-->

4 Ways to Get a Wife Bab 13 : Di Dalam Cinta

Bab 13 : Di Dalam Cinta

Jung Won duduk dengan wajah serius di kursi taman di Hwaniwon. Sinar matahari hari itu memang cukup terik, namun udara di bawah bayangan pohon zelkova terasa sejuk. Meskipun berada di bawah langit biru yang cerah dan padang bunga liar yang indah, hatinya tetap terasa gelisah. Geon Hyeong belum menghubunginya lagi sejak kejadian hari itu. Apa 1a benar-benar sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa? Atau apa ada masalah lain lagi? Jung Won memainkan kalung yang dipasangkan oleh Geon Hyeong minggu lalu. Benar-benar cincin yang romantis dengan simbol wanita yang dicintainya. Ayah Geon Hyeong mencari istrinya sampai seperti orang gila. Meskipun banyak sesuatu yang tidak bisa dimengerti di dunia ini, Jung Won benar-benar tidak mengerti mengapa kedua orang yang masih saling mencintai itu harus berpisah.

Rahasia apa yang tersembunyi di antara mereka?

Terlepas dari rasa cinta ayahnya yang seorang playboy dan keinginan ibunya yang ceroboh, di mata Geon Hyeong, kedua orangtuanya itu tetap orangtua yang tidak benar-benar menyayangi anaknya sendiri. Ayahnya sclalu mengabaikannya, sementara ibunya menukar dirinya dengan uang. Namun, meskipun mereka telah berbuat seperti itu, alasan mengapa mereka tetap menjaga rahasia ini seumur hidup tetap menjadi pertanyaan. Mungkin suatu saat Geon Hyeong akan mengetahui jawabannya.

“Jung Won 552”

“Oh, Shin Hee ssi.”

Jung Won yang sedang melamun baru menyadari tatapan Shin Hee yang sejak tadi mecmandanginya. Shin Hee tetap terlihat cantik sempurna seperti biasanya. Wanita yang mengenakan terusan oranye dengan jaket pendek itu terlihat cocok dengan bunga-bunga liar yang indah di Hwaniwon. “Orang di kantin tadi menyuruhku mencarimu di rumah kaca atau di sini, ternyata benar kau ada di sini. Kalau kau ada di kebun buah, aku sudah ingin menyerah saja tadi.”

“Ada apa kau mencariku?”

“Tadi aku baru bertemu dengan bapak dekan. Mulai semester ini, aku akan mengajar di kampus ini. Tiba-tiba saja aku teringat padamu dan mampir menemuimu. Tidak apa-apa, kan?”

“Ah, iya.”

Jadi, sekarang wanita ini adalah dosen yang akan mengajar di kampus ini. Latar belakang keluarganya bagus, penampilannya menarik, dan ia juga ramah serta baik hati pada kekasih baru mantan pacarnya. Warta yang memiliki segalanya itu kini ada di hadapan Jung Won. Tuhan benar-benar tidak adil rasanya.

“Ini hadiah untukmu. Kau suka bunga, kan? Aku juga memberikan ini pada bapak dekan dan karena teringat padamu, aku juga menyiapkan satu lagi untukmu. Kau suka tidak?”

“Iya. Cantik sekali.”

Jung Won menerima segenggam bunga krisan yang disodorkan oleh Shim Hee dengan penuh terima kasih. Bunga krisan kuning yang dibungkus rapi dengan kain felt berwarna gelap itu terlihat sederhana namun indah. Shin Hec yang meletakkan tasnya di kursi di sebelah Jung Won dan duduk di sampingnya itu terlihat gembira.

“Tahu tidak, Geon Hyeong juga suka sekali dengan tempat ini. Oh, iya, aku lupa. Kita pertama kali bertemu di tempat ini, kan. Saat kau sedang bersama Geon Hyeong.”

Shin Hee memandang ke sekeliling Hwaniwon yang kini dipenuhi dengan bunga-bunga liar dan rumput hijau yang tebal.

“Sewaktu kecil, ia suka sekali datang ke tempat ini. Kau tahu mengapa ia suka sekali tempat ini?”

“Tidak terlalu...”

“Aku mengerti. Orang itu memang tidak akan menceritakan tentang dirinya sendiri. Karena dulu setiap kami datang ke sini, ayah Geon Hyeong selalu berada di tempat ini. Meskipun ia tidak mengatakan apa- apa padaku, tapi aku langsung tahu kenapa ia menyukai tempat im. Makanya aku selalu mengajaknya bermain di tempat ini setiap hari. Kalau sudah begitu, meskipun awalnya pura-pura tidak mau, Geon Hyeong selalu mengikutiku datang ke tempat im.”

Begitu rupanya. Jadi, itu sebabnya ia menyukai Hwaniwon.

Jadi, itu sebabnya ia menyukai Yoo Shin Hee.

Dan pada akhirnya Shin Hee juga mencintai lelaki bernama Kim Geon Hyeong itu.

Lalu, mana mungkin ia tidak mencintai wanita yang mengerti isi hatinya itu?

“Lalu, sepertinya aku jadi kebiasaan membujuk dan merengek padanya seperti itu. Selama ini, ia selalu memenuhi dan menuruti apa yang kunginkan. Kalau aku mengajaknya berpacaran, ia akan berpacaran denganku. Kalau aku memintanya untuk menungguku, ia selalu menungguku. Bahkan ketika aku mengajaknya berpisah pun seperti itu.”

Jung Won pun tahu akan hal itu. Bagi Gcon Hycong, Yoo Shin Hec tetaplah nomor satu. Ketika Geon Hyeong tinggal bersamanya pun, orang ini sangat sibuk sampai-sampai sulit untuk bertemu dengannya kecuali saat subuh dan larut malam. Meskipun begitu, satu panggilan telepon dari Shin Hce langsung membuatnya bergegas menghampiri wanita itu.

“Apa za juga bersikap seperti itu padamu?”

“Tidak. Sepertinya ia bukan orang yang bersikap baik seperti itu pada semua orang.”

Jung Won terkejut mendengar pertanyaan Shin Hee dan meng- geleng pelan. Karena hatinya yang perlahan mulai terasa sakit, ingin rasanya menyombong bahwa lelaki itu juga orang yang seperti itu baginya. Namun, di depan Shin Hec yang bersinar seperti batu mulia, ja rasanya tidak sanggup berbohong seperti itu. Berbohong hanya akan membuatnya terlihat seperti pengecut yang memalukan.

“Oh ya? Tapi kelihatannya kau adalah wanita yang sangat spesial bagi Geon Hyeong.” “Yang benar saja, sepertinya kau hanya salah mendengar informasi.”

Jung Won kembali menggelengkan kepalanya, sementara Shin Hec hanya tersenyum seolah tertarik melihat reaksinya itu.

“Kalau begitu, apa kau menyukai Geon Hyeong? Atau aku hanya salah dengar lagi?”

Apa yang barus kukatakan untuk menjawab pertanyaan yang langsung dan terang-terangan seperti ini? Melihat wajah Jung Won yang terlihat panik, Shin Hee tidak menunggu jawaban Jung Won lagi. Jung Won memang sclalu tidak berhasil menjaga ckspresi wajahnya. Meskipun za tidak mengatakannya, Shin Hee pasti mengetahui bagaimana perasaan Jung Won yang sesungguhnya. Jung Won rasanya benar-benar malu dan ingin menghilang dari tempat itu.

“Maafkan aku.”

“Kenapa harus meminta maaf? Kalian kan berpacaran setelah lelaki itu putus denganku. Lagi pula, kau tidak perlu meminta maaf karena menyukai lelaki itu.”

Shin Hee menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas pada Jung Won yang bergumam pelan meminta maaf sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak punya alasan untuk mengganggu hubungan Jung Won. Sementara, Jung Won yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya sama sekali tidak bisa menatap mata Shin Hee yang bersikap seperti itu padanya. Lalu, ia juga semakin merasa bersalah karena hatinya sudah sepenuhnya diberikan pada lelaki itu.

“Meskipun begitu... aku minta maaf.”

“Aku sebenarnya lebih senang kalau Geon Hyeong yang meminta maaf padaku, bukan kau. Terserah apa kata orang lain, tapi aku yakin kalau Geon Hyeong tetap tidak akan berubah. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada orang itu?”

Jung Won tidak melakukan apa-apa padanya. Satu-satunya yang ia lakukan adalah menyetujui perjanjian yang ditawarkan oleh Geon Hyeong waktu itu.

Perjanjian itu. Bahkan itu pun adalah pilihan yang ia lakukan demi Shin Hee. Demi Shim Hee, Geon Hyeong mencari wanita yang akan menjadi pasangannya melalui iklan di koran itu, berciuman dengan wanita yang tidak ja kenal itu, lalu sampai menahan rasa tidak nyaman karena harus tinggal di rumah wanita itu. Semua itu demi kebahagiaan Shin Hee. Pertemuan Jung Won dan Geon Hyeong sejak awal berasal dari keinginan Geon Hyeong untuk membahagiakan Shin Hee.

Selama mereka tinggal serumah pun, ia selalu siap kapan pun apabila Shin Hee memanggilnya.

Geon Hyeong tidak pernah menelepon Jung Won lebih dulu sekali pun. Ah, tidak. Ia pernah mencleponnya sekali saat tugas ke luar negeri. Menyuruhnya untuk mengemas barangnya.

Lalu, apakah perasaannya tulus saat mereka berciuman? Atau saat itu pun ia sedang memikirkan wanita lain?

Meskipun begitu, lelak itu juga mengkhawatirkannya. Ia memperbaiki rumah Jung Won dan menyewakan kamar hotel untuknya. Namun, kalau ia melakukan itu hanya karena malu pada orang lain, ternyata lelaki itu memang benar-benar playboy sejati.

“Berani bertaruh?”

“Apa?”

Shin Hee tiba-tiba mengajukan pertanyaan sambil tersenyum lebar kepada Jung Won yang terlihat sibuk memikirkan sesuatu. Jung Won yang mengira dinnya salah dengar balas bertanya padanya.

“Bertaruh bagaimana...”

“Untuk mengetahui siapa yang menjadi nomor satu bagi Geon Hyeong.”

“Shin Hee 557”

“Seandainya Geon Hyeong memilihmu, aku siap untuk mundur dan menyerah.”

Ucapan Shin Hee itu seolah meminta Jung Won untuk berbuat serupa scandainya Gcon Hycong memilih dirinya. Tetapi, tanpa harus melakukan taruhan pun, hasil taruhan ini sepertinya sudah cukup jelas. Lagi pula, mengetes hati dan perasaan seseorang bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan. “Sebaiknya kau tanya langsung saja pada Gcon Hyeong. Kalau ia mengatakan bahwa ia mencintaimu, aku akan membuang jauh-jauh perasaanku padanya. Jangan khawatir.”

“Aku sama sekali tidak khawatir akan hal itu. Beda dengan kau, aku bukan orang yang memedulikan perasaan orang lain. Kau juga tahu kan kalau Geon IHyeong sama jahatnya seperti aku?”

“Iya. Ah, tidak, aku tidak berkata kalau kau ini orang yang jahat.”

“Aku tahu. Karena aku tahu kalau kau ini memang orang yang sangat baik hati.”

Shin Ilee tersenyum pahit sambil menatap Jung Won yang berbicara dengan terbata-bata karena panik.

Kim Geon Hyeong, bisa-bisanya kau menemukan wanita baik seperti ini. Padahal aku berharap kalau wanita ini tidak peduli apakah aku marah-marah atau bersikap buruk padanya. Sayang sekali, wanita ini terlalu baik untuk dijadikan lawan.

“Hm, bagaimana kalau kita menjadi kakak adik, terlepas dari urusan Gcon Hycong?”

“Ya?”

“Aku menyukai Jung Won ssi. Kau tidak menyukaiku?”

Mendengar saran Shin Hee yang di luar dugaan itu, Jung Won menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak membenci Shin Hce. Tetapi, ia juga tidak cukup tahu banyak mengenai wanita itu sampai bisa menjadi kakak adik dengannya. Lagi pula, ada lelaki bernama Kim Geon Hyeong di tengah-tengah mereka. Entah bagaimana dengan Shin Hee, namun Jung Won tidak yakin ia bisa melihat Geon Ilyeong yang kembali berpasangan dengan Shin Hee.

“Kalau begitu, mulai sekarang kita adalah kakak adik.”

Shin Hee sama sekah tidak memedulikan jawaban Jung Won. Ia tersenyum puas dengan wajah yang seolah mengatakan “aku tidak pernah membayangkan ada orang yang berani menolak Shin Hee'. Ternyata, pikiran dan sikap orang ini memang benar-benar tidak bisa diikuti. Jung Won memandangnya sesaat dengan bingung. Sekarang ia malah menjadi adik kakak dengan kekasih dari lclaki yang dicintainya itu?

“Kalau begitu, Jung Won adikku, bagaimana kalau aku menelepon Geon Hyeong duluan?”

“Tidak, jangan seperti itu. Aku rasa itu bukan cara yang bagus.”

“Oh ya? Sepertinya itu cara yang bagus bagiku. Yah, kalau begitu, kau jangan menggunakan cara itu. Biar aku saja.”

Shin Hee segera mengabaikan pendapat Jung Won yang katanya adalah adiknya itu dan mengeluarkan telepon genggamnya. Kemudian, tanpa ragu ia menekan tombol 1 di teleponnya.

“Oh, iya. Seandainya Geon Hyeong memilihku lebih dulu, aku tidak akan melepaskannya kembali. Oleh karena itu, sebaiknya kau bersiap- siap.”

Selama nada sambung di teleponnya itu berbunyi, Shin Hee gconni- nya itu mengumumkan pernyataan perang padanya.

Angin berembus semakin kencang di Hwaniwon. Rumput kecil dan bunga-bunga putih bergoyang dengan lembut, sementara pikiran Jung Won yang tadinya sudah kacau sekarang semakin kacau. Tiba-tiba saja semuanya terasa goyah. Hatinya pun goyah, kepercayaannya pun goyah.

&

Meskipun mendapat investigasi internal dari jaksa, perjalanan bisnis Geon Hyeong ke perusahaan asing yang dulu sudah direncanakan itu akan tetap dilaksanakan. Untungnya, tidak ada masalah apa-apa. Meskipun ia bukan orang yang sepenuhnya patuh pada hukum, masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan aturan-aturan hukum itu. Kim Geon Hyeong bukanlah orang bodoh yang akan memberikan berbagai alasan pada lawannya dan membuat dirinya menjadi pelanggar hukum. Saat ini, yang harus merasa tegang dalam situasi ini bukanlah dirinya. Kalau Geon Ilyeong tidak ada di tempatnya ini, pihak-pihak yang tadinya ketakutan itu pasti akan bergerak kembali. Gcon Hyeong tahu pasti kepada siapa ujung tombak mereka mengarah saat ini, ia pun kini siap menghadapi serangan yang tclah menunggunya. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja saat in. Mungkin dengan perjalanan bisnisnya kal ini, waktu yang 1a tunggu-tunggu itu akan lebih dekat.

