--> -->

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 03

Jilid 03

Dari balik semak-semak terdengar ada suara. Begitu melihat kesana ternyata itu adalah suara seekor anjing yang dengan diam-diam berjalan menghampiri mereka.

Ma Zao-ling tahu anjing itu sangat galak dan juga gesit. Kadang-kadang seekor anjing lebih lihai dari seorang pesilat. Ini sama sekali tidak boleh dipandang dengan enteng.

Tangan kanannya memegang pedang, tapi Lu Yue-juan dengan suara ringan memanggil, “Hu Zi (harimau), ini aku, cepat kesini!”

Anjing itu mengenal Lu Yue-juan. Melihat Lu Yue-juan memanggilnya, sikap galaknya segera berubah. Dengan senang dia mendekat dan menggosok-gosokkan tubuhnya ke baju Lu Yue-juan. Dia sangat jinak.

Ma Zao-ling melihat keadaan itu, dia juga ikut tertawa.

Sekarang Lu Yue-juan percaya apa yang pernah dikatakan oleh Ma Zao-ling. Dia sekarang sangat hati-hati, begitu dia menyuruh anjing itu pergi, dia menuntun tangan Ma Zao-ling.

Hanya melewat sudut tembok dan tempat gelap menuju ke halaman belakang.

Menurut perkiraan Lu Yue-juan, Wisma Bai-ma sudah diambil alih oleh Zheng Yu dan Yin-shan Wu-mo. Dia harus cepat menolong ibunya. Dia sangat hafal dengan jalan- jalan di Wisma Bai-ma. Mereka dengan lancar tiba di halaman belakang.

Hanya dalam waktu singkat mereka sudah berada dibawah loteng. Lu Yue-juan ingin menaiki tangga, tapi Ma Zao-ling segera melarangnya. Dengan suara kecil Ma Zao-ling berkata, “Adik, lebih baik kita berhati-hati. ”

Tadinya Lu Yue-juan tidak menanggapi omongan Ma Zao-ling, tapi kemudian dia menurut juga apa yang dikatakan oleh Ma Zao-ling.

Dengan cepat dia naik keatas atap. Kedua kakinya dia kaitkan di sisi atap dan badan tergantung ke bawah. Dengan cara seperti itu dia bisa melihat dengan jelas keadaan di dalam kamar. Ma Zao-ling berada di belakang untuk menjaga dia.

Lu Yue-juan melihat kamar ibunya tidak ada yang aneh. Baru saja dia ingin menyalahkan Ma Zao-ling karena terlalu banyak curiga, tapi dia melihat, begitu kelambu tempat tidur dibuka, muncul seorang laki-laki yang bangun dari tempat tidur. Dengan baju tidak rapi dia turun dari ranjang, orang itu adalah pengurus Wisma Bai-ma Zheng Yu.

Lu Yue-juan mengira Zheng Yu menguasai ibunya dengan ilmu silat tinggi, dia marah dan berkata, “Penjahat, kau sangat berani!”

Dengan jurus burung walet, dia sudah memecahkan jendela dan langsung masuk ke dalam kamar. Dengan pedang dia menusuk ke jalan darah Zheng Yu beberapa kali.

Zheng Yu baru selesai bermain di pelukan Shu Yu-zhu, dia merasa puas dan ingin mengambil teh untuk minum, tiba-tiba ada pedang yang menyerang membuat dia sangat terkejut. Dengan cepat kedua telapaknya segera membuat angin, memaksa pedang Lu Yue-juan miring ke sisi juga mundur beberapa langkah.

Shu Yu-zhu melihat putrinya masuk dengan suara ingin membunuh. Dia kaget, dia hanya mengambil mantel dan berkata, “Anak Juan, berhenti!”

Lu Yue-juan melihat ibunya seperti itu, dia bertambah marah lagi. Dia membentak Shu Yu-zhu dan berkata, “Ibu, jangan ikut campur!”

Pedang Lu Yue-juan lebih galak lagi menyerang Zheng Yu.

Meskipun ilmu Zheng Xuan-yin-zhang sangat tinggi, tapi dia tidak tega menyerang Lu Yue-juan. Dia segera mundur. Keadaan ini membuat dia menjadi kalang kabut.

Dia melihat di tembok tergantung sebuah pedang panjang. Dia mengambil pedang itu, dengan beberapa jurus dia menahan serangan Lu Yue-juan dan berkata, “Anak Juan, dengarkan aku!” Lu Yue-juan sangat marah, mengeluarkan jurus yang sangat ganas. Dia hanya menyerang, tapi tidak melindungi diri.

Biarpun Zheng Yu memegang pedang yang panjang, tapi dia tetap dibuat Lu Yue-juan berputar-putar didalam kamar.

Hal sudah terjadi seperti itu, Shu Yu-zhu tidak bisa menjelaskan kepada putrinya. Dengan tergesa dia membawa golok yang tersimpan di sisi ranjang dan berteriak, “Anak Juan, hentikan dulu! Ada yang hendak kukatakan kepadamu!”

Tapi Lu Yue-juan tidak mendengar perkataan ibunya. Dengan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian (Pedang Pengejar Roh) dia terus menyerang Zheng Yu, keadaan ini sangat membahayakan.

Tiba-tiba di belakang mereka ada yang tertawa dingin.

Begitu Shu Yu-zhu melihat ke arah suara itu, didalam kamar sudah ada seorang pemuda yang berbaju hijau. Wajahnya tampan, tubuhnya gagah, pembawaan luwes, dan ringan.

Shu Yu-zhu terpaku dan membentak, “Siapa kau!” Pemuda itu adalah Ma Zao-ling.

Tadi di luar jendela dia melihat Lu Yue-juan mengayunkan pedang dengan lancar, ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian pun tidak salah dia jalankan, tapi tenaganya tidak cukup, sulit untuk mengalahkan musuh.

Walaupun Zheng Yu hanya bertahan dan mundur terus menerus tapi dia terlihat sangat tenang, ini sudah membuktikan bahwa ilmu silatnya lebih tinggi beberapa kali lipat dari Lu Yue-juan.

Ma Zao-ling merasa aneh, dalam hati dia berkata, “Kelihatan hal ini pasti ada penyebabnya ”

Dia melihat Shu Yu-zhu memegang golok. Golok dipegangnya dengan tepat. Ma Zao- ling sudah tahu bahwa Shu Yu-zhu pun bukan orang yang hanya bisa ilmu silat. Dia tahu Shu Yu-zhu pasti tidak akan membunuh Lu Yue-juan. Tapi sekarang sudah waktunya dia muncul.  Begitu Shu Yu-zhu bertanya, dia menjawab dengan dingin, “Kau tidak pantas menanyakan siapa aku ini! Perempuan jalang, kau melindungi kekasih gelapmu, apakah harus putrimu sendiri yang membunuh kalian?”

Kemarahan Shu Yu-zhu dilimpahkan kepada Ma Zao-ling. Dengan ganas dan tanpa ampun dia menyerang Ma Zao-ling dengan kedua golok dan mengurung Ma Zao-ling.

Ma Zao-ling adalah murid terbaik dari Biksu Yuan Chen. Guru sangat lihai, murid pun tidak kalah jauh.

Kali ini dia sudah salah perhitungan, dia mengira Shu Yu-zhu hanya mempunyai ilmu silat biasa-biasa saja, tapi tidak disangka ilmu goloknya begitu tinggi. Dia hanya terpaku sebentar, segera mengganti jurusnya. Dengan kedua pedang dia menyerang ke tangan Shu Yu-zhu. Kedua pedang Ma Zao-ling dengan tepat dan cepat menyerang dan juga bertahan.

Shu Yu-zhu terkejut, segera tangannya ditarik. Dia juga mundur dua langkah dan membentak, “Kau juga memakai ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian, apakah kau adalah murid Biksu Yuan Chen?”

Jawab Ma Zao-ling tertawa dingin, “Kau benar-benar sangat paham dan mengerti. Ilmu golokmu membuktikan bahwa kau benar-benar murid Yin Shan Lao Mo.”

Shu Yu-zhu sudah tahu bahwa Ma Zao-ling mengetahui identitasnya. Dia marah dan membentak, “Kalau benar, kau mau apa?”

Dengan marah Ma Zao-ling berkata, “Kalau begitu Paman Guru Lu pasti terluka di tanganmu, mengakulah!”

Kata-katanya belum habis Ma Zao-ling dengan jurus yang lihai mulai menyerang, satu demi satu jurus dikeluarkan dan semakin ganas. Kedua golok Shu Yu-zhu terus bertahan. Mereka bertarung dengan sengit.

Ilmu silat Shu Yu-zhu tidak jelek, dia sudah beberapa tahun hidup bersama Lu Yi-feng. Dia sangat mengerti Zhui Hun Duo Ming-jian Fa, tapi karena serangan Ma Zao-ling begitu kencang, dia terdesak mundur hingga ke luar pintu.

Dia merasa kiri kanan depan belakang semua terdapat pedang musuh. Shu Yu-zhu tidak berani menggerakkan kakinya.

Dalam hati dia terus berkata, “Apakah nyawaku akan melayang saat ini juga?” Pengurus Wisma Bai-ma Zheng Yu sekarang terpaksa harus menunjukkan jati diri yang sebenarnya, nama sebenarnya adalah Shen Yu.

Orang-orang di dunia persilatan menjulukinya dengan sebutan si Sempoa Dewa. Dia bersama dengan si Tangan Racun Guan Yin Shu Yu-zhu adalah murid Yin Shan Lao Mo.

Sewaktu masih di perguruan, mereka sudah saling mencintai. Karena Lao Mo Mu Rong Kai juga ingin memiliki Shu Yu-zhu, maka mereka berdua melarikan diri dari perguruan dan bersembunyi di tempat terpencil.

