-->

Pahlawan Harapan Jilid 14

Jilid 14

Yauw Tjian Su yang memperhatikan perkelahian ini menjadi malas melihat permainan pedang Louw Eng yang tidak keruan. Kalau dibanding dengan ilmu berlengan kosong ia dapat menggolongkan diri sekelas dengan Hoa San Kie Sau, bahkan ia bisa memperdalamnya kalau tidak banyak berpikir yang bukan bukan dalam bulan bulan belakangan ini. Tapi sesudah bersenjata pedang ilmunya segera menjadi biasa saja. padahal sejak mendapat pedang mustika itu ia sudah melatih ilmu pedang selama delapan belas tahun tapi tidak memperoleh kemajuan yang diharapkan. Kesemua ini disebabkan ia tidak mempelajari ilmu pedang secara rajin, hatinya selalu mengandalkan ketajamannya, terkecuali itu sudah menganggap dirinya lihay sekali. Memang dalam pandangan orang biasa ilmu pedangnya ini sudah luar biasa sekali tapi untuk mata Yauw Tjian Su menunjukkan dengan nyata kekurangan kekurangan yang menyolok sekali dan mudah untuk di kalahkan.

Orang tua ini berpikir: "Aku harus membantu Pek Hoo.

Tangannya meraup pasir sambil memandang terus perkelahian. Perlahan lahan lengannya itu mencentilkan butiran butiran pasir yang agak bssar pada kaki tangan Pek Hoo, secara otomatis kaki itu terangkat naik menendang pinggang lawan, sat ini memang di bagian pinggang itu tengah kosong, Louw Eng segera mengegos secepat mungkin ke sebelah kanan, tapi perutnya sebelah kanan secara tiba tiba telah kena ditendang lawan. Hal ini terjadi karena kaki kiri Pek Hoo sudah kena pasirnya Yauw Tjian Su kembali dan dapat menendang lagi. Dalam Waktu sekejap saja louw Eug menjadi kalang kabut dan berada di bawah angin, sehingga pertempuran ini dapat diramalkan siapa yang menang siapa yang kalah, Ia mencelat mundur sambil bersiul panjang Suara ini mendatangkan seseorang dan menjadikan suaiu pertarungan yang jarang terjadi di dunia Kang ouw pada jamannya ini.

Siulan panjang dari Louw Eng semata mata untuk minta bantuan pada Hak Liong Lo Kuay. Yauw Tjian Su segera mundur setindak menyembunyikan dirinya waktu mendengar suara orang masuk melewati tabir air terjun, matanya terbuka lebur dengan waspada untuk melihat sesuatu keadaan. Sedangkan hatinya diam diam merasa kuatir jjga, pikirnya kalau dua orang ini yang masuk untuk menangkap ibu Tjiu Piau sekalian anak muda belum tentu dapat menandinginya,

Hek Liong terdiam sesaat menatap Pek Hoo, sebaliknya dengan Louw Eng semangatnya menjadi terbangun, ia berseru girang: "Su siok orang ini berilmu luar biasa sebaiknya berhati hati!" Tengah ia bicara serangan lawan kembali sudah datang dan mendesaknya mundur.

Pada umumnya ilmu silat mempunyai jurus menyerang dan bertahan, tapi ilmu Pek Hoo lain dari yang lain melulu menyerang dan tidak menghiraukan penjagaan diri.

Loaw Eng tidak berani sembarangan merangsak musuh iya yang sudah nekad dan bertekad untuk mengadu jiwa. ia tak sudi mati bersama sama, karena hatinya masih ingin hidup terus untuk menikmati keindahan dunia! Tak heran kalau semakin lama kedudukannya semakin berada di bawah angin lebih lebih sesudah Pek Hoo mendapat bantuan dari Yauw Tjian Su dapat dikatakan perlawanannya sudah patah sama sekali.

Sesudah Hek Liong memperhatikan pertarungan mereka sebanyak lima enam jurus segera mengetahui ilmu yang digunakan sirase, yakni mengambil dan mengumpulkan ilmu serangan dari berbagai golongan cabang ilmu silat.

Serangan lengannya serabutan dan lihay sekali, tapi kakinya tidak selihay tangan. Kesalahan dan kekurangannya masih baryak sekali sehingga ilmunya ini belum dapat dikatakan sempurna.

"Louw Eng," kata LoKuay, "mau ditangkap hidup atau mati?"

Louw Eng berpikir, bahwa Pek Hoo sudah tidak ada gunanya untuk dirinya. Dari itu ia berkata: "Aku tidak ingin ia hidup!" 'Baik, tunggu kuhajar! Selanjutnya kau yang membereskan!"

Pek Hoo tidak menghiraukan tanya jawab antara mereka, seluruh perhatiannya berpusat menyerang lawan. Kedua pedang Louw Eng terangkat berbareng masing masing menyerang ke dua bahu musuhnya dengan maksud memapasnya ke atas membuat pangkal lengan lawan menjadi putus. Pek Hoo sedikitpun tidak merasa gentar, kedua lengannya terangkat merupakan huruf X sedangkan kakinya ditekuk dengan ilmu Han Kee Po ( langkah ayam kedinginan ) menantikan pedang. Begitu serangan sampai lengannya terbentang ke kiri dan kanan mengebas pedang dengan lengannya yang luar biasa alot, sedangkan kepalanya di tekuk menyeruduk ke dada lawan. Louw Eng ingin menangkis serangan tapi batal, ia balik pikir hal ini bukan main-main, kalau dada itu kena kepala musuh yang keras seperti besi apakah jiwanya masih bisa hidup? Celaka! Tubuhnya segera dimelaikan ke belakang. Tak kira ia dapat mempelajari ilmu menekuk tulang dari Lo Kuay dengan baik. Tapi dengan berbuat begitu pinggangnya menjadi kosong tak ada penjagaan, sedangkan Pek Hoo menyeruduk dengan setakar tenaga, kini menubruk angin kosong sehingga tubuhnya tidak sempat dikuasai lagi terus menggemblok di perut lawan. Saat ini Low Eng bukan main tenangnya, tenaga dalamnya dikumpulkan di atas perutnya dan menolak tubuh lawan, tak ampun lagi musuhnya kena dibikin terpental sejauh satu tumbak lebih. Louw Eng tidak menduga bahwa kepandaiannya demikian lihay! Sebaliknya dengan Yauw Tjian Su sudah melihat dengan tegas apa yang terjadi di situ. Pek Hoo bisa terpental karena lengan Lo Kuay sudah maju dan meraba pinggang Louw Eng untuk meminjamkan tenaganya. Kalau tidak paling paling Louw Eng hanya bisa membuat lawan jungkir balik saja.

Pek Hoo menggeliat di atas udara, matanya tidak mencari tempat untuk hinggap melainkan menatap terus pada musuhnya. Tubuhnya dengan cepat jatuh di samping lawan sambil membarengi menyerang dengan tiga pukulan ampuhnya. Louw Eng mengegoskan kepalanya menghindarkan pukulan pertama. Malang baginya pukulan ke dua sudah bersarung di bahu kanannya menyusul dengan serangan musuh yang ke tiga yang telah mengenai pinggangnya, tanpa dapat dicegah.

Louw Eng merasakan tubuhnya kaku tidak sakit tidak gatal. Hatinya berpikir: "Wah. Celaka! Pukulan dari rase ini dapat menembus dinding batu, sekali ini mungkin tulang tulangku sudah menjadi hancur berantakan?" Tengah ia termenung tiba tiba punggungnya dirasakan panas sekali seperti api, kemudian hawa panas ini seperti suatu gaya tekan dari telapak tangan orang. Ia sadar dengan segera bahwa Lo Kuay sudah berada di samping tubuhnya dan membantunya. Dengan begini ia sendiri terhindar dari luka yang hebat? Tangannya cepat-cepat meraba dengan keras di tempat kena pukulan, benar saja tidak apa apa, karenanya ia menjadi tenang. Sebenarnya apa yang terjadi?. Waktu kedua tangan Pek Hoo bersarang di tubuh lawannya, Hek Liong Lo Kuay sudah berada di punggung Louw Eng sambil menempelkan lengannya mengeluarkan tenaga yang tembus dari punggung keponakan muridnya menyambut serangan Pek Hoo. Ilmunya lebih tinggi beberapa lipat dari Pek Hoo. tak heran kalau pukulan si rase kena dipecahkan secara mudah dan tidak dapat melukakan Louw Eng.

