-->

Pahlawan Harapan Jilid 17

Jilid 17

Orang yang menggubet kepalanya itu terdiri dari laki laki. wanita wanita dan orang tua dan anak kecil. Tampak- nya mereka berdiam di tepi jalan dengan menganggur sekali seperti tengah mengadam atau bermain-main dan mengobrol, menunjukkan kewajaran yang sukar diketahui kekurangannya. Tapi untuk Tju Hong hal ini menarik perhatiannya sekali. Dengan keadaan begini kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang orang yang menggubet kepalanya dengan kain l putih adalah anggota, anggota dari sesuatu perkumpulan yang besar, tempat ini pasti sudah berada dalam kekuatannya. Lo Yi itu asalnya adalah pemimpin dari mereka. Tju Hong tak berani menentukan orang-orang ini kawan atau lawan. Kalau benar benar merupakan lawan, berarti mereka sudah berada di dalam lengan musuh, karenanya bahaya dapat mengancam pada setiap detik.

Jalan punya jalan, kota sudah dilewati, mereka mulai masuk ke daerah yang sepi. Lo Yi itu dengan cepat membentangkan ilmu mengentengkan tubuh maju ke depan seperti terbang. Kie Sau dan Tju Hong tetap membuntuti dengan jarak yang tertentu. Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat yang sunyi sekali, di situ hanya berdiri beberapa rumah gubuk yang mengeluarkan sinar pelita yang berkelap kelip. Dengan cepat Lo Yi itu masuk ke dalam salah satu rumah dan hilang dari pandangan mata, orang yang membayangi di belakangnya segera berteriak: "Celaka!" melihat keadaan ini, kedua jago tua kita tanpa menunjukkan diri segera bertiarap di atas tanah, sedangkan mata mereka tak lepas lepas memandang ke depan menantikan sesuatu gerakan. Mereka berkuatir karena rumah yang dimasuki Lo Yi adalah tempat berkumpul diri sekalian anak muda kita.

Tiba tiba Kie Sau melihat salah satu pelita dari rumah gubuk menjadi padam, dalam keadaan gelap dilihatnya lima anak muda mencelat ke luar dari dalam rumah dan bersikap mengurung rumah gubuk itu, menyusui terdengar suara bencakan dari Ong Djie Hai: "Manusia macam apa yang berani mencari dengar perkataan kami, lekas turun!"

Tiba tiba dari atas wuwungan rumah berkelebat sesosok tubuh, yakni Lo Yi tersebut. Tampak ia berdiri dengan tenang dan tertawa besar: "Kawan kawan kecil, kamu ingin pergi mengacau di Thay Ouw. hal ini kuanggap terlalu gila sekali!" Belum suaranya habis, kembali terdengar suara Tjiu Piau berkata. "Kau dari golongan apa. turunlah untuk bicara!" kata-katanya ini ditutup dengan melayangnya sebuah batu dari kakinya menyerang Lo Yi itu.

"Hai. bocah jangan berlaku kurang ajar!" bentak Lo Yi itu sambil memiringkan tubuhnya menghindarkan batu itu. kemudian tubuhnya turun ke bawah seperti walet yang ringan, lengannya digapaikan. "Mari...mari. mari dekatan

sedikit, untuk saling mengenal dan menjadi kawan, kemudian baru bicara." Mendengar dari nada suaranya yang berlainan dengan yang diucapkan tadi sewaktu ia berada di atas wuwungan, membuat para anak muda tidak dapat meraba Lo Yi itu dari golongan mana, karenanya mereka tidak berani datang mendekat. Djie Hai pun mengubah nada suaranya terlebih halus dari semula.

"Siapa sebenarnya engkau ini?Untuk apakah engkau mencuri pembicaraan kami?"

"Ha., .ha . .ha," ia tertawa, "Dasar bocah juga, bicara tidak melalui otak sama sekali" Sembarangan saja menggoyang lidah memaki orang mencuri dengar pembicaraan. Kalian harus tahu, seharusnya aku yang berhak menegur kamu, kenapa berari sembarang mencuri bicara di tempatku ini?" Sekalian anak muda tak menjadi mengerti, terang terang perkataan mereka sudah dicuri dengar wanita tua ini. sebaliknya wanita tua ini tidak mengaku dan berbalik mencap mereka 'mencuri bicara.'

"Lo Thai Po (sebutan untuk wanita tua, tapi tidak seberapa hormat) kau bicara asal enak untuk diri sendiri saja. segala perkataan 'mencuri bicaralah' ke luar dari mulutmu. semata mata untuk membenarkan dirimu yang salah! Terkecuali itu tempat ini kau sebut sebagai milikmu, apa alasannya? Katakanlah lekas agar kami tidak salah sangka pada dirimu!"

"Siapa yang menyangkal dan meragukan tempat ini bukan milik kami? Kau dengarlah penjelasanku ! Thai Ouw yang luas beserta dengan pulau pulau dan gunung gunungnya semua termasuk milik kami kaum Pek Tau Pehg (tentara bergubet putih)! Kalian tanpa ijin membicarakan hal penyerangan ke sarang Ong Hie Ong di tempatku sama dengan .mencuri bicara! Kami tidak mengijinkan setiap manusia berani mencuri bicara di dalam wilayah kami!"

Waktu mendengar perkataan Pek Tau Peng tiga huruf Djie Hai agaknya mengingat dan kenal nama itu, tapi dalam waktu sejenak ia tak dapat mengingatnya dengan terang.

Kala ia mengingat-ingat, Ong Gwat Hee Suaah melanjutkan lagi perang lidah dengan serunya. "Apa yang kami rundingkan kau sudah tahu, tapi kenapa kau tidak mau mengaku mencuri dengar? Bukti sudah ada masih tidak mengaku tandanya tidak tahu malu!"

Lo Yi tertawa tertahan, agaknya ia tidak mau bertengkar dengan segala bocah. Tampak ia mengawasi kepada sekalian anak muda dengan suatu sapuan mata yang luar biasa tajam. Tiba tiba ia berkata dengan halus dan sabar tapi mengandung perintah yang tidak dapat ditawar lagi: "Benar, perkataan kamu sudah kudengar. Kamu ingin menyerbu sarang Ong Hie Ong bukan? Aku tidak setuju, kularang kalian berbuat begitu! Pokoknya tanpa persetujuan dari Pek Tau Peng kalian tidak boleh bergerak!"

Mendengar larangan dari wanita tua ini, Thian Hong menjadi gelisah, dengan gusar ia membentak,

"Apa hubungannya antara kau dan Ong Hie Ong?" "Musuh besar," jawab Lo Yi sambil mengenakkan gigi

tanda dan gusarnya. Cukup dengan beberapa patah ini,

sekalian anak muda sudah mengetahui bahwa orang tua ini mempunyai dendam kesumat yang besar sekali pada Ong Hie Ong.

"Kalau benar sebagai musuh besarmu, kenapa kau melarang kami untuk melakukan penyerbuan pada sarang orang jahat itu? Kau harus tanu kamipun adalah seteru besar dari Oag Hie Ong!"

"Kalau kataku tidak boleh, tidak boleh! Bukan saja tidak boleh bahkan kamu tidak boleh meninggalkan tempat ini barang setindak mulai dari saat ini jaga! Kalian boleh istirahat selama tiga hari di dalam rumah"

Wan Thian Hong merasakan dadanya seperti dibakar, mendengar perkataan jumawa dari Lo Yi itu, mulutnya segera membentak dengan keias:

"Hai Lo Tnai Po, dirimu ini pasti komplotan dari Ong Hie Ong! JagalaH pedang ini!" Dalam keadaan gelap gulita, tampak sinar pedang berkilat putih seperti perak mendesak perasaan orang beigeraK datang dari lengannya dan langsung menyerang wanita tua itu. Dengan cepat Lo yi memutarkan sedikit bagian atas dari tubuhnya, kepalanya sedikit miring menghindarkan serangan. Dengan cepat Thian Hong mengubah arah serangannya, pedang berbalik ke kiri dan memarah tengtorokan lawan secara mendatar,

"Ilmu pedang yang cukup lihay," seru Lo Yi itu.

Sedangkan kaki kanannya terangkat tinggi menjurus ke lengan sang gadrs Thian Hong tidak berani berayal lagi pedangnya kembali beralih menyerang perut lawannya dengan cepat sesudah membuat suatu lingkaran yang cukup besar Kaki Lo Yi yang masih berada di tengah udara belum dapat ditarik pulang, demi dilihatnya serangan kembali tiba, dengan terpaksa kaki kirinya ditotolkan ke bumi dan tubuhnva mencelat ke sebelah kiri sejauh dua tumbak. Tnian Hang terlalu dikuasai perasaannya yang ingin menolong kakaknya dengan cepat cepat, sehingga Lo Yi yang merintangi kemauannya ini mendapat serangan ganas bertubi tubi Kinipun pedangnya tidak memberi kelonggaran barang sedikit, lagi lagi sudah mendekat pada dada lawannya.

