-->

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 7

Jilid 7

Senyum di bibir Bun Houw melebar. "Tentu saja aku tahu, paman. Namamu disohorkan orang sebagai Kui-siauw Giam-ong, seorang di antara datuk sesat yang besar dan berkepandaian tinggi, dihormati dan ditakuti orang. Siapa kira orangnya hanyalah pengecut besar!"

“Apa kaukata? Orang muda, engkau benar-benar sudah bosan hidup!” datuk besar itu membentak, kemarahannya sudah memenuhi kepala sampai ke ubun-ubun.

"Mati hidup di tangan Tuhan! Engkau dihormati sebagai seorang datuk besar, akan tetapi engkau hanya pandai memaksa dan menghina seorang muda yang sudah tertuka parah! Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu tentang akar itu, bahkan melihatpun belum. Kalau engkau tidak percaya, sudahlah mau bunuh tinggal bunuh. Lebih senang aku yang mati dari pada engkau yang hidup akan tetapi sebagai seorang pengecut besar yang namanya akan ditertawakan orang sampai tujuh turunan!”

"Jahanam busuk, tutup mulutmu! Ayah, biar kuhabiskan saja keparat ini!” Suma Hok melangkah maju dan mengangkat tangannya, akan tetapi ayahnya mendelik kepadanya, "Jangan bunuh! Kau ingin ucapannya yang menghina tadi terbukti? Aku tidak akan membunuhnya, aku akan membuat dia tetap hidup, menderita dan tersiksa, dan biar dia tahu betapa lihainya Kui-siauw Giam-ong yang dihinanya!" Suma Koan mengerahkan tenaga dan sekati dia menepuk punggung Bun Houw, pemuda itu terpelanting dan roboh, tak mampu bangkit kembali, terengah-engah seperti ikan dilempar ke darat, seluruh tubuh terasa nyeri seperti ditusuki seribu batang jarum dan napasnya makin sukar seolah dadanya terhimpit kuat.

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan tertawa, diikuti oleh puteranya dan Suma Hok berkata, "Jahanam sombong, rasakan kau sekarang. Pukulan ayah itu akan membuat engkau mati perlahan-lahan. Tidak ada tabib di dunia ini mampu menyembuhkanmu dan dalam waktu tiga bulan atau paling lama seratus hari, engkau akan mampus dalam keadaan yang amat tersiksa!"

"Sudah, biarkan dia mengenang kelihaianku. Mari kita pergi!” kata datuk sesat itu dan mereka berdua berkelebat lenyap dari situ, meninggalkan Bun Houw yang masih terengah-engah di atas tanah.

Sementara itu, hari semakin gelap. Bun Houw mencoba bangkit berdiri, akan tetapi terpelanting lagi. Kepalanya pening, napasnya sesak dan kedua kakinya menggigil, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin. Dia berusaha untuk meninggalkan tempat itu. Dia harus dapat mencapai dusun di depan. Sambil merangkak-rangkak, kadang-kadang harus berhenti terengah-engah, Bun Houw menuju ke dusun. Sudah nampak ada sinar lampu berkelap-kelip dan sinar itulah yang menjadi pedoman ke arah mana dia harus merangkak.

Malam tiba dengan cepatnya.

Dengan susah payah, dalam keadaan setengah mati, akhirnya Bun Houw dapat mencapai depan pintu sebuah rumah sederhana yang terpencil, merupakan rumah pertama dari dusun yang kecil itu. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengetuk daun pintu.

Di dalam gubuk terdengar gerakan dan api penerangan yang tadi berkelap kelip ditiup padam. Di sebelah dalam, di kamar rumah sederhana itu, So Kian, pemburu yang tadi mengintai orang-orang kang-ouw bertempur, berpelukan dengan isterinya. Isterinya ketakutan setengah mati! Sore tadi suaminya pulang dengan pakaian yang kotor penuh lumpur dan debu, dengan tubuh gemetar dan muka pucat. Dengan ketakutan So Kian menceritakan kepada isterinya apa yang dilihatnya di dalam hutan dekat puncak Bukit Merpati Hitam itu. Betapa banyak orang-orang kang-ouw yang menyeramkan dan berkepandaian tinggi sekali saling serang. Betapa akhirnya setelah mereka saling serang, dia dapat pula melarikan diri dan terus pulang.

Dalam keadaan tegang dan ketakutan, kini setelah malam tiba mendengar daun pintu di luar diketuk orang, tentu saja So Kian dan isterinya menjadi semakin ketakutan. So Kian adalah seorang pemburu yang biasa hidup di tengah hutan dan sering menghadapi bahaya dan kekerasan. Dia seorang pemberani. Akan tetapi sekali ini, setelah melihat banyak orang kang-ouw yang berilmu tinggi mengadu kepandaian, dia merasa dirinya kecil dan lemah, dan dia tahu bahwa kalau ada orang kang- ouw yang melihatnya dan menyerangnya, tentu dia akan tewas dan tidak berdaya melawannya. Kini, dia dan isterinya saling peluk di atas pembaringan, dalam kamar mereka dan hanya berdoa agar orang di luar itu segera pergi.

Ketukan itu terdengar beberapa kali, makin lama semakin lemah dan akhirnya tidak terdengar lagi. So Kian dan isterinya merasa lega. akan tetapi semalam itu mereka gelisah dan tidak berani keluar dari dalam kamar.

Baru pada keesokau harinya, pagi-pagi sekali So Kian suruh isterinya berindap-indap menuju ke depan dan mengintai dari celah-celah di balik pintu depan. Mereka berdua terkejut bukau main melihat seorang laki-laki muda, hanya bercawat, rebah terlentang di depan pintu. Muka pemuda itu pucat agak kebiruan, seperti muka mayat.

"Celaka ...! Ada orang mati di sini ...!"

So Kian berbisik dengan suara gemetar. "Kita harus cepat minggat dari sini. Jangan ada yang menyangka kami yang membunuhnya!

“Celaka ... ah, sungguh celaka ...-!” katanya kebingungan dan hendak lari ke dalam.

Akan tetapi, isterinya yang masih terus mengintai, memegang lenganuya. "Ihh, kenapa engkau sekarang menjadi seperti anak kecil ketakutan?" isterinya mengomel. "Lihat, orang itu belum mati. Dia kelihatan sakit keras dan membutuhkan pertolongan."

"Ah. aku tidak berani. Jangan-jangan iblis-iblis itu akan datang semua ke sini dan hancurlah kita ... "

'Tolol kau! Mana ada iblis jahat seperti orang itu? Dia masih muda dan sedang menderita. Mau kita tolong dia!” Wanita itu karena merasa kasihan, timbul keberaniannya dan ia membuka daun pintu. Terpaksa So Kian mengikuti isterinya dan mereka berlutut di dekat tubuh Bun Houw. Setelah dekat, baru mereka tahu bahwa pemuda yang hampir telanjang itu memang belum mati Bun Houw roboh pingsan setelah ketukan pintu itu dibukai orang.

“Dia pingsan. Mari kita angkat ke dalam. Kasihan sekali, dia membutuhkan pertolongan." kata isteri So Kian. Kini So Kiao tidak takut lagi dan pada dasarnya dia seorang yang baik budi. Diangkatnya tubuh lunglai itu di kedua lengannya yang kuat dan dibawanya ke dalam kamar sebelah yang kosong. Dia meletakkan lubuh yang pingsan itu ke atas sebuah pembaringan.

"Cepat ambilkan pakaianku. Dia harus diberi pakaian agar tidak kedinginan." kata So Kian kepada isterinya.

Tak lama kemudian, Bun Houw sudah berpakaian dan diselimuti. Akan tetapi melihat wajah yang pucat kebiruan, dada dan punggung yang menghitam dan membengkak, napas terengah-engah, suami isteri itu menjadi bingung sekali.

"Cepat kau pergi mengundang tabib atau membeli obat. Aku akan menunggunya." kata isterinya dan So Kian mengangguk, kemudian diapun pergi karena dia tidak ingin orang itu mati di dalam rumahnya.

Belum lama So Kian pergi, Bun Houw merintih dan bergerak. Isteri So Kian yang tadi duduk, kini bangkit berdiri menghampiri. Bun Houw tidak membuka mata, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak seperti orang mengigau.

"Akar ... Akar Bunga Gurun Pasir ... harus didapatkan mustika itu ... "

Isteri So Kian membungkuk. "Akar Bunga Gurun Pasir apakah yang kau maksudkan, kong-cu (tuan muda)?" Ia menyebut Bun Houw "kong-cu" karena ia mengira bahwa tentu pemuda itu seorang pemuda kota yang pantas disebut kongcu. Akan tetapi Bun Houw tidak menjawab, bahkan tidak pula membuka matanya, seperti orang tertidur. Isteri So Kian merasa lega melihat si sakit seperti tidur nyenyak, maka ia pun merasa tidak enak berdua saja dengan seorang pemuda. Ditinggalkannya Bun Houw ke belakang dan iapun hendak mencuci pakaian suaminya yang kotor berlumpur, yang ditanggalkannya kemarin sore dan belum sempat dicuci karena mereka sudah ketakutan mendengar cerita suaminya tentang orang-orang kang-ouw yang saling serang.

Ketika ia mencuci baju suaminya yang kotor, tiba-tiba tangannya memegang benda keras di saku baju itu. Diambilnya benda itu. Ternyata sebuah kantung sutera kecil yang terisi benda keras sebesar tangan. Diambilnya benda itu dan ia mengamatinya dengan heran. Seperti kayu atau akar, bentuknya seperti tangan, ada jari-jarinya dan akar rambut bergantungan. Nampaknya agak mengerikan seperti tangan manusia kering. Dimasukkannya kembali benda itu ke dalam kantung dan disimpannya. Setelah selesai mencuci pakaian dan dijemurnya, dibawanya kantung itu dan ia kembali ke kamar.

Bun Houw bergerak gelisah dalam tidurnya. "Akar ... Akar Bunga Gurun Pasir ... ah, di mana mustika itu? Aku harus mendapatkannya ... " dia mengigau.

Mendengar ini, dan melihat betapa wajah pemuda itu menjadi kebiruan, napasnya terengah-engah, wanita itu mengambil benda dari dalam kantung dan mengamatinya. Akar Bunga Gurun Pasir? Inikah benda yang dicarinya Memang seperti akar, akar yang aneh. Orang yang sakit parah itu selalu menanyakan Akar Bunga Gurun Pasir, kalau benar ini barang yang dicarinya, tentu akar inilah obatnya! Karena melihat keadaan Bun Houw semakin parah, napasnya tinggal satu-satu dan mukanya biru kehitaman mengerikan, wanita itu takut kalau-kalau Bun Houw mati sebelum suaminya kembali. Dalam bingungnya, ia lalu membawa akar itu ke dapur dan memasaknya dengan air.

Ketika api mulai panas, ia terkejut mendengar ledakan-ledakan kecil dan akar itu bergerak-gerak dalam air seperti hidup. Dan lebih aneh lagi, air itu cepat sekali mendidih. Ia tidak tahu bahwa akar itu memang Akar Bunga Gurun Pasir, benda mustika yang langka sekali. Di dalam akar bunga yang dapat hidup di Gurun Pasir itu terdapat hawa dingin yang merupakan inti dingin sehingga dapat membuat tanaman itu bertahan di gurun yang panas. Darah atau getah akar itu mengandung hawa dingin akan tetapi karena luarnya terselubung hawa panas, maka ketika ditemukan dengan air panas, hawa dingin di dalam itu melawan sehingga terjadi ledakan-ledakan kecil. Setelah hawa dingin itu terserap oleh hawa panas dari api, maka air itu cepat sekali mendidih.

Seperti biasanya kalau ia menggodok obat, air itu dibiarkan sampai tinggal sepertiga bagian, baru ia tuangkan air yang kini menjadi kehijauan itu ke dalam mangkok dan terjadi keanehan lain. Air yang tadinya mendidih itu setelah diangkat dari atas api, sebentar saja menjadi dingin kembali. Isteri So Kian cepat membawa mangkok obat itu ke dalam kamar.

"Akar ... ah. akar ... Akar Bunga Gurun pasir ... " Bun Houw masih mengerang dan mengeluh.

