-->

Pahlawan Harapan Jilid 15

Jilid 15

Peluh dingin sudah sedari tadi membasah dan membanjir dari tubuhnya. Untunglah mempunyai ilmu dalam yang cukup mempunyai dasar, sampai saat ini ia masih bisa bertahan dan belum putus napas. Tapi kalau pertandingan ini dilanjutkan terus, mau tidak mau ia harus mati juga. Waktu begini gugupnya semakin menjadi jadi. Saat ini telinganya mendengar seruan Wan Thian Hong:

"Louw Eng kalau kau ingin terbebas dari kesusahan ini, hanya ada satu jalan, lepas kaulah pedang cendrawasih yang kau cekal itu!"

Louw Eng menjadi semakin kacau jalan pikirannya, perkataan sang gadis didengarnya, tapi otaknya sudah membatu dan tidak bisa menangkap apa yang dimaksud dengan kata-kata itu, lengannya terus menggerakkan pedangnya sejadi jadinya.

"Koko, setoplah permainanmu !" Wan Djin Liong meluluri permintaan adiknya, dengan cepat pedangnya ditarik, tapi suara yang masih mengiang ngiang masih terus bergema di tempat yang suci ini. Begitu bunyi pedang hilang, terlihat Louw Eng diam mematung secara menyedihkan !

Wan Thian Hong mengulangi lagi kata katanya tadi ; "Louw Eng seharusnya kau sudah mengetahui kelihayan

dari Liong Hong Kiam ini ! Kau bukan pemilik dari pedang

ini. kalau kau tetap ingin mempunyai pedang ini, berarti pedang itu menjadi seterumu. Kalau kau tetap tidak mau melepaskan pedang itu, kau bisa mati lemas dibuatnya!" Sekali ini kata kata itu baru masuk ke dalam otaknya. ia berpikir. "Sesudah kau menghentikan pedangmu, kini meminta pedangku dengan cara demikian, mana ada aturan semacam ini!" Tanpa banyak komentar lagi penasarannya memaksakan ia untuk menusukkan pedangnya lagi pada Wan Djin Liong. Pikirnya ia sudah mengenal dan mengetahui cara berkelahi, dan merasa tidak mungkin kena dimabukkan lagi lagu iblis semacam tadi. Siapa tahu belum pikirannya hilang dari otaknya pedangnya yang menusuk kemuka sudah di pentil lawan dengan pedang lagi dan mengeluarkan bunyi seperti tadi. saat itu pulalah ia menjadi tidak keruan rasa.. sekali ini Wan Djin Liong mempercepat irama nada dari pedang, sehingga membuat lawannya menjadi kalang kabut dan tak kuasa menghadapi lawan. "Louw Eng! menunggu apa lagi? Lekaslah lepas pedang itu!" seru Wan Tniaa Hong lagi dengan keras.

Louw Eng berpikir; 'Wah celaka, pedang ini terpaksa harus kulepaskan juga" Tapi ia tidak tahu harus bagaimana caranya melepaskan itu. karena iapun takut kalau sampai pedangnya terlemas, lawannya pasti dapat menamatkan riwayatnya. Sesudah lama ia berpikir" baru berani mengamari ketetapan, serentak serangan ganas dilancar kan sekuat tenaga untuk menabas kepala lawan Dinantikannya musuh menangkis segera membarengi melepas pedangnya. Begitu pedang terlepas, dirinya segera terbebas dari irama pedang dan dapat mencelat meninggalkan gelanggang.

Wan Djin Liong dengan cepat mencongkel pedang cendrawasih dan melemparkan kepada adiknya sambil berseru. "Moy-tju sambutlan!" Dengan cepat Thian Hong menjulurkan lengannya menyambut pedang yang sangat disenanginya itu, sedangkan Louw Eng tidak dihiraukan lagi oleh mereka.

"Koko, marilah kita bunyikan lagi irama pedang!'"

Pedang itu segera akan diadukan dan mengeluarkan bunyi yang demikian lain dengan yang tadi, suaranya halus rasa sayang menyayangi, halus mengalun dan membuat puas setiap pendengarnya.

Louw Eng berpikir. "Mereka hanya bermaksud merampas pedangku, sesudah berhasil segera lupa kepada diriku, waktunya sudah sampai untuk kutinggalkan tempat ini!" Kakinya melangkah dan bergeser secara perlahan, ia tidak lari takut menimbulkan kecurigaan lawannya, sesudah berhasil menggeser tubuhnya melewat dua saudara Wan, baru, ia mempercepat langkah kakinya

Dua saudara Wan tidak menghiraukan, mereka tengah asyik dengan pedangnya, sehingga membuatnya menjadi girang dan merasa dilepas dengan begitu saja.

Sesudah ia berjalan lebih kurang sejauh tujuh delapan tumbak, hatinya berpikir lagi: "Kalau kalian tidak waspada lagi, aku akan melarikan diri dengan lekas, biar bagaimana lihay ilmu mengentengkan tubuhmu jangan harap dapat mengejar!" Sambil berpikir sambil melangkah dan diam di belakang dirinya, terkecuali itu di lihatnya pula dua anak muda yang sedang berdiri tidak berjauhan dari dirinya, seorang memegang seutas tambang sedang yang satu lagi memainkan mutiara emas yang bersinar sinar.

Saat ini ia sadar sudah masuk dalam kurungan sekalian para pemuda dalam gugupnya ia merasa heran kenapa sekalian anak muda yang terkurung di atas Thian Touw Hong bisa berada dan berkumpul di sini.

Ia berpikir di dalam hatinya: "Jalan terakhir untuk manusia ini hanya aku yang mengetahui dari peta rahasia yang kumiliki. Ia ingat peta itupun menerangkan di balik air terjun yang besar itu masih ada jalan gunung, tapi jalan itulah yang bernama Jalan terakhir untuk manusia. Tapi mengapa mereka dari Thian Touw Hong bisa berada di sini,, sedangkan jalan lain untuk sampai di tempat ini tidak tertulis di buku peta rahasia. mungkinkah peta ini tidak dapat dipercaya? Mungkin anak - anak muda ini mempunyai peta rahasia yang lebih baik?" Ia berhenti berpikir untuk melihat lihat Keadaan lain, tampak olehnya ibunya Tjiu Piau dan Tju Hong sedang berdiri sambil mengawasinya dengan benci.

"Wah. celaka tiga belas, biar bagaimana aku harus dapat meninggalkan tempat yang celaka ini. sedangkan Tjen djie terpaksa harus kubiarkan saja untuk berusaha sendiri." Ia dongak ke langit dan dilihatnya awan hitam tengah mendalang dengan cepatnya seperti gelombang air bah,

Hatinya mendoa: "Oh Thian, Giok Hong Siang Tee (dewa langit yang berkedudukan hampir sama dengan Bhatara Guru dalam dunia perwayangan) Liong Ong (raja naga) lekaslah turunkan hujan yang lehat, guna menolong jiwaku ini. Kalau aku berhasil menyelamatkan diri segera akan kudirikan tempat pemujaan kalian dikota Pak Kia. (Pekking) sedangKan rumah rumah berhala yang sudan rusak akan kuperbaiki seluruhnya yang terdapat dan Oey San sampai ke Pak Kia!"

Doanya ini mungkin manjur juga. karena awan hitam semakin tebal saja. Inilah yang dinamai kehendak alam. Sama sekali tidak berhubungan dengan doanya Louw Eng. Dengan girang sang jahanam mempunyai jalan hidup yang tidak diketahui lawan lawannya.melihat. Tampak olehnya dua saudara Wan masih tetap tidak bergerak, dengan perasaan girang ilmu mengentengkan tubuhnya dibentangkan untuk melarikan diri.

Siapa tahu begitu ia balik badan, segera mengeluarkan kata "celaka!"

Kiranya di depan tubuhnya kembali berkelebat sepasang muda mudi menghadang jalan. Pasangan ini adalah Ong Djie Hay dan Ong Gwat Hee yang sudah cukup dikenalnya dan menjadi seteru besarnya pula. Ia menjadi kaget dan mengawasi sekeliling untuk mencari jalan ke luar, malang baginya dua saudara Wan sudah datang dan Sedang para seterunya semuanya berwajah dingin dan tak berkata kata menatap kepadanya. Agaknya mereka tengah menghadapi suatu hal yang maha berat, kalau semakin lama mereka menunggu hatinya pasti akan semakin tenang, demikianlah keadaan para muda-mudi yang berada di situ. Mereka semuanya mempunyai dendam yang maha besar pada dirinya, siang malam menantikan ketika untuk membalasnya, kini saat ini sudah tiba dan berada di depan mata, Louw Eng mengetahui bahwa dirinya sudah tak dapat tertolong lagi dengan cara biasa.

Dalam diamnya seteru seterunya ini seperti juga malaikat Jibrail yang sedang menentukan vonisnya. Pastilah sesaat lagi akan pecah suara ledakan amarah yang maha hebat dan berlainan dengan suasana sepi seperti sekarang!

Delapan orang dengan kedelapan pasang mata membara menatap Louw Eng. Dalam waktu sekejap para muda mudi melangkah maju mendekati sang jahanam dalam keadaan berbahaya yang mengancam jiwanya Loaw Eng tidak bergerak gerak maupun berkata kata, wajahnya Seperti tidak berubah, matanya mengawasi keenam anak muda yang menghentikan kakinya sejauh enam langkah dari dirinya.