Karena takut Yin Shan Lao Mo mengejarnya, maka dia menyembunyikan dirinya di dalam kelompok pedagang kemudian berdagang untuk mencari nafkah.

Entah dari mana, Mu Rong Kai bisa mengetahui keberadaan Shen Yu. Dia menyuruh Yin-shan Wu-mo mencegat dan membunuhnya, tapi saat itu dia bertemu dengan Lu Yi- feng....

Untuk menghindari bencana, dia mengganti namanya menjadi Zheng Yu dan berlindung di bawah perlindungan Lu Yi-feng.

Begitu melihat harta benda Lu Yi-feng begitu banyak, timbul nafsunya ingin memiliki semuanya, dia juga memaksa menikahi adik angkat Shu Yu-zhu yaitu LU Siu Yan, demi harta benda dia rela mengorbankan Shu Yu-zhu supaya menjadi istri muda Lu Yi-feng.

Tapi ilmu silat Lu Yi-feng sangat tinggi, ketiga putra dan kedua muridnya juga bukan pesilat biasa. Dalam jangka pendek dia tidak bisa melaksanakan rencananya.

Hari demi hari dia lalui sambil menunggu waktu yang tepat. Untung Lu Yi-feng kecanduan berlatih ilmu silat, dia tidak begitu mementingkan hubungan suami istri, karena itu Shu Yu-zhu dan Zheng Yu sering bertemu juga sering berhubungan intim.

Semenjak Yin Shan Lao Mo Mu Rong Kai meninggal, Shen Yu bersekongkol dengan Dewa Kematian Enam Jari, Guo Shi Luo, sedikit demi sedikit mereka memangkas sayap Lu Yi-feng. Walaupun tidak sulit, tapi membutuhkan waktu sepuluh tahun lebih.

Lama-lama dia takut Lu Xiu Yan membuka kedoknya, hal ini menjadi peringatan kepadanya bahwa dia harus bergerak dengan cepat membereskan Lu Yi-feng.

Secara kebetulan Yin-shan Wu-mo begitu lancar membunuh putra dan murid Lu Yi- feng, membuat Shen Yu merasa tidak ada penghalang lagi.... = oo OO oo =

Sebetulnya dengan ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian, dalam beberapa jurus Ma Zao-ling bisa mengambil nyawa Shu Yu-zhu, tapi dia berpendapat, walau bagaimanapun Shu Yu-zhu adalah ibu dari Lu Yue-juan, dia tidak tega untuk membunuhnya....

Setelah dia berpikir seperti itu dia hanya menendang. Menendang Shu Yu-zhu sehingga jatuh beberapa meter. Karena tendangannya mengenai urat nadi kaki, begitu Shu Yu-zhu terjatuh, dia tidak bisa segera bangun.

Di luar sudah terdengar sangat kacau dan ramai kemudian bercampur dengan suara siulan yang aneh.

Kemudian para penjaga rumah berdatangan. Mereka melihat nona mereka berkelahi dengan pengurus wisma yang masih mengenakan baju yang tidak rapi. Mereka terpaku, tidak ada yang berani maju dan bergerak.

Begitu suara siulan aneh itu berhenti, si Enam Jari, Guo Shi Luo sudah membawa Yu Wen-bing dan Yu Wen Huan masuk ke kamar.

Begitu mereka mendengar nama Ma Zao-ling, mereka sama sekali tidak berani mendekat. Mereka bersama-sama mendekati Lu Yue-juan.

Guo Shi Luo membentak, “Kakak, gadis ini biar kami yang menghadapi.”

Shen Yu melihat Shu Yu-zhu terluka, dia ingin menolong tapi Lu Yue-juan mengira Shen Yu ingin membunuh ibunya, dia segera mengayunkan pedang, sasarannya adalah jalan darah yang mematikan.

Tangan Yu Wen Huan yang berhasil dilukai oleh Lu Yue-juan, sampai sekarang belum sembuh. Sekarang saat dia bertemu kembali dengan Lu Yue-juan, dia merasa sangat marah. Dengan gerakan cepat dia menyerang ke pinggang dan pundak Lu Yue-juan dengan kaitnya.

Karena Lu Yue-juan sedang bertarung dengan Shen Yu, dia tidak melindungi posisinya dari serangan arah lain. Kait yang bergerak sudah membawa hembusan angin kencang kemudian menyerang Lu Yue-juan.

Shen Yu berteriak, “Jangan melukai putriku!”

Suara Shen Yu belum selesai, sudah mendengar suara teriakan yang keras dan darah langsung bermuncratan. Sebilah pedang panjang sudah masuk ke pundak kiri Yu Wen Huan dan keluar dari pundak kanannya. Tubuh Yu Wen Huan yang besar pun terjatuh.

Ternyata Ma Zao-ling melihat musuh begitu banyak dan pihaknya berjumlah sedikit.

Guo Shi Luo dan yang lainnya sudah tidak mau menurut aturan dunia persilatan lagi. Mereka berramai-ramai mengepung adik seperguruan. Dia marah dan mengeluarkan serangan ganas. Yu Wen Huan pun segera mati di bawah pedangnya.

Begitu Yu Wen Huan mati, Ma Zao-ling membawa pedang yang bernoda darah itu dan mulai menyerang Guo Shi Luo.

Perubahan yang terjadi begitu cepat seperti kilat, membuat orang menjadi kaget dan berdiri dalam keadaan bengong.

Shen Yu pun kaget hingga terpaku. Lu Yue-juan mengambil kesempatan ini, dia terus menyerang Shen Yu. Dengan jurus Tabib Bodoh Berobat, dia menyerang Shen Yu.

Shen Yu tahu bagaimana kelihaian jurus ini. Dia mundur beberapa langkah tapi tidak disangka Lu Yue-juan mengganti jurusnya dengan jurus Dewa Kematian Melempar Pena. Dia melepaskan pedangnya seperti senjata rahasia.

Karena tidak sempat menghindar lagi pundak kiri Shen Yu akhirnya terkena tusukan pedang dan darah pun bermuncratan.

Shen Yu marah dan berkata, “Anak durhaka, kau berani melukai ayah kandungmu?”

Begitu Lu Yue-juan mendengar Shen Yu mengatakan bahwa dia adalah ayahnya, Lu Yue-juan bertambah marah lagi. Tapi pedang sudah dilepaskan olehnya. Dengan tangan kosong benar-benar sulit menahan serangan Shen Yu. Lu Yue-juan terdesak mundur.

Ma Zao-ling melihat keadaan seperti itu, dengan cepat dia berlari kesisi Lu Yue-juan dan berkata, “Adik, sambutlah pedang ini!”

Pedang itu adalah pedang pusaka Yu-quan-guan. Memotong besi seperti memotong tanah. Karena Biksu Yuan Chen sudah memerintahkan Ma Zao-ling agar membantu Wisma Bai-ma, maka pedang ini dipinjamkan kepadanya.

Sekarang tangan Lu Yue-juan telah memegang pedang pusaka Yu-quan-guan, seperti seekor harimau yang bertambah dua buah sayap. Dia bertarung lagi dengan Shen Yu. Walapun Shen Yu bersembunyi di Wisma Bai-ma cukup lama dan dia secara sembunyi-sembunyi memelajari ilmu Zhui Hun Duo Ming Jin Fa, tapi dia tidak benar- benar seluruhnya paham, sekarang saat ini dia sudah terluka. Karena itu dia hanya bisa bertarung secara seimbang dengan Lu Yue-juan.

Ma Zao-ling yang sudah memberikan pedang kepada Lu Yue-juan. Dia berjalan mengelilingi bangunan, kemudian dari salah seorang penjaga rumah yang tampak masih terbengong-bengong, dia mengambil sebilah pedang. Dengan jurus Lima Setan Melempar Garpu, pedangnya sudah meluncur keluar.

Yu Wen-bing yang sedang membereskan mayat adiknya tiba-tiba mendengar suara senjata yang tertiup angin dan tampak kilauan putih seperti petir datang kearahnya. Rohnya merasa melayang, nyawanya terancam sekali.

Untung Guo Shi Luo yang sejak tadi mengawasi keadaan itu sama sekali tidak bisa mengambil keuntungan. Dia juga tidak bisa ikut bertarung, dia berada disisi mayat Yu Wen Huan.

Dia melihat pedang melayang ke arah mereka, segera dia mengayunkan pedang menyapu pedang itu hingga terjatuh.

Segera dia berteriak, “Pendekar Ma, kami mengaku kalah. Harap Pendekar Ma mau melepaskan kami!”

Sebenarnya Ma Zao-ling juga tidak ingin membunuh, tapi dia juga takut bila Lu Yue- juan dirugikan.

Sekarang setelah mendengar kata-kata Guo Shi Luo, dia segera menjawab, “Kalau begitu, kalian pergilah!”

Guo Shi Luo berterima kasih. Kemudian dia bersama dengan Yu Wen Huan pergi membawa mayat Yu Wen-bing.

Walaupun Shu Yu-zhu sudah terluka, tapi dia sangat sadar. Melihat keadaan yang terjadi disana, dia tahu bila mereka terus bertarung Shen Yu akan terbunuh.

Dia sudah tidak ingat dengan rasa malu lagi, dengan sekuat tenaga dia berteriak, “Anak Juan, jangan bertarung lagi! Dia adalah ayah kandungmu!”

Awalnya Ma Zao-ling hanya curiga. Sekarang begitu terbukti, dia malah tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Lu Yue-juan juga bengong, dia berhenti menyerang, dia berpikir, “Ibu tidak tahu malu ayah baru saja meninggal, dia sudah berani mencintai orang lain, mungkin ini hanya untuk melindungi orang jahat ini.”

