--> -->

Catatan Pembunuhan sang Novelis Jilid 4

Jilid 4 : Pengejaran Monolog Kaga Kyoichiro

Empat hari berlalu sejak Nonoguchi Osamu ditahan. Kendati dia menerima sermua tuduhan, ada satu hal yang masih disimpannya rapat-rapat. Motif pembunuhan. Dia sama sekali tidak mau menjelaskan mengapa dirinya harus membunuh Hidaka Kunihiko, sahabatnya sejak kecil sekaligus orang yang telah banyak membantunya dalam hal pekerjaan.

”Aku membunuhnya karena masalah kecil. Anggap saja ini tindakan impulsif yang dipicu kemarahan.” Begitu kata Nonoguchi pada para penyidik.

Aku menduga motif itu ada kaitannya dengan novel Gerbang Es. Sesuai dugaan, naskah itu ditemukan di hard disk perangkat word processor. Kami juga menemukan disket yang dibawanya ke rumah Hidaka pada hari kejadian di laci meja, disket itu cocok dengan komputer milik almarhum.

Menurutku ini bukan kejahatan yang direncanakan, para anggota Divisi Penyidikan juga berpendapat serupa. Namun, sampai di titik ini, masalahnya adalah mengapa Nonoguchi  Osamu memiliki disket berisi naskah Gerbang Es? Bukan, tapi mengapa dia menulis naskah Gerbang Es yang merupakan karya Hidaka? Untuk hal ini, aku sudah memiliki hipotesis sebelum penangkapan Nonoguchi Osamu dan yakin motif pembunuhan itu ada di dalamnya. Akan lebih baik jika nanti hipotesis itu bisa terbukti langsung dari mulut Nonoguchi sendiri. Tapi masalahnya dia sama sekali tidak berniat mengatakan apa pun. Sedangkan mengapa dia memiliki disket berisi naskah Gerbang Es, berikut penjelasannya:

”Itu hanya untuk iseng-iseng. Aku menyimpannya karena ingin mengejutkan Hidakas dia bahkan pernah berkomentar akan menggunakan naskah ini jika suatu saat dikejar tenggat waktu. Tentu saja dia tidak bersungguh-sungguh.”

Jelas kesaksian ini tidak cukup kuat, hanya saja cara bicaranya seakan-akan menyiratkan, "Terserah kalau kalian tidak mau percaya”.

Sekali lagi kami dari tim penyidik menggeledah aparteman Nonoguchi. Penggeledahan sebelumnya tidak bisa dihitung sebagai "penggeledahan” karena kami hanya memeriksa perangkat word processor dan laci meja. Hasilnya kami berhasil menemukan delapan belas benda yang mungkin bisa dijadikan bukti penting untuk mendukung hipotesisku. Benda-benda itu adalah delapan buku tebal catatan kuliah, delapan disket 2HD, dan dua bundel genko yoshi.

Setelah diperiksa di markas besar, ternyata semua buku, disket, dan kertas itu berisi naskah novel. Dari tulisan yang ada di buku dan kertas, jelas itu adalah tulisan Nonoguchi sendiri.

Lalu mengenai isi novel tersebut.

Kami memeriksa isi salah satu disket dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Tidak, mungkin aku harus bilang bahwa memang inilah yang kuharapkan.

Disket itu berisi naskah Gerbang Es. Bukan naskah baru, melainkan semua bagian yang sudah dimuat sebelumnya.

Aku memperlihatkan naskah itu pada Yamabe-san dari Penerbit Sorneisha. Berikut pendapatnya.

”Tidak salah lagi, ini adalah naskah Gerbang Es yang sudah diterbitkan. Tapi walau isi ceritanya sama, ada beberapa bagian yang tidak tercantum di naskah yang saya pegang. Ya, memang kasus sebaliknya juga pernah terjadi. Kalau dilihat lebih teliti, memang ada sedikit perbedaan dari gaya bahasa dan format kalimat di naskah ini.”

Dengan kata lain, ada persamaan antara naskah itu dengan naskah yang digunakan Nonoguchi untuk menciptakan alibi. Kami mengumpulkan semua karya Hidaka Kunihiko, lalu membagikannya pada para anggota Divisi Penyelidikan untuk dibaca. Sedikit menyimpang dari topik utama: banyak anggota divisi yang tersenyum kecut dan berkomentar sudah lama mereka tidak mencurahkan seluruh konsentrasi untuk membaca buku.

Usaha keras kami berhasil mengungkap hal mengejutkan. Kedelapan buku catatan yang kami bawa dari apartemen Nonoguchi Osamu ternyata berisi naskah lima novel karya Hidaka Kunihiko yang sudah diterbitkan sejauh ini. Walau judul dan nama tokoh-tokohnya diubah serta ada sedikit perbedaan dalam latar, boleh dibilang alur ceritanya sama persis.

Disket lain berisi naskah tiga novel dan dua puluh novela, tiga novel dan tujuh belas novela di antaranya diterbitkan menggunakan nama Hidaka, sedangkan tiga cerita novela sisanya adalah cerita anak-anak yang diterbitkan atas nama  Nonoguchi Osamu. Di lain pihak, kami tidak menemukan kesamaan dalam dua novela yang ditulis pada genko yoshi dengan karya Hidaka. Ditilik dari tampilan kertas yang sudah tua, sepertinya ini tulisan yang sudah sangat lama. Mungkin kami akan menemukan sesuatu dari situ.

Rasanya tidak wajar mengapa naskah sebanyak ini justru ditemukan di luar kediaman si pengarang yang namanya tercantum di buku. Selain itu, kami belum bisa menjelaskan mengapa isi naskah itu tidak sama persis dengan yang sudah diterbitkan, ada tanda-tanda bahwa naskah dalam buku catatan telah dikoreksi di sana-sini, mengindikasikan naskah itu sudah dipoles.

Penemuan itu memunculkan hipotesis bahwa Nonoguchi Osamu adalah penulis bayangan dari Hidaka Kunihiko. Bagaimana jika hubungan "”aneh” di antara mereka ini ada kaitannya dengan pembunuhan itu?

Aku menyinggung hal ini di ruang interogasi, tapi ekspresi wajah Nonoguchi tidak berubah saat dia membantah.

“Itu tidak benar,” katanya. Namun, saat ditanya tentang naskah novel yang ada di buku catatan dan disket, dia mengatupkan kelopak mata dan terdiam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari seniorku yang juga hadir pada sesi interogasi tersebut.

Kemudian terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Tiba-tiba saja Nonoguchi Osamu memegang perutnya seperti orang kesakitan. Melihat penderitaannya, aku sempat menyangka selama ini dia menyembunyikan racun yang akhirnya digunakannya.

Nonoguchi segera dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat ini dia sedang beristirahat di tempat tidur. Aku dipanggil ke ruang atasan dan mendengar berita mengagetkan.

Nonoguchi Osamu diduga menderita kanker.

Keesokan harinya, aku pergi menjenguk Nonoguchi. Sebelumnya aku sempat meminta keterangan dari dokter yang menanganinya. Menurut dokter, rupanya sel kanker telah merambat ke peritoneum yang menyelimuti organ-organ dalam. Dia harus segera dioperasi karena kondisinya cukup parah. Menanggapi pertanyaanku tentang apakah penyakit itu bisa kambuh, dia mengiyakannya.

Ada alasan mengapa aku mengajukan pertanyaan seperti itu. Berdasarkan hasil investigasi, ditemukan bahwa dua tahun yang lalu Nonoguchi Osamu menderita penyakit serupa sehingga harus dioperasi untuk menyingkirkan sebagian isi perutnya. Alhasil, dia harus mengambil cuti selama beberapa bulan. Sepertinya tidak ada rekan-rekan kerjanya yang mengetahui nama penyakit itu, kecuali kepala sekolah yang saat itu bertugas di sana. Anehnya, sebelum ditangkap dia sama sekali tidak pernah pergi ke rumah sakit, padahal dia masih mengidap penyakit tersebut. Begitu kata dokter.

Aku bertanya apakah dia bisa diselamatkan lewat operasi. Dokter berwajah cerdas itu bimbang sesaat, baru menjawab, ”Kemungkinannya 50:50.”

Jawaban yang sulit.

Setelah itu barulah aku datang ke ruang tempat Nonoguchi Osamu dirawat. Dia ditempatkan di ruang pribadi.

”Dengan status sebagai tahanan, rasanya kok aku agak menyesal ya karena malah bersantai-santai di sini alih-alih masuk penjara.” Nonoguchi menyambutku. Wajahnya yang kurus terlihat lemas. Aku yakin bukan faktor waktu semata  yang membuat wajahnya yang dulu begitu akrab di mataku kini terlihat lebih tua.

”Bagaimana keadaan Anda?”

?Hmm, memang tidak bisa dibilang baik-baik saja, tapi lumayanlah kalau membayangkan seperti apa penyakitku.”

Secara tidak langsung dia memberitahuku bahwa dia tahu apa yang sedang diidapnya. Karena itulah dia tidak lagi merasa terkejut ketika menyadari penyakit itu kambuh.

Aku masih berdiam diri sampai akhirnya dia bertanya.

”Nah, jadi kapan kalian akan mendakwaku? Kalau tidak, bisa-bisa aku sudah tidak ada saat diajukan ke pengadilan.”

Meskipun tidak bisa memutuskan apakah perkataannya itu serius atau sekadar lelucon, aku yakin dia mampu melontarkan perkataan itu karena sudah siap untuk mati.

”Sampai sekarang belum ada dakwaan karena materinya belum lengkap.”

"Kenapa bisa begitu? Padahal aku sudah mengaku, bukti juga ada, jelas aku akan dinyatakan bersalah. Bukankah lebih baik seperti itu? Tenang saja, aku tidak akan mendadak mencabut pengakuanku saat di persidangan.”

”Bukan begitu. Masalahnya adalah motif yang belum jelas.”

”Masih membahas soal itu?”

"Selama Sensei belum bersedia bicara, saya akan terus menanyakannya.”

”Tapi memang tidak ada motif, kok. Bukankah kau sendiri yang bilang ini bukan kejahatan yang direncanakan? Memang begitulah yang terjadi. Aku marah lalu membunuhnya. Itu saja. Tidak ada alasan lain.” ”Saya ingin tahu apa penyebab kemarahan itu. Tidak ada manusia yang marah begitu saja tanpa alasan.”

”Hanya soal kecil. Ya, setidaknya begitu menurutku. Sebenarnya aku juga tidak begitu ingat kenapa aku sampai marah. Mungkin itu yang disebut mendadak naik darah? Karena itulah aku tidak bisa menjelaskannya walau ingin.”

”Saya yakin saya bisa memahami penjelasan Anda.”

”Ya, aku hanya bisa berharap kau akan mengerti.”

Aku terdiam dan menatapnya. Nonoguchi balas menatapku, sorot matanya jelas menyiratkan rasa percaya diri.

”Saya akan bertanya lagi tentang buku dan disket yang ditemukan di apartemen Sensei.”

Nonoguchi langsung terlihat lelah begitu topik pembicaraan berganti. "Apa kaitannya dengan kasus itu? Tolong jangan seenaknya menghubung-hubungkan.”

”Tugas Anda untuk menjelaskannya dengan tepat. Sebenarnya untuk apa itu?”

?Bukan untuk apa-apa. Hanya buku catatan dan disket biasa.”

”Tapi di dalamnya ada naskah novel Hidaka Kunihiko. Bukan, lebih tepatnya karya yang sangat mirip dengan novel Hidaka Kunihiko. Tidak ada bedanya dengan draf.” Aku membalasnya.

” Jadi menurutmu aku adalah penulis bayangan untuknya? Bodoh. Itu terlalu mengada-ada.”

”Tapi itu konsisten dengan apa yang kami temukan di apartemen Anda.”

”Biar kuberikan jawaban yang jauh lebih konsisten. Yang kulakukan itu sama dengan belajar. Mereka yang ingin menjadi penulis bisa mempelajarinya dengan berbagai cara, dalam kasusku, aku menulis ulang karya Hidaka untuk mempelajari  ritme cerita dan deskripsi. Sama sekali bukan sesuatu yang aneh. Banyak calon penulis yang melakukan cara ini.”

Penjelasan itu tidak membuatku terkejut karena editor Hidaka Kunihiko (dari Penerbit Someisha) juga mengatakan hal yang sama. Namun menurutnya, ada tiga hal yang harus dipertanyakan. Satu: naskah yang ditemukan tidak sama persis dengan milik Hidaka karena ada beberapa bagian yang berbeda. Kedua: jika itu memang dilakukan sebagai metode belajar, aneh rasanya mengapa dia menyalin sebanyak itu. Lalu yang ketiga adalah: Hidaka Kunihiko memang sosok yang populer, tapi tulisannya tidak luar biasa sekali hingga harus ditiru.

