-->

Ibu Hantu Jilid 6 (Tamat)

Jilid 6 (Tamat)

Cie Kiat juga mengeluarkan seruan kaget. Tetapi mereka tidak bisa terdiam diri.

Paku itu telah menyambar dengan cepat luar biasa sekali.

Mie Coe cepat-cepat telah menggerakkan lengan jubahnya untuk menyampok.

Namun tenaga timpukan dari orang tersebut sangat kuat sekali, dengan sendirinya paku itu meluncur dengan cepat.

Mie Coe gagal menyampok jatuh paku segi tiga itu, dan paku itu menyambar terus kearah mukanya.

Jarak antara paku itu dengan mata si gadis hanya terpisah lima dim lebih, hal ini membuat si gadis jadi gugup dan ketakutan.

Jelas untuk merubuhkan tubuhnya guna mengelakan sambaran paku itu sudah tidak keburu. Dan kalau memang dia tidak bisa mengelakkan, berarti mata si gadis akan menjadi buta.

Terancam sekali mata gadis she Lan ini, dia juga sampai merasakan hatinya mencelos dan semangatnya seperti juga terbang meninggalkan raganya.

Dan membarengi pada saat itu, juga telah melompat keluar orang itu dari tumpukan jerami. Gerakannya sangat gesit sekali. Tetapi keadaan orang ini benar- benar mengerikan sekali, tubuh dan bajunya dipenuhi oleh noda darah wajahnya

juga tampak darah mengalir dari luka-luka diwajahnya, sehingga menyeramkan sekali keadaan orang itu. !

Cie Kiat juga kaget sekali waktu melihat biji mata. Mie Coe terancam oleh paku Tok-sin-teng itu.

Kalau memang mata si gadis terserang paku itu, dan paku Tok-sin-teng dapat menancap tepat pada biji mata si gadis, maka Mie Coe seumur hidupnya akan menjadi seorang bercacad, akan buta matanya, akan menjadi orang picek !



TETAPI sebagai seorang jago yang kosen, Cie Kiat mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Dia melihat paku Tok-sin-teng telah meluncur menyambar kearah mata Lan Mie Coe, dan tampaknya si gadis tidak berdaya. Maka dari itu, cepat sekali Cie Kiat telah mengulurkan tangannya. “Tringg. !” terdengar paku itu tersentil oleh jari tangan Cie Kiat.

Paku itu terpental.

Dan dengan sendirinya Lan Mie Coe jadi terhindar dari bahaya cacad pada matanya.

Dengan sendirinya, si gadis jadi bisa bernapas lega, tetapi keringat dingin telah membanjir keluar dan juga wajahnya pucat sekali.

Sedangkan orang yang muncul dari tumpukan jerami itu, yang telah melompat keluar dengan keadaan yang mengerikan disebabkan luka-lukanya yang cukup parah, tengah menatap Mie Coe dan Cie Kiat dengan tatapan mata yang bengis sekali!

Mie Coe dan Cie Kiat juga jadi gusar sekali.

Tak hujan tak angin orang ini telah menyerang dengan menggunakan senjata rahasia seperti paku Tok-sin-teng itu.

Mie Coe juga telah melompat berdiri, begitu pula Cie Kiat. Mereka jadi berdiri saling berhadapan.

“Kalian harus mampus!” teriak orang itu dengan suara yang parau.

Matanya yang memain tak hentinya memancarkan cahaya yang menyeramkan juga napasnya agak memburu.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras setelah membentak begitu, orang itu telah merangsek kepada Lan Mie Coe.

Cepat sekali tangannya bergerak-gerak, dengan mengeluarkan tenaga serangan yang hebat sekali, juga dia menyerang dengan serangan yang berangkai.

Lan Mie Coe gusar sekali tadi hampir saja dia celaka didalam tangan orang ini yang telah menyerang dirinya dengan paku Tok-sin-teng, maka dari itu dia juga jadi murka benar melihat dirinya diserang macam itu.

Dengan berani si gadis telah menangkis serangan tangan kiri dan tangan kanan orang yang dalam keadaan terluka dan bajunya dipenuhi noda darah tersebut.

Terdengar suara benturan dari tangan kedua orang ini yang keras sekali. Lan Mie Coe merasakan tenaga serangan orang tersebut keras sekali.

Lagi pula Lwee-kang orang itu kuat sekali, menyjerang dengan arus yang bergelombang.

Hebat luar biasa serangan dari orang itu.

Tetapi Lan Mie Coe adalah jago betina yang mempunyai kepandaian cukup tinggi.

Dia tidak menjadi jeri. Malah gadis ini telah melancarkan pula serangan-serangan yang hebat kepada orang itu.

Mie Coe menyerang dengan selalu mengincer jalan darah yang membahayakan jiwa orang tersebut.

Orang yang tubuhnya terluka-luka itu, telah berteria-teriak dengan suara bentakan yang mengguntur dan bengis sekali.

Tampaknya dia telah nekad dan selalu akan melancarkan serangan untuk mengadu jiwa.

Tampaknya orang itu sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi. Hal ini membuat Mie Coe jadi kewalahan juga.

Dengan sendirinya, dia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi orang ini.

Cie Kiat yang mengawasi keadaan orang itu jadi berpikir.

Biar bagaimana dia tidak boleh dibiarkan terus, harus ditundukkan, karena kalau tidak Mie Coe tentu akan celaka ditangan orang itu.

Maka dari itu. Cie Kiat cepat-cepat telah melompat kearah orang itu.

Sambil melompat, Cie Kiat juga telah berseru : “Lan Touw-nio, mundurlah kau, biarlah aku yang menghadapi orang ini!!”

Dan tangan Cie Kiat juga telah bekerja dengan cepat sekali.

Dia menyerang beberapa bagian ditubuh orang itu, serangan Cie Kiat berbahaya sekali, sehingga orang itu disamping jadi terkejut, pun dia benar-benar kaget sekali, murka luar biasa karena Cie Kiat mencampuri urusannya.

Dia tambah jadi nekad, dengan mengeluarkan suara bentakan-bentakan yang keras, dia telah melancarkan serangannya yang beruntun...!

Mie Coe sendiri telah menyingkir kesamping.

Walaupun diserang dengan cara yang begitu hebat oleh orang tersebut, Cie Kiat tidak jeri sedikitpun, diapun tidak menjadi gugup.

Hanya saja, dengan cepat sekali. Cie Kiat telah menggerakkan tangannya, dia telah menyapu kearah samping, kemudian dengan mengeluarkan seruan yang keras, dengan membarengi bergeraknya sang tangan, dia telah menangkis serangan orang tersebut.

Cie Kiat tidak mengetahui siapa sebetulnya orang tersebut.

Dan dia jadi mendongkol juga melihat orang itu telah menyerang dengan serangan-serangan yang bengis dan telengas.

Mata orang itu juga memancarkan cahaya yang bengis sekali. Dia menyerang tak hentinya kepada Cie Kiat. Namun Cie Kiat mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya, dia mempunyai kepandaian yang bisa diandalkan.

Maka dari itu, biarpun orang menyerang dirinya dengan serangan yang membabi-buta dan berbahaya sekali, toh Cie Kiat selalu dapat menangkisnya dengan tenang.

Ketenangan yang dimiliki oleh Cie Kiat itulah yang, membuat orang yang menjadi lawannya menjadi tambah mendongkol dan bergusar.

Dengan berjingkrak-jingkrak mungkin gusarnya, orang itu telah melancarkan serangan-serangannya yang hebat luar biasa, karena disertai oleh tenaga Lwee-kang yang kuat sekali.

Dan setiap serangan yang dilancarkan oleh orang itu semakin hebat, tenaga serangan yang dilancarkan oleh orang itu pun jadi semakin kuat menekan diri Cie Kiat.

Cie Kiat tersenyum, dia telah mengerahkan tenaga dalamnya.

Dikala dia merasakan saatnya tepat, tahu-tahu Cie Kiat telah menjejakkan kakinya, dia telah mencelat tinggi tangannya juga telah digerakan dikala dia sedang melompat tinggi begitu.

Tenaga Lwee-kang yang disalurkan sangat kuat sekali menyambar kepada orang tersebut.

Orang itu terkejut sekali, hatinya mencelos dia merasakan tekanan tenaga serangan dari Cie Kiat yang begitu kuat.

Dengan mengeluarkan seruan tertahan, orang tersebut telah melompat kebelakang.

Sedang melompat begitu, orang ini berusaha menangkis serangan Cie Kiat.

Kali ini Cie Kiat tidak mau berlaku murah hati,dengan cepat dia telah meneruskan serangannya.

“Dukkkk! Bukkkk! terdengar dua kali suara terbenturnya tangan mereka. Disusul kemudian dengan suara jeritan yang menyayatkan hati!

Tampak Cie Kiat telah berdiri lagi dengan tegak dan bibirnya tersenyum.

Sedangkan tubuh itu telah terpental dan punggungnya telah membentur dinding!

Keras sekali benturan punggung orang itu dengan dinding, sehingga terdengar suara ‘ngggeeek’ dari mulutnya, kemudian, tampak orang tersebut telah meloso dilantai tak bergerak, karena dia telah jatuh pingsan!

Wajah Mie Coe juga agak pucat, kaget melihat apa yang terjadi.

Dia jadi mengagumi akan kehebatan diri Cie Kiat, yang selain mempunyai Lwee-kang yang luar biasa kuatnya!

Cie Kiat telah menghampiri si gadis. “Apakah..... apakah dia binasa? tanya Mie Coe kepada Cie Kiat, agak gemetar suara si gadis. Yang dimaksudkan oleh Mie Coe dengan perkataan ‘Dia’ itu, ialah orang yang tadi menjadi lawan Cie Kiat, yang sekarang sedang menggeletak dilantai tak bergerak.

Cie Kiat menghela napas.

“Dia hanya pingsan!!” sahut Cie Kiat sambil melirik kepada orang yang menggeletak dilantai dan tidak bergerak sedikitpun.

“Aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga dalamku! Kalau memang aku menginginkan nyawanya, sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku! Tetapi karena orang ini tidak mempunyai kesalahan pada diriku, maka kuberi pengampunan bagi jiwanja!”

Dan setelah berkata begitu, Cie Kiat telah menghampiri orang yang mengeletak pingsan tersebut.

Mie Coe juga telah ikut menghampirinya, dia berdiri disamping si pemuda.

Dengan menggunakan ujung kakinya, Cie Kiat telah menendang pundak orang tersebut, yaitu jalan darah ‘Ma-na-hiat’-nya, yang membuat orang itu jadi tersadar dengan cepat.

Dengan menggeliat kesakitan, orang tersebut telah bergerak untuk duduk. Cie Kiat dan Mie Coe hanya mengawasi saja kelakuan orang itu.

Tampak tubuh dan wajah orang tersebut banyak luka-luka bekas goresan, dan tampaknya sangat menyeramkan sekali, bengis, luar biasa wajah orang itu.

Ketika dia mengangkat kepalanya, maka dia melihat Cie Kiat dan Mie Coe.

Seketika itu juga matanya memancarkan sorot bengis dan takut...... rupanya tadi dia telah merasakan dan menyadari bahwa Cie Kiat adalah seorang pemuda yang mempunyai kepandaian yang tinggi sekali !

*

* *

CIE KIAT telah memperdengarkan suara tertawa tawarnya.

“Siapa kau? Mengapa tak hujan tak angin kau menyerang kami?” bentak Cie Kiat dengan suara yang dingin.

Orang itu tetap mendelik kepada Cie Kiat dan Mie Coe bergantian.

“Kalau memang kau mau membunuh, bunuhlah!” bentak orang ini dengan tiba- tiba. “Memang aku tahu, bahwa aku tidak akan bisa meloloskan diri dari tangan si Iblis. !”

Mendengar perkataan orang itu, Cie Kiat jadi mengerutkan alis. “Si Iblis?” tanya Cie Kiat dengan heran, dia menatap orang itu dengan sikap tidak mengerti. Melihat wajah Cie Kiat begitu, orang tersebut telah tertawa dingin lagi.

“Hmm... kau jangan pura-pura!” bentak orang itu dengan suara yang tetap bengis. “Kalau kau mau bunuh, bunuhlah! Janganlah kau menyiksa aku. !”

Cie Kiat dan Mie Coe jadi tambah heran lagi. “Tetapi Mie Coe telah berkata mendahului Cie Kiat.

“Apakah Iblis yang kau maksudkan adalah Iblis Kwie-bo Mo-lie?” tanya Mie Coe. Kwie-bo Mo-lie berarti Ibu Hantu. Orang itu mendengus.

“Hmm, sudah kalian tahu masih kalian pura-pura tidak tahu!” kata orang itu dengan dingin. “Aku Wang Che Ming, tak akan mati dengan mata meram, aku sangat penasaran sekali, dan kalau aku sudah menjadi setan, maka biarpun kalian lari keujung dunia tetap akan kuganggu!!

Tiba-tiba Mie Coe telah tertawa. Sedangkan Cie Kiat masih juga berdiri diam, dia tenggelam dalam keadaan keheranan.

“Kau salah paham, sahabat!” kata Mie Coe kemudian dengan suara yang berobah tidak sekeras tadi. Kwie-bo Mo-lie adatah kepala Iblis, biang Iblis, bagaimana kami bisa bercampur baur dengan dirinya! Lagi pula dia selalu bekerja sendirian, mustahil dia mempunyai anak buah! Tadipun dia telah datang kemari dan kami malah telah bersembunyi didekat gundukan itu!!”

Orang ini masih mengawasi Cie Kiat dan Mie Coe dengan tatapan mata yang mengandung kecurigaan.

“Benarkah kalian tidak mempunyai sangkutan apa-apa dengan si Iblis?” tanjanya kemudian dengan suara yang ragu-ragu.

Mie Coe mengangguk dengan cepat.

“Benar! Kawanku inipun tidak mengenal si Iblis!!” menyahuti Mie Coe. Tampak mau juga orang itu mempercayai Mie Coe dan Cie Kiat.

Dia menghela napas.

“Iblis itu sangat telengas sekali!” kata orang tersebut dengan wajah yang berobah lembut. “Aku sebetulnya tidak takut mati, tetapi karena si Iblis selalu menggunakan caranya yang sangat jahat sekali, yang selal tidak menginginkan lawannya terbinasa dengan cepat, dan selalu menyiksa dengan racun dan berbagai cara, membuat aku mau hidup tidak bisa, matipun tidak dapat!”

