-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 06

Bab 06

Di kisahkan di negeri Chin .......

Raja negeri Chin yang bergelar Chin Hian Kong, ketika masih menjadi Putra Mahkota, dia telah menikah dengan putri Ke Ki.

Sekalipun sudah lama menikah, tetapi belum punya turunan, dia kawin lagi dengan cucu raja bangsa Kian-jiong, Ho Ki namanya. Dari cucu raja bangsa Kian-jiong ini Raja Chin memperoleh anak lelaki yang dia beri nama Tiong Ji. Kemudian Raja Chin menikah lagi

dengan putri bangsa Siao-jiong she Un. Dari nona Un dia mendapat seorang putera yang diberi nama Ie Gouw.

Pada masa ayahnya yang bernama Chin Bu Kong masih menjadi raja di negeri Chin, ketika hendak meninggal, Raja Chin Bun Kong yang sudah tua itu melamar putri negeri Cee.

Raja Cee Hoan Kong meluluskan lamaran Chin Bu Kong tersebut, Raja Cee menyerahkan keponakannya, yaitu Cee Kiang.

Waktu itu Chin Bu Kong sudah sangat tua, sudah tentu dia tidak bisa membahagiakan dan menyenangkan perempuan lagi. Sementara Cee Kiang yang usianya masih sangat muda, parasnya elok sekali, ditambah lagi dia sangat genit. Ketika Chin Hian Kong melihat Cee

Kiang yang sangat cantik, dia sangat tertarik pada ie-nya itu. Diam-diam mereka mengadakan hubungan gelap dengan sang ibu tiri itu.

Hubungan cinta antara ibu tiri dengan anak suaminya itu sangat erat sekali. Dari hubungan gelap itu maka lahirlah seorang anak. Chin Hian Kong khawatir hubungan gelapnya akan ketahuan oleh ayahnya. Maka dia kirim ”anak haram” atau ”anak dari hubungan gelapnya” itu pada seorang she Sin. Dan anak itu diberi nama Sin Seng.

Ketika Chin Bu Kong sudah meninggal dunia dan Chin Hian Kong sudah menggantikan ayahnya menjadi Raja Chin, karena istri Chin Hian Kong yang bernama Ke Ki sudah lama meninggal dunia, Chin Hian Kong lalu mengangkat Cee Kiang, bekas selir ayahnya menjadi Hong-houw (Permaisuri).

Ketika itu Tiong Ji sudah berumur 21 tahun; sedang Ie Gouw lebih tua umurnya dari Sin

Seng. Tetapi karena Sin Seng menjadi putera permaisuri, maka menurut peraturan istri tua dan istri muda, bukan menurut aturan putera yang lebih tua dan putera yang muda. Maka Sin Seng kemudian diangkat menjadi Putra Mahkota.

Untuk mendidik dan memimpin Sin Seng, Chin Hian Kong mengangkat Tay-hu Touw Goan Koan menjadi Guru Besar puteranya itu dan Li Kek menjadi guru pembantu.

Kemudian Cee Kiang melahirkan lagi seorang anak perempuan; tetapi sejak melahirkan anak perempuan itu, Cee Kiang tertimpa bencana. Dia terserang penyakit hebat hingga sampai ajalnya. Chin Hian Kong kemudian menikah lagi dengan adik Ke Ki yang bernama Ke Kun.

Ke Kun inilah yang diminta untuk merawat putri Cee Kiang. Tatkala Chin Hoan Kong sudah menjadi raja selama 15 tahun, pada suatu hari dia mengerahkan angkatan perangnya untuk menaklukan negeri Li Jiong.

Dalam peperangan itu Raja Chin Hian Kong mendapat kemenangan besar; Raja Li Jiong minta berdamai dan dia bersedia mempersembahkan kedua putrinya, yang besar bernama Li Ki dan yang ke-dua bernama Siao Ki. Raja Chin Hian Kong girang sekali mendapat dua putri yang cantik-cantik itu, segera dia bawa pulang ke negerinya.

Keelokkan Li Ki sebanding dengan Sit-kui, tetapi kejahatannya mirip dengan So Tat Ki di zaman Kaisar Tiu Ong. Dia pandai berbagai tipu-muslihat, bukan itu saja dalam hubungan sex pun dia sangat mahir. Tidak heran Raja Chin Hian Kong jadi sangat puas. Tetapi celakanya dia juga sering ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sedang segala sarannya pada Chin Hian Kong selalu berhasil.

Oleh karena Li Ki begitu pandai serta sangat cantik, sehingga Chin Hian Kong jadi jatuh hati benar kepadanya. Setiap saat di mana pun Chin Hian Kong berada, Li Ki tidak boleh jauh dari sisinya.

**

Selang setahun kemudian Li Ki melahirkan seorang anak lelaki, anak tersebut diberi nama He Ce. Lewat setahun kemudian, Siao Ki juga melahirkan seorang putera yang diberi nama Tok Cu.

Waktu itu Raja Chin Hian Kong sudah sangat tergila-gila pada Li Ki, dia senang karena Li Ki melahirkan anak lelaki. Raja Cee lupa cinta-kasih Cee Kiang almarhum. Malah raja hendak mengangkat Li Ki menjadi Permaisuri. Niatnya itu dia bicarakan dengan semua menteri- menterinya.

”Menurut adat-istiadat Permaisuri tidak boleh ada dua orang,” kata Su Souw. ”Maka jika Li

Ki dan Siao Ki diangkat menjadi Hong-houw (Permaisuri), maka itu tidak sesuai dengan

aturuan yang berlaku selama ini.”

Beberapa menteri dan pejabat negara membenarkan pendapat Su Souw tersebut. Tetapi Chin

Hian Kong tidak mau mengerti. Malah dia uring-uringan karena keinginannya ditentang.

Dengan tidak mempedulikan nasihat menteri-menterinya, Raja Cin mengangkat Li Ki menjadi

Hong-houw (Permaisuri) dan Saio Ki menjadi Ci Hui (Permaisuri ke-dua). Karena tidak

sependapat diam-diam Su Souw pergi menemui Tay-hu Li Kek.

”Negeri Chin hampir musnah, apa yang harus kita lakukan?” kata Li Kek.

Mendengar keterangan Su Souw tersebut Li Kek terperanjat, dengan hati berdebar-debar dia bertanya, ”Siapa yang akan meruntuhkan Kerajaan Chin?”

”Pasti Li Jiong,” sahut Su Souw.

Li Kek bengong terlongong-longong, dia tidak mengerti apa maksud ucapan Su Souw tersebut.

”Pada masa Raja He Kiat menyerang ke negeri Yu Si, Raja Yu Si menyerahkan putrinya yang bernama Moai Hi. Karena Baginda Kiat sangat mencintai Moai Hi, sehingga Kerajaan He musnah,” kata Su Souw. ”Begitu juga Baginda Im Tiu ketika melabrak negeri Yu Souw, Raja Yu Souw (Tiu Ong) menyerahkan anak perempuan yang bernama So Tat Ki, karena Baginda Tiu Ong sangat mencintai So Tat Ki, akhirnya Kerajaan Im musnah. Sedang bukti yang paling akhir yaitu Baginda Ciu Yu Ong yang memerangi negeri Yu Po, Raja dari negeri Yu Po menyerahkan putrinya yang bernaama Po Su, akhirnya Kerajaan See Ciu (Ciu Barat) musnah.

Sekarang Raja negeri Chin, sesudah menaklukan negeri Li Jiong, Raja Chin telah mengambil dua orang putrinya yang sekarang sangat disayang oleh beliau. Apa tidak bisa terjadi negeri Chin pun kelak akan musnah?”

Li Kek menggelengkan kepalanya dia jadi berduka sekali, dan Li Kek membenarkan dugaan Su Souw tersebut.

Sesudah berbincang-bincang beberapa saat, Su Souw pamit pada Li Kek. Dia kembali ke rumahnya. Selang sesaat sesudah Su Souw meningalkan rumah Li Kek, Kwee Yan juga datang berkunjung ke rumah Li Kek. Pada kawan sejawatnya ini Li Kek memberitahu apa yang tadi dikatakan oleh Su Souw kepadanya.

”Tidak, aku rasa bukan begitu,” kata Kwe Yan. ”Menurut dugaanku, di negeri Chin hanya akan terjadi huru-hara besar, jika harus musnah, itu belum saatnya.”

”Bagaimana kau bisa mengatakan begitu?” tanya Li Kek.

”Negeri Chin sebuah negara besar, pada saat ini sangat kuat dan maju. Jika terjadi huru-hara, negeri lain tidak akan bisa menghancurkannya. Karena huru-hara itu pasti bisa dipadamkan! Malah aku kira suatu saat negeri Chin akan menjadi jago di antara negeri-negeri kecil. Bahkan akan mengangkat pamor Kerajaan Ciu!”

”Menurut pendapatmu huru-hara itu akan terjadi kapan?” kata Li Kek. ”Aku rasa kurang dari sepuluh tahun lagi.”

Li Kek mencatat ucapan Kwe Yan di dalam buku hariannya untuk dijadikan peringatan baginya. Setelah berbincang-bincang sekian lamanya, Kwe Yan permisi akan pulang, dia diantar oleh Li Kek sampai di depan pintu luar.

**

Sejak Raja Chin Hian Kong mengangkat Li Ki menjadi Permaisuri, semakin hari cintanya semakin kekal, sehingga timbul niat Raja Chin hendak mengangkat He Ce menjadi Si-cu (Putera Mahkota).

Pada suatu hari Raja Chin menyampaikan niatnya itu kepada Li Ki. Mendengar niat Raja Chin Hian Kong mengangkat putera Li Ki menjadi Putera Mahkota, Li Ki menundukan kepalanya sambil berpikir.

”Memang ini yang aku sangat harap-harapkan,” pikir Li Ki. ”Tetapi, Sin Seng sudah diangkat

menjadi putera Mahkota. Jika tanpa sebab mengubah kedudukan Sin Seng, aku khawatir

semua menteri tidak akan sepakat. Pasti mereka akan menolak putusan Raja Chin yang aneh itu. Apalagi Tiong Ji dan Ie Gouw sangat akrab dengan Sin Seng. Ach, sudahlah, jika ketiga Kong-cu (Pangeran) itu masih ada di sini, tidak ada gunanya masalah itu dibicarakan.

Percuma saja dan sia-sia saja. Paling benar aku harus menjalankan tipu-muslihat yang halus, supaya sekali bergerak akan berhasil.” Sesudah pikirannya tetap, Li Ki berlutut di hadapan Raja Chin Hian Kong sambil berkata dengan suara sedih.

”Jangan, Tuanku! Jangan Tuanku lakukan!” kata Li Ki. ”Jangan lupa ketika Sin Seng

diangkat, semua Raja Muda mengetahuinya. Sin Seng pandai dan tidak bersalah. Jika karena

Tuanku sangat mencintaku dan anakku, lalu Tuanku menyingkirkan Sin Seng, maka orang di seluruh benua ini akan mengutuk Tuanku! Dari pada aku harus menanggung malu seumur hidupku, lebih baik aku bunuh diri saja!”

”Oh, jangan! Jika kau tidak setuju ya sudah, mengapa kau harus berkata begitu?” kata Raja Chin Hian Kong. Buru-buru dia bangunkan Li Ki yang sedang berlutut di hadapannya. Raja Chin mengira ucapan ”jantung hatinya” itu sangat tulus dan ikhlas.

**

Di antara menteri-menteri baginda Chin, ada dua Ta-hu (Menteri Besar) yang Chin Hian Kong paling sayang dan dia percayai. Yang seorang bernama Liang Ngo, yang satu lagi bernama Tong Koan Ngo. Dua pembesar itu menjadi mata-mata Chin Hian Kong untuk

menyelidiki keadaan di luaran. Hanya sayang perangai mereka kejam dan tamak atau serakah.

Lantaran sangat dipercaya mereka berani berbuat semena-mena dan sok berkuasa. Orang- orang di negeri Chin menamakan mereka Ji Ngo (Dua Ngo).

Selain mereka berdua ada lagi seorang yang berasal dari tanah Yu Si. Usianya masih sangat muda, parasnya cakep. Kepandaian orang ini banyak dan sangat pandai bicara. Orang ini sangat disayang oleh Chin Hian Kong, sehingga dia bebas keluar masuk istana baginda tanpa gangguan.

Di luar tahu Chin Hian Kong Permaisuri Li Ki punya hubungan rahasia dengan Yu Si. Bahkan Yu Si menjadi kekasih gelap sang permaisuri ini. Tentang maksud baginda dan rencana baginda mengangkat puteranya menjadi raja, oleh Li Ki disampaikan pada Yu Si.

Li Ki minta bantuan kepada Yu Si untuk menyingkirkan ke-tiga pangeran, Sin Seng, Tiong Ji, dan Ie Gouw, supaya He Ce, bisa merebut kedudukan Sin Seng.

”Untuk menyingkirkan mereka ke tempat jauh, harus ada alasan yang kuat. Misalnya mereka diminta untuk menjaga tapal batas negara,” kata Yu Si. ”Tetapi itu tidak mudah. Harus ada usulan pejabat dari luar kota. Kebetulan sekarang Dua Ong sedang sangat berluasa. Mari kita suap mereka berdua agar mereka mau mengajukan usul untuk meminta ketiga pangeran itu bertugas di perbatasan!”

Li Ki setuju pada rencana yang dibuat oleh Yu Si, bahkan dia anggap sangat sempurna. Li Ki mengambil emas dan kain sutera yang bagus, barang-barang itu diserahkan kepada Yu Si untuk diantarkan kepada Dua Ngo yang serakah itu. Yu Si membawa barang berharga itu ke rumah dua pejabat busuk tersebut. Kedatangan Yu Si disambut dengan manis oleh tuan rumah.

”Hong-houw (Permaisuri) meminta pada hamba untuk membawa hadiah ini. Hamba harap Tuan-tuan mau menerimanya,” kata Yu Si.

”O, Hong-houw begitu baik, beliau sangat meperhatikan pada kami bedua,” kata dua menteri korup itu. ”Kami rasa Hong-houw mungkin punya tugas untuk kami berdua, katakan saja!

Kami berdua tidak berani menerima hadiah beliau ini.” Yu Si segera menceritakan satu persatu dengan jelas, apa yang Li Ki inginkan dari mereka berdua. Setelah mendengar penjelasan dari Yu Si, kedua menteri korup itu mengangguk. Sesudah berpikir sejenak kemudian mereka mengajukan sebuah syarat.

”Kami berdua siap melaksanakan tugas dari Hong-houw, tetapi kami harus dibantu oleh Tong Koan Ngo,” kata mereka.

”Oh, jangan takut! Semua itu sudah dipikirkan oleh Hong-houw. ” kata Yu Si.

Mendengar keterangan dari Yu Si mereka sangat girang, sesudah membenahi barang hadiah

dari Hong-houw, mereka langsung ikut dengan Yu Si. Mereka bersama-sama pergi ke rumah Tong Koan Ngo.

Begitu mereka sampai di rumah Tong Koan Ngo, tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan senang hati. Sesudah mereka dipersilakan duduk, tuan rumah bertanya.

”Apa maksud kedatangan kalian semua?” tanya Tong Koan Ngo.

Pertama-tama Yu Si menyerahkan barang bingkisan dari Permaisuri Li Ki kepada tuan rumah, baru kemudian dia menceritakan bagaimana rencana Permaisuri Li Ki yang sebenarnya. Dua orang menteri korup itu membantu menjelaskan keterangan Yu Si pada Tong Koan Ngo.

Seperti kedua menteri korup itu Tong Koan Ngo memang orangnya tamak atau serakah. Melihat barang bingkisan yang berharga mahal itu, matanya jadi berkunang-kunang dan silau.

Dia pikir jika usaha mereka bisa berhasil, mereka bakal bisa lebih berpengaruh. Dengan

gembira dia lalu berjanji siap melaksanakan tugas tersebut. Sesudah mengatur siasat yang akan dijalankan, dua menteri pengkhianat dan Yu Si pulang.

Esok harinya......

Ketika Raja Chin Hian Kong sedang mengadakan sidang dengan para pembesar di istananya, dua orang menteri yang diberi gelar Ji Ngo (Dua Ngo) bangkit dari tempat duduknya dan mulai bicara.

”Kota Kiok-ah, sebuah kota yang telah ditinggalkan oleh Raja kita almarhum. ” kata menteri korup itu.

”Di tempat itu telah dibangun kelenteng Raja almarhum. Sedang tanah Po dan Kut ada di dekat tempat tinggal bangsa Jiong dan Tek. Di tempat itu batas negara kita. Kedudukan tiga tempat itu sangat penting, maka harus ditempatkan orang yang paling bisa dipercaya mengawasinya. Jika di Kiok-ah tidak ditempatkan seorang pembesar, maka rakyat di sana merasa tidak tenteram. Jangan lupa bangsa Jiong dan Tek sewaktu-waktu akan datang

mengganggu penduduk.”

”Siapa orangnya yang paling pantas untuk bertugas di sana?” tanya Raja Chin Hian Kong.

”Menurut hamba Tuanku bisa memerintahkan Putera Mahkota Sin Seng menjadi pejabat di Kiok-ah, sedang Pangeran Tiong Ji dan Pangeran Ie Gouw menjadi pembesar di Po dan Kut. Dengan demikian negeri Chin akan tetap aman sentausa.” jawab menteri korup itu.

”Ucapanmu benar sekali,” kata Raja Chin Hian Kong. ”Tetapi ingat Sin Seng, Putera Mahkota. Apa pantas dia tinggal jauh dari Ibukota negara?” ”Putera Mahkota terhitung Wakil Raja. Sedang Kiok-ah terhitung kota besar yang ke dua

setelah Ibukota Kerajaan. Jika bukan Putera Mahkota Sin Seng yang tinggal di sana, jelas

tidak pantas,” kata Tong Koan Ngo ikut mempengaruhi raja.

”Baiklah, tempatkan Putera Mahkota Sin Seng di Kiok-ah agar diurus olehnya. Tetapi Po dan

Kut tanahnya gersang. Bagaimana aku bisa memerintahkan Tiong Ji dan Ie Gouw pergi ke sana menjaganya?” kata Chin Hian Kong.

”Memang, jika di sana tidak dibangun kota jadi kosong, tetapi jika sudah dibangun kedua tempat itu akan menjadi dua kota yang ramai,” kata Tong Koan Ngo.

”Bagus,” kata dua rekan Tong Koan Ngo. ”Karena ini negeri Chin akan mempunyai dua kota yang baru. Dengan tempat-tempat itu dijaga oleh orang terpercaya, maka negara Chin akan bertambah kuat dan kokoh.”

Raja Chin Hian Kong bisa diakali oleh dua menteri dorna tersebut, karena mereka pun dibanu

oleh Tong Koan Ngo. Raja malah girang sekali, sehingga rencana busuk menteri-menterinya

dia anggap suatu keberuntungan untuk masa depan kerajaannya.

Raja Chin Hian Kong memerintahkan Tio Siok untuk segera meninggikan kota Kiok-ah dan

juga memperluas daerahnya; kota tersebut kemudian diberi nama kota Sin-shia (Kota Baru). Sedang Su Kui diperintahkan membangun kota di tanah Po dan Kut.

Di antara orang-orang yang menerima perintah itu, Su Kui tahu benar apa yang sedang terjadi.

Dia tahu keinginan Permaisuri Li Ki yang hendak merebut posisi Sin Seng untuk puteranya. Maka dengan sengaja dia membuat kota itu sembarangan saja. Ketika ada orang yang bertanya kepadanya dia acuh tak acuh.

”Mengapa dua kota tersebut tidak dibangun dengan kuat dan bagus?” tanya orang.

Sambil tertawa Su Kiu menjawab, ”Beberapa tahun lagi pun kedua tempat ini akan menjadi daerah musuh, untuk apa dibangun terlalu kuat?” kata Su Kui.

Sesudah Sin Seng, Tiong Ji dan Ie Gouw tinggal di tempat yang jauh, di istana hanya tinggal Pangeran He Ce dan Tok Cu. Sejak saat itu kelakuan Li Ki jadi semakin angkuh.

Waktu itu keadaan negeri Chin sedang kokoh-kokohnya, negeri ini memiliki menteri yang pandai dan tentaranya sangat kuat dan gagah.

Pada suatu hari......

Raja Chin Hian Kong yang serakah telah mengajak Putera Mahkota Sin Seng, Tat-hu Tio Siok dan Pit Ban, mereka mengerahkan pasukan menyerang ke negeri Keng, negeri Hok dan negeri Gwi. Dalam peperangan itu Chin Hian Kong beruntung bisa mengalahkan ketiga negara tersebut.

Dalam peperangan tersebut Sin Seng berpahala besar, sehingga Permaisuri Li Ki jadi semakin khawatir kepadanya. Maka itu dia jadi semakin giat mencari akal untuk mencelakakan Sin Seng.

**

Dikisahkan di negeri Couw........ Putera Raja Couw yang bernama Him Pi dan Him Tan sekalipun sama-sama dilahirkan oleh Permaisuri Sit-kui yang cantik, tetapi Him Tan lebih pandai dari kandanya.

Permaisuri Bun sangat sayang kepadanya dan rakyat negeri Couw pun suka.

Tatkala Him Pi telah menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja, hati Him Pi tidak tenram. Dia selalu merasa khawatir pada sang adik yang cerdas itu. Dia juga tahu ibunya dan rakyat negeri Couw lebih suka kepada adiknya. Him Pi sangat cemas dan khawatir, karena suatu ketika nanti dia akan disingkirkan oleh adiknya itu. Tidak heran sehingga acapkali dia mencari kesalahan Him Tan dan hendak dibinasakannya. Tetapi karena banyak menteri yang menyukai Him Tan, usaha Him Pi membunuh adiknya selalu gagal.

Him Pi sangat suka berburu binatang di hutan, dia tidak mau mengurus urusan pemerintahan. Sekalipun dia sudah menjadi raja tiga tahun lamanya, tidak kelihatan hasil kerjanya untuk negara.

Him Tan mengetahui kakaknya itu dengki terhadapnya dan hendak membinasakan dia. Terpaksa senantiasa dia pun berikhtiar untuk membinasakan kakakanya itu. Dia akan mendahului kakaknya sebelum dia dibunuh oleh sang kakak.

Pada suatu hari.....

Ketika Him Pi sedang pergi berburu, Him Tan menggunakan kesempatan yang baik itu. Dia memerintahkan orangnya untuk membunuh Him Pi, sesudah Him Pi meninggal. Him Tan memberi tahu ibunya bahwa kakaknya, Him Pi telah meninggal karena sakit.

Sekalipun Sit-kui alias Permaisuri Bun merasa curiga, tetapi dia tidak mencari tahu lebih jauh tentang kematian putera sulungnya itu. Kemudian Sit-kui memerintahkan semua menterinya agar segera mengangkat Him Tan menjadi raja bergelar Couw Seng Ong.

Ong-cu Sian atau yang disebut juga Chu Goan, adalah adik dari Raja Couw Bun Ong, atau paman Him Tan. Chu Goan telah diangkat menjadi Leng-i (Perdana Menteri) di negeri Couw.

Chu Goan seorang yang keji dan berpikiran cupet. Sejak kandanya, Couw Bun Ong meninggal dunia, ketika itu Him Pi dan Him Tan masih sangat muda. Chu Goan yang berpangkat tinggi itu jadi angkluh. Dia melihat keelokan Sit-kui bekas isteri kandanya seperti setangkai bunga Bouw-tan (Bunga Mawar atau Ros) yang sedang mekar, atau seperti bulan purnama yang bercahaya gilang-gumilang. Maka timbul pikiran buruknya. Senantiasa dia ingin merampas tahta kerajaan dan mengambil Permaisuri Bun (Sit-kui) yang cantik menjadi isterinya.

Sekalipun Chu Goan sudah lama bermaksud buruk begitu, tetapi karena takut pada Tay-hu Pek Pi yang jujur dan pandai. Chu Goan terpaksa menahan keinginannya itu.

**

Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong yang ke-sebelas........

Karena Touw Pek Pi terserang penysakit berbahaya, dan akhirnya dia meninggal dunia. Meninggalnya Touw Pek Pi sangat menggembirakan hati Chu Goan. Memang hal itu yang dia harap-harap setiap saat. Bahkan jika Giam Lo Ong atau Raja Akherat itu sahabatnya, sudah lama Chu Goan akan meminta bantuannya untuk membinasakan Pek Pi.

Sejak kematian Touw Pek Pi tidak seorang pun yang diindahkan lagi oleh Chu Goan. Kemudian dia membangun sebuah gedung besar di samping istana bekas isteri kakaknya. Sesudah jadi, ia tinggal di sana, dan setiap hari Chu Goan memerintahkan orang memainkan musik. Nyanyian yang dipersembahkan sangat merdu. Semua itu dimaksudkan Chu Goan untuk menarik perhatian Permaisuri Bun yang dia rindukan sejak dahulu. Ketika itu permaisuri Bun belum mengetahui bahwa Chu Goan membangun gedung dan tinggal di sebelah istananya. Setiap hari siang dan malam Permaisuri Bun mendengar suara musik dan nyanyian yang merdu tidak hentinya. Dia heran lalu bertanya kepada budaknya.

”Hei, apa kau dengar suara musik yang merdu itu?” tanya Permaisuri Bun. ”Ya, Tuanku,” sahut budak itu dengan hormat.

”Kau juga mendengar suara orang menyanyi?” ”Ya, mendengar, Tuanku.”

”Siapa yang membuat pesta sepanjang hari?” ”Leng-i Chu Goan, Tuanku.” sahut sang budak. ”Di mana?”

”Di gedung Leng-i yang baru.”

Permaisuri Bun menggelengkan kepalanya, sambil menghela napas ia berkata, ”Waktu Raja Couw almarhum masih hidup dan berkuasa, dia rajin sekali. Tiap hari senantiasa dia latih dan memimpin tentara, sehingga angkatan perang Couw sangat kuat. Banyak Raja-raja Muda yang takut kepadanya.

Mereka datang mengantar upeti tidak berhentinya. Angkatan perang Couw sudah 10 tahun tidak pergi ke daerah Tiongkok. Chu Goan bukan berusaha untuk membangun kembali pamor negeri Couw, malah terus bersenang-senang di dekat istanaku. Sungguh kurangajar sekali

dia!”

Melihat Permaisuri Bun tidak senang pada Chu Goan, budak itu menyampaikan ucapan Permaisuri Bun tersebut kepada Chu Goan.

Mendengar laporan budak itu Chu Goan marah dan berkata, ”O, kalau begitu Permaisuri belum melupakan Tiongkok? Aku pun tidak akan melupakannya! Baiklah, akan kulabrak negeri The. Jika aku tidak bisa menalukkannya, aku bukan seorang laki-laki!”

Begitu Chu Goan sesumbar di depan budak itu.

Budak Permaisuri Bun meyampaikan omongan Chu Goan kepada Permaisuri Bun. Mendengar laporan budaknya itu Permaisuri Bun sangat girang. Dia mengira Chu Goan memiliki kepandaian dan keberanian untuk itu.

Chu Goan yang ingin dipuji oleh Permaisuri Bun dan dianggap gagah, dia menyiapkan angkatan perang dan memerintahkan Touw Gi Kiang dan Touw Gouw memimpin pasukan depan. Ong Sun Yu dan Ong Sun Ke memimpin pasukan belakang. Dia sendiri memimpin pasukan induk. Angkatan perang ini berangkat menuju ke negeri The. Ketika pasukan Couw sudah hampir sampai di negeri The, juru kabar dari negeri The melaporkan kedatangan tentara Couw pada rajanya. Mendengar laporan itu The Bun Kong kaget. Dia kumpulkan semua menterinya untuk diajak berunding.

”Tentara negeri Couw sangat kuat dan jumlah mereka pun besar sekali,” kata Touw Siok, ”hamba rasa pasukan perang kita tidak akan sanggup melawan mereka. Lebih baik kita minta berdamai saja.”

”Belum lama telah mengadakan perserikatan dengan negeri Cee. Aku yakin jika Raja Cee

mendengar kita diserang musuh, mereka akan datang menolong kita! Lebih baik kita jaga saja kota kita dengan kuat. Kita tunggu datangnya bala-bantuan dari negeri Cee.” kata Su Siok.

”Tidak, aku tidak setuju!” kata Si Cu putera Raja The Bun Kong. ”Jika Ayah memberi izin, aku bersedia memimpin pasukan perang.”

Pendapat tiga orang itu sangat berlainan itu membuat The Bun Kong kesal dan bingung. Dia tidak tahu harus mengambil putusan yang mana yang lebih baik. Melihat raja mereka bingung, Siok Ciam menyampailan pendapatnya.

”Di antara tiga usul yang disampaikan tadi, hamba setuju pada usul Su Siok. Menurut dugaan hamba jika kota kita jaga keras, tidak lama tentara Couw itu akan mundur sendiri.” kata Siok Ciam.

”Ach, masa bisa jadi begitu!” kata The Bun Kong dengan alis mengkerut. ”Angkatan perang itu dipimpin oleh Cu Goan sendiri. Bagaimana bisa semudah itu mundur?”

”Dugaan hamba sangat berdasar dan ada alasannya,” kata Siok Ciam.. ”Bagaimana menurut dugaanmu dan alasannya itu?” kata Raja The.

”Hamba mendengar khabar Chu Goan sedang tergila-gila kepada Permaisuri Bun. Dia menyerang ke sini hanya mau mencari muka saja. Dia ingin memamerkan keberaniannya pada Permaisuri Bun. Hamba punya resep untuk membuat dia mundur teratur.” kata Siok

Ciam.

Raja The Bun Kong diam saja seperti orang yang sedang berpikir. Saat usul sedang dipertimbangkan bagaimana akan diambil putusan, tiba-tiba seorang juru kabar datang memberi laporan.

”Tentara dari negeri Couw sudah berhasil merebut kota Kit-kwan dan kini sudah masuk dan berada di luar ibukota. Sekarang mereka sedang berusaha masuk ke pintu Sun-bun (nama pintu bagian luar halaman istana) dan hampir sampai di Kui-ci (jalan raja di dalam 

pekarangan istana raja).” kata si pelapor.

”Wah, celaka, tentara Couw sudah datang mendesak kita!” seru Touw Siok dengan cemas. ”Oh, jangan takut, aku akan melaksanakan tipuku ini!” kata Siok Ciam dengan mantap.

Sehabis berkata begitu Siok Ciam mengeluarkan perintah pada semua tentara The supaya

mereka bersembunyi di dalam kota. Semua pintu kota harus dibuka lebar seperti biasa. Begitu juga rakyat negeri yang berjalan pulang-pergi dinasihati agar tidak boleh kelihatan gentar atau ketakutan. Ketika pasukan Couw yang dipimpin oleh Touw Gi Kiang dan Touw Gouw sudah sampai, mereka melihat di kota raja The tenang-tenang saja. Melihat hal itu mereka jadi curiga.

”Ah barangkali musuh sudah mengatur bai-hok (Pasukan sembunyi untuk menjebak mereka), kita harus hati-hati!” kata Touw Gi Kiang.

Karena itu mereka tidak berani menerjang ke dalam kota. Tetapi mereka segera mundur lima li jauhnya dari kota raja The. Di sana mereka mendirikan perkemahan tentaranya.

Tidak berapa lama pasukan besar yang dipimpin oleh Cu Goan telah sampai di tempat itu. Pasukan induk ini disambut oleh Touw Gi Kiang dan Touw Gouw. Mereka segera memberi tahu keadaan kota Raja The pada Chu Goan.

Chu Goan memang orang berpikiran pendek dan cupet. Setelah mendengar keterangan itu dia jadi panik. Dengan jantung berdebar-debar dia naik ke tempat yang tinggi akan melakukan pemantauan ke kota raja The. Dia lihat bendera-bendera di dalam kota teratur rapih dan tentara The berbaris siap untuk berperang.

Sesudah melihat hal itu Chu Goan bengong sampai seketika lamanya. Dia menarik napas seperti orang yang sangat berduka.

”Ya, memang aku sudah tahu. Di negeri The ada tiga orang menteri yang pandai dan

budiman,” kata Chu Goan. ”Mereka sangat mahir mengatur siasat perang. Sekarang jika aku serang dan pasukanku rusak berat, mana aku punya muka untuk menemui Permaisuri Bun?” pikir Chu Goan.

Sambil menggelengkan kepalanya Chu Goan lalu berkata.

”Akan kukirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan. Jika ini cuma sekedar sebuah tipuan, baru kita serang mereka!” kata Chu Goan pada anak buahnya.

Semua panglimanya membenarkan pendapat Cu Goan tersebut. Maka dengan hati sedikit lega Chu Goan berjalan perlahan-lahan. Dia turun dari tempat yang tinggi itu akan kembali ke kemahnya, tetapi dia tidak segera menyebarkan mata-matanya untuk menyelidiki keadaan musuh. Hati Chu Goan tetap sangsi dan ragu-ragu.

**

Esok harinya......

Ong Sun Yu yang memimpin pasukan bagian belakang telah melaporkan pada Cu Goan.

”Raja Cee dan Raja Song juga Raja Louw telah datang dengan pasukan besar membantu negeri The!” demikan kata utusan dari Ong Sun Yu pada Chu Goan. Mendengar laporan itu Chu Goan terkejut, dengan sangat gugup dan khawatir dia berkata pada anak buahnya.

”Oh, ini tidak boleh dianggap enteng,” kata Chu Goan. ”Jika Raja-raja Muda menghadang jalan pulang kita, artinya kita diserang dari depan dan dari belakang. Sudah pasti angkatan perang kita akan rusak berat! Kita sudah bisa merampas kota Kui-ci, itu sudah bisa dikatakan cukup bagus!” Lebih baik sekarang kita pulang saja.” kata Chu Goan.

Melihat pemimpin mereka begitu pengecut, para panglima pun ikut jerih. Mereka setuju pada rencana Chu Goan untuk pulang ke negaranya. Malam itu juga Chu Goan memerintahkan tentaranya membenahi semua barang-barang mereka. Sesudah selesai dibereskan dengan diam-diam mereka berangkat kembali ke negaranya. Chu Goan khawatir jika tentara The mengetahui mereka pulang, tentara The akan mengejar mereka. Sengaja mereka tidak membongkar perkemahan mereka. Begitu pun bendera besar mereka, dia tinggalkan tetap berkibar di tempatnya.

Setelah pasukan perangnya sudah keluar dari perbatasan negeri The, Chu Goan memerintahkan tentaranya membunyikan tambur dan gembreng. Mereka juga diperintahkan supaya bernyanyi menyanyikan lagu kemenangan. Dengan demikian dia berharap Permaisuri Bun memuji keperkasaannya dan kagum kepadanya.

Ketika hampir sampai di negeri Couw, Chu Goan sengaja mengirim juru kabar mendahului kedatangannya kepada Permaisuri Bun. Dikatakan oleh utusan itu bahwa Leng-i Chu Goan sesudah mendapat kemenangan besar telah pulang kembali ke negerinya.

Mendengar laporan itu Permaisuri Bun tersenyum. Dia berkata kepada pesuruh Chu Goan, ”Oh, syukurlah! Jika betul begitu dan dia bisa menaklukan musuh, sungguh baik. Ini harus diumumkan ke seluruh negeri Couw untuk membuat terang pamor Kerajaan Couw!” kata Permaisuri Bun. Kemudian adakan sembahyang di kelenteng almarhum Raja Couw agar rohnya ikut senang! Untuk apa memberitahu aku, aku ini hanya seorang janda!”

Pesuruh itu segera menyampaikan keterangan Permaisuri Bun kepada Chu Goan. Sindiran yang begitu pedas ini telah membuat Chu Goan jadi malu sekali.

Tatkala Raja Couw Seng Ong mengetahui Chu Goan karena takut tanpa berperang telah mundur, Raja Couw jadi kurang senang kepada sang paman. Mulai saat itu dia benci sekali pada pamannya itu.

**

Malam itu pada saat tentara Couw sibuk membereskan berkemas-kemas, Siok Ciam di atas kota The rajin meronda. Dia mengajak beberapa anak buahnya pergi memeriksa di sekeliling kota. Semalam-malaman dia tidak tidur barang sekejap pun. Setelah terang tanah (siang hari), dia awasi perkemahan tentara Couw seketika lamanya. Tiba-tiba Siok Ciam tertawa terbahak- bahak. Jari tangannya menunjuk ke arah benteng musuh.

”Ha, ha, ha, lihatlah ke arah perkemahan itu! Kemah-kemah itu sudah kosong, tentara Couw sudah kabur semua!” kata Siok Ciam.

Anak buah Siok Ciam tidak percaya ucapan atasannya. Mereka minta agar Siok Ciam menjelaskan mengapa atasannya itu mengatakan perkemahan musuh telah kosong.

”Perkemahan tentara merupakan tempat tentara dan panglima berada. Dari sana angkatan perang diatur rapi. Yang pasti di tempat itu akan terdengar suara tentara yang riuh sekali,” kata Siok Ciam. ”Tetapi sekarang, benteng itu lengang! Aku melihat sekawanan burung hinggap di atas tenda-tenda itu. Burung-burung itu berkicau sangat gembira. Jelas di kemah itu sudah tidak ada orangnya! Aku rasa pasukan negeri Cee dengan sekutunya telah datang akan membantu kita! Karena tahu tentara Cee datang, Chu Goan buru-buru kabur!”

Tidak berapa lama sehabis Siok Ciam mengucapkan kata-katanya, benar saja segera datang juru kabar membawa warta. ”Raja Cee bersama sekutunya datang. Tetapi mereka baru sampai di perbatasan negeri The, tentara negeri Couw sudah ditarik mundur.” kata utusan itu.

Mendengar keterangan utusan itu semua panglima negeri The kagum dan memuji kepandaian Siok Ciam. Raja The segera mengirim utusan untuk mengucapkan terima kasihnya kepada Raja Cee.

Dikisahkan di negeri Couw .....

Sepulang dari negeri The dan Chu Goan tidak berhasil mengalahkan negeri tersebut. Dia kesal dan mendongkol sekali. Apalagi Chu Goan mengetahui Raja Couw Seng Ong kurang senang kepadanya. Ditambah lagi siang dan malam dia terkenang saja pada kecantikan Permaisuri Bun. Terkadang Chu Goan mendapat impian yang tidak karuan. Hal itu membuat dia tidak enak makan dan tidak enak tidur. Niatnya akan merampas tahta kerajaan jadi semakin keras.

Tetapi niat itu belum juga bisa dilaksanakan. Pikiran Chu Goan maju-mundur. Dia masih

takut jika hal itu dia lakukan Permaisuri Bun akan marah. Dengan demikian dia akan kehilangan ”jantung hatinya”. Maka dia putuskan akan mendapatkan si cantik dulu, baru merebut tahta.

**

Pada suatu hari....

Permaisuri Bun agak kurang sehat. Mendengar kabar itu Chu Goan jadi bersemangat. Timbul harapannya yang sudah lama terpendam itu. Dengan berpura-pura hendak menanyakan kesehatan Permaisuri Bun, dia pergi ke istana Raja. Di sana dia tinggal tiga hari lamanya.

Para pengikut Cu Goan yang berjumlah hampir 200 orang, diperintahkan berjaga di luar istana.

Ketika Tay-hu (Menteri Besar) Touw Liam mendengar kabar tentang kelakuan Chu Goan,

buru-buru dia pergi ke istana raja. Begitu sampai di sebuah kamar yang terhias indah, dia lihat Chu Goan sedang ada di depan sebuah kaca besar. Dia sedang menyisir rambutnya dengan tingkah ceriwis.

”Hm, apa yang sedang kau kerjakan di sini, Leng-i?” Touw Liam menegur sambil

menggelengkan kepalanya. ”Apa kau kira ini tempatmu berhias? Hayo, Leng-i, lekas keluar dari sini!”

Chu Goan yang berharap Permaisuri Bun jatuh cinta kepadanya, itu sebabnya selama tiga hari dia selalu berhias. Sebentar-bentar dia pandang wajahnya di kaca. Dia berjalan hilir-mudik di depan kamar Permaisuri Bun. Dia harap Permaisuri Bun akan menegurnya.

Ketika itu Chu Goan sedang berhias dengan pikiran bimbang. Dia jadi terperanjat mendengar teguran Touw Liam. Bahkan Touw Liam yang memergokinya langsung mengusir dia. Tentu saja kejadian ini membuat dia jadi mendongkol sekali. Dengan mata melotot dia menyahut.

”Tempat ini tempat keluarga kami, apa hubungannya denganmu?” bentak Chu Goan.

”Aturan dari mana yang kau jalankan?” balas Touw Liam. ”Tahukah kau demi kemuliaan Raja, seorang adik Raja pun dilarang melanggar adat-istiadat. Ditambah lagi tempat ini berdekatan dengan istana Ibusuri. Sekarang silakan keluar!” ”Hm, kau jangan banyak bicara di hadapanku!” kata Chu Goan.”Jangan lupa kekuasan di negeri Couw ada di tanganku! Sungguh berani kau kurangajar kepadaku!”

Ketika Touw Liam mau bicara lagi, Chu Goan sudah berteriak memanggil anak buahnya. ”Prajurit, tangkap orang ini!”kata Chu Goan dengan kasar.

Anak buah Chu Goan langsung menangkap Touw Liam yang segera diikat pada sebuah tiang istana. Keributan di luar kamar Permaisuri Bun telah didengar oleh Permaisuri Bun. Segera dia memerintahkan budaknya mengintai. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak lama budaknya sudah kembali melapor.

”Di luar Leng-i Chu Goan sedang bertengkar dengan Menteri Touw Liam. Sekarang Menteri Touw Liam sudah ditangkap dan diikat oleh anak buah Chu Goan.” kata budak tersebut. ”Menteri Touw Liam menyebut Cu Goan tidak sopan, dia berani berada di dekat kamar

Tuanku sampai tiga hari tiga malam. Entah untuk apa?”

Mendengar laporan itu Permaisuri Bun kaget. Apalagi merndengar Touw Liam ditangkap. Segera dia perintahkan budaknya memanggil Touw-kok O-to. Dia minta agar menteri ini membereskan masalah keributan di istananya.

Begitu mendengar kabar itu Touw-kok O-to buru-buru menemui Raja Couw Seng Ong. Dia langsung melaporkan apa yang terjadi di istana Ibunda Raja tersebut.Raja Couw marah bukan main. Dia berkata pada Touw Gouw, Touw Gi Kiang dan Touw Pan, juga Touw-kok O-to

agar pada tengah malam mereka bersama-sama menangkap Chu Goan.

Tepat pada tengah malam Touw Gouw, Touw Gi Kiang dan Touw Pan mengerahkan pasukan. Mereka mengepung istana Permaisuri Bun. Anak buah Cu Goan mencoba menghalang- halangi mereka, tetapi pasukan ini langsung melabraknya sehingga mereka bubar semua.

Ketika itu Chu Goan sedang tidur dan bermimpi indah di sebuah kamar. Ketika mendengar suara ribut-rubut Chu Goan bangun dari tidurnya. Dia sadar dengan kaget dan tahu istana sudah dikepung oleh pasukan istana. Buru-buru Chu Goan mengambil pedangnya. Dia berjalan keluar akan melawan. Kebetulan Chu Goan berpapasan dengan Touw Pan yang juga memegang sebilah pedang. Touw Pan hendak masuk ke dalam istana. Chu Goan mengenali Touw Pan yaitu putera Touw Kok O-to.

”Astaga, kiranya kau yang membuat gaduh itu, hai bocah!” bentak Chu Goan.

”Bukan aku yang membuat gaduh, tetapi aku ingin menumpas biang kerusuhan!” sahut Touw Pan dengan gagah. Touw Pan langsung mengangkat pedangnya menyerang Chu Goan.

Buru-buru Chu Goan menangkis serangan Touw Pan dengan pedangnya. Chu Goan pun membalas menyerang. Di tempat itu mereka berdua bertarung dengan hebat. Baru bertarung beberapa jurus, Touw Gi dan Touw Gouw tiba-tiba muncul di tempat itu. Mereka beramai- ramai membantu Touw Pan mengepung Chu Goan.