--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 04 : Peruikahan wanita lain

Bab 04 : Peruikahan wanita lain

Undangan pernikahan Shin Hee benar-benar terlihat cantik dan mewah. Kamis sore minggu ini, akhirnya ia resmi menjadi wanita orang lan. Geon Ilyeong memandang tulisan berwarna emas yang tertera di kertas undangan berwarna cream itu dan tanpa ragu sedikit pun memasukkannya kembali ke amplop undangan itu.

“Kau tahu kan, kalau sekarang semuanya tidak bisa kembali seperti dulu?”

Geon Hyeong mengangguk mendengar pertanyaan Jason. Hubung- an mereka memang tidak boleh kembali seperti dulu. Kadang ada hal- hal yang harus diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Scolah bukan masalah besar, seolah tidak ada apa-apa. Itulah yang harus ia lakukan saat ini.

“Oke. Sekarang sudah saatnya kau benar-benar lepas dari Shin Hee. Lalu, apa rencanamu dengan wamita itu?”

“Wanita yang mana?”

Geon Hyeong yang sempat larut dalam lamunannya berusaha mengingat warita yang dimaksud oleh Jason. Aha, wanita pemberani itu. Waruta yang tidak sengaja terscret ke dalam masalahnya ini. Kalau dipikir-pikir, jika ia ingin menepati janjinya pada Direktur Oh, maka harus ada wanita lain yang menggantikan Shin Hee.

“Sepertinya ia tidak ingin berurusan lagi denganku.”

“Oh ya? Hm, tapi sepertinya kau harus berurusan lagi dengannya.”

Geon Hyeong yang tidak mengerti maksud perkataan Jason mengangkat alisnya. Jason kemudian melemparkan amplop putih lain yang terlihat seperti undangan ke atas meja.

“Shin Hee juga mengirimkan undangan untuk pasanganmu. Dari Presiden Yoo juga. Pasti ini semua ide Direktur Oh.”

Geon Hyeong menatap dua undangan pernikahan di hadapannya.

Orang-orang itu pasti ingin memastikan kalau hubungan mereka sudah berakhir, dengan melihat Shin Hee yang menikah dengan pria lain dan Gcon Hyeong yang membawa wanita lain. Jelas mercka tidak puas hanya dengan pembicaraan telepon kemarin malam.

| Kan tahu kan mengenai rapat komite Selasa depan?”

“Tentu saja.”

“Aku harap kau bisa menepati janjimu.”

“Jangan khawatir. Aku sudah berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain” Geon Hyeong menyahut tegas menanggapi perkataan lembut Direktur Oh yang seolah meminta jawaban pasti

Geon Hyeong tahu apa yang mereka inginkan. Perpisahan yang sempurna dengan Shin Ilee, serta skandal lain yang menimpa Geon Hyeong. Sebelum acara pernikahan ini selesai pun, gosip mengenainya pasti akan menyebar di durua finansial. Mungkin memang indah yang mercka inginkan. Namun, Direktur Oh pasti tidak akan menyangka kalau Geon Hyeong sebenarnya memiliki keinginan yang sama dengannya. Geon Hyeong sama sekali tidak takut dengan berbagai skandal yang akan maupun telah menimpanya. Bahkan, Geon Hyeong sudah siap melihat dirinya dan Shin Hee menjalani hidup mereka masing-masing.

“Toh aku tetap harus bertemu dengannya sekali lagi. Karena aku harus menepati janjiku dengan Direktur Oh.”

“Jadi, kau akan menghubungi wanita itu?”

“Entahlah. Pasti ia akan menolak.”

Ia sudah cukup menyusahkan wanita itu dengan ciuman mereka tempo hari. Rasanya tidak mungkin ia bisa mengajak wanita yang benar-benar marah besar saat itu, bahkan secara paksa sekalipun. Lagi pula, ketika mereka bertemu di Hwaniwon, ternyata wanita itu cukup cerewet dan sering marah-marah. Geon Hyeong membutuhkan wanita seperti boneka yang menuruti perkataannya dan mudah diatur.

“Aku sebenarnya ingin kau pergi dengan wanita itu. Ia yang paling cocok untuk situasi ini.”

“Aku akan mencari wanita lain.”

“Tidak semudah itu. Tidak, kau pasti tidak bisa menemukan wanita

»

lain. Mendengar ucapan tegas Jason, Geon Hyeong terlihat sedikit ragu.

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau sendiri kan tahu. Menurutmu, kau bisa mencari wanita seperti itu lagi?”

Tepat seperti kata Jason, wanita seperti itu memang sayang jika dilepaskan begitu saja. Wanita pemberani yang pasti dapat menghadapi musuh-musuhnya dengan tegar. Kalau wanita itu yang menjadi pasangannya, Geon Hyeong tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya karena wanita itu tidak akan menyerah kalah begitu saja, pasti. Ia tidak akan menurut dan menundukkan kepala begitu saja, seperti yang ia lakukan pada Geon 1Hyeong saat itu.

“Tapi, wanita itu sangat membenciku. Apa mungkin ia mau?”

“Wah, sejak kapan kau memedulikan hal-hal seperti itu? Asal kau tahu saja, orang yang membencimu bukan hanya satu dua orang saja.”

Jason mendengus pelan seolah tidak percaya. Kali ini, Geon Hyeong pun ikut tertawa pelan mengakui kebenaran ucapan Jason. Pada dasarnya, Geon Hyeong memang bukan orang yang memedulikan pandangan atau pendapat orang lain.

“Benar juga.”

“Benar.”

Ia tidak pedul apakah wanita itu menyukainya atau tidak. Itu tidak penting. Ia pun tidak memedulikan pendapat orang lain. Saat ini, yang penting adalah ia harus segera berkompromi dengan wanita itu. Namun, bisa dipastikan bahwa wanita itu tidak akan menyetujuinya dan menurutinya begitu saja. Kalau seperti itu, maka ia harus menggunakan cara lain. Cara lain yang paling efektif.

Kang Jung Won yang biasanya ceria terlihat tidak bersemangat hari itu. Begitu mendengar kabar dari kantor administrasi, badannya seolah lemas tidak bertenaga. Kontraknya sebagai ahli nutrisi di kantin kampus yang diperbarui setiap dua tahun sekali hampir habis. Entah kenapa semuanya terjadi di saat yang bersamaan seperti ini.

Kalau ia tidak menandatangani kontrak itu dan diberhentikan dari pekerjaannya ini secara otomatis, maka ia akan pindah dan bekerja di desa. Berita pagi ita benar-benar membuatnya risau seharian. Ia tidak sengaja membuat gamma yang paling tua di dapur terkena minyak panas dari penggorengan. Ia juga kekurangan persediaan roti untuk sandwich karena antrean mahasiswa yang ingin memesan sandwich hari itu lebih banyak dari biasanya. Sebagai gantinya, ia menghidangkan telur mata sapi untuk para mahasiswa yang membuat persediaan telur pun habis dalam sekejap. Tidak hanya itu, bahkan bibit bunga mawar yang selalu ia jaga baik-baik dipenuhi oleh kutu tanaman dan rantai sepedanya putus dalam perjalanannya pulang dari Hwaniwon. Selain itu, entah kenapa hari ini rasanya panas sekali, padahal masih musim semi. Jung Won akhirnya berjalan menyusuri jalan di kampus sambil menyeret sepedanya yang rusak dan menggerutu tanpa henti. Saking kcsalnya, Jung Won sampai tidak menyadari ada mobil hitam yang berhenti menghalangi jalannya. Pintu mobil itu terbuka dan seorang lelaki tiba-tiba menggandeng tangannya serta mengajaknya masuk ke mobil itu sebelum Jung Won sempat berteriak karena terkejut.

Astaga, jangan-jangan aku benar-benar akan mati kali ini.

Berbagai pikiran memenuhi otaknya ketika menyadari bahwa ia sedang diculik. Ia tidak percaya hal ini akan menimpanya di siang hari yang cerah seperti ini. Jung Won yang sangat ketakutan duduk di pojok kursi mobil, berusaha menjauhkan dirinya sebisa mungkin.

“Kau tidak mau menunjukkan wajahmu?”

“Ya?”

Apa orang-orang ini mau mengecek wajahku dulu? Berarti, mungkin saja mereka akan melepaskanku. Aku kan bukan Hee Won, batinnya. Jung Won menolehkan wajahnya dengan hati-hati. Kemudian sesuatu terlintas di benaknya. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Bisa-biranya aku melupakan suara ini, pikirnya. Lelaki kurang ajar itu. Lelaki yang selalu ia anggap berbahaya itu.

“Maaf, aku terpaksa mengajakmu pergi dengan cara seperti ini.”

“Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau berbuat seperti ini padaku?”

