Sekarang sudah ada bahasa sunda dan jawa di fitur google translate, mudah-mudahan ada tambahan bahasa daerah lagi ke sistem google translate :)

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 12

Jilid 12

Dia berkata, “Ketua Biao, hal yang sudah terjadi beberapa hari ini, hamba sudah mengetahui semuanya, bisnis ini sangat mengantungkan tapi sementara ini kita tidak bisa menerimanya.”

“Mengapa?”

“Apakah Ketua Biao sudah lupa mengenai permasalahan Liang Yu-rong?”

Meng Ju-zhong terdiam. Dia berpikir lama dan berkata, “Jujur saja, semenjak peristiwa Liang Zi-qi, aku selalu merasa ada sepasang mata di tempat gelap yang selalu mengawasiku. Peng Zhi-xiao seperti gentong nasi, hal mudah seperti ini saja dia tidak sanggup membereskannya ”

Kata-kata dia terpotong oleh tawa aneh Shen Zhong-yuan. Dia terpaku dan bertanya, “Apa yang kau tertawakan?” Kata Shen Zhong-yuan dengan dingin, “Ketua Biao, apa Anda masih begitu percaya kepadanya? Dia hanya terlihat di luar setia kepada Anda, tapi hatinya sangat licik dan kejam, dia adalah orang yang pandai menyimpan semua rencananya di dalam hati.”

Hati Meng Ju-zhong bergetar dan dia berkata, “Sepertinya dia tidak seperti itu.”

“Ketua Biao,” Shen Zhong-yuan tertawa licik dan dingin, “Aku sebenarnya tidak boleh membicarakan hal ini hanya saja Ketua Biao harus berhati-hati, makin lama kita akan tahu semangkin bagaimana isi hatinya, Ketua Biao akan lebih tahu dari diriku.”

Meng Ju-zhong tampak berpikir sebentar, kemudian dia mengalihkan topik pembicaraan, dia berkata lagi, “Kak Shen, dengan keringat dan darah sudah sepuluh tahun kita berbisnis dan aku mulai merasa lelah, aku pun sudah memiliki sedikit tabungan milikku sendiri, sekarang aku benar-benar merasa sudah lelah dan ingin berhenti berbisnis, tapi bisnis yang baru saja kuterima berharga 300.000 tail perak, kecuali biaya perjalanan, mungkin masih tersisa sekitar 200.000 tail, uang itu cukup untuk memberi pesangon kepada para pegawai kantor Biao Zhen Yuan, sebenarnya aku pun merasa sayang membubarkan kantor Biao ini.”

“Benar, perhitungan Ketua Biao sangat tepat,” kata Shen Zhong-yuan sambil menggelengkan kepalanya, “Tapi aku melihat ini terlalu riskan.”

Meng Ju-zhong bertanya, “Apakah tidak ada cara lain?”

Jawab Shen Zhong-yuan, “Di dunia ini tidak ada hal yang tidak dapat dikerjakan, hanya saja ini akan mengalami kerugian cukup besar. Apakah Ketua Biao tidak menyayangkannya?”

Meng Ju-zhong tertawa dan berkata, “Jin Chi Da Peng selalu tahu bagaimana cara menelan gunung dan sungai, apa yang harus disayangkan?”

Shen Zhong-yuan menggelengkan kepalanya lagi dan berkata, “Bukan harta benda tapi orang yang masih hidup, orang yang bisa dipercaya oleh Ketua Biao.”

Meng Ju-zhong terpaku dan bertanya, “Zhou Ke-dong kah?”

Shen Zhong-yuan menggelengkan kepalanya, “Bukan, dia diam di kantor Biao hanya ada nama saja, dia sudah lama tidak mengurus persoalan mengenai kantor Biao, dia tidak bisa diandalkan untuk membawa barang Biao, apalagi dia adalah saudara angkat Ketua Biao.” 

“Kalau begitu Feng Jian Zang?” “Benar, masih ada Gui Jian Shou,” Shen Zhong-yuan tertawa, “Dengan kepala mereka kita bisa menutupi mulut orang lain, siapa yang berani curiga bahwa Ketua Biao yang melakukan semua ini. Apalagi bila Ketua Biao ingin pensiun, mereka berdua tidak akan berguna lagi.”

“Semua kata-katamu benar, mereka sudah tahu terlalu banyak, tidak baik membiarkan mereka terus hidup, jalankan rencanamu,” kata Meng Ju-zhong, “Yang lain sepertinya tidak akan curiga, hanya saja Peng Zhi-xiao agak licik, mungkin dia ”

Kata Shen Zhong-yuan sambil tertawa, “Ketua Biao, suruhlah mereka kesini, dengan lidahku akan kubuat mereka masuk ke dalam perangkap.”

Kata Meng Ju-zhong, “Baiklah, perintahkan seseorang untuk memanggil mereka kesini!”

Peng Zhi-xiao tahu bahwa ketua Biao menyuruhnya datang ke tempat rahasia karena ada sesuatu yang harus dirundingkan, walaupun sebenarnya dia merasa aneh. Tapi perasaan yang mendominasi adalah rasa senang, karena dia merasa beruntung bisa dipercaya oleh ketua Biao, karena itu dengan senang hati dia pergi ke tempat ketua Biao.

Tapi dia tidak sadar bahwa ada bayangan yang membuntutinya dari belakang, pada saat Peng Zhi-xiao masuk ke dalam ruangan, bayangan itu seperti kucing yang berada di bawah jendela, mendengarkan semuanya....

Orang itu tidak tinggi, tapi gerakan tubuhnya sangat lincah, dia tak lain adalah Rong Yu Liang.

Cukup lama dia mendengar dari luar jendela, dia merasa sangat terkejut dan senang, dia berpikir, “Akhirnya aku mendapatkan ekor serigala.  ”

Karena tenggorokannya terasa gatal, dia sangat ingin batuk, walaupun dia berusaha untuk menahannya tapi suaranya tetap keluar dari tenggorokanya walaupun sangat kecil.

Tiba-tiba dari dalam ada senjata rahasia yang dilemparkan, Rong Yu Liang tahu bahwa keberadaannya sudah diketahui, dengan kemampuan yang dia miliki dia berlari dengan sekencang-kencangnya, hampir saja dia menabrak seseorang.

Orang itu adalah seorang gadis, dia ingin berteriak tapi mulutnya sudah dibungkam, gadis itu mengenal Rong Yu Liang yang membungkam mulutnya, gadis itu malah merasa senang dan masuk ke dalam pelukan Rong Yu Liang. Rong Yu Liang baru tahu bahwa gadis itu adalah Meng Qi-fang, dia menjadi sedikit ragu, tapi akhirnya dia pun memeluk gadis itu, tapi hati Rong Yu Liang masih berdebaran.

Saat itu, pintu kamar terbuka, dua buah bayangan keluar dari kamar itu, melihat Rong Yu Liang berpelukan dengan Meng Qi-fang, membuat mereka menjadi ragu, kemudian mereka pun kembali lagi kekamar rahasia.

Bahaya sudah lewat, Rong Yu Liang baru menyadari bahwa bajunya sudah basah oleh keringat dingin, dia baru melihat tubuh yang berada dalam pelukannya, tubuh itu gemetar, bibir dan tubuhnya semakin menempel ke tubuh Rong Yu Liang, dia terkejut dan mendorong tubuh gadis itu.

“Kau....” Meng Qi-fang baru saja mendapatkan kehangatan dari orang yang dia sukai, sekarang karena tiba-tiba saja dia didorong, dia terkejut dan berteriak.

Dengan cepat Rong Yu Liang berkata, “Nona, apakah kau tidak melihat di dalam kamar itu ada orang, jangan ”

“Aku tahu! Lalu bila ada orang apa hubungannya dengan kita?” Kata Meng Qi-fang, Sepertinya dia mengetahui sesuatu, dia berkata, "Mungkin kau sedang mencuri dengar pembicaraan orang-orang yang berada di dalam kamar itu dan keberadaanmu diketahui oleh mereka. Baiklah, kalau hari ini kau tidak menemaniku, aku akan memberitahu mereka ”

Belum habis perkataannya, dia sudah menutup mulut Rong Yu-liang dengan tangan.

Rong Yu Liang terkejut dan berkata, “Jangan sembarangan bicara, aku menduga kau sering bermain ke tempat ini, karena itu aku menunggumu disini. Tadinya aku ingin mengagetkanmu.”

Dia berbicara, tiba-tiba dia melihat gadis itu terus menciumi tangannya. Dia segera menarik tangannya.

Meng Qi-fang bertanya, “Apakah benar kau datang kesini karena ingin menemaniku bermain?”

“Aku tidak berbohong.”

“Baiklah!” Meng Qi-fang tertawa dan berkata, “Mari kita jalan-jalan ke sebelah sana.” Dia memegang tangan Rong Yu Liang dan mereka berjalan menuju taman bunga. Sambil berjalan Rong Yu Liang tertawa kecut, dia berpikir, “Anak ini benar-benar menganggapku sebagai laki-laki. Mana tahu aku pun seperti dia.... kalau dia terus mengikutiku, bagaimana ya?”

Di belakang gunung buatan adalah taman bunga. Bunga di taman itu sangat banyak daun pun tumbuh dengan subur.

Meng Qi-fang tertawa dan berkata kepada Rong Yu Liang, “Kakak yang baik, temani aku ke dalam dan duduk-duduk.”

Dia tidak memberi kesempatan Rong Yu Liang untuk menjawab, dia menarik tangan Rong Yu Liang masuk ke taman bunga.

Hati Rong Yu Liang berpikir, “Ini akan menjadi hal yang buruk. Dia tidak seperti kakaknya bisa menjaga rahasia. Bila dia tahu aku adalah perempuan, tidak perlu menunggu hari terang, semua orang kantor Biao Zhen Yuan pun akan langsung tahu ”

Dia sudah tidak mempunyai ide lagi, tiba-tiba dijalan kecil itu ada suara orang melangkah. Rong Yu Liang seperti orang yang kecebur ke dalam air, tapi tiba-tiba dia melihat ada sebuah papan penyelamat melintas di depannya.

Dia segera berkata, “Nona, ada orang yang sedang berjalan kemari.”

Kata Meng Qi-fang dengan manja, “Ada yang datang, kau takut apa? Siapa yang berani menantangku?”

Dengan wajah kasihan Rong Yu Liang berkata, “Nona, kau adalah nona besar pasti tidak akan takut, tapi aku tidak bisa menahan.... Nona kau ”

Sengaja dia berkata dengan suara keras, kata-katanya belum selesai, orang yang berada disana sudah bertanya, “Siapa yang sedang berbicara disana?”

Itu suara Meng Shao-hui, Rong Yu Liang sangat senang dan menyahut, “Aku adalah Rong Yu Liang, Nona Qi Fang pun berada disini.”

Seseorang dengan cepat datang ke arah mereka, dia adalah si Walet Besi, Zhou Shi- hui.

