-->

Kesatria Berandalan Bab 4

Bab 4

Cinta dan dendam, dua-duanya selesai. Melanglang buana seorang diri.

Setelah selesai mengubur Kao Ceng, Kie Yam-ke mengurung diri dalam kamar beberapa hari, selangkah pun tidak keluar dari kamar.

Hal ini membuat Siau Hek-cu dan kawan-kawan merasa tidak enak hati, khawatir Kie Yam-ke melakukan sesuatu yang bodoh. Tapi mereka hanya bisa berdiam cemas saja, siapapun tidak berani dengan ceroboh menerobos masuk ke kamarnya, hanya bergiliran menelungkup di depan jendela, menerawang ke dalam kamar melalui celah-celah daun jendela.

Kie Yam-ke baik-baik saja duduk di dalam kamar, sedikitpun tidak bergerak, bagaikan rahib tua sedang bertapa. Siau Hek-cu mereka melihat keadaan begini bagai batu besar terlepas dari dalam hati, mereka tidak sekhawatir tadi lagi.

Keadaan begini berlangsung selama 5 hari.

Dalam 5 hari baik-baik saja, tidak ada masalah yang timbul. Liu Yam-yo selangkahpun tidak meninggalkan rumah keluarga Kian.

Hari ke-6, langit baru terang Kie Yam-ke sudah meninggalkan kamarnya, berjalan ke dalam halaman, menerawang langit dengan 2 tangan di belakang tubuh, seorang diri berjalan santai di jalan setapak yang sepi dan terpencil.

Hari masih remang-remang, embun malam membasahi baju, Kie Yam-ke berhenti, bengong memandang sinar matahari yang sedikit demi sedikit menampakkan diri dari balik lautan awan.

Entah sudah berapa lama, dia tetap saja berdiri disitu tidak bergerak bagaikan patung kayu.

"Siapa?" tiba-tiba dia menoleh ke belakang menyapu dengan sorotan matanya yang tajam.

"Kie Toako, aku Siau Hek-cu."

Siau Hek-cu menampakkan diri keluar dari semak- semak, "Kie Toako, dari tadi aku berdiri di bawah pohon berjaga-jaga, kelihatannya kekhwatiranku berlebihan."

Kie Yam-ke menarik Siau Hek-cu ke depannya, berkata dari lubuk hatinya yang paling dalam:

"Siau Hek-cu, Kie Toako amat berterima kasih padamu, kau saudara Kie Toako yang paling baik."

Dengan gembira Siau Hek-cu berseru: "Ini baru Kie Toako kami yang paling baik."

Sinar mata Kie Yam-ke yang lembut memandang Siau Hek-cu:

"Siau Hek-cu, saudara-saudara yang lain apa baik-baik saja?"

Siau Hek-cu mengangguk-angguk:

"Semua baik-baik saja, semua teman-teman bergilir mengawasi rumah keluarga Kian."

Selanjutnya dia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu: "Kie Toako, beberapa hari ini kau terus menutup diri di

dalam kamar, teman-teman amat khawatir padamu, kau bagaikan rahib tua yang bertapa terus duduk dalam kamar, apa kau sedang berlatih silat?"

Amat terharu Kie Yam-ke berujar:

"Siau Hek-cu, kalian baik sekali, betul aku sedang berlatih silat, percayalah, kalau Liu Yam-yo bertemu aku lagi, nyawanya pasti tidak akan lolos lagi dariku!"

Dengan suara gembira Siau Hek-cu berkata: "Kie Toako, tentu kita bisa membalaskan dendam Lu Pau, kakak Siau Li-cu bukan?"

Dengan menggenggam kepalan, Kie Yam-ke berkata: "Dendam ini pasti harus dibalas, juga tidak boleh tidak

harus dibalas!"

ooo0dw0ooo

Berturut-turut beberapa hari, di rumah keluarga Kian tidak ada sedikit gerak pun, hal itu membuat Kie Yam-ke curiga sekali, dia memutuskan malam ini dia akan menyelinap ke dalam rumah itu untuk mencari tahu Liu Yam-yo sedang berbuat apa disitu.

Dia memutuskan untuk mengambil inisiatif, berinisiatif lebih baik daripada diam terus.

Sebelum jam 3 subuh, Kie Yam-ke dengan mudah sudah melewati pagar tembok menyelinap masuk ke dalam rumah Kian. Rumah ini amat besar, tapi Kie Yam-ke dengan mudah berjalan mengendap-endap sampai di tempat yang terang dan ada suara orang.

Kie Yam-ke diam dan menahan napas, bagaikan kucing yang cekatan pelan-pelan berjalan ke bawah jendela yang terang benderang, lalu berjongkok disana, mendengar suara pembicaraan yang keluar.

Dari dalam jendela sering terdengar suara tawa dan banyolan, sekali-kali juga perkataan cabul, serong, dan menyimpang, kelihatannya orang-orang dalam ruangan itu sedang makan minum bersenang-senang!

Kie Yam-ke ingin menyelinap lagi ke tempat lain untuk memeriksa lagi, tetapi dia tertarik suara yang keluar dari dalam jendela, dia berhenti tetap berjongkok di bawah jendela.

"Liu Toako, sekarang luka dalammu sudah sembuh, kekuatanmu maju lagi selangkah, kenapa masih belum mau pergi membasmi si brengsek itu?"

Kie Yam-ke kenal itu suara Kian Ta.

"Kian-heng, jangan keburu nafsu. Si jahanam Kie Yam- ke tidak akan hidup terlalu lama lagi, sesudah ada kesempatan baik, aku akan hajar dia sampai kalang kabut, lalu aku bunuh dia untuk menghilangkah kekesalan di hati dan supaya kau bisa memboyong pulang wanita idaman hatimu itu." Suara Liu Yam-yo terdengar jelas sekali keluar dari jendela.

Perkataan Liu Yam-yo selesai, segera terdengar suara tertawa 2 orang itu yang amat bangga dan senang, diselingi suara wanita-wanita yang mengajak minum.

Tadi, Kie Yam-ke mendengar suara wanita dikiranya ini kamar perempuan, maka dia mau meninggalkan tempat ini, untung saja bisa tepat terdengar suara Kian Ta, sehingga dia tetap berada disitu.

"Kian-heng, kalau Kie Yam-ke sudah kubunuh, apa kau mau membantuku?"

"Liu Toako, asal aku mampu pasti membantumu. Apa yang harus aku bantu?"

"Kian-heng, asal kau mau membantu, nanti sampai waktunya baru aku memberi tahu"

"Baiklah, terserah kau saja. Ayo Liu Toako, di depan arak harum dan nona cantik. Kita bersenang-senang dulu!"

"Memang aku sudah tidak tahan...hahaha..."

Dari dalam kamar terus terdengar perkataan-perkataan yang cabul dan kotor, serta tertawaan yang bisa membuat muka orang menjadi merah dan merasa malu. Kie Yam-ke sudah tidak tahan lagi. "hmmm!" diapun meninggalkan tempat yang di bawah jendela itu, meloncat lagi ke atas pagar tembok lalu meninggalkan rumah Kian Ta yang besar itu.

Kie Yam-ke teringat perkataan Kian Ta yang bermaksud buruk pada Siau-ih tadi malam, maka dia memutuskan pergi ke warung Oh Ta-siok untuk melihat-lihat.

Oh Ta-siok yang melihat Kie Yam-ke mampir, segera dengan amat akrab menarik dia masuk ke dalam warung, memaksa dia duduk di bangku, dia sendiri malah bicara sambil berdiri:

"Kie Ke-ji, kenapa lama betul tidak kemari? Aku selalu teringat saja padamu, saat itu kalau bukan kau dengan kebajikan membantu, tentu Siau-ih sudah celaka. Entah harus bagaimana membalas kebaikanmu, bagaimana pun malam ini kau harus makan ala kadarnya disini!"

Kie Yam-ke melihat orang tua iba berdiri, dia mana bisa tenang duduk disitu, cepat-cepat berdiri dan berujar:

"Oh Ta-siok, yang sudah lalu jangan dibicarakan lagi, kita bersaudara dan tetangga, tentu harus saling membantu!"

Selesai Oh Ta-siok bicara, Kie Yam-ke segera menyambung:

"Mana Siau-ih?"

Tertawa ringan Oh Ta-siok berkata:

"Siau-ih berada di dalam kamar, dia sedang membuatkan sebuah baju untukmu. Kie Ke-ji, ini niat baik Siau-ih padamu, nanti jangan sampai ditolak." Lalu dengan keras memanggil:

"Siau-ih, cepat keluar, lihat, siapa yang datang!"

Dari dalam segera terdengar suara yang manis dan manja seorang gadis:

"Ya, Ada siapa? Putrimu segera keluar."

"Kie Ke-ji sudah datang!" Oh Ta-siok menyahut dengan suara gembira.