Seketika saja rasa takut Jung Won berubah menjadi amarah yang luar biasa. Orang ini, semakin dibiarkan ternyata semakin keterlaluan. Sampai berani melakukan tindak penculikan seperti ini. Ini benar-benar merupakan tindak kriminal.

“Ada yang ingin kubicarakan.”

“Tidak ada yang ingin kubicarakan. Cepat turunkan aku.”

Jung Won dapat merasakan seorang lelaki berdarah campuran yang tampan melirik Geon Hyeong dari kaca spion tengah. Namun, Geon Hyeong dan Jung Won tetap saling berpandangan dengan tajam.

“Kau tidak dengar? Cepat turunkan aku. Kalau kau tidak ingin masuk berita besok pagi karena tuduhan penculikan, lebih baik cepat turunkan aku sekarang juga. Atau, aku akan melompat keluar dari mobil ini.”

“Shin Hee mengundangmu.”

“Apa?”

“Yoo Shin Hee ingin kau datang bersamaku ke acara pernikahan- nya.”

Jung Won tidak mengerti siapa Yoo Shin Hee yang dimaksud oleh Gcon Hyeong. Jung Won menatap Gcon Hyeong sambil mengerutkan dahinya, berusaha mengingat nama itu.

“Aku tidak punya waktu untuk menghadiri pernikahan orang lain yang tidak kukenal.”

“Kau mengenalnya.”

“Aku tidak mengenalnya. Yoo Shin Hee siapa sih yang kau maksud?”

“Wanita yang waktu itu melihat kita berciuman.”

Ciuman? Ciuman katanya? Jang Won terkejut mendengar jawabannya yang terang-terangan itu. Bahkan, temannya yang kelihatannya baik hati itu pun ikut terkejut dan menarik napas panjang. Lelaki ini benar-benar gila rupanya.

“Kau sudah berciuman dengan warita ini?”

Ya”

Geon Hyeong menjawabnya dengan cepat, lagi-lagi sebelum Jung Won sempat membuka mulutnya. Orang ini memang benar-benar cekatan sekali. Jung Won menggertakkan giginya dan menatap Geon Hyeong tajam. Benar-benar lelaki yang tidak memedulikan perasaan orang lain. Hebat sekahi dia, bisa-bisanya melakukan bal ini padaku dan sama sekali tidak merasa malu.

“Sebenarnya ia menciumku dengan paksa.”

“Terserahlah. Bukan itu yang penting saat im.”

“Tidak. Bagiku ini penung. Yang lebih penting lagi, aku tidak mengerti mengapa aku harus sampai diculik seperti ini dan dipaksa datang ke pernikahan itu.”

“Karena Shin Hee ingin kau juga datang.”

Shin Hee. Yoo Shin Hee. Entah wanita seperti apa dia, yang pasti, Yoo Shun Hee ini sepertinya wanita yang penting bagi lelaki ini hingga ia berani melakukan tindak kriminal seperti ini demi wanita itu. Namun, itu adalah urusan lelaki itu dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kang Jung Won.

“Oleh karena itu, apa pun yang terjadi, aku akan tetap menghadiri pernikahan ita denganmu. Jadi, sebaiknya kau tidak usah berpikir yang aneh-aneh saat ini.”

Hah, benar-benar tidak masuk akal. Meskipun lelaki ini memohon sambil berlutut pun, Jung Won sama sekali tidak berniat menuruti permintaannya. Namun, jangankan berlutut, lelaki ini malah berkata semaunya dan menyuruh orang lain seenaknya seperti ini.

“Kalau kau tidak menghentikan mobil ini, aku akan membuka pintunya dan langsung lompat dari mobil ini. Makanya, kusarankan kalian juga tidak berpikir yang aneh-aneh saat ini.”

Jung Won semakin emosi dan marah menghadapi lelaki yang kurang ajar dan sama sekali tidak mendengarkan pendapat orang lain ini. Lelaki itu memang terlihat tenang, namun Jung Won tahu bahwa orang ini sangat berbahaya. Seluruh saraf di tubuhnya seolah mengirim sinyal tanda bahaya ke otaknya. Sepertinya akan lebih aman baginya jika ia loncat turun dari mobil yang sedang melaju ini daripada harus berada bersama lelaki ini. Tangan Jung Won sudah menyentuh pegangan pintu mobil itu, namun mereka tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Kunci otomatis di pintu mobil itu ternyata sudah mengunci dirinya untuk tetap berada di dalam mobil itu. Lelaki ini, ternyata ia tidak main-main. Jung Won yang semakin merasa geram, menoleh dan menatap Gcon Hyeong tajam. Baru saja ia hendak menumpahkan kekesalannya ketika perlahan Geon Hyeong berkata padanya.

“Kau bisa saja kehilangan rumahmu bulan depan. Saat ini bukan saatnya kau bersikeras seperti ini.”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan urusan keluargaku. Aku akan menyelesaikannya sendiri.”

“Bagaimana? Kau mau menjual tubuhmu?”

Keterlaluan sekali orang in. Entah bagaimana ia tumbuh besar selama ini sampai bisa berkata kasar seperti itu tanpa ragu sedikit pun. Seumur hidup, baru sekali ini Jung Won bertemu dengan orang yang bisa menghina orang lain dengan begitu tenangnya. Jason yang sedang mengemudikan mobil pun menghela napas panjang. Benar-benar negosiasi yang buruk.

“Sepertinya kau memang terbiasa menjual tubuhmu setiap ada masalah, tapi aku bukan orang seperti itu. Begitu pula adikku.”

Geon Hycong sedikit menyipitkan matanya melihat Jung Won yang menanggapi ucapannya itu dengan wajah serius. Meskipun demikian, ia tetap menunjukkan wajah tanpa ekspresi pada Jung Won.

“Kau mungkin saja akan diberhentikan dari kantin tempatmu bekerja sekarang. Mereka bisa mencari penggantimu dengan mudah.”

“Hei, dengarkan aku ya.”

“Lalu, adikmu itu memang cantik, sih. Tapi entah mengapa, kelihatannya kurang menggoda. Kau tahu kan, orang bisa melakukan apa saja kalau memang terpaksa?”

Oke, orang ini sekarang sudah mengancamku terang-terangan. Yang lebih mengerikan adalah bahwa segala ucapannya itu mungkin saja akan menjadi kenyataan. Jung Won menggertakkan giginya dengan kesal.

“Tidak ada rumah, tidak ada pekerjaan. Apalagi sampai tidak bisa menjaga adikmu, bukankah kau sendiri juga yang kewalahan?”

“Iya. Aku tahu. Aku tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan. Kalau sampai Hee Won tidak mendengarkan perkataanku, pasti aku memang akan kewalahan. Tapi aku tahu kalau aku akan lebih kewalahan jika harus berurusan dengan lelaki seperti kau. Turunkan aku sekarang. Aku rasa ucapanku tadi sudah cukup jelas.”

Jung Won menyahut dengan tegas dan dingin sampai tidak ada celah bagi kedua orang itu untuk memotong ucapannya.

Wajahnya terlihat tegas, tidak goyah sedikit pun.

Seharusnya wanita ini merasa tidak tenang. Seharusnya wanita ini merasa takut. Namun, wanita itu tetap bersikap tegas dan tenang sampai Geon Hyeong pun kagum melihatnya. Jangan-jangan, wanita ini termasuk spcsics manusia berbeda dengan yang selama ini ia kenal, pikir Geon Hyeong. Benar-benar jauh berbeda.

“Tunggu, Jung Won-si. Maaf. Saat ini Geon Hyeong sedang sangat terdesak sampai ia bertindak seperti itu. Aku harap kau bisa memakluminya.”

Jason yang tidak sabar melihat tingkah laku temannya itu akhirnya ikut menyela pembicaraan mereka.

“Lalu kenapa?”

“Ya?”

“Aku tanya, kenapa aku harus memaklumi orang yang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun ini?”

Jung Won berkata sambil menatap Geon Hyeong tajam. Kali ini, Jason pun tidak bisa berkata apa-apa untuk membela temannya. Ucapan wanita itu benar, sementara Geon Hyeong sama sekali tidak menunjukkan sikap untuk mengakui kesalahannya. Jason mengerutkan dahinya. Ia sadar, jika situasinya tetap seperti ini, maka mereka tidak akan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

“Kau hanya perlu menghadiri acara pernikahan itu saja. Aku juga tidak ingin bersikap kasar padamu.”

“Tindakanmu padaku sekarang ini sudah cukup kasar. Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang benar-benar tidak tahu diri sepertimu.”

“Aku tidak punya pilihan lain. Ini benar-benar masalah yang sangat penting.”

Jung Won merasa dirinya sedang berbicara dengan sebuah tembok keras yang dingin. Sepertinya hanya wanita bernama Yoo Shin Hee itu saja yang ada di dalam otak lelaki ini. Temannya berkata kalau orang ini scdang terdesak, sementara ia sendiri berkata kalau ini benar-benar masalah penting.

