--> -->

Kesatria Berandalan Bab 3

Bab 3

Saudara dan sahabat terbunuh.

Bulan remang-remang menerangi Yang-ciu. Yang-ciu adalah tempat bertemunya saudagar saudagar pengusaha, perdagangan amat makmur, tentu saja tempat hiburan dimana-mana dan ramai luar biasa.

Lampu-lampu mulai dinyalakan, saat ini adalah saat paling ramai di kota Yang-ciu, terutama tempat-tempat mesum.

Saat ini Lu Pau melalui jalan besar berputar masuk berjalan melintang yang terang dengan lampu-lampu pusat perkumpulan rumah-rumah bordil kelas menengah di kota Yang-ciu.

Lu Pau adalah berandalan local kota Yang-ciu.

Germo-germo ditempat-tempat begitu semua kenal dia, juga segan padanya, melihat dia melintas cepat-cepat mereka menyapa, Lu Pau dengan tertawa balik menyapa mereka tapi dia tidak berhenti, dia terus saja berjalan.

Akhirnya dia sampai di rumah bordil yang berada paling ujung dari jalan itu, memegang-megang uang dalam sakunya, dia menengadahkan muka memandang lentera yang digantung di atas pintu utama yang bertuliskan Liu- hiang-hoan 3 huruf, dia tertawa girang, masuk ke dalam dengan langkah yang mantap.

Kebetulan seorang germo yang agak gemuk dan setengah baya keluar dari halaman, matanya yang tajam melihat Lu Pau yang baru masuk, muka yang penuh dengan tawa buatan, dengan dibuat-buat berseru pada Lu Pau, melangkah kecil-kecil, lenggak-lenggok sambil memainkan sapu tangan kecil di tangannya, menghampiri sambil berujar:

"Lu-ya, beberapa hari ini kemana saja? Bayangan pun tidak tampak, kasihan Siau Ang-to sakit rindu terus tiap hari memikirkanmu. Ah, akhirnya kau datang juga. Lu-ya, masuklah, dia sudah menunggu."

Serangkaian pembicaraan itu membuat Lu Pau yang tinggi besar, mukanya menjadi merah karena kikuk dan malu, sepasang tangan besar saling memegang, dia hanya bisa tertawa pada germo itu.

Germo itu mendekat ke sisi Lu Pau, tubuhnya berputar, dengan genit melirik Lu Pau, dengan centil berujar: "Ayo Lu-ya, koq masih diam terus? Apa perlu aku mengantarmu masuk?"

Lu Pau tertawa, cepat-cepat berujar: "Tidak perlu, aku segera masuk," Sambil berkata dia mengeluarkan uang, menyelipkan ke tangan germo yang gemuk dan putih itu. Sekelebat berlalu dari sisi si germo, dengan langkah yang ringan masuk ke dalam.

Setelah ada uang di tangannya, kali ini tawanya germo betul-betul keluar dari dalam hati, dengan nada yang ditinggikan berujar pada Lu Pau yang berjalan cepat:

"Lu-ya, hati-hati jangan sampai salah pintu, Siau Ang-to menunggumu dalam kamar paling ujung."

Lu Pau sudah tidak sempat menjawab, kakinya berjalan terasa bertambah cepat dan ringan.

ooo0dw0ooo

Siau Ang-to adalah teman baiknya, asal sakunya berduit, dia juga ada kebutuhan, dia pasti datang mengunjungi Siau Ang-to.

Membayangkan tubuh Siau Ang-to yang molek, putih halus dan montok, hati Lu Pau menjadi dak dik duk. tenggorokannya terasa kering dan panas, dia menelan ludah, langkahnya dipercepat, dia mulai kesal dan tidak tahan lagi.

Akhirnya tiba juga di depan kamar Siau Ang-to.

Sekali lagi Lu Pau menelan ludah, berdiri di depan kamar menarik napas dalam-dalam, memanggil ringan dengan suara serak:

"Siau Ang-to, aku sudah datang, cepat bukakan pintunya." Di dalam pintu tidak ada reaksi sama sekali, ditunggu sejenak, Lu Pau sekali lagi berseru enteng:

"Siau Ang-to, kenapa tidak dibuka pintunya?"

Dalam kamar tetap tidak ada suara Siau Ang-to. Lu Pau mulai tidak sabar, dia menjulurkan tangan mengetuk pintu.

Siapa sangka begitu tangan menyentuh pintu, 2 daun pintunya sudah membuka sendiri, ternyata tidak dikunci, hanya ditutup rapat saja.

Lu Pau mengira Siau Ang-to sengaja mau godanya, dia tidak mengambil peduli, dia tersenyum dengan langkah besar masuk ke dalam kamar.

Dalam kamar lampu menyala terang, begitu masuk Lu Pau langsung melihat tubuh Siau Ang-to yang putih halus, dan montok itu terbaring di atas ranjang, mukanya menghadap ke dalam, sebelah pahanya agak terbuka, gayanya amat menggiurkan.

Detak jantung Lu Pau bertambah cepat, tenggorokkan terasa kering, matanya tambah bersinar, dengan rakus menatap tubuh yang menggiurkan itu, dengan langkah yang lebih dipertenteng, dia mendekat sambil memanggil:

"Siau Ang-to."

Siau Ang-to bagaikan tertidur lelap, tidak ada reaksi sama sekali.

Setelah Lu Pau sampai di depan ranjang dan berdiri, sorotan matanya dengan rakus berputar-putar di sekujur tubuh Siau Ang-to yang bugil dan menggiurkan ini, menjulurkan sepasang tangan, dengan pelan mengusap paha dan pundak Siau Ang-to yang putih bersih, lalu berseru lagi:

"Siau Ang-to!" Seruannya belum habis, sekujur tubuhnya bagaikan disengat tawon saja, dengan cepat menarik lengan mundur selangkah besar, wajah dan matanya penuh rasa terkejut!

Ternyata begitu sepasang tangannya menyentuh tubuh Siau Ang-to yang putih bersih itu, mendadak merasakan tubuh yang pada umumnya hangat itu terasa dingin!

Keadaan begini, hanya ada satu untuk mengartikan jawaban ini, Siau Ang-to sudah mati!

Karena muka Siau Ang-to menghadap ke dalam. Lu Pau sejak awal sampai sekarang tidak bisa melihat wajahnya.

Setelah menenangkan diri sebentar. Lu Pau membungkukkan tubuh dengan tangan menekan pundak Siau Ang-to, memutarkan tubuhnya menghadap ke atas wajah Siau Ang-to.

Setelah matanya menyorot muka Siau Ang-to, sekujur tubuh Lu Pau bagaikan mendadak terjatuh dari panas bertekanan tinggi 100 derajat ke jurang berbalok es, mimik mukanya berubah hebat, tersentak bengong dan berdiri kaku di tempatnya!

Tidak salah lagi Siau Ang-to sudah tewas, malah sudah mati selama lebih dari setengah jam, sebab lehernya yang putih bagai salju itu, di bagian tenggorokan ada sebuah lubang sebesar ujung jari kelingking, lubang darah inilah penyebab kematian Siau Ang to, darah di atas lubang itu sudah membeku, ada segumpal kecil darah membeku di atas payudaranya, diatas dan bawah seluruh tubuhnya tidak ada luka yang lain.

Tapi dalam mata Siau Ang-to yang membelalak besar membeku terbersit mimik yang tercengang dan kurang percaya. Nyata-nyata Siau Ang-to dibunuh oleh seorang pengunjung hidung belang!