"Kie Toako, ternyata kau." Orangnya mengikuti suara muncul, tirai pintu bagian dalam disingkap, mata Kie Yam- ke menjadi terang benderang. Seorang gadis yang manis dan cantik, sepasang bola mata yang terang dan jernih, bergigi putih bersih, muncul dengan tersingkapnya tirai pintu. Dialah putri tunggal Oh Ta-siok yang bernama Siau-ih itu.

Muka Siau-ih penuh terkejut bercampur gembira, begitu memandang muka Kie Yam-ke tidak terasa mukanya menjadi merah. Sambil menundukkan kepala, dengan suara halus dan penuh perhatian dia berujar:

"Kie Toako, kau tambah kurus."

Perkataan pendek ini membuat hati Kie Yam-ke merasa hangat, perasaan hatinya bergelombang, tapi mukanya seperti tidak ada apa-apanya. Dengan tertawa berkata:

"Siau-ih, baru-baru ini apa Kian Ta ada datang mengganggumu?"

Siau-ih mengangkat kepalanya dengan penuh terima kasih memandang Kie Yam-ke:

"Kie Toako, sejak saat itu dihajar olehmu, dia tidak pernah datang lagi. Kie Toako, saat itu kalau tidak ada kau, Siau-moi..."

Kie Yam-ke segera merubah topik pembicaraan:

"Siau-ih, ayahmu sudah tua, kau harus banyak-banyak merawatnya."

Dengan penuh kasih sayang Oh Ta-siok memandang putrinya, tertawa-tertawa berujar:

"Kie Ke-ji, Siau-ih amat berbakti, semua urusan selalu diambil dan dikerjakan olehnya, alasannya agar aku tidak terlalu lelah, kalau bukan aku yang melarang, dia berbakat untuk membantu aku berdagang di warung!"

Kie Yam-ke memandang Siau-ih dengan penuh mata, kebetulan juga Siau-ih mengangkat mata memandang dia. 4 mata bertemu, bagaikan terkena stroom hati masing-masing tergetar hebat, sorotan mata dialihkan, muka Siau-ih menjadi merah lagi.

Kie Yam-ke terbatuk-batuk ringan, dengan tegas berkata:

"Oh Ta-siok, berbakat dagang tentu baik bagi Siau-ih, tapi demi menghindari hal yang kurang baik, turuti perkataan ayahmu, hari-hari nanti jangan terlalu sering menampakkan diri."

Siau-ih menunduk, dengan pelan mengiyakan.

"Siau-ih, kata-kata Kie Ke-ji sangat betul, lain kali kau harus menurut, jangan ribut saja denganku mau membantu di warung, ayahmu belum tua benar sampai tidak bisa bergerak, Kau lihat, ayah masih kuat!"

Habis berkata, segera mau memindahkan kacang seberat 25 kati.

Orang kalau sudah tua tidak menerima pun tidak bisa, mukanya sudah merah tetap tidak bisa memindahkan kacang itu, hanya pinggangnya yang bungkuk dan terengah- engah selanjurnya batuk-batuk.

Kie Yam-ke segera ke depan memapahnya:

"Oh Ta-siok, duduk dan istirahat dulu," dia memapahnya duduk di bangku.

Saat itu juga Siau-ih dengan suara halus memanggil: "Ayah tidak apa-apa?" cepat-cepat maju dari sisi lain,

bantu memapah ayahnya duduk.

Dalam kesempatan itu, keduanya jadi berdekatan, hanya terhalang orang tua Oh di tengah, saking dekatnya sampai bisa tercium bau pihak lawan. Kie Yam-ke merasakan bau harum yang menyebar dari tubuh Siau-ih, hatinya entah kenapa menjadi berdebar-debar. Siau-ih sekali lagi mengangkat mata memandang Kie Yam-ke. Kebetulan Kie Yam-ke juga sedang memandang dia. Sinar mata berdua bentrok lagi. Kali ini saling tidak menghindar lagi, tetapi, saling melengket, bagaikan magnet bertemu besi.

Ketika orang tua Oh sudah berhenti batuk-batuk, mereka belum sadar, berdua mereka bertukar perasaan dengan saling memandang secara cepat.

Oh Ta-siok yang sudah berhenti batuk-batuk, merasa mereka berdua masing-masing memegang satu sisi tapi sesudah dia duduk mereka tetap tidak mau melepaskan tangan yang memapah, tidak mendengar mereka bercakap- cakap, juga tidak ada reaksi apa-apa, mula-mula dia merasa aneh, tapi dengan cepat dia sadar dan mengerti, hati tuanya merasa lega, diam-diam tersenyum, dia tidak mau mengganggu mereka.

Memang dia amat menyukai pemuda Kie Yam-ke ini, meski dia berbaur dan bergaul akrab dengan berandalan, tetapi dia tidak pernah mengganggu orang sekampung atau para tetangga. Dia juga tidak pernah melakukan pencurian dan lain-lain pekerjaan kotor yang melanggar hukum, sebaliknya, dia selalu membantu semua tetangga dan orang- orang sedaerah, ada masalah apapun dia pasti membela habis-habisan dan bantu menyelesaikan dengan sebaik- baiknya, juga memberi pengertian agar berandalan- berandalan itu tidak boleh mempersulit dan mengganggu orang-orang sekampung dan sedaerah. Pemuda macam begini memang langka, dia hanya memiliki putri satu- satunya ini, mau memilih menantu yang model apalagi? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia berharap Kie Yam-ke bisa menjadi menantunya.

Sangat tidak diinginkan tapi benar-benar sudah tidak tahan lagi, Oh Ta-siok jadi keselek dan batuk-batuk lagi, tentu saja membuat Kie Yam-ke dan Siau-ih yang sedang menjalin perasaan baru menjadi terputus.

"Ayah, sudah agak baikan?" Siau-ih agak terkejut, mukanya menjadi merah, dia cepat-cepat menundukkan kepala, dengan ringan-ringan memijit lan menepuk-nepuk punggung ayahnya penuh kasih sayang.

Kie Yam-ke menuangkan secangkir teh panas, menyajikan ke hadapan Oh Ta-siok:

"Minumlah dulu tehnya."

Setelah Oh Ta-siok minum beberapa teguk teh panas, dia jadi agak enakan, tidak batuk-batuk lagi.

Kie Yam-ke merasa sudah terlalu lama disini. Diapun berpamitan:

"Oh Ta-siok, Siau-ih, aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Aku pamit dulu, nanti kalau ada waktu aku pasti mampir lagi menengok kalian." Habis bicara segera mau angkat kaki.

Siau-ih dengan amat berat memandang Kie Yam-ke. "Kie Ke-ji, jangan pulang dulu." Oh Ta-siok menahan

Kie Yam-ke, balik pada Siau-ih yang masih bengong

memandang Kie Yam-ke dan berkata:

"Siau-ih, bukankah kau sudah membuatkan baju untuk Kie Toako? Cepat ambil dan serahkan padanya."

Muka Siau-ih menjadi merah, dengan malu menyahut sambil masuk ke dalam pelan-pelan.

Sebentar saja tirai kain bergoyang Siau-ih sudah muncul lagi, di tangannya memegang sebuah baju baru. Dengan 2 tangan memberikan pada Kie Yam-ke: "Kie Toako, pulang ke rumah cobalah dulu, kalau tidak pas bawalah kembali kemari, biar Siau-moi perbaiki lagi."

Hangat nian dalam hati Kie Yam-ke, dua tangannya menerima baju itu, tapi dalam kesempatan ini dia menangkap tangan Siau-ih yang halus dan mulus itu. Dia berkata:

"Pasti cocok, tidak perlu dirobah. Pasti cocok..."

Sebelah tangan Siau-ih dipegang oleh Kie Yam-ke membuat hati berdetak keras, muka bagaikan lembayung, elok, manja, dan malu-malu sekali. Siau-ih mendengar Kie Yam-ke yang seperti bloon, beberapa kali mengucapkan "pasti cocok" tidak tahan tertawa cekikikan dan berkata:

"Kie Toako, kau belum mencoba bagaimana tahu pasti cocok?"

Tertawa dan pertanyaannya membuat Kie Yam-ke sadar, dia lupa diri dan membuat penyimpangan dari biasanya. Dengan kikuk dia tertawa dan berkata:

"Siau-ih, terima kasih, aku pergi dulu."

Tentu saja Siau-ih tidak rela berpisah secepat ini, dua orang ini saling berpandangan. Akhirnya Kie Yam-ke berkata:

"Masuklah Siau-ih. Aku pulang dulu!"

Dia mau berpamitan pada Oh Ta-siok, tapi entah kapan Oh Ta-siok sudah menghilang masuk ke dalam.

Memandang dengan penuh kasih sayang, Kie Yam-ke akhirnya pergi dengan langkah besar meninggalkan Siau-ih.

