-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 07

Jilid 07

Bab 31

Walaupun aku terlahir sebagai anak perempuan tetapi tekadku

melebihi seorang anak laki-laki

Ayah,

Putrimu menggantikanmu ke medan perang dan tak akan kembali tanpa kemenangan

- Fa Mulan

Surat untuk Ayah

***

Shang Weng memutuskan untuk menjatuhkan sanksi sesuai hukum kemiliteran setelah melakukan serangkaian pertemuan militer dengan para atase militer Yuan di Ibukota Da-du.

Penyusupan dan penyamaran Fa Mulan di Kamp Utara sebagai laki-laki tersebut merupakan pukulan yang amat berat bagi militer Yuan. Nama baik militer Yuan tercoreng karena kecolongan oleh kasus sepele tetapi berdampak besar bagi kredibilitas dalam kemiliteran. Karenanya, tindakan Fa Mulan - yang dilakukannya semata-mata untuk menggantikan ayahnya yang sudah tua dan pincang - dapat dianggap subversif. Untuk itulah ia dijatuhi hukuman penggal!

Namun keajaiban itu datang sesaat sebelum golok algojo Istana Da-du hendak memisahkan kepala Fa Mulan dari badannya.

Kaisar Yuan Ren Zhan, melalui ia - salah seorang prajurit wamil Kamp Utara yang lari ke Ibukota Da-du dan berhasil menembus koneksitas Istana untuk meminta permohonan pengampunan bagi Fa Mulan, tiba-tiba mengeluarkan maklumat untuk mengampuni tindakan Fa Mulan yang merupakan aib dalam kemiliteran Yuan.

Dan pada akhirnya, maklumat tersebut sampai kini menjadi enigma tak terjawab di kalangan militer Yuan. Entah karena alasan apa sehingga Kaisar Yuan Ren Zhang sampai mengeluarkan maklumat yang berstempel Istana Da-du dan ditandatanganinya sendiri.

Barangkali tindakan Kaisar Yuan Ren Zhan itu merupakan reformasisasi pengaruh Negeri Barat, yang erat kaitannya dengan rintisan bilateral politik luar negeri terobosan Perdana Menteri Shu Yong. Tindakan tersebut membawa iklim baru dalam tatanan kenegaraan yang kacau-balau warisan penguasa- penguasa masa lalu.

Kendati pada akhirnya gadis itu tidak jadi dipancung, tetapi ia - sebagai sahabat terbaik Fa Mulan - merasa Shang Weng sebagai pemimpin tertinggi di Kamp Utara tidak becus mengantisipasi hal terburuk dari kasus penyamaran identitas Fa Mulan tersebut.

Ia menilai Shang Weng tidak adil.

Ia tidak dapat memberikan argumen yang tepat kepada jenderal- jenderal di markas besar militer Yuan di Ibukota Da-du. Ia tidak berusaha semaksimal mungkin meyakinkan pejabat-pejabat militer di Istana bahwa sesungguhnya Fa Mulan tidak bersalah. Apa yang telah diperbuat gadis itu - manipulasi identitas diri dan tuduhan indisipliner - tidak sebanding dengan hukuman yang dijatuhkan militer Yuan kepadanya.

Shang Weng seperti buta.

Ia tidak dapat melihat betapa berjasanya gadis prajurit wamil tersebut yang, bahkan berani mengorbankan nyawanya suatu ketika pada sebuah pertempuran kecil dengan kaum nomad Mongol di perbatasan Tembok Besar. Fa Mulan nyaris tewas dengan sebilah anak panah yang menancap di dadanya. "Anda tidak adil, Kapten Shang!" makinya pada waktu itu,

sebelum eksekusi penggal kepala dilakukan terhadap Fa Mulan tujuh hari kemudian.

"Kamu pikir saya tidak sedih?! Saya juga sedih, Bao Ling! Hati saya juga sakit. Lebih sakit dan perih daripada yang kamu rasakan."

"Sampai hati Kapten Shang berdarah-darah pun, Fa Mulan tetap akan dipenggal!"

"Saya sudah berusaha menyelamatkan gadis itu. Tapi. "

"Tapi apa?!"

"Saya tidak bisa melawan keputusan para jenderal di Ibukota Da-du!"

"Saya tidak ingin mendengar dalih murahan begitu, Kapten Shang!"

"Jangan kurang ajar!"

"Saya kecewa terhadap kepemimpinan Anda, Kapten Shang!" "Kamu indisiplener! Kamu akan dipenggal!"

"Lebih baik saya mati bersama Fa Mulan daripada tetap loyal kepada seorang pemimpin yang, sama sekali tidak memiliki tanggung jawab terhadap nasib bawahannya."

"Hal itu di luar kehendak saya."

"Tapi kehendak untuk melenyapkan nyawa gadis itu sungguh keterlaluan! Di mana nurani para jenderal yang tahunya hanya memerintah di belakang meja itu?!"

"Hukuman itu telah menjadi sanksi dalam kemiliteran. Saya harap kita semua dapat berlapang dada menerima keputusan pahit untuk Fa Mulan itu, Bao Ling."

"Tapi keputusan itu tidak adil! Bagaimana mungkin Fa Mulan dapat menerima sanksi seberat itu - hukuman mati, sementara apa yang telah dilakukannya hanyalah untuk menggantikan posisi kewajiban militer ayahnya - yang sudah tua dan pincang. Dia bukan penjahat perang, Kapten Shang! Kenapa harus dihukum pancung?!"

"Senang atau tidak, sanksi itu telah menjadi amar yang harus dipatuhi oleh siapa pun juga. Tidak terkecuali dia adalah jenderal sekalipun. Bagaimana wibawa hukum nantinya kalau ada sikap diskriminatif untuk Fa Mulan. Apa kata orang nanti tentang keadilan?"

"Sia-sia saja semua pengorbanannya selama ini di sini! Tidak ada penghargaan apa pun atas jasa-jasanya, yang bahkan mempertaruhkan nyawanya saat mempertahankan Tembok Besar dari serangan kaum nomad Mongol lalu."

"Saya tahu bagaimana besarnya loyalitas Fa Mulan terhadap Yuan. Saya sadar, karena itu pulalah dia terkena anak panah dan nyaris tewas di tangan Mongol. Tapi, bukannya saya tidak peduli dengan jiwa patriotisme dia itu. Bukan. Tapi saya memang tidak memiliki wewenang lagi untuk menggagalkan eksekusi penggal itu, Bao Ling!"

"Kejam. "

"Maafkan saya. Saya telah berusaha semampu saya. Tapi. "

"Kalau semua pejabat militer Yuan seolah tidak memiliki nurani, bagaimana jadinya loyalitas prajurit Yuan kelak?! Kasus Fa Mulan adalah salah satu bukti kalau para pejabat militer kita di Ibukota Da-du sudah majal nurani. Tidak ada kepekaan hati mereka lagi untuk melihat sisi-sisi lain dari kebenaran, apa pun bentuknya."

"Saya menyesal, Bao Ling. Tapi. "

"Maafkan saya, Kapten Shang! Saya tidak bermaksud menyudutkan Anda di dalam posisi ini. Tapi saya hanya iba kepada Fa Mulan. Dia prajurit yang sagat loyal, bahkan melebihi semua prajurit yang ada di Kamp Utara ini! Dia gadis yang baik, Kapten Shang! Dia. "

"Sudahlah, Bao Ling. Saya turut prihatin atas hukuman yang. "

"Ta-tapi, Anda harus bertindak! Sebagai pemimpin Kamp Utara ini, Anda memiliki legitimasi untuk menggagalkan hukuman pancung itu, Kapten Shang!"

"Ma-maafkan saya, Bao Ling! Atase militer telah memutuskan untuk tetap menjatuhkan hukuman penggal kepada Fa Mulan!" "Tapi mana boleh. "

"Saya juga sakit hati, Bao Ling. Tolong, jangan salahkan saya lagi dalam hal ini!"

"Ja-jadi. "

"Sa-saya menyesal. "

"Huh, kalau sudah begini, membunuh seorang Shang Weng Shang pun tidak akan dapat menolong Fa Mulan dari kematian!" "Saya. "

"Ti-tidak! Tidak! Tidak! Fa Mulan tidak boleh mati! Fa Mulan tidak boleh mati, Kapten Shang!"

Kala itu ia menangis.

Ia meratapi nasib malang Fa Mulan. Namun Shang Weng sama sekali tidak bergeming dengan permohonannya agar berusaha membebaskan Fa Mulan dari hukuman pancung tersebut.

Komandan atas seluruh militer wamil di Tung Shao itu hanya menangis. Pemimpin Kamp Utara itu sama sekali tidak berkutik dengan keputusan getir yang, diamanatkan para jenderal kepadanya untuk mengeksekusi Fa Mulan pada hari dan waktu yang telah ditentukan. Juga ketika Chien Po dan Yao berlutut memohon, pemuda itu pun hanya menundukkan kepalanya tidak berdaya, dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia benar-benar kecewa terhadap Shang Weng.

Maka pada suatu malam ia kembali melarikan diri dari Kamp Utara menuju ke Ibukota Da-du. Ia harus membebaskan Fa Mulan dari kezaliman pejabat-pejabat militer di Ibukota Da-du. Ia akan mencoba memohon langsung kepada Kaisar Yuan Ren Zhan agar dapat membebaskan Fa Mulan dari sanksi hukuman pancung. Tetapi upayanya tersebut seolah menggantang asap untuk menghidupkan api pada bara arang yang telah padam.

***

Tidak ada satu pun pejabat militer yang sudi menerimanya. Ia hanya dipandang dengan sebelah mata dan dianggap prajurit berkasta rendah. Gengsi militer Yuan ternyata lebih tinggi dari langit ketujuh. Semua petinggi militer dan jenderal memandangnya rendah. Namun ia tetap bersikeras dan berusaha mencari cara untuk dapat meluputkan Fa Mulan dari hukuman pancung.

"Kembalilah ke barak, Anak Muda!" sahut Jenderal Gau Ming saat ia berhasil masuk ke markas besar militer Yuan secara diam-diam. Ditemuinya jenderal tua itu dan mengungkapkan semua kejadian miris yang menimpa Fa Mulan di Kamp Utara. "Mustahil kamu dapat bertemu dengan Kaisar Yuan Ren Zhan! Istana terlalu keramat untuk kamu masuki hanya untuk me- nyampaikan berita sesepele itu."

"Maaf, Jenderal Gau! Ini bukan persoalan sepele. Hidup-mati Fa Mulan merupakan tanggung jawab militer Yuan. Anda yang mewakili militer Yuan tidak dapat lepas tangan begitu saja. Dan hanya mengetukkan palu amanat tanpa melihat duduk- perkaranya. Saya mohon Anda dapat bertindak bijak menanggapi kasus Fa Mulan tersebut. Anda dapat menimbang kasus itu dengan seksama! Fa Mulan bukan penjahat perang! Dia tidak pantas diganjar hukuman mati!"

"Lancang benar kamu!"

"Maaf, Jenderal Gau! Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali meminta atase militer Yuan mengambil keputusan benar!" "Apa lagi?! Bukankah vonis telah dijatuhkan?!"

"Vonis itu tidak adil, Jenderal Gau!"

"Berani benar kamu menentang amar yang telah disepakati oleh seluruh atase militer Yuan!"

"Saya tidak berani! Tapi, mohon. Mohon tinjau kembali keputusan untuk mengeksekusi Fa Mulan, Jenderal Gau." "Tinjau kembali?! Kamu pikir amar yang telah diputuskan itu main-main?! Keputusan itu telah bulat, Anak Muda! Sudahlah. Jangan mengganggu kami yang tengah sibuk di markas besar militer Yuan ini. Keputusan penggal kepala untuk prajurit wamil Fa Mulan itu sah dan tidak cacat hukum! Atau, apa kamu menyangsikan kalau keputusan itu cacat hukum barangkali?!" "Saya tidak berani berkesimpulan begitu. Tapi, rasa-rasanya apa yang telah menjadi amar para atase militer Yuan itu tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Fa Mulan. Gadis itu tidak bermaksud makar dengan memanipulasi identitas dirinya saat mendaftar sebagai prajurit wamil. Gadis itu hanya ingin menggantikan posisi ayahnya yang sudah tua dan pincang. Itu saja. Tidak ada maksud lain. Dia juga bukan jasus, dan tidak pernah terbukti bekerja untuk pihak musuh."

"Untungnya Fa Mulan bukan jasus musuh. Nah, bagaimana seandainya dia adalah jasus musuh?! Bukankah dia akan menjadi orang yang paling berbahaya di Kamp Utara?!" "Tapi, kenyataannya Fa Mulan memang bukan orang yang bekerja untuk pihak musuh!"

"Saya tidak perlu mendengar jawaban atau penegasan kamu, bahwa Fa Mulan bukan jasus musuh! Kami semua sudah tahu kalau dia memang bukan jasus musuh! Saya hanya ingin mendengar jawaban kamu, bagaimana seandainya gadis itu adalah jasus musuh. Tahu tidak, kasus manipulasi identitas diri yang Fa Mulan lakukan itu merupakan preseden buruk bagi militer Yuan. Terus terang, kasus tersebut telah membuat kalang-kabut semua atase militer Yuan. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Lagipula, bukan hanya Fa Mulan yang akan dikenai sanksi atas kasus itu. Tapi banyak pihak yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah Inspektur Tang Zhien Zen, salah seorang pejabat militer yang paling bertanggung jawab dalam perekrutan calon prajurit wamil pada waktu itu. Dia pun dapat dijatuhi hukuman mati atas keteledorannya tersebut." "Mungkin itu salah satu kesalahan besar yang pernah dilakukan Fa Mulan. Tapi apakah tidak ada pengampunan untuknya, Jenderal Gau?"

"Atase militer telah menimbang dengan matang persoalan manipulasi identitas diri yang terjadi di Kamp Utara. Memang tidak ada hal yang dapat meringankan hukuman untuk Fa Mulan."

"Tapi. "

"Keluarlah, Anak Muda. Kamu hanya mengganggu aktivitas kami di sini!"

"Tunggu, Jenderal Gau!" "Ada apa lagi?!"

"Saya Bao Ling, putra pertama Bao Nang! Saya akan melakukan apa saja demi menyelamatkan Fa Mulan dari jazam penggal!" "Cukup! Pengawal, tangkap dia!"

"Jenderal Gau. "

Kala itu ia ditawan oleh prajurit pengawal Jenderal Gau Ming. Ia dijebloskan ke dalam penjara di markas besar militer Yuan karena dianggap indisipliner. Menyelinap masuk ke dalam markas besar militer Yuan tanpa izin. Di dalam penjara, ia menemukan ide cemerlang untuk dapat membebaskan Fa Mulan.

Koneksitas dengan pihak Istana!

Sebuah siasat yang sering ditempuh oleh ayahnya sewaktu berusaha mengelitkan ia dari kewajiban militer. Pejabat-pejabat negara memang masih banyak yang kemaruk oleh gemerlap harta dunia....