Akhirnya Lu Pau tersadar dari keterkejutannya, dia berteriak histeris bagaikan singa kelaparan, memegang keras kedua buah kepalannya, rambut berewok seolah-olah berdiri. Dia memekik keras:

"Siapa yang membunuhnya? Siapa yang membunuhnya..."

"Aku!"

Sepatah kata yang pendek, tapi amat bertenaga muncul dari balik ranjang, selanjutnya sinar merah berkilauan berputar keluar dari ranjang

Saat ini Lu Pau sudah hilang kesadaran, sebab Siau Ang- to adalah wanita kesayangannya, dia tidak memperdulikan statusnya, pokoknya wanita ini yang paling dicintai seumur hidupnya! Membentak keras, dia sudah tidak peduli lagi yang muncul dari balik ranjang itu manusia atau hantu, kepalannya diangkat langsung dihantamkan!

Siapa yang membantai Siau Ang-to akan dibantai lagi!

Dia mau membalas dendam demi Siau Ang-to!

Tapi saat kepalannya akan mengenai sasaran, seketika berhenti bagaikan melihat setan iblis, mimiknya berubah hebat, dia mundur selangkah besar, dengan suara terkejut dan ragu berkata:

"Ternyata kau!"

"Betul, aku yang bermarga Liu!" ternyata orang yang keluar dari balik ranjang itu adalah "Yo-kun" Liu Yam-yo!

Dua tangan Liu Yam-yo ditaruh di belakang tubuhnya, mengenakan jubah merah, mukanya juga merah, seluruh tubuh bagaikan segumpal api, tapi dibanding dulu Lu Pau bertemu, dia sekarang agak berkurang keganasannya, mungkin karena luka dalamnya tidak ringan.

Meskipun dalam kondisi begitu, Lu Pau tetap merasakan panas yang ditebarkan dari tubuh Liu Yam-yo.

Lu Pau paham dirinya bukan lawan Liu Yam-yo, tapi dia sekarang sudah kepalang tanggung, sudah tidak peduli, sekerasnya membentak:

"Kenapa kau membunuhnya?"

Berkilau api dalam sorotan mata Liu Yam-yo:

"Sebab aku mau membunuhmu!" Terus dia menyambung lagi, "aku membunuhmu untuk memanasi orang bermarga Kie itu!"

Kemarahan Lu Pau memuncak, bagaikan macan mengaum:

"Aku habisi kau!"

Dua tinjunya langsung menghantam, sasarannya antara dada dan perut Liu Yam-yo!

"He... he... he..." Liu Yam-yo terkekeh, dia juga melancarkan sebuah pukulan, lalu mundur ke belakang, gerakannya lebih cepat, kepalannya langsung menghantam dada Lu Pau.

Lu Pau menjerit keras, seluruh tubuh terbang jatuh ke belakang, "phang!" tubuh yang tinggi besar itu menabrak dinding kamar, mulutnya mengeluarkan darah segar, punggungnya menempel di dinding, lalu meluncur jatuh ke tanah, kepala menunduk. Mati.

"Chhh, chhh" terdengar suara lemah, di depan dada Lu Pau ada sebuah lekukan sebesar kepalan, baju di depan dadanya menghitam gosong bagaikan terbakar api, daging di depan dada mengepulkan asap hitam, bau daging matang yang menyengat memenuhi ruangan kamar.

Liu Yam-yo mengibaskan lengan bajunya, melihat pun tidak pada Lu Pau yang bagaikan sebuah gunung kecil yang mati sambil menyandar di dinding itu, dengan langkah besar dia menuju pintu kamar.

Mendadak dia berhenti melangkah, selanjutnya dia bersalto dengan muka keatas, bagaikan roket keluar menembus daun jendela, hanya sekejap hilang dalam kegelapan malam.

Di luar pintu langsung terdengar ramai suara kaki dan suara orang bicara, kelihatannya orang-orang di rumah bordil sudah berdatangan, mungkin pekikan Lu Pau telah mengagetkan mereka, sehingga datang ingin memeriksa apa yang terjadi.

Akhirnya yang mereka temukan hanyalah mayat Siau Ang-to dan Lu Pau.

Segera hebohlah rumah bordil itu.

Kie Yam-ke, Siau Li-cu, Siau Hek-cu juga mendapat kabar, cepat-cepat mendatangi Liu-hiang-goan, langsung masuk ke kamar yang di diami Siau Ang-to, melihat mayat Lu Pau yang menyandar di dinding kamar, daging di wajah Kie Yam-ke mengencang, pupil mata menutup, sorotan matanya jatuh ke depan dada Lu Pau yang bagaikan terkena bakaran api, luka lekukan yang hitam gosong itu, dia menggigit kencang giginya, dari celah-celah gigi keluar perkataan:

"Liu Yam-yo, sungguh kejam sekali!"

Begitu Siau Li-cu dan Siau Hek-cu melihat jasad Lu Pau, terkejut luar biasa, dan memekik: "Lu Pau!" melompat ke depan memeluk Lu Pau.

Sebelah tangan Kie Yam-ke segera menarik mereka, sambil berkata:

"Sabar sedikit, jangan terlalu emosi, Lu Pau sudah meninggal, dendam ini kita harus balas!"

Lalu menjulurkan tangan mengusap mata Lu Pau, dengan suara ringan berkata:

"Saudaraku yang baik, jangan kuatir, Kie Toako tidak akan membiarkan kau mati sia-sia!" setelah menutup mata Lu Pau, dua tangannya merangkul, menggendong mayat Lu Pau berjalan keluar dengan langkah lebar!

Siau Li-cu dan Siau Hek-cu dengan wajah pedih dan marah mengikuti di belakang Kie Yam-ke, meninggalkan rumah bordil.

ooo0dw0ooo

Kian Ta adalah anak tunggal Kian Jit-san. Harta Kian Jit-san sesuai marga dan namanya, hartanya bagaikan gunung.

Di Yang-ciu Kian Jit-san boleh dibilang orang terkaya, hartanya banyak tapi keluarganya sedikit, bagaimana pun dia menambah istri muda, tetap saja hanya punya Kian Ta, anak laki-laki satu-satunya.

Karena hanya Kian Ta satu-satunya anak laki-laki, tentu saja Kian Jit-san amat menyayanginya, akibatnya sekolah pun tidak beres, sedangkan kerjanya berjudi, mencari kesenangan, makan minum dan mencari perempuan, persis anak orang kaya yang buaya.

Mengandalkan kekayaan dan kedudukan orang tuanya, Kian Ta sering sekali menindas orang lain, terlebih lagi kalau melihat gadis baik-baik dan ibu-ibu muda pasti diganggunya.

Maka orang-orang miskin menganggap Kian Ta bagikan serigala, semua membencinya.

Benci tinggal benci, sedikitpun tidak berdaya. Sampai Kie Yam-ke kembali lagi ke Yang-ciu,

Kian ta seperti mendapatkan penakluk, setelah dihajar beberapa kali di depan umum, dia sudah agak berobah, tidak sekurang ajar seperti dulu, tetapi dia menjadi dendam pada Kie Yam-ke.

Kie Yam-ke tidak punya usaha, tidak punya rumah tangga, hidupnya sebatang kara, dia hanya mempunyai ilmu silat setinggi langit, "Toh-beng-sam-hoan" Mo Poh-co yang jago dan punya nama besar saja kalah olehnya, Kian Ta membenci dia sampai ke tulang sumsum, tetap tidak bisa berbuat apa-apa padanya.

ooo0dw0ooo

Kesukaan Kian Ta selain makan minum, paling suka melacur, lalu berjudi.

