-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 02

Jilid 02

Bab 05

Biarkan aku di sini

di ujung golok para algojo

lalu merunduk melutut menatap tanah ini tanah yang akan kutetesi darah

dari tubuhku yang ringkih barkan aku gugur serupa helai yang-liu yang rontok demi kebenaran

- Fa Mulan

Refleksi pada Sebuah Eksekusi

***

Fa Mulan menikmati bakpao terakhirnya dengan lahap. Bakpao itu terbuat dari tepung gandum berkualitas rendah. Kekuning- kuningan dan berbau apak. Biasanya berisi daging babi cincang. Tetapi kali ini negara tengah menghadapi kesulitan sehingga para prajurit hanya dijatahi beberapa buah bakpao yang berisi jenang kacang hijau. Tidak terlalu lezat dan bergizi. Tetapi ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu kalau perutnya sudah kelaparan di medan peperangan.

Setelah Shan-Yu membelot ke kaum pemberontak Han, Kekaisaran Yuan mulai mendapat masalah serius. Menurut data intelijen Yuan, setengah dari rahasia negara telah jatuh ke tangan Han Chen Tjing, pemimpin pemberontak yang ingin mendirikan dinasti baru dengan meruntuhkan Dinasti Yuan di bawah kepemimpinan Kaisar Yuan Ren Zhan. Dan tak dapat disangkali bahwa Shan-Yu-lah yang memiliki andil besar raibnya data penting negara tersebut.

Lalu kini ia mulai menggalang kekuatan di kubu pemberontak Han dengan membeberkan kelemahan-kelemahan militer Yuan. Selain data-data urgensi negara Yuan yang raib, persediaan logistik pangan kemiliteran seperti beras dan gandum bermutu bagus untuk prajurit-prajurit Yuan pun telah berpindah tangan ke kaum pemberontak Han. Pada saat musim salju, prajurit-prajurit Yuan tidak mendapat suplai makanan yang memadai. Lumbung logistik Yunan hanya dapat menyuplai gandum dan beras berkualitas rendah untuk jangka waktu yang tidak lama. Semua itu karena ulah batil Shan-Yu selama menjadi wedana di sana.

Kaisar Yuan Ren Zhan memang telah kecolongan. Memelihara seekor harimau yang perlahan-lahan menerkam tuannya sendiri! Fa Mulan masih menyendiri.

Ia duduk di dekat unggun yang sudah nyaris redup, menyisakan bara dari kayu yang sudah mengarang. Dihelanya napas panjang. Gemintang di atasnya masih berkelap-kelip.

Dipandanginya satu bintang yang paling benderang di belahan langit barat. Semasa kanak-kanak dulu, bintang tersebut selalu bercokol pada petang hari di situ. Bahkan ia pernah menamai bintang yang, sebenarnya Planet Venus tersebut dengan nama Mata Dewa. Sudah beberapa hari ini ia tidak dapat tidur. Galau memikirkan nasib prajurit-prajurit yang terbantai. Juga pasukan pemberontak Han yang tinggal menghitung hari untuk dapat merebut daerah dan perbukitan Tung Shao. Dipandanginya manuskrip dari Jenderal Gau Ming yang masih digenggamnya. Diserahkan Bao Ling senja tadi. Lima hari menjelang prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh akan tiba membantu prajurit Divisi Infanteri Kamp Utara. Fa Mulan menggeleng sedih. Terlambat. Shang Weng juga sudah terluka parah. Tidak dapat berbuat banyak untuk menghalau pasukan pemberontak Han yang semakin mengganas.

"Apa yang meresahkan Anda, Asisten Fa?"

Bao Ling menyibak daun tenda, tampak menongolkan kepalanya. Ia keluar dari tendanya. Menghampiri Fa Mulan yang masih duduk di salah satu tebangan batang pinus. Sejak Fa Mulan diangkat oleh atase militer Yuan sebagai asisten Kapten Shang Weng, sahabat-sahabatnya - baik yang sudah menjadi Prajurit Madya maupun yang masih berstatus prajurit landai - memanggilnya dengan 'Asisten Fa'. Sebuah panggilan formal dalam kemiliteran Kekaisaran Yuan. Fa sendiri adalah nama marga Fa Mulan.

Fa Mulan tidak menggubris. Ia benar-benar resah. Mungkin besok atau lusa mereka akan tertawan oleh Shan-Yu.

Dipandanginya kembali gemintang di atas langit kelam setelah mendongak sebagai bentuk kegelisahannya.

Bao Ling masih menegur pelan. "Asisten Fa. "

Namun belum ada sulih atas sapanya yang melantun di antara bunyi kerak unggun tadi. Bao Ling turut duduk di ujung batang pinus yang lembab berambun tanpa berpikir untuk mengganggu dengan sapanya yang satin meski ia prihatin. Hanya dipandanginya wajah keras gadis asal Chengdu itu. Maharana memang telah menuakan rona manis parasnya. Beberapa kerut- merut yang membentuk garis di sekitar kantung matanya membuktikan perjuangan yang telah dilewatinya dengan keras. "Tidurlah. Kamu memerlukan istirahat yang cukup. Lima hari lagi pasukan pemberontak Han pasti sudah sampai di sini. Kita mesti punya cukup tenaga untuk melawan mereka," balas Fa Mulan akhirnya, tanpa menoleh. Ia menyimak lidah unggun yang sesekali menggemeretak dan menimbulkan lelatu kecil.

"Justru Andalah yang seharusnya perlu banyak beristirahat. Sudah tiga hari ini saya lihat Anda tidak pernah tidur," tolak Bao Ling sembari melembar sebilah kayu bakar ke lidah unggun.

Fa Mulan mengembuskan napas keras. "Saya sedang memikirkan taktik apa untuk dapat menaklukkan mereka!" "Tapi, tidak seharusnya Anda yang memusingkan urusan strategi pertahanan seperti itu, Asisten Fa. Bukankah itu urusan para jenderal di Ibukota Da-du?" sanggah Bao Ling, kembali melemparkan sebilah kayu bakar ke lidah unggun.

Fa Mulan tersenyum sinis. Salah satu ujung bibirnya terangkat sedikit ke atas. Dan ia menatap sepasang mata sipit Bao Ling dengan mimik protes setelah menoleh ke wajah tirus tersebut. "Jenderal?!" tanyanya, juga dengan nada sinis. "Kalau memang itu urusan mereka, tentu kita di sini tidak akan terjebak menunggu maut menjemput!"

"Tapi. "

Fa Mulan berdiri dari duduknya. Dielusnya spontan gagang pedang bersarung embos naga yang tersampir di pinggangnya. Mushu, pedang pusaka para leluhurnya. Itulah pedang turun- temurun yang secara satria pernah dipakai oleh para leluhurnya untuk membela Negeri Tionggoan. Terakhir sebelum dipakainya, pedang itu pernah menyertai ayahnya dalam perang saudara di Tionggoan. Sampai suatu ketika ayahnya terluka parah dalam sebuah pertempuran. Mengalami cacat permanen pada kaki kirinya akibat tebasan pedang musuh. Pincang. Lalu meletakkan pedangnya di meja hyang para leluhur Fa.

"Bao Ling, sampai mati pun saya tetap akan berusaha menaklukkan pasukan pemberontak Han pimpinan Jenderal Shan-Yu itu!"

Prajurit yang juga merupakan penyair itu menggigit bibir. Ia tahu loyalitas Fa Mulan terhadap Kekaisaran Yuan. Ia tahu dedikasi macam apa yang telah diaplikasikannya selama menjadi prajurit wamil. Fa Mulan merupakan satu-satunya orang berjiwa heroik yang pernah dikenalnya, bahkan melebihi para jenderal yang berada di belakang meja strategi!

"Tapi, tidak sepatutnya Anda yang memikul semua tanggung jawab ini!"

"Semestinya! Tapi, di mana nurani saya bila melepaskan tanggung jawab di Tung Shao ini, sementara prajurit-prajurit Yuan sahabat-sahabat kita tumbang satu per satu, terbantai di zona tempur ini!"

Bao Ling terdiam.

Sahabatnya, Fa Mulan, adalah prajurit paling tangguh yang pernah diakrabinya. Ia pantang menyerah. Berbekal dari replikasi semangatnya itu pulalah sehingga ia mengurungkan niatnya kabur dari Kamp Utara, pulang ke rumah istananya yang damai di Ibukota Da-du. Menjalani hari-harinya sebagai sastrawan yang berkutat dengan kuas dan kertas. Bukannya pedang yang setiap hari dilumuri darah!

Patriotisme macam apa yang dimilikinya bila lari dari kenyataan?!

"Bao Ling, saya bukan menyesali kenapa harus terlibat dalam perang ini! Kenapa harus terjebak menunggu ajal di tempat sedingin ini. Bukan. Bukan itu semua. Tapi yang saya sesali adalah, lambannya para jenderal untuk bertindak menyelamatkan situasi. Para jenderal di pusat sangat egosentris! Mereka lebih mementingkan menyelamatkan aset- aset dan kekayaan pribadi mereka saja. Padahal, kamu tahu, di sini kita sudah terkepung. Dan mungkin besok atau lusa kita sudah berada di ujung golok penggal algojo musuh!"

Bao Ling menundukkan kepalanya.

Didengarnya isi hati Fa Mulan dengan takzim. Ia mengangguk tanpa sadar. Para pejabat di Istana Da-du memang selalu mementingkan dirinya sendiri. Buktinya, permintaan Fa Mulan dan Shang Weng agar militer pusat mengirimkan bala bantuan prajurit Divisi Kavaleri Danuh tidak diindahkan. Dan baru mengirimkan bantuan tersebut setelah situasinya tidak memungkinkan lagi!

Sudah terlambat!

"Jadi, apa yang akan kita lakukan besok, Asisten Fa?!"

"Kita bertempur habis-habisan. Lebih baik mati syahid di sini ketimbang kembali ke Ibukota Da-du dengan wajah tercoreng malu!"

"Ja-jadi, maksud Anda® Anda tidak mau mundur?!"

"Kalau saya ingin mundur, sejak mula dalam perekrutan wamil dulu saya sudah melarikan diri!"

"Ta-tapi, bukankah dengan memaksakan diri bertahan sama juga dengan bunuh diri, Asisten Fa?!"

Fa Mulan mengusap wajahnya.

Bibirnya terkunci. Pertanyaan Bao Ling barusan menohok hatinya. Mengurai serangkai ragu yang membabur. Jujur diakuinya kalau sekarang ia memang tengah putus asa. Hanya menanti ajal menjemput!

Tiga ratus ribu pasukan pemberontak Han akan merayapi Tung Shao! Sebuah kekuatan mahabesar yang akan memporak- porandakan Kamp Utara, yang saat ini hanya memiliki jumlah prajurit tidak lebih dari seperempat pasukan pemberontak Han! Ia kembali mengusap wajah.

Angin yang bertiup semilir dari puncak bukit menggeraikan rambutnya yang sudah sedikit memanjang. Ia selalu memotong pendek rambutnya untuk menyamarkan identitas keperempuanannya. Tetapi sekarang tidak perlu lagi. Karena semua pejabat dan jenderal Yuan sudah mengetahui kalau Fa Mulan ternyata seorang perempuan.

Langit timur sudah sedikit menerang. Jingga baur di horizon kelam semakin menggalaukan hatinya. Mudah-mudahan pasukan pemberontak Han kesulitan meniti bukit licin bersalju besok, harapnya. Persediaan amunisi dinamit sudah habis.

Sudah tiga bulan bahan peledak itu efektif menghambat laju pasukan pemberontak Han. Sekarang persediaan dinamit itu tidak dapat disuplai lagi karena Jenderal Gau Ming lebih memilih menghemat dinamit tersebut untuk dipergunakan mempertahankan Ibukota Da-du dari serangan musuh suatu saat.

Pandangannya mengabur oleh tabir uap salju yang mengkristal di hamparan bukit Tung Shao. Tenda-tenda masih berdiri, dinding-dindingnya yang terbuat dari kulit kempa lembu tampak hitam keperakan disinari cahaya bulan, yang muncul separo simetris di atas kepalanya. Disandarkannya matanya ke istal tenda. Beberapa ratus ekor kuda prajurit mungkin juga sudah terlelap karena kelelahan.

Ia menghela napas pendek.

Banyak kuda yang mati terkena tombak pasukan pemberontak Han yang sepanjang ular sawah. Senjata sederhana namun sangat efektif melumpuhkan lawan dari jarak jauh pada saat bertarung jarak dekat.

Bagaimanakah keadaan Khan? Ia mengusap wajah.

Khan sudah cukup menderita selama ini. Khan merupakan pahlawan keluarganya. Ia telah banyak berjasa menyertai beberapa peperangan yang dilalui ayahnya selama menjadi prajurit kekaisaran dari generasi kedua Yuan. Dan sekarang, Khan-lah yang menyertainya membela Kekaisaran Yuan dari generasi ketiga. Mengiringi langkahnya ke mana saja.

Bersamanya dalam suka dan duka.

Setelah ayahnya, Khan kuda tuanya itu merupakan makhluk yang paling dicintainya. Bahkan melebihi ibunya! Kuda hitam itu telah berjasa menyertai perjalanan hidupnya. Selama ia masih kanak-kanak sampai ia menjadi prajurit wamil. Ah, entah kapan Khan dapat beristirahat dengan tenang, dan tidak terlibat dalam medan peperangan lagi!

Dan....

"Siapa bilang begitu?!" Fa Mulan berkacak pinggang seperti kebiasaannya. Mengurai senyum sumringah. Ada satu keyakinan teguh yang terpancar di wajah tirusnya. "Tentu saja kita tidak akan mati sia-sia!"

"Maksud Anda?!"

Entah dari mana datangnya ide taktik yang secerlang gemintang di langit. Ia masih tampak tercenung dengan wajah sumringah. Seolah tidak percaya atas apa yang melintasi benaknya sendiri barusan. Sama sekali tidak menyangka akan mendapat ilham agung dari Dewata. Rupanya, para leluhur Fa masih menyertai langkahnya!

Ayah juga masih mendoakan keselamatannya!

"Bao Ling, sekarang kamu kebut kudamu ke Istana Da-du! Minta Jenderal Gau Ming untuk mengumpulkan semua kuda yang ada di Ibukota Da-du dan sekitarnya. Kalau perlu suruh Jenderal Gau Ming menyisir semua istal dan peternakan kuda yang ada di perbatasan Mongolia Setelah itu, kirim segera kemari. Secepatnya!" "Un-untuk apa?!"

"Jangan banyak tanya! Cepat laksanakan! Ini perintah atasan!" "Tapi. "

"Eit, tunggu!"

Fa Mulan berlari masuk ke tendanya. Di dalam, ia langsung menggabruk rehal untuk menulis manuskrip yang akan disampaikan Bao Ling kepada Jenderal Gau Ming. Dirogohnya sebuah kotak persegi panjang dari tas kulit rusanya.

Dikeluarkannya asbak tinta yang terbuat dari batu granit, juga pit dan selembar kertas berwarna putih kekuning-kuningan.

Dalam penerangan pelita berbahan bakar minyak samin di sebuah wadah perak berbentuk teratai, tangkas tangannya yang jenjang membubuhkan huruf kanji di atas kertas setelah mencelupkan pit ke asbak tinta. Ia tersenyum setelah selesai menuliskan pesan untuk Sang Jenderal. Keluar dengan wajah sumringah. Diceritakannya taktik kamuflase yang akan menjadi penangkal serbuan musuh begitu tiba di hadapan Bao Ling.

Hanya beberapa patah kata saja, Bao Ling sudah dapat menangkap makna siasat yang membutuhkan banyak kuda tersebut. Ia mengangguk paham. Diam-diam mengagumi kecerdikan Fa Mulan.

"Saya tidak ingin membuang-buang waktu untuk menjelaskan siasat apa yang menjadi gagasan saya ini kepada para atase militer di Ibukota Da-du. Kita sudah terdesak. Nanti saya akan menjelaskan segalanya. Jadi, sekarang tugas kamu adalah mengirim kawat ini segera," jelas Fa Mulan sembari mendesak, dan menyodorkan gulungan kawat yang ditulisnya barusan begitu tiba di hadapan Bao Ling, yang masih berdiri dengan rupa terlongong. "Tolong sampaikan cepat! Ini menyangkut nyawa ratusan ribu prajurit Yuan. Juga jutaan rakyat Tionggoan!" "Tapi. "

Tak ada gubrisan sebagai tanggapan. Hanya kibasan tangan Fa Mulan yang terayun, dan membungkam kalimat Bao Ling yang separo terlontar.

"Nah, berangkatlah! Hati-hati!"

Prajurit kurus bertubuh tinggi itu memacu kudanya seperti terbang. Derap-derap langkah kaki kudanya terdengar riuh membelah keheningan dini hari di Tung Shao. Menjauh dan menghilang ketika horizon di belahan timur sudah menjingga.

Bab 06

Mungkinkah ini semua hanya mimpi? ketika gulita membenderang

dengan sinarnya yang virtual

dan menyajikan sepenggal legenda seperti lektur berenigma yang tak terjangkau akalku Aku menjerit pada malam elegi ini menyakitkanku

mengiringku dalam labirin tanpa jawab hingga jasadku hilang dalam belantara ini Oh, kekasihku yang majas

adakah engkau atau tiada?

- Bao Ling

Kekasihku yang Majas

***

Pertempuran di perbatasan Tung Shao masih berlangsung sengit. Karena kehabisan dinamit, Fa Mulan terpaksa bergerak taktis dan manualistik. Gelindingan bongkahan kristal salju yang mengarah cepat dan menurun ke arah bawah setelah dilontarkan dari arah atas bukit, dijadikan senjata pelumpuh.

