--> -->

Catatan Pembunuhan sang Novelis Jilid 1

Jilid 1 : Pembunuhan Catatan Nonoguchi Osamu

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 16 April.

Pukul 15.30 aku naik kereta menuju stasiun terdekat rumah Hidaka Kunihiko yang hanya berjarak satu stasiun dari stasiun terdekat kediamanku.

Setiba di stasiun tujuan, aku menempuh perjalanan dengan bus.

Keseluruhan perjalanan akan memakan waktu sekitar dua puluh menit plus waktu berjalan kaki.

Sebenarnya aku sudah sering berkunjung ke rumah Hidaka tanpa maksud tertentu, tapi kali ini berbeda.

Dengan kata lain, jika bukan hari ini, mungkin aku tidak akan punya kesempatan menemuinya lagi.

Rumah Hidaka adalah satu dari sederet bangunan mewah yang terletak di area perumahan yang telah ditata kembali secara apik, beberapa di antaranya bahkan lebih cocok disebut vila.

Dulu daerah ini adalah hutan, sehingga banyak pemilik rumah yang masih mempertahankan pohon-pohon hutan asli di taman mereka.

Pohon beech dan ek yang tumbuh di balik pagar dinding rumah menciptakan bayangan di permukaan jalan raya.

Kendati cukup lebar, semua jalan raya di area ini memakai Sistem satu arah.

Selain dari segi keamanan, mungkin ini adalah salah satu indikasi dari status penghuninya.

Karena itulah aku tidak terlalu terkejut saat beberapa tahun lalu mendengar bahwa Hidaka membeli rumah di permukiman ini.

Bisa tinggal di area semewah ini adalah salah satu impian para anak muda yang tumbuh besar di daerah sekitarnya.

Walaupun rumah Hidaka tidak termasuk kategori vila, tetap Saja tempat itu terlalu luas untuk ditempati hanya oleh sepasang suami-istri.

Bentuk atapnya yang mengadaptasi gaya irimoya' memang menampilkan ciri khas Jepang, tapi sisi lain rumah itu juga memiliki jendela yang menjorok ke luar, lengkungan di atas pintu masuk, dan kotak-kotak bunga yang bertengger di jendela lantai dua yang jelas-jelas merupakan desain khas Barat.

Pasti ini adalah hasil kompromi dari ide-ide Hidaka dan istrinya, walau menurutku dinding rumah yang berupa bata merah pasti dibangun berdasarkan selera sang istri.

Dulu, istri Hidaka memang pernah bercerita kepadanya bahwa dia (istri Hidaka) ingin tinggal di rumah yang bergaya kastel kuno Eropa.

Ralat.

Bukan istrinya yang sekarang.

Tapi istri yang sebelumnya.

Aku berjalan mengitari dinding yang panjangnya sampai ke pintu depan rumahnya, kemudian menekan tombol interphone.

Tidak ada jawaban.

Ketika aku melihat sekeliling, ternyata  Desain atap rumah gabungan gaya atap berbentuk limas (hip) dengan gaya berbentuk pelana (gable).

Disebut juga hip-and-gable roof.

mobil Saab milik keluarga itu tidak ada di garasi.

Rupanya mereka sedang pergi.

Saat sedang berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan sambil menunggu Hidaka kembali, aku teringat akan pohon sakura itu.

Pada kunjungan terakhirku sepuluh hari lalu, pohon yaezakura? yang hanya ada sebatang di taman rumah Hidaka itu telah mekar sebanyak sepuluh persen.

Kira-kira sekarang bagaimana keadaannya, ya? Aku melenggang masuk dengan memanfaatkan status sebagai sahabat baik pemilik rumah.

Jalur menuju pintu depan terbagi dua di bagian tengah: satu menuju ke arah selatan rumah, sedangkan satu lagi menuju taman.

Aku mengikuti jalur taman.

Sebagian besar bunga sakura ternyata sudah berguguran, tapi yang tersisa di pohon masih cukup untuk menyajikan pemandangan yang enak dilihat.

Sayangnya ini bukan saatnya untuk menikmati pemandangan karena aku melihat wanita tak dikenal di dekat pohon.

Pandangan wanita itu tertuju ke bawah, ke permukaan tanah.

Penampilannya tampak santai dengan celana jin dan sweter.

Tangannya menggenggam sesuatu yang menyerupai kain putih.

”Permisi...” aku menyapanya.

Terkejut, wanita itu langsung menoleh.

"Oh, maaf,” katanya.

”Topi saya terbang terkena angin lalu masuk ke taman ini.

Karena sepertinya tidak ada orang, saya putuskan untuk masuk mengambilnya.

Sekali lagi maaf.” Diperlihatkannya benda yang sedang dipegangnya.

Topi putih.

Usianya sekitar empat puluhan, dengan mata, hidung, dan mulut mungil.

Wanita yang berwajah biasa-biasa saja.

Raut  Jenis bunga sakura yang memiliki lebih dari lima kelopak.

wajahnya juga terlihat tidak begitu sehat.

Aku sempat ragu apa benar topinya diterbangkan angin kencang.

”Tadi saya lihat Anda sedang serius menatap permukaan tanah.” ”'Ya, rerumputan di tempat ini sangat terawat.

Saya sampai berpikir bagaimana cara mengurusnya.” ”Yah, sayangnya saya sendiri tidak tahu.

Ini rumah teman saya.” Dia mengangguk.

Sepertinya dia sudah paham bahwa aku bukan penghuni rumah ini.

”Sekali lagi saya minta maaf.” Dia menundukkan kepala begitu dalam, lalu berjalan melewatiku menuju pintu gerbang.

Kurang lebih lima menit kemudian, terdengar suara mesin mobil di garasi.

Rupanya Hidaka sudah pulang.

Aku kembali ke pintu gerbang dan melihat mobil Saab biru tua memasuki garasi.

Hidaka yang duduk di kursi pengemudi mengangguk kecil saat melihatku.

Rie-san yang duduk di sebelahnya juga mengangguk dan tersenyum.

”Maaf.

Rencananya kami cuma mau belanja sebentar, tapi ternyata jalanan macet.

Parah, deh,” ujar Hidaka sembari turun dari mobil.

"Sudah lama menunggu?” Dia menjulurkan tangan.

”Tidak juga.

Tadi aku sedang asyik menikmati pemandangan pohon sakura.” ?Bukannya bunganya sudah berguguran?” ”Masih ada sedikit.

Tapi pohon itu memang bagus.” ”'Ya, pemandangannya memang bagus saat bunganya sedang mekar.

Tapi setelah itu malah bikin repot, apalagi posisinya yang persis di sebelah jendela ruang kerja.

Pernah ada ulat bulu yang masuk.” ”Memang merepotkan.

Tapi bukankah untuk sementara waktu kau tidak akan bekerja di sini?” ”Ya.

Lega rasanya bisa kabur dari neraka ulat bulu itu.

Ayo masuk.

Setidaknya aku masih bisa menawarkan kopi.” Kami masuk melewati pintu lengkung.

Nyaris semua perabotan yang ada di dalam sudah dibereskan.

Lukisan-lukisan yang tergantung di dinding juga sudah tidak ada.

”Semuanya sudah dibereskan, kecuali ruang kerja.

Sebenarnya sebagian besar dikerjakan oleh jasa angkut pindahan.” ”Malam ini kalian tidur di mana?” ”Aku sudah pesan kamar di Hotel Crown.

Tapi mungkin aku masih akan tidur di sini.” Aku dan Hidaka masuk ke ruang kerja.

Ruangan seluas sepuluh tatami itu kini terlihat kosong dan hanya menyisakan komputer, meja kerja, serta rak kecil.

”Kalau tidak salah, naskah yang harus kauselesaikan itu tenggat waktunya besok ya?” Hidaka mengerutkan wajah dan mengangguk.

"Ya, itu bagian terakhir dari serial yang sedang kukerjakan.

Makanya saluran telepon belum kuputus karena malam ini aku akan mengirim naskah itu lewat faks.” ”Majalah bulanan Someisha?” "Ya.

”Sisa berapa halaman lagi?” ”Tiga puluh halaman.

Pokoknya aku akan berusaha.” Kami duduk berhadapan di salah satu sudut meja kerja.

Tak lama kemudian, Rie-san datang membawakan kopi.

"Seperti apa ya cuaca di Vancouver? Pasti dingin sekali,” tanyaku pada mereka berdua.

”Itu pasti, mengingat kota itu ada di posisi garis lintang yang sangat berbeda.” ”Tapi sisi positifnya, musim panas di sana tergolong sejuk.

Lagi pula menyalakan AC kamar terus-menerus itu tidak baik untuk kesehatan,” tambah Rie-san.

”Sebenarnya aku berharap ruangan yang sejuk akan membuat pekerjaanku lebih cepat selesai, tapi sepertinya percuma saja.” Hidaka menyeringai.

”Kau harus mengunjungi kami, Nonoguchi-san.

Dengan senang hati kami akan membawamu berkeliling.” ”Terima kasih.

Aku pasti akan mengunjungi kalian.” Setelah mempersilakan aku menikmati kopi, Rie-san meninggalkan ruangan.

Seraya memegang cangkir kopinya, Hidaka berdiri dan menatap ke arah taman.

"Untung aku masih bisa menyaksikan pohon sakura itu mekar sepenuhnya,” katanya.

”Kalau kau mau, mulai tahun depan aku akan mengirim foto-foto pohon itu saat mekar ke Kanada.

Omong-omong, apa di sana ada pohon sakura juga?” "Entah.

Setahuku di sekitar tempat tinggal kami di sana tidak ada.” Hidaka menyesap kopinya.

”Oh, ya.

Tadi ada wanita aneh di tamanmu.” Sebenarnya aku segan menceritakannya, tapi akhirnya kupikir akan lebih baik jika dia tahu.

”Wanita aneh?” Hidaka mengerutkan alis.

Aku lantas menceritakan semuanya.

Wajah Hidaka yang semula diliputi kecurigaan perlahan berubah santai.

”?Apa wajahnya mirip boneka kokeshi?” ”Ah, benar juga.

Setelah kaubilang begitu, aku rasa memang mirip.” Aku tertawa mendengar perbandingan yang memang sangat tepat itu.

” Namanya Niimi.

Rumahnya tidak jauh dari sini.

Penampilannya memang terlihat muda, tapi usianya sudah di atas empat puluh.

la punya anak laki-laki yang masih SMP—bocah yang bodohnya minta ampun...

Rie menduga suaminya bekerja di kota lain karena pria itu jarang ada di rumah.” "Banyak juga yang kauketahui.

Apakah hubungan kalian akrab?” "Dengan wanita itu? Yang benar saja.” Hidaka membuka jendela dan menurunkan sekatnya.

Embusan angin menerobos masuk membawa aroma dedaunan.

"Justru sebaliknya,” lanjutnya.

"Sepertinya dia membenciku.” ”Benci? Kusangka kalian baik-baik saja.

Apa penyebabnya?” ”Kucing.” ”Kucing? Ada apa dengan kucing?” ”Belum lama ini kucing peliharaannya mati.

Dia ditemukan terbaring di pinggir jalan.

Waktu dibawa ke dokter hewan, dokter itu bilang ada kemungkinan kucing itu diracun.” ”Lalu apa urusannya denganmu?” ”Dia pikir aku yang memasukkan racun ke dango? dan memberikannya pada kucing itu.” ”Dia menuduhmu? Kenapa dia bisa punya ide seperti itu?” ”Di situ bagian serunya.” Hidaka menarik majalah dari satusatunya rak yang tersisa, membuka halaman tengah sebelum meletakkannya di depanku.

”Baca ini.” Esai setengah halaman berjudul ”Batas Kesabaran”.

Di sebe Kue berbentuk bola kecil yang dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus dalam air.

lah tulisan terpampang foto wajah Hidaka.

Aku membacanya sekilas dan mendapati esai itu membahas tentang si penulis yang dibuat kerepotan oleh kucing peliharaan tetangganya yang terlepas.

Pada pagi hari, si penulis pasti akan menemukan kotoran hewan itu di halaman rumah, tapak kaki di kap mobil, dan tanaman pot yang hancur...

Penulis tahu jelas pelakunya adalah si kucing belang putih dan cokelat itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Segala cara sudah dicobanya, termasuk menjajarkan botol plastik berisi air supaya si kucing ketakutan oleh bayangannya sendiri, tapi semuanya gagal.

Kurang lebih seperti itulah isi tulisannya.

”Kucing yang mati itu warnanya belang putih dan cokelat juga?” "Ya.

”Oh, begitu.” Aku tersenyum pahit dan mengangguk.

"Pantas dia curiga padamu.” ”Minggu lalu dia mendatangiku sambil marah-marah.

Walau dia tidak menuduh secara langsung bahwa aku yang meracuni kucing itu, pada intinya sama saja.

Rie pun akhirnya ikut marah dan membantah bukan kami pelakunya.

Tapi wanita itu masih saja curiga dan berkeras memeriksa taman, kalau-kalau dango beracun itu memang jatuh di sana.” ”Rupanya dia pendendam juga.” ”Memang begitulah dia.” "Dia tahu kau akan menetap sementara waktu di Kanada?” ”Rie sudah cerita padanya.