Lalu, satu hal lagi, mengenai ibunya yang selama ini ia kira dibuang oleh ayahnya dan membuang dirinya. Ketika cincin peninggalan itu digabungkan dengan cerita masa lalu itu, pasti ada sesuatu yang lain. Alasan perceraian kedua orangtuanya yang diberitakan di koran waktu itu adalah karena keinginan dan mimpi ibunya untuk tampil di atas pentas. Saat ini, barulah Geon Hyeong mengerti makna sesungguhnya dari percakapan yang ia dengar malam itu.

Pasti selalu ada sctidaknya satu orang yang mengetahui kejadian yang sebenarnya. Seperti halnya Jung Won yang mencari pamannya, Geon Hyeong pun harus mengingat seseorang yang bisa menjadi saksi dalam masalah ini.

Orang yang menghentikan gerakan dan hati Gcon Hycong yang sedang sibuk dan terdesak itu tidak lain tidak bukan adalah Shin Hee. Lebih tepatnya panggilan telepon dari Shun Hee.

Shin Hee. Seseorang yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Gcon Hycong. Lalu, orang yang tidak boleh 1a abaikan begitu saja. Ia harus segera membereskan perasaannya dan perasaan wanita itu.

Restoran yang terletak di pinggiran area Gangnam itu memiliki interior yang bergaya modern dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Kota Seoul di malam hari. Itulah sebabnya Shin Hee sangat menyukai tempat ini dan sering datang ke tempat ini dengan Geon Hyeong. Namun, kali ini ia datang bersama Jung Won.

Jung Won yang tiba-tiba diajak ke tempat itu hanya menatap Shin Hee dengan bingung.

Ia sudah mengatakan kalau mengukur kesungguhan hati seseorang itu tidak bagus dan mengatakan juga bahwa peraturan keluarganya melarangnya untuk bertaruh. Namun, Shim Hee seolah tidak memedulikan semua itu. Baginya, semua orang di sekeliingnya harus menuruti dan mengikuti keinginannya.

“Shin Hee 554”

“Sudah kubilang, panggil aku coxni”

“Baiklah, Eonni. Aku permisi pulang dulu sekarang.”

Begitu Jung Won hendak berdiri, Shin Hee segera memegang tangannya.

“Sebentar lagi Geon Hyceong akan datang. Yah, kalau 1a tidak datang, berarti kau yang menang. Kau tidak mau mengeceknya secara langsung?”

“Tidak.”

Jung Won menggelengkan kepalanya dengan yakin. Ia tidak yakin dirinya sanggup melihat Geon Hyeong yang datang menghampiri Shin Hee. Tetapi ia juga tidak ingin berharap semoga Shin Hee tetap berada seorang diri di tempat ini. Sejak awal, saling mengetes perasaan cinta masing-masing adalah sesuatu yang tidak adil dan tidak benar.

“Aku, sebenarnya aku sangat takut sekarang. Tapi kalau aku tidak membuktikannya sekarang juga, sepertinya aku tidak akan bisa mengakhiri hal ini. Mungkin kau juga merasa seperti itu. Menghindari sesuatu yang kutakutkan sama sekali bukan sifatku.”

“Ucapan Eonni benar. Aku juga merasa takut. Namun, meskipun aku bisa menahan rasa takut itu, sepertinya aku tidak bisa menahan hal ita.”

Jung Won yang tidak bisa menyelesaikan ucapannya, menatap Shin Hee lurus-lurus.

Jung Won tidak tahan harus melihat sosok belakang lelaki itu. Itulah sebabnya, ia menunjukkan dirinya sendiri yang sakit hati.

“Lagi pula, sepertinya tidak perlu ada dua orang yang menunggunya di tempat ini.”

“Apa?”

“Toh salah satunya akan merasa terluka. Aku tidak ingin memperlihatkan hal itu. Dan tidak ingin melihat hal itu.” Meskipun Jung Won yakin bahwa seseorang yang akan terluka itu adalah dirinya, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan kalimatnya dengan tenang dan meninggalkan tempat itu. Saat ita, Shin Hee pun tidak menahannya lagi. Wanita yang ia pilihkan untuk Geon Hyeong, wanita yang dicintai oleh Geon Hyeong itu mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Apakah wanita yang baru menjadi adiknya itu tahu, bahwa yang harus ia lihat nanti adalah sosok belakang Yoo Shin Hee? Mungkin Shin Hee harus merasa berterima kasih akan pilihan Jung Won itu.

Begitu Jung Won meninggalkan tempat itu, seorang lelaki dengan mengenakan setelan jas yang rapi menghampiri Shin Hee yang duduk scorang diri. Sayang sekali, lelaki itu bukanlah Gcon Hycong. Shin Hcc menatap lelaki yang muncul pada waktu yang tidak tepat itu dan dalam hati merasa bersyukur karena Jung Won telah meninggalkan tempat itu.

“Pintar juga kau bersembunyi. Kau pikir kau bisa hidup tenang dan bahagia setelah mempermalukanku seperti itu?”

“Tentu saja. Aku tidak merasa menyesal. Lalu, kenapa kau pikir aku bersembunyi darimu?”

Shin Hee menyahut dengan ketus pada laki-laki yang telah menghalangi pemandangan di luar jendela. Pasti 1a sudah gila saat itu, pikir Shin Hee. Bisa-bisanya ia setuju untuk putus begitu saja dengan Geon Hyeong dan mengatakan akan menikahi lelaki ini. Ia bisa saja menjadi Julet, namun ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi seperti Jeanne d'Arc.

“Jangan terlalu sombong dan membanggakan lelaki yang tidak jelas bagaimana statusnya di keluarga itu.”

“Aku tidak peduli. Yang penting, berkat lelaki itu aku tidak perlu sampai harus menikah dengan lelaki sepertimu.”

“Kau pikir aku akan diam saja setelah kau mempermalukanku seperti itu?” “Memangnya apa yang akan kau lakukan? Bagaimanapun, yang berdiri scorang diri di acara pernikahan saat itu bukan aku. Yang merasa malu pun bukan aku.”

Lelaki yang semakin kesal mendengar nada suara Shin Hee yang angkuh itu tidak bisa menahan emosinya dan memegang pundak wanita itu erat-erat sambil mengguncang-guncangkannya.

“Awas kau, aku akan membalasmu nanti.”

“Silakan.”

Lelaki bodoh. Berani-beraninya ta melupakan kebaikan keluargaku dan mengancamku sekarang. Apa ia tidak ingat apa yang membuatku setuju untuk menikahi lelaki seperti itu?

Shin Hee yang tidak senang mendapat ancaman seperti itu sedikit mengerutkan dahinya. Lelaki itu salah mengartikan ekspresi Shin Hcc sebagai ekspresi yang mencemoohnya sehingga ia kembali meluapkan amarahnya. Shin Hee memejamkan matanya saat mengira lelaki itu akan menamparnya. Tiba-tiba terdengar suara Geon Hyeong menghampiri mereka.

“Apa-apaan ini?”

“Kim Geon Hyeong?”

Geon Hyeong segera melepaskan Shin Hee dari lelaki itu dan menariknya ke dalam pelukannya. Sambil menatap Gcon Hycong yang muncul pada waktu yang tepat, Shin Hee tersenyum pahit di dalam pelukan Geon Hyeong. Lelaki ini memang selalu datang dan membelanya di saat ia membutuhkannya. Sekarang, siapa lagi yang akan terus membelanya? Siapa lagi yang akan terus memandang dirinya seorang?

“Kau tidak apa-apa?”

“Ya.”

“Direktur Kim kenapa ada di...”

“Orang ini adalah alasan mengapa aku membatalkan pernikahan itu. Seharusnya kau sudah tahu tanpa harus kuberitahu seperti ini.” Shin Hec menjawab dengan tegas, sementara Geon Hycong pun tidak membantah hal itu. Ia malah merangkul pundak Shin Hec scolah ikut memberi kekuatan padanya.

“Direktur Kim belum tahu tentang kau, makanya ia seperti itu padamu. Kalau sampai ia tahu...”

“Geon Hyeong tahu banyak tentangku.”

Shin Hee kembali menyahut dengan yakin dan menatap lelaki itu dengan tajam. Geon Hyeong yang sekilas melirik Shin Hee pun menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, lelaki yang ada di depan mereka langsung menatap mereka dengan bingung.

“Tidak masuk akal. Jadi, selama ini Kim Geon Hyeong dan Yoo Shin Hee. Perpaduan yang gila.”

“Tentu saja, tidak ada ruginya bagi kami. Namun, sepertinya akan timbul masalah di perusahaanmu gara-gara seorang penerus perusahaannya yang tidak becus.”

“Apa maksudmu?”

“Katakan langsung pada ayahmu. Transaksi perusahaannya dengan Goryo Elektronik kali ini akan dibatalkan. Aku tidak ingin berinvestasi pada perusahaan yang tidak jelas masa depannya.”

Geon Hyeong berkata sungguh-sungguh dengan ekspresinya yang datar. Orang yang mengenalnya pasti tahu bahwa ucapannya itu bukanlah gertakan atau ancaman belaka. Ekspresi wajah lawan bicaranya itu seketika tampak pucat.

Setelah keributan kecil itu selesai, Geon IHyeong menyuruh Shin Hee duduk dan ia pun duduk di hadapannya. Meskipun tadi wanita itu terlihat tegas dan berani, Geon Hyeong tahu bahwa sebenarnya 1a merasa gugup. Pelayan di restoran itu segera membereskan meja mereka dan segera pergi setelah mencrima pesanan baru kedua orang itu.

“Ternyata kau datang juga. Kupikir kau tidak akan datang.”

“Kau memanggilku, kan.” Shin Hee sedikit mengangkat alisnya dengan tidak puas mendengar jawaban Geon Hycong yang datar, yang tidak mengandung cmosi atau perasaan apa pun sedikit pun. Pada dasarnya, Geon Hyeong memang orang yang bersikap dingin. Namun entah kenapa, sikapnya itu terasa lebih dingin hari ini.

“Kenapa kau bisa berurusan dengan lelaki itu lagi? Dia tadi mengancammu?”

“Sepertinya ia masih kesal karena waktu itu aku meninggalkannya di acara pernikahan itu. Kenapa? Kau cemburu?”

“Yoo Shin Hee.”

Shin Hee bertanya sambil tersenyum manis padanya, sementara Geon Hyeong segera menjatuhkan harapan warita itu dengan berkata tegas padanya.

“Jangan terlalu serius seperti itu. Aku hanya berharap saja seandainya seperti itu.”

“Kenapa kau memanggilku?”

Shin Hee kini mulai kesal melihat Gcon Hyeong yang tidak sabar dan segera menuju ke inti pembicaraan mereka. Lelaki itu sama sekali tidak menanyakan kabar Shin Hee. Ia pun tidak berbasa-basi mengatakan dirinya sibuk selama ini. Bahasa tubuh Geon Hyeong jelas mengatakan bahwa tubuhnya saja yang berada di tempat ini, sementara hatinya berada di tempat lain. Menyadari hal itu, Shin Hee kini ingin memastikan bahwa dirinyalah yang kalah dalam taruhan itu. Tidak, sebenarnya ia sudah menduga hasilnya akan seperti ini sejak ia mengutarakan ide mengenai taruhan ini pada Jung Won di Hwaniwon.

Sejak kapan ia merasakan ini? Sejak kapan ia menyadari bahwa hati lelaki ini sudah berpindah ke orang lain? Mungkin di hari ketika lelaki ini datang padanya dengan warna kuning di kukunya saat itu. Shin Hee masih ingat betapa terkejut dirinya saat itu. Gcon Hycong biasanya tetap menggelengkan kepalanya jika tidak ingin melakukan sesuatu, meskipun sudah dibujuk berkali-kah oleh Slun Hee. Oleh karena itu, ia sangat terkejut melihat lelaki itu membiarkan kukunya diwarnai begitu saja. Jelas ia tidak mungkin menginginkan hal itu. Lalu, siapa yang bisa membuatnya menurut seperti itu? Shin Hee merasa harus mengecck mengenai hal ini ketika ia tiba-tiba saja memaksa Gcon Hyeong untuk membawanya ke rumah Jung Won. Ia penasaran, seperti apa wanita bernama Jung Won itu? Bagaimana ia bisa merebut hati Geon Hyeong seperti itu?

“Memangnya aku harus punya alasan untuk memanggilmu? Aku hanya ingin minum kopi saja. Tidak boleh?”

“Lain kali tidak boleh. Lalu, Shin Hee, ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Oke, aku juga. Biar aku dulu yang berbicara.”

Shin Hee memotong ucapan Geon Hyeong yang tegas itu dengan angkuh. Ia tahu apa yang ingin dikatakan oleh Geon Hyeong. Namun, Gcon Hyeong pasti tidak akan menyangka apa yang akan dikatakan oleh Shin Hee sekarang.

“Menurutmu, aku melarikan diri dari acara pernikahan itu karena kau?”

“Apa?”

“Meskipun aku mencintaimu, bukan berarti aku tidak bisa melupakanmu. Aku pun tidak melarikan diri saat itu. Karena upacara pernikahan itu telah selesai satu jam yang lalu.”

Mendengar pengakuan Shin Hce, Gcon Hyeong perlahan meletakkan cangkir kopinya. Jelas ada sesuatu yang tidak beres dari nada suara Shin Hee yang mengungkit kembali kejadian itu.

“Karena lelaki itu yang pertama kali ingin membatalkan pernikahan itu.”

Sebelum Geon Hyeong sempat berkata apa-apa, Shin Hee segera melanjutkan ucapannya.

“Katanya mereka tidak suka dengan anak adopsi. Meskipun begitu, aku tetap memohon pada lelaki itu agar ia mau menunggu di tempat itu satu jam saja. Lalu, aku kabur terlebih dahulu daripada lelaki itu. Jadi, akulah yang meninggalkannya.”

“Kurang ajar, di mana ia sekarang?” Geon Hycong terbelalak mendengar penjelasan Slun Hec. Seharusnya tadi ia benar-benar memberi pelajaran pada lelaki itu. Shin Hee menghentikan Geon Hyeong yang sudah berdiri dari duduknya.

“Jangan khawatir. Kau tidak perlu marah-marah seperti itu, ayahku pun sudah meledak marah luar biasa.”

Shin Ilee menjawab sambil tersenyum puas melihat reaksi Geon Hyeong. Ia pun tidak menyangka ayahnya yang selama ini selalu kaku dan menyeramkan itu bisa meledak marah seperti itu.

“Kau juga sudah tahu rupanya. Iya kan?”

“Kau tidak apa-apa?”

“Tentu saja. Alasan mengapa kita putus, alasan mengapa kau menerimanya begitu saja. Kau tidak pernah berpikir kalau semua alasan itu sebenarnya sama? Aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan ibuku. Kau juga begitu, kan?”

