-->

Pahlawan Harapan Jilid 22 (Tamat)

Jilid 22 Tamat

"Aku siap." seru dua saudara Wan dengan berbareng, sedangkan tubuhnya segera lari seperti terbang dengan ringannya. Sewaktu mereka sudah berada di jendela rumah itu.. matanya segera mengintai ke dalam, hati mereka menjadi kaget sekali. DI dalam terdapat seorang yang tengah duduk, orang itu bukan lain dari Louw Tiau adanya. Dua saudara ini tetap tidak berkata-kata. mereka mengawasi terus keadaan di dalam dengan tenang Rumah ini. terbuat dari batu batu yang terkikis rata. Pintu dan jendela terbuat dari kayu yang baik. tapi dibanyak tempat terdapat yang lapuk, hal ini mungkin karena terlalu lama kehujan anginan.. Ruangan dalam luasnya dua kali tiga tombak persegi, Louw Tiau berduduk di tengah tengah diatas sebuah bangku, matanya dimeramkan rapat rapat sedangkan napasnya yang halus terdengar dengan tegas.

Disamping bangku menyala sebuah perapian yang menghangatkan ruangan, di tembok sebelah kiri membayang bayangan dari Louw Tiau seorang diri yang penuh kesunyian, kalau angin masuk berembus, lidah api bergoyang goyang. bayangan hitam itupun turut bergoyang goyang seperti setan penasaran, sehingga membuat setiap hati orang merasa bergidik.

Musuh, sudah berada didepan mata. hal ini memang diluar pikiran siapapun. Djin Liong dan Thian Hong merasakan dadanya seperti dibakar panasnya, napasnyapun agak memburu dan tidak terkendalikan lagi ingin hatinya segera melakukrn serbuan, untuk menikamkan pedangnya, membuat lobang ditubuh sang jahanam, Tapi mereka sudah setahun lebih berkelana di dunia Kang ouw karena kecerdasan dan pengalamannya sudah maju banyak mereka tahu melakukan pekerjaan ini tidak boleh dikuasai emosi. Sesudah masing masing memberikan tanda dengan tangan, dua saudara ini segera turun menghentikan pengintaiannya. Sedangkan Louw Tian yang berada di dalam agaknya masih belum sadar atas kedatangannya musuh, karenanya masih tetap saja tidur dengan asyiknya.

Dua saudara sesudah turun kembali mengutarakan masing masing pendapatnya pada saudara saudaranya sekalian, mau taK mau mereka merasakan perasaan dan gelora hatinya menjadi tidak wajar. Sedangkan Kie Sau puu tidak mengira bahwa Sang jahanam dapat dijumpai dengan secara mudah, dan tegas terlihat duduk tenang tanpa penjagaan, seperti menunggu kematian saja.- Tidak mungkin kiranya? Ya memang tidak mungkin demikian mudah. Begitulah semua berpikir.

Sesudah Kie Sau berpikir sebentar, segera berkata. "Anak anak aku mengetahui bahwa kalian ingin dengan

segera menerjang masuk, dan menusukkan pedang kalian

untuk menamatkan riwayat jahanam itu. Tapi kuminta dengan sangat agar semuanya bersabar, Louw Tiau sudah berada didepan mata biar bagai mana tak dapat pula untuknya melarikan diri. Kini kita harus melakukan penyelidikan kesekeliling rumah, kalau kalau ada kambratnya yang bersembunyi, marilah kita mulai."

Sekalian orang menurut pendapat Kie Sau, saat itu juga berpencar keempat penjuru untuk melakukan penyelidikan. Mereka memeriksa sejengkal demi sejengkal dengan teliti, penyelidikan terus dilaKukan sampai mereka berada disekeliling rumah, Rumah ini mempunyai jendela diempat penjurunya, dengan secara kebetulaa sekali berjumlah delapan, dengan demikian setiap orang dapat sebuah jendela untuk melihat kedalam Keadaan didalam masih tetap tak berubah seperti yang dituturkan oleh saudara Wan. Louw Tiau yang memakai baju panjang dan gedomorogan masih tetap tidur dengan nyenyaknya, tapi terlihat dengan tegas lengan baju kirinya yang terkulai jatuh tidak berisi. Tak salah lagi pasti Louw Tiau dia adanya! Bukankah lengan sang jananam sudah buntung kena Tot Tju sewaktu di Oey San?

Wan Thian Hong, tidak dapat lagi menguasai dirinya, secara tiba tiba ia mendobrak masuk, dengan berkerotak daun jendela yang sudah tua tercentang lebar, tububnya mencelat masuk seperti burung walet. Pedang cendrawasihnya dibabatkan menuju tubuh sang jahanam. Tiba tiba dan secara aneh. entah dari mana datangnya seseorang berseru. "Sabar, tahan dulu!" pendatang pun mengangkat pedangnya menangkis pedang Thian Hong. tring berbunyi, di atas lantai kejatuhan potongan pedang yang putus.

Yang patah pedangnya adalah orang itu, sedangkan yang terkejut adalah Thian Hong! Bukan saja Thian Hong. sedangkan seluruh orang yang berada di luar rumah merasakan keheranan pula Siapakah orang yang datang secara aneh itu? Dan dari mana ia datang? Kiranya dibawah baju gedombrongan dari Louw Tiau ia keluar! Siapakah orang ini? Tak lain tak bukan adalah Louw Tjen Tjen sijahil yang sudah lama tidak ada kabar ceritanya. Tjen Tjen yang berada dibawah pakaian, segera keluar waktu melihat berkelebatnya sinar pedang sambil menangkis dengan pedangnya Pedangnya yang terbuat dari bahan biasa segera menjadi dua potongan kena pedang Lhian Hong, Walaupun demikian ia berhasil memecahkan serangan yang dilancarkan penyerang. Dengan wajah merah ia berkata. "Sabar, sabar!" Pedang Thian Hong yang sudah terangkat tinggi menjadi batal turun waktu ia melihat wajah gadis nakal yang tidak mengandung kejahatan, sebagai gantinya ia membentak. "On! Kiranya engkau, ada perkataan apa?

Katakanlah lekas!" Habis berkata tubuhnya segera mercelat mundur takut Louw Tiau yang sedang duduk melakukan serangan gelap, Tapi dugaannya meleset Louw Tiau tetap tidak bergerak, hanya kepalanya saja dongak dan membuka matanya, ia tersenyum kepada orang yang datang. Thian Hong merasakan senyuman Ini tidak seperti dulu lagi. kali ini penuh perasaan baik dan manis budi, sinar matanyapun demikian baik dan peramah!

Sesudah diam tergugu sebentar Louw Tjen Tjen baru bisa melanjutkan lagi katanya.

"Ai, darimana aku harus memulai ceritaku?--- Aku hanya dapat mengatakan bahwa orang ini bukan yang kau jumpai diOey San!"

"Ihhh." kata Thian Hong sambil menoleh kebelakang saat ini Kie Sau dan lain lain sudah berada dibelakangnya. mereka semua merasakan keheranannya juga, Tju Hong hatinya tergerak dengan cepat, ia maju kedepan sebanyak dua langkah.

"Kau mengatakan ia bukan Louw Tian? Kalau begitu ia adalah Si tee ku Louw Eng?"

"Benar!" jawab Tjen Tjen sambil mengangguk.