Karena mulai pekan depan kami akan tinggal di Vancouver, Rie menasihatiku supaya aku bisa sedikit lebih bersabar kalau kucing itu kembali membuat ulah.

Begitu-begitu Rie orang yang tegas, lho.” Hidaka tertawa geli.

”Yang dikatakan Rie-san masuk akal.

Kalian tak punya alasan untuk membunuh kucing itu.” Entah mengapa Hidaka tidak langsung mengiyakan.

Sambil menyeringai seperti biasa, dia memandang ke luar jendela, menghabiskan kopinya sebelum berujar singkat, "Aku yang membunuhnya.” ”Eh?” Tidak bisa langsung mencerna apa maksud perkataannya, aku balik bertanya, "Apa katamu?” Hidaka meletakkan cangkir kopi di meja, lalu mengambil rokok dan pemantik.

”Aku yang membunuh kucing itu.

Aku yang meletakkan dango beracun di taman.

Sulit dibayangkan bahwa ternyata cara itu berhasil.” Bahkan, setelah mendengar perkataan itu, aku masih menganggapnya sebagai lelucon.

Tapi senyum yang menghiasi wajah Hidaka bukanlah senyum bercanda.

”Bagaimana caramu membuat dango beracun itu?” ”Mudah, kok.

Cukup campurkan obat pembasmi serangga ke dalam makanan kucing, lalu letakkan di taman.

Kucing yang kurang terpelihara biasanya akan memakan apa saja yang ada.” Hidaka menyelipkan rokok di mulut, menyalakannya, lalu mengembuskan asapnya dengan nikmat.

Angin yang menelusup masuk lewat penyekat jendela langsung membuyarkan asap itu.

"Kenapa kau melakukannya?” Aku bertanya.

Perasaanku tidak enak.

”Aku sudah cerita bahwa kami belum menemukan penyewa rumah ini, kan?” Kini wajah Hidaka menjadi lebih serius.

”Ya.” Aku sudah tahu bahwa suani-istri Hidaka akan menyewakan rumah ini sementara mereka berada di Kanada.

”Saat ini agen real estat masih terus mencarikan calon penyewa, tapi belum lama ini mereka mengatakan sesuatu yang mengganggu pikiranku.” ”Soal apa?” ”Menurut agen, deretan botol berisi air di depan rumah tidak akan memberi kesan bagus bagi calon penyewa.

Mereka akan berpikir kami punya masalah dengan kucing liar dan otomatis tidak ada seorang pun yang mau menyewa.” ”Kenapa tidak kausingkirkan saja botol-botol itu?” ”Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah utama.

Bagaimana kalau ada calon penyewa yang datang dan melihat kotoran kucing di halaman? Bisa saja dibersihkan kalau kami ada di rumah, tapi mulai besok rumah ini bakal kosong.

Pasti akan bau.” ”Itu alasan kau membunuhnya?” ”Jelas si pemilik juga harus bertanggung jawab—walau sepertinya wanita bernama Niimi itu tidak mengerti.” Hidaka mematikan puntung rokok di asbak.

”Apa Rie-san...

tahu soal itu?” Sudut mulut Hidaka melengkung membentuk senyum saat dia menggeleng.

"Jelas tidak.

Banyak wanita penyuka kucing.

Kalau dia sampai tahu, pasti aku dianggap sama dengan iblis.” Tidak tahu harus berkornentar apa, aku hanya bisa terdiam.

Saat itu juga telepon berdering.

Hidaka mengangkat gagang telepon.

”Halo...

ah, selamat siang.

Saya sudah berpikir kapan Anda akan menelepon.

...Ya, semua sesuai rencana.

...Haha, Anda tahu saja.

Saya baru akan memulainya.

...Ya, saya yakin bisa menyelesaikannya malam ini.

Akan segera dikirim begitu selesai.

...

Sebenarnya mulai besok pagi saluran telepon ini akan dinonaktifkan, jadi biar saya yang menelepon.

...Ya, dari hotel.

Baik.” Hidaka menutup telepon dan menghela napas.

”Editormu?” Aku bertanya.

”Yamabe-san dari Someisha.

Biasanya tulisanku memang selalu agak terlambat, tapi kali ini tenggat waktunya lebih ketat.

Kalau sampai terlambat dikirim, bisa-bisa semuanya bakal kacau karena lusa aku sudah meninggalkan Jepang.” ”Kalau begitu aku permisi dulu.

Jangan sampai jadwalmu terganggu.” Aku bangkit dari kursi.

Terdengar suara bel interphone.

Aku mengira itu pedagang keliling atau sejenisnya, tapi sepertinya bukan.

Terdengar langkah Rie-san menyusuri koridor rumah yang disusul suara ketukan pintu.

Siapa?” Hidaka bertanya Pintu ruang kerja terbuka, disusul wajah muram Rie-san.

”Itu Fujio-san,” katanya pelan.

Wajah Hidaka langsung mendung bagaikan langit menjelang badai menerjang.

"Fujio...

maksudmu Fujio Miyako?” ”Ya, dia bilang ada sesuatu yang harus dibicarakannya denganmu hari ini juga.” ”Dasar.” Hidaka menggigit bibir.

”Pasti dia sudah tahu bahwa kita akan pindah ke Kanada.” ”Apa kusuruh saja dia pulang dengan alasan kau sedang sibuk?” ”Boleh juga...” Tapi sesaat kemudian, Hidaka berubah pikiran.

”Tidak, biar kutemui dia,” katanya.

"Lebih baik semua diselesaikan sekarang juga supaya aku bisa lega.

Bawa dia ke ruangan ini.” ”Kau yakin?” Rie-san menatap ke arahku dengan gelisah.

”Oh, aku memang sudah berniat pergi,” kataku.

Rie-san mohon diri, kemudian sosoknya menghilang di balik pintu.

”Benar-benar cari masalah.” Hidaka menghela napas.

”Fujio...

apa hubungannya dengan Fujio Masaya?” ”Adik perempuannya.” Hidaka menggaruk-garuk dahinya yang tertutup rambut agak panjang.

"Bukan masalah jika harus memberinya sedikit uang, tapi aku tidak terima kalau harus menarik dan menulis ulang naskah.” Terdengar suara langkah kaki.

Hidaka menutup mulut rapatrapat.

Kami bisa mendengar suara Rie-san yang meminta maaf karena kurangnya penerangan di koridor, kemudian terdengar suara ketukan pintu.

”Silakan, Fujio-san.” Rie-san berkata seraya membuka pintu.

Di belakangnya berdiri gadis berambut panjang yang usianya sekitar tiga puluhan.

Dia mengenakan setelan yang biasa dipakai lulusan universitas saat menghadiri wawancara kerja pertama.

Untuk ukuran tamu yang mendadak datang, terlihat betapa dia berusaha berpenampilan seresmi mungkin.

”Aku pergi dulu,” kataku pada Hidaka.

Semula aku hendak berkata bahwa lusa aku akan datang untuk mengantar mereka jika bisa, tapi kubatalkan karena tidak ingin memancing reaksi yang tidak diharapkan dari Fujio Miyako.

Hidaka hanya mengangguk diam.

Rie-san mengantarku hingga ke luar rumah.

”Maaf karena harus membuatmu terburu-buru,” katanya dengan nada minta maaf sambil menyatukan kedua tangannya dan mengedipkan mata.

Perawakannya yang mungil dan langsing membuatnya terlihat seperti gadis remaja.

Sulit dipercaya usianya sudah di atas tiga puluh tahun.

?Lusa aku pasti akan datang ke sini.” ”Apakah tidak akan menganggu kesibukanmu?” Sama sekali tidak.

Aku mohon diri.” Dia mengucapkan "selamat jalan” dan terus memperhatikan sampai aku menghilang di belokan.

.

Aku kembali ke apartemen dan sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika bel pintu berbunyi.

Tempat tinggalku memang jauh berbeda dengan Hidaka, yaitu apartemen studio di lantai lima.

Apartemen ini dibagi menjadi dua bagian: ruang kerja merangkap ruang tidur seluas enam tatami, sementara sisanya seluas delapan tatami digunakan untuk ruang keluarga, dapur, dan ruang makan.

Setiap kali bel berbunyi, aku sendiri yang harus membuka pintu karena tidak memiliki pendamping seperti Rie-san.

Setelah memastikan siapa tamu itu lewat lubang intip, aku memutar kunci dan membuka pintu.

Tamu itu adalah Oshimakun dari Penerbit Dojisha.

"Seperti biasa, kau selalu datang tepat waktu,” aku berkomentar.

”Memang hanya itu kelebihanku.

Nah, ini ada hadiah.” Dia mengeluarkan kotak yang dibungkus rapi dengan nama toko kue tradisional terkenal tertera di atasnya.

Oshima-kun memang tahu betul aku penggemar makanan manis.

”Maaf, kau sampai harus datang sendiri ke sini,” kataku.

”Tak masalah, kebetulan rumahmu searah dengan rute pulang ke rumah.” Aku mempersilakan Oshima-kun ke ruang tamu lalu menuangkannya teh.

Kemudian aku pergi ke ruang kerja dan mengambil naskah di meja.

"Sebenarnya aku tidak yakin sebagus apa hasilnya, tapi ini dia.” ”Biar kuperiksa dulu.” Oshima-kun meletakkan cangkir tehnya dan mengambil naskahku.

Dia mulai membacanya dengan cepat sementara aku membuka surat kabar.

Selama ini aku memang tidak pernah merasa nyaman saat seseorang membaca karyaku tepat di hadapanku.

Oshima-kun sudah memeriksa separuh bagian naskah saat telepon nirkabel di ruang makan berdering.

Aku bangkit seraya berkata, ”Permisi.” ”Di sini Nonoguchi.” ”Halo? Ini aku.” Suara Hidaka terdengar agak resah.

”?Oh.

Ada apa?” Sebenarnya aku ingin tahu bagaimana pertemuannya dengan Fujio Miyako, tapi alih-alih menjawab, dia malah menarik napas sebelum bertanya, ”Kau sedang sibuk?” ?Lumayan.

Aku sedang ada tamu.” ”Oh, begitu.

Kira-kira jam berapa kau bebas?” Aku menoleh ke arah jam dinding.

Pukul 18.00 lebih sedikit.

”Mungkin sebentar lagi.

Ada apa?” ?Hmm, aku tak ingin membahasnya lewat telepon.

Yang jelas ada yang ingin kubicarakan.

Bisakah kau mampir ke rumah?” ”Baiklah, tidak masalah.” Aku nyaris bertanya apakah ini ada hubungannya dengan Fujio Miyako, tapi kuurungkan.

Aku nyaris lupa Oshima-kun ada di sebelahku.

”Bagaimana kalau jam delapan?” Hidaka bertanya.

”Boleh.” ”Baik.

Kutunggu.” Hidaka menutup telepon.

Saat aku meletakkan kembali telepon, Oshima-kun bersiapsiap bangkit dari sofa.

"Kalau kau sibuk, biar aku...” katanya.

”Tidak, tidak apa-apa.” Aku memintanya untuk kembali duduk.

"Aku ada janji dengan seseorang jam delapan.

Silakan teruskan membaca.

Masih banyak waktu.” ”Baiklah kalau begitu.” Oshima-kun kembali membuka naskah.

Aku kembali menelusuri huruf-huruf dalam surat kabar, kendati benakku penuh dengan pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi pada Hidaka.

Pasti ada kaitannya dengan Fujio Miyako karena aku tidak bisa memikirkan hal lain di luar itu.

Hidaka pernah menulis novel berjudul Daerah Bebas Perburuan yang berkisah tentang kehidupan seniman hanga'.

Meskipun fiksi, sebenarnya salah satu tokoh dalam novel ini digambarkan berdasarkan seseorang yang benar-benar ada, yaitu Fujio Masaya.

Fujio Masaya bersekolah di SMP yang sarna denganku dan Hidaka, dan faktor itulah yang mendorong Hidaka menjadikan Masaya sebagai tokoh dalam novel itu.

Namun, ada beberapa masalah.

Tokoh dalam novel itu terkesan tidak menghormati Masaya, terutama karena Hidaka mendeskripsikan ulah eksentriknya semasa SMP sesuai dengan kenyataan.

Meskipun nama si tokoh utama sudah diganti, hanya dengan membaca bagian itu saja sudah membuatku dan yang lain sulit membayangkan ini adalah fiksi.

Ditambah lagi adegan saat Fujio Masaya ditikam hingga mati oleh seorang pelacur pun berdasarkan kisah nyata.

Novel ini berhasil meraih predikat best-seller.

Bagi mereka yang mengenal Fujio Masaya, tidak sulit untuk menebak siapa yang dijadikan model si karakter utama.

Dalam waktu singkat berita itu pun sampai di telinga keluarga Fujio.

 Salah satu seni teknik tradisional cukil kayu.

Karena ayah Masaya sudah meninggal dunia, maka pihak yang mengajukan keberatan adalah ibu dan adik perempuannya.

Menurut mereka, sudah jelas model karakter dalam novel itu adalah Masaya, namun selama ini pihak keluarga tidak pernah memberikan izin untuk penulisan novel tersebut.