“Adik Fang, aku dengar dari Kakak Hui bahwa kau sakit, maka itu aku datang kesini untuk menjengukmu. Pelayan mengatakan bahwa kau berada di taman bunga ” Perasaan Zhou Shi-hui terhadap Meng Qi-fang seperti api membara, tapi kata-kata Meng Qi-fang yang dingin membuatnya merasa canggung.

Dia berkata, “Terima kasih, aku tidak sakit.”

Zhou Shi-hui tertawa dan berkata, “Mungkin pikiranmu sedang tidak enak, aku akan menemanimu berjalan-jalan.”

Kata Meng Qi-fang dingin seperti es, “Maaf, sudah ada yang menemaniku.”

Meng Qi-fang memegang tangan Rong Yu Liang dan kepalanya disandarkan ke pundak Rong Yu Liang. Dia sangat dekat juga lembut terlihat dia terpesona kepada Rong Yu Liang.

Zhou Shi-hui terkejut, mulutnya menganga dan tidak bisa mengatakan apa pun.

Meng Shao-hui datang menghampiri mereka, melihat keadaan disana dia bisa menebak. Dia tertawa dan berkata kepada Rong Yu Liang, “Guru Rong, kau dengan enak bersantai disini, ayahku sedang mencarimu, orang suruhannya sudah dua kali kerumahmu tapi tidak menemukanmu ternyata kau sedang berjalan-jalan disini.”

Disini kecuali Meng Qi-fang semua tahu bahwa Meng Shao-hui sedang berbohong.

Jika Rong Yu Liang pergi, maka Zhou Shi-hui akan memiliki kesempatan yang bagus menemani Meng Qi-fang. Dia sangat senang, dia pun tidak akan membeberkan kebohongan ini.

Rong Yu Liang mendengar Meng Ju-zhong sedang mencarinya, dia sangat terkejut, tapi begitu dia berpikir lagi, dia segera tahu bahwa Meng Shao-hui sedang berbohong karena Meng Ju-zhong saat ini sedang berada di ruang rahasia di dekat sini.

Rong Yu Liang sendiri yang mendengar Meng Ju-zhong berbicara, tapi untuk melepaskan diri dari Meng Qi-fang, ini benar-benar bukan hal yang mudah.

Rong Yu Liang ingin tertawa, dia berkata, “Kalau begitu baiklah aku pergi dulu.”

Meng Shao-hui berkata, “Apakah kau tahu bahwa ayahku berada dimana? Aku ada waktu, aku akan mengantarkanmu dan menemanimu kesana.”

Rong Yu Liang tahu Meng Shao-hui ingin menolongnya. Dia tampak ragu. Meng Qi-fang sudah berteriak, “Kau yang jadi kakak, mengapa menyuruhku bermain dengan orang seperti itu, mereka itu Zhou bersaudara bukan orang baik-baik, aku tidak mau berteman dengan mereka!”

Dia membalikkan badan dan akan berlalu dari sana.

Tapi lengan baju Meng Qi-fang sudah ditarik oleh Meng Shao-hui, dia marah dan berkata, “Adik Fang, bila kau tidak mau berteman dengan Zhou bersaudara, itu tidak apa-apa, tapi kau tidak boleh sembarangan mengatakan yang tidak-tidak, bahwa Shi- hui dan Shi-lan walaupun mereka kakak beradik, tapi mereka bukan satu orang, hari ini kau harus menjelaskan dimana kesalahan Adik Hui?”

Meng Qi-fang pun marah, dia berkata, “Mereka orang baik-baik, tapi aku tidak senang bermain dengan orang baik-baik, aku ingin pulang dan tidur, bila ada yang ingin dibicarakan lebih baik dibicarakan besok saja.” Dia membuang ludah dan berkata, “Kalian satu kandang mana tahu mana yang baik dan mana yang jahat?”

Wajah Zhou Shi-hui memerah, begitu Meng Qi-fang sudah jauh, dia pun pamit kepada Meng Shao-hui.

Meng Shao-hui menghela nafas dan berkata, “Jangan marah, adikku itu belum dewasa, apa kekurangan Adk Shi-hui? Wajah, sikap, orang semuanya baik, tapi Qi Fang seperti sengaja ”

Rong Yu Liang menghela nafas dan berkata, “Perasaan itu memang sangat aneh dan tidak dapat dipaksakan, Nona Qi Fang, dia. ”

Meng Shao-hui memotong kata-katanya dan berkata, “Bukankah kau sendiri pun seperti itu, kau pun ”

Rong Yu Liang merasa malu, wajahnya memerah dan bertanya, “Ada apa denganku?”

Meng Shao-hui tampak ragu sebentar, kemudian berkata, “Nona Rong, aku ingin bertemu denganmu dan mengobrol denganmu, tapi aku selalu ditolak olehmu, jujur saja, semenjak aku tahu bahwa kau adalah seorang perempuan, aku malah menjadi bingung, sepertinya aku selalu ingin bersamamu ”

Rong Yu Liang menjawabnya dengan manja, “Tuan Meng, jangan teruskan lagi kata- katamu, aku tidak mau mendengarnya.”

Walaupun dia mengatakan tidak ingin mendengar, tapi dia tidak melangkah dari sana, sepertinya dia ingin mendengar kelanjutan kata-kata Meng Shao-hui. Kata Meng Shao-hui, “Aku dijuluki dengan sebutan playboy berjalan, nama itu tidak baik, tapi aku adalah orang yang bisa menjaga diri, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang suka gonta ganti pasangan dan suka bermain perempuan. Nona Rong, kau sudah tidak memiliki ayah dan ibu, sudah cukup dikasihani, aku menyukaimu, kau pasti sudah mengetahui perasaanku, jangan gelengkan kepalamu, kau tidak seperti orang lain yang selalu menghinaku. Nona Rong, jujurlah kepadaku, mengapa kau menolakku? Apa yang membuatmu membenci padaku? Kalau saja aku tahu apa kesalahanku, demi untukmu aku akan berubah, bila aku tidak bisa berubah, aku tidak akan mencarimu lagi, jangan membuatku setiap hari menjadi tidak tenang.”

Dia benar-benar menyukai Rong Yu Liang, terbukti dia sudah meneteskan air matanya.

Rong Yu Liang menjadi terharu mendengar kata-katanya, dia maju beberapa langkah, tapi tiba-tiba berhenti. Dia menahan perasaannya kemudian dia membalikkan badan dan diam.

Meng Shao-hui berkata lagi, “Aku mengaku pernah mempunyai hati yang tidak baik, bila kau tidak mau berbicara denganku lagi, itu pun tidak bisa disalahkan. Aku berharap kau mau memberikan kesempatan kepadaku untuk berubah.”

Rong Yu Liang sudah membalikkan badan dan mengangguk.

Meng Shao-hui sangat senang dan berkata, “Nona yang baik, aku tidak akan mengecewakanmu.”

Rong Yu Liang kembali ke rumahnya yang sederhana. Dia menutup pintu dan dengan bengong berdiri disana. Hatinya seperti gelombang tidak bisa berhenti.

“Tadi aku mengangguk, ini salah atau benar? Dia dijuluki dengan sebutan playboy, mengapa dia begitu baik kepadaku? Apakah dia mempunyai maksud lain? Tidak! Terhadap seorang perempuan yang ada maksud terselubung dan mempunyai niat yang jahat adalah untuk memperkosa. Hari itu di Gunung Bai Ta, kalau dia ingin memperkosaku, aku pasti tidak bisa lolos dari cengkraman tangannya tapi dia malah mengantar aku pulang ke kantor Biao. Kemudian dia pun tidak mau mengancam, kalau dia mengancam sepertinya aku terpaksa menuruti semua kemauannya tapi dia tidak melakukan semua itu. Hari itu dia datang untuk menengokku dan dia tetap berlaku sopan. Kepada pemuda seperti dia, mengapa aku harus menaruh curiga? Atau karena dia tampan sehingga membuatku mabuk dan jatuh cinta kepadanya? Apalagi dia adalah putra dari musuh yang membunuh keluargaku. Tidak salah lagi, keluargaku dan Paman Qing, semua mati di tangan Meng Ju-zhong. ayahnya melakukan kejahatan, apakah dia tahu? Tadi di kamar rahasia itu hanya ada Meng Ju-zhong, Shen Zhong- yuan dan Peng Zhi-xiao. Biasanya bila orang kalau merundingkan hal penting seharusnya dengan putranya sendiri, tapi dia tidak berada disana, sepertinya dia sama sekali tidak tahu Benar, sekarang mereka akan mulai melakukan kejahatan lagi!”

Begitu mengingat hal ini, dia menjadi bersemangat. Dia menenangkan diri, menyalakan lilin, kemudian mengeluarkan sehelai kain tipis dan meletakkannya diatas meja. Dia hanya berpikir sebentar kemudian mulai menulis.

Dengan cepat dia sudah menyelesaikan suratnya, kemudian dia mendekati kandang burung dan mengeluarkan merpati yang bernama Hong Dou Er, mengikat kain itu di kakinya kemudian membuka jendela dan menerbangkan merpati itu.

Hatinya menjadi sangat tenang dan dia pun menghela nafas panjang dan duduk kembali dikursinya. Dia memikirkan kembali hal lainnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dia tertawa kecut.

Dalam hati dia berpikir, “Siapakah itu? Apakah Meng bersaudara? Kapan aku baru bisa. ” Dia ragu tapi pintu tetap dibukanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dengan cepat. Kakinya belum berdiri dengan benar, orang itu sudah memeluk Rong Yu Liang.

Rong Yu Liang kaget dan mundur beberapa langkah. Sekarang dia baru melihat jelas, ternyata yang datang adalah Zhou Shi-lan.

Rong Yu Liang marah dan membentak, “Mau apa kau datang? Silakan keluar, aku ingin beristirahat!”

Zhou Shi-lan tertawa dan berkata, “Sayang, apakah kau mau membohongiku? Kau tidak perlu berpura-pura lagi, kau tidur denganku, itu baru cocok.”

“Jangan sembarangan bicara, keluar dari sini!”

“Aku belum masuk, kau sudah menyuruhku keluar? Kau terlalu tergesa-gesa, sayang, aku akan menemanimu tidur, kau pasti tidak akan kesepian lagi.”

Rong Yu Liang marah sehingga wajahnya menjadi hijau, dia membentak, “Siapa kau! Keluar dari sini, cepat keluar! Aku akan berteriak memanggil orang!”

“Berteriaklah! Berteriaklah sekuat tenaga!” Zhou Shi-lan tertawa. Dari balik bajunya, dia mengeluarkan seekor merpati, sebuah panah sudah menembus dada burung itu membuat bulunya yang putih menjadi merah tapi di kepalanya ada sedikit warna merah sebesar kacang. Ini adalah merpati milik Rong Yu Liang yang bernama Hong Dou Er.

Rong Yu Liang terkejut bukan kepalang.

Zhou Shi-lan mengeluarkan kain itu dari balik dadanya. Dia memperlihatkan kemudian memasukkannya lagi kebalik bajunya.