Aku mengajukan tiga pertanyaan itu pada Nonoguchi Osamu. Ekspresi wajahnya tidak berubah saat dia menjawab, "Ada penjelasan logis untuk ketiganya. Awalnya aku hanya sekadar iseng menyalin, tapi tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku bosan. Aku pun berpikir bagaimana kalau aku mencoba menulis sendiri apa yang ditulis dan diekspresikan dalam buku itu. Paham? Aku mencontoh karya Hidaka karena ingin menghasilkan karya yang jauh lebih hebat. Itulah tujuanku mempelajarinya. Lalu soal banyaknya naskah yang kusalin, itu karena aku sudah mempelajarinya sejak lama. Mumpung aku masih melajang dan tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di rumah sepulang kerja, akhirnya aku menghabiskan waktu dengan mempelajari karya penulis. Yang terakhir, menganggap tulisan Hidaka tidak sedemikian bagusnya adalah pandangan subjektif karena aku membeli bukunya. Mungkin teknik menulisnya memang tidak luar biasa, tapi kalimat-kalimatnya pendek dan mudah dipahami. Gayanya yang seperti itu terbukti menarik minat banyak pembaca.”

Masuk akal. Tapi jika benar, mengapa Nonoguchi tidak mengatakannya sejak awal? Dia sama sekali tidak menyinggung hal itu sebelum penyakitnya kambuh. Bagaimana jika dia memanfaatkan kesempatan selagi dirinya dirawat sehingga tidak perlu menjalani interogasi untuk mengarang alasan itu? Saat ini sulit untuk membuktikannya.

Aku putuskan untuk menyinggung tentang bukti terbaru, yaitu beberapa kertas catatan yang disimpan di laci meja Nonoguchi. Pada kertas itu tertulis catatan-catatan yang sepertinya adalah konsep cerita. Dari nama-nama karakter yang muncul, aku langsung tahu bahwa ini adalah novel bersambung Gerbang Es karya Hidaka Kunihiko, dengan perkecualian isinya bukan episode yang sudah diterbitkan, melainkan kelanjutannya.

"Mengapa Anda menulis kelanjutan Gerbang Es? Bisa Anda jelaskan?” aku bertanya padanya.

”Bagiku itu juga termasuk proses belajar. Yang namanya pembaca pasti akan penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita sampai-sampai mereka membayangkannya sendiri. Yang kulakukan sama saja dengan mereka, hanya saja dalam bentuk yang lebih positif. Bukan sesuatu yang spesial.”

”Padahal Anda berhenti menjadi guru karena ingin menjadi penulis profesional, apakah cara belajar seperti itu masih diperlukan? Waktu yang bisa Anda gunakan untuk menulis naskah sendiri jadi terbuang sia-sia.”

”Jangan menghina. Aku memang belum sampai di level profesional karena masih banyak teknik yang harus diasah. Lagi pula aku punya cukup banyak waktu karena belum ada pekerjaan.”

Seperti biasa, bagiku penjelasan Nonoguchi Osamu sama sekali tidak masuk akal. Pikiran itu pasti terlihat di wajahku karena dia lantas berkata,  ”Karena sepertinya kau begitu yakin aku adalah penulis bayangan Hidaka, kubilang saja bahwa penilaianmu terlalu tinggi. Aku tidak punya kemampuan untuk hal seperti itu. Justru setelah mendengar penjelasanmu, aku jadi berpikir betapa hebatnya jika itu benar. Dijamin aku akan berteriak sekeras-kerasnya bila analisismu tepat. Apa kau tidak berpikir jika benar semua itu adalah karyaku, nama pengarang yang tercantum adalah Nonoguchi Osamu? Sayangnya bukan, karena aku pasti akan memakai namaku. Tidak ada gunanya menggunakan nama Hidaka.”

”Pendapat saya juga sama. Justru di situlah anehnya.”

”Tidak ada hal yang aneh. Itu karena analisismu yang memang salah dan melantur ke mana-mana. Kau terlalu serius menanggapinya.”

”Saya rasa tidak.”

?Aku mohon anggaplah begitu. Nah, sekian saja pembicaraan ini. Segera ajukan dakwaan untukku, terserah kalian mau menggunakan motif apa. Kau boleh menulis sesuka hatimu di laporan,” kata Nonoguchi dengan nada masa bodoh.

Setelah meninggalkan ruang perawatan, aku mengingat-ingat kembali percakapan kami. Bagaimanapun juga, masih banyak hal-hal membingungkan dalam kesaksian Nonoguchi Osamu. Tapi komentarnya bahwa analisisku masih memiliki celah juga ada benarnya.

Anggaplah dia memang penulis bayangan Hidaka Kunihiko, mengapa dia harus membunuhnya? Mungkinkah karena Hidaka kini sudah populer, maka Nonoguchi berpikir dirinya juga bisa menghasilkan buku laris sebagai pengarang baru? Lagi pula tulisannyalah yang menjadi faktor larisnya karya-karya Hidaka, padahal sebenarnya dia bisa menggunakan tulisan itu untuk debut.

Bagaimana jika dia tidak menggunakan namanya karena masih bekerja sebagai guru? Tidak, itu sangat aneh. Sepengetahuanku, dia tidak pernah menganggap menulis sebagai kegiatan sampingan semata hanya karena masih mengajar. Apalagi orang seperti Nonoguchi: jika diminta memilih, dia pasti tidak akan segan-segan melepaskan jabatannya sebagai guru.

Kembali ke sanggahannya tadi. Memang mustahil dia akan menyangkal dirinya sebagai penulis bayangan Hidaka Kunihiko jika itu benar. Bagi Nonoguchi, karya-karya populer dari Hidaka adalah jalur penghubungnya dengan ketenaran.

Apakah itu berarti Nonoguchi Osamu bukan si penulis bayangan? Benarkah semua buku catatan dan disket yang ditemukan di apartemennya tidak memiliki arti khusus?

Tidak mungkin, tegasku dalam hati. Sedikit banyak aku tahu mengenai latar belakang Nonoguchi Osamu. Untuk orang yang memiliki harga diri dan rasa percaya diri tinggi, mustahil dia rela mempelajari dan meniru karya orang lain.

Aku kembali ke markas besar dan melaporkan percakapanku dengan Nonoguchi pada atasan. Beliau menyimak laporanku dari awal sampai akhir dengan wajah masam.

”Menurutmu mengapa Nonoguchi menyembunyikan motif pembunuhan itu?” dia bertanya setelah aku selesai bicara.

”Saya tidak tahu. Walau dia menerima semua tuduhan pembunuhan, saya pikir dia merahasiakan sesuatu sehingga tidak bisa mengatakan apa motifnya.”

” Jangan-jangan ada hubungannya dengan novel Hidaka.”

”Menurut saya juga begitu.”  ”Jadi benar Nonoguchi Osamu adalah pengarang aslinya. Tapi kenapa dia malah menyangkal?” Jelas sekali betapa jengkelnya Inspektur Sakoda karena harus menghadapi masalah itu. Rupanya beberapa orang dari media massa sudah mencoba mengonfirmasi ke Divisi Penyelidikan tentang kemungkinan Nonoguchi adalah penulis bayangan Hidaka Kunihiko—entah bagaimana mereka bisa mengendus berita itu. Tentu saja pihak berwajib menolak untuk mengonfirmasi, tapi ada kemungkinan informasi itu akan muncul di surat kabar edisi pagi. Bila itu benar, kami pasti akan kembali direpotkan oleh telepon-telepon pertanyaan.

”Dia bilang pembunuhan itu terjadi karena terpicu kemarahan, tapi tidak mau menceritakan penyebabnya. Menurutku sekalian saja dia tidak usah bercerita, suruh dia membuat alasan dengan memanfaatkan bakatnya sebagai penulis. Kita akan dapat masalah di pengadilan jika pernyataannya di pengadilan berubahubah, tidak sesuai dengan pernyataan awal.”

”Ini berbeda dengan pembunuhan yang dipicu kemarahan. Setelah keluar dari kediaman Hidaka Kunihiko, Nonoguchi Osamu memutari halaman dan masuk ke ruang kerja almarhum lewat jendela. Dari sini kita bisa menduga bahwa dia sudah berniat membunuhnya. Saya yakin pasti ada sesuatu dalam percakapan mereka sebelumnya yang telah memicu keinginan itu.”

”Menurutmu apa yang mereka bicarakan?”

”Di naskahnya, Nonoguchi menggambarkannya sebagai percakapan biasa, tapi menurut saya topiknya berkisar tentang aktivitas menulis.”

Hidaka Kunihiko berniat tinggal di Kanada, itu pasti akan menimbulkan berbagai masalah andai benar Nonoguchi adalah penulis bayangannya. Bukan tidak mungkin di tengah-tengah diskusi ada sesuatu yang membuat Nonoguchi tidak puas.

”Bagaimana kalau mereka membahas tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi jika Nonoguchi masih ingin melanjutkan pekerjaannya?”

”Mungkin saja.”

Polisi sudah memeriksa rekening bank milik Nonoguchi Osamu. Walaupun tidak ada tanda-tanda uang yang ditransfer oleh Hidaka Kunihiko, kami tidak mengesampingkan dugaan bahwa transaksi di antara mereka dilakukan secara tunai.

Ditemani seorang rekan, hari ini aku pergi mengunjungi Hidaka Rie. Dia tinggal di rumah orangtuanya di daerah Mitaka sejak suaminya terbunuh, dan ini adalah pertemuan pertamaku dengannya sejak penahanan Nonoguchi Osamu. Sebelumnya, atasanku sudah menghubunginya untuk memberitahu kemajuan penyidikan, namun beliau sama sekali tidak menyinggung tentang penulis bayangan. Aku yakin pasti dia kesal karena terus menerima telepon dari media massa. Di lain pihak, dia juga pasti menyimpan segunung pertanyaan untuk kami.

Aku menjelaskan secara singkat tentang kemajuan penyidikan sejauh ini sebelum akhirnya menyinggung tentang naskah yang ditemukan di apartemen Nonoguchi Osamu. Hidaka Rie sangat terkejut. Aku mencoba bertanya apakah dia mengetahui alasan mengapa Nonoguchi memiliki naskah yang berisi salinan novel Hidaka Kunihiko.

Dia mengaku bahwa dirinya tidak tahu. "Saya yakin suami saya tidak pernah mengambil ide seseorang atau menjiplak dari novel lain. Apa Anda tahu betapa sulitnya mencari ide?  Apalagi sampai mempekerjakan penulis bayangan... Saya tidak percaya.” Nada suaranya tenang, namun sorot matanya menyiratkan kemarahan.

Aku tidak begitu saja menerima penjelasan itu. Lagi pula, pernikahannya dengan Hidaka Kunihiko baru berusia sebulan, mustahil dia sudah mengetahui segala sesuatu tentang suaminya.

Seakan bisa menebak jalan pikiranku, Hidaka Rie melanjutkan, ”Anda tidak salah jika berpikir bahwa kami belum lama menikah. Tapi sebelumnya saya sudah pernah menangani dia.”

Kami juga sudah menyelidiki tentang itu. Sebelum menikah, Hidaka Rie pernah bekerja di penerbitan dan dari situlah dia bertemu dengan Hidaka Kunihiko.

”Waktu itu kami berdua sering sekali berdiskusi tentang seperti apa karya dia berikutnya. Walau hasilnya hanya novel, novel itu tidak akan lahir tanpa bantuan saya. Karena itu tidak mungkin dia sampai harus mengikutsertakan Nonoguchisan.”

”Apa judul novel itu?”

”Noctiluca. Terbit tahun lalu.”

Karena banyak detektif yang diperintahkan membaca karyakarya Hidaka Kunihiko untuk keperluan penyelidikan kasus ini—juga karena aku sendiri belum pernah membacanya—aku bertanya pada rekanku apakah dia tahu tentang buku yang dimaksud. Jawabannya jelas dan menarik. Noctiluca adalah salah satu karya yang naskahnya tidak ditemukan, baik di buku Catatan maupun dalam disket. Sebenarnya selain novel ini, kami juga tidak menemukan salinan karya-karya yang ditulis dalam rentang waktu tiga tahun sejak debut Hidaka, juga hampir setengah dari karya yang ditulis setelah itu di apartemen Nonoguchi. Ada kemungkinan Hidaka Kunihiko sendiri yang menulisnya walau saat itu sudah memiliki Nonoguchi sebagai penulis bayangan. Maka kata-kata Hidaka Rie tentang ”karya yang tidak akan lahir tanpa bantuannya” sangat wajar.

Aku lantas mengubah pertanyaan. Kali ini aku bertanya apakah dia tahu motif apa yang menyebabkan Nonoguchi Osamu membunuh Hidaka Kunihiko.

”Saya sudah mencoba memikirkannya, tapi saya benar-benar tidak tahu mengapa Nonoguchi-san harus membunuh suami saya... Kalau boleh jujur, saya sulit percaya mendengar dia dituduh sebagai pelakunya karena selama ini dia dan almarhum suami saya tidak pernah bertengkar atau semacamnya. Saya masih berpikir ini adalah kesalahan.” Dari ekspresi wajahnya tidak ada tanda-tanda dia sedang berakting.

