Terima Kasih buat yang sudah donasi, semoga rezeki cianpwee sekalian dilipatgandakan๐Ÿ™

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 13

Jilid 13

Anak buah Wang Guai hanya memiliki ilmu silat biasa-biasa saja, mereka tidak bisa menahan serangan dari orang-orang golongan Tian Shui, hanya dalam sekejap sudah banyak yang mati sedangkan yang lainnya segera melarikan diri. Yang pertama kali melarikan diri adalah Ketua Ketiga, yaitu Ni Jing Hua, karena sejak awal dia berjalan bersama dengan dua orang murid Liao Yin yang bernama Miao Shi dan Miao Yu, sepanjang perjalanan mereka bergurau dan saling menggoda, membuat hatinya menjadi senang.

Karena terus bergurau dia dan kedua biksuni itu tertinggal jauh dari rombongan, waktu dia melihat Biksu Xuan Gui memimpin orang-orangnya datang kesana.

Dia tahu bagaimana kelihaian Biksu Xuan Gui, tapi dia tidak memberitahu kepada kedua biksuni itu dan langsung melarikan diri, karena itu sampai saat ini dia masih bisa hidup.

Kedua biksuni itu layaknya katak dalam sumur, mereka mengira ilmu silat yang mereka miliki sudah cukup hebat dan menganggap enteng kepada pendekar-pendekar yang datang.

Kedua biksuni itu menggerakkan pedangnya dan siap bertarung dengan para pendekar. Miao Yu bertarung dengan Li Ke Ming, hanya dalam dua puluh jurus, dia mendapatkan kesempatan untuk menyerang terus.

Yang bertarung dengan Miao Shi adalah seorang pendekar muda, Zhang Qing Fang, dia tahu yang mempimpin mereka adalah seorang teman dari dunia persilatan, dia tidak sudi meladeni kedua biksuni itu, maka itu dia menghindari bertarung dengan mereka, dengan pena hakimnya dia menotok kesana dan kesini, dalam sepuluh jurus dia sudah berada di atas angin.

Miao Shi sudah terdesak mundur.

Di kelompok perampok yang memiliki ilmu silat paling tinggi adalah Liao Yin, dalam pertarungan itu dia bisa melihat Song Wen Liang dan Wang Guai secara berturut-turut mati, dia tahu bahwa dia akan kalah, dia berteriak, “Tarik kembali pasukan!” dan dia pun menyerang dengan gencar sambil terus mundur.

Xuan Gui adalah seorang biksu, dia tidak berniat untuk membunuh, dia menarik kembali serangan pedangnya yang dahsyat dan membiarkan Liao Yin beserta pasukannya pergi.

Miao Yu mendengar teriakan gurunya, dia pun ingin melarikan diri, tapi sisa-sisa orang kantor Biao sudah datang, dia terkepung oleh mereka yang menjadi petugas kantor Biao Zhen Yuan bersama dengan Liang Yu-rong. Orang kantor Biao yang bernama Jiang Zao Ping melihat teman-temannya secara berturut-turut telah mati, kemarahan memenuhi dadanya, dia tidak ingat lagi dengan peraturan dunia persilatan, bersama-sama dengan Li Ke Ming, dia menyerang Miao Yu.

Hanya dalam waktu yang singkat darah dan teriakan bercampur menjadi satu.

Miao Shi dan Miao Yu masuk ke kuil Liao Yin dalam usia yang begitu muda, sekarang mereka menuju jalan kematian.

= ooOOOoo =

Jalan gunung itu semakin sepi.

Uang yang diantarkan oleh kantor Biao Zhen Yuan kurang lebih bernilai tiga ratus ribu tail, uang itu dikumpulkan oleh Gan Shu dari beberapa bos. Uang itu mereka belikan obat-obatan kemudian dijual.

Beberapa pelanggan melihat para perampok itu datang menyerang, ada juga orang kantor Biao Zhen Yuan yang pengkhianat dan ikut merampok, mereka kaget dan juga takut. Mereka berlarian untuk bersembunyi diantara keledai-keledai.

Begitu perampok-perampok itu sudah pergi, mereka baru berani keluar. Dengan cepat mereka keluar untuk berterima kasih kepada Pak tua yang hebat itu dan Biksu Xuan Gui.

Jiang Zao Ping terpaku, dalam hati dia berpikir, “Baru saja memasuki Si Chuan, keadaan sudah begitu berbahaya. Perjalanan dari sini ke Zheng Du masih harus menempuh ribuan kilometer lagi. Sekarang hanya tinggal aku sendiri, bagaimana rombongan ini bisa sampai kesana?”

Biksu Xuan Gui dengan tertawa berjalan ke arahnya, dia bertanya, “Apakah Tuan adalah orang dari kantor Biao?”

Lawan bicaranya terpaksa mengangguk, kemudian biksu Xuan Gui berkata lagi, “Aku adalah Tian Shui Yu-quan-guan, Xuan Gui. Marilah ikut aku! Aku akan memperkenalkan beberapa teman kepadamu. Tenanglah Tuan, di dunia persilatan ini, kami selalu membantu orang hingga tuntas. Tuan tidak perlu merasa khawatir bagaimana cara mengantar Biao ini sampai di tempat tujuan.”

Mereka berdua berjalan ke arah pak ma itu. Biksu Xuan Guai berkata, “Tuan Jiang, ini adalah pendekar berbaju hijau, Ma Zao-ling ” Jiang Zao Ping segera memberi hormat dan berkata, “Aku adalah Jiang Zao Ping. Aku tidak tahu bahwa Tetua Ma berada disini, maaf ”

Ma Zao-ling tertawa dan berkata, “Tuan Jiang, tidak perlu merasa sungkan.”

Xuan Gui yang berada disisi mereka berkata, “Tuan Jiang, Pendekar Tua Ma berjanji akan mengantarkanmu sampai ke Feng Yi. Daerah sana sudah dekat dengan Tian Fu. Aku akan menggunakan merpati memberitahu Qing Zheng dan E Mei, dua perkumpulan itu berharap mereka bisa membantumu supaya tiba dengan selamat sampai ditujuan. Tuan boleh merasa tenang.”

Jiang Zao Ping sangat gembira. Dia dan beberapa pelanggannya terus berterima kasih kepada mereka.

= ooOOOoo =

Sudah beberapa hari ini, Meng Ju-zhong selalu merasa tidak tenang, tidur dan makan pun tidak enak.

Semenjak dia bermain belakang dan telah diketahui oleh Du Xiang-jun, istrinya yang lembut dan baik itu sudah tidak terlihat lagi.

Dia pun tidak berani memanggil Chun Hong ke tempatnya. Dia hanya bisa berdiam di perpustakaannya, dengan diam-diam dia menghitung kepulangan Liao Yin.

Hari sudah malam, dia tetap tidak menyalakan lilin di ruangan itu.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, kemudian ada bayangan seseorang yang masuk, “Siapa!” dia bertanya dengan ekspresi kaget.

“Kakak Meng, telah terjadi sesuatu” dia masuk sambil menutup pintu. Dia adalah Liao Yin Shi Tai—Han Wu-niang.

“Apa?” karena terkejut wajah Meng Ju-zhong menjadi pucat. Dia berkata, “Tadi kau bilang apa?”

“Pekerjaan kita kali ini gagal total!” kata Han Wu-niang, “Orang Mai Ji Shan dan semua orangku telah mati.”

Karena terkejut, mata Meng Ju-zhong membelalak begitu besar. Setelah lama dia baru bisa berkata, “Jangan terburu-buru.... kau.... kau duduklah dulu baru bercerita.”

Han Wu-niang duduk dan menceritakan apa yang telah terjadi di gunung Min.

Meng Ju-zhong dengan marah berkata, “Apakah benar yang memimpin mereka adalah Biksu Xuan Gui dan Pak Tua Ma Zao-ling?”

“Aku dan Xuan Gui bertarung cukup lama, aku tidak akan salah melihatnya.” Han Wu- niang menarik nafas, “Ada satu lagi yang tidak kukenal, tapi kalau bukan karena si Tua Ma Zao-ling di dunia persilatan bagian barat laut, siapa yang dalam beberapa jurus bisa membunuh Wang Guai dan Song Wen Liang?”

“Kau tidak salah, itu pasti dia!” seru Meng Ju-zhong, “Walaupun Xuan Gui adalah seorang biksu tua tapi jurus pedang tujuh bintangnya sangat lihai, tapi itu tidak perlu ditakuti. Hanya saja Pak Tua Ma, dua puluh tahun yang lalu sudah terkenal di dunia persilatan bagian barat laut. Kita harus berhati-hati kepadanya. Wu-niang, keadaan sekarang sangat gawat, kau harus diam di kuil Bai Yun. Sementara ini jangan keluar, begitu keadaan sudah reda, aku akan mencarimu untuk berunding lebih lanjut.”

Kata Han Wu-niang sambil menarik nafas, “Untung tidak ada yang hidup dan terjatuh di tangan mereka, kalau tidak. ”

Kata-katanya belum selesai, terdengar pintu dibuka seseorang. Dari ambang pintu ada seseorang yang berbatuk.

Meng Ju-zhong dan Han Wu-niang segera membalikkan badan untuk melihat. Mereka sangat kaget, karena yang berdiri di depan mereka adalah Hua Shan Zi Feng, Du Xiang-jun.

“Han Wu-niang, kau datang lagi!” seru Du Xiang-jun dengan dingin, “Duduklah, sudah susah payah datang kesini tidak perlu merasa sungkan!”

Meng Ju-zhong dengan cepat berkata, “Istriku, dia adalah ”

"Tidak perlu banyak bicara,” Du Xiang-jun berkata, “Meng Ju-zhong, aku pernah berjanji kepadamu dan kau melanggar perjanjian ini. Aku sudah merasa lelah, rumah ini aku tinggalkan untuk kalian berdua.”