Dengan kata lain, mereka menganggap Hidaka telah melanggar privasi Fujio Masaya dan mencemarkan nama baiknya.

Pihak keluarga meminta supaya novel itu ditarik dan direvisi.

Seperti kata Hidaka, kedua wanita itu tidak menginginkan kompensasi dalam bentuk uang.

Sampai saat ini dia belum tahu apakah itu karena mereka murni hanya meminta supaya novel itu direvisi, atau karena sedang memikirkan taktik lain.

Mengingat suaranya di telepon barusan, rupanya negosiasi dengan Fujio Miyako tidak berjalan mulus.

Lantas mengapa dia menghubungiku? Apakah masalah itu menjadi lebih ruwet? Mungkin aku memang bisa membantunya.

Sambil memikirkan hal itu, Oshima-kun yang duduk di seberangku tampak sudah selesai membaca naskah.

Aku lantas mengangkat wajah dari surat kabar yang sedang kubaca.

”Boleh juga,” komentar Oshima-kun.

"Tipe cerita yang hangat dan memiliki aura nostalgia.

Menurutku bagus.” ”Sekarang aku bisa tenang.” Aku meneguk teh.

Jujur aku merasa lega.

Oshima-kun memang anak muda yang baik, tapi tidak pernah memuji hanya untuk berbasa-basi.

Dalam situasi biasa, malam ini aku dan Oshima-kun akan melanjutkan dengan berdiskusi, tapi aku sudah berjanji pada Hidaka.

Aku melihat jam.

Pukul 18.30.

”Apakah waktunya tepat untuk berdiskusi?” Oshima-kun bertanya dengan cemas.

”Tidak apa-apa, kok.

Di sekitar sini ada restoran, jadi bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi sambil makan? Itu akan sangat membantu.” ”Baiklah.

Lagi pula aku memang harus makan malam.” Oshima-kun berkata demikian sambil memasukkan naskah ke tas.

Tahun depan dia akan menginjak usia tiga puluh tahun, namun sampai sekarang masih melajang.

Kami berjalan kaki ke restoran yang berjarak dua-tiga menit dari apartemenku.

Di sana kami makan gratin sambil berdiskusi— lebih tepatnya mengobrol ringan.

Aku memberitahu Oshima-kun bahwa orang yang akan kutemui adalah penulis Hidaka Kunihiko.

Dia terlihat agak terkejut.

”Jadi kau kenalannya?” ”Ya.

Kami bersekolah di SD dan SMP yang sama.

Rumah keluarga kami juga berdekatan dan dari sini bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Hanya saja sekarang kedua rumah itu sudah dirobohkan dan diganti oleh apartemen.” ”Berarti kalian sahabat sejak kecil.” ”Begitulah.

Sampai sekarang kami juga masih sering bertemu.” ”Wah...” Sorot mata Oshima-kun menyiratkan rasa iri campur kagum.

"Aku baru tahu soal itu.” ”Sebenarnya aku bisa menulis di tempatmu karena rekomendasi dari dia.” ”Ah, begitu?” ”Sepertinya pemimpin redaksi di tempatmu awalnya menginginkan naskah dari Hidaka, tapi ditolak oleh Hidaka karena dia tidak bisa menulis cerita anak-anak.

Sebagai gantinya, Hidaka memperkenalkanku.

Dengan kata lain, aku berutang padanya,” jelasku sambil menjumput makaroni dengan garpu dan memasukannya ke mulut.

”?Hmm, jadi seperti itu ya? Sekarang aku jadi tertarik pada cerita anak karya Hidaka-san.” Kemudian Oshima-kun bertanya, ”Nonoguchi-san, apa kau tidak berniat menulis novel dewasa?” ” Jelas ingin.

Tapi aku tak tahu apakah ada kesempatan untuk itu.” Memang inilah keinginanku yang terdalam.

Kami meninggalkan restoran pukul 19.00 dan berjalan ke stasiun.

Setelah mengantar Oshima-kun yang akan pulang dengan kereta berlawanan arah, aku segera menaiki kereta tujuanku.

Aku tiba di rumah Hidaka tepat pukul 20.00.

Saat berdiri di depan pintu, aku merasa ada yang ganjil.

Rumah itu gelap gulita, bahkan lampu taman pun tidak menyala.

Aku tetap mencoba menekan tombol interphone, tapi sesuai dugaan, tidak ada jawaban.

Sampai di sini aku menyangka akulah yang membuat kesalahan.

Mungkin saja ketika di telepon Hidaka memang memintaku datang pukul 20.00, tapi belum tentu itu harus di rumahnya.

Aku kembali menyusuri jalan tempatku tadi datang.

Ada taman kecil dengan telepon umum di sebelahnya.

Sambil mengeluarkan dompet, aku masuk ke bilik telepon.

Setelah memeriksa nomor telepon Hotel Crown di buku petunjuk, aku menghubungi hotel itu dan minta berbicara dengan tamu bernama Hidaka.

Dengan cepat pihak hotel langsung menyambungkanku.

?Halo, di sini Hidaka.” Suara Rie-san.

”Di sini Nonoguchi,” kataku.

"Apa Hidaka ada di sana?” ”Tidak, dia belum datang.

Kurasa dia masih di rumah karena masih ada pekerjaan yang tersisa.” ?Hmm, sebenarnya...” Aku menjelaskan tentang lampu rumah yang padam padanya, juga bagaimana aku merasa tidak ada seorang pun di sana.

”Kok aneh, ya...” Rie-san terdengar heran di ujung telepon.

”Dia bilang paling cepat baru akan tiba di hotel tengah malam.” ?Mungkin dia sedang keluar sebentar?” ”Bisa jadi.” Rie-san terdiam sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu berkata, "Baiklah.

Aku akan ke sana sekarang juga.

Kurasa akan makan waktu empat puluh menit.

Sekarang Nonoguchi-san ada di mana?” Aku menjelaskan posisiku, lalu berkata akan menunggunya di kafe terdekat.

Setelah itu aku menutup telepon.

Aku keluar dari bilik telepon dan memutuskan kembali ke depan rumah Hidaka sebelum pergi ke kafe.

Lampu rumah masih belum menyala.

Aku sedikit heran karena mobil Saab milik Hidaka masih ada di garasi.

Kafe yang kumaksud adalah kafe yang sering dikunjungi Hidaka untuk mencari suasana santai.

Aku sendiri sudah beberapa kali datang ke tempat ini.

Si pemilik kafe masih ingat padaku dan bertanya mengapa hari ini aku tidak datang bersama Hidaka.

Aku menjawab bahwa kami sudah ada janji untuk bertemu, tapi tidak ada orang di rumahnya.

Tiga puluh menit lebih berlalu, sementara aku mengobrol tentang liga baseball! profesional dengan si pemilik kafe.

Aku membayar pesananku dan bergegas menuju rumah Hidaka.

Setibanya di depan gerbang, aku melihat Rie-san turun dari taksi.

Aku memanggilnya, yang dibalasnya dengan senyuman.

Namun, ekspresi wajahnya langsung gelisah saat menatap ke arah rumah.

”Gelap sekali,” katanya.

”?Mungkin dia belum pulang.” ”Tapi seharusnya dia tidak ada rencana pergi.” Dia berjalan ke arah pintu depan sambil mengeluarkan kunci dari tas.

Aku mengikutinya.

Pintu depan dalam keadaan terkunci.

Setelah membukanya, kami lantas masuk.

Rie-san sibuk menyalakan lampu.

Udara di dalam rumah terasa dingin—tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang pun.

Rie-san berjalan menyusuri koridor rumah dan tiba di depan ruang kerja Hidaka.

Dipegangnya kenop pintu yang ternyata dalam keadaan terkunci.

”Apakah pintu ini selalu dikunci saat dia pergi?” aku bertanya.

Dia menggeleng sambil mengeluarkan kunci.

"Belakangan ini jarang.” Kunci dimasukkan dan pintu terbuka.

Lampu listrik di ruangan itu memang tidak menyala, tapi suasananya tidak sampai gelap gulita.

Lampu di monitor komputer di meja tampak menyala, tanda komputer itu juga dalam posisi menyala.

Tangan Rie-san menyusuri dinding sampai menemukan tombol lampu yang lantas ditekannya.

Tepat di tengah ruangan, tampak sosok Hidaka terbaring dengan posisi kaki mengarah ke kami.

Beberapa detik berlalu dalam hening sebelum Rie-san mendekati sosok itu sambil membisu.

Namun, dia menghentikan langkahnya di tengah jalan, membekap mulutnya dengan kedua tangan sementara tubuhnya seperti berubah kaku.

Sampai saat itu belum sepatah kata pun terucap darinya.

Aku bergegas mendekatinya.

Kondisi Hidaka saat itu dalam keadaan tertelungkup, lehernya terpelintir hingga memperlihatkan sisi kiri wajahnya.

Matanya yang setengah terbuka tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

”Dia sudah meninggal,” aku berkata.

Perlahan, tubuh Rie-san ambruk.

Dia berlutut di lantai, suara tangisan yang seakan berasal dari dalam perutnya mulai terdengar.

.

Sementara para penyidik dari Kepolisian Metropolitan sibuk memeriksa TKP, aku dan Rie-san menanti di Ruang Tunggu.

Kebalikan dari namanya, di ruangan itu tidak tersedia sofa ataupun meja.

Aku menyuruh Rie-san duduk di kardus berisi majalah, sementara aku sendiri berjalan hilir-mudik: sesekali mengintip dari koridor untuk mengamati situasi.

Terdengar suara ketukan.

Pintu terbuka dan Inspektur Sakoda masuk ke ruangan.

Dia adalah pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan pembawaan tenang.

Dialah yang meminta kami menanti di Ruang Tunggu, sepertinya dia juga yang memimpin penyidikan.

”Bolehkah saya menanyakan sesuatu?” Inspektur melirik ke arah Rie-san, lalu menatapku.

”Saya tidak keberatan...” Saya juga,” kata Rie-san sambil menekankan saputangan ke bagian bawah matanya.

Walau masih sedikit terisak, nada suaranya cukup mantap.

Aku teringat akan perkataan Hidaka siang tadi tentang istrinya yang tegar.

”Baiklah.” Sambil berdiri, Inspektur Sakoda bertanya bagaimana prosesnya hingga kami menemukan mayat Hidaka.

Semakin jauh bercerita, mau tidak mau aku pun menjelaskan tentang Fujio Miyako.

”Pukul berapa Hidaka-san menelepon Anda?” ”Sekitar pukul 18.00 lebih sedikit.” ”Apakah saat itu Hidaka-san menyinggung soal wanita bernama Fujio?” ”Tidak, dia hanya bilang ingin membicarakan sesuatu.” ”Berarti ada kemungkinan karena urusan lain.” ”Bisa jadi.” ”Anda bisa menduga urusan apa itu?” ”Tidak.” Inspektur mengangguk, kemudian tatapannya beralih ke arah Rie-san.

”Pukul berapa wanita bernama Fujio itu pulang?” ”Pukul 17.00 lebih.” ”Apa setelah itu Anda berbicara dengan almarhum suami Anda?” ”Sedikit.” ”Bagaimana kondisi dia?” ”Dia tampak agak gundah karena pembicarannya dengan Fujio-san tidak berjalan lancar.

Tapi dia bilang tidak ada yang perlu saya khawatirkan.” ”Lalu setelah itu Anda meninggalkan rumah menuju ke hotel.” "Ya." ”Rencananya kalian akan menginap di Hotel Crown malam ini sampai esok malam sebelum bertolak ke Kanada lusa.

Tapi suami Anda masih berada di rumah ini untuk membereskan sisa pekerjaan...” kata Inspektur sambil membuat catatan.

Lalu dia mengangkat wajah.

"Siapa saja yang mengetahui hal ini?” "Saya dan...” Rie-san menatapku.

”Wajar kalau saya juga tahu.

Selain itu, mungkin orang dari Penerbit Someisha?” Aku menjelaskan bahwa naskah yang akan diselesaikan oleh Hidaka malam ini rencananya akan dikirimkan ke Someisha.

”Tapi jika Anda menduga siapa pelakunya hanya berdasarkan itu...” ”Ya, saya tahu.

Itu hanya sebagai referensi.” Pipi Inspektur Sakoda mengernyit sedikit.

Kemudian dia bertanya—terutama pada Rie-san—apakah akhir-akhir ini kami pernah melihat orang mencurigakan di sekitar lingkungan rumah.

Rie-san menjawab bahwa dia tidak ingat pernah melihat orang seperti itu.

Aku lantas teringat pada wanita yang kulihat ada di taman rumah tadi siang, tapi setelah bimbang sesaat, kuputuskan untuk diam.

Bahkan secara pribadi aku menganggap seseorang yang sanggup membunuh sebagai balas dendam atas kematian kucingnya adalah imajinasi liar semata.

Sesi tanya-jawab pun berakhir.

Saat kami sudah ada di koridor, Inspektur berkata bahwa aku akan diantar sampai ke apartemen.

