-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 04

Jilid 04

Bab 16

Engkau lantun segala birama

yang diukir Dewata berwajah lektur wacana semesta

dari seorang satria berpedang kebajikan

- Bao Ling

Prajurit Jelmaan Para Dewa

***

Tubuhnya seperti mengambang. Terbang tinggi. Berhenti pada suatu tempat nan gulita. Lalu ada cahaya yang menerobos cepat seperti lesatan anak panah. Benderang di sekelilingnya. Sesaat ia termangu, tidak tahu tengah berada di mana. Ada mayat- mayat yang bergelimpangan. Darah berceceran di mana-mana. "Yang Mulia. " Ada suara yang menyapanya lunak. Suara yang

diakrabinya semasa kanak-kanak dulu.

"An-Anda si-siapa?!" tanyanya dengan suara menggamang. "Saya penasehat Fang Tui, Yang Mulia."

Ia teringat kisah silam masa kecilnya. Orang tua berjanggut putih itu selalu menemaninya bermain-main di taman Istana, mengejar kupu-kupu dan memetik daun yang-liu

"Maafkan saya, Yang Mulia. Maksud kedatangan saya adalah untuk memberitahukan kepada Yang Mulia agar waspada terhadap musuh-musuh di perbatasan. Terutama kaum nomad Mongol.

"Apa?!"

"Suku nomad itu menggunakan kuda-kuda sebagai prajurit, dan sekawanan nasar sebagai kutukan Dewata dari langit!"

"Lalu, saya harus mengambil tindakan apa?!"

"Anda harus memiliki sepasang pedang kembar nova." "Sepasang pedang kembar nova?!"

"Ya. Sebelum mereka menghancurkan Kekaisaran Yuan!" "Di mana saya harus mencari pedang-pedang tersebut?!" "Ada di sekitar Anda, Yang Mulia."

"Di sekitar saya?"

"Ya. Sepasang pedang kembar nova merupakan pedang Dewata. Bilah pedangnya dibuat dari gemintang hasil ledakan besar di langit, supernova. Satu kalpa yang lalu, sepasang pedang kembar itu telah melanglang dalam samsara. Sepasang pedang kembar nova itu telah ditakdirkan untuk menyatu melawan kebatilan. Anda harus menemukannya, Yang Mulia!" "Tapi. "

"Maaf, Yang Mulia. Saya tidak dapat berlama-lama di sini. Saya harus kembali. "

"Penasehat Fang Tui!"

Kaisar Yuan Ren Zhan terjaga. Dahinya memeluh. Napasnya masih menyengal. Ia telah bermimpi buruk.

"Ada apa, Yang Mulia?!" Permaisuri Niang Xie Erl terbangun. Dahinya mengerut. Ia duduk dari berbaring. "Apa Yang Mulia sakit?!"

Kaisar Yuan Ren Zhan menggeleng.

Temaram di sekeliling. Tidak ada mayat-mayat bergelimpangan. Tidak ada darah yang berceceran. Tidak ada mendiang penasehat tua Fang Tui di hadapannya. Tidak ada sekawanan kuda Mongol yang menerjang Tembok Besar. Tidak ada sekawanan burung nasar yang menghitami langit.

Sepasang pedang kembar nova?! batinnya.

"Saya panggilkan tabib untuk memeriksa Yang Mulia!"

"Tidak usah," Kaisar Yuan Ren Zhan menyergah. "Saya tidak sakit!" "Tapi. "

"Saya hanya bermimpi buruk. Tapi. "

"Kenapa, Yang Mulia?!"

"Saya melihat Fang Tui, mantan penasehat Ayahanda dulu. Dia bilang, Tionggoan dalam bahaya besar!"

"Yang Mulia jangan risau. Apa yang Yang Mulia mimpikan barusan hanyalah bunga tidur. Yang Mulia kelelahan sehingga bermimpi buruk."

"Tapi, itu mungkin isyarat kalau Tionggoan memang dalam bahaya besar!"

"Yang Mulia jangan khawatir. Untuk urusan keamanan negara, Yang Mulia delegasikan saja kepada para atase militer. Mereka pasti sudah tahu tanggung jawab masing-masing."

"Ah, saya tidak menyangka akan terus dirongrong oleh musuh- musuh di perbatasan. Setelah lepas dari serbuan pasukan pemberontak Han, kini diganggu lagi oleh Genghis Khan!" "Yang Mulia. "

"Erl, sebelum pesta barongsai diadakan, saya akan menghancurkan barbarian Mongol di perbatasan!" "Tapi. "

"Besok saya akan menyuruh Jenderal Gau memutasikan Shang Weng dan Fa Mulan ke daerah selatan perbatasan Tembok Besar!"

"Yang Mulia. "

"Supaya hidup saya bisa tenang!"