Dan dia telah menghela napas lagi.

Orang itu, Che Ming, telah memandang Cie Kiat dan Mie Coe lagi.

“Sebetulnya kalian ini mau menuju kemana?” tanya Wang Che Ming kemudian. Cie Kiat dan Mie Coe masing-masing menyebutkan nama mereka, juga Cie Kiat menjelaskan maksud mereka.

Che Ming menghela napas.

“Tadi kalau memang tak si Iblis telah datang kerumah ini dua kali..... aku tidak berani berkutik didalam tumpukan jerami tersebut..... sampai bernapaspun aku tak berani, karena pendengaran si Iblis sangat tajam sekali, suara yang sekecil mungkin dapat didengarnya.”

“Sebetulnya ada sangkutan apakah antara si Iblis dengan kau?” tanya Cie Kiat waktu orang sedang menghela napas lagi. “Ada permusuhan apakah diantara kalian sehingga si Iblis begitu bernafsu mencarimu?”

Kembali Wang Che Ming telah menghela napas dengan kedua alis yang dikerutkannya.

“Sungguh kejam dan telengas sekali si Iblis!” kata Che Ming. “Dan perempuan itu memang pantas diberi gelaran sebagai Ibu Hantu, karena sifatnya menyerupai hantu, kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Keluargaku telah disapu bersih semuanya, tak seorangpun dibiarkan hidup terus...... sampai akhirnya dia mengejar- ngejar diriku juga, dia bermaksud menyapu bersih keluarga Wang sampai keakar- akarnya......!” menjelaskan Che Ming dengan suara yang berduka. “Nah duduklah, aku akan menceritakan sedikit mengenai kejadian dan permulaan dari permusuhanku dengan si Iblis !!”

Cie Kiat dan Mie Coe duduk didekat Che Ming, mereka mau mendengarkan persoalan apa yang tersangkut pada diri orang she Wang ini.

Sedangkan didalam hati Cie Kiat telah berjanji, kalau memang Che Ming benar- benar berada dipihak yang benar, dia bermaksud akan membantu untuk menolong orang she Wang tersebut menghadapi si Iblis perempuan yang mempunyai gelaran cukup menyeramkan, yaitu Kwie-bo Mo-lie atau si Ibu Hantu !

Che Ming telah menghela napas beberapa kali, baru kemudian dia menceritakan segalanya, persoalan dirinya didalam menghadapi Iblis perempuan yang bergelar Ibu Hantu itu!

*

* *

WANG CHE MING sebetulnya seorang yang jago silat yang menjagoi kota Wie-toe-kwan dipropinsi Ho-lam.

Sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, maka sudah menjadi kebiasaan dan wajar sekali kalau sifat Wang Che Ming agak angkuh dan sombong. Didalam kota itu boleh dikatakan dia merupakan seorang jago nomor satu.

Penghidupan orang she Wang ini boleh dikatakan sangat rukun sekali dengan isterinya yang bernama Kong In Lie, dan seorang puteranya yang diberi nama tunggal Cie. Penghidupan Wang Che Ming, Kong In Lie dan Wang Cie sangat bahagia mereka melewati hari-hari dengan jalan membuka sebuah Bu-koan, pintu perguruan silat, yang mendidik beberapa puluh orang murid.

Tetapi pada suatu pagi, dikala Wang Che Ming sedang berjalan-jalan didalam kota Wie-toe-kwan, dia bertemu dengan seorang wanita.

Wajah wanita itu sangat cantik sekali, walaupun usianya sudah agak lanjut. Sebagai seorang jago yang boleh dikatakan disegani oleh penduduk sekotanya,

maka wajar kalau memang Wang Che Ming menyukai paras cantik.

Melihat wanita itu, dia menggodanya.

Si wanita memperlihatkan wajah yang tidak enak dilihat. Ketus sekali.

Malah waktu Wang Che Ming mengikuti terus sambil menggodanya, wanita itu telah mengeluarkan perkataan :

“Pergilah, kalau memang kau masih mau hidup! Nanti kau akan mampus kalau mengikuti terus!!” kata perempuan itu dengan suara acuh tak acuh.

Wang Che Ming menganggap bahwa perkataan wanita itu hanya menggertak dirinya.

Dia masih mengikuti terus.

Kalau memang suamimu datang dan mau membuat perhitungan denganku, aku tidak jeri!”kata Wang Che Ming dengan tekebur. “Malah boleh dikatakan orang she Wang tidak pernah takut untuk menghadapi Giam-lo-ong sekalipun, apa lagi hanya menghadapi seorang manusia!!”

Wanita itu memperdengarkan suara dengusan.

“Nanti keluargamu akan celaka disebabkan tingkah polamu yang tidak senonoh ini!!” kata perempuan itu sambil melangkah terus. “Pergilah!!”

Tetapi Wang Che Ming masih mengeluarkan kata-kata yang sombong dan tidak mau pergi, dia mengikuti terus wanita itu.

Sedangkan si wanita telah berulang kali memperdengarkan suara dengusan.

Rupanya dia mendongkol sekali.

Ketika mereka hampir sampai diluar pintu kota, ditempat mana sangat sepi sekali, wanita itu telah memutar tubuhnya, wajahnya jadi keren sekali, dia menatap Wang Che Ming dengan sorot mata yang tajam sekali.

Melihat perobahan sorot mata wanita tersebut, Che Ming jadi terkejut.

“Kau telah tiga kali kuberikan jalan hidup!” kata wanita itu dengan suara yang bengis. “Tetapi kau tidak mau menempuhnya, malah kau memilih jalan untuk mampus!”, dan setelah berkata begitu, si wanita telah tertawa gelak-gelak, seram sekali suara tertawa itu.

Che Ming sendiri jadi terkejut. Dia mengawasi wanita itu dengan tajam.

Tetapi si wanita setelah tertawa, tahu-tahu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat lenyap dari tempat itu, cepat sekali gerakannya, bagaikan gerakan hantu.

Malamnya, Che Ming tidak bisa tidur pulas, dia jadi sangat gelisah.

Karena wanita yang tadi ditemuinya dijalan itu membuatnya jadi pikiran benar.

Dan dia juga telah mengetahui bahwa wanita itu adalah seorang jago silat yang mempunyai kepandaian sempurna benar, sebab gerakannya sangat cepat, sekali lompat telah dapat menghilang dari pandangan mata Che Ming.

Pada tengah malamnya, Che Ming mendengar sesuatu suara yang mencurigakan.

Waktu dia keluar dari jendela kamarnya, tampak dicahaya rembulan, sesosok tubuh diatas genting sedang berdiri tegak!

Itulah tubuh seorang wanita, wanita tadi siang!

“Aku Kwie-bo Mo-lie tidak pernah memberikan jalan hidup empat kali kepada orang yang telah mengganggunya!” kata wanita itu dengan suara yang menyeramkan sekali.

“Hmmm, malam ini kau harus mampus! Dan seperti apa yang telah kukatakan tadi siang, keluargamu juga harus mampus!!” dan setelah berkata begitu, wanita itu, yang mengakui dirinya sebagai Kwie-bo Mo-lie, telah tertawa gelak-gelak lagi dengan suara yang sangat menyeramkan.

Begitu mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Kwie-bo Mo-lie, Ibu Hantu, wajah Che Ming seketika juga jadi pucat pias.

Kwie-bo Mo-lie memang telah terkenal sebagai seorang Iblis nomor satu yang mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Tubuh Che Ming seketika itu juga jadi gemetaran, karena dia menyadari bahwa dia akan menghadapi sesuatu yang hebat.

Tetapi sebagai seorang jago, dia juga penasaran dan memberikan perlawanan kepada Iblis itu, karena dia masih belum mau mempercajai apa yang didengar mengenai diri hantu perempuan itu.

Namun kenyataannya, Iblis perempuan ini hebat sekali.

Hanya didalam beberapa gebrakan, wajah Che Ming telah digores berulang kali oleh ujung pedangnya. Wajah Che Ming jadi terluka disana-sini, dan dia sangat menderita sekali tanpa bisa memberikan perlawanan sedikitpun.

Malah dikala Che Ming sedang diliputi oleh perasaan takut itu, si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie tidak membinasakannya, dia hanya disiksa dengan ditusuk dan digores pada tubuh dan wajahnya.

Hai ini menambah rasa takut pada diri Che Ming, walaupun dia berusaha untuk memberikan perlawanan yang gigih kepada diri Iblis itu, toh dia tidak berdaya sama sekali, si Iblis bergerak cepat bagaikan bayangan. Waktu Che Ming sedang menggeletak kesakitan, tahu-tahu si Iblis telah meninggalkan dirinya, dia memasuki rumah Che Ming dan terdengar dua kali suara jeritan yang menyayatkan, suara jeritan isteri Che Ming dan puteranya!

Hati Che Ming mencelos!

Apa lagi waktu dia melihat si Iblis perempuan itu telah keluar lagi dengan menenteng kepala isterinya dan puteranya!

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan, Che Ming telah berlari sekuat tenaganya. dia seperti orang sakit syaraf dan ketakutan sekali.

Si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie tidak mengejarnya, hanya tertawa gelak- gelak disitu sambil memegangi terus kepala isteri Che Ming dan putera orang she Wang itu, yang masih meneteskan darah yang mulai kental keatas tanah, menyeramkan keadaan si Iblis.

Sedangkan Che Ming telah melarikan diri terus. Dia diliputi oleh perasaan takut dan juga sakit hati, dengan melarikan diri begitu dia juga sebetulnya mengutuk diri mengapa dia tidak membalaskan sakit hati isteri dan puteranya.

Tetapi, baru saja Che Ming dapat berlari tak jauh, si Iblis tahu-tahu telah muncul dihadapannya lagi. Dia bergebrak dengan nekad lagi, tetapi kembali dirinya kena dilukai oleh si Iblis. Hal mana membuat dia jadi tambah ketakutan, dan dia melarikan diri pula.

Si Iblis kembali tidak mengejar Che Ming.

Tetapi tak lama kemudian, tahu-tahu Che Ming dikejutkan oleh si Iblis yang telah muncul dihadapannya.

Che Ming jadi tambah ketakutan. Kwie-bo Mo-lie memang sengaja membiarkan Che Ming melarikan diri dengan ketakutannya, karena si Iblis memang senang kalau melihat korbannya menghadapi kematian dengan ketakutan yang sangat. Sebetulnya kalau memang dia mau sekaligus membunuh Che Ming, sama mudahnya dengan menggores tanah menggunakan telunjuk tangannya.

Sampai akhirnya Che Ming, menyembunyikan diri dirumah terpencil didalam gundukan jerami tersebut, dan bertemu dengau Mie Coe dan Cie Kiat........



MENDENGAR cerita Che Ming, Mie Coe dan Cie Kiat jadi gusar sekali kepada perempuan Kwie-bo Mo-lie.

“Alangkah bengis dan kejamnya Iblis perempuan itu! kata Cie Kiat dengan gusar. Che Ming mengangguk.

“Ya, dia malah mau membinasakan diriku dengan cara perlahan-lahan, dia mau membunuhku dengan disertai oleh penyiksaan rasa takut....!” kata Che Ming dengan suara yang sember, dan dia juga menghela napas berduka. “Memang harus kuakui bahwa mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali, dan telah kucoba beberapa kali menghubungi beberapa orang pandai untuk menolongi diriku, tetapi kenyataannya, semuanya kena dirubuhkan dan dibunuhnya! Si Iblis tetapinya tidak mau membunuhku, dia hanya menakut-nakuti terus, dan kalau memang dia menghadang diriku, dia memberikan penyiksaan dengan menggores-gores wajahku! Lihatlah ini, semuanya ini adalah hadiah dari si Iblis!!”

Dan Che Ming telah memperlihatkan luka-luka pada tubuh dan wajahnya. Cie Kiat jadi tambah mendongkol.

“Jangan takut, nanti biar aku hadapi Iblis kejam itu!!” kata Cie Kiat. Mie Coe mengerutkan alisnya.

Dengan menyanggupi begitu, berarti Cie Kiat telah melibatkan dirinya didalam pergolakan antara Che Ming dengan diri Kwie-bo Mo-lie secara langsung.

Mie Coe menguatirkan diri Cie Kiat, karena dia mengetahui benar siapa sebenarnya si Iblis dan betapa tinggi kepandaian dan kekosenan si Iblis. Maka dari itu, hati si gadis jadi tak tenang.

“Siapa nama sebenarnya si Iblis?” tanya Cie Kiat disaat orang-orang berdiam

diri.

“Kalau memang tak salah Iblis perempuan yang kejam itu she Lo dan bernama

Hoe Tin.” menjelaskan Mie Coe.

Mendengar nama itu, Cie Kiat mengerutkan alisnya. “Lo Hoe Tin?” tanyanya menegaskan.

Mie Coe heran melihat lagak si anak muda, begitu juga Che Ming. karena dia kaget menduga bahwa Cie Kiat kawan si Iblis.

“Ya......   dia memang bernama Lo Hoe Tin!” menyahuti Mie Coe. “Apakah apakah kau kenal dengannya?”

Cie Kiat berobah wajahnya menjadi berang.

“Hmmmm, orang she Lo itulah yang sedang kucari!!” kata Cie Kiat seperti kepada dirinya sendiri. Dialah musuh besar keluargaku! Su-hu, guru, telah memerintahkan padaku untuk mencari orang itu guna melakukan pembalasan dendam...... aku tak menyangka bahwa Thian akhirnya mau juga menunjukkan jalannya padaku! Hmmm...... Iblis itu harus mampus ditanganku!! Keluargaku telah terbinasa ditangannya, dimana si Iblis telah membasmi keluargaku dengan beberapa orang jago-jago jahat lainnya! Aku telah dapat membunuh beberapa orang musuh- musuhku, tetapi yang terpenting menurut perintah Su-huku, maka aku harus membunuh biang pembunuhan yang dilakukan oleh jago-jago lainnya pada keluargaku, yaitu si Iblis she Lo itu!” Mendengar itu, Che Ming jadi girang. Tetapi Mie Coe jadi sangat berkuatir sekali.

“Kau harus hati-hati menghadapi Iblis itu!” kata Mie Coe. “Disamping telengas, juga dia sangat liehay luar biasa! Iblis itu merupakan jago nomor satu didalam rimba persilatan, karena jarang sekali ada orang yang berani dan sanggup menghadapi ilmunya!!”

Cie Kiat mengangguk.

“Ya...... biarpun dia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, aku tidak takut!