Shin Hee tidak mengharapkan jawaban dari Geon Hyeong dan Geon Hyeong pun tidak ingin menjawab apa-apa.

“Aku, aku tidak bisa mengkhianati ibuku sendiri. Jadi, aku hanya berharap semoga kau membawaku pergi bersamamu, tapi ternyata kau tidak melakukan hal itu.”

Rasanya sudah lama sekali ketika ibu Shin Hee datang mencarinya hari itu. Ibunya benar-benar mirip dengan Shin Hec. Dengan sikap arogan yang sama seperti Shin Hee, ia memohon pada Geon Hyeong. Ibunya berkata bahwa ia menginginkan pernikahan yang sempurna untuk anak perempuan semata wayangnya, bukan pernikahan antara Geon Hyeong yang seorang anak di luar nikah dan Shin Hee yang seorang anak adopsi. Ia ingin Shin Hee menikah dengan lelaki yang benar-benar seorang anak kandung di keluarganya. Di balik wajahnya yang terlihat angkuh dan dingin itu, Geon Hyeong dapat melihat rasa sayangnya yang luar biasa pada putrinya. Mcreka memang hidup di dunia yang penuh dengan tudingan dan gunjingan. Mereka sudah biasa dibicarakan oleh orang lain dan menerima kritik dari orang lain. Oleh karena itu, banyak yang terluka dan merasa kesepian akibat tudingan dan kritik pedas orang-orang tersebut. Gcon Hycong akhirnya mengatakan dengan tegas dan yakin bahwa ia siap untuk memutuskan hubungannya dengan Shin Hee. Ia sama sekali tidak ingin membuat Yoo Shin Hee yang seorang putri pengusaha kaya raya itu terbebani dengan sebutan anak adops?'-nya itu. Apalagi, jika ditambah dengan suaminya yang seorang anak yang lahir di luar nikah. Ia tidak ingin melihat Shin Hee terluka. Bagi Geon Hyeong, kali ii adalah gilirannya menjaga wanita itu.

“Orangtuamu berkata padaku bahwa mereka ingin menghadiahkan pernikahan dan rumah tangga yang sempurna padamu. Aku pun ingin melakukan hal yang sama.”

“Bagiku, Kim Geon Hyeong adalah hadiah yang sempurna. Aku benar-benar tidak pedul meskipun kau adalah anak yang lahir di luar mikah dan aku adalah anak adopsi.”

“Tapi aku peduli,” Geon Hyeong menggelengkan kepala dan berkata dengan tegas menyahut rengekan Shin Hee.

Wanita ini tidak tahu, betapa kerasnya menjalani kehidupan yang tidak biasa seperti orang lain, betapa sulitnya terlahir sebagai anak yang berbeda dari orang lain. Geon Hyeong berharap semoga Shin Hee tidak perlu merasakan pengalaman pahit itu dalam hidupnya.

“Kalau aku memintamu untuk kembali, apa kau mau kembah padaku?”

“Kau kan tahu kalau itu tidak mungkin.”

“Karena Jung Won?”

Geon Hyeong hanya menatap Shin Hee tanpa mengiyakan atau membantah pertanyaannya, namun Shin Hee bisa melihat jawabannya pada tatapan mata Geon Hyeong yang terlihat penuh antusias. Meskipun ia sudah menduga ini sejak awal, Shim Hee tetap merasa sedih. Geon Hyeong benar-benar mencintai wanita itu.

Lelaki yang dulu hanya menjagaku seorang, sekarang malah mengatakan bahwa ia sudah menemukan belahan jiwanya yang ia cintai. Meninggalkanku seorang diri dan berbahagia bersama wanita itu. “Keterlaluan. Bukankah kau scharusnya melindungiku di sisiku di saat-saat seperti ini? Bagaimana kau bisa-bisanya tidak mengacuhkanku di saat-saat seperti ini?”

“Aku mengacuhkanmu. Aku hanya tidak mendampingimu. Aku juga pernah diperlakukan seperti itu, dan aku tahu itu adalah perasaan yang paling menyakitkan di dunia ini.”

“Kapan aku memintamu untuk mendampingiku? Aku memintamu untuk tidak memnggalkanku. Masa sih kau tidak bisa mengabulkan permintaanku...”

“Kalau aku ada di sisimu, kau tidak akan bisa menemukan seseorang yang benar-benar menyukaimu.”

“Seperti kau saat itu?”

“Mungkin. Kau tahu mengapa aku tidak mengajakmu melarikan diri denganku di hari pernikahanmu?”

Shin Hee segera memalingkan wajahnya mendengar pertanyaan Geon Hyeong. Ketika ia melihat Geon Hyeong datang bersama Jung Won di acara pernikahannya, hatinya benar-benar terasa sakit. Jauh lebih sakit daripada pernikahannya yang hancur di depan mata itu.

Kenyataannya, Geon Hyeong tidak mencintai dirinya. Hari itu ia menyadari bahwa rasa cintanya pada Geon Hyeong ternyata jauh lebih besar daripada rasa cinta Gcon Hycong padanya. Cinta itu memang hanya imajinasi. Seandainya lelaki itu benar-benar mencintainya, seharusnya ia menarik tangannya dan mengajaknya melarikan diri hari ita, bukannya malah menuruti permintaannya. Sikapnya yang menurut dan patuh begitu saya pada ancaman ibunya benar-benar bukan sikap seorang Kim Geon Hyeong. Meskipun itu adalah jalan terbaik yang bisa ia lakukan demi wanita itu, jelas itu bukan pilihan yang terbaik. Seandainya lelaki itu mencintainya, seharusnya ia tidak bersikap seperti itu. Sejak awal, yang menjadi masalah dalam hubungan mereka bukanlah Jung Won.

“Sudahlah. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi.” “Meskipun kau bersama lelaki lain, meskipun kita tidak selalu bersama, aku merasa cukup hanya dengan memandangmu dan menjagamu dari kejauhan. Itu sebabnya aku bisa menahan diri.”

Geon Hyeong terus melanjutkan ucapannya tanpa memedulikan Shin Hee yang tidak ingin mendengar alasannya.

Saat itu, Shin Hee sama sekali tidak berpikir bahwa pilihan Geon Hyeong itu adalah karena lelaki itu tidak mencintainya. Ia pikir itu semua hanya karena Geon Hyeong menginginkannya bahagia.

“Lalu, seandainya wanita itu Jung Won? Apa yang akan kau lakukan? Apa sikapmu akan berbeda?”

“Sama saja. Aku tidak akan menarik tangannya dan membawanya lari dari acara pernikahan itu karena sejak awal aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Aku tidak tahan melihat ada lelaki lain di sisi wanita itu selain diriku.”

Geon Hyeong berkata dengan tenang, namun pengakuannya yang terlihat posesif dan penuh semangat itu benar-benar membuat Shin Hce tidak berdaya. Ia merasa senjatanya scolah dilucuti. Kurang ajar. Tega sekali ia berbicara seperti itu di hadapanku.

“Sebenarnya, kau dulu menganggapku apa? Apakah arti seorang Yoo Shin Hee bagi Kim Geon Hyeong?”

“Orang yang pertama kali memanggil namaku.”

Geon Hyeong menjawab dengan sederhana, namun dengan perasaan yang tidak sederhana.

Panggilan yang melekat pada Geon Hyeong saat ia berumur 12 tahun bukanlah namanya sendiri. Putra Goryo Grup yang lahir di luar nikah”, “anak si pria playboy, atau “anak kandung si wanita itu”.

Hanya Shin Hee yang selalu memanggilnya dengan nama “Kim Geon Hyeong'. Karena wanita itulah, Geon Hyeong tidak melupakan namanya sendiri. Tatapan mata Geon Hyeong terlihat serius dan dalam seolah ia sedang memikirkan kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Seperti saat Shin Hee teringat akan masa-masa itu ketika ia berada di Hwaniwon tadi.

“Itu saja? Jadi, hanya karena alasan itu kau berbuat baik padaku?” “Ketika tidak ada siapa pun di sampingku, kau berada di sisiku. Jadi, aku berpikir bahwa aku juga harus melakukan hal yang sama padamu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan untukmu.”

Mungkin akan tetap seperti itu selama beberapa waktu ke depan. Geon Hyeong tidak bisa bersikap dingin dan sepenuhnya mengabaikan Shim Hee yang tidak meninggalkannya seorang diri ketika ia merasa kesepian. Sebelum ia bisa mengalihkan tanggung jawabnya untuk merawat wanita itu pada orang lain, Geon Hyeong tidak bisa mengabaikan warita itu.

“Apa-apaan kau imi. Jadi, alasanmu selama ini berbuat baik padaku hanya karena merasa berutang budi padaku? Hanya karena itu?”

“Jauh lebih karena kesungguhan hati daripada karena hal itu.”

“Lalu, mengapa kesungguhan hatimu bisa berubah? Kalau kau benar-benar mencintaiku, harusnya kau akan memilihku dan bukannya memilih Jung Won.”

“Aku sudah memikirkan mengapa selama ini aku tidak bisa lepas darimu. Tadinya kupikir karena aku mencintaimu, tapi sebenarnya hanya karena aku terlalu terbiasa denganmu. Karena kau terlalu mirip denganku.”

Shin Hee terkejut dan menahan napas mendengar pengakuan Geon Hycong yang tenang itu. Ia tahu mengenai hal itu. Ia tahu bahwa bagi Geon Hyeong, Shin Hee adalah orang yang harus ia jaga dan lindungi, bukan seorang wanita yang ia cintai. Bagi Geon Hyeong, Shin Hee adalah teman sepermainannya di masa kecil yang menemaninya melewati malam yang gelap gulita, seperti layaknya boneka beruang tua. Wanita itu selalu berharap agar Geon Hyeong tidak menyadari hal itu. Apabila wanita bernama Kang Jung Won itu tidak muncul, mungkin Geon Hyeong tidak akan menyadari hal ini.

“Jadi, kau akan mengabaikanku begitu saja sekarang?”

“Tidak. Aku tidak bisa berbuat seperti itu. Kau dan aku, kita tidak bisa benar-benar putus hubungan dan menjadi orang asing. Dulu kau sudah seperti keluarga bagiku. Dan kau juga orang yang paling dekat denganku daripada keluargaku sendiri,” Geon Hycong berkata dengan jujur.

“Keluarga?”

“Iya. Karena kau pandai membuatku merasa berterima kasih, kesal, dan terhibur, serta selalu mengejutkanku. Aku tidak bisa menjauhimu atau membencimu.”

“Aku tidak butuh keluarga lain selain suami.”

“Keluarga bukan sesuatu yang lantas bisa hilang begitu saja meskipun kau tidak membutuhkannya.”

“Apa itu salah satu nasihat dari Jung Won?”

Geon Hyeong mengangguk tanpa memedulikan tatapan sinis Shin Hee. Geon Hyeong terus-menerus menghancurkan harapan Shin Hee dengan mengucapkan “penghiburan yang agak menyinggungnya. Dengan menggunakan nama “keluarga”.

“Aku akan memeliharamu dan tidak akan membiarkan seorang pun meremehkanmu. Karena kita adalah keluarga.”

Gcon Hycong benar-benar sudah tertular oleh Jung Won. Memeliharaku? Aku ini bukan anak anjing atan bunga-bunga yang perlu dipelihara, batin Shin Hee. Tapi katanya ia akan memeliharaki? Geon Hyeong berkata pada Shin Hee sambil tersenyum kecil. Senyum itu membuat Shin Hec semakin kesal dan cmosi. Senyum yang lembut dan sampai terlihat di tatapan matanya itu bukanlah senyuman Kim Geon Hyeong yang ia kenal.

Kini, ta benar-benar tidak bisa mendapatkan kembali Kim Geon Hyeong yang dulu hanya mencintainya, yang dulu hanya memandang dirinya.

Shin Hee mau tidak mau harus menerima kenyataan itu saat ini.

Kenyataan bahwa Kim Geon Hyeong milik Yoo Shin Hee kini sudah tidak ada di dunia ini.

Geon Hyeong sibuk menelepon Jung Won sejak tadi. Sementara,

Jung Won tidak mengangkat telepon itu dengan alasan suasana subway yang bising. Tidak, sebenarnya ia tidak sanggup mengangkat telepon itu. Ta takut mendengar apa yang akan diucapkan oleh Geon Hyeong yang tadi menemui Shin Hee. Ia takut harapan kecilnya hancur begitu saja. Meskipun sejak awal ia tahu bahwa dirinya hanyalah peran pengganti Shun Hee, entah mengapa hatinya terasa sangat sakit.

Ketika ia berpisah dengan Shin Hee dan keluar dari tempat itu, ia melihat mobil Geon Hyeong yang terparkir di depannya. Seketika itu, Jung Won pun tahu mengapa ia secara otomatis menyembunyikan dirinya dan kedua orang itu. Mungkin saja karena harga dirinya. Seharusnya ia segera kembali ke posisinya sendiri selama ini, namun entah mengapa ia hanya terdiam di tempat itu. Padahal seharusnya ia segera pergi meninggalkan tempat itu. Jadi, setidaknya ia tidak harus melihat adegan ketika lelaki itu merangkul dan memeluk Shin Hee dari jendela besar itu.

Ia menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata ibunya. Kini ia yang kena batunya karena tidak mematuhi peraturan keluarganya. Scharusnya ia tidak bertaruh dan bermain-main dengan perasaan seseorang. Seharusnya ia tidak bertaruh dengan sesuatu yang jelas ia akan kalah.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?”

Ketika telinganya mendengar suara Geon Hyeong, Jung Won sempat mengira dirinya salah dengar. Namun ketika ia mengangkat kepalanya, lelaki itu sudah berdiri di hadapannya sambil mengerutkan dahinya.

Sudah 40 menit ia menunggu wanita itu.

Kesabaran Geon Hyeong sudah hampir habis dan seketika itu rasa leganya berubah menjadi protes. Ia lalu sibuk bertanya macam-macam pada Jung Won sampai-sampai tidak menyadari kecemasan yang ada di mata Jung Won.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Memangnya tidak boleh?”

Geon Hyeong balik bertanya dengan ketus kepada Jung Won yang terkejut melihatnya. Setelah berpisah dengan Shin Hee, ia segera buru- buru datang ke tempat iri. Ia mcrasa khawatir karena Jung Won tidak mengangkat teleponnya dan akhirnya memutuskan untuk menunggu di depan rumahnya. Tetapi ternyata sambutannya malah tidak menyenangkan seperti ini. Wajah Geon Hyeong yang merasa kecewa dan sedih mendadak berubah serius.

“Tidak, bukan itu...”

“Ayo, pergi. Tidak ada waktu.”

“Mau ke mana?”

Jung Won kembali bertanya pada Geon Hycong yang tiba-tiba mengajaknya pergi dengan ketus. Namun, lelaki itu tidak berkata apa- apa dan hanya menarik tangan Jung Won, menyuruhnya masuk ke mobil.