Ong Djie Hay menatap terus dengan matanya yang merah, membuat sang jahanam yang biasa menggunakan sinar matanya mengawasi orang kini tidak berani menentang mata lawannya, tiap kali bentrok ia membuang pandangannya ke tempat lain.

"Long Eng! Gunakanlah matamu melihat kepadaku!" bentak Ong Djie Hay dengan keras seperti petir, sehingga membuat lawannya loncat terkejut.

Dengan terpaksa Louw Eng melihat pada anak muda itu, telinganya kembali mendengar suara yang lantang ke luar dari mulut seterunya: "Louw Eng. bukti bukti dari pertanyaanmu sewaktu di dalam goa kini sudah ada. pokoknya kami akan menjawab setiap pertanyaanmu. kesatu kau minta bukti tentang dirinya dari saudara Wan. Kami sudah mendapat saksinya yakni Tju Siok siok. masih berani membantahkah akan kebenarannya?"

Louw Eng dengan gugup mengeluarkan kata 'ehh'. tidak tahu kata apa sebenarnya yang diucapkan. Tidak terang!

"Yang kedua kau mengatakan bahwa pedang naga dan cendrawasih bukan kepunyaan keluarga Wan.

Kini dua saudara Wan menggunakan ilmu pedang Keng Liong dan In Hong, secara bertangan kosong dapat merampas senjatamu, dengan ini sudah membukukan bahwa mereka adalah pemilik dari dua bilah pedang itu.

Mengenai buku dari ilmu pedang itu berada di sini apakah kau berani membantah?" 'Dengan serampangan Louw Eng mengeluarkan kata kata yang kurang terang.

"Louw Eng! Apa yang kau katakan? Kalau kau jantan sejati bicaralah dengan keras agar kami dapat mendengarnya. Mengaku berdosa atau tidak? Kuberi tahu, biar bagaimana sukar untukmu melewatkan kesusahan sekali ini. Kalau kau mengakui semua kedasaanmu, kami akan membuatmu mati dengan jenazah yang baik. kalau tidak tubuhmu ini akan kami hancurkan!" "Sekali ini mau tidak mau aku harus mengaku," pikir hatinya, "kalau tidak, mereka bisa menjadi panas dan bisa menamatkan hidupku." Dengan perlahan bergoyanglah lidahnya dan berkata dengan keras: "Aku mengaku, semuanya kuakui!"

Pengakuan Lauw Eng yane demikian polos membuat semua orang merasa heran, sungguh di luar dugaan Dengan begini kejahatannya yang sudah di per buat pada delapan belas tahun berselang semuanya di akui.

Mendengar ini sekalian dari anak muda menjadi terkesiap. kegusaran di dalam dadanya yang seperti gunung akan meletus, mendadak menjadi hilang seperti ban kempes. Om Djie Hiy adalah yang tertua di sekalian anak muda. biar bagaimana ialah yang harus berkata, tapi katanya dengan mudah dibenarkan oleh Louw Eng sehingga rencana yang akan dijalankan kalau sampai sang jahanam tidak mengaku tidak perlu lagi untuk dikeluarkan, sebelumnya mereka menduga bahwa sang jahanam pasti tidak akan mengaku dosanya, mereka sudah mupakat untuk mendesaknya sampai ia mengaku Hal ini tidak berlaku lagi. apa yang harus dilakukan pada saat ini? Di tabaskah dengan pedang? Tidak! Hal ini mengenakkan sang jahanam saja! Djie Hay menoleh kepada Tju Hong dan ibunya Tjiu Piau sambil berkata: "Tjiu Siok bo Tju Siok siok, binatang dilaknat ini sudah mengakui dosa dosanya, kau pikir harus bagaimana menghukumnya? Adik adik apakah kalian mempunyai pendapat juga?"

Ibu Tjiu Piau sepeiti tertawa bukan tertawa dan menangis bukan menangis mengeluarkan suara

'"Heu . . . heu" dua kali, selanjutnya berkemak kemik sendiri:

"Hemm, Louw Eng. akhirnya kau mengakui juga akan dosamu! Delapan belas tahun lamanya aku menantikan hari ini. akhirnya kini tiba di depan mata! Tjian Kin Tjian Kiu kau pasti yang berada di alam baQa pasti akan merasa terhibur. Waktu sudah berjalan lama. aku dapat menjaga dan membesarkan anak. bahkan sudah bisa membalas sakit hati!' Ia berkata dan berpaling pada Tjiu Piau sambil melanjutkan kata katanya dengan terang:

"Piau djie, ke luarkanlah Bwee Hoa Tok Tju!" Dengan hati hati Tjiu Piau mengambil mutiara beracun dan memberikan kepada ibunya: '"Bu. untuk apa mutiara ini?*

"Hay-djie. delapan belas tahun lamanya aku berpikir dan memastikan bahwa hari yang dinantikan akan tiba. kini saatnya untuk membalas dendam! Kau kugunakan Bwee Hoa Tok Tja untuk menghajar jahanam ini, agar ia mati dengan racun dari mutiara ini! Sekarang . . . Sekarang . . ' " Ia berkata sampai di sini, segera berhenti demi melihat mutiara yang berkilauan, hatinya seperti melihat sang suami yang sangat di cintai, tanpa disadari lagi kerongkongannya seperti disumbat, sementara itu air matanya sudah turun membasahi kedua pipi tuanya.

Sedangkan Tjiu Piau pun turut menangis, demikian pula dengan anak muda yang lain tidak terkecuali.

Ibu Tjiu Piau menahan air matanya, lengannya segera mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit rusa. dengan bengis mengawasi ia berkata. "Anakku, marilah mutiara itu!" Sesudah lengannya menerima mutiara matanya segera mengawasi sang jahanam, dengan heran ia berkata.

"Loaw Eng apakah kau tengah tangisi?"

Mendengar ini. semua orang memalingkan muKa melihat pada sang jahanam, benar saja dilihat mereka Louw Eng tengah nangis dengan sedihnya, hal ini sungguh di luar dugaan sama sekali.

"Djie so, selama dua puluh tahun aku melakukan kejahatan melewati dari batas. aku mengakui pada waktu yang lalu hatiku tak ubahnya seperti binatang. Tapi pada saat akan menutup mata, mungkin aku masih mempunyai kebaikan sedikit. Kini akupun merasakan kesusahan akibat perbuatanku yang jahat pada masa yang lalu. Djie so tak perlu kau menggunakan Bwee Hoa Tok Tju, aku bisa mencari Kematian sendiri. Kalau kau mau menggunakannya aku tidaK perlu mengegos, tapi Djie so harus tahu aku mempunyai sesuatu hal yans sangat mengganjel di lubuk hatiku, yakni mengenai tulang tulang dari Tjiu Djie ko hingga kini belum dikubur, sebelum hal ini diselesaikan aku tidak tenang meninggalkan dunia ini Tenpat di mana ia jatuh ke dalam cadas hanya aku seorang yang mengetahui, pokoknya sebelum aku mati hal ini perlu kuberi tahu dahulu kepada kalian. Djie so kalau kau suka boleh kuajak ke tempat itu!"

Mendengar kata ini, lengannya istri Tjiu Tjian Kin yang sudah terangkat untuk melepaskan mutiara beracun, berhenti secara tiba-tiba hatinya menjadi sedih, air matanya mengalir dengan deras seperti mata air di pegunungan.

Lengannya turun dengan lengan bajunya air mata diusap, pikirnya ingin menahan kesedihan, sebaiknya dari berhasil kesedihannya menjadi jadi.

Sesudah ia menangis cukup lamanya baru membuka mulut: "Louw Eng aku tidak percaya bahwa kau masih mempunyai hati yang baik, tapi kalau kau benar benar dapat menepatkan perkataanmu, mungkin dosamu akan berkurang sesampainya di dunia baqa. Jalan, kini aku turut padamu ke tempat yang kau sebut!"

Louw Eng menarik napas seperti benar-benar merasa sedih dan insyaf atas kesalahannya. Dengan menundukkan kepalanya ia memutar badan berjalan dengan perlahan- lahan. Dari gerak langkah kakinya agaknya benar benar bahwa ia mempunyai hati kesal dan tak habisnya menyesali dirinya yang sesat. Tjiu Piau dengan langkah cepat maju melompat sambil berseru: "Bu, aku turut!"

"Kami tidak terkecuali, marilah semua turut untuk menyaksikan tempat di mana manusia berhati binatang ini melakukan kekejian pada delapan belas tahun berselang!" Mendengar ini Louw Eng yang berjalan di muka kembali menarik napas serta menggeleng gelengkan kepalanya, seperti dalam kesedihan yang benar benar.

Dua saudara Wan tetap menghunus pedangnya, dengan mata gusar mengawasi sang jahanam ingin hati mereka dengan sekali tikam untuk menamatkan riwayat manusia yang dibenci. Saat ini Louw Eng berjalan melewati mereka dan melihat bahwa dua anak muda ini berwajah penuh dengan amarah. Ia tertawa meringis sambil membusungkan dadanya pura pura berani. 'Untuk apa kalian gelisah, dadaku ini lambat atau cepat akhirnya akan kau tubles juga bukan?"

"Louw Eng kau jangan kuatir. kami tidak mau menikam dadamu, paling paling juga menusukmu dari punggung belakang !" jawab Djin Liong dengan kecut. Katanya ini membuat punggung sang jahanam terasa panas dingin.