Saat aku hendak pulang, Hidaka Rie menyodorkan buku bersampul abu-abu dengan hiasan motif berwarna keemasan. Itu novel Noctiluca yang tadi disinggungnya.

”Bacalah buku ini.” Mungkin dia ingin aku berhenti mencurigai almarhum suaminya setelah membacanya.

Malam itu aku mulai membaca novel pemberiannya. Aku pun teringat dulu pernah bertanya pada Nonoguchi tentang novel detektif karya Hidaka Kunihiko dan judul inilah yang direkomendasikannya. Aku tidak tahu apakah ada tujuan tertentu di balik itu, tapi mungkin dia melakukan itu karena tidak ingin menyodorkan novel yang berkaitan dengan dirinya.

Noctiluca mengisahkan tentang laki-laki tua dan istrinya yang masih muda. Pria tua itu adalah pelukis, sedangkan istrinya sesekali menjadi modelnya. Pelukis itu khawatir kalau-kalau istrinya berselingkuh. Sampai di sini alur ceritanya tidak berbeda  dengan novel-novel populer pada umumnya, hingga bagian bahwa si pelukis akhirnya tahu bahwa istrinya ternyata memiliki kepribadian ganda. Mendadak cerita ini mengalami perkembangan. Salah satu dari kepribadian itu memiliki kekasih muda dan mereka berniat membunuh si pelukis. Namun, kepribadian lainnya masih setia dan mencintai suaminya dengan tulus.

Si pelukis berniat membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dia menemukan sehelai kertas di meja bertuliskan: Siapa yang akan dilenyapkan oleh psikiater itu? 'Dia?? Atau 'Aku? Dengan kata lain, ada kemungkinan kepribadian sang istri yang mencintainya akan hilang setelah dia sembuh. Jelas itu tulisan kepribadian jahat istrinya.

Dicekam ketakutan, malam demi malam dilalui si pelukis dengan bermimpi dirinya dibunuh. Dalam mimpi itu, istrinya yang berwajah seperti bidadari tersenyum, lalu membuka jendela ruang tidur. Kemudian masuklah laki-laki yang lantas menyerangnya dengan pisau. Tidak lama kemudian, wajah laki-laki itu berubah menjadi wajah istrinya... Begitulah isi mimpi itu.

Pada akhirnya, nyawa pun terenggut, namun korbannya justru istri si pelukis yang ditikam suaminya sendiri dengan dalih mempertahankan diri. Penderitaan baru pun dimulai karena sebelum melakukan perbuatannya itu, si pelukis menganggap kepribadian istrinya telah berubah. Apakah sosok yang ditikamnya itu adalah istrinya dalam wujud bidadari? Atau justru dalam wujud iblis? Sampai sekarang jawabannya masih menjadi misteri.

Seperti itulah garis besar cerita yang berhasil kutangkap, walau mungkin seseorang yang memiliki daya pemahaman bacaan yang tinggi akan memiliki penafsiran berbeda dan lebih  rumit. Mungkin mereka akan merasa perlu menelaahnya dari sisi hasrat seksual yang muncul di usia tua, atau tentang keburukan yang tersembunyi di benak seniman. Tapi berhubung aku lemah dalam mata pelajaran bahasa Jepang, selain sulit menangkap apa yang tersirat dari novel itu, aku juga tidak bisa menilai kekuatan ekspresi dalam kalimat yang digunakan.

Dengan penuh rasa penyesalan pada istri almarhum, aku menganggap novel itu tidak begitu mengesankan.

Aku mencoba membandingkan riwayat hidup kedua orang itu. Hidaka Kunihiko belajar di SMA yang merupakan bagian dari universitas swasta, lalu melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Jurusan Filsafat. Setelah lulus kuliah, dia sempat bekerja di agen iklan dan perusahaan penerbitan sebelum akhirnya banting setir menjadi penulis, setelah novela karyanya berhasil meraih Penghargaan untuk Penulis Pendatang Baru. Itu terjadi sepuluh tahun lalu. Selama tiga tahun berikutnya, tidak ada satu pun karya-karyanya yang bisa dianggap laris. Baru di tahun keempatlah dia diganjar penghargaan sastra berkat karyanya berjudul Api Semu. Sejak itu dia mulai menapaki jalan pengarang ternama.

Di lain pihak, Nonoguchi Osamu bersekolah di SMA swasta yang berbeda. Dia sempat menganggur setahun sebelum lulus ujian masuk Fakultas Sastra. Dia memilih Jurusan Sastra Jepang dan mengikuti pelatihan guru. Lulus dari universitas, dia mengajar di SMP negeri. Total ada tiga sekolah yang diajarnya sebelum memutuskan berhenti bekerja. Aku bertemu dengannya di sekolah kedua.  Nonoguchi memulai karier sebagai penulis tiga tahun lalu. Dia menulis cerita sepanjang tiga puluh halaman di majalah novel untuk anak-anak yang terbit dua kali setahun. Sampai sekarang belum ada satu pun buku cetak yang diterbitkan atas namanya.

Menurut Nonoguchi, reuni antara dirinya dengan Hidaka yang telah meniti jalan karier masing-masing itu terjadi sekitar tujuh tahun lalu. Karena melihat nama Hidaka tercantum di majalah novel dan media lainnya, dia memutuskan untuk mengunjungi teman yang sudah lama tidak dijumpainya itu.

Sampai di sini rasanya dugaanku benar adanya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setahun kemudian Hidaka berhasil meraih penghargaan lewat novel Api Semu. Ternyata novel itu adalah judul pertama yang memiliki kemiripan dengan naskah Nonoguchi. Menurutku tidak aneh jika menganggap reuni dengan Nonoguchi telah membawa keberuntungan bagi Hidaka.

Aku mengunjungi penerbit yang menerbitkan Api Semu dan berbicara pada editor yang dulu menangani novel itu. Namanya Mimura, pria setengah baya yang sopan. Kini dia menjabat sebagai pemimpin redaksi.

Inti pertanyaanku hanya satu, yaitu apakah Api Semu sudah diprediksi akan meraih kesuksesan sejak awal, atau justru kesuksesan itu datang secara tiba-tiba? Berikut penjelasan Tuan Mimura:

”Apakah Anda sedang menyelidiki gosip terakhir tentang penulis bayangan di balik novel itu, Detektif?”

Aku bisa memahami kegugupannya. Hidaka Kunihiko memang sudah meninggal dunia, tapi mereka tidak ingin namanya tercoreng. ”Ini hanya teori yang ingin saya pastikan.”

”Walaupun begitu, rasanya tidak mungkin teori itu muncul begitu saja, bukan?” Tuan Mimura menjawab pertanyaanku dengan nada penuh ironi. "Saya rasa bisa disimpulkan bahwa Api Semu adalah titik balik dalam karier Hidaka-san. Dia berhasil meraih ketenaran lewat karya ini. Dia menjadi orang yang berbeda.”

”Jadi menurut Anda jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, yang satu itu bisa dibilang karya besarnya?”

”Memang demikian adanya. Tapi secara pribadi, menurut saya ini bukan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan. Pada dasarnya karya-karya almarhum memiliki semacam kekuatan: hanya saja banyak pembaca yang berpendapat penyajiannya kurang matang. Tapi, apakah itu berarti pesan dalam novel itu tidak tersampaikan? Dari segi itulah mengapa Api Semu bisa laris. Anda sudah membacanya?”

”Sudah. Ceritanya menarik.”

”Benar, bukan? Sampai sekarang pun saya masih menganggapnya sebagai karya terbaik Hidaka-san.”

Api Semu berkisah tentang pegawai kantor biasa yang menjadi ahli pembuat kembang api setelah terpikat oleh keindahan kembang api yang disaksikannya saat sedang mengadakan perjalanan bisnis. Ceritanya memang bagus, namun deskripsi tentang kembang api dalam buku itulah yang membuatnya sempurna.

”Setahu saya novel itu langsung ditulis tanpa dimuat sebagai cerita bersambung sebelumnya.”

”Benar.”

”Apakah ada semacam diskusi sebelum Hidaka-san mulai menulisnya?”  "Tentu saja ada. Setiap pengarang selalu melakukannya.”

Apa saja yang didiskusikan?”

”Pertama, tentang isinya. Mulai dari tema, cerita, konsep, karakter utama, dan lain-lain.”

”Apakah kalian berdua yang memikirkan tentang semua itu?”

”Tidak. Pada dasarnya semua berasal dari ide Hidaka-san. Itu wajar. Dialah si pengarang. Tugas saya adalah mendengarkan dan memberi opini.”

”Apakah ide plot untuk menjadikan si tokoh utama sebagai ahli kembang api juga datang dari Hidaka-san?”

”Tentu saja.”

”Bagaimana pendapat Anda tentang ide itu?”

”Maksudnya?”

?Maksud saya, apakah ide semacam itu memang ciri khasnya?”

”Saya tidak berpikir sejauh itu. Bagaimanapun, itu bukan sesuatu yang luar biasa. Banyak pengarang lain yang juga menulis tentang ahli pembuat kembang api.”

”Adakah bagian cerita yang diubah karena nasihat Anda, Tuan Mimura?”

”Untuk bagian-bagian utama biasanya tidak. Saya hanya membaca naskah yang sudah selesai dan menunjukkan bagianbagian yang kurang jelas. Tapi bagaimana memperbaikinya, semua itu tugas pengarang.”

”Pertanyaan terakhir. Andai Hidaka-san menulis ulang karya orang lain dengan kata-kata dan gayanya sendiri, bisakah Anda mengetahui bahwa itu bukan karyanya?”

Tuan Mimura berpikir sejenak, lalu menjawab, "Sejujurnya, saya tidak bisa. Petunjuk untuk mengenali karya pengarang adalah melalui gaya bahasa dan ekspresinya.” Namun, dia tidak lupa menambahkan: ”Tapi tidak ada keraguan lagi bahwa Api Semu ditulis sendiri oleh Hidaka-san, Detektif. Saya beberapa kali bertemu dengannya saat proses penulisan dan jelas betapa tertekannya dia, bahkan dia hampir saja menyerah. Dia tidak perlu sampai seperti itu jika benar yang dilakukannya hanya menyalin novel orang lain.”

Tanpa berkomentar apa-apa, aku bangkit dari kursi dan berpamitan. Namun, benakku dipenuhi berbagai argumen. Menurutku memang sulit bagi seseorang yang sedang sedih dan tertekan untuk tampil ceria, tapi mudah saja untuk berakting sebaliknya.

Teoriku tentang penulis bayangan tetap tidak tergoyahkan.

Kita sering mendengar perkataan ”selalu ada seorang wanita di balik kejahatan”. Namun, dalam kasus ini kami tidak begitu dalam menyelidiki tentang hubungan asmara Nonoguchi Osamu. Mungkin itu disebabkan tim penyidik yang menganggap hal itu tidak ada hubungannya, atau mungkin justru karena pengaruh pembawaan Nonoguchi sendiri. Wajahnya memang tidak buruk, tapi sulit membayangkan ada wanita di balik layar yang menjalin hubungan khusus dengannya.

Tapi dugaan itu salah. Rupanya dia pernah memiliki hubungan istimewa dengan seorang wanita. Petunjuknya ditemukan oleh tim penyidik yang kembali memeriksa apartemen Nonoguchi.

Ada tiga petunjuk. Yang pertama adalah celemek bermotif kotak-kotak yang jelas dirancang untuk wanita. Benda itu ditemukan dalam keadaan sudah dicuci dan disetrika di dalam laci  meja Nonoguchi. Kami menduga celemek ini digunakan oleh wanita yang sesekali datang untuk membersihkan rumahnya.

Benda kedua adalah kalung emas yang berasal dari toko perhiasan terkemuka. Karena masih terbungkus dalam kotak penyimpanannya, sepertinya kalung ini adalah hadiah untuk seseorang.

Benda ketiga: formulir perjalanan wisata. Formulir itu dilipat menjadi kecil dan disimpan di dalam kotak aksesoris bersama bungkusan kalung. Dokumen itu berasal dari biro perjalanan dan menurut keterangan di dalamnya, Nonoguchi Osamu berniat pergi ke Okinawa. Tanggal pemesanan yang tertera di formulir adalah 10 Mei tujuh tahun lalu dengan rencana keberangkatan 30 Juli. Sepertinya dia ingin mengadakan perjalanan dalam rangka liburan musim panas.

Ada sesuatu yang janggal di bagian kolom peserta. Di samping nama Nonoguchi Osamu, tertera nama Nonoguchi Hatsuko. Usianya 29 tahun.

Kami sudah menyelidiki tentang wanita ini. Hasilnya adalah: tidak ada perempuan dengan nama demikian, baik di keluarga maupun kerabat Nonoguchi Osamu. Kemungkinan besar dia membawa wanita misterius ini dengan menyamar sebagai pasangan.