“Kau tidak akan memberitahuku ke mana tujuan kita?”

Jung Won bertanya pelan sambil memperhatikan ekspresi Geon Hyeong. Kalau lelaki ini mengajaknya menemui Shin Hee, Jung Won ingin segera menolak ajakan itu.

“Karena perjanjian di antara kita sudah selesai, jadi aku rasa kita harus mulai lagi dari awal.”

“Oh, begitu rupanya. Sepertinya semuanya sudah beres sekarang.”

“Ya, sepertinya.”

Suara Gcon Hyecong yang tenang itu scolah meresap seperti racun di hati Jung Won, namun lelaki itu pasti tidak mengetahuinya.

Ketika Jung Won memulai semua ini, sejak awal ia tahu bahwa dirinya hanyalah peran palsu. Meskipun begitu... tidak bisa dikatakan bahwa ia sama sekali tidak berharap lebih saat itu. Lelaki itu sempat berbuat baik dan hangat padanya. Mengapa lelaki itu berbuat seperti itu? Apa hanya karena rasa simpati semata?

Mereka kemudian tiba di sebuah tempat yang dari luar terlihat sederhana, namun di dalamnya penuh dengan berbagai perhiasan yang berkilauan. Di dalam ruangan bernuansa emas dan hitam itu, terlihat berlian yang berkilau dengan indah. Manajer toko itu membungkuk sopan dan memberi salam lalu menyodorkan beberapa koleksi berlian yang cantik dan indah scolah sudah menunggu kedatangan mereka.

“Cepat pilih.”

“Aku?”

“Karena aku tidak bisa memilih sesuka hatiku. Selera wanita kan berbeda.”

Geon Hyeong menaikkan alisnya mengiyakan pertanyaan Jung Won. Geon Hyeong tidak sabar ingin mengakhiri hubungannya dengan Shin Hee selama ini. Jung Won pun pasti seperti itu. Lalu, untuk benar- benar memulai hubungannya dengan wanita ini, Geon Hyeong ingin memasang janjinya itu dengan cincin yang bersinar indah di jari wanita ini, bukan seperti cincin yang tergantung di lehernya itu. Ia harus memberitahu orang-orang bahwa wanita ini kim adalah miliknya. Namun, berbeda dengan Geon Hyeong yang terlihat tidak sabar ingin memakaikan cincin itu di tangan wanita ini, wajah Jung Won terlihat tidak senang. Apa kali ini ada lagi peraturan keluarganya yang mengatur sikap Jung Won itu?

“Kau yakin tidak apa-apa jika aku yang memilihnya?”

“Ya, tolonglah.”

Geon Hyeong kembali menjawab dengan sopan. Permintaannya demi Shin Hce. Permintaannya yang tidak bisa ditolak olch Jung Won.

Jung Won berpikir bahwa mungkin ini terakhir kalinya ia membantu lelaki ini. Kalau cincin ini untuk Shin Hee, berarti tidak boleh terlihat sederhana. Akhirnya ia memilih sebuah cincin polos dengan hiasan berlian yang terlihat mekar dengan indah dan mewah seperti bunga di atasnya.

“Kau yakin dengan cincin ini?”

“Mungkin saja.”

Geon Hycong menatap cincin yang dipilih oleh Jung Won dengan sungguh-sungguh dan memastikan sekali lagi pada Jung Won.

“Pasti ia tidak akan kabur kan karena harga cincin ini.”

“Ia tidak akan kabur seperti itu.” “Aku tahu... hanya saja, orang itu susah ditangkap. Jadi, mudah- mudahan saja ia tidak kabur seperti ibuku.”

Geon Hyeong bergumam pelan sambil tersenyum samar, sementara Jung Won hanya bisa mengangguk-angguk sambil tetap memalingkan wajahnya. Apa lelaki ini khawatir Shin Hee yang dulu pernah kabur dari pernikahannya itu akan meninggalkannya seorang diri? Kalau seperti itu, berarti ia salah paham. Karena Yoo Shin Hee sama sekali bukan wanita yang akan melarikan diri dari Geon Hyeong.

“Tidak akan.”

“Benar. Tentu saja, tidak akan.”

Mendengar suaranya yang terdengar bahagia itu, Jung Won terpaksa menghela napasnya diam-diam. Sekarang, sudah saatnya pemeran pengganti turun dari panggung. Sejak awal memang dirinyalah yang bodoh karena ikut mencampuri percintaan kedua orang ini. Seharusnya ia tidak boleh bermain-main dengan cinta dan perasaan orang lain, namun hanya karena kenyamanan semata, ia dengan bodoh rela menjual jantungnya. Di duma ini, ada hal-hal yang tidak bisa dikompromi. Ada juga hal-hal yang tidak bisa direlakan begitu saja. Mengapa aku bisa sampai lupa akan hal itu?

Cincin emas putih dengan hiasan berlian itu terlihat sangat indah dan mewah. Cincin yang dipllih dengan pikiran masing-masing yang saling berlainan itu diletakkan di sebuah kotak sutra berwarna biru dan menunggu pemiliknya dengan anggun di dalam sana.

&

Geon Hyeong terlihat cukup sibuk saat itu. Ketika sedang memilih cincin itu pun, telepon genggamnya beberapa kali berdering dan ia terlihat memberi perintah melalui telepon itu dengan ekspresi wajahnya yang menyeramkan. Namun, ia tetap saja terlihat bahagia saat memilih cincin untuk Shin Hee yang baru saja ia temui tadi. Ternyata cinta bisa mengubah orang ini sampai seperti ini.

“Baiklah. Tunggu saja 40 menit lagi. Aku segera menuju ke sana.” “Aku naik bus saja. Sepertinya kau sibuk sekali.”

Jung Won berkata pada Gcon Hyeong yang kembali memberikan perintah melalui telepon genggamnya sambil menunggu mobilnya keluar dari tempat parkir.

Geon Hyeong mengerutkan dahinya sekilas mendengar ucapan Jung Won. Sebenarnya ia ingin mengantar wanita ini. Tetapi kalau ia harus berangkat subuh besok, banyak urusan yang harus ia selesaikan malam ini. Saat ini pun 1a berusaha meluangkan waktunya sejenak untuk menemui Jung Won karena merindukan wanita im. Saat im pun, jadwal pekerjaannya yang padat masih menantinya.

“Kau naik taksi saja dulu. Hari ini aku benar-benar tidak punya waktu untuk mengantarmu.”

“Jangan khawatir.”

“Taksi.”

Mendengar ucapannya yang seolah tidak bisa dibantah itu, akhirnya Jung Won menganggukkan kepalanya. Kata orang, sesibuk apa pun lelaki, pasti ia sclalu punya waktu untuk menemui wanita yang za cintai. Ucapan itu benar juga. Hati lelaki yang meluangkan waktunya untuk menemui Shin Hee itu sudah tidak ada di tempat ini. Jung Won sama sekali lupa dengan waktu yang telah diluangkan Geon Hyeong yang tadi menunggunya di depan rumahnya.

“Sepertinya aku tidak bisa menemuimu selama satu minggu. Aku sibuk sekali selama itu.”

“Aku mengerti.”

Tidak hanya seminggu, tetapi pasti selamanya. Mungkin saja ini adalah perpisahannya dengan lelaki ini. Jung Won berusaha tetap terlihat tegar dan menganggukkan kepalanya.

“Aku juga sibuk untuk sementara ini.”

“Kenapa?”

“Sepertinya aku sudah memberitahumu, kalau berkebun adalah mimpiku.”

“Jadi, kau mau pergi ke desa?” Geon Hycong tersenyum lebar pada Jung Won. Sudah lama :a tidak mendengar mimpi wanita ini.

“Kenapa kau tertawa?”

“Tidak. Apa tidak terlalu cepat untuk mewujudkan mimpimu itu?”

“Sudah terlalu terlambat.”

Jung Won bergumam pelan. Seharusnya ia tidak melakukan perjanjian seperti ini dengan lelaki ini. Seharusnya ia tidak terbujuk oleh permohonannya dan segera pergi ke desa saat itu. Waktu yang ia lewati bersama lelaki ini hanya membuatnya memiliki perasaan dan harapan yang sia-sia.

Berani-beraninya ia berpikir untuk mengambil milik orang lain. Sebenarnya wanita macam apa aku ini? Mengapa aku bisa lupa bahwa ada hal- hal yang tidak akan terwnjud di dunia im? Mobil Geon Hycong akhirnya tiba dan petugas parkir segera membukakan pintu untuknya.

“Kau mau panen ya? Di musim gugur kan biasanya orang-orang tidak menanam padi. Mendingan kau pergi musim semi tahun depan saja.”

“Di sana kan ada viny/ house.”

“Jangan terlalu sibuk dan pergi ke sana-kemari. Mungkin sesekali aku akan mengunjungimu.”

Gcon Hyeong tersenyum dan masuk ke mobilnya. Jung Won hampir meneteskan air mata karena rasa tidak rela dan sedih melihat lelaki yang meninggalkannya itu. Lelaki itu tetap tidak menahan keinginan Jung Won meskipun hanya bercanda. Cinta yang menghampirinya dengan susah payah kini pergi begitu saja. Berapa lama waktu yang ia butuhkan agar rasa cintanya ini pudar dan menghilang? Sepertinya ia akan benar-benar menderita karena rasa cintanya itu.

Jae Hyun melangkah dengan terburu-buru ke kantin. Jung Won yang sedang mengurusi kupon, membungkuk mengucapkan salam dengan sopan. Namun, sepertinya ia sedang tidak ingin menerima salam saat itu. Tanpa memedulikan antrean mahasiswa yang berjalan selangkah demi sclangkah sambil membawa nampan makanan mereka, Jac Hyun datang menghampiri Jung Won dan merebut kupon-kupon itu dari tangannya. Di saat-saat seperti ini, orang ini benar-benar cocok menjadi adik Kim Geon Hyeong.

“Ayo bicara sebentar.”

“Silakan.”

“Di sini? Kau yakin? Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Hm, tunggu dulu.”

Begitu Jae Hyun meninggikan suaranya, tatapan para mahasiswa itu kini terarah pada Jung Won dan Jae Hyun. Beberapa waktu yang lalu, seorang lelaki tampan menarik tangan cornj ahli nutrisi yang sebenarnya tidak terlalu cantik itu. Lalu, sekarang pangeran dari fakultas holtikultura itu yang datang menghampirinya. Wajah para mahasiswi itu terlihat heran dan tidak mengerti, sementara para mahasiswa terlihat bingung dan panik.

Pasti sekarang akan muncul gosip lagi selama beberapa saat, meskipun sekarang Jung Won pun tidak terlalu peduli dengan hal itu.

“Ini adalah pekerjaanku. Sama saja seperti Sonsaengniw yang tetap tidak bisa mengabaikan bunga-bunga mawar itu saat sesibuk apa pun. Aku juga begitu.”

Jae Hyun akhirnya bersabar dan menunggu sambil berdiri di samping Jung Won sampai antrean para mahasiswa itu habis.

Jung Won berdiri bersebelahan dengan pangerannya itu, namun pandangan orang-orang mulai tertuju pada Jung Won. Mulai dari mahasiswa, bibi yang mengambilkan nasi, sampai pangerannya itu pun ikut memandang Jung Won. Sampai akhirnya, Jung Won menyerah dan membalikkan badannya pada Jae Hyun.

“Sekarang semuanya sudah selesai?”

“Belum semuanya.”

Jung Won bergumam pelan, sementara Jae Hyun tetap melangkah dengan langkah yang besar-besar seperti saat ia masuk ke kantin tadi. Ia yakin kalau Jung Won akan mengikutinya. Kedua kakak beradik itu memang benar-benar mirip. Pikiran itu kembali terlintas di kepala Jung Won.

“Duduklah.”

Jae Hyun menarikkan sebuah kursi untuk Jung Won. Mereka berada di ruang penelitian fakultas holtikultura, bukan Hwaniwon yang biasa mereka kunjungi saat sedang lelah atau ada waktu luang. Jae Hyun segera bertanya pada Jung Won tanpa memberinya kesempatan untuk menarik napas.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Aku sudah berpikir baik-baik sebelum memutuskan hal ini.”

“Kau kan senang dengan universitas ini. Kau suka bekerja sebagai ahli nutrisi, lalu kau juga menyukai Hwaniwon dan rumah kaca. Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin berhenti bekerja di sini?”

“Karena seharusnya aku berhenti dari dulu.”

Dulu. Seharusnya ia membereskan semuanya ketika mendapat tawaran dari Geon Hyeong. Saat itu, ia sudah berniat untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu, ia sudah mengirimkan lamaran kerjanya kc tempat lain dan sudah mendapat beberapa rekomendasi. Seharusnya ia tidak mengabulkan permintaan Geon Hyeong saat itu, seharusnya ia mengabaikan rasa simpatinya itu.

“Apa ada scscorang yang memaksamu? Bapak dekan bilang apa?”

Jae Hyun yang sama sekali tidak bisa membaca isi hati Jung Won kembali bertanya padanya seolah teringat sesuatu. Jae Hyun seolah sudah siap melabrak dekan itu seandainya ia berani mengancam atau memaksa Jung Won. Melihat sikapnya itu, Jung Won terkejut dan segera menggelengkan kepalanya.

“Mana mungkin bapak dekan sampai mengurusi seorang ahli nutrisi kantin segala?”

“Kau ini kan tidak hanya ahli nutrisi saja. Kau lupa? Kau kan calon keluarga Goryo Grup ini.”

“Tidak. Kau kan tahu kalau aku tidak akan menjadi seperti itu.”

Jung Won kembali terkejut mendengar ucapan Jae Hyun yang penuh percaya diri itu. “Kau bersikap seperti ini karena Shin Hec #una? Kau tidak usah mengkhawatirkan lamaran pernikahan yang diajukan keluarga mereka.”

“Aku memang tidak mengkhawatirkannya.”

Jung Won menggeleng pelan. Ia kembal diingatkan mengenai posisinya melalu penjelasan Jae Hyun itu. Meskipun dari luar kelihatannya ia tersenyum kecil, namun ia berbohong saat mengatakan tidak mengkhawatirkan hal itu.

Benar juga. Ternyata lamaran pernikahan itu benar-benar sudah diajukan secara resmi oleh pihak keluarga Shin Hee. Ternyata, keluarga orang kaya seperti itu memang harus mengajukan lamaran pernikahan antarkeluarga seperti itu. Sebenarnya, hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, melihat tatapan Shin Hee dan Geon Hyeong yang bertemu di Hwaniwon saat itu.

Apa kedua orang itu akhirnya sudah berbaikan? Kalau Shin Hee sudah membulatkan tekadnya, kalau kedua keluarga itu sudah mengizinkan, jelas tidak ada sesuatu apa pun yang bisa menghalangi pernikahan mereka.