Dia melihat Shen Yu hanya terpaku diam di tempat. Lu Yue-juan bertambah marah lagi, dia langsung menusuk ke dada Shen Yu.

Karena Shen Yu tidak konsentrasi, melihat Lu Yue-juan menusuk ke arahnya dengan pedang, dia hanya menahan dengan pedang. Dia lupa bahwa bahwa pedang yang dipegang oleh Lu Yue-juan adalah pedang pusaka.

Begitu kedua pedang itu beradu, pedang yang dipegang pun terputus dan potongannya jatuh, terlihat pedang yang berkilau lagi sudah menusuk ke dada Shen Yu, darah pun mengalir dari dada Shen Yu.

Shen Yu menahan rasa sakit, dengan sedih dia berkata, “Anak Juan, aku bersalah

kepadamu, kau.... sudah.... membunuhku ”

Dia roboh kemudian mati.

Shu Yu-zhu melihat Lu Yue-juan sudah membunuh Shen Yu. Dia terpaku kemudian menangis sejadi-jadinya.

"dosa, benar-benar dosa. Walaupun dia bersalah, tapi dia tetap ayah kandungmu....

kau, mengapa kau membunuh dia!” Dia menangis sambil mendekati Lu Yue-juan dan berteriak, “Sekalian bunuh juga aku!”

Lu Yue-juan melihat keadaan itu dengan diam terpaku, akhirnya dia percaya bahwa Shen Yu benar-benar ayah kandungnya, tapi dia juga malu dengan kelakuan ibunya, apalagi saat ini disana ada Ma Zao-ling dan pelayan-pelayan Wisma Bai-ma, dia merasa lebih malu lagi.

Dia menangis dan berkata, “Jelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya!”

Ma Zao-ling melihat keadaan disana, dia menyuruh pelayan-pelayan itu keluar dari kamar.

Dengan terpatah-patah Shu Yu-zhu menceritakan semuanya. Karena Shen Yu menginginkan harta benda Wisma Bai-ma, pada waktu dia sudah menjadi pengurus wisma, dia menjadikan Shu Yu-zhu yang pada waktu itu sedang hamil muda menjadi istri Lu.... Belum habis ceritanya, Lu Yue-juan sudah marah membentak, “Kenapa kalian bisa melakukan perbuatan yang rendah seperti ini ”

Lu Yue-juan sedih dan menangis sejadi-jadinya.

Shu Yu-zhu melihat putrinya yang tidak mau memaafkan ibunya, dengan putus asa dia hanya bisa menangis, “Lebih baik aku mati saja!”

Dia mengangkat tangannya dan memukul ke arah kepalanya kemudian roboh.

Lu Yue-juan terkejut. Dia tahu karena malu ibunya bunuh diri. Dengan menangis dia berkata, “Kalian semua harus mati, mati di tanganku, aku yang membunuh ayah kandung juga membuat ibuku bunuh diri. Aku malu hidup di dunia ini. Ibu, kau jangan cepat pergi, tunggulah putrimu ini. ”

Kedua matanya dipejamkan, pedang sudah mendekat kepada lehernya.

Tapi pada waktu itu juga ada bayangan yang bergerak cepat seperti burung masuk lewat jendela. Suatu tenaga seperti angin besar sudah mendorong tangannya. Pedang panjang itu pun terjatuh kelantai.

Dalam hembusan angin yang kencang itu, Lu Yue-juan terdorong mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh. Dia membalikkan badannya untuk melihat, Ma Zao-ling sudah berada disisinya.

Lu Yue-juan marah, “Kau, kau kenapa ?”

Dengan santai Ma Zao-ling menjawab, “Tidak apa-apa, kau satu perguruan denganku, melihat keadaanmu seperti ini, sudah tentu aku harus menolongmu.”

“Ini adalah urusanku, aku tidak mau kau ikut campur!”

Kata Ma Zao-ling, “Aku memang tidak mau ikut campur urusan keluargamu, hanya tolong jelaskan kepadaku mengapa kau harus bunuh diri?”

“Apakah kau benar-benar tidak tahu, mereka adalah ayah dan ibu kandungku? Sekarang mereka sudah mati di tanganku, apakah aku masih berharga hidup didunia ini?”

Kata Ma Zao-ling, “Itu adalah jalan yang sudah mereka pilih, bukan kesalahanmu ” Tiba-tiba Ma Zao-ling mencium bau benda terbakar, dia berlari ke arah jendela untuk melihat keadaan diluar. Ternyata wisma sudah terbakar di beberapa tempat.

Ma Zao-ling terkejut. Dia tahu ini adalah ulah orang-orang yang sengaja membakar. Ini bukan hal yang baik.

Dia berteriak, “Adik, wisma sudah terbakar, mari kita pergi dari sini!”

Lu Yue-juan mendengarnya, dia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar sedih dan dia berkata, “Bakar saja! Bakar, habiskan semuanya, habiskan semua kotoran dan dosa ini!”

Ma Zao-ling tahu bagaimana pukulan batin ini terhadap perasaan Lu Yue-juan yang terlalu berat. Dia tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.

Ma Zao-ling sedikit ragu, kemudian menotok Lu Yue-juan dan dengan cepat dia sudah menenteng Lu Yue-juan meninggalkan tempat ini keluar melewati jendela.

Sekeliling bangunan sudah habis terbakar, bau asap menusuk hidung. Keadaan ini sangat buruk dan berbahaya.

Ma Zao-ling dengan ilmu meringankan tubuhnya yang paling cepat, dia tidak memperhatikan ke arah pelayan-pelayan yang sedang ribut disana. Hanya dalam waktu singkat mereka sudah berada diluar wisma.

Begitu Ma Zao-ling menggendong Lu Yue-juan keluar dari lautan api, ada seseorang yang turun dari dinding wisma yang tinggi itu. Dia seperti setan lari ke gunung kecil itu, kakinya sedikit pincang tapi larinya sangat cepat.

Di depan adalah bentangan hutan. Dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk melihat. Wisma Bai-ma sudah menjadi lautan api. Wajahnya tersenyum, senyum puas, dia adalah Chu Zheng.

Di sisi hutan terlihat ada dua ekor kuda yang terikat. Di sisi kuda berdiri seorang anak.

Melihat Chu Zheng, dia tertawa dan berkata, “Paman Chu, api membakar bangunan dengan sangat baik.”

Wajah Chu Zheng sangat senang, dia berkata, “Didalam wisma terdengar sangat kacau, aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi disana. Keadaan seperti itulah kesempatan untukku membakar. Sepertinya tidak ada yang bisa mematikan api. Wisma Bai-ma akan musnah di dunia persilatan.” Anak itu tak lain adalah Shen Zhong-yuan. Dia tertawa dan berkata, “Sudah terbakar semuanya! Paman Chu kita pergi!”

Walaupun merasa sedih sehingga Lu Yue-juan sampai ingin bunuh diri, tapi begitu dia melihat sendiri lautan api yang membakar wisma Bai-ma, dia tetap merasa kaget.

Begitu dia digendong oleh Ma Zao-ling, tangannya dilemaskan. Ketika totokannya mulai terbuka, dia ingin melepaskan diri dari gendongannya. Tapi dia juga kaget karena disana banyak asap. Dia merasa lemas di dalam gendongan di punggung Ma Zao-ling.

Mereka bisa lepas dari lautan api, bau asap sudah tidak tercium tapi tiba-tiba dia mencium bau yang lainnya.

Bau seperti ini belum pernah dia rasakan sebelumnya, karena itu dia merasa aneh. Bau ini bisa membuat hati bergetar juga sangat aneh terasa dihidungnya. Bau ini terasa enak dicium, dan bau ini juga sangat menggoda.

Dia menarik nafas panjang untuk mencium bau ini, semua benar-benar membuat hatinya bergetar, bersamaan dengan itu wajah dia sudah memerah. Karena dia tahu bahwa bau itu berasal dari tubuh Ma Zao-ling.

Mungkin yang biasa tertulis di dalam buku-buku, bau itu adalah bau khas seorang laki- laki.

Pikiran Lu Yue-juan memberitahu kepada dia agar dengan cepat menjauhkan diri dari bau ini, tapi dia juga tidak rela meninggalkan bau ini.

Tapi begitu dia menenangkan pikirannya, dia berkata, “Kakak Ma, biarkan aku turun.” Suaranya terdengar malu.

Ma Zao-ling berhenti melangkah dan menurunkannya. Dia berkata, “Adik, tadi sungguh sangat berbahaya.”

Bau yang menggoda itu segera menghilang.

Lu Yue-juan mulai merasa sedih lagi, dia berkata, “Ayah dan ibu sudah meninggal, wisma sudah terbakar habis, aku.... aku tidak tahu harus bagaimana sekarang?” Air mata Lu Yue-juan menetes.

Ma Zao-ling melihat wajah Lu Yue-juan yang sedih, dia ingin tertawa tapi juga kasihan kepadanya. Ma Zao-ling berkata, “Adik, ada yang ingin kusampaikan tapi. ”

Lu Yue-juan mengangkat kepala untuk melihat Ma Zao-ling, wajahnya penuh dengan air mata. Dengan tertawa kecut dia berkata, “Katakan saja Kak, aku tidak apa-apa.”

Ma Zao-ling berkata, “Adik, kau adalah seorang nona besar, terbiasa hidup enak, sekarang kau harus meninggalkan kehidupan seperti itu, pasti kau tidak akan biasa. Di dunia ini tidak hanya kau sendiri yang kekurangan kasih sayang orang tua, aku pun demikian. Sejak kecil aku hanya sendiri, orang tua entah berada dimana, aku pun tidak tahu. Hidupku selalu kurang makan dan susah. Kau pernah bertemu denganku dirumah makan, itu adalah wujudku sehari-hari, tapi Adik. ”

Lu Yue-juan memotong kata-katanya dan berkata, “Tapi kau adalah seorang laki-laki, sedangkan aku adalah seorang perempuan ”

Kata Ma Zao-ling, “Di dunia persilatan tidak ada perbedaan antara laki-laki atau pun perempuan. Sejak dulu sudah banyak pendekar perempuan sendirian, sekarang pun masih seperti itu. Kau bisa berkelana, membantu yang lemah dan menghukum yang jahat. Ilmu silatmu sudah lumayan tinggi, mengapa mengatakan kata-kata yang mengecewakan perasaan orang?”

“Kakak Ma tidak salah, tapi.... tapi aku ingin meminta bantuan Kakak, apakah kau ”

Ma Zao-ling tertawa dan berkata, “Tidak perlu merasa sungkan, walaupun kita bukan berasal dari satu seperguruan, aku tetap akan membantumu, asalkan aku sanggup melakukannya.”

Lu Yue-juan tampak ragu tapi dia tetap mengatakan, “Wisma Bai-ma sudah hancur, aku sudah sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Aku harap Kakak mau ikut bersama denganku dan berkelana di dunia persilatan.”

Begitu selesai bicara, Lu Yue-juan sudah membalikkan badan karena merasa malu, wajahnya

pun memerah, suaranya semakin mengecil.

Tapi Ma Zao-ling sangat jelas mendengar semuanya, apalagi hal itu bisa terlihat dari wajah Lu Yue-juan. Dia juga mengerti maksud dari Lu Yue-juan bergabung dengannya dan berkelana di dunia persilatan, karena begitu tiba-tiba membuat Ma Zao-ling sulit menjawab.

Dalam hati dia berpikir, “Lu Yue-juan adalah gadis cantik dan juga baik. Sebelum terjadi musibah, dia adalah nona besar di Wisma Bai-ma, kehidupannya bergelimang dengan harta, sekarang dia berani mengungkapkan kata-kata seperti itu, ini merupakan keberanian yang sangat besar, kalau bukan terpaksa dia tidak akan berkata seperti itu. Walaupun sangat tiba-tiba, di balik kata-kata Lu Yue-juan dapat menjelaskan banyak hal. Dia sudah memilihku dan sudah mengatakan dengan terus terang. Seharusnya aku merasa senang dan beruntung. Aku adalah kakak seperguruannya seharusnya aku tidak boleh menolak permintaannya. Tapi bagaimana saat ini dia masih merasa sakit hatinya? Walaupun hubungan kami hanya berdasarkan atas rasa kasihan, tapi kami sudah.... kalau dia tahu bahwa kami.... apakah dia masih bisa bertahan hidup? Tapi menurut perkiraanku, tidak akan terjadi apa-apa pada Adik Lu, biar sekarang dia merasa sakit hati. Kami tidak akan bisa.... bila kami masih berjodoh masih ada waktu nanti-nanti. Tapi sekarang aku harus bagaimana?”

Ma Zao-ling terdiam lama. Melihat tubuh Lu Yue-juan mulai gemetar, dia segera teringat, Lu Yue-juan saat ini seperti orang yang sedang depresi dan dia adalah kayu penolong baginya.

Segera Ma Zao-ling berkata, “Adik, kau baru saja mengalami musibah, tidak baik kau berkelana di dunia persilatan. Menurutku lebih baik sementara ini kau pergi ke Yu-quan- guan dulu. Guru. ”

Lu Yue-juan merasa harapan satu-satunya pun sudah tidak ada, harga dirinya terluka. Belum habis perkataan Ma Zao-ling, dia sudah menyambung kata-katanya, “Terima kasih atas petunjukmu!”

Dia sudah berlari. Bayangannya menghilang dalam kegelapan dan terdengar suara tangisan.

Ma Zao-ling terpaku, dia merasa kehilangan.

Hati dan tenaga habis sudah. Lu Yue-juan benar-benar merasa lelah, dia melihat ada sebuah desa, dia segera berlari ke arah sana.

Wisma Bai-ma sudah musnah tapi orang-orang yang menyewa tanah dekat wisma masih belum tahu. Dimata mereka Lu Yue-juan adalah seorang nona yang terhormat.

Walaupun sudah malam, begitu melihat Nona Lu datang untuk menginap, mereka merasa terkejut dan berusaha meladeni Nona Lu dengan sebaik-baiknya.

Ketika tidur walaupun beberapa kali merasa terkejut dan terbangun dari tidurnya, tapi akhirnya dia bisa tertidur juga. Begitu bangun sudah tersedia air untuk mencuci muka. Setelah mencuci mukanya, istri petani masih membuatkan sarapan dan membuang air bekas cuci muka.

Pada waktu itulah Lu Yue-juan melihat dari sela pintu ada bayangan seseorang. Orang itu tak lain adalah Ma Zao-ling.

“Mengapa dia juga menginap di desa ini? Begitu pagi dia sudah harus pergi dari sini? akan pergi ke manakah dia?” Pikiran ini terus mengganjal di pikiran Lu Yue-juan, dia segera mengikutinya.

Di dekat desa itu ada sebuah rumah kecil. Rumah ini seperti rumah desa biasa, tapi juga tidak benar-benar seperti rumah desa biasa, tidak ada suara kokokan ayam juga tidak ada suara anjing yang menggonggong.

Di halaman sangat sepi, sepi seperti tidak ada orang yang tinggal di sana. Keadaan di dalam rumah pun sangat sederhana, boleh dikatakan tidak ada perabot rumah.

Tempat tidur yang terbuat dari kayu itu, terbaring seorang perempuan, wajannya pucat, tubuhnya ditutupi dengan sehelai selimut yang tebal.

Di sisi ranjang ada wadah untuk membakar arang. Arang dibakar sampai merah, tapi orang yang terbaring di tempat tidur masih terus gemetar karena kedinginan.

Diam-diam Ma Zao-ling masuk ke dalam kamar dan berkata, “Shu Niang (nama orang) dua hari ini aku ada keperluan, aku tidak bisa menengokmu, apakah kau merasa lebih baik?”

Tidak ada jawaban, mata perempuan itu sepertinya tidak bisa dibuka. Ma Zao-ling menggelengkan kepala, dia berjalan kedepan tempat tidur dan ingin duduk disana.

Perempuan itu membuka matanya yang besar dan membentak, “Mengpa kau selalu lupa, bukankah aku sudah berpesan supaya jangan kemari? Kenapa kau masih. ”

Walaupun dia ingin membentak tapi suaranya terdengar sangat kecil seperti tidak ada tenaga, kemudian dia terus batuk-batuk.

Ma Zao-ling memegang pundaknya dan berkata, “Shu Niang, mengapa kau marah- marah lagi. Kata tabib penyakitmu. ”

“Aku tidak perlu kau urusi, pergilah ” Kata-kata perempuan itu belum selesai, Ma Zao-ling dengan bibirnya menutup mulut perempuan itu. Perempuan itu terpaku, kemudian kedua tangannya memeluk Ma Zao- ling dengan erat....

Lu Yue-juan melihat semuanya dengan jelas, dia pergi diam-diam dari sana, dia seperti kehilangan semangat dan rohnya serasa melayang, “Perempuan itu adalah gadis desa dan penyakitan tapi dia bisa mendapatkan hati Ma Zao-ling, dia masih sempat memarahi Ma Zao-ling supaya meninggalkan dia, tapi aku ”

Hatinya terasa risau, seperti tidak dapat ditenangkan. Dia terus berlari, tidak ada tujuan.

Hari yang cerah, tapi keadaan Lu Yue-juan seperti terkena hujan badai. Dengan bingung dia berjalan, apa yang terjadi disekelilingnya dia tidak peduli.

Tiba-tiba dia mendengar ada suara asing. Awalnya dia merasa aneh, akhirnya dia baru mendengar dengan jelas. Ternyata suara itu berasal dari perutnya.

Sudah sehari semalam dia tidak makan. Begitu mendengar perutnya berbunyi, dia baru merasa tenggorokannya kering, karena itu dia segera merasakan ingin minum.

Dia melihat ke depan kemudian ke belakang, tidak tampak sebuah perkampungan, sawah pun kosong tidak ditanami apa pun.

Nona besar ini pun baru pertama kalinya merasa bagaimana haus dan lapar. Di dalam tenggorokan seperti ada api, cara paling cepat adalah pergi dari sana.

Tiba-tiba dia melihat didepannya ada sebuah jembatan, dia berpikir di bawah jembatan pasti ada air.

Dia berjalan dengan cepat menuju jembatan itu dan melihat ke bawah. Ternyata bukan air, karena air sudah menjadi es dan ada benda-benda kotor pun terlihat dari atas es. Apakah air semacam itu bisa untuk minum?

Dia menggelengkan kepala dan berjalan lagi tapi kakinya malah kembali lagi ke tempat tadi. Karena tenggorokannya sudah seperti terbakar, Lu Yue-juan melihat ke kiri dan juga ke kanan, tingkah lakunya seperti seorang pencuri. Dia mencari tempat agak bersih kemudian memukul es yang membeku kemudian meminum airnya.

Air itu sangat dingin dan juga manis!

Air yang biasa diminumnya adalah air manis dengan es atau yang lainnya, tapi tidak pernah seenak air ini. Dia minum dan minum hingga perutnya membuncit. Tapi walau bagaimanapun air tidak bisa mengenyangkan perut, tak lama dia merasa lebih lapar lagi.

Perut lapar membuat dia masuk ke sebuah kota.

Di kota itu ada sebuah rumah makan kecil. Dari luar terlihat ada sebuah meja usang dan berminyak yang diterangi oleh lampu yang remang. Di bawah masih ada sisa makanan yang dibuang tamu, masih ada beberapa ekor kucing dan anjing sedang memakan sisa makanan itu.

Biasanya Lu Yue-juan tidak akan mau melirik tempat seperti itu, biarpun dia dibekali uang, dia tidak akan mau makan di tempat seperti ini, tapi sekarang dia tidak berpikir panjang lagi, segera dia masuk ke dalam.

Penampilan Lu Yue-juan sekarang ini terlihat sangat buruk, wajahnya penuh dengan tanah dan keringat, rambut berantakan seperti sarang burung.

Karena tadi dia minum di sungai, bajunya menjadi basah dan banyak tanah yang menempel. Walaupun pakaiannya adalah pakaian dengan kualitas terbaik, tapi sudah dua hari dia berkelana dan tidak ganti, tidak terlihat lagi warna asli dari bajunya. Apalagi baju itu sudah sobek disana sini membuat dia seperti pelayan orang kaya yang sedang melarikan diri.

Hanya dia sendiri tidak memperhatikan penampilannya bila dia tahu, dia tidak akan berani masuk ke dalam kota.

Toko kecil itu lumayan ramai, beberapa meja terisi beberapa orang tamu, mereka melihat ada tamu perempuan yang masuk kesana. Dengan mata aneh mereka melihat ke arahnya.

Lu Yue-juan memilih tempat yang berada di dekat jendela kemudian duduk.

Pelayan dengan perlahan mendekatinya dan dengan terpaksa bertanya kepadanya dia, “Apakah Nona ingin makan bakpao? Bakpao disini besar dan murah.”

Lu Yue-juan tidak merasa pelayan itu sedang menyindirnya, dia berkata, “Apakah disini tidak ada makanan yang lain?”

Dengan tertawa pelayan itu bertanya kembali, “Nona ingin makan apa?” “Berilah aku sepiring ayam pedas, sepiring ikan asam manis, sepiring babat, dan sepiring cah daging ayam. Aku minta porsi sedang karena porsi makanku tidak terlalu banyak dan jangan lupa bawakan satu guci arak yang bagus.”

Sayur yang dia pesan, dipikirannya adalah makanan yang sangat biasa. Tapi orang- orang disana yang mendengar merasa aneh, kemudian mereka tertawa mengejek. Apalagi pelayan itu matanya langsung membelalak, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Lu Yue-juan.

Lu Yue-juan melihat pelayan itu masih bengong dengan berdiri, dia marah dan berkata, “Apakah sayur yang kupesan tidak tersedia?”

Pelayan itu ragu dan kemudian menjawab, “Rumah makan kami mempunyai peraturan baru. ”

"Aturan apa?”

“Rumah makan kami sangat kecil, modal tidak cukup dan kami tidak menerima orang yang berhutang. Semua tamu makan disini harus membayar terlebih dulu.”

Kata Lu Yue-juan, “Kalau begitu tidak apa-apa, aku....” Dia memasukkan tangan ke dalam sakunya. Tapi tangannya tidak bisa dikeluarkan lagi.

Sekarang dia baru teringat, kemarin ini karena cepat-cepat meninggalkan Wisma Bai- ma yang terbakar oleh lautan api, dia lupa tidak membawa uang.

Pelayan itu melihat reaksi Lu Yue-juan, dia sudah dapat menebak bahwa Lu Yue-juan tidak membawa uang sepeser pun, masih dengan bercanda dia berkata, “Apakah uang Nona terlalu besar dan banyak sehingga sulit untuk mengeluarkannya?”

Lu Yue-juan tidak dapat menjawab.

Para tamu di sana pun menertawakannya.

Salah satu laki-laki yang di sana dan berwajah mesum dengan tertawa berkata, “Nona, mari makan bersama-sama dengan kami, tapi kau harus menyanyikan lagu untuk kami, kami jamin kau pasti bisa makan dengan perut kenyang, bila ”

Lu Yue-juan merasa kepalanya menjadi besar, dia tidak mendengar laki-laki itu berbicara apa. Dia marah kepada dirinya sendiri, mengapa tidak dari awal dia tahu bahwa dia tidak membawa uang sepeser pun, sementara itu dia sudah memesan banyak sayur, bila dia keluar dari toko ini begitu saja, ini akan lebih memalukan lagi.

Saat itu datanglah seseorang, seorang pemuda yang berpakian mewah, pemuda itu melihat ke dalam toko, dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi disana, dia mendekat dan berkata, “Adik Sepupu, ternyata kau berada disini!”

Kemudian dari balik lengan bajunya dia mengeluarkan sebungkus barang dan diletakkan di atas meja.

Ternyata itu adalah emas dan uang kertas, masih ada benda lainnya, kemudian ada beberapa butir mutiara dan berlian, berhamburan di atas meja.

Ternyata dia adalah Li Hao.

Sewaktu keadaan wisma sedang kacau balau, dia tidak berani muncul, dia ingin rencana Shen Yu dan Shu Yu-zhu berhasil dan dia tinggal menikmati hasilnya, begitu Ma Zao-ling dan Yin-shan Wu-mo muncul, kemudian Yin-shan Wu-mo berhasil dikalahkan oleh Ma Zao-ling, dia tahu bahwa kesempatannya sudah hilang, segera dia masuk kedalam kamar Shen Yu dan mengambil semua perhiasan setelah itu melarikan diri.

Setelah agak jauh dari sana baru dia berjalan dan wisma sudah terbakar.

Sekarang dengan tertawa dia berkata, “Paman tahu bahwa Adik Sepupu sedang marah dan pergi dengan terburu-buru sehingga lupa membawa uang, karena itu paman menyuruhku mengantarkan uang ini kepadamu.”

Pelayan rumah makan itu begitu terkejut begitu pula dengan tamu-tamu yang berada disana.

Yang paling terkejut adalah Lu Yue-juan, dia tidak tahu mengapa Li Hao bisa datang kesana. Dari mana benda-benda ini dia dapatkan?

Paman Lu yang mana yang dimaksud oleh Li Hao? Apakah yang dimaksud adalah Lu Yi-feng atau pengurus Wisma Bai-ma, Shen Yu? Mereka sudah meninggal, mengapa Li Hao masih terus berbohong?

Kemarin ini mereka sudah mengalami kejadian yang membuat mereka menjadi tidak enak satu sama lain, mengapa sekarang Li Hao masih begitu tebal. Semua ini seperti

mimpi buruk, sangat sulit ditebak maksudnya. Tapi hanya satu kebaikan yang dapat diperolehnya, dia bisa makan dengan tenang, Lu Yue-juan menarik nafas kemudian duduk, terpaksa dia membiarkan Li Hao duduk di depannya.

Pelayan rumah makan itu seperti berganti wujud, dia terus tertawa lebar dan mondar mandir mengantarkan sayur dan teh.

Li Hao lebih gesit lagi, dia terus memesan arak dan memanggil Lu Yue-juan dengan panggilan adik sepupu.

Lu Yue-juan yang tiba-tiba kedatangan seorang kakak sepupu, hatinya menjadi seperti bumbu dapur, ada rasa asam, asin, pahit, dan pedas, semuanya bercampur.

Tapi Li Hao datang pada saat Lu Yue-juan sedang membutuhkan pertolongan. Walau bagaimanapun Lu Yue-juan merasa sangat berterima kasih. Tapi Lu Yue-juan tetap tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Li Hao.

Setelah selesar makan, dia pun masih tidak menyapa Li Hao, labih-lebih dia tidak menyentuh emas dan perhiasan lainnya yang tergeletak begitu saja di atas meja.

Lu Yue-juan berjalan di depan, Li Hao mengikutinya dari belakang, mereka tidak saling bicara, akhirnya Lu Yue-juan dengan dingin bertanya, “Apakah kau masih ada keperluan denganku?”

Sambil tertawa Li Hao menjawab, “Aku takut Adik belum pulih keadaannya, bila berjalan sendiri, ini sangat mengkhawatirkan, maka itu aku siap menemanimu.”

Lu Yue-juan berkata, “Ini adalah masalahku, biar aku sendiri yang membereskannya, aku tidak berani merepotkanmu, kau pergilah!”

Li Hao tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia tetap mengikuti Lu Yue-juan dari belakang, walaupun mulut Lu Yue-juan berkata seperti itu, tapi hatinya mulai luluh.

Orang yang berada di jalan semakin sedikit dan hari pun mulai gelap.

Lu Yue-juan melihat di depannya hanya ada kegelapan, hanya tampak beberapa lampion yang bergoyangan tertiup angin. Lu Yue-juan merasa semakin hari dia menjadi semakin penakut, apalagi sekarang ini dia tidak tahu kemana tujuannya pergi.

Li Hao juga semenjak tadi tidak bersuara, apakah karena dia sudah pergi jauh? Lu Yue- juan mulai merasa takut bila Li Hao pergi. Lu Yue-juan tidak berhenti melangkah, tapi dia membalikkan badan untuk melihat, ternyata Li Hao masih berada di belakang dan sedang tersenyum kepadanya.

Lu Yue-juan menarik nafas dan berteriak, “Mengapa kau terus mengikutiku?!”

“Hari sudah malam, apakah Adik tidak mau mencari penginapan untuk beristirahat?”jawab Li Hao.

Lu Yue-juan terdiam, tapi dia tahu tubuhnya sudah merasa sangat lelah, mendengar kata penginapan, tulang-tulangnya serasa rontok dan susah bergerak.

Li Hao merasa sangat senang, dia tertawa dan berkata, “Adik tidak mau kuikuti, jadi biarkan aku mencari penginapan untuk Adik.”

Lu Yue-juan mengangguk.

Begitu masuk ke kamar di sebuah penginapan, Lu Yue-juan mengunci diri di dalam kamar, kemudian berkata, “Sekarang kau boleh pergi, semakin jauh semakin baik!”

Li Hao sangat menuruti permintaan Lu Yue-juan, kemudian dia berkata, “Baiklah, aku permisi sekarang!”

Kemudian Li Hao pun pergi dari sana.

Lu Yue-juan mendengar di luar tidak ada suara, kemudian dia pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.

Hatinya sangat galau, membuat dia tidak dapat tidur. Hal pertama yang dipikirkannya adalah Ma Zao-ling, dia adalah seorang pemuda yang jujur, hati dan mulutnya mengatakan hal yang sama, “Dia tahu isi hatiku, tapi dia dengan tegas menolak. ”

Kemudian dia memikirkan Li Hao, “Sebenarnya dia tidak terlalu jahat, bila hari ini tidak ada dia, aku  ”

Dia terus berpikir dan berpikir, akhirnya dia pun tertidur, tidurnya sangat nyenyak, begitu terbangun hari sudah terang.

Dia merasa sekujur tubuhnya merasa sakit dan juga pegal. Dia mulai merasa perutnya keroncongan minta diisi, apakah kemarin malam dia belum makan dengan kenyang, atau.... Lu Yue-juan sudah beberapa kali ingin memanggil pelayan untuk memesan makanan, tapi setiap kali pula keinginannya itu ditahan, dia merasa menyesal mengapa kemarin malam dia tidak mengambil sedikit uang dari Li Hao.

Tiba-tiba dia mendengar ada pelayan yang berbicara kepadanya dari luar, “Nona Lu, Tuan Li sudah memesankan sayur dan nasi untuk Nona, apakah Nona ingin makan sekarang?”

Lu Yue-juan merasa sangat lapar, sarapan yang diantarkan oleh pelayan ke kamarnya, dihabiskan semua, tiba-tiba dia melihat sosoknya yang terpantul dicermin, dia sangat terkejut, tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya sangat gatal.

Saat itu juga ada seorang pelayan datang membawakan satu stel pakaian untuknya, masih ada kaus kaki dan sebaskom air panas.

Tidak diragukan lagi, semua ini adalah pesanan dari Li Hao, bagaimana Lu Yue-juan bisa menolak semua ini?

Begitu selesai mandi dan berganti dengan baju baru, dari luar ada seseorang yang mengetuk pintu. “Apakah aku boleh masuk?”

Itu adalah suara Li Hao.

Sebenarnya Lu Yue-juan ingin segera meninggalkan kota ini, tapi tenaganya belum pulih, dia merasa tubuhnya lemas tidak bertenaga.

Dia ingin meminjam uang kepada Li Hao, tapi mulutnya sangat sulit dibuka. Terpaksa dia tinggal di kota itu, pastinya Li Hao pun tidak pernah jauh dari sisinya.

Sewaktu makan malam Li Hao melihat di penginapan ini tidak ada sayur yang enak, akhirnya dia memesan sayur ke sebuah rumah makan besar yang berada dikota itu, tidak lupa dia memesan arak yang bagus.

Mereka duduk kemudian makan, Li Hao tertawa dan berkata, “Bila Adik tidak keberatan, aku ingin minum arak.”

Lu Yue-juan tidak menjawab, tapi dia mengangguk.

Kata orang arak bisa menghilangkan hati yang sedang gundah, selama beberapa hari ini perasaan Lu Yue-juan tidak menentu, dia merasa sangat sedih dan kacau. Begitu dia meminum arak yang dipesan di rumah makan, dia masih menambah dengan meminum arak yang dipesan dari tempat lain.

Karena dia minum terburu-buru akhirnya dia pun tersedak kemudian terbatuk. Melihat semua ini Li Hao tertawa dan berkata, “Adik, jangan minum arak putih itu, nanti kau mabuk. ”

Kesungguhan hati Li Hao begitu jelas terlihat, dia seperti takut Lu Yue-juan akan benar- benar mabuk. Padahal sebenarnya hati Li Hao tidak seperti itu, dia berharap Lu Yue- juan segera mabuk.

Lu Yue-juan tidak bicara, dia menuang arak kedalam sebuah cawan yang besar, melihat itu Li Hao sangat senang.

Tiga cawan besar arak sudah masuk ke dalam perut Lu Yue-juan, dia mulai merasa tubuhnya menjadi hangat dan nyaman. Tubuhnya menjadi ringan, begitu cangkir kelima masuk ke dalam perutnya, kepalanya mulai pusing, arak sudah tidak terciun lagi bau harumnya. Semua kebingungan dan hatinya yang kacau selama beberapa hari ini, terlupakan olehnya.

Pelayan datang untuk menambahkan arak lagi. Li Hao menuangkan lagi arak untuk Lu Yue-juan, dia terus menambahkan segelas demi segelas.

Tiba-tiba Lu Yue-juan berdiri dan berkata, “Kau.... sebenarnya kau ini orang baik atau orang jahat?”

Li Hao terpaku kemudian dia segera tertawa dan berkata, “Menurut Adik, aku ini orang yang bagaimana?”

“Kelihatannya kau tidak seperti orang jahat, tapi kemarin ini.... mengapa kau ”

Kata Li Hao, “Menurutmu, aku orang seperti apa? Lama-lama kau pasti tahu, tidak perlu aku yang mengatakannya sekarang. Persoalan kemarin ini. Adik adalah seorang yang

pemaaf, jangan diungkit-ungkit lagi.”

Lu Yue-juan mendengar pengakuan Li Hao, dia tidak mendesak lagi, kemudian dia pun minum secangkir arak lagi.

Kata Li Hao dengan senang, “Adik, kita tidak perlu mengungkit masa lalu lagi, hanya ”

Kata Lu Yue-juan, “Benar, selama dua hari ini keadaanku sangat tidak menentu.” Dia mulai meneteskan air mata. Li Hao pun semakin senang, dengan sikap meyakinkan Li Hao berkata, “Sayang aku bukan orang yang pandai bicara, tidak pandai membuat humor yang lucu untuk membuat Adik tertawa.”

Kata Lu Yue-juan, “Bila ada orang yang bisa membuatku tertawa, aku akan minum lebih banyak lagi.”

Mendengar perkataan Lu Yue-juan, Li Hao segera menceritakan hal aneh dari dunia persilatan atau cerita lain, membuat Lu Yue-juan yang lahir di keluarga kaya dan ternama ini bisa tertawa, akhirnya dia minum lagi segelas demi segelas.

Pada akhirnya Lu Yue-juan tidak dapat tertawa lagi, dia sangat mabuk hingga hampir tersungkur di bawah meja.

Mata Li Hao tampak bersinar, dia mencoba-coba, “Adik, apakah kau masih bisa mendengar ceritaku?”

Lu Yue-juan terdiam tidak menjawab.

Li Hao memapah Lu Yue-juan yang keadaannya seperti orang yang sudah dicopoti tulang, lembek, dan sepertinya dia memasrahkan semua nasibnya kepada orang yang memapahnya....

Lu Yue-juan merasa dirinya seperti demam, seluruh tubuhnya terasa panas, tenggorokannya seperti ada api. Dia merasa haus dan ingin minum, tapi dia tidak mempunyai tenaga untuk menggerakkan tubuhnya. Dia ingin memanggil seseorang.

Sewaktu dia akan memanggil, pintu terbuka, muncul Ma Zao-ling yang sedang tertawa, dia masuk ke dalam kamar.

Dia membawa sebongkah besar es batu, udara begitu panas, dari mana dia bisa mendapatkan es batu itu? Benar-benar sudah menyusahkannya.

Semua es itu dimakan Lu Yue-juan, tubuhnya terasa dingin dan enak.

Dengan sepenuh perasaan dia berkata, “Kakak Ma, kau begitu baik kepadaku.” Wajah Ma Zao-ling memerah dan berkata, “Apakah kau sudah merasa lebih baik?”

“Terima kasih, aku merasa lebih baik dari pada tadi, bila tidak percaya kau....” Dia mengambil tangan Ma Zao-ling dan menempelkannya ke dahi Lu Yue-juan, kemudian dia berkata, “Aku tidak berbohong kepadamu kan?” Dia sepertinya ingin menarik kembali tangannya, tapi Lu Yue Jua malah menahannya, kemudian menempelkan tangan Ma Zao-ling ke wajahnya, sepertinya Ma Zao-ling pun tidak ingin melepaskan tangannya. Dia mengulurkan tangan yang satunya lagi, dengan lembut dia menggenggam tangan Lu Yue-juan.

Lu Yue-juan berkata dengan suara kecil, “Kakak Ma, apakah kau benar-benar menyukaiku?”

Mata Ma Zao-ling memancarkan cahaya kemudian dia mengangguk.

Lu Yue-juan merasa sangat senang dan dengan sengaja dia berkata, “Aku tidak mempercayainya.”

Dia tertawa dan berkata, “Aku akan membuktikannya kepadamu....” Kata-katanya belum selesai, bibirnya sudah mencium bibir Lu Yue-juan terasa sangat manis.

Lu Yue-juan merasa sudah mabuk kepayang, dia membalas mencium, dia mencium bau tubuh dari lawan jenis. Dia merasa ada tangan yang masuk ke dalam bajunya, meraba dadanya meraba dengan lembut.

Lu Yue-juan hampir tidak bisa bernafas, bibirnya menempel semakin erat, Lu Yue-juan juga bisa mendengar detak jantung Ma Zao-ling, dia bernafas semakin keras.

Lu Yue-juan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi semua ini sudah terlambat untuk dihentikan.

Tiba-tiba saja Ma Zao-ling berubah menjadi orang lain, kedua matanya bersorot aneh, dengan kasar orang itu memaksa membuka baju dan gaunnya.

Lu Yue-juan merasa terkejut, mengapa Ma Zao-ling berubah menjadi seperti ini? Tapi keganjilan ini hanya dirasakan sebentar oleh Lu Yue-juan, dia merasa sangat bahagia, saat inilah yang sudah ditunggunya sejak lama... akhirnya Lu Yue-juan bisa mendapatkan Ma Zao-ling.

Dengan cepat laki-laki itu mulai menindihnya, gerakannya pun menjadi kasar.

Lu Yue-juan tidak memberontak lagi, dia pasrah menerima semua perlakuan laki-laki itu. Setelah itu Lu Yue-juan tertidur dengan bahagia di pelukan laki-laki itu.

Antara sadar dan tidak sadar akhirnya Lu Yue-juan pun terbangun, dia merasa kepalanya sangat sakit, seperti akan pecah, yang paling membuatnya sakit adalah bagian tubuhnya yang paling intim, dia merasa sangat terkejut. Miliknya yang paling berharga sudah dia berikan kepada orang lain. Tapi karena dia ingat bahwa orang itu adalah Ma Zao-ling, maka hatinya pun merasa tenang.

Cahaya bulan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba dia melihat yang berbaring disisinya dan masih bernafas dengan terengah-engah adalah Li Hao, rasa terkejut Lu Yue-juan seperti rohnya sudah terlepas dari tubuhnya.

Dengan marah dia mendorong Li Hao hingga terjatuh dari tempat tidur. Li Hao sangat terkejut dan bangun, dia segera berlutut dan menangis, sebenarnya yang harus menangis adalah Lu Yue-juan, tapi malah Li Hao yang memakai keadaan ini.

Sambil menangis dia berkata, “Adik, aku tahu aku yang bersalah, tapi. mohon

maafkan aku!”

Lu Yue-juan merasa tubuhnya bergetar hebat, dia berkata, “Aku.... aku harus

membunuhmu!”

Kata Li Hao, “Bunuh saja aku! Aku juga mabuk, tidak bisa menguasai diri, seharusnya aku tidak minum arak. ”

Dia naik ke tempat tidur dan menangis sekuat-kuatnya, “Bunuh saja aku, bila kau membunuhku, perasaanku akan lebih enak.”

Lu Yue-juan benar-benar ingin membunuhnya, dia mengambil pedang.... tapi sedikit tenaga pun dia tidak ada.

Lu Yue-juan marah bercampur dengan kesal, tapi melihat Li Hao yang menangis dengan penuh rasa penyesalan, dia malah marah kepada dirinya, “Seharusnya aku tidak minum arak, tidak minum begitu banyak. ”

Kedua tangan Li Hao menutupi wajahnya, tapi dari celah-celah jarinya dia melihat semua perubahan wajah Lu Yue-juan. Dia merasa senang, maka dia pura-pura menangis lebih sedih lagi, dia tahu bahwa air mata laki-laki lebih hebat dari pada air mata perempuan.

Lu Yue-juan terpaku sebentar akhirnya dia hanya bisa telungkup di tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya, kecuali menangis apa lagi yang bisa dia lakukan?

Menangis kadang-kadang menjadi senjata seorang perempuan, kadang-kadang malah melambangkan ketidak berdayaan seorang perempuan. Li Hao mengeluarkan ekspresi sinis, tapi dia tetap berpura-pura menangis dan berkata, “Adik, aku yang bersalah, tapi ini adalah kesungguhan perasaanku, aku benar-benar menyayangi dirimu, aku berharap kau mau percaya kepadaku, seumur hidup aku akan berbuat baik kepadamu, aku mohon agar kau mau menjadi pengantinku.”

Sambil menagis dia memegang tangan Lu Yue-juan, Lu Yue-juan tidak menepis tangan Li Hao, tapi dia pun tetap tidak mau bicara.

Apa arti dari sikap Lu Yue-juan ini? Li Hao sangat mengerti, dia tidak akan menghilangkan kesempatan ini begitu saja, tiba-tiba dia memeluk Lu Yue-juan dengan erat dan berkata, “Kau boleh membunuhku, tapi kau tidak bisa melarangku untuk terus mencintaimu, sampai mati pun aku tetap sayang kepadamu, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan istri?”

Lu Yue-juan tidak bergerak, dia seperti sebuah patung, hanya bisa menangis.

Li Hao tahu dia sudah menang mutlak, hatinya berbunga-bunga, disisi Lu Yue-juan dia mengungkapkan kata-kata lembut, manis, tapi di balik semua itu tersimpan niat jahat.

Lu Yue-juan percaya dengan semua kata-kata Li Hao, tangisannya pun mulai reda.

Semenjak Wisma Bai-ma lenyap, Lu Yue-juan merasa dirinya bagaikan layang-layang yang putus benangnya, pergi kemana pun hanya seorang diri, sekarang dia merasa tidak sendiri lagi....

Li Hao tertawa dan terus tertawa, tapi dia tetap seperti ingin dikasihani, dia berkata, “Apakah Adik benar-benar ingin menjadi pengantinku?”

Akhirnya Lu Yue-juan kalah mutlak di tangan Li Hao. Dia menghela nafas dan berkata, “Asal kau tidak berbohong dan selamanya tidak akan melupakan kata-katamu tadi, aku ”

Kata-katanya belum selesai, mulutnya sudah ditutup oleh bibir yang panas, kemudian Li Hao mulai menindihnya....

Kayu sudah berubah menjadi perahu.

Lu Yue-juan dan Li Hao membeli rumah di kota itu kemudian mereka tinggal disana.

Lu Yue-juan terkejut karena tahu-tahu saja dia sudah hamil, dia mempersiapkan semuanya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Selama beberapa bulan ini Li Hao sangat baik kepadanya. Walaupun Wisma Bai-ma sudah lenyap, tapi kekayaan di luar Wisma Bai-ma masih banyak, bila hanya untuk memenuhi hidup mereka berdua, seumur hidup pun kekayaan itu tidak akan habis. Karena itu Li Hao tidak ingin terburu-buru mencari nafkah, seharian dia menemani Lu Yue-juan mengobrol, tertawa, bernyanyi.

Pada awalnya Lu Yue-juan merasa tidak puas dengan dirinya yang harus menikah dengan Li Hao, tapi seiring dengan waktu berjalan, Lu Yue-juan pun mulai menikmatinya, dia mengira dia menikmati kehidupan ini, dia pun menyangka bahwa dia sudah mendapatkan kebahagiaan yang dia dambakan karena selalu ada seorang suami yang menemaninya.

Tapi seiring dengan perutnya yang semakin membesar, dia merasakan ada yang salah. Setengah bulan yang lalu....

Dia merasakan nyawa kecil yang berada di dalam perutnya, akan menjadi seorang anak yang baik, anak itu sepertinya sengaja memberontak di dalam perut, membuat ibunya sakit perut, tapi dia malah tenggelam di dalam rasa gembira yang aneh.

Dia akan mempunyai anak, semoga anak itu adalah seorang anak yang berkulit putih dan gemuk, permata ibunya yang paling berharga.

Dia sudah merencanakan semuanya, bila anak yang lahir adalah laki-laki, dia ingin meminta ijin kepada Li Hao agar anak itu diberi marga Lu untuk meneruskan keturunan marga Lu.

Hari ini udara terasa sangat panas, matahari seperti menyemburkan api.

Bidan sudah berpesan waktu-waktu sekarang ini jangan terlalu banyak makanan yang berminyak juga jangan memakan makanan yang dingin, tidak makan daging pun tidak apa-apa. Tapi sekarang hari begitu panas, es yang dingin sangat menggodanya. Dia sudah tidak tahan, diam-diam dia menyuruh seseorang membeli es kemudian dia pun memakannya.

Mulutnya sangat ingin makan tapi perutnya sudah tidak dapat bertahan. Baru saja dia makan setengah jam, dia mulai merasa perutnya sakit, dia membaringkan dirinya di tempat tidur. Melihat keadaan istrinya seperti itu, Li Hao yang baru saja pulang sangat terkejut, segera dia memanggil tabib dan juga bidan. Ternyata dia hanya mengalami perut yang dingin saja. Tabib memberikan resep kemudian pergi, bidan pun karena tidak ada lagi yang harus dia lakukan maka dia hanya menemani Lu Yue-juan mengobrol.

Li Hao baru pulang membeli obat, dia berkata kepada bidan, “Mama Wang, tolong masakkan obat ini, aku ada janji dan harus pergi lagi, aku titip Lu Yue-juan kepadamu.”

Mama Wang tertawa dan berkata, “Bila Tuan memang ada perlu, pergilah, istrimu biar aku yang mengurus.”

Li Hao pun pergi, lama dia belum kembali.

Malam sudah tiba, Li Hao masih belum kembali, akhirnya Lu Yue-juan pun tertidur, begitu dia terbangun waktu sudah menunjukkan pukul lima subuh. Lu Yue-juan melihat Li Hao yang sedang tertidur dengan nyenyak, lampu pun dipadamkannya.

Ternyata Li Hao tidak sempat berganti baju, Lu Yue-juan merasa marah dan dia memanggil, “Kakak Hao, Kakak Hao!”

Li Hao membuka matanya dan bertanya, “Ada apa?” Kata Lu Yue-juan, “Kapan kau pulang?”

“Aku sudah lama pulang, melihatmu sudah tertidur pulas, aku tidak. ”

Kata Lu Yue-juan, “Tadi tabib sudah berpesan, sebelum tidur harus minum satu kali lagi, tapi kau ”

Kata-katanya belum habis tapi dia sudah menangis tersedu-sedu, Lu Yue-juan merasa sangat kesal dengan kelakuan Li Hao.

Dengan cepat Li Hao bangun, sambil mengenakan baju, sambil berkata, “Baik, baik istriku, aku segera memasakkan obat untukmu, jangan marah lagi.”

Lu Yue-juan menjadi tertawa, melihat Li Hao sedang memasakkan obat untuknya, Lu Yue-juan bertanya, “Suamiku, kemarin kau ada perlu apa, sampai lupa memasakkan obat untukku?”

Li Hao menjawab, “Adik, jangan menanyakan hal ini lagi.”

Dengan terkejut Lu Yue-juan bertanya, “Ada hal apa yang membuatmu menutupinya dariku?” Kata Li Hao, “Sebenarnya aku tidak boleh membohongi dirimu tapi. ”

“Hari ini kau kenapa? Mengapa selalu tidak berterus terang kepadaku?”

Li Hao mendekat kemudian menggenggam tangan Lu Yue-juan, pelan-pelan dia berkata, “Adik, aku malu, aku adalah seorang laki-laki dan bisa ilmu silat, aku menikah dan akan mempunyai anak, semua ini menggunakan warisan milik Adik. ”

Lu Yue-juan tersenyum dan berkata, “Kakak, kita adalah suami istri, mengapa kau berkata seperti itu?”

Li Hao tertawa dan menggelengkan kepalanya, “Tapi aku harus berdiri sendiri, walaupun paman mempunyai banyak warisan untukmu, tapi bila kita tidak bekerja, kita akan menghabiskan warisan itu, kebetulan di kota ini akan didirikan sebuah kantor Biao, aku ingin menitipkan pada Bos Wang agar menghubungi. ”

Kata Lu Yue-juan, “Ini adalah hal yang menyenangkan, mengapa harus membohongiku?”

Kata Li Hao, “Memang seharusnya menjadi kabar yang menyenangkan, tapi aku harus mengundang dia makan dan memberi sesuatu kepadanya, semua itu harus menggunakan uang, aku takut Adik malah akan menjadi marah.”

Lu Yue-juan tertawa dan berkata, “Ini adalah kesempatan yang sangat baik, bila kita memancing harus menggunakan umpan, tidak mungkin tanpa umpan ikan dapat terpancing. Uang hasil penjualan sawah ada di lemari, bila kau ingin menggunakannya, ambillah!”

Obat sudah mendidih, Li Hao membereskan semuanya, pada saat keluar dari sana wajahnya terlihat sinis dan licik.

Lu Yue-juan tidak bertanya persiapan membangun kantor Biao sampai ditahap apa, Li Hao semakin sering keluar rumah, pagi pergi pulang malam, malah sudah dua hari ini dia tidak pulang.

Setiap kali Lu Yue-juan bertanya, dia tidak bisa menjawab, kadang-kadang malah marah-marah.

Lu Yue-juan hanya bisa menahan diri, mungkin menjadi seorang istri harus bisa menahan diri, mungkin saja pekerjaan suaminya diluar tidak begitu lancar. Tapi ada sesuatu yang membuat Lu Yue-juan curiga, sewaktu akan pergi wajah Li Hao selalu terlihat gembira, sama sekali bukan wajah yang memperlihatkan bahwa pekerjaannya tidak berjalan lancar.

Pernah Lu Yue-juan berniat untuk menemui Bos Wang si penjual sutra, tapi dia tidak jadi bertemu, dia takut orang-orang akan membicarakan dia sebagai istri yang selalu mencurigai gerak gerik suami, dan hal ini akan membuat Li Hao menjadi malu.

Tapi hari ini dia sudah tidak tahan lagi, setelah makan malam Li Hao sudah berniat akan pergi, dia membawa uang sangat banyak, bila mereka bukan orang yang sangat kaya, jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil. Kali ini Lu Yue-juan harus hati-hati, dia ingin hari ini juga mendapatkan semua jawaban dari teka-teki ini.

Tapi dia hanya diam. Begitu Li Hao meninggalkan rumah, Lu Yue-juan segera mengganti bajunya dengan pakaian yang ketat, kemudian memakai pakaian longgar, dia menguntit dari belakang.

Li Hao memutari kota, kemudian mencari seekor kuda, segera dia pergi dari kota... tujuannya adalah ke kota Wu Shan. Jarak dari kota ini ke kota Wu Shan kurang lebih 80 kilometer.

Lu Yue-juan merasa kesal karena kedua kakinya tidak akan bisa mengejar kuda milik Li Hao yang berkaki empat. Dari mana dia bisa mendapatkan kuda dalam waktu yang singkat?

Dia tahu tidak akan cukup waktu untuk mencari kuda, dengan terpaksa dia menggunakan ilmu meringankan tubuh, mengikuti Li Hao dari belakang.

Walaupun Lu Yue-juan sudah berkeringat, tapi kemampuannya masih ada, yang membuat kesal adalah dia sudah kehilangan jejak Li Hao.

Dia tampak ragu, tiba-tiba di depannya ada sebuah kota kecil, dalam hati Lu Yue-juan berpikir, “Sebaiknya aku ke kota dulu untuk beristirahat, bila tidak berhasil menemukan dia, masih ada kesempatan lain, bila sekarang pulang aku harus mencari seekor kuda ”

Baru saja keluar dari kota Shuo Long, dia mulai menggunakan ilmu meringankan tubuh, dia merasa dibawah kakinya ada angin, pemandangan di kiri dan kanannya tampak mundur dengan cepat, hatinya sangat senang, “Aku, Lu Yue-juan, menjadi ibu rumah tangga sudah setengah tahun, hanya memasak dan menjahit, kemampuanku yang dulu tidak hilang.” Baru saja sebentar bergerak, tubuhnya mulai terasa sakit, apalagi perutnya terasa berat, selangkah pun hampir tidak bisa bergerak.

Di depan sana ada sebuah rumah makan kecil, rumah makan itu sangat sederhana, ruangannya pun kecil.

Dia masuk ke dalam dan berpikir, “Walaupun aku tidak merasa lapar, aku masih bisa minum sekalian beristirahat, moga-moga kejadian dulu jangan terjadi lagi, begitu memalukan ”

Dia mulai memeriksa, apakah dia membawa uang? Setelah yakin dia membawanya baru dia masuk kerumah makan itu.

Dia tidak menunggu pelayan datang, dia mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja dan berkata, “Aku tidak makan, aku hanya menginginkan sepoci teh yang paling bagus, sisa uang ini untukmu!”

Pelayan itu tertawa dan berkata, “Terima kasih, Nyonya ”

Kata Lu Yue-juan, “Cepat bawakan aku teh!”

Hanya dalam waktu singkat teh sudah diantar kehadapan Lu Yue-juan, dimeja sebelah sana, duduk tiga orang laki-laki, mereka mengobrol sambil minum arak.

Begitu melihat Lu Yue-juan masuk, mereka hanya melihat sebentar kemudian melanjutkan obrolan mereka.

Salah satu dari mereka berkata, “Aku harus pulang karena Tuan Wang sedang menunggu jawabanku.”

Yang satu lagi adalah laki-laki berhidung merah, dia berkata, “Kakak Jin, kau sudah mendapatkan pekerjaan, jangan lupakan kami. Kita belum selesai mengobrol, kau sudah mau pulang?”

Laki-laki bermarga Jin itu berkata, “Kakak Liu, jangan bercanda aku mendapatkan pekerjaan ini karena aku hanya seorang pengurus kecil, orang seperti diriku di rumah Tuan Wang sangat banyak, posisi diatas masih ada atasan yaitu ketua pengurus. ”

Laki-laki kurus itu berkata, “Saudara Jin baru beberapa tahun bekerja diluar sudah pandai bicara, sampai sekarang kami belum tahu Saudara Jin mendapatkan pekerjaan sebagai apa? Benar-benar menganggap kami adalah orang lain.” Si marga Jin itu melihat ke kiri kemudian ke kanan, setelah itu baru berkata, “Bukan aku tidak mau mengatakannya, semua ini menyangkut nama besar Tuan Wang. Baiklah aku akan menceritakanya, supaya nanti kalian tidak akan curiga lagi kepadaku.”

Lu Yue-juan sedang duduk minum teh sambil beristirahat, tidak sengaja dia mendengar percakapan mereka, karena rumah makan itu terlalu kecil dan saat itu tidak ada tamu lain, secara otomatis percakapan mereka masuk ke telinganya.

Marga Jin itu berkata, “.... istri muda Tuan Wang sangat banyak, sebenarnya itu pun tidak apa-apa, bila kurang dia akan mencari satu orang lagi, walaupun perempuan ini keluar dari rumah bordil, katanya dia juga datang dari selatan dan dia masih muda, kulitnya halus dan putih, membuat laki-laki menjadi tertarik. Tuan Wang membelinya dengan harga lima ribu tail perak. Kemudian Tuan Wang menjadikannya sebagai istri kelima Dia sangat cantik, bila tidak percaya kalian bisa melihatnya kesana.” Kata laki-

laki bermarga Jin itu lagi, “Tidak ada yang menyangka bahwa Tuan Wang adalah keranjang rotan menimba air (pepatah), uang dan orang sama-sama tidak dia dapatkan.”

“Apakah perempuan itu mati?”

“Jangan terburu-buru menyimpulkan, dengarkan aku dulu, setahun yang lalu di kota ini tinggal seorang yang bermarga Li, dia laki-laki yang tampan, ilmu silatnya juga lumayan, tidak lama dia pun sudah kenal dan akrab dengan Tuan Wang. Begitu pula perempuan yang bernama Chui Yun menjadi istri kelima Tuan Wang, si marga Li itu lebih sering datang, hampir setiap hari dia datang kesana.”