-->

4 Ways to Get a Wife Bab 12 : Wajah si Rahasia

Bab 12 : Wajah si Rahasia

Geon Hyeong tidak bisa menemui Jung Won har itu. Pikirannya kalut. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada wanita itu. Tidak, bahkan perasaan hatinya sendiri sedang kacau saat ini.

Adiknya? Kang Jung Won? Benar-benar ucapan yang tidak masuk akal, dan harus tetap seperti itu. Ta sama sekali tidak siap dan tidak bisa menerima Jung Won sebagai adiknya. Lebih baik ia tidak tahu scumur hidupnya.

Berbagai pikiran mengerikan memenuhi kepalanya sampai kepalanya terasa hampir pecah. Sementara, dadanya terasa sesak seolah ditekan oleh sebuah batu besar. Adik beda ibu yang baru ia ketahui. Selama ini, Kim Geon IHyeong tidak memedulikan masalah keluarganya seperti ini dan tidak pernah merasa takut menghadapi apa pun. Selama ini, ia tidak punya alasan untuk merasa putus asa seperti imi. Selalu seperti itu. Namun, Gcon Hyeong saat imi tidak bisa mengatur perasaannya sendiri.

Ia percaya dirinya sanggup melihat Shin Hee berjalan sambil bergandengan tangan dengan lelaki lain. Namun, ia tidak ingin membayangkan ada lelaki lain yang mendampingi Jung Won, dengan alasan apa pun. Meskipun demikian, kini ia sadar bahwa mau tidak mau, ia harus menerima kenyataan ini.

Foto yang tergantung di ruang tamu Jung Won. Cincin yang selalu tergantung di kalung di leher Jung Won.

Mengapa aku tidak menyadari hal ini sebelumnya?

Mengapa aku tidak menyadari perasaanku ini sebelumnya?

Geon Hyeong rasanya hampir pingsan menyadari perasaan hatinya sendiri di tengah situasi itu. Ta menyadari bahwa rasa ingin memilikinya, rasa rindu, dan rasa nyaman ketika bersama Jung Won adalah karena seorang Kang Jung Won adalah sosok yang spesial baginya. Ia tidak menyadari hal ini sebelumnya.

Wanita itu adalah orang pertama yang menerimanya sebagai keluarga. Wamita itu adalah orang pertama yang menerangi kegelapan untuk dirinya.

Wanita itu adalah orang pertama yang menunggunya pulang.

Ayah, sebenarnya apa yang telah kau lakukan padaku? Apa karena itulah kau sangat menyayangi bukit di Hwaninon? Geon Hyeong masih tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaannya, hingga akhirnya ia tertidur dalam rasa gelisahnya.

Geon Hycong yang datang mencarinya kec kantin tidak terlihat seperti Geon Ilyeong yang biasanya. Biasanya, ia adalah orang yang dingin, tegas, dan yakin dengan pendapatnya, bukan orang yang biasa memperlihatkan rasa iba dan simpatinya pada orang lain. Namun, hari ini tatapannya terlihat tidak stabil dan penuh ketakutan serta kekhawatiran. Sebelum sempat menanyakan alasannya, Jung Won menerima foto yang diulurkan oleh Geon Hyeong. Melihat foto itu dan pesan yang tertulis di belakangnya, Jung Won pun seolah menahan napasnya.

“Tidak mungkin.”

“Aku juga merasa hal ini sangat tidak masuk akal. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau akan menjadi adikku.”

“Jangan membayangkan hal seperti itu. Karena aku juga tidak pernah membayangkan orang dengan sikap seenaknya dan semaunya akan menjadi kakakku.”

Mendengar gumaman pelan Geon Hyeong, Jung Won menyahut dengan tegas sambil menggelengkan kepalanya. Geon Hyeong menatapnya dengan curiga mendengar bantahannya yang terdengar sangat yakin.

“Kau tahu dari mana? Ada buktinya?”

Mungkin saja wanita ini tahu asal usul foto ini. Mengingat kegigihan orangtuanya dan daya ingat Jung Won yang kuat—sampai ia bisa menghafal seluruh peraturan keluarganya dengan mendetail—, mungkin saja ia ingat dengan setiap wajah yang ada di album foto keluarganya. Hal ini membuat Geon Hyeong menggantungkan harapan tipisnya. “Perlu bukti apa lagi? Jelas tidak mungkin. Ibuku memang baik terhadap semua orang, tapi :a tidak akan mengkhianati ayahku. Aku tahu pasti itu.”

“Sayangnya aku tidak bisa percaya pada ayahku. Dan juga ibumu.”

“Kau sadar tidak, kalau kau baru saja menghina ayahmu dan ibuku?”

“Baiklah, aku ralat. Aku tidak tahu bagaimana dengan ibumu, tapi aku yakin ayahku berbuat seperti itu. Itu faktanya.”

Geon Hyeong masih ingat masa lalu ayahnya yang seorang playboy tampan itu. Ia tidak berhenti bermain-main dengan perempuan sampai hari kematiannya. Rasa gelisah kini menyelimuti Geon Hyeong. Kalau ia memang bersaudara dengan wanita ini, ia pun tidak yakin dirinya bisa menghadapi kenyataan itu. Mendengar Geon Hyeong yang bersikeras dengan pendapatnya, Jung Won hanya mengerutkan dahinya dengan tidak sabar.

“Tadinya aku ingin bertaruh denganmu, sayang sekali peraturan keluarga ini tidak membolehkanku untuk berjudi atau sejenisnya. Geon Hyeong «4, kau beruntung kali ini.”

Melihat Geon Hyeong yang masih tetap cemas dan khawatir mendengar pendapat Jung Won yang meyakinkan itu, wanita itu berkata sambil bergurau dan tersenyum padanya. Namun, senyum itu ternyata tidak mampu membuat kecemasan di wajah Gcon Hyeong menghilang. Apa wanita ini tahu, seandainya bertaruh bisa membuat wanita ini tidak menjadi adiknya, jangankan bertaruh, Geon Hyeong bisa melakukan apa pun yang lebih gila dari itu.

“Kau yakin akan menang?”

“Tentu saja. Aku pasti menang.”

Mendengar pertanyaan Geon Hyeong yang penuh curiga, Jung Won menyahut dengan yakin. Tatapan matanya terlihat sangat yakin dan percaya diri, scolah mengatakan bahwa pendapatnya itu bukanlah omong kosong belaka. Persis seperti saat pertama kali Geon Hyeong bertemu dengannya. Kali in pun, Geon Hyeong ingin memercayai ucapan wanita itu. “Percayalah padaku. Di dunia ini, ada juga hal-hal yang bisa dipastikan seratus persen seperti im. Ibuku pernah berkata bahwa mengkhianati kepercayaan orang yang mereka cintai itu lebih kejam dan menakutkan daripada pembunuhan. Ibuku tidak mungkin mengkhianati ayahku dan diriku.”

“Aku harap begitu. Karena menjadi anak yatim piatu mungkin masih lebih baik daripada menjadi anak yang lahir di luar nikah.”

“Yang benar saja. Keduanya bukan hal yang mudah. Kalau kau, setidaknya kau tidak mengalami kesulitan ckonomi, kan.”

“Lalu, apa kau mau menjadi anak yang lahir di luar nikah di keluarga kaya raya seperti aku?”

Tiba-tiba saja Geon Hyeong kembali ke sifatnya sehari-hari. Ia menatap Jung Won dengan mata yang bersinar marah. Apa lelaki ini mengira aku ingin mendapatkan harta dari rumah itu? Kalau ia berpikir seperti itu, berarti lelaki ini benar-benar lelaki yang bodoh.

Memangnya ada perempuan yang merasa senang jika laki-laki yang telah menciumnya di bawah langit berbintang tiba-tiba menjadi kakaknya?

Mungkinkah lelaki ini merasa sangat cemas dan khawatir seperti ini banya karena takut hartanya dirampas?

Satu hal yang benar-benar ingin diketahui oleh Jung Won bukanlah kebenaran mengenai hubungannya dengan lelaki 1. Ia ingin mendengar jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Jae Hyun di kebun buah saat itu, di hari ketika ia mengalami kecelakaan itu, secara langsung dari Geon Hyeong. Apa lelaki im benar-benar berkata “ya atas lamaran pernikahan yang diajukan oleh keluarga Shin Hee?

“Tidak. Tidak sama sekali. Tapi, kau yang pertama kali membuat perbandingan seperti itu.”

Geon Hyeong menggelengkan kepalanya mendengar kritikan Jung Won. Kedua orang dengan perasaan kalutnya masing-masing itu saling bertatapan.

Wanita ini adikku?

Lelaki ini kakakku?

Yang paling mendesak saat ini adalah kebenaran mengenai hal ini. “Baiklah. Aku mengerti perasaanmu. Ayo pergi sckarang.”

“Ke mana?”

“Ke mana? Tentu saja ke rumah sakit. Untuk tes genetik. Meskipun tidak mungkin benar, apa kau tahan mendengar tuduhan seperti itu? Kalau aku, satu hari pun aku tidak tahan.”

Jung Won segera menarik tangan Geon Hyeong. Tangan Jung Won yang berada di ruangan ber-AC terasa dingin, namun tetap memberi kehangatan pada tangan Geon Hyeong yang ia pegang. Suasana hati Gcon Hycong yang selama dua hari ini sangat kacau mulai terasa lebih tenang. Ketika pertama bertemu dengan wanita ini pun, wanita ini yang menang bertaruh dengannya. Geon Hyeong memohon dengan sungguh-sungguh, semoga kali ini pun ucapan Jung Won benar.

Meskipun pemeriksaan itu cukup dilakukan dengan beberapa helai rambut saja, Jung Won memaksa untuk melakukan pemeriksaan darah. Jung Won mengatakan bahwa ia ingin hasil yang benar-benar akurat dan Gcon Hycong hanya mengangguk pelan di hadapan wanita itu. Dalam perjalanan keluar dari laboratorium pemeriksaan gen, Jung Won tersenyum kepada Geon Hyeong yang masih tetap terlihat tegang. Namun Geon Hyeong tetap tidak membalas senyum wanita itu.

“Kapan hasilnya akan keluar?”

“Katanya besok.”

“Tidak bisa sekarang juga? Kalau di film-film Amerika, tes DNA semacam ini biasanya cepat.”

Jung Won memiringkan kepalanya heran. Ternyata film berbeda dengan realitas.

“Tidak semudah itu.”

“Meskipun kau memaksa mereka?”

“Aku tidak pernah berbuat seperti itu.”

Geon Hyeong bisa saja mendesak pihak laboratorium untuk melihat hasil tes itu sekarang juga. Namun ia tidak melakukan hal itu. Tidak, ta tidak sanggup melakukannya. Meskipun Jung Won bersikeras bahwa mereka tidak ada hubungan darah barang 0,1Yo pun, Geon Hycong tetap merasa tidak yakin dengan hal itu. Oleh karena itu, :a tidak ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

“Awas saja kalau nanti malam kau datang sendiri ke tempat ini dan mengecek hasilnya.”

“Aku tidak akan seperti itu.”

Jung Won memperingatkannya dengan nada mengancam. Geon Hyeong masih tetap terlihat khawatir, sementara Jung Won tidak terlihat seperti itu sama sekali. Ibunya tidak akan pernah mengkhianati siapa pun. Tetapi, kenapa ibunya mengirim pesan seperti itu?

“Seandainya kau adalah adikku...”

“Tidak akan.”

“Dengarkan dulu. Aku im bukan orang yang superoptimis seperti kau.”

Mendengar asumsi Geon Hyeong yang tidak masuk akal itu, Jung Won menggelengkan kepalanya dengan tegas. Namun, sepertinya Geon Hyeong tidak menggubris ucapannya.

“Baiklah. Anggaplah aku in adikmu.”

“Siapa yang bilang seperti itu? Tidak, tidak.”

Geon Hyeong yang sepertinya lupa bahwa dirinya yang pertama kali mengeluarkan asumsi itu mengerutkan dahinya. Sementara, Jung Won tertawa dengan wajah heran melihat reaksinya itu. Tadinya ia pikir Geon Hyeong kini sudah kembali seperti Geon Hyeong yang dulu, namun wajah lelaki itu kembali terlihat tegang. Mungkin Geon Hyeong akan tetap seperti ini, sampai hasil pemeriksaan itu muncul.

“Benar. Memang tidak mungkin. Selama ini saja aku sudah cukup kewalahan mengurus dua orang adikku dan satu anak pamanku. Aku tidak sanggup kalau harus mengurus kakak sepertimu.”

“Iya. Aku juga tidak butuh adik sepertimu.”

Geon Hyeong tidak membutuhkan Jung Won sebagai adiknya, tetapi sebagai pasangannya. Kang Jung Won. Ia membutuhkan wanita itu sebagai kekasihnya.

Akan tetapi, berbeda dengan isi hatinya yang sesungguhnya, ucapannya barusan terdengar sangat dingin di telinga Jung Won. Pernyataan yang sangat jelas bagi Jung Won yang tidak bisa mengetahui isi hatinya.

Kalau aku adalah adiknya, tentu saja kadang aku akan ada bersamanya.

Kalau bukan, mungkin aku akan benar-benar berpisah dengannya.

Jung Won tahu kalau ia tidak boleh menaruh perasaan apa-apa pada lelaki in. Bulan sabit yang hanya sebesar ujung kuku perlahan membesar dan malam ini rasanya akan menjadi malam yang panjang bagi Jung Won dan Geon Hyeong.

&

Pekerjaan di kantin kampus terlihat lebih santai saat musim liburan. Padahal, Jung Won ingin bekerja dengan sibuk hari itu. Kalau ia memiliki banyak waktu seperti int, pasti berbagai pikiran memenuhi kepalanya seperti sekarang. Setibanya di rumah, pekerjaan rumahnya pun tidak terlalu banyak. Rasanya, hari itu berlalu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Katanya hasil pemeriksaan itu akan keluar hari ini, namun sampai matahari tenggelam pun, Geon Hyeong tetap tidak menghubunginya.

Ada apa sebenarnya? Apa aku benar-benar adik orang itu? Atau ia tidak menghubungiku karena sebenarnya tidak ada bubungan apa-apa?

Geon Hyeong yang tidak sabaran tidak mungkin lupa kalau hasil pemeriksaan itu keluar hari ini. Tetapi kenapa ia tidak menghubungiku? Meskipun Jung Won sudah memperingatkannya untuk tidak melihat hasil pemeriksaan itu sendirian, tidak salah lagi, pasti lelaki itu sudah mengecek hasilnya dan membiarkan Jung Won mati penasaran seperti ini. Geon Hyeong pasti tidak tahu kalau Jung Won juga menunggu hasil pemeriksaan itu dengan cemas.

Pasti jari tangan lelaki itu patah lagi sampai tidak bisa meneleponnya seperti ini. Jung Won memainkan cincin yang tergantung di lehernya. Cincin. Terlepas dari kepercayaannya pada ibunya, bagaimanapun, cincin ini sempat membuatnya resah. Perasaannya mengatakan bahwa pemilik cincin berukir buket bunga ini adalah ayahnya dan hal ini mengganggu pikirannya semalaman.

Akhirnya, malam itu berlalu tanpa ada kabar apa pun dari Geon Hyeong. Jung Won tidak bisa tidur tenang malam itu. Entah karena udara panas yang tidak mendingin di malam hari, atau karena kejadian- kejadian yang menantinya berkaitan dengan hasil pemeriksaan itu. Kemudian, subuh keesokan harinya, Geon Hyeong datang ke rumahnya.

“Ke mana saja kau? Mengapa tidak menghubungiku?”

“Aku sibuk.”

Benar-benar. Alasannya itu memang singkat dan sederhana, tetapi memang itu kenyataannya. Sore itu, sebelum hasil pemeriksaan itu keluar, kakek dan ncencknya terus-menerus mendcsaknya. Lalu, tiba- tiba ada penyelidikan dari kejaksaan mengenai perusahaan asingnya. Kemudian diikuti dengan pencabutan mitra kerjanya. Tanpa harus diberitahu, ia tahu siapa yang menjadi dalang di balik semua ini. Berani- beraninya mercka menyerangnya di tengah situasi seperti ini. Benar- benar tindakan yang berani dan provokatif. Mereka pasti tidak tahu bahwa Geon Hyeong selama ini sudah menunggu-nunggu datangnya hari ini.

“Bagaimana hasilnya?”

“Kali ini pun kepercayaanmu itu menang.”

Kali inn Geon Hyeong berkata dengan cukup tenang pada Jung Won yang terlihat penasaran. Menurut Geon Hyeong, wanita ini tidak perlu tahu betapa leganya ia ketika melihat selembar kertas dari laboratorium itu yang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai hubungan darah. Jung Won mengangguk seolah sudah menduga hasilnya sambil menghela napas lega sesaat dan kembali melirik Geon Hycong.

“Sudah kuduga. Tapi, kau tahu tidak, kalau kau sudah mengkhianati kepercayaanku? Kau tidak punya telepon ya? Kenapa kau tidak meneleponku?” “Masalah seperti ini harus disampaikan secara langsung. Agar tidak salah paham.”

Salah paham bagaimana? Ia kan tinggal berkata 'kau bukan adikku, itu saja dan pasti aku mengerti maksud wapannya itu, pikir Jung Won. Apa orang ini mengira aku tidak mengerti bahasa Korea? Atau ia benar-benar lupa denganku? Padahal namaku ikut tertulis di kertas hasil pemeriksaan itu.

“Ternyata kau sama sekali tidak memikirkanku yang cemas menunggu hasil itu.”

“Siapa bilang, tentu saja aku memikirkanmu.”

Geon Hyeong kembali menyahut seolah tidak ada apa-apa menanggapi gerutuan Jung Won. Wanita ini pasti tidak tahu kalau Geon Hyeong terus memikirkannya sejak ia tahu bahwa wanita ini mungkin saja adalah adiknya. Wanita ini pasti tidak tahu mengapa :a sampai repot-repot datang ke rumahnya pagi-pagi buta seperti ini, bukannya hanya menelepon atau meninggalkan pesan saja.

“Lalu kenapa kau tidak menghubungiku? Pokoknya, syukurlah hasilnya seperti itu.”

“Ya, syukurlah.”

Jung Won tersenyum kecil kepada Geon Hyeong yang ada di hadapannya. Wajah mereka sama-sama terlihat lega. Kemudian, ia menatap wajah Gcon Hycong yang perlahan mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukannya.

Jung Won tidak bisa bergerak sedikit pun, seolah tatapan dan hatinya benar-benar tersedot oleh lelaki ini. Berada di dekat tubuh lelaki yang membuat bulu romanya berdiri ini membuat Jung Won tanpa sadar meneguk air liurnya diam-diam. Begitu bibirnya mendekat, Jung Won memejamkan matanya. Meskipun ia tidak tahu pasti kapan adik-adiknya akan bangun dan berlari memasuki dapur, hati Jung Won hanya dipenuhi oleh Geon Hycong scorang. Pikirannya mengenai wanita lain lelaki ini pun menghilang. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berpikir apa-apa.

Tangan Geon Hyeong yang besar memegang pipi Jung Won yang mungil dengan lembut dan perlahan mengambil alih bibirnya. Ia mendekati dan menciumnya dengan hati-hati. Seolah baru pertama kali mencium wanita itu. Ia menelusuri garis bibir wanita itu dengan lembut dan ini membuat Jung Won tidak bisa membuka matanya. Ketika napas hangat mereka semakin dalam, degup jantung Geon Hyeong dan Jung Won pun semakin cepat.

Berbeda dengan ciuman pertama mereka di Hwaniwon, ciuman kali ini dimulai dengan sangat perlahan.

Berbeda dengan ciuman kedua mereka di bawah sinar bintang, ciuman kali ini sangat lembut.

Ciuman yang dimulai dengan lembut dan manis itu kini semakin dalam dan membuat mereka semakin semangat untuk saling menguasai satu sama lain. Jung Won perlahan mulai terhuyung ke belakang yang segera ditangkap dan dipegang crat oleh Gcon Hycong.

Benar-benar gila. Rasanya mereka hampir gila.

Benar-benar tidak tertahankan. Sepertinya tidak akan bisa tertahankan.

Tubuh mereka tetap saling menyatu selama beberapa saat. Saling jatuh cinta satu sama lain.

Jung Won menyiapkan sarapan pagi itu sambil mengabaikan Hee Won yang menatap kedua orang itu dengan tatapan curiga, serta memalingkan wajahnya dari Geon Hyeong yang sejak tadi menatapnya dengan hangat. Sung Won dan So Hee, lalu Chi-chi, Goliath, dan Romeo menyambut kedatangan Geon Hyeong dengan gembira, kecuali Hee Won. Ia menatap dengan curiga pada kakaknya yang bekerja dengan sibuk namun wajahnya terlihat lebih memerah dan Geon Hyeong yang terlihat lebih percaya diri daripada biasanya.

“Ajossi, kenapa pagi-pagi datang ke sini?”

“Untuk sarapan pagi.”

“Bukannya datang kemarin?” “Tidak. Kemarin aku sibuk. Kalau tahu sarapan paginya seenak ini, pasti aku datang dari kemarin.”

Tanpa memandang ke arah menu sarapan sederhana yang telah disiapkan itu, Geon Hyeong berkata dengan yakin sambil menatap Jung Won.

Mendengar hal itu, tatapan Hee Won semakin tajam dan wajah Jung Won semakin memerah. Jawaban Geon Hyeong yang terlalu jujur dan terus terang itu membuat wajah Jung Won semakin memerah.

“Jadi, Ajossi datang subuh tadi? Bukankah laki-laki dan perempuan tidak boleh menempel terlalu dekat seperti itu, apalagi sejak subuh- subuh?”

“Kau harusnya tahu kalau kami ini berpacaran. Lagi pula, kakakmu dan aku punya banyak urusan, banyak yang harus kami bicarakan juga. Jadi, apa boleh buat.”

“Memangnya ada urusan apa subuh-subuh?”

“Kalau kau tahu, pasti kau terkejut.”

Hah. Orang im gila rupanya. Awas saja kalau ia berani membuka mulut sedikit saja mengenai kejadian tadi pagi, akan ada seseorang yang mati bahkan sebelum bisa sarapan pagi. Awas saja kalau orang itu menjawab pertanyaan Hee Won dengan baik hati sambil tersenyum ceria seperti itu.

“Geon Hyeong s5”

Jung Won tampak terkejut mendengar jawaban Geon Hyeong yang terdengar santai. Sementara, adik-adiknya yang sedang sarapan berhenti sejenak dan menatap kedua orang itu.

“Ada apa dengan kalian berdua?”

Hee Won tidak menggubris peringatan kakaknya dan menatap keduanya dengan tatapan ingin tahu.

“Oh iya, aku ingin bertanya padamu. Sepertinya Myong Hun punya pacar baru, apa dia memutuskanmu?”

“Enak saja, kata siapa?”

Mendengar serangan Geon Hyeong yang tidak terduga itu, Hee Won terkejut dan berseru dengan sebal padanya. Jung Won yang tidak tahu-menahu mengenai hal itu pun menatap Geon Hyeong dengan heran dan tidak percaya. Kalau dipikir-pikir, orang ini pintar juga tupanya. Tiba-tiba saja ia berhasil menguasai situasi meja makan pagi itu. Geon Hyeong sejak awal memang bukan lawan yang bisa ditangani oleh Hee Won.

“Sepertinya kau ditendang begitu saja. Kau tahu tidak kalau pacar baru Myong Hun itu selalu datang ke sekolah setiap hari?”

“Dasar, tidak punya harga diri. Myong Hun tidak suka dengan perempuan yang terlalu mengikutinya seperti itu.”

Teman seangkatan Hee Won sejak ia duduk di bangku SD itu memang sudah mengejar-ngejar Hee Won selama 10 tahun. Oleh karena itu, Hee Won langsung terkejut dan panik begitu mendengar kabar bahwa Myong Hun memliki pacar baru dan adik-adiknya yang lain hanya terkikik melihat tingkahnya. Melihat kejadian itu, sekali lagi Jung Won berdecak kagum pada kemahiran Geon Hyeong menguasai adik-adiknya.

“Ia sudah resmi berpacaran sejak minggu lalu. Kata kakakmu, mereka tadinya adalah teman sepermainan.”

“Benar. Sekarang juga masih menjadi teman saja. Tidak ada hubungan apa-apa. Kim Myong Hun, dasar anak itu.”

“Akhirnya Myong Hun hyung itu sadar juga.”

“Makanya, Horni juga harusnya jangan keterlaluan dong.”

Begitu mendengar simpati dan ledekan dari kedua adiknya, Hee Won menatap Geon Hyeong dengan wajah kesal dan berdiri sambil menggebrak meja.

“Sarapannya?”

“Eonni, Eonni pikir aku bernafsu makan sekarang iri?”

“Kesehatan itu nomor satu. Kau lupa peraturan nomor satu?”

Tiba-tiba saja Gcon Hycong mengingatkan peraturan keluarga itu dengan santai.

Hee Won ternganga dan menatap Geon Hyeong dan Jung Won dengan wajah kesal dan tidak percaya. Kali ini Jung Won hanya tertawa pelan melihat tingkahnya. Kehadiran Gcon Hyeong pagi itu untuk sarapan bersama dan berangkat ke kampus bersamanya terasa sangat spesial. Rasa malu-malu dan asing yang bercampur aduk membuat musik di dalam mobil itu bahkan tidak terdengar di telinganya.

Geon Ilyeong yang sedang mengemudikan mobilnya tiba-tiba mengulurkan sebelah tangannya dan tanpa ragu-ragu memegang tangan Jung Won. Jung Won hanya terdiam dan memandang Geon Hyeong. Belakangan ini jantungnya sering berdegup kencang tanpa kenal waktu.

“Bagaimana ibuku bisa bertemu dengan ayahmu ya?”

“Aku juga penasaran. Aku sudah menyuruh orang untuk mencaritahu, tapi kejadian itu sudah terlalu lama.”

Gcon Hycong mengerutkan dahinya. Gcon Hyeong menyesal mengapa za tidak segera mencaritahu ketika melihat foto itu sepuluh tahun yang lalu. Meskipun tidak ada yang berubah, setidaknya ia bisa bertemu Jung Won lebih cepat. Jung Won saat itu pasti juga pemberari dan pintar seperti sckarang im.

“Oh ya, mungkin saja pamanku tahu mengenai hal ini.”

“Paman?”

“Adik ayahku. Namun perbedaan umur mereka cukup jauh. Makanya, ibuku selalu menganggapnya seperti anak laki-lakinya sendiri. Ia dulu tinggal di rumah kami.”

Geon Hyeong kembali memutar otaknya mendengar penjelasan Jung Won. Lelaki yang meninggalkan utang pada Jung Won. Lelaki tidak bertanggung jawab yang bahkan sampai meninggalkan anak perempuannya pada Jung Won. Namun, mungkin Geon Hyeong juga harus berterima kasih padanya. Kalau ia tidak meninggalkan utang itu, mungkin Jung Won tidak akan mau melakukan perjanjian dengannya saat itu.

“Sekarang ada di mana dia?”

“Entahlah. Kami putus hubungan sejak tahun lalu. Entah bagaimana kabarnya sekarang.” Gcon Hycong menahan tawa melihat Jung Won yang menghela napas pelan dan mengkhawatirkan pamannya itu. Pasti wanita ini kesal karena tidak bisa menjaga keluarganya sendiri.

“Jangan mengerutkan dahi seperti itu, nanti aku akan mencarinya.”

Setiap sedang merasa panik atau khawatir, Jung Won biasanya menggigit ujung ibu jarinya dengan wajah serius. Setiap ia berbuat seperti itu, Geon Hyeong rasanya ingin memegang kedua tangan Jung Won agar tidak bisa berbuat apa-apa dan menarik wajahnya yang terlihat serius itu. Padahal, kalau ia menciumnya sebentar saja, pasti wanita itu segera lupa dengan masalahnya. Jung Won yang tidak mengetahui isi hati Geon Hyeong segera mengubah ekspresinya dan membelalakkan matanya.

“Barusan aku mengerutkan dahiku?”

“Ya. Lalu lama-lama wajahmu jadi jelek.”

Geon Hyeong dengan kejam mengangguk pada Jung Won yang tampak terkejut. Jung Won yang tidak menyadari senyum samar di bibir dan mata Geon Hyeong buru-buru mencari cermin di dalam tasnya.

“Benarkah? Kau tadi lihat ada kerutan?”

“Tidak apa-apa. Kalau sudah tua, memang biasanya muncul kerutan seperti itu.”

Jung Won yang masih sibuk mencari cermin di tasnya, menghentikan gerakannya dan menatap Geon Hyeong dengan sebal. Berani-beraninya lelaki berumur 33 tahun itu mengatai wanita berumur 26 tahun tua.

“Tua? Memangnya aku setua itu?”

“Kau terlihat tua sesuai umurmu. Hm, aku juga tidak peduli kalau kau keriput. Yang penting kau bukan adikku.”

Karena ia sadar kalau dirinya tampan dan bukan dirinya sendiri yang keriput, jelas saja ia bisa berkata seperti itu. Lelaki itu sama sekali tidak memujinya awet muda, meskipun hanya basa-basi saja. Padahal Jung Won sudah cukup berhati-hati agar tidak muncul flek hitam di wajahnya akibat teriknya sinar matahari. Sekarang, lelaki ini dengan santainya malah berkata kalau ada kerutan di kulitnya.

“Aku sejak awal sudah yakin kalau aku bukan adikmu. Makanya sekarang lebih baik kau caritahu saja apa hubungan ibuku dengan ayahmu.”

“Jangan khawatir. Aku akan segera mencaritahu mengenai hal itu.”

Geon Hyeong menjawab dengan penuh percaya diri.

Mencari satu orang yang sedang dililit utang itu mudah. Mencaritahu tentang kejadian yang lebih dari dari 20 tahun yang lalu itulah yang lebih sulit bagi Geon Hyeong. Masalah apa lagi yang kini menantinya? Setelah mendapat kepastian bahwa Jung Won bukanlah adiknya, kini ia siap menghadapi kejutan sebesar apa pun dari masa lalunya.

Jung Won sekali lagi menyadari bahwa Geon Hyeong adalah orang yang benar-benar hebat. Ia berhasil menemukan pamannya yang sudah lama hilang dalam waktu dua hari saja. Jung Won mengunjungi kantor Geon Hyeong untuk menemui pamannya dan petugas keamanan yang ingat dengan wajahnya langsung membungkuk 90 derajat dan menyapanya. Melihat petugas yang masih ingat dengan Jung Won padahal sudah beberapa bulan berlalu sejak ia mengunjungi kantor itu, sepertinya petugas keamanan itu benar-benar pintar dan sungguh- sungguh dalam pekerjaannya. Jung Won yang datang ke meja resepsionis dengan wajah bingung langsung diantar menuju lift dengan ramah. Padahal sebenarnya mereka tidak perlu melayaniku seperti itu, batin Jung Won. Mendapat sambutan yang tidak biasa itu, Jung Won hanya mengangguk sopan lalu naik ke lift tersebut.

Begitu pintu ft itu terbuka di lantai 48 tempat ruangan Geon Hycong berada, karyawan di ruang sekretaris itu juga langsung menyambutnya dengan ramah seolah sudah mendapat pemberitahuan dari meja resepsionis di lantai dasar tadi. Setelah hampir setahun ia tidak bertemu pamannya, entah apa yang dikatakan Gcon Hycong padanya, namun wajah pamannya itu terlihat tenang dan santai. Ia menyambut Jung Won dengan penampilannya yang lebih rapi dan terawat daripada saat dulu meninggalkan rumah. Mungkin itu juga berkat bantuan Geon Hyeong.

“Jung Won, aku benar-benar minta maaf padamu. So Hee baik-baik saja kan?”

“Iya, dia baik-baik saja. Lalu, lain kali paman jangan memakai uang orang lain lagi. Sekarang sudah tidak ada jalan keluar lagi.”

“Tapi kan gara-gara aku memakai uang orang lain, sekarang kau jadi bertemu pria kaya raya ini.”

“Bukan itu maksudku.”

Jung Won menggelengkan kepalanya melihat sifat pamannya yang masih tidak berubah.

