-->

Pahlawan Harapan Jilid 18

Jilid 18

Dalam keadaan kalut sedemikian rupa. Yan Kia bukan saja tidak menolong kawannya, sebaliknya berniat lari. Tampak ia melancarkan beberapa serangan yang lihay untuk mendesak lawannya, sehingga Gwat Hee terpaksa mundur sebanyak dua langkah, ia membalik badan kemudian mencelat ke Jendela kecil.

Thio Sam Nio yang "mengawasi ke empat penjuru, segera membentak: "Jangan lari!" Tubuhnya berkelebat dan sudah berada di depan jendela kecil menghadang perjalanan yang dilalui musuh sedangkan goloknya sudah bekerja menyerang Yan Kia menundukkan kepalanya, hal ini dilakukan secara terpaksa, karena jalan mundur dan maju tiada sama sekali. Tengah ia ragu ragu kembali terasa angin dingin menyerang datang, pada tnbuhnya secara luar biasa. Jan Kia adalah seorang Kang ouw yang cukup berpengalaman dan dapat mengetahui atau membedakan segala macam senjata rahasia, tapi sekali ini ia tak mengetahui senjata apa yang menyerang bahkan tak mengetahui dari mana datangnya serangan.

Hatinya menjadi kaget, dan berpikir untuk kabur, tapi sebelum usahanya berhasil terasa pinggangnya menjadi sakit, seolah olah seperti kena dilibat semacam benda, seterusnya seluruh tubuhnya sudah terikat secara keras. Dengan cepat tubuhnya berputar secara gugup, dilihatnya seluruh tubuhnya sudah terikat seperti lepet. sedangkan ujung tambang satunya lagi berada di lengan seorang tua kurus, orang ini bukan lain dari Tju Hong adanya.

Ilmu tambangnya yang luar biasa hebatnya, sekali dikeluarkan sudah berhasil berhasil meringkus Jan Kia secara mudah.

D antara tiga Iblis ada yang mati ada yang kena ditawan hidup hidup. Thio Sam Nio maju ke muka ingin mengompres tawanannya, tapi secara tiba tiba terdengar suara jeritan susul menyusul dari sebelah luar, ia menoleh dan memandang ke luar, tanpa terasa lagi alisnya berkerut dan mendeluh serta berteriak celaka. Kiranya sewaktu mereka naik ke atas perahu besar, musuh sudah mengatur barisannya lagi. Enam Iblis yang turun menghajar kaum Pek Tau Peng cakup ganas dan hebat sehingga tiada sedikit kaum Pek Tau, Peng yang kena dilakukan atau dibinasakan, walaupun demikian kaum Pek Tau Peng bukan bangsa takut mati, mereka mengandalkan kekuatannya tetap mengurung terus secara rapat, sedikitpun tidak memberikan musuh musuhDya bergerak bebas.

Enam Iblis tidak kuasa lagi untuk menahan serangan musuh musuhnya yang berjumlah besar, ditambah sebuah perahu besar sudah, kandas sedangkan sebuah lagi tengah dikurung rapat, mereka segera kembali ke perahu besar situnya lagi. Sesudah mereka naik ke atas peiahu, dengan cepat perahu besar itu menerjang dan membobolkan sekalian rerintangnya. Perahu besar ini berkekuatan sembilan Iblis, ditambah sekalian pengikutnya yang berjumlah lumayan, sehingga kekuatannya cukup besar.

Tak heran setiap perahu kecil yang ingin mendekat kena diterjang hancur! Dilihat arahnya perahu besar ini menuju pada perahu besar yang kena kurung, mereka berteriak teriak dengan keras sambil mendekat pada lawan lawannya yang sudah berhasil menguasai perahu kawannya. Keadaan sudah demikian hebatnya, tapi Ong Hie Ong belum kelihatan mata hidungnya sehingga membuat Thio Sam Nio merasa heran sekali. Ia mengerutkan alisnya melihat keadaan ini.

"Sembilan Iblis ini mengantarkan mati sendiri! Marilah kita ulangi kemenangan kita pada mereka!" kata Djie Hai dengan bersemangat.

"Sabarlah, lantai di bawah cukup luas sekali, kalau kita turun untuk berkelahi, mungkin tenaga kita bisa berpencar, hal ini tidak kutakuti yang perlu dikuatirkan adanya alat alat rehasia yang dapat menjebak kita!" kata Thio Sarn Nio menjelaskan.

"Marilah kita tipu mereka!" kata Kie Sau. Sehabis bicara ia maju melangkah kepada Kan Tjin dan Jan Kia, lengannya masing masing mencekal seorang kemudian maju ke dekat jendela, kedua orang tawanannya di goyang goyangkan ke luar, sedangkan mulutnya berseru keras: 'Wahai Lima Belas Iblis dari Thay Ouw dengarlah baik baik! Kalian hanya tinggal sembilan orang, empat sudah kena kami binasakan, dua kami tawan hidup hidup! Kalau kalian ingin hidup lekaslah lari,tapi kalau ingin mati boleh diam menanti ajal!" seruan ini agaknya berhasil juga, karena suara ribut ribut yarg membisingkan telinga segera reda sebagian. Melihat keadaan ini Kie Sau berpaling pada sekalian orangnya, "Marilah kita berdamai, bagaimana cara untuk membereskan jiwanya sembilan Iblis itu!"

"Kalau diadu tenaga, pasti kita menang, Karena kitapun terdiri dari delapan orang..., Iehhhh Wan Thian Hong ke mana?" kata Thio Sam Nio dengan keras. Semua orang menjadi kaget, kala mereka membuka mata untuk memperhatikan sekeliling, benar saja tidak melihat bayang bayang dari Thian Hong, sehingga kekuatirannya menjadi jadi.

"Wah. celaka." keluh Thio Sam Nio. "rupanya anak itu tidak turut dengan kita naik ke atas loteng, dengan sendirian berdiam di bawah pasti besar bahayanya. Kalau begini biar bagaimana kita harus lekas lekas turun untuk menolong padanya.'* Sehabis berkata kakinya menendang pintu kapal sehingga menimbulkan suara pang. yang keras. Sam Nio memutarkan pedangnya dengan keras, mendahului yang lain menerjang turun ke bawah. Yang lainpun menurut jejaknya mengikuti dari belakang.. Kie Sau membereskan dahulu kedua Iblis yang ada di kedua lengannya, kemudian baru turun. Sehingga terjadilah pertarungan yang luar biasa hebatnya di lambung kapal dalam waktu sakejap. Sewaktu Thio Sam Nio dan lain lain sibuk menyerang ke ruangatn atas. Wan Thio Hong berfirasat bahwa kakaknya tidak berada di sana. Matanya terpaku pada sisi lambung kapal yang berpintu besi serta ter

kunci rapat. Beberapa gundal dari keluarga Ong yang berparas kejam kejam terdapat menjaganya dengan keras. Thian Hong hatinya bergerak, ia berpikir; "Mungkin kakak ku berada di situ."

Penjaga penjapa itu tidak dipandang sebelah mata olehnya, dengan gerakan yang lincah diserangnya secara nekad pedang yang terrunus diputarkan, mendesak tiga lawannya yang berada di sebelah kanan, seiring dengan itu kakinya terangkat mendupak seseorang yang berada di sebelah, kanan. Dengan gerakan yang berangkai dan cepat ini. membuat sekalian para penjaga pintu menjadi kucar kacir Pintu besi yang berkelotok besi ditabas putus dan jatuh ke lantai sambil menerbitkan suara berkelotak. Thian Hong mendupak pintu besi terbuka tubuhnya seperti terbang mencelat masuk. Lima penjaga lain tidak sempat mengedipkan matanya lagi sudah kehilangan lawannya.

Selanjutnya terdengar suara berkelotak di dalam dan pintu besi segera tertutup Mereka menjadi kaget menyaksikan kelihayan orang, dengan cepat perundingan diadakan untuk melaporkan pada atasannya.

Begitu Thian Hong masuk tidak menampak apa apa, karena keadaan di dalam teramat gelap. Sang gadis merebahkan diri, sambil menahan napas, berjaga dari bokongan musuh. Sesudah ia berdiam seketika dan memperhatikan keadaan secara teliti, ia tahu dalam jarak dua tumbak persegi tidak ada orang, perlahan lahan hatinya menjadi besar, tubuhnya masuk ke muka dengan merangkang, telinga dan matanya dibuka lebar lebar untuk memperhatikan sesuatu gerakan dari musuh dengan waspada. Heran, sedikitpun tidak ada gerakan mau pun suara yang mencurigakan, keadaan tetap sunyi. Sesudah ia merangkang beberapa lama ia menemui jalan buntu, terkecuali itu ruangan yang dimasukkan ini kosong melompong tiada kursi tidak pula meja. Thian Hong berpikir*

"Biar bagaimana aku harus membenarkan hati untuk menyelidiki terus!"

Dengan pedang di lengan kanan dan tangan kiri melindungi dada. segera ia bangun berdiri sambil meraba raba ke sekeliling. Dalam keadaan gelap, apa pun tidak dapat terlihat, sampai dari mana tadi ia masuk sudah tidak ingat lagi!

