--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 07 : Celandine di Jari Kelingking

Bab 07 : Celandine di Jari Kelingking

Jung Won awalnya mengira bahwa tinggal bersama laki-laki yang banyak maunya dan menjengkelkan itu akan sangat melelahkan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia sadar kalau ternyata tinggal bersama Geon Hyeong tidak seburuk yang ia kira.

Meskipun selalu terlihat sangat sibuk dan tidak punya waktu luang, lelaki itu selalu berusaha mematuhi aturan yang ada di rumah itu. Ia tidak pernah menginap di luar, selalu sarapan pagi, dan pernah satu kali ia memberitahu ketika akan pulang telat. Suatu kesadaran diri yang tidak terduga sebelumnya. Meskipun pesan itu disampaikan oleh sekretarisnya, tetap saja merupakan sesuatu yang tidak terduga dari seorang Kim Geon Hyeong.

Setelah Jung Won menasihatinya panjang lebar malam itu, keesokan harinya datang mobil pengantar kiriman barang dari scbuah mal, mengantarkan setumpuk handuk yang rasanya cukup untuk persediaan bertahun-tahun. Meskipun Jung Won terkejut, untuk hal in ia masih bisa bersabar. Rasanya seluruh handuk di mal itu dibawa ke rumah Jung Won. Bahkan, handuk dari mal di arca lain juga ikut diangkut ke rumahnya. Pihak mal bisa saja salah paham menduga handuk-handuk itu akan dibagi-bagikan secara gratis sebagai promosi perusahaan dan mungkin merasa heran sendiri mengapa membeli handuk untuk dibagi- bagikan seperti itu dari mal mahal. Pokoknya, sesuai keinginannya, kini handuk di kamar mandi rumah itu berjajar rapi sesuai warnanya masing-masing.

“Pangeran Eonni itu apa kabar?” tanya Hee Won sambil menatap Jung Won yang bangun agak terlambat seperti biasanya, sarapan pagi, dan kini bersiap-siap untuk keluar rumah.

“Oh, tentu saja dia masih tetap bersinar seperti dulu.”

Jung Won mengangguk-angguk dengan bahagia membayangkan pangerannya itu. Kim Jae Hyun sorsaengnim hampir selalu berada di rumah kaca belakangan ini. Oleh karena itu, belakangan ini Jung Won selalu terpesona oleh bunga-bunga mawar di rumah kaca itu dan juga pangerannya sctiap 1a datang ke rumah kaca. Ada gosip yang mengatakan bahwa pangerannya itu adalah keturunan konglomerat atau bahwa dulunya ia adalah seorang aktor cilik, namun belum ada seorang pun yang bisa memastikan tentang hal itu. Jae Hyun yang terkenal penuh perhatian, lembut, dan sifatnya yang sempurna itu sebenarnya tidak hanya menjadi idola di kalangan mahasiswa pascasarjana, tetapi juga mahasiswa sarjana. Jung Won pun sepertinya mempunyai selera yang sama dengan mercka. Hatinya selalu merasa berdebar-debar setiap melihat senyum lebarnya dan suaranya yang lembut dan rendah. Seolah melihat seorang selebriti di hadapannya.

“Kalau ada orang yang masih hidup dan bersinar, itu berarti dia anch. Lagi pula dia kan bukan dewa.”

“Huh. Kau tahu tidak mengapa aku menyebutnya pangeran? Karena ia selalu bersinar dan membuat kaca-kaca di rumah kaca itu berkilau. Jadi, kaca-kaca itu tidak perlu dipoles lagi.”

“Memangnya sctampan itu?”

“Tentu saja. Selain itu, sifatnya juga baik luar biasa.”

“Siapa?”

Satu-satunya orang di rumah “keluarga” Jung Won yang tidak tahu mengenai pangerannya itu adalah Gcon Hycong yang selalu pergi kerja juga di hari Minggu.

Jung Won segera membungkam mulutnya melihat Geon Hyeong yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Aneh sekali. Tidak biasanya ia menatapnya seperti itu. Jung Won yakin kalau ia hanya akan dicemooh jika bercerita tentang pangerannya itu. Namun, Sung Won dan Hee Won yang tidak mengerti isi hati kakaknya malah ikut-ikutan meledek kakak mereka.

“Katanya ada pangeran di rumah kaca di kampus xuna.”

“Ya! Kang Sung Won!”

“Pangeran?” --Note 16 Ya— Kata seruan--

Gcon Hyeong menatap Jung Won dengan bingung. Wajahnya scolah berkata “cerita dongeng tidak masuk akal apa lagi sekarang?'. Mungkin sebentar lagi Geon Hyeong akan tertawa mencemooh mendengar cerita ini. Itulah sebabnya Jung Won tidak ingin menceritakan hal ini padanya.

“Makanya ia rajin sekali pergi ke sana meskipun hari libur.”

“Bukan begitu. Kebetulan saja ada yang harus kulakukan di tempat itu.”

“Cih? Kedua adiknya mendengus pelan dan terkikik mendengar bantahan Jung Won.

Berani sekali mereka pada kakaknya sendiri. Jung Won melirik adik- adiknya tajam dan tersenyum kaku pada Geon Hyeong. Jung Won berharap semoga Gcon Hycong hanya menganggap ucapan adiknya itu sebagai angin lalu. Namun, kelihatannya Geon Hyeong pun tidak terlalu tertarik dengan cerita pangerannya itu. Benar juga, mana mungkin orang ini suka dengan cerita dongeng.

“Ayo berangkat sama-sama.”

“Kenapa?”

“Aku antar sekalian pergi ke kantor. Memangnya kau berharap apa?”

Huh, aku pun tidak berbarap apa-apa, batin Jung Won. Geon Hyeong mengangkat alisnya menunggu jawaban Jung Won yang tanpa sadar menggelengkan kepalanya.

Meskipun mereka hanya tinggal bersama selama satu bulan lebih, sampai saat ini Jung Won belum pernah melihat Geon Hyeong istirahat satu hari pun di hari Minggu. Berkat lelaki yang sangat rajin itu, Jung Won diam-diam berterima kasih karena ia tidak perlu mengendarai bus dan kereta bawah tanah hari itu.

Manusia memang mudah terbiasa dengan kenyamanan. Baru saja beberapa kali Jung Won menaiki mobil ini, perlahan ia mulai terbiasa dengan perasaan nyaman saat duduk di dalam mobil ini. Lalu, entah mengapa ia mulai merasa terbiasa berada di dalam suatu ruang yang sama dengan lelaki in. Geon Hycong pun termasuk sopir yang nyaman dan halus saat mengemudikan mobilnya.

“Berapa nomor rekeningmu?”

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

Geon Hyeong yang menghentikan mobilnya saat lampu merah, bertanya dengan heran. Baginya, pertanyaan itu sama sekali tidak cocok dilontarkan oleh wanita ita. Apa lelaki ini mengira aku mengincar tabungannya, pikir Jung Won sebal.