Meskipun Jung Won sudah mengetahui semua itu, ia tetap merasa hatinya hancur dan hampa.

“Lalu, kenapa kau bersikap seperti itu?”

“Kau tahu kan bagaimana awal mula pertemuan kami.”

“Memangnya itu yang penting?”

“Sejak awal, pertemuanku dengan Geon Hyeong adalah suatu kesalahan. Lalu, ada satu hal lagi yang tidak kau ketahui mengenai hubungan kami.”

Perjanjian mereka. Perjanjian kedua orang itu untuk saling memberi kepercayaan dan uang sampai Shin Hee melangsungkan acara pernikahan. Kim Jung Won sangat malu dengan perjanjian mereka itu sampai 1a tidak bisa menccritakannya kepada siapa pun.

“Apa?”

“Hubungan kami ini tidak sungguh-sungguh. Meskipun orang lain tidak tahu, tapi aku dan Geon Hyeong tahu.” “Entah bagaimana denganmu, tapi Geon Hycong benar-benar sunguh-sungguh. Percayalah padaku.”

Jae Hyun menggelengkan kepalanya dengan yakin. Ia tahu pasti arti tatapan kakaknya terhadap Jung Won. Rasa ingin memiliki, yang bercampur dengan rasa sayang. Entah mengapa wanita 11 tidak menyadari hal itu.

“Kau juga pernah membohongiku satu kali, kan.”

“Oh, itu... Jung Won ssi, aku benar-benar minta maaf.”

“Aku hanya bercanda. Tapi, kali ini aku yang benar.”

Begitu Jae Hyun buru-buru meminta maaf padanya dengan panik, Jung Won tersenyum kecil padanya. Ternyata pangerannya ini tidak secuek dan tidak tahu malu seperti kakaknya. Lalu, sikapnya tetap hangat dan :a tetap terlihat bersinar. Padahal ia dulu pernah sangat terpesona dengan senyuman pangerannya ini, namun entah mengapa sekarang ia malah memberikan hatinya pada lelaki lain.

“Kalau begitu, tunggulah sampai hyung datang kembali.”

“Tidak bisa. Kalau aku ingin bekerja di rumah sakit itu, banyak hal yang harus kusiapkan.”

Di hari ketika Geon Hyeong berangkat ke Amerika, datanglah sebuah surat dari sebuah sanatorium kecil yang menyatakan bahwa dirinya diterima untuk bekerja di sana. Saat itu, Jung Won berpikir bahwa inilah jawaban dari ibunya. Meskipun masih ada waktu satu bulan, ia rasanya tidak sanggup memandang Hwaniwon di kampus ini lagi sekarang.

“Lalu, bagaimana dengan kampus ini? Ternyata kau memang orang yang tidak bertanggung jawab seperti ini ya?”

“Pekerjaanku akan dialihkan kepada ahli nutrisi pengganti yang bekerja di kantin pegawai. Lalu, mulai semester depan akan dialihkan pada perusahaan owfsouring, jadi tidak akan timbul masalah. Tiwing-nya kebetulan sangat pas.”

Jae Hyun kini sedang membujuk wanita itu dengan cara lain, namun Jung Won kelihatannya sama sekalh tidak akan berubah pikiran. Sepertinya sudah terlalu terlambat untuk membujuk wanita ini dengan cara apa pun.

Hyung, sebenarnya apa yang telah kau lakukan?

“Kalau begitu, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?”

“Permintaan apa...”

“Aku harap kau mau mengabulkannya, meskipun demi pertemanan kita selama ini.”

“Katakan saja. Kalau bisa kulakukan, pasti.”

Sebenarnya, kata “pertemanan” yang diucapkan oleh Jae Hyun itu awalnya hanyalah harapan dan rasa iri Jung Won diam-diam setiap melihat pangerannya itu. Namun, kini Jae Hyun malah menggunakan hal itu sebagai alasan untuk meminta tolong padanya. Kedua kakak beradik ini memang benar-benar mirip. Karena ia kembali teringat akan Geon Hyeong, Jung Won tanpa sadar mengangguk pelan, sementara Jae Hyun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jung Won.

&

Setibanya di Korea, Gcon Hyeong yang baru menyelesaikan pemeriksaan oleh kejaksaan segera menuju ke kantor Goryo C&T tempat Direktur Oh berada. Untuk mengakhiri hubungan kerja sama mereka yang buruk ini, Geon Hyeong harus bepergian dari Amerika Serikat bagian timur sampai barat selama empat hari. Ketika kini ia akan memetik hasil kerja kerasnya itu, sebuah kabar mengenai Jung Won untuk pertama kalinya membuat Geon Hyeong ragu dengan tindakannya.

“Ia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya denganku? Bukan hanya bercanda?”

“Nah, apa Jung Won sudah memberitahumu kalau ia akan pergi?”

“Itu...”

Terakhir kali bertemu, mereka membicarakan tentang perkebunan. Namun, ia tidak menyangka kalau mimpinya itu akan terwujud secepat itu, tanpa ada pemberitahuan sedikit pun. Jung Won bahkan tidak mengatakan apa pun pada Gcon Hycong.

“Kau tahu tidak ia pergi ke mana?”

“Ke mana memangnya?”

“Ke taman botani yang dipimpin oleh Jae Hyun.”

“Yang benar saja.”

Geon Hyeong rasanya tidak percaya dengan kabar itu. Wajahnya langsung terlihat tegang karena rasa cemburu dan kecewa.

Tiba-tiba saja ia merasa marah. Ia merasa tidak percaya saat mendengar wanita itu pergi kepada laki-laki lain, padahal ia hanya meninggalkannya selama satu minggu.

“Kau tidak tahu sama sekali?”

Ya”

Wanita itu hanya berkata ingin mewujudkan mimpinya berkebun, tidak mengatakan bahwa ia akan pergi pada Jae Hyun.

Apa yang terjadi pada Jung Won selama seminggu itu? Ketika Geon Hyeong masih sibuk memikirkan hal itu, mobil mereka akhirnya tiba di pintu depan kantor Goryo C&T'. Ia melupakan sejenak hatinya yang terluka dan maju melangkah untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya dan perseteruannya selama ini.

Ketika Geon Hycong memasuki ruang rapat, Direktur Oh yang sejak tadi menunggunya segera menurunkan kakinya yang terlipat dan tersenyum menyambutnya. Wajahnya tetap terlihat cerah dan santai. Namun, Geon Hyeong tahu betapa khawatir dan tegangnya orang itu di balik wajahnya yang terlihat tenang. Sejak mengetahui bahwa Geon Hyeong mengunjungi perusahaan rekan kerjanya di Amerika, Washington yang dulu menjadi tempat tinggal ibunya, dan San Diego yang menjadi tempat pernikahan ibunya, Direktur Oh pasti sudah merasa cemas dan tidak tenang. Khawatir kalau Gcon Hyeong menemukan jejak-jejak perbuatannya dulu. Namun, berbeda dengan wajah Direktur Oh yang terlihat ceria, wajah ibu Jae Hyun terlihat yakin dan berani.

“Sepertinya nanti aku juga harus berbicara sebentar dengan Ibu.” “Jangan berani-berani mengancamku dengan membawa-bawa Jac Hyun.”

“Apa kau benar-benar berpikir aku tidak tahu mengenai Jae Hyun?”

Seperti biasa, Geon Hyeong berhadapan dengan Nyonya Oh dan langsung bertanya tanpa basa-basi. Benar juga. Tidak mungkin rasanya Geon Hyeong tidak mengetahui hal itu jika Jae Hyun yang jauh lebih polos dari Geon Hyeong saja tahu.

“Tapi, kenapa kau diam saja?”

“Itu bukan urusanmu.”

Geon Hyeong tidak menceritakan bagaimana Jae Hyun menyelamatkan dirinya dari kegelapan ruang bawah tanah semasa ia kecil. Wajah Nyonya Oh sekilas memandangnya dengan penasaran, namun Gcon Hycong sama sekali tidak berniat menceritakannya pada Nyonya Oh. Wanita itu lalu tersenyum pahit seolah baru teringat kembali bahwa anak ini memang anak yang seperti itu.

“Baiklah. Lalu, ada lagi yang ingin kau katakan selain urusan Jae Hyun?”

“Aku akan membiarkan kasus ibuku itu dan tidak akan menyentuhnya lagi. Tapi, aku tidak akan memaafkan jika kalian membuat wanita yang menjadi kekasihku terluka sedikit saja. Karena aku tidak akan membiarkannya lagi kali ini.”

“Sekarang kau sedang mengancam siapa? Memangnya siapa yang sedang bersabar? Aku benar-benar tidak ingin mendengar nama ibumu lagi.

Saat itu, barulah Geon Hyeong sadar bahwa Nyonya Oh tidak akan memaafkan wanita lain dari suaminya itu. Oleh karena itu, ia tidak akan

»”

mengizinkan campur tangan, negosiasi, atau bahkan pertemuan singkat sekalipun. Geon Hyeong lalu menatap Direktur Oh yang berdiri tepat di sebclah Nyonya Oh. Wah, jadi begitu rupanya. Gcon Hycong akhirnya menemukan potongan puzzle yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

“Jadi, ini perbuatan Direktur Oh?” “Apa maksudmu? Memangnya untuk apa aku mengganggu wanita seperti itu?”

“Pasti kau sudah menyelidiki semuanya tentang wanita yang akan kunikahi, kan?”

Jelas saja Direktur Oh akan terkejut saat mengetahui alamat rumah Jung Won yang sama sekali tidak pernah pindah rumah selama berpuluh-puluh tahun itu. Lalu, pasti ia merasa cemas. Kecemasannya itu pasti semakin menjadi-jadi ketika melihat cincin yang dipakai oleh Jung Won di acara pernikahan Shin Hee. Jika sescorang membcrikan cincin sebagai tanda pernikahan, bisa saja seseorang memberikan cincin sebagai tanda perpisahan. Itu sebabnya ia menyuruh orang untuk membobol masuk ke rumah Jung Won dan membuat Jung Won merasa khawatir. Tentu saja Direktur Oh sclalu merasa gelisah terhadap Jung Won yang berhubungan dengan masa lalu Geon Hyeong. Oleh karena itu, awalnya ia menyambut Jung Won dengan tangan terbuka, dan setelah itu menganggap Jung Won bagaikan duri yang menganggunya.

“Ternyata masih tidak cukup hanya dengan menculik ibuku saja.”

“Aku tidak tahu mengenai hal itu.”

Nyonya Oh yang tidak tahu-menahu mengenai hal itu kini menatap wajah kakaknya yang terlihat tua itu. Namun Direktur Oh mengabaikan adiknya.

“Sepertinya kau tidak ingat karena kejadian ini sudah sangat lama. Untungnya aku sudah mencaritahu mengenai hal ini. Ibuku diculik sebelum ia datang ke Korea.”

“Cih, siapa yang menculiknya? Sejak awal memang pernikahan itu tidak boleh dilakukan. Almarhum Kim sudah ditentukan untuk menikahi adikku.”

Akan tetapi, bagi seorang playboy seperti itu, pernikahan politik jclas bukan sesuatu yang ia inginkan dan lelaki yang tiba-tiba jatuh cinta itu langsung membeli sebuah cincin dan menikahi wanita itu. Melepaskan kesempatan untuk mendapat warisan dari Goryo Grup demi aktris seperti itu tentunya adalah perbuatan bodoh. “Bagaimana kau menipu ayahku? Lalu, bagaimana kau mengancam ibuku?”

“Aku tidak perlu mengancamnya. Ibumu itu polos sekali, sementara ayahmu juga tidak bisa memercayai wanitanya sendiri.”

Ayahnya berpikir bahwa wanita itu meninggalkan dirinya karena uang. Sementara ibunya berpikir bahwa lelakk itu hanya memanfaatkannya. Geon Hyeong mengangguk pelan mendengar penjelasan yang persis seperti dugaannya.  Mempermainkan kepercayaan masing-masing. Mungkin itu memang cara yang paling mudah bagi orang-orang yang masih muda dan sedang jatuh cinta.

“Ibumu tidak boleh muncul lagi di keluarga ini. Wanita malang itu.”

Setelah ibu Geon Hyeong pensiun pun, ia tetap mendapat tawaran kerja dari berbagai stasiun TV. Namun, kembalinya ibunya ke dunia hiburan seperti itu selalu berakhir dengan skandal yang berbahaya dan kecelakaan yang tidak jelas sebabnya. Saat itu pun tidak banyak orang yang tahu bahwa pihak Goryo Grup ada di balik semua kejadian itu. Beberapa bulan kemudian, ibunya kembali bertemu lelaki lan dan tinggal bersama lelaki itu, dan ketika Direktur Oh menganggap semuanya sudah selesai, Daisy tiba-tiba muncul kembali dengan membawa anaknya. Namun, sebelum ia sempat berbuat apa-apa, wanita itu menitipkan anaknya pada Presiden Kim dan pergi setelah menerima sejumlah uang. Lalu, tepat setahun kemudian, wanita itu meninggal karena kecelakaan.

“Itu bukan sesuatu yang pantas kau ucapkan.”

Api seolah menyala di mata Geon Hyeong yang sangat geram dan marah.

Lelaki yang dulu adalah teman baik ibunya dan manajer ibunya itu sangat terkejut ketika Geon Hyeong menemuinya di Washington. Saat itu, ia menyadari bahwa baik dirinya maupun lelaki itu hidup dengan memendam nama Daisy di dalam hati mereka selama hampir 20 tahun. Lelaki itu tidak mengetahui banyak hal. Namun, ada satu hal yang masih ia ingat dengan jelas. Penculikan dan ancaman itu. Lalu, kanker hati yang sama sekali tidak terduga. Di tengah situasi ketika ia sendiri tidak yakin dengan kelangsungan hidupnya, tentu saja ibunya merasa khawatir akan nasib anak laki-lakinya. Lalu, seperti kata Jung Won, mungkin ibunya ingin memberikan masa depan yang baik bagi anaknya. Uang yang ia terima dari keluarga Goryo Grup itu pun langsung disumbangkan ke sebuah lembaga amal. Mendengar cerita itu, Geon Hyeong mau tidak mau harus mengakui bahwa segala sesuatu yang ia ketahui tentang ibunya selama ini adalah tidak benar.

Direktur Oh menatap Geon Hyeong dengan wajah yang menyeramkan.

“Malang. Mau bagaimana lagi? Siapa yang menculiknya? Kau ada bukti?”

“Aku memang tidak bisa menemukan kesalahan kalian secara hukum. Aku sudah berusaha, namun kejadian im sudah terjadi terlalu lama. Namun, akan berbeda ceritanya jika berbicara mengenai Goryo Elektronik.”

“Apa maksudmu?”

“Penggelapan uang. Jual beli saham ilegal. Pengkhianatan. Selain itu, aku masih bisa mencari tuduhan-tuduhan yang lain. Tidak perlu kuucapkan pun, aku rasa Direktur Oh juga sudah tahu.”

“Penggelapan uang? Oppa, apa-apaan ini?”

Nyonya Oh segera berdiri dan berseru terkejut, namun kedua lelaki itu bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Jason yang sejak tadi diam berdiri di tempatnya, menghela napas dan menghampiri Nyonya Oh yang terhuyung dan mengajaknya untuk duduk. "Tatapan matanya yang menatap kakaknya sendiri dan Geon Hyeong benar-benar terlihat terkejut dan panik.

“Meskipun begitu, aku akan memberi waktu pada kalian. Demi Jae Hyun. Dari saham Goryo C&T yang kalian miliki, mungkin jumlah uang yang digelapkan bisa tertutup kembali. Lalu, untuk posisi direktur ini, silakan menyerahkan surat pengunduran diri. Untuk urusan yang lain, aku bisa membiarkannya begitu saja asal kalian tidak menyentuh Jung Won sedikit pun.”

“Siapa bilang aku mau menjual saham seenaknya seperti itu?” “Kau harus menjualnya. Karena kalau tidak, mungkin kau harus segcra mencari pengacara yang hebat hari ini juga.”

Mendengar ancaman yang terang-terangan itu, Direktur Oh menatapnya dengan geram dan penuh amarah. Sementara, Geon Hyeong tetap tenang dan menatapnya dengan tatapan sedingin es, tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.

“Satu hal yang bisa kujanjikan, kau pasti akan berharap semoga Jung Won tidak terluka sedikit pun, meskipun secara tidak sengaja sekalipun. Karena jika hal itu terjadi, aku akan menggunakan seluruh kemampuanku dan tidak akan memaafkanmu.”

Geon Hyeong tidak memedulikan wajah Direktur Oh yang semakin pucat, lalu mengalihkan pandangannya pada Nyonya Oh yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan kosong. Keduanya adalah orang yang tidak bisa saling merasa simpati atau kasihan satu sama lain.

“Kau tahu, tidak? Aku juga dulu ingin memiliki perusahaan ini dengan alasan yang sama denganmu. Karena aku ingin membagi dan memecah-belah perusahaan ini.

“Kau, jangan-jangan...”

Mendengar suara Geon Hyeong yang tenang, Nyonya Oh menatap Geon Hyeong sambil tidak bisa menyembunyikan suaranya yang gemetar.

“Ya. Tadinya aku ingin memecahnya menjadi beberapa bagian dan mengalihkannya ke tangan orang lain. Menurutmu, aku merasa nyaman di posisi ini?”

“Kau masih berpikiran seperti itu?”

“Tidak. Sekarang aku memiliki orang-orang yang menjadi tanggung jawabku, meskipun ini cukup menyulitkanku.”

Geon Hyeong menatap lurus-lurus Nyonya Oh yang terlihat cemas itu dengan wajah datarnya.

“Dulu aku sempat berpikir mungkin sebaiknya perusahaan ini jatuh ke tanganmu sejak awal. Karena dengan begitu, aku tidak perlu lagi berurusan denganmu.” “Aku sampai sekarang tetap tidak bisa memaafkan ayahmu dan ibumu, juga kakakku yang membuat semuanya menjadi seperti ini.”

“Aku juga. Aku tidak berniat memaafkanmu dan kakakmu.”

Kim ia tahu kebenaran yang sesungguhnya. Geon Hyeong kini tidak ingin mencampuradukkan masa lalunya dan masa depannya. Ia tidak

&

Akhirnya, tugas lamanya selesai juga. Namun, masalah yang paling penting dalam hidupnya masih belum terselesaikan. Gcon Hycong

akan berkompromi lagi.

menatap kotak yang terletak di atas mejanya. Di dalamnya terdapat cincin milik ibunya yang dikirim padanya melalu pos. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus menerima cincin itu.

Geon IHyeong tadinya hendak menemui Jung Won begitu urusannya dengan Direktur Oh selesai, namun ada sesuatu yang menghentikan langkahnya. Memo yang ditinggalkan oleh Jung Won.

Kini kau sudah memiliki keluargamu, jadi kau tidak membutuhkanku lagi. Semoga kau bahagia.

Apa sebenarnya maksud pesan ini? Dulu wanita itu mengatakan bahwa keluarga adalah seseorang yang saling peduli dan setia menunggu, bukannya orang yang dibutuhkan atau tidak. Lalu, mengapa sejak awal wanita itu menganggapnya keluarga?

Rasanya ta ingin segera menemui wanita itu dan menanyakan hal ini padanya, namun Geon Hyeong berusaha untuk bersabar. Ia pun memiliki beberapa hal yang harus dipikirkan. Lalu, Jung Won... ia juga harus memberi waktu bagi wanita itu. Kalau wanita itu tetap berkata tidak, Geon Hyeong pun tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.

Geon Hyeong memandang dua buah cincin yang terletak di antara tumpukan dokumen dan beberapa gelas kopi yang terletak di mejanya.

Cincin berukirkan bunga yang telah disiapkan oleh ayah untuk ibunya. Lalu sebuah cincin berukirkan namanya yang ia siapkan untuk wanitanya. Geon Hyeong pikir, bagi Jung Won yang penting hanyalah Geon Hycong. Oleh karena itu, ia hanya mengukir namanya di cincin itu, namun sepertinya wanita itu bahkan tidak membutuhkan Gcon Hyeong.

Geon Hyeong menatap cincin di atas meja itu lalu menghela napas dan mengambil tumpukan dokumen ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Selama ini, belum ada orang yang berani membuka ruangan Geon Hyeong tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Geon Hyeong segera menolehkan kepalanya mengira Jung Won yang masuk ke ruangannya. Namun ternyata, adik Jung Won yang muncul di ruangan kantornya. Ia menatap Geon Hyeong dengan marah bersama Jason yang terlihat bingung.

“Wah, “ossi ini benar-benar keterlaluan rupanya. Kakakku sudah hampir mati dan Ajossi masih sibuk bekerja saja.”

“Memang Jung Won sakit apa?”

Suara tajam Hee Won seolah tidak terdengar di telinganya. Geon Hyeong mengangkat alisnya mendengar bahwa Jung Won sudah hampir mati, dan scolah puas dengan rcaksi Gcon Hycong itu, wajah Hee Won terlihat sedikit lebih tenang.

“Kau pikir wanita yang patah hati akan baik-baik saja?”

“Dia yang memutuskanku.”

Mendengar jawaban Gcon Hyeong, Hee Won menatap Jason dengan tidak percaya.

“Apa dia itu bodoh? Atasanmu itu?”

“Mungkin.”

Jelas yang dimaksud dengan “atasanmu' itu adalah Geon Hyeong yang selama seminggu ini memang benar-benar menyusahkan Jason. Oleh karena itu, kali ini Jason tidak membantah hal itu. Menurut Jason, Jung Won dan Geon Hyeong masih sama-sama belum sadar bahwa mercka sedang jatuh cinta. Meskipun rasanya menyenangkan bisa melihat sisi lain dari sikap Geon Hyeong, rasanya menyedihkan sekali melihat berbagai masalah yang menimpa kedua orang yang bisa dikatakan kurang berpengalaman dalam masalah cinta. Kalau dibiarkan seperti ini, pasti keduanya akan hancur dan mati hanya karena cgo masing-masing.

“Yah, sebenarnya aku sudah curiga sejak Ajossi memasang iklan di koran itu. Semua orang di dunia ini rasanya sudah tahu kalau conzi-ku itu menyukai Ajossi, tapi kenapa -Ajossi tidak tahu hal itu?”

Rasanya tidak mungkin ada hal yang diketahui oleh semua orang di duna ini kecuai Geon Hyeong. Kalau Kang Jung Won memang mencinta Kim Geon Hyeong, seharusnya warita itu tidak pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja. Perasaan Jung Won pada Geon Hyeong bukanlah rasa cinta, namun hanya rasa simpati dan kasihan. Sesuatu yang paling tidak disukai oleh Geon Hyeong. Ia lalu menggelengkan kepalanya dengan wajah dingin.

“Bagaimana dengan Chi-chi, Goliath, Romeo? Sepertinya ia juga mencintai mereka?”

“Perbandingan tidak masuk akal macam apa itu?”

“Kakakmu kan memang seperti itu. Suka mengambil apa saja, siapa saja, dan dianggap sebagai keluarga. Aku tidak ingin dikasiham seperti itu.”

“Bonni memang orang yang mudah merasa simpati, tapi ia kan tidak mungkin berpacaran dengan anjing atau kucing-kucing itu,” suara Hee Won terdengar lebih tajam.

Apa orang ini benar-benar bodoh? Rasa simpati. Apa mungkin seorang wanita tidak bisa tidur dan menangisi seorang laki-laki semalam suntuk hanya karena simpati? Hee Won datang menemui lelaki itu karena tidak tahan mendengar suara tangisan kakaknya yang tertahan di malam hari dan wajahnya yang selalu bengkak di pagi hari karena terlalu banyak menangis. Ia mengerutkan dahinya mendengar jawaban Geon Hyeong.

“Pacaran? Hubungan kami tidak seperti itu.”

“Mungkin bagi Ajossi tidak seperti itu. Tapi, bagi conni, ia menganggap dirinya berpacaran dengan Ajossi.”

Hee Won meluapkan kekesalannya. Tidak berpacaran? Jadi, selama ini hanya corni-nya yang salah paham? “Hee Won, mungkin kau tidak tahu, tapi kami memiliki perjanjian sendiri.”

“Iya. Aku memang tidak tahu hal-hal seperti itu. Yang aku tahu, tonni selalu bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Ia tidak mengabaikan keluarganya.”

Hee Won berteriak dengan geram pada Geon Hyeong. Memangnya tahu apa orang ini tentang corri, batinnya.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena ia adalah conzi-ku.”

“Itu juga salah satu peraturan keluargamu?”

“Im lebih dari sekadar peraturan keluarga karena kami sudah mengalaminya langsung.”

Ketika orangtua mereka meninggal, Jung Won con: masih berumur 12 tahun. Meskipun saat itu nenek masih ada, yang menjadi pelindung dan penanggung jawab mereka adalah Jung Won econri. Saat itu, ada yang menyarankan agar Sung Won dibawa ke panti asuhan dan ia sendiri dibawa ke rumah salah satu kerabat mereka. Namun, meskipun tonni juga saat itu masih sangat muda dan butuh perlindungan, ia tetap tidak mengabaikan mereka dan justru menjadi pagar yang melindungi mereka. Kalau tidak ada adik-adik yang membebaninya, mungkin sekarang eonsi bisa hidup lebih bebas dan nyaman. Namun eozni tetap tidak meninggalkan adik-adiknya. Hee Won pun merasa tidak perlu menjelaskan mengenai kepercayaan di antara mereka pada lelaki yang sama sekali tidak tahu apa-apa ini. Kalau sampai lelaki ini membuat tonni-nya menangis, Hee Won akan membuat lelaki itu menangis darah dalam hatinya. Barulah ia merasa puas.

“Apa ucapanmu itu bisa dipercaya?”

“Apa boleh buat. Terserahlah. Biarkan saja corsi-ku mati perlahan dan Ajossi mati karena kecanduan alkohol.”

Hee Won menyumpah kepada Geon Hyeong yang menatapnya dengan curiga kemudian meninggalkan ruangan itu. Geon Hyeong kembali menenggelamkan diri pada tumpukan dokumennya seolah tidak ada apa-apa. Namun ia lantas memandang telepon genggamnya yang bergeming dan menghela napas.

Sudah beberapa kali ia menekan tombol di telepon genggamnya dan kembali mengurungkan niatnya. Nada sambung telepon Jung Won yang sebenarnya tidak diubah dengan v4ler ringione itu pun rasanya sampai tertanam di kepala Geon Iyeong. Lalu, pada akhirnya ia merasa mungkin lebih baik jika wanita itu tidak menjawab teleponnya.

“Kau juga payah,” Jason mengkritiknya dengan ketus.

Jason sama sekali tidak mengerti mengapa temannya itu tidak melakukan apa-apa seperti itu. Padahal, ia sendiri tahu bagaimana perasaannya pada wanita itu dan bahkan sudah menyiapkan cincin untuknya.

“Aku tahu.”

“Kalau sudah tahu, cepat tahan dia.”

Jason menyandarkan tubuhnya di sisi meja dan memperingatkan temannya dengan wajah tidak sabar, sementara Geon Hyeong hanya menatapnya sebal.

Sebenarnya, wanita itu pun cukup keterlaluan menurut Geon Hyeong. Kerinduannya pada wanita itu kini berubah menjadi kesedihan. Geon Hyeong tidak menyangka wanita itu akan pergi meninggalkannya semudah itu. Namun, kescdihannya itu sepertinya tidak sebanding dengan rasa rindunya tadi.

“Aku tidak ingin menahannya.”

“Lalu?”

“Aku akan pergi mencarinya. Karena kali ini aku akan pergi untuk mengambilnya.”

Geon Hyeong melempar koran pagi itu pada Jason dan berdiri dari kursinya. Jason yang sudah tahu apa isi koran yang dilemparkan oleh Gcon Hyeong itu tergelak pelan sambil mengangkat bahunya dan

mengangkat koran itu. Taman botani yang baru akan dibuka bulan depan itu memang terlihat sepi, namun Jung Won bekerja dengan sangat sibuk di dalamnya.

Benar-benar lelaki yang dingin. Meskipun ia sudah sampai di Korea, Geon Hyeong sama sekali tidak menghubunginya. Bagi Jung Won, perpisahan bukanlah sesuatu yang khusus dan perlu dibesar-besarkan. Sebenarnya, tidak bisa dikatakan perpisahan juga karena begitu perjanjian mereka selesai, otomatis urusan di antara mereka telah berakhir. Kata “perpisahan' sepertinya tidak cocok untuk digunakan dalam hubungan mereka.

Hee Won mengunjungi Jung Won di taman botani pada akhir pekan dan seperti biasa, kehadirannya di tempat itu langsung menarik perhatian tidak hanya petugas taman, tetapi juga semua laki-laki yang bekerja di taman itu. Suatu hari, pernah ada orang dari manajemen artis yang sedang syuting di sebuah tempat perkemahan yang terhubung dengan taman botani itu. Ketika melihat Hee Won, mereka bahkan melupakan syuting aktor mereka sendiri dan sibuk membujuk adiknya itu untuk menjadi selebriti. Namun, Hee Won menolak tawaran itu dengan sopan.

“Pokoknya kalau selebriti, tidak boleh.”

“Tentu saja. Di dunia itu kan banyak sekali wanita cantik. Kalau wanita yang jauh lebih cantik dari mereka seperti aku ini ikut terjun ke duria itu, nanti aku sendiri yang capek. Pasti mereka sangat iri padaku.”

Entah apakah anak ini salah paham atau apa, yang pasti Jung Won buru-buru menganggukkan kepalanya. Ia tidak peduli apakah orang- orang akan iri padanya. Ia hanya tidak ingin melihat Kang Hee Won yang tukang pembuat masalah itu kembali membuat masalah di hadapan rakyat seluruh negeri.