Tahun yang lalu Louw Eug membokong Wan Tie No suami isteri dari punggung belakang, kini dua saudara Wan akan membalasnya berbuat demikian, hal ini membangkitkan rasa takut sang jahanam, dengan menenangkan dirinya sejadi jadinya ia lewat di depan dua saudara Wan didengarnya suara pedang Yang sengaja diadukan oleh mereka, menyusul irama sedih yang memilukan hati terdengar dari pedang itu. Louw Eng menjadi kaget, dengan cepat ia mencelat, karena ia menduga dua saudara Wan menikam punggungnya dari belakang,

Sesudah irama sedih mereda baru berani kepalanya menole ke belakang, dengan tersenyum malu ia berkata "Aku tahu kalian tergah bermain pedang lagi "

"Jangan banyak mulut lagi, lekas jalan!" bentak Djin Liong.

Louw Eng berjalan di depan sambii menarik napas lagi sedangkan seteru seterunya mengikuti dari belakang dengan perasaan benar benar sedih Mereka semua ingin menemukan tulang belulang dan mendiang Tjiu Tjian Kin. Tiba tiba hati Wan Djin Liong tergerak dan mempunyai sesuatu firasat, begitu hatinya tergerak kontan sang adik pun mempunyai firasat yang serupa dengannya, kedua perasaan yang sama ini membuatnya mereka maju melompat kedepan tanpa berunding lagi. Mereka membentak secara berbareng. "Louw Eng. hentikan kakimu!" Dengan cepat Louw Eng membalik badan dan mengeluarkan paras seperti kaget. "Kenapa?" tanyanya heran.

Sebelum Louw Eng selesai berkata, dua saudara Wan sudah melesat maju ke muka dan menghadang perjalanannya, mereka menunjuk nunjuk sambil memaki, "Hei jahanam, jangan harap kau dapat mengelabui kami lagi, kebusukanmu sudah ada di kantong kami! Kau mengetahui perasaan kami lantas sengaja menggerakkan perasaan ini untuk memancing kami ke luar, ya memancing sampai pada telapak tanganmu, agar kami merupakan ikan yang masuk ke dalam perangkap!"

Kalimat yang diucapkan ini menyadarkan yang lain. bahkan membuat Louw Eng berdiri mendelong karena ka^et. Ia mendongkol bukan main rahasia hatinya kena dibongkar bila tidak ia niat melarikan diri waktu musuh musuhnya lengah, kemudian membawa bala bantuan untuk menumpas mereka. Hal ini hampir berhasil, terbukti dengan ibu Tjiu Piau yang kena diingusi dalam keadaan sedih.

Untunglah usaha duri sang jahanam kena dipecahkan sebelum berhasil melalui mulut ke luar dari jalanan buntu itu.

Dari malu Louw Eng menjadi putus asa dari putus asa berbalik menjadi nekad dari neKad menjadi gusar. tapi adatnya yang diumbar ini tertekan kembali karena suasana tidak mengijinkan. Akalnya tetap berpura-pura tunduk, ia tertawa. "Kau boleh mengatakan begitu, sehingga kebaikanku dianggap kejahatan. Kalau kalian tidak percaya, bolehku Kembali. Untuk apa hidup sudah tidak dipercaya orang, jiwa yang busuk ini lebih baik mati saja!"

Ong Gwat Hee sedari tadi memang sudah merasa curiga dan mengetahui bahwa ibu Tjiu Piau disebabkan goncangan jiwa dalam kesedihan sehingga kena diakali lawan, kini ia merasa girang bahwa dua saudara Wan sependapat juga dengan pikirannya, dengan cepat kakinya melangkah maju seraya berKata. "Louw Eng! berkatalah dengan jujur untuk apa kau berpura-pura' lagu lama itu sudah tak mujarab lagi! Katakanlah di mana, tempat Tjiu Siok-siok kau celakakan! Oey San ini sekelilingnya dikenal Tju Sah ko kami, sebutlah lekas di bukit mana, di lembah mana, menghadap ke mana, di dekat pohon apa? Katakanlah lekas dan jangan mendusta. Kalau kau membandel dan berani mengeluarkan sepatah kata bohong berarti kau akan menerima siksaan lebih berat setikal! Lekas bicara!" Sedikitpun Louw Eng tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya, ia berkata dengan cepat: 'Baik, segera aku berkata." Kata katinya baru ke luar sedikit, tiba tiba lengannya terjulur dengan cepat menangkap Gwat Hee. Jarak mereka berdua sangat dekat, tamtahan sang gadis tidak bersiaga dan berlaku alpa, dalam bingungnya ia menjadi gugup dan kena dicekat lengan kanannya, sehingga tidak bisa bergerak lagi. Siang-siang Louw Eng sudah mempunyai niat untuk melarikan diri. kini ia bisa berbuat cepat dan berhasil menjalankan langkah pertama untuk menolong dirinya. Tubuh Gwat Hee yang sudah tak berdaya d putar ke arah kanan dan membalik punggung kepadanya. Lengannya ini bekerja dengan cepat sekali, sehingga yang lain tidak sempat berbuat apa apa.

Dalam kagetnya Ong Djie Hty maju melangkah. Lolw Eng membentak: "Jangan bergerak! Kalian jangan mengandalkan jumlah yang banyak untuk menghina diriku. kalau aku mau dengan sekali jungkir dapat segera meluncur ke bawah jurang untuk bersama sama menemui ajal dengan bocah ini, siapanun tidak dapat merintangkan perbuatanku!" Kata katanya ini dapat menggertak lawan- lawannva menjadi diam tidak bergerak. Ibu Tjiu Piau menjadi gusar dengan amarah yang meluap luap ia berkata: "Kau--kau.. kau -" Dalam sekejap saja ia merasakan tiJak ada kata kata yang tepat untuk memaki

kejahatan dari sang jahanam. Segala sumpahan dan nistaan yang paling berat di dalam dunia, agaknya terlalu ringan guna memaki Louw Eng.

"Maafkanlah aku,'* kata Louw Eng sambil nyengir jahat, "aku segera akan membawanya berlalu!"

Gwat Hee dijadikan tameng dan dipaksa jalan di hadapan mukanya melalui pada dua saudara Wan. Dua saudara Wan masing masing menghunus pedang, tetap merintang tak memberikan jalan. Louw Eng mendorong Gwat Hee pada ujung pedang dua saudara kembar, sehingga membuat yang tersebut belakangan terpaksa mundur. Louw Eng maju selangkah mereka mundur setindak!

"Jangan dikasih lolos jahanam ini! Majulah semua, sekali kali jangan menghiraukan diriku!" seru Gwat Hee dengan lantang tanpa takut sedikit juga

"Mau mampus kau! Aku tidak niat tergesa gesa, jangan bersuara!" bentak Louw Eng dengan kasar. Tepat kata katanya habis, menderu semacam benda secara mendadak dibelakang tubuhnya.

Louw Eng memegang Gwat Hee di sebelah depannya, dengan cepat kepalanya menoleh ke belakang, tampak olehnya semacam benda yang merupakan ular bergulung datang mengarah kepada tubuhnya,sedang ujungnya berkilau kilauan seperti emas kuning, benda itu tak lain dari kaitan emas Tju Sie Hong yang menyerang secara cepat.

"Lepaskan tambangmu!" bentak Louw Eng. jerijinya terjulur ke luar sebanyak dua, merupakan jepitan kepiting menjepit tambang itu. Dengan cepat tambang yang kaku itu dikendurkan oleh pemegangnya sehingga terkulai, Louw Eng yang memegangi Gwat Hee biar bagaimana tidak dapat bergerak dengan bebas, begitu dilihat tambang terkulai pikirnya sang lawan sudah tidak bertenaga, karenanya ia tidak merampas tambang itu. melainkan melangkahkan kakinya maju kemuka. Tju Sie Hong menggerakkan tangannya, sehingga tambangnya itu seperti hidup, kaki lawan yang melangkah maju disambernya, sambil dibarengi dengan seruan. "Kena!"

Tambang ini tidak membuat Louw Eng menjadi kaget, kaki Kanannya diangkat dengan ujung sepatunya ditendang tambang itu sambil memaki. "Enyahlah! Janganlah mempergunakan permainan anak kecil untuk mengikatku!" Kata katanya baru terhambur ke luar, ia merasa sedikit tidak benar pada kakinya yang baru terangkat itu. Karena tambang Sie Hong suaah beruban menjadi lunak kembali. Sesudah melilit beberapa kali, Kaitannya mencantel dan membuat suatu ikatan mati, sedangkan ujung lain dari tambang itu tetap berada di lengannya

"Louw Eng, ingin kulihat apa kau masih bisa jalan tidak?!" tanya Sie Hong sambil menarik-narik tambangnya.

Louw Eng segera duduk di tanah, kedua lengannya mengangkat tubuh Gwat Hee. Mulutnya mengeluarkan ancaman. "Bocah she Tju! Kalau kau tidak melepaskan tambangmu, terlebih dahulu mustika ini kulempar ke dalam jurang!' Sebenarnya lengan kirinya tidak bekerja apa-apa. asal ia mau melepaskan ikatan tambang masih dapat, tapi hal ini tidak dilakukan, ia takut Ong Djie Hay dan Wan Djin Liong datang menyerang dan merampas Gwat Hee.