Kaisar Yuan Ren Zhan menengadah ke arah jendela dengan daun pintu yang sengaja dipentangkannya untuk berangin-angin. Bulan sabit masih menyampir di layar langit. Beberapa gemintang menggelayut di sampingnya.

Sepasang pedang kembar nova?! batinnya kembali. Ia menggeleng galau.

Ah, rencana apa lagi yang hendak dijatuhkan Dewata kepadanya!

Bab 17 

Hong,

melesatlah ke angkasa

biarlah aku menatapmu sejenak

dan menikmati kepak sayap indah nirwanamu

- Fa Mulan

Refleksi Tinju Hong Terbang

***

"Siapa itu?!"

Fa Mulan melompat dari salah satu binara Tembok besar. Sesaat ia seperti kelelawar di rimba malam, mengepak dan terbang sebelum tiba di tanah. Dikejarnya sesosok berpakaian hitam-hitam yang sedari tadi menyender di dinding Tembok Besar. Matanya jeli menangkap orang yang mencurigakan tadi. Pasti salah seorang jasus musuh! pikirnya.

Sosok hitam-hitam itu melesat. Menapaki udara dengan gingkang. Menjauhi Fa Mulan yang masih gesit mengejarnya, juga dengan menggunakan gingkang seringan kapuk. "Berhenti!"

Fa Mulan menendang dinding Tembok Besar, memantul dan salto, lalu berhenti di depan sosok berpakaian hitam-hitam itu setelah melangkahinya sedepa dari atas udara tadi. Sosok berbadan sedang itu menghentikan langkahnya. Fa Mulan berkacak pinggang di hadapannya. Menahan lajunya yang secepat kijang.

"Mohon jangan menyulitkan saya, Nona!" ancam sosok bersuara bariton itu, melepas kedok hitamnya. "Tentu saja kalau Anda tidak ingin mendapat masalah!"

Fa Mulan menatap mawas.

Wajah lelaki itu menyembul purna. Sepasang mata bundar dan kulitnya yang secoklat jati itu telah menyimpulkan kalau ia bukan berasal dari suku-suku bangsa yang ada di Tionggoan.

"Saya tidak akan menyulitkan Anda bila menjelaskan apa tujuan Anda ke perbatasan Tembok Besar ini!" jawab Fa Mulan dengan sikap bersiaga, masih menentang lelaki berwajah aristokrat tersebut.

"Ini urusan dalam negeri kami, Nona! Saya kira tidak etis apabila Nona mencampuri urusan kami!"

"Tentu saja saya akan ikut campur bila Anda mengganggu stabilitas di wilayah kekuasaan kami!"

"Maaf kalau begitu," sahut lelaki berkostum lotong itu, sedikit membungkuk dengan tangan kanan menyampir punggung bawah, mengisyaratkan hormat. "Saya tidak akan segan-segan lagi terhadap Nona!"

Lelaki itu merangsek maju, mengarahkan telapak tangannya ke arah wajah Fa Mulan. Fa Mulan mengelak, menggoyangkan kepalanya ke kanan bersamaan dengan satu tangkisan tangan kirinya yang membentur keras tinju telapak lelaki itu. Lelaki bertubuh sedang itu melayangkan satu tendangan keras, mencangkul dari arah kiri ke kanan. Namun Fa Mulan sudah mengantisipasi, kembali mengelak dengan gerakan salto satu langkah sehingga tendangan keras itu hanya menerpa angin.

Pertarungan masih berlangsung sengit dan seimbang. Lelaki itu mengeluarkan jurus asing, gerakan tangannya bergerak diagonal, memutar beberapa saat sebelum jurus

tersebut mengokoh dengan kaki membentuk kuda-kuda, seperti menghimpun tenaga dari dalam perut dan menyalurkan tenaga ke dalam kedua tangannya yang berotot. Dalam hitungan sepuluh detak jantung, tiba-tiba lelaki itu mengentakkan sepasang telapaknya ke arah Fa Mulan.

Fa Mulan terdorong tiga tindak ke belakang.

Ia terempas oleh embusan angin tenaga dalam lelaki itu, sebelum akhirnya tubuhnya berhenti dan refleks berdiri stabil dengan jurus Menara Burung Hong-nya, salah satu gerakan dinamis dari jurus Tinju Hong Terbang ciptaannya. Satu kakinya membentuk tongkat galah menahan limbung tubuhnya, seperti cakar burung hong yang mencengkeram erat tanah. Telapak kakinya membekas di tanah. Satu bukti bagaimana kuatnya tenaga dalam lelaki asing itu yang mendorong tubuhnya sehingga bergeser sejauh lima kaki.