"Inilah obat akar itu. Minumlah." kata isteri So Kian sambil membantu Bu Houw bangkit duduk dan memberi minum obat dari dalam mangkok. Dalam keadaan tidak sadar Bun Houw menelan air obat hijau itu sampai habis berteguk-teguk. Wanita itu lalu merebahkannya kembali dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar, untuk mempersiapkan masakan di dapur. Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras mengejutkan di belakangnya. Ketika ia membalik, ia terbelalak dan mangkok kosong itupun terlepas dari tangannya, terbanting pecah di atas lantai kamar. Ia memandang dengan mata terbalalak dan muka pucat, takut dan bingung.

Memang hebat akibat dari obat yang diminum habis oleh Bun Houw itu. Kini tubuhnya bergerak-gerak aneh, menegang, bergerak-gerak seperti sepotong benda aneh, tangan dan kakinya mencakar-cakar, memukul menendang dalam keadaan masih rebah, matanya terbelalak merah, mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara yang aneh seperti seekor binatang disiksa, jari-jari tangannya terbuka, dan terdengar suara berkerotokan di tubuhnya, seolah-olah semua tulangnya hendak rontok, dan perlahan-lahan, tubuhnya menjadi kemerahan seperti kepiting direbus, dan mengeluarkan uap panas!”

Agaknya teriakan-teriakan yang keluar dari mulut Bun Houw terdengar pula oleh So Kian yang datang berlari-lari. Dia mendengar suara aneh di dalam rumahnya, dan diapun lari memasuki rumah. Dilihatnya isterinya berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak di luar pintu kamar di mana tamu yang sakit itu berada.

"Apa yang terjadi ...?” tanyanya sambil cepat menghampiri isterinya. Wanita itu tadi tidak mampu bergerak saking kaget dan khawatir, juga takutnya. Kini mendengar suara suaminya ia membalik dan hampir pingsan roboh dalam rangkulan suaminya. Ia tidak mampu bicara, hanya menuding ke arah dipan dalam kamar.

So Kian cepat memandang dan diapun terbelalak. Sambil merangkul Isterinya, dia melangkah masuk ke dalam kanar itu, hendak menghampiri tamu mereka yang kini berkelonjotan dan menggeliat-geliat aneh. Akan tetapi, baru tiga langkah mereka mendekat, mereka terpaksa mundur lagi dengan cepat. Hawa panas yang menyerang mereka, yang keluar dari tubuh di atas dipan itu. sungguh tak tertahankan! Tamu mereka itu seperti dalam keadaan terbakar tanpa nampak ada apinya! Agaknya terbakar dari dalam oleh hawa panas yang melebihi api!

"Apa ... apa yang lelah terjadi ... “ So Kian bertanya kepada isterinya, Isterinya menggigil dan memandang ke arah tubuh yang berkelonjotan itu dengan hati ngeri. "Aku ... aku meminumkan obat ... “

"Obat? Obat apakah?" Suaminya bertanya. Kini mereka hanya berdiri di luar pintu kamar. Di tempat itu pun masih terasa panas yang keluar dari dalam kamar, seolah kamar itu kebakaran.

Aku menggodok akar itu dan memberi minum. Dia selalu mengigau menanyakan akar itu. Maka, ketika aku menemukan akar dalam kantung itu di dalam saku bajumu, kukira itulah obat yang dicarinya, dan kugodok lalu kuminumkan.

"Akhh! Benda itukah?” So Kian termenung. Kemarin sore ketika dia bersembunyi menonton para tokoh kang-ouw bertempur hebat, ada benda yang jatuh menimpa pundaknya. Dia terkejut dan mengambil benda itu yang ternyata sebuah kantung sutera. Tanpa disadarinya, karena dalam keadaan tegang dan ngeri, dia mengantongi benda itu, tanpa mengetahui apakah benda itu dan kenapa pula dia mengantungnya. Kalau dia tahu bahwa benda itu yang dijadikan perebutan antara para tokoh kangouw yang lihai itu, tentu menjamahpun dia tidak berani. Kini baru dia teringat. Mereka memperebutkan Akar Bunga Gurun Pasir!”

“Benda apakah itu?" tanya isterinya.

Suaminya menggeleng kepala. "Aku sendiri tidak tahu, akan tetapi agaknya benda itulah yang disebut Akar Bunga Gurun Pasir itu dan dijadikan rebutan. dan kenapa engkau menggodok dan meminumkannya? Lihat, dia sekarat mengerikan!”

Wanita itu menutupi mukanya dengan tangan. "Ah, kukira ... dia mencari obat itu, dan aku ... aku tidak tega melihat dia tersiksa ... aku tidak tahu obat itu akan membunuhnya ... “ Dan wanita itu menangis.

Suaminya merangkulnya. "Sudahlah, bukan kau sengaja. Maksudmu baik. dan aku sendiri tidak tahu benda apa Akar Bunga Gurun Pasir itu. Kebetulan saja kudapatkan dan dia sudah meminumnya. Sudahlah, kita harus cepat pergi dari sini. Cepat kumpulkan semua pakaian dan barang berhanga yang dapat kita bawa."

"Eh? Ke mana kita akan pergi? Dan kenapa harus pergi!”

"Sudahlah, cepat lakukan apa yang kuminta, bahaya maut mengancam kita. Kita pergi mengungsi untuk sementara, kalau kelak sudah aman kita kembali lagi."

"Tapi ... tapi orang itu sakit ... " Suaminya menghela napas panjang. "Memang dia sakit, mungkin akan mati. Akan tetapi apa yang dapat kita lakukan? Akupun gagal mencari tabib, satu-satunya tabib sedang pergi untuk beberapa hari lamanya. Kita harus cepat mengungsi."

"Tapi ... bagaimana kita dapat meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu? Dia akan mati ...!”

"Sudahlah! Kebaikan hatimu mungkin akan menyeret kita berdua ke dalam maut!” Suaminya membentak dan wanita inipun tidak berani membantah lagi. Tak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan rumah itu sambil membawa buntalan pakaian.

Bun Houw dapat mendengar dan melihat semua itu! Dia mengalami hal amat aneh. Ketika dia ditemukan oleh So Kian dan Isterinya. dia benar-benar dalam keadaan pingsan dan tidak ingat apa- apalagi, tidak merasakan apa-apalagi. Akan tetapi, pagi tadi, dia siuman dan merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, kemudian perasaan panas dingin menyerangnya silih benganti. Ketika wanita itu datang membawa mangkok dan membantunya minum, dia masih sadar dan tahu bahwa wanita itu telah menolongnya dan kini berusaha mengobatinya. Karena dia memang membutuhkan obat. obat apa saja untuk mengusir rasa nyeri yang menusuk-nusuk, tanpa membantah diapun menelan cairan yang dituangkan ke dalam mulutnya, meneguk sampai habis isi mangkok itu.

Dan mulailah dia terbakar! Terjadi kebakaran hebat di dalam tubuhnya. Rasa panas menyerangnya sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu menguasai tubuhnya lagi. Tubuh itu meregang dan menggelepar, menggeliat dan berkelonjotan tanpa dapat dia kuasai lagi. Bahkan kerongkongannya mengeluarkan suara di luar kehendaknya, lepas dari pengendaliannya. Anehnya, matanya yang melotot itu dapat melihat segala dengan jelas, dan juga telinganya dapat menangkap semua suara sehingga dia dapat melihat dan mendengar ketika suami isteri penolongnya itu bercakap-cakap. Akan tetapi dia tidak dapat bicara, tidak dapat membuat gerakan kecuali hanya menyerah saja dan membiarkan hawa panas yang teramat kuat di dalam tubuhnya itu menguasainya. Tubuhnya kini menjadi seperti medan perang di mana terjadi pertempuran hebat antara dua kekuatan yang menguasai dirinya. Kekuatan racun dan kekuatan obat.

Bun Houw tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tidak tahu obat apa yang telah diminumnya tadi. Dia masih teringat bahwa dua kali dirinya telah menjadi bulan-bulan pukulan orang-orang sakti, yaitu datuk sesat Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian terjatuh ke tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan menerima siksaan pula. Nyawanya sudah bergantung kepada sehelai rambut. Dan kini, setelah minum obat dari mangkok yang diberikan isteri orang yang menolongnya, tubuhnya kebakaran dari dalam! Dan tadi dia masih mendengar percakapan mereka, akan tetapi dia masih belum mengerti benar. Mereka bicara tentang Akar Bunga Gurun Pasir! Benarkah dia telah diberi minum Akar bunga Gurun Pasir? Benarkah mustika yang dijadikan perebutan semua orang kang-ouw itu kini telah masuk ke dalam perutnya dan mengakibatkan tubuhnya kebakaran seperti itu? Dia tentu akan mati! Belum pernah selama hidupnya dia merasakan siksaan yang sedemikian hebatnya. Bahka siksaan dua orang datuk sesat itupun tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi dalam tubuhnya setelah dia minum obat itu.

Saking panasnya. Bun Houw membuat gerakan untuk melepas bajunya. Terdengar suara berebrebetan dan baju itu koyak-koyak.

Baru membuat sedikit gerakan saja, bajunya koyak-koyak. Untung dia masih teringat untub tidak membuka celananya. Biarpun sudah bertelanjang baju, masih saja dia merasa terbakar. Dadanya seperti akan meledak rasanya dan ketika dia memandang ke arah dadanya, ternyata tanda menghitam bekas pukulan dua orang datuk itu telah lenyap! Kulit dadanya halus dan bersih, akan tetapi kini seluruh tubuhnya berwarna kemerahan seperti kepiting direbus!

Setelah berkelojotan selama setengah jam, akhirnya Bun Houw dapat mengendalikan kekuatan hebat yang mencengkeram dirinya dari dalam itu. Di dalam dirinya seperti ada gas yang hendak keluar, mencari jalan keluar dan bagaikan liar. Akan tetapi, setelah rasa nyeri di tubuhnya perlahan-lahan lenyap, yang ada hanyalah perasaan panas, dia mulai dapat mengendalikan hawa yang amat kuat itu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi yang pernah digembleng oleh orang sakti, diapun dapat merasakan betapa dirinya telah dikuasai oleh tenaga dalam yang amat dahsyat. Diapun dapat bangkit duduk, lalu bersila.

Kini dia dapat merasakan benar hawa yang dahsyat itu berputar-putar di seluruh tubuh melalui jalau darahnya. Mula-mula, memang kekuatan itu tak terkendalikan olehnya, berputar-putar liar dan tak menentu. Akan tetapi, akhirnya, perlahan-lahan dia dapat mengendalikannya. Ketika dia mengendalikan tenaga dahsyat itu dan membiarkan berputaran secara teratur, hampir saja dia pingsan. Begitu cepatnya hawa itu berputar sehingga dia merasa seperti akan terapung ke atas. Setelah dia dapat membiarkan diri dengan keliaran tenaga dalam tubuh itu, dapat juga dia menghentikannya ke dalam pusar di perut bawah dan di situ, tenaga dahsyat itu masih berputar-putar dan beberapa kali sukar dikuasai, akan tetapi akhirnya dapat bergabung dengan tenaga sin-kang yang selama ini terhimpun di situ dan dapat diam.

Setelah tenaga itu tidak liar lagi, dia mulai dapat mempengunakan ingatannya. Mula-mula Hui Hong marah-marah dan cekcok dengan dia karena Hui Hong nampaknya cemburu kepada Ling Ay, menuduhnya masih mencinta bekas tunangannya itu yang telah menjadi isteri orang. Kemudian muncul Ouwyang Toan yang memaksanya untuk berkelahi, dan sesudah itu, ayah Hui Hong, datuk sesat Ouwyang Sek memaksanya berkelahi. Dan agaknya Ouwyang Sek telah mengenal gurunya, Tiauw Sun Oug, bahkan amat membenci gurunya itu. Dalam perkelahian yang terpaksa dia layani itu, akhirnya dia terkena pukulan pada dadanya, pukulan keras mengandung racun yang amat hebat, dan Pedang Kilat, pedang pusaka bersarung tongkat yang dia peroleh dari gurunya itu, dirampas Ouwyang Sek. Kemudian, Hui Hong yang menyelamatkannya, ketika Ouwyang Sek hendak membunuhnya.

'Heran, bagaimanapun juga, ada pula perasaan iba dan sayang dalam hati Hui Hong kepadaku," keluh Bun Houw ketika mengenang, paristiwa itu. Dia melanjutkan lamunannya, mengingat-ingat.