Dia tertawa dan berkata, “Berteriaklah sekuat tenagamu! Semua orang yang berada di Lan Zhou adalah orang-orang Meng Ju-zhong. Bila kau berteriak semakin kuat, orang yang datang akan semakin banyak, itu akan semakin baik, mengapa kau tidak berteriak lagi?” 

Karena terkejut dan juga marah, Rong Yu Liang tidak tahu harus menjawab apa lagi. Zhou Shi-lan tertawa dengan mesum, dia mendekati Rong Yu Liang dan memeluk pundaknya.

Dia tertawa, “Bila kau mau menuruti kemauanku, aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapa pun. Aku akan berlaku baik kepadamu ”

Terdengar suara 'PLAK'.

Zhou Shi-lan sudah terkena tamparan Rong Yu Liang. Tubuhnya yang kecil seperti seekor ikan, mengeluarkan tangannya.

Zhou Shi-lan marah, dia berkata, “Baiklah, sayangku apakah kau ingin gerak badan terlebih dulu? Aku katakan ini kepadamu, asalkan bukan labu yang busuk, mentah atau matang, aku mau menerimanya.”

Dalam teriakannya, Zhou Shi-lan sudah membuka kedua tangannya dan mendekati Rong Yu Liang. Dia tahu Rong Yu Liang bisa ilmu silat, maka itu dia bersiap mengeluarkan satu atau dua jurus.

Rong Yu Liang tidak waspada, baju bagian kanannya sudah disobek. Tangan kirinya dicengkram oleh lawan. Dalam keadaan bahaya ini dia mengambil golok disisi tempat tidurnya. Dengan jurus Kelelawar Mencuci Sayap, dia membabat tangan musuh.

Zhou Shi-lan terkejut, segera dia meloncat kebelakang. Dia membentak, “Apakah kau ingin aku makan labu mentah? Baiklah, aku akan menemanimu bermain beberapa jurus!” Dia juga mengeluarkan goloknya. Golok diayunkan sambil berteriak, “Kalau aku tidak bisa mengalahkanmu, aku akan memberikan kain ini kepada Ketua Biao Meng Ju- zhong.” Dia mengancam, tangannya pun tidak berhenti bergerak.

Sejurus demi sejurus dikeluarkan membuat kamar itu penuh dengan kilauan cahaya golok.

Rong Yu Liang mengayunkan golok juga menerima serangan Zhou Shi-lan. Dalam hati dia berpikir, “Kalau aku bisa melarikan diri, itu akan lebih baik, tapi usahaku selama beberapa bulan ini akan habis dalam sekejap. Kelak ingin membalas dendam pun pasti akan lebih sulit.”

Ilmu goloknya sebenarnya tidak rendah tapi karena tidak berkonsentrasi hanya dalam beberapa jurus, sudah membuat dia kalang kabut.

Zhou Shi-lan melihat keadaan seperti itu, dia menjadi sangat senang dan terus tertawa dengan cabul.

Rong Yu Liang adalah perempuan lurus dan bersih, dia tidak pernah mendengar kata- kata cabul. Dia merasa marah karena itu ilmu goloknya menjadi kacau balau.

Zhou Shi-lan mulai menyerang, goloknya melewati tubuh Rong Yu Liang sebelah kanan di bagian dada. Rong Yu Liang menahannya dengan golok tapi yang dipakai Zhou Shi- lan adalah jurus tipuan, membuat jurus Rong Yu Liang hanya menahan dengan kosong.

Tapi tangan kiri Zhou Shi-lan sudah menotok payudara bagian kanan atas Rong Yu Liang. Segera Rong Yu Liang merasa pusing, dia hampir pingsan.

Zhou Shi-lan tertawa terbahak-bahak, dia merebut golok Rong Yu Liang. Bersama itu dengan goloknya, golok-golok itu dilempar ke lantai.

Dengan tangannya yang kuat dia menggendong Rong Yu Liang ke atas tempat tidur dan dia tertawa cabul, “Sayangku, berbaringlah dengan posisi yang bagus, aku akan membuka totokanmu.”

Rong Yu Liang ingin menjaga kesuciannya, tapi sudah terlambat, hatinya menjadi dingin dan berpikir, “Kali ini, habislah aku ”

Tiba-tiba pintu didobrak oleh seseorang. Suara yang dingin berkata, “Ternyata kau, lepaskan dia!” Ternyata yang datang adalah Meng Shao-hui. Wajahnya dingin, seperti besi, dia berdiri di ambang pintu.

Zhou Shi-lan tertawa dan berkata, “Ternyata Adik Hui!”

“Aku menyuruhmu untuk melepaskannya!” suara marah Meng Shao-hui seperti guntur.

Kata Zhou Shi-lan, “Hitung-hitung aku sedang sial, baiklah pir yang segar ini kuberikan untukmu.”

“Kentut! Keluar dari sini!”

“Mengapa, kau ingin mengambil semuanya?” Zhou Shi-lan menjadi marah juga, dia berteriak, “Adik Hui, pir ini aku yang memetiknya, tapi aku sudah memberikannya kepadamu untuk kau nikmati dulu. semua karena aku mempunyai kebijakan ”

“Siapa pun tidak boleh menyentuhnya.”

“Dia ini istrimu atau adikmu....” Kata-kata Zhou Shi-lan belum selesai, dia sudah ditampar oleh Meng Shao-hui.

Walaupun dia takut kepada Meng Shao-hui, tapi dia tetap orang persilatan, biasanya orang persilatan begitu mengalami peristiwa seperti ini pasti mereka tidak bisa menahan emosinya.

Zhou Shi-lan pun demikian, dia membentak dan berkata, “Marga Meng, bunga seperti Xiao Lan-ying dulu juga kuberikan kepadamu, tidak disangka kau begitu serakah. Hari ini aku tidak akan memberikannya lagi kepadamu, aku ingin lihat kau bisa apa?”

Kata Meng Shao-hui dengan marah, “Apakah benar kau tidak mau keluar dari sini?”

Pertanyannya dijawab dengan suara tertawa seperti orang gila. “Kalau begitu kita bertarung sekarang juga!”

Sebelum bertarung seharusnya orang mengetahui bagaimana situasi sebenarnya, tapi Zhou Shi-lan tidak, karena saat itu dia sedang marah. Rasa marah kadang-kadang bisa membuat orang kehilangan akal sehat juga kehilangan tafsir sehingga membuat kesalahan besar.

Zhou Shi-lan juga orang seperti itu, sambil berkata dia memungut golok yang berada dilantai dan berkata, “Keluarkan kehebatanmu!” Meng Shou Hui ragu dan berkata, “Kau ingin cari mati!”

“Belum tentu aku yang akan mati!” Belum habis perkataannya, Zhou Shi-lan sudah mengeluarkan serangan.

Empat buah golok memainkan jurus andalannya. Kamar itu segera dipenuhi dengan kilatan golok.

Meng Shao-hui tidak menyangka Zhou Shi-lan ingin membunuhnya. Dia hanya menggunakan jurus-jurus enteng dan memutar golok tajamnya, dia ingin lawannya sadar bahwa dia pasti kalah dan harus mengundur diri dari sana. Hal itu pun dilakukan supaya tidak merusak hubungan antar orangtua.

Tapi Zhou Shi-lan menyangka Meng Shao-hui takut dan tidak berani membalas. Dia bertindak lebih berani lagi. Jurus yang dikeluarkan adalah jurus untuk membunuh, benar-benar seperti sudah gila.

Meng Shao-hui terkejut dan merasa aneh, dia membentak, “Zhou Shi-lan, kenapa kau?”

“Kenapa? Kau menekan kepalaku hingga tidak bisa diangkat, hari ini kita putuskan, di dunia ini ada kau tidak ada aku atau sebaliknya!”

Dalam amarahnya Zhou Shi-lan bergerak lebih cepat lagi, dia mengayunkan golok ke kiri dan kanan, dia benar-benar ingin membunuh lawannya!

Meng Shao-hui tidak bisa bertahan lagi, dia mengeluarkan siulan yang aneh, dia pun mengeluarkan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa, kedua tangannya membentuk cakar naga, mengganti pedang mulai menyerang Zhou Shi-lan, terlihat tangannya seperti gunung yang mencakar hutan, golok yang berkilauan tampak menjadi kalang kabur gerakannya.

Biasanya mereka selalu berlatih bersama, Zhou Shi-lan bukan lawan seimbang untuk Meng Shao-hui, tapi kemampuannya tidak berbeda jauh, tapi pada saat mereka bertarung sekarang, Meng Shao-hui tampak begitu lihai, hanya dalam beberapa jurus sudah membuat Zhou Shi-lan menjadi takut, dia baru merasa menyesal, “Kalau tahu akan menjadi seperti ini, aku ”

Tapi walaupun sudah berada dalam keadaan seperti itu, dia adalah orang dunia persilatan, dia tidak akan meminta ampun.

Walaupun posisinya sudah tidak menguntungkan baginya, dia tetap mengeluarkan jurus-jurus istinewa yang pernah dia pelajari untuk mempertahankan diri. Meng Shao-hui menyerangnya secara berturut-turut dalam 7-8 jurus, Zhou Shi-lan terus mundur, dia mengira bila lawan tidak bisa bertahan dia akan keluar dari arena pertarungan, tangannya bergerak sedikit lambat, tak disangka Zhou Shi-lan dengan sekuat tenaga mengayunkan goloknya.

Meng Shao-hui terlambat untuk menghindar, dia berhasil ditebas oleh Zhou Shi-lan dan mengenai pundak kirinya, kulit dan bajunya terkelupas. Rasa sakit menusuknya hingga kejantung.

Zhou Shi-lan mengira dia sudah menang dan membentak, “Bocah, mengakulah kalah!”

Meng Shao-hui marah besar, suaranya menggeram seperti harimau, tangan kirinya mengeluarkan cakar Naga Hijau, secepat kilat mencengkram tangan musuhnya, tapi ini adalah serangan pancingan, sedang tangan kanan Meng Shao-hui seperti golok membelah kepala lawannya.

Terlihat darah bermuncratan kemana-mana, kepala Zhou Shi-lan hancur, golok pun terlepas dari genggamannya, tubuhnya limbung kemudian ambruk ke tanah.

Meng Shao-hui sudah berhasil membunuh Zhou Shi-lan, tapi dia juga terkejut hingga bengong, jurus yang di keluarkan adalah jurus yang diajarkan oleh ibunya, jurus yang begitu lihai.

“Tadinya aku hanya ingin mengejutkan dia, tak kusangka dia malah mati di tanganku, sekarang aku harus bagaimana ”

Rong Yu Liang yang tadi ditotok oleh Zhou Shi-lan, totokannya tidak begitu berat, sehingga dia bisa menyaksikan pertarungan itu sejak awal hingga akhir, pertarungan ini membuatnya terkejut juga takut, awalnya dia mengkhawatirkan keselamatan Meng Shao-hui, tapi pada saat dia melihat Meng Shao-hui membunuh Zhou Shi-lan, dia merasa senang tapi juga takut.

