--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 08 : Permintaan Maaf yang Sulit

Bab 08 : Permintaan Maaf yang Sulit

Ketika Geon Hyeong kembali ke rumah setelah mengantar Shin Hee, lampu kecil di ruang tamu masih tetap menyala seolah sedang menunggunya. Namun, Jung Won tidak terlihat di ruang tamu maupun di dapur. Baru jam 11 malam. Jung Won biasanya selalu menunggunya pulang meskipun sudah pukul satu atau dua dini hari. Namun, Geon Hycong merasa diabaikan dan tidak diperhatikan karena hari ini Jung Won tidak menunggunya. Padahal, dirinya pun belum lama tinggal di rumah itu. Selama waktu yang singkat itu, tanpa sadar hal ini seolah sudah menjadi kebiasaan baru baginya. Seperti halnya kebiasaan barunya untuk sarapan pagi.

Pagi keesokan harinya, Hee Won dan adik-adiknya mengawasi mereka dengan tajam seolah menyadari ada yang tidak beres. Ada yang berbeda dengan Jung Won eonni mereka dan gjossi yang tinggal di rumah itu. Menyadari bahwa konflik yang muncul di antara kedua “penguasa” rumah itu bisa berimbas kepada diri mereka sendiri, Hee Won diam-diam menyuruh Sung Won dan Soo Hee untuk cepat menghabiskan sarapan mereka tanpa banyak bicara dan bergerak secepat mungkin. Soo Hee duduk dengan tenang di mejanya, Hee Won meletakkan sendoknya perlahan, dan Sung Won pun bahkan tidak menyentuh mainannya selama makan.

“Aku tidak mau makan, tolong buatkan kopi saja.”

“Baiklah.”

Jung Won membiarkan begitu saja nasi yang sudah matang dan langsung mengiyakan permintaan Geon Hyeong. Biasanya ia akan berkata “kopi itu bukan sarapan pagi” dan mengingatkan Iclaki itu bahwa sebagai orang dewasa, mereka harus memberi contoh teladan. Mungkin bahkan sampai mengutip beberapa peraturan keluarga mereka. Namun, hari ini ia terlihat berbeda. Omelan yang biasanya sering terdengar kini menghilang. Geon Hyeong menatap Jung Won yang bersikap seperti itu dengan tajam. “Tidak, tidak, aku mau makan saja. Tolong berikan nasiku.”

“Baiklah.”

Jung Won yang menyahut lagi dengan kata-kata yang sama lalu mengarahkan dagunya pada Hee Won, menyuruhnya mengambil nasi untuk Geon Hyeong. Biasanya, Jung Won yang akan langsung bangun dan menyiapkan nasi untuk Geon Hyeong. Namun hari ini, ia menghindari bertatapan mata dengan lelaki itu dan hanya menunduk menatap mangkuknya sambil sibuk menghabiskan nasinya.

Suasana dapur hari itu cukup sunyi, tidak terdengar obrolan apa-apa kecuali suara sendok dan mangkuk mereka. Adik-adiknya yang menyadari suasana pagi itu bura-buru menghabiskan sarapan mereka dan pergi meringgalkan dapur. Bahkan, Sung Won dan Soo Hee yang selalu kena omel oleh Jung Won karena makan terlalu lama telah menghabiskan sarapannya dalam waktu singkat. Begitu adik-adiknya pergi meninggalkan dapur, Jung Won pun segera berdiri dari duduknya.

“Duduk dulu sebentar.”

“Kenapa?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau ini kenapa?”

“Apanya?”

Jung Won yang menyahut seolah tidak ada apa-apa itu menghindari tatapan mata Geon Hyeong, padahal Jung Won biasanya tidak pernah bersikap seperti itu. Sebenarnya, ada apa dengan wanita in?

“Kau bersikap seperti ini karena Shin Hee datang kemarin?”

“Tidak.”

Jung Won buru-buru menyangkal dan menggelengkan kepalanya. Namun, sepertinya itu adalah penyebabnya. Meskipun begitu, Jung Won rasanya akan kelihatan semakin menyedihkan jika mengatakan hal itu dengan jujur pada Geon Hyeong.

“Lalu, apa aku melakukan kesalahan padamu?”

“Tidak ada.”

“Berartt bukan salahku. Ya sudahlah,” Geon Hyeong berkata singkat dan berdiri dari duduknya. Setelah memastikan bahwa sikap aneh Jung Won itu bukanlah kesalahannya, ia segera pergi meninggalkan dapur tanpa ragu scdikit pun, tanpa melontarkan pertanyaan atau dugaan-dugaan yang lain. Jung Won kembali tersckat melihat sosok belakangnya.

Aku tidak menyukai lelaki itu. Sungguh.

Aku bahkan tidak menyukai diriku sendiri, batin Jung Won. Sungguh, sungguh.