Aku dapat membunuhna!!” kata Cie Kiat.

Che Ming menghela napas.

“Umpamanya aku mempunyai kepandaian yang cukup tinggi untuk menghadapi Iblis itu, tentu aku tidak akan melarikan diri sebagai pengecut yang tidak tahu malu! Isteri dan puteraku telah dibunuhnya, seharusnya aku musti membalaskan sakit hati mereka dengan mengadu jiwa pada si Iblis! Tetapi kenyataannya bukannya aku membalaskan sakit hati mereka, malah telah melarikan diri...... Oh, alangkah memalukan sekali!”

Dan Che Ming telah menangis mengucurkan air mata dengan berduka. Cie Kiat dan Mie Coe berusaha untuk menghiburnya.

“Kau melarikan diri bukan sebagai pengecut, kau tentunya bermaksud untuk mencari ilmu yang lebih tinggi untuk nanti dapat membalas sakit hatimu! Sekarang kalau memang kau adu jiwa dengan nekad, tentu tak ada gunanya, karena si Iblis mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, dan kau tak berarti apa-apa baginya, maka tak ada gunanya sama sekali kau menempurnya! Kau bukan sebagai seorang pengecut!!”

Che Ming menghela napas lagi.

“Benar...! Aku memang bermaksud akan membalas sakit hati ini...!” kata Che Ming.

“Iblis itu adalah musuh utamaku dan musuh besarku juga! Dia sangat membahayakan bagi masyarakat, maka aku akan berusah untuk membunuhnya! Hm... aku akan mencari Iblis itu guna menempurnya!” kata Cie Kiat.

Dan ketiga orang ini, jadi mengangkat persahabatan, mereka juga telah mengambil keputusan akan mencari si Iblis.

Keberanian Che Ming juga jadi muncul kembali, karena dia mengetahui Cie Kiat kosen sekali dan mungkin akan dapat menghadapi Ibils yang telengas. !

*

* *

CIE KIAT, Mie Coe dan Wang Che Ming meninggalkan rumah itu. Cie Kiat mengajak kedua orang ini menuju kekelenteng dimana Ang Po Sian, Bo Tiong Hiap dan Ma Thian Ie ditinggalkannya.

Tetapi ketika mereka sampai disitu, ternyata ketiga orang itu sudah tak ada disitu.

Cie Kiat dan kedua orang kawan barunya itu, Mie Coe dan Wang Che Ming jadi meninggalkan kelenteng itu kembali.

Mereka berjalan agak jauh sedikit tahu-tahu terdengar suara orang bernyanyi dengan suara yang agak perlahan :

Air sungai mengalir,

Burung gunung terbang lalu, Tak ada lagi perpisahan, Tak ada lagi kesedihan,

Karena manusia hidup didunia,

Merupakan benda yang akan berpulang jua, Tra-la-la-la-la-la..............

.

Cie Kiat dan yang lainnya jadi menoleh, mereka melihat seorang pengemis berusia diantara tiga puluh tahu tengah jalan tertatih-tatih menghampiri mereka.

Cie Kiat mengawasi si pengemis, yang kala itu telah berada dihadapan mereka. “Kau...... oh, kalian! Mengapa kawanmu terluka kalian biarkan begitu saja?”

kata si pengemis dengan suara yang terkejut.

Cie Kiat dan Mie Coe tidak menyahuti, hanya didalam hati mereka segera mengetahui bahwa pengemis ini mempunyai kepandaian silat yang cukup tinggi, sebab pancaran matanya yang bersinar tajam itu menandakan bahwa dia adalah seorang pengemis yang mempunyai tenaga Lwee-kang sangat kuat.

Sedangkan si pengemis telah menghampiri Che Ming, dia memperhatikan luka- luka pada wajah dau tubuh Che Ming yang memang belum memperoleh pengobatan.

Kemudian dengan tergopoh-gopoh dia telah merogoh sakunya, memberikan Che Ming dua butir pil.

Telanlah ini!” kata si pengemis. “Luka-lukamu akan segera kering! Ini untuk mencegah kau keracunan!”

Che Ming mengambil pil pemberian si pengemis, kemudian tanpa ragu-ragu dia telah menelannya pil itu, karena dia tidak mau menyinggung perasaan si pengemis, yang mempunyai maksud baik.

Setelah melihat Che Ming menelan pil pemberiannya, si pengemis baru memperlihatkan sikap yang tenang.

“Kenapa kau bisa terluka sampai begitu macam?” tegur si pengemis. Che Ming segera menceritakan segalanya.

Begitu mendengar cerita Che Ming, si pengemis menghela napas. “Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie memang keterlaluan sekali, semakin lama dia jadi semakin kurang ajar tingkah lakunya didalam kalangan Kang-ouw!!” kata si pengemis dengan gusar. “Hmmmm...... partaiku juga, Kay-pang, akan segera turun tangan untuk menghadapi si Iblis perempuan itu!”

Mendengar si pengemis berasal dari Kay-pang, Cie Kiat segera memperkenalkan dirinya, mengatakan juga bahwa dirinya bersahabat dengan Ang Po Sian.

Ketika Cie Kiat menyebut nama Ang Po Sian, sikap si pengemis jadi menghormat sekali kepada Cie Kiat.

Lebih-lebih ketika Cie Kiat mengeluarkan Leng pemberian dari Ang Po Sian. Seketika itu juga si pengemis menekuk lututnya memberi hormat.

“Ada perintah apakah yang akan diberikan kepada Tee-cu Siu Hok Gie?” tanya si pengemis dengan suara yang menghormat sekali.

Dia menyebut dirinya dengan nama Siu Hok Gie. Cie Kiat segera berkata :

“Bangunlah...... aku hanya ingin meminta agar kau membawa dan melindungi Che Ming dari gangguan si Iblis, sampai kalau memang nanti urusanku telah selesai, baru akan kuhadapi si Iblis!”

Siu Hok Gie segera juga menyahuti : “Tee-cu telah menerima perintah itu dan akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin, dan kalau memang perlu, akan Tee- cu pertaruhkan dengan jiwa Tee-cu.”

Cie Kiat memperlihatkan wajah yang puas, dia tersenyum sambil memasukkan Leng itu kedalam sakunya lagi.

Kemudian setelah memberitahukan kepada Wang Che Ming, bahwa mereka akan bertemu dikota Siang-pie-kwan, dan selama didalam perjalanan, Cie Kiat juga mengatakan Wang Che Ming tidak usah terlalu kuatir, karena Siu Hok Gie dan orang-orangnya akan menjaga keselamatan Che Ming dari ancaman si Iblis!

Mereka lalu berpisahan, Che Ming di kawal oleh Siu Hok Gie, sedangkan Cie Kiat dan Mie Coe mengambil arah selatan.

Cie Kiat harus menyelesaikan suatu urusan besar, karena Mie Coe juga telah menceritakan kepadanya, bahwa telah terjadi suatu pergolakan yang akan membawa akibat luar biasa didalam kalangan Kang-ouw.

Suatu ancaman dan pergolakan yang terjadi didalam dunia persilatan, akan bertambah hebat, kalau memang tidak cepat-cepat diselesaikan dan ditindih.

Ancaman yang akan membawa banyak korban itu, benar-benar mengerikan, karena akan banyak sekali korban-korban yang berjatuhan disebabkan pergolakan yang sedang terjadi didalam dunia persilatan, yang juga ditimbulkan sumbernya atas munculnya kembali si Iblis Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu !

* * *

DIANTARA kekelaman malam, diantara cahaya rembulan dan bintang-bintang yang gemerlapan, tampak dua sosok tubuh yang sedang berlari-lari cepat sekali diatas genting rumah penduduk.

Gerakan kedua sosok tubuh itu sangat cepat sekali, sangat gesit dan juga ringan sekali tubuh mereka, sehingga kedua sosok tubuh itu berlari bagaikan bayangan hantu belaka karena kaki mereka seperti tidak menyentuh genting-genting rumah penduduk, bagaikan terbang melayang saja.

Diantara kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, diantara cahaya rembulan, maka menimbulkan suasana yang menyeramkan.

Waktu sampai didekat sebuah gedung bertingkat yang mewah dan megah, kedua kedua bayangan itu berhenti berlari, mereka saling pandang.

Sekilas tampak bahwa mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Mereka ternyata tak lain dari Lie Cie Kiat dan Lan Mie Coe.

Tampak Cie Kiat mendekati Mie Coe. “Inikah markas mereka?” tanya Cie Kiat. Mie Coe mengangguk.

“Ya...!” menyahuti si gadis. “Biasanya di gedung inilah mereka mengadakan pertemuan!”

“Mari kita turun untuk menyelidiknya!!” kata Cie Kiat sambil melompat turun dari atas genteng memasuki pekarangan gedung itu dengan berani.

Mie Coe juga telah melompat turun.

Waktu dia berada disamping Cie Kiat, si gadis telah berkata lagi :

“Hati-hati.... mereka mempunyai banyak orang pandai, yang mempunyai kepandaian tidak rendah!” kata si gadis dengan suara penuh kekuatiran.

Cie Kiat mengiyakan.

“Jangan takut!!” kata Cie Kiat kemudian. Dan setelah berkata begitu, dia menyelinap kedalam gunung-gunungan.

Mie Coe juga mengikuti perbuatan kawannya.

“Ada orang datang!” kata Cie Kiat berbisik ditepi telinga Mie Coe. Mie Coe tidak menyahuti, dia hanya mengawasi kearah sekelilingnya.

Tak lama kemudian tampak beberapa orang yang sedang mendatangi sambil bercakap-cakap.

Terkadang terdengar suara tertawa mereka. Rupanya ada sesuatu yang lucu yang sedang mereka ceritakan. Waktu lewat didekat gunung-gunungan itu, Cie Kiat dan Mie Coe mendengar salah seorang diantara mereka berkata :

“Hmmmm   kalau memang Siang Toa-ya mengetahui gadis yang kita tawan itu

mau membunuh diri, tentu dia akan kaget dan kelabakan bagaikan kucing kebakaran kumisnya! kata salah seorang diantara mereka dan yang lainnya telah tertawa dengan suara yang berisik.

Didalam waktu yang cepat sekali, orang-orang itu telah berlalu. Tinggallah disekeliling tempat itu dalam kesunyian kembali.

Setelah menunggu sesaat lamanya, Cie Kiat mengajak Mie Coe keluar dari tempat persembunyian mereka.

“Mari kita kebelakang gedung ini!!” kata Cie Kiat. Mie Coe hanya mengangguk.

Keduanya sudah lantas menyelinap dengan cepat kebelakang gedung itu.

Waktu sampai didekat sebuah kamar yang didalamnya tampak penerangannya masih menyala, Cie Kiat dan Mie Coe mendekati jendela kamar itu.

Cie Kiat dan si gadis Lan Mie Coe mengunakan lidah mereka membuat lobang kecil pada kertas jendela dan mengintai kedalam.

Segera juga tampak oleh mereka seorang tua yang sedang duduk termenung disebuah kursi. Wajah lelaki tua itu pucat sekali dan keadaannya lusuh.

Melihat lelaki tersebut, Cie Kiat dan Mie Coe jadi terkejut benar. Mereka sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Lelaki tua itu mendengar suara seruan tertahan dari Cie Kiat dan Mie Coe, tetapi dia tidak bergerak sedikitpun, dia hanya menoleh kearah jendela dengan tatapan mata yang bengis.

Dengan cepat Mie Coe dan Cie Kiat melompat masuk kedalam kamar itu.

Siapakah lelaki tua tersebut yang telah membuat Cie Kiat dan Mie Coe jadi terkejut begitu?

Ternyata si kakek adalah ayah Mie Coe!

Dengan cepat Mie Coe telah memeluk ayah itu dengan rasa girang yang meluap- luap. Dan begitu juga si kakek.

Pertama-tama dia terkejut melihat Cie Kiat, sinar matanya masih bengis. Namun begitu dia melihat Mie Coe, dia girang luar biasa.

Dipeluk puterinya itu.

“Kenapa kau bisa sampai disini?” tanya si kakek dengan suara terharu. Mie Coe menjelaskan bahwa mereka memang sedang mencari si kakek ini. Si kakek menghela napas. Sikapnya tidak sekeras semula terhadap diri Cie Kiat.

Namun sinar matanya masih memperlihatkan bahwa dia mendongkol sekali, karena kalau melihat anak muda ini, dia segera juga teringat kepada kejadian beberapa saat lalu, dimana Cie Kiat mendesak dirinya dengan ujung pedang begitu macam, tanpa dia berdaya sama sekali!

“Kami memang mendengar kabar bahwa ayah terkurung disini maka aku dan Lie Kong-cu ingin menolong ayah!!” kata Mie Coe menerangkan mengapa mereka bisa berada disitu. “Dan mengapa ayah bisa tertangkap oleh orang-orang itu?”

Wajah si kakek jadi muram.

“Aku........ Lan Kong Sia, seumur hidupku, baru tahun inilah berulang kali kuterima hinaan-hinaan yang tak bisa kulampiaskan! Hmmmm...... entah berapa banyak lagi hinaan-hinaan yang akan kuterima!!”

Melihat sikap dan wajah si kakek, yang ternyata bernama Lan Kong Sia, begitu berduka dan muram, Cie Kiat jadi tidak enak hati.

Pemuda she Lie ini segera juga teringat bahwa dia pernah mendesak si kakek sampai terlaluan.

Maka dari itu, cepat-cepat Cie Kiat meminta maaf lagi sambil menjelaskan bahwa pada dulu itu dia telah mendesak begitu!

Akhirnya mau juga kakek she Lan tersebut memaafkan Cie Kiat.

Apa lagi Mie Coe telah menerangkan, betapa pemuda ini telah sering dan berulang kali menolong dirinya!

Dengan sendirinya, ganjalan dihati orang tua she Lan tersebut jadi lumer dan lenyap.

“Bagaimana Thia, apakah kita melarikan diri saja, dan nanti kalau memang kau sudah pulih kembali tenaga Lwee-kangmu baru kita menyerang gedung ini?” tanya Mie Coe kepada ayahnya.

Lan Kong Sia menghela napas.

“Ya...... mereka mempunyai banyak sekali orang-orang kosen, kalau memang hanya kita bertiga, biar bagaimana tinggipun kepandaian kita, tak nantinya kita bisa meloloskan diri dari tangan mereka! Dan berita yang terakhir bisa kuperoleh, bahwa yang menggerakkan orang-orang ini adalah Kwie-bo Mo-lie. si Ibu Hantu!”