Tiba-tiba dia baru sadar bahwa dia setengah telanjang, wajahnya pun memerah, dia berusaha mengambil sesuatu untuk menutupi dirinya, tapi badannya lemas dan tidak bertenaga, Karena dia berusaha terus bergerak untuk mencapai baju agar bisa menutupi tubuhnya, tapi dia malah mengeluarkan suara.

Meng Shao-hui tersadar dari bengongnya dan dia berjalan menghampiri Rong Yu Liang, tapi begitu dia melihat tubuh Rong Yu Liang yang putih seperti susu, ini membuat hatinya bergetar. Meng Shao-hui berhenti melangkah. Rong Yu Liang menjadi malu dan dia berkata, “Mengapa kau tampak seperti orang bodoh? Cepat bereskan mayat orang itu! Bila melihat banyak darah aku ingin muntah.”

Meng Shao-hui dengan ragu berkata, “Orang sebesar itu bagaimana aku....Oh! Benar juga, aku akan menirumu, menarik mayatnya hingga ke pinggiran kota, kemudian menguburkan dia, tapi kau.... kau seperti ini, bagaimana aku bisa dengan tenang meninggalkanmu disini?”

Tiba-tiba Rong Yu Liang teringat sewaktu dia tinggal di Yu Quan Shan, gurunya pernah memberikan obat penghancur mayat, dia tampak berpikir sebentar lalu berkata, “Di tempatku ada sebuah botol kecil, kau ambil bubuk itu dan bubuhkan di lukanya, itu akan berguna.”

Dari kediaman Rong Yu Liang, Meng Shao-hui mengeluarkan sebuah botol yang berwarna hijau, dia mencabut tutupnya, baru saja dia ingin menumpahkan bubuk itu ke tubuh Zhou Shi-lan, Rong Yu Liang berteriak lagi, “Ada apa denganmu? Pakai saja sedikit dan bubuhkan di lukanya, itu sudah cukup.”

Meng Shao-hui tampak berpikir, “Barang apa ini? Mengapa dia begitu pelit?” Tapi dia tetap menuruti permintaan Rong Yu Liang.

Hanya dalam waktu singkat, dari luka Zhou Shi-lan keluar asap yang mengeluarkan bau tak sedap, kemudian keluar cairan berwarna kekuningan.

Lukanya menganga semakin lebar, bagian lain yang terkena cairan itu.... hanya dalam sekejap mayat yang berukuran besar itu sudah hancur menjadi cairan yang berwarna kekuningan.

Bau amis menusuk hidung, Meng Shao-hui pernah mendengar mengenai obat penghancur mayat, tapi dia belum pernah melihat langsung, ini adalah untuk pertama kalinya dia melihat kehebatan obat itu. Hal ini membuatnya merasa terkejut dan matanya membelalak begitu lebar.

Dia mendengar Rong Yu Liang berkata lagi, “Kakak Hui, tolong ambilkan sedikit air, untuk menyiram cairan itu agar ruangan ini bersih dan tidak berbau amis lagi.”

Meng Shao-hui mengikuti perintah Rong Yu Liang, membersihkan cairan itu, dia baru sadar bahwa dia sudah berkeringat dingin, hatinya masih tidak bisa merasa tenang.

Meng Shao-hui ingin pulang dan dia pun pamit, “Nona Rong, lebih baik kau beristirahat dulu, aku akan pulang.” Rong Yu Liang dengan ragu berkata, “Urat nadiku belum dibuka, kau mau pergi begitu saja?”

Meng Shao-hui terlihat ragu cenderung bengong, tapi dia tetap berjalan menghampiri Rong Yu Liang, dia tidak berani melihat tubuh Rong Yu Liang yang bisa membuat perasaan laki-laki menjadi goyah.

Meng Shao-hui bertanya, “Di bagian mana kau ditotok?”

Rong Yu Liang berkata, “Kau tidak mau melihatnya, mana aku tahu?” Wajah Meng Shao-hui memerah dan berkata, “Aku ”

Rong Yu Liang tertawa kecut dan berkata, “Lihatlah, bukankah tadi kau sudah melihat? Coba lihat sekali lagi. ”

Rong Yu Liang pun sebenarnya merasa malu, kepalanya menunuduk, tapi dia tidak bisa membalikkan tubuhnya.

Payudara bagian atas di dekat puting susunya, ada warna hijau sebesar jari, itu adalah nadi Ying Zhuang, bila ingin membuka totokan harus didorong dan harus....

Meng Shao-hui tampak ragu dan berkata, “Mengapa kau ditotok di bagian sana? Sekarang aku harus bagaimana ”

“Apakah aku harus begini terus....” Rong Yu Liang hanya bicara terus tapi kepalanya tidak mau melihat kearah Meng Shao-hui.

Akhirnya Meng Shao-hui mengeluarkan tangannya, ternyata tangannya pun gemetar, dengan cepat dia mengumpulkan tenaga dalam dan dengan telapaknya dia memijat dan mendorong.... hanya sekali memijat dan sekali mendorong, bisa dengan cepat selesai, mengapa sekarang ini jadi sulit dilakukan?

“Kau jahat!” teriak Rong Yu Liang sambil membalikkan tubuhnya terlihat wajahnya yang cantik seperti bunga.

Meng Shao-hui terpaku melihat wajahnya yang begitu cantik, dia tertawa canggung, waktu itu Rong Yu Liang pun mabuk dengan pesona Meng Shao-hui, perasaannya menjadi kacau, dia mengeluarkan kedua tangannya dan memeluk Meng Shao-hui dan dia pun masuk ke dalam pelukan Meng Shao-hui. Meng Shao-hui tidak bisa menguasai dirinya lagi.... Desah nafas yang berat dan suara yang terengah-engah sudah memenuhi kamar itu.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela dan menyinari kamar itu, Rong Yu Liang terbangun dari mimpi manisnya, dia merasa bahwa dia tertidur dalam pelukan seorang laki-laki yang berbadan tegap, segera dia terlonjak kaget.

Ada suara lembut yang berkata, “Adik Rong, kau sudah bangun?” “Oh, dia!”

Rong Yu Liang segera duduk dan mengambil bajunya, kemudian turun dari tempat tidur dan membentak, “Kau seperti seekor binatang, tidak tahu malu!”

“Aku.... aku....” Meng Shao-hui terkejut, dia tidak bisa mengatakan apa pun, kemudian dia pun turun dari tempat tidur dan mengenakan bajunya.

Rong Yu Liang sangat marah, setelah selesai memakai baju, dia menghampiri Meng Shao-hui dan menamparnya, tamparan itu mengenai bahu Meng Shao-hui yang masih terasa sakit, dengan terkejut dia membalikkan badannya.

Tangan Rong Yu Liang siap diayunkan lagi, tapi begitu dia melihat luka yang berada di pundak Meng Shao-hui, tangannya segera berhenti diayunkan.

Dia teringat dengan kejadian semalam....Meng Shao-hui yang menolong dirinya dia

sendiri yang mengundang Meng Shao-hui, apakah ini semua adalah kesalahan Meng Shao-hui?

Dia sendiri pun dia tampak ragu kemudian segera membentak, “Keluar, cepat keluar!

Aku tidak mau melihatmu lagi!”

“Adik....” Sambil memakai bajunya Meng Shao-hui terus bicara, “Adik Rong, ada apa denganmu? Aku ”

“Cepat pergi! Terlambat sedikit, aku akan membunuhmu!” Rong Yu Liang memungut golok yang terjatuh dilantai, dia merasa sangat malu dan terus menangis.

Meng Shao-hui menjadi terkejut dan berkata, “Nona Rong, ini semua adalah salahku, aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, aku akan segera memberitahukan semua ini kepada ayahku ” Wajah Rong Yu Liang berubah dab membentak, “Kentut! Jangan bicarakan hal ini dengan anjing tua itu! Kau dengan enak. Walaupun aku sudah kehilangan kesucianku

di tanganmu, tapi bukan berarti aku tidak bisa menikah dengan orang lain!” Dia masih terus menangis dan berkata, “Kemarin malam kau sudah menolongku, tapi kau pun mengambil kesucianku pada malam yang sama, kita tidak saling berhutang budi, kelak kita tidak akan saling kenal. Cepat keluar dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi!”

“Nona, dengarkan aku dulu. ”

“Aku menyuruhmu keluar, cepat keluar!”

Rong Yu Liang mengangkat goloknya tinggi-tinggi, Meng Shao-hui merasa bicara pun sudah tidak ada gunanya, dia keluar dari kamar itu dibelakangnya masih terdengar tangisan Rong Yu Liang...

Setelah Meng Shao-hui pergi, Rong Yu Liang menutup pintu rumahnya, kemudian dia menangis sejadi-jadinya, sepertinya dengan air mata yang dia keluarkan bisa membersihkan kekesalan hatinya.

Setelah usai menangis dia merasa hatinya lebih tenang, dia membereskan bajunya kemudian melipat selimut.

Pada saat melipat selimut dia melihat di atas tempat tidur ada darah tanda kesuciannya yang terenggut, dia menangis lagi.

Butuh waktu yang lama Rong Yu Liang baru bisa reda dari kesedihannya, dia mulai membereskan kamar yang keadaannya sangat berantakan.

Dia mulai berpikir, “Hong Dou Er sudah mati, sekarang bagaimana aku bisa menyampaikan rencana busuk ini kepada guruku? Apakah harus aku sendiri yang yang pergi ke Shang Yuan Zhen? Tidak mungkin, karena Meng Ju-zhong pasti akan tahu bila aku pergi dan dia akan menaruh curiga kepadaku. Semua rencanaku yang sudah berjalan selama beberapa bulan ini akan hancur berantakan. Bila si tua bangka itu tidak jadi melaksanakan rencana ini, siapa yang akan percaya kepadaku?”

Dia mondar mandir di dalam kamar, dia tidak mempunyai cara dan juga ide, benar- benar jalan buntu. Dia seperti seekor semut yang berada di dalam kuali panas.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dia terkejut dan tangannya langsung memegang golok, dengan perlahan dia berjalan ke arah pintu, dia mendengarkan dari balik puntu keadaan di luar. Dari luar ada yang memanggil, “Adik Rong, ini aku, cepat buka pintu!”

Rong Yu Liang (bukan, sekarang dia adalah putri Liang Zi-qi, yang bernama Liang Yu- rong), dia sangat senang dan langsung membuka pintu. Benar saja yang datang adalah Ma Xiu-juan.

Liang Yu-rong langsung memanggil, “Kakak Juan ”

Semua perasaan sedih dan senang bercampur menjadi satu. Dia memeluk Ma Xiu-juan kemudian dia menangis lagi.

“Kau.... ada apa denganmu?” Ma Xiu-juan mendorongnya agar agak renggang, dia melihat Liang Yu-rong membawa golok dan bertanya lagi, “Adik Rong, apa yang telah terjadi?”