Dalam keadaan terluka oleh pukulan Ouwyang Sek, dia diperbolehkan pergi dan dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan datuk sesat yang lain, yaitu Suma Koan bersama puteranya Suma Hok. Dia pernah membebaskan Hui Hong dari cengkeraman Suma Hok yang nyaris memperkosanya. Tentu saja Suma Hok mendendam kepadanya. Ayah dan anak itu menuduh dia menyembunyikan Akar Bunga Gurun Pasir. Mereka menghinanya, menelanjanginya, bahkan menyiksanya, kemudian datuk sesat yang kejam itu sengaja memukulnya sehingga dia keracunan dan akan mati perlahan-lahan. Dalam keadaan tiga perempat mati itu dia merangkak-rangkak ke dusun dan akhirnya dia tiba di depan pintu sebuah pondok, lalu tidak ingat apa-apalagi.

Dia memejamkan mata, lalu mengingat-ingat lagi. Dia kini tahu bahwa dia telah ditolong oleh wanita itu dan suaminya, dibawa masuk ke dalam rumah mereka. Kemudian, entah bagaimana, dia merasa seperti dalam mimpi, dalam keadaan setengah sadar dia merasa dibantu wanita itu bangkit duduk dan diberi minum dari sebuah mangkok. Minuman yang terasa amat dingin di mulut akan tetapi amat panas di perut. Dan setelah obat itu diminumnya sampai habis, mulailah dia kebakaran! Kemudian dia mendengar percakapan suami isteri itu, melihat pula mereka berdiri di ambang pintu. Mendengar mereka menyebut tentang Akar Bunga Gurun Pasir.

"Ah, tidak salah lagi. Orang itu telah menemukan Akar Bunga Gurun Pasir secara kebetulan dan Isterinya menemukan mustika itu, lalu memasaknya dan memberikan kepadaku sebagai obat! Mustika yang diperebutkan orang seluruh dunia kang-ouw itu secara aneh dan kebetulan, tidak disangka- sangka dan tidak disengaja, telah masuk ke dalam perutku!” Dan tiba-tiba, karena merasa geli, Bun Houw tertawa dan begitu tertawa, dia terkejut bukan main karena hawa dahsyat yang tadi sudah agak jinak berdiam di dalam dian-tin (pusat bawah perut), kini bangkit lagi dan meliar, dan suara ketawanya tak terkendalikan lagi, bergelak-gelak menggelegar dan didorong oleh tenaga sakti yang dahsyat itu.

Akhirnya, setelah dengan susah payah, Bun Houw berhasil meredakan tawanya, mengembalikan tenaga itu ke dalam pusar dan diapun mengatur pernapasannya. Tenaga yang berdiam di dalam tubuhnya itu. Sungguh dahsyat akan tetapi juga liar dan berbahaya. Dia bisa bersikap seperti orang yang tidak waras pikirannya kalau tidak mampu mengendalikan hawa sakti itu. Kini dia dapat menduga bahwa itulah hawa yang ditimbulkan oleh mustika Akar Bunga Gurun Pasir! Dia tentu saja tidak tahu bahwa tenaga sekti itu menjadi liar setelah bengulat dan bercampur dengan hawa beracun di tubuhnya akibat pukulan dua orang datuk esat. Tenaga bawa sakti itu menjadi semakin dahsyat, akan tetapi juga menjadi liar.

Kemudian dia teringat. Suami Isteri pemilik pondok ini telah melarikan diri. Dia tidak menyalahkan mereka. Tentu saja mereka ketakutan, bukan saja melihat keadaan dirinya, akan tetapi juga takut, kepada orang-orang kang-ouw. Dan ketakutan mereka itu beralasan. Besar sekali kemungkinannya, dia yang akan menjadi perebutan oleh orang-orang kang-ouw, kalau mereka tahu bahwa dia telah minum habis sari Akar Bunga Gurun Pasir! Dan suami isteri itu tentu saja takut kalau mereka menjadi korban kekejaman orang-orang kang-ouw.

"Aku tidak boleh berada di sini," pikirnya. "Jangan sampai para datuk menemukan aku di rumah ini. Suami isteri itu telah menanam budi kepadaku, bukan saja menolongku, memberi pakaian, bahkan juga wanita itu telah menyelamatkan nyawaku dengan memberi Akar Bunga Gurun Pasir, walaupun secara tidak disengaja. Aku harus pergi!” Setelah berkata demikian kepada diri sendiri, Bun Houw lalu turun dari pembaringan. Begitu dia turun, kembali dia terkejut. Gerakannya demikian ringannya, seperti melayang-layang. Dia merasakan dirinya seperti sehelai bulu, ringan dan seperti akan terapung! Melihat betapa tubuh atasnya telanjang, dan di atas meja masih tersangkut sebuah baju milik tuan rumah yang agaknya tertinggal. Dipakainya baju itu dan Bun Houw keluar dari dalam rumah. Matahari telah naik cukup tinggi dan keadaan di luar rumah itu sunyi saja. Agaknya dusun itu hanya kecil dan para penghuninya sudah pergi ke sawah ladang mereka. Bun Houw merasa lega bahwa tidak ada orang lain melihat dia berada di rumah itu. Dengan demikian, maka setelah dia meninggalkan rumah itu, pemiliknya akan terhindar dari bahaya tersangkut dalam urusan perebutan Akar Bunga Gurun Pasir.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, Bun Houw lalu menyelinap keluar dari dusun itu dan pergi menuju ke sebuah bukit yang nampak tak jauh dari tempat itu.

***

Bun Houw memasuki hutan di lereng bukit itu. Perutnya terasa lapar sekali setelah dia terbebas dari siksaan rasa nyeri. Kini tubuhnya terasa enak, hangat dan nyaman. Ternyata setelah dia berjalan kaki dan tubuhnya berkeringat, rasa panas yang amat hebat itu makin lama semakin mereda, berubah menjadi rasa hangat. Dia merasa tubuhnya sehat sama sekali. Tidak ada lagi sisa rasa nyeri akibat pukulan dan siksaan dua orang datuk sesat itu. Dia telah sembuh sama sekali! Hanya masih ada perasaan aneh karena tubuhnya kadang-kadang masih terasa ringan bukan main. seolah-olah kalau ada angin besar bertiup, tubuhnya akan dibawa melayang ke angkasa. Dan kini perutnya lapar bukan main. Sanggup rasanya dia untuk menghabiskan daging seekor kijang gemuk!

Bun Houw mengharapkan untuk menemukan buah apa saja untuk mengisi perutnya yang amat lapar. Akan tetapi, sampai jauh memasuki hutan, dia tidak melihat pohon buah, tidak pula bertemu dengan binatang buruan. Tidak bertemu manusia yang dapat dimintai tolong memberi makanan. Dan ketika dia menghentikan langkahnya dan menghapus keringat, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan lima orang muncul di depannya. Lima orang laki-laki tinggi besar dan kokoh kuat, antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun usia mereka. Setiap orang memegang sebatang golok yang besar dan sikap mereka bengis, wajah mereka membayangkan kekerasan dan kejahatan.

Sialan, pikir Bun Houw. Dia mengharapkan bertemu makanan, malah bertamu lima orang penjahat! Mereka ini jelas penjahat, pikirnya. Dari sikap seseorang, kita dapat menduga wataknya. Dan sinar mata lima orang ini amat kejam dan bengis. Akan tatapi, dia pura-pura tidak perduli dan tidak melihat mereka lalu melanjutkan langkahnya ke kiri.

"Tunggu ...!" Tiba-tiba terdengar bentakan dan lima orang itu, dengan gerakan cepat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat, lima orang itu telah mengepung Bun Houw dalam setengah lingkaran di depannya.

Bun Houw bersikap tenang. Ketika hendak membuka mulut bicara, dia merasa lagi betapa hawa yang amat kuat bergerak dari pusarnya, mendorong ke atas dan hampir saja dia mengeluarkan teriakan atau pekikan nyaring. Dia masih mampu menahan dirinya, menarik napas panjang untuk menenteramkan hawa liar yang masih mencengkeramnya dari dalam.

"Ngo wi (anda berlima) menahan parjalananku ada urusan apakah?"

"Tak perlu banyak tingkah. Engkau melanggar wilayah kekuasaan kami. Cepat serahkan segala yang kaumiliki sebagai pajak jalan kepada kami, baru kami perbolehkan engkau melanjutkan perjalanan." bentak seorang di antara mereka yang codet (berbekas luka) pipi kanannya.

Tak salah dugaannya. Mereka ini penjahat, perampok! "Maafkan aku, sobat. Terus terang saja, aku orang miskin tidak mempunyai apa-apa, bahkan saat ini perutku lapar sekali karena sejak kemarin belum makan apa-apa." katanya tenang sambil mengerahkan kemauannya untuk mengendalikan hawa dahsyat dari pusarnya.

"Enak saja bicara!" bentak orang ke dua yang mukanya hitam. "Engkau tahu dengan siapa berhadapan? Kami adalah Hek-san Ngo-houw (Lima Harimau Bukit Hitam) yang menguasai wilayah ini. Kalan engkau tidak punya apa-apa, hayo tinggalkan semua pakaianmu berikut sepatu itu!”

Bun Houw tersenyum. Aneh mereka ini. Mengaku sebagai Hek-san Ngo-houw dan bersikap garang. Padahal, baru kemarin orang-orang kang-ouw, bahkan para datuk besar, muncul di Bukit Merpati Hitam. Apakah lima orang ini demikian beraninya memperlihatkan kekuasaannya pada saat seperti itu?

"Sobat, apakah Bukit Merpati Hitam juga merupakan daerah kekuasaan kalian?" pancingnya. Lima orang itu saling pandang, kemudian mereka mengamati Bun Houw dengan penuh perhatian, pandang mata mereka menyelidik. Kemudian si codet melangkah maju, menatap wajah Bun Houw dan bertanya, "Apa hubunganmu dengan Bukit Merpati Hitam?"

"Tidak ada hubungan apa-apa. Sobat, mari kita baik-baikan saja. Punyaku hanya pakaian yang menempel di tubuh ini, pakaian sederhana yang tidak ada harganya. Kalau kalian memintanya, apakah aku harus bertelanjang dan tidak bersepatu? Harap jangan keterlaluan." kata Bun Houw dengan alis berkerut karena dia menganggap sikap para perampok ini keterlaluan. Mana ada perampok tega merampok seorang miskin yang tidak punya apa-apa?

"Cerewet amat sih engkau?" bentak orang ke tiga yang mukanya kekuningan. "Cepat tanggalkan pakaian dan sepatumu, atau terpaksa kubikin engkau menanggalkan kepalamu dari tubuhmu!" Orang itupun maju dan goloknya menempel di leher Bun Houw dengan sikap bengis mengancam.

Bun Houw menahan diri agar tidak sampai terbakar perasaan marah. Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan penjahat-penjahat kecil .yang biasanya hanya berani menindas yang lemah, menggunakan gertakan dan memaksakan kehendak dengan menggunakan kekerasan. Tidak semestinya dia melayani orang-orang semacam ini.

"Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani orang-orang seperti kalian!" katanya sambil membalikkan tubuhnya, dan melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar. “Heh, kurang ajar! Engkau ingin mampus!” bentak mereka dan lima orang itu sudah menyerang sambil memaki-maki. menggerakkan golok mereka seperti hendak berlumba membunuh pemuda yang berani memandang rendah mereka.

Mendengar gerakan kaki mereka dan sambaran golok. Bun Houw membalikkan tubuh dan kedua tangannya bergerak seperti orang mengusir lalat. Akan tetapi akibatnya hebat. Dari kedua tangannya menyambar keluar hawa yang dahsyat dan panas dan lima orang itu seperti ditiup badai panas yang membuat mereka terjengkang dan terguling-guling dengan senjata mereka terlepas dari tangan. Mereka terkejut bukan main dan begitu dapat bangkit mereka segera melarikan diri tanpa di komando lagi, lintang pukang dan jatuh bangun. Akan tetapi Bun Houw ingin memberi pelajaran kepada mereka agar jangan mereka melanjutkan perbuatan jahat itu mengganggu orang-orang yang tidak bersalah. Sekali lagi tangannya mendorong ke depan, ke arah orang yang terdekat dan orang itupun terpelanting roboh. Dengan beberapa langkah saja Bun Houw sudah menghampirinya dan menginjakkan kaki pada dadanya. Biarpun injakan itu tidak disertai pengerahan tenaga, namun orang itu merasa betapa dadanya tertindih benda yang amat berat.

"Am ... pun ... taihlap ... “ Dia mencoba untuk berseru dengan napas terengah-engah.

Melihat seorang kawannya roboh dan tertawan, empat orang perampok yang sudah lari itu menoleh dan mereka pun kembali, menghampiri Bun Houw yang siap menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi setelah dekat, empat orang itu sama sekali tidak mengeroyok, melainkan menjatuhkan diri berlutut pula.

“Taihiap, ampunkan kawan kami." kata mereka berulang-ulang.

Tergerak perasaan Bun Houw. Bagaimanapun Juga, orang-orang itu masih mempunyai perasaan setia kawan, pikirnya.

"Kalau kalian mengharapkan ampun, berjanjilah bahwa kalian tidak akan mengganggu orang tak berdosa, Apalagi kalan dia miskin."

"Kami berjanji ... kami berjanji ... “ kata mereka berulang-ulang.

Bun Houw melepaskan injakannya dan ternyata yang ditangkapnya tadi adalah pimpinan gerombolan itu. Mereka berlima menghaturkan terima kasih dan pimpinan perampok itu berkata dengan sungguh- sungguh.

"Percayalah, taihiap. Dahulu kami adalah pemburu-pemburu. Akan tetapi, setelah hasil baruan makin berkurang sehingga tidak cukup untuk makan kami sekeluarga, kami mulai minta sokongan kepada rombongan pedagang yang lewat. Akan tetapi, kemudian rombongan pedagang itu tidak lewat di sini lagi, semenjak banyak orang kang-ouw berkeliaran di sini dan mereka itu menjadi korban siluman Guha Setan."

Bun Houw mengerutkan alisnya. "Siluman Guha Setan? Apa dan siapakah itu?” Kepala perampok itu mengeluarkan makanan dari buntalan mereka. "Marilah kita makan dulu, taihiap. Bukankah taihiap tadi mengatakan sejak kemarin belum makan? Kamipun lapar. Kita makan dan kami akan menceritakan tentang guha itu."

Melihat kesungguhan hari mereka, walaupun makanan dan minuman yang dikeluarkan hanya roti kering dan dendeng bersama seguci arak, Bun Houw tidak sungkan lagi. Dia mengangguk dan merekapun duduk di atas tanah berumput, makan makanan sederhana namun terasa nikmat dan lezat bagi perut yang lapar.

Sambil makan, mereka bercerita dan Bun Houw mendengarkan dengan mata penuh keheranan. Menurut cerita mereka, di puncak Bukit Hitam itu terdapat sebuah guha yang besar. Tadinya tak pernah ada orang berani memasuki guha itu yang menurut kepercayaan penduduk dnsun di sekitar kaki bukit, guha itu dihuni setan, dan karenanya guha itu diberi nama Guha siluman. Akan tetapi akhir- akhir ini, semenjak beberapa bulan yang lalu. orang-orang kang-ouw berdatangan ke bukit itu, mendaki sampai ke guha di dekat puncak

"Yang mengerikan, setiap orang kang-ouw. betapapun tingginya ilmu kepandaiannya, setelah memasuki guha itu, tahu-tahu menjadi gila dan mati di depan guha. Di depan guha itu kini berserakan rangka manusia. Kami sendiri hanya berani nonton dari jauh, sama sekali tidak berani mendekat karena kami masih sayang nyawa," si kepala perampok mengakhiri ceritanya.

Biarpun tertarik dan heran, namun Bun Houw tidak mau menelan mentah-mentah cerita itu. Dianggapnya bahwa cerita itu hanya kepercayaan orang-orang tahynl belaka.

"Ketika kalian melakukan pengintaian itu. apa yang kalian lihat? Apakah orang-orang-kang-ouw itu dibunuh oleh setan atau siluman?”

“Kami pernah melihat dua orang kang-ouw yang gagah keluar dari dalam guna itu setelah mereka bertapa beberapa minggu lamanya. Begitu keluar, mereka saling serang dengan ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, entah mereka itu berkelahi ataukah latihan karena pertandingan itu bagi kami amat seru. Akan tetapi, keduanya roboh dan tewas tanpa terluka!”

Bun Houw semakin tertarik. "Dan kalian sudah melihat adanya siluman itu? Kalau tidak pernah melihatnya, bagaimana kalian dapat mengatakan bahwa orang-orang kang-ouw itu dibunuh siluman?"

"Memang tidak ada yang pernah melihatnya, taihiap. Akan tetapi kematian orang-orang itu aneh. Ada yang melihat seorang kang-ouw keluar dari guha, lalu bersilat seperti orang gila dan kemudian roboh sendiri dan mati. Siapalagi kalau bukan siluman yang membunuhnya? Guha itu memang dihuni siluman, siapa yang masuk ke sana tentu keluarnya akan menjadi gila dan mati konyol."

Bun Houw menjadi tertarik bukan main. "Sungguh menarik. Aku akan ke sana sekarang juga."

Mendengar ini, lima orang perampok itu terbelalak dan saling pandang, kemudian pimpinan mereka berkata, "Taihiap, jangan pergi ke sana! Biarpun ilmu kepandaian taihiap amat tinggi, akan tetapi bagaimana mungkin taihiap sunggup melawan siluman yang tidak kelihatan. Harap taihiap menjauhi tempat itu. Kami peringatkan karena kami berhutang nyawa kepada taihiap." Juga yang lain membujuk, akan tetapi Bun Houw hanya tersenyum.

"Sudahlah, makin aneh kalian bercerita, semakin tertarik hatiku dan kalan kesempatan ini tidak kupergunakan untuk melihat tempat itu, aku akan selalu merasa menyesal dan kecewa. Nah, selamat tinggal, kawan-kawan, jangan melupakan janji kalian tadi." Setelah berkata demikian, Bun Houw mempengunakan kepandaiannya. Sekali berkelebat dia lenyap dari depan lima orang itu. Setelah dia minum sari Akar Bunga Gurun Pasir, dia memiliki tenaga sin-kang yang demikian dahsyat dan kuatnya sehingga kadang-kadang dia belum mampu mengendalikannya. Seperti ketika dia melompat dari depan lima orang itu, tubuhnya melayang seperti terbang saja, bahkan lebih cepat lagi seolah- olah dia pandai menghilang!

Lima orang perampok itu terbelalak dan seorang di antara mereka berbisik, "Wah, dia pandai menghilang. Jangan-jangan ... “ dan tidak berani melanjutkan.

"Jangan-jangan apa?" bentak kepala perampok dan mereka semua merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang karena sebelum dijawab mereka sudah dapat menduga apa yang menjadi dugaan kawan mereka.

"Jangan-Jangan dia itu justeru penghuni guha siluman ..." Lima orang itu saling pandang, bengidik dan tidak berani banyak cakap lagi, melainkan segera pergi menuruni lereng, menjauhi puncak di mana terdapat guha yang mereka yakini menjadi tempat tinggal Iblis-iblis dan siluman itu. Sementara itu, dengan cepat sekali Bun Houw mendaki bukit dan tak lama kemudian tibalah dia di depan guha yang dimaksudkan. Sebuah guha di puncak yang tandus itu, guha batu yang besar, mulut guha itu tidak kurang dari lima meter lebarnya dan tiga meter tingginya. Akan tetapi bukan guha itu yang menarik perhatian Bun Houw, melainkan benda-benda yang berserakan di depan guha yang merupakan tanah datar yang kering kerontang. Rangka-rangka manusia berserakan! Bahkan ada mayat menghitam, sudah melewati masa membusuk akan tetapi kulitnya masih ada dan dagingnya belum habis semua. Mengerikan rangka dan mayat itu masih berpakaian! Dan senjata bermacam- macam berserakan pula di situ. Ada pedang, golok, tombak, toya dan bayak macam lagi. Suasana di situ sunyi senyap, hanya kadang diseling suara burung gagak yang menyeramkan. Pantas menjadi tempat iblis dan setan. Akan tetapi Bun Houw bukan seorang penakut. Kalau orang-orang itu, dia dapat menduga tentu orang-orang yang pandai Ilmu silat melihat banyaknya senjata di situ, sampal tewas di tempat ini, tentu ada yang membunuh mereka. Setidaknya, dia harus mencari tahu apa yang menyebabkan matinya orang-orang itu. Dan agaknya rahasianya terletak di dalam guha besar itu.

Dia bersikap hati-hati sekali. Untuk menyelidiki lebih dahulu kaadaan guha itu dari luar, Bun Houw memejamkan kedua matanya dan mengerahkan sin-kang kepada pendengarannya. Dia pernah dilatih gurunya yang buta untuk mengandalkan telinga atau pendengarannya yang kadang lebih tajam, lebih waspada dan lebih dapat diandalkan dari pada penglihatan. Kalau dia memejamkan kedua matanya, maka pendengarannya menjadi lebih tajam dan peka. Dan ternyata apa yang tidak mampu ditangkap penglihatannya, kini dapat dia tangkap dengan pendengarannya. Ada suara di dalam guha, suara orang bergerak!”

Bila memang tidak dapat memastikan siapakah orang yang membuat gerakan di dalam guha itu, atan bukan. Yang jelas, ada sesuatu yang bergerak di sana. Setankah? Manusia? Hewankah? Dia tidak tahu dan diapun tidak berani lancang mematuki guha, Apalagi pendengarannya menangkap bahwa gerakan itu menuju ke mulut guha!

Bun Houw tetap mengintai dan akhirnya dia melihat apa yang tadi didengarnya lebih dahulu. Seorang laki-laki keluar dari dalam guha itu. Laki-laki ini berusia kurang lebih limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Pakaiannya kumal, agaknya sudah beberapa lamanya tidak pernah diganti, rambutnya kusut akan tetapi wajahnya nampak gembira bukan main. Bahkan dia tersenyum lebar, lalu tertawa bergelak dan mencabut pedangnya, memandang kepada mayat dan rangka yang berserakan.

"Ha-ha-ha, akhirnya akulah yang menang. Aku yang menguasai Ilmu itu dan aku yang akan menjadi jago silat nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha! Dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng aku merajai dunia persilatan, semua datuk akan kutalukkan satu demi satu, ha-ha-ha!" Dan orang itu lalu menggerakkan tubuh dan pedangnya, bersilat secara aneh sekali. Akan tetapi, yang membuat Bun Houw terkejut, hawa pedang yang menyambar-nyambar itu terasa olehnya padahal dia bersembunyi di balik batu besar yang jaraknya ada limapuluh meter! Sungguh hebat ilmu silat itu! Akan tetapi, belum ada sepuluh jurus orang itu bersilat, tiba-tiba dia mengeluh, terhuyung, pedangnya terlepas dan dengan susah payah dia mempertahankan diri agar tidak jatuh, kedua tangan memegangi kepala dan napasnya terengah-engah!”

Bun Houw terkejut dan cepat dia meloncat keluar untuk menolong orang itu! Akan tetapi, begitu mendengar ada gerakan orang menghampiri dari arah kiri, tiba-tiba orang yang terhuyung itu membalikkan tubuh dan kedua tangan yang tadi memegangi kepala kini menyambar dengan dorongan ke arah Bun Houw! Bun Houw terkejut, mengenal pukulan ampuh ketika merasakan angin dahsyat menyambar. Diapun cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangan menyambut karena sudah tidak mungkin dapat mengelak lagi tanpa membahayakan dirinya.

"Desst ...!!" Bun Houw merasa betapa tubuhnya tengetar, akan tetapi hawa dahsyat, timbul dari pusarnya menolak kekuatan aneh dari tangan lawan dan diapun dapat mempertahankan dirinya. Dan orang itupun terjengkang dan ketika dia melihat, ternyata orang itu telah tewas! Bun Houw tercengang. Jelas, bahwa orang itu memiliki ilmu yang hebat bukan main. Dan tangkisannya tadi sama sekali tidak mengandung daya serang. Akan tetapi kenapa orang ini tewas, diapun teringat akan keadaan orang itu sejak tadi keluar dari dalam guha. Ketika baru kaluar, jelas dia sehat dan ketika bermain silat, gerakan-gerakannya luar biasa, sedikitpun tidak menunjukkan kelemahan, bahkan hawa sambaran pedangnya dapat mencapai tempat dia bersembunyi. Kemudian selagi bermain silat, orang itu terhuyung seperti terluka parah. Namun masih mampu melancarkan serangan sedemikian dahsyatnya, dan ketika dia menangkisnya, orang itu tewas! jelas bukan karena tangkisannya, melainkan karena orang itu sudah terluka lebih dahulu selagi berlatih silat. Tentu saja dia merasa heran bukan main. Tentu ada rahasia yang amat eneh di dalam, guha yang dikenal dengan sebutan Guha Siluman itu! Benarkah orang itu tadi telah di lukai oleh setan penghuni guha? Melihat banyaknya senjata berserakan di situ, Bun Houw memungut sebatang padang yang cukup baik dan dengan pedang di tangan, diapun memasuki guha itu dengan hati-hali sekali, penuh kewaspadaan.

Ternyata guha itu selain lebat dan tinggi juga dalam dan ada terowongan besar di sebelah kiri. Dan di dinding guha itu segera nampak tulisan yang diukir pada batu, huruf-huruf besar yang indah bentuknya.

HANYA YANG BERJODOH DAN BERBAKAT SAJA MAMPU MEWARISI IM YANG BU TEK CIN KENG, YANG TIDAK AKAN MATI KONYOL.

Membaca tulisan itu, Bun Houw tertegun, teringat akan ucapan orang yang baru saja tewas di luar guha. Orang itupun mengatakan bahwa dia telah menguasai Im-yang Bu-tek Cin-keng dan akan merajai dunia persilatan. Akan tetapi tiba-tiba saja orang itu mati konyol. Seperti mereka yang mayat dan rangkanya berserakan di luar guha itukah yang dinamakan "mereka yang tidak berjodoh"? Ataukah ada rahasia lain di balik semua ini? Karena merasa amat tertarik untuk memecahkan rahasia kematian begitu banyak orang gagah di depan guha, Bun Houw segera berindap memasuki lorong terowongan di sebelah kiri guha. Bagaimanapun juga, tempat itu menyeramkan dan membuat dia berhati-hati, dengan pedang yang diambil di luar guha tadi, siap di tangan kanan, pendengarannya memperhatikan dengan tajam ke arah depan dan belakang. Namun, terowongan itu sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah melangkah sejauh kurang lebih seratus meter dalam kegelapan, akhirnya terowongan itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah yang luas dan ada sinar masuk dari atas karena terdapat retakan-retakan yang lebar di atas.

Setelah merasa yakin bahwa di sana tidak ada orang, tidak ada mahluk bergerak, dia memperhatikan sekeliling. Ruangan itu merupakan kamar bawah tanah yang berbentuk bulat dan pada dindingnya penuh dengan ukiran huruf-huruf dan gambar-gambar orang yang membuat bermacam gerakan silat.

Mengertilah Bun Houw bahwa rnangan itu menyembunyikan pelajaran silat rahasia, dengan tulisan dan gambar di dinding dan agaknya ilmu inilah yang disebut Im-yang Bu-tek-Cin-keng itu! Sebagai seorang ahli silat yang pernah digembleng oleh orang sakti, tentu saja Bun Houw tertarik bukan main untuk mempelajari Ilmu di dinding itu. Apalagi mengingat bahwa dibandingkan dengan para datuk, kepandaiannya masih jauh. Melawan para datuk, kepandaiannya masih kalah jauh, Hampir saja dia tewas di tangan datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian di tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan diapun tidak berdaya, disiksa hampir mati, belum bertemu para datuk lain. Kalau memang ilmu di dinding ini hebat, tentu dia akan dapat membela diri lebih baik kalau bertemu dengan orang-orang jahat seperti mereka itu.

Setelah memeriksa huruf-huruf dan gambar itu, dia tercengang. Ilmu silat yang diajarkan di dinding itu sungguh merupakan ilmu yang amat aneh! Nampaknya saling bertentangan, namun serasi! Dia mendapatkan tulisan huruf-huruf kecil di sudut bawah yang mengatakan bahwa yang berjodoh dan berbakat, boleh mewarisi ilmu itu, akan tetapi tidak boleh setengah-setengah, harus dipelajari dengan sempurna dan hal ini akan makan waktu bertahun-tahun! Tulisan itu memperingatkan bahwa kalau hal ini dilanggar, maka akan mendatangkan kegilaan atau kematian.

Hemm, kalau memang sudah ingin belajar kenapa harus setengah-setengah, pikir Bun Houw. Dia hidup sebatang-kara, tidak mempunyai urusan apa-apalagi, tidak mempunyai tempat tinggal. Mengapa dia tidak mempelajari ilmu di dinding ini sampai dapat menguasainya dan tinggal di guha ini?

Demikianlah, dengan hati yang tetap Bun Houw mulai hari itu tinggal di dalam guha yang dinamakan Guha Siluman itu. Ketika dia mulai berlatih samadhi menurut petunjuk tulisan dinding, cara bersamadhi dan melatih pernapasan yang aneh dan berbeda dengan yang pernah dipelajarinya, tiba- tiba dia merasa ada bentrokan tenaga sin-kang di dadanya. Akan tetapi, perasaan yang tidak enak itu akhirnya lenyap "ditelan” oleh hawa yang dahsyat, yang didapatnya dari minum sari Akar Bunga Gurun Pasir. Dan diapun mulai menghafalkan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Setelah berlatih selama beberapa bulan, baru dia tahu mengapa ada peringatan di bagian depan guha. Kiranya pelajaran itu memang diperuntukkan mereka yang memiliki sin-kang yang amat kuat sehingga bagi orang yang sin- kangnya tidak kuat, melatih diri dengan ilmu ini bisa mencelakai dirinya sendiri. Latihan itu menimbulkan hawa sin-kang yang aneh dan kuat, akan tetapi kalau tidak memiliki dasar yang kuat, bangkitnya sin-kang itu dapat membuat orang tidak kuat bertahan dan mengalami luka dalam yang hebat. Tahulah dia mengapa orang-orang itu tewas di depan guha. Mereka semua datang mempelajari ilmu, akan tetapi tidak memenuhi syarat. Mungkin ada yang tidak kuat sin-kangnya sehingga luka dalam dan tewas, dan mungkin ada pula yang tidak sabar, tergesa-gesa sehingga menghentikan latihan sebelum sempurna benar, atau hanya mempelajari setengah-setengah sehingga menjadi korban ilmu aneh yang masih belum dikuasainya benar itu.

Beberapa bulan setelah dia berada di guha itu, pernah dia mendengar dari dalam guha betapa ada datang beberapa orang di luar guha. Akan tetapi agaknya mereka itu mengenal korban terakhir, laki- laki tinggi besar itu. Mereka berseru kaget.

"Ahh, bukankah ini Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa)? Lihat itu pedangnya!”

"Benar dia ini ikat pinggangnya dari baja yang dapat dipergunakan sebagai senjata pedang pula! Ahh, bagaimana seorang seperti dia menjadi korban pula di sini?"

"Kalau tokoh seperti dia saja tewas di sini, apalagi kita! Ikh, aku tidak mau berlama-lama disini. Aku mau pergi saja sebelum mati konyol di sini!”

"Aku juga mau pergi. Tingkat Ilmu kepandaian Toat-beng Kiam-ong lebih tinggi dari tingkat guruku, kalan dia saja gagal, apalagi aku!"

Merekapun pergi dan sejak itu, tidak pernah lagi Bun Houw mendengar ada orang datang ke guha itu. Agaknya, matinya orang yang berjuluk Toat-beng Kiam-ong itu membuat orang-orang kang-ouw menjadi gentar dan tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk mempelajari ilmu dari guha itu. Makin mendalam dia mempelajari ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, semakin tahulah dia bahwa para korban itu benar-benar menjadi korban kealaian mereka sendiri. Ada yang memang tidak persiapan! Dia sendiri, kalau saja tidak secara aneh dan kebetulan mendapatkan kekuatan dahsyat dari pertemuan antara racun-racun dalam tubuhnya akibat pukulan para datuk dengan khasiat obat Akar Bunga Gurun Pasir belum tentu akan sanggup bertahan mempelajari ilmu yang aneh ini.

***

Bukit itu memang pantas mendapat nama Hwa-san (Bukit Bunga). Apalagi kalau tiba musim bunga, sungguh tidak ada tempat yang lebih indah dari pada Hwa-san. Sebuah bukit penuh bunga! Dari jauh nampak seperti segunduk kain berkembang beraneka warna. Apalagi kalau orang berada di puncak bukit itu dan melihat ke bawah. Hamparan penuh bunga yang menghamburkan semerbak harum, menarik datangnya lebah dan kupu-kupu. Segala terdapat di sisi lain lereng bukit itu.

Kalau saja ada orang yang mampu mendaki bukit itu dan berada di puncaknya pada saat itu, ketika musim bunga sedang dalam puncak keindahannya, maka orang itu akan dapat menikmati segala keindahan melalui mata, telinga dan hidungnya. Karena bukan saja pemandangan amat indah dan udara dipenuhi keharuman bunga. Juga kicau burung-burung memenuhi tempat itu, berseling nada dan irama dengan gemercik air anak sungai yang mengalir turun dan menjadi air terjun kecil dengan dendang abadi. Bahagialah orang yang dapat menikmati segala keindahan di dunia ini dengan batin yang bebas dari pengaruh nafsu. Karena keindahan yang dinikmati dengan batin bengelimang nafsu, akan berubah menjadi kesenangan dan keindahan itu akhirnya menjadi kebosanan. Dan kalau sudah bosan, maka keindahan itu tidak akan lagi karena nafsu selalu mengejar yang baru, yang tidak ada, yang belum dicapai atau dimilikinya.

Pria yang duduk diatas batu besar di puncak yang datar itu berusia enam puluh tahun. Namun dia masih nampak muda seperti baru limapuluh tahun saja, wajahnya segar dan belum banyak keriput, duduknya masih tegak dan baru sedikit uban menghias rambutnya. Wajah pria ini masih jelas meninggalkan sisa ketampanan di waktu muda. Wajah yang nampak gembira bukan main sehingga jelas mudah diduga bahwa orang itu sedang menikmati keindahan di sekelilingnya, dan yang terhampar di sebelah bawah sana Namun, kalau kita mendekatinya, akan nampak bahwa pria ini adalah seorang yang tidak dapat melihat lagi. Dia seorang buta! Tentu dia menikmati keindahan itu melalui telinga dan hidungnya saja. dan perasaannya yang menjadi amat peka karena kurangnya indra penglihatan yang paling penting bagi manusia itu.

Pria yang duduk bersila seperti patung dengan mulut tersenyum-senyum itu adalah Tiauw Sun Ong, bekas pangeran yang kini menjadi seorang yang sakti itu. Dalam menikmati kesegaran di puncak Hwa-san, mencium keharuman selaksa bunga, mendengar kicau burung dan dendang air terjun, terbayang dalam benaknya kehidupan yang lalu ketika dia masih dapat melihat dan menjadi seorang pangeran di istana. Setiap musim bunga, diapun selalu berada di taman bunga Istana yang luas dan indah, minum arak, bersajak, bermain musik dan dalam suasana yang romantis itu, selalu saja terjadi pertemuan antara dia dengan wanita cantik yang disusul dengan hubungan mesra. Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang tampan dan pandai, juga adik kaisar sehingga dia terpandang, dihormati dan dimuliakan, membuat banyak gadis bangsawan tergila-gila kepadanya.

Keharuman bunga itu membuat Tiauw Sun Ong teringat kembali betapa di waktu mudanya dia dihujani cinta kasih banyak wanita, walaupun di antara sekian banyaknya, yang masih teringat sampai sekarang, masih berkesan di hatinya hanya beberapa orang saja. Dan yang terakhir sekali adalah wanita yang amat dicintanya dan hubungannya dengan wanita itu mengakibatkan dia menjadi buta dan terasing dari keluarga kaisar.

"Cu Lan ...!” Bibirnya bergerak memanggil nama ini tanpa bersuara. Wanita itu adalah selir kakaknya, selir kaisar yang paling disayang oleh kaisar. Memang amat cantik jelita.

Kebetulan saja dia bertemu dengan selir itu pada musim bunga seperti ini, di taman bunga. Dan peristiwa itu bukan hanya bertemunya dua pasang mata yang bertautan, melainkan juga dua buah hati. Mereka lupa segala, menjalin hubungan cinta yang mesra.

Ketika itu, Pouw Cu Lan selir kaisar itu berusia duapuluh tahun, telah tiga tahun menjadi selir kaisar dan belum mempunyai anak. Hubungan mesra mereka itu hanya berjalan kurang lebih tiga bulan. Para selir lain yang iri hati terhadap Cu Lan, melaporkan kepada kaisar. Mereka tertangkap basah di pondok taman dan dalam keadaan amat main. dia lalu membikin buta kedua matanya sendiri, kemudian pergi meninggalkan istana. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kekasihnya itu, setelah dia pergi. Dia hidup terlunta-lunta sampai jauh ke utara. Ketika itu, dia berusia tigapuluh satu tahun. Hanya pertemuannya dengan seorang tosu yang sakti saja yang membuat dia bersemangat kembali untuk melanjutkan hidup. Dia menjadi murid tosu itu, mempelajari ilmu-ilmu sehingga menjadi seorang yang sakti, walaupun buta.

Masih ada beberapa orang wanita yang tak pernah dapat dia lupakan, namun tidak seperti Pouw Cu Lan yang benar-benar telah dapat merebut cinta hatinya. Namun, dia sungguh merasa bersalah kepada kakaknya, dan merasa malu sekali. Maka, biarpun hatinya selalu tersiksa apabila dia teringat kepada kekasihnya itu, dia menahan diri dan tidak pernah dia mau mencari tahu lagi tentang diri kekasihnya. Bahkan dia selalu menjauhkan diri dari kota raja, berkelana di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi, seperti seorang terlantar, seperti pengemis walaupun dia tidak pernah minta- minta.

Diapun mendengar akan kehancuran kerajaan kakaknya. Lima tahun yang lalu, Kerajaan Liu-sung yang dipimpin kakaknya, yaitu Kaisar Cang Bu telah jatuh ke tangan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang pemberontak bernama Siauw Hui Kong bersama keluarga Siauw. Para pemberontak itu dapat merebut tahta kerajaan. Kaisar Cang Bu membunuh diri, dan para pemberontak yang berbaik dengan Kerajaan Wei di utara, mendirikan sebuah kerajaan baru yang dinamakan Kerajaan Chi. Tiauw Sun Ong bersedih mendengar semua itu. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak berdaya. Walaupun dia memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sakti, namun dia hanya seorang buta. Bagaimana dia akan mampu menyelamatkan kerajaan kakaknya! Setelah kerajaan kakaknya jatuh, dia semakin acuh terhadap urusan dunia dan kini dia berada di Hwa-san, menemukan tempat yang amat menyenangkan, tenang dan tenteram. Dia mengambil keputusan untuk tinggal di tempat indah itu sampai dia mati, tidak akan turun dari bukit itu.

Tiauw Sun Ong tidak tahu bahwa bagaimanapun besar keinginan manusia, kadang-kadang nasib menentukan lain. Dia tidak tahu bahwa pada saat dia termenung itu, terjadi peristiwa di kaki bukit yang merupakan awal perubahan kehidupannya, yang akan mengguncang kedamaian yang dia rasakan di puncak bukit itu. Jauh di kaki bukit Hwa-san, pagi hari itu seorang wanita memasuki sebuah dusun di kaki bukit. Wanita itu hampir limapuluh tahun usianya, namun masih nampak cantik dan muda. Orang akan mengira ia berusia tigapuluh tahun lebih. Wajahnya yang manis itu berkulit putih kemerahan, hidungnya mancung dan mulutnya kecil penuh gairah. Akan tetapi orang akan bersikap hati-hati dan bahkan mungkin jerih kalau melihat matanya. Mata itu memang indah dan jeli, akan tetapi sinarnya kadang-kadang seperti mata harimau marah, menusuk dan berapi. Pakaiannya sederhana seperti juga riasan wajahnya yang manis, akan tetapi cukup bersih dan karena potongannya ringkas dan ketat, maka bentuk tubuhnya yang ramping padat itu nampak nyata. Pakaian seorang wanita yang sering melakukan perjalanan jauh, bukan pakaian seorang ibu rumah tangga yang selalu sibuk dengan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya.

Setelah memasuki dusun itu, wanita cantik ini mencari-cari dengan pandang-matanya. Ia tidak perduli akan pandang mata orang-orang dusun, terutama prianya, yang memandang heran dan kagum kepadanya. Ia mencari kedai nasi atau rumah makan karena perutnya terasa lapar dan ia ingin sarapan. Ketika ia melihat dua orang pemuda berusia duapuluhan tahun berdiri di tepi jalan memandang kepadanya, ia lalu menghampiri mereka. Seorang membawa sabit panjang dan seorang lagi memegang cangkul. Agaknya dua orang pemuda petani yang hendak pergi ke ladang.

"Sobat, tolong tunjukkan di mana aku dapat membeli makanan di tempat ini! Aku merasa lapar dan ingin makan." kata wanita itu, suaranya lembut dan merdu.

Dua orang pemuda itu sudah menyeringai girang ketika wanita cantik itu mendekati mereka tadi. Kini, mendengar ucapan itu, mereka saling pandang dan wajah mereka berseri, gembira dan bangga. Siapa orangnya tidak akan bangga dilihat orang bahwa wanita kota yang cantik itu menghampiri mereka dan mengajak mereka bercakap-cakap? Dan benas saja, para penduduk berhenti melangkah dan memandang ke arah mereka, dengan heran.

Dua orang pemuda yang merasa bangga itu setelah saling pandang, lalu dengan ramah seorang di antara mereka, yang hidungnya pesek, memperlihatkan senyumnya yang dianggsap paling manis. "Aih, nona hendak mencari kedai makanan? Di dusun ini tidak ada yang menjualnya, nona."

Wanita itu tersenyum. Senyumnya mengandung sejuta madu dan dua orang pemuda itu semakin terpesona. "Tidak perlu kedai penjual makanan. Kalau ada penduduk yang mau membagi sedikit makanan dan air teh kepadaku, akan kubayar mahal."

Pemuda ke dua yang mempunyai tahi lalat di dagu, segera berkata, "Kalau begitu, marilah ikut dengan kami ke rumah kami, nona. Kami dapat menyuguhkan makanan dan minum sekadarnya untuk nona."

Wanita itu nampak girang bahwa dua orang pemuda itu menyebutnya "nona" dan iapun mengangguk. Dapat dibayangkan betapa bangga dan girangnya hati dua orang pemuda itu. Dengan dada membusung mereka berjalan mendampingi wanita itu di kanan kirinya dan membawanya pergi ke rumah mereka yang tak jauh dari situ.

Rumah mereka sederhana namun bersih dan dua orang pemuda kakak beradik itu segera memanggil Ibu mereka yang menjanda. Ibu mereka sudah berusia limapuluh tahun, tampak tua sekali dan ia tergopoh memasuki rumah dari belakang ketika mendengar suara, anak-anaknya.

"Eh, kenapa kalian tidak ke ladang dan hei, siapakah ia?"

"Ibu, nona ini datang untuk minta sedikit makan dan minum, ia lapar dan ingin membeli makanan dan minuman, akan tetapi tidak ada." kata yang pesek.

"Ibu, keluarkan semua yang ada untuk nona ini." kata yang bertahi lalat.

"Maafkan kalau aku mengganggu," kata wanita itu, "aku hanya ingin sarapan karena lapar, dan nanti kubayar hanganya, berapapun kalian minta."

"Aih, tidak usah, nona ... " kata Ibu itu yang tentu saja bersikap hormat melihat seorang wanita kota. Ia lalu sibuk di dapur dan tak lama kemudian ia sudah menghidangkan nasi putih dengan lauknya sayuran dan ikan asin. Juga semangkok teh hangat.

Melihat hidangan yang sederhana itu, sang tamu nampak girang. Perut yang lapar hanya menuntut makanan, tidak memilih lagi dan tanpa sungkan iapun segera makan dan minum sampai kenyang. Ketika ibu itu menyingkirkan mangkok piring, wanita itu menghapus bibirnya dengan saputangan dan memandang kepada dua orang pemuda yang masih duduk menghadapinya dan tadi dengan ramahnya menemaninya makan. Ia melihat betapa pandang-mata dua orang pemuda itu berbeda dari tadi.

Kalau tadi ketika bertemu di jalan dan mengnjaknya ke rumah mereka, dua orang pemuda itu ramah dan sopan, kini pandang mata mereka membuat alisnya berkerut. Ia sudah hafal akan pandang mata pria seperti ini, pandang mata penuh gairah yang membuatnya marah dan tidak senang. Akan tetapi mengingat bahwa baru saja ia terhindar dari rasa lapar karena keramahan dan suguhan mereka, ia menahan diri, hal yang jarang sekali ia lakukan, dan dengan acuh ia bertanya kepada mereka.

"WAH, aku sudah makan dan minum cukup kenyang, sobat. Sekarang katakan berapa yang harus kubayar kepada kalian untuk harga makanan dan minuman ini."

Doa orang pemuda itu saling lirik dan menyeringai, kemudian yang berhidung pesek mengangkat muka, memberanikan diri dan dengan cengar cengir dia menjawab, "Aih, nona yang manis, makanan dan minuman itu tidak kami jual. Kami tidak minta uang, hanya minta ... “

Makin dalam kerut di antara alis mata yang hitam kecil dan panjang melengkung itu "Minta apa?” Dua orang pemuda itu kembali saling pandang dan tertawa kecil, kemudian yang bertahi lalat melanjutkan ucapan saudaranya yang terputus tadi, "kami hanya minta engkau bersikap manis kepada kami." Dan seperti dikomando saja, dua orang pemuda itu bangkit berdiri dan menghampiri wanita itu dari kanan kiri, kemudian keduanya merangkul dan mendekatkan muka hendak menciuminya!

Wanita itu masih duduk dan melihat niat dua orang pemuda itu, tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak menampar ke kanan kiri dengan punggung tangannya.

"Plak! Plakkl" Kelihatan perlahan saja kedua tangan itu menampar, akan tetapi akibatnya sungguh hebat. Dua orang pemuda itu terpelanting dan roboh pingsan dengan sebelah muka hancur seperti kena ditampar dengan senjata baja yang amat kuat. Kulit sebelah muka mereka itu seperti terkupas, telinga remuk dan mata membengkak. Mereka hanya sempat memekik pendek terus roboh pingsan.

Mendengar pekik ini, ibu kedua orang pemuda itu berlari masuk dari belakang dan ia menjerit-jerit ketika melihat kedua orang anaknya roboh dengan muka mandi darah.

Wanita cantik itu bangkit berdiri, memandang dengan senyum dingin dan berkata, "Mengingat ibunya, aku mengampuni mereka dan tidak akan membunuh meraka." Setelah berkata demikian, dengan langkah gontai ia keluar dari rumah itu.

Ibu kedua orang anak itu mengejarnya kasar dan masih menjerit-jerit. "Tolooonggg ... perempuan ini membunuh kedua orang anakku ...!”

Wanita cantik itu tidak berhenti atau menengok. Ia tahu bahwa Ibu itu mengira kalau anaknya yang pingsan itu tewas. Akan tetapi pada saat itu, teriakan si Ibu yang berulang-ulang membuat para tetangga berlarian ke tempat itu dan terpaksa si wanita cantik menghentikan langkahnya karena terhalang, bahkan terkepung.

Tangkap perempuan ini! Ia membunuh dua orang anakku setelah kami menyuguhkan makan dan minum kepadanya. Ia jahat, ia siluman betina!” ibu itu berteriak-teriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah si perempuan cantik yang masih tersenyum-senyum saja.

Melihat belasan orang laki-laki maju dengan sikap marah, wanita itu menyapu mereka dengan pandang matanya yang jeli dan tajam. "Aku menghajar mereka. Dan, kalian mau apa! Minta sekalian dihajar?”

Tentu saja ucapan ini membuat semua orang menjadi marah. Perempuan ini memang cantik, akan tetapi jahat bukan main, "Tangkap perempuan ini!” teriak seorang laki-laki setengah tua.

"Seret ia dan hadapkan kepala dusun!” “Pembunuh ini harus dihukum!"

Duabelas orang mengepung dan menggerakkan tangan hendak menangkap wanita itu. Ia tersenyum dan mendengus, "Kalian memang menjemukan!" dan sebelum ada tangan yang dapat menyentuhnya, wanita itu bergerak, tu¬buhnya berkelebatan ke kanan kiri dan terdengarlah guara orang-orang itu mengaduh kesakitan dan duabelas orang itupun roboh satu demi satu. Semua orang terbelalak melihat duabelas orang itu merintih-rintih dengan tulang patah atau muka matang biru. Padahal, wanita itu hanya nampak berkelebatan dan mengge¬rakkan kedua tangannya secara lembut saja.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan muncul dua orang pria yang pakaiannya gagah seperti yang biasa dipakai oleh para pendekar. Dengan pakaian ringkas, pedang tergantung di punggung, dua orang laki-laki yang usianya sekitar tigapuluh lima tahun ini sudah melompat ke depan wanita cantik itu.

"Dari mana datangnya perempuan jahat, iblis betina yang kejam?” bentak seorang di antara mereka yang rambutnya sudah banyak dihias uban.

Wanita itu mengangkat muka, memandang kepada dua orang itu dengan senyum dingin mengejek. Sejenak ia mempelajari keadaan mereka. Memang ada keanehan pada dua orang yang usianya antara tigapuluh lima sampai empat puluh tahun itu. Keduanya membawa pedang di punggung, dan kalau yang seorang rambut kepalanya sudah banyak putihnya, yang ke dua biar rambutnya masih hitam, akan tetapi jenggot dan kumisnya semua sudah putih!

"Hemm, kiranya Pek-mau Siang-kaw (Sepasang Anjing Rambut Putih) yang muncul! Kalian mau apa?" tanya wanita itu dengan suara lembut. Dua orang gagah itu saling pandang, membelalakkan mata dan muka mereka berubah merah sekali. Mereka adalah sepasang pendekar yang terkenal di wilayah Hwa-san, terkenal dengan julukan Pek- mau Siang-houw (Sepasang Harimau Rambut Putih) karena mereka memiliki kelainan pada rambut dan jenggot kumis mereka. Akan tetapi wanita cantik ini sengaja mengubah julukan mereka Siang- houw (Sepasang Harimau) menjadi Siang-Kaw (Sepasang Anjing)! Sungguh penghinaan yang berupa ejekan merendahkan.

"Siluman betina, siapakah engkau yang berani bermain gila dan bersikap kurang ajar terhadap Pek- mau Siang-houw?" bentak yang kumisnya putih.

Kini sepasang mata itu mencorong marah dan senyumnya berubah menjadi dingin mengejek. "Anjing- anjing seperti kalian tidak pantas mengenal namaku. Pergilah sebelum engkau tidak hanya menjadi sepasang anjing, melainkan menjadi sepasang bangkai anjing!"

Sungguh hebat penghinaan ini, amat memandang rendah dan makian itu dilakukan di depan banyak orang pula! Pek-mau Siang Houw adalah dua orang bersaudara yang selalu menentang kejahatan sehingga mereka telah membuat nama besar. Kebetulan sekali pada pagi hari itu mereka lewat di situ dan mendengar ribut-ribut. Melihat bahwa yang mengacau di dusun itu hanya seorang wanita cantik setengah tua, mereka masih bersikap sabar dan lembut. Siapa kira wanita itu malah menghinanya.

"Singgg ...!” Keduanya mencabut pedang dari punggung dan nampak sinar berkilat saking tajamnya pedang mereka, berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Wanita itu sama sekali tidak kelihatan gentar, bahkan mengeluarkan saputangan merahnya dan menghapus keringat dari leher dan mukanya, nampak kesal melihat lagak kedua orang pendekar itu.

"Siluman betina! Keluarkan senjatamu dan hadapi pedang kami!” bentak dua orang pendekar itu.

Mereka melihat betapa wanita itu telah merobohkan dua belas orang dengan mudah, maka merekapun dapat menduga bahwa tentu wanita ini lihai, maka mereka tidak ragu dan sungkan untuk maju bersama, akan tetapi tetap saja mereka tidak suka menyerang lawan seorang wanita yang bertangan kosong dengan pedang mereka.

“Huh, pedang mainan kanak-kanak itu kau pergunakan untuk menakut-nakuti aku? Majulah, agaknya kalian memang sudah bosan hidup!" bentak wanita itu, mengebut-ngebutkan saputangannya di depan leher untuk mengusir panasnya matahari pagi yang makin meninggi.

"Siluman, engkau patut dibasmi dari muka bumi!" bentak kedua orang pendekar itu dan merekapun menyerang dengan pedang mereka dari kanan kiri.

"Wuuuttt, sing-sing ... !” Nampak sinar pedang bergulung-gulung ketika sepasang pedang itu menyambar. Namun, yang diserangnya lenyap dan berkelebat di antara sambaran sinar pedang! Dua orang pendekar itu membalik dan mereka menghujankan serangan kilat ke arah wanita itu. Namun, sungguh hebat gerakan wanita itu. Lembut seperti orang menari saja, namun langkahnya ringan dan seperi bayangan yang tak pernah dapat disentuh sinar pedang! Sampai belasan jurus, dua orang pendekar itu menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga mereka dan memainkan jurus-jurus pilihan yang paling ampuh, namun wanita itu tetap saja tidak dapat disentuh pedang mereka. Kemudian, wanita itu menggerakkan saputangan suteranya yang panjangnya hanya tiga jengkal, saputangan sutera yang lembut dan ringan. Akan tetapi, begitu sapu tangan itu menyambar sebatang pedang, ujungnya melibat dan sekali wanita itu menggerakkan tangannya, pedang yang di libat saputangan itu palah!

Melihat pedang saudaranya patah, si rambut putih menusukkan pedangnya ke arah lambung wanita itu dari arah kiri.

"Cappp ... !” Pedang itu menancap sampai setengahnya dan semua orang ternganga, mengira bahwa wanita itu tentu akan tewas.

Akan tetapi, tiba-tiba si rambut putih memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat karena dia melihat bahwa pedang itu bukan menembus lambung melainkan dijepit di bawah ketiak wanita itu. Sebelum dia mampu menghindarkan diri, kaki wanita itu menendang bawah pusarnya.

"Kekkk ...!" Tubuh si rambut putih terjengkang, pedangnya terlepas dan diapun roboh terbanting dan tewas seketika karena tubuhnya di bawah pusar, bagian kelamin, telah hancur oleh ujung sepatu wanita itu. Si kumis putih terkejut, akan tetapi pada saat itu, wanita tadi melemparkan pedang yang dijepit dengan lengannya ke arah si kumis putih. Pedang itu meluncur seperti anak panah, tak dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si kumis putih dan pedang itu memasuki dadanya sampai tembus ke punggung. Si kumis putih roboh dan tewas di dekat mayat saudaranya..

Wanita itu tertawa, suara kerawa yang merdu dan halus, lalu ia pergi dari situ sambil mengebut- ngebutkan saputangan suteranya untuk mengusir keringat, dan tangan kirinya menyapu-nyapu baju yang terkena debu. Semua penghuni dusun memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Tak eorang pun berani menghalangi wanita itu atau mengejarnya.

Andaikata ada yang mengejar pun tidak akan berhasil menyusul wanita itu yang kini berkelebatan dengan ilmu lari cepat, mendaki bukit di depan dengan kecepatan seperti larinya seekor kijang.

Siapakah wanita yang demikian lihainya dan juga amat kejamnya itu. Kalau saja dua orang pendekar itu, Pek-mau Siang-houw, mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, belum tentu mereka berani bersikap seperti itu di depan wanita cantik itu. Ia sungguh bukan wanita biasa, bahkan bukan wanita kang-ouw biasa. Ia adalah seorang datuk besar yang namanya ditakuti semua orang, bahkan para pendekar juga harus berpikir masak-masak untuk menentang datuk yang luar biasa lihai dan kejamnya ini.

Kekejamannya itu hanya ditujukan kepada para pria! Ia seorang pembenci laki-laki! Tidak ada lagi orang yang mengenal nama aselinya, hanya mengenalnya dengan julukan Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im). Sungguh julukan yang sama sekali berlawanan dengan wataknya, karena julukan ini memang ia sendiri yang memilihnya. Ia menyamakan dirinya dengan Kwan Im Pouw-sat. Dewi Belas Kasih yang dipuja orang karena ia merasa bahwa selama ini belum pernah ia berhubungan dengan pria, ia masih perawan walau usianya sudah hampir limapuluh tahun. Dan memang penampilannya seperti seorang dewi, cantik jelita, sederhana, lemah lembut dan sedikitpun tidak menunjukkan bahwa ia seorang ahli silat. Apa lagi seorang yang dapat membunuh banyak orang tanpa berkedip. Pagi hari itu saja, ia telah melukai parah dua orang pemuda yang memberinya hidangan, kemudian melukai duabelas orang dusun, bahkan membunuh dua orang pendekar yang menentangnya. Tidak ada yang tahu bahwa watak kejamnya terhadap pria ini muncul ketika ia menderita patah hati karena cintanya gagal. Pria yang dicintanya tidak membalas cintanya dan sejak itu ia membenci pria yang dianggapnya palsu dan hanya mendatangkan duka saja bagi wanita!

Cepat sekali wanita itu mendaki bukit Hwat-san, biarpun pendakian itu amat sukar, namun ternyata wanita cantik itu dapat mencapai puncak dalam waktu tingkat. Tebing-tebing yang licin dan keras ia panjat dengan mudah, jurang yang amat curam dan lebar dapat ia lompati. Ketika tiba di puncak yang landai dan penuh bunga, Kwan Im sianli tertegun dan sejenak ia berdiri terpesona, memandang ke sekeliling dan berputar pada ujung kakinya.

"Aihhhh, betapa indahnya ...!” Ia menghirup napas panjang, memasukkan udara sejuk segar itu sebanyaknya ke dalam paru-parunya, ia merasa nyaman sekali. Kalau orang melihatnya pada saat itu, tentu akan mengakui bahwa julukan wanita itu memang tepat. Berdiri di puncak bukit, di antara bunga-bunga yang sedang mekar, pantaslah ia menjadi seorang dewi!

"Pantas kalau tempat seindah ini menjadi tempat tinggal Si Buta yang menjengkelkan hati itu      “

katanya lirih dan di dalam suaranya terkandung penyesalan, kekecewaan dan penasaran.

"Bwe Si Ni ... engkaukah yang datang itu   ?" Tiba-tiba terdengar suara lembut, dan Kwan Im Sianli

cepat meloncat ke arah datangnya suara. Dan di sana, di atas batu datar yang lebar, duduklah pria itu! Pria yang dicari-carinya selama ini.

"Pangeran ...!” serunya sambil menghampiri dan sekali ini dalam suaranya terdengar kelembutan yang luar biasa, suara yang mengandung kasih sayang dan kerinduan. Pancaran matanya juga lembut dan sayu, dan mulutnya tersenyum pahit, menggetar penuh harap.

Pria itu, Tiauw Sun Ong, tertawa dan ketika dia tertawa, wajahnya nampak lebih muda. "Ha-ha-ha, Si Ni, apakah engkau tidak pernah tua? Engkau masih seperti dulu saja. Engkau tahu, aku bukan lagi seorang pangeran, melainkan seorang jembel. Bahkan sekarang Kerajaan Liu-sung juga sudah jatuh, keluargaku sudah terbasmi. Aku orang buangan, jangan sebut pangeran lagi."

Dia lalu menggerakkan tangan mempersilakan. "Duduklah, Si Ni. Sudah bertahun-tahun kita tidak saling jumpa. Bagaimana kabarnya dengan dirimu?"

Kwan Im Sianli duduk pula di atas batu yang lebar itu, berhadapan dengan Tiauw Sun Ong. Sejenak mereka berdiam diri dan wanita itu memandang dengan sinar mata penuh kasih dan keharuan. Sementara itu, Tiauw Sun Ong hanya menunduk, diam-diam dia terkejut ketika tadi mengenal suara wanita ini, seorang di antara wanita yang tak pernah dapat dia lupakan. Teringat olehnya betapa dahulu, ketika dia masih menjadi pangeran, di antara para gadis yang mengejar dan merindukannya terdapat seorang dayang istana yang cantik bernama Bwe Si Ni. Tanpa main-main Bwe Si Ni menyatakan cintanya, rela mengorbankan nyawa sekalipun untuknya asal cintanya diterima. Karena merasa kasihan kepada gadis cantik manja yang begitu pasrah, Tiauw Sun Ong merasa tidak tega untuk menolak begitu saja. Dia bersikap ramah dan manja walaupun belum menyatakan bahwa dia membalas cinta kasih gadis dayang istana itu. Apalagi ketika itu dia sudah mempunyai seorang pacar, yaitu seorang gadis bangsawan puteri keluarga Kwan. Memang Tiauw Sun Ong mempunyai kelemahan terhadap wanita. Dia tidak tega menolak untuk bersikap manis terhadap wanita yang jatuh cinta kepadanya!

Akan tetapi, dalam taman, dia bertemu selir kaisar, Pouw Cu Lan dan dia begitu tergila-gila sehingga terjadilah hubungan antara-mereka. Melihat ini, Bwe Si Ni menjadi cemburu dan marah, bahkan sakit hati. Ialah seorang di antara mereka yang melapor kepada kaisar sehingga hubungan antara selir dan adik kaisar itu tertangkap basah. Ketika Tiauw Sun Ong membutakan matanya dan meninggalkan istana, Bwe Si Ni, gadis dayang itupun minggat dari Istana!”

Belasan tahun kemudian setelah Tiauw sun Ong menjadi perantau buta dan mendapatkan ilmu, manjadi orang sakti, pada suatu hari muncul Bwe Si Ni di depannya! Akan tetapi bukan Bwe Si Ni gadis dayang yang dahulu, yang lemah lembut dan hangat, yang mati-matian mencintanya, melainkan Bwe Si Ni yang sudah berubah menjadi seorang iblis betina, seorang yang memiliki Ilmu kepandaian yang tinggi dan dahsyat. Dan Bwe Si Ni yang ketika itu sudah berusia tigapuluh lima tahun. menuntut agar dia suka hidup bersamanya menjadi suami isteri. Biarpun dia telah menjadi seorang buta yang hidup terlunta-lunta ternyata cinta kasih Bwe Si Ni tidak pernah berkurang! Namun, bekas pangeran itu menolak dan hal ini membuat Bwe Si Ni menjadi kecewa dan berduka sekali. Ia menangis dan memohon, mengatakan bahwa ia tidak pernah mau berdekatan dengan pria lain karena ia sudah bersumpah untuk hidup menjadi isteri Tiauw Sun Ong. Ketika bekas pangeran itu tetap menolak, ia menjadi penasaran dan marah. Dengan tegas ia mengatakan, bahwa kalau Tiauw Sun Ong menolak, ia akan membunuhnya kemudian membunuh diri sendiri. Ingin mati bersama! Tiauw Sun Ong tetap menolak dan Bwe Si Ni menyerang. Terjadi perkelahian yang hebat. Akan tetapi, ternyata tingkat kepandaian Bwe Si Ni masih belum mampu menandingi Tiauw Sun Ong walaupun bekas pangeran yang buta ini mengalah dan selalu mengelak dan menangkis saja. Akhirnya, dengan hati kecewa, duka, penasaran dan makin mendendam, Bwe Si Ni pergi dan ia memperdalam Ilmunya sehingga akhirnya ia terkenal sebagai seorang wanita sakti yang berjuluk Kwan Im Sianli. Akan tetapi, kegagalan cintanya dengan bekas pacarnya itu membuat hatinya menjadi pahit getir dan pembenci pria. Kalau ada pria bersalah sedikit saja kepadanya, apalagi bersikap kurang ajar. ia dengan kejam akan membunuhnya atau setidaknya membikin cacat!”

Dan kini, dalam usia hampir limapaluh tahun, setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya ia dapat berhadapan dengan Tiauw Sun Ong lagi! Tentu saja ada ketegangan di hati Tiauw Sun Ong yang maklum akan isi hati bekas dayang ini, akan tetapi ia tetap tenang dan menahan diri sehingga suaranya tidak membayangkan perasaan hatinya.

Sementara itu, begitu berjumpa dengan bekas pangeran itu, hati bekas dayang itu seperti terbakar kembali api cintanya. Biarpun pria yang menjadi idaman hatinya itu kini sudah hampir enampuluh tahun usianya, namun dalam pandangannya, tidak ada pria lain di dunia ini yang lebih disayangnya dari pada si buta ini. Bagaikan awan disapu angin, dendamnya untuk membunuh pria yang dikasihinya itu lenyap, terganti perasaan rindu yang menyesakkan dadanya. Selama ini ia membenci pria. tidak sudi didekati pria manapun juga karena seluruh hatinya telah terisi oleh pangeran ini.

Selama belasan tahun ini, sejak kegagalannya membujuk kekasihnya untuk hidup bersama atau mati bersama, Bwe Si Ni telah memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia menjadi datuk besar dunia kang- ouw yang ditakuti orang. Akan tatapi, begitu bertemu, semua dendamnya, mengabur dan kembali timbul kerinduannya kepada pria ini.

"Pangeran, aku datang untuk mengajakmu hidup bersama. Ketahuilah, pangeran, aku tetap setia kepadamu dan sampai kini aku tetap menjaga diriku sebagai calon milikmu, tidak membiarkan diriku disentuh pria manapun juga. Pangeran, aku tetap mengharapkan untuk menghabiskan sisa hidup kita yang tidak berapa lama lagi ini sebagai suami isteri ... "

"Si Ni ... "

"Pangeran, kasihanilah aku, bayangkan betapa selama puluhan tahun aku menunggu saat ini, penuh penderitaan, penuh harapan dan kerinduan. Tegakah engkau mengecewakan harapanku yang terakhir ini? Pangeran, aku rela meninggalkan segalanya, dan hidup di sini, di sisimu, sampai hayat meninggalkan badan ... “

Wanita itu meratap dengan suara yang bercampur tangis.

Sampai lama Tiauw Sun Ong tidak mampu menjawab. Diam-diam dia mengeluh. Tak disangkanya sama sekali bahwa kedamaian yang dinikmatinya itu kini dapat terganggu dan terguncang sedemikian hebatnya! Kemudian, setelah menarik napas panjang beberapa kali, diapun berkata dengan suara yang tenang namun tegas.

“Bwe Si Ni, dengarlah baik-baik. Aku sekarang tidak mempunyai apa-apalagi, maka yang bersisa hanya tinggal kejujuran. Kalau aku tidak jujur, berarti aku kehilangan segala-galanya. Dan kejujuran kadang kala menyakitkan perasaan, Si Ni. Maka, dengarlah baik-baik, pertimbangkan baik-baik dan jangan terburu nafsu, karena aku akan membuat pengakuan secara sejujurnya."

Wanita itu menghapus sisa air matanya dan iapun duduk bersila dengan tegak di depan pria itu, di atas batu datar. "Bicaralah, pangeran."

"Si Ni, menghadapi urusan kita ini, aku hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu, menjadi seorang yang jujur akan tetapi dianggap kejam, atau menjadi seorang yang palsu akan tetapi dianggap baik. Dan setelah kupertimbangkan, aku memilih menjadi orang pertama. Yaitu jujur biarpun engkau akan menganggap aku kejam dan jahat. Kalau aku menuruti perasaan hatiku yang penuh iba kepadamu, tentu aku akan menerima permintaanmu, hidup sebagai suami isteri denganmu di sini sampai kita mati tua. Akan tetapi, itu berarti aku palsu biarpun kauanggap baik, karena terus-terang saja, Si Ni, sejak mataku buta, hatiku tidak buta lagi dan aku tidak mau mengikat diri dalam perjodohan dengan siapapun juga. Aku akan berterus terang bahwa tidak ada lagi cinta berahi di dalam hatiku terhadap seorang wanita. Kau tentu tidak ingin kubohongi, bukan! Nah, tinggalkan aku dalam damai. Si Ni, dan aku tahu bahwa kalau engkau mau, engkau akan dapat menemukan seorang suami yang jauh lebih baik dari pada aku yang tua dan buta ini."

"Pangeran Tiauw Sun Ong!” Tiba-tiba wanita itu membentak marah, "Sudah tigapuluh tahun aku menanti dangan sabar, dengan setia, dan engkau tetap menolakku? Aku bisa membikin orang yang paling kau cinta menderita, aku bahkan dapat membunuhnya!”

"Sudahlah, Si Ni, kita berpisah dengan baik-baik saja. Engkau tidak perlu membujuk dan mengancam, aku sudah bicara dan tidak akan mengubah sikapku."

"Keparat! Kalau aka tidak dapat hidup bersamamu, aku bersumpah untuk mati bersamamu!”

“Sin Ni ... !” Akan tetapi teriakan Tiauw Sun Ong ini tidak ada gunanya karena wanita itu sudah meloncat sambil menghunus pedang yang tersembunyi dibalik jubahbya, ia sudah menyerang bagaikan kilat menyambar cepatnya! Pedang itu menusuk Tiauw Sun Ong!

"Trranggg ...!” Tongkat itu seperti otomatis bergerak dan berhasil menangkis pedang.

Kwan Im Sianli Bwe Si Ni merasa betapa tangannya tergetar, maka iapun meloncat turun dari atas batu. "Bagus! Engkau masih lihai, pangeran. Mari kita membuat perhitungan terakhir. Engkau dulu atau aku dulu yang mati!”

"Si Ni, janganlah ... " akan tetapi bujukan ini dijawab dengan serangan begitu Tiauw Sun Ong turun dari atas batu. Si buta yang memiliki pendengaran amat tajam dan peka itu melompat dan menghindarkan diri dari serangan pedang. Wanita itu mengejar dan menyerang terus, dan pangeran itu kagum. Serangan-serangan Bwe Si Ni bukan main dahyatnya.

Sungguh sama sekali tidak boleh disamakan dengan lima belas tahun yang lalu! Serangan itu didukung tenaga sin-kang yang kuat sekali, dan selain gerakannya kuat, juga cepat dan amat berbebaya. Untuk melindungi dirinya, dari ancaman bahaya maut, bekas pangeran itu didukung tenaga sinkang yang kuat sekali dan selain gerakannya kuat, juga cepat dan amat berbahaya. Untuk melindungi dirinya dari ancaman maut bekas pangeran itu sudah memutar tongkatnya dengan pengerahan sin-kang sehingga potongan kayu itu membentuk sebuah sinar bergulung-gulung seperti payung yang menjadi perisai dirinya.

Sebetulnya, Tiauw Sun Ong juga tidak takut mati atau begitu ingin untuk hidup terus dalam keadaan yang tak dapat dikata bahagia secara lahiriah. Akan tetapi, dia tidak mau bunuh diri, juga dia tidak ingin kalau wanita itu sampai menjadi pembunuhnya hanya karena ingin hidup atau mati bersama! Dia tidak ingin menjadi sebab kedosaan Bwe Si Ni setelah dia tidak mampu membahagiakan wanita itu. Sementara itu. Kwan Im Sianli juga terkejut bukan main di samping kekagumannya. Ia telah maju pesat dalam ilmu silat, bahkan ditakuti dunia kang-ouw, dianggap sebagai seorang datuk persilatan yang sukar dicari tandingannya. Akan tetapi, kini kembali ia tahu bahwa untuk membunuh pria yang dikasihinya ini jelas bukan perkara mudah. Bahkan untuk mengalahkannya saja belum tentu ia mampu! Ilmu tongkat yang dimainkan orang buta itu selain aneh, juga sukar ditembus pedangnya, bahkan setiap kali pedangnya bertemu tongkat, tangannya terasa panas dan nyeri!”

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita. Suara tawa yang amat aneh, makin lama semakin nyaring dan amat mengejutkan hati Kwan Im Sianli dan juga Tiauw Sun Ong karena tanpa dapat mereka tahan lagi. Kwan Im Sianli ikut pula tertawa bergelak dan biarpun dia sudah menahannya, tetap saja bekas pangeran itupun tertawa di luar kehendaknya. Tentu saja keduanya terkejut dan otomatis meloncat ke belakang.