"Bagus!" seru Lo Yi tanpa merasa, sebenarnya Win Thian Hong yang dianggap bocah oleh dirinya ini dianggap tidak mempunyai ilmu kepandaian yang lihay, karenanya ia berhasrat menaklukkan gadis kita dengan tangan kosong, siapa tahu pikirannya segera menjadi kandas sesudah menerima empat serangan berangkai yang ganas dari sang gadis. Sesudah ia memuji bagus, lengannya segera menghunus senjatanya yang terdiri dari dua bilah golok mengkilap, lengan kanannya menyampok ke sebelah kanan dengan cepat dan membarengi menghantamkan goloknya pada pedang Thian Hong dengan bagian yang tumpulnya.

Thian Hong merasakan suatu tenaga yang mana berat menindih datang dan tidak sanggup untuknya menangkis, dengan cepat lengannya dikendurkan, menghindarkan bentrokan keras dan kerugian. Dengan cepat Lo Yi menarik pulang goleknya ke sebelah atas untuk melancarkan serangan lain kearah pangkal lengan kanan lawannya.

Untuk menghindarkan ancaman ini Thian Hong tidak merasa gugup barang sedikit, dengan cepat dan lincah dikeluarkannya ilmu silat pedangnya yang paling ampuh untuk menandingkan serangan-serangan golok lawan yang tidak termakan pedangnya, serangan yang menuju pangkal lengannya itu disambut dengan satu geprakan dahsyat, pedang dan golok kembali bentrok, tapi kali ini lain dengan yang semula, pedang Tnian Hong menimbulkan suara yang merdu luar biasa sehingga membuat pendengarnya terpesona tidak keruan.

Lo Yi itu menjadi heran dan ia mencelat ke belakang sejauh satu tombak, dengan keras ia herknra:

"Bukankah pedangmu itu bernama Hong?" kata-katanya bergetar bercampur nada girang dan heran. Sekalian anak muda yang mendengar Lo Yi tu menyebutkan nama pedang Hong. segera menjadi heran, mereka menduga duga orang yang dihadapinya tapi sia sia. Sedangkan Wan Thian Hong pun menjadi heran, dengan menegakkan tubuh segera berkata. "Kalau benar bagaimana? Sebaliknya kalau tidak bagaimana?"

"Dua bilah pedang mustika Jia Hong dan Keng Liong, selama delapan belas tahun terjatuh di tangan bangsat Louw Eng. Kenapa bisa berada di dalam lenganmu?" tanya Lo Yi dengan penuh rasa heran.

"Memang dan mau mau pedang ini terjatuh ke dalam tanganku! Jangan kau anggap Louw Eng saja yang lihay? Ia biasa merampas pedang dari lengan orang lain, masakan aku tidak?"

"Perkataanmu terlalu terkebur dan berbau kecongkakan!" kata Lo Yi dengan dingin, sedangkan hatinya berpikir keras. "Sudah lama kudengar bahwa Louw Eng mempunyai seorang anak perempuan yang pintar dan cerdas. bocah ini barang kali adalah puterinya! Tak mungkin orang luar bisa merampas pedangnya! Bocah-bocah ini merundingkan penyerbuan pada sarang Oag Hie Ong mungkin hanya pelabi saja, yang sebenarnya mereka tengah menyelidiki kedudukan dari Pek Tiu Peng. Kalau begini aku harus meringkusnya dahulu dan meneriksa kemudian!"

Sesudah pikirannya tetap, tiba - tiba pedangnya diputarkan di atas kepalanya, sedangkan mulutnya mengeluarkan siulan panjang dan berkaok keras. "Siapppp ! Tangkap mata-mata musuh ini!"' Seiring dengan hilang sunyi suaranya, tampak keluar dari kaki gunung, dari dalam danau, dari bawah pohon dan dari balik batu, beratus-ratus orang Dengan bersenjatakan lengkap menerjang laksana air bab membobol tanggul, dalam waktu sekejap saja sekalian anak muda sudah dalam kurungan yang rapat sekali, Lo Yi tetap mencekal sepasang goloknya dan menyerang dengan cepat pada Tnian Hong. Dji Hai pun sedari tadi sudah memberikan isyarat pada saudara saudaranya, mereka berkumpul sambil punggung membelakangi punggung siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Tnian Hong didesak oleh lawannya dengan gerak serangan ganas beracun yang luar biasa hebatnya, sehingga hatinya menjadi gentar. dengan cepat saudara saudaranya menyambut masuk ke dalam benteng pertahanan yang mereka buat. Sekalian anak muda ini sudah lain dengan dahulu, sepulangnya dari Oey San mereka sudah melatih lagi ilmunya dan menetapkan senjata pegangannya yang khusus. Tju Hong sudah membuat lagi senjatanya yang baru, Ong Djie Hai kini menggunakan Sam Tjiat Kun (toya yans terbuat dari tiga ruas), Tjiu piau mempelajari lagi beberapa macam ilmu melepaskan senjata rahasia dan membuat pula mutiara beracun tanpa bisa ular, Ong Gwat Hee kini bersejata tongkat bambu yang berporos besi yang berat.

Kini mereka menghadapi musuh secara bersatu padu tanpa gentar barang sedikit. Senjata Tju Sie Hong sering- sering berhasil mendesak lawannya yang merangsak, Sam Tjiat Kun dari Djie Hai mengandung tenaga Im Yang Kang dan membingungkan lawan! Tongkat Gwat Hie yang kelihatannya ringan, jurus demi jurus dirasakan berat oleh musuhnya senjata rahasia dari Tjiu Piau demikian ampuh dan keras serta tepat ditambah dengan pedang Thian Hong yang dapat menabas besi seperti tanah membuat setiap pedang atau senjata lawan yang biasa saja menjadi putus berantakan. Dalam waktu singkat pertahanan mereka tetap lihay dan tak dapat ditembus para lawannya. Lo Yi merasa gelisah dan bingung, berapa kali di cobanya menyerang dengan kekerasan untuk membobolkan garis pertahanan anak anak mudi. tapi hasilnya selalu nihil. Tapi walaupun bagaimana kuat pertahanan beberapa orang mana bisa melawan musuh yang demikian banyak, kalau berlangsung terus perkelahian semacam ini akhirnya pasti pihak Djie Hai yang menderita rugi. Diam diam Djie Hii menjadi gelisah, hatinya berpikir: "Pertarungan ini tidak jelas sebab - sebabnya. andaikata terjadi salah tangan dan terjadi pertumpahan darah, urusan akan bertambah kacau." Terkecuali itu ia merasa heran bahwa gurunya belum juga datang, andai kata gurunya berada di situ, mungkin juga bisa mengetahui bahwa Pek Tau Peng daii golongan apa. Ia sendiri mengingat Pek Tau Peng tiga huruf tapi tidak dapat mengingatnya dari kalangan apa.

Tengah ia berpikir, Lo Yi itu sudah mengebutkan lengannya memberikan tanda ranasia, orang orang yang mengurung mundur ke belakang membuat lingkaran besar, sehingga Ong Djie Hai dan saudaia Saudaranya terkurung ditengah tengahnya. Tiba tiba dan empat penjuru mendatang orang orang Pek Tau Peng, jengannya membawa semacam benda, mereka menghampiri dengan langkah perlahan lahan. Dalam waktu sebentar saja tempat kosong yang ditinggaikan empat orang tadi. sudah diisi oleh empat orang yang baru. empat orang yang barupun maju perlahan lahan sambil membawa semacam benda pula.

Delapan orang ini mengambil tempat di delapan penjuru angin.

Lo Yi bersiul secara tiba tiba memberikan tanda, empat orang yang duluan segera menggoyangkan lengannya, benda yang berada di lengannya terbang menjurus ke arah sekalian anak-anak muda kita. Benda itu dengan cepat berkembang di udara dan menegrap turun, kala ditegasi benda itu tak lain dari jala ikan yang teramat besar. Kalau anak anak muda berpencar pasti satu satu akan kena tangkap, kalau tetap tidak bergerak sama dengan tertangkap juga. Tengah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, keempat orang yang datang belakangan sudah menebarkan lagi jalanya, sehingga jala menjadi dua lapis. Seiring dengan ini Lo Yi itu kembali bersiul panjang memberikan tanda barisan pengurung kembali merapat menjadi kecil, dengan kegagahan yang hebat mereka menerjang untuk menangkap sekalian anak muda yang sudah dalam jaringan. Sekalian pemuda kita sebenarnya siap membobolkan jala langit dan bumi yang lain dari jalan ikan biasa, tapi usaha mereka semua gagal, sehingga kena diringkus. Lo Yi itu bergelak gelak tertawa dengan girang sekali. "Bagaimana?" tanyanya mengejek, "anak anak bawalah kurcaci itu ke hadapanku, guna kuperiksa satu persatu!"

Baru suara Lo Yi itu habis terbawa angin, seruan suara yang menggema segera memenuhi setiap telinga yang berada di situ.

"Numpang tanya, kalau pemimpin Pek Tau Peng yang bernama Tjek Kak (berkaKi telanjang) Thio Sam pernah apa dengan Toa so? suara ini sudah cukup dikenal sekalian anak muda, mereka tahu bahwa Kie Sau sudah datang, sehingga perasaan dukanya berubah menjadi girang, masing-masing merasa lega.