“Istriku ” “Dengarkan aku,” kata Du Xiang-jun, “Hua Shan Zi Feng tidak sudi berada disisi kalian untuk mencari sesuap nasi. Baiklah, kita akan bertemu lagi lain kali, aku berharap kalian baik-baik jaga diri!”

Dia sudah membalikkan badan dan akan pergi.

Han Wu-niang hanya bengong sebentar, kemudian dia dengan senang dia berkata, “Bibi Tua, apa kehebatanmu? Sewaktu masih ada gurumu aku merasa takut, sekarang pengemis tua sudah pergi entah kemana, aku tidak takut kepadamu!”

Dia mendekati Meng Ju-zhong dengan genit dia berkata, “Kakak Meng, dia pergi bukankah itu lebih bagus? Sekarang aku akan pindah dan tinggal disini. Kau juga tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi datang ke kuil Bai Yun....” Kata-katanya belum habis, dia sudah masuk ke dalam pelukan Meng Ju-zhong.

“Tidak, tidak boleh,” Meng Ju-zhong mendorongnya.

Han Wu-niang terkejut, tapi Meng Ju-zhong berkata lagi, “Dia hanya sedang marah, mana mungkin dia benar-benar akan meninggalkan aku. Apalagi anak Hui dan anak Feng sudah besar. ”

Han Wu-niang marah dan berkata, “Apa? Mereka berdua juga akan mengurusku? Hm....Kau selalu menolak, apakah ada rubah kecil yang sedang menginginkan posisi ini?”

Meng Ju-zhong langsung teringat kepada Chun Hong yang cantik dan seksi. Sekarang hal ini disinggung oleh Han Wu-niang, wajahnya memerah.

Meng Ju-zhong berkata, “Tidak ada hal semacam itu. Wu-niang, kita sudah lama saling mencintai, mana mungkin aku mencari yang lain?” Dia memeluk Han Wu-niang dan dengan lembut berkata, “Wu-niang, kau jangan memikirkan hal lainnya. Masalah di Min Shan belum selesai, kita harus tetap waspada. Bila tidak ada apa-apa, lebih baik kau pulang dulu ke kuil Bai Yun. Kalau Bibi tua itu sudah benar-benar pergi, aku akan menjemputmu.”

Han Wu-niang berpikir sebentar, dengan nada minta dikasihani dia berkata, “Kakak Meng, bukankah si Bibi tua itu sudah tidak ada disini lagi, biarkan aku menginap semalam disini. Kakak, aku sangat merindukanmu.”

Meng Ju-zhong agak ragu, dia tidak berkata lagi dan memeluk tubuh Han Wu-niang dengan erat. Semenjak dia diketahui mempunyai hubungan dekat dengan Peng Zhi-xiao, Meng Qi- fang selalu diawasi oleh ibunya. Ibu dan putri itu tidur dalam satu kamar yang sama.

Semenjak Chun Hong dan Meng Ju-zhong berhubungan dan diketahui oleh Du Xiang- jun, setiap malam dia selalu mengobrol dengan ibunya.

Tapi tiba-tiba malam ini dia tidak melihat ibunya masuk kamar, Meng Qi-fang merasa heran. Hari belum terang, dia sudah keluar dari kamar untuk mencari ibunya.

Pelayan yang bangun pagi pun tidak ada yang melihat ibunya. Meng Qi-fang mengira ibunya berada diperpustakaan ayahnya.

Dia berpikir hubungan antara ayah dan ibunya sudah lama retak. Bila mereka bisa rujuk, itu akan lebih baik. Dengan senang dia masuk ke kamar ayahnya, ternyata disana tidak ada seorang pun!

Dia merasa aneh, “Kemana kedua orang tuaku?” Akhirnya dia mencoba mencari ke perpustakaan ayahnya.

Sekarang matahari sudah terbit. Sinar matahari sangat terang, burung pun terdengar berkicauan.

Meng Qi-fang tidak berpikir macam-macam, dia langsung berjalan ke perpustakaan ayahnya. Baru pintu itu akan diketuk, dia sudah mendengar dari dalam kamar ada yang tertawa.

Dia terpaku, didengarnya lagi kalau-kalau telinganya salah mendengar, kata-kata cabul dan tawa genit keluar dari kamar itu, membuat orang yang mendengarnya merasa malu....

Bukan ibunya yang berada di dalam.

Wajahnya malu hingga memerah. Kemudian dia mundur. Dalam hati dia berpikir, “Siapa perempuan itu? Mengapa dia begitu berani. ”

Dia ingin membuka pintu, kemudian menghajar perempuan genit itu. Tapi dia berpikir tentang ayahnya, dia menjadi ragu.

Jauh-jauh dia bersembunyi disebuah pohon untuk melihat keadaan di dalam ruangan itu. Setelah lama pintu baru dibuka, keluarlah seorang biksuni. Kedua pipinya bersemu merah, wajahnya segar, dia tergesa-gesa keluar dari pintu belakang. “Siapakah biksuni ini?” Meng Qi-fang merasa aneh. “Sejak kapan dia mulai berselingkuh dengan ayah? Walaupun ibu sudah setengah baya, tapi dia tetap cantik dan luwes. Mengapa ayah bisa menyukai dia, seorang biksuni yang botak?”

Dengan bengong dia berdiri lama. Dia berjalan untuk kembali lagi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Hatinya masih terasa kecau, kepalanya pusing.

Bagaimana dia bisa sampai ke kamar, dia pun tidak ingat. Pikirannya seperti kertas yang berwarna putih.

Pelayan yang masuk dan menyuruhnya makan, dimarahinya. Karena mereka sudah tahu bagaimana sifat nona mereka. Sayur dan nasi diantar ke dalam kamar, kemudian mereka secara diam-diam keluar.

Meng Qi-fang sama sekali tidak bernafsu makan. Dia berbaring di tempat tidur seharian. Beberapa kali dia bertanya kepada pelayan dimana ibunya, tapi tidak ada seorang pun yang tahu.

Pada hari kedua pagi harinya dia baru agak sadar, perutnya mulai terasa lapar. Dia melihat di atas meja tidak ada makanan, dia ingin marah tiba-tiba dia berpikir, “Apakah biksuni yang tidak tahu malu itu, pagi-pagi tadi sudah menggoda ayah? Apakah dia akan diusir oleh ayah? Jangan salah paham dulu kepada ayah, baiklah aku akan bertanya dulu. ”

Dia berjalan pelan-pelan ke perpustakaan ayahnya. Tiba-tiba di dalam perpustakaan terdengar suara yang cabul....

Suara perempuan itu sangat manja. Terdengar suara perempuan itu bahwa dia masih muda. Suara laki-lakinya adalah suara ayahnya. Suara ayahnya pun seperti lebih muda.

Perempuan itu dengan manja tertawa, “.... jangan-jangan kumismu keras dan keras, membuatku merasa gatal, aku.... aku.... tidak tahan ”

“Bukankah.... kau menyukainya.... cepat, cepat.... kesini.... aku....” Kemudian terdengar suara yang senang dan suara....

“Ayahku selalu penuh wibawa, mengapa bisa menjadi seperti itu....” Meng Qi-fang karena merasa malu, dia menjadi marah. Tiba-tiba dia berlari dan menendang pintu kamar ayahnya. Meng Ju-zhong yang setengah telanjang melihat yang berdiri diambang pintu adalah putrinya yang tampak sedang marah, dia menjadi bingung.

Perempuan itu pun segera duduk, rambutnya kusut, kedua pipinya bersemu merah, dia adalah pelayan yang bernama Chun Hong!

Meng Qi-fang sama sekali tidak menyangka bahwa ayahnya di siang bolong begitu masih bisa bermain perempuan. Dia kaget hingga menjadi bengong, kemudian dia menangis sambil berlari.

Ibunya menghilang, ayah menjadi genit dan selalu bermain perempuan. Meng Qi-fang benar-benar merasa dunianya hancur. Dengan bingung dia berlari dan kembali ke kamarnya.

Dia telungkupkan tubuhnya ditempat tidur dan menangis sekeras-kerasnya. Dia marah- marah dan memecahkan semua barang-barang antik yang mahal. Kemudian dia pun berlari keluar.

Semua pelayan tahu bahwa nona besar mereka sifatnya selalu seperti itu. Walaupun dia memecahkan barang atau menangis sekeras-kerasnya, para pelayan hanya bisa berdiri di kejauhan. Tidak ada seorang pun yang berani menasihatinya.

Begitu dia berlari keluar dari kamar, para pelayan pun hanya bisa dengan cepat menghindar, mereka pun tidak berani menatap wajah nona mereka.

Dengan bingung Meng Qi-fang berlari melewati jalan dan gang. Orang-orang melihatnya dengan ekspresi aneh. Begitu dia merasa ada angin yang berhembus, dia baru sadar bahwa dia sudah sampai di Wu Quan Shan.

Di hadapannya banyak bunga dan burung. Pohon besar berada dimana-mana, pemandangan disana begitu indah.

“Kemana aku harus pergi ?” dia merasa kebingungan. “Masuklah ke agama Budha. Korbankanlah semua jiwa raga untuk Budha.” Pikiran aneh ini masuk kedalam otaknya.

Dia ragu sebentar kemudian dengan langkah mantap dia masuk ke dalam kuil Bai Yun.

Ketua kuil Bai Yun, Liao Yin Shi Tai sedang membaca kitab suci untuk murid-muridnya yang telah meninggal. Tiba-tiba dia melihat Meng Qi-fang seperti orang gila masuk ke dalam kuil. Liao Yin merasa kaget. Dengan hormat dia berkata, “A Mi Ta Ba, Nona Meng tiba-tiba datang ke kuil, sebenarnya ada apa?”