Seharian itu, ia tidak bisa fokus bekerja. Setelah dipikir-pikir, kejadian kemarin bukan kesalahan lelaki itu. Ibunya pernah berkata bahwa tamu yang datang ke rumah harus selalu disambut dengan gembira. Tidak boleh disambut dengan sikap yang dingin dan ketus. Namun, dirinya telah bersikap dingin pada Shin Hee dan ketus pada Gcon Hycong.

Seharusnya ia tidak marah karena lelaki itu membawa tamunya datang ke rumah. Apalagi, dirinya sudah banyak tertolong oleh lelaki itu dan bagaimanapun, ia memiliki utang yang harus dibayar pada Gcon Hycong. Gcon Hyeong telah membantunya di saat keluarganya kesulitan. Kenapa aku menjadi orang yang tidak tabu balas budi seperti ini? Padahal, kejadian kemarin pun bukan masalah besar.

“Fiuh.”

“Sedang apa kau? Kalau kau memotong dengan kasar seperti itu, jangankan bunga, tunasnya saja mungkin tidak akan tumbuh.”

“Ah, maafkan aku.”

Melihat pangerannya menghampirinya, Jung Won langsung tersadar dari lamunannya dan kembali fokus pada bunga mawar yang ada di hadapannya. Sore itu cukup tenang, ia menunggu waktu pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di kantin yang sibuk seperti biasanya. Namun, meskipun ia mengerjakan sesuatu yang ia sukai bersama orang yang membuat hatinya berdebar-debar sekalipun, pikirannya saat itu berada di tempat lain.

“Hm, Sonsaengnim, maaf sekali, tapi sepertinya aku harus segera pergi sekarang.”

“Kenapa? Kau kan menyukai bunga-bunga ini.” Tentu saja, Jung Won sangat menyukai bunga mawar yang bermekaran di musim panas. Namun, Jung Won terlalu sibuk memikirkan Geon Hyeong saat ini sampai-sampai bunga mawar dan pangeran kesukaannya pun seolah tidak terlihat di matanya. Di tengah sinar matahari petang yang menyilaukan yang menerobos masuk ke rumah kaca itu pun, pangerannya menatap Jung Won dengan wajahnya yang tampan.

“Ada masalah apa?”

“Bukan masalah besar, hanya saja ada sesuatu yang harus kubereskan di rumah.”

Jae Hyun yang mengangguk-angguk mendengar jawaban Jung Won yang gugup kemudian menyuruh Jung Won menunggu sebentar dan berjalan kc salah satu sudut rumah kaca. Ia kemudian mengambil pot bunga kecil yang terbuat dari kaca. Di dalam botol kaca yang berisi je/y berwarna hijau itu terdapat daun-daun kecil berwarna hijau dengan akar mereka.

Wah, Jingerose!”

“Ini jenis moonriver. Aku kemarin membuatnya beberapa buah sebagai hadiah. Ini satu untukmu.”

“Benarkah? Wah, terima kasih.”

“Kau sudah tahu bagaimana cara merawatnya kan?” Pangcrannya itu berkata sambil tersenyum lebar. Wajah pangerannya itu kembali bersinar cerah, namun karena Geon Hyeong yang membuat otaknya kacau, ia rasanya tidak ingin mengagumi keindahan ingerose mungil itu saat ini.

“Aku akan menjaganya baik-baik.”

“Terima kasih. Oh ya, Jung Won ssi, kalau kau ada masalah, kau bisa bercerita padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.”

“Terima kasih banyak.”

Jae Hyun mengangguk menanggapi jawaban Jung Won dan menun- juk ke arah pintu rumah kaca dengan dagunya, seolah menyuruhnya segera pergi. Jung Won sudah membulatkan tekadnya untuk meminta maaf pada lelaki itu. Peraturan nomor 20, berani mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah sikap seorang pemberani. Jelas kemarin itu dirinya yang bersalah. Ia sendiri merasa kecewa terhadap dirinya yang tidak lapang dada.

Malam itu, Jung Won menunggu Geon Hyeong pulang dengan gelisah. Sudah jam 12 malam. Lelaki itu memang biasanya tidak pulang cepat, namun hari ini sepertinya ia pulang lebih terlambat. Begitu mendengar ada seseorang yang datang di depan rumahnya, ia bergegas membuka pintu depan rumahnya.

“Sudah pulang?”

“Hm.”

Geon Hyeong menganggukkan kepalanya dengan ringan dan menatap Jung Won yang hari ini menunggunya di pintu depan rumah.

Apa ta sudah tidak marah lagi? Seharian ini, suasana hati Geon Hyeong benar-benar buruk. Meskipun 1a bukan tidak tahu apa penyebabnya, ia berusaha keras mengabaikan perasaannya. Ia tidak ingin mengakui bahwa pikirannya kacau hanya gara-gara wanita mungil bernama Kang Jung Won. Akibatnya, Jason yang baik hati terpaksa angkat tangan dan para karyawan lainnya pun terpaksa merasa ketakutan seharian karena sikap Geon Hyeong yang lebih dingin daripada biasanya. Ia tidak mau mengakui bahwa ini semua karena wanita itu.

Jung Won menatap Geon IHyeong yang balas menatapnya dalam- dalam dan menyangka bahwa lelaki ini menunggu permintaan maaf darinya.

“Mm, kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Kalau begitu, mau minum apricot tea?”

“Boleh. Ada yang ingin kubicarakan juga denganmu.” Jung Won awalnya sempat khawatir kalau Gcon Hycong akan menolak ajakannya. Namun ternyata, ia menganggukkan kepalanya begitu saja.

Tapi, apa yang ingin ia bicarakan? Sebelum meminta maaf padanya, Jung Won tiba-tiba merasa takut dengan apa yang akan diucapkan oleh Geon Hyeong. Itulah sebabnya, kita tidak boleh berbuat salah kepada orang lain.

Jung Won meletakkan cangkir teh di atas meja makan. Ia terlihat bingung bagaimana harus memulai percakapan, Geon Hyeong memberinya isyarat dengan matanya untuk duduk di sebelahnya. Benar juga, apa sulitnya meminta maaf, batin Jung Won.

“Hm, oh 1ya, hari ini udaranya panas sekali kan?”

“Yah, lumayan.”

“Hm, Geon Hyeong s51, mengenai kejadian kemarin.”

Ketika Jung Won mengumpulkan keberaniannya dan berniat meminta maaf, kucingnya yang berbulu putih tiba-tiba berjalan perlahan memasuki dapur.

Romeo yang terbangun dari tidurnya tengah malam itu melangkah dengan cuek ke dapur tanpa memperhatikan kedua orang itu, seolah curiga kalau pemiliknya itu makan sesuatu tanpa memberikan pada dirinya. Kucing yang memang tukang makan itu lalu bergelayut di kaki Jung Won, tetap tidak melirik sedikit pun ke arah Geon Hyeong.

“Tidak boleh. Sudah malam. Kau kan sudah makan banyak tadi. Kucing ini termasuk kuat makannya karena termasuk kucing liar.”

Jung Won dengan semangat menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak menjadi perhatian Geon Hyeong. Sementara, Romeo mengeong seolah berkata “enak saja? dan loncat ke atas pangkuan Jung Won.

“Sudah kubilang tidak boleh. Goliath saja sudah tidur.”

Romeo yang merasa sebal karena dibandingkan dengan kucing lain dan tidak diberi makanan meskipun ia sudah merayu tuannya, akhirnya menggigit ujung taplak meja makan itu dan menariknya. Jung Won yang terkejut berusaha melepaskan taplak meja itu dari gigitan Romco. Untungnya, Geon Hycong tanggap dan segcra mengangkat cangkir tehnya, namun Jung Won ternyata tidak secepat itu. Cangkir teh Jung Won yang terletak di tepi meja makan akhirnya jatuh dan seluruh isinya tumpah.

“Romeo, kau kenapa nakal sekali sih? Mau kumarahi?”

Jung Won yang saat itu sedang bingung mengangkat Romeo yang cukup berat dengan kedua tangannya dan memandang kucing itu dengan galak.

Romeo yang menyadari perbuatannya dan tuannya yang marah segera melepaskan diri dari pegangan Jung Won dan melarikan diri. Begitu Romeo kabur ke ruang tamu, Jung Won menghela napas putus asa, sementara Gcon Hyeong kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja.

“Sebentar ya, biar aku bersihkan ini dulu baru kita bicara. Kacau sekali kan?”

Jung Won mau tidak mau membungkukkan badannya untuk membersihkan hasil kenakalan Romeo tadi. Saat itu, tiba-tiba kalungnya putus dan cincin yang tergantung di lehernya bergulir ke depan Geon Hyeong. Sepertinya, tadi kaki Romeo tidak sengaja mengenai kalung itu dan membuatnya putus.

“Benar-benar kacau rupanya.”

Rumah itu sepertinya benar-benar rumah yang tidak bisa sepi dan tenang. Adik-adiknya ramai bermain di malam hari, sementara giliran kucing-kucingnya yang sibuk bermain di tengah malam. Geon Hyeong membungkukkan badannya dan mengambil cincin yang tadinya ia kira liontin kalung milik Jung Won yang jatuh di dekat kakinya. Meskipun terlihat cukup tua, cincin itu masih terlihat indah.

“Terima kasih.”

“Kau dapat cincin ini dari siapa?”

Geon Hyeong yang sejak tadi memperhatikan cincin itu bertanya pelan pada Jung Won. Batu yang menghiasi lingkar cincin itu tidak salah lagi adalah berlian, dan gambar bunga yang terukir di bagian dalam cincin itu pasti melambangkan wanita ini. Siapa Iclaki yang telah memberinya barang mahal seperti ini?

“Dari ibuku. Barang peninggalan ibuku.”

“Bukan dari laki-laki?”

“Kau tahu dari mana?”

Mata Jung Won terbelalak lebar. Lelaki ini, apa ia punya indra keenam, atau memang biasa menilai situasi dengan cepat? Ibunya dulu pernah berkata kalau ia mendapat cincin imi dari seorang laki-laki. Jung Won masih ingat saat ibunya berkata bahwa meskipun cincin ini bukan barang mahal dan mewah, cincin ini diberikan oleh seseorang yang sangat berharga. Jika ibu sudah bercerita seperti itu, pasti ayahnya kadang-kadang suka terlihat pura-pura cemburu.

“Aku hanya mengira-ngira. Karena tidak mungkin kau sendiri yang membeli barang semahal ini. Jangan-jangan dari pangeranmu itu ya?”

“Ya? Pangeran siapa... ah, tidak, tidak mungkin.”

Sesaat, Jung Won lupa tentang siapa pangeran yang dimaksud oleh Gceon Hycong. Namun, ta buru-buru menggeleng dengan terkejut begitu ingat kalau pangeran yang dimaksud itu adalah Kim Jae Hyun sonsaengnim. Kenapa pangerannya itu bisa diungkit-ungkit dalam pembicaraan ini? Satu-satunya pemberian pangerannya itu hanyalah bunga mawar sebesar jari tangan di dalam botol kaca itu.

“Kau tidak membohongiku, kan?”

“Tentu saja.”

Jung Won yang merasa kesal karena dicurigai buru-buru menyahut dengan yakin.

“Siapa pun lelakinya, aku tidak peduli. Asal jangan menerima barang-barang seperti ini lagi dari lelaki lain selain aku.”

“Kenapa?”

“Kau lupa? Kau kan punya utang padaku. Dan kau sekarang juga masih menjadi pasanganku.”

Mana mungkin aku lupa, batin Jung Won. Mara mungkin aku lupa jika kau menjelaskan dengan penuh semangat seperti itu. Kadang-kadang, Jung Won heran mengapa ia bisa tidak menyadari sikap lelaki yang ada di hadapannya ini. Padahal, tadinya ia ingin meminta maaf dan menyelesaikan masalah itu malam ini, namun lelaki im tidak memberi kesempatan itu pada Jung Won.

“Apa aku boleh meminta janji yang sama darimu?”

“Kau tidak punya hak untuk itu. Lagi pula kau tidak perlu khawatir. Aku ini bukan lelaki murahan yang mau menerima uang atau perhiasan dari wanita seperti ini.”

“Apa maksud....”

Jadi menurutmu, aku ini wanita murahan yang man menerima uang dan perbiasan dari laki-lak? Jung Won yang saat itu baru menyadari kesalahpahaman dan maksud ucapan Geon Hyeong, berdecak heran atas kebodohannya sendiri. Bagaimana aku harus menghadapi orang yang telah memperlakukanku dengan tenang in? Jung Won mengepalkan tangannya dengan geram dan menghitung di dalam hati untuk menahan amarahnya. Tiba-tiba saja, ia merasa sayang menghabiskan waktunya seharian kemarin memikirkan bagaimana ia harus meminta maaf pada orang ini. Padahal sejak awal orang ini memang tidak punya rasa kemanusiaan seperti ini, mengapa aku bisa sampai salah menilainya lagi.

“Kau harus berterima kasih pada ibuku.”

“Kenapa?”

Gcon Hycong yang tadinya tersenyum sinis padanya, menatap Jung Won yang tiba-tiba membicarakan hal lain itu dengan heran. Namun, Jung Won yang sudah telanjur marah tidak menyadari perubahan ekspresinya itu.

“Ibuku selalu mengingatkan agar kita tidak boleh melupakan utang kita. Lalu, ibuku juga berkata seburuk apa pun sifat orang tersebut, pasti ia juga mempunyai satu nilai positif dalam dirinya. Yah, meskipun sepertinya ucapan ibuku itu mungkin saja salah.”

Gcon Hycong menatapnya tajam namun Jung Won mengabaikannya. Toh ia sudah pernah mendengar yang lebih parah dari lelaki itu. Dibandingkan dengan sindiran yang dilontarkan oleh Geon Hyeong, jelas ucapan Jung Won barusan termasuk jauh lebih lembut. “Aku merasa seperti ditampar mendengar ucapanmu barusan. Lalu, cincin ini memang benar-benar cincin peninggalan ibuku.”

Jung Won yang menatap Geon Hyeong dengan galak, segera berdiri dari kursinya dan Geon Hyeong buru-buru memegang tangannya.

“Ada apa lagi?”

“Aku minta maaf. Maafkan aku.”

Geon Hyeong menyahut pertanyaan Jung Won yang benar-benar marah itu dengan sungguh-sungguh.

“Kau kan juga tahu kalau sifatku ini tidak terlalu bagus. Aku juga tidak bisa memercayai orang lain dengan mudah. Tapi aku tahu aku bersalah kali ini. Maafkan aku.”

“Kau sungguh-sungguh?”

Begitu Gcon Hycong menganggukkan kepalanya, Jung Won lalu menghela napas dan duduk kembali di kursinya.

“Sebaiknya kau jangan suka curiga berlebihan seperti itu. Kau tahu tidak kalau itu benar-benar kebiasaan buruk?”

“Kan tadi aku sudah meminta maaf.”

Akan tetapi, ciniin itu peninggalan ibunya? Berarti ayahnya adalah orang yang cukup mampu juga. Yentu saja, bukannya tidak mungkin jika cincin itu dihadiahkan oleh lelaki lain. Namun, saat itu juga Geon Hyeong menyadari bahwa Jung Won tidak tahu berapa nilai cincinnya itu. Seandainya ia tahu, mungkin ia akan menjual cincin itu dan tidak akan terlibat kontrak dengan dirinya, pikir Geon Hyeong. Tidak, pasti wanita itu akan berbuat seperti itu. Ketika Geon Hyeong sibuk memikirkan hal itu, Jung Won pun sedang sibuk memikirkan sesuatu. Lelaki ini benar-benar minta maaf atas kesalahannya. Namun, Jung Won sendiri yang belum berhasil minta maaf padanya.

“Hm, jadi begini....”

“Aku, besok aku tugas ke luar negeri.”

“Ke luar negeri?”

“Ya. Aku akan pergi sekitar satu minggu. Aku besok akan berangkat subuh-subuh karena pesawatku pagi.” Sepertinya berita mengenai kepergiannya ke luar ncgeri ini adalah scsuatu yang tadi ingin ia beritahu pada Jung Won. Selama Jung Won memikirkan hal itu, Geon Hyeong telah menghabiskan minumannya dan berdiri dari kursinya.

“Aku mau mandi dulu. Kau cepat tidur. Sudah malam.”

Sebelum Jung Won sempat menjawab apa-apa, Geon Hyeong kembali berkata seperlunya dan pergi meninggalkannya. Apa-apaan ini, ia telah melewatkan kesempatan untuk minta maaf lagi?

Jung Won yang tinggal scorang diri, menghela napas panjang. Permintaan maaf yang ternyata tidak sulit. Tetapi, entah mengapa dirinya merasa sangat sulit seperti itu. Ini semua gara-gara pikiran sempitnya dan hatinya yang tidak lapang dada.

Pukul empat subuh keesokan harinya, secara otomatis Geon Hyeong terbangun dari tidurnya. Selama ini, ia tidak pernah menggunakan alarm untuk membuatnya bangun di pagi hari. Ia termasuk orang yang sangat sensitif, jika 1a sudah berniat untuk bangun di waktu tertentu, maka ia terbangun tepat di waktu itu. Geon Hyeong membetulkan selimut anak lelaki yang tertidur di sebelahnya dan ketika ia keluar kamar, ia melihat lampu dapur sudah menyala terang. Seperti yang telah ia duga, tampak Jung Won berdiri membelakanginya dan sibuk membuat sesuatu. Mendengar suara langkah kaki seseorang, Jung Won segera menoleh ke belakang.

“Padahal kau tidak perlu ikut bangun subuh-subuh seperti ini juga.”

“Kau kan katanya mau pergi jauh, mana mungkin aku bisa tidur begitu saja.”

Pesawat tujuan Prancis akan berangkat pukul 06:20. Karena setidaknya ia harus sampai di bandara satu jam sebelumnya, Jason kini sudah dalam perjalanan untuk mengantar Geon Hyeong.

“Hm, Geon Hyeong ssi.”

“Ada apa?”

“Aku ingin minta maaf soal kejadian kemarin.”

“Kemarin? Kan aku yang salah.” Geon Hyeong bertanya heran mendengar permintaan maaf Jung Won yang terdengar ragu-ragu itu. Gcon Hycong pun sebenarnya merasa heran mengapa dirinya bisa bersikap seperti itu kemarin. Padahal, dirinya bukan tipe orang yang suka membaca situasi dengan sederhana dan mudah meledak marah seperti kemarin. Apalagi, ia marah melihat cincin wanita yang bahkan bukan benar-benar kekasihnya.

“Bukan itu, tapi karena kemarin aku tidak menyiapkan sarapan pagi khusus untukmu. Aku sengaja melakukannya. Karena scbenarnya aku sedang kesal saat itu.”

“Aku tahu.”

Geon Hyeong yang tersadar dari lamunannya ketika mendengar pengakuan Jung Won menganggukkan kepalanya.

Yang ia tidak tahu adalah mengapa wanita itu merasa kesal.

“Kemarin itu... aku merasa seperti pembantu rumah tangga.”

“Apa?”

Jung Won bergumam sambil menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan Geon Hyeong. Meskipun meminta maaf atas kesalahan ternyata cukup sederhana, mengatakan isi hati dengan jujur bukanlah suatu hal yang mudah.

“Kau benar-benar terlihat seperti tamu. Atau pemilik rumah ini.”

“Kau kemarin berkata sugohesso' padaku.”

“Apa? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

Jung Won melirik Geon Hyeong tajam seolah rasa kesal itu kembali muncul, sementara lelaki itu mengerutkan keningnya dengan bingung.

“Ketika Shin Hee datang ke sini, kau berkata “sugohesso” padaku, kan.”

“Lalu, kenapa hal itu menjadi masalah?”

“Kau seharusnya tidak berkata seperti itu pada sesama anggota keluarga. Lalu, kalian datang tiba-tiba tanpa memberitahuku dulu, meminta dibuatkan kopi, dan pergi begitu saja. Rasanya aku seperti pembantu yang bertugas membuatkan kopi untukmu dan tamumu.” Geon Hycong yang perlahan mulai mengerti keluhan Jung Won yang cukup panjang itu kini menatap wanita itu dengan wajah tidak percaya.

“Sejak kapan ucapan “ugohesso' bisa memiliki arti seburuk itu?”

“Pokoknya di telingaku terdengar seperti itu.”

Geon Hyeong tetap menatap wajah Jung Won yang masih terlihat murung itu selama beberapa saat. Wanita ini pasti tidak tahu bagaimana ia berusaha keras mencari kata yang cocok untuk diucapkan saat itu.

“Kalau begitu, apa aku harusnya berkata “kau menggangguku', begitu?”

“Apa? Aku mengganggumu? Karena kau bersama Shin Hee?”

“Kau ini benar-benar tidak peka rupanya.”

Gcon Hycong menggelengkan kepalanya dengan putus asa.

Sore itu, masih teringat jelas bagaimana Jung Won mewarnai kukunya dengan bunga kuning yang belum pernah ia coba seumur hidup. Oleh karena itu, ketika ia dan Shin Hee tiba di rumah Jung Won, scjak saat itulah ia terus-menerus memperhatikan Jung Won. Meskipun ia tahu bahwa kunjungan mereka yang mendadak akan membuat Jung Won sedikit panik, jika itu adalah satu-satunya cara untuk membujuk Shin Hee dan membuatnya benar-benar percaya, maka ia rela me- lakukannya.

Sejak awal ia percaya bahwa tindakannya itu akan membuat Shin Hee merasa terluka. Namun, ketika Shin Hee duduk berhadapan dengan Jung Won, satu-satunya orang yang ia khawatirkan bukanlah Shin Hee, melainkan Jung Won. Meskipun ia pun tidak mengerti apa sebabnya, ia semakin tidak tenang melihat ekspresi Jung Won yang kaku dan terlihat tidak nyaman ketika ia menarik tangannya. Geon Hyeong benar-benar mengkhawatirkannya. Ia benar-benar tidak menyukai kejadian sore itu.

“Aku sedang sungguh-sungguh minta maaf padamu dan kau malah menyumpahiku?”

“Aku tidak menyumpahimu. Kau, kau benar-benar tidak tahu. Iya kan?” Rasa menyesal Jung Won seketika itu menghilang dan ia berkacak pinggang sambil menatap Gcon Hycong dengan cmosi. Geon Hycong terdiam memandang Jung Won selama beberapa saat dan bergumam sambil berdiri meninggalkannya.

“Aku akan segera kembali. Minggu depan.”

“Tunggu dulu, Geon Hyeong ssi.”

Mendengar ucapan perpisahan Geon Hyeong, Jung Won yang kembali teringat alasannya bangun subuh-subuh pagi itu segera menahannya.

“Ini.”

Jung Won buru-buru menjelaskan sambil menyerahkan bungkusan kecil yang diterima Geon Hyeong sambil mengangkat alisnya heran.

“Sebagai permintaan maaf, aku membuatkan £imbap'9 untukmu.”

“Subuh-subuh seperti ini?”

Geon Hyeong secara otomatis melirik ke arah jam tangannya. Saat iri baru pukul empat lewat. Lalu, wanita ini bangun jam berapa untuk membuat k£imbap in? Geon Hyeong yang scmpat terdiam menatap Jung Won lalu mengambil bungkusan dari tangan Jung Won dan melirik jam tangannya sekali lagi. Jason masih belum datang.

“Mulai sekarang, aku tidak akan membuatmu kelaparan pagi-pagi.”

“Terima kasih. Kalau sckarang aku berkata “sugohessa, tolong buatkan kopi', apa kau akan marah?”

“Tentu saja. Sudah kubilang, ucapan itu tidak pantas diucapkan pada sesama keluarga. Kau harus berkata “terima kasih.”

Jung Won tersenyum dengan wajah lega sambil melirik Geon Hyeong. Ia senang dengan cara Geon Hyeong meminta maaf dan menghiburnya.

“Kalau begitu, terima kasih. Tapi aku tetap ingin minum kopi.”

“Tidak baik minum kopi saat perut kosong. Tapi, sebagai ucapan maaf, hari ini akan kubuatkan kopi untukmu. Aku juga ingin minum --Note 19 Nasi gulung yang dibalut rumput laut--

kopi sekarang. Karena kalau tidur sekarang, scpcrtinya aku tidak akan bisa bangun.”

Setelah berkata dengan wajah riang seperti itu, Jung Won dengan cekatan menyiapkan kopi untuk Geon Hyeong. Dari teko pembuat kopi kecil yang terbuat dari alumunium itu tiba-tiba saja muncul segelas Amerivano. Wanita ini sepertinya memiliki tangan ajaib yang bisa membuat nasi, kopi, dan bahkan omelet keju hanya dalam sekejap. Wanita itu telah membuatkan omelet keju khusus untuknya di tengah malam, dan juga membuatkan £imbap khusus untuknya di subuh-subuh seperti ini. Bahkan sampai kopi yang benar-benar sesuai dengan seleranya. Geon Hyeong kembali menatap bungkusan kecil yang terletak di atas meja.

Awalnya, Gcon Hycong berencana untuk makan seadanya saja di bandara. Toh begitu naik pesawat, makanan dari penerbangan juga akan segera dihidangkan. Namun, makanan itu pasti berbeda dengan masakan dan kopi yang disiapkan oleh warita im. Geon Hyeong mengangkat cangkir kopinya dan menyeruput minuman pahit itu. Tanpa sadar, tatapan matanya seolah sedikit bertambah lembut.

&

Satu minggu itu, Jung Won benar-benar merasakan ada yang berbeda selama Geon Hyeong tidak ada di rumah. Padahal, ia baru tinggal di rumah itu selama satu bulan lebih. Bukan waktu yang cukup lama. Namun, Jung Won tetap saja menyiapkan nasi putih khusus untuk sarapan pagi, dan selalu lupa mematikan lampu ruang tamu di malam hari. Dan tentu saja, tidak ada telepon satu pun dari Geon Hyeong selama satu minggu itu.

“Ada apa dengannya, apa jari tangannya patah. Apa susahnya sih menelepon sekali saja?”

Jung Won menggerutu pada telepon genggam yang tidak berdosa di tangannya. Memangnya sesibuk apa dia sampai tidak bisa menelepon sekali pun selama seminggu ini. Sebenarnya, Jung Won juga tidak mengerti dengan dirinya yang menunggu telepon dari lelaki itu. Tetapi, apa salahnya menclepon ke rumah barang sekali saja saat pergi jauh dari rumah seperti ini?

“Yah, mau bagaimana lagi, dia memang orang yang seperti itu. Apa boleh buat.”

Jung Won meletakkan telepon genggamnya di atas meja. Kemudian, ia terkejut ketika tiba-tiba teleponnya berbunyi. Di layarnya tertulis tanda “caller ID restricteP. Jangan-jangan dia mendengar omelanku barusan? Tidak mungkin kan dia memasang alat penyadap di telepon ini. Jung Won yang tiba-tiba merasa cemas, mengambil kembali telepon genggamnya dan memperhatikan sekelilingnya. Sementara, telepon genggamnya masih tetap berbunyi dengan nyaring. Karena khawatir kalau Geon Hycong yang tidak sabaran memutuskan panggilan itu, Jung Won buru-buru menekan tombol “4/7 tanpa sempat mengatur napasnya.

“Halo.”

“Tidak ada apa-apa kan?”

Sesuai dugaannya, telepon itu dari Gcon Hyeong. Lalu, ja pun berkata dengan sangat singkat. Tanpa basa-basi, langsung ke inti utamanya. Untungnya tidak ada masalah apa-apa selama Geon Hyeong tidak ada di rumah. Satu-satunya masalah adalah salah satu anggota keluarga yang pergi meninggalkan rumah sclama beberapa saat dan tidak memberi kabar apa-apa.

“Tentu saja. Kau juga baik-baik saja kan?”

“Iya.”

Nada suara Jung Won terdengar gembira karena mendapat telepon itu, namun suara Geon Hyeong tetap terdengar tenang. Kerapa aku menunggu-nunggu telepon dari lelaki ini? Sebenarnya tidak ada juga yang harus dibicarakan dengannya dan bahkan ia juga tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya penasaran saja, ingin mendengar bagaimana kabarnya... tidak, ia ingin mendengar suaranya. Jung Won kembali terkejut dengan perasaannya sendiri. Kenapa sekarang ia merindukan orang ini? Apa orang itu bahkan pernah memikirkannya? Jung Won segera menggelengkan kepalanya. Namun, bahkan jika anak anjingnya pergi meninggalkan rumah, ia pasti akan merindukannya. Jadi, bukankah sudah pasti kalau ia merindukan orang itu? Oleh karena itu, Jung Won hanya penasaran saja dengan kabar lelaki itu.

“Kami di sini juga baik-baik saja. Goliath dan Romeo juga.”

“Aku tidak begitu peduli dengan mereka.”

“Mereka juga anggota keluarga kita.”

Terdengar suara tawa pclan Gcon Hyeong menyahut ucapan galak Jung Won. Suara tawanya yang sangat jarang ia dengar itu terasa menyenangkan di telinga Jung Won.

Keluarga. Bagi wanita ini, keluarga adalah semua makhluk hidup yang tinggal di dalam pagar rumahnya. Namun, satu-satunya orang yang dikhawatirkan Geon Hyeong dengan sungguh-sungguh hanyalah Jung Won. Geon Hyeong pun diam-diam mengabaikan perasaan dirinya yang merasa senang mendengar suara wanita itu dan merasakan hclaan napasnya.

“Kau makan teratur setiap hari kan?”

“Kadang-kadang.”

“Kadang-kadang bagaimana? Kau lupa ya kalau kesehatan itu yang nomor satu?”

“Aku tahu. Jangan khawatir. Toh aku juga tidak sampai kelaparan.”

Mendengar suara Jung Won yang lagi-lagi mengungkit soal peraturan keluarganya itu, Geon Hyeong menyahut sambil menahan tawa. Jung Won pun sekali lagi tersenyum senang. Kemudian keheningan yang menyenangkan menyelimuti percakapan telepon mereka. Jung Won yang merasa harus berkata sesuatu karena takut telepon itu akan terputus akhirnya membuka mulutnya.

“Oh iya...”

“Oh iya...”

“Kau duluan.” Geon Hyeong sepertinya juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Jung Won menahan dirinya untuk berkata 'cepatlah pulang” dan mengalah pada Geon Hyeong.

“Hari ini karyawanku akan datang ke rumah.”

“Kenapa?”

“Aku ingin meminta tolong padamu untuk merapikan barangku dan memberikannya pada mereka. Renovasi rumahku sudah selesai.”

Berbeda dengan Jung Won, Geon Hyeong ternyata bukanlah orang yang menunggu telepon sescorang atau menclepon seseorang tanpa tujuan tertentu.

“Oh, baiklah. Nanti akan kubereskan. Jangan khawatir.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Oh ya, laptopku biarkan saja dulu.”

“Oke.”

Jung Won mengiyakan semua permintaan Geon Hyeong dengan nada datar. “Duar? Rasanya seperti memiliki balon yang sudah ditiup dengan susah payah sampai membesar dan pecah begitu saja. Gcon Hyeong yang tidak mengetahui perasaan hati Jung Won hendak memutuskan telepon setelah selesai mengatakan semua urusannya.

“Baiklah, kalau begitu, take care.”

“Oke. Kau juga.”

Apa-apaan orang ini, jadi ia mencdeponku hanya untuk itu? Karena ia tidak sempat mampir ke rumah untuk merapikan barang-barangnya dan mengwwapkan salam perpisahan? Tiba-tiba saja Jung Won merasa kesal dan menekan tombol “e7f? dengan penuh emosi.

Geon Hyeong memutuskan percakapan singkat di telepon sambil menggaruk-garuk kepalanya. Padahal, sebenarnya bukan itu yang ingin za katakan. Padahal, kalimat itu ia ucapkan begitu saja karena panik melihat Jason yang tiba-tiba masuk ke ruang rapat, dan sepertinya adalah kalimat terburuk yang pernah ia ucapkan. Mau tidak mau ia harus keluar dari rumah itu tanpa sempat berpamitan langsung dengan wanita itu. Rumah. Tanpa sadar Gcon Hyeong terkejut dan mengerutkan dahinya memikirkan kata itu.

Rumah. Sepertinya ia pun dulu pernah familier dengan kata itu