Sekalian orang menjadi bengong, sambil meneliti dengan cemas mereka mendapatkan orang yang berada di depannya ini serupa dengan Louw Tiau. adapun yang beda ialah wajahnya yang lebih pucat dan penuh dengan keramah tamahan Orang itu sendiri dengan tenang melihat dan memandang kepada sekalian orang yang mengamat amatinya menunjukkan perubahan sewaktu pandangan matanya bentrok dengan Tju Hong. selanjutnya kembali menjadi tenang, hanya mulurnya saja tersenyum menunjukkan kegirangan yang tidak dapat dikendalikan lagi.

Sekalian orang pernah merasakan tipu muslihat Lauw Tiau tidak sedikit. Kie Sau maju ke muka menarik Tju Hong. ia kuatir orang she Tju ini kena dipengaruhi perasaan dan maju ke muka untuk memeluk dan kena perangkap sang jahanam. Selanjutnya ia menanya Tjen Tjen: "Kenapa kau tahu?" "KENAPA tidak? Sudah berapa bulan aku berada disini dan membawakan ia nasi setiap hari!"

"Kalau ia Louw Eng kenapa lengan kirinya hilang?" tanya Tjiu Piau.

Agaknya Tjen Tjen sudah menduga akan mendapat pertanyaan ini, ia tidak menjawab dipergunakan pedang yang buntung untuk menahas lengan baju kiri orang dengan diiringi suara memberebet. tegas terlihat sebuah pangkal lengan yang luka baru. Sekalian orang mengerti dan percaya pada Tjen Tjen. sebab luka itu masih merah dan menyatakan belum lama dideritanya. Sedangkan luka Louw Tjiau yang dideritanya di Oey San sudah setahun lebih, perbedaan ini nyata dan tegas, sehingga tak perlu untuk meragukan lagi bahwa orang yang sedang duduk membungkam itu adalah Louw Eng yang sedang mereka cari.

Sambil menutupi luka orang Tjen Tjen berkata lagi. "Kalian tak tahu sewaktu lengannya ini dibuntungi aku

melihat dengan mata kepala sendiri, kejadian ini sungguh mengerikan! Hal ini sudah berselang sebulan lamanya, saat itu dia duduK menyendiri disudut dinding sambil tertawa dan bicara seorang diri. tetapi suatu jeritan yang tiba tiba membuat aku terkejut, kubalik badan dengan cepat, tampak dia sudah menjadi semacam sekarang, lengannya penuh dibanjiri darah segar. Sedangkan ia mencekal lengan yang sudah dikutungi itu dengan lengan kanannya, seperti kejadian apa-apa pergi keluar dan melemparkannya entah ke mana?"

Tjen Tjen selalu menyebut "Ia" dan "Ia" lagi dalam penuturannya, membuat sekalian pendengar menjadi bingung.

'Selalu kau mengatakan ia lagi. ia lagi, sebenarnya siapi ia itu?" tanya Tjiu Piau tak sabar. Sambil melirik dengan mata ying menbenci Tjen Tjen berkata sambil menangis; "Aku tidak mengenal ia itu siapa!" kalau tak mau jawaban ini membuat Tjiu Piau menjadi kaget, sedangkan yang lain menjadi diam bengong!

Harus diakui pengalaman Kie Sau yang luas, dengan melihat keadaan ia dapat menduga hati orang. Karenanya ia mengetahui "Ia" yang dimaksud adalah Louw Tjiau sedang kan dia adalah Louw Eng, ia menghindarkan perkataan Tia tia (ayah). dan mengatakan tidak tahu ia siapa, hal ini tentu ada sebab sebabnya.

"Tjen Tjen. kau jangan merasa gelisah, dengarkanlah kata kataku," kata Kie Sau dengan sabar.

"kau lentu bermaksud mengatakan bahwa ayahmu membuntungi lengan Siok siok (paman)mu bukan?"

"Ia bukan ayahku, ia bukan ayahku!'seru Tjen Tjen dengan geram.

Tju Hong menunjuk kepada Louw Eng dan berkata, "Apakah ia ada ayahmu?"

Tjen Tjen mengangguk anggukkan kepalanya secara tidak wajar, kemudian menggoyang goyangkan kepalanya dengan cepat. Tampaknya ia tidak mempunyai pendirian yang tetap. Sedangkan Louw Eng tetap diam dan tidak berubah paras wajahnya, hanya sudut bibirnya dihiasi senyuman waktu melihat Tjen Tjen.

"Sebenarnva siapakah yang menjadi ayahnya? pikir Tju Hong dengan bingung, "hal ini harus diselidiki secara perlahan lahan baru bisa beres." Ia menunjuk lagi kepada Louw Eng sambil bertanya lagi kepada Tjen Tjen 'Yang benar ia adalah Louw Eng bukan?"

"Ya benar" jawab Tjen Tjen sambil menangis dengan sedih, kalian harus tahu, bukan saja lengannya di buntungi "ia" sedangkan urat nadi dikaki pun diputuskan, bahkan lidahnya juga dipotong sebagian, kareranya dia tidak bisa jalan dan bicara, sampaipun telinganyapun menjadi tumpul pendengarannya. "Ia" ia," sangat kejam!-- " la menghentikan kata katanya sampai disini. disetiap orang yang mendengar seperti terbayang wajah Louw Tiau yang kejam itu. Ya. memang ia sangat kejam! la melakukan hal yang diluar perikemanusiaan ini. melulu untuk kepentingandan keuntungan dirinya. Dengan demikian ia berharap saudaranya ini dapat serupa dengan dirinya dan menjadi talenan dari dosanya, untuk menggantikan kebinasaannya dari tuntutan dari musuh musuhnya yang selalu mengejar ngejar tak jerah jerahnya.

Sesudah hening menyepi tak bersuara barang sepatah. Thian Hong membuka mulutnya menggoyang udara tenang itu: "Kalau begitu baik tapi dimana bersembunyinya Louw Tiau?"

Dengan pandangan yang menyedihkan Tjen Tjen menunjukkan matanya ke luar jendela, dengan suara parau dan perlahan ia berkata "Ia sudah berlalu. Waktu ia melihat keadaan perkelahian tidak menguntungkan pihaknya, tanpa ayal 1agi ia segera berlalu. Sewaktu ia akan berlalu aku bersembunyi ia tak mencarinya atau memanggil aku, ia hanya berjalan seorang diri tanpa memikir nasib siapapun! Karenanya aku tiada tahu ia pergi ke mana!"

'"'Lotw Tiau sudah pergi!" Dengan cemas sekalian orang berseru kaget. Serentak di setiap hati masing-masing memaki untuk alamat sang jahanam. "Dasar manusia rendah tidak mengenal persahabatan, sudah mengundang sekalian kawan untuk sama sama menghadapi musuh, tapi pada saat yang genting melarikan diri. Sungguh tak bermalu dan rendah peribudinya.."

Dalam cemasnya Djie Hai maju melangkah menjambret Tjen Tjen. "Kau , . , kau harus tahu ke mana perginya bangsat itu! Katakan lekas,"

Tjen Tjen menjadi gelisah. lengannya bekerja melepaskan diri dari lengan orang: "Lucu, bagaimana aku bisa tahu?"

Djie Hai terpaksa membungkam, karena ia sadar bahwa kata katanya yaag tergesa gesa ke luar itu tidak bermanfaat sama sekali Kie Sau maju kemuka sesudah berpikir dengan tenang, ia berkata. "Anak anak kalian jangan gelisah.