Saat ini Lo Kuay tertawa dengan nyaring: "Apakah kau kaget? Tenanglah tidak apa-apa. Lekaslah kau mundur agar kudapat menghajarnya secara leluasa!" Baru habs ia bicara kembali terdengar suara 'pung . . . pung' di bawah tebing. Entah bagaimana Lo Kuav sudah membuat Pek Hoo jatuh ke bawah, untuk menolong dirinya sang rase menancapkan kedua lengannya silih berganti di dinding tebing sehingga menimbulkan suara yang seperti di atas. Lo Kuay cukup berpengalaman dan tahu bahwa rase ini mempunyai ilmu untuk naik kembali, dari itu dinantikannya lawan naik, kemudian sambil mencelat ke belakang sejauh satu tumbak. Pek Hoo berdiri dengan tenang, sedangkan Lo Kuay memainkan tangannya seperti orang menari, gayanya sungguh mengherankan dan aneh sekali sesudah itu dari jarak satu tumbak ini ia melepaskan pukulannya. Mau San Pek Hao sudah lama mendengar nama besar dari Hak Liong Lo Kuay, tapi sebegitu jauh belum pernah San melihat Lo Kuay beberapa kali, terkecuali itu ia melihat Lojw Eng dan lain lain orang berilmu sangat menghormat pada Lo Kuay, tersebab hal ini hatinya mempunyai rasa segan dan takut. Siat ini secara kebetulan ia harus menghadapi orang yang ditakuti, sehingga batinnya tidak tenang dan goncang tertindih sesuatu tenaga gaib yang tidak terlihat mata. Kini LoKuay menggerakkan kaki tangannya mengeluarkan semacam tarian yang luar biasa anehnya dari jarak satu tumbak lebih, sehingga Pek Hoo merasa takut. Ingin matanya tidak melihat, aneh sekali matanya tidak dengar kata terus saja melihatnya. Lo Kuay mengangkat lengannya menunjuk ke langit. Pek Hoo pun mengangkat lengannya menunjuk ke langit. Lo Kuay membuat suatu lingkaran bulat di muka dadanya dengan kedua lengannya kemudian diiringi suara"cit—cit” lengannya terpecah menunjuk kekanan dan ke Kiri, hal ini membuat, lawannya tidak keruan rasa dan hilang semangat.

Selanjutnya Lo Kuay mencengkeramkan, kedua lengannya ke dalam udara, cengkeraman ini demikian hebatnya dan ganas sampai Pek Hoo terkejut dibuatnya dan merasakan hatinya seperti kena dicengkeram lawan.

Semakin lama cengkeramannya itu dari Lo Kuay semakin keras dan dipusatkan di tengah tengah dada, kemudian dibuka telapak tangannya ke arah langit sambil di gerak gerakkan ke atas ke bawah seperti memainkan sebutir mutiara yang bulat, selanjutnya diangkatnya tinggi tinggi dan di dekatkan kepada alisnya kedua lengan itu perlahan lahan dibukanya.

Akibat dari kelakuannya yang luar biasa ini membuat kedua mata Pek Hoo kena gaya tarik lawan, begitu sepasang mata bentrok lagi, ia tidak dapat bergerak. Dalam jiwanya ia merasakan bahwa mata dari Lo Kuay tidak ubahnya seperti iblis yang jahat tengah mengeluarkan jimat untuk menangkapnya. Perlahan lahan ia merasakan sekujur badannya melayang layang dan gelisah.. "Lihat! Pukulan!'* seru Lo Kuay secara tiba tiba seperti geledek membelah bumi kerasnya, sedangkan lengannya terangkat naik dan dilepaskan. Pek Hoo merasakan dan melihat dari tengah-tengah alis muSuh mendatang pukulan terbang dengan ganas menuju kepadanya, Walaupun jaraknya sejauh Satu tumbak rasanya cukup keras sekali. Dalam gugupnya sang tubuh bergoyang goyang sebanyak beberapa kali dan tidak dapat berdiri dengan baik, ia terjengkarg kebelakang seperti benar benar kena pukulan yang keras.

Begitu Pek Hoo jatuh ke belakang segera disambut oleh Louw Eng dengan dua tabasan sepasang pedang mustikanya. Kasihan sekali akan nasib sirase putih, mentah mentah kedua pangkal lengannya kena ditabas putus dalam keadaan lupa ingat! Dengan tenaga yang terakhir Pek H30 menyeruduk lawannya sambil membentak: "Louw Eng! marilah kita sama sama menghadap pada Giam Lo Ong!" Tapi maksudnya mana bisa tecapai karena Louw Eng siang siang sudah siap sedia, begitu serudukan maut datang ia mengegos ke kiri sambil membalas menyerang Pek Hoo tak dapat berbuat apa apa, tubuhnya menggelinding ke bawah gunug berbenturan dengan batu cadas yang tajam dan menemui ajal secara penasaran.

“Cek. . . kek," Lo Kuay tertawa secara puas sekali. "Terima kasih banyak atas bantuan Su siok. ilmu Pek

Kong Keng yang berhasil menamatkan riwayat Pek Hoo sungguh luar biasa," kata Louw Eng sambil membungkuk- kan badannya.

''Wah, sungguh Pek Kong Keng (ilmu memukul udara kosong) yang lihay sekali! Hemmm Pek Kong Keng! Ilmu untuk menipu oiang melulu!" Suara ini terdengar secara mendadak dan bernada menghina. Lo Kuay segera menoleh, tampak olehnya seorang tua dengan wajah yang tidak menakutkan sama sekali, Yatw Tjian Su.

Lo Kuay dan Louw Eag menjidi kaget sekali. Mereka tidak memikir barang sedikit bahwa orang tua ini bisa membaiboknya di sini, ia menduga bahwa orang tua ini dapat mengikuti masuk ke dalam goa tanpa dirasa tentu ilmunya jauh melebihinya !

"Lo Yauw Tauw apakah kau datang untuk merasakan ilmu Pek Kong Keng?"

"Betul, ke luarkanlah sekarang juga ilmu itu, kalau dapat membuat sehelai dari bulu romaku tergoyang sudah berarti kau menang, aku segera turun dari Oey San untuk selama lamanya"

Lo Kuay menjadi naik darah dan gusar, peitama Lo Yauw Tauw dapat membuntutinya tanpa diketahui sehingga ia membuang muka dan malu di hadapan keponakan muridnya, kedua karena merasa dihina, sehingga hatinya ingin mengeluarkan ilmu andalannya yang terahasia dan dapat menjagoi yakni Pek Kong Keng.

"Lo Yauw Tauw. kau jangan menyesal! Sekali lenganku terangkat jiwamu pasti berada di akhirat, sehingga aku harus menyembahyangkan arwahmu pada tahun depan pada waktu yang sama!" Kata kata baru selesai diucapkan, kaki tangannya sudah mulai mengeluarkan tartan aneh, tarian ini berlainannya sewaktu ia menghadapi Pek Hoo, gerak geriknya lebih cepat dan lebih banyak perubahan dari pada yang sudah. Akhirnya tariannya ini berubah menjadi cepat, lincah, perlahan, lambat seperti mengikuti nada irama tari. Hal yang aneh, Louw Eng yang melihati terus turut menari nari seperti kesurupan tanpa sadarkan diri.

Gerak gerik dari Lo Kuay semakin lama semakin menggila dan menjadi tegang. Sebaliknya dengan Lo Yauw Tauw tidak merasakan sesuatu apa apa matanya kedap- kedip sambil menatapnya tanpa bergerak gerak. Tiba tiba Lo Kuay menggerang keras sambil mendorong kedua telapak tangannya mengeluarkan jurus Pek Kong Keng.

Dorongan ini mengeluarkan tenaga yang luar biasa sekali sampai Louw Eng yang bertda di belakangnya merasakan tertekan tapi gaya pukulannya ini tidak membuat bergerak barang sedikit pada musuhnya.

"Ha, ilmu macam apa ini! Lihatlah sampai ujung bajuku tidak bergerak barang sedikit," ejek Yauw Tjian Su sambil tersenyum senyum.

"Lo Yauw Tauw kalau kau benar benar lihay terimalah sekali lagi Pek Kong Keng!" bentak Lo Huay penasaran.

"Jangankan sekali, seberapa kau suka tidak halangan!"

Tanpa banyak ribut lagi, Lo Kuay kemak kemik 'nana nimh' entah menyanyikan lagu apa. Nada suaranya ini bukan main anehnya, membuat si pendengar menjadi hilang pikiran dan merasa mabuk. Menyusul kaki tangannya menari lagi dengan lambat sekali.. Lengan kanannya menjurus pada musuhnya dengan perlahan dengan tenaga yang keras.

"Ha ha ha," Lo Yauw tertawa, "kau sedang berbuat apa? Persetan!" tangannya mengeluarkan .jari telunjuk menunjuk pada dada musuh sambil berkata: "Kaupun harus merasakan ilmu Tauw Kong Tjie (ilmu jeriji menembus udara kosong) ini!"

Lo Kuay mengeluarkan tangan secara, lambat tapi berat, sebaliknya dengan musuhnya mengeluarkan tangan secara ringan tapi, cepat. Dengan sebuah jeriji yang cepat ini, cukup membuat Lo Kuay merasa terkejut dan melompat ke belakang sambil melindungi, dadanya dengan gugup. Kedua matanya, mengawasi musuh, ia- tidak mengira bahwa lawannya ini mempunyai ilmu hitam yang, luar biasa lihaynya, di balik hatinya yang ragu ragu atas perkiraannya iapun merasa kaget.

Dalam dunia persilatan sangat terkenal sekali ilmu Pek Kong Keng yang dipertujukkan Lo Kuay tadi, ilmu ini dapat memukul orang dari jarak satu tumbak lebih, buktinya Pek Hoo dapat memukul jatuh seperti yang sudah kita ketahui. Tapi ilmu ini sebenarnya benar benar begitukah? Ya memang ada, tapi bukan disebabkan ilmu pukulannya benar benar dapat memukul udara kosong dan menjatuhkan orang. Yang sebenarnya adalah ilmu hipnotis yang di katakan orang jaman sekarang.

Kalau kita sangat menghormat dan menyegani seseorang yang berilmu tinggi tambahan orang itu mempunyai ilmu hipnotis yang lihav dengan sendirinya mudah sekali dipengaruhinya. segala perintahnya segera di turut, sebaliknya kalau orang yang di hipnotis berilmu tinggi dan tidak menakutinya, ilmu ini tak bisa berbuat apa apa!