Lo Yi menjadi kaget mendengar suara yang tidak dikenal ini. Ke satu orang ini datang secara tiba-tiba tanpa diketahuinya, menandakan ilmu silatnya berada di atasannya. Kedua orang ini menanyakan tentang Tjek Kak Thio Sam. sehingga menjadi goncang. Tanpa terasa lagi la berpaling kebelakang sambil mengangkat sepasang goloknya, matanya segera melotot mengawasi orang yang datang sedangkan mulutnya segera bertanya: "Siapa?"

"Yang rendah adalah Hoa San Kie Nio Tjay kenalan lama dari Taio loa ko."

"Ah." ke luar seruan tertahan dari Lo Yi. karena hal ini di luar perkiraannya sama sekali, dengan cepat kakinya maju melangkah sebanyak dua tindak

"Kiranya Hoa San Kie Sau! Maafkan atas kelalaianku dan terimalah hormatku ini!" nada suaranya penuh diliputi perasaan girang yang meluap luap. Kie Sau segera membalas hormat Sambil berkata.

"Mohon tanya siapa nama besar dari Toa so?" "Tje Kak Thio Sam adalah mendiang suamiku! Sedang- kan aku bernama Thio Sam Nio "

"Ah, tak heran kalau ilmu golok yang Toaso mainkan tadi serupa betul dengan ilmu Thio Toa ko," baru Kie Sau berkata sampai di sini, tiba tiba ia ingat bahwa Thio Sam sudah meninggal dunia, tak baik untuk disebut sebut, takut kalau kalau Thio Sam Nio menjadi sedih, dengan cepat ia mengubah perkataannya ke jurusan lain sambil menunjuk jaring yang berlapis lapis, "Anak anak ini mengganggu Toa so saja, harap dimaafkan saja atas tindak tanduknya yang kurang sopan."

Kemudian ia menoleh pada sekalian anak muda sambil berkata. "Anak anak lekas haturkan maafmu pada Thio Sen sen (bibi)!"

"Oh, kiranya Tju wie adalah murid dari loheng? Dalam dunia Kang ouw tersiar berita bahwa Kie Sau menyembunyikan diri di pegunungan yang sepi. Kini entah angin apa yang bisa membawa Loheng datang dengan sekalian Tju wie ini?"

"Hal ini tidak dapat diceriterakan habis dalam waktu singkat!" Kata Kie Sau. Kemudian ia menceriierakan kejadian Oey San sepintas lalu. Saat ini Thio Sam Nio sudah membebaskan Djie Hai dan saudara saudaranya, sesudah mendengar penuturan dari Kie Sau iapun berkata:

"Oh, kiranya puteranya Wan Tie No Toa ko terjatuh di tangan Oag Hie Ong. tak heran kalau barusan Tju wie ingin lekas lekas menerjang sarang si raja sungai."

"Benar, hal ini dilakukan karena terpaksa."

"Nio Toa-ko, kuminta hal ini sebaiknya ditunda dulu." sedangkan matanya melihat wajah bingung dari sekalian anak muda. "kita adalah orang sendiri, karenanya tidak halangan untuk kuterangkan rahasia dari Pek Tau Peng." tambahnya.

Saat ini Djie Hai sudah mengingat tentang permulaan tentara Tjeng masuk ke Tiongkok di sana sini ditentang rakyat. Saat itu tentara rakyat yang berada di Thay Ouw menggubet kepalanya dengan kain putih dan menemani diri Pek Tau Peng (tentara berkepala putih). Adapun pemimpinnya yang paling terkenal ialah Tje Kak Thio Sam. Terkecuali itu mereka merupakan suami isteri yang pandai menggunakan sepasang golok dan pandai bermain di dalam air. Belakangan Tnio Sam kena dijebak Han Sim Kang, mula mula diajaknya berdamai, sewaktu sampai di medan perundingan segera diloloh arak dan ditangkap, kemudian dibunuh. Sejak itulah Ong Hie Ong menghantam kaum Pek Tau Peng yang kehilangan pemimpin dan menjadikan diri Sebagai Pa Ong di Thay Ouw. ,

Djie Hai mengetahui hal ini dari gurunya, kini ia tahu bahwa Lo Yi yang tengah dihadapinya adalah Thio Sam Nio. tanpa terasa timbul rasa hormatnya dan mendengari perkataan orang tua itu dengan penuh perhatian.

Thio Sam Nio memandang jauh ke tengah tengan danau dengan lama, tiba tiba ia berkata: ."Sam Ko! Lima belas tahun aku meninggalkan Thay Ouw, akhirnya aku dapat kembali! 'Ia menoleh pada Kie Sau menyambung perkataannya: 'Tak perlu kiranya aku merahasiakan tentang kami, mereka mengira aku sudah meninggal pada tahun- tahun yang lampau! Sebenarnya hal itu ada salah aku tetap tidak meninggal, bahkan pada tahun yang lalu secara diam

- diam aku kembali membentuk tentara Pek Tau Peng dengan berhasil. Kini sudah kuputuskan untuk bangkit kembali guna menghancurkan anjing anjing pemerintah asing dan menghilangkan penghisap rakyat sekalian!

Tiga hari yang lalu kami sudah mengetahui kedatangan kalian ke tempat kami ini, sebaliknya kalian tetap tidak mengetahui tentang adanya Pek Tau Peng! Sekalian perduduk kota sudah menggabungkan diri untuk bersama- sama menuntut balas atas kejahatan Ong Hie Ong, sehingga tiada kabar yang bocor. Walaupun demikian terhadap orang luar kami berlaku hati hati, karena itu kami minta maaf kalau tindak tanduk dari saudara selalu mendapat pengawasan dari kami!" Mendengar ini Kie San menjadi berpikir. "Kenapa aku tidak mengetahui ada orang mengawasi kami? Ah. tak perlu heran, karena setiap pelosok kota sudah dikuasai sekalian Pek Tau Peng!" Sesudah berpikir ia tersenyum sendiri, mendengari terus, apa yang dikatakan Thio Sam Nio.

"Tadi kudengar beberapa kawan kecil ini akan menerjang Thay Ouw. Hal ini kalau dilakukan sama dengan memukul rumput mengejutkan ular, sehingga merugikan rencana besar dari kami. Terkecuali itu Tju wie tidak mengenal keadaan Thay Ouw, biar bagaimana lihay kepandaian yang Tju-wie miliki akan sia sia belaka, malahan seperti ikan masuk ke dalam bubu. Karena hal ini aku tak ragu ragu untuk melarang, tapi bukan berarti bermusuhan.. Wan Tie No terkenal sebagai pahlawan bangsa. setiap orang dari rimba persilatan semuanya menaruh hormat. Kini anaknya terjatuh di tangan Ong He Ong. biar bagaimana Pek Tau Peng akan turun tangan untuK menolongnya.. Sebaliknya kamipun membutuhkan bantuan dari saudara saudara untuk melaksanakan cita cita dari Pek Tau Peng. Nio Heng bagaimana pendapatmu?"

Terhadap Thio Sam Nio yang jujur, membangkitkan rasa syukur pada Kie Sau. dengan gembira ia berkata :

"Apa yang di katakan Toaso benar semuanya, kami siap membantu dan mendengar perintah dari Toa so dengan patuh!"

Thio Sam Nio menjadi girang, tanpa ragu ragu ia mengucapkan banyak terima kasih. Lengannya digapaikan memanggil dua laki laki gagah:

"Kuminta kalian segera berangkat untuk menyelidiki keadaan Wan Kong tju. pada jam dua belas malam harus sudah kembali membawa kabar!"

Tanpa ragu ragu dua orang Pek Tau Peng itu menerima perintah, mereka melepaskan ikatan kepalanya dan melangkah Ke tepi danau. Dengan suatu loncatan indah mereka hilang ke dalam air dalam waktu yang singkat. "Marilah kita bicara dalam rumah sambil menantikan kabar!" kata Sam Nio sambil mendahului yang lain menindak masuk. Kie Sau dan sekalian yang lain mengikuti dari belakang. Sesudah dengan tenang segera anak anak muda yang dibawa diperkenalkan satu satu pada Sam Nio, mereka merasa girang dan mengobrol untuk menantikan kabar.

Tepat jam dua belas tengah malam, dua orang Pek Tau Peng yang menyelidiki tentang Wan Djin Liong sudah kembali. Dengan bahasa rahasia mereka bicara dengan Sam Nio tanpa dimengerti orang luar. Kemudian Sam Nio baru berkata pada Kie Sau;

"Segala hal sudah diselidiki dengan jelas. Wan Djin Liong sudah kena dilocoti kedoknya dan dipenjarakan di dalam kurungan air, sementara waktu pasti tidak akan terjadi apa apa pada dirinya, saudara saudara tidak perlu kuatir. Dalam tiga hari pasti kami dapat membebaskannya." Kie Sau merasa kagum sekali atas gerak cepat dari penyelidik penyelidik Pek Tau Peng, iapun tahu bahwa di sarang musuhnya pun sudah ada kawanan mereka. Sehingga hatinya, merasa lega benar benar.

la berkata. 'Dalam beberapa hari lagi Pek Tau Peng akan mengadakan perlawanan pada musuh, sekali lagi kutegaskan bahwa diriku dan sekalian anak anak yang tak berguna ia siap menantikan perintah dari Toa-so!"