“Aku ” Sambil menghapus air matanya Liang Yu-rong berkata, “Tidak terjadi apa-apa,

sudah lama kau tidak menengokku, aku rindu kepadamu.”

“Itu bohong,” kata Ma Xiu-juan sambil teras melihat dia, “Adik Rong, kakakmu ini bukan orang lain, apakah ada hal yang tidak bisa kau sampaikan kepadaku?”

“Benar, tidak terjadi apa-apa. Ayo Kak, duduklah,” kata Liang Yu-rong sambil tertawa (tapi pura-pura). Dia menuangkan secangkir teh untuk Ma Xiu-juan dan berkata lagi, “Kakak Juan, kau datang tepat pada waktunya, karena ada hal yang membuatku bingung.”

Ma Xiu-juan tertawa dan berkata, “Aku sudah tahu pasti telah terjadi sesuatu.” Liang Yu-rong berkata, “Ini mengenai hal penting  ”

Tanya Ma Xiu-juan, “Apa yang terjadi, katakanlah.”

Liang Yu-rong membisikkan sesuatu di telinga Ma Xiu-juan. Tawa Ma Xiu-juan segera terhenti, sepasang matanya membelalak dengan lebar, sepertinya dia tidak percaya.

Setelah Liang Yu-rong selesai berbisik, dengan rasa tidak percaya dia berkata, “Adik, hal ini sangat serius, kau jangan bertindak ceroboh, apakah kau tidak salah mendengarnya?”

“Aku tidak akan salah mendengar. Karena semua ini kudengar sendiri.” Ma Xiu-juan menghela nafas kemudian berkata, “Kalau memang seperti itu, berarti yang membunuh Paman Liang adalah dia.”

“Dulu aku hanya mempunyai firasat saja, sekarang aku sudah yakin pelakunya adalah dia,” kemudian Liang Yu-rong melanjutkan lagi, “Sebenarnya si marga Peng malam itu berada disana, dia adalah teman sekongkol Meng Ju-zhong, aku sudah mengetahui hal ini, bila tidak mengapa aku terus berada disini?”

Ma Xiu-juan mengangguk dan berkata, “Kalau begitu kedatanganmu kesini tidak percuma.”

“Benar, hari ini bila Kakak tidak datang, aku tidak akan bisa menyampaikan kabar ini kepada guruku.”

Tapi Ma Xiu-juan menggelengkan kepala, “Yang ingin kukatakan bukan mengenai hal ini, ayahku menyuruhku untuk mencarimu, bagaimana pun aku harus menjemputmu dan membawamu pulang, kau adalah seorang gadis, mana boleh terus menyamar menjadi laki-laki, apalagi tempat ini adalah kandang harimau, bagaimana kami tidak mengkhawatirkan keadaanmu?”

“Tidak, sudah terjadi hal ini, aku lebih-lebih tidak boleh pergi dari sini.” “Mengapa?”

“Kemarin malam sewaktu aku sedang mendengarkan pembicaraan Meng Ju-zhong dan teman-temannya yang sedang menyusun rencana busuk, mereka mengetahui keberadaanku, waktu itu tepat putri Meng Ju-zhong yang seperti orang gila itu berada disana. Kau tahu bagaimana dia selalu mencariku, sengaja aku berbuat mesra kepadanya, hal ini baru bisa menipu Meng Ju-zhong dan komplotannya, tapi itu pun benar-benar sangat berbahaya.”

Ma Xiu-juan tertawa dan berkata, “Bagaimana kau bisa melepaskan diri dari Meng Qi- fang?”

Wajah Liang Yu-rong memerah dan dia menjawab, “Gadis itu benar-benar menempel kepadaku seperti lintah, aku benar-benar dibuat pusing olehnya, secara kebetulan kakaknya dan dua bersaudara Zhou lewat, aku baru bisa meloloskan diri.”

Ma Xiu-juan menjadi curiga dan dia berkata, “Ini sangat aneh sekali, perempuan gila itu terus menempel kepadamu, mengapa dihadapanmu dia berakrab-akraban dengan dua orang Tuan Muda Zhou?” “Tidak, kakaknya ingin membawaku pergi dan menyuruh mereka menemani adiknya. Tapi adiknya malah marah dan pergi dari sana.” Liang Yu-rong bercerita dengan ekspresi wajah yang aneh, semua ini terlihat oleh Ma Xiu-juan.

Ma Xiu-juan terpaku dan berkata, “Adik Rong, kelihatannya Meng Shao-hui tahu bahwa kau adalah seorang perempuan.”

Dengan cepat Liang Yu-rong menggelengkan kepalanya, tapi begitu melihat wajah Ma Xiu-juan yang sangat serius, akhirnya dia mengangguk.

Ma Xiu-juan terdiam sebentar kemudian dia menghela nafas dan berkata, “Sudah lama aku mendengar si playboy itu sangat pintar mengambil hati perempuan, sepertinya hal ini tidak salah. Adik, apakah kau juga tertarik kepadanya” Jujurlah kepadaku!”

Wajah Liang Yu-rong memerah, dia berkata, “Tidak ”

Walaupun dia sudah menjawab tapi dia sendiri pun tidak percaya dengan perkataannya sendiri.

Ma Xiu-juan melihat dia terpaku, dia ingin tertawa, tapi berusaha ditahannya, dia berkata, “Adik Rong, sepertinya kau bukan mencari musuh yang menghancurkan keluargamu malah mencari suami yang baik.”

Liang Yu-rong segera marah dan berkata, “Kakak, jangan berkata seperti itu, mana bisa aku melupakan dendam keluargaku?”

Ma Xiu-juan memotong kata-katanya dan berkata, “Baiklah, hari ini kau ajak dia keluar, kita akan bergabung dan membunuhnya.”

“Ini. apakah baik bila melakukan hal ini?”

“Dia adalah putra dari musuhmu, dia pantas mati.”

Kata Liang Yu-rong, “Kak, jangan bertindak seperti itu, aku sering dengar guru menasihati: 'bila dendam didunia persilatan ini terus dibalaskan, kapan baru bisa berhenti', dendam dari generasi sebelumnya jangan dilanjutkan ke generasi berikutnya. Apalagi putranya tidak tahu kelakuan Meng Ju-zhong ”

Ma Xiu-juan tertawa dan berkata, “Bagaimana ini? Kau belum menjadi istrinya tapi terus melindunginya, kau tahu dari mana kalau dia tidak ikut dalam rencana busuk ayahnya?”

“Aku ” Wajah Liang Yu-rong memerah, dia tidak bisa menjawabnya. Ma Xiu-juan dengan dingin menjawab, “Aku lebih tua darimu beberapa tahun, walaupun aku tidak pernah mengalami hal sepert ini, tapi aku sudah sering mendengarnya, bila kau mau membuatku percaya dengan kata-katamu, kau harus bisa membunuhnya, kalau tidak. ” 

Liang Yu-rong tampak berpikir lama, kemudian dia menghela nafas panjang dan berkata, “Baiklah, adikmu ini akan menuruti kemauanmu, tapi masalah mengantarkan surat harus diutamakan, Kakak harus segera pergi ke Tian Shui untuk bertemu dengan guruku, jangan karena masalah kecil ini, rencana besar akan menjadi kacau.”

Ma Xiu-juan mengangguk dan tertawa, “Kau tenang saja, kakakmu ini tidak akan gagal melakukan semuanya....

= ooOOOoo =

Wu Quan Shan tertutup oleh kabut tipis, kuil Chong Qing pun tertutup oleh kabut itu.

Pin Ming Er Lang, Qi Hua Yang mengajak Meng Shao-hui datang untuk berunding, dia melihat Meng Shao-hui seperti tidak tenang dan gelisah, dia berkata, “Adik Meng, apakah telah terjadi sesuatu padamu hari ini? Mengapa kau tampak tidak tenang?”

“Tidak. tidak terjadi apa-apa,” jawab Meng Shao-hui.

Qi Hua Yang masih tampak ragu, kemudian dia berkata lagi, “Adik, kakakmu ini walaupun baru datang ke Lan Zhou belum begitu lama, tapi aku sudah menganggap Adik sebagai teman baik, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, tapi sepertinya Adik akan segan untuk menjawabnya, ini berarti Adik tidak mempercayaiku, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi yang pasti aku adalah temanmu. Aku pamit dulu.”

Begitu habis bicara, dia segera membalikkan badan dan berjalan menjauhi tempat itu, tapi lengan bajunya keburu ditarik oleh Meng Shao-hui, “Kakak, jangan pergi,” kata Meng Shao-hui sambil tertawa, dia melanjutkan lagi, “Aku tidak menyangka Kakak akan begitu terburu-buru pergi, aku tidak berbohong, aku sudah berjanji dengan seseorang sebelum Kakak membuat janji denganku, tempatnya pun sama, aku kira kalian berdua bisa bertemu, jadi aku menyetujui kedua-duanya. Orang itu sampai sekarang belum datang, karena itu aku sedikit tidak berkonsentrasi, harap Kakak mau memaafkanku.”

Qi Hua Yang tertawa dan berkata, “Oh, ternyata begitu, kakak ternyata sudah salah paham kepadamu, siapa yang sudah berjanji untuk bertemu denganmu disini?”

“Rong Yu Liang.” Hati Qi Hua Yang bergetar, “Apa yang ingin kalian lakukan?” “Kami hanya ingin berjalan-jalan,” jawab Meng Shao-hui.

Sewaktu Meng Shao-hui berbicara mengenai Rong Yu Liang tampak wajahnya sedikit berbeda, walaupun Qi Hua Yang mengetahuinya, tapi dia tidak mengatakan apa pun, dia memikirkan apa yang harus dia pikirkan.

Meng Shao-hui berkata lagi, “Bila dia tidak datang, ya sudahlah, tapi ada apa Kakak memangilku kesini?”

Jawab Qi Hua Yang, “Adik, kau pun tahu dulu di Lan Zhou ada tiga buah kantor Biao, walaupun kantor Biao Zhen Yuan paling besar dan kuat, tapi kantor Biao Wei Yuan dan Yong Tai dulu pernah ada, tapi semenjak kedua kantor Biao itu secara berturut-turut mengalami musibah, kantor Biao Zhen Yuan sengaja meminta tarif yang tinggi dan berusaha membuat para pelanggan menjadi keberatan, karena itu sekarang di dunia persilatan menjadi ribut, bermacam-macam berita dan pembicaraan masyarakat mengenai. ”

Meng Shao-hui menjadi terpaku, dia memotong kata-kata Qi Hua Yang, “Apakah keadaannya sampai begitu parah?”

“Aku sudah diterima di kantor Biao milik ayahmu, untuk apa di belakangnya menjelek- jelekkan beliau? Bila Adik tidak percaya, kau boleh cari tahu sendiri.”

“Sebenarnya aku sudah mendengar gosip-gosip ini, tapi aku tidak tahu akan separah ini,” Meng Shao-hui menghela nafas dan berkata lagi, “Apakah Kakak mempunyai rencana lain?”