Demikianlah Yauw Tjiau Su yang mempunyai ilmu dan pengetahuan luas sudah mengetahui ilmu dari lawannya yang disebut Pek Kong Keng adalah kosong belaka, segera dirinya tidak kena dipengaruhi musuh sebaliknya jerijinya yang dikeluarkan secara memain menghasilkan kemenangan yang di luar dugaannya sendiri! Kenapa hal ini bisa terjadi? Kiranya pengertian orang zaman dahulu terhadap ilmu hipnotis tidak seperi orang jaman sekarang, mereka hanya mempelajari turun temurun, bagaimana menggunakannya dan bagaimana mendapat hasilnya. Lo Koay adalah salah seorang yang percaya betul adanya ilmu Pek Kong Keng, terkecuali itu ilmunya ini belum pernah gagal, sehingga menjadi andalannya betul.

Terkecuali dari itu ia tidak mengerti bahwa orang orang yang kena dikalahkan oleh ilmunya sebenarnya dikarenakan ilmunya yang memang sudah tinggi dan kedudukannya di dunia persilatan sangat disegani orang, sehingga yang menghadapinya belum belum sudah merasa takut. Tak heran setiap ia mengeluarkan Pek Kong Keng selalu berhasil dengan gemilang. Demikian pula dengan Pek Hoo barusan tidaK. terkecuali, yakni mengantarkan jiwanya di bawah telapak tangan kosong belaka.

Tapi ilmunya ini sama sekali tidak manjur dan bermanfaat sama sekali terhadap Yauw Tjian Si, karena lawannya ini berkepandaian dan berkedudukan tidak berada di sebelah bawahnya serta tidak merasa jeri pada dirinya.

Tak heran tabasan dari ilmu Pek Kong Kengnya tidak membawa hasil yang diinginkan. Bahkan lawannya masih berkesempatan untuk membalas menyerang dengan jarinya secara bergurau!

Saat itu pikiran Lo Kuay tengah dicurahkan betul, tiba - tiba dikejutkan oleh jari lawan sehingga perhatiannya buyar, berikutnya dadanya merasa sakit, dengan cepat lengannya membekap dada dan mundur beberapa tindak ke belakang. Louw Eng yang berada di samping lebih lebih merasa terkejut, karena sejak ia hidup belum pernah melihat Lo Kuay kalah di tangan lawan, tapi sekarang dengan mata kepalanya sendiri harus melihat paman gurunya ini kena di bikin mundur beberapa tindak dengan sebuah jeriji saja secara mengecewakan. Ia lekas-lekas maju ke muka untuk menayang paman gurunya.

Begitu kena dipayang orang Lo Kuay segera sadar secara tiba-tiba, pikirnya aku mana boleh kalah di depan muka segala bangsa boan-pwee! Lengannya digebaskan, kakinya melangkah maju, dengan gusar ia membentak: "Lo Yauw Tauw jalan hidup atau pintu kematian!" 

"Jalan hidup bagaimana? Pintu mati bagaimana?" tanya Yauw Tjian Su secara tenang.

"Kalau mau hidup boleh kuantarkan kau turun gunung, mengenai alasannya jangan kau tanya! Kalau mau mati. mari kita cari suatu tempat yang baik. untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita ! Sebaliknya kau harus pikir bahwa kita ini sudah tua sekali, dari itu kunasehatkan kepadamu untuk apa masih berangasan seperti anak muda, marilah kuantarkan kau turun gunung dan hilangkanlah dan lupakanlah segala kejadian yang sudah sudah sebagai impian saja!"

Mendengar ini Yiuw Tjian Su menjadi geli di dalam hatinya, karena ia sudah mengetahui benar perhitungan lawan, kesatu memancingnya turun gunung, agar Louw Eng dapat membereskan kawan kawannya di atas gunung, kedua lawan ingin menipunya turun gunung, karena di luar goa banyak kawan kawannya andaikata terjadi pertarungan pasti dirinya ak?n dikeroyok dan berada di bawah angin.

Dari itu mana mau ia mendengari pendapat lawan, kareaa ia pun mempunyai perhitungan sendiri, yakni dengan menunjuki diri ia bermaksud melihat Lo Kuay jangan sampai dapat masuK dan membantu Louw Eng. Terkecuali itu ia pua tidak mau berkelahi di tempat lain, takut mendatangkan musuh musuh yang lain sehingga rencananya gagal, Sesudah perhitungannya dipikir secara masak masak segera ia berkata. "Lo Kuay! Aku tidak mau mengambil jalan hidup juga tidak mau mengambil pintu sorga, pokoknya aku mau diam di sini untuk menemani kau main-main, katakanlah permainan apa yang kau kehendaki aku siap melayaninya!"

"Lo Yauw Tauw aku tahu kau ingin bertarung denganku! Begitupun baik, karena pada jaman ini hanya kaulah yang dapat menandingi aku, kesempatan yang begini baik tentu saja tak mau kulepaskan begitu saja. Marilah dan mulailah dengan serangan mu!"

"Ya, aku tak sungkan lagi. terimalah seranganku ini!" seru Yauw Tjian Su sambil mencelat dengan gesitnya, hanya dua langkah tubuhnya sudah berada di depan Lo Kuay, lengannya terjulur ke luar mengeluarkan ilmu pukulan Kam Kun Tjiang (pukulan langit dan bumi) yang luar biasa ganas, dan telengas. dalam waktu dalam setarik an napas saja orang tua she Yauw ini sudah mengeluarkan jurus jurus Tiat Be Siang Kauw (kuda besi dengan sepasang gaetan.)

Tjuan Hoa Siauw Houw (menyunting bunga mencekik tenggorokan) Hek Houw Siang Sim (harimau hitam melukai hati)

Mang Tjua Touw Tjian ( ular berbisa menyemburkan racun). Lee Hie Kauw Sauw (ikan gabus memainkan sungut

) Huy Tiong Po Guat (merangkul bulan ke dalam dada dan lain lain, Louw Eng mengenal bahwa pukulan ini adalah ilmu Bu Tong yang di sebut Pak Kwa Tjiang. Sebenarnya ilmu ini adalah biasa dan tidak aneh sama sekali, tapi terlihatnya lain dengan ilmu yang biasa dipergunakan orang. Karena Yauw Tjian Su mempergunakan dan mengeluarkan ilmunya ini secara kilat, demikian juga dengsn Lo Kuay menghalau serangan serangan ini dengan cepat pula. Gelombang pukulan ini terdiri dari lima enam puluh jurus, kalau orang yang berkepandaian biasa menggunakan waktu sepemasang hio baru dapat untuk memainkan habis jurus- jurus ini, tapi orang tua ini dapat menyelesaikan hanya dalam sekejap mata.

Begitu Yauw Tjian Si selesai menggunakan ilmu Bu Tong Kam Kun Pat Kwa Tjiang segera berkata: "Kau lihay juga sehingga tidak kena kuserang, kini giliranmu untuk menyerangku, mulailah!"

Lo Kuay tidak banyak mulut lagi segera menyerang dengan ilmu Pee Bwee Kun (pukulan seratus bunga Bwee) ilmu ini pun sangat biasa dan dikenal Lou Eng dengan baik. Lo Kuay mengeluarkan jurus ini cepat dan lihay seperti lawannya sehingga membuat mata yang menonton menjadi berkunang kunang. Yauw Tjian Su menolak dan menangkis setiap serangan dengan cepat tanpa ragu ragu. dalam sekejap saja ilmu ini selesai dipergunakan tanpa berhasil.

Sehingga keadaan masih tetap sama kuat.

"Kini giliranku kembali, Lo Kuay apakah kau kenal dengan ilmu ini!" seru Yauw Tjian Seu sambil mengeluarkan lengan seperti Kilat cepatnya, akan ilmunya yang dikeluarkan ini Louw Eng mengenal pula yakni pukulan dari Go Bie Pay yang diciptakan oleh Go Sian Ho Siang dengan nama Sauw In Hui Hong Kun (menyapu awan mengebut angin). Sekali ini kedua belah pihak mergeluarkan lengan terlebih cepat dari tadi, sehingga Louw Eng tidak dapat melihat dengan tegas perubahan jurus ke jurus lain. ilmu ini kembali selesai digunakan dalam sepeminum air, sedangkan jalan pertandingan masih tetap berimbang.

Pertarungan ini tidak ubahnya seperti dua ahli catur sedang bertanding, masing masing menggunakan bukan biasa, masing-masing tahu bagaimana harus berjalan kalau musuh menggunakan langkah yang mana hal ini dapat dilakukan mereka tanpa banyak pikir lagi dan akhirnya kedudukan masih tetap berimbang. Sebenarnya dalam langkah-langkah yang demikian banyak ini bertalian benar dengan kalah menangnya pertandingan asal saja salah seorang melakukan langkah yang salah. Tapi sebegitu jauh kedua orang ini tidak melakukan kesalahan kesalahan kalau tidak pasti salah seorang di antara mereka sudah sekarat beberapa kali!

Lo Kuay mendapat giliran untuk mengeluarkan ilmu Kuan Tang Hek Houw Kang (ilmu pukulan harimau hitam dari daerah Kuan Tang), ilmu ini tidak berapa terkenal untuk orang yang berdiam di Tiong Goan, tapi Lo Kuay dapat memainkannya sangat lihay dan mahir sekali, karena dirinya ini sudah lama tinggal di luar Tembok Raksasa.

