-->

Pahlawan Harapan Jilid 02

Jilid 02

Tjiu Piau berpikir. "'Kampung ini tempat apa gerangan? Aku mempunyai urusan di badan. Lebih baik tak singgah."

Sebelum ia membukai mulut, di bawah pintu tampak ke luar lagi seorang laki laki pula. Muka psnjang mata sipit.

Lagi lagi orang yang sudah dikenalnya. Orang itu berdiri di pintu, dengan suara halus berkata. "Tjung Tju sendiri ke luar menjemput tamu." Walaupun tak keras suaranya, tapi sepatah demi sepatah tegas terdengar di telinga Tjiu Piau. Nada kata kata belum hilang, dari dalam daun liu yang rimbun. mendatang seseorang. Orang ini kira - kira berusia limapuluh tahunan wajahnya gemuk, berpakaian sangat mentereng. Tak ubahnya sebagai hartawan besar. Dalam pandangan mata sangat menyolok sekali perbedaannya dengan pohon liu hijau ayu gemulai. Begitu ke luar pintu, segera berkata dengan suara keras: "Tamu agung di mana?" Begitu melihat Tjiu Piau lantas menyongsong sambil menjabat tangannya.

"Ban Liu Tjung menyambut kedatangan tamu agung. Bukan main sukar dan beruntung. Silahkan bermalam barang semalam di tempat kami yang buruk ini. Simbil mengikat tali persahabatan antara tuan dan kami. Ayoh silahkan masuk, silahkan masuk."

Perkataannya cukup ramah-tamah tanpa menunggu jawaban Tjiu Piau dituntun masuk. Sebelah tangan yang lain memberi isyarat kepada orang orangnya: "Lekas lekas sediakan hidangan dan minuman untuk menjamu tamu agung ini." Tjiu Piau dibesarkan di pegunungan sepi, tak biasa menerima perlakuan demikian, diperlakukan demikian hangat. Tak sampai hati untuk menolak. Tak sadar lagi kakinya sudah melangkah masuk. Tapi hatinya sudah mempunyai perhitungan lain. Baiklah sesudah meminum seteguk teh segera aku berlalu.

Tjung Tju dan Tju Piau berjalan di muka, dua laki-laki beralis tebal dan bermata sipit mengiring dari belakang. Mereka berbareng memasuki Ban Liu Tjung. Tak nyana kampung ini demikian menakjubkan sejauh mata memandang hanya hijau daun liu saja yang tampak Sima sekali tak ada bunga atau pohon lain. Di pintu masuk berdiri sebuah tenda kecil, masuk lagi ke dalam tak ada rumah yang kelihatan. Hanya terlihat jalan kecil berliku liku menjurus ke dalam. Dahan liu yang berjuntai menutupi jalan. Orang-orang berjalan di tengahnya, bagai dalam lukisan saja! Sesudah berbelok beberapa tikungan, rumah kecil itu hilang dari pandangan mata. Di muka terlihat sebuah rumah kecil terbuat dari susunan bata merah.

Rumah itu penuh dengan gaya seni dan indah tampaknya. Tamu dan tuan rumah masih-masing mengambil tempat duduk, kacung pelayan segera menyuguhkan teh harum. Tjung Tju itu berkata:

"Kekurang ajaran dari budak-budak kami itu harap Tuan maafkan. Kepandaian tuan yang luar biasa sungguh mengagumkan sekali. Siapakah nama lengkap tuan yang besar?"

Laki-1aki beralis tebal itu menyela dari samping:'Tuan ini dari keluarga Tjiu," Mendengar ini Tjung Tju itu bergoyang sedikit, tanyanya pula; "Dilihat dari kepandaian tuan barusan, mengingatkan saya pada ilmu Tjian Kin Bwee Hoa Tok Tju yang termasyur dalam dunia Kang ouw. Tidak tahu mempernahkan apa antara tuan dengan pendekar Tjiu Tjian Kin?"

Mendengar ini Tjiu Piau terkejut sekali, sampai gelas yang dipegangnya jatuh hancur dari pegangan. Orang orang itu seolah-olah tidak memperhatikan. Hanya matanya mendelong mengawasi menantikan jawaban, Tjiu Piau mengambil putusan dalam hati: "Biar bagaimana kali ini aku harus berdusta." Baru saja timbul pikiran begitu, mukanya kontan menjadi merah: "Tjian bwee Tjiu Tjian Kin. adalah paman jauh yang rendah."

Tjung Tju itu berkata sambil bergelak:

"Tak kira. hari ini dapat berjumpa dengan ahli waris Tjiu Tjian Kin, Tjiu Shi heng sebaiknya kau bermalam di kampung kami, hitung hitung istirahat saja bukan?" Di panggilnya dua pelayan dan dititahkan membersihkan kamar tamu. Atas paksaan dari tuan rumah.Tjiu Piau tidakdapat menampik. Tjung Tju itu berhasil menahan Tjiu Piau.

"Mohon tanya siapa nama tuan yang besar?"

Tjiu Piau sudah sekali membohong, kini terpaksa harus mendutta lagi. "Boan pwee bernama Liu. Tidak tahu siapa nama besar dari Tjian pwee?"

Tjung Tiu itu kembali tertawa, ujarnya.

"Yang rendah Ouw Yu Thian, bergelar Ang Bin Kauw (kauw semacam binatang jahat dalam sungai, binatang ini hanya binatang khayalan seperti naga muka merah) Yang ini Tjee Bin Kauw Ku To (kauw beralis ungu ) ini Tiang Lian Kauw Tam Tjiu Liong (Kauw bermuka panjang ) Sedangkan kami terdiri dari tujuh saudara orang orang Kang ouw menggelari kami Tjit kauw. Toako kami Louw Eng adalah saudara angkat dari Tjiu Tjian Kin.. Dari itu kita terhitung orang serumah."

Tjiu Piau terpaku mendengar ini. Tidak nyana belum berapa jauh dari rumah Louw Eng sudah berada di depan mata. Sungguh menyulitkan sekali, sebab pertemuan Oey San belum diketahui yang sebenarnya. Saudara dari keluarga Ong dan Tju belum dijumpai. Dengan tenaga sendiri sukar menghadapinya Sebaiknya aku harus menemui orang orang itu dahulu baru menemui Louw Eng. Memikir sampai di sini hatinya menjadi berdebar-debar. "Toako kami siang malam memikiri anak Tjiu Tjian Kin. Kalau ia mengetahui bahwa Tjiu Shi-heng berada di sini, betapa akan girangnya. Sayang Toako kini tak ada di sini. Hendaknya Shi heng berdiam di sini sebulan dua lamanya. Sesudah itu pasti Shi-heng dapat bertemu muka dengannya entah bagaimana pendapat Shi-heng?"

Dengan gelisah Tjiu Piau menjjwab: "Boan-pwee masih mempunyai sedikit urusan yang belum selesai. Dari itu harus mengejar waktu agar tak terlambat. Beginilah malam ini biar mengganggu tuan tuan semalam, esok pagi ijinkanlah Boan pwee pamit Kapan hari ada waktu, pasti Boan-pwee berkunjung kembali "

Belum sempat Tjung Tju itu berkata, tiba tiba dari luar terdengar suara ribut ribut.

"Ouw Siok siok kenapa kau rampas tamuku!" Seiring dengan suara tibalah sebuah gempelan benda hijau. Tak lain dari si gadis nakal yang tempo hari bertemu Tjiu Piau di Thian Bok San. Kedatangannya membuat Tjiu Piau keheranan.

"Oh, kiranya Tjen Tjen." kata Ouw Thian. "Sopanlah sedikit aku mempunyai tamu istimewa!Mari kuperkenalkan!"

"Tjea Tjen," dua patah kata ini diingat benar oleh Tjiu Piau. "Satu nama yang indah," puji hatinya,

"Siapa kesudian kau perkenalkan! Kami sudah saling mengenal!" kata Tjen Tjen. "Hai! betul tidak?" tanyanya pada Tjiu Piau. Tjiu Piau manggut membenarkan.

"Aku tergesa gesa ke luar rumah, sampai lupa mewartakan dulu kepadamu. Terkecuali itu aku tidak mendapatkan janji. atas ini harap dimaafkan." Tjiu Piau berhenti sebentar. "Sungguh di luar perkiraan kita berjumpa pula 'di sini." Tjiu Piau adalah seorans yang jujur, rak bisa ingkar pada janji Dari itu begitu melihat orang yang dijanjikan segera membuka mulut.

Sebaliknya Tjen Tjen merasa reli melihat tingkah laku Tjiu Piau. Sambil tertawa ia berkata: "Pertemuan ini direncanakan! Bukan di luar perkiraan atau hitungan! Biar janji lama dilanggar asal sekarang saja kau temani aku, mari sekarang juga kita pergi! Tempat yang indah sudah kucari!"

Diam diam Tjiu Piau merasa serba salah. Bagaimana aku dapat dilibat dia? Lebih-lebih Tjen Tjen adalah orang serumah dengan Ouw Yu Thian. Sedangkan Ouw Yu Thian adalah komplotan Louw Eng. Kalau semua tidak tersangkut dendam dan sakit hati denganku bukan main baiknya.

Sebaliknya kalau bukan? Tak ubahnya diriku ini seperti ikan di dalam bubu. Untuk menghilangkan kerisauan di dalam hatinya itu ia beikata: "Di mana kita bermain? Aku hanya kuatir diriku tidak dapat menyenangkan kau."