Bab 32

Tak ada derap kuda para pengelana pada sunyi gorong-gorong malam dan muram labirin batu

untuk menjelajahi negeri berantah Maka bersuaralah para penyeru dari deru parau notasi pada jakun menembusi tabir lorong cadas

lalu mengumpul pada suatu tempat yang jauh dari riuh

di mana maharana telah berangus pebijak dengan kobar api dan nestapa tanpa gigir

- Bao Ling Elegi Kelana

***

Bicara dengan gadis itu, ia serasa berhadapan dengan sesosok teguh berpendirian keras. Masalah gender adalah persoalan yang paling hakiki dalam hidupnya. Fa Mulan memang idealis. Dan ia bahkan bersedia mati untuk memperjuangkan cita-cita luhurnya tersebut. Kebenaran seperti bayang yang terpantul dari cermin nurani sisi hatinya.

"Tidak ada yang salah, Mulan. Tapi, kalau hal itu sudah menjadi predestinasi, apa yang harus kamu tuntut lagi?"

"Hei, Dewata tidak pernah memaklumatkan hakam untuk memilah-milah anak-anak manusia di dunia ini!"

"Tapi kenyataannya. "

"Kenyataannya hal itu dibuat-buat. Jangan menyinggung- nyinggung nama langit untuk mengukuhkan hakam sebagai pembenaran kalian."

"Pembenaran untuk kebaikan itu sahih, Mulan."

"Tapi sahih yang kalian putuskan adalah dosa besar bagi kemanusiaan dan peradaban!"

"Kadang-kadang, ada kalanya cita-cita harus dibarengi dengan pengorbanan. Berkorban di satu pihak untuk meraih kemenangan di pihak lainnya."

"Lelucon yang bagus."

"Ini bukan lelucon. Tapi memang begitu adanya. Sesuatu yang luhur dan murni harus didapatkan dengan segenap pengorbanan. Negara yang makmur tidak dibangun begitu saja. Banyak nyawa dan darah menjadi pondasi negara yang kuat tersebut. Tembok Besar, misalnya. Bangunan fenomenal kebanggaan rakyat Tionggoan itu telah mengorbankan demikian banyak nyawa sebelum dapat menjulang dan menjalar dengan gagah di Semenanjung Kuning ini. Entah berapa juta nyawa dikorbankan agar dapat membangun Tembok Besar itu, Mulan. Dan kamu lihat, pengorbanan itu ternyata tidak sia-sia, bukan? Nah, itulah yang kerap melandasi pola pikir pejabat-pejabat negara. Kamu tidak dapat menyalahkan hal tersebut sebagai sesuatu yang naif. Terlebih-lebih lelucon!"

"Saya tidak sependapat. Akar sejarah yang pengkar, yang dibenarkan secara sahih turun-temurun oleh kaisar-kaisar terdahulu, akan merajut benang merah masa lalu yang suram di masa sekarang. Kalau sudah begitu, maka yang terjadi kemudian adalah maharana yang tak kunjung reda. Di mana- mana ada perang. Perebutan kekuasaan. Intrik Istana. Apakah hal yang sangat menyengsarakan rakyat itu dapat dianggap suatu kebenaran?"

"Kalau hal itu merupakan bagian dari pengorbanan, yang bertujuan demi pengembangan negara ke arah yang lebih baik - paling tidak demi anak-cucu kita di kemudian hari, maka saya tidak dapat menyalahkan tindakan anarkisitas itu sebagai sebuah dosa besar."

"Huh, absurditas ambisi pribadi yang menghalalkan segala cara untuk dapat mencapai tujuan puncak kekuasaan! Sungguh sebuah keputusan yang ironis!"

"Itu khidmat yang dapat diperoleh dari serangkaian pengorbanan. Baik atau buruk, merugikan ataupun menguntungkan, semuanya berpulang pada pribadi masing- masing manusia."

"Oya? Jadi, kamu setuju hal itu dijadikan landasan bagi negara kita ini?"

"Sebegitu pentingkah artikulasi itu bagi kita, Mulan?"

"Berarti atau tidak, toh kita harus peduli terhadap nasib bangsa ini, bukan?"

"Tentu. Itulah tujuan kita menjadi prajurit wamil. Tapi, bukan berarti kita harus mencampuri semua hal. Ada hal-hal lain yang memang tidak memerlukan partisipan kita."

"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"

"Masing-masing individu mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Kaisar adalah kaisar. Jenderal adalah jenderal. Prajurit adalah prajurit. Petani adalah petani. Kalau tugas dan tanggung jawab tersebut saling bersilangan, maka fungsi individu itu akan kacau-balau. Lalu, pada akhirnya negara akan mengalami instabilitas politik. Negara tidak memiliki tatanan yang kuat karena masing-masing individu rancu dengan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing."

"Rasanya terlau picik bila kamu menilai aspirasi dan kepedulian kita sebagai rakyat yang menggugah kepemimpinan seorang kepala negara sebagai sesuatu yang balau." "Kenapa?"

"Justru, saya melihat hal tersebut sebagai tiranisasi yang membelenggu aspirasi rakyat. Itu pembodohan buat rakyat. Pemilah-milahan dan pengkotak-kotakan individu ke dalam tugas dan fungsinya masing-masing merupakan politisasi para pengusa lalim. Rakyat dibiarkan berjalan pada pola yang telah ditentukan. Kaisar tetap kaisar. Jenderal tetap jenderal. Prajurit tetap prajurit. Petani tetap petani. Dan kalau sudah terstigma begitu, seorang kaisar akan memenggal kepala seorang petani yang sesungguhnya berpotensi menjadi kaisar dibandingkan kaisar penguasa yang diuntungkan stigma tersebut."

"Politik Istana itu rumit, Mulan. Bila kita terlampau jauh mencampuri, maka yang terjadi adalah kekisruhan. Semuanya akan membabur. Bukannya solusi pemecahan suatu masalah." "Ini presedensi yang salah. Tujuan negara - perang misalnya - adalah semata-mata demi rakyat. Bukan demi segelintir orang. Bukan hanya untuk kepentingan kalangan Istana dan kroninya. Pada Kenyataannya, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Banyak di antara penguasa negeri menggunakan militer dan perang untuk mempertahankan aset-aset serta kekayaan mereka sendiri. Bahkan untuk merampas harta-benda dan tanah orang lain."

"Itu hanya presensi batil segelintir Sang Penguasa Tionggoan. Tapi sesungguhnya keputusan negara adalah stempel sahih dan kebenaran - karena kaisar adalah keturunan Dewata dan Naga dari langit. Mereka adalah totemis. Namun keputusan itu pada akhirnya membabur bila terlampau direcoki oleh absolutisme rakyat yang pluralis. Nah, kalau sudah begitu, maka kekisruhan akan menjadi-jadi. Rakyat akan jadi tiran. Dan pemerintah adalah boneka yang setiap saat dikendalikan untuk menjalankan misi pluralistis tersebut."

"Hei, bukan sebaliknya?! Amanat rakyat tidaklah seinferior sangkamu, Bao Ling. Absolutisme dan tirani dapat terjadi karena adanya penyalahgunaan wewenang di dalam roda pemerintahan. Penyelewengan dari asas-asas hakiki langit - bahwa kaisar adalah keturunan Dewata dan Naga di langit serta analisis totemis itu - justru membawa kaidah tersebut sangat melenceng jauh dari tatanan moralitas dan kebenaran itu sendiri."

"Tapi, dalam kenyataannya rakyat akan menjadi anarkis dan tiran saat tidak terpenuhinya keinginan-keinginan mereka yang ambigu. Kerusuhan, penjarahan, dan banyak hal merusak lainnya lagi ketika mereka menjelma menjadi serigala yang memangsa kaumnya sendiri."

"Lalu, siapa yang salah kalau sudah begitu?! Seharusnya pejabat-pejabat negara berintrospeksi. Bukannya malah menggunakan kelebihan dan kekuatan mereka - militer dan bala prajurit - untuk balas memukul, bahkan memusnahkan rakyat tersebut - yang kelaparan dan tidak puas terhadap kepemimpinan mereka?! Bukankah kesalahan itu bermuasal dari kalangan Istana?! Apakah bukan karena tindakan tak bermoral pejabat-pejabat negara yang batil dan korup itu?! Mereka merampok dan mencuri harta-benda rakyat, Bao Ling! Dan mestikah rakyat yang disalahkan apabila mereka berbalik membobol gudang-gudang beras, dan mencuri berton-ton beras negara karena sebutir nasi pun sudah menjadi barang yang langka di negeri ini?! Apakah salah bila mereka kelapara karena ulah jahat pejabat-pejabat korup itu?!"

"Rasanya tidak etis membenarkan tindakan anarkis hanya atas nama perut rakyat yang kelaparan!"

"Terlebih tidak etis lagi tindakan pejabat-pejabat negara yang batil itu terhadap apa yang telah mereka lakukan kepada rakyat. Korupsi telah menyebabkan rakyat merana. Lumbung-lumbung padi habis digerogoti oleh tikus-tikus koruptor itu. Rakyat semakin miskin."

"Saya kira, tak ada satu pun negara yang makmur apabila tengah dirundung maharana. Itu bagian dari konsekuensi perang."

"Siapa bilang tidak begitu?! Perang adalah salah satu bentuk tiran dan absolutisme babur dari penguasa-penguasa batil sebuah negara. Lalu yang terjadi adalah kekacauan dan bencana. Rakyat kelaparan. Semuanya terberangus hanya oleh satu kata. Ambisi!"

"Hahaha. "

"Kenapa tertawa?"

"Saya sama sekali tidak menyangka kalau seorang Fa Mulan bisa seidealis begitu."

"Idealis atau bukan, yang saya tahu, saya hanya mengungkapkan kenyataan yang saya lihat dengan mata dan kepala saya sendiri."

"Tapi, kamu cerdas, Mulan."

"Cerdas? Kamu keliru. Saya tidak cerdas. Seperti yang telah saya katakan tadi, semua hal itu merupakan kejadian riil dan kasat yang dapat kita saksikan setiap hari. Jadi apa yang saya ketahui hanyalah mualamat. Semua juga rakyat tahu kalau kebanyakan pejabat negara itu kotor. Bukankah begitu, Bao Ling?"

"Saya tidak berani berasumsi dengan mengatakan sependapat." "Kenapa?"

"Semuanya relatif. Hati manusia tidak dapat ditebak. Hitam dan putih sisi hati hanya dipisahkan oleh segaris tipis nurani. Siapa yang tahu kalau Kaisar Yuan Ren Zhan yang kita anggap baik dan bijak - sehingga kita rela mengorbankan jiwa dan raga menjadi prajurit wamil di era kepemimpinan beliau sekarang - suatu saat kelak, entahlah, dapat lebih kejam ketimbang ayahandanya - mendiang Kaisar Yuan Ren Xing?"

"Justru karena itulah diperlukan masukan-masukan dari suara rakyat. Agar kaidah tetap terjaga, dan Sang Kaisar tidak lari dari norma-norma kebajikan."

"Nah, itulah yang sulit, Mulan." "Sulit bagaimana?"

"Kamu tahu, kenapa rakyat Tionggoan diharuskan menjalani kewajiban militer?"

"Tentu saja saya tahu." "Apa itu?"

"Untuk apa kamu tanyakan hal itu?"

"Sebagai prajurit kita harus memiliki banyak wawasan."

"Itu sudah pasti. Tapi, sebagai prajurit pun kita mesti memiliki gagasan. Bukan hanya wawasan."

"Gagasan? Untuk apa?"

"Karena itulah aspirasi. Itulah suara kita. Suara rakyat." "Kalau begitu, intisari wamil itu untuk apa?"

"Wamil ada karena ada masalah. Masalahnya adalah, karena Tionggoan terus-menerus dirongrong oleh pemberontakan- pemberontakan di daerah perbatasan. Militer Yuan kesulitan menghadapi mereka. Negara di ambang bahaya. Itulah sebabnya Kaisar Yuan Ren Zhan segera mengeluarkan maklumat agar rakyat Tionggoan harus mengikuti wamil. Bukankah begitu, Bao Ling?"

"Akar masalahnya memang di situ. Tapi. "

"Tapi apa?"

"Tapi tahukah kamu kalau musuh-musuh yang menyerang di daerah perbatasan itu - di luar pemberontakan kaum nomad Mongol - juga merupakan rakyat Tionggoan sendiri!" "Maksudmu, pasukan pemberontak Han?"

"Siapa lagi? Bukankan mereka merupakan salah satu suku bangsa Tionggoan juga?"

"Maksudmu, berarti. "

"Berarti Kaisar Yuan Ren Zhan ditentang oleh rakyatnya sendiri. Jadi kalau direnungi, jangankan menjadikan rakyat sebagai parameter pengendali kekuasaan, tapi mengakui secara aklamasi Sang Penguasa itu sebagai satu-satunya pemimpin tertinggi mereka saja sangat jauh dari harapan. Lantas, bagaimana mungkin Kaisar Yuan Ren Zhan dapat menjadi stigma, dan bersatu dengan rakyatnya? Nah, bukankah hal itu termasuk di dalam absolutisme pluralis rakyat?"

"Kamu menyalahkan rakyat lagi?" "Saya tidak mengatakan begitu." "Lalu?"

"Saya mengatakan bahwa, rakyat pun dapat menjadi serigala. Rakyat tidak selamanya dapat dianggap suara kebenaran. Saya tidak mendiskreditkan rakyat dalam hal ini. Tapi kadang-kadang rakyat dapat menjadi tiran, melebihi kaisar yang paling lalim sekalipun." 

"Kamu terlalu dangkal menilai rakyat, Bao Ling!" "Tapi kenyataannya. "

"Kenyataannya rakyat tidak begitu. Pasukan pemberontak Han memang merupakan salah satu suku bangsa di Tionggoan.

Mereka sama dengan kita. Tapi, kamu mesti melihat inti permasalahannya. Belum tentu ketidakpuasan mereka - yang kamu anggap absolutisme pluralis dan tiran itu - disebabkan oleh ambigu kolektif - sekelompok orang yang bernama rakyat - untuk menggulung pemerintahan yang sah. Meskipun saya belum tahu pasal yang sebenarnya, tapi saya kira ada hal-hal lain yang melatarbelakangi anarkisme mereka itu."

"Apa itu, Mulan?"

"Yah, mungkin saja mereka terpengaruh dan termakan oleh seseorang yang dianggap figur. Figur yang dapat mengubah falsafah pandang mereka terhadap pemerintahan yang sudah ada. Nah, setelah terindoktrinasi, mereka akan menyatukan kata sepakat untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah - meskipun mereka sebenarnya tidak tahu jelas sosok Sang Penguasa Tionggoan, dan keliru menilai pemimpin mereka yang sekarang. Bisa pula mereka telah termakan isu, pembodohan yang dianggap sebuah kebenaran."