Qi Hua Yang tampak ragu sebentar kemudian dia berkata, “Sudah beberapa kali aku pergi ke tempat kantor Biao Yong Tai yang dulu, aku lihat rumah disana sudah runtuh, rumput-rumput liar sudah tumbuh dengan tinggi, hal ini membuat hatiku menjadi sedih, sebelum mengundurkan diri dari dunia persilatan, guruku mempunyai sedikit uang, aku ingin meminjam uang itu dan membangun sebuah kantor Biao di tanah itu, kelihatannya tempat disana cukup bagus, aku yakin bisnis pun akan berjalan dengan lancar.”

Meng Shao-hui memuji dan berkata, “Keinginan Kakak benar-benar bagus, aku kagum kepadamu, tapi bila Kakak benar-benar akan menjalankan bisnis ini, masih banyak hal yang harus kau selesaikan terlebih dahulu.”

“Guruku sudah menyiapkan uang, aku sudah mengunjungi orang pemerintahan yaitu Tuan Lu, dia berjanji kepadaku akan membebaskan pajak selama tiga tahun.” “Kalau begitu mengapa Kakak tidak segera membuka usaha ini?”

“Hanya saja. ” Qi Hua Yang tampak ragu dan dia berkata lagi, “Kantor Biao Zhen Yuan

selalu membuat kesulitan, aku ”

Meng Shao-hui berkata, “Apakah karena Kakak masih orang kantor Biao Zhen Yuan? Kalau begitu, kau tinggal keluar dari kantor Biao Zhen Yuan, ayahku tidak bisa melarangnya lagi.”

Qi Hua Yang tertawa kecut dan berkata, “Bukan karena itu, katanya Gui Jian-chou akan menikah dalam beberapa hari ini. ”

“Benarkah?” Meng Shao-hui bertanya, “Siapakah pengantin perempuannya? Mengapa aku tidak tahu?”

“Dia adalah pelayan kantor Biao yang bernama Chun Hong yang bekerja dikeluargamu,” kata Qi Hua Yang. Kemudian Qi Hua Yang berkata lagi, “Kelihatannya Peng Zhi-xiao banyak uang, dia bisa membeli tempat itu dan membuat rumah.”

“Gui Jian-chou di kantor kami sudah bekerja selama beberapa tahun, dia sangat rajin dan pandai berhemat, sekarang dia mempunyai uang membeli tanah sepertinya itu tidak aneh,” kata Meng Shao-hui. Dia berkata lagi, “Apakah dia berebut dengan Kakak soal tanah itu? Kakak bisa menaikkan harga tanah, bila Kakak masih kekurangan uang, aku bisa membantu sedikit.”

Qi Hua Yang berkata, “Hal penting yang kumaksud bukan ini. Aku sudah mencari tahu yang membuat rumah itu adalah Gui Jian-chou tapi yang melakukan semuanya itu adalah pengurus keluargamu, Shen Zhong-yuan.”

Meng Shao-hui tertawa dan berkata, “Bila kau mengatakan nama orang lain, aku masih mempercayainya. Dia adalah seorang pengurus yang lemah dan cacat, dia bisa membuat masalah apa?”

“Mungkin Adik terlalu memandang enteng kepadanya.”

“Paling-paling dia hanya licik dan licin, mungkin juga banyak akal.”

“Tidak, apakah Adik tahu dulu di jalan Gan Liang ada seseorang yang dijuluki dengan Sempoa Besi?” “Aku pernah mendengarnya. Katanya tenaga dalam orang itu sangat kuat, sebuah sempoa besi bisa dipakainya dengan lancar dan lihai, apalagi dengan biji sempoa dia bisa menotok orang yang paling lihai, tapi sekarang ini dia menghilang cukup lama, mengapa Kakak tiba-tiba menanyakan tentang dia?”

“Adik tidak akan salah menanyakam hal ini,” Qi Hua Yang tertawa sinis, “Hanya saja Adik tidak tahu, orang yang dijuluki Sempoa Besi dan orang terkaya dikalangan golongan hitam telah diundang oleh ayahmu untuk menjadi pengurus rumahmu.”

“Apa....” Meng Shao-hui sangat terkejut. Kemudian dia tertawa dan berkata, “Kakak, kau sangat keterlaluan kalau bercanda.”

“Adik, percaya atau tidak, itu semua adalah urusanmu. Karena pengurusmu itulah di luar dia mengatakan membangun rumah untuk Peng Zhi-xiao sebagai tempat tinggalnya, sebenarnya dia sedang membuat sebuah rumah pelacuran. Ini benar-benar mencoreng dunia persilatan.”

Meng Shao-hui berpikir sebentar dan berkata, “Kalau benar seperti itu, aku tidak akan membiarkan rencana ini berjalan, aku lebih ”

Saat itu dari jalan gunung tampak dua orang biksuni muda, wajah mereka cantik tapi mengenakan baju biksuni.

Mereka mendekat Qi Hua Yang dan Meng Shao-hui, melihat mereka sedang mengobrol sepertinya kedua biksuni itu cukup kaget, tapi mereka tetap mendekat dan memberi hormat kepada Meng Shao-hui.

Mereka bertanya, “Apakah kau adalah Tuan muda Meng?”

“benar, aku adalah Meng Shao-hui. Anda berdua ada keperluan apa?” Setelah berbicara dengan mereka, dia langsung mengenali mereka.

Mereka adalah murid Liao Yin yang berada di kuil Bai Yun. Yang satu bernama Miao Yue, yang satu lagi bernama Miao Yun.

Miao Yue berkata, “Aku diperintahkan oleh guruku untuk berkunjung ke rumahmu, tapi secara kebetulan kita bertemu disini. Tuan Meng ” dia berhenti bicara.

Kata Meng Shao-hui, “Apakah ada yang ingin kau sampaikan? Katakan saja. Tuan Qi ini teman baikku, tidak perlu merasa khawatir.” Tapi Miao Yue memberi hormat lagi, dia berkata, “A-mi Ta-ba, guru mengatakan hanya bisa berbicara dengan Anda saja.”

Terpaksa Meng Shao-hui berkata, “Maaf Kakak Qi, tolong tunggu sebentar. Aku akan pergi sebentar dan akan kembali lagi.” Dia mengikuti dua orang biksuni.

Tidak disangka, baru berjalan beberapa langkah, kedua biksuni itu memutar tubuhnya dan mengangkat tangan mereka, empat buah pisau terbang seperti kilat mengarah ke arah Qi Hua Yang.

Karena sangat tiba-tiba Meng Shao-hui sangat terkejut hingga terbelalak tapi Qi Hua Yang sudah mengeluarkan suara teriakan dan dia pun roboh.

Meng Shao-hui baru sadar setelah Miao Yue dan Miao Yun sudah melarikan diri.

Meng Shao-hui mengeluarkan suara seperti harimau. Dengan satu jurus yang dikeluarkan, dia mencakar leher belakang Miao Yue. Karena dia terburu-buru mengeluarkan serangan sehingga gerakannya sangat cepat.

Karena Miao Yue tidak siap, begitu mendengar suara angin yang dibawa oleh baju yang dihembus angin, dia merasa leher bajunya ditarik. Kakinya tidak berpijak pada tanah dan dia berhasil diangkat oleh Meng Shao-hui.

Sebenarnya ilmu silatnya tidak rendah, tapi dia tidak menyangka Meng Shao-hui akan menyerangnya secara tiba-tiba.

Dia berteriak, “Tuan Muda Meng, lepaskan kami! Ini tidak ada hubungannya dengan kami. ” Belum selesai kata-katanya dia sudah merasa seluruh tubuhnya lemas dan dia

pun terjatuh.

Miao Yun sudah melarikan diri sejauh beberapa puluh meter, begitu mendengar Miao Yue berteriak dia merasa lebih takut lagi dan dia pun tahu bahwa dia bukan lawan Meng Shao-hui.

Jangankan melawan, kata-kata yang lebih kasar pun, dia tidak berani mengucapkannya kecuali lari dari sana, apa lagi yang bisa dia lakukan?

Tapi dia sudah mendengar suara siulan panjang terpaksa dia mencabut pedangnya, dia memutar tubuhnya dan mengeluarkan serangan.

Beberapa jurus gerakan sekaligus dikeluarkan. Pedangnya mengeluarkan kilauan cahaya, dengan pedang itu miring menusuk ke dada lawan. “Berani kau!” Meng Shao-hui marah, dengan jurus Cahaya Lilin Bergoyangan, dia menepis pedang lawannya.

Tangan kanannya dengan kelima jari seperti kait mencengkram tangan lawan. Meng Shao-hui menguasai ilmu silat Kong Dong Pay juga ilmu silat Hua Shan Pay, dia berpengalaman dalam bertarung dengan musuh.

Dia tahu jurus apa yang akan dikeluarkan oleh musuhnya dan mempunyai pembawaan yang berwibawa.

Miao Yun kaget, dia menarik tangannya kembali, pedangnya miring masih bisa menghindari telapak lawannya tapi cakar musuh sudah menyerangnya lagi, terpaksa dia berguling di tanah seperti bola salju dan menyerang ke bagian bawah Meng Shao- hui.

Meng Shao-hui tubuhnya bergerak dengan lincah, Zhui Hun Duo Ming-jian Fa dia pun bisa dia keluarkan, cepat tapi juga lihai.

Meng Shao-hui sudah pernah pergi ke kuil Bai Yun beberapa kali, dia tahu bahwa ketua kuil Liao Ying Shi Tai mempunyai ilmu silat sangat tinggi, tidak disangka muridnya pun begitu lihai.

Meng Shao-hui berteriak dengan suara keras, tubuhnya pun melayang. Begitu dia turun, kedua kaki terus menendang. Tendangannya kuat, angin yang dikeluarkan pun kencang.

Miao Yun melarikan diri, tapi tendangan musuh sudah datang. Dia menghindar tapi tendangan kedua segera menyusul. Dia tidak bisa menghindar lagi.

Tendangan sebanyak beberapa kali mengenai dadanya. Darah muncrat dari mulutnya dan dia pun roboh tidak bergerak lagi.

Meng Shao-hui tidak menyangka akan terjadi seperti ini, sewaktu dia marah dia akan mengeluarkan jurus-jurus yang begitu lihai.

Dia melihat Miao Yun mati karena tendangannya. Dia tidak tega tapi dia juga teringat kepada Qi Hua Yang. Dengan cepat dia kembali ke tempat tadi.

Qi Hua Yang terbaring dengan terlentang di tanah, pada saat dipanggil pun dia tidak menyahut. Dia mendekat untuk melihat, terlihat pundaknya mengeluarkan banyak darah. Di sisinya ada sebuah pisau terbang berwarna biru. Sudah jelas bahwa pisau itu diberi racun. Darah yang berada di ujung pisau pun sudah berubah warna menjadi hitam.

Dia mendekatkan tangannya ke hidung Qi Hua Yang, ternyata dia sudah tidak bernafas, mungkin begitu terkena pisau terbang dia langsung mati, berarti racun yang dioleskan pada pisau itu sangat hebat.