“Kau ini benar-benar aneh, dan kekasihmu itu juga benar-benar tidak bisa dimengerti. Kenapa ia mengundangku ke pernikahannya?”

“Karena kau adalah pasanganku.”

Jung Won hampir tersedak mendengar jawabannya yang singkat dan jelas itu. Ternyata orang ini benar-benar sudah gila. Ia pun ternyata benar-benar jatuh cinta pada wanita di Hwaniwon tempo hari itu. Namun, kalau lelaki ini memang benar-benar mencintainya, seharusnya ia mengejar wanita itu dan memegang tangannya saat itu. Lagi pula, kalaupun mereka berpisah, itu kan masalah mereka berdua. Jung Won tidak habis pikir, kenapa dianya harus ikut terseret dalam masalah percintaan dua orang yang sama sekali tidak ia kenal.

“Aku bukan pasanganmu. Dan kau bukan pasanganku. Kau jatuh cinta pada wanita bernama Yoo Shin Hee itu kan?”

Jung Won berkata dengan tegas dan sejelas mungkin, seolah ia berbicara dengan Soo Hee yang masih duduk di bangku TK. Untuk pertama kalinya, ekspresi wajah Geon Hyeong berubah. Lelaki yang selama ini selalu memasang wajah tanpa ekspresi, dingin, dan tidak menghargai orang lain itu kini terlihat scolah napasnya terhenti.

Bingo. Benar juga rupanya. Kalian berdua ini, ternyata masih jatuh cinta. Namun kenapa ia terus-menerus berbuat seperti ini padaku?

“Itu bukan urusanmu.”

“Itu dia maksudku. Aku ini kan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian berdua. Jadi, tolong biarkan aku pergi. Aku mohon.”

Geon Hyeong yang seolah akan berkata sesuatu kembali memasang wajah dinginnya, sementara Jung Won tetap memandangnya sinis. Di acara pernikahan itu, wanita yang ia cintai akan menikah dengan lelaki lain. Pantas saja ia merasa tidak nyaman. Tentu saja ia merasa sedih. Namun, bukan berarti orang ini bisa melampiaskan kesedihannya pada Jung Won, kan? “Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kau berbuat seperti ini padaku. Memangnya apa salahku padamu?”

“Aku membutuhkanmu.”

“Tidak selamanya kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau ini sudah dewasa, kan. Seharusnya kau paham mengenai hal itu.”

“Selama ini, aku tidak pernah menyerah atas apa yang kuinginkan.”

“Kalau begitu, sekarang saatnya kau belajar untuk itu. Yah, meskipun sudah cukup terlambat.”

Geon Hycong menatap lurus-lurus Jung Won yang amarahnya sudah memuncak dan kini terlihat tidak sabar. Ia juga sempat bertatapan sejenak dengan Jason yang meliriknya melalui kaca spion tengah. Mereka harus mencari cara lain. Setelah dipikir-pikir, scharusnya mereka tahu sejak awal bahwa wanita ini bukanlah wanita yang bisa diancam dengan mudah. Geon Hyeong berusaha mengingat segala sesuatu tentang Jung Won dari dokumen hasil pemeriksaan Jason tentang wanita ini. Pasti wanita ini memiliki kelemahan. Kalau masalah rumah yang akan scgera disita bukanlah masalah bagi wanita ini, pasti ada kelemahan yang lain.

Geon Hyeong mulai membalik catatan mengenai wanita ini satu per satu di dalam otaknya. Seperti apa sifatnya, dengan siapa ia tinggal, bagaimana kehidupannya.

Kesunyian menyelimuti mobil itu selama beberapa saat, yang kemudian dukuti oleh helaan napas Geon Hyeong yang terlihat putus asa.

“Maafkan aku. Sepertinya memang tidak mungkin.”

Mendengar permintaan maaf Geon Hyeong, Jung Won mengangkat kepalanya dan menatapnya. Di wajahnya memang tidak terlihat tanda- tanda penyesalan, tetapi ekspresinya jelas berubah. Wajahnya yang terlihat terluka itu entah mengapa membuat Jung Won merasa tidak nyaman. Padahal yang melakukan kesalahan adalah lelaki itu, tetapi entah kenapa rasa kasihan membuat Jung Won ragu dengan keputusannya. “Kenapa kau tidak menikah dengan wanita itu? Kalau kau memang mencintainya, kau kan bisa memegang tangannya dan mengajaknya pergi bersamamu, bukannya malah menculikku seperti ini.”

Jung Won yang saat itu merasa lebih aman, memberi saran dengan hati-hati pada Geon Hyeong. Kalaupun pernikahannya adalah hari ini, masih belum terlambat. Meskipun akan menyakiti hati calon pengantin laki-lakinya, setidaknya ini masih lebih baik daripada membiarkannya menikahi wanita yang mencintai orang lain. Meskipun tidak seindah di film-film, setidaknya mereka berdua tidak akan sama-sama ludup menderita ke depannya nanti.

“Shin Hee tidak menginginkan hal itu.”

“Kalau kau melamarnya dengan cara seperti ini, tentu saja ia akan menolakmu.”

Geon Hyeong menyahut dengan suara yang lebih lembut, dan Jung Won pun berkata padanya dengan nada yang lebih santai.

“Oh ya? Jadi itu masalahnya...”

Mendengar Geon Hycong yang bergumam seorang diri, Jung Won yang tadinya memperhatikan jalan di luar jendela dan bertanya-tanya dalam hati kapan ia bisa tarun dari mobil im segera menoleh pada Geon Hyeong dengan tatapan terkejut. Jangan-jangan, ia benar-benar memperlakukan wanita itu seperti ini? Pantas saja. Ternyata jalan pikiran orang ini memang seperti jalanan satu arah.

“Tentu saja. Kau tahu tidak, di dunia ini ada juga namanya “minta tolong” dan “urusan pribadi. Tidak hanya sekadar “ancaman” atau “negosiasi.”

“Kalau aku memiliki urusan pribadi dan minta tolong padamu, apa kau mau mengabulkannya?”

“Tidak.”

Tentu saja tidak bagi Jung Won. Namun, sepertinya Geon Hyeong kini telah menemukan cara untuk membujuk wanita ini. Tatapannya sekilas terlihat bersemangat kembali, tetapi Jung Won yang sudah terlalu merasa aman dan tenang tidak menyadarinya. “Bukan saatnya kau berbuat seperti ini padaku. Kau harus segera meminta maaf pada wanita itu dan mengajaknya kembali. Pasti ia akan memahamimu.”

“Aku ini anak yang lahur di luar nikah.”

“Apa?”

“Anak yang lahir di luar nikah, dari skandal seorang konglomerat bodoh.”

Anak di luar nikah? Jung Won mengerutkan dahinya, tidak mengerti mengapa tiba-tiba lelaki itu berkata seperti itu padanya. Lalu, apa hubungannya? Kemudian mata Jung Won terbelalak lebar seolah teringat sesuatu. Ternyata alasan lamaran lelaki ini ditolak adalah karena masalah asal-usulnya itu.

“Jangan-jangan...”

“Benar. Tidak ada keluarga yang mau menerima anak haram sebagai menantu mereka. Aku juga tidak ingin disebut sebagai suami yang lahir di luar nikah oleh wanita itu.”

Geon Hycong dengan tenang dan jujur memberitahu alasannya berpisah dengan Shin Hee. Mungkin saja ia bisa menggerakkan hati wanita ini dengan bercerita jujur apa adanya.

“Omong kosong macam apa itu? Masa hanya karena masalah sepele ita, hubungan kalian ditentang dan sampai harus berpisah seperti imi?”

“Bagi kami, ini bukanlah masalah sepele.”

Meskipun Geon Hyeong terlihat tenang, Jung Won tidak bisa bersikap seperti itu. Ia menatap Geon Hyeong dengan mata terbelalak. Menurutnya, cerita Geon IIyeong itu sama sekali tidak masuk akal dan tidak bisa dipercaya. Jung Won seolah ikut merasa marah dan kesal menggantikan Geon Hyeong.

“Keterlaluan sekali. Lalu, kau hanya diam dan menyerah begitu saja?”

“Ada orang yang lebih mencintainya daripada diriku. Lagi pula, aku juga ingin Shin Hee hidup bahagia. Kalau aku tidak pergi denganmu, pasti Shin Hee juga akan merasa tidak nyaman.” Gcon Hycong kembali berkata dengan jujur. Bagi Shin Hee, ada lelaki lain yang jauh lebih mencintai Shin Hee daripada dirinya.

“Hm, Kim Geon Hyeong-si”

“Apa kau tidak mau menolongku? Aku harap kau mau pergi bersamaku.”