Judinya bukan yang kecil-kecilan, tapi yang besar taruhannya, kalah 100 ribu 80 ribu di tempat judi sedikitpun tidak merasa sayang, sungguh pemborosan.

Tiap judi pasti kalah, tidak kalah 200-300 ribu pasti kalah 50-70 ribu.

Untung saja, di rumah hartanya menggunung, jadi dia tidak sampai bangkrut, tidak saja tidak bangkrut, selamanya pun tidak akan bangkrut sebab orang tuanya Kian Jit-san berusaha dalam bidang yang paling menguntungkan di kolong langit, yaitu jual beli garam. Pengusaha garam tunggal.

Kalau punya harta yang tidak habis dihamburkan untuk apa Kian Ta harus berkecil hati hanya kalah berjudi!

Hari ini dia pergi berjudi lagi.

Tapi hari ini dia tidak pergi ke tempat perjudian yang terbesar di kota Yang-ciu, yaitu tempat perjudian Kim-gin (emas perak), tapi ke tempat perjudian yang kecil.

Di katakan tempat perjudian kecil sedikitpun tidak salah, sebab uang yang ditaruhkan dibandingkan dengan tempat perjudian Kim-gin, ibarat bumi dan langit!

Cara judi di tempat yang kecil, paling kecil boleh main 1 picis, paling besar sampai 10 tail perak.

Tapi di tempat perjudian Kim-gin yang paling kecil tidak boleh kurang dari 1000 tail, terbesar tidak pakai batas Maksimal, berapa pun tamu mau memasang, tempat perjudian menerimanya dengan senang hati, dengan kata lain, tamu berani pasang 10 juta tail perak pun, tempat perjudian tetap melayaninya. Kalah menang tidak masalah.

Begitu Kian Ta masuk ke tempat perjudian yang tidak bernama, segera menarik perhatian para tukang judi yang sedang asyik dan gembira, dengan sendirinya semua berhenti memasang, malah memandang Kian Ta. Mereka mengenal, minimal pernah melihat Kian Ta, tentu juga tahu status Kian Ta, orang macam Kian Ta tiba-tiba mengunjungi tempat perjudian sekecil ini, semua orang merasa aneh.

Sama sekali di luar dugaan. Putra jutawan seperti Kian Ta sedikitnya taruhan puluhan ribu tail perak ini tiba-tiba hadir ke tempat perjudian kecil yang uang pemasangan tertinggi 10 tail perak saja, kalau tidak menarik perhatian khalayak, itu baru aneh.

Kian Ta dengan aksi berjalan ke depan meja judi dengan angkuh memandang orang-orang yang sedang berjudi itu, sikapnya sangat congkak, sambil mengibas-ibaskan lengan baju, dia membentangkan dengan menaruh selembar cek di atas meja judi.

Mata para penjudi segera menyorot tajam, lalu merasa terkejut, sebab cek itu tercantum nilai sebesar 10000 tail perak!

Orang yang berjudi disini semua orang rendah di kota Yang-ciu, jangankan 10000 tail perak. 100 tail perak saja belum pernah melihatnya, memandang cek sebesar 10000 tail perak di atas meja judi, tiap orang tercengang, napas pun terasa sesak.

Sampai si bandar pun ikut tercengang, tersendat-sendat berkata:

"Kian...Kongcu, disini...paling...paling banyak hanya boleh...boleh pasang 10 tail...perak saja, kau..."

Kian Ta mengayunkan tangan, tertawa besar lalu berkata:

"Aku mau berjudi ke tempat rendahan begini karena aku menghargai kalian, tidak usah pakai aturan-aturan, aku suka pasang berapa ya berapa, kalian harus terima!"

Bandar dengan muka kecut berkata: "Kami bisa menerima tapi tidak sanggup mengganti, kalau Kian Kongcu tetap mau memasang 10000 tail perak, harap ke tempat lain saja!"

Kian Ta memukul meja, dengan tertawa dingin berkata: "Buka perjudian macam apa ini, tamu berjudi kesini, bukan saja tidak dihormati malah mau diusir? Hahaha, lebih baik tutup saja!"

Melihat kecongkakkan Kian Ta, dan seenaknya bicara dan berteriak, sudah terlihat dia bukan mau berjudi, tapi mau mencari masalah. Penjudi-penjudi lain yang datang mau cari kepuasaan dan rangsangan, tentu saja tidak mau melepaskan kesempatan gratis ini, tiap orang berdiri disitu menonton keramaian.

Bandar melihat Kian Ta sengaja datang mau mencari masalah, dengan murka berkata:

"Kian Ta, jangan mentang-mentang banyak uang, orang lain jadi takut padamu! Dengar, kalau kau tidak mau pergi juga, nanti kalau Kie Toako datang, rasakan!"

Kian Ta mendengar kata Kie Toako 3 huruf ini, dalam matanya terlintas rasa terkejut, tapi segera dia dengan galak berkata:

"Tidak perlu membawa-bawa nama Kie Toako kalian untuk menakuti orang. Hmmm, aku tidak takut padanya, kalau dia datang lebih baik! Tidak disangka, tempat judi ini dia yang mengelola!"

Saat ini ada seseorang keluar dari dalam, terkejut melihat Kian Ta, dan cepat maju ke depan, melirik Kian Ta dengan dingin dan marah:

"Kian Ta, orang lain takut padamu, punya uang punya kedudukan, tapi kami tidak, kalau kau paham? Cepat pergi!"

Orang yang keluar dari dalam adalah Siau Li-cu.

Rupanya Kian Ta punya sandaran, dia mendelikkan mata menantang: "Siapa kau? Berani benar kurang ajar padaku!"

Siau Li-cu mendesak maju selangkah, melototi Kian Ta: "Kau tidak perlu tahu siapa aku, dikatakan pun kau tidak

kenal, pokoknya aku melarang kau macam-macam disini, kalau kau mau berjudi, ikutilah peraturan disini, aku tidak akan melarangmu!"

Kian Ta agak terkesiap oleh perkataan Siau Li-cu ini, dua matanya mendelik, dia mendecak ribut:

"Brengsek dan sombong, aku tidak akan pergi, aku mau tahu kau bisa apakan aku!"

Siau Li-cu dengan sinis memandang Kian Ta dengan hambar berkata:

"Usir dia!"

Ada 2 orang laki-laki yang mengenakan baju kasar segera menghampiri, satu di kiri satu di kanan mengapit Kian Ta, mengawal jalan dia keluar!

Kian Ta meloncat-loncat, meronta-ronta, tapi mana bisa melepaskan diri? Dengan paksa dia dikawal keluar.

Siau Li-cu memandang Kian Ta yang ribut dan meronta- ronta itu, di sudut bibirnya terlihat mengembang tawa yang mengejek.

Tiba-tiba sekujur tubuh Siau Li-cu bergetar, tawanya pun membeku, dua matanya melongo memandang pintu masuk.

Di depan pintu muncul seorang pemuda yang bermuka merah, berjubah merah yang menyerupai segumpal api menyala.

Dalam tempat perjudian ini memang agak pengap, dengan munculnya pemuda ini, dalam ruangan menjadi lebih panas lagi, semua orang merasa ada gelombang panas yang mendesak keluar dari tubuh pemuda ini.

"Liu Yam-yo!"

Akhirnya Siau Li-cu sadar kembali, dengan suara rendah dan berat menyebut nama pemuda itu.

Setelah Kian Ta melihat Liu Yam-yo, dia tidak ribut juga tidak meronta-ronta lagi, dengan aksi berseru:

"Lepaskan aku!"