Walaupun bagaimana Yauw Tjian Su adalah seorang Lo tjian pwee yang berilmu tinggi dan berpengalaman luas, dengan mudah serangan serangan lawan dapat dipatahkan.

Pertarungan terus berlangsung dengan hebat, dalam waktu yang singkat kembali empat macam ilmu selesai dipergunakan, yakni ilmu ilmu Hui Eng Sie Tjap Kauw Djiauw (elang terbang dengan empat puluh sembilan kukunya). Ngo Tok Kun (lima pukulan beracun) Tjit Tjee Sin Kun (pukulan tujuh dewa sakti). Bu Tiong Pee Tjua Kun (pukulan seratus ular tanpa berbekas). Gerak pukulan satu sama lain semakin ganas dan aneh. sewaktu waktu menjadi lambat sekali, sampai ada gerakan yang di hentikan setengah jalan, karena masing masing diam tidak bergerak, hal ini terjadi disebabkan salah satu dari mereka harus berpikir dahulu untuk memunahkan ilmu lawan, dalam waktu yang singkat tidak berani sembarangan bergerak, takut kalau salah bisa menamatkan riwayat sendiri.

Sesudah menunggu lawan dapat berpikir untuk menjaga baru pertarungan yang pakai setap setap dan istirahat mengakibatkan tubuh mereka makin merapat satu sama lain. Kecuali itu mereka sudah berusia lanjut, pertarungan ini meletihkan juga, tak heran kedua-duanya bermandikan peluh!

Semakin bertarung hati Yauw Tjan Su semakin cemas, ia berpikir: "Kalau pertarungan ini berlangsung Lama lama. bisa bisa kawan kawan mereka datang semua, kalau terjadi semacam begitu bukankah aku mengapirkan urusan?" la sadar pemuda pemuda yang berada di dalam semua terdiri dari manusia berbakat baik dan dapat dibanggakan, tapi ilmu kepandaiannya masih belum sampai di puncak kesempurnaan, pokoknya belum bisa melayani musuh musuh yang jumlah dan kepandaiannya melebihi mereka Oang tua ini menggigit gigit bibirnya sendiri dan menetapkan pendiriannya sambil berkata pada dirinya sendiri: "Orang tua, orang tua kau harus tahu anak anak muda itu dapat membalas hatinya dan dapat turun gunung dengan selamat semua mengandal dari bantuanmu, ke luarkanlah keahlianmu! Ilmu ciptaannya yang bernama Tjiu Pouw Kie Gie Tjiang sudah sampai pada saatnya untuk dikeluarkan!"

Adapun Tjit Pouw Kie Ge Tjiang diambil dari arti Seng Djin Kie Gie yang berarti kebajikan menjadikan kemuliaan. Sesudah orang tua ini bertekad bulat untuk mengadu tawanya, sebaliknya yang menjadi lawan sudah meneambil ketetapan untuk mengeluarkan keahliannya yang bernama Hek Liong TjaoSh Piau (Waga hitam tiga belas kali berubah) guna mengadu jiwa. Dapat dikatakan mereka mengambil keputusan ini dalam waktu yang bersamaan. Pada waktu yang menentukan kalah menang ini kedua duanya tidak sungkan sungkan lagi, masing-masing mengempos semangatnya, empat mata saling tatap berkilat kilat menyapu wajah lawannya, dari gerak matanya yang demikian menakutkan sudah menggambarkan pertarungan yang sengit. Tanpa terasa lagi suasana berubah secara mendadak menjadi demikian tegang, mereka belum menggerakkan tangan tapi sudah merasakan terlebih dahulu ancaman dari kematian, sampaipun Louw Eng yang berada di samping tertegun tidak berani sembarangan bergerak!

Lo Kuay mulai melangkah setindak. Yauw Tjian Su pun maju setindak Setiap tindak ini demikian berat dan lambat, agaknya setengah langkah dari kaki mereka berarti setengah langkah mendekati kematian, tipi sebenarnya memang demikian adanya. Kalau jago jago kelas berat bertanding, sedikitpun "tidak boleh salah bertindak, jarak jauh dan dekat sama pula artinya untuk menurunkan tangan berat dan ringan, karena hal ini membuat mereka berlaku hati hati sekali.

Mereka sudah semakin dekat satu dengan yang lain, kini kedua duanya melangkahkan kaki kanannya secara berbareng, sehingga menjadikan kedudukan mereka menjadi sejajar di garis lurus, antara mereka tinggal dua langkah lagi jaraknya. Kalau salah satu melangkah lagi atau berbareng melangkah, kedua belah pihak sudah boleh mengeluarkan pukulan pukulan dahsyat yang mematikan.

Tiba tiba secara mendadak Lo Kuay maju melangkah sambil menurunkan tangan terlebih dahulu. mencakar dan mencengkeram dada lawannya.

Kedua lenganrya ini dikeluarkan secara kilat, bahkan mengeluarkan buryi 'krek... krek" yang lebih mengherankan lengannya itu terjulur terlebih panjang dari biasa sesudah mengeluarkan bunyi yang aneh tadi. Terkecuali dari itu dada dan punggungnya dikerutkan menjadi satu dan sukar dibedakan yang mana dada dan mana punggung, mungkin juga tulangnya bergerak dan bertukaran tempat. Jurus yang lihay ini bernama Hek Liong Tan Djiauw ( naga hitam mengeluarkan cakarnya untuk mengetahui keadaan ), kalau diperhatikan geraknya ini tak ubahnya seperti lengan setan ke luar dari mega hitam mencabut nyawa. Kalau orang biasa pasti dadanya akan berlubang sepuluh dibuatnya dan patah oleh lengan Lo Kuay yang keras.

Serangan dari Lo Koay mengarah bagian tubuh dari lawan, berbareng dengan serangan Lo Kuay secara tiba tiba tadi, Yauw Tjian Su pun tidak tinggal diam, tubuhnya secara mendadak dipendekkan, kedua lengannya direntangkan sambil menindak setengah langkah dan menempatkan dirinya di tengah tengah dadanya musuh yang melengkung seperti gendewa itu. sedangkan lengannya segera dirapatkan dan menyerang lutut kaki lawan. Pikirlah! Orang berilmu semacam Yauw Tjian Su ini pukulannya tak ubahnya seperti gada besi kerasnya dan tajam seperti keris pusaka, kalau tepakannya berhasil baik, pasti tulang tulang kaki dari Lo Kuay akan hancur luluh berkeping keping!

Jurus dari kedua belan pihak ini mengandung daya kekuatan tersendiri, serangan Lo Kuay mengarah bagian berbahaya dari musuh, sebaliknya Yauw Tjian Su hanya menyerang bagian lutut dari lawannya, walaupun ganas tapi tidak sampai menewaskan lawan. Lo Kuay seolah olah merapung rapung waktu menggunakan ilmunya, sedangkan lawannya tetap mantap tidak bergerak, sambil melindungi dirinya. Kebaikan dari memantapkan diri terlebih dahulu banyak sekali, ke satu dapat melindungi diri dan dapat menyerang musuh kemudian. Tak heran kalau serangan Lo Kuay yang luar biasa ini ke luar, musuh sudah menetapkan darinya sambil merendahkan dirinya dan melindungi dirinya dengan kedua belah lengannya, bahkan masih berkesempatan memberikan serangan yang ganas kelutut lawan. Lo Kuay tidak dapat berbuat apa dengan serangannya, bahkan kena diserang.Tanpa banyak ribut lagi tubuhnya yang seperti gendewa cekungnya digeliatkan Kebelakang sambil berputar untuk mengangkat kakinya dari serangan, untuk menyiapkan serangan yang kedua yang bernama Hek Liong Pay Wie (naga hitam menggoyangkan ekor).

Yauw Tjian Su bukan anak kemarin duiu, begitu melihat musuh menggeliat ke belakang segera mengubah tujuan lengannya, ia tidak menyerang lutut lawan, sebaliknya tubuhnya yang dipendekkan segera bangun tegak menjorok ke muka. Lengannya tidak tinggal diam dengan cepat Tan Hong liauw Yang (cendrawasih tunggal menghadap pada batara surya ) ke luar, lengan kanannya melindungi tubuh sedangkan lengan kirinya dari pinggang terjulur ke luar secara mendadak, dan cepat, serta dilengkapi dua jerujinya menotok bagian perut musuh. GeraK langkahnya yang cepat ini semata mata diambil untuk melumpuhkan seterunya yang selalu ingin mendahuluinya bergerak.

Ilmu dari Yauw Tjian Su yang bernama Tjit Pouw Kie Gie Tjiang sungguh luar biasa sekali, mengegos menyerang secara mantap, kecepatannya bertambah setindak demi setindak. Langkah pertama yang di ke luarkan bernama It Pouw Kim Sin Sian (selangkah mencandak dewi) cukup berhasil mengekang dan mengunci musuh, berikutnya langkah kedua bernama Djie Pouw Po Tan Tian (langkah kedua menghancurkan pusar) ganas dan lihay menyerang bagian berbahaya dari musuhnya. Andai kata serangannya ini tidak berhasil, dirinya tetap berada di atas angin, dan boleh melanjutkan serangan langkah ketiga menghancam pinggang dan langkah keempat menyerang dada musuh, langkah kelima menyerang kerongkongan. langkah keenam mencolok mata. langkah ketujuh membelah kepala lawan. Serangannya ini dapat dilancarkan menurut tata tertib yang sudah diatur baik.

