--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 10 : Salah Paham yang Bukan Salah Paham

Bab 10 : Salah Paham yang Bukan Salah Paham

Meskipun pernikahan Shin Hee dibatalkan dan Geon Hyeong telah dilantik sebagai direktur, yang paling terkejut ketika mendengar Geon Hyeong masih berpacaran dengan Jung Won yang bekerja di kantin kampus adalah Nyonya Oh. Ia tidak suka melihat Geon Hyeong yang sangat pintar menjalin hubungan serius dengan wanita yang tidak memiliki apa-apa. Namun, mereka berdua tetap menjalin hubungan itu dalam waktu yang cukup lama. Pasti Geon Hyeong memiliki alasan tertentu untuk tetap menjalin hubungan dengan wanita itu.

“Benarkah ia meminjamkan kamar hotel untuk wanita itu?”

“Iya, begitulah.”

Direktur Oh menyerahkan amplop yang tadi ia terima kepada adiknya dengan wajah tidak percaya. Ia masih ingat bagaimana kedua orang itu berangkat kerja dari hotel dan pulang bersama-sama. Foto- foto ini jelas bisa menimbulkan skandal yang menghebohkan, namun sekarang bukan saat yang tepat untuk membuat gosip seperti ini. Semoga saja skandal ini benar-benar bisa berubah menjadi realitas.

“Apa Geon Hyeong benar-benar akan menikahi wanita itu?”

“Apa mungkin lelaki sepintar dia akan berbuat seperti itu? Tetapi, sekarang sepertinya pihak keluarga Shin Hee mendesak Presiden Kim agar menikahkan Geon Hyeong.”

Direktur Oh berkata dengan tidak sabar pada adiknya. Keluarga Shin Hee yang tadinya menolak Geon Hyeong habis-habisan karena alasan anak yang lahir di luar nikah, kini tiba-tiba malah mendukung pernikahan Geon Hyeong. Direktur Oh benar-benar tidak mengerti mengapa pihak keluarga Shin Hee tiba-tiba berbuat baik pada Geon Hycong seperti itu.

“Tapi hal itu tidak akan terjadi, kan?”

“Tentu saja. Mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Mereka tidak akan membiarkan perusahaan itu jatuh pada Geon Hyeong begitu saja.”

“Ayah sepertinya sangat pusing dengan masalah Geon Hyeong ini.” “Jangan khawatir. Karena bagaimanapun, pasti kita yang akan menang nantinya. Kau urus saja soal Jae Hyun. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan anak itu di tengah situasi seperti ini?”

Nyonya Oh hanya menghela napas pelan mendengar protes kakaknya pada keponakannya itu. Ketika ia menyuruh anak itu untuk ikut bekerja di perusahaan, dengan tegas ia mengatakan bahwa ia tidak tertarik ikut campur dalam urusan Goryo Grup. Kenapa anak itu mirip sekali dengan suamiku dan sama sekali tidak mirip denganku, batin Nyonya Oh. Suaminya saat itu pun mengatakan hal yang sama. Ia tidak punya ambisi apa-apa di perusahaan ini. Katanya ia sudah cukup bahagia dengan alkohol, perempuan, dan tanaman. Dia adalah lelaki yang suka main perempuan dan seorang ahli holtikultura yang berpengetahuan luas. Sclain dalam hal alkohol dan perempuan, Jac Hyun benar-benar mirip dengannya. Mau dimarahi dan dipaksa bagaimanapun, Jae Hyun benar-benar tidak akan mengubah pendapatnya.

Benar-benar keras kepala. Anak laki-lakinya itu benar-benar mirip dengan suaminya. Suaminya yang biasanya selalu tergila-gila dengan perempuan itu tiba-tiba saja seolah menghabiskan hampir seluruh waktunya di taman yang ia buat itu. Hingga akhirnya, ia menjadi ketua komite universitas itu. Namun, Nyonya Oh sejak awal tidak berniat menjadikan anaknya sebagai profesor yang bekerja terus-menerus di dalam rumah kaca. Baginya, anak lelakinya itu harus menjadi orang yang berbeda dengan suaminya.

“Atau lebih baik kau nikahkan saja dia.”

“Ide yang bagus. Yoo Shin Hee kan tidak harus menikah dengan Kim Geon Hyeong. Yang penting kan dengan salah satu cucu dari Presiden Kim.”

Mata Nyonya Oh langsung bersinar mendengar saran dari Direktur Oh. Boleh juga nasihatnya itu. Kalau seperti itu, komite pun pasti akan menilai Jae Hyun kembali. Lagi pula, jika Jae Hyun memiliki rumah tangga sendiri, pasti ia tidak akan lepas tanggung jawab seperti ini. Kini sudah saatnya Jae Hyun kembali ke tempat seharusnya ia berada. Nyonya Oh sudah tidak bisa lagi membiarkan anaknya itu bersikap sesuka hatinya.

Sudah tiga hari Jung Won terpaksa tinggal di hotel. Akhurnya, ia kembali ke rumahnya. Namun, rumah yang telah ia tinggal selama tiga hari ita kini tampak seperti bukan rumahnya yang dulu. Kunci elektronik dan beberapa gembok telah dipasang di pintu depan dan pagar rumahnya. Jendelanya telah diganti dengan jendela berpanel ganda yang tebal. Bahkan, di tembok yang mengelilingi rumah itu dipasang beberapa alat sensor dan alarm yang terus dipantau oleh perusahaan keamanan. Meskipun begitu, Jung Won tetap berusaha memakluminya sampai sebatas itu.

Namun, Gcon Hyeong ternyata benar-benar telah menyulap rumah itu dalam waktu 4 hari 3 malam.