Menyadari dirinya terdesak, Fa Mulan pun mengeluarkan jurus andalannya. Tinju Bunga Matahari siap meladeni jurus asing lelaki itu. Tinju Bunga Matahari yang luwes tetapi bertenaga itu memang sepadan untuk melawan tinju-tinju keras semacam itu. Selain karena memiliki serangkaian elastisitas gerakan-gerakan bunga, Tinju Bunga Matahari juga mengandalkan telapak tangan sebagai penumbuk dan penangkis.

Lelaki berkucir sebahu digelung dengan tali ekor rubah itu melemparkan badannya ke udara. Ia bergulung-gulung seperti puting-beliung, menukik tajam horizontal pada tubuh Fa Mulan dengan sepasang kepalan tangan yang mengarah ke bagian kepala. Namun secepat kilat Fa Mulan mengembangkan kakinya, menyelonjorkan punggung betis dan pahanya ke tanah dengan gemulai, otomatis merunduk dari terkaman lawan. Lelaki itu hanya menghalau angin. Sasarannya hampa. Dan ia nyaris terpelanting karena gasingan keras tubuhnya sendiri.

Fa Mulan berdiri dengan gemulai setelah berhasil menghindari serangan dahsyat lawan. Sepasang kakinya menguncup ke atas serupa dua bilah dahan yang-liu yang bergeletar tertiup angin.

Matanya mawas mengekori tubuh lelaki itu yang sudah sampai di tanah, dan berdiri seimbang dengan sikap kuda-kuda.

Fa Mulan mengambil inisiatif untuk menyerang. Diangkatnya sebelah kakinya mencangkung di depan dada serupa kaki belalang, siap mematuk seperti bangau dengan kelepak bentangan sayap tangannya. Tidak lama kemudian, tanpa disangka-sangka lelaki itu kembali mengibas-ibaskan tubuhnya saat Fa Mulan baru saja hendak menyerang. Kali ini ia berputar lebih hebat seolah golok yang sedang mencacah angin.

Fa Mulan meluruskan lengkungan kakinya, menyepak cepat. Namun tendangannya meleset. Hanya terdengar derau embusan. Gelungan kucir lelaki itu terlepas karena sambaran tendangan Fa Mulan yang sangat keras. Rambut lelaki itu terburai. Sementara itu terdengar suara riuh dari kejauhan. Puluhan prajurit Yuan datang menyerbu, langsung dipimpin oleh Shang Weng dari salah satu binara penjagaan di Tembok Besar. Lelaki itu terkesiap. Mengendurkan otot-ototnya. Ia mengatupkan sepasang tangannya ke depan.

"Maafkan saya, Nona!" sahutnya. "Saya sudah menyusahkan Anda."

"Anda siapa?!" tanya Fa Mulan penasaran.

"Saya Kao Ching dari Mongolia. Sebenarnya bukan maksud saya untuk memata-matai kubu Yuan di perbatasan Tembok Besar ini. Tapi, saya hanya ingin tahu seberapa banyak pasukan ayah saya di sini!"

"Pasukan ayah Anda?!" "Pemimpin Agung Genghis Khan!" "Jadi. "

"Saya datang kemari justru bermaksud untuk menghalau mereka kembali ke barak. Saya tidak setuju dengan perang. Perang sudah banyak menyengsarakan rakyat Mongol. Saya yakin, Anda pun pasti sepaham dengan saya, bukan?!"

Fa Mulan terlongong.

Ia mematung sampai prajurit Yuan pimpinan Shang Weng sudah berada lima belas depa darinya. Lelaki yang bernama Kao Ching itu menabik sebelum ratusan prajurit Yuan sampai di tempatnya berdiri.

"Kungfu Anda hebat, Nona!" teriaknya, lalu melesat cepat seperti terbang. Ia menghilang di rimba malam bersamaan dengan melamurnya teriakan pertanyaannya. "Hei, nama Anda siapa, Nona?!"

Fa Mulan masih membeku di tempatnya berdiri. Tetapi spontan tanpa sadar ia menjawabi pertanyaan pemuda aneh yang sesaat barusan bertarung dengannya.

"Saya Fa Mulan, Asisten Kapten di Kamp Utara Yuan!"

Lalu semuanya menghilang begitu saja. Hanya malam yang memekat dalam birama sunyi bertabuh ratusan derap sepatu para prajurit Yuan, serta teriakan-teriakan bising dari kerongkongan mereka yang serupa racau. Lelaki Mongol itu sudah menghilang tak terkejar. 

Fa Mulan masih terlamun.

Sungguh. Ia sungguh-sungguh terkesima. Pemuda Mongol itu merupakan musuh aneh yang seumur hidup baru ditemuinya! Dan ia baru terjaga dari lamunan ketika matanya membentur sebuah belati bersarung emas di tanah. Milik musuh aneh itu. Gegas tangannya memunguti belati yang tercecer itu. Dibantu penerangan lamur bulan yang menggantung di langit, ia dapat menangkap sebaris huruf kanji tergraver di sarung belati tersebut. Fa Mulan menyipitkan mata.

