meminjamkannya. Hidaka-lah yang memperkenalkanku pada keseruan kisah-kisah Sherlock Holmes dan Lupin. Sebagai gantinya, aku merekomendasikan karyakarya Jules Verne. Hidaka sering berkata tanpa malu-malu bahwa kelak dia ingin menjadi penulis supaya bisa menulis cerita yang sama menariknya dengan karya-karya para penulis terkenal itu. Kendati tidak segamblang dia, aku pun selalu berkata bahwa penulis adalah profesi idamanku.

Dengan latar belakang demikian, rasanya wajar bukan jika kesuksesan Hidaka sedikit banyak membuatku iri? Aku merasa telah gagal meraih tempat berpijak yang bisa membawaku ke profesi itu. Meskipun demikian, kesuksesan teman baikku itu justru semakin memperkuat dukunganku padanya dan menyadarkanku bahwa aku masih punya kesempatan. Bukan tidak mungkin Hidaka bisa membantuku bertemu dengan orangorang dari dunia penerbitan. Dengan perhitungan demikian, sebenarnya aku ingin segera menemuinya, tapi kemudian aku merasa itu malah akan merepotkannya walau aku melakukannya dengan alasan mendukung sahabat baik. Akhirnya kuputuskan bahwa untuk sementara waktu bentuk dukunganku adalah dengan membaca majalah dan novel karyanya.

Terdorong oleh kesuksesan Hidaka, aku mulai menekuni  dunia penulisan dengan sungguh-sungguh. Semasa sekolah, aku dan beberapa orang teman pernah membuat tulisan yang formatnya menyerupai dojinshi?. Baru setelah itu aku mulai menulis novel berdasarkan satu dari beberapa ide yang sudah kusimpan selama bertahun-tahun, yaitu kisah tentang ahli kembang api. Saat duduk di bangku kelas lima atau enam SD, aku sering bermain ke rumah ahli kembang api yang ada di sebelah rumah keluargaku. Usia orang itu sudah tujuh puluh tahun dan aku tidak pernah melupakan betapa menariknya proses pembuatan kembang api yang diceritakan olehnya. Aku lantas tergerak untuk mengembangkan cerita-cerita itu menjadi novel. Plot utamanya berkisah tentang laki-laki biasa yang secara impulsif terjun ke bidang pembuatan kembang api. Cerita itu lalu kuberi judul Lingkaran Api.

Dua tahun pun berlalu. Aku memberanikan diri menulis surat pada Hidaka Kunihiko, bercerita bahwa selama ini aku mendukungnya dengan membaca semua karya-karyanya dan berharap semoga dia selalu sukses. Aku juga menyinggung bahwa aku ingin bertemu dengannya.


Tak disangka-sangka, aku menerima balasan. Tidak, sebenarnya tidak tepat disebut sebagai ”balasan” karena dia langsung menelepon karena aku memang mencantumkan nomor telepon apartemenku di surat. Dia bilang dia sudah lama sekali tidak bertemu denganku. Kalau dipikir-pikir, memang terakhir kali aku mengobrol dengannya adalah setelah kami lulus SMP.

”Orangtuaku bilang sekarang kau bekerja sebagai guru, Nonoguchi. Senang sekali ya punya pekerjaan stabil seperti itu. Berhubung aku tidak mendapat gaji atau bonus, setiap
 Istilah untuk karya-karya yang diterbitkan sendiri, bisa berupa novel, manga, atau majalah. hari aku masih harus memutar otak bagaimana supaya besok masih bisa hidup.” Tawanya terdengar lepas. Tentu saja aku bisa menangkap aura superior dalam ucapannya itu, namun aku sama sekali tidak merasa tersinggung.

Kami mengatur janji pertemuan di kafe di Shinjuku, dilanjutkan makan malam di restoran masakan China. Aku masih mengenakan setelan rapi karena langsung datang dari sekolah, sementara dia tampil santai dengan blue jeans. Aku ingat saat itulah aku baru memahami bagaimana gaya hidup pekerja lepasan, yang menurutku sedikit aneh.

Setelah bertukar cerita tentang masa lalu dan kabar temanteman kami, topik utama pembicaraan beralih ke novel-novel karya Hidaka. Dia mengaku sangat terkejut mendengar aku sudah membaca semua karyanya, menurutnya bahkan sebagian besar editor yang memberinya pekerjaan belum tentu melakukan hal serupa. Aku sendiri tidak pernah membayangkan ada hal seperti itu.

Suasana hati Hidaka saat itu cukup baik, bahkan dia banyak berbicara. Hanya saja ekspresi wajahnya agak keruh ketika aku menanyakan hasil penjualan buku-bukunya.

”Penghargaan Penulis Pendatang Baru dari majalah novel belum cukup untuk membuat buku-bukuku laris. Tidak ada kaitannya dengan topik cerita karena situasinya akan berbeda bila aku memperoleh penghargaan serupa yang lebih bergengsi.”

Bahkan setelah impiannya terkabul, dia masih harus menghadapi masalah seperti itu. Belakangan aku menduga mungkin saat itu Hidaka sedang dihadapkan pada keputusan apakah akan terus melanjutkan kariernya sebagai penulis atau tidak.  Dengan kata lain, dia sedang berada di jalan buntu. Tentu saja waktu itu aku tidak mernahaminya.

Aku bercerita bahwa aku juga sedang menulis novel. Dengan penuh semangat aku mengaku aku berharap bisa memulai debut sebagai penulis dalam waktu dekat.

”Apa karyamu itu sudah selesai?” Hidaka bertanya.

”Belum, apalagi ini karya pertamaku. Tapi kurasa sebentar lagi akan selesai.”

”Kalau sudah selesai, bawalah ke tempatku supaya bisa kubaca. Kalau menurutku naskah itu cukup baik, aku akan memperkenalkanmu pada rekan editor.”

”Sungguh? Karena kau sendiri yang bilang begitu, aku yakin pasti ada hasilnya. Apalagi orang yang tidak punya koneksi seperti aku hanya bisa mengirimkan naskah itu ke ajang penghargaan berskala kecil.”

”Lebih baik kau tidak usah ikut-ikutan ajang seperti itu. Selain faktor keberuntungan berperan besar, bisa saja karyamu gugur di babak kualifikasi karena dianggap tidak sesuai dengan selera pihak juri.”

”Aku memang pernah mendengar hal seperti itu.”

”Benar, kan? Lagi pula aku memberimu jalan pintas untuk menemui editor,” Hidaka berkata dengan penuh rasa percaya diri.

Kami berpisah setelah aku berjanji akan menghubunginya begitu naskahku selesai.

Dengan adanya target yang lebih pasti, semangatku untuk menulis pun berubah. Naskah yang hanya berhasil kuselesaikan separuh dalam jangka waktu lebih dari setahun, akhirnya rampung sebulan setelah pertemuanku dengan Hidaka. Naskah novel itu terdiri atas 110 lembar genko yoshi. Aku menghubungi Hidaka dan memintanya membaca naskah yang sudah selesai itu. Karena dia minta supaya naskah itu dikirimkan lewat pos, aku membuat fotokopi naskah dan mengirimkannya ke rumah dia. Setelah itu aku tinggal menunggu jawaban. Sejak hari itu aku terus merasa gelisah, bahkan saat sedang mengajar di sekolah.

Telepon dari Hidaka tidak kunjung datang. Menduga dia sedang sibuk, aku tidak mencoba menelepon balik untuk memastikan. Tapi di salah satu sudut benakku, aku menduga-duga bagaimana jika ternyata karya itu sangat buruk dan Hidaka tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya padaku.

Setelah lebih dari sebulan tidak ada jawaban, aku mencoba menelepon Hidaka. Jawaban yang kuterima membuatku kecewa dalam arti yang berbeda. Dia belum membacanya.

”Maaf, saat ini aku sedang sibuk-sibuknya bekerja, jadi belum ada waktu untuk membaca naskahmu.”

Mendengar jawaban itu, aku tidak tahu harus berkomentar apa. "Tidak apa-apa. Kau tak perlu terburu-buru. Yang penting pekerjaanmu lancar.” Aku justru menyemangatinya.

”Maaf, ya. Pokoknya begitu pekerjaan ini selesai, aku akan langsung membaca naskahmu. Sebenarnya aku sudah sempat membaca sekilas bagian awalnya. Kalau tidak salah cerita tentang pembuat kembang api, ya?”

"ya.

”?Kau pasti mendapat inspirasi dari kakek yang tinggal di sebelah kuil itu.” Ternyata Hidaka juga ingat pada orang tua itu. Aku mengiyakannya.

”Wah, aku jadi kangen pada masa-masa itu. Andai saja aku bisa segera membacanya.”  ”Kira-kira berapa lama waktu yang kauperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sekarang?”

?Hmm.... Mungkin sekitar sebulan lagi. Pokoknya aku akan langsung meneleponmu setelah membacanya.”

”Baik. Tolong, ya.”

Ternyata kehidupan seorang penulis itu berat juga, ya. Begitu pikirku setelah menutup telepon. Sampai di situ sedikit pun aku tidak menaruh rasa curiga pada Hidaka.

Kemudian sebulan pun berlalu, dan lagi-lagi aku belum juga mendengar kabar darinya. Walaupun tahu tidak baik untuk terlalu menuntut, setidaknya aku ingin secepatnya mengetahui komentarnya tentang naskah itu. Karena sudah tidak sabar lagi, aku meneleponnya.

”?Maaf, aku belum membacanya.” Jawabannya kembali membuatku kecewa. "Ternyata butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaanku. Maukah kau menunggu sebentar lagi?”

”Tidak masalah...” Jujur saja, aku tidak sanggup lagi menunggu. Lalu aku berkata, ”Hidaka, kalau kau masih sibuk, bagaimana jika kau memperkenalkanku pada seseorang? Mungkin editor atau semacamnya...”

Nada suara Hidaka langsung terdengar tidak senang. ”Tidak bisa. Aku tak ingin memaksa orang-orang sibuk seperti mereka untuk menilai karya yang belum teruji isi ataupun kualitasnya. Bisa-bisa mereka mengomel seharian kalau tiba-tiba disodori naskah berkualitas buruk. Bahkan, jika kau memang ingin dikenalkan dengan seseorang, naskah itu harus melewati penilaianku dulu. Jika tidak bersedia, aku akan segera mengembalikan naskahmu.”

Aku tidak tahu harus berkomentar apa. ”Bukan begitu maksudku. Justru karena kau sedang sibuk, kupikir akan lebih praktis jika minta bantuan orang lain.”

”Sayangnya aku tidak bisa menemukan orang yang mau membaca naskah karya amatir dengan teliti. Begini, pokoknya kau tak usah khawatir. Aku janji akan membacanya.”

”Baiklah. Terima kasih.” Aku menutup telepon.

Namun seperti sudah kuduga, dua minggu kemudian aku belum juga ditelepon. Aku kembali meneleponnya sambil berSiap-siap menelan kekecewaan.

”Baru saja aku akan meneleponmu.” Begitu katanya. Aku agak penasaran karena mendeteksi nada dingin dari suaranya.

”Kau sudah membacanya?”

”Ya, baru saja selesai.”

Lalu kenapa kau tidak segera meneleponku? Sebenarnya itulah yang ingin kukatakan, tapi aku malah menanyakan komentarnya tentang naskahku, ”Bagaimana?”

