-->

Rajawali Hitam Jilid 13

Jilid 13

“Tangkap pembunuh!" Mereka berteriak-teriak. Melihat ini, Si Kedok Hitam yang mengaku sebagai Hek-tiauw Enghiong itu melompat jauh ke kiri. Lee Cin yang berada paling dekat dengannya, cepat mengejar dengan lompatan jauh. Si Kedok Hitam berlari terus dengan cepatnya, keluar dari taman menuju ke padang rumput di  depan.  Lee  Cin tidak mau berhenti mengejarnya. la harus dapat menangkap Si Kedok Hitam itu. Para hwesio dan to-su sambil berteriak- teriak juga ikut mengejar. Teriakan mereka membangunkan semua orang yang menjadi tamu di Pulau Naga sehingga sebentar saja di situ penuh orang yang masih merasa bingung karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Mau lari ke mana engkau, jahanam keparat?" Lee Cin molompat ke depan ketika melihat Si Kedok Hitam melompat ke serumpun semak-semak. Akan tetapi ketika kakinya tiba di balik rumpun, rumput yang berada di situ menyambut kakinya dan kedua kakinya terjeblos ke dalam lubang yang disembunyikan di bawah rumput tebal. Pul au Naga adalah sebuah pulau milik Siang Koan Bhok yang banyak mengandung rahasia untuk menjebak kalau- kalau ada musuh menyerbu. Tak terhindarkan lagi tubuh Lee Cin terjerumus dan melayang turun ke dalam  sebuah  sumur yang gelap!

Para hwe-sio dan to-su yang berada. di belakang, melihat betapa Si Kedok Hitam telah lenyap seperti ditelan bumi, dan pengejarnya, Lee Cin juga lenyap tidak tampak bayangannya lagi. Mereka mencari- cari di sekitar lereng  perbukitan kecil di pulau itu dan kini, para tokoh kang- ouw yang juga sudah mendengar bahwa Hek- tiauw Eng-hiong muncul hendak membunuh Souw Lee Cin, ikut pula mencari. Di antara mereka yang mencari ini terdapat Song Thian Lee, Thio Hui San, Lui Ceng, Cia Tin Siong, Kwee Li Hwa dan ayahnya Kwe Ciang, dan juga Cia Kun dan  isterinya,  Cia  Hok  dan  Cia Bhok. Masih baayak lagi tokoh persilatan yang berkumpul di lereng itu. Mendengar bahwa Hek- tiauw Eng- hiong yang dikabarkan telah membunuh belasan orang hwe-sio Siauw- lim- pai dan para to-su Kun- lun- pai itu muncul di situ, mereka semua ingin membantu untuk menangkapnya dan melihat siapa orangnya.

Akan tetapi bayangan Hek- tiauw Eng- hiong telah lenyap, demikian bayangan Souw Lee Cin yang mengejarnya. Kemana larinya Hek- tiauw Eng- hiong? Lee Cin sudah jelas terjeblos ke dalam sumur yang amat dalam tanpa terlihat orang lain. Akan tetapi Si Kedok Hitam itu dapat memasuki sebuah jalan rahasia terowongan dan muncul di balik bukit, jauh dari para pengejarnya yang tidak lagi dapat melihatnya.

Selagi dia berlari- lari, merasa puas karena semua orang tentu tahu bahwa yang menyerang Lee Cin sampai gadis itu mati dalam sumur jebakan adalah Hek- t iauw Eng- hiong, tiba- tiba dia mendengar kelepak sayap burung dan tampak bayangan hitam menyambar dari atas! Dia memandang ke atas dan alangkah terkejutnya ketika  dia  melihat  bahwa yang menyambar itu adalah seekor burung rajawali hitam yang amat besar. Sebelum dia dapat mengelak, punggung bajunya telah dicengkeram oleh kedua kaki burung itu dan dia dibawa terbang melayang ke angkasa!

Si Kedok Hitam melihat ke atas, lalu ke bawah.  Diatas sana, di punggung burung itu, dia melihat duduk  seorang yang tidak dapat dilihat mukanya, tertutup badan burung. Tentu saja dia akan dapat melepaskan diri dari cengkeraman burung itu dengan jalan menyerang kaki burung dengan pedangnya. ' Akan tetapi kalau dia melakukan hal itu dan burung itu melepaskannya, tubuhnya akan hancur remuk terjatuh dari tempat yang demikian tingginya. Maka dia tidak dapat berbuat lain kecuali menyerah, dengan  keputusan kalau nanti dia dibebaskan oleh burung itu, dia akan mengamuk dan membunuh burung hitam itu.

Burling rajawali hitam itu kini melayang berputaran, makin lama semakin rendah sehingga mulai tampak  oleh para hwe-sio, tosu dan orang- orang kang-ouw yang berada di situ. Mereka semua melihat burung itu melihat pula Si Kedok Hitam bergantungan pada kaki burung dan melihat pula bahwa seorang berkedok hitam yang lain duduk di atas punggung burung hitam itu! Tentu saja pemandangan ini menimbulkan keheranan dalam hati semua orang, kecuali Thian Lee yang sudah menduga bahwa tentu ada orang lain yang memalsukan Hek- tiauw Eng- hiong dan melakukan banyak pembunuhan itu. Dia  merasa  yakin bahwa  seorang di antara mereka berdua yang berkedok sama itu tentu Tin Han dan yang seorang lagi pembunuh itu.

Pemandangan yang aneh itu menarik perhatian semua orang, dan kini dapat dibilang semua orang yang akan mengikuti pertemuan besar di Pulau Naga sudah keluar dari pondok masing-masing dan menonton pemandangan yang aneh itu.

Rajawali Hitam tetap terbang berputaran dan akhirnya menukik turun ke dataran -tinggi yang berada di depan pondok-pondok darurat yang menjadi tempat tinggal para tamu. Setelah tubuhnya tinggal dua meter dari atas tanah, dia melepaskan cengkeraman kedua kakinya dan melepaskan tubuh Si Kedok Hitam. Dengan berjungkir balik indah dan cekatan sekali Si Kedok Hitam hinggap dengan lunak di atas tanah. Akan tetapi segera Si Kedok Hitam yang tadi duduk di atas punggung rajawali, juga melompat turun dari atas punggung burung itu dan hinggap di atas  tanah tepat di depan Kedok Hitam pertama. Tin Han memandang ke arah burung yang masih terbang di atas kepalanya.

"Hek- tiauw- ko, terima kasih atas bantuanmu. Sekarang kembalilah kepada suhu!" Tin Han berseru dan burung itu lalu mempercepat gerakan sayapnya, terbang pergi dari situ.

Kini Tin Han membuka penutup kepalanya sehingga semua orang dapat melihatnya. "Cu-wi yang gagah. Perkenalkanlah bahwa saya yang selama ini bergerak  di dunia kang-ouw menentang kejahatan dengan julukan Hek- tiauw Enghiong! Selama ini ada orang lain menyamar sebagai saya melakukan pembunuhan terhadap belasan orang hwe-sio Siauwlim-pai dan beberapa orang to-su Kunlun-pai. Dan cu-wi lihat, inilah orangnya. Baru saja dia keluar hendak membunuh nona Souw Lee Cin seperti yang cu-wi lihat sendiri. Hei, Hek-tiauw Eng-hiong palsu, beranikah engkau dengan jujur menyatakan siapa dirimu sebenarnya? Engkau telah mencemarkan nama Hek-tiauw Eng-hiong dan sekarang harus kau pertanggung jawabkan!"