Tapi Siau-ih tetap saja berdiri di depan pintu, menatap terus tubuh Kie Yam-ke yang kian lama kian jauh itu. Sampai dia lenyap di belokan jalan Siau-ih masih tetap berdiri disitu tidak bergerak. Hatinya sudah terbawa oleh Kie Yam-ke yang pergi itu.

Di rumah keluarga Kian tetap tidak ada perubahan, selangkahpun Liu Yam-yo tidak meninggalkan rumah itu, Kie Yam-ke menjadi kesal.

Keluarga Kian adalah orang kaya di kota Yang-punya kedudukan dan banyak harta, kota ini punya peraturan kerajaan, dia tidak berani sembarangan menerobos masuk ke dalam keluarga itu untuk membunuh Liu Yam-yo, dalam waktu dekat, Kie Yam-ke tidak bisa apa-apa.

Memang banyak teman-teman yang mengawasi rumah keluarga Kian, tapi dengan kelihayan Liu Yam-yo, gampang saja bagi dia menghindar dari pengawasan dan mengambil tindakan pada Kie Yam-ke, tapi sejak dari mencari tahu berita Liu Yam-yo akan menyerang dia dimana dan kapan saja, dia selalu hati-hati dan waspada setiap langkah!

Liu Yam-yo benar-benar seorang tokoh yang sulit diatasi.

Siau Ke-cu melihat Kie Yam-ke, cepat-cepat mengajak dia duduk di sebuah meja menghadap ke jalan, sibuk menyiapkan cangkir dan sumpit:

"Kie Toako, sudah lama sekali tidak minum-minum disini, sekarang mau makan apa?"

Dengan tersenyum Kie Yam-ke berkata:

"Siau Ke-cu, terserah kau, bawakan saja makanan apa, sekarang minta 2 teko arak dulu."

Siau Ke-cu mengiyakan, dengan cepat menghantarkan 2 teko arak, dengan gesit menuangkan untuk Kie Yam-ke:

"Kie Toako, minum dulu 2 cawan untuk membasahi tenggorokan, aku ke dapur dulu, minta koki membuatkan beberapa macam sayur yang enak untukmu." Selesai perkataannya bagaikan angin sudah pergi jauh.

Kie Yam-ke minum secawan, menjilat-jilat bibir sambil melihat-lihat pemandangan di luar jendela dan orang yang lalu lalang di jalanan.

Dia kesal, beberapa hari berturut-turut tinggal di rumah, membuat Kie Yam-ke yang suka bergerak itu tidak tahan, seorang diri dia jalan-jalan keluar untuk minum arak.

Menuang arak sendiri minum sendiri, memandang macam-macam orang di jalanan, Kie Yam-ke merasa tertarik dan senang.

Tiba-tiba dia melihat Kian Ta lenggak-lenggok berjalan di tengah orang-orang banyak, di sisinya ada 2 orang jongos tua mengikutinya, sambil tertawa-tawa dan menunjuk- nunjuk mengganggu wanita-wanita di jalanan. Tampaknya Kian Ta juga seperti dia, sudah kesal berada di rumah, akhirnya keluar untuk jalan-jalan.

Mata Kie Yam-ke tidak lepas dari Kian Ta, sampai Siau Ke-cu mengantarkan 3 macam makanan yang panas dan wangi pun dia tidak merasakannya.

"Kie Toako, cepat cicipi mungpung panas, ini dibuat special untukmu." Suara Siau Ke-cu menarik kembali perhatian Kie Yam-ke.

Kie Yam-ke berputar kepala, tertawa pada Siau Ke-cu: "Siau Ke-cu, mari, kau juga cicipi dan minum secawan." Siau Ke-cu menggoyang-goyangkan tangan: "Kie Toako,

kau makan saja, aku masih mau melayani tamu-tamu lain."

Dia berlalu menambahkan arak dan makanan bagi tamu lain. Kie Yam-ke tersenyum dia tidak makan tapi berputar kepala melihat lagi keluar jendela, untung, Kian Ta masih terlihat luntang lantung di jalanan.

Kebiasaan buruk Kian Ta sulit berubah, dia tetap saja menggoda wanita di tengah jalan.

Kemarahan Kie Yam-ke mulai berkobar, ingin sekali dia menerobos jendela terjun ke jalan untuk menghajarnya.

Tiba-tiba hatinya teringat perkataan yang dia ucapkan ketika menyelinap masuk ke rumah Kian Ta. Yaitu Liu Yam-yo akan menyerang dia kapan saja dan dimana saja. Kalau begitu Kian Ta berada dalam keadaan begini tetap menggoda wanita di tengah jalan mungkinkah ini sebuah jebakan? Tujuannya untuk memancing Kie Yam-ke keluar menghajar Kian Ta, sedangkan Liu Yam-yo menyembunyikan diri di sekitar situ, mencari kesempatan yang paling baik untuk menyerang dia dari belakang.

Kemungkinan itu yang paling benar.

Terpikir sampai masalah ini, Kie Yam-ke sekuatnya menekan emosi, dia tidak mengambil tindakan apa-apa, duduk di bangku, diam-diam mengamati Kian Ta dan keadaan di sekitar situ.

Dia memutuskan dengan diam mengatasi perubahan.

ooo0dw0ooo

Memang Kie Yam-ke anak berandalan, tapi dia paling benci orang yang tidak bermoral, yang kurang ajar, dia sudah beberapa kali ingin membunuh Kian Ta bajingan ini, tapi mengingat dia tidak punva dosa yang luar biasa, maka selalu membiarkannya, hanya dihajar saja beberapa kali. Memandang Kian Ta yang terus menggoda perempuan di jalan, kemarahan Kie Yam-ke yang sudah di tekan berkobar lagi, tapi dia bisa lebih keras lagi menekannya, dia maklum Kian Ta berani kurang ajar begini pasti ada maksud lain.

Saat dia penuh perhatian memandang kelakuan buruk Kian Ta itu, tiba-tiba genting rumah rubuh dan mengeluarkan suara keras, di tengah pecahnya genting dan tanah abu berhamburan jatuh itu, seberkas sinar merah gelap bagaikan meteor jatuh dengan cepat ke atas meja tempat duduk Kie Yam-ke.

Mendengar suara, Kie Yam-ke menoleh, sekilas melihat di dalam genting hancur dan debu itu mengikuti segumpal sinar merah melesat dengan cepat, dia sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir, dia yang duduk di pinggir jendela, langsung berteriak keras, tubuh bagian atas dengan keras menerobos, dalam suara ramainya genting berjatuhan itu, dia telah mendobrak pecah daun jendela, mengikuti genting, debu, dan kayu patah yang berjatuhan, bergelinding, bersalto menjatuhkan diri ke jalan raya!

Waktu dia menubruk pecah kaca jendela, bersamaan waktu dia menjatuhkan tubuh di luar loteng dan jatuh ke jalanan, di tengah genting pecah dan debu itu gumpalan sinar merah juga jatuh di atas mejanya, "poppp" bersuara keras, segera memancar gumpalan api yang berkobar. Hanya sekejap saja seluruh tingkat 2 rumah makan itu sudah dikepung dan dilahap oleh si jago merah.

Tamu-tamu yang duduk di lantai 2 termasuk Ciang-kui (pemilik perusahaan), Siau Ke-cu dan pelayan-pelayan yang lain terlihat payah semua, tidak satupun yang keburu menghindar, semua terkepung oleh kobaran api di loteng. Tamu di tingkat bawah masih sempat tergopoh-gopoh kabur keluar, dalam keadaan terkejut sekali berebutan keluar.

Kie Yam-ke sudah tidak peduli dengan debu dan pasir yang melekat di tubuhnya, kakinya baru menapak ke tanah, langsung meluncur lagi, bagaikan mencabut bawang di tanah kering, sekujur tubuh membubung naik dan meloncat masuk ke dalam loteng yang sedang dilahap si jago merah.

Tetapi kobaran api terlalu besar, baru tiba di jendela yang dia pecahkan itu, segumpal asap tebal bercampur dengan segumpal lidah api bagaikan ular beracun menjulurkan lidah berkobar keluar, terpaksa dia melayang kembali ke jalan, memang dia melayang cepat tapi tetap saja baju dan rambutnya terjilat lidah api menimbulkan bau gosong.

Kie Yam-ke turun ke jalan, dia berusaha untuk kedua kalinya melompat naik lagi ke loteng, tetapi waktu itu juga suara yang amat keras terdengar, seluruh bangunan loteng itu roboh, untuk cepat-cepat menolong Siau Ke-cu dan lain- lain sudah tidak keburu, mereka semua sudah pasti terkubur dalam lautan api.

Kie Yam-ke memandang loteng yang roboh terbakar dalam lautan api, matanya yang gemas sampai rnau meledak, sekujur tubuhnya gemetaran.