"Boleh jadi. Tapi apakah semudah itu mengubah pikiran yang sederhana rakyat menjadi sebuah bentuk anarkisme?"

"Apa pun dapat terjadi, Bao Ling. Janji dan iming-iming adalah majas yang paling berbahaya. Majas tersebut dapat membius kesadaran manusia. Yah, itulah salah satu bentuk kekhilafan makhluk hidup yang bernama manusia."

"Maksudmu, mereka dipengaruhi oleh seseorang untuk melakukan pemberontakan?"

"Itu merupakan satu-satunya alasan yang paling masuk akal." "Masuk akal. Tapi, siapa?"

"Tentu saja lawan-lawan politik Kaisar Yuan Ren Zhan. Manusia- manusia yang penuh dengan ambisi majas. Manusia-manusia serigala berbulu domba. Manusia-manusia yang senantiasa diliputi angkara. Penebar maharana. Biang bencana."

"Sedari dulu, puncak kekuasaan dan Kursi Tunggal Sang Naga selalu menjadi obyek pertumpahan darah. Kaisar demi kaisar akan dijatuhkan secara bergantian. Begitu seterusnya. Kalau sudah begitu, maka mana ada klemensi dalam lingkungan Istana?!" "Dan kalau begitu seterusnya, bagaimana rakyat Tionggoan dapat hidup tenang?"

"Ah, saya juga resah, Mulan. Sejarah kelam Tionggoan seolah tak ada habis-habisnya. Dari masa ke masa, perang dan kezaliman sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari negeri ini."

"Manusia memang terlalu dangkal menyikapi anugerah yang telah diberikan oleh Dewata di langit. Alam yang berlimpah-ruah dengan keanekaragaman isinya telah memenuhi segala kebutuhan manusia. Biji-bijian tumbuh menjadi makanan. Hujan. Air. Matahari. Semuanya itu adalah karunia mahabesar yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Tapi, coba lihat keegoisan manusia. Mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberikan alam pada mereka. Tetap saja mereka menjazam sesamanya. Membunuh. Merampok. Merampas.

Memusnahkan."

"Manusia memang bodoh, Mulan. Manusia selalu ingin menguasai seluruh alam ini. Padahal, apalah arti manusia dibandingkan keagungan Dewata di langit?"

"Ya, benar. Apalah artinya manusia dibandingkan keagungan Dewata di langit? Sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya, manusia menjadi pondik. Superioritas menjadikan manusia lupa bahwa, mereka sebenarnya tidak memiliki nilai dan arti apa-apa dibandingkan Sang Pencipta. Kesombongan telah meruntuhkan peradaban manusia. Maharana dan genosida telah menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia telah menggali makam untuk dirinya sendiri, jauh sebelum ajal menjemput."

"Kadang-kadang saya sendiri pun merasa terlibat dalam dosa besar manusia itu, Mulan?"

"Maksudmu. "

"Yah, apa bedanya kita dengan manusia-manusia pembatil itu? Kita ini prajurit. Kita membunuh. Saling memusnahkan." "Mempertahankan sesuatu untuk kebenaran bukan tindakan yang salah, Bao Ling. Hal itu merupakan radiah, sifat alami manusia yang telah menjadi bagian dari predestinasi kala diturunkan dari langit. Dalam sebuah pertempuran, kemenangan itu tidak mesti diraih dengan jalan membunuh atau saling memusnahkan. Diplomasi merupakan salah satu cara yang paling efektif tanpa harus menumpahkan darah sesama. 

Menaklukkan satu musuh dengan kesadaran kontemplasi dan budi pekerti adalah kemenangan yang paling gilang gemilang. Jauh lebih berharga daripada menaklukkan satu juta laskar prajurit dengan pedang dan tombak."

"Tapi dalam kenyataanya, maharana selalu memakan banyak korban. Tidak terkecuali rakyat kecil yang sama sekali tidak terlibat dalam peperangan. Tidak memilah-milah apakah mereka itu prajurit atau bukan. Anak kecil, perempuan, dan orang tua.

Semuanya pasti menjadi korban kebiadaban perang." "Untuk itulah rakyat membutuhkan pemimpin yang baik.

Tionggoan memerlukan kaisar yang dapat bertindak adil dan bijaksana. Kaisar yang senantiasa berpedoman pada hati nurani, Bao Ling. Sebab, kaisar yang memiliki naluri kinasih melihat matra maharana itu dari sisi dan sudut pandang berbeda. Tujuan perang bukan untuk saling memusnahkan. Tapi semata adalah hal radiah untuk mempertahankan negara, dan pencapaian sebuah cita-cita luhur bangsa. Apabila perang sudah mengarah ke genosida dan penghancuran, maka hal tersebut tidak lain disebabkan oleh bahang ambisi pribadi sang Pemimpin. Kalau sudah begitu maka perang tidak lagi murni sebagai radiah.

Perang tidak lagi merupakan aksi untuk mencapai cita-cita luhur bangsa. Perang akan menjadi neraka paling bengis untuk manusia!"

"Ya, memang benar. Kalau sudah begitu pula, maka para pemimpin atau kaisar suatu negara akan bertingkah lalim. Bertindak sewenang-wenang dengan yurisditikasi pribadi mereka. Pemerintahan menjadi absolut. Dan pada akhirnya militer dan bala prajurit menjadi bidak-bidak penegas kekuasaan mereka." "Sayang rakyat kita masih tercerai-berai. Kekuatan menjadi lemah karena kurangnya persatuan. Dan sampai sekarang masyarakat Tionggoan enggan bersatu. Suku-suku bangsa saling menonjolkan superioritas mereka. Saling membanggakan kelebihan dan keberadaan mereka. Suku-suku bangsa saling mengkasta-kastakan sehingga di antara mereka sendiri tercipta jurang pemisah yang sangat lebar. Itulah sebabnya Tionggoan tidak pernah lepas dari absolutisme kaisar-kaisar pelalim.

Karena mereka tahu rakyat dapat dengan mudah diadu domba. Rakyat mudah dipecah belah. Dan kalau rakyat sudah terburai, maka sang Penguasa Batil tersebut akan dengan mudah memainkan kemudi pemerintahan seenak hati mereka. Rakyat menjadi miniatur, obyek permainan sang Penguasa Lalim tersebut. Bukankah begitu, Bao Ling?"

"Wah, kamu benar-benar prajurit sejati, Mulan!"

Fa Mulan tersenyum sembari mengibaskan tangannya. Lalu ia meninju pelan dada Bao Ling. Pemuda bertubuh jangkung itu tertawa.

"Kamu keliru menilai saya, Bao Ling. Saya bukan prajurit sejati. Saya hanya prajurit wamil biasa," ujar Fa Mulan setelah meredakan tawanya.

"Tapi buktinya. "

"Buktinya apa, heh?" "Buktinya Fa Mulan. "

"Sudah, sudah. Jangan menyanjung-nyanjung lagi. Tidak ada kelebihan apa-apa pada diri seorang manusia biasa bernama Fa Mulan. Buktinya, saya belum dapat membendung maharana di Tionggoan ini. Saya belum berandil apa-apa, sama sekali." "Tapi. "

"Tapi apa lagi, heh?"

"Tapi kamu memang hebat!" "Hebat apanya?"

"Ya, hebat."

"Hebat itu hanya sebentuk pengakuan. Begitu pula dengan kata sejati tadi. Sama sekali tak memiliki makna tanpa aplikasi. Atensi itu dapat berbentuk apa saja. Baik dukungan moral atau moril, juga sumbangsih tenaga maupun pikiran. Semua orang bisa mendapat pengakuan hebat atau sejati. Tapi, tidak semua orang dapat benar-benar dikatakan hebat dan sejati, apabila tidak memiliki kapabilitas dan kesungguhan untuk berkorban tanpa pamrih. Berkorban tanpa pamrih, itulah bentuk atensi yang dapat dikategorikan sebagai hebat yang sejati, dan sejati yang sejati." "Wah, kamu benar-benar luar biasa, Mulan!"

"Nah, kamu mulai lagi. "

"Buktinya. "

"Proyeksi gendermu itu bikin sakit hati, Bao Ling." "Maaf. Saya tidak menyangka semua kalimat saya telah melukai hati kamu, Mulan. Bukan maksud saya begitu. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mau menerima realita hidup bahwa, kaum perempuan memang selalu berada di posisi kedua setelah laki- laki."

"Tentu saja. Saya sudah terluka sejak lama, bahkan sejak saya baru dilahirkan. Semua itu lantaran posesif gender."

"Dan yang kamu maksud sudah terluka sejak baru dilahirkan pasti berhubungan dengan ibumu yang bernama Fa Li itu. Betul, bukan?"

"Siapa lagi yang saya maksud? Entah, sudah berapa ribu kali hal menyakitkan hati itu saya ceritakan kepada orang yang mau mendengarkan keluhan saya."

"Hahaha. Itulah sepenggal lara dari seorang Fa Mulan, yang mesti dituangkan dalam sebentuk kisah miris."

"Jangan meledek. Sakit hati dapat terbawa sampai mati. Jadi, jangan sepelekan ungkapan hati saya tersebut. Seandainya kamu terlahir sebagai seorang Fa Mulan, tentulah kamu dapat merasakan getir sebagaimana yang saya rasakan sampai sekarang."

"Hahaha. Maaf, maaf. Namun seandainya saya memang terlahir sebagai seorang Fa Mulan, maka saya tidak pernah akan sanggup menanggung derita-derita tersebut. Saya tidak setegar seorang Fa Mulan yang sesungguhnya. Fa Mulan yang sesungguhnya itu adalah, kamu!"

"Sudahlah. Sesungguhnya saya tidak ingin mengingat-ingat masa kecil saya yang menyakitkan itu lagi."

"Hm, saya masih ingat, dan tidak akan pernah lupa keluh- kesahmu itu, Mulan."

"Yah, terima kasih. Kadang-kadang, dengan menceritakan tiranisasi Ibu terhadap saya, saya merasa lebih lapang. Hati saya jadi lebih tenang. Saya memang butuh sahabat untuk berbagi. Inafeksi Ibu terhadap saya sungguh di luar batas nalar hanya karena saya perempuan. Seandainya saya terlahir sebagai laki-laki, tentulah Ibu tidak akan sejahat begitu terhadap saya!"

"Saya prihatin soal itu."

"Ya, sepatutnya semua orang harus prihatin. Inharmonisasi antara manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang terentang karena gender telah menyebabkan penderitaan salah satu makhluk hidup ciptaan Sang Khalik itu sendiri, Bao Ling.

Padahal, sejak di dalam kandungan sampai terlahir, manusia tidak pernah dapat menentukan akan dapat terlahir sebagai apa. Mereka tidak pernah dapat memilih, apakah akan terlahir sebagai laki-laki ataupun perempuan. Tapi kenapa pengkotak- kotakan dan pemilah-milahan itu justru lahir dari manusia sendiri?! Bukankah manusia semuanya sama?! Huh, andai saja tidak ada genderisasi, pasti Ibu akan menjadi ibu yang sesungguhnya untuk saya. Pasti Ibu akan menjadi ibu sejati bagi saya putri tunggalnya. Pasti Ibu tidak pernah mengutuk saya, dan mengatakan saya sebagai anak jelmaan iblis yang memangsa janin laki-laki yang dikandungnya selama sembilan bulan. Pasti Ibu tidak pernah memaki-maki saya dengan kalimat

menyakitkan kala saya mendapat menstruasi pertama: ®Mulan,

kenapa kamu bukan laki-laki sehingga tidak merepotkan Ibu?!'. Seharusnya Ibu dengan bijak menjelaskan fenomena yang terjadi bila seorang anak perempuan mulai menginjak usia akil- balig. Bukannya malah menambah kepanikan saya dengan memarahi saya habis-habisan, yang pada waktu itu nyaris pingsan karena menganggap vagina saya mengucurkan darah secara tiba-tiba. Saya sakit hati. Sungguh sakit hati!"

"Saya paham penderitaan kamu itu, Mulan."

"Sudahlah, Bao Ling. Jangan bicara soal gender lagi. Jangan memuji saya lagi. Jangan pula menganggap saya hebat atau sejati lagi. Hebat dan sejati itu memerlukan pembuktian.

Bagaimana mungkin saya dapat kamu katakan hebat atau sejati kalau saya sendiri belum pernah mengaplikasikan sesuatu yang berguna bagi bangsa ini."

"Buktinya. " "Bukti apa lagi?!"

"Buktinya kamu sudah berkorban, menyusup dan menyamar menjadi laki-laki menggantikan posisi ayah kamu sebagai prajurit wamil. Bukankah semua hal itu kamu lakukan demi keluarga dan negara?"

"Apa bedanya saya dengan kalian semua? Toh kita masuk menjadi prajurit wamil memang mewakili keluarga masing- masing dan untuk membela negara, bukan?"

"Iya, memang benar. Tapi, apa yang kamu lakukan itu berbeda dengan kami semua."

"Karena saya perempuan?"

"Salah satu alasannya memang begitu." "Nah, kamu mulai lagi. "

"Mulai apa?"

"Saya tidak suka kamu jadi orang yang primordialis begitu!" "Siapa yang primordialis?"

"Tidak peduli kamu atau siapa. Yang pasti primordialis itu tidak ada bedanya dengan makhluk batil yang hadir sebagai pengganggu dalam peradaban manusia."

"Maaf. "

"Untuk apa minta maaf? Kalau begitu, kamu malah mempertegas primordialistis itu sebagai wujud kasatmata dalam dirimu." "Tapi, saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung- nyinggung soal perbedaan dan gender. Beda maksud saya adalah, seorang Fa Mulan memang prajurit tangguh yang memiliki kapabilitas juang melebihi kami semua - kaum laki-laki." "Jangan mengelak. Apa bedanya pengakuan yang menyanjung, tapi akhirnya mengarah ke persoalan gender?"

"Hahaha. Lalu, saya harus ngomong apa untuk mengungkapkan kelebihan dan kehebatan kamu itu, Mulan?"

"Ingat, saya bukan orang hebat. Dan saya tidak butuh pengakuan. Jadi, kamu tidak usah repot dan bingung mencari artikulasi untuk mengungkapkan kelebihan dan kehebatan saya." "Hahaha. Kamu ini gadis yang aneh."

"Aneh apa? Saya kira tidak ada yang aneh dalam diri saya. Sudahlah, Bao Ling. Kamu dan saya itu sama. Kita ini sama- sama prajurit wamil. Saat ini, lepaskanlah persoalan gender, apakah saya perempuan atau bukan. Yang pasti, sekarang saya adalah prajurit wamil di Kamp Utara ini. Tidak peduli perempuan atau laki-laki!"

"Tapi, kamu tetap seorang perempuan di mata saya." "Jangan mempermainkan saya lagi, Bao Ling." "Siapa yang mempermainkan kamu?"

"Kamu. "

"Maaf. " "Sudahlah."