Mendengar keterangan Kong Sia, Cie Kiat dan Mie Coe jadi terkejut.

“Eh...... si Iblis perempuan itu lagi?” kata Cie Kiat dan Mie Coe hampir berbareng.

Si kakek memandang puterinya dan Cie Kiat.

“Kalian pernah bertemu dengannya?” tanya Kong Sian sambil menatap tajam. Cie Kiat dan Mie Coe mengangguk. Dan Mie Coe segera juga menceritakan bagaimana mereka telah menolong Wang Che Ming.

Si kakek menghela napas.

“Ya.......... Iblis perempuan itu memang sangat telengas dan sangat kosen, sehingga kemungkinan besar kita sukar untuk membasmi Iblis itu!” katanya.

Cie Kiat telah tertawa dingin.

“Hmmm...... biarpun Iblis itu mempunyai sepuluh kepala, tetap dia harus binasa ditangan Boanpwee!” kata Cie Kiat dengan bersemangat. “Dialah musuh besar keluargaku!”

Si kakek she Lan terkejut sekali mendengar perkataan Cie Kiat, dia sampai menoleh dan memandang Cie Kiat dengan bermacam-macam pertanyaan memancar dari sorot matanya. !



CIE KIAT segera menceritakan bagaimana si Iblis telah mengetuai rombongan jago-jago membasmi keluarga Lie, keluarga Cie Kiat.

Maka dari itu, pada beberapa tahun yang lalu, Cie Kiat telah diangkat sebagai murid oleh seorang jago luar biasa yang tidak ingin diketahui namanya, mendidik Cie Kiat menjadi seorang manusia yang kosen luar biasa, kemudian setelah tiba masanya, setelah tiba saatnya, beberapa tahun kemudian Cie Kiat diperintahkan oleh jago luar biasa itu untuk mencari seorang Iblis yang bernama Lo Hoe Tin, serta beberapa jago- jago lainnya yang ikut membasmi keluarga Lie.

Cie Kiat sedikitpun tidak mengetahui bahwa Lo Hoe Tin sebetulnya seorang Iblis yang sangat ditakuti oleh jago-jago didalam kalangan Kang-ouw, dan bergelar Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu.

Maka, disaat dia mengetahui hal itu dari Mie Coe, si anak muda she Lie jadi terkejut sekali.

Mendengar penuturan dari Cie Kiat, si kakek she Lan tersebut jadi berobah lembut kepada Cie Kiat.

Ganjalan dihatinya tersapu bersih, dan menyatakan akan ikut menyapu bersih si Ibu Hantu dengan orang-orangnya yang menjadi penghuni gedung itu.

“Tetapi sekarang lebih baik kita berlalu dulu dari gedung ini!” kata Cie Kiat. “Aku akan meminta bantuan dari saudara-saudara Kay-pang untuk ikut menghancurkan Iblis jahat ini!!” Lan Mie Coe dan ayahnya membenarkan. Mereka segera juga menuju kepintu akan berlalu.

Tetapi baru saja mereka beranjak dari tempat berdiri mereka, tiba-tiba terdengar suara seruling yang mengalun dengan suara yang melengking tinggi sekali, menandakan bahwa seruling itu ditiup dengan menggunakan Lwee-kang yang tinggi dan sempurna sekali.

Wajah Cie Kiat, Lan Kong Sia dan Lan Mie Coe jadi berobah seketika itu juga. Hati mereka juga berdebar keras.

Dengan menahan napas, mereka berdiri diam ditempat mereka tidak berani bergerak.

Suara seruling terhenti seketika, suasana disekitar tempat itu jadi sunyi sekali.

Kemudian terdengar suara orang tertawa dengan suara yang menyeramkan sekali.

“Hei tikus-tikus..... keluarlah kalian untuk menerima kebinasaan kalian!” terdengar suara melengking yang tinggi.

Cie Kiat dan yang lainnya, segera juga mengenali bahwa suara itu adalah suara si Iblis parempuan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin.

Anak muda she Lie ini mengerutkan alisnya, dia melangkah perlahan-lahan kepintu. Cie Kiat yang paling cepat dapat manguasai goncangan hatinya.

Dibuka pintu.

Tampak dibawah cahaya rembulan, si Iblis perempuan sedang berdiri tegak. Dibelakangnya berdiri belasan orang anak buahnya.

Wajah anak buah si Iblis terdiri dari lelaki yang rata-rata mempunyai wajah sangat bengis sekali, yang kala itu sedang memandang kearah Cie Kiat dan Lan Mie Coe serta Lan Kong Sia.

Cie Kiat melangkah dengan tenang, bibirnya juga tersungging senyuman. “Hmmmm...... rupanya kau ingin menyelamatkan tikus tua itu, heh?” kata si

Iblis Kwie-bo Mo-lie dengan suara yang dingin. “Sejak kedatangannm tadi, aku telah mengetahuinya, sengaja kami membiarkan kau bertindak leluasa dan bergerak tanpa perintang......! Hmmm, apakah kalian menganggap kepandaian kalian memang telah tinggi, sehingga berani menerobos masuk kekandang macan?”

Cie Kiat ingin menyahuti, tetapi si Iblis telah menggerakkan tangannya mengibas dengan perlahan.

Namun kesudahannya hebat sekali.

Cie Kiat merasakan samberan angin serangan yang kuat luar biasa.

Biarpun si Iblis mengibaskan tangannya itu dengan perlahan, toh angin serangannya luar biasa kuatnya. Cie Kiat sedang tidak bersiap sedia dia tidak menduga orang akan menyerang dirinya dengan cara yang begitu cepat, maka dengan mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya jadi terpental, dan ambruk ditanah dengan keras.

Untung saja Cie Kiat mempunjai Lwee-kang yang sangat kuat, sehingga dia tidak terluka, dengan cepat dia telah melompat bangun lagi.

Mie Coe dan Kong Sia jadi terkejut sekali, mereka mengeluarkan seruan tertahan, dan juga hati mereka jadi tergoncang hebat.

Mereka mengetahui bahwa Cie Kiat mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, jauh lebih tinggi dari kepandaian mereka.

Tetapi anak muda she Lie itu dapat dilemparkan oleh satu kibasan tangan yang tampaknya perlahan sekali!

Itulah luar biasa benar!

Kalau memang Kong Sia dan Mie Coe yang diserang, bukankah berarti mereka akan terbang menuju keneraka?

Dengan sendirinya, anak dan ayah ini jadi mengucurkan keringat dingin.

Cie Kiat telah melompat bangun dan berdiri tegak dengan memandang si Iblis tajam sekali.

Tetapi dihati si anak muda she Lie inipum sangat terperanjat.

Dia tidak menduga bahwa si Iblis yang ditakuti oleh orang-orang didalam dunia persilatan, ternyata memang mempunyai kepandaian yang luar biasa sekali.

“Bagaimana?” tanya si Iblis sambil tertawa. “Bukankah itu merupakan suatu santapan yang lezat sekali?”

Cie Kiat mendengus, dia mendongkol dan gusar sekali kepada Iblis ini. “Hmm.... kau jangan tekebur dulu! Belum tentu kau dapat membinasakan

diriku!” kata Cie Kiat dengan suara yang keras.

Mendengar perkataan Cie Kiat, Iblis perempuan yang mempunyai tangan telengas itu jadi gusar sekali, wajahnya berobah menjadi merah padam.

Tetapi itu hanya berlangsung sebentar saja, karena sesaat kemudian wajah si Iblis Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin telah berobah menjadi biasa lagi.

“Hmm...... rupanya kau masih mau merasakan lezatnya makanan yang lebih lanjut?!” kata si Iblis sambil tertawa bengis.

Dan sambil berkata, tahu-tahu tangannya telah bergerak lagi. Kali ini Cie Kiat telah bersiap sedia.

Tetapi pemuda she Lie itu jadi terkejut lagi, hatinya mencelos.

Waktu si Iblis mengangkat tangannya, mengibaskan tangannya, maka dia telah mengangkat tangannya pula untuk menempur dan melawan tenaga keras si Iblis dengan menggunakan kekerasan pula. Tetapi yang membuat hatinya jadi mencelos, tahu-tahu dia merasakan tenaganya seperti tersedot, dia merasakan tenaga serangan si Iblis lembek sekali!

Dan belum lagi Cie Kiat menyadari apa yang terjadi, maka dia merasakan tubuhnya telah terpental keras, lalu terbanting lagi.

Keras benar bantingan tubuhnya itu!

Malah anak muda she Lie itu merasakan dadanya sangat sakit luar biasa. Tanpa bisa ditahan lagi, dia jadi memuntahkan darah merah yang segar. Wajah Kong Sia dan Mie Coe jadi berobah pucat.

“Ilmu Iblis ” mengumam Kong Sia dengan suara yang agak gemetar.

Sedangkan Mie Coe telah berlari menghampiri Cie Kiat dan membantu anak muda itu untuk berlari.

Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin telah tertawa gelak-gelak. “Hmmm hari ini akan mampus, bocah!!” kata si Iblis.

Cie Kiat sangat gusar sekali, lebih-lebih waktu dia menyusut mulutnya, dia melihat darah merah yang segar pada tangannya.

Mata Cie Kiat jadi memancar tajam dan juga darah pemuda she Lie itu jadi mendidih.

Dengan cepat dia telah menyingkirkan tangan Mie Coe yang mau membantui ia bangun.

Tahu-tahu dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, tubuh Cie Kiat telah mencelat cepat luar biasa.

Sambil melompat menerjang si Iblis, pemuda she Lie ini mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, dia menyerang si Iblis dengan menggunakan tujuh bagian tenaga Lwee-kangnya!

Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin telah tertawa dingin waktu melihat tubuh Cie Kiat meluncur kearahnya akan menyerang dengan hebat.

Dengan cepat sekali Lo Hoe Tin telah menekuk kaki kirinya, disaat tubuh Cie Kiat dekat dengannya, maka dia telah mengibaskan dengan bajunya lagi.

Terjadi sesuatu yang hebat dan mengerikan!

Tubuh Cie Kiat yang tengah melambung tinggi itu jadi meluncur terus lewat diatas kepala si Iblis, kemudian meluncur beberapa tombak tanpa dia bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya, ambruk ditanah dengan keras.

Dari mulutnya dia memuntahkan darah merah yang segar dan banyak sekali, wajah Cie Kiat pun pucat pasi luar biasa, rupanya dia menderita kesakitan yang sangat.

Mie Coe menjerit kuatir, begitu juga si kakek Lan Kong Sia. kedua ayah dan anak memburu Cie Kiat yang kala itu berdiri ngejublek tak bergerak ditempatnya, tak bergeming, hanya tampak matanya menatap si Iblis dengan penuh kegusaran dan darah merah masih mengucur dari mulutnya!



LAN KONG SIA dan puterinya nona Mie Coe, jadi terkejut bukan main. Mereka melihat dengan kepala dan mata sendiri, betapa luar biasanya si Iblis. Ilmu silat Cie Kiat tidak rendah.

Lebih-lebih Kong Sia telah merasakan sendiri betapa dirinya pernah dirubuhkan dengan mudah oleh Cie Kiat, maka dengan sendirinya dia jadi kaget bukan main anak muda she Lie tersebut bisa dirubuhkan begitu mudah oleh si Iblis.  !

Sedangkan Cie Kiat masih berdiri menjublek tanpa bergerak, dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya guna menghadapi Iblis perempuan yang menyerupai Iblis sesungguhnya!

Dan dengan nekad, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya lagi, Cie Kiat telah maju perlahan-lahan menghampiri Kwie-bo Mo-lie, dia bermaksud akan melancarkan serangan-serangan lagi dan mengadu jiwa.

Ketika jarak mereka telah dekat, Cie Kiat menahan langkah kakinya.

Suasana disekitar itu jadi sunyi sekali, semua mata ditujukan kepada Cie Kiat dan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin, si Ibu Hantu.

Tiba-tiba Kwie-bo Mo-lie telahtertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan sekali.

Dia tertawa sampai tubuhnya tergoncang.

“Kau masih mau memperlihatkan sikap jantanmu, heh?” bentak si Iblis dengan suara yang tawar. “Apakah kau tidak menyadari bahwa dirimu sedang menghadapi kematian?!”

Tetapi Cie Kiat tidak melayani ejekan dari si Iblis, dia telah melompat dengan cepat sekali, tubuhnya mencelat pesat dengan dibarengi oleh bergeraknya kedua tangannya, yang menyerang dengan kekuatan tenaga penuh.

Cie Kiat memang telahn nekad dan bermaksud akan mengadu jiwa.

Maka dari itu, dia menyerang si Iblis tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya.

Lebih-lebih seketika itu juga Cie Kiat teringat bahwa Iblis yang sedang dihadapi ini adalah musuh besarnya pembunuh dari keluarganya, dengan sendirinya selain darahnya meluap mendidih pun, dia mempunyai hawa nafsu membunuh! Melihat Cie Kiat menyerang dirinya begitu hebat, namun si Iblis tetap membawa sikap yang tenang.

Tangan kiri Cie Kiat yang menyambar kearah kepalanya, telah ditangkis dengan keras, terdengar suara ‘dukk’! yang nyaring sekali, kemudian disusul dengan tangan yang lainnya menyambar kearah dada Cie Kiat.

“Bukk!” dada Cie Kiat terhajar keras sekali.

Dari mulut anak muda she Lie itu terdengar suara ‘ngeekk’ yang keras, tampak tubuhnya telah terpental lagi ambruk ditanah dengan keras.

Cie Kiat tidak bisa lantas untuk bangkit, karena dia melingkar sesaat ditanah. Rupanya pukulan si Iblis itu benar-benar telah menyebabkan si anak muda she

Lie itu menderita kesakitan yang hebat luar biasa.

Dia kemudian merangkak bangun disaat si Iblis Kwie-bo Mo-lie tertawa gelak- gelak.

Mie Coe dan ayahnya, Kong Sia, jadi berdiri menjublek ditempatnya tanpa bisa bergerak sedikitpun, kaki mereka agak menggigil menyaksikan ilmu silat si Iblis yang menyerupai ilmu siluman itu.

Si Iblis telah melangkah perlahan-lahan menghampiri Cie Kiat. Sambil melangkah, dia masih tertawa gelak-gelak.

Diawasinya Cie Kiat yang sedang merangkak bangun dengan susah payah.

Cie Kiat merangkak bangun perlahan-lahan dengan dibantu oleh kedua tangannya.