"Sudah kukatakan untuk mencapai usaha mulia ini kami mengharapkan bantuan dari Tju wie Pek Tau Peng memang berjumlah besar, tapi yang mempunyai kepandaian silat tinggi tiada sama sekali, sebaliknya pihak musuh mempunyai pembantu-pembantu yang lihay. Kedatangan saudara saudara sungguh menggirangkan kami karenanya bantuan saudara saudara sangat dibutuhkan." Kata Thio Sam Nio dengan jujur.

Sehari dua hari sudah berlalu, Thio Sam Nio bukan main sibuknya mengurus sesuatu persiaoan untuk bangkit menyerang musuh. Saatnya sampai pada hari ketiga, Sam Nio bertandang pada Kie Sau untuk menawarkan rencana penyerangan pada malam hari dan mengharap para tamunya siap sedia Tiga hari lamanya sekalian anak muda merasa betah berdiam diri, kini mendengar berita akan bergerak hatinya menjadi panas dan semangatnya bertambah meluap-luap Hidangan malam luar biasa terasa enaknya, sesudah semua mengisi perut dengan kenyang, malam yang dinanti nantikan sudah tiba. Sam Nio mengajak Kie Sau dan sekalian anak muda ke sebuah rumah makan untuk berkumpul dan berunding sekali lagi kemudian naik perahu yang sudah disiapkan.

Dengan perlahan Sam Nio mengeluarkan sebuah perintah: "Nyalakan panah api periksa barisan air!" Dengan cepat panah api terbang ke angkasa sambil memancarkan sinar putih yang terang benderang. Sekalian anak muda mengarahkan matanya pada sinar api, sehingga tidak diketahuinya lagi pada saat mi di atas danau menggambarkan suatu pemandangan yang luar biasa.

Dalam kegelapan di tengah malam buta, tiba tiba di permukaan air timbul banyak sekali api yang kelap kelip, memenuhi Tnay Ouw yang maha luas. Api yang kelap kelip ini bukan sinar dari bintang, melainkan dari satu barisan perahu yang teratur. Tiba tiba, terbang lagi sinar dari panah api menerjang angkasa. Ribuan dari sinar api segera berderak melihat tanda itu. Ada yang terus mengambil ke arah kanan ada juga yang ke kiri Sisi ini sinar api itu sudah merupakan empat baris dari satu Tin. Tiap - tiap satu tin entah berapa banyak tentaranya tidak dapat dihitung lagi. Agaknya semakin dilihat semakin banyak. Semua orang memuji bagus, saat ini kembali sinar dari panah api terbang ke angkasa secara miring-miring. Pada detik itu pulalah ribuan titik dari sinar api di atas telaga menjurus ke sebelah selatan secara teratur.

Menurut pertanda dari panah api, ribuan dari perahu nelayan ini berubah menjadi beberapa tin. Akhirnya membentuk delapan bulatan yang merupakan rantai, berputar-putar ditengah tengah danau, indahnya bukan main. Pada saat inilah Thio Sam Nio mengeluarkan perintah lagi, tak lama kemudian di angkasa terlihat tiga batang sinar panah berapi yang terbang menjurus ke tiga tempat Spontan dari arah timur dan barat tampak titik titik sinar api dari perahu nelayan, jumlahnya tidak kurang dari yang terdahulu, agaknya adalah tentara bersembunyi. Tentara bay bok ini segera ber jalan dan merapat ujung timur dan baratnya merupakan lingkaran yang besar, menjadikan titik titik api yang berlapis dua.

Thio Sam Nij mengawasi dengan perasaan puas, dengan tertawa dingin ia berkata sendiri:

"Hemmm! Ong Hie Ong walaupun kau adalah raja sungai, kali ini jangan harap dapat meloloskan diri dari tangan Pek Tau Peng!"

Kembali ia mengeluarkan perintah, yang disusul oleh tanda api berwarna kuning. Begitu sinar api kuning terlihat, segera juga ribuan titik sinar api dari perahu nelayan hilang padam dalam kegelapan, sehingga keadaan yang indah menjadi hilang, kembali keadaan menjadi sepi, seolah-olah kejadian tadi belum pernah ada, melainkan suatu impian manis saja. Sekalian anak muda seperti tersadar dari impiannya, sepatah katapun tidak ke luar dari mulutnya, masing-masing menahan napas sambil merenungkan ingatannya pada kejadian barusan. Gwat Hee yang sedari tadi diam di dekat Tjiu Piau baru bisa membuka mulutnya. "Piau koko. aku belum pernah melihat kekuatan tentara yang demikian besar, sungguh mengagumkan, bukan."

"Ya. akupun tidak pernah melihat dan memikirnya !" "Tin yang demikian besar ini pasti dapat mengalahkan

pihak musuh yang bagaimana kuatpun. Coba katakan benar

tidak?"

"Apa yang kau katakan semuanya benar. Sebaliknya aku jadi beipikir melihat kekuatan ini, coba kalau kira mendapat bantuan semacam ini waktu di Oey San, biar sepuluh Hek Liong Lo Kuay, sepuluh Louw Tiau, sepuluh Bok Tiat Djin, Kim Dju Kie, Lauw Tjiok Sim . . . pasti tidak dapat melarikan diri diri tangan kita!" "Ya. tapi kapan kita baru bisa mendapat pembantu yang demikian besar seperti sekarang!"

Tengah mereka asyik bicara. Thio Sam Nio sudah mengeluarkan perintah lagi, untuk mengurung Ong Hie Ong dan sekalian kambratnya di waktu subuh. Sedangkan Kie Sau dan tujuh pengikutnya berpisah naik ketiga perahu kecil yang menempatkan diri di kiri dan Kanan dari Thio Sam Nio. Saat ini di sekeliling sangat gelap, sesuatu benda tidak terlihat dengan tegas, seolah olah perahu yang dinaiki masing-masing seperti sendirian saji di tengah danau yang luas! Walaupun demikian sekalian anak muda mempunyai perasaan yang sama dengan sekalian kaum Pek Tau Peng, yakni untuk membasmi penghianat bangsa. Mereka merasakan tenaga mereka cukup besar dan tak dapat ditentang pihak musuh!

Di antara sekalian banyak orang, dapat dikatakan perasaan Wan Thian Hong yang paling bersemangat, pikirnya tak lama lagi kakaknya segera tertolong. Saudara kembar yang selalu bersama-sama dan belum pernah berpisah sejak kecil, dalam beberapa hari ini merasakan hal yang tidak enak. dikarenakan berpisah. Saat ini Wan Thian Hong merasakan denyutan jantungnya demikian tenang, ia tahu bahwa kakaknya tidak mengalami sesuatu yang berbahaya. Ia berpikir: "Kakakku mungkin tengah tidur dengan nyenyak, sehingga tidak mengetahui adanya tentara yang demikian besar menyerbu dengan gagah untuk menolong dirinya!"

Air danau sancat tenang, perahu-perahu kecil maju dengan anteng. Di tengah perjalanan sering - sering terdengar suara pertarungan, sewaktu waktu di sebelah kanan, sewaktu-waktu di sebelah kiri. sewaktu di depan sewaktu di belakang Thio Sam Nio menganjurkan kepada Kie Siu agar tak menghiraukan suara suara itu kapan tenaga mereka dbutuhkan segera akan membuka mulut. Kiranya perahu perahu dan Pek Tau Peng menemui juga kaki tangan Ong Hie Ong di tengah perjalanan, sehingga saling bUnuh tidak dapat dihindarkan.. Sam Nio duduk di atas perahu dengan wajah tenang, rencana penyerangan tetap tidak berubah, menangkap nangkapi tentara musuh yang kecil, seorang pun tidak diberi lolos untuk melaporkan pada Ong He Ong sehingga lawan tidak dopat membuat persiapan.

Setiap bentrokan dari perkelahian di tengah perjalanan dan suara ributnya, hanya berlangsung sepemasangan batang hio segera reda kembali. Danau Thay Ouw sangat luas dan sudah lama di bawah kekuasan Ong Hie Ong. hal ini membuat si raja sungai menjadi agak besar kepala dan mengakibatkan penjagaan yang tidak teratur baik, walaupun penjagaan berada di mana mana, perhubungan satu sama lain masih kurang sekali. Setiap Pek Tau Peng sampai di suatu tempat, peronda dari pasukan Ong Hie Ong menjadi Hilang pegangan dan lena dikalahkan secara mudah. Bintang utara semakin terang, malam semakin larut dan berakhir mendekat terang terbang lalat.. Thio Sam Nio menghentikan perahunya tidak bergerak gerak d; tengah danau, sedangkan Kie Sau dan lain lain pun diam tidak bergerak.

"Ong Hie Ong adalah manusia yang licin sekali," kata Thio Sam Nio pada Kie Sau. Gugusan pulau dari danau ini sangat banyak, ditambah dengan gunung gunungnya yang sangat baik letaknya, walaupun di tempat-tempatnya yang kusebutkan terhadat penjagaan musuh yang kuat. Ong Hie Ong sendiri tidak terdapat di sana! Menurut penyelidikan anak buahku gembong dari Thay Ouw yang sangat ditakuti rakyat, membuat tiga perahu besar. sekalian dari pembantunya yang berkepandaian tinggi berkumpul di dalamnya. Perahu itu tidak tetap kediamannya, hari ini berlabuh di sini hari lainnya berlabuh di tempat lain sehingga sukar diketahui dan diraba perjalanannya. Hari ini kami sudah dapat menyelidiki banwa perahu perahu ini akan berlabuh tidak berjauhan dari tempat ini. untuK sementara waktu tidak perlu kita bergerak, biarlah mereka mengantarkan diri masuk perangkap kita."