Orang berkedok itu bukan menjawab  pertanyaan  Tin Han, bahkan mencabut sepasang pedangnya dan menyerang dengan dahsyatnya. Tin Han cepat mengelak dan diapun mencabut Pek-kong-kiam, pedang bersinar putih itu, lalu balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat antara kedua orang yang sama-sama berpakaian hitam itu, hanya bedanya kini Tin Han telah menanggalkan kedok kain sutera hitamnya sedangkan lawannya masih memakai kedok hitam. Para penonton memandang dengan mata terbelalak. Hati mereka tegang melihat munculnya dua Hek-tiauw Eng- hiong itu dan setelah Tin Han memperkenalkan mereka menduga-duga siapa adanya si Kedok Hiram kedua itu. Merekapun mulai mengerti bahwa yang melakukan banyak pembunuhan itu adalah Hek-tiauw Eng-hiong palsu. Akan tetapi, tidak ada di antara mereka yang mau mencampuri pertandingan itu. Mereka ingin agar Hek-tiauw Eng-hiong sendiri yang membereskan orang yang telah menodai namanya itu.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Kekuatan dan kecepatan mereka nampaknya seimbang. Kalau pedang mereka beradu, keduanya terdorong ke belakang. Akan tetapi kalau pedang di tangan kiri lawannya yang bertemu dengan pedangnya, Tin Han merasa bahwa tangan kiri lawan itu tidak sekuat tangan kanannya, dan gerakan pedang tangan kiri itu kaku. Karena itu, dia beberapa kali menyerang tubuh bagian kiri sehingga lawannya terpaksa menangkis dengan pedang yang kiri dan serangan yang ditujukan kepada tubuh bagian kiri dapat mendesak Si Kedok Hiram.

"Hyaaatttt ...... !" Kembali Tin Han berseru nyaring sambil menusukkau pedarignya ke arah lambung kiri lawannya. Si Kedok Hitam memutar pedang kirinya melindungi lambung dan menangkis dengan pengarahan tenaga.

"Trangggg ...... !" Kembali pedang kiri Si Kedok  Hiram yang menangkis itu terpental dan orangnya terhuyung, namun pedang kanannya menyambar dahsyat sehingga Tin Han tidak dapat mendesaknya, bahkan terpaksa mengelak dari sambaran pedang kanan itu. Akan tetapi begitu dielakkan, pedang kanan itu sudah menyambar lagi dengan amat cepatnya, membacok dari atas mengarah kepala Tin Han.

Tin Han mengerahkan tenaga pada tangan kanannya untuk menangkis pedang lawan.

"Trakkk!" Kedua pedang itu menempel ketat dan tidak dapat ditarik kembali. Mereka saling mengerahkan tenaga untuk mendorong lawan dan pada saat itu, Si Kedok Hitam menggerakkan pedang kirinya untuk  menusuk  dada  Tin Han! Tin Han miringkan tubuh, membuka lengan kanannya dan penjepit pedang yang ditusukkan ke bawah lengannya itu. Akan tetapi dia kalah cepat karena tiba-tiba kaki kanan Si Kedok Hitam mencuat dan sebuah tendangan mengenai perut Tin Han, membuat tubuh Tin Han terpental dan terjengkang roboh! Teriakan aneh keluar dari mulut di balik kedok itu ketika Si Kedok Hitam menubruk dan membabatkkan pedangnya ke arah leher Tin Han  yang sudah roboh terjengkang.

"Trangg ...... !"  Tin  Han masih dapat menangkis pedang itu dan sekali meloncat dia telah bangkit berdiri lagi. Pada saat itu, tusukan pedang kiri Si Kedok Hitam kembali telah menyambar ke arah dadanya. Tin Han mengelak dan memutar pedangnya untuk menangkis pedang kanan lawan yang menyambar dengan bacokan ke arah pinggangnya. Kembali mereka saling serang dengan cepat dan kuatnya, membuat penonton menjadi semakin tegang. Dari gerakan- gerakan kedua orang itu, maklumlah para tokoh kang-ouw yang menjadi penonton bahwa ilmu kepandaian kedua orang itu memang setingkat.

Beberapa kali In Kong Thai-su yang berdiri dekat In Yang Seng-cu menahan napas. "Sian-cai.... ilmu pedang yang bagus!" Dia memuji.

"Omitohud, baru sekarang pin-ceng melihat seorang pemuda dengan ilmu kepandaian setinggi itu!" kata pula In Kong Thai-su.

"Thai-su, apakah kita perlu membantu pemuda she Cia itu?" Im Yang Seng cu bertanya.

In Kong Thai-su menggeleng kepalanya. -"Pin-ceng kira tidak perlu, karena kita belum tahu siapa Si Kedok  Hitam yang seorang lagi itu dan kita belum yakin siapa di antara mereka yang bersalah walaupun. Si Kedok Hitam itu yang agaknya Hek- t iauw Eng- hiong yang palsu. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri dan kita hanya menonton bagai mana kesudahan peristiwa aneh ini." "Sian-cai, pinto hampir yakin bahwa Cia-sicu di pihak benar. Dia berusaha untuk melucuti kedok orang yang mengaku sebagai Hek-tiauw Eng-hiong dan yang menggunakan namanya untuk membunuhi murid Siauw- lim-pai dan Kun-lun pai. Bagaimana kalau kita tinggal diam dan kemudian dia kalah oleh orang yang palsu itu?"

"Omitohud, pin-ceng lebih percaya bahwa orang yang bersalah akhirnya akan kalah. Kita  menjadi saksi  saja,  To- yu. "

Im Yang Seng-cu tidak bicara lagi karena diapun menganggap pendapat sahabatnya itu benar.

Ada lagi sekelompok orang yang menonton dengan jantung berdebar- debar penuh ketegangan. Mereka ini adalah Keluarga Cia yang juga menonton pertandingan  itu. Cia Kun dan isterinya menonton dengan hati penuh kekhawatiran. Mereka tahu bahwa putera mereka hendak melucuti kedok yang memalsukan namanya dan melakukan pembunuhan, akan tetapi melihat betapa kepandaian kedua orang itu seimbang, mereka merasa khawatir sekali. Ingin membantu akan tetapi hal itu akan membuat pihak putera mereka tampak curang dengan pengeroyokan, maka merekapun hanya. membantu dengan doa saja. Tadi ketika Tin Han tertendang jatuh, ibunya sudah memejamkan matanya tidak ingin melihat kelanjutannya.  Maka  legalah rasa hatinya betapa Tin Han dapat lolos dari maut. Demikian pula Cia Hok dan Cia Bhok. Mereka menonton dengan jantung berdebar, khawatir kalau keponakan mereka menderita kekalahan. Di samping itu mereka juga merasa amat kagum melihat keponakan mereka yang selalu dianggap pemuda lemah itu adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Cia Tin Siong yang berdiri di samping Kwe Li Hwa, tidak kalah gelisahnya. Kwe Li Hwa merasakan ini dan iapun bertanya, "Siong-ko, bagaimana pendapatmu? Apakah adikmu itu akan dapat mengalahkan penjahat itu?"

Tin Siang menghela napas panjang. "Entahlah, kita hanya dapat berdoa semoga dia keluar sebagai pemenang. Lawannya dengan sepasang pedangnya itu lihai luar biasa."

"Akan tetapi adikmu itupun amat lihai, Siong-ko."

"Anak itu memang aneh. Dia mempelajari ilrnu  yang tinggi tanpa sepengetahuan kami yang menjadi keluarganya."

“Dia tadi menangkap Hek-tiauw Eng hiong palsu ia dengan bantuan seekor burung rajawali hitam yang besar. Apakah memang dia memelihara burung itu, Siong-ko?"

Tin Siong menggerakkan kedua pundaknya. "Hal inipun aku tidak tahu. Baru sekarang aku melihat burung rajawali besar itu."

Sepasang muda mudi ini menonton dengan hati berdebar penuh ketegangan.

Sementara itu, di pihak tuan rumah dengan rekan- rekan mereka, juga menonton dengan hati tegang dan heran. Thian-to Mo- ong dan rekan- rekannya juga tidak mengenal siapa orang yang berkedok dan bersenjata sepasang pedang yang bertanding melawan Cia Tin Han

Mereka bertanya- tanya, juga merasa  heran  mengapa Ouw Kwan Lok tidak muncul. Pada hal semua tamu sudah keluar dari pondok masing- masing dan mengikuti jalannya pertandingan itu dengan penuh perhatian.

Hanya Siang Koan Bhok seorang yang tampaknya tidak heran, melainkan menonton pertandingan itu dengan sikap tenang. Dia menganggap Tin Han sebagai musuh besarnya, yang pernah mengalahkannya ketika dia bersama rekan- rekannya menyerbu ke tempat kediaman Keluarga Cia. Dia maklum betapa lihainya Cia Tin Han, akan tetapi tidak berarti mencampuri pertandingan itu, karena di situ hadir pula banyak tokoh kang-ouw dan pendekar yang tentu tidak tinggal diam kalau dia mencampuri pertandingan satu lawan satu itu.

Te- tok Kui-bo dan Siauw Leng Ci yang juga menjadi penonton bersama seratus lebih anak buah mereka, tertegun dan terheran-heran melihat betapa Tin Han dapat menandingi Hek-tiauw Enghiong yang hebat itu.

"Ya Tuhan, siapa kira bocah itu sedemikian lihainya? Kiranya ketika berada di tempat kita  dahulu,  ketika  kita coba ilmunya melawanmu dia hanya berpura- pura saja sehingga kepandaiannya tampak setingkat denganmu, Leng Ci. Kelau melihat kepandaiannya sekarang rasa-rasanya aku sendiri tidak akan mampu menandinginya."

Tentu saja Leng Ci merasa bangga sekali. Ia menganggap Tin Han sebagai tunangannya. Biarpun pemuda itu belum menyatakan kesanggupannya, namun dia tidak menolak ketika ibunya mengusulkan perjodohan di antara mereka. Dan sekarang, melihat pemuda yang sudah dianggapnya sebagai calon suaminya itu bertanding dengan sedemikian gagah beraninya, tentu saja ia merasa bangga walaupun ada pula rasa khawatir dalam benaknya.

"Ibu, lawannya demikian lihai. Bagaimana kalau sampai Tin Han kalah? Ibu, kita bantu dia!"

"Ssttt, jangan gegabah, Leng Ci. Tidakkah engkau melihat betapa para tokoh besar persilatan berada di sini sekarang dan ikut pula menyaksikan perkelahian itu. Kalau kita turun tangan membantunya, itu tidak adil namanya dan kita dapat dianggap curang. Sudahlah, kita melihat saja, aku kira  Tin Han tidak akan kalah. Di sana kulihat ayah ibunya  dan paman- pamannya juga hadir dan mereka itu juga tidak mencampurinya." Leng Ci tidak berani bicara lagi, hanya mengepal- ngepal kedua tangannya seolah-olah dengan semangatnya ia hendak membantu orang yang dicintanya itu.

Pertandingan itu semakin seru. Pedang mereka tidak lagi tampak ujudnya, telah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Tin Han sendiri kagum melihat ketangguhan lawannya. Dia melihat betapa teguh pertahanan lawan dan betapa dahsyat serangan- serangannya. Kalau dilanjutkan begini, agakriya sampai ratusan jurus belum tentu dia akan dapat merobohkan lawan. Akan tetapi akhirnya dia teringat akan gerakan tangan kiri yang kaku itu. Dia membayangkan orang yang buntung lengan kirinya dan memakai sambungan, maka gerakan tangan dan lengan kiri itu menjadi kaku, Tin Han teringat akan percakapannya dengan Song Thian  Lee.  Dia dan Song Thian Lee tadinya mencurigai bahwa Siang Koan Bhok atau Ouw Kwan Lok yang melakukan penyamaran sebagai Hek- tiauw Eng-hiong, akan tetapi dugaan itu tidak cocok, karena Ouw Kwan Lok, hanya berlengan satu. Dan orang yang berkelahi dengannya ini, walaupun  berlengan dua, akan tetapi tangan kirinya bergerak demikian kaku! Salahkah perhitungannya kalau  dia menduga bahwa  orang ini bukan lain adalah Ouw Kwan Lok yang menyambung tangan buntungnya dengan tangan buatan?

Setelah berpikir demikian, Tin Han mengubah cara bersilatnya. Dia memainkan ilmu silat Hek- tiauw-kun (Silat Rajawali Hitam) akan tetapi lebih banyak menujukan serangannya kepada bagian kiri  lawan. Benar  saja,  ketika dia melakukan hal ini, lawannya segera terdesak. Pedang tangan kiri itu tidak banyak bekerja, yang lebih banyak diandalkan adalah tangan kanan.

"Haaaaiiiittt!" Pedang di tangan Tin Han berkelebat lagi, kini tubuhnya merendah dan dari bawah pedangnya menusuk ke arah perut lawan. Hek- tiauw Eng- hiong cepat melompat ke samping untuk mengelak, akan  tetapi  tubuh Tin Han bangkit sambil mengirim tendangan kilat ke arah pergelangan tangan kiri itu.

"Dukkkk!" Dia merasakan kakinya menendang benda keras seperti besi sehingga kakinya terasa nyeri, akan tetapi tendangan itu membuat pedang terlepas dari tangan kiri Si Kedok Hitam!

Melihat hasil ini, Tin Han terus mendesaknya. Akan tetapi setelah kehilangan pedangnya, tangan kini Si Kedok Hitam masih dapat menyerang menggunakan jari- jari tangannya! Bahkan ketika pedang Pek- kong- kim menyambar dari arah kiri, Si Kedok Hitam berani mengangkat lengan kirinya untuk menangkis!

Akan tetapi sekali ini Si Kedok Hitam terlalu memandang rendah Pek-kong kiam. Pedang pusaka ini amat ampuh dan kuatnya sehingga mampu memotong baja dan besi. Ketika lengan kiri itu menangkis, tak dapat dihindarkan lagi mata pedang Pek- kong- kiam bertemu dengan lengan kiri itu.

"Krekk. ..... !" lengan kiri itu buntung dan jatuh terlempar ke atas tanah. Semua orang  memandang  dengan  terkejut dan heran karena lengan kiri yang buntung itu tidak mengeluarkan darah setetespun! Bahkan kini pedang kanan Si Kedok Hitam menyambar dahsyat. Pada saat itu perhatian Tin Han tertuju kepada lengan kiri lawan yang dapat di buntunginya, maka serangan Si Kedok Hitam itu datangnya terlalu cepat baginya. Dia masih melempar tubuh ke belakang akan tetapi ujung pedang Si Kedok Hitam sempat melukai pundak kirinya! Darah mengucur dari pundak kiri itu. Si Kedok Hitam merasa mendapat angin, menyusulkan bacokan pedang kananya dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Tin Han juga mengerahkan seluruh tenaga menangkis datangnya sambaran pedang itu.

"Trangggg.........!!” Bunga api muncrat tinggi dan kedua pedang itu terlepas dari tangan mereka saking kerasnya benturan itu. Kini mereka saling berhadapan dengan kedua tangan kosong! Akan tetapi Tin Han tidak ingin melepaskan lawannya. Dia segera menerjang maju dengan tangan kosong, menggunakan ilmu silat Hek- tiauw- kun dan mengerahkan tenaga Khong- sim Sin- kang! Ilmu-ilmu ini hebat bukan main. Si Kedok Hitam tampak terkejut dan diapun melawan dengan ilmu silat Hek- wan- kun (Silat Lutung Hitam) dan diam-diam diapun mempergunakan Pek- swat Tok- ciang (Tangan Racun Salju Putih) yang amat berbahaya bagi lawan.

Pertandingan tangan kosong ini tidak kalah menariknya. Setiap gerakan tangan mereka mendatangkan angin pukulan yang berdesir dan gerakan mereka demikian mantap dan kokoh kuat. Setiap kali kedua lengan bertemu, mereka tergetar mundur. Agaknya karena lengan kiri yang buntung itu tidak memakai lengan baju yang ikut buntung, gerakan Si Kedok Hitam menjadi canggung dan pincang, maka perlahan- lahan Tin Han mulai dapat mendesaknya.

"Hyaaaatttt ...... !" Tin Han berseru nyaring dan tangan kirinya menampar cepat dan kuat ke arah pelipis kanan lawan. Melihat pukulan yang amat berbahaya ini, Si Kedok Hitam menangkis dengan tangan kanannya.  Akan  tetapi pada saat yang sama, tangan  kanan  Tin  Han  menyambar dan merenggut lepas kedok hitam itu. Kini tampaklah oleh semua orang bahwa yang bersembunyi di balik kedok itu bukan lain adalah Ouw Kwan Lok seperti banyak orang menduga ketika melihat lengan yang putus itu tidak mengeluarkan darah.  OuwKwan Lok terkejut sekali dan melompat jauh ke belakang masuk ke dalam rumah induk di Pulau Naga itu. Tin Han tentu saja melompat hendak mengejar masuk ke rumah itu, akan tetapi Siang Koan Bhok meng- hadang di depannya.

"Perlahan dulu! Tanpa seijin kami sebagai tuan rumah, siapapun dilarang memasuki rumah kami!" kata kakek itu sambil melintangkan dayung bajanya.

Tin Han mengerutkan alisnya lalu dia meng-

ambil pedangnya yang tadi terlepas dari pegangannya. "Lo- cian-pwe, aku hendak memasuki rumahmu karena hendak mengejar si jahat Ouw Kwan Lok! Semua orang kini tahu bahwa yang menyamar sebagai Hek- tiauw Eng hiong dan membunuhi para pendeta Siauw-lim-pai dan para to-su Kun-lun-pai adalah si jahat Ouw Kwan Lok! Untuk membersihkan namaku aku harus mengejar dan menangkapnya!"

"Aku tidak perduli akan hal itu. Yang penting, Ouw Beng- cu adalah tamu kami dan kami tidak mengijinkan siapa saja memasuki rumah kami membikin kacau!" Siang Koan Bhok berseru dengan kukuh.

"Sian-cai, Tung-hai-ong bicara secara tidak pantas. Ouw Kwan Lok itu jelas adalah orang jahat yang telah membunuh banyak orang, dan engkau masih hendak melindunginya?" teriak Im Yang Seng-cu tidak sabar lagi.

"Im Yang Seng-cu, ini adalah urusan pribadiku. Aku hendak melindungi siapa saja yang berada di rumahku adalah hak pribadiku, tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga."

"Omitohud, kalau begitu jelas bahwa Siang Koan Bhok bersekutu dengan Ouw Kwan Lok untuk mengadu domba di antara kami. Kabarnya kalian telah menjadi antek Mancu, bersekutu dengan kaum sesat dan memusuhi kaum pendekar. Begitukah?" kata In Kong Thai-su.

"Hei, In Kong Thai-su, jangan bicara sembarangan. Kami adalah rakyat jelata yang tunduk kepada pemerintahan yang berkuasa, tentu saja kami membantu dan memihak pemerintah. Apakah engkau akan memihak kaum pemberontak? Kalau begitu, kami berhak untuk menangkap kalian para pemberontak!"

Tin Han lalu memutar tubuh bicara dengan nyaring kepada semua orang yang hadir. "Saudara-saudara sekalian! Kalian hari ini diundang oleh berg-cu baru ke sini hanya untuk dibujuk menjadi antek Mancu dan terseret dalam perbuatan jahat dan curang mereka. Keadaan itu sungguh berlawanan dengan sikap kita orang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, dan tentu saja di antara kita tidak ada yang sudi menjadi antek penjajah Mancu. Sudah jelas bahwa Ouw Kwan Lok yang mengangkat diri sendiri menjadi beng-cu hendak membelokkan perjuangan para pendekar, bahkan mengadu domba dengan membunuhi para pendeta yang tidak berdosa. Kita harus menangkap dan mengadili orang yang demikian jahat!"

Ucapan Tin Han ini disambut dengan gemuruh oleh para pendekar yang hadir. Akan tetapi Siang Koan Bhok berteriak nyaring, "Saudara- saudara, kita bukan pemberontak. Sudah sewajarnya kita membantu pemerintah dan marilah kita membantu pasukan pemerintah untuk membasmi pemberontak ini!"

Tak dapat dicegah lagi, kedua pihak sudah saling serang dan terjadilah pertempuran hebat di tempat itu. Anak buah Pulau Naga bangkit dan melakukan perlawanan terhadap para pendekar dan dalam pertempuran ini anak buah Te-tok pang yang berjumlah seratus lebih juga memegang peran utama, perperang melawan anak buah Pulau Naga. Di pihak Siang Koan Bhok ikut mengamuk Yauw Seng Kun, Ban Tok Mo-li, Ma Huan, Hek-bin Mo-ko, Sin-ciang Mo-kai, Thian-te Mo-ong. Mereka ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi, masih ditambah lagi belasan orang kang-ouw golongan sesat yang juga sudah menjadi sekutu mereka.

Di pihak para pendekar terdapat nenek Te-tok Kui-bo, Siauw Leng Ci, Song Thian Lee, Kwee Ciang, Kwe  Li  Hwa, Thio Hui San, Liu Ceng, In Kong Thai-su, Hui Sian Hwe-sio, Im Yang Ceng-cu, Cia Tin Siong, Cia Tin Han, Cia Kun dan isterinya, Cia Hok dan Cia Bhok.

Tak dapat dicegah lagi terjadi pertempuran yang hebat. Song Thian Lee yang maklum bahwa  di  antara  mereka semua itu yang paling lihai adalah Siang Koan Bhok, maka begitu pertempuran berlangsung, dia sudah menerjang majikan Pulau Naga itu dengan Jit- goat-kiam (Pedang Matahari dan Bulan).

Sementara itu, tadi ketika menunggang burung rajawali hitam, Tin Han melihat betapa Lee Cin mengejar Ouw Kwan Lok lalu lenyap di tengah padang rumput. Dia amat mengkhawatirkan nasib kekasihnya itu, maka melihat semua orang sudah bertanding, dia lalu lari ke arah padang rumput itu untuk mencari Lee Cin.

"Cin-moi ...... !" Dia mengerahkan khi-kang dan berseru memanggil. Suaranya bergema di seluruh permukaan padang rumput. Namun tidak terdengar jawaban. Dia lari ke tengah padang rumput dan berulang kali berteriak memanggil Lee Cin. Akhirnya, dia mendengar suara yang lapat- lapat di sebelah depan.

"Han- ko !”

Bagaimanakah dengan keadaan Lee Cin yang terjeblos ke dalam perangkap dan terjatuh ke dalam lubang sumur itu? Sumur itu dalam sekali  dan Lee Cin  yang  sedang melayang ke bawah itu teringat bahwa ia masih memegang pedangnya. Maka ia mengerahkan sinkangnya membuat pedang itu menjadi kaku dan menusuk ke dinding sumur.

"Capppp......... !" Pedang itu menusuk dinding sumur sampai ke gagangnya dan kini Lee Cin bergantung kepada gagang pedangnya itu. Ia tidak dapat melihat ke bawah karena gelap, akan tetapi ia mendengar suara berdesis dan mencium bau amis! Tahulah ia bahwa di dasar sumur itu terdapat banyak ular berbisa! Ia adalah seorang pawang ular, tentu saja tidak takut menghadapi ular-ular itu. Akan tetapi dalam keadaan bergantung seperti itu ia tidak berdaya. Ia mengerahkan tenaganya dan terus bergantung di gagang pedangnya.

Akhirnya ia mendengar seruan memanggil namanya itu. Seruan itu demikian kuat sehingga terdëngar olehnya yang berada dalam sumur. Ia tidak ragu lagi  bahwa  itu  tentu suara Tin Han, maka iapun segera menjawab dan memanggil nama pemuda itu. Hatinya merasa lega sekali karena akhirnya kekasihnya datang mencarinya.

"Cin- moi, engkau di situ?" terdengar kini suara Tin Han dari atas sumur.

"Tin Han koko, aku di sini, bergantung pada pedangku!" teriak Lee Cin ke atas.

"Tunggu sebentar, aku mencari sesuatu untuk menarikmu keluar!" Tin Han lalu mencari- cari dengan matanya. Akan tetapi di padang rumput dan hutan di depan, bagai mana dia akan dapat menemukan tali yang cukup panjang untuk diulurkan ke bawah? Tiba- tiba wajahnya berseri ketika dia melihat serumpun bambu yang panjang. Cepat dia menghampiri, dengan pedangnya dia menebang sebatang pohon bambu yang paling panjang, lalu menyeret batang bambu itu ke dekat sumur.

"Cin- moi, aku telah menemukan bambu, akan kujulurkan ke bawah. Hati-hati dan tangkap bambunya!"

Dengan perlahan dia menurunkan batang bambu ke bawah sampai dia merasa bambu itu tertahan dari bawah.

Lee Cin menangkap ujung bambu

"Cin- moi, sudah siapkan engkau untuk naik ke atas ?" "Nanti dulu, Han- ko. Aku mencabut dulu pedangku!" Lee

Cin yang kini sudah memanjat batang pohon itu lalu mengerahkan tenaganya untuk mencabut Ang-  coa-  kiam dari dinding sumur.

"Aku sudah siap, Han- ko!" katanya. Ia sendiri memanjat naik dan Tin Han menarik bambu ke atas sehingga sebentar saja Lee Cin sudah tiba di luan sumur.

"Han- ko.         !”

"Cin- moi, engkau selamat .........!” Dengan girang sekali Tin Han merangkul gadis itu dan sampai beberapa lamanya mereka saling berangkulan. Lee Cin merasa lega sekali, bukan hanya karena ia sudah ditolong keluar dari bahaya maut, melainkan juga melihat betapa pemuda ini sama sekali tidak kelihatan dendam atas perlakuannya tempo hari.

"Han- ko, di bawah sana penuh ular berbisa," kata gadis itu bergidik.

"Stmgguh berbahaya. Ouw Kwan Lok itu licik sekali, sehingga engkau dapat terjebak. "Apakah dia sudah dapat ditangkap atau dibunuh, Han- ko?" tanya Lee Cin yang mendengar suara gaduh dari pertempuran itu.

"Dia licik, dia melarikan diri dan Siang Koan Bhok mengerahkan orang-orangnya untuk melawan kita."

'"Hemm, kalau begitu, tunggu, Han ko!" Lee Cin mengeluarkan sulingnya, meniup sulingnya dengan nyaring. Terdengar suara melengking- lengking aneh dan  tiba-tiba dari dalam sumur itu merayap naik banyak sekali ular besar kecil dan banyak yang berbisa. Bahkan dari arah hutan berdatangan pula ular-ular besar kecil.

"Aku dapat menggunakan ular- ular ini untuk membantu kita dalam pertempuran!" kata Lee Cin dan bersama Tin Han ia lalu setengah berlari- lari menuju ke tempat pertempuran, diikuti oleh ular- ular itu yang digiring suara suling yang masih ditiup Lee Cin.

Gegerlah para anak buah Pulau Naga ketika tiba- tiba mereka diserang banyak ular. Keadaan menjadi kacau dan pihak Pulau Naga terdesak, banyak di antara mereka yang tewas.

Siang Koan Bhok marah sekali dan dengan  sepenuh tenaga dia mengayun dayungnya menghantam Song Thian Lee. Namun pendekar ini menangkis dengan pedangnya, kemudian tangan kirinya mendorong dengan sepenuh tenaga Thian-le Sin- kang ke arah dada datuk itu. Siang Koan Bhok maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, akan tetapi dia tidak dapat mengelak lagi dan terpaksa dia melepaskan tangan kanan dari dayungnya dan menyambut dorongan tangan Thian Lee itu dengan Ban-tok- ciang.

"Wuuuuuuttt......... dess........!!” Tubuh Thian  Lee terdorong mundur tiga lankah akan tetapi tubuh Siang Koan Bhok terpelanting dan terhuyung, lalu dia muntahkan darah. Tiba- tiba terdengar suara tambur dan canang. Thian Lee terkejut karena dia mengenal suara itu yang berarti bahwa ada pasukan pemerintah yang sedang  mendatangi  tempat itu. Sebagai seorang bekas panglima segera dia dapat melihat bahaya yang mengancam para pendekar dan cepat pula dia dapat mengambil keputusan untuk menyelamatkan mereka.

Dia mengerahkan khi-kangnya dan berseru kepada mereka semua, "Saudara-saudara para pendekar. Cepat mundur dan melarikan diri ke tempat perahu cepat!"

Mendengar ini, para pendekar itu menjadi terkejut, akan tetapi mereka percaya sepenuhnya kepada bekas Panglima yang gagah perkasa itu. Maka setelah mendesak pihak Pulau Naga, mereka lalu melarikan diri ke pantai.

"Cepat naik perahu dan pergi meninggalkan pulau ini!" kembali Thian Lee berseru nyaring. Tin Han dan Lee Cin juga sudah tiba di situ dan Tin Han segera mengerti akan maksud Thian Lee mengajak mereka mundur. Memang dari tempat tinggi dia dapat melihat pasukan pemerintah yang ratusan orang jumlahnya sedang menuju ke tengah pulau! Tin Han juga membantu Thian Lee berteriak- teriak memberi peringatan kepada mereka yang bertempur. Untung bahwa pihak Pulau Naga sudah terdesak sehingga ketika para pendekar melarikan diri, mereka tidak melakukan pengejaran. Ketika akhirnya pasukan pemerintah yang datang membantu pihak Pulau Naga tiba di situ, para pendekar sudah tiba di pantai dan mereka mempergunakan perahu-perahu untuk melarikan diri.

Tin Han dan Lee Cin berada dalam satu perahu bersama. Te-tok Kwi-bo dan puterinya, Siauw Leng  Ci.  Juga  Song Thian Lee berada di situ. Tin Han dan Thian Lee berdua mendayung perahu itu cepat- cepat , bersama para pelarian yang lain, menuju ke daratan. Mereka berdua mengerahkan tenaga sin- kang mereka sehingga sebentar saja mereka sudah tiba di pantai daratan. Mereka berlompatan keluar.

"Sungguh berbahaya sekali," kata Song Thian Lee. "Mereka benar- benar telah menjadi antek penjajah Mancu dan telah bersekutu sehingga demikian cepat mendapat bala bantuan."

"Untung ada engkau yang pernah menjadi panglima , Song- sicu. Kalau tidak kita semua tentu akan terkurung di pulau itu dan tidak mudah meloloskan diri," kata Te-tok Kui- bo. "Akan tetapi mulai sekarang aku akan lebih gigih memimpin anak buahku untuk memusuhi pemerintah Mancu."

"Sayang aku tidak dapat menangkap Ouw K wan  Lok," kata Tin Han penuh penyesal.

"Lain waktu masih banyak kesempatan, Han- ko,"  kata Lee Cin menghibur.

Te- tok Kui- bo mengerutkan alisnya melihat sikap mesra Lee Cin kepada Tin Han. "Cia Tin Han, kita harus menunggu sampai keluargamu tiba di sini. Aku tadi melihat mereka lengkap di pulau, kebetulan sekali karena aku segera akan membicarakan urusan perjodohanmu dengan Leng Ci!" Ucapan ini dikeluarkan dengan nyaring sehingga terdengar oleh Lee Cin dan Thian Lee. Mendengar ini, Thian  Lee terkejut. Dia tahu bahwa Tin Han dan Lee Cin saling mencinta, akan tetapi mengapa ketua Te-tok-pang itu berkata demikian, bicara tentang perjodohan Tin Han dengan puterinya?

Lebih-lebih Lee Cin yang mendengar ucapan itu. Wajahnya tiba tiba berubah pucat dan matanya terbelalak memandang kepada Tin Han penuh pertanyaan. Wajah Tin Han berubah merah sekali.

"Aih, Lo- cian- pwe, sungguh saya belum memikirkan tentang perjodohan harap lo-cian-pwe jangan bicara tentang perjodohan. Saya belum siap untuk mengikatkan diri dengan perjodohan!"

"Apa katamu? Dulu engkau mengatakan bahwa urusan perjodohan tergantung dari orang tuamu, sekarang kenapa bicara begini?"

"Aku juga tidak tergesa-gesa menikah, Tin Han. Cukup kalau kita bertunangan lebih dulu," kata Siauw Leng Ci dengan polos. Wajah  Tin Han menjadi  semakin merah dan dia menjadi bingung sekali ketika melirik kepada  Lee  Cin dart melihat wajah gadis itu pucat dan matanya basah!

"Tidak ..... tidak, bertunanganpun tidak. Saya belum bersedia!" Jawahnya kukuh. Dia merasa menyesal mengapa ketika mereka bicara tentang perjodohan dulu, tidak ditolaknya saja dengan alasan bahwa dia telah mempunyai seorang calon.

Thian Lee memandang kepada Lee Cin dengan hati penuh iba. Diapun mendongkol sekali melihat sikap Tin Han yang dianggapnya tidak tegas itu. Karena dalam hatinya dia membela Lee Cin, diapun segera berkata dengan suara tegas.

"Saudara Cia Tin Han, seorang laki-laki haruslah bersikap tegas dan tidak mencla-mencle. Apa lagi dalam mernutuskan urusan pernikahan yang akan mengikatrnu selama hidup. Menghacurkan hati seorang gadis sungguh merupakan tindakan pengecut!"

Wajah Tin Han menjadi pucat mendengar ini. Dia dapat mengerti bahwa Song Thian Lee dahulunya seorang pemuda yang menjadi pilihan hati Lee Cin, akan tetapi karena Thian Lee sudah mencinta seorang gadis lain maka Lee Cin juga melepaskannya. Kemudian Lee Cin jatuh cinta kepadanya seperti juga dia mencinta gadis itu. Tentu saja dia memilih Lee Cin dari pada Leng Ci, akan tetapi dia sudah terlanjur mengatakan bahwa urusan perjodohan tergantung kepada orang tuanya! "Lo-cian-pwe," katanya kepada Te-tok Kui- bo_ "sesungguhnyalah bahwa saat ini aku tidak man bicara tentang perjodohan. Musuh besarku, Ouw Kwan Lok, belum dapat kutangkap untuk membersihkan nama baikku."

"Ah, itu mudah saja Tin Han. Setelah engkau  menjadi calon mantuku, berarti engkau bukan orang lain.. Aku dan Leng Ci tentu akan membantumu sampai engkau dapat membasmi Ouw Kwan Lok!"

Tin Han merasa terdesak dan pada saat itu,  sebuah perahu mendarat dan kebetulan sekali penumpangnya adalah keluarga Cia! Ketika isteri Cia Kun melihat Tin Han di situ, ia segera memanggil. "Tin Han. !”

Tin Han segera menghampiri dan ikut menarik perahu itu ke daratan. Keluarga itu tampak gembira melihat Tin Han dalam keadaan selamat pula.

Te-tok Kui-bo segera menghampiri mereka dan menegur keluarga itu. Dengan ramah ia lain memanggil mereka. "Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok, apakah kalian sudah lupa kepadaku?"

Melihat nenek bertongkat kepala naga ini tentu saja keluarga itu menjadi girang. Nenek ini adalah sahabat baik dari ibu mereka, bahkan watak mereka juga mirip.

"Bibi Siauw!" kata Cia Kun. Isterinya juga menghampiri dan mereka semua memberi hormat kepada nenek itu.

"Aduh, semua keluarga berkumpul kalau begini. Sayang sekali ibu kalian telah lebih dulu meninggal! Dan sayang sekali bahwa tadi kita tidak sempat membasmi para antek Mancu. Akan tetapi anak buahku merobohkan pihak lawan yang lumayan juga banyaknya, walaupun di pihak kami juga telah tewas belasan orang," kata nenek itu sambil memandang kepada anak-buahnya yang sudah berkumpul semua tak jauh dari situ. "Bibi Siauw sejak dahulu bersemangat besar sekali," memuji Cia Kun.

"Tentu saja. Eh, perkenalkan ini anak perempuanku bernama Siauw Leng Ci," katanya sambil menuding kepada gadis cantik itu. Keluarga Cia memandang heran karena setahu mereka nenek ini tidak mempunyai puteri, bahkan tidak pernah menikah dan sama sekali tidak mempunyai anak.

Agaknya Te-tok Kui-bo maklum akan keheranan mereka. "Ia dahulunya adalah muridku yang kemudian kuangkat menjadi anakku sendiri."

"Ah, kiranya begitu?" kata Cia Kun dan baru mereka mengerti. "Kalau begitu kami mengucapkan selamat atas pengangkatan anak itu, bibi."

"Bukan cuma itu. Maksudku memperkenalkan adalah karena kami telah sepakat untuk menjodohkan Leng Ci ini dengan anak kalian, Cia Tin Han. Bukankah dengan demikian hubungan yang erat antara aku dan mendiang Nenek Cia dapat dilanjutkan menjadi  pertalian  keluarga? Dan kedua anak itu sendiri juga sudah menyetujuinya. "

Mendengar ini, ibu Tin Han memandang kepada puteranya. "Tin Han, benarkah bahwa engkau sudah menyetujui untuk dijodohkan dengan puteri Bibi Siauw? Kalau engkau sudah setuju, kiranya kamipun tidak berkeberatan, bukankah begitu?" Ia menoleh kepada suaminya dan Cia Kim mengarigguk.

"Kami akan senang sekali berbesan dengan bibi Siauw yang dahulu menjadi rekan dan sahabat baik ibu kami. Bagaimana, Tin Han?"

Song Thian Lee memandang kepada Lee Cin yang menundukkan mukanya dengan wajah pucat. Dia merasa kasihan sekali dan juga penasaran terhadap Tin Han. Akan tetapi keluarga itu sedang bercakap-cakap dengan asyik, tentu saja sebagai orang luar dia tidak berani mencampuri.

Sementara itu, Tin Han memandang kepada ayah ibunya dengan muka merah.

"Ayah dan ibu, sesungguhnya aku tidak pernah menyatakan setuju dengan usul perjodohan itu. Aku hanya mengatakan bahwa aku akan memberitahukan dulu-kepada orang tuaku."

"Dan sekarang ayah ibumu dan kedua pamanmu sudah setuju!"" tukas Tet ok Kui-bo.

Tin Han menggigit bibirnya. Dia harus mengambil keputusan sekarang. Dia lalu memegang tangan Lee Cin, ditariknya gadis itu menghadap ayah ibunya dan dengan lantang dia berkata, "Ayah dan ibu, aku telah mendapatkan pilihan hati sendiri. Nona Souw Lee Cin inilah yang akan menjadi isteriku!"

Cia Kun dan isterinya terbelalak. Mereka tidak menyangka bahwa Tin Han jatuh cinta kepada Lee Cin, gadis yang pernah menjadi tamu mereka akan tetapi juga pernah menjadi musuh dan tawanan mereka itu. Biarpun dulu pernah mendengar bahwa Lee Cin puteri beng-cu Souw Tek Bun, ibu Tin Han bertanya lagi untuk meyakinkan.

"Puteri siapakah ia?""

"Ibu, ayahnya adalah seorang pendekar besar, bekas beng-cu Souw Tek Bun yang terkenal itu!" kata Tin Han bangga.

"Dan ibunya?"

"Ibunya tidak kalah terkenalnya sebagai seorang wanita sakti berjuluk Ang-tok Mo-li!" "Apa......... ?" Wajah Cia Kun penuh kerut merut mendengar nama ini. "Ang-,tok Mo-li datuk sesat itu? Ang- tok Mo-li adalah musuh besar mendiang nenekmu!"

“Heh-heh-heh, puteri Ang-tok Moli? Sepatutnya engkau membunuh puteri datuk itu, Tin Han. Puterinya adalah musuhmu juga karena sejak dahulu Ang-tok Mo-li memusuhi Keluarga Cia!" kata Te-tok Kui-bo.

"Akan tetapi, ibu, sekarang Ang-tok Mo-li telah mengundurkan diri, telah kembali sebagai isteri pendekar Souw Tek Bun dan tinggal di Hong-san”, bantah Tin Han.

"Tidak! Engkau tidak boleh menikah dengan puteri Ang- tok Mo-li!" bentak Cia Kim.

"Benar, Tin Han. Aku tidak rela kalau engkau menikah dengan puteri Ang-tok Mo-li. Tahukah engkau bahwa dahulu Ang-tok Mo-li dalam sebuah perkelahian hampir saja membunuh nenekmu? Tidak, akupun tidak setuju kalau engkau berjodoh dengan puterinya!"

Lee Cin terbelalak dan mukanya sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba dara itu merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan Tin Han dan iapun berkata dengan suara lantang penuh ke marahan. "Akupun tidak sudi berjodoh dengan putera keluarga Cia! Kita akan tetap menjadi musuh!" Setelah berkata demikian, Lee Cin melompat dari situ dan melarikan diri dengan cepat sekali.

"Cin- moi......... l!" Tin Han berseru dan diapun segera meloncat dan lari mengejar.

Melihat ini, diam-diam Song Thian Lee menghela napas panjang dan diapun pergi dari situ tanpa pamit. Bukan urusannya, pikirnya, dan dia tidak boleh mencampuri walaupun dia merasa amat iba kepada kedua  orang  muda itu. Te-tok Kui-bo juga segera memimpin orang-orangnya untuk pergi dari situ setelah pinangannya diterima oleh Keluarga Cia. Mereka tidak boleh tinggal terlalu lama di situ karena pasukan pemerintah yang mengejar tentu segera tiba di situ.

Para pendekar lainnya juga sudah melarikan diri cerai- berai dan sejak hari itu, para pendekar tentu saja tidak mengakui Ouw Kwan Lok sebagai bengcu, bahkan  tahu bahwa beng-cu baru itu rnenjadi kaki tangan penjajah Mancu.

-oo(mch)oo-

Lee Cin berlari cepat sekali, mengerahkan seluruh gin- kangnya sehingga ia berlari sangat cepat, memasuki sebuah hutan lebat dan berhenti lalu menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon dan menangis sesenggukan. Ia merasa jantungnya perih, hatinya sakit sekali. Orang tua Tin Han, di depannya, telah menampik ia sebagai jodoh Tin Han, menjelek-jelekkan ibu kandungnya. Ia merasa hancur hatinya, dan melihat betapa harapannya untuk menjadi isteri Tin Han lenyap sama sekali. Ibu kandungnya sendiri tidak setuju kalau ia menjadi isteri Tin Han. Halangan yang satu inipun belum dapat mereka lampaui, sekarang ditambah lagi penolakan dari pihak orang tua Tin Han.

Ia mengepal tinju dan beberapa kali memukuli tanah di depannya. Ia harus membenci Tin Han, harus melupakan pemuda itu. Akan tetapi bagaimana mungkin? Tin Han demikian baik kepadanya, tidak ada sikap Tin Han yang menyakitkan hatinya, selalu menyenangkan dan ia benar- benar jatuh cinta kepada pemuda itu. Akan tetapi bagaimana mungkin mereka dapat berjodoh? Ibunya sendiri tidak setuju dan dahulu pernah mengusir Tin Han dan sekarang orang tua Tin Han bahkan tidak setuju menerimanya dan menganggap ia sebagai puteri seorang musuh besar.

Aduh, rasa perih membuat ia mengeluh. Jantungnya seperti tertusuk pedang. Apa lagi kalau ia mengingat betapa Tin Han agaknya akan dijodohkan dengan puteri nenek yang galak itu. Mengingat itu semua, Lee Cin merasa betapa dadanya nyeri dan akhirnya ia mengeluh dan roboh pingsan.

Ia tidak sadarkan diri sampai lama dan ia sama sekali tidak tahu bahwa tak lama kemudian setelah ia roboh pingsan, seorang kakek tinggi kurus berpakaian hitam putih dengan gambar Im yang di dadanya menghampirinya. Kakek ini bukan lain adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek! Setelah para pendekar melarikan diri dari Pulau Naga, kakek inipun ikut melakukan pengejaran dan dia tiba di hutan itu seorang diri, terpisah dari kawan- kawannya yang semua melakukan pengejaran dibantu oleh pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Begitu melihat Lee Cin, sepasang matanya bersinar- sinar karena dia mengenal gadis itu sebagai musuh besar  sejak dulu Lee Cin bersama Thian Lee menentang pemberontakan Pangeran Tua. Melihat Lee Cin pingsan di bawah pohon itu, Thian- te Mo- ong cepat mengeluarkan sehelai sabuk sutera dan mengikat kedua tangan Lee Cin ke belakang: Kemudian, sambil terkekeh girang dia memanggul tubuh Lee Cin, hendak dibawanya pergi ke Pulau Naga dan diserahkan kepada Ouw Kwan Lok karena dia tahu bahwa  Ouw Kwan Lok amat memusuhi gadis ini sebagai seorang di antara musuh- musuh besarnya. Bahkan dia tahu pula bahwa yang membuntungi lengan Ouw Kwan Lok adalah gadis ini!

Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah dan seorang gadis. Mereka ini bukan lain adalah Thio Hui San murid In Kong Thai- su dari Siauw- lim- pai dan gadis itu adalah Liu Ceng murid Thian- tok Gu Kiat Seng. Tentu saja mereka segera mengenal gadis yang dipanggul oleh Thian- te Mo- ong maka tanpa banyak cakap lagi Hui San dan Ceng Ceng sudah menyerang kakek itu dari kanan kiri. Hui San menggunakan pedang sedangkan Ceng Ceng memegang sebatang pedang dan sebatang kebutan bulu merah.

Serangan kedua orang muda ini berbahaya sekali, karena keduanya adalah murid- murid orang pandai. Andaikata mereka itu maju satu demi satu, kiranya masih bukan tandingan Thian- te Mo- ong. Akan tetapi karena  mereka maju bersama dan dapat bekerja sama dengan  kompak sekali, Thian-te Mo-ong cepat mengelak ke sana sini untuk menghindarkan diri dari gulungan sinar pedang dan kebutan. Tentu saja gerakanriya tidak leluasa karena ia memanggul tubuh Lee Cin. Maka sekali dia menggerakkan pundak, tubuh Lee Cin terlempar ke atas tanah dan terguling-guling.

Kemudian Thian- te Mo-ong mencabut sepasang pedangnya dan melawan pengeroyokan kedua orang itu dengan marah sekali. Dia tidak mengenal kedua orang itu, akan tetapi tahu bahwa mereka itu masuk dua orang yang tadi bertempur di pihak para pendekar.

"Bocah- bocah yang sudah bosan hidup! Hari ini kalian akan mampus di tanganku!" bentaknya dan dia memutar kedua pedangnya sedemikian rupa sehingga tampak dua gulungan sinar yang menyilaukan mata. Maklum betapa lihainya kakek itu, Thio Hui San dan Ceng Ceng bersilat dengan hati- hati dan saling melindungi.

Sementara itu, Lee Cin yang sudah dilempar dan jatuh bergulingan di atas tanah, melihat kesempatan baik untuk meloloskan dirinya. Tadi ketika masih di panggul, tidak ada harapan baginya untuk meloloskan diri karena kalau ia berusaha memutuskan ikatan tangannya, tentu Thian- te Mo-ong akan mencegahnya. Sekarang, setelah ia dilempar ke atas tanah, ia bebas tuttuk melakukan gerakan tubuhnya. Ia mengerahkan sinkangnya sekuat tenaga. Ikatan itu kuat dan kain sutera itu dapat mulur, akan tetapi berkat tenaganya yang terpusat dan kuat sekali, ketika tali itu agak mulur ia dapat merenggut lepas tali pengikat itu dan sebentar kemudian iapun sudah terbebas dari ikatan! Ia merasa girang bahwa kakek itu tidak merampas Ang-coa- kiam yang masih melingkari pinggangnya sebagai sabuk. Ia cepat mencabut pedang itu dan sekali meloncat ia sudah menerjang Thian-te Mo-ong dengan kemarahan meluap-luap.

"Hiiiiaaaaatttt......... singg.....!" Sinar pedang berwarna merah itu meluncur dan menyerang ke arah dada Thian-te Mo-ong yang menjadi terkejut bukan main. Cepat ia menggerakkan pedang kirinya menangkis serangan yang amat cepat dan kuat datangnya itu sambil melompat mundur.

"Cringgggg. ..... !" Pedang di tangan kiri Thian-te Mo-ong hampir terlepas dari pegangan, demikian kuatnya serangan Lee Cin.

"Thian-te Mo- ong jahanam tua bangka busuk, bersiaplah engkau urrtuk mampus!" teriak Lee Cin sambil menyerang lagi susul- menyusul.

Dikeroyok oleh tiga orang itu, tentu  saja Thian- te  Mo- ong menjadi kewalahan. Melawan Lee Cin seorang diri saja agaknya baru berimbang, apa lagi kini dikeroyok oleh Hui San dan Ceng-Ceng, dia terdesak hebat dan kedua pedangnya hanya mampu menangkis saja, tidak sempat lagi membalas serangan tiga orang pengeroyoknya.

Mulai paniklah rasa hati Thian-te Mo-ong Koan  Ek  dan dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri. Akan tetapi ketika pedang kirinya menangkis pedang  di  tangan Hui San, t iba- tiba Lee Cin membacokkan pedang Ang-coa- kiam ke arah pedangnya itu sehingga tenaga lawan yang bersatu itu terlampau kuat baginya. dan pedang di tangan kirinya terpental dan terlepas dari pegangan. Cepat dia menarik kembali tangan kirinya yang terancam Ang- coa- kiam. Kalau tidak cepat- cepat dia menarik kembali tangannya itu tentu telah putus disambar Ang- coa- kiam!

Setelah pedang kirinya terjatuh, Thian- te Mo-ong melakukan pukulan dengan tangan kiri itu, jari- jari tangannya terbuka dan dari telapak tangannya itu menyambar  uap putih yang amat dingin ke arah dada Hui San.

"Awas, mundur!" teriak Lee Cin dan ia masih sempat mendorong Hui San sehingga terdorong mundur dan terbebas dari pukulan maut itu. Thian-te Mo-ong ternyata memukul dengan Pek-swat Tok- ciang  (Tangan  Beracun Salju Putih) yang tidak kalah berbahayanya dengan pedangnya yang sudah terlepas tadi.

Melihat pukulannya gagal, Thian- te Mo-ong mengamuk dengan pedang kanannya, dan tangan kirinya kadang melakukan pukulan beracun dan beruap putih itu.

Kini Thio Hui San maklum akan bahayanya pukulan tangan kiri itu, maka kalau pukulan itu datang dia melawannya dengan It-yang-ci! Hal ini memang tepat sekali karena dengan It-yang-ci yang kuat, dia mampu menghadapi Pekswat Tok-ciang, bahkan dapat menotok ke arah telapak tangan itu. Perlawanan dengan It -yang-ci  yang  dilakukan Hui San dan Lee Cin membuat Thian- to Mo-ong semakin terdesak, apalagi kebutan dan pedang Ceng Ceng juga merupakan ancaman maut baginya.

Setelah dengan nekat melakukan perlawanan terhadap tiga orang itu sampai seratus jurus, akhirnya Thian-te Mo- ong tidak kuat lagi dan sambil memben`tak nyaring diapun membalikkan tubuhriya dan hendak melarikan diri.

"Hyaaatttt......... !" Lee Cin membentak dan pedang Ang- coa-kiam meluncur lepas dari tangannya, bagaikan anak panah dan tanpa dapat di hindarkan lagi, pedang itu menancap dan menembus punggung Thian- te Mo-ong.

"Aughhhhh.......... !" Thian- te Mo-ong

terhuyung kemudian jatuh tersungkur dan tertelungkup, tewas seketika karena Ang-coa-kiam telah menembus jantungnya!

Lee Cin menghampiri mayat yang menelungkup itu, mencabut pedang Ang- coa- kiam dan membersihkan pedang itu  pada  pakaian  Thian-  te  Mo-orig.  "Adik  Le  Cin !"

Ceng Ceng menghampiri gadis "Untung engkau dapat merobohkannya dan dia tidak sampai melarikan diri.".

Lee Cin memakai lagi pedangnya sebagai sabuk dan tersenyum kepada Ceng Ceng. "Aku yang beruntung karena mendapat pertolongan kalian selagi aku tidak berdaya."

"Cin- moi, bagaimana engkau sampai dapat terjatuh ke tangan orang jahat ini?"" tanya Hui San sambil memandang wajah gadis yang pernah merebut hatinya itu.

"Aku......... agaknya  aku  sedang  ketiduran  karena  telah di bawah pohon ketika dia datang dan tiba- tiba saja menguasai diriku. Aku tidak sempat melawan. Untung engkau datang, San- ko. Terima kasih kepada  engkau  dan enci Ceng."

"Aihh, tidak ada yang harus berterima kasih, adik Cin. Kalau engkau tadi tidak cepat membantu, mungkin kami berdua sudah roboh oleh kakek yang lihai itu," kata  Ceng Ceng sambil tersenyum.

"Sekarang kalian hendak ke mama?" Lee Cin bertanya, diam- diam merasa gembira bahwa Thio Hui San dan Ceng Ceng tampak demikian akrab.

"Kami hendak menyingkirkan diri karena kami tentu juga menjadi buruan pasukan Mancu. Akan tetapi lebih dulu aku harus mengubur jenazah ini," kata Hui San. "Hemm, orang jahat seperti dia tidak pantas untuk kita menyusahkan diri mengubur jenazahnya," kata Lee Cin sambil mengerutkan alisnya. Ia tahu benar akan kejahatan yang dilakukan Thian- te Mo-ong.

"Tidak bisa......... demikian,......... Cin- moi. Sebagai murid Sian-lim-pai aku harus dapat memaafkan segala kesalahan orang yang sudah mati. Jenazah ini berhak mendapat perawatan yang baik, pula akan tidak sehatlah kalau dia dibiarkan membusuk di sini." 

Lee Cin menghela papas panjang.

Pemuda ini memang seorang yang berbudi mulia, seperti juga halnya Song Thian Lee. Iapun teringat kepada Tin Han dan hatinya terasa nyeri seperti ditusuk duri. Tin Han juga seorang pemuda yang amat baik, dan tentu akan bersikap seperti Hui San ini. Akan tetapi, terdapat celah selebar langit antara ia dan Tin Han. Ibu kandungnya tidak setuju kalau ia berjodoh dengan Tin Han dan sekarang orang tua pemuda itu yang tidak setuju kalau putera mereka berjodoh dengannya! Adakah lagi halangan yang lebih besar dari pada itu?

Biarpun tadi mencela, melihat Hui San dan Ceng Ceng menggali lubang kuburan, Lee Cin tidak dapat tinggal diam dan membantu mereka. Kemudian, setelah lubang itu cukup dalam dan lebar, Hui San mengangkat jenazah Thian to Mo- ong dan menguburnya secara sederhana.

"Sekarang kalian hendak pergi ke manakah?" tanya Lee Cin kepada mereka.

"Kami hendak pulang ke rumah paman Souw Can di Pao- ting," kata Ceng Ceng dengan nada suara gembira.

"Atas nasihat Paman Souw Can, kami akan melangsungkan pernikahan kami di sana, berbareng dengan pernikahan antara adik Souw Hwe Li dan Lai Song Ek," sambung Thio Hui San dengan wajah gembira pula. "Ah, khong- hi (selamat) kalau begitu! Mudah-mudahan kalian akan, dapat hidup bahagia," kata Lee Cin dan suaranya agak terharu karena ia teringat akan nasib dirinya.

"Terima kasih, adik Lee Cin," kata Ceng Ceng sambil merangkulnya. "Kalau sudah tiba saatnya, kami harap engkau akan dapat hadiri dan minum arak pengantin."

Lee Cin balas merangkul. "Engkau seorang  gadis  yang baik sekali, enci Ceng. Engkau berhak untuk hidup berbahagia. "

"Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah, Cin- moi

?" tanya Hui San, sambil memandang dengan perasaan iba. Dia tahu bahwa Lee Cin dahulu mencinta Thian Lee yang menikah dengan gadis lain.

"Aku? Ah, aku akan merantau sambil mencari Ouw Kwart Lok. Hatiku belum merasa puas kalau belum dapat membunuh jahanam busuk itu. Dia telah menyerang dan melukai ibuku."

"Berhati-hatilah, Cin- moi, orang itu lihai bukan main biarpun lengan kini nya sudah buntung," kata Hui San.

"Aku akan berhati- hati, San- ko.  Nah,  selamat  tinggal, aku pergi dulu!"

"Selamat berpisah, adik Cin!" Ceng Ceng dan Hui San melambaikan tangan ke arah perginya Lee Cin yang sudah menggunakan ilmunya melompat jauh pergi dari tempat itu.

Hui San lalu pergi juga dari situ tersama Ceng Ceng. Mereka pergi sambil bergandeng tangan dengan penuh kemesraan.

-oo(mch)oo-

"Cin- moi......... !" Tin Han mengejar sambil memanggil- manggil, akan tetapi Lee Cin sudah tidak tampak lagi berada di mana. Dengan hati hancur Tin Han lalu kembali kepada orang tuanya, alisnya berkerut dan pandang matanya marah