Soal itu...” Hidaka diam selama beberapa detik, lalu berkata, "Rasanya tidak nyaman kalau kusampaikan lewat telepon. Bagaimana kalau kau mampir ke rumahku? Kita bisa bicara dengan santai.”

Aku bingung karena yang ingin pertama kali kudengar apakah naskahku dianggap menarik atau tidak. Meskipun merasa sangat jengkel, tapi dengan dia sengaja mengundangku ke rumahnya, itu berarti dia membaca naskahku dengan serius dan ingin mendiskusikannya. Dengan gugup aku menjawab bahwa aku bersedia datang.

Demikianlah mengapa aku sampai berkunjung ke rumah Hidaka. Saat itu aku tidak tahu bahwa kunjungan itu akan berpengaruh besar dalam kehidupanku selanjutnya.  Waktu itu dia baru saja membeli rumah yang sekarang ditempatinya. Gaji yang diterimanya semasa masih menjadi pegawai kantor memang memadai, tapi aku berpikir janganjangan jumlah harta yang diwarisi dari almarhum ayahnya juga sangat besar. Ayah Hidaka meninggal dua tahun lalu dan untunglah setelah itu putranya berhasil menjadi penulis laris. Jika tidak, harga rumah itu pasti di luar jangkauannya.

Aku datang ke rumahnya dengan membawa buah tangan sebotol Scotch. Hidaka masih mengenakan pakaian olahraga saat menyambutku. Di sebelahnya berdiri Hatsumi-san.

Bila dipikirkan kembali, mungkin itu yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu melihatnya, aku merasakan sesuatu yang menginspirasi diriku, mirip dengan deja vu. Tentu saja itu adalah pertama kali aku bertemu dengan Hatsumisan, namun jika boleh jujur, aku merasa dia adalah sosok yang kelak akan dipertemukan kembali denganku oleh takdir. Mulutku sempat ternganga saat aku menatap wajahnya.

Sepertinya Hidaka tidak menyadari perilakuku. Setelah meminta Hatsumi-san untuk menyiapkan kopi, dia mengajakku ke ruang kerjanya.

Aku sudah berharap kami akan segera mulai membicarakan naskahku, tapi alih-alih membahas topik itu, Hidaka malah membahas berita-berita aktual dan menanyakan tentang pekerjaanku. Bahkan dia rmasih terus membicarakan hal-hal yang tidak penting setelah Hatsumi-san menyuguhkan kopi.

Akhirnya aku malah menjadi gelisah. "Nah, bagaimana dengan naskahku? Kalau menurutmu kualitasnya tidak cukup baik, tolong katakan terus terang.”

Hidaka menghapus senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya. Dia mulai memberikan penilaian.  ”Menurutku ceritanya tidak jelek. Bahkan temanya bisa dibilang menarik.”

”Tidak jelek, tapi belum cukup bagus... itu yang kaumaksud?”

”Ya, kurang lebih begitu. Masih ada satu hal yang menurutku kurang menarik minat pembaca. Ibarat makanan yang dibuat dari bahan berkualitas tapi cara memasaknya salah.”

”Jadi di bagian mana menurutmu kekurangan itu?”

? Menurutku si tokoh utama tidak punya daya tarik. Mengapa begitu? Karena ceritanya terlalu kaku.”

”Maksudmu terlalu padat?”

”Begitulah.” Kemudian Hidaka menambahkan, "Untuk pemula, novel ini sudah lumayan. Susunan kalimatnya cukup bagus, perkembangan ceritanya juga ada. Tapi ini belum bisa dianggap karya profesional. Singkatnya, karya ini bagus, tapi belum saatnya ditampilkan.”

Walaupun sebelumnya sudah mempersiapkan diri, tetap saja penilaian itu membuatku berkecil hati. Akan lebih baik jika dia menunjukkan langsung di mana kekuranganku, alih-alih mengomentarinya sebagai "karya yang bagus, tapi belum saatnya ditampilkan”. Atau sekalian saja dia mengubah komentarnya menjadi "pada dasarnya kau memang tidak berbakat menulis”.

”Jadi menurutmu sebaiknya aku mengubah sedikit gaya menulisku supaya bisa lebih menghidupkan tema itu?” Dengan gigih aku masih mencoba mendiskusikan prospek naskahku.

Hidaka menggeleng. "Aku rasa tidak baik untuk terpaku pada satu tema saja. Lebih baik kau simpan saja ide cerita tentang ahli pembuat kembang api itu. Kalau tidak, kau hanya akan terus mengulanginya. Kusarankan kau menulis tema lain.”  Saran itu terdengar masuk akal. Aku bertanya apakah setelah aku selesai menulis naskah dengan tema lain, dia masih mau membacanya.

Dengan senang hati. Begitu jawabnya.

Setelah itu aku segera mempersiapkan naskah berikutnya. Namun, ternyata proses penulisannya tidak berjalan mulus. Berbeda dengan naskah pertama yang mana aku begitu menikmati proses penulisannya, untuk karya kedua ini aku sampai menghabiskan waktu sejam di meja hanya untuk menentukan gaya penulisan yang akan digunakan berikut detail-detail cerita. Itu semua kulakukan karena aku memikirkan pembaca. Jika dulu aku mulai menulis naskah pertama tanpa memasang target siapa pembacanya, kali ini aku juga mempertimbangkan keberadaan Hidaka. Dengan kata lain, hal itu justru membuatku ketakutan karena kini aku sadar betapa pentingnya bagi seorang penulis untuk memikirkan pembacanya. Selain itu perbedaan antara penulis amatir dengan profesional juga menjadi perhatianku.

Di tengah segala kerumitan yang kualami saat menulis karya kedua, aku masih sering berkunjung ke rumah Hidaka. Persahabatan antara kami yang pernah menjadi teman main semasa masih kecil pun terjalin kembali. Bila aku selalu tertarik mendengar segala sesuatu tentang kegiatan penulis yang masih aktif, Hidaka pun mendapat keuntungan dari komunikasinya denganku yang notabene adalah orang luar. Sejak menjadi penulis, dia memang cenderung tidak mengikuti apa yang terjadi di masyarakat.

Harus kuakui bahwa ada faktor lain yang selalu menarikku untuk berkunjung ke rumahnya, yaitu Hidaka Hatsumi-san. Aku selalu menikmati setiap pertemuanku dengannya. Senyumnya yang menawan selalu menyambutku saat datang. Selama ini tipe wanita idealku adalah mereka yang mengenakan pakaian sehari-hari, yang menurutku lebih cantik daripada mereka yang bergaya flamboyan. Dan selama kunjunganku, aku juga belum pernah melihat Hatsumi-san berdandan mewah. Mungkin itulah alasan di mataku dia bertransformasi menjadi seorang wanita yang sangat memikat. Dia memang cocok menjadi pasangan Hidaka, namun sosoknya yang cantik akan selalu tersimpan dalam hatiku sampai akhir.

Suatu ketika aku datang ke rumah mereka tanpa pemberitahuan. Sebenarnya alasanku berkunjung ke rumah itu hanya karena tiba-tiba saja aku ingin melihat senyum Hatsumi-san. Kebetulan saat itu Hidaka sedang pergi dan rencananya aku hanya akan memberi salam lalu pulang. Lagi pula secara resmi aku memang datang untuk bertemu dengan Hidaka.

Untungnya Hatsumi-san mencegahku. Dia baru saja selesai memanggang kue dan ingin aku mencicipinya. Meskipun di mulut aku ingin menolak, kesempatan indah seperti ini tidak bisa kulewatkan begitu saja. Maka dengan lancang aku menuruti permintaannya.

Dua jam berikutnya aku bagaikan sedang berada di langit ketujuh. Seiring dengan perasaanku yang meluap-luap, aku pun jadi banyak bicara. Bukannya berkeberatan, Hatsumi-san malah tertawa seperti gadis cilik hingga membuatku tergilagila. Mungkin saat itu wajahku memerah, karena sampai sekarang aku masih ingat sejuknya tiupan angin di wajahku saat meninggalkan rumah mereka.

Setelah itu aku semakin sering datang ke rumah Hidaka  dengan dalih ingin mendiskusikan soal naskah, walau tujuanku sebenarnya adalah demi melihat senyum Hatsumi-san. Sepertinya Hidaka tidak menyadari maksudku, walau belakangan baru aku tahu bahwa sebenarnya ada sesuatu di balik pertemuannya denganku.

Akhirnya naskah keduaku selesai. Aku kembali meminta bantuan Hidaka untuk memberikan penilaian. Tapi sayangnya naskah itu tidak berhasil membuatnya terkesan.

” Menurutku ini hanya kisah cinta biasa.” Begitu komentarnya. ”Tema pemuda yang mencintai perempuan yang lebih tua itu sudah basi, jadi perlu ada bumbu tambahan. Selain itu tokoh perempuannya juga tidak realistis. Membayangkannya saja sudah terlihat jelas.”

Demikianlah kritik pedas yang kuterima. Aku terkejut setengah mati, terutama karena kalimat terakhir. Sosok tokoh utama perempuan yang menurut Hidaka "tidak realistis” itu sebenarnya terinspirasi dari Hatsumi-san.

”Menurutmu aku tidak punya kemampuan untuk menjadi penulis profesional?” aku bertanya pada Hidaka.

Dia berpikir sejenak, lalu menjawab, "Kau sudah punya pekerjaan tetap, jadi menurutku tak perlu tergesa-gesa menulis. Sebaiknya untuk sementara waktu jadikan menulis sebagai hobimu, tentu saja dengan harapan kelak bisa dibukukan.”

Kata-kata itu sama sekali tidak menghiburku. Mungkinkah aku terlalu besar kepala sehingga mmenganggap karya kedua ini bakal lolos? Aku tidak habis pikir, apa sebenarnya yang menjadi kekuranganku? Kali ini bahkan kata-kata "Jangan patah semangat, ya” yang diucapkan Hatsumi-san dengan lembut sama sekali tidak mengobati kekecewaanku.

Akibat kejutan hebat itu, aku menjadi sulit tidur sehingga kesehatanku menurun. Bahkan aku harus beristirahat di tempat tidur karena terserang demam. Saat itulah aku merasa tidak enaknya hidup melajang. Aku meringkuk di bawah selimut yang dingin sambil meratapi penderitaan ini.

Seperti yang sudah kuceritakan juga pada Detektif Kaga, ternyata Dewi Keberuntungan masih berpihak padaku. Benar. Hidaka Hatsumi-san datang menjengukku. Begitu memastikan benar sosoknya yang ada di balik pintu, kepalaku langsung pening akibat demam.

”Aku dengar dari suamiku bahwa kau harus cuti mengajar karena jatuh sakit,” dia memberi penjelasan. Kemarin Hidaka memang menelepon dan aku bercerita bahwa aku sedang berbaring karena sakit.

Sementara aku masih terkesima sekaligus terkaget-kaget, Hatsumi-san pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untukku. Dia bahkan sengaja membeli bahan-bahannya lebih dulu sebelum datang ke sini. Isi kepalaku seolah-olah kosong, dan jelas penyebabnya bukan karena demam.

Rasa sup sayur yang dibuatkan Hatsumi-san sangat spesial. Sejujurnya, aku tidak mengerti tentang rasa. Hanya saja bagiku tidak ada kebahagiaan yang melebihi kesediaannya untuk datang dan membuatkan makanan untukku.