Kalau hal ini sampai terjadi dirinya pasti berada dalam kekuasaan musuh lagi. Tjn Sie Hong tidak mempunyai pendirian yang teguh, dilepaskan atau tidak? Dilihatnya Djie Hay yang tengah gusar dan membentak sang jahanam: "Louw Eng, jangan banyak tingkah! Jagalah serangan ku!"

Kakinya menotol dan tubuhnya melesat seperti burung menubruk pada seterunya. Waktu sampai di tengah udara kembali terdengar bentakannya; "Aku akan mencelakakan kau, seperti kau mencelakakan ayahku! Rasakanlah ilmu Im Yang Kang yang akan kupukulkan di punggung dirimu!"

Melihat serangan Djie Hay yang menggila ini Louw Eng mengetahui bocah ini akan menyerangnya dengan pukulan yang ganas. Tanpa banyak pikir lagi tubuh Gwat Hee dilemparnya ke dalam jurang!

"Louw Eng! Walaupun sudah menjadi setan aku tetap akan mengganggumu!" seru Gwat Hee dari tengah udara dengan nada yang luar biasa geramnya, dan seruannya ini membuat pula yang lain menjerit kaget. Dalam kegaduhan suara jeritan, terdapat seseorang yang masih tetap tenang, orang ini menggerakkan lengannya menerbangkan semacam benda.

Orang ini bukan lain dari pada Tju Sie Hong. Lengannya yang memegang tambang, seujung sudah melibat kaki musuh, ujung satunya lagi masih tetap di dalam lengannya. Dalam keadaan yang demikian mendesak, tak sempat untuknya melepaskan libatan tambang yang berada di kaki lawan sehingga tambang yang tengah dipegangnya dilempar untuk mengait Gwat Hee.

"Sie-moy, peganglah tambang ini!" Tju Sie Hong bertubuh kurus tapi seruannya ini cukup mendengungkan setiap pendengar, Gwat Hee mengeluarkan lengan menjangkau tambang begitu mendengar seruan saudaranya. Dengan suatu gerakan yang luar biasa indahnya berhasillah ia memegang dengan erat tambang yang datang itu.

Kalau ujung tambang satu lagi berada didalam lengan Sie Hong segala urusan segera akan menjadi beres. Tapi ujung satunya lagi masih melibat di kaki lawan. Sedangkan sang jahat yang sudah melempar Gwat Hee segera memasang besinya dengan teguh sambil menyedot hawa segar guna mengkokohkan pertahanan kakinya, lengannya berada di dadanya menguasai ketenangan. Ia hanya memperhatikan semangan Djie Hay dan menantikan kekosongan lawan untuk mengirimkan serangan kematian. Pada saat Inilah tubuh Gwat Hee jatuh ke bawah, walaupun cukup keras sedikitpun kakinya tidak bergerak, berkat persiapannya sudah baik.

Ilmu Djie Hay bukan lain dari Bukit Berantai yang bernama Bukit Aneh Terbang Mendatang, gaya serangannya menyergap dari atas ke bawah serta dilengkapi Im Yang Kang vang lihay langsung menyerang kelemahan dan tempat berbahaya lawan. Dengan tenang Louw Eng mengawasi setiap gerak gerik lawan, begitu serangan hampir tiba, tubuhnya mengegos dengan cepat, dan memaksa musuh menyerang tempat kosong. Sedangkan lengannya dijulurkan sambil mengeluarkan dua jerijinya yang ditekuk merupakan belencong yang siap mengait mata lawannya, jurus ini dapat dilakukan dengan cepat seperti ular mengeluarkan lidahnya. Djie Hay merasakan hawa dingin menyerang kepalanya, secara otomatis lengannya menyampok ke atas dengan keras, malang baginya, lengan ini kembali mengenai angin. Terkecuali begitu, dengan berbuat begini bagian bawahnya menjadi kosong waktu lengannya berada di udara.

Kekosongan ini segera tidak dibiarkan lawan, kakinya terangkat naik menjurus pada dada.

Sebenarnya Diie Hay sedang menyiapkan serangannya yang bernama San Tjiong Sui Kin (air kering di tanah tandus) menjaga dengan rapat seluruh tubuhnya. begitu dilihat kaki lawan menendang dadanya, tubuhnya segera mencelat mundur. Louw Eng menurunkan lengan dengan cepat membuka tambang yang mengikat kakinya, dan memegangnya dengan erat di dalam lengannya, dengan berbuat begini kembali sang jahanam berbasil menggantungkan mati hidupnya Gwat Hee dalam lengannya. Hasilnya ini membuat wajahnya berseri seri secara girang sekali.

Orang banyak sekali lagi di buat mengeluarkan keringat dingin! Tjiu Piau menggenggam mutiara emasnya tanpa mempunyai pendirian sama sekali, akan dihajarkan bangsat tua celaka itu? Takut mendatangkan musibah untuk Gwat Hee. Kalau dibiarkan begini saja., hatinya sudah merasa muak atas sikap lawan yang licik dan menjemukan.

"Semua orang tidak kuijinkan melangkahkan kakinva mendekat padaku! Barang siapa melanggar kata kataku tambang ini segera kulepaskan! Kalau hal ini kugunakan jangan sesalkan diriku yang tidak mempunyai perikemanusiaan lagi "seru Louw Eng dengan delak deliknya menyapu pandangan semua seterunya dengan kepuasan yang berlimpah limpah

Dengan amarah meluap Djie Hay melangkahkan kakinya sedikit, dengan niat untuk mengadu jiwa.

"Kulepas tambang ini!* seru Louw Eng sambil benar benar melepaskan tambang itu dari lengan kanannya, sedang tangan kirinya buru buru menuju ke tanah dan memegang tambang lagi dengan erat. Gertakannya yang cukup baik ini mengejitkan seteru seterunya dan membuat Djie Hay tidak berani melangkahkan kakinya barang setengah tindak. Kejadian membuat orang banyak bengong mematung seperti batu gunung di Ban Liu Tjung.

"Louw Eng, katakanlah apa maksudmu berbuat begini!" tanya Djie Hay.

"Tidak apa-apa," jawab Louw Eng dengan dingin, "aku mengambil jalanku sendiri dan kalian mengambil

jalan kalian, satu sama lain tidak mengganggu. Dari itu

kalau aku maju melangkah setindak, kalian harus mundur setindak! Siapa berani merintang, terpaksa aku akan melawannya secara mati matian, sedang tambang ini pasti harus ku lepaskan!" Habis berkata lengan kanannya memegang tambang, kakinya maju melangkah menuju jalan ke tabir air terjun dari mana tadi ia masuk.

Dengan terpaksa dua saudara Wan mundur beberapa tindak. Louw Eng maju lagi dua tindak, dua saudara Wan kembali kena dipaksa mundur sebanyak dua tindak

"Jangan hiraukan diriku, jangan kasih binatang Louw Eng meloloskan diri!" seru Gwat Hee dengan Keras dari tebing di mana ia berada.

"Moy tju tak perlu kau gelisah, bangsat tua ini pasti tidakkan kulepaskan dan tidak mungkin mencelakakan kau." jawab Tjiu Piau dengan gagah.

"Kalau kalian tetap akan melepaskan bangsat Louw Eng. lebih baik aku sendiri melepaskan peganganku, kalau tidak begini sakit hati negara dan ayah mana bisa di balas !"

Louw Eng tak menghiraukan percakapan mereka, kakinya tetap melangkah maju, melangkah menyusuri tepian tebing, sehingga Gwat Hej yang berada di bawah terus dibawa-bawa Ibu Tjiu Piau merasa iba sekali atas nasib sang gadis, ia bertata pada Tju Hong: "Asal saja bangsat itu mau melepaskan dirinya Gwat Hee dirinya boleh juga kita bebaskan!" Tju Hong yang sependapat dengan Djie so nya. tentu saja tidak senang melibat keponakannya hidup-hidup kena disiksa musuh, ia menganggukkan kepalanya mendengar kata kata sang Djie so. kakinya maju melangkah dan mengeluarkan bentakan:

"Luw Eng hentikan kakimu ! Kau dengar ! . . . "

Tju Hong baru saja akan melanjutkan kata katanya. tapi menjadi urung waktu melihat Louw Eng menunjukkan wajah gusar dan mengeluarkan bentakan:

"Bocah gila kau bersembunyi di mana!" Tambang yang dipegang dengannya terkulai menunjukkan tidak ada orangnya di sebelah bawah. Kepalanya melongkok ke bawah, benar saja di ujung tambang itu sudah tidak terlihat bayangan dari Gwat Hee.

Tanpa terkendalikan lagi Djie Hay dan Tjiu Piau menjerit "Moy tju Moy-tju!" Suara mereka ini demikian keras dan menggema lagi. '"Moy-tju, Moy-tju." Semua orang berputus asa, kira mereka Gwat Hee benar benar sudah melepaskan pegangannya dan meninggal di bawah lembah. Untunglah hal ini berjalan tidak lama, karena orang banyak ini segera mendengar suara Gwat Hee yang keras dari bawah.. "Koko aku berada di sini dengan selamat, tangkaplah dahulu bangsat itu baru menolong diriku!" Semua kepala memandang ke bawah, tapi tidak melihat bayangan bayangan dari Gwat Hee. Kiranya di samping tebing, terdapat celah celah lekuk ke dalam, bahkan ada pula rumput dan semak semak, Louw Eng yang keenakan menjerit-jerit sang gadis, terlalu memusatkan pikirannya kepada Djie Hay dan kawan kawan, sehingga tidak memperhatikan keadaan di tebing itu. sehingga Gwat Hee dapat melepaskan lengannya sesudah melihat tempat yang kuat untuk menempatkan dirinya.

