--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 09 : Hal-hal yang Tidak Diketahui oleh Wanita Itu

Bab 09 : Hal-hal yang Tidak Diketahui oleh Wanita Itu

Sudah 10 han berlalu sejak Geon Hyeong kembali ke rumahnya sendiri. Sejak awal, Jung Won sudah tahu kalau lelaki itu berhati dingin, namun ternyata ia juga benar-benar seseorang yang tidak memperhatikan perasaan orang sama sekali. Bisa-bisanya ia pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu, padahal mereka sudah tinggal bersama selama satu bulan lebih. Benar juga, pasti ia sudah benar-benar tidak tahan berada di rumah yang jelek ini.

Mungkin ia juga sudah menghubungi wanita itu lagi.

Jung Won duduk di kursi taman di bawah bayangan pohon zelkova dan dalam hati menumpahkan segala keluhannya pada Geon Hycong. Hari itu matahari bersinar cerah di Hwaniwon dan wangi bunga liar tercrum dengan kuat.

Ia menatap sekumpulan bunga celandine yang ada di bawah kursi itu dan menyesal karena seharusnya ia mewarnai kuku lelaki itu dengan bunga pacar air saja sekalian, bukannya dengan bunga ini. Jadi, setiap lelaki itu melihat kukunya, mungkin ia akan mengingat Jung Won dan meneleponnya lagi.

“Jung Won 552”

“Ah, ya, Sonsaengnim.”

Merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya, Jung Won tersentak kaget dan berdiri dari duduknya.

Jung Won segera membungkuk memberi salam kepada lelaki di hadapannya itu, persis seperti dayang istana yang segera berlari mendengar suara pangeran yang memanggilnya. Padahal, dalam hati ia sudah berkali-kali mengingatkan dirinya angan bersikap seperti ini, ini namanya penyakit dayang', namun entah kenapa za tetap tidak berani menatap mata Jae Hyun secara langsung.

“Sudah kuduga kau ada di sini. Tapi, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak memanggilku “onsaengnir? lagi? Panggil saja aku Jae Hyun 557.”

“Baiklah. Hanya saja aku belum terbiasa...” “Nanti juga lama-lama kau akan terbiasa. Apa pun itu, kalau kau lakukan terus-menerus pasti akan terbiasa. Bahkan kebohongan pun seperti itu. Kalau dilakukan terus, suatu saat pasti akan menjadi kenyataan.”

“Tidak juga. Kebohongan ya kebohongan, kenyataan ya kenyataan.”

Setelah berkata seperti itu, Jung Won baru sadar. Padahal Jae Hyun hanya bergurau dengan ucapannya itu, namun Jung Won menanggapinya dengan sangat serius. Benar-benar tidak punya selera humor. Jung Won merasa malu sampai ingin segera menghilang dari tempat itu, namun ternyata Jae Ilyun pun menanggapi ucapannya dengan serius.

“Benar. Kenyataan memang kenyataan. Tapi, Kim Jae Hyun itu benar-benar namaku, lho.”

“Ah, baiklah.”

“Coba panggil namaku. Jae Hyun 151”

“Ya? Ah, iya. Jae... Hyun ssi.”

Meskipun begitu, tidak mudah bagi Jung Won untuk memanggilnya dengan sebutan Jae Hyun s5?. Apa tidak apa-apa orang biasa sepertinya memanggil nama pangerannya seperti itu? Wajah Jung Won memerah dan ja berkata dengan terbata-bata. Sementara, Jae Hyun menganggukkan kepalanya dengan puas.

“Tadi pagi Profesor Park mencarimu, tapi sepertinya kau sibuk ya tadi?”

“Profesor? Apa katanya hasil cangkokanku salah? Oh iya, aku lupa mencabut milet di sawah!”

Jung Won yang selama ini sibuk memikirkan Geon Hyeong sampai melupakan tugas-tugasnya, mulai mengingat satu per satu pekerjaan yang harus ia lakukan. Sementara, Jae Hyun tertawa pelan dan menggoyangkan tangannya menyatakan dugaan wanita itu salah.

“Bukan, bukan itu. Profesor memberimu penghargaan karena semester ini pun kau rajin sekali membantu di ramah kaca.”

“Penghargaan?” Jae Hyun kemudian menyodorkan sebuah undangan berwarna hijau dengan hiasan sulaman mawar merah cantik kepada Jung Won.

“Ini undangan festival bunga yang diadakan oleh Kedutaan Prancis. Kau bisa meminum »rre gratis dan melihat berbagai bunga juga, mau ikut?”

“Memangnya tidak apa-apa kalau aku ikut ke sana?”

Jae Hyun segera mengangguk cepat menanggapi pertanyaan Jung Won yang terlihat ragu-ragu.

Jung Won merasa kepala dan hatinya yang selama ini kacau karena Geon Hyeong perlu beristirahat sejenak. Seolah menemukan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya, Jung Won segera mengubur ingatannya mengenai Geon Hyeong di salah satu sudut otaknya.

&

Lounge hotel mewah itu penuh dengan cahaya lampu yang indah dan wangi bunga. Di belakang meja yang bernuansa merah dan putih, tampak koki-koki andal yang tengah memamerkan kelihaian mereka menyiapkan masakan khas Prancis yang disajikan dalam bentuk bujjet. Tiramisu c4&e yang terlihat manis dan lembut, cokelat yang benar-benar tampak menggiurkan, sampai beberapa jenis minuman termasuk wine pun dihidangkan di meja tersebut. Terlihat juga beberapa perancang terkenal yang namanya pernah Jung Won dengar sebelumnya dan selebriti yang datang dengan gaya yang sangat mewah. Jung Won sempat panik dan merasa malu dengan pakaian sederhananya yang menurutnya tidak cocok dengan acara itu, namun Jae Hyun yang datang bersamanya sepertinya terlihat santai-santai saja.

“Kau lapar kan? Mau makan dulu?”

“Tidak. Nanti saja. Sepertinya kita harus menunggu sampai setidaknya ada satu orang yang sclesa memberi kata sambutan.”

“Baiklah, kalau begitu.”

Jae Hyun tersenyum lebar melihat mata Jung Won yang berbinar- binar karena rasa ingin tahu dan gembira. Jung Won merasa ruangan itu satu tingkat lebih terang karena senyuman itu. Pangerannya im memang benar-benar hebat. Melihat senyumnya yang lebih cerah dan menyilaukan daripada sinar matahari di musim panas itu, Jung Won mau tidak mau terpaksa menelan ar liurnya. Orang ini memang lebih bersinar daripada selebriti, pikirnya.

Setelah menunggu selama beberapa saat, muncullah seorang lelaki berbadan tinggi dan berwajah tampan yang sepertinya adalah duta besar Prancis ke dalam ruangan itu bersama beberapa orang yang lain. Salah satu dari orang itu pasti adalah pengawalnya, lalu salah satunya lagi pasti adalah tamu VIP-nya. Jung Won mengalihkan pandangannya kembali ke mejanya, dan tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang tidak asing baginya. Matanya pun terbelalak lebar. Salah satu dari orang itu adalah Kim Geon Hycong. Lelaki berwajah datar yang hanya tersenyum kecil dengan mengangkat ujung bibirnya itu adalah Kim Geon Hyeong, lelaki yang telah meninggalkan rumahnya sejak 10 hari yang lalu.

“Kau kenapa, Jung Won 552?”

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.”

Tidak, saat ini ia tidak “tidak apa-apa”.

Kenapa bisa sampai ada kejadian seperti ini? Jung Won benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan lelaki yang terakhir kali ia temui sebelum lelaki itu berangkat tugas ke luar negeri, dan mereka masih berstatus “kekasih di tempat seperti ini. Awalnya, Jung Won pikir ia salah lihat, namun ternyata lelaki itu benar-benar Kim Geon Hyeong. Lalu, wajah Jung Won mendadak tampak sedikit murung melihat wanita yang mendampingi lelaki itu. Shin Hee yang mengenakan gaun putih tampak sangat cantik hari ini, seperti seorang mempelai wanita. Kedua orang itu benar-benar terlihat serasi dan indah. Namun, hati Jung Won rasanya mencelos melihat pasangan itu. Ada apa ini?

“Kau baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.” Tentu saja ia harus tetap mengatakan “baik-baik saja' meskipun suasana hatinya saat ini tidak seperti itu. Namun, Jung Won tetap menganggukkan kepalanya secara otomatis. Bukankah tidak ada alasan baginya untuk tidak baik-baik saja? Meskipun sebenarnya ia tidak ingin bertemu lagi dengan Geon Hyeong dan kekasihnya, pasti lelaki itu juga sudah melihatnya. Sama halnya ketika ia melihat lelaki itu tadi. Tatapan tajam Geon Hyeong sempat mengarah ke Jae Hyun, lalu kembali mengarah pada Jung Won.