Perkataan itu baru selesai diucapkan, benar saja dari tempat jauh mendatang teng (semacam lampu) yang besar. Sam Nio tertawa dingin demi melihat -sinar api yang datang. "Hem! Anjing keparat! kejahatanmu sudah sampai di akhirnya! Anak anak siap!" Hari belum berapa terang, anak anak muda belum dapat melihat tegas bentuk dari perahu besar, mereka hanya menampak sinar terang dari perahu besar yang tak ubahnya seperti mata iblis raksasa. Gwat Hee yang seperahu dengan Tjiu Piau bertanya pada sang kakak.

"Piau Koko, coba kau terka berapa besar perahu itu?" "Kau duga bagaimana?" Tjiu Piau balik tanya

"Kutebak, ' kutebak Ah, kau lihat perahu itu sudah

akan dekat, sinar teng yang terang melukiskan bayangan kelam dari tubuh perahu, benda hitam itu benar- benar merupakan sebuah bukit kecil atau pulau yang kecil."

Tiba-tiba. panah api yang bersinar putih mencelat ke udara. Ribuan dari perahu kecil berbareng bersinar terang drn mengeluarkan suara teriakan teriakan yang menggema dan menggoncang sukma. Seluruh Tray Ojw menjadi seperti bergolak-golak dalam waktu sekejap!

Orang yang berada di perahu besar tentu saja melihat kejadian ini mau tak mau mereka menjadi repot tidak keruan. Dengan cepat mereka menyalakan lentera. Di haluan perahu yang di tengah tengah berdiri seseorang sambil mengeluark an bentakan keras "Apa yang terjadi! Hari beium terang sudah berkumpul untuk apa," suara orang ini cukup keras dan dapat didengar dari tempat jauh. Mendengar perkataannya ia masih mengira, perahu-perahu kecil yang mengurung ini adalah hamba-hamba dari Ong Hie Ong.

Sam Nio mengayuh perahunya perlahan-lahan maju ke muka, ia membuKa mulut menjawab pertanyaan orang:

"Ong Hie 0ng dan sekalian anjing anjing yang berada di atas perahu bukalah telingamu lebar- lebar! Hari ini adalah Kematian dari kalian" Pek Tiu Peng adalah tentara yang tak mungkin dibunuh habis. Lihat! Sepuluh tahun berselang kami dibunuh kalian kini hidup lagi dan datang untuk menuntut balas!" Orang orang yang berada di atas perahu menjadi kaget, dengan cepat memberikan tanda dengan lengannya, seluruh dari lentera yang berada di perahu segera menjadi padam, mereka membungkam tak bersuara..

"Hati hati dan siap." seru Sam Nio sambil mengayuh mundur perahunya, dalam seketika kedua belah pihak tidak bergerak, membuat keadaan menjadi sunyi dan menyesakkan dada

"Akal bulusrnya Ong Hie Ong banyak sekali, kita tak perlu tergesa - gesa melakukan serangan, sebaiknya menjaga dan menghindarkan diri dari perangkap mereka. Nanti kaulah sampai mereka tidak sabar dan ingin melarikan diri, baru kita bergerak Ong Hie Ong mempunyai lima belas pembantu yang lihay, kalangan Kang Ouw menggelari mereka sebagai Thay Ouw Tjap go Sat (lima belas iblis dari Thay Ouw), setiap perahu besar mempunyai lima iblis. Misalnya tidak ada saudara-saudara yang datang membanru, agaknya sukar untuk kami menundukkan lima belas iblis itu. terkecuali itu pihak kamipun pasti mengalami kerugian yang lebih b^sar. tapi segalanya tak Perlu kukuatir lagi berkat kedatangan dari saudara saudara."

Kie Sau sudah lama mendengar Tjap Go Sit dari Thay Ouw Orang yang berteriak tadi nasti adalah oring pertama dari lima belas iblis yang bernama Tan Toa Kau (berarti Si mulut Besar)?

"Betul."

"Hari ini mulut besar diri iblis kepala itu PaSti berakhir untuk memakan orang lagi!"

Percakapan belum selesai terpaksa harus dihentikan, karena diputus suari yang riuh dari teriakan teriakan nyaring. Tampak dari tiga perahu besar beterbangan ribuan titik titik sinar api memecahkan malam yang gelap Kaum Pek Tau Peng masing masing berteriak :

"Musuh melepas panah api! Panah api! Awas!" Kiranya sinar api itu menang adalah panah api! yang dilepas perahu besar guna membakar perahu perahu pengurung. B3gitu sinar api mencelat ke udara segera jatuh berpencar ke empat penjuru seperti hujan. Begitu perahu dari Pek Tau Peng kena api segera berkobar terbakar. Dalam sekejap saja Tnay Ouw mandi api dengan hebatnya. Tiga perahu besar menggunakan kekacauan ini untuk menurunkan enam perahu kecil yang bermuatan dua orang, seorang mengayuh perahu seorang lagi berdiri di haluan perahu dengan senjatanya yang aneh aceh. Perahu perahu yang baru turun melesat maju seperti terbang menerjang perahu nelayan yang terbakar dengan tujuan urtuk membasmi dan mengacaukan barisan Pek Tau Peng. Keenam orang yang berada di perahu kecil berkepandaian sangat tinggi, begitu perahu mereka merapat segera berlompatan ke perahu lawan tanpa memandang mata sama sekali.

Dalam waktu sekejap saja banyak kaum Pek Tau Peng yang kecebur dan luka parah. Orang yang berada di perahu besar berteriak teriak menambah semangat kawannya. sedang suara Tan Toa Kaupun tertawa dengar paling nyata ia berkata sambil terbesar : "Pek Tau Peng! Belasan tahun yang lalu Kalian sudah kami bunuh habis, apakah kalian tidak ingat? Inginkah nasib seperti dahulu?!"

Baru enam dari Lima Belas Iblis Thay Ouw Yang turun tangan, sudah cukup membuat sekalian Pek Tau Peng kalang kabut melihat keadaan ini, sekalian pemuda kita sudah siap untuk turun tangan, mata mereka mendolong mengawasi Kie Sau menantikan perintah.

"Enam Iblis sudah turun tangan, sisanya masih ada sembilan orang di perahu. Yang enam ini dapat kami bereskan sendiri sedangkan yang sembilan kami minta bantuan saudara saudara untuk menghancurkannya!" kata Sam Nio terburu buru, kemudian ia mengeluarkan perintah pada bawahannya secara bersiul panjang.

Perahu perahu nelayan berpencar dan berkumpul lagi menjadi beberapa regu, begitu mendengar tanda, tiap dua puluh tiga perahu menjadi satu regu dan mengurung satu perahu Iblis. Perahu perahu nelayan terkecuali melayani setiap serangan lawan, merekapun tidak hentinya bergeser kesebelah barat untuk berkumpul, sehingga tampak dengan tegas satu jalanan air yang terbentang luas. Sekalian pemuda kita tidak mengetahui dan menduga apa yang akan diperbuat oleh Thio Sam Nio. mereka hanya mendengar lagi suara siulan panjang dari pemimpin Pek Tau Peng, yang Kemudian mendapat sambutan dari ratusan siulan balasan, suara siulan yang saling sambut terus bergelombang dari perahu ke perahu, suara ini membuat pendengar menjadi tegang, sedangkan suasana menjadi semakin genting.

Pada saat inilah, perahu perahu nelayan yang terbakar, terkayuh terbang maju ke muka, seperti awan merah turun dari angkasa. Sedangkan pengemudi dari perahu perahu nelayan ini cukup kawakan. mereka dapat menjalankan perahunya, asal saja masih ada tempat untuk menempatkan salah satu dari kakinya, bahkan ada yang turun ke dalam air untuk mendorong perahu mereka yang sudah terbakar. Sekalian pemuda kita baru tahu bahwa jalan air yang dibuat semata- mata untuk memberi jalan pada perahu yang terbakar. Dalam waktu yang tidak seberapa lama. perahu yang berapi itu sudah mendekati ketiga perahu besar dari musuhnya.

Orang orang yang berada di perahu besar tetap melepaskan panah apinya. tapi melihat keadaan begini mereka mengetahui gelagat juga, dan berpikir bahwa cara ini tidak dapat diteruskan, karena setiap perahu yang kena api berbalik mengurung perahu mereka sendiri. Mereka menjadi gugup menghadapi perahu perahu berapi yang sudah semakin mendesak mereka menghentikan hujan panah berapinya. Tapi agak terlambat, karena seratus buah lebih dari perahu nelayan yang berkobar berpencar dan berhasil mengurung setiap kapal besar dengan tiga puluh lebih perahu perahu terbakar, asap api dan cahaya api membuat keadaan hebat luar biasa dan sukar dilukiskan dengan kata kata.