Aku mengambil cuti mengajar selama seminggu. Karena sejak dulu kondisiku terbilang agak lemah, maka sekali jatuh sakit akan memerlukan waktu agak lama untuk sembuh. Namun, aku harus berterima kasih pada kondisiku karena sejauh ini Hatsumi-san sudah tiga kali datang menjenguk. Pada kunjungannya yang ketiga, aku bertanya apakah suaminya yang menyuruhnya datang.

”Aku tidak menceritakannya pada suamiku,” jawabnya.  ”Kenapa?”

”Karena...” Alih-alih melanjutkan kalimatnya, Hatsumi-san malah mengajukan permohonan. ”Nonoguchi-san, tolong rahasiakan kunjunganku ini dari suamiku.”

”Aku tidak keberatan.” Aku tidak menanyakannya lagi walau aku ingin mendengar alasannya.

Begitu kondisiku kembali pulih, aku mendesak Hatsumi-san untuk makan bersama sebagai ucapan terima kasih. Aku melakukannya karena khawatir suatu saat Hidaka akan mengetahuinya. Meskipun sempat bimbang, akhirnya dia setuju asalkan aku memilih hari saat suaminya sedang pergi berburu bahan tulisan. Tentu saja aku tidak keberatan.

Kami makan malam di restoran kaiseki di daerah Roppongi. Kemudian malam itu pun dia mampir ke apartemenku.

Karena sebelumnya aku pernah menjelaskan pada Detektif Kaga bahwa hubungan kami hanya seperti ”api yang berkobar sesaat”, dalam kesempatan ini aku ingin mengoreksinya. Sebenarnya kami berdua saling mencintai dengan tulus, setidaknya aku tidak mengkhianati perasaanku padanya. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah menganggapnya sebagai wanita yang ditakdirkan untukku. Dan malam itulah yang menjadi awal keseriusan cinta kami berdua.

Namun, setelah melewatkan malam yang bergejolak bagaikan pusaran waktu, dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan tentang Hidaka.

” Suamiku berniat menjebakmu, Nonoguchi-san.” Hatsumi-san berkata dengan sedih.

”?Apa maksudmu?”

”Dia hendak mencegah debutmu sebagai penulis. Dia ingin supaya kau menyerah dari cita-citamu.”  ”Apakah karena menurutnya naskahku buruk?”

”Tidak. Aku rasa justru sebaliknya. Dia iri karena novelmu jauh lebih baik daripada novelnya.”

”Tidak mungkin...”

” Awalnya aku juga tidak berpikir seperti itu. Bukan, maksudku aku tidak ingin punya pikiran seperti itu. Tapi ada tindak-tanduknya yang tidak bisa kupahami.”

"Seperti apa?”

”Saat Nonoguchi-san mengirimkan karya pertama. Awalnya suamiku sama sekali tidak berniat membacanya. Dia bahkan bilang dirinya bisa gila kalau disuruh membaca novel jelek karya penulis amatir. Akhirnya kusarankan supaya dia membaca paling tidak sebagian saja.”

”Hah? Betulkah seperti itu yang terjadi?” Aku memastikan sambil membayangkan betapa berbedanya cerita itu dengan yang dikatakan Hidaka sebelumnya.

”Tapi begitu mulai membaca naskahmu, suamiku langsung tenggelam di dalamnya. Aku tahu betul karakternya yang cepat bosan, jika menilai sesuatu tidak ada gunanya, dia akan langsung menyingkirkannya. Melihatnya begitu serius membaca, aku hanya bisa membayangkan dia telah terseret ke dalam dunia Ciptaan Nonoguchi-san.”

”Tapi dia sendiri yang bilang naskahku tidak masuk hitungan karya profesional.”

?Di situlah rencananya. Dulu saat kau menelepon sampai beberapa kali, dia berbohong dengan alasan belum membaca naskahmu. Bisa jadi dia sedang berpikir bagaimana mengatasi hal ini. Akhirnya dia menjelek-jelekkan naskah itu, yang menurutku sama saja dengan mencegah Nonoguchi-san meniti karier sebagai penulis. Rasanya aneh mendengarnya berkomentar  novel itu tidak menarik, padahal aku melihat sendiri betapa seriusnya dia saat membacanya.”

"Bagaimana kalau dia melakukan itu karena aku adalah temannya sejak kecil?” Aku belum bisa memercayai kata-kata Hatsumi-san. Tapi dia langsung membantah.

”Suamiku bukan tipe orang seperti itu. Dia tidak pernah menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan dirinya.”

Ucapan tegas itu membuatku terperangah. Aku benar-benar tidak menduga dia berani berbicara demikian tentang suami yang dinikahinya setelah melalui kisah cinta yang berliku. Tapi jika dipikirkan lagi, mungkin dia berpaling padaku karena telah sadar dari ilusi tentang suaminya selama ini. Membayangkan hal itu membuat perasaanku sedikit ruwet.

Hatsumi-san menambahkan bahwa belakangan ini sikap suaminya menjadi tidak sabaran karena sedang menghadapi writer's block. Kepercayaan dirinya lenyap karena dia sama sekali tidak tahu apa yang harus ditulis. Tidak heran jika dia merasa iri karena amatir seperti aku bisa menghasilkan karya baru berturut-turut.

”Pokoknya jangan pernah lagi mendiskusikan karyamu dengan suamiku, Nonoguchi-san. Sebaiknya kau mencari orang lain yang bersedia membantumu dengan serius.”

”Tapi kalau benar dia tidak ingin aku menjadi penulis, kenapa tidak dari awal dia bilang bahwa aku tidak cocok di bidang ini? Dia malah bersedia membaca naskahku yang kedua...”

”Kau tidak kenal suamiku. Dia sengaja tidak berterus terang demi mencegahmu mencari bantuan orang lain untuk mendiskusikan naskah. Jangan pernah mengandalkan kata-katanya karena sebenarnya dia tidak pernah berniat memperkenalkanmu pada pihak penerbit,” ujar Hatsumi-san dengan nada tegas yang menjadi ciri khasnya.

Sulit dipercaya bahwa ternyata selama ini Hidaka menyimpan niat buruk. Tapi di lain pihak, aku tidak bisa membayangkan Hatsumi-san hanya mengada-ada.

”Untuk sementara waktu biar kita lihat dulu keadaannya,” kataku padanya. Hatsumi-san terlihat sedikit risau mendengar keputusan itu.

Tapi setelah malam itu, frekuensi kedatanganku ke rumah keluarga Hidaka memang berkurang. Alasan sebenarnya bukan karena aku tidak lagi memercayai Hidaka, tapi karena aku takut jika sampai berhadapan langsung dengan Hatsumi-san di depan suaminya. Aku tidak yakin bisa bertemu dengannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hidaka memiliki insting tajam. Kalau dia sampai melihat perubahan tatapanku pada istrinya, dia pasti akan segera menyadari bahwa telah terjadi sesuatu.

Pada akhirnya, aku tidak bisa membayangkan menjalani hari-hari tanpa bertemu dengannya. Namun, situasi terlalu berbahaya jika kami bertemu di luar rumah. Melalui pembicaraan rahasia, diputuskan bahwa Hatsumi-san yang akan datang ke apartemenku. Aku yakin Detektif Kaga sudah tahu bahwa hanya ada sedikit orang yang tinggal di gedung apartemenku, sehingga nyaris tidak akan ada yang melihat seseorang keluarmasuk dari tempatku. Kalaupun ada, aku tidak perlu mengkhawatirkan beredarnya gosip karena di situ tidak ada yang mengenal wajah Hatsumi-san.

Setiap kali Hidaka ada urusan di luar rumah, Hatsumi-san akan datang ke apartemen. Meski tidak bisa menginap, beberapa kali dia membuatkan makan malam yang kemudian kami santap  berdua. Setiap kali memasak, dia akan mengenakan celemek itu. Ya. Celemek yang ditemukan Detektif Kaga dan rekannya. Saat memandang sosoknya yang mengenakan celemek sedang berada di dapur, aku merasa seakan-akan menemukan rumah baru.

Semakin bahagia waktu yang kami lewatkan bersama, semakin berat pula perpisahan yang harus dihadapi. Setiap kali tiba waktunya bagi dia untuk pulang ke rumah, kami berdua akan diam membisu sambil menatap jarum jam dengan penuh kekesalan.

Kami sering membicarakan betapa menyenangkannya jika bisa melewatkan waktu selama dua atau tiga hari hanya dengan kami berdua. Meskipun itu mustahil, kami tidak bisa berhenti memikirkan angan-angan yang memikat itu.

Akhirnya kesempatan itu tiba juga. Hidaka harus pergi ke Amerika selama seminggu karena urusan pekerjaan. Karena dia hanya akan pergi berdua bersama editornya, maka Hatsumisan akan tinggal di rumah. Sadar bahwa mungkin kesempatan seperti ini tidak akan ada lagi, aku dan Hatsumi-san dengan penuh semangat membahas apa yang akan kami lakukan berdua untuk memanfaatkan waktu. Keputusannya adalah perjalanan wisata ke Okinawa. Kami pergi ke biro perjalanan, mengisi formulir dan membayar biayanya. Impian kami selama ini adalah bisa melakukan kegiatan bersama-sama layaknya sepasang suami-istri, meskipun hanya dalam waktu singkat.

Seharusnya itu menjadi puncak kebahagiaan kami. Tapi seperti sudah diketahui, rencana ke Okinawa itu tidak terwujud karena perjalanan Hidaka ke Amerika mendadak dibatalkan. Kalau tidak salah perjalanan itu ada hubungannya dengan proyek majalah, tapi entah mengapa malah dihentikan. Ya, aku  tidak tahu mengenai detail-detailnya, tapi yang jelas kekecewaan Hidaka tidak bisa dibandingkan dengan kekecewaan kami berdua.

Kegagalan kami mewujudkan hari-hari penuh impian itu justru semakin memperkuat perasaanku pada Hatsumi-san. Baru sejam berpisah dengannya, aku sudah langsung kembali merindukannya, padahal jelas kami baru saja bertemu.

Tapi pada suatu titik tertentu, intensitas kunjungan Hatsumisan ke apartemenku mulai berkurang. Wajahku langsung pucat saat mendengar alasannya. Menurut Hatsumi-san, sepertinya Hidaka menyadari hubungan antara kami berdua. Lalu dia pun mengucapkan kata-kata yang paling kutakutkan selama ini: dia mengusulkan supaya kami segera berpisah.

”Cepat atau lambat, suamiku pasti akan mengetahuinya. Aku tidak ingin kau terlibat masalah.”

”Aku tidak keberatan. Tapi...”

Tapi aku tidak bisa membiarkannya tersiksa. Dilihat dari kepribadian Hidaka, aku tidak yakin dia akan semudah itu menandatangani surat perceraian. Di lain pihak, berat rasanya memikirkan aku akan berpisah dengan Hatsumi-san.

Beberapa hari berikutnya kulewatkan dengan perasaan tertekan. Tanpa memikirkan konsekuensinya pada profesiku sebagai guru, akhirnya aku membuat keputusan.

Semuanya sudah berakhir. Detektif Kaga sekalipun tidak perlu lagi menganalisisnya.

Aku berniat membunuh Hidaka.

Mungkin orang lain akan menganggap aku merasa canggung saat menulis bagian ini. Tapi sebenarnya tidak ada sedikit pun keraguan dalam diriku saat mengambil keputusan itu. Bahkan harus kuakui bahwa aku selalu mendoakan kematian Hidaka  karena tidak rela Hatsumi-san menjadi miliknya. Manusia memang makhluk egois. Bisa-bisanya aku punya pikiran seperti itu, padahal akulah yang merebut Hatsumi-san. Tapi itu juga menjelaskan bahwa ide untuk membunuh Hidaka dengan tanganku sendiri bukannya tidak pernah terlintas di benakku.