Berdasarkan tiga petunjuk ini, setidaknya kami tahu bahwa tujuh tahun lalu Nonoguchi Osamu pernah memiliki kekasih. Dan sepertinya dia masih menyimpan perasaan pada perempuan itu kendati status hubungan mereka tidak jelas. Jika tidak, mustahil dia masih menyimpan semua kenang-kenangan ini.

Aku melaporkan semua hasil penemuan tentang wanita itu pada atasanku. Walau belum diketahui apakah dia berkaitan dengan kasus ini atau tidak, karena hubungannya dengan  Nonoguchi Osamu terjadi tujuh tahun lalu—setahun sebelum Hidaka menerbitkan Api Semu—kami yakin jika bisa menemukannya, kami akan dengan mudah mengungkap apa yang terjadi pada Nonoguchi saat itu.

Pertama-tama, aku mencoba menanyakannya langsung pada Nonoguchi. Sementara dia berbaring dalam kondisi setengah duduk, kuperlihatkan padanya celemek, kalung, dan formulir pendaftaran perjalanan wisata yang kami temukan.

”Saya ingin menanyakan siapa pemilik celemek ini, untuk siapa kalung ini dihadiahkan, dan dengan siapa Anda berniat pergi ke Okinawa.”

Nonoguchi Osamu menunjukkan reaksi penolakan yang berbeda dengan sebelumnya. Kegugupannya terlihat jelas. ”Apa hubungannya dengan kasus ini? Aku adalah pelaku pembunuhan dan harus membayar dosa-dosaku, tapi haruskah kalian sampai mengumumkan hal-hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini?”

”Kami tidak akan mengumumkannya. Anda cukup bicara pada saya. Jika nanti terbukti tidak ada hubungannya dengan kasus ini, kami tidak akan menanyakannya lagi, tentu saja pembicaraan ini juga tidak akan diumumkan. Dan saya jamin kami tidak akan merepotkan wanita itu.”

”Hal itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Kau cukup berpegang pada kata-kataku.”

”Bukankah lebih baik jika Anda menjelaskannya secara gamblang? Dengan begitu, Anda akan lolos dari kecurigaan dan kami bisa melanjutkan penyidikan intensif supaya bisa lebih memahami kasus ini. Hanya saja begitu tim penyidik bergerak, ada kemungkinan besar pihak media massa akan mengendusnya. Saya yakin Sensei tidak akan mengharapkan situasi seperti itu.”  Namun Nonoguchi Osamu tidak menyebutkan nama wanita itu. Sebagai gantinya, dia malah mencela tim penyidik. "Pokoknya mulai sekarang aku tidak ingin lagi ada yang mengacak-acak apartemenku. Karena aku juga menyimpan buku berharga pemberian seseorang.”

Karena waktu kunjungan yang dibatasi oleh dokter, aku hanya bisa meninggalkan ruang perawatan itu.

Setidaknya kunjungan itu menghasilkan sesuatu. Kini aku yakin bahwa tindakan kami menyelidiki wanita misterius itu sangat berarti untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus pembunuhan ini.

Nah, bagaimana cara menyelidikinya? Langkah pertama yang kulakukan adalah meminta keterangan dari para tetangga Nonoguchi Osamu. Aku bertanya apakah mereka pernah melihat wanita keluar-masuk dari apartemen Nonoguchi, apakah pernah terdengar suara wanita dari dalam apartemennya, dan lain-lain. Ajaibnya, mereka yang biasanya sulit buka mulut untuk topik lain kini dengan senang hati menawarkan berbagai informasi yang dimiliki begitu pertanyaan polisi menyinggung masalah asmara. Sayangnya tanyajawab itu tidak membuahkan hasil. Menurut tetangga Nonoguchi Osamu yang tinggal di sebelah kiri Nonoguchi—seorang ibu rumah tangga yang lebih sering tinggal di rumah karena menjalankan bisnis wiraswasta—dia tidak pernah melihat ada tamu wanita yang mengunjungi apartemen pria itu.

”Sebenarnya tidak harus tamu yang datang belakangan ini. Apakah tahun-tahun sebelumnya pernah terjadi?” Pertanyaan itu muncul setelah aku mendengar bahwa ibu rumah tangga itu sudah tinggal di apartemen itu selama sepuluh tahun. Karena Nonoguchi Osamu juga mulai tinggal di situ pada periode yang hampir bersamaan, seharusnya ibu itu punya kesempatan untuk melihat kekasih Nonoguchi.

”Mungkin pernah, tapi saya tidak begitu ingat karena sudah lama,” jawab ibu itu. Masuk akal.

Aku mencoba mempertimbangkan orang-orang di lingkungan kerja Nonoguchi dengan mengunjungi SMP terakhir yang diajarnya sebelum dia berhenti pada Maret lalu. Hanya sedikit sekali orang-orang di sana yang mengetahui kehidupan pribadinya. Sejak dulu hubungan mereka memang tidak begitu dekat, tapi setelah kesehatan Nonoguchi memburuk, dia sama sekali tidak pernah bertemu rekan-rekan kerjanya di luar sekolah.

Karena tidak ada pilihan lain, kuputuskan mendatangi SMP sebelumnya yang juga pernah menjadi tempat kerjanya. Masa kerjanya di situ bertepatan dengan saat dia merencanakan perjalanan wisata ke Okinawa bersama kekasihnya tujuh tahun lalu. Sejujurnya aku segan karena dulu aku juga sempat mengajar di sana.

Aku sengaja memperhitungkan waktu sedemikian rupa supaya tiba di sekolah itu ketika jam pelajaran sudah selesai. Sekolah yang seingatku dulu terdiri atas tiga bangunan tua itu kini dua di antaranya telah direnovasi. Itu saja perubahannya. Pemandangan klub sepak bola yang sedang berlatih di lapangan sekolah sama sekali tidak berbeda dengan sepuluh tahun lalu.

Tidak berani melewati gerbang, aku hanya mengamati wajah para siswa yang meninggalkan gedung sekolah. Mendadak aku mengenali wajah seseorang di tengah kerumunan. Dia adalah Tone, guru wanita bahasa Inggris sekaligus seniorku. Usianya antara tujuh atau delapan tahun di atasku. Aku mengejar dan  menyapanya. Sepertinya dia mengenaliku karena ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan terkejut campur gembira.

Aku memberi salam dan menanyakan kabarnya. Setelah itu, barulah aku menjelaskan bahwa ada yang ingin kutanyakan tentang Nonoguchi-sensei.

Dalam sekejap, Tone-sensei langsung menebak ini ada kaitannya dengan kasus pembunuhan penulis terkenal yang sedang menjadi bahan pembicaraan. Wajahnya terlihat serius.

Kami lantas masuk ke kafe dekat gedung sekolah. Kafe ini belum berdiri saat aku masih mengajar.

Tone-sensei berkata, "Kami juga terkejut saat mendengar tentang kasus itu. Sulit dipercaya bahwa pelakunya adalah Nonoguchi-sensei.” Kemudian nada bicaranya berubah ceria. ”Dan ternyata Kaga-sensei adalah detektif yang menangani kasus ini! Sungguh kebetulan yang luar biasa!”

Aku mengingatkannya bahwa justru akulah yang paling dibuat repot oleh faktor kebetulan itu. Tone-sensei mengangguk paham.

Aku langsung masuk ke topik utama. Pertanyaan pertamaku adalah apakah Tone-sensei tahu jika Nonoguchi Osamu memiliki kekasih.

”Pertanyaan yang sulit.” Begitu komentar pertama dari Tone-sensei. "Tapi firasatku sebagai wanita mengatakan tidak ada.”

Begitu.”

”Banyak orang yang berpendapat bahwa wanita memiliki persepsi tajam, tapi ada kalanya persepsi itu sendiri ternyata meleset. Akan lebih baik jika persepsi itu didukung data objektif. Nah, apa kau tahu bahwa Nonoguchi-sensei pernah beberapa kali menghadiri o-miai?” ”Saya tidak tahu.”

”Ya, dia cukup sering mengikuti acara itu. Begitu kata Kepala Sekolah waktu itu. Kurasa itu alasannya dia tidak punya kekasih.”

”Kira-kira kapan itu terjadi?”

”Tidak lama setelah dia meninggalkan sekolah ini. Sekitar lima atau enam tahun lalu.”

”Bagaimana dengan sebelumnya? Tadi Anda bilang dia cukup sering menghadiri kegiatan o-miai.”

”Bagaimana ya... Sebenarnya aku tidak begitu ingat. Bagaimana kalau kita tanyakan pada guru lain? Sebagian besar guru itu masih mengajar di sini.”

”Terima kasih banyak atas bantuan Anda.”

Tone-sensei mengeluarkan electronic organizer dan tampak seperti sedang menulis sesuatu.

Aku beralih ke pertanyaan kedua: apakah dia tahu bagaimana hubungan antara Nonoguchi Osamu dengan Hidaka Kunihiko?

”Ah, benar juga. Waktu itu kau sudah berhenti mengajar.”

”Waktu itu?”

”Waktu Hidaka Kunihiko meraih penghargaan kategori Penulis Pendatang Baru.”

”Apa yang terjadi? Saya tahu itu adalah penghargaan yang bergengsi, tapi jujur saya tidak begitu memperhatikan.”

”Tadinya aku juga tidak tahu ada penghargaan seperti itu. Tapi waktu itu berbeda. Nonoguchi-sensei membawa majalah yang berisi artikel penghargaan itu ke sekolah dan memperlihatkannya pada semua orang sambil berkata 'Ini teman sekelasku?. Reaksinya saat itu cukup heboh.”
 Tradisi mempertemukan dua orang yang dianggap memiliki prospek menjalin hubungan yang dapat berlanjut ke jenjang pernikahan.  Aku sama sekali tidak ingat. Rupanya peristiwa itu memang terjadi setelah aku berhenti mengajar.

”Apakah saat itu Nonoguchi-sensei sudah berkomunikasi kembali dengan Hidaka Kunihiko?”

”Aku tidak ingat, tapi rasanya belum. Baru beberapa waktu kemudian dia bercerita dia sudah bertemu kembali dengan Hidaka.”

”Yang Anda maksud dengan "beberapa waktu' itu apakah dua atau tiga tahun sesudahnya?”

”Kurang lebih begitu.”

Keterangan itu konsisten dengan pernyataan Nonoguchi bahwa dia kembali menjalin komunikasi dengan Hidaka setelah kunjungannya tujuh tahun lalu.

”Seperti apa komentar Nonoguchi-sensei tentang Hidaka Kunihiko?”

"Komentar tentang apanya?”

Apa saja boleh. Bisa tentang kepribadiannya, atau karyakaryanya...”

"Aku tidak ingat apakah dia pernah mengomentari kepribadiannya, tapi dia suka menjelek-jelekkan karya-karya Hidaka.”

”Rupanya dia sama sekali tidak mengapresiasinya, ya. Anda masih ingat apa saja yang dikatakannya?”

”Aku tidak ingat detail-detailnya, tapi rasanya dia selalu mengucapkan hal-hal yang sama. Misalnya tentang Hidaka yang tidak paham sastra, mustahil buku seperti itu ditulis oleh manusia, gaya cerita yang vulgar... Seperti itu.”

Berbeda sekali dengan ucapan Nonoguchi Osamu padaku sebelumnya bahwa dia menyalin novel itu dan menjadikannya contoh tulisan.  ” Jadi dia membaca buku Hidaka, menjelek-jelekkannya, kemudian menemuinya?”

”Betul. Mungkin itu akibat rasa frustrasi.”

”?Apa maksud Anda?”

”Nonoguchi-sensei juga bercita-cita menjadi penulis. Bagaimana jika dia kesal karena ternyata teman masa kecilnya sendiri yang lebih dulu mengunggulinya? Lalu karena tidak bisa menerimanya, dia membaca buku-buku temannya itu dan mengomel bahwa dia bisa menulis cerita yang lebih menarik.”

Kemungkinan memang seperti itulah yang terjadi.

”Bagaimana reaksi Nonoguchi-sensei saat Hidaka Kunihiko meraih penghargaan lewat novel Api Semu?”

”Aku ingin sekali menjawab pertanyaanmu dengan 'dia dilanda rasa iri”, tapi itu tidak terjadi. Justru dengan bangganya dia menceritakannya pada semua orang.”

Kini aku semakin memahami cerita ini. Walaupun tidak berhasil menemukan kekasih Nonoguchi Osamu, paling tidak aku mendapatkan beberapa informasi tambahan. Aku mengucapkan terima kasih pada Tone-sensei.

Setelah memastikan sesi tanya-jawab yang berkaitan dengan tugasku telah selesai, giliran Tone-sensei yang bertanya bagaimana perasaanku saat beralih profesi, juga seperti apa kesankesanku tentang profesiku yang sekarang. Aku menjawabnya tanpa menyinggung satu topik peka yang selama ini kuhindari. Dan tampaknya Tone-sensei sendiri sepertinya juga memahaminya karena dia tidak mendesak. Namun pada akhirnya dia berkata, ”Sampai sekarang perundungan itu belum berakhir.”