Lelaki itu bertanya dengan sopan. Lelaki yang tadinya sangat egois, suka bertindak semaunya, namun licik seperti rubah. Kalau sudah seperti ini, pasti waruta ini tidak bisa menolaknya.

Jung Won bukanlah orang yang bodoh. Tetapi ia juga bukan orang yang tidak punya hati sampai tega menolak permintaannya itu. Meskipun za tidak bisa memaafkan perbuatan Geon Hyeong di situasi ini, sepertinya ia bisa memahami posisi Geon Hyeong.

“Kau ini, pintar juga rupanya.”

Wanita yang seolah bergumam seorang diri itu menatap Geon Hyeong lurus-lurus. Wajahnya terlihat seolah sedang memikirkan sesuatu. Ternyata wanita ini memang bukan wanita yang bodoh. Hal ini pun ternyata menjadi nilai lebih di mata Gcon Hycong. Lalu, terdengar suara helaan napas Jason yang seolah menyela pembicaraan mereka.

Benar juga, ternyata orang ini juga tidak terlalu setuju dengan rencana temannya ini.

“Kau yakin tidak akan menyesal?”

“Apa maksudmu?”

“Karena menurutku, melepaskan wanita itu begitu saja merupakan tindakan yang benar-benar bodoh.”

“Shin Hee menginginkan semua ini. Dan aku juga ingin berbuat seperti ini untuknya. Oleh karena itu, aku butuh bantuanmu.”

Jung Won menghela napas putus asa dan Geon Hyeong yang pada akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan tersenyum dalam hati. Waruta ini, ia memang pintar dan pemberani, tetapi ternyata hatinya lemah dan mudah merasa kasihan pada orang lain. Jason melirik mata Geon Hyeong yang terlihat bersinar-sinar dari kaca spion dan menggeleng pelan. Sangat pelan hingga Jung Won yang ada bersama mereka tidak menyadarinya. Setelah Geon Hyeong sukscs mendapat Yzin' dari Jung Won, Jason menghentikan mobil itu di depan sebuah toko baju yang mewah. Begitu pintu mobil terbuka, berbeda dengan Geon Hyeong yang langsung berjalan santai memasuki toko, Jason segera mengulurkan tangannya menyambut Jung Won. Lelaki ini jelas lebih baik hati dan sopan daripada Geon Hyeong, meskipun pasti ia memihak temannya itu.

“Terima kasih.”

“Terima kasih karena mau membantu Geon Hyeong.”

“Tidak perlu berkata seperti itu. Tadi kau juga sudah dengar kan bagaimana ia memperlakukanku?”

Jung Won menyalahkan hatinya sendiri yang mudah merasa kasihan dan Jason tersenyum padanya sambil mengulurkan kartu namanya.

“Kenapa kau memberikan kartu namamu padaku?”

Jung Won tidak langsung menerima kartu nama itu dan malah menatapnya dengan tatapan penuh curiga. Jason tersenyum ramah melihat reaksi Jung Won, sementara ekspresi Jung Won sama sekali tidak berubah. Hm, apa aku tidak menarik di mata wanita ini? batin Jason. Sepertinya antaman Geon Hyeong dan pesonaku memang tidak mempan bagi wanita ini.

“Yah, siapa tahu saja, mungkin saja suatu saat kau akan membutuhkanku.”

“Sepertinya tidak akan ada hal seperti itu.”

Jung Won menyahut dengan tegas sambil menggelengkan kepalanya. Setelah hari ini berlalu, ia sama sekali tidak berminat menemui orang- orang ini lagi.

“Nasib manusia siapa yang tahu. Seandainya kau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku kapan saja.”

Jung Won sungguh berharap semoga saja ia tidak perlu harus meminta bantuan kepada lelaki ini. Namun, merasa tidak sopan membiarkan kartu nama itu tergantung begitu saja di hadapannya, ia akhirnya menerima kartu nama itu dengan wajah terpaksa. “Tolong bantu kami. Geon Hycong itu, sebenarnya dia anak baik.”

“Kelihatannya tidak seperti itu. Tapi sepertinya ia memiliki teman yang baik. Pokoknya berbeda dengan temannya yang sepertinya hidup bahagia.”

Tiba-tiba mereka merasakan tatapan tajam memandang ke arah mereka dari dalam toko yang seolah berkata “sedang apa kalian, kenapa tidak segera masuk?. Jason yang menyadari tatapan temannya itu meringis pelan sambil sedikit menyentuh punggung Jung Won, menyuruhnya menghampiri Gcon Hyeong yang menunggu di dalam toko itu.

Jung Won merasa seperti pengantin wanita yang akan segera dijual. Apa-apaan ini? Ta belum bisa menerima situasi yang tidak masuk akal ini dengan mudah, namun sepertinya kimi ia tidak bisa mundur lagi.

Seorang manajer yang mengenakan setelan jas hitam mewah memandang Jung Won dan pakaiannya lalu menggeleng pelan seolah merasa kasihan. Melihat tatapan tajam dan ckspresinya itu, Jung Won merasa diperlakukan seperti anak kecil yang tidak lulus ujian.

“Apa yang kau lakukan sebenarnya?”

“Kau mau pergi ke acara pernikahan dengan penampilan seperti itu?”

Ketika manajer toko itu dan asistennya mencarikan pakaian untuk Jung Won, tinggallah Jung Won berdua dengan Geon Hyeong. Jung Won protes kepada Geon Hyeong yang balas menyahutnya dingin “masa hal seperti ini saja kau tidak tahu”. Mendapat tatapan seperti itu, Jung Won lalu memandang jaket tuanya dan celana jinsnya yang sangat sederhana. Jelas sangat tidak sopan kalau ia menghadiri pernikahan orang lain dengan pakaian seperti ini. Namun, memakai pakaian yang dibelikan oleh lelaki ini pasti akan terasa sangat tidak nyaman juga.

“Bagaimana kalau mampir ke rumahku dulu sebentar?”

“Tidak. Sepertinya kau juga tidak punya pakaian yang pantas di rumah.” Mendengar jawaban lelaki ini yang kasar dan seenaknya itu, mau tidak mau Jung Won terpaksa menyalahkan dirinya sendiri yang mau menerima tawaran tidak masuk akal ini.

Bisa-bisanya aku mau mendampinginya menghadiri avara pernikahan itu? Bisa-bisanya aku merasa kasihan padanya meskipun hanya sesaat? Lalu, tidak mungkin kan aku harus mencoba memakai baju sebanyak itu?

Akan tetapi, dugaan Jung Won menjadi kenyataan. Setiap ia mencoba memakai pakaian-pakaian itu, lelaki itu menatapnya jauh lebih tajam daripada tatapan manajer toko itu. Hal itu membuat Jung Won rasanya hampir gila dan sesak napas.

Kalau ada orang lain yang melihat, mungkin mereka akan salah paham mengira tatapannya itu adalah tatapan perhatian seorang lelaki pada kekasihnya. Namun, Jung Won tahu pasti apa maksud tatapan tajamnya itu. Lelaki itu ingin meng-upgrade Jung Won dengan uang. Semakin mewah dan semakin banyak aksesori yang Jung Won kenakan, tatapan dan penilaiannya semakin tajam. Jung Won sama sekali tidak mengerti mengapa ia harus diperlakukan seperti ini, padahal dirinyalah yang membantu lelaki itu. Lelaki ini pasti selama ini salah mengartikan kata “minta tolong” dengan “memerintah atau “menyuruh'.

“Karena tubuhnya termasuk langsing, sepertinya ia cocok mengenakan pakaian apa saja.”

“Gaun hitam itu singkirkan saja, terlalu terbuka.”

“Wah, Direktur Kim ternyata agak konservatif ya.”

“Tidak lihat kalau bagian dadanya agak minim? Jadi, kalau ia mengenakan gaun itu, tidak bisa menampilkan sensasi sesuai yang diinginkan oleh perancang busananya. Tidak peka sekali.”

Oke, dadaku ini memang datar. Terserahlah, mungkin orang ini memang sangat peka. Tetapi tetap saja ia sama sekali tidak memiliki sopan santun.

Berbeda dengan manajer toko yang menanggapi ucapan itu dengan tawa datar, Jung Won terlihat hampir menangis dengan mata memerah.

“Jangan khawatir. Kalau dadamu terlalu besar, kau pasti tidak akan ada di tempat ini.”

“Kenapa?” “Pasti terlihat bodoh.”

“Hah, omong kosong. Jelas-jclas kau yang terlihat lebih bodoh. Kau tahu tidak, ukuran dada itu tidak ada hubungannya dengan ukuran otak. Justru orang seperti kau yang memilih warita hanya dari penampilan luarnya saja yang bodoh. Otak udang.”