Kie Sau bengong melihat keadaan yang luar biasa hebatnya, tanpa terasa ia menepak pahanya sendiri sambil berseru. "Aduh, cara yang baik sekali, inilah yang dinamai senjata makan tuan!" Sedangkan sekalian anak mudapun merasa kagum, mereka menyaksikan kejadian dan peristiwa ini dengan mata mendelong bahna asyiknya!

Thio Sim Nio memusatkan sekalian perhatiannya pada keadaan dan jalannya pertarungan, sehingga telinganya tidak mendengar perkataan Kie Sau. Tiba tiba ia berdiri dan berkata dengan bahasa rahasia sambil menggoyang goyangkan lengannya, apa yang dikatakan sedikitpun tidak di mengerti orang luar. Sekalian orang bawahan itu segera mewartakan ke depan, dalam waktu sebentar saja sekalian Pek Tau Peng sudah menerima tugas baru. Perahu perahu yang terbakar dengan cepat sudah bergerak lagi ke sebelah kanan berkumpul menjadi satu mengurung sebuah perahu besar lawannya. Saat ini banyak perahu yang sudah terbakar tinggal separuh, tapi kaum Pek Tau Peng tetap gagah berani dan tinggi daya tempurnya. Perahu besar yang di kurung seratus lebih perahu terbakar, menjadi kalang kibut, dengan tergesa gesa mereka membanjiri panah, mencegah perahu perahu kecil dapat merapat, tapi sekalian Pen Tau Peng tidak engindahkan bahaya ini, mereka terus maju ke muka untuk membakar lawannya.

Ketiga perahu besar terbuat dari kayu yang baik mutunya keras dan tak mudah di makan api tapi sesudah kena api, sukar untuk memadamkannya, dalam waktu sekejap saja perahu besar yang terkurung perahu berapi menjadi terbakar, api berkobar dengan hebatnya. Orang orang yang berada di atas perahu segera ke luar dan berkumpul ke dalam lambung kapal kemudian menyendok air dengan tong yang besar dan menyiramkannya kepada api yang tengah mengamuk. Dalam cahaya yang terang benderang itu tampak tiga orang sedang memerintahkan sekalian orang itu memadamkan api. Sedangkan mereka bergerak dengan lincah dan gesit, tenaganya pun besar dan lebih hebat dari yang lain. Thio Sam Nio menunjuk kepada orang orang ini sambil berkata

"Tiga orang itu termasuk diantara Lima Belas Iblis pula. pada hari hari biasa sudah menjadi adat mereka untuk berlaku sewenang wenang menindas dan berbuat kejam pada para nelayan. Kali ini habislah laganya, marilah kita tonton bagaimana caranya ia meloloskan diri dari kurungan api!"

Orang orang yang berada di kapal besar sudah semakin gugup, usaha mereka sia sia belaka, sudah ada diantaranya menerjunkan diri untuk menyelamatkan nyawanya sejadi- jadinya, manusia yang tamak hidup dan takut mati ini malang nasibnya, mereka tidak sadar bahwa perahu yang demikian banyak itu sudah bermuatan api, begitu tubuhnya melompat ke luar, segera terpanggang hangus dan masuk ke dalam laut. Sedangkan yang takut untuk terjun diam saja di atas kapal menantikan ajal. Mereka hanya dapat berteriak secara mengeneskan dan menyedihkan, tapi siapa suruh mereka berlaku jahat pada hari-hari yang lalu, inilah yang dinamai doa tidak berampun!

Api semakin panas dan besar. perahu besar dapat dikatakan sudah tidak dapat tertolong lagi. Tiga iblis yang menjadi pemimpin dari sekalian anak buahnya, saat ini sudah tak memperdulikan lagi anak buahnya, mereka berlarian secara cepat dan hilang di balik asap yang tebal. Sesaat kemudian kembali terlihat tiga bayangan sudah berada di tempat yang tertinggi dari kapal yang hampir musnah. Melihat ini Tbio Sarn Nio segera berseru : "Siapkan panah ! Jangan di beri ampun tenggelamkan mereka ke dasar danau, satupun jangan dikasih lolos!"

Begitu suaranya habis segera terdengar sambutan dari perahu kecil yang berada di samping. Tjiu Piau melihat dua orang laki laki, masing masing sudah membentangkan busurnya dan membidikkan panahnya. Ketiga orang yang berada di atas kapal, melongok ke kanan kiri mencari tempat yang lebih aman untuk menerjunkan dirinya.

Seorang diantaranya segera berseru sambil menjejakkan dirinya meloncat ke jurusan selatan. Dari lompatan yang demikian jauh dapat dinilai bahwa kepandaian orang ini cukup tinggi. Tapi malang baginya belum tubuhnya menyentuh air. dua batang anak panah sudah merapung ke udara menyongsong tubuhnya, dalam sinar api yang demikian terang dapat terlibat sebatang menembus dadanya. satu lagi menaicap di perutnya, iblis itu menjerit sekali dan hilang tenggelam ke dalam air.

"Sungguh lihay." puji Kie Sau tanpa terasa, ia tidak mengira akan menjumpai tukang panah yang lihay dalam barisan Pek Tau Peng, sehingga kepalanya manggut manggut tanpa terasa pula.

Dua kawannya yang masih berada di atas perahu saat ini sudah menerjunkan dirinya, tubuh mereka melayang di udara, sedangkan tukang panah belum siap untuk melepaskan anak panah yang kedua. Agaknya dua iblis itU akan dapat meloloskan diri, tapi dasar nasib lagi merosot ditambah sudah sampai ajal, sebelum tubuhnya sampai di air terlebih dahulu tubuhnya sudah dikenai dua sinar kuning yang gemerlapan secara cepat. Tak perlu dijelaskan lagi siapa yang berbuat. Tjiu Piau yang menolong dua tukang panah untuk membereskan dua iblis itu. Biar bagaimana tinggi ilmu mereka sukar menolong dari mutiara beracun, lebih-lebih tubuh mereka berada di udara, sehingga sampai meninggal mereka tidak mengetahui disebabkan Bwee Hoa Tok Tju yang sangat lihay!

Kapal besar lambat laun sudah musnah dan karam ke dasar danau secara perlahan-lahan, perubahan yang sangat cepat ini membuat sekalian anak muda mengingat pada beberapa jam yang lalu perahu itu masih bersinar secara megah, kini sudah hilang ditelan air. Kejalian yang jarang ini membuat orang menarik napas bahna heran entah bagaimana. Dua kapal yang besar saat ini sudah

mengetahui bahwa pemimpin dari Pek Tu Peng berada di perahu kecil yang terletak di barisan belakang ratusan perahu kecil. Tiba tiba saja perahu besar itu datang dengan cepat menuju kepada perahu yang diduduki Taio Sam Nio, perahu perahu kecil yang merintang habis diterjang hancur, agaknya mereka napsu sekali untuk meringkus pemimpin ini. Sam Nio menjadi bulat matanya melibat apa yang dilakukan musuh, dengan gusar ia berteriak keras. "Hei bangsat berani betul kau menghantarkan diri!" Ia menoleh pada Kie Sau. "Sampailah saatnya untuk kalian turun taogan, naiklah ke perahu yang sebelah kanan, sapu bersih sekalian bangsat bangsat yang berada di situ, kemudian baru mengejar yang di sebelah kiri! Cara ini pasti membuat mereka tidak sempat untuk melarikan diri!"

"Kami siap!" jawab Kie Sau dengan bersemangat. Perahu Sam Nio dengan cepat meluncur maju ke muka,

menyongsong perahu musuh.. Anak anak panah yang seperti hujan datang menyerang, sepasang golok berputar seperti titiran, sehingga tidak dapat ditembus hujan panah, setiap anak panah kena disampok jatuh ke dalam air. Kini jarak mereka lebih kurang tinggal satu tumbak. Sam Nio berjongkok sedikit mengumpulkan semangatnya, tiba tiba tubuhnya mencelat ke perahu besar.

Gerak dan caranya lompat cepat dan luar biasa, siapa tahu begitu tubuhnya sampai di atas kapal musuh, terlebih dahulu sudah ada dua orang lain yang sampai terlebih dahulu. Kedua orang ini bukan orang lain melainkan Tju Hong dan anaknya. Dua ayah beranak ini. masing masing sudah mempunyai senjata baru yang panjangnya liga tumbak. senjata ini dibuat sewaktu mereka berada di Hoa San. Sedari tadi mereka sudah gatal untuk mempertunjuk- kan kelihayannya, tak heran begitu menerima perintah dari Sam Nio tubuhnya mencelat sambil menggerakkan tangan- nya mengeluarkan ilmu tambangnya yang tiada duanya di atas dunia. Musuh tidak mengira ada orang yang dapat naik ke atas kapal secara kilat karena heran dengan sendirinya persiapan yang harus dilakukan tidak dapat dikerjakan dengan baik, dalam sekejap saja sudah ada beberapa orang yang kena ditendang roboh oieh Tju Hong dan anaknya.

Sedangkan senjata tambang yang berkaitan itu segera berputar-putar seperti ular putih menyerang keempat penjuru dengan hebatnya, di mana yang tidaK hati-hati segera tersabet jatuh atau terkait, beberapa korban jatuh dalam tangan ayah beranak.

Sementara itu Kie Sau, Djie Hai dan lain-lain sudah mengenjot tubuhnya naik perahu. Orang orang yang berada di atas peranu hanya sebagai lawan yang terlalu empuk, karenanya dalam sekejap waktu saja habislah pasukan musuh diubrak abrik. Tapi sebelum orang gagah kita berhasil meuyerang masuk ke dalam ruangan kapal terdengar suatu tertawa dingin: "Siapa yang ingin mati terlebih dahulu kupeisilahkan masuK"

Kie Sau dan kawan kawannya berpaling ke arah suara, tampak pintu tengah dari perahu dibanting dengan keras dan terkunci dengan rapat. Menyusul "biet" bunyi terbuka dari jendela kecil yang ada disamping pintu. Diri bulatan jendela tampak kepala orang yang berkata secara mengejek: "Hayo. maju, kalau benar benar jago boleh maju!"

"Oi, kiraku siapa," kata Thio Sim Nio "tak tahunya adalah Iblis Kuning Kim Li! Hei bangsat biasanya Kau dan kawan kawan mu sangat terberang dan berlaku gagah terhadap para nelayan, kini kenapa bersembunvi seperti kura kura yang tak berguna!" Baru suara ini selesai diucapkan dari luar jendela berkelebat sesosok tubuh orang sambil melepaskan senjata rahasia, saat ini cuaca belum terang, segala benda tidak terlihat dengan tegas, tapi semua orang berkepandaian tinggi tiada seorang pun yang menderita rugi. walaupun demikian serangan itu cukup membuat seseorang menahan napas.

"Oh kiranya, lagi lagi kita kedatangan Iblis Putih Ka Tjin, kau jangan harap dapat mencelakakan kami secara menggelap! Itu berarti mimpi!" sambil bicara lengannya turun ke bawah memungut beberapa butir benda berwarna putih. "Segala mata ikan semacam begini untuk apa dipertontonkan? Terimalah kembali!" Lengan Sam Nio bergerak, beberapa butir mata ikan melesat ke dalam pintu jendela. Kiranya orang tadi itu menyebarkan senjata rahasia yang berupa mata ikan "Ha. . ha . . " tertawa lantang terdengar dari dalam jendela. "Hey bini Thio Sam! Apa kau berani maju? Aku menyediakan semacam masak kuah dari ular untuk kau makan!" Thio Sam Nio mengangguk anggukkan kepalanya beberapa kali, lalu berpaling pada Kie Sau sambil berkata: "Lagi lagi satu iblis lain, orang orang menjuluki Ular Air Yan Kia. Orang ini berkepandaian sangat kukuay . . . Nyata sudah bahwa perahu ini dijaga oleh tiga iblis, untuk menghalaunya agak sukar juga. Pintu masuk satu satunya ialah dari jendela, tapi hal inipun sukar dilalui karena dijaga musuh. Terkecuali itu kalau seorang saja yang bisa menerjang masuk sama dengan mencari bencana untuk diri sendiri, siapa tahu Ong Hie Ong ada di dalam dan kawan-kawannyapun berada bersama sama orang yang tentu sukar dapat dilawan oleh tenaga seorang bukan? Tapi kalau untuk sekalian maju menerjang tidak mungkin dapat dilaksanakan."

Tju Hong dan anaknya berbisik-bisik, kemudian mencelat ke depan secara mendadak, tambangnya dilempar menggaet wuwungan kapal.sedangkan tubuhnya seperti dua burung besar melayang dan berada di atas wuwungan. Mereka segera mencabut pisau belati yang dibawa bawa di pinggangnya, wuwungan kapal didobrak dengan pisau mereka.

"Bagus!"sera Kie Siu, "Djie Hai, Gwat Hee kalianoun harus naik ke atas buatlah empat liang dan sekalian masuk ke dalam. Sedangkan kami akan membarengi masuk melalui jendela!" Dua saudara Ong segera memberi tanda pada Tju Hong dan anaknya, tambang yang berkaitan segera kena di pegang, mereka segera kena ditarik naik.

Enpat belati segera bekerja dengan cepat dengan mengeluarkan suara "krakas krekes," dilara waktu sebentar segera terbuat empat liang yang cukup untuk badan Tiga Iblis yang berada di sebelah bawah mengetahui ada musuh di sebelah atas tengah membuat liang mereka harus menjaga jendela, sehingga tidak bisa berbuat apa apa uatuk merintangi Mereka hanya menunggu, begitu melihat berkelebatnya musuh segera menyerang dengan senjata rahasia.

Tju Hong bertiarap di atas wuwungan, matanya mengintai ke bawah, tampak olehnya di dalam hanya dijaga tiga musuh. Diberikan tanda kepada Ong Djie Hai, Ong Gwat Hee dan Tju Sie Hong untuk turun. Sedangkan ia sendiri memasukkan sebagian senjatanya ke bawah, lengannya bekerja perlahan-lahan tambang dibuatnya berputar dengan cepat. Semakin lama semakin keras, apa yang terlihat hanya sinar putih saja, orang orang yang berada di bawah berdaya sekuat tenaga menyerang dengan seniata rahasia. "Sie Hong, terjang!" perintahnya. Sang anak mengangguk dan terus mencelos ke bawah, waktu tubuhnya akan memijak lantai, tampak sinar putih dari senjata musuh membabat datang. Sie Hong menggeliat sebentar menghindarkan serangan, kemudian tubuhnya berdiri di lantai sambildemikian banyak menghalau lagi rangkaian serangan musuh, malang baginya, kakinya yang nemijak lantai entah bagaimana tidak dapat terus berdiri dengan baik. agaknya ia memijak semacam Denda yang licin, tak ampun lagi tUbUhnya ambruk dengan keras, menggelogo di lantai! Kiranya ia terkena perangkap musuh. benda yang licin adalah mata mata ikan yang sudah disebarkan Si ular Air Ka Tjin dengan banyaknya. Hal ini dilakukan waktu musuh turun dibarengi dengan senjatanya. Sehingga lawan bukan memijak lantai tapi senjatanya yang licin ditamban waktu ini keadaan masin gelap, sehingga Sie Hong tidak dapat melihat dengan tegas senjata lawan dan tidak mengetahui apa yang membuatnya ambruk seperti gedebong rubuh! Begitu dilihatnya lawan jatuh. Ka Tjin segera menyerang dengan Hie Kut Kiam ( pedang tulang ikan) pada daaa lawan. "Celaka." keluh Sie Hong sambil berusaha membalik badan untuk menerima serangan dengan punggungnya. Dalam Keadaan yang sangat genting, tampak si ular emas secepat kilat dan mendadak menyapu datang serta mengait pedang Ka Tjin. Hal ini membuat sang Iblis kaget buru buru pedangnya ditarik dan dipakai menyampok senjata musuh, kemudian baru nenyerang Sie Hong kembali Tapi lawannya yang masih muda belia itu sangat Iincah sekali, demi melihat suatu ketika baik, tubuhnya sudah mencelat berdiri sedangkan lengannya sudah memutarkan senjatanya dengan hebat sehingga lawan tak bisa mendekat untuk melukakannya. Dilain waktu sebentar mereka segera bertarung dengan sengitnya, untuk sementara belum dapat diketahui siapa yang menang siapa yang kalah. Pada saat ini Gwat Hee dan Djie Hai sudah turun ke bawah. Djie Hai disambut oleh Kim Li, sedangkan Gwat Hee diserang Jan Kia. Sehingga pertarungan terjadi di tiga tempat.

Jang Kia tidak bersenjata apa apa, ia memakai baju yang lengannya panjang, sedangkan kakinya tidak bersepatu.

Lengannya bergerak ke kiri dan ke kanan, lengan baju meletak meletik seperti menari dengan gerak serangan yang sangat ganas dan kukuay. Gwat Hee melayani dengan bertangan kosong pula, ilmunya yang di keluarkan ialah Bukit Berantai, tindakan pertama yang dilakukan ialah melindungi dahulu tubuhnya dengan rapat kemudian baru melancarkan serangan. Jan Kia melindungi dadanya dengan lengan kiri, sedangkan jeriji kanannya terjulur ke luar menyerang mata lawan, Gwat Hee mengeluarkan jurus Awan Pagi Ke luar Dari Celah celah Bukit jerijirya berbentuk garu menggaet jalan darah musuh. Jan Kia menurunkan lengannya, lengan bajunya mengebut secara mendadak menyampok serangan. Jurus ini tidak bertenaga terlalu besar, sehingga lengan Gwat Hee kena dilibat. Gwat Hee menjadi kaget sekali, waktu lengannya kena memegang lengan baju lawan telapak lengannya merasakan semacam benda dingin yang licin sekali dan bisa bergerak, gerak.

Setiap orang akan bergidik dan terbangun bulu romanya kalau kena memegang benda semacam ini, Gwat Hee menarik benda yang berada di tangannya, sekedar untuk dilihat. Alangkah terkejutnya demi dilihat benda yang dipegang itu ada seekor ular!