Akibat dari raba sana raba sini lenaan kirinya memegang semacam benda yang dingin sekali, la menjadi kaget dan melepaskan buru buru. Ia berpikir sebentar kemudian ia ingat bahwa benda itu seperti palang pintu yang dipergunakannya tadi untuK menutup, dengan cepat lengannya meraba kembali, benar saja dugaannya. benda yang dingin itu palang pintu adanya. Palang itu terbuat dari logam yang sangat berat, tadi tidak diperhatian karena tergesa gesa. Gadis kita kembali berpikir:

"Haruskah aku balik lagi keluar? Ah. tidak, biar bagaimara aku tidak boleh ke luar lagi, sekali masuk tetap masuk, biar masus ke pintu neraka pantang untuk berbalik lagi!"

Palang dilepaskan untuk meraba tempat yang lain.

Sesudah meraba ke sana ke mari lengannya yang halus berhasil memegang sebuah gelang pintu yang bundar secara mendadak. Tanpa berpikir panjang lagi Trian Hong menariknya dengan sekuat tenaga. Terdengarlah suara berkeretek yang disusul suara berkerotok, dari sebelah kiri pintu tampak sedikit sinar terang menembus ke dalam melalui pintu kecil yang sepas badan.

"Aku tak mengira pintu ini dilengkapi dengan segala macam rahasia." pikir Thiin Hong.

"andaikata mengandalkan dua tiga orang untuk menyerang masuk kebanyakan bahayanya dari untungnya." Pikirannya ini memang cukup beralasan, misalkan orang orang yang berada di perahu tidak sibuk melayani lawan - lawannya yang gagah perkasa, siang siang Thian Hong sudah mengalami celaka!

Kembali Thian Hong berpikir: "Kini aku sudah menerjang sampai di sini. untukku hanya ada maju dan tidak ada mundur!" Saat itu jaga ia menghirup napas panjang- panjang untuk menenangkan pikirannya, dengan ilmu mengentengkan tubuh yang luar biasa lincahnya, tubuhnya mencelos pada liang kecil yang bahara diketemukan itu. Ia berjalan demikian cepatnya, tapi baru ia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba kakinya merasakan lantai papan menjadi miring dan terjungkit. Kekagetannya tidak alang kepalang, ingin hatinya balik kembali ke tempat semula. tapi sudah tidak keburu, kini lantai sudah miring benar dan sangat licin, tidak kuasa lagi untuk mempertahankan diri lagi, dengan cepat tubuhnya merosot turun dan jatuh ke tempat gelap. Untunglah sebelum tubuhnya sampai di bawah, sudah mempunyai persiapan terlebih dahulu, sehingga ia darat mencapai lantai tanpa menderita luka. Kala ia dongak ke atas pintu masuKnya sudah tidak terlihat lagi.

Dengan perasaan heran Thian Hong mengawasi ke sekeliling, empat penjuru terbuat dari papan yang tebal dan kuat, dinding kayu itu dipenuhi dengan liang liang kecil yang berkaca, sehingga dari liang - liang ini dapat melihat keadaan warna air yang kehijau-hijauan. Tempat ini luasnya lebih kurang tujuh delapan meter. Walaupun tempat itu tidak terlalu besar, akan perabotnya bukan main menyenangkannya. Kamar ini terkecuali bersih hawanya pun sangat sejuk sekali, andai kata pada musim panas masuk ke sini membuat seseorang enggan meninggalkannya lagi.

Thian Hong tergerak hatinya, ia berpikir. "Bukankah tempat ini berada di.-dalam air? Mungkinkah aku menerjang sampai di Istana Air Ong Hie Ong tanpa merasa?" Dengan cepat telinganya ditempelkan pada dinding kayu, untuk mendengari suara di luar, sesudah ia mendekam sesaat lamanya, telinganya belum juga menangkap sesuatu suara, keadaan di situ maupun di luarnya agaknya sangat sunyi sekali. Matanya segera memandang ke luar melalui liang liang yang berkacanya, dari dalam Istana Air memandang ke luar, terkecuali warna air yang tampak kehijaU hijauan masih dapat terlihat ikan ikan besar maupun kecil, udang, kepiting yang tengah berenang-renang ke sana kemari dengan bebasnya.

Pemandangan di dalam air y^ng luar biasa menyenangkan ini menbuatnya lupa daratan, sehingga sesuatu yang mengenai dirinya terlupakan seketika.

Tiba tiba telinganya mendengar rentetan suara yang aneh 'pung pung' beberapa kali dengan kerasnya,

agaknya seperti ribuan palu besi yang diketokkan pada sesuatu benda. Terkecuali itu masih terdengar suara berkerontang yang mengiringinya, tak ubahnya seperti suara dari bentrokan senjata. Thian Hong memusatkan pendengarannya secermat-cermatnya. sayang suara itu sudah hilang dibawa udara dan tidak kembali lagi sehingga keadaan menjadi

sunyi kembali. Hatinya merasa kaget dan takut, tanpa terasa lagi bulu romanya bangun berdiri dan ke luar keringat dinginnya. Kenapa di dalam air semacam ini bisa terdengar suara semacam itu? Ah, jangan jangan suara setan? Pikir hatinya. Perlahan lahan Thian Hong memalingkan kepalanya, guna memeriksa dengan teliti. Sesaat kemudian ia baru mendapatkan dan mengetahui, bahwa sebagian dari dinding perahu ada yang tidak berkasa. Hatinya sang gadis tergerak dan berpikir: "Dapat mungkin dinding sebelah ini tidak menembus ke dalam air, tapi berhubungan dengan kamar lain. Sedangkan suara tadi barangkali datangnya dari jurusan ini!" Dengan cepat telinganya ditempelkan ke atas dinding. Sesudah mendengari sedemikian lamanya telinganya tiada menangKap sedikit suarapun. Hatinya mulai tak sabar untuk mendengari terus, telinganyapun segera diangkat dari dinding, saat inilah terdengar semacam suara yang membuat hatinya menjadi berdenyut kaget!

Kiranya suara yang didengarnya itu, adalah bentrokan senjata tajam yang mendebarkan jantung, dan ia dapat memastikan suara itu adalah pedang Naga sang kakak.. Dengan begini ia dapat memastikan dan tak perlu meragukan lagi bahwa kakaknya berada di balik dinding. Karena berpikir begini hatinya jadi dak . . . dik . . . duk,

.sedangkan napasnya ditahan terus untuk mendengari suara itu terlebih lanjut, ingin hatinya me nangkap semua suara itu, sayang sesaat kemudian suara itu hilang tak terdengar, sebagai gantinya hanya terdengar suara air yang tidak diingini.

Waktu berlalu lagi sedemikian lamanya, lagi-lagi suara bentrokan senjata terdengar nyata, bahkan lebih hebat dari yang sudah. Dan rentetan suara senjata jni. Thian Hong seperti melihat dua orang sedang bertarung mati-matian, sesudah pertarungan berjalan beberapa jurus, suara itu kembali berhenti. Demikianlah suara pertarungan itu. nanti terdengar nanti berhenti Dalam kegelapan seorang diri membuat gadis kita menjadi girang bercampur kaget girangnya ia dapat mengetahui di mana adanya sang kakak, sedangkan yang membuat hatinya gelisah, takut kalau kakaknya mengalami bahaya Ingin hatinya untuk membantu, tapi tiada jalan untuk ke sana, sehingga kegelisahannya bertambah tambah. Dengan cepat lengannya mengetuk ngetuk dinding sambil berteriak teriak: "Koko, koko kau berada di mana, aku datang membantumu!" Sambil berteriak lengaannya tidak henti hentinya meraba raba dinding untuk mencari jendela. Tapi usahanya ini sia sia belaka, karena dinding itu sangat licin dan tiada suatu jendela maupun pintu yang dapat menembus ke ruangan di mana sang kakak berada.

Kegelisahannya menjadi beikurang kala ia ingat akan pedang Tjendrawasihnya yang dapat memotong besi seperti tanah. Dengan cepat pedangnya sudah dihunus dan dibacokkan keatas dinding, dengan harapan sekaligus dapat membuat suatu jalan tembusan untuk menemukan kakaknya.

Siapa kira. begitu pedangnya mengenai dinding, hanya terdengar suara. "Tring." kata ditegasi pedangnya itu menembus dinding kayu. tapi terhalang oleh semacam benda yang keras. Nampaknya di dalam dinding kayu terlapis besi plat yang sangat kuat. Walaupun pedang Tjendrawasih dapat memotong besi seperti tanah, memutuskan pedang atau pisau secara mudah, karena benda benda itu ada kecil dan tipis, sedangkan lapisan papan ini sangat lebar dan tebal sehingga sukar untuk dipapasnya. Thian Hong mencabut pedangnya sambil termenung ia tidak tahu bagaimana baiknya. Saat inilah telinganya kembali mendengar suara pedang Naga" sang kakak, sehingga semangatnya terbangun meluap luap, tanpa banyak pikir lagi pedangnya dikerjakan secara keras untuk membobolkan dinding.

Sesudah ia bekerja sesaat lamanya, baru berhasil menghilangkan kayunya yang tebal, sedangkan lapis besi yang hitam segera tertampak dengan nyata. Dengan semangat yang menyala nyala, besi itu sedikit demi Sedikit dipapasnya, ia tak mau mengerjakan pedangnya secara sembarangan, karena takut merusak pedangnya sendiri, sesudah ia berdenging sekian lamanya, ia merasakan napasnya sedikit sesak sedangkan tubuhnya dirasakan sangat letih sekali. Ia berpikir: "Jangan - jangan tempat ini tertutup rapat, sehingga udara di dalamnya tidak mengalir. kalau lama lama begini bisa bisa aku mati sesak." Sedangkan lengannya bekerja terus, mencungkil memapas. Plat besi sepotong demi sepotong kena dipapas putus, sekian lamanya ia bekerja, baru berhasil membuat sebuah liang yang sangat kecil, lengannya segera dimasukkan ke dalam liang, dan ia baru tahu bahwa besi itu tebalnya tidak kutang dari dua dim.

Thian Hong beristirahat sebentar untuk mengatur napas, baru saja hatinya ingin melanjutkan lagi pekerjaannya, kepalanya sudah terlebih dahulu merasakan pusing.

Ia memaksakan dirinya untuk bertahan. tapi seluruh anggotanya sudah lemas terkulai dan tidak menurut perintahnya lagi. Dengan terpaksa ia mendeprok di pinggir dinding. Sesudah ia dapat bernapas sebentar keadaannya segera menjadi baik lagi Kiranya sang gadis bukannya pening, melainkan tidak dapat bernapas, sehingga merasa engap. Dengan hati hati Thian Hong mengatur jalan pernapasannya. Saat inilah telinganya kembali mendengar suara bentrokan senjata di kamar sebelah. Sedangkan suara pedang Naga sudah demikian kacau sekali, seolah olah hanya bisa bertahan saja sedangkan untuk mengadakan serangan balasan sudah tidak bisa sama sekali- Tanpa terasa lagi Thian Hong mengeluarkan suara seruan: "Koko!" Sedangkan tubuhnya menjadi bersemangat sekali, ia bangun berdiri untuk melanjutkan lagi usahanya guna mencungkil dinding kapal yang sangat kokoh itu.

Entah dari mana datangnya kekuatan yang demikian besar pada gadis kita ini sehinpga ia bisa bertahan untuk berdiri terus, sedangkan pedangnya dimasukkan ke dalam liang kecil itu, diputarkan dengan tenaga yang penghabisan, alhasil sebuah liang yang cukup dimasukkan tubuh orang terjadi dibuatnya. Dengan girang Thian Hong mencoba memasukkan tubuhnya untuk mencelos masuk ke kamar sebelah. apa mau tubuhnya segera menjadi lemas. karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dengan tubuh berduduk, diawasinya liang yang sudah di buatnya itu secara tak berdaya. Tiba-tiba dari ruangan sebelah terdengar suara serak yang terputus - putus: "Hweesio

......hwee......sio. sesaat matimu sudah sampai. Aku . . . akan mempersiepkan kau pulang ke akhirat!" Thian Hong dapat mendengar dengan tegas bahwa suara itu adalah suara, kakaknya, hanya agak berbeda dengan hari-hari biasa. Suaranya demikian lemah, seperti orang yang menderita penyakit sudah lama saja. Ia tidak tahu kenapa kakaknya dapat mengalami nasib demikian, tapi hatinya tidak terlalu gelisah Jagi karena ia tahu kakaknya belum meninggal. Baru saja tubuhnya akan berdiri, telinganya kembali mendengar suara jawaban dari seseorang.

"Bocah! Tutup bacotmu! Kalau tidak di sebabkan pintu angin di atas tertutup dan membuat engap. jiwa kecilmu siang-siang sudah berhadapan dengan malaikat Jibrail!" Suara orang ini walaupun sangat kecil dan bergemetar, tapi kalimatnya dapat diucapkan tanpa putus putus, dari hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang ini mempunyai ilmu dalam yang tinggi sekali dan berada di sebelah atas Wan Djin Liong.

Sesudah Thian Hong mendengar hweesio itu bicara satu kalimat, segera mendengar suara dari napas memburu dan suara Hweesio itu meloncat bangun serta mendengar kembali suara senjata beradu. Djin Liong menggunakan ilmu pedangnya yang luar biasa mengadakan perlawanan sebisa bisanya untuk menjaga diri.

Tnian Hong tidak bisa tinggal diam, dengan kedua lengannya tubuhnya diangkat bangun, kepalanya nelongok ke kamar sebelah dalam kegela-an ia melihat kakaknya sedang berkelahi dengan seorang hweesio yang sudah dikenalnya, yakni bukan lain dari Tong Leng Hwees'o! Ia merasa heran kenapa Hweesio ini bisa beradi di sini? Thian Hong mengetahui, bahwa untuk mengadu tenaga seorang lawan seorang, ia maupun kakaknya bukan tandingaa dari sang Hweesio. Ia heran kenapa kakaknya bisa melawan Hweesio itu demikian lamanya, ia berpikir demikian sedangkan tubuhnya segera mencelos ke dalam liang sambil memanggil: "Koko aku datang untuk membantu!"

Sesudah empas empis sekian lamanya, tubuhnya berhasil juga masuk ke dalam kamar di mana kakaknya berada. Tapi hal ini rupanya sangat melelahkannya, terbukti ia tidak bisa dengan segera bangun berdiri untuk membantu kakaknya melainkan hanya duduk mendeprok sambil memelihara jalan pernapasannya. Sementara itu pertarungan antara Tong Leng dan Djin Liong sudah bernenti lagi. mereka bertiga berduduk di tiga bagian sambil menirik napas empas- empes. Tong Leng menjadi gelisah sekali melihat kedatangan Thian Hong. dengan ini u tahu keadaan sangat buruk untuk dirinva, tanpa merasa ia mengeluh di dalam hati: "Habislah jiwaku hari ini! Ah, _ kenapa bocah perempuan ini bisa masuk ke dalam!" Sedangkan hatinya merasa menyesal sekali sudah memasuki istana air ini secara gegabah, kalau tahu akibatnya begini tidak nanti ia sembarangan memasukinya, ya tapi apa mau dikata sesuatu sudah demikian jadinya. Ia boleh menyesal. , .

Kiranya beberapa hari ini Tong Leng menjadi tamu dari Ong Hie Oag. Kedatangannya ini semata mata untuk menyampaikan kabar rahasia dari Louw Tiau yang teramat penting. Sedangkan Ong Hie Ong segera meninggalkan kapalnya untuk menyampaikan kabar kepada orang lain lagi Tong Leng terpaksa berdiam di kapal untuk menantikan kedatangan dari tuan rumah.., kemudian baru berangkat bersama sama untuk bertemu dengan Louw Tiau.

Karena hal ini kedok Djin Liong yang menyamar sebagai utusan dan Louw Tiau kena dibocoti. Thai Ouw Tjap Go Sat segera berunding dengan Tong Leng. sehingga mereka mengetahui kedatangannya Djin Liong mengandung hal yang tidak baik. Tersebab itu ketua dari Tjap Go Sat segera memancing Djin Liong sehingga yang tersebut belakangan kena dijebloskan didalam istana air, dan akan menyerahkan pada Ong Hie Ong uutuk diadili. Sedangkan Tong Leng hanya sebagai tamu, biar hatinya sangat gemas dan ingin mengecek Djin Liong, tetap tiada bisa berbuat apa. Thai Ouw Tjap Go Sat tahu akan ada orang datang menyelidiki sarang mereka dengan tertangkapnya Wan Djin Liong.

Walaupun demikian mereka sedikitpun tidak mengira dan menduga sama sekali, nelayan nelayan Thai Ouw bisa berjuang untuk memerangi mereka. Sehingga membuat mereka sibuk untuk melayaninya, sedangkan hal Wan Djin Liong dikesampinginya atau terlupakan. Hanya Tong Leng seoranglah yang masih ingat pada sang tawanan tambahan ia melihat suasana perkelahian bertambah buruk untuk pihaknya, hatinya segera berpikir:

"Kalau aku dapat menangkap bocah she Wan itu dan melarikannya untuk diserahkan kepada Louw Toako, jasaku tidak sedikit." Karena berpikir begini ia menyelidiki rahasia istana air seorang diri untuk menanggap Wan Djin Liong.

Hweesio ini beradat sembrono. Tanpa mengetahui dengan jelas rahasia dari jebakan jebakan yang berada di dalam istana air, sudah berani sembarangan memainkannya, sehingga membuainya terjeblos jatuh di mana Wan Djin Liong berada, terkecuali itu pintu angin yang membawa udara segar tertutup secara otomatis.

Perbuatan tolol yang dilakukan mi mengakibatkan mencelakakan dirinya sendiri.

Tersebab tiada hawa segar di dalam ruangan ini, membuat Djin Liong dapat melayani Tong Leng seratus jurus lebih Demikianlah mereka bertarung dengan serunya, diselingi waktu istirahat untuk menyedot hawa dan mengatur napasnya yang sesak, sampai datangnya Wan Thian Hong.