Meng Qi-fang berteriak, “Liao Yin Shi Tai, aku ingin menjadi biksuni di kuil ini, aku ingin menjadi muridmu!”

“A Mi Ta Ba!” Liao Yin sangat terkejut. Dia berkata, “Nona Meng, kau jangan bercanda. Disini memang sangat sepi tapi yang datang untuk menjadi biksuni adalah orang yang sudah tidak mempunyai orang tua dan saudara. Nona adalah orang yang cukup makan dan minum. Kantor Biao Zhen Yuan adalah kantor Biao paling kaya di Lan Zhou. Nona tidak cocok menjadi seorang biksuni.”

“Tidak! Anggaplah aku sejak kecil tidak mempunyai orang tua dan tidak memiliki apa pun, itu kan boleh!” Meng Qi-fang berteriak sambil menangis.

Liao Yin dengan ragu berkata, “Mungkin Nona tiba-tiba mendapat kesulitan dan tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat. Nona boleh beristirahat dulu di kuil kami, aku akan membereskan kamar dulu untuk Nona.”

“Tidak, aku hanya ingin menjadi muridmu!” Meng Qi-fang berteriak, “Bila kau tidak mau menerimaku menjadi muridmu, aku akan membakar kuil ini!”

“A Mi Ta Ba! Dosa, itu dosa!” Liao Yin melihat Meng Qi-fang dalam keadaan sangat marah. Dalam hati dia berpikir, “Apakah ada sesuatu yang terjadi di kantor Biao Zhen Yuan? Mengapa dia tiba-tiba menjadi seperti itu? Aku harus menenangkan dia dan baru bisa mengetahui apa yang sudah terjadi.”

Liao Yin sudah mempunyai ide, dia berkata, “Nona ingin menjadi biksuni. Aku adalah seorang biksuni, Budha selalu baik kepada kita, aku tidak akan menolak Nona, hanya murid yang baru masuk harus menjalankan masa percobaan selama tiga bulan baru bisa dipangkas rambutnya. Harap Nona mau mengikuti peraturan kami!”

“Aku hanya meminta Guru mau menerimaku menjadi muridmu, memangkas rambut atau tidak, itu urusan nanti.”

Karena kuil Bai Yun ini bukan kuil yang benar-benar bersih. Liao Yin sendiri pun bermain cinta dengan Meng Ju-zhong, karena itu dia jarang melarang murid-muridnya melakukan perbuatan apa pun.

Malam baru tiba, sudah ada beberapa pemuda iseng yang datang kekuil. Saat itu biasanya adalah waktu untuk belajar membaca kitab suci, tapi sekarang sudah diganti dengan waktu bergurau dan saling menggoda. Begitu larut, di kuil yang sepi ini dipenuhi dengan tawa genit dan suara cabul. Benar- benar membuat telinga orang menjadi panas.

Meng Qi-fang yang baru dewasa dan memasuki masa puber. Matanya yang melihat dan telinganya yang mendengar suara seperti itu membuat hatinya tidak bisa diredam, seperti rasa gatal tapi tidak bisa digaruk....

Dalam rasa bingungnya itu, dia merasa Liao Yin Shi Tai seperti biksuni yang dilihatnya subuh tadi. Biksuni yang keluar dari perpustakaan ayahnya.

Begitu Peng Zhi-xiao lolos dari kematian, dia tidak berani segera pulang ke Lan Zhou. Sepanjang jalan dia sangat hati-hati. Pagi tidur dan malam hari mulai berjalan.

Hari ini dia sudah tiba di luar Lan Zhou. Dia diam dihutan di dekat kota Yang Zhou selama satu hari. Begitu malam tiba, dia baru masuk ke kantor Biao Zhen Yuan.

Walaupun malam belum larut, tapi di kantor Biao kebanyakan kamarnya sudah dipadamkan lampunya, keadaan Zhen Yuan yang dulu dan sekarang tidak sama.

Karena Peng Zhi-xiao merasa hatinya tidak tenang dan selalu merasa ketakutan, dia masuk secara sembunyi-sembunyi dan berjalan pelan-pelan. Dia langsung masuk ke perpustakaan Meng Ju-zhong.

Sewaktu dia sedang berjalan mengendap-endap, dia melihat ada bayangan yang keluar dari kamar Shen Zhong-yuan. Hanya melihat sebentar pintu sudah ditutup.

Hati Peng Zhi-xiao tertawa, “Ternyata keledai pincang ini juga suka bermain perempuan.”

Karena merasa ingin tahu siapa perempuan itu, tapi benar-benar tidak disangkanya bahwa perempuan ini sejalan dengannya—sama-sama berjalan ke arah perpustakaan Meng Ju-zhong.

Dari kejauhan dia melihat perempuan itu tidak mengetuk pintu tapi bayangan itu dengan cepat masuk ke dalam kamar.

Peng Zhi-xiao berhenti, dia merasa aneh, “Apakah Ketua Biao memiliki rahasia dan perempuan itu ”

Meng Ju-zhong adalah orang terkenal dan sangat berwibawa di kalangan dunia persilatan Lan Zhou, tapi Peng Zhi-xiao tahu sebenarnya Meng Ju-zhong adalah orang yang licik dan seorang pembunuh yang banyak akal. Dia mengira Meng Ju-zhong sedang merencanakan hal penting. Dia tidak berani masuk. Dari tempat jauh dan di sudut dia pun duduk disana. Setelah lama dia tetap tidak melihat perempuan itu keluar. Tapi lampu sudah dipadamkan.

Dia tertawa, “Perempuan ini bukan Nyonya Du, ternyata Ketua Meng pun ”

Peng Zhi-xiao tampak ragu tapi dia tetap secara sembunyi-sembunyi kembali ke kamarnya. Lampu tidak dipasangnya dan dia langsung tidur.

Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Begitu terbangun, hari sudah siang.

Chun Hong seperti orang yang kehilangan perasaan. Dia membiarkan Meng Ju-zhong meremas, meraba dan melampiaskan nasfunya, mendengar suaranya yang terengah- engah dam kasar, tapi hatinya mengkhayalkan hal lain.

Setelah makan siang, Chun Hong dengan cepat membereskan kamar dan membersihkan diri lalu berdandan. Dengan cepat dia sudah berjalan keperpustakaan Meng Ju-zhong.

Nyonya sudah pergi dari rumah, Peng Zhi-xiao masih belum kembali dari mengantarkan barang Biao. Dia sama sekali tidak merasa khawatir.

Dalam hati dia berpikir, “Aku harus cepat menjilat pak tua genit itu, bila nyonya tidak kembali lagi, aku akan memaksa dia agar mau menikah denganku. Saat itu aku akan menyuruh marga Peng berlalu dari sini.”

Dengan senang dia berjalan, tiba-tiba ada suara yang memanggil Chun Hong, “Kemarilah!”

Dia bengong, ternyata dia adalah pengurus Shen Zhong-yuan.

Chun Hong tertawa dan berkata, “Pengurus, tuan besar memanggilku. Aku harus cepat- cepat kesana. Aku tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu.”

“Aku tahu.” kata Shen Zhong-yuan, “Aku ingin minta agar kau menyampaikan hal ini kepada Ketua Meng. Bila aku kesana akan mengganggu beliau.”

Chun Hong mendekat dan berkata, “Hal apa? Cepat katakan!” Shen Zhong-yuan tertawa licik dan berkata, “Jangan tergesa-gesa. Sekarang ini hal yang menyangkut masalah laki-laki dan perempuan akan ada waktunya, mengapa harus terburu-buru? Silakan kesini mampir rumahku dan duduk-duduk.”

Walaupun Chun Hong merasa ragu, tapi dia tetap mengikuti Shen Zhong-yuan masuk ke kamarnya. Tapi Shen Zhong-yuan langsung mengunci pintu.

Chun Hong dengan kaget bertanya, “Kau mau apa?”

“Jangan takut, aku tidak akan memakanmu!” Shen Zhong-yuan tertawa. Dia berkata, “Chun Hong, walau bagaimanapun kita bukan orang yang tidak saling mengenal, ada sedikit masalah pun aku langsung tahu. aku harus memberitahu hal ini kepadamu juga ”

Chun Hong tertawa dan berkata, “Pengurus Shen, kau tidak perlu sengaja bergosip denganku, aku sudah tahu bagaimana cara kerjamu, tapi kau jangan lupa, karena marah nyonya meninggalkan rumah. Tuan besar bersiap akan menikahiku. Kau jangan berharap kepadaku. Bila tuan besar tahu, dia akan mematahkan kaki, kau tidak akan bisa berjalan lagi.”

Sesudah berbicara seperti itu, dengan tenang dia duduk.

Shen Zhong-yuan tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya penuh penghinaan dan rencana yang membuat bulu kuduk Chun Hong jadi berdiri. Chun Hong pun dengan bengong dan hanya menatapnya.

Sesudah tertawa, Shen Zhong-yuan berkata, “Kau jangan menggunakan nama Meng Ju-zhong untuk mengancamku. Jujur saja aku akan beritahu kepadamu, sekarang ini dia seperti pepatah berbunyi: 'boneka tanah menyebrangi sungai, dia sendiri pun sudah tidak bisa menjaga dirinya sendiri'. Kau masih dengan bodoh menunggu dia akan menikahimu, benar-benar sangat dikasihani. Kau membuatku ingin tertawa sampai menangis.”

Chun Hong marah dan berkata, “Pengurus Shen, jangan mengucapkan bahasa seperti menyumpahi tuan besar, apakah kau tidak takut aku akan menyampaikan hal ini kepada tuan besar?”