Tentu saja Hatsumi-san menentang keras ide itu. Sambil berurai air mata, dia berkata bahwa dirinya tidak bisa membiarkanku terlibat kejahatan serius. Namun, justru air mata itulah yang semakin membuatku yakin tidak ada jalan selain membunuh Hidaka.

”Ini semua murni rencanaku, jadi kau tak usah memikirkannya. Jika rencana itu sampai gagal dan polisi menangkapku, aku takkan membawa-bawa namamu,” aku menjelaskan padanya. Aku tidak akan membantah jika dia menganggapku telah kehilangan akal sehat.

Entah apakah keteguhan niatku yang membuatnya sadar bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan hubungan kami, akhirnya Hatsumi-san pun mengambil keputusan untuk membantuku. Aku sempat menolak karena tidak ingin dia terancam bahaya, namun dia berkeras bahwa dia tidak bisa membiarkanku sendirian menyandang gelar pelaku kejahatan.

Kami lantas menyusun rencana pembunuhan itu. Bukan rencana yang rumit, karena kami ingin membuatnya terlihat seperti kasus perampokan.

Pada tengah malam menjelang 13 Desember, aku menyelinap ke halaman rumah keluarga Hidaka. Aku percaya Detektif Kaga  pasti sudah tahu pakaian seperti apa yang kukenakan: celana jin hitam. Mungkin seharusnya aku juga mengenakan topeng. Andai itu kulakukan, aku yakin kisah ini akan berkembang ke arah yang berbeda, tapi saat itu aku sama sekali tidak memikirkannya.

Lampu ruang kerja Hidaka dalam keadaan padam. Dengan takut-takut aku memegang daun jendela, menggesernya ke samping dan mendapati jendela itu tidak terkunci sehingga aku tidak perlu bersusah payah membukanya. Sambil menahan napas, aku masuk ke ruangan. Tampak Hidaka sedang berbaring di sofa yang diletakkan di salah satu sudut ruangan. Dia tidur dalam posisi telentang: napasnya terdengar teratur. Aku dengar dari Hatsumi-san dia akan bekerja semalam suntuk karena besok adalah tenggat waktu pekerjaan yang sedang digarapnya. Demikianlah alasan mengapa aku memilih malam itu untuk menjalankan rencana.

Penting untuk dijelaskan mengapa Hidaka malah tidur sementara dia masih punya pekerjaan. Itu karena sebelumnya Hatsumi-san telah mencampurkan obat tidur ke dalam makan malamnya. Hidaka sendiri sesekali juga suka mengonsumsinya sehingga kami yakin tidak akan ada yang curiga seandainya obat ini ditemukan dalam tubuhnya. Melihat kondisi Hidaka, aku yakin sepenuhnya bahwa rencana kami akan berjalan lancar. Pasti saat hendak bekerja tiba-tiba saja dia terserang kantuk dan memutuskan berbaring di sofa. Setelah memastikan Suaminya tertidur, Hatsumi-san memadamkan lampu ruang kerja dan membiarkan jendela tidak terkunci.

Kini sisanya tergantung padaku. Tanganku gemetar saat mengeluarkan senjata dari saku celana. Pisau itu.  Jika menuruti kata hati, aku ingin memilih metode pembunuhan dengan cekikan. Membayangkan menikam seseorang dengan pisau saja sudah membuatku ketakutan. Tapi supaya bisa memberi kesan telah terjadi pencurian, kami menganggap lebih baik memakai pisau. Seseorang yang berniat mencuri tidak akan secara khusus menyiapkan senjata.

Aku tidak begitu tahu seperti apa jenis tikaman yang mematikan, tapi aku berniat mengincar daerah dada. Kulepaskan sarung tangan yang sejak tadi kukenakan, lalu kugenggam gagang pisau dengan erat. Nanti saja kuhapus sidik jariku yang melekat. Kedua tanganku menggenggam pisau yang lantas kuangkat tinggi-tinggi sebatas puncak kepala.

Kemudian, terjadi sesuatu yang sulit dipercaya.

Hidaka membuka matanya.

Tubuh dan hatiku seakan membeku. Pisau yang kuangkat tinggi-tinggi seperti diam di udara, sementara aku tidak sanggup bersuara.

Berlawanan denganku yang masih terperanjat, Hidaka bereaksi dengan cepat. Tiba-tiba saja aku sadar diriku telah diringkus dan pisau tadi sudah terlepas dari genggamanku. Aku lantas teringat sejak dulu Hidaka memang selalu unggul dalam bidang olahraga.

”Apa-apaan ini?! Kau ingin membunuhku?” Hidaka bertanya.

Aku tidak bisa menjawab.

Lalu dia berseru memanggil Hatsumi-san. Tidak lama kemudian istrinya itu masuk ke ruangan dengan wajah pucat. Sepertinya saat mendengar panggilan Hidaka, dia sadar bahwa telah terjadi sesuatu.

”Telepon polisi. Ada percobaan pembunuhan,” Hidaka berkata padanya.  Tapi Hatsumi-san tidak bergerak.

”Kenapa? Cepat telepon! Jangan bengong saja!”

”Tapi.... dia Nonoguchi-san.”

”?Aku tahu. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya lolos. Barusan dia hendak membunuhku.”

”Suamiku, sebenarnya...”

Hatsumi-san hendak mengaku bahwa dirinya juga terlibat dalam rencana pembunuhan itu, tapi Hidaka mencegahnya.

” Jangan bicara yang tidak-tidak!”

Kini aku mengetahui situasi yang sebenarnya. Rupanya Hidaka sudah mengetahui rencana kami. Dengan berpura-pura tidur, dia sengaja menungguku beraksi.

”0i, Nonoguchi!” Dia berkata sambil menekan kepalaku. "Kau tahu tentang metode pencegahan pencurian? Di situ ada deskripsi tentang pembelaan diri. Menurut hukum itu, aku tidak akan dianggap bersalah jika aku sampai membunuh seseorang yang berniat melakukan kejahatan. Sama dengan situasi sekarang. Tidak akan ada seorang pun yang akan keberatan bila aku membunuhmu sekarang juga.”

Tubuhku bergetar tiada henti mendengar nada suaranya yang dingin dan kejam. Aku tidak yakin dia benar-benar ingin membunuhku, tapi bisa kubayangkan aku akan diperlakukan sama buruknya.

”Ya, tapi biarlah kali ini kau akan kubiarkan lolos. Lagi pula perasaanku sedang tidak enak. Nah, bagaimana kalau kita serahkan saja dia pada yang berwajib?” Dia melirik Hatsumi-san, tertawa terkekeh sebelum menatapku dengan tajam. ”Tapi kalau itu kulakukan, aku tidak bakal dapat apa-apa. Apa pun alasanmu ingin membunuhku, kau tetap akan dipenjara. Dan hidupku tidak akan mengalami perubahan.”  Aku sama sekali tidak memahami apa yang ingin dikatakan Hidaka. Yang jelas, ucapannya itu terdengar janggal.

Dia mengendurkan cengkeramannya dan membiarkanku bebas. Lalu dia membungkus tangannya dengan handuk yang ada di sampingnya sebelum mengangkat pisau yang terjatuh di lantai.

”Sekarang kau bisa lega. Hari ini kau kubiarkan lolos. Nah, pergilah dari jendela itu.”

Terperanjat, aku menatap wajah Hidaka. Dia menyeringai.

"Kenapa, kau masih tidak percaya juga? Cepat pergi sebelum pikiranku berubah.”

”Apa yang kaupikirkan?” aku bertanya dengan canggung. Suaraku masih bergetar.

"Sesuatu yang baru saja kuketahui saat kau ada di sini. Ayo, cepat pergi. Tapi...” katanya sambil memperlihatkan pisau yang dipegangnya. "Biar kusimpan benda ini sebagai bukti.”

Benarkah pisau itu bisa dijadikan bukti? aku berpikir. Yang jelas, sidik jariku memang menempel di sana.

Seakan bisa menebak pikiranku, Hidaka berkata, "Jangan lupa. Pisau ini bukan satu-satunya bukti. Masih ada satu bukti lagi yang belum bisa kujelaskan sekarang. Suatu saat akan kuperlihatkan padamu.”

Aku mencoba menerka bukti apa yang dimaksud, tapi tidak ada ide yang muncul. Aku menatap Hatsurni-san. Wajahnya pucat, bagian tepi matanya berwarna merah. Sampai saat ini aku belum pernah melihat wajah manusia yang begitu menyedihkan. Ralat. Bahkan setelah itu aku tidak pernah lagi menyaksikan ekspresi serupa.

Saat meninggalkan rumah Hidaka, aku belum juga bisa menduga apa yang ada dalam benaknya. Aku tidak tahu sudah  berapa kali aku berpikir untuk menghilang ke suatu tempat, tapi tidak kulakukan karena aku mencemaskan Hatsumi-san.

Sejak kejadian itu, aku menjalani hari-hari dengan penuh ketakutan. Hidaka pasti akan melakukan pembalasan. Yang membuatku takut adalah aku tidak tahu seperti apa pembalasan itu.

Tidak perlu disebutkan lagi bahwa dengan tidak pergi ke rumah Hidaka juga berarti aku tidak bisa menemui Hatsumisan. Kami sempat beberapa kali berbicara lewat telepon.

”Sejak malam itu suamiku sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia seperti sudah melupakannya.”

Aku sama sekali tidak percaya Hidaka sudah melupakan kejadian itu. Lalu tentang mengapa dia tidak mengatakan apaapa, justru membuatku tidak nyaman.

Beberapa bulan kemudian barulah terungkap wujud asli pembalasan tersebut. Aku mengetahuinya saat berada di toko buku. Detektif Kaga pasti sudah mengetahuinya juga. Ya. Hidaka menerbitkan karya terbarunya, Api Semu. Itu adalah hasil penulisan ulang naskah pertama novelku, Lingkaran Api, yang kuberikan padanya.

Pasti aku sedang mengalami mimpi buruk. Ini benar-benar sesuatu yang sulit dipercaya. Ralat. Sesuatu yang tidak ingin kupercayai.

Mungkin tidak pernah ada pembalasan sekejam ini. Bagi diriku yang bercita-cita menjadi penulis, hatiku terasa sakit seperti sedang dicabik-cabik. Pembalasan ini terasa begitu kejam karena lahir dari benak seorang Hidaka.

Bagi para penulis, karya adalah belahan jiwa mereka. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, mereka menganggap karya mereka sudah seperti anak sendiri. Penulis mencintai karya  yang dilahirkannya layaknya para orangtua di dunia yang mencintai anak-anak mereka.

Hidaka telah merampas karyaku. Dengan menerbitkan novel itu atas namanya, Api Semu akan diingat oleh masyarakat dan dunia sastra sebagai karya Hidaka Kunihiko untuk selama-lamanya. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan mengajukan protes, tapi Hidaka yakin aku tidak akan melakukannya.

Dia benar. Aku hanya bisa diam kendati dia memperlakukanku sedemikian rupa. Saat aku mencoba mengajukan protes, dia membalasku dengan kalimat ini:

”Lebih baik kau diam saja kalau tidak ingin masuk penjara.”