Dua orang yang mengapit Kian Ta memang terkesima oleh Liu Yam-yo, bengong sebentar dan berhenti melangkah, tapi tidak menurut terhadap bentakan Kian Ta, malah lebih keras mengapit dia.

Payahlah Kian Ta, dia sakit karena dipegang keras-keras.

"Lepaskan dia!" sorot mata Liu Yam-yo bagaikan 2 buah bara api membakar 2 orang laki-laki itu, dia juga maju satu langkah.

Dua orang laki-laki itu jadi merasa tidak tenang, mereka merasakan tubuhnya sakit, tangannya mengendur, Kian Ta jadi mendapat kesempatan meronta dan melepaskan diri, melangkah besar meloncat ke belakang tubuh Liu Yam-yo, dengan sombong memekik pada Siau Li-cu:

"Mampus kau brengsek! Coba berani lagi mengusir aku?

Kesini kalau berani!"

Siau Li-cu memandang Liu Yam-yo, pikirannya melayang cepat, jelas keadaan sekarang dia sulit luput dari kematian, tapi dia tidak takut, yang dia kuatirkan adalah kalau tempat perjudian ini hancur, banyak saudaranya akan kehilangan tempat bersandar.

Ternyata tempat perjudian ini diurus oleh Kie Yam-ke, tapi tujuannya hanya ingin mengambil sedikit keuntungan dari para penjudi untuk menghidupi saudara-saudaranya, menghindari mereka dari kehidupan berbuat yang bukan- bukan atau menipu, dan merugikan para penduduk.

Di bawah pengaturan Kie Yam-ke, para saudaranya hidup lebih tentram, lebih tertib, tidak seperti dulu sering memeras para penduduk.

Siau Li-cu diatur oleh Kie Yam-ke untuk mengelola tempat perjudian ini.

Di tempat tinggal penduduk menengah ke bawah kota Yang-ciu, Kie Yam-ke juga membuka beberapa tempat perjudian, kalau hanya mengandalkan satu saja, tidak mencukupi kebutuhan saudara-saudaranya.

Bola mata Siau Li-cu berputar, dia memberi tanda pada bandar yang bengong di belakang meja judi.

Bandar itu mengangguk, pelan-pelan mundur ke belakang.

Liu Yam-yo segera menghardik padanya: "Berhenti!"

Mana mau bandar itu menurut, dia cepat-cepat berputar tubuh, dengan langkah besar berlari ke dalam.

Di dalam ada sebuah lorong dapat tembus keluar melalui pintu belakang.

Liu Yam-yo merasa bandar itu tidak dapat dihentikan, dia marah dan menghardik persis seekor singa, sinar merah berkilau menerjang pada si bandar.

Dua orang laki-laki tadi tidak kenal Liu Yam-yo, merasa marah dan memekik, sama-sama menerkam dan menghalangi Liu Yam-yo. Liu Yam-yo melirikpun tidak pada kedua orang yang datang menerjang dan menghalanginya, dia langsung menyerbu kedua orang ini, lalu menyerbu lagi bandar yang lari sudah sampai pintu ke dalam ruangan itu, dari jarak 1 tombak Liu Yam-yo menghantamkan telapaknya, seberkas aliran panas berwarna merah gelap menggulung punggung si bandar.

Si bandar menjerit pilu, punggungnya matang menghitam, mengepul asap hitam, tertelungkup di depan pintu ruangan dalam.

Para penjudi lainnya mana pernah melihat cara membunuh orang yang aneh begini, sebuah telapak dipukulkan dari kejauhan sanggup membunuh orang, dan orang yang mati bagaikan terbakar, semua terkejut hingga menjerit.

Mimik Siau Li-cu pun berubah hebat.

Liu Yam-yo tepat berdiri di depan dia sekitar 2 tombak.

Dua orang laki-laki yang menghadang itu juga sudah roboh dan mati, bajunya terbakar menjadi abu, seluruh tubuhnya matang menghitam.

Siau Li-cu merinding, hawa dingin muncul dari tulang punggungnya, tapi dia tidak takut.

Dalam sekejap saja, 3 orang saudaranya telah tewas.

Siau Li-cu amat sedih.

Saat ini Kian Ta tambah beraksi, mengikuti dari balik Liu Yam-yo, berjalan ke depan Siau Li-cu, sambil tertawa berkata:

"Brengsek, minta ampun sekarang masih belum terlambat!"

Tiba-tiba Siau Li-cu meludah, dengan hina berujar: "Anjing!"

Muka Kian Ta merah bagaikan hati babi, sekujur tubuhnya gemetar menggigit bibir keras-keras menunjuk Siau Li-cu:

"Jahanam! Lihat sebentar lagi, siapa yang jadi anjing!" Siau Li-cu sekali lagi memuntahkan kata:

"Anjing!"

Kian Ta mengamuk, menerjang, keluar dari belakang Liu Yam-yo, mengayunkan kepalan mau memukul Siau Li- cu.

Dia malu bagaikan orang gila karena perkataan "anjing" dari Siau Li-cu itu, dia sudah hilang kesadaran seperti anjing gila menyerbu Siau Li-cu.

Siau Li-cu pun geram sampai ke tulang, karena Kian Ta membawa Liu Yam-yo dan membunuh 3 orang saudaranya, melihat dia menyerbu timbul hatinya untuk membantai, dia menunggu Kian Ta mendekat, dan segera akan membunuhnya.

Liu Yam-yo merentangkan tangan menarik Kian Ta yang seperti anjing gila itu. Kian Ta meronta-ronta, tapi mana bisa melepaskan diri? Terpaksa dia diam.

Siau Li-cu kesal tidak bisa membunuh Kian Ta, dia menghela napas panjang, dengan sangat marah dia memandang Liu Yam-yo:

"Liu Yam-yo, kau mau apa?"

"He... he... he" Liu Yam-yo menyengir, "membakar tempat perjudian ini!"

Dengan suara tenang sekali Siau Li-cu berujar: "Coba saja kalau berani! Kie Toako akan membuat perhitungan denganmu!" tangan menunjuk Kian Ta, "kau juga!"

Kian Ta ciut ketakutan tapi tiba-tiba terpikir ada Liu Yam-yo yang menjadi penopang, keberaniannya jadi bertambah, membusungkan dada dia berkata:

"Kapan saja aku akan menunggu dia datang membuat perhitungan!"

Liu Yam-yo nyeletuk:

"Apa sudah habis perkataanmu?"

Dengan suara keras Siau Li-cu menghentak: "Sudah atau belum mau apa?"

Sorotan mata Liu Yam-yo bagaikan api meloncat: "Mau membantai kau!"

Perkataan belum selesai, Siau Li-cu telah menubruk Liu Yam-yo dengan kepala, sebuah sinar dingin melayang, dengan cepat menusuk perut Liu Yam-yo.

Dia sudah tahu bukan tandingan lawannya, tapi masih tetap saja tidak mempedulikan apapun untuk mengadu jiwa, ini membutuhkan keberanian yang luar biasa, ketetapan hati dan niat yang tidak takut mati!

Bagaikan awan merah Liu Yam-yo melayang ke samping menghindar, dia merentangkan tangannya langsung menangkap leher Siau Li-cu, lima jarinya mengencang, "krekkk" sebuah suara nyaring terdengar. Siau Li-cu mengejang, 2 kakinya menjengkang, tulang lehernya hancur, napasnya putus dan tewas!

Para penjudi bagai terbangun dari mimpi, terkejut dan menjerit-jerit, mencari pintu berebut untuk kabur. Liu Yam-yo tidak menghalangi mereka, dibiarkan mereka pergi semua, baru merasa puas dan tertawa: "Kian- heng, kali ini Kie Yam-ke pasti muntah darah!"