“Paman ingat tidak apa kata ayah? Peraturan nomor...”

“Iya, iya, aku tahu. Peraturan nomor 18, utang itu harus dibayar. Yah, karena tunanganmu sudah membayarkan utangku, jadi sekarang sudah beres kan? Kau ini kan masih keponakanku, jadi kita ini keluarga, iya kan?”

“Kami tidak bertunangan.”

“Oh ya? Kalau begitu, lebih baik lakukan secepatnya. Benar kan?”

Jung Won terkejut melihat kelakuan pamannya yang tidak tahu malu itu. Namun, Geon Hyeong sepertinya cukup puas dengan kata “keluarga' yang diucapkan oleh pria yang baru pertama kali ia jumpai ini. Kalau mengingat Kang Jung Won, Geon Hyeong tidak keberatan membayar utang sebesar itu, namun Jung Won tidak bisa menerima bantuan itu begitu saja. Sampai saat ini pun ia masih merasa tidak nyaman dan khawatir mengingat dirinya awalnya terlibat dengan lelaki ini karena masalah uang.

“Paman!”

“Aigu, kaget aku. Kenapa kau berteriak seperti itu? Ibumu saja tidak pernah berteriak seperti itu padaku. Ia dulu seperti malaikat. Kau ini benar-benar mirip sekali dengan ayahmu.” Mendengar gerutuan pamannya, barulah Jung Won kembali teringat alasannya mencmui pamannya. Mengapa ibunya meninggalkan pesan seperti itu kepada ayah Geon Hyeong? Apa sebenarnya hubungan kedua orang itu? Jung Won mengeluarkan foto yang menjadi sumber masalah itu dan menunjukkan pada pamannya.

“Paman tahu tidak siapa lelaki di foto ini?”

“Oh, ini kan orang yang tinggal di kamar bawah.”

Pamannya yang memandang foto itu menyahut dengan santai sambil menganggukkan kepalanya. Geon Hyeong dan Jung Won saling berpandangan. Akhirnya, mereka menemukan seseorang yang ingat dengan kejadian di masa lalu itu.

“Orang di kamar bawah?”

“Waktu itu, ayahmu sedang pergi bekerja dan tahu-tahu ia memungut orang itu dan membawanya pulang.”

“Memungutnya?”

“Katanya lelaki itu tidak punya tempat tujuan, makanya diajak ke rumah. Ayahmu dulu memang suka seperti itu.”

Sepertinya, sifat Jung Won yang suka memungut apa pun yang terbuang itu diwariskan dari sifat ayahnya. Kini, ia benar-benar penasaran bagaimana orangtuanya bisa memungut ayah Geon Hyeong.

“Orang itu memang tidak punya pekerjaan dan banyak waktu, jadi biasanya ia hanya bantu-bantu kerja di kebun saja. Tapi, ia tajin membayar uang sewa kamar, makanya ayah dan ibumu senang dengannya.”

“Tapi, kenapa ibu berkata mau melahirkan anak yang mirip dengan lelaki ini?”

Jung Won yakin kalau dirinya tidak punya hubungan darah dengan Geon Hyeong. Namun, ia tetap tidak bisa memahami mengapa ibunya meninggalkan pesan scperti itu di foto tersebut. Ibunya adalah seseorang yang menyenangkan dan baik hati. Namun, keinginan ibunya agar anak pertamanya mirip dengan lelaki lain dan bukan suaminya tetap saja suatu tindakan yang tidak masuk akal. “Karena ibumu dulu senang melihat wajah lelaki ini. Wajahnya cukup tampan, kan.”

“Itu saja?”

“Memangnya kau pikir ada apa lagi?”

Menyadari ada nada curiga di pertanyaan Jung Won, pamannya itu balas bertanya dengan bingung.

“Tidak, aku penasaran saja. Kelihatannya ia akrab sekali dengan ibu, jadi kupikir ia anggota keluarga kita.”

“Tidak. Lelaki itu benar-benar orang yang malang, makanya ibumu kasihan padanya. Ibumu itu memang orang yang baik hati.”

Mendengar jawaban paman Jung Won, Geon Hyeong sesaat menyipitkan matanya. Jung Won pun memandang Geon Hyeong dengan wajah bingung. Ayah Gcon Hycong kan anak keluarga kaya raya. Kenapa dibilang orang yang malang?

“Memangnya kenapa orang itu?”

“Kudengar istrinya kabur begitu menikah dengannya. Sambil membawa semua uangnya. Jung Won, baju ini bagus tidak? Ini dipilihkan oleh pacarmu itu.”

“Iya, bagus. Tapi, kenapa istrinya kabur?”

“Mana kutahu. Katanya ia sudah mencari istrinya ke mana-mana sclama beberapa hari scperti orang gila, tapi belakangan ia baru tahu kalau istrinya itu kabur dengan pria lain. Keterlaluan juga ya perempuan itu? Meskipun lelakinya tidak punya uang, tapi benar-benar keterlaluan.”

Pamannya yang sudah tidak tertarik membahas lelaki di foto itu kini mulai memamerkan pakaian barunya, namun Jung Won dan Geon Hyeong sama sekali tidak punya waktu untuk memperhatikan fashion pamannya itu. Kabar mengenai perceraian antara anak pengusaha kaya raya dan aktris pendatang baru itu sempat ramai dibicarakan orang saat itu. Namun, baru pertama kali ini Geon Hyeong mendengar cerita tentang ibunya yang kabur dengan pria lain dan ayahnya yang mencari ibunya ke mana-mana. Apa mungkin kakeknya menyembunyikan hal ini agar jangan sampai diberitakan oleh media? Kabur dengan pria lain? Selama ini ia mengira ayahnyalah yang membuang ibunya. Tetapi, ayahnya itu justru mencari ibunya sampai seperti orang gila? Gcon Hyeong sekali lagi memicingkan matanya mendengar cerita baru hari ini.

“Jadi, istrinya kabur dengan orang lain karena lelaki ini tidak punya uang?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti, tapi apa menurutmu tidak seperti itu? Kalau bukan karena itu, mana mungkin perempuan yang sudah melaksanakan upacara pernikahan itu kabur begitu saja. Padahal wajah lelakinya pun tampan.”

Bagi paman Jung Won yang tidak tahu identitas asli lelaki di dalam foto itu, mungkin kejadian itu tidak terlalu aneh baginya. Namun tidak bagi Geon Hyeong. Meskipun ayahnya terkenal playboy, ia tahu pasti kalau ayahnya adalah seorang keturunan pengusaha kaya raya dan ahli waris dari perusahaan itu. Tetapi, ternyata justru ibunya yang meninggalkan ayahnya? Sepertinya ada sesuatu lagi di balik semua ini.

Begitu pamannya meninggalkan kantor itu karena tidak sabar ingin bertemu dengan So Hee, Jung Won dan Geon Hyeong saling berpandangan. Mereka sudah mengetahui bagaimana ayah Geon Hyeong bisa bertemu dengan ibu Jung Won. Mereka juga sudah mengetahui maksud pesan yang ditinggalkan oleh ibu Jung Won di balik foto itu. Namun, mendengar penjelasan dari pamannya itu seolah membuat masalah ini menjadi semakin sulit untuk dimengerti.

“Katanya mereka melakukan upacara pernikahan dengan normal, tidak secara sembunyi-sembunyi, lalu mengapa wanita itu kabur?”

Geon Hyeong sejenak terlihat ragu mendengar pertanyaan Jung Won. Hal itu juga mengganggu pikirannya sejak tadi. Kalau ibunya memang ingin kabur, seharusnya 1a tidak perlu melakukan upacara pernikahan besar-besaran seperti itu. Geon Hyeong mengerutkan dahinya memikirkan teka-teki yang tidak bisa ia pecahkan im dan menatap Jung Won. Namun, Jung Won pun tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Sepertinya rahasia masalah im belum sepenuhnya memperlihatkan wujudnya.

“Pasti wanita itu bukan melarikan diri karena masalah uang. Ayahmu kan keturunan pengusaha kaya raya.”

“Kalau kupikir-pikir, sepertinya ia tidak terlalu suka dengan ayahku.”

Sampai sekarang pun, banyak rumor yang beredar mengenai alasan perceraian kedua orangtuanya itu. Ia pun tahu rumor apa saja yang beredar secara menyeramkan dari mulut ke mulut. Ayahnya yang memiliki wanita lan, ibunya yang ingin melanjutkan berakting, perbedaan sifat antara keduanya, keluarga yang menentang hubungan mereka, dan lain-lain. Rumor-rumor itu sungguh beraneka dan terus ramai dibicarakan orang-orang saat itu. Geon Hyeong kim tahu dari mana sebagian besar rumor itu berasal.

“Yang benar saja.”

“Entahlah. Hal itu tidak terlalu penting saat ini. Bagaimanapun, tetap saja ibuku mengkhianatiku.”

Geon Hyeong menyahut dengan ketus. Dua belas tahun, sejak saat itu ia harus berjuang hidup seorang diri di sini. Ia masih ingat setiap tatapan dingin yang tertuju padanya saat itu.

“Apa benar ia menerima uang itu?”

“Apa?”

“Kau sudah mengeceknya?”

“Tidak perlu kucek lagi. Karena aku sudah mendengarnya secara langsung.”

Ibunya sudah mengatakan hal itu dengan jelas pada pengacara yang membawa Geon Hyeong saat itu. Bahwa ia sudah menerima uang yang dijanjikan. Saat Geon Hyeong berumur 12 tahun. Ketika Geon Hyeong resmi menjadi anggota keluarga Kim, ibunya menerima uang dalam jumlah besar dar sumber yang sudah jelas. Gcon Hyeong masih ingat betapa takut dan putus asanya ia saat itu.

“Semua itu pasti ada alasannya.”

“Kau ini benar-benar polos sekali. Hanya ada satu alasan mengapa ia menerima uang itu. Tentu saja karena rasa tamaknya.” Geon Hyeong berkata sinis scolah mengkritik ibunya, namun Jung Won menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak. Aku juga menerima uangmu, tapi bukan karena rasa tamak. Tapi karena aku tidak punya pilihan lain.”

“Situasimu kan berbeda dengan ibuku.”

Geon Hyeong menyahut dengan cepat, sementara Jung Won hanya berdecak pelan. Kenapa orang ini keras kepala sekali dan tidak bisa dinasihati seperti ini? Ia benar-benar hidup dalam kesalahpahaman selama ini, batin Jung Won. Pasti za akan lebih terluka karena tidak memercayai hal itu.

“Tentu saja. Ibumu pasti lebih merasa terdesak. Aku harus melindungi adik-adikku, sementara ibumu kan harus melindungi anaknya sendiri. Pasti ia punya alasan sendiri.”

“Cih.”

Geon Hyeong hanya mendengus pelan mendengar bujukan Jung Won.

“Aku memang tidak tahu mengapa ibumu menerima uang itu, namun sepertinya aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Ibumu kan sudah mempertemukanmu dengan ayahmu. Demi masa depanmu juga.”

Mendengar ucapan Jung Won, Gcon Hyeong mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu. Ia sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu.

Masa depan. Bagi Geon Hyeong yang berusia 12 tahun saat itu, masa depan yang terbentang di hadapannya hanyalah tatapan tajam dan perlakuan dingin dari orang-orang di sekelilingnya. Sementara, masa depan dirinya yang sekarang ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri selama ini.

“Siapa yang tahu mengenai hal itu?”

“Iya, memang tidak ada yang tahu. Tapi, kalau ibumu percaya bahwa hal ini akan lebih baik bagimu, aku rasa bisa saja ia melakukan hal itu.” “Tidak. Bagaimanapun, hal ini tidak pantas dilakukan kepada anaknya sendiri.”

Geon Hyeong kembali mengkritik dugaan Jung Won. Ia masih bisa bersabar jika disebut-sebut sebagai anak yang lahir di luar nikah. Namun, ia tidak bisa menahan betapa sakitnya dibuang oleh seseorang yang sangat ia cintai. Jung Won tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam menatap Geon Hyeong. Di wajah Geon Hyeong yang biasanya tidak menunjukkan emosinya kembalh terlihat rasa sakit hati. Jung Won segera berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh ya, setelah kupikir-pikir, sepertinya cincin ini milikmu. Ibuku bilang ia mendapat cincin ini dari seseorang sebagai hadiah. Cincin ini, imi benar-benar berlian kan?”

Geon Hyeong mengangguk kepada Jung Won yang memcgang- megang cincin di kalungnya. Ia pun sebenarnya terus merasa penasaran dengan cincin itu. Namun, setelah mengetahu bahwa itu adalah peninggalan ibu dari wanita yang bukan adiknya, ia merasa bahwa cincin itu hanyalah kenang-kenangan berharga dari ibunya. Jung Won menyentuh bagian belakang lehernya dan melepaskan kalung itu dari lehernya. Cincin yang tergantung di rantai emas kalung itu segera terjatuh ke tangannya.

“Lalu, apa artinya bunga-bunga yang terukir di cincin in? Aku tadinya mengira ibuku memberikan cincin ini padaku karena namaku Jung Won yang artinya taman, tempat bunga-bunga ini bermekaran.”

“Nama selebriti ibuku adalah Daisy.”

Daisy. Itu adalah panggilan orang-orang terhadap ibunya. Nama itu juga merupakan nama merek kosmetik yang menjadi produk iklan pertama kali yang dibintangi oleh ibunya, yang membuat namanya langsung melesat tinggi seperti komet. Sejak saat itulah, orang-orang memanggilnya dengan scbutan Daisy sclama kehidupannya sebagai aktris yang singkat. Mendengar penjelasan Geon Hyeong, Jung Won kembali menatap ukiran bunga kecil yang terdapat di bagian dalam cincinnya. Ternyata ini bukan camomile, melainkan daisy. Daisy, bunga yang melambangkan wanita cantik yang membawa keindahan dan harapan. Lalu, cincin ini merupakan bentuk perasaan lelaki yang mencintai bunga ini.

“Hm, menurutku, ayahmu benar-benar mencintai ibumu.”

“Kalau ia memang mencintainya, apa mungkin ia bisa langsung menikah dengan wanita lain seperti itu?”

“Pasti itu juga ada alasannya sendiri. Ia kan sudah mencari ibumu sampai setengah mati.”

Geon Hyeong hanya menjawab dengan mengangkat bahunya menanggapi ucapan Jung Won. Rasanya sulit untuk percaya bahwa ayahnya masih peduli dengan hal-hal seperti cinta. Meskipun ayahnya sangat mencintai ibunya, kalau tidak diungkapkan, percuma saja.

Jung Won mengulurkan cincin itu pada Geon Hyeong yang tersenyum kecut.

“Kenapa?”

“Sepertinya kau yang harus memiliki cincin ini. Ini milik ibumu, kan.”

“Cincin ini kan hadiah dari ayahku untuk ibumu. Lalu, ibumu memberikan cincin ini padamu. Berarti ini sudah menjadi milikmu.”

Gcon Hyeong menolak cincin yang disodorkan oleh Jung Won dengan yakin. Jung Won tetap mengulurkan tangannya dengan kaku pada Geon Hyeong.

“Meskipun begitu, cincin ini kan sangat berarti bagimu.”

“Tidak sebesar arti cincin ini bagimu.”

Geon Hyeong akhirnya mau tidak mau mengambil kalung dan cincin dan tangan Jung Won yang terlihat kaku itu dan segera berdiri. Ia lalu berdiri ke belakang Jung Won dan memakaikan kembali kalung itu di lehernya. Seketika itu juga, tiba-tiba saja ruangan yang dingin olch AC itu terasa menghangat sekitar 10 derajat. Kulitnya yang terkena sentuhan tangan Geon Hyeong terasa panas.

“Aku memberikan cincin ini lagi padamu. Sekarang beres, kan?” Geon Hycong tidak kembali ke tempat duduknya dan berdiri di hadapannya, menatapnya dari atas kepalanya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada cincin yang tergantung di leher Jung Won lalu kembali menatap Jung Won. Mereka bertatapan selama beberapa saat dan Jung Won yang merasa canggung baru saja hendak berdiri ketika Geon Hyeong memegang lengan sofa yang diduduki oleh Jung Won dan mengunci wanita itu dengan tatapannya. Ketika Geon Hyeong menundukkan wajahnya dan Jung Won merasakan bibir lelaki itu menyentuh bibirnya, tiba-tiba Jason yang hendak mengingatkan jadwal Geon Hyeong yang padat, masuk begitu saja ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Sedang apa kau, semua orang sudah menunggu... Oh, ada Jung Won?”

Jung Won yang terkejut segera menarik tubuhnya merapat ke sofa, sementara Geon Hyeong pun perlahan menegakkan tubuhnya. Melihat wajah Geon Hyeong yang memandang Jung Won dengan sebal dan tatapan tajamnya, barulah Jason menyadari bahwa za datang di waktu yang tidak tepat dan tanpa sengaja mengganggu momen penting kedua orang itu. Ia lalu hanya tersenyum meminta maaf.

“Ah, sepertinya aku sudah mengganggu momen penting kalian ya?”

“Kalau sudah tahu, scharusnya kau segera keluar.”

“Geon Hyeong ss/ Ah, tidak, kok. Tidak sama sekali.”

Geon Hyeong menegur temannya itu dengan suara dingin yang sangat menyeramkan, sementara Jung Won segera menggeleng dengan wajah memerah. Ia tidak berani menatap Jason langsung.

Momen penting? Mengganggu? Mendengar kedua kata sederhana itu saja, wajah Jung Won langsung memerah. Seandainya Jason terlambat masuk sepuluh menit saja, apa yang kira-kira akan terjadi? Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan? Tidak tahu malu sekali, batin Jung Won.

“Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku harus pergi dengan Geon Hyeong sekarang.”

“Ada apa?” “Sepuluh menit lagi ada rapat dengan pimpinan dari perusahaan Carson. Kau tahu kan kalau di sana sckarang masih pukul enam pagi? Tidak sopan kalau kita sampai terlambat.”

Jason tersenyum kecil pada Jung Won sambil mengingatkan jadwal Geon Hyeong yang sangat mendesak. Melihat Jason yang biasanya terlihat santai itu berkata padanya dengan tergesa-gesa, Geon Hyeong melirik jam tangannya sekilas dan menghela napas seolah tidak ada pilihan lain lagi. Rapat kali ini bukanlah rapat yang bisa :a batalkan atau tidak ia ikuti begitu saja.

“Berapa lama lagi?”

“Sepuluh menit.”

Geon Hyeong terkejut dan menggerutu pelan, sementara Jung Won pun segera berdiri dari tempat duduknya. Jung Won tidak tahu harus berbuat apa melihat senyuman ramah Jason dan tatapan tajam Geon Hyeong.

“Jung Won.”

“Cepat pergi. Sepertinya kau sibuk sekali. Sampai jumpa nanti.”

“Ah, tunggu...”

“Nanti kutelepon. Aku juga sibuk sekarang.”

Sebelum Geon Hyeong sempat berkata apa-apa lagi, Jung Won mengangguk memberi salam pada Jason dan Gcon Hycong dan segcra berlari keluar dari ruangan itu.

Jung Won yang wajahnya masih memerah segera menekan tombol “dos? begitu ta naik ke dalam lift. Sepertinya jantungnya rusak. Jung Won butuh waktu untuk menenangkan jantungnya yang berdegup keras dan wajahnya yang memerah.