“Oh iya. Borni, sudah lihat belum? Tadi orang dari manajemen itu memberikan ini padaku.”

“Kalau kartu nama, tadi kan sudah kau buang.”

“Bukan kartu nama. Sepertinya hanya Eonri yang memenuhi syarat untuk ini.” Tentu saja Hee Won tidak membuang kartu nama itu. Impiannya memang tetap menjadi Miss Korca, tetapi siapa tahu saja. Ia diam-diam menyimpan kartu nama itu untuk berjaga-jaga jika suatu saat ia membutuhkannya. Jung Won menatap Hee Won dengan curiga sementara Hee Won pura-pura tidak peduli dan menunjukkan kertas yang ada di tangannya pada kakaknya. Sekarang, yang harus dikhawatirkan oleh kakaknya itu bukanlah sekadar kartu nama dari manajemen selebriti. Jung Won mengambil koran itu dari tangan Hee Won dan memandang ke sesuatu yang ditunjuk oleh Hee Won.

Ada sebuah iklan di koran itu. Iklan yang tidak terlalu besar seperti saat itu. Jung Won mengalah pada adiknya dan membaca sebuah iklan dengan isi yang menarik di halaman iklan bagian kebutuhan sehari-hari. 

Dicari Istri

  • Nama: Kang Jung Won Umur: 26 tahun
  • Impian: Berkebun
  • Kualifikasi: Permanen
  • Kualifikasi khusus: Memiliki banyak peraturan keluarga
  • Keuntungan khusus: Disediakan halaman depan
“Sepertinya kali ini tidak banyak yang akan mendaftar. Bagaimana?”

“Sudahlah, aku tidak peduli.”

Jung Won mendengus pelan dan menyingkirkan koran itu, sementara Hee Won hanya mengangguk-angguk maklum.

“Isi kontraknya tidak sehebat iklan yang waktu itu, kan? Di sini tidak ada keterangan tentang upah atau bonus. Hadiah belajar ke luar negeri juga tidak ada.”

“Kang Hee Won, bukan itu yang penting.”

“Lalu apa? Eonri ingin ta membuat pengumuman berisi T /ove yow? Tapi kalau ucapannya langsung seperti itu kan kampungan. Norak.”

Hee Won berkata dengan serius sambil menggoyang-goyangkan jarinya di depan wajah Jung Won. Seolah Jung Won benar-benar ingin mendapat pengumuman seperti itu.

“Ya! Memangnya siapa yang jatuh cinta?”

“Eonni dan Geon Hyeong gyjossi. Masa tidak tahu?”

Mendengar ucapan Hee Won yang serius dan tajam itu, Jung Won tidak bisa berkata apa-apa.

Hanya dirinya yang jatuh cinta pada lelaki itu. Awalnya, ia berpikir cinta pada pandangan pertama itu ada, seperti halnya wanita di cerita dongeng yang jatuh cinta pada seorang pangeran sejak pertama kali melihatnya. Namun, 1a tidak menyangka akan jatuh cinta pada scorang lelaki yang keras kepala dan suka bertindak semaunya seperti itu.

Meskipun sudah tinggal di sekitar kaki gunung, yang ada di otak Jung Won sejak ia membuka matanya di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari hanyalah Kim Geon Hyeong seorang. Ternyata, jauh di mata bukan berarti jauh di hati. Sesuatu yang jika jauh di hati, maka akan jauh juga di mata, itulah yang dikatakan cinta. Geon Hyeong selalu berada di hati Jung Won dan mengisi hatinya.

“Setidaknya berilah ia kesempatan sekali lagi. Kan ada di peraturan keluarga kita. Nomor 33.”

“Kepercayaan itu berbeda dengan cinta. Orang itu tidak memercayaiku. Ia juga tidak mencintaiku. Peraturan nomor 25.” “Gaya bicara Horni im seolah tahu banyak tentang cinta. Ajossi itu juga tidak berpengalaman, makanya ia berbuat seperti itu. Kalau kupikir-pikir, harusnya Eonri yang merasa senang karena berarti ia juga tidak punya mantan pacar.”

Entah mengapa hari itu Hee Won berpihak pada Geon Hyeong. Namun, Jung Won tidak ingin termakan bujukan Hee Won dan terluka kembali.

“Orang itu bukannya tidak berpengalaman, tapi ia bahkan tidak memiliki rasa sayang padaku.”

“Memangnya kau sayang padaku?”

Mendengar suara dingin dan datar Geon Hyeong yang terdengar dari belakang kepalanya, tubuh Jung Won tiba-tiba terasa kaku. Suara itu bukan halusinasinya dan juga bukan mimpi. Suara itu jelas adalah suara Geon Hyeong.

“Kalau begitu, berarti sama saja.”

Jung Won mendongakkan wajahnya dan menyahut Geon Hyeong yang kini berada di hadapannya.

Jason yang datang bersama Geon Hyeong bertatapan dengan Hee Won dan mereka pergi menuju ke /ounge tempat istirahat. Namun, Jung Won dan Geon Hyeong sama sekali tidak menyadari kepergian mereka. Bagaimana mungkin mereka berdua bisa bertahan selama ini dengan mata dan telinga yang sama sekali tidak peka itu? Benar-benar persaingan antara pasangan yang sama-sama kuat. Termasuk dalam urusan cinta seperti ini.

Udara di taman botani yang terletak di sebuah gunung di Provinsi Gangwon itu benar-benar terasa segar. Kalau dilihat dari lokasi taman ini, kemampuan bisnis Jae Hyun ternyata bagus juga. Namun, yang penting bagi Gcon Hycong saat ini adalah bahwa wanitanya ada di tempat ini. Melihat wanita yang memandangnya sambil mendongakkan kepalanya itu, Geon Hyeong langsung menyadari betapa ia sangat merindukan wanita ini. Ia bertekad bahwa pertarungan ego mereka hari ini adalah yang terakhir kalinya. “Lama tidak berjumpa denganmu.”

“Benar juga.”

“Lama tidak berjumpa? Saat ini tepatnya sudah 14 hari 8 jam berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Setiap hari rasanya terasa sangat panjang dan ia selalu merindukan wanita ini.

“Mau minum?”

“Apa saja.”

Jung Won bergumam dengan wajah tidak peduli lalu meletakkan segclas minuman hitam di hadapan Gcon Hycong. Geon Hycong menatap minuman berwarna hitam itu seolah menatap racun. Sementara, begitu Jung Won yang tadinya tidak berkata apa-apa itu mengernyitkan dahinya, mau tidak mau Geon Hyeong menghabiskan segclas minuman itu. Meskipun rasanya tidak mematikan, bisa dikatakan rasanya pahit seperti racun.

“Itu sari kudzu. Tidak akan membuatmu mati.”

“Rasanya aku hampir mati.”

Gcon Hycong meletakkan gelas kosong itu dan mengaku dengan ketus.

Sebenarnya selama beberapa hari yang lalu, ia benar-benar merasa hampir mati. Rasanya seperti ada satu bagian tubuhnya yang mati. Merindukan sescorang yang tidak bisa ditemui benar-benar suatu penyiksaan. Berusaha mengabaikan perasaannya itu juga sama menyiksanya.

“Kau akan terus di sini?”

“Udara pegunungan, air, dan pemandangannya bagus. Aku suka tempat ini.”

Geon Hyeong menatap mata Jung Won yang bergumam dengan wajah tidak peduli. Kemudian, mereka bertatapan selama beberapa saat. Perhatian kedua orang yang terus bertatapan selama entah satu menit atau sepuluh menit itu terpaksa terpecah oleh dehaman pelan seorang tamu yang datang ke taman itu.

“Apa aku mengganggu?”

“Ah, tidak, Sonsaengnim. Sepertinya habis mendaki gunung ya?” “Iya, karena hari ini akhir pekan. Kalau taman ini dibuka, aku kan tidak bisa mendaki melalui jalan ini lagi.”

“Kenapa tidak bisa? Di luar taman ini juga masih ada jalan.”

“Tetapi tetap saja berbeda jika ada Jung Won ssi di taman ini.”

Awalnya, Geon Hyeong menganggap orang itu hanyalah tamu. Oleh karena itu, ia bersabar. Namun, ia agak tidak suka mendengar Jung Won menyebut kata “sorsaengnim? karena mengingatkannya akan panggilan Jung Won untuk Jae Hyun. Lalu, ia semakin marah ketika tamu itu balas menyahut dengan panggilan Jung Won ss? yang disambut dengan tawa ramah oleh Jung Won. Lelaki itu tetap tersenyum ramah pada Jung Won meskipun Geon Hyeong sudah menatapnya dengan menyeramkan dan akhirnya ia meninggalkan tempat itu. Gcon Hyeong yang semakin kesal karena tingkah lelaki itu segera menatap punggung lelaki itu dengan garang melalui pintu lounge taman yang belum sepenuhnya selesai dibangun.

Lelaki itu bersikap ramah pada Jung Won dan Jung Won pun... Sial. Wanita ini, meskipun selama im tugasnya hanya mengambilkan nasi dengan kalem, namun di sekelilingnya ternyata banyak sekali lelaki yang kelaparan.

“Lelaki tadi itu siapa?”

“Dokter di puskesmas.”

“Dokter puskesmas? Kalau dokter, kenapa ia berkeliaran di tempat seperti ini, bukannya menjaga pasien?”

“Ia tidak berkeliaran saja, tadi kan katanya ta baru naik gunung. Hari ini kan akhir pekan.”

Jung Won tidak mengerti mengapa Geon Hyeong terlihat kesal seperti itu. Meskipun begitu, ia tetap menjelaskan padanya satu per satu.

“Tetap saja.”

“Kenapa kau berteriak sepert itu?” Jung Won kembali mengerutkan dahinya ketika Geon Hyeong berteriak padanya.

“Jadi, ini tujuanmu datang ke tempat im?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku...” “Maksudmu apa?”

Jung Won semakin menegakkan badannya menatap Geon Hycong yang terlihat emosi itu.

Musim panas di Provinsi Gangwon ternyata cukup singkat. Cuaca musim gugur yang singkat itu pun cukup menyilaukan mata. Udara di siang hari memang membuat keringat mengucur di seluruh tubuh, namun begitu malam tiba, seketika saja udaranya langsung terasa dingin. Di saat matahari belum sepenuhnya turun, tampak api kecil berkiat di mata kedua orang yang masih berpandangan itu.

Kedua orang itu tetap berpandangan dengan sengit seolah menatap musuh bebuyutan mereka. Dokter puskesmas itu memang telah mengganggu saat-saat penting mereka. Namun, Jung Won tidak percaya melihat lelaki ini langsung marah dan merajuk hanya karena hal itu. Sementara itu, Jason dan Hee Won yang tidak sengaja mendengarkan percakapan kedua orang itu dari kursi kayu yang terletak di lorong mawar di sebelah /ounge itu hanya menghela napas dengan tidak sabar.

“Kedua orang itu, kenapa mereka sejak tadi hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting seperti itu?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu.”

Hee Won yang biasanya santai pun kali ini benar-benar tidak sabar dan akhirnya menggerutu pada Jason. Awalnya, ia berkata sambil berbisik-bisik dengan suara pelan, takut kalau suaranya terdengar oleh kedua orang itu dan diusir dari tempat itu. Namun karena merasa kesal dan tidak sabar, tanpa sadar suaranya meninggi dengan sendirinya.

“Kalian bukannya datang untuk menjemput co1ni?”

“Aku pikir juga begitu, tapi sepertinya tidak.”

Jason pun berbisik pelan di telinga Hce Won. Sepertinya 1a juga tidak ingin ketahuan dan dimarahi oleh Geon Hyeong.

“Timing-nya benar-benar payah. “Yossi juga tidak tahu bagaimana cara melamar wanita, tidak peka, lalu kelihatan seperti orang yang tidak berniat.” “Itu semua namanya benar-benar krisis, situasi gawat darurat.”

Hce Won dan Jason saling berpandangan lalu menghela napas dengan cukup keras yang mungkin bisa terdengar ke dalam ruangan lounge itu. Mereka sudah tidak peduli lagi seandainya ketahuan pun. Mau bagaimana lagi? Kedua orang itu bahkan tidak menyadari apa yang ada di depan mata mereka. Bodoh sekali.

“Sepertinya pembicaraan mereka masih lama. Bagaimana kalau kita minum wakkeol?? di bawah sana?”

“Kau menggodaku?”

“Tidak boleh?”

“Aku sebenarnya lumayan suka dengan pria berambut cokelat.”

Hee Won menggerak-gerakkan alisnya dan tersenyum. Senyuman wanita cantik itu selalu membuat Jason berdebar-debar. Seperti saat ini. Terserah apakah Geon Hyeong dan Jung Won akan berperang, berbaikan kembali, atau apa pun itu, kini saatnya mereka meninggalkan kedua orang itu. Demi kedua orang itu, dan demi kedua orang yang lain. Siapa tahu saja. Kata orang, cinta itu tidak perlu dicari di tempat yang jauh. Jason berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Hee Won. Hee Won menyambut uluran tangan itu dan berdiri dengan hati-hati.

Seandainya kedua orang itu menyadari tatapan adiknya dan temannya itu terlihat berbeda, mungkin Jung Won yang suka ikut campur itu sudah berlari menghampiri adiknya. Namun hari ini, sepertinya dirinya sendirilah yang paling penting. Tidak, Geon Hyeong adalah segalanya.

“Sepertinya tidak ada wanita yang mendaftar untuk iklanmu itu ya?”

“Bukan aku yang memasang iklan itu.”

Gecon Hyeong menjawab pertanyaan Jung Won yang cukup dingin itu dengan singkat.

“Lalu?” --Note 22 Arak beras--

“Jason. Kau pikir aku akan melakukan tindakan bodoh seperti itu?”

Sudah kuduga. Tentu saja orang ini tidak akan melakukan hal seperti itu. Yung Won yang diam-diam, tanpa sepengetahuan Hee Won, menyimpan koran itu untuk dijadikan kliping merasa tindakannya benar-benar bodoh. Jung Won benar-benar sudah mempermalukan dirinya sendiri.

“Lalu?”

“Ya?”

Lalu apanya? Jang Won yang tidak mengerti maksud pertanyaan Geon Hyeong itu mengernyitkan dahinya. Sementara, Geon Hyeong kini terpaksa harus bertanya secara langsung karena Jung Won tidak juga mengerti maksud pertanyaannya itu.

“Sekarang kutanya, apa kau menerima iklan itu? Sekarang aku sedang melamarmu.”

“Melamarku?”

“Kau bisa berjanji akan selalu berada di sisiku meskipun dalam situasi sulit sekalipun?”

Sulit untuk percaya bahwa ucapan itu keluar dari mulut Geon Hyeong. Jung Won yang merasa dirinya salah dengar itu terlihat terkejut dan bingung.

