-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 04

Bab 04

Sesudah surat perjanjian itu dibaca habis, semua Raja Muda mengangkat tangan memberi hormat. Kemudian mereka menerima surat perjanjian itu sebagai pegangan mereka.

Tiba-tiba sesudah semua Raja Muda menjalankan upacara itu, Koan Tiong naik ke atas

panggung, ”Louw, We, The, dan Co telah membantah titah Baginda Kaisar tidak mau datang ke pertemuan ini; hal ini tidak boleh dibiarkan. Mereka harus diajar adat.” Kata Koan Tiong.

”Aku menyesal di tempatku kereta perang sangat sedikit, ” kata Raja Cee Hoan Kong. ”Aku berharap para raja mau bekerja sama denganku.”

Raja dari negeri Tan, Coa dan Ti berjanji akan membantu. Hanya Raja Song yang tercengang dan diam saja tidak menyahut.

Waktu sudah sore, persidangan pun segera ditutup. Masing-masing Raja Muda pulang ke gedung tempat mereka bermalam.

Raja Song Hoan Kong tidak setuju pada niat Raja Cee Hoan Kong. Pada malam itu dia mengadakan pertemuan rahasia dengan Tay-hu Tay Siok Pi.

”Raja Cee mengangkat dirinya menjadi yang dipertuan,” kata Raja Song Hoan Kong, ”baru saja dia diangkat, dia sudah minta kita mengerahkan angkatan perang kita untuk membantu dia! Jika begini caranya aku takut tentara negeri kita akan kelelahan untuk menjalankan

perintahnya.”

”Raja-raja Muda yang berserikat dibanding dengan yang menetang, sama banyaknya. Aku

berpendapat Kerajaan Cee belum kuat!” kata Tay Siok Pi. ”Tetapi jika bisa mengalahkan Raja Louw dan The sampai takluk, ia akan berhasillah menjadi jago di dunia. Jika negeri Cee menjadi jagoan, itu bencana bagi negeri Song. Di antara ke-empat negeri yang datang berserikat, hanya negeri Song yang paling besar. Jika Song tidak ikut mengirim tentara, tiga negeri yang lain pun ikut ambruk. Apalagi kedatangan kita ini, cuma hendak mendapat izin Kaisar. Sekarang aku sudah punya hak berdiri dalam Dewan Kerajaan Ciu. Apa yang mau ditunggu lagi? Paling baik malam ini juga diam-diam kita pulang saja.”

Raja Song setuju pada saran Tay Siok Pi tersebut. Malam itu juga mereka naik kereta perang

berangkat pulang.

**

Esok harinya......

Setelah Raja Cee Hoan Kong mendapat khabar Raja Song sudah meninggalkan persidangan pulang ke negaranya. Raja Cee gusar sekali. Ketika itu juga mau menyuruh Tiong Sun Ciu mengejar Raja Song.

”Sudah, biarkan saja dia pulang,” kata Koan Tiong. Koan Tiong mencegah kehendak Raja Cee.

”Mereka tidak perlu dikejar, itu bukan kewajiban kita. Kita harus minta tentara dulu kepada Kaisar Ciu untuk menghajar mereka! Dengan demikian baru benar aturannya. Sebaiknya masalah ini kita tunda dulu, karena ada urusan yang lebih penting!” kata Koan Tiong.

”Urusan apa itu? Sehingga Tiong-hu katakan lebih penting dari masalah ini?” tanya Raja Cee Hoan Kong heran.

”Negeri Song letaknya cukup jauh dibanding dengan negeri Louw. Ditambah lagi negeri Louw masih keluarga Kerajaan Ciu,” kata Koan Tiong. ”Lebih baik kutaklukan dulu negeri Louw. Mengapa harus negeri Song dulu?”

”Jika akan menyerang ke negeri Louw kita harus mengambil jalan mana?” tanya Raja Cee. ”Di bagian Timur-laut sungai Cee ada negeri Sui. Tanah itu jajahan negeri Louw. Negrinya kecil serta lemah. Rajanya baru berkuasa empat turunan. Jika dengan pasukan besar kita menyerang ke negeri Sui, dalam sekejap negeri itu pasti musnah. Jika negeri Sui telah jatuh ke tangan kita, negeri Louw akan jadi keder. Kemudian baru kita kirim utusan untuk menegor Raja Louw. Tanyakan mengapa dia tidak mau datang ke pertemuan yang kita adakan ini.

Perintahkan orang kita memberi khabar kepada Louw Hu-jin. Karena Louw Hu-jin adalah

puteri Raja Cee almarhum, pasti dia menginginkan puteranya tetap hidup kekal bersama keponakan luarnya. Aku yakin Louw Hujin akan membujuk Raja Louw supaya tidak berperang melawan negeri Cee. Dengan demikian dari dalam Raja Louw akan dipaksa oleh pemintaan ibunya, dan dari luar terancam oleh serangan tentara musuh. Boleh dipastikan dia terpaksa akan minta berdamai. Jika Raja Louw sudah minta berdamai, kita luluskan permohonannya. Sesudah membereskan negeri Louw, baru kita pindahkan tentara kita menyerang ke negeri Song. Minta pada Sri Baginda Ciu supaya mengirim panglimanya untuk membantu kita. Dengan demikian untuk menjatuhkan negeri Song tidak ubahnya seperti membelah bambu gampangnya.”

”O, bagus!” kata Raja Cee Hoan Kong girang.