Shen Zhong-yuan menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak, kau tidak akan pergi kesana. Mungkin bila kau tahu kau akan dipecut dan disuruh, kau pun akan menolak pergi kesana. Aku berkata seperti itu hanya untuk kebaikanmu.” Hati Chun Hong bergetar tapi dia tetap berkata, “Jangan membohongiku. Tuan besar mempunyai banyak uang, dia orang terkenal, siapa yang bisa membuatnya susah?”

Dengan dingin Shen Zhong-yuan berkata, “Dia sendiri yang sudah membuat dirinya kesulitan. Dia sendiri yang membunuh dirinya. Siapa pun tidak bisa menolongnya lagi.”

“Jangan mengejutkanku dengan kata-kata itu, sudahlah kalau tidak ada urusan penting lainnya, aku akan pergi.” Chun Hong berdiri ingin pergi.

Shen Zhong-yuan dengan dingin berkata, “Pergilah kalau kau mau. Bila terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku yang tidak memberitahu dulu semua ini kepadamu.”

Shen Zhong-yuan benar-benar sangat licik, bila dia menarik-menarik Chun Hong dengan paksa, Chun Hong pasti akan memaksa pergi.

Sekarang Chun Hong benar-benar tidak ingin pergi kesana. Dia duduk kembali dan berkata, “Pengurus Shen, lebih baik kau berterus terang saja apa yang telah terjadi di kantor Biao Zhen Yuan? Apakah ada hubungannya dengan nyonya?”

“Hal ini sudah terjadi, tapi tidak ada hubungannya dengan nyonya.” “Apakah ini akan menggangguku?”

Shen Zhong-yuan tertawa licik dan berkata, “Harus dilihat dulu bagaimana cara kau menghadapi masalah ini.”

“Pengurus Shen hayo berterus teranglah,” Chun Hong mulai tertawa genit dan berjalan kehadapan Shen Zhong-yuan. Kedua tangannya meraba pundak Shen Zhong-yuan dan berkata, “Tolong terus teranglah kepadaku.”

Dalam hati Shen Zhong-yuan ingin tertawa, “Ikan kecil ini sudah terpancing.” Tapi Shen Zhong-yuan terdiam. Dengan pelan dia berkata, “Kali ini Peng Zhi-xiao dan Feng Yan Zhang pergi mengantarkan barang Biao, apakah kau tahu?”

“Kantor Biao tugasnya memang mengantarkan barang Biao, apa anehnya?” Dengan santai Shen Zhong-yuan berkata, “Mereka tidak akan kembali lagi.” “Kau bilang apa?” Chun Hong merasa kaget.

Walaupun dia berusaha menghindar dari Peng Zhi-xiao tapi dia masih sering teringat kepada hubungan mereka yang dulu. Dia berkata, “Apa yang telah terjadi kepada mereka?” “Tidak lama lagi, mayat mereka akan diantar ke Lan Zhou.”

“Ilmu silat mereka sangat tinggi, siapa yang sanggup membunuh mereka?” “Meng Ju-zhong.”

“Apa!” Chun Hong sangat kaget. Setelah lama dia baru bisa bertanya lagi, “Bukankah mereka berdua adalah orang kepercayaan tuan besar, mengapa bisa menjadi. ”

Kata Shen Zhong-yuan dengan dingin, “Semua adalah rencana Meng Ju-zhong yang meminjam kepala mereka berdua untuk menutup mulut orang-orang dunia persilatan dan ingin menelan uang sebanyak 300.000 tail perak. Siapa tahu ayam yang tidak tercuri, beras pun habis dipakai. Orang-orang dunia persilatan bagian barat laut tiba- tiba mendapat kabar. Mereka semua bergerak. Pendekar berbaju hijau, Ma Zhao-ling yang sudah dua puluhan tahun pensiun, juga muncul disana. Orang-orang kuil Bai Yun dan Mai Ji Shan semua sudah mati. Ekor serigala Meng Ju-zhong sudah terungkap. Dengan cara apa lagi dia bisa meloloskan diri dari bencana besar ini?”

Chun Hong menjadi bengong, dia tidak bisa berkata apa pun. Air matanya terus menetes. Dengan suara kecil dia bertanya, “ jadi aku harus bagaimana?”

Shen Zhong-yuan memeluknya. Dengan sangat berani dia mulai meraba tubuhnya. Dengan senang dia berkata, “Sayangku, jangan terkejut seperti itu. Bila mereka semua mati, masih ada aku. Bila kantor Biao Zhen Yuan diperiksa oleh polisi atau akan ada pertarungan besar, siapa yang akan mencurigaiku pengurus kecil ini? uang Meng Ju- zhong dalam jumlah besar sudah ada ditanganku. Aku bisa membawamu kabur ketempat manapun. Uang sebanyak itu cukup untuk kita pakai berdua dan bisa hidup dengan tenang.”

Pikiran Chun Hong sekarang mulai dipenuhi dengan harapan, tapi itu hanya sebentar, dia merasa ada yang tidak beres.

Dia memberontak dari pelukan Shen Zhong-yuan dan berkata, “Kau berbohong kepadaku, aku tidak percaya, aku ingin bertanya kepada tuan besar langsung!”

“Kalau kau mau pergi, pergi saja!” walaupun Shen Zhong-yuan terkejut tapi wajahnya terlihat sangat tenang. Dalam hati dia berpikir, “Akalmu memang banyak, tapi tidak dipakai pada tempatnya, sepertinya Chun Hong adalah orang bodoh, padahal dia tetap lebih pintar dariku. Apa yang ingin dia ketahui, dia yang akan mencari sendiri kesini. Tapi hatiku hanya ada dia, mana bisa aku tidak sayang kepadanya?”

Shen Zhong-yuan berpura-pura menarik nafas dan berkata, “Emas dan uang Meng Ju- zhong begitu banyak, asalkan aku mau, dengan mudah aku akan mendapatkannya. Tapi bila tidak untukmu, untuk apa semua itu?”

Chun Hong berpikir lama, akhirnya dia percaya kepada kata-kata Shen Zhong-yuan. Dengan cepat dia masuk lagi ke dalam pelukan Shen Zhong-yuan.

Dengan manja dia berkata, “Aku salah paham kepadamu, apakah kau masih marah kepadaku? Aku ”

Kata-katanya belum habis, mulut kecilnya sudah tertutup oleh bibir yang besar.

Shen Zhong-yuan sangat senang. Dia mengangkat tubuh yang hangat dan lembut dan meletakannya diatas tempat tidur....

Walaupun bukan pertama kalinya dia meraba Chun Hong di dada dan di bagian bawah tubuhnya, tapi semua harus dengan akal yang bermacam-macam baru bisa mendapatkannya.

Tapi hari ini dia yang mengantarkan dirinya ke dalam pelukan Shen Zhong-yuan. Benar-benar sangat mengasyikkan.... mereka berdua seperti orang gila, akhirnya mereka kelelahan....

Chun Hong tidak pernah merasa begitu puas. Dia tertidur dengan lelap. Begitu terbangun Shen Zhong-yuan masih dengan lembut merabanya.

Chun Hong tertawa genit, dia berkata, “Kau begitu baik, aku tidak akan kesana lagi.”

“Tidak, kau harus tetap kesana. Paling sedikit selama dua hari ini,” suara Shen Zhong- yuan begitu tenang dan serius.

Chun Hong terpaku dan duduk, dengan aneh dia bertanya, “Apa maksudmu? Kau membiarkanku ”

Shen Zhong-yuan memeluknya lagi kemudian berkata, “Sayang, kau mengira aku sudi melakukan semua ini? Tapi di perpustakaan Meng Ju-zhong, dilemarinya tersimpan banyak emas dan batu-batu mulia, harganya sangat mahal. Kau harus berusaha mendapatkan kuncinya ” Dengan manja Chun Hong berkata, “Kau benar-benar serakah!” “Semua ini kulakukan untukmu ”

= ooOOOoo =

“Mengapa kau terlihat begitu tidak bersemangat?” Meng Ju-zhong telungkup di atas tubuhnya dengan terengah-engah.

Chun Hong terpaku kemudian menenangkan diri dan berkata, “Itu karena anak tersayangmu yang melarikan diri dan membuat kami seharian sibuk mencari. Kaki dan pinggangku serasa mau putus.”

Meng Ju-zhong mengela nafas dan berkata, “Jangan menghiraukan dia lagi. Aku sudah tahu dia berada dikuil Bai Yun. Dia akan baik-baik saja di sana, ayo ”

Suara nafas yang berat dan suara yang membuat hati orang bergetar menjadi satu....

Begitu terbangun hari sudah siang. Matahari sudah melewati jendela masuk ke dalam kamar. Meng Ju-zhong sedang menikmati dan meraba tubuh indah itu.

Sewaktu dia ingin mengulangi hal yang membuatnya mabuk kemarin malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Suara ketukan tidak besar tapi terus menerus.

Meng Ju-zhong merasa kesal, dia melepaskan Chun Hong dan berkata, “Coba kau lihat siapa yang mengetuk pintu?”

Chun Hong segera mengenakan baju dalamnya.

Bajunya belum rapi dan pintu sudah terbuka. Begitu dibuka, dia sudah ditampar dua kali hingga giginya lepas, bibirnya pun mengeluarkan darah. Dia merasa sakit dan berteriak lalu lari.

Yang berdiri di ambang pintu adalah Peng Zhi-xiao. Kedua matanya menjadi merah seperti mau meneteskan darah.

Meng Ju-zhong terkejut, tapi dengan cepat dia sudah menenangkan dirinya. Dia memakai bajunya lalu turun dari tempat tidur.