Jung Won menyahut dengan ketus mendengar penilaian Geon Hyeong yang tidak masuk akal itu. Melihat pemandangan yang di luar dugaan itu, manajer toko itu terlihat panik. Manajer toko tidak menyangka kalau Jung Won berani melawan dan menghina Gcon Hyeong. Ia menatap wanita itu dengan cemas. Jung Won tidak peduli dan wajahnya seolah berkata “ini kan bukan kesalahanku”.

Akan tetapi, sepertinya kedua orang itu sama sekali tidak sadar dengan kesalahan masing-masing. Padahal, biasanya jarang ada orang yang semakin ketahuan perilaku buruknya setelah semakin sering bertemu dan berkomunikasi. Namun, orang seperti itu kini ada di depan matanya.

Meskipun Jung Won sudah memperkirakan sifat Geon Hycong sejak ia mencari istri melalui iklan di koran itu, ternyata yang lebih parah, lelaki ini hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Apa lelaki seperti ini benar-benar mengerti apa itu cinta? Apa sebenarnya dia benar-benar mencintai wanita itu?

Yah, wanita itu memang cantik. Mungkin dadanya juga besar. Entah kenapa, Jung Won yang biasanya tidak pernah memusingkan ukuran dadanya tiba-tiba merasa tidak puas dengan ukuran cup A-nya.

Geon IIyeong mengabaikan pendapat Jung Won sepenuhnya dan memilihkan sebuah gaun sutra berwarna pink muda, seperti warna bunga bluberi yang ada di dalam rumah kaca. Harus diakut, ia telah membuat Jung Won yang berbadan mungil itu terlihat menawan dan memesona.

Jung Won menundukkan kepalanya untuk merapikan bagian rok gaun itu dengan hati-hati agar tidak kusut ketika ia tanpa sengaja melihat kalung yang tergantung di lehernya. Kalung yang tidak cocok dikenakan dengan gaun ini. Jung Won ragu sesaat apakah sebaiknya ia melepas kalung ini atau tidak. Namun, ia tidak ingin sampai harus berbuat seperti itu dalam sandiwara yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan ini. Acara pernikahan orang lain, gaun dan sepatu yang dipilihkan oleh orang lain, sampa didandani sesuai selera orang lain. Semua itu benar-benar membuat Jung Won merasa tidak nyaman. Jung Won menyembunyikan kalungnya di balik pakaian dalamnya dan memohon.

Ibu, semoga urusanku dengan orang ini banya sampai di sini saja.

Jung Won kembah merapikan gaunnya dengan wajah tidak nyaman.

“Aku sebenarnya tidak membutuhkan semua ini.”

“Ini semua juga untuk dirimu sendiri. Anggap saja sebagai baju baja untuk persiapan perang.”

Mendengar gumaman Geon Hycong yang scolah hendak menghiburnya, Jung Won menatap “baju baja” cantik yang dikenakannya. Bajx baja? Memangnya gaun tipis inn mampu melindunginya dari serangan apa?

“Baju baja?”

“Mungkin saja orang-orang itu nanti akan menyerangmu.”

Geon Hyeong memperingatkan Jung Won dengan wajah tanpa ekspresi.

Geon Hyeong tahu alasan Shin Hee mengundang dirinya dan Jung Won. Mungkin saja itu bukan hanya undangan dari Shin Hee, melainkan juga undangan dari ibunya sendiri, keluarga Shin Hee, dan keluarganya sendiri. Kali ini, Geon Hyeong pun memiliki tujuan yang sama dengan orang-orang yang memiliki maksud dan tujuan tertentu ita. Oleh karena itu, pasti seluruh tatapan mereka akan tertuju pada wanita yang mendampinginya di acara pernikahan itu.

“Siapa?”

“Misalnya, orang-orang di sekitarku?”

“Orang-orang di sekitarmu? Maksudmu keluargamu? Ini kan tidak sesuai dengan perjanjian kita.” Jung Won berseru dengan nada panik. Keluarganya? Ia sama sekali tidak berniat untuk menemui keluarga laki-laki yang belum terlalu 1a kenal ini di acara pernikahan seorang wanita yang bahkan tidak ia kenal.

“Mungkin.”

“Sepertinya tidak hanya sekadar “mungkin.”

Jung Won membelalakkan matanya menatap Geon IIyeong yang pura-pura tidak melihatnya.

“Jangan khawatir. Toh setelah acara hari ini, kau tidak akan bertemu dengan mereka lagi.”

“Termasuk bertemu denganmu, kuharap.”

Jung Won berkata dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya dengan keluarganya, ia juga sudah berniat untuk mengakhiri urusannya dengan lelaki imi. Lalu, ia tidak akan membiarkan dirinya “diserang” olch keluarga Geon Hyeong begitu saja.

“Tapi, kenapa keluargamu akan menyerangku?”

“Karena mereka akan mengira kau adalah kekasihku, meskipun hanya untuk satu hari ini.”

Jung Won kembali mengernyitkan dahinya mendengar kata “kekasihku. Jung Won bukan kekasih siapa pun dan bahkan ia sama sekali tidak berniat menjadi kekasih laki-laki ini. Lagi pula, kenapa orang-orang itu menyerang kekasih lelaki in? Apa jangan-jangan lelaki ini juga sering mengancam dan menculik keluarganya? Meskipun Jung Won tahu bahwa lelaki ini memang kurang ajar dan ia bisa memaklumi jika lelaki ini memiliki musuh di mana-mana, bukankah yang namanya keluarga tetaplah keluarga?

“Sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada keluargamu?”

“Kan sudah kukatakan, kalau aku ini anak yang lahir di luar nikah.”

“Jadi, mereka mau memisahkanmu dengan kekasihmu, begitu?”

Geon Hycong memang menyahut dengan wajah datar, namun Jung Won tidak bisa tidak mengerutkan dahinya. Ternyata, keluarganya tega memisahkannya dari kekasihnya hanya karena lelaki ini adalah anak yang lahir di luar nikah. Padahal, tidak ada siapa pun yang berhak untuk berbuat seperti itu di dunia ini. “Begitulah.”

“Aku tidak mengerti. Jangan-jangan kau pernah melakukan kesalahan pada orang-orang itu?”

Jung Won yang tadinya berpikir bahwa itu bukan urusannya akhirnya bertanya dengan tidak sabar. Kali ini adalah ketiga kalinya ia bertemu lelaki ini. Setiap betemu dengannya, lelaki ini selalu membuat emosi dan amarah Jung Won memuncak. Meskipun lelaki ini adalah orang lain baginya, perlahan ia mulai mengenal lelaki yang tidak terasa seperti “orang lain baginya.

“Lahir sebagai anak di luar nikah adalah sebuah kesalahan. Makanya mereka bersikap seperti itu.”

“Kesalahan? Memangnya siapa yang mengatakan itu padamu?”

Jung Won yang tadinya ragu, kini bertanya dengan tajam sambil menatap Geon Hyeong. Ucapan seperti itu bukan hanya tidak adil, tetapi juga sangat kejam dan tidak beradab. Memangnya siapa yang bisa mengendalikan kelahiran seseorang di dunia ini? Memangnya ada orang yang bisa memilih orangtuanya sendiri?

“Belum ada.”

Geon Hyeong menjawab dengan ringan sambil menatap Jung Won yang berapi-api. Ia memang pernah beberapa kali mendengar orang berbisik-bisik mengenai dirinya ketika ia masih kecil. Namun, ketika ia ditentukan sebagai salah satu calon penerus Goryo Grup, perlakuan orang-orang di sekitarnya langsung berubah. Meskipun orang-orang membenci dan mencemoohnya, tidak ada yang berani terang-terangan berkata seperti itu padanya.

“Sepertinya mereka membicarakanku di belakang, tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin repot mengurusi para pengecut seperti itu.”

“Benarkah?”

Jung Won menatapnya dengan tatapan penuh arti. Gcon Hycong yang sempat terdiam melihat tatapan wanita yang polos dan jujur itu kemudian tersadar dari lamunannya dan memalingkan wajahnya.

“Apa maksudmu?” “Aku juga tidak suka mendengar sebutan fanak yatim piatu”. Baik di belakang maupun di depanku.”

Jung Won berkata dengan suara pelan. Sebutan itu seolah menggambarkan kisah hidup mengerikan seorang anak yang tumbuh besar tanpa orangtuanya. Ia juga tidak suka mendengar ucapan yang mengatakan “pantas saja tingkahnya seperti itu, pasti karena tidak punya orangtua”. Decakan sedih dan tatapan kasihan dari orang lain juga membawa luka bagi Jung Won dan adik-adiknya. Oleh karena itu, ia harus menjadi kakak yang lebih kuat bagi adik-adiknya. Sekarang, mau tidak mau ia harus menghadapi perlakuan keluarga lelaki ini yang mungkin saja lebih keras dari itu.

Ia tahu pasti bagaimana perasaan seseorang yang selalu mendapat penolakan.

Ia pun tahu betapa besar rasa kesepian yang harus ditangani seorang diri dalam situasi itu.

Ia juga tahu betapa tajamnya tatapan orang lain.

Untuk kali ini, Gcon Hycong tidak bisa menatap tatapan mata Jung Won yang memandangnya dengan serius.

Mereka kemudian tiba di sebuah hotel terkenal yang namanya pernah Jung Won dengar sebelumnya. Begitu mereka turun dari mobil, Gcon Hyecong mengulurkan tangannya ke pinggang Jung Won yang membuatnya terkejut.

“Cepat pegang tanganku.”

“Sudahlah, aku bisa jalan sendiri.”

Akan tetapi, melihat wajah Geon Hyeong yang mengabaikan pendapatnya, lagi-lagi Jung Won menyerah dan menurutinya. Percuma saja berdebat dengan orang ini. Jung Won yang menatap uluran tangan Geon Hyeong dengan sebal itu akhirnya terpaksa menggandeng lengan Gcon Hycong. Seketika itu juga, rasa hangat yang mengalir dari tubuh Geon Hyeong membuat aliran darahnya seolah lebih cepat. Layar penutup panggung perlahan mulai diangkat.

“Apa yang nanti harus kulakukan?”

“Tidak ada.” Jung Won berbisik pelan dengan nada cemas sementara Gcon Hycong tetap menyahut dengan dingin.

Sesaat Jung Won sempat kesal dengan perlakuan dinginnya itu. Namun, ia dapat merasakan dari ujung tangannya bahwa Geon Hyeong pun merasa cemas. Jung Won pun sadar bahwa sikap dinginnya itu tidak sungguh-sungguh. Lelaki ini pun berusaha sabar dan bertahan dalam situasi ini.

Tentu saja sulit baginya untuk bersikap santai saat ini, di situasi kctika 1a harus melepaskan wanita yang ia cintai untuk menikah dengan orang lain.

Akan tetapi, situasi ini juga bukan situasi yang mudah bagi Jung Won. Setelah diancam dan dimintai tolong, sekarang ia harus berpura- pura akrab dengan lelaki yang sebenarnya bukan siapa-siapa baginya. Apalagi, ia juga harus bertemu dengan wanita yang dicintai oleh lelaki ini dan mungkin dengan keluarganya juga. Di tengah lingkungan dan orang-orang yang sama sekali asing itu, Jung Won merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia menyentuh kalung cincin pemberian ibunya yang tersembunyi di balik bajunya dan menarik napas panjang.

“Hei, tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Tentu saja. Asalkan kau tetap tutup mulut.”

Mendengar Jung Won yang menghiburnya pelan, lelaki itu kembali menyahut dingin.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak usah berkata apa-apa, diam saja.”

“Tidak usah berkata apa-apa?”

Jung Won kembali bertanya menanggapi ucapan yang bernada memerintah itu. Tidak usah berkata apa-apa katanya? Rasa simpati sesaat Jung Won pada Geon Hyeong langsung hilang begitu saja.

“Iya. Toh ucapanmu itu pasti tidak akan membantuku sama sekali. Kalau sampai kau berani berkata macam-macam, aku tidak akan memaafkanmu.”

“Sepertinya lebih baik kalau aku berkata macam-macam lalu kita berpisah. Setidaknya aku lebih nyaman seperti itu.” “Bukankah kau berkata, di dunia ini tidak hanya ada yang namanya “mengancam”, tapi juga “minta tolong?”

Hah. Benar-benar orang ini. Geon Hyeong membalikkan perkataan Jung Won. Berani-beraninya orang yang telah menyeretnya ke situasi yang tidak masuk akal ini malah mengguruinya.

“Kau ini benar-benar...”

“Aku serius. Aku mohon, jangan mengucapkan sepatah kata pun. Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan ucapan yang tidak perlu.”

Mendengar permintaannya yang tidak masuk akal itu, Jung Won memandangnya dengan kesal. Sementara itu, Geon Hyeong terlihat tidak peduli dengan reaksi Jung Won. Ada sesuatu yang memang menjadi bakat sejak lahir dan ada juga scsuatu yang tidak bisa disembunyikan. Meskipun wanita ini sudah “dibungkus” dengan gaun dan make up yang mewah, Geon Hyeong tidak berani berharap wanita imi bisa bersikap dengan mewah seperti Shin Hee. Namun, sebagai gantinya, Jung Won memiliki keberanian dan ketegaran yang bahkan sulit dikalahkan oleh Geon Hyeong. Harga dirinya yang tidak bisa diremehkan di dunia ini. Satu hal itu saja cukup untuk membuatnya bertahan di situasi ini. Mudah-mudahan.

“Baiklah, kalau kau memohon padaku.”

“Aku mohon.”

Huh, baiklah. Pasti sebenarnya ia malu padaku kan?

Jung Won berdecak melihat wajah Geon Hyeong yang semakin tegang dan memperingatkannya dengan nada dingin.

Bukan kau saja yang malu padaku, aku juga sama sekali tidak bangga dengan sifatmu yang seperti itu.

Sebelum Geon Hyeong sempat mengucapkan apa-apa lagi pada Jung Won, tiba-tiba ibu tirinya dan para bibinya menghampiri mereka. Merasakan tangan yang memeluk pinggang Jung Won semakin kuat, Jung Won bergantian menatap Geon Hyeong dan wanita yang datang menghampiri mereka. Seorang wanita separuh baya menatap Jung Won dengan tajam. Ia terlihat cantik namun dingin. Gaunnya yang berwarna perak terlihat mewah namun terasa kaku.

“Tadi, ini kekasihmu?”

“Ini ibuku. Dan ini bibi-bibiku. Cepat beri salam.”

Geon Hyeong memperkenalkan keluarganya secara singkat dan sebelum Jung Won sempat membuka mulutnya mengucapkan salam, salah seorang bibinya kembali mengkritiknya.

“Masa perempuan seperti ini bisa menjadi pacarmu?”

“Lama-lama kau mirip sekali dengan ayahmu, tidak tahu aturan.”

Jung Won berdiri dalam diam sementara penilaian para bibi Geon Hyeong semakin tajam. Meskipun Geon Hyeong tidak melarangnya berkata sepatah kata pun, sepertinya ia juga memang tidak akan memiliki kesempatan untuk membuka mulutnya. Seperti kata Gcon Hyeong tadi, Jung Won benar-benar diserang dengan tatapan dingin dan komentar tajam mereka.

“Keluarganya kerja apa?”

“Tidak perlu tahu.”

Geon Hyeong menyahut singkat mendengar pertanyaan Nyonya Oh yang sejak tadi memperhatikan Jung Won sambil menyembunyikan senyum puasnya. Identitas Jung Won yang sesungguhnya mungkin memang bisa terbongkar dalam sekejap. Namun, orang-orang itu belum mengetahui keberanian yang tersembunyi dalam diri Jung Won. Senjata rahasia. Pasti Jung Won yang akan menang dalam pertarungan ini.

“Aku tidak bertanya padamu. Lalu, kau tidak punya mulut ya?”

“Kau tidak tahu bagaimana cara mengucapkan salam? Masa kau hanya mengangguk-angguk seperti itu di depan orang tua.”

Kali ini, bibi-bibi yang lain kembali mengkritik Jung Won yang hanya tersenyum menanggapinya. Berdasarkan pengalamannya terjun di masyarakat sosial selama ini, Jung Won tahu betul bahwa senyuman merupakan bentuk ucapan salam yang paling baik saat lawan bicaranya tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Para bibi yang selalu memotong pembicaraan setiap Jung Won hendak berkata sesuatu itu beberapa saat kemudian pergi meninggalkan mereka. Benar-benar scbuah sikap yang kasar dan tidak menghargai orang lain. Nyonya Oh yang tetap tinggal di tempat itu sekali lagi menatap Jung Won dengan tajam. Wajahnya memang sama sekali tidak ia kenal, namun sejak pertama melihatnya, Jung Won tahu bahwa orang ini tidak perlu dikhawatirkan.

“Kau ini memang pendiam ya? Atau tidak bisa bicara?”

Mendengar pertanyaan yang penuh dengan nada curiga itu pun, Jung Won tetap menjawab dengan senyuman pahit. Sementara, Nyonya Oh yang tadi terlihat puas kini terlihat tidak senang.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk membawa wanita yang bisu.”

“Sepertinya itu bukan urusanmu.”

“Ternyata kau memilih wanita yang sifatnya juga sepertimu, ya.”