Aku mengangguk. Setiap kasus yang berkaitan dengan perundungan selalu mengusikku karena kegagalanku dulu.  Kami meninggalkan kafe dan aku berpamitan pada Tone-

sensei.

Sehari setelah pertemuanku dengan Tone-sensei, Detektif Makimura menemukan sehelai foto. Hari itu aku dan dia sedang memeriksa kembali apartemen Nonoguchi Osamu dengan tujuan mengungkap identitas wanita yang memiliki hubungan istimewa dengannya. Celemek, kalung, formulir pemesanan perjalanan wisata... Ketiganya adalah petunjuk yang kami miliki sejauh ini, tapi kami yakin masih ada bukti lain yang lebih kuat.

Kami sangat berharap akan menemukan foto wanita itu. Bila benda-benda kenangan seperti celemek, kalung, dan formulir saja masih disimpan rapi, seharusnya foto itu ada tidak jauh dari situ. Sayangnya usaha kami belum berhasil. Bahkan di album foto tebal yang kami temukan, tidak ada satu pun foto yang menandakan kehadiran sosok itu. Ini benar-benar aneh.

"Menurutmu kenapa Nonoguchi tidak menyimpan foto perempuan itu?” Aku menanyakan pendapat Detektif Makimura sementara kami mengistirahatkan tangan.

”Pasti ada, apalagi jika mereka pergi berwisata bersamaSama. Tapi jika tidak, berarti memang Nonoguchi sendiri yang tidak ingin memiliki foto kekasihnya.”

"Benar juga, ya. Apa mungkin pria yang menyimpan formulir pemesanan perjalanan wisata dengan begitu rapi sama sekali tidak memiliki sehelai pun foto pasangannya,” aku berkomentar.

Penemuan celemek menandakan ada perempuan yang sering mengunjungi apartemen ini. Ada kemungkinan saat itulah  Nonoguchi mengambil fotonya karena dia memiliki kamera auto focus.

”Artinya dia menyembunyikan foto itu di suatu tempat karena sampai sekarang kita belum menemukannya.”

”Benar. Tapi mengapa harus disembunyikan? Seharusnya sebelum ditangkap, Nonoguchi tidak akan menyangka bahwa polisi akan menggeledah apartemennya.”

”Aku tidak tahu.”

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan apartemen dan mendadak mendapat ilham. Aku teringat akan perkataan Nonoguchi kemarin. Dia tidak ingin polisi menggeledah lagi apartemennya karena dia menyimpan buku berharga pemberian seseorang.

Aku berdiri di hadapan rak buku yang menutupi satu sisi dinding apartemen, lalu mulai mengecek isinya dari ujung dengan harapan akan menemukan buku yang dimaksud Nonoguchi, buku yang dia tidak ingin sampai disentuh orang lain. Detektif Makimura ikut turun tangan, kami memeriksa satu per satu buku yang ada dengan cermat dan hati-hati. Aku ingin memastikan apakah ada benda seperti foto, surat, atau kertas catatan tertentu yang disimpan di sana.

Pekerjaan itu memakan waktu lebih dari dua jam karena hanya penulislah yang memiliki rak buku dalam jumlah demikian banyak. Di sekeliling kami tampak tumpukan buku setinggi Menara Miring Pisa. Aku bahkan sempat meragukan kebenaran analisisku sendiri. Bagaimana jika Nonoguchi Osamu merasa tidak ada gunanya menyembunyikan foto itu di tempat yang bahkan sulit dia temukan sendiri? Aku percaya dia akan menyimpannya di tempat dia bisa mengambil foto itu kapan saja dan menyembunyikannya kembali dengan cepat.  Mendengar pendapatku, Detektif Makimura duduk di hadapan perangkat word processor milik Nonoguchi yang diletakkan di meja. Kemudian dia meniru pose Nonoguchi yang sedang bekerja.

”Seandainya di tengah-tengah pekerjaan dia tiba-tiba teringat pada perempuan itu, di sekitar tempat inilah yang paling cocok untuk meletakkan fotonya.”

Tempat yang dimaksud Detektif Makimura adalah tepat di samping word processor, tapi tentu saja kami tidak menemukan sesuatu yang menyerupai foto di sana.

”Berarti tempat itu sulit dilihat tapi masih dalam jangkauan tangannya.”

Detektif Makimura kembali mencari-cari sesuai petunjukku. Matanya lantas tertuju pada buku tebal berjudul Kojien'?. Kemudian dia menjelaskan alasan dia tertarik pada buku itu.

"Ada beberapa ujung pembatas buku yang menyembul dari sela-sela halamannya. Itu karena saat menggunakan kamus, kadang kita ingih memeriksa beberapa halaman sekaligus. Aku ingat dulu ada teman SMA yang menggunakan foto artis sebagai pengganti pembatas buku.”

Dugaannya terbukti benar. Di dalam Kojien itu diselipkan lima pembatas buku, empat pembatas buku biasa, sedangkan yang terakhir berupa foto perempuan muda. Dari latar belakangnya, sepertinya foto itu diambil di area bioskop drive-in. Perempuan itu sedang berdiri dan mengenakan kemeja kotakkotak serta rok putih.

Penyelidikan pun segera dimulai, tapi ternyata tidak sulit bagi kami untuk mengungkap identitas perempuan dalam foto itu.
 Kamus bahasa Jepang yang dianggap paling akurat. Karena Hidaka Rie tahu siapa dia. Nara perempuan dalam foto itu adalah Hidaka Hatsumi. Istri pertama Hidaka Kunihiko.

"Sebelum menikah, nama keluarga Hatsumi-san adalah Shinoda. Dia menikah dengan suami saya dua belas tahun lalu, tapi meninggal dalam kecelakaan lalu lintas lima tahun lalu. Saya belum pernah bertemu dengannya karena dia sudah meninggal saat saya membantu suami saya di penerbitan, tapi saya mengenali wajahnya karena masih ada beberapa fotonya dalam album di rumah. Tidak salah lagi, wanita dalam foto ini adalah Hatsumi-san.” Demikian penjelasan Hidaka Rie yang kini sudah menjanda saat kami memperlihatkan foto itu.

”Bolehkah kami melihat album foto itu?” aku bertanya.

Hidaka Rie menggeleng dengan raut wajah menyesal. "Album itu sudah tidak ada di sana. Setelah menikah dengan saya, suami saya mengirimkan hampir semua barang peninggalan Hatsumi-san—termasuk album foto itu—ke rumah keluarga Shinoda. Mungkin masih ada beberapa di antara barang-barang yang tadinya akan dikirim ke Kanada, tapi saya tidak tahu. Nanti saya coba periksa lagi setelah barang-barang itu dikembalikan.”

Dari penjelasannya, tampak bahwa Hidaka Kunihiko sangat menjaga perasaan istrinya yang baru. Namun saat ditanya, Hidaka Rie tampak tidak terlalu terkesan. “Bisa jadi dia memang menjaga perasaan saya, tapi sebenarnya saya tidak keberatan jika dia ingih menyimpan beberapa benda kenangan milik Hatsumi-san. Itu hal yang wajar. Tapi memang suami saya hampir tidak pernah membicarakan Hatsumi-san, mungkin  karena baginya itu terlalu berat. Otomatis saya pun tidak pernah menyinggung topik itu. Bukan karena cemburu, melainkan karena saya rasa itu tidak perlu.”

Harus diakui, kemampuan Hidaka Rie mengendalikan perasaan saat sedang berbicara sangat mengesankan. Walaupun aku tidak begitu saja menerima penjelasannya, paling tidak aku yakin bahwa setengahnya diucapkan dengan tulus.

Di lain pihak, rupanya Hidaka Rie sangat ingin tahu mengapa foto istri pertama suaminya ada di tangan kami. Dia bertanya apakah ada kaitannya dengan kasus pembunuhan itu.

”Saat ini masih belum diketahui apakah ada kaitannya atau tidak. Kami memeriksanya karena foto ini ditemukan di tempat yang tidak biasa,” jawabku.

Hidaka Rie belum puas dengan jawaban samar itu. "Maksud Anda dengan 'tempat yang tidak biasa' itu di mana?”

Kami tidak menyebutkan bahwa foto itu ditemukan di apartemen Nonoguchi Osamu.

"Mohon maaf, tapi saat ini kami tidak bisa menjelaskannya.”

Rupanya Hidaka Rie memanfaatkan kemampuan instingnya— yang sering disebut sebagai keistimewaan kaum perempuan— untuk melakukan analisis sendiri. Dia terkejut, lalu berkata, ”Saat malam upacara pemakaman suami saya, Nonoguchi-san menanyakan sesuatu yang aneh.”

"Apa itu?”

"Dia bertanya di mana suami saya menyimpan kaset video.”

”Kaset video?”

”Tadinya saya kira yang dimaksud adalah video film koleksi almarhum suami saya. Tapi ternyata bukan. Yang ditanyakannya adalah video berisi materi tulisan.”

”Apakah suami Anda pernah menggunakan kamera video untuk mengumpulkan materi tulisan?”

”Ya, terutama jika materi itu adalah sesuatu yang bergerak. Dia pasti membawa kamera videonya.”

Begitu.”

”Lalu apa jawaban Anda?”

”Kalau tidak salah kaset video itu sudah lebih dulu dikirimkan ke Kanada. Saya tidak begitu paham karena semua pengiriman materi yang berkaitan dengan pekerjaan diurus sendiri oleh suami saya.”

”Apa kata Nonoguchi?”

”Dia minta diberitahu jika kiriman barang-barang itu sudah tiba di sini. Katanya itu kaset video untuk materi kerja yang dititipkan pada suami saya.”

”Dan Anda tidak tahu apa isi video itu?”

Hidaka Rie menjawab tidak, kemudian dia melemparkan tatapan penuh selidik pada kami. "Mungkin ada seseorang dalam rekaman itu.”

Yang dimaksud dengan seseorang” itu pasti Hidaka Hatsumi. Memilih tidak berkomentar, aku meminta padanya untuk memberitahu kami begitu barang-barang dari Kanada tiba.

” Apakah ada keanehan lain saat Nonoguchi berbicara dengan Anda?”

Sebenarnya aku tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaan ini, tapi dengan segan Hidaka Rie mengaku bahwa ada satu hal lagi yang menurutnya ganjil.

”Sebenarnya ini sudah agak lama terjadi. Tapi waktu itu Nonoguchi-san pernah membicarakan Hatsumi-san.”  Aku agak terkejut mendengarnya.

”Apa isi pembicaraannya?”

”Tentang kecelakaan yang menewaskan Hatsumi-san.”

”?Apa katanya?”

Hidaka Rie sempat ragu sebelum memutuskan menjawab. ”Nonoguchi-san bilang situ bukan kecelakaan biasa.”

Ini adalah kesaksian yang patut mendapat perhatian penuh. Aku memintanya supaya bercerita lebih detail.

”Tidak ada detail yang bisa saya ceritakan. Saat itu kebetulan suami saya sedang pergi sebentar dan meninggalkan kami berdua. Saya sendiri sudah tidak ingat mengapa kami sampai membicarakan topik itu, tapi sampai sekarang saya tidak bisa melupakan kata-katanya itu.”

Wajar saja bila kata-kata itu meninggalkan kesan mendalam.

”Jika bukan karena kecelakaan, lalu apa penyebabnya? Dia tidak bilang?”

"Saya juga menanyakannya, tapi sepertinya dia menyesal dan minta supaya saya melupakan saja kata-katanya itu. Dia juga berharap saya tidak menceritakannya pada Hidaka.”

"Kemudian apa yang Anda lakukan? Anda menceritakannya pada suami Anda?”

”Tidak. Tadi sudah saya bilang sebisa mungkin saya menghindari topik pembicaraan tentang Hatsumi-san, bahkan dalam percakapan ringan sekalipun.”

Untuk meyakinkan diri, kami memperlihatkan foto itu pada orang-orang yang mengenal baik Hidaka Hatsumi: mulai dari editor yang sering mengunjungi rumah Hidaka, sampai tetanggatetangga sekitar. Mereka semua mengonfirmasi bahwa itu adalah foto Hatsumi.  Mengapa Nonoguchi Osamu menyimpan foto Hidaka Hatsumi?

Paling tidak, kami tidak perlu menganalisis lebih jauh fakta ini: celemek yang disimpan di apartemen Nonoguchi, kalung yang hendak dihadiahkannya untuk seseorang, lalu identitas perempuan yang rencananya akan ikut bersamanya ke Okinawa, semuanya mengarah pada Hidaka Hatsumi. Karena saat itu statusnya adalah istri Hidaka Kunihiko, bisa dipastikan bahwa dia menjalin hubungan gelap dengan Nonoguchi Osamu. Nonoguchi bertemu kembali dengan Hidaka tujuh tahun lalu, sedangkan Hidaka Hatsumi meninggal lima tahun lalu. Bisa diperkirakan hubungan di antara mereka berdua cukup mendalam, apalagi jika melihat nama selain Nonoguchi Osamu yang juga tercantum di formulir pemesanan perjalanan wisata: Nonoguchi Hatsuko. Aku menduga itu adalah nama samaran Hidaka Hatsumi.

