--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 03 : Awal kemenangan

Bab 03 : Awal kemenangan

Hee Won yang menyadari bahwa corni-nya sedang sangat marah dan bisa meledak sewaktu-waktu akhirnya bertekad untuk tidak membuat masalah lagi dalam waktu dekat. Oleh karena itu, ketika menerima sebuah telepon dari seseorang yang tidak ia kenal pun, ia berusaha mengendalikan dirinya sebaik mungkin. Namun, akhirnya ia menyerah setclah mendengar bujuk rayu yang tanpa henti dan tutur kata yang penuh sopan santun. Tidak, sebenarnya ia hanya tidak bisa menahan rasa penasarannya yang begitu besar. Kalau conui sudah pernah bertemu dengan lelaki itu, berarti tidak masalah juga kalau aku bertemu dengannya, begitu pikir Hee Won. Meskipun ia merasa bersalah pada kakaknya, sepertinya tidak apa-apa jika ia hanya bertemu sebentar dengan lelaki itu dan mendengar penjelasannya. Ia memiliki prinsip bahwa jika kesempatan yang ada di dunia ini tidak dimulai dan dicoba, maka akan berlalu begitu saja seperti waktu-waktu yang lain.

Akan tetapi, Hee Won sempat tertegun ragu di depan gedung kantor pusat Goryo Grup yang terbuat dari kaca dan bersinar menyilaukan matanya.

Jadi, orang yang memasang iklan itu adalah orang dari Goryo Grup.

Mungkin saja ini memang kesempatan baik baginya, pikir Hee Won. Atau bisa saja ini menjadi jebakan baginya, seperti ucapan kakaknya.

Hee Won berjalan ke meja resepsionis tempat namanya sudah tertera dan ia langsung menaiki lift menuju ke ruang rapat yang berada di lantai 48. Ia memandang ke ruangan bergaya mewah di sekelilingnya dengan kagum. Meskipun pemandangan di sekitarnya menciutkan nyali seorang Hee Won yang baru berumur 20 tahun, Hee Won tetap berusaha untuk menegakkan pundaknya. Selalu bersikap tegar. Itu pesan kakaknya. Ia tinggal bertiga saja dengan kakaknya dan Sung Won sejak ia berumur enam tahun. Sejak saat itu, conri-nya yang menjadi orangtua, koki, dan pelindung mereka. Karena corsi-nya selalu menyuruhnya untuk selalu tegar, ia tidak punya alasan untuk tidak bersikap seperti itu. Seandainya saja ia tidak mengirimkan CV palsu itu, ja pasti bisa bersikap lebih tegar dan berani lagi. Meskipun demikian, Hee Won berusaha keras untuk tetap tenang dan berani di situasi ini.

Dua orang lelaki kemudian berjalan menghampiri Hee Woon yang berdiri menunggu dengan sebuah meja besar terletak di depannya. Di mata Hee Won yang biasanya sangat selektif dalam menilai laki-laki, keduanya terlihat sangat memesona. Seorang laki-laki yang berdiri di salah satu sisi meja itu jelas seorang berdarah campuran dengan wajah yang sangat tampan dan senyum ceria. Sementara, scorang laki-laki berbadan tegap yang berdiri di sisi tengah meja terlihat tanpa ekspresi namun mempunyai karisma tersendiri yang mampu mengalihkan perhatian orang di sekelilingnya. Hee Won bergidik ngeri membayangkan lelaki menyeramkan itu hampir saja menjadi suaminya. Ternyata kali ini pun ucapan kakaknya benar. Lelaki ini memang bukan lelaki sembarangan yang bisa ia tangani.

« Annyeonghaseyo?.”

“Hec Won-ss710, kau yang mengirimkan dokumen ini, kan?”

Lelaki berdarah campuran yang penampilannya terlihat lembut itu ternyata juga memiliki suara yang enak didengar. Sementara, lelaki satunya lagi yang memperhatikan Hee Won dari ujung kepala sampai ujung kaki, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehangatan.

“Benar, tapi maaf sekali, aku tidak bisa menerimanya.”

Hee Won menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan pertama salah seorang lelaki yang terlihat lebih tampan itu. Rasa penasarannya kini telah lenyap. Kalau con#i-nya sampai tahu ia datang ke tempat ini saja, pasti ia akan marah besar. Ia tidak bisa membuat masalah lain lagi. Hee Won terus mengucapkan kata “tidak' di dalam hatinya.

“Aku belum berkata apa-apa.”

“Aku tahu, tapi apa pun perkataanmu, jawabanku tetap sama.”

Seolah terkejut mendengar jawaban Hee Won yang tergesa-gesa itu, salah seorang lelaki yang tampan itu tertawa pelan. Namun, Hee Won --Note 9 Annyeonghaseyo- halo 10 csi- akhiran pada nama seseorang yang menunjukkan penghormatan--

tetap memasang wajah serius. Kang Hee Won yang masih terbilang anak-anak itu pun sadar bahwa kedua lelaki itu bukanlah orang sembarangan.

“Memangnya kenapa?”

Akhirnya, seorang lelaki yang hampir saja menjadi suaminya, yang memasang iklan di koran itu berkata. Tidak salah lagi, pasti dia adalah lelaki berbahaya yang dimaksud oleh kakaknya. Suaranya yang bernada rendah itu tidak terdengar terlalu buruk juga. Namun menurut kakaknya, orang jahat belum tentu terlihat jahat dari penampilannya. Jadi, siapa yang tahu isi hatinya.

“Eonni sudah memperingatkanku sebelumnya. Kalau mungkin saja kau akan mencariku.”

“Pasti dia mengatakan kalau aku ini seperti penjahat berbahaya atau pembunuh berantai, kan?”

“Tidak. Katanya kau ini orang yang sangat menyedihkan. Meskipun begitu, katanya jangan sampai aku memaafkanmu. Eonri sangat khawatir karena aku ini orangnya sangat penasaran dan gampang merasa kasihan terhadap orang lain. Aku ini termasuk orang yang baik, lho.”

Mendengar penilaian tentang dirinya sendiri yang di luar dugaannya, Gcon Hyeong menatap Jason dan tersenyum pahit. Berani-beraninya wanita itu berkata kalau Kim Geon Hyeong yang diktator itu orang yang menyedihkan. Anjing pun mungkin akan tertawa mendengarnya. Wanita yang waktu itu melabraknya dengan berani ternyata lebih polos daripada yang ia bayangkan.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Tunggu.”

“Sekali lagi. Apa pun alasannya, jawabanku akan tetap sama.”

Hee Won yang sudah membalikkan badannya, bergumam pelan seolah meyakinkan dirinya sendiri. Karena rasa penasarannya sudah terpenuhi, harusnya sekarang ia pergi dari tempat ini tanpa menoleh ke belakang kembali. Namun orang-orang ini seolah menahan langkah kakinya. “Cita-citamu ingin menjadi Miss Korca, kan?”

Ya”

Mungkin Jung Won akan terkejut jika mendapat pertanyaan seperti itu, tetapi Hee Won sama sekali tidak peduli bagaimana kedua orang itu bisa mengetahui mimpinya.

“Aku akan mendukungmu agar kau bisa menjadi Miss Korea. Selama dua tahun ke depan, aku akan memanggil orang yang ahli, yang dapat membantumu mewujudkan mimpimu.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

Hee Won segera membalikkan badannya kembali mendengar tawaran Geon Hyeong dan matanya bersinar cerah. Wajahnya yang tadi bersikeras menolak dan berkata “tidak” kini terlihat penuh harap sekaligus rasa ragu. Pasti ia kini tidak bisa berkata “NO” lagi. Geon Hyeong mengawasinya dengan santai.

Ternyata di dunia ini memang tidak ada yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan tidak ada yang tidak bisa berubah di duma ini.

“Tidak hanya Miss Korea, aku juga akan membuatmu tampil penuh percaya diri di tingkat internasional. Keputusan juri memang tidak bisa kita atur, tapi mungkin saja kenalanku ada di sana.”

Meskipun ia sama sekahi tidak tertarik dengan urusan Miss Korca ini, ada satu hal yang tidak berubah sejak dulu. Ia akan menggunakan segala cara untuk mencapai apa yang ia inginkan dan pada akhirnya ia akan berhasil mendapatkannya.

“Fiah.”

Wanita yang sibuk berpikir dan menimbang selama beberapa saat itu akhirnya menghela napas panjang. Pasti ia akan melepaskan kepercayaan keluarganya. Ia lalu menepis rambutnya ke belakang telinganya schingga wajahnya yang mungil terlihat lebih jelas. Tidak hanya Miss Korea, wanita cantik ini bisa saja menjadi wanita tercantik di seluruh duma. Di wajah mungilnya yang berbentuk hati itu terlihat wajah kakaknya yang sedikit lebih kuat dan berani. Geon Hyeong masih ingat dengan jelas betapa wanita itu dulu sangat yakin akan menang melawannya.

“Uang bukanlah masalah bagiku. Kau juga pasti tahu kalau Miss Korea tidak hanya dipilih karena wajah yang cantik.”

Jason yang berdiri di sebelah Geon Hyeong berdeham pelan mendengar tawaran yang terlalu terang-terangan dan berlebihan. Namun Geon Hyeong mengabaikannya. Untuk memastikan kemenangannya, ia harus berani bertindak seperti ini.

“Kau gila.”

Wanita yang sejak tadi menggigit bibir merah jambunya itu kembali menghela napas panjang dan berkata, “Eonri-ku adalah orang yang sangat polos. Benar-benar orang bodoh yang melewatkan kesempatan bagus seperti ini begitu saja.”

“Benar. Kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi padamu.”

“Sial. Aku tidak percaya harus melepaskan kesempatan ini gara-gara conni.”

Sesaat Gcon Hycong merasa tidak memercayai telinganya sendiri ketika wanita itu bergumam dengan wajah kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Melepaskan kesempatan ini katanya? Ucapan itu termasuk ucapan yang tidak ada dalam kamusnya.

“Tapi, aku ini bukan wanita yang berwajah cantik saja. Kesempatan ini pasti datang lagi karena otakku juga cerdas.”

“Apa?”

Ternyata ia tidak salah dengar. Wanita itu kini sedang berkata “tidak padanya. Wanita yang kembali bergumam seorang diri itu kemudian menegakkan kepalanya dan menggelengkan kepala mungilnya dengan pasti pada Geon Hyeong.

“Maaf. Aku tidak bisa melakukan hal ini. Tidak boleh. Tidak akan. Selamat tinggal.”

Wanita yang mengatakan keputusan terakhirnya itu tersenyum lebar dengan wajah ceria. Senyumannya itu sesaat membuat ruangan kantor itu satu tingkat lebih cerah. Sepertinya bukan tidak mungkin bahwa wanita ini bisa menjadi Miss Korea tanpa bantuan mereka. “Tunggu. Kenapa tidak bisa? Apa karena kakakmu?”

“Tidak hanya itu. Di keluarga kami ada peraturan sepcrti ini. Dilarang menjual tubuh. Dan aku tidak bisa melanggar peraturan itu.”

“Aku tidak menyuruhmu untuk menjual tubuhmu. Aku juga tidak ingin seperti itu.”

Geon Hyeong terlihat lebih serius mendengar pilihan kata yang digunakan oleh adik wanita itu. Selama ini ia tidak pernah kekurangan wanita sampai harus “membeli” seorang wanita dengan uang seperti ini. Wanita itu kembali tersenyum mendengar jawaban Geon Hycong. Seketika ruangan kantor itu kembali terasa lebih terang. Senyumannya terlihat sangat memesona.

“Entah bagaimana menurut jossi, tapi aku bukan orang seperti itu. Karena jujur saja, aku tidak akan tertarik dengan kontrak ini kalau bukan karena uang.”

Wanita im ternyata lebih jujur daripada yang ia duga. Apakah kakak wanita ini memang sudah mengetahui hal ini sebelumnya? Makanya ia bisa sangat yakin seperti itu. Lala, kenapa ia tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan “gjoss7? Ajossii Geon Hyeong sebenarnya tidak peduli bagaimana wanita ini memanggilnya, namun ia tidak bisa membiarkan dirinya kalah.

“Aku akan membantumu, Kang Hee Won, untuk mewujudkan mimpimu.”

“Tidak perlu. Aku memercayai ucapan conni-ku. Karena ucapannya selalu benar.”

“Memangnya kakakmu berkata apa?”

“Katanya, orang yang mengatakan akan membuat wanita cantik sepertiku menjadi Miss Korea dengan uang berarti telah menghina orangtuaku yang telah melahirkanku. Ah, katanya Ajossi juga terlalu tua untukku. Setelah kulihat langsung, ternyata benar juga.”

Wanita itu kembali tersenyum kecil sambil membungkukkan kepalanya sebagai ucapan salam dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Wanita itu berjalan keluar dengan lebih tenang dibandingkan kakaknya yang lebih heboh kemarin. Namun, satu hal yang pasti, kedua kakak beradik itu ternyata sama saja. Gcon Hyeong rasanya tidak percaya ada dua orang di dunia ini yang berani berkata “tidak' pada dirinya. Belum lagi, ia bahkan mendapat sebutan “gjoss? dan “terlalu tua”? Apa ini masih lebih baik daripada sebutan “cabul? dan “penguntit' saat itu?

“Haha.”

Beberapa saat setelah pintu itu ditutup, barulah Geon Hyeong tersadar dari lamunannya akibat suara tawa Jason. Temannya itu malah tertawa dengan begitu gembira sambil memegangi perutnya.

Padahal, tadinya ia pikir ia sudah memberikan umpan yang tepat, tetapi ternyata wanita itu tetap kabur juga. Peraturan keluarga? Lalu, menjual tubuh? Seketika itu juga Geon Hyeong merasa seolah ia adalah scorang mucikari murahan. Geon Hycong yang biasanya diperlakukan seperti raja tidak bisa memahami situasi ini.

“Apa-apaan itu barusan?”

“Apanya bagaimana, jelas kalau kau kalah. Pantas saja wanita bernama Jung Won itu yakin sekali dengan ucapannya.”

Jason berkata santai sambil mengangkat pundaknya dan menatap pintu yang tertutup. Ternyata wanita itu pun berbeda dari yang mereka bayangkan. Jason terkejut melihat wanita cantik yang tadinya ia pikir mudah dirayu itu mampu menolak tawaran Geon Hyeong yang sangat menggiurkan. Apalagi, melihat kemenangan seorang wanita lain atas kepercayaannya terhadap adiknya. Wanita yang berhasil melindungi adiknya dan membuat Geon Hyeong K.O. tanpa melakukan apa pun.

“Menurutmu, memangnya ada keluarga yang memiliki peraturan untuk tidak menjual tubuh sendiri?”

“Kalau ada keluarga punya peraturan untuk tidak berjudi, mungkin saja.”

Berbeda dengan Gcon Hycong yang heran dan tidak percaya dengan peraturan keluarga seperti itu, wajah Jason terlihat seolah tidak ada masalah apa-apa. Geon Hyeong kembali geram melihat sinar mata Jason yang sepertinya senang dan menikmati situasi ini.

“Lalu, mau bagaimana sekarang?” “Tentu saja aku harus memperoleh kemenanganku kembali. Aku tidak bisa kalah dan diam saja seperti iri.”

Bahkan skornya sudah 2:0. Jason kembali tertawa melihat Geon Hyeong yang tiba-tiba bersemangat seperti itu. Setelah sekian lama, mungkin kali ini ia akan menyaksikan semangat bersaing Geon Hyeong yang sesungguhnya. Sejak masa kuliah dulu, bukan hal yang mudah untuk menahan semangat Geon Hyeong yang berapi-api. Dalam pertandingan basket atau sepak bola, Geon Hyeong selalu menjadi lawan yang berat dan pada akhirnya sclalu berhasil memperoleh kemenangan. Sepertinya kali ini ia pun akan menikmati menyaksikan semangat Geon Hyeong yang berapi-api. Jason bersiul pelan. Mencari istri dari iklan di koran yang awalnya ia pikir merupakan ide buruk itu ternyata tidak terlalu buruk juga.

Setiap Jumat sore, suasana kantin kampus memang cukup sepi. Para mahasiswa biasanya hanya makan siang seadanya dan segera meninggalkan kampus untuk menyambut akhir pekan. Seharusnya, Jung Won bisa lebih santai hari ini karena ia hanya perlu menyiapkan menu makanan Jepang, 4dor, untuk hari Sabtu. Namun, isi kepalanya sangat rumit sampai rasanya hampir pecah.

Kalau ia tidak segera menyelesaikan urusan di bank dalam bulan ini, maka keluarganya terpaksa diusir dari rumah kecil mereka. Meskipun cuaca sudah mulai menghangat dan musim panas akan segera datang, tetap saja ia tidak bisa membiarkan keluarganya menjadi gelandangan yang tidur di pinggir jalan. Mungkin saja Hee Won tertarik mengikuti iklan itu karena masalah ini. Apa yang harus kulakukan? Pasti akan sulit jika ia meminta pinjaman dari bank yang mendesaknya untuk membayar utang.

Tidak ada seorang pun di Hwaniwon hari ini dan Jung Won tidak menyadari kalau sinar matahari yang biasanya memenuhi padang itu kini perlahan tertutup oleh awan. “Sepertinya tempat im terlalu sunyi untuk dikunjungi scorang diri.”

“Astaga!”

Jung Won terkejut setengah mati melihat bayangan hitam yang tiba- tiba muncul di belakangnya.

Suara yang familier, sosok yang asing. Lelaki itu. Padahal ia pikir ia tidak akan bertemu dengan orang ini lagi, kenapa tiba-tiba ia muncul di tempat seperti ini? Jung Won memegangi dadanya yang terkejut dan memandang lelaki itu dengan tatapan curiga. Lelaki yang kali imi muncul di bawah sinar matahari itu terlihat lebih besar dan menakutkan.

“Kenapa kau terkejut seperti itu?”

“Kau bercanda ya? Mana ada orang yang tidak terkejut kalau kau tiba-tiba muncul seperti itu?”

“Ternyata kau ini bukan sainganku.”

“Apa?”

Jung Won mengerutkan dahinya melihat lelaki yang menurutnya kasar ini. Bukannya minta maaf karena tclah mengejutkannya, melainkan malah bergumam seorang diri.

“Kenapa kau ada di sim?”

Lelaki itu bertanya padanya. Geon Hyeong memandang wanita yang menatapnya dengan penuh curiga dan waspada itu. Ia sendiri pun tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu di tempat ini. Ia pun bukan sengaja datang ke tempat ini untuk bertemu wanita ini. Ia memang sudah bertekad untuk berbicara lagi dengan Kang Jung Won, tetapi bukan di tempat seperti ini. Ia menatap wanita itu dengan dingin, sementara Jung Won menatapnya dengan tatapan yang berapi-api.

Jangan-jangan ia masih mau merayu Hee Won? Tanpa sadar, Jung Won mengepalkan kedua tangannya. Meskipun keluarga mereka sedang terdesak, Jung Won sama sekali tidak pernah bermat untuk “menjua? adik perempuannya itu.

“Kau ini percaya dengan “kebetulan tidak?”

“Tidak mungkin.” Jung Won mendengus pelan mendengar pertanyaan lelaki itu. Ia memang pernah mengalami beberapa kebetulan dalam hidupnya, tetapi ja ingin menghindari kebetulan dengan lelaki ini sebisa mungkin.

Begitu pula dengan Geon Hyeong. Di area kampus seluas imi, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu di atas bukit ini. Seandainya mereka tidak sengaja bertemu di kantin tempat Jung Won bekerja atau ruang direktur Geon Hyeong, mungkin bisa mudah dimengerti. Namun, keduanya benar-benar tidak menyangka akan bertemu di Hwaniwon, di padang rumput tempat wangi rumput liar bisa tercium dengan jelas.

“Kupikir kau berubah pikiran.”

“Maaf sekali, tapi hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menyerahkan adikku.”

Jung Won berkata dengan sungguh-sungguh dan di luar dugaannya, lelaki itu pun mengangguk-angguk setuju.

Wanita ini rupanya masih belum tahu rencanaku yang baru. Rasanya Geon Hycong perlu memberitahu kalau target yang akan dilamarnya telah berubah. Wanita ini kini harus tahu bahwa dirinya tidak tertarik dengan adiknya yang masih terlalu muda.

“Bagaimana kalau kita berbicara sebentar?”

“Tidak ada yang perlu kubicarakan lagi denganmu.”

“Mengenai adikmu.”

“Apalagi tentang adikku, aku semakin tidak ingin berbicara denganmu.”

Tepat seperti dugaanku. Lelaki ini memang seperti puma berbahaya dengan gigi-giginya yang tajam. Kalau sudah menemukan mangsanya, maka sulit untuk melepaskannya.

“Aku rasa kau harus tahu tentang satu hal.”

“Ada apa lagi? Padahal seharusnya adikku sudah berkata kalau ia tidak mau.”

“Ia sudah melapor padamu? Jujur sekali anak itu.”

“Sayangnya dia bukan anak yang terlalu jujur seperti itu.” Jung Won tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya. Jujur. Meskipun Kang Hee Won mempunyai kelebihan lain, sayangnya ia tidak bisa dikatakan anak yang jujur. Tidak salah lagi, Hee Won pasti sudah bertemu dengan lelaki ini dan sekarang pasti 1a gemetar karena takut ketahuan olehnya. Kang Hee Won, rupanya kau ingin tinggal di dalam rumah saja selamanya.

“Lalu, bagaimana kau tahu? Kalau ia akan berkata tidak mau. Kau sungguh-sungguh memercayai adikmu?”

“Karena kalau kau menang taruhan kita saat itu, kau tidak mungkin datang mencariku.”

Meskipun Geon Hyeong sudah menyadarinya sejak pertama kali bertemu, ternyata wanita ini cukup cerdas juga. Keberaniannya juga bisa diadu. Geon Hycong belum pernah bertemu dengan sescorang yang berani melawannya, baik dari pihak musuh atau pihaknya sendiri. Biasanya, orang-orang akan terkejut dan ragu melihat aura dan karismanya yang gelap. Namun, wanita ini berbeda. Mungkin saja wanita ini adalah lawan yang tangguh baginya. Kalau begitu, arah pembicaraan ini harus diubah. Ia sangat tidak suka kalah dalam suatu permainan. Geon Hyeong masih ingat jelas berapa skor permainan mereka. Ia pun masih ingat kelemahan besar wanita ini.

“Apa pun itu, aku dan adikku tetap akan berkata “tidak' pada sctiap tawaranmu.”

“Tapi pasti hatimu juga tidak merasa tenang, kan?”

“Apa maksudmu?”

Tidak mengerti apa maksud perkataan lelaki itu, Jung Won menatapnya tajam dan penuh curiga. Apa ada hal lain yang tidak kuketahui, batinnya.

“Masalahku ini memang mendesak, tapi masalahmu juga sama mendesaknya, kan? Kau mau menjadi gelandangan?”

“Iya, benar. Tapi, bagaimana kau bisa tahu masalah ini?”

Jung Won menyipitkan matanya memandang Geon Hyeong. Sebenarnya, ia bisa menduganya tanpa mendengar jawaban dari lelaki ita. Lelaki ini pasti mencaritahu dengan segala cara, baik dengan menggunakan uang atau menyuruh sescorang. Namun, memahami dan menerima adalah dua hal yang jauh berbeda. Orang ini tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusannya. Lelaki itu pun tidak menjawab pertanyaan Jung Won. Ia hanya terdiam menatap serangga yang terbang di padang rumput itu.

“Kenapa kau berbuat seperti ini?”

“Apa?”

“Kenapa kau berbuat seperti ini padaku, pada adikku? Orang scperttmu, meskipun sifatmu sedikit bermasalah, kau pasti bisa menemukan wanita yang cocok untuk menjadi pendampingmu.”

Mendengar pertanyaan Jung Won yang jujur itu, Geon Hyeong menatapnya tajam. Ada sesuatu yang berbeda dengan ketika Jung Won pertama melihatnya di ruang rapat itu. Orang yang memasang iklan ini. Orang yang menaruh hati pada Hee Won. Sebenarnya apa sih yang diinginkan orang ini?

“Memangnya tidak ada wanita lain yang kau sukai?”

“Itu bukan urusanmu,” sahut Gcon Hycong ketus.

“Benar. Sebaliknya, kau juga jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami. Sampai langit terbelah dua pun, aku tidak akan menyerahkan adikku padamu.”

“Bagaimana kalau kau?”

“Apa?”

Jung Won mengira dirinya salah mendengar perkataan lelaki itu. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa suara kicauan burung di Hwaniwon cukup mengganggu pendengarannya.

“Aku tidak keberatan kalau kau yang menggantikannya.”

“Kau bercanda ya?”

Ternyata telinganya tidak salah dengar.

Sebenarnya apa yang ada di pikiran lelaki ini? Karena Hee Won sudah menolaknya, sekarang ia malah berganti sasaran dan langsung memberi tawaran tidak masuk akal ini.

“Kau pikir aku bercanda? Kau adalah orang yang paling cocok.”

“Sudahlah.” Jung Won semakin merasa marah melihat sikap Gcon Hyeong yang sungguh-sungguh. Memangnya dia pikir ini transaksi barang atan semawamnya apa?

“Padahal tawaran ini juga akan menguntungkanmu. Bukan berarti kau menjual harga dirimu demi sesuap nasi.”

“Benar. Aku memang tidak akan menjual harga diriku. Karena hanya itulah yang aku punya saat ini. Dan orang-orang seperti kau pasti tidak bisa memahaminya.”

Jung Won menyahut dengan sungguh-sungguh sambil menggelengkan kepalanya mendengar tawaran yang tidak masuk akal ita. Apa orang ini masih belum paham maksud perkataanku? Ketika Jung Won ingin meyakinkan ucapannya sekali lagi, Geon Hyeong mengalihkan tatapannya ke belakang Jung Won dan ekspresi wajahnya berubah. Apa ia berubah pikiran? Kemudian ia berjalan mendekat dan berbisik di telinga Jung Won.

“Diam, jangan banyak bicara.”

“Ya?”

“Kalau kau tutup mulut, aku akan mengabulkan satu permintaanmu kali ini.”

Tiba-tiba saja Geon Hyeong merangkulkan lengannya pada pundak Jung Won yang masih bingung mendengar perkataannya dan scgera menariknya. Apa-apaan orang ini? Sebelum Jung Won sempat melawan apa pun, ia sudah berada di pelukannya.

Orang ini benar-benar gila rupanya. Kemudian Jung Won sadar bahwa mereka hanya berdua di Ilwaniwon dan mendadak badannya kaku seperti es.

“Le... lepaskan aku.”

“Diam.”

Geon Hycong kembali berbisik pelan pada Jung Won yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

Tenang. Diam. Ujung jari yang menyentuh pundaknya, embusan napas yang mengenai rambutnya, dan detak jantungnya yang terasa di dada Jung Won seolah menyuruhnya dengan putus asa untuk patuh padanya.

Dari tatapan, perilaku, dan perasaan lelaki itu yang mendadak berubah, barulah Jung Won menyadari bahwa lelaki itu bukan sedang menatap dirinya, melainkan orang lain. Begitu Jung Won semakin tenang, kekuatan tangan yang menekan pundaknya pun semakin berkurang.

Merasa situasi sudah lebih aman, Jung Won perlahan menolehkan kepalanya. Tampak seorang wanita sedang berjalan ke arah Gcon Hyeong. Wanita yang mengenakan baju terusan berwarna pink tua dan hish heels putih itu terlihat seperti bunga mawar di musim panas, jauh lebih mewah dan anggun daripada bunga-bunga liar di sekelilingnya.

Cantik sekali. Itulah kesan pertama Jung Won terhadap wanita ini. Namun, wanita itu sama sekali tidak memandang Jung Won. Ia hanya menatap Geon Hyeong lurus-lurus. Dengan tatapan seolah hanya ada lelaki itu di Hwaniwon ini, di dunia ini. Jung Won akhirnya mengetahui jawaban atas pertanyaannya dulu yang belum sempat dijawab olch Geon Hyeong. Ternyata ada wanita lain yang menyukai lelaki ini.

“Aku sudah bertunangan.”

“Aku tahu. Selamat ya.”

Tangan Gcon Hycong semakin memegang crat pundak Jung Won. Detak jantungnya pun semakin cepat.

Lelaki ini, apa memang ini yang ia inginkan? Jung Won mengangkat kepalanya menatap Geon Hyeong. Ekspresinya terlihat tenang, tanpa ada rasa panik sedikit pun. Jung Won terkejut melihat lelaki yang berusaha menyembunyikan perasaannya itu dan entah kenapa Jung Won merasa sedih melihatnya.

“Kami akan menikah bulan depan.”

“Oh ya? Baguslah. Mungkin saat itu kami juga akan mengadakan pesta pertunangan.”

Geon Hyeong memeluk erat Jung Won. Seolah wanita yang akan menjadi pasangannya adalah Jung Won. Namun, Jung Won tidak bisa berkata apa-apa di tengah situasi yang mengejutkannya itu. Jung Won merasa lebih baik ia diam saja di tengah percakapan kedua orang yang sepertinya memiliki hubungan khusus ini.

“Kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?”

“Bagiku, hubungan kita sudah selesai.”

Tatapan mata wanita yang tadinya terlihat tegar itu tampak bergetar. Sementara, lelaki yang berada di hadapannya tetap menatapnya dengan yakin. Setidaknya dari luar kelihatannya seperti itu. Kemudian, barulah wanita itu perlahan mengalihkan pandangannya pada Jung Won.

“Dengan wanita ini?”

“Mungkin.”

Mungkin? Mendengar jawaban Geon Hyeong, tanpa sadar Jung Won terlonjak kaget.

Omong kosong macam apa ini. Lelaki ini harusnya tidak bolch menjawab 'mungkin' ketika wanita itu bertanya “wanita ini? Benar- benar jawaban yang mudah menimbulkan salah paham. Padahal, masih ada kata lain yang lebih dekat dengan kenyataan sebenarnya seperti “mana mungkin atau yang benar saja”.

Wanita itu kemudian menatap Jung Won dengan tenang. Seperti adiknya, Jung Won juga termasuk wanita dengan wajah yang cukup cantik. Melihat tatapan wanita yang bergetar dan terlihat terluka itu, Jung Won rasanya ingin segera mengatakan bahwa dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan lelaki ini dan menghiburnya. Namun, sebelum Jung Won sempat berkata apa pun, wanita itu lebih dulu membuka mulutnya.

“Lelaki ini bukanlah orang yang baik. Kau tahu itu?”

“Aku tahu. Benar-benar orang yang sangat jahat.”

Wanita itu mengangguk seolah puas mendengar jawaban Jung Won. Kemudian, tatapannya kembah beralih pada Geon Hyeong.

Ada apa dengan dua orang ini? Scbenarnya apa yang terjadi pada mereka, sampai-sampai mereka saling berpandangan seperti itu. Wanita ini berkata akan bertunangan dengan pria lain, sementara lelaki ini berkata akan mencari istri dari iklan di koran.

“Jangan lupa dengan janjimu.” “Jangan khawatir. Aku pasti akan datang kc acara pernikahanmu.”

Mendengar janji lelaki yang sedang bersama wanita lain itu, wanita yang berkata akan menikah dengan lelaki lain itu mengangguk puas sambil tersenyum ramah pada Jung Won dan pergi meninggalkan mereka. Seolah tidak ada penyesalan sedikit pun dalam setiap ucapannya. Sosok belakangnya yang terlihat tegar membuat hati Jung Won mencelos. Hubungan mereka tidak boleh berakhir begitu saja seperti ini.

“Hei.”

“Katakan saja. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu.”

Suara lelaki itu terdengar ketus dan kasar. Tadinya, Jung Won pikir lelaki ini adalah orang yang sangat tenang dan dingin. Ia tidak menyangka kalau lelaki in juga bisa memiliki suara dan tatapan mata seperti ini.

Awalnya, Jung Won pikir orang ini tidak mengerti apa-apa tentang cinta karena mencari istri dengan cara seperti ini. Ternyata, penilaiannya salah. Mungkin saja ternyata orang ini sedang dalam hubungan percintaan yang mendalam.

“Cepat katakan. Apa permintaanmu? Aku akan menepati janjiku.”

“Yang perlu kau khawatirkan saat ini bukanlah aku, tapi dirimu sendiri. Lakukan apa yang kau inginkan.”

Geon Hyeong mengangkat alisnya terkejut.

“Jangan sampai kau menyesal nanti. Sekarang cepat lakukan apa yang memang ingin kau lakukan.”

Jung Won menasihatinya dengan sungguh-sungguh. Ia memang tidak tahu ada masalah apa di antara kedua orang itu, namun 1a tidak ingin wanita itu merasa salah paham.

Mendengar saran Jung Won yang sungguh-sungguh itu, barulah Gcon Hyecong menatap wajah Jung Won yang tangannya sejak tadi masih ia genggam.

Wanita itu mengalihkan tatapan penuh perhatian, pengertian, dan bahkan rasa simpatinya dari Geon Hyeong dan menatap sosok belakang Shin Hee. “Kau ini bodoh rupanya.”

“Apa?”

Jung Won kembali menatapnya setelah beberapa saat. Susah payah ia berusaha membuka hati dan berbicara dengan lelaki ini, dan sekarang ia malah mengoloknya. Jung Won tidak habis pikir.

“Ketika aku berkata akan mengabulkan permintaanmu, seharusnya kau memintaku untuk tidak muncul lagi di hadapanmu. Bukannya malah mengkhawatirkanku.”

“Itu...”

Kalau lelaki ini mengikutinya, jelas ia akan berkata seperti itu padanya. Jung Won mengangkat kepalanya hendak memberikan penjelasan. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Geon Hyeong menundukkan kepalanya dan menahan bibir Jung Won. Ia menciumnya dan mendekapnya erat sampai-sampai Jung Won rasanya tidak bisa bernapas.

Geon Hyeong yakin kalau Shin Hee pasti akan menoleh sekali lagi ke arah mereka, karena ia selalu seperti itu. Meskipun Slun Hec sering pura-pura tidak peduli, pasti ia akan merasa sakit hati di dalam lubuk hatinya. Wanita itu selalu berharap ada seseorang yang menahannya dan pada akhirnya selalu menunggu uluran tangan dari orang lain. Sctelah marah besar pun, ia selalu berharap sescorang datang mendekatinya dengan lembut layaknya kucing. Oleh karena itu, Geon Hyeong tahu pasti bahwa Shin Hee yang membalikkan badan dan pergi meninggalkannya ini sedang menunggu suara Geon Hyeong untuk memanggilnya kembali. Ia pun tahu dengan suara panggilan itu, Shin Hee akan segera kembali berada di sisinya. Namun, kini ia tidak bisa memanggil namanya dan wanita itu pun kini tidak boleh kembak berada di sisinya.

Ketika Gcon Hycong merasa napasnya sudah hampir habis karena mencium Jung Won dengan kasar, Shin Hee menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka berdua. Setelah itu, barulah Geon Hyeong melonggarkan pegangan tangannya pada Jung Won. Jung Won yang terengah-engah scperti orang yang habis berlari 100 meter, menatap Gcon Hycong.

Rasanya ia ingin menampar lelaki itu, namun kini ia seolah tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tangannya. Tidak. Tatapan mata Geon Hyeong yang memandangnya terlihat begitu sedih sehingga 1a tidak tega memukulnya.

“Apa-apaan barusan?”

“Sebagai penutup saja.”

“Kau gila ya?”

“Sepertinya.”

Geon Hyeong sama sekali tidak melawan mendengar amarah Jung Won yang meluap-luap. Jung Won yang sempat merasa simpati kepada Gcon Hyeong benar-benar merasa dirinya bodoh. Lela di hadapannya ini benar-benar tidak bisa ditebak.

“Jadi, sekarang semuanya sudah berakhir?”

“Tentu saja.”

Tatapan mata Gcon Hycong sedang mengarah kepada wanita lain, namun Jung Won tidak peduli. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan laki-laki ini lagi. Geon Hyeong memandang wajah Jung Won yang memerah dengan tatapan kosong. Ia tidak menyahut apa-apa lagi dan menghilang meninggalkannya. Entah apa yang dipikirkannya.

Setelah lelaki itu menghilang, sprizkkr di atas bukit itu mulai berputar dengan semangat. Tampak pelangi kecil yang muncul di tengah cahaya matahari dan percikan air itu.

Ciuman yang mengejutkannya hari itu tetap membuat Jung Won bingung sampai keesokan harinya. Seperti biasa, tangannya sibuk membersihkan rumah dan mengusir adik-adiknya yang bermalas- malasan di akhir pekan. Namun, otaknya penuh dengan berbagai pikiran lain.

Masalah rumah yang mungkin saja harus segera mereka tinggalkan itu tanpa sadar tergeser ke salah satu sudut otaknya. Jung Won memandang bibirnya di dalam cermin. Meskipun ciuman kemarin itu cukup kasar, tetapi untungnya tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Sebuah ciuman. Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu? Sepertinya ia tidak mempermainkan wanita itu dan tampak jelas kalau sebenarnya mereka saling mencintai. Namun, kenapa keduanya malah saling melepaskan seperti itu? Jung Won menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran itu dari otaknya. Sekarang bukan saatnya ia mengkhawatirkan orang lain. Di lain waktu, mungkin ia masih sempat menabur benih selada dan cabai, namun kali ini 1a tidak punya waktu untuk memusingkan hal itu. Tidak di tengah situasi ketika mereka bisa saja diusir sewaktu-waktu.

“Tidak, tidak.”

Entah apa yang membuatnya tidak senang, Chi-chi yang sedang mandi pagi itu berteriak kencang. Goliath dan Romeo yang merasa tidur mereka pagi itu terganggu pun ikut berlan sambil melompat- lompat. Hampir saja bulu-bulu Goliath beterbangan ke seluruh penjuru rumah yang baru saja selesai ia bersihkan.

“Kalian ini bisa diam tidak, sih? Kalian ini bukan kelinci, tapi kucing. Chi-chi, sudah kukatakan kau hanya boleh berbicara kata-kata yang bagus, kan? Yes, yes, okay. Mengerti?”

“Tidak, tidak.” Burung kakatua yang tidak mematuhi ucapan Jung Won itu menatapnya dengan wajah pura-pura bodoh, sementara Goliath naik ke rak seolah tidak peduli. Kalau sampai si Duldul yang sedang bermain tanah di halaman itu masuk dan bergabung, maka sebentar lagi rumahnya akan berubah menjadi arena perang. Jung Won mendadak merasa gelisah membayangkan apakah ia tetap bisa bersama hewan-hewan peliharaannya ketika ia harus meninggalkan rumah ini. Meskipun demikian, setidaknya ia harus berusaha semaksimal mungkin saat ini. Jung Won melihat-lihat iklan lowongan kerja yang mencari seorang ahli nutrisi dan menulis surat lamaran untuk beberapa tempat sambil berdoa dan memutar-mutar cincin pemberian ibunya. Semoga saja ini berhasil, batinnya. Setidaknya, kalaupun harus pindah ke desa, ia bisa mendapat pekerjaan tetap dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan keluarganya.

“Bekerja di desa sepertinya bagus juga. Udaranya pun segar. Ya, kan?”

“Tidak, tidak.”

Jung Won berkata sambil menatap Goliath yang bermalas-malasan di atas rak dan Chi-chi, namun Chi-chi menolaknya mentah-mentah dan Goliath malah membuang mukanya. Mungkin Hee Won dan Sung Won juga tidak akan senang mendengar keputusannya. Jung Won pun sebenarnya tidak suka meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan akan kedua orangtuanya itu.

Akan tetapi, mau bagaimana lagi, tidak ada cara Jain. Terkadang, ada sesuatu yang harus kita relakan di dunia ini karena kita tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus.

Jilid 2 : Tak ada Gurung Pegar, ayam pun Jadi.

Memangnya apa jeleknya “ayam? Burung pegar ya pegar, ayam ya ayam.

Selera setiap orang kan berbeda-beda.

Lagi pula, mungkin saja kau ini ternyata adalah ayam.

Burung pegar memang paling menarik di mata burung pegar jantan, dan ayam jelas paling menarik di mata ayam jantan.

Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan saat memilih pasangan adalah...

Mengetahui dulu siapa sebenarnya diri kita.

Apa kau ini benar-benar burung pegar?