Kali ini Nyonya Oh bergumam pelan dengan nada mencemooh tanpa melirik Jung Won sedikit pun. Ia kemudian meninggalkan mereka dan masuk kembali ke tempat acara pernikahan. Terlihat kepuasan terpancar dari langkahnya yang tegar. Mungkin ini lebih dari yang ia harapkan. Mungkin saja ia berharap hubungan antara Geon Hyeong dan wanita yang tetap tutup mulut sambil memperhatikan sekelilingnya itu bisa berlanjut, seperti yang dunginkan oleh keluarganya.

Begitu keluarganya hilang dari pandangannya, Geon Hyeong menarik Jung Won yang tetap membungkam mulutnya dan memperhatikan sekelilingnya sambil tersenyum itu ke salah satu sisi lobi.

“Apa-apaan kau ini?”

“Katanya aku tidak boleh mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya melakukan sesuai yang kau minta. Apalagi tadi kau sampai memohon-mohon padaku.”

Jung Won menanggapi protes Geon Hyeong dengan santai.

Geon Hyeong sesaat lupa kalau warita ini bukanlah wanita yang mudah diatur. Meskipun ia malas berurusan dengan wanita yang bodoh, berhadapan dengan wanita yang terlalu pintar juga ternyata sangat melelahkan. Sulit untuk menang berdebat dengan wanita ini. Karena bisa saja ia akan kehilangan lebih banyak daripada apa yang telah ia dapatkan.

Akan tetapi, ternyata wanita ini boleh juga dalam bertahan di situasi ini. Wanita ini ternyata memang pilihan yang tepat.

Balai pernikahan di hotel itu merupakan tempat mewah pertama yang didatangi oleh Jung Won. Meskipun lobi hotel itu saja sudah sangat mewah baginya, begitu memasuki balai pernikahan dan menginjakkan kakinya di karpet yang berwarna terang dan terlihat mahal itu, Jung Won seolah melupakan berbagai kekhawatiran di otaknya. Ia menghela napas dengan kagum.

Ruangan luas itu dipenuhi suara musik yang tenang dan wewangian yang lembut. Dindingnya yang berwarna keemasan dihiasi tirai putih dan di segala penjuru ruangan dihiasi buket mawar putih dan bunga peony berwarna merah muda. Di langit-langitnya yang tinggi, tampak lampu gantung mewah dengan hiasan kanopi berwarna putih di sekitarnya. Sementara, di tepi jalan yang akan dilalui oleh mempelai wanita dihiasi dengan karangan bunga berbentuk lingkaran dan diselingi oleh lin dengan pegangan perak. Sebuah dekorasi yang membuat balai pernikahan itu terlihat sangat clegan.

Selain ruangan yang mewah itu, para tamu yang berpakaian rapi dan cantik serta suasana yang elegan juga membuat Jung Won merasa kagum dan terkejut di saat yang bersamaan. Ternyata ada juga acara pernikahan seperti ini, pikirnya. Barulah ia mengerti dan berterima kasih pada Geon Hyeong yang telah memilihkan gaun yang ia kenakan saat itu. Jung Won menundukkan badannya ke arah keranjang bunga berhiaskan renda di tengah meja dan Geon Hyeong segera menegurnya.

“Jangan bertingkah yang mencurigakan.”

“Bunga lisian ungu dan hortensia.”

Jung Won pura-pura tidak mendengar peringatan Geon Hyeong dan menunjuk ke arah keranjang bunga cantik yang terletak di tengah meja itu. “Lalu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Jung Won sangat mengagumi karangan bunga yang terlihat indah dan mudah rapuh itu, sementara Geon Hyeong terlihat sama sekali tidak tertarik.

Benar juga, memangnya ada yang bisa kuharapkan dari orang ini?

Jung Won kembali menegakkan badannya dan duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Geon Hyeong. Kartu-kartu undangan yang berhiaskan satin kecmasan terletak dengan rapi di sebuah nampan kecil keperakan yang tampak bersinar di bawah sinar lilin putih. Kemudian, di langit-langitnya juga tampak hiasan bunga mawar yang tergantung seperti pohon natal dan mengeluarkan wangi yang lembut. Pemandangan di dalam ruangan itu benar-benar luar biasa.

“Kau tahu tidak mengapa bunga-bunga mawar itu tergantung di balai pernikahan seperti ini?”

“Apa itu penting?”

“Bunga mawar adalah bunga rahasia yang menjaga rahasia scbuah perselingkuhan. Konon, bunga mawar dikirim oleh dewa kesunyian yang berjanji akan menjaga seluruh rahasia itu.”

Itu hanyalah sebuah mitos mengenai bunga. Namun, Geon Hyeong mengerutkan dahinya mendengar cerita Jung Won. Apalagi yang membuatnya seperti itu?

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada. Hanya cerita mengenai bunga mawar.”

Geon Hyeong kelihatannya tidak terlalu tertarik dengan jawaban Jung Won. Tiba-tiba, eskpresi wajah Geon Hyeong berubah dan ia segera berdiri dari duduknya sebelum Jung Won melanjutkan ucapannya. Seorang wanita paruh baya datang menghampiri meja mereka dengan wajah terkejut dan tidak percaya.

“Yang benar saja, apa ini perbuatanmu?”

“Tolong jelaskan apa yang terjadi.” Wanita yang tiba-tiba datang itu sepertinya adalah ibu dari mempelai wanita. Ia mengenakan hanbok'' anggun dengan mawar merah muda yang tergantung di dadanya dan sarung tangan putih. Jung Won menatap warita yang tampak terkejut itu dan Geon Hyeong yang kelihatannya tenang namun sebenarnya merasa gugup secara bergantian.

“Shin Hee menghilang.”

Jung Won dapat mendengar wanita itu berbisik pelan, berusaha agar para tamu di sekelilingnya tidak mendengar.

Shin Hee. Wanita itu menghilang di hari pernikahannya? Jung Won menatap Geon Hyeong dengan tatapan terkejut. Astaga, apa benar ini semua ulahnya? Saat itulah Jung Won sadar kalau adegan mempelai wanita yang kabur meninggalkan mempelai laki-lakinya tidak scindah dan sesederhana yang ia lihat di dalam film.

“Benarkah ini bukan perbuatanmu?”

“Kalau memang ini perbuatanku, pasti aku berada bersama Shin Hee saat ini. Bukan dengan wanita ini.”

Mendengar jawaban Geon Hyeong yang tenang, ibu Shin Hee lalu memandang Jung Won yang terbelalak dan panik.

Tatapan wanita ini berbeda dengan tatapan ibu tiri dan para bibi Gcon Hyeong tadi. Tatapan penuh penilaian, rasa lega, dan berubah menjadi tatapan putus asa. Kali ini pun, Jung Won benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah, karena kau adalah orang yang menepati janjimu. Kalau begitu, sebenarnya ke mana perginya anak itu?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Kau sama sekali tidak tahu? Ah, benar juga. Kau harus tetap pura- pura tidak tahu. Kalau Shin Hee mencarimu pun, tolong abaikan saja dia. Aku mohon.”

“Jangan khawatir. Aku akan menepati janjiku.” --Note 11 Baju tradisional Korea--

Sebelum wanita itu scmpat mengucapkan terima kasih, Geon Hycong segera memegang tangan Jung Won dan mengajaknya meninggalkan ruangan itu.

Jung Won yang seolah terseret karena kesulitan menyesuaikan langkahnya dengan Geon Hyeong dapat merasakan ketegangan mengalir di seluruh tubuh lelaki itu. Ia pun tidak berani menyentakkan tangannya atau berteriak padanya.

Tatapan para tamu yang menanti-nanti dimulainya acara pernikahan itu semua tertuju pada pewaris Goryo Grup dan pasangannya yang berjalan melintasi tengah ruangan. Namun, Geon Hyeong dan Jung Won sama sekali tidak memiliki waktu untuk memedulikan tatapan- tatapan itu. Sekarang bukan saatnya mereka memusingkan hal itu.

Dalam sekejap, mereka keluar meninggalkan tempat acara pernikahan itu dan masuk ke mobil. Namun, keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Di situasi seperti ini, hanya ada satu hal yang bisa mereka pastikan. Bahwa meskipun mereka sudah bersandiwara untuk menghadiri acara ini, pernikahan hari im tidak akan bisa dijalankan.

“Kau tidak apa-apa?”

“Bukan urusanmu.”

Tidak tahan dengan suasana kaku dan tegang di dalam mobil itu, Jung Won akhirnya melontarkan pertanyaan dengan pelan kepada Geon Hyeong. Namun, yang ia dapat hanyalah jawaban yang dingin dan cuek. Meskipun begitu, kali ini Jung Won dapat memahaminya. Bukan pertanyaan seperti itulah yang diperlukan oleh orang yang pikirannya sedang kalut seperti ini.

Jung Won memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela. Geon Hyeong pun tetap tidak memedulikan Jung Won dan menyalakan mesin mobilnya. Tiba-tiba, sescorang mengetuk kaca jendela mobil yang baru saja hendak berjalan itu.

“Apakah Anda Kim Geon Hyeong?” Masih dengan wajah datarnya, Geon Hycong menurunkan kaca jendela dan seorang laki-laki yang mengenakan seragam dan terlihat seperti karyawan hotel mengecek identitasnya.

“Ada apa?”

“Ini, Nona Yoo Shin Hee meminta saya untuk menyampaikan ini.”

Lelaki itu mengulurkan sesuatu dengan hati-hati ke kaca jendela mobil Geon Hyeong. Sebuah buket cantik berisi bunga mawar merah muda, bunga 44 of the valley, dan dihiasi oleh alangium.

Astaga. Jung Won menyembunyikan rasa terkejutnya diam-diam. Ekspresi Geon Hyeong yang menerima buket itu dengan tangannya terlihat lebih datar daripada yang ia duga. Namun, untuk pertama kalinya Jung Won yakin bahwa ia melihat rasa terkejut dan panik di tatapan mata Geon Hycong.

Begitu rupanya. Ternyata orang ini hanya menyatakan perasaannya melalu tatapan matanya. Ekspresi wajahnya yang dingin dan datar itu sepertinya adalah ekspresi yang secara otomatis terlihat dari tubuhnya selama ini. Tangannya terlihat pucat karena memegang buket itu begitu erat.

“Jangan bertanya apa-apa.”

“Tidak ada yang ingin kutanyakan.”

“Jangan mengatakan hal ini pada orang lain.”

“Tidak ada orang lain yang bisa kuceritakan mengenai hal ini.”

Mendengar jawaban Jung Won yang tetap tenang, barulah Geon Hyeong yang sejak tadi menatap Jung Won memalingkan wajahnya. Ia lalu meletakkan buket bunga itu dengan hati-hati di kursi belakang dan menjalankan mobilnya.

Jung Won berusaha keras mengabaikan wangi yang muncul dari buket bunga di kursi belakang dan berusaha menghapus berbagai imajinasi yang muncul di dalam benaknya.

Makna dari mawar merah muda adalah janji cinta, bunga 4/y of the valley adalah kebahagiaan yang datang kembali, dan alangium adalah....

Apakah wanita yang mengirimkan bunga ini mengetahui makna dari bunga-bunga ini? Lalu, apakah lelaki ini juga tahu? Jung Won sekilas melirik ke arah buket bunga di kursi belakang dan Geon Hycong yang duduk di sebelahnya.

Bagaimana perasaannya saat ini? Apakah ia bahagia, atau justru... sakit hati?

Setelah melewati perjalanan yang sangat tidak nyaman, akhirnya mobil yang membawa mereka tiba di depan rumah Jung Won. Jung Won segera membuka pintu mobil dan turun. Geon Hyeong pun mematikan mesin mobilnya dan perlahan turun dari mobilnya.

“Mulai sekarang, kita tidak usah bertemu lagi.”

“Baiklah.”

Mendengar jawaban itu, Jung Won tersenyum kecil. Lelaki imi adalah orang yang tidak boleh ia temui lagi. Orang yang tidak ingin ia lihat lagi. Namun, Jung Won mendadak terkejut dan panik mendengar gumaman Geon Hyeong berikutnya.

“Tapi aku juga tidak yakin.”

“Apa maksudmu?”

Jung Won bertanya dengan tatapan memperingatkan sementara Geon Hyeong hanya diam.

Geon Hyeong bukannya tidak tahu apa arti dari batalnya pernikahan Shin Hec.

Pasti kondisi di dunia finansial akan kacau dan muncul berbagai gosip serta berita yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Di tengah kekacauan itu semua, berita mengenai Kim Geon Hyeong yang seorang pewaris Goryo Grup pasti tidak akan terlewatkan. Untuk melepaskan diri dari berbagai berita dan gosip itu, mungkin saja ia akan membutuhkan bantuan wanita ini lagi. Geon Hyeong mengambil buket bunga yang tadi ia letakkan di kursi belakang mobilnya dan memberikannya pada Jung Won. Jung Won yang tidak menyangka dan terkejut dengan sikapnya itu membelalakkan matanya.

“Kenapa kau memberikan ini padaku?”

“Karena aku tidak membutuhkannya.”

“Aku juga tidak membutuhkannya.” Jung Won berkata dengan sungguh-sungguh dan menggelengkan kepalanya. Meskipun bunga-bunga itu sangat cantik, :a tidak ingin memiliki bunga yang menjadi bentuk pernyataan cinta orang lain. Jung Won mengembalikan buket bunga yang tadi disodorkan ke dalam tangannya oleh Geon Hyeong, namun wajah lelaki itu terlihat sama sekali tidak tertarik dengan buket bunga itu.

“Kalau begitu, buang saja.”

“Astaga. Kau menyuruhku membuang bunga ini? Bunga secantik ini?”

Begitu Jung Won yakin bahwa lelaki itu akan membuang buket bunga ini, ia segera memegang erat buket bunga itu kembali.

Cinta adalah cinta dan bunga adalah bunga. Hanya karena kisah percintaan mercka yang menyedihkan, Jung Won tidak tega jika bunga- bunga ini sampai harus ikut menerima akibatnya. Setelah membereskan buket bunga itu, Geon Hyeong berbalik dengan wajah datar dan untuk pertama kalinya, Jung Won menahannya terlebih dahulu.

“Tunggu.”

“Kenapa?”

Wajahnya seolah berkata “memangnya ada lagi yang perlu kita bicarakan?”

“Yang lainnya bagaimana?”

“Yang lainnya?”

Geon Hyeong mengernyitkan dahinya, bingung mendengar pertanyaan itu. Jung Won lalu menunjuk gaun yang ia kenakan dan tas yang ia bawa. Meskipun kakinya tidak cantik, ia juga memperlihatkan kakinya yang mengenakan sepatu kulit domba mewah.

“Gaun dan tas ini. Lalu sepatu. Bagaimana kalau nanti kukirim lewat pos?”

“Buat apa aku menerima semua itu?”

“Barang-barang ini terlalu mahal untuk dibiarkan begitu saja.”

Lagi pula, barang-barang ini terlalu mewah untuk dimiliki oleh Jung Won. Gaun-gaun yang tadi ia coba di toko itu tidak memiliki label harga dan Jung Won tidak ingin membayangkan berapa harga gaun- gaun itu. Sepertinya pakaian mahal seperti ini adalah “scragam' yang ia janjikan di iklan istri kontrak itu. Kalau seperti itu, berarti orang ini memang sungguh-sungguh saat memasang iklan itu.

“Apa aku juga harus mengurusi hal-hal seperti itu?”

“Tapi...”

Melihat Jung Won yang menggantungkan ucapannya, Geon Hyeong tanpa sadar tertawa heran di tengah situasi itu.

Wanita ini, benar-benar tidak bisa diduga. Geon Hyeong baru pertama kali melihat seseorang yang akan mengirimkan pakaian dan tas mahal yang telah ia belikan melalui pos.

“Kalau kau tidak perlu, buang saja. Aku juga tidak membutuhkannya.”

“Kau ini senang sekali membuang-buang barang ya.”

Jung Won menggerutu kesal dan menyerah menghadapinya. Meskipun gaun dan tas ini terlalu mahal untuknya, membuang barang mahal seperti ini pun sepertinya sangat keterlaluan.

“Anggap saja kenang-kenangan dariku, karcna kau banyak membantuku hari ini.”

“Aku tidak terlalu suka kenang-kenangan mahal seperti ini.”

Lagi pula, bukan dirinya yang pantas menerima kenang-kenangan hari ini.

“Selamat tinggal. Dan semuanya akan baik-baik saja. Mungkin.”

Mendengar ucapan perpisahan tulus dari seorang wanita yang ia pilih dengan susah payah itu, Geon Hyeong menatapnya selama beberapa saat, seolah hendak membaca isi hati Jung Won. Setelah membuat Jung Won sedikit malu dengan tatapannya itu, barulah Geon Hyeong berbisik pelan, “Tya. Semoga saja. Sungguh.”

Mobil yang 1a kendarai kemudian menghilang dari pandangan Jung Won. Meninggalkan buket bunga yang cantik, gaun dan tas yang mahal, serta Jung Won dengan berbagai pikiran rumit di otaknya.

Semoga saja semuanya baik-baik saja. Lelaki itu, juga wanita yang divintainya. Jung Won berdoa demi orang-orang di luar sana yang menderita karena cinta, yang sakit hati karena perpisahan.

Orang yang dicintai dan orang yang sedang jatuh cinta, semoga mereka bisa berbahagia dan tidak terluka lagi.