-->

Pahlawan Harapan Jilid 05

Jilid 05

Tong Leng menyambut semua serangan, hatinya agak terkejut. Ia tak mengira budak ini bertenaga besar, serangannya pun demikian ganas. Sedikit saja tak waspada pasti jiwanya melayang. Untung iapun jago dari kelas wahid. Sesudah bergerak seru, Tong Leng mengetahui bahwa budak ini tak bisa ilmu dalam. Sengaja memberikan lowongan di selangkangan. Lu Hoo dengan sepenuh tenaga menendang sebagai pilar runtuh!

Dengan tenang Tong Leng membawahkan perutnya. Lu Hoo merasakan sebagai menendang kapas yang lunak. Tak sempat untuknya menarik serangan itu. Ia hanya merasakan tenaga balikan yang maha besar menghantam dirinya. Tak ampun lagi, tubuh nya ambrug dan jungkir ke belakang sejauh dua tumbak.

Lu Kang melihat dua orang ini benar-benar bertarung dengan sungguh-sungguh, baru maju melerai. "Hai budak ! Bukan lekas lekas minta maaf!" Iapun berpaling pada Tong Leng sambil berkata : "Harap Thai-su 'tenang.

Budak ini tidak mengerti urusan, tambahan sudah mabuk. Sukalah Thai su memberi maaf sebelum itu yang rendah menghaturkan maaf dulu umuKnya . . . Kata kata itu belum habis, Lu Hoo sudah maju pula dengan pengayuh besi di tangan; "Pei! Apa maaf, keledai botak ini harus minta maaf dulu kepadaku. 'Lekas kau tenggak air danau itu sebanyak dua puluh cawan!" Tangannya memutarkan pengayuh. Ber . . . ber diserangnya Tong Leng. Tong Leng sudah siap sedia. Dua orang itu kembali

bertarung dengan sengitnya. Satu berilmu dalam yang lihai. Seorang lagi bertenaga alam besar tambah pengayuh besi Dalam sekejap saja sudah memasuki jurusan jurusan berbahaya.

Louw Eng menonton dari pinggiran, ia tahu budak ini bukan tandingan Tong Leng Hweesio. Andai kata tidak mabuk siang siang Tong Leng sudah membuat Lu Hoo minta minta ampun. Sengaja ia tidak merintangi, menunggu kalau Tong Leng meng hajarnya babak belur baru turun tangan memisah. Pemuda kurus ini, wajahnya tetap seperti biasa dan sukar diraba jiwanya. Ia mengawasi perkelahian ini dengan mata tajam.

Lu Hoo menabas dengan pengayuhnya dari atas ke bawah. Tong Leng berkelit memiringkan tubuhnya. Lu Hoo mengayuhkan pendayungnya seperti mengayuh perahu.

Pengkayuh itu dari belakang mendadak ke depan dan menghantam bahu kanan Tong Leng. Tong Leng memindahkan seluruh kekuatannya ke situ tanpa ber geming dinantikan serangan itu. Pundaknya kelihaian sebentar mengkeret sebentar berdiri. Plang!! tepat penggayuh itu bersarang di tujuan, akan tetapi begitu kena penggayuh itu mental ke udara sejauh lima enam tumbak.

Lu Hoo gugur besinya tak ampun lagi ia kena digempur mundur. Tubuhnya sungsang sungsep sejauh dua tumbak. Sebelum ia capat memperbaiki diri. Tong Leng sudah mendahului lagi. Lengan kanannya diangkat Lu Hoo mati kutu, tinggal menunggu ke hancuran badannya saja. Pada saat inilah terdengar teriakan: "Awas Thai su. hati-hati lah!" Serangan mendatang dari belakang Tong Leng mengegos sekilat mungkin. Di lihainya penggayuh tadi jatuh dari atas ke bawah entah siapa yang menyampoknya ke situ Lu Kang perlanan lahan menghampiri sambil memberi hormat pada Tong Leng.

Raut muka persegi dari Lu Kang serupa benar dengan Lu Tie. Orang ini tabiatnya ber laiuan sekali dengan adiknya Lu Hoo. Sedikit bicara tapi berisi. Dengan serius ia menghaturkan hormatnya pada Tong Leng: "Thaisu demi Bhudda yang maha pengasih, ampunilah kesalahan dari adikku. Ia masih muda tak kenal peradatan, atas ini kami tiga saudara menghaturkan maaf pada Thai su lahir batin." Suara itu masih mendengung di telinga, Torg Leng sudah membentak lagi dengan beringas: "Hei! aku tak butuh maafmu!" Tangannya maju ke depan mendorong Lu Kang. Aneh bin ajaib Lu Kang masih tetap berdiri tidak bergeming.

Tong Leng bukan main kagetnya, kiranya kepandaian Lu Kang paling juga sekelas dengan adiknya. Siapa kira kepandaiannya melebihi adiknya sepuluh tingkat. Tong Leng mendilak-dilak, mata mabuknya menyapu muka Lu Kang: "Terimalah sekali lagi doronganku!" Lu Kang tidak bermaksud mengadu urat dengan Tong Leng. Tapi orang mengerti iimu silat begitu terserang dengan sendiri mempunyai gaya penolak yang otomatis. Tanpa disadari Lu Kang sudah menunjukkan kepandaiannya. Tong Leng berwatak ingin menang sendiri. Tak keruan keruan orang diajak tarung. Lu Kang menyesal di dalam hatinya. "Yang rendah mana dapat melawan Thai-su." Saat ini tenaga air kata-kata sudah mempengaruhi Tong Leng benar-berar. "Lekas pasang besimu!" Lu Kang tergerak hatinya, segera ia menjawab: "Silahkan Thai su , yang rendah menantikan petunjuk yang berharga." Tong Leng seperti babi buta. tidak ba tidak bu mendorong orang dengan ganas. Begitu lengannya tiba. Lu Kang sempoyongan jatuh sejauh tiga tumbak. Ia merayap bangun dengan malu." Terima kasih atas kebaikan Thai-su."

Siapa kira hal ini membangkitkan amarah Tong Leng menjadi jadi. "Budak gila kenapa kau mengalah! Aku tidak inginKan itu, asal. kau mengalah lagi sama dengan menjadikan aku tontonan orang. Mari, sekali lagi. Kalau tidak kau mengeluarkan ilmumu benar benar, jangan menyesal kedua kakimu akan kupatahkan!"

Lu Kang secara terpaksa menjawab: "Thai-su doronganmu itu tidak memakai bertenaga, sehingga aku dapat menahannya. Kalau kau sungguh - sungguh mendorongku aku pasti dapat celaka- - -" Tong Leng memotong perkataan orang dengan sengit: "Ya kalau begitu baiklah tapi kau harus melayani aku menuang arak untuk menebus dosa." Lu Kang menerima saja tawaran itu, dituangnya arak dan diberikan pada Tong Leng. Di luar perkiraan Tong Leng kembali mendorongnya secara mendadak. Lu Kang biasa bersifat ksatriya tak terpikir Tong Leng mau menipunya. Pukulan itu hanya tinggal satu dim lagi dari tubuhnya. Lu Kang walaupun sabar ia toh berdarah muda hatinya dongkol juga aku harus mengeluarkan kepandaianku juga. pikirnya. Tampaknya tidak bergerak.

Dorongan Tong Leng ini demikian bertenaga tapi hanya dapat menggoyangkan tubuhnva sedikit, kuda kudanya tidak bergeser barang setengah langkah. Sebaliknya Tong Leng hampir dibuatnya tak dapat berdiri. Hal ini membuat si Hweesio mengangakan mulutnya sambil mendelik melihat dia.

Dari pinggir, Louw Eng mengenali ilmu Lu Kang.

Dibisikmya Peng San Hek Lauw Bok Tiat Djin: ' Heran, bocah ini dapat ber silat dengan ilmu Pang Kim Hong yang lima puluh tahun dulu berhasil mengalahkan Peng-San Pai dengan ilmu Im Yang Kangnya." Kiranya limapuluh tahun berselang, Peng San Pai pernah dipecundangkan Pang Kim Hong gadis berusia sembilanbelas tahun, sehingga seluruh anggota Peng Sin Pai merasa malu. Louw Eng sengaja "berkata demikian untuk memanasi Peng San Hek Pauw agar ia sudi, mempertunjukkan ilmu kepandaiannya.

Walaunpun perhubungan Louw Eng dengan Bok Tiat Djin sangat erat, tapi ia selalu beradat angkuh dan tinggi, selalu tak mau tunduk di bawah orang Kalau menghadapi musuh biasa tak pernah ia mau turun tangan sendiri. Hanya sekali kalinya ia mempertunjukkan kepandaiannya, yakni waktu menarik Ong Djie Hai ke dalam sungai. Kini mendengar hasutan Louw Eug hatinya jadi tergerak. Ia ingin mengeluarkan kepandaiannya dengan cara yang indah untuk menjaga muka.

Di sudut lain One Djie Hai menggunakan ketika mendekati Tjiu Piau dan Gwat Hee.

"Adikku apakah kau masih ingat ceritera Suhu tentang Im Yang Kang? Kita belum pernah melihatnya, kini ketika yang baik untuk kita menyaksikannya." Sambil berbisik ia berkata pula: "Tjiu Heng tee, adikku, pernahkah Louw Eng menceriterakan peristiwa Oey San kepada kalian?" Gwat Hee menggoyangkan kepala, sebaliknya Tjiu Piau berbisik dan berkata: "Ia sudah berbicara denganku, dan aku tengah mencari ketika untuk membicarakan ini kepada kalian”

“Apa yang dikatakannya?" tanya Djie Hai "Katanya musuh kita adalah Wan Tie No."

"Percayakah kau akan ini?" Perkataannya beralasan juga-

---"

"Ini perlu kita selidiki dulu, tidak boleh sembarangan percaya mulut orang." potong Djie Hai. "Tahukah kau, bahwa kita dua keluarga adalah bermusuhan.' Tjie Piau kaget mendengar ini, tapi belum ia bicara lagi suara Gwat Hee sudah mendahului. "Kak, kau lihat, lihat itu!" Waktu Djie Hai melihat tampak Bok Tiat Djin tengah memberi petunjuk pada Tong Leng.

"Doronglah sekali, kujamin pisti kau berhasil membuatnya terpental tiga empat tumbak!"

"Bagaimana kau dapat menentukan?"

"Jangan banyak ribut! Dorong saja!" Tong Leng kegirangan. "Kalau begitu baiklah, ia menoleh pada Lu Kang "Apa kau mau juga bertaruh yang menang minum arak yang Ialah minum air?"

“Thai su kau sudah mabuk, lebih baik istirahat saja baik baik."

"Apa mabuk!? Dengan kata-katamu ini tidak boleh tidak kau harus bertanding denganku sekurang-kurangnya dua ratus jurus!" Tubuhnya maiu ke muka, ber...ber suara tangannya. Lu Kang sesudah berkelit beberapa jurus, hatinya benar-benar menjadi panas.

'Baiklah kau dorong lagi aku sekali, umuk menentukan siapa yang terlebih unggul. Sesudah ini aku tak mau menemani lagi." Sesudah berkata ia berdiri serampangan: "Silahkan!"

Tong Leng tidak ragu ragu lagi, tangannya tellers mendorong. Kali ini sungguh aneh, dorongannya berhasil membuat Lu Kang terpental ke udara dan jatuh berguling guling sejauh empat tumbak lebih. Lu Kang membalik badan kembali berdiri dengan tak kurang suatu apa.

Dengan dingin ia berkata: "Sekali lagi ini tidak dihitung, dibatalkan!

Ong Djie Hai melihat tegas, waktu Tong Leng mendorong Lu Kang. Bok Tiat Djin membarengkan menyentilkan Tiat Wan Tju (pelor besi) pada Lu Kang. Sungguh mengherankan senjata rahasia sekecil itu dapat bertenaga demikian besar. Sesudah ia mengedarkan pujiannya. Djie Hai berbisik kepada Tjiu Piau dan adiknya: '"Kita harus bersatu untuk melarikan diri dari tangan mereka. Mengenai dendam atau budi pada tahun yang silam sebaiknya nanti baru dibicarakan. Mereka ini biar bagaimana juga bukan orang baik-baik. Tjiu Heng tee bagai mana pendapatmu?" Sesudah memikir sebentar, Tjiu Piau mengangguk anggukkan kepalanya. Djie Hai berkata pula: "Malam ini harapan kita, semoga mereka main jadi sungguhan. Biar mereka saling hantam antara kawan dan kita bertiga untuk melolosi diri!"

Tjiu Piau tengah berunding untuk melarikan diri di pihak lain Lu Kang sudah menjadi gusar.

'Sekali lagi Thai su, tapi harus kau sendiri yang turun tangan, jangan main menggelap. Kalau dengan cara jujur kau bisa memenangi aku hatiku baru puas menerima kekalahan ini?" kata kata ini diucapkan dengan tajam, di samping itu menyindir pada Bok Tiat Djin.

Tong Leng pun mengetahui, bahwa BokTiat Djin membantunya dengan sebuah Tiat Wan Tju. Hanya tidak mengetahui apa gunanya dari pelor besi sekecil itu. "Pasti aku sendiri. Kau terpental demikian jauh. bukan dikarenakan kekuatan ku? Kiranya kau hanya menakutkan pelor yang demikian kecil itu?"

"Pelor besi macam apapun aku tak takut, asal saja tidak menggelap!" Tiba tiba Bok Tiat Djin berkata mendahului Tong Leng.

"Apa katamu? Tak takut pada Tiat Wan Tju? Jagalah! Dua Tiat Wan Tju segera akan menyerangmu!" Bok Tiat Djin ber tubuh jangkung, kepalanya kelihatan tegas diantara kepala orang. Kepala itu tak ubah nya seperti macan tutul. Ditutupi warna kulit yang hitam legam, karena inilah ia mendapat gelar Hek Pau (macan tutul hitam) habis bicara matanya berkilat kilat menyeramkan dan menakutkan orang.

Louw Eng memusatkan perhatiannya, untuk melihat bagaimana cara Bok Tiat Djin memecahkan Im Yang Kang lawan, Demikian juga dengan Ong Djie Hai, ingin memperluas pengetahuannya. Diam diam ia berbisik kepada dua kawannya. "Perhatikanlah cara mereka bertarung. Menurut ceritera Suhu Lu Yang Kang harus dipelajari sedari berusia delapan tahun, lewat dari itu tak dapat dipelajari dengan baik, dari itu ahli warisnya sedikit sekali. Kalau Lu Kang benar benar dapat pelajaran asli dari ilmu ini. Dirinya pasti mempunyai asal usul yang tak sembarangan! "

"Apa yang dinamai "Im Yang Kang itu?" tanya Tjiu Piau, Baru Djie Hai mau membuka mulutnya. Tampak Bok Tiat Djin sudah melepaskan sebuah Tiat Wan Tjunya. Keras menghantam Lu Kang.

Djie Hu menunjuk itu sambil berkata. "Kau lihat, Tiat Wan Tju ini tak dapat mengenainya!" Benar saji Tiat Wan Tju yang terbang lurus itu, entah bagaimana sesampai di pangkal lengan Lu Kang tergelincir terbang ke jurusan lain. Sedangkan Lu Kang tak terlihat mengegos barang sedikit.

"Bagus!" seru Bok Tiat Djin dengan dingin. Kembali sebuah Tiat Wan Tju melesat lebih keras lagi menyerang dada kiri Lu Kang. Sekali lagi pelor itu terbang menyamping ke arah lain.

"Kau lihat tegaskah!" tanya Djie Hai pada Tjiu Piau. "Kau tahu Lu Kang sudah berhasil melatih dua aliran hawa satu Im (negatip) satu Yang (positip). satu keras, satu lunak, satu kuat satu lemah Dua aliran ini dapat dipergunakan sekehendak batinya. Sekuat tenaga orang menghantamnya, ia dapat memunahkan dengan Lu Yang Kang. Sebabnya, bagian Yang mengeluarkan suatu tenaga penolak yang besar bagian Im bagai tak bertenaga menyambutnya satu menolak satu menyambut. Sehingga tenaga menyerang itu dapat dikepinggirkan. Dari itu walau pun Tong Leng Hweesio bertenaga besar, tapi tak dapat berbuat apa apa pada diri nya. Kini serangan Bok Tiat Djin punah semua, pasti perkelahian akan bertambah seru.

Tiba tiba Peng San Hek Pau memutari Lu Kang, sambil meajaiani cara Pat Kwa. Ia berjalan dua langkah lantas berhenti, se waktu waktu berjalan cepat cepat beberapa tindak baru menoleh. Lu Kang mencurahkan pikirannya, tak menghiraukan dia. Tiba tiba waktu Peng San Hek Pau menindak sekali tiga langkah, tangannya bergerak dua butir Tiat Wan Tju terbang menyerang, satu di muka terbang agak perlahan. Satu di belakang menyerang dengan pesat. Dua butir ini me nyerang kiri dan kanan, berbareng menyerang Tjie Kong-hiat. Serangan ini diiringi suara tertawa menggila dari Bok Tat Djin.

Pembaca harus tahu, kekalahan Peng San Pai di tangan Pang Kim Hong itu sangat memalukan seluruh anggotanya. Waktu itu ketua dari partai ini ialah Lui Lai Tjun, sebelum wafat meninggalkan pesan dahulu ke pada segenap anggotanya. Agar para murid nya tekun berlatih ilmu untuk memecahkan Im Yang Kang lawan. Barang siapa dapat berhasil kedudukan ketua ada miliknya. Kini sudah berlalu sepuluh tahun. Sesampai di generasi Bok Tiat Djin,sudah sampai turunan yang ketiga. Atas petunjuk petunjuk dari yang tuaan dan para Su-hengnya serta ketekunan menciptanya. Akhirnya Bok Tiat Djin dapat menemukan cara memecahkan ilmu Im Yang Kang itu. Tapi semenjak di dapat itu belum pernah dicobanya. Kini secara kebetulan sekali Bok Tiat Djin menjumpai seorang yang mengerti Im Yang Kang Tak terkatakan rasa girangnya, di balik itu iapun merasa kuatir. Hal yang menggirangkan mendapat ketika untuk mencoba ilmunya, kalau berhasil ia berhak menjadi Tjiang Ban Djin Peng San Pai. Dengan ini semua to su heng yang tak cocok dengannya dapat ditundukkan. Hal yang mengkuatirkan misalkan ilmunya gagal untuk memecah kan ilmu lawan, cita citanya menjadi kandas. Terkecuali itu ia malu sekali kalau sampai bersenjata untuk menghadapi Lu Kang.

Dari itu sebelum bergerak, Tong Leng dulu dibuat sebagai Sian Hong (pembuka jalan) sambil dibantu dengan Tiat Wan Tjunya. Pikirnya kalau berhasil baik, kalau kalah Tong Leng yang ketempuhan.

Belum tertawa gilanya habis mukanya sudah berubah, sebab dua Tiat Wan Tjunya tak hujan tak angin sudah jatuh ke tanah.

Tjiu Piau adalah ahli melepas senjata rahasia, begitu melihat cara Bok Tiat Djin melepaskan senjata sudah dapat merabanya.

"Toako. kau lihat dua senjata rahasia itu pun satu keras satu lunak, satu Im satu Yang. Maksudnya dengan lunak mengalahkan keras, dengan keras mengalahkan lunak. Tapi kenapa berjatuhan lagi?"

"Mungkin arahnya lain, sehingga terjadi keras lawan keras, lunak lawan lunak. Karena salah raba ini menjadi gagal kembali."

Gwat Hee turut bicara.

"Tenaga Bok Tiat Djin sebenarnya lebih tinggi beberapa lipat, dengan cara keras lawan keras dan lunak lawan lunak. Lu Kang tetap bukan lawannya. Tapi di tubuh Lu Kang mengalir dua hawa Im dan Yang yang hidup dan saling bantu. Sebaliknya senjata rahasia Bok Tiat Djin adalah benda mati yang tak bisa saling membantu, dari itu tak dapat menang. Asal tangannya bekerja, aku kuatir Lu Kang pasti menderita rugi. Tengah mereka asyik bicara, Bok Tiat Djin sudah mencela t dengan ilmu Pau Tju Tiau Tjin ( macan tutul melintas sungai, lengan kanannya menggencet dari atas ke bawah dengan Tiat Tjui Kie Tjin ( palu besi menyerang kaisar Tjm Shi Ong ), lengan kirinya menyapu datang dengan Mang Him Liat She ( beruang buta mencari korban ), serangan berantainya ini memaksa Lu Kang untuk mengadu kekuatan dengan sesungguhnya.

Lu Kang menghindarkan semua serangan itu dengan baik. Gelanggang pertandingan tengah serunya. Tiba-tiba perhatian orang beralih demi didengarnya suara burung aksasa melewat terbang. Di punggungnya burung raksasa itu menggemblok seekor burung kecil. Burung itu berputar sekaii lagi, sehingga tegas dilihat Tjiu Piau. Kiranya seekor burung garuda yang sangat besai. Sedangkan burung kecil itu adalah kakak tua berwarna ungu kepunyaan Tjen Tjen. Burung itu bercowet kegirangan menemukan orang-orang, sesudah itu ia terbang berseru, "Toako kau lihatlah burung itu? Kakak tua itu adalah kepunyaan Tjen Tjen, jangan- jangan ia sudah meloloskan diri dan datang ke mari" 'Budak itu sangat cerdik, kalau dia datang surgguh berabe”. kata Gwat Hee dengan cemas.

Djie Hai mengawasi ke mana burung itu berlalu. "Jangan- jangan Suhupun ada di sana." Ketiga orang ini hatinya risau. Karena orang yang akan datang itu menguntungkan atau merugikan tidak diketahuinya.

Saat inilah Lu Kang mengeluarkan jurus Twa In Toh Gwat ( mendorong awan meraih bulan). Kedua tangannya terangkat naik, sedangkan dua tangan Bok Tiat Djin secepat kilat datang menggencet. Empat tangan itu bentrok mengeluarkan suara 'plakk' yang keras sekali. Sekali ini perhitungan Bok Tiat Djin tepat sekali. Keras lawan lunak, lunak lawan keras ditambah tenaganya yang berlipat ganda di atas Lu Kang. Sekali ini saja Lu Kang kena dipukul mundur sebanyak dua langkah. Lu Kang menggeliat sebentar, dari mulutnya menyemburkan darah hidup.

Bok Tiat Djin tertawa terbahak bahak. "Pang Kim Hong, Pang Kim Hoig! kini Im Yang Kangmu tak dapat menjagoi lagi di kolong langit iri. Lu Kang kutanya kepadamu, dari mana kau dapat mempelajari ilmu ini? Wartakanlah kepada suhumu atau Sou-tjou mu. bahwa Perig San Pai minta bertemu untuk mengadu kekuatan!"

Bukan saja Bok Tiat Djin yang kegirangan setengah mati.

Louw Eng pun turut beigirang atas kemenangan orangnya itu. Menggunakan ketika baik itu maju ke depan, dipandangnya Lu Kang sambil berkata:

"Bok heng mengeluarkan tangan terlalu berat, sehingga melukakan orang, lekas lekas Lu heng berobat dan istirahat, ia berpaling pada Ong Sui Sen "Ong Shi heng. maksud kami datang ke sini hanya numpang tetirah, sebab di sini cukup tenang. Atas ini mohon Shi heng memandang persahabatan antara aku dan ayahmu. Mengenai mereka dikarenakan mabuk arak sehingga menjadi onar. sehingga membuat kami tidak seperti tamu lagi. Kalau Ong Shi-heng tidak keberatan hari esok kami akan mengadakan perjamuan. Ke satu untuk mengunjukkan rasa terima kasih kami atas perawatan baik dari Shi heng. Kedua untuk menghaturkan maaf dan menebus dosa hari ini. Apakah Shi heng tidak keberatan?" Ong Gwat Hee mendengar ini menjadi gelisah, ditarik tangan kakaknya. "Kak bagaimana sekarang? Mereka sudah berdamai kita bagaimana dapat melarikan diri?"

"Tenang saja dulu, lihat saja bagaimana jadinya."

Ong Sui San berdiri sambil tertawa, ia berkata "Atas kedatangan Tju wie, di sini menjadi lebih ramai. Sayang orang orangku udak mengenal aturan. Dengan kepandaian- nya yang tidak karuan masih berani mempertontonkan diri atas pengajaran dari Bok Tjian pwee, boan pwee menghaturkan terima kasih." Ia berpaling pada Lu Shi heng tee. "Ingatlah baik baik, di air kalian dapat mempertunjukkan kejelekanku itu, tapi sekali kali jangan mengganggu orang di darat."

Mendengar nada suara ini. Louw Eng sadar bahwa mereka sudah merusak pamor pemilik pulau ini. Kata-kata itu berarti mengatakan mereka tak dapat menandingi para tamunya di darat. Tapi untuk di air mereka tak dapat dibuat celaka.

Louw Eng sadar pada tabun yang lalu Ong Sui San bertabiat tak mau mengalah. Barang siapa berani berbuat salah kepadanya, walaupun dewa akan dilawannya. Kini tenaga mereka tengah dibutuhkan, permusuhan tak boleh dilanjutkan, dengan sabar ia berkata: "Di bawah pimpinan yang gagah tidak terdapat perajurit yang lemah. Barusan saudara saudara Lu sudah menunjukkan ilmu di air yang mengagumkan sekali. Tapi untuk kami yang tak dapat berenang, asal kecebur di air pasti ilmu kamipun turut kerendam "

"Tjian pwee terlalu merendah, kapan hari kami masih mengharap pengajaran yang berharga dari Tjian pwee Tjian pwee. Kini hari sudah malam, kami mempersilahkan Tjian pwee Tjian pwee naik ke pulau untuk beristirahat. Lu Toako antarlah mereka."

Lu Tie jalan di muka. Lu Hoo mengikuti di belakang sambil menggendong Lu Kang. Oug Sui Sen sesudah memberikan jalan dulu pada beberapa orang baru mengikuti dari belakang.

Pantai itu sangat mengherankan, yakni memanjang seperti jalanan. Kanan kiri tergenang air, Kalau ingin sampai ke rumah rumah yang berada di pulau lebih cepat mengambil ja an air dari pada jalan darat-Sesampai di tepi danau Lu Tie berkata : "Kita memotong jalan ini saja! Lebih dekat." Tak menoleh lagi, kakinya melangkah masuk ke air, dengan cepat air sudah merendam sampai ke lututnya. Lu Hoo sambil menggendong Lu Kang juga melangkah ke air, air merendam sampai di pinggangnya. Tong Lengpun maju melangkah seenaknya. Begitu kakinya kena air seluruh tubuhnya masuk ke dalam. Tak tahu nya air itu demikian dalam, sesudah gelebekan dan menenggak beberapa ceguk air danau, baru kena ditolongi Bok Tiat Djin.

"Jalan air lebih enak, tapi kalau Tju wie tidak suka boleh ambil jalan darat."

Habis berkata, perlahan lahan ia melangkah kan kakinya ke air. Tampak tubuhnya semakin melangkah semakin rendah, seolah-olah berjalan di tangga saja! Akhirnya seluruh tubuhnya terbenam dalam air. Tak lama kemudian alunan airpun hilang dan menjadi hening, dan tenang.

Caranya ungkang angkit masuk ke air ini, mengingatkan orang pada setan air, sehingga membuat bulu roma pada berdiri!

Orang tahu. bahwa mereka sengaja mempertontonkan kepandaiannya- Lou Eng dan kawan-kawannya bengong mematung melihat ini. Tak lama kemudian, di pantai seberang kelihatan tubuh Ong Sui San yang muncul sedikit- sedikit seperti tak kejadian apa-apa, ia mendarat ke pantai. Waktu diteliti terdapat sesuatu benda di punggungnya.

Orang orang menjadi heran, berlarian dulu mendahului pergi ke pantai seberang. Tampak di pasir menggeletak sesosok tubuh yang basah kuyup. Wijahnya telah menjadi pucat pasi, tak berkutik menjadi mayat. Orang ini tak lain dari Mau San Hek Hoo! Mayat ini sudah merapung di air dan kena didaratkan oleh Ong Sui Sen.

Tak terkira kagetnya Louw Eng, matanya berputar memberi isyarat pada Djie Hai. Sebab hanya Djie Hai lah yang mengetahui rahasia ini. Djie Hai berlagak gila seperti tak melihat. Louw Eng maju paling mukai pura-pura memeriksa denyut jantungnya. Se-Sndah itu dengan sedih dan wajah berputus asa ia berkata: "Tak tertolong lagi jiwanya* Entah siapa yang mencelakakan Hek Hoo-heng ini? Kini harus bertekad untuk melakukan pembalasan untuknya!'" Tak tertahan lagi air matanya bercucuran.

Djie Hai hatinya bergerak:"Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita berlalu?" Ditariknya tangan adiknya dan Tjiu Piau.' "Tempat ini tidak baik untuk didiami terus.-Kini saatnya tiba untuk melarikan diri, bagaimana pendapatmu pergi atau tidak?”

"Ketika apa?" tanya Gwat Hee dengan gelisah.

"Hek Hoo itu mati di tangan Louw Eng sendiri. Kini ia tengah bersandiwara agar orang tidak mencurigai ia yang melakukan penbunuhan itu. Dengan ancaman untuk membuka rahasia kita paksa Louw Eng untuk melepaskan kita. Kalau Louw Eng melulusi permintaan kita dengan sendirinya yang lain akan setuju saja."

"Bagaimana caranya?" tanya Tjiu Piau. "Kita harus sampai ke pantai dan naik perahu, tanoa pamit kita berlalu. Misalkan mereka tak dapat mengejar kita itu yang terbaik. Kalau saja terkejar baru kita bicara dengan Louw Eng." Baiklah kata dua orang itu dengan berbareng.

"Ingatkah di mana kita mendarat tadi? Sebelum kita mencapai perahu yang tengah berlabuh itu. Kita harus merepotkan dulu mereka dengan akal, agar perhatian mereka menjadi kacau. Kita saling memberi tanda, begitu dapat ketika segera mengangkat kaki."

"Bagus." jawab Djie Hii "dengan bertepuk tangan tiga kali sebagai kode. Mengenai akalnya serahkan padaku!" Sesudah berkata ia berbisik pada Gwat Hee. Kemudian pada berlarian untuk melihat permainan Louw Eng,

Louw Eng dalam sedihnya mengucurkan banyak air mata buayanya. Tiba tiba ia berpaling pada Ong Sui Sen sembari berkata dengan tajam. "Ong'Shi-heng apakah di pulau ini tidak terdapat orang luar?"

Dengan wajah yang tetap tenang Ong Sui Sen menjawab. "Bu Beng To adalah tempat yang tersembunyi, dapatkah kiranya orang luar datang ke mari? Demikian juga dengan kalian, kalau tidak mendapat petunjuk dari ayahku jangan harap datang ke sini! Lagi pula semenjak kami mendiami pulau ini tak pernah menjumpai barang seorang panca longok. Kamipun tidak mempunyai ganjalan apa apa dengan orang luar, bilamana datang orang luar, paling paling untuk menyeterukan kalian?" Dengan kata katanya ia membersihkan diri dengan baik. dan menyatakan dirinya hanya sebagai penonton saja.

Louw Eng berpikir. "Kau dapat membersihkan diri demikian baik, akupun akan menjadikan diri dari tamu menjadi tuan rumah. Sehingga pulau ini dapat kugunakan dengan bebas. Baru saja mulutnya akan dibuka. Tiba tiba terdengar suara Djie Hai berteriak:

"Lihat! Di sana ada lagi mayat terapung bukan?" Orang orang memalingkan kepalanya menurut arah telunjuknya. Dalam penerangan bintang yang demikian suram. seolah olah benar saja terdapat benda merapung. Diam diam Louw Eng terperanjat. Pikirnya; "Ini pasti mayat dari Pek Hoo." Ia berlari memburu ke sana beramai ramai.

Akal Djie Hai mendapat hasil, buru buru ia bertepuk tangan tiga kali. Ketiga orang itu segera mengeluarkan ilmu mengentengkan tubuhnya. Pesat menuju ke arah timur laut. Kiranya diam diam Djie Hai membuka baju luarnya dan dibungkusnya sebilah papan. Waktu Louw Eng dalam keadaan sibuk dengan sandiwaranya benda ini dilepas Djie Hai. Sedangkan yang lain otaknya tengah memikir siapa pendatang yang membunuh Hek Hoo itu. Sehingga orang- orang yang demikian banyak ini kena di-ceboki Djie Hai.

Bu Beng To ini tidak seberapa besar, dalam waktu sebentar saja Djie Hai dan dua orang lagi sudah berhasil ke pantai utara; dengan sekali loncat mereka sudah berada di perahu yang berpendayung dari besi, mereka tak dapat mengayuhnya dengan baik.

Secara adug adugan dikayuh kayuhkannya pendayung itu. Biru saja perahu itu mau bergerak. Gwat Hee menahan secara tiba-tiba. "Perlahan dulu!" Tubuhnya meloncat ke perahu satunya lagi dengan pisau kecil perahu itu dibacok bacok. Kemudian tubuhnya mencelat kembali. "Hayoh!

Lekas lekas kayuh!"

Atas permainan di air, sangat asing untuk tiga orang itu. Dengan pengayuhnya yang berat mereka tak mengetahui caranya me-ngayuhkanpendayungitu. Sehingganerahu itu berputar putar di atas air Gwat Hee mengambil nengayuh itu, dicontohnya bagai mana caranya Lu Tie mengayuhkan pendayungnya, sehingga perahu itu berjalan. Pendayung itu sangat berat, baru saja beberapa kali Gwat Hee mengayuh, ia sudah merasa lelah. Djie Hai buru buru sedia menggantikannya.

Ketiga orang ini belum melihat pergerakan orang-orang di darat, sehingga bernapas lega

"Toako, apa yang kau bicarakan dengan Louw Eng tadi?" tanya Tjiu Piau.

"Kini belum saatnya untuk kita bicara dengan teliti. Sebaiknya kita berdanmai, bagaimana caranya untuk menghadapi mereka jika kita terkejai?"

'Misalkan satu lawan satu saja kita tak dapat melawannya. Lebih-lebih mereka terdiri dari tujuh jago-jago kelas berat, kalau terkejar, sukar untuk mengatakannya," jawan Tjiu Piau.

"Kita harus mencari akal untuk satu lawan satu," jawab Gwat Hee.

"Aku kuatir mereka tidak datang sendiri-sendiri." "Perahu yang satu itu sudah kulubangi beberapa buah,

dengan perahu itu sudah tak mungkin mereka mengejar kita. Yang ditakuti di pulau itu terdapat pula Perahu lain, kalau tidak Kita tak perlu kuatir. Hanya empat penghuni pulau itu saja yang mengerti ilmu di air dan dapat mengejar kita. Tapi empat orang ini tidak bermusuhan dengan kita, juga bukan orang kepercayaan Louw Eng, bila mereka dapat mencandak masih bisa berdamai dengan mereka," kata Gwat Hee.

"Kalau begitu," kata Djie Hai "kita terpaksa harus menjalankan akal licik. Waktu turun tangan kita harus menggabungkan tiga tenaga kita untuk jalan hidup. Tjiu Piau Hian-tee kau kira bagaimana?"

"Begini baik juga, sayang kepandaianku tidak seberapa. Hanya dalam melepas senjata rahasia aku dapat bergaya juga. Hweesio yang gemukpun pernah merasakan beberapa batuku!" Kata-kata ini membuat Gwat Hee ber besar hati, tangannya digosok gosok "Ada ! Ada !" katanya.

Djie Hai mengerti bahwa adiknya sudah memikiri sesuatu jalan atau pendapat baik. "Kau sudah mempunyai pendapat apa?" tanya Djie Hai terburu buru.

"Tjiu Piau koko, kau tahu bahwa kami dua saudara sudah biasa menggabungkan tenaga. Dengan cara ini kami masih dapat bertahan untuk menghadapi lawan Kini ditambah tukang melepas senjata rahasia, tiga tenaga digabung per mainanpun bertambah banyak Nah gini! Aku dan Toako menghadapi lawan dengan Kong Sim Tjiang, Kong Sim Tjiang menggunakan tenaga telapak tangan, dapat benar benar bertenaga dapat juga tidak.

Dengan ini dapat membuat lawan kalang kabut, dalam keadaan inilah. Kau hajar musuh dengan batu. Tempo hari Tong Leng Hweesio berhasil memenangi kami sejurus, tapi kini kau di samping kami. Aku berani memastikan ia tak dapat berbuat apa-apa lagi terhadap kita!'

"Cara ini memang baik. Tapi aku tidak mengetahui waktu kalian menggunakan kenapa atau tidaknya. Kalau aku sudah tahu dimana digunakan tenaga kosong, dapat kubarengi melepas senjata, musuh dalam keadaan limbung pasti kena kuhajar."

"Apa kau hanya menggunakan batu melulu?" tanya Djie Hai. "Oh, jangan kuatir Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu masih belum hilang dari muka bumi!"

"Kalau begitu bagus, Hian tee, kalau terpaksa kau pergunakanlah mutiara itu."

"Yah, kalau terpaksa". Hatinya tidak terasa lagi merasa kesal. Sebab Bwee Hoa Tok Tju ini terdiri dari dua macam racun. Ia sendiri hanya mempunyai semacam obat pemunahnya, sedangkan pemunah dari ular seribu macam itu ada pada Tjen Tjen. Barang siapa kena racun ini jiwanya pasti tak dapat tertolong lagi. Apakah Louw Eng dan kawan- kawannya mempunyai dosa yang harus ditebus dengan jiwanya?

"Adanya mutiara itu, membuat hatiku tambah berani. Tjiu Piau ko kau ingat saja. Kalau kita mengeluarkan jari rapat tandanya bertenaga benar benar, tapi kalau jari terbuka tandanya tidak bertenaga. Sesudah musuh kena tipu kita badannya tentu limbung, gunakan ketika itu dengan baik."

Tjiu Piau mengangguk-angguk mendengar itu. Kembali ia bertanya pada Djie Hai : "Toako, sebenarnya Loa Eng mengatakan apa sih?" Djie Hai menceriterakan apa yang dibicarakan antara ia dan Louw Eng. Juga tentang kematian dari Mao San Djie Hoo. Akhirnya Djie Hai menutup penuturannya dengan kata: "Louw Erg hanya bisa bicara kata kata gila. Lihat saja wataknya tidak berjiwa patriot sama sekali Dari itu kata katanya boleh dianggap seperti anjing menggonggong."

"ivalau Louw Eng berdusta, kenapa Djie Hoo dibunuh?" "Kesatu kata katanya kena dicuri dengar oleh Djie Hoo,

sehingga ia takut mendatang kan bencana dihari kelak pada dirinya. Kedua membunuh dua orang untuk Louw Eng sudah biasa. Ia membunuh dengan harapan b:sa dipercayai kita."

"Kaisar berkata benar," kata Gwat Hee "Tahukah sepuluh tahun lebih berapa banyaK orang orang dari pencinta negara mati di tangannya, terhadap manusia ini, tak boleh kasihan lagi." Kata-katanya Gwat Hee membuat Tjiu Piau manggut-manggut tak henti hentinya. Ia merasa kagum ternadap gadis yang amat cermat ini. Matanya melirik, tampaklah olehnya seorang gadis yang semakin gagah. Hatinya merasakan goncang!

Sebaliknya Djie Hai pun menanyakan apa yang diceriterakan Louw Eng pada Tjiu Piau. Dengan sejujurnya Tjiu Piau menceritakan apa yang didengar.

"Akupun sudah menduga dari semula, bahwa katanya itu bohong belaka. Kini dugaanku tidak meleset barang sedikit. Untung kita„tak dapat diadu-dombnkan. Baiklah Louw Eng, Louw Eng maksudmu ingin kami bentrok. Sebaliknya kami akan bersatu padu, untuk menghadapi kau bangsat tak kenal malu!" Mendengar kara ini Tjiu Piau merasa kan perkataan Lou Eng benar benar tidak karuan jantungnya.

"Perkataan toako benar adanya Kita bersama tujuan untuk mendaki Oey San dan menemukan orang yang meng- antarkan sajak itu. Di situ kita baru dapat membereskan penasaran kita selama delapan belas tahun dan menghilangkan penasaran dari orang tua kita.

Saat inilah terdengar suara yang aneh, tidak jauh dari tengah tengah danau terlihat sinar api menjulang ke angkasa. Agaknya senerti panah api, tapi panah api tidak seterang ini!

Kita berbalik melihat orang orang di Bu Beng To. Begitu mereka tiba ditempat terdapat msyat yang ditunjuk Djie Hai, Lu Tie mendahului yang lain turun ke air. Seperti ikan saja carananya ia berenang. Sebentar kemudian ia sudah sampai ke benda yang dikebut mayat itu. Begitu sampai tak tahan jaei ia tertawa ha - ha-- ha-- ha-- Dalam kegelapan orang orang tidak dapat melihat tegas apa yang dikerjakannya terhadap mayat itu. Suara tertawa memecah suasana itu. begitu melihat Lu Tie mendarat dengan pakaian anak sekoiah!

"Di mana ada mayat, hanya baju luar ini yang terdapat!" kata Lu Tie sambi! tertawa terpingkal p»ngkal Louw Eng mengenali baju kepunyaan Djie Hai dan dilihatnya Djie Hai sudah tak ada di.sttu. Ia naik ke tempat tertinggi dari bagian pulau itu, di lihatnya sebuah perahu tengah bertolak pergi Ia sadar kena diingusi bocah bocah itu, gusar dongkol, gelisah malu menjadi situ di dalam pikirannya.

Bok Tiat Djin, Tong Leng Hweesio dan keempat orang lain sudah sampai di tempat Louw Eng berada, louw Eng mengkerutkan keningnya menghadap pada mereka. Akal bulusnya kembali ke luar. "Tjuwie dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri, bahwa Hek Hao mati, Pak Hoo hilang sedang kan ketiga bocah ini melarikan diri. Kalau bukan kerjaannya bocah bocah ini siapa lagi yang melakukan?

Bocah bocah yang masih hijau ini biar bagaimana tak dapat terlepas dari tangan kita. Baiklah kini kita tanggap. Sesudah itu kita baru mengurusnya!' la tahu ilmu di air terhitung Ong Sui Seng yang terlihai. Kalau saja mendapat bantuan nya alangkah baiknya Otaknya segera oer putar untuk memanasi orang: "Ong Shi heng mendiami pulau ini tak pernah ada yang beraut berbuat kurang ajar datang ke sini. Tak kira kini terdapat pembunuhandi danau ini, lebih lebih yang dibunuh itu adalah kawan seperjuargan dari kita.

Misalkan kabar ini sampai tersiar di dunia Kang Ouw, sungguh tak enak di pendengaran Tong Leng, Hek Pau dua saudara bantulah aku untuk membereskan hal ini. Agar peristiwa ini tidak sampai tersiar di luaran dan merusak nama baik dari raja sungai Ong Hie Ong.'* Mendengar kata kata dari Louw Eng ini, kedua mata Ong Sui Sen kontan mendelik, la tahu kata kata Louw Eng ini mengandung suatu siasat. Sebenarnya tidak perlu Louw Eng turun tangan, hal ini pasti akan di Selesaikannya. Karena iapun tahu hal ini bisa merusak keangkeran nama ayahnya. Tapi di sebabkan Louw Eng berkata begitu, batinya jadi berbalik pikir. Dengan senyuman yang memenuhi mukanya ia berkata! "Kalau Sam Wie Tjian pwee hendak turun tangan, tidak satu perkara di riunia ini yang tak dapat dibuat beres- Dengan inilah Bu Beng To akan lebih terkenal lagi.

Sebelumnya Siau Pwee menghaturkan terima kasih." Kembali ia mengambil jalan tengah. Louw Eng tak dapat berbuat apa apa. Diajaknya kawan kawannya pergi mengejar Perahu yang berlabuh itu di iaikinya dan d'kayuh keras keras. Pengejaran dilakukan dengan tergesa-gesa.

Bok Tiat Djin adalah akhli mengayuh perahu, dengan cepat perahu itu melesat maju ke muka. Tak lama kemudian terdengar teriakan Tong Leng yang mengatakan celaka. Kiranya liang yang dibuat Gwat Hee sudah mulai bereaksi begitu kena tekanan berat badan ketigaorang itu. Air makin lama makin banyak yang masuk. Nasib perahu itu segera akan tamat. Tong Leng yang paling gelisah. Bok Tiat Djin dapat juga bererang, tapi untrk menolongi oraug. bisa bisa jiwanya juga akan mati konyol. Ia mengambil ke- putusan untuk tak menolong orang. Louw Eng memutar oraknya terlebih cepat dan biasa. "Dengan kepandaian kami ini apakab harus mengantarkan jiwa secara cuma cuma di Bu Beng To ini? Thti tiang hu sebelum mati harusbirdaya.' Dengancepat dirogoh sckunya dan ditepaskan panah apinya yang dapat melesat sejauh 10 lie guna minta pertolongan pada Ong Sui Sen.

Sinar api inilah yang dilihat Djie Hai dan saudara - saudaranya. Tapi walaupun sudab lama api itu padam, tak terlihat gerakan apa-apa di atas pulau. Menurut per aturan KangOuw kalau sudah melihat tanda minta tolong, harus segera memberi isyarat lagi sebagai tanda balasan. Tapi heran sekali orang orang di pulau itu tidak menghiraukan tanda bahaya dari Louw Eng ini. Liang di perahu itu kian lama kian besar, air sudah hampir memenuhi lambang perahu itu. Sedikit lagi saja air masuk sudab cakup untuk mengaramkan perahu itu. Ketika ini-lan Louw Eng teringat waktu membunuh Hek Hoo, papan perahu pada merapung. Mengingat ini hatinya merasa lega.

Tong Leng tak henti hentinya menyumpah nyumpah Djie Hai bertiga. Katanya ini pasti kerjaan mereka, kalau ia tak mati. Djie Hai tiga orang akan dipencet dan diremas satu satu katanya. Hanya Bok Tiat Dju sajalah yang tetap tenang. Pikirannya kalau sapai perahu karam, dengan meminjam tenaga balikan buru buru memecat menjauhkan diri dari dua orang ini, agar tidak sampai dipegangi dan mati konyol menjadi setan air. Louw Eng mendongkol bukan main pada Ong Sui Sen.

Tapi ia sudah mempunyai daya untuk menyelamatkan dirinya. Akal itupun diberi tahu pada kawannya sehingga mereka menjadi kegirangan. Sesudah berdamai, tubuh tiga orang ini segera mencelat ke atas. Louw Eng membarengi menghajarkan pengayuhnya nada perahu itu. Demikian juga dengan Tong Leng dan Tiat Djin menghantamkan tangannya pada perahu itu. Atas hajaran dari tiga orang perahu itu menjadi kepingan-kepingan papan yang agak besar. Dengan indah mereka turun dari udara hinggap di atas papan-papan itu.

Sesudah berdiri teguh Louw Eng memunguti belasan keping papan itu.

Dengan tolol-tololan Tong Leng bertanya pada Louw Eng: "Louw Eng, kayu yang basah ini mana dapat dipakai masak?"

"Kau turut saja caraku." Habis berkata, kepingan papan itu dilempar sejiuh tiga empat tumbak, tubuhnya menyusul menginjak papan papan itu. Begitu sampai begitu dilempar lagi sekeping papan dan tubuhnya kembali mencelat dan hinggap di papan itu. Demikianlah ia maju ke muka. Papin papan yan? bekas dipijak Louw Eng dipergunakan Bok Tiat Djin dan Tong Leng. Dengan cara ini ketiga tubuh orang ini seperti terbang di atas air. Lebih cepat puluhan kali dengan naik perahu!

Sesudah menempuh perjalanan jauh juga, papan papan itu segera akan terpakai abis. Dalam saat ini Louw Eng mengikat beberapa papan itu dengan tambang Ujung tambang dipegang di tangannya, habis dipakai papan itu bisa ditarik pulang, sehingga dapat di pergunakan tak habis habisnya. Bok Tiat Djin melihat ini merasa senang bahwa jiwanya tidak bakal mati. Atas ini ia mengakui kecerdikan Louw Eng. Tak lama kemudian, di muka mereka sudah tampak sebuah perahu.

Louw Eng terbahak - bahak tertawa kesenangan pikirnya."Bocah-bocah ini hampir saja berhasil melarikan diri dari tanganku, tapi akhirnya mereka tak dapat meloloskan diri dari tanganku. Dengan kepandaianku aku selalu mengalami kemujuran di dunia Kang Ouw. Kali ini kalau aku berhasil lagi dalam pertemuan Oey San namaku akan menjadi terkenal benar benar, mengingat Oey San lantas teringat kata kata sajak yang dimiliki Djie Hai. Tjiu Piau, Gwat Hee. Tiga suJah diketahui, hanya tinggal satu bari? yang belum diketahui. Baris itu pasti menunjukkan d' mana mereka harus berkumpul dimalaman Tiong Tjiu.

Karena pentingnya sajak .itu aku harus mendapatkannya, hal ini harus kuselidiki dari Djie Hai. Terkecuali dari itu, akupun harus mengetahui di mana tempat tinggal dari ibunya. Sesudah itu baru kuhabiskan riwayat mereka." Memikir sampai di sini, senyumannya yang jarang itu kembali ke luar.

Djie Hai tiga orang sekuat tenaga mengayuh perahu.

Danau itu cukup lua?. sehingga mereka tak dapat membedakan arah tujuan. Bagusnya Gwat Hee sudah memperhatikan keadaan bintang di langit, rrenurut arah b'ntang mereka langsung menuju ke arah selatan. Di muka sudah terlihat gelagah gelagah yarg menutupi air danau Mereka tahu Bu Beng Ho sudah dekat, mereka girang sekali mendekati ja'an ke luar itu.

Tiba tiba mereka mendengar seruan dari belakang.

Dilihatnya tiga bayangan orang datang menghampiri, orang orang itu berjalan di air seperti juga didaratan saja. Ilmu kepandaian ini di dengarnya saja be'um. apa lagi untuk melihatnya. Tapi ini kenyataan di depan mata!

"Kak, mereka pasti adalah Ong Sui Sen dan Lu shi Heng tee. Orang lainmanamem punyai kepandaian begini?"

""Mereka tidak berempat bukan?" tanya Tjiu Piau.

"Lu Kang sudah terluka, tentu tidak datang." jawab Gwat Hee

"Kalau benar benar mereka yang datang, kita coba dengan kata kata untuk menasehatkannya mereka supaya tidak bergaul dengan komplotan Louw Eng yang jahat itu." Mereka sedang berunding dan bicara sedangkan pengejar sudah semakin dekat. Sehingga tubuh dari pengejar itu sudah dapat dilihat dengan tegas.

"Kak, kau lihat, orang yang bertubuh gemuk itu bukankah Tong Leng?" tanya Gwat Hee. "Nah! satu lagi itu Louw Eng!* seru Tjiu Piau.

Habis berkata kedua orang itu bungkem, karena tak mengira bahwdakepandaian di air dan tiga orang ini demikian menakjubkan. Tak terasa lagi mereka menjadi gelisah. Keadaan menjadi hening dan sepi, suara pengayuh saja dan loncatan ketiga orang yang terdengar. Suara tiga orang itu makin mendekat makin menakutkan Tiba tiba Djie Hai mendapat keputusan lain. Perahu itu dikayuhnya masuk ke dalam gelagah gelagah yang lebat, gelagah itu tumbuh lebih tinggi dari orang. di dalamnya terdapat tempat lain Arah timur dan barat ditutupnya, merupakan Pak-kwa tin di atas sungai."

"kita masuk ke dalamnya bersembunyi dan kita sikat satu satu!" kata Djie Hai. Tj u Piau dan Gwat Hee menganggukkan kepa lanya.

Suara loncatan kaki sudah terdengar dekat sekali.

"Kalau tiga bocah ini bersembunyi, urusan jadi berabe. Di mana kita harus mencarinya?” tanya Bok Tiat Djin. Louw Eng tertawa menakutkan sambil berkata: "Mudah, mudah sekali.- Kutanggung mereka lari ke luar!"

Tiga orang itu bercekat hatinya mendengar kata kata Louw Eng ini.

"Kita tutupi saja telinga, jangan mendengar! Bangsat tua ini kembali menggoyang kan lidahnya tak keruan." Belum suara Gwat Hee habis, suara Louw Eng sudah menyusul; "Keponakanku yang manis, keluarlah ! Jangan nakal!" Tiga orang itu tidak men Jawab.

"Kalau kalian tidak mau ke luar juga, hati hatilah dengan api yang akr.n mem bakar gelagah itu!" Tiga orang itu menjadi kaget, pikirnya: "Kalau mereka melepas api, ini sangat celaka," "Sebaiknya kita lekas memasuki gelagah itu, dengan harapan ada jalan ke luar dari dalam gelagah itu. Kalau kita berhasij, api itu tak dapat membakar kita," kata Gwat Hee sambil menunjuk ke satu jurusan.

"Cukup beralasan!" jawab Djie Hai Buru-buru dikayuhnya perahu itu ke dalam gelagah. Siapa tahu gelagah itu semakin lebat, perahu itu dipaksa jalan sesudah mendapat bantuan dari tangan untuk menyingkirkan gelagah-gelagah perintang. Di balik sana Louw Eng tak henti hentinya memberikan ultimatum. Ketiga orang itu tetap tak menjawab. Sinar api sudah terlihat,. Ketiga orang itu tetap mengayuh perahunya dengan tenang.

"Jangan takut dengan api! Api itu harus membakar dulu gelagah yang banyak itu, baru bisa datang ke sini.

Sedangkan kita masih mempunyai waktu yang cukup untuk-melarikan diri," kata Gwat Hee. Tiba tiba, Tjiittt! panah api terbang melewati kepala niereka.

"Celaka tiga belas, mereka memakai panah api!" seru Gwat Hwee dengan kaget. Sebentar saja api sudah membakar gelagah disebeklah kirinya.

Ong Djie Hai dan kedua saudaranya terkurung api di dalam gelagah. Louw Eng bermaksud membakar mereka hidup-hidup.

Ong Djie Hai menjadi gusar, ia berseru ker»s: "Hei Louw Eng bangsat yang ganas melebihi serigala. Jangan harapkau berhasil menipu kami lagi." 'Hmmm' terdengar jawaban yang mengejek. Kembali dua panah api terbang mendatang. Panah ini entah ter buat dari bahan apa terangnya bukan buatan, begitu sampai gelagah gelagah itu segera menyala Seolah-olah gelagah - gelagah itu seperti rumput kering. Dalam sekejap jalan ke muka sudah dikuasai Si Jago Merah.

Tiga orang menjadi bingung, ingin di putarnya perahu ke kiri atau ke kanan, lagi-lagi apt mendahului. Sehingga tinggal jalan mundur saja yang tak dikuasai api. Louw Eng bermaksud agar mereka mundur kembali. Siapa tahu mereka lebih suka mati dari pada kembali.

Api itu membuat engap pernapasan tiga orang itu, membuat matanya mengucurkan air kepedihan kena asap itu, tubuhnya mandi peluh kepanasan.

"Kita mercarl kesempatan untuk menerjang ke luar. Akan kuhantam ketiga tiganya dengan mutiara beracun agar mampus semua!" Belum sempat dua saudaranya men: jawab, tiba-tiba api sudah membakar jalan mundurnya.

Sehingga mereka terkurung api dan menantikan nasib saja..!

Apakah kita harus, mati secara begini? Apakah kita tidak dapat melewatkan kesusahan ini? Dun! Mati cara begini sungguh mengecewakan dan tak berharga!" kata Ong Gwat Hee.

"Orang hidup harus mati, tapi harus mati secara wajir. Sayang sakit hati dari orang tua kita belum dapat diusut secaia terang, sudah harus mati tak keruan!" kata Ong Djie Hai.

"Peristiwa Oey Sin s idah berlalu delapan belas tahun lamanya. Kini hari itu sudah dekat untuk kita menemui orang yang melepaskan sajak itu. Guna mengetahui kejadian yang sebenarnya. Asal aku dapat tahu kejadian dan peristiwa itu dengan terang, matipun aku senang!" sambung Tjiu Piau.

"Puteri dan puteri membawa pedang mendaki Oey Sin Ada tamu menanti malam Tiong Tjiu bulan delapan." Djie Hai membacakan sajak itu sambil mengelah napas : "Kini tinggal Tiu Hong-tee saja seorang. Semoga ia dapat mendaki Oey San pada waktunya Tapi mengandalkan dia seorang untuk membalaskan sakit hati dari kita berempat, agaknya terlalu berat beban ini untuk dipikulnya sendiri."

Api sudah semakin dekat. Gwat Hee nyap nyap dengan sengit: "Sayang kita tak dapal main di air. Asal saja aku tak mati. Atu akan mempelajari ilmu di air ini. dengan sesempurna sempurnanya." Habis berkata ia tertawa sedib. Gwat Hee men ulurkan tangannya sambil berkata : Tjiu Piau koko. Djie Hai koko. kita saling pegang tangan untuk mati." Tjiu! Piau mengulurkan tangan, dengan tangan Gwat Hee berpegangan dengan erat. ia me-t rasakan tanga i sigadis demikian halus dan licin, membuat hatinya tergerak!

Tapi waktu apa kini ? Sahmgga segala pikirannya

tentang itu padam sendiri Ong Djie Hai pun mengu'urkan tangan, tiga pasang lengan berpegangan dengan erat hatinya jalan napasnya seolah olah telah menjadi satu. Tjiu Piau memikiri ibunya diam se orang diri dengan sepinya di Thian Bok San. Mengharapkan ia kembali, tapi yang diharap itu takkan kunjung datang sepanjang masa. Tak terasa lagi air matanya membasahi pipi nya. Gwat Hee bertengadah ke langit sambil berkata. "Bu, kami kakak beradik menantikan waktu untuk menyusulmu ke Suargaloka!"

Asap api membawa hawa panas menyerang mereka, sehingga mereka sudah tak dapat berkata kata lagi. Lidah api menjilat ke samping perahu, membuat baju Gwat Hee yang berkeleberan kena terbakar. Buru buru direndamnya ujung baju itu ke air, sehingga api itu menjadi padam.

Dalam keadaan yang menentukan antara mati dan hidup, tiba tiba api di depan padam secara mendadak. Ini sungguh mengherankan dan tak terpikir otak. Kiranya gelagah yang di depan itu entah bagaimana tenggelam ke dalam air sehingga api mati dengan sendirinya. Cerecesssss, cisssss bunyi api dimakan air. Tak lama kemudian seiring dengan tenggelamnya gelagah yang lebat itu, terbentang satu jalanan, dengan menerjang api yang mengurung mereka bertarung dengan maut untuk mencari hidup. Alhasil dengan susah payah perahu mereka dapat melewatkan tempat berbahaya itu.

Mereka bergirang lebih dari setengah mati. Kejadian demikian kebetulan, seo'ah olah mereka mendapatkan pertolongan dari dewa saja. Tak lama kemudian mereka tiba di tepi danau. Perahu berhenti, mereka sebagai sadar dari mimpi berloncatan naik ke darat.

Kala ini sang surya sudah memancarkan sinarnya yang maha terang dari ufuk timur Awan awan merapung rapung sepeni bidadari menari. Suatu pemandangan di pagi hari yang benar benar menyegarkan. Orang orang yang baru mati menemui hidup lagi tak terlukiskan girangnya. Sinar surya menyorot mengusap muka mereka yang riang dan gembira bagai kupu kupu dimusim bunga.

"Kak, kenapa kita bisa hidup lagi? Apa benar-benarkah di dunia ini ada malaikat?" tanya Gwat Hee.

"Kita toh belum mati! Mengenai malaikat hanya dongengan belaka. Karena dari jaman rurba hingga sekarang pernahkah ad orang melihatnya? Kuraba ada orang pandai menolong kita, heran kenapa peno'ong itu tanpa mengunjukkan diri, dapat menolong kita, sungguh gaib bukan?" Habis berkata mereka berbareng menuju tepi danau. "Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan dari tuan dengan ini sekali lagi kami menghatur kan banyak-banyak terima kasih, terkecuali itu kami minta tuan penolong memberitahukan namamu, agar kami dapat mengingatnya sampai hari mati!"

Kata kata yang tak berapa bermanfaat ini mendatangkan bencana besar untuk mereka. Karena suara ini memanggil datang tiga orang, yakni Louw Eng. Tong Leng, Bok Tiat Djin. Pikir Louw Eng. Djie Hai bertiga sudab hangus dimakan api. Dari itu dengan enaknya ia mendarat

dengan carameloncat di papan mereka. Tengah mereka asyik beristirahat, tiba tiba terdengar suara orang bercakap cakap, sesudah dicari dengan teliti terlihatlah oleh mereka bahwa Djie Hai tiga orang tengah asyik berkata kata.

Keheranan mereka tidak alang kepalang. Tak terkira bahwa bocah bocah itu masih hidup. Pikirnya bocah bocah itu kalau tidak mati ke tembus, pasti sudah mati kepanggang.

Pikiran jahat Louw Eng berkata: "Kalicn dapat menyelamatkan diri dari air, kinilah terimalah kematian di daratan!* Kiranya per Cakapan Djie Hai sudah diketahuinya dan didengarnya. Louw Eng tahu bahwa ibunya Djie Hai sudah meninggal, juga mendengar sajak yang dibacakan Djie Hai. Yang mengatakan anaknya Tju Hong akan berkumpul dengan mereka di Oey San. Dengan tak dt sengaja ia mendapatkan seluruh rahasia itu. Louw Eng berpikir: "Cara yang terbaik adalah membereskan nyawanya bocah-bocah ter lebih dahulu." Sesudah pikirannya tetap ia berkata pada Tong Leng dan Bok Tiat Djin. "Bukankah Djie wie sudah mendengar percakapan mereka? Dari sajak mereka itu mengatakan bahwa mereka akan mendaki Oey San, Karenanya mereka itu adalah musuh kita. Cara apakah yang terbaik untuk meng urus mereka?"