Kalau jurus yang satu tidak membawa hasil, segera dapat diubah secara cermat dan selalu berada di pihak menyerang, sehingga kedudukan musuh dari aias ke bawah kena dikuasai, karenanya setiap selesai satu jurus, pihak musuh kena dibuat kehilangan satu angka kebebasan bergerak, Kalau musuh yang kurang pandai dan belum sempurna ilmunya pasti tidak dapat bertahan sampai langkah ke tujuh dari ilmunya ini, sedangkan yang berilmu sudah sempurna sukar untuk meloloskan dirinya dari salah satu pukulannya ini. Inilah Ilmu Tujuh Langkah Mengambil Kebajikan) yang menempatkan penciptanya di tempat yang menguntungkan. Sebaliknya ilmu Lo Kuay yang bernama (Naga Hitam Tiga Belas Kali Berubah ganas dan kejam, setiap jurusnya cukup dan dapat membinasakan lawan. Asal saja lawannya berkepandaian di sebelah bawahnya sedikit saja. pasti dalam dua jurus sudah hancur luluh dibuatnya!

Sayangnya ilmunya ini depan dan belakang tidak terlalu bekerja erat, lain dengan ilmu lawannya yang demikian mantap dan membuat musuh sukar bernapas.

Saat tadi dua jeriji Yauw Tjian Su tengah menghantam ke perut lawan dan menang cepat, walaupun demikian Lo Kuay bukan manusia golongan biasa, tulang - tulang yang berada di tubuhnya sudah terlatih demikian sempurna dan dapat digerakkan sekehendak hatinya. Tanpa gugup barang sedikit besinya tidak bergerak, pinggangnya seperti ular menggeliat kesebelah kanan mengegoskan serangan dan menempatkan tubuhnya dergan kecepatan kilat di sebelah kanan lawan, serentak lengan kirinya menggaet bahu kiri lawannya. Asal lengannya berhasil menggaet, lengan kanannya boleh menyusul mencakar punggung lawannya.sebuah serangannya ini bukan main ganasnya dan dapat mencabut sebagian dari tulang punggung musuh! Inilah jurus yang bernama Hek Liong Pok Su (naga hitam mencabut pohon).

Pergerakan Lo Kuay yang demikian cepat di luar dugaan lawannya. Dalam dunia persilatan pada jamannya mungkin tidak ada orang kedua yang dapat menekuk tulang badannya selihay dia. Untunglah Yauw Tjian Su berilmu tinggi dan mantap serta tenang ia mengegos dan berkelit demi di lihat perubahan ilmu dari lawan, lengan kanannya dikeluarkan menyerang seperti kilat ke sebelah kanan dan menotok pinggang kanan lawan yang dinamai liong Kui Hiat.

Biasanya orang yang bagaimana lihay pun kalau kena tertotok jalan darahnya itu pasti menjadi roboh.

Lo Kuay menjadi gugup menghadapi serangan lawan yang bernama Sam Pouw Tuan Sak Tju (tiga langkah menghancurkan pilar batu) lengannya yang tengah terangkat tinggi membuat bagian perutnya tidak terlindungi tanpa ayal lagi lengannya ditarik turun sambil dipukulkan kepada lengan kanan musuh yang tengah mendatang kalau berhasil pasti lengan musuh itu dapat dijadikan beberapa potong. Sayang lawannya pun mempunyai reaksi yang cepat pula, lengannya ditarik dan disilangkan di pergelangan tangan sambil melindungi dadanya, Angannya itu tidak ubahnya merupakan gunting yang aneh.

Inilah jurusnya yang bernama Sie Pouw Thian Luan Ma (empat langkah menggunting benang goni yang kusut) Dengan berbuat demikian seolah olah kedudukan orang tua ini berada di pihak pasif bukan? Tapi sebenarnya dugaan ini salah sekali, karena lengannya yang menyerupai gunting besar terbuka lebar menuju ke atas melindungi dadanya.

Biar musuh mempunyai ilmu pukulan yang lihay atau jotosan, gamparan, tebasan, kepretan, libatan, serudukan, cengkeraman . . . jangan harap dapat berbuat apa apa pada dirinya. Sebab seluruh dari serangan tawan dapat diguntingnya hancur bagai menggunting benang goni yang kusut. Terkecuali itu lengannya yang merupakan gunting ini berlainan sekali dengan gunting biasa, pergelangan lengannya, telapak lengan, jeriji masih dapat mengeluarkan puluhan macam perubahan, karenanya dalam sejurus ini dapat menghadapi bermacam-macam jurus serangan lawan!

Gunting yang terbuat dari tangan ini menghadap pada lawannya dan menggunting lengan Lo Kuay yang tengah turun menabas, Lo Kuay terkejut dan menghentikan serangannya dengan cepat tanpa mengubah jurusnya, terkecuali itu iapun tidak menyerang, hanya matanya saja merah membara menatap wajah lawan. Kiranya inipun termasuk ilmunya yang lihay. ia dapat menyetop dan menghentikan serangan dalam pergumalan yang dahsyat, hal ini membuat lawan mendelong dan heran, selanjutnya ia mengawasi di mana letak kelemahan musuh dan menyerangnya untuk mematikan, hal ini sering sering dilakukannya pada waktu yang lalu dengan berhasil gemilang!

Yauw Tjian Su benar benar merupakan musuh yang tangguh dan ampuh untuk Naga Hitam ini. tanpa banyak komentar lagi lenganrya itu langsung menggunting ke muka lawan yang tiba tiba berhenti sambil mengeluarkan langkah ke lima dan keenam dari ilmunya, perubahan yang cepat terletak pada jarinya yakni menuju untuk mengorek mata Naga Hitam. Ia tahu sekali ilmunya ini dikeluarkan, lawan hanya dapat menghindarkan maut dengan menundukkan kepalanya!

"Bagus." kata Lo Kuay sambil mengataikan tubuhnya. sehingga musuhnya menggunting angin! Tapi keadaan ini membuat kedudukan masing masing menjadi berubah, bagian bawah dari Lo Kuay sudah tergencet di bawah kekuasaan lawannya dan tidak dapat bergerak, ingin pinggangnya di bungkukkan ke belakang sayang tubuhnya sudah separuh bungkuk dan tidak dapat di kemanakan lagi akan tubuh bagian atasnya, dengan berbuat begini kepalanya itu berada di muka lawannya tanpa penjagaan. Asal saja Yauw Tjian Su menarik lengannya dan menggeprok. pasti kepala itu akan hancur berantakan! Lo Kuay tidak berdaya dan menunggu ajalnya saja. sedangkan ilmunya yang disebut Hek Liong Tjap Sah Pian tidak dapat menolong dirinya.

Yauw Tjian Su mengangkat lengannya dan akan menggempur batok kepala lawan yang botak, tiba tiba lengannya dihentikan, hatinya sangat iba untuk menurunkan lengannya itu. Sifat welas asih dari orang tua ini sangat pantang membunuh orang, karenanya ia berpikir: "Lo Kuay sudah tua dan mempunyai ilmu yang demikian lihay, kalau aku membunuhnya sungguh tidak pantas, biarlah ia hidup beberapa tahun lagi dan mati dengan tubuh yang utuh!" Ia berpikir demikian se.ainggi melupakan dirinya masih berada di dalam Keadaan berbahaya Tahu tahu ia sadar dari lamunannya demi dirasakannya semacam perasaan yang panas, semacam benda melekat di tubuhnya, ia tahu dirinya sudah kena lengan jahat dari musuhnya.

Yauw Tjian Su menjadi naik darah, tanpa kasihan lagi lengannya turun ke atas kepala musuhnya dengan ganas. Lo Kuay merasakan semacam perasaan dingin di atas kepalanya, terkecuali itu perasaan lainnya sudah menjadi hilang.

Louw Eng yang sedaii tadi berdiri di samping dengan mendelong. kini melihat ke dua Tjian pwee yang bertarung berdiam tidak bergerak, kedua lengan Lo Kuay melekat di dada musuh, sedangkan kedua lengan Yauw Tjian Su melekat pula di atas kepala lawannya Sedangkan kedua tubuh dari jago jago utama rimba persilatan mi tidak menunjukkan lain perubahan yang aneh, hanya matanya saja yang saling tetap mendelik tanpa mengedip ngedip Louw Eng yang terhitung seorang Kang ouw yang cukup kawakan belum dapat mengetahui siapa yang menang dan siapa kalah,ia diam dan samping tanpa berani sembarangan berderak.

Kiranya wakiu Lo Kuay mengeluarkan lengan jahat tidak berani secara keras, takut menimbulkan angin dan dapat diraba oleh lawannya, karenanya itu lengannya perlahan lahan ditempelkan kepada dada musuh, kemudian baru menyalurkan tenaga dalamnya secara mendadak dengan maksud menghancurkan isi perut lawannya. Begitu Yauw Tjian Su merasakan dadanya panas sudah mengetahui karena apa, tanpa banyak pikir lagi ketetapan untuk mengambil jiwa musuhnya segera timbul dalam otaknya, walaupun sudah berada dalam keadaan hidup dan mati orang tua mi masih tetap tidak mau membuat kepala musuh hancur, sebaliknya ia menggunakan tenaga dalamnya dan berhasil menghancurkan otak lawannya.