Diejanya tulisan itu. Harafiahnya, 'Rajawali Satu'. Dimasukkannya belati bersarung emas itu ke dalam ikat pinggangnya tepat ketika Shang Weng berdiri di hadapannya. "Kamu tidak apa-apa, Mulan?!" Shang Weng bertanya dengan rupa cemas.

Fa Mulan menggeleng.

Sementara itu ratusan prajurit Yuan memencar mencari sosok yang bertarung dengan atasannya barusan.

Bab 18

Sekawanan rajawali pasir dan batu delima

adalah setapak lafaz nomadia majas maharana sejak itu

tak kudengar lagi derap gagah kuda Mongol hanya ada dengusan napas perana

yang memberat ditelan lara

- Kao Ching Elegi Rajawali

***

"Suku Mongol merupakan paradigma. Ribuan tahun mereka hidup menomad. Mereka mampu mengatasi kerasnya alam utara yang tidak ramah. Mereka membentuk koloni yang luar biasa di tanah tandus gurun. Tapi usaha agresi yang dilakukan Baba tidak dapat ditolerir sebagai pembenaran agar rakyat Mongol dapat memiliki tanah tetap untuk ditinggali!"

"Apa yang dilakukan oleh Pemimpin Agung Genghis Khan merupakan cita-cita rakyat Mongol, Pendekar Kao!"

"Jangan mengatasnamakan rakyat sebagai kolektivitas suara untuk mewujudkan ambisi pribadi!"

Kao Ching mengibaskan tangannya. Tidak lagi bersikap santun di hadapan jenderal kepercayaan ayah angkatnya itu. Kali ini ia sudah tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Mereka semua memang sudah dibahang ambisi.

"Tapi. "

Jenderal Thamu Khan sedikit terkejut atasi sikap sarkastis Kao Ching barusan. Namun ia masih berusaha tersenyum. Tidak larut dalam arus kemarahan. Bagaimanapun, ia sudah menang selangkah!

"Maaf atas kelancangan saya, Jenderal Thamu Khan. Bukan saya mendiskreditkan Baba dalam hal ini. Tapi, apa yang Baba lakukan akan menghimpun dendam pada rakyat Tionggoan!" "Kekuatan armada perang kita sekarang tak terbandingi, Pendekar Kao! Inilah saat yang tepat untuk kembali mendapatkan hak kita. Inilah yang menjadi senjata pamungkas kita untuk merebut tanah Tionggoan! Dan sampai saat ini masih menjadi rahasia di kalangan militer kita, terlebih-lebih militer Tionggoan! Tak satu pun negara yang dapat menyangka kekuatan terselubung Mongol!"

"Justru itulah yang saya takutkan, Jenderal Thamu Khan! Bahwa, dengan kapabilitas lebih yang kita miliki membuat Baba jadi pongah dan jumawa!"

"Sudah ribuan tahun rakyat Mongol tak bertempat tinggal tetap!" "Dalih itu tidak dapat menjadi alasan untuk melakukan pemampasan. Perang akan menghancurkan kedua belah pihak!" "Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi rakyat Mongol dapat hidup menetap dan tenang pada sebuah daerah?"

"Rakyat Mongol tidak pernah mengeluh, dan itu sudah berlangsung ribuan tahun. Kalau kepentingan pribadi sudah merecoki iklim politik Mongol, maka yang terjadi adalah kekisruhan. Perang dan perang!"

"Tapi. "

"Saya ini Mongol meski ibu Han, Jenderal Thamu Khan! Dan seperti rakyat Mongol umumnya, tidak ada yang suka perang! Semua penduduk Mongolia sudah hidup tenang di alam gurun yang keras, beradaptasi sejak turun-temurun. Itu stigma yang sudah mereka mafhumi sejak lama. Jadi, alasan atas nama rakyat Mongol itu hanya absolutisme Baba dan petinggi militer lainnya!" "Mungkin. "

"Saya mohon Jenderal Thamu Khan mengurungkan niat untuk menyerang Tionggoan. Pikirkan matang-matang dampak negatif dari invasi itu. Saya sengaja datang kemari karena saya pikir Andalah orang terdekat dan kepercayaan Baba. Tolong pertimbangkan kembali keputusan untuk menyerang Tionggoan!"

"Keputusan untuk menyerang Tionggoan sudah bulat, Pendekar Kao. Dan hal itu juga merupakan harapan Pemimpin Agung Genghis Khan sejak dulu. Beliau gusar dan geram melihat tingkah suku-suku bangsa lain yang hidup makmur, dan berbuat semena-mena terhadap suku bangsa Mongol ratusan tahun lalu."