Waktu dia dapat berdiri, tubuhnya jadi terhuyung-huyung tak keruan. Dan, disaat hampir dia dapat berdiri tegak, tahu-tahu ‘Uaaaaahhhhh!’ Dari mulut Cie Kiat muntah keluar darah merah yang segar.

Wajah Cie Kiat pucat pasi, dia menyusut darah yang banyak disudut bibirnya dengan menggunakan punggung tangannya.

Darah Cie Kiat menggolak, dia mengambil keputusan untuk binasa berdua dengan musuh besar ini. Hanya yang membuatnya tak mengerti, mengapa si Iblis bisa mempunyai tenaga yang begitu hebat, yang membuatnya seakan juga tidak berdaya sama sekali.

Diawasinya si Iblis dengan sorot mata yang tajam luar biasa.

Kemudian tahu-tahu dengan mengerakan seluruh kekuatannya, Cie Kiat telah melompat lagi, dan dia menyerang dengan ditangannya telah terdapat pedangnya!

Dengan pedangnya itu dia menyerang si Iblis dengan serangan yang hebat dan secara tiba-tiba sekali!

Kwie-bo Mo-lie jadi terkejut juga. Tetapi si Iblis benar-benar kosen. Dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri, hanya dia merangkapkan kedua tangannya.

Kemudian dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, dia mementangkan kedua tangannya, mengibaskannya kearah Cie Kiat!

Hebat kesudahannya.

Tubuh Cie Kiat jadi terpental lagi dengan cepat sejauh tujuh tombak lebih!

Mie Coe dan Kong Sia yang menyaksikan hal itu jadi mengeluarkan seruan tertahan..... wajah mereka pucat pasi dan mereka menduga Cie Kiat pasti akan terbinasa ditangan si Iblis!

*

* *

DENGAN tidak terduga, tahu-tahu Mie Coe dan Kong Sia telah mengeluarkan suara bentakan nekad, tahu-tahu mereka telah melompat menerjang kepada si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin.

Ayah dan anak ini telah nekad, mereka tidak bisa menyaksikan Cie Kiat terbinasa ditangan si Iblis.

Biar bagaimana mereka telah mengambil keputusan untuk mengeroyok Kwie-bo Mo-lie guna membantui Cie Kiat.

Tetapi, waktu mereka meluruk akan menyerang si Iblis, tahu-tahu Lo Hoe Tin, Kwie-bo Mo-lie, telah mengangkat tangannya yang dikibaskan kearah Kong Sia dan Mie Coe.

Tampak kejadian yang luar biasa sekali.

Dengan mengeluarkan suara jeritan, yang menyayatkan, maka tampak tubuh Mie Coe dan Kong Sia telah terpental dan ambruk dilantai dengan keras.

Waktu mereka, ayah dan anak, merangkak untuk bangun, mereka merasakan pandangan mata mereka berkunang-kunang, dan ‘Uaaahhhh!’, mereka memuntahkan darah yang segar.

Cie Kiat yang menyaksikan hal itu jadi murka benar, dia merasa kasihan kepada Mie Coe dan Kong Sia, ayah si gadis.

Walaupun pada saat itu keadaannya sangat menderita sekali, menderita kesakitan yang hebat pada dadanya, toh dengan cepat, dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya dan tenaga dalamnya, dengan mengeluarkan suara jeritan yang melengking tinggi, tubuhnya mencelat menubruk si Iblis perempuan yang bergelar Ibu Hantu itu.

Lo Hoe Tin ketika melihat Cie Kiat menyerang dirinya lagi, dengan cepat si Iblis telah menekuk kakinya, lalu dia mementangkan kedua tangannya lebar-lebar, yang dikibaskah kepada si anak muda she Lie itu. Dengan membarengi bentakan dari si Iblis, maka tubuh Cie Kiat jadi terpental lagi. terpental keras ambruk ditanah!

Hebat luar biasa luka yang diderita oleh Cie Kiat, karena setika itu juga dia memuntahkan darah merah yang segar, telah memuntahkan gumpalan darah merah yang hampir menghitam, dan wajah Cie Kiat jadi pucat pasi, bagaikan mayat hidup.

Anak muda yang tadinya ganteng dan tampan ini, yang mempunyai wajah yang cakap, sekarang wajahnya jadi menyeramkan sekali, karena dengan wajah yang pucat, mata yang memancar tajam sekali, dan darah yang memenuhi mulut dan wajahnya, sungguh menyeramkan sekali.

Dengan perlahan-lahan dan susah sekali, Cie Kiat berusaha untuk bangkit.

Pada saat itu, Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin telah menghampiri dengan langkah yang perlahan-lahan dibibirnya tersungging seulas senyuman yang menyeramkan. Seruling yang berada ditangannya telah digoyang-goyangkan dengan tenang sekali. Sedangkan anak buahnya, semuanya berdiri dengan mulut tertutup, dan memandang dengan membisu.

Mie Coe dan Kong Sia jadi menatap dengan penuh kekuatiran.

Mereka mau menolong Cie Kiat untuk mengeroyok si Iblis apa daya tenaga mereka tak sampai, mereka pun telah menderita luka yang cukup berat.

Maka dari itu, ayah dan anak ini hanya mengawasi saja. Si Iblis menghampiri Cie Kiat terus.

Sedangkan Cie Kiat sendiri mengetahui bahwa dirinya terancam bahaya kematian.

Dia melihat si Iblis sedang menghampiri dirinya.

Maka dari itu, dengan cepat Cie Kiat mengerahkan Lwee-kangnya.

Tetapi hati anak muda ini jadi mencelos, karena begitu dia mengerahkan Lwee- kangnya, seketika itu juga tenaga dalamnya seperti juga amblas kedalam dasar lautan!

Hal ini benar-benar mengejutkan hati Cie Kiat dan membuatnya kaget bukan main.

Dia mengerahkan tenaga dalamnya lagi.

Lwee-kangnya itu bergerak naik sedikit dari Tan-tiannya, tetapi kemudian merosot lagi, lenyap amblas seperti kedalam lautan lagi.

Dirasakan tubuhnya sangat lemas tak bertenaga dan juga dadanya sangat sakit. Tak ada sedikitpun tenaga yang tertinggal didalam tubuhnya.

Itulah yang telah mengejutkan hati Cie Kiat.

Sedangkan si Iblis Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu masih menghampiri perlahan- lahan, masih terus melangkah dengan dibibirnya tampak tersungging seulas senyuman yang mengerikan sekali! “Habislah! Habislah riwayatku!” pikir Cie Kiat putus asa, karena tenaganya masih saja tidak bisa dikerahkan dan dirinya menjadi lemah sekali, dan umpama kata pada saat itu ada seorang anak kecil berusia diantara tujuh tahun mendorong tubuhnya, tentu Cie Kiat akan tercungkel rubuh lagi. “Aku tak menyangka bahwa riwayat keluarga Lie akan tamat oleh tangan Iblis ini!”

Kecewa sekali hati Cie Kiat, karena di saat musuh besarnya itu dapat dicarinya, maka dia tidak berdaya sama sekali, malah dirinya yang terbinasakan oleh si Iblis juga!

Sedangkan Kwie-bo Mo-lie telah menghampiri terus, malah terdengar Iblis perempuan yang bengis ini telah menggumam dengan suara yang perlahan.

“Hu! Hu! Kali ini kau akan tamat ditanganku dan kau tak akan bisa bernapas lagi! Kasihan! Didalam usia semuda kau ini, seharusnya kau tidak mampus guna menghadap pada Giam-lo-ong, tetapi karena kau terlalu keras kepala dan tekebur, lebih baik kau mampus dari pada harus hidup lebih lama lagi!!”

Dan setelah berkata begitu si Iblis telah menggerakkan tangannya, mengangkat serulingnya.

Cie Kiat mengetahui bahwa si Iblis telah mengerahkan tenaga Lwee-kang pada serulingnya.

Kalau memang si Iblis menghantamkan serulingnya itu kepada kepala Cie Kiat, berarti batok kepala Cie Kiat akan terhajar remuk!

Untuk memberikan perlawanan, jelas Cie Kiat tidak bisa, karena tenaga Lwee- kangnya seperti juga telah lenyap tertelan oleh lautan, dan juga kepandaian silatnya seperti telah punah.

Malah pada saat berkata begitu, Cie Kiat telah memuntahkan darah segar lagi dengan wajah yang pucat pias.

Sedangkan si Iblis telah melangkah lagi. Selangkah lagi kedepan... selangkah lagi!

Setiap langkah si Iblis berarti sekali bagi Cie Kiat, karena semakin dekat si Iblis menghampiri dirinya, berarti semakin cepat juga dia akan tarbinasa ditangan Iblis tersebut.

Semua orang mengawasi kearah Cie Kiat dan si Iblis, begitu juga Mie Coe dan Kong Sia, hati ayah dan anak ini berdebar keras sekali.

Kematian Cie Kiat telah diambang pintu, dan anak muda she Lie ini akan segera binasa ditangan si Iblis yang bengis ini. !

Angin bertiup sangat keras sekali, keadaan sangat menyeramkankan benar.

Cie Kiat juga berdiri diam ditempatnya, matanya mengawasi bengis kepada si Iblis tanpa daya.

Si Iblis berulang kali telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya, dan disaat itu jarak mereka, si Iblis dan Cie Kiat dekat sekali, dengan mengeluarkan suara tertawaan yang nyaring, Kwie-bo Mo-lie kemudian telah menggerakkan tangannya menghajar kepala Cie Kiat !

Maut telah menjelang datang, tetapi Cie Kiat, seorang pemuda yang tadinya mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali, tidak berdaya dan hanya bisa berdiri diam memandang maut yang akan menjemput dirinya. !



TETAPI dikala seruling ditangan si Iblis perempuan itu dengan cepat dan bertenaga menyerang kepala Cie Kiat dan anak muda she Lie ini sedang tak berdaya untuk menerima kematiannya, maka tampak sesosok bayangan yang mencelat cepat sekali, disusul kemudian dengan suara ‘Takk’! yang keras benar, tampak si Iblis perempuan bergelar Ibu Hantu itu melompat mundur sambil mengeluarkan suara jeritan yang menandakan kekagetan hatinya, dan disitu telah bertambah seorang lelaki tua yang berjenggot panjang yang warnanya sudah berobah menjadi putih seluruhnya.

Cie Kiat juga telah melihat lelaki tua berjenggot putih itu, yang mempunyai wajah yang keren sekali, walaupun usianya telah lanjut.

Su-hu !” Cie Kiat memanggil lelaki tua itu.

Su-hu ialah guru.

Lelaki tua itu telah menoleh kepadanya.

“Cepat kau bersemedi menutup jalan darah ‘Na-ling-hiat’ dan menyalurkan tenaga murni kejalan darah Tay-yang-hiat, mengasolah, aku yang akan menghadapi Iblis ini!”, kata lelaki tua itu, yang ternyata adalah guru Cie Kiat!

Cie Kiat cepat-cepat duduk bersemedi, dia menuruti petunjuk gurunya.

Sedangkan lelaki tua itu telah memandang kepada Kwie-bo Mo-lie yang kala itu tengah berdiri tegak memandang lelaki tua itu dengan tatapan mata yang bengis sekali.

“Siapa kau?” bentak Kwie-bo Mo-lie dengan suara yang bengis. “Apakah kau tidak takut menghadapi kematian?”

Kakek tua yang sudah berjenggot serba putih itu tertawa tawar.

“Hmm.... kau seorang, Iblis yang benar-benar tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama didalam dunia ini!” kata kakek itu dengan suara yang dingin sekali. “Sebetulnya memang sudah beberapa tahun yang lalu akan kutamatkan riwayatmu, namun berhubung muridku ini mempunyai sangkutan pada dirimu, maka kubiarkan kau hidup lebih lama lagi agar muridku ini dapat menyelesaikan urusan dengan tangannya sendiri! Tetapi nyatanya semakin lama kau jadi semakin gila dan mengumbar kejahatanmu! Hari ini biarlah aku membuka, pantangan membunuh!”

Dan setelah berkata begitu, si kakek tua yang menjadi guru Cie Kiat telah menghampiri perlahan-lahan kepada si Iblis yang bergelar Ibu Hantu itu.

Yang lainnya mengawasi, begitu juga lblis perempuan Kwie-bo Mo-lie, telah memandang dengan mementang matanya lebar-lebar.

Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, wajahnya jadi berobah.

“Bukankah...... bukankah kau ini Tiang Pek Sian-jin Khu Ie Leng?” tanya si Iblis dengan tiba-tiba.

Tiang Pek Sian-jin berarti orang aneh dari gunung Tiang Pek San. Si kakek tertawa tawar.

“Tak salah! Tetapi gelar dan namaku itu telah kulapakan............!” kata si kakek tawar. Dia memang Tiang Pek Sian-jin Khu Ie Leng.

Wajah si Iblis jadi berobah lagi, dadanya tergoncang menandakan bahwa hatinya berdebar keras.

Tiang Pek Sian-jin Khu Ie Leng adalah seorang jago yang tiada taranya didalam kalangan Kang-ouw pada belasan tahun yang lalu.

Kepandaian Khu Ie Leng sudah sukar untuk diukur, dan juga didalam daratan Tionggoan ini hampir boleh dikatakan dia tak ada tandingannya, sampai akhirnya dia mengasingkan diri dalam kalangan Kang-ouw.

Sekarang Khu Ie Leng bisa muncul disini, hal mana membuat si Iblis perempuan yang bengis dan bergelar Ibu Hantu itu jadi terkejut. Dia jadi berwaspada, karena dia tidak mau sampai terbinasa ditangan jago tua yang kawakan ini!

Pada saat itu Khu Ie Leng telah melangkah menghampiri Ibu Hantu dengan perlahan-lahan. Antep sekali langkah kakinya itu.

Cepat-cepat Kwie- bo Mo-lie mengerahkan Lwee-kangnya kepada kedua lengannya, dan dia mementang matanya lebar-lebar penuh kewaspadaan.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang melengking tinggi, tahu-tahu si Iblis telah menyerang dengan menggunakan serulingnya.

Khu Ie Leng tidak bergerak berdiri diam ditempatnya.

Dia malah menantikan tibanya serangan itu memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

“Hmmmmmm...... keluarkanlah seluruh tenaga dan kepandaianmu!!” kata Khu Ie Leng dengan suara yang dingin.

Serangan Ibu Hantu sangat hebat karena dia menyerang dengan mengerahkan tenaga Lwee-kangnya.

Dengan cepat sekali, serangan itu telah menyambar kearah tengkuk Khu Ie Leng, dimana terletak jalan darah yang mematikan, yaitu jalan darah ‘Siang-tie-hiat’. Tetapi Khu Ie Leng menantikan seruling orang hampir menghantam kulitnya itu, baru dia mengibaskan tangan kirinya, lalu setelah seruling Ibu Hantu dapat dihalaunya, dengan cepat sekali dia telah mendorong dengan tangan yang lainnya.

Terdengar suara jeritan!

Tampak tubuh Kwie-bo Mo-lie terpental. Tubuhnya ambruk dilantai.

Dia bergerak untuk bangkit, dan tahu-tahu dari mulutnya telah memuntahkan darah segar.

Dengan mata yang memancar bengis, Kwie-bo Mo-lie memandang kepada Khu Ie Leng.

Dia sangat penasaran dan juga murka.

Dengan cepat sekali dia telah melompat bangun lagi, dia menggerakkan tangannya, dan menyerang kearah dada dari Khu Ie Leng.

Tetapi kali ini pun tampak Khu Ie Leng tidak menggerakkan tubuhnya.

Dia tidak cepat-cepat mengelakkan serangan itu, melainkan menggerakan tangannya menyilang, dia seperti akan menggunting seruling dari si ibu Hantu.

Kwie-bo Mo-lie terkejut sekali melihat cara menangkis dari Khu Ie Leng.

Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat menarik pulang serangannya.

Karena kalau memang dia masih meneruskan juga serangannya, maka berarti selain serulingnya itu akan hancur kena ‘tergunting’ oleh kedua tangan Khu Ie Leng, lagi pula posisi dirinya akan berbahaya sekali, Khu Ie Leng bisa saja membarengi menyerang dengan kakinya, yang akan membuatnya jadi celaka!

Maka dari itu, dengan cepat Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin telah menjejakkan kakinya, dia telah melompat jauh sekali, menjauhkan diri Khu Ie Leng.

Khu Ie Leng tertawa dingin, tahu-tahu tubuhnya mencelat cepat bagaikan bayangan, dan Kwie-bo Mo-lie merasakan sambaran angin yang keras sekali, yang menyambar kuat kearah dadanya!

Hal ini memang benar-benar membuat si Iblis jadi terkejut sekali.

Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan berulang kali dengan wajah yang berobah pucat.

Dia tidak menduga, bahwa biarpun Khu Ie Leng telah lanjut usianya, toh kepandaiannya masih begitu hebat!

Hal ini memang mengejutkan sekali bagi diri Kwie-bo Mo-lie, yang membuatnya jadi terperanjat sekali menghadapi kenyataan itu.

Berulang kali dia menjejakkan kakinya dan tubuhnya telah mencelat dengan cepat sekali menjauhkan diri Khu Ie Leng. Tetapi rupanya Khu Ie Leng memang telah mengambil suatu keputusan bahwa dia tidak akan mau melepaskan diri si Iblis, tidak mau memberikan keringanan dan dia telah melancarkan serangannya terus.

Dengan kewalahan Kwie-bo Mo-lie telah berulang kali mengelakkan serangan Khu Ie Leng.

Satu kali, dengan gerakan yang sangat cepat sekali Khu Ie Leng telah melancarkan serangannya lagi kepada si Iblis.

Kwie-bo Mo-lie melihat orang menyerang kearah lambungnya dengan satu tojoran.

Maka dari itu, si Iblis telah mengerahkan tenaga Lwee-kang dikedua tangannya.

Dengan mengeluarkan seruan yang nyaring dan panjang dia telah menggerakkan tangannya menangkis serangan Khu Ie Leng.

Tangan mereka jadi saling bentur dengan keras sekali. Duuuukkkk!

Dan disertai oleh suara jeritan dari si Iblis perempuan yang bengis dan kejam

ini.

Tampak tubuh Kwie-bo Mo-lie terpental lagi dan terbanting ditanah dengan

keras!

Kontan seketika itu juga, dia memuntahkan darah segar pula!

Wajah si Iblis pucat benar, sehingga wajahnya yang bengis itu memperlihatkan sifatnya yang kejam dan menyeramkan.

Rupanya Kwie-bo Mo-lie telah terluka didalam, dada dan tenaga Lwee-kangnya telah kena digempur oleh Khu Ie Leng.

Itulah yang menyebabkan napasnya jadi sesak dan rambutnya riap-riapan. Menyeramkan benar wajah si Iblis.

Dia berdiri dengan merangkak, kemudian mengawasi Khu Ie Leng dengan wajah yang sangat menyeramkan benar.

Napasnya mendesah memburu.... matanya mendelik besar memancarkan cahaya yang mengerikan.... darah dan keringat bercampur menjadi satu !

*

* *

KHU IE LENG telah tertawa tawar, dia menatap si Iblis juga.

“Hmm..... biar bagaimana hari ini kau harus menerima kematianmu!” kata Khu Ie Leng dengan suara yang dingin.

Melihat Khu Ie Leng menghampiri dirinya, si Iblis sebetulnya telah jeri dan nyalinya telah pecah. Namun berhubung dia mengetahui bahwa Khu Ie Leng sangat kosen, percurna saja dia mempunyai niat untuk melarikan diri, karena biar bagaimana dia tidak akan dapat meloloskan diri dari tangan Khu Ie Leng.

Maka dari itu, dia bermaksud untuk mengadakan perlawanan yang terakhir, melawan sekuat tenaganya, untuk menghadapi kakek tua yang liehay ini.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang perlahan, Khu Ie Leng telah melompat dan menyerang si Iblis lagi.

Si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin merasakan samberan angin serangan yang keras luar biasa, yang menyerang kearah dirinya.

Hal itu menyebabkan mau tak mau si Iblis perempuan yang bergelar Ibu Hantu, harus cepat-cepat menggerakkan tangannya guna menangkis serangan yang dilancarkan oleh Khu Ie Leng.

Terdengar kembali suara benturan dari tangan Khu Ie Leng dengan tangan si Iblis.

Keras dan luar biasa sekali benturan yang terjadi diantara kedua orang ini. Hal itu membuat tubuh Kwie-bo Mo-lie terpental lagi.

Dengan mengeluarkan seruan tertahan, Kwie-bo Mo-lie ambruk ditanah dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan, karena dirasakan tulang ditubuhnya seperti juga mau berpatahan.

Khu Ie Leng tidak mau memberi hati kepada si Iblis.

Waktu dia melihat si Iblis telah terbanting keras ditanah lagi, maka dengan cepat kakek tua ini telah melompat menerjang si Iblis.

Dia telah menyerang lagi dengan serangan-serangan yang hebat.

Hal itu membuat si Iblis jadi mencelos hatinya, dia kaget bukan main waktu melihat si kakek tua berjenggot putih ini merangsek dirinya demikian macam.

Kalau memang si Iblis mengelakkan serangan itu dengan jalan menggelindingkan tubuhnya ditanah, toh dia tetap tidak akan dapat meloloskan diri dari sepakan dan dupakan kaki kakek tua yang mengincer jalan darah kematiannya. Maka dari itu, jiwa si Iblis jadi terancam sekali!

Didalam keadaan kedesak begitu macam, maka si Iblis jadi nekad.

Dengan mengeluarkan suatu seruan yang keras, tahu-tahu tubuh si Iblis telah membubung tinggi, dia telah melompat tinggi sekali, sambil membarengi dengan lompatannya itu, dia juga telah mengulurkan tangannya menyerang mengincer kedua biji mata si kakek. Kalau memang kakek tua tersebut, Khu Ie Leng, meneruskan penyerangannya, berarti si kakek pun akan menjadi korban dari totokan jari-jari tangan si Iblis, berarti kakek itu akan menjadi buta!

Khu Ie Leng tidak mau hal itu sampai terjadi, maka dengan cepat Khu Ie Leng telah menarik pulang serangannya. Dengan menarik pulang serangannya itu, maka si Iblis jadi lolos dari tangannya, dan lolos pula dari kematiannya.

Mereka jadi saling melompat untuk menjauhkan diri.

Keduanya saling memandang dengan mata yang memancar bengis.

Biar bagaimana Khu Ie Leng memang mendongkol sekali dan tidak akan memberikan pengampunan kepada diri si Iblis perempuan yang bengis.

Begitu mereka saling memandang dan menatap dengan mata yang bengis, maka mereka telah maju perlahan-lahan saling menghampiri.

Si Iblis telah menjadi nekad.

Kwie-bo Mo-lie mengetahui dan menyadari bahwa dirinya bukan menjadi tandingan dari diri kakek Khu Ie Leng.

Tetapi, berhubung disebabkan rasa malu dan juga memang dia mengetahui kalau memang dia bermaksud akan melarikan diri hal itu hanyalah kemustahilan, maka dengan cepat dia telah mengambil suatu keputusan untuk melawan si kakek Khu Ie Leng sampai titik darahnya yang penghabisan.

Dengan menggunakan matanya, dia memberi tanda kepada anak buahnya.

Dan tampak beberapa orang lelaki yang menjadi anak buahnya itu telah maju mengepung Khu Ie Leng.

Dan, mereka mengurung kakek she Khu ini, dengan mata yang memancarkan cahaya yang bengis sekali, mereka maju perlahan-lahan, dengan sikap yang mengancam dan juga senjata tajam ditangan masing-masing.

Si Iblis perempuan yang bengis itu telah mengeluarkan suara tertawa dingin, dia murka dan gusar sekali atas ikut campurnya kakek ini terhadap persoalan yang sedang dihadapinya.

“Hmmmm........ biarpun kau bermaksud untuk mengeroyok toh aku tidak akan menjadi takut!” kata kakek she Khu tersebut dengan suara yang hambar, dia juga bergusar.

Si Iblis tertawa dingin lagi.

“Jangan terkebur!” kata Kwie-bo Mo-lie dengan tawar. “Apakah kau kira dapat menghadapi aku Kwie-bo Mo-lie dan orang-orangku dengan mudah! Hu! Hu! Hu! Boleh kau lihat saja apa yang kau alami!”

Khu Ie Leng tambah mendongkol.

Tahu-tahu dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dengan cepat luar biasa, tubuhnya telah melompat tinggi, kedua tangannya telah bergerak dengan cepat sekali, telah digerakkan menyerang diri salah seorang diantara beberapa orang pengepungnya.

Dengan cepat tangannya telah menyambar baju orang itu, dan sekali menggentaknya, Khu Ie Leng telah berhasil menjambret baju orang tersebut, telah menjambak dan melemparkannya. Tubuh orang tersebut jadi meluncur dengan cepat sekali. Kemudian ambruk ditanah dengan disusul oleh suara jeritannya.

Seketika itu juga tubuh orang tersebut jadi mengejang tak bisa bergerak, karena jiwanya telah melayang menghadap ke Giam-lo-ong!

Yang lainnya waktu menyaksikan hal tersebut jadi kaget sekali.

Lebih-lebih si Iblis, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, dan si Iblis jadi murka bukan main.

Dengan cepat sekali, Khu Ie Leng telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat lagi, merangsek kepada beberapa orang yang berada dekat dengan dirinya.

Khu Ie Leng melancarkan serangan-serangan yang mematikan kepada orang- orang itu.

Orang-orangnya si Iblis perempuan yang bengis Kwie-bo Mo-lie jadi terkejut sekali melihat datangnya serangan dari Khu Ie Leng.

Mereka cepat-cepat berusaha untuk mengelakan serangan yang dilancarkan olek Khu Ie Leng.

Beberapa orang dapat menghindarkan diri, tetapi dua orang diantara mereka kena dada mereka yang terserang, dada mereka yang terhajar telak, seketika itu juga tulang iga mereka hancur remuk melesak!

Itulah hebat!

Tanpa bisa mengeluarkan suara jeritan lagi, maka tampak tubuh kedua orang ini ambruk ditanah, dan jiwanya sudah meningalkan raganya!!

Si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie jadi tambah gusar.

Dia sampai berjingkrak, dan dengan cepat tubuhnya tampak telah bergerak dengan kecepatan yang luar biasa menyerang diri Khu Ie Leng,

Hal ini dilakukan oleh Kwie-bo Mo-lie hanyalah untuk mencegah si kakek nanti dapat menyerang dan membunuh diri anak buahnya lagi.

Maka dari itu, dia telah melancarkan serangan kepada diri kakek Khu Ie Leng. Sedangkan Khu Ie Leng telah memperdengarkan suara tertawa tawar.

Dia melihat tangan kanan si Iblis perempuan yang bengis ini telah menyerang kepalanya dan tangan kirinya telah menghajar kearah lambung.

Memang hebat serangan yang dilancarkan oleh si Iblis. Hal itu disadari oleh si kakek Khu Ie Leng.

Kalau memang sampai dirinya kena diserang oleh tangan si Iblis yang membawa angin maut yang bisa mencelakakan dirinya, mungkin jiwanya juga bisa melayang menghadap keakherat. Dengan cepal sekali, Khu Ie Leng menggerakan tangan kirinya menyerupai setengah lingkaran, kemudian disusul dengan tangan kanannya dengan gerakan yang menyerupai segi tiga, dia telah menggunting serangan si Iblis perempuan tersebut.

Maka dari itu, tampak tangan mereka saling bentrok.

Tetapi berhubung keduanya telah mengerahkan tenaga Lwee-kang mereka masing-masing, maka dengan sendirinya, hebat sekali tenaga benturan mereka.

Namun anehnya, biarpun keras luar biasa tenaga benturan dari tangan mereka masing-masing juga tidak saling terlepas.

Hanya tampak tubuh si Iblis perempuan yang bengis itu bergoyang-goyang dengan wajahnya yang pucat, dan kedua tangannya masih juga menempel keras dengan kedua tangan Khu Ie Leng.

Tubuh Khu Ie Leng sendiri tergetar, kedua matanya memancarkan cahaya yang luar biasa tajamnya, dan hal itu memperlihatkan bahwa si kakek tua she Khu ini tengah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, dan memang sudah mengambil keputusan untuk membunuh dan melenyapkan si Iblis perempuan ini dari permukaan bumi!

Sedangkan si Iblis mengerahkan tenaga dalamnya untuk mempertahankan selembar jiwanya.

Kalau memang dia sampai terdesak dan goyah sedikit saja, berarti tenaga dalamnya akan kena tergempur. Dan dengan begitu, berarti pula bahwa dirinya telah kena digempur rusak, akan menderita kekalahan yang benar-benar mengenaskan, karena kalau tidak binasa tentu sedikitnya akan menjadi seorang bercacad.

Hal itu disebabkan mereka sedang bertempur dengan masing-masing mengerahkan tenaga Lwee-kang mereka tingkat tinggi, sedikit saja kesalahan yang mereka buat, akan menyebabkan akibatnya yang tidak kecil.

Si Iblis telah berulang kali menyedot hawa udara dan memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengerahkan tenaga Lwee-kangnya guna melawan serangan- serangan yang dilancarkan oleh Khu Ie Leng.

Setiap serangan yang dilancarkan oleh Khu Ie Leng, serangan melalui tenaga Lwee-kangnya, dibendung oleh si Iblis dengan menggunakan seluruh tenaganya.

Malah sekali-sekali si Iblis masih sempat untuk mencoba guna membalas menyerang si kakek she Khu ini.

Khu Ie Leng sangat penasaran sekali dia tidak bisa cepat-cepat merubuhkan diri Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin.

Memang dia pernah mendengar bahwa kepandaian Iblis perempuan yang bengis tersebut sangat tinggi dan sukar untuk diukur.

Namun sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, dan sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan maka dengan sendirinya, Khu Ie Leng tidak mengenal arti dari perkataan takut atau jeri. Dia malah ingin secepatnya menyelesaikan pertempuran itu dengan membinasakan si Iblis, melenyapkan Kwie-bo Mo-lie dari permukaan bumi ini !

Tetapi setelah dia melancarkan beberapa kali gelombang tenaga dalamnya yang menghantam kepada diri si Iblis perempuan tersebut, tetap saja dia tidak bisa merubuhkannya, malah tampaknya si Iblis semakin kuat, sedangkan dirinya merasakan dadanya agak menyesak dan napasnya memburu keras.

Dan, butir-butir keringat telah banyak memenuhi kening dan wajahnya. Hal ini membuat hati si kakek she Khu tersebut tergoncang juga.

Maka dari itu, dengan cepat Khu Ie Leng telah mengempos semangatnya, dia memusatkan seluruh tenaga dalamnya pada Tan-tiannya.

Dengan mengeluarkan satu bentakan yang mengguntur, tahu-tahu tangannya telah bergerak.

Tampak terjadi sesuatu yang sangat biasa sekali!

Tubuh si Iblis perempuan dan tubuh Khu Ie Leng jadi terpental masing-masing terlempar cukup jauh dan jatuh terbanting ditanah!



ORANG-ORANG yang lainnya jadi terkejut melihat terjadinya hal itu. Lebih-lebih Mie Coe dan si kakek Kong Sia.

Biarpun mereka telah terluka, toh mereka masih bisa mengikuti jalannya pertandingan.

Maka mereka melihat si kakek tua, yang menjadi penolong mereka itu, terlempar dan terbanting ditanah, mereka jadi terkehut bukan main, hati mereka mencelos.

Tetapi karena mereka terluka cukup berat, maka mereka tidak bisa memburu untuk memberikan pertolongannya.

Dengan cepat sekali, si kakek Khu Ie Leng telah melompat berdiri lagi.

Dan sambil melompat berdiri begitu, tubuh si kakek masih bergoyang-goyang, terhuyung-huyungseperti akan jatuh kembali.

Si Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie tidak secepat dan sekuat Khu Ie Leng. Maka dari itu, si Iblis tidak bisa cepat-cepat ubtuk melompat bangun. Karena perempuan yang menjadi seorang Iblis yang bengis dan kejam sekali itu, telah meringkuk ditanah tak bergerak sesaat.

Beberapa orangnya, yang menjadi anak buahnya, lelaki yang mempunyai muka rata-rata bengis dan kejam, telah berlari menghampiri dirinya.

Belum lagi mereka memeriksa keadaan si Iblis, tampak Iblis perempuan ini telah menggerakkan tubuhnya, kemudian merangkak bangun.

Wajah si Iblis sangat pucat sekali, matanya terpentang lebar memandang kearah Khu Ie Leng dengan bengis sekali.

Setelah bersusah payah, akhirnya ia dapat berdiri juga.

Dan berbareng dengan dapatnya dia berdiri, dari mulutnya memuntahkan darah merah yang segar.

Tubuh si Iblis perempuan ini jadi menggigil gemetar lagi. Terhuyung-huyung bergoyang seperti akan rubuh kembali.

Tetapi memang dasarnya si Iblis ini adalah seorang jago yang mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dia telah memgerahkan tenaga Lwee-kangnya dan dirinya tidak sampai rubuh terjungkel ketanah kembali!

Tetapi wajah si Iblis jadi semakin pucat pasi, dia hanya memandangi Khu Ie Leng dengan tatapan mata dendam.

Khu Ie Leng memang sudah mengambil keputusan tidak akan melepaskan diri si Iblis dari kematiannya.

Maka dari itu, dia telah melangkah menghampiri diri si Iblis pula.

Khu Ie Leng bermaksud tidak akan membuang-buang waktu, dia tidak mau melewati kesempatan yang ada padanya.

Disaat si Iblis sedang terluka begitu, dia bermaksud untuk menyerang lagi, guna membinasakannya!

Selangkah demi selangkah dia telah menghampirinya.

Wajah kakek tua berjenggot yang sudah berobah putih itu juga sangat mengerikan, karena diwajahnya itu tampak berbayang suatu hawa pembunuhan.

Tetapi, didalam keadaan yang begitu menegangkan, tiba-tiba terdengar suara ‘Uaaaahhhh!’ yang nyaring,

Si kakek terkejut, dia mengenali suara itu.

Dia menoleh kearah Cie Kiat, dan benar saja muridnya itulah yang, telah memuntahkan gumpalan darah!

Hal tersebut jadi mengejutkan diri si kakek, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan, dan telah cepat-cepat melompat menghampiri muridnya.

Diperiksa keadaan Cie Kiat, yang kala itu sudah terjungkal ditanah tak sadarkan

diri. Kemudian si kakek repot mengurut-uruti tubuh si anak muda she Lie ini.

Darah segar yang dimuntahkan oleh Cie Kiat itu sebetulnya baik sekali akibatnya untuk kesehatan Cie Kiat.

Sebab dengan memuntahkan darah yang telah mengendap pada dadanya yang terluka tersebut, berarti jiwa si anak muda jadi tertolong dari kematian.

Sedangkan si Iblis telah memperdengarkan suara tertawa tawarnya.

Kemudian dia menggerakkan kepalanya, dia menggerakkan sangat perlahan sekali, memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk berlalu.

Setelah memandang Mie Coe dan Kong Sia sesaat pula, si Iblis telah melangkah untuk pergi.

Sedangkan Khu Ie Leng biarpun mengetahui bahwa lawannya mau berlalu menghindarkan diri, toh dia tidak bisa mengejarnya karena kalau memang dia meninggalkannya Cie Kiat berada dalam keadaan seperti itu, berarti si anak muda she Lie tersebut akan mengalami kecelakaan lainnya.

Sebab itulah kakek she Khu tersebut jadi mengurut-urut saja dada si anak muda yang menjadi muridnya sambil mengawasi kepergian si Iblis dengan hati yang mendongkol.

*

* *

LIE CIE KIAT telah tersadar dari pingsannya, dia mengetahui bahwa si Iblis akan pergi begitu saja.

“Tahan........ tahan dia, Su-hu!” kata Cie Kiat dengan suara yang tergugu. “Jangan biarkan dia melarikan diri, karena kita akan sulit untuk dapat mencari dirinya lagi! aku.... aku mau membunuh dengan menggunakan tanganku sendiri. tahan dia

Su-hu     dalam waktu yang dekat semangatku tentu akan pulih kembali!”

Khu Ie Leng ragu-ragu mendengar perkataan muridnya ini, tetapi waktu dia melihat kesungguhannya yang dipancarkan pada wajah anak muda she Lie yang menjadi muridnya ini, melihat pancaran mata Cie Kiat yang seperti sedang mengharapkan pertolongannya, maka tanpa pikir panjang lagi, dengan gesit dan cepat Khu Ie Leng telah melompat dan menghadang didepan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin.

Si Iblis dan orang-orangnya terkejut.

Tadinya mereka duga bahwa mereka pasti akan dapat meloloskan diri dari tangan si jago tua she Khu itu.

Khu Ie Leng telah memandang si Iblis dengan tatapan mata yang tajam.

“Jangan harap hari ini kau bisa menghindarkan diri dari kematiamnu!” kata Khu Ie Leng dengan suara yang tawar.

Si Iblis juga memperlihatkan wajah yang tidak enak. Wajah Lo Hoe Tin sebentar berobah merah padam, sebentar lagi berobah pucat, berganti-ganti terus, menandakan bermacam-macam, perasaan bercampur aduk didirinya.

Antara perasaan gusar, murka, penasaran, malu dan mendongkol bergolak didalam jiwa Iblis perempuan yang bengis ini.

“Jadi apa maumu?” bentak si Iblis dengan suara yang bengis. “Apakah kau kira nyonyamu ini jeri pada dirimu, heh?”

Mendengar pertanyaan si Iblis, Khu Ie Leng telah tertawa mengejek.

“Janganlah kau menganggap bahwa dirimu ini mempunyai kepandaian yang berarti sehingga kau bisa malang melintang didalam kalangan Kang-ouw semau hatimu! Janganlah kau duga bahwa aku akan membiarkan seorang Iblis semacam kau untuk hidup terus didalam dunia, karena semuanya akan membawa malapetaka dan kecelakaan bagi masyarakat! Hmmm........ sudah kukatakan tadi, kalau memang hari ini aku tidak bisa membunuhmu, biarlah aku yang terbinasa! Bersiap-siaplah untuk menerima kematian!”

Mendelik besar mata si Iblis saking murkanya mendengar perkataan Khu Ie Leng.

“Kau terlalu bermulut besar, tua bangka yang sudah mau mampus!” kata si Iblis dengan suara yang tawar. “Hmmm..... tadi sengaja aku telah mengalah, tetapi kau kakek tua yang sudah mau mampus benar-benar tidak tahu diri dan mencari kematian untuk dirimu!” dan setelah berkata begitu, si Iblis menatap Khu Ie Leng dengan wajah yang bengis sekali, sedangkan sikapnya telah memperlihatkan bahwa dia mau menyerang.

Khu Ie Leng juga telah bersiap sedia untuk menghadapinya.

Apa lagi dia melihat orang-orangnya yang masih hidup telah bersiap-siap untuk mengeroyok diri Khu Ie Leng.

Dengan cepat sekali, Khu Ie Leng telah menggerakkan tangannya.

Didalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada diri si Iblis, yang membuat si Iblis harus mengelakkan diri dengan jalan melompat mundur.

Hal ini membuat Khu Ie Leng jadi memperoleh angin, dengan beruntun dia telah melancarkan serangan yang terus menerus.

Orang-orangnya si Iblis waktu melihat Kwie-bo Mo-lie terdesak hebat oleh Khu Ie Leng, dengan cepat mereka telah melompat.

Mereka melancarkan serangan-serangan untuk mengeroyok diri Khu Ie Leng. Tetepi Khu Ie Leng kosen sekali, dia liehay luar biasa.

Dengan cepat dia telah dapat menguasai keadaan, serangan-serangan dari anak buah si Iblis yang bergelar Ibu Hantu itu dapat diatasinya.

Sekali gebrak saja, Khu Ie Leng telah dapat merubuhkan tiga orang anak buahnya si Iblis. Malah disaat itu si Iblis sedang menyerang dirinya, dan Khu Ie Leng masih sempat untuk menangkisnya.

Hal ini menandakan bahwa Khu Ie Leng benar-benar mempunyai kepandaian yang tinggi.

Ibu Hantu telah berjingkrak saking gusar dan mendongkolnya.

Dia juga mengeluarkan bentakan-bentakan yang mengguntur dan selalu saja melancarkan serangan-serangan yang mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat.

Khu Ie Leng menghadapi semua itu dengan penuh ketenangan.

Dan setiap serangan dari Ibu Hantu, atau Kwie-bo Mo-lie tersebut, selalu saja dihadapinya dengan tenaga lembek.

Dengan kelunakan Khu Ie Leng menghadapi kekerasan.

Dan memang kenyataannya, biarpun si Iblis Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu, telah menyerang dengan menggunakan kekerasan, toh tetap saja dirinya dapat dikuasai dan ditindih oleh tenaga serangan dari Khu Ie Leng!

Kwie-bo Mo-lie semakin lama jadi semakin kalap, dia telah melancarkan serangan-serangan yang gencar dan mengandung tenaga serangan yang kuat luar biasa.

Biarpun Khu Ie Leng telah melancarkan serangan dan menangkis semua serangan-serangan dari Ibu Hantu, toh tetap saja Khu Ie Leng tidak bisa cepat-cepat merubuhkan diri si Ibu Hantu.

Sedangkan anak buah Kwie-bo Mo-lie telah menyerang lagi dengan hebat. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh Kwie-bo Mo-lie sangat hebat.

Dengan digabung oleh adanya serangan-serangan anak buah dari Kwie-bo Mo- lie, maka Khu Ie Leng benar-benar terkepung oleh serangan yang membahayakan jiwanya.

Kalau saja dia berlaku lengah maka setidak-tidaknya dia akan mengalami sesuatu kecelakaan yang akan membuat dia terbinasa atau juga cidera.

Itulah yang tidak diinginkan oleh Khu Ie Leng. Dia telah mengempos semangatnya.

Dan didalam pertempuran itu, dengan cepat sekali Khu Ie Leng terkepung oleh anak buah Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu.

Pada saat itu Lie Cie Kiat telah mengatur kembali jalannya pernapasannya. Dia mengerahkan Lwee-kangnya untuk memulihkan semangatnya.

Dengan cepat semangat si anak muda telah kembali pulih.

Namun Cie Kiat tidak bisa cepat-cepat mengatur kembali jalannya pernapasan. Sehingga untuk sesaat itu, biarpun Cie Kiat mengetahui gurunya itu, Khu Ie Leng, telah terkepung dan terdesak oleh orang-orangnya Kwie-bo Mo-lie, toh tetap saja dia tidak bisa membantu gurunya tersebut.

Mau tak mau dia harus menenangkan pikirannya dan mengatur peredaran jalan napasnya tanpa mengambil perduli keadaan sekelilingnya.

Kong Sia dan Mie Coe yang sedang terluka juga hanya bisa memandang bengong dipinggiran saja, karena mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menggempur orang-orangnya si Iblis dan kalau memang mereka turun tangan untuk menolongi Khu Ie Leng, maka bukannya mereka dapat menolongi, malah mereka akan membikin repot Khu Ie Leng sendiri.

Didalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Kwie-bo Mo-lie telah mengeluarkan suara bentakan yang keras luar biasa, telah melompat membumbung tinggi, dan kedua tangannya telah digerakkan, dia telah melancarkan serangan yang berbahaya dan mematikan.

Begitu juga anak buah Kwie-bo Mo-lie, telah melancarkan serangan- serangannya, sehingga Khu Ie Leng benar-benar terkepung dan terancam !



NAMUN sebagai seorang jago yang kosen dan mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, anak buah Kwie-bo Mo-lie bagi diri Khu Ie Leng tidak ada artinya, biarpun mereka mengepung dengan cara begitu!

Hanya saja yang menjadi pusat perhatian bagi diri Khu Ie Leng adalah Kwie-bo Mo-lie sendiri, sehingga dia bertempur dengan sebentar-sebentar dia menyerang diri Kwie-bo Mo-lie.

Setiap kali Khu Ie Leng mengangkat tangannya, maka tampak dua atau tiga orang anak buah Kwie-bi Mo-lie terluka.

Itulah menandakan kehebatan diri Khu Ie Leng, biarpun dia telah kena dikepung oleh Kwie-bo Mo-lie dan orang-orangnya, toh tetap saja dia masih bisa memberikan perlawanan yang gigih.

Satu kali dengan mengeluarkan suara jeritan murka, Khu Ie Leng telah mengeluarkan suara teriakan yang tinggi sekali.

Tangan kirinya bergerak mengincar batok kepala Kwie-bo Mo-lie, sedangkan tangan kanannya telah bergerak akan menotok bahu Kwie-bo Mo-lie.

Tenaga serangannya kuat sekali, hal itu dapat dirasakan oleh si Iblis sendiri. Kali ini si Iblis tidak mengelakkan diri dari serangan Khu Ie Leng. Dia malah telah mempersiapkan kuda-kudanya, dia telah menangkisnya!

Terjadi suatu benturan yang keras antara tenaga raksasa Khu Ie Leng dengan tenaga yang luar biasa dari Kwie-bo Mo-lie.

Terdengar suara ‘Dukkk!’ yang keras sekali dan terdengar suara jeritan tertahan.

Suara jeritan tertahan itu ternyata berasal dari Khu Ie Leng, yang tubuhnya terpental dan ambruk terbanting!

Inilah luar biasa sekali!

Kong Sia, Mie Coe dan yang lainnya jadi terkejut.

Lebih-lebih Cie Kiat, ketika dia mendengar suara jeritan gurunya, dia telah membuka kelopak matanya.

Dan waktu melihat gurunya terbanting keras ditanah, dia jadi kaget, sampai melompat berdiri.

Begitu dia dapat berdiri, dia jadi, terhuyung-huyung. Untung saja tenaga dalamnya telah pulih sebagian besar, sehingga tidak sampai terbanting lagi!

Tetapi biarpun begau, seharusnya Cie Kiat tidak boleh melompat bangun lagi karena tenaga dalamnya belum pulih seluruhnya.

Disebabkan perasaan kagetnya, maka dia jadi melupakan lukanya dan dia melompat berdiri.

Akhirnya, dikala Cie Kiat berdiri diam sesaat, dilihatnya Khu Ie Leng, gurunya itu, telah merangkak bangun, gurunya itu tidak mengalami sesuatu hal yang perlu dikuatirkan.

Betapa gusar dan murkanya Khu Ie Leng dia kena dirubuhkan oleh si Iblis dengan cara yang begitu licik sekali.

Sebetulnya Khu Ie Leng tidak sampai kena dirubuhkan oleh si Iblis, namun disebabkan tadi dia lengah sedikit sedang mengelakkan serangan dari salah seorang muridnya si Iblis, maka telah digunakan oleh Kwie-bo Mo-lie dengan cepat kesempatan itu, dia telah menghajar Khu Ie Leng dengan serangan yang berangkai, yang tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun kepada Khu Ie Leng.

Itulah sebabnya mengapa Khu Ie Leng terhajar dan rubuh!

Si Iblis Kwie-bo Mo-lie kala itu telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang bengis.

“Cepatlah kau menggelinding sebelum nyonya besarmu ini membunuhmu tanpa pandang bulu!!” kata Kwie-bo Mo-lie mengejek.

Khu Ie Leng jadi tambah gusar.

Dengan cepat sekali, dia telah melompat menerjang si Iblis.

Serangan yang dilancarkan oleh Khu Ie Leng kali ini sangat kuat sekali.

Cepat dan bertenaga serangan yang dilancarkan oleh jago tua she Khu tersebut. Salah seorang anak buah dari si Iblis mencoba untuk menghadang Khu Ie Leng.

Dia tidak menyadarinya bahwa tenaga dan serangan yang sedang dilancarkan oleh Khu Ie Leng kali ini sangat luar biasa sekali.

Begitu dia menghadang, begitu Khu Ie Leng menggerakkan tangannya,,maka terdengarlah suara jeritan yang menyayatkan hati. !

Tampak tubuh anak buah Kwie-bo Mo-lie terpental. Ambruk ditanah dengan kepala yang pecah berantakan.

Tubuhnya tidak bergerak karena telah meninggal jiwanya, dicabut oleh Giam-lo- ong tanpa daya sama sekali.

Sedangkan Khu Ie Leng telah menerjang terus dengan serangannya. Dua orang anak buah Kwie-bo Mo-lie berusaha menghadang lagi.

Tetapi kedua penghadang inipun mengalami nasib yang sama dengan kawannya yang pertama yang binasa dengan kepala pecah.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati, keduanya telah terpental.

Kemudian ambruk dengan tak berjiwa lagi.

Kepala mereka juga renmk, hancur berantakan keluar polohnya! Kwie-bo Mo-lie terkejut juga, hatinya tergoncang melihat itu.

Tetapi Iblis itu tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena Khu Ie Leng telah menyerang terus dengan serangan yang mengandung tenaga Lwee-kang, tenaga dalam, yang luar biasa sekali!

Mau tak mau Kwie-bo Mo-lie harus mengerahkan tenaga dalamnya.

Dia menangkis dan berusaha mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkan oteh Khu Ie Leng terhadap dirinya. !

Keras jadi dilawan keras.

Dan suatu benturan yang luar biasa telah terjadi.

“Dukkk!” terdengar suara benturan tangan dari Kwie-bo Mo-lie dengan tangan Khu Ie Leng, tampak kedua orang ini telah terpental.

Mereka dapat berdiri lagi dengan cepat.

Dan saling memandang dengan mata yang bengis, mereka maju selangkah demi selangkah dengan sikap yang mengancam !

*

* *

DENGAN berbareng Khu Ie Leng dan Kwie-bo Mo-lie telah mengeluarkan suara bentakan yang keras yang mengguntur. Keduanya telah melompat dengan masing-masing mengerahkan hampir seluruh tenaga mereka, karena pada saat-saat seperti itu adalah saat-saat terakhir...........

Terdengar suara benturan yang keras luar biasa pada kedua serangan orang itu, dan kemudian tampak keduanya, Khu Ie Leng dan Kwie-bo Mo-lie telah terpental dan ambruk.

Keduanya tidak dapat segera bangun untuk berbangkit kembali. Perlahan-lahan mereka merangkak, dan barulah mereka bisa bangun.

Tetapi keadaan Khu Ie Leng lebih berbahaya, karena begitu dia dapat berdiri lagi, tubuhnya telah tergetar dan dengan mengeluarkan suara keluhan, tubuh jago tua tersebut telah terbanting lagi!

Kwie-bo Mo-lie juga berada dalam keadaan yang berbahaya, karena tadi tenaga Lwee-kangnya telah tergempur.

Tetapi melihat Khu Ie Leng telah rubuh kembali, dia melihat bahwa kesempatan seperti itu tidak boleh disia-siakan.

Dengan cepat dia telah maju lagi, dia melompat dan melancarkan serangan yang terakhir dengan mengerahkan seluruh tenaga Lwee-kangnya.

Khu Ie Leng melihat bahaya yang datang menyerang dirinya. Tetapi jago tua yang kawakan ini sudah tak berdaya.

Waktu dia mengerahkan tenaga dalamnya, dia merasakan tenaganya itu seperti juga telah lenyap dari tubuhnya!

Dia mencelos hatinja!

Dan serangan dari Kwie-bo Mo-lie menyambar terus, sehingga jiwa jago tua she Khu ini jadi terancam.

Kwie-bo Mo-lie girang sekali, dia menduga bahwa dia akan dapat membunuh Khu Ie Leng.

Serangannya telah meluncur terus. !

Kong Sia dan puterinya juga melihat bahaya yang mengancam Khu Ie Leng, tetapi mereka tidak berdaya sama sekali.

Cie Kiat melihat hal itu, dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, anak muda she Lie ini bangun dan telah melompat dan menangkis serangan Kwie-bo Mo- lie!

Keduanya jadi terpental, karena mereka telah menggunakan tenaga Lwee-kang yang sangat kuat sekali.

Mereka terjungkel.

Tetapi Cie Kiat yang telah pulih sebagian tenaga Lwee-kangnya telah dapat merangkak bangun lagi. Si Iblis benar-benar kosen dan mempunyai tenaga Lwee-kang yang sangat kuat sekali.

Dia masih bisa bangun berdiri.

Disaat itulah Cie Kiat mengambil keputusan akan mengadu jiwa dengan si Iblis, untuk mengadakan perhitungan dendam keluarganya terhadap diri si Iblis Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu !

Cie Kiat maju selangkah demi selangkah dan matanya memancarkan cahaya yang tajam sekali.

Si Iblis juga mengetahui bahwa dirinya terancam benar, dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk memberikan perlawanan kepada Cie Kiat.

Selangkah demi selangkah Cie Kiat maju menghampiri Kwie-bo Mo-lie.

Setelah mengumpulkan seluruh tenaga Lwee-kang di Tan-tiannya, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dia telah melompat dan mengayunkan tangannya menyerang si Iblis!

Itulah saat yang menentukan sekali!



SI IBLIS juga menyadari bahwa saat seperti inilah penentuan bagi dirinya.

Kwie-bo Mo-lie melihat sorot mata dari Cie Kiat yang tajam begitu, mengandung hawa pembunuhan.

Maka dia bersiap-siap menerima segala serangan yang akan dilancarkan oleh Cie Kiat.

Tanpa membuang waktu lagi, Cie Kiat telah mengerahkan Lwee-kang nomor satunya, dia melompat merangsek, dan dia bermaksud sekali hajar membinasakan Iblis perempuan ini!

Kwie-bo Mo-lie telah menangkisnya! Tampak suatu kejadian yang hebat!

Tubuh Cie Kiat terbanting, dan dia memuntahkan darah merah yang segar.

Sedangkan si Iblis sendiri telah terlempar dan tidak berkutik lagi, seketika itu juga binasa!

Anak buah si Iblis yang melihat hal tersebut jadi kaget sekali. Mereka cepat-cepat melarikan diri. Kong Sia dan puterinya. Mie Coe, telah cepat-cepat menghampiri Cie Kiat dan Kho Ie Leng.

Mereka memberikan pertolongan yang seperlunya.

Sedangkan Cie Kiat dan Khu Ie Leng telah duduk diam bersemedhi. Mereka mengatur jalan pernapasan mereka yang agak kacau.

Dan, perlahan-lahan, semangat dari tenaga murni mereka telah pulih kembali. Dengan sendirinya, mereka juga jadi bisa bernapas dengan lancar.

Jalan napas mereka mulai teratur.

Setelah berselang sesaat, dikala mana Mie Coe dan Kong Sia menunggu disamping Cie Kiat dan Khu Ie Leng, menjaga segala kemungkinan, tampak Khu Ie Leng telah dapat melompat berdiri!

Biarpun wajahnya masih agak pucat, toh tidak sepucat semula. Tak lama kemudian Cie Kiatpun telah melompat juga.

Dia menarik napas panjang-panjang, sambil mengawasi kepada mayat si Iblis yang menggeletak tak bernyawa lagi ditanah!

“Selesailah sudah segalanya!” kata Khu Ie Leng. “Musuh-musuhmu yang lainnya lebih baik diberi pengampunan, karena dosa-dosanya telah dipikul oleh Iblis ini!!”

Cie Kiat hanya mengangguk.

Setelah berdiam sesaat ditempat itu, maka mereka segera meninggalkan tempat tersebut. !

*

* *

UNTUK selanjutnya didalam kalangan Kang-ouw telah muncul seorang jago muda yang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.

Dialah Lie Cie Kiat.

Dan, setelah berselang setahun lamanya, setelah banyak berbuat amal, maka Cie Kiat menikah dengan Lan Mie Coe dan mereka hidup bahagia.

Cie Kiat sendiri telah mengambil keputusan akan menetap dipegunungan Liang- san yang sunyi, untuk hidup mengasingkan diri.

Hanya setahun sekali Cie Kiat dan isterinya itu turun gunung untuk melakukah pengembaraan guna membela si lemah dan memberantas si jahat.

Nama Cie Kiat membumbung tinggi sekali, dengan sendirinya dia merupakan seorang jago muda yang luar biasa. Malah, akhirnya Cie Kiat juga telah menerima gelar Jago Nomor Wahid, jago nomor satu !

*

* *

TAHUN demi tahun telah dilalui oleh Cie Kiat dan isterinya.

Mereka sekarang hidup dipegunungan yang sunyi, yang tenang dan menghindarkan keramaian dunia persilatan.

Tetapi biarpun begitu banyak sekali orang-orang yang mencari Cie Kiat untuk meminta pertolongan jago Nomor satu ini.

Dan kalau memang Cie Kiat mempunyai waktu, dia tentu tidak akan menolak permintaan tolong dari orang-orang itu, dia pasti akan turun tangan untuk menolongnya.

Dengan sendirinya, dengan begitu, dunia persilatan jadi aman.

Dan kejahatan yang tadinya banyak terdapat didalam dunia persilatan, sekarang berangsur-angsur telah dapat dibendung oleh Cie Kiat. !

Begitulah cerita Ibu Hantu telah selesai, dan akan menyusul cerita-cerita lainnya yang lebih seru dan lebih menarik!

T A M A T