“Aku akan membayar utangku sedikit-sedikit, meskipun hanya bunganya saja. Yang lainnya mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.”

“Sudah kukatakan, tidak perlu kaubayar.”

“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”

Jung Won berkata dengan tegas menyahut ucapan Geon Hyeong yang asal itu. Kalau lelaki ini ttdak membantunya, kalau ia harus pindah ke desa, keluarganya pasti terpaksa harus hidup terpisah-pisah. Meskipun keberadaan lelaki im di rumahnya membuatnya tidak nyaman, ia tetap merasa harus berterima kasih atas bantuannya tersebut.

“Tidak ada yang gratis. Apa ini peraturan keluargamu juga?”

“Iya, benar. Peraturan nomor 49, tidak ada yang gratis di dunia imi. Kita semua akan kembali ke tanah asal kita suatu hari nanti. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan apa yang telah kita terima.”

Jung Won kembali menjelaskan mengenai peraturan keluarganya dengan yakin. Sementara Geon Hyeong hanya berdecak seolah telah menduga jawabannya.

“Peraturan keluargamu yang konyol itu memangnya ada berapa banyak sih?”

“Yah, lumayan banyak juga.”

Lagi-lagi seperti ini. Setiap kali 1a berniat berbuat baik pada lelaki ini, selalu ada saja yang membuatnya sebal. Bisa-bisa aku terkena darah tinggi di usia muda karena terlalu banyak berbadapan dengan orang yang mulutnya kasar dan tidak sopan seperti lelaki ini, pikir Jung Won. Namun, untung saja sekarang im tidak banyak masalah dan kejadian anch yang membuatnya ingin membunuh orang ini.

“Aku ingin bertanya satu hal padamu.”

“Apa?”

“Bagaimana kau membujuk Sung Won?”

Keampuhan strategi Geon Hyeong yang membujuk Sung Won untuk merapikan lemarnnya dengan iming-iming mainan hanya bertahan selama dua hari. Geon Hyeong secara berlebihan menyuruh Sung Won untuk merapikan dan menyusun seluruh bajunya, termasuk pakaian dalamnya, berdasarkan warnanya. Hal ini membuat Sung Won sadar betapa pentingnya kebebasannya dan akhirnya ia melakukan kudeta dengan mengembalikan mainan itu pada Geon Hyeong dan menyerah merapikan lemarinya. Namun, entah apa yang terjadi, “pemberontakan” Sung Won itu hanya berlangsung selama beberapa menit dan ia kembali menyatakan janji setianya pada Geon Hyeong.

“Kubilang saja, aku akan memberinya jam tanganku jika ia menurutiku.”

“Jam tanganmu? Itu kan jam tangan mahal.”

Jung Won yang terkejut menatap tangan kiri Geon Hyeong yang tengah memegang kemudi. Dilihat sekilas saja sudah ketahuan kalau jam tangan berbahan metal berat itu adalah jam mahal.

“Tentu saja ini bukan barang murahan.”

“Jangan seperti itu. Nanti anak itu kebiasaan. Lagi pula, buat apa ia memakai jam tangan mahal-mahal.”

Begitu Jung Won menggelengkan kepalanya, Geon Hyeong mengangkat ujung bibirnya dan tersenyum diam-diam.

“Ia kan sudah rela berbagi kamarnya denganku. Pasti ia merasa tidak nyaman juga tinggal dengan orang lain, jadi setidaknya aku harus memberinya hadiah.”

“Sebagai sesama keluarga, ia harus bersabar dengan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman seperti ini. Tentu saja, ia harus belajar menjaga sopan santun agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.” Jung Won kembali dengan mudah menjadikan Gcon Hycong sebagai bagian dari keluarganya. Keluarga. Gcon Hycong semakin tersenyum lebar mendengar ucapan wanita itu. Wanita yang sangat polos dan sederhana, yang percaya dan menganggap semua makhluk hidup, entah manusia ataupun binatang, yang masuk ke pagar rumahnya dan tinggal bersamanya adalah keluarga. Menjadi bagian dari keluarga seseorang ternyata tidak selalu buruk juga.

Langit hari itu tampak berawan dan seolah siap menumpahkan air hujan di tengah udara yang lembap seperti ini. Berbeda dengan suasana mendung sebelum hujan turun, bunga 1ger Aly dan day lily yang bermekaran tetap menghiasi Bukit Hwaniwon dengan ceria. Sementara bunga abelia putih ikut menghnasi tembok batu di sekeliling bukit itu.

Jung Won membuka matanya lebar-lebar seolah sedang melihat pemandangan paling indah sedunia, sementara Geon Hyeong hanya memperhatikan sekelilingnya dengan wajah datar. Udara musim panas yang segera datang ini benar-benar lembap, panas, dan membuatnya sesak napas.

“Kau tidak pergi ke kantor?”

“Tidak apa-apa kalau hanya sebentar.”

Setelah menurunkan Jung Won di kampus, Gcon Hycong berkata akan segera melanjutkan perjalanannya setelah berjalan-jalan sejenak. Ia lalu memarkir mobilnya di lapangan parkir dan ikut berjalan bersama Jung Won menyusuri jalan setapak di Hwaniwon menuju ke bukit padang rumput liar itu.

“Padang rumput di musim panas itu memang paling indah.”

“Kau benar-benar suka tempat ini rupanya,” celetuk Geon Hyeong dengan santai sambil menatap Jung Won yang tampak bahagia.

“Karena aku merasa lebih dekat dengan mimpiku jika datang kec tempat ini.”

“Memangnya apa mimpimu?”

“Mimpiku?” Wanita yang sejenak terlihat ragu-ragu itu kemudian mem- perhatikan sekclilngnya dengan wajah gugup. Seolah ia tidak ingin rahasianya ketahuan oleh orang lain. Ia lalu mendekat pada Geon Hyeong. Geon Hyeong benar-benar kepanasan saat itu. Ia merasa suhu tubuhnya meningkat sekitar 109 saat tubuh Jung Won mendekat padanya. Meskipun begitu, ia tetap tidak menjauh dari wanita ita. Wajar merasa kepanasan seperti ini di musim panas.

“Mimpiku itu...”

“Apa memangnya? Kau mau membobol bank? Sikapmu itu penuh rahasia sekali.”

“Aku...”

Jung Won berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Geon Hyeong. Ia dapat merasakan napas wanita itu di telinganya. Geon Hyeong mengira dirinya salah dengar karena suara detak jantungnya yang berdegup keras.

“Apa? Kau mau jadi apa?”

“Kau sudah dengar kan! Keren kan?”

“Hah?”

Geon Hyeong hanya berseru tidak percaya kepada Jung Won yang matanya bersinar-sinar bahagia. Kim Geon Hyeong biasanya bukanlah orang yang mudah menunjukkan rasa kagetnya. Bahkan, biasanya ia tidak pernah menunjukkan ekspresi apa-apa di wajahnya. Namun, mimpi wanita ini benar-benar jauh dari bayangannya.

“Kenapa reaksimu seperti itu? Itu artinya kau iri atau kau meledek mimpiku?”

“Itu artinya aku benar-benar tidak habis pikir. Berkebun? Kau mau menjadi Nolbu!? ya?”

Geon Hyeong kembali mengecek apa yang telah ia dengar pada Jung Won. Wanita itu tadi berkata bahwa :a ingin bekerja di kebun dan hidup seperti seorang Nolbu. Itu mimpinya. Meskipun Geon Hyeong --Note 17 Salah satu tokoh dalam dongeng Korea berjudul “Hongbu dan Nolbu”. Bercerita tentang kisah dua kakak beradik yang miskin dan baik hati (Nolbu), dan kaya raya namun hatinya buruk (Hongbu).--

pernah mendengar orang-orang tua berkata ingin berkebun ketika telah pensiun nanti, baru sekali im 1a melihat ada seorang ahli nutrisi berusia 26 tahun yang bermimpi untuk menjadi Nolbu.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya saja aku baru pertama kali ini bertemu dengan seorang wanita yang mimpinya adalah menanam padi dan mencabut rumput seperti kau.”

“Lihat saja nanti. Lagi pula, aku lebih senang bekerja di kebun dibandingkan dengan bekerja di sawah. Menanam kacang-kacangan dan cabai. Oh ya, aku juga akan menanam bunga-bunga liar. Supaya bisa dilihat setiap musim.”

“Kau tahu tidak berapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk menampah kacang? Seberapa susahnya memetik cabat? Lalu, bunga liar juga pasti akan tumbuh dengan sendirinya kan, buat apa sengaja menanam mereka?”

Geon Hyeong memperingatkan wanita yang sibuk berimajinasi tentang mimpinya itu dengan sebal. Tanpa mencobanya pun Geon Hyeong tahu bahwa pekerjaan yang ingin dilakukan oleh wanita itu adalah pekerjaan yang berat dan membutuhkan banyak tenaga. Di antara banyak pekerjaan lain, kenapa wanita itu malah ingin melakukan pekerjaan berat seperti itu?

“Kau mau meledekku seperti ini terus? Kenapa sih kau suka sekali merusak mimpi orang? Memangnya aku menyuruhmu mengerjakan semua itu?”

“Lebih kau katakan saja kalau ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik dan bijaksana. Kalau itu, mungkin saja aku bisa membantumu.”

“Sudahlah. Aku bisa bekerja di kebun sambil tetap menjadi ibu rumah tangga yang baik.”

Jung Won melirik ke arah Gcon Hycong sambil menyusuri jalan di Hwaniwon yang sunyi itu. Kemudian ia menghentikan langkahnya seolah teringat sesuatu dan membalikkan badannya menghadap Geon Hyeong.

“Ada apa?” “Kau tahu ini apa?”

Jung Won berkata sambil menunjuk bunga-bunga kecil yang tumbuh di dekat kursi di bawah pohon zelkova.

“Penasaran kan?”

“Apanya? Kau ini bicara apa?”

“Kau tidak tahu rupanya. Coba ulurkan tanganmu.”

“Kenapa?”

Wanita itu tiba-tiba menarik pergelangan tangan Geon Hyeong dan mengajaknya duduk di kursi itu. Tangan wanita yang cukup dingin itu seolah mengambil suhu panas badannya. Sebagai gantinya, api kecil seolah menyala di jantungnya. Jantungnya mulai berdebar-debar, padahal tangan mereka hanya bersentuhan sebentar saja. Seperti orang yang belum pernah memegang tangan wanita.

Tanpa memedulikan perasaan hati Geon Hyeong, Jung Won mengambil setangkai bunga celandine itu dan menatap Geon Hyeong dengan bangga.

“Kenapa?”

Wanita ini, sebenarnya apa yang ia lakukan? Geon Hyeong bisa saja membiarkan tangannya yang mungkin bisa menyampaikan debaran jantungnya itu tetap dipegang oleh wanita itu. Atau, bisa saja ia menarik tangannya lepas dari pegangan wanita itu. Namun, ia sama sekali tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh wanita yang sekarang tersenyum padanya itu. Satu hal yang pasti, Geon Hyeong tidak membenci Hwaniwon yang bahkan tidak disinari oleh sinar matahari sedikit pun saat ini. Jung Won lalu melepaskan tangan Geon Hyeong dan memetiki daun bunga kuning itu.

Seketika itu juga Geon Hyeong tiba-tiba merasa hampa. Sejak kapan tangan dingin wanita ini terasa hangat baginya?

Geon Hycong sejenak ragu. Apakah :a harus kembah memegang tangan wanita itu, atau apakah ia harus menganggap dirinya dan perasaannya ini sudah gila lalu segera pergi dari tempat itu. Seolah membaca pikiran Geon Hyeong, wanita itu kembali memegang tangan Geon Hyeong sambil memegang tangkai bunga berwarna hijau muda itu di sebelah tangannya. Seketika itu pula, jantungnya terasa berdegup kembali. Scolah mulai hidup kembali. Scolah benar-benar hidup kembali.

Entah apakah ia mengetahui perasaan Geon Hyeong atau tidak, Jung Won sibuk menekan-nekan ujung tangkai bunga kuning itu ke atas kuku Geon Hyeong. Lalu, cairan kuning yang keluar dari ujung tangkai itu meresap ke dalam kukunya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Manicure. Waktu aku kecil, ibuku scring melakukan ini padaku. Cantik kan?”

Manicure untuk laki-laki saja sudah merupakan sesuatu yang konyol, sekarang ia malah bertanya cantik atau tidak?

Geon Hycong memandang Jung Won dengan wajah sebal, namun mata wanita itu penuh dengan kerinduan dan kenangan yang samar- samar. Juga lelucon ringannya. Mengapa ia menatap lelaki itu dengan wajah seperti itu?

Scolah teringat sesuatu, Gcon Hycong lalu segcra mengarahkan tatapannya pada jari tangannya yang sedang dipegang oleh Jung Won.

“Hei, jangan-jangan ini...”

“Benar. Cairan ini akan menyerap. Menjadi kuning.”

Jung Won mengangkat lehernya dan tersenyum ja. Ia lalu memegang tangan Geon Hyeong kuat-kuat agar lelaki itu tidak bisa melepaskan dirinya.

“Astaga.”

“Makanya aku kan hanya mewarnai kuku jari kelingkingmu saja.”

“Hanya satu?”

“Kau mau semuanya?”

Geon Hyeong mengangkat alisnya dengan wajah menyeramkan sementara Jung Won tetap tidak peduli seperti biasanya. Ia tetap tersenyum manis sambil memegang erat tangan Geon Hyeong.

“Kata orang, warna kuning adalah warna yang menandakan mulainya sesuatu. Seperti bunga forsythia. Ibuku pernah berkata bahwa alam ini akan menguning jika musim semi tiba, bukannya mem'biru”. Warna kuning im pasti akan menjadi warna keberuntungan juga bagimu.”

Jung Won menjelaskan panjang lebar mengenai arti warna kuning, sementara wajah Geon Hyeong semakin lama semakin tampak serius dan muram. Meskipun demikian, Jung Won berharap lelaki itu merasakan juga bahwa sekali-sekali ia perlu lari dari rutinitasnya dengan cara ini dan semoga ia pun tidak keberatan.

“Aku sudah mendengar cerita tentang warna kuning di Amerika sampai muak.”

“Tapi kau belum mendengar cerita ini di Korea, kan. Jangan terlalu dimasukkan ke hati seperti itu.”

Wanita itu bergumam seolah hendak menghibur lelaki itu, namun lelaki itu tidak menyahut apa-apa. Jung Won yang merasa tidak enak kemudian melepaskan tangan Geon Hyeong, dan lelaki itu kembali mengangkat alisnya padanya.

“Kalau kau cuci dengan sabun, nanti juga hilang. Mungkin.”

Jung Won akhirnya mengalah dan bergumam pelan menghadapi Geon Hyeong yang kini diam seribu bahasa. Namun, Geon Hyeong bersikap seperti ini bukan hanya karena kukunya yang menguning. Ia tidak pedul apakah warna kuning itu bisa hilang atau tidak. Saat ini yang menjadi pikirannya adalah perasaan hatinya yang bahkan tidak bisa ia pahami. Mengapa dirinya tidak keberatan ketika tangan wanita itu memegang tangannya? Mengapa ia rasanya ingin memegang tangan wanita itu kembali begitu wanita itu melepaskan pegangan tangannya? Cuaca hari ini memang panas dan sepertinya otak Geon Hyeong pun ikut memanas.

“Oh, iya. Kau tidak tahu bunga celandine ini artinya apa?”

“Tidak!”

“Bunga ini melambangkan cinta kasih ibu.”

Meskipun Geon Hyeong terlihat kesal, Jung Won berusaha menghiburnya dan tetap tersenyum riang sambil memegang setangkai bunga celandine. Namun, wajah Geon Hyeong tetap terlihat tegang.

“Kau marah? Maafkan aku. Aku hanya bercanda.” Jung Won yang merasa bersalah lalu meminta maaf sambil meletakkan tangannya di atas tangan Geon Hycong yang hanya balas menatapnya dengan pandangan kosong. Sepertinya, lelucon Jung Won kah ini memang keterlaluan. Kalau dipikir-pikir, berani-beraninya wanita itu mewarnai kuku jar seorang penerus Goryo Grup dengan cairan kuning itu. Apa aku benar-benar sudah melakukan tindakan yang bodoh, pikir Jung Won.

Ia sebenarnya hanya ingin berbagi kenangan masa kecilnya dengan lelaki itu.

“Sudahlah. Bukan apa-apa. Kali ini aku akan bersabar.”

“Iya, kan? Ini memang bukan apa-apa, kan. Tapi, kalau aku mewarnai kuku tanganmu yang kanan, apa kau akan marah?”

Jung Won yang tidak menduga rcaksi Geon Hycong yang cukup ramah itu segera berusaha memegang tangan kanan Geon Hyeong tanpa menunggu jawabannya. Namun kali ini, 1a kalah cepat dari lelaki itu. Sebelah tangan Geon Hyeong yang cukup besar itu memegang kedua tangan Jung Won dan membuatnya tidak bisa bergerak ke mana- mana. Mereka bisa saling merasakan suhu tubuh dan panas masing- masing melalui tangan mereka yang bersentuhan. Tanpa memedulikan bagaimana kemauan dan perasaan mereka, seketika itu juga gurauan ringan hari itu telah berubah menjadi sesuatu yang serius.

Rintikan air hujan perlahan membasahi tanah di bukit itu. Sementara, tatapan Geon Hyeong yang selalu dingin dan kaku kini terlihat berapi-api. Ketika bibir indah lelaki itu mendekat, Jung Won tidak tahu apakah ia harus menutup matanya atau mundur selangkah menjauhinya. Pikiran rasionalnya telah memperingatkannya untuk melangkah mundur, namun tubuhnya yang sudah terkunci di dalam matanya hanya terdiam.

Kemudian, sesuatu memecahkan keheningan di antara mercka berdua. Suara itu adalah suara telepon genggam Geon Hyeong. Jung Won tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau merasa sedih. Ia juga mula tidak yakin dengan perasaannya sendiri dan hanya termenung menatap bunga celandine. Begitu mendengar nama yang terlontar dari mulut Gcon Hycong, ia merasa dirinya sangat menyedihkan karena scmpat bingung memikirkan perasaannya sendiri pada lelaki im.

“Shin Hee? Kau ada di mana?!”

Kim Geon Hyeong yang sudah kembali ke dirinya yang dulu, berteriak di telepon genggamnya.

Jung Won terdiam dan menundukkan kepalanya setelah melihat tatapan mata Geon Hyeong yang seketika itu rasanya hanya dipenuhi oleh wanita bernama Yoo Shun Hee itu.

Kang Jung Won, kau gila ya? Apa yang barusan kau pikirkan di otakmu itu? Jelas kalau dirinya tadi sempat terbawa suasana. Langit perlahan berubah menjadi kelabu dan semakin gelap. Rintikan hujan pun rasanya semakin deras. Telepon genggam Geon Hyeong tadi berbunyi di saat yang tepat. Wanitanya tclah datang kembah. Jung Won memandang sosok belakang Geon Hyeong yang meninggalkannya seorang diri dan pergi menemui wanitanya secepat kilat dengan pandangan kosong. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Entah mengapa, bunga-bunga liar yang menghiasi Hwaniwon kini tidak terlihat seindah saat ia melihatnya tadi.

Shin Hee duduk di sebuah restoran dengan jendela besar tempat ia bisa melihat pemandangan favoritnya sambil menunggu Gcon Hyeong. Yoo Shin Hee, wanita yang menampakkan dirinya kembali setelah 1,5 bulan. Selama itu, banyak gosip yang bertebaran mengenai tempat ia tinggal dan apa yang ta lakukan. Ada yang mengatakan bahwa dirinya pergi belajar ke luar negeri, ada yang mengatakan bahwa ia kabur bersama lelaki yang sudah menikah, dan ada juga yang mengatakan bahwa dirinya bunuh diri karena cintanya yang tidak terbalas. Namun, Shin Hee yang muncul di depan Geon Hyeong masih tampak sehat dan gembira scpcrti biasanya.

“Kau terima buket bunga dariku, kan?”

Shin Hee bertanya dengan penuh semangat pada lelaki yang duduk di hadapannya, namun Geon Hyeong sama sekali tidak berniat menjawab satu per satu pertanyaan wanita itu. Ia diam-diam sudah menyuruh orang untuk mencaritahu tempat yang kira-kira menjadi tempat persembunyian Shin Hee. Namun, ia tetap tidak bisa menemukannya dan hal itu membuatnya sangat gelisah. Shin Hee yang tidak mengetahui perasaannya itu memperhatikan dirinya dengan teliti.

“Ke mana saja kau?”

“Kau khawatir padaku?”

“Sedikit.”

Geon Hyeong berusaha menahan kata-kata yang ingin ia ucapkan dan mengambil gelas air putih yang ada di atas meja. Warta itu mungkin seumur hidup tidak akan tahu betapa Geon Hyeong terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri setiap kali mendengar laporan kosong mengenai keberadaan wanita itu selama im. Namun, Geon Hyeong sudah bertekad untuk menahan dan menghapus perasaannya pada wanita ini. Ia kini tidak ingin mengkhawatirkan atau mencintai wanita ini lagi.

“Paris, Itaha, Praha. Aku sengaja memilih negara yang memiliki banyak pria tampan untuk merayuku. Tapi ternyata aku tidak menemukan seorang pria pun.”

“Kau, kau tahu tidak apa yang sudah kulakukan demi kau?”

“Tentu saja. Kau juga sudah lihat, kan. Ternyata kau benar-benar datang begitu aku mengundangmu.”

Shin Hee mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal. Sesaat sebelum Shin Hee melarikan diri saat itu, hanya satu hal yang ia tunggu-tunggu saat itu, yaitu Kim Geon Hyeong. Shin Hee mengira bahwa Geon Hyeong akan mengejarnya dan memegang tangannya saat itu. Namun, lelaki itu ternyata malah datang bersama wanita lain. Pemandangan itu benar-benar membuat Shin Hee jauh lebih kalut daripada acara pernikahan sakralnya yang ia harap akan dikacaukan oleh Gcon Hyeong.

“Bagaimana kau bisa sampai datang dengan wanita itu?”

“Apa aku harus menjelaskannya padamu?”

Geon Hyeong menyahut pertanyaan Shin Hee yang bernada sebal dengan mengambil cangkir kopi di atas meja dan menyeruputnya. “Tidak, aku tidak peduli. Karena hubungan kita akan dimulai kembali. Kita tidak perlu mcmkah. Yang penting kau ada di sisiku seperti dulu.”

“Yoo Shin Hee.”

“Jangan katakan kalau cinta kita sudah pudar. Karena aku tidak merasa seperti itu,” Shin ITee menyahut dengan tidak peduli meskipun Geon Hyeong menegurnya.

“Kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau inginkan. Kau sudah dewasa, kan. Seharusnya kau mengerti hal-hal seperti ini.”

“Aku tidak pernah menyerah dengan apa yang kuinginkan selama ini.”

“Kalau begitu, mulai sekarang belajarlah untuk itu. Masih belum terlambat.”

Geon IHyeong ingat ia pernah melakukan percakapan yang serupa dengan orang lain sebelumnya. Dengan Kang Jung Won. Kalau ia ada di sini saat ini, pasti ia sudah menyuruh Geon Hyeong untuk memegang erat wanita im. Entah apakah Jung Won tahu kalau Gcon Hyeong kini sama sekali tidak bisa berbuat seperti itu.

“Hah, sekarang kau sedang memikirkan apa sih?”

Shin Hee yang langsung menyadari bahwa pikiran Geon Hyeong sedang berada di tempat lain dan bukan dirinya, langsung mencgurnya tajam. Berani-beraninya Kim Geon Hycong membiarkan Yoo Shin Hee berada di hadapannya dan malah memikirkan hal lain? Jangan-jangan, ia memikirkan wanita itu? Wanita yang datang bersamanya ke acara pernikahannya. Wanita yang ramai digosipkan sedang tinggal serumah dengannya saat ini. Dan yang lebih menyedihkan, Shin Hee-lah yang secara tidak langsung memilihkan wanita itu untuk Geon Hyeong.

“Aku punya hal lain yang harus diurus selain kau.”

“Siapa? Wanita itu?”

“Aku tidak mengurusi Jung Won. Ia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.”

“Lalu, bagaimana denganku?” Geon Hycong tidak berkata apa-apa pada Shin Hcc yang mulai cmosi. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal dan menghindari tatapan mata Shim Hee. Shin Hee terbelalak saat menyadari bahwa Geon Hyeong sedang menghindarinya. Kemudian, ia semakin terbelalak melihat kuku jari kelingking Geon Hyeong yang kurus itu berwarna agak kekuningan.

“Apa-apaan itu? Kuteks dari bunga?”

“Iya, bunga celandine katanya.”

“Tapi kenapa kau... wanita itu yang mewarnai kukumu?”

Geon Hyeong menganggukkan kepalanya ringan mendengar pertanyaan Shin Hee dan bangkit dari duduknya. Namun wanita itu sepertinya masih belum ingin pergi dari tempat itu.

“Ayo pergi. Sepertinya kau juga baik-baik saja.”

“Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku ingin pergi ke rumahmu.”

“Tidak bisa.”

Geon Hyeong menggelengkan kepalanya dan menyahut dengan cepat. Ia tidak bisa mengajak Shin Hee ke rumahnya, atau kc tempatnya menginap saat ini. Meskipun Shin Hee tidak tahu alasan mereka putus, Geon Hyeong tahu pasti mengenai hal itu.

“Kau tinggal bersama wanita itu di rumahnya? Ibuku berkata seperti itu.”

“Meskipun aku tinggal sendiri pun, aku tetap tidak akan membawamu ke rumah. Kau lupa kalau kita sudah putus?”

“Tapi kenapa kau selalu mengabaikanku? Kenapa kau bisa berbuat seperti ini padaku?”

Walaupun Geon Hyeong beralasan apa pun, Shin Hee tidak akan mendengarkannya. Berdasarkan pengalamannya, Geon Hyeong tahu bahwa :a tidak bisa membujuk Shin Hee dengan cara apa pun saat ini. Namun, meskipun wanita itu tctap bersikeras padanya, Gcon Hycong sama sekali tidak berniat memulai hubungan mereka kembali. Karena jika seperti itu, maka ia tidak akan berpisah dengan Shin Hee sejak awal.

 Hari itu, untuk pertama kalinya Jung Won tidak mengunjungi rumah kaca. Ia pun tidak bisa mampir menengok Hwaniwon yang diguyur hujan hari itu. Ia langsung naik bus dan pulang. Ia pulang lebih awal bukan karena lelaki itu. Tetapi karena hujan turun. Karena pangerannya tidak ada. Ia pun merasa perlu beristirahat sekali-kali. Oleh karena itu, ia pulang lebih awal hari itu.

Rumahnya kosong ketika ia tiba. Sepertinya Hee Won sedang mengajak adik-adiknya berjalan-jalan sebentar. Kalau tahu seperti ini, lebih baik ia di ramah saja seharian dan bermain dengan adik-adiknya hari ini.

Tetesan air hujan yang sedikit demi sedikit membasahi Hwaniwon tadi rasanya seperti mimpi singkat di pagi dini hari. Suhu tubuh lelaki itu yang dapat ia rasakan melalui sentuhan tangannya, tatapan matanya yang tajam, dadanya yang berdebar-debar. Apa yang kuharapkan dari lelaki itu tadi? Sebuah ciuman atau banya kebangatan? Jung Won kembali menggelengkan kepalanya dan merasa panik mengingat saat-saat itu.

“Gila, gila. Kang Jung Won, ada apa denganmu?”

“Tidak, tidak.”

“Chi-chi, aku juga tidak mau seperti ini. Sungguh.”

Seolah mengetahui isi hatinya, Chi-chi berteriak nyaring pada Jung Won dan kali ini pun ia mau tak mau menyetujui seruan burung kakatuanya itu.

Benar juga, aku pasti gila sesaat tadi. Apalagi, sekarang aku cukup sibuk. Akibat tidak pernah berpacaran satu kali pun selama 26 tahun, baru kali ini ia merasakan akibatnya. Namun, meskipun ia tidak memiliki pacar, tetapi sikap laki-laki itu tadi benar-benar keterlaluan.

Jung Won setidaknya tahu lelaki seperti apa Kim Gcon Hycong. Kalau ia mengingat bagaimana pertama kali mereka bertemu, seharusnya ia benar-benar menjauhi orang itu. Apalagi, dengan sikapnya yang suka semaunya itu. Lalu, yang paling penting, lelaki itu sudah memiliki wanita Jain. Tetapi, sebuah ciuman? Jung Won yang kembali teringat perasaannya saat itu rasanya ingin menampar pipinya sendiri dan menggelengkan kepalanya seperti adegan McCaulay Culkin di film Home Alone yang suka ia tonton menjelang Natal. Jung Won tahu pekerjaan yang paling tepat untuk mengalihkan pikirannya saat ini, yaitu berkebun atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Jung Won yang tinggal seorang diri di rumah saat itu akhirnya menyetrika pakaian-pakarannya yang sudah menumpuk, menyiapkan lauk untuk makan malam, bahkan sampai membersihkan kamar mandi. Setelah semuanya selesai, terdengar suara pintu pagar terbuka. Jung Won melirik jam tangannya karena mengira sudah jam makan malam dan membuka pintu depannya. Ia sangat terkejut melihat Slun Hee muncul di hadapannya. Kemudian, di belakangnya tampak Geon Hyeong berjalan mengikutinya. Jung Won bertatapan sejenak dengan Geon Hyeong yang wajahnya terlihat datar namun Jung Won tahu kalau sebenarnya ia merasa panik. Jung Won pun sama paniknya dengan Gcon Hyeong. Entah apakah Shin Hee menyadari hal ini atau tidak, ia hanya menatap rumah Jung Won yang baru pertama kali ia lihat dengan kagum dan memberi salam singkat pada Jung Won. Tatapannya tetap mengarah pada ruang tamu kecil di rumah itu.

Krak. Chi-chi yang menjadi lebih sensitif melihat kehadiran orang yang tidak dikenal, menatap Shin Hee tajam lalu duduk diam di sangkarnya mengawasi mereka. Goliath yang berjalan santai pun hanya mengitari Shin Hee satu kali dan pergi begitu saja dengan wajah tidak tertarik lalu duduk di atas sofa. Tidak lama kemudian, Romeo datang dan ikut duduk di ujung sofa sambil mengawasi mereka.

“Kita belum berkenalan kan? Namaku Yoo Shin Hee.”

“Ya, namaku Kang Jung Won.”

“Maaf, aku tidak memberitahumu terlebih dahulu.”

Geon Hyeong mengabaikan Shin Hee dan langsung mendekati Jung Won untuk meminta maaf padanya. Sebelum Jung Won sempat menjawab apa-apa, Geon Hyeong langsung merangkul pundak wanita itu dengan akrab. Saat itu adalah musim panas, di dalam rumah yang tidak ber-AC dan penuh sesak oleh orang, ditambah lagi dengan panas tubuhnya, membuat wajah Jung Won rasanya memerah. Ia pun tahu mengapa Geon Hyeong yang biasanya cuek dan dingin itu bersikap ramah dan hangat padanya.

Yoo Shin Hee. Gara-gara wanita itu, lelaki ini sampai menciumnya seenaknya. Oleh karena itu, Jung Won tidak heran jika Geon Hyeong berani melakukan skirship jika hanya sebatas im. Jung Won pun tahu pasti tujuannya namun ia tetap tidak bisa mengendalikan degup jantungnya.

“Tidak apa-apa. Silakan duduk. Goliath, pergi sana.”

Jung Won melepaskan dirinya dari rangkulan Geon Hyeong dan mengusir Goliath yang duduk di sofa. Kucing yang tidak suka tempat duduknya direbut itu mengcong sebal. Kemudian, tidak biasa-biasanya ia bermanja-manja dengan Geon Hyeong. Romeo yang biasanya tidak peduli terhadap Geon Hyeong pun hari ini berjalan dengan langkah tegap dan meloncat ke atas pangkuan Geon Hyeong, seolah ingin memamerkan keindahan tubuhnya. Chi-chi yang biasanya memaling- kan wajahnya pada Geon Hyeong pun kini duduk bertengger di pundaknya dan mengawasi Shin Hee.

“Tidak, tidak.”

“Diam.”

“Tidak mau, tidak mau.”

Mendengar perintah Geon Hyeong, Chi-chi langsung terbang kembali menuju tiang tempatnya bertengger yang segera diikuti oleh Goliath dan Romeo yang pindah untuk merebahkan diri mereka di sebelah jendela. Meskipun begitu, tatapan mata hijau mereka tetap mengawasi ke dalam ruang tamu. Untung saja, Dodo si kura-kura ada di dalam akuarium. Semua makhluk hidup di rumah ini sepertinya langsung bersatu menjadi satu keluarga ketika ada orang lai yang masuk ke rumah itu.

“Silakan duduk. Mau kubuatkan teh?”

Berbeda dengan Jung Won yang terlihat gugup, Shin Hee yang melihat-lihat sekeliling rumah dengan santai itu mengangguk pelan. Jung Won selama ini tidak pernah merasa malu dengan rumahnya yang penuh dengan kenangan akan orangtuanya. Namun, melihat Shin Hee yang mengamati setiap sudut rumahnya, tanpa sadar Jung Won pun merasa malu dan tidak percaya diri.

“Sepertinya kau sangat menyukai bunga-bungaan. Di mana-mana ada pot bunga.”

“Karena orangtuaku juga dulu menyukai bunga-bunga.”

“Aku menyukai orang-orang yang menyukai bunga. Geon Hyeong sudah cerita belum tentang pekerjaanku?”

“Belum.”

Karena Jung Won tidak bisa mengatakan bahwa jangankan bercerita, lelaki itu bahkan tidak mengungkit lagi mengenai wanita itu, Jung Won hanya menggelengkan kepalanya dengan gugup. Scolah tidak senang mendengar jawaban Jung Won, Shin Hee melemparkan tatapan tajam pada Geon Hyeong. Geon Hyeong segera menegurnya sebelum wanita itu sempat berkata apa-apa lagi.

“Kau tidak merasa tidak sopan sudah masuk dan melihat-lihat rumah orang lain seenaknya seperti ini?”

“Aku tahu. Tapi kalau aku tidak mengeceknya secara langsung, rasanya aku akan gila. Meskipun aku sudah berpisah denganmu, kau pikir aku tidak bisa bersabar dan menunggu jika hanya sebatas im? Aku bahkan sudah melarikan diri dari acara permikahanku sendiri.”

Shin Hee membalas pertanyaan tajam Geon Hyeong dengan jawaban yang lebih tajam lagi. Meskipun berada di rumahnya sendiri, Jung Won pun ikut merasa tegang dan tidak nyaman di tengah perang dingin kedua orang tersebut.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika sesuai dengan janjinya pada Geon Hyeong, maka ia harus berpihak padanya. Namun, demi wanita itu, maka ia harus berpihak pada Shin Hce. Saat ini, kepada siapa aku harus berpihak?

“Hei, Geon Hyeong ssi. Sudahlah. Mau kopi?”

“Tidak. Aku tidak butuh itu. Ia akan segera pergi dari sini. Ayo bangun, Shin Hee.” “Tidak mau. Aku mau minum kopi di sini. Kau bisa buatkan aku coffee latte?”

Shin Hee yang tidak memedulikan ajakan Geon Hyeong itu tidak menolak tawaran Jung Won dan langsung seenaknya meminta kopi sesuai seleranya, seolah rumah Jung Won adalah cofjee shop. Sementara itu, Jung Won tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Ia lalu menoleh pada Geon Hyeong dan menanyakan apakah ia ingin minum kopi.

“Kau mau tidak? Aweriuano?”

“Boleh.”

Mau tidak mau Geon Hyeong menerima tawaran itu dan menepuk bahu Jung Won dengan tatapan bersalah. Jung Won yang kembah terkejut dengan sentuhan di pundak yang tidak terduga itu bergegas pergi ke dapur dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Ia tidak ingin ketahuan kalau wajahnya memerah. Apalagi, ia merasa tatapan Shin Hee selalu tertuju pada dirinya. Baik Shin Hee maupun Jung Won, mereka berdua sama-sama asing melihat sikap Gcon Hyeong yang ramah hari itu. Tidak. Karena ia tahu alasan di balik sikapnya itu, Jung Won sama sekali tidak merasa senang.

Kira-kira, apa yang dipikirkan oleh dua orang yang saling berhadapan itu? Shin Hce yang sampai mendatangi rumah kecil tempat Geon Hyeong menginap jelas merupakan orang yang sangat aktif dan agresif. Lalu, Geon Hyeong yang sangat menyukai wanita ini apakah sudah berhasil menghapus dan melupakannya?

Setelah meletakkan teko pembuat kopi yang terbuat dari alumunium di atas kompor, Jung Won tanpa sadar memperhatikan ruang tamu yang cukup sunyi. Apabila mereka telah membuka hati masing-masing dan mengutarakan perasaan cinta masing-masing, maka perjanjian Jung Won dengan lelaki itu akan segera sclesai.

“Astaga, bukankah ini Hwaniwon? Benar kan, Geon Hyeong?”

Tiba-tiba terdengar suara Shin Hee yang berseru keras. Meskipun ia tidak melihatnya langsung, Jung Won bisa menduga foto apa yang dilihat oleh Shin Hee sekarang dan ia pun tidak menyahut. Sementara itu, Gcon Hycong mungkin baru pertama kalinya melihat foto itu. Lelaki itu memang pandai merapikan dan membersihkan barangnya, namun pasti ia tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di rumah itu. Tidak, mungkin saja ia sama sekali tidak tertarik. Toh ia tidak akan tinggal di rumah ini dalam waktu lama.

Dengan langkah ringan, Shin Hee mengikuti Geon Hyeong yang berjalan ke arah dapur. Padahal, tidak apa-apa jika ia hanya duduk diam di ruang tamu, namun Shin Hee membelalakkan matanya lebar-lebar mengamati setiap sudut di dapur itu seolah sedang melihat-lihat sebuah rumah yang hebat. Dapur yang sempit itu dipenuhi wangi kopi. Begitu Jung Won meletakkan secangkir kopi yang penuh dengan campuran susu dan Awmericano yang tidak menggunakan gula sama sekali di atas nampan, Geon Hyeong segera mengambil nampan itu dari tangan Jung Won dan membawanya ke ruang tamu.

“Kenapa foto Hwaniwon tergantung di sana?”

“Karena dulu ayahku adalah scorang tukang kebun di Universitas Kyung Hwan.”

“Kau tidak pernah menceritakan hal itu padaku.”

“Kau juga tidak bertanya,” Jung Won berbisik pelan padanya dan Gcon Hycong tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Kalau hari biasanya, mungkin ia akan menyipitkan matanya dan semakin bertanya macam-macam pada Jung Won. Geon Hyeong yang seperti itulah yang lebih familier bagi Jung Won.

“Mau ke mana?”

“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”

“Kalau kau merasa dirimu mengganggu, aku tidak akan membawa Shin Hee ke rumah ini.”

Di depan Yoo Shin Hec, Geon Hyeong tetap membcla dan menjaga Jung Won dengan terang-terangan. Seolah ingin menunjukkan hal ini pada Shin Hee, seolah menyuruh wanita itu untuk menerima kenyataan ini. Sikap Geon Hyeong saat itu seolah menyuruh Shin Hee untuk cepat-cepat menghapus perasaannya pada dirinya. Ketika Jung Won masih merasa canggung dengan perlakuan Gcon Hycong, tiba-tiba lelaki itu terpaksa berdiri dari tempat duduknya lebih dulu daripada Jung Won. Penyebabnya adalah telepon genggamnya yang selalu berbunyi di saat-saat penting seperti ini, tanpa mengenal siang malam. Kemudian, ia berkata singkat seolah menyuruhnya untuk melayani seorang tuan putri sebelum meninggalkan mereka dan menjawab teleponnya.

“Kau mengobrol dulu dengan Shin Hee, ya. Aku akan segera kembali. Sebentar, aku akan menyalakan laptopku.”

Ia berkata satu per satu secara berurutan kepada Jung Won, Shin Hee, dan lawan bicaranya di telepon dan bergegas meninggalkan mereka. Akhirnya, tinggallah Jung Won dan Shin Hee di ruang tamu itu. Shin Hee merasa sebal melihat Geon Hycong yang menitipkan dirinya pada Jung Won. Sementara, Jung Won pun merasa tidak nyaman karena harus berhadapan dengan kekasih Geon Hyeong itu. Tatapan mata Shin Hee yang mengikuti sosok belakang Geon Hyeong tiba-tiba menemukan bukct bunganya tergantung di atas pintu gcser kecil yang menghubungkan dapur dengan ruang tamu. Seketika itu, matanya terbelalak lebar.

Geon Hyeong memberikan buket bunganya kepada wanita ini?

Shun Hee yang bergantian menatap ekspresi Jung Won yang terlihat tidak nyaman dan buket bunga itu lalu menyipitkan matanya dengan kesal. Sementara, Jung Won yang menyadari tatapan Shin Hee hanya berdecak putus asa dalam hati.

Mengapa ia bisa sampai menerima buket bunga itu?

Mengapa ia masih menyimpan buket bunga itu?

“Sepertinya Geon Hyeong memberikan buket bungaku padamu.”

“Iya.”

Ia tidak tega mengatakan kalau Gcon Hycong sudah menyuruhnya untuk membuang buket bunga itu. Oleh karena itulah, salah paham di antara mereka semakin besar. Jung Won tidak tahu kalau ia telah melukai hati wanita itu dengan berdiam diri saja seperti ini. Ini semua karena lelaki banyak ulah itu. “Itu, sebenarnya aku...”

“Sepertinya kau juga sangat suka dengan bunga ya. Buktinya kau tidak membuang buket bunga itu.”

“Karena buket itu sangat cantik.”

Mendengar alasan Jung Won, wanita itu hanya tersenyum seolah ia sudah tahu semuanya.

“Kau tahu arti bunga mawar merah muda?”

“Ya.”

“Bunga Lly of the valley?”

“Aku tahu.”

“Berarti kau juga tahu arti alangium, dong.”

“Cinta rahasia.”

Shin Hec mengangguk senang pada Jung Won yang menjawab pertanyaan-pertanyaannya itu dengan tepat. Ternyata, Jung Won juga tahu banyak mengenai hal ini, hampir menyamai dirinya yang seorang ahli.

“Menurutmu, Gcon Hyeong tahu tentang makna bunga-bunga itu?”

“Entahlah. Tapi karena ia tahu banyak hal, jadi mungkin saja...”

“Kau ini ternyata orang yang baik.”

Sebelum Jung Won menyelesaikan ucapannya, Shin Hee mengangguk-anggukkan kepalanya. Geon Hyeong pasti tidak tahu makna bunga-bunga itu. Ia pun tidak akan memberitahunya. Namun, wanita yang ada bersamanya saat ini sedang berusaha membuka hatinya dan menghiburnya.

“Ah, tidak.”

Jung Won buru-buru menggelengkan kepala dan mengibaskan tangannya, namun wanita itu hanya tersenyum padanya.

“Geon Hyeong pasti tidak tahu mengapa aku mengirimkan bunga itu kepadanya. Aku tahu itu. Yang aku tidak tahu...”

Shin Hee menatap Jung Won lurus-lurus. Seolah dirinya adalah jawabannya.

“Menurutmu, apakah aku bisa mendapatkan Geon Hyeong kembali?” Jung Won tidak bisa berkata apa-apa menanggapi pertanyaan terakhir Shin Hee tersebut.

Janjinya dengan Geon Hyeong, serta perasaannya kepada wanita ini.

Ia pun tidak bisa mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, atau bahwa lelaki itu pasti juga merasa sakit hati. Ia hanya terdiam memandang buket bunga itu. Jung Won tidak bisa lagi berkata apa-apa mengenai bunga-bunga yang mulai layu itu.

Shin Hee yang memandang Jung Won dengan tatapan kosong, tiba- tiba mendengus pelan dan tertawa.

“Itu adalah masalah kami. Benar kan?”

“Mungkin juga.”

Itulah jawaban terbaik yang bisa diberikan Jung Won saat ini. Bagaimanapun, dari luar Gcon Hyeong dan Jung Won adalah pasangan. Karena wanita ini, ia telah melakukan ciuman pertamanya. Karena wanita ini, ia sudah mendapat keuntungan, dan karena wanita inilah ia tinggal serumah dengan Geon Hyeong saat ini. Lalu, apa lagi ya yang berubah karena wanita ini? Ketika wangi kopi dan berbagai pikiran menyelimuti kedua wanita itu, Geon Hyeong datang menghampiri mereka.

“Aku harus pergi sekarang. Kalau kau masih mau di sini, nanti pulang naik taksi saja.”

“Tidak, aku mau pergi denganmu.”

Mendengar ucapan Geon Hyeong yang sibuk bersiap-siap itu, Shin Hee segera bangun dari duduknya. Melihat Shin Hee yang seperti itu, Geon Hyeong kembali memasang wajah muram. Kemudian, seolah telah membulatkan tekadnya, ia berkata pada Shin Hee.

“Ini benar-benar yang terakhir kalinya. Aku tidak meladeni sikapmu yang seenaknya dan tidak sopan seperti ini lagi. Aku benar-benar tidak bisa meladenimu lagi.”

“Kenapa? Aku kan sudah bebas sekarang. Aku sudah single sekarang.”

“Tapi aku tidak single. Kau tidak lihat sekarang aku tinggal dengan siapa?” Geon Hyeong tiba-tiba menarik tangan Jung Won yang menjaga jarak dari mereka dan diam mengamati kedua orang itu. Kekesalan Geon Hyeong yang memegang tangan Jung Won erat-erat dapat dirasakan oleh Jung Won. Urat-urat di wajahnya pun rasanya ikut menegang.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak senang. Satu sudut hatinya rasanya tercabik-cabik dan hancur. Geon Hyeong yang berdiri di sebelahnya dan memegang tangannya terasa sangat jauh darinya.

“Sugobesso'8. Aku akan segera kembali.”

Geon Hyeong yang mengangguk singkat pada Jung Won, meninggalkan rumah bersama Shin Hee. Begitu mereka pergi, Jung Won menghela napas panjang dan terduduk lemas di kursi meja makan.

Ucapan Geon Hyeong itu entah kenapa terasa menyedihkan dan pahit.

Apa yang membuatmu sedih, Kang Jung Won? Kenapa kau merasa terluka seperti itu?

Teman-teman adik-adiknya memang sering main ke rumah mercka. Biasanya, ia juga tidak pernah merasa tidak nyaman dengan tamu yang datang ke rumah itu, atau ketika harus membuatkan kopi untuk mereka. Namun entah kenapa, hari ini rasanya aneh sekali. Jung Won termenung menatap buket bunga yang tergantung di pintu dapur. Buket bunga yang hampir kering ita pun masih terlihat indah.

Janji cinta. Kebahagiaan yang akan segera dicari kembali. Lalu cinta rahasia. Apa-apaan ini? --Note 18S ugohcsso- bisa diartikan “terima kasih atas kerja kerasmu' atau “Good Job”. Biasanya diucapkankan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda, atau oleh atasan kepada bawahan.