"Tapi, saya hanya jujur menyuarakan suara hati saya."

"Simpati yang berlebihan pada sesuatu yang dianggap istimewa merupakan senjata bumerang, yang suatu waktu dapat memakan tuannya sendiri. Jadi, hati-hatilah dalam berkesimpulan kalau tidak ingin terluka suatu saat."

"Tapi saya tidak salah menilai kamu, bukan?"

"Apa yang kamu ketahui tentang saya? Jangan terlalu percaya diri, Bao Ling. Apa yang kamu ketahui tentang seorang Fa Mulan tidaklah lebih sebatas kulit. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membaca isi hati orang lain."

"Kamu selalu mengelak. Tidak senang dipuji. Tidak senang disanjung. Rendah hati dan tidak sombong. Bukankah hal itu sudah menggambarkan kesempurnaan kamu, Mulan?" "Tidak ada manusia yang sempurna."

"Pengecualian untuk kamu." "Fa Mulan bukan Dewata."

"Fa Mulan memang bukan Dewata. Tapi, Fa Mulan adalah Dewata yang menitis ke dalam tubuh manusia."

"Kamu pikir Fa Mulan adalah Dewata yang mahasempurna apa?"

"Tapi paling tidak, tidak ada yang setara dengan seorang Fa Mulan yang. " "Cukup. Hentikan proyeksi gendermu." "Hahaha. "

"Uh, kamu sama saja piciknya dengan para atase militer Yuan. Tidak ada bedanya dengan pandangan mereka terhadap perempuan. Hanya aplikasinya saja yang berbeda."

"Hei, saya tidak sejahat mereka! Jadi, jangan samakan saya dengan petinggi-petinggi militer yang kerjanya hanya memerintah di belakang meja tersebut."

"Apa bedanya kamu dengan mereka?"

"Saya ini tidak menentang lintas gender. Jangankan menjadi prajurit, menjadi jenderal pun kalau kamu - perempuan - mampu kenapa tidak? Kalau perempuan lebih mampu dibandingkan laki- laki, bahkan menjadi kaisar sekalipun bagi saya tidak ada masalah. Bukannya malah dijatuhi hukuman penggal seperti yang pernah mereka ingin lakukan terhadap kamu."

"Jangan mengungkit masa lalu. Mengubah tatanan yang sudah meleluri tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu yang sangat panjang untuk itu. Mungkin seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun lamanya lagi. Ah, entahlah!"

"Justru itulah Tionggoan memerlukan orang-orang yang seperti kamu, Mulan."

"Kenapa harus saya?"

"Karena orang seperti kamu merupakan sosok perombak kultur yang telah mendarah-daging di Tionggoan ini."

"Saya hanya menyuarakan nurani. Saya bukan sosok sentrum yang dapat mengubah wajah lama Tionggoan menjadi baru.

Untuk mewujudkan hal itu diperlukan tanggung jawab moral dari banyak pihak. Bukan sosok individu orang per orang."

"Selama ini saya belum melihat ada sosok yang tepat mengubah wajah lama Tionggoan itu selain kamu."

"Saya bukan pahlawan, Bao Ling. Fa Mulan hanyalah seorang prajurit wamil biasa. Prajurit wamil yang ingin melihat pembaruan di negerinya sendiri. Negeri tanah kelahirannya."

"Cita-cita luhur kamu itu saja sudah lebih dari cukup mewakili sosok kepahlawanan di negeri ini. Panglima-panglima dan jenderal-jenderal di Ibukota Da-du saja mungkin tidak pernah berpikir searif kamu. Huh, mana ada yang memiliki rasa patriotisme tanpa batas seperti kamu? Mereka semuanya hanya tahu memerintah tanpa aplikasi."

"Membangun negeri ideal selayaknya menjadi tanggung jawab moral setiap orang. Bukan hanya tugas para panglima dan jenderal atau petinggi-petinggi militer saja. Jadi, apa yang telah menjadi cita-cita saya tersebut sama sekali tidak dapat dikatakan istimewa. Terlebih-lebih kalau saya dianggap pahlawan karena itu. Apa yang saya lakukan tidak lebih dari pangabekti terhadap negara." "Selayaknya, pahlawan sejati tidak pernah mau menggembor- gemborkan dirinya sebagai pahlawan, meskipun pada kenyataanya dedikasi yang telah diaplikasikannya selama ini telah menegaskan kalau mereka memang merupakan pahlawan."

"Tentu saja. Sebab, pahlawan itu tidak dinilai semata-mata dari sejumlah kontak fisik dan pertempuran-pertempuran heroik yang dilakukannya sebagai aksi bela negara. Tapi, ada hal-hal lain di luar dari itu. Orangtua kita masing-masing juga merupakan pahlawan bagi keluarga. Petani merupakan pahlawan agraria.

Nahkoda merupakan pahlawan maritim dan navigasi galiung di lautan. Dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan tanpa nama dan tanpa tanda jasa. Jadi, pahlawan sejati itu merupakan sebentuk pengabdian. Pengabdian tanpa pamrih yang dilakukan oleh sebagian orang dalam jabatan dan tugas yang berbeda- beda."

"Kalau begitu, kamu adalah manusia sempurna. Manusia yang seolah-olah terlahir semata-mata untuk muamalah."

"Sekali lagi saya tegaskan. Saya bukan Dewata, Dewata yang penuh dengan kinasih. Saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari cela dan ketidaksempurnaan. Manusia tidak ada yang sempurna."

"Tapi, bukankah moralitas yang selama ini telah kamu tunjukkan merupakan bentuk pengukuhan kesempurnaan itu?" "Siapa saja dapat mengaplikasikan kebajikan. Itu gaung

moralitas yang selayaknya diwujudkan semua orang sehingga dunia ini dapat menjadi damai. Saya Fa Mulan, tidak pernah menganggap diri sendiri sebagai saka guru yang menggethok- tularkan moralitas."

"Tapi. "

"Moralitas merupakan gaung nurani yang bersih. Kebaikan akan membawa dan membuahkan kebaikan. Demikian pula sebaliknya dengan kejahatan. Saya hanya belajar dari fenomena alam. Apa yang kita tanam, maka itulah yang akan kita tuai kelak. Jadi, hal itu bukan kesempurnaan. Hanya langit dan Dewatalah yang dapat menyandang predikat sempurna itu, Bao Ling. Bukannya Fa Mulan yang hanya seorang prajurit biasa." "Tapi. "

"Tidak ada seorang manusia pun yang lebih tinggi dan sempurna dibandingkan manusia lainnya. Strata dan jabatan kekuasaan, kasta dan bentuk-bentuk penggolongan, juga kilau gemerlap permata dan harta yang dimiliki seseorang; bukanlah alat untuk mempertegas nilai lebih manusia di atas manusia lainnya.

Justru, harkat dan martabat manusia itu dapat diperoleh berkat aplikasi kebajikan dan moralitas yang telah mereka tunjukkan selama ini." Ia mengangguk-angguk waktu itu. Rasanya tidak ada lagi kesangsian untuk mengatakan kalau gadis itu memang predestinasi yang diturunkan dari langit untuk ranah babur Tionggoan.

Bao Ling melambatkan laju kudanya.

Sinar jingga matahari senja yang masih belum tenggelam benar ke horizon barat nun jauh di sana, menyorotnya dari arah yang berlawanan, dari balik rimbun dedaunan di rimba hutan. Lintas kenangan lamanya bersama Fa Mulan - semasa wamil - surut seketika oleh koyakan bias pada kornea matanya. Gadis itu melamur dari benaknya.

Sejenak dikerjap-kerjapkannya pelupuk mata karena direcok silau. Diputuskannya untuk beristirahat setelah merasa arteri nadinya memacu adrenalin dan denyar darah dengan siklus yang cukup tinggi. Ia tidak dapat memaksakan tubuhnya terus untuk bekerja. Bolak-balik antara Ibukota Da-du ke pos pengawasan Tembok Besar memang sangat meletihkan.

Apalagi ia langsung berangkat pulang setibanya sejenak di tenda Fa Mulan dua malam kemarin.

Ia turun untuk mengaso sebentar. Dikaitkannya tali kekang kudanya pada sebatang pohon mahoni di hutan Hwa. Setelah itu ia pun duduk di tanah, dan menyandarkan punggungnya yang penat di sebatang pohon. Empat malam yang lalu di hutan inilah ia diserang oleh Zhung Pao Ling. Namun hari ini ia tidak menemui hambatan lagi. Tak satu pun terlihat jasus yang hendak menghabisi nyawanya. Namun demikian, ia tidak mengendurkan konsentrasinya. Ia tetap waspada terhadap serangan musuh sewaktu-waktu.

Setelah merasa lebih segar nanti, ia akan kembali melanjutkan perjalanannya ke Istana Da-du. Menyampaikan peristiwa miris pencobaan pembunuhan dirinya kepada Jenderal Gau Ming.

Bab 33

Adakah impian seindah magnolia yang datang dari palung hati dan mekar serupa tunas kebenaran

lalu tumbuh menyeribu di tanah kerontang ini?

Oh, magnolia yang malang

Taman yang bergulma sungguh tak lagi merona sehingga benih indah kebajikan enggan tumbuh

serupa tangkai dan kelopakmu yang rapuh di ranah masif

- Bao Ling Elegi Magnolia

***

Ada suara derap kuda yang menderas di gendang telinganya. Bao Ling menegakkan kepala, meluruskan punggungnya yang sedari tadi menyandar pada sebatang mahoni, mawas mengawasi ke arah suara riuh itu dengan sepasang mata sipitnya yang semakin menyipit. Istirahatnya terganggu. Padahal, belum lagi lama ia mengaso. Sendi-sendinya yang ngilu pun belum lagi normal dari kebas. Sehabis menikmati bekal makanannya, ia pun rileks menyemedi. Satu bakpao berisi daging babi cincang yang dihabiskannya sesaat tadi membuai lambung di perutnya, dan mengundang kantuk yang sesekali membelai-belai kelopak matanya.

Ia berdiri. Melangkah tiga tindak dalam gerak gingkang sebelum melompat ke atas sebatang dahan pohon dengan tubuh seringan bulbul. Disembunyikannya dirinya di balik dedaunan sembari mengawasi si Penunggang Kuda yang melaju lambat di bawahnya.

Tak lama berselang, di belakang kuda pertama tadi tampak menyusul seekor kuda berwarna kelabu. Si Penunggang Kuda pertama tampak menelengkan kepala, dan menghentikan laju kudanya saat ia melihat kuda Bao Ling yang menyampir di sebatang pohon. Si Penunggang Kuda itu melompat turun.

Diikuti oleh si Penunggang Kuda kedua. Mereka berdua mendekati kuda tanpa pemilik itu dengan langkah hati-hati. Bao Ling menyongsong si Penunggang Kuda tersebut setelah tidak berfirasat buruk. Apalagi ia tidak melihat ada senjata yang dibawa oleh kedua si Penunggang Kuda itu. Ia pun melompat turun. Dan berdiri di hadapan kedua si Penunggang Kuda tersebut dengan seburai dedaunan kering yang merontok dari pokoknya.

"Saya Bao Ling. Maaf, Anda-Anda ini siapa?" tanya Bao Ling santun saat kakinya mendarat di tanah.

Sesaat kedua si Penunggang Kuda itu tampak terkejut kala Bao Ling tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka setelah melesat menukik turun dari atas seperti walet.

"Oh, kami ini hanya kafilah yang kebetulan lewat," jawab salah satu di antara mereka yang bertubuh agak jangkung dalam nada alto.

Bao Ling terkesiap.

Ternyata kedua si Penunggang Kuda itu adalah perempuan. Tetapi dari kejauhan tadi mereka tampak seperti laki-laki.

Mungkin mereka menyamarkan diri dengan berpakaian laki-laki supaya tidak diperkosa atau dirampok di tengah perjalanan, pikir Bao Ling.

"Sebenarnya kami ingin ke Ibukota Da-du. Tapi tiba-tiba saja kami tersesat, dan entah sudah berada di hutan ini," tambah si Penunggang Kuda kedua yang tampak lebih mungil dan halus. "Oh, begitu," Bao Ling mengangguk-anggukkan kepala. "Ini hutan Hwa. Kurang lebih sebelas mil, bila berjalan lurus dari arah Barat ke Selatan, Anda-Anda sudah dapat menemukan Ibukota Da-du."

"Oya?" Si Penunggang Pertama bertubuh tinggi itu seperti terlonjak kegirangan. "Jadi, kita sudah hampir tiba di Ibukota Da- du, Putri. "

Si Penunggang Kuda kedua tampak kelimpungan, dan mengerjap-ngerjapkan matanya seolah mengaba. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Dan menutupi hal itu dari orang lain. Terlebih-lebih orang asing yang baru mereka temui di dalam perjalanan.

"Oh, maaf - Nona Sun!" ralat si Penunggang Kuda pertama tadi. "Sebenarnya kalian siapa?" tanya Bao Ling sedikit mendesak. "Dan apa tujuan Anda semua ke Ibukota Da-du?"

"Oh, tujuan kami sebenarnya ingin menyaksikan Festival Barongsai di Ibukota Da-du," jawab si Penunggang Kuda kedua dengan suara lembut. "Ya, hanya itu tujuan kami."

"Hanya itu?!" cecar Bao Ling, mengulang kalimat yang disampaikan oleh salah satu dari kedua gadis tersebut. Ia tidak percaya. Sudah jelas ada yang mereka sembunyikan, gumamnya dalam hati.

Si Penunggang Kedua itu kembali menjawab. "Benar, benar. Memang benar kalau hanya itu tujuan kami menuju ke Ibukota Da-du. Hm, kalau Anda sendiri. " Bao Ling mengangkat kedua tangannya di depan wajah, dan menghormat sebagaimana lazimnya. "Saya Bao Ling. Prajurit Kurir Yuan dari markas besar militer Yuan di Ibukota Da-du. Saya dalam perjalanan pulang menuju ke Ibukota Da-du setelah semalam berada di pos pengawasan Tembok Besar. Saya mendapat tugas dari salah seorang atase militer Yuan untuk menyampaikan pesan dan undangan kepada pimpinan prajurit bernama Fa Mulan di pos pengawasan Tembok Besar agar dapat menghadiri Festival Barongsai."

"Jadi, Anda salah seorang prajurit dari Istana Da-du?!" tanya si Penunggang Kuda pertama, lagi-lagi seperti melonjak kegirangan. "Putri. "

"Diam, Tong Xiu Ni!" tegur si Penunggang Kuda kedua dengan rupa tidak senang. "Kamu jangan ceriwis!"

"Tapi. "

"Hm, maafkan kami, Prajurit Bao. Tong Xiu Ni memang. "

"Aduh, Putri! Putri tidak usah takut lagi," bisik si Penunggang Kuda pertama tadi di dekat telinga si Penunggang Kedua dengan membentuk sepasang telapak tangannya menjadi corong. "Bukankah dia adalah prajurit Yuan? Jadi, dia itu tidak akan mencelakai kita!"