Meski sama sekali tidak efektif, namun semuanya dimaksudkan untuk menghalau dan mengacaukan pergerakan pasukan pemberontak Han.

Tetapi hal itu tidak terlalu banyak membantu. Hanya dapat menghambat laju musuh untuk satu-dua hari saja. Fa Mulan masih menunggu kiriman ribuan kuda yang dimintanya dari Ibukota Da-du untuk menerapkan taktik kamuflasenya. "Shan-Yu sudah bergerak cepat, dan kini maju lima belas mil dari perbatasan!" teriak Chien Po gemas. Ia masih menghimpun prajurit-prajurit bawahannya untuk menggali terus bongkahan- bongkahan salju.

"Hambat mereka saja! Kita masih menunggu Bao Ling yang akan membawa kuda-kuda itu!"

"Tapi, prajurit kita di garis depan sudah habis! Saya tidak tahu apakah Yao masih hidup atau tidak, Asisten Fa!"

Hujan salju masih turun di Tung Shao. Fa Mulan merapatkan baju hangat tebal serupa jubah dari perca kulit rubahnya.

Ditangkupinya kepalanya dengan tudung stola dari bulu binatang serupa. Sementara itu Chien Po, sahabatnya semasa wamil masih berteriak-teriak panik, memerintah prajurit-prajurit bawahannya yang tampak kelelahan. Prajurit Madya yang berbadan raksasa itu turut memikul beberapa bongkahan salju yang berat-berat, mengangkutnya dengan lori, lalu digelindingkannya dari gigir bukit.

"Yao sudah seharian di perbatasan! Saya khawatir dia. "

"Chien Pao, jangan gegabah!"

"Tapi, saya harus menyelamatkan dia!"

"Shan-Yu sangat berbahaya. Kapten Shang Weng yang berpengalaman saja belum mampu menandinginya!" "Tapi. " Chien Pao membuang gelondongan salju yang tengah dipikulnya. Ia hendak melangkah, menuruni bukit ke perbatasan Tung Shao, menyusul Yao di zona tempur depan. Fa Mulan menghentikan langkah prajurit berbadan raksasa itu.

Rasionalitas kalimat yang berdenyar di benaknya sontak menggerakkan tangannya meraih pundak bidang Yao.

Ditahannya langkah prajurit raksasa itu pada satu titik di tengah hamparan salju.

Prajurit Madya berbadan besar itu berbalik dengan menahan geram yang menggemeletukkan gerahamnya. Sepasang tangannya masih mengepal ketika Fa Mulan menarik kerah seragamnya. Ditatapnya nanar sepasang mata bola yang memicing di hadapannya. Mungkin gadis itu benar. Memang sangat berbahaya bila ia turun ke bawah bukit, berhadapan langsung dengan Shan-Yu. Apalagi ia bakal dihadang oleh ratusan ribu pasukan pemberontak Han.

"Kapten Shang Weng tidak bakal terluka parah bila Shan-Yu bukan pendekar hebat!"

"Yao. "

"Mudah-mudahan dia tidak apa-apa!"

Fa Mulan melepaskan cekalannya. Chien Po mengendur. Mundur setindak ke belakang. Ia menundukkan kepala, seperti menyesali keputusannya yang babur. "Kita tunggu sampai Bao Ling datang membawa bala bantuan!" Fa Mulan memejamkan mata.

Disesalinya Yao yang turun dari bukit fajar tadi. Prajurit Madya berbadan kekar itu memang tidak dapat menahan emosi dirinya. Tanpa sepengetahuannya, bersama beberapa ratus prajurit tangguh, ia turun dari bukit. Menghadang pergerakan pasukan pemberontak Han. Semalam Fa Mulan memang bertengkar dengan Yao.

Yao menilai Fa Mulan terlalu lamban bergerak sehingga musuh dapat kembali menghimpun kekuatan. Ketika mereka masih memiliki banyak persediaan dinamit, Fa Mulan tidak bertindak tangkas mengejar pasukan pemberontak Han yang mundur beberapa mil dari perbatasan Tung Shao. Fa Mulan menolak menekan musuh karena sama sekali belum tahu seberapa besar sebenarnya kekuatan musuh. Shan-Yu mundur dari perbatasan bukan karena sudah melemah. Mungkin saja itu taktik untuk menjebak prajurit-prajurit Yuan yang turun bukit mengejar dan menyusul mereka. Apalagi pihak Yuan tidak memiliki data intelijen yang akurat. Data-data intelijen yang lama bisa saja invalid. Aktualisasi di lapangan memang berbeda dengan di atas kertas!

Karena inakurasitas data intelijen Yuan itu pulalah sehingga Shang Weng terluka parah. Sewaktu mereka membombardir pihak musuh dengan dinamit, beberapa data intelijen menyebutkan kalau Shan-Yu sudah kewalahan dan mundur dari zona tempur.

Berbekal dari data itu juga maka Shang Weng turun bukit, bermaksud mengambil alih kembali kantong-kantong yang pernah diduduki musuh. Tujuannya adalah untuk membebaskan rakyat dari kekangan musuh, juga agar dusun-dusun yang dulu dikuasai oleh Shan-Yu itu dapat dijadikan lumbung logistik untuk para prajurit Yuan.

Namun pada kenyataannya, praduga itu meleset. Bahkan tindakan Shang Weng yang turun bukit nyaris menghilangkan nyawanya sendiri. Di bawah bukit, pasukan pemberontak Han sama sekali belum mundur. Pasukan pemberontak Han lalu mengurung Shang Weng dan prajurit-prajuritnya. Mereka akhirnya terjebak di dalam pertempuran-pertempuran dusun, yang pada akhirnya banyak menelan korban dari pihak Yuan. "Yao keras kepala!" sembur Fa Mulan gusar. Dielus-elusnya kembali gagang Mushu-nya seperti kebiasaannya jika tengah resah.

"Bantuan dari pusat belum datang!" Chien Po turut gusar. "Itu yang bikin kita mati di sini!"

"Betul! Jenderal Gau Ming terlalu lamban!"

"Jenderal Gau Ming terlalu menganggap remeh sebuah masalah."

"Hal yang banyak menghancurkan dinasti-dinasti pendahulu!" sesal Fa Mulan berkacak pinggang, mengawasi prajurit-prajurit yang masih mengangkuti bongkahan salju. "Rupanya Kaisar Yuan Ren Zhan tidak belajar dari pengalaman sejarah!" "Makanya orang jahat seperti Jenderal Shan-Yu selalu memanfatkan kesempatan mengail di air keruh!"

"Kalau semua orang memiliki hati sebusuk Jenderal Shan-Yu, entah apa jadinya dengan dunia ini!"

"Dan seandainya saja semua orang memiliki hati sebaik Asisten Fa, betapa damainya dunia yang kacau-balau ini!"

Fa Mulan tersenyum mendengar sanjungan Chien Po. Chien Po merupakan sahabat yang bersahaja. Meskipun tubuhnya sebesar gajah, tetapi hatinya lembut seperti salju. Halus seperti sutra. Dalam masa-masa berat pelatihan militer di Kamp Utara dulu, Chien Po-lah yang paling banyak membantunya.

Sumbangsih tenaga besar Chien Po jugalah yang kerap meringankan beban hukumannya lantaran dianggap membangkang perintah atasan - diam-diam Chien Po sering membantunya mengangkati karung-karung pasir ke zona-zona tempur sebagai sanksi hukuman.

Chien Po adalah anak sulung pasangan petani di Yunan. Ia memasuki kehidupan militer sesuai amanat Kaisar Yuan Ren Zhan yang berkuasa di Dinasti Yuan, yang mengharuskan setiap keluarga mewakilkan seorang laki-laki untuk menjalani wajib militer. Selain karena mewakili Keluarga Chien menjalani kewajiban kenegaraan tersebut, ia juga menyimpan dendam lama terhadap Han Chen Tjing - pemimpin pasukan pemberontak Han.

Menurutnya, Han Chen Tjing merupakan musang berbulu domba. Ia menghasut rakyat jelata untuk memberontak terhadap Kekaisaran Yuan. Memaparkan segala kebobrokan pemerintah yang korup dan tiran. Padahal, semua itu merupakan ambiguitas ambisinya yang terselubung untuk menduduki takhta kekaisaran. Ia membodohi rakyat miskin di pedesaan. Juga merampas dan merampok tanah serta harta benda beberapa rakyat jelata melalui kaki-tangannya, Kelompok Topeng Hitam. Keluarga Chien Po termasuk salah satu korban lelaki ambisius tersebut.

Sawah ayahnya yang hanya sepetak dirampas untuk dijadikan sangu membentuk sebuah milisi.

Chien Po mendaftarkan dirinya sebagai prajurit di Kamp Utara tepat bersamaan dengan Fa Mulan, Yao, dan Bao Ling.

Karenanya, mereka bagai pinang yang dibelah empat. Masing- masing bahu membahu menjalani kerasnya kehidupan di barak militer dalam suka maupun duka, dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Di dalam Kamp Utara, selain Shang Weng, Fa Mulan-lah yang kerap dianggap sebagai pemimpin para prajurit. Ia mewakili para prajurit menyampaikan gagasan, juga kritikan yang dianggap merugikan mereka. Selain karena cerdas dan gigih, Fa Mulan juga dianggap jujur menyikapi suatu masalah. Ia arif menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan bentrok fisik di antara para prajurit. Ia juga sangat berani mengungkapkan kebobrokan dan penyimpangan beberapa pejabat militer di Kamp Utara.

Lantaran sikap kritisnya itulah maka Fa Mulan selalu berselisih paham dengan beberapa atase militer. Bahkan beberapa kali pula ia berduel dengan Shang Weng karena silang pendapat. Fa Mulan sama sekali tidak takut dieliminasi dari kemiliteran, atau menjalani serangkaian hukuman yang tidak ringan karena dianggap indisipliner - membangkang perintah atasan.

"Kapan bala bantuan itu tiba, Asisten Fa?"

Chien Po bertanya, menggugah lamunan Fa Mulan yang masih terkesima melihat pasukan musuh serupa sekawanan semut merah, yang merombong masuk ke perbatasan Tung Shao. "Seharusnya siang ini!"

"Tapi, saya khawatir Bao Ling yang membawa kawat ke Ibukota Da-du di hadang di tengah perjalanan oleh jasus pasukan pemberontak Han, Asisten Fa!" Chien Po mengurai kekhawatirannya. "Kita semua akan mati kalau kawat itu ternyata belum sampai di Istana Da-du!"

"Bao Ling prajurit tangguh." "Tapi. "

"Saya yakin kemampuan Bao Ling. Jangan khawatir. Dia pasti sudah menyampaikan kawat yang saya tulis itu kepada Jenderal Gau Ming, dan tiba dengan selamat di sini!"

Bao Ling merupakan prajurit berdeterminasi tinggi.

Pemuda bertubuh jangkung itu memiliki banyak keahlian sebagai saka diri. Selain berilmu silat tinggi, ia juga cendekia serta memahami banyak prosa dan epik para sastrawan di Tionggoan. Setahun mengabdi di Kamp Utara , ia sudah diangkat sebagai kurir penghubung antara Istana Da-du dan militer. Sudah beberapa kali eksistensi adiwidianya menggagalkan usaha pencurian paket yang dikirim Istana Da-du untuk pihak militer Yuan di Kamp Utara. Menyelamatkan data-data penting negara dari hadangan para jasus pasukan pemberontak Han.

Seperti juga ihwal muasal kehadiran prajurit lainnya yang memenuhi kewajiban kenegaraan, Bao Ling pun menunaikan panggilan moral itu mewakili keluarganya. Bao Ling merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Dan hanya ia saja satu- satunya laki-laki selain ayahnya di keluarga mahardika Bao di Ibukota Da-du. Semula ayah Bao Ling, Bao Nang, menghubungi pihak atase militer Yuan agar keluarga mereka diberi kompensasi untuk tidak terlibat dalam kewajiban kenegaraan yang telah diamanatkan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan. Alasannya, ia hanya memiliki satu- satunya putra sebagai penerus keturunan Keluarga Bao.

Lagipula, Bao Ling masih berstatus pelajar. Sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa untuk menghadapi perang kecuali puisi dan karya sastra yang diakrabinya selama ini - padahal diam- diam Bao Ling belajar wushu pada seorang guru tanpa sepengetahuan ayahnya. Bahkan pengusaha kaya tersebut mencoba menyuap beberapa atase militer tersebut.

Ketika Bao Ling mengetahui ayahnya menempuh cara kotor begitu, ia langsung melarikan diri dari Ibukota Da-du, dan bergabung dengan calon-calon wamil lainnya di Kamp Utara pimpinan Shang Weng. Ia malu terhadap kelakuan ayahnya yang tidak memiliki jiwa patriotisme pada saat negara sedang dirundung masalah.

"Saya malu atas tindakan tidak terpuji Ayah itu!" gusar Bao Ling terhadap ayahnya ketika itu.

"Nyawa kamu lebih penting dibandingkan apa pun juga, A Ling!" "Tapi nyawa saya menjadi tidak berharga lagi akibat kasus suap itu, Ayah. Saya malu, Ayah!"

"Mengertilah, A Ling. Semua yang Ayah lakukan demi kebaikan kamu juga. Ayah tidak mau putra Ayah satu-satunya gugur di medan pertempuran. Ayah rela kehilangan semua harta-benda asal tidak kehilangan kamu. Tahukah kamu, betapa berarti dan berharganya kamu bagi Ayah dan Ibu."

"Saya tidak ingin dianggap anak pengecut, Ayah. Ayah boleh saja meluputkan saya dari keharusan wamil maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan itu dengan menyuap beberapa pejabat tinggi militer. Ayah boleh saja menggunakan bahkan seluruh kekayaan Ayah supaya saya terbebas dari kewajiban negara tersebut.

Tapi, di manakah patriotisme kita sebagai anak bangsa?!" "Tidak peduli apakah Ayah akan dianggap pengkhianat sekalipun. Yang penting Ayah tidak kehilangan orang-orang yang Ayah cintai."

"Tidak ada hal yang lebih mulia dan membanggakan apabila mati demi negara."

"Puih! Apa andil negara bagi kita?! Selama ini, pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Rakyatlah yang selau menjadi sapi perah bagi pemerintah. Tidak ada manifestasi penting negara untuk perbaikan dan perkembangan nasib rakyat. Selama ini, janji-janji kaisar-kaisar Tionggoan selalu jauh dari harapan rakyat. Korupsi merajalela di mana- mana. Kolusi mendarah daging di kalangan Istana. Sekarang, jangankan memikirkan negara yang di ambang perang, bahkan tidak sedikit di antara pejabat negara kita ini tidak peduli terhadap nasib bangsa. Tidak peduli terhadap penderitaan rakyat. Mereka terus saja memperkaya diri mereka sendiri. Jadi, untuk apa lagi kamu bersikeras ingin mematuhi maklumat wamil itu?!"

"Lalu, apa bedanya Ayah dengan pejabat-pejabat korup itu kalau Ayah menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan diri - lari dari tanggung jawab bela negara?! Bukankah itu egois, Ayah?!" "Merekalah yang egois A Ling! Mumpung kita masih memiliki kemampuan finansial, kenapa tidak kita pergunakan saja untuk mengelabui mereka? Bukankah mereka juga selalu mengelabui rakyat?! Mereka adalah maling yang berteriak maling!"

"Justru karena itulah saya tidak ingin menjadi seperti mereka. Apa jadinya negara kita ini kalau semua kader dan komponen bangsa berlaku apatis, dan selalu ingin menang sendiri.

Bukannya saya sok patriotik, Ayah. Bukan. Saya hanya ingin menjadi seseorang yang berguna. Seseorang yang, bila tiba saatnya menutup mata untuk selama-lamanya nanti, akan dikenang sebagai pahlawan. Bukannya sebaliknya. Sebagai penjahat!"

"Oya?! Lantas, apakah sedemikian berharganya sebuah pengakuan itu sementara kamu hidup tersiksa di medan rana, diperalat dan dijadikan budak perang oleh para pejabat negara yang licik itu?! Huh, betapa ironisnya pemikiran suci-mulia yang mengisi benak mudamu itu, A Ling! Kamu masih terlampau hijau. Dunia politik Istana sarat dengan kepicikan!"

"Justru Ayahlah yang picik. Ayah egois dan hanya mementingkan diri sendiri!"

"Cukup, A Ling!"

Namun tidak ada kata cukup di hati dan benak Bao Ling. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengikuti maklumat wamil tersebut. Demi harga diri dan rasa patriotisme terhadap nasib bangsa yang dirundung maharana.

Bao Ling merupakan pemuda yang cerdas. Sayang ia tidak tahan banting. Kehidupan militer yang keras dan buruknya prasarana kamp nyaris memaksanya hengkang. Sekian belas tahun hidupnya dibuai kemewahan. Sehingga nestapa yang menjadi lafaz para prajurit tidak sanggup dijalaninya. Hidupnya yang nyaman di rumah istananya dahulu selalu menggodanya untuk pulang.

Namun entah dari mana datangnya kesadaran moral itu. Tiba- tiba ia membatalkan niatnya untuk kembali ke rumah istananya yang teduh di Ibukota Da-du. Hal itu memang tidak terlepas dari refleksitas presensi patriotik Fa Mulan yang dicermininya. Ia malu ketika bercermin. Rasanya terlalu kerdil bila masalah sepele itu membuatnya lari terbirit-birit sebelum bertempur. Ia tidak ingin dikatakan pengecut!

"Apa jadinya bangsa kita kalau diisi oleh manusia-manusia berhati dangkal, Bao Ling!"

"Selama ini saya yang salah, Mulan. Ayah ternyata benar. Pejabat-pejabat negara hanya memperalat kita untuk mencapat tujuan mereka sendiri. Militer adalah sarana mereka menuju cita- cita inferior mereka."

"Jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk lepas dari tanggung jawab. Lagipula, kesimpulanmu tentang pejabat negara yang batil itu hanyalah oknum. Kamu tidak dapat menyamaratakan semua orang. Masih banyak pejabat negara yang baik di Tionggoan ini!"

"Mungkin. Tapi saya merasa misi militer ini tidak membawa manfaat apa-apa kecuali kesengsaraan."

"Prajurit dan militer Yuan serta rakyat adalah manunggalis. Di saat rakyat di ambang maharana, maka militer akan tampil sebagai tameng untuk melindungi rakyat itu sendiri. Militer dan rakyat harus sehati. Militer berasal dari rakyat juga. Kita ini prajurit yang berasal dari rakyat, bukan?"

"Tapi, saya merasa kita sebagai rakyat kecil hanya diperalat. Masuk militer menjadi prajurit hanya untuk menjadi jongos pejabat-pejabat negara."

"Jongos atau bukan, kalau seseorang memiliki kontribusi yang besar bagi negara, maka mati sekalipun dia akan tetap dikenang sepanjang masa. Sebagai pahlawan. Ya, sebagai pahlawan." "Hah, sebagai pahlawan?!"

"Ya, sebagai pahlawan. Pahlawan yang memiliki reputasi nama seharum semerbak bunga. Pahlawan yang akan terus menerus hidup di sanubari bangsa. Bukankah hal tersebut merupakan kebanggaan yang tak ternilai harganya? Jauh melebihi jauhar yang ada di muka bumi ini."

"Kamu mirip saya sewaktu bersikeras mematuhi maklumat wamil itu. Saya menyampaikan aspirasi yang seperti kamu katakan barusan ketika menentang Ayah, yang selalu berusaha membujuk saya agar melalaikan kewajiban negara tersebut.

Namun, apa yang telah kita peroleh dari serangkaian pengorbanan yang telah kita berikan?! Huh, jangankan menjadi pahlawan, jangan-jangan bila kita meninggal kelak, kita hanya akan menjadi bangkai yang membusuk dipenuhi belatung." "Saya tidak menyalahkan pendapatmu, Bao Ling. Tapi rasanya terlalu picik kalau di saat rakyat membutuhkan kita, kita justru lari karena tidak mampu meneruskan perjuangan yang semakin berat ini."

"Jangan membujuk saya untuk tinggal lebih lama di sini, Mulan. Percuma. Kamu hanya membuang-buang waktu saja.

Bagaimanapun, saya sudah memutuskan untuk meninggalkan tempat ini!"

"Saya tidak berhak melarang kamu. Kalau kamu memang mau meninggalkan Kamp Utara ini, ya silakan saja. Saya hanya memberi saran dan pandangan. Saya tidak memiliki legitimasi melarang kamu pergi."

"Terima kasih."

"Tapi, cobalah renungi sekali lagi. Rakyat sangat membutuhkan kita. Siapa lagi yang dapat membela mereka kalau bukan kita? Kamu pikir apa arwah para leluhur kita akan hidup kembali dan bertempur dengan musuh-musuh itu?"

"Tapi. "

"Coba enyahkan kecengengan kita itu, Bao Ling. Dulu, saya juga seperti kamu. Saya sempat dilemahkan oleh naifnya kekerdilan- kekerdilan hati. Saya bahkan pernah menyesali mengapa harus terlibat di dalam misi kemiliteran ini. Kenapa harus mematuhi kewajiban kenegaraan itu. Bukankah lebih baik kalau saya menuruti perintah ibu saya yang menginginkan saya menikah dan bersuami saja. Bukankah merupakan hal yang menggembirakan kalau memiliki anak-anak yang lucu dan montok. Bukankah hal itu jauh lebih menyenangkan ketimbang harus terlibat dalam perang terkutuk ini? Tapi, pada akhirnya saya sadar. Perasaan-perasaan semacam itu merupakan hal yang sangat manusiawi. Kita tidak boleh larut dalam sentimentil semacam itu." "Ta-tapi saya. "

"Tegarlah, Bao Ling. Inilah masa-masa suram dalam hidup kita yang mesti dilalui dengan tabah."

"Tapi, saya hanya orang biasa, Mulan."

"Saya pun orang biasa, Bao Ling. Saya bukan manusia yang luar biasa. Pada dasarnya, saya bukan orang yang tahan banting. Saya bukan gadis bermental baja. Saya juga merasakan betapa beratnya beban kita sebagai prajurit wamil. Gemblengan-gemblengan keras di Kamp Utara ini, pada mulanya serasa tak memiliki makna apa-apa selain pembentukan budak perang. Saya juga sempat beranggapan kalau semua yang kita lakukan di sini merupakan kesia-siaan belaka. Kenapa?! Karena kita adalah tameng Yuan! Kenapa?! Karena kita adalah tameng yang notabene merupakan alat perang semata. Tapi, sudahlah. Saya sadar, saya dan kamu, juga sahabat-sahabat kita hanyalah orang biasa yang, memiliki banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan sehingga tidak dapat mencerapi makna sesungguhnya di balik apa yang telah kita lakukan selama ini. Kita tidak pernah tulus beraltruisme. Kita terlalu egois dan anani, itu masalahnya. Tapi, bukankah dari kekurangan dan ketidaksempurnaan itu kita dapat belajar supaya kelak menjadi lebih baik dan sempurna? Bukankah kita dapat memetik hikmah dari kekurangan dan ketidaksempurnaan tersebut?"

"Tapi. "

"Lepas dari semua itu, saya sadar ada makna hakiki yang dapat kita peroleh suatu saat. Bukan untuk Yuan, tapi untuk diri kita sendiri. Tahu tidak, Bao Ling. Setiap saya bercermin, saya selalu ingin melihat ada seraut wajah orang yang berguna. Bukannya seraut wajah asing yang tidak mampu menghadapi kenyataan hidup ini. Seraut wajah asing yang lari dari tanggung jawab.

Itulah yang memotivasi saya sehingga sampai sekarang masih bertahan sebagai prajurit wamil. Nah, sejujurnya saya pun ingin kamu dapat bercermin. Bercermin untuk melihat seraut wajah yang, suatu saat kelak dapat menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa! Yah, saya ingin melihat Bao Ling yang tangguh!"

Ketika itu Bao Ling tersentak.

Tanpa terasa airmatanya menitik. Diresapinya serentetan kalimat Fa Mulan sebagai sebuah kontemplasi. Sebuah renungan panjang yang pada akhirnya mengubah dirinya menjadi manusia yang terlahir dengan jiwa baru. Dan memutuskan untuk tetap meneruskan perjuangan membela Kekaisaran Yuan.

Fa Mulan tersenyum. Lintas kenangan semasa wamil itu melamur dari benaknya bersamaan dengan menguncupnya bibirnya sesaat setelah Chien Po bertanya, dan menggugah semua kisah silam yang sarat dengan kenangan itu.

"Berapa pasukan yang akan dibawa Bao Ling, Asisten Fa?" "Tidak tahu. Jenderal Gau Ming tidak menyebutkan berapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang akan mereka kirim," jawab Fa Mulan sembari mengedikkan bahu.

Wajah Chien Po mengerut. "Melihat besarnya jumlah musuh di bawah sana , saya pesimis kalau prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang hanya segelintir itu dapat mengalahkan mereka, Asisten Fa!"

Fa Mulan membeliak. "Jangan menakar kekuatan dari besarnya jumlah prajurit!"

"Tapi. "

"Kita harus belajar dari Sun Tzu. Kekuatan itu ada pada semangat. Bukan pada sejumlah armada perang." "Mungkin. Tapi kenyataannya kita memang sudah terdesak mundur karena tidak memiliki prajurit sebanyak mereka!"

"Prajurit-prajurit itu tidak mesti berupa orang. Orang per orang, atau manusia. "

"Maksud Asisten Fa?!"

Fa Mulan kembali berkacak pinggang. Keyakinannya untuk mengalahkan musuh terbit kembali. Dielus-elusnya gagang Mushu, pedang berukir naga di pinggangnya. Sebenarnya, Mushu bukan pedang istimewa. Hanya pedang biasa temurun dari para leluhurnya, yang memiliki sugesti kemenangan pada setiap pertempuran. Selama ini Mushu memang seperti belahan jiwanya. Seolah pusaka beroh para arwah Fa yang setiap saat melindunginya dari mara bahaya.

"Chien Po, kunci sebuah kemenangan sejati terletak pada dedikasi dan loyalitas. Bukan pada kemenangan itu sendiri. Kemenangan yang lazim kita kenal semisal; membunuh musuh- musuh, merebut benteng lawan, atau mengusai dan menduduki daerah kekuasaan mereka. Bukan itu. Kemenangan itu sebenarnya fiktif. Untuk sementara mungkin kamu dapat mengalahkan musuh, mengusainya. Tapi, sampai kapan kamu dapat bertahan? Besok atau lusa, mereka akan datang dengan segenap kekuatan baru untuk melumpuhkan kamu. Begitu seterusnya."

"Jadi, maksud Asisten Fa kita harus bertindak bagaimana untuk dapat mengalahkan pasukan pemberontak Han itu?!" "Gunakan hati dan pikiran!"

"Gunakan hati dan pikiran?!"

"Ya. Di dalam sebuah pertempuran, musuh itu tidak hanya berupa pasukan lawan, tapi juga ketakutan-ketakutan yang berasal dari dalam hati. Juga kecemasan, kekhawatiran, pesimistis, dan masih banyak lagi hal sepele lainnya." "Jadi. "

"Jadi segenting apa pun situasi dan keadaan di medan pertempuran, kita tetap harus tenang."

"Ta-tapi, bagaimana saya bisa tenang kalau melihat jumlah pasukan pemberontak Han yang begitu besar seperti semut merah!"

"Nah, itulah salah satu musuh majasi yang harus kamu lawan." "Tapi. "

"Chien Po, kadang-kadang musuh majasi itu jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh jasadi itu sendiri." Chien Po diam menyimak.

Titik-titik salju yang tertiup semilir angin dari puncak bukit menusuk-nusuk kulit arinya. Kematian yang sudah di ambang napas menggamangkan hatinya. Tetapi gadis bertubuh ringkih di hadapannya tak sedikit pun merasa gentar. Ia laksana gergasi yang menghadang musuh tanpa rasa takut. Patriotismenya memang seteguh karang!

"Seperti juga musuh majasi, prajurit sebagai sebuah personil pun juga begitu."

"Maksud Anda. "

"Jangan takut tidak memiliki prajurit! Semua lanskap alam yang ada di sini dapat menjadi prajurit majasi yang akan melindungi kita dari maut! Batu, pepohonan, salju, iklim, dan masih banyak lagi faktor alam lainnya. Semuanya itu menjadi prajurit kita. Dan musuh bagi mereka."

"Maafkan kelancangan saya, Asisten Fa! Mungkin Anda terlalu mengada-ada bila mengingat kekuatan musuh yang sebenarnya!"

"Saya tahu, Chien Po! Saya tahu seberapa besar kekuatan musuh. Saya tahu berapa jumlah pasukan pemberontak Han itu. Jumlah prajurit kita tidak lebih dari seperempat pasukan mereka. Tapi ingat, musuh yang seperti saya bilang tadi bukan hanya terdiri dari prajurit majasi dan pasukan jasadi. Namun, juga problema-problema batin. Ambisi mereka yang menggebu-gebu untuk segera menaklukkan Ibukota Da-du juga merupakan musuh dalam selimut. Yang tanpa mereka sadari akan melumpuhkan kekuatan mereka sendiri."

"Tapi. "

"Sudahlah, Chien Po. Kekompakan kita, serta kesatuan prajurit kita yang solid ini juga merupakan armada perang yang tangguh untuk memukul mundur musuh. Yakinlah!"

Chien Po melanjutkan mengangkuti bongkahan-bongkahan salju. Fa Mulan masih berdiri dengan rupa baur. Ia cemas karena bala bantuan dari Ibukota Da-du belum pula kunjung tiba. Dari kejauhan, di bawah bukit perbatasan Tung Shao, dilihatnya noktah-noktah hitam yang menyemut merayapi dinding-dinding salju. Waktunya hanya dua puluh empat jam. Besok fajar, jika bantuan yang diharapkan belum juga kunjung tiba, maka hampir dipastikan pihak Yuan akan hancur menjadi abu!

Bab 07

Aku hanya sekelopak yang-liu menari seirama angin

pada iringan lagu maharana

Ini elegi

lalu seperti terempas

aku telah tergolek di rimba lalang setelahnya dan mati mengerontang

- Bao Ling Elegi Yang-liu

***

Embusan napasnya terdengar memberat. Masalah yang dipikulnya kali ini tidak ringan. Lebih berat dari jubah berajut benang emas yang sering diantipatinya semasa kanak-kanak dulu. Setiap ritual kenegaraan, Ayahanda Kaisar Yuan Ren Xing selalu memaksanya untuk mengenakan jubah naga tersebut. Jubah yang selalu memegalkan pundaknya seusai mengikuti ritual yang menjenuhkan. Satu bentuk rutinitas formal sebagai putra mahkota yang senantiasa dikutuknya semasa kanak-kanak dulu.

Kepalanya memening.

Diempaskannya punggungnya ke sandaran kursi tembaga berukir naga. Kadang-kadang ia berpikir tidak ingin menduduki takhta ini. Sebuah kursi yang diperebutkan banyak orang dari zaman ke zaman. Darinya, telah tertumpah begitu banyak darah anak manusia. Ia lelah. Dan sejenak ingin beristirahat dari dunianya yang penuh gejolak!

"Yang Mulia. "

Perempuan muda itu memanggilnya dengan suara lunak. Pelan serupa desisan. Seolah-olah suara yang dilantunkannya dapat memecahkan kepala Kaisar Yuan Ren Zhan yang terbuat dari porselen.

Kaisar Yuan Ren Zhan masih memejamkan matanya dengan rupa cua. Tidak ada sahutan sebagai tanggapan atas sapaan Permaisuri Niang Xie Erl barusan. Balairung basilika istana masih dipenuhi partikel sunyi. Perempuan berkulit halus itu mendekat, duduk di seberang meja. Menatap suaminya dengan wajah mangu. Lelaki penguasa Tionggoan itu memang tengah menggamang. "Yang Mulia, hamba sudah menyiapkan sup sarang burung walet. "

Kelopak mata Kaisar Yuan Ren Zhan membuka.

Ditatapnya Permaisuri Niang Xie Erl yang menyeduhkan secawan sup dari teko emas di hadapannya. Embusan udara dari hidungnya terdengar konstan, simultan dengan suara separo serak yang keluar dari kerongkongannya yang jakun. Dari sekian banyak perempuan yang menemaninya di Istana Da- du, hanya Permaisuri Niang Xie Erl-lah yang paling baik dan setia kepadanya. Puluhan garwa tak ada yang dapat menandingi ketulusan hati rani pertamanya itu.

"Saya sudah banyak menyusahkan kamu, Erl!"

Canting di tangan kanan Permaisuri Niang Xie Erl menyandar pada gigir cawan. Adukannya berhenti pada ujung kalimat Sang Kaisar. Ia mengangkat wajah. Mengurai pelepah bibir.

Tersenyum tulus.

"Yang Mulia jangan sungkan. Semua permasalahan Yang Mulia, juga merupakan masalah saya."

"Akhir-akhir ini saya dipusingkan oleh masalah besar pembelotan Jenderal Shan-Yu!"

"Yang Mulia diberkati oleh Dewata. Semua masalah itu pasti akan terselesaikan."

"Ah, kurang apa yang Istana berikan pada Shan-Yu?!" Kaisar Yuan Ren Zhan menggabruk meja pelan. "Sekian puluh tahun dia mengabdi kepada Kekaisaran Yuan, semasa Ayahanda Yuan Ren Xing dulu sampai saya sekarang, tak sedikit andil Istana yang telah diberikan kepadanya sebagai imbal jasa.

Betapa piciknya Shan-Yu kalau berpikir kita telah bertindak tidak adil kepadanya mengingat bagaimana mahardikanya marga Shan berkat peran Istana!"

"Yang Mulia jangan memikirkan masalah itu terus. Hamba khawatir. "

Kaisar Yuan Ren Zhan mengibaskan tangannya. Membungkam kalimat yang belum rampung puan tertua para rani dan selir Istana Da-du itu. Permaisuri Niang Xie Erl menunduk. Tak berani merangkai kata-kata sekalipun subtil untuk kebaikan Sang Kaisar.

"Selama masalah Shan-Yu itu belum teratasi, seumur hidup saya tidak dapat hidup tenang!"

Permaisuri Niang Xie Erl menggigit bibir.

Sejak pembelotan dan pemberontakan Shan-Yu pecah enam bulan lalu, amarah Kaisar Yuan Ren Zhan memang kerap meletup-meletup selaksana dinamit. Emosinya melabil. Entah sudah berapa ribu narapidana yang telah dipancungnya tanpa proses pengadilan sebagai reaksi amarahnya.