"Sembelih dulu baru bicara!" jawab Tong Leng. Sedari semula Tiat Djin diam diam saja. Kini sesudah mengetahui maksud Louw Eng dengan terang. Ia mengeluarkan pendapat: "Di sini adalah tempat yang sunyi, sungguh cocok untuk membereskan jiwanya cecere ini!"

"Berikan aku yang menangkap'" kata Tong Leng sambil melangkah maju. Ong Djie Hai bertiga menjadi kaget waktu mendengar suara mereka. Tak terpikir akan berjumpa lagi dengan tiga lawan berat ini. Di balik tubuh Tong Leng yang besar, Tjiu Piau me lihat senyum Louw Eng yang misterius itu. Tak terasa lagi keringat dingin membasahi sekujur badannya.

"Tjiu Piau ko, ingat perkataan kita di perahu!" kata Gwat Hee. Sedangkan tubuhnya sudah berdiri berdampingan dengan Djie Hia memasang, kuda kuda hingga kedudukan mereka merupakan segi tiga.

Tong Leng dengan acuh tak acuh menghadapi ketiga orang itu: "Hai!!! tiga anak-anakan majulah berbareng, sedikitpun aku tak takut!" Kata katanya ditutup dengan gerakan tubunnya menghampiri Gwat Hee, tangannya dikepalkan siap menyerang

"Ha, paling juga ilmu Sian Wan Pai Gwat Yang akan dikeluarkan. Apakah kau hanya mempunyai jurus itu saja?" kata Gwat Hee .sambil mengejek. Tong Leng kena ditebak jitu isi hatinya. Dengan gusar ia berkata: "Yah. hanya jurus itu semenggah-menggah-nya. Dapatkah Kau melawannya!" Tangannya bekerja, suatu tenaga dahsyat yang sukar bandingannya membabat datang. Ta»pa gugup Gwat Hee menololkan kaki kanannyt. sedang kan kasi kirinya tidak bergerak, tubuhnya berputar ke kiri membuat seouah lingkaran, menghindarkan serangan. Sehingga tubuhnya berada di sebelah kanan seirmgr dengan tenaga berputar, kakinya menempel bumi dan kaki kirinya terangkat naik memandang pipi kanan lawan Tong Leng buru-buru mendek, tangannya menyapu menjurus ke perut musuh. Gwat Hee menekuk lutut kanan mingair menghindarkan serangan. Tangan kiri Tong Leng kembali sampai. Tangan itu demikian paniang. Dalam repotnya kelihatannya Gwat Hee tak dapat menghindarkan serangan itu.

Ia tahu Nui-kang Tong Leng sangat tinggi, tak dapat ditangkis, hanya dapat dilayani secara nek?d. Tjiu Piau berseru: "Kena,'* tangannya bergoyang membantu Gwat Hee.

Dua batu Tjiu Piau itu mengarah kedua mata musuh. Tong Leng hanya melihat di depan matanya melayang benda-benda kecil, buru-buru ditundukkan kepalanya. Begitu perhatiannya terpisah tenaganya tak dapat dikerahkan dengan keras, sehingga tenaga di tangannya menjadi berkurang. Sebaliknya Gwat Hee dengan sekuatnya menangkis serangan Tong Leng. Begitu dua tangan beradu, masing-masing bergetar, sehingga Gwat Hee tidak menderita rugi besar.

Tong Leng Hwee sio sudah dua kali kena hajaran Tjiu Piau. Tak heran begitu melihat Tjiu Piau turun tangan, hatinya menjadi gusar. Tubuhnya berbalik ingin menangkap Tjiu Piau, tapi sebelum hasratnya tercapai, angin dingin mendahului berkesiur di belakang otaknya. Ia berkelit secepat mungkin, dilihatnya Djie Hai sudah be diri di belakangnya, mereka berdiri di tiga sudut dengan sikap mengurung.

Dengan dingin Gwat Hee menegur:”Tong Leng Hweesio!

Apa gerangan yang membuat kau memusuhi kami? Ganjalan apa yang terdapat antara kau dan kami? Kau harus mengatakan dengan beralasan, kemudian kita baru dapat berkelahi dengan ada tujuan." Tong Leng menjadi melengak mendengar ini, pikirnya kata-kata bocah ini benar juga. Memang tak ada alasan dan ganjalan. Sesudah berpikir pergi datang baru ia menjawab. "Aku tak tahu segalanya, pokoknya tugasku hanya menangkap kalian dan menyerahkan kepada Louw Toaku!"

"Kalau demikian kau tidak bermaksud mengadu jiwa dengan kami, hanya bertujuan untuk menangkap raja?'

"Yah benar begitu!" Gwat Hee memberikan tanda dengan mata kepada Tjiu Piau sambil berkata pada Tong Leng: "Kalau begitu baik, kami juga tak ingin mengambil jiwamu tapi hanya ingin menangkap saja. Dengan ini kita tetapkan dan tak boleh melsnggar janji."

"Baik, baik. Aku tak kuatir tidak dapat menangkapmu." Djie Hai dan Tjiu Piau mengerti Gwat Hee berbuat demikian ini, sebab kalau tidak sukar sekali untuk menghadapi sekaligus tiga lawan tangguh ini.

"Apa satu-satu kami melawanmu, atau kau mau dikeroyok?" tanya Gwat Hee.

"Satu lawan satu bagaimana? Main keroyok bagaimana pula?" kata Tong Leng.

'Jika satu lawan satu setiap orarg melawanmu tiga jurus kalau dalam tiga jurus tidak ada yang kalah atau menang, kau tidak boleh lagi mencampuri urusan kami. Sebaliknya kalau kau mau dikeroyok, pasti tak dapat dengan mudah mengambil kemenangan, dari itu kukasih waktu dalam sepuluh jurus. Kalau kau tak dapat mengalahkan kami kau harus menghentikan tangan.

Tong Leng berpikir : "Kalau mereka mengerubuti aku, tak mudah untuk mengambil kemenangan. Apa lagi ilmu Kong Sim Tjiang yang kukoay itu sudah pernah merugikan aku. Sebaliknya kalau satu satu semua bukan tandinganku sehingga mudah untuk memenangkannya. Sebaiknya satu satu saja." Dari itu ia berkata: "Satu satu saja kalian maju!"

"Baik aku dulu yang menghadapimu!" kata Gwat Hee sambil tampil ke depannya.

Kata kata Gwat Hee ini, menguatiikan Djie Hai dan Tjiu Piau. Djie Hai berpikir: "Dalam tiga jurus Tong Leng tidak dapat memenangiku. Tapi adikku berkepandaian lebih rendah, aku tidak dapat menjaminnya " Dari itu ia selalu siap sedia di samping kalau-kalau terjadi hal yang di luar perkiraan. Demikian juga dengan Tjiu Piau lengan kirinya mengepal batu lengan kanannya menggenggam mutiara beracun. Sedangkan matanya mengawasi dengan penuh perhatian.

"Ingatkah perjanjian kita? Yakni tak boleh mencelakakan orang, hanya bolen menangkap hidup hidup saja!" kata Gwat Hee pada Tong Leng.

"Ingat!" jawab Tong Leng tak sabaran,

"Kau adalah Tjianpwee, maka itu kupersilahkan kau menyerang terlebih dahulu!" kata kata ini diucapkan dengan hormat sekali.

Tong Leng memutarkan lengannya, Serangannya segera akan terlepas. Tapi secara tiba tiba ia ingat sesuatu: "Dalam peraturan Lok Lim, kaum Boanpwee harus menyerang dulu, mana ada aturan Lo Tjianpwee menyerang terlebih dahulu." Dibatalkan serangannya segera, sambil berkata: "Tidak, kau harus menyerang aku!"

"Begitupun aku setuju tapi berilah ketika untukku, untuk memikir dulu, guna mencari jurus mudah yang dapat menangkap kau!" kata Gwat Hee. Tubuhnya diam tidak bergerak otaknya berpikir. Tapi apa yang dipikiri adalah cara bagaimana supaya ia dan saudara-saudaranya dapat melolosi diri.

Tempo sudah berlalu agak lama, tapi Gwat Hee be'um turun tangan. Dengan tak sabar Tong Leng membentak. ' Apa-apaan nih ?”

"Kau tunggu lagi sebentar, bisa tidak?" Ilmu silatmu sangat lihay dengan sendirinya aku harus mencari duiu ilmu yang lihay untuk melawanmu baru dapat menawanmu hidup hidup. Kini masih belum terpikir jurus ilmuku yang lihay itu!" Tong Leng menganggap perkataan orang betul juga. Terpaksa ia menahan sabar menantikan dia.