Si Penunggang Kuda kedua itu menyanggah, juga dengan suara berbisik. "Masalahnya bukan dia itu prajurit Yuan atau bukan, A Mei! Masalahnya, bagaimana kalau dia melaporkan kepada Ayah keberadaan kita di Ibukota Da-du nantinya. Huh, bodoh sekali kamu ini!"

"Tapi. "

"Sudahlah, A Mei. Pokoknya, kita harus tetap menyamar. Jangan panggil saya Putri lagi. Sekarang, nama saya adalah Sun Erl Lan. Dan kamu Tong Xiu Ni. Ingat, jangan kelepasan lagi!"

"Tapi. "

Bao Ling tergelitik melihat tingkah kedua gadis bertampang kumal itu. Mereka pasti bukan orang biasa. Penampilan sederhana mereka terlalu dibuat-buat. Mungkin anak gadis saudagar kaya di kota lain yang menyamar sebagai rakyat biasa, dan tersasar di dalam perjalanan menuju Ibukota Da-du.

"Kalau tidak salah menilai, Anda-Anda pastilah bukan rakyat biasa," tebak Bao Ling akhirnya.

"O-oh, bukan!" dusta si Penunggang Kuda kedua yang ternyata adalah Putri Yuan Ren Xie, yang kabur dari Istana Kiangsu tanpa seizin ayahnya - Pangeran Yuan Ren Qing. "Benar kami cuma kafilah yang tersesat."

"Iya. Betul, betul. Kami ini hanya rakyat biasa," tambah si Penunggang Kuda pertama yang sebenarnya adalah Fang Mei, salah satu dayang setia Putri Yuan Ren Xie. "Kami hanya ingin menghadiri Festival Barongsai. Tidak ada yang salah, bukan?" "Tentu saja tidak," jawab Bao Ling sembari menahan tawanya yang hendak menyeruak melihat tingkah gugup kedua gadis itu. Dan hal itu menambah keyakinannya kalau mereka itu memang bukan orang biasa. "Tapi yang salah adalah cara berpakaian kalian yang kelihatan aneh."

"Aneh bagaimana?" tuntut Putri Yuan Ren Xie dengan rupa tidak senang. "Memangnya. "

Bao Ling terbahak. "Rakyat biasa tidak mungkin memakai tusuk konde bermute berlian di rambutnya."

Putri Yuan Ren Xie tergeragap. Ia memang lupa melepas sesuatu di atas kepalanya setelah menyamar dari prajurit Yuan menjadi rakyat jelata. "Hah, ja-jadi. "

"Jadi pasti kalian ini bukan orang biasa. Kalian pasti sedang menyamar sebagai rakyat biasa. Hm, mungkin kalian dari kalangan kedaton."

"Tapi, kami memang betul rakyat biasa," sanggah Fang Mei, berusaha meyakinkan Bao Ling. "Soal tusuk konde bermute berlian, apa tidak boleh rakyat biasa memiliki barang berharga seperti itu?"

"Ya, boleh-boleh saja. Tapi tusuk konde itu bukan barang berharga biasa. Bukan barang berharga yang dapat dengan mudah diperoleh dan dibeli di sembarang tempat. Tusuk konde itu berbatang giok dan bermata berlian. Pada batang tusuk konde itu terdapat vinyet berukir naga - Liong. Kalau bukan kerabat Istana, Anda pasti salah satu anak gadis dari puak bangsawan. Betul, bukan?"

Putri Yuan Ren Xie masih berusaha membantah. "Bukan. "

Bao Ling mengibaskan tangannya. "Sudahlah. Tidak usah berbohong lagi. Hidup-mati saya untuk Istana. Jadi, saya paham betul ciri-ciri gadis puak bangsawan meskipun mereka menyamar dengan balutan pakaian kesat-goni sekalipun agar menggambarkan kepapaan khas rakyat-rakyat kecil pada umumnya. Kalian terlalu sekar untuk menjadi jelata," ujarnya ringan dengan suara bercampur tawa. "Ya, tidak apa-apa kalau kalian masih merahasiakan identitas diri kalian yang sesungguhnya. Mungkin kalian memiliki alasan untuk itu. 

Lagipula, toh saya tidak dapat memaksa. Oya, karena kita sejurusan, bagaimana kalau sekalian saya antar kalian sampai ke Ibukota Da-du?"

Putri Yuan Ren Xie menundukkan kepala, menyembunyikan kegugupannya - tidak berani bersitatap mata dengan Bao Ling. Diam-diam diakuinya kalau prajurit Yuan itu merupakan prajurit yang cerdas. Matanya jeli menangkap perhiasan rambut yang digunakannya. Padahal, jarak pemuda itu dengannya tidak dapat dikatakan dekat. Namun ia dapat melihat detil benda sekecil itu di atas kepalanya. Dan mengemukakan argumen yang tepat mengenai tusuk kondenya yang merupakan salah satu harta- benda Istana.

Fang Mei yang sedari tadi hanya terdiam kini angkat suara. "Boleh, boleh. Nah, kebetulan Anda juga akan ke Ibukota Da-du, bukan? Berarti kita sejurusan. Bukankah begitu, Prajurit Bao?" "Ya, betul. Kalau Anda-Anda tidak keberatan, saya bersedia menjadi petunjuk jalan bagi kalian," tawar Bao Ling ramah. "Lagipula, berjalan tanpa pengawalan di dalam hutan ini sangat riskan dari bahaya. Apalagi, kalian adalah perempuan."

Putri Yuan Ren Xie membeliakkan matanya, melotot sebagai tanda protes atas saran Fang Mei yang secara tidak langsung menerima tawaran Bao Ling. Fang Mei tergeragap ditatap nanar begitu. Ditundukkannya kepala sebagai reaksi gugupnya.

"Tapi, kami dapat berangkat sendiri. Terima kasih atas tawaran Anda, Prajurit Bao," tolak Putri Yuan Ren Xie, masih bersikeras menyembunyikan identitas dirinya. "Kami dapat jaga diri baik- baik."

"Betul, Prajurit Bao. Lagipula, jarak ke Ibukota Da-du tidak jauh lagi," sahut Fang Mei menambahi, jelas untuk menutupi rasa bersalahnya terhadap Putri Yuan Ren Xie.

Bao Ling belum menyerah. "Tapi. "

"Kami adalah kafilah yang tersesat. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami," dusta Putri Yuan Ren Xie agar ia dapat terbebas dari uluran tulus Bao Ling yang ingin mengawalnya ke Ibukota Da-du. "Kami sudah mengelana mengelilingi banyak negeri. Pedoman kami hanya gemintang di langit. Tersesat sedikit tidak apa. Kami sudah terbiasa."

"Kalian bukan kafilah," sanggah Bao Ling. "Untuk apa kalian menutupi identitas diri kalian? Bukannya saya mendesak agar kalian berterus terang, tapi saya hanya prihatin kalau terjadi apa- apa dengan keselamatan kalian selama dalam perjalanan." "Maaf, Prajurit Bao," ujar Putri Yuan Ren Xie dengan wajah kecut, mulai tidak senang didesak-desak begitu. "Permisi. Kami berangkat duluan!"

Putri Yuan Ren Xie menunggangi kudanya secepat kilat. Fang Mei sontak mengikuti, menunggangi kudanya setelah putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing - buah hati perkawinannya dengan istri pertamanya - itu sudah berada di atas punggung kuda.

"Nona!" teriak Bao Ling, berusaha menahan langkah kedua gadis itu dengan serentetan teriakan meyakinkan. "Jangan takabur! Di dalam hutan ini banyak jebakan musuh yang belum aktif. Empat hari yang lalu, saya nyaris terbunuh oleh jebakan- jebakan musuh. Juga serangan misterius musuh di tengah hutan Hwa ini!" Peringatan itu tak ditanggapi oleh Putri Yuan Ren Xie. Ia tetap bersikeras berangkat tanpa pengawalan Bao Ling. Dipacunya langkah kuda tanpa memedulikan nasehat salah satu prajurit Yuan yang masih berdiri dengan wajah penasaran itu.

"Putri," tegur Fang Mei lembut setelah kuda mereka telah melangkah, membelah keheningan di dalam hutan Hwa. "Apa tidak sebaiknya kita dikawal oleh Prajurit Bao saja?"

"Tidak boleh! Kalau dia ikut menyertai kita, maka rahasia kita akan terbongkar," tolak Putri Yuan Ren Xie, menarik keras tali kekang untuk mempercepat langkah kudanya. "Lagipula, belum tentu dia itu prajurit Yuan. Kalau musuh bagaimana?! Huh, saya tidak ingin jadi obyek perampokan. Salah-salah nanti diperkosa oleh orang yang tidak kita kenal itu!"

Fang Mei menyejajari langkah kuda Putri Yuan Ren Xie. "Tapi, dia kelihatannya orang baik-baik, Putri."

"Kamu jangan sok yakin. Jangan menebak sifat orang hanya melihat dari penampilan luarnya saja."

"Tapi, apa yang dikatakan prajurit Bao tadi mungkin ada benarnya, Putri. Di dalam hutan sesepi ini, pembatil dapat melakukan apa saja. Merampok, memperkosa, dan. "

"Jangan ngawur! Kamu sudah dikibuli oleh perilaku seseorang yang belum tentu baik. Jangan terkecoh kalau tidak ingin celaka. Kelihatannya dia memang baik. Ramah. Tapi, belum tentu niat baiknya tadi itu berangkat tanpa pamrih. Jangan-jangan ada maksud lain yang menyelubungi tawaran manisnya untuk mengawal kita sampai di Ibukota Da-du. Jangan-jangan ada niat jahat yang melatarbelakangi kebaikannya itu. Mana kamu tahu kalau seandainya dia itu musang berbulu domba."

"Tapi, sebentar lagi gelap. Saya khawatir tidak ada dusun di sekitar hutan ini untuk tempat kita menginap nantinya. "

"Sudahlah, A Mei. Jangan menyesal dan merasa tidak enak hati begitu. Bukankah Ibukota Da-du sudah dekat? Jadi, apa yang kamu risaukan lagi?"

"Tapi. "

"Di Ibukota Da-du nanti kita tetap menyamar. Dan, awas! Kamu jangan sampai kelepasan ngomong lagi. Kalau sampai pihak Istana mengetahui keberadaan kita, maka kita pasti dideportasi dari Ibukota Da-du. Saya tidak ingin batal menyaksikan Festival Barongsai terbesar sepanjang sejarah Tionggoan gara-gara penyamaran kita terbongkar, A Mei. Ayah pasti sudah memerintahkan semua prajuritnya untuk mencari kita. Jadi, tolong camkan kata-kata saya," pesan Putri Yuan Ren Xie mewanti-wanti sembari melepas tusuk konde yang masih menancap di rambutnya - salah satu bentuk keteledorannya yang nyaris melantakkan keinginannya untuk menyaksikan Festival Barongsai di Istana Da-du. Ia menghela napas panjang. Untung prajurit Yuan tadi tidak terlampau menginterogasinya, ujarnya dalam hati. Untung prajurit kurir Yuan yang bernama Bao Ling tadi bukan gandek. Untung pemuda itu bukan salah satu dari orang-orang suruhan ayahnya. Kalau tidak, mereka tidak bakal dapat menyaksikan Festival Barongsai yang fenomenal itu!

Fang Mei mengangguk takzim dengan rupa ganar. Tidak memiliki perbendaharaan kalimat untuk menyanggah lagi kecuali manut mengakuri semua pesan-pesan tegas Putri Yuan Ren Xie yang serupa tetitah.

Bab 34

Damaiku terpecah-pecah di antara sesamaku dibahang hasutan biram laknat

yang ketawa serupa pewaka

oh, mestikah gulma merangsa rebung sehingga setiap pucuk indah dari rerimbun akan merontok serupa tunas yang mati

Datanglah dewiku

ajaklah aku keluar dari taman anominitas ini terbang meninggalkan segala murka

dan absoludisme di tanah babur ini - Bao Ling

Dewiku nan Agung

***

Kedua gadis itu tampak menyusuri alur setapak di dalam hutan Hwa. Cahaya rembulan yang patah-patah, serta basir gemintang menjadi lampu dan penerang jalan mereka. Sunyi mengepulkan birama natural dan teratur. Seperti nada rekwin yang keluar di antara jajaran log yang tinggi dan raksasa. Jenjang kaki-kaki kuda yang lelah masih pula menapak pada tanah yang lodoh. "Putri. "

"Ada apa lagi?!"

"Bukankah lebih baik kalau prajurit Bao menyertai kita?" "Jangan merengek-rengek seperti anak kecil lagi, A Mei!" "Tapi Putri. "

"Untuk apa kamu bersikeras ingin pemuda itu menyertai kita?!" "Saya hanya khawatir keselamatan Anda, Putri." "Kekhawatiran kamu itu sangat tidak beralasan, A Mei.

Bukankah kita sudah menyamar sebagai rakyat biasa? Heh, jangan pikir kalau para perompak mau merampok rakyat jelata yang tidak punya apa-apa."

"Bukan begitu masalahnya, Putri." "Jadi masalahnya apa?!" "Maaf, Putri. Rasanya muskil Putri dapat menyembunyikan identitas Putri yang sebenarnya."

"Kenapa?!"

"Bagaimanapun, Putri tetap puak bangsawan Istana. Ada spesifikasi fisik dan tingkah laku yang tidak mungkin Putri ubah hanya dalam semalam. Salah satu contoh adalah, tusuk konde yang sempat terbaca oleh Prajurit Bao Ling tadi. Dan semuanya itu merupakan bukti bahwa, Putri tetap Putri. Putri Yuan Ren Xie, putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing dari Istana Kiangsu."

"Ka-kamu. "

"Maaf, Putri. Saya hanya bicara apa adanya." "Saya menyesal kamu ikut, A Mei!"

"Putri. "

"Sudah, sudah! Kalau kamu memang tidak berniat ikut dan tidak tulus mengawal saya, silakan pergi dan kembali ke Istana Kiangsu. Saya tidak akan marah dan menghukum kamu!"

"Bu-bukan begitu, Putri!" "Bukan begitu bagaimana?!"

Fang Mei meneteskan airmata. "Saya akan setia kepada Putri, apapun yang terjadi! Saya bersumpah akan senantiasa menyertai Putri sampai kapan pun juga!"

Putri Yuan Ren Xie mengibaskan tangannya. "Sudahlah, A Mei. Pulanglah. Biar saya sendiri saja yang akan ke Ibukota Da-du," sahutnya ketus, lalu menarik keras tali kekang kudanya. "Pergi, pergi!"

"Putri!" teriak Fang Mei sembari berusaha menyejajari kuda Putri Yuan Ren Xie yang sudah melaju kencang di depan. "Maafkan saya, Putri!"

Putri Yuan Ren Xie tak menggubris permintaan maaf Fang Mei meski mata gadis itu memerah karena tangis. Ia terus memacu kudanya dengan langkah seribu. Fang Mei masih berusaha mengejar, tidak menuruti perintah Putri Yuan Ren Xie yang mengusirnya untuk pulang kembali ke Istana Kiangsu.

Airmatanya masih bergulir.

Selama ini ia tidak pernah dikasari begitu oleh Putri Yuan Ren Xie. Selama ini pula Putri Yuan Ren Xie tidak pernah menganggapnya bedinde. Ia adalah dayang yang lebih dari sekedar dayang. Ia adalah pengasuh sebaya, sahabat, sekaligus saudara bagi Putri Yuan Ren Xie. Namun entah setan apa yang merasuki badannya, malam ini gadis itu angot dan sarkastis. Ia sedih. Sedih sekali.

Tetapi ia tidak pernah akan meninggalkan Putri Yuan Ren Xie. Gadis itu adalah segalanya. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi Putri Yuan Ren Xie, seperti juga sumpah keluarganya yang akan mengabdi dan berbakti sampai mati untuk Istana Kiangsu. Keluarga Fang berhutang jasa pada Istana Kiangsu. Dan mereka merasa tidak akan pernah sanggup membayar hutang jasa itu sampai kapan pun juga. Karenanya, mengorbankan nyawa untuk mahardika dan totemis Istana merupakan syahid.

Ada suara yang menggelegar dari langit. Semantung malam hanya mengirim angin yang menderau kencang tanpa hujan. Udara yang melandai mendesaukan dedaunan dan mendesahkan rerumputan di bahu jalan setapak yang mereka lalui. Lalu tiap sebentar angin menerbangkan rambut Sang Putri yang mayang. Tetapi seperti tidak peduli dengan gelegar heban dari langit serupa aum gergasi, gadis totem itu tetap melarikan kudanya dengan kecepatan penuh.

Fang Mei menggigit bibir.

Ia tidak boleh membiarkan Putri Yuan Ren Xie didera amarah sehingga alpa dengan keselamatan dirinya sendiri. Hutan bukan tempat yang ramah untuk melakukan perjalanan panjang. Ia sedih karena Putri Yuan Ren Xie lebih menurutkan kata hatinya ketimbang rasionalitas akal sehat.

Dan satu semantung kembali menggelegar bersamaan dengan sebuah lesatan benda pipih berpangkal bulu angsa yang menyundak dada kuda Putri Yuan Ren Xie. Kuda yang ditunggangi Putri Yuan Ren Xie ambruk ke tanah setelah meringkik kesakitan. Darah hewan naas itu mengucur deras pada cupu sebesar kelingking yang masih terancapi sebilah anak panah. Sang Putri terjerembab menyusur tanah. Kepalanya terbentur tanah yang lambuk.

"Awas, Putri!"

Fang Mei membeliak.

Ia menjerit kalut. Putri Yuan Ren Xie di ambang bahaya. Sontak ia melompat seperti terbang dari punggung kudanya.

Menyambut tubuh Sang Putri yang terpelanting dan mengaduh kesakitan di tanah. Ditamenginya tubuh Putri Yuan Ren Xie dengan badannya sendiri dari lesatan-lesatan anak panah.

Sebilah anak panah melesat di atas kepalanya sebelum menancap pada sebatang mahoni.

Terdengar sebuah dentingan garing di sela-sela derap langkah kuda yang menderas. Fang Mei mengangkat kepalanya setelah merunduk memeluk Putri Yuan Ren Xie yang limbung. Dilihatnya pemuda yang ditemuinya di tengah hutan Hwa tadi tengah mengayun-ayunkan tombaknya, menghalau lesatan-lesatan anak panah yang mengarah ke tubuh mereka.

Bao Ling! serunya dalam hati.

Ia menghela napas panjang. Dewata masih menolong Putri Yuan Ren Xie dan dirinya!

"Nona, cepat bersembunyi di balik pepohonan!" teriak Bao Ling kepada kedua gadis yang merunduk, lalu melata saat ia menjatuhkan pandangannya di tanah.

Seraya menghalau anak-anak panah yang masih dilesatkan dari balik rimbun dedaunan di atas pepohonan, ia memutar-mutar kudanya melingkari kedua gadis itu yang tengah merayap ke tempat persembunyian.

Fang Mei menaati perintah Bao Ling agar mereka segera menyembunyikan diri di balik pepohonan. Dibopongnya tubuh Putri Yuan Ren Xie yang terkulai lemas ke arah sebuah pohon berpokok lebat. Memeluk erat-erat tubuh Sang Putri. Tetap menamengi tubuh gadis itu dengan badannya meskipun ia sudah berada di balik batang pohon. Salah satu tembakan anak panah parewa itu memang tidak mengenai tubuh Putri Yuan Ren Xie. Namun anak panah itu membunuh kudanya.

Mengempaskan Sang Putri dari punggung kuda yang terjerembab mati. Kepala Sang Putri terbentur keras di tanah. Ia belum sadar dari pingsan.

Fang Mei kembali meneteskan airmata. Badannya menggigil ketakutan. Ia prihatin atas kondisi Putri Yuan Ren Xie yang belum siuman. Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan Sang Putri.

"Putri! Putri!" desis Fang Mei dengan suara tangis. "Sadar, Putri! Sadar!"

Sementara itu Bao Ling masih berusaha menghalau anak-anak panah yang dilesatkan dari dalam kegelapan hutan Hwa. Ia terus memutar-mutarkan tombaknya ke segala arah seperti propeler tanpa beranjak dari punggung kudanya. Melihat banyaknya anak panah yang dilesatkan, ia dapat menerka kalau para parewa yang menyerangnya itu kali ini berjumlah banyak orang. Lesatan anak-anak panah mereka gencar mengarah dari segala arah.

Dan belum satu pun yang mencoba keluar bertarung dengannya.

Beberapa hari yang lalu ketika berangkat menuju ke pos pengawasan Tembok Besar ia juga sempat diserang. Namun tidak sebanyak penyerangnya malam ini di hutan Hwa.

Pemimpin parewa yang menyerangnya beberapa hari lalu di tempat yang sama adalah Zhung Pao Ling. Salah seorang prajurit intelijen kepercayaan Jenderal Gau Ming.

Tetapi pemuda handal itu tewas di tangannya, dan menutup misteri dalang di balik usaha pembunuhan dirinya. Ia yakin parewa yang menyerangnya malam ini pastilah para suro dalang yang sama. Mereka pasti kembali berusaha membunuhnya.

Dan ketika kedua gadis yang ditemuinya di tengah hutan Hwa tadi itu melewati jalan setapak ini, mereka diserang oleh para suro yang hendak mencabut nyawanya. Malam yang temaram dan balam telah melamurkan mata mereka, menyerang membabi-buta tanpa mengetahui detil sosok musuh yang hendak disasarnya.

Masih menangkis anak-anak panah yang sudah mulai berkurang melesat ke arahnya, Bao Ling tiba-tiba melompat dari atas punggung kudanya. Ia berguling seperti trenggiling ketika tubuhnya mendarat di tanah, dan menghilang di balik gegulma. Sesaat ia seolah-olah menghilang.

Namun tidak lama kemudian ia muncul serupa halimun yang menggelimun di pucuk sebatang mahoni. Lantas ia melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya.

Di atas ketinggian pepohonan itulah matanya yang nanar berusaha menelusuri dan mencari tempat musuh-musuhnya bersembunyi. Tetapi malap malam mengaburkan segalanya sehingga sejauh mata memandang hanya tampak rerimbun daun yang membentuk bayang musuh majasi.

Tetapi bahang amarah yang menggelegak seperti lahar kepundan dalam diri sang parewa mengenyahkan ketenangan batin yang selama ini menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk seorang pesilat. Ia keluar dari tempat persembunyiannya di balik sebatang mahoni, tidak jauh dari tempat kedua gadis itu meringkuk sembunyi.

Enam orang pemuda berseragam senada tampak mengitari area sekitar kudanya berada. Sesekali melangkah gingkang dan menebas-nebas rerumpun gulma dengan golok mereka. Bao Ling masih mengintip di atas dahan pohon. Membiarkan para parewa itu menyabet-nyabet angin, sesekali mematahkan reranting pepohonan.

"Cepat keluar kamu bangsat!"

Salah seorang pemuda berpakaian lain dibandingkan seragam keenam pemuda yang keluar lebih dahulu tadi terdengar berteriak cupar. Ia baru keluar dari tempat persembunyiaannya dengan air muka cua, tidak sabar ingin memusnahkan musuhnya.

"Ayo, pengecut! Kenapa, hah?! Takut?!"

Bao Ling tidak menggubris kalimat-kalimat sarkastis yang diteriakkan oleh pemuda yang bertaucang itu. Ia tidak terpengaruh kalimat-kalimatnya yang memancing emosi. Ia masih menunggu situasi yang tepat untuk balas menyerang dari balik kegelapan. Ia pun masih membiarkan para parewa itu menghabiskan tenaga mereka sendiri dengan meletupkan amarah, menebas-nebas gegulma dan dedaunan di dalam hutan Hwa.

Tetapi sesuatu seperti menyentaknya saat seorang parewa itu mendekati tempat persembunyian gadis yang ditemuinya di tengah hutan tadi. Ia dapat mengendus bahaya ketika golok parewa itu mengayun hendak menebas gegulma tempat persembunyian kedua gadis itu. Menyadari nyawa kedua gadis itu di ujung tanduk, ia pun menampakkan dirinya setelah berteriak lantang. Sontak menghentikan tebasan golok parewa itu.

"Saya di sini!"

Bao Ling mendarat di tanah.

Ia berdiri dengan sikap menantang, menenteng tombaknya di bahu. Pemuda bertaucang yang tampaknya sebagai pemimpin parewa itu memicingkan matanya menahan geram yang berkecamuk di hatinya.

"Kalian siapa?!" tanya Bao Ling tegas tetapi tenang tanpa umbar amarah. "Untuk apa kalian menginginkan nyawa saya?!" Pemuda itu mengempaskan kucirnya ke belakang punggung setelah mengayun dan menyampir di dadanya tadi. Gerahamnya menggemeletuk. Wajahnya yang ramping dan keras itu memerah. Ia belum menjawab pertanyaan Bao Ling. Keenam parewa lainnya sudah mengerubunginya di samping dan belakang tubuhnya. Mereka semua mengambil ancang-ancang untuk menebas, mengibas-ibaskan golok mereka seperti kipas para rani Istana.

"Kamu tidak perlu tahu saya siapa!" sahut pemuda bertaucang itu akhirnya.

Bao Ling tersenyum memanas-manasi pemuda parewa itu. "Kalau begitu, atas alasan apa kalian hendak membunuh saya?!"

"Jangan banyak cingcong!" teriak pemuda berwajah keras itu marah. "Hari ini, kami akan memenggal kepalamu!"

"Silakan. Tapi, saya ingin tahu siapa majikan kalian yang tega mengirim anjing-anjing buluk seperti kalian untuk mencoba menggigit saya!"

Pemuda parewa bertaucang itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Emosinya yang sedari tadi membahang telah membakar hatinya. Diserangnya Bao Ling dengan golok terhunus ke depan. Ia berlari sekencang-kencangnya, menyeruduk seperti kerbau liar yang bertanduk golok. "Kurang ajar kamu, Setan Istana Da-du!"

Tindakannya itu diikuti oleh enam parewa lainnya yang mengenakan seragam merah bata serupa jubah rahib Shaolin. Mereka semua memberondong Bao Ling dengan tebasan- tebasan golok. Bao Ling memutar tombaknya di leher sekaligus menangkis tebasan golok mereka. Seiring dengan gasingan tombaknya itu, ia merunduk dengan satu kaki sebagai penyangga badan, lantas kakinya yang lain berputar menyusur tanah sebelum terangkat mendepak-depak seperti ekor kalajengking.

Dua parewa terpelanting terkait kaki lampai Bao Ling. Tetapi mereka segera bangkit dengan sikap salto, dan kembali mengayunkan golok ke arah kepala Bao Ling. Namun rupanya Bao Ling sudah mengantisipasi gerakan balasan mereka.

Tombaknya yang menggasing di leher itu mendadak dibenturkannya ke tanah. Hanya sekedip mata tombak itu memantul elastis dari tanah dan terbang mengarah serupa bumerang, menghantam kepala kedua parewa itu dengan sangat keras.

Kedua parewa itu limbung dan jatuh ke tanah bersamaan dengan memantulnya kembali tombak itu ke tangan Bao Ling. Bao Ling menangkap tombaknya dengan sigap, lalu ia melompat dengan tubuh terbalik, berdiri di atas gagang tombaknya yang merancap tanah. Gerakannya itu sertamerta menghindari satu tusukan golok pemuda bertaucang yang mengarah cepat dari belakang punggungnya tadi. Rupanya ia sudah mengetahui bakal gerakan-gerakan dan jurus-jurus lawan-lawannya.

Lalu masih berdiri dengan sikap terbalik di atas udara, ia pun leluasa melancarkan tendangannya yang memutar-mutar seperti propeler, yang menyapu wajah dan kepala musuh-musuhnya.

Keempat parewa berseragam merah bata yang menyerangnya dari samping dan belakang tadi terkulai ke tanah tepat ketika kaki Bao Ling kembali menjejaki tanah.

Hanya pemuda bertaucang itulah yang dapat menghindari tendangan kerasnya. Ia tadi berkelit gesit, melompat ke samping dengan gerakan salto, dan kembali berdiri setelah sepakan bertenaga itu hanya menggaru angin.

Menyadari musuhnya terdesak, Bao Ling tidak mengendurkan serangannya. Ia kembali melompat gingkang , dan sesekali memantul pada batang pepohonan sembari mengibas-ibaskan ujung tombaknya yang lancip dan tajam itu ke arah kepala para parewa yang berusaha bangun. Alhasil, kibasan tombaknya menghalau tindakan para parewa yang hendak bangkit dari tanah dan memungut golok mereka yang terlempar barusan.

Pemuda bertaucang itu semakin mengalap. Ia menebas- nebaskan goloknya dengan mimik frustasi. Ia mencoba membantu sahabat-sahabatnya yang terdesak tidak berdaya dengan menyongsong tubuh Bao Ling yang sesaat kini tengah berada di udara. Namun jurusnya sudah tidak terarah karena kehilangan konsentrasi dan kelelahan. Goloknya menancap di sebatang pohon ketika ia mengarahkan senjata tajamnya itu sekuat tenaga ke arah pinggang Bao Ling yang kini tengah melandaikan dirinya ke tanah.

Tiiiing!

Daun telinganya bergerak ketika sebuah lentingan golok yang nyaring terdengar merancap dan menggemeletar pada sebatang pohon. Tanpa melihat pun ia sudah tahu apa yang terjadi.

Tak ada pengampunan lagi! Intuisinya yang tajam akibat asah basir pertarungan heroik telah menebarkan aroma darah.

Ia melengos sebentar ke belakang ketika satu kakinya menyentuh tanah. Dengan entakan keting pada tanah pula, ia terpantul kembali ke udara serta berputar gemulai bak sehelai bulu ayam putih sebelum tombaknya yang panjang merancap dada musuhnya. Pemuda bertaucang itu mati dengan tangan yang masih memegang gagang goloknya. Ia belum sempat melepaskan rancapan senjata tajamnya yang lebar mengilap tersebut dari batang pohon ketika tombak Bao Ling dengan cepat melubangi dada dan merobek jantungnya di balik sebilah tulang iganya yang patah.

"Ketua Wu Kuo!"

Seorang parewa berteriak histeris, bangkit berdiri lalu memungut goloknya yang terpental tidak jauh dari tempatnya terjerembab tadi. Ia berlari kesetanan ke arah Bao Ling yang masih merancapkan tombak ke dada musuhnya yang sudah tak bernapas lagi.

Tetapi langkah parewa yang hendak membunuhnya itu terhenti sebelum goloknya yang tajam itu mencacah badannya. Tombak yang tadi merancap di jasad Wu Kuo telah berpindah ke dada parewa yang beringas itu sesaat setelah melayang secepat kilat. Tubuh anak muda itu ambruk tak bernyawa. Goloknya jatuh mendenting membentur tanah bersama debum keras tubuhnya yang liat.

Bao Ling melompat ke arah jasad parewa yang sudah membujur kaku di tanah itu, menarik tombaknya dari tubuh musuhnya yang mati dengan sepasang mata membuka. Para parewa lainnya berdiri secepat mungkin, lalu menghambur kabur menyelamatkan diri masing-masing di sela-sela pepohonan dalam kekelaman malam, tanpa memungut golok serta busur dan karpai anak panah mereka lagi saat melihat pemimpin dan salah seorang sahabat mereka tewas mengenaskan.

Bao Ling menghela napas panjang.

Didekatinya mayat pemuda bertaucang yang dipanggil dengan nama Wu Kuo tadi. Diamatinya seksama wajah saring dan keras itu. Kali ini ia bukan merupakan salah satu prajurit dari Istana

Da-du seperti Zhung Pao Ling. Namun, ia yakin mereka adalah para suro dari dalang yang sama. Sebuah konspirasi yang kini berkembang lebih jauh dengan melibatkan dirinya. Tak ada barang bukti apa-apa yang dapat membongkar risalah misterius itu. Semuanya nihil ketika ia mencoba merogoh sesuatu di dalam saku pakaian jasad pemuda itu.

Ia berjalan dengan benak sarat ke arah tempat persembunyian kedua gadis yang hanya sekali ditemuinya di tengah hutan Hwa petang tadi. Diam-diam dibuntutinya kedua gadis itu tadi karena penasaran dengan identitas diri yang mereka rahasiakan kepadanya. Ia yakin kedua gadis itu bukan rakyat jelata atau pengelana seperti yang mereka katakan. Diikutinya kedua gadis itu sampai berhenti di tengah hutan karena penyerangan yang dilakukan para parewa tersebut.

"Kita sudah aman, Nona-Nona!" ujar Bao Ling setelah tiba di sebatang pohon tempat kedua gadis itu bersembunyi. Di sana, ia mengempaskan dirinya duduk menyandar pada batang pohon.

Ia merasa lelah. Benaknya mulai dipenuhi beban psikis. "Te-terima kasih, Prajurit Bao!" balas Fang Mei lirih. "Anda sudah menyelamatkan nyawa kami."

Bao Ling memalingkan kepalanya, menengok ke balik batang pohon besar yang disandarinya. Ia tersenyum. Dilihatnya kedua gadis itu meringkuk seperti kelinci yang menggigil kedinginan seusai diguyur hujan dalam hutan.

"Bukan kalian yang menjadi sasaran pembunuhan tadi," jelas Bao Ling. "Tapi sayalah yang menjadi target mereka." Sergah Fang Mei terpotong. "Ta-tapi. "

"Mereka hanya salah sasaran, menyangka kalian adalah saya," jelas Bao Ling, tampak berusaha menenangkan.

Fang Mei terdiam.

Ia belum dapat mengatasi keterkejutannya. Sesaat lalu ia serasa mati. Nyawanya seolah-olah mengambang di udara ketika melihat Putri Yuan Ren Xie dihujani anak-anak panah oleh orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kuda Sang Putri pun mati terancap sebilah anak panah. Mengempaskan Sang Putri sampai tak sadarkan diri.

Dan seandainya saja mereka tidak ditolong oleh prajurit kurir yang berasal dari Istana Da-du itu, entah apa yang akan terjadi dengan nasib mereka. Firasatnya memang menjadi kenyataan. Hutan asing dan rimba bukanlah tempat yang aman untuk melakukan perjalanan jauh. Setiap saat nyawa mereka dapat terancam. Putri Yuan Ren Xie yang pongah dan keras kepala itu memang telah termakan oleh kesombongannya. Ia kena batunya sendiri.

Diliriknya Putri Yuan Ren Xie yang sudah siuman tetapi masih tampak lunglai, dan berbaring berbantalkan pahanya.

"Putri, kita sekarang sudah aman!" bisik Fang Mei sembari mengusap peluh di dahi Putri Yuan Ren Xie dengan pipah lebar lengan bajunya yang menjuntai serupa kipas. "Musuh-musuh yang menyerang kita secara misterius tadi telah kabur. Dua orang malah mati dibunuh Prajurit Bao."

Daun telinga Bao Ling bergerak, menegak menangkap kalimat Fang Mei. Tetapi senyap malam tidak dapat melamur suara bisikan itu sehingga kalimat serupa mantra itu menyihirnya untuk segera takluk dan berlutut di hadapan kedua gadis itu. "Ma-maafkan saya, Tuan Putri!" ujar Bao Ling terbata-bata. "Sa- saya tidak tahu kalau Anda semua adalah Putri!"

Fang Mei tersenyum. "Saya bukan Putri. Saya hanya dayang Istana Kiangsu. Yang Putri adalah. "

Bao Ling masih berlutut. Diliriknya bibir Fang Mei yang bergerak miring mengaba, menunjuk Putri Yuan Ren Xie yang masih berbaring di pahanya sebagai Tuan Putri itu dengan ekor matanya tanpa berani mengangkat muka. Ia masih menunjukkan sikap terkejut.

"Tapi. "

"Sudahlah, Prajurit Bao. Tidak usah berlutut begitu. Seharusnya kamilah yang menyampaikan rasa terima kasih kepada Anda karena telah menyelamatkan nyawa kami," papar Putri Yuan Ren Xie, akhirnya mengungkap jelas identitas mereka yang sebenarnya. Ia masih berbaring di atas paha Fang Mei. Ia merasa risih dihormati sedemikian rupa di luar protokoler Istana Kiangsu. "Kami berdua memang bukan rakyat jelata. Saya Yuan Ren Xie dan. "

"Saya Fang Mei. Dayang. Bukan Putri," timpal Fang Mei ceriwis, memintas kalimat Putri Yuan Ren Xie yang belum rampung. "Kami dari Istana Kiangsu. Putri Yuan Ren Xie adalah putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing, saudara kandung Kaisar Yuan Ren Zhan." Bao Ling semakin merundukkan kepala. "Ma-maafkan saya, Putri. Saya telah berlaku kurang santun terhadap Anda!" "Berdirilah, Prajurit Bao. Tidak usah berlutut begitu," balas Putri Yuan Ren Xie lalu tersenyum di akhir kalimatnya. Ia berusaha bangun dari berbaring.

Fang Mei memapahnya kembali untuk duduk bersila di hadapan Bao Ling yang belum berani menyudahi sujudannya. Fang Mei terkikik. Menahan tawa dengan telapak tangannya.

"Tapi, selama ini saya telah bersikap kurang santun terhadap Anda, Putri," urai Bao Ling dengan lugu. "Saya pantas dihukum mati."

"Tidak ada alasan untuk menghukum mati Anda, Prajurit Bao," sahut Putri Yuan Ren Xie teduh. "Saya hanya ingin Anda mematuhi perintah saya."

"Saya siap melaksanakan semua perintah, Putri!" "Bagus."

"Apa yang dapat saya lakukan untuk Putri?" "Kawal kami ke Ibukota Da-du."

"Saya siap mengawal Anda, Putri. Saya siap menjaga keselamatan Putri."

"Bagus. Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau kami berdua ini adalah kerabat Istana Kiangsu. Saya harap Anda bermasa bodoh bila bertemu siapa saja yang ingin mencari kami berdua." "Maaf, Putri. Untuk apa?!" "Jangan membantah. Ini perintah!"

"Ba-baik. Saya akan laksanakan perintah Putri."

Fang Mei tertawa keras. Ia tidak dapat menahan geli yang menggelitik hatinya lagi. Putri Yuan Ren Xie menghardiknya supaya diam dengan satu anggukan pada kepala. Namun gadis jangkung itu tetap tertawa terbahak-bahak dengan suara falseto. Mengabaikan bahasa tubuh Putri Yuan Ren Xie yang tengah jengah karena akhirnya meminta pengawalan yang sempat ditampiknya mati-matian di awal pertemuan mereka petang tadi.

Bab 35

Adakah mara yang lebih bara

dari maharana serupa Yakkha Alavaka yang bengis menakutkan dan congkak?

Wahai, Raja Diraja dan para Satria taklukkanlah ia

jinakkan dengan kesabaran dan kekuatan putih nurani

Karena inilah kemenangan sempurna yang bermuasal dari saif kebajikan - Bao Ling

Elegi Yakkha Alavaka

***

Ceruk langit duha semakin mengelam. Sisa pendar terang keperakan yang menyapa hangat kerut-merut tanah sudah sedari tadi tenggelam di horizon barat. Sepagi tadi hanya terdengar derau angin yang menyapu dedaunan pada serumpun bambu di bawah sana. Sesekali pula terdengar kicau rajawali dengan birama triolnya yang syahdu. Satu-satu, lepas dan melengking, sampai membaur lalu menghilang di atmosfer langit. Lalu pada akhirnya keheningan seperti raga tanpa nyawa. Menangkup alam sampai gulita bergelung, dan kembali tanpa lelah mengiramakan gerus khas malam. Derik jangkrik, siulan angin padang, koak unggas; adalah denyut rutin kekelaman.

Bilangan malam itu pulalah yang menemaninya kini. Pekat melentuk partikel binar di matanya.

Noktah-noktah putih bertabur basir pada langit yang tadi membiru-jingga ketika ia mendongak. Setiap sebentar nokturia memaksa kakinya ke salah satu bilik tinja di sisi buram Tembok Besar. Dan kala ia menjongkok, maka langit menjadi satu- satunya obyek sauh matanya.

Satu-dua di antara gemintang berlompatan seolah menari. Nun jauh pula di sana, mega nan memutih tampak kelabu seperti khatifah domba Mongol yang mulai mengusang. Dari waktu ke waktu, komposisi visual itu mengiramai kesendiriannya. Selalu. Pada tembok-tembok dan gawir beku yang berlumut serta basa. Khidmat itu diresapinya takzim. Menggantikan tabuh galau yang senantiasa mendetak pada jantungnya. Kali ini tak ada maharana, sehingga bulir-bulir embun sisa fajar kemarin merupakan kilau jauhar yang tak berbanding.

Tak sadar ia tersenyum.

Tetesan darah itu sejenak berganti menjadi butir berlian pada galur landung dedaunan. Api-api yang melelatu dan membakar perkampungan penduduk kini telah padam. Tak ada bau tengik kayu yang kobong mengarang, yang menyeruak di antara reruntuhan rumah para jelata. Di matanya, ranggas bara itu telah menjadi sigi di sepasang bahu tubuh panjang Tembok Besar.

Indah. Seperti mute pada mahkota Sang Kaisar.

"Atas nama Dewata dan Naga yang perkasa, diberkatilah Yuan dan prajurit Fa Mulan!"

Tetapi selamanya tidak berlangsung dengan lama.

Serangkai kalimat aubade menggugah kedamaian itu sesaat setelah derap kuda terdengar melambat di ujung tendanya. Lima pasang gerit gesekan sepatu prajurit jaga pada tanah pun melamur, seperti membiarkan lelaki tersebut masuk ke area barak Tembok Besar. Dan ketika ia gegas beranjak dari tempatnya yang najis dan making tadi, serta memalingkan kepalanya ke arah suara santun tersebut setibanya di samping tendanya, hatinya mulai dirayapi gundah.

Tan Tay?!

Ia mengusap wajah.

Prajurit intelijen yang bertugas pada pos pengawasan Tembok Besar itu pasti datang bukan tanpa musabab. Garizal keprajuritan sontak mengembuskan praduga karu dalam benaknya, meski sepasang sepatu kulit rusa pemuda bertubuh atletis itu belum menyentuh bayang pucuk tenda yang menubir pada tanah.

Ia menghela napas berat.

Udara nokturnal menghimpit paru-parunya. Keyakinannya menegas pada wajah lesi yang mengarah lima tindak dari kuda kelabu yang menyampir di sebatang ek dengan dedaunannya yang menggimbal.

"Ada indikasi kalau kaum nomad Mongol akan melakukan penyerangan, Asisten Fa!"

Maharana!

Helaan napas Fa Mulan terdengar seperti dengus. Pemuda itu sudah mengabarinya hal terburuk yang bakal melanda Tionggoan tidak lama setelah ia berdiri tepat di dot bayang tenda. "Maafkan saya dengan berita buruk itu, Asisten Fa." "Tidak. Tidak apa-apa."

Fa Mulan mengangkat telapak tangannya mengaba 'tidak apa- apa'. Tetapi rahangnya mengeras. Berita mendadak dari Tan Tay itu menggamangkan hatinya.

"Saya prihatin soal rencana penyerangan Mongol itu, Asisten Fa. Mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hal itu."

"Terima kasih atas aktualitas beritamu. Saya tidak tahu apa yang bakal terjadi seandainya kamu tidak cepat-cepat dan tanggap melaporkan pergerakan musuh di daerah perbatasan ini, Tan Tay!"

"Sudah menjadi tugas saya, Asisten Fa." Fa Mulan menggigit bibirnya.

Diam-diam, disyukurinya tindakannya yang berani mangkir ke Festival Barongsai. Keputusannya untuk tidak menghadiri undangan pihak Istana Da-du dalam acara akbar Festival Barongsai memang merupakan tindakan yang tepat.

Sehari setelah Bao Ling berangkat kembali ke Ibukota Da-du, ia pun langsung mendapat kabar buruk dari salah satu prajurit intelijen yang bertugas memantau perbatasan Tionggoan- Mongolia. Bahwa Tionggoan akan diserang dalam waktu dekat oleh pasukan Mongol pimpinan Gengkhis Khan.

"Kamu yakin, Tan Tay?" tanya Fa Mulan, lebih sekedar mempertegas pertanyaannya ketimbang ketidakyakinannya. Prajurit intelijen itu mengangguk tegas. "Saya yakin, Asisten Fa. Kurang lebih tiga puluh mil dari sini, mereka sudah menyiapkan armada perang berkuda yang hanya menunggu perintah untuk menyerang. Tenda-tenda yang mereka dirikan di daerah perbatasan juga merupakan salah satu bukti kalau mereka memang sedang berencana untuk menyerang Tionggoan." "Sudah saya duga," desis Fa Mulan, gelisah dengan kabar buruk rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan. "Beberapa bulan yang lalu saya pernah bertarung dengan seorang jasus Mongol. Tapi anehnya, dia sepertinya tidak memihak pada apa yang akan dilakukan oleh pemimpin tertinggi Mongol, yang notabene merupakan ayah angkatnya sendiri. "Maksud Anda. "

"Saya pernah mendapat informasi tentang penyusunan kekuatan oleh pasukan Mongol di perbatasan dari seseorang yang mengaku anak angkat Genghis Khan, setelah bertarung dengannya di sini."

"Maaf, saya belum paham, Asisten Fa."

"Ceritanya panjang. Kalau ada waktu, saya akan menceritakan ihwal hal itu. Sekarang, kita harus segera mengantisipasi pergerakan Mongol. Cepat himpun dan perkuat pengawasan intelijen yang ada di daerah perbatasan. Awasi semua jalan masuk. Saya akan koordinasikan hal ini kepada Kapten Shang. Kalau bisa, hari ini juga kamu ke Ibukota Da-du. Tolong sampaikan kawat kepada Jenderal Gau Ming untuk melapisi perbatasan Tembok Besar ini dengan armada baru. Saya berfirasat kalau kaum nomad Mongol itu akan menyerang secara besar-besaran. Lebih besar ketimbang armada pasukan pemberontak Han dulu."

"Tapi. "

"Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan perihal anak angkat Genghis Khan yang bernama Kao Ching itu, Tan Tay. Sekarang, saya akan menyiagakan semua prajurit setelah menyampaikan keadaan genting ini kepada Kapten Shang. Setelah itu, mungkin saya akan langsung turun ke daerah perbatasan untuk memata- matai pergerakan pasukan Mongol. Menakar kekuatan mereka. Saya pikir itulah salah satu upaya terbaik untuk dapat mengetahui inti kekuatan mereka. Dengan begitu, suatu saat kita dapat menandingi besarnya armada tempur mereka. Atau, mungkin ada strategi jitu yang akan kita terapkan setelah meraba sebatas mana kekuatan kaum nomad Mongol itu. Nah, lekaslah berangkat ke Ibukota Da-du. Mumpung kita masih ada waktu mempersiapan diri menangkal pasukan Mongol." Prajurit intelijen itu keluar dengan langkah setengah berlari. Di luar, ia langsung menuju ke arah kudanya. Menunggangi lalu menggebah sekuat tenaga kuda yang senantiasa membantunya dalam bertugas itu. Ia harus secepat mungkin ke Ibukota Da-du. Sementara itu Fa Mulan keluar tenda dengan napas memburu. Ia memang berfirasat kalau suatu saat perkataan Kao Ching kepadanya tempo hari akan menjadi kenyataan. Tinggal menunggu waktu saja, maka kekuatan mahadahsyat Mongol akan menyerang Tionggoan seperti nasar-nasar yang menghitam di langit.

Angin menerbangkan rambutnya ketika ia menyongsong dari arah berlawanan sesaat setelah menyibak daun tendanya. Ia serupa walet yang terbang rendah, menggelepak oleh buih tuba yang diteteskan pada sepasang gendang telinganya.

Tidak ada yang tahu kapan badai maharana itu akan memporak- porandakan Tionggoan lagi. Namun ia sudah dapat mendengar denyut kematian yang diembuskan seperti taifun, lalu selang itu akan terdengar nyanyian pilu dari tangis sufi yang rapuh.

Fa Mulan masih berlari.

Meredam amarahnya dalam guyur bayu dari arah yang berlawanan. Bayi-bayi akan kehilangan ibu-ibu mereka. Lalu, tak ada lagi yang dapat menyuplai bantat makanan untuk menghidupi jiwa-jiwa rapuh itu. Ajal tinggal sejengkal. Sebab setiap tetes air kehidupan dari puting susu ibu itu terhenti oleh maharana. Mereka akan kelaparan dan terkapar mati. Lalu, sebagian dari bayi-bayi itu akan terjebak dalam reruntuhan. Dan terbakar mutung menjadi abu.

"Maaf, Kapten Shang," ujar Fa Mulan, masih dengan suara terengah begitu menyibak daun tenda Shang Weng, yang hanya berjarak sepuluh kaki dari tendanya di sebelah barat. "Saya mengganggu istirahat Anda."

Shang Weng berdiri dari berbaring.

Sertamerta terbangun saat daun tendanya tersibak disertai sapaan Fa Mulan yang gopoh tak galib. Disambutnya gadis itu yang masih berdiri terpaku di bawah tapal batas tenda dengan berjalan tatih akibat kejur nadi betisnya belum normal mengalirkan darah sampai ke matakaki. Aura unggun yang menjingga di luar tenda membaur di salah satu sisi wajah galau gadis itu.

Pasti ada sesuatu yang tidak beres kali ini, pikirnya. "Ada apa, Mulan?" tanyanya dengan suara sember.

"Saya barusan mendapat informasi dari prajurit intelijen Tan Tay. Menurutnya, kaum nomad Mongol sudah menghimpun kekuatan untuk menyerang Tionggoan. Saya kemari untuk berkoordinasi dengan Anda. Apa tindakan kita selanjutnya?" jawab Mulan dengan respirasi yang mulai menormal.

Wajah Shang Weng mengerut.

Sebelah wajahnya yang tertimpa sinar dari lampu minyak samin semakin menonjolkan gemurat di sekitar leher dan rahangnya. Ia sudah tahu kapabilitas tempur pasukan Mongol. Kaum nomadia itu lebih berbahaya dibandingkan pasukan pemberontak Han pimpinan Han Chen Tjing. Kehidupan dan lingkungan alam yang keras telah membentuk rakyat Mongol itu menjadi bangsa yang kuat. Beberapa negeri gurun di luar Tionggoan telah ditaklukkan. Dan hal itu merupakan salah satu bukti ketangguhan armada perang berkuda milik Mongol.

"Saya pikir, kita harus mengambil tindakan sendiri tanpa meminta delegasi markas besar militer Yuan lagi," Shang Weng menyolusi, mencoba mengusir keresahan hatinya dengan keluar mengangin-anginkan badannya. "Saya tidak ingin kelambanan menjadi pangkal kekalahan Yuan atas Mongol."

"Ya, saya pikir memang harus begitu. Berinisiatif sendiri tanpa melalui perintah Jenderal Gau Ming yang lelet," akur Fa Mulan sembari mengekori langkah Shang Weng setelah turut keluar dari tenda atasannya tersebut. "Sebab kalau tidak, mungkin pasukan Mongol akan menyerang pasukan kita tanpa diduga- duga."

"Ya, benar. Tidak ada waktu lagi untuk menghubungi markas besar militer Yuan di Ibukota Da-du, Mulan," tegas Shang Weng, berjalan mondar-mandir dan bolak-balik per tiga langkah di luar tendanya. "Betul, betul. Apalagi, Istana Da-du sibuk dengan persiapan penyambutan Festival Barongsai."

"Itulah salah satu alasan, mengapa pasukan Mongol menyerang pada saat-saat pihak Istana Da-du mengadakan pesta akbar tersebut."

"Salah satu bentuk kelemahan adalah, memandang remeh kekuatan lawan, juga optimisme yang berlebihan terhadap kekuatan sendiri dan kurangnya konsentrasi untuk mawas sehingga menganggap enteng lawan. Itulah yang kini terjadi dengan militer Yuan. Setelah memenangkan pertempuran di Tung Shao, para atase militer lupa diri. Malah bereuforia dengan pesta akbar yang sama sekali tidak membawa faedah apa-apa bagi negara - kecuali gengsi dan sebentuk pengakuan yang masif."

"Kalau begitu, kita harus mengantisipasi pergerakan pasukan Mongol yang sudah memadati daerah perbatasan." "Selayaknya memang begitu."

"Tapi, saya kurang yakin kalau prajurit-prajurit kita dapat membendung pasukan Mongol yang berjumlah besar. Ingat, mereka adalah armada perang berkuda. Mobilitas mereka sangat tinggi. Saya pesimis kalau prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong dapat melumpuhkan mereka."

"Saya sependapat dengan Anda, Kapten Shang. Mereka pasti sudah belajar dari kekalahan pasukan pemberontak Han yang takluk oleh prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong . Mereka pasti akan mengantisipasi kekuatan tercanggih divisi tempur Yuan. Jadi kalau mereka nekat menyerang, pasti bukan tanpa bekal apa- apa."

"Betul. Saya memang telah memprakirakan hal itu. Divisi Kavaleri Fo Liong bukan tanpa kelemahan. Apalagi senjata dan amunisi Divisi Kavaleri Fo Liong sangat terbatas. Kalau mereka dapat meredam divisi baru kita itu, maka dapat dipastikan mereka dapat menaklukkan kita, dan akan melewati Tembok Besar ini untuk kemudian menyerang Ibukota Da-du."

"Ah, saya tidak menyangka akan dihadapkan kembali pada prahara baru, legiun asing yang hendak menyerang integritas Tionggoan!"

Fa Mulan menghela napas panjang bersamaan satu dengusan napas yang keluar dari lubang hidung Shang Weng. Dielus- elusnya gagang Mushu-nya. Sejenak memejamkan matanya untuk meredam galau yang tengah berkecamuk di dadanya.

Tanah Tionggoan seolah dikutuk oleh langit. Tanah babur yang setiap saat dinestapai maharana.

Ah, kapankah Tionggoan dapat damai sejahtera tanpa maharana?! resahnya dalam hati.

"Malam ini juga saya akan menyiagakan seluruh prajurit dari semua divisi," sahut Shang Weng berapi-api. "Saya sendiri akan menghadang mereka di garis depan!"

"Tidak! Biar saya saja, Kapten Shang. Anda lebih dibutuhkan untuk menitah. Tanpa komando, apalah artinya armada perang Yuan?!" tolak Fa Mulan, juga dengan suara yang berapi-api. "Bukankah hal itu serupa galiung tanpa nahkoda?!"

"Saya adalah pemimpin tertinggi armada perang di sini. Jadi, sayalah yang memimpin prajurit di garis depan."

"Saya tidak ingin bertengkar soal itu sehingga mengabaikan misi semula kita dalam memberangus pergerakan musuh."

"Saya yakin kemampuan kamu. Pertempuran di Tung Shao telah membuktikan ketangguhan kamu. Tapi, saya tidak ingin menempuh risiko kehilangan prajurit tangguh semacam kamu.

Yuan boleh kehilangan sejuta prajurit. Namun Yuan tidak boleh kehilangan seorang Fa Mulan!"

"Anda terlampau hiperbolik, Kapten Shang!"

"Tapi, saya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu!" "Jangan egois. Nyawa saya sudah saya serahkan sepenuhnya

untuk negara dan rakyat Yuan sejak mendaftar sebagai prajurit wamil. Mana boleh Anda mengklaim kalau nyawa saya hanya untuk Anda seorang diri."

"Saya sayang sama kamu, Mulan."

"Enyahkan romantisme cengeng pada saat Tionggoan di ambang maharana!" "Tapi. "

"Kalau dalih melarang saya berada di garda depan pertempuran semata karena rasa cinta Anda yang demikian besar terhadap saya, maka Anda salah besar, Kapten Shang!"

"Tapi. "

"Rasanya sangat tidak etis menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan negara, apa pun dalih yang melatarbelakanginya. Kalau itu sampai terjadi, maka sampai kapan pun saya tidak akan pernah dapat memaafkan Anda.

Sampai mati pun dan menjadi arwah sekalipun, saya tidak pernah dapat tenang."

"Tapi. "

"Maaf, Kapten Shang. Saya tidak pernah bermaksud menentang perintah Anda. Saya tidak pernah merasa melawan kehendak Anda. Tapi, tolong. Jangan selalu menempatkan saya pada posisi yang paling istimewa di hati Anda. Saya tidak ingin menjadi batu beban di dalam setiap liuk lafaz Anda. Saya tidak ingin menjadi simbol Yuan. Perang, dan seperti juga kemenangan-kemenangan pertempuran kita di Tung Shao bukanlah andil saya. Semua itu merupakan proses predestinasi yang, entah datangnya tiba-tiba. Saya yakin, setiap orang pasti tidak ingin mengharapkan perang terjadi. Perang, bagi saya tak ubahnya ajang pembantaian antarmanusia yang sama sekali tidak memiliki makna apa-apa. Ketika saya menjadi wamil, yang ada di dalam hati dan pikiran saya hanya satu. Hanya satu, yakni membela negara Yuan. Bukan berperang dengan segala atribut berbau kematian tersebut, Kapten Shang."

Shang Weng terdiam.

Napasnya meladung. Kalimat-kalimat yang disampaikan Fa Mulan barusan menohoknya. Seharusnya ia memang tidak boleh menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan negara. Sebagai prajurit, ia seolah-olah telah zindik dari amar negara. Seharusnya, ia malu karenanya. Tetapi rasa cinta yang dalam terhadap gadis itu selalu menggebah kepatriotismenya itu menjadi galur. Ia memang telah dibutakan oleh cinta!

"Mulan. "

"Saya tidak ingin Anda membuang-buang waktu lagi, Kapten Shang. Jangan sampai kasus miris Tung Shao - antisipasi yang terlambat - terulang lagi karena kelambanan atase militer Yuan yang tidak tanggap menangkap serangan musuh yang mendadak seperti taifun." 

"Tapi. "

"Lebih baik saya berangkat sekarang, menyongsong musuh di perbatasan. "

"Ja-jangan. " "Maaf, Kapten Shang! Saya akan berangkat sekarang juga!" Shang Weng menelan ludahnya dengan susah payah. Dilihatnya gadis itu berlari ke dalam tendanya. Seperti walet yang terbang rendah, sesekali menukik di antara cadas dan gawir. Ia tahu, sebentar lagi Fa Mulan akan keluar dari sana, menenteng pedang Mushu-nya dan sangu secukupnya untuk bekal menghadapi pertempuran melawan kaum nomad Mongol di perbatasan.

Namun aneh. Lerai itu melekat di kerongkongannya seperti lekat lumpur pada dinding dan tubir. Tak ada suara yang menggebah dan meledak seperti guntur untuk mengurungkan niat gadis yang sangat dicintainya menyusur lapak ajal. Ia membatu atas ketidakberdayaannya tersebut.

Digelengkannya kepala dengan lunglai. Gadis itu memang sekokoh karang.