Wajahnya keras dan membentak, “Peng Zhi-xiao, kau mau apa?” Peng Zhi-xiao begitu melihat wajah Meng Ju-zhong saja, dia menjadi lemas. Dengan ragu dia berkata, “Ketua Biao, aku tahu ini bukan kesalahan Anda, semua ini karena si jalang ”

“Kentut!” Meng Ju-zhong membentak, “Bila itu memang dia, lalu bagaimana! Kau kira dia itu siapamu, istrimu? Kalau pun itu istri atau ibumu, apakah marga Meng ini tidak boleh memegangnya? Kau berani memukulnya di depanku, berarti kau telah menghinaku. Siapa yang memberimu keberanian seperti ini, kau benar-benar cari mati!”

Peng Zhi-xiao terkejut, wajahnya pucat dan berkata, “Ketua Biao, aku ”

Meng Ju-zhong membentak dan berkata, “Cepat kejar dan berlutut meminta maaf kepada Chun Hong sebanyak tiga kali maka aku akan melepaskanmu!”

Peng Zhi-xiao yang berhasil melarikan diri dari kematiannya di Gunung Mian. Ternyata sekarang dia dihina seperti itu, dia merasa sangat marah. Tapi dia masih bisa menahan diri.

Dengan suara kecil dia berkata, “Aku.... aku ini. ”

Kata Meng Ju-zhong, “Kau ini kenapa? Apakah tidak mau mendengar semua kata- kataku?”

Dalam hati Peng Zhi-xiao merasa marah, dia berpikir, “Aku juga seorang laki-laki. Marga Meng, kau memang baik kepadaku, tapi semua itu hanya untuk menarikku supaya aku menjual nyawaku, semua ini untuk keuntunganmu saja. Di kantor Biao Zhen Yuan ini, uangku memang lebih banyak dari orang lain, tapi aku pun sudah membantumu melakukan banyak kejahatan. Kau seperti ikan paus yang menelan harimau. Aku hanya mendapatkan sisa dari hal yang tidak kau inginkan. Kali ini kalau bukan karena aku memiliki kesempatan untuk lari, mungkin sekarang mayatku masih berada di gunung itu. Jauh-jauh aku datang untuk memberitahumu tapi yang kau malah membalasnya dengan kemarahan! Aku diatur olehmu, tidak menjadi masalah, tapi bila aku harus berlutut kepada perempuan jalang itu, maaf saja. Ibuku pun sudah kau hina, marga Meng, aku sudah tidak tahan lagi!”

Beberapa pikiran melesat seperti kilat melewati dalam otak Peng Zhi-xiao.

Dia tetap menahan dirinya. Peng Zhi-xiao berkata, “Ketua Biao, hari ini aku yang bersalah. Aku terlalu gegabah, harap Ketua Biao maklum. Aku akan meminta maaf kepada Nona Chun Hong.” Dia maju beberapa langkah dan berlutut. Tiba-tiba kedua tangannya secara bersamaan diayunkan, enam buah biao secara bersama-sama keluar.

Meng Ju-zhong sama sekali tidak ada persiapan. Segera dia mengeluarkan jurus untuk menghindari beberapa biao yang datang menyerang. Tapi kamar itu terlalu sempit, sulit untuk bergerak.

Salah satu biao berhasil menancap dipundaknya. Darah terus keluar, rasa sakit menusuk hingga ke hati. Tapi dia adalah Jin Chi Da Peng. Walaupun tubuhnya terluka, tapi dalam waktu singkat dia masih bisa mengeluarkan jurusnya untuk menyerang.

Tapi pundaknya yang terluka membuat serangannya menjadi miring, tenaganya pun tidak sekuat biasanya.

Peng Zhi-xiao sudah siap untuk mati. Dia ingin berhasil, begitu biao dilepaskan, sepasang pena hakimnya sudah berada di tangan. Dia siap untuk membunuh. Tapi dia merasa ada angin pukulan datang, dia kaget dan mundur. Begitu kakinya berdiri dengan benar, dia menyerang lagi.

Meng Ju-zhong menahan rasa sakit, kedua tangannya menggunakan jurus Zhui Hun Duo Ming Zhang Fa menahan serangan. Dalam waktu singkat mereka sudah bertarung sebanyak 30-40 jurus.

Di dalam kamar bayangan tangan seperti hutan. Banyak perabot yang terkena pukulan, ada yang pecah juga ada yang beterbangan.

Walaupun Chun Hong adalah seorang pelayan biasa, selama ini dia disayang dan diraba, kapan dia pernah dipukul? Karena merasa sakit membuatnya ingin marah.

Awalnya dia mendengar Peng Zhi-xiao akan meminta maaf kepadanya. Dia merasa sangat senang, tapi begitu melihat mereka berdua bertarung, dia baru tahu peristiwa ini sudah terlalu jauh dari yang dia harapkan.

Dia takut terluka, dia menghindar kesini dan kesana. Tepat di dekat tempat tidur, dia melihat ada sebuah pedang yang tergantung. Segera dia mencabut pedang itu dari sarungnya.

Dia ingin membunuh Peng Zhi-xiao untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi tangan kaki Peng Zhi-xiao bergerak dengan cepat. Dia tidak bisa membunuh, dia hanya bisa memegang pedang dan bengong. Waktu itulah, dari luar datang seseorang yang membentak, “Peng Zhi-xiao, kau sangat gegabah! Berani kurang ajar kepada atasan!”

Dia adalah si Sempoa Besi Shen Zhong-yuan.

Peng Zhi-xiao merasa terkejut. Karena dia terkejut dan menjadi lengah, segera pundak kiri sudah terkena pukulan Meng Ju-zhong. dia berteriak dan meloncat kesamping Chun Hong.

Chun Hong hanya bisa berteriak. Kaki Peng Zhi-xiao yang belum berdiri dengan benar, rusuk bagian kanannya telah tertusuk oleh pedang yang tajam. Tapi dia masih menahan rasa sakit dan mundur ke belakang.

Tapi Meng Ju-zhong seperti bayangan datang menghampirinya. Dengan Jurus Lima Setan Mengambil Nyawa dikeluarkan. Tangan kanannya sudah membelah kepala Peng Zhi-xiao. Segera darah bermuncratan.

Tubuhnya yang besar terjatuh dan tidak berdiri lagi. Badan Chun Hong pun ikut limbung dan dia pun terjatuh.

Hua Shan Zi Feng meninggalkan rumah. Meng Qi-fang juga meninggalkan rumah. Karena tidak ada yang menghalanginya lagi, setiap hari Meng Ju-zhong hanya bermain perempuan saja.

Kantor Biao Zhen Yuan menjadi kacau balau, bagian luar dan dalam kantor Biao tidak ada yang mengurus. Pelayan, pembantu hanya tahu bermain dan tidak bekerja.

Meng Shao-hui yang seharusnya menjadi tiang penyangga kantor Biao Zhen Yuan malah bingung. Dia bingung, kesal, tapi tidak ada cara untuk mengatasi semua masalah.

Bukan dia tidak mengasihani ayahnya, tapi dia tidak pernah mengurus kantor Biao Zhen Yuan, semua ini membuatnya serba salah, dia mencari kakak angkat ayahnya, tapi kakak angkat ayahnya malah sedang bersedih karena kehilangan anaknya. Apalagi anaknya yang hilang ada hubungannya dengan dia.

Meng Shao-hui merasa bersalah.

Zhou Shi-lan selalu melecehkan perempuan. Dia ingin mengusai dunia persilatan, semua ingin dia dapatkan. Tapi di dalam dunia persilatan selalu melarang penghinaan terhadap perempuan. Perampok dari golongan hitam pun, walaupun mereka selalu merampok dan membunuh orang tapi kalau berbuat cabul seperti Zhou Shi-lan maka tetap akan dimusuhi oleh temannya.

Perkosaan dan penghinaan terhadap perempuan tidak akan berani mereka lakukan apalagi bagi orang-orang dari golongan putih.

Tapi orang itu sudah mati di tangannya Meng Shao-hui, dia selalu merasa bersalah. Sudah lama mereka berteman dan selalu saling memberi. Walaupun Zhou Shi-lan tidak mempunyai perasaan pun tapi seharusnya dia mempunyai perasaan, apakah dia salah karena sudah membunuh?

Dia sendiri juga tidak percaya, apalagi sesudah mati masih diberi obat penghancur mayat. Benar-benar tidak meninggalkan jejak....

Dia berjalan dalam kebingungan. Tidak terasa dia sudah sampai di tempat tinggal Rong Yu Liang. Dia ragu tapi tetap mengetuk pintu.

Begitu Liang Yu Rong membuka pintu, terlihatlah Meng Shao-hui. Dia ingin menolak Meng Shao-hui masuk. Tapi begitu melihat mukanya seperti kebingungan, Liang Yu- rong tidak tega.

Dia bertanya, “Tuan, sudah datang kesini, masuklah!”

Dengan lesu Meng Shao-hui duduk di kursi. Terdiam lama, kemudian dia berkata, “Nona Rong, ada satu hal yang tidak bisa kupecahkan. Kantor Biao Zhen Yuan sekarang menjadi seperti ini apakah ada hubungannya dengan Nona?”

Liang Yu-rong terpaku kemudian berkata, “Tuan Muda Meng, ada pepatah yang berbunyi: 'jika menanam labu hasil yang didapat adalah labu, jika menanam kacang dia akan memanen kacang'. Karena semua ini sudah diatur oleh Tuhan. Tuan Muda tidak perlu banyak bertanya lagi!”

Meng Shao-hui berpikir sebentar lalu berkata, “Nona Rong, ayahku memimpin kantor Biao Zhen Yuan sudah banyak tahun, mungkin sudah melakukan suatu kesalahan kepada teman dunia persilatan, kalau kau mengatakan ini karma, bukankah ini terlalu berat untuknya?”

Liang Yu-rong tertawa dan berkata, “Aku merasa aku tidak terlalu berat mengatakannya. Tuan Muda Meng, beberapa hari ini yang kau lihat hanya awalnya saja, yang lebih berat masih akan datang.” Wajah Meng Shao-hui berubah dan dia berkata, “Nona Rong, aku mohon, tunjukkan jalan kepadaku untuk membereskan keresahan keluargaku.”