Suatu ketika yang bukan main baiknya kembali terlepas dengan begitu saja, hatinya menjadi sedih dan kesal, diam diam ia meratap. "Louw Eng, mungkin hari matimu sudah sampai pada waktunya, hari ini selalu jalan jalannya tidak baik, segala kesempatan yang bagus sudah berlalu seperti impian!" Sang jahanam ini sebenarnya diam diam sedari semula sudah merencanakan diri untuk kabur, pertama menggunakan penipuan, tapi hai ini gagal, kedua menangkap salah seorang untuk dijadikan jaminan, sayang ketika ini kembali menjadi kandas, harus bagaimanakah?

Menggunakan kekerasankah? Wah. semuanya sukar dan tak mungkin.

Sekelilingnya berdiri Wan Djin Liong dan adiknya. Ong Djie Hay. Tjiu Piau dan lain lain. Ia mengharapkan hujan cepat cepat tapi sampai saat ini masih belum ada tanda- tandanya hujan akan turun, pokoknya kalau sampai hujan datang ia mempunyai suatu rahasia yang dapat meloloskan diri. tapi sayang sekail yang diharap harap ini belum datang juga.

Louw Eng mengertaklan giginya, hatinya merasa mendongkol sekali, diam diam hatinya menggerutu.

"Baik! Segala dayaku sudah habis, tapi tidak halangan untuk mengadu sabar dengan kalian. Aku diam disini tidak bergerak, kamu juga tidak dapat mengurung untuk mengerubuti aku sebab jalan gunung sangat sempit sekali, kalau Satu satu yang maju bukan main baiknya, aku belum tentu dapat dikalahkan. Datang satu kuhajar satu, kalau dua boleh kugeprak keduanya jatuh ke jurang!" Sesudah pikirannya tetap ia mengambil kedudukan yang baik untuk menyiapkan kuda kudanya.

Sedangkan senjata Sie Hong yang masih berada di lengannya dibuang ke dalam jurang. Sie Hong membuat senjatanya dengan susah payah, kini mentah mentah melihat benda kesayangannya itu dibuang seperti benda tidak berharga. dengan sendirinya menjadi gusar.

"Kurang ajar, harus kau ganti!" Tubuhnya mencelat maju menerjang. Dengan satu gerakan Sian Hong Tiau Yang (cendrawasih tunggal menengadah ke langit) Louw Eng memiringkan tubuhnya.

Kepandaian silat Sie Hong tidak seberapa dan jauh sekali kalau dibandingkan dengan musuhnya, kepergiannya ini kebanyakan celakanya dari pada untungnya. Djie Hay dengan cepat merintangi terjangan sang adik sambil menarik tubuhnya :

"Sah tee sabarlah, biarlah aku yang membereskan!"

Terjangan Sie Hong demikian kuatnya, tapi dengan mudah kena dirintangi kakaknya, sehingga tidak dapat bergerak lagi.. Toako ini benar benar mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari saudara saudaranya.

Djie Hay menggertak dengan lengan kiri, sambil berusaha untuk mendekat pada tubuh lawan, sedangkan lengan kanannya menyodok dengan hebat ke ulu hati musuh.

Tempat yang diserang ini adalah suatu tempat yang berbahaya sekali, kalau kena Kesodok pasti akan muntah darah dan luka parah.

Louw Eng berbuat sengaja membiarkan lawannya merangsak dan mendekat tubuhnya, begitu dilihatnya serangan lawan, jurusnya segera berubah menjadi Oey Eng Lok Tjia (burung kenari jatuh dari sarang),kanan kiri dari lengannya tertekuk di depan dadanya, lengan kiri melindungi dada. lengan kanan berbalik menghajar lengan lawan yang menuju pada dirinya, lima jerijinya terbuka seperti kuku garuda siap mencengkeram jalan darah di lengan lawan.

Djte Hay mengetahui kelihayan lawan. lengan kanannya segera berubah arah ke sebelah kiri sambil membuat suatu lingkaran besar, sedangkan telapak lengan kirinya menerobos ke luar dari sikut kanannya, melindungi lengan kanannya dari lima jariji lawan.

Gerak dari Djie Hay ini dikira Louw Eng terlalu lambat, sehingga ia menganggap pemuda ini hanya bisa bertahan dan tidak mampu untuk menyerang, geraknya segera diubah lagi menjadi Liu Seng Kan Guat (meteor mengejar rembulan) dengan cepat, menghajar ke arah muka dari pemuda kita.

Ong Djie Hay tidak berani secara berdepan untuk menangkis serangan lawan, ia tahu akan kekuatan sejati dari ilmu dalamnya menandai kekuatan lawan, kini keadaan sudah memaksa karena tiada tempat untuk berkelit.

Setakar tenaganya - dikumpulkan pada lengannya untuk menangkis serangan lawan, dua pasang lengan beradu dengan keras "pung" berbunyi. Djie Hay tidak kuasa menahan dirinya. sehingga terhuyung-huyung beberapa kali.

"Hambuslah kau dari sini!" bentak Louw Eng sambil mendorong lagi dengan maksud menggulingkan lawan masuk ke jurang.

"Lihatlah siapa yang harus terjun kejurang!" balas Djie Hay dengan lantang, serangkan lengannya kembali menangkis, pukulan ini lebih cepat dan lebih hebat dari yang tadi begitu bentrok kaki Djie Hay tergetar lebih hebat dari semula. Louw Eng mengirimkan lagi serangannya yang ketiga. Djie Hay tetap tidak mundur, kembali ia menyambut serangan ini.

Sekali ini lengannya dilengkapi ilmu Im Yang Kang, agar lawannya yang menyerang dengan keras terbang ke samping dan terjerumus jatuh ke kaki gunung.

Louw Eng adalah manusia yang licin dan licik serta banyak akal bulusnya, sedari tadi sudah bersiaga atas ilmu Im Yang Kang lawan yang ampuh Serangannya selalu hanya mempergunakan delapan bagian tenaganya. Tenaga yang delapan bagian ini walaupun mengenai angin tidak mungkin membuat dirinya jatuh terjerumus. Bentrokan ini membuat lengan Louw Eng seperti mengenai kapas,tapi kakinya masih tetap teguh tidak bergerak setengah langkahpun.

Tju Piau pada saat ini sudah mempunyai pendapat baik, tanpa berkata kata matanya mengawasi gerak gerik dari Djie Hay sedangkan lengannya sudah siap dengan mutiara beracun. Begitu dilihatnya sang kakak menyerang lagi. lengannya bergoyang sambil berseru: "Kena!" dua butir mutiara dengan cepat mengarah kepada kedua lutut kaki duri sang jahanam. Tempat yang dihajar benar benar merupakan kelemahan lawan! Louw Eng tengah berkelahi mati matian untuk mempertahankan jiwanya dengan Djie Hay yang tidak kenal takut, dengan penuh perhatian kuda- kudanya dipasang demikian kokoh, akan ilmu di lengan dapat dikuasainya dengan bebas, mau berapa bagian tenaga dapat digunakan berapa bagian. Kini mendapat serangan mutiara yang mengarah pada lututnya, memaksanya membuat ia meloncat setinggi tiga kaki.

Dengan gugup kerling matanya melihat mutiara. tubuhnya yang berada di atas udara dilengkapi daya tahan berbau menyerang. Kakinya terangkat naik menendang dengan ganas pada lengan kanan musuh, serangan ini kalau berhasil pasti dapat mematahkan tulang dari lengan lawan. Dengan terpaksa Djie Hay menghentikan serangannya dan menarik dengan cepat akan tetapi dengan perbuatannya ini membuat sang musuh berada kembali di pihak aktip.Hal ini tidak membuat dan menjadikan Louw Eng girang, karena di punggungnya merasa angin dingin, agaknya ada semacam benda tajam mengancam punggungnya. Ia menjadi kaget dan berjingkrakan, pikirnya memastikan bahwa Wan Djin Liong sudah menyerang Kalau kakinya hinggap pada bumi dan diserang lagi dua mutiara beracun, ditambah dengan serangan Djie Hay dan tabasan dari pedang Djin Liong, kalau sampai hal ini terjadi biar Louw Eng mempunyai tiga kepala dan tujuh lengan jangan harap dapat menghindarkan bencana maut ini..

Ia sadar jalan mati sudah berada di depan matanya, dari itu tubuhnya yang masih berada di udara tidak diinjakkan ke bumi melainkan digeliatkan dengan suatu salto yang luar biasa dan langsung menukik menyerang Djie Hay dengan kedua lengan lurus, angin dari serangannya ini belum belum sudah memaksa Djie Hay mundur dan memberikan tempatnya kepada lawan. Sungguh mengherankan tenaga dorongannya yang maha hebat tiba tiba Kena tertahan semacam tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, bahkan tenaga ini masih mengandung daya keras dan ganas, ia merasakan dan membedakan bahwa serangan ini mengandung tenaga dalam yang melebihi tenaganya sendiri. Dengan kaget Louw Eng menolehkan kepalanya, tanpa terasa ia berteriak;

"Habislah jiwaku!"