"Histori ratusan tahun lalu?! Maaf, Jenderal Thamu Khan! Betapa piciknya kita kalau mengungkit-ungkit kejadian silam, lalu diaplikasikan ke dalam bentuk revans. Hah, dendam?! Seberapa besar dendam masa lalu itu sehingga mampu merusak hati dan pikiran kita?!"

"Tapi. "

"Sampai kapan dendam itu akan bersemayam di hati mereka?!" "Pendekar Kao "

"Dendam tidak pernah akan ada habis-habisnya!" "Tapi. "

"Apa bedanya dengan mereka para korban pampasan nanti?! Mereka juga akan mendendam. Lantas, suatu saat bila ada kesempatan untuk revans, mereka akan balik menyerang Mongolia!"

"Anda masih terlalu hijau, Pendekar Kao!"

"Mungkin. Mungkin saya terlalu muda untuk mendalami pikiran Anda semua, para tetua. Mungkin saya masih belum banyak mengecap asam garam seperti Anda semua. Tapi paling tidak saya memiliki nurani dibandingkan dengan Anda semua yang merasa jauh lebih arif dan tua daripada saya! Saya bisa merasakan bagaimana destruktifnya perang itu!"

Kao Ching meninggalkan tenda atase militer Mongol. Ia keluar dengan langkah gontai. Tidak ada satu pun jenderal yang mendengarkan permohonannya. Terlebih-lebih ayah angkatnya, Genghis Khan!

Mungkin besok atau lusa, perang akan meletus di perbatasan Tionggoan-Mongolia. Ia tak punya daya apa-apa untuk dapat menghalau maharana yang bakal memakan banyak korban tersebut. Perang memang majas yang menakutkan sepanjang zaman.

Ia gamang.

Bab 19 

Angin membawa kebaikan pada taman rebung

dan serumpun lalang di perbatasan adakah lara telah sirna?

angin akan menjawabnya jua

- Bao Ling

Angin Membawa Berkah

***

"Rajawali Satu?"

Bao Ling mengernyitkan dahinya. Memandang belati bersarung emas itu dengan beragam versi kalimat di benaknya. Entah sudah berapa kali dibolak-baliknya belati bermata tajam itu.

Sebilah belati baja berwarna keperakan dengan vinyet sehalus sutra pada sarung emasnya selain huruf kanji berharafiah 'Rajawali Satu'.

"Rajawali Satu. Pasti julukan dalam kemiliteran. Orang Mongol biasanya menggunakan nama-nama julukan sejak lahir," timpal Fa Mulan, mengambil kembali belati berukir huruf kanji itu dari tangan Bao Ling.

"Betul. Temujin memiliki julukan Si Raja Gurun, Genghis Khan. Beberapa petinggi militer mereka juga memiliki nama-nama unik. Biasanya diambil dari nama bebatuan berharga semacam ruby. Jadi. " "Jadi, Si Kao Ching itu pun. "

Bao Ling terlonjak, nyaris terlompat keluar dari dinding bahu Tembok Besar tanpa sadar. "Kao Ching?!"

Fa Mulan mengernyitkan dahi. "Ya. Memangnya kenapa?" "Kao Ching merupakan pendekar terkenal di Kiangsu!" "Pendekar terkenal?!"

"Asisten Fa tidak pernah mendengar kehebatan Kao Ching?" Fa Mulan menggeleng. "Saya terlalu sibuk. "

Sesaat kedua punggawa handal militer Yuan itu terdiam dengan masing-masing benak dipenuhi beragam tanya. Hanya desau angin yang sesekali memecah kebisuan di antara mereka. Fa Mulan yang masih diliputi kebingungan saat bertarung dengan salah satu jasus Mongol, dan Bao Ling yang masih mengamati lamat belati milik musuh yang bertarung dengan Fa Mulan semalam.

"Si Pendekar Danuh!" desis Bao Ling dengan wajah memias, matanya belum lepas dari graver indah pada sarung belati emas tersebut.

Fa Mulan bertanya, mendadak menegakkan kepalanya seperti kobra. "Si Pendekar Danuh?!"

"Dia adalah simbol danuh, pakar dalam hal memanah," terang Bao Ling bersemangat. "Dia merupakan pendekar peranakan Mongol-Han yang sering mengikuti sayembara memanah, yang diadakan pada pesta-pesta akbar para pangeran dan kaisar- kaisar kecil di istana-istana kecil."

"Apakah. "

"Kao Ching adalah anak angkat dari Temujin, Genghis Khan - Si Raja Gurun Mongol!"

"Pantas dia bilang begitu kemarin. "

"Memangnya. "

"Sebelum kabur dari sini, dia sempat mengemukakan alasan keberadaannya di perbatasan Tembok Besar ini."