Tjen Tjen mencibirkan bibirnya sambil berkata: "Pokoknya kau sudah melulusi, soal menyenangkan atau tidak bukan urusanku. Ayu lekas!" Ditarik tangan Tjiu Piau. "Kau tahu di sini banyak tempat yang indah, pasti menjamin kau senang dan gembira!" sambung Tjen Tjen. Ia berkata pula pada Ouw Yu Thian: "Ouw Siok siok tamu ini kupinjam selama tiga hari. Atas ini sebelumnya kuhaturkan banyak terima kash " Sebelum Ouw Yu Thian sempat menjawab. Tiang Bin Kauw sudah mendahului membuka mulut: "Ouw Djiko Tien Tjen senang pada tamu kita, berikanlah bermain-main dengan Shi heng beberapa hari." ia berpaling pada Tjiu Piau, sambungnya: " Tjiu Shi-heng, urusanmu sangat penting, tapi pertemuan inipun sangat sukar didapat bukan? Kalau tak terpaksa benar, kuharap tinggal di sini lebih lamaan." Nada suara dari laki laki bermuka panjang ini. entah bagaimana tak sedap dalam pendengaran. Tjen Tjen bersorak kegirangan sambil berseru; "Tindakan Tam Siok-siok sangat bijaksana."

Tjiu Piau hatinya berpikir: "Gadis ini cerdik sekali, tapi kalau bicara sekehendak hatinya saja, sekali kali tak memakai otak. Hal ini baik sekali untuk mengorek keterangan dari mulutnya. Dari itu lebih baik aku turut dengannya pergi bermain main. Terkecuali itu lebih banyak kesempatan, andai kata ingin menyingkir dari sini. "Sesudah berpikir begitu ia berkata : "Niat Boan pvvee ke Hang Tju hanya urusan dagang saja.

Kini atas perlakuan Tuan tuan yang demiKian baik. Boan pwee hanya menurut saja."

Tjen Tjen berseru kegirangan: "Benar!" Tubuhnya meloncat melepaskan Tjiu Piau "Lekas turut aku!"

Matahari hampir terbenam di arah barat. Tjiu Piau mengikuti Tjen Tjen dari belakang. Mulutnya berteriak teriak "Malam hampir datang. Sebaiknya hari esok saja kita bermain!" Tjen Tjen tidak menghiraukan perkataan orang ia lari terus, sebentar saja tubuhnya hilang di antara ribuan daun liu yang hijau. Lama kemudian baru terdengar suaia Tjen Tjen, "Main dimalam hari, lebih menyenangkan dari pada main disiang hari, lekaslah ikut padaku!"

Tjiu Piau berlari ke arah suira itu. Tapi ia   tak mendapatkan   Tjen Tjen.  Ia ingin menaik ke pohon yang tinggi guna mencarinya.  Tapi kiri kanan tak ada pohon lain terkecuali   pohon liu.   "Ah,  sesuai benar kampung ini bernama   Ban Liu   Tjung. Kampung ribuan pohon liu," pikir hatinya. Tiba-tiba terdengar pula suara dari atas. "Turutlah padaku,  turutlah!"    Suara  itu demikian parau, tak ubahnya seperti suara nenek berusia delapan puluh tahun.  Tjiu Piau merasa   terkejut,    kepalanya kontan dongak ke atas. Apa yang dilihat?   Bukan Tjen Tjen!  Juga  tak terdapat   orang lain terkecuali dari dirinya. Sesudah Celingukan lama, suara itu datang lagi diiringi  bergelepakan sayap burung. Waktu ditegasi kiranya seekor burung kakak tua yang pandai bicara, burung itu berwarna ungu mulus. Ia terbang di atas Tjiu Piau sebagai penunjuk jalan.

Sesudah melewati beberapa lorong kecil yang terdapat di kampung itu. Tjen Tjen baru kelihatan. Ia tengah duduk di dahan pohon Jiu sambil tertawa lucu. Kakaktua itu hinggap dalam rangkulan majikannya, lagaknya sangat aleman sekali. Melihat ini Tjiu Piau menjidi ketawa.

"Apa yang ditertawakan?" tanya Tjen Tjen. "Aku mentertawakan kau!" "Sebabnya?"

"Biasanya memelihara ular, kenapa sekarang memelihara burung. Mungkin dirumah segala harimau juga dipelihara!"

"Hei! begitu saja tertawa! Kau tahu, dirumah memang memelihara harimau! Kau tahu mereka adalah kawan bermainku, kalau tak ada mereka aku akan kesepian dan bisa menangis sepanjang hari!"

"Kalau begitu kapan hari ada waktu, akan kubawakan, kecebong, kokok beluk, kura kura dan lain lain, mau tidak kau menerimanya?"

"Mau, pasti mau. jangan bohong yah!" jawabnya kegirangan.

"Sekarang mau ke mana sih?" tanya Tjiu Piau. "Ssssstttt! jangan keras keras, kita harus ngeloyor

secara diam diam. tak boleh di ketahui orang "

Mereka sudah meninggalkan Ban Liu Tjung. Jalanan sudah' berubah menjadi jelek dan berliang liang serta gragajulan tidak rata. Kiri kanan tak tampak persawahan, melulu batu batu gunung saja yang kelihatan. Perjalanan diteruskan, keadaan semakin sepi dan sunyi. Sepuluh lie kemudian sampailah mereka di kaki sebuah gunung batu yang gundul. Gunung itu tidak tinggi juga tidak mempunyai pohon - pohon yang lebat. Melulu terdiri dari batu - batu aneh yang menyerupai manusia. Lebih lebih waktu tersorot matahari senja batu batu aneh itu tak ubahnya seperti manusia hidup saja. Ada yang lagi duduk, ada vang berdiri, ada yang tengah berlutut, ada juga yjng berbaring yang tengadah pun ada, ada pula yang sedang terpekur di samping sekelompok orang yang sedang berbisik bisik, terkecuali itu masih ada yang sedang membentangkan tangan sambil berteriak teriak. Tjen Tjen duduk di batu sambil terpaku mengawasi batu-batu gaib itu. Mulutnya kemak kemik berkata: "Kau lihatlah di sini demikian ramai dan menyenangkan bukan?" Tjiu Piau tidak menjawab, sebaliknya duduk di samping Tjen Tjen dengan perasaan kosong tak keruan. Mereka lebih kurang sudah sejam lebih duduk di situ untuk menikmati pemandangan itu. Malampun sudah mendatang. Selama mereka itu duduk Tjen Tjen tidak berkata-kata pula. Dalam kegelapan malam, batu yang ajaib itu seo'ah olah bergerak gerak. Sesaat kemudian Tjen Tjen loncat bangun. Ditariknya lengan Tjiu Piau untuk diajak berlalu. Di sana masih banyak tempat yang lebih menyenangkan. Mari kita ke sana!" Katanya. Sebelum berlalu Tjen Tjen menoleh lagi pada orang orangan batu itu sambil berkata dan melandaikan tangan. "Kakak-kakak dan adik adik sekalian, esok hari aku bermain pula dengan kalian!"

Tjiu Piau yang mengikuti Tjen Tjen dari belakang merasakan kelincahan dan kegesitannya melebihi dirinya beberapa kali. Tiba tiba Tjen Tjen berseru. "Awas jurang!" Tubuhnya melebihi kecepatan suara, menghilang dari pandangan mata. Tjiu Piau terkejut, tubuhnya menerjang ke depan. Siapa tahu kakinya memijak tempat kosong, tubuhnya berada di udara. Dalam bingungnya ia bersalto (jungkir) dan turun tanpa mengeluarkan suara. Kiranya satu goa yang dalam dan berlebar dua depa lebih sudah dilalui.

Atas ini Tjen Tjen memuji sambil bertepuk tangan. "Wah! Bagus betul jungkiranmu itu!" Sesudahitu tangannya membetot Tjiu Piau. "Sini, sini lihat tuh disini terdapat dunia luar!" Tjiu Piau melihat di depan goa terdapatpula goa kecil. Di samping goa terdapat pula goa kecil yang penuh ditumbuhi rumput dan tumbuh tumbuhan kecil. Kalau tak teliti pasti tidak melihatnya.

"Kemarin aku bermain sendirian di sini dan menemukannya tempat ini. Aku masuk ke dalamnya dan bermain sebentar di sana. Sekarang kita masuk lagi dan main-main sampai kenyang!"

Tjen Tjen membungkukkan badan- dan memasuki liang goa. Tjiu Piau mengikuti dari belakang.

Goa kecil itu terang ada goa buatan. Tapi sudah lama dikerjakannya. Karena lamanya di sekeliling dinding penuh ditumbuhi rumput rumput dan pakis serta rumput rumput lain yang tidak diketahui namanya. Barang siapa masuk ke dalam goa itu, pohon pohon kecil itu menyinggung orang, seperti mengitik ngitik orang dengan sengaja. Tjen Tjen tertawa terkekeh-kekeh diusap pohon-pohon kecil itu.

Mereka menyusuri jilanan berliku liku, menikung dan melewati beberapa belokan. Keadaan di dalam sangat gelap gulita. Sampai jeriji sendiri tak kelihafan. Baru saja Tjiu Piau niat mengeluarkan bahan bakar untuk menerangi.

Mendadak di mukanya terlihat sinar kelap kelip Entah dari mana Tjen Tjsn mengeluarkan sebutir mutiara yang mengeluarkan sinar. Sinar ini lumaym juga. Jalanan di dalam semakin berliku liku dan melingkar lingkar, merupakan sebuah terowongan.

Sesudah menempuh seketika lamanya keadaan di dalam belum menunjukkan perubahan. Perubahan yang nyata semakin kedalam semakin sukar bernapas. Tjiu Piau merasakan dadanya sesak, tapi Tjen Tjen semakin gembira. "Hei, katakanlah menarik atau tidak tempat ini? 

Sebelumnya pernahkah kau jalan jalan di tempat yang serupa ini?"

"Belum pernah! Bicara tentang menarik? Sedikitpun tidak!"

"Tempat yang menarik terletak di sebelah dalam. Rupanya kau sudah tidak sabar yah? percepatkanlah langkahmu!" Habis berkata ia segera berlari tanpa menunggu jawaban.

Tjen Tjen dapat berlari dengan cepat berkat sinar mutiaranya yang dipegang Tjiu Piau menyusul dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Alhasil kian mengejar kian tertinggal!

Dengan susah payah Tjiu Piau sampai juga di tempat yang lebar. Ruangan goa itu merupakan pula dari bangunan besar Di tengah-tengahnya ruangan itu berjejer jejer dan bersinar dengan teratur kursi dan meja batu, Tjen Tjen siang siang sudah berada di situ, ia duduki di kursi batu.

Mutiaranya menggeletak di atas meja. Tjen Tjen memanggilnya seperti berbisik. "Mari, mari duduk di sini." Kata katanya demikian perlahan, seolah olah takut mengganggu sesuatu Tjiu Piau berjingkat jingkat menghilangkan derap sepatunya sambil menghampiri, untuk duduk. Tjen Tjen duduk mematung. Keadaan sangat sunyi sekali. Pada waktu inilah terdengar kerucukan air mengalir.

"Kau jangan membuat gaduh, dengarlah! Tak lama lagi kita dapat mendengar para dewa bermain tetabuhan, melagukan irama surga!” Benar saja tak seberapa lama mereka duduk duduk di situ. Suara air sudah berubah bunyinya menjadi- ting tang, tang ting, ting. Suara ini demikian lembut dan bening. Tak ubahnya seperti suara mutiara berjatuhan di cawan kumala. Menyusul suara suling beialun alun meningkah suara tadi. Kemerduan dan kehalusan dari paduan nada nada ini membuat si pendengar mulai mabuk.

Dua muda mudi ini siang siang sudah terbenam dalam alunan irama merdu gemulai bak bulu perindu. Perlahan dan halus Tjiu Piau bertanya. "Sungguh heran, bagaimana kau dapat tempat yang demikian luar biasa ini."

"Setiap waktu aku senggang, waktu yang terluang ini kupergunakan untuk mencari tempat yang indah indah” jawab Tjen Tjen.

"Seorang diri sajakah kau ngelayap sepanjang hari? Apa kau tak merasa takut?"

"Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaan ya, mana ada waktu untuk menghirauKan aku. Sebaliknya lebih bebas bermain sendiri."

"Ibumu juga tak mengurus kamu?" "Ibuku sudah lama meninggal."

"Apakah kau tidak mempunyai saudara laki laki atau perempuan?"

'Sayang tidak punya. Aku anak tunggal, karenanya aku kesepian dan selalu bermain dengan segala unggas, ternak serta binatang buas! Eh kau tidak tahu, hewan hewan itu demikian baik dan begitu pandai! Coba pikir bagaimana aku mencarimu? Kau tahu? Kusuruh kakaktuaku mengikuti jejak kaki mu. Biar ke mana kau lari. hmm pokoknya dapat kucari!"

Atas ini Tjiu Piau merasa kagum.

"Siapa akan nama besar dari ayahmu?" tanya Tjiu Piau. Tjen Tjen tersenyum. "Namanya Louw Eng."

Mendengar ini keringat dingin Tjiu Piau membasahi tubuh. Ia diam tak dapat berkata-kata. Bagusnya di dalam remang remang, sehingga perubahan parasnya tak terlihat oleh Tjen Tjen.

Kala ini irama tabuhan dewa dewa itu beralih menjadi demikian menyayatkan sukma. Suara suling itu seolah olah berubah dan terbagi menjadi beberapa nada, tinggi dan rendah. Seperti suara tangis menuturkan kisah sedih, dari kehidupan manusia.

Tjen Tjen walaupun masih kecil, tapi sudah mengerti urusan. Ia duduk termenung menung, di sela tarikan napasnya.

"Eh, berapa sedihnya irama ini, kalau bukan dewa yang membawakannya siapa lagi yang bisa?" Suaranya ke luar dengan parau diiringi helahan napas. Tjiu Piau merasakan Tjen Tjen ini mempunyai perasaan kemanusiaan yang dalam. Ha1 ini menenangkan hatinya yang banyak curiga. Hatinya berpikir" "Anak ini mau berkenalan dan berkawan denganku. Tapi tak pernah menanyakan namaku. Selalu aku dipanggil si Hai, atau si Eh Hal ini tidak menjadi soal. Ia tak mau mengetahui hal ikhwalku, sebaliknya aku ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirinya." Sesudah pikirannya tetap lagi-lagi bertanya: "Ayahmu kini beiada di mana?"

"Siapa yang tahu!" jawabnya acuh tak acuh. "Sepanjang tahun kerjanya mundar-mandir ke barat ke timur. Sekali- kali tak memperdulikan dan mengurus aku." "Mungkin disebabkan kesibukan tentang pekerjaannya.

Karenanya tak boleh terlalu menyalahkannya."

"Apa? Urusan penting?" tanya Tjen Tjen dengan kesal, "mana mempunyai urusan penting! Setiap hari yang diceriterakan tak lain tak bukan ialah soal menangkap komplotan pengacau, membekuk perusuh. Yah kerjanya menangkap dan menangkap, menangkan tanpa habis habisnya! Menurut hematku lebih baik tidak ditangkap bukan? Akupun heran kenapa ajakku gemar menangkap orang secara mati matian!"

Mendengar ini hatinya Tjiu Piau menjadi lapang. Teka teki dalam pikirannya kini mendapat jawaban.

Pada hari yang lalu Tjiu Piau mendengar ceritera Ouw Yu Tnian dan Tam Tjiu Long di rumah makan. Tanpa terasa lagi wajahnya menunjukkan perubahan Selanjutnya Tam Tjiu Long melontarkan mangkuk untuk menguji ilmunya.

Menyusul ia dipegat di Ban Liu Tjung. Kiranya hal ini terjadi bukan secara kebetulan, melainkan sudah direncanakan terlebih dahulu.

Tjiu Piau berpikir, "Kenapa mereka dapat mengetahui kepandaianku dari gaya keluarga Tjiu. Sesudah itu perlakukan mereka terhadapku bukan main baiknya. Apa benar benar Louw Eng adalah saudara angkat yang berbudi dari ayahku? Yah moga moga demikian hendaknya. Tapi siapa yang mencelakakan ayah? Untuk menyelesaikan urusan yang memusingkan otak ini, biar bagaimana Louw Eng harus ketemukan." Berpikir sampai di situ hatinya kembali menjadi gelisah. "Louw Eng menjual tenaganya mati matian untuk kepentingan bangsa Boan. Dapatkah kiranya orang yang demikian kupanggil siok siok. (paman yang lebih muda dari ayah)"

Tiba tiba pikirannya menjadi hilang demi didengar suara ribuan kuda berlari. Gendang peperangan berbunyi bertalu talu. Iman menjadi goncang dibuatnya. Kiranya entah sedari kapan irama sedih sudah beralih kepada peperangan yang membuat hati si pendengar berdebar debar! Kedua muda mudi itu serentak bangun, telinganya dipasang dengan penuh perhatian. Tiba tiba datang deruhan angin. Seluruh bunyi bunyian melagu sirap menjadi tenang. Keadaan kembali terbenam dalam kesunyian. Tjen Tjen menuntun Tangan Tjiu Piau sambil berkata: "Ju lekas kita lihat dewa dan dewi!" Lama juga berjalan, tapi terowongan tetap kosong melompong! Di mana ada dewa dan dewi!!?? (pengarang : Di dalam terowongan atau jalanan di dalam tanah, dapat mengeluarkan bunyi. Disebabkan aliran udara atau angin).

Tjen Tjen masih belum hilang kegembiraannya. ia jalan terus ke depan, jalan terowangan itu makin nanjak ke atas. Tiba-tiba Tjen Tjen menempelkan telinganya ke bumi.

"Eh.coba dengar ada orang tengah bicara!" Tjiu Piau menempelkan telinganya ke dinding goa. Tak dapat diragukan lagi memang suara orang Sepatah di sini sepatah di sana. Rupanya jumlah pembicara lebih dari seorang. Tjiu Piau berpikir, tengah malam demikian entah siapa yang bicara di atas. Apa yang tengah mereka rundingkan. Betapa hati-hati didengarinya, tapi tetap tak terdengar tegas Mungkin disebabkan terhalang lapisan tanah yang terlalu tebal.

Tjen Tjen gemar bermain main, disorot-sorotkannya sinar mutiaranja. Sebentar ke timur sebentar ke barat untuk mencari kalau-kalau ada liang ke luar. Akan tetapi terowongan itu rupanya sudah terlampau lama tak dipergunakan. Dengan sendirinya tak bisa dengan segera dapat mencari jalan ke luar. Tjiu Piau hendak menasihati Tjen Tjen, bahwa pekerjaannya itu hanya membuang buang waktu saja. Sekonyong-konyong dari atas terdengar suara seseorang dengan lantang dan tegas. Suara itu dapat menembus dinding tanah yang demikian tebal. Kepandaian orang ini pasti sudah sampai taraf sempurna.

"Padi tahun tahun belakangan ini, banyak hal yang menyusahkan saudara saudara. Misalkan hilir mudik ke timur dan ke barat, semua melakukan kerja keras dan penuh bahaya Sebab itulah saudara - saudara dapat mendirikan jasa-jasa besar, Pengacau-pengacau dan gerombolan - gerombolan Kang ouw bukan sedikit yang sudah kita bekuk dan tumpas. Aku yang rendah dapat jaga menjalankan tugas ini tak mengecewakan bantuan dari saudara saudara. Atas ini Biginda pasti akan menghargai jasa-jasa saudara-sai dara itu, terkecuali demikian aku yang rendahpun tak akan melupakan budi dan kebaikan saudara- saudara." Inilah suara yang datang dari atas dan kena didengar dari bawah oleh Tjen Tjen dan Tjiu Piau.

"Ih, ayahku sudah datang! Yang bicara itu adalah ayahku." Tapi sesudah Tjen Tjen mengucapkan kata-kata ini wajahnya berubah menjadi tak gembira. "Untuk apa? Ayah toh tidak akan mengajak aku jalan - jalan, atau menemani bermain."

Tjiu Piau menyedot seteguk hawa segar. Tangannya tanpa terasa memegang megang ke enam butir mutiara emasnya.

Kembali suara Louw Eng yang santer terdengar pula. "Malam ini kita berkumpul untuk merundingkan sematu

urusan yang maha penting. Hal ini baru dapat berhasil- jika dapat bantuan dari saudara-saudara." Waktu inilah terdengar suara lain yang bernada parau dari atas. "Louw Heng hati - hati bicara, berjaga jagalah! Kalau kalau dinding bertelinga!"

Tjen Tjen girang mendengar suara ini.

Dibisknva Tjiu Piau. "Heran benar, tempat apa sih di atas. Kenapa guruku Peng San Hek Pau juga ada di atas."

Menyusul saara datang lagi.

"Atas ini jangan kuatir! Ban Liu Tjung terdiri dari pohon liu yang dahannya terkulai. Tak seorang pun dapat bersembunyi di pohon itu Silahkan Louw Toako meneruskan cerita." Suara ini adalah suara Ban Liu Tjung Tju.

"Urusan ini dapat dikatakan luar biasa. Pada malam Tjap Go Me tahun ini. Keramaian di kota tak dapat dilukiskan.

Kejadian ialah di malam larut. Sri Baginda sudah lelah lantas menuju ke tempat peraduan" Begitu masuk dilihat bsliau sehelai kertas kuning di atas meja. Surat itu berbunyi:

"Malaman Tiong Tjiu, di bukit Oey San, kau pendekar berkumpul .. " kata-katanya terhenti sebentar, dengan terpaksa baru dilanjutkan lagi. "Semua penghianat bangsa akan dipenggal batang lehernya." Terkecuali dari kata kata itu, terdapat pula dua lukisan naga dan merak."

Mendengar ini Tjiu Piau mengeluarkan seruan kaget.

Suara ini walaupun kecil, tapi rupanya dapat didengar orang orang yang berada di atas. Pembicaraan mereka rep sirep! Menyusul tindakan kaki yang berat mendatang. Hilir mudik dan berhenti tepat di atas terowongan. Digebraknya tanah sambil berseru :

"Siapa yang bersembunyi dibawah? Lekas ke luar!" Terdengar pula seorang berkata : "Kasilah aku periksa."

Menyusul terowongan itu mengeluarkan bunyi krak!!

seperti" gunung runtuh. Tanah di situ sudah menjadi gempur!

Dengan waspada Tjen Tjen menarik lengan Tjiu Piu.

Mereka meloncat sejauh dua tumbakke belakang. Tangan Tjiu Piau yang sudah bersarung menggenggam enam butir mutiara emas dengan erat erat.

Luar dan dalam goa sangat berbeda. Di dalam gelap di luar terang Dari atas tak nyata melihat, ke bawah, sebaliknya dari dalam goa nyata melihat ke luar. Dengan tegas Tjiu Piau dapat melihat lima enam orang berada di mulut goa. Tepat dimulut goa berdiri seorang dengan paras seperti pohon merangas tak kena air. Mukanya lebat ditumbuhi berewokan kasar. Seperti ada firasat yang memastikan, bahwa orang itu adalah Louw Eng.

Disampingnya berdiri seorang Hweesia (Paderi) Perawakannya kate gemuk Berdiri mematung seperti bukit kecil mendadak menjelma dihadapan mata. Hweesio ini melongok longok ke dalam goa. oh! kiranya dua bocah cilik " katanya sambil melangkah turun. Si Hweesio mempunyai ilmu memberatkan tubuh yang mentajubkan Tanah tanah yang dilaluinya meninggalkan bekas lebih kurang dua dim dalamnya. Tak dapat diragukan lagi dialah yang menjejak dan menggempurkan tanah tadi. Gerak geriknya kelihatan lambat sekali, tapi sebenarnya cepat luar biasa! Sebentar saja ia sudah tiba dihadapan kedua orang. Tangannya dikeluarkan untuk menjambak orang. Tjiu Piau terkejut sekali. Kiranya sikate ini mempunyai tangan yang lebih panjang dari orang kebanyakan. Serangannya demikian kukuay (aneh) Kedua tangannya diletakkan didada, sebentar dikerutkan sebentar disodorkan dengan mendadak, dibarengi tubuhnya mencelat ke depan, menerjang di tengah tengah kedua orang. Dinantikan kedua orang berpisah ke kiri dan ke kanan. Menyusul kedua tangannya dikerjakan dengan cermat ke kiri dan kanan.

Lengannya yang panjang itu hampir-hampir berhasil mencengkeram bocah bocah itu! Tjiu Piau siang siang sudah sedia, tangannya sudah mengeluarkan Bwee Hoa Tok Tju Dalam waktu pendek pikirannya berbalik, Hweesio ini apa kawan apa lawan masih belum jelas. Dimasukkan lagi mutiara mutiara itu ke dalam kantungnya dan dikeluarkan batu-batu kecil sebagai gantinya. Waktu dilihat serangan datang, tubuhnya mendekam berkelit, berputar mengepos kebelakang penyerang tangannya tak tingpal diam, sebuah batu terlepas menyerang pinggang si Hweesio.

Si Hweesio menangKap angin Hatinya menjadi heran. bocah ini demikian lincah. Sedangkan serangan Sian Wan Pak Su (Malaikat kera merabut pohon) walau pun agak sembarrngan dipergunakannya, orang biasa pasti tak dapat melolosi diri! Tapi bocah ini dapat menghindarinya, pasti bukan golongan sembarangan. Sedang ia berpikir begini, tiba tiba terasa angin dingin datang ke arah pinggangnya. Segera ia berkelit. Waktu inilah tangan kanannya baru merasa seolah olah dililit ular. Kiranya tangan kanannya yang menyerang Tjen Tjen. Dihadapi Tjen Tjen dengan berani. Begitu tangan si Hweesio yang panjang tiba, disambut dengan tangan kirinya, tangannya demikian halus seperti ular. Gelejat gelejot membelit tangan si Hweesio Tjen Tjen dari kecil biasa bermain ular, gerak gerik dari ular dipelajarinya. Karena tanpa terasa ia memengeluarkan

cara ular menbelit! Cara ini tidak termasuk dalam ilmu silat apapun, juga tak bernama apa apa. Begitu tangannya berhasil melilit, tubuhnya dilemaskan, sehingga seluruh tubuhnya bergantungan di lengan si Hweesio. Si Hweesio mati kutu. didorong tak bisa, dilempar tak mempan, dilunakkan salah dikeraskan bukan!

Hweesio itu tertawa terbahak bahak: "Hai bocah konyol! Ayoh pergi, siapa sudi bergurau denganmu!" Tangan kirinya menyusul menangkap Tjen Tjen. Tjen Tjen melilit lagi dengan tangan kanannya, Hweesio itu segera menggempurnya dengan tenaga dalamnya yang ampuh Tjen Tjen tak dapat melekat pula, tubuhnya  bagai anak panah terlempar ke luar goa- Tjen Tjen gusarnya bukan alang kepalang.  Dari udara ia mengaoki Tjiu Piau. "Hei ke luarkan kebiasaanmu, hajar Hong hu, Sian-to dan Beng-bunnva!" Yang dikatakan ini ialah tiga jalan darah yang terdapat dipunggung, Tjiu  Piau kala ini berada

di belakang Hweesio Kate itu. dengan berbareng tiga batu melesat dari tangannya menyerang ketiga tempat yang disebutkan Tjen Tjen.

Ketiga jalan darah itu tepat terletak di tengah tengah punggung, berbaris menjadi satu garis lurus Terbagi di atas. di tengah dan bawah. Tjen Tjen mengetahui Hweesio ini gerakannya lamban, kelincahannya kurang, tidak  mudah berkelit  kekiri  dan kanan. Maka dititahkannya Tjiu Piau menyerang ketiga tempat itu.

Hweesio  kate itu waktu mendengar desiren angin, sudah tak sempat menyambut lagi, ditambahnya tempat yang dipijik adalah tanah tanah gembur, merebas bagai lumpur!  Ia hanya dapat membungkukkan tubuhnya kedepan Dua butir dapat dikelit, sebutir lagi yang di bawah tak terhindar lagi. Tepat mengenai lunggirnya. Walaupun ia sudah mengunci jalan darahnya. Tapi „Plak!" sakit juga! !

Dengan gusar ia menteriak: „Hei bocah!" Bidannya berbalik, tapi Tjiu Piau entah sudah kemana perginya Dalam dongkolnya penuh amarah ia berkata: "Apa kiranya aku ... Aku Tong Leng Ho Siang tak dapat membekuk segala bocah ingusan semacam kau' Tubuhnya bergerak mengejar.

Sementara itu TJen Tjen yang kena dilempar ke luar, sedikit juga tidak merasa gentar ! Karena ia mengetahui yang berada diatas adalah ayahnya dan kawan-kawan dari ayahya. Dengan satu gerakan Hong TjutLiu Ijie (ingin menghembus ranting liu). Tabuhnya perlahan-lahan melayang turun. " Ayah" katanya.

Hal ini diluar perkiraan Louw Eng :"Kau!" bentaknya. "Mau apa datang Kesini? Siapa itu dibawah?" kata kata ini diucapkan dengan bengis. Dalam kagetnya Tjen Tjen bertata bertutu menjawab:

"Di -di bawah - eh, bocah anak kecil- Aku pun tidak tahu siapa dia, aku hanya bermain main dengannya." Ia berpikir sebentar, lalu tambahnya pula, "ia adalah tamu dari Ouw Siok siok. Ouw Siok-siok Pasti mengenalnya."

Mendengar ini Louw Eng tidak berkata apa-apa. Mukanya sedikit juga tidak menunjukkan perubahan. Dalam diamnya, tak seorang mengetahui apa yang tengah dipikirnya. Di sampingnya berdiri Tjen Tjen dan Oaw Yu Thian Louw Eng menolehpun tidak! Juga tidak bertanya: Kemudian kedua matanya kedip-kedip, sudut bibirnya bergerai, ia tertawa ! ! Melihat ini Ouw Yu Tnian sepontan gemetar setengah mati'!!!???

Kiranya sepuluh tahun belakang ini Louw Eng mendapat gelaran Siau Bu Siang (ketawa tak wajar) di dunia Kang- ouw. Wataknya sangat aneh, walaupun menghadapi segala soal kecil maupun besar, wajahnya tak pernah menujukkan perubahan. Biar di dalam hatinya tengah gusar setengah mati, parasnya tetap tenang. Tapi kalau ia sekali tertawa artinya ada yang celaka!

ak heran Ouw Yu Thian merasa kuatir sekali. sebab Tjiu Piau adalah tamunya. Ouw Yu Thian berpikir di dalam hatinya: "Ban Liu Tjung asalnya kepunyaan orang lain. AKu dapat memilikinya dengan jalan kekerasan. Jalanan di dalam tanah mungkin sudah ada sedari dulu, tapi ditimbuni orang. Ah berkat kelalaianku sendiri hal ini tidak kuketahui. Su<ar untuk menjelaskan hal ini kepada Toako. Ah! lebih baik kututup mulut. Tapi bocah she Tjiu itu dapat ku serahkan untuk diurusnya." Sesudah tetap pikirannya ia berkata:

Toako bocah itu adalah Tjiu Liu, yakni ahli waris dari orang yang selalu dikenang Toako, yakni keponakan dari Tjiu Tjian Kin. Toako ingin menyelidiki putera dari Tjiu Tjian Kiu, sebaiknya tanyakan saja kepadanya."

Mendengar ini Louw Eng ikut-ikutan berkata. 'Tjiu Tiian Kin?" wajahnya tetap tak berubah, tapi suaranya agak bergetar.

"Kalau demikian tidak boleh tidak ia harus kembali!" Baru saja kalimat ini ke luar, dua orang menyahut. Kami pergi memanggilnya," menyusul berkelebet dan tubuh, dan hilang ke dalam terowongan.

Kegesitan dan kelincahannya luar biasa lihay!

Tjer Tjen mengenal kedua orang itu. yakni Mau San Hak Hoo dan Pek Hoo (dua rase putih dan hitam dari gunung Mo). Dua saudara ini dalam kalangan Kangoaw sangat terkenal.

Dalam ruangan itu lebih kurang terdapat tiga puluh orang orang luar biasa. Golongan cabang atas, hampir kumpul semua disitu, Terkecuali dari Tjit Kauw. Tjen Tjen mengenal gurunyn Peng San Hek Pau Bok Tiat Djin, Kwan Tong It Koay Bi Berg Nie (nanusia aneh dari Kwan Tong) Kim Ie Kong Dju Kte (pangeran baju emas) Salah satu dari Go Bie Sam Kiam (tiga pendekar pedang dari Go Bie) yang bernama Lauw Tjiok Sim, Toai Ouw Hu Lui Ong Hie Ong (raja sungai dari Thai Oaw) dan lain lain. Semua jago jago kelas berat. Kesemua orang ini sering berhubungan dengan Louw Eng dari itu Tjen Tjen mengenalnya. Antaranya ada yang tidak dikenal tapi dapat dipastikan mereka bukan orang sembarangan pula.

Tjen Tjen hatinya cemas, kalau ayahnya menegur di muka orang banyak, wah, malunya bukan alang kepalang! tak dikira Louw Eng tidak mengambil perhatian kepadanya.

Louw Eng matanya seperti alap alap menyapu para hadirin yang ada disitu. Dengan karena ia melanjutkan pembicaraannya: ..Hari ini dapat berkumpul dengan saudara saudara adalah hal yang sangat menggirangkan. Dari ini marilah kita selesaikan urusan kita. Bocah itu sudah berhasil mencuri dengar pembicaraan kita hanya sedikit.

Kini sudah diurus oleh Tong Leng dan Mau San Djie Hoo Bocah itu pasti dapat dibawah kemari. Dari itu tak perlu dikuatirkan."

Sesaat kemudian Louw Eng baru melanjutkan kata katanya lagi. "Begitu baginda melihat surat itu, segera mengumpulkan pengawal pengawal istana, diperintahkan untuk memeriksa dan meronda kesegala penjuru. Alhasil nihil semua. Sedikit ciri ciri yang mencurigakan tak ditemukan. Beliau bergusar benar. Kata-kata da$ri surat itu sangat mengganggu pikirannya. Sebab itulah mulai hari itu istana dalam penjagaan keras. Duapuluh empat jago-jago jaga istana siang malam berganti mendampingi baginda.

Urusan yang mengenai urusan Tiong Tjiu di Oey San diserahkan ke padaku. Aku diwajbkan untuk memeriksa dan mengetahui bahwa Liong Hong Sang Kiam itu pemberontak dari golongan apa!"

Louw Eng di kalangan istana tidak memangku pangkat, semata mata untuk memudahkannya mondar mandir di dunia Kang-ouw. Cita citanya ingin menjagoi di kolong langit dan ditakuti orang orangrimba persilatan. Sedangkan pemerintah Boan sudah menjuluki dan memberi gelar BuLim Tee It (jago rimba persilatan nomor satu), Pengawal pengawal keraton sangat menghormatinya. Lebih kurang sepuluh tahun Louw Eng menjelajah dunia Kang ouw, melakukan pekerjaan khusus membasmi orang orang yang berani menentang pemerintah Boni. Jasa jasanya terhadap pemerintah Boan bukan sedikit. Atas ini beberapa kali ia menerima penghargaan penghargaan besar dari Sri Baginda. Sehingga hidupnya menjadi mewah Untuk melakukan pekerjaannya ini Louw Eng berhubungan pula pada orang-orang yang sehaluan. Lihat saja orang orang berilmu yang sukar dicari kini sudah dikumpulkan datang di Ban Liu Tjung. Louw Eng meneruskan keterangannya: "Atas hal yang tadi itu, kini sudah tercium sedikit di kalangan Sungai Telaga tersiar kabar secara meluas, bahwa pertemuan di Oey San adalah untuk merundingkan dan merencanakan untuk menggulingkan pemerintah. Hal ini katanya akan dilakukan besar besaranan karena urusan demikian besar, aku memutuskan untuk turun tangan sendiri. Di samping itu bantuan saudara saudara sangat dibutuhkan. Sebab atas bantuan dari saudara urusan baru dapat dijamin menjadi sukses. Kini yang belum diketahui siapa siapa yang akan ke Oey San dan siapa Liong Hong Siang.Kami itu.Saudara saudara adalah orang orang yang kenamaan di rimba persilatan, apakah saudara mengetahui atau pernah mendengar sesuatu tentang ini?"

Orang orang itu saling pandang memandang dengan mata mendelong, tiada seorang mengeluarkan pendapat.

Tjen Tjen diam di situ merasa gerah tidak keruan.

Hatinya memikiri Tjiu Piau yang tengah dikejar Tong Leng Hweesio. Apa sudah tertangkap apa belum? Makin memikir makin menyenangkan pikirannya yang gemar keramaian. Dari itu ia berkata pada ayahnya: "Yah, aku juga ingin mengejar bocah itu!" tubuhnya segera masuk ke dalam goa.

Mari kita tengok Tjiu Piau yang sudah berhasil menghajar tunggir Tong Leng Hweesio dan melarikan diri sebelum Tong Leng balik badan. Tjiu Piau mengandal pada kegesitannya, tambahan jalanan sudah dikenal. Ia dapat berlari depan cepat. Sebentar saja sudah menghilang dari pandangan mata. Tong Leng seorang yang berani dan berkepandaian tinggi. Tidak menghiraukan kegelapan, terus saja maju sambil memperbesar langkahnya. Matanya tidak dapat melihat dengan awas di dalam gelap. Dari itu telinganya yang tajam menggantikannya. Tak heran ia dapat berjalan seperti disiang hari. Tjiu Piau hampir terkejar, sebelum itu telinganya sudah mendengar derap kaki Tong Leng

yang seperti palu menempa besi Dalam kegelapan suara itu menakutkan dan menyeramkan sekali. Sebaliknya Tong Leng pun sudah mendengar langkah kaki Tjiu Piau yang ringan.

Dalam gelisahnya Tjiu Piau ' mendapat akal baik. Setiap sampai ditikungan Tong Leng dihajar oleh batu batu kecil. Sehingga dapat menghambat langkah si Hweesio. Karena ini Tjiu Piau dapat memisahkan diri agak jauh juga, Tjiu Piau hatinya berpikir. "Dari serangan tadi, menunjukkan bahwa Hwaesio itu berkepaindaian tinggi. Sama sekali bukan tandinganku. Yah kalau dilawan mati-matian, mungkin dapat juga kuhajar dengan mutiara T.api komplotan Hweesio ini belum kuketahui lawan atau kawan." Pikirannya kacau tak dapat mengambil keputusan yang tepat. Hatinya hanya berpikir asal dapat keluar dari goa ini sudah bagus. Di luar banyak batu batu gaib yang menyerupai oraig,tempat itu cocok untuk menyembunyikan diri. kemudian baru menyelidiki Low Eng itu manusia macam apa...?

Di luar goa terlihat malam cerah dengan hiasan ribuan binatang. Dalam ketenangan dan kesunyian malam. Samar samar Tjiu Piau melihat dua bayangan berdiri di mulut gua. Tjiu Piau terkesiap hatinya, hatinya mengeluh "Hweesio di belakang itu demikian lihay, untuk mundur sudah tak ada jalan. Kedua orang di muka ini belum kuketahui kepandaiannya. Sebaiknya mengadu nasib saja." Sesudah tetap pikirannya.. Tubuhnya mencelat ke luar goa dan diserangnya salah seorang dari mereka. Lain tangannya sudah siap dengan butir butiran batunya. Adalah hal yang mengherankan orang itu sama sekali tidak melawan hanya tergesa gesa menyingkir! Salaih satu dari meieka berkata pada Tjiu Piau. "Kawan naiklah dan istirahatlah di balik batu itu!" Dalam herannya Tjiu Piau tidak menjawab. Kakinya langsung membawa sang tubuh kedalam kumpulan kumpulan batu yang mendapat di situ.

Dalam keadaan gelap, wajah kedua orang itu tidak terlihat dergan tegas. Melihat dari cara berpakaiannya tidak lain adalah anak sekolah. Satu besar satu kecil, berdiri dengan gagahnya di bawah naungan sang malam. Tengah Tjiu Piau menduga-duga tentang dua orang ini, mendadak sebuah bayangan gelap mencelat dari liang goa. Orang ini tidak lain dari Tong Leng Hweesio. Lengannya terbentang ke samping dengan lurusnya. Tak ubahnya seperti kunyuk Ancol loncat dari pohon jengkol! Kedua Sie-seng (telajar atau anak sekolah) diam saja tidak bergerak. Siauw Sie seng (peiajar yang kecilan) tertawa terkekeh kekeh sambil berkata : "Kak, dilihat dari tampangnya, delapan bagian orang ini seperti yang disebut Tong Leng Ho Siang.

"Coba kau coba barang tiga jurus!" jawab Toa Sie seng (pelajar yang besaran). Tong Leng tidak melihat Tjiu Piau, sebaliknya bertemu dengan dua bocah bermulut lancang. Dongkolnya menjadi - jadi. Tanpa berkata - kata, lengan kanannya menggebuk dada Siauw Sie seng. Orang itu tidak gugup sedikit juga. Sebaliknya ia berteriak. "Kini Hong Heng Sau ( angin emas menyapu dengan ganas)!"' Kedua tangannya dirapatkan di depan dada, mendadak di dorong kemuka menangkis serangan Tong Leng. Plak!!! terdengar suara bentrokan keras, menyusul tubuh Tong Leng menjadi limbung. Sebaliknya Siauw Sie-seng mundur setumbak lebih ke belakang, ia sudah mengetahui bahwa tenaganya tidak dapat menbandingi tenaga lawan. Dan itu ia sengaja mundur demikian jauh agar tak kena digempur tenaga dalamnya.

Tong Leng gusar dan tak habis mengerti, yang menjadikan gusar ialah beruntun dalam malam ini juga kebentur bocah-bocah hijau tanpa dapat menundukkan. Yang membuat ia tak habis mengerti, ialah ilmu ciptaannya yang dibuat kebanggaan yakni Sian Wan Kiam Hoat ( ilmu pukulan malaikat kera ) begitu bergebrak sudah dikenal bocah itu. Sedangkan di dunia Kang-ouw jarang yang dapat mengenalnya.

"Hai ! Bocah siapa namamu?"

Siauw Sie seng menjawab sambil tertawa: "Thai Shu aku hanya golongan bocah hijau tak bernama!" Suaranya berhenti, tangannya bekerja ke atas dan ke bawah membawa serangan dahsyat menuju pada Tong Leng.

Tong Leng enggan berkelit, dengan cepat tangannya dirapatkan dan dikirimkan ke depan dengan delapan bagian tenaga dalamnya Jurus ini ialah Sian Wan Pai Gwato (Malaikat kera menyembah rembukan) salah saru jurus yang lihay dari ilmunya". Pukulan ini mendatangkan angin dasyat yang sukar ditahan. Pukulan ini bukan saja dapat menangkis serangan lawan, bahkan berlebihan! Sehingga sisa dari tenaganya ini merupakan serangan hebat pada lawan. Siauw Sie seng rupanya sudah menduga, cepat bagai kilat badannya mengelinding ke sebelah kiri menghindarkan bahaya. Sambil melelet leletkan lidah ia berkata pada Toa Sie seng :

"Kak sembilan puluh persen orang ini Tong Leng adanya!"

Kembali tubuh Siauw Sie seng Gencelat bangun, tangan kanannya mendorong. Serangan ini tidak dipandang oleh Tong Leng. Bukannya ia berkelit sebaliknya lengan orang itu dibabad dengan tangan kirinya. Siauw Sie seng menarik serangannya tidak berani mengadu tulang. Tangan kirinya tidak tinggal diam, diserangnya kepala Tong Leng : "Lihat! Hut Siu Jie Kie (lengan baju mengebut pergi), benar saja tangan baju itu menyapu kedua mata Tong Leng. Tong Leng gelagapan, tak terpikir olehnya bocah sekecil ini sudah mempunyai Nuikang (ilmu dalam) yang demikian tinggi.

Karena ini ia tak berani lagi berlaku gegabah. Bagai kilat mulutnya terbuka, giginva berhasil menggigit lengan baju Siauw Sie seng. Dalam pada iini Siauw Sie seng salah hitung, kiranya habis mengebut ia bisa segera meloncat pergi. Tak kira Tong Leng membuatnya tidak berkutik.

Sambil menggigit Tong Leng sempac tertawa besar! Tangannya diulur untuk menangkap bocah Kecil itu Siapa tahu mendadak angin dingin berkesiur di batok kepalanya. Ia tahu ini adalah serangan hebat dari tingkat atas. Buru buru ia berkelit sambil membalik badan menyambut serangan. Serangan ini datang dari tangan Toa Sie seng.

Siauw Sie seng napasnya senen kemis, tapi ia berkata : "Kakak, tak salah lagi, dialah Tong Leng Ho Siang!"

Tong Leng beruntun mengrimkan tiga serangan hebat. Toa Sie seng pun beruntun, tiga kali menyambuti tiga serangan itu. Kedua belah pihak seolah olah sudah saling mengetahui kekuatan lawan. Tong Leng sadar Toa Sie seng ini berkepandaian lebih tinggi dari Siauw Sie seng. Walaupun demikian masih tetap bukan menjadi lawannya. Hal ini melegakan pikiran Tong Leng. Seluruh kepandaian Tong Leng dikerahkan untuk mempercepat jalan pertandingan. Karena dengan selesainya bertanding dapat dengan leluasa mengejar Tjiu Piau. Terdengar Toa Sie-seng berkata: "Tong Leng Ho Siang, kenapa bukan baik baik diam di Wan Liu San memuliakan Buddha dan membakar dupa. Untuk apa kau bergaul dengan segala Ouw Yu Thiaa melakukan pekerjaan buruk. Dengarlah nasibku dan segera pulang ke tempat kediamanmu. Mengenai orang yang kau kejar akan kujadikan tamu. Berilah muka kepada kami.

Urusan pasti menjadi beres. Ingatlah untuk satu lawan satu memang kami bukan lawan darimu tapi kalau kami bergabung, jangan harap kau bisa banyak tingkah!"

"Bocah itu siapa namanya? Kau sendiri bocah berengsek dari kampung mana? Apa alasanmu untuk menjadikan dia sebagai tamu kau?"

"Sementara ini aku belum mengenalnya. Tapi aku dapat memastikan, setiap orang yang melarikan diri dari Ban Liu Tjung bukan orang jahat!"

"Diam ! ! ! Kalau sudah kegusur ke Ban Liu Tjung baru tahu rasa!" bentak Tong Leng dengan kegusaran yang muncak. Tangannya berputar, menderu deru mengeluarkan angin menyerang kedua orang. Badannya yang tambah tangannya yang panjang luar biasa. Di dalam gelap tampaknya bagai kunyuk liar ke luar dari hutan dan tak ubahnya seperti iblis jahat turun dari mereka! Melihat ini Tiiu Piau menahan napas. Hatinya berpikir. "Dua pemuda itu dapatkah menandinginya? Haruskah aku turun tangan membantunya?"

Iimu silat Sian Wan Kiam Hoat dari Tong Leng tidak boleh dibuat gegabah. Sepasang lengannya yang mempunyai tenaga ratusan kati, sebentar diulur sebentar ditarik. Perubahan sama sekali tidak terduga pemuda itu. Sebaliknya untuk menghadapi Tong Leng dua pemuda itu bahu membahu, mundur maju dengan penuh perhatian menghadapi sang lawan. Beberapa kali Tong Leng menghantam dengan keras, disambut pula dengan ke empat tangan bergabung secara keras pula!"

Tong Leng pikirannya tak keruan rasa. Ilmu pukulannya yang dibuat bangga ini, berpokok pada kelincahan kera, ditambah peryakinan selama sepuluh tahun dari ilmu dalamnya. Sehingga dalam tubuhnya terdapat berat dan lincah. Tapi kini kelincahannya berkurang banyak disebabkan tambah gemuknya dari sang badan. Jika dua pemuda mengandalkan kelincahannya untuk mengatasi Tong Leng. sesuai benar dengan pikiran orang. Tapi dua pemuda ini baKu hantam dengan seenaknya. Keras dilawan akal, kepelan dihajar, tenaga dalam diterima pula dengan ilmu dalam!

Hal itu membuat Tong Leng berpikir, bahwa kedua orang ini harus dipisahkan, agar tak dapat. menggabungkan diri. Habis berpikir tangannya menyerang sepenuh tenaga dengan ganasnya. Tanpa gugup kedua orang itu melihat dan memunahi serangan serangan itu. Akan kedudukan mereka tetap tak berubah, bahkan dapat bekerja sama semakin erat. Tong Leng mengubah pukulannya. Sekali lagi pukulan Sian Wan Pai Gwat ditebaskan ke tengah tengah dua orang. Dengan cepat kedua orang itu mencelat ke kiri dan kanan.

"Bersiagalah Lo Tjiau To Sin (orang tua memikul buah sin)." seru Toa Sie-seng.

"Kong Sim Tjiau!" seru Siauw Sie-seng.

Kedua orang tiba dipermukaan bumi kekiri dan kanan sejauh tiga tumbak. Tong Leng sebenarnya ingin mengulur tangannya ke kiri dan kanan. Mendadak hal ini dibatalkan setengah jalan. Bukannya ia menyerang sebaliknya berdiri memasangkuda-kuda mengawasi kedua orang menantikan serangan. Kiranya Tong Leng sesudah menyerang dengan Sian Wan Pai Gwat dan berhasil memisahkan kedua orang. Menyusul akan menjambak dua orang dengan jurus Lo Tjiau To Sin.Serangan ini batal sebab sudah disebutkan terlebih dulu oleh Toa Sie-seng. Mengenai seruan Siau Sie seng Kong SimTjiang (telapak kosong) apa artinya tidak diketahui. Dalam bingungnya ini ia mengawasi sambil memasang besi.

"Hei! Bocah bocah berengsek! Sebenarnya kalian dari golongan mana? Lekas bilang! Jika orang sendiri boieh aku ampuni."

"Pasti dan terang orang lain! Dinyatakan pula bukan orang sendiri. Belas kasihanmu itu simpan saja dalam sanubarimu, tunggu sampai ada yang membutuhkan! Sebaliknya kalau kau yang minta kami kasiani itu sangat baik. Pokoknya asalnya kau lekas-lekas pulang ke tempat kediamanmu!" Kalimat ini membuat Tong Leng kalap, tenaga dalamnya dikerahkan, tangannya melayang ke kiri dan kanan, menyerang dengan bengis kedua orang itu. long Leng tahu Toa Sie seng berkepandaian lebih dalam dari Siauw Sie seng. Dari itu tangan kirinya lebih banyak menggunakan tenaga. Dalam hati si Hweesio ingin segera menjatuhkan kedua lawannya. Siauw Sie seng yang berada di sebelah kanan, merangkap dan mengepalkan kedua tangannya untuk menangkis dengan setakar tenaga. Toa Sie seng berada di sebelan kiri melepaskan tangkisan dengan kedua tangan terbuka. Tong Leng merasakan tenaga Toa Sie seng menjadi hilang. Sedangkan ia menggenjot lawannya sepenuh tenaga, alhasil mengenai tempat kolong, sehingga tenaga itu berbalik mengulung dia. Tepat pada waktu ini Siauw Sie seng menggempur tangannya Mau tak mau membuai Tong Leng ternuyung huyung! Hampir tubuhnya yang besar itu ngusruk.

Kiranya telapak tangan Toa Sie seng bertenaga besar dan keras seperti petir! Tapi tengah-tengah telapak tangannya sedikitpun tak bertenaga. Inilah yang disebut Kong Sim Tjiang. Tong Leng mempunyai pengalaman yang luas Biasa mendapat Kerugian gerakannya tak menjadi kalut. Sebaliknya otaknya menggunakan akal. Tiba tiba tubuhnya yang hampir jatuh itu condong kekiri, kakinya bagai menginjak roda kereta berputar pindah ke kanan. Kedua orang tidak mengira dan bersiaga atas jurus yang kukuay dari si Hweesio. tahu - tahu tangan si Hweesio sudah tiba di muka Siauw Sie seng. sekali putar lengan Siauw Sie seng. kena dicekal!

Ketika ini dari dalam liang goa muncul Mau San Djie Hoo Mereka berseru girang waktu melihat Tong Leng berhasil menangkap Siauw Sie seng. Sebelum kegirangan Mau San Djie Hoo hilarg menyusul tiga butir batu melayang ketubuh Tong Leng. Tong Leng begitu melihat batu, gusarnya bukan main, lengan kanannya menangkis Toa Sie seng. lengan kirinya mengangkat tubuh Siauw Sieseng sebagai tameng untuk menangkis senjata rahasia Tjiu Piau. Katakanlah lambat tapi cepat. Batu batu yang hampir bersarang di tubuh Siauw Sie seng. entah kenapa berjatuhan ke bumi. Tong Leng menotok jalan darah Siauw Sie seng, sudah itu tubuh orang dilempari Pada Djie Hoo.

Tubuhnya sendiri melesat mengejar Tjiu Piau. Tjiu Piau yang bersembunyi di kumpulan batu batu itu. Tak mungkin dapat di ketemukan orang jika fajar belum menyingsing.

Tapi waktu melihat kedua orang yang semula menang angin berbalik kena terdesak Tong Leng Hatinya menjadi gelisah, tanpa terasa sudah melangkah ke luar Batu batu dilepas dengan maksud menolong orang, Tjiu Piau menjadi gugup kala melihat Tong Leng memburu kepadanya. Waktu inilah seruan keras mendengung di telinganya. "Kawan! Lekas masuk lagi ke dalam tumpukan batu" Inilah suara Toa Toa Sie seng. Sedangkan orangnya sendiri lengah mati-mat'an menerjang Djie Hoo untuk menolong adiknya. Tjiu Piau melihat tak ada bantuan untunya. Tambahan Tong Leng bukan lawannya Ia menurut kata kata itu, kembali masuk ke dalam tumpukan batu. Ketika ini terlihat sebuah batu bergoyang goyang. Dalam kagetnya, ia tak percaya pada penglihatannya, kiranya matanya berkunang kunang. Waktu ditegasi, orang-orangan batu itu benar-benar berjalan. Ah kiranya bukan batu, melainkan seorang tua berambut putih, wajahnya sangat welas asih. Rupanya ia sudah lama menonton perkelahian itu. Kini baru menunjukkan diri. Tjiu Piau merasa kenal akan wajah orang tua ini tapi entah di mana.

Orang tua berambut putih ini memegang tongkat, tindakannya ringan dan gesit. Ia berkelebat di samping Tjiu Piau sambil berbisik: "Turut padaku!" sedangkan kakinya terus menjurus pada Mau San Djie Hoo. Tjiu Piau melihat Tong Leng sudah dekat sekali, lekas - lekas ia mengikuti orang tua itu dari belakang. Sambil lalu tangannya melepaskan enam butir batu menghajar Tong Leng.

Dengan maksud menghambat Tong Leng. Tak kira orang tua itu pun melepaskan juga entah benda apa kepada Tong Leng.Benda itu melesat demikian cepat dan keras, melebihi batu-b^tu yang dilepas Tjiu Piau. Tong Leng sebenanya sudah mengangkat kedua tangannya untuk mengebut batu- batu Tiau Piau dengan kekerasan, tapi dikagetkan benda yang dilepas orang tua itu. Sehingga membuatnya gedubukan tidak keruan Dengan kelihayannya Tong Leng berhasil melepaskan diri dari serangan orang tua itu. Tapi tangan kanannya tak dapat menghindarkan batu batu Tjiu Piau! Lengan itu segera kesemutan, buru buru tenaga dalamnya dikerahkan untuk memecahkan totokan batu itu. Hatinya semakin gusar. Seperti gila ia mengejar Tjiu Piau.

Dalam kesibukan yang sangat ini Tjiu piau masih dapat berpikir: "Senjata rahasia orang tua ini bukan main lihaynya. Rupanya tidak salah lagi dialah orangnya yang menjatuhkan batu-batuku tadi. Kapan waktu kalau aku mendapat petunjuk darinya, pasti ilmuku dapat maju dengan pesat." Dilain pihak, Mau San Dji Hoo menyanggapi tubuh Siauw Sie seng yang dilempar Tong Leng. Anak itu ditotok lagi dan diletakkan di samping Sedangkan kedua rasenya sendiri harus bertarung dengan Toa Sie seng.

Kiranya ilmu Hek Hoo dan Pek Hoo tidak seberapa lihay. Tapi namanya sangat terkenal di dunia Kang ouw berkat akal bulusnya yang licik. Nuikang dari Toa Sie seng sudah cukup lihay ditamban berkelahi dengan mati matian. Kalau satu rase saja yang melawan pasti bukan lawannya, dua rase bergabung mengerubutinya baru bisa mengimbangi Toa Sie seng ini. Orang tua itu menotolkan tongkatnya ke muka bumi, tubuhnya meleset seperti terbang, dengan cepat sudah berada di samping tubuh Siauw Sie seng.

Tangannya sudah siap untuk membebaskan jalan darah Siauw Sie seng. Sebelum itu terlebih dahulu melesat sesosok tubuh dari liang goa itu. gerakannya sangat lincah sekali." Hei aku datang," serunya, "aduh ramai betul di sini!" Inilah suara Tjen Tjen. Tubuhnya yang kecil ramping itu tiba di depan Tong Leng. dilihatnya Tong Leng tengah menyerang Tjiu Piau. Tidak banyak pikir lagi diserangnya Tong Leng dari samping. Hal ini di luar perkiraan Tong Leng. Ia menjadi heran dan mana datangnya bocah perempuan ini!?

Waktu inilah dipergunakan orang tua itu untuk membuka jalan darah Siauw Sie seng. Hal ini mengubah jalannya pertandingan.

Sepihak Tong Leng tambah Mau San Djie Hao. Sepihak lagi orang tua berambut putih, Toa Sie-seng, Siauw Sie seng tambah Tjiu Piau. Kini pihak Tjiu Piau menang di atas angin.

Sebaliknya Tjen Tjen tidak ke sana kemari. Apa yang dilakukan demi kesenanganya saja. Nanti Tong Leng diserang, sewaktu waktu Siauw Sie seng dan Toa Sie-seng dihantamnya. Nanti Tjiu Piau, dibantu, sebaliknya nanti Tong Leng dibantu. Sehingga medan perKelahian ini aduk adukan tidak keruan macam.

Orang tua dan kedua Sie seng itu, semula tak mengandung niat lama lama berkelahi. Tapi disebabkan tertangkapnya Siauw Sie seng, baru perkelahian dilangsungkan dengan mati matian. Kini Siauw Sie seng sudah tertolong. Kalau terus berkelahi, orang orang Ban Liu Tjung yang banyak jumlahnya itu, bisa meluruk datang. Hal ini tidak diingini mereka. Dari itu mereka ingin segera menyingkir. Orang tua itu bergerak mendesak Tong Leng mundur. Toa Sie seng berbisik pada Tjiu Piau. "Kawan turutlah kami berlalu!"

Maksud orang tua ini sudah diketahui Djie Hoo. Dari itu diserangnya Toa Sie seng dengan hebat, sedikit juga tidak diberi kesempatan untuk mengangkat kaki. Walau pun ilmu kedua orarg mi lidak memadai Toa Sie seng. Tapi mereka menang pengalaman dan kelicikan, sehingga tak mengalami sedikit rugipun. Siauw Sie seng walaupun mengeluarkan ilmu silat dari perguruan kelas utama, tapi masih kurang latihan. Dari itu DjieHoo selalu menghatam Siauw Sie seng ini bertubi tubi. Hal ini membuat Toa Sie seng repot menolongnya sebab ini keadaan Djie Hoo untuk sementara berada di atas angin.

Toa Sie seng sesudah berhasil mematahkan beberapa serangan lawan. Segera mengetahui apa yang dikehendaki lawan.

Dari itu dibiarkannya Pek Hoo menyerang Sie seng.

Sekali kali ia tak menolongnya, sebaliknya kedua kepalannya dikerahkan dengan mendadak menyerang Hek Hoo. Hek Hoo mengubah ilmunya untuk menangkis, Kedua kakinya berputar tak henti hentinya nanti maju nanti mundur, ke kanan dan ke kiri, tubuhnya menggeleyot ke kiri bergoyang ke kanan. Dan tangannya terus mengubah- ubah ilmu silatnya. Sebentar benar benar menyerang, kemudian hanya menggertak saja, orang yang melihat ilmunya ini menjadi berkunang kunang dan tak dapat turun tangan! Inilah ilmu ciptaan Djie Hoo yang dinamai Hoo Po Kun (oukulan rase bergerak) Ilmu ini demikian licin dan membingungkan sesuai dengan adat rase yang licik dan licin. Toa Sie seng mengawasi permainan Hek Hoo sambil menantikan ketika untuk menyerang letak kematian lawan. Hek Hoo sebaliknya mengawasi keadaan di belakang Toa Sie seng. "Bagus" serunya tidak keruan-ruan. Toa Sie seng mengira Pek Hoo sudah berhasil dalam serangannya hatinya menjadi kuatir adiknya mendapat luka buru buru ia berpaling. Sekali berpaling ini. artinya ia sudah kena perangkap bulus Hek Hoo Ketika yang baik ini tidak disia siakan Hek Hoo. tubuhnya melompat.tangannya terangkat seperti penggaruk mencakar Toa Sie-seng dari belakang.

Toa Sie-seng merasakan punggungnya sakit dan perih. Dengan segera tenaga dalamnya dikirim, tubuhnya dibungkukkan dan dibantingnya musuh. Hek Hjo tidak bersiaga atas ini, tak ampun lagi tubuhnya kena dilempar beberapa tumbak jauhnya. Toa Sie seng punggungnya sudah ditandai lima gores tanda darah.

Waktu ini orang tua itu sudah berhasil mendesak Tong Leng Hweesio sejauh dua tumbak. Segera ia berbalik badan, diserangnya Pek Hoo taK berani menyambut serangan lawan, lekas lekas ia mundur. Dengan demikian ketiga orang itu berhasil membebaskan diri dari libatan lawan.

Tubuhnya susul menyusul melesat masuk ke dalam tumpukan orang-orangan batu Tjiu Piau tidak bisa lari, sebab dipegangi Tjen Tjen. "Kau mau pergi main ke mana?" tanyanya tanpa curiga. Tjiu Piau tidak menjawab, Saat inilah dari dalam goa datang suara keras. "kawan-kawan kalau sudah datang, untuk apa tergesa-gesa berlalu!"

Louw Eng menunjukkan diri paling depan. Hal ini membuat Tjiu Piau terkejut. Sedangkan tiga orang yang mengajak berlalu sudah hilang dalam tumpukan batu.

Memikiri dirinya yang sendirian saja, mau tak mau merasa gentar. Fajar sudah menyingsing di ufuk timur, sinar keemas emasan membawa kehidupan itu menerangi muka Tjiu Piauw. Louw Eng yang berdiam dari tempat agak gelap menatap wajah pemuda ini. Seolah - olah matanya itu melihat kembali wajah Tjiu Tjian Kin yang sudah meninggal dua puluh tahun lamanya. Hatinya diliputi bermacam macam rasa bimbang. Dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi pemuda yang berada di depan matanya?

Walaupun Ouw Yu Thian sudah menerangkan, bahwa pemuda ini adalah keponakan dari Tjiu Tjian Kin. Tapi dalam batin Louw Eng sudah memastikan pemuda ini adalah anak dari Tjiu Tjian Kin.

Inilah orang yang sepuluh tahun lebih lamanya dikerarg dan dicarinya. Dari itu biar bagaimana tidak boleh dilepas lagi. Hatinya sudah mengambil keputusan dengan cepat. Ia menindak melalui orang orang yang berada di situ, menghampiri ke dekat Tjiu Piau.

Tjiu Piau walaupun tidak dapat memastikan Louw Eng sebagai pembunuh dari ayahnya. Tapi entah bagaimana, wajah Louw Eng ini menimbulkan kesan tak menyenangkan untuk dilihat. Kedua pasang mata beradu dalam pandangan. Tjiu Piau hatinya berdenyut terlebih keras dari biasa. Ia merasakan orang yang berada di depannya ini adalah manusia yang menjemukan. Tak terasa lagi, ia menggentakkan tangannya yang dipegang Tjen Tjen dan mundur beberapa tindak ke belakang. Atas ini Tjen Tjen menjadi gusar. Mendadak tangannya bergerak melepaskan tambang Niatnya melibat kedua kaki Tjiu Piuu. Tjiu Piau tidak memandang, mata atas hal ini, Kakinya perlahan melompat ke atas. Dua butir batu secepat mungkin menuju kemata Tjen Tjen. Louw Eng maju melindungi puterinya, dua butir batu itu dengan mudah diraihnya dari udara.

Menyusul tangan kirinya maju menyerang bagian bawah Tjiu Piau. Satu tenaga gencetan yang keras dirasakan Tjiu Piau menyesak dada. Untuk menghindarkan ini, kembali ia mencelat lagi. Begitu tubuhnya terangkat naik, sebuah tubuhpun membayangi dan melebihi tinggi tubuhnya. Itulah Louw Eng. yang berhasil melebihi tubuh Tjiu Piau.

Tangannya terbentang, kakinya ditekuk tak berdaya seperti seekor elang raksasa. Seketika itu Tjiu Piau merasakan tubuhnya seperti seekor burung gereja yang tengah dijadikan korban keganasan elang lapar itu.