-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 08

Bab 08

Berangkatlah angkatan perang gabungan ini. Sesudah 200 li jauhmya, Raja Cee Hoan Kong melihat jalan di pegunungan itu sangat sempit dan berbahaya. Kemudian dia bertanya kepada Raja Yan.

”Tuanku, apa nama tempat ini?” kata Raja Cee.

”Tempat ini disebut Kui-cu,” sahut Raja Yan Cong Kong, dari sini kaum Pak Ji Ong berjalan keluar masuk.” Koan Tiong mengusulkan agar Cee Hoan Kong membagi kereta perangnya. Separuh perbekalan mereka ditinggalkan di tempat itu. Dia juga memerintahkan tentaranya menebang pohon besar untuk tempat berkemah. Tempat itu juga dijadikan tempat menyimpan perbekalan mereka. Pao Siok Gee bertugas menjaga di tempat itu. Dialah yang mengurus

pengangkutan ransum dan lain-lain keperluan tentara gabungan itu. Apabila pasukan makanan kurang, Pao Siok Gee harus mengambilnya di negeri Yan atau negeri Cee.

Sesudah itu Cee Hoan Kong memerintahkan tentaranya istirahat selama tiga hari. Bagi tentara yang sakit mereka sengaja ditinggalkan karena Raja Cee hanya akan membawa yang sehat dan segar, sehingga tidak menghambat perjalanan mereka.

**

Sejak pulang dari Tiongkok, setiap hari Raja bangsa San-jiong itu bersenang-senang saja. Mereka berhasil membawa pulang hasil jarahannya cukup banyak. Ketika Raja San-jiong sedang bersenang-senang, tiba-tiba juru kabarnya datang memberi laporan.

”Tuanku tentara negeri Cee datang menyerang!” kata si pelapor itu.

Mendengar laporan itu Bit Louw kaget bukan alang-kepalang. Dengan sangat tergesa-gesa dia memanggil panglima perangnya yang bernama Sok Moai untuk diajak berdamai.

”Sok Moai, musuh datang. Bagaimana kita harus menghadapinya?” tanya Bit Louw.

”Menurut dugaan hamba musuh sekarang pasti masih kelelahan. Mereka baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh. Saat mereka sedang membangun kemah-kemah mereka, kita boleh menyerang mereka dengan mendadak. Hamba rasa kita akan mendapat kemenangan

besar!” kata Sok Moai.

Raja Bit Louw setuju pada pendapat Sok Moai. Kemudian Sok Moai diperintahkan membawa 3000 prajurit maju ke medan perang.

Sok Moai memimpin tentaranya; tetapi sebagian dia suruh bersembunyi di sela-sela gunung. Jika musuh masuk perangkap mereka maka mereka harus mengepung tentara Cee yang sedang kelelahan itu. Pasukan yang sebagian lagi langsung menantang perang.

Houw Ji Pan bersama pasukannya berpapasan dengan panglima Sok Moai. Dengan tidak banyak bicara lagi mereka langsung bertempur. Serangan Houw Ji Pan ditangkis oleh Sok Moai. Tidak lama pertempuran hebat pun terjadi. Sok Moai yang sudah menyiapkan jebakan, setelah bertarung beberapa jurus, pura-pura kalah dan kabur ke dalam rimba.

Mengira musuh sungguh-sungguh sudah kalah, Houw Ji Pan memberi tanda agar anak buahnya mengejar musuh.

Ketika Sok Moai sampai di hutan dan mengetahui musuh mengejarnya, Sok Moai girang. Dia berteriak memberi tanda pada tentaranya yang bersembunyi. Teriakan itu disambut oleh sorak-sorai yang riuh sekali, dan dari sela-sela gunung segera keluar tentara Jiong menerjang barisan Houw Ji Pan. Serangan ini mengacaukan pasukan Houw Ji Pan, sehingga terpecah menjadi dua bagian, karena tengahnya diserang hebat oleh tentara Sok Moai.

Houw Ji Pan baru sadar bahwa dia telah terjebak ke dalam tipu-muslihat musuh. Dia kaget dan buru-buru memberi perintah mundur. ”Mundur! Mundur!” teriak Houw Ji Pan.

Tetapi komando dari Houw Ji Pan tidak banyak artinya, karena sudah terlambat. Tentara San- jiong sudah mengepung mereka dengan rapat sekali. Sekalipun Houw Ji Pan sudah bertarung mati-matian, dia tidak bisa menembus kepungan musuh. Malah lebih celaka lagi, kuda Houw

Ji Pan binasa. Houw Ji Pan jadi bertambah susah. Saat Houw Ji Pan sedang terancam bahaya, beruntung angkatan perang Raja Cee sampai. Ong-cu Seng Hu datang melabrak kepungan bangsa San-jiong untuk menolong Houw Ji Pan.

Semula harapan Sok Moai bisa menangkap Houw Ji Pan, tetapi tidak diduga pasukan Cee datang. Harapan Sok Moai pun gagal, malah tentaranya sendiri rusak berat dan terpaksa dia harus melarikan diri.

Melihat tentaranya banyak yang binasa, Houw Ji Pan menyesali dirinya. Ketika Houw Ji Pan bertemu dengan Raja Cee Hoan Kong dia merasa malu sekali. Melihat Houw Ji Pan sangat berduka, Raja Cee Hoan Kong segera mengerti bagaimana perasaan panglima itu karena kalah perang. Dia mencoba menghibur panglima itu.

”Dalam perang menang dan kalah sudah biasa,” kata Raja Cee Hoan Kong. ”Harap Jenderal jangan bersusah hati.”

Untuk menghibur Houw Ji Pan dan menyatakan bahwa dia tidak menyesali kekalahan Houw

Ji Pan itu, Raja Cee menghadiahkan seekor kuda yang bagus pada Houw Ji Pan. Houw Ji Pan mengucapkan terima kasih kepada Raja Cee. Dia girang sekali, Cee Hoan Kong sangat baik budi. Maka sebisanya dia hendak mengorbankan seluruh tenaga dan jiwanya untuk membalas kebaikan Raja Cee tersebut.

Pasukan besar negeri Cee bergerak menuju ke arah timur. Sesudah 30 li jauhnya, mereka sampai di sebuah gunung bernama Hok-liong-san. Tempat itu sangat penting. Cee Hoan Kong bersama Yan Cong Kong membangun kemah mereka di tempat itu.

Ong-cu Seng Hu dan Pin Si Bu mendirikan dua benteng di kaki gunung tersebut. Mereka

melindungi markasnya dengan cara menggandeng-gandengkan kereta perang mereka. Mereka juga melakukan penjagaan yang ketat.

**

Esok harinya....

Bit Louw mengajak Sok Moai dan 10.000 tentaranya menantang. Tetapi tantangan itu tidak diladeni oleh tentara Cee. Bit Louw jadi sangat gusar. Berkali-kali dia maju untuk menerjang, tetapi selalu gagal dan harus mundur kembali. Mereka terhalang oleh kereta-kereta perang negeri Cee. Demikian kokohnya pertahanan negeri Cee, tidak ubahnya seperti sebuah tembok kota saja. Dari balik kereta-kereta perang tentara Cee tidak hentinya ribuan anak panah menyambar ke arah tentara San-jiong.

Sampai lohor Koan Tiong yang berada di atas gunung menyaksikan tentara Jiong jumlahnya makin berkurang. Semua tentara itu telah turun dari kuda mereka dan mereka berbaring di tanah. Mulut mereka kelihatan tidak henti-hentinya mengomel. Koan Tiong menepuk-nepuk bahu Houw Ji Pan sambil berkata.

”Jenderal, sekarang sudah tiba saatnya anda membalas dendam.” kata Koan Tiong. ”Baiklah,” kata Houw Ji Pan dengan girang. Houw Ji Pan langsung memimpin tentaranya keluar dari benteng kereta perang. Pasukan Houw Ji Pan bergerak menyerang musuh.

Melihat suasana saat itu mencurigakan Sek Peng berkata pada Koan Tiong, ”Menurut penglihatanku, aku rasa Raja San-jiong sudah mengatur tipu-muslihat.” kata Sek Peng. ”Harap Tiong-hu berhati-hati.”

”Benar, aku pun menduga begitu,” sahut Koan Tiong. Koan Tiong memerintahkan Ong-cu Seng Hu memimpin pasukan keluar dari bagian kiri, Pin Si Bu memimpin pasukan sebelah kanan. Mereka diperintahan melabrak tentara musuh yang diperkirakan sedang bersembunyi. 

Dugaan Sek Peng dan Koan Tiong memang benar. Melihat tentara Cee hanya berjaga di markasnya saja dan tidak mau berperang. Raja San-jiong lalu mencari akal. Kemudian dia bagi tentaranya menjadi dua bagian; pasukan pertama diperintahkan bersembunyi di sela-sela gunung. Sedang yang sebagian lagi sengaja diperintahkan turun dari kuda-kuda merela.

Mereka juga diperintah mencaci-maki tidak hentinya. Semua itu maksudnya untuk memancing tentara Cee supaya mau berperang dengan mereka.

Ketika pasukan Houw Ji Pan keluar menyerang, tentara San-jiong berpura-pura ketakutan. Mereka sengaja meninggalkan kuda mereka dan lari terbirit-birit ke suatu tempat. Tetapi baru saja Houw Ji Pan mengejar mereka, justru pada saat itu Houw Ji Pan mendengar suara gembreng dari bentengnya. Maka terpaksa dia urungkan niatnya dan kembali ke bentengnya.

Melihat Houw Ji Pan tidak mengejar pasukan San-jiong, Bit Louw segera berteriak memanggil tentaranya yang bersembunyi di sela-sela gunung. Kemudian dengan berbareng mereka menerjang musuh. Tapi Bit Louw tidak menyangka Ong-cu Seng Hu dan Pin Si Bu bersama pasukannya datang membokong mereka dari belakang. Dengan demikian tentara San-jiong jadi kalang-kabut.

Di tempat itu segera terjadi pertempuran yang hebat. Ong-cu Seng Hu bertempur melawan Bit Louw. Pin Si Bu bertarung melawan Sok Moai. Tentara Cee bertanding dengan tentara San- jiong secara mati-matian.

Bit Louw dan Sok Moai merasa tidak tahan menghadapi kehebatan musuh. Mereka membalikkan kuda mereka dan buru-buru kabur. Tentaranya sebagian besar telah binasa oleh tentara Cee. Sesudah berhasil membunuh tentara Jiong, Ong-cu Seng Hu dan Pi Sin Bu pun berhasil merampas persenjataan dan ransum musuh. Sesudah itu baru mereka kumpulkan tentaranya dan pulang ke markas mereka dengan kemenangan besar.

Sementara Bit Louw yang melarikan diri sudah sampai di markasnya. Ketika dia memeriksa sisa tentaranya, dia kaget. Sekarang sisa tentaranya tinggal sedikit.

”Harap Tuanku jangan putus asa,” kata Sok Moai. ”Hamba punya siasat untuk mengusir musuh!”

”Apa rencanamu?” tanya Bit Louw.

”Hamba duga, jika mereka maju terus, mereka pasti harus lewat di selat Hong-tay-san. Tempatkan pertahanan yang tangguh di mulut jalan. Tutup dengan balok dan batu-batu besar. Di bagian depannya kita gali parit untuk pertahanan. Dengan cara demikian hamba rasa kita akan menang!” kata Sok Moai. Bit Louw mengangguk. Kemudian Sok Moai melanjutkan bicaranya. ”Di gunung Hok-liong-san sejauh 20 li tidak terdapat mata air. Untuk air minum dan masak mereka harus mengambilnya dari sungai Ti-sui. Jika sungai itu kita bendung, niscaya tentara musuh akan kekurangan air minum. Pada saat mereka panik dan kebingungan, kita serang mereka! Hamba rasa kita akan memperoleh kemenangan. Kita kirim utusan ke negara Kho- tiok untuk minta bala-bantuan. Bagaimana pendapat Tuanku?” kata Sok Moai. ”Ya, bagus,

bagus! Aku setuju pada rencanamu!” kata Bit Louw sambil tersenyum girang.

Mereka segera bersiap-siap melaksanakan rencana yang telah dirancang oleh Sok Moai itu.

**

Di markas tentara Cee......

Ketika itu Koan Tiong sedang keheranan, karena tentara San-jiong yang mendapat labrakan

hebat secara beruntun tidak bergerak. Koan Tiong jadi curiga, dia menduga musuh sedang

mengatur siasat. Buru-buru Koan Tiong menyebarkan mata-mata ke berbagai tempat. Mereka sengaja disebar untuk mencari keterangan di mana saat itu posisi musuh.

Tidak berapa lama mata-mata Koan Tiong sudah datang melapor.

”Musuh telah menutup jalan besar di mulut gunung Hong-tay-san dengan balok dan batu-batu besar.” kata mata-mata itu.

Mendengar laporan tersebut Koan Tiong terkejut, dia bertanya kepada Houw Ji Pan.

”Ciang Kun (Jenderal), selain jalan yang ditutup oleh musuh, apakah masih ada jalan yang lainnya atau tidak?” kata Koan Tiong.

Mendengar pertanyaan Koan Tiong Jenderal Houw Ji Pan pun bengong. Dia berpikir sebentar, kemudian baru dia menjawab.

”Jika kita mengambil jalan dari Hong-tay-san, sejauh 15 li dari sini kita akan sampai di sarang bangsa San-jiong. Jika mau mengambil jalan lain, bisa juga. Tetapi harus dari arah jalan menuju ke Tay-kwan. Dari sana belok ke arah bukit Ci-moa-nia. Sesudah itu kita keluar dari mulut gunung Ceng-san. Tidak lama lagi kita akan sampai di sarang mereka. Di tempat ini gunungnya sangat tinggi dan jalannya pun sangat berbahaya. Kereta perang dan kuda sulit

bergerak.” kata Houw Ji Pan.

Mendengar penjelasan itu Koan Tiong duduk diam seperti orang yang sedang berpikir keras. Sebelum Koan Tiong mengambil keputusan, tiba-tiba datang panglima bernama Lian Ci menghadap.

”Tuanku, celaka kita! Raja Jiong telah menutup sungai, sehingga tentara kita tidak punya air untuk masak dan minum!” kata Lian Ci. ”Bagaimana sekarang?”

”Oh, sungguh celaka!” kata Houw Ji Pan terperanjat. ”Di bukit Ci-moa-nia kita harus berjalan beberapa hari lamanya, baru bisa sampai ke tempat tujuan. Jika tidak ada air untuk masak dan minum kuda-kuda kita, sungguh sangat berbahaya sekali!”

”Mengapa kita harus putus asa?” kata Cee Hoan Kong. ”Jika mereka bendung sungai itu, toh kita bisa menggali sumur untuk mendapatkan air!” ”Ya, Tuanku benar,” kata Sek Peng, ”setahu hamba, di tempat yang ada lubang semutnya, di

situ pasti kita bisa mendapatkan mata air. Maka kita harus mencari dulu tempat tinggal semut.

Dengan demikian pekerjaan menggali sumur tidak akan gagal.”

Raja Cee Hoan Kong setuju dengan pendapat Sek Peng. Ketika pasukan itu benar-benar bergerak ke bukit Ci-moa-nia; Raja Cee Hoan Kong mengeluarkan perintah.

”Barangsiapa yang bisa lebih dahulu mendapatkan lubang semut, atau air maka mereka akan diberi hadiah.” kata Raja Cee.

Maka dikerahkannya tentara Cee untuk mencari lubang semut, karena dia yikin bakal menemukan mata air di lubang semut itu. Terpaksa mereka kembali dengan tangan hampa, dan melaporkan bahwa usaha mereka telah gagal.

Sebelum Raja Cee Hoan Kong bicara, Sek Peng sudah mendahuluinya berkata.

”Sifat semut, di musim dingin dia mendekati hawa yang hangat, dan pasti mereka tinggal di tempat yang terang. Sebaliknya di musim panas, mereka mencari udara sejuk, dan pasti semut-semut itu tinggal di tempat yang teduh! Bulan ini jatuh pada musim dingin, maka kita harus menggali sumur di tempat yang terang, hamba yakin kita bisa menemukan mata air itu! Jika sembarangan gali saja, hal itu hanya membuang tenaga percuma saja!” kata Sek Peng.

Tentara Cee menuruti nasihat Sek Peng tersebut. Mereka menuruni tebing gunung, di tempat yang terang itulah mereka mulai menggali lubang. Memang benar mereka beruntung menemukan mata air yang jernih dan enak diminum.

Keberhasilan anak buahnya menemukan mata air atas jasa Sek Peng yang berpengetahuan banyak itu, membuat Raja Cee Hoan Kong sangat kagum.

”Aku kagum pada Sek Peng, kepandaiannya mirip seorang nabi!” kata Cee Hoan Kong. Sesudah itu Raja Cee Hoan Kong memberi nama mata air tersebut dengan sebutan ”Seng Cun” (Mata air dari Nabi), dan gunung Hok-liong-san pun diubah namanya menjadi Liong- coan-san.

Seluruh bala-tentara Cee mendapat air, dan mereka bersorak-sorak gembira sekali.

**

Tatkala Bit Louw mendapat kabar tentara Cee tidak kehabisan air minim. Raja Bit Louw jadi khawatir dan cemas. Dia berkata kepada Sok Moai:

”Barangkali mereka dibantu oleh malaikat, apa saja yang kita rencanakan pada mereka, selalu gagal!” kata Bit Louw.

”Harap Tuanku tidak khawatir,” kata Sok Moai. ”Sekalipun tentara Cee tidak kekurangan air, tetapi mereka datang dari tempat yang jauh. Sudah pasti mereka tidak boleh kehabisan makanan. Jika kita terus bertahan di benteng, dan mereka tidak bisa maju. Lama kelamaan mereka akan kehabisan bahan makanan. Terpaksa mereka mundur sendiri!”

Bit Louw yang tadinya murung mendengar nasihat Sok Moai jadi girang kembali. Dia yakin kali ini siasat yang akan dijalankannya pasti berhasil. Sejak hari itu anak buahnya diperintahkan berjaga-jaga saja. Sedang Bit Louw sendiri bersenang-senang dengan perempuan cantik sambil minum arak. Ketika itu seolah bangsa San-jiong tidak sedang berperang.

Koan Tiong dari pihak Cee mengadakan peninjauan. Dia melihat tentara San-jiong tidak bergerak sama sekali. Koan Tiong heran lalu berpikir.

”Mereka tidak menghiraukan kami. Aku tahu mereka berharap tentara Cee kehabisan bahan makanan...” pikir Koan Tiong. ”Mereka juga sudah menutup jalan untuk tentara Cee mengangkut bahan makanan.”

Buru-buru Koan Tiong mengatur siasat. Dia mengeluarkan perintah.

”Pin Si Bu dan Houw Ji Pan, kalian berdua bawa pasukan kalian dan harus berpura-pura hendak pulang ke Kui-cu untuk mengambil ransum. Diam-diam kalian bawa pasukanmu ke bukit Ci-moa-nia. Dalam enam hari kalian harus sudah bisa sampai di sarang bangsa San- jiong. Dan kau Lian Ci, setiap hari kau pergi ke gunung Hong-tay-san untuk menantang perang. Dengan demikian bangsa San-jiong tidak curiga pasukan kita sedang bergerak ke markas mereka!” kata Koan Tiong.