Kalau bukan karena dia minum arak di rumah makan Te-it-lou ini, Siau Ke-cu dan lainnya tidak akan mati terpanggang. Beberapa kali dia ingin meloncat masuk ke kobaran api untuk menemani mereka, mati bersama, tetapi sebuah niat lain muncul dalam hatinya kuat sekali. Sehingga dia tidak mampu mengatasi hatinya, dia memutarkan tubuhnya langsung berlarian ke rumah Kian Ta. Dia hendak membalas dendam, membalas dendam untuk orang-orang yang mati itu!

Sudah tidak perlu diragukan lagi, semua ini pasti dilakukan Liu Yam-yo, Kian Ta juga mengambil bagian, dalam perjalanan ke rumah Kian Ta, dia baru terpikir, Kian Ta begitu berani menggoda wanita di tengah jalan yang ramai, tujuannya untuk mengalihkan perhatian dia, agar Liu Yam-yo mudah naik ke atap te-it-Liu, mengambil kesempatan saat dia tidak perhatian, memecahkan genting melemparkan bahan peledak mesiu itu.

Andaikata dia tidak kebetulan duduk di sisi jendela, reaksi dia juga tidak secepat dan semutlak itu, kemungkinan besar dia juga bernasib sama dengan Siau Ie Cu, terpanggang menjadi arang.

Demi membasmi dirinya, Liu Yam-yo dan Kian Ta tidak segan-segan juga tidak peduli di atas loteng banyak orang yang tidak berdosa termasuk dirinya, tega melakukan kekejaman yang amat jahat!

Kie Yam-ke dendam sekali pada Liu Yam-yo, Ia bersumpah dalam hati bagaimanapun juga tidak akan mengampuni Liu Yam-yo!

Kian Ta juga tidak akan diberi pengampunan!

Kie Yam-ke terburu-buru bagaikan kuda berlari kencang, setelah berbelok di sebuah sudut jalanan, sudah tampak gerbang rumah Kian Ta. Saat dia belok dari sudut jalanan, dia dihadang oleh orang yang kurus kecil

Andaikata Kie Yam-ke tidak cekatan, pasti orang yang kurus kecil itu akan lintang pukang ditubruk olehnya di tikungan jalan tadi. Saat terpepet itulah, Kie Yam-ke cepat- cepat menyisi dan menghindar, begitu cepat berpapasan dengan orang yang kurus dan kecil itu sambil merengtangkan tangan meraih sebuah lengan orang itu. Sesaat baru bisa berhenti.

"Kie Toako, ga...gawat..." ternyata Siau Hek-cu yang menghadang perjalanan dia. Melihat Kie Yam-ke, dia tergagap-gagap tidak bisa meneruskan perkataannya.

Dari roman muka Siau Hek-cu yang gusar, Kie Yam-ke sudah menebak pasti terjadi lagi masalah, hatinya tiba-tiba merasa tenggelam.

"Siau Hek-cu, ada apa sampai tergesa-gesa begini?" dari luar dia seolah-olah tenang sekali.

Menarik 2 kali napas kasar. Siau Hek-cu masih tetap gagap berkata:

"Siau...Siau-ih Kouwnio ...di...disandera orang!" "Blennng!" kepala Kie Yam-ke bagaikan mau meledak,

sekujur tubuhnya terasa dingin, tidak terasa tangan yang menangkap lengan   Siau   Hek-cu   bertambah   keras, dia

bertanya dengan nada terkejut dan gusar:

"Siau Hek-cu, siapa? Siapa yang menyandera Siau-ih Kouwnio?" air mukanya pucat menakutkan.

Dari dulu Siau Hek-cu belum pernah melihat air muka Kie Yam-ke yang menakutkan begini, lengan yang dipegang sakit bagaikan mau putus, membuat dia menggigit bibir menahan, dia tidak berani bilang sakit, tubuhnya gemetaran dengan gusar berkata:

"Aku pun tidak jelas. Tadinya aku ke rumah mencarimu, tetapi tidak ada, aku mengira kau ke rumah Oh Ta-siok, sampai disana Oh Ta-siok pun tidak tampak, saat aku mau mencari ke tempat lain, dari dalam warung terdengar suara rintihan, mengikuti suara aku mencari ke dalam, terlihat Oh Ta-siok terjatuh di lantai, banyak darah disana. Oh Ta-siok bernapas dengan sulit, dalam keadaan terkejut aku memapah Oh Ta-siok. Di depan dadanya terdapat lubang darah yang masih meneteskan darah segar, udara yang masuk sedikit yang keluar lebih banyak. Aku takut sampai menangis, entah harus bagaimana tapi Siau-ih tidak tampak. Terdengar Oh Ta-siok dengan suara terputus-putus mengatakan bahwa Siau-ih telah disandera, dia memohon kau bagaimana pun harus menolong Siau-ih, lalu diapun putus nafasnya."

Sambil bercerita Siau Hek-cu meneteskan air mata lagi. "Oh Ta-siok apa bilang siapa yang menyandera Siau-ih?"

karena tegang Kie Yam-ke tambah keras memegangi lengan

Siau Hek-cu.

"Auuu..." kali ini Siau Hek-cu sudah tidak tahan, dia mengaduh.

Kie Yam-ke baru sadar dalam keadaan tegang dan kalang kabut, dia kehilangan kontrol, membuat lengan Siau Hek-cu kesakitan, cepat-cepat dia melepas lengan itu. Dengan penuh penyesalan dia bertanya:

"Siau Hek-cu, apa tanganmu sakit sekali?" Siau Hek-cu menarik napas, sambil menahan sakit berkata:

"Tidak apa-apa Kie Toako, Oh Ta-siok belum mengatakan siapa yang menyandera Siau-ih Kouwnio sudah keburu meninggal, mungkin dia tidak sempat mengatakan."

Dua mata Kie Yam-ke memandangi gerbang mewah rumah Kian, sambil memegang kencang-kencang kepalan, dengan keras dipukulkan ke tembok. Dia berucap dengan suara rendah:

"Ini pasti perbuatan Liu Yam-yo! " Siau Hek-cu juga dengan sorotan mata yang dendam memandang gerbang rumah Kian, berujar dengan geram:

"Pasti disarankan oleh Kian Ta!"

Kie Yam-ke menegakkan pinggangnya, dengan mata menyorotkan hawa membunuh, dia berucap:

"Aku bersumpah akan membasmi Liu Yam-yo dan Kian Ta!"

Siau Hek-cu dengan sewot ikut berkata:

"Betul! Betul! Kie Toako, mari kita kerumahnya membuat perhitungan. Hmmm.... Awas! Kalau mereka sampai tidak menyerahkan Siau-ih Kouwnio!"

"Krekk, krekk" Kie Yam-ke geram hingga giginya gemeretak, lalu menghela napas panjang, katanya:

"Mereka tidak akan begitu bodoh menyandera orang lalu disimpan di rumahnya!"

"Kalau begitu kita melapor saja pada yang berwajib!" Siau Hek-cu berkata dengan marah, "Kalau sudah diadukan kepada yang berwajib, segede apapun nyali mereka, mau tidak mau harus melepaskan orang yang disandera."

Kie Yam-ke berkata sambil tertawa pahit:

"Siau Hek-cu, jangan lupa keluarga Kian punya banyak uang juga berpengaruh, mereka sudah biasa sekongkol dengan pejabat, diadukan pada yang berwajib juga tidak berakibat apa-apa, keluarga Kian banyak duit, asal dijejali dengan setumpuk uang semua masalah akan beres sendiri, malah kita akan dikatakan membuat laporan palsu, urusan tidak beres malah mendapat tambahan masalah!"

Siau Hek-cu tambah gusar dan bimbang: "Lalu kita harus bagaimana?" Kie Yam-ke berkata dengan mantap:

"Jika ingin menolong Siau-ih Kouwnio cuma bisa mengandalkan tanaga kita sendiri, dan dengan cara kita sendiri pula."

Kie Yam-ke bertanya:

"Kenapa tidak ada orang datang melaporkan tentang gerak-gerik Kian Ta? Tadi aku melihat Kian Ta mengganggu wanita di jalan raya. Ketika api melahap Le-it- lou, Kian Ta pun menghilang!"

Mata Siau Hek-cu berair, dengan menangis berkata:

"Kie Toako, entah kenapa anak-anak yang mengawasi rumah Kian Ta dengan tiba-tiba menghilang eniua, karena masalah inilah aku datang mencarimu."

Dengan amat pedih Kie Yam-ke berkata:

"Akulah yang mencelakai mereka, aku terlalu meremehkan Liu Yam-yo. Beberapa saudara kita itu kebanyakan telah dicelakai oleh Liu Yam-yo, harapan selamatnya agak tipis."

Lalu menarik Siau Hek-cu:

"Ayo jalan, kita kerumah Oh Ta-siok, mungkin ada petunjuk yang bisa diambil."

Siau Hek-cu mengangkat tangan menghapus air mata di muka. Mengangguk lalu mengikuti di belakang Kie Yam- ke, tergesa-gesa menuju rumah Oh Ta-siok.

Berdua baru keluar dari lorong, dari depan tergopoh- gopoh datang seseorang, Kie Yam-ke yang melihat segera berhenti. Mata menyorot sinar dingin memandangi orang yang mendekat.

Siau Hek-cu berdiri dekat sekali dengan Kie Yam-ke. Orang itu cepat sekali sudah tiba didepan. Merangkapan dua tangan pada Kie Yam-ke berkata: "Anda Kie Yam-ke bukan?"

Kie Yam-ke mengamari orang ini, tidak menjawab malah balik bertanya: "Anda siapa?"

Dengan asal tertawa orang itu berucap: "Siapa aku tidak penting, tidak perlu disebutkan. Yang penting apa anda ingin mengetahui keberadaan seorang gadis?"

Hati Kie Yam-ke berdebar keras, sinar mata yang tajam bagai pisau menyoroti muka orang itu, dengan suara dingin bertanya:

"Apa anda tahu?" Orang itu mengangguk:

"Tadinya aku tidak tahu. Setelah seseorang minta aku menyampaikan berita ini, aku baru tahu."

Kie Yam-ke menatapi orang itu, dengan suara tajam bertanya:

"Liu Yam-yo?"

Orang itu berkata dengan tertawa:

"Dia siapa aku tidak tahu. Aku pun tidak bertanya, aku hanya melihat dia mengenakan sebuah jubah merah!"

"Ternyata betul dia!" ujar Kie Yam-ke tegas. Lalu dia bertanya, "Liu Yam-yo minta anda menyampaikan berita apa?"

Orang itu berpikir sebentar katanya:

"Katanya, kalau ingin bertemu dengan nona itu. anda segera ke hutan pinus belakang wihara Thian-ning yang berada di luar kota." Kie Yam-ke dengan asal-asalan berujar:

"Terima kasih anda sudah menyampaikan berita ini."

Dia membiarkan orang ini pergi. Siau Hek-cu maju ke depan berebut berkata:

"Kie Toako, dia orang Liu Yam-yo. Jangan biarkan dia pergi!"

Orang itu pura-pura tidak mendengar, terus saja pergi. Siau Hek-cu segera mengejar tapi Kie Yam-ke menahannya:

"Tidak ada gunanya menahan, dia bukan orang Liu Yam-yo!"

Siau Hek-cu paling percaya dan menurut pada Kie Yam- ke, dia pun terdiam.

Kie Yam-ke berpikir sejenak lalu berkata pada Siau Hek- cu:

"Pergilah bantu soal penguburan Oh Ta-siok, biar aku yang menolong Siau-ih."

Dengan gusar Siau Hek-cu berkata:

"Aku ikut, kau seorang diri terlalu berbahaya!" Dengan tegas Kie Yam-ke berkata:

"Siau Hek-cu, kalau kau ikut perhatianku jadi terpecah, penguburan Oh Ta-siok harus segera diurus. Pergilah, aku bisa hati-hati, tidak akan ada bahaya"

Siau Hek-cu yang mendengar merasa ada benarnya, segera mengangguk:

"Baiklah, tapi Kie Toako harus berhati-hati!" Kie Yam-ke mengangguk:

"Jangan kuatir, aku akan hati-hati." Setelah tidah terlihat lagi bayangan Siau Hek-cu, Kie Yam-ke memutar tubuhnya dan mengejar keluar kota.

ooo0dw0ooo

Dalam hutan pinus terasa sunyi, sedikit kegiatanpun tidak ada. Hanya ada suara "SHAAA, SHAAA, SHAAAA"suara angin meniup pohon pinus.

Kie Yam-ke berdiri lama diluar hutan, sepasang mata mengamati keadaan sekitarnya, lalu dia menarik napas memekik ke dalam hutan:

"Liu    Yam-yo,    aku    kemari    memenuhi    janjimu.

Keluarlah!"

Suara seruan masuk ke dalam hutan dan bergema dalam hutan.

Dalam hutan tidak ada reaksi sedikit pun.

Kie Yam-ke menunggu sebentar lalu memekik lagi:

"Liu Yam-yo, kalau kau tidak mau keluar juga, aku akan pergi."

Kali ini ada reaksi, dari dalam hutan terdengar suara tertawa Liu Yam-yo, tertawanya menggoncang dahan- dahan pinus:

"Kie Yam-ke, kupuji keberanianmu!"

Suara tertawanya masih bergema dalam hutan. Tampak bayangan merah berkelebat dari dalam hutan, Liu Yam-yo sudah berjalan keluar hutan.

Dia tidak datang seorang diri, tapi membawa seseorang.

Orang yang satunya itu adalah Siau-ih yang amat dikuatirkan oleh Kie Yam-ke. "Siau-ih!" begitu melihat Siau-ih, Kie Yam-ke tanpa sadar berseru.

Diapun selangkah maju ke depan.

"Berhenti! Selangkah lagi kau maju, aku tidak akan segan-segan bertindak!" Pedang pendek Liu Yam-yo dengan ketat menyentuh punggung Siau-ih yang pucat pasi dan rambutnya acak-acakan itu.

Mendengar itu Kie Yam-ke pun berhenti, tidak berani maju lagi. Sinar matanya terlihat penuh perhatian dan sayang memandangi Siau-ih.

Siau-ih yang melihat Kie Yam-ke, hatinya merasa senang luar biasa, dia ingin sekali mendekat Kie Yam-ke, ikan tetapi ditarik oleh Liu Yam-yo, sambil berkata:

"Kalau belum mau mampus jangan berbuat macam- macam!"

Tubuh mungil Siau-ih tergetar, dia segera berhenti dengan memelas berseru:

"Kie Toako!"

Kie Yam-ke memandangi Siau-ih yang sedih dan gugup.

Hati Kie Yam-ke memanas, segera berujar: "Siau-ih kau tidak apa-apa?"

Liu Yam-yo berebut menjawab:

"Jangan kuatir. Aku tidak memperkosa dia. Dia tetap masih perawan!"

Kie Yam-ke dengan marah menghardik:

"Liu Yam-yo, kau bukan manusia, dengan cara yang keji berani menahan gadis yang lemah!" "He...he...he"Liu Yam-yo berujar, "Asal tujuan tercapai, aku akan menghalalkan segala cara!"

Kie Yam-ke berisaha meredakan amarahnya, dengan dingin berkata:

"Apa yang kau inginkan?"

Sorotan mata Liu Yam-yo tambah keras:

"Asal kau memenuhi satu syarat, aku akan segera melepaskan dia!"

Kie Yam-ke yakin pasti syaratnya yang sulit diterima. Tapi demi Siau-ih, orang yang pertama kali di sayangi seumur hidupnya ini, dia tidak ragu-ragu, tanyanya:

"Apa syaratnya?"

Liu Yam-yo tidak merasa khawatir sebab ada Siau-ih dalam genggamannya. Dia sudah yakin diatas angin....

Tertawa dingin bagai menusuk tulang, sinar api dalam mata menyorot tajam, berkata dengan sehuruf-huruf:

"Asal kau mau bunuh diri disini, aku akan segera melepaskan nona ini.!"

Perkataan Liu Yam-yo bagaikan martil memukul hati Kie Yam-ke dan Siau-ih. Siau-ih berkata sambil menangis:

"Kie Toako, kau tidak boleh mati, jangan penuhi kemauannya!"

Pedang pendek yang ditekankan pada punggung Siau-ih tambah keras. Ujung pedangnya sudah masuk ke dalam daging, Siau-ih kesakitan sampai bergetar dan memekik.

Kie Yam-ke melihat Siau-ih memekik kesakitan. Dia bagaikan terkena sabetan pisau, hatinya bertambah kesal, matanya menyorot nafsu membunuh. Dengan dingin ia berkata: "Liu Yam-yo, kalau kau berani mengusik dia barang sedikit saja, aku pasti membunuhmu!"

Liu Yam-yo yang merasa punya pegangan, jadi tidak gentar dan dengan suara keras berkata:

"Kie Yam-ke untuk apa kau galak-galak, kalau kau macam-macam, dia dulu yang aku bunuh!"

Kie Yam-ke tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia menghela napas, bibir bergoyang-goyang, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Siau-ih berebut menghalangi:

"Kie Toako, jangan menuruti. Dia tidak akan melepaskan aku. Dia telah menyanggupi Kian Ta, kau mati dan dia akan menyerahkan aku pada Kian Ta!"

Kie Yam-ke mengaum seperti singa ngamuk: "Betul begitu Liu Yam-yo?"

Liu Yam-yo terkejut setengah mati melihat rupa muka Kie Yam-ke, dengan sulit dia berkata:

"Bukan begitu. Kau jangan dengar bualannya. Tapi kalau kau ragu-ragu, aku akan betul-betul menyerahkan dia pada Kian Ta!"

Dalam mata Kie Yam-ke penuh hawa membunuh: "Coba saja kalau berani!"

"Kenapa tidak berani, masalah apapun aku berani lakukan!"

Sedikit agak mengalah Kie Yam-ke bertanya: "Liu Yam- yo, kenapa kau ingin membunuhku terus?"

Sinar membara mata Liu Yam-yo berloncatan: "Karena kau teman Kao Ceng, mungkin Kao Ceng mengetahui rahasiaku dan mengatakan padamu. Maka aku bagaimana pun harus membantaimu!"

Kie Yam-ke mendesah:

"Kalau aku mengatakan aku tidak tahu rahasiamu, Kao Ceng juga tidak tahu, kau percaya tidak?"

Dengan tertawa Liu Yam-yo berkata:

"Aku bisa percaya, tapi demi menghindarkan kesalahan, terpaksa tidak percaya, sampai manapun tidak percaya!"

Kie Yam-ke cepat-epat menyambung:

"Apa benar kalau aku mati. kau baru mau melepas Siau- ih?"

Liu Yam-yo dengan pasti menjawab:

"Betul!"

Dua alis Kie Yam-ke melayang, dengan tegas berkaa: "Baik aku setuju, tapi aku juga punya satu syarat!" Sinar mata Liu Yam-yo tambah ganas, dia bertanya: "Katakan apa syarat kau itu?"

Dengan tegas Kie Yam-ke berkata:

"Gampang saja, Lepaskan dulu Siau-ih!" Siau-ih meronta-ronta sambil memekik:

"Kie Toako, kau tidak bqleh mati, jangan mengikuti kemauannya. Jangan demi aku kau menuruti syaratnya. Kau harus menuntut balas demi Liu Pau dan lainnya!"

Tiba-tiba Liu Yam-yo menotok titik nadi bisu Siau-ih, membuat sekujur tubuhnya bergetar, tidak sanggup memekik, sepasang mata terlihat memohon. Kie Yam-ke marah:

"Kenapa kau totok titik nadi bisu dia?"

"Agar tidak ribut terus, mengganggu pembicaraan kita!" Kie Yam-ke tidak bisa apa-apa, katanya:

"Kau setuju tidak syaratku?"

Dengan suara melengking Liu Yam-yo berkata:

"Kalau aku melepaskan dia, dan kau mengingkari janji, bukankah aku kecolongan?"

Kie Yam-ke dengan kukuh berkata:

"Perkataanku berat bagaikan gunung, apa yang telah diucapkan pasti dilakukan, tidak akan mengingkari janji!"

Sepasang mata Siau-ih dengan sangat memohon dan memandangi Kie Yam-ke tapi tidak bisa menyampaikan perasaannya, hatinya terasa gusar, dia ingin sekali menabrakan dirinya, mati di depan Kie Yam-Ke agar Kie Yam-ke tidak akan bunuh diri demi dirinya, sayang, dia tidak bisa bergerak sedikitpun, saking gusarnya, hatinya hancur berkeping-keping.

Tapi Kie Yam-ke sengaja meneguhkan hati tidak mau memandangi Siau-ih.

Lama sekali Liu Yam-yo memandangi Kie Yam-ke akhirnya membuka suara:

"Baiklah aku setuju melepaskan dia dulu!" mulut-nya berkata demikian, lain pula rencana hatinya, lama berpikir setelah melepaskan Siau-ih, menunggu sesudah Kie Yam-ke bunuh diri, dia bisa menangkap siau-ih lagi, dan dipersembahkan pada Kian Ta. Ini bakal sempurna kedua- duanya, kenapa tidak segera menerima? Waktu itu Kie Yam-ke sudah mampus, dia menyesalpun sudah tidak bisa apa-apa lagi.

Itulah pendapat dan pemikirannya.

Akhirnya jalan darah bisu Siau-ih diurainya. Sebelum Siau-ih berkata, dia telah mendorong Siau-ih sambil berkata:

"Nona kau boleh pergi, pergilah sejauh mungkin!"

Luar dugaan, Siau-ih bukan saja tidak menjauh, malah membalikan tubuh menubruk pedang pendek yang tadi menekan di punggungnya itu!

Liu Yam-yo tidak menyangka Siau-ih tidak mencari kehidupan malah mencari kematian, dia terkejut, hingga terlambat sedikit menarik pedangnya. Pedang pendek yang masih dipegang di tangannya sudah menusuk di antara dada dan perut Siau-ih yang datang menubruk itu, terbenam hingga tangkai pedang, ujung pedang dengan sedikit muncungnya membawa darah tembus sampai punggung Siau-ih!

Kie Yam-ke bagaimana pun tidak menduga Siau-ih mengorbankan kematiannya untuk mencegah dan membatalkan perjanjian mautnya dengan Liu Yam-yo, karena peristiwa datang mendadak ini, mau menolong pun sudah tidak keburu. Dengan mata terbelalak memandang Siau-ih menubrukan tubuhnya pada pedang pendek Li Yan Yang, dia amat terguncang, bagaikan disambar petir terpaku di tempatnya!

Liu Yam-yo pun dibuat tercengang dan membelalakkan mata oleh perbuatan nekat Siau-ih. Dia bengong di tempat dan lupa mencabut pedang pendek yang tertancap di tubuh Siau-ih itu. "Kie Toako, balaskan dendam Lu Pau... Ayah... dan Aku..."sebelum menghembuskan napas terakhir, Siau-ih masih sempat berpesan pada Kie Yam-ke.

Pesan terakhir yang terputus-putus dan lemah mi bagaikan petir di siang hari bolong, menggetar hebat tubuh Kie Yam-ke, tiba-tiba dia terbangun dari bengongnya, memekik dengan suara parau dan sedih:

"Siau-ih... kau tidak boleh mati, kau jangan meninggalkan aku...! "seperti macan gila menerjang dan menyerbu Siau-ih yang pelan-pelan rubuh ke tanah itu.

Liu Yam-yo pun tergetar oleh perkataan -perkataan Siau- ih yang terputus-putus itu, secepat pula dia mencabut pedang pendeknya dan meloncat mundur!

Muka Kie Yam-ke memucat mata memerah, lipat waktu menangkap dan menggendong Siau-ih, mendekap kencang- kencang tubuh Siau-ih yang lemah lunglai itu di depan dadanya. Bergumam sendiri:

"Siau-ih, Siau-ih, janji padaku kau tidak akan meninggalkan aku...tidak, tidak akan meninggakan aku...

..........Tapi Siau-ih selamanya sudah tidak bisa menjawab lagi!

Kie Yam-ke sudah seperti orang cingong (bodoh sekali), terus saja mendekap kencang-kencang mayat Siau-ih, berdiri bengong, tidak jelas bergumam apa, sorotan matanya hampa.

..........Sebenarnya hatinya sedang menetes darah!

Liu Yam-yo berdiri beberapa meter di sana, melihat Kie Yam-ke dalam keadaan kosong, mukanya resah dan risau tidak menentu, bola mata berputar-putar. Dia berpikir untung rugi dalam hati, sebaliknya saat ini paling baik menyerang Kie Yam-ke sebab saat ini dia seperti kota yang tidak berpengangan kalau diserang pasti hancur.

Akhirnya dalam hatinya mendapatkan sebuah keputusan.

Seperti seekor rubah tua yang licik, Liu Yam-yo bergeser dengan pelan-pelan, terus sampai sisi belakang Kie Yam-ke, dia baru berhenti, lalu bagaikan ular berbisa sama sekali tidak bersuara menyelinap dekat pada Kie Yam-ke.

Kie Yam-ke bagaikan kerangka tubuh yang tanpa nyawa, bengong berdiam disitu, sama sekali tidak merasakan dengan gerak-gerik Liu Yam-yo.

Apakah begitu? Hanya dia sendiri yang tahu. Paling sedikit luarnya terlihat begitu adanya.

Akhirnya Liu Yam-yo sudah mendekat ke tubuh Kie Yam-ke, dalam jarak dekat secepat kilat pedangnya menusuk Kie Yam-ke!

Sebuah serangan pedang yang mematikan menusuk titik nadi punggung Kie Yam-ke!

Pedang dengan cepat menusuk, sudah mengenai baju yang dikenakan!

Kie Yam-ke tetap seperti yang tidak merasakan!

Dalam hati Liu Yam-yo amat gembira, tusukannya tambah di percepat!

Moncong pedang telah menyentuh daging! Kegirangan Liu Yam-yo mau tertawa keras.

Sekejap itulah Kie Yam-ke seperti terkena stroom, tubuhnya bagaikan ikan dalam air meluncur, sekali pelintir sekali memilin. Sekali pelintir sekali memilin membuat semua harapan Liu Yam-yo meleset, entah bagaimana pedang pendek yang sudah menyentuh daging Kie Yam-ke pun tahu-tahu melesat hanya menggores sedikit punggung Kie Yam-ke, baju sobek lukapun berdarah. Pedangnya meleset ke pinggir tidak mengenai sasaran dengan telak!

Kie Yam-ke berputar tubuh seperti angin berpusing, sambil tetap memeluk tubuh Siau-ih yang mulai mendingin, melayang dengan mata yang geram. Dengan wajah menakutkan menggaur keras seperti geledek:

"Liu Yam-yo, aku bersumpah hari ini aku harus membunuhmu!"

Orang seperti Liu Yam-yo, bisa terkejut sampai mundur selangkah oleh wajah dan pekikan Kie Yam-ke, setelah bergidik sebentar, mundur lagi selangkah.

Dia ingin sekali memutar tubuhnya segera kabur!

Kie Yam-ke melihat pun tidak padanya, memandang dalam-dalam Siau-ih dalam pelukannya yang bagai sudah tertidur nyenyak, seperti takut dia terkejut dan bangun pelan-pelan membungkukkan tubuh, dengan amat hati-hati menaruh tubuh mungil Siau-ih di tanah.

Saat ini belakang punggung Kie Yam-ke kosong!

Sinar tajam di mata Liu Yam-yo menyorot tidak menentu, muka berubah-ubah, tidak bisa mengambil keputusan dalam kesempatan ini kabur atau bertarung hidup mati, satu lawan satu!

Kesempatan yang sekilat sudah berlalu. Waktu Liu Yam- yo selesai mengambil keputusan, kesempatan telah berlalu, tiba-tiba Kie Yam-ke berdiri, mukanya menghadap Liu Yam-yo. Kie Yam-ke bagai berubah menjadi orang lain. dia berdiri mantap seperti sebuah gunung. Sinar matanya seperti pisau tajam menusuk muka Liu Yam-yo.

Suara yang mendalam dan rendah membuat hati Liu Yam-yo menyembul perasaan ngeri:

"Liu Yam-yo, sudah boleh dimulai!" dia berkata sambil mengeluarkan Liang-thian-cinya (mistar)!

Liu Yam-yo pernah kalah oleh Kie Yam-ke, dia mengerti hanya mengandalkan Lie-yang-sin-kang tidak akan bisa mengatasi Kie Yam-ke, pedang pendeknya segera diacungkan:

"Kie Yam-ke, jangan dikira aku takut padamu!"

Kie Yam-ke tidak menjawab, mistarnya menekan alis, dua mata diam memandang tubuh Liu Yam-yo yang bagaikan api menyala, diam tidak bergerak.

Liu Yam-yo pun tidak sembarangan bergoyang. Saat ini dari dalam hatinya muncul perasaan ngeri, menelan seteguk udara, sekuatnya menekan perasaan itu, sepenuh hati memandang Kie Yam-ke.

Dua orang sudah saling berhadapan.

Tapi -hawa membunuh dari keduanya terasa amat kental dan memenuhi udara, mereka sedang beradu kekuatan yang tidak berujud!

Akhirnya Liu Yam-yo yang sudah tidak tahan.

Sambil meraung keras, tubuhnya bagaikan roket meluncur miring dekat sekali dari Kie Yam-ke, tiba-tiba meluncur ke atas, tubuhnya melintir berputar menyembur cepat keatas sampai beberapa meter, lalu bersalto menukik kebawah seperti segumpal awan berapi menutup ke bawah membawa pedang api yang merah menyala, bergoyang- goyang semua menyelubungi kepala Kie Yam-ke!

Kie Yam-ke bagai tidak melihat serentetan gaya yang berubah terus dari Liu Yam-yo ini. Tubuhnya tetap tidak bergerak sampai awan berapi bintang-bintang dan titik-titik merah menyala sudah mendekat, saat itulah mistar yang menekan dua alisnya itu tiba-tiba mengangkat dan menari- nari di udara.

Terlihat sinar merah bertitik-titik dan awan hitam saling baradu tepat diatas kepala Kie Yam-ke, mengeluarkan serentetan suara keras dan cepat, "CRINGGG, CRINGGG, CRINGGG!" suara belum berhenti, sinar merah titik menyala tiba-tiba lenyap, awan hitam juga mengikuti lenyap. Mistar menekan lagi di atas dua alis Kie Yam-ke, tapi Liu Yam-yo seperti selembar awan merah melayang jatuh ke tanah yang jauh.

Kie Yam-ke tetap tidak bergerak.

Tapi Liu Yam-yo seperti anak panah meluncur ke depan, pedang pendek dalam tangannya menekan dan memuntahkan kobaran api, dengan menggila menyerang Kie Yam-ke.

Tepat saat itulah Kie Yam-ke pun mulai bergerak! Bergerak bagai kelinci lepas, menyongsong gempuran

Liu Yam-yo.

Sebentar saja, keduanya sudah saling bergumul. "CHIANGGG, CHIANGGG, CHIANGGG!" terdengar

serentetan suara senjata beradu, pedang pendek seperti bara api gila-gilaan menggulung Liang-ihian-ci, juga bagaikan naga hitam melonjak-lonjak dan membumbung sinar merah dan bulir hitam mengikuti labuh keduanya, bergerak bergoyang seperti terbang saling bergumul dan bertempur, tenaga keras memukul menimbulkan angin ribut, hawa membunuh sudah bertambah kental saja.

ooo0dw0ooo

Akhirya sinar merah bulir hitam cepat melenyap dan buyar semua. Dua bayang orangpun dengan cepat berpisah.

Kie Yam-ke berdiri dengan mistarnya tetap menekan di alisnya. Pedang pendek Liu Yam-yo mengacung agak serong. Romannya amat bengis, dadanya naik turun, tangan kiri terjuntai ke bawah, pundaknya ada darah menetes.

Bagaian bawah baju Kie Yam-ke robek-robek. Sepintas tampak Liu Yam-yo menderita kalah lagi.

Sinar mata Liu Yam-yo berkedip-kedip agak lama. Tiba- tiba dia memekik keras, tubuhnya mulai bergerak.!

.........Bukan menyerang dan menyerbu Kie Yam-ke, tapi sekali membalik meloncat, lari tunggang langgang masuk ke dalam hutan pinus. Dia ingin kabur.

Bagaimana pun Kie Yam-ke tidak rela membiarkan dia kabur, sambil meraung keras tubuhnya bagaikan anak panah lepas dari busurnya, melejit dan mengejar Liu Yam- yo.

Dua bayangan orang, satu merah satu hitam, sekejap saja sudah hilang di dalam hutan itu.

Begitu Liu Yam-yo masuk ke dalam hutan, tangannya membalik dengan pedangnya dia langsung memapas putus sebuah pohon pinus, dia terus meloncat menerobos masuk ke tengah hutan. Pohon yang roboh, tepat menghalangi Kie Yam-ke yang kencang mengejar.

Kie Yam-ke tidak peduli lagi, dia mengangkat lelapak memukul terbang pohon roboh itu, sedikitpun tidak berhenti pengejarannya!

Sambil berloncatan kabur pedang pendek Liu Yam-yo terus-terusan membabat pohon di dua sisi di sepanjang jalan, dia berusaha menghambat pengejaran Kie Yam-ke!

Kie Yam-ke menggunakan telapak menghantam, dengan mistar memukul, semua pohon pinus yang roboh ke depannya ditangkis terbang. Dengan paksa membuka sebuah jalan, bukan saja dia tidak terhambat malah bisa bergerak cepat, terlihat lawannya sudah akan terkejar!

Melihat siasatnya tidak bisa menghambat Kie Lam-ke, Liu Yam-yo menjadi gusar. Tiba-tiba dia menegakkan tubuh dengan pedang pendeknya membuat sebuah lingkaran sinar api yang menyala-nyala. dipalangkan dengan memapas pinggang dan perut Kie Lam-ke yang datang mengejar!

Kie Yam-ke terpaksa berhenti, mistarnya dengan cepat dipukulkan, "TENGGG", pedang pendek lawannya bentrok dengan keras!

Meskipun pedangnya terpental, Liu Yam-yo berhasil menghentikan langkah Kie Yam-ke, melihat maksudnya tercapai, ujung kakinya menghentak, tubuh melompat ke aras sebuah pohon pinus, menginjak dahan berlari cepat!

Dilihat sekilas seperti segumpal awan merah bergelinding si udara!

Kie Yam-ke sudah memutuskan harus membunuh Liu Yam-yo, bagaimanapun tidak akan membiarkan dia kabur, sekali berhenti dia menerjang lagi. Kali ini dia merubah cara mengejarnya, tidak mengikuti melompat dan mengejar ke pucuk pohon, tapi cepat melayang melompat sambil menghantamkan telapak dan menyabetkan mistarnya mengejar Liu Yam-yo yang berlompatan di pucuk pohon, dia merobohkan pohon- pohon di depan memaksa Liu Yam-yo turun lagi ke tanah!

Karena Kie Yam-ke menginjak tanah tentu saja gerakannya lebih cepat dari Liu Yam-yo yang melompat di pucuk pohon, sebentar saja Liu Yam-yo sudah terkejar!

Satu diatas pohon yang sarunya di atas tanah, setelah terkejar, pinus di depan langsung dihantam dengan mistar, kebetulan Liu Yam-yo sedang menyeberang dari pohon ini ke pinus yang dirobohkan Kie Yam-ke ini, dengan begini hilanglah pohon pinus tempat injakan Liu Yam-yo.

Liu Yam-yo tidak menyangka pohon yang akan di injaknya lebih dulu patah, tubuhnya di udara tidak ada topangan lagi, terus terjatuh ke bawah.

Kie Yam-ke sudah menunggu di bawah.

Liu Yam-yo terkejut luar biasa. Tangan melayang, segumpal sinar merah meluncur dari tangannya dan dihamburkan pada tubuh Kie Yam-ke yang berdiri di bawah sedang menunggu dia jatuh ke tanah!

Waktu itu juga dia mengangkat hawa murninya, tubuh yang jatuh tersentak, dia melayang ke pinggir menuju pohon pinus yang lain!

Bayangan hitam berkilat menerpa "BOOMMM" terdengar suara keras, meledak di tempat tadi Kie Yam-ke berdiri. Kobaran api melonjak-lonjak, rumput dan pohon terbakar meluas sampai jauh. Kalau Kie Yam-ke tidak keburu menghindar tapi tetap berdiri di situ tentu sudah hangus oleh api dan ledakan itu menjadi arang!

Untung Kie Yam-ke sudah menghindar bagaikan iblis, sebelum bahan peledak amunisi itu menyentuh tanah, seperti mengetahui Liu Yam-yo akan melayang ke samping pohon, sekali bergoyang dia lebih dulu selangkah di depan, melompat ke depan pohon pinus itu dengan mistarnya menghantam tubuh pohon, dirinya meluncur dan melompat ke atas.

Tepat Liu Yam-yo mau menginjak pucuk pohon itu, "KREKKK" pohon pinus itu patah dari tengah, tentu saja Liu Yam-yo jadi menginjak kosong, saat ini napas udah habis, tubuhnya sudah tidak mampu mengangkat lagi, dia meluncur terus ke bawah!

Kebetulan bertemu Kie Yam-ke yang sedang meluncur ke atas!

Saat Liu Yam-yo sadar mau menghindar sudah terlambat!

Bulir-bulir hitam muncul dan berkilau. Liu Yam-yo mengerang mengenaskan dan memilukan, tubuhnya ang meluncur jatuh tiba-tiba terlempar ke kiri "BRUMMM!" dia sudah tidak keburu menghindar langsung menghantam sebuah pohon pinus, terdengar "KRRAAKKKK" Pohon pinus itu pun tumbang. Liu Yam-yo bagaikan seonggok batu meteor, cepat sekali terhempas ke tanah!

"POPPP!" tubuh Liu Yam-yo sudah seperti setumpuk tanah becek terlempar dan terjatuh di tanah, sudah tidak bisa bergerak lagi.

Tadi mistar Kie Yam-ke berhasil menghantam punggung Liu Yam-yo, mematahkan pinggangnya, tulang pinggang remuk dihantam sampai tidak tertahan, tubuhnya pun menghantam tubuh pohon hingga roboh. Jeroannya pasti terluka parah sekali, dia terlempar jatuh di tanah, sudah tidak akan hidup lagi!

Kie Yam-ke cepat-cepat melayang ke sampingnya, cepat- cepat menunduk, membalikan tubuh Liu Yam-yo. Tampak mukanya yang merah semua sudah berubah menjadi ungu gelap, dari sudut mulutnya mengeluarkan serat-serat darah, dua mata sudah mau meram, tubuhnya sudah lesu, udara yang keluar banyak yang masuk sedikit, pasti tidak bisa hidup lagi!

Kie Yam-ke menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras bertanya:

"Liu Yam-yo, jawablah, kau punya rahasia apa sampai membunuh banyak orang, katakan cepat!"

Di bawah goncangan dan pekikan Kie Yam-ke, Liu Yam-yo agak membuka matanya, payah dan tidak bertenaga memandang Kie Yam-ke, bibir bergerak-gerak, dengan suara terputus-putus dan lemah berkata:

"Aku... tidak akan... mem... memberi tahu... padamu, sampai aku... aku matipun... rahasia ini... akan dibawa... ke bawah tanah... kau... selamanya... tidak akan tahu..." tiba- tiba dia muntah darah, matanya pun menutup, kepalanya belok ke samping, tubuh kejang-kejang, akhirnya mati.

Pelan-pelan Kie Yam-ke menaruh Liu Yam-yo, menegakkan tubuh memandangi api besar yang membumbung dan membakar. Bergumam sendiri, "Hanya demi rahasia yang diketahui olehmu seorang, kau membunuh banyak orang, membunuh Lu Pau, Siau Li-cu, Siau-ih, Ya Tuhan, bukankah ini sudah keliwat kejam?" Dengan muka sempoyongan muka bimbang, Kie Yam- ke berjalan keluar hutan pinus. Dengan enteng-enteng menggendong mayat Siau-ih, selangkah-selangkah berjalan menjauh!

Di belakang tubuhnya api membakar hutan pinus, sinar api membumbung ke langit berbunyi,

"POPPP POPPP" cepat sekali seluruh hutan pinus sudah menjadi lautan api, tentu saja mayat Liu Yam-yo juga lerkubur dalam lautan api yang dibuat oleh dirinya sendiri.

Orang yang main api pasti akan terbakar sendiri, pass sekali untuk menyimpulkan kondisi Liu Yam-yo.

Liu Yam-yo sudah mati, rahasianya mengikuti kematiannya, terkubur dalam kobaran api, selamanya tidak ada orang yang mengetahuinya. Dia tidak mau ada orang yang mengetahui rahasianya, terlaksana sudah keinginannya!

Kira-kira 10 hari sesudahnya, tersiar berita Kian Ta anak tunggal orang terkaya kota Yang-ciu Kian Jit-san secara aneh telah meninggal diatas ranjang dalam kamar tidurnya, di depan dadanya menancap sebilah pisau yang mengkilap. Di gagang pisau terikat secarik kertas yang bertuliskan:

"Kie Yam-Ke yang membunuh Kian Ta!"

Anak tunggal Kian Jit-san terbunuh, tentu saja dia sedih bukan main seperti ditinggal orang tua meninggal. Dendam kepada Kie Yam-ke yang membantai Kian Ta, seperti ingin mengupas kulit dan menelan dagingnya, akhirnya dia adukan pada yang berwajib!

Pihak yang berwajib segera mengirim orang, mendatangi rumah Kie Yam-ke ingin menangkap, tapi Kie Yam-ke sudah menghilang! Kian Jit-san tidak mau sudah, sogok keatas kebawah, akhirnya yang berwajib membuat poster ke seluruh kota untuk menangkap Kie Yam-ke dan hebohlah seluruh kota Yang-ciu.

Sebenarnya dimana Kie Yam-ke berada, tentu banyak orang ingin mengetahuinya, paling sedikit Kian Jit-san ingin mengetahuinya, yang berwajib juga ingin mengetahuinya, demi uang hadiah penangkapan sebesar 50 ribu tail siapapun ingin mengetahuinya.

Ternyata Kian Jit-san demi untuk menangkap Kie Yam- ke dari kocek peribadi mengeluarkan uang hadiah penangkapan sebesar 50 ribu tail!

50 ribu tail bukan uang sedikit, untuk ukuran waktu itu ini adalah sebuah hitungan yang menakutkan, sebuah kekayaan, maka banyak orang kemana-mana mencari tahu keberadaan Kie Yam-ke!

Kalau dikatakan kota Yang-ciu tidak ada orang yang mengetahui keberadaan Kie Yam-ke, pasti tidak ada yang percaya, tapi kenyataannya memang begini adanya.

Sebab Siau Hek-cu saja tidak mengetahui dimana Kie Yam-ke berada. Dia hanya tahu semalam sebelum Kian Ta terbunuh, Kie Yam-ke pernah bilang mau berkelana kemana-mana, mau pergi ke tempat yang jauh!

Bumi dan langit besar begitu, dibandingkan seseorang, hanya kecil bagaikan setetes air dalam samudra raya. Kalau benar Kie Yam-ke sudah pergi, itu sama dengan mencari jarum dalam lautan, tidak akan menemukan jejaknya!

Membawa hati yang linglung dan sedih Kie Yam-ke benar-benar telah meninggalkan kota Yang-ciu, meninggalkan tempat yang menyedihkan, membuat dia kehilangan seorang gadis yang amat dicintainya, kasihan dia seorang diri menempuh perjalanan sampai telaga yang tidak bertepi dan penuh bahaya.

ooo0dw0ooo