Sebenarnya aku ingin menemani Rie-san, tapi menurut Inspektur mereka telah menghubungi rumah orangtuanya dan tidak lama lagi akan ada seseorang yang menjemputnya.

Setelah perlahan-lahan mulai bisa beradaptasi dengan hal mengejutkan akibat penemuan mayat Hidaka, kini yang terasa begitu nyata adalah rasa lelah yang sedikit demi sedikit mulai menggerogoti.

Membayangkan apakah aku harus pulang dengan naik kereta atau tidak saja sudah membuatku depresi.

Aku memutuskan untuk menuruti kata-kata Inspektur.

Karena di luar ruangan masih ada beberapa penyidik, aku memutari koridor.

Pintu ruang kerja terbuka, tapi aku tidak bisa melihat ke dalam.

Aku yakin jenazah Hidaka sudah dipindahkan.

Polisi muda berpakaian seragam menyapaku kemudian mengantarku ke mobil patroli yang diparkir di depan gerbang.

Aku lantas teringat dulu pernah menaiki mobil seperti ini karena tertangkap sedang mengebut.

Ada pria berdiri di sebelah mobil.

Perawakannya tinggi, wajahnya tidak begitu jelas terlihat karena pengaruh cahaya.

”Apa kabar, Nonoguchi-sensei.” Dia menyapa.

”Eh?” Langkahku terhenti sementara aku mencoba memastikan wajahnya.

Pria itu mendekatiku.

Wajahnya mulai terlihat jelas seakan dia baru muncul dari bayang-bayang.

Bentuk wajahnya seperti ukiran dengan jarak sempit antara alis dan matanya.

Awalnya aku merasa seperti pernah mengenalnya sampai akhirnya ingatanku terbangun.

”Ah, ternyata kau.” ”Anda masih ingat?” ”Tentu.

Hmm...” Benakku kembali memastikan sebelum berkata, ”Kau...

Kaga, kan?” ”Ya, benar.” Dia membungkuk dengan sopan.

”Terima kasih atas bantuan Anda waktu itu.” ”Justru aku yang harus berterima kasih.” Aku juga ikut membungkukkan badan, lalu kembali menatapnya.

Sudah sepuluh tahun, bukan, lebih dari sepuluh tahun kami tidak bertemu, tapi wajahnya tampak lebih gagah.

"Aku memang dengar kau beralih profesi menjadi polisi, tapi tak kusangka bisa bertemu di tempat ini...” ”Saya sendiri juga kaget sampai sempat mengira salah mengenali orang.

Makanya tadi saya mengecek nama keluarga Anda.” ”Pasti karena nama keluargaku yang unik.

Tapi memang...” Aku menggeleng-geleng.

"Sungguh kebetulan yang luar biasa.” ”Kita bicara di dalam mobil saja sekalian mengantar Anda.

Hmm, walau sebenarnya mobil patroli bukan tempat yang nyaman untuk itu.” Sambil berkata demikian, Kaga membukakan pintu belakang mobil, sementara polisi muda tadi duduk di kursi pengemudi.

Dulu, Pak Guru Kaga yang baru saja lulus kuliah pernah menjadi guru Ilmu Sosial di SMP tempatku mengajar.

Sama halnya dengan sekian banyak guru lain yang juga baru lulus, dia selalu terlihat bersemangat dan penuh antusiasme.

Ditambah lagi dia juga ahli kendo, sosoknya yang sedang beraksi di klub semakin menonjolkan semangatnya.

Sayangnya berbagai masalah yang timbul membuat Kaga hanya mengajar selama dua tahun, padahal menurutku itu sama sekali bukan kesalahannya.

Hanya ada satu hal yang bisa kukatakan: profesi tertentu mungkin cocok untuk seseorang, tapi belum tentu cocok untuk orang lain walau aku akan heran jika ada yang mempertanyakan kemampuan Kaga sebagai guru.

Tentu saja apa yang terjadi saat itu berpengaruh besar dalam opiniku.

” Sekarang Anda mengajar di mana, Nonoguchi-sensei?” tanya Pak Guru Kaga sesaat setelah mobil mulai melaju.

Ah, aku salah.

Aneh rasanya kalau dia masih dipanggil Pak Guru.

Biar aku menyapanya dengan panggilan 'Detektif”.

Aku menggeleng.

"Belum lama ini aku sempat mengajar di kelas tiga SMP lokal, tapi sudah berhenti sejak Maret lalu.” Detektif Kaga menatap ke luar jendela mobil.

"Lalu apa pekerjaan Anda sekarang?” ”Hmm, sebenarnya ini agak memalukan, tapi aku sedang menulis novel anak-anak.” ”Ah, rupanya begitu.” Kaga mengangguk.

”Dan Anda kenal dengan Hidaka Kunihiko?” ”Sebenarnya bukan sekadar kenal...” Aku menjelaskan bahwa kami adalah teman sejak kecil, juga menjelaskan tentang bagaimana koneksinya telah membantuku memperoleh pekerjaan di perusahaan tempatku bekerja sekarang.

Detektif Kaga menyimak perkataanku sambil mengangguk paham.

Aneh juga mengapa dia belum mendengarnya dari Inspektur Sakoda, padahal aku sudah menceritakan semuanya.

”Jadi Anda menulis novel sambil terus bekerja sebagai guru?” ”Kurang lebih begitu.

Dalam setahun biasanya aku menulis dua cerpen yang masing-masing berjumlah tiga puluh halaman.

Tapi akhirnya kuputuskan untuk berhenti mengajar karena pada dasarnya aku bercita-cita jadi penulis.” "Begitu? Sungguh keputusan yang luar biasa,” komentar Detektif Kaga dengan kagum.

Mungkin aku memang terkesan membandingkan dengan pengalaman orang lain, tapi tentu saja ada perbedaan besar antara seseorang yang berpindah profesi di usia pertengahan dua puluhan dengan mereka yang melakukannya di usia mendekati empat puluh tahun.

Aku yakin dia bisa memahaminya.

”Seperti apa sebenarnya penulis bernama Hidaka Kunihiko itu?” Aku menatap wajahnya.

”Kaga-kun, kau tidak tahu siapa dia?” ”Maaf, saya memang pernah mendengar nama itu tapi belum pernah membaca bukunya.

Akhir-akhir ini saya memang jarang membaca buku.” ”Pasti karena kesibukanmu.” ”Tidak juga, itu karena saya memang lalai.

Sebenarnya saya berniat membaca dua atau tiga buku dalam sebulan.” Kaga memegang kepalanya.

Dalam kondisi sesibuk apa pun, selalu sempatkan untuk membaca dua atau tiga buku dalam sebulan.

Itulah kalimat favoritku saat masih menjadi guru bahasa Jepang.

Aku tidak tahu apakah Kaga-kun masih ingat atau tidak.

Aku menjelaskan profil Hidaka dengan ringkas.

Tepat sepuluh tahun setelah debutnya sebagai penulis, dia berhasil meraih penghargaan sastra yang menempatkannya sebagai salah satu dari sedikit penulis yang karyanya masuk golongan best-seller.

Karya-karyanya cukup beragam, mulai dari kategori sastra serius hingga hiburan.

"Apa ada bukunya yang cocok untuk saya?” tanya Kaga.

”Misalnya novel detektif.” ” Jumlahnya memang sedikit, tapi ada.” Aku menjawab.

”Boleh saya minta referensi judul?” ”Boleh.” Aku menyodorkan judul Noctiluca.

Walau tidak begitu ingat isinya karena sudah lama membacanya, aku tahu persis novel ini berkaitan dengan pembunuhan.

”Mengapa Hidaka-san ingin tinggal di Kanada?” ”Alasannya macam-macam, tapi kurasa dia memang sudah sedikit lelah.

Sejak beberapa tahun lalu dia sering bilang ingin bersantai sejenak di luar negeri.

Lalu mengapa Vancouver, itu karena Rie-san menyukai kota itu.” ”Rie-san itu istrinya? Saya lihat dia masih cukup muda.” ”Pernikahan mereka baru didaftarkan bulan lalu.

Ini pernikahan kedua Hidaka.” ”Oh ya? Apakah dia bercerai dengan istri pertamanya?” ”Tidak.

Dia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas lima tahun lalu.” Dadaku terasa sesak karena membayangkan Hidaka Kunihiko yang sedang menjadi topik pembicaraan kini sudah tidak ada di dunia.

Sebenarnya apa yang ingin dibicarakannya denganku? Mungkin aku bisa mencegah kematiannya andai saja aku segera mengakhiri pertemuan yang tidak terlalu penting itu dan bergegas ke tempatnya.

Aku tidak bisa berhenti menyesali diri walau tahu peristiwa itu tidak bisa dicegah.

”Lalu ada soal keluhan dari seseorang bernama Fujio tentang seseorang yang dijadikan karakter novelnya,” kata Kaga.

"Di luar itu, apakah ada masalah lain yang melibatkannya? Bisa yang berkaitan dengan novel atau kehidupan pribadinya.” ”Entahlah, aku tidak tahu.” Aku langsung sadar bahwa ini adalah interogasi.

Kalau dipikir-pikir, memang aneh bahwa sampai sekarang polisi yang memegang kemudi sama sekali tidak berbicara.

”Omong-omong,” kata Kaga sambil membuka buku catatan.

”Anda kenal seseorang bernama Nishizaki Namiko?” ”Eh2” ”Ada juga Osano Tetsuji, Nakane Hajime...” ”Oh, mereka.” Aku mengangguk paham.

“Itu nama para karakter yang muncul di novel Pintu Es.

Saat ini cerita itu dimuat secara bersambung di majalah bulanan,” kataku sambil berpikir bagaimana kelak kelanjutan cerita itu.

”Sepertinya Hidaka-san sedang menggarap kelanjutan cerita itu sebelum meninggal.” ”Aku ingat komputernya masih dalam keadaan menyala.” ”Naskah itu memang terpampang di layar komputer.” ”Rupanya begitu.” Aku lantas teringat sesuatu dan bertanya pada Detektif Kaga.

"Seberapa banyak novel itu?” ?Maksudnya?” ”Sudah berapa halaman yang dikerjakannya?” Aku menjelaskan bahwa malam ini Hidaka harus menulis sebanyak tiga puluh halaman.

”'Saya tidak tahu pasti karena ada sedikit perbedaan dengan versi yang diketik di komputer dengan yang ditulis di genko yOshi5, tapi perbedaan itu pasti tidak lebih dari satu atau dua halaman.” ”Mungkin dari jumlah halamannya kita bisa memperkirakan kapan peristiwa itu terjadi.

Hidaka belum mulai bekerja saat aku meninggalkan rumahnya.” ”Kami juga memikirkan fakta itu.

Masalahnya, naskah cerita yang ditulis di genko yoshi bukan sesuatu yang bisa ditulis secepat kilat.” ”Ada benarnya, tapi bahkan level tertinggi kecepatan menulis pun memiliki batas.” ”Bagaimana dengan Hidaka-san?” "Sebentar...

Dulu dia pernah cerita dia sanggup menulis empat halaman dalam sejam.” ”Berarti dalam situasi terburu-buru dia bisa menulis enam halaman?” ”Tidak juga...” $ Jenis kertas yang digunakan untuk menulis.

Sehelai kertas memiliki sekitar 200 atau 400 kotak.

Satu kotak cukup untuk menulis satu karakter huruf Jepang (hiragana, katakana, ataupun kanji) atau satu tanda baca.

Detektif Kaga menanggapi komentarku dengan diam.

Kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu.

”Apa ada yang aneh?” aku bertanya.

”Ya, saya sendiri belum mengerti.” Detektif Kaga menggeleng.

”?Kami memang belum memastikan benarkah naskah yang terpampang di monitor itu adalah kelanjutan dari cerita yang sedang digarapnya.” ”Ah, pantas.

Mungkin saja dia sedang memeriksa kembali bagian cerita yang sudah dimuat.” "Besok saya akan pergi ke perusahaan penerbitan untuk memastikannya.” Otakku berputar cepat.

Rie-san bilang Fujio Miyako pergi pada pukul 17.00.

Aku menerima telepon dari Hidaka pukul 18.00 lebih sedikit.

Jika dia melanjutkan menulis sepanjang rentang waktu sejam itu, setidaknya dia bisa menghasilkan lima sampai enam halaman.

Masalahnya adalah di mana halaman lainnya? ?Hmm, mungkin ini termasuk rahasia penyelidikan...” Aku mencoba bertanya pada Detektif Kaga, "tapi seingatku ada istilah 'waktu perkiraan kematian', bukan? Bagaimana menurut pihak kepolisian?” "Ya, itu memang bagian dari rahasia penyelidikan.” Kaga tersenyum kecut.

”Tapi baiklah.

Itu tergantung dari hasil autopsi, tapi kami berpendapat dia meninggal antara pukul 17.00 sampai pukul 19.00, seharusnya selisihnya tidak terlalu jauh.” ”Sudah kujelaskan kalau dia meneleponku pukul 18.00 lebih...” ”Ya, berarti peristiwa itu terjadi antara pukul 18.00 lebih sampai 19.00.” Sulit dipercaya.

Artinya Hidaka tewas terbunuh tidak lama setelah meneleponku.