Dua orang ini tetap tidak menderita luka kalau dilihat dari luar, sehingga orang lain tidak mengetahui mereka tengah melakukan pertarungan apa. Louw Eng mengira mereka lengah melakukan perang tenaga dalam ia diam terus sambil mengawasi dan melihat. Kira-kira sesudah sepemasang batang hio berlalu mereka masih tetap-dalam keadaan serupa. Louw Eng menjadi heran dan tergerak hatinya, dengan memberanikan dirinya dirabanya tubuh Lo Kuay dan dirasakannya tubuh itu sudah menjadi dingin seperti es, sedjngkan tubuh Yauw Tjian Su Sangat panas seperti api !

Louw Eng terkejut bercampur heran, lekas lekas diperiksanya keadaan pemapasan kedua orang itu, ia baru tahu bahwa Hek Liong Lo Kuay sudah bernenti napasnya, sedangkan Yauw Tjian Su masih mengeluarkan napasnya yang tinggal sedikit, la mencelat ke belakang takut dipegang orang tua itu yang nyatanya belum menemui ajal. Tapi Yauw Tjian Su tetap tidak bergerak. Louw Eng dari jarak dua tumbak memungut batu dan melontarkannya, orang tua itu tetap tidak bergerak juga.

Yauw Tjian Su eudah kena hajaran tenaga dalam lawannya, sehingga isi perutnya goncang dan menderita luka parah, dengan sekuat tenaga diatur jalan napasnya, tapi perlahan lahan keletihannya terlalu hebat dan tidak berdaya untuk menolong dirinya dari lukanya. Walaupun demikian ia belum meninggal, dengan tenaganya yang tinggal sedikit dipertahankan tubuhnya agar tidak jatuh, ia tahu kalau sampai tubuhnya jatuh napasnyapun segera berhenti. Ia mempunyai tenaga dalam yang tinggi sekali dari itu bisa bertahan dan tak jatuh. Sedangkan tubuhnya di sebelah dalam menjadi panas dikarenakan terlalu hebat mengatur jalan pernapasannya. Kini Louw Eng menghajarnya dengan beberapa butir batu. ia tetap tidak bergerak dan menahan terus untuk berdiri. Padahal orang tua ini sudah mengetahui bahwa dirinya sudah tidak bisa tertolong lagi. tapi tetap tidak mau jatuh terlebih dahulu dari pada Lo Kuay. ia berpikir : "Walaupun mati aku haius berdiri."

Begitu Lou Eng melihat ia tetap tidak bergerak, sudah mengetahui bahwa orang tua ini sudah tidak berdaya lagi. Pikiran takutnya menjadi kurang banyak, sedangkan pikiran jahatnya segera timbul pada detik itu juga. Ia tertawa dengan wajah yang jahat dan akan menentukan pikiran bangsatnya.. Setindak demi setindak ia melangkahkan kakinya maju mendekat pada orang tua yang tidak berdaya, tampak olennya bahwa orang tua itu masih tetap diam tidak bergerak barang sedikit, diam diam hatinya menjadi girang sebali. Sesudah ia maju beberapa langkah, dengan tiba-tiba tubuhnya mencelat dengan cepat dan mengirimkan tangannya kepada punggung Yauw Tjian Su.

Pukulannya ini menggunakan tenaga yang luar biasa kerasnya, sedangkan lawannya yang hampir putus napasnya tentu saja tidak bisa melawan. Dalam saat yang kritis ini: orang tua she Yauw masih dapat berpikir:. "Waktunya aku berpulang sudah sampai,mataku sudah mestinya dirapatkan untuk selama lamanya!"

Sedangkan sudut bibirnya mengeluarkan senyum simpul yang wajar dan seperti tidak kejadian apa-apa. Saat inilah pukulan lawan mengenai tubuhnya. tubuhnya dengan cepat meminjam tenaga serangan lawan maju mendorong ke muka sehingga tubuh Lo Kuay yang sudah kaku segera jatuh akan dirinya hanya bergoyang goyarg dan tidak sampai roboh!

Sesudah Louw Eng menyerang sekali segera mencelat ke belakang, hal ini dilakukan karena ia takut bahwa orang yang dihajar itu belum mati dan mengadakan serangan balasan, hatinya semakin takut dan heran waktu dilihatnya orang tua itu tidak jatuh bahkan masih tersenyum. Dengan setakar tenaga dihajarnya lagi orang tua itu, kali ini tubuh Yauw Tjian Su yang sudah hampir mati baru jatuh roboh.

Louw Eng mengetahui bahwa orang tua yang sangat ditakuti semasa hidupnya itu sudah meninggalkan dunia yang ramai, hatinya menjadi girang, sampai lengannya di lihat lihat dengan bangga ia tertawa keras sambil berkata pada dirinya sendiri:

"Lauw Eng sepasang lenganmu sejak sekarang boleh malang melintang dan menjagoi dunia Kang ouw. Dua orang jago kelas utama dari rimba persilatan sudah menutup mata untuk selama - lamanya, sungguh beruntung sekali kau dapat menamakan riwayat Yauw Tjian Su dengan kedua lengan kosong, kalau orang mengetahui hal Ini pasti semuanya akan merasa takut kepadamu!" Ia tertawa secara mengila dan berpikiran secara gila pula, kegirangan yang tidak ada taranva melupakan jalan pikirannya untuk berpikir, kenapa Yauw Thian Su bisa berada di dalam goa ini? Pikirannya itu hanya berjalan di atas kesenangan dan keberuntungan saja, sehingga ia tidak mengetahui di dalam itu terdapat seteru seterunya semua. Sebaliknya ia berpikir:

"Sesudah aku berhasil menamatkan riwayat seteru yang lihay ini, tak perlu untuk menakutkan musuh musuh lain yang berada di Thian Touw Hong" Hatinya girang dan sedang, ia memastikan kali ini jasanya terhadap pemerintah Tjeng bukan buatan besarrya, pokoknya asal menangkap saja ibunya Tjiu Piau untuk dijadikan umpan, semuanya dapat diringkus satu persatu. Tanpa memperdulikan lagi jenazah dari Lo Kuay ia masuk ke dalam untuk menangkap orang.

Jalan yang sunyi dan seperti ini sudah biasa untuk sang jahanam, dengan cepat ia maju melangkah sambil lari lari kecil menuju di mana terdapat tanggul dan ibu Tjiu Piau, suaranya yang keras segera diperdengarkan

"Tjen djie!" Tak ada jawaban. Dipanggilnya sekali lagi "Tjen djie! Ke luar!" Tetap tak ada jawaban. Hatinya menjadi panas dan mendongkol ia memaki:

"Dasar bndak, ke mana kau bermain-main sampai urusan besar dibuat terbengkelai seperti begini! Dasar!"

Dengan cepat kakinya maju melangkah ke dekat tunggul palsu yang sudah berdiri dengan baik di tempat asalnya, dengan perlahan lahan dibuka pintunya sambil memanggil lagi: "Tjen djie. lekas ke luar!" Dari dalam tetap tidak kunjung datang suara balasan ,dari panggilannya yang sudah berkali kali itu. Dengan cepat kepalanya melongok ke dalam untuk mengetahui keadaan sebenarnya, begitu kepalanya melongok kekagetannya bukan alang kepalang, di dalam kosong tidak terdapat manusia seorangpun juga, ibu Tjiu Piau dan Tjen Tjen tidak terdapat di situ. dalam keadaan gelap hanya terlihat sinar kuning dari benda kecil berkilat kilat.

Dengan cepat ia turun masuk, lengannya memungut benda itu, tapi seperti dibanjur air dingin kagetnya, lengannya segera di tarik lagi, karena benda itu adalah sebutir mutiara beracun yang sangat ditakuti sekali. Dengan cepat tangannya diperiksa, untung tidak menderita luka, hatinya baru dapat menarik napas lega. Memang benda itu adalah sebutir mutiara beracun dari keluarga Tjiu yang ditinggalkan Tjiu Piau dergan sengaja untuk memperingatinya. "Hati hati dengan mutiara beracunku!"

Tanpa berayal lagi Louw Eng mencelat naik ke atas. baru kakinya memijak bumi telinganya segera mendengar suara tertawa dingin yang menusuk pendengaran: "Louw Eng!

Lama sudah kami menantikan engkau di sini!"

"Kalian kenapa bisa mengetahui adanya tempat mi, siapa yang mengajak Kalian datang ke sini?" tanya Luow Eng dengan penuh keheranan. Wan Thian Hong dan Wan Djin Liong serentak tertawa: "Tiada siapa siapa yang mengajak aku datang ke sini. melainkan malaikat dan setan yang menyuruh aku datang ke sini untuk memutuskan batang lehermu!" "Apikah orang tahananku kau bebaskan?"

"Apakah tidak ada aturan untuk membebaskan orang tahananmu!" tanya Wan Djin Liong.

"Tjen-jieku kau ke manakah?" "Oh, anakmu?" kata Djin Liong,

"ia tengah menantikan engkau di dalam tanah, untuk sama-sama menghadap pada malaikat Djibrail!" Mendengar mi Louw Eng menjadi gusar, tapi ia adalah seorang Kang- ouw yang berpengalaman, dengan sabar ia berpikir: "Kun Tju tidak mau menerima kerugian di depan mata, lebih baik aku merebut jalan dahulu untuk melarikan diri!"

Tanpa banyak pikir lagi, matanya mengawasi ke sekeliling. Wan Djin Liong berada di sebelah kirinya sedang- kan Wan Thian Hong menghadang di sebelah kanannya, jalan untuk ke luar berada di depannya masih terbuka.