Kian Ta berkata sambil menyanjung: "Liu Toako, si jahanam Kie Yam-ke tidak ada seujung kuku-mu!"

Tapi Liu Yam-yo malah dengan tegas berkata:

"Siapa yang meremehkan Kie Yam-ke, dia salah besar, kalau kau belum mau mampus segera, sebaiknya jangan salah menilai dia!"

Panas muka Kian Ta, agak segan dia tertawa: "Betul! Betul perkataan Liu Toako!"

Liu Yam-yo memandang sekali lagi orang yang mati dalam tempat perjudian itu, membalikan tubuh, bicara pada Kian Ta:

"Kalau kau tidak mau bertemu Kie Yam-ke, sebaiknya cepat pergi!" tubuhnya berbalik langsung berjalan.

Seluruh tubuh Kian Ta bergetar, bagaikan seekor anjing dia mengikuti belakang Liu Yam-yo berjalan keluar.

Sampai di luar tempat perjudian, Liu Yam-yo mengibaskan lengan bajunya, menggetarkan tangan melempaskan seberkas sinar merah, sinar merah itu jatuh di dalam tempat perjudian, jatuh ke tanah "phummm!" berbunyi keras dan segera timbul api yang berkobar-kobar, menyebar merembet ke 4 penjuru, sekejap saja seluruh tempat perjudian sudah menjadi lautan api.

Hebat sekali amgi berbahan peledak itu.

Liu Yam-yo menyaksikan seluruh tempat perjudian sudah ditelan api, baru cepat-cepat meninggalkan tempat itu bersama Kian Ta. Kie Yam-ke berdiri di depan puing-puing tempat perjudian yang musnah terbakar, memandang beberapa kerangka yang sudah gosong menjadi arang yang di-jejerkan di tanah, "krekkk" dia mengadukan giginya, mukanya hijau membesi, sepasang tangannya menggengam dengan keras.

Kao Ceng, Siau Hek-cu berdiri di sisi Kie Yam-ke, memandang beberapa kerangka yang gosong di tanah, akhirnya Siau Hek-cu tidak tahan lagi, dengan suara serak berseru:

"Siau Toako!" dia bersedu-sedan.

Beberapa kerangka yang sudah menjadi arang, entah yang mana Siau Li-cu.

Tiba-tiba Kao Ceng memutar tubuhnya, mengangkat kaki langsung pergi.

Kie Yam-ke merentangkan tangan, menghadang jalannya Kao Ceng.

Kao Ceng kesal tidak buka suara, sekali berputar tubuh langsung menghindar, mencabut kaki mau berlari.

Kie Yam-ke dapat tepat menangkap lengan dan pinggangnya, bertanya:

"Kao Toako, kau mau kemana?"

Sinar dingin terpancar dari mata Kao Ceng, bibir bawah digigitnya hingga berdarah, dengan suara penuh haru berkata:

"Mengadu jiwa dengan Liu Yam-yo!"

Sinar mata Kie Yam-ke terhenti, menghela upas berkata:

"Kao Toako, jangan sampai emosi, itu hanya akan menguntungkan Liu Yam-yo, tujuan Liu Yam-yo memancing agar kita marah, bagaimana juga kita jangan sampai terjebak!"

Kao Ceng dengan susah berujar:

"Tapi akan merembet semua saudaramu!"

Kie Yam-ke menghela napas panjang, berkata dengan amat jujur dan terharu:

"Kao Toako, kita berteman baik bukan?"

Kao Ceng tidak menangkap maksudnya bertanya begitu, tetapi tetap mengangguk:

"Betul, teman baik!"

Kie Yam-ke menepuk bahu Kao Ceng:

"Kau teman baikku, kalau begitu saudaraku, juga saudara baikmu!"

Hati Kao Ceng luluh, tidak tahan dengan keras memegang tangan Kie Yam-ke berkata dengan suara terharu:

"Kie Yam-ke!..." terharu sampai tidak mampu meneruskan.

Dengan tenang Kie Yam-ke berkata: "Aku akan pesan saudara-saudaraku segera menutup tempat perjudian, sementara jangan menampakkan diri, supaya Liu Yam-yo tidak bisa berbuat apa-apa."

Kao Ceng hanya bisa mengangguk.

ooo0dw0ooo

Kie Yam-ke bekerja sendiri, bersama saudara-saudaranya mengubur Siau Li-cu dan lainnya yang meninggal. Lu Pau, Siau Li-cu dan kawan-kawannya, semua saudara-saudara baik Kie Yam-ke, tapi sekarang sudah meninggal, ini membuat Kie Yam-ke sedih sekali.

Demi Lu Pau, Siau Li-cu dan lainnya yang meninggal, demi Kao Ceng teman baiknya, Kie Yam-ke bertekad hati harus membunuh Liu Yam-yo! Dan pasti akan mencari tahu rahasia yang membuat Liu Yam-yo terus membunuh orang itu!

ooo0dw0ooo

Beberapa hari ini Kao Ceng menjadi pendiam, dia mengunci diri di kamar, jarang sekali bertemu Kie Yam-ke untuk berbincang-bincang.

Kie Yam-ke maklum dia bersusah hati karena Lu Pau dan kawan-kawannya terbunuh maka tidak diganggunya, membiarkan dia mengurung diri dalam kamar.

Hari ini masih pagi Kao Ceng mencari Kie Yam-ke, dia menemukan Kie Yam-ke dengan sepasang tangan di belakang tubuh sedang berdiri di halaman yang lerbengkalai itu.

Kao Ceng datang ke depan Kie Yam-ke langsung berujar:

"Kie Yam-ke, aku sudah memutuskan meninggalkan tempat ini."

Kie Yam-ke terterkejut seraya mendongakkan kepala bertanya:

"Kao Toako kau bilang apa?" Dengan tegas Kao Ceng berkata: "Kie Toako, aku amat berterima kasih padamu serta Lu Pau, Siau Li-cu, dan saudara-saudara yang lain, Tapi aku tidak mau merembet lagi pada kalian, aku memutuskan untuk pergi, kalau aku sudah pergi, Liu Yam-yo tentu tidak akan mencari masalah lagi disini." 

Dengan serius Kie Yam-ke menatap Kao Ceng, agak lama baru menggeleng-gelengkan kepala berujar:

"Kao Toako, kau kira kalau kau pergi Liu Yam-yo akan membiarkan aku?"

Kao Ceng terdiam tapi mengangguk. "Salah!" kata Kie Yam-ke dengan yakin.

Kao Ceng mengangkat kepala dengan bimbang memandang Kie Yam-ke.

Kie Yam-ke dengan suara tinggi berkata:

"Kau pergi pun Liu Yam-yo tetap tidak akan melepaskan kami! Coba kau pikir, kenapa Liu Yam-yo mengejar dan mau membunuhmu? Semua disebabkan dia mencurigai kau telah mengetahui rahasianya! Kau kemari mencari aku, dia pasti mencurigai kau sudah membocorkan rahasianya padaku, coba kau pikir apa dia mau membebaskan aku?"

Kao Ceng sampai tercengang, dengan susah berkata: "Kie Yam-ke, aku tidak terpikir masalah ini!"

Tersenyum Kie Yam-ke menepuk-nepuk bahu Kao Ceng

berkata:

"Kao Toako, sekarang tidak jadi pergi bukan?" Dengan tertawa getir Kao Ceng berkata:

"Aku jadi bingung, minta bantuanmu akhirnya melibatkan kalian, dalam hatiku merasa susah sekali." Dengan serius Kie Yam-ke berkata:

"Kao Toako, sudahlah, biarkan yang sudah-sudah, sekarang kita harus mencari akal untuk melawan orang itu! Aku tiba-tiba merasa tertarik dengan rahasia Liu Yam-yo!"