Kamar, lantai, dan ruang tamunya memang tetap sama, namun dindingnya berubah menjadi lebih cantik. Begitu pula dengan lampu dan beberapa furnitur di rumahnya, termasuk meja makan di dapur dan sofa kecil di ruang tamu, tempat tidur tingkat yang ada di kamar Hee Won dan lemari baju yang menyatu dengan dinding di kamar Sung Won. Melihat rumah yang mungkin dikerjakan selama siang malam ini, adik-adiknya berseru gembira. Sementara, Jung Won hanya bisa terkejut bukan main. Ia sulit mengucapkan terima kasih ataupun protes kepada orang yang telah menyulap rumahnya seperti ini. Ia buru-buru menelepon Geon Hyeong yang ternyata sedang rapat dan akhirnya ia terpaksa berbicara dengan Jason. Ternyata, Geon Hyeong sedang tugas ke luar kota. Kemudian, Jason mengingatkannya untuk menelepon lagi nanti dan meyakinkannya bahwa Geon Hyeong pasti akan senang menerima teleponnya. Mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu, Jung Won hanya bisa tertawa dan akhirnya mengakhiri percakapan mereka. Jung Won kemudian menatap telepon genggamnya dan setelah meyakinkan dirinya, ia kembalh menekan nomor telepon Geon Hyeong.

“Yoboseyo2'?” --Note 21'Yoboseyo- sepadan dengan 'halo” saat menelepon.--

“Ini aku.”

“Aku tahu. Ada apa?”

Nada suaranya datar dan langsung menuju ke inti pembicaraan. Memangnya seperti ini suara orang yang senang menerima telepon darinya? Jung Won sesaat menyalahkan Jason yang sepertinya salah menilai temannya sendiri dan akhirnya mengutarakan apa yang ingin ia katakan.

“Katanya kau hanya akan mengganti pegangan pintunya saja.”

“Aku tidak berkata seperti itu. Kau kan lihat sendiri kondisi rumahmu. Tidak hanya satu dua bagian saja yang harus dibetulkan.”

Suara galak Jung Won yang terdengar dari seberang telepon disahut Geon Hyeong dengan santai seolah ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Jung Won.

Itulah maksud perkataan Jung Won. Ia tahu pasti kalau tidak hanya satu dua tempat saja yang harus diperbaiki dari rumahnya, dan itu sama sekali bukan tugas Geon Hyeong.

“Aneh.”

“Aku juga merasa aneh. Mengapa pencuri masuk ke rumahmu ya? Melihat pintu pagarnya saja, seharusnya pencuri itu tahu kalau rumah ini tidak ada apa-apanya.”

“Bukan itu maksudku. Kenapa kau berbuat baik padaku?”

“Apa?”

Geon Hyeong ragu sesaat mendengar pertanyaan Jung Won. Kemudian, keheningan sempat menyelimuti percakapan telepon itu selama beberapa saat. Jung Won sempat mengira panggilan teleponnya terputus karena Geon Hyeong terdiam cukup lama. Bukan tidak mungkin lelaki ini memutuskan teleponnya seenaknya.

“Yoboseyo? Geon Hyeong ssi?”

“Ya, aku dengar.”

“Kupikir terputus,” Jung Won berkata dengan nada tenang.

“Tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu?” “Itu, kau kan berbuat baik padaku selama ini. Menyewakan kamar hotel, membetulkan rumahku, mentraktirku. Kenapa kau berbuat baik seperti itu padaku?”

“Aku tidak berbuat baik padamu.”

“Geon Hyeong ssi.”

“Shin Hee masih belum menikah. Sampai ia menikah, tentu saja kau harus berada di sisiku.”

Jawaban itu membuat semua perlakuannya selama ini terasa masuk akal.

“Kan sudah kukatakan padamu. Kalau sampai ada masalah apa-apa, aku juga yang susah.”

“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih.”

Jung Won menyampaikan ucapan terima kasihnya dengan setengah hati dan segera mematikan teleponnya. Ia lantas terduduk lemas.

Kang Jung Won, sebenarnya kau berharap apa? Apa kau sempat salah paham dengan segala kebaikan dan kehangatannya, mengira kalau semua itu benar-benar tulus darinya? Kebaikan hatinya itu hanyalah menjadi utang, dan dirinya tetap menjadi kekasih palsunya. Tiba-tiba saja ia merasa malu dengan dirinya sendiri yang lupa bahwa ia hanyalah pengganti Yoo Shin Hee. Percuma saja 1a berharap seperti ini. Meskipun sejak awal dirinya pun mengetahui hal ini, terkadang mengecek kembali kebenaran yang sudah diketahui memang cukup menyakitkan.

Setelah selesai berbicara dengan Jung Won, Geon Hyeong tanpa sadar mengerutkan dahinya. Seharusnya ia tidak mengungkit-ungkit soal perjanjian mereka.

Setelah rapat selesai, sebenarnya ia pun merasa senang mendengar kabar dari Jason bahwa Jung Won tadi meneleponnya. Untuk pertama kalinya, wanita itu menelepon dan mencarinya. Namun, entah mengapa ia menjawab telepon itu dengan nada bicara yang dingin. Padahal, bisa saja ia berkata kalau sebenarnya ia terus memikirkan wanita itu, mengkhawatirkan keluarganya, dan merasa tidak tenang jika mereka tinggal di tempat yang tidak aman seperti itu. Gcon Hycong kembali mengerutkan dahinya mengingat ucapan terima kasih Jung Won yang terdengar scdih. Ia lalu berdiri dan merapikan bajunya. Urusan pekerjaannya kini sudah selesai, tinggal dibereskan oleh Jason. Ia pun sepertinya harus membereskan

&

Jung Won saat ini dikejar oleh deadline pekerjaannya di kebun buah-

urusannya sendiri saat ini.

buahan. Awalnya ia memilih pekerjaan ini karena merasa kepanasan bekerja mencabuti tanaman liar yang menempel di tanaman-tanaman mawar di dalam rumah kaca. Namun, bayangan pohon yang teduh di musim panas dan wangi pohon apel ternyata tidak mampu membuat suasana hati Jung Won membaik. Ia sudah bekerja di sana sejak pagi sampai para mahasiswa S1 sudah pulang semua. Namun, Jung Won tetap serius membuka plastik yang membungkus pohon apel tersebut. Ia ingin menyelesaikannya hari ini, meskipun harus berada di tempat ini sampai petang. Tidak, ia berharap hati dan pikirannya yang kacau bisa kembali tenang sebelum 1a menyelesaikan pekerjaan ini.

“Kau masih tetap berpacaran dengan hyung kan?”

“Ya? Ah, iya.”

Dalam hati, Jung Won menjawab 'entahlah' dan “dari luarnya saja” tanpa sepengetahuan Jae Hyun. Tampak beberapa mahasiswa S1 yang berjalan pulang melalu salah satu pintu pagar di kebun itu.

“Kalian berdua, benar-benar berpacaran dengan serius kan?”

“Apa maksud pertanyaanmu?”

Jung Won menghentikan pekerjaannya sejenak dan begitu ia menoleh ke bawah, Jae Hyun ternyata sudah berada di bawah tangganya dan mendongakkan kepala menatapnya.

“Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi rasanya sulit untuk percaya bahwa hyung benar-benar serius denganmu.”

“Mengapa kau berpikir seperti itu?” “Hyung bukanlah orang yang mudah melepaskan apa yang menjadi miliknya begitu saja. Baik itu urusan perusahaan, maupun perempuan. Shin Hee puna pun seperti itu.”

Jae Hyun kembali menjelaskan mengenai apa yang sudah Jung Won ketahui. Kedua orang itu memang orang-orang yang berkeinginan kuat dan keras kepala. Namun, tidak ada yang bisa Jung Won lakukan dalam perjanjian mereka. Ia telah menerima banyak hal dari lelaki itu, ia memiliki utang pada lelaki itu, dan ia telah berjanji untuk mengikuti rencananya.

Janji untuk tutup mulut. Jung Won tersenyum kecil pada Jae ITyun yang menatapnya dengan penuh khawatir.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, kau juga tahu kalau pihak keluarga Shin Hee telah mengajukan lamaran pernikahan secara resmi?”

Saat sedang bekerja di atas tangga, para profesor selalu memberinya satu nasihat penting: Tetap fokus dan konsentrasi.

Namun, seketika itu juga Jung Won seolah kehilangan kon- sentrasinya. Kemudian, ia langsung merasakan akibat dari hilangnya konsentrasinya. Seketika, pandangannya gelap dan ia terhuyung jatuh dari tangga. Awalnya ia pikir ia akan terjatuh menghantam tanah begitu saja, namun untungnya Jae Hyun sempat menangkap tubuhnya. Ada- ada saja masalah ini, pikir Jung Won.

“Kau tidak apa-apa?”

“Ah, iya...”

Tidak salah lagi, kepalanya yang terasa kosong dan jantungnya yang berdebar-debar itu pasti karena insiden kecilnya saat ini.

Sebenarnya, setiap hari ia selalu mengalami insiden seperti ini. Entah terkena air panas, terciprat minyak panas, tergores pisau, atau jatuh dari tangga seperti im. Hal-hal itu kadang-kadang memang terjadi pada dirinya. Saat ini pun pasti termasuk salah satu insiden biasa seperti itu.

Akan tetapi, Jung Won ternyata sangat terkejut dan sempat terdiam selama beberapa saat. Ia bahkan sampai tidak menyadari berat tubuh Jac Hyun dan tangan besarnya yang mengenakan sarung tangan kerja masih menahan bagian belakang kepalanya. Jae Hyun akhirnya mengangkat sebelah lengannya yang lain dan menghela napas lega. Wajah Jae Hyun yang bertatapan dengan Jung Won pun terlihat pucat.

“Sekarang ayo bangun dulu. Sepertinya masih ada yang perlu kita bi...

“Apa-apaan kalian ini?”

Sebelum Jae Hyun menyelesaikan ucapannya, sebelum Jung Won sempat melepaskan diri dari pegangan Jac Hyun, terdengar suara Gcon Hyeong yang penuh amarah dari belakang mereka. Di mata Geon Hyeong yang menatap kedua orang itu seolah tampak api yang berkobar karena emosi.

Gcon Hyeong sejak tadi bingung mencari Jung Won di Hwanwon dan rumah kaca. Ia ingin meminta maaf pada wanita itu dan makan malam bersamanya di rumah Jung Won yang baru dibetulkan. Ia sempat menggerutu diam-diam pada Jung Won yang sangat aktif dan suka beraktivitas di beberapa tempat. Setelah berjalan kec sana-kemari di siang hari yang terik itu, dengan susah payah akhirnya ia sampai di kebun buah-buahan. Namun, kedua orang yang tengah berpelukan itu sama sekali bukan pemandangan yang dibayangkan oleh Geon Hyeong.

“Gcon Hycong 551?”

Jung Won tidak bisa berkata apa-apa karena masih terkejut dengan insidennya tadi dan ditambah dengan kemunculan Geon Hyeong yang mendadak. Seluruh tubuhnya rasanya dipenuhi oleh luka memar. Geon Hyeong segera berlari mendekati Jung Won yang tampak terkejut di bawah tubuh Jae Hyun. Jae Hyun segera bangun dan mengulurkan tangannya membantu Jung Won untuk bangun. Geon Hyeong menatap Jae Hyun yang memapah sambil memeluk tubuh Jung Won. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram.

“Hyung kenapa ada di sini?”

“Justru aku yang harus bertanya padamu, apa-apaan 1ni?”

“Seperti yang Ayung lihat, ada yang Jung Won bicarakan....” Tatapan mata Jae Hyun yang tadinya mengarah pada Jung Won kini terpaku pada Gcon Hyeong. Begitu ia memahami apa maksud tatapan Jae Hyun, amarah dan emosi Geon Hyeong yang selama ini ia simpan rapat-rapat seketika meluap begitu saja. Jae Hyun jelas sudah memancing amarahnya. Biasanya, ia pasti tidak akan mendengus mencemooh sedikit pun. Namun, sebelum Jae Hyun yang kembali menatap Jung Won sempat berkata apa-apa, Geon Hyeong sudah melayangkan kepalan tangannya ke arah Jae Hyun. Mendapat serangan mendadak seperti itu, seketika itu juga Jac Hyun jatuh terhuyung.

“Geon Hyeong ss1”

Geon Hyeong kembali mendekat menghampiri Jae Hyun yang berusaha untuk berdiri sambil terhuyung-huyung. Begitu Jung Won berdiri menghalangi di depan Jac Hyun, Gcon Hycong menatapnya sambil mengangkat alisnya. Kemudian, ia memegang pergelangan tangan Jung Won dan menariknya mendekat ke sisinya. Jung Won seharusnya tahu di mana posisinya dan dengan siapa ia harus berdiri. Namun, seolah tidak memedulikan perasaan Gcon Hycong yang meluap-luap, wajah Jung Won pun ikut memerah karena marah.

“Astaga. Jae Hyun ssi, kau tidak apa-apa? Apa-apaan kau ini?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan barusan? Kenapa kau malah membelanya di hadapanku?”

Jung Won kembali berteriak kaget melihat darah segar mengalir dari bibir Jae Hyun.

“Kau ini ada apa sebenarnya, kau gila ya?”

“Anggap saja begitu.”

Geon Hyeong memandang Jae Hyun dan Jung Won bergantian dengan tatapan yang menyeramkan lalu menarik tangan Jung Won dan pergi meninggalkan tempat itu.

Meskipun Jung Won berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Geon Hyeong, percuma saja, lelaki itu tetap bergeming. Padahal, aliran darah di tangan Jung Won sepertinya tidak mengalir. Namun, sepertinya Geon Hyeong tetap tidak peduli.

“Apa-apaan kau ini?” “Harusnya aku yang berkata seperti itu.”

“Cepat minta maaf pada Jae Hyun.”

Mendengar ucapan Jung Won yang menyuruhnya meminta maaf, Geon Hyeong menghentikan langkahnya dan menatapnya tajam. Jung Won yang merasa marah juga tidak peduli dan balas menatapnya.

“Kan kau yang berbuat salah.”

“Kau gila rupanya. Kau tidak ingat apa yang tadi dilakukan oleh orang itu?”

“Aku ingat. Aku juga ingat apa yang tadi kau lakukan. Jadi, kau ini orang yang langsung memukul orang seenaknya saja jika sedang marah seperti itu?”

Jung Won mengerutkan dahinya dan berteriak padanya, namun Gcon Hyeong yang masih tertutup emosi sama sekali tidak mendengar ucapannya itu.

“Orang itu tadi memelukmu seperti itu.”

“Jae Hyun tadi telah menyelamatkanku. Aku tadi hampir saja mati karena gegar otak.”

Mendengar jawaban Jung Won, Geon Hyeong menyipitkan matanya. Meskipun tidak ada peraturan keluarga sekalipun, Jung Won tidak pernah berbohong padanya. Geon Hyeong bukannya tidak bisa memercayai wanita ini. Yang tidak bisa 1a percayai adalah perasaan hati seseorang. Seandainya ia terlambat datang ke tempat itu 10 menit saja, tidak, 5 menit saja, Geon Hyeong sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Jung Won pasti akan mendengar pengakuan cinta dari Jae Hyun. Mungkin Jung Won tidak tahu, namun Geon Hyeong tahu pasti arti tatapan Jae Hyun pada Jung Won tadi.

“Kenapa orang itu menyelamatkanmu?”

“Jadi, menurutmu lebih baik aku mati saja, begitu?”

“Aku tidak berkata seperti itu. Kenapa harus... maksudku, kenapa harus dia yang menyelamatkanmu?”

“Karena orang yang paling dekat denganku saat itu hanya Kim sonsaengnim seorang.”

“Aku tidak suka dengannya.” Dari suara Gcon Hycong yang bernada dingin itu mungkin terlihat scolah emosinya sudah mereda, namun dari tatapannya terlihat bahwa ia masih merasa geram. Semakin ia memikirkannya, rasanya amarahnya semakin memuncak.

“Aku ingin kau berhenti bekerja di sini. Atau, setidaknya kau tidak usah datang ke rumah kaca itu lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak suka.”

Gcon Hycong merasa satu alasannya itu sudah cukup, sementara Jung Won menatapnya dengan wajah bingung. Alasannya itu benar- benar tidak logis dan tidak rasional. Lalu, ucapannya ita benar-benar tidak sesuai jika diucapkan oleh Geon Hyeong.

“Kita ini kan sedang berpacaran. Kalau kau berbuat seperti itu dengan lelaki lain, kau pikir mereka akan memercayai hubungan kita?”

“Kalau mereka tidak percaya, itu kan urusan mereka. Aku maklum. Lagi pula...”

“Lagi pula apa?”

“Tidak.”

Tadinya ia ingin berkata “urus saja dirimu sendiri”, namun Jung Won memilih untuk diam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Kabar mengenai persiapan pernikahan kedua orang itu sejak tadi terus berputar di hati dan kepalanya. 'Toh sejak awal ia memang sudah tahu bagaimana hubungan kedua orang itu. Namun, Jung Won tidak mengerti mengapa kenyataan ini terasa bagai duri menyakitkan yang tersangkut di tenggorokannya.

“Cepat katakan. Lagi pula apa?”

Geon Hyeong mendesak Jung Won dengan tidak sabar, khawatir kalau-kalau Jung Won menyadari perasaan Jae Hyun pada dirinya.

“Aku tidak pernah berkata apa-apa padamu jika kau berbuat apa pun dengan Shin Hee.”

“Tentu saja. Kau tidak perlu mengurusi hal itu sama sekali. Itu hanya...” “Hanya apa? Karena wanita itu adalah Shin Hee, iya kan? Tapi tadi itu hanya urusan pekerjaanku. Bukan sesuatu yang perlu kau campuri.”

Wajah Geon Hyeong terlihat lebih serius mendengar jawaban tegas Jung Won. Kemudian, za menyipitkan matanya menatap Jung Won.

“Kau cemburu?”

“Yang benar saja. Aku hanya ingin berkata kalau kepercayaan itu adalah hubungan timbal balik. Kau ini kan bukan Tuhan, jadi jangan menyuruhku untuk selalu memercayaimu.”

Jung Won membantah habis-habisan pertanyaan Gcon Hycong yang tepat sasaran itu. Cemburu? Kata itu sama sekali tidak cocok dengan situasi saat ini. Kata yang tepat hanyalah “ri”.

“Begitu rupanya.”

“Iya, itu maksudku.”

Kesal melihat sikap dingin Geon Hyeong, Jung Won menatapnya dalam-dalam lalu berjalan menjauhinya melalu sela-sela pohon apel di kebun itu. Geon Hyeong yang tertinggal seorang diri hanya mendengus pelan. Ia lupa mengatakan kalau pertemuannya dengan Shin Hee juga

&

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di kebun buah itu. Amarah Jung Won yang ia pikir akan segera mereda ternyata lebih bertahan

karena urusan pekerjaan.

lama daripada yang ia bayangkan dan hal in membuat Geon Hyeong semakin kesal. Ia tidak menyesal karena telah melayangkan pukulan pada Jae Hyun. Namun, karena kasus kekerasan itu, Jung Won sepertinya tidak berniat meredakan amarahnya pada Geon Hyeong. Tentu saja, Geon Hyeong juga sama sekali tidak berniat meminta maaf pada Jac Hyun.

“Bagaimana ini?”

“Siapa suruh kau memukul si Jae Hyun itu,” Jason bergumam pelan dengan santai seolah tidak terlalu peduli dengan masalah itu. Sebenarnya, Jason pun cukup terkejut saat mendengar masalah ini. Temannya yang biasanya selalu bersikap tenang ternyata bisa juga meledak marah seperti itu. Tetapi, menurutnya masalah ini sebenarnya tidak terlalu buruk.

“Ini semua gara-gara Kang Jung Won.”

Kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan temannya itu adalah “datar”, rasionaP, “dingin”, dan “kasar”. Jason tidak pernah menyangka Geon Hyeong bisa bertindak sebodoh dan seceroboh itu hanya karena terbawa cmosinya. Geon Hycong semakin lama semakin berubah karena wanita itu. Sifatnya dan lingkungannya. S74/.

“Cepat minta maaf dulu pada Jae Hyun.”

“Tidak mau.”

“Kalau tidak mau, ya sudah biarkan saja wanita itu.”

Mendengar saran Jason yang kesannya mudah, Geon Hyeong hanya menatapnya dengan sinis. Ia tidak masalah jika harus meminta maaf pada Jung Won. Ia sudah pernah beberapa kali melakukannya ketika tinggal bersama wanita itu. Namun, jika 1a harus meminta maaf pada Jae Hyun, sepertinya tidak akan semudah itu.

“Oh 4ya, aku baru tahu, isi peraturan keluarganya nomor 20 itu ternyata menarik sekali.”

“Apa isinya?”

“Jika kau melakukan kesalahan, cepat minta maaf dan jangan ditunda-tunda. Meminta maaf bukanlah sikap seorang yang kalah. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berani. Jadi, kalau kau meminta maaf pada Jae Hyun, aku rasa Jung Won juga akan memaafkanmu.”

Sepertinya, Geon Hyeong pernah mendengar isi peraturan itu. Lalu, tidak hanya orang yang berani yang bisa meminta maaf, tetapi orang yang memanfaatkan situasi pun bisa melakukannya. Toh ini juga tidak membutuhkan uang. Tidak apa-apa sesekali meminta maaf demi tujuan yang lebih baik.

Tidak seperti biasanya, suasana kantin kampus hari itu benar-benar ramai. Jung Won tetap bekerja seperti biasanya, meskipun pikirannya tetap dipenuhi oleh lelaki itu. Ia mengambilkan nasi, tersenyum ramah, dan kadang-kadang memberikan nasi ckstra untuk para mahasiswa itu. Sepertinya lebih baik seperti ini. Saat pikirannya sedang kusut seperti itu, setidaknya badannya harus tetap sibuk.

Dasar orang itu. Lelaki itu bahkan sudah seminggu ini tidak menghubungi Jung Won. Akibat tingkah Geon Hyeong yang hanya muncul sesaat, meninju Jae Hyun, marah-marah seenaknya, lalu pergi begitu saja, sudah beberapa hari ini Jung Won rasanya tidak bisa benar- benar fokus pada pekerjaannya. Mungkin menyuruhnya meminta maaf memang sesuatu yang mustahil. Tidak, tentu saja itu permintaan yang mustahil. Jung Won tidak bisa membayangkan lelaki itu menundukkan kepalanya di hadapan orang lain.

Peraturan keluarga di rumahnya harusnya memang hanya berlaku di rumah itu saja. Jung Won pun menyadari bahwa ia juga melakukan kesalahan. Ketika sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba seseorang memegang pergelangan tangannya yang tengah mengambilkan nasi. Jung Won yang mengira dia mengambilkan nasi berlebihan, mengangkat kepalanya. Lelaki itu ada di hadapannya.

“Ikut aku sebentar.”

“Apa-apaan kau, aku kan sedang bekerja.”

Gcon Hyeong memegang tangannya erat dan menariknya keluar dari dapur itu. Jung Won yang terkejut bukan main segera mengentakkan tangannya. Geon Hyeong mengangkat alisnya melihat perlawanan Jung Won dan ia mengikuti tatapan Jung Won yang memandang ke sekelilingnya.

“Aku pinjam Kang Jung Won sebentar karena ada urusan yang sangat penting.”

Seolah tidak memedulikan peringatan Jung Won, Geon Hyeong mengumumkan dengan suara keras sampai terdengar ke seluruh penjuru dapur, sampai ke mahasiswa yang sedang mengantre sambil membawa nampan mereka.

Aigu. Seketika itu juga, semua orang di dalam dapur menatap ke arah Jung Won. Melihat Jung Won seolah ditarik keluar begitu saja sambil tetap membawa sendok nasi di satu tangan dan penjepit makanan di tangan satunya lagi, seorang ajumma bergegas menghampirinya dan mengambil kedua benda itu dari tangan Jung Won.

Aku benar-benar gila rasanya karena laki-laki ini. Rasa menyesal dan bersalahnya pada lelaki itu tiba-tiba lenyap begitu saja.

“Kau gila ya? Apa-apaan imi?”

“Ini yang kau inginkan.”

Jung Won yang masih tetap merasa panik dan marah, berbisik pclan agar orang-orang yang masih menatap mereka tidak mendengar. Namun, Geon Hyeong hanya menyahut singkat dengan nada dingin.

Gila, gila. Yang Jung Won inginkan sama sekali bukan hal seperti ini. Setelah kejadian ini, pasti cerita mengenai kekasih corni yang suka mengambilkan nasi di kantin ini akan beredar dengan berbagai versi dan dibumbui cerita-cerita lain. Lalu, kejadian hari ini akan menjadi gosip menarik yang beredar di seluruh kampus.

Kim Geon Hyeong bisa saja digosipkan sebagai scorang preman dan Kang Jung Won sebagai kekasih yang selalu dianiaya, atau Kim Geon Hyeong sebagai mucikari dan Kang Jung Won sebagai wanita yang ditipu olehnya. Namun, sebenarnya Geon Hyeong sama sekali tidak terlihat seperti seorang mucikari yang suka menjual wanita. Tunggu, tetapi orang-orang ini tidak ada yang tahu kan kalau Geon Hyeong adalah direktur Goryo Grup? Tidak boleh ada yang tahu. Daripada mereka tahu, lebih baik orang ini dianggap gangster atau mucikari.

Saat Jung Won sibuk memikirkan hal itu, mobil Geon Hyeong berhenti di depan Gedung Sains. Geon Hyeong yang membukakan pintu untuk Jung Won tetap tidak berkata apa-apa dan hanya menggerakkan kepalanya menyuruhnya turun. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran lelaki ini, batin Jung Won.

“Kenapa kita ke si....”

“Kemarin kau menyuruhku untuk meminta maaf kan?” Jung Won bertanya pada Gcon Hycong sambil berusaha menyamai langkah kakinya yang lebar-lebar saat menuju Lift. Sementara, Gcon Hyeong memotong pertanyaannya dan menyahut singkat. Jung Won tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ketika lift itu tiba di lantai tiga, barulah Geon Hyeong berjalan dengan pelan sambil memegang erat tangan Jung Won.

“Hyung Jung Won 352”

“Aku datang untuk meminta maaf. Maaf aku telah memukulmu saat itu,” Geon Hycong berkata dengan sangat pelan sambil menatap Jung Won.

Benar-benar orang ini. Kalau ingin meminta maaf, sebarusnya ia menatap laman bicaranya. Jung Won tidak mengerti mengapa lelaki in meminta maaf sambil menatapnya, tetapi Gcon Hycong tetap menatapnya dan menyelesaikan ucapannya dengan wajah tenang. Geon Hyeong sedang menatap Jung Won, sementara Jung Won bingung dibuatnya dan ia merasa harus menatap wajah Jae Hyun.

“Tapi, kalau kau sampai berani menyentuh Jung Won sedikit pun, aku akan membuatmu tidak bisa keluar dari rumah kaca itu selamanya.”

Setelah mengucapkan permintaan maafnya yang terdengar asal, Geon Hyeong lalu menatap Jae Hyun lurus-lurus dan terang-terangan mengancamnya.

“Sudah kan?”

“Ini sebenarnya...”

“Aku kan sudah minta maaf.”

Berbeda dengan wajah Jung Won yang terlihat bingung dan tidak percaya, wajah Geon Hyeong benar-benar terlihat yakin. Lalu, setelah merasa Jung Won puas dengan sikapnya itu, ia kembali mengalihkan pandangannya pada Jae Hyun.

“Sebaiknya kau ingat terus kata-kataku tadi. Kalau kau ingin menggangguku, hadapi aku secara langsung. Aku dengan senang hati akan meladernimu. Jadi, jangan ganggu Jung Won lagi.”

“Geon Hyeong ssi.” Jung Won mengingatkan Gcon Hyeong yang tetap berbicara dengan nada mengancam itu dengan panik. Sementara, Jae Hyun justru tetap terlihat tenang.

Buat apa minta maaf seperti ini? Tidak, memangnya ini yang namanya minta maaf?

“Hyung selama ini hanya memanfaatkan Jung Won kan?”

“Memangnya kau tidak?”

Mendengar serangan Geon Hyeong, tatapan mata Jae Hyun sesaat terlihat ragu. Hanya beberapa dctik saja, bersamaan dengan senyum mencemooh yang sekilas tampak di wajah Geon IHyeong.

“Sejak kapan kau berpartisipasi sangat aktif dalam acara di hotel kami? Jangan berani-berani mengatakan bahwa sejak awal kau memang tertarik pada Jung Won.”

“Apa maksudmu?”

Wajah Jae Hyun semakin kaku mendengar desakan Geon Hyeong yang kedengarannya konyol itu, sementara Jung Won terbelalak karena terkejut.

“Aku yakin kau mendengar apa yang baru saja kukatakan. Jangan banyak bertanya lagi. Aku sudah berkata cukup jelas.”

“Kalau begitu, apa kau sejak awal sudah tahu kalau aku berpacaran dengan Geon Hycong?”

“Sial.”

Untuk pertama kalinya umpatan kasar itu terdengar dari mulut pangerannya, dan seketika itu juga sinar yang mengelilinginya seolah mulai pudar.

Jae Hyun pertama kali melihat Jung Won di acara pernikahan Shin Hee. Kemudian, ia langsung menyadari bahwa pasangan Geon Hyeong itu benar-benar seperti bidadari.

“Lalu, kau sengaja mengajakku datang bersamamu ke acara pameran bunga itu? Karena kau tahu bahwa Geon Hyeong akan hadir di acara itu?”

“Aku sebenarnya tidak merencanakan hal ini sejak awal. Hanya saja...” “Hanya saja kau penasaran melihat reaksinya, kan?”

“Oh, jadi begitu rupanya,” Jung Won bergumam scorang diri sambil menganggukkan kepalanya.

Begitu rupanya. Benar juga, tidak mungkin 1a tidak tahu. Meskipun hubungan keduanya tidak dekat, tetapi mereka adalah kakak beradik dan Kim Jae Hyun jelas merupakan orang dari Goryo Grup. Tentu saja mereka saling kenal. Kenapa aku baru menyadari hal penting seperti ini saat ini?

Kenapa ia baru ingat kalau scorang pangeran tidak akan memberikan hatinya sungguh-sungguh kepada dayangnya? Karena pasangan seorang pangeran pasti adalah tuan putri.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu,” Jae Hyun meminta maaf sambil menatap Jung Won yang terlihat bingung.

“Tapi, meskipun awalnya aku tidak jujur, aku bukan orang yang seperti itu.”

“Oh ya?”

Mendengar alasan Jae Hyun itu, barulah Jung Won tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu apa-apa dan hanya bertanya-tanya dalam hati mengapa kau baik sekali padaku. Hampir saja aku salah paham.”

“Bukan begitu. Jung Won ssi, itu...”

“Sudahlah. Cukup.”

Geon Hyeong memotong ucapan Jae Hyun. Permintaan maaf cukup diterima sebagai permintaan maaf saja. Ia sudah meminta maaf pada Jae Hyun dan Jae Hyun sudah meminta maaf pada Jung Won. Selesai sudah. Ia sama sekali tidak berniat membiarkan Jung Won memberi harapan pada Jae Hyun. Jae Hyun terpaksa mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam Geon Hyeong yang seolah dengan tegas menyatakan akan menjaga seseorang yang menjadi miliknya. Mengapa aku selalu terlambat satu langkah? Mengapa aku tidak cepat menyadari senyuman wanita yang selarua ini banya ditujukan untukku?

“Kau lantas tidak berniat untuk keluar dari kuliahku kan?”

“Tentu saja. Aku benar-benar banyak belajar dari Sonsaengaim. Aku benar-benar sangat berterima kasih.” Wajah Jung Won kembali terlihat seperti biasanya dan ia berkata sambil menunduk sopan. Geon Hycong yang tidak tahan melihatnya seperti itu buru-buru menarik tangan Jung Won lagi.

“Kuingatkan sekali lagi, jangan ganggu Jung Won. Biar bagaimanapun, ia adalah kekasihku.”

Geon Hyeong tidak lupa mengingatkan Jae Hyun untuk terakhir kalinya sambil menarik Jung Won keluar dari ruangan itu. Sementara, Jae Hyun yang tertinggal seorang diri menghela napas pelan. Sejak awal ia sudah salah melangkah. Mau beralasan seperti apa pun, pasti Jung Won tidak akan memercayainya lagi. Tidak ada cara baginya untuk mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh saat memberikan #ngerose itu kepadanya.

Cinta. Apa im namanya cinta?

Jae Hyun menatap pintu yang tertutup di hadapannya dan terduduk lemas menyadari bahwa segala sesuatunya sudah terlambat.

Jung Won yang terduduk di kursi taman di Hwamwon terlihat sangat serius. Geon Hyeong pun terlihat masih sedikit kesal. Meskipun urusannya dengan Jae Hyun sudah selesai, kenyataan bahwa dirinya dan Jung Won masih tetap bersikeras dengan pendapat masing-masing membuat Gcon Hyeong semakin stres. Ia tidak mengerti mengapa Jung Won bersikeras ingin tetap mendengarkan kuliah Jae Hyun, padahal masih banyak profesor lain yang memberi kuliah mengenai tanaman buah-buahan.

“Kau ini memang polos atau bodoh? Kau masih mau tetap mendengarkan kuliah itu?”

“Sepertinya dua-duanya.”

Mendengar gumaman pelan Jung Won, Geon Hyeong menatapnya dengan tidak percaya. Ternyata air mata sudah menggenang di ujung matanya. Melihat Jung Won yang menutup mulutnya rapat-rapat dan berusaha menahan tangisnya, Geon Hyeong rasanya semakin ingin marah.


“Kau benar-benar suka padanya sampai ingin menangis seperti itu?” “Tidak.”

“Lalu kenapa kau menangis seperti itu?”

Melihat air mata yang tidak jelas apa penyebabnya itu menetes di wajah putih Jung Won, Geon Hyeong sempat tidak tahu harus berbuat apa. Namun, merasa bahwa bisa saja itu adalah luapan perasaannya yang terpendam selama ini, ia berbalik menatap Jung Won dengan penuh iba.

“Aku merasa seperti orang bodoh. Dimanfaatkan olehmu dan adikmu. Diremehkan juga oleh keluargamu. Entah bagaimana bisa sampai seperti ini.”

“Kalau seseorang meremehkanmu, kau harus balik meremehkan mereka. Kalau mereka memanfaatkanmu, kau cukup balik memanfaatkan mereka. Lalu, aku tidak memanfaatkanmu. Aku meminta bantuanmu secara resmi. Kita tidak sama seperti mereka.”

Geon Hyeong merasa sedikit lega karena Jung Won bukan menangis karena Jae Hyun dan dengan nada datar kembali menegaskan hubungannya dengan wanita itu. Ia dan Jac Hyun jelas berbeda. Hubungannya dengan warita ini pun jelas berbeda. Poin inilah yang sangat penting.

“Yah, benar juga.”

“Makanya, jangan menangis lagi. Kau im sudah jelek, mau jadi apa kau kalau menangis terus?”

Geon Hyeong menghela napas ringan sambil tetap memandang Jung Won yang masih terisak pelan. Ia tidak suka melihat wanita ini menangis.

“Kau pikir ucapanmu itu bisa menghiburku?”

“Tidak. Aku hanya berkata apa adanya.”

Wajah Geon Hyeong sama sekali terlihat seolah tidak berniat menghiburnya. Jung Won melirik wajah cueknya itu selama beberapa saat dan menyeka pipinya dengan saputangan yang tadi diberikan oleh Geon Hyeong. Setelah isak tangis Jung Won berhenti, barulah Geon Hyeong menghela napas lega. “Pokoknya, tidak ada yang berjalan dengan baik sejak aku bertemu denganmu.”

“Kenapa?”

Geon Hyeong menatap Jung Won yang menggerutu seorang diri dan mengangkat alisnya. Tidak ada yang berjalan dengan baik? Geon Hyeong merasa bahwa dirinya selalu berusaha yang terbaik untuk wanita ini. Membayarkan utangnya, membetulkan rumahnya, bersabar menghadapi Jae Hyun, bahkan sampai membiarkan kukunya diwarnai oleh cairan bunga kuring itu. Tetapi sekarang katanya tidak ada yang berjalan dengan baik? Benar-benar tidak tabu terima kasih sekali wanita ini.

“Kenapa katamu? Kau benar-benar tidak tahu?”

“Tidak.”

Mendengar jawaban singkat Geon Hyeong yang sungguh-sungguh itu, Jung Won berseru “wah? dan menghela napasnya.

“Aku sampai harus pura-pura berpacaran denganmu, rumahku kemasukan pencuri. Lalu, tangga yang tadinya baik-baik saja itu sckarang rusak dan sekarang sinar pangeranku itu hilang begitu saja.”

“Apa? Ada apa dengan tangga?”

Geon Hyeong tidak peduli apakah dirinya sedang berpacaran sungguh-sungguh dengan warita ini atau tidak. Lalu, pencuri itu, memang pada dasarnya rumah itu yang tidak aman dan selalu membuatnya tidak tenang selama ini. Mengenai pangerannya itu, itu pun tidak penting karena sejak awal “sinar'nya itu memang harus hilang dari mata Jung Won. Namun, ia baru pertama kali ini mendengar soal tangga.

“Menurutmu, kau masih bisa berkata seperti ini setelah marah- marah di kebun buah waktu itu? Kejadian di kebun buah waktu itu kan karena tangga yang kunaiki itu rusak. Hampir saja leherku patah karena kejadian itu.”

“Kau tidak mengatakan hal itu padaku.”

Berbeda dengan Jung Won yang menggerutu dengan wajah tidak sabar, Geon Hyeong memandangnya dengan wajah serius. Selain masalah perjanjiannya dengan wanita ini, masalah lain itu kebetulan terjadi di saat yang bersamaan. Padahal, Gcon Hycong adalah orang yang tidak percaya dengan kebetulan.

“Kata siapa? Kan sudah kubilang kalan Jae Hyun yang menyelamatkanku. Kau lupa?”

“Tapi kau tidak menceritakan soal kecelakaan itu.”

“Aku jatuh dari tangga saat itu. Padahal profesor selalu berkata untuk fokus dan konsentrasi, namun saat itu aku kehilangan konsentrasiku sebentar.”

Jung Won menjelaskan dengan santai, sementara Gcon Hycong tidak bisa menerima penjelasan itu begitu saja. Apa kejadian yang menimpa wanita ini setelah bertemu dengannya hanyalah suatu kebetulan semata? Atau, apakah memang sengaja dikemas seperti kecelakaan?

Kecelakaan... Geon Hyeong tiba-tiba teringat sebuah percakapan yang tidak akan ia lupakan.

| Meskipun ia anak yang lahir di Iuar nikah, tetap saja tidak enak jika dipandang orang. Kalau anak itu man belajar ke luar negeri, izinkan saja. Kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih besar di Amerika daripada di Korea. Seperti ibu anak itu maksudku.

Apakah kecelakaan yang mereka maksud itu mungkin akan menimpa seseorang yang dekat denganku di Korea ini? Tatapan mata Geon Hycong yang memikirkan hal itu seketika itu juga berubah.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Ah, tidak. Ayo pergi.”

“Kau mau mampir dan makan dulu di rumah? Adik-adikku pasti juga kangen padamu.”

“Lihat nanti dulu, kalau aku ada waktu.”

Saat itu, barulah Geon Hyeong teringat akan jadwal kegiatan yang menunggunya. Sementara itu, Jung Won merasa sedikit scdih karena Geon Hyeong menolak ajakannya. Ia pun tahu kalau Geon Hyeong adalah orang yang sibuk. Tetapi kalau Shin Hee yang memintanya, pasti ia tidak akan menolak. Lalu, mengapa sekarang aku membuat perbandingan tidak penting seperti ini, pikir Jung Won. Geon Hyeong melanjutkan ucapannya scolah tahu isi hati Jung Won yang tetap berusaha terlihat baik-baik saja.

“Besok aku akan mampir. Besok saja kita makan bersama.”

“Tidak bisa. Besok aku sibuk.”

“Kenapa?”

“Aku ada janji.”

Kali ini giliran Geon Hyeong yang terlihat murung karena Jung Won menolaknya, padahal tadi dirinya sendiri juga sudah menolak ajakan Jung Won. Jung Won yang melihat wajah murung Gcon Hyeong, tertawa pelan.

“Asal kau tahu, aku ini juga orang yang sibuk.”

“Dengan siapa?”

Geon Hycong menaikkan alisnya masih dengan wajah murungnya dan bertanya tajam.

“Aku janji mengajak adik-adikku ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

“Kau mau ikut? Kalau kau mengabulkan permintaanku, mungkin aku bisa mengajakmu juga.”

Mendengar saran Jung Won yang kelihatan seperti sedang bercanda itu, Geon Hyeong sempat ragu sejenak. Tidak biasa-biasanya Jung Won memohon sesuatu padanya. Namun, ia pun penasaran dengan permintaannya dan akhirnya menyetujui saran Jung Won. Ke mana pun, ia akan mencoba mengikuti wanita itu.