”Bagaimana cara dia tewas...” gumamku.

Detektif Kaga menatapku dengan ekspresi ganjil.

Pasti dia merasa heran kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang baru saja menemukan mayat, namun aku memang sama sekali tidak ingat.

Kalau boleh mengaku, saat itu aku memang sangat ketakutan dan tidak berani mengamatinya lebih jelas.

Setelah kujelaskan, barulah Detektif Kaga paham.

”Untuk soal ini kami juga masih menunggu hasil autopsi, tapi secara tidak resmi dia tewas dicekik.” ”Dicekik dengan...

tali atau apa?” ”Lehernya dijerat dengan kabel telepon.” ” Astaga...” "Selain itu ada juga satu luka luar.

Kepalanya dihantam dengan pemberat kertas yang kami temukan terguling di TKP.” ”Jika dipukul dari belakang, berarti dia sudah pingsan saat dicekik.” ”Sampai saat ini begitulah dugaan kami,” kata Detektif Kaga yang lalu merendahkan nada suaranya.

"Semua yang tadi saya katakan baru akan diumumkan kemudian, jadi tolong jangan beritahukan pada orang lain.” ?Ah, tentu saja.” Mobil patroli berhenti di depan gedung apartemenku.

”Terima kasih banyak karena sudah mengantarku,” kataku sambil memberi salam.

”Terima kasih juga atas semua informasinya,” balas Detektif Kaga.

”Kalau begitu aku permisi.” Aku sudah bersiap-siap turun dari mobil saat mendadak Detektif Kaga memanggil.

"Ah, tunggu!” katanya.

"Tolong beritahu nama majalah yang memuat novel itu.” Aku menyebutkan nama Someisha, tapi dia menggeleng.

”Maksud saya nama majalah yang memuat cerita Anda, Nonoguchi-sensei.” Berusaha menyembunyikan kegugupan, aku menyebutkan nama majalah itu.

Detektif Kaga mencatatnya.

Saat sudah berada di dalam apartemen, aku duduk di sofa dan tercenung untuk beberapa waktu.

Aku mencoba mengingatingat kembali semua kejadian hari ini, tapi sulit membayangkan semuanya sebagai kenyataan, padahal jelas ini bukan sesuatu yang akan muncul sekali seumur hidup.

Memikirkan hal itu, rasanya aku menyesal karena sempat berpikir untuk tidur saja—di luar fakta bahwa apa yang terjadi hari ini adalah tragedi.

Ah, tidak.

Memang percuma saja untuk tidur malam ini.

Ide melintas di benakku.

Tidak mungkin aku melewatkan pengalaman seperti ini.

Bagaimana jika kuabadikan saja drama...

peristiwa kehilangan sahabat baikku ini dalam bentuk tulisan? Bisa dibilang itulah alasanku memulai catatan ini.

Yang perlu kupikirkan selanjutnya adalah apakah aku akan terus menulis sampai kebenaran terungkap.

.

Berita kematian Hidaka muncul di surat kabar pagi.

Semalam aku memang tidak menonton TV, tapi bisa jadi peristiwa ini juga sudah disiarkan secara besar-besaran.

Belakangan ini mereka bahkan memiliki slot acara berita setelah pukul 23.00.

Surat kabar memuat berita itu dengan judul sederhana di ujung halaman pertama, sementara detail kasus dibeberkan di kolom berita lokal.

Foto keluarga Hidaka dimuat dalam ukuran besar—dengan foto wajah Hidaka yang selama ini digunakan untuk keperluan majalah dipasang di sebelahnya.

Isi artikel itu sendiri cukup sesuai dengan fakta, hanya saja mungkin pembaca akan salah paham karena di bagian penemuan mayat tertulis ”Istri korban, Rie-san, kembali ke rumah setelah diberitahu oleh seorang kenalan bahwa lampu rumah mereka dalam keadaan padam.

Tubuh Hidaka-san ditemukan olehnya di ruang kerjanya di lantai satu”.

Namaku sama sekali tidak disebut.

Di artikel itu juga disebutkan bahwa kepolisian akan menyelidiki kasus itu dengan melihatnya dari kedua sisi: pembunuhan acak atau pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang dikenal korban.

Mengingat pintu depan terkunci, ada kemungkinan pelaku masuk dan keluar dari ruang kerja korban lewat jendela.

Aku menutup surat kabar dan bangkit untuk menyiapkan sarapan—tepat saat bel berbunyi.

Baru pukul 08.00.

Entah siapa yang berkunjung sepagi ini.

Kuangkat alat penerima interphone yang selama ini jarang digunakan.

”Ya?” "Anda Nonoguchi-sensei?” Suara seorang perempuan.

Napasnya terengah-engah.

”Benar.” ”Maaf karena mengganggu Anda sepagi ini.

Saya dari TV XX dan ingin sedikit bertanya tentang kasus semalam.” Aku terkejut.

Padahal namaku tidak disebut-sebut di surat kabar, namun orang-orang dari stasiun TV berhasil menemukan bahwa aku juga salah seorang yang menemukan mayat.

”Eh...” Aku berpikir bagaimana sebaiknya menanggapinya.

”Apa maksud Anda?” ”Ini soal peristiwa terbunuhnya Hidaka Kunihiko-san di rumahnya semalam.

Saya dengar bahwa istri almarhum, Rie-san, dan Anda-lah yang menemukan mayatnya.

Apakah itu benar?” Mungkin perempuan itu reporter dari variety show—tapi tetap saja aku sedikit kesal karena dengan ringannya dia memanggilku 'Sensei” Walau begitu aku tidak bisa berbohong ditodong pertanyaan seperti itu.

"Ya, benar,” jawabku.

Bisa kurasakan meningkatnya antusiasme orang-orang di balik pintu.

”Sebenarnya Sensei ada keperluan apa sehingga mengunjungi rumah Hidaka-san?” ”Maaf, tapi saya sudah menceritakan semua informasi yang penting pada polisi.” ”Anda menghubungi Rie-san karena merasa ada sesuatu yang aneh di rumah mereka—sebenarnya hal apa yang Anda anggap aneh?” ”Silakan tanyakan saja pada polisi.” Aku menutup interphone.

Aku pernah mendengar betapa tidak sopannya para reporter TV saat sedang mencari informasi dan ternyata itu benar.

Apakah mereka tidak mengerti bahwa aku belum sanggup membahas kejadian yang baru saja terjadi kemarin di hadapan orang banyak? Kuputuskan untuk tidak keluar dari rumah hari ini.

Lagi pula mustahil untuk mendatangi TKP walau aku mengkhawatirkan keluarga Hidaka.

Namun bel kembali berbunyi saat aku sedang memanaskan Susu Sapi di microwave.

Saya dari stasiun TV—ada sedikit hal yang ingin saya tanyakan.” Kali ini suara pria.

"Semua orang di negeri ini ingin mengetahui informasi lengkapnya.” Andai saja tidak ada tragedi kematian Hidaka, kalimat berlebihan itu pasti akan langsung memancing tawa pahit dariku.

”Aku hanya menemukannya.” ”Tapi Anda akrab dengan Hidaka-san, bukan?” ”Benar, tapi aku tidak bisa menceritakan detailnya.” "Sedikit saja.

Bagaimana?” Pria itu terus memaksa.

Aku menghela napas.

Pasti tetangga sekitar akan terganggu jika orang itu kubiarkan terus bercokol di depan apartemen.

Untuk saat ini, hanya itu jalan terbaik.

Kuletakkan alat penerima interphone, kemudian berjalan ke pintu.

Begitu pintu dibuka, aku langsung disambut mikrofon.

Akibat serbuan wawancara sepanjang pagi, aku sama sekali tidak bisa menikmati sarapan.

Siang harinya, aku melahap udon instan sambil menonton variety show—dan langsung tersedak begitu melihat wajahku terpampang besar di layar.

Padahal wawancara itu baru direkam tadi pagi, tapi mereka bisa menyiarkannya dengan cepat.

"Sebagai sahabat sejak masa SD, bagaimana pendapat Nonoguchi-san tentang Hidaka-san?” Reporter perempuan bertanya nyaring.

Sosokku di layar TV tampak merenung mendengar pertanyaan itu.

Aku tidak sadar bahwa reaksi diamku ternyata cukup lama sehingga adegan yang muncul di layar terasa membosankan.

Mungkin rekaman itu memang tidak sempat lagi diedit.

Setelah menontonnya sendiri, aku bisa paham betapa jengkelnya para reporter yang mengelilingiku.

”Dia memiliki kepribadian kuat.” Akhirnya diriku di layar TV berbicara.

"Menurutku dia orang yang sangat baik, tapi ada juga sisi kejam dalam dirinya yang membuat orang terkejut.

Ya, kurasa manusia pada umumnya memang seperti itu.” ”Bisa Anda memberi contoh apa yang dimaksud dengan sisi kejam itu?” ”Misalnya...” Aku lantas menggelengkan kepala.

"Tidak.

Selain karena aku tidak bisa mengingat dengan cepat, aku juga tidak ingin membahasnya saat ini juga.” Saat itu juga, peristiwa Hidaka yang membunuh kucing tetangga langsung muncul di benakku—tapi menurutku itu bukanlah cerita untuk dikonsumsi masyarakat umum.

Setelah beberapa pertanyaan yang terkesan agak vulgar, akhirnya sang reporter perempuan mengajukan pertanyaan khas, "Apakah ada yang ingin Anda sampaikan pada pelaku pembunuhan Hidaka-san?” ”Tidak ada,” jawabku.

Para reporter itu terlihat kecewa.

Setelah itu, pembawa acara di studio mulai membahas tentang aktivitas Hidaka sebagai penulis.

Di balik beragam dunia yang digambarkan dalam novel-novelnya, ternyata sang penulis memiliki hubungan antarmanusia yang rumit, mungkinkah peristiwa ini juga disebabkan oleh hal itu? Sepertinya si pembawa acara memang ingin mengarahkannya ke sana.

Kemudian dia membahas tentang Daerah Bebas Perburuan, yaitu novel yang menyebabkan Hidaka terlibat masalah karena protes yang dilayangkan pihak keluarga almarhum pria yang menjadi model karakter utama.

Rupanya mereka belum mengetahui bahwa kemarin salah seorang anggota keluarga, Fujio Miyako, telah datang ke rumah Hidaka.

Selain si pembawa acara, para artis yang hadir di acara itu sebagai tamu juga mulai membicarakan kematian Hidaka dengan seenaknya.

Merasa jijik, aku mematikan TV.

Dalam kasus-kasus besar, umumnya NHK-lah yang akan pertama kali mendapatkan informasi.

Sayangnya kematian Hidaka bukan sesuatu yang sanggup mendorong stasiun siaran nasional untuk menayangkannya dalam program spesial.

Telepon berdering—entah untuk keberapa kalinya hari ini.

Khawatir ini soal pekerjaan, aku langsung mengangkatnya kendati sejauh ini telepon yang masuk semuanya berasal dari media massa.

”Di sini Nonoguchi,” kataku sedikit tidak sabar.

”Halo, di sini Hidaka.” Tidak salah lagi, suara bernada tegar itu milik Rie-san.

”Oh, halo.” Sesaat aku tidak tahu harus berkata apa.

”Bagaimana keadaanmu sejak hari itu?” Memang pertanyaan yang aneh, tapi apa boleh buat.

”Kemarin aku menginap di rumah orangtuaku.

Sebenarnya banyak yang harus kuhubungi, tapi aku benar-benar tidak punya tenaga untuk melakukannya.” ”Begitu.

Sekarang kau di mana?” ”Di rumah.

Tadi pagi polisi menelepon dan bilang mereka ingin mendengar ceritaku sekaligus melihat TKP.” ”Apa sudah selesai?” ”Sudah.

Tapi masih ada polisi yang berjaga di sana.” ”Dan media massa juga ikut heboh.” ”Memang, tapi aku merasa tertolong karena pihak penerbit dan orang-orang TV yang mengenal suamiku datang untuk memberikan dukungan.” ”Rupanya begitu.” Sebenarnya aku ingin menyampaikan bahwa aku turut senang, tapi kutarik kembali kata-kata itu.

Rasanya bukan kalimat yang cocok untuk seseorang yang suaminya baru meninggal semalam.

”Nonoguchi-san, pasti kau kerepotan karena terus didesak oleh orang-orang stasiun TV, kan? Aku memang tidak menyaksikannya sendiri, tapi akhinya kuputuskan meneleponmu untuk minta maaf setelah diberitahu oleh pihak penerbit.” ”Aku baik-baik saja, kau tak usah cemas.

Tapi memang ada liputan yang bagiku terasa kasar.” ”Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Ucapannya sangat tulus.

Aku sungguh menghormati kekuatan mentalnya yang masih memikirkan kepentingan orang lain sementara saat ini dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia.

Dia memang wanita yang tegar....

Begitu pikirku.

”Jika ada yang bisa kubantu, jangan segan-segan memintanya.” ”Terima kasih, tapi orangtua suamiku dan ibuku sudah ada di sini.

Aku akan baik-baik saja.” ”Baiklah.” Aku ingat Hidaka punya kakak laki-laki yang usianya selisih dua tahun, saat ini ibu mereka yang sudah tua tinggal bersama dia dan istrinya.