Meng Shao-hui berpikir, “Kakak Qi memiliki kemampuan ilmu silat di atasku, tidak disangka dia bisa mati di tangan para biksuni jahat itu....” air matanya mulai menetes. Dalam hati dia berpikir lagi, “Kedua biksuni itu pasti disuruh oleh Liao Yin Shi Tai. Aku harus mencari tahu dan membalas dendam Qi Hua Yang.”

Dengan pelan dia berjalan ke sisi Miao Yue. Dia terkejut ternyata Miao Yue yang tadi hanya ditotok olehnya sudah menggigit lidah untuk bunuh diri.

Meng Shao-hui menarik nafas, dia kembali lagi kesisi Qi Hua Yang. Matanya sudah penuh dengan air mata, dia berkata sendiri, “Kakak Qi, tidurlah sebentar disini. Aku akan pergi ke kota untuk membeli sebuah peti mati yang bagus untukmu dan mengantarkanmu ke dalam tanah.”

Sambil berjalan dia masih menoleh ketempat Qi Hua Yang terbaring, di jalanan gunung terdengar beberapa kali ada yang menarik nafas.

Ketika Meng Shao-hui dan Miao Yun walaupun bertarung sebentar tapi dia tidak menyangka dalam waktu singkat itulah Qi Hua Yang yang mendengar suara Miao Yue yang bunuh diri.

Tiba-tiba dia meloncat ke sisi Miao Yue. Tangan dan pisaunya penuh dengan darah, kemudian tangan yang berdarah itu dia gosokkan ke pundaknya sendiri. Kemudian dia kembali lagi ke tempat asal dan berbaring disana.

Dengan gerakannya begitu cepat, dia bisa menipu Meng Shao-hui yang berpengalaman di dunia persilatan dia juga bisa menahan nafas. Setelah Meng Shao- hui pergi, Qi Hua yang meloncat bangun dan tertawa dengan penuh rahasia, kemudian dia pun turun gunung.

Beberapa puluh meter dari sana, tampak empat buah mata yang melihat semua kejadian itu dengan jelas.

Dua orang gadis, Liang Yu-rong dan Ma Xiu-juan, tadinya mereka akan bergabung untuk membunuh Meng Shao-hui, setelah menyaksikan peristiwa tadi, niat membunuh mereka menjadi hilang sama sekali. “Kakak Juan, aku sudah katakan bahwa dia bukan orang seperti itu, kau tidak mempercayainya, sekarang apa yang akan Kakak katakan?” dengan senang Liang Yu- rong mengatakan semua ini, wajahnya berseri-seri seperti sekuntum bunga.

“Bocah itu menang lagi, tapi kau tetap harus berhati-hati, karena dia adalah putra dari musuhmu, orang yang telah membunuh keluargamu, bila kau tidak mau membunuhnya, kau tetap tidak boleh menjadi istrinya....” Kata-katanya belum selesai, Liang Yu-rong sudah menggelitik Ma Xiu-juan, mereka pun tertawa.

Di kuil Bai Yun, di sebuah kamar yang rapi dan bagus, Liao Yin Shi Tai melihat ke arah langit yang gelap, dia menghela nafas panjang, “Hari ini sudah lewat, sepertinya dia tidak akan datang lagi. Dengan sepenuh hati aku menunggunya, tapi dia hanya sekali- 

kali saja menengokku, melewati hari-hari seperti ini memang sangat sulit. Dia menyuruhku membunuh si marga Qi, tapi hanya menyuruh orang menyampaikan pesannya, benarkah dia begitu sibuk? Aku dengan si marga Du itu bukan seorang perempuan yang bisa terus menempel kepadanya, apakah karena aku sudah tua, maka dia mencari lagi perempuan yang muda ”

Dari atas meja rias dia mengambil sebuah cermin untuk melihat wujudnya, kedua matanya masih hitam dan bersemangat, hidungnya pun mancung, bentuk mulutnya bagus, walaupun sudut matanya tampak ada kerutan, tapi dia masih bisa dikatakan sebagai seorang perempuan yang cantik. Memang kepalanya botak dan ditutupi dengan topi biksuni, tapi semua ini terlihat jadi jelek, tapi karena cermin miliknya tidak terlalu besar maka dia tidak bisa melihat bentuk kepalanya secara keseluruhan.

Dia meletakkan cermin itu ke atas meja riasnya, melihat makanan yang telah dihidangkan untuknya dan Meng Ju-zhong, walaupun dia seorang biksuni, tapi dia tidak pantang untuk membunuh dan berbuat cabul. Apalagi pantangan untuk minum arak dan daging dia sama sekali tidak peduli.

Dia menghela nafas lagi dan berkata, “Setiap hari aku menyiapkan sayur dan nasi, kapan dia akan benar-benar menikmati semua ini?”

Dia tidak bernafsu makan dan dia akan menyuruh seseorang untuk membereskan semuanya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada suara, suara ini berasal dari orang kalangan dunia persilatan, yang meloncat melewati atap rumah.

Biasanya Meng Ju-zhong bila datang ke kuil ini tidak pernah menggunakan cara seperti itu, dia melihat ke arah pedang yang tergantung di dinding, dalam hati dia tertawa, “Siapa yang sudah bosan hidup dan mencari masalah di depanku ” Tidak disangka orang yang datang itu gerakannya sangat cepat, begitu dia sudah berada di depan pintu, Liao Yin masih bengong di tempatnya, terdengar pintu yang diketuk dari luar sebanyak dua kali, mendengar ketukan kecil ini membuat hati Liao Yin menjadi senang, dengan terburu-buru dia membuka pintu, dia tidak bicara lagi, langsung masuk ke dalam pelukan orang itu.

“Aku rindu kepadamu ”

Dia seperti bermimpi mengatakan semua itu, dia memejamkan matanya, bibirnya mencari dan mencari....Dua buah bibir menempel menjadi satu, dia digendong dan diletakkan diatas ranjang.

Orang yang datang itu tak lain adalah Jin Chi Da Peng, Meng Ju-zhong, dengan sepenuh perasaan dia memeluk dan meraba, dia mencumdu Liao Yin dengan penuh kemesraan, dia berkata, “Wu-niang, waktuku sudah tidak banyak, setelah membicarakan yang penting, aku akan pergi.”

“Kau baru datang sudah akan pergi, lebih baik jangan datang sekalian,” Liao Yin berdiri dan marah, “Setiap hari aku menunggumu seperti menunggu bintang dan bulan, sekarang kau baru datang sudah akan pergi. Siluman rubah mana yang sudah mengaitmu dan melemparku ke tempat yang jauh? Kakak Meng, coba kau pikir kelakuanmu selama ini apakah benar?”

Awalnya suaranya terdengar keras terakhir malah terdengar lembut, sekarang matanya sudah berlinangan dengan air mata.

“Wu-niang, jangan begitu, dengarkan aku dulu!” Meng Ju-zhong meletakkan Wu-niang di pangkuannya, “Aku tidak pernah melupakanmu, hanya saja selama beberapa hari ini aku sangat sibuk, benar-benar tidak ada waktu ”

“Kantor Biao Zhen Yuan paling besar di dunia persilatan, bisnisnya pun semakin besar, anak buahmu pasti beraneka ragam, kau yang menjadi ketua Biao masih harus mengurusi apa lagi?” Sambil berkata demikian Liao Yin tampak mulai marah lagi. Dia memberontak dari pelukan Meng Ju-zhong, tapi tidak bisa.

Meng Ju-zhong berkata lagi, “Wu-niang, sesudah bisnis kali ini aku akan menutup kantor Biao. Aku tidak mau setiap hari hidup di ujung golok dan melihat darah yang terus bercucuran, aku ingin hidup dengan santai, setiap hari akan menemanimu.”

Kata Liao Yin, “Kau sangat kaya, apa yang kau khawatirkan? Kalau tidak mau membuka kantor Biao lagi segera tutup saja, tidak perlu menunggu lama lagi, apa yang membuatmu risau?” “Kemarin aku menerima sebuah order. ”

Tanya Liao Yin, “Apakah hanya karena masalah kecil ini kau merasa pusing?” “Tiga ratus ribu tail perak bukan jumlah yang kecil!”

Liao Yin tertawa dingin dan berkata, “Bila biaya antarnya adalah 6% dari keseluruhan, berapa uang yang bisa kau dapatkan?”

“Tidak, aku menginginkan semuanya.”

“Apa?” Liao Yin terkejut hingga berteriak. Dia memberontak dan keluar dari pelukan Meng Ju-zhong dan berdiri di depannya lalu berkata, “Kakak Meng, kau jangan begitu, kita sudah melewati usia setengah abad, tangan kita jangan terlalu banyak berlumuran darah. Kantor Biao Yong Tai dan Wei Yuan adalah dua kantor Biao yang sudah dihabisi olehmu. Sebenarnya kau bisa dengan tenang berbisnis selama beberapa tahun. Bila kau merasa lelah, tutuplah kantor Biao mu, itu pun sudah cukup untuk menikmati hidup di masa tuamu.”

Dengan tegas Meng Ju-zhong berkata, “Aku sudah merencanakan bahwa ini adalah untuk terakhir kalinya.”

Liao Yin ragu, dia duduk di pangkuan Meng Ju-zhong dan menasehai dia, “Kakak Meng, kau terlalu serakah. Kali ini kau akan mendapatkan uang sebanyak 300.000 tail, kelak kau menginginkan 400.000 tail, lalu 500.000 tail....Kakak Meng, jangan begitu, uang dan emas memang kita butuhkan, tapi itu hanya materi tidak perlu dikejar terus.”

Meng Ju-zhong segera diam, kemudian dengan suara dingin dia berkata, “Kalau begitu, artinya kau tidak mau membantuku lagi?”

Liao Yin tampak ragu dan berkata, “Kakak Meng, aku ”

Kata Meng Ju-zhong, “Kau tidak mau mendukungku pun tidak apa-apa, paling- paling ”

Liao Yin dengan cepat berkata, “Tidak, aku akan ikut.” Dia berkata seperti itu tapi air matanya sudah mengalir.

Wajah Meng Ju-zhong segera berseri-seri lagi dan memeluknya dengan erat lalu berkata, “Inilah yang kuinginkan ” Liao Yin menikmati kelembutan Meng Ju-zhong dan dia berkata, “Kakak Meng, udah lama kita tidak makan bersama. Aku sudah menyiapkan nasi dan sayur. Kalau sudah makan jangan pulang dulu, temanilah aku disini.”

“Semua keinginanmu akan kuturuti. ”

= ooOOOoo =

Seorang penyair Dinasti Tang bernama Li Bai pernah membuat sebuah puisi.

Kira-kira begini bunyinya: 'orang selalu berkata, jalan tersulit, propinsi Si Chuanlah yang paling sulit dilalui, kesulitannya seperti naik ke atas langit. Dari Gan Shu masuk ke propinsi Si Chuan benar-benar perjalanan yang sulit'.