Louw Eng mengerahkan tenaganya kepada dua kakinya secara diam diam. tiba tiba ia mencelat maju melompat ke muka sambil menghunus pedangnya di tengah udara, berbareng dengan itu mulutnya mengeluarkan seruan keras sambil mengeluarkan ilmu 'PuaH Sen Tan Ko' ( membalik badan memetik buah ) menyabet dada Wan Thian Hong. sungguh suatu jurus yang cukup mengejutkan orang !

Wan Thian Hong secara ringan mencelat sejauh satu tumbak untuk menghindarkan serangan, terkecuali dari itu lengannya bergerak melepaskan batu-batu kecil menghajar sang jahanam, dengan tepat batu kecil itu mengenai ujung pedang. Saat itu juga pedang itu mengeluarkan bunyi yang nyaring menggema di seluruh gunung tak putus putusnya, membuat seseorang bangkit semangatnya. Lou Eng walaupun sudah delapan belas tahun lamanya memiliki pedang itu tapi tidak mengetahui bahwa ujung pedang kalau digetarkan akan mengeluarkan bunyi yang demikian hebat. Karenanya tidak heran kalau ia merasa bingung dan kaget atas hal ini.

Mendengar suara ini dua saudara Wan segera berkata dengan serentak: "Ah, sungguh luar biasa bunyinya, sehingga mengalahkan auman harimau, sungguh hebat laksana, jeritan naga terkejut!" Wan Thian Hong menoleh pada Louw Eng sambil berkata: "Louw Eng, pedang yang kau pegang itu adalah pedang naga terkejut! Betul tidak?"

Pada hari hari biasa Louw Eng tidak pernah memperhatikan yang mana Keng Liong Kiam dan yang mana In Hong Kiam. karena keduanya sama panjang dan sama mengkilapnya. Kini iapun tidak meDgetahui pedang apa yang tengah dipergunakan, buru buru dilihatnya ukiran yang berada di atas pedang. Ia tidak menjawab karena ia tau bahwa Wan Tnian Hong mengetahui bahwa pedangnya itu bisa mengeluarkan bunyi karena memiliki buku ilmu pedang Naga dan Cendrawasih. Ia berpikir: "Aku tidak sempat untuk mengetahui dan menyelidiki pedang Hong atau Liong " Sedangkan kaki tangannya tidak tinggal diam, jurusnya yang bernama Heng Kang Tauw ( malang me'intang dan menjelajah sungai telaga ) membabat pada jalan kecil dan memberikan ia jalan ke luar. Tanpa gugup Wan Thian Hong membalikkan keadaan buruk ini menjadi baik, ia merebahkan diri demi dilihat ujung pedang datang menuju kepada dirinya. Dengan berbuat begitu ia berhasil menghindarkan bahaya maut tapi kesukaran kembali datang, karena pedang lawan kembali menyerangnya dengan tipu Kang Hong Sauw Yap ( angin utara menyapu daun roatok), sebelum sang gadis celaka, Louw Eng dipaksa menarik pedangnya ia tahu bahwa Wan Djin Liong sudah datang menyerang. Dirinya pernah merasakan dan menderita kerugian di atas lengan kedua kakak beradik ini, dan nengeiahui bahwa ilmu bergabung dari mereka sungguh luar biasa dan sukar mencari tandingannya, karenanya sekali kali tidak boleh berayal lagi untuk melarikan diri Sebelum usahanya berjalan, Wan Thian Hong sudah mencelat bangun dengan cepat dan segera menggabungkan tenaganya dengan sang kakak. Sehingga tenaga bergabung dari mereka berlipat dengan cepat pada sang lawan.

Louw Eng menarik pedang di kanan, dan menyerang pada Thian Hong, sedangkan di lengan kiri diubah menjadi ilmu pukulan menyerang pada musuh yang berada di belakang. Djin Liong tidak mau mengadu tenaga untuk menyambut serangan ini, dengan cepat kakinya melangkah mundur, sedangkan Thian Hong dengan cepat menggulingKan badannya menhindarkan ujung pedang dLn merapat pada musuh untuk merampas pedang. Djin Liong melancarkan serangan dari belakang dengan maksud memecahkan perhatian lawan.. Dalam gugupnya Louw Eng membentak dengan keras: "Kalian bermaksud mengeroyok? Mari, mari, sepuluhpun aku tidak takut!" Ia berharap dengan kata katanya ini bisa terhindar dari keroyokan.

Wan Thian Hong tertawa mendengar kata kata ini: "Kami berdua, kaupun berdua, apa artinya yang kau katakan mengeroyok?"

"Siapa bilang aku berdua, apa matamu buta." jawab Louw Eng kasar.

"Lihat ! Lenganmu berkawan pedang mustika? Sungguh tak bermalu! Namanya saja Bu Lim Tee It. menghadapi anak kecil menghunus pedang terlebih dahulu, bahkan masih mengatakan kami mengeroyok!" Sambil berkata sambil menerjang dengan ilmu tangan kosong merampas senjata, lengan kiri menyampok pedang, lengan kanannya menyerang dengan ilmu Siauw Houw Tjian (memanah tenggorokan) kemudian diubah menjadi Tiong Thian Po ( menyangsor ke atas). Louw Eng menghindarkan dirinya, kepalannya segera berubah menjadi telapakan. Sedangkan jeriji jeriji gadisnya yang runcing langsung mencakar pada mata lawan dengan kecepatan kilat.

Louw Eng bersenjatakan pedang tajam, biar bagaimana seharusnya tidak bisa kena didesak lawan yang bertangan kosong, hal ini terjadi semata mata karena akalnya yang sangat licik, ia tahu Tnian Hong menjalankan jurus berbahaya sedangKan Djin Liong menantikan ketika untuk mengalahkannya. Dari itu Thian Hong tidak dihadapinya dengan sepenuh tenaga, sehingga dirinya kena didesak.

Saat ini jeriji Thian Hong yang seperti besi sudah dekat dengan matanya, dengan cepat lengan kirinya mengeluarkan ilmu Kuku Elang menggaet lengan lawannya. Sebaliknya dengan Tnian Hong tidak menantikan lengannya kena dicakar musuh sudah menariknya dan membarengi melepaskan tendangan perusak hati pada pergelangan lawan yang memegang senjata, sedangkan Djin Liong meningkah serangan adiknya dengan ilmu Mendorong Jendela Meraih Bulan memaksa lawan tidak bisa mundur bahkan mengharuskan musuh maju ke muka. Pokoknya kalau ia maju ke muka Thian Hong pasti dapat menghadapinya dengan ilmu yang cukup luar biasa.

Siapa tahu Louw Eng ini memang cukup licin dan licik, dinantikannya Djin Liong begitu sampai segera tubuhnya mendek dan membalikkan pedangnya menyerarg kebelakang dengan ganas dan tepat, hal ini hampir hampir membuat kerongkongan pemuda kita kena dilubangi tenggorokannya.

Dalam saat sekilas ini Wan Djin Liong masih ingat kata kata yang terdapat di buku ilmu pedang naga (Keng Liong Put) di bagian serertiganya pedang kalau kena tersentuh akan menimbulkan goncangan yang keras sehingga memungkinkan terlepas dari si pemegang. ia sudah bertekad untuk menarik keuntungan dari keadaan yang berbahaya, tenaga di lengan kanannya dikerahkan ke ujung jeriji, sesudah membidik dengan cermat jerijinya ke luar secara tiba tiba menyentuh di bagian dua pertiganya pedang. Pedarg itu tergetar tapi tidak menimbulkan suara seperti tadi.

Louw Eng menjadi krget dan merasa lengannya tergetar, hampii hampir melepaskan pegangannya. Sekuat tenaga dipertahankan pedangnya itu. tapi getarannya pedarg itu bergelombang terus seperti naga yang tengah melonjak lonjak ingin menerjang mega. Louw Eng tidak mengetahui bahwa hal ini adalah rahasia dari pedang Liong, ia hanya berpikir bahwa ilmu lawannya sangat tinggi, sehingga hatinya menjadi agak takut berikutnya gerak geraknya menjadi agak lambat. Pada saat inilah ia merasakan pergelangan lengan kanannya kena ditangkap orang dan terpelintir dengan hebat, sedangkan matanya melihat pula berkelebatnya bayangan hitam melewati di atas kepalanya.

Orang itu bukan siapa siapa melainkan adalah Wan Thian Hong adanya, gadis ini sesudah melihat jurus jurus tak kenal bahaya dari kakaknya segera mengatur siasat, begitu melihat sang lawan agak lengah segera menangkap dan memelintir lengan kanan lawan sambil mencelat melewati kepala lawan terus ke belakang. Sedangkan Wan Djin Liong sudah mengangkat lengannya seraya membentak:

"Louw Eng, lepaskan pedangmu kalau tidak lenganmu ini akan kupatahkan!" Begitu suaranya selesai diucapkan segera terdengar suara 'trang' dari jatuhnya pedang yang dilepaskan Loaw Eng. Dengan cepat Djin Liong memungut pedang itu sambil mencelat bersama adiknya ke kiri dan ke kanan lawannya. Dengan girang mereka mengawasi hasil rampasannya, sehingga membuat Loaw Eng mendelu dan memaki secara diam diam,

'"Budak ini terlalu bodoh sekali, kalau mereka menggunakan kesempatan tadi untuk membinasakan aku pasti akan berhasil baik, bukankah dengan cara begitu mereka bisa memiliki pedang itu? Rupanya mereka hanya menginginkan pedang itu saja. Atau menganggap dirinya adalah 'ksatrya' yang berjiwa luhur, lucu betul! Kalau mereka bisa terjatuh di tanganku segera kulubangi dadanya untuk kulihat hatinya itu!"