"Apa itu, Asisten Fa?"

"Dia bilang kalau kehadirannya di Tembok Besar bukan bermaksud memata-matai pihak Yuan. Malah sebaliknya. "

"Sebaliknya?! Sebaliknya. apa maksudnya, Asisten Fa?!"

"Sebaliknya, dia justru datang memata-matai pasukan Mongol!" "Aneh!"

"Justru itulah yang membingungkan saya, Bao Ling." "Padahal. "

"Padahal ayah angkatnya adalah Genghis Khan, salah satu tokoh tertinggi Mongol yang hendak menjatuhkan Dinasti Yuan!" "Makanya. "

Bao Ling kembali mengernyitkan dahinya. Tak merampungkan kalimatnya, mencoba menghimpun buliran waktu silam dalam kenangan di benaknya. Kao Ching tidak terlalu asing dalam hidupnya. Lelaki peranakan Mongol-Han itu pernah bersamanya dalam sebuah sayembara ketangkasan dan prosa, yang diselenggarakan oleh Pangeran Yuan Ren Qing untuk merayakan hari jadi ketigabelas putri sulungnya, Putri Yuan Ren Xie, di Provinsi Kiangsu lima tahun lalu.

"Saya masih bingung dengan ambivalensi sosoknya, Bao Ling," ujar Fa Mulan, sedikit menelengkan kepalanya dengan rupa bingung.

"Saya ingat!" seru Bao Ling keras, sertamerta menegakkan kepala Fa Mulan yang meneleng tadi. "Saya pernah bersamanya dalam sebuah sayembara ketangkasan di Istana Kiangsu."

Fa Mulan mengalihkan tatapannya dari serumpun ilalang yang meranggas di tepi Tembok Besar. "Kamu mengenalnya?" "Tahu. Tapi kami tidak akrab. Kami masing-masing hadir sebagai peserta dalam sayembara di hajatan Putri Yuan Ren Xie, anak sulung Pangeran Yuan Ren Qing yang berulang tahun ketiga belas pada saat itu. Dia mengikuti sayembara memanah dan berkuda, sementara saya mengikuti sayembara prosa dan puisi."

"Tapi dia Mongol, bukan?!"

"Betul. Tapi, ibunya Han. Asisten Fa tahu bukan, kalau suku Han dominan berdomisili di daerah-daerah pinggiran dan perbatasan Mongolia. Jadi meskipun dia Mongol, namun Kao Ching sebetulnya juga masih berdarah Tionggoan. Makanya, setelah beranjak dewasa, dia kembali ikut dengan ibunya di Kiangsu. Dari data intelijen, baru beberapa tahun ini dia pindah kembali ke Ulan Bator dan ikut Temujin. Nah, selama berdomisili di Tionggoan itulah dia kerap mengikuti dan memenangi sayembara memanah. Di situlah awal mula dia dijuluki Si Pendekar Danuh."

"Cuma anehnya. "

"Di situlah letak keanehannya, Asisten Fa. Saya sama sekali buta tentang sosok misteriusnya. Kenapa dia malah menentang rencana perang ayah angkatnya!"

"Justru. "

"Justru itulah yang harus kita selidiki, Asisten Fa!" "Tentu."

"Jangan-jangan. "

"Lebih baik kita selidiki lebih mendetail, Bao Ling. Meraba dengan asumsi malah merunyamkan masalah. Karena ini menyangkut taktik militer. Tentu kita tidak ingin kecolongan lagi, bukan?"

"Tentu, Asisten Fa!" Bao Ling mengangguk tegas. "Atau, apakah pengaruh subtilitas dari ibu kandungnya lebih kuat ketimbang ambisi politik Temujin sehingga dia terpengaruh. "

"Betul!" Fa Mulan sontak menegakkan badannya. Kali ini kalimatnya menyalibi praduga Bao Ling yang terlontar ragu. "Intuisi kebaikan yang terpancar dari seorang perempuan!" "Maksud Asisten Fa. "

"Perempuan diyakini mewakili suara dari langit, Bao Ling. Perempuan di sini yang saya maksud tentu saja ibu kandung Kao Ching. Dan sebagaimana layaknya perempuan biasa Tionggoan, dia pasti juga tidak menyetujui perbuatan segelintir petinggi militer yang bernama perang tersebut."

"Betul, Asisten Fa," Bao Ling mengangguk akur. "Meski dia dipelihara dan dibesarkan oleh Temujin, tapi dia masih lebih dekat dengan ibu kandungnya. Dia itu lebih Tionggoan ketimbang Mongol!"

"Pantas. "

"Dia tidak menyetujui rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan."

"Mungkin karena ibunya orang Tionggoan."

