-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 18

Bab 18

Berkat karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, keluarga yang terpecah-pecah itu kembali berkumpul menjadi satu. Ketika Raja Cin Bok Kong sudah mendengar bahwa Pek Li He sudah menemukan anak dan isterinya, Raja Cin girang sekali. Raja Cin mengirim orang untuk mengucapkan selamat.

Esok harinya.....

Pagi-pagi sekali Pek Li He mengajak anak dan isterinya menghadap untuk menghaturkan terima kasih kepada Raja Cin. Raja Cin girang dia mengangkat Beng Beng Si menjadi pembantunya bersama Se Kip Sut dan Pek It Peng, mereka diberi gelar Ciang-kun (Jenderal), untuk mengatur angkatan perang negara Cin.

Sementara itu raja bangsa Kian-jiong bernama Gouw Li telah berontak menyerang negeri Cin. Untuk menghadapi bangsa Kian-jiong itu tiga jenderal Cin segera menghadapinya. Karena hantaman dari Beng Beng Si dan dua jenderal lainnya, Raja Gouw Li mendapat kerusakan besar, dan melarikan diri ke negeri Chin, sedang tanah Kwa-ciu segera menjadi milik negara Chin.

Kemudian Raja Cin Bok Kong mendapat lagi seorang pandai, orang itu bernama Yu Ie, dengan kepandaiannya tentara Cin bisa menaklukan Cek Pan, raja bangsa Se-jiong.

Cek Pan adalah raja bangsa Jiong, sekian lama semua bangsa Jiong takluk di bawah kekuasaan raja Se-jiong, tetapi setelah mendengar Cek Peng sudah takluk kepada Raja Cin, semua bangsa Jiong tidak ada yang tidak merasa ngeri. Maka takluklah seluruh bangsa Jiong pada Raja Cin.

Sesudah Chin Hian Kong berhasil merampas negara Gi dan Kek, dua buah negeri, semua orang Chin bersuka-ria. Hanya Li Ki saja yang merasa tidak senang, karena sebenarnya ia ingin Pangeran Sin Seng yang pergi menyerang ke negeri Kek, supaya Sin Seng terbunuh di medan peperangan. Tetapi tidak disangka malah Li Kek yang pergi menggantikan Sin Seng, malah mendapat kemenangan.

Berulang-ulang Li Ki, sang permaisuri Raja Chin ini mencari akal untuk memfitnah Pangeran Sin Seng, tetapi tidak punya kesempatan yang baik dan alasan yang masuk akal, maka segera dia panggil Yu Si untuk diajak berunding.

”Li Kek masih sanak Pangeran Sin Seng,” kata Li Ki, ketika Yu Si sudah datang

menemuinya, ”pahalanya besar dan pangkatnya pun tinggi, maka kita tidak bisa melawan dia! Apa kau punya ide yang bagus?”

”Sun Sit dengan hanya sebuah batu mustika dan seekor kuda telah bisa memusnahkan negeri Gi dan Kek, jelas kepandaiannya lebih baik dibanding Li Kek.” kata Yu Si. ”Bagaimana jika kita minta bantuan pada Sun Sit agar dia membantu Hee Ce, aku yakin dia akan berhasil.”

Li Ki girang mendengar saran tersebut. Dia setuju hendak menjalankan ide Yu Si tersebut. Tatkala Li Ki bertemu dengan Raja Chin Hian Kong, ia memohon supaya Sun Sit diangkat menjadi pemimpin He Ce dan Tok Cu. Permohonan itu dengan senang hati dikabulkan oleh Chin Hian Kong.

Diam-diam Li Ki memanggil kekasih gelapnya, Yu Si, pada siapa dia berkata, ”Sekarang Sun Sit sudah menjadi kelompok kita. Tetapi jika Li Kek masih ada di istana, niscaya ia akan menentang rencana kita. Apa akal kita untuk menyingkirkannya? Jika ia sudah tidak ada, baru Li Kek bisa kita singkirkan.”

”Cuma di luarnya saja kelihatan ia pandai, tetapi sebenarnya pikirannya tidak tetap,” sahut Yu Si. ”Aku tahu Li Kek suka sekali minum arak, coba Hu-jin (Nyonya) tolong bikinkan

masakan kambing, aku akan bawa masakan itu dan arak yang baik untuk mengajak dia makan-makan, jika dia bersedia bergabung itu rejeki Hu-jin!”