"Pokoknya beritahu saja kalau ada yang bisa kulakukan.” ”Terima kasih banyak.

Kalau begitu aku mohon diri.” ”Terima kasih sudah mau menelepon.” Setelah telepon ditutup, untuk sesaat aku memikirkan Riesan.

Bagaimana kehidupannya nanti? Dia masih muda, dan kudengar keluarganya hidup berkecukupan berkat bisnis pengangkutan barang, jadi setidaknya dia tidak akan mengalami kesulitan biaya hidup.

Mungkin dia akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk pulih dari syok, apalagi pernikahannya baru berjalan sebulan.

Dulu, Rie-san tidak lebih dari penggemar berat novel karya Hidaka.

Pada suatu hari, dia berhasil bertemu dengan si pengarang karena urusan pekerjaan dan sejak itu mereka mulai berpacaran.

Peristiwa semalam telah membuatnya kehilangan dua orang sekaligus: yang satu adalah suami, dan yang satu lagi adalah Hidaka Kunihiko sang pengarang.

Aku masih merenungkan hal itu ketika telepon kembali berdering.

Jika itu permintaan untuk tampil di variety show, aku akan langsung menolak.

, Detektif Kaga tiba di apartemenku pukul 18.00 lebih sedikit.

Begitu bel berbunyi, aku mengintip dari balik pintu sambil menggerutu karena mengira yang datang adalah wartawan.

Ternyata bukan wartawan, melainkan Detektif Kaga.

Dia tidak datang sendiri, didampingi polisi bernama Makimura yang sepertinya agak lebih muda darinya.

”Saya mohon maaf, tapi ada dua-tiga pertanyaan yang ingin saya ajukan.” ”?Aku sudah menduganya.

Masuklah.” Tapi Detektif Kaga tidak memperlihatkan gelagat untuk melepas sepatunya dan malah bertanya, "Anda sudah makan?” ”Belum.

Aku memang sedang berpikir sebaiknya makan apa.” ”Bagaimana kalau kita makan di luar? Sebenarnya saya sendiri juga belum makan karena sibuk mengumpulkan informasi.

Benar, bukan?” kata Detektif Kaga seperti meminta persetujuan Detektif Makimura.

Detektif Makimura tersenyum kecut.

”Oh, baiklah.

Jadi kalian mau makan apa? Aku tahu restoran yang menjual tonkatsu enak.

Bagaimana?” ”Apa saja boleh,” ujar Detektif Kaga.

Kemudian, seperti baru teringat akan sesuatu, dia menunjuk ke belakang.

"Di depan sana ada restoran keluarga, kan? Apakah restoran itu yang dikunjungi Sensei semalam?” ”Benar.

Apa kau ingin makan di sana?” ”Kalau Anda tidak keberatan.

Jaraknya lebih dekat dan mereka juga menyediakan kopi isi ulang.” ”Ide bagus.” Detektif Makimura setuju.

”Tidak masalah.

Aku siap-siap dulu.” Sementara mereka menungguku berganti pakaian, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa Kaga-kun mengajakku ke restoran itu.

Apakah ada alasan tertentu? Atau—seperti yang dikatakannya—hanya karena jaraknya lebih dekat dan menyediakan kopi isi ulang? Jawabannya masih juga belum kutemukan saat aku keluar dari kamar.

Setibanya di restoran, aku memesan ebi doriaf, sementara Detektif Kaga dan Detektif Makimura masing-masing memesan menu set hamburger dan steik domba.

”Soal novel itu...” Detektif Kaga mulai membuka topik pembicaraan.

"Maksud saya novel yang disimpan di komputer Hidaka-san.

Gerbang Es.” ”?Aku tahu.

Kemarin kaubilang akan menyelidiki apakah itu novel yang baru saja ditulisnya atau dia memang sedang mengecek bagian yang sudah diterbitkan.

Bagaimana hasilnya?” ”Ternyata itu memang bagian yang ditulis semalam.

Saya sempat menanyakannya pada orang yang bertanggung jawab $ Hidangan nasi pilaf dengan potongan udang dan ayam yang diberi saus putih dan keju.

di Penerbit Someishas menurutnya bagian itu memang sambungan dari naskah yang sudah diterbitkan.” ”Jadi dia sedang berusaha keras menyelesaikan naskah itu sesaat sebelum dibunuh.” Aku yakin Hidaka berusaha matimatian menyelesaikannya karena sebentar lagi dia akan berangkat ke Kanada.

Dalam situasi normal, dia pasti akan mencari alasan dan tetap bersikap santai walau itu berarti membuat editornya harus menunggu.

”Tapi ada sesuatu yang agak ganjil.” Detektif Kaga sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, siku kanannya bertumpu di meja.

”Maksudnya ganjil?” ”? Jumlah halamannya.

Sejauh ini dia telah menulis empat ratus huruf, itu sama dengan 27 lembar genk6o yoshi.

Anggaplah dia baru mulai menulis setelah Fujio-san pulang, yaitu pukul 17.00 lebih sedikit, tetap saja menurut saya jumlah itu terlalu banyak, apalagi Nonoguchi-sensei sendiri yang bilang bahwa kecepatan menulis Hidaka-san itu sekitar empat sampai enam lembar dalam sejam.” ”Dua puluh tujuh lembar? Banyak sekali.” Aku sampai di rumah Hidaka pada pukul 20.00, jika sebelum itu dia memang masih hidup, setidaknya dalam waktu satu jam dia bisa menulis sembilan lembar.

Artinya,” kataku lagi.

"Ada kemungkinan dia berbohong.” ”Berbohong?” ”Mungkin kemarin siang sebenarnya dia sudah berhasil menulis sepuluh sampai dua puluh lembar, tapi malah berlagak belum menulis selembar pun.” ”Pihak penerbit juga berpendapat demikian.” ”Benar, kan?” Aku mengangguk.

”Masalahnya saat Nyonya Rie meninggalkan rumah, Hidakasan berpesan mungkin dia baru akan tiba di hotel tengah malam.

Tapi nyatanya sampai pukul 20.00 dia berhasil menulis 27 lembar naskah.

Satu episode novel Gerbang Es terdiri atas tiga puluh lembar—yang artinya dia sudah hampir menyelesaikannya.

Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika dia terlambat, tapi apakah sebelumnya dia pernah berhasil menyelesaikan naskah lebih cepat dari rencana awal?” ”Kurasa tidak.

Menulis itu bukan pekerjaan yang bersifat mekanis, jadi saat ide tidak muncul, bisa saja si penulis hanya bisa duduk menghadap meja selama berjam-jam tanpa menulis selembar pun.

Sebaliknya, dia bisa menulis secepat kilat begitu ide muncul.” ”Apa Hidaka-san juga pernah mengalami hal seperti itu?” ”Pasti pernah.

Hampir semua penulis mengalaminya.” ”Begitu, ya.

Memang sulit bagi orang biasa seperti saya untuk membayangkannya.” Posisi tubuh Detektif Kaga kembali seperti semula.

”Aku tidak mengerti kenapa kita harus meributkan jumlah lembaran naskah.” Aku berkomentar.

”Kupikir dia memang belum mulai menulis saat Rie-san pergi, tapi ternyata cerita itu sudah rampung saat mayatnya ditemukan.

Itu berarti dia mengerjakannya selama rentang waktu sebelum terbunuh.

Sesederhana itu.” ”Itu mungkin saja.” Detektif Kaga mengangguk, namun sepertinya dia belum yakin.

Seorang detektif memang tidak akan puas jika belum menyelidiki sesuatu hingga ke akar-akarnya, bahkan jika itu hanya sesuatu yang remeh.

Begitu pikirku sambil mengamati sosok yang pernah menjadi juniorku saat masih menjadi guru itu.

Pembicaraan terhenti sesaat saat pelayan membawakan makanan pesanan kami.

” Bagaimana kondisi jenazah Hidaka?” Aku mencoba bertanya.

”Waktu itu kaubilang akan dilakukan autopsi.” ” Autopsi sudah dilaksanakan hari ini.” Detektif Kaga menoleh kepada Detektif Makimura.

"Kau menyaksikannya, kan?” ”Bukan aku.

Mana mungkin sekarang aku bisa makan kalau tadi hadir di sana.” Sambil mengerutkan kening, Detektif Makimura menusuk hamburger dengan garpu.

”Benar juga.” Detektif Kaga tersenyum kecut, lalu bertanya padaku, ”Apa yang ingin Anda ketahui soal autopsi itu?” ”Ah, tidak ada.

Aku hanya berpikir apakah waktu perkiraan kematiannya sudah dipastikan.” Saya sendiri juga belum melihat laporan itu secara detail, tapi seharusnya memang sudah pasti.” "Jadi itu sudah positif?” ”? Kami menetapkannya setelah melakukan beberapa evaluasi, misalnya...” Mendadak dia menggelengkan kepala.

"Lebih baik tidak usah dibahas.” ”Kenapa?” ”Supaya ebi doria pesanan Sensei tidak terasa pahit.” Detektif Kaga menunjuk piringku.

”Baiklah.” Aku mengangguk.

"Aku tidak akan bertanya lagi.” Selama makan, Detektif Kaga malah bertanya tentang novel anak-anak yang rencananya akan kutulis alih-alih membahas kasus pembunuhan itu.

Dia juga menanyakan jenis bacaan apa yang akhir-akhir ini populer dan pendapatku tentang orang yang tidak suka membaca buku.

Aku menjelaskan bahwa buku baru akan laris jika masuk daftar rekomendasi Kementerian Pendidikan: juga tentang betapa kuatnya pengaruh orangtua pada kebiasaan membaca.

"Biasanya orangtua masa kini hanya bisa mengharuskan anak-anaknya untuk membaca, padahal mereka sendiri tidak suka membaca.

Aku sendiri tidak paham bagaimana seseorang yang tidak punya kebiasaan membaca bisa memberi saran pada anaknya tentang buku apa yang bisa mereka baca.

Akibatnya, pihak pemerintahlah yang harus mengeluarkan rekomendasi, hanya saja anak-anak malah akan membenci buku jika ceritanya tidak menarik.

Hal seperti itu terus terulang bagaikan lingkaran setan.” Kedua detektif itu menyimak penjelasanku dengan serius sambil menyantap steik—walau aku tidak tahu seberapa serius mereka.

Berhubung mereka memesan menu set, kopi baru dihidangkan di saat terakhir.

Aku sendiri memesan susu panas sebagai tambahan.

”Anda pasti ingin merokok.” Detektif Kaga menyodorkan asbak.

”Tidak, terima kasih.” Aku menolak tawarannya.

”Ah, Anda sudah berhenti merokok?” ”Ya, sejak setahun lalu.

Dokter menyuruhku berhenti karena tidak baik untuk kesehatan perut.” ”?Oh, baiklah.

Padahal tadi kita bisa duduk di ruang bebas rokok.” Detektif Kaga menarik kembali asbak tadi.

”Selarna ini saya selalu menganggap citra seorang penulis identik dengan rokok.

Sepertinya Hidaka-san perokok berat, ya.” ”Sangat benar.

Setiap kali dia sedang bekerja, kondisi ruangan itu selalu seperti sedang mengalami proses pengasapan untuk mengusir serangga.” ”Bagaimana kondisi ruangan itu saat Anda menemukan mayatnya? Apakah ada sisa asap rokok?” ”?Hmm, sebentar.

Soalnya waktu itu aku sempat terguncang.” Aku meneguk susu sambil berpikir.

”Kalau tidak salah memang ada sisa asap rokok.

Ya, seingatku begitu.” ”Baiklah.” Detektif Kaga juga meminum kopinya, lalu perlahanlahan mengeluarkan buku catatan.

"Ada satu hal lagi yang ingin saya pastikan.

Soal kepergian Sensei ke rumah Hidaka pada pukul 20.00.” "Ya." ”Nonoguchi-sensei menekan tombol interphone setibanya di sana, tapi tidak ada jawaban.

Lalu karena melihat lampu rumah dalam keadaan padam, Anda menelepon Nyonya Rie yang sedang menginap di hotel.” ”Itu betul.” ”Ini soal lampu rumah.” Detektif Kaga menatapku luruslurus.

"Apakah semuanya benar-benar padam?” "Semuanya padam.

Tidak salah lagi.” Aku balas menatapnya.

”Tapi jendela ruang kerja itu tidak terlihat dari arah gerbang.

Apakah saat itu Anda memutari taman?” ”Tidak.

Tapi aku memang menjulurkan kepala sedikit dari gerbang, makanya aku tahu lampu ruang kerja padam.” "Saya mengerti.” Detektif Kaga masih agak ragu.

”Ada sebatang pohon yaezakura berukuran besar tepat sebelum jendela ruang kerja.

Bunganya akan terlihat jelas jika lampu ruangan menyala.” ”Ah, rupanya begitu.” Detektif Kaga bertukar pandang dengan Detektif Makimura.

"Sekarang baru saya mengerti.” ”Apakah itu sesuatu yang sangat penting?” ”Tidak.

Anggap saja saya hanya ingin memastikannya.