Raja Cee segera mengerahkan tentaranya berangkat ke kota Sui-shia. Benar saja dengan sekali gebrak Raja Cee Hoan Kong sudah berhasil mendapatkan kota Sui- shia. Dia tempatkan tentaranya di pinggir sungai Cee-sui.

Mendengar khabar kota Sui-shai telah jatuh ke tangan Raja Cee, benar saja Raja Louw jadi jerih. Dia kumpulkan sekalian menterinya untuk diajak berunding menghadapi serangan musuh.

”Tentara Cee sudah dua kali datang ke negeri kita,” kata Pangeran Keng Hu. ”Tetapi mereka selalu bisa kita pukul mundur. Kali ini mereka berani datang lagi, biar hamba yang memimpin pasukan perang untuk melabraknya!”

”O, tidak boleh! . . . tidak boleh!” seru seorang di antara kumpulan para menteri.

Raja Louw Cong Kong segera mengawasi orang yang berseru itu. Dia adalah Si Pek. ”Menteriku, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” tanya Raja Louw.

”Ada tiga hal yang menjadi penghalang, Tuanku,” sahut Si Pek. ”Seperti dulu hamba sudah bilang, Koan Tiong kepandaiannya luar biasa. Sekarang dia memegang pemerintahan di negeri Cee. Maka jelas angkatan perang Cee kuat sekali. Jauh sekali bedanya dengan pasukan Cee yang dulu. Ini penghalang pertama.

Ketika mengadakan pertemuan di Pak-heng, dia menggunakan alasan telah menerima perintah Kaisar Ciu; dengan tujuan untuk memuliakan ”Dewan Kerajaan Ciu”, karena kita tidak ikut hadir dalam pertemuan itu, sekarang dia mengatakan kita telah melanggar titah Baginda.

Segala kejelekan dijatuhkan kepada kita. Ini penghalang yang ke-dua. Tatkala kita membunuh Pangeran Kiu, Tuanku telah berjasa kepadanya, ketika dia menikahi Puteri Ong-hi, Tuanku juga berjasa kepada Raja Cee. Sekarang dia melupakan semua jasa Tuanku itu! Dia sengaja ingin bermusuhan dengan kita. Ini penghalang yang ke-tiga! Tegasnya sekarang demi kebaikan kita, sebaiknya Tuanku minta berdamai saja dengannya. Dengan demikian kita tidak perlu berperang dan tentara Cee pasti akan segera ditarik mundur.”

”Itu benar, hamba pun berpendapat begitu,” kata Co We. Co We sependapat dengan Si Pek. Pada saat sedang berunding, tiba-tiba datang pelapor. ”Tuanku Raja Cee mengirim surat untuk Tuanku,” kata si pelapor.. Raja Louw menyambut surat itu dan membuka sampulnya. Bunyi surat itu kira-kira begini:

”Dengan hormat,

Aku persembahkan surat ini ke hadapan Louw Cong-kong yang mulia. Sudah lama kita berdua bersama-sama menjungjung Dewan Kerajaan Ciu dengan taat, kita seperti saudara yang saling mencintai, apalagi memang Cee dan Louw berbesan. Tetapi sungguh aku kecewa sekali, ketika diadakan pertemuan di Pak-heng, Kun-houw tidak datang, maka dengan menyesal aku mengambil keberanian mohon bertanya, apa sebabnya? Seandainya Kun-houw punya hati bercabang, terpaksa aku harus menjunjung titah Baginda Kaisar.

Tertanda, Cee Hoan Kong.”

Setelah membaca surat ini, Raja Louw Cong Kong kurang senang. Berbareng dengan itu, Raja Cee pun mengirim surat kepada Louw Hu-jin Bun-kiang. Sesudah Bun-kiang membaca surat Raja Cee, dia langsung memanggil Raja Louw Cong Kong yang segera datang

menghadap.

”Cee dan Louw turun temurun menjadi famili,” begitu kata Louw Hu-jin mengingatkan anaknya, ”kendati dia benci kepada kita, toh kita harus baik kepadanya. Apalagi jika dia mau mengamankan dunia, tentu saja kita harus membantunya.”

”Ya, baik, aku menurut pesan Ibu,” kata Raja Louw Cong Kong dengan hormat.

Raja Louw memerintahkan Si Pek menulis surat balasan buat Raja Cee. Si Pek lantas menulis surat yang bunyinya kira-kira demikian:

”Oleh karena kebetulan aku kurang sehat badan, sehingga aku belum bisa ikut titahnya Baginda. Sekarang Kun-houw mengirim surat menegur hamba, aku menerima salah. Tetapi jika aku harus berdamai di bawah kota Louw, sesungguhnya aku jadi sangat malu, apabila Kun-houw suka mengundurkan tentaramu sampai ke daetah Kun Houw sendiri, sudah pasti dengan membawa batu mustika giok dan kain sutera aku akan datang ke sana untuk minta ampun.”

Begitu Raja Cee menerima surat dari Raja Louw, dia jadi girang sekali.Kemudian menarik mundur tentaranya sampai le tanah Ko (tanah milik negeri Cee).

Ketika Raja Louw hendak pergi menemui Raja Cee, dia bertanya pada semua menterinya. ”Siapa di antara kalian yang bersedia ikut denganku?” kata Raja Louw.

”Hamba bersedia ikut dengan Tuanku,” kata Co Moay.

”Hau, kau sudah tiga kali kalah berperang dengan tentara Cee, apakah kau tidak khawatir orang negeri Cee menertawakanmu?” kata Raja Louw Cong Kong sambil tersenyum.

”Justru lantaran mendapat malu, sekarang hamba ingin pergi. Hamba yakin hamba bisa membalas kekalahan hamba pada mereka!” kata Co Moay.

”Bagaimana caranya kau hendak membalas pada mereka?” tanya Raja Couw.

”Tuanku boleh berurusan dengan Raja Cee, sedang hamba akan berhitungan dengan menterinya.” jawab Co Moay. ”Aku pergi ke perbatasan negeri untuk minta berdamai, seumpama aku telah kalah perang, apabila kau bisa membalas membuat malu mereka, aku senang sekali mengajakmu.” kata Raja Couw.

Sesudah berdandan untuk persiapan di perjalanan, Raja Louw Cong Kong mengajak Co Moay berangkat menuju ke tanah Ko.

Raja Cee memang sudah lebih dulu membuat panggung untuk menunggu kedatangan Raja

Louw. Ketika Raja Louw hampir sampai ke tanah Ko, Raja Louw memerintahkan orangnya memberi khabar kepada Raja Cee tentang kedatangannya. Sementara Raja Cee pun membalas mengirim orangnya untuk menentukan saat perundingan akan diadakan.

Begitu sampai pada waktu yang sudah ditentukan, dengan menuruti ajaran Koan Tiong, Raja Cee memerintahkan tentaranya berbaris di bawah panggung.

Tentara Cee diatur menjadi empat barisan, mereka membawa bendera hijau, merah, hitam dan putih. Mereka berbaris di bagian timur, selatan, barat dan utara. Masing-masing dikepalai oleh seorang panglima perang. Panglima tertingginya adalah Tiong Sun Ciu.

Tangga panggung dibuat tujuh tingkat, setiap tingkat dijaga oleh tentara yang gagah

memegang bendera kuning. Pada bendera itu terlukis dua huruf ”Hong Pek”. Di samping

bendera diletakan sebuah genderang besar; untuk menjaga genderang ditugaskan Ong-cu Seng Hu.

Di tengah panggung diatur meja sembahyang, di sana ditaruh piring merah dan mangkuk batu giok. Mangkuk itu untuk tempat darah. Pengurus di bagian ini dipegang oleh Sek Peng. Di kedua tepi panggung ditempatkan tempat duduk. Pengurus di sini dipercayakan kepada Si Tiao.

Di panggung sebelah barat ada dua buah tiang batu. Di sana terikat seekor kerbau hitam dan kuda putih, sedang algojonya bersiap akan memotong binatang itu. Pengawasan tempat ini diserahkan kepada tukang masak Ek Ge.

Tong Kok Ge menjadi petunjuk jalan, berdiri di bawah tangga untuk menyambut tamu. Koan Tiong yang jadi Perdana Menteri, berdandan rapi sekali.

Sesudah segala keperluan selesai diatur beres, Raja Cee baru mengeluarkan perintah untuk menyilakan Raja Louw datang menghadap; tetapi hanya raja dan seorang menterinya saja yang boleh naik ke atas panggung, yang lainnya harus menunggu di bawah.

Co Moay berpakian sipil dan mengenakan pakaian perang di balik pakaian sipilnya. Pada tangan kanan Co Moay memegang sebilah pedang yang tajam. Sekali pun hanya sekejap dia tidak mau berjauhan dengan Raja Louw Cong Kong.

Waktu itu Raja Louw sambil berjalan tubuhnya gemetar karena ngeri; tetapi Co Moay sedikit pun tidak kelihatan jerih.

Setelah mereka berjalan hampir sampai di tangga ke-dua, Tong Kok Ge maju ke hadapan Raja Louw dan dia berkata, ”Hari ini dua orang Raja hendak mengadakan pertemuan. Begitu juga menterinya. Sudah tentu semua harus memegang adat-istiadat dengan baik. Mana boleh membawa senjata tajam? Untuk kebaikan kedua pihak, pedang itu harus ditaruh dahulu!”

Co Moay tidak menyahut, tetapi dengan mata mendelik dia awasi Tong Kok Gee. Biji mata Co Moay seolah mau melompat keluar. Melihat demikian Tong Kok Ge jadi mengkirik, dia mundur beberapa langkah.

Raja Louw Cong Kong dan Co Moay berjalan terus. Mereka naik ke atas panggung. Setelah dua orang raja itu bertemu muka, masing-masing menyatakan kegembirannya. Sesudah itu genderang dibunyikan sebanyak tiga kali. Mereka menghadapi meja sembahyang dan menjalankan upacara adat.

Sek Peng menuang darah hewan ke dalam mangkuk batu giok, sambil berlutut dia suguhkan darah itu supaya dua orang raja itu segera meminumnya. Suatu tanda mereka sedang membuat perserikatan yang kekal.

Sebelum dua Raja Muda itu minum darah tersebut, Co Moay dengan wajah gusar bergerak. Tangan kiri Co Moay menjambak lengan baju Raja Cee Hoan Kong. Sedang tangan kanannya memegang pedang tajam dan mengancam.

Koan Tiong segera melindungi Raja Cee Hoan Kong dengan tubuhnya. Dengan sikap hormat, ”Apa yang hendak Tay-hu lakukan?” tanya Koan Tiong.

”Secara beruntun Raja Louw beberapa kali didatangi bala-tentara negeri Cee, sehingga negerinya hampir musnah!” kata Co Moay dengan keras. ”Sedang Kun-houw mengabaikan

pertemuan dengan maksud hendak menolong yang lemah dan mengangkat yang sedang jatuh. Apakah Tuan tidak ingat pada negeriku yang bernasib jelek?”

”Kalau begitu, apa yang Tay-hu hendak minta?” tanya Koan Tiong dengan sabar.

”Negeri Cee terlalu mengandalkan kekuatan dan telah menghina negeri yang lebih lemah.

Negeri Cee telah merebut sawah-sawah milik negeri Louw di Bun-yang,” kata Co Moay dengan sengit. ”Maka hari ini aku mohon apa yang telah dirampas supaya dikembalikan kepada Rajaku! Kalau sudah begitu baru boleh minum darah itu!”

Koan Tiong berpaling ke arah Raja Cee Hoan Kong.

”Apa Tuanku suka meluluskan permohonannya?” kata Koan Tiong.

”Baik, Tay-hu, aku luluskan permohonanmu itu,” kata Cee Hoan Kong pada Co Moay.

Mendengar Raja Cee bersedia mengembalikan milik negeri Couw, Co Moay baru melepaskan cengkeramannya. Kemudian dia menggantikan Sek Peng memegang mangkuk batu giok berisi darah. Menyuguhkannya pada ke-dua raja tersebut.

Sesudah kedua raja minum darah, Co Moay berkata, ”Tiong-hu memegang pemerintahan di negeri Cee, hamba suka minum bersama-sama Tiong-hu!”

”Mengapa harus Tiong-hu? Aku siap bersumpah di hadapanmu!” kata Raja Cee.

Raja Cee menghadap ke langit menunjuk ke arah matahari seraya berkata, ”Allah Yang Maha Kuasa! Jika aku ingkar, dan tidak mengembalikan sawah-sawah di Bun-yang pada negeri Louw, biarlah aku binasa seperti tenggelamnya matahari!”

Co Moay menjadi sangat girang, dia minum darah tersebut. Dengan sikap hormat dia mengucapkan terima kasih. Setelah urusan itu selesai dan Raja Louw Cong Kong sudah pergi ke gedung tempat bermalamnya. Ong-cu Seng Hu dan lain panglima merasa sangat penasaran. Mereka minta izin pada Raja Cee Hoan Kong hendak membunuh Raja Louw Cong Kong. Ini untuk membalas penghinaan Co Moay kepada raja mereka. ”Jangan, tidak boleh begitu! Aku sudah meluluskan permohonan Co Moat!” kata Hoan Kong.

”Ingat! Meski pun yang bersumpah itu cuma orang biasa, dia tidak boleh mengabaikan kepercayaan dan janji! Apalagi janji aku seorang Raja!” Karena Raja Cee melarang, semua panglima diam tidak berani membantah.

**

Esok harinya.....

Raja Cee mengadakan perjamuan lagi di gedung tamu, maksudnya untuk mengucapkan selamat berpisah kepada Raja Louw.

Dengan sikap hormat Raja Louw menghaturkan terima kasih atas budi kecintaan Raja Cee.

Kemudian sesudah makan minum, Raja Louw pamit dan berangkat pulang ke negrinya.

Raja Cee memerintahkan para pembesar negeri Cee untuk segera mengembalikan sawah- sawah negeri Louw di Bun-yang kepada pemiliknya.

Tatkala Raja-raja Muda mendengar tentang Raja Cee dan Raja Louw telah mengadakan perserikatan di tanah Ko, mereka semua sangat kagum. Mereka pikir Raja Cee Hoan Kong ternyata jujur. Dia memegang betul kepercayaan dan janjinya. Karena itu raja negeri We dan raja negeri Co segera mengirim utusan untuk menerima salah dan minta ikut berserikat.

Pada suatu hari Raja Cee Hoan Kong mengirim utusan pergi ke negeri Ciu. Dia akan memberitahu bahwa Raja Song tidak mengindahkan perintah Kaisar Ciu. Raja Cee dalam suratnya memohon supaya Baginda mengerahkan angkatan perang dan bersama-sama pasukan Cee pergi untuk menegur Raja Song.

Setelah utusan Cee itu menyampaikan surat dari Raja Cee, Kaisar Ciu Li Ong mengerti maksud surat itu. Segera Kaisar Ciu memerintahkan Tay-hu Tan Biat memimpin pasukan perang pergi ke negeri Cee untuk membantu melabrak negeri Song.

Ketika pasukan Ciu telah sampai di negeri Cee, angkatan perang ini disambut oleh Raja Cee dengan girang sekali.

Tidak lama juru khabar datang memberi laporan.

”Negeri Tan dan negeri Co datang membawa pasukan perangnya dan siap maju di depan. Khabar itu membuat Raja Cee menjadi bertambah girang. Dia perintahkan Koan Tiong menggabungkan tentaranya dengan tentara dari negeri Tan dan Co. Mereka akan segera berangkat lebih dahulu. Sedang Raja Cee mengajak Sek Peng, Ong-cu Seng Hu, Tong Kok Ge dan lain panglimanya, bergabung dengan tentara dari negeri Ciu. Kemudian mereka berangkat menyusul dari belakang.

Waktu itu musim Cun (Semi) pada tahun ke-dua dari bertahtanya Kaisar Ciu Li Ong. Dalam perjalanan itu Koan Tiong membawa gundiknya yang sangat dia cintai. Gundiknya bernama Ceng. Gundik Koan Tiong ini berasal dari kota Ciong-li. Dia mengerti surat dan banyak kepandaiannya.

Raja Cee Hoan Kong sangat suka pada keelokan seorang perempuan. Tidak heran setiap kali Raja Cee pergi, ke mana pun dia pergi, pasti selirnya yang bernama Ki Pin yang cantik diajaknya. Kebiasaan Raja Cee ini telah ditiru oleh Koan Tiong. Dia juga selalu mengajak gundiknya, yaitu nona Ceng yang pintar itu.

Pada hari Koan Tiong dan tentaranya sudah berjalan menuju ke selatan, setelah berjalan kira- kira 30 li lebih, Koan Tiong sampai di gunung Niu-san (Gunung Kerbau). Di tempat itu

melihat seorang dusun yang berpakaian buntung, bercelana pendek, topi rombeng dan kaki

telanjang. Orang itu sedang menggembalakan kerbau di kaki gunung. Sambil duduk di atas punggung kerbau ia menyanyi.

Koan Tiong di atas kereta perangnya mengawasi kelakuan orang dusun itu. Dia lihat orang dusun itu bukan orang sembarangan. Buru-buru Koan Tiong menyuruh anak buahnya menyuguhi arak dan makanan pada orang dusun itu. Koan Tiong meneruskan perjalanannya.

Sesudah makan orang dusun itu berkata pada pesuruh Koan Tiong, ”Aku ingin bertemu

dengan Tiong-hu yang baik hati itu!” .

”O, sudah terlambat,” kata si pesuruh. ”Kereta Siang-kok (Menteri Negara) sudah berjalan jauh!”

”Ya, sudahlah! Tetapi aku ingin bicara dengan beliau,” kata orang dusun itu. ”Harap kau sampaikan saja kepada Siang-kok.”

”Mengenai apa?” tanya pesuruh itu.

”Sungguh besarlah air yang putih itu!” kata orang dusun itu. ”Baiklah,” sahut pesuruh itu.

Pesuruh itu segera mengejar kereta Koan Tiong, setelah tersusul dia sampaikan pesan orang dusun penggembala kerbau itu kepada Koan Tiong. Mendengar pesan gembala kerbau itu Koan Tiong bingung, karena dia tidak mengerti maksud ucapan gembala itu; kemudian Koan Tiong bertanya kepada isteri mudanya.

”Tahukah kau maksud ucapan orang dusun itu?” kata Koan Tiong.

”Memang aku sudah pernah mendengar,” kata nona Ceng menyahut dengan suara merdu, ”zaman dulu ada syair – Air yang putih – yang katanya: – Sungguh besarlah air yang putih itu, ikan li-liu bermain kian kemari, Tuan panggil padaku ini, aku akan membuat senang yang menempatinya. – Kalau begitu rupanya orang itu mau minta pekerjaan.”

Mendengar keterangan Nyonya Ceng tersebut, Koan Tiong sangat girang. Segera dia perintahkan kusirnya menghentikan keretanya. Dia menyuruh orang memanggil orang dusun itu.

Setelah mendapat panggilan dari Koan Tiong, orang dusun itu menitipkan kerbaunya ke rumah orang,   lalu ikut   pesuruh   Koan   Ting   pergi   menemui   Koan   Tiong. Ketika sudah berjumpa dengan Koan Tiong, dia cuma manggut saja.

”Kau orang mana, she apa dan siapa namamu?” tanya Koan Tiong. Dia awasi orang dusun itu dengan teliti. ”Aku orang dusun dari negeri We, she Leng. Namaku Cek,” sahut orang itu dengan suara mantap. ”Aku mendengar khabar Siang-kun suka pada orang pandai. Katanya juga menaruh hormat pada orang terpelajar. Karena aku tidak beruntung dan tidak punya kesempatan yang

baik, maka aku bekerja menjadi penggembala kerbau pada orang di dusun ini.”

Koan Tiong mengajukan berbagai macam pertanyaan untuk menguji kepandaian Leng Cek.

Semua dijawab dengan lancar sekali oleh yang bersangkutan.

Melihat Leng Cek seorang yang berpengetahuan banyak; dengan menghela napas Koan Tiong berkata, ”Ah, sayang sekali seorang yang bijaksana telah merendahkan diri di tempat kotor; jika tidak ada yang memimpin, bagaimana dia bisa menunjukkan dirinya? Sekarang Rajaku

dengan pasukan besar berada di belakang kami. Tidak sampai beberapa hari lagi pasti bakal lewat di tempat ini. Akan aku buatkan sebuah surat untukmu. Jika surat itu kau serahkan kepada Rajaku, pasti beliau akan memakaimu.”

Leng Cek berdiri diam tidak berkata apa-apa. Koan Tiong segera menulis sepucuk surat, kemudian diserahkan kepada Leng Cek. Dengan hormat Leng Cek menyambut surat itu dan dia ucapkan terima kasih.

Sesudah Leng Cek pamit, satu sama lain lalu berpisah. Leng Cek kembali lagi menggembalakan kerbaunya di kaki Gunung Niu. Tiga hari kemudian, Raja Cee Hoan Kong dengan angkatan perangnya sampai di kaki Gunung Niu itu.

Waktu itu dandanan Leng Cek masih seperti dulu, berbaju buntung, celana pendek, topi rombeng dan kaki telanjang. Dia berdiri di tepi jalan, sedikit pun tidak kelihatan takut atau gentar.

Ketika kereta Raja Cee sudah dekat, Leng Cek memukul tanduk kerbau sambil bernyanyi demikian:

”Di air sungai Ciang-long ada batu putih yang bercahaya gilang-gemilang, ”Di dalamnya hidup ikan Le yang satu kaki setengah panjangnya,

”Seumur hidup tidak bertemu Raja Giauw atau Sun yang suka pada kepandaian seseorang, ”Cuma berpakaian baju buntung dan celana pendek yang hanya sampai tulang betis,

”Dari pagi menggembala kerbau sampai tengah malam yang gelapnya bukan kepalang, ”Panjangnya malam begitu jauh sampai kapan baru datang pagi yang terang?”

Mendengar nyanyian itu Raja Cee Hoan Kong jadi keheranan, dia perintahkan orangnya memanggil Leng Cek dan dibawa menghadap ke depan keretanya.

”Hei, gembala kerbau! She apa kau dan siapa namau?” tanya Raja Cee Hoan Kong. ”Hamba she Leng nama hamba Cek,” sahut Leng Cek dengan hormat.

”Kau penggembala kerbau, mengapa berani sekali bernyanyi menyindir pemerintah?” kata Raja Cee.

”Hamba orang rendahan, mana berani hamba menyindir Pemerintah?”

”Aku adalah bawahan Kaisar Ciu. Aku membawa angkatan perangku akan menaklukkan Raja Muda yang menentang kami. Pada saat rakyat hidup senang, rerumputan dan pohon tumbuh subur. Aku kira di zaman Raja Giauw dan Sun pun tidak seperti sekarang! Tetapi kau bilang tak sehebat di zaman Giauw dan Sun. Kau bilang malam yang panjang tak segera jadi pagi. Apa itu bukan namanya menyindir?” kata Raja Cee.

”Meski hamba orang dusun dan belum mengalami Zaman Kaisar Goiauw dan Sun yang katanya, salam sepuluh hari ada angin sekali, setiap lima hari turun hujan sekali. Sehingga rakyat bisa bekerja di sawah dengan tenang. Tetapi pada masa ini peraturan tidak beres.

Pengetahuan tidak terpakai. Jika dikatakan lebih baik dengan zaman Giauw dan Sun, tentu saja hamba tidak mengerti. Sepengetahuan hamba, pada zaman Raja Giauw dan Sun membereskan para menteri dan pejabat, semua Raja Muda takluk. Orang-orang jahat disingkirkan, hingga negara aman sentausa. Tidak banyak bicara tetapi hukum berjalan sempurna. Dengan tidak usah marah keagungan nyata. Sekarang Tuanku ditinggalkan oleh Raja Song, Raja Louw pun bisa mendapatkan kembali tanahnya. Keadaan keuangan payah, tentara harus terus berperang. Bagaimana dikatakan rakyat tenteram? Hamba dengar Raja Giauw menyisihkan puteranya Tan Cu, tahtanya dia serahkan pada Sun. Tetapi Sun menolak dan bersembunyi di Lam-hoo. Akhirnya rakyat menyusulnya. Mengangkat dia menjadi Raja. Sebaliknya Tuanku membunuh kakak sendiri untuk menjadi raja. Menggunakan nama besar Kaisar Ciu untuk menundukkan semua Raja Muda. Mana bisa Tuanku dibandingkan dengan Raja Giauw dan Sun?” kata Leng Cek.

”Hm, kurang ajar betul orang dusun ini! Mengapa kau begitu berani menghinaku!” sentak Raja Cee Hoan Kong karena gusar.

Kemudian ia perintahkan orangnya membunuh Leng Cek. Pengikut Raja Cee Hoan Kong yang ada di sebelah kiri dan kanannya segera menangkap Leng Cek, lalu mereka ikat.

Ketika hukuman atas Leng Cek hendak dijalankan. Wajah Leng Cek tidak berubah atau ketakutan. Malah dia menengadah ke langit sambil menghela napas dia berkata, ”Baginda Kiat membunuh Liong Hong, Baginda Tiu membunuh Pi Kan, sekarang Leng Cek akan

dibunuh, cukup sudah jumlahnya menjadi tiga orang!”

Melihat kelakuan Leng Cek bukan seperti orang sembarangan, Sek Peng berkata pada Raja Cee, ”Orang ini sekali pun menghadapi maut, tidak gentar! Takut pun tidak. Pasti dia bukan pengembala biasa. Harap Tuanku ampuni dia!”

Mendengar Sek Peng berkata begitu, Raja Cee Hoan Kong diam sejenak. Dia mencoba menahan amarahnya. Kemudian dia perintahkan orangnya membukakan ikatan Leng Cek.

”Aku harap kau tidak menjadi kecil hati,” kata Cee Hoan Kong dengan muka manis. ”Aku cuma mau menguji sampai di mana keberanianmu? Sekarang aku tahu sesungguhnya kau seorang terpelajar yang pandai.”

Leng Cek merogoh ke dalam saku bajunya. Dia persembahkan sepucuk surat kepada Raja Cee. Cee Hoan-kong segera membuka dan melihat surat itu, bunyinya kira-kira begini:

”Hamba telah terima titah akan memimpin pasukan perang, ketika di tengah jalan sampai di gunung Niu San, hamba bertemu dengan seorang dari negeri We she Leng namanya Cek.

Orang ini bukan pengembala kerbau sewajarnya, tetapi seseorang yang mempunyai kepandaian yang bisa dipakai di zaman ini, maka baiklah Tuanku pakai padanya untuk membantu. Jika kita melepaskannya sehingga terpakai oleh lain negeri, niscaya di kemudian hari kita akan menyesal.

Hormat dari, KOAN TIONG.” Sehabis membaca surat itu Cee Hoan Kong memandang ke arah Leng Cek dan berkata: ”Kau sudah mendapat sepucuk surat dari Tiong-hu, mengapa tadi tidak mau kau tunjukan

kepadaku?”

”Setahu hamba, Raja yang adil memilih orang untuk pembantunya, sedang seorang hamba yang pandai juga mencari majikan yang bersedia membelanya,” sahut Leng Cek. ”Andai kata Tuanku benci karena kata-kata hamba yang jujur dan Tuanku cuma suka pada puji-pujian saja. Karena gusar Tuanku menghukum mati hamba. Sekali pun hamba harus mati tidak akan hamba keluarkan surat dari Siang-kok ini.”

Mendengar ucapan Leng Cek, Raja Cee Hoan Kong kagum bukan main, dia suruh Leng Cek naik kereta di belakang Raja Cee.

Ketika hari sudah sore, tentara Cee segera mendirikan perkemahan untuk tempat mengaso Di kemah Raja Cee Hoan Kong minta disedikan pakaian dan sebuah kopiah. Dengan sangat terburu-buru. Si Tiao yang mengerti tanda rahasia dari rajanya, langsung bertanya, ”Tuanku minta pakaian dan kopiah, apakah Tuanku hendak memberi pangkat kepada Leng Cek?”

”Ya, betul,” sahut Cee Hoan Kong.

”Hamba rasa sebaikmya Tuanku jangan terburu nafsu,” kata Si Tiao ”Dari negeri Cee ke negeri We tidak seberapa jauhnya. Mengapa Tuanku tidak menyuruh orang mencari tahu dulu asal-usulnya? Seandainya benar dia pandai dan terpelajar, hamba rasa masih belum terlambat memberinya pangkat.”

”Orang ini punya kepandaian, tetapi adatnya sangat keras. Boleh jadi di negeri We dia punya masalah,” kata Raja Cee Hoan Kong. ”Jika kita menyelidikinya dan bisa mengusut kesalahannya, tetapi kita beri juga dia pangkat. Sungguh sayang sekali, maka aku rasa tidak perlu mencari tahu lagi asal-usulnya.”

Diterangi oleh api lilin yang terang Raja Cee Hoan Kong mengangkat Leng Cek menjadi Tay- hu dan disuruh mengurus pemerintahan negeri Cee bersama-sama dengan Koan Tiong.

Leng Cek segera bertukar pakaian dan mengenakan kopiah kebesaran. Sesudah berdandan rapi dia menghaturkan terima kasih kepada Raja Cee Hoan Kong.

***

Pada esok harinya......

Angkatan perang Cee itu berangkat meneruskan perjalanan. Tatkala pasukan Raja Cee sampai di perbatasan negeri Song, di sana pasukan Raja Tan Song Kong dan Raja Co Cong Kong telah menunggu kedatangan mereka. Di belakang mereka, panglima Ciu dan tentaranya juga

sudah datang. Sehingga mereka berkumpul di satu tempat. Sesudah menjalankan adat-istiadat, mereka segera membuka persidangan membahas rencana penyerangan ke ibukota Song.

”Tuanku telah menerima perintah Baginda membuat perserikatan dengan Raja-raja Muda. Menurut hamba daripada Tuanku menang dengan kekuatan tentara, lebih baik dengan kebijaksanaan.” kata Leng Cek. ”Menurut hamba, tentara jangan dimajukan dulu. Sekalipun hamba ini bukan seorang yang pandai, hamba mohon izin akan menemui Raja Song. Hamba akan menggunakan lidah hamba untuk bicara, supaya Raja Song bersedia berdamai.” Semua pembesar menyatakan setuju pada usul Leng Cek tersebut, Raja Cee Hoan Kong pun akhirnya setuju. Dia perintahkan Leng Cek menemui Raja Song. Dengan menaiki sebuah kereta kecil dan mengajak beberapa pengikut, Leng Cek pergi ke kota Ci-yang akan menemui Raja Song.

Ketika Raja Song diberitahu bahwa Raja Cee mengirim utusan, Raja Song bertanya kepada Tay Siok Pi, ”Apa kau tahu Leng Cek itu orang dari mana?”

”Hamba dengar dia orang dusun, seorang penggembala kerbau,” kata Tay Siok Pi, ”Raja Cee baru mengangkatnya menjadi Tay-hu. Setahu hamba ia pandai bicara, lebih pandai dari orang kebanyakan. Maka hamba yakin kedatangannya itu untuk mengajak kita adu bicara..”

”Sekarang apa yang harus kita lakukan terhadapnya?” tanya Raja Song.

”Tuanku boleh panggil dia masuk, tetapi jangan menghormatinya. Kita lihat apa yang hendak dia lakukan?” kata Tay Siok Pi. ”Jika dia bicara tidak pantas, akan hamba angkat angkin sebagai tanda. Tuanku boleh perintahkan orang menangkap dan memenjarakannya. Dengan semikian tipu-muslihat Raja Cee jadi gagal.”

Raja Song mengangguk, dia memerintahkan tentaranya yang gagah mengatur persiapan. Baru kemudian dia izinkan Leng Cek menghadap.

Leng Cek datang memakai pakaian kebesaranya dan memakai angkin lebar. Dia berjalan

perlahan-lahan masuk, lalu memberi hormat di hadapan Raja Song. Raja Song duduk diam saja mengawasinya.

Leng Cek menengadah ke langit, sambil menghela napas dia berkata, ”Sungguh berbahaya sekali keadaan negeri Song ini!”

Mendengar ucapan Leng Cek itu Raja Song tekejut, dia berkata: ”Aku bergelar Kong, rakyatku lebih banyak dari Raja Muda yang lain, dari mana datangnya bahaya itu?”

”Aku mohon bertanya, jika Tuanku dibandingkan dengan Kaisar Ciu yang mana lebih pandai?” kata Leng Cek dengan suara angkuh.

”Barangkali kau orang gila!” bentak Raja Song dengan suara nyaring. ”Kaisar Ciu bagaikan nabi, bagaimana aku bisa dibandingkan dengannya?”

”Kaisar Ciu memerintah di Kerajaan Ciu yang sedang jaya,” kata Leng Cek sambil mesem, ”Meskipun keadaan dunia sedang aman sekali dan bangsa Ie di empat penjuru semua sudah takluk, toh selalu bersikap murah hati dan manis budi bahasanya pada orang-orang pandai dan terpelajar. Sekarang Tuanku boleh dikatakan menjadi raja dari sisa negeri yang sudah mau musnah. Di zaman Raja-raja Muda sedang mengadu kekuatan. Sekalipun Tuanku bisa meneladani Kaisar Ciu mau merendah kepada orang-orang terpelajar, toh masih dikhawatirkan, orang-orang itu tidak akan datang. Apalagi jika Tuanku bertingkah sombong dan merasa diri sendiri sangat kuat, dan Tuanku tidak memandang sebelah mata pada orang pandai. Tuanku menghina kepada seorang tamu? Kalau begini, kendati pun ada orang mau bicara jujur, bagaimana bisa sampai ke hadapan Tuanku? Ke mana mukanya jika bukan mendapat bahaya?

Setelah mendengar ucpan Leng Cek yang demikian tajam, Raja Song jadi tercengang dan pucat. Dia bangkit dari tempat duduknya seraya berkata, ”Aku menjadi Raja beberapa hari, sehingga aku belum mendengar pelajaran dari orang budiman seperti anda, aku harap Sian- seng (Tuan) suka memaafkan aku.”

Melihat rajanya telah tergerak hatinya oleh Leng Cek, Tay Siok Pi sebentar-bentar

mengangkat angkinnya. Tetapi Raja Song sekali pun tahu tanda apa yang dimaksud oleh Tay Siok Pi, dia tidak peduli. Malah dia minta pelajaran kepada Leng Cek.

”Atas kedatangan Sian-seng ini, pelajaran apa yang berguna bagiku?” kata Raja Song. ”Kaisar Ciu telah kehilangan kekuasaannya, sehingga semua Raja Muda jadi berantakan,” kata Leng Cek mulai menjalankan siasatnya. ”Karena itu raja dan hambanya jadi tidak menentu kedudukannya. Mana yang tinggi dan mana yang rendah? Hampir setiap hari terdengar tentang pengkhianatan. Raja Cee karena tidak tega melihat kekalutan ini, dia menerima perintah Baginda buat memimpin perserikatan orang Tiongkok. Dulu nama Tuanku sudah ditetapkan oleh Kaisar Ciu. Tetapi sayang Tuanku meninggalkan perserikatan, hingga

Kaisar Ciu marah besar. Memerintahkan angkatan perang dan menyerang negeri Song. Semua karena Tuanku dianggap pembangkang!”

Mendengar ucapan Leng Ceng wajah Raja Song jadi semakin pucat, dengan hati berdebar- debar dia berkata, ”Menurut pendapat Sian-seng bagaimana sebaiknya?”

”Menurut pendapatku, jangan sayang mengantar sedikit barang bingkisan untuk minta berdamai kepada Raja Cee. Dengan berbuat demikian, ke atas Tuanku tidak kehilang hak menjadi hamba Kerajaan Ciu, ke bawah bisa menyenangkan hati raja-raja yang tergabung dalam perserikatan. Karena tidak harus mengerahkan angkatan perang, negeri Song tetap selamat tidak terganggu.”

”Karena aku kurang berpkir jauh, sehingga aku berbuat keliru.” kata Raja Song. ”Aku sangat menyesal meninggalkan acara sebelum selesai. Sekarang jika aku mengantar bingkisan, padahal Raja Cee sedang marah. Dia telah mengerahkan angkatan perangnya. Masakan dia akan mau menerima bingkisan dariku?”

”Raja Cee seorang yang sabar dan bijaksana. Dia tidak pernah mendendam pada orang yang berbuat salah. Bahkan dia tidak mau mencari kesalahan orang lain. Seperti contohnya Raja Louw yang tidak hadir di pertemuan itu. Tapi Raja Louw mau mengakui kesalahannya. Dia juga bersedia bertemu di tanah Ko. Sawah-sawah yang telah dirampas oleh Raja Cee,

kemudian dikembalikan semuanya. Apalagi Tuanku hadir pada pertemuan pertamanya, mustahil dia tidak mau berdamai?”

”Barang apa yang pantas untuk bingkisan?” tanya Raja Song.