Kiranya yang berdiri di hadapannya kini bukan Ong Djie Hay lagi melainkan seorang berilmu lain yang sudah berhasil datang tanpa bersuara.

Orang ini berjenggot panjang dan bergoyang goyang, dengan wajah yang welas asih. Tapi matanya sangat tajam dan mengeluarkan sinar yang tidak dapat ditentang.

Siapakah? Tak lain dari Hoa San Kie Sau adanya!

Louw Eng berniat menarik sepasang lengannya. akan tetapi sudah tidak keburu. Saat ini kakinya belum memijak tanah, mundur maju serba salah. Sedangkan pukulan Kie Sau sudah tiba, bentrokan sepasang lengan ini tak dapat dicegah, walaupun hanya bersentuhan secara ringan tubuh Louw Eng seperti kena dilontarkan orang dan terbang miring-miring ke arah jurang.

Adapun kepandaian Louw Eng sebenarnya tidak terpaut jauh dengan lawannya, tapi saat ini tubuhnya masih di udara, begitu lengannya mengeluarkan tenaga tubuhnya terpental semakin jauh, semata-mata kena tenaga balikan sendiri !

Tanpa terkendalikan lagi tubuh sang jahanam melintang dan sudah melalui tebing, matanya sudah melihat dasar jurang yang demikian dalam, keringat dinginnya ke luar bersamaan dengan gugur semangatnya. Dalam saat yang menentukan hidup matinya tiba tiba kakinya terasa kena dipegang orang.

Lengan Kie Sau itu mempunyai tenaga yang maha besar, begitu kena memegang kaki lawan serentak jerijinya menotok lima jalan darah sekaligus. Walaupun terhalang sepatu dan kaos kaki, totokannya cukup tepat, lebih-lebih urat nadi yang berada di atasan tumit kaki. Kena tertotok secara mutlak dan ditekan demikian keras sehingga saat itu juga dapat melumpuhkan orang. Orang orang yang berilmu tinggi sebenarnya tidak merasa takut walaupun tubuhnya terkatung di udara, pokoknya asal dapat memijak sesuatu segeia dapat meminjam untuk mencurahkan seluruh tenaga badannya guna berjungkir dan berdiri, Louw Eng pun menggunakan cara ini waktu merasa kakinya dipegang orang, tapi ia terlambat, sebelum tenaganya dicurahkan untuk berjungkir kakinya sudah lemas terlebih dahulu kena totokan lawan, sehingga tubuhnya tidak berdaya lagi dan terkulai ke bawah.

"Djie Hay kau berdiri di sebelah sana, kalau dia berbalik badan segera kau serang,"Piau djie siapkan mutiaramu, kalau dia berani berbuat gila segera kau hajar. Djin Liong. Thian Hong bersiaplah dengan pedangmu, jagalah di kiri kanan, todongkanlah ujung pedangmu pada dirinya, jangan kasih bergerak! Sie Hong jagalah baik baik akan ayahmu dan Tjiu Peh bomu. Sekarang kalian boleh bertanya apa yang hendak ditanyakan kepada jahanam berhati anjing ini. Selesai bertanya, kerjakanlah apa yang kalian kehendaki!"

Mendengar kata kata ini Gwat Hee yang berada di bawah, sudah mengetahui bahwa Louw Eng sudah dapat ditangkap, hatinya menjadi girang. Begitu ia menengadah ke atas tempat di mana tubuh sang jahanam tepat berada di atas kepalanya, hal yang serba kebenaran ini membuat hatinya bertambah girang, dengan cepat ia berteriak ke atas:

"Suhu, kasihlah aku naik dahulu ke atas!"

"Tunggulah sebentar untuk kudayakan agar kau bisa naik ke atas,"

"Tak perlu lama lama, balikkanlah tubuh Louw Eng kepadaku, aku segera bisa naik ke atas."

Kiranya Gwat Hee sudah memikir untuk naik ke atas dengan cara menarik lengan musuh dan berjungkir ke atas, tapi ia takut musuh menurunkan lengan jahat, kalau mukanya menghadap pada dirinya. Kie Sau menurut, tubuh Louw Eng yang tidak berdaya dibalikkan menurut kehendak muridnya. Gwat Hee mencelat memegang nadi di lengan lawan, sedangkan tubuhnya segera membal dengan gerakan ringannya, dengan ringan badannya sampai di atas. Orang orang yang berada di atas hanya menampak ia mencelos ke luar dari selanglah tebing, segera menyambutnya sambil mengulurkan lengan. Sesampainya di atas dengan geram ia membuka mulutnya

Bangsat ini banyak sekali akal bulusnya, ingin hatiku mencungkil hatinya guna kulihat sebenarnya berbentuk. bagaimana!

Sementara ini Louw Eng yang sudah mati kutu, diam tidak bergerak dan tidak berkata kata barang sepatah. Waktu tubuhnya diperhina dan diinjak Gwat Hoe sebagai tangga, ia tidak melakukan perlawanan. membiarkan lawannya mencapai tujuannya dengan selamat. Ia sudah

mempunyai sesuatu rencana dan pendapat, sekali-kali tidak berniat untuk memancing amarah lawannya yang demikian banyak.

Begitu Tjiu Piau melihat Gwat Hee tidak kurang suatu apa, segera menoleh pada Louw Eng sambil membentak:

"Louw Eng. katakanlah lekas di mana kau mencelakakan ayahku!"

Louw Eng tidak menjawab, tetap membungkam. "Tjiu Piau membentak lagi dengan sengit. Louw Eng

tetap tidak membuka mulutnya. Tjiu Piau membentak sebali lagi: "Kalau kau tidak berkata, mutiara emas ini tidak sungkan sungkan lagi untuk menamatkan riwayatmu!" Louw Eng tetap tidak menjawab.

"Awas dengan mutiara ini!" Bertak Tjiu piau dengan tiba tiba. serentak melepaskannya di depan matanya sang persakitan. "inginkah kau mengecap lagi rasanya mutiara ini?"

Louw Eng merapatkan matanya, sedangkan mulutnya tetap tidak menjawab. Orang yang semacam Louw Eng ini semakin dirinya berada di dalam bahaya, akal gilanya semakin banyak. Saat ini kelakuannya demikian tenang, ia tahu kalau selesai bertanya segera bakal mati. Sebab ini ia terus memelihara semangatnya untuk mencari ketika lagi guna meloloskan diri.

Thian Hong sudah tidak sabaran lagi, dengan belakang pedang, dada sang jahanam dipukul sekali, ia membentak: "Kalau kau tetap membungkam, pedang ini segera akan membelah dadamu!"

Louw Eng merasakan dadanya sakit, tapi tetap membungkam, ia berpikir. "Kalau bocah ini benar benar mau mengambil jiwaku, tentu ia menabas dengan mata pedang yang tajam dan tidak dengan belakang pedang untuk menggertak orang! Hemm kalau aku terus membungkam kalian bisa apa!"

Waktu ia berpikir, tiba tiba semacam perasaan dingin menyerang ulu hatinya. Matanya dibuka sedikit, tampak olehnya Djin Liong dengan pedangnya tengah menggeret geretkan pedangnya di depan dadanya, tiba tiba pedang itu seperti lidah ular, terjulur dan tertarik "brekkk" menggores didadanya sehingga membuat bajunya pecah, sedangkan kulit dagingnya sedikit juga tidak menderita luka. Dari caranya ini dapat dimengerti bahwa putera Wan Tie No dapat melakukan suatu serangan dan dapat mengendalikannya dengan tepat. 

Djin Liong membuka baju orang, bulu dada yang lebat memenuhi sekujur badan bagian muka dari Louw Eng.

Pedang yang luar biasa tajamnya diletakkan di depan bulu bulu yang lebat : "Louw Eng! Kalau kau tetap tidak bicara dadamu ini akan ku belek perlahan lahan. Sekali-kali tidak ku perbuat untuk menusuk dari punggungmu!"

Habis berkata pedang itu dikebas Kebaskan di depan dada orang, membuat beberapa bulu dada yang lebat berhamburan putus!

Kalau bukan orang yang luar biasa licinnya, dalam keadaan yang demikian macam pasti tiga dari tujuh sin hun (ruh) sudah hilang entah ke mana, tapi Louw Eng bukan sembarangan orang ia tetap membisu dan merapatkan matanya lagi Di balik lain Tju Hong menjadi tertegun menampak sesuatu benda di dada lawan, benda ini menimbulkan kecurigaan besar dalam sanubarinya.

Semakin dipikir semakin tidak benar, dengan cepat kakinya melangkah dan meminggirkan sekalian yang lain, lengannya menarik Djin Liong sambil berkata:

"Keponakanku yang baik. sabarlah sebentar, aku mempunyai pertanyaan padanya!" Tubuhnya segera membungkuk, membuka baju Louw Eng sambil mengamat amati dengan seksama. Terlihatlah tattoo (cacahan tinta) dari seekor burung yang besar. Tju Hong mengetahui bahwa burung itu bukan elang, melainkan Tiau (garuda) dalam sekejap saja ia sudah dapat memikir sesuatu, tiba- tiba lengannya memegang dada orang yang penuh dengan bulu bulu, bentakannya menyusul keluar: "Bangsat! Kau bukan Louw Eng! Kau siapa.! Lekas katakan."

Bentakannya ini benar benar membuat Louw Eng terkejut secara wajar. Matanya terbuka, tampak olehnya mata merah dan Tju Hong menatap pada dirinya, sedangkan yang lain menunjukkan paras heran dan bingung, karena tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.

Louw Eng menutupkan lagi matanya, pikirannya ditenangkannya untuk memberikan sematu jawaban.

Tiba tiba mudanya merasakan semacam tetesan air yang dingin ah, kiranya hujan sudah datang, sekejap saja pikiran untuk hidup memenuhi lagi jiwanya., Biar bagaimana jalan yang terbaik mereKa dapat melepaskan dirinya untuk tidaK mati. Sesudah ia mengambil Ketetapan yang mutlak, mulutnya berkata. "Memang aku bukan Louw Eng, kalian sungguh lihay sehingga mengetahui hal ini!" Kata-katanya ditutup dengan tarikan napas yang benar benar menyedihkan, keluh kesan ini agaknya benar benar ke luar dari lubuk hatinya.

Tanya jawab yang singkat antara Tju Hong dan Louw Eng membuat para pendengarnya menjadi kaget. Terkecuali dan Tju Hong dan Louw Eng palsu yang lain tidak mengetahui sebab sebabnya.

Ibu Tjiu Piau dengan suara gemetar segera berkata: "Bagaimana? Ia bukan Louw Eng? Setengah mati kita mengalami penderitaan menantikan hari ini, baru bisa mengetahui keadaan sekarang kiraku segala sakit hati negara dan pribadi Sudah dapat dibalas, tapi binatang ini bukan Louw Eng?"

Hoa San Kie Saupun lekas lekas campur biara '"Sah tee, sebenarnya apa yang sudah terjadi?"

Tju Hong seperti tidak mendengar perkataan mereka, dirinya masih tetap berpikir dengan tenang untuk memecahkan suatu rahasia yang terpendam. Semakin berpikir tampak wajahnya semakin gusar, mukanya menjadi pucat lesi. giginya bekertakan. matanya menunjukkan kebencian yang lebih hebat dari tadi tadi, tiba-tiba lima jarinya terjulur ke luar. sambil membentak dengan kasar. "Bangsat! Ingin hatiku mencungkil hatimu, untuk melampiaskan sakit hatiku' Kiranya kau bukan Sie tee ku. kau pasti sudah mencelakakan Sie teeku. kemudian mencelakakan tiga saudaraku!"

"Empat saudara angkatku, semua sudah kau celakakan secara keji!" Suara gemetar terlalu dikendalikan oleh perasaannya, kerongkongannya kering dan tidak dapat melanjutkan lagi kata katanya. Sesudah berdiam sejenak, baru ia menoleh kepada ibu Tjiu Piau. "Djie so bangkit, bangsat ini bukan Louw Eng! Kejahatannya yang diperbuat, di banding dengan yang kita ketahui entah berapa total banyaknya!"

Maka sekalian orang banyak, menunjukkan keheranan yang semakin menjadi jadi sesudah mendengar perkataan Tju Hong. ia tahu banwa perkataannya diucapKan terlalu beremosi sehingga tidak tegas didengar yang lain. la menyedot napas dalam dalam . sesudah beberapa kali menghirup, hatinya menjadi agak tenang, suaranya baru keluar lagi: "Kalian mungkin merasa bahwa kata kataKu agak tidak Keruan. betul tidak? ah, aku merasa menyesal tidak dapat menggunakan sepatah kata untuk menjelaskan, berbicara terburu buru berbalik membuat orang tidak mengerti.

Dengarkanlah penuturanKu, kami empat saudara angkat sangat akur situ sama lain. Pada suatu hari aku bersama Sie tee pergi pesiar. Saat itu tepat pada musim panas bawa udara sangat panas sekali membuat orang merasa gerah dan engap. Sesampainya di sebuah lembah dari bukit yang kecil, tiba tiba turun hujan besar seperti dituang tuang, di situ tidak terdapat rumah untuk dijadiKan tempat meneduh, tak ampun lagi baju kami menjadi basah kuyup. Sesudah hujan reda cuacapun menjadi terang tapi keadaan kami sudah seperti ayam kecebur dikecomberan. Saat itu Sie tee berkata, lebih baik kita jemur baju kita di atas pohon, untuk melewatkan waktu kita boleh mandi di sungai. Aku setuju dengan pendapatnya. Sesudah membuka baju, kami segera mandi dengan enaknya. Pada saat itulah aku melihat sesuatu benda, di dada Sie tee yakni tatto dari seekor burung Eng ( elang ) yang gagah. Hal itu pada masa itu adalah biasa sekali, tidak kira sekarang menjadi benda yang sangat penting."

Mendengar kata kata ini semua orang tanpa dirasa lagi memalingkan pandangannya kepada dada Louw Eng palsu. Mereka hanya melihat di dadanya jahanam itu tercocok burung garuda yang tengah membentangkan sayap.

Tju Hong melanjutkan penuturannya; "kami berdua duduk di tepian sungai sambil mengobrol. Aku bertanya kepadanya., bahwa burung elang yang dicacahkan didadanva itu sangat indah sekali. Sie-teeku dengan senang mengatakan bahwa mereka,menyuruh Ong Djie Ma Tju mentattoo elangnya itu. Ia mengatakan kalau mau mentattoo boleh pergi pada Ong Djie Mi Tju"! Dari pembicaraan itu. aku mengetahui bahwa Sie-tee menpunyai seorang kakak. Katanya kakaknya itu adalah seayah berlainan ibu, usianya berbeda dua tahun, akan wajahnya satu sama lain sangat bersamaan dan tak ubahnya seperti terlahir kembar. Kakaknya itu bernama Louw Tiau. dari itu di dadanya ditattoo seekor burung Tiau (garuda)."

Semua orang kembali memandang kepada Louw Eng palsu beberapa kali. hatinya masing masing berpikir "Kalau begini, binatang ini pasti Louw Tiau dan bukan Louw Eng. Tapi kenapa bisa bertukar semacam ini? Sungguh sukar untuk diselami."

"Mereka dua saudara tidak mempunyai kerukunan yang harmonis. Kakaknya itu sedari Kecil sudah gadungan dan tidak mempunyai pekerjaan yang baik, kemudian ia pergi ke Kwan Tong tanpa kabar cerita. Sedangkan sang adik adalah seorang yang baik dan sangat cinta pada negara, karenanya dapat menjadi saudara angkat kami." Tju Hong menyedot napas sejenak: "Sesudah mendengar perkataannya itu, sedikit juga aku tidak menaruh di dalam hati. dan melupakannya. Kemudian Sie tee mendapat kabar bahwa kakaknya menderita penyakit keras di Kwan Tong."

"Perhubungan saudara antara mereka biar bagaimana tetap tebal, karenanya ia pergi untuk menyambangi saudara tuanya. Hal ini tidak dapat kami rintangi.

Sekembalinya ia dari Kwan Tong. kami merasa ia sudah berubah demikian macam dan seperti berganti orang, Louw Eng mengatakan bahwa kakaknya sudah meninggal. Kira kami karena kematian saudaranya ia menderita kesedihan dan menjadi berubah. Siapa tahu rahasia ini baru sekarang dapat dibongkar Dapat dipastikan orang yang kembali dari Kwan Tong itu adalah Louw Tiau yang memalsu Louw Eng dan bercampur dengan kami untuk mengetahui sesuatu rahasia pergerakan di dalam tanah, bahkan jahanam ini berhasil membunuh Win toa Ko, dan dua saudara lain." Penuturannya sampai di sini, Tju Hong menoleh pada Louw Tjiau sambil membentak. "Hei bangsat, betul tidak!"

Louw Tiau memeramkan matanya terus sambil mendengari penuturan Tju Hong. Tapi perhatiannya tidak sebanyak orang lain atas kata kata itu. Sedangkan perhatian sepenuhnya dicurahkan untuk mencari daya guna menyelamatkan dirinya. Saat ini tetesan hujan sudah semakin terasa membasah di atas mukanya, ia sadar bahwa harapan untuk hidup terbentang lebar di hadapan mukanya. Kala Tju Hong membentaknya, ia baru menjawab dengan ayal ayalan "Segala kata katamu benar belaka!"

"Kalau begitu orang yang mencelakakan aku di Oey San itu engkau adanya, benarkah?"

"Perlu apa lagi diulang ulang pertanyaan itu. siang siang sudah kuakui!"

"Begitupun baik. tapi kau harus menerangkan dimana beradanya Louw Eng!"

Louw Tiau tersenyum tidak menjawab. Melihat ini Tju Hong menjadi gusar kembali, beberapa kali bentakannya kembali ke luar mendesak agar Louw Tiau menerangkan di mana keadaannya sang adik.

"Segala apa dapat kuterangkan dengan seterang terangnya asal kamu dapat melulusi sebuah permintaanku."

"Permintaan apa?"

"Aku tahu bahwa kalian biar bagaimana tidak akan mengampuni dosaku ini, akupun tidak memikir untuk hidup lagi, tapi berikanlah kelonggaran untuk aku menemui ajal dengan menerjunkan diri kedalam jurang!" kata Louw Tiau dengan serius sekali..

"Nyatanya engkau sudah mengetahui doSa yang sudah diperbuat itu sudah terlalu besar, sehingga tidak mengharap hidup lagi. Tapi mati ya mati, untuk apa memilih milih tempat!" kata Gwat Hee dengan dingin.