"Salah satu faktor. Tapi, memang bukan perkara mudah menjelaskan alasannya yang terbilang aneh itu, Asisten Fa." "Betul. Pasti ada alasan lain."

"Dan sampai kini masih menjadi misteri bagi kita." "Sungguh aneh!"

"Tapi, apakah itu bukan merupakan taktik Kao Ching agar kita lengah, Asisten Fa?!" "Maksudmu. "

"Maksud saya, dia pura-pura menentang kehendak Temujin menyerang Tionggoan agar kita mengendurkan pengawasan di perbatasan Tembok Besar ini. Membingungkan kita, dan membuat kita bertanya-tanya perihal kontradiksi yang dilakukan oleh ayah-beranak itu!"

"Jadi. "

"Yah, mungkin saja itu strategi mereka, Asisten Fa." "Tapi. "

"Kita mesti waspada."

"Tentu. Apa saja bisa menjadi musuh kita. Kawan bisa jadi lawan. Begitu pula sebaliknya. Lawan bisa jadi kawan. Tapi, tentu saja saya berharap Kao Ching merupakan pihak dalam alternatif terakhir itu. Lawan yang menjadi kawan."

Fa Mulan terbahak.

Bao Ling mengirami tawa kecil sahabat seintelektualnya. Satu- satunya gadis langka yang pernah ditemuinya seumur hidup.

Perombak segala kultur turun-temurun ribuan tahun di Tionggoan!

"Ya, apa saja bisa terjadi dalam peperangan, Asisten Fa," tutur Bao Ling di ujung tawanya. "Tapi, selama bersamanya di dalam ajang sayembara di Kiangsu beberapa waktu lalu, saya memang tidak pernah melihat sosok Kao Ching yang mengarah jumawi. Maksud saya, dia merupakan pendekar yang tergolong defensif, dan sangat menghindari publisitas yang berkembang dalam dunia persilatan. Dia juga tidak tampak pongah ketika menjuarai sayembara memanah tersebut. Meskipun dia introver, tapi sosoknya cukup bersahaja."

"Semalam saat bertarung dengannya, saya merasa tidak sedang berduel dengan musuh. Saya yakin, dia tidak menggunakan seluruh kemampuannya saat berkelahi kemarin. Justru, pertarungan kami kemarin berawal dari saya sendiri. Sayalah yang memicu pertarungan tersebut. Sayalah yang mendesaknya agar mau membeberkan identitas dirinya sehingga dia terpaksa meladeni saya berkelahi karena menolak."

"Pendekar langka."

"Salah satu pendekar paling unik yang pernah saya tahu." "Betul, Asisten Fa. Dia seperti perpaduan harmonis alam gurun yang buas dengan keindahan selatan Tionggoan.

Ketangkasannya berkuda sembari melesatkan anak panah ke titik sasaran danuh merupakan keterampilan yang tiada tara." "Hebat!"

"Konon dia juga dapat melesatkan sekali anak panah dengan dua sasaran rajawali di udara kena sekaligus jika sejajar seiringan. "

"Hah?!" "Makanya, dia dijuluki Si Pendekar Danuh."

"Kalau begitu, saya termasuk orang yang beruntung dapat bertarung dengannya kemarin, Bao Ling."

"Padahal, dia jarang mau bertarung!" "Oya?"

"Buktinya, dia tidak pernah mau mengikuti sayembara duel yang diselenggarakan sekaligus dengan sayembara memanah dan prosa."

Fa Mulan menikmati semilir angin yang bertiup dari bukit menyusur lembah perbatasan Tembok Besar. Sejenak dibiarkannya pipinya tertampar, enggan mengalihkan kepalanya dari serbuan angin. Gelungan rambutnya yang sebahu bergoyang-goyang, beberapa helai bilah rambutnya yang kecoklatan itu melambai-lambai. Dari kejauhan ia tampak anggun dengan pedang Mushu-nya yang kali ini menyampir di pundaknya.

Diam-diam Shang Weng melihatnya terpesona.

Sejak pertengkaran mereka seminggu lalu, memang ada jarak yang mengantarai mereka. Hubungan mereka tak lagi seakrab dulu. Shang Weng menyesal. Kadang-kadang ia menyadari dirinya memang terlalu kekanak-kanakan, egosentris, serta terlalu mementingkan gengsi dan harga diri.

"Jadi bagaimana dengan belati itu, Asisten Fa?" tanya Bao Ling, melirik belati bersarung emas yang menyampir di ikat pinggang Fa Mulan.

"Kalau berjodoh, belati rajawali ini pasti akan kembali lagi ke tangan Kao Ching."

Bab 20

Samir ambisi

adalah ambigu bencana Tuan dan Puan dengar

dunia bukan tempat menumpah darah awal mulakat manusia dengan yaumudin

- Bao Ling

Titah Sang Naga

***

"Pasukan Han terpukul mundur, Khan Agung!" Lelaki berbadan gempal itu berdeham.

Sesaat matanya tak bergerak menatap jenderal ringkih di hadapannya. Selang berikutnya ia kembali asyik membersihkan pedang sabitnya yang sudah lama tak terpakai, menyingkirkan debu yang sudah menyelubung tipis di sekujur sarungnya. "Khan Agung. "

"Jenderal Thamu, saya percayakan pergerakan militer Mongol selanjutnya kepadamu!" Satu anggukan membalasi kalimat Genghis Khan.

Lelaki separo baya itu takzim mengakuri. Ia sudah mendapat legitimasi untuk mengambil langkah-langkah cepat menaklukkan Tionggoan. Namun sayang tindakannya untuk menyerang Tionggoan dihalang-halangi oleh Kao Ching, anak angkat Pemimpin Tertinggi Mongolia, Genghis Khan!

"Ada masalah, Jenderal Thamu?"

Seperti bertepuk dua tangan, jenderal bertubuh kurus itu sontak mengangguk. Membungkukkan badan dengan sebilah tangan kanan yang menyampir di punggung bawah, menghormat lazimnya kaum nomad Mongol bertutur laku dalam santun. "Maaf, Khan Agung. Saya tidak berani mengatakannya!" sahutnya, sebuah usaha basa-basi berefek bola salju.

Mendatangkan serangkaian pertanyaan sebagai tawar penasaran.

Genghis Khan menghentikan aktivitasnya.

Diletakkannya senjata kesayangannya itu di atas meja. Menatap sepasang mata balar jenderal tua yang sudah mengabdi kepadanya sejak masih remaja. Seperti domba tua, ia tidak punya kapabilitas apa-apa lagi selain sejumlah jasa pengabdian dan loyalitas yang mengandili armada raksasa Mongolia.

"Ada apa sebenarnya?!"

"Maaf, Khan Agung. Saya belum berani menyerang perbatasan Tembok Besar karena masih terganjal kendala interen!" "Jenderal siapa yang tidak sepaham denganmu?!"

"Tidak ada, Khan Agung. Semua jenderal sudah sepakat untuk menyerang. Namun. "

"Kenapa?!"

"Ananda Kao Ching masih belum sepakat. "

"Kao Ching?!"

"Maaf, Khan Agung. Mungkin Ananda Kao Ching masih terlalu muda terlibat dalam militer sehingga belum memiliki keberanian untuk bertindak. Ananda Kao Ching masih belum manda melihat pertumpahan darah!"

Genghis Khan menggabruk meja. "Dalih apa yang bikin dia kemayu begitu?!"

"Maaf, Khan Agung."

"Selalu saja ada penghalang!"

"Saya pikir, Ananda Kao Ching mungkin punya alasan sehingga tidak ingin menyerang. "

"Tidak bisa!" Genghis Khan kembali menggabruk meja sampai pedang sabitnya turut terempas dan mendentam di meja. "Sampai kapan kita harus menunggu?! Sudah ribuan tahun bangsa kita dijajah oleh kesombongan Tionggoan!"

"Tapi. "

"Demi langit dan bumi, tidak ada yang dapat menghalangi Genghis Khan!" teriak Genghis Khan dengan mata memicing. "Siapa pun orangnya!"

"Ananda Kao Ching. "

"Keparat!" bentak lelaki bernama kecil Temujin itu. "Kao Ching terlalu menyanjung tanah kelahiran ibunya - Kao Niang!" "Mungkin. "

"Perempuan itu telah meracuni otak Kao Ching!" "Mungkin. "

"Saya menyesal, rajawali itu tumbuh jadi nasar!" "Mungkin. "

"Jenderal Thamu, eksekusikan segera penyerangan. Apa pun yang terjadi!"

"Tapi. "

"Jangan pedulikan amanat Kao Ching. Hari ini juga saya akan memanggilnya ke Ulan Bator, mencabut mandatnya sebagai Asisten Panglima Perang Mongolia."

"Baik, Khan Agung!"

Jenderal Thamu Khan menabe.

Ia meninggalkan tenda induk Panglima Tertinggi Mongolia itu. Ia sudah diberi mandat penuh untuk melaksanakan penyerangan. Tinggal menunggu hari yang tepat saja, maka kurang lebih setengah juta pasukan Mongolia akan menyerbu Tionggoan. Kao Ching tak lagi memiliki legitimasi untuk membatalkan penyerangan. Ia tersenyum picik. Kali ini Kao Ching akan tersingkir, dan ia bakal memegang tampuk kepemimpinan Mongolia setingkat di bawah Genghis Khan. Anak angkat Temujin itu sudah tersingkir.

Ia terbahak.