Liang Yu-rong ragu sebentar kemudian berkata, “Tuan Muda Meng, kau dan adikmu tumbuh dirawa-rawa, tapi kalian tidak terkena tanah yang kotor. Sekarang kau menemui kesulitan memang membuat kau patut untuk dikasihani, tapi sekarang keadaan sudah seperti itu. Orang lain pun tidak bisa membantu, hanya berharap kau dan adikmu bisa menjaga kebersihan' supaya tidak ”

“Mendengar kata-kata Nona, sepertinya ayahku sangat jahat?”

“Bukan hanya jahat, dia bisa dikatakan sebagai penjahat besar dan tubuhnya berlumur penuh darah!”

Meng Shao-hui terpaku dan berkata, “Aku seperti jatuh di tempat yang penuh kabut. Apakah Nona Rong bisa menjelaskannya?”

“Tuan Muda Meng aku tahu ayahmu selalu berbohong kepadamu, tapi apakah kau merasa tidak curiga sedikitpun?”

Meng Shao-hui berkata, “Kalau Nona Rong tidak menganggapku penjahat, tolong beritahu, aku benar-benar tidak tahu.”

Liang Yu-rong ragu, kemudian dia bertanya, “Tuan Muda Meng, kantor Biao Zhen Yuan dan kantor Biao Wei Yuan mengalami dua kali musibah di Long Nan, apakah Tuan Muda tidak pernah mendengarnya?”

Dia melihat lawan bicaranya menggelengkan kepala, Liang Yu-rong berkata lagi, “Aku beritahu kepadamu, yang merampok rombongan Biao itu adalah Long Nan San Xiong ”

Meng Shao-hui memotong kata-katanya dam berkata, “Nona Rong, jangan bergurau. Ilmu silat Wang Guai dan teman-temannya hanya begitu saja, aku tahu ini dengan pasti dan tidak mungkin.”

“Dengarkan aku bercerita. Orang yang banyak itu datang dari Mai Ji Shan. Tapi orang yang paling kuat adalah ketua kuil Bai Yun, Liao Yin Shi Tai dan ketua kantor Biao Yong Tai, Liang Zi-qi.”

“Apa?” Meng Shao-hui berteriak, “Tidak mungkin? Apakah Liao Yin Shi Tai masih. ” “Apakah kau tidak mempercayainya? Nama sebenarnyanya adalah Han Wu-niang. Dia adalah orang Kong Dong Pay. Dia sangat mahir ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian Fa dan senjata rahasia pisau terbang. Dulu didunia persilatan dia dijuluki dengan Laba-Laba Terbang.”

“Jika kau yakin semua itu adalah benar, tapi Liang Zi-qi adalah orang yang sangat jujur. Semua orang dunia persilatan sangat hormat kepadanya! Mengapa dia merampok Biao?”

“Apakah anehnya? Bila aku menyebut nama orang yang menjadi dalangnya, kau pasti lebih-lebih tidak percaya lagi.”

“Siapakah dia?”

“Dia adalah Jin Chi Da Peng, Meng Ju-zhong!”

Awalnya Meng Shao-hui masih tidak mengerti, begitu mendengar nama ayahnya disebut, dia hanya bengong. Kemudian malah terlihat sangat tenang.

Semenjak Rong Yu Liang mengatakan hal ini, begitu ada waktu dia selalu berpikir kesana. Hanya saja dia tidak pernah menghubungkan semua hal itu dengan nama ayahnya.

Sekarang setelah Liang Yu-rong berbicara seperti itu, dia menjadi mengerti tentang semua itu. Begitu banyak hal yang dia pikirkan selama ini mulai terjawab.

Liang Yu-rong melihat Meng Shao-hui begitu sedih. Dalam hati dia berpikir, “Dia laki- laki yang benar-benar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kalau dia bukan putra Meng Ju-zhong, aku akan ”

Waktu dia sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba dari luar jendela ada bayangan seseorang yang lewat. Bayangan itu sangat dikenalnya.

Hati Liang Yu-rong bergetar dan berpikir, “Mengapa dia datang lagi?”

“Tuan Muda Meng,” wajah Liang Yu-rong memerah dan berkata lagi, “Aku kedatangan tamu, tidak enak bila sekarang bertemu dengan Tuan. Bila Tuan tidak ada hal lain, silakan ”

Kata Meng Shao-hui, “Tidak, kata-kata Nona memberiku banyak petunjuk, aku masih banyak pertanyaan lainnya.” Liang Yu-rong berpikir sebentar dan berkata, “Tuan Muda terlalu memujiku. Jika kata- kataku bisa membantu, kelak kita bisa mengobrol lagi. Tapi sekarang aku harus pergi. Tolong Tuan Muda menutup pintu dan jendela kamarku.”

Liang Yu-rong terburu-buru pergi.

Meng Shao-hui melihat sosoknya dari belakang. Hatinya pun bergetar seperti gelombang.

= ooOOOoo =

Setelah makan, Meng Shao-hui berjalan-jalan ditaman bunga belakang. Entah mengapa dia tidak ingin pergi terlalu pagi ke rumah Rong Yu Liang. Dia memilih untuk berjalan-jalan ditaman sore ini.

Di bawah sinar matahari yang terbenam, langit begitu cerah dan indah. Matahari menyinari pohon-pohon, bunga-bunga begitu indah.

Dengan biaya yang besar Meng Ju-zhong membangun taman ini, sehingga taman itu benar-benar bagus dan tidak seperti taman biasa.

Tapi Meng Shao-hui tidak berselera menikmati pemandangan bagus di depannya. Pikirannya selalu seperti angin yang menghembus awan juga seperti beribu-ribu kuda yang sedang berlari.

Tapi tiba-tiba menghilang seperti sebuah kolam air yang sama sekali tidak bergelombang. Pikirannya kosong, tapi juga seperti kusut dan kacau.

“Nona Rong tidak bermaksud menjelekan juga tidak bermaksud menghina ayahku. Kalau dia memiliki dendam kepada ayahku, dia pasti sudah bergerak, tapi mengapa sekarang dia masih begitu tenang? Apakah ayahku benar-benar orang seperti itu? Bagaimana dengan Pendekar Qing  bila Liao Yin Shi Tai memang patut dicurigai. Dia

memang menutupi identitasnya dengan rapat. Tapi beberapa muridnya memiliki ilmu silat yang sangat bagus, mungkin Liao Yin adalah si Laba-Laba Terbang, Han Wu- niang. Masih ada lagi Pin Min Er Long, Qi Hua Yang. Aku melihatnya mati tapi mayatnya tiba-tiba menghilang. Orang yang mati tidak mungkin bisa mengubur dirinya sendiri. Kalau dia masih hidup mengapa tidak terlihat wujudnya dan mati pun tidak ada mayatnya, benar-benar membuat orang susah untuk menebak apakah benar dia adalah murid dari Pendekar Berbaju hijau, Ma Zao-ling? ”

Tiba-tiba dia mendengar ada yang menggali tanah. Meng Shao-hui terpaku. Dia berpikir, “Sudah sore begini masih ada yang bekerja?”

Mendengar ada yang menggali tanah, dapat diketahui bahwa orang itu memiliki tenaga yang besar. Siapa yang memiliki tenaga begitu besar?

Beberapa hari ini dia sangat peka terhadap keadaan yang terjadi disekelilingnya. Segera dia masuk ke balik semak-semak mengikuti suara itu dan mulai mencari.

Ada dua orang yang sedang bekerja. Yang laki-laki menggali dan yang perempuan menggunakan sekop membuang tanah. Mereka bekerja dengan cepat.

Di tempat yang lebih dekat, dia melihat dengan jelas bahwa mereka adalah Pengurus Shen dan pelayan yang bernama Chun Hong.

Meng Shao-hui merasa lebih heran, “Mereka berdua mengapa melakukan pekerjaan kasar ini? Sedang apa mereka?”

Tiba-tiba dia melihat disisi kaki mereka ada sesuatu, ternyata itu adalah orang. Orang yang sudah mati.

Meng Shao-hui berjalan lebih dekat lagi. Dia merasa lebih kaget lagi, ternyata orang yang mati itu adalah Gui Jian-chou, Peng Zhi-xiao!

“Bukankah dia yang membawa rombongan Biao ke Zheng Du, kenapa dia bisa mati disini?”

Meng Shao-hui mendengar Chun Hong berkata, “Kau jangan terlalu cepat menggali, tanahnya begitu banyak, mana sempat aku menyekopnya?”

“Sayang...., siapa yang menyuruhmu berkerja? Biar aku saja yang mengerjakannya!” Shen Zhong-yuan berhenti sejenak kemudian tertawa, “Istri kecil sulit diladeni, kau sendiri yang mau membantu tapi sekarang malah menyalahkanku.”

Chun Hong melempar sekopnya dan berkata, “Sekarang kau mengatakan aku sulit diladeni. Baiklah, aku akan jauh-jauh darimu!”

Dia segera membalikkan badan akan pergi, tapi segera dia berhenti melangkah.

“Sayangku, mengapa kau seperti anak kecil lagi?” Shen Zhong-yuan meletakkan pacul dan menariknya.

Chun Hong sudah masuk ke dalam pelukan dia. “Benar-benar sepasang anjing,” Meng Shao-hui sangat marah. Dalam hati dia berpikir, “Sudah lama aku mendengar bahwa Chun Hong sangat genit, tidak disangka Pengurus Shen pun bermoral rendah. Kata Qi Hua Yang, Shen Zhong-yuan adalah orang terkaya digolongan hitam. Pantas dia memiliki tenaga begitu besar, berarti tenaga dalamnya pun sangat tinggi. Dia ingin berbisnis rumah bordil, Chun Hong benar-benar genit, benar-benar cocok tinggal disana ”

Meng Shao-hui ingin mendengar pembicaraan mereka yang lain, tapi melihat mereka begitu genit, dia ingin muntah. Dia tidak sudi melihat lagi. Dia pun pergi diam-diam.