Bulan sabit masih bertengger di puncak langit. Biasnya yang keperakan menyentuh tubir jendela kamar. Kaisar Yuan Ren Zhan masih memaku dirinya dalam diam. Hanya sesekali menatap bulan separo, juga bintang kemukus yang melintas cepat di kekelaman langit malam melalui daun jendela yang terpentang. Ia belum bicara sepatah kata pun ketika sehelai daun yang-liu rontok diembus angin, masuk menelusup dan tergeletak di lantai samping meja. Dihelanya napas panjang. Mungkinkah kebesaran Tionggoan akan rontok di tangannya?! Ada aubade menggugah kesunyian.

Kasim Liu berteriak dengan suara khasnya dari balik gerbang balairung basilika istana. Memberitahukan kedatangan seseorang untuk menghadap Sang Kaisar.

"Suruh masuk!" perintah Kaisar Yuan Ren Zhan, masih menyandar di kursi tembaganya.

Daun pintu terpentang.

Tiga orang masuk bersamaan. Kasim Liu dan Jenderal Gau Ming membungkukkan badannya. Tampak seorang pemuda di samping mereka, langsung berlutut setelah mengempas- empaskan lengan seragam prajuritnya yang memanjang menutup punggung telapak tangan - salah satu prosedur penghormatan saat menghadap kaisar, dan kowtow di hadapan kaisar.

"Hormat saya, Bao Ling - Prajurit Kurir Yuan dari Kamp Utara, terhadap Yang Mulia Paduka Kaisar junjungan langit dan bumi." "Bangunlah," ujar Kaisar Yuan Ren Zhan, mengaba dengan tangannya.

Pemuda itu berdiri.

Jenderal Gau Ming maju setindak dari tempatnya berdiri, lalu mengatupkan tangannya ke depan memberi hormat sebelum mengurai alasan kedatangannya menghadap Sang Kaisar. "Yang Mulia, maksud kedatangan hamba beserta Prajurit Kurir dari Kamp Utara ini hendak menyampaikan keadaan dan perkembangan pasukan Yuan di zona pertempuran."

Kaisar Yuan Ren Zhan memajukan badannya, mengangkat punggungnya dari sandaran kursi tembaga. Menatap bergantian pada dua sosok perwira tinggi dan prajurit madya di hadapannya.

"Sejauh ini perkembangannya bagaimana?"

"Yang Mulia, prajurit-prajurit di Kamp Utara mulai terdesak mundur karena berkurangnya pasokan amunisi dinamit dari pusat. Selain itu, pasukan pemberontak Han terus menambah personel mereka di perbatasan Tung Shao. Pimpinan Kamp Utara, Kapten Shang Weng meminta bantuan beberapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh untuk menghalau musuh yang mulai merangsek masuk ke sana . Mereka mengambil jalan pintas ke bukit Tung Shao agar dapat segera menaklukkan Ibukota Da-du. Menurut data strategi, kalau daerah Tung Shao dapat diduduki pasukan pemberontak Han, maka otomatis Ibukota Da-du akan jatuh ke tangan mereka!"

Kaisar Yuan Ren Zhan sontak berdiri.

Ia menggabruk meja di depannya dengan keras sampai pontoh giok di tangan kanannya menggemeretak. Permaisuri Niang Xie Erl terlonjak kaget. Kasim Liu bergidik, memeluk tongkat cemeti serabutnya dengan rupa gelisah. Jenderal Gau Ming menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak berdaya menghadapi kekuatan armada perang musuh di zona tempur.

Bao Ling bersikap wajar, berdiri dengan tegap.

"Kurang ajar! Apa jadinya negeri ini kalau semua pejabat di sini seperti berpangku tangan!" maki Kaisar Yuan Ren Zhan. "Jenderal Gau, cepat kerahkan semua armada perang sebelum pasukan pemberontak Han itu merebut Ibukota Da-du!"

"Baik, baik, Yang Mulia!" balas Jenderal Gau Ming gugup dengan wajah memucat. "Ta-tapi, kita tidak memiliki cadangan amunisi dinamit lagi, Yang Mulia."

"Saya tidak peduli kalian mau menggunakan cara apa!" teriak Kaisar Yuan Ren Zhan murka. "Saya hanya mau tahu, pasukan pemberontak Han itu enyah dari Tionggoan!"

"Ba-baik, Yang Mulia!"

"Jenderal Gau, Anda yang paling bertanggung jawab atas keselamatan negeri ini!" "Hamba mengerti, Yang Mulia."

Jenderal berbadan tambun itu hanya mengangguk-angguk dengan sepasang mata lunaknya yang menekuri lantai balairung basilika istana. Ia seperti kehilangan akal. Sejak Perdana Menteri Shu Yong memulai lawatannya ke Eropa dalam rangka kunjungan bilateral tujuh bulan lalu, ia seperti kehilangan partner yang dapat diandalkan.

Memang, selama ini Perdana Menteri Shu Yong-lah yang menjadi penentu kebijakan militer pasca pemecatan Jenderal Shan Yu lima tahun lalu. Dan ketika negara dalam keadaan genting akibat pembelotan dan pengkhianatan mantan Jenderal Shan-Yu, maka ia seperti jenderal muno yang tidak tahu harus berbuat apa.

Sebagai pemimpin atase militer pusat, ia telah menerapkan strategi dan taktik yang salah dalam menghadapi serbuan pasukan pemberontak Han. Daerah yang seharusnya rawan seperti di Tung Shao luput dari perhatiannya. Daerah Tung Shao praktis tidak terkawal kecuali kehadiran prajurit-prajurit dari Kamp Utara yang memang berbarak di daerah itu.

"Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba Bao Ling, menyampaikan pesan dari Kapten Shang Weng dan Asisten Fa Mulan untuk segera meminta militer pusat mengirimkan sebanyak mungkin kuda yang ada di Ibukota Da-du," Bao Ling maju setindak, mengatupkan kedua tangannya menabik, lalu menyampaikan pesan yang diperintahkan Fa Mulan kepadanya. "Hamba Bao Ling, sudah menyampaikan manuskrip dari kedua pemimpin di Kamp Utara itu kepada Jenderal Gau Ming. Permintaan disetujui apabila ada referensi dari Yang Mulia!"

Kaisar Yuan Ren Zhan melangkah sedepa dari meja, menuruni satu undakan lebar di depan, berdiri dengan tangan mengepal di situ. Ditatapnya Jenderal Gau Ming yang masih menundukkan kepala.

"Referensi dari saya?!" teriaknya dengan suara letup, membahana membelah partikel sunyi. Suaranya nyaring membentur dinding-dinding bervinyet teratai, memantul membentuk gaung. "Apakah untuk urusan sepele itu pun saya harus turun tangan?!"

"Mo-mohon am-ampun, Yang Mulia," ujar Jenderal Gau Ming dengan tubuh gemetar. "Mak-maksud hamba, hamba tidak ingin melangkahi keputusan mutlak Yang Mulia. "

"Alasan mati!" teriak Kaisar Yuan Ren Zhan dengan nadi yang mengurat di sekujur lehernya. "Anda memang tidak becus, Jenderal Gau!"

Bao Ling melihat gelagat yang berbahaya akibat radang amarah Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia kembali mengatupkan tangannya menghormat. Menyergah santun sebelum emosi Sang Kaisar mematikan rasionalitas berpikirnya. Bertindak di luar kendali. Memancung kepala Sang Jenderal yang dianggapnya tidak becus.

"Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba Bao Ling, menganggap kegagalan prajurit Yuan menghadang pasukan musuh memang disebabkan oleh faktor yang tidak dinyana. Misalnya adalah, jumlah pasukan pemberontak Yuan yang jauh di luar prakiraan sebelumnya akibat partisipan rakyat jelata terutama di daerah pesisir. Jenderal Gau Ming dan beberapa atase militer tidak menyangka hal demikian akan terjadi. Makanya, pasokan logistik dan pengadaan prajurit di Tung Shao agak terlambat sebagai antisipasi penghadangan pasukan musuh!" tuturnya mengurai dalih. "Jadi, memang sebelum segalanya terlambat, Tung Shao selayaknya diblokir untuk memblokade musuh yang menyemut di tepi Sungai Onon. Itulah sebabnya Asisten Fa membutuhkan banyak kuda untuk mengelabui pihak musuh sebagai bagian dari taktik kamuflasenya."

"Taktik kamuflase?!"

"Mohon ampun, Yang Mulia. Taktik itu dipakai untuk mengantisipasi kekurangan prajurit di pihak kita. Tiga ratus ribu pasukan pemberontak Han sudah hampir menapaki Tung Shao. Untuk melawan mereka, tentu diperlukan pasukan yang berjumlah lebih besar. Tapi, kita tidak memiliki banyak prajurit untuk menandingi mereka meskipun seluruh prajurit yang ada di Ibukota Da-du ditarik ke sana. Asisten Fa Mulan tidak memiliki strategi lain kecuali menggunakan siasat okhlosofobia. Taktik tersebut diharap dapat menjatuhkan mental musuh, dan mundur dari perbatasan Tung Shao karena menyangka pihak kita memiliki pasukan lebih besar dari mereka."

"Hebat!" Kaisar Yuan Ren Zhan melonjak, seperti kegirangan. Matanya berbinar-binar setelah sedari tadi menyipit karena menggeram. "Laksanakan semua strategi yang dianggap paling baik untuk menghalau pasukan Si Biram Shan-Yu itu!"

"Baik, Yang Mulia!" angguk Jenderal Gau Ming lega. "Sekarang, kirim semua prajurit yang ada di Ibukota Da-du ke

Tung Shao!" titah Kaisar Yuan Ren Zhan dengan otot leher yang sudah mengendur. "Bentengi semua jalan masuk ke Ibukota Da- du! Dan, kumpulkan semua kuda yang ada di sini!"

"Baik, Yang Mulia," angguk Jenderal Gau Ming kembali, melirik Kaisar Yuan Ren Zhan yang sudah melembut dari balik tepi caping perwira bertulisan kanji Yuan di atasnya.

"Dan mengenai amunisi dinamit yang habis, saya sudah bersurat ke Perdana Menteri Shu Yong untuk meminta Sir Arthur Jonathan di London mengirimkan paket-paket tambahan amunisi yang baru. Juga beberapa Fo Liong buatan Kerajaan Inggris." "Fo Liong?!" Kalimat itu nyaris bersamaan keluar dari mulut ketiga orang di hadapan kaisar.

"Fo Liong merupakan persenjataan canggih mutakhir Kerajaan Inggris. Lebih cepat dari lesatan anak panah. Lebih hebat dari ledakan dinamit. Fo Liong seperti senjata Dewata. Seperti semburan api dari mulut naga yang sangat dahsyat," ungkap Kaisar Yuan Ren Zhan berkonotasi dalam nada bangga.

Wajahnya sedikit sumringah setelah sedari tadi memerah menahan amarah. "Fo Liong dapat melumpuhkan lawan satu peleton dari jarak jauh dengan hanya sekali tembakan." "Mohon ampun, Yang Mulia," Kasim Liu memberanikan diri bertanya dengan suara kemayunya setelah sedari tadi hanya diam menyimak. "Apakah Fo Liong sehebat itu?"

"Kamu meragukan apa yang telah saya katakan tadi, Kasim Liu?!" Kaisar Yuan Ren Zhan seperti menggeram, memelototi orang tua ringkih yang bertugas mengurusi keperluan dalam Istana Da-du itu dengan tajam menusuk.

Kasim Liu mundur setindak, membungkuk lalu mengatupkan kedua tangannya dengan sikap kaku. "Ham-hamba tidak berani berpikir begitu, Yang Mulia!" ulasnya lekas dengan kalimat menggagu.

"Kami yakin Fo Liong dapat menghancurkan musuh, Yang Mulia!" timpal Jenderal Gau Ming dengan nada menjilat. "Tidaklah salah apabila tanah Tionggoan ini dipimpin oleh seorang cendekia berotak cemerlang seperti Anda, Yang Mulia!" Kaisar Yuan Ren Zhan mengangguk-angguk dibelai pujian.

Ada secuil senyum mengembang di sepasang pelepah bibirnya yang kecoklat-coklatan. Dialihkannya edaran sepasang mata ekuatornya ke arah Bao Ling. Mengangguk mengagumi kejeniusan taktik Fa Mulan di Tung Shao yang telah disampaikan oleh anak muda di hadapannya.

"Nah, Jenderal Gau, sekarang Anda saya delegasikan melaksanakan strategi apa saja yang akan diterapkan oleh Kapten Shang Weng dan Asisten Fa Mulan di Kamp Utara, termasuk fasilitas kemiliteran yang mereka minta. Segera laksanakan!"

"Terima kasih, Yang Mulia!"

Ketiga pengabdi Istana Da-du itu undur diri setelah bertabe seperti biasa. Bao Ling sekali lagi melakukan kowtow sebelum meninggalkan balairung basilika istana. Wajahnya menyumringah. Ia akan memacu kudanya segera ke Tung Shao membawa kabar gembira untuk Fa Mulan. Bahwa permintaan mereka dikabulkan.

Jenderal Gau Ming memang selamban kura-kura. Pasti negara akan hancur di tangannya seandainya Dinasti Yuan tidak memiliki orang-orang berdedikasi tinggi seperti Fa Mulan dan Shang Weng. Sekian lama permintaan pasokan prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh tidak dipenuhi. Lebih memilih mempertahankan aset-aset Istana Da-du ketimbang daerah Tung Shao yang sudah di ujung tanduk.

Di luar gerbang Istana Da-du, setelah diantar oleh Kasim Liu, Bao Ling dan Jenderal Gau Ming segera menunggangi kuda mereka yang diikat di sebuah istal kecil berkanopi rumbia - khusus untuk menitip kuda-kuda tetamu. Dikawal sepuluh prajurit berjaksi dan bersenjata tombak yang berlari di belakang kuda-kuda, mereka pun melarikan kuda masing-masing ke markas besar atase militer Yuan yang terletak tidak terlalu jauh dari Istana Da-du.

"Prajurit Bao, cepat kirim kawat balasan ke Asisten Fa Mulan hari ini, bahwa permintaan mereka akan segera dikirim besok. Saya sudah menyiapkan seratus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh, dan ribuan kuda sesuai permintaan Asisten Fa Mulan!" ujar Jenderal Gau Ming di atas punggung kudanya.

Diperlambatnya laju kudanya, menyejajari kuda berwarna kelabu yang ditumpangi oleh Bao Ling yang mengekor di belakang. "Sekarang kita ke markas besar atase militer Yuan, di sana saya akan menulis kawat untuk Asisten Fa Mulan."

"Baik, Jenderal Gau!"

"Bagaimana keadaan Kapten Shang Weng?" "Kami belum tahu seberapa parah luka di dadanya. Tapi, Kapten Shang Weng sudah siuman."

"Saya akan mengutus seorang tabib istana untuk merawat luka Kapten Shang Weng. Sertai dia ke barak Kamp Utara. Mudah- mudahan tabib istana dapat segera menyembuhkan lukanya." Mereka tiba di depan markas besar atase militer ketika hari sudah mulai menggulita. Beberapa prajurit pengawal yang sedari tadi berlari di belakang kuda langsung membentuk barisan pagar betis di bahu kiri dan kanan gerbang utama markas besar atase militer Yuan. Di dalam halaman markas, beberapa prajurit Yuan yang tengah melakukan latihan tombak sasar, menghentikan latihan serta sontak berdiri tegap membentuk defile begitu Jenderal Gau Ming dan Bao Ling masuk melewati mereka.

Setiba di dalam ruangan besar tempat pertemuan para atase militer, tabib Istana Da-du bernama Ma Qhing sudah menunggu dengan beberapa perbekalan obat yang akan dibawanya ke zona tempur Kamp Utara. Setelah mengetahui Shang Weng terluka parah dalam pertempuran melawan Shan-Yu, Jenderal Gau Ming sertamerta berinisiatif mengirimkan tabib terbaik dari Istana Da-du ke zona tempur Tung Shao. Eksistensi Shang Weng sangat dibutuhkan oleh Kekaisaran Yuan. Pemuda itu telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas yang tinggi selama mengabdi pada Dinasti Yuan. Bao Ling diserahi manuskrip balasan oleh Jenderal Gau Ming yang ditulisnya kesusu di atas meja kerjanya - yang penuh dengan peta-peta strategi dan diorama daerah-daerah zona tempur. Di diorama tersebut tampak tancapan-tancapan panji miniatur pada tanah liat yang membentuk teksur bukit, sungai, danau, dan barak-barak militer.

Bao Ling mengemas manuskrip tersebut ke dalam sabuk pinggangnya yang terbuat dari kulit ular - dengan kancing kepala sabuk dari bahan perak berembos sepasang naga yang mengapit sebuah bolide. Ada kaligrafi berharafiah Yuan di bawah naga setengah melingkar tersebut.

"Tabib Ma, Prajurit Kurir Bao Ling ini yang akan mengawal Anda ke Kamp Utara," ujar Jenderal Gau Ming kepada tabib istana tua itu, lebih menyerupai seruan perkenalan ketimbang informasi nama orang yang akan mengawalnya ke zona tempur. "Prajurit Bao, ini Tabib Ma Qhing yang akan merawat Kapten Shang Weng."

Bao Ling mengurai senyum simultan dengan sepasang tangannya yang mengatup ke depan, menghormat lebih dulu kepada lelaki berjanggut panjang itu sebagai orang yang lebih muda.

"Hormat saya pada Tabib Ma Qhing," sapanya santun.