Nyatanya bahwa Louw Tiau melarikan diri ini tentu sudah direncanakan lerlebih dahulu, karenanya sukar untuk kita mencarinya dengan cara yang tidak teratur. Kini sudah malam, sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu, hari esok baru kita melanjutkan lagi untuk mendapatkannya."

Daripada istirahat sekalian orang mendekati pada Louw Eng yang masih terus duduk di atas bangku. Dengan penuh rasa cinta dan hangat masing masing beramah tamah deagan tulus ikhlas. Tapi Louw Eng tidak dapat mendengar percaKapan Orang dengan baik, hanya bibirnya saja ramah dengan senyuman. Dalam tabun tahun yang silam ia menderita penghinaan dan siksaan yang demikian macam mati tidak hidup tidak. Tapi beruntunglah akhirnya ia dapat bertemu muka lagi dengan Tju sah ko-nya dan Kie Sau dan sekalian anak yang bersemangat.

Tju Hong merasa berduka sekali ia tahu bahwa saudaranya itu dalam waktu yang singkat tidak dapat mengerti percakapannya. Ia membalik badan hendak berlalu, begitu berputar tampak olehnya Tjen Tjen yang tengah berdiri menyendiri disalah satu sudut matanya merah dan mengalirkan air matanya dengan kesedihan yang berlimpah limpah. Tju Hong mendekat dan bertanya dengan welas asih: "Tjen djie. bagaimanakah halnya kau bisa berada di sini? Dapatkah kau menceriterakannya kepada kami?"

Tjen Tjen menunjuk kepada Louw Eng dan berkata. ' "Aku harus menanya ia dahulu." "Apa yang kau akan tanya?"

, "Aku ingin bertanya apakah ia ayahku atau bukan!" "Kau tanyalah!"

"Pendergarannya sudah tidak terang, aku mau bertanya dengan surat!"

Tampak ia mengeuarkan secarik kertas yang sudah bertulisan dari dalam sakunya, diangsurkan kepada Loiw Eng, sedangkan wajahnya agaknya sangat tegang menantikan jawaban.

Surat itu berbunyi.

"Siapakah ayahku yang sejati, kuminta penjelasan sejujur jujurnya." Kiranya sejak peristiwa Oey San terjadi Tjen Tjen merasa curiga pada Louw Tiau bukan ayahnya Karenanya ia ingin tahu bahwa ayahnya yang sejati itu siapa? Ia berpikir bahwa Louw Tiau selalu memperlakukan dirinya secara dingin sedikitpun tiada mempunyai perasaan kasih ayah.

Untuk mengetahui hal ini ia mengelilingi keempat penjuru untuk mencari Louw Tiau guna menegaskan pertanyaan yang merupakan teka-teki didalam hatinya. Akhirnya ia dapat menemuinya di Peng San. kemudian iapun menemui Louw Eng yang dipenjara ditempat gelap. Ia melihat Louw Eng demikian sabar dan manis budi pekertinya, walaupun tidak bicara, tegas dai nyata kebaikannya itu, sehingga di dalam hatinya segera timbul perasaan menyayang dan suka. Iapun merasakan sesuatu pertanyaan di dalam hati. "Mungkinkah ayahku yang sejati ia adanya?" Tapi untuknya belum ada ketika yang baik untuk menanyakan hal ini. Baru kini ia memperoleh kesempatan guna bertanya. Sesudah Louw Eng menyambuti surat itu, ia melihat lihat dengan teliti dan memandang kepada Tjen Tjen berkali kali. tak terasa dari dalam hatinya timbul suatu perasaan kasian terhadap sang gadis, yakni ingin mempunyai seorang ayah yang baik. kalau ia tahu bahwa Louw Tiau sebagai ayahnya yang sejati sesungguhnya memang demikian, bagaimanakah baik?

Louw Eng berpikir. "Untuk mendustakan ia bukan cara yang baik." Ia sudah mengambil keputusan dengan cepat menulis. "Ayahmu yang sejati adalah Louw Tiau. sedangkan aku hanya menjadi Siok-siokmu."

Dengan tenang disodorkannya tulisannya itu, begitu Tjen Tjen melihat segera diam bengong mematung. Perasaan kecewanya tampak di wajahnya dengan tegas, ia membalikkan kepalanya kehadapan tembok dan berkata- kata sendirian. "Aku tidak mau mempunyai ayah yang demikian, tidak mau . ." Suaranya bercampur isak tangis secara menyedihkan.

Hoa San Kie Sau membiarkan ia menangis dengan puas, agar perasaan kecewanya dan gemasnya habis dialirkan mata, sesaat kemudian baru ia menghampiri dan mengusap usap punggung ora»ng dengan perlahan lahan.

"Anak yang baik. kau tak perlu merasa gelisah.

Walaupun ayahmu melakukan banyak hal yang melanggar kebejikan dan berkelakuan tidak baik tapi dapat dinasehati agar ia dapat merubah kelakuannya menjadi baik bukan? Nah kini kuminta kau menceritakan hal Siok siokmu."

Sesudah ia berisak - isak seketika, Tjen Tjen baru bisa menghentikan tangisnya dan dapat bicara. Tadi sudah banyak juga yang dikatakannya tentang yang ia ketahui. Kini ia menuturkan lagi sewaktu ia naik ke Peng San, seberarnya ia tidak mengetahui bahwa Louw Tiau pun berada di situ.

kita mengetahui bahwa sang gadis yang nakal ini senang berkeluyuran seorang diri ketempat tempat yang sepi, karenanya tak perlu heran lagi dalam tiga-empat bulan seluruh Peng San sudah habis dikelilinginya dan dijelajah.

Sekali peristiwa sewaktu ia berjalan jalan dengan serampangan. secara tidak diduga duga ia menemui sebuah goa es yang sangat kukay, liang masuknya terhalang oleh sebalok es yang sangat besar, ia merasa heran dengan kuat pintu itu kena ditolak terbuka, tampak sebuah terowongan goa yang dalam dan sunyi.

Tjen Tjen yang tidak mengenal takut, segera masuk kedalam seorang diri. Semakin dalam goa ini semakin penuh lekak tekuknya seolah tiada habisnya. Andaikata seorang yang bernyali kecil pasti tidak berani masuk. andaikata berani pasti akan keluar lagi sesampai ditengah perjalanan Tapi lain dengan Tjen Tjen, semakin mengherankan ia merasa semakin enak dan senang, sedikitpun tiada merasa takut. Ia jalan terus, sesudah melakukan perjalanan lama juga, tiba tiba ia mendengar suara orang, ia mengetahui dengan pasti suara orang itu adalah suara ayahnya dan Bok Tiat Djin yang sedang membentak bentak orang.

Dengan meringankan kakinya ia terus jalan mendekati, matanva yang tajam mengintai kedalam, kagetnya tidak kepalang sehingga hatinya menjadi goncang Didalam ada tiga orang terkecuali Bok Tiat Djin dan ayahnya ada searang lagi yang serupa dan sepotongan dengan wajah ayahnya, sehingga sukar untuknya membedakan mana ayahnya dan mana orang lain yang baru dilihatnya itu.

Tapi Tjen Tjen dapat membedakan dalam waktu tiada lama yakni dari gerak geriknya Yang bengis dan berwajah jahat ialah ayahnya, sedang yang halus gerak geriknya pasti adalah orang lain. Saat ini Bok Tiat Djin dan Louw Tiau tengah memaki maki Louw Eng dengan kasarnya, mendesak yang tersebut belakangan ini untuk menyerahkan peta Gunung Es. Akan tetapi Louw Eng tidak menjawab caci makian itu, hanya kepalanya tidak henti hentinya digoyang- goyangkan, sementara itu lengannya menulis dikertas.

Tjen Tjen dapat melihat surat itu yang berbunyi "Dibutuhkan peninjauan lagi sekali, baru dapat peta itu dilukis." Louw Tiau menjadi gusar, sambil menggerang keras ia membentak: "Kau sudah meninjau sebanyak dua kali, apa belum cukup urtuk melukisnya?" Louw Eng tidak melakukan pergerakan apa apa nelainkan menggoyang goyang kepalanya lagi. melihat sampai di sini tanpa terasa Tjen Tjen menarik napas panjang.

Louw Tiau dan Bok Djin merasa terkejut dan melompat, tapi hatinya menjadi tenang kembali waktu mereka mengetahui yang napas itu adalah Tjen Tjen. karena inilah sang gadis menlapat dampratan yang lumayan. Sejak inilah ia mengetahui dimana adanya Louw Eng.

Louw Eng disekap di dalam goa entah sudah berapa lama, sehingga ia tidak dapat membedakan musim, karenanya ia tidak mengetahui sudah berapa lama ia berada di situ. Entah bagaimana Tjen Tjen terhadap ia menaruh simpati sekali. Sesudah mendapat persetujuan dari ayahnya ia melakukan tugas untuk mengantarkan nasi kepada Louw Erg. Dengan berbuat demikian berhari hari, perlahan lahan ia mengetahui bahwa Lojw Eng permula disekap di dalam goa es merasa sangat menganggur sekali untuk melewatkan waktu sering sering ia menggunakan alat alat menulis untuk menggambar gunung gunung yang pernah di jelajahinya Peta rahasia Oey San adalah karyanya. Akhirnya lukisan berharga itu diketahui Louw Tiau. dengan kekerasan dirampasnya dan diberikan kepada pemerintah Tjeng, dengan demikianlah ia memperoleh pahala. Sesudah itu ia mendesak sang adik untuk melukis peta-peta dari berbagai tempat, Louw Eng mengetahui kalau peta diukisnya jatuh ditangan penjajah, sama dengan ia membantu untuk memudahkan penjajah itu membasmi sekalian patriot-patriot bangsa, sebab inilah ia melukis segala peta yang tidak keruan, sekadar menghindarkan diri dari segala teguran.

Louw Tiau tiada bisa berbuat apa-apa. tapi pada hari belakangan diajaknya Louw Eng untuk melihat lihat keadaan Peng San sebanyak dua kali dan meminta sang adik melukisuya. Louw Eng bukan manusia terlalu bodoh. ia mengerti Kalau lukisannya selesai sama dengan sendirinya sudah tidak berguna lagi untuk Louw Tiau dan kambratnya. pasti dirinya ak.n dilenyapkan. Karena itu tanpa takut lagi ia mengulur-ulur waktu tidak melukis.

Sesudah waktu berjalan lagi agak lama. suasana diatas Peng San semakin genting Lauw Tjiok Sim, Bu Beng Nie. Ong Hie Ong, Kim Dju Kie susul menyusul datang berkumpul guna menyiapkan diri menghadapi Pang Kim Hong. Pada siat itulah Louw Tiau menyuruh adiknya menanggalkan bajunya yang sudah tua dan mengenakan baju yang sering dipakainya sendiri, sedangkan lengan orang dibuntungi sehingga sarg adik didandani serupa dengan dirinya, sesudah salesai melakukan cara yang di luar perikemanusiaan Louw Eng diangkat dari goa es dan ditempatkan drumah yang Sekarang ini.

Demikianlah seterusnya ia tinggal di dalam rumah sampai sekarang. Tjen Tjen menuturkan ini dengan lancar. Waktu Tjen Tjen menghentikan penuturannya sampai disini Ong Djie Hai dan sekalian saudaranya, sudah mengeembeng air matanya, dengan cepat mereka menubruk dan memanggil dengan mesra: 'louw Siok-siok!" Mereka mengerumuni dari samping tubuh sang paman. Sedangkan Tjiu Hong pun tidak mau ketinggalan memegang dengan erat lengan sang adik, dengan perasaan senasib dengan dirinya. Walaupun telinga Louw Eng tidak seberapa tajam lagi tapi dari gerak gerik Tjen Tjen ia dapat menduga sang gadis tengah menuturkan hal dirinya, ia diam terus mendengari dengan baik, sehingga setengah penuturan dapat juga ditangkapnya, selebihnya ia dapat melihat dengan mata setiap wajah orang yang berada disitu, sehingga ia mengerti apa yang tengah diceritakan dan mengetahui pula bahwa Louw Tiau sudah tiada diantara mereka melarikan diri.

Ia membiarkan sekalian orang ribut ribut seketika, sesudah keadaan menjadi tenang kembali, ia menggerakkan tangan memberikan tanda minta perabot menulis. Dengan cepat Tjen Tjen menyediakan dengan lengkap, tampak Louw Eng menulis beberapa huruf.

"Untuk meLcari Louw Tiau tidak terlalu gukar. ia masih berada di gunung ini."

Sekalian orang menjadi terbangun semangatnya melihat surat itu.

Kie Sau bertanya dengan surat. "Bagaimana kami dapat menemuinyi. ?"

Louw Eng menulis lagi.

"Sejauh mata memandang. hanya pegunungan es yang putih saja, kalau Louw Tiau turun gunung mudah ketahuan, ikutilah jejak kakinya pasti dapat membekuknya. Kalau ia bersembunyi, lebih mudah lagi mencarinya daripada la kabur!"

Sehabis melihat ini Kie Sau bertepuk tangan dengan girang. "Benar! Benar!" Louw Eng menulis lagi.

"Di gunung ini terdapat suatu tempat yang baik untuk menyembunyikan diri. Untuk lebih terang sebaiknya kulukis keadaan tempatnya." Kemudian secara cepat dilukisnya peta dari Peng San secara indah. Sesudah sekalian orang melihat, bukan main rasa kagumnya! mereka dapat melihat dengan terang dimana mereka bertempur dengan Org Hie Ong. di mana Kim Dju Kie terkubur es, dimana Lauw Tjiok Sim dan Bu Beng Nie dilepas dan dimana kini mereka berada. Inilah kepandaian Louw Eng membuat peta yang tiada taranya untuk jamannya.

Paling akhir di atas lukisan yang sudah selesai itu di bubuhi sebuah lingkaran bulat dan kata kata keterargan yang berbunyi. "Disini terdapat sebuah bukit yang berliang dipuncaknya. sehingga dapat dipergunakan untuk menyembunyikan diri.. diluar liang terdapat celah celah yang Perupa jurang mengeliJingi sekitar mulut lubang kepundan itu. di atas celah celah pemijah ini terdapat jembatan alam yan terbuat daripada es. tapi hati hatilah melewatinya karena mudah gugur. Sesudah melewati celah celah sekalian dari jembatan es kalau dihancurkan, tiada orang lagi yang dapat menyeberang, karenanya ia dapat bersembunyi disana dengan aman. Aku mengetahui ditempat persembunyian itu terdapat banyak makanan yang tahan untuk tiga empat bulan."

Karena adanya peta ini sekalian orang menjadi girang.

Tju Hong berkata. "Aku menemani Sie tee di sini, kalian boleh Lekas menangkapnya jahanan itu. agar ia tak sempat untuk melarikan diri lagi."