”Baik,” kata Li Ki, yang segera membuatkan makanan dan minuman. Sesudah semua tersedia, Yu Si pergi menemui Li Kek, pada siapa dia mengucapkan selamat karena menang berperang dengan negeri Gi dan Kek. Kemudian ia memberi tahu bahwa ia membawa sedikit arak dan makanan untuk makan bersama. Li Kek menerima baik ajakan itu, bahkan dia sangat berterima kasih. Mereka lalu makan bersama. Sesudah makan dan minum sampai setengah mabuk, baru Yu Si menari sambil bernyanyi:

”Pohon He Ie yang suram, tidak seperti Ouw-ouw yang bercahaya. Semua berkumpul di tempat subur, cuma kau yang kering dan payah. Yang subur tampak segar, yang kering menunggu kapak menebasnya.

Kapak berjalan hampir sampai, kau yang kering apakah tidak akan binasa?”

Li Kek tertawa sambil berkata, ”Apa maksudmu, kau katakan yang subur dan yang kering?”

”Seumpama manusia,” sahut Yu Si, ”jika ibunya jadi Permaisuri, pasti putranya nanti akan

menjadi raja, yaitu sebagai pohon yang akarnya dalam dan cabangnya lebat, semua burung suka datang dan hinggap. Maka itu dikatakan subur. Jika ibunya sudah meninggal dunia, putranya pun tidak berharga, ia seperti pohon yang batangnya goyah dan daunnya rontok, semua burung tidak suka singgah, karena itu dikatakan kering.”

Sesudah mengucapkan perkataan itu, Yu Si lantas berpamitan dan terus pulang ke rumahnya. Malam itu Li Kek tidak bisa tidur pulas, karena pikirannya tertarik oleh nyanyian Yu Si.

”Yu Si disukai, baik dari dalam istana maupun luar istana. Sehingga Yu Si bisa bebas keluar masuk istana sekalipun terlarang.” pikir Li Kek. ”Pasti nyanyian yang dia nyanyikan, bukan nyanyian sembarangan.”

Semula Li Kek mau menunggu sampai esok pagi baru memanggil Yu Si untuk menanyakan keterangan lebih jauh, tetapi karena pikirannya belum bisa tenang, dia jadi tak sabaran.

Sekalipun sudah tengah malam tidak urung dia perintahkan orangnya dengan diam-diam memanggil Yu Si.

Tidak lama Yu Si datang dan langsung masuk sampai ke tempat tidur Li Kek. Li Kek minta agar Yu Si duduk di pembaringannya, dia usap -usap paha Yu Si sambil bertanya.

”Aku hampir menerka nyanyian yang kau nyanyikan itu, apakah itu bukan masalah Kiok-ah? Coba kau jelaskan!” kata Li Kek.

”Sudah lama memang aku hendak memberitahu Tay-hu, tetapi karena takut Tay-hu marah; karena Kiok-ah adalah tanggungjawabmu,” kata Yu Si.

”Jika kau memberitahu masalah bahaya, hingga aku terbebas dari bahaya itu, mengapa aku harus marah?” kata Li Kek.

Yu Si menundukkan kepalanya hingga menempel dengan bantal. Dia berbisik.

”Raja sudah meluluskan kehendakan Permaisuri untuk membunuh Sin Seng dan mengangkat He Ce,” bisik Yu Si.

”Apa kau tidak bisa mencegahnya?” tanya Li Kek dengan sangat terperanjat. ”Permaisuri bisa mempengaruhi Raja, sedang di luar dia dibantu oleh dua orang she Ngo. Sekalipun aku cegah, apa mungkin bisa berhasil?” kata Yu Si.

”Aku tidak tega membunuh Pangeran Sin Seng, tetapi melawan Raja bersama Sin Seng pun aku tidak berani! Jika aku pasif dan tidak ikut campur, apa aku masih bisa selamat?” kata Li Kek.

”Ya, mungkin! Dan itu yang paling benar.” jawab Yu Si.

Sesudah mendengar jawaban itu Li Kek merasa lega hatinya, lalu dia persilakan Yu Si pulang. Setelah fajar menyingsing keesokan harinya.....

Li Kek pergi berkunjung ke rumah Tay-hu Pi The Hu, Li Kek disambut oleh tuan rumah dan disilakan duduk. Li Kek meminta agar semua pembantu Tay-hu Pi The Hu mundur semuanya dari ruang tamu. Sesudah mereka tinggal berdua saja, dengan paras muka pucat

Li Kek berkata, ”Tadi malam Yu Si datang memberitahuku, bahwa Cu-kong hendak membunuh Pangeran Sin Seng dan hendak mengangkat He Ce.”

”Bagaimana jawabanmu ke padanya?” tanya Pi The Hu dengan hati terguncang. ”Aku bilang aku berdiri di tengah. Tidak memihak!”

”Wah, celaka!” kata Pi The Hu. ”Ucapanmu itu ibarat api disiram dengan minyak. Seharusnya kau pura-pura tidak percaya. Pasti mereka ngeri terhadapmu. Kemudian kau perkuat kedudukan Pangeran Sin Seng. Sesudah itu bujuk Raja agar dia mengubah niatnya. Tetapi kau bilang kau netral, ini pasti berbahaya sekali bagi Pangeran Sin Seng yang tidak punya

dukungan!” kata Pi The Hu.

”O, celaka! Aku menyesal aku tidak berunding dahulu denganmu!” kata Li Kek sambil membanting-banting kakinya.

Kemudian dia pamit pada Pi The Hu dan berjalan pulang. Tetapi ketika ia hendak naik ke kereta dia pura-pura jatuh.

Esok harinya........

Li Kek bilang kakinya terluka parah, jadi tidak bisa datang ke istana.

**

Dikisahkan Yu Si, sesudah mendapat jawaban dari Li Kek, buru-buru dia menemui Li Ki. Dia sampaikan jawaban dari Li Kek pada Li Ki. Bukan main senangnya Li Ki mendengar jawaban itu.

Pada waktu malam, dengan senyum yang manis Li Ki berkata pada Chin Hian Kong: ”Si-cu sudah lama tinggal di Kiokah, kenapa Tuanku tidak memanggilnya? Coba Tuanku panggil pulang, aku ingin berbuat baik kepadanya. Siapa tahu dia mau mengubah sikapnya yang kurang baik.” ”Ya, jika pendapatmu begitu, baiklah,” kata Chin Hian Kong. Memang dia selalu menuruti saja kehendak jantung hatinya itu.

***

Esok harinya.......

Benar saja Chin Hian Kong mengeluarkan perintah untuk memanggil Pangeran Sin Seng pulang ke ibukota. Begitu menerima panggilan, Sin Seng langsung berangkat ke ibukota. Dia langsung menemui Chin Hian Kong, sesudah dia menjalankan peradatan dia menanyakan

tentang kesehatan ayahnya. Baru kemudian dia masuk ke istana menemui Li Ki.

Dengan manis budi Li Ki menerima kedatangan Pangeran Sin Seng, kemudian mengatur perjamuan. Li Ki menyambut Sin Seng dengan senang, seperti ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan putranya.

Tetapi malamnya, ketika Li Ki bertemu dengan Chin Hian Kong, dengan air mata berlinang-

linang ia berkata, ”Seperti sudah kukatakan kepada Tuanku, aku hendak mencoba berbaikan dengan Pangeran Sin Seng, tapi sungguh menyesal. Mengapa Pangeran Sin Seng begitu

kurangajar!”

”Apa yang terjadi?” tanya Raja Chin dengan terperanjat.

”Aku mengajak Pangeran makan siang,” sambil menangis dan menyeka air matanya, ”dia mau makan bersama. Ternyata dia ada maunya. Ketika sedang mabuk, sambil tersenyum dia berani bilang begini. ’Ayahku sudah tua, apa Ibu bisa merasa puas tidur bersamanya?’

Mendengar ucapannya itu hatiku jadi panas dan tidak menjawab pertanyaannya.” Raja Chin kaget.

”Karena pertanyaannya tidak dijawab, Pangeran berkata lagi begini. ”Dulu Kakekku sudah tua buat Ibuku, Cee-kiang, maka Ibuku diwariskan kepada Ayahku, dan sekarang Ayahku sudah tua, pasti beliau juga bakal mewariskan kau padaku. Maka jika bukan aku pewarisnya, siapa lagi? Mengapa kau malu-malu, mari nikmati kesenangan dunia ini. Lalu dia mencoba mendekatiku, tetapi dengan gusar aku dorong dia! Karena aku menolak, dia jadi kurang senang.”

Raja Chin bengong saja dan setengah tidak percaya. Melihat Raja Chin seperti kurang yakin, Li Ki dengan cerdik berkata lagi. ”Jika Tuanku tidak percaya omonganku, akan kuajak Pangeran jalan-jalan di taman bunga. Tuanku boleh mengintainya dari atas ranggon, Tuanku bisa menyaksikan sendiri bagaimana kelakuannya”, kata Li Ki dengan aleman. ”Kurang ajar!” teriak Raja Chin Hian Kong geram sekali. ”Baik akan kuintai tingkah anak durhaka itu!”

Esok harinya.....

Kembali Li Ki memanggil Pangeran Sin Seng datang, dia ajak Pangeran itu jalan-jalan di kebun bunga. Tetapi terlebih dahulu Li Ki sudah menggosokkan madu (bit) di rambutnya. Tidak heran ketika mereka sedang berjalan di taman bunga, lebah dan kupu-kupu berterbangan di atas kondenya.

”Pangeran, tolong aku! Usir lebah-lebah dan kupu-kupu itu dari atas kepalaku!” kata Li Ki yang dengki dan keji itu. Sedikit pun Pangeran Sin Seng tidak menduga, kalau itu akal busuk dari ibu tirinya. Dia tidak sadar kalau dia akan difitnah. Maka dengan tangannya dia coba mengusir kupu-kupu dan lebah-lebah dari konde ibunya, hingga tubuh dia dengan tubuh Permaisuri Li Ki jadi sangat berdekatan.

Waktu itu Chin Hian Kong memang sedang mengawasi ke arah mereka dari atas sebuah lauw-teng. Tentu saja karena jaraknya jauh, dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Li Ki pada putranya. Tetapi dengan jelas dia bisa melihat Sin Seng seolah begitu mesra; bahkan mengibas-ngibaskan lengannya di atas kepala isterinya. Seolah Sin Seng sedang mengajak

isterinya bersenda-gurau dan tampak mesra.

Mau tidak mau Chin Hian Kong jadi percaya pada ucapan isterinya tadi malam. Dia jadi

sangat mendongkol sekali. Malam harinya dengan sangat geram Raja Chin Hian Kong berkata pada kekasihnya, bahwa dia akan menangkap Pangeran Sin Seng dan akan dihukum mati. Li Ki pura-pura kaget. Dia segera berlutut di hadapan Raja Chin.

”Tuanku, tolong ampuni kesalahan Pangeran kali ini. Jika dia dihukum mati, maka akulah

yang akan disalahkan, karena dia datang ke taman bunga atas permintaanku.” Ratap Li Ki dengan cerdik.”Ingat Tuanku, kejadian itu belum ada yang mengetahuinya. Jika Tuanku menghukum dia, dan umum mengetahui hal ini akan kurang baik bagi Tuanku sendiri!””

Kembali Raja Chin yang hatinya lemah itu bisa dibujuk. Dia batalkan niatnya menghukum pangeran. Esok harinya Pangeran Sin Seng diminta agar segera kembali ke Kiok-ah. Tetapi diam-diam Raja Chin mengirim orang untuk memata-matai putranya itu.

Selang beberapa hari, Raja Chin Hian Kong pergi berburu ke Ek-hoan. Kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh Li Ki, dia panggil Yu Si untuk diajak kencan sekalian berunding.

Dalam perundingan Li Ki dan Yu Si menetapkan sebuah rencana jahat. Dia kirim orang ke Kiok-ah; utusan itu diminta menyampaikan pesan Ratu Li Ki. Pesan itu begini: Tadi malam Ratu Li Ki bermimpi bahwa Ibu Pangeran Sin Seng, yaitu Permaisuri Cee Kiang almarhum dalam keadaan susah dan minta disembahyangi.

Mendengar keterangan utusan itu, buru-buru Pangeran Sin Seng bersembahyang untuk ibundanya. Seperti biasanya hidangan ada yang dikirim ke ibukota untuk Raja Chin Hian Kong. Tetapi ketika antaran makanan itu sampai, Raja Chin belum pulang dari berburu. Enam hari kemudian...barulah Raja Chin Hian Kong pulang dari berburu. Mendengar Raja

Chin pulang dan akan segera tiba di istana, Li Ki segera menaruh racun ke dalam arak kiriman Pangeran Sin Seng untuk ayahnya.

”Ketika Tuanku pergi berburu, aku bermimpi Ratu Cee Kiang sedang sengsara dan

kelaparan,” kata Li Ki. ”Karena Tuanku sedang tidak ada di istana, maka aku memberitahu Pangeran Sin Seng di Kiok-ah supaya sembayang. Sesudah sembahyang, dia mengirim makanan untuk Tuanku.”

Raja Chin senang. ”Dia ingat padaku,” kata Raja Chin sambil tertawa girang.

Li Ki segera menuang arak yang sudah diberi racun ke dalam cawan, kemudian disuguhkan kepada Raja Chin. Tetapi tiba-tiba pada saat Raja Chin akan meneguk arak itu, Li Ki memberi peringatan.

”Tunggu Tuanku!” kata Li Ki. Raja Chin kaget dan membatalkan niatnya untuk meminum arak itu. ”Ada apa?” kata Raja Chin.

”Aku lupa memperingatkan Tuanku, barang makanan yang datang dari luar, sekalipun dari

putra sendiri, harus diteliti dulu. Ini demi keselamatan Tuanku!” kata Li Ki sambil tersenyum manis.

”O. Ya, itu betul,” kata Raja Chin Hian Kong.

Kemudian arak dalam cawan itu dia tuang ke lantai. Betapa terkejutnya Raja Chin karena

begitu arak itu jatuh ke lantai, maka arak itu pun menguap dan lantai pun rusak.

Buru-buru Raja Chin Hian Kong memanggil penjaga supaya membawa seekor anjing, anjing itu dia lempari sepotong daging kiriman dari Pangeran Sin Seng. Sang anjing segera menerkam sepotong daging yang sudah diberi racun itu. Tiba-tiba anjing itu menggelepar- gelepar, kemudian diam dan tubuhnya pun kaku . Anjing itu mati dengan mengenaskan.

Li Ki pura-pura tidak percaya, lalu dia memanggil budaknya yang dia suruh mencobai arak dan daging itu. Melihat anjing saja mati, tentu saja budak itu menolak tidak mau menuruti perintah Li Ki.

Tetapi Li Ki yang kejam memaksanya, dua prajurit menjejelkan daging ke mulut pelayannya itu. Baru saja daging itu tertelan oleh budak yang malang itu, dari mulut, hidung dan telinganya segera keluar darah segar. Tubuh budak itu kejang-kejang lalu meninggal

Li Ki pura-pura kaget sekali, dia berlari ke ruang tengah.

”Oh, Allah! Oh, Allah!” Li Ki berseru sambil menengadah ke langit. ”Negeri Chin ini milik Pangeran Sin Seng, Ayahnya sudah tua, mengapa dia sampai tidak sabar menunggu. Mengapa dia tega akan meracuni Ayahnya sendiri?”

Sesudah berkata begitu, entah dari mana datangnya, perempuan itu meneteskan air matanya. Dia berlutut di hadapan Raja Chin Hian Kong, sambil meratap dia berkata lagi.

”O Pangeran Sin Seng sungguh kejam! Karena aku dan putraku, dia tega meracuni Tuanku! Kalau begitu, biarlah aku yang makan daging beracun dan arak beracun itu!” kata Li Ki. ”Kalau aku sudah mati barangkali hatinya akan senang!”

Sesudah itu dia berlari ke meja akan mengambil arak dan makanan beracun dan pura-pura akan menyantapnya. Raja Chin Hian Kong yang ada di dekatnya, segera merampas dan melemparkan makan itu ke lantai. Begitu geramnya Raja Chin waktu itu, hingga dia tidak bisa berkata apa-apa. Napasnya jadi sesak oleh amarah yang meluap-luap. Li Ki yang cerdik segera menjatuhkan diri di lantai, sambil menangis sesambatan. Kemudian dengan suara terharu dia berkata lagi.

”Tidak kusangka...Pangeran Sin Seng demikian kejamnya! Ayah sendiri mau dibunuhnya!” kata Li Ki. ”Ketika di taman kau rayu aku, karena aku tolak kau berbuat nekat!”

Raja Chin Hian Kong beberapa lamanya bengong saja. Dia berusaha menentramkan hatinya yang panas. Kemudian dia pegang tangan Li Ki erat-erat. ”Sudah, jangan menangis, mari bangun, aku akan bicarakan masalah ini dengan semua menteriku,” kata Raja Chin. ”Akan aku hukum anak durhaka itu setimpal dengan

perbuatannya!”

Sesudah Li Ki bisa dibujuk dan reda tangisnya, saat itu juga Raja Chin ke istana. Dia kumpulkan semua menterinya untuk bersidang. Sesudah semua menterinya berkumpul di istana, kecuali Ho Tut yang sedang berpergian, dan Pi The Hu karena sangat sibuk dan pergi ke luar kota, juka Li Kek yang memberi alasan kakinya sakit mereka tidak hadir.

Di depan menteri-menterinya Raja Chin memberi penjelasan, bagaimana Pangeran Sin Seng telah mengirim makanan beracun untuknya. Dan Raja Chin minta pertimbangan untuk memberi hukuman yang setimpal pada putranya itu. Keterangan Raja Chin mendapat tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang langsung percaya, tetapi kebanyakan ragu-ragu. Semua menteri jadi saling pandang dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Hanya dorna Tong Koan Ngo yang memihak pada Li Ki, segera maju ke hadapan Raja Chin Hian Kong dan berkata, ”Jika Pangeran sudah begitu jahatnya, hamba bersedia menggantikan Tuanku untuk menghukum dia!”

Raja Chin yang sedang gusar langsung meluluskan permintaannya. Maka berangkatlah angkatan perang yang dipimpin oleh Tong Koan Ngo ke Kiok-ah. Diam-diam Ho Tut memata-matai gerakan di istana, ketika mengetahui Raja Chin akan menghukum Pangeran

Sin Seng, diam-diam dia mengutus orang untuk memberitahu Pangeran Sin Seng di Kiok-ah.

Mendapat kabar dari Ho Tut itu Pangeran Sin Seng jadi terkejut. Segera dia menemui gurunya dan melaporkan hal itu pada Touw Goan Koan gurunya.

”Suhu, bagaimana pendapatmu tentang racun dalam makanan untuk Ayahku?” kata Sin Seng.

”Makanan itu sudah berada di istana selama enam hari, aku yakin orang istana yang menaruh racun ke dalam makanan itu,” kata Touw Goan Koan. ”Maka Pangeran harus melawan.

Buktikan bahwa kau tidak bersalah. Jangan pasrah saja! Buktikan bahwa bukan kau yang berbuat jahat!”

”Aku kira semua ini perbuatan ibu-tiriku Li Ki. Jika kubuka rahasianya, dan aku tahu Ayahku tanpa Li Ki pasti tidak enak makan dan tidak enak tidur,” kata Sin Seng dengan suara berduka.

”Jika aku melawan dalam masalah ini dan aku tidak bisa menang, pasti dosaku jadi semakin besar, dan jika aku beruntung bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi, dan Li Ki harus dihukum mati. Maka kebencian Ayahku padaku tidak akan reda. O Tuhan, sungguh malang nasibku. Lebih baik mati saja aku!”

”Bagaimana jika kau kabur saja ke negeri lain dan menunggu kesempatan yang baik, baru muncul kembali?” kata Touw Goan Koan.

”Ayahku yang tanpa memeriksa dengan teliti kesalahanku langsung melabrakku,” kata Sin Seng sambil menangis. ”Jika aku kabur ke negeri lain, niscaya namaku jadi cacat benar-benar. Orang akan mengira, aku memang berniat jahat! Sekalipun aku bisa menerangkan panjang- lebar, dan menimpakan kesalahan pada Ayahku. Ini malah akan merusak nama baik Ayahku.

Bahkan menurunkan pamor Kerajaan Chin. Setahuku, seorang bijaksana tidak akan

memburukkan rajanya sendiri. Orang pandai tidak sudi menanggung kesengsaraan. Sedang orang gagah tidak takut mati. Sudahlah, aku sudah mengambil ketetapan, cara paling baik aku harus mati!”

Sesudah berkata begitu, Sin Seng menulis surat balasan buat Ho Tut, yang bunyinya kira-kira

demikian:

”Sin Seng dianggap berdosa, maka tidak sayang jiwa untuk menghindari kematian. Meski begitu, ayahku sudah tua, He Ce dan Tok Cu masih terlalu muda, pasti negara akan mendapat

banyak kesusahan. Karena itu harap Pe-hu dengan segenap tenaga membantu mengurus

urusan negara, sekalipun Sin Seng harus mati, tetapi tetap menjunjung tinggi budi Pe-hu.”

Setelah surat dikirim, Sin Seng menghadap ke arah kota raja Chin, lalu memberi hormat, kemudian baru mengambil kain sutra dan menjeret lehernya sendiri hingga mati. Bukan main sedihnya Tong Goan Koan waktu itu, sambil menangis dia urus jenazah Sin Seng.

Esok harinya........

Tong Koan Ngo dan tentaranya telah sampai, karena dia sudah mengetahui Sin Seng sudah mati, dia tangkap Touw Goan Koan dan dia masukkan ke dalam kerangkeng terus dibawa ke kota raja Chin.

Tatkala dorna itu menghadap pada Chin Hian Kong, ia bilang.

”Karena Pangeran Sin Seng sadar akan dosanya, dia telah bunuh diri dengan menjerat

lehernya,” kata Tong Koan Ngo. ”Sekarang hamba bawa Touw Goan Koan menghadap pada Tuanku.”

Ketika Touw Goan Koan dihadapkan, oleh Raja Chin dia dipaksa supaya mengakui bahwa Sin Seng telah berniat jahat.

”O Tuhan! Sungguh ini masalah pelik dan sangat penasaran ” kata Touw Goan Koan.

”Hamba tidak ikut bunuh diri bersama Pangeran, karena hamba ingin menjelaskan sesuatu kepada Tuanku. Pangeran Sin Seng hatinya bersih. Harap Tuanku ketahui, makanan yang dikirimkan oleh Pangeran, sudah lewat enam hari dan berada di istana. Jika bukan ditaruhi racun di istana ini, tidak mungkin itu dilakukan oleh Pangeran Sin Seng. Hamba berani

bersumpah!”

Karena Raja Chin tahu benar Touw Goan Koan tidak pernah berbohong, Raja Chin terperanjat. Dia jadi ragu-ragu. Tapi Li Ki yang berdiri di belakang tirai, langsung berbisik.

”Goan Koan-lah yang mengajari Pangeran Sin Seng berbuat jahat. Mengapa Tuanku tidak segera memerintahkan algojo membunuhnya?” kata Li Ki.

Dengan tidak berpikir panjang lagi karena hasutan Li Ki Raja Chin Hian Kong segera memerintahkan pada algojo supaya memukul kepala Touw Goan Koan dengan sebuah martil besar hingga binasa. Menyaksikan kekejaman di mata mereka, banyak menteri merasa ngeri dan sangat terharu menyaksikan Touw harus mati secara mengenaskan.

Sesudah itu persidangan ditutup dan semua menteri pun bubar. Dorna Liang Ngo dan Tong Koan Ngo menemui Yu Si. Begitu sampai mereka bilang pada Yu Si. ”Beri tahu Permaisuri Li Ki karena Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw masih sanak Pangeran Sin Seng, mereka harus segera disingkirkan.” kata dorna itu.

Dengan tidak membuang waktu ketika ada kesempatan Yu Si diam-diam menemui Li Ki. Dia menyampaikan saran kedua dorna itu. Malamnya kembali Li Ki merayu Raja Chin dan mengatakan, bahwa Pangeran Sin Seng saat melakukan kejahatan dibantu oleh Pangeran I Gouw dan Pangeran Tiong Ji.

”Jadi mereka juga termasuk orang berbahaya,” kata Li Ki pada Raja Chin.”Mungkin sesudah tahu Pangeran Sin Seng binasa, mereka akan datang menyerang ke negara Chin.”

Mendengar desakan itu Raja Chin agak ragu. Dia tahu benar kedua putranya itu sangat baik. Tidak mungkin dia berniat jahat kepadanya. Maka dia abaikan saja masalah itu. Esok harinya datang laporan pada Raja Chin, bahwa dua pangeran yaitu Pangeran I Gouw dari kota Kut dan Pangeran Tiong Ji dari kota Po akan datang; tetapi ketika mengetahui masalah yang terjadi atas Pangeran Sin Seng, mereka membatalkan niat mereka datang.

Sekarang mereka kembali ke masing-masing negaranya. Khabar itu membuat Chin Hian Kong marah, dia menduga boleh jadi kedua pangeran itu pun bersekongkol dengan Pangeran Sin Seng. Hari itu juga Raja Chin mengirim panglima Pu Te menangkap dua puteranya itu di masing-masing negaranya.

Mendengar kabar itu Ho Tut kaget. Dia panggil putranya yang bernama Ho Yan menghadap. Ketika Ho Yan sudah menghadap ayahnya, sang ayah bilang.

”Pangeran Tiong Ji tulang iganya menjadi satu; sedang anak-anakan pada bola matanya ada

dua,” kata Ho Tut. ”Parasnya cakap dan angker, berbeda dengan orang kebanyakan. Ditambah lagi dia terkenal seorang yang sangat budiman. Di kemudian hari pasti dia bisa menjadi orang besar. Sekarang Pangeran Sin Seng sudah meninggal, menurut aturan dialah penggantinya.

Sekarang lekas kau pergi ke Po, kau ajak dia melarikan diri ke lain negeri. Kau bersama Kandamu, Ho Mo, bantu dia sungguh-sungguh.”

”Baik, Ayah,” kata Ho Yan berjanji.

Sesudah pamit pada ayahnya Ho Yan langsung berangkat ke Po akan menemui Pangeran Tiong Ji. Kedatangan Ho Yan danHo Mo membuat Tiong Ji jadi sangat terkejut. Dari Ho Yan-lah dia mendapat kabar tentang adanya bahaya atas dirinya.

Saat Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan sedang berunding untuk melarikan diri; tidak diduga pasukan Put Te sudah keburu datang. Ketika prajurit Po hendak menutup pintu kota untuk mencegah pasukan Chin masuk; tetapi dicegah oleh Pangeran Tiong Ji sambil berkata: ”Titah Raja tidak boleh dilawan.”

Put Te dengan leluasa bersama pasukannya masuk ke dalam kota Po dan langsung mengepung gedung Pangeran Tiong Ji. Pangeran Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri lewat kebun belakang. Put Te yang menerobos masuk sempat melihat mereka, kabur. Dia cabut pedangnya lalu mengejar. Ho Mo dan Ho Yan melompat lebih dulu ke atas tembok, dari sana mereka menaikan Tiong Ji. Put Te sempat menjamret Pangeran Tiong Ji, tetapi yang kena hanya bajunya, namun karena kuatnya tarikan dua bersaudara Ho, sehingga baju itu robek. Beruntung Tiong Ji luput dari bahaya maut. Karena tidak yakin bisa menyususul korbannya, apa boleh buat Put Te menyimpan sehelai

kain baju Pangeran Tiong Ji. Kemudian memimpin tentaranya pulang dan akan memberi

laporan pada Raja Chin.

Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri menuju ke negeri Ek, dan kedatangan mereka diterima oleh Raja Ek dengan senang hati. Tidak berapa lama di bawah kota terdengar suara derap kaki kuda dan riuhnya teriakan orang yang minta dibukakan pintu. Mereka ada yang naik kuda dan banyak yang naik kereta perang.

Tiong Ji kaget dan curiga kalau-kalau yang datangi itu balatentara Chin yang sedang mengejar. Maka dia segera memerintahkan tentara melepaskan panah dari atas kota. Tetapi orang-orang yang ada di bawah kota segera berseru: ”Jangan, jangan memanah kami!

Dengarlah Kong-cu, kami bukan bala-tentara yang hendak mengejarmu, sebenarnya kami ini pembesar dari negeri Chin yang hendak ikut pada Kong-cu!”