"Aku juga!" Angguk Kao Ceng.

Saat berdua asyik berbincang-bincang, Siau Hek-cu tergopoh-gopoh berlarian datang, berhenti di depan Kie Yam-ke dan Kao Ceng, terengah-engah berkata:

"Kie Toako..."

Dengan tertawa Kie Yam-ke memegang kepala Siau Hek-cu:

"Siau Hek-cu, istirahatlah dulu, sesudah reda nafasmu baru pelan-pelan ceritakan."

Siau Hek-cu  istirahat sebentar, menarik napas panjang berkata:

"Kie Toako, jejak Liu Yam-yo sudah di ketahui!"

Kie Yam-ke dan Kao Ceng amat bersemangat, bersama- sama bertanya:

"Dimana dia sekarang?"

"Di rumah Kian Ta!" Jawab Siau Hek-cu cepat. Dua orang ini sama-sama terkejut, Kie Yam-ke berkata:

"Kenapa dia bisa ada di rumah Kian Ta? Kenapa dua orang ini bisa berhubungan?"

Kao Ceng juga kebingungan:

"Liu Yam-yo dan Kian Ta sama sekali tidak ada angkut pautnya, masalah ini ada keanehan!"

Kie Yam-ke mengangguk menyatakan punya perasaan yang sama. Tapi Siau Hek-cu berkata:

"Mungkin Kian Ta kebetulan mencari Liu Yam-yo untuk melawan Kie Toako!"

"Mungkin juga!" Angguk Kie Yam-ke lalu berkata lagi, "Siau Hek-cu, ada pesan saudara-saudaramu untuk mengintai dan mengawasi mereka di sekitar sana?"

Siau Hek-cu mengangguk:

"Jangan kuatir Kie Toako, mereka mengawasi rumah Kian Ta dengan cermat, gerak-gerik mereka tidak bisa lolos dari mata kami."

Kie Yam-ke memuji dan menepuk bahu Siau Hek-cu: "Siau Hek-cu, kau cerdik sekali, sampaikan pada mereka

harus ekstra hati-hati, jangan sampai ada kesalahan, juga jangan ceroboh, kalau ada perubahan harus cepat-cepat melapor."

Dengan tertawa Siau Hek-cu berujar: "Kie Toako tenang saja, kami pasti akan hati-hati sekali." Lalu dia pamitan pada Kie Yam-ke dan Kao Ceng, kembali pergi mengawasi di sekitar rumah Kian Ta.

Saat ini Kian Ta sedang minum-minum dengan Liu Yam-yo, tiba-tiba dia menerima secarik kertas, dibaca dengan tergesa-gesa, lalu memberikan pada Liu Yam-yo, selesai membaca kertas itu segera diremasnya, berkata dengan tertawa dingin:

"Rupanya dia sudah bosan hidup, biar aku kesana menemuinya!"

Dengan penuh perhatian Kian Ta berkata: "Mungkinkah itu sebuah jebakan?"

Sambil tertawa Liu Yam-yo berkata: "Kau jangan kuatir, aku paham betul kelakuan orang-orang yang mengaku aliran putih dan berkebajikan itu. Mereka melakukan sesuatu selalu terang-terangan dan benar, tidak mau melakukan pekerjaan yang kotor dan keji!"

"Kalau begitu Liu Toako hati-hati saja." Liu Yam-yo mengangguk, berdiri, dan segera pergi meninggalkan rumah Kian Ta.

ooo0dw0ooo

Liu Yam-yo tiba di Souw-su-ouw, sebelah utara kota, berdiri di batas sebuah tanggul, sepasang sinar mata yang terang bagaikan api membara, terus memandang kejauhan tanggul, maju selangkah demi selangkah.

Tanggulnya rindang oleh pohon Liu dan bambu, burung gereja beterbangan dan bernyanyi, amat asri dan tenang, Liu Yam-yo yang merah sekujur tubuhnya, berjalan di atas tanggul yang sejuk dengan pohon Liu dan bambu itu persis setitik merah di tengah berjuta warna hijau, sangat mencolok mata.

Di atas tanggul kecuali dia, sesosok bayangan manusia pun tidak ada.

Akhirnya Liu Yam-yo sampai di pertengahan tanggul, dia berhenti dengan berdiri tegap, berteriak:

"Kao Ceng, kalau berani mengundang aku kemari untuk menentukan hidup dan mati, kenapa sampai sekarang tidak berani muncul untuk bertemu?"

nada menggema tidak putus-putus di atas udara tanggul. Dari balik pohon bambu yang rindang, segera melesat keluar Kao Ceng yang berbaju hijau.

Kao Ceng selangkah-selangkah berjalan menuju depan Liu Yam-yo. Berdiri beberapa meter di hadapannya. Sepasang mata penuh oleh hawa membunuh. Dengan ketat menatap Liu Yam-yo. Sehuruf-sehuruf ia berkata:

"Liu Yam-yo ternyata kau berani datang memenuhi ajakanku!"

"He...he...he" Liu Yam-yo tertawa terkekeh, "kau sudah kalah di bawah tanganku, kenapa aku harus takut tidak berani datang?"

Dengan suara tajam Kao Ceng berkata : "Kau tidak takut aku main curang?"

Liu Yam-yo tertawa keras:

"Takut apa? Aku maklum sekali kelakuan orang-orang macam kalian yang merasa dirinya pendekar aliran putih, tidak akan melakukan kecurangan!"

"Malam ini, kalau bukan aku yang mati pasti kau yang mampus, ayo, kita mulai bertarung!"

Liu Yam-yo bertepuk tangan dan tertawa keras:

"Cocok sekali dengan maksudku, Kau cukup gamblang, ayo silahkan duluan!"

Kao Ceng segera mencabut cambuk lentur bersutra emas yang terlilit di pinggang, mengibaskan tangan sekali diayunkan terdengar suara yang jernih menggema "poppp"

Liu Yam-yo juga mengeluarkan pedang apinya.

Dua orang ini masing-masing maju selangkah, mengambil ancang-ancang menunggu waktu yang tepat, sebentar saja di atas tanggul yang sunyi dan tenang itu keadaannya penuh hawa pembunuhan!

ooo0dw0ooo Pemuda-pemuda berandalan yang menguntit Liu Yam- yo melihat Kao Ceng menampakan diri muncul dari semak- semak bambu, mereka tercengang sekali, dan mundur dari atas tanggul berlari secepatnya mau melapor pada Kie Yam- ke.

Kie Yam-ke sudah mendapat laporan dari anak-anak yang mengawasi rumah Kian Ta, karena belum mendapat laporan berikutnya tentang Liu Yam-yo, dia terpaksa sabar menunggu berita selanjutnya.

Dia sama sekali belum mengetahui Kao Ceng yang sudah menghilang.

ooo0dw0ooo

Cambuk lentur bersulam sutra emas Kao Ceng bagaikan ular sakti, bergerak-gerak bagaikan naga naik ke langit bergulung menari-nari, mendesak Liu Yam-yo mundur dan mundur lagi.

Sebenarnya Liu Yam-yo bisa saja tidak mundur, tapi dia masih tidak mau membuat 2 pihak babak belur semua, maka dia terus menghindari serangan Kao Ceng bagaikan macam mabuk yang tidak takut mati itu.

Seseorang yang sudah berniat mengadu jiwa sampai tetes darah penghabisan, orang banyak pun sulit membendungnya, siapapun akan menjauh untuk menghindar dari serangannya.

Sebenarnya Kao Ceng bukan lawan Liu Yam-Yo, tapi dia sudah tidak peduli lagi, niatnya hanya ingin membunuh musuh, tidak peduli lagi menjaga keselamatan dirinya , ini membuat Liu Yam-yo berpikir juga, maka dalam waktu singkat dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Kao Ceng, dia terpaksa mundur dan mundur lagi. Liu Yam-yo mundur sampai di depan pohon Liu, kebetulan satu pecutan Kao Ceng sudah mengejar tiba.

Liu Yam-yo sudah tidak bisa mundur lagi, terpaksa dia menghindar ke sisi berputar ke belakang pohon.

"Poppp" terdengar suara keras, pohon Liu ternyata sobek oleh cambuk lentur Kao Ceng, dan ujung cambuknya masih terus bergerak ke belakang pohon, tepat mengenai dada kanan Liu Yam-yo yang baru berputar ke belakang pohon dan dia tidak menduga di belakang pohon masih bisa terkena pecut. Bajunya sobek darah pun keluar, lukanya cukup panjang, nampak berdarah.

Liu Yam-yo mengaduh, kepalannya di hantamkan ke batang pohon.

"Krekkk" suara amat keras, pohon Liu mengikuti suara itu, roboh ke arah Kao Ceng yang menerjang sampai di depan pohon.

Kao Ceng tidak mengelak dan tidak menepi, dengan miring menghantam batang pohon yang tumbang ke arahnya, disabet lagi miring ke samping, dia pun menerobos melewati pohon tumbang itu dengan cambuk lenturnya yang bagaikan ular sakti itu menggulung leher Liu Yam-yo!

Bagaimana pun Liu Yam-yo tidak menduga Kao Ceng akan seberani dan senekad begitu, dalam keadaan tidak terduga dan mendadak begitu hampir saja dia terjebak lagi, untung reaksi dia cukup cepat, dengan jurus Tiat-pan-ko secara paksa dia menjatuhkan diri ke belakang "huhhh" sinar emas berkilau lewat, ujung cambuk lentur menggulung lewat di atas mukanya, hanya beberapa inci dengan batang hidung Liu Yam-yo.

Lalu kakinya menekan dengan keras, seluruh lubuh Liu Yam-yo bagaikan ikan merah menembus ombak, berbalik mendur sampai beberapa meter lauhnya, kepalanya lurus seperti mau menabrak pohon.

Ketika hampir menabrak pohon, di atas kepalanya seperti bertumbuh mata, tubuhnya mendadak berhenti dan bersalto di udara, sepasang kaki menendang batang pohon, "shuttt" orangnya cepat bagaikan anak panah meninggalkan busurnya, menerjang lurus mendatangi Kao Ceng yang datang menyerbu!

Menendang dan melesat dibandingkan dengan jurus Tiat-pan-ko tadi (Menjatuhkan diri kebelakang), kecepatannya ternyata lebih cepat satu kali lipat!

Gerakan menjauh kemudian balik lagi, gayanya ini sama sekali di luar dugaan Kao Ceng.

Kalau sudah di luar dugaan tentu saja pembelaannya jadi kacau, "cesss" beribu-ribu bayangan cambuk itu tembus oleh Liu Yam-yo dengan pedangnya, "pekkk" berbunyi lagi, pedang pendeknya telah menusuk ke lengan kanan Kao Ceng!

Tusukan pedang ini sebenarnya ke dada kanan Kao Ceng, tapi dalam keadaan gawat ini mati-matian Kao ceng membawa tubuhnya menepi, sehingga terhindarlah dadanya dari serangan yang mematikan ini!

Kao Ceng merasa kesakitan, tapi dia tidak mengaduh, tetap tidak menepi dan tidak berhenti, dengan tenaga sepenuhnya menyerbu Liu Yam-yo yang sedang di udara, cambuk lentur emasnya menggila, dipecutkan ke punggung dan pinggang Liu Yam-yo!

Pedang pendek Liu Yam-yo yang menancap dalam- dalam pada lengan Kao Ceng, seperti akan menembus keluar, dia berpikir ingin dengan tenaganya menggores ke bawah seperti membelah ikan, untuk membelah lengan Kao Ceng, agar lengannya hancur dan tidak berguna lagi.

Tidak disangka Kao Ceng sangat garang dan tidak takut mati, sekuat tenaga dia menyerbu lagi, Liu Yam-yo terkejut segera mencabut pedangnya dan menjatuhkan diri ke tanah, dengan susah payah menghindar dari sabetan cambuk lentur Kao Ceng pada punggung dan pinggangnya!

Pedang dicabut darahpun menyembur, luka di lengan Kao Ceng segera menyemburkan banyak darah segar yang membasahi lengan bajunya, juga memerahkan matanya. Kao Ceng meraung keras seperti sudah menggila, menyerbu dan menggempur Liu Yam-yo, serangan cambuk lenturnya memang dashyat, tapi sudah tidak teratur, dan banyak celah muncul dimana-mana!

Inilah perlawanan yang sudah tidak peduli dengan keselamatan dirinya.

Liu Yam-yo memang telah melihat titik kelemahan Kao Ceng. Tapi dia tetap tidak mau bertindak ceroboh, kemenangan sudah dalam genggamannya, untuk apa dia dengan sembrono menempuh bahaya? Dibawah serangan Kao Ceng, dia tidak henti-hentinya dia mundur terus, dia menunggu kesempatan yang paling menguntungkan untuk sekaligus membantai Kao Ceng!

Ketika Kao Ceng diam-diam meninggalkan rumah, dia menyuruh seorang bocah mengantarkan surat undangan untuk bertarung kepada Liu Yam-yo.

Setelah itu dia sudah berniat untuk mati, sambil menggusur Liu Yam-yo untuk berjalan bersama ke neraka. Maka begitu dimulai dia menggunakan cara yang mengadu jiwa, hidup dan mati sudah tidak dihiraukan. Tapi dia kalah satu tingkat dari Liu Yam-yo, bagaimana pun dia mencoba mengadu jiwa, tetap tidak mungkin bisa memaksa Liu Yam-yo, dia hanya mampu menggoreskan satu bekas luka berdarah saja di dada Liu Yam-yo, lengan dia sendiri malah mendapat cedera, keadaan lukanya amat berat, lengannya sudah hampir tidak bisa bergerak, darah tidak henti-hentinya mengucur, tidak saja memerahkan bajunya, juga memerahkan tanggul itu, setengah potong lengan bajunya lebih merah dari jubah merah Liu Yam-yo. Merah yang amat menakutkan!

Kalau diteruskan begini, tidak perlu Liu Yam-yo bertindak pun, Kao Ceng sendiri akan mati kehabisan tenaga dan darah!

Yang belum diketahui, berapa lama Kao Ceng masih mampu bertahan.

Akhirnya Kie Yam-ke mendapat laporan dari anak buah yang mengintai Liu Yam-yo sampai utara kota ke tanggul danau itu, mengetahui Kao Ceng nengajak Liu Yam-yo untuk bertarung.

Kie Yam-ke terkejut luar biasa, tanpa berkata-kata lagi dia mencabut kaki, berlari lebih cepat dari kuda yang lepas kendali!

Di jalan, dia bergerak lebih cepat dari meteor, mengejar ke tanggul Souw-su-ouw, sambil berharap Kao Ceng tidak kurang sesuatu apa, dan mampu bertahan sampai dia tiba.

Tembok kota sudah terlihat, kaki Kie Yam-ke bertambah cepat, sebentar saja dia sudah di bawah tembok kota, dia tidak melalui gerbang tembok karena di gerbang banyak orang, sekali menerjang tubuhnya sudah melompat ke atas tembok, menerjang lagi sudah melampaui tembok, menurun keluar kota terus berlari lagi! Dia hanya berharap bisa tiba disana tepat waktu, melihat Kao Ceng masih segar bugar!

ooo0dw0ooo

Karena Kao Ceng tidak berhenti menyerang dan darah terus mengalir, dalam keadaan habis tenaga habis napas, langkah kakinya mulai melayang, kepala terasa pening, bayangan merah di depan mata ramai berkilau, dia mulai tidak jelas memandang bayangan tubuh Liu Yam-yo!

Tapi dia tetap menyerang sekuat tenaga, cambuknya tetap saja berbunyi berciutan.

Liu Yam-yo tetap tidak membalas, hanya menghindar terus, tapi dalam sorotan matanya telah melintas hawa pembunuhan yang tebal, sudut bibirnya mengembang sebuah senyuman.

Cepat atau lambat Kao Ceng pasti mati di bawah pedangnya, sehingga dia sedikitpun tidak risau!

Bagaikan kuda lari kencang Kie Yam-ke tiba di Souw-su- ouw, asal berputar setengah lingkaran tanggul danau sampailah di tempat Kao Ceng dan Liu Yam-yo bertarung.

Cemas hatinya bagaikan api membakar, gemas ingin sekali melangkah bisa melintasi permukaan danau, agar bisa lebih awal tiba di atas tanggul.

Begitu sebelah kakinya melangkah ke dalam danau, orang-orang yang melancong di atas danau terkejut hingga menjerit-jerit.

Kie Yam-ke tidak peduli, saat ini dalam hatinya hanya ada satu niat, secepatnya tiba untuk menolong kao Ceng! Dia paham Kao Ceng bukan lawannya Liu Yam-yo, buktinya Kao Ceng telah datang meminta bantuan padanya.

Ketika sebelah kakinya menginjak air, semua di luar dugaan para pelancong, mereka terkejut dan memekik- mekik, tapi dia sama sekali tidak tenggelam ke dalam danau, malah bagaikan Pat-sian-kwei-hai (Delapan dewa menyebrang laut) kaki menginjak permukaan air dan daun teratai serta kiambang yang mengapung di atas air, gerakannya seperti terbang, melompat ke tanggul di seberang sana, membuat para pelancong yang terkejut dan menjerit-jerit itu tercengang, akhirnya mata mereka melotot mulut melongo, tapi tidak bisa bersuara, bahkan ada yang mengira pasti dewa telah turun dari kahyangan, mereka cepat-eepat bersujud dan bersembahyang.

Kie Yam-ke hanya perlu melompat sekali lagi, sudah dapat sampai di tanggul seberang.

Kao Ceng akhirnya sudah tidak tahan lagi, bagaikan orang mabuk, tunggang langgang, cambuk lentur emasnya sembarangan dipukulkan dan melayang-layang, dia sudah tidak ada sedikit tenagapun, bagai anak umur 3 tahun memainkan sebatang ranting pohon.

Tenaganya hampir habis, tapi dia masih mampu mengayunkan cambuknya, hanya karena kebiasaan dan arus kesadaran saja yang menahan dia.

Akhirnya Liu Yam-yo menyerang juga.

Dia menganggap saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk membantai Kao Ceng, lambat sedikit lagi mungkin tidak perlu dia bertindak, Kao Ceng sudah akan mampus karena kehabisan darah dan tenaga. Dia tidak mau kehilangan rangsangan yang amat memikat saat-saat membunuh orang, sehingga dia mau membantai Kao Ceng saat dia masih hidup!

Dia hanya dengan asal saja menusuk, pedang pendek langsung sudah menancap di jantung yang sangat membahayakan itu!.

ooo0dw0ooo

Dengan langkah besar Kie Yam-ke sudah menampakan kaki di atas tanggul, bertepatan melihat Liu Yam-yo menusukkan pedangnya pada dada Kao Ceng.

"Kao Toako..." hati dan pikiran Kie Yam-ke terguncang, dia lepas kendali berteriak keras.

Sayang, Kao Ceng sudah tidak dapat menjawab padanya...

Pedang sudah ditusukkan Liu Yam-yo pada dada Kao Ceng, dia tidak ingin cepat-cepat mencabutnya, dia tidak ingin Kao Ceng mati secepat itu, dia hanya ingin Kao Ceng mati dengan penuh kesengsaraan dan kesakitan, maka dia pelan-pelan memelintirkan gagang pedang.

Dia ingin melihat Kao Ceng mampus dengan ekspresi kesakitan yang amat sangat, setelah jantungnya hancur dipilin oleh pedang pendeknya.

Sekali pedang dipelintir, betul saja membuat Kao Ceng yang punya sisa sedikit nafas itu, mukanya kejang-kejang sampai tidak berupa, sekujur tubuhnya gemetaran dan menggigil, menderita sekali.

Liu Yam-yo sekali lagi memelintirkan pedang pendeknya, saat itu tepat terdengar seruan "Kao Toako" dia terkejut luar biasa, cepat memandang ke arah munculnya suara, mimiknya berubah keras, dia mengangkat kaki menendang perut Kao Ceng, dengan tenaga menendang, mencabut pedang balik melayang menjauh 2 tombak, begitu kakinya menapak tanah, dia tidak berani berhenti, tubuhnya 2 kali lagi berjumpalitan, lalu 1 kali melompat menginjak dahan pohon Liu, kabur secepat terbang.

Dia memandang ke arah suara itu muncul, Di lihat Kie Yam-ke bagaikan elang marah, dari jarak tidak sampai 10 tombak datang terbang menyerbu. Dia pernah menderita kekalahan pada Kie Yam-ke, hal ini menyebabkan dia terkejut dan takut sekali, luka dalamnya belum sembuh, maka waktu dia bertarung dengan Kao Ceng, dia tidak berani melancarkan Lie-yang-sin-ing, kalau tidak, Kao Ceng sudah mampus dari tadi. Sekarang kalau dia terhadang oleh Kie Yam-ke, dalam keadaan luka dalam yang belum sembuh, dia pasti tidak akan bisa lolos dari kematian, maka dia kabur terbirit-birit!

Kie Yam-ke seperti terbang melompat dan menyerbu ke depan, bertepatan waktunya menangkap tubuh Kao Ceng yang ditendang oleh Liu Yam-yo.

Dia tidak ingat untuk menghadang dan mengejar Liu Yam-yo lagi. Kie Yam-ke berhenti dan menggendong tubuh Kao Ceng, buru-buru memanggil:

"Kao Toako! Kao Toako!"

Tetapi Kao Toako sudah tidak bisa menjawab dia lagi untuk selamanya.

Dada Kao Ceng masih mengucur banyak darah segar, dia sudah putus napas dengan penuh kebencian.

Kemarahan Kie Yam-ke penuh menyesakkan dada, dia membenci Liu Yam-yo sampai masuk ke dalam sumsum. Tiba-tiba mendongakkan kepala, jejak Liu Yam-yo sudah menghilang, dia hanya bisa menggendong mayat Kao Ceng yang masih hangat itu, selangkah demi selangkah meninggalkan tanggul yang berpohon Liu itu.

Tubuh Kao Ceng masih meneteskan darah, setitik-setitik jatuh ke tanah di atas tanggul, merah luar biasa dan mencolok.

Sebenarnya hati Kie Yam-ke juga meneteskan darah.

ooo0dw0ooo