Djin Liong menjadi girang sekali melihat kedatangan sang adik. demikian pula dengan Tnian Hong tidak terkecuali. Mereka tidak bisa saling rangkul untuk menuturkan kisahnya selama berpisah,hanya matanya saja saling pandang. Sedangkan hal inipun tidak dapat dilakukan lama lama karena musuh masih berada di depan mata. Tapi dari pandangan sang kakak Thian Hong merasakan sesuatu di dalam hatinya dan ia mengetahui bahwa sang kakak mempunyai sesuatu rencana untuk menghadapi musuh.

"Kakakku pasti menyuruh aku bergiliran menghadapi sang Hweesio agar musuh ini dapat dibikin mati kelelahan. Dengan begini biar bagaimana tinggi ilmunya pasti tidak dapat menghindarkan diri dari kekalahan di tangan kami kakak beradik." Thian Hong kembali memandang sang kakak sesudah berpikir. Tiba tiba ia melihat Djin Liong menyedot hawa panjang dan berdiri secara mendadak, sedangkan pedangnya sudah terhunus, dengan jurus

Hong Tjui Liu Tung (angin berkesiur daun Liu goyang) kakinya maju dua langkah menyerang. Serangannya ini seperti ke kanan dan kiri. seperti betul dan pura-pura. membabat ke pundak lawan. Tong Leng tidak tinggal diam dengan tongkatnya yang berat ditangkisnya pedang lawan, sehingga bentrokan nyaring yang berbunyi 'Trang' kembali terdengar di dalam,gelap. Tangkisan dari sang Hweesio rupanya cukup hebat, Djin Liong, kena dibikin mundur sebanyak dua langkah dan jatuh numpra di atas lantai tanpa berdaya. Sedangkan Tong Leng sendiri tidak terhindar dari mundur sebanyak satu langkah.

"Saat inilah waktunya yang paling tepat untukku maju!" Pikir Thian Hong. Ia belum berapa lama masuk ke dalam kamar yang engap ini, kalau dibanding dengan yang lain kesegarannya masih menang banyak. Dengan cepat tubuhnya mencelat mendekat musuh sambil mengirimkan serangan yang bernama Tong Tju Pai Hud ( sang bocah bersujud kepada Budha) mengarah kepada teenggorokan sang lawan.

Tong Leng yang masih empas empis disebabkan mengeluarkan tenaga sangat besar untuk menangkis serangan Djin Liong saat ini masih belum dapat mengatur pernapasannya yang menggcos, kala matanva melihat serangan datang, kakinya segera mau digeser ke samping selanjutnya meloncat ke belakang musuh dan mengirim suatu serangan dahsyat yang dapat sekali pukul merobohkan lawan. Hatinya mempunyai niat dan rencana demikian indah, sayang napasnya sangat sesak, sehingga kaki tangannya tidak dapat dikerahkan secara bebas.

Sedangkan sinar pedang dari lawannya sudah hampir sampai di tenggorokan. ia masih mengawasi saja dengan matanya yang melotot.

Biar bagaimana Thian Hongpun sudah lelah, karena itu gerakannyapun tidak segesit dan seindah seperti dulu, Kalau tidak tenggorokan sang Hweesio pasti sudah berlubang dibuatnya. Saat ini dilihatnya sang Hweesio diam terlongong longong sedikit pun tidak bergerak, hatinya menjadi girang, tenaganya ditambah dengan cepat, tapi baru saja akan sampai mengenai sasaran.Tong Leng sudah mundur selangkah.

Tubuhnya yang besar jatuh nyengele seperti nangka busuk tetiup angin. Kiranya kejatuhannya ini diakibatkan kelewat lemas Sekali jatuh ini membuat sang Hweesio tidak bisa bangun lekas Jekas. Wan Tuian Hong menyedot hawa sambil berpegangan pada dinding kapal, sedangkan Wan Djin Liong saat ini sudah bangun kembali, ujung pedangnya

.diarahkan ke pada Tong Leng, setindak demi setindak kakinya maju mendekat untuk mengakhiri kisah sang lawan. Tong Leng memaksakan diri mengangkat tongkatnya dan memukulkannya ke samping. Baka n kepada Wan Djin Liong melainkan kepada kaca yang berada di istana air.

Kaca itu tidak kuat menerima gempuran itu, segera pecah berantakan. Air danau segera menyembur masuk dengan membawa hawa segar yang sangat sejuk, ketiga orang yang engah kehabisan udara segar segera membuka alat napasnya sebesar besarnya, sehingga masing masing terbangun kembali semangatnya. Tapi dengan hilangnya bahaya dari sesak napas. bahaya air segera'mengancam! Sebab istana air ini berada di daiam kapal. Dalam waktu setengah jam saja sudah cukup membuat seluruh dari istana air kemasukan air. Tong Leng sudah tahu bahwa dirinya berada di bawah angin dan tidak ungkulan lagi untuk merebut kemenangan, sebab inilah ia memecahkan kaca dan membiarkan air masuk, hal ini dilakukan dengan harapan bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan, atau sedikit dikitnya bisa mati bersama dengan musuh- musuhnya.

Akan nasib dari dua saudara Wan belum dapat ditentukan, yang nyata kerugian terang berada di pihak Tong Leng. Sesudah dua saudara Wan segar lagi tenaga bergabung mereka menjadi normal dan sukar ditandingi lagi oleh lawannya, Djin Liong tidak membuang waktu lama lama, tubuhnya segera menerjang hebatnya seperti harimau lepas dari kerangkeng. Pedangnya bersinar sinar mengarah dada lawannya dan siap untuk ditubleskan!

Tong Leng pun menjadi segar kembali sesudah menghirup hawa yang segar. Tapi tongkatnya yang dihajarkan pada kaca tidak dapat dengan segera ditarik kembali, untuk menghindarkan serangan tubuhnya segera mengegos sedikit, malang baginya sang lawan tidak menusuk bagian tengah dadanya melainkan agak ke samping. Tong Leng menseluarkan bunyi 'ah", dari tenggorokannya, sedangkan napasnya semakin memburu. Djin Long mencabut pedangnya, tapi sudah tiada kekuatan untuk mengirimkan tusukan yang kedua. Wan Thian Hong siap melancarkan serangan untuk menggantikan kedudukan sang kakak, ia menghentikan usahanya tatkala terlihat ong Leng bergelimpangan sambil meraba raba sekujur badannya dengan kedua lengannya, entah apa yang sedang dicari tidak diketahuinya,. Thian Hong diam tidak bergerak sambil mengawasi terus apa yang sedang diperbuatnya.

Tong Leng berhasil merogo ke luar semacam benda berbentuk segi panjang dari dalam sakunya. Matanya yang mendelik mengawasi kedua lawannya, sedangkan sebuah dari lengannya menekap dadanya yang luka, tongkatnya dibuang ke samping dengan begitu saja. agaknya ia tak memerlukan lagi. Menampak gerak gerik yang luar biasa dari musuhnya dua saudara Wan bersiaga terlebih hati hati lagi. Hweesio gemuk menuju pada kaca yang dipecahkan tadi, kemudian dengan cepat benda persegi yang dipegangnya dilemparkan ke luar. Air yang mancur ke dalam ruangan mempunyai tenaga yang maha hebat, tapi Tong Leng berhasil melemparkan benda itu ke luar. menunjukkan bahwa tenaganya masih kuat sekali.

"Hertikani" seru Thian Hong mencegah tapi sudah terlambat. Dua saudara Wan menjadi sadar secara berbareng : "Benda kecil itu, pasti mengandung rahasia yang maha besar, tak heran sampai mau matinya Tong Leng masih tetap berusaha untuk membuangnya."

"Hai, Hweesio durhaka! Benda apa yang kau buang?" seru Djin Liong dengan kasar. Torg Leng diam tidak menjawab. Sehingga membuat Dj,m Liong membentak lagi

: "Lekas katakan! Kalau tidak pedang ini akan membereskannya!" Belum suara Djiu Liong hilang terbawa arus udara, jeritan Thian Hong yang melengking tajam sudah Terdengar: "Koko! Awas!" Kiranya ia melihat di dalam diamnya Tong Leng sebenarnya tidak diam, melainkan tengah memusatkan seluruh perhatiannya serta semangatnya, untuk melakukan serangan terakhir. Djin Liong mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya, dengan cepat kakinya mundur dua langkah ke belakang.

Sementara itu, air danau sudah masuk ke dalam ruangan Istana Air setinggi lutut, dapat dikatakan pintu untuk menyelamatkan diri tidak ada sama sekali. Agaknya kematian dari tiga manusia yang tengah bertarung ini sudah berada di ambang pintu. Tong Leng menjulurkan ke dua lengannya yang panjang, siap menyerang ke depan. Akan mukanya kini sudah menjadi 'pucat lesi. luka di dadanya mencucurkan terus darahnya yang merah segar, agaknya ia menderita sekali. Selasjutnya ia menjadi limbung, lengannya yang siap dipakai menyerang terpaksa ditarik kembali untuk menekap lukanya secara erat. kelopak matanya menjadi meram. tubuhnya yang besar tidak dapat dipertahankan lagi. segera jatuh terjungkal, ke dalam air.