Tabib tua yang mengenakan stola beledu biru bermute delima di tengahnya itu mengangguk, membalas hormat Bao Ling. Setelah berdiri menyambut penghormatan Bao Ling barusan, ia pun duduk kembali di salah satu kursi jati dengan pilar sandaran yang berhias vinyet yang-liu di belakang meja pertemuan.

"Tabib Ma, tolong juga sampaikan kotak ini kepada Asisten Fa Mulan," sodor Jenderal Gau Ming setelah mengambil sesuatu dari laci bawah mejanya. "Titip pesan bahwa, ini merupakan simbolitas penghargaan dari Istana Da-du untuknya."

"Apa ini, Jenderal Gau?" tanya Tabib Ma Qhing berbasa-basi setelah menerima kotak berwarna hitam dari bahan kayu tersebut. Ia berdiri kembali dari duduknya.

Jenderal Gau Ming menjawab. "Pil Naga."

"Pil Naga?!" Bao Ling mendesis dari seberang meja. Ia mencondongkan badannya seperti hendak mengetahui apa isi kotak hitam yang kini telah berada dalam genggaman Tabib Ma Qhing. Rasanya, ia pernah mendengar kepopuleran Pil Naga tersebut. Pil Naga memang bukan obat biasa.

"Ramuan obat dari ginseng berkualitas unggul berusia seribu tahun dari seorang diplomat Korea. Sebenarnya ginseng ini diberikan Kaisar Yuan Ren Zhan pada hari ulang tahun saya setahun lalu. Tapi saya pikir, Asisten Fa Mulan lebih memerlukan obat kebugaran ini untuk kekuatannya menghadapi serangan musuh di Tung Shao," jelas Jenderal Gau Ming, memaparkan tanpa ditanyai.

Bao Ling menyergah. "Tapi, Pil Naga ini merupakan barang berharga, Jenderal Gau. "

Pil Naga adalah obat mujarab untuk kebugaran. Merupakan obat langka seberharga emas permata Istana. Ribuan tahun Pil Naga tersebut telah menjadi komsumsi kesehatan para kaisar dari generasi ke generasi.

Bao Ling sering mendengar kalau puak bangsawan Istana selalu menggunakan obat tersebut untuk menambah vitalitas libido.

Tetapi sesungguhnya Pil Naga lebih dari sekedar itu. Konon Pil Naga tersebut pernah menyembuhkan luka dalam seorang pendekar handal Tionggoan yang terkena pukulan tenaga dalam. Selebihnya ia tidak tahu apa-apa lagi selain fungsi keperkasaan dan kejantanan.

Jenderal Gau Ming berdeham. "Sudah tidak berarti buat saya. Justru Asisten Fa Mulan-lah yang lebih membutuhkan Pil Naga ini," alasannya menjawabi pertanyaan Bao Ling. "Sudahlah. Buat apa dipikirkan lagi. Barang berharga ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan Asisten Fa Mulan, yang sudah menyabung nyawa di zona tempur. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasih Istana Da-du kepadanya."

Bao Ling dan Tabib Ma Qhing mengangguk bersamaan. Diam- diam Bao Ling memuji sikap welas asih kepemimpinan Jenderal Gau Ming. Sayang, sebagai pemimpin tertinggi atase militer Yuan, jenderal separo baya itu kurang tanggap dan tangkas memimpin. Sehingga cuai melakukan terobosan penting menyelamatkan negara. Sekarang negara tengah berada di ujung tanduk. Dan Kaisar Yuan Ren Zhan terpaksa mengeluarkan maklumat ke segenap jajaran rakyat Tionggoan untuk menjalani wajib militer.

Bersama Tabib Ma Qhing, ia meninggalkan markas besar atase militer Yuan setelah malam menangkup. Tanpa membuang- buang waktu, dipacunya kudanya menuju Tung Shao. Tabib Ma Qhing menyertainya dengan menggunakan kereta tandu, dikawal oleh sepuluh prajurit yang mengekor di belakang dengan kuda mereka masing-masing.

Mudah-mudah Fa Mulan masih dapat bertahan, harapnya cemas. Mudah-mudahan bala bantuan prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh dan beberapa ribu kuda yang, telah disepakati akur oleh Jenderal Gau Ming atas titah Kaisar Yuan Ren Zhan dapat segera dikirim ke Tung Shao.

Bab 08 

Mushu,

kilau cahyamu dan binarmu yang tajam

adalah nurani yang tak pernah mati Sertai,

sertai aku dalam maharana ini sebab tanpamu aku mati

- Fa Mulan

Refleksi Pedang Mushu

***

Napasnya terdengar konstan. Ia terbaring dengan sejumlah kain kasa yang membebati badannya. Punggungnya tercacah.

Dadanya kirinya terkena tohokan tombak. Parah. Namun tak sedikit pun ia melenguh kesakitan. Pemimpin prajurit dari Kamp Utara di Tung Shao itu memang telah menunjukkan dedikasi dan determinasi yang tinggi, sehingga tak sedikit pun bayang-bayang maut menggentarkannya. Tak sedikit pun besar kekuatan armada darat musuh pimpinan Shan-Yu membuatnya lari tunggang-langkang. Ia tetap menyongsong dan menghadang meski aura kematian serupa bayang hitam renkinang telah menaunginya.

Wajahnya mengeras. Cahaya redup dari pelita minyak samin menonjolkan rahangnya yang kokoh. Mata elangnya sesekali memejam menahan rasa sakit yang menggigit di dadanya. Fa Mulan menatap pemuda itu dengan wajah murung. Digigitnya bibir. Serangkaian pertempuran yang telah dilaluinya bersama pemuda itu telah mendewasakannya. Ia dapat meresapi kuintesens tentang arti hidup. Di mana batas hidup dan mati hanya setipis sutra. Dan laki-laki yang tengah terluka itu banyak berjasa dalam pembentukan identitas dirinya yang sejati.

Memberinya inspirasi dan warna dalam hari-harinya. "Bagaimana, Tabib Ma?!"

Tabib tua itu mengangguk-angguk. Dielus-elusnya janggutnya yang memanjang dan berwarna keperakan, seperti cemeti serabut senjata khas para rahib perempuan Taoisme Go Mei di bawah kaki bukit Wudan. Dijawabinya pertanyaan prihatin Fa Mulan dengan mengurai senyum lunak.

"Tabib. "

"Tidak usah khawatir. Kapten Shang tidak apa-apa. Denyut nadinya teratur, menandakan kalau tidak terjadi sesuatu hal yang membahayakan pada organ vital dalam tubuhnya. Hanya saja luka luarnya cukup parah. Tapi tidak akut. Dua minggu lagi luka di dada kiri Kapten Shang Weng pasti menutup."

"Tapi. "

"Biarkan Kapten Shang beristirahat. Jaga dia agar tidak banyak bergerak. Itu obat yang paling mujarab kalau ingin pemimpin kalian sembuh." "Tabib. "

"Asisten Fa, Anda jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan Kapten Shang. Saya pikir, justru Andalah yang harus bersikap mawas, bijak menyikapi diri Anda sendiri. Lihat, sepasang kantung mata hitam di seputar mata Anda. Anda pasti sudah lama tidak tidur, bukan?"

"Tapi, saya tidak bisa lepas tangan begitu saja. Saya harus bertanggung jawab atas keselamatan semua prajurit!"

"Tentu. Tapi, Asisten Fa tidak boleh menyiksa dan memaksakan diri begitu. Kalau badan Anda melemah, itu sama saja berarti Anda tidak punya kekuatan untuk melawan musuh."

"Terima kasih, Tabib Ma. Tapi, dalam keadaan genting begini saya rela berkorban. "

"Asisten Fa, kami tahu loyalitas Anda." "Tapi. "

Tabib Ma Qhing merogoh tas kain tebal sejenis goni yang menyampir di pundaknya. Dikeluarkannya sebuah kotak kayu mahoni. Mengangsurkan kotak kayu persegi tersebut di bawah perut Fa Mulan.

"Ini untuk Anda, Asisten Fa." "Apa ini, Tabib Ma?!"

"Ambillah. Di dalamnya ada beberapa butir Pil Naga. Terbuat dari akar ginseng berusia seribu tahun. Pil Naga ini merupakan ramuan kesehatan dan kekuatan tubuh untuk Kaisar Yuan Ren Zhan. Sebelum kemari, Jenderal Gau Ming menitipkan pil-pil ini untuk diserahkan kepada Anda, Asisten Fa."

"Ta-tapi, saya tidak bisa menerimanya, Tabib Ma! Saya tidak pantas menerima penghormatan setinggi ini!"

Fa Mulan mengatupkan tangan memberi hormat. Ditolaknya pemberian istimewa dari pihak Istana Da-du untuknya. Tetapi Tabib Ma Qhing mendesaknya untuk menerima Pil Naga tersebut.

"Terimalah, Asisten Fa. Pihak Istana Da-du menghargai perjuangan Anda. Makanya, pil-pil ini merupakan simbolitas pengungkapan terima kasih mereka untuk Anda."

"Tapi. "

"Saya tidak berani kembali ke Istana Da-du kalau Anda tidak mau menerima titipan Jenderal Gau Ming ini, Asisten Fa!" "Saya bukan pahlawan yang mesti dihargai dengan hadiah istimewa, Tabib Ma!"

"Anda sudah berjuang mempertaruhkan nyawa di sini." "Semua prajurit di sini juga mempertaruhkan nyawa mereka." "Tapi tidak bisa dibandingkan dengan apa yang telah Anda lakukan untuk Kekaisaran Yuan!"

"Anda terlalu berlebih-lebihan, Tabib Ma!"

Tabib tua itu terbahak. Mengelus-elus kembali janggutnya yang kelihatan terawat dengan baik. Fa Mulan bersikukuh. Belum mau menerima kotak kayu hitam berisi pil-pil mujarab Istana Da-du yang diangsurkan kepadanya dengan setengah memaksa tadi.

Ia menghampiri meja kayu yang terletak di tengah tenda milik Shang Weng. Menuang arak dari guci tembikar ke dua buah cawan ceper. Diangsurkannya satu cawan arak itu ke Tabib Ma Qhing yang sudah menghentikan tawanya.

"Silakan minum, Tabib Ma. Hanya arak kampung. Sekedar menghangatkan badan."

"Terima kasih."

"Tentu tidak selezat arak anggur Istana Da-du."

"Anda terlalu merendah. Padahal, siapa yang tidak mengenal Fa Mulan yang termashyur itu? Keindahannya melebihi kecantikan mekarnya yang-liu di taman bunga Istana Da-du. Sejak menghebohkan kalangan Istana Da-du satu tahun lalu dalam kasus manipulasi identitas wamil, nama Fa Mulan terus melegenda. Sekarang, saya baru berjumpa dengan Anda.

Ternyata, legenda itu bukan isapan jempol belaka."

Fa Mulan terkekeh. Pipinya memerah. Ia menatap orang tua berbaju dari bahan kain satin itu dengan sikap jengah.

Disibaknya kenangan silam dalam benaknya. Setahun lalu penyamarannya memang terbongkar oleh satu peristiwa miris. Ketika bertarung dengan beberapa gerombolan pengacau keamanan Mongol di perbatasan Tembok Besar, ia terluka kena panah salah seorang barbarian Mongol. Dalam masa perawatan, identitasnya terbongkar. Tabib yang memeriksa dan merawatnya terkejut karena pasien prajuritnya ternyata adalah seorang perempuan.

Shang Weng gusar. Ia merasa telah dikelabui selama ini. Maka sesuai dengan hukum kemiliteran yang berlaku, kepala Fa Mulan mesti dipenggal!

Waktu itu Fa Mulan sudah pasrah. Ia hanya dapat berharap semoga pengorbanannya selama ini dapat menjadi sumbangsih yang berharga buat kemakmuran di Tionggoan. Juga berdoa semoga ayahnya, Fa Zhou, dan juga ibunya, Fa Li, dapat diberikan kekuatan oleh Dewata untuk tetap bertahan di negeri yang tengah kisruh ini.

Sebenarnya ia kecewa dengan prinsip keras politik Kekaisaran Yuan. Bukan karena menyesali keputusan penggal kepala yang ditimpakan kepadanya. Bukan. Tetapi semata karena ia merasa Kekaisaran Yuan tidak adil bersikap, lantaran lebih memilih menutup rasa malu atas kecolongan kasus manipulasi identitas wamil dengan kompensasi hukum penggal ketimbang mengambil hikmah dari kejadian miris tersebut.

Dan pada suatu petang sebelum eksekusi mati, entah dari mana datangnya keajaiban itu. Bao Ling datang dari Ibukota Da-du, membawa manuskrip berisi titah yang ditandatangani oleh Kaisar Yuan Ren Zhan. Maklumat tersebut merupakan amar untuk membatalkan hukuman pancung yang ditimpakan kepada Fa Mulan, sekaligus mengampuni semua kesalahan Fa Mulan mengingat jasa-jasanya selama menjadi prajurit Yuan - yang berjuang gigih melawan para pemberontak Mongol di perbatasan Tembok Besar, dan menggagalkan beberapa aksi pemberontak Mongol tersebut yang hendak melintasi Tembok Besar.

Fa Mulan menghirup araknya dengan sekali teguk. Dingin yang menusuk-nusuk melalui celah-celah pada tenda hanya dapat diatasinya dengan arak yang menghangati nadinya. Dilihatnya tabib suruhan Istana Da-du itu minum dengan mimik ringis.

Mungkin keasaman. Tidak semanis arak anggur Istana Da-du yang gurih. Tetapi hanya air api itulah yang dapat dijadikan penghangat badan selain unggun.

"Maaf, kami sudah menyusahkan Tabib Ma," ujar Fa Mulan santun. Mengapresiasikan rasa terima kasihnya dengan merendah. "Perang ini memang sudah banyak menyusahkan orang."

"Asisten Fa jangan terlalu sungkan," balas Tabib Ma Qhing tidak kalah hormatnya. "Ini semua sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya." "Tolong sampaikan terima kasih saya untuk Jenderal Gau Ming. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, Pil Naga tersebut saya kembalikan kepada beliau. Tolong Tabib Ma mengantarnya kembali ke Istana Da-du. Serahkan kepada Jenderal Gau Ming. Saya menghargai pemberian beliau!"

Fa Mulan kembali mengatupkan kedua tangannya ke muka. Ditatapnya tegas sepasang mata kelabu Tabib Ma Qhing yang lunak dan berair. Seolah-olah meminta orangtua itu untuk tidak bersikeras dengan keputusannya.

"Tapi, Anda tidak boleh menolak Pil Naga ini, Asisten Fa!" "Kenapa?"

"Merupakan sebuah penghinaan besar di kalangan Istana Da-du bila Anda menampik pemberian mereka."

"Saya hargai pemberian mereka. "

"Tapi bukan dengan cara menolaknya, Asisten Fa! Terus terang, saya tidak berani pulang ke Istana Da-du apabila Anda masih bersikeras menolak simbolitas penghargaan Kaisar Yuan Ren Zhan yang diberikan untuk Anda!"

"Tapi. "

"Anggap saja saya sedang memohon!" "Ta-tapi. "

"Asisten Fa, Anda jangan keras kepala! Rasanya lebih baik kepala saya dipenggal ketimbang Anda menolak simbolitas penghargaan yang diberikan Kaisar Yuan Ren Zhan secara tidak langsung kepada Anda!"

Fa Mulan tersenyum. Dielus-elusnya gagang pedang Mushu-nya yang tersampir di pinggangnya. Sementara itu Tabib Ma Qhing sudah hampir menangis, menundukkan kepala dengan ekor mata bergerak galau. Ditatapnya tanah yang tengah dipijaknya di dalam tenda dengan rupa gelisah.

Fa Mulan mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Saya terima pemberian istimewa Istana Da-du ini demi menghindari hukuman pancung untuk Tabib Ma Qhing yang telah banyak berjasa bagi kami, prajurit-prajurit di Kamp Utara," ujarnya, mengulum senyum menahan tawa. 

Tabib Ma Qhing sertamerta terbahak. Dielus-elusnya janggutnya yang berwarna keperakan. Kesedihannya sontak melenyap seolah-olah ditelan dingin udara malam. Seketika orang tua itu mengatupkan kedua tangannya ke muka. Mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada gadis keras kepala Fa Mulan, sehingga ia dapat terbebas dari hukuman Istana Da-du.

Mungkin bukan hukuman penggal seperti yang dikatakan Fa Mulan barusan. Tetapi siapa yang dapat menebak isi hati Sang Kaisar penguasa segala kemuliaan di Tionggoan ini bila sedang murka?!

Tentu hanya Dewata di langitlah yang tahu! 

Bab 09

Sesungguhnya jenderal arifah

adalah sosok maharesi dimana kala bertempur ia maju tanpa takut mati

dan dimana kala terdesak

Ia mundur demi keselamatan pebala Sesungguhnya pula

Ia bertempur atas nama cita luhur dimana absurditas ketenaran jauh dari nurani

Ia adalah satria

pejiwa yang tak pernah takut undur dan merasa terhina karenanya sebab strata dan jabatan

hanyalah anominitas babur Adalah jauhar tak tak ternilai jika negara memiliki seorang jenderal luhur

yang dapat melindungi rakyat dan Sang Kaisar - Sun Tzu

Refleksi Seni Rana

***

Rembang petang baru saja menyingkir diganti malam. Bukit Tung Shao menggelap tanpa gemintang di langit. Hujan masih menyisakan partikel salju yang menusuk-nusuk kulit dengan giris dinginnya. Rambun memaksa Fa Mulan meringkuk, dan duduk di tempat biasa. Menghangatkan dirinya pada sebuah lidah unggun sembari menghitung detik-detik pertarungan hidup mati yang sudah di ambang batas.