Kie Sau memimpin enam anak muda dan ditambah dengan Tjen Tjen seorang delapan orang ini mengikuti petunjuk-petunjuk dari peta secara patuh. Benar saja apa yang di lukis sedikitpun tiada salah. Hal ini terjrdi dimalam hari, tapi sedikitpun mereka tidak merasakan kesukaran barang sedikit. Benar saja puncak bukit ini dikelilingi celah celah es yang dalam, sehingga menakutkan orang yang akan lalu, sedangkan ditepian celah celah jurang tegas terlihat patahan patahan dan jembatan es yang baru, agaknya dipatahkan orang. Dengan tanda tanda ini menguatkan dugaan bahwa Louw Tiau delapan puluh persen berada ditempat sembunyi..

Keadaan dari tempat ini demikian membahayakan, celah celah yang selebar beberapa depa bagaimana dapat kulewati?

Mereka meneriaki nama Louw Tiau dengan keras dan ramai, sehingga menggema keseluruh gunung. Alhasil membuat Louw Tiau semakin takut dan bersembunyi terus. Akhirnya mereka mengelilingi puncak bukit untuk mencari tempat yang lebih dekat untuk menyeberang tapi usaha mereka ini sia sia bel'aka. Sedang mereka termenung memikiri daya guna mengatasi kesulitan ini Louw Tiau enak enakan saja menertawakan mereka di dalam hati. Belum perasaan gelisah hilang ia mendengar lagi suara berkata: "Louw Tiau kau tidak keluar juga kami mempunyai daya untuk membekukmu."

"Pada tempat yang mengandung penuh bahaya, kalian mana bisa melewati celah-celah itu?" katanya didalam hati. Sedangkan tubuhnya tetap pada tempat semula, sementara itu mulutnya terus saja makan dengan enaknya.

Kata kata tadi yang dilepas Tju Sie Hong nyatanya bukan omong kosong belaka ia sudah mempunyai rencana baik.Ia menyuruhkan sekalian saudara saudaranya. "Bangsat itu tidak mau keluar secara ksatria Baiklah kita membuat jembatan untuk melintasinya!" Sebenarnya untuk membuat jembatan adalah pekerjaan yang sukar sebatang kayupun tidak terdapat diatas gulung salju yang gundul ini kata kata ini menjadi teka teki pada sekalian saudaranya, Dengan tertawa Sie Hong mengeluarkan tambangnya yang panjang, diputar dan di kaitkan kedepan, malang baginya senjatanya yang sudah cukup panjarg itu agaknya masin terlalu pendek untuk mencapai tebing yang berada di depan. Walaupun gagal ia tidak menjadi putus asa. dengan cepat ia berlalu meninggalkan tempat itu, untuk kembali menemui ayahnya. Belum keheranan orang hilang melihat lagunya yang aneh itu ia sudah kembali lagi.

'Sekalian ini pasti berhasil," kata Sie Hong sambil memutarkan lagi tambangnya. "nyantel!" serunya. Benarsaja tambang itu kini sudah dua kali tambangnya semula, karena disambung dengan tambang kepunyaan ayahnya. "Kini dapat kita memulai membuat jembatan!" Sedangkan lengannya menggosok gosok potongan es sampai menjadi cair. kemudian dikepretkan ke atas tambangnya, air mengalir dan membeku menjadi es dengan cepat.

Sekalian orang menjadi mengerti apa yang harus diperbuat, dengan cepat mereka mengerjakan tangannya membantu Sie Hong, dalam waktu sekejap tambang itu sudah terbungkus dengan es dan menjadi sebesar pangkal lengan.

Suara gaduh itu mau tak mau membuat Louw Tiau menjadi cemas juga, ia jadi berpiKir. "Barangkali mereka benar benar mempunyai daya untuk datang ke sini. kalau aku diam terus sama dengan, menunggu mati!'' Ia terpaksa mengangkat kepalanya ke luar dari liang sembunyi, secara men co ong co ong ia memandang ke luar. Bukan main kaget hatinya waktu melihat seDuah jembatan es yang sedang dibuat.

Dengan cepat ia masuk lagi ke dalam goa untuk mengambil palu besar benda ini memang sengaja dibawanya, dengan cepatia berlari meninggalkan goa untuk menghampiri jembatan yang sedang dibuat, lengannya terangkat untuk mengagunkan palunya, tiba tiba telinganya mendengar TjiU

Piau berkata. "Hei bangsat hati hati dengan mutiaraku!" Berbareng dengan peringatannya ini tampak beberapa sinar putih beterbangan ke depan, radahal sekalian orang mengetahui bahwa tangan pemuda she Tjiu Ini tetap tidak bergerak. Serangan ini membuat Louw Tiau hilang semangatnya, lebih lebih waktu ia ingat pada mutiara beracun yang dimiliki musuh, dengan cepat lengannya ditarik mundur, sedang tubuhnya segera berguling guling menghindarkan serangan. Kiranya sinar putih iiu adalah potongan potorgan es yang dilepaskan kaki Tjiu Piau. walaupun tidak selihay mutiaranya tapi barang siapa kena dilanggarnya pasti akan celaka.

"Louw Tiau! Saat matimu sudah diambang pintu Malaikat maut sudah menentukan jam tiga mati, pasti tidak akan mengulur sampai jam lima. Kau berhasil melarikan diri dari tangan kami beikali - kali. tapi untuk sekali ini, kau jangan harap!" seru Djie Hai dengtn keras.Sekalian orang menjadi mengerti apa yang harus diperbuat, dengan cepat mereka mengerjakan tangannya membantu Sie Hong, dalam waktu sekejap tambang itu sudah terbungkus dengan es dan menjadi sebesar pangkal lengan.

Suara gaduh itu mau tak mau membuat Louw Tiau menjadi cemas juga, ia jadi berpiKir. "Barangkali mereka benar benar mempunyai daya untuk datang ke sini. kalau aku diam terus sama dengan, menunggu mati!'' Ia terpaksa mengangkat kepalanya ke luar dari liang sembunyi, secara men co ong co ong ia memandang ke luar. Bukan main kaget hatinya waktu melihat seDuah jembatan es yang sedang dibuat.

Dengan cepat ia masuk lagi ke dalam goa untuk mengambil palu besar benda ini memang sengaja dibawanya, dengan cepatia berlari meninggalkan goa untuk menghampiri jembatan yang sedang dibuat, lengannya terangkat untuk mengagunkan palunya, tiba tiba telinganya mendengar TjiU Piau berkata. "Hei bangsat hati hati dengan mutiaraku!" Berbareng dengan peringatannya ini tampak beberapa sinar putih beterbangan ke depan, radahal sekalian orang mengetahui bahwa tangan pemuda she Tjiu Ini tetap tidak bergerak. Serangan ini membuat Louw Tiau hilang semangatnya, lebih lebih waktu ia ingat pada mutiara beracun yang dimiliki musuh, dengan cepat lengannya ditarik mundur, sedang tubuhnya segera berguling guling menghindarkan serangan. Kiranya sinar putih iiu adalah potongan potorgan es yang dilepaskan kaki Tjiu Piau. walaupun tidak selihay mutiaranya tapi barang siapa kena dilanggarnya pasti akan celaka.

"Louw Tiau! Saat matimu sudah diambang pintu Malaikat maut sudah menentukan jam tiga mati, pasti tidak akan mengulur sampai jam lima. Kau berhasil melarikan diri dari tangan kami beikali - kali. tapi untuk sekali ini, kau jangan harap!" seru Djie Hai dengan keras.

Louw Tiau yang sedang menggelinding diatas salju hatinya be pikir; "sekalian ini habislah jiwaku, ksnapa mereka tidak terpedaya oleh akalku? Bahkan mengetahui aku berada disini, dasar sial!'' Secara tiba-tiba telinganya mendengar suara yang memanggilnya; "Tia tia!" Biar bagaimana Tjen Tjen adalah anak yang masih suci, perhubungan ayah dan anak masih terasa sekali. Sewaktu ia masih berada didalam rumah tadi, ia merasa gemas dan tidak mau mengaku ayah lagi, tapi sekarang hatinya tidak tega melihat ayahnya yang sedang dikejar-kejar sekalian anak-anak muda yang sudah geram dan penuh angkara murka, hatinya menjadi lunak lagi dan memanggilnya dengan penuh rasa cinta, Louw Tiau tidak menjawab seruan anaknya, sedangkan Tjen Tjen berkata lagi: "Tia tia. kau jawablah barang sepatah suaraku ini!" Sekali ini air matanya turut keluar. Andaikata hati Louw Tiau saat ini terbuat dari batu kecintaan araknya dapat melunakkan pula. tapi apa gunanya? Ia hanya menjawab. "Tjen djie, kalau kau bisa melarikan diri.kau larilah! Kau jangan mengurus aku. Aku dapat menyelamatkan diriku sendiri!" Ia mengira bahwa anaknya ini tertawan Kie Sau dan lain lain.

Dengan sungguh sungguh dan penuh keyakinan Tjen Tjen berkaca lagi. "Tia tia kuharap kau jangan pergi lagi perbuatanmu yang berdosa itu sudah terlalu dalam dan berat, kau lari kemana pun pasti di kejar kejar! lebih baik kau mengaku saja dan berjanji untuk memperbaiki kelakuan buruk itu. Kalau kau bersungguh sungguh untuk berbalik kejalan baik. boleh kuminta ampun pada Kie Sau Pe pe dan sekalian saudara saudara, aku yakin mereka akan melulusi dan memberikan Tia tia suatu jalan hidup untuk memperbaiki nasib dan menempuh jalan baru! Kau setujuilah saranku ini. Tia tia!" Inilah kata kata "tia tia" yang diucapkannya demikian lemah dan menyayat hati setiap pendengar!

Sehabis bicara Tjen Tjen sepera membalik badan dan menekuk lututnya kepada Kie Sau sekalian enam anak muda seraya berkata: 'Kie Sau Pe Pe, dan kakak kakak sekalian, sebenarnya ayahku dosanya sudah terlalu banyak, tapi biar bagaimana aku mohon kebijaksanaan kalian untuk memberikan kelonggaran dan kesempatan kepadanya guna memperbaiki kelakuannya yang buruk itu." Sesudah berkata ia dongak memandang kepada sekalian orang, tampak wajahnya yang sungguh-sungguh dan penuh harapan menantikan jawaban, tapi sebelum mendapat jawaban ia berkata lagi:

"Kalian. alku tahu kalian tidak bisa mengampuninya,

tapi aku tetap..tetap meminta kepada kalian agar dapat melupakan ke jadian yang sudah silam. terkecuali itu kuminta agar jiwanya jangan dihabiskan, hajarlah ia dan perbuatlah ia seperti Louw Eng Siok siok yang tanpa daksa!"

Matanya yang mengembang menatap lagi sekalian wajah orang, tampak olehnya setiap wajah muka anak. anak miudi penuh diliputi suatu keganasan yang menyala-nyala: kali ini ia berputus asa juga. dengan lemah mulutnya bergarak.

"Kini aku baru yakin bahwa dosa ayahku tidak berampun pula, tapi biar bagaimana ia adalah ayahku. aku harus memintakan ampun seberapa kubisa!" Sehabis berkata ia berdiri dengan lunglai, tiiik air matanya seperti mutiara berantai menetes turun bagai hujan gerimis. Kie Sau menepok nepok bahu Djie Hai dan berkata.

"Kau sudah mendengar permintaannya bukan? Kata katanya itu mengandung juga kebenaran, misalnya ayahnya dapat menempuh hidup baru dengan baik. sejak inilah berarti Louw Tiau yang buruk sudah meninggal dan menjelma Louw Tiau yang baik. Kalau kita bunuh Louw Tiau yang buruk, pasti Louw Tiau yang baik takkan ada. Djie Hai kau bersedia memberikan jalan baru untuknya Djie Hai mengerti kata kata ini benar tapi untuk mengakuinya dengan mulutrya enggan ia, karena itu ia berkata. ""Misalkan aku bisa tapi bagaimana dengan saudara saudaraku?"

Mendengar ini Tjen Tjen segera berlutut dihadapan Djie Hai.

"Terima kasih atas kemurahan Ong Koko!" Melihat caranya yang demikian rupa ini hati Djie Hai merasa sangat kasihan dan terharu, sehingga hatinya jadi berpikir.

"Aku sudah merasakan hidup menderita tanpa ayah dan ibu, kalau kini kubunuh ayahnya, sama dengan aku mengharukan ia mengicipkan rasa dan penderitaan yang seperti kualami dan sedapat mungkin tidak kuingini itu. Aku tidak mau berdosa terhadap gadis yang baik ini, biar bagaimana aku harus mengampuni ayahnya agar dapat berbalik menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa, mengenai dendam perorangan biarlah berlalu dan hilang terbawa arus angin perdamaian!" Sehabis berpikir ia menghela napas panjang dan membanguni Tjen Tjen sambil menghibur.

"Bangunlah adikku, walaupun aku tidak dapat memutuskan seorang diri tapi aku berjanji untuk membantumu!"

Tien Tjen menghampiri Tjiu Piau. Tju Sie Hong, Ong Gwat Hee dan dua saudara Wan untuk memintakan ampun ayahnya, mereka memandang kepada Djie Hai dan berkata dengan serentak.

"Hal ini terserah kepada Ong Toa ko!"

"Ong Toa ko, berikanlah keputusan yang pasti!" Pinta Tjen Tjen.

"'Kami tidak keberatan mengampuninya, tapi benar benarkah ia akan bertobat?"

Mendengar ini Tjen Tjen dadanya merasa lega dan syukur keDada sekian kemurahan dan kebaikan hati hati pemuda pemuda kita. Dengan segera ia mendongak ke atas bukit dan berkata dengan keras 'Tia tia kau dengar tidak?"

"Tia tia sudah sampai waktunya kau memperbaiki diri, kesempatan ini janganlah dibuang percuma! Kau harus kapok atas jalan sesatmu yang menjerumuskan dirimu demikian macam, kau sudah tidak mempunyai jalan lain untuk merat terkecuali berbalik ke mari. berbaliklah ke jalan benar yang penuh mengandung kebahagiaan, Kalau kau membandel sama dengan cari penyakit sendiri, kau lihatlah empat penjuru demikian menakutkan, satupun kawan kawan sia sia tidak ada! Tia tia lekaslah kau jawab!" Kemudian tambahnya lagi. "Tia tia kau bersumpahlah untuk bertobat atas kejahatan yang ksu perbuat!"

Dalam keadaan yang sunyi ini tidak terdengar jawaban dari Louw Tiau. karena kesal hati Tjen Tjen seperti mau melompat ke luar untuk mendengar jawaban ayahnya yang tak kunjung datang itu.

Sesudah waktu berjalan lagi seketika lamanya, baru terdengar suara Louw Tiau yang didahului elahan napasnya.

"Ah, kejahatanku sudah demikian penuh dan tak dapat tertaker lagi. mungkinkah ada orang akan mengampuninya? sebaliknya kalau aku menjadi mereka dan dicelakakan oleh orang jahat semacam diriku, biar bagaimana aku tak dapat mengampuni mereka. Karenanya kuminta kau jangan kena perangkap licin dan tipu keji untuk keluar sesudah aku berada di dalam tangannya segalanya dapat diubah oleh mereka. Biar bagaimana aku tak mungkin kena diperdaya secara mudah!" Sewaktu ia bicara tubuhnya tetap bersembunyi didalam goa.

"Tia tia kau kenapa mempunyai pikiran begitu" "Kalau mereka mempunyai hati untuk mengampuni

diriku,"potong Louw Tipu.

"kau suruhlah tancapkan seluruh dari senjata mereka ke atas salju. Bahkan suruhlah bocah she Tjiau itu membuang mutiara beracunnya" "Tia tia kau tidak kenal pada kebaikan orang, kau pikir saja dirimu itu sudah berada didalam kekuaSaan mereka, untuk apa mengeluarkan kata kata yang tidak perlu."

Di uar perkiraan sekalian anak muda yang berjiwa ksatria tanpa di minta Tjen Tjen sudah mengeluarkan seluruh senjatanya, dua saudara Wan menancapkan pedangnya, sedangkan Gwai Hee dan Djie Hai membuang senjata mereka yang berupa tongkat dan sam ciat kun kedalam jurang. Tjiu Piau menyebarkan mutiaranya di atas salju.

"Louw Tiau, kami adalah bangsa setia yang patuh pada perkataan sendiri! Karenanya janganlah kau persamakan dengan diri rendahmu!" seru mereka secara berbareng.

Louw Tiau tampak keluar dari tempat persembunyiannya, sesudah ia melihat pedang menancap dan mutiara menggeletak disalju. ia mengangguk anggukan kepalanya sambil berkata.

"Kalian memperlakukan aku demikian baik. karenanya aku pasti akan mengubah kelakuanku yang buruk ini menjadi baik. andaikata aku melanggar janji aku rela mati dengan tubuh hancur tak keruan!" Dengan cara dan ancamnya ia buat sesungguhnya memberikan kesan pada seseorang bahwa dirinya itu sudah tobat untuk berbuat jahat lagi.

Kembali suasana menjadi hening seketika. Dalam seKejap ini sekalian hati anak anak muda entah berapa kali berputar balik menhadapi keadaan didepan mata, sekalian dari peristiwa yang lalu berbayang dihadapan mata mereka, sewaktu waktu bangkit geram dan dendamnya, tapi dengan seketika kembali menjadi reda kembali dan bangkit suatu perasaan luhur yang bersih serta sutji, menyampingkan soal pribadi dan dendam, sehingga jiwa kesatriannya mementingkan setiap gelora dendam yang akan bangkit.

Kie Sau sedari tadi membiarkan terus keadaan gawat yang penuh detik detik angkara murka, kini ia tahu kerelaan sudah datang dan sudah waktunya untuk dirinya tampil kcmuka, dengan tegas ia berkata. "Louw Tiau, mari kita turun kebawah untuk bicara dengan hati terbuka, mengenai yang lalu tak perlu kami mengungkan-ungkap lagi!"

Saat ini jembatan yang dibuat Tja Sie Hong sudah selesai dan dapat dipergunakan untuk berlalu. Louw Tiau menggunakannya dan berjalan perlahan lahan menghampiri, setiap langkahnya agaknya demikian berat agaknya pikirannya pun mengalami goncangan hebat.

Sambil berjalan otaknya berpikir sedangkan palu besinya dibuang ke dalam jurang, membuat kepercayaan pihak Kie Sau pada dirinya semakin tebal. Tapi disamping itu ada suatu hal yang tidak diketahui orang lain, ia mempunyai semacam senjata yang bukan main ampuhnya yakni lengan kirinya! Sesudah ia kehilangan lengannya itu, digantinya dengan sebuih lengan besi. dan dipelajarinya ilmu lengan itu dengan baik. sehingga mempunyai jurus jurus yang luar biasa anehnya. Pokoknya barang siapa kena dihajar lengannya itu paling sedikit akan terpental tiga empat tombak dengan badan hancur luluh!

Matanya mengawasi keadaan diseberang jembatan, tampak Tjen Tjen berdiri disebelah kiri, dibelakang anaknya berdiri dua saudara Wan. Disebelah kanan berdiri Tjiu Piau, benar senjata rahasia yang berupa mutiara beracun sangat lihay tapi kini sudah dilucuti, kepandaian silatnya tidak berapa menguatirkan lagi. Dibelakang Tjiu Piau berdiri Tju Sie Hong, yang tersebut belakanganpun sudah tidak bersenjata dan tak perlu dikuatirkan lagi. Sedangkan dua saudara Ong berdiri agak jauh dari tengah jembatan, Kie Sau terdapat dibelakang Djie Hai. Keadaan ini sangat baik sekail menurut perkiraan Louw Tiau. Ia merasa girang, dan berharap dapat meloloskan diri diri cengkeraman orang!

Dengan mempunyai pikiran demikian nyatanya orang she Lauw ini tidak mengandung maksud untuk bertobat bahkan akan melakukan suatu pekerjaan keji lagi guna menambah dosanya! Kini ia melangkah perlahan lahan diseling berhenti henti batinya sudah mempunyai rencana baik. yakni ia akan mempergunakan kelengahan orang, akan menyerobot secara mendadak kesebelah kiri dan mendorong Tjen Tjen, agar sang gadis mental kejurusan dua saudara Wan. sehingga mereka terhalang untuk maju.

Lengan kanan bergerak mendesak Tjiu Piau dan Tju Sie Hong. Kakinya akan di pergunakan dengan cepat mencelat kehadapan dua saudara Ong. berbareng dengan itu lengan kirinya sekuat tenaga akan digebukkan pada Ong Djie Hai. sedangkan lengan kanannya siap untuk menangkap Ong Gwat Hee. Pokoknya asal dapat merangkap seorang saja cukup untuk dirinya berlaga atau bertingkah lagi!

Langkah langkah yang sebentar maju sebentar berhenti ini akhirnya sampai pula membawa dirinya keujung jembatan perlahan lahan lengannya mengusap usap Tjen Tjen, membayangkan perasaan kasih sayang dari seorang ayah kepada anakrya. Tapi sebenarnya hal ini sebagai pelabi saja, yang nyata ia tengah memperhatikan gerak gerik dari setiap musuhnya. Saat ini sekalian anak muda tidak bergerak dan tidak bersuara, keadaan sangat sunyi, karena sekaliannya sudah melulusi untuk mengampuni jiwaiya yang kotor ini!

Serentak niat jahatnya yang sudah di rencanakan terlebih dahulu dipraktekan secara mendadak, dengan tenaga bahunya yarg kuat dibuatnya Tjen Tjen terpental. Tepat seperti rencana semula. Tjen Tjen mental dan merintangi jalan majunya dua saudara Wan. Berbareng dengan itu lengan kanannya menyerang dengan keras kepada Tjiu Piau dan Tju Sie Hong sehingga mereka kena didesak mundur, menggunakan ketika ini ia maju mencelat dengan cepat menyerang pada Ong Djie Hai dengan lengan kirinya sedangkan lengan kanannya menjambret pada Ong Gwat Hee. Keadaan antara hidup dan mati pada diri Louw Tiau ini membuatnya ia nekad, serangannya tentu saja dengan tenaga yang maha besar, bahkan seluruh kepandaiannya dipertaruhkan pada waktu yang singkat ini. Ong Djie Hai dan Gwat Hee yang tidak siap siaga menjadi kalang kabut. Gwat Hee menangkis dengan sebisanya. sedangkan bahu Djie Hai kelihatannya hampir kena kedupak lengan besi. Sambit berteriak celaka Djie Hai merasakan semacam benda dingin menyentuh tubuhnya. Hal ini terjadi dalam seketika cepatnva. Dalam keadaan yang luar biasa teganngnya ini Im Yang Kang yang dimiliki Djie Hai bekerja secara otomatis sehingga berhasil menyelamatkan drinya . . Orang yang sudah berkepandaian tinggi dan sudah mahir mempelajari semacam ilmu. begitu mendapat suatu serangan mendadak, dapat ke luar tanpa disadari, demikianlah halnya dengan Djie Hai yang sedang kesusu, ilmu yang dimilikinya bekerja tanpa perintah. Tak heran tubuh Louw Tiau menjadi sempoyongan tidak keruan, inilah akibat dari tenaga dorongannya sendiri yang tidak mengenai sasaran, ia jatuh ngusruk kemuka sejauh dua tumbak. Lengannya bekerja untuk mengangkat tubuhnya guna merat, tapi secara mendadak usahanya berhenti setengah jalan, kaki dan lengannya seperti kehabisan tenaga, tubuhnya bertiarap lagi di atas salju dan tidak bergerak gerak lagi.

Sekalian orang siap sedia dengan keras untuk menjaga akal bulus sang jahanam, dalam waktu sekejap tidak berani menghampiri melainkan mengadakan kurungan dengan rapat, hanya Tjen Tj-n yang menjadi anaknya maju melangkah sesudah melongo seketika, tiba-tiba ia menjerit, "Tia tia!" Ditubruk ayahnya dan dibalikkan tubuhnya agar dapat telenteng Begitu tubuh ayahnya terbalik ia menjerit kaget dan lompat mundur, sambil menunjuk-nunjuk ayahnya yang terkapar di atas salju.

Waktu sekalian orang memandangkan matanya, tampak oleh mereka muka Louw Tiau sudah menjadi hitam, kedua matanya mendelik putih tak bersinar, mulutnya agak terbuka dan masih sengal sengal. Lengan kanannya terangkat ke atas seperti orang kelelap meminta tolong, Tapi tenaganya tangan ini segera menjadi habis dan terkulai jatuh dan tak terangkat untuk selamanya, dadanya bernapas dengan gencar serta memburuh gerak mulut nya tampak dengan tegas tapi sepatah kata pun tiada dapat dikeluarkannya. Perlahan- lahan gerak geraknya menjadi lemas, kelopak matanya merapat, menyusul tarikan napasnya yang terakhir didahului kekelejetan tubuhnya.

Seorang penghianat bangsa yang terkutuk berakhir riwayatnya dengan secara demikian.

Kie Sau dan sekalian yang lain merasa heran sekali, mereka tidak mengerti dengan suatu kelitan Djie Hai dapat menamatkan riwayat sang jahanam, Pang Kina Hong sendiri belum tentu dapat sekali gus membinasakannya. barang kali tiada orang yang mempunyai Kekuatan gaib yang demikian mentakjubkan

"Kalau dilihat dari cara matinya jahanam ini seperti kena racun saja," pikir Tjiu Piau. "tapi racun apa?"

Keheranan yang menyelimutkan pikiran mereka hanya berjalan dalam waktu sejenak saja. terlihat kini seluruh tubuh Loiw Tiau yang tidak terbungkus dengan baju menjadi hitam seperti arang mereka sadar bahwa sang jahanam terkena racun yang teramat dahsyat!

Tjiu Piau maju ke muka untuk memeriksa apa yang terjadi, diatas salju yang putih terlihat sebutir mutiara beracun dari senjatanya; Sedangkan dibahu, dada, perut dan lain lain tempat Louw Tiau penuh terkena benda beracun itu, tak heran dalam waktu sebentar saja ia mati tanpa berdaya. Sambil berdiri Tjiu Piau menunjuk kelantai :

"Barusan aku menyebarkan senjata rahasiaku di sini. sedangkan jahanam yang berhati binatang ini menubruknya dan binasa!"

Orang yang menjadi buruan dan pelampias dari angkara murka mereka kini menggeletak mati dengan tubuh hitam tak keruan sesuai dengan sumpah yang dinyatakannya. dendam yang mengeram selama dua puluh tahun lebih Kini menjadi hilang dibawa arwah sang jahanam. Ong Djie Hai bertengadah ke atas sambil berkata:

"Ayah yang berada di alam baka dengar kata kataku bahwa Louw Tiau penghianat bangsa sudah meninggal ditangan kami beramai ramai berkat kejahatannya yang tidak mau diubah!" Tampak ia meneteskan air matanya dengan deras. Sedangkan saudara saudaranyapun berderai air matanya karena terharu. Hanya Tjen Tjen seorang yang mengertekkan giginya menahan air mata yang akan keluar ia berkata secara samar samar "Aku tidak mempunyai ayah Semacam. dia!"

Sewaktu mereka sampai diruangan dalam tampak Tju Hong tengah asyiknya mengobrol dengan Louw Eng secara tertulis Mereka menceritakan kejadian barusan dengan terang dan tegas mendengar ini Tju Hong membuka mulut. "Orang yang berdosa seharusnya menerima semacam itu bahkan siang siang hukuman semacam itu harus di terimanya!" Mereka terdiam sebentar dengan perasaan berlainan.

Sesudah diam seketika, tampak Louw Eng memberikan secarik kertas yang berbunyi:

"Bagaimana dengan rencana kita tempo hari untuk menggulingkan penjajah bangsa Kita sudah tua. hal ini kini harus diresahkan kepada sekalian anak anak muda ini!" Tju Hong melihat ini menjadi tertawa, nyata semangatnya masih tetap hebat seperti mudanya, kemudian ia menyerahkan kepada Djie Hai, "lihatlah !"

Anak muda adalah tiang negara, segala tanggungan yang berat sama sakali tidak dirasai, sesudah ia melihat surat itu, batinnya menjadi girang sekali. Sekalian yang lain turut melihat, masing masing menunjukkan rasa girang dan siap sedia memikul beban yang berat itu. Sedangkan Tjen Tjenpun tidak ketinggalan dan mempunyai peranan seperti saudara saudaranya yang lain.

"Saudara-saudara kita harus bersatu padu untuk memikul beban ini!" seru Djie Hai

"Pasti!'' jawab yang lain-lain.

"Kita selamanya bersatu dan tidak berpisah untuk seumur hidup demi tugas yang mulia ini." seru Djie Hai kembali sambil mengepalkan lengannya. Jawaban bergelora girang gembira terdengar dari yang lain.

"Pasti tidak berpisah!" Dengan sendirinya suara Tjen Tjen terdapat didalam, Akhirnya mereka mengangkat lengannya semua termasuk Kie Sau. Tju Hong dan Louw Eng, secara beramai ramai memekik keras:

"Untuk kemerdekaan dan tanah air kami bersumpah akan mengusir penjajah dari bumi pertiwi sampai titik darah kami yang penghabisan!"

- T A M A T —