Hati yang kacau dan kusut semakin kacau semakin kusut. Begitu keluar dari kantor Biao, dengan langkah besar dia berjalan ke arah rumah Rong Yu Liang.

Sesampainya di depan pintu, dia melihat rumah itu tidak dipasang lampu, pintu pun masih tertutup. Dia tahu Rong Yu Liang belum kembali.

Hatinya bertambah berat lagi, dia berpikir, “Siapa yang mencarinya? Dia sudah berjanji denganku, mengapa dia tidak menepatinya? Apakah telah terjadi. ”

= ooOOOoo = Di kuil Bai Yun.

Di kamar-kamar tempat biksuni tidur. Semenjak Miao Yu dan teman-temannya mati, tempat itu menjadi sepi. Hanya beberapa kamar yang masih ada lampu lilin.

Malam sudah larut. Beberapa biksuni yang biasanya sering bermain cinta dengan laki- laki, melihat Liao Yin Shi Tai beberapa hari ini sedang tidak enak hati, sehingga mereka menjadi berhati-hati dan menyuruh laki-laki yang datang untuk pulang lagi. Mereka hanya bergurau sebentar kemudian kembali ke kamarnya.

Tapi di kuil Bai Yun hanya ada dua kamar yang lampunya masih terang.

Yang satu adalah kamar Liao Yin, Han Wu-niang. Yang satu lagi adalah kamar orang yang telah meninggalkan rumahnya. Tapi rambutnya belum dipangkas dan dia datang untuk menginap disana. Ini adalah kamar Meng Qi-fang.

Nyala lilin bergoyang-goyang. Mereka masing-masing hanya sendiri di kamar masing- masing. Han Wu-niang sudah kalah di gunung Ming Shan dan hampir saja mati. Setelah kembali dia masih merasa ketakutan, begitu pulang ke Lan Zhou dia segera mendatangi Meng Ju-zhong untuk berunding.

Menurutnya semua ini harus segera dibereskan, membawa emas dan uang lalu pergi jauh. Meninggalkan rumah dan usaha mereka, begitu situasi sudah tenang baru diurus kembali. Tapi rencana ini belum sempat dia ungkapkan, Du Xiang-jun sudah muncul dihadapan mereka.

Begitu Du Xiang-jun pergi, mereka berdua seperti kayu kering yang terkena kobaran api. Hanya menikmati kesenangan sesaat. Tapi hal penting menjadi dilupakan begitu saja....

Sesudah kembali ke kuil, dia baru ingat dengan idenya. Dia ingin kembali ke rumah Meng Ju-zhong tapi dia takut akan terjadi masalah.

Karena semenjak peristiwa itu, kantor Biao Zhen Yuan sudah menjadi sorotan dunia persilatan, karena takut pada bahaya yang mengancam, dia tidak berani kesana.

Beberapa hari ini dia merasa hatinya tidak tenang. “Walaupun Du Xiang-jun sudah meninggalkan rumah, apakah dia akan begitu saja meninggalkan usaha dan rumah untukku? Aku menginap semalam disana saja sebenarnya sudah sangat berbahaya. Kakak Meng mengatakan jika keadaan sudah agak aman, dia akan datang untuk mencariku. Sekarang sudah lama dia tidak datang, apakah keadaan diluar bertambah gawat? Dia. Nona besar ini, sudah tiga hari berada di kuil ini. Untung tidak terjadi apa-

apa padanya. Melihat dia bergurau dengan laki-laki yang datang ke kuil memang membuat orang merasa khawatir, semenjak lahir dia sudah manja dan sekarang dia sedang dalam masa puber, hatinya mana bisa mencari Budha? Dulu pun didepan kuil dan didepan guruku, aku tidak bisa lolos dari percintaan, apalagi dia.... Kakak Meng, walaupun dia dilahirkan oleh Du Xiang-jun, tapi dia adalah anakmu, aku tidak bisa melihat dia masuk kedalam dosa. Apakah aku memiliki cara lain? Aku sudah menyuruh orang untuk memberitahu kepadanya, mengapa dia tidak datang? Paling sedikit dia harus datang untuk menjemput putrinya dan membawanya pulang!”

Di bawah sinar lilin, dia mengerutkan dahi. Kadang-kadang menarik nafas, air matanya sudah kering, lilin pun sudah padam. Dia malas menggantinya. Biarlah lilin itu padam dan hancur sendiri.

Di asrama para biksuni. Hati Meng Qi-fang sebenarnya juga sangat kacau. Dia membolak-balik tubuh memaksa agar dirinya bisa tidur tapi matanya tetap tidak bisa dipejamkan.

“Ayah benar-benar tidak tahu diri! Orang yang ternama di Lan Zhou berhubungan cinta dengan biksuni dan pelayan.... karena marah ibu meninggalkan rumah. Aku sudah meninggalkan rumah selama tiga hari, ayah pun tidak mencariku, dimana kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya? Peng Zhi-xiao dan marga Rong itu, apa kehebatan kalian? Aku dekat kepada kalian, tapi kalian sama sekali tidak sudi meladeniku. Apakah aku begitu rendah? Baiklah, bila kalian menganggapku rendah, aku terima penghinaan kalian. Biksuni-biksuni kecil yang cantik seperti bunga saja bisa mencari laki-laki, mengapa aku tidak bisa? Bila ada kekasih yang menemani, ini lebih baik daripada sendiri duduk dengan bengong sambil melihat lampu ”

Sewaktu dia sedang berpikir dan tidak bisa tidur, lilin hampir terbakar habis. Dia ingin menggantinya dengan lilin baru, tiba-tiba di luar jendela berkelebat sesosok bayangan kemudian menghilang.

Dia sangat terkejut, tapi dia mencoba menenangkan dirinya. Lilin dipadamkan dan dia membuka pintu kamar....

Di belakang kuil Bai Yun.

Di sudut dinding ada sebuah pohon, daunnya tumbuh dengan sangat lebat. Siang hari daun-daun pohon itu bisa menutupi sinar matahari yang masuk. Dibawah sinar bulan, terpeta bayangan pohon yang besar itu.

Di atas pohon ada seorang pemuda duduk disana. Dia berumur sekitar 23-24 tahunan. Tubuhnya bergerak dengan lincah dan sebat. Dia adalah Pin Ming Er Lang, Qi Hua Yang.

Sekarang, dia pun tampak sedang kebingungan, persoalan demi persoalan membuatnya kaget. Sejak kecil orang tuanya sudah meninggal. Dia hidup susah dan melewati hari-hari yang tidak layak dilewati oleh anak seumurnya. Walaupun seperti itu, dia tetap merasa kacau.

Dia diperintahkan oleh gurunya pergi ke Lan Zhou. Dia harus secara sembunyi- sembunyi membantu Liang Yu-rong mencari tahu kejahatan Ketua Biao Zhen Yuan, Meng Ju-zhong.

Dia tidak merasa ada kesulitan dalam hal ini. Hanya dalam waktu singkat, dia sudah mengtahui bahwa Meng Ju-zhong adalah seseorang dimana diluar mengenakan baju pendekar tapi di dalamnya dia adalah orang jahat seperti ular. Liang Yu-rong adalah perempuan yang begitu cemerlang. Dengan tenang dia terlibat diantara Meng Ju-zhong dan kedua anaknya, tapi ini sama sekali tidak membahayakan.

Dia mengira tugasnya sudah selesai, dia merasa sangat senang. Tapi tadi Ma Xiu-juan memberikan surat rahasia dari gurunya, setelah membacanya dengan cepat disiang bolong, membuat dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“.... guru baru mengetahui, Liao Yin Shi Tai yang berada di kuil Bai Yun adalah orang yang terkenal sejak dua puluh tahun yang lalu, yaitu Han Wu-niang dan dia dijuluki dengan si Laba-Laba Terbang. Dia adalah biksuni dari Kong Dong Pay, Xuan Qing. Dia juga ibu kandungmu. Kantor Biao Zhen Yuan ketua Biao Jin Chi Da Peng adalah ayah kandungmu. Semuanya telah dibuktikan sendiri oleh biksu Kong Dong Pay Huang Shi dan biksu-biksu tua di Hua Shan. Suatu bukti yang kuat, dan kau harus percaya. Tapi Meng Ju-zhong dan Han Wu-niang adalah orang yang sudah beberapa kali merampok dan membunuh orang-orang dunia persilatan, dosanya sangat besar. Bila kau sudah membaca surat ini, segera pulang dan mencari guru supaya tidak terjadi kesalahan....

Tuhan, mengapa kau mempermainkan nasibku. Sejak kecil, aku kehilangan orang tua tapi sekarang mengapa Kau memberiku orang yang dosanya sedalam lautan kehadapanku?”

Adik seperguruannya Ma Xiu-juan sangat mencintainya, melihat dia begitu sedih, dia merasa

aneh.

Ma Xiu-juan tidak tahu apa yang telah ditulis oleh ayahnya. Apalagi ada Liang Yu-rong di sisinya, dia tidak bisa menanyakan hal apa yang merisaukan hati Qi Hua Yang. Dia hanya menarik nafas dan memutar tubuhnya pergi.

Tapi Qi Hua Yang seperti patung yang terpaku disana, pikiran seperti gelombang.

Qi Hua Yang seperti teringat, waktu itu ibunya sering menuntun tangannya atau menggendong dia berjalan jauh. Masih ada nenek. Dibelakang ibunya, nenek selalu galak kepadanya, tapi didepan ibunya, dia bersikap ramah dan sayang kepadanya.