Dihelanya napas resah.

Yao belum kembali ke barak setelah ia nekat menyongsong musuh di perbatasan Tung Shao. Masih disesalinya keputusan emosional Yao. Sahabat seangkatannya semasa wamil itu memang memiliki temperamental panas. Setiap permasalahan disikapinya dengan berapi-api. Satu kebiasaan buruknya yang masih terbawa sampai sekarang meskipun ia telah diangkat menjadi prajurit madya.

Yao merupakan anak dari pasangan gembala di dusun gigir Sungai Onon. Meski ia berdarah Tionggoan, tetapi lingkungan dan adat istiadat yang diakrabinya sedari kecil berbeda dengan kebanyakan orang Tionggoan lainnya. Keluarganya hidup menomad. Berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya di perbatasan Tionggoan-Mongolia. Sedari kecil pula hidupnya telah ditempa oleh iklim dan alam yang keras di pegunungan serta beberapa gurun di daerah dekat Mongolia. Yao tumbuh menjadi pemuda yang keras, berpendirian tegas, dan menjunjung harkat serta harga diri setinggi-tingginya.

Karena tidak ingin berkubang terus di dalam kemiskinan, maka Yao pun menanamkan satu tekad dalam dirinya. Bahwa tidak selamanya keluarga mereka akan hidup menomad tanpa tempat tinggal yang tetap dan layak. Ia lantas bekerja keras dan banting tulang, hidup dari modal otot. Setiap hari ia mengikuti adu gulat bercapa - sebuah perjudian adu tarung yang marak dan mendarah daging di Mongolia. Menghidupi orangtuanya yang sudah uzur dengan uang hasil kekerasan.

Beberapa tahun kemudian ia mengelana ke Ibukota Da-du. Menjadi centeng salah seorang tauke kelontong kaya di sana. Sampai keluarnya amanat dari Kaisar Yuan Ren Zhan agar seluruh warga Tionggoan harus menjalani wajib militer di Kamp Utara. Di sanalah awal mula perkenalannya dengan Fa Mulan yang selalu dilandasi ketidakharmonisan.

Ia dan Fa Mulan sebenarnya seperti dua orang musuh yang bertarung dalam satu selimut. Setiap hari mereka bertengkar dan adu jotos. Itulah sebabnya di Kamp Utara, Fa Mulan dan Yao sering diganjar hukuman oleh Shang Weng. Yao yang kelewat keras diantipati oleh Fa Mulan yang selalu ingin membela prajurit-prajurit lemah jajahan Yao. Setiap memalaki prajurit-prajurit lemah tersebut, Fa Mulan selalu tampil sebagai pahlawan. Menentang Yao yang lebih besar tiga kali lipat dari tubuhnya.

Meski kasar tetapi Yao sebenarnya memiliki sifat baik yang jarang ditampakkannya. Ia setia kawan. Selalu menolong kaum jelata yang tertindas puak terpandang, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun. Sayang ia selalu mengambil tindakan tanpa nalar. Dan menempuh jalan kekerasan reaksi amarah yang berkobar di dalam hatinya.

Fa Mulan masih menghangatkan tubuhnya di samping unggun. Sejenak diisinya tadi benaknya yang lowong dengan kenangan silam. Yao, Chien Po, dan Bao Ling merupakan sahabat terbaiknya. Dan ia tidak ingin salah satu dari mereka ada yang gugur sia-sia. Hal itulah yang kerap meresahkannya. Terutama Yao yang beremosi labil.

Ia mengusap wajah.

Pasukan pemberontak Han yang sudah semakin dekat dan berada beberapa mil dari barak meresahkannya. Besok fajar pasti sudah sampai di sini. Sementara bala bantuan belum kunjung tiba. Apa boleh buat, pikirnya. Hidup mati manusia memang sudah ditentukan dari langit. Itulah takdir kematian seseorang yang bernama ajal. Dapat terjadi di dalam situasi apa pun juga. Kalau ia memang harus terbantai dalam peperangan besok, maka ia tidak akan pernah menyesali kematiannya yang menyakitkan itu. Sebab ia merasa telah membela kebenaran.

Dan tidak mati dengan sia-sia.

Baru saja ia akan menikmati bakpaonya ketika beberapa prajurit berjalan tertatih-tatih dengan tubuh membujur luka. Mereka adalah prajurit-prajurit yang diperintah ikut serta ke perbatasan Tung Shao bersama Yao fajar kemarin.

Fa Mulan berdiri.

Ia mendekati prajurit-prajurit tersebut. Dan membantu memapah seorang prajurit yang tertebas golok ke dalam tenda tabib.

Beberapa prajurit dalam tenda keluar dan turut membantu rekan mereka yang terluka.

"Mana Prajurit Madya Yao?!" tanyanya cemas pada seorang prajurit yang tidak terluka.

"Sudah masuk ke tendanya, Asisten Fa." "Bagaimana keadaan kalian?"

"Hampir semua rekan-rekan yang berangkat bersama Prajurit Madya Yao gugur di perbatasan. Kami yang selamat tidak sampai dua puluh orang. Pasukan pemberontak Han sangat banyak, Asisten Fa! Kami tidak sanggup menghadang mereka!" "Baik, baik. Terima kasih. Kamu istirahat saja dulu. Kalau luka, segera ke tenda tabib."

Prajurit bawahan itu mengangguk.

Fa Mulan meninggalkan prajurit itu dengan wajah gusar. Dilangkahkannya kakinya dengan gerak gegas ke tenda Yao. Meminta pertanggungjawaban lelaki bertubuh kekar itu. "Yao!" teriaknya keras di muka tenda Yao.

Yao menyibak daun tenda. Ia keluar dengan wajah bengis. Tampak segar bugar, tidak mengalami luka sedikit pun. Fa Mulan sedikit lega. Tetapi tak mengurungkan kemarahannya yang sudah mengubun sejak fajar kemarin.

"Apa-apaan kamu, Yao!" sembur Fa Mulan berkacak pinggang. "Sok jagoan begitu!"

Yao mendekat.

Ia berdiri persis sejengkal di hadapan Fa Mulan. Ditatapnya ke bawah dengan sikap tidak bersalah. Gadis atasannya itu mendongak, masih belum menyurutkan tatapan matanya yang setajam pedang.

"Sudah sedari dulu saya bilang, saya ingin menghalau Jenderal Shan-Yu di bawah bukit sebelum dia dan pasukannya mendapatkan kekuatannya kembali, lantas menyerang kemari dan merobek-robek tubuh kita di sini!"

"Saya tahu kita semua ingin dia enyah dari muka bumi ini! Semua prajurit di sini ingin memenggal kepalanya! Tapi belum saatnya, Yao! Dia masih terlalu tangguh untuk ditaklukkan!" "Kita dapat menaklukkannya, Asisten Fa!" balas Yao dengan kasar. "Tapi selama ini Anda yang terlalu lamban!"

"Kita butuh waktu yang tepat!"

"Waktu yang tepat?!" Yao mendengus. "Sampai kapan?! Sampai kita lengah dan dia datang dengan seabrek pasukannya yang ganas lalu mencincang tubuh kita?!"

"Saya punya strategi lain. Bukannya dengan cara emosional begitu, Yao!"

"Strategi apa?!" tanya Yao geram. "Strategi mengulur-ulur waktu?!"

"Kalau itu memang merupakan strategi jitu, kenapa tidak?!" Yao kembali mendengus keras.

Ia mengibaskan tangan dengan jumawa seolah-olah Fa Mulan bukan atasannya. Diputarnya tumit hendak masuk kembali ke dalam tendanya. Tetapi Fa Mulan mencekal pundaknya.

Menghentikan langkahnya. Masih ingin meminta tanggung jawab prajurit madya itu atas hilangnya hampir seratus nyawa prajurit Yuan dengan sia-sia.

"Yao, kamu sudah bertindak gegabah!"

"Paling tidak saya memiliki keberanian daripada hanya berpangku tangan seperti Anda, Asisten Fa!"

"Apa yang telah kamu lakukan itu sangat berbahaya, dan mengancam keselamatan nyawa kamu sendiri!" "Saya tidak takut!"

"Saya hargai keberanian kamu. Tapi, tindakanmu itu sama juga dengan mengantar nyawa. Untung kamu masih dilindungi Dewata sehingga dapat kembali ke sini. Tahu tidak, perbuatanmu yang menyongsong ke markas musuh itu seperti anjing yang masuk ke kandang macan!"

"Saya bukan prajurit pengecut!"

"Tapi bukan dengan begitu kamu boleh bertindak gegabah. Saya tidak ingin ada prajurit Yuan yang mati konyol!"

"Maaf, semoga prakiraan saya ini tidak benar! Bahwa apa yang telah Asisten Fa uraikan barusan hanya sebentuk dalih untuk menutupi sepotong rasa takut!"

Fa Mulan terkesiap.

Ia sama sekali tidak menyangka Yao dapat selancang itu. Ia merasa tidak punya wibawa dan harga diri sebagai pemimpin. Ditariknya lengan kokoh Yao dengan sekali entak. Lelaki berwajah keras itu terantuk. Mendekat sejurus setelah menjauhi Fa Mulan tadi.

"Yao! Kalau saja saya sendiri memiliki kemampuan untuk mengalahkan Jenderal Shan-Yu dan ratusan ribu pasukan pemberontak Han itu, maka detik ini juga saya akan menantang mereka di bawah bukit! Detik ini juga saya akan bertarung dengan mereka! Tapi, saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Kita lemah, Yao. Lemah! Karenanya, saya tidak ingin bertindak tanpa melalui seleksi otak! Kenapa?! Karena saya tidak ingin mati sia-sia. Tanpa kita, siapa lagi yang akan membela rakyat Tionggoan?! Apa kamu mengharap para arwah di alam baka untuk menghalau mereka?! Coba kamu renungkan hal itu, Yao!"

Namun Yao tidak mau tahu.

Ia malah menatap sepasang mata Fa Mulan dengan bias menantang. Mencibirkan bibirnya dengan bahasa cemooh. Membuang mukanya kemudian dengan sikap pongah. Berkacak pinggang seperti tokoh protagonis Eng Tay dalam opera mashyur Sam Pek Eng Tay, yang sering dipertunjukkan salah satu kelompok opera keliling di Ibukota Da-du.

"Kalau takut bilang saja!" Yao sudah mengarah kasar.

Kalimat-kalimatnya sudah tidak terkontrol. Fa Mulan tidak dapat membendung amarah yang mengubun di kepalanya.

Diterjangnya Yao yang memiliki tubuh tiga kali lebih besar darinya dengan wushu tingkat dasar.

Yao mengelak.

Tangan kanannya menangkis satu tendangan ke arah dadanya. Ia terundur sedepa menahan tendangan Fa Mulan yang bertenaga. Sedikit terkesiap. Sama sekali tidak menyangka tubuh sekecil itu memiliki chi sekuat kuda. Dikembangkannya otot-ototnya. Tubuhnya memekar seperempat kali lipat dari ukuran tubuhnya yang biasa. Mengangkang dengan tubuh sedikit membungkuk. Siap menangkap tubuh lawan, serta meremukkan tulang-tulangnya saat berada dalam pelukan dan telikung kedua tangannya yang sekokoh baja. Gulat Mongolia memang mengerikan.

Fa Mulan mencecar dengan tusukan-tusukan telapak tangannya. Sambil melompat-lompat dan sesekali bersalto menghindari kaitan kaki Yao, dihujaninya tubuh kekar lawannya itu dengan pukulan telapak. Beberapa menerpa dada dan pundak. Tetapi tubuh besar itu tak bergeming. Kokoh seperti tembok. Yao tetap berdiri memaku pada tanah. Hanya sesekali menggebah pukulan-pukulan telapak Fa Mulan dengan kibasan-kibasan cakarnya.

Suasana di barak Kamp Utara mulai meriuh. Para prajurit keluar dari tenda masing-masing. Keheningan malam yang dipecahkan oleh suara pertarungan menyita perhatian mereka.

Shang Weng menyimak suara gaduh di luar. Ia terbangun dari amben tenda. Berjalan dengan langkah rangkak - tidak dapat sepenuhnya bangun karena lukanya yang belum purna sembuh. Disibaknya daun tenda dari dalam. Di balik api unggun yang meranggas, dilihatnya sepasang prajurit yang berkelahi. Perseteruan masih berlangsung sengit. Api unggun yang terletak tidak jauh dari arena pertarungan tampak melelatu, memercikkan bunga-bunga api akibat embusan angin hasil perkelahian.

Yao masih berusaha menangkap tubuh mungil lawannya. Satu pelukannya yang secepat lesatan anak panah meleset. Fa Mulan merunduk, dan berdiri dengan kedua belah telapak tangannya di tanah sebagai penyangga tubuh kala kakinya mengentak, menendang kepala Yao yang sekeras batu di atas. Yao terundur tiga tindak dengan langkah sempoyongan. Tetapi kakinya masih terlalu kuat untuk dibuat terkulai. Ia masih berdiri dengan sikap kuda-kuda setelah pusingnya hilang.

Pemuda kekar bercambang itu semakin kalap.

Ia berteriak menghimpun tenaga. Ditubruknya tubuh Fa Mulan yang baru saja mendaratkan sepasang kakinya yang menendang tadi. Fa Mulan nyaris terjatuh ke belakang, tetapi satu kakinya menumpu seperti tongkat pada tanah bersalju, kemudian mendorong sekuat tenaga tubuh kekar yang menelikungnya dari depan itu dengan dengan bahu kanan dan kiri bergantian.

Taichi Chuan yang dipergunakan Fa Mulan mampu mendorong tubuh besar itu sehingga terlepas, lalu satu lesatan tendangan putarnya yang mengarah ke dahi Yao pun telak mengena. Yao tersepak tumit Fa Mulan dari jurus Kibasan Ekor Hong - salah satu gerakan dari kungfu ciptaannya, Tinju Hong Terbang. Ia pun terempas dan jatuh ke tanah dengan pandangan melamur. Yao berusaha bangkit.

Tetapi kepalanya memening. Disekanya bibirnya yang berdarah. Fa Mulan menghampirinya. Menyudahi pertarungan dengan melontarkan kalimat-kalimat bijak.

"Yao, saya tidak bermaksud bertarung denganmu. Saya tidak bermaksud melukaimu. Kamu bukan musuh saya. Kamu adalah sahabat saya. Tapi, saya terpaksa melakukan semua itu tadi karena tidak ingin dianggap lemah. Saya ingin kamu sadar bahwa pertempuran itu tidak hanya melawan musuh jasadi.

Tidak hanya dengan pedang dan tombak. Tapi pertempuran itu juga dilakukan untuk melawan angkara murka yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri. Emosi dan amarah yang berasal dari dalam hati dan pikiran kita itu juga merupakan musuh yang harus dilawan dalam sebuah pertempuran!"

Yao meringis kesakitan.

Ia menggoyang-goyangkan kepalanya seolah-olah hendak mencari keseimbangan, menumpu kalibrasi pandangannya yang mengganda akibat tendangan sekeras godam Fa Mulan barusan. "Yao, andai saja saya ingin membunuhmu, sedari tadi pedang Mushu ini sudah menancap di dadamu!" Fa Mulan mengelus- elus gagang pedang Mushu-nya seperti kebiasaannya. "Tapi tidak saya lakukan karena kamu sebenarnya tengah bertempur dengan amarahmu sendiri. Bukan dengan saya. Amarahmu itu merucahmu, Yao. Kalau tidak lekas kamu singkirkan dalam sebuah pertempuran batin, maka musuh dalam hati dan pikiranmu itu akan membunuhmu!"

Yao terduduk memeluk lutut di tanah.

Ia diam menyimak. Menundukkan kepala dengan hati berkecamuk malu. Ia memang harus memboko rasionalitas dalam benaknya yang hilang tercuri oleh musuh muasal diri. Dan ia harus bertempur dengan musuh yang berasal dari dalam dirinya sendiri itu. Membelasahnya sehingga kabur dari batinnya. "Cepat ke tenda tabib, Yao. Basuh lukamu dengan obat.

Beristirahatlah setelah diobati. Besok fajar kita pasti bertempur lagi dengan musuh yang sudah menapaki Tung Shao. Lupakan kejadian barusan. Anggap saja kita sedang berlatih kungfu!"

Fa Mulan melangkah ke arah tenda Shang Weng untuk mengontrol keadaan atasannya itu. Lima tindak melangkah ia menoleh ke belakang. Yao masih terduduk memeluk lutut. Lelaki kekar yang telah ditundukkannya tadi mengangkat kepala.

Mendongak menatap hampa pada langit tak berbintang. Yao menghela napas panjang.

Samar dilihatnya punggung gadis yang telah mengalahkannya tadi menirus, lalu menghilang di balik daun tenda setelah mengalihkan pandangan dari layar lebar langit.

Ia menggigit bibir.

Gadis itu memang tangguh. Ia seperti perempuan jelmaan para dewa, dirida segala purna yang tidak diradi pada sembarang orang. Kekalahannya ini bukan birang. Bukan sesuatu yang pantas disesali.

Gadis itu telah menyadarkannya.

Musuhnya memang bukan hanya pasukan pemberontak Han. Bukan hanya Shan-Yu. Bukan hanya sebentuk musuh-musuh jasadi. Tetapi juga jahiliah yang bermuasal dari dalam dirinya sendiri.

Diam-diam ia bersyukur memiliki sahabat sekaligus pemimpin seperti Fa Mulan.

Gadis itu memang prajurit jelmaan Dewata, prajurit garda langit!

Bab 10

Tataplah aku patriot

dalam binar gentar mataku dan diam kemu bibirku Ajari aku menari

pada padang lalang sekalipun

- Fa Mulan

Nyanyian Padang Maharana

***

Fa Mulan melangkah hati-hati, masuk melewati beberapa sangu tempur di dalam tenda Shang Weng. Penerangan di dalam tenda membias temaram. Pelita di atas meja sudah meredup, nyaris kehabisan bahan bakar minyak samin. Merupakan rutinitas hariannya setiap petang untuk mengisi dan menambah bahan bakar penerangan di dalam tenda Shang Weng tersebut. Kondisi pemuda itu sudah lebih membaik setelah dirawat khusus oleh Tabib Ma Qhing. Luka pada kulit luar di alur iga ketiga dada kirinya sudah sedikit menutup meski belum mengering benar.

Fa Mulan berhenti di meja kayu tenda. Duduk di salah satu bangku. Menuang minyak samin dari botol tembikar bekas arak kampung ke wadah perak berbentuk teratai pelita. Sejenak ditatapnya wajah tampan Shang Weng yang sudah setengah terjaga setelah selesai menuang.

"Mulan. "

Fa Mulan berlari setengah tergopoh ke samping amben atasannya itu. Dipapahnya punggung lelaki berbadan tegap itu yang hendak berdiri dan berjalan ke arah meja. "Kapten Shang. "

"Saya sudah tidak apa-apa."

"Anda perlu banyak beristirahat. Jangan banyak bergerak dulu." Shang Weng bersikeras melangkah. Ia terhuyung. Fa Mulan menyangga tubuh pemuda itu dengan bahunya. Wajah mereka nyaris bersentuhan. Fa Mulan memalingkan wajahnya dengan rupa jengah. Shang Weng mengurai senyum simpul.

"Kenapa Anda tersenyum?!" tanya Fa Mulan setelah mendudukkan tubuh Shang Weng di salah satu bangku kayu. "Tidak apa-apa," elak Shang Weng, menggeser sedikit posisi pelita minyak samin di atas meja. "Hanya. "

"Hanya apa?" cecar Fa Mulan, masih menyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan.

"Hanya saya baru menyadari kalau ternyata Fa Mulan itu sebetulnya cantik!"

Fa Mulan nyaris terjatuh dari bangkunya. Sanjungan mendadak dari Shang Weng melambungkan hatinya. Ia serasa tak berpijak di tanah. Inilah pujian terindah dalam hidupnya selain pujian yang selalu didengungkan oleh ayahnya.

"Sa-saya. "

"Saya berkata apa adanya, Mulan." "Ta-tapi. "

"Kenapa? Tidak mau mengakui bahwa kamu sebetulnya cantik seperti bunga yang-liu?"

Fa Mulan menahan senyumnya.

Pipinya semakin memerah seperti buah persik yang meranum. Baru kali ini pulalah ia merasa menjadi perempuan. Segenap kegarangannya hilang ditelan litani. Pemuda itu memang telah menyayapinya dengan sanjungan sehingga ia seolah terbang ke negeri para dewa. Di mana keindahan yang tiada tara dihamparkan di depan matanya. Maharana yang bakal memporak-porandakan mereka besok mendadak lenyap benaknya. Cinta telah menyaput keresahan hatinya.

"Luka Anda bagaimana, Kapten Shang?" "Jangan mengalihkan pembicaraan!" "Tapi. "

"Hei, dahimu berjelaga!"

Shang Weng sporadis mengeluarkan saputangan dari saku seragamnya. Disekanya dahi dan kening Fa Mulan yang ditempeli jelaga arang. Fa Mulan termangu. Sesaat serupa arca. Mematung lama sampai pemuda yang diam-diam dicintainya itu selesai menyeka.

"Kamu berkelahi lagi, bukan?" "Ti-tidak!"

"Jangan bohong! Tadi saya mengintip dari balik daun tenda. Pasti dengan Yao!" "Kami sedang latihan kungfu."

"Kalau berdalih, coba cari alasan yang lebih tepat." "Tapi. "

Shang Weng kembali mengurai senyum. "Untung saya terluka, jadi tidak punya tenaga untuk menyambuk punggung kalian berdua sebagai hukuman."

Fa Mulan tersenyum, lalu menundukkan kepalanya. Merasa bersalah telah membohongi pemimpin tertinggi di Kamp Utara itu.

Shang Weng bertanya perihal perkelahian gadis itu barusan. "Persoalan apa lagi?!"

Fa Mulan menggigit bibirnya.

Seorang prajurit sejati memang pantang mengurai dusta. Apapun persoalannya. Seberat apapun kasusnya. Toh pemuda itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri perkelahiannya dengan Yao tadi. Ia tidak dapat mengelak cecaran pertanyaan Shang Weng itu dengan mengatakan tidak ada apa-apa. Pasti bukan tanpa sebab kalau ia bertarung sengit dengan Yao barusan. Dan akhirnya diputuskannya untuk lugas berterus terang setelah menimbang-nimbang sejenak.

"Yao tidak dapat menahan amarahnya," jawab Fa Mulan tanpa sedikit pun terdengar nada mendiskreditkan atau mengadu. "Dia nekat menyongsong Jenderal Shan-Yu di perbatasan." "Yao keras kepala. Dari dulu. "

"Saya menegurnya. Tapi dia tidak terima!" "Anak itu mesti diganjar pelajaran!" "Makanya, kami berkelahi."

"Saya tidak dapat menyalahkan kamu kalau begitu." "Terima kasih, Kapten Shang."

"Lalu, bagaimana nasib prajurit-prajurit lainnya?"

Fa Mulan menghela napas sampai dadanya dipenuhi oksigen. "Nah, inilah yang membuat saya kalap tadi!"

"Kenapa?!"

"Nyaris seratus prajurit pilihan yang menyertainya gugur sia-sia di perbatasan!"

"Kurang ajar Si Yao itu!"

Shang Weng menggabruk meja.

Fa Mulan terlonjak. Sama sekali tidak menyangka atasannya itu akan mengguntur gusar. Ia sedikit menyesal telah menceritakan kejadian yang sesungguhnya di saat pihak Yuan sudah di ambang kehancuran. Tetapi ia tidak bisa mengarang kisah di hadapan sang pemimpin. Ia tidak bisa merangkai utopia sehingga tercipta ketenangan di benaknya yang babur.

"Maaf, Kapten Shang!" Fa Mulan mengatupkan tangannya menghormat. "Ini insiden. Yao sudah menyesali perbuatannya. Sebenarnya bukan maksud dia untuk bertindak gegabah. Hanya saja dia menganggap saya lamban mengeksekusi pasukan pemberontak Han beberapa bulan lalu saat terdesak mundur di gigir Sungai Onon."

"Tapi. "

"Mohon Kapten Shang jangan menghukumnya!" Fa Mulan masih mengatupkan tangan di muka wajahnya. "Dia sudah sangat terpukul dengan kejadian di perbatasan itu. Semua yang dia lakukan itu demi kebaikan Kekaisaran Yuan juga. Dia bernafsu membunuh Jenderal Shan-Yu. Cuma sayang dia tidak memikirkan akibat yang ditimbulkannya, yang memakan banyak korban di pihak kita."

Shang Weng mengatupkan gerahamnya.

Amarahnya mengubun. Dipejamkannya mata sesaat untuk menetralisir darah yang berdesir di sekujur nadinya. Fa Mulan menggigit bibir. Ia khawatir dan menggamangkan Yao yang mungkin akan mendapat hukuman pancung!

Ia tahu watak keras Shang Weng.

Pemuda itu seperti tidak pernah mengenal bahasa kompromi. Ia menjunjung sebuah prinsip yang sampai mati pun akan terbawa dalam kubur. Bahwa harga diri melebihi segalanya!

Sekian tahun ia mengabdi pada Kekaisaran Yuan, sekian tahun pula ia menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan para leluhurnya, para pewarga marga Shang yang sudah meninggal namun tetap hidup dengan gaung moralitas dan kebajikan sejatinya.

Pemuda itu adalah pemburu ektoterm.

Ia sangat membenci kezaliman. Tidak ada tempat di hatinya untuk para rudapaksa, yang korup dan tiran seperti Shan-Yu. Yura harus ditegakkan demi keadilan zamin. Supaya bijana yang telah dipijaknya sejak kali pertama menghirup lafaz kehidupan terbebas dari segala angkara. Salah satu bentuk bakti moral untuk para leluhurnya!

"Setelah pertempuran ini, Yao harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tidak berotak itu!" ancam Shang Weng gusar. "Pembangkangannya itu harus mendapat ganjaran hukuman yang seberat-beratnya!"

Fa Mulan langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.

Ia berlutut di hadapan Shang Weng. Sepasang tangannya mengepal di muka. Memohon dengan hormat di bawah kaki pemuda yang masih mengatupkan gerahamnya itu. Agar mengurungkan niatnya menghukum Yao yang sudah melakukan pelanggaran berat dalam kemiliteran.

"Saya yang salah, Kapten Shang!" serunya dengan suara memarau. "Saya yang tidak becus mengawasinya sehingga bertindak di luar kendali. Seharusnya saya yang bertanggung jawab atas kejadian miris di perbatasan itu! Kalau Anda hendak menghukum Yao, maka hukumlah saya terlebih dahulu. Dipancung pun saya rela, Kapten Shang!"

Shang Weng mengibaskan tangannya. Sikapnya sedikit melunak termakan iba. Diam-diam dikaguminya Fa Mulan yang memiliki solidaritas setinggi langit. Ia memang layak menjadi pemimpin para prajurit.

"Bangunlah," perintahnya. "Yah, sudahlah. "

Fa Mulan sontak berdiri dengan wajah sumringah. "Jadi, Kapten Shang sudah memaafkan Yao, bukan?!"

Pemuda itu diam. Tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Namun suaranya tidak mengguntur lagi ketika ia menjawabi pertanyaan antusias Fa Mulan yang masih menggaung euforis tadi.

"Siapa yang bilang begitu?! Apa kata prajurit-prajurit lainnya nanti? Di mana letak keadilan itu kalau saya membebaskan Yao tanpa syarat?"

Wajah Fa Mulan mengerut. "Jadi?!"

"Yao tetap akan dijatuhi sanksi administratif. Mungkin dia dipecat dari dinas militer, atau pangkatnya diturunkan setingkat."

Urat syaraf Fa Mulan mengendur. Rengsanya menguap. Badannya menegak. Respirasinya normal kembali. Ia lega. Sangat lega. Yang pasti, Yao tidak akan dipancung! Ia duduk kembali ke bangkunya. Menatap sepasang mata elegan di hadapannya dengan sakinah.

"Kamu agak kurusan," ujar Shang Weng lembut, menggeser amarahnya dengan topik lain.

"Kapten Shang. "

"Mulan, kamu sudah banyak menderita!" "Saya. "

"Tidak sepantasnya gadis seperti kamu menempuh bahaya, menyabung nyawa untuk mempertahankan negara."

"Urusan mempertahankan negara merupakan kewajiban setiap orang, Kapten Shang. Tidak dibeda-bedakan oleh jenis kelaminnya."

"Tapi. "

"Saya tidak merasa istimewa karena dalih satu-satunya perempuan yang menjadi prajurit Yuan, Kapten Shang! Sekarang, pada saat negara sedang di ujung tanduk, siapa pun dapat mengaplikasikan diri bela negara. Tidak mesti hanya di kemiliteran. Gadis-gadis lain yang menyiapkan segala keperluan logistik misalnya, juga otomatis telah ikut bersumbangsih mempertahankan negara. Para perempuan yang membantu suaminya di sawah di daerah Yunan pun turut berjasa secara tidak langsung. Jadi, jangan bedakan saya dengan para prajurit lainnya."

"Makanya saya simpati sama kamu, Mulan. Padahal, gadis- gadis sebayamu pasti sudah disunting orang. Melahirkan anak bagi suami mereka. Hidup damai di bawah naungan rumah besar. Bukannya tenda reyot di barak militer bikin sengsara ini." "Kalau tidak salah sudah seribu kali Anda mengatakan hal yang sama, Kapten Shang."

"Kenyataannya. "

"Kenyataannya saya tidak setegar sangkaan Anda, Kapten Shang!"

Shang Weng terbahak. "Tentu. Soalnya kalau tidak, pasti pipi kamu tidak akan terbakar seperti tadi saat saya mengatakan kamu cantik!"

"Anda. "

"Kamu tetap perempuan."

"Maaf, Kapten Shang. Saya tidak suka diolok-olok begitu!" Fa Mulan mendengus, melipat tangannya di dada pura-pura sewot. "Saya tidak mengolok-olokmu. Tapi, memujimu!"

"Apa bedanya?!"

Shang Weng terbahak sampai terbatuk. Dielus-elusnya dadanya yang menyeri. Fa Mulan prihatin. Mengangkat tubuhnya dari bangku. Hendak menyentuh bahu pemuda itu tanpa sadar. "Saya kualat!" aku Shang Weng setelah meredakan tawanya. "Kualat kenapa?" Fa Mulan mengernyitkan dahinya.

Mengempaskan kembali pinggulnya di bangku. "Dewata di langit marah karena gadisnya dipermainkan." "Kapten Shang!"

Pemuda berwajah aristokrat itu kembali mengurai tawa. Fa Mulan menyambut tawa atasannya itu dengan memberengutkan bibir. Sejak kehadiran dirinya diterima seutuhnya sebagai seorang prajurit - bukannya gadis yang menyamarkan identitas dirinya, Shang Weng tampak lebih akrab dengannya. Dulu, selain dengan Yao, Fa Mulan paling sering bertengkar dengan Shang Weng. Bahkan mereka sering berduel di luar barak setelah melepas simbol-simbol Yuan. Bertarung atas nama pribadi. Lepas dari strata jabatan, antara atasan dan bawahan. Dan hasilnya selalu berimbang!

Berimbang, karena seorang Fa Mulan tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menyadarkan sahabatnya yang dianggap infair. Sekelumit pertarungannya dengan Yao saat masih berstatus prajurit wamil dulu masih mengiang di benak. "Saya tidak memiliki alasan untuk menaklukkan Yao di depan banyak orang, Bao Ling. Dia bukan musuh Yuan."

"Saya tahu kamu mengalah, Mulan. Tapi kalau terus-menerus mengalah, maka anak itu akan semakin besar kepala. Padahal, saya tahu kalau kualitas wushu-mu jauh di atas Yao."

"Apa lantas dengan begitu saya dapat mempermalukan dia di muka umum?" "Bukan begitu. "

"Sudahlah, Bao Ling. Sejahat bagaimanapun Yao, toh dia tetap adalah sahabat kita."

"Saya tahu. Tapi, kalau tidak kamu kasih pelajaran dengan menundukkannya sekali-dua, maka dia tidak akan berhenti dengan ulahnya yang suka 'menjajah' orang kecil." "Selama perbuatannya belum keterlaluan, saya tidak akan bertindak apa-apa."

"Tapi, dia akan semakin menjadi-jadi!"

"Dibunuh pun percuma. Menyadarkan Yao bukan dengan menaklukkan fisiknya, tapi yang terutama adalah hati dan pikirannya."

"Saya tidak yakin anak itu akan menjadi baik."

"Seseorang dapat berubah. Beri dia kesempatan untuk sadar." "Dia akan sadar kalau sudah ditundukkan."

"Dia tidak akan pernah sadar dengan semua kesalahannya jika dikasari dan disakiti. Boleh jadi malah Yao akan menyimpan dendam."

"Tapi kalau tidak. "

"Dendam dan benci tidak akan pernah berhenti bila dibalas dengan dendam dan benci. Namun sebaliknya, dendam dan benci dapat berakhir bila dibalas dengan cinta dan kasih."

"Anak itu tidak pernah mengenal yang namanya cinta dan kasih. Sikapnya bukan prajurit, tapi barbar."

"Untuk itulah Yao tidak saya kasari, Bao Ling. Bukannya saya mengalah, tapi saya hanya ingin menyadarkannya dengan pekerti. Menundukkannya dalam perkelahian bukanlah cara yang tepat dan efektif untuk menyadarkannya. Hal itu malah akan menambah runyam masalah. Saya masih berprinsip bahwa, lidah seorang pebijak lebih tajam ketimbang pedang dan tombak manapun."

"Jadi, kamu masih berusaha membujuknya supaya menjadi baik?"

"Itu kewajiban kita sebagai teman."

"Tapi anak itu tidak pernah menganggap kita sebagai teman." "Untuk itulah menjadi tugas kita menyadarkannya." "Menyadarkan anak itu sama juga berhadapan dengan batu." "Sekeras apa pun, batu juga dapat aus dan hancur bila digerus oleh air yang bersifat lembut."

"Kamu terlalu membelanya, Mulan."

"Demi persaudaraan, dengan mengorbankan jiwa pun saya siap untuk itu."

Apakah patriotisme itu selaksana partitur yang telah tertuangi nada-nada miris, dan dimainkan oleh sitar kematian dedewi atas maharana ini?! Lantas di manakah letak irama keadilan yang senantiasa menyejukkan jiwa-jiwa nan kerontang?! Itulah yang kerap menghantuinya.

"Jangan marah," sergah Shang Weng separo tertawa, menggugah lintas kenangan silam gadis itu semasa menjadi prajurit wamil dulu. "Fa Mulan memang jelmaan para dewa di langit!"

"Semoga Dewata mau mengampuni pemimpin Kamp Utara, Kapten Shang Weng," Fa Mulan mengatupkan telapak tangannya cepat, memohon seperti sedang berdoa. Matanya memejam dengan mulut kemu. "Bukan maksud dia. "

"Mulan. "

"Kapten Shang Weng!" desis Fa Mulan perlahan, seperti berbisik. "Anda sudah keterlaluan!"

"Kenapa?"

"Kalau Dewata mendengar apa yang telah Kapten Shang ucapkan tadi, bisa kualat kita! Besok dalam pertempuran kita akan mendapat musibah! Sebuah bencana akan ditimpakan Dewata kepada kita karena murka!"

Shang Weng menahan tawanya. Ia terkikik. Fa Mulan melototinya sambil menempelkan jari telunjuk tangan kanannya di bibir.

"Mohon Dewata mengampuni," Fa Mulan kembali berkomat- kamit dengan mata memejam serupa maharesi. "Besok kami akan bertempur. Tolong Dewata lindungi dan berkati kami semua."

"Maaf," sahut Shang Weng setelah melihat kelopak mata Fa Mulan membuka dan selesai dengan upacara ritualnya. "Untuk apa?!"

"Lupa kalau besok kita bertempur dengan pasukan pemberontak Han."

"Makanya. "

"Makanya saya tidak ingin mengolok-olokmu lagi. Nanti Dewata tidak memberkati kita."

Shang Weng pura-pura serius. Padahal tawanya sudah hampir menyeruak. Tetapi masih tertahan di tenggorokannya. Sama sekali tidak menyangka Fa Mulan yang demikian tangguh dapat sereligius itu. Sangat menyanjung fenomena tentang Sang Pencipta! Ia kelihatan jadi lain. Bukannya Fa Mulan yang gagah dengan pedang Mushu-nya. Bukannya Fa Mulan yang berjiwa pemimpin. Ia seperti kanak-kanak kini.

Fa Mulan terkesiap.

Nyaris kembali jatuh dari duduknya di bangku. Kali ini ia tidak tengah berada di hamparan nirwana, tetapi tengah menyaksikan bayangan hamparan salju yang dilumuri dengan darah. Ia memekik tanpa sadar. Besok adalah hari maharana!

"Kapten Shang, besok pasukan pemberontak Han pasti sudah sampai di sini! Saya khawatir dengan kondisi Anda yang belum pulih. Sekarang saya akan minta Bao Ling mengantar Anda mengungsi ke Ibukota Da-du! Mumpung masih ada waktu untuk kabur, maka malam ini juga Kapten Shang harus keluar dari zona tempur ini!" Fa Mulan bangkit dari bangkunya, hendak melangkah keluar tenda. Menyiapkan segala keperluan dan sekedar bekal dalam perjalanan kabur Sang Komandan.

Namun langkahnya terhenti. Shang Weng menarik tangannya. "Mulan, kamu pikir saya ini pengecut apa?!" sembur Shang Weng dengan wajah cua. "Prajurit macam apa saya ini kalau melarikan diri begitu?!"

"Tapi, Anda sedang terluka!" balas Fa Mulan, masih berusaha melangkahkan kakinya. "Kalau Anda tetap bersikeras di sini, itu sama juga Anda memasang tubuh untuk dibantai percuma!" "Tidak, Mulan!" Shang Weng berdiri, memegangi bahu Fa Mulan. "Saya tetap di sini! Sebagai pemimpin Kamp Utara, meskipun kepala saya terpenggal besok, saya akan tetap di sini menyertai kalian!"

"Saya sudah menggantikan posisi Anda, Kapten Shang!" teriak Fa Mulan bersikeras mengungsikan Shang Weng ke Ibukota Da- du. "Saya sudah memiliki strategi untuk menghalau mereka.

Anda jangan khawatir. Keselamatan Anda lebih penting untuk moralitas prajurit-prajurit yang akan bertempur di kemudian hari." "Tidak!" tolak Shang Weng emosional. "Saya tetap di sini!" "Kenapa Anda bersikeras kepala batu begitu, Kapten Shang?!" Fa Mulan panik, tidak dapat mengendalikan emosinya.

"Saya tidak mau dianggap pengecut!"

"Tidak ada yang menganggap Kapten Shang begitu!" "Tapi. "

"Kapten Shang tetap seorang satria meskipun tidak harus menumpahkan darah di zona tempur ini!"

"Kalau saya kabur ke Ibukota Da-du, maka sama juga saya telah mati berkalang malu!"

"Kapten Shang!" Fa Mulan menjerit. "Semua ini demi kebaikan Kapten Shang! Semua ini demi kebaikan Kekaisaran Yuan! Saya tidak ingin prajurit-prajurit Yuan tanpa pemimpin! Kita tidak boleh berharap terlalu banyak pada atase militer Yuan, para jenderal yang egosentris di pusat itu!"

"Kamu jangan mendesak saya, Mulan!" Shang Weng bersikukuh untuk tetap tinggal di zona tempur. "Ini perintah atasan!"

"Saya tidak peduli Anda siapa, Kapten Shang! Saya tidak peduli sekalipun Anda Kaisar!" Fa Mulan masih menentang tanpa digentari strata jabatan. "Kalau demi kebaikan Kapten Shang tetap juga menolak, maka saya tidak akan segan-segan lagi, meskipun berlaku kasar terhadap Kapten Shang!"

"Ka-kamu. "

"Coba berpikir rasional, Kapten Shang!" Fa Mulan menatap nanar sepasang mata bagus di hadapannya dengan benak merompa. Inkarserasi kebatuan sikap Shang Weng seperti mengurungnya dalam satu kalpa inkarnasi yang melelahkan. "Kalau kita berdua terbantai di sini, siapa lagi yang dapat memimpin pasukan di Kamp Utara?! Makanya, saya harap Kapten Shang dapat bijak mengenyahkan sepotong kalimat yang bernama satria itu, jika pada kenyataannya hanya menjadi korban penggal di zona tempur ini!"

"Saya masih punya harga diri!"

"Kalau harga diri itu tidak dapat membawa manfaat apa-apa, apalah artinya harga diri Anda itu, Kapten Shang?!"

"Sa-saya. "

"Anggap saja saya sedang memohon, Kapten Shang!" "Tapi. "

"Kapten Shang, saya mohon!" Fa Mulan menjatuhkan dirinya. Sepasang lututnya berdebum di tanah. Untuk kedua kalinya ia berlutut memohon. Keadaan segenting ini memang harus diantisipasi secepat mungkin. Harga diri, prisnsip, dan martabat seperti menjadi pranata. Membentuk idealisme getas. Sehingga menjadi beban rasionalitas.

Pemuda yang masih dibebati kain kasa itu terperangah. Tidak menyangka Fa Mulan akan sengotot begitu. Ia merunduk.

Mengangkat tubuh mungil di hadapannya, dan menuntunnya berdiri. Tetapi ia belum mau mengalah untuk mengungsi. Harga diri lebih dari segalanya!

"Berdirilah, Mulan!" bentaknya. "Sampai seratus tahun pun kamu berlutut meminta saya mengungsi, saya tidak akan pernah melakukan hal sepengecut begitu!"

"Kapten Shang!"

"Saya tetap akan menjunjung nilai-nilai luhur para leluhur marga Shang. Seorang satria tidak boleh menyembunyikan kepalanya seperti kura-kura! Saya akan melawan mereka, meskipun kedua tangan dan kaki saya dipotong!"

Mata Fa Mulan memerah.

Diusapnya wajah. Entah harus berbuat apa untuk melunakkan kekerasan hati Shang Weng. Gengsi dan harga dirinya lebih tinggi dari Hwasan. Andai saja pemuda tidak terluka, maka ia pasti akan berusaha menaklukkan kekerasan hati pemimpinnya itu dalam sebuah pertarungan.

"Pergilah, Kapten Shang!" usir Fa Mulan dengan suara paruh tangisnya. "Sebelum segalanya terlambat!"

"Saya tidak bisa berpangku tangan melihat kamu terbantai di sini!"

"Saya bisa jaga diri."

"Saya tidak akan dapat memaafkan diri saya sendiri seandainya kamu terbantai di sini sementara saya tidak berbuat apa-apa di Ibukota Da-du!"

"Arwah saya tidak akan menuntut apa-apa dari Kapten Shang seandainya tewas dalam pertempuran besok!"

"Saya tidak ingin kamu mati!"

"Semua orang pasti mati. Tinggal menunggu waktunya saja. Kalau saya takut mati, sedari dulu saya tidak akan mendaftarkan diri saya sebagai wamil. Sedari dulu saya pasti telah melarikan diri dalam penggemblengan yang keras di Kamp Utara ini!"

"Ta-tapi, saya tidak ingin kamu mati!" "Saya tidak takut mati! Ini risiko prajurit!"

"Saya ingin menyertai kamu bertempur besok! Saya akan mengawal kamu!"

"Apa?!" Fa Mulan meledakkan tawa kecilnya dalam nada sinis. "Kapten Shang bermaksud mengawal saya?! Jangankan membantu saya, mengangkat pedang pun mungkin Kapten Shang tidak sanggup!"

"Ka-kamu. "

"Saya hargai keputusan Kapten Shang yang tulus ingin membantu saya. Tapi, saat ini tidak mungkin Kapten Shang dapat mengaplikasikan suri teladan sebagai seorang pemimpin yang baik! Situasinya tidak memungkinkan. Bagaimana Kapten Shang dapat menolong orang lain kalau diri sendiri saja tidak dapat ditolong?!" "Kita bertempur bersama-sama."

"Saya tidak ingin dibebani oleh pesakit!" tegas Fa Mulan tanpa rasa sungkan, berterus terang. "Maaf, Kapten Shang!"

Shang Weng melotot. "Kamu harusnya sudah dipenggal!" "Seharusnya. Seharusnya, Kapten Shang. Namun sayang negara dalam kondisi chaos," bela Fa Mulan enteng, "sehingga saya dapat meluputkan diri dari hukuman penggal Anda itu, Kapten Shang! Saya akan berasumsi di hadapan Kaisar Yuan Ren Zhan bahwa, apa yang telah saya lakukan itu demi kebaikan Dinasti Yuan. Kaisar Yuan Ren Zhan pasti dapat menakar keadilan, mana yang benar dan mana yang salah.

Karena apa yang telah saya perbuat, yang bagi Kapten Shang mungkin dianggap pembangkangan ini, semata-mata demi keselamatan aset negara! Saya berusaha menyelamatkan aset potensial Dinasti Yuan. Aset potensial itu adalah Anda, Kapten Shang!"

"Ta-tapi. "

"Kapten Shang sudah berkontribusi banyak dalam pertempuran besok kalau menuruti saran saya mengungsi ke Ibukota Da-du!" "Sampai mati pun saya akan tetap di sini!"

Rambun masih menyelimuti barak Kamp Utara. Fa Mulan menggigil. Maharana di depan mata. Tetapi lelaki berpendirian setegar karang itu tak juga luluh. Malah menebarkan partikel gamang serupa laksa jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Dewata seperti mengabaikan doa-doanya!

Sudah dua hari Bao Ling datang membawa kawat balasan dari Jenderal Gau Ming. Namun bala bantuan yang termaktub akur dalam manuskrip belum kunjung tiba. Penantiannya lebih menyakitkan ketimbang musuh itu sendiri!

Fa Mulan melangkah dengan putus asa.

Moralitas yang hendak diaplikasikannya terbentur dinding pondik. Pemuda itu adalah benteng keangkuhan. Ia tak sanggup meruntuhkan jumawitas Shang Weng. Lelaki itu kokoh tak tergoyahkan.

"Fa Mulan. "

Ada satu cekalan keras menariknya kembali, mendekat nyaris berbenturan wajah. Shang Weng memeluknya. Tiba-tiba.

Jantungnya serasa tertombak! Napasnya seolah berhenti, putus di kerongkongan seperti mati!

"Sa-saya tidak ingin kamu mati!" seru pemuda itu dengan nada gugup. "Saya mencintai kamu!"

Ada sayap yang mengambangkannya dari tanah. Gerbang svargaloka seperti terpentang kembali. Hamparan sejumlah bunga telah terlihat indah di sana. Namun diurungkannya untuk terbang. Sebab masih banyak tugas yang menantinya di tanah para pendosa. Menanti kehadiran sepasang tangannya untuk membilas sempelah darah merah yang menyelubung bumi. "Kapten Shang. "

"Kalau kamu mati, saya juga ikut mati! Saya menyertaimu sampai mati!"

Fa Mulan menggeleng. Pelukan melepas. Pemuda itu terpana seperti terpanah!

"Maaf, Kapten Shang! Saya merasa tidak etis Anda membahas masalah pribadi di saat keadaan negara sedang genting." "Mungkin besok saya tidak punya kesempatan lagi!"

Fa Mulan mengusap wajah.

Sejenak mematung sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia sudah sampai di daun tenda ketika sebuah teriakan memaku sepasang kakinya di tanah.

"Saya tidak ingin dua kali kehilangan orang yang saya cintai, Mulan!"

"Mak-maksud Kapten Shang. "

"Shiaw Ing telah dipampas oleh pembatil Han! Saya tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama dengan gadis itu!"

Fa Mulan terkesima.

Sebuah pangkal kisah menyedot serupa besi sembrani. Seperti lektur filsuf Konfusius yang asyik ditelusuri dengan kontemplasi. Menarik untuk disimak lebih jauh.

"Shiaw Ing?!" Seperti sudah mengetahui pertanyaannya, pemuda berbadan tegap itu langsung menjawab.

"Dia kekasih saya. Sudah meninggal tujuh tahun lalu. Sebuah kelompok perompak bernama Kelompok Topeng Hitam telah menghancurkan segalanya. Kaki tangan Han Chen Tjing itu bukan saja merampok harta benda keluarga saya di Tiangjin, tapi juga menggagahi Shiaw Ing yang saat itu berkunjung ke rumah. Sebuah kebiadaban telah merampas kesuciannya. Dia menghabisi nyawanya sendiri karena tak kuasa menanggung malu. Tragedi itu memicu amarah saya sehingga menjadi predatoris. Saya masuk militer. Saya telah bersumpah untuk menumpas Han Chen Tjing dan antek-anteknya! Saya ingin menumpas kebatilan! Demi Shiaw Ing, juga demi tegaknya ketenteraman di negeri Tionggoan ini!"

Fa Mulan melepas secuil senyum tanpa sadar. Entah karena dorongan apa. Tetapi tidak ada sinisme yang membasa dari pelepah bibirnya yang rekah. Mungkin gejala takjub. Kisah sepat yang sama sekali jauh melakon dari benaknya.

Pemuda itu memang terluka!

Selama ini ia tidak pernah mengetahui kalau jalinan kisah masa lalu Shang Weng mengalun getir. Setahunya, pemuda itu lahir dari keluarga biasa-biasa saja di Tianjing - sebuah daerah kabupaten di Tionggoan Selatan. Masuk militer jauh sebelum keluarnya maklumat wamil Kaisar Yuan Ren Zhan. Reputasi akademiknya luar biasa. Ia merupakan kader di kemiliteran. Orang kepercayaan Jenderal Gau Ming. Sangat menonjol dalam strategi perang, namun tidak memiliki ilmu silat istimewa kecuali keterampilannya memainkan hampir semua alat dan senjata organik perang serta keunggulan insting tempurnya. Ia sangat memuja Sun Tzu. Bukan religius dan tidak agamis. Tetapi senang membaca lektur Konfusius yang bijak.

Serangkaian pertempuran telah membentuk sosoknya menjadi momok. Ia adalah gergasi perang. Predator bagi semua mangsa. Tidak ada pengampunan bagi lawan yang sudah takluk. Ia mencacah kebatilan. Melawan kejahatan dengan kekerasan. Pedangnya senantiasa berlumuran darah. Namun ia heroik. Selalu membela rakyat jelata yang tertindas. Sulung dari sembilan bersaudara itu memang menyimpan sekelumit misteri. Ia introver.

Ia sangat kejam terhadap prajurit cuai. Digemblengnya wamil sehingga sekeras baja. Mentalitas yang telah dibentuknya sebelum berperang telah mendatangkan antipati semua wamil. Ia serupa ektoterm. Tetapi ia sangat arif memutuskan suatu masalah. Idealisme. Gigih dan tidak gampang menyerah. "Dendam, bahkan lebih jahat dari pembatil itu sendiri, Kapten Shang!" "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya sakit kehilangan orang yang dikasihi!"

"Mungkin. Tapi dendam yang membara di hati Kapten Shang akan menikam seumur hidup. Sakitnya jauh lebih sakit ketimbang pada saat Kapten Shang menerima kenyataan tragis itu!"

"Saya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya!" Fa Mulan menggigit bibir.

Ia mengerti makna kalimat itu. Namun tak diterjemahkannya karena mungkin besok mereka memang tidak memiliki waktu lagi karena diberangsang maharana menjadi abu. Dan ia lebih memilih menyimpannya sebagai cerita indah tak berbingkai.

Fa Mulan kembali melangkah tepat ketika sebuah teriakan menggema di gendang telinganya.

"Asisten Fa!" Bao Ling menguak daun tenda. Wajahnya sumringah. "Bala bantuan sudah datang!"

Di luar, terdengar riuh derap-derap langkah kaki kuda serupa guruh. Fa Mulan berlari keluar tenda. Menyambut prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang menyemut di luar barak. Juga ribuan kuda tanpa penunggang. Ia tersenyum. Mengelus-elus gagang pedang Mushu-nya yang menyampir dengan gagah di pinggangnya.

Dewata mengabulkan doa-doanya!