Dengan kata lain, Hidaka siap melaporkanku ke pihak berwajib dengan tuduhan menyelinap ke rumahnya dan percobaan pernbunuhan jika aku sampai mengungkap kasus plagiarisme ini.

Aku sampai beberapa kali mempertimbangkan untuk menyerahkan diri ke polisi, sekaligus melaporkan bahwa novel Api Semu adalah tiruan dari novel Lingkaran Api karyaku. Bahkan aku sempat mengangkat gagang telepon, siap menghubungi kepolisian lokal.

Pada akhirnya, aku tidak jadi menelepon polisi. Tentu saja aku takut jika sampai ditangkap dengan tuduhan percobaan pembunuhan, tapi yang paling membuatku takut adalah kemungkinan Hatsumi-san ikut ditangkap karena ikut terlibat dalam rencana itu. Dengan kehebatan Kepolisian Jepang, mereka akan dengan mudah menemukan bahwa rencana pembunuhan itu sulit dilakukan tanpa bantuan orang lain, walaupun aku berkeras melakukannya seorang diri. Tidak, sebelum itu aku yakin Hidaka tidak akan membiarkan Hatsumi-san. Aku nyaris  tidak bisa berharap dia akan lolos tanpa dikenakan tuduhan sama sekali. Meskipun harus menjalani hari-hari dalam kondisi terpuruk, aku tidak ingin Hatsumi-san ikut terkena getahnya. Mungkin Detektif Kaga dan yang lainnya akan tersenyum pahit saat membaca tulisanku ini dan berkomentar, "Kenapa sih dia harus berlagak sok keren?” Mungkin ada di antara mereka yang tidak suka dan menganggapku bersikap narsis. Tapi apakah menurut mereka aku bakal sanggup melewati hari-hari penuh penderitaan itu jika tidak bersikap demikian?

Bahkan di saat seperti itu, tidak ada kata-kata penghiburan dari Hatsumi-san. Dia memang masih meneleponku tanpa sepengetahuan suaminya, tapi percakapan kami terasa canggung dan hanya terdiri atas kata-kata tidak berarti yang bernada suram dan penuh kesedihan.

”Aku tak menyangka dia begitu tega melakukan perbuatan seperti itu. Sampai mencuri naskahmu segala...”

”Apa boleh buat. Aku tak bisa berbuat apa-apa.”

?Aku... harus minta maaf padamu...”

”Bukan salahmu. Ini semua akibat kebodohanku, dan kini aku yang kena batunya.”

Kurang lebih seperti itu. Bahkan mengobrol dengan orang yang dicintai tidak berhasil membuat perasaanku lebih cerah dan siap menyambut harapan untuk hari esok. Justru aku semakin dilanda rasa putus asa.

Ironisnya, novel Api Semu justru mendapat pujian. Setiap kali melihat ulasan buku itu di majalah atau surat kabar, hatiku seperti terbelah. Di satu pihak, aku senang karena karyaku mendapat pujian. Namun pada detik berikutnya, aku kembali ke dunia nyata dan sadar bahwa karya Hidaka-lah yang dipuji, bukan aku.  Tidak hanya menjadi topik pembahasan utama, namun Hidaka juga berhasil meraih penghargaan bergengsi dunia sastra. Pahamkah kalian betapa terpukulnya aku melihat pose penuh kebanggaan yang ditampilkannya muncul di surat kabar? Selama beberapa hari kemudian aku tidak bisa tidur.

Lalu pada suatu hari yang masih kulalui dengan perasaan tertekan, bel pintu apartemenku berbunyi. Aku mengintip dari lubang pintu dan jantungku seakan melonjak. Sosok yang berdiri di balik pintu itu tak lain adalah Hidaka Kunihiko. Sejak kejadian di rumahnya, ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Sempat terpikir olehku untuk berpura-pura sedang pergi. Aku memang membenci ulahnya merebut naskahku, tapi aku merasa bahwa aku masih berutang padanya.

Merasa tidak ada gunanya melarikan diri, aku membuka pintu. Hidaka tersenyum tipis.

”Tadi kau sedang tidur?” dia bertanya. Pasti karena dia melihatku masih memakai piama. Dan ini adalah hari Minggu.

”Tidak, aku sudah bangun.”

"Begitu. Maaf kalau aku mengganggu tidurmu.” Setelah berkata demikian, Hidaka mengintip ke bagian dalam apartemenku. "Ada waktu? Aku ingin membicarakan sesuatu.”

”Boleh saja. Tapi apartemenku bukan tempat mewah.”

”Tidak masalah. Lagi pula aku bukan berniat mengambil foto seksi.”

Aku berkomentar bahwa kini dia pasti banyak menerima tawaran pemotretan setelah menjadi terkenal.

”Selain itu...” Hidaka menatapku. ”Pasti ada yang ingin kaubicarakan denganku, bukan? Banyak yang ingin kaukatakan.”

Aku hanya diam.  Kami duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Hidaka mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen dengan kritis. Aku sedikit gelisah dan mengira-ngira apakah masih ada jejak kehadiran Hatsumi-san yang tertinggal. Celemek yang biasa dipakainya sudah kucuci dan kusimpan dalam lemari.

”Untuk ukuran lajang, apartemenmu rapi juga.” Akhirnya Hidaka berkomentar.

”Oh ya?”

”Apakah ada seseorang yang datang membersihkannya?”

Tanpa sadar aku balas menatap Hidaka. Di bibirnya tersungging senyuman dingin yang menjadi ciri khasnya. Jelas dia sedang menyindirku dan Hatsumi-san.

”Apa yang ingin kaubicarakan?” Aku lebih dulu bertanya walau tidak bisa mengatur napasku yang tersengal.

”Tak perlu terburu-buru.” Sambil merokok, Hidaka malah membahas tentang kasus korupsi politisi yang belakangan sedang menjadi berita hangat. Sepertinya dia senang melihatku jengkel.

Akhirnya kesabaranku habis. Aku sudah hendak menegurnya ketika dia bilang ingin membahas hal-hal yang sedang populer.

”Ini tentang Api Semu,” dia berkata padaku.

Tanpa sadar aku menegakkan posisi dudukku. Kemudian aku menunggu kalimat berikutnya dari mulut Hidaka.

?Mungkin aku harus minta maaf padamu karena secara kebetulan novel itu mirip dengan karyamu. Hmm, apa judulnya? Kalau tidak salah Lingkaran Api?”

Aku menatap tajam wajah Hidaka yang terlihat santai. Kebetulan? Mirip? Kalau itu namanya bukan plagiarisme, mungkin  seharusnya sekalian saja kata itu dihapus dari kamus. Aku berusaha keras menahan diri.

Kemudian dia melanjutkan, ”Kuakui bahwa ada hal-hal yang perlu dibereskan. Jadi saat membaca naskahmu, kebetulan aku sedang menulis Api Semu. Tidak bisa dihindari bahwa sedikit banyak aku terpengaruh oleh naskahmu. Mungkin kemiripan itu terekam dalam benakku dan muncul dalam tulisanku sendiri. Hal seperti ini juga sering menimpa para komposer lagu. Lagu yang mereka ciptakan secara tidak sengaja memiliki kemiripan dengan lagu yang pernah mereka dengar.”

Aku menyimak penjelasannya tanpa mengatakan apa pun. Ajaib rasanya melihat dia begitu yakin aku akan menerima begitu saja ucapannya.

”Tapi aku bersyukur dalam kasus ini kau tidak mengajukan keberatan. Jelas itu karena kita sama-sama bukan orang asing dan telah menjalin hubungan pertemanan sekian lama. Aku senang karena kau tidak bertindak impulsif sehingga kita bisa memecahkan masalah ini layaknya orang dewasa.”

Jadi inikah yang ingin dibicarakannya? Bagus kalau kau tetap tutup mulut. Asal kau tidak buka mulut, aku juga tidak akan menyinggung soal percobaan pembunuhan itu.

Ternyata Hidaka malah mengatakan sesuatu yang aneh.

”Nah, di sinilah masalah utamanya.” Dia menatapku dengan mata disipitkan. ”Novel Api Semu lahir dari gabungan berbagai elemen. Lalu karya itu berhasil menarik minat banyak orang dan juga meraih penghargaan sastra. Aku akan sangat menyesal jika kesuksesan itu hanya dianggap sebagai kebetulan dan harus berakhir sampai di sini saja.”

Aku bisa merasakan darah tersirap dari wajahku. Ternyata Hidaka kembali memintaku melakukan hal serupa. Sama seperti tindakannya menulis ulang Lingkaran Api' dan menerbitkannya dengan judul Api Semu, dia ingin kembali menulis ulang karyaku dan menerbitkannya sebagai karya baru. Aku pun teringat aku sudah menyerahkan satu naskah novel padanya.

"Jadi kau ingin menjiplak karyaku lagi?” aku berkomentar.

Hidaka mengerutkan wajah. "Tak kusangka kau akan menggunakan istilah 'menjiplak'.”

”Tidak ada orang lain yang bakal mendengar. Mau sehebat apa pun kau memutarbalikkan kata, menjiplak tetap saja menjiplak.”

Hidaka tetap terlihat santai. Ekspresi wajahnya tidak berubah saat dia berkata, "Tampaknya kau tidak begitu paham definisi ?'menjiplak'. Kalau punya, coba cek di Kojien. Seperti ini definisinya: Menjiplak—tindakan menggunakan seluruh atau sebagian karya milik orang lain tanpa seizin empunya. Nah, paham maksudku? Menjiplak adalah jika digunakan tanpa izin. Jika ada izin, tidak bisa disebut menjiplak.”

Dalam hati aku berpikir justru Hidaka yang menggunakan naskah Lingkaran Api tanpa izin. ”Mentang-mentang kau berniat menulis ulang karyaku dan menerbitkannya sebagai novel, jadi aku tidak boleh protes?”

Hidaka mengerutkan alis. "Sepertinya ada kesalahpahaman. Aku ke sini karena ingin mengajukan tawaran. Aku yakin kau akan menganggap tawaranku tidak jelek.”

”Aku tahu maksudmu. Selama aku tutup mulut soal penjiplakan, kau takkan melaporkanku pada polisi soal kejadian malam itu, bukan?”

”Tak usah mengajakku bertengkar. Sudah kubilang aku takkan mengungkit lagi soal malam itu. Tawaranku justru jauh lebih menguntungkan.”  Sambil berpikir jangan-jangan ada sesuatu di balik tawaran yang katanya "menguntungkan” ini, aku memilih diam dan mengamatinya.

”Nah, Nonoguchi, menurutku kau memang punya bakat menulis. Tapi itu berbeda dengan bisa menjadi penulis. Kalau boleh kutambahkan, menjadi penulis laris tidak ada kaitannya dengan bakat. Diperlukan keberuntungan untuk sampai ke level itu. Sama dengan fantasi yang tidak semua orang bisa menggapainya begitu saja.” Saat mengatakan itu, ekspresi bersungguh-sungguh sempat muncul di wajah Hidaka. Mungkin karena dulu dia juga pernah mengalami masa-masa sebagai penulis yang kurang laris.

”Kau pasti berpendapat bahwa cerita Api Semu bagus, bukan? Tentu saja itu tidak bisa disangkal. Tapi itu saja belum cukup. Biar kuberi contoh yang lebih jelas. Jika novel itu diterbitkan atas namamu alih-alih namaku, bagaimana hasilnya? Bagaimana pendapatmu jika nama Nonoguchi Osamu yang tercantum di kolom pengarang?”

"Tidak tahu. Aku belum pernah mengalaminya.”

”Aku bisa menjamin novel itu akan gagal. Karya itu akan diabaikan begitu saja oleh masyarakat. Kau akan mengalami perasaan kosong seperti sedang melempar kelereng ke tengah lautan.”

Perumpamaan yang kejam, tapi tidak bisa kubantah. Beginibegini aku punya cukup pengetahuan dasar tentang dunia penerbitan.

” Jadi kau mengusulkan untuk menerbitkannya menggunakan namamu?” aku bertanya. "Aku tidak tahu apakah itu diizin-

kan...” ”Nasib novel itu akan lebih baik jika menggunakan nama penulis Hidaka Kunihiko. Jika tidak, pangsa pembacanya tidak akan begitu luas.”

”Kedengarannya kau seperti mensyukuri keadaan itu.”

”Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberitahumu tentang kenyataan. Ada beberapa syarat merepotkan yang harus dipenuhi jika ingin buku laris.”

”Tidak usah diberitahu pun aku sudah tahu.”

"Kalau sudah tahu, artinya kau takkan kesulitan memahami maksudku. Dengan kata lain, setelah ini kau akan menjadi penulis bernama Hidaka Kunihiko.”

”Apa katamu?”

”Tidak usah terkejut begitu. Ini bukan masalah besar. Tentu saja aku tetap sebagai Hidaka Kunihiko, tapi dalam kasus ini, nama itu bukan hanya nama seseorang, tapi juga sebagai merek dagang untuk melariskan penjualan buku.”

Kini aku paham sepenuhnya apa yang ingin dia sampaikan.

”Berarti di sini aku bertindak sebagai penulis bayangan?”

"Sebenarnya aku tidak suka istilah itu karena terkesan merendahkan.” Hidaka mengangguk dan melanjutkan, "Ya, tapi supaya mudah dimengerti, memang seperti itu.”

Aku menatap wajahnya dengan cermat. ”Sepertinya kau fasih sekali soal itu.”

”Aku memang tidak ingin membahas hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti yang sudah kubilang, aku yakin pembicaraan kita ini adalah kabar baik untukmu.”

”Tidak ada berita yang lebih buruk dari itu.”

”Hei, dengar. Rencananya setiap kali kau menulis untukku, kau akan dibayar seperempat dari pembayaran royalti saat buku itu terbit. Bukan tawaran yang buruk, kan?”  ”Seperempat bagian? Tidak bisakah si penulis asli mendapatkan setengah bagian? Tapi syarat itu memang tidak jelek.”

”Coba kutanya. Menurutmu berapa banyak keuntungan yang diraih jika buku itu terbit atas namamu? Apakah bisa melebihi seperempat bagian yang bisa kau dapat dengan menggunakan nama Hidaka Kunihiko?”

Ditanya seperti itu, aku tidak bisa mencari alasan yang tepat. Jika buku itu menggunakan namaku, jangankan seperempat bagian, seperlima atau bahkan seperenam bagian dari royalti pun belum tentu kudapatkan.

”Aku,” akhirnya aku berkata, "tidak berniat menjual jiwaku demi uang.”

”Jadi kau menolak?”

”Tentu saja.”

”Wah.” Hidaka terkejut. "Tidak kusangka kau bakal menolak.”

Aku bisa merasakan hawa dingin dalam ucapannya. Ekspresi wajahnya pun ikut berubah. Terlihat cahaya berkelebat di matanya.

”Sebenarnya aku kemari karena ingin menjaga hubungan persahabatan kita. Tapi karena kau menolak, apa boleh buat. Lagi pula dengan begitu aku tak perlu lagi sengaja memasang muka manis.” Sambil berkata demikian, Hidaka mengeluarkan kotak persegi yang dibungkus dari dalam tas di sebelahnya. Kotak itu diletakkannya di meja. “Ini untukmu. Tontonlah sendirian setelah aku pulang. Nanti aku akan menghubungimu lagi di saat yang tepat. Aku berdoa semoga saat itu kau sudah berubah pikiran.”

”Apa ini?”  ”Nanti kau juga akan tahu sendiri.” Hidaka bangkit dari sofa.

Setelah dia pergi, aku membuka bungkusan kotak itu. Di dalamnya ada kaset video VHS. Sampai di situ aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Merasakan firasat tidak enak, aku memasang kaset video itu di alat pemutar.

Aku percaya Detektif Kaga sudah tahu apa isi video ini. Di layar monitor tampak pemandangan halaman rumah keluarga Hidaka. Begitu melihat keterangan tanggal yang muncul di sudut layar, hatiku seperti membeku saking terkejut. Jelas itu adalah hari saat aku berniat membunuh Hidaka.

Muncul sesosok pria di layar. Walaupun dia mengenakan pakaian hitam-hitam supaya keberadaannya tidak mencolok, wajahnya justru terlihat jelas. Bodoh. Kenapa waktu itu tidak terpikir olehku untuk memakai topeng?

Siapa pun akan langsung mengenali sosok si penyelundup sebagai Nonoguchi Osamu. Tanpa menyadari dirinya berada di sorotan kamera, laki-laki bodoh itu membuka jendela yang menghadap ke halaman, lalu menyelinap ke ruang kerja Hidaka.

Hanya sampai di situ adegan yang muncul di layar TV, tapi itu sudah cukup untuk dijadikan bukti. Bila aku menyangkal, mereka tinggal bertanya untuk apa aku menyelinap ke rumah Hidaka dan aku takkan bisa menjawabnya.

Setelah selesai menonton, selama beberapa saat pikiranku seperti kosong. Dalam hati aku terus mengulangi ucapan Hidaka di malam percobaan pembunuhan itu.

"Jangan lupa. Pisau (yang kusiapkan sebagai senjata pembunuhan) itu bukan satu-satunya bukti. Masih ada bukti lain yang pasti akan menjeratmu.” Kurang lebih seperti itu. Rupanya yang dimaksud Hidaka adalah kaset video ini.  Saat aku tidak tahu harus berbuat apa, telepon berdering. Dari Hidaka. Telepon itu datang di saat yang tepat, seolah-olah selama ini dia selalu mengawasi gerak-gerikku.

”Sudah lihat?” dia bertanya. Ada semacam nada senang dalam suaranya.

Sudah,” aku menjawab singkat.

”Begitu. Bagaimana pendapatmu?”

”Bagaimana..”' Aku mencoba menanyakan hal yang paling mengusik pikiranku. "Jadi kau sudah tahu?”

”Yang mana?”

”Bahwa malam itu... aku menyelinap ke ruanganmu. Rupanya kau memasang kamera TV?”

Di ujung telepon, Hidaka seperti meledak. "Bagaimana aku bisa tahu kau akan membunuhku? Dalam mimpi pun aku tak pernah membayangkannya.”

”Tapi...”

”Lalu,” katanya memotong ucapanku. "Dengan siapa kau bicara bahwa di hari dan jam itu kau akan datang untuk membunuhku? Kau tahu kan dinding itu punya telinga dan bisa saja kebetulan aku mendengarnya?”

Kini aku sadar Hidaka ingin aku mengaku bahwa Hatsumisan juga terlibat. Bukan, lebih tepatnya: dia sedang menyiksaku karena tahu aku takkan menyinggung soal Hatsumi-san.

Melihatku tidak menjawab, dia berkata. "Kamera itu kupasang karena waktu itu banyak orang yang suka berbuat iseng di halaman, jadi aku berharap bisa menangkap pelakunya. Jadi tidak heran aku kaget setengah mati saat melihat apa yang terekam. Saat ini kamera itu sudah kulepas.”

Aku tahu tidak seharusnya aku memercayai penjelasan itu, tapi aku pun tidak berniat membantah. ”Lalu?” aku berkata padanya. "Kau ingin aku berbuat apa setelah menonton video itu?”

”Kau bodoh kalau mengira aku yang harus menjelaskannya. Dan sebelum aku lupa, kaset yang kuberikan padamu hanya duplikat. Yang asli ada di tempatku.”

”Kau mengancamku sedemikian rupa supaya aku mau menjadi penulis bayangan. Kau pikir dengan begitu aku bisa menghasilkan karya yang bagus?” Setelah berkata demikian, aku langsung mengeluh dalam hati. Ucapanku barusan sama saja dengan menyatakan aku tunduk pada ancamannya. Tapi nyatanya aku memang tidak punya keahlian untuk menolak.

”Tidak, aku yakin kau akan melakukannya. Aku percaya itu.” Nada bicara Hidaka penuh dengan kemenangan. Pasti dia merasa telah berhasil mendobrak tembok yang selama ini mengungkungnya. ”Nanti kuhubungi lagi,” katanya sebelum menutup telepon.

Beberapa hari berikutnya, kondisiku tak ubahnya hantu belaka. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku masih muncul di sekolah, tapi pikiranku tidak fokus untuk mengajar sehingga muncul keluhan dari para siswa. Aku dipanggil dan dimarahi Kepala Sekolah.

Lalu aku melihatnya secara kebetulan di toko buku. Majalah novel yang memuat karya Hidaka, karya pertama setelah dia meraih penghargaan.

Sementara mataku menelusuri isi novel itu, aku tidak bisa menghentikan tanganku yang gemetaran. Kemudian saat itu juga rasa pening hebat menyerangku sehingga nyaris saja aku pingsan di toko itu. Sudah kuduga. Novel itu adalah hasil penulisan ulang naskah kedua yang kuberikan pada Hidaka untuk dibacanya.  Aku mulai merasa bahwa ke mana pun arah yang kutempuh, tidak ada satu pun yang memberikan harapan. Saat teringat akan percobaan pembunuhan malam itu, setiap hari aku terus mengutuki kebodohanku sehingga ingin rasanya aku menghilang ke suatu tempat. Tapi bahkan untuk melakukannya saja aku tidak punya nyali. Meskipun aku pindah ke tempat yang jauh supaya tidak ditemukan Hidaka, selama data kartu pendudukku tidak berubah, aku takkan bisa mendapat pekerjaan mengajar seperti yang kulakukan selama ini. Lalu bagaimana aku bisa hidup? Aku tidak yakin sanggup melakukan pekerjaan fisik karena kondisiku yang rapuh. Huh, kenapa selama ini aku tidak pernah serius memperhatikan kekurangan kondisi fisik itu? Belum lagi aku masih memikirkan keadaan Hatsumi-san. Apa yang dipikirkannya selama menjalani hari-harinya di sisi Hidaka? Hatiku sakit setiap kali membayangkannya.

Hanya dalam waktu singkat, karya terbaru dari Hidaka ini diterbitkan dalam format tankobon dan laris terjual. Perasaanku menjadi campur aduk setiap kali melihat buku itu ada di peringkat best-seller. Di antara rasa penyesalan yang kualami, masih terselip sedikit kebanggaan. Ada juga saat-saat di mana aku mencoba menganalisis fenomena ini dengan kepala dingin: Apakah buku ini akan sama larisnya jika diterbitkan menggunakan namaku sendiri?

Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Minggu, Hidaka kembali berkunjung. Dia masuk ke apartemenku tanpa malu-malu, dan kembali duduk di sofa seperti dulu.

”Sesuai janji.” Dia meletakan amplop di meja. Aku memeriksa isinya dan mendapati setumpuk uang kertas. Jumlahnya dua juta yen, kata Hidaka. ”Apa artinya ini?”

”Aku tidak bermaksud apa-apa. Sudah kubilang kau akan dapat bagian jika bukuku laris. Sesuai perjanjian, jumlahnya seperempat bagian dari total royalti.”

Aku memandang amplop itu dengan terkejut, lalu menggeleng. ”Aku tidak akan menjual jiwaku.”

” Jangan berlebihan. Anggap saja ini kolaborasi antara kita. Pada zaman sekarang, profesi kolaborator tidak lagi dianggap aneh. Sudah menjadi hakmu untuk mendapatkan penghargaan.”

”Yang kaulakukan ini,” kataku sambil menatapnya, "sama dengan tindakan pelaku kejahatan pemerkosaan yang membayar korbannya.”

”Itu berbeda.”

”Di mana bedanya?”

”Aku mengerti maksud istilah 'perkosaan' itu, tapi mana ada perempuan yang berdiam diri diperlakukan seperti itu? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa.”

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. "Pokoknya aku tak bisa menerima uang ini,” jawabku dengan susah payah sembari mendorong kembali amplop itu.

Hidaka hanya menatap amplop itu tanpa berniat mengambilnya. Dia berkata, "Sebenarnya aku kemari karena ingin membicarakan rencana selanjutnya.”

”Rencana selanjutnya?”

”Tentang karya berikutnya. Rencananya akan dimuat di majalah bulanan, maka aku ingin berdiskusi naskah seperti apa yang akan ditulis.”

Gayanya bicara seakan-akan aku sudah resmi menjadi penulis  bayangan. Sedikit saja aku menunjukkan keengganan, dia pasti akan kembali menyinggung tentang kaset video itu.

Aku kembali menggeleng. "Sebagai penulis, kau pasti tahu sulit bagiku untuk memikirkan ide cerita dalam kondisi mental seperti sekarang. Jika kau memaksa, aku bahkan tidak yakin secara fisik aku mampu.”

Namun itu tidak membuat Hidaka mundur selangkah pun. Dia bahkan mengatakan beberapa hal yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

”Tentu saja aku mengerti kau belum bisa menulisnya dalam waktu dekat. Tapi kurasa tidak begitu sulit untuk memilih naskah yang sudah rampung.”

”Aku tidak punya naskah yang sudah rampung.”

"Jangan berpura-pura. Dulu kau pernah menulis beberapa naskah untuk majalah Dojinshi, bukan?”

”Ah, itu...” Aku pun terkejut. "Tapi aku sudah tidak pernah lagi menulis seperti itu.”

”Bohong.”

"Itu betul. Aku sudah membuangnya.”

”Aku tidak percaya. Bagiku yang namanya tulisan, apalagi tulisanku sendiri, pasti akan kusimpan di suatu tempat. Kalau kau terus berkeras, aku hanya bisa minta izin untuk mencarinya sendiri. Tentu saja aku tak perlu memeriksa seluruh penjuru rumah. Rak buku, laci... itu saja sudah cukup.” Hidaka bangkit dan menuju kamar sebelah.

Aku bergegas mengejarnya. Dia benar. Aku memang masih menyimpan buku catatan semasa kuliah di rak. "Tunggu!”

"Jadi kau bersedia menggunakannya?”

? Itu kubuat semasa kuliah. Gaya tulisanku masih payah, dan secara keseluruhan terlalu berantakan untuk dibuat cerita. Sama sekali tidak cocok disebut naskah novel untuk orang dewasa.”

”Biar aku yang menilainya. Lagi pula yang kucari adalah permata yang belum diasah, bukan karya yang sudah selesai. Aku yang akan memolesnya supaya bisa menjadi produk unggulan. Kau tahu sendiri campur tangankulah yang berhasil membuat Api Semu tercatat dalam sejarah literatur,” kata Hidaka dengan penuh rasa percaya diri. Aku masih belum mengerti apa yang perlu dibanggakan dari ulahnya mencuri ide orang lain.

Setelah menyuruh Hidaka menunggu di sofa, aku masuk ke ruangan sebelah. Tapi saat aku sedang mengambil satu dari delapan buku catatan yang disimpan di rak teratas, tiba-tiba Hidaka ikut masuk.

”Bukannya tadi sudah kubilang supaya kau menunggu?”

Tanpa mengatakan apa-apa, Hidaka merebut buku yang sedang kupegang, lalu membolak-balik halamannya. Kemudian matanya tertuju ke arah rak, lalu diambilnya semua buku yang tersisa.

” Jangan coba-coba menipu.” Dia menyeringai. "Buku yang barusan kau ambil itu isinya hanya draf naskah Lingkaran Api. Apa kau mencoba mengelak dengan hanya memberikan buku ini?”

Aku menggigit bibir dan menundukkan kepala.

”Ya sudah. Pokoknya aku akan membawa semua buku ini.”

”Hidaka.” Aku mengangkat wajah. "Apa kau tidak malu melakukan perbuatan seperti ini? Apakah bakatmu sudah begitu terkuras sampai kau harus meminjam tulisan orang lain yang dibuat saat masih kuliah?”  Inilah serangan balik terbesar yang bisa kutujukan padanya. Paling tidak, aku bisa memberinya sedikit "kerusakan”.

Sepertinya kata-kataku barusan berpengaruh padanya. Ditatapnya aku dengan mata merah karena geram, lalu dicengkeramnya kerah bajuku.

"Jangan sok tahu! Memangnya kau tahu apa soal penu1is2?”

”Aku memang tidak tahu. Tapi aku hanya bisa bilang kalau sampai melakukan hal sejauh ini, menurutku penulis itu adalah orang yang menyedihkan.”

”Tapi selama ini kau sangat mengagumi profesi itu.”

”Tidak lagi.”

Hidaka melepaskan cengkeramannya, mengembuskan napas dan berkata, "Kurasa kau benar.” Dia lantas bersiap-siap meninggalkan apartemen.

”Tunggu! Kau lupa ini!” Aku mengambil amplop berisi uang dua juta yen tadi yang lalu kuulurkan padanya.

Hidaka menatapku dan amplop itu bergantian, mengangkat bahu lalu menerimanya.

Dua atau tiga bulan kemudian, novel terbaru Hidaka mulai dimuat berseri di majalah. Begitu membacanya, aku langsung mengenalinya sebagai penulisan ulang salah satu cerita yang kutulis di buku catatan. Hanya saja kali ini hal itu tidak terlalu mengejutkan, entah karena aku memang sudah menyerah atau karena sebagian dari diriku sudah mengantisipasinya.

Mungkin ini bukan ide buruk, begitu pikirku. Karena aku sudah melepas cita-citaku menjadi penulis, kupikir bagus juga bila semua orang di dunia masih bisa membaca cerita yang diangkat dari ideku, tidak peduli dalam format seperti apa.

Sesekali Hatsumi-san masih menghubungiku. Dia akan mencela suaminya sebelum terus meminta maaf padaku. Lalu pada suatu kesempatan, dia pernah berkata seperti ini:

”Sebenarnya jika kau memutuskan menyerahkan diri setelah membunuh dia, kau tak perlu memikirkanku segala, Nonoguchisan. Selama bisa bersamamu, aku siap menerima hukuman apa pun.”

Aku bisa membayangkan dia tidak ingin lagi terlibat denganku, apalagi setelah aku menyerah pada Hidaka. Mendengar perkataan itu, aku meneteskan air mata bahagia. Walaupun tidak bisa bertemu, di dalam hati perasaan kami tetap terjalin. Kau tak usah berpikir sampai sejauh itu. Aku yakin bisa menemukan jalan lain.”

”Tapi, aku benar-benar menyesal...” Dia menangis di ujung telepon.

Aku terus mencoba menghiburnya, tapi sebenarnya aku sendiri sama sekali tidak tahu apa tindakanku selanjutnya. Kata-kata "pasti ada jalan lain” justru semakin menyiksaku.

Setiap kali mengingat saat-saat itu, aku seperti disiksa oleh penyesalan yang tiada habis-habisnya. Mengapa waktu itu tidak kuturuti saja saran Hatsumi-san? Aku yakin kehidupan kami akan sangat berbeda jika kami sama-sama menyerahkan diri ke polisi. Setidaknya aku takkan pernah kehilangan seseorang yang paling berarti dalam hidupku.

Kalian pasti mengerti apa yang sedang kubicarakan. Benar. Kematian Hatsumi-san. Seumur hidup aku takkan pernah melupakan hari yang bagaikan mimpi buruk itu.

Aku mengetahui tentang kecelakaan itu dari artikel di surat kabar. Karena dia adalah istri penulis terkenal, berita itu mendapat porsi lebih besar dibandingkan kasus kecelakaan lalu lintas biasa. Aku tidak tahu bagaimana polisi menyelidiki kasus  ini, namun artikel surat kabar itu tidak menyinggung dugaan bahwa itu bukan kecelakaan biasa. Selain itu, aku juga tidak pernah mendengar ada perubahan dalam teori kecelakaan tersebut. Namun, sejak awal aku sudah yakin itu bukan kecelakaan, melainkan Hatsumi-san yang telah merenggut nyawanya sendiri. Tentu saja aku tidak akan menulis tentang motifnya.

Bila kupikirkan lagi, mungkin akulah penyebab kematian Hatsumi-san. Hal ini tidak akan terjadi seandainya aku tetap bersikap tenang dan bukannya ingin membunuh Hidaka.

Itu adalah masa-masa nihilisme bagiku, atau dengan kata lain aku hanya sesosok manusia yang hidup tanpa tujuan. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengikuti jejak Hatsumi-san. Kondisi fisikku pun memburuk sehingga aku sering absen mengajar.

Setelah kematian Hatsumi-san, Hidaka terus bekerja seperti biasa. Selain menulis ulang naskahku, dia juga menerbitkan naskah karyanya sendiri. Aku tidak begitu tahu mana di antara keduanya yang paling laris.

Kurang lebih setengah tahun sejak meninggalnya Hatsumisan, aku menerima paket dari Hidaka, amplop besar yang berisi tiga puluh lembar kertas A4 yang diketik menggunakan word processor. Semula aku mengira itu naskah novel, tapi ternyata itu adalah buku harian Hatsumi-san yang disatukan dengan monolog dari Hidaka. Salah satu bab buku harian itu menceritakan tentang bagaimana dia menjalin hubungan khusus dengan seorang laki-laki berinisial N (itu aku), juga bagaimana mereka berdua berkonspirasi untuk membunuh suaminya. Semuanya digambarkan dengan teliti. Di lain pihak, monolog Hidaka berisi kesedihan laki-laki yang tidak menyadari bahwa selama ini istrinya telah berpaling darinya. Lalu terjadi percobaan  pembunuhan. Di bagian ini jelas yang tertulis bukanlah fakta, melainkan rekaan Hidaka sernata. Menurutnya, Hatsumi-san telah menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Hidaka. Dengan mempertimbangkan hubungan yang telah lama terjalin, mereka mendiskusikan masalah itu dan akhirnya sepakat untuk rujuk. Namun, tidak berapa lama kemudian, Hatsumi-san tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Tulisan aneh ini berakhir dengan suasana acara pemakaman Hatsumi-san. Tulisan ini disusun sedemikian rupa untuk membangkitkan rasa haru dan pujian pembacanya.

Aku melongo. Tulisan macam apa ini? Lalu malam harinya Hidaka menelepon.

”Sudah baca?” dia bertanya.

”Apa maksudmu menulis seperti itu?”

”Pekan depan aku akan menyerahkannya pada editor. Rencananya bakal dimuat di majalah edisi bulan depan.”

”Kau sudah gila? Apa kau tidak khawatir bakal kena masalah?”

”Mungkin.” Hidaka tampak tenang-tenang saja, yang justru membuatku merasa tidak nyaman.

”Kalau tulisan itu sampai dimuat, aku akan menceritakan yang sesungguhnya.”

”Apa yang akan kauceritakan?”

”Tentu saja tentang kau mencuri karyaku.”

”Oh.” Dia sama sekali tidak terpengaruh. "Siapa yang akan percaya? Kau tidak punya bukti.”

”Bukti...?” Aku tertegun. Setelah semua buku catatanku dirampas Hidaka, mustahil untuk membuktikan bahwa dia telah mencuri karyaku. Lalu aku pun teringat bahwa kematian Hatsumisan juga berarti kematian satu-satunya saksi pencurian itu.  ”Tapi,” ujar Hidaka. "Sebenarnya tulisan itu tidak harus dipublikasikan dalam waktu dekat.”

Samar-samar aku mulai bisa meraba apa maksud perkataannya.

Lalu, seperti sudah kuduga, dia berkata, ”Lima puluh halaman genka yoshi. Jika kau bisa menulis naskah novel sejumlah halaman itu, aku akan menyerahkannya pada editor sebagai pengganti tulisan ini.”

Rupanya inilah tujuan Hidaka. Apa pun yang terjadi, dia masih menginginkan aku sebagai penulis bayangannya. Lagi pula aku memang tidak ingin tulisan itu sampai diterbitkan demi menjaga nama baik Hatsumi-san.

”Berapa lama waktuku untuk menulis?” aku bertanya.

"Sampai akhir pekan depan.”

“Ingat, ini yang terakhir kali.”

Hidaka tidak menanggapinya dan malah berkata, "Baik. Hubungi aku kalau sudah selesai.” Telepon ditutup.

Boleh dibilang sejak hari itulah aku resmi menjadi penulis bayangan Hidaka Kunihiko. Total aku menulis tiga novel dan tujuh belas novela, yang naskahnya disimpan dalam disket yang kemudian disita polisi.

Mungkin Detektif Kaga akan merasa aneh dan bertanya apakah tidak ada cara lain untuk menolak permintaan Hidaka. Tapi kalau boleh jujur, aku sudah lelah terlibat dalam perang psikologis melawannya. Setidaknya kini aku merasa nyaman karena sepanjang aku terus menulis untuk Hidaka, maka kesalahanku dan Hatsumi-san tidak akan terbongkar.

Memang aneh, tapi setelah dua atau tiga tahun berlalu, kolaborasiku dengan Hidaka ternyata cukup harmonis. Lalu, alasan mengapa dia memperkenalkanku pada penerbit buku-buku anak adalah karena dia sendiri tidak tertarik menulis novel anak-anak. Tapi mungkin sedikit banyak itu karena dia menyimpan rasa bersalah padaku.

Pada suatu waktu dia berkata, "Setelah novel berikutnya selesai, kau bebas. Kita tidak akan berkolaborasi lagi.”

Aku merasa diriku salah dengar. ”Betulkah?”

”Betul. Tapi kau hanya boleh menulis novel anak-anak. Jangan menginjak daerahku. Paham?”

Rasanya tidak berlebihan kalau aku menganggap ini adalah mimpi. Akhirnya, aku bebas!

Belakangan barulah aku mengetahui sedikit alasan di balik perubahan sikap Hidaka. Selain pernikahannya dengan Rie-san, mereka juga berpikir untuk pindah ke Vancowver dan Hidaka menganggap ini adalah kesempatan baginya untuk menghilangkan kelelahan yang dialaminya sekian lama. Mungkin jika dibandingkan dengan pasangan pengantin baru itu, justru akulah yang paling menanti-nantikan hari keberangkatan mereka ke Vancowver.

Hari itu pun tiba.

Aku datang ke rumah Hidaka membawa perangkat word processor yang berisi naskah Gerbang Es. Ini adalah terakhir kali aku akan menyerahkan naskah secara langsung. Kami sudah mengatur bahwa setelah Hidaka pergi ke Kanada, naskah berikutnya akan dikirim lewat faksimili karena aku tidak memiliki komputer pribadi. Begitu serial Gerbang Es di majalah berakhir, berakhir pula kolaborasi di antara kami.

Sambil menerima disket pemberianku, dengan penuh semangat Hidaka berceloteh tentang kediaman barunya di Vancouver. Setelah menyimaknya sesaat, aku mulai membicarakan urusanku  dengannya. "Omong-omong, kau pernah berjanji akan mengembalikan sesuatu hari ini.”

"Sesuatu? Apa itu?” Sikap Hidaka yang satu ini selalu membuatku jengkel. Seharusnya dia tidak lupa apa yang telah dijanjikan, tapi dia malah mengalihkan pembicaraan.

”Buku. Buku catatanku.”

”Buku catatan?” Setelah berpura-pura bingung, barulah dia mengangguk. ”Ah, buku itu. Hampir saja aku lupa.” Dibukanya laci meja kerja, lalu dia mengeluarkan delapan jilid buku catatan tua. Tidak salah lagi, itu adalah buku-buku catatanku yang pernah direbutnya.

Aku mendekap erat buku-buku yang akhirnya kembali setelah sekian tahun berlalu. Dengan buku-buku ini, aku bisa membuktikan tindakan plagiarisme yang dilakukan Hidaka sekaligus membuat posisiku sejajar dengannya.

"Kelihatannya kau senang sekali,” Hidaka berkomentar.

”Begitulah.”

Aku penasaran. Apa arti buku-buku itu bagimu?”

"Arti? Jelas ada. Ini adalah bukti bahwa beberapa novel yang kauterbitkan sebenarnya diangkat dari tulisanku.”

”Oh, begitu? Tapi menurutku bisa juga diartikan sebaliknya. Misalnya, isi buku itu adalah tulisanmu setelah membaca karyakaryaku.”

”Apa katamu...” Punggungku seperti dirambati udara dingin. ”Jadi kau ingin mengelak?”

”Mengelak? Dari siapa? Aku tak bisa mencegahmu memperlihatkannya pada pihak ketiga, tapi menurutmu mereka akan memercayai pihak yang mana? Sebenarnya aku tak ingin berargumen tentang ini, tapi jika kau merasa lebih unggul karena memiliki buku-buku itu, aku ingin meyakinkanmu bahwa itu hanya ilusi.”

”Hidaka.” Aku menatapnya dengan geram. ”Aku sudah tidak bekerja sebagai penulis bayangan. Aku sudah tidak lagi menulis novel untukmu...”

”Setelah novel Gerbang Es selesai. Ya, aku tahu itu.”

”Lalu kenapa kau bicara seperti itu?”

”Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa hubungan kita tidak berubah.”

Saat melihat senyum dingin menghiasi wajah Hidaka, aku pun yakin. Ternyata laki-laki ini sama sekali tidak berniat membebaskanku. Kelak dia pasti akan kembali memanfaatkanku saat dibutuhkan.

”Di mana kaset video dan pisau itu?” aku bertanya.

”Kaset video dan pisau? Apa maksudmu?”

”Jangan pura-pura bodoh. Pisau dan kaset video yang itu.”

”Sudah kusimpan baik-baik. Hanya aku yang tahu tempatnya.”

Terdengar suara ketukan di pintu, lalu Rie-san masuk ke ruangan untuk memberitahukan kedatangan Fujio Miyako. Sebenarnya Hidaka segan menemui tamu itu, tapi dia berkata bahwa dia akan menemuinya. Jelas dia melakukannya untuk mengusir aku.

Sambil menyembunyikan kemarahan di dada, aku berpamitan pada Rie-san dan berjalan menuju pintu depan. Sebelumnya aku menulis bahwa dia mengantarku sampai ke luar gerbang, tapi sesuai dengan yang ditunjukkan Detektif Kaga, sebenarnya dia hanya mengantar sampai pintu depan.

Aku keluar dari pintu, kemudian memutari halaman dan  berjalan ke arah ruang kerja Hidaka. Lalu aku berjongkok di bawah jendela dan menyimak percakapan antara Hidaka dan Fujio Miyako. Sesuai perkiraan, Hidaka tidak begitu bersemangat menghadapi tamunya. Yang dipermasalahkan Fujio Miyako adalah novel berjudul Daerah Bebas Perburuan. Hidaka tidak bisa menjawab pertanyaan sang tamu dengan jelas karena akulah yang menulis semua isi novel itu.

Fujio Miyako pulang dalam keadaan tersinggung. Tidak lama kemudian, Rie-san juga meninggalkan rumah. Hidaka juga sempat meninggalkan ruang kerjanya, mungkin dia hendak ke kamar mandi atau yang lainnya.

Aku meneguhkan tekad. Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup. Kalau sekarang sampai gagal, selamanya aku takkan bisa lolos dari cengkeraman jahat Hidaka.

Aku beruntung karena jendela tidak dikunci. Aku menyelinap masuk dan bersembunyi di sebelah pintu sambil menunggu Hidaka kembali. Tanganku menggenggam alat pemberat kertas dari kuningan.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak perlu dijelaskan lagi. Begitu Hidaka kembali ke ruang kerja, dengan sekuat tenaga aku memukul kepalanya dari belakang. Dia langsung terjatuh. Aku mencekiknya dengan kabel telepon karena belum yakin dia benar-benar sudah tewas.

Apa yang terjadi kemudian sesuai dengan analisis Detektif Kaga. Aku merancang alibi dengan menggunakan komputer milik Hidaka. Kuakui trik itu muncul saat aku sedang menulis novel detektif untuk anak-anak dan memang sudah lama kusiapkan. Silakan tertawa, karena seperti yang sudah kutulis sebelumnya, ini adalah trik untuk mengelabui anak-anak.

Aku terus berdoa supaya kejahatan yang telah kulakukan jangan sampai terbongkar, begitu pula dengan usaha percobaan pembunuhan yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Pikiran itulah yang mendorongku meminta Rie-san untuk memberitahuku begitu kaset-kaset video milik Hidaka dikirim kembali dari Kanada.

Namun, satu per satu rahasiaku berhasil diungkap oleh Detektif Kaga. Aku membenci daya analisisnya yang tajam. Tentu saja sedikit banyak aku menyimpan dendam padanya.

Aku sudah menyebutkannya di awal, tapi fakta bahwa video itu disembunyikan di bagian dalam novel Noctiluca yang telah dilubangi memang sangat mengejutkan. Beberapa bagian dari novel itu memang ditulis sendiri oleh Hidaka dan salah satunya adalah adegan saat si tokoh utama hendak dibunuh oleh istrinya sendiri dan kekasih istrinya. Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa Hidaka menulisnya sambil membayangkan insiden rnalam itu. Bisa kubayangkan betapa gigihnya usaha Hidaka karena Detektif Kaga berhasil mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan membandingkan rekaman video saat aku menyelinap lewat jendela dengan isi novel.

Sampai di sini saja pengakuanku. Aku tidak akan membahas tentang motif karena aku ingin merahasiakan semua yang berkaitan dengan Hatsumi-san. Aku minta maaf karena telah banyak merepotkan, tapi aku akan sangat bahagia jika ada yang bersedia memahami perasaanku walau hanya sedikit.

Sekarang aku bersedia menerima hukuman apa pun yang akan dijatuhkan.