Atasan kami akan marah jika ada bagian dari laporan yang tidak jelas.” ”Wah, dia orangnya tegas juga, ya.” ”?Sama saja dengan profesi apa pun.” Senyum Detektif Kaga mengingatkanku saat dia masih mengajar di sekolah.

”Hmm, bagaimana dengan penyelidikan sejauh ini? Ada sesuatu yang berhasil ditemukan?” Aku menatap kedua detektif itu bergantian sebelum akhirnya pandanganku tertuju pada Detektif Kaga.

”Kami baru saja memulainya,” kata Detektif Kaga dengan pelan.

Pasti dia tidak berani bicara terang-terangan karena dilarang membahas soal penyidikan.

”Berita di TV mengatakan ada kemungkinan kejadian ini adalah pembunuhan acak.

Dengan kata lain, awalnya si pelaku hanya berniat mencuri, tapi sialnya Hidaka ada di ruangan itu.

Akibatnya dia langsung membunuhnya,” kataku.

”Kemungkinan untuk itu memang bukannya sama sekali tidak ada.” ”Apakah ide itu tidak terlalu berlebihan?” komentar Detektif Makimura.

”Kau benar.” Detektif Kaga menatap polisi junior yang duduk di sebelahnya dengan penasaran.

"Secara pribadi, saya juga menganggap kemungkinan itu hanya sedikit.” ”Kenapa?” ”Andai benar yang diincarnya adalah rumah kosong, pasti dia akan menyelinap dari pintu depan supaya bisa langsung berbalik arah dan kabur jika sampai ketahuan.

Tapi seperti kita ketahui, pintu depan itu dalam keadaan terkunci.” ”Mungkinkah si pelaku memang sengaja menguncinya?” ”Ada tiga kunci di rumah Hidaka: dua dipegang oleh Nyonya Rie, sedangkan sisanya ada di saku celana Hidaka-san.” ”Tapi bisa saja kan ada maling yang keluar-masuk lewat jendela?” Aku membantah.

”Ada, tapi itu termasuk jenis kejahatan yang dilakukan dengan perhitungan matang.

Sebelum bertindak, dia akan menyelidiki dan memastikan dulu kapan penghuni rumah pergi, misainya dengan mengamati dari jalan.” ”Mungkin karena dia tidak punya waktu?” Tapi...” Detektif Kaga tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih.

”Jika dia lebih dulu menyelidiki, dia pasti tahu bahwa nyaris tidak ada barang lagi di rumah itu.” ”Ah!” Aku ternganga.

"Kau benar,” kataku sambil menatap kedua detektif itu.

Detektif Makimura tersenyum tipis.

Saya...” Ragu-ragu, Detektif Kaga menghentikan kalimatnya.

Kemudian dengan nada suara yang berubah, dia melanjutkan, ”Karena itulah saya rasa ini adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang yang dikenal korban.” ”Wow, kali ini kau lebih berterus-terang.” ”Sampai di sini saja yang bisa saya sampaikan.” Detektif Kaga meletakkan telunjuknya di bibir.

”Aku mengerti.” Aku mengangguk.

Detektif Kaga melirik penuh arti pada rekannya yang masih muda.

Detektif Makimura lantas bangkit sambil membawa kartu untuk membayar.

”Ah, jangan! Biar aku yang...” "Tidak apa-apa.” Detektif Kaga mencegahku "Lagi pula kami yang mengundang Anda.” ”Tapi apakah ini termasuk dalam biaya penyelidikan?” ”Tidak, karena ini hanya makan malam sederhana.” ”Maaf, ya.” ”Tidak perlu dipikirkan.” ”Tapi..” Aku menatap ke arah kasir.

Detektif Makimura sedang membayar tagihan makan kami.

Tidak lama kemudian, aku menyadari ada sesuatu yang agak aneh.

Detektif itu tampak sedang berbicara dengan gadis yang bertugas di kasir.

Gadis itu melihat ke arahku dan mengatakan sesuatu pada Detektif Makimura.

”Saya minta maaf.” Detektif Kaga menoleh padaku tanpa melihat ke arah meja kasir.

Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.

"Saya yang memintanya untuk menyelidiki alibi.” ”Maksudmu alibiku?” ”Betul.” Dia mengangguk kecil.

"Sebelumnya kami sudah meminta keterangan Oshima-san dari Penerbit Dojisha, tapi sudah menjadi tugas polisi untuk meminta keterangan dari semua orang.

Sekali lagi saya mohon maaf.” ” Jadi alasanmu mengajakku ke restoran ini...” ”Karena kita akan dilayani pelayan lain bila datang di jam berbeda.” ”Pantas saja....” Jauh di lubuk hati aku merasa terkesan.

Detektif Makimura kembali ke meja.

”Apa jumlahnya sudah tepat?” Detektif Kaga bertanya.

”Ya, semuanya cocok.” ”Baguslah kalau begitu.” Detektif Kaga menatapku dan tersenyum sekilas.

Ternyata Detektif Kaga menunjukkan ketertarikan luar biasa pada rencanaku untuk mendokumentasikan kasus pembunuhan tersebut.

Waktu itu kami sudah meninggalkan restoran dan berjalan kaki menuju apartemenku.

Seharusnya pertemuan kami hanya sampai di depan gedung apartemen, seandainya aku tidak membeberkan rencana itu.

"Anggap saja ini naluri seorang penulis, tapi aku sedang menulis tentang kasus pembunuhan ini.

Bagiku ini adalah pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.” Detektif Kaga terdiam sejenak, lalu bertanya, "Apakah saya diizinkan untuk membacanya?” ”Eh? Membiarkanmu membacanya? Bagaimana, ya...

Tapi ini bukan jenis tulisan yang akan kuperlihatkan pada orang lain.” ”Saya mohon.” Detektif Kaga membungkukkan badan, diikuti Detektif Makimura.

”Hentikan.

Aku malah jadi malu kalian memperlakukanku seperti itu di pinggir jalan.

Lagi pula aku kan baru bilang aku sedang menulisnya.” ”Kami tidak keberatan menunggu.” ”Huh, aku ini memang gampang terbujuk.” Aku menggarukgaruk kepala sambil menghela napas.

"Ya sudah, kalian ikut saja ke apartemen.

Saat ini aku masih menggunakan word processor untuk menulis, jadi kalian harus menunggu sementara aku mencetaknya.” "Dengan senang hati,” kata Detektif Kaga.

Kedua detektif itu ikut masuk ke apartemen.

Aku sedang mencetak lembaran naskah saat Detektif Kaga menghampiri dan ikut memperhatikan.

” Jadi ini yang namanya mesin word processor?” ”Betul.” "Sedangkan yang ada di ruang kerja Hidaka-san adalah komputer.” ”Karena dia itu tipe orang yang selalu penasaran.

Selain untuk menulis, dia juga memakai komputer itu untuk main gim dan hal-hal lainnya.” ”Kenapa tidak memakai komputer saja, Nonoguchi-sensei?” ”Bagiku alat ini sudah cukup.” ”Apakah pihak penerbit selalu mengirim orang untuk mengambil naskah Anda?” ”Tidak, biasanya aku mengirimkannya lewat faks.

Ada di sana.” Aku menunjuk ke arah faksimili yang ada di sudut ruangan.

Mesin itu terhubung dengan telepon nirkabel karena hanya ada satu saluran telepon.

”Tapi kemarin dia datang.” Detektif Kaga mengangkat wajah.

Aku merasa seperti melihat kilatan penuh arti di matanya.

Si pelaku adalah orang yang dikenal korban...

Aku lantas teringat ucapannya beberapa saat lalu.

”Kemarin dia datang menemuiku langsung karena ingin mendiskusikan beberapa hal.” Detektif Kaga hanya mengangguk diam mendengar jawabanku.

Dia tidak bertanya apa-apa lagi.

Sebelum menyerahkan naskah yang sudah selesai dicetak pada Detektif Kaga, aku berkata, "Sebenarnya memang ada yang kusembunyikan.” ”Anda yakin?” Detektif Kaga sepertinya nyaris tidak terkejut.

”Nanti kau akan mengerti setelah membaca tulisan ini.

Menurutku tidak ada hubungannya dengan pembunuhan itu, tapi aku tidak ingin disangka menuduh orang lain.” Yang kumaksud adalah perbuatan Hidaka yang membunuh kucing tetangga.

”Baik.

Saya mengerti.” Setelah menerima lembaran-lembaran tulisanku, kedua detektif itu berkali-kali mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pulang.

Nah.

Kini kedua detektif itu sudah pergi.

Aku pun langsung mulai menulis bagian untuk hari ini, dengan kata lain kelanjutan dari naskah yang tadi kuberikan pada mereka.

Aku tidak tahu apakah Detektif Kaga masih ingin membacanya, tapi yang jelas aku memang berniat untuk terus melanjutkan tulisan ini.

Jika tidak, semua tidak akan ada artinya.

.

Dua hari kemudian, upacara pemakaman Hidaka Kunihiko diadakan di lokasi yang berjarak beberapa kilometer dari apartemenku.

Banyaknya orang dari dunia penerbitan yang hadir membuat kami harus mengantre untuk menyalakan dupa.

Para kru stasiun TV juga berdatangan.

Kendati para staf dan reporter itu memasang wajah serius, aku tahu sudut mata mereka bergerak ke segala penjuru bagaikan ular demi merekam adegan-adegan dramatis.

Begitu ada pelayat yang sedikit saja meneteskan air mata, kamera akan langsung tertuju padanya.

Setelah selesai membakar dupa, aku berdiri di samping tenda penerima tamu dan mengamati para pelayat yang datang.

Tampak juga beberapa selebritas.

Aku ingat merekalah yang berperan dalam film yang diangkat dari karya Hidaka.

Acara membakar dupa berakhir, dilanjutkan dengan pembaCaan sutra dan sambutan dari pemimpin upacara pemakaman.

Rie-san yang berpakaian hitam-hitam menggenggam juzu' eraterat—tampaknya pikirannya masih belum bisa lepas dari almarhum suaminya— sementara dia berkali-kali membungkuk menerima ucapan duka cita dari para pelayat.

Terdengar isak tangis dari berbagai penjuru ruangan yang sunyi itu.

Saat berpidato, sampai akhir pidato Rie-san tidak sekalipun mengucapkan kata-kata kebencian pada si pelaku pembunuhan, tampaknya itulah caranya mengekspresikan kemarahan dan kesedihan.

Peti jenazah diangkat.

Para pelayat mulai meninggalkan ruangan saat aku melihat sosok yang sama sekali tidak kusangka.

Wanita itu sedang berjalan seorang diri.

Aku memanggilnya saat dia hendak meninggalkan kuil.

”Fujio-san!” Fujio Miyako menghentikan langkahnya dan menoleh.

Rambut panjangnya bergerak menyerupai gelombang.

”Anda...” ”Kemarin kita bertemu di ruang kerja Hidaka.” "Ya, saya ingat.” ”Nama saya Nonoguchi, sahabat Hidaka.

Dulu saya juga pernah satu kelas dengan kakak Anda.” ”Benar.

Hari itu Hidaka-san sempat memberitahu saya.” ”Bolehkah saya minta waktu untuk bicara sebentar?” Perempuan itu melihat arlojinya, lalu menatap ke kejauhan.

”Saya sedang menunggu seseorang.” Aku mengikuti arah pandangannya.

Mobil station wagon hijau muda mendekat dan berhenti di tepi jalan.

Aku langsung  Sejenis rosario yang digunakan dalam upacara pemakaman di Jepang.

paham begitu melihat pria muda yang duduk di kursi pengemudi menatap kami.

"Suami Anda?” ”Bukan.” Aku yakin pria itu adalah kekasihnya.

”Kalau begitu kita bicara di sini saja.

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.” ”Soal apa itu?” ”Apa yang Anda bicarakan dengan Hidaka di hari kejadian?” ”Masih sama seperti yang dulu.

Saya minta dia mempertimbangkan kemungkinan menarik novel itu dari peredaran, juga meminta maaf di muka umum dan menulis ulang buku itu supaya Kakak saya tidak dikaitkan dengan si tokoh utama.

Mendengar dia akan pergi ke Kanada, saya ingin memastikan apakah dia masih berniat untuk menyelesaikan masalah ini.” ”Bagaimana reaksi Hidaka?” ”Dia memang masih berniat untuk menyelesaikannya, tapi di lain pihak dia juga mengatakan tidak bisa mengubah prinsip.” ”Berarti kalian gagal mencapai kesepakatan?” ”Menurutnya, dia memang tidak suka menelanjangi rahasia orang lain, tapi dia tetap akan melakukannya sampai batas tertentu deni menciptakan karya bermutu tinggi—walau itu berarti mengusik privasi seseorang.” ”Tapi Anda tidak setuju, kan?” ”Tentu saja tidak.” Bibirnya berkerut sedikit, namun masih jauh untuk disebut senyum.

"Jadi hari itu negosiasi kalian gagal?” ”Dia berjanji akan menelepon saya setibanya di Kanada untuk melanjutkan negosiasi karena saat itu dia masih sibuk, saya akhirnya setuju karena percuma saja melanjutkan pembicaraan.” Kurasa saat itu Hidaka sendiri tidak bisa mengatakan apaapa lagi.

”Setelah itu Anda langsung pulang ke rumah?” ”Saya? Ya, saya langsung pulang.” ”Tidak singgah ke tempat lain?” ”Tidak.” Fujio Miyako menggeleng, lalu bola matanya membelalak lebar.

"Jangan-jangan Anda sedang mengecek alibi saya?” ”Tidak, bukan begitu.” Aku menundukkan kepala sambil mengusap-usap bagian bawah hidung.

Jujur saja, aku sendiri pasti juga akan merasa janggal bila ada yang mengatakan ini bukan proses pengecekan alibi.

Fujio Miyako menghela napas.

"Kemarin polisi sudah menanyai saya dan sekarang Anda menanyakan hal yang sama.

Tidak, sebenarnya pertanyaan mereka justru sedikit lebih terangterangan, misalnya apakah saya membenci Hidaka-san, dan sebagainya.” ”Hahaha.” Aku balas menatapnya.

”Lalu apa jawaban Anda?” ”Saya bilang saya tidak membencinya, dan kedatangan saya ini hanya karena ingin menghormati seseorang yang meninggal.” ”Soal novel Daerah Bebas Perburuan,” lanjutku.

"Apakah Anda sungguh-sungguh membenci novel itu? Apakah isinya memang menodai reputasi kakak Anda?” ”Setiap orang pasti menyimpan rahasia, dan seharusnya mereka juga berhak untuk tetap menyimpan rahasia itu, termasuk yang sudah meninggal.” "Bagaimana jika ada yang menganggap rahasia itu begitu mengharukan hingga ingin masyarakat mengetahuinya? Apakah itu salah?” ”Mengharukan?” Miyako menatapku dengan cermat, lalu perlahan-lahan menggelengkan kepala.

"Apanya yang mengharukan dari kisah anak SMP yang menyiksa gadis kecil?” ”Dalam beberapa kasus, ada juga yang terpaksa menuliskannya untuk latar cerita yang mengesankan.” Miyako kembali menghela napas.

Kali ini dia terang-terangan melemparkan tatapan menuduh padaku.

”Nonoguchi-san, Anda juga menulis novel, bukan?” ”Ya.

Novel untuk anak-anak.” ” Mengapa Anda begitu ngotot membela Hidaka-san? Janganjangan karena Anda juga penulis?” Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, ”Mungkin begitu.” ”Sungguh profesi yang mengerikan.” Miyako melihat arlojinya.

”Maaf, saya terburu-buru.” Dia memutar tubuh dan berjalan menuju mobil yang sudah menanti.

Aku tiba di apartemen dan menemukan secarik kertas di kotak pos.

”Sekarang saya ada di restoran yang kemarin.

Tolong telepon.

Kaga.” Aku berganti pakaian dan langsung pergi ke restoran tanpa lebih dulu menelepon.

Detektif Kaga sedang duduk di kursi dekat jendela sambil membaca buku.

Aku tidak bisa melihat apa judulnya karena buku itu tertutup sampul yang diberikan sebagai bonus dari toko buku.

Begitu melihatku, dia langsung bangkit dari kursi.

Buru-buru aku mencegahnya.

"Tidak usah.

Kau duduk saja.” ”Maaf, saya tahu Anda pasti lelah,” katanya sambil membungkuk.

Sepertinya dia tahu hari ini aku menghadiri upacara pemakaman Hidaka.

Aku duduk setelah sebelumnya memesan susu panas.

”Aku tahu apa maksudmu.

Ini, bukan?” Kukeluarkan sehelai kertas yang dalam keadaan terlipat dari saku baju, lalu kuletakkan di depannya.

Bagian naskah yang kutulis kemarin.

Aku sempat mencetaknya sebelum meninggalkan rumah.

”Terima kasih.

Ini sangat membantu.” Detektif Kaga menjulurkan tangan untuk mengambilnya.

”Maaf, tapi aku tidak ingin kau membacanya di sini.

Kalau kau sudah membaca bagian yang kemarin, kau pasti tahu aku juga menulis tentang dirimu.

Bagiku itu memalukan.” Dia tersenyum.

"Baiklah kalau begitu.” Dia kembali melipat kertas itu, kemudian diselipkan di saku kemejanya.

Aku meneguk air putih lalu bertanya, "Nah, bagaimana? Apakah ada sedikit informasi yang kauperoleh dari tulisanku?” ”Ada.” Detektif Kaga langsung menjawab.

"Nuansa kasus yang sulit dimengerti hanya dengan berdasarkan keterangan lisan menjadi jauh lebih mudah dipahami dalam bentuk tertulis.

Saya akan berterima kasih sekali jika para saksi dalam kasus lain juga bisa menuliskannya seperti ini.” ”Baguslah kalau begitu.” Pelayan datang membawakan pesananku.

Aku menggunakan sendok untuk menyingkirkan lemak tipis yang terapung di permukaan susu.

”Apa pendapatmu tentang insiden kucing itu?” Aku bertanya.

"Sangat terkejut,” jawab Detektif Kaga.

"Saya sudah sering mendengar tentang kucing yang suka merusak, tapi belum pernah ada yang sampai melakukan perbuatan sejauh itu.” ”Kau akan menyelidiki pemiliknya?” ”Sudah saya laporkan pada atasan.

Beliau mengirimkan orang lain untuk menyelidikinya.” ?Oh.” Aku meneguk susu.

Aku sedikit gundah karena perbuatanku itu terkesan seperti mengadu.

"Mengenai bagian yang lain, kurasa sama saja dengan yang sudah kuceritakan pada kalian.” ”Betul.” Dia mengangguk.

"Tapi ada beberapa detail yang sangat berguna sebagai referensi.” ”Wah, ternyata ada yang seperti itu?” ”Misalnya bagian saat Anda sedang berbincang dengan Hidaka-san di ruang kerja dan saat itu dia sempat merokok sebatang.

Tanpa tulisan Anda, kami tidak akan mengetahui hal itu.” "Sebenarnya aku tidak tahu apakah hanya sebatang, bisa saja dua.

Yang jelas aku menuliskannya karena ingat saat itu dia memang merokok.” ”Sebenarnya memang hanya sebatang,” Detektif Kaga mengoreksi.

"Tidak ada keraguan lagi.” ”Hmm....” Sebenarnya aku tidak mengerti apa kaitannya dengan kasus tersebut, tapi mungkin polisi memang memiliki pola pikir yang unik.

Aku menceritakan pembicaraanku dengan Fujio Miyako setelah acara pemakaman usai pada Detektif Kaga.

Dia tampak sangat tertarik.

”Sayang aku tak sempat menanyainya lebih jauh.

Aku penasaran apakah dia memiliki alibi.” ”Polisi lain sudah menyelidikinya.

Sepertinya dia memiliki alibi.” ”Begitu? Berarti aku tidak perlu memikirkannya lagi.” ” Jadi Anda mencurigainya, Sensei?” ”Tidak bisa dibilang curiga, sih.

Hanya saja jika mencari seseorang yang memiliki motif, dialah yang muncul pertama kali di benakku.” ”Maksud Anda tentang pelanggaran privasi anggota keluarganya? Tapi membunuh Hidaka-san tidak akan menyelesaikan masalah.” ”Bisa jadi amarahnya meledak karena Hidaka tidak bersedia memenuhi permintaannya sehingga dia melakukan perbuatan itu.” ”Hidaka-san masih hidup saat Fujio-san meninggalkan rumahnya.” ?Mungkin dia sempat pergi sebentar, lalu kembali lagi.” ”Dengan niat membunuh?” ”Ya.” Aku mengangguk.

"Dengan niat membunuh.” ”Tapi saat itu Nyonya Rie masih ada di rumah.” ”Bagaimana kalau dia menunggu sampai Rie-san pergi, baru menyelinap masuk?” ”Apakah Fujio Miyako-san tahu Nyonya Rie akan pergi?” ?Mungkin dia mengetahuinya dari percakapannya dengan Hidaka.” Detektif Kaga menyatukan jemarinya di atas meja.

Dikaitkannya kedua ibu jarinya, yang kemudian dilepaskannya lagi.

Beberapa saat kemudian, baru dia bertanya, "Maksud Anda dia menyelinap dari pintu depan?” ”Tidak, saat itu pintu depan dalam keadaan terkunci.

Kurasa dia masuk lewat jendela.” "Seorang wanita muda yang mengenakan setelan rapi menyelinap lewat jendela...” Ekspresi wajahnya berubah.

”Dan Hidaka-san hanya melihatnya tanpa melakukan apa-apa?” ”Dia bisa menyelinap saat Hidaka sedang ke kamar mandi.

Begitu dia kembali, perempuan itu bersembunyi di balik pintu.” ”Sambil menenteng pemberat kertas?” Detektif Kaga sedikit mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan.

”Ya.

Lalu Hidaka kembali ke ruangan.” Aku juga ikut mengangkat kepalan tangan kanan.

” Kemudian dihantamkannya pemberat kertas itu ke bagian belakang kepalanya.” ”Baik.

Setelah itu bagaimana?” ”Sebentar...” Aku mengingat-ingat kembali semua informasi yang kemarin kudengar dari Detektif Kaga.

"Dia mencekik leher Hidaka...

memakai kabel telepon.

Setelah itu baru dia melarikan diri.” ”Dari mana?” ”Tentu saja dari jendela.

Jika dia menggunakan pintu depan, seharusnya pintu itu tidak terkunci saat aku dan Rie-san tiba di sana.” ”Anda benar.” Detektif Kaga mengambil cangkir kopinya, lalu meletakkannya kembali saat menyadari isinya sudah kosong.

”Tapi mengapa dia tidak kabur lewat pintu depan?” ”Aku sendiri juga tidak begitu mengerti, tapi mungkin untuk menghindari publik? Itu adalah semacam sisi psikologis.

Hmm, tapi berhubung dia punya alibi, anggap saja penjelasan barusan sebagai imajinasiku.” ”Begitulah,” ujar Detektif Kaga.

"Dengan adanya alibi, semua yang saya dengarkan barusan hanya berdasarkan imajinasi Sensei semata.” Aku agak terperanjat mendengar komentarnya.

"Lupakan saja,” kataku kemudian.

”Tapi saya tetap akan menjadikannya bahan referensi karena ide Anda sangat menarik.

Bersediakah Anda membantu menganalisis satu hal lagi?” ”Sebenarnya aku tidak yakin bisa melakukannya, tapi akan kuusahakan.” ”Mengapa si pelaku mematikan lampu rumah?” ”Kau ini...” Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, "Supaya orang lain mengira penghuni rumah sedang pergi.

Selain itu dia juga bisa menunda waktu ditemukannya mayat karena jika ada yang datang, orang itu pasti akan memutuskan untuk pulang saja.

Sebenarnya memang aku sendiri menyangka rumah itu kosong karena lampunya padam.” ” Jadi menurut Anda si pelaku memang berniat supaya mayat itu tidak segera ditemukan.” ”Memang seperti itu kan sisi psikologis para pelaku kejahatan?” ”Nah,” kata Detektif Kaga.

"Mengapa komputer di ruangan itu dalam keadaan menyala?” ” Komputer?” ”Anda menulis bahwa saat Anda masuk ke ruang kerja, monitor komputer dalam keadaan terang.” ”Memang benar, tapi saya pikir wajar saja kalau komputer itu dibiarkan menyala.” ”Kemarin saya sempat mengadakan percobaan sederhana dengan mematikan lampu ruang kerja dan menyalakan monitor komputer.

Ternyata cahayanya cukup terang.

Seharusnya jika ada orang yang berdiri di depan jendela, dia pasti bisa melihat cahaya yang menembus tirai ruang kerja.

Pelaku pasti akan mematikan komputer jika ingin memberi kesan bahwa penghuni rumah sedang pergi.” ”Bagaimana kalau dia tak tahu cara mematikannya? Itu biasa terjadi pada orang-orang yang tidak pernah berurusan dengan komputer.” ”'Dia pasti bisa karena tinggal menekan tombol.

Sekalipun dia tidak tahu caranya, dia cukup mencabut kabel komputer.” ”Berarti dia memang ceroboh,” aku berkomentar.

Detektif Kaga menatapku, lalu mengangguk.

"Memang.

Mungkin itu suatu kecerobohan.” Aku memilih diam karena tidak ingin berkomentar lagi.

Detektif Kaga bangkit dari kursi sambil meminta maaf karena telah menyita waktuku.

"Anda akan menulis kelanjutan naskah untuk hari ini?” ”Niatku memang begitu.” ”Nanti saya akan membacanya.” ”Boleh saja.” Detektif Kaga berjalan ke arah kasir, tapi langkahnya terhenti.

”Apa menurut Anda saya tidak cocok menjadi guru?” tanyanya.

Aku memang menulis tentang hal itu di dalam naskah.

”Setiap orang punya pendapat masing-masing,” sahutku.

Dia mengalihkan tatapannya dariku, menghela napas panjang dan mulai berjalan.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di benak Kagakun.

Bila ada sesuatu yang diketahuinya, akan lebih baik jika dia menceritakannya padaku.