"Plung" terdengar bunyi jatuhnya, air memercit ke empat penjuru. Dua saudara Wan dapat bernapas secara lega dengan kematian lawannya yang kuat itu. Saat ini Thian Hong merasakan aliran darahnya sangat kuat sekali, ia berter'ak;

"Koko, kita harus lekas melarikan diri!" Ia mengira suaranya ini keras sekali, tapi sesudah didengar tidak lebih tidak kurang seperti orang berbisik di dalam udara terbuka AkiDatnya ia merasakan dadanya sesak, karena di dalam ruangan air sudah semakin banyak, sehingga membuat sukar bernapas:

Djin Liong menunjuk pada kaca yang pecah: "Sayang kita tidak dapat berenang, kalau tidak hal melarikan diri tidak menjadi soal lagi."

Dua saudara saling pandang dengan putus asa. Mereka terdiam, sedangkan air mengalir terus. Dalam keadaan yang sangat keritis. Thian Hong dapat berpikir secara tiba- tiba: "Air semakin banyak, kami bisa merapung naik ke atas dan dapat membuka pintu rahasia di atas." Pikirannya ini diutarakan kepada kakaknya.

"Tapi kau harus tahu, hal ini dapat dilakukan kalau kita bisa berenang. Untuk kita mana dapat melakukannya?" kata Djin Liong secara lemas.

Thian Hong menarik nepas sambil berkata "Sayang kita tidak dapat berenang."

Dua saudara Wan memandang terus air yang kian lama kian membanyak, hatinya tidak mengira bakal menemui ajal di tempat ini, Tbian Hong ingat betul bagaimana gerak gerik yang aneh dari Tong Leng .di saat matinya dan beiusaha melemparkan benda persegi ke dasar danau. Ia berpikir; "Sebelum mati aku harus berusaha meninggalkan sesuatu petunjuk pada Kie Sau Pepe." Dengan cepat bajunya disobek menjadi beberapa bagian, kemudian jarinya digigit sampai berdarah dan dituliskannya pada kain itu beberapa huruf yang berbunyi. "Tong Leng Hweesio disaat matinya melemparkan benda persegi ke dasar danau, hal ini pasti mengandung rahasia yang maha besar, harap diusahakan untuk menyelam dan mengambilnya." Baru saja ia selesai menulis, di atasan kepalanya terdengar bunyi yang sangat gaduh sekali. DjinLiong memusatkan perhatiannya untuk mendengari suara ribut ribut itu. Tanpa terasa dua saudara ini menunjukkan perasaan kaget bercampur girang dimasing-masing wajahnya. Kagetnya, takut musuh musuh datang untuk menawannya, yang membuatnya girang adalah kawan-kawannya sudah menang dan mencari mereka Demikianlah mereka sambil mendengari sambil menduga duga. Tapi kegaduhan itu tidak berjalan lama. sesaat kemudian sudah kembali menjadi sunyi kembali.

Dengan wajah berseri-seri Djin Long memandang pada adiknya, agaknya ia mempunyai sesuatu pendapat yang baik sekali. Mulutnya yang mengeluarkan senyuman terbuka mengeluarkan kata-kata: "Moy tju, naiklah lekas ke atas bahuku! Kita bisa mati satu tapi hidup satu sudah cukup dari baik jika dibanding harus mati bersama!"

"Aku saja yang berada di sebelah bawah," pinta Thian Hong secara sungguh sungguh, "lekaslah kau naik di bahuku." "Jangan banyak ceritera lagi," lata Djin Liong dengan gagah, "lekas!"'

Tengah mereka ribut tidak mau mengalah, tiba tiba pintu di atas mengeluarkan bunyi kreek dan terbuka.

Wan Djin Liong dongak memandang, tampak olehnya seorang wanita tua yang mengubet kemalanya dengan kain putih sedangkan kedua lengannya bersenjatakan sepasang golok, dari pintu yang terbuka kepalanya melongok kesebelah bawah Djin Liong tidak kenal pada Thio Sam Nio dan tidak mengetahui peristiwa bangkitnya Pek Tau Peng untuk menghancurkan Ong Hie Oag. Kini ia dalam keadaan mati dan hidup, dengan lekas pedangnya diacungkan ke atas sambil membentak : "Siapa kau!" Dengan girang Thio Sam Nio menyerukan yang lain : "Lekas ke mari, mereda dua saudara ada di sini!" sesaat kemudian banyak bayangan orang berserabutan, orang pertama yang: datang menyelidiki adalah Tja Sie Hong. demi Djin Liong dan Thian Hong menampak saudara itu girangnya bukan buatan, serentak mereka berseru girang: "Tju Sahko!" Sie Hong melihat adik adiknya hampir terendam air. tanpa ayal lagi tambangnya diulur turun: "Lekaslah naik!" Dengan terbukanya pintu angin di atas udara di bawah menjadi sempurna kembali, sehingga dua saudara Wan kesegarannya pulih lagi seperti sediakala. Dengan Cepat mereka memegang tambang, dan naik ke atas dengan selamat. Misalkan pertolongan datang terlambat saat ini mungkin dua saudara Wan sudah mati terbenam air. Kini mereka bergirang sekali bisa berkumpul dengan saudara- saudaranya. Tampak oleh mereka di ruang kapal berkumpul sekalian saudara saudaranya. Hanya apa yang beda dengan hari hari biasa, semua dari mereka berpakaian robek robek dan berdarah, agaknya seperti baru melakukan pertarungan besar. Kiranya waktu Thian Hong meninggalkan rombongannya seorang diri untuk mencari kakaknya, Kie Sau sudah membagi anak buahnya untuk menghadapi Thai Ouw Tjap Go Sat, tengah mereka bertempur dengan asyiknya, Tnio Sam Nio sudah mengatur barisannya untuk mengurung musuh, di antara nelayan - nelayan itu tidak kurang orang gagahnya, mereka serentak naik ke atas perahu untuk membantu. Thai Ouw Tjap Go Sat sudah melihat kekalahan di pihaknya, sehingga sudah tidak mempunyai hati untuk melanjutkan pertarungan lagi. tak heran mereka dapat dibinasakan atau kena dilukakan secara mudah. Dari peristiwa inilah dapat dibayangkan bahwa Tjap Go Sat itu hanya terkenal ramanya saja akan kepandaian yang sesungguhnya tidaklah sehebat namanya. Kini mereka sudah ludes semua, yang mati, mati, yang hidup kena ditawan. Sesudah sekalian lawan dibereskan.

Thio Sam Nio tidak menemui bayangan dari Ong Hie Ong. Dengan cepat salah seorang anak perahu besar ditangkapnya untuk menjadi petunjuk rahasia perahu besar. Dia itu nyatanya takut mati. dengan segera melakukan tugasnya, demikianlah sekalian orang bisa sampai di istana air dan dapat menolong dua saudara Wan.

Anak anak muda dengan cepat berkumpul menjadi satu sambil menuturkan kisahnya atau jalannya pertempuran tadi dengan asyiknya. Tiba tiba Thian Hong memotong perkataan orang: "Saudara saudara sabar, ketahuilah di dalam istana air masih terdapat seseorang!"

"Apakah ia Ong Hie Ong adanya?" tanya Thio Sam Nio dengan cepat.

"Bukan, seseorang yang di luar perkiraan sama sekali! Ia adalah Tong Leng Hweesio!"

"Apa." kata Kie Sau tanpa terasa, karena ia merasa kaget sekali.

"Binatang itu sudah kami bereskan, tapi sewaktu mau mati ia masih berusaha untuk melemparkan semacam benda kecil berbentuk persegi ke dasar danau. Entah mengandung rahasia besar macam apa pada benda itu?"

"Benarkah ada kejadian semacam ini! Benda itu macamnya bagaimana?" tanya Thio Sam Nio sambil melemparkan goloknya ke lantai perahu, sedangkan lengannya segera menggulung lengan bajunya, matanya yang tajam memandang pada danau tanpa berkedip kedip. Pemimpin Pek Tau Peng ini adalah seorang yang bersifat polos, apa yang dikatakan apa dikerjakan, sesudah mendengar perkataan dari Thian Hong segera sedia, kini ia berseru pada orang bawahannya: "Saudara saudara yang dapat menyelam lekas lekas siap!" Saat itu pula muncul beberapa orang Pek Tau Peng maju ke muka sambil berkata:

"Kami siap menantikan perintah!" Thio Sam Nio membalikkan badan dan bertanya

"Benda macam bagaimana yang di lemparkan Tong Leng ke dalam danau?"

Thian Hong dengan segera menerangkan lagi dengan jelas, Sam Nio mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata pada Hoa Sm Kie Sau. "Kie Sau. urusan di atas peiahu ini kuminta kau bereskan, aku ingin menyelam ke dalam telaga, dalam waktu setengah jam pasti aku kembali!" Tentu saja Kie Siu meluluskan permintaannya. Sam Nio memilih empat Pek Tau Peng untuk menyertainya turun ke dalam telaga.

"Benda itu agaknya berat, pasti tidak lari. ke mana mana. Marilah kiia turun ke sini" kata Sam Nio sambil menunjuk air telaga yang berada di bawahnya. "Lumpur telaga sangat banyak, benda yang berat dapat tertimbun, karena itu sukar dicurinya, kuharap saudara saudara berlaku terlebih hati hati!" tambah sang pemimpin.

Sedangkan tubuhnya segera terjun ke dalam telaga, di susul suara 'plung. . . plung. . . plong* dari pengikutnya, dalam waktu sekejap saja air telaga menjadi tenang kembali, sedangkan orang yang selulup hilang tak tertampak.

Lima orang turun ke dasar danau untuk mencari benda yang tidak kelihatan mereka menyelam demikian lamanya. Sesaat sudah berlalu tampak kepala orang tim bui dari permukaan air, sesudah menyedot hawa segar segera selulup kembali Ke dalam air. Penyelam penyelam ini adalah ahli semua, mereka timbul dalam waktu sepeembakaran hio, sedangkan Tnio Sam Nio seperti tiada kabarnya, sesudah menyelam demikian lamanya belum juga kelihatan ia timbul, agaknya ilmu dalamnya sangat tinggi sekali, sehingga tak perlu mengatakan pertukaran hawa. Semua mata mengawasi ke permukaan air, mereka kesal tidak mempunyai mata Tjian Lie Gan ( mata yang dapat melihat seribu Lie dan menembus segala penghalang) untuk menyaksikan orang yang menyelam di dasar air itu.

Sepembakaran batang hio kembali berlalu. Thio Sam Nio baru kelihatan muncul dari permukaan air. Lengannya mencekal semacam benda, sambil berteriak girang ia membuka mulutnya: "Lihat! Apa ini!" Suara teriakannya disambut oleh sekalian orang dengan sorakan yang riuh rendah.

Dengan cepat Sim Nio loncat ke atas perahu secara ringan. Keempat penyelam Pek Tau Peng satu persatu mengikuti naik, walaupun keempat orang ini tidak mendapatkan benda yang dicari, tapi masing masing lengannya berhasil mendapatkan benda benda lain yang sangat indah dan menarik baiklah hal ini tidak perlu dituturkan terus

"Inikah bendanya yang kau maksud?" tanya Thio Sam Nio pada dua saudara Wan sesampainya di atas perahu.

"Benar," jawab dua saudara Wan secara serempak. Tnio Sam Nio menyerahkan benda itu pada Hoa San Kie Sau untuk diperiksa: "Kau mempunyai pengalaman yang banyak sekali, periksalah benda ini sebenarnya apa, dan apa gunanya."

Sambil mundur Kie Sau menerima benda itu, kemudian mengamat amatinya dengan teliti, benda itu panjangnya enam senti, lebarnya tiga senti, tebalnya satu senti, hitam mengkilap, tiada huruf atau sesuatu tanda yang didapat di atasnya. Walaupun ia berpengalaman seumur hidupnya belum pernah melihat benda semacam itu Ia tidak tahu dan tak dapat menduga kegunaan dan benda itu. Hatinyaa berpikir, bahwa benda itu dibuang oleh Tong Leng Hweesio disaat matinya di ambang pintu, pasti mempunyai sematu rahasia yang hebat, dalam seketika ia tak dapat mengetahui, sebaiknya harus perlahan lahan memikirinya karena nya ia berkata: "Timah ini untuk sementara jangan kita pikirkan, sebaiknya marilah kita bereskan terlebih danulu urusan di Thai Ouw ini."

"Bener," kata Sam Nio paling dahulu. Saat itu pulalah ia mengeluarkan perintah, untuk menghitung sekalian kerugian yang di derita serta mengatur lagi barisannya.

Walau pun kaum Pek Tau Peng ada yang luka dan gugur serta kehilangan beberapa perahu keciL alhasil tetap memperoleh kemenangan yang sangat besar. Sedangkan pihak musuh dapat dikatakan hampir dihancurkan sama sekali kekuatannya, sedangkan Thai Ouw Tjap Go Sat kalau tidak mati. pasti tertawan kaum Pek Tau Peng. Sedangkan Ong Hie Ong tidak kelihatan mata hidungnya berbalik Tong Leng menjadi gantinya. hal ini membuat mereka bingung dan tidak habis mengerti Sesudah sekalian diatur beres Thio Sam Nio memerintahkan sekalian tentaranya kembali ke masing masing tempatnya secara diam-diam, dan malakukan pekerjaan mereka sebagai nelayan seperti sediakala, sehingga dalam pandangan orang luar peristiwa kebangkitan kaum Pek Tau Peng tidak diketahui dan seperti belum pernah terjadi saja. Selanjutnya Sam Nio memerintahkan untuk membakar perahu Ong Hie Ong.

Mereka melakukan hal ini karena memastikan bahwa gembong Tnai Ouw tidak terdapat di situ, dan pasti akan datang kembali membawa bala bantuan untuk mengadakan suatu pembalasan, kalau tidak demikian pasti sukar dihadapinya. Karena memikir demikianlah cara ini dipergunakan yakni untuk sementara sekalian orang harus berpencar. Untuk mengumpul lagi orang orang yang satu tujuan dan cita cita tidak terlalu sukar, Sam Nio bertanya pada Kie Sau bagaimana tentang caranya ini baik atau tidak.. Dengan jujur Kie Sau memuji dan membenarkan siasat yang dipergunakan.

Thai Ouw Tjap Go Sat adalah musuh-musuh dan sekalian nelayan nelayan, sebelum Sam Nio membubarkan bala tentaranya terlebih dahulu mereka diadili, karena dosa mereka terlampau banyak tentu saja seketika dibunuh mati arau dihukum picis sampai mati kemudian mayatnya dilempaikan ke dalam danau sebagai umpan iKan, demikian pula dengan tubuh Tong Leng tidak terkecuali. Sekalian dari kaum nelayan merasa girang dan puas. mereka enggan untuk segera meninggalkan pemimpinnya yang disayangi dan dicintai itu, sampai jauh malam barulah mereka kembali ke tempatnya secara sembunyi sembunyi.

Mereka melakukan pertarungan satu hari satu malam, yakni dari malam ketemu malam lagi, sehingga masing masing merasakan sangat lelah. Tiipi untuk Thio Sam Nio tetap saja dalam keadaan bersemangat, sesudab ia beres mengatur segalanya, baru datang kembali berkumpul dengan Kie Sau untuk menghancurkan Ong Hie Ong juga untuk mencari di mana rimbanya Louw Eng. Nyata Louw Eng tiada beiada di dalam perahu, karenanya harus mencari tempat lain. Mendengar ini Thio Sam Nio tidik bisa menahan lama lama. hanya meminta kepada sekalian tamunya untuk bermain main beberapa hari di Thai Ouw menikmati pemandangannya yang terkena! indah Sudah menjadi kebiasaan kaum pendekar di dunia Kang ouw. pertemuan yang sekejap bisa menjadikan teman sejati, tak heran sekalian anak muda meajadi enggan dan merasa berat untuk berpisah, sesudah semuanya memutuskan bahwa tiga hari kemudian baru berangkat, dapatlah mereka tidur dengan nyenyak pada malam itu . Malam sunyi mendatang, tiada suara mau pun angin yang menderu, agaknya orang orang pun sudah demikian letih dan terbenam dalam alunan irama malam yang menyenyakkan sekali, sebaliknya dengan Tjiu Piau malam ini ia tak dapat tidur. Otaknya berpikir :

"Sarang Ong Hie Ong yang demikian besar dalam waktu sebentar saja dapat disapu bersih dari permukaan bumi!

Sungguh suatu hasil yang luar biasa, tak salah kalau pepatah mengatakan bersatu teguh bercerai runtuh. Kemudian otaknya mulai memikirkan lagi pada benda kecil yang didapatnyn itu. ia menduga dan memikir terus sampai tak dapat tidur. Tadi siang sesudah Kie Suu memeriksa tanpa hasil atas benda itu, lantas diberikan kepada Tju Hong kemudian kepada yang lain, dan yang terakhir adalah Tjiu Piau yang memegangnya, kini benda itu tak lepas dari tangannya sambil dibakai main. Hatinya kembali berpikir; "Kenapa Tong Leng mementingkan sekali benda ini? Kenapa sampai mau matinya Hweesio itu masih berusaha untuk melemparkannya ke dalam danau?" Ia berpikir den berpikir terus sambil mengusap usapnya benda itu.. Kantuknya mendatang, benda yang berada di dalam tangannya terasa semokin lama semakin berat, ia kuatir begitu matanya merana, benda itu bisa terlepas dari tangannya, buru buru dicekal sekenyang kenyangnya, sedangkan semangatnya kembali terbangun secara mendadak, ia berpikir untuk menyimpannya dahulu benda itu baru tidur. Tapi secara tiba tiba otaknya mendapatkan sesuatu perasaan, ia heran kenapa benda yang terbuat dan timah itu agak berat. Kita harus mengetahui, setiap ahli senjata rahasia, dapat menimbang beratnya logam, hal ini terjadi karena kebiasaan yang bertahun-tahun. Tjiu Piau masih muda. pengalamannyapun tidak berapa banyak, tapi biar bagaimana ia toh seorang ahli dalam senjata rahasia, karenanya tak perlu heran ia mempunyai kepandaian untuk membedakan beratnya logam. Begitu ia mengingat pendapatnya ini kegirangannyapun timbul secara mendadak, sedangkan kantuknya hilang pada waktu itu juga. Timah persegi itu di timbang timbangnya bulak balik di kedua lengannya secara bergantian. Akhirnya ia merasakan bahwa benda kecil ini memang agak lebih berat dari pada timah biasa.

Ia berdiri dengan bengong di ujung perahu, otaknya kembali berpikir; ,"Heran, kenapa benda ini bisa lebih berat dari pada timah biasa? Kalau ia lebih ringan, mudah saja ditebaknya, yakni pasti dalamnya kosong dan dipergunakan untuk menyimpan sesuatu benda lain. Tapi sebaliknya kenapa lebih berat?" Hatinya berpikir terus, sedangkan mulutnya tak henti - hentinya berkata:

"Kenapa lebih berat? Kenapa lebih berat?"

Tiba tiba. sebuah batu kecil melayang melalui kepalanya dan jatuh ke air di depan mukanya, segera terlihat riak mengalun bulat ke empat penjuru susul menyusul. Tjiu Piau tengah berkecamuk dengan hal timah persegi, sehingga tidak merasakan sesuatu gerakan yang terjadi di sekelilingnya. Sedangkan orang yang melempar batu sudah tidak sabaran lagi menunggu reaksinya, segera maju melangkah, perlahan lahan lengannya mengusap usap bahu orang, dengan lemah lembut ia berkata : "Piau Koko. kau kenapa? Malam demikian larut belum juga tidur, apa gerangan yang menyebabkan?"

Mendengar suara ini. Tjiu Piau sudah tahu bahwa Gwat Hee yang datang Ia menoleh dan menatap wajah sang gadis, sepasang mata bentrok, mereka tersenyum.

'Kamu mendiri kenapa belum tidur?" tanya Tjiu Piau. "Aku sudah tertidur sekian lamanya. tiba tiba aku terjaga secara mendadak demi mataku terbuka kulihat kau masih termenung menung terhadap air telaga. Dalam heranku aku datang menemui kau katakanlah sebenarnya kau tengah merenungkan hal apa?"

"Aku menpunyai suatu hal yang tak mau lepas dari alam pikiranku, sehingga tak dapat tidur!" jawab Tjiu Piau sambil memberikan timah persegi pada sang gadis,

"timah itu lebih berat dari pada timah biasa. Aku heran kenapa bisa begini? Mungkinkah di sini letaknya rahasia itu?"

Gwat Hee memutarkan matanya, seolah olah ada sesuatu pendapat di dalam hatinya, ia berkata:

"Piau Koko, jawablah pertanyaan ku." "Katakanlah lekas!"

"Kalau emas timbangannya apakah lebih berat dari timah atau tidak?"

"Betul," jawab Tjiu Piau kegirangan, "benda ini adalah emas yang dilapis timah!"

"Rahasia itu pasti terletak di situ. Esok kita cari dapur untuk melumerkan timah itu, dengan cara ini kita dapat melihat emas yang terdapat di dalamnya bukan?" '

"Benar," kata Tjiu Piau dengan girang, "timah pasti lumer, sedangkan emas tidak" Demikianlah kedua anak muda ini menjadi girang sekali. Suatu hal yang menjadi teka teki sudah diketahui kuncinya hati mereka menjadi terbuka dan tak perlu memikirkan terlebih lanjut akan hal timah persegi itu.

Mereka berpandangan lagi dengan girang, sementara itu angin malam mengusap usap mereka. Cakrawala yang berbintang tak terhitung menaungi mereka yang tengah terapung apung di atas perahu dengan asyiknya,tak ubahnya seperti seorang ibu yang suci tengah menina bobokan bayinya yang di cintai. Tjiu Piau merasakan sudah lama sekali tidak memasang omong dengan sang pacar, semata mata disebabkan hal membalas dendam dan melatih diri memperdalam ilmu, sehingga soal pribadi agak terkesampingkan.

Tatkala sibuk ia tak merasakan rindu atau kangen, tapi begitu ketemu dan memikir dengan otaknya, hatinya merasa menyesal dan merasa terlalu tidak memperhatikan gadisnya. Hatinya penuh diliputi api asmara yang menyala nyala. otaknya berputar mencari kata yang sedap untuk memulai pembicaraan. tapi semua menjadi batal, karena ia tak tahu harus bagaimana memulai membuka pokok pembicaraan. Kepalanya memandang ke atas langit, seolah olah mencari ilham, tanpa terasa lidahnya bergoyang juga. "Ribuan bintang menghias di angkasa yang luas, kalau aku menyuruh kau mencarinya sesuatu bintang dapatkah kau mencarinya!" Ia dapat berkata demikian karena siang malam hari selalu mengingat untuk mencari Louw Eng yang tiada diketahui rimbanya, tak heran tanpa terasa ia dapat menyebutkan kalimat itn, Sebaliknya kalimat itu untuk pendengaran Gwat Hee lain bunyinya dan terasa sedap sekali, dengan girang ia menjawab. "Kau lihat bintang apa itu namanya?"

Tjiu Piau memandangkan matanya pada bincang yang ditunjuk, sambil menggoyang kepala ia berkata. "Aku terhadap ilmu perbintangan sama sekali tidak mengetahui dari mana kutahu akan namanya!"

"itulah bintang Gu Lang, sekali cari lantas dapat kutemukan!"

"Oh," kata Tjiu Piau. "mana bintang Tjek Lie?"

"Pasti bintang Tjek Lie tidak berjauhan dengan bintang Gu Lang!"

"Di mana? Di mana?" kata Tjiu Piau sambil dongak mencari cari.

Melihat laga tolol tololan dari kawannya, Gwat Hee tak kuasa untuk tertawa: "Tak periu sibuk, nantikan saja pada bulan tujuh tanggal tujuh mereka pasti akan berkumpul menjadi satu."

Malam yang indah terasa pendek dalam Suasana roman yang harmonis untuk kedua hati. muda mudi ini. Suara dan tawa mereka hanya didengar air telaga, demikianlah tanpa terasa lagi fajar sudah menyingsing dengan tergopoh gopoh mereka lari ke biliknya masing masing untuk tidur. Dalam waktu sekejap saja mereka sudah menjadi nyenyak.

Sementara itu yang lain sudah bangun dan bercakap cakap tanpa henti hentinya disela suara gelak tertawanya yang kegirangan. Kie Sau lekas lekas mencari Tjiu Piau untuk menayakan soal timah persegi, sesudah dicari cari barulah di ketahui bahwa muridnya itu masih tidur. Sang guru yang baik hati tidak mau mengganggu muridnya yang tengah tidur, hatinya berpikir: "Mungkin anak ini terlalu letih sehingga tertidur sampai lupa daratan."

Sesudah agak siang matahari memancarkan sinarnya yang panas, Tjiu Piau baru bangun dari tidurnya, ia melangkah untuk berkumpul sekalian uatuk makan nasi. ia melihat Gwat Hee sudah ada di situ. waktu ia memandang pada sang gadis. Gwat Hee membuang muka sambil tertawa kecil sedangkan mukanya menjadi merah.

Kie Sau adalah seorang yang sudah berpengalaman, begitu melihat wajah dan mata Tjiu Piau ia tahu bahwa muridnya ini tidak tidur tadi malam. Dengan cepat ia berkata: "Apa yang kau lakukan, sampai tidak tidur semalam suntuk."

Dengan gugup Tjiu Piau membuka mulutnya, belum suaranya ke luar Gwat Hee sudah mendahului berkata:

"Piau Suko memikirkan hal timah persegi itu sehingga tidak dapat tidur!" Gwat Hee mengetahui bahwa Tjiu Piau seorang yang jujur, ia takut segala apapun akan diceriterakan kepada gurunya tak heran ia mendahului membuka mulut.

"Oi." kata Kie Sau sambil tertawa, "adakah sesuatu yang kau ketemukan pada benda itu?" "Ada," kata Tjiu Piau sambil menuturkan enemuannya itu.

Sesudah Kie Sau dan Thio Sam Nio berunding, mereka segera mencari dapur yang besar, timah persegi itu dibakarnya segera. Sesaat sesudah api padam mereka menemukan sepotong emas dari dalam abu api. agaknya timah pembungkus sudah menjadi lumer. Kie Sau mengambil dan menggosok gosok sampai bersih, kemudian memeriksa iya. ia terdiam sebentar sesudah membaca habis. Kepalanya diangguk anggukkan dan berkata. "Kiranya Louw Piau mengirimkan kabar rahasia dengan demikian baiknya, mungkin hal ini sangat hebat untuk mereka, tapi aku merasa heran apa yang dimaksud dengan musuh mereka entah siapa aku tidak tahu. .. "Kata katanya tidak selesai diucapkan, tim ah itu diasongkan kepada yang lain untuk dilihat secara bergiliran.

Kiranya di atas potongan emas itu terdapat beberapa huruf yang tertulis dengan indah dan tegas terbaca, nyatanya buah kalam seorang berilmu dalam yang tinggi. Surat itu berbunyi.

Dalam tiga bulan diminta berkumpul di Pen San. untuk menghadapi musuh dengan Kiu Sie Tin (semacam barisan untuk berkelahi). Lawan sangat tangguh sekali dan bukan menjadi lawan dari seorang seperti kami, kalau tidak bersama-sama dihadapi, bencana besar pasti terjadi. Berita lebih lengkap akan disampaikan secara lisan.

LOUW. BOK

Kata terakhir yang berbunyi "Lauw' semua mengetahui yakni singkatan dari Louw Tiau, sedangkan kata Bok' singkatan dari Bok Tiat Djin. Sedangkan tempat yang di tunjuk untuk berkumpul sudah terang sarang dari Bok Tiat Djin. Sedangkan kata kata lain seperti Kiu Sie Tin itu apa? Siapa yang dimaksud dengan lawan tangguh, bukan saja sekalian anak muda tidak tahu, sampai Tju Hong sendiri tidak mengetahui barang sedikit. Ya hal ini tidak perlu disalahkan karena orang fua ini sesudah berdiam hampir duapuluh tahun didalam jurang menjadi kurang sekali pendengaran dan pengetahuannya di dunia Kang ouw

Hanya Kie Sau mengetahui apa yang di maksud dengan Kiu Sie Tin, tiga huruf ini membuat goncangan besar di dalam hatinya. Ia terdiam merenungkan sambil menutup kedua matanya. Kala ia membuka mata lagi, sekalian mata anak muda sudah memandang ke arahnya menantikan sesuatu penjelasan dengan tak sabar. Kie Sau memandang kepada Djie Hai sambil berkata. "Pernah kah aku menuturkan tentang Kiu Sie Tin kepadamu?"

"Sunu belum pernah menuturkannya sama sekali." 'Baiklah, akan kututurkan kepada kalian semua." kata

Kie Sau sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

"Sejujurnya kuterangkan. untuk melihat aku belum pernah melihat Kiu Sie Tin, hanya aku tahu di dunia terdapat barisan yang dinamai Kiu Sie Tin. Barisan ini diciptakan oleh seorang berilmu tinggi dari Go Bie Pay. Pada jaman itu di Hoo Pak muncul seorang paderi berilmu tinggi, hanya sayang kelakuannya sangat sesat sekali, paderi ini dapat dikatakan tak ada tandingannya pada jamannya.

Sedangkan orang berilmu tinggi dari Go Bie Paypun bukan menjadi lawannya "

'Tapi untuk menyingkirkan paderi yang jahat itu ia mengumpulkan sembilan muridnya yang sangat diandalkan, diaturlah barisan itu dan dihadapinyalah paderi sesat tersebut maka pertarunganpun terjadi dengan serunya selama tiga hari tiga malam, aknirnya paderi jahat itu dapat dibinasakan juga. Sedangkan orang berilmu dari Go Bie Pay itu dan sekalian muridnya banyak yang luka dan binasa, lima tahun kemudian yang hiduppun susul menyusul meninggalkan dunia yang fana ini. Sejak itulah di dunia persilatan orang mengenal apa yang dinamai Kiu Sie Tin, tapi tidak mengetahui yang bagaimana sebenarnya barisan itu. Tak kira sekarang Louw Tiau mendapatkan rahasia dan ilmu Kiu Sie Tin, entah dan mana ia mendapat?" Sesudah Kie Sau menerangkan panjang lebar, sekalian orang baru tahu. Tapi penerangan ini agaknya tidak memuaskan benar, terbukti dengan permintaan Gwat-Hee yang menanyakan apa artinya dan Kiu Sie Tin itu,

"Barisan ini memakai nama Kiu Sie Tin. (sembilan puluh persen mati), artinya kalau menggunakan barisan ini. sudah pasti sembilan puluh persen dari penjaga barisan akan mati. Kalau bukan lawan terdiri dari orang yang berimu luar biasa, orang semacam Louw Tiau tiiak nanti menggunakan nya. Hal inilah yang mengherankan sekali. Kita mengetahui pada jaman sekarang orang yang mempunyai ilmu luar biasa hanya tiga orang saja Hek Liong Lo Kuay sudah meninggal, Yauw Thian Su menderita luka berat dan tidak diketahui di mana rimbanya lagi, sedangkan Pang Kim Hong sudsh lama mengasingkan diri dari dunia persilatan, terkecuali dari mereka apakah terdapat lagi seorang yang berilmu seperti mereka? Orang itu pasti ilmunya sangat luar biasa, sampai Louw Tiau dipaksanya harus menggunakan Kim Sie Tin."

"Suhu kitapun sebaiknya pergi saja ke Peng San." kata Gwat Hee,

"Ah!" seru Kie Sau, karena perkataan Gwat Hee memang dalarn dugaannya, tambahan iapun mempunyai niat yang serupa.

"Baik. tapi kau katakan dahulu hal apa dan pendapat apa yang menyebabkan kau ingin ke Peng San?"

"Aku tidak mempunyai pendapat yang luar biasa. Aku hanya berpikir, Tong Leng sebelum mati berusaha untuk membuang emas yang berhuruf ini ke dasar dauau. tentu hal ini dianggapnya sebagai rahasia yang besar sekali dan tidak boleh diketahui orang. Karena itu kita harus menyelidiki rahasia ini sebenarnya bagaimana!"

Sekalian anak muda memang berdarah panas dan senang menghadapi musuh tentu saja pendapat Gwat Hee mendapat sokongan mutlak. Belum belum Tjiu Piau sudah melanjutkan perkataan pacarnya. "Tong Leng itu bodoh sekali, misalkan emas itu disimpan dalam sakunya pasti kita tidak dapat mengetahuinya. Benda itu agaknya disengaja di perlihatkan kepada kita, agar kita menjadi tegang untuk menghadapinya!"

"Mereka kenapa takut rahasianya di ketahui kita?" tanya Gwat Hee.

"Kalau kita mengetahuinya pasti Peng San kita daki, karena mereka adalah musuh dari kita, dengan perginya kita ke sana sedikit banyak bukanlah dapat membantu orang berilmu itu dan merepotkan merek* juga bukan? Karena inilah mereka tidak mengharapkan kita dapat sampai di sana," jawab Tju Hong secara kalem.

"Mau mau kita pergi juga!" kata dua saudara Wan secara berbareng.

Perlahan lahan Kie Sau mengangguk angguk, orang tua ini hatinyapun memang sudah berniat untuk pergi..

Misalkan Kiu Sie Tin tidak dapat dihancurkan, tapi di sana banyak kawanan penghianat bangsa, inipun suatu kesempatan baik untuk menumpas mereka.

Melihat Kie Sau mengangguk, Tnian Hong bertambah girang, ia berkata;

"Kita sedang memburu Louw Tiau, binatang itu pasti berada di Kiu Sie Tin bukankah kebetulan sekali? Terkecuali itu Louw Eng Siok siok juga barangkat dapat kita ketemukan juga di sana!" Begitu perkataan ini ke luar, menarik pematian setiap orang, sehingga semua mata ditujukan kepadanya sambil menunggu kelanjutan dari perkataannya.

"Dalam peta yang kita dapati di Oey San beitulisan. 'Tidak mengetahui musim semi dan musim rontok.' Aku berpikir sepanjang tahun di puncak Peng San selalu ditutupi salju, tempat itu pasti tidak mempunyai musim semi dan musim rontok bukan? Terkecuali itu tempat itu sangat cocok sekali untuk menyembunyikan orang, sehingga seorang yang berkepandaian biasa tidak bisa sampai di sana!"

"Anak yang, baik, perkataanmu tepat sekali!" kata Tju Hong. "Dasar anak muda, otaknyapun masih jernih sehingga daya pikirnya cepat dan baik. Walaupun perkataan ini tidak dipastikan seratus persen, akan kebenarannya mengandung sembilan puluh persen. Kalau begini kepergian kita ke Peng San sudah pastilah!" kata Kie Sau dengan girang.

Sekalian anak mudi tidak mengetahui tingginya langit tebalnya bumi, dengan tak sabar lagi sudah ingin lari terbang untuk sampai di Peug San. Hanya Tju Hong dan KieSiu masih tetap mengernyutkan alisnya, mereka memperhitungkan secara matang kesukaran kesukaran yang akan dihadapi, sedangkan Thio Sam Nio yang sedari tadi berdiam diri, kini turun bicara: "Kie Sau hal ini bukan urusan "kecil, sekali kali tidak boleh berlaku gegabah! Untuk kami yang sudah tua pasti akan berlaku hati hati, tapi untuk sekalian anak anak ini disuruh masuk ke api nerakapun, mereka akan girang melakukannya."

Thio Sam Nio adalah pendekar wanita yang mempunyai kelihayan dan ketabahan tiada di sebelah bawah kaum pria. Mengetahui adanya keramaian Peng San, hatinya teigerak untuk turut pergi guna menambah pengetahuannya. Tapi sekalian nelayan dan kaum Pek Tau Peng yang berada di Thai Ouw tak dapat ditinggalkan, dengan terpaksa niatnya ini dibatalkan. Terkecuali itu Ong Hie Ong tidak tertangkap, berarti urusan di Thai Ouw belum selesai, dapat diduga bahwa musuh itu pasti akan datang, untuk menghadapinya pasti tidak boleh ketinggalan pemimpinnya.