Pertemuan mereka itu benar-benar tidak direncanakan terlebih dulu. Kebetulan saja mereka bertemu seperti itu. Geon Hyeong yang jelas- jelas merupakan tamu kehormatan di acara itu memang menatapnya dengan tatapan yang tidak terlalu senang, namun ia tidak berpura-pura tidak melihat Jung Won yang berpenampilan sederhana. Lalu, wajahnya juga tidak terlihat terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga itu.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Profesor di kampus memberikan undangan acara ini padaku. Katanya ada pameran bunga di sini.”

Geon Hyeong yang hanya menatap Jung Won tanpa melirik sedikit pun ke arah Jae Hyun yang datang bersamanya berusaha mencaritahu alasan pertemuan mereka yang tidak terduga itu. Jung Won pun tanpa sadar melirik ke arah Geon Hyeong. Wajahnya terlihat santai seolah tidak ada apa-apa. Yah, meskipun wajahnya memang selalu tampak datar seperti itu.

“Lalu, kau sendiri?”

“Ini hotel perusahaan kami. Aku sedang bekerja sekarang.”

Aha. Jung Won tersenyum samar mendengar jawaban Geon Hyeong. Tentu saja, jawaban Geon Hyeong itu pasti bukan alasan belaka dan dirinya pun tidak punya hak untuk menanyakan mengapa 1a bersama wanita itu.

“Shin Hee juga datang karena urusan pekerjaan.”

“Ya?” Geon Hycong tiba-tiba berkata seperti itu scolah membaca isi hatinya dan sebclum Jung Won sempat berkata apa-apa, Shin Hec datang mendekati mereka dan menggandeng tangan Geon Hyeong. Jung Won kembali terlihat kaku melihat pemandangan itu, sementara Geon Hyeong mengerutkan dahinya dan melepaskan tangan Shin Hee dari tangannya. Berbagai perasaan dan tindakan seolah terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini membuat Jung Won tidak tahu harus berbuat apa, sementara Shin Hee tampak tidak pedul dan Geon Hycong tetap dengan wajah datarnya. Lalu, tatapan mata Jac Hyun yang menyaksikan hal itu terlihat penuh tanda tanya.

“Annyeonghaseyo. Ternyata kita sering bertemu juga rupanya.”

“Ya, benar juga.”

“Tapi, kau datang dengan Jac Hyun ke sini?”

Mendengar pertanyaan Shin Hee, barulah Jung Won ingat kalau ia datang bersama pangerannya. Ia juga sedikit terkejut mengetahui bahwa pangerannya mengenal wanita pendamping Geon Hyeong.

“Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu, Nuna.”

“Benar juga. Senang bertemu lagi denganmu.”

Jae Hyun yang sempat terkejut saat melihat ketiga orang itu ternyata saling kenal, menatap Jung Won dan Geon Hyeong secara bergantian, lalu mengucapkan salam pada Slun Hee. Kemudian, ia berbalik menghadap Jung Won dengan wajah bingung.

“Kau mengenal )yung20?”

“Ya? Oh, iya. Sedikit.”

Menyadari bahwa “hyung yang dimaksud oleh Jae Hyun adalah Kim Geon Hyeong, Jung Won mengangguk pelan dengan panik dan lemas.

Hyung? Sebenarnya apa yang terjadi di sini?

“Sedikit?”

“Yah, lumayan.”

Jung Won langsung meralat ucapannya begitu melihat Geon Hyeong menaikkan alisnya seolah protes mendengar jawaban Jung --Note 20 Hyung— panggilan untuk kakak laki-laki diucapkan oleh laki-laki-

Won. Meskipun kedengarannya konyol saat Jung Won mengatakan ia kenal sedikit dengan lelaki yang dikabarkan sebagai kekasihnya itu, setidaknya bila lelaki itu bersama Shin Hee, lelaki itu adalah orang yang tidak ia kenal.

Jelas, kedua lelaki itu tidak senang mendengar jawaban Jung Won, namun tiba-tiba Shin Hee malah tertawa terbahak-bahak seolah Jung Won telah melontarkan suatu gurauan yang benar-benar hebat. Shin Hee benar-benar terlihat cantik dan memesona saat itu. Sementara, Jung Won berusaha menegakkan tubuhnya yang semakin lama rasanya semakin menyusut di hadapan Shin Hee.

“Aku sedih kalau kau mengatakan hanya mengenalku sedikit.”

Geon Hyeong tiba-tiba melepaskan tangan Shin Hee dan berjalan mendekati Jung Won. Ia merangkul pundak Jung Won dan menariknya mendekatinya sambil memandang Jae Hyun. Jung Won kembali teringat bagaimana saat tangan itu merangkulnya dulu. Rasanya masih tetap sama seperti dulu.

“Wanita ini adalah kekasihku. Kupikir ibumu sudah memberitahumu.”

“Tidak mungkin.”

Jae Hyun bergumam pelan, sementara Jung Won yang mendengar percakapan kedua orang itu menatap mereka bergantian dengan bingung. Jadi, kedua orang ini memang benar-benar saling kenal

“Aku pun kadang berpikir seperti itu, tapi kami benar-benar pasangan kekasih.”

Geon Hyeong memperlihatkan senyumnya yang mahal kepada Jung Won. Ujung bibirnya sedikit terangkat sementara matanya bersinar- sinar menatap Jung Won. Geon Hyeong menatap Jung Won dalam- dalam seolah ia hanya tersenyum untuk wanita itu.

Jangan tersenyum seperti itu. Bagaimana kalau aku menyukaimu? Jung Won segera menundukkan wajahnya yang mulai sedikit memerah. Sementara, Shin Hee menggigit bibirnya melihat tingkah kedua orang itu. Ada wanita lain selan dirinya yang membuat Geon Hyeong tersenyum seperti itu. “Kebetulan sekali kita bertemu seperti ini, bagaimana kalau kita makan malam bersama hari ini?”

“Boleh juga. Toh kita semua harus makan kan.”

Geon Hyeong mengangguk cepat mendengar saran Shin Hee.

Jung Won benar-benar tidak ingin makan saat itu. Namun, entah mengapa, situasi saat itu seolah memaksanya untuk makan.

“Oh ya, Jae Hyun, kau masih ingat kan restoran yang dulu kau ceritakan padaku? Nanti kita bertemu di sana saja. Aku dan orang ini masih ada wawancara.”

Shin Hee kembali menggandeng Geon Hyeong dengan santai dan melemparkan senyum kepada Jung Won. Kali ini Geon Hyeong tidak melepaskan tangan Shin Hee, namun wajahnya terlihat sedikit murung memperhatikan Jung Won yang berjalan menjauh bersama Jae Hyun.

Jae Hyun sudah duduk di dalam mobilnya untuk menuju ke restoran yang diinginkan oleh Shin Hee tadi. Kini, ia menatap wajah Jung Won dengan saksama, seolah menatap tumbuhan mawar yang dipenuhi oleh gulma. Benar juga, pangerannya ini kan juga manusia. Pasti ia juga penasaran dan ingin tahu bagaimana seorang ahli nutrisi di kantin kampus bisa berkenalan dengan Kim Geon Hyeong yang seorang pemilik perusahaan. Namun, Jung Won sendiri pun terkejut saat mengetahui Jac Hyun ternyata mengenal Geon Hycong.

“Sebenarnya kau ada hubungan apa dengan hyung-ku itu?”

“Hyung-mu?”

Kali ini giliran Jung Won yang terkejut mendengar panggilan Jae Hyun pada Geon Hyeong.

Hyung-k#? Tadi juga ia memanggilnya dengan sebutan “hyung. Memangnya, apa hubungan kedua orang itu? Seniorjunior di universitas, atau hanya sekadar kenalan saja? Tetangga di sebelah rumah, atau memang benar- benar keluarga? Saat ini, Jung Won lebih penasaran dengan hubungan Geon Hyeong dan Jae Hyun dibandingkan dengan hubungan Geon Hyeong dan wanita itu.

“Kau benar-benar tidak tahu kalau aku dan Geon Hyeong itu kakak beradik?” “Tidak tahu.”

Ternyata mereka benar-benar kakak beradik. Mendengar kenyataan yang di luar dugaannya, Jung Won sangat terkejut dan tersentak pelan. Benar-benar hyung? Ia tidak percaya kalau Geon Hyeong yang cuek dan sedingin es itu ternyata adalah kakak pangerannya yang hangat dan baik hati ini.

“Kami memang bukan saudara kandung. Tapi ia memang adalah kakakku.”

Jae Hyun tertawa datar. Di antara Geon Hycong, Jac Hyun, dan orang-orang yang mereka sebut keluarga itu ternyata tidak ada yang benar-benar mempunyai hubungan darah untuk dikatakan sebagai keluarga kandung. Istilahnya saja “keluarga”. Sepertinya Jung Won belum tahu sampai sejauh itu. Toh hal ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan kepada orang-orang di luar keluarga mereka. Kakaknya itu pun bukanlah orang yang dengan baik hati akan menjelaskan masalah iri satu per satu secara mendetail pada orang lain.

Wah, aku benar-benar tidak menyangka.”