Ini hanya pendapat pribadiku, namun rasanya tidak masuk akal untuk menganggap fakta ini tidak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan tersebut. Mungkin Nonoguchi Osamu sendiri juga tidak akan mengakuinya sebagai motif. Pertama, tidak ada keraguan bahwa Nonoguchi adalah penulis bayangan Hidaka. Banyak bukti situasi yang mendukung teori itu. Hanya saja aku tidak bisa menjawab mengapa Nonoguchi terkesan menerima begitu saja situasi demikian. Sejauh ini aku belum menemukan fakta bahwa Nonoguchi telah menerima penghargaan atau semacamnya dari Hidaka. Dari pembicaraanku dengan editor dan beberapa orang lain belum lama ini, kesan yang kudapatkan adalah seorang penulis tidak akan menjual karyanya hanya demi uang. Baginya sudah cukup bila karya itu mendapat penilaian tinggi.  Mungkinkah Nonoguchi Osamu berutang besar pada Hidaka? Jika benar, utang apa itu?

Mau tidak mau aku menduga bahwa utang itu ada kaitannya dengan Hidaka Hatsumi. Tentu saja dugaan bahwa Hidaka Kunihiko menyadari perselingkuhan antara istri dan sahabatnya, lalu sebagai pengganti tutup mulut memaksa Nonoguchi menjadi penulis bayangan untuknya terkesan terlalu sederhana. Setelah kematian Hatsumi, tidak ada bukti bahwa Nonoguchi masih terus memberikan karyanya untuk Hidaka.

Sepertinya penting untuk menyelidiki apa yang terjadi di antara Nonoguchi Osamu dengan Hidaka Kunihiko dan Hatsumi. Sayangnya dua di antaranya sudah meninggal dunia sehingga tidak bisa ditanyai langsung.

Sampai di situ, aku lantas teringat akan perkataan Hidaka Rie tentang Nonoguchi yang menganggap kematian Hatsumi bukan akibat kecelakaan. Apa tujuannya mengatakan hal seperti itu? Dan jika benar bukan karena kecelakaan, lalu apa penyebabnya?

Aku menyelidiki semua informasi tentang kecelakaan tersebut. Menurut data yang ada, Hidaka Hatsumi meninggal pada Maret lima tahun yang lalu. Peristiwa itu terjadi pada pukul 23.00, truk menabraknya yang sedang dalam perjalanan berbelanja ke konbini terdekat. Jalan yang menjadi tempat kejadian memang berkelok tajam sehingga jarak pandang ke depan buruk, belum lagi hari itu hujan turun dan tidak adanya jalur penyeberangan di jalan yang dilewati Hatsumi.

Pada akhirnya diputuskan bahwa kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan pengemudi truk. Wajar bila kasus ini dianggap sebagai kecelakaan biasa. Namun menurut catatan, si pengemudi truk tidak menerima keputusan itu. Dia berkeras Hidaka Hatsumi-ah yang tiba-tiba melompat ke tengah jalan. Jika itu benar, ketiadaan saksi akan menempatkan si pengemudi truk dalam posisi yang tidak menguntungkan. Hanya saja tidak ada bukti yang mendukung pernyataan itu. Siapa pun tahu bahwa dalam kasus kecelakaan lalu lintas di mana pengemudi menabrak pejalan kaki hingga tewas, polisi akan lebih mengutamakan dari sisi si pejalan kaki.

Meskipun demikian, aku mencoba membuat hipotesis berdasarkan anggapan bahwa yang dikatakan pengemudi itu benar. Jika yang dikatakan Nonoguchi Osamu benar, hanya ada dua kemungkinan yang tersedia: bunuh diri atau pembunuhan. Bila itu adalah pembunuhan, ada seseorang yang mendorong Hidaka Hatsumi ke tengah jalan. Itu berarti si pelaku harus ada di sana. Karena dia langsung mendorong korban saat truk mendekat, aneh juga mengapa si pengemudi tidak melihatnya.

Yang tersisa hanya teori bunuh diri. Dengan begitu Nonoguchi menganggap Hatsumi tewas karena bunuh diri, bukan karena kecelakaan. Tapi mengapa dia sampai bisa mengambil kesimpulan demikian? Apakah ada bukti yang tertinggal, contohnya surat wasiat, yang ditujukan padanya? Lalu berdasarkan surat itu, mungkin Nonoguchi bisa menduga motif di balik tindakan bunuh diri Hidaka Hatsumi. Bisa saja ternyata motif itu ada kaitannya dengan hubungan gelap di antara mereka. Aku menduga perbuatan Hatsumi diketahui oleh suaminya yang lantas mencampakkannya. Merasa terpukul, Hatsumi pun memilih kematian. Berarti saat itu Nonoguchi sedang bermain api.

Karena merasa pentingnya penyelidikan lebih lanjut tentang sosok wanita bernama Hidaka Hatsumi ini, aku meminta izin pada atasan. Kemudian, berdua dengan Detektif Makimura,  kami memutuskan untuk meminta keterangan dari keluarga Hatsumi.

Keluarga Shinoda bermukim di distrik Kanazawa, Yokohama. Rumah mereka terletak di perbukitan, rumah bergaya Jepang dengan halaman yang terawat baik.

Sebenarnya kami ingin berbicara dengan kedua orangtua Hatsumi, namun yang menerima kami hari itu hanya ibunya, Shinoda Yumie, karena ayahnya sedang pergi untuk urusan pekerjaan. Shinoda Yumie memiliki perawakan kecil dan pembawaan anggun.

Kedatangan kami tidak membuatnya terkejut. Justru sejak mendengar berita terbunuhnya Hidaka Kunihiko, dia sudah menduga bahwa dalam waktu dekat polisi akan mendatangi rumahnya. Malah dia tampak terkejut karena kami tidak datang lebih awal.

"Pria dengan profesi seperti Kunihiko-san memang agak sulit dihadapi, apalagi jika dia sedang kehabisan ide. Hatsumi juga pernah mengeluhkan hal itu. Tapi biasanya saya menganggap dia sebagai suami yang cukup baik untuk Hatsumi.”

Demikian kesan dari ibu mertua Hidaka Kunihiko. Aku tidak bisa menebak apakah dia memang berbicara langsung ke sasaran, ataukah ada sesuatu yang tersembunyi di balik nuansa ucapannya barusan. Mencoba menduga-duga isi hati seseorang yang sudah berusia lanjut memang sangat sulit, terutama jika dia adalah seorang wanita.

Menurut Shinoda Yumie, pertemuan Hatsumi dengan Hidaka Kunihiko terjadi saat mereka sama-sama bekerja di biro iklan kecil. Pihak kepolisian sudah mengetahui bahwa Hidaka bekerja di sana selama dua tahun. Saat berpacaran dengan Hatsumi, dia pindah ke perusahaan penerbitan dan tidak lama kemudian  mereka menikah. Lalu, hanya dalam waktu singkat, Hidaka berhasil meraih penghargaan untuk penulis pendatang baru dan beralih profesi menjadi penulis.

”Keluarga kami sempat ragu untuk membiarkan Hatsumi menikah dengan orang yang sering bergonta-ganti pekerjaan seperti dia. Tapi untunglah mereka tidak pernah mengalami masalah keuangan, apalagi setelah Kunihiko menjadi penulis terkenal. Kami sangat senang karena merasa tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Tidak ada yang menyangka... Hatsumi akan meninggal seperti itu.”

Mata Shinoda Yumie terlihat basah, tapi dengan tegar dia bertahan supaya tangisnya tidak meledak di hadapan kami. Rupanya dia telah belajar mengendalikan perasaannya selama lima tahun terakhir ini.

”Kami dengar dia meninggal akibat kecelakaan saat hendak pergi berbelanja.” Aku mencoba mengorek detail-detail kecelakaan itu dengan halus.

”Benar. Begitulah yang karni dengar dari Kunihiko-san. Malam itu Hatsumi ingin membuat roti lapis, tapi karena persediaan roti habis, dia terpaksa pergi untuk membelinya.”

”Dan pengemudi truk itu berkeras Hatsumi-san yang melompat ke tengah jalan.”

”Ya. Tapi Hatsumi bukan tipe anak yang akan melakukan perbuatan tidak masuk akal seperti itu. Hanya saja mungkin saat itu jarak pandang di sana memang buruk dan dia memutuskan menyeberang walau di sana tidak ada jalur penyeberangan. Saya rasa dia ceroboh karena sedang tergesa-gesa.”

”Bagaimana hubungan putri Anda dengan suaminya saat

itu?”  ”Hubungan mereka cukup baik. Mengapa Anda menanyakannya?”

”Saya hanya ingin tahu. Banyak kecelakaan lalu lintas terjadi karena si korban sedang banyak pikiran hingga tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya,” aku berdalih.

”Ah, saya mengerti. Tapi seingat saya hubungan mereka baik-baik saja, walau memang Hatsumi agak kesepian jika Kunihiko-san sedang sibuk dengan pekerjaannya.”

Jika dilihat dari sisi psikologis, rasa kesepian itu bisa jadi akan menimbulkan masalah. Tapi aku memilih diam.

”Apakah Anda sering bertemu Hatsumi-san sebelum kecelakaan itu terjadi?”

”Tidak. Dia jarang pulang ke sini karena pekerjaan Kunihikosan yang sangat padat. Karena itulah sesekali saya menelepon untuk menanyakan kabarnya.”

”Apakah Anda tidak merasa ada sesuatu yang aneh saat mendengar suaranya di telepon?”

”Tidak.” Ibunda Hatsumi terlihat penasaran mengapa para detektif ingin menanyakan tentang Kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu. Dengan malu-malu dia bertanya, "Hmm, apa kaitan Hatsumi dengan kasus pembunuhan Kunihiko-san?”

Aku menjawab bahwa mungkin memang tidak ada kaitan antara keduanya. Namun, seorang detektif harus menyelidiki semua orang yang berkaitan dengan kasus ini demi ketenangan mereka yang sudah tiada. Benak ibunda Hatsumi tampaknya separuh memahami penjelasanku, sementara separuh lainnya masih menyimpan pertanyaan yang tampak dari wajahnya.

”Apakah Hatsumi-san pernah bercerita tentang Nonoguchi Osamu?” Kuputuskan untuk menyinggung inti cerita.

”Dia pernah bilang orang itu sering mampir ke rumah. Kalau tak salah dia itu teman Kunihiko-san sejak kecil yang juga bercita-cita menjadi penulis.”

”Apakah ada hal lain yang diceritakannya?”

”Saya tidak begitu ingat karena kejadiannya sudah cukup lama. Tapi Hatsumi memang jarang membicarakan orang itu.”

Itu hal yang sangat wajar. Mustahil Hidaka Hatsumi akan bercerita tentang kekasih gelapnya pada ibunya sendiri.

”Saya juga dengar sebagian besar barang milik Hatsumi-san disimpan di rumah ini. Bisakah Anda mengizinkan saya untuk melihatnya?”

Kini ibunda Hatsumi benar-benar kebingungan. ”Saya rasa tidak ada yang istimewa dari barang-barang itu.”

”Tidak masalah barang yang mana. Saat ini saya memang sedang menyelidiki kaitan antara Hidaka Kunihiko dengan tersangka.”

”Tapi...”

”Misalnya buku harian. Apa putri Anda suka menulis di buku harian?”

”Dia tidak pernah melakukannya.”

”Bagaimana dengan album foto?”

”Ada.”

”Kalau begitu saya ingin melihat album itu lebih dulu.”

”Tapi isinya hanya foto-foto Kunihiko-san dan Hatsumi.”

”Itu sudah cukup. Biar saya yang menilai apakah ada informasi yang bisa didapat dari foto-foto itu.”

Ibunda Hatsumi pasti menganggapku sebagai detektif yang suka mengatakan hal-hal aneh. Sebenarnya akan lebih cepat jika aku menjelaskan kemungkinan hubungan antara Hatsumi dengan Nonoguchi Osamu, tapi itu masih terlalu dini, dan aku sendiri juga belum meminta izin dari atasan.

Walaupun menganggap permintaanku tidak masuk akal, ibunda Hatsumi masuk ke ruang dalam dan kembali dengn membawa album. Sebenarnya benda yang dibawanya bukan album foto biasa dengan sampul tebal, melainkan beberapa tempat penyimpanan foto seukuran pamflet kecil yang disimpan dalam beberapa kotak.

Detektif Makimura dan aku memeriksa foto-foto itu satu per satu. Tidak salah lagi, wanita dalam foto-foto itu sama dengan wanita yang ada di foto yang kami temukan di apartemen Nonoguchi Osamu. Karena dalam sebagian besar foto itu tertera tanggal pengambilannya, tidak sulit untuk menemukan sejak kapan dia berinteraksi dengan Nonoguchi. Aku mengamati foto-foto itu dengan teliti, berusaha mencari sesuatu yang menghubungkan Hidaka Hatsumi dengan Nonoguchi.

Akhirnya Detektif Makimura menemukan selembar foto. Diperlihatkannya foto itu padaku tanpa berkata apa-apa. Begitu melihat foto itu, aku langsung mengerti.

Aku memohon pada Shinoda Yumie supaya diizinkan meminjam album foto itu untuk sementara waktu. Meski curiga, dia mengizinkannya.

"Apakah masih ada barang-barang peninggalan lain dari Hatsumi-san?”

”Ada pakaian dan beberapa perhiasan. Setelah menikah lagi, tidak mungkin Kunihiko-san menyimpan barang-barang seperti itu di rumahnya.”

"Bagaimana dengan surat? Atau kartu pos?”

”Seingat saya tidak ada. Nanti saya coba periksa sekali lagi.” ”Bagaimana dengan kaset video? Ukurannya kira-kira sebesar kaset audio biasa.” Menurut Hidaka Rie, Hidaka Kunihiko menggunakan kaset video berukuran delapan mili untuk keperluan merekam materi menulis.

”Rasanya tidak ada.”

”Kalau begitu, bisakah Anda beritahukan nama-nama orang yang akrab dengan Hatsumi-san?”

”Akrab dengan Hatsumi...” Sepertinya tidak ada nama yang langsung muncul di benak ibunda Hatsumi karena dia kembali mohon diri untuk masuk ke ruang dalam. Beberapa saat kemudian dia muncul dengan membawa buku catatan tipis.

”Ini buku alamat kami. Seingat saya di dalamnya juga ada beberapa nama teman Hatsumi.” Dia memilih tiga nama: dua teman masa sekolah dan seorang lagi rekan kerjanya di biro iklan. Ketiganya wanita. Aku mencatat nama dan alamat mereka.

Ketiga sahabat Hatsumi itu segera dimintai keterangan. Rupanya setelah menikah, Hatsumi nyaris tidak pernah lagi berhubungan dengan kedua sahabatnya semasa sekolah. Tapi rekan kerjanya, Nagano Shizuko, sempat meneleponnya beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Berikut pernyataan dari Nagano Shizuko:

”Awalnya Hatsumi-san tidak begitu menaruh perhatian pada Hidaka-san. Tapi Hidaka-san terus mendekatinya dengan gencar hingga perlahan-lahan dia pun tertarik. Dalam bekerja, Hidakasan itu tipe yang agresif, sementara Hatsumi-san orangnya agak pemalu dan tidak pernah memperlihatkan perasaannya di depan orang lain. Saya rasa mungkin dia juga sempat kebingungan saat dilamar, sebelum akhirnya berhasil diyakinkan oleh Hidaka-san. Walaupun begitu, dia tidak menyesali perni kahannya. Dia selalu terlihat bahagia walau setelah Hidaka-san menjadi penulis, Hatsumi-san selalu terlihat agak lelah—mungkin karena pola kehidupannya yang berubah drastis. Tapi saya tidak pernah mendengar dia menyatakan ketidakpuasannya pada Hidaka-san. Sebelum kecelakaan, hari itu saya iseng menelepon sekadar ingin mendengar suaranya. Tingkah lakunya tetap seperti biasa. Saya tidak begitu ingat apa saja yang kami bicarakan (topik yang biasa kami bahas di telepon), tapi dia sempat menyinggung tentang pergi berbelanja dan makan di restoran. Karena itulah saya terkejut setengah mati saat mendengar tentang kecelakaan itu. Saking sulit dipercaya, saya sampai tidak bisa meneteskan air mata. Saya ikut membantu segala persiapan mulai dari upacara penghormatan terakhir sampai pemakaman. Hidaka-san? Dia itu laki-laki, jadi dia tidak begitu memperlihatkan emosinya di depan orang banyak, tapi saat berdiri di sebelahnya saya bisa melihat betapa terpukulnya dia. Sudah lima tahun kejadian itu berlalu, tapi rasanya seperti baru kemarin terjadi. Siapa? Nonoguchi? Maksud Anda Nonoguchi tersangka pembunuhan itu? Sebentar, saya tidak ingat apakah dia datang atau tidak saking banyaknya pelayat. Tapi Detektif, mengapa sekarang Anda menanyakan tentang Hatsumi-san? Apakah ada hubungannya dengan pembunuhan itu?”

Dua hari setelah kunjungan ke rumah keluarga Hidaka Hatsumi, aku dan Detektif Makimura kembali menengok Nonoguchi Osamu di rumah sakit. Seperti biasa, pertama-tama kami berbicara dulu dengan dokter yang menanganinya. Ternyata dokter itu sedang gundah. Semua persiapan untuk operasi telah diatur, namun pasien yang bersangkutan belum menyetujuinya. Nonoguchi pasti tahu betul bahwa operasi sekalipun belum tentu bisa menyelamatkannya, maka keinginan untuk  memperpanjang hidupnya sedikit lebih lama harus datang dari keinginannya sendiri.

?Mungkinkah operasi itu justru mempercepat kematiannya?” aku bertanya pada dokter penanggung jawab.

Dokter menjawab bahwa kemungkinan itu ada, tapi menurutnya tidak ada salahnya untuk tetap menjalankan operasi.

Aku menyimpan informasi itu dalam hati sementara kami menuju ruang perawatan Nonoguchi. Dia sedang duduk setengah bersandar sambil membaca buku ukuran saku. Tubuhnya sangat kurus, tapi raut wajahnya tidak begitu pucat.

”Baru saja aku berpikir bahwa aku sudah lama tidak melihat wajahmu.” Nada suaranya masih sama, hanya saja energi di dalamnya jelas menyusut.

”Masih ada satu hal yang ingin saya tanyakan.”

Nonoguchi Osamu memperlihatkan wajah lelah. "Pertanyaan lagi? Tak kusangka ternyata kau ini keras kepala juga. Atau memang semua orang akan berubah seperti itu setelah menjadi detektif?”

Tanpa memedulikan ucapannya yang bernada sarkasme, aku mengulurkan selembar foto ke hadapannya. Foto Hidaka Hatsumi yang kami temukan terselip di halaman Kdjien. "Foto ini ditemukan di apartemen Anda.”

Saat itu juga, wajah Nonoguchi seakan berubah kaku. Aku bisa mendengar napasnya menjadi tidak beraturan.

”Lalu?”

Aku tahu dia harus bersusah payah hanya untuk bisa mengucapkan sepatah kata itu.

”Bisa Anda jelaskan tentang foto ini? Mengapa Anda menyimpan foto Hatsumi-san, istri pertama Hidaka Kunihiko? Dan Anda begitu menjaga foto itu.”  Nonoguchi mengalihkan pandangannya dariku dan menatap ke luar jendela. Sementara menatap wajahnya dari samping, aku bisa merasakan pikirannya sedang berkelana.

”Apa salahnya kalau aku menyimpan foto Hatsumi-san? Bukankah itu tidak ada kaitannya dengan kasus ini?” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakannya. Tatapannya masih tertuju ke jendela.

”Biarkan kami yang memutuskannya. Sementara itu, saya harap Sensei bersedia menjawab pertanyaan tadi sebagai bahan penilaian kami. Dengan sejujurjujurnya.”

”Aku bersedia.”

”Kalau begitu, silakan jelaskan tentang foto ini.”

”Tidak ada yang bisa kujelaskan karena foto itu bukan sesuatu yang spesial. Aku hanya lupa menyerahkannya pada Hidaka dan akhirnya kupakai sebagai pengganti pembatas buku.”

”Kapan foto itu diambil? Di mana lokasi teater drive-in itu?”

”Aku sudah lupa. Dulu aku pernah pergi bersama pasangan itu entah untuk acara hanami atau festival, dan kami sering mengambil foto.”

”Mengapa hanya foto sang istri? Padahal suaminya juga hadir.”

"Kadang-kadang yang seperti itu bisa saja terjadi. Mungkin saat foto itu diambil, Hidaka sedang pergi ke toilet.”

”Baik. Apakah ada foto lain yang juga diambil di hari yang sama?”

”Aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak tahu kapan foto itu diambil. Mungkin saja foto-foto lain ada di album, lalu tidak sengaja dibuang? Pokoknya aku tidak ingat.” Nonoguchi Osamu terang-terangan menunjukkan kebingungannya. Aku mengeluarkan dua helai foto yang kemudian kuletakkan di hadapannya. Keduanya diambil di dekat Gunung Fuji. "Anda ingat foto ini, bukan?”

Begitu melihat foto-foto itu, aku yakin melihat Nonoguchi menelan ludah.

”Saya menemukannya di album foto Sensei. Anda pasti tidak akan melupakan foto ini, bukan?”

” AKU tidak ingat kapan...”

"Kedua foto ini diambil di lokasi yang sama. Anda masih belum ingat di mana?”

”Aku tidak ingat.”

”Fujikawa. Lebih tepatnya di area peristirahatan di sana. Foto Hidaka Hatsumi yang saya tunjukkan sebelumnya juga diambil di sana, terlihat dari tangga di latar belakang.”

Nonoguchi Osamu terdiam mendengar perkataanku.

Banyak anggota tim penyidik yang langsung mengenali lokasi pengambilan foto itu, yaitu area peristirahatan di Fujikawa. Berbekal informasi itu, kami kembali memeriksa album foto milik Nonoguchi, dan hasilnya adalah kedua foto itu diambil di Gunung Fuji. Berkat bantuan Kepolisian Prefektur Shizuoka, kemungkinan besar foto-foto itu diambil di area peristirahatan Fujikawa.

”Kalau Anda tidak ingat kapan foto Hidaka Hatsumi itu diambil, tolong jelaskan soal foto yang diambil di area sekitar Gunung Fuji ini. Itu tidak sulit, bukan?”

”Sayangnya aku juga tidak ingat. Bahkan aku lupa ada fotofoto itu di albumku.”

Ternyata Nonoguchi memutuskan untuk tetap berpura-pura tidak tahu.

”Baiklah. Biar saya perlihatkan foto terakhir.” Kukeluarkan  foto terakhir dari saku dalam jasku layaknya kartu as. Foto ini ditemukan Detektif Makimura dari album milik keluarga Shinoda yang kami pinjam. Foto tiga orang gadis.

”Foto ini pasti familier bagi Anda. Seharusnya Anda sudah paham.”

Aku mengamati wajah Nonoguchi yang sedang melihat foto itu. Matanya terbuka lebar. "Bagaimana?”

”Maaf, tapi aku tidak paham maksudmu,” Nonoguchi menjawab dengan suara parau.

"Apa betul? Tapi seharusnya Anda tahu gadis yang berdiri di tengah adalah Hidaka Hatsumi-san.”

Nonoguchi tidak menjawab. Tentu saja dia sedang mencerna semuanya dalam diam.

”Lalu, bagaimana dengan celemek yang dipakai Hatsurni-san dalam foto itu? Anda pasti ingat warnanya kuning dengan motif kotak-kotak putih, sama dengan yang kami temukan di apartemen Anda.”

?...Lalu apa maksudmu?”

"Sensei bisa saja memberi seribu alasan mengapa Sensei menyimpan foto Hidaka Hatsumi-san. Tapi mengapa sampai menyimpan celemeknya juga, bagi kami tidak ada alasan selain bahwa kalian berdua memiliki hubungan khusus.”

Nonoguchi Osamu mengerang pelan, lalu kembali terdiam.

Sensei, kenapa Anda tidak ceritakan saja apa yang sesungguhnya terjadi? Jika Anda terus merahasiakannya, kami harus menyelidikinya dan ada kemungkinan besar tindakan itu akan tercium oleh media massa. Memang saat ini belum ada tandatandanya, tapi sekali mereka mengendus sesuatu, mungkin mereka akan menulis artikel spekulatif. Saya percaya semua itu bisa dihindari asalkan Anda bersedia bicara.” Aku tidak tahu seberapa jauh efek kata-kataku barusan. Tapi dari raut wajah Nonoguchi, sepertinya dia mulai ragu-ragu.

Kemudian dia berkata, "Biar kutegaskan sekali lagi. Dia tidak ada kaitannya dengan kasus ini.”

Aku lega mendengarnya. Paling tidak kami maju selangkah.

”Berarti Anda mengakui hubungan antara kalian berdua?”

”Sebenarnya terlalu berlebihan menyebutnya 'hubungan khusus' karena kami hanya terbawa oleh perasaan sesaat. Tapi api itu pun segera padam, baik di pihakku maupun dia.”

”Kapan kalian mulai menjalin hubungan?”

”Aku tidak ingat tepatnya. Mungkin sekitar lima atau enam bulan setelah aku sering berkunjung ke rumah Hidaka. Waktu itu aku harus istirahat di kamar karena terserang flu, lalu sesekali Hatsumi datang menjenguk. Dari situlah semuanya dimulai.”

”Sampai kapan hubungan itu berlangsung?”

”Dua atau tiga bulan. Tadi sudah kubilang perasaan di antara kami sama seperti api yang hanya berkobar sesaat. Kami berdua memilih mengakhirinya.”

”Tapi setelah itu Sensei masih berkomunikasi dengan keluarga Hidaka. Saya pikir setelah kejadian itu Anda akan memutuskan untuk menjaga jarak.”

”Memang, tapi dalam kasus ini kami berpisah secara baikbaik. Setelah berbicara panjang lebar, kami merasa lebih baik sampai di sini saja hubungan kami. Aku pun berjanji bahwa hubunganku dengan keluarganya akan tetap seperti dulu. Walau begitu, sulit dikatakan aku merasa baik-baik saja setiap kali muncul di rumah mereka. Setiap kali aku datang, hampir setiap kali dia sedang pergi keluar. Jelas dia ingin menghindariku. Ya, mungkin ucapanku ini terkesan tidak sopan, tapi seandainya  dia tidak mengalami kecelakaan, bisa jadi hubunganku dengan pasangan suarni-istri Hidaka akan segera berakhir.”

Nonoguchi Osamu berbicara dengan gamblang. Warna keraguan yang sempat muncul di wajahnya kini lenyap sudah. Aku mengamati ekspresinya, menimbang-nimbang sejauh mana kredibilitas ceritanya. Sepertinya dia tidak berbohong, meskipun sikapnya yang terlalu tenang itu terlihat tidak wajar.

”Selain celemek, kami juga menemukan kalung dan formulir perjalanan wisata di kamar Anda. Apakah dugaan saya benar bahwa kedua benda itu juga berkaitan dengan Hidaka Hatsumisan?”

Nonoguchi mengangguk. "Ya. Kami memang sempat berniat pergi berwisata, bahkan sudah mengisi formulir pemesanan. Tapi akhirnya rencana itu tidak terwujud.”

”Kenapa?”

”Karena kami memutuskan berpisah. Sudah jelas, bukan?”

”Lalu kalung itu?”

”Dugaanmu tepat. Tadinya aku memang berniat menghadiahkan benda itu untuknya. Tapi semua rencana itu gagal akibat perpisahan kami.”

”Apakah masih ada benda-benda kenangan yang lain?”

Nonoguchi berpikir sejenak. "Ada dasi motif paisley hadiah darinya di lemari pakaian. Lalu ada seperangkat peralatan minum teh merek Meissen di lemari peralatan makan, kami menggunakannya saat dia mampir ke apartemen. Kami berdua yang pergi ke toko dan memilihnya.”

”Apa nama tokonya?”

"Kalau tidak salah toko itu ada di daerah Ginza. Aku tidak ingat alamat dan namanya.”

Setelah meminta Detektif Makimura mengecek nama dan alamat toko tersebut, aku kembali bertanya pada Nonoguchi, ” Jadi sampai sekarang Sensei masih memikirkan Hidaka Hatsumisan?”

”Tidak. Itu hanya cerita masa lalu.”

”Lalu mengapa Anda masih menyimpan dengan rapi semua benda-benda kenangan itu?”

”Kau sendiri yang seenaknya menganggap benda-benda itu kusimpan dengan rapi, padahal aku hanya mendiamkannya sekian lama.”

”?Bagaimana dengan foto yang diselipkan di halaman Kojien? Berarti sudah bertahun-tahun Anda memakainya sebagai pembatas buku tanpa berpikir untuk membuangnya?”

Nonoguchi seperti kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu. Berikut reaksinya:

”Terserah kalau kau mau menganggapnya begitu. Yang jelas tidak ada kaitannya dengan kasus pembunuhan.”

”Anda boleh berkeras, tapi kamilah yang akan menilainya.”

Masih ada satu hal lagi yang ingin kupastikan, yaitu tentang kecelakaan yang menimpa Hidaka Hatsumi. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang hal itu.

”Kalau ditanya bagaimana pendapatku, sulit untuk menjawabnya. Yang bisa kukatakan adalah aku merasa sedih dan syok.”

”Apakah Anda menyimpan perasaan dendam pada Sekikawa?”

”Sekikawa? Siapa itu?”

”Tidak tahu? Nama lengkapnya Sekikawa Tatsuo. Anda yakin belum pernah mendengar namanya?”

”Tidak tahu. Aku juga belum pernah dengar.”  Setelah yakin dia benar-benar tidak tahu, barulah aku menjawab. ”Dia pengemudi truk yang menabrak Hatsumi-san.”

Rupanya jawaban itu benar-benar di luar dugaan Nonoguchi. ”Ah... Jadi itu namanya?”

” Jadi selama ini Anda tidak mendendam karena tidak tahu namanya?”

”Siapa bilang? Tentu saja aku masih menyimpan perasaan itu. Aku hanya tidak ingat siapa namanya. Tapi sedalam apa pun dendam itu tidak akan menghidupkan kembali Hatsumi-san.”

Saatnya menyinggung informasi yang kudengar dari Hidaka Rie. "Anggaplah itu tindakan bunuh diri, apakah Anda masih akan mendendam pada pengemudi truk itu?”

Sebenarnya yang diucapkan Nonoguchi hanya "bukan kecelakaan biasa”, tapi aku dengan sengaja menggunakan kata ”bunuh diri”.

Nonoguchi membelalakkan mata. ” Kenapa kau bicara seperti itu?”

”Karena Anda sendiri yang mengatakannya pada seseorang.”

Tampaknya dia bisa menebak siapa ”seseorang” itu.

”Waktu itu aku hanya mengutarakan apa yang terlintas di pikiran. Aku mengaku itu kecerobohan, tapi kenapa sampai harus ditanggapi serius seperti itu.”

"Jadi ide itu hanya melintas di pikiran Anda? Apakah ada sesuatu yang mendasari dugaan itu?”

”?Aku sudah lupa. Coba saja kalau kau harus menjelaskan setiap detail dugaan yang pernah kauucapkan, aku yakin kau juga pasti akan kebingungan.”

”Hmm, kalau begitu nanti saya akan menanyakan detailnya lebih lanjut.” Aku meninggalkan ruang perawatan dengan keyakinan penuh. Tidak salah lagi. Nonoguchi Osamu menganggap penyebab kematian Hidaka Hatsumi adalah bunuh diri.

Tidak lama setelah kami kembali ke markas, Hidaka Rie menelepon untuk memberitahu bahwa bagasi mereka yang dikirimkan dari Kanada sudah tiba di rumah: termasuk kasetkaset video bahan penelitian milik Hidaka Kunihiko. Kami pun bergegas ke sana.

”Hanya ini kaset video yang ada.” Hidaka Rie menunjuk ke arah tujuh kaset video delapan mili yang berjejer di meja. Kaset itu biasa dipakai untuk rekaman berdurasi satu jam.

Aku mengambil kaset itu satu per satu dan melihat bahwa setiap kaset diberi nomor 1 sampai 7. Tidak ada judul yang tertera. Mungkin bagi Hidaka pribadi ini sudah cukup. Kemudian aku bertanya apakah Hidaka Rie sudah menonton video ini. Dia menjawab belum.

”Entah mengapa saya punya firasat tidak enak,” katanya. Mungkin perkataannya memang benar.

Hidaka Rie langsung setuju ketika aku minta izin untuk meminjam kaset-kaset video itu. Dia juga menambahkan, ”Sebenarnya ada sesuatu yang sebaiknya Anda lihat.”

”Apa itu?”

”Ini.” Hidaka Rie meletakkan kotak persegi seukuran kotak bento di meja. "Saya menemukannya di lemari pakaian suami saya. Karena saya tidak ingat pernah menyimpannya, itu berarti suami saya yang melakukannya.”

Aku menarik kotak itu dan membuka tutupnya. Di dalamnya ada sebilah pisau yang terbungkus kantong vinil. Pegangan pisau itu terbuat dari plastik dan panjangnya sekitar dua puluh  sentimeter. Pisau ternyata cukup berat jika diangkat berikut plastik pembungkusnya.

”Pisau apa ini?” aku bertanya.

Dia menggelengkan kepala. "Justru karena tidak tahu, saya perlihatkan pada Anda. Selama ini saya belum pernah melihatnya dan suami saya juga tidak pernah menceritakannya.”

Kuamati pisau itu dari balik kantong vinil yang membungkusnya. Tampaknya bukan barang baru. Aku lantas bertanya apakah Hidaka Kunihiko pernah mendaki gunung.

”Sepengetahuan saya tidak pernah.” Begitu jawab istrinya.

Aku kembali ke markas besar dengan membawa pisau dan kaset-kaset video. Setibanya di markas, kaset-kaset itu langsung didistribusikan pada beberapa petugas untuk diteliti isinya. Aku kebagian video berisi rekaman tentang kerajinan tradisional khas Kyoto, khususnya Nishijin-ori". Video itu menggambarkan bagaimana para perajin menenun kain dengan metode tradisional, juga tentang kehidupan sehari-hari mereka. Sesekali terdengar suara narator yang memberi penjelasan, dan jelas itu suara Hidaka Kunihiko sendiri. Total delapan puluh persen kapasitas video yang digunakan dari durasi keseluruhan satu jam. Sisanya tidak digunakan untuk merekam.

Sejauh yang kudengar dari para penyidik lain, kaset-kaset lainnya juga kurang lebih sama. Sepertinya benda itu memang murni digunakan untuk merekam materi tulisan. Walaupun kemudian kami bertukar kaset video dan menontonnya dengan memajukan adegan-adegan, hasilnya tidak berubah.

Untuk apa Nonoguchi Osamu menanyakan kaset-kaset video itu pada Hidaka Rie? Apakah ada sesuatu dalam rekaman itu
 Kain tradisional yang diproduksi di Distrik Nishijin, Kyoto. yang baginya sangat penting? Namun sejauh yang sudah kami saksikan, tidak ada satu pun dari ketujuh video itu yang berhubungan dengan Nonoguchi.

Dengan melesetnya dugaan itu, semangat kami pun sedikit menurun. Namun, tidak lama kemudian, datang informasi dari Divisi Identifikasi. Aku memang meminta mereka meneliti pisau yang kubawa dari rumah Hidaka Rie.

Berikut garis besar isi laporan mereka:

”Sebagian pisau itu sudah aus dan ada tanda-tanda pernah digunakan beberapa kali. Tapi tidak ada bekas darah. Di gagangnya banyak sidik jari dan semuanya dipastikan milik Nonoguchi Osamu.”

Tentu saja ini adalah informasi yang sangat berarti, namun kami kesulitan menemukan penjelasan yang masuk akal. Mengapa Hidaka Kunihiko menyimpan pisau dengan sidik jari Nonoguchi Osamu melekat di gagangnya bagaikan benda berharga? Dan mengapa dia harus merahasiakannya dari Hidaka Rie?

Salah seorang dari tim penyidik mengusulkan untuk bertanya langsung pada Nonoguchi Osamu, tapi usul itu ditolak. Rupanya semua anggota tim menganggap ada kemungkinan pisau itu adalah semacam kartu as untuk ”memaksa” Nonoguchi mengungkapkan kebenaran.

Keesokan harinya, Hidaka Rie kembali menelepon. Dia menemukan kaset video yang lain.

Kami pun bergegas pergi untuk mengambil kaset itu.

”Coba lihat ini.” Hidaka Rie mengulurkan buku. Ternyata itu novel Noctiluca yang pernah diberikannya padaku, hanya saja ini dalam edisi tankdbon?.
 Format buku berukuran 12,8 x 18,2 cm. Lawannya adalah bunkobon yang

berukuran A6 (105 x 148 mm).  "Ada apa dengan novel ini?”

”Bukalah sampul luarnya.”

Menuruti kata-katanya, aku mengaitkan jariku ke sampul luar novel. Detektif Makimura yang menemaniku berseru kaget.

Ternyata bagian dalam buku itu telah dilubangi dan dipakai untuk menyimpan kaset video. Persis seperti cerita-cerita lama tentang mata-mata.

”Hanya buku ini yang disimpan di kotak terpisah,” Hidaka Rie menjelaskan.

Entah mengapa aku yakin Hidaka Kunihiko-lah yang menyembunyikan kaset itu. Tidak ingin membuang-buang waktu untuk kembali ke markas, kami memutuskan untuk memutar langsung video itu sekarang juga.

Di layar tampak halaman dan jendela yang sudah tidak asing lagi. Tentu saja Hidaka Rie dan kami langsung mengenalinya sebagai rumah keluarga Hidaka. Sepertinya rekaman itu dibuat pada malam hari karena suasana yang gelap gulita.

Tampak sederetan angka di sudut layar yang ternyata menunjukkan waktu. Tepatnya bulan Desember tujuh tahun lalu.

Aku memajukan badanku untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi. Namun, kamera itu terus menyoroti halaman dan jendela. Tidak ada sesuatu yang aneh. Bahkan tidak ada seorang pun yang muncul.

"Bagaimana kalau rekaman ini sedikit dipercepat?” Tepat saat Detektif Makimura berkata demikian, muncul seseorang di layar.