Tiba-tiba pada suatu hari, nenek membawanya kekota untuk bermain. Hari itu neneknya bersikap lebih baik daripada biasa, dia membelikan banyak makanan untuk si kecil Hua Yang.

Tapi tiba-tiba neneknya menghilang, Hua Yang hanya bisa duduk menjadi menangis. Dia tidak sanggup mencari ibunya. Untung ada seorang biksu tua yang baik hati membawanya pergi dari sana. Kemudian biksu tua itu memberikan dia kepada gurunya untuk diurus. Gurunya sangat sayang kepadanya, mengajarkan ilmu silat, juga mengajarkan membaca dan menulis. Masih ada seorang adik kecil yang lincah dan selalu menemaninya. Dengan cepat dia sudah melupakan rasa kehilangan ibunya.

Begitu dia sudah dewasa, dia baru tahu bahwa gurunya adalah seorang pesilat tangguh di bagian barat laut, Pendekar Berbaju Hijau Ma Zao-ling....

Dia tidak tahu siapa ayahnya. Ibunya pun tidak pernah memberitahukan hal ini kepadanya. Sekarang nama Meng Ju-zhong seperti jatuh dari langit. Kepada Meng Ju- zhong, dia sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun.

Dalam hati dia berpikir, “Meng Ju-zhong begitu jahat, mencelakakan orang-orang dunia persilatan, dia harus mati. Apakah kematiannya nanti akan ada hubungannya denganku? Apakah dia adalah ayahku? Tapi itu bukan masalah, hanya ada perintah guru di hatiku. Aku tidak akan membunuhnya. Ibuku sudah kehilangan anaknya, dia mencukur botak rambutnya dan kembali menjadi biksuni. Dia pasti banyak mengalami kesulitan. Dia masih ada harapan, aku harus menolongnya ”

Dia tidak tahu bagaimana keadaan di dalam kuil. Dia memutar jalan ke belakang kuil dan bersembunyi diatas pohon besar itu.

Di atas pohon dia berpikir dengan lama, sampai semua lilin-lilin dimasing-masing kamar padam. Hanya tertinggal dua lilin yang masih menyala, dia langsung naik ke atas atap asrama para biksuni.

Ujung kakinya mengait tepi atap. Dia melihat keadaan didalam kamar, dari jendela dia bisa melihat ada seorang gadis yang sedang bengong sambil melihat lilin yang hampir padam.

Dengan teliti Qi Hua Yang melihat gadis itu. Hatinya bergetar, ternyata gadis ini adalah saudara tirinya, Meng Qi-fang.

“Kantor Biao seperti air yang bergolak, tidak diduga dia juga telah meninggalkan rumah. Mengapa dia bisa berada disini? Ilmu silatnya tinggi, apakah dia juga diculik oleh ibuku dan dibawa kesini?” Hatinya kacau, ujung kaki bergerak membuat genteng atas patah dan mengeluarkan suara.

Terlihat Meng Qi-fang berdiri. Qi Hua Yang mengira Meng Qi-fang tahu dia berada disana. Segera dia menggulung badannya, belum berdiri dengan benar, dengan cepat dia berlari ke pinggir. Begitu menolehkan kepala untuk melihat, lampu yang berada di dalam kamar sudah dipadamkan.

Hati Qi Hua Yang berpikir, “Mungkin dia merasa kesepian, mungkin juga sulit tidur. Sudah lama aku mendengar dia sangat dimanja dan juga keras kepala. Bila dia bersembunyi di dalam kuil, nanti dia akan menjadi apa?....Adik tiri, ayahnya pun tidak mau mengurus dia lagi, apalagi aku. Disini bukan kamar ibu. Disana ada kamar yang terang itu pasti kamar ibu. Mengapa lilin disana juga dipadamkan?"

Di dalam kegelapan dia tidak bisa membedakan yang mana jendela yang tadi ada lilin atau jendela yang ada lilinnya.

Dia ragu dan ingin mencari tapi sesosok bayangan sudah berada di atas atap dan membentak, “Penjahat, jangan pergi! Makanlah pedangku!”

Dia adalah Meng Qi-fang.

Ujung pedang sudah berkilauan dan menusuk kearah tulang rusuknya. Tapi tiba-tiba dia menarik kembali pedangnya dan bertanya, “Mengapa Pendekar Qi berada disini?”

“Benar, inilah aku,” Qi Hua Yang memberi salam dan berkata, “Nona Meng, aku datang dengan tiba-tiba, aku mohon maaf!”

Pikir Meng Qi-fang, “Ilmu silatnya berada di atas kakak, mengapa dia bisa diketahui olehku? Apakah dia sengaja melakukannya? Oh, dia pasti datang untuk mencariku. Kantor Biao Zhen Yuan begitu banyak orang, ayah tidak mau mencariku. Tapi dia sudah datang, kelihatannya ”

Hatinya melembut. Dia terus terang bertanya, “Kakak Qi, apakah kau datang untuk mencariku?”

Qi Hua Yang tidak memberitahu bahwa dia datang untuk mencari ibunya. Dia berkata, “Aku, aku benar aku mencarimu.”

Meng Qi-fang tertawa dan berkata, “Kelihatannya dikantor Biao Zhen Yuan hanya kau saja yang memperhatikanku. Aku sangat senang. Kakak Qi, kau sudah kemari, silakan masuk ke dalam!”

Qi Hua Yang berkata, “Terima kasih, sekarang aku sudah bertemu dengan Nona, aku harus pulang dan melaporkan semua ini kepada Ketua Biao Meng.” Dia membalikkan badan ingin pergi, tapi lengan bajunya sudah ditarik oleh Meng Qi- fang dan berkata, “Kakak Qi, jangan terburu-buru, temanilah adikmu sebentar saja!”

Hati Qi Hua Yang tertawa kecut, “Kakak beradik sama saja. Tapi dalam keadaan seperti itu, mana bisa aku memberitahu kepadamu ”

Tapi dia merasa ada sesuatu. Hatinya bergetar, segera dia berkata, “Hari sudah malam, aku tidak sempat singgah. Aku pamit pulang dulu.”

Dia ingin berjalan, tapi lengan bajunya ditarik kembali oleh Meng Qi-fang dengan sangat kuat.

Dibawah sinar bulan dia melihat wajah Meng Qi-fang yang memerah. Dengan penuh perasaan dia melihat Qi Hua Yang.

“Kakak yang baik, apakah kau juga tidak suka kepadaku?.... aku suka kepadamu karena itu aku berani meminta kepadamu agar mau menemaniku. Hari sudah malam, besok baru pulang pun tidak apa-apa.”

Qi Hua Yang merasa malu juga marah. Dia menyingkirkan tangan Meng Qi-fang dan berkata, “Adik Fang, mengapa kau tidak tahu malu? Kau harus tahu, aku adalah ”

Kata-katanya belum habis, sudah ada yang membentak, “Siapa disana!”

Dari jendela ada seseorang dengan cepat sudah sampai di tempat mereka. Dia adalah Liao Yin Shi Tai, Han Wu-niang.

Qi Hua Yang ingin sekali bertemu dengan ibunya, tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Apalagi Meng Qi-fang karena merasa malu dia menjadi marah.

Dia ingin mengeluarkan serangan lagi. Segera Qi Hua Yang dengan jurus Walet Ungu Terbang, dengan cepat kakinya meloncat dan menghilang.

Dari belakang terdengar ada suara yang bertanya, juga suara menangis.

= ooOOOoo =

Wu Quan Shan dekat dengan air terjun.

Di sebuah pohon yang besar, Liang Yu-rong duduk di sebuah batu besar. Wajahnya terlihat dingin. Si Baju Putih, Li Ke Ming berdiri disisinya. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah, dia berkata, “.... hal ini jangan menyalahkanku lagi. Nona Ma, yang menulis surat dan menyuruhku datang kemari.”

“Apakah guru sudah tahu?” “Tidak. ”

“Oh!” Liang Yu-rong mengerutkan dahi dan berkata, “Bila kau tidak mau menurut kepadaku, kau harus menurut kepada guru. Tanpa ijin kau meninggalkan perguruan. Kakak, kau semakin. mengapa kau sama sekali tidak ada pendirian?”

Jawab Li Ke Ming, “Nona Ma juga bermaksud baik. Dia berkata ”

Liang Yu-rong memotong kata-katanya, “Betul, aku pun sudah tahu. kadang-kadang maksud baik malah jadi salah. Apakah kau tahu, kali ini kau datang tiba-tiba, kalau bukan karena aku tahu lebih awal, mungkin aku telah melakukan kesalahan besar.”

Liang Yu-rong berkata lagi, “Untung kau masih bisa mencari tempat tinggalku. Bila aku tidak cepat keluar, mungkin kau akan masuk ke kamarku.”

“Aku....” Sebenarnya Li Ke Ming mempunyai maksud seperti itu tapi dia tidak berani mengatakannya.

Liang Yu-rong berkata lagi, “Kau ikut dengan guru. Di jalan sudah menggagalkan rencana besar Meng Ju-zhong, apakah kau tidak takut anak buahnya akan mengenalimu? Jurus tujuh bintang pedangmu sangat lihai, tapi Meng Ju-zhong bukan lawanmu!”

Liang Yu-rong terus bicara, Li Ke Ming tidak bisa menjawab.

Liang Yu-rong melihat Li Ke Ming dan merasa sangat kasihan. Akhirnya Liang Yu-rong tertawa dan Li Ke Ming pun menghembuskan nafas panjang.

Kata Liang Yu-rong, “Melihat kebodohanmu, aku benar-benar angkat tangan. Katakan, jauh-jauh kau datang kemari ada keperluan apa?”

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain