-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 05

Bab 05

”Raja Cee sangat rukun pada tetangga negerinya, dia suka memberi hadiah, tetapi menerima bingkisan sedikit sekali. Dengan hanya sedikit barang bingkisan sudah cukup, tidak perlu sampai harus mengeluarkan seluruh isi gudang negara.”

Raja Song sangat girang, dia mengirim utusan ikut dengan Leng Cek pergi ke perkemahan Raja Cee untuk minta berdamai.

Ketika itu wajah Tay Siok Pi menjadi merah sekali, dia merasa sangat malu karena akalnya tidak berjalan dengan baik. Begitu utusan Song berjumpa dengan Raja Cee, dan menyerahkan sepuluh pasang batu giok dan seribu potong emas murni, serta memberi penjelasan bahwa Raja Song minta berdamai dan mohon berserikat. Raja Cee tersenyum puas.

”Menyerang negeri Song, adalah atas perintah Kaisar Ciu, bagaimana aku berani mengambil

putusan sendiri,” kata Raja Cee Hoan Kong pada utusan Song itu. ”Masalah ini terpaksa aku harus minta bantuan panglima Ciu untuk menyampaikannya kepada Kaisar Ciu, baru

masalahnya beres.”

Raja Cee membawa emas dan batu giok itu yang dia serahkan kepada panglima Tan Biat, kepada panglima itu Raja Cee menerangkan bahwa Raja Song minta berdamai.

”Jika Kun-houw bersedia memaafkannya,” kata Tan Biat, ”aku bisa segera mengabarkannya kepada Baginda, aku rasa Baginda tidak akan keberatan.”

”Baiklah,” kata Raja Cee.

Raja Cee memerintahkan utusan Song itu pulang dulu untuk menunggu putusan dari Sri Baginda Ciu.

Ketika Baginda Ciu sudah memberi putusan dan permohonan Raja Song telah diterima baik, Raja Cee segera mengadakan pertemuan dengan Raja Song untuk menetapkan perdamaian.

Sesudah semua urusan selesai, Tan Biat pamit dan terus memimpin pasukan perang Ciu pulang ke negaranya. Sedang Raja Cee, Tan dan Co, masing-masing membawa pasukan perangnya pulang ke negerinya sendiri.

Setelah Raja Cee Hoan Kong kembali ke negaranya.......

Pada suatu hari Raja Cee Hoan Kong mengadakan persidangan, ketika itu Koan Tiong mengajukan usul agar Raja Cee menyerang ke negeri The.

”Sejak Kerajaan Ciu dipindahkan ke sebelah timur Tiongkok, di antara negeri-negeri kecil tidak ada yang sekuat negeri The,” kata Koan Tiong. ”Apalagi sejak negeri The mengalahkan negeri Tong Kek dan ibukotanya selesai dibangun. Sekarang kedudukan negeri The jadi

semakin teguh. Ini disebabkan negara itu terlindung oleh gunung, bagian belakang terlindung oleh sungai. Di kiri dan kanan terapit oleh jurang yang dalam. Singkatnya negara The itu sama dengan sebuah goa macan, sangat berbahaya. Dulu Raja The hanya mengandalkan

geografi negaranya yang strategis itu. Mereka melabrak negeri Song, menyerang negeri Khouw. Dia juga membangkang kepada Kaisar Ciu. Ditambah lagi sekarang negeri The menjadi famili negeri Couw. Sedangkan negeri Couw sangat besar tentaranya, kuat. Beberapa negara yang terletak di daerah Han-yang, berhasil mereka caplok. Karena itu negeri The jadi semakin angkuh dan besar kepala saja. Jika Tuanku hendak membela Kerajaan Ciu dan

menjadi jago di antara Raja-raja Muda, Tuanku harus membasmi negeri Couw dulu. Tetapi ingin membasmi negeri Couw; Tuanku harus merebut negeri The dulu.”

”Betul, aku setuju,” kata Raja Cee Hoan Kong. ”Aku tahu negeri The seperti cahaya Tiongkok. Sudah lama aku berniat menaklukannya.Tetapi sayang sudah sekian lama belum mendapat kesempatan yang baik.”

”Sekaranglah saat yang tepat untuk mendapatkan negeri The,” kata Leng Cek. ”Pangeran Tut yang bergelar The Le Kong ketika dua tahun menjadi raja, diusir oleh Tay Ciok. Dia mengangkat Pangeran Hut menjadi penggantinya. Tetapi Kho Ki Bi telah membunuh Pangeran Hut.

”Dia mengangkat Pangeran Bi. Raja Cee Siang Kong almarhum, membunuh Pangeran Bi. Tay Ciok segera mengangkat Pangeran Gi. Sebagai menteri Tay Ciok telah mengusir rajanya. Pangeran Gi, adik raja yang diusir merampas tahta kandanya. Jelas mereka sudah sangat keterlaluan! Mereka melanggar aturan. Alasan ini sangat bagus buat kita melabrak mereka. Sekarang Pangeran Tut ada di tanah Lek. Setiap hari dia berusaha ingin merebut kembali tahtanya. Sekarang Tay Ciok sudah meninggal. Di negeri The tidak punya orang pandai. Jika Tuanku mengirim panglima ke tanah Lek untuk membantu Pangeran Tut, maka dia bisa

menjadi raja kembali. Karena ingat kebaikan Tuanku, niscahya dia mau tunduk dan berserikat dengan negeri Cee.”

Raja Cee Hoan Kong setuju pada saran Leng Cek. Dia memerintahkan Pin Si Bu membawa 200 kereta perang pergi ke negeri The. Pin Si Bu memimpin tentaranya berangkat ke negeri The.

Tatkala Pin Si Bu sampai di tanah Lek, dia membangun kemah 20 li di luar kota Lek-shia. Kemudian memberi khabar kepada The Le Kong tentang maksud kedatangannya.

Sesudah Raja The Le Kong mengetahui Tay Ciok telah meninggal, diam-diam dia perintahkan orang kepercayanya pergi menyelidiki keadaan di negeri The. Tiba-tiba dia mendapat khabar Raja Cee mengirim tentara untuk membantu dia. Dia girang sekali.

Kemudian keluar kota untuk menyambut dan mengatur pesta besar. Saat The Le Kong dan Pin Si Bu sedang asyik bicara, juru kabar yang pergi ke kota raja The telah kembali. Orang itu memberi kabar.

”Benar Tay Ciok telah meninggal dunia. Sekarang Siok Ciam yang menjadi Siang Tay-hu (Perdana Menteri) di sana.” kata si pelapor.

”Siapa Siok Ciam itu?” tanya Pin Si Bu.

”Dia seorang yang baik dan hanya pandai mengurus negara, tetapi bukan seorang panglima perang yang pandai,” sahut The Le Kong sambil tertawa girang.

Pin Si Bu mengucapkan selamat kepada The Le Kong.

”Kalau begitu teguhlah kedudukan Kun-houw!” kata Pin Si Bu.

”Jika bisa jadi raja lagi,” kata The Le Kong, ”seumur hidup aku tidak akan melupakan budi negeri Cee!” Pin Si Bu dan The Le Kong mengatur siasat yang akan mereka jalankan.

Malamnya The Le Kong memimpin tentaranya menyerang kota Tay-leng. Penjaga kota Tay- leng bernama Pok He, dia kerahkan pasukannya untuk menghadapi serangan tentara The Le Kong. Tidak lama terjadilah peperangan sangat hebat. Saat kedua belah pihak sedang asyik bertempur, tidak diduga pasukan Pin Si Bu membokong dari belakang. Maka jatuhlah kota Tay-leng ke tangan pasukan Cee, sehingga kota jatuh ke tangan Pin Si Bu.

Mengetahui kota yang dijaganya telah direbut musuh, Jenderal Pok He insyaf tidak akan mampu melawan lagi. Dia turun dari kereta perangnya dan menyerah. Tetapi The Le Kong yang sakit hati kepadanya, tidak mau terima. Karena selama 17 tahun Pok He selalu berhasil mengalahkan The Le Kong. The Le Kong menyuruh menangkap dan menghukum mati Pok He. ”Mengapa Tuanku hendak membunuhku?” teriak Pok He. ”Apakah Tuanku tidak ingin merebut Ibukota The?”

”Orang durhaka! Untuk apa kau dibiarkan hidup?” sentak Le Kong.

”Jika Tuanku mengampuni hamba, maka hamba akan memenggal kepala Pangeran Gi,” kata Pok He sambil meratap.

”Kau punya kepandaian apa bisa membunuh Cu Gi!” bentak The Le Kong. ”Aku tahu kau hendak membohongiku, kau mau kabur bukan?”

”Sekarang urusan negara ada di tangan Siok Ciam, hamba sahabat baikmya. Jika Tuanku mengampuni hamba, akan hamba temui Siok Ciam supaya bergabung. Hamba jamin Pangeran Gi bisa hamba bawa kemari!”

”O, maling tua, dorna pendusta! Bagus benar akalmu. Kau mau menipuku! Jika aku bebaskan kau, maka kau bersama Siok Ciam akan menentangku!” kata The Le Kong.

”Aku bisa mencegah Pok He menipu Tuanku,” kata Pin Si Bu. ”Aku dengar sanak famili Pok He ada di kota Tay-leng, Anda tahan mereka di kota Lek-shia sebagai jaminan.”

”Ya, Anda benar,” kata Pok He, ”jika hamba ingkar janji, Tuanku boleh membunuh sanak famili hamba.”

”Nah, kalau begitu baiklah! Aku setuju begitu,” sahut The Le Kong. ”Jika ingkar sanak familimu akan kuhabisi!”

Pok He pamit langsung ke Ibu kota raja The. Malamnya dia pergi menemui Siok Ciam. Melihat Pok He datang, Siok Ciam terkejut.

”Kau sedang menjaga kota Tay-leng, mengapa kau ada di sini?” tanya Siok Ciam.

”Raja Cee hendak menaklukkan negeri The,” kata Pok He dengan suara perlahan, ”dia memerintahkan Tay-ciang (Panglima Besar) Pin Si Bu membawa pasukan besar hendak mengantarkan Pangeran Tut kembali ke negeri The. Sekarang kota Tay-leng sudah jatuh ke tangan mereka. Malam ini aku datang untuk menyelamatkan diri. Tidak lama lagi tentara Cec sampai kemari. Jika kau bisa membunuh Pangeran Gi dan membuka pintu kota menyambut mereka, bukan saja kita bisa selamat, juga kekayaan dan kemuliaanmu ada pada kita. Tetapi jika tidak bisa, kita celaka!”

Siok Ciam diam berpikir. ”Dulu aku yang menyarankan The Le Kong jadi Raja, tetapi ditentang oleh Tay Ciok. Sekarang Tay Ciok sudah meninggal, ini takdir Allah. The Le Kong harus jadi Raja. Tetapi bagaimana kita harus mengatur masalah ini?” kata Siok Ciam. 

”Pertama beri kabar pada The Le Kong di kota Lek-shia, minta pada mereka agar menyerang ibukota The,” kata Pok He dengan girang. ”Nanti kau keluar untuk pura-pura menangkis serangan musuh. Waktu itu pasti Pangeran Gi akan datang ke pintu kota untuk melihat peperangan. Sesudah kuberi isyarat kau habisi Pangeran Gi dan persilakan The Le Kong masuk kota. Dengan demikian beres sudah urusan besar itu!”

Siok Ciam setuju pada rencana tersebut. Diam-diam dia perintahkan utusan menyampaikan suratnya kepada The Le Kong. Dia menulis bahwa dia dan Pok He akan me-ngadakan pemberontakan terhadap Pangeran Gi. **

Pada esok harinya......

Jenderal Pok He pergi menemui Pangeran Gi. Dia memberitahu bahwa tentara Cee datang akan membantu Pangeran Tut.

”Bahkan mereka sudah menduduki kota Tay-leng.” kata Pok He.

Mendengar kabar itu Pangeran Gi kaget,wajahnya pucat. ”Kalau begitu kita harus menyuap pada raja negeri Couw untuk minta bantuannya. Jika

pasukan Couw sudah datang, kita labrak pasukan Cee dari luar dan dalam!” kata Pangeran Gi.

Pangeran Gi memerintahkan Siok Ciam untuk mengatur masalah itu. Tetapi sengaja Perdana

Menteri Siok Ciam memperlambat mengurusnya. Sudah lewat dua hari Siok Ciam belum

mengutus orang ke negeri Couw.

Waktu itu juru kabar datang memberi laporan.

”Angkatan perang dari tanah Lek telah sampai di depan Ibukota,” kata juru kabar itu. Pangeran Gi terkejut. Tapi Siok Ciam malah menghiburnya.

”Tuanku jangan khawatir, hamba akan mengusir mereka! Tuanku dan Jenderal Pok He

silakan naik ke atas kota untuk mengatur penjagaan dengan ketat.” Siok Ciam.

Raja The (Pangeran Gi) percaya saja. Dia mengira Siok Ciam masih setia kepadanya. Begitu pasukan Siok Ciam keluar kota, segera mereka diserang oleh tentara The Le Kong. Terjadilah pertempuran hebat di luar kota. Tetapi baru bertarung beberapa jurus, Pin Si Bu datang membantu The Le Kong. Tidak berselang beberapa lama, Siok Ciam telah membalikkan kereta perangnya melarikan diri. Jenderal Pok He di atas kota berteriak.

”Wah, celaka, pasukan The mendapat kerusakan berat!” kata Pok He.

Pangeran Gi yang memang penakut, mendengar Jenderal Pok He berkata begitu. Dia gugup sekali dan akan turun dari atas kota hendak kabur. Saat yang baik itu tidak disia-siakan oleh Jenderal Pok He, dia langsung menikam punggung Pangeran Gi hingga tewas.

Melihat Pok He sudah memberi tanda, Siok Ciam minta dibukakan pintu kota.

Begitu pintu kota terbuka, Siok Ciam mengundang The Le Kong dan Pin Si Bu masuk ke dalam kota.

Jenderal Pok He masuk ke istana Ceng-kiong, di sana dia bunuh dua putera Pangeran Gi. Kemudian The Le Kong dinobatkan menjadi Raja di negeri The. Rakyat negeri The merasa bersyukur karena raja yang mereka cintai telah kembali. Pin Si Bu yang sangat berjasa diberi hadiah juga anak buahnya. The Le Kong juga berjanji akan berkunjung menemui Raja Cee. Pin Si Bu mengucapkan terima kasih. Kemudian Pin Si Bu mengucapkan selamat tinggal dan memimpin tentaranya pulang ke negeri Cee. Baru beberapa hari The Le Kong duduk bertahta, rakyat negeri The hidup tentram seperti biasa.

Pada suatu hari.....

Ketika Raja The Le Kong mengadakan pertemuan semua menterinya, dia menegur Jenderal Pok He. ”Semakin kuingat perbuatanmu, hatiku semakin panas!” kata The Le Kong dengan keras.

”Dalam 17 tahun kau menjaga kota Tay-leng, setiap kali aku maju kau selalu mengusir kami. Jelas kau sangat setia kepada Pangeran Gi. Sekarang karena kau takut mati dan serakah, kau berkhianat dan memihak kepadaku. Jelas kau tidak setia dan tidak bisa dipercaya! Malah kau bunuh Pangeran Gi dan keluarganya tanpa belas kasihan lagi. Padahal Pangeran Gi adalah

adikku Sekarang aku akan membalas dendam adikku.”

Sehabis berkata begitu, dengan tidak memberi kesempatan sampai Pok He menyahut lagi, The

Le Kong sudah memerintahkan algojo menyeret Pok He. Dia dibawa ke tengah pasar dan

ditebas kepalanya. Tetapi anak dan isterinya diberi ampun.

Sedang Goan Hoan, salah seorang menteri negeri The, dulu pernah mengusulkan supaya Pangeran Gi diangkat menjadi raja. Dia jadi khawatir The Le Kong akan menghukum dia. Dengan alasan sakit dia minta berhenti. Tetapi The Le Kong sudah mengerti ke mana maksud dan tujuan permohonan Goan Hong tersebut. The Le Kong memerintahkan orang menegur Goan Hoan. Saking kaget dan takut, Goan Hong menjerat lehernya sendiri hingga mati.

The Le Kong menghukum mereka yang dulu membantu mengusir dia. Pangeran Bun dibunuh. Kiang Thi minta perlindungan di rumah Siok Ciam; karena Siok Ciam dia hanya dipotong kakinya. Pangeran Teng Siok karena ketakutan melarikan diri ke negeri We. Karena Tay Ciok sudah meninggal dia bebas dari hukuman. Siok Ciam menjadi Perdana Menteri,

Touw Siok dan Su Siok diangkat jadi Tay-hu. Siok Ciam, Touw Siok dan Su Siok bekerja di bawah perintah The Le Kong, hingga mereka terkenal disebut ”Sam Liang” (Tiga Orang Budiman).

**

Sesudah The Le Kong sudah menjadi raja kembali di negerinya, dan raja negeri We dan Co bersedia berserikat, Raja Cee Hoan Kong akan mengadakan pertemuan untuk mengukuhkan perserikatan para Raja Muda.

”Tuanku baru mulai berkuasa, jadi Tuanku harus mentramkan rakyat dulu,” kata Koan Tiong.”

”Bagaimana caranya?” tanya Raja Cee Hoan Kong.

”Negeri Tan, negeri Coa dan negeri Ti sejak pertemuan di Pak-leng mereka takluk pada Tuanku. ” kata Koan Tiong. ”Raja Co sekalipun tidak ikut berserikat, tetapi ia ikut kita

menyerang ke negeri Song. Ke-empat negeri itu jangan diganggu. Tetapi negeri Song dan We yang belum kita ketahui apa maunya? Kita harus mengawasi mereka. Sesudah semua Raja

Muda bersatu, baru kita adakan pertemuan pengukuhan.” Sebelum Koan Tiong selesai bicara, datang laporan.

”Kaisar Ciu memerintahkan Tan Biat untuk membalas budi Raja Song. Panglima Tan Biat sudah sampai di negeri We,” kata si pelapor.

Mendengar kabar itu, Koan Tiong girang sekali. ”Kalau begitu Raja Song kelak bisa tunduk benar! Negeri We letaknya di tengah perjalanan,

sebaiknya Tuanku pergi ke negeri We untuk mengadakan pertemuan dengan semua Raja

Muda.”

Raja Cee Hoan Kong sepakat pada rencana Koan Tiong tersebut, segera dia kirim kabar ke negeri Song, We dan The. Mereka diminta datang berkumpul di tanah Yan (tanah milik negeri We).

Tatkala sampai saat yang ditentukan, Raja Cee, Song Kong, We Houw, The Pek dan Tan Biat

sudah berkumpul di tanah Yan. Sesudah bertemu dan saling memberi hormat mereka bubar

dengan gembira. Waktu itu kelihatan semua Raja Muda sangat girang.

Raja Cee senang karena semua Raja Muda suka di bawah kekuasaannya. Kemudian baru dia membuat perhimpunan besar dengan Raja Song, Louw, Tan, We, The, Khouw dan lain-lain di tanah Yu, tanah milik negeri Song. Di sana mereka minum darah untuk menetapkan perserikatan mereka. Di situ Cee Hoan Kong diangkat menjadi Beng-cu (Kepala Perserikatan) yang sah.

**

Dikisahkan keadaan di negeri Couw......

Sejak Couw Bun Ong yang bernama Him Cu mendapatkan Nyonya Sit-kui yang cantik, dia mengangkat Sit-kui menjadi permaisuri. Raja Couw sangat mencintai nyonya manis itu.

Selang tiga tahun Sit-kui melahirkan dua orang putera; yang sulung oleh Raja Couw diberi nama Him Pi, dan yang ke-dua diberi nama Him Tan. Sekali pun sudah tiga tahun Sit-kui tinggal di istana Couw, dia belum pernah bicara sepatah kata pun. Raja Couw heran sekali melihat kelakuan jantung hatinya itu.

Pada suatu hari dia bertanya dengan lemah lembut pada Sit-kui. Dia minta agar Sit-kui mau berterus terang, kenapa dia tidak mau bicara. Sit-kui tidak mau menyahut, melainkan menangis saja. Berulang-ulang raja bertanya dengan sangat dan memaksa. Tetapi Sit-kui tetap bungkam.

Tetapi karena terus dipaksa dan didesak, akhirnya apa boleh buat Sit-kui bicara juga. ”Aku perempuan hina yang diperisteri oleh dua orang suami. Ini bukti bahwa aku tidak bisa menjaga kehormatanku! Bagaimana aku mau bicara dan bertemu dengan orang-orang?” kata Sit-kui sambil menangis.

Mendengar pengakuan Sit-kui Raja Couw ikut terharu. Sambil mewek dia berkata, ”Jangan menangis, jantung hatiku. Diamlah, nyonya manis. Jika kau menangis aku jadi jengkel sekali. Ini semua gara-gara Raja Coa! Tetapi jangan kesal aku akan membalaskan sakit hatimu!”

Pada suatu hari Raja Couw mengerahkan angkatan perangnya menyerang ke negeri Coa. Bahkan dia sampai ke istana Raja Coa. Raja Coa Ai-houw dengan kaki telanjang berlutut di tanah minta-minta ampun. Dia keluarkan seluruh keklayaannya untuk dihadiahkan kepada Raja Couw. Dengan senang Raja Couw mengambil harta tersebut. Kemudian Raja Couw kembali ke negaranya.

Waktu itu Raja The Le Kong mengirim utusan ke negeri Couw. Maksudnya memberi tahu bahwa Raja The Le Kong telah menjadi raja kembali di negerinya. ”Hm, Raja Tut sudah dua tahun kembali ke negerinya, tetapi baru meberitahuku sekarang!”

kata Couw Bun Ong dengan gusar. ”Dia benar-benar kurang ajar sekali. Dia sangat besar

kepala!”

Raja Couw mengusir utusan Raja The itu, kemudian dia kerahkan kembali angkatan perangnya untuk menyerang ke negeri The. Mendengar laporan Raja Couw datang menyerang, Raja The ketakutan. Buru-buru Raja The minta maaf, untung Raja Couw menerima permintaan maafnya.

Karena Raja The takut pada pengaruh Raja Couw, terpaksa dia memutuskan hubungannya dengan Raja Cee. Tetapi Raja Cee tidak tinggal diam. Dia kirim utusan untuk menegur Raja The.

Dengan hati berduka Raja The memerintahkan Siang-kok (Menteri Negara) Siok Ciam pergi ke negeri Cee untuk memberi tahu Raja Cee Hoan Kong. Begitu Siok Ciam sampai dia bertemu dengan Raja Cee.

”Raja kami takut pada Raja Couw. Jika Tuanku bisa mengalahkan Couw, maka Raja kami akan setia pada Tuanku.” kata Siok Ciam.

Mendengar keterangan itu, Cee Hoan Kong jadi mendongkol, dia masukan Siok Ciam ke dalam penjara. Tetapi Siok Ciam berhasil kabur dan pulang ke negeri The. Sejak saat itu negeri The putus hubungan dengan negeri Cee karena Raja The menakluk pada Raja Couw.

**

Kaisar Ciu Li Ong sesudah menjadi kaisar selama 5 tahun, dia meninggal. Puteranya Liang menggantikan ayahnya dengan gelar Ciu Hui Ong.

Pada tahun ke-dua dari pemerintahan Baginda Ciu Hui Ong, ketika itu Raja Couw Bun Ong memerintah dengan sangat buruk dan dia sangat senang berperang. Beberapa tahun yang lalu Raja Couw Bun Ong pernah bersama Raja Pa menyerang ke negeri Sin. Raja Couw membuat ulah mengganggu tentara negara Pa. Karena itu Raja Pa yang merasa dicurangi jadi gusar.

Maka itu dia serang tanah milik Couw. Panglima Couw yang menjaga di tanah tersebut, bernama Giam Go. Karena kalah perang melawan Raja Pa panglima Giam Go kabur lewat sungai. Karena dianggap lalai oleh Raja Couw ditangkap dia dihukum mati.

Sanak-famili Giam Go sakit hati kepada Raja Couw. Mereka mengadakan hubungan rahasia dengan Raja Pa. Mereka menghasut Raja Pa supaya menyerang ke negeri Couw. Mereka berjanji akan membantu Raja Pa dari dalam kota. Tatkala tentara Pa datang menyerang ke negeri Couw, Raja Couw memimpin sendiri pasukan perangnya. Diam-diam kaum famili Giam yang berjumlah ratusan orang itu, menyusup ke dalam pasukan Couw. Sebelum angkatan perang Couw berperang dengan angkatan perang Raja Pa, pasukan Couw sudah kacau. Ini akibat serangan dan dikacaukan dari dalam oleh famili Giam.

Melihat tentara Couw kalut, tentara Pa menggunakan kesempatan itu untuk melabrak pasukan Couw. Dalam serangan itu pasukan Couw mendapat kerusakan besar. Raja Couw Bun Ong sendiri wajahnya terkena anak panah. Dengan tersipu-sipu Couw Bun Ong melarikan diri.

Raja Pa tidak berani mengejar Raja Couw yang kabur itu, dia tarik kembali tentaranya. Sedang kaum famili Giam ikut dengan tentara Pa dan menjadi rakyat negeri Pa. Setelah Raja Couw pulang ke negaranya, waktu Couw Bun Ong sampai, pintu kota sudah ditutup karena hari sudah malam. Couw Bun Ong berteriak minta dibukakan pintu.

”Apa Tuanku mendapat kemenangan?” tanya Yo Koan yang menjaga pintu kota saat itu. ”Kalah!” sahut Raja Couw dengan kesal.

”Sejak Raja Couw almarhum, sampai sekarang, tentara Couw setiap kali keluar berperang,

belum pernah kalah!” kata Yo Koan dengan perasaan dan kurang senang. ”Padahal negeri Pa sebuah negeri kecil, tetapi Tuanku dikalahkan oleh mereka! Apa ini tidak memalukan sekali? Sudah lama negara Ui tidak mengirim upeti, mereka mau membangkang. Sebaiknya Tuanku serang mereka untuk menebus kekalahan kali ini. Baru perasaan malu itu lenyap!”

Sekalipun Couw Bun Ong memaksa, Yo Koan tetap tidak mau membukakan pintu kota untuknya. Raja Couw sangat mendongkol sekali, lalu dia berkata pada tentaranya.

”Mari kita pergi melabrak negeri Ui, jika kita tidak bisa mengalahkan mereka, aku tidak akan pulang!” kata Raja Couw.

Dia memimpin tentaranya menyerang ke negeri Ui, di sana dia mengalahkan pasukan negeri Ui di Cek-leng (tanahnya Uij). Tetapi karena terlalu bekerja keras luka di wajah Raja Couw bekas terkena anak panah telah terbuka lebar. Darahnya mengucur tidak berhenti-hentinya. Dengan sangat kesakitan Raja Couw pulang; tetapi baru sampai di tanah Ciu (tanah milik negeri Couw), pada tengah malam karena tidak tahan lagi Couw Bun Ong dia meninggal.

Mendengar Raja Couw Bun Ong meninggal, Yo Koan kaget. Dia menyambut kedatangan peti jenazah Raja Couw. Mereka buru-buru mengangkat putera mahkota, Him Pi, menjadi raja.

Seusai upacara penguburan jenazah Raja Couw, Yo Koan dengan penuh sesal berkata seorang diri, ”Aku sudah dua kali berbantah dengan Baginda Couw. Sekarang aku enak-enakan

tinggal hidup? Akh, sudahlah. Lebih baik aku ikut bermasa Baginda masuk ke dalam tanah.” kata Yo Koan.

Begitu tetap pikirannya itu, Yo Koan lalu mengumpulkan keluarganya. Kepada mereka Yo Koan berkata, ”Kalau aku sudah mati, kalian harus menguburkan jenazahku di pintu kota

Tiat-hong. Maksudnya supaya anak cucuku mengetahui bahwa aku menjaga pintu kota itu!”

Sehabis berkata begitu dengan kegesitannya yang luar biasa, Yo Koan menggorok lehernya sendiri hingga binasa.

Mendengar kabar Yo Koan telah bunuh diri, raja yang baru Him Pi merasa kasihan kepada Yo Koan, dia mengangkat anak cucu Yo Koan turun-temurun memegang pangkat Tay-hu di negeri Couw.

**

Mendengar khabar Raja Couw Bun Ong telah meninggal dunia, dengan girang The Le Kong berkata, ”Sekarang baru kita tidak akan jengkel lagi.”

”Menurut pendapat hamba, jika kita terlalu bersandar pada orang lain sangat berbahaya. Jika kita tetap menghamba pada orang lain, malu,” kata Siok Ciam. ”Karena negeri kita berada di antara negeri Cee dan negeri Couw, kita jadi serba susah. Tetapi Raja The almarhum, sejak Raja Hoan, Raja Bu sampai Raja Cong, tiga turunan, semua menjabat pangkat Keng-su di Dewan Kerajaan Ciu. Derajatnya lebih agung dari lain-lain negeri dan membuat tunduk semua Raja Muda. Sekarang Baginda telah memegang pemerintahan. Raja dari negeri Kek dan Chin telah memberi selamat. Tuanku harus mengadakan pesta, usahakan Tuanku mengirim upeti ke Kerajaan Ciu. Jika Kaisar Ciu ingat jasa Tuanku maka pangkat Keng-hu akan dikembalikan kepada Tuanku. Lalu siapa yang harus kita takutkan?”

”Ya, kau benar,” kata Raja The dengan girang.

Kemudian Raja The memerintahkan Su Siok pergi ke negeri Ciu; dia berharap diberi pangkat Keng-su (Pembesar Kerajaan) oleh Kaisar Ciu. Tetapi malang saat Su Siok kembali dari negeri Ciu dia melaporkan kedaan di sana.

”Ternyata dalam Dewan Kerajaan Ciu telah terjadi kekacauan,” kata Su Siok. Mendengar laporan tersebut The Le Kong terkejut, dia minta keterangan lebih jauh. ”Bagaimana terjadinya huru-hara itu?” kata The Lee Kong.

”Baginda Ciu Li Ong mempunyai saudara tiri yang bernama Ong Cu Tui,” kata Su Siok mulai menceritakan pengetahuannya, ”ia membuat persekutuan rahasia dengan Kui Kok, Pian Kek, Cu Kim, Ciok Kui dan Ciam Hu. Mereka berjumlah lima orang Tay-hu, kemudian dia membuat huru-hara. Tetapi beruntung Ciu Kong Ki Hu, Siao Pek Liauw dan beberapa pejabat negara yang bijaksana berhasil melabrak mereka. Sehingga para pengkhianat itu melarikan diri ke negeri Souw. Dengan bantuan dari negeri Souw dan We para pengkhianat itu menyerang ke kota raja. Sayang Ciu Kong Ki Hu, Siao Pek Liauw dan kawan-kawannya

kalah perang dengan mereka. Kemudian mereka mengajak Baginda melarikan diri ke tanah Yan. Tay-hu itu lalu mengangkat Ong Cu Tui menjadi Kaisar. Tetapi orang-orang tidak mau menyerah kepada Kaisar yang baru itu.”

”Wah celaka, bagaimana sekarang?” kata Raja The.

”Sekarang sebaiknya Tuanku mengerahkan tentara menjemput dan antarkan Kaisar ke

Ibukota. Dengan demikian Tuanku jadi berjasa, dan akan mendapat pahala besar!” kata Su Siok.

”Ya, itu benar,” kata The Le Kong. ”Tetapi sebelum kita menyerang, bagaimana jika kita beri peringatan dulu mereka? Barangkali saja mereka mau menyesali kesalahan dan mengubah kelakuannya.”

Semua menteri membenarkan ucapan Raja The. Raja The segera mengirim utusan ke negeri Yan untuk menyambut Kaisar dan diminta sementara tinggal di kota Lek-ip. Raja The pun mengirim utusan yang membawa surat untuk Ong Cu Tui. Bunyi suratnya kira-kira begini:

”Dengan segala hormat,

Tut persembahkan surat ini ke hadapan Ong Cu yang mulia.

Tut dengar, orang yang menjadi hamba dan melawan kepada Rajanya disebut tidak setia, sedang yang menjadi adik berkhianat kepada kandanya, disebut kurang ajar, bila orang yang tidak setia dan kurang ajar, sudah pasti akan mendapat kutukan dari Allah. Ong Cu sangat keliru mau mendengarkan hasutan meneteri dorna, sehingga Ong Cu sudah mengusir

Baginda, atau mengikat tangan sendiri buat menerima dosa itu, masih belum terlambat untuk meraih kekayaan dan kemuliaan. Tut minta agar Ong Cu mengerti dan suka menyerah. Tetapi jika tidak mau, harap mundur ke suatu tempat. Di sana Ong Cu bisa hidup sederhana dan senang. Dengan demikian Ong Cu akan terhindar dari bencana dan dosa besar.”

Ketika Ong Cu Cui menerima surat itu dan membacanya, dia jadi bingung dan tak tahu harus bagaimana.

Di antara kelima Tay-hu itu ada yang berkata begini.

”Tuanku, seumpama orang ada di atas punggung harimau, tidak mungkin bisa turun tanpa menghadapi bahaya, begitu kata pepatah, bukan? Maka apa patut orang yang sudah menjadi Kaisar disuruh menjadi meneteri lagi? Ucapan Raja The itu terlalu menghina pada Tuanku, harap Baginda jangan mempedulikannya!”

Mendengar hasutan itu Ong Cu Tui jadi sangat gusar, dia usir utusan The tersebut. Utusan itu pulang ke negerinya, dan menyampaikan laporannya pada rajanya. Raja The menemui Baginda Ciu di Lek-ip atau Lek-shia. Kemudian Raja The mengejar Baginda ke ibu kota

negeri The. Sesudah diadakan pesta besar dan Raja The menyerahkan berbagai hadiah pada Baginda, baru Baginda kembali ke kota Lek-shia.

Waktu itu tahun ke-tiga pemerintahan Baginda Ciu Hui Ong. Pada musim Tang (gugur) Raja The mengirim utusan ke negeri Kek untuk mengajak Raja Kek bersama-sama mengerahkan angkatan perang mereka menolong Baginda; ajakan tersebut diterima baik oleh Raja Kek. 

Pada tahun ke-empat dari pemerintahan Baginda Hui Ong, Raja The mengumpulkan tentaranya di tanah Ji (tanah negeri The). Pada bulan Si-gwe (bulan empat Imlek), mereka mengiring Baginda dan mengerahkan tentaranya menyerang ke kota raja Ciu.

Kui Kok, Pian Kek, Cu Kim, Ciok Ku dan Ciam Hu dengan susah payah mengatur penjagaan di kota raja. Tetapi rakyat negeri Ciu yang kurang senang pada Ong Cu Tui, mendengar Baginda Hui Ong datang mereka bersorak-sorak gembira. Suaranya gemuruh bagaikan suara guntur. Mereka berebutan membukakan pintu kota dan menyambut kedatangan Baginda Ciu Hui Ong tersebut.

Waktu itu Kui Kok sedang menulis surat untuk minta bantuan ke negeri We. Sebelum surat selesai, terdengar suara lonceng dan genderang dibunyikan. Kemudian datang laporan.

”Baginda Ciu Hui Ong sudah kembali dan menjadi raja.”

Kui Kok kaget bukan main sampai kursi yang diduduknya bergetar. Karena takut dan ngeri dia menggorok lehernya dengan sebilah pedang. Ciok Kui dan Cu Kim binasa dalam

keributan itu. Pian Hek dan Ciam Hu tertawan oleh rakyat mereka diserahkan kepada Baginda

Ciu Hui Ong. Sedang Ong Cu Tui dengan Sek Sok berhasil kabur. Untung mereka terkejar dan ditawan oleh tentara Kek dan The. Semua pengkhianat itu kemudian dihukum mati semuanya.

Setelah Baginda Ciu Hui Ong naik tahta kembali, dia memberi hadiah kepada Raja The berupa tanah-tanah dimulai dari Houw-bouw terus ke timur. Sedang Raja Kek diberi hadiah tanah di Ciu-coan dan tempat arak. Kedua raja itu mengucapkan terima kasih. Sesudah itu mereka pamit pada Baginda, masing-masing memimpin tentaranya kembali ke negerinya. Di tengah jalan Raja The Le Kong jatuh sakit, setelah pulang ke negerinya tidak berapa lama dia meninggal. Semua pembesar mengangkat Si Cu Ciat mejadi Raja The menggantikan Raja The Le Kong, beliau bergelar Bun Kong.

**

Pada tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong ke-empat, di musim Ciu (Semi) bulan Cit-gwe (bulan tujuh Imlek). Permaisuri Bun Kiang jatuh sakit. Sakitnya keras dan tidak bisa diobati lagi. Maka tidak berapa lama Permaisuri Bu meninggal. Sebelum meninggal ketika sedang sekarat, beliau berpesan kepada Louw Cong Kong.

”Kau harus segera menikah dengan puteri dari negeri Cee. Ingat kau harus dengan sepenuh hati membantu Raja Cee dan jangan putus hubungan famili,” kata Permaisuri Bun.

Sesudah ibunya meninggal Raja Louw Cong Kong sedih sekali. Dia makamkan jenazah ibunya dengan baik.

Raja Louw Cong Kong sangat memperhatikan pesan terakhir ibunya. Pada tahun itu juga Raja Louw Cong Kong membicarakan urusan perkawinannya dengan puteri dari negeri Cee. Tetapi niatnya untuk menikah mendapat hambatan dari menterinya.

”Masa berkabung atas meninggalnya Lau-hu-jin Bun Kiang belum selesai, hamba rasa kurang pantas jika Tuanku langsung membicarakan soal perkawinan,” kata Co We

”Sebaiknya kita tunggu lagi sampai tiga tahun kemudian, sesudah lepas berkabung baru kita bicarakan urusan perkawinam itu. Hamba rasa masih belum terlambat.”

”Tetapi ibuku berpesan aku harus segera menikah dengan puteri negeri Cee,” sahut Louw

Cong Kong. ”Memang jika sedang berkabung segera menikah itu kurang pantas, cuma jika harus menunggu sampai tiga tahun lamanya, sesudah lepas berkabung itu terlalu lama.

Sekarang aku mau bersikap adil, aku mau mengambil jalan tengah saja.”

Semua menteri tidak ada yang berani membantah kehendak rajanya. Tepat pada akhir tahun, Raja Louw merundingkan masalah perkawinannya. Dia mengutus orang untuk membicarakan perkawinan itu dan lamarannya kepada Raja Cee. Dia berjanji akan datang sendiri ke negeri Cee untuk melangsungkan pernikahannya. Raja Cee tidak setuju dan agak keberatan, karena Raja Louw belum lepas berkabung. Dia minta urusan pernikahan itu supaya ditunda saja dulu.

Sampai tahun pemerintahan Ciu Hui Ong yang ke tujuh, masalah pernikahan baru ditetapkan. Harinya dipilih di musim Ciu (Semi) karena dianggap hari baik. Waktu itu Louw Cong Kong sudah menjadi raja selama 24 tahun, dan umurnya sudah 37 tahun.

**

Ketika telah tiba saat pernikahan itu Raja Louw berangkat ke negeri Cee. Maka pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah. Sesudah selesai pernikahan, Raja Louw membawa Permaisuri Kang-si pulang ke negeri Louw. Permaisuri juga disebut Permaisuri Ai-kiang.

Sejak saat itu negeri Cee dan negeri Louw bersahabat kekal. Suatu hari...... Raja Cee menggabungkan tentaranya dengan tentara Louw, maksudnya akan melabrak bangsa

Ci dan menyerang bangsa Jiong (Mongol). Kemudian dua bangsa itu semuanya berhasil

mereka kalahkan.

Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong ke-sepuluh, bangsa Ci dan Jiong sudah tunduk benar di bawah pengaruh negeri Cee.

Melihat pengaruh negeri Cee semakin besar, Raja The Bun Kong jadi semakin khawatir. Buru-buru Raja The mengirim utusan untuk minta berserikat lagi. Waktu itu semua negara-

negara kecil, kecuali negeri Couw, semuanya sudah di bawah kekuasaan negeri Cee. Raja Cee Hoan Kong sangat senang. Raja Cee mengadakan pesta besar untuk menyenangkan anak buah dan tentaranya.

Setelah minum arak sampai mabuk, Pao Siok Gee sambil memegang cawan arak datang ke hadapan Raja Cee Hoan Kong. Dia menuang secawan arak untuk mengucapkan selamat kepada Raja Cee.

Raja Cee Hoan Kong menyambut arak itu yang terus dia minum hingga cawan itu kering. ”Hari ini aku senang sekali minum arak bersama kalian!” kata Raja Cee.

”Setahu hamba seorang Raja yang budiman dan bijaksana, baik dalam suka dan duka tidak melupakan kesusahan. Tuanku tidak lupa saat sebelum menjadi Raja; begitu juga Koan Tiong. Dia harus ingat saat dia masih dikerangkeng. Leng Cek jangan melupakan saat dia masih jadi penggembala kerbau.” kata Pao Siok Ge.

Buru-buru Raja Cee Hoan Kong bangkit dari tempat duduknya sambil memberi hormat

kepada Pao Siok Gee.

”Banyak terima kasih untuk nasihatmu! Jika semua menteri tidak melupakan kesengsaraan aku pun gembira.” kata Raja Cee.

Pesta besar berlangsung sampai semua orang puas, akhirnya pesta pun ditutup. Para pembesar pulang ke rumahnya masing-masing.

Selang beberapa hari kemudian.....

Datang orang melapor.

”Tadi baru saja tiba Siao Pek Liauw utusan Baginda Ciu Hui Ong datang berkunjung, ” kata pelapor itu.

Buru-buru Raja Cee Hoan Kong menyambut dengan gembira kedatangan Siao Pek Liauw itu. Sesudah menjalankan adat istiadat, Siao Pek Liauw menyampaikan maksud kedatangannya.

”Baginda Ciu Hui Ong memberi gelar Hong Pek (Raja Muda Yang Mulia) kepada Tuanku Raja Cee. Tuanku mendapat izin untuk menghukum raja-raja pembangkang.” kata Siao Pek Liauw.

”Terima kasih,” kata Raja Cee. ”Apa perintah beliau?” ”Raja We dulu telah membantu Ong Cu Tui mengusir Baginda, Baginda sakit hati kepadanya. Baginda minta agar Raja Cee menghukumnya,” kata utusan itu.

”Hamba akan memperhatikan perintah Baginda!” kata Raja Cee.

Sesudah berbasa-basi sebentar Siao Pek Liauw pamit kembali ke negeri Ciu.

Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong ke-sebelas, Raja Cee Hoan Kong memimpin pasukan perang menyerang ke negeri We.

Waktu itu We Hui Kong sudah meninggal. Puteranya yang bernama Ci sudah menjadi raja. Raja We yang bergelar We I Kong langsung melakukan perlawanan. Tetapi sial Raja We menderita kalah besar. Buru-buru kembali ke kota dan menutup pintu kota secara ketat.

Raja Cee Hoan Kong marah tentaranya terus menyerang. Dalam marahnya Raja Cee menyebut-nyebut dosa raja We. Mendengar hal itu, Raja We sadar bahwa Raja Cee hendak balas dendam kepada ayahnya.

”Oh, kalau begitu almarhum Raja We punya kesalahan besar! Tetapi aku tidak punya sangkut-paut dengan dosa ayahku itu.” pikir Raja We I Kong.

Dia perintahkan putera sulungnya yang bernama Kai Hong. Dia membawa lima gerobak

bingkisan berharga diserahkan pada Raja Cee. Raja We juga minta berdamai.

Ketika Kai Hong sampai dia langsung menghadap. Kemudian menyerahkan hadiah-hadiah dari ayahnya pada Cee Hoan Kong.

”Ayah hamba tidak berdosa, itu sebabnya dia mohon dimaafkan dan minta damai.” kata Kai Hong. ”Menurut aturan Baginda almarhum, jika ayahnya berdosa, anak cucunya tidak terlibat dosa,” kata Cee Hoan Kong. ”Jika Raja We sudah menerima salah mau menurut perintah Baginda Ciu, aku pun tidak usah memperpanjang masalah ini.”

Kai Hong atas nama ayahnya mengucapkan terima kasih. Kai Hong tahu negeri Cee makmur dan kuat. Maka dia minta ikut dan ingin mengabdi pada Raja Cee.

”Kau putera sulung Raja We,” kata Cee Hoan Kong heran, ”menurut peraturan, kau kelak bakal jadi pengganti ayahmu. Mengapa kau mau menjadi mentriku?”

”Tuanku seorang Raja yang bijaksana saat ini,” sahut Kai Hong, ”aku lebih beruntung jika bekerja di tempat Tuanku, dibanding menjadi raja di negeri We.”

Mendengar jawaban Kai Hong tersebut Raja Cee Hoan Kong mengira Kai Hong sangat mencinta dirinya. Raja Cee setuju dan mengangkat Kai Hong menjadi menteri.

Ketika Raja Cee pulang ke negaranya Kai Hong ikut ke negeri Cee. Di sana Kai Hong menginginkan dirinya lebih disayang oleh Raja Cee. Dia selalu memuji-muji kecantikan putri Raja We.1)

1). Yang dipuji-puji oleh Kay Hong putri Raja We yang bungsu. Dulu We Hui Kong telah memberikan putrinya untuk ikut bersama putri Kaisar Ciu menikah dengan Raja Cee. Sedang putri yang dipuji-puji oleh Kay Hong adik kandungnya sendiri.

Raja Cee Hoan Kong memang sangat senang pada perempuan cantik, dia jadi girang mendengar pujian Kai Hong atas dirinya dan putri Raja We itu. Dengan tidak membuang waktu lagi, Raja Cee mengirim utusan mengantarkan barang bingkisan untuk melamar nona yang cantik itu untuk dijadikan selirnya. Permintaan Raja Cee tidak ditolak oleh We I Kong yang takut pada Raja Cee. Raja We langsung menyerahkan

nona We Ki dibawa ke negeri Cee. Bukan main girangnya Raja Cee setelah melihat sendiri nona We Ki sesungguhnya sangat elok sekali. Untuk membedakan kakak nona Ki dengan adiknya, Raja Cee memberi nama We Ki Besar dan We Ki Kecil. Keduanya sangat disayang oleh Raja Cee.