“Ita, bukankah orang yang menerima lamaran biasanya diberi waktu untuk berpikir?”

“Sudahlah. Kalau seseorang yang dilamar meminta waktu berpikir, itu artinya jawabannya “tidak”.”

“Kata siapa itu?”

“Bagiku seperti itu. Kim Geon Hyeong ini baru pertama kalinya melamar wanita dan ternyata ditolak.”

“Tunggu. Baiklah, aku akan menikahimu.”

Jung Won buru-buru menjawab pertanyaan Gcon Hycong yang kelihatannya bisa saja segera berubah pikiran dalam sekejap. Ia benar- benar tidak bisa melepaskannya lagi. Ia bahkan tidak ingat dengan peraturan keluarganya yang mengatakan bahwa keinginan yang berlebihan itu sama saja dengan bencana. Ia tidak ingin berpisah dengan lelaki ini. Tidak ingin berada jauh darinya.

“Benarkah?”

“Sepertinya begitu.”

Geon Hyeong mengangkat alisnya mendengar jawaban yang tidak pasti itu. Melihat desakan tanpa kata-kata itu, Jung Won kembali melanjutkan ucapannya.

“Bukan begitu, hanya saja, apa kau mencintaiku?”

“Iya. Kau?”

“Aku tidak tahu.”

Ia tidak percaya. Cinta lelaki ini. Lelaki yang ada bersamanya saat ini.

“Tidak tahu? Jangan berbohong. Peraturan nomor 22. Lalu, berbohong demi kebaikan itu bukan pikhan yang buruk. Peraturan...”

“Jadi, kau berharap aku berbohong demi kebaikan? Mengenai masalah sepenting ini?”

“Sepertinya. Mungkin aku yang terlalu mendesakmu. Kau tidak mau memungutku seperti saat itu?”

Geon Hyeong mengakui perasaannya dengan jujur, sehingga Jung Won merasa terharu.

“Keluarga itu tidak saling memungut. Aku pun mungkin terlalu mendesakmu. Tadinya kupikir hanya aku yang menyukaimu.”

Mendengar jawabannya itu, Geon Hyeong menghela napas lega dan memeluk erat-erat Jung Won yang terlihat berkaca-kaca. Kedua orang itu benar-benar berpelukan dengan rapat.

“Kau sungguh-sungguh, kan? Sekali berkata “ya”, kau tidak bisa menarik ucapanmu lagi. Sekarang aku tidak sanggup menunggu lagi.”

“Aku sudah tahu sejak awal kalau kau memang orang yang seperti itu.”

Geon Hycong kemudian menghampiri bibir Jung Won yang sedang tersenyum tipis. Ciuman percaya diri seorang lelaki yang lamaran cintanya diterima itu ternyata jauh lebih hati-hati dan lembut daripada dugaan Jung Won. Seperti halnya saat musim semi baru tiba ketika mereka pertama kali berciuman di Hwaniwon, kali inn pun musim gugur baru saja memasuki Provinsi Gangwon. Lalu, pertemuan pertama mereka yang cukup memalukan itu, kini tumbuh dan bersemi

menjadi cinta.

Bibir yang hangat itu membuat jantungnya berdebar-debar. Jung Won menahan napas bahagia dengan bibir Geon Hyeong yang menciumnya kuat dan sentuhan tangannya yang membuat Jung Won mundur selangkah. Ia pergi menuju Seoul bersama Geon Hyeong dan belum sampai sepuluh mcriut sejak 1a tiba di rumah Geon Hyeong. Itu adalah pertama kalinya ia mengunjungi rumah Geon Hyeong, namun ia sama sekali tidak sempat memperhatikan interior yang ada di ruangan itu. Jantungnya serasa hampir meledak melihat tatapan mata Geon Hyeong.

“Hm, Geon Hyeong ssi...”

“Kan sudah kukatakan. Aku tidak bisa menunggu lagi.”

Keinginannya itu benar-benar terlihat jelas di bola mata Geon Hycong, sampai-sampai Jung Won yang polos pun scgera menyadarinya. Sinar mata Geon Hyeong yang terlihat sangat mendambakan Jung Won dan ingin memilikinya seolah tidak bisa bersabar lagi.

“Kau tidak bisa mundur lagi.”

Sebelum Jung Won sempat berkata apa-apa, Geon Hyeong menggelengkan kepalanya dengan yakin. Ia terus memikirkan hal ini dalam perjalanan ke tempat ini. Ia tidak ingin melepaskan wanita ini lagi. Sudah cukup banyak waktu yang mereka habiskan untuk berada saling terpisah satu sama lain.

“Tapi itu, di peraturan keluargaku nomor 49.”

“Aku yakin ibumu juga dulu pasti melanggar beberapa peraturan keluarga untuk bisa melahirkanmu.”

Geon Hyeong menjawab dengan serius menanggapi alasan Jung Won. Tadinya ia sempat bertanya-tanya mengapa wanita ini tidak mengungkit soal peraturan keluarganya. Bisa sampai ke tempat ini setelah melewati rintangan beberapa peraturan itu mungkin sudah merupakan sesuatu yang hebat bagi Jung Won.

“Benar. Peraturan keluarga nomor 30. Jangan ragu-ragu jika memang mencintainya.”

“Kalau begitu, berarti kita harus mengikuti peraturan itu.”

Geon Hyeong kim akhirnya menemukan peraturan yang paling bagus dari sekian banyak peraturan keluarga yang ditinggalkan oleh ibu Jung Won. Ia pun sama sekali tidak berniat mundur atau melarikan diri lagi di depan wanita yang dicintainya ini. Ia tidak akan melepaskan wanita imi lagi.

Ini bukan pertama kalinya bagi Gcon Hycong melihat tubuh wanita. Namun, wanita itu membuatnya lebih bersemangat dibandingkan saat masa pubertasnya dulu. Ia menyentuh wajah Jung Won yang terlihat tegang dengan ujung jarinya. Dari matanya sampai pipinya yang memerah. Menyentuh wajahnya yang terasa lembut seperti krim itu membuat napas Geon Hyeong semakin menderu.

“Cantik.”

Jung Won mau tidak mau menahan napas melihat rasa haus yang mendalam dari tatapan mata dan sentuhan Gcon Hyeong. Jung Won hendak membuka mulutnya dan berkata sesuatu, namun dari mulutnya yang keluar hanyalah suara helaan napas pelan.

“Hm, Geon Hyeong ss:.”

“5st.”

Seolah tidak memberi pilihan apa-apa pada Jung Won, Geon Hyeong menariknya ke dalam pelukannya dan menciumnya. Isi hatinya yang seolah mengatakan tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun itu tersampaikan melalui umannya yang dalam.

Lebih dekat. Lebih dalam.

Napas mereka semakin cepat dan tangan mereka pun semakin sibuk.

“Aku ingin melakukannya perlahan, tapi sepertinya aku tidak bisa.” Geon Hyeong berkata dengan jujur kepada Jung Won yang berada di bawah tubuhnya. Namun, berbeda dengan pengakuannya, Gcon Hyeong ternyata adalah kekasih yang romantis. Otot-ototnya terlihat di lengannya yang kokoh dan keringat menetes di dahinya yang lurus. Meskipun begitu, Geon Hyeong tetap melakukannya dengan perlahan demi wanita itu. Napasnya yang terasa di telinga Jung Won, sentuhan tangannya yang terasa di dadanya, dan suhu tubuhnya yang terasa di seluruh tubuh Jung Won membuat kulit putih Jung Won seolah bersemu merah. Sementara, Gcon Hyeong tetap tidak menghentikan gerakan bibir dan tangannya sampai Jung Won rasanya tidak bisa mengendalikan seluruh tubuhnya sendiri dari ujung kepala sampai ujung kaki. Suara erangan pelan kemudian terdengar di udara yang seketika itu memanas. Napas yang kasar dan ccpat pecah keluar begitu saja sekaligus.

“Kang Jung Won. Jung Won.”

“Hm.”

“Lihat aku.”

Jung Won yang kembali merasa gugup ketika tubuh Geon Hyeong yang menegang keras itu menyentuhnya, akhirnya berhasil mengangkat kepalanya. Di mata Geon Hyeong yang terlihat lebih bersinar daripada sinar bintang di langit musim dingin itu hanya ada Jung Won. Geon Hyeong hanya menatap Jung Won seorang.

“Kau baik-baik saja?”

“Sedikit. Tapi sepertinya ini lebih sulit daripada memetik kacang di ladang.”

Geon Hyeong mengecup dahi Jung Won yang basah oleh keringat dan Jung Won dapat merasakan senyuman di wajah Geon Hyeong.

“Sekarang mungkin akan lebih sulit daripada tadi.”

“Aku akan mencoba bertahan.”

Jung Won tersenyum pada Geon Hyeong sambil menarik napas panjang. Melihat senyumnya itu, gembok yang mengunci Geon Hyeong seolah terbuka begitu saja. Bibirnya yang tadi menyentuh bibir Jung Won dengan lembut kini semakin dalam. Sentuhan tangannya yang tadi berhati-hati khawatir meninggalkan memar di tubuh putih Jung Won kini mulai lebih kasar. Semua gerakannya yang tadi perlahan kini mulai bergerak dengan tidak sabar. Rasa manis kekasihnya yang ia rasakan dengan seluruh tubuhnya itu membuat kesabaran dan pengendalian dirinya hilang total begitu saja.

Ketika ta benar-benar merasa tidak tahan lagi, Geon Hyeong tetap tidak berhenti dan Jung Won tetap menjadi satu dengannya dengan sempurna sampai akhir. Jung Won menekan bibirnya di pundak Geon Hycong dan menahan crangannya atas rasa sakit yang asing baginya. Geon Hyeong yang kini merasa memiliki wanita ini sepenuhnya menatap Jung Won dalam-dalam.

“Sakit.”

“Maaf, tapi mau bagaimana lagi. Sepertinya aku tidak bisa berhenti sekarang.”

Geon Hyeong menopang tubuhnya sendiri dengan sikunya dan menatap Jung Won. Jung Won yang mendengar pengakuan jujurnya itu hanya tertawa pclan. Namun, itu pun hanya sesaat. Kctika ia kembali merasakan sensasi aneh itu, Geon Hyeong kembali menciumnya. Jantungnya yang baru saja tenang kembali berdegup cepat. Napasnya yang semakin cepat pun terasa semakin panas. Pikiran rasional yang sclama ini selalu mencmpel di otaknya kini scolah menghilang. Pengendalian diri rasanya tidak mungkin baginya saat ini. Geon Hyeong mengangkat lengan Jung Won dan merangkulkannya ke belakang lehernya.

“Pegang erat-erat. Karena aku tidak akan melepaskannya.”

“Hah.”

Jung Won mendesah pelan sambil mengalungkan tangannya ke leher Geon Hyeong.

Menjadi satu dengan sempurna. Kebersamaan mereka. Perasaan intim itu benar-benar sesuatu yang panas yang tidak bisa dibayangkan. Erangan kembali keluar dari mulutnya. Lalu, suara desahan napasnya seolah membangunkan insting Geon Hyeong yang kini mulai mengambil alih. Gerakan tubuh Geon Hyeong semakin cepat dan napasnya semakin menderu. Merasakan panas yang seolah menjalar dari dalam tubuhnya, Jung Won pun rasanya tidak bisa bernapas sesuka hatinya.

“Ah...

Erangan yang ia keluarkan dengan susah payah pun langsung ditelan oleh bibir Geon Hyeong yang tamak. Geon Hyeong seolah tidak ingin melepaskan setiap erangan dan tarikan napas Jung Won. Sampai seluruh tubuh warita itu penuh dengan dirinya, ia seolah sibuk meninggalkan jejaknya di wanita itu. Sesuai ucapannya, Gcon Hycong sama sekali tidak berhenti dan tidak melepaskan wanita itu. Akibat Geon Hyeong yang melanda seperti badai itu, Jung Won merasa dunianya seolah akan pecah. Jung Won tidak sempat merasa terkejut dengan pengalaman yang sama sekali tidak pernah :a rasakan itu. Sementara, Geon Hyeong yang tadinya terus memegang wanita itu lantas seolah bertekuk lutut pada wanita itu. Sensasi yang mengejutkan itu dirasakan oleh kedua orang itu.

Suara napas yang kasar dan udara yang mengelilingi mereka masih terasa panas. Tubuh Geon Hyeong yang berat akhirnya sedikit menjauh dari Jung Won, namun 1a tetap memeluk bahu Jung Won dan menghela napas panjang. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebersamaannya dengan seseorang dapat membuatnya bahagia seperti ini. Belam pernah :a benar-benar merasa puas seperti ini.

“Kau benar-benar mencintaiku, kan?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

Mendengar jawaban Jung Won yang seolah bergumam ragu itu, Geon Hyeong mengangkat alisnya dan menarik pinggang wanita itu lebih mendekat padanya. Ia hampir merasa dikhianati karena perasaan wanita itu terhadapnya tidak sama seperti perasaannya. Ia tidak percaya kalau pengalamannya yang luar biasa malam itu hanya dinikmati oleh dirinya sendiri.

“Maaf.” “Itu kan bukan kata-kata yang pantas di situasi seperti ini.”

“Bukan begitu, maaf karena aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kau dengar. Di situasi ini, aku malu mengucapkan kata-kata itu sambil menatap wajahmu seperti ini.”

Jung Won tersenyum kecil dan mengaku jujur sambil membenamkan wajahnya di dada Geon Hyeong. Ini adalah pengalaman pertama baginya dan perasaan seperti ini juga pertama kah baginya. Ia tidak membenci suhu tubuh dan napas Geon Hyeong yang ia rasakan di seluruh tubuhnya. Meskipun ia merasakan sakit yang asing jauh di dalam tubuhnya pun, jantungnya tetap berdebar-debar.

“Aku juga malu. Masa kau tidak punya keberanian sama sekali?”

“Tidak ada. Nanti akan kupikirkan di lain waktu.”

“Lalu, apa aku harus mengambilkan bintang untukmu?”

Mendengar pertanyaan Geon Hyeong yang serius itu, Jung Won yang masih tidak mengangkat wajahnya itu tertawa pelan. Tawa Jung Won terasa di dada Geon Hyeong.

“Kenapa kau tertawa?”

“Karena kau. Aku benar-benar bersyukur karena ada kau. Aku tidak butuh bintang di langit.”

“Aku juga. Karena kau. Aku benar-benar bersyukur karena ada kau. Sejak awal aku memang tidak butuh bintang di langit.”

Geon Hyeong bergumam sambil menempelkan bibirnya pada Jung Won.

Bulan yang putih dan terang memunculkan dirinya di langit malam yang gulita. Sinarnya diam-diam memasuki kamar mereka. Lalu, sinar bintang yang meninggalkan kampung halamannya 360 tahun yang lalu pun diam-diam berkerlip di dalam gelap.