"Nona yang baik. kau sungguh baik bisa mencarikan aku tempat yang baik guna aku mati secara utuh!"

"Mengaco!"

"Kalian dapat membuat aku mati dengan penasaran, akupun dapat membuat kalian hidup seumur hidup dengan perasaan tidak tenteram!"

Semua pandangan diarahkan pada Hoa San Kie Sau, sebaliknya Kie Saupun memandang orang banyak, semuanya mengangguk anggukkan kepala, menandakan melulusi permintaan Louw Tiau.

"Baik, permintaanmu itu kami lulusi. katakanlah lekas bagaimana mulanya kau menyamar menjadi Louw Eng? Sedangkan Louw Eng kau apakan? Masih hidupkah atau sudah kau binasakan? Delapan belas tahun yang lalu bagaimana kau merencanakan untuk mematikan saudara saudara kami? Sedangkan Tjiu Djie ko di mana kau celakakan? . . . semuanya ini kuminta kau lekas lekas ceritakan. asal kau berani membohong, permintaanmu itu tidak akan kukabulkan!"

"Pasti kukatakan, tapi kamu tidak mengijinkan aku naik ke atas. aku tidak mau kena tipu! Kalau aku sudah menuturkan kalian akan menyukarkan diriku kembali!"

Kie Sau menggerakkan lengannya mengangkat dia ke atas dan membantingnya dengan keras: "Apa lagi. katakanlah!"

Louw Tiau menoleh ke kiri kanan, sekelilingnya berdiri lapisan musuh, ia tahu biar bagaimana rahasia harus dibongkar juga, kalau tidak kesulitan yang dihadapinya pasti sukar dilalui,

"Baiklah, segalanya akan kututurkan!" katanya sambil menghirup udara.

Dengan jelas Louw Tiauw menceritakan kejadian delapan belas tahun. Kiranya bahwa dirinya sejak kecil sudah tidak karuan, belakangan sesudah dewasa segera meninggalkan kampung halamannya mengembara ke daerah Kwan Tong.. dalam menempuh perjalanan hidup di rantau orang ia bertemu dengan Lo Kuay. Saat itu Hek Liong lo Kuay sudah menjadi budaknya bangsa Tjeng dengan kedudukan yang tinggi. Pertemuannya ini membuat mereka menjadi intim karena berpikiran dan bertujuan sama. Louw Tiau yang kemaruk akan kesenangan hidup, berniat keras untuk mendirikan jasa jasa terhadap pemerintah Bsan, dan itu tidak segan segan untuk mencelakakan sesama bangsanya asal saja dirinya menjadi senang.Ia memikir bahwa adiknya adalah seorang patriot bangsa yang memusuhi pemerintah penjajah dan mempunyai hubungan sangat luas di kalangan orang orang Kang ouw pencinta negara, dengan bertekad bulat menjadikan adiknya sebagai pancingan dikirimkannya surat kepada adiknya, mengatakan bahwa dirinya menderita sakit berat dan mengharapkan benar kedatangan sang adik. Louw Eng adalah seorang budiman, biar bagaimana tidak akurnya antara mereka, ia tetap sayang pada kakaknya, dengan menempuh bahaya yang besar ia pergi juga ke Kwan Tong mencari kakaknya. Pertemuan antara dua saudara ini menggirangkan hati masing-masing. Louw Tiau menceritakan bahwa dirinya sudah insyaf dan ingin mengikut jejak sang adik guna membela tanah air.

Tentu saja bal ini membuat yang menjadi adik girang sekali, tanpa curiga lagi. satu demi satu hal yang bersangkutan dengan penggerakan di bawah tanah dituturkan kepada kakaknya dengan jelas. Dari kata kata sang adik Louw Tiau mendapat tahu bahwa Ong Tie Gwan dan saudara saudara angkatnya adalah saudara angkat dari adiknya. Hal ini membuat hatinya girang dan timbul daya untuk menyamar menjadi adiknya guna memasuki daerah Tionggoan dan bercampur dengan Ong Tie Gwan, ditanyainya sesuatu yang mengenai paras dan keistimewaan, adat tabiat pengawakan dari Ong Tie Gwan, Tjiu Tjian Kin, Tju Hong dan lain-lain, kemudian pergi ke Tionggoan.

Sesampainya di tempat tujuan kebetulan sekali ia bertemu dengan Ong Tie Gwan yang mendapat surat undangan dari Wan Tie No guna mendaki Oey San pada malaman Tiong Tjiu, tanpa ragu-ragu ia pergi mengikut dengan mereka. Dan menggunakan ketika untuk mencelakakan Wan Tie No dan lain lain.

Louw Tiau selesai menceritakan sesuatu dengan singkat, tapi mengenai di mana ia mencelakakan dirinya Tjiu Tjian Kin dan di mana kediamannya Louw Eng tidak disebutkan.

Saat ini hujan sudah semakin besar. Air hujan sudah berkumpul dan merupakan mata air mengalir ke bawah gunung seperti air terjun. Louw Tiau berkata pada dirinya: "Saatnya sudah sampai!" Ia berontak dan menggunakan tenaga dalamnya untuk membuka semua jalan darahnya yang dikunci Kie Sau tadi. Matanya memandang keadaan situasi gunung, dirinya menghadap pada jalan terakhir untuk manusia, langkahnya diangkat setindak demi setindak.

Gwat Hee dan Tju Piau serentak mengeluarkan bentakan gusar; "Louw Tiau hentikan langkahmu!"

"Bangsat! Penuturanmu itu belum selesai!" kata Tju Hong sambil mengangkat tangan merintang di jalan.

"Kamu sudah mengatakan kalau segala sesuatu sudah habis kuceritakan, aku bebas untuk mencari tempat guna membuang diriku ke dalam jurang."

"Kami adalah jantan sejati, kalau sudah mengatakan putih tetap putih!" kata Kie Sau

"Kalau begitu baik,tapi kamu semua harus mundur sebanyak tiga tombak. Agar diriku darat memilih tempat kemitian secara bebas dan tenang."

"Jangan banyak ribut lagi, kami tidak mempunyai niat untuk mencelakakan dirimu secara menggelap! Katakanlah di manakau mencelakakan Tjiu Tjian Kin? Sedangkan Louw Eng di mana rimbanya?"

"Tempat di mana Tjiu Tjian Kin jatuh ialah di puncak Tian Tou sebelah selatan tepat di dekat pohon Siong yang delapan batang banyaknya. Carilah ke sana, pasti dapat kamu ketemukan tulang tulangnya."

"Dapatkah keteranganmu dipercaya?" tanya Tjiu Piau. "Orang yang akan mati, kata katanya selalu betul

belaka!"

Kie Sau berpikir: "Dalam hal ini agaknya Louw Tian menuturkan dengan betul dan jujur." Dari itu ia melanjutkan Dertanyaannya dengan tak sabar: "Louw Eng berada di mana?"

"Ia sudah meninggal!" Tiga patah itu membuat sekalian orang terkejut dibuatnya, lebih - lebih Tju Hong merasakan dadanya menjadi sesak sekali. Ia tak habis pikir saudara angkatnya semua menjadi korban dan mati konyol di tangan jahanam ini, sehingga tinggal ia seorang dirinya yang masih dapat hidup. Sesudah ia menenangkan diri, segera menanya:

"Karena apa ia meninggal?" "Makan racun!"

"Siapa yang mencelakakannya?" tanya Tju Hong semakin dongkol.

"Tak perlu ditanya lagi, tentu perbuatan diriKu!"

Tju Hong merasakan dadanya terbakar, dipandangnya bangsat yang dibenci itu. ingin hatinya menusuk dan tusuk dengan ratusan dan ribuan pedang agar sakit hatinya terbalas, tapi ia sudah menyanggupi sang jahanam mati membunuh diri. saat ini bagaimana pula ia tidak boleh turun tangan, Telinganya saat ini mendengar suara Louw Tiau yang bicara dengan Hoa San Kie Sau: "Kie Sau. semuanya sudah kukatakan!"

Kie Sau memandang sekalian orang, ia tahu mereka diliputi perasaan kesal dan geram, tapi biar bagaimana semuanya adalah bangsa satria yang pantang ingkar pada janji. Lengannya digoyangkan memberi tanda agar semuanya menepati janji dan memberikan kelonggaran pada sang jahanam untuk memilih tempat guna seumur hidup. Sekalian orang tidak membuka mulut semuanya mundur menjadi dua baris ke kiri dan kanan sejauh tiga tumbak.

Louw Tiau melangkahkan kakinya terus ke arah jalan terakhir untuk manusia', setiap ia melangkah setindak yang lain pun mengikuti maju selangkah, sekali kali tidak memberi kesempatan untuknya melarikan diri. Sesudah melewati beberapa belokan kecil, tibalah di suatu tebing yang menonjol seperti bukit kecil. Dari tempat yang tinggi ini terlihat. 'Tjoat Djin Tja Louw' (jalan terakhir bagi manusia), melihat ini Louw Tiau menghentikan kakinya dan memandangkan matanya ke sekeliling. Tampaklah di depan tebing mengalir air hujan yang merupakan selokan kecil dengan suara kerucukannya yang merdu, air ini tidak berapa banyak mungkin sesudah hujan saja baru berkumpul menjadi satu dan merupakan selokan. Diam- diam Louw Tiau menjadi senang :