Masih sulit bagi Jung Won untuk memercayai bahwa mereka adalah kakak beradik. Sepertinya ada alasan tersendiri yang cukup rumit baik dari pihak pangerannya itu maupun dari pihak Geon Hyeong. Apakah karena itulah mereka sangat berbeda seperti cahaya dan bayangannya?

“Aku pun terkejut. Aku sama sekali tidak menduga kalau kau menjalin hubungan dengan hyung.”

“Benar juga.”

Di dalam hati, Jung Won rasanya tidak tahan untuk membantah semua ucapan itu. Namun karena berbagai hal yang terjadi antara Jung Won dan Geon Hyeong, mau tidak mau ia harus mengatakan bahwa dirinya sedang berpacaran dengan Geon Hyeong, meskipun tidak sungguh-sungguh berpacaran.

Dengan hati gelisah, Jung Won akhirnya tidak bisa membantah apa- apa dan hanya memalingkan wajahnya. Benar juga, seharusnya ia menuruti nasihat ibunya. Mata panah dari kebohongan selalu mengarah pada diri kita sendiri. Jung Won teringat peraturan keluarga nomor 5 dan terus-menerus menghela napas. Kang Jung Won, kau benar-benar kena batunya kali ini.

Setibanya di restoran, Shin Hee mengatakan bahwa ia harus cuci tangan sebentar di kamar mandi karena terlalu banyak bersalaman dengan orang-orang di acara tadi dan memandang Jung Won sambil mengajaknya pergi ke kamar mandi bersama-sama. Padahal, mereka sudah bukan pelajar sekolah yang gemar pergi beramai-ramai ke kamar mandi dan mengobrol di sana. Jung Won pun hampir tidak pernah berbuat seperti itu sejak ia lulus sekolah. Namun, entah mengapa, ajakan Shin Hee itu terdengar seperti perintah di telinganya. Geon Hyeong melihat tatapan mata Shin Hee yang tegas layaknya ratu, dan mungkin ia pun tahu bahwa sulit untuk menolak keinginan wanita itu. Setelah diperhatikan, sifat Shin Hee benar-benar mirip sekali dengan sifat Geon Hyeong.

Shin Hee menatap Jung Won melalui cermin di kamar mandi dan tersenyum padanya. Wanita ini, kenapa ia bisa secantik ini ya? Bahkan dari tubuhnya tercrum wangi bunga ketika wanita itu lewat di sebelahnya. Pasti ia menggunakan parfum kan? Apa aku juga harus seperti itu? Namun, karena takut wangi parfumnya tercium di nasi atau lauk yang akan dimakan oleh para mahasiswa di kampus, Jung Won juga tidak bisa sembarangan menggunakan alat kosmetik seperti itu.

“Kau tidak penasaran mengapa aku datang bersama Geon Hyeong?”

“Geon Hyeong tadi sudah berkata padaku, karena urusan pekerjaan katanya.”

“Horist yang datang dari Prancis itu adalah guruku. Aku susah payah membujuknya agar ia mau mengadakan pameran di hotel milik Geon Hyeong itu.”

“Oh?

Ternyata, wanita ini adalah seorang /forist. Pantas saja ia tahu banyak tentang bunga. Ternyata, ini pekerjaan yang tadi dimaksud oleh Shin Hee. Lalu, ia juga baru tahu kalau pemilik hotel itu adalah Geon Hycong. Kenapa selama ini aku tidak tahu mengenai semua ini, pikir Jung Won. Oh iya, aku pun bahkan tidak tahu soal Kim Jae Hyun sonsaengnim. Shin Hee pasti tahu kalau Kim Jae Hyun adalah adik Kim Geon Hyeong. Shin Hee benar-benar tahu segala hal mengenai Geon Hyeong, sementara Jung Won rasanya tidak tahu apa-apa mengenai Geon Hyeong.

“Tapi, kau tadi juga tidak menyangka kita akan bertemu di tempat itu kan?”

“Iya.”

Jung Won hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Shin Hee yang membelalakkan matanya secara berlebihan, seolah benar-benar terkejut.

“Bagaimana ketika kau tinggal bersama Gcon Hycong?”

“Yah, begitulah. Biasa saja.”

“Geon Hyeong pada dasarnya memang sangat rewel, jadi aku agak terkejut waktu ia bilang tinggal bersamamu. Pasti kau kewalahan menghadapinya ya?”

“Iya. Beberapa kali kami sampai bertengkar.”

Sambil mengeringkan tangannya dengan tisu, Jung Won mendengus pelan dan tersenyum mengingat saat Geon Hyeong masih tinggal di rumahnya.

“Bertengkar?”

“Ya. Hampir setiap hari kami bertengkar, jadi aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu.”

Jung Won tersenyum seolah sudah memahami tingkah Geon Hyeong, namun Shin Hee sama sekali tidak tersenyum padanya. Wanita itu sudah mencuci tangannya dan selesai memperbaiki wake up- nya, namun sepertinya ia belum berniat keluar dari kamar mandi itu. Tentu saja, Jung Won yang ada bersamanya juga jadi tidak bisa keluar dari kamar mandi.

“Geon Hyeong hampir tidak pernah marah padaku. Ia pun selalu bersabar dan mengalah padaku.” “Kalau denganku, ia sclalu marah-marah, bertindak semaunya, dan sangat keras kepala.”

“Benar, itu sebabnya aku merasa kesal. Karena itu membuatku terlihat lebih buruk.”

Jadi, lelaki itu hanya berani marah-marah padaku yang tidak punya kemampuan apa-apa ini? Ketika Jung Won menggerutu dalam hati, Shin Hee malah terang-terangan menggerutu di depannya. Jung Won yang tidak bisa memahami maksud ucapan Shin Hee, hanya diam dan memandangnya. Ia hanya merasa kalau gerutuannya tadi berkaitan dengan Geon Hyeong.

“Geon Hyeong selalu melakukan apa yang kuinginkan. Apa pun itu. Oleh karena itu, kami tidak pernah bertengkar.”

Jung Won sudah tahu mengenai hal itu tanpa harus diberitahu olch Shin Hee. Jung Won bahkan merasa iri terhadap Shin Ilee. Iri karena lelaki itu mau menuruti seluruh kemauannya.

“Tapt, aku benar-benar tidak suka dengan hal itu sekarang. Kau tahu tidak rasanya seperti apa?”

“Tidak.”

Bagaimana Jung Won bisa tahu perasaan seperti itu? Geon Hyeong selalu berusaha mencari kesalahannya. Selama ia tinggal dengannya pun, Iclaki itu bisa menggerutu berkali-kah dalam schari. Bahkan, ia bisa marah-marah karena hal sepele saja. Bagi Geon Hyeong, tuan putrinya hanyalah Shin Hee seorang.

“Apa ia akan tetap bersikap seperti itu padamu?”

“Mungkin.”

Jung Won menjawab dengan sungguh-sungguh. Namun, Shin Hee sepertinya tidak merasa seperti itu. Seolah ingin menggali informasi lebih dalam lagi, ia menatap Jung Won dalam-dalam melalu cermin itu sambil menegakkan tubuhnya.

“Kalau ia langsung menikah denganku setelah putus denganmu, bagaimana menurutmu?”

Jung Won benar-benar tidak suka dengan situasi seperti ini. Ia tidak mengucapkan apa-apa dan hanya tersenyum penuh arti. Hatinya terlalu sempit untuk mengatakan “tidak masalah?, namun jika ia tidak berkata seperti itu, nanti wanita imi yang akan sedih.

“Yah, aku pun sebenarnya tidak peduli bagaimana pendapat orang lain. Ini kan masalahku dan Geon Hyeong. Ayo keluar. Aku sudah selesai.”

Sebelum Jung Won sempat menjawab apa pun, Shin Hee berkata dengan cuek dan melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Jung Won yang tampak kebingungan di belakangnya. Ternyata, Geon Hycong dan Shin Hee memang sama-sama suka mempermainkan dan memperlakukan orang seenaknya saja. Termasuk hati orang lain.

Jung Won menatap sosok belakang Shin Hee yang terlihat penuh percaya diri, dan tiba-tiba kembah teringat akan tempat acara pernikahan saat itu. Semoga suatu saat Shin Hce dan Geon Hycong bisa berjalan di jalan pengantin yang megah itu sambil bergandengan tangan.

Steik salmon dengan hiasan krim yang dipesankan Gcon Hycong untuk Jung Won benar-benar terlihat menggugah selera. Biasanya, Jung Won pasti akan langsung menikmati makanan lezat itu dan berusaha mencaritahu apa resepnya. Namun anehnya, hari ini ia rasanya tidak ingin menyantap makanan mewah itu. Tadi siang aku makan apa ya? Jdlas ada sesuatu yang salah dengan perutnya sampai ia menolak makanan selezat ini.

“Kenapa kau tidak makan?”

Geon Ilyeong mengerutkan dahinya melihat makanan di piring Jung Won yang masih utuh. Jung Won pun sebenarnya tidak punya alasan khusus, namun alasan yang pertama kali muncul di otaknya adalah alasan yang sering diucapkan Hee Won saat makan bersama di rumah. Saking seringnya mendengar alasan itu, akhirnya ucapan itulah yang terucap dari mulutnya.

“Aku sedang diet.”

“Diet apanya? Kesehatan itu nomor satu. Itu peraturan keluargamu nomor satu kan?” “Terlalu gendut juga tidak sehat.”

Gcon Hycong tiba-tiba teringat peraturan keluarga Jung Won yang paling tepat untuk situasi ini, sehingga Jung Won mau tidak mau harus membantah dengan alasan yang sama yang sering digunakan Hee Won.

Shin Hee dan Jae Hyun saling bertatapan seolah tidak mengerti percakapan kedua orang itu.

“Peraturan keluarga itu apa?”

“Begitulah.”

“Ya, begitulah.”

“Oke, baiklah.”

Geon Hyeong dan Jung Won berkata secara bersamaan, sementara Shin Hee akhirnya memutuskan untuk tidak ingin mengetahui lebih lanjut mengenai hal itu. Sejak ia mengunjungi rumah Jung Won waktu itu, ia merasa asing terhadap sikap Geon Hyeong yang jauh lebih nyaman dan santai. Apalagi ketika mengetahui bahwa Geon Hyeong berbagi cerita tentang sesuatu yang tidak Shin Hee ketahui dengan wanita lain. Hal ini membuat Shin Hee merasa asing terhadap Gcon Hyeong, seolah lelaki itu adalah orang lain yang tidak ia kenal. Lalu, caranya memesankan makanan untuk Shin Hee dan caranya menyuruh Jung Won untuk makan jelas berbeda.

“Kau tidak perlu dict, jadi makan saja. Padahal kau sendiri yang setiap hari mengomel pada Hee Won.”

“Baiklah. Asalkan kau juga makan semua jamurnya.”

“Geon Hyeong tidak suka makan jamur.”

Shin Hee tersenyum kecil sambil memberitahu Jung Won, namun Jung Won menunjukkan sikap kalau ia juga sudah mengetahui hal itu. Yang lebih mengejutkan lagi, Geon Hyeong langsung memasukkan sepotong jamur ke mulutnya.

“Aku mulai suka jamur sekarang. Ada zat anti-kankernya, dan katanya bagus sekali untuk orang sepertiku yang sewaktu-waktu bisa terkena penyakit orang tua. Benar kan?”

“Benar.” Mendengar jawaban singkat Jung Won, Shin Hee tanpa sadar menggigit bibirnya, sementara Jac Hyun menatap kedua orang itu dengan terkejut. Shin Hee benar-benar tidak suka dan merasa sedih melihat kedua orang yang saling berbagi cerita yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Namun, meskipun Shin Hee merasa seperti itu, kedua orang itu seolah sudah terlanjur masuk ke dunia mereka sendiri. Seperti dirinya dan Geon Hyeong dulu. Tiba-tiba saja Shin Hee merasa malu dan marah pada sikapnya tadi pada Jung Won di kamar mandi.

Kang Jung Won, wanita itu ternyata benar-benar wanita yang baik hati.

Padahal, dalam hati Shin Hee berharap kalau wanita itu bukan wanita baik-baik. Padahal, ia lebih merasa nyaman jika wanita itu tidak bisa membuat Geon Hycong tertawa dengan santai seperti ini. Namun, orang yang memasang iklan di koran untuk mencari orang seperti Jung Won adalah dirinya sendiri. Mengapa aku bisa sampai melakukan hal itu, sesal Shin Hee. Kenapa Geon Hyeong malah sampai bisa bertemu wanita sebaik ini?

Setelah beberapa saat, akhirnya acara makan malam mereka selesai. Keempat orang yang makan bersama saat itu sepertinya kehilangan selera makan mereka karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Sayang sekali makanan ini dibuang begitu saja, pikir Jung Won. Kalau 1a bungkus untuk Duldul di ramah, pasti anjing itu akan menyambutnya dengan senang. Namun saat ini, ia sedang tidak ingin repot-repot melakukan hal itu.

Begitu mereka keluar dari restoran itu, petugas parkir di restoran itu telah menyiapkan mobil yang tadi mereka kendarai dan menunggu mereka di depan restoran. Jung Won sempat ragu apakah ia harus pulang dengan mengendarai taksi atau tidak. Geon Hyeong pasti akan mengantar Shin Hce dan ta pun tidak ingin merepotkan Jae Hyun di tengah malam seperti ini. Apalagi, Jung Won juga tidak tahu di mana Jae Hyun tinggal. Ketika Shin Hee berjalan dengan yakin ke arah mobil Geon Hyeong, Geon Hyeong segera memegang tangannya dan menahannya. Kemudian, ia menoleh pada Jae Hyun. “Tolong antarkan Shin Hee pulang, ya.”

“Aku ingin kau yang mengantarku.”

Mendengar permintaan Geon Hyeong, Jung Won dan Shin Hee sama-sama tampak terkejut. Namun, Geon Hyeong tidak peduh dan segera menghampiri Jung Won yang berdiri kaku dan memegang tangannya erat-erat.

“Tidak bisa. Rumah Jung Won dan rumahmu arahnya berlawanan. Lagi pula, rumahmu kan dekat, setelah melewati Jembatan Hannam itu langsung sampai.”

“Jadi, kau mau mengantar Jung Won...”

Shin Hee rasanya tidak bisa berkata apa-apa menanggapi ucapan tegas Geon Hyeong. Rasanya, ia pun sudah cukup tahu jawabannya dengan melihat Gcon Hyeong yang masih tetap memegang crat tangan Jung Won yang berdiri di sebelahnya. Geon Hyeong tidak melepaskan pegangannya seolah takut jung Won akan melarikan diri darinya.

“Sudahlah, cepat naik.”

Mendengar ucapan tegas Geon Hyeong, Shin Hce menatap Gcon Hyeong sekali lagi dan mau tidak mau segera masuk ke mobil Jae Hyun dengan wajah sebal. Barulah Geon Hyeong melepaskan tangan Jung Won dan menghampiri Jae Hyun yang hendak duduk di kursi kemudi mobilnya.

“Tolong antarkan dia sampai rumah. Jangan berpikir yang bukan- bukan.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu kan, kalau ibumu ingin Shin lee menjadi menantunya. Tapi kau tidak boleh sampai bersamanya.”

“Kenapa?”

“Karena kau tidak akan bisa menghadapinya.”

Mendengar jawaban Gcon Hycong yang terdengar sangat yakin, Jac Hyun sebenarnya ingin menjawab sesuatu tetapi terpaksa mengurungkan niatnya dan segera masuk ke mobilnya.

Begitu mobil yang dinaki Shin Hee dan Jae Hyun pergi, Geon Hyeong membukakan pintu mobilnya dan memberi isyarat untuk naik dengan dagunya kepada Jung Won yang sejak tadi diam meman- danginya.

“Sedang apa kau? Cepat naik.”

“Tidak apa-apa kau tidak mengantar Shin Hee?”

“Kau tadi kan lihat. Pasti ia baik-baik saja dengan Jae Hyun.”

Geon IIyeong menyahut singkat dengan datar lalu menutup pintu kursi tempat Jung Won duduk. Mengapa lelaki ini tidak mengantar Shin Hee pulang? Padahal lelaki ini adalah orang yang rela berbuat apa pun demi Shin Hce, dan Jung Won pun tahu akan hal itu.

Meskipun sudah naik ke dalam mobil itu, Jung Won merasa agak bingung mendapat perlakuan Geon Hyeong yang tidak bisa 1a pahami. Ia rasanya tidak percaya bahwa dirinya ada bersama Gcon Hycong saat ini. Jung Won terkejut dengan perasaan aneh yang menyenangkan yang diam-diam memenuhi hatinya. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya seolah takut perasaannya itu tertangkap basah oleh orang lain. Sebenarnya, apa yang dipikirkan oleh lelaki im?

“Shin Hee bisa saja salah paham.”

“Salah paham apa?”

“Kau dan aku. Mengenai hubungan kita.”

“Sepertinya kau lupa ya, tapi tujuan kita berpacaran kan memang untuk membuatnya salah paham. Menurutmu, mengapa aku rela mengeluarkan uang mahal-mahal untuk membayar utang orang lain?”

Geon Hyeong kembali mengungkit masalah transaksi lama mereka. Tentu saja Jung Won pun tidak melupakan hal itu. Tidak, sebenarnya ia hampir lupa. Kadang ia merasa kalau kebaikan yang tidak terduga dari lelaki ini seolah memiliki tujuan lain.

Keinginan dan hasrat itu ternyata bisa sangat berbahaya. Bisa- bisanya 1a ingin mengambil cinta milik orang lain. Kang Jung Won, kan benar-benar payah. Wajah Jung Won memerah karena merasa bersalah mengingat keinginannya yang memalukan itu.

“Jadi, pangeranmu itu Jae Hyun?”

“Mm... iya.” Ketika Jung Won tengah mengintrospeksi din dan merasa bersalah, tiba-tiba Gcon Hycong bertanya seolah ia baru teringat hal itu. Mendengar pertanyaan yang tidak terduga itu, Jung Won sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan jujur.

“Seleramu payah sekali. Pangeran dari mana.”

“Kau tidak lihat sinar yang muncul dari orang itu?”

“Tidak lihat. Kau ingat tidak kata-kata Sung Won saat itu? Orang yang bersinar itu berarti orang yang sudah mati.”

“Makanya dia itu pangeran, karena tetap bersinar meskipun masih hidup.”

“Sudahlah.”

Geon Hyeong akhirnya menghentikan perdebatan mengenai pangeran Jung Won itu dengan wajah sebal. Ia tidak ingin mendengar wanita ini memuji-muji Jae Hyun. Ia tidak ingin mendengar nama laki- laki lain keluar dari mulut wanita ini.

Ketika pertama kali melihat mereka berdua berjalan bersama-sama di hotel dan ketika wanita itu berbalik menjauhinya saat akan pergi menuju restoran itu, Geon Hyeong terus-menerus merasa tidak nyaman melihat mereka berdua. Lalu, ketika akan pulang dari restoran itu, ketika melihat Jung Won yang secara otomatis menjauh darinya dan mendekati Jac Hyun, tenggorokannya terasa tersckat. Meskipun Jac Hyun hanyalah pasangannya untuk acara itu, meskipun dari luarnya saja terlihat seperti itu, lelaki yang saat ini berpacaran dengan Jung Won adalah dirinya, bukan Jae Hyun. Namun, wanita ini sepertinya melupakan hal itu. Tentu saja, Geon Ilyeong pun tidak akan membiarkan Jung Won lupa siapa yang menjadi kekasihnya saat ini.

Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Jae Hyun, ia dan Shin Hee sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing. Yoo Shin Hee yang biasanya ceria dan suka bertingkah seperti anak kecil kini tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak tahan dengan kesunyian itu, Jae Hyun menyalakan radio di mobilnya. Terdengar salah satu lagu dalam film Phantom of the Opera yang bernuansa berat tetapi indah memenuhi mobil itu. Seketika itu juga Shim Hce menatapnya tajam.

“Aku tidak suka mendengar lagu ini. Memangnya lagu ini cocok dengan situasi ini?”

“Bagiku cocok.”

“Aku tengah berjuang melawan rasa cemburu dan iri. Memangnya kau juga begitu?”

Shin Hee bertanya dengan tajam seolah telah menemukan lawan bicara untuk menumpahkan kekesalannya, sementara Jac Hyun hanya menghela napas dan mematikan musik itu.

Rasa cemburu dan iri. Jae Hyun dan Jung Won awalnya hanya saing memberi salam sekitar seminggu dua kali dan perlahan mulai mengobrol sedikit demi sedikit. Hubungan mereka jelas belum sampai sejauh itu. Meskipun begitu, Jae Ilyun juga tidak merasa senang dalam situasi ini. Entah mengapa.

“Mau minum tidak?”

“Ya? Ah, tidak, aku...”

“Tenang saja. Aku tidak sedang merayumu. Aku cuma benar-benar ingin minum sekarang.”

Mendengar jawaban Shin Hee yang tetap bersikeras sebelum lawan bicaranya sempat menolaknya, akhirnya Jac Hyun mengangguk pelan. Bukan karena Shin Hee, melainkan dirinya pun tiba-tiba ingin minum saat ini. Mungkin saja alkohol bisa membantunya memastikan perasaannya sendiri yang membuatnya bingung.

Suasana bar larut malam itu masih terlihat cukup ramai. Ruangan bar bergaya Eropa itu terlihat rapi dengan paduan furnitur dari kayu dan besi berwarna merah. Shim Hee duduk di salah satu sudut ruangan sambil menatap telepon genggamnya dan bergumam pelan.

“Dasar orang itu. Masa ia tidak meneleponku untuk menanyakan apakah aku sudah sampai di rumah atau belum.”

Shin Hee yang masih merasa kepanasan di dalam ruangan bar itu segera meneguk habis air putih dingin yang diletakkan oleh pelayan bar di mejanya. Malam musim panas saat itu memang cukup lembap dan gerah. Setelah memesan minuman mercka dan memastikan bahwa pelayan itu pergi menjauh, barulah Shin Hee mulai meluapkan keluh kesahnya pada Jae Hyun.

“Aku berpacaran dengannya lebih dari 10 tahun. Tapi sekarang ia malah menyukai wanita lain yang baru dikenalnya selama 3 bulan? Memangnya mungkin?”

“Entahlah.”

Tidak butuh waktu lama untuk terpesona kepada orang lain. Bahkan, banyak orang yang bisa langsung jatuh hati saat pandangan pertama.

“Kim Jae Hyun, kau mau tetap bersikap seolah ini bukan masalahmu?”

Shin Hee menatapnya tajam seolah benar-benar kesal dengan reaksi Jae Hyun yang setengah-setengah. Di saat seperti ini, biasanya Geon Hyeong selalu bersedia berada di pihaknya. Sebelum hari itu, hari ketika Shin Hce menyatakan akan berpisah dengan Gcon Hyeong, hari ketika Geon Hyeong pun tidak berusaha menahannya. Seandainya saja Geon Hyeong memintanya untuk tidak pergi, pasti Shin Hee masih berada di pelukannya saat ini. Namun nyatanya, Geon Hyeong tidak berbuat seperti itu. Ia tidak melakukan sesuatu yang telah ditunggu- tunggu oleh Shin Hee. Sesuatu yang menurut wanita itu pasti akan terjadi.

“Ini memang bukan masalahku.”

“Ini juga masalahmu.”

Shin Hee kembali menatapnya tajam, namun Jae Hyun tidak terlalu terlihat berkecil hati. Ia pun kiri tengah pusing memikirkan masalahnya sendiri. Lagi pula, ia kan bukan Kim Geon Hyeong yang bisa menuruti scmua perkataan Shin Hcc.

“Ini bukan masalahku. Lagi pula...”

“Lagi pula apa?” “Hyang tidak akan berubah pikiran jika ia sudah bertekad akan sesuatu,” Jae Hyun berkata dengan pelan dan yakin sambil memandang Shin Hee dengan tatapan kosong.

Tentu saja Shin Hee pun tahu akan hal itu. Itu sebabnya ia semakin tidak tahan. Di saat-saat seperti itu, ia yakin sekali bahwa itulah Kim Geon Hyeong yang ia kenal. Namun, Geon Hyeong saat bersama Jung Won benar-benar terlihat seperti orang lain. Geon Hyeong terlihat sangat nyaman sampai-sampai ia tidak terlihat kesal sama sekali ketika kucing dan burung kakatua di rumah itu mendekatinya. Ditambah lagi dengan warta yang sampai tahu pasti selera kopi Geon Hyeong. Lalu, satu hal yang paling mengejutkan Shin Hee adalah warna kuning dari bunga di jari tangan Geon Hyeong. Geon Hyeong yang selama ini Shin Hee kenal adalah lelaki yang sama sekali tidak akan melakukan hal-hal yang tidak ia sukai. Oleh karena itu, Shin Hee sangat terkejut ketika lelaki itu pasrah saja kukunya diwarnai kuning seperti itu. Geon Hyeong dulu adalah lelaki miliknya. Namun sekarang lelaki itu perlahan sedang berubah menjadi milik orang lain.

“Kau, kau suka padaku, kan? Kau tega berbuat sekejam ini padaku?”

“Sepuluh tahun yang lalu, aku memang menyukaimu. Tapi sekarang tidak.”

Mendengar desakan Shin Hee, Jae Hyun menggeleng pelan sambil memasang senyum tipis di wajahnya, senyum yang dikatakan Jung Won sebagai senyum seorang pangeran. Sepuluh tahun yang lalu, Shin Hee adalah wanita yang bisa membuat lingkungan sekelilingnya terasa lebih segar dan cerah. Rasanya aneh jika ada orang yang tidak terpesona padanya. Namun, Yoo Shin Hee yang dulu bagaikan tuan putri itu paling bersikap baik pada Kim Geon Hyeong, entah karena rasa simpati atau apa. Namun, hal itu tidak penting. Mereka berdua benar- benar terlihat serasi. Benar-benar terlihat bahagia. Teman Iclaki sebayanya yang lain pun saat itu sampai tidak berani mengusik mereka berdua.

“Jadi, kau tidak suka padaku sekarang?” “Tidak juga. Kadang-kadang Nura memang menyeramkan, tapi bukannya aku tidak suka.”

Mendengar jawaban yang jujur itu, Shin Hee mengangkat kedua alis cantiknya. Jae Hyun yang melihat sikapnya itu berusaha menahan tawa pelannya.

Sebenarnya nuna tahu tidak ya kalau sikapnya barusan itu sering membuat para lelaki ketakutan?

“Jadi, sekarang kau mencintai Jung Won?”

“Tidak. Aku memang tertarik padanya, tapi tidak sampai mencintainya.”

Mendengar jawaban Jae Hyun yang ragu-ragu itu, Shin Hee mengambil gelas alkohol milik Jae Hyun dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.

“Oh ya? Kuperingatkan kau, kalau kau memang mencintai Jung Won, sebaiknya kau kejar dia sekarang juga karena nanti pasti tidak ada waktu lagi untukmu.”

Shin Hec tahu mengapa dirinya merasa sangat tidak tenang dan kesal seperti ini. Bukan hanya karena Geon Hyeong pulang dengan wanita itu dan bukan dengan dirinya.

Tatapan mata Geon Hyeong saat menatap Jung Won tidak seperti Gcon Hycong yang 1a kenal.

Geon Hyeong yang suka marah-marah pada Jung Won pun bukanlah Geon Hyeong yang ia kenal.

Ada sesuatu yang berbeda yang mengalir di antara kedua orang itu dan Shin Hee tidak suka akan hal itu.

“Aku bukan orang yang bisa menikah dengan wanita yang kupilih sesuka hatiku. Kau kan tahu.”

“Benar. Kita memang bukan orang yang bisa menikah dengan pasangan yang kita pilih sesuka hati.”

“Tapi, hyung pasti bisa menikah dengan wanita yang ia pilih.”

Tentu saja. Kim Geon Hyeong bukanlah orang yang bisa bergerak atas perintah orang lain. Shin Hee lalu meminum habis isi gelas alkohol milik Jae ITyun yang tadi ia pegang. “Kang Jung Won itu waruta seperti apa?”

“Aku juga kurang tahu pasti, tapi sepertinya ia wanita yang baik.”

Tidak, jelas wanita itu adalah wanita yang baik. Baik hati dan penuh kasih. Seperti itulah penilaian Jae Hyun atas Jung Won.

“Aku juga sudah tahu hal itu. Ceritakan hal lain yang tidak kuketahui. Bagaimana kau bisa mengenal Jung Won?”

“Ia adalah ahli nutrisi di kampus. Setiap bertemu dengannya, ia selalu tersenyum sambil memberi salam. Makanya ia punya julukan “si murah senyum”. Ia juga pernah mendengarkan kuliahku.”

Semester yang lalu, ketika pertama kali Jung Won bertanya dengan hati-hati apakah ia boleh mendengarkan kuliahnya, Jae Hyun hanya menganggukkan kepalanya tanpa sempat memperhatikan wajahnya dengan jelas. Setelah itu, wanita itulah yang paling rajin dan serius daripada mahasiswa yang lain saat mendengarkan penjelasannya di kelas. Tatapannya bersinar penuh semangat. Itulah yang membuat Jae Hyun mulai memperhatikannya.

“Mendengarkan kuliahmu?”

“Iya. Dia tertarik sekali dengan tanaman holtikutura dan buah- buahan.”

“Pantas saja rumahnya sudah seperti hutan. Itu saja?”

Shin Hce teringat kembali rumah Jung Won yang penuh dengan tanaman hijau.

“Ia suka bekerja di ramah kaca dan tidak pernah absen jika ada acara di departemen tanaman buah-buahan. Lalu, kadang-kadang ia juga bekerja sukarela di panti jompo dan...”

“Kau menyukainya kan?”

Nuna”

Jae Hyun mengerutkan dahinya dan menggeleng mendengar pertanyaan Shin Hec yang mendadak itu.

“Kalau tidak, kenapa kau bisa tahu sampai sedetail itu? Berarti kau akrab dengannya.”

“Itu...”

“Itu apa?” “Karena za terlihat menonjol dibandingkan yang lain. Aku sering bertemu dia saat makan, di dalam kelas, dan kadang-kadang di rumah kaca. Lalu kadang-kadang...”

Jae Hyun juga pernah melihat wanita yang sepertinya jatuh hati dengan bunga-bunga liar di padang rumput di Hwaniwon. Kadang, ia pun melihat wanita itu menyambutnya dengan wajah yang bersemu karena tiba-tiba melihat dirinya saat sedang asyik bekerja di tengah- tengah lautan bunga. Di mata Jae Hyun, senyumnya itu benar-benar terlihat cantik. Jika 1a teringat tentang Hwaniwon, wanita itu pun ikut muncul dalam ingatannya.

“Kadang-kadang apa?”

“Aku cukup sering berpapasan dengannya karena berada di satu kampus. Itu saja. Oleh karena itu, sekarang Nana jangan menyuruhku untuk menggoda wanita kekasih hyung itu.”

Hanya itu saja yang bisa ia ceritakan. Namun, ia masih tidak percaya bahwa Kang Jung Won adalah kekasih hyung-nya. Ia sangat terkejut ketika mengetahui tentang hal in. Namun, cntah mengapa ia merasa agak sedih melihat Jung Won yang tadi berdiri berdampingan dengan Geon Hyeong dan melambaikan tangannya.

Wanita itu adalah wanita yang selalu tersenyum kepada siapa pun. Ia juga selalu berbuat baik kepada siapa pun. Ia juga selalu tersenyum dan memperhatikan dirinya. Jae Hyun kini sepertinya tahu mengapa hatinya merasa sedih seperti ini: Karena wanita ini kini memperhatikan orang lan, bukan dirinya. Begitu rupanya. Aku sudah membiarkan tatapannya beralih ke orang lain. Jae Hyun yang menyadari hal itu lalu menuangkan minuman alkohol ke gelasnya sendiri dan langsung meneguknya sekaligus. Meskipun ia tidak jatuh cinta pada wanita itu, entah mengapa

&

ia merasa patah hati. Setibanya di rumah, barulah Jung Won menyadari ada yang tidak beres. Geon Hycong yang memarkir mobilnya dan ikut turun bersamanya juga langsung menyadari hal itu. Pinta pagar rumahnya terbuka lebar dan Duldul terlihat ketakutan. Geon Hyeong segera memegang lengan Jung Won yang bergegas masuk ke rumah dengan panik dan segera menariknya ke belakang punggungnya. Setelah itu, barulah ia membuka pintu depan dengan hati-hati.

“Astaga.”

Dari balik punggung Geon Hycong, Jung Won berseru pelan melihat ke dalam rumahnya yang berantakan luar biasa. Bagian dalam rumahnya benar-benar terlihat seperti kondisi sehabis perang. Tunggu, lalu adik-adiknya ada di mana?

“Sung Won! Hee Won! So Hec?”

Tepat ketika Jung Won berteriak memanggil adik-adiknya, terdengar suara adik-adiknya dari arah pintu masuk. Hee Won yang buru-buru masuk mendengar suara panik kakaknya pun seketika tampak terkejut melihat kondisi rumah mereka yang kacau.

“Ada apa ini?”

“Eonni, sepertinya ada pencuri yang masuk ke rumah kita.”

Untung saja tadi Hee Won mengajak adik-adiknya main keluar dan baru kembali sekarang untuk makan malam. Terima kasih, Tuhan. Jung Won benar-benar merasa bersyukur karena adik-adiknya tidak terluka, tetapi apa benar rumahnya kemasukan pencuri? Meskipun daerah iri termasuk daerah pinggir kota, selama 20 tahun ia tinggal di sini, rumah ini sama sekali tidak pernah kemasukan pencuri. Jung Won tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika adik-adiknya tadi ada di rumah. Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Jung Won yang bergidik ngeri terhuyung lemas dan Geon Hyeong segera memegang lengannya crat.

“Tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang terluka. Lagi pula, tidak ada barang berharga juga kan.”

Halus sekali perkataan orang ini. Mungkin lelaki itu memang bermaksud menghiburnya, tetapi Jung Won yang mendengarnya tiba- tiba merasa emosi. Masalahnya bukanlah ada atau tidaknya barang berharga yang bisa diambil, tetapi kenyataan bahwa ada sescorang yang masuk ke rumah ini sudah benar-benar mengerikan. Orang ini sebenarnya sadar tidak sih dengan hal itu? Tunggu... Jung Won tiba-tiba teringat sesuatu dan segera menatap Geon Hyeong dengan curiga.

“Ini semua perbuatanmu kan?”

“Untuk apa aku melakukan hal-hal seperti ini?”

“Waktu itu kau kan berkata seperti itu pada kakek dan nenekmu, kalau sekarang bahaya karena sering ada pencuri.”

Geon Ilyeong mengerutkan alisnya heran mendengar tuduhan wanita itu, namun Jung Won tetap terlihat serius. Ia masih ingat bagaimana alasan Geon Hyeong tinggal di rumah ini. Ia pun masih ingat dengan percakapan hari itu. Gcon Hyeong saat itu benar-benar terlihat seperti seorang kekasih yang perhatian di hadapan keluarganya.

“Itu kan hanya alasan saja. Lagi pula, tidak ada yang bisa dicuri, dan kalaupun aku yang melakukannya, pasti akan jauh lebih gila dari ini.”

Gcon Hycong bergumam sambil menatap ruangan dalam rumah yang kacau.

“Coba cek dulu ada barang yang hilang atau tidak. Jadi, kalau polisi datang, nanti bisa kita jelaskan secara detail.”

“Sepertinya tidak ada yang hilang dari kamar kami. Meskipun semuanya sudah diacak-acak.”

Tiba-tiba Hee Won muncul dari dalam kamarnya bersama So Hee dan melapor pada Jung Won.

“Mainanku masih ada, laptop Ajossi juga selamat.”

“Buku peraturan keluarga?”

“Tidak akan ada yang mau mengambil buku itu. Masa pencuri itu membiarkan laptop begitu saja dan malah mengambil buku seperti itu?”

Gcon Hyeong menggeleng sambil berjalan mengikuti Jung Won yang berlari panik menuju kamarnya. Ia lalu mengamati sekeliling rumah itu dengan tatapan curiga. Baju yang ada di dalam lemari berserakan di lantai. Begitu pula buku-buku yang ada di rak buku. Bahkan lukisan dan foto-foto yang tergantung di dinding pun diturunkan begitu saja sampai kaca foto Hee Won masa kecil retak. Namun, tetap tidak ada yang hilang.

Ada sesuatu yang aneh. Kalau pencuri sampai masuk ke rumah ini, berarti ada sesuatu yang ia inginkan dari ramah ini. Kalau pencuri itu memang pintar, seharusnya ia tidak akan memilih rumah tua yang jelas- jelas tidak ada uangnya seperti ini. Namun, kalau pencuri itu sampai masuk ke rumah, jelas ada sesuatu yang ia inginkan.

Kalau tujuannya masuk ke rumah ini bukan harta rumah ini, bisa jadi tujuannya adalah Gcon Hyeong itu sendiri. Banyak orang yang selama ini mengincar dirinya. Banyak juga orang yang tertarik dengan informasi yang ia ketahui. Namun, kalau pencuri seperti itu yang masuk ke rumah ini, seharusnya pencuri itu tahu kalau Geon Hyeong sudah pindah dari rumah in. Atau setidaknya, tidak mungkin laptop yang ditinggalkan Geon Hyeong itu dibiarkan begitu saja. Tentu saja Geon Hyeong memang tidak menyimpan informasi apa-apa di laptopnya itu. Semua informasti penting sudah tersimpan rapi di kantornya atau di hardisk eksternal yang selalu ia bawa ke mana pun. Jadi, laptop itu sebenarnya hanyalah alat elektronik biasa saja.

Meskipun demikian, terlepas apakah pencuri itu memiliki tujuan seperti itu atau tidak, seharusnya pencuri itu mengambil laptop keluaran terbaru milik Gcon Hyeong. Ada apa sebenarnya? Lalu, mengapa pencuri itu masuk ke rumah ini?

Sementara itu, Jung Won menatap ke sekeliling rumahnya dengan bingung. Rasanya tidak ada bagian rumahnya yang tidak disentuh oleh pencuri itu, sampai kandang Goliath dan Romeo ikut diacak-acak. Kucing-kucingnya yang biasanya berlarian lincah sambil menggoyangkan ekor mereka dengan gembira kini bahkan tidak berani keluar dari sofa yang terbalik. Lalu, Chi-chi juga entah ada di mana. Saat itu benar-benar tidak ada ruang untuk duduk sekalipun dan Jung Won rasanya tidak ingin membereskan kekacauan itu. Namun, ia tetap harus melakukannya, setidaknya untuk menyiapkan tempat mereka tidur malam ini. Lagi pula, ia juga tidak bisa membiarkan rumah peninggalan orangtuanya berantakan begitu saja. “Kita bereskan saja dulu. Kalian cepat bereskan kamar masing- masing.”

Melihat Jung Won yang berusaha menyemangati dirinya sendiri dan memberi perintah pada adik-adiknya, Geon Hyeong hanya menyipitkan matanya dengan menggeleng pelan. Wanita ini masih tetap ingin tinggal di tempat yang kavan balau seperti ini? Dia ini memang tidak kenal takut, atau memang pemberani? Atau mungkin dua-duanya. Geon Hyeong memang sudah tahu sejak awal kalau wanita ini orang yang berani. Tetapi menurutnya, pilihan Jung Won itu sangat ceroboh di tengah situasi seperti ini.

“Ayo pindah.”

“Apa?”

“Pindah rumah.”

“Jangan berbicara yang aneh-aneh.”

Melihat Geon Hyeong yang menyahut dengan santai, seolah tidak ada apa-apa, Jung Won kembali merasa kesal dan meliriknya tajam.

Pindah katanya? Pindah rumah itu bukan sesuatu yang mudah dan bukan sesuatu yang bisa dilakukan sesegera mungkin begitu saja. Lagi pula, Jung Won tidak punya banyak uang untuk pindah rumah dan ia juga tidak bisa pindah rumah begitu saja. Rumah ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan akan orangtuanya. Meskipun :a tidak begitu ingat wajah mereka, sentuhan dan tatapan hangat mereka masih tetap tertinggal di ramah ini. Pencurn memang telah memasuki rumah yang baginya sangat berharga ini, namun bukan berarti ia lantas melepaskan rumah ini begitu saja.

“Sudahlah. Kau sudah lihat kan, tidak ada yang bisa dicuri di rumah ini.”

“Tidak ada bagaimana, kau tidak sadar? Mungkin kau tidak merasa apa-apa, tapi bagaimana dengan adik-adikmu? Tiga perempuan tinggal di rumah yang pintunya saja sudah tua dan pagarnya hanya terkunci begitu saja, kau pikir itu tidak bahaya?”

“Selama ini tidak pernah ada kejadian apa-apa.” Mendengar omelan Gceon Hycong, tanpa sadar Jung Won bergumam pelan dan mulai beralasan. Membayangkan ucapan Gcon Hyeong sebenarnya ia juga merasa ngeri.

“Hari ini buktinya rumahmu kemasukan pencuri, kan. Masih tidak apa-apa juga? Siapa yang menjamin kalau besok-besok tidak ada kejadian seperti ini lagi?”

“Tetap saja...”

“Kau sudah cukup menjaga harga dirimu. Menurutmu, apa kata orang kalau aku membiarkan kekasihku berada dalam bahaya karena pencuri seperti mi?”

Geon Hyeong terus mendesak Jung Won. Memang sulit meyakinkan wanita ini bahwa tinggal di rumah yang sedang kacau balau ini adalah pilihan yang ceroboh, namun ia juga tidak bisa membiarkan wanita ini tetap berada di rumah ini.

“Padahal saat ini saja sudah banyak orang yang menudingku “anak haram” dan sekarang kau ingin aku juga dianggap remeh oleh orang lain?”

“Kau tidak akan diremehkan oleh orang lain. Lagi pula, sebenarnya kau juga bukan orang yang terlalu mau peduli dengan pendapat orang lain. Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Wanita itu memang tahu pasti sifat Gcon Hyeong. Geon Hycong pun sudah menduga sejak awal bahwa wanita itu tidak akan berkata “yes, okay dengan mudah lalu bersedia pindah begitu saja. Wanita ini tidak mudah menuruti perkataan orang lain begitu saja dan pasti ada saja salah satu peraturan keluarganya yang mendasari setiap tindakan dan keputusannya. Oleh karena itu, Geon Hyeong kini harus mencoba cara lan. Bukankah masih ada adik-adik Jung Won yang termasuk lebih realistis dan lebih pintar daripada wanita itu?

Lift yang sudah siap menunggu untuk membawa mereka menuju

kamar itu saja sudah merupakan pemandangan yang tidak biasa bagi mereka. Sebenarnya, apa maksud perbuatan orang ini? Ketika mereka sampai di lantai 35, Hce Won, Sung Won, dan So Hee segera berlari keluar dari lift.

“Wah, seperti istana.”

Langit-langit yang tinggi dengan penerangan yang cukup dan ruang keluarga yang luas, lalu pemandangan Seoul di waktu malam yang terlihat dari jendela. Bahkan di dalam kamar hotel itu terdapat koridor. Ada ruang tamu dan dapur juga.

“Boleh tidak aku panggil oo service?”

“Boleh.”

“Tidak boleh.”

Geon Hyeong dan Jung Won menjawab pertanyaan Hee Won bersamaan. Jung Won menatap Geon Hyeong dengan tajam sambil tetap memasang wajah serius dan menggeleng dengan yakin. Menginap di hotel ini saja sudah terlalu mewah baginya dan adik-adiknya. Ditambah dengan room service segala? Dikiranya mereka ini konglomerat apa?

“Kalau kahan butuh sesuatu, pergi sendiri ke mimmarket di bawah.”

“Kata Geon Hyeong gjossi kan tidak apa-apa!”

“Eorni! Jangan kampungan seperti ini dong.”

Meskipun sudah dilarang oleh Jung Won, Hee Won dan Sung Won tetap protcs padanya dengan wajah sebal. Sementara itu, So Hce yang tidak mengerti apa itu room service hanya melihat kedua kakaknya yang sedang bersikeras dan tidak mau mengalah itu. Meskipun begitu, sepertinya ia menangkap kalau room service itu adalah sesuatu yang bagus namun membutuhkan uang.

“Tidak apa-apa kalian memanggil room service, biar nanti aku yang bayar. Asal jangan berlebihan, jangan sampai membuat corni kalian terkejut sampai pingsan.”

“Gcon Hycong ssi?”

“Terima kasih. Ajossi ini ternyata baik juga.”

“Ternyata gjossi in memang klop sekali denganku. Wow!”

Hee Won dan Sung Won yang mengabaikan peringatan Jung Won langsung berseru senang mendengar ucapan Geon Hyeong. Lelaki itu memang hanya ingin berbuat baik pada “fans-fans” yang menyukainya, namun bagi Jung Won, itu semua hanya akan menjadi utang. Padahal, utangnya pada orang ini saja sudah cukup banyak dan sekarang ia terpaksa harus menerima bantuan lelaki ini lagi. Adik-adiknya itu pasti tidak tahu betapa ia merasa terbebani dengan hal ini. Adik-adiknya ini memang sepertinya tidak sadar dengan kenyataan ini.

“Geon Hyeong ssi, bisa kita bicara sebentar?”

“Tentu saja.”

Jung Won melihat ke sckclilng tempat yang terasa asing baginya dan menarik tangannya memasuki sebuah kamar yang ada di dekat mereka.

Tempat itu... sial, percuma ia memasuki tempat ini. Pikiran itulah yang muncul di otak Jung Won begitu ia melihat kamar tidur yang ada di hadapannya. Kamar itu terlihat mewah dan indah dengan nuansa yang antik. Persis seperti kata So Hee tadi, benar-benar seperti istana. Karpetnya berwarna beige dengan dinding berwarna cream, tempat tidurnya dari kayu mahogani dan bantalnya berwarna keemasan serta jingga. Tempat tidur besar dengan hiasan kanopi di dinding di bagian kepala tempat tidur itu bisa dikatakan hampir sebesar kamar Jung Won.

“Mengapa kau melakukan hal ni?”

“Duduklah. Kau tidak perlu khawatir dan marah-marah seperti ini.”

Geon Hyeong duduk santai di sebuah sofa kulit yang menghadap ke luar jendela dan menepuk-nepuk sofa di sampingnya sambil menatap Jung Won. Dari jendela di depan sofa itu, terlihat pemandangan malam kota yang sangat indah.

“Kenapa kau melakukan hal im?”

Wanita itu mengulang pertanyaan yang sama sejak tadi. Kenapa katanya? Hm, kenapa ya? Pertama, Gcon Hyeong tidak suka melihat Jung Won berada di tempat yang tidak aman. Perempuan yang tinggal di rumah itu saja ada tiga orang. Satu masih anak-anak, satunya lagi wajahnya sangat cantik, dan yang terakhir adalah wanita yang saat ini menjadi kekasihnya. Ia benar-benar tidak suka melihat mereka tinggal begitu saja di tempat yang tidak aman seperti itu. Lalu, alasan yang kedua... tidak ada alasan kedua.

“Katanya kau tidak mau pindah rumah.”

“Lantas kau menyuruhku tidur di hotel? Kau tahu tidak berapa harga kamar ini?”

“Tentu saja aku jauh lebih tahu daripada kau.”

“Itu dia masalahnya.”

Jung Won meninggikan suaranya dengan tidak sabar melihat Geon Hyeong yang tetap menyahut dengan santai. Melihat sekilas saja Jung Won sudah tahu kalau tempat ini sangat mahal. Apalagi, ditambah dengan binatang peliharaannya yang tadi dititipkan di dokter hewan, pasti biayanya bukan main mahalnya.

“Tenang saja. Aku kan tidak menyuruhmu tinggal selamanya di sini. Hanya selama sistem keamanan yang baru dipasang di rumahmu.”

“Sistem keamanan?”

“Kau tahu tidak, kunci rumahmu itu sebenarnya gampang sekali dibobol orang. Jendelanya juga.”

Geon Hyeong justru kagum dan heran melihat tidak ada kejadian apa-apa yang menimpa mereka selama tinggal di rumah itu. Ia pun menyesal kenapa tidak lebih memperhatikan hal ini selama satu bulan tinggal di rumah itu.

“Ya... itu...”

“Bersabarlah, paling hanya memakan waktu 4 hari 3 malam. Kau kan juga sudah bersedia menampungku ketika rumahku direnovasi. Jadi, setidaknya aku juga harus berbuat yang sama padamu.”

“Memangnya tinggal di hotel im sama dengan tinggal di rumah kami?”

“Jadi, kau mau tinggal di rumahku? Tolong tahan keinginanmu itu ya. Karena aku paling tidak suka ada orang yang berisik di rumahku.”

“Siapa bilang aku mau tinggal di rumahmu? Kau kan bisa setidaknya mencarikan tempat yang lebih murah.”

Keterlaluan sekali orang ini. Jung Won melirik Geon Hyeong yang menggelengkan kepalanya lalu bergumam sambil memperhatikan sekelilingnya. Bagaimanapun, sepertinya ia tidak akan bisa beradaptasi dengan tempat mewah ini.

“Tapi, jujur saja, sebenarnya kau juga lebih nyaman berada di sini kan, daripada rumah tua itu?”

“Kau mau mengajakku bertengkar ya?”

Selalu saja seperti ini. Padahal dirinya juga sebenarnya betah tinggal di rumah itu dan sekarang malah menghinanya. Jung Won mengerutkan dahinya dengan kesal. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya sambil menatap ruangan mewah itu. Jung Won bangun dari sofa itu lalu berjalan menuju tempat tidur dan menekan kasur itu. Benar-benar terasa empuk dan nyaman, namun semua itu terasa sangat asing bagi Jung Won.

“Menurutmu aku bisa tidur di tempat seperti ini?”

Mendengar gumamannya itu, Geon Hyeong pun ikut menatap ke sekeliling ruangan itu. Kalau ia mengingat ramah Jung Won yang secara halus bisa dikatakan sederhana dan secara kasar bisa dikatakan sudah reyot, tidak heran jika Jung Won mungkin terkejut melihat ruangan kamar ini. Namun, karena dirinya pun berhasil beradaptasi dengan lingkungan yang sangat asing baginya, Geon Hyeong yakin wanita itu pun dapat beradaptasi di tempat seperti ini, meskipun 1a tidak yakin apakah Jung Won bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini. Menyadari hal itu, Geon Hyeong mengibaskan tangannya pelan menyuruh wanita itu mendekat padanya.

“Ada apa?”

“Aku ingin membayar utang.”

Utang? Yang punya utang itu kan aku, pikir Jung Won. Utang yang sangat banyak sampai-sampai ia tidak tahu kapan bisa melunasi semuanya.

Sebelum Jung Won sempat bertanya apa-apa lagi, tiba-tiba saja ia berada di dalam pelukan lelaki itu. Lalu, tangannya yang besar membelai-belai rambut Jung Won.

“Mantra ibumu itu ternyata benar-benar ampuh. Oleh karena itu, sekarang pun kau pasti bisa tidur nyenyak.” Jantung Jung Won rasanya berdegup sangat cepat merasakan tangan dan suhu tubuh lelaki itu.

Kalau seperti ini terus, bisa-bisa ia terkena serangan jantung. Rasanya Jung Won bahkan dapat mendengar suara jantungnya yang berdetak keras.

Jantungku, tenanglah. Tolong dengarkan aku kali ini.

Ia berharap semoga saja suara detak jantungnya tidak terdengar oleh Geon Hyeong.

Apa-apaan lelaki ini? Jung Won rasanya tidak akan bisa tidur malam ini.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang dipikirkan oleh Geon Hyeong? Ah, tidak. Apa yang ada di otakku sampai diam saja membiarkan diriku dipeluk seperti ini? Untuk pertama kalinya, mantra ibunya itu tidak berfungsi pada Jung Won.   

Jilid 4 : Meskipun Begitu, / Love You

Ramalan pernikahannya buruk dan wajahnya pun pas-pasan.

Sifatnya angkuh dan keras kepala.

Ditambah dengan insting kuatnya yang membuatnya langsung menoleh jika melihat wanita memakai rok mini.

Meskipun begitu, kenapa aku bisa menyukaimu?

Ramalan pernikahan? Omong kosong. Tenang saja, aku tidak akan membuatmu menjadi janda.

Kalau wajah, toh zaman sekarang operasi plastik sudah semakin maju.

Aku akan lebih berterima kasih kalau kau sebut itu kemampuan mengambil keputusan yang tinggi, bukan keras kepala.

Wajar kalau aku langsung menoleh jika melihat wanita cantik, itu

memang insting manusia. Meskipun begitu, tempatku berlabuh untuk yang terakhir kalinya...

Orang yang ingin kujadikan pasanganku selamanya adalah kau seorang.