Anak gadis ini berteriak teriak sambil melepaskan lengannya dan mencelat ke belakang. Si Ular Air Jan Kia tertawa terbahak-bahak, lengan bajunya digoyangkan lagi lagi seekor ular ke luar dan dilemparkan kepada sang gadis. "Nona, benda ini kuberikan untuk permainanmu!" Gwat Hee mana berani menyambut, tubuhnya mengegos sambil berjingkrakan. Andaikata dalam saat ini Gwat Hee diganti Tjen Tjen, tentu ia akan merasa kesenangan sekali, tapi sayang sekali gadis yang nakal itu sudah lama tidak ada kabar ceritanya.  Jan Kia sudah bisa menggunakan ular sebagai senjata rahasia, lengan bajunya yang gedombrongan penuh dengan ular ular air, karena inilah ia mendapat julukan Si Ular Air. Kini terlihat lengan kirinya di gebeskan. sedangkan lengan kanannya digoyangkan, ular ular air tidak hentinya ke luar dan dilemparkan pada lawannya. Gwat Hee menjadi sibuk, untunglah ia bertubuh kecil dan lincah, sehingga tidak kena diserang lawan. Ilmu melepas ular dari Jan Kie ada dua macam, satu dengan bertenaga keras. semacam lagi dengan tenaga keras berlipat ganda, kalau saja orang kena terserang ilmunya yang tersebut belakangan pasti akan menderita luka, semacam lagi adalah dengan tenaga ringan, ular itu seperti melayang layang di udara, kalau mengenai tubuh lawannya segera melibat, musuh musuh pasti akan hilang daya perhatiannya, saat inilah baru ia melakukan serangan.

Gwat Hee berkepandaian lebih tinggi dari lawannya, ditambah sangat lincah gerak geriknya. sehingga beberapa ular yang dilemparkan lawannya belum seekorpun yang berhasil mengenai tubuhnya, walaupun di lancarkan dengan bertubi tubi. Tapi ular dan senjata rahasia biasa berlainan sekali, kalau senjata rahasia lain dapat dihindarkan berarti sudah selamat, sedangkan ular ular ini begitu jatuh ke lantai segera bergerak dan merayap ke arah Gwai Hee. Yan Kia menunjuk ke lanta: sambil berkata

"Nona kau lihat! menyenangkan bukan!" Tanpa terasa Gwat Hee memalingkan matanya, tampaklah olehnya puluhan dari ular air yang tengah menggeleser, sungguh menjijikkan, kepalanya dialihkan ke tempat lain, sedangkan lengannya menutupi sang mata: "Lekas kaubuang benda benda yang menjijikkan ini, tak suka aku melihatnya!" belum suaranya habis terbawa angin, tiba tiba ia merasakan samberan angin di belakang punggungnya. Inilah kesalahan untuknya menutup mata. membuat suatu kesempatan baik yang tidak dibuang percuma oleh lawannya.

Sang gadis dalam bahaya sekali, ia tak sempat untuk berkelit atau mengegos untuk menghindarkan serangan yang secara tiba tiba. terkecuali itu hatinya penuh diliputi rasa takut digigit ular. Tepatlah pada waktunya, ia merasakan semacam tenaga pukulan seorang lewat di samping tubuhnya maju kemudian menangkis serangan yang tengah mengancam jiwanya. Keampuhan pukulan penolongnya tidak tertahan oleh Jan Kia. yang tersebut belakangan ini terpaksa mencelat mundur. Kiranya orang yang mengeluarkan tenaga membantu Gwat Hee adalah Hoa San Kie Sau. Mereka sekelompok kiranya sudah mencelos masuk melalui jendela kecil sewaktu ke tiga iblis sibuk melayani orang orang yang masuk melalui wuwungan atas. Dan berdiam diri di samping menyaksikan jalan pertandingan.. Gwat Hee menjadi girang mendapat pertolongan gurunya, hatinya bertambah besar, sambil berbalik badan lengannya menunjuk nunjuk pada sang lawan: "Tidak tahu malu, beraninya mengandalkan binatang kotor ini untuk melawanku, kalau kau benar-benar mempunyai kepandaian yang sejati. Ehhh ehhh, datang lagi?" Katanya baru diucapkan sebagian, tampak olehnya ular ular air sudah datang kembali menujunya, membuat hatinya menjadi bergidik, sehingga ia berkaok kaok tanpa terasa.

"Sie moy lekas kau loncat!" seru Sie Hong yang berada di samping tubuhnya. Gwat Hee dalam keadaan takut, dengan cepat kakinya terangkat naik menurut kata kata saudaranya.

Baru kaki Gwat Hee terangkat dari lantai segera terdengar suara 'sreet lewat di bawah kakinya dengan cepat. Kepalanya tunduk melihat, kiranya adalah tambang Sie Hong yang lewat menyapu Sekali sapu ini membuat lantai menjadi bersih sekali, seekor ularpun tiada satu yang tertinggal semuanya sudah kena disapu ke dekat tubuh Jin Kia sendiri. Orang yang berada di samping memuji sambil bertepuk tangan. Gerakan Sie Hong yang luar biasa ini diluar perkiraan Jan Kia, sehingga ia bengong tak mengerti. Gwat Hee sangat girang dan merasa puas, dengan jurus. 'Bukit Aneh Terbang Mendatang' kepalanya menindih sang lawan secara ganas. Dalam waktu sekejap saja. kembali kedua orang ini melanjutkan perkelahiannya secara seru. Tiga pasangan bersutet terus uncuk merobohkan lawannya, sehingga pertarungan sukar diramalkan siapa yang menang siapa yang kalah, tengah asyiknya mata mengikuti jalannya pertandingan, tiba tiba terdengar suara seruan dari Kim Li. "Awas!" Kiranya ia sedang berkelahi dengan Djie Hai, dengan didahului oleh seruannya lengannya ke luar menghajar pada lawan 'bung' terdengar seseorang jatuh ke atas lantai dan menerbitkan suara berisik. Waktu semua orang menggunakan matanya mengawasi, kiranya yang jatuh adalah Kim Li sendiri.

Berikutnya Djie Hai sudah maju ke muka. Begitu Kim Li mengangkat kepala segera dihajarnya, kakinya bergerak, Djie Hai menghantam lagi dengan keras. Tiga pukulan yang terbagi pada kepala- pinggang dan paha, membuat Kim Li terkapar di lantai tanpa mengeluarkan engak engek lagi.

Dari wajahnya yang menunjukkan kepucatan dapat dipastikan lagi ia sudah sekarat.

Kim Li mendapat gelaran Iblis Bintang Mas, dikarenakan mukanya berwarna kuning Di antara Kelima Belas Iblis ia terkenal akan keganasannya, lebih lebih ilmu telapak tangannya dapat dibanggakan. Tapi kalau dibanding tentang tenaga dalam, ia adalah yang terlemah dari Tiga Iblis yang tengah berkelahi, dasar lagi sial boleh boleh ia ketemu lawan yang terkuat dari tiga lawan yang berkelahi dengan kawannya. Djie Hai melayani Kim Li dengan ilmu Im Yang Kang. maka tak heranlah dalam waktu sebentar saja lawannya sudah dibuat tidak berdaya.

Kim Li bergerak gerak sebentar, kemudian dari mulutnya ke luar darah segar, berikutnya napasnya menjadi putus dan mati.

Djie Hai mengangkat tubuh orang dan dipertontonkan kepada dua Ibtis lainnya; "Lihat, inilah karma seorang yang jahat!" Kan Tjin dan Yang Kia mencolong colong dapat melihat juga nasib kawannya, lubuk hatinya terasa ciut dan jeri. sedangkan kaki tangannya semakin kendur dan kalut. Ka Tjin memutar otaknya terlebih cepat dari biasa sepuluh kali. ia tahu keadaan sangat buruk untuk pihaknya. ia berpikir larilah jalan yang terbalak, tanpa berdamai lagi dengan kawannya, mata ikan disebarkan saat itu juga. terlihat benda benda seperti bintang bintang bertaburan di cakrawala. Dengan menyebar mata ikannya Ka Tjin bermaksud mendesak Sie Hong mundur, kemudian baru lari. Tapi ia tidak berpikir bahwa orang orang yang tengah dihadapinya adalah berilmu tinggi, satupun tiada yang menakuti mata ikannya. Tampak olehnya sekalian lawan menggoyangkan lengan bajunya, sehingga seKalian senjata rahasianya yang berupa mata ikan kena disampok jatuh..

Ka Tjin yang akan melarikan diri. menjadi bengong seperti patung, berikutnya kakinya bergoyang dan jatuh berlutut di atas lantai. Kiranya Tjiu Piau sudah menghajar dengan mata ikan Ka Tjin sendiri pada lututnya, sehingga membuatnya tidak kabur!

Sebenarnya ilmu Ka Tjin untuk melepas senjata rahasia yang berupa mata ikan cukup lihay. biasanya ia menggunakan kedua lengannya secara bergantian melepas serangan terangkai tak putus putusnya. Tapi ia tidak mengira ia berhadapan dengan seorang pelepas senjata rahasia yang lihay sekali. Sehingga dirinya kena dilumpuhkan tanpa mengetahui diserang siapa. Berikutnya Tjiu Piau sudah melangkah ke depan dan menendangnya sehingga membuat lawannya menjadi mati kutu, terkecuali itu Djie Hai sudah melangkah maju sambil mencekek leher musuhnya, membuat Ka Tjin tidak bisa bergerak dan berteriak barang sedikit.