Begitu melewati Lang Mu Shi (nama tempat) sudah memasuki jalan Shu yang sulit. Dari kejauhan terlihat gunung yang tertutup oleh salju, di dekat sana ada sebuah batu besar dan berbentuk aneh. Cukup jauh jalan di daerah sana, tempat itu penuh dengan perampok.

Jalanan itu benar-benar membuat orang-orang Biao merasa takut, tapi beberapa tahun ini karena selalu muncul bendera Zi Feng, oleh karena itu orang-orang dari golongan hitam banyak yang berpindah ke tempat lain, membuat kedaan disana lebih aman.

Di depan rombongan ada bendera Zi Feng. Ada Gui Jian-chou dan Feng Jian Zhang yang mengiringi barisan itu, ditambah lagi dengan empat orang guru Biao yang menemani barisan itu. Mereka merasa tenang.

Setelah makan siang, terlihat barisan mereka mulai meninggalkan Lang Mu Shi. Baru berjalan kurang lebih sepuluh kilometer, jalanan semakin menanjak. Kedua sisi jalan itu adalah gunung, tiba-tiba terdengar ada suara kuda yang mengejar dari belakang.

Jalanan gunung sangat sepi, suara kuda terdengar begitu jelas.

Feng Jian Zhang berpikir, “Mengapa kita belum memasuki propinsi Si Chuan sudah bertemu dengan perampok? Sepertinya perampok-perampok itu terlalu berani bertindak.”

Dia menyuruh barisan barang berhenti dan berkata kepada Peng Zhi-xiao, “Adik, orang- orang ini datang untuk mencari kita, jagalah pelanggan kita. Aku yang akan bertarung dengan mereka.” Dia sudah menyiapkan pentungan berantai tiga. Hanya dalam waktu singkat orang- orang itu sudah mendekat.

Terlihat oleh Peng Zhi-xiao orang yang pertama adalah orang yang berwajah hitam, dia adalah Long Nan San Xiong, si Harimau Hitam Wang Guai Fang yang sudah lama mengikuti Meng Ju-zhong berbisnis ilegal.

Dia tahu bahwa Wang Guai dan Meng Ju-zhong secara sembunyi-sembunyi memiliki hubungan bisnis. Dalam hati dia merasa aneh, “Mengapa sekarang dia membawa begitu banyak orang, untuk apa?” Dia berteriak, “Apakah yang datang adalah Ketua Wang?”

“Hai, apakah kalian baru tiba disini?” Wang Guai menjawab sambil mengambil senjatanya dan dia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi lalu berteriak, “Jangan teruskan perjalanan, di depan sana sudah tidak ada jalanan lagi!”

Feng Jian Zhang terpaku dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Jawab Wang Guai sambil tertawa terbahak-bahak, “Hei marga Feng, kau harus ingat tahun depan di hari yang sama adalah hari dimana kau meninggal, tepat satu tahun!”

Feng Jian Zhang marah dan berkata, “Wang Guai, kau terlalu berani. ”

Kata-kata dia belum habis, dia merasa di belakangnya yaitu di antara pinggang dan rusuknya terasa dingin. Rasa sakit menusuk hingga ke hati, baru saja dia membalikkan badannya separuh, dia sudah jatuh terkapar.

Yang menyerangnya adalah Peng Zhi-xiao. Dua koas hakim miliknya sudah penuh dengan darah. Diwajahnya masih terlihat tawa sinis.

Empat orang guru Biao lainnya kaget bukan kepalang. Orang mereka sendiri telah membantu musuh. Mereka terpaksa mengeluarkan senjata mempertahankan diri.

Begitu melihat ada yang mendekat, senjata diayunkan, langsung terjadi pertarungan, di jalan itu dan keadaan disana penuh dengan kekacauan.

Walaupun empat orang guru Biao itu memiliki ilmu silat lumayan tinggi tapi masing- masing bertarung untuk mempertahankan dirinya, mana bisa mereka melawan Peng Zhi-xiao dan San Xiong? Terlihat keadaan ini sangat bahaya.

Tiba-tiba di jalan gunung ada beberapa ekor kuda yang datang lagi. Kedua belah pihak merasa aneh dan terpaku. Orang yang pertama datang adalah seorang biksu yang mengenakan baju berwarna abu. Tangannya memegang pedang yang berkilau.

Peng Zhi-xiao tahu dia adalah Tetua Tian Shui Guan, Biksu Xuan Gui. Peng Zhi-xiao juga mengetahui jurus pedang tujuh bintang milik Biksu Xuan Gui yang sangat lihai.

Dari pihaknya tidak ada yang bisa melawan Biksu Xuan Gui. Tapi biasanya orang itu tidak pernah mau mengurusi hal dunia persilatan, sekarang dia sudah datang berarti rencana Meng Ju-zhong sudah bocor.

Dia datang, disusul dengan orang-orang dunia persilatan. Dia terkejut, segera dia naik ke atas kuda, dengan cepat melarikan diri.

Di dalam suara gemuruh itu, terlihat bayangan seakan datang dari langit kemudian turun ke bawah dan memukul kepala Wang Guai.

Dia terkejut dan mundur sebanyak dua langkah. Tombaknya diangkat dengan jurus Mengangkat Api Membakar Langit, untuk menahan serangan lawan.

Terdengar suara senjata berbunyi, ada sesuatu yang melayang jauh. Benda itu adalah ujung tombak milik Wang Guai.

Kali ini Wang Guai benar-benar terkejut. Dia kaget lalu berteriak, dia jatuh dari kuda kemudian terguling sejauh beberapa meter.

Ilmu silatnya memang lumayan, tapi pada saat dia belum berdiri dengan benar dia sudah melemparkan tiga buah biao. Kemudian dengan jurus Ikan Emas Terbang, dia sudah berdiri.

Sekarang Wang Guai baru bisa melihat dengan jelas bahwa orang yang datang berumur sekitar enam puluh tahunan, tubuhnya tinggi dan besar, masih tampak sangat bersemangat, wajahnya kuning langsat, matanya berkilau, dagu terdapat tiga tumpuk kumis yang sudah memutih.

Orang tua itu melihat tiga biao yang dilempar oleh Wang Guai, dia memperlakukannya seperti mainan. Dengan pedang dia secara asal-asalan menangkis, tiga biao besi itu langsung berjatuhan.

Kemudian dia meloncat dan pedangnya pun diputar. Dia sudah menyerang Wang Guai pada bagian atas. Wang Guai terkejut, kemudian dia melarikan diri. Si Rambut Merah, Song Wen Liang melihat kakak angkatnya sedang berada dalam kesulitan, segera datang dan langsung mengayunkan pentungan logam berwarna hijau. Di dalam hentakan pentungnya, dia menyapu pentungan itu ke arah pinggang orang tua itu.

Pak tua itu mundur dua langkah. Begitu pentung musuh melewatinya, dia maju lagi. Pedang panjangnya bergerak dengan cepat seperti kilat mengikuti pentungan, membabat tangan kiri Song Wen Liang. Sehingga keemat jarinya tertebas hingga putus.

Song Wen Liang kaget dan ingin berteriak. Hanya terlihat kilauan pedang dan darah pun bermuncratan, pedang itu menusuk ke jantungnya. Tubuhnya yang besar langsung roboh.

Wang Guai yang sudah melarikan diri sejauh puluhan meter, mendengar pak tua itu berkata, “Kau mau kabur ke mana!” Pedang panjangnya sudah terbang menusuk ke punggung Wang Guai.

Wang Guai mendengar dibelakangnya ada suara senjata yang membelah. Dia mengangkat tombaknya yang sudah putus, segera membalikkan badan 'DANG', tombak yang putus itu terkena ujung pedang. Tapi pedang tetap bisa melewati pundaknya.

Baju dan daging bagian pundak tertebas oleh pedang. Rasa sakit membuatnya menggigit bibir menahan sakitnya. Dia merasa beruntung, tapi orang itu seperti bayangan sudah datang menghampirinya. Dengan telapak pembawa angin yang kencang memukul kearahnya.

Wang Guai seperti burung yang terkejut, dia hanya menyerang dengan jurus Harimau Galak Menggoyangkan Ekornya, sambil melawan dia terus berlari.

Tapi ada sebelah kaki yang datang dan menendang lalu mengenai pinggangnya. Badannya yang besar tertendang kemudian terjatuh. Dia tidak bisa bangun lagi.

Pak ma itu menghampiri, kakinya menginjak dada Wang Guai dan membentak, “Penjahat, katakan siapa yang merencanakan semua ini!”

Wang Guan adalah orang dunia persilatan sejati, walaupun badannya terasa sakit dan tahu bahwa dia akan mati tapi dia tetap menjawab, “Aku adalah seorang ketua, tidak ada yang menyuruhku. Bila aku harus mati ya mati saja, tidak perlu bertanya macam- macam!” Pak ma itu marah, wajahnya berubah warna. Dia membentak, “Baiklah, kau ingin mati, akan kukabulkan permintaanmu!”

Dia menambah tenaga dan menekan kakinya. Wang Guai berteriak dan memuntahkan darah. Pak ma itu mengambil pedang dan kembali kelapangan yang masih terlihat kacau balau itu.

Yang datang bersama dengan Biksu Xuan Gui adalah seseorang yang memakai baju berwarna putih, Li Ke Ming beserta murid-muridnya. Yang lainnya adalah orang-orang dari golongan Tian Shui.

Biksu Xuan Gui melihat di dalam barisan lawan ada tiga orang yang mengenakan kain tipis berwarna hitam untuk menutupi wajah dan mereka mengenakan baju biksuni. Salah satu dari mereka sangat lincah, ilmu silatnya pun sangat lihai, dia pasti seorang pesilat tangguh.

Dia segera mendekatkan kudanya ke arah mereka dan berkata, “Sobat, aku datang untuk menemani kalian bermain beberapa jurus.”

Orang yang diajak bicara adalah Liao Yin.

Dia tidak menyahut, tetapi tiga pisau terbangnya sudah dikeluarkan, dengan pedangnya Biksu Xuan Gui melayani semua serangan pisau terbang, akhirnya semua pisau itu pun berjatuhan.

Tapi pergelangan Biksu Xuan Gui karena tergetar oleh lemparan pisau terasa sakit, dalam hati dia memuji, “Orang ini benar-benar berilmu sangat tinggi.”

Biksu Xuan Gui turun dari kudanya, dengan pedangnya dia menggambar sebuah lingkaran cahaya, lalu menyabetkan ke arah Liao Yin.

Liao Yin juga mengayunkan pedangnya dengan cepat seperti terbang, dia bisa menahan serangan Biksu Xuan Gui, dia berbalik menyerang.

Terdengar suara dua senjata beradu, dua buah bayangan yang merapat kemudian menjauh, berputar-putar, dalam waktu yang singkat mereka sudah sudah mengeluarkan 50-60 jurus, tetapi tidak dapat dipastikan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain