--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 00 : Prolog

Bab 00 : Prolog

Sudah tiga hari berlalu sejak upacara pemakaman Direktur Kim Kyung Hwan, putra tunggal dan penerus satu-satunya Goryo Grup. Di tengah tatapan tajam anggota keluarga yang semuanya masih mengenakan pakaian hitam rapi, pengacara perusahaan itu mendapat isyarat dari Presiden Kim untuk membacakan isi surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum. Presiden Kim yang baru saja kehilangan putranya mengangguk pelan, dan Pengacara Han yang sudah lama menjadi tangan kanannya berdeham ringan lalu mulai berbicara.

“Seperti yang telah Anda sekalian ketahut, almarhum Kim Kyung Hwan selalu berusaha dan bekerja keras demi perusahaan bahkan sampai detik-detik terakhir hidupnya. Anda sekalian pasti juga mengakui betapa almarhum sangat mencintai Goryo Grup.”

Mendengar ucapan Pengacara Han, serentak semua orang di ruang rapat itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, kecuali satu orang yang mencibirkan bibirnya dan tersenyum sinis. Orang itu adalah anak kandung Direktur Kim Kyung Hwan, Kim Geon Hyeong, yang kini berusia 20 tahun.

Mencintai perusahaan? Omong kosong. Anjing pun mungkin akan tertawa mendengarnya. Ayahnya itu memang mencintai banyak hal, kecuali satu hal. Mencari uang. Rasanya semua orang di ruangan itu— apalagi orang-orang yang tertarik dengan harta peninggalan ayahnya— pun tahu kalau ayahnya dulu seorang playboy yang suka mem- permainkan wanita dengan wajah tampan dan karismanya. Tentu saja, saat ini perhatian orang-orang itu bukan tertuju pada kesalahan dan tindakan buruk yang dilakukan almarhum, melainkan pada nama-nama yang tertulis pada enam lembar kertas surat wasiat itu dan apa yang akan menjadi warisan mereka. Orang-orang seperti itu adalah orang- orang yang tidak keberatan melupakan dan memaafkan sikap buruk almarhum, asalkan mereka bisa at bagian dari warisan itu. Di dalam ruang baca yang sunyi itu, Presiden Kim dapat melihat tawa bisu di wajah Gcon Hycong. Salah satu anak lelaki almarhum yang lain—Jae Hyun—pun menatap kakak angkatnya itu.

Jae Hyun menatapnya dengan geram dan kesal melihat sikapnya yang tidak sopan. Sementara itu, Geon Hyeong balas menatapnya tajam, seolah menantangnya sambil memasang senyum aneh di wajahnya hingga akhirnya Jae Hyun terlebih dahulu mengalihkan pandangannya.

Pengacara Han kembali berdeham pelan scolah meminta perhatian dari orang-orang di ruangan itu dan perlahan membuka surat wasiat tersebut di atas meja.

“Rumah yang terletak di daerah Pyeongchang dan seluruh saham perusahaan akan diwariskan pada putra tertua almarhum, Kim Geon Hyeong. Lalu, saham di Universitas Kyung Hwan akan diberikan kepada Nyonya Oh Yeon Hee dan putra keduanya, Kim Jae Hyun...”

“Apa? Yang benar saja.”

“Kenapa malah anak di luar nikah yang tidak jelas hubungan darahnya itu...”

Sebelum Pengacara Han menyelesaikan ucapannya, seruan kaget langsung terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Isi surat wasiat itu benar-benar tidak terduga terutama bagi ibu Jae Hyun, Nyonya Oh, yang sejak dulu ikut bersabar mengurusi Geon Hyeong yang lahir bukan dari pernikahannya. Tatapannya terlihat penuh amarah dan kebencian yang luar biasa. Ia tidak percaya suaminya akan mewariskan seluruh saham perusahaan kepada Geon Hyeong. Bagi warita yang selama ini bertahan dengan memegang harga dirinya sebagai istri yang sah dari suaminya, isi surat wasiat itu benar-benar merupakan penghinaan yang tidak tertahankan baginya. Ia merasa dipermainkan oleh suaminya bahkan setelah suaminya itu meninggal dunia.

“Ayah, apa ini semua adalah ide Ayah?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Mendengar pertanyaan menantunya yang terlihat sangat shovk, sehingga melupakan berbagai aturan dan tata krama yang selama ini ia jaga, Presiden Kim hanya balik bertanya dengan wajah datar. Sementara itu, Nyonya Oh langsung memalingkan wajahnya.

“Maafkan aku.”

Suami waruta itu adalah orang yang sangat keras kepala. Ia tidak mau mendengar perkataan siapa pun, termasuk Presiden Kim yang biasanya bisa membuat orang lain gemetar ketakutan hanya dengan tatapannya. Suaminya itu hanya pernah menuruti ucapan Presiden Kim, ayahnya, satu kali saja, yaitu saat menikah dengannya. Dengan menikahi putri rekan bisnis ayahnya, perusahaan Presiden Kim bisa menjadi lebih kuat, suaminya mendapat kebebasan, dan wanita itu sendiri... ia memperoleh Jae Hyun. Itu saja. Satu kali saja seumur hidupnya.

Kurang ajar. Berengsek. Jadi seperti ini balas dendamnya padakn?

“Berani-beraninya ia menomorduakan Jae Hyun dan malah anak...”

Nyonya Oh yang memandang Geon Hyeong dengan tatapan penuh benci akhirnya mengerahkan seluruh kesabarannya dan dengan susah payah menahan diri untuk tidak menyelesaikan kalimatnya.

Pasti ia ingin mengucapkan “anak yang lahir di luar nikah itu”.

Anak yang lahir di luar nikah. Status yang melekat pada Geon Hyeong itu bukanlah kata yang asing lagi baginya, baik ketika 1a tinggal di Amerika maupun di Korea saat ini. Pernikahan antara anak pengusaha kaya raya dan aktris pendatang baru itu berakhir dengan perceraian bahkan sebelum mereka sempat mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum. Karena perbuatan mereka yang bermain-main dengan api itu, Geon Hyeong harus menanggung akibatnya sejak ia lahir.

“Kau pasti senang kan karena semuanya berjalan sesuai ke- inginanmu?”

Wajah Gcon Hycong tidak terlihat senang dengan isi surat wasiat yang cukup mengejutkan itu. Wajahnya terlihat tenang, seolah ia sudah menduga hal ini atau justru seperti orang yang menginginkan harta warisan yang lebih banyak lagi. Kadang, wajahnya itu terlihat seperti orang yang tidak puas. “Lumayan.”

Geon Hycong bahkan tetap menyahut pertanyaan Nyonya Oh yang menatapnya tajam. Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban darinya. Tak sanggup menahan emosinya, Nyonya Oh mengepalkan tangannya dengan geram. Ia lalu melayangkan tam- parannya pada pipi Geon Hyeong.

Terdengar tarikan napas terkejut dari seluruh penjuru ruangan, sampai aklurnya terdengar suara Presiden Kim yang berdeham keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Sebelum orang- orang di ruangan itu sempat melerainya, Nyonya Oh mundur perlahan dan situasi ruangan itu terlihat kembali tenang. Namun, Geon Hyeong tidak ingin mundur begitu saja.

“Aku rasa kau tidak puas hanya dengan menamparku. Tetapi kejadian ini adalah yang terakhir kalinya karena aku tidak akan membiarkanmu begitu saja melakukan hal ini lagi padaku.”

“Kau, berani-beraninya kau mengancamku?”

“Yang benar saja. Aku tidak pernah mengancam orang lain. Itu kan keahlian Tbw.”

Mendengar peringatan datar Geon Hyeong yang sama sekali tidak menunjukkan emosinya dan menekankan kata Ybu' yang penuh dengan sindiran, tubuh Nyonya Oh seketika bergetar ketakutan. Ia scolah menjadi korban, bukan orang yang menyerang. Anak suaminya yang lahir di luar nikah itu kini bukan anak-anak lagi.

“Surat wasiat ini masih belum selesai. Saya harap kalian tenang dan mendengarkan isi surat ini sampai selesai.”

Pengacara Han menenangkan orang-orang di ruangan itu dan tetap membaca sampai habis isi surat wasiat yang kini sudah tidak diperhatikan oleh orang-orang. Di tengah suasana yang memanas itu, Gcon Hyeong kembali bertatapan dengan Jae Hyun.

Di tengah situasi yang di luar dugaan ini, dibandingkan dengan Geon Hyeong yang sama sekali tidak terlihat terkejut, sinar mata Jae Hyun terlihat penuh dendam yang bercampur dengan rasa sedih dan marah. Tatapan matanya terus mengawasi Geon Hyeong selama beberapa saat dan Gcon Hycong pun tidak menghindari tatapannya itu. Kali im pun Jae Hyun yang mengalihkan tatapannya lebih dulu dari Geon Hyeong. Jae Hyun menghela napas pelan dan menyerah sambil mengalihkan pandangannya. Presiden Kim diam-diam hanya tersenyum pahit melihat tingkah kedua anak laki-laki itu.

Dasar anak kurang ajar. Sewaktu ia hidup pun, anak lelakinya itu termasuk anak yang sangat keras kepala. Lalu, pada akhirnya 1a pergi lebih dulu dan melukai perasaan ibunya. Mungkin menantunya dan Jae Hyun merasa tidak puas dengan isi surat wasiatnya itu, tetapi isi surat wasiat anak lelakinya yang selama ini tidak memedulikan perusahaan itu sebenarnya adalah satu-satunya usaha yang bisa ia lakukan demi menjaga perusahaan. Setidaknya, kal ini anak itu melakukan hal yang benar.

Jae Hyun sudah mendapat saham dari kakeknya yang dulu adalah rekan bisnis Goryo Grup. Jika anak itu sampai mendapat warisan saham ayahnya, pasti akan timbul kekacauan yang cukup serius dalam manajcmen perusahaan. Entah apakah keputusannya itu adalah keputusan yang telah dipikirkan baik-baik, atau sekadar penghinaan pada istrinya yang tidak mencintainya itu, namun berkat surat wasiat tersebut, perusahaan itu kini masih bisa tetap berjalan dengan stabil.

Akan tetapi, melihat Gcon Hyeong yang sama sekali tidak terlihat sedih karena kehilangan ayahnya dan juga sama sekali tidak terlihat senang karena mendapat warisan itu, Presiden Kim pun tidak bisa menilai dengan mudah apakah surat itu benar-benar suatu keputusan yang baik atau tidak.

Meskipun anak itu tidak mirip dengan ayahnya yang tidak bisa diandalkan dan ibunya yang ceroboh, sifatnya yang keras kepala dan suka bertindak semaunya itu benar-benar persis seperti ayahnya. Angkuh, sangat akurat, dan tidak kenal takut. Berbeda dengan Jac Hyun yang dibesarkan oleh ibunya agar menjadi pengusaha, Geon Hyeong memang sudah terlahir untuk menjadi pengusaha. Ia memiliki kualitas yang berbeda dengan menantu-menantu lelakinya yang lain, dan rasanya sayang sekali jika bakatnya itu dibiarkan begitu saja hanya karena status “anak di luar nikah? yang melekat pada dirinya. Namun, mewariskan perusahaan hanya karena kemampuannya itu pun merupakan sesuatu yang berbahaya. Presiden Kim merasa penasaran sekaligus takut membayangkan bagaimana nasib perusahaan ini akibat “gurauan” anak lelakinya yang ceroboh itu.

Pengacara itu akhirnya selesai membacakan isi surat wasiat itu dan perlahan orang-orang mulai meninggalkan ruang baca itu dengan membawa rasa tidak puas mereka masing-masing. Ia merapikan dokumen di atas meja dan memasukkannya kembali ke tasnya. Begitu ia meninggalkan ruangan dan menutup pintu itu, Presiden Kim perlahan berdiri dari duduknya dan memanggil Geon Hyeong.

“Apa rencanamu?”

“Itu juga yang ingin kutanyakan. Menurut Kakek, apa aku bisa menerima warisan Goryo Grup ini?”

Geon Hyeong bertanya dengan datar dan tenang. Namun, isi pertanyaannya itu tajam.

Entah bagaimana caranya anak yang masih semuda ini bisa bersikap setenang dan sedingin ini, batin Presiden Kim. Dirinya pun termasuk orang yang jarang menunjukkan emosi melalui ekspresi wajah, tetapi tidak saat dirinya berusia semuda itu ketika semangatnya meluap-luap. Kalau dipikir-pikir secara objektif, sepertinya anak ini satu tingkat lebih kuat daripada dirinya.

“Bukan itu yang ingin kubicarakan sekarang. Karena mulai sekarang, kau yang harus memulainya.”

Presiden Kim menolak memberinya jawaban secara langsung dan cucunya yang masih muda itu pun tidak menuntut jawaban lagi darinya. Geon Hyeong menunduk pelan mengucapkan salam dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, namun Presiden Kim kembali memanggilnya dan menyuruhnya duduk.

“Masih ada lagi yang ingin Kakek katakan?”

“Tadinya aku bingung memikirkan kepada siapa aku harus menyerahkan tanggung jawab ini. Tapi, sepertinya harus kuserahkan padamu sekarang.” Presiden Kim mengalihkan tatapannya pada istrinya, Nyonya Hwang, yang dulu adalah teman lama sekaligus rekan kerjanya. Istrinya itu lantas menopangkan kedua tangannya pada lututnya dan bangun dari duduknya dengan susah payah. Ia lalu mengeluarkan selembar foto dari laci meja tua di ruang baca itu dan memberikannya pada suaminya.

Di foto lama yang sudah pudar itu, tampak sosok ayahnya yang merangkul seorang warita yang sedang hamil dengan penuh kasih sayang. Ayahnya menunjukkan senyumnya yang memesona, yang dulu bisa merayu wanita mana pun di dunia ini.

Geon Hyeong menatap foto itu dengan wajah datar. Benar-benar.

“Apa ini juga salah satu adikku yang lain?”

“Mungkin saja.”

“Kakek menyuruhku mencarinya?”

“Mau tidak mau.”

“Sudahlah. Kalau ia yang membutuhkan, pasti ia yang akan mencari kita. Atau mungkin ia juga dibuang sepertiku.”

Jawaban yang benar-benar ketus dan seenaknya. Gcon Hycong memandang kakek dan neneknya dengan tajam, lalu menghapus wajah wanita yang bahkan sama sekali tidak tersenyum itu dari otaknya. Bagi Nyonya Hwang, ekspresi wajah Geon Hyeong yang dingin itu tidak berbeda jauh dengan wajah suaminya. Ternyata benar juga, hubungan darah memang tidak pernah bohong.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Seolah sudah melakukan apa yang harus ia lakukan, Geon Hyeong bangun, dan dengan tenang meninggalkan ruang baca itu.

Anak itu adalah anak yang diabaikan oleh ayahnya dan ditukar dengan sejumlah uang oleh ibunya. Menyuruh anak seperti itu mencari saudara kandungnya yang lain adalah suatu permintaan yang mustahil. Nyonya Hwang kembali mengambil foto yang tergclctak di atas meja. Wanita yang kini tidak bisa membaca tanpa mengenakan kacamata itu masih mengingat pesan yang tertulis di balik foto itu. Bagaimana kabarmu? Semoga Saja anak ini Mirip denganmu, Demi cinta kita.

Satu lagi anak yang mungkin saja adalah anak kandung putranya yang tampan itu. Kapan kira-kira pemilik foto ini akan muncul? Lalu, luka seperti apa yang harus ditanggung oleh anak ini? Dan berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan agar lukanya itu bisa sembuh?

Foto ini adalah foto lama. Foto dari kejadian 10 tahun yang lalu. 

Jilid 1 : Siapa saja, terserah

Ada orang yang menikah dengan pasangan yang ditentukan oleh orangtuanya tanpa pernah melihat pasangannya itu sebelumnya dan tetap hidup bahagia selamanya.

Ada juga pasangan yang awalnya menikah karena benar-benar saling mencintat, namun kini malah tidak tahan ingin bercerai.

Laki-laki dan perempuan memang bisa saling memahami, namun rasanya mustahil bagi suami dan istri untuk saling memahami dengan sempurna.

Sebagus apa pun latar pendidikannya, sebaik apa pun sifatnya, dan secantik apa pun wajahnya, cobalah menikah dengannya. Akan muncul orang lain yang jauh berbeda dengan saat menjadi kekasih dulu. Itu sebabnya, lebih baik mulai “mencari pasangan” dari orang yang ada di sekitar kita dulu. Toh, tidak ada jaminan akan mendapat pasangan yang lebih baik dengan mencari di tempat yang jauh.