"Hei, jahanam lekaslah kau ke luarkan lagi sebilah pedang cendrawasih. Kini boleh satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih unggul!"

Louw Eng dengan cepat mengeluarkan pedang Cendrawasih, perlahan lahan pedang itu diusap usap kemudian dilemparkan pada Thian Hong sambil berkata; "Kalian dua saudara agaknya senang dan suka sekali pada pedang ini, aku sebagai orang baik. terimalah pemberianku ini!" Habis berkata matanya melirik melihat gerakan lawan, tampak olehnya Thian Hong ragu ragu sebentar kemudian memungutnya sambil membungkukkan badan. Sesudah menantikan lawan selesai memegang ujung pedang Louw Eng membuka lagi mulutnya dengan ramah tamah: "Bigaimana? Pemberian ini kurasa cukup menyenangkan kamu?" Sambil bicara kakinya siap untuk melarikan diri, pikirnya sang lawan akan merasa tidak enak hati untuk menghadang lagi sesudah mererima pemberiannya itu. Tapi sebelum maksudnya tercapai ia mendengar suara gadis itu: "Koko, kau dengar!" sedangkan tangannya yang Berjeriji lentik segera menggetarkan beberapa kali pada pedang cendrawasih, dalam sekejap saja terdengarlah nada irama yang tinggi rendah mempesonakan pendengarannya. Kedua saudara saling menatap dengan hati seolah olah mendapat sesuatu hai yang luar biasa menyenangkan. Dalam keheranannya Louw Eng tertegun sebentar, sedangkan telinganya mendengar bentakan dari sang gadis.

"Ambillah!" Pedang cendrawasih dilontarkannya seperti pisau menuju pada dirinya. Dengan cepat tubunnya mengegos dari pedang itu sambil mengeluarkan dua jerijinya untuk menjepit pedang itu, sedang wajahnya mengeluarkan gerak tipu seperti tidak mengerti kehendak lawan, ia berkata: "Nona mungkinkah kau tidak suka pada pedang-ini?"

"Jangan mengeluarkan kata kata yang tidak berguna, kakakku sudah lama menantikan seranganmu!"

' Louw Eng sadar bahwa dirinya tidak terlepas dari kesukaran, tipu halusnya untuk melarikan diri terang terangan sudah kandas, jalan satu satunya harus memberanikan diri untuk menggunakan kekerasan. Lengannya mencekal pedang dengan erat. mata-matanya memandang ke tempat lain seperti tidak melihat apa apa, mulutnya kemak kemik berkata kata, "Mungkinkah pedang ini tidak baik, sehingga tidak disenangi?" Sementara itu kakinya bergerak secara tiba tiba membuat satu jungkiran mendekat pada Djin Liong sambil mengirimkan serangan menusuk pada kerongkongan lawan dengan ganas.

Wan Djin Liong tidak mungkin kena perangkap lawan yang licik, karena siang siang sudah bersiap sedia untuk menghadapi serangan lawan. Begitu ia menampak sinar pedang, segera memelintangkan pedangnya dan mengetok ngetok beberapa kali pada pedang lawan dengan kecepatan seperti kilat, ketokannya menimbulkan nada suara yang bukan main merdunya, Louw Eng hanya mengenal membunuh dan merusak kehidupan orang, terhadap seni suara sedikit juga tidak mengerti, ia hanya tahu bahwa bunyi itu cukup merdu:

Sekali serangannya gagal, segera mendudukkan dirinya pada keadaan berbahaya, dengan cepat lengannya mengirimkan lagi serangan bertubi-tubi dengan jurus Djie Bee Hun Tjiong (dua kuda membagi rambut kuduknya) Ku Su Poan Kim (pohon tua membengkokkan akar), Kim Liong Touw Sie (naga emas mengelelkan lidah), Say Tju Thio Kauw (dnga membuka mulut) secara ganas mengarah kepada tempat berbahaya dari Wan Djn Liong. Dengan cepat pedang naga diputarnya dengan cepat mematahkan setiap serangan. Dalam pertarungan ini terjadi beberapa kali bentrokan antara pedang naga dan cendrawasih, tapi mengherankan sekali sedikitpun tidak mengeluarkan suara atau bunyi. Sambil menghalau serangan serangan lawan. Djin Liong membarengi mengeluarkan bentakan keras :

"Louw Eng dengar! Aku memberikan kau menyerang sebanyak delapan belas jurus, kalau tidak dapat mengalahkan aku, terpaksa aku harus mengubah daya tahanku menjadi serangan! Moy tju kini sudah sampai pada jurus ke berapa?"

"Ah. baru delapan jurus! Tenanglah kau hadapi lawan, aku dapat menghitungnya!"

Louw Eng memainkan pedangnya itu cukup hebat sekali dan lain dari biasa, mungkin ia menggunakan seluruh tenaga dan bertempur nekad untuk menghadap lawannya. Dalam liputan sinar perak yang berkilat kilat terlihat dua bayangan orang bergerak gerak sebentar ke kiri sebentar kekanan. Sementara itu dalam pertempuran yang sengit ini terdengar suara nyaring dari Wan Thian Hong yang tengah menghitung jurus pertandingan: "Duabelas. . . limabelas . ,

. tujuhbelas . . delapanbelas, habis! Habis sudah! Louw Eng jurus seranganmu sudah habis kenapa tidak memperoleh kemenangan?"

"Kini sampai pada giliranku untuk menyerangnya, Moy tju kau hitung!"

"Baik," jawab Thian Hong, "dengan meram pun dapat menghitungnya." Louw Eng tidak mengerti perkataan sang gadis, sedangkan Wan Djin Liong sudah mulai memutarkan pedangnya, bahkan tabasannya sudah datang, pedang bentrok satu sama lain dan mengeluarkan bunyi yang menyenangkan. Wan Tbian Hong segera membuka mulut: "Jurus pertama!" Bentrokan pedang terjadi berkali kali sambil memperdengarkan suara suara irama yang merdu, tak ubahnya seperti mendengar orang tengah memaiukan Kim (alat musik Tionghoa) saja. Nada irama ini dengan cepat mempesona pendengarnya, sehingga membawa orang seperti pergi ke pertapaan dewa dan mendengari para dewa-dewi memainkan alat musiknya. Tanpa terasa semangat orang seperti hilang dihanyut irama itu, sehingga kaki tangan tidak wajar dan ingin menari nari menurut irama itu.

Louw Eng bukan seorang manusia tidak berguna, kenapakah kena dipermainkan lawan demikian macam? Tidak tahunya Wan Djin Liong memainkan pedangnya menurut pada jurus - jurus yang tertulis dalam buku Kiam Pu (ilmu pedang), sehingga membuatnya seperti bertanding pedang juga seperti main Kim, Pokoknya asal jurus pertama ia bisa dapat mengetahui di bagian mana dapat menimbulkan nada irama, selanjutnya sudah mudah sekali.

Jurus pertamanya tadi demikian mendesak dan memaksakan Louw Eng menangkis dengan pedangnya, waktu pedang bentrok segera mengeluarkan bunyi, selanjutnya ia menggetarkan lagi beberapa kali dari pedang lawas sehingga timbul bunyi irama yang tidak henti hentinya, sedangkan Louw Eng dibuatnya tidak berdaya untuk membebaskan diri dari libatan lawan. Perasaan hatinya semakin tidak keruan mendengar irama medang ini, nada nada ini seperti mengandung tenaga yang kian lama kian hebat, dan semakin cepat, hatinya seperti kena pengaruh lawan dan mendengar kata. Kini hatinya seperti disuruh menari nari saja.

Dengan kekuatan batin ingin hatinya mengubah jurus - jurusnya agar irama iblis untuk telinganya itu menjadi kabur, tapi siapa kira setiap usahanya untuk mengubah jurus-jurusnya selalu gagal. Bahkan hatinya menjadi terlebih tak keruan rasa.

Wan Thian Hong yang menghitung jurus jurus pertandingan, sudah sedari tadi menghentikan mulutnya. Walaupun demikian ia sudah apal buku pelajaran pedang ini, nada bagaimana dan sampai di mana ia sudah mengenalnya karena ia mengingatnya dengan matang. Kini mulutnya meningkah suara dari pedang yang merupakan musik itu dengan nyanyian. Semakin ia menyanyi dengan cepat gerak pedang kakaknya pun seperti semakin cepat, padahal Wan Djin Liong menggerakkan pedangnya semakin lambat, untuk kesenangannya dua saudara Wan, Louw Eng sudah mengucurkan keringat yang luar biasa banyaknya.

Nada bunyian sudah berubah sepera kacau. Louw Eng berkata di dalam hati: "Tidak salah lagi mereka menggunakan ilmu siluman biar bagaimana aku harus berdaya memecahkannya." Sesudah mengambil ketetapan kakinya ingin meninggalkan gelanggang pertarungan, kasihan sekali jahanam yang biasanya jahat ini dalam keadaan begini tidak ada dayanya usahanya sama sekali tidak bisa dijalankan. Sebaliknya dari berbasil, dirinya semakin kena dilibat, kaki tangannya, tubuhnya tak dapat dikuasai lagi. seluruhnya sudah berada dalam pengaruh musik, kalau musik cepat gerakannya menjadi